UNDANG-UNDANG

1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HlDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup lndonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup; bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

b.

c.

d.

e.

f.

Mengingat

: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

ME MUTU S KAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain; Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup; Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;

2.

3.

4.

2

5. 6. 7.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya; Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan; Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup; Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya; Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang; Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan; Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan; Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan; Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup; Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum; Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Pasal 2

8. 9. 10. 11.

12.

13. 14.

15.

16. 17.

18.

19. 20. 21.

22. 23.

24. 25.

Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

3

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. b. c. d. e. f. tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB lII HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara : a. b. c. d. e. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. 4

(3)

(2)

(2)

Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah : a. b. c. d. e. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetika; mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan, termasuk sumber daya genetika; mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9

(1) (2)

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikoordinasi oleh Menteri. Pasal 10

(3)

(4)

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup; menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup; menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat; memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. Pasal 11 (1) (2) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ketentuan mengenai tugas, fungsi, wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 12 (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat : a. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah; 5

setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. BAB Vl PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. menyimpan. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi : menghasilkan. mengedarkan. Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. (2) mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. mengangkut. Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. 6 . Pasal 13 (1) (2) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.b. Pasal 16 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan. Pasal 17 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 15 (1) (2) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. menggunakan dan/atau membuang. BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) (2) (3) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup.

Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan.(2) (3) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Tanpa suatu keputusan izin. mengambil contoh. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. memasuki tempat tertentu. c. rencana tata ruang. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) (2) (3) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan di bidang lingkungan hidup. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. memeriksa peralatan. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. pendapat masyarakat. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan : a. Pasal 23 Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah. Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. 7 (2) (3) . (2) Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). meminta keterangan. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. b.

dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 27 Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan. didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. 8 (2) (3) (4) (5) . penanggulangan. (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan. serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. Pasal 26 (1) (2) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. melakukan tindakan penyelamatan. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya. Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. Tindakan penyelamatan. Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu.

Pasal 33 (1) (2) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. Paragraf 2 Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1 Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. 9 (2) . Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup. dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini.BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HlDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. mewajibkan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup. hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup.

dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Pasal 38 (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. BAB VIIl PENYIDlKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. c. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan olen pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang. pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi. Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Paragraf 4 Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (2) (1) (2) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. adanya bencana alam atau peperangan. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan 10 . b. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. kecuali biaya atau pengeluaran riil. masyarakat. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. Paragraf 3 Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. Pasal 39 (2) (3) c. berbentuk badan hukum atau yayasan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. b.

Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik lndonesia. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. ke dalam udara atau ke dalam air permukaan.00 (seratus lima puluh juta rupiah). melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.000. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. e. d. 150. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. catatan.000. 100.000. memperdagangkan. energi. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.hidup. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.000. Pasal 42 (2) (1) Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. melakukan impor.00 (lima ratus juta rupiah). b.00 (tiga ratus juta rupiah).000. 750. 500.000. menjalankan instalasi yang berbahaya. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.00 (seratus juta rupiah). meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti.000. 300. ekspor.000. (3) (4) (5) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. f.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.000. sengaja melepaskan atau membuang zat. pembukuan. Pasal 43 (2) (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. mengangkut. 11 (2) . menyimpan bahan tersebut. melakukan pemeriksaan atas pembukuan. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. catatan. c. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a.

perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. perserikatan. d. dan dilakukan oleh orang-orang. perseroan. perserikatan. perserikatan. dan/atau mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. perseroan. 450. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus. perserikatan.00 (seratus lima puluh juta rupiah). (2) Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah).000.00 (seratus juta rupiah). perseroan. 12 (2) (3) (4) .000. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. e. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. perserikatan atau organisasi lain. yayasan atau organisasi lain. 150. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. dan/atau penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. perseroan. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : a. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. Pasal 44 (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. perseroan. f. perseroan.000. 100.000. dan/atau perbaikan akibat tindak pidana.000. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. perseroan.(3) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat.000. yayasan atau organisasi lain. perserikatan. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. perserikatan. yayasan atau organisasi lain. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan. yayasan atau organisasi lain. yayasan atau organisasi lain. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga.dan/atau meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. c. b. dan/atau menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama (3) tiga tahun. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43.

Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Nahattands LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1997 NOMOR 68 13 . Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Lambock V. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12.BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) (2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. MOERDIONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ttd. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini. S O E HAR TO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi.

Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. Lingkungan hidup lndonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa lndonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. serasi. Dengan demikian. 2. dan manusia sebagai pribadi. keserasian. Dalam pada itu. Secara hukum. 14 . yang mempunyai aspek sosial. Oleh karena itu. dan keseimbangan subsistem. 3. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia. dan bernegara dalam segala aspeknya. keserasian. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. penggunaan sumber daya alam harus selaras. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. manusia dengan alam. budaya.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UMUM 1. Akan tetapi. Di pihak lain. Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Dalam hal ini lingkungan hidup lndonesia tidak lain adalah wilayah. dan keseimbangan. dan keseimbangan yang dinamis. Lingkungan hidup lndonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. 4. berbangsa. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. Antara manusia. dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. Oleh karena itu. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. Pancasila. Untuk itu. merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. masyarakat. sebagai dasar dan falsafah negara. ekonomi. Sementara itu. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. keserasian. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya.

dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. tetapi juga mampu berperan secara nyata. kesehatan. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. selaras. 15 . kesehatan. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. seperti lembaga swadaya masyarakat. yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. Pada kenyataannya. keterbukaan. industri. dan peran anggota masyarakat. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup. penataan ruang. termasuk sumber daya alam.Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. Selain itu. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. dan lain-lain. 7. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut.12. Secara global. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. 5. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. Tambahan Lembaran Negara No. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. Oleh karena itu. perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. 6. Oleh karena itu. permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. kelompok masyarakat adat. pertambangan dan energi. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri. dan lain-lain. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan lainnya. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Di sisi lain. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. industrialisasi juga menimbulkan ekses. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. tegas. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. kehutanan. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. Sementara itu. permukiman. organisasi lingkungan hidup. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. tata guna tanah. Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat. yang diantaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. Menyadari hal tersebut di atas.

dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat.Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. Disamping itu. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa. Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi. hukum perdata maupun hukum pidana. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup Jelas Angka 2 Cukup Jelas Angka 3 Cukup Jelas Angka 4 Cukup Jelas Angka 5 Cukup Jelas Angka 6 Cukup Jelas Angka 7 Cukup Jelas Angka 8 Cukup Jelas Angka 9 Cukup Jelas Angka 10 Cukup Jelas Angka 11 Cukup Jelas Angka 12 Cukup Jelas Angka 13 Cukup Jelas Angka 14 Cukup Jelas Angka 15 Cukup Jelas 16 . berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi. baik hukum administrasi. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. Dengan demikian. dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. Sebagai penunjang hukum administrasi. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan.

baik dengan cara mengajukan keberatan. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. maka kemampuan lingkungan hidup. laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup.Angka 16 Cukup Jelas Angka 17 Cukup Jelas Angka 18 Cukup Jelas Angka 19 Cukup Jelas Angka 20 Cukup Jelas Angka 21 Cukup Jelas Angka 22 Cukup Jelas Angka 23 Cukup Jelas Angka 24 Cukup Jelas Angka 25 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. 17 . disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. keterangan. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. dan rencana tata ruang. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat. di satu sisi. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain. Di lain sisi. baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. harus dilestarikan. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup.

dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas 18 . Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum. Misalnya. perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya. baik secara kultural maupun secara struktural.Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindaklanjuti. aspirasi. Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup. Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Misalnya.

maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi 19 . serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber manusia. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. yaitu pemerintah. Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keanekaragaman potensi sumber daya alam hayati dan nonhayati. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. seperti lSO 14000. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdaya guna dan berhasil guna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah. integrasi. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat. masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. dunia usaha.Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan. Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir. preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. bimbingan. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penaatan baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi. Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi.

kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. pembiayaan. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan. 20 . dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya.alam maupun kemampuan daerah. pemanfaatan. Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. pengangkutan. peralatan. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. d. e. situasi dan kondisi daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. c. sifat kumulatif dampak. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. f. b. pengumpulan. tugas. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. luas wilayah penyebaran dampak. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif.

maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Ayat (5) Cukup jelas 21 . Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup. dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin. Dalam hal tertentu. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. air maupun udara. dengar pendapat. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. menurut peraturan perundangundangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. baik tanah. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/ atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang.

misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang 22 . Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan. Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban. Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 13 ayat (1).Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan.

Pasal 30 Ayat (1) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. dan semua putusan arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. 4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. 2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa. 3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum. sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan. audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik. b. Ayat (2) Cukup jelas 23 . Pihak ketiga netral ini harus : 1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa. Dalam pengertian ini. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian.ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa Iingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum.

Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup. misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. Selain diharuskan membayar ganti rugi. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas 24 . memulihkan fungsi lingkungan hidup. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. fakta hukum.Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar.

Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas. b. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. yaitu : a. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud. baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara.Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 25 . melainkan hanya terbatas gugatan lain. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup. c. Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan.

Pasal 44 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3699 26 .

sehingga perlu diganti. baik di dalam maupun di luar negeri. dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. Pasal 1 ayat (1). serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. e. dan pemanfaatan sumber daya nasional. dan Nepotisme. pemerataan. 27 .UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan kedudukan pemerintahan desa. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. peran serta masyarakat. pembagian. serta tantangan persaingan global. tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti. peran serta masyarakat. d. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 24. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811). bentuk. Pasal 18. 4. c. Menimbang : a. perlu ditetapkan undang-undang mengenai Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. 5. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan. pemerataan dan keadilan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan. Mengingat : 1. 2. b. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. 3. nyata. dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas. dan keadilan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. Pasal 5 ayat (1). bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah. yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Pengaturan. Kolusi. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. serta potensi dari keanekaragaman Daerah. susunan. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Nomor 3153) yang menyeragamkan nama. yang diwujudkan dengan pengaturan. f. bahwa sehubungan dengan itu.

Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. Instansi vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ME MUTU S KAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Pemerintah Pusat. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan. Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah di tingkat pusat dan/atau pejabat pemerintah di daerah propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. selanjutnya DPRD. adalah Badan Legislatif Daerah. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah Otonom. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. 28 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) . dan kegiatan ekonomi. selanjutnya disebut Pemerintah. Kawasan pedesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian. pelayanan jasa pemerintahan. termasuk pengelolaan sumber daya alam. selanjutnya disebut daerah. Desa atau yang disebut dengan nama lain. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. selanjutnya disebut desa. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonomi yang lain sebagai badan eksekutif daerah. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskannya. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. pelayanan sosial.

(2) (2) (3) (4) (2) (3) (4) 29 . sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan/atau digabung dengan daerah lain. terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. jumlah penduduk. dan Daerah Kota yang bersifat otonom. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain. penggabungan. daerah kabupaten. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. dan pemekaran daerah. Kriteria tentang penghapusan. batas. BAB III PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi. perubahan nama daerah. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah. (2) Pasal 3 Wilayah Daerah Provinsi. potensi daerah. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan pemekaran daerah. sosial budaya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). nama. Daerah Provinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. BAB II PEMBAGIAN DAERAH Pasal 2 (1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Penghapusan. Pembentukan. ditetapkan dengan undang-undang. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. luas daerah. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.(17) Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. Daerah Kabupaten. Syarat-syarat pembentukan daerah. penggabungan. sosial politik.

c. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. perhubungan. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan tenaga kerja. Kewenangan bidang lain. koperasi. d. Pasal 9 (1) Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. konservasi. Kewenangan Daerah di wilayah laut. konservasi. pendidikan dan kebudayaan. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pertanahan. industri dan perdagangan. peradilan. pertanian. pengaturan tata ruang. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. pertahanan keamanan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. dan standarisasi nasional. 30 (2) . dana perimbangan keuangan. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan.BAB IV KEWENANGAN DAERAH Pasal 7 (1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. serta kewenangan bidang lain. Pasal 11 (4) (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. pengaturan kepentingan administrasi. meliputi : a. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. agama. meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. kesehatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Provinsi. penanaman modal. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. moneter dan fiskal. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. lingkungan hidup. Pasal 8 (1) Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. eksplorasi. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. eksploitasi. Kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. Kewenangan provinsi sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. (2) (2) (2) (3) (2) e. b. sarana dan prasarana. dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara.

tugas. Setiap penugasan. hak. c. Bagian Kedua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 15 Kedudukan. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur. DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. susunan. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah.Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. keanggotaan. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan undang-undang. Pasal 17 (1) (2) (3) (4) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. komisi-komisi. BAB V BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. dan panitia-panitia. Bupati/Wakil Bupati. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). 31 (2) (2) (2) . pimpinan. Pelaksanaan ketentuan. b. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. sarana dan prasarana. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memilih Gubernur/Wakil Gubernur. atau Walikota/Wakil Walikota. wewenang. Bupati/Wakil Bupati. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. dan Walikota/Wakil Walikota. Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya.

mengajukan pernyataan pendapat. bersama dengan Gubernur. b. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. g. pelaksanaan keputusan Gubernur. 32 (2) (3) (2) . diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. e. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. h. 4. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. dan Walikota. f. b. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. Bupati. Bupati. Pelaksanaan hak. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. dan Walikota. pejabat pemerintah. protokoler. 5. meminta pertanggungjawaban Gubernur. melaksanakan pengawasan terhadap: 1. dan h. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. c. dan c. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. sebagaimana dimaksud ayat (1). bangsa. bersama dengan Gubernur. mengadakan penyelidikan. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. pemerintahan. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. pengajuan pertanyaan. f. 3. kebijakan Pemerintah Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. keuangan/administrasi. (2) Pelaksanaan hak. Pejabat negara. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. 2. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. dan menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. Bupati. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. pejabat pemerintah. e. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan pembangunan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Pelaksanaan hak.d. g. d. sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2). menentukan Anggaran Belanja DPRD.

g. b. f. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. i. j. dan pembebanan kepada Daerah. Badan Usaha Milik Daerah. DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan diantara pimpinan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 23 (1) (2) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. dan kebijakan tata ruang. atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. kecuali mengenai : a. Pelaksanaan ketentuan. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. pinjaman. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. h. serta menaati segala peraturan perundangundangan. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. utang piutang. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. c. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. d. dan ayat (3). dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi.Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : (1) (2) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. ayat (2). serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. e. (3) (4) (3) (4) 33 . pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah.

sebagaimana dimaksud pada ayat (4). 34 (3) (4) (5) . sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dalam kedudukan sebagai Wakil Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. ditetapkan oleh Pemerintah. yang karena jabatannya adalah juga sebagai Wakil Pemerintah. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. baik terbuka maupun tertutup. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Kepala Daerah Kota disebut Walikota. Pasal 31 (1) (2) Kepala Daerah Provinsi disebut Gubernur. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. ditetapkan dengan Peraturan Tata tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD. Anggaran Belanja Sekretaris DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya.Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. Pasal 32 (1) (2) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Kepala Daerah Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai Kepala Eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Bagian Ketiga Sekretariat DPRD Pasal 29 (1) (2) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana.

c. k. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. l. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). e. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri. f. sehat jasmani dan rohani. b. Pasal 34 d. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. i. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. bertugas: a. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Pasal 33 (4) (1) Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. dibentuk Panitia Pemilihan. j.(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah. c. (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. tetapi bukan anggota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). h. Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. Pasal 35 (2) (3) (4) (5) (1) Panitia pemilihan. b. Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. g. dan bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. 35 .

Pasal 40 (1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung. Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD. ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden. 36 (2) (3) (2) (3) (4) (2) (2) (3) (2) (3) . jujur dan adil. Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4). Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. bebas. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. rahasia. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. misi. Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum dicapai. Apabila ketentuan. Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (2).

saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/ Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya. (4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah ditetapkan oleh Pemerintah. dan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. Pasal 42 (1) (2) (3) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk bertindak atas nama Presiden. atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. dan seadil-adilnya. Pasal 45 (1) (2) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. menghormati kedaulatan rakyat. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. 37 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (2) (3) . Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Sebelum memangku jabatannya. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sejujur-jujurnya. Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Bagian Kelima Kewajiban Kepala Daerah Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : (1) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945.Pasal 41 Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan).

d. anggota keluarganya. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. e. d. dan menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. (2) (3) (4) Bagian Keenam Larangan bagi Kepala Daerah Pasal 48 (1) Kepala Daerah dilarang : a. . menerima uang. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. kroninya. e. barang. 38 b. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. Bagian Ketujuh Pemberhentian Kepala Daerah Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena: a. Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. g. golongan tertentu.Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. c. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. f. turut serta dalam suatu perusahaan. Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. c. baik secara langsung maupun tidak langsung. harus dilengkapi dan atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. ditetapkan oleh Pemerintah. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. Tata cara. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). meninggal dunia. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya.

tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya dalam 2 kali 24 jam. Bagian Kedelapan Tindakan Penyidikan Terhadap Kepala Daerah Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden.Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. (3) Setelah tindakan penyidikan. enam bulan sebelumnya. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. tanpa persetujuan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Keputusan DPRD. Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 39 . Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. (2) (2) (3) (2) (3) (2) b. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. dan dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Dengan adanya pemberitahuan. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. (2) (3) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. dan c. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. b. Pasal 41. DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas: a. sejujur-jujurnya. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. Sebelum memangku jabatannya. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. dan seadil-adilnya. Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur. (5) Ketentuan-ketentuan. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan.Bagian Kesembilan Wakil Kepala Daerah Pasal 56 (1) (2) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. (3) (4) (6) (2) (3) (4) Bagian Kesepuluh Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 59 Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 43 kecuali huruf g. 40 .

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. 41 (2) (2) (3) (4) (5) (6) . Kepala Kecamatan disebut Camat. Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). sesuai dengan kebutuhan Daerah. lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya. Pasal 62 (1) (2) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. (3) (4) (5) (6) (7) (3) Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. susunan organisasi. Sekretariat daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dan Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. dilakukan oleh instansi vertikal. Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintah yang menjadi wewenang Pemerintah. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah dari Bupati/Walikota. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Pembentukan.Bagian Kesebelas Perangkat Daerah Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. formasi. dilaksanakan oleh Dinas Provinsi. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. dan tata laksananya. Pasal 61 (1) (2) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretariat Daerah. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan daerah Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan.

Pasal 67 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. kacuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. 5. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. Lurah bertanggung jawab kepada Camat.000. (2) BAB VI PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN KEPALA DAERAH Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. 42 (2) (2) (2) . Kepala Kelurahan disebut Lurah. peraturan daerah. Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah.000. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan Daerah lain. Keputusan. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

penetapan pensiun. dan penerimaan dari sumber daya alam. dan prosedur mengenai pengangkatan. hasil pajak Daerah. Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 79 (1) Sumber Pendapatan daerah terdiri atas : pendapatan asli daerah. c. BAB VII KEPEGAWAIAN DAERAH Pasal 75 Norma. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. tunjangan. b. yaitu : a. pinjaman Daerah. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. kesejahteraan. pemberhentian. dan kesejahteraan pegawai. penetapan pensiun. pemindahan. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. terdiri atas : a. Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. pemberhentian. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. BAB VIII KEUANGAN DAERAH Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintahan Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah. gaji. pemindahan. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian karier pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. standar. hak dan kewajiban.Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. berdasarkan peraturan perundang-undangan. hasil retribusi Daerah. gaji. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. dana perimbangan. d. (2) (2) 43 . dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. hasil perusahaan milik Daerah. tunjangan. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan.

Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) dana alokasi umum. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang : a. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 83 (1) (2) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. dan dana alokasi khusus. Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. penghapusan daerah sebagian atau seluruhnya. Pasal 85 (1) Barang Milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. Ketentuan lebih lanjut. c. dan perkebunan serta Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. dan c. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. ditetapkan dengan undang-undang.b. ditetapkan oleh Pemerintah. ayat (2). dan ayat (3). diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 82 (2) (3) (4) (1) (2) Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tata cara peminjaman. (2) (2) 44 . tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. dibebani hak tanggungan. Ketentuan. Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. Pasal 81 (3) (4) (1) Pemerintahan Daerah dapat melakukan peminjaman dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau dipindahtangankan. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukkannya diatur dengan Peraturan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. perkotaan. b. diterima langsung oleh Daerah penghasil.

perlu ditetapkan Kawasan Perkotaan yang terdiri atas : (a) (b) Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten. dan fisik perkotaan. terdapat salah satu pihak yang tidak dapat menerima keputusan Pemerintah. dan ayat (3). Pedoman tentang pengurusan. Pasal 89 (2) (1) (2) Perselisihan antar Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara musyawarah. BAB IX KERJASAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 87 (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerjasama antar Daerah yang diatur dengan keputusan bersama. perubahan. Pasal 88 (1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan di luar negeri. yang diatur dengan keputusan bersama. yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama antar Daerah. Tata cara. dan Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial. pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian kepada Mahkamah Agung.(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah. Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. ayat (2). Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama. BAB X KAWASAN PERKOTAAN Pasal 90 Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota. ekonomi. pertanggungjawaban. (c) 45 . Pedoman tentang penyusunan. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. ditetapkan oleh Pemerintah. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Keputusan bersama dan/atau badan kerjasama.

ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. (2) Bagian Kedua Pemerintah Desa Pasal 95 (1) (2) (3) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. Pembentukan. Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. Pasal 92 (1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan. Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. Penghapusan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yang merupakan Pemerintah Desa. Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. Pengikutsertaan masyarakat. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.Pasal 91 (1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola Kawasan Perkotaan. dan/atau Penggabungan Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan hal-hal lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. penghapusan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dapat dibentuk Badan Pengelolaan Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. 46 . dan/atau penggabungan Desa. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. dihapus. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. (2) (3) (2) (3) BAB XI DESA Bagian Pertama Pembentukan.

G-30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. berkelakuan baik. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. g. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. Daerah. sejujur-jujurnya.” Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. dan adil. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. j. m. Pasal 98 d. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. 47 . nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. e. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). c.b. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sarana dan prasarana. dan seadil-adilnya. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengalaman yang sederajat. k. jujur. b. dan memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur dalam Peraturan Daerah. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. h. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. Pemerintah Propinsi. serta sumber daya manusia. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. f. sehat jasmani dan rohani. Pemerintah Provinsi. (1) (2) (3) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. l. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. dan tugas Pembantuan dari Pemerintah. kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. dan/atau Pemerintah Kabupaten. Sebelum memangku jabatannya. i. c.

Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. b. b. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. Pasal 103 (1) Kepala desa berhenti karena : a. dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. e. meninggal dunia. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. c. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa.Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. d. Bagian Ketiga Badan Perwakilan Desa Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. d. b. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. c. membuat Peraturan Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. sebagaimana dimaksud dalam pasal 101. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintah Desa Pasal 105 (1) (2) (3) (4) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. membina perekonomian Desa. (2) Pemberhentian Kepala Desa. e. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. 48 . mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. membina kehidupan masyarakat Desa. Kepala Desa : a. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat.

(3) Kepala Desa bersama-sama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. c. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1) hasil usaha Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. (2) Sumber pendapatan Desa. dan pinjaman Desa. b. 2) hasil kekayaan Desa. Untuk pelaksanaan kerja sama. (5) Tata cara dan pungutan objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. Bagian Keenam Kerja Sama Antar Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan Keputusan Bersama dan diberitahukan kepada Camat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan 2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. e. 3) hasil swadaya dan partisipasi. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. (4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. 49 (2) .Bagian Keempat Lembaga Lain Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. sumbangan dari pihak ketiga. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 4) hasil gotong-royong. d. dan 5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. Bagian Kelima Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a.

Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Perimbangan keuangan pusat dan daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB XIII DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: a. perwakilan asosiasi pemerintah daerah. Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. wajib mengakui dan menghormati hak. BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 112 (1) (2) Dalam rangka pembinaan. penggabungan dan pemekaran daerah. Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Menteri Lain sesuai dengan kebutuhan. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. pembentukan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). penghapusan. pelaksanaan. b. dan pengawasannya. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. industri.Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. dan adat istiadat Desa. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. dan Kemampuan daerah kabupaten dan daerah kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. Menteri Keuangan. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. (2) (2) (3) (4) (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri dari Menteri Dalam Negeri. Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud dalam pasal 11. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. asal usul. c. Peraturan Daerah. Menteri Sekretaris Negara. Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala daerah. dan wakil-wakil daerah yang dipilih oleh DPRD. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. 50 (3) .

kedudukan. berubah masing-masing menjadi Propinsi. penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9. wewenang. kawasan industri. dan Kota. Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus. baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya. kawasan kehutanan. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Pasal 122 Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. tugas. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada undang-undang ini. Pasal 118 (1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Pengaturan lebih lanjut. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. yang meliputi badan otorita. dan kawasan lain yang sejenis. kawasan pertambangan. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 121 Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I. 51 (2) (2) (2) . kawasan perkebunan. Pasal 119 (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kabupaten Daerah Tingkat II. kawasan pelabuhan. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. dan Pasal 11 undang-undang ini. formasi. hak. Kabupaten. Jakarta. Pasal 123 Kewenangan Daerah. Pasal 116 (5) (6) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretaris yang membawahkan bidang otonomi daerah dan bidang perimbangan keuangan pusat dan daerah. kawasan bandar udara. Susunan organisasi. kawasan pariwisata. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. karena kedudukannya diatur tersendiri dengan undang-undang. kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan. berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom. kawasan jalan bebas hambatan. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. kawasan perumahan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Pasal 10. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 117 Ibukota Negara Republik Indonesia. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam 6 (enam) bulan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang.

Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada masa jabatan Kepala Daerah. moneter dan fiskal. petunjuk. dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan. Pembantu Walikotamadya. Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Bupati Kepala Daerah Tingkat II. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Camat. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. Wakil Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. dan huruf o Undang-undang ini. Daerah Istimewa. dan Kota Administratif. dan Kota Administratif. Lembaga Pembantu Gubernur. huruf n. Kotamadya Administratif. dan ibukota Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 128 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. dihapus. dapat dihapuskan jika tidak memenuhi ketentuan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom. Pasal 126 (1) Kecamatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). seluruh instruksi. sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 huruf m. peradilan. serta agama. dan Badan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya. Kabupaten Mimika. Kabupaten Puncak Jaya. dan Desa atau yang disebut dengan nama lain. dan Kepala Desa beserta perangkatnya yang ada. Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah. sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan. masa jabatan Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah. Kotamadya Daerah Tingkat II. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). batas. Lurah. Kotamadya. pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap menjalankan tugasnya. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. Kelurahan. keamanan. adalah tetap. Pembantu Bupati. pertahanan. Kelurahan. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang ini. Kabupaten Paniai. Bupati. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n Undang-undang ini.BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 Pada saat berlakunya undang-undang ini. Pasal 129 (1) Dengan diberlakukannya Undang-undang ini. dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini ditetapkan sebagai Kelurahan. sudah harus berubah statusnya menjadi Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5 Undang-undang ini. menjadi perangkat Daerah. Kabupaten Simeuleu. Walikota. Kabupaten. dan semua Kota Administratif dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal 5 Undang-undang ini. Pasal 130 (1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada masa jabatan Kepala Daerah. Pasal 127 Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. Kotamadya. Walikotamadya. atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan Undangundang ini dinyatakan tetap berlaku. nama. Kabupaten. Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar negeri. kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah. Kabupaten Daerah Tingkat II. Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang ini. 52 (2) (3) (2) (2) (3) (2) . kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. Pasal 125 (1) Kotamadya Batam.

AKBAR TANDJUNG 53 .BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 (1) (2) Pada saat berlakunya Undang-undang ini. (3) (2) Disahkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). Agar setiap orang dapat mengetahuinya. ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Pasal 134 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan secara efektif selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya Undang-undang ini. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3153) Pasal 132 (1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak Undang-undang ini ditetapkan. diadakan penyesuaian. dinyatakan tidak berlaku lagi : Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. Pasal 133 Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan Undang-undang ini.

pemerataan. Dasar Pemikiran a. meningkatkan peran serta masyarakat. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. d. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAH DAERAH UMUM 1. 54 c. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. b. sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Karena itu. Dalam penjelasan pasal tersebut. antara lain. dikemukakan bahwa “Oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang. dan bertanggung jawab kepada Daerah. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. nyata. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas. e. menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. Pemberian kedudukan propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan : 1. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat. . Sesuai dengan Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas. penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. Dengan demikian.” Di daerah-daerah yang bersifat otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi. f. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka. g. Oleh karena itu. peran serta masyarakat. Dengan demikian. Undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Di samping itu. Pembagian. Pengaturan. semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-undang. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. Oleh karena itu. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. dan keadilan. di daerah pun. Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hirarki. nyata. antara lain. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. Undang-undang ini disebut “Undang-undang Pemerintah Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. pembagian.

kawasan industri. Pembagian Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. b.undang ini adalah sebagai berikut : 1. peradilan. dan semacamnya berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonomi. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. kawasan kehutanan. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-Daerah. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Atas dasar pemikiran di atas. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan perkotaan baru. 3. kawasan pariwisata. kawasan pertambangan. 2. pelaksanaan. pemerataan. keadilan dan pemerataan. i. 2. pertahanan keamanan. serta kewenangan di bidang pemerintah tertentu lainnya. maka dalam Undang-undang ini pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. h. dan untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan lintas Kabupaten dan Kota. 3. keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. serta potensi dan keanekaragaman daerah. Disamping itu. hidup. agama. keadilan. pengawasan. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. nyata dan bertanggung jawab. baik sebagai fungsi legislasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang . moneter dan fiskal.2. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. 6. kawasan perumahan. pengembangan kehidupan demokrasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatnya kemandirian Daerah Otonomi. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita. 7. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. 8. kawasan perkebunan. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. 4. pengendalian. nyata dan bertanggung jawab. dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. 55 . 5. Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. kawasan pelabuhan. untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan berkembang di daerah. dan evaluasi. sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Dengan demikian. jujur. hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan. 4. 5. 8. Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus. DPRD dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa. pemindahan. adil. diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri. Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan. dan berkemampuan sebagai pimpinan pemerintahan. berwawasan kebangsaan. penempatan. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah Administrasi dalam rangka dekonsentrasi. dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah Kabupaten. dan c. Pembagian Daerah di luar daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom. dan Desa. Pertanggungjawaban Kepala Daerah Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah. dari kelompok atau etnis. Keuangan Daerah (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas. b. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Sementara itu. golongan. bijaksana. Kepala Daerah disamping sebagai pimpinan pemerintahan.c. digunakannya asas desentralisasi. dan bertanggung jawab. negara. 7. d. 56 . Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Provinsi. yang didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem Pemerintahan Daerah. serta mendapatkan kepercayaan rakyat. dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi. sedangkan mutasi antar Daerah Propinsi diatur oleh Pemerintah. nyata. Mutasi antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah Propinsi diatur oleh Gubernur. Mutasi antar Daerah Propinsi dan/atau antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut. seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. bertindak. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. baik pengangkatan. menurut undang-undang ini kedudukannya diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Kepala Daerah Untuk menjadi Kepala Daerah. berpengetahuan. Daerah Kota. dan tugas pembantuan. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah. dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif. Oleh karena itu. adalah : a. (2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan Pemerintahan menjadi kewenangan Daerah. Oleh karena itu. Kepegawaian Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya. dan netral. dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah. sekaligus adalah Pimpinan Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir. dan aliran. memiliki etika dan moral. 3. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi. 6. dekonsentrasi.

Untuk itu. otonomi asli. dan Keputusan Kepala Desa. sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah. sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan. Pembinaan dan Pengawasan Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam upaya pemberdayaan Daerah Otonom. (3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum. (4) Sebagai perwujudan demokrasi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. harta benda. pendapatan lain-lain yang sah. Pemerintahan Desa (1) Desa berdasarkan undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. Karena itu. sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. (5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-Undang Dasar 1945.9. dan pemberdayaan masyarakat. yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas 57 . (8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang berada di dalam Daerah Kabupaten dan/ atau Daerah Kota. bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. (6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. (7) Berdasarkan hak asal usul Desa yang bersangkutan. Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih dahulu oleh pejabat yang berwenang. dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan. memiliki kekayaan. 10. Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. partisipasi. baik hukum publik maupun hukum perdata. Kepala Desa mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. demokratisasi. Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. (2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya.

promosi dagang dan budaya / pariwisata. pengelolaan pelabuhan regional. dan perkebunan. perhubungan. dan perencanaan tata ruang propinsi. setiap undang-undang mengenai pembentukan Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis Daerah yang bersangkutan. penanganan penyakit menular dan hama tanaman. pengendalian lingkungan hidup. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi. norma. dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah. perizinan. kerja sama. dalam kedudukan sebagai Wilayah Administrasi. pelatihan bidang tertentu. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah : perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro. Ayat (3) Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD. sumber daya buatan. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Untuk menentukan batas dimaksud.Ayat (2) Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain adalah bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam. pelaksanaan. tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi. Pasal 9 Ayat (1) Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti kewenangan di bidang pekerjaan umum. dan kebijakan Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 8 Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada Daerah/ Gubernur. dan penelitian yang mencakup wilayah provinsi. dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. Gubernur selaku Wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Daerah/Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan. Sementara itu. perencanaan. kehutanan. demikian pula mengenai perubahan batas Daerah. alokasi sumber daya manusia potensial. Ayat (2) Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan evaluasi sesuai dengan standar. Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama. 58 .

sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD Provinsi. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. dan tata kota. pemadam kebakaran. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah. Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi. kebersihan. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah.Ayat (2) Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah. Ayat (2) Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. pertamanan. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 59 . antara lain. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Oleh karena itu.

Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di lingkungan kerja DPRD bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas 60 .

Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung DPRD atau di gedung lain. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk pemilihan Kepala Daerah. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. yakni : 61 . karena kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. Ayat (2) Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota diberitahukan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah.Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dipilih secara berpasangan. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden.

usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan. produksi. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 43 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. pemasaran. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. dan huruf d Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan.diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia. Huruf b. huruf c. pengembangan teknologi. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Huruf a dan huruf e Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga masyarakat. antara lain yang berwujud korupsi. kolusi dan nepotisme. Kepala Daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi. Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas 62 .

tembusannya dikirimkan kepada Presiden. sedangkan berakhirnya masa jabatan Bupati/Walikota. tembusannya dikirimkan kepada Gubernur.Pasal 53 Ayat (1) Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Budha. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas 63 . dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di gedung DPRD atau gedung lain.

64 . Pasal 70 Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan sama kecuali untuk perubahan. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemahalan hidup. diadakan. Apabila pelanggar tidak mengindahkannya. dialpakan. diambil suatu tindakan paksaan. yang merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Badan Perencanaan.Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan. dijalankan. dan lain-lain. Pasal 71 Ayat (1) Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan pemeliharaan hukum”. Lembaga Pengawasan. karena paksaan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Ayat (1) Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur dilakukan menurut cara yang sah. atau ditiadakan yang bertentangan dengan hukum. Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati dalam proses pengangkatan Lurah. mencegah. atau memperbaiki segala sesuatu yang telah dibuat. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak ditandatangani serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. Paksaan penegakan hukum itu hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang sesuai dengan berat pelanggaran. Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau meniadakan. Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif kepada pelanggar. Ayat (4) Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah. Badan Pendidikan dan Pelatihan. melakukan.

peraturan dan keputusan tersebut perlu dimasyarakatkan. pertambangan minyak dan gas bumi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota. dan pemindahan pegawai antar Daerah Propinsi atau antara Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah. Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah. pemindahan pegawai antar Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 65 . Pasal 80 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang pertambangan umum. dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. dan perikanan. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. kehutanan. Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Huruf a Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Cukup jelas Angka (3) Cukup jelas Angka (4) Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan aset Daerah dan jasa giro. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya.Pengundangan dimaksud kecuali untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan.

Ayat (4) Cukup jelas Pasal 82 Ayat (1) Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan undang-undang. 66 . Pasal 83 Ayat (1) Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa kemudahan pembangunan prasarana. Ayat (2) Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses lebih lanjut. lembaga komersial. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 81 Ayat (1) Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah. penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional. dan/atau memindahtangankan. penyebaran lokasi industri strategis. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan termaksud.Ayat (2) Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah. dan/atau penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum peminjaman tersebut dilaksanakan. yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD. Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. menggadaikan. menghibahkan. tukar guling. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual. dan lain-lain.

Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam perencanaan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 67 . Pasal 94 Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa setempat. penghapusan. kampung. dan lain-lain. dan/atau penggabungan Desa perlu dipertimbangkan luas wilayah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari. jumlah penduduk. dan pihak swasta. dan marga. Pasal 95 Ayat (1) Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat. bori. sosial budaya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah. Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat Desa. Yang dimaksud dengan asal usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya. masyarakat. huta. Ayat (2) Dalam pembentukan. dan pemilikan. potensi Desa. pelaksanaan.Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihakpihak yang berselisih.Pasal 96 Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. serta sumber daya manusia. Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. Huruf f Cukup jelas Pasal 102 Huruf a Cukup jelas Huruf b Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat Pasal 103 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 68 . Kepala Desa dapat dibantu oleh lembaga adat Desa. sarana dan prasarana. diakhiri dengan ucapan “semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Pasal 101 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai dengan pembiayaan.

pelaksanaan tata usaha keuangan. Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Ayat (1) Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat persetujuan Badan Perwakilan Desa. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 106 Cukup jelas Pasal 107 Ayat (1) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. dan perubahan serta perhitungan anggaran. Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan. dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru. Ayat (2) Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan setiap tahun meliputi penyusunan anggaran. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati. Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa. dan Keputusan Kepala Desa. dan kewenangan melakukan pinjaman. Ayat (2) Cukup jelas 69 . kerja sama dengan pihak ketiga. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban ekonomi tinggi dan dampak lainnya. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambatlambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat. Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 104 Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. antara lain. tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa.Huruf d Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil.

sosial budaya. dan 2 orang Wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun. yang terdiri atas 2 orang Wakil Daerah Propinsi. Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan asal usul adalah asal usul terbentuknya Desa yang bersangkutan. dihapus. antar-Pemerintah Kabupaten. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 113 Cukup jelas Pasal 114 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir dilakukan selambatlambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan dari Pemerintah. digabung. potensi daerah. dan/atau pemekaran Daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut : Daerah yang akan dibentuk. jumlah penduduk. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. terutama di bidang keuangan dan pemerintahan. Pasal 115 Ayat (1) Mekanisme pembentukan. Pasal 112 Ayat (1) Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom melalui pemberian pedoman. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi.Pasal 110 Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak pembangunan tersebut. serta bersikap independen sebanyak 6 orang. dan supervisi. dan pertimbangan lain. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi. penghapusan. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. penggabungan. pelatihan. arahan. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian. sosial politik. penggabungan. bimbingan. luas daerah. 2 orang Wakil Daerah Kabupaten. penghapusan. dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Ayat (3) Cukup jelas 70 .

adat. Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas 71 . Ayat (2) Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan nasional. Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal usul dan peranannya dalam sejarah perjuangan nasional. sedangkan isi keistimewaannya berupa pelaksanaan kehidupan beragama. sedangkan isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Ayat (1) Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut. dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan kebijakan Daerah.

Pasal 133 Cukup jelas Pasal 134 Cukup jelas ______________________________________ 72 .Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun. Ayat (2) Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah selesai dalam waktu dua tahun.

pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI). Mengingat: Pasal 5 ayat (1). yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. tumbuhan. Menimbang: a. termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. dan jasad renik (microorganism). bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. khususnya di Indonesia. diakui pula adanya peranan penting wanita. bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya. g. f. e. bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. 73 . Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. Brazil. c. dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi. b. Pasal 11.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem. d. jenis dan genetik yang mencakup hewan. bahwa keanekaragaman hayati di dunia. perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945.

MOERDIONO 74 . Agar setiap orang mengetahuinya. Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.

memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. b. Sumber daya alam di darat.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I. penegakan hukum. dan ekosistem. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. d. perdamaian abadi. perlu terus ditingkatkan. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. mengendalikan pencemaran. dan kesehatan terus ditingkatkan. menegaskan sebagai berikut : a. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. industri. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. b. antara lain. Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. terutama bagi pengembangan pertanian. 75 . g. pemantauan. e. dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. pemberian rangsangan. mencerdaskan kehidupan bangsa. c. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994 ). dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. Inventarisasi. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang. jenis spesies. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. merehabilitasi kerusakan lingkungan. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia ( Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. jo Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia Tanggal 17 Pebruari 1969. f. A. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional.

pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. f. Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. Sidang terakhir diadakan di Nairobi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299).Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi. Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. e. j. dengan keputusan No. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. c. Governing Council. Kenya. pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. d. dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. e. Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. Brazil. Spanyol. Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991. B. 14/17 tanggal 17 Juni 1987. d. Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut: a. Selain negara-negara ini. c. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INCCBD) di Madrid. Dengan demikian. k. g. Konferensi di Rio de Janeiro. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. Kenya. pada tanggal 5 Juni 1992. dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. f. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). h. Kenya. yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). ikut hadir pula Masyarakat Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Fifth Session of INC-CBD di Geneva. Kenya. b. pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992. 15/34 tanggal 25 Mei 1989. Brazil. diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. 76 . l. g. Swiss. Brazil. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). Kenya. yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). i. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity.

7. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. c. Keberatan-keberatan (Reservasi). 10. C. 23. 14. 37. Konservasi In-situ. yaitu : 1. Konsiliasi (Conciliation). Tujuan. 33. Aksesi. Interim Financial Agreement. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. Pengaturan Sekretariat Interim. 39. Konservasi Ex-situ. Amandemen Konvensi atau Protokol. Pertukaran Informasi. Penarikan Diri. 34. 13. Tindakan Insentif. Identifikasi dan Pemantauan. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. 9. 19. d. Mekanisme Pendanaan. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. Teknis dan Teknologis. Teks Asli b. Sumber Dana. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. Hak Suara. Sekretariat. usul perubahan. Lampiran II : Bagian 1. Pengesahan dan Lampiran Amandemen.Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. 29. 8. Konferensi Para Pihak. keberatan. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. 17. 38. 25. Lingkup Kedaulatan. b. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2. Pengesahan Protokol. 24. 18. Kerja sama Internasional. Prinsip. 22. 3. Depositari. 30. 28. 27. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. 32. Selain itu. Ratifikasi. Penandatanganan. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. 36. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan. 35. Hal Berlakunya. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. Pengaturan Pendanaan Interim. 15. yang di antaranya berisi saran. 6. Pengertian. Penyelesaian Sengketa. 42. Lampiran : Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring) . Laporan. 21. 26. 5. Penelitian dan Pelatihan. 2. 11. 31. 40. Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. dan penyempurnaan. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. 16. 4. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. Keempat resolusi tersebut ialah : a. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. 20. 12. 41. 77 . Akses pada Sumber Daya Genetik. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. Penerimaan atau Persetujuan. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir.

Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG . c) Pertukaran Informasi. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. 7. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. program. pelatihan. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. 8. mempunyai nilai penting secara ekonomi. ilmiah dan ekonomi penting. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. II. di dalam dan di luar negeri. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional. dan 3. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. 78 . Jenis dan komunitas yang terancam. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. seperti halnya jenis indikator. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional.D. 3. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. d) Pengembangan pendidikan. ilmiah atau budaya yang penting. atau yang mewakili. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi. 5. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Dengan meratifikasi Konvensi ini. kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari. 2. dan peningkatan peran serta masyarakat. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. atau mempunyai nilai sosial. budaya atau ilmiah. 2. penyuluhan. Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antar sektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. 6. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia.UNDANG NO. 4. pertanian atau nilai ekonomis yang lain.

Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. 3. Pasal 2 1. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. semua protokol yang berkaitan. 2. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. dan (b) Membantu sidang.UNDANG NO. informasi dan fasilitas yang berkaitan. karena keadaan khusus kasus tersebut. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. atas permintaan salah satu pihak. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Dalam persengketaan antara dua pihak. merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. dengan persetujuan bersama. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. Pasal 3 1.LAMPIRAN II UNDANG . Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut. dengan permintaan salah satu pihak. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua. Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama. 79 . 2. akan : (a) Memberi sidang segala dokumen. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. bilamana perlu. Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini. dan hukum internasional. pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut.

Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya. 80 . Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi. sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah. Bagian 2 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. kecuali bilamana pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya.Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. Pasal 12 Keputusan. Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya. Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding. Sebelum membuat keputusan akhirnya.

Dewan tersebut harus.Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik. Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut. 81 . menetapkan prosedurnya sendiri.

Pasal 20 ayat (1). b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). 3. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional. maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. 2. Pasal 5 ayat (1). Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368).UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang: a. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. 5. bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. 2. g bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas. serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. e. f. selaras. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Mengingat: 1. 82 . Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial. 4. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA. baik masa kini maupun masa depan. bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. d. c.

Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. 11. pendidikan. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. satwa. 7. Pemerintah menetapkan : a. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan. baik yang hidup di darat maupun di air. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 15. jenis asli dan atau bukan asli. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. 12. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. 8. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air. budaya. menunjang budidaya. b. 10. 16. dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. 83 . dan/atau di air. menunjang budidaya. Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. c. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. pendidikan. 5. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. 4. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. ilmu pengetahuan. BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. pariwisata. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. 9. perlindungan sistem penyangga kehidupan. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. dan rekreasi. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. pariwisata. baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. b. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. 6.3. 14. c. dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat. ilmu pengetahuan. dan rekreasi. yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. 13. dan/atau di udara. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. ekosistem unik.

dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. pendidikan. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. b. b. (2) Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. (2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. suaka margasatwa. BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a. (2) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan. dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. (3) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan. ilmu pengetahuan. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. wisata terbatas.Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. 84 . pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 13 (1) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. Pasal 10 W ilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan. dilaksanakan melalui kegiatan : a. Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja sama konservasi internasional. khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pendidikan. (3) Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. cagar alam. pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. ilmu pengetahuan. (2) Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1).

dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. tumbuhan dan satwa yang dilindungi. dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. b. b. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. c. (3) Pengecualian dari larangan menangkap. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. d. mengambil. membunuh. dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. ayat (2).Pasal 19 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. memiliki. (3) Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. mengangkut. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. Pasal 24 (1) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa. memiliki. (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. mengambil. memusnahkan. BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. merusak. memelihara. mengangkut. menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam. memperniagakan. melukai. menyimpan atau memiliki kulit. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. e. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. melukai. menangkap. b. memelihara. kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. menyimpan. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. memusnahkan. 85 . (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). merusak. memelihara. Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. memiliki. Pasal 23 (1) Apabila diperlukan. memperniagakan. (2) Setiap orang dilarang untuk : a. ilmu pengetahuan. menyimpan. b. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. menebang. mengangkut. Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu.

Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. (2) Di dalam zona pemanfaatan taman nasional.BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional. ilmu pengetahuan. dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. taman hutan raya. b. menunjang budidaya. (3) Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi. taman hutan raya. dan zona lain sesuai dengan keperluan. (3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. c. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan taman wisata alam. Pasal 34 (1) Pengelolaan taman nasional. Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional. daya dukung. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masingmasing kawasan. dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi. b. taman nasional. taman hutan raya. zona pemanfaatan. pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam. taman wisata alam. taman hutan raya. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. taman hutan raya. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. (2) Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. Pasal 33 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. taman hutan raya. taman hutan raya. 86 . serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pendidikan. ayat (2). pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti. budaya. dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. dan wisata alam. dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu. dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional. dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian.

perdagangan. juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. berwenang untuk: a. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. perburuan. BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. e. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. b. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. pengkajian. g. BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. f. e. pemeliharaan untuk kesenangan. budidaya tanaman obat-obatan. Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. b. peragaan. pertukaran. 87 . c. g. penelitian dan pengembangan. d. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. h. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. penangkaran. membuat dan menandatangani berita acara. BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. d. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. f.

Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167). (4) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.000. tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134). Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733).000.00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati. 4. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133). BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1.000.00 (dua ratus juta rupiah). (5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran.000. Agar setiap orang mengetahuinya. 2.000. 100. 3. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini. Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200. Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 88 . (2) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100. dinyatakan tidak berlaku lagi.00 (seratus juta rupiah).00 (seratus juta rupiah).000.000. (3) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp.

diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Untuk itu. dipelihara. dilestarikan. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani. Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. perkembangan kependudukan. taman hutan raya. dan taman wisata alam. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal. polusi. ilmu pengetahuan. Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan. baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan. sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. keselarasan dan keseimbangan. pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. yaitu : 1. Peran serta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. ilmu pengetahuan. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi. baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana. Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA I. 2. belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah). menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan). alam nabati ataupun berupa fenomena alam. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi. dan Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. 3. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya. tegas. dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundangundangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia. baik secara masing-masing maupun bersamasama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan. yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. Oleh karena itu. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya. dan pemanfaatan secara lestari. pengawetan 89 . Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi. dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari). antara manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi. dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian. baik di darat. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah. yang kehadirannya tidak dapat diganti. maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan.

Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Cukup jelas Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar. II. keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin. tetapi termasuk di dalam pengertian satwa.keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Namun. 90 . pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undang-undang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia. Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Namun.

dan lain-lain. perlu diadakan penelitian dan inventarisasi. pemeliharaan fungsi hidrologi hutan. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). udara. maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. dan genangan air lainnya). tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. tumbuhan. bagian tertentu dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. dan jasad renik. jurang. maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. air. Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. rawa. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. danau. b. daerah pasang surut. Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan. Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai. baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. daerah pantai. maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi.Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas tanah. baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari. laut wilayah Indonesia. c. perlindungan pantai. Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tebing. dan tanah. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi. bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. Pasal 6 Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia. yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak. daerah aliran sungai. dan areal berpolusi berat. 91 . satwa. perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. danau. tepian sungai. pengelolaan daerah aliran sungai. waduk. Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung. areal tepi sungai. dan jurang.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya. ilmu pengetahuan. perburuan satwa yang berada dalam kawasan.perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian. khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat. Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan. dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah. ilmu pengetahuan dan pendidikan. melihat. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. kebakaran. Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak. kewenangan penentuan kegiatan penelitian. erosi. Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami.Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor. maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. 92 . Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi. tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. baik sebagai kawasan hutan lain. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945. sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Namun. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. dan gempa bumi. dan pendidikan. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer.

baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa. dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa. guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia. Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis. sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya. dan sebagainya. taman safari. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah. juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. 93 .Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan. baik di dalam maupun di luar negeri. penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan. cara melakukan penangkapan hidup-hidup. pembuatan fasilitas air minum. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya.

Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional zona rehabilitasi, dan sebagainya. Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

94

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran), dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa. Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka melalui kegiatan penyuluhan, Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah, juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas 95

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila; b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 96

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan; b. keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. (2) Setiap orang berhak untuk: a. mengetahui rencana tata ruang; b. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 5 (1) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. (2) Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. 97

Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. (2) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undang-undang. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan, penataan ruang kawasan perkotaan, dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia; b. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi, selaras, dan seimbang antara perkembangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. (3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II; b. meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, dan interaksi lingkungan; b. tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan, serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pasal 12 (1) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. (2) Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. (3) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). (4) Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; b. aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. (2) Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya. (3) Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang, tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. 98

kawasan budi daya. Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. yang didasarkan atas rencana tata ruang. (2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tata guna udara. keterkaitan. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. b. dan evaluasi. (2) Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. c. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warganegara. tata guna air. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a. dan kawasan tertentu. diatur dengan Peraturan Pemerintah. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. d. c. c. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. b. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. tata guna air. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. Pasal 18 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. norma dan kriteria pemanfaatan ruang. b. pola pengelolaan tata guna tanah. kawasan budi daya. pemantauan. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. b. (2) Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. yang meliputi: a. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. 99 . mewujudkan keterpaduan. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II. BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. b. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penetapan kawasan lindung. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. c.

dan tata guna sumber daya alam lainnya. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun. dan kawasan tertentu. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan kawasan lainnya.Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. c. kawasan perkotaan. arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan. pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. arahan kebijaksanaan tata guna tanah. (2) Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. pengelolaan kawasan perdesaan. d. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. tata guna air. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. b. kawasan perkotaan. e. perindustrian. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pengairan. telekomunikasi. arahan pengembangan kawasan permukiman. d. c. e. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan kawasan tertentu. c. b. c. pertambangan. e. energi. keterkaitan. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi. kehutanan. d. prasarana pengelolaan lingkungan. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. dan prasarana pengelolaan lingkungan. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. mewujudkan keterpaduan. b. keterkaitan. arahan pengelolaan kawasan perdesaan. pedoman. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. d. penatagunaan air. b. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. c. f. pariwisata. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. pengairan. b. yang meliputi: a. telekomunikasi. sistem prasarana transportasi. yang meliputi : a. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. g. penatagunaan tanah. b. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. penatagunaan udara. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kawasan. energi. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. d. tata cara. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 100 . serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. pertanian. mewujudkan keterpaduan. tata guna udara. c. (6) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. (4) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor.

(4) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. b. pendidikan. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undangundang ini. dan pelatihan. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. 101 . (2) Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. (3) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 27 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. (2) Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan itikad baik. mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. (2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting. menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan. bimbingan. Pasal 29 (1) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang.BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. (2) Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Lembaga. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. b. (3) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168.13) dinyatakan tidak berlaku. Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 102 . memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no.

dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. ruang lautan. maka 103 . tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. hubungan manusia dengan alam. Ruang meliputi ruang daratan. dan keseimbangan. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan. Seiring dengan maksud tersebut. pertahanan keamanan. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. jenis kegiatan. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. hubungan manusia dengan manusia. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati. dan estetika lingkungan. sumber daya buatan. 3. maka haruslah jelas batas. ekonomi. budaya. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. Oleh karena itu. fungsi lokasi. kawah gunung berapi. Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas. di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG I. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. budaya. diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. sosial. ruang harus dimanfaatkan secara serasi. keselarasan. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. dan iklim tropisnya. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. pertahanan keamanan. akan meningkatkan keserasian. sosial. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. 2. lautan. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik. baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. musim. Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinasi. lapisan di bawah kerak bumi. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. Oleh karena itu. ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. Dengan demikian. kualitas ruang. terpadu. dilindungi dan dikelola. Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. ekonomi. Secara geografis letak dan kedudukan negara Indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. selaras. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. keselarasan. UMUM 1. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. Akan tetapi. 4. Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem.

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. sebagai obyek wisata. pertambangan. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. perdesaan. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya. perhubungan. b. dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. Untuk itu. pertanahan. Dengan demikian. dan tempat. perindustrian. pertambangan. b. harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. yang merupakan ruang di luar ruang udara. tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). kehutanan. dan ruang udara.pelaksanaan pembangunan. Selain itu. perumahan dan permukiman. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. ruang lautan. perkotaan. Potensi itu diantaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan. Dalam Undang-undang ini. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. d. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. Dengan demikian. dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. pembangunan daerah. jalan. II. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundangundangan mengenai perairan. industri. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. Landas Kontinen Indonesia. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah teritorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah teritorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang. waktu. kepariwisataan. atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. c. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. transmigrasi. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). ruang lautan. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. pemanfaatan ruang. perikanan. sebagai jalur perhubungan. 104 . 5. Ruang daratan. telekomunikasi. ruang lautan. Ruang daratan. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi. c. pemanfaatan ruang. sebagai sumber energi. dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35.

ruang lingkup wilayah yang direncanakan. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai. Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. dan jalan lokal. dan geopolitik. lingkungan sosial. dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. dan sebagainya. Dalam mempertimbangkan aspek waktu. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. sebaran permukiman. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. suaka alam. gua. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. 105 . prasarana jalan seperti jalan arteri. tempat kerja. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. modal. Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. pusat lingkungan. danau. optimasi. rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu.Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. antar daerah. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. Yang dimaksud dengan serasi. jarak antar bangunan. keselarasan. gunung dan sebagainya. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. jalan kolektor. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. industri. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. fungsi. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor. garis langit. selaras. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. daya tampung lingkungan. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. pusat pemerintahan. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. dan pertanian. daya dukung lingkungan.

budi daya pertanian. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang.Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian. dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor-faktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. perdagangan. tambang. ikan. dan ruang udara. ruang lautan. memberi saran. fungsi lingkungan seperti wilayah 106 . tempat peristirahatan. dan sebagainya. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. integrasi. siklus udara. dan atau ruang. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. budi daya kehutanan. dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. atau badan hukum. meningkatkan fungsi kawasan lindung. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. dan sebagainya. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. industri. Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. b. bahan galian. kelompok orang. dan lain-lain yang sejenis. obyek wisata lingkungan. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. daerah. dan sebagainya. dan kegiatan pembangunan permukiman. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. hak untuk melakukan angkutan laut. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. pariwisata. siklus hidrologi. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. rehabilitasi. Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. penelitian. Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi. penambangan lepas pantai. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal. tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. keselarasan. yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. b. pemanfaatan ruang. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. dan lain-lain yang sejenis. hak untuk melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. dan pengendalian pemanfaatan ruang. hak untuk mengelola pariwisata bahari. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. hak pemeliharaan taman laut. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang.

pertanaman. kegiatan pemerintahan. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. konservasi flora dan fauna. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. kawasan resapan air. kegiatan pelayanan sosial. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. c. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. taman nasional. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. 107 . kawasan pendidikan. kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. kawasan pariwisata. kawasan bergambut. dan kawasan rawan bencana alam. b. kawasan pantai berhutan bakau. Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. sempadan sungai. kegiatan pelayanan sosial. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). kawasan tempat beribadah. kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. tempat kegiatan pertanian. estetika lingkungan seperti bentang alam. dan kegiatan ekonomi. kawasan sekitar danau/waduk. dan kawasan tertentu. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. kawasan perkotaan. kawasan suaka alam. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. kawasan permukiman. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. dan kegiatan ekonomi. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a. taman hutan raya dan taman wisata alam. kawasan sekitar mata air. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. sempadan pantai. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja. Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan. dan sebagainya.resapan air. kawasan pertanian. kawasan pertahanan keamanan. wilayah perbatasan. Bagi orang yang tidak mampu. serta kawasan perdesaan. kawasan hutan lindung. kawasan industri. taman nasional. kawasan resapan air. kawasan berikat. arsitektur bangunan.

penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. dan kawasan tertentu. wilayah perbatasan. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. lingkungan. pariwisata. dan daerah latihan militer. baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu. Kecuali kawasan tertentu. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. kawasan hutan lindung. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. wilayah perbatasan. 108 . Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. di daratan. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. serta kawasan perdesaan. kawasan resapan air. sosial.Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. dan pertahanan keamanan. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. suaka alam. Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya. di lautan dan di udara dengan negara tetangga. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya pertanian. taman nasional. Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. kawasan perkotaan. Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. budaya. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. ekonomi. koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

daya dukung dan daya tampung lingkungan. kedalaman rencana. Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. dan fungsi wilayah serta kawasan. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan. atau badan hukum. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: 109 . b. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. bertitik tolak dari data. Oleh karena itu. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Ayat (2) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. informasi. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang.Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala. Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. d. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional. penetapan tata ruang. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. budaya. Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. c. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. perumusan perencanaan tata ruang. menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. kelompok orang. Dalam menjalankan peranannya itu. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. maka hak orang harus tetap dilindungi. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. sosial. serta fungsi pertahanan keamanan.

Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. penatagunaan udara. dan geofisika. udara. sumber daya alam. budaya.a. penatagunaan udara. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. Perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa. Tata guna tanah. minyak bumi. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral. dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan. fungsi lindung. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. air. d. budi daya. jaringan transportasi seperti jalan raya. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. antara lain. dampak terhadap lingkungan. sosial. Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. informasi. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. flora. dan pemanfaatan tanah. prioritas. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. administrasi. pertahanan keamanan. c. teknologi. pengatusan air hujan. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. lingkungan alam nonhayati. air. Sistem prasarana meliputi. b. energi angin. penatagunaan air. jaringan telepon. energi surya. udara. dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. pola pengelolaan tata guna air. potensi meteorologi klimatologi. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. antara lain. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. jaringan gas. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk 110 . Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. penggunaan. air kotor. fauna. pola pengelolaan tata guna udara. air. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. ekonomi. udara. tata guna air. c. penatagunaan air. dan estetika lingkungan. lingkungan buatan. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun demikian. penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. sistem prasarana. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. air. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. udara. jalan kereta api. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. sumber daya buatan. sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang.

Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi. Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham. telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. imbalan. di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. 111 . Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. mengawasi. dan mempertahankan ruang hidupnya. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama. atau b. misalnya dalam bentuk: a. Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. pengenaan pajak yang tinggi. meskipun Undang-undang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. Dengan demikian. dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. atau b. pemanfaatan udara. Dalam pemanfaatan tanah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a.kepentingan masyarakat secara adil. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi. Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. air minum. listrik. dan sanksi pidana. pemanfaatan air. Pasal 19 Ayat (1) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. sanksi perdata. dan geofisika. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. ketidaktersediaan sarana dan prasarana. hak memperoleh. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan. klimatologi.

c. termasuk penetapan kawasan tertentu. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional.000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. dan udara. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. c. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250. b.000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan. Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional. pemerataan. dan kawasan lainnya. data dan informasi. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan. b. kawasan budi daya.000. daya dukung dan daya tampung lingkungan. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. d. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. dan stabilitas. c. keanekaragaman kegiatan pembangunan. b. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang. kawasan budi daya.000. 112 . peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100.Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda. Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat.000. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. e.000. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar. pertumbuhan. laut. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.

serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan. pemerataan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. b. Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. h. Selanjutnya. pokok permasalahan kepentingan nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. e. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I. program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. 113 . dan stabilitas. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. Meskipun demikian. c. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Dengan demikian. f. g. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pertumbuhan. Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun. daya dukung dan daya tampung lingkungan. d. i. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan.Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batasbatas tertentu. data dan informasi.

Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. e. penatagunaan tanah. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. g. data dan informasi. udara dan sumber daya alam lainnya. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. persediaan dan peruntukan tanah. air. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. c. energi. telekomunikasi. Ayat (6) Cukup jelas 114 . kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. keselarasan dengan aspirasi masyarakat.Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II memperhatikan antara lain: a. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. penatagunaan air. b. f. dan pengelolaan lingkungan. Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. d. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. daya dukung dan daya tampung lingkungan. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. pengairan.

pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan dalam kaitannya dengan besaran kawasan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. mempunyai dampak penting. pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. b. kewenangan. menjunjung tinggi. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan. lokasi. Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Pemilikan. mengakui. hukum adat. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. dan mencegah kerusakan lingkungan. Dengan demikian. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. penguasaan. atau kebiasaan yang berlaku. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar. dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundang-undangan. c. dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. 115 . Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. dan kegiatan yang ditetapkan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri.

Lembaga. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. jaringan air minum. Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang. sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan. pendidikan. Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Lembaga. hukum adat. jaringan pengatusan. jaringan penyediaan air baku. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. proses. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. standar dan kriteria teknis. kualitas ruang. bimbingan. prosedur. Ayat (2) Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai buktibukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain. pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang. serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. pemanfaatan ruang. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. dan Badan-badan Pemerintah lainnya.Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. Sebaliknya Departemen. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut. dan kebiasaan yang berlaku. pemanfaatan ruang. jaringan telepon. Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. jaringan air kotor. Ayat (3) Cukup jelas 116 . dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta.

Pada prinsipnya. sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. permukiman. industri. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas 117 . permukiman. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan. pemanfaatan ruang. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. dan terpusat. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pertanian. Sebagai contoh. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini. dikoordinasikan oleh Menteri. sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. dan penyusunannya dilakukan secara berurutan.Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. antara lain. untuk menghindari kevakuman. Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. dan sebagainya. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya. Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. kawasan perumahan menjadi kawasan industri. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. pariwisata. pariwisata. lintas daerah. perdagangan. Akan tetapi. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya. pariwisata. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. dan sebagainya. peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuan-ketentuannya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti.

AMDAL 118 .

c. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 5. 12. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 9. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 10. e. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 2. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 11. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 3. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan. ME MUTU S KAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Mengingat : 1. 14. 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/ atau kegiatan dimaksud. 119 . Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. 6. b. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 4. d. bahwa dengan diundangkannya Undang-undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. 2. 13. 7.

b. i. 120 . c. sifatnya kumulatif dampak. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. Pasal 3 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. luas wilayah persebaran dampak. (4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. b. f. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. f. d. g. jenis hewan. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. (2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. h.Pasal 2 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/ atau kegiatan. (5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. (2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. Pasal 5 (1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : a. (3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya dalam 5 (lima) tahun. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. lingkungan buatan. e. Pasal 4 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. (2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. (3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. dan jenis jasad renik. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. serta lingkungan sosial dan budaya. jumlah manusia yang akan terkena dampak. d. Pasal 7 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. (2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. terpadu atau kegiatan dalam kawasan. e. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. dan atau mempengaruhi pertahanan negara. c.

rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Komisi penilai dibentuk : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. analisis dampak lingkungan hidup. baik pusat maupun daerah. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. (6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. b) di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. organisasi lingkungan hidup di daerah. 121 . instansi yang ditugasi bidang kesehatan. instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. (7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. ditetapkan oleh Menteri. wakil masyarakat terkena dampak. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. analisis dampak lingkungan hidup. b. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. di tingkat pusat : oleh Menteri. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 10 (1) Komisi penilai daerah sebagaimana dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. serta anggota lain yang dipandang perlu. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. ahli di bidang lingkungan hidup. ahli di bidang lingkungan hidup. (8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. (4) Dalam menjalankan tugasnya. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pemantauan lingkungan hidup.(2) Pemohon izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan instansi yang bertanggung jawab. (5) Dalam menjalankan tugasnya. ahli di bidang yang berkaitan. ahli dibidang yang berkaitan. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. warga masyarakat yang terkena dampak. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur. (3) Komisi penilai menilai kerangka acuan. Departemen Dalam Negeri. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a) di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. serta anggota lain yang dipandang perlu. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. Pasal 9 (1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. (4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : oleh Gubernur. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya.

usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB III TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 14 (1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. d. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 122 . di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. dan rencana pemantauan lingkungan hidup Pasal 17 (1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. c. Pasal 16 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 12 (1) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan. berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. b. (3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2). e. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 15 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengembangan wilayah. (2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. b. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat. usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. dengan ketentuan : a. Bagian Kedua Analisis dampak lingkungan hidup. (4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan.Pasal 11 (1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait.

dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). atau b. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh : a. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. Pasal 19 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 22 (1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa : a. 123 . dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah (2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. (3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. Pasal 20 (1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). Pasal 19. rencana pengelolaan lingkungan hidup. b. dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. (2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. b. rencana pegelolaan lingkungan hidup. Pasal 21 (1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. Gubernur dan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. instansi terkait yang berkepentingan. dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 18. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan Pasal 20. dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. dan pertimbangan terhadap saran. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). b. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. diajukan oleh pemrakarsa kepada : a. dan instansi yang terkait. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. pendapat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri. biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup. (2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup.Pasal 18 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Pasal 27 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 25 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatan. atau b. Pasal 26 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pasal 24 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. 124 . (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya keputusan kelayakan tersebut.Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup. (2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. pelatihan. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan peraturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 31 Penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. Pasal 29 (1) Pendidikan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan dilokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.

dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab. b. b. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup di bebankan kepada pemrakarsa. pendapat. (2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. pendapat. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. c. Pasal 34 (1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum. (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. (5) Saran. pendapat. saran. Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup (2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (4) Saran. 125 . (2) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. (6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 35 (1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. penilaian kerangka acuan.BAB V PENGAWASAN Pasal 32 (1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. kesimpulan komisi penilai. Pasal 38 (1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pendapat. serta tatacara penyampaian saran. analisis dampak lingkungan hidup. analisis dampak lingkungan hidup. (3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Instansi yang bertanggung jawab menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. dan tanggapan warga masyarakat yang berkaitan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. rencana pengelolaan lingkungan hidup. pendapat. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun.

memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 ( delapan belas ) bulan sejak tanggal diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG 126 . atau b. Agar setiap orang mengetahuinya. sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini : a. dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif.

pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Angka (3) Cukup jelas 127 . sehingga dapat diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Oleh karena itu. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting. Keterlibatan warga masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan pembangunan. tetapi dilain pihak ketersediaan sumber daya alam bersifat terbatas. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. sejak awal perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru. baikyang menguntungkan maupun yang merugikan. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Oleh karena itu. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Hal itu merupakan konsekuensi dari kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP I. Oleh karena itu. sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Konsekuensinya adalah bahwa syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Dengan keterlibatan warga masyarakat itu akan membantu dalam mengidentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan lengkap. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. sehingga timbul tekanan terhadap sumber daya alam. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut. II. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Dengan demikian. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan merupakan kepentingan seluruh masyarakat. analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan yang timbul. Peran masyarakat itu meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan mengubah rona lingkungan hidup. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam.

berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan. usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. pengelolaan. 128 . Ayat (3) Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi kegiatan dimaksud. b. analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi : a. Oleh karena itu. dan proses produksinya. maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis.Angka (4) Cukup jelas Angka (5) Cukup jelas Angka (6) Cukup jelas Angka (7) Cukup jelas Angka (8) Cukup jelas Angka (9) Cukup jelas Angka (10) Cukup jelas Angka (11) Cukup jelas Angka (12) Cukup jelas Angka (13) Cukup jelas Angka (14) Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomisfinansial.Dengan ayat ini. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. analisis ekonomis-finansial.

yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi : a. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan: c. Oleh karena itu kriteria ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. d.Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. perlu ditinjau kembali. f. pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. b. kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. kerusakan kawasan konservasi alam. Dengan demikian penyebutan kategori usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. atau pencemaran benda cagar budaya. introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. g. bendungan. c. pembuatan jalan. Pasal 3 Ayat (1) Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. h. penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan. Oleh karena itu. e. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. Ayat (2) Cukup jelas 129 . introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. b. usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. sehingga tidak bersifat limitatif. berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lainnya. sebagai contoh seperti usaha dan/ atau kegiatan : a. kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang.

Sedangkan keputusan kelayakan lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. izin penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup. kuasa pertambangan di bidang pertambangan. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. izin hak pengusahaan hutan di bidang kehutanan. Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah lembaga swadaya masyarakat. dan instansi yang ditugasi di bidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. khususnya pengendalian dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak lingkungan hidup di daerah. Ayat (2) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Oleh karena itu. misalnya pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar. Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai. Adanya wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas 130 . ditetapkan oleh menteri yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dimaksud. Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan. izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. tanpa izin tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung resiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. Ayat (2) Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 7 Ayat (1) Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan. Keadaan darurat ini tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Keadaan Darurat.Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa. misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Misalnya izin usaha industri di bidang perindustrian. Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan. Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau kegiatan tersebut.

pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi. penambangan uranium. bandar udara. eksploitasi minyak dan gas. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. Ayat (3) Cukup jelas 131 . industri pesawat terbang. industri senjata. kerangka acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. industri telekomunikasi. penilaian secara teknis. serta komponenkomponen parameter lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. Dalam hal usaha dan/ atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau kegiatan terpadu/ multisektor.Pasal 11 Ayat (1) Huruf (a) Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan keamanan negara misalnya : pembangkit listrik tenaga nuklir. industri petrokimia. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jeias Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. Ligitan dan Celah Timor Huruf (d) Cukup jelas Huruf (e) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. yaitu proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting. industri alat-alat berat. sampai ditetapkannya keputusan. pembangkit listrik tenaga air. industri bahan peledak. Huruf (b) Cukup jelas Huruf (c) Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya: rencana usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan. kilang minyak. pelabuhan dan rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dianggap strategis. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. industri baja. Berdasarkan hasil pelingkupan. pembangunan bendungan. maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat. penilaian oleh komisi penilai. industri kapal.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik pula. rencana pengelolaan lingkungan hidup. yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Kerangka acuan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup.Ayat (4) Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan umum. Oleh karena itu. Dengan mengetahui dampak besar dan penting itu dapat ditentukan : a. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. cara memantau dampak besar dan penting tersebut. dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan keputusan kepada instansi yang berwenang. dan b. sampai dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup. yang dicantumkan dalam rencana pemantauan lingkungan hidup. hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar dan penting positif. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I . Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. penilaian secara teknis. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. demikian pula sebaliknya. penilaian oleh komisi penilai. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan umum. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas 132 . dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. rencana pengelolaan lingkungan hidup.

dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah diterbitkan menjadi batal. Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. sehingga rona lingkungan hidup yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau bantuan lainnya. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda. 133 . Oleh karena itu. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup.Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup.

Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian mengenai analisis dampak lingkungan hidup. dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi. Ayat (5) Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam penyusunan kerangka acuan. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lokasi akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan. jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya. melalui media cetak dan/atau media elektronik. menjadi tanggungan pemrakarsa. antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Saran. misalnya. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas 134 .Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (2) Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan. Ayat (6) Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan sekurangkurangnya. kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan.

Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 Tentang Kedudukan. e. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41. c. h. bahwa Menteri Negara Lingkungan Hidup berwenang untuk menetapkan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3. 2. bahwa daerah saat ini membutuhkan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) untuk pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. sejalan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). bahwa pembinaan usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berada pada pemerintah. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090). bahwa salah satu upaya pembinaan tersebut dapat berupa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. g. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Susunan Organisasi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Menimbang : a. 4. b. 6. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Fungsi. f.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. bahwa mengingat hal-hal seperti tersebut di atas. 5. 7. Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Kewenangan. Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). bahwa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) seperti tersebut pada huruf c. Tugas. 135 . Mengingat : 1. dan Tata Kerja Menteri Negara.

tanda tangan dan cap. (3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib menerbitkan rekomendasi tentang UKL dan UPL kepada pemrakarsa paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah diperbaiki oleh pemrakarsa. (2) Izin yang diterbitkan oleh pejabat dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tembusannya wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertangung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota sesuai kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. (2) Dalam hal terdapat kekurangan informasi yang disampaikan dalam formulir isian tentang UKL dan UPL dan memerlukan tambahan dan atau perbaikan. 136 . e. d. Di a. program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi. pemrakarsa wajib menyempurnakan dan atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. Pasal 5 (1) Berdasarkan formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Pasal 8 (1) Pejabat dari instansi yang berwenang wajib mencantumkan syarat dan kewajiban yang tercantum dalam program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Kabupaten/Kota. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Propinsi dan atau lintas batas negara. di dalam izin melakukan usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. b. Pasal 7 Pemrakarsa mengajukan rekomendasi tentang UKL dan UPL dari pejabat instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada instansi yang berwenang sebagai dasar penerbitan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah Kabupaten/Kota. (2) UKL dan UPL wajib dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan formulir isian seperti terlampir dalam Keputusan ini. Pasal 2 (1) Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib melakukan UKL dan UPL. rencana usaha dan atau kegiatan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib berkoordinasi dengan instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan untuk melakukan pemeriksaan formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL.2. dampak lingkungan yang akan terjadi. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota. c. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. Pasal 3 dalam formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berisikan informasi: identitas pemrakarsa. b. 3. Pasal 6 Dalam hal formulir isian tentang UKL dan UPL tidak memerlukan perbaikan. c. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib memberikan rekomendasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. Pasal 4 Pemrakarsa mengajukan formulir isian tentang UKL dan UPL kepada: a. yang proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

MPA. MSM.Pasal 9 Dengan berlakunya keputusan ini. Pasal 10 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. MPA. 137 . ttd Nabiel Makarim. ttd. Hoetomo. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dinyatakan tidak berlaku lagi. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan Dan Kelembagaan Lingkungan Hidup. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 28 Oktober 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup..

Pertama Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan dalam skala/ besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Kedua Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). daya tampung. 6. maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 4. 5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419).KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. 3. tetapi karena daya dukung. c. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 138 . Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. 2. b. Ketiga Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup.

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Hukum Lingkungan. ttd. Ketujuh Dengan berlakunya keputusan ini. Hadi 139 . Dr. Sudharto P. Kelima Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Keenam Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi. A. maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup.Keempat Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Kedelapan Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan.

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 Tahun 2001 TANGGAL : 22 Mei 2001 JENIS RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. Pendahuluan Jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan : a. Potensi dampak penting Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan: 1. Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2. Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang AMDAL. b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul. 2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup A. Bidang Pertahanan dan Keamanan Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan skala/besaran berikut berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah

Skala/Besaran Semua besaran *

Alasan Ilmiah Khusus Beresiko terjadinya ledakan saat perjalanan dan saat penyimpanan yangmembahayakan penduduk walaupun sudah memiliki standard operating procedure (SOP) penanganan bahan peledak. * Kegiatan pengerukan dan reklamasi berpotensi mengubah ekosistem laut dan pantai. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair dan sampah padat. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan pesawat. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan latihan tempur berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan akibat ledakan. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan penyiapan lahan (land clearing) di areal yang cukup luas untuk pangkalan, landasan pacu, dan bangunan penyangga menyebabkan perubahan ekosistem. * Kegiatan latihan berpotensi menyebabkan kebisingan.

2

Pembangunan Pangkalan TNI AL

Kelas A dan B

3

Pembangunan Pangkalan TNI AU

Kelas A dan B

4

Pembangunan Pusat Latihan Tempur

Luas > 10.000 ha

5

Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri

Luas > 10.000 ha

140

B.

Bidang Pertanian Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas air, persebaran hama, penyakit dan gulma, serta perubahan kesehatan tanah akibat penggunaan pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan penyebaran penyakit endemik. Skala/besaran yang tercantum di bawah ini telah memperhitungkan potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam. Skala /besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang, dan tinggi. Skala/Besaran Luas > 2.000 ha Alasan Ilmiah Khusus * Lihat penjelasan di atas

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tanaman pangan dan hortikultura semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan

2

Luas > 5.000 ha

*

Lihat penjelasan di atas

3

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

4

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

141

C.

Bidang Perikanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang, ikan, dan pembangunan pelabuhan perikanan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam. Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan dari tumbuhtumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya

Skala/Besaran Luas > 50 ha

Alasan Ilimiah Khusus * Rusaknya ekosistem mangrove yang menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan ( nursery areas) akan mempengaruhi tingkat produktivitas daerah setempat. Beberapa komponen lingkungan yang akan terkena dampak adalah: kandungan bahan organik. perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah phytoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Berpotensi menimbulkan konflik sosial. Perubahan kualitas perairan. Pengaruh perubahan arus dan penggunaan ruang perairan. Pengaruh terhadap estetika perairan.

*

*

2

Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system): a. Di air tawar (danau) - Luas - Atau jumlah b. Di air laut - Luas - Atau jumlah

* * > 2,5 ha > 500 unit * > 5 ha > 1.000 unit *

3

Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum dan memenuhi kriteria sebagai berikut: - Panjang dermaga - Atau mempunyai Kawasan Industri Perikanan dengan luas - Atau kedalaman perairan di dermaga

> 300 m > 10 ha > -4 m LWS

Berpotensi menimbulkan dampak berupa: penurunan kualitas air, penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik sosial, pergeseran pola penyakit, dan dampak potensi limbah cair dan padat yang dihasilkan.

142

D.

Bidang Kehutanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam dan potensi konflik sosial. Skala/Besaran Semua besaran * Alasan Ilmiah Khusus Pemanenan pohon dengan diameter tertentu berpotensi merubah struktur dan komposisi tegakan, satwa liar dan habitatnya.

No. 1

Jenis Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHK)

2

Usaha Hutan Tanaman

> 5.000 ha

*

Usaha hutan tanaman dilaksanakan melalui sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), dimana untuk penyiapan lahannya dilaksanakan secara mekanis menggunakan alat berat.

E. No. 1.

Bidang Kesehatan Skala/Besaran Kelas A dan B atau yang setara * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3 / radioaktif dan potensi penularan penyakit.

Jenis Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

F.
No. 1

Bidang Perhubungan
Skala/Besaran > 25 km * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, k e b i s i n g a n , g e t a r a n , gangguan pandangan, ekologi, d a n d a m p a k sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar kegiatan serta membutuhkan area yang luas. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan kestabilan lahan (land subsidence), air tanah serta gangguan berupa dampak terhadap emisi, lalu lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, gangguan jaringan prasarana sosial (gas, listrik, air minum, telekomunikasi) dan dampak sosial di sekitar kegiatan tersebut. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi dan ekologi yang lebih luas dari batas tapak kegiatan itu sendiri. Kegiatan ini juga akan menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran sungai. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi, ekosistem, kebisingan dan dapat mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai (coastal processes). Berpotensi menimbulkan dampak terhadap

Jenis Kegiatan Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api - Panjang Pembangunan Stasiun Kereta Api

2

Stasiun kelas besar dan/atau kelas I

*

3

Konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan tanah

Semua besaran

*

4

Pengerukan alur pelayaran Sungai - Volume

* > 500.000 m3

5

Pembangunan pelabuhan dengan salah satu fasilitas berikut: a. Dermaga dengan konstruksi masif - Panjang > 200 m - Atau luas > 6.000 m2 b. Penahan gelombang (Break water/talud) - Panjang > 200 m c. Prasarana pendukung pelabuhan (terminal, gudang, peti kemas, dll)

*

*

*

143

- Luas

> 5 ha

*

d.

Single Point Mooring Boey - Untuk kapal

* > 10.000 DWT

*

6

Pengerukan: a. Capital dregging - Volume

* > 250.000 m3

b.

Maintenance dregging - Volume

> 500.000 m3

*

7

Reklamasi (pengurungan): - Luas - Atau Volume

* > 25 ha > 5.000.000 m3

ekosistem, hidrologi, garis pantai dan batimetri serta mengganggu proses-proses alamiah yang terjadi di daerah pantai. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar area yang luas. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan alur pelayaran, perubahan, batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai terutama apabila yang dibongkar muat minyak mentah yang berpotensi menimbulkan pencemaran laut dari tumpahan minyak Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri,ekosistem,dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai dan membutuhkan waktu 3 -6 bulan Berpotensi menimbulkan dampak terhadap sistem geohidrologi, hidrooseanografi, dampak sosial, ekologi, perubahan garis pantai, kestabilan lahan, lalu lintas serta mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai.

8

Kegiatan penempatan hasil keruk (dumping) a. Di darat: - Volume - Atau luas area dumping b. Di laut

> 250.000 m3 > 5 ha Semua besaran

*

Menimbulkan terjadinya perubahan bentang lahan yang akan mempengaruhi ekologi, hidrologi setempat. Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut yang akan menimbulkan dampak sosial. Termasuk kegiatan yang berteknologi tinggi, harus memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak berupa kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara.

*

9

Pembangunan bandar udara baru beserta fasilitasnya

Semua besaran ( kelas I * s.d. V) beserta hasil studi rencana induk yang telah disetujui *

10

Pengembangan bandar udara beserta Kelas I, II, III, berdasarkan * rencana pengembangan fasilitasnya (rencana induk, rencana tata letak, dll) *

11

12

Perluasan bandar udara beserta/atau fasilitasnya: a. - Pemindahan penduduk - Atau pembebasan lahan b. Reklamasi pantai: - Luas - Atau Volume ruangan c. Pemotongan bukit dan pengurugan lahan dengan volume Pemasangan kabel bawah laut

* >200 KK > 100 ha > 25 ha > 100.000 m3 > 500.000 m3 Semua besaran * * *

*

Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif ( misalnya terumbu karang). Pengoperasian kabel bawah laut rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh, penambangan pasir.

144

yang diperoleh baik dari sumber air tanah ataupun air permukaan. penggilingan batubara (coalmill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (Rotary Klin and Clinker Cooler). gangguan kebisingan. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (tailing). No. termasuk daerah penyangga.G. dimana.900 Kcal/ton). pemutihan pulp (bleaching) dan pembentukan lembaran pulp yang dalam prosesnya banyak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga berpotensi menghasilkan limbah cair (BOD. terdapat proses penyiapan. No. pemasakan serpihan kayu.2 ha/1000 ton produk). SOx. sehingga tidak termasuk dalam daftar berikut. limbah cair (sisa cooling mengandung minyak lubrikasi pelumas). * Tenaga kerja besar (+ 1-2 TK/3000 ton produk). Al203FeO2) dengan radius 2-3 km. Berbagai potensi pencemaran. tanah. dan getaran. debu ( CaO. limbah gas CO 2. * Tenaga kerja besar. serat pulp.COD.limbahgas (H2S. udara. bahan baku (raw millprocess).S02. Beberapa jenis industri yang sudah memiliki teknologi memadai untuk mengatasi dampak negatif yang muncul. tertutup bagi masyarakat.TSS).2 Mw/ 1000 ton produk). * Kebutuhan air cukup besar (3.Cl2) dan limbah padat (ampas kayu. bau.NOx) dari pembakaran energi batubara. * Kebutuhan energi besar (0.NOx. * Proses pembuatan pulp meliputi kegiatan penyiapan bahan baku. tetapi menggunakan areal yang luas tetap wajib dilengkapi dengan AMDAL (nomor 15). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas (0.5 ton semen membutuhkan 1 ton air). Jenis Kegiatan 1 Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri semen dengan Proses Klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan. Teknologi Satelit: -Pembangungan fasilitas peluncuran satelit H. gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut di atas menimbulkan dampak sosial. 2 Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan pulp dari industri kertas budaya) Semua besaran 145 . SiO2. 1 Bidang Teknologi Satelit Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus * Kegiatan ini memerlukan persyaratan lokasi yang khusus dan teknologi canggih * Bangunan peluncuran satelit dan fasilitas pendukung. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas. pencucian pulp. Beberapa jenis industri menggunakan air dengan volume sangat besar. lumpur kering). Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar. * Kebutuhan energi cukup besar baik tenaga listrik (110-140 KwH/ton) dan tenaga panas (800 . Bidang Perindustrian Kegiatan bidang perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air. minyak dan gas.

batubara ataupun bahan bakar dengan proses pembakaran sampai dengan temperatur 1600 derajat Celcius. Umumnya dampak yang ditibulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang luas. * Tenaga kerja besar. O2 dan tail gas dengan parameter Zn. As. * Tenaga kerja cukup besar (1000 ton produk/ TK). Industri pembuatan besi dasar dan baja adalah merupakan industri yang mengolah besi bekas (steel scrap) atau konsentrat biji besi yang menggunakan tungku-tungku pembakaran baik menggunakan energi listrik. Hg. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang cukup luas. * Potensi berbagai limbah (termasuk B3): limbah padat (basic slag). debu (SiO2). SO2) debu berupa scale (2-3% dari total produk per hari). Cd). * Potensi berbagai limbah: gas (SO2. * Tenaga kerja cukup besar. Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. 146 . Zn. gas (NO x. * Kebutuhan air cukup besar (untuk pendingin 1 l/dt/1000 ton produk). Cr. * Kebutuhan air untuk pendingin relatif besar (> 1000 m3/hari). Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar adalah industri yang mengolah konsentrat bahan tambang.Toluena. * Kebutuhan air untuk proses pendinginan dan elektronika relatif besar (air bersih 5000 m3/ hari dan air laut 3. besi kasar/pig iron. H2S. Proses pembuatannya melalui pemisahan konsentrat. Ni. N2. Pb. besi spons. Cd. As. limbah cair (TSS. Pb. F. limbah cair (Fe. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang cukup luas. Zn. NH4Cl) dan limbah sisa katalis bekas yang bersifat B3. * Kebutuhan energi relatif besar (6-7 Kw ton produk) disamping bersumber dari listrik juga energi gas. Xylena. Cd. Ni. Sn. Jenis Kegiatan 3 Industri petrokimia hulu Skala/Besaran Semua besaran 4 Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making) meliputi usahan pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pallet bijih besi. SOx. Proses pembuatannya melalui proses peleburan yang menghasilkan limbah gas beracun dan debu (partikulat) dan proses peredaman yang menghasilkan limbah cair dengan kadar asam yang tinggi. ingot baja.No. Pb. peleburan dengan tungku-tungku bertemperatur tinggi dan elektrolisa. pellet baja. Propilena dan Butadiena serta Pusat Aromatik yang menghasilkan Benzena. Hg). Cu. TDS & TSS). * Kebutuhan energi relatif besar (1 Kwh 0. Se. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2 dan NOx).3 juta m3/hari). limbah padat gipsum dan slag (Fe. Hg. limbah cair (minyak dan scale). baja bloom dan baja slab) Semua besaran 5 Industri pembuatan timah hitam (Pb) dasar (termasuk industri daur ulang) Semua besaran 6 Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/ katoda tembaga (bahan baku dari Cu konsentrat) Semua besaran Alasan Ilimiah Khusus Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah hasil tambang mineral (kondensat) terdiri dari Pusat Olefin yang mengkasilkan Benzena. paduan besi/alloy.5 ton produk). BOD. Cu. dan Etil Benzena. Se. * Kebutuhan energi relatif besar (264 ribu Mwh/ tahun). COD.

* Gangguan kebisingan dan getaran. gas (H2S.55 – 0. * Kebutuhan air bersih dengan tingkat kebutuhan rata-rata 0. pelapis bekas). pengecatan lambung kapal dan bahan kimia B3) maupun limbah gas dan debu dari kegiatan sand blasting dan pengecatan. Sistem graving dock adalah galangan kapal yang dilengkapi dengan kolam perbaikan dengan ukuran panjang 100 m.1 Mw/Ha). * Mobilisasi tenaga kerja (90 – 110 TK ha).NO2. Dampak penting yang ditimbulkan berasal dari: * Pengadaan lahan untuk bangunan pabrik dan landasan pacu. * Kebutuhan air yang sangat besar untuk proses pendinginan (+ 17. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas untuk bangunan pabrik dan fasilitas penunjang. * Bangkitan lalulintas.000 DWT 10 Industri pesawat terbang Semua besaran 11 Industri senjata. SO2 & HF) dan debu Kawasan industri (industrial estate) merupakan lokasi yang dipersiapkan untuk berbagai jenis industri manufaktur yang masih prediktif. dan kedalaman 15 m dengan sistem sirkulasi.No. Industri senjata. * Kebutuhan pemukiman dan fasilitas sosial.75 l/dt/ha. NH3. * Potensi berbagai jenis limbah dan cemaran yang masih prediktif terutama dalam hal cara pengelolaannya. munisi dan bahan peledak Semua besaran 147 . munisi dan bahan peledak merupakan industri yang dalam proses produksinya menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat B3. 8 Kawasan Industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi) Semua besaran 9 Industri galangan kapal dengan sistem graving dock > 4. cair (air spray dengan kadar Flour tinggi dan air pendingin mengandung minyak). * Kebutuhan energi listrik cukup besar baik dalam kaitan dengan jenis pembangkit ataupun trace jaringan (0. 7 Jenis Kegiatan Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri pembuatan aluminium dasar merupakan industri pembuatan batangan aluminium yang menggunakan bahan baku bijih alumina yang dilakukan melalui proses peleburan. * Kebutuhan energi relatif besar (+ 295 ribu Mwh/hari). * Tenaga kerja sangat besar. sehingga dalam pengembangannya diperkirakan akan menimbulkan berbagai dampak penting antara lain disebabkan: * Kegiatan grading (pembentukan muka tanah) dan runoff (air larian). * Potensi limbah yang dihasilkan (termasuk B3): padat (dross. lebar 40 m. elektrolisa dan pencetakan. Perbaikan kapal berpotensi menghasilkan limbah cair (air ballast.000 m3/hari). Pembuatan kolam graving ini dilakukan dengan mengeruk laut yang dikhawatirkan akan menyebabkan longsoran atau pun abrasi pantai. * Pengadaan dan pengoperasian alat alat berat. disamping kegiatannya membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi. Industri pesawat terbang merupakan industri strategis berteknologi tinggi yang membutuhkan tingkat pengamanan (security) yang tinggi.

Zn. Pb dan Cd). kapasitas resapan air tanah. * Penurunan kualitas lingkungan. Cr. NH3. dan limbah padat (sludge dari IPAL dan bekas kemasan bahan penolong). Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No. Urban: .pengemasan. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. TDS. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. mengingat merkuri ini bersifat B3 yang mempunyai efek mutagenik. * Kebutuhan air relatif besar (+ 270 m3/hari) baik untuk proses maupun domestik. CO. SO2.No. * Berpotensi menimbulkan pencemaran udara.perdagangan danpembuangannya memerlukan persyaratan khusus. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (sludge B3. seperti daya dukung tanah. luas b. sedangkan pembakaran COx. dll.Kota kecil.Tinggi > 15 m * * Termasuk dalam kategori “large dam ” (bendungan besar). * Daya dukung lahan. * Kegiatan produksi. 148 . luas . Potensi konflik yang timbul sangat berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk karena umumnya membutuhkan lahan yang luas dan seringkali mengubah tata guna lahan. Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri baterai kering yang diperkirakan menimbulkan dampak penting adalah yang menggunakan bahan baku merkuri (Hg). Rural/pedesaan. NOx. limbah cair (Zn.Metropolitan. luas . * Kebutuhan energi listrik cukup besar. * Kebutuhan air relatif besar baik untuk proses (pembuatan pasta dan pemasakan baterai) maupun domestik (170 m3/hari). air dan tanah. luas Semua besaran > 5 ha > 10 ha > 15 ha > 20 ha > 30 ha Umumnya dampak yang ditimbulkan berupa: * Bangkitan lalulintas. pengangkutan. penyimpanan. pasting (pembuatan pasta dengan H2SO4 pekat). NOx dan SO2). teratogenik dan karsinogenik terhadap manusia.Kota sedang. tingkat kepadatan bangunan per hektar. * Potensi limbah dari proses produksi seperti limbah cair (pH. Bidang Prasarana Wilayah Kegiatan pembangunan dan pengadaan prasarana wilayah umumnya berfungsi untuk melayani kepentingan masyarakat.Kota besar. limbah debu dan gas (H2S. formation\ (merupakan proses elektrolisa) dan assembling. 12 Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg) 13 Industri baterai basah (akumulator listrik) Semua besaran 14 Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi material yang digolongkan bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 15 Kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 s/d 14 Penggunaan areal: a. Hg. bekas kemasan). Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. TSS. Mn & NH3). Pada umumnya proses produksi lengkap dimulai dari grid casting (persiapan. * Konflik sosial. lead part (pencetakan bagian-bagian aki dari timah hitam). Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Bendungan/Waduk atau Jenis Tampungan Air lainnya: . luas . gas (proses finishing dengan parameter Pb dan formation parameter sulfat. Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. lead powder (proses pembentukan bubuk Pb). Sulfat & Pb). COD. peleburan dan pencetakan timah hitam sebagai bahan aktif sel). I.

Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. 5 Normalisasi Sungai dan Pembuatan Kanal Banjir a. sehingga diperlukan kajian khusus untuk pengembangan kawasan pantai yang mencakup rentang lebih dari 500 m dari garis pantai.Atau volume pengerukan > 15 km > 500.Jarak dihitung tegak lurus pantai * > 500 m * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. Pembangunan baru dengan luas * * > 2. dan gangguan. luas (perkelompok) 3 Pengembangan Rawa: Reklamasi rawa untuk kepentingan irigasi > 500 ha * * * > 1. dampak sosial. Pencetakan sawah.Atau volume pengerukan Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Membutuhkan pembebasan lahan yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial. Kota Besar/Metropolitan .Atau luas genangan > 200 ha * * * 2 Daerah Irigasi a. Memerlukan alat berat dalam jumlah yang cukup banyak. Dampak pada hidrologi. Mengakibatkan mobilisasi manusia yang dapat menimbulkan dampak sosial.000 ha * * * c. Memerlukan bangunan tambahan yang berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. > 10 km > 500. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Perubahan Tata Air. dan gangguan. dan gangguan. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. dampak sosial.* . Pedesaan . Akan mempengaruhi pola iklim mikro pada kawasan sekitarnya dan ekosistem daerah hulu dan hilir bendungan/waduk. Kota Sedang . baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pelaksanaan.Atau volume pengerukan > 5 km > 500. Berpotensi mengubah sistem tata air yang ada pada kawasan yang luas secara drastis. Dampak pada hidrologi. sehingga berpotensi menimbulkan dampak.000 m3 * * 149 .000 m3 * * c. Pembangunan pada rentang kawasan pantai selebar > 500 m berpotensi mengubah ekologi kawasan pantai dan muara sungai sehingga berdampak terhadap keseimbangan ekosistem yang ada.000 ha * 4 Pembangunan Pengaman Pantai dan perbaikan muara sungai: . Mengakibatkan mobilisasi tenaga kerja yang signifikan pada daerah sekitarnya. dampak sosial.Panjang . Berpotensi mengubah ekosistem dan iklim mikro pada kawasan tersebut dan berpengaruh pada kawasan disekitarnya. Mengakibatkan perubahan pola iklim mikro dan ekosistem kawasan. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Peningkatan dengan luas tambahan > 1. Berpotensi menimbulkan dampak negatif akibat perubahan ekosistem pada kawasan tersebut.Panjang .000 ha * * * b. Kegagalan bendungan pada luas genangan sebesar ini berpotensi mengakibatkan genangan yang cukup besar dibagian hilirnya.000 m3 * * b. Selalu memerlukan bangunan utama (headworks) dan bangunan pelengkap (oppurtenants structures) yang besar dan sangat banyak sehingga berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada.Panjang . Gelombang pasang laut (tsunami) di Indonesia berpotensi menjangkau kawasan sebesar 500 m.

luas c. * Dampak kebauan dan gangguan visual. Pembangunan Jalan Tol b. getaran. TPA dengan sistem open dumping Semua besaran > 2 km Bangkitan lalu lintas. kapasitas resapan air tanah. Bangkitan lalu lintas.000 ton / hari Semua ukuran Dampak potensial adalah bahaya banjir dan perubahan pola air.atau peningkatan jalan dengan pelebaran diluar daerah milik jalan a.Panjang b. Kota metropolitan. dampak kebisingan. Pedesaan . getaran. gas beracun.Panjang Persampahan a. Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). termasuk fasilitas penunjangnya b. Dampak kebauan dan gangguan visual. gangguan visual dan dampak sosial. * Setara dengan kota kecil-sedang/kota kecamatan. Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPTL). Kota Sedang . getaran. Berpotensi menimbulkan dampak meningkatnya kepadatan lalulintas.Kapasitas d. getaran.000 ton Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi).000 ton > 1.6 a. * Isu utama adalah perubahan fungsi lahan.000 orang. getaran. Dampak potensial berupa bau. gas beracun. * Limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. bau.Atau luas b. udara. kebisingan. Pembuangan dengan sistem control landfill / sanitary landfill (diluar B3) . dan gangguan kesehatan. > 10 km Berpotensi menimbulkan dampak hidrologi dan persoalan keterbatasan air. seperti daya dukung tanah. udara. Pembangunan saluran di kota besar/metropolitan .Panjang .Luas . Pembangunan transfer station .Panjang .000 sambungan. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.Atau kapasitas total b. Bangkitan lalu lintas. Kota Besar/Metropolitan . Pembangunan jaringan distribusi > 2 ha > 3 ha * * Setara dengan layanan untuk 10. TPA di daerah pasang surut. emisi yang tinggi. dan gangguan kesehatan. bau. * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan). dll. Pembangunan Jalan Layang dan Subway Pembangunan dan. gangguan visual dan dampak sosial. gangguan visual dan dampak sosial.Atau luas c. getaran. * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia). * Setara dengan kota kecil. luas b. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) limbah domestik termasuk fasilitas penunjangnya c. gangguan visual dan dampak sosial. > 500 ha > 5 km * Setara dengan 17. > 30 km 8 > 10 ha > 10. tingkat kepadatan bangunan per hektar. dampak kebisingan. * Daya dukung lahan. luas > 25 ha > 50 ha > 100 ha 10 a. * Setara dengan layanan untuk 10. 150 .Luas landfill . perubahan tata air. > 5 ha > 5. Kota besar.000 orang. dan gangguan kesehatan. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. luas layanan 11 Drainase Permukiman a. emisi yang tinggi.Atau kapasitas total c. emisi yang tinggi. Kota sedang dan kecil. 7 > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. Pembangunan sistem perpipaan air limbah. 9 Pembangunan Perumahan/Permukiman a.Panjang 12 Jaringan air bersih di kota besar/metropolitan a. * Tingkat kebutuhan air sehari-hari. dampak kebisingan. Pembangunan saluran di kota sedang . emisi yang tinggi. . dampak kebisingan.. gas beracun.

000 ton/th (ROM) > 200. * Dalam lingkungan perairan. f.Jumlah penduduk yang dipindahkan .000 m3/th (ROM) Semua besaran Sampai saat ini bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir. kebisingan. getaran apabila menggunakan peledak. kapasitas resapan air tanah. dll. polusi udara. termasuk pengolahan. keterkaitannya dengan masalah pertahanan dan keamanan menjadi alasan mengapa kegiatan ini wajib dilengkapi AMDAL untuk semua besaran.Luas lahan . Pusat Perdagangan/ perbelanjaan relatif terkonsentrasi .Luas layanan b. * Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung.Atau luas lahan > 200 KK > 100 ha J. penambangan dan pemurnian 2.Panjang Pengambilan air dari danau. Tempat Ibadah.000 ton/th (ROM) > 150. * Produksi sampah. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C e. Jenis Kegiatan PERTAMBANGAN UMUM Luas perizinan (KP) Atau luas daerah terbuka untuk pertambangan *) *) Untuk menghindari bukaan lahan terlalu luas Tahap eksploitasi produksi: a. No A 1 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Skala/Besaran * > 200 ha > 50 ha (kumulatif/tahun) * Alasan Ilmiah Khusus Dampak penting terhadap lingkungan antara lain: merubah bentang alam.13 . Setara kebutuhan air bersih 200. Bahan galian timbal. Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara. sifat mudah terurai tersebut menyebabkan Pb mudah tersedia secara biologis ( bioavailable). > 250. seperti daya dukung tanah. selain dampak penting yang dapat ditimbulkan. Pembangunan jaringan transmisi . * Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiangtiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar. Bijih Sekunder/Endapan Alluvial d. dll) * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan) * Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Khusus bagi pusat perdagangan/perbelanjaan relatif terkonsentrasi dengan luas tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak penting: * Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi).000 m2 15 Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk/ transmigrasi: . Pendidikan. * Tingkat kebutuhan air. Batubara/gambut b. kebisingan. tingkat kepadatan bangunan per hektar. Setara kebutuhan kota sedang. Kesenian. Bahan galian radioaktif. penambangan dan pemurnian Semua besaran 151 . Bijih Primer c. * Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar. termasuk pengolahan. * Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. Berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh: * Pembebasan lahan. sungai.000 ton/th (ROM) > 250.Atau bangunan > 500 ha > 10 km * * > 250 I/dt Besaran diperhitungkan berdasarkan: * Pembebasan lahan * Daya dukung lahan * Tingkat kebutuhan air sehari-hari * Limbah yang dihasilkan * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran. mata air permukaan. atau sumber air permukaan lainnya . serta dampak dari limbah cair yang dihasilkan. 14 > 5 ha > 10.Debit pengambilan Pembangunan Pusat Perkantoran. Olahraga. * Daya dukung lahan. Oleh sebab itu.000 orang. ekologi dan hidrologi.

sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Pencemaran udara. ekonomi dan budaya. * Termasuk dalam kategori “large dam” (bendungan besar). Potensi ledakan. Lapangan gas > 30 MMSCFD 2.Atau aliran langsung (kapasitas daya) > 15 m > 200 ha > 50 MW 5. 1. ekosistem. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. Berpotensi menimbulkan dampak pada: . ekonomi dan budaya. * Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut.Aspek flora fauna. air dan tanah. Lapangan minyak b. * Dampak visual (pandang). * Aspek sosial. Eksploitasi dan pengembangan Uap Panas Bumi > 55 MW dan atau Pembangunan Panas Bumi 4. air.Aspek sosial. air dan tanah. * Membutuhkan areal yang sangat luas. * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk.Atau luas genangan . terutama pada kualitas udara (emisi. ambient dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas. Pencemaran udara. air tanah dan udara. Melakukan pengolahan bijih dengan proses Semua besaran sianidasi KETENAGALISTRIKAN > 150 KV Pembangunan jaringan transmisi Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. ³ 10 MW Angin. Pencemaran udara. * Dampak kebisingan. Memerlukan lokasi khusus dan berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. MINYAK DAN GAS BUMI Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di darat > 5. 1. akan mengakibatkan gelombang banjir (flood surge) yang sangat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya. * Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. Tambang di laut Semua besaran 4. . . Pembangunan PLTD/PLTG/PLTU/ PLTGU > 100 MW 3. * Aspek sosial. * Dampak pada hidrologi (kapasitas daya). Pembangunan pusat listrik dari jenis lain (Surya. Biomassa dan Gambut) C. Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berpotensi menimbulkan pencemaran air permukaan. Melakukan Submarine Tailing Disposal Semua besaran 5. * * * * * * * * * * * * * * Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. ekonomi dan budaya. * Aspek flora fauna. Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik-kimia. Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Semua besaran laut 152 . Potensi ledakan.3. ekosistem. ekonomi dan budaya terutama pada pembebasan lahan dan keresahan masyarakat Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik kimia. terutama pada pembebasan lahan. terutama pada pembebasan lahan.Aspek fisik-kimia. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran.Tinggi bendung . Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. mengganggu alur pelayaran dan proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial.000 BOPD a. Pertimbangan ekonomis. * Kegagalan bendungan (dam break). Pembangunan PLTA dengan: . mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial dan gangguan kesehatan. Potensi kerusakan ekosistem. Perubahan Ekosistem laut. Potensi ledakan. Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi * Aspek sosial. Pertimbangan ekonomis. limbah bahang dll) serta air tanah. B. Pertimbangan ekonomis. * 2.

Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan.000 ton/th D. Khusus LNG. Membutuhkan area yang cukup luas. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) a. Merupakan industri strategis. dan sampah. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. No 1 2 Jenis Kegiatan Taman Rekreasi Kawasan Pariwisata 3 4 Hotel: Jumlah kamar Atau luas bangunan Lapangan golf (tidak termasuk driving range) > 200 unit > 5 ha Semua besaran 153 . limpasan air permukaan (run off). Pelaksanaan konstruksi dapat meningkatkan erosi tanah. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif. Skala/Besaran > 100 ha Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. Pemanfaatan lahan yang tumpang tindih dengan aktifitas nelayan dianggap cukup luas lintas kabupaten/kota juga dapat mengganggu aktifitas nelayan. Ada potensi perambahan ROW oleh kegiatan atau aktifitas penduduk. tambang pasir dan alur pelayaran. Di darat . Berpotensi menimbulkan dampak dari penggunaan pestisida/ herbisida. bentang alam dan potensi konflik sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan fungsi lahan/kawasan. berpotensi menghasilkan limbah gas H2S Potensi konflik sosial. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Bidang Pariwisata Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem. Pembangunan kilang minyak > 10. Potensi konflik sosial. Merupakan industri strategis. hidrologi. aksesibilitas lalu lintas. Kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang) > 10. padat dan cair yang cukup besar. pembebasan lahan. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Berpotensi menimbulkan dampak dari kegiatan laundry. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. GEOLOGI TATA LINGKUNGAN Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal. Pengoperasian pipa rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh. padat dan cair yang cukup besar.Atau diameter pipa * * > 50 km > 20 inci * * b.Panjang . atau dari 5 * sumur dalam area <10 ha) Pembebasan lahan cukup luas (dapat lintas kabupaten/ kota). Potensi konflik sosial. K. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. 1. Membutuhkan area yang cukup luas. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya terhadap kegiatan/aktifitas nelayan. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Berpotensi mengubah ekosistem yang lebih luas. dan sampah.3. Merupakan industri strategis. bangkitan lalu lintas dan sampah.000 BOPD 6. penambangan pasir. Di laut Semua besaran * * * * 4. padat dan cair yang cukup besar. serta kebutuhan air yang relatif besar. sumur tanah dalam dan mata air) * * > 50 l/dt (dari 1 * sumur. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. pembebasan lahan. kebutuhan air yang besar. Membutuhkan area yang cukup luas. gangguan lalu lintas. Potensi intrusi air laut. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Pembangunan kilang: LPG LNG > 50 MMSCFD > 550 MMSCFD * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya apabila melalui daerah pemukiman penduduk.

A.L. c. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No 1 Jenis Kegiatan Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir: a. penyimpanan dan pembuangan bahan baku dan sisa-sisa bahan radioaktif. komersial. M. pengolahan dan/atau penimbunan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai kegiatan utama N. menetap dan mengelola berbagai jenis dan sifat limbah B3 (tidak termasuk kegiatan skala kecil seperti pengumpulan minyak pelumas bekas. Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1 Jenis Kegiatan Pengumpulan. Pengolahan dan pemurnian uranium Pengolahan limbah radioaktif Pembangunan Iradiator (Kategori II s/d IV) e. Semua tahapan dalam proses berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan dalam bentuk radiasi. Produksi kaos lampu Semua instalasi Semua instalasi Secara teknoekonomik. * Beresiko tinggi. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.000 TBq (100. Reaktor Daya (PLTN) Daya > 100 KWt Semua instalasi Potensi dampak pengoperasian reaktor penelitian dengan daya <100 KWt terbatas pada lokasi reaktor. Skala/Besaran Semua kegiatan yang bersifat jasa pelayanan. Akumulasi panas memungkinkan terjadinya kebocoran radiasi ke lingkungan. Membutuhkan air pendingin yang telah didemineralisasi dalam kolam beton. fabrikasi bahan bakar nuklir selalu memiliki kapasitas minimal 50-100 elemen bakar/ tahun.000 Ci) b. terutama kegiatan yang dipastikan akan mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam tabel. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem genetika berpotensi menimbulkan dampak terhadap Salinan sesuai dengan aslinya Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1. Jenis Kegiatan Introduksi jenis-jenis tanaman. kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan resiko radiasi. * Transportasi. Sonny Keraf 154 . Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. Fabrikasi bahan bakar nuklir Produksi > 50 elemen bakar/ tahun Produksi > 100 ton yellow cake/tahun Semua instalasi Aktivitas sumber > 37. pemanfaatan timah dan “ flux solder”). 2. Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial. d. Apabila air pendingin berkurang volumenya akan menyebabkan akumulasi panas di tempat penyimpanan sumber. * Dampak radiasi pada tahap decomisioning (pasca operasi). Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional (konvensi Basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat seksama dan terkontrol. 2. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. Proses produksi menggunakan thorium (Th) yang memiliki radiotoksisitas yang sangat tinggi. Dr. Pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor a. dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Semua besaran Lihat penjelasan diatas Menteri Negara Lingkungan Hidup. Produksi Radioisotop f. minyak kotor dan “slop oil”. hewan. ttd. Bidang Pengembangan Nuklir Secara umum. * Keamanan konstruksi. pemanfaatan. Reaktor Penelitian b.

Daftar Singkatan: m m2 m3 km km2 ha l dt Kw Kwh KV Mw Mwh Kcal TBq Ci BOPD MMSCFD kubik per hari LWS DWT KK TK KP ROM LPG LNG ROW BOD COD DO TSS TDS = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = meter meter persegi meter kubik kilometer kilometer persegi hektar liter detik kilowatt kilowatt hour kilovolt megawatt megawatt hour kilocalorie Terra Becquerel Curie barrel oil per day = minyak barrel per hari million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki low water sea = di bawah permukaan laut dead weight tonnage = bobot mati kepala keluarga tenaga kerja kuasa pertambangan raw of material = bahan mentah Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan Right of way = daerah milik jalan (damija) biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi dissolved oxygen = oksigen terlarut total suspended solid = total padatan tersuspensi total dissolved solid = total padatan terlarut . 155 .

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). A. Dr. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. 3. S. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Kedua Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan.H. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional. Mengingat : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 21 Pebruari 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Najib Dahlan. 2. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). 156 . Undang-ungang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Pertama Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. ttd. 1. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP.

Ciri Keempat. Kedua.Ini menimbulkan ancaman yang makin berat terhadap keberlanjutan ekosistem (sosial dan alam) kota yang sudah makin rapuh. Ketiga Perkembangan ekonomi kota terus tinggi. Bangunan lama terlalu mudah dianggap tidak efisien dan oleh karena itu perlu diremajakan yang sekaligus akan menghilangkan nilai sejarah dan kekhasan kota yang bersangkutan. Pertimbangan pembangunan kota sudah terlalu didominasi oleh pertimbangan manfaat ekonomi saja dengan mendudukkan pertimbangan-pertimbangan lain hanya menjadi pelengkap. pengendali banjir. penyusunan AMDAL bagi berbagai kegiatan (proyek) pengembangan pemukiman terpadu. maka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan oleh pengembangan permukiman terpadu diperkirakan akan berbeda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya. Pembangunan kota cenderung berskala mega atau super dengan intensitas yang tinggi.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 4 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000 PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU BAB I. perkembangan kota di Indonesia menunjukkan lima ciri pokok yang menonjol. PENJELASAN UMUM 1. Oleh karena proses tersebut dapat dicapai dengan mengorbankan fungsi ekosistem seperti hilangnya kesuburan tanah. perubahan iklim mikro. yang didasari dengan pendekatan terhadap pembinaan terhadap struktur dan fungsi ekosistem. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan terpadu ini diharapkan dapat : 1) Mengendalikan cara pembukaan lahan di kawasan pengembangan permukiman terpadu sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya. Oleh karena itu. pembangunan yang terkonsentrasi ini akan menimbulkan masalah lingkungan yang juga intensif.LATAR BELAKANG Pengembangan wilayah berdasarkan konsep permukiman terpadu. secara mikro ada peningkatan kualitas lingkungan akibat tertata dengan baik. apabila dampak yang ditimbulkan tersebut tidak diantisipasi dan dikelola secara optimal dikhawatirkan hal ini akan menjadi unsur pembangunan sosial ekonomi yang mengabaikan kemampuan sistem alam (ekosistem). dan flora fauna yang berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem. jauh diatas rata-rata nasional maupun propinsi. pada tahun 2010 diperkirakan paling sedikit setengah dari kependudukan Indonesia akan berdiam di kota dan kecenderungan ini tidak akan berbalik kembali. 157 . pemasok air baku untuk kebutuhan penyediaan air minum. Atas dasar analisis yang baik tentang keterkaitan antara jenis dan tahapan kegiatan pembangunan permukiman terpadu dengan karakteristik dari ekosistem yang diperkirakan akan menerima dampak ini kemudian segenap dampak diantisipasi dan dikelola secara optimal. pencemaran dan penurunan potensi lahan. pembangunan kota makin menunjukkan sifatnya sebagai komoditi yang selalu mengejar nilai tambah. Di samping itu. Proses yang terdiri dari proses identifikasi. Dalam banyak hal keadaan ini menghabiskan sawah dan tambak (pantai) yang sudah didukung oleh prasarana dasar. kota di Indonesia memainkan peran yang makin penting. Berdasarkan Pusat Data Properti Indonesia Tahun 1995 diketahui. dan lahan yang memiliki fungsi lindung. 2) Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan permukiman terpadu sebagai penyangga kehidupan yang bermakna penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan permukiman terpadu khususnya. bahwa lahan yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut makin luas.2 MAKSUD DAN TUJUAN Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan. telah menghadapi dilema. serta masyarakat di sekitar kawasan permukiman terpadu. Hal yang kemudian perlu diingat adalah bahwa mutu yang baik dari studi AMDAL sangat bergantung pada kemampuan tim studi melakukan impact assesment. Dengan dasar ciri dinamika sistem lingkungan yang bersifat “site specific”. Sejak memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua. sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan secara makro. peran kota lama makin nampak terancam oleh pertimbangan kepentingan ekonomi yang sempit. kota makin terlibat di dalam ekonomi global. Pertama.1. Aglomerasi daerah urban menjadi ciri yang makin menonjol. yaitu pembangunan kawasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya terus meningkat. 3) Memberikan panduan dan pemahaman kepada penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kegiatan pengembangan permukiman terpadu. Persoalannya kemudian rasional ekonomi yang menganggap bahwa di satu sisi lahan ini akan sangat berguna dan tinggi nilainya bila dikembangkan sebagai perumahan kelas menengah ke atas. maka penyusunan studi tersebut di dalam merancang permukiman terpadu menjadi sangat strategis. Pengembangan permukiman terpadu di Indonesia dikhawatirkan mengeksploitasi lahan-lahan agraris. mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan teknologi yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik. 1. prakiraan dan evaluasi dampak. Mengingat salah satu cara sistematis untuk memasukkan pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangungan sosial ekonomi adalah melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Sedang disamping kebutuhan prasarana dan sarana penunjang. Oleh karena. ini berarti bahwa perkembangan kota akan banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global.

khususnya Pasal 21 telah menetapkan penyelenggaraan lingkungan siap bangun (Lisiba).3. penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Mengingat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang tersebut hingga kini belum terbit. KONSEP PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU 2. PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi.1 PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. panduan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Hidup (RPL) disajikan pada Bab VI. Kemudian diikuti oleh panduan proses penyusunan Kerangka Acuan ANDAL kawasan permukiman terpadu (Bab IV) yang menjelaskan mengenai proses pelingkupan. Informasi ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat teridentifikasi sedini mungkin. Kegiatan Pra-Konstruksi .1 Pendekatan sistem dalam penyusunan AMDAL pengembangan pemukiman terpadu BAB II.1. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan dan sarana lingkungan yang terstruktur. maka segenap metode yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. diperlukan pengetahuan tentang struktur dan ekosistem lahan basah dan lahan kering di kawasan pembangunan permukiman terpadu yang terkena dampak. memprakirakan dan mengevaluasi dampak lingkungan akibat kegiatan pengembangan. Pegunungan) STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN KEGIATAN . panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan konsep pembangunan permukiman terpadu (Bab II). Proses tentang penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) disajikan dalam Bab V. tetapi akan berkisar dari 150 orang per hektar bagi permukiman yang berada di dalam kawasan yang mempunyai ciri lingkungan yang kuat (semi urban) sampai yang mencapai kepadatan hingga 350 orang per hektar bagi yang sepenuhnya merupakan permukiman urban. Selain itu. Kegiatan Konstruksi . Dalam pembahasan konsep undang-undang ini disebutkan bahwa konsep kawasan siap bangunan atau kasiba (Pasal 18 ayat 1) terdiri dari beberapa lingkungan perumahan (Pasal 18 ayat 2 b). Secara skematis. permukiman terpadu secara cermat. identifikasi dampak potensial. Walaupun hingga kini belum ada ketentuan jelas. Lahan Kering. juga menjelaskan komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan.1. Dengan sendirinya kawasan ini merupakan kawasan yang utuh baik langsung menempel pada kota yang ada maupun masih ada jarak yang berupa ruang terbuka atau tidak. Oleh karena itu. maka dari beberapa diskusi luas Lisiba perumahan sebesar 200 hektar sedangkan kasiba mencapai sampai 1000 hektar. STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN LINGKUNGAN Struktur Ekosistem/Komponen Lingkungan : · Fisik – Kimia · Biologi (Flora dan Fauna) · Sosek/Sosbud/Kesmas Fungsi ekosistem (Lahan Basah. dan kegiatan permukiman terpadu kaitannya dengan pembangunan regional (Bab III). Angka luas ini kelak dapat disesuaikan mengikuti peraturan yang berlaku. namun permukiman terpadu utamanya adalah sebuah permukiman yang menurut UU No 4/ 1992 tersebut (Pasal 1) adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Kegiatan Permukiman Terpadu PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PENYUSUNAN ANDAL PENYUSUNAN RKL DAN RPL KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1. Kepadatan penduduk dan permukiman terpadu belum ditetapkan secara pasti. Jadi permukiman terpadu perlu 158 . sampai pada pemusatan dampak penting dan issue pokok lingkungan. Sebagai suatu panduan. sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL pembangunan permukiman terpadu seperti pada Gambar 1. Selanjutnya.

dapur. Di Jakarta keadaannya paling parah. seperti perubahan nilai. maupun karena mobilitas penduduk antara yang datang dan pergi. dan sebagainya. Bila ada sebuah kawasan seluas seratus hektar. batu bata. Di samping dampak yang bersifat langsung seperti diuraikan di atas. Perubahan yang dilakukan terhadap unsur ekosistem karena adanya pembangunan gedung atau prasarananya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari unsur ekosistem yang tidak terusik. (2) Penggunaan energi yang minimal Baik rencana makro maupun mikro perumahan dan permukiman harus memanfaatkan sistem iklim yang ada (secara pasif) dan perancangan bangunan yang memanfaatkan prinsip yang sama ditambah dengan sistem radian yang dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan dengan sistem pasif. Sekarang para pengembang menawarkan permukiman terpadu yang berwawasan lingkungan. kayu. banyak dampak yang berskala regional yang tidak langsung nampak. bahan bakar fosil dan sebagainya. Fungsi terakhir ini tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pertumbuhan permukiman terpadu di Indonesia. perlu dicari jalan untuk membuatnya tetap serasi dan seimbang dalam arti yang seluas-luasnya. Masalahnya pengembangan permukiman terpadu sering sulit ditentukan skala waktu rampungnya proses pembangunan. maka secara “normal” akan dibutuhkan sebanyak 215. Limbah ini harus terkelola dengan baik dan jelas dengan prinsip produksi bersih. Hal ini memang menjadi kesulitan tersendiri sebab dampak yang hendak dikelola sangat tergantung dari waktu dan tempat. Ada 5 (lima) prinsip utama dari konsep perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan yang harus dikembangkan sesuai kondisi awal yang ada. Bumi Serpong Damai (BSD) selama lebih lima belas tahun eksistensinya. mutu kehidupan yang lebih baik dan sebagainya. Pemilihan bahan bangunan. perlu ditambah unsur ekosistem baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang memperkaya peran ekosistem secara keseluruhan. dan hal yang mendukung untuk memantapkan dan mengembangkan bagi dampak yang positif. baru sekitar 200 hektar dikatakan telah “selesai” dibangun. Darmo Satelit. utamanya yang berkaitan dengan pengadaan bahan urugan dan bahan bangunan konvensional seperti pasir. Kawasan Darmo Satelit di Surabaya ternyata berlangsung lebih cepat sebab kawasan ini boleh dikatakan adalah permukiman terpadu pertama di Surabaya. Kaidah dan pola dari warisan budaya dan pola hidup ini harus menjadi dasar awal untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan baru yang diciptakan oleh pembangunan yang maju dan berhasil yang merupakan proses berlanjut. Kini bagian ikutannya yang mulai dibangun oleh Perum Perumnas bagi RS dan RSS sebanyak 3000-4000 unit rumah tinggal yang akan selesai tahun 1996. cara membangun dan rancangan bentuk dapat berpengaruh terhadap kebutuhan energi baik jangka pendek maupun panjang. (4) Menjaga kelanjutan sistem sosial-budaya lokal Gaya hidup yang berlaku sudah secara mantap diterjemahkan ke dalam berbagai tatanan dan bentuk bangunan serta peralatan yang dipakai sehari-hari. Dalam keadaan sepi (seperti antara Natal dan Tahun Baru) waktu tempuh nyata paling lama hanya empat puluh menit atau sepertiga waktu “normal”. di samping sebagai kawasan perumahan dapat pula berfungsi sebagai wilayah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi regional. Walaupun bila dibandingkan dengan Kebayoran Baru atau Klender dan Depok. Sedangkan terhadap dampak yang dualistis seperti naiknya harga lahan. 65 milyar. rumah sampai akibat dari pemakaian berbagai peralatan listrik. 2. Bila pengurugan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Dalam perkembangan proses ini selalu akan terjadi pergantian pemukim baik secara alami melalui proses lahir dan mati. tiap hari akan terjadi perjalanan truk sebanyak 2400 atau tiap hari kerja (delapan jam) akan lewat 300 truk. Di samping itu. Permukiman terpadu tumbuh. dari Klender ke pusat kota pada hari dan jam kerja biasanya membutuhkan waktu paling sedikit dua jam untuk pergi atau pulang. Depok dan sebagainya. Kalau 2400 truk tersebut digandeng maka panjangnya 159 . Dapat dibayangkan pemborosan energi dan waktu yang ditimbulkan hanya oleh satu dampak ini di samping pencemaran terhadap udara dan rusaknya ekosistem di kawasan antara permukiman terpadu dan kota lama yang nilainya sulit diukur. Klender.perencanaan pembangunan dan tata ruang yang lengkap dan sah serta dilengkapi dengan perumahan serta dukungan prasarana dan sarana yang menjamin penyelenggaraan perumahan serta kebutuhan hidup dan lapangan kerja yang berskala bulanan.2 RENCANA KEGIATAN PERMUKIMAN TERPADU KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN REGIONAL Sesuai dengan uraian di atas. sejauh ini yang diperhatikan adalah dampak pasca konstruksi dalam bentuk kemacetan lalu lintas. sebab ada cukup banyak dampak yang bersifat menguntungkan seperti terciptanya lapangan kerja baru. terhadap permukiman terpadu seperti Kebayoran Baru. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pembangunan ini. pada tahap konstruksi timbul dampak yang dualistis. positif dan negatif. Kawasan yang luasnya sekitar 2000 hektar selesai dibangun dalam waktu sekitar 20 tahun yang dikerjakan oleh lebih sepuluh pembangun perumahan (developer) dibandingkan dengan di Jakarta yang hanya dikerjakan oleh sebuah perusahaan saja. (5) Peningkatan pemahaman konsep lingkungan Permukiman terbentuk melalui proses yang berlangsung terus. Kawasan Driyorejo di Barat Daya Surabaya mengalami tahap persiapan lebih dari dua puluh tahun. dapat dibayangkan dampak lalu lintas yang ditimbulkannya.000 trip truk besar dengan nilai total sekitar Rp. (3) Pengendalian limbah dan pencemaran Limbah yang harus dikendalikan mulai dari yang dihasilkan oleh jamban dan kamar mandi. yaitu: (1) Mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada Termasuk di dalamnya adalah berlanjutnya ekosistem yang ada. budaya dan berbagai pemborosan. Berbagai dampak ini harus diketahui setepat dan sedini mungkin untuk dirancang cara-cara penanganan dan penanggulangan terhadap dampak yang merugikan. Di samping itu. Namun hingga kini konsep perumahan atau permukiman yang bersahabat dengan lingkungan belum pernah dirumuskan secara jelas. Tidak semua dampak bersifat merugikan.

dan terciptalah hubungan perekonomian dengan permukiman terpadu. lapangan golf. agar fungsi lindung tetap terjaga. sehingga penduduk dari daerah sekitar dapat memperoleh lapangan kerja baru. fungsi-fungsi lindung ini harus dijaga dan jangan sampai menjadi fungsi yang lain. Dari uraian di atas terlihat. lembaga pendidikan. seperti jaringan transportasi. Daerah sekitar diharapkan juga dapat memasok berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan permukiman terpadu. rencana kebijaksanaan dasar daerah adalah mengembangkan daerah wisata di daerah pegunungan. dan di sisi lain permukiman terpadu pun dapat tetap berkembang dalam mendukung pengembangan regional yang telah direncanakan sesuai dengan RUTRD. Permukiman terpadu beserta kota-kota pertumbuhan di sekitarnya dapat bersama-sama dalam membangun perkembangan regionalnya. Dengan demikian pelestarian. Misalnya hutan lindung dan cagar alam berfungsi untuk melindungi hidrologi. Kelembagaan yang berkembang dengan adanya permukiman terpadu. Misalnya didaerah Pasuruan Jawa Timur. karena itu harus jelas.2. Padahal saat ini. yaitu Perkampungan Serbaguna Tarnan Dayu.1 Kaitan permukiman terpadu terhadap pengembangan regional Salah satu dasar yang harus dijadikan pertimbangan dalam pengembangan permukiman terpadu adalah bahwa kegiatan permukiman terpadu harus dapat mendukung kebijaksanaan dasar daerah mengenai pelestarian fungsi lindung dan keseimbangan budidaya daerah setempat. penduduk dari daerah sekitar dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh permukiman terpadu. Batasan kawasan lindung akan merupakan hal yang sangat penting. bahwa setiap pembangunan perumahan dengan pembukaan lahan seluas 200 hektar perlu melakukan kajian dampak regional yang dilakukan secara teliti. fungsi lindung dapat merupakan cagar alam hutan lindung suaka marga satwa. dan lain-lain. Berkembangnya berbagai institusi ini. hutan buru dan taman laut. Hal ini sangat penting karena pola kebijaksanaan dasar daerah merupakan arahan yang harus dianut. Perkembangan regional. permukiman terpadu dapat menunjang tumbuhnya perekonomian baru yang dampaknya dapat dirasakan secara regional. akan memudahkan dan mempercepat hubungan antara permukiman terpadu dengan kota-kota pertumbuhan di sekitarnya.2. batas-batas ini dapat menghindari sengketa dan dapat menjadi pegangan bagi pengelola kawasan lindung. jaringan listrik. hutan wisata. listrik. 160 . diharapkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengatur berputarnya roda pemerintahan suatu permukiman terpadu. Kegiatan yang mendukung kehidupan manusia dalam suatu permukiman terpadu dapat diletakkan pada daerah budidaya yang telah dituangkan dalam pola kebijaksanaan dasar daerah. Dengan hadirnya kawasan permukiman terpadu ini diharapkan daerah disekitarnya juga dapat berkembang dan memperoleh dampak positifnya. 2. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hutan wisata berfungsi sebagai tempat wisata. misal desa-desa di sekitar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja. dengan dibangunnya permukiman terpadu. 2. fungsi lindung dan keseimbangan budidaya suatu daerah akan tetap terjaga. kawasan perumahan yang dikembangkan di Surabaya mencapai sekitar 2000 hektar dan tanah urug umumnya diambil dari Porong.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman terpadu yang dibangun dan merupakan pusat pertumbuhan baru. baik di peta maupun di lapangan. misalnya: pengembangan wisata di kawasan lindung harus diatur agar tidak berlawanan dengan tujuan perlindungan. Permukiman terpadu yang dibangun harus dapat tetap melestarikan fungsi lindung dari desa-desa atau kawasan lindung di sekitarnya. antara lain adalah jaringan transportasi. baik permukiman. 2. Maka terjadilah hubungan sosial antar permukiman terpadu dengan daerah sekitarnya. Dalam daerah wisata yang intensif dapat dibangun fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel. lembaga swasta. dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dibangun dalam permukiman terpadu. restoran kolam renang. demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. dapat terpacu karena dibangunnya jaringan infrastruktur pendukung. hendaknya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang telah ada yang pada saat itu harus diemban oleh kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. fasilitas pertokoan dan rekreasi. Selain itu. Daerah untuk wisata yang intensif harus dibedakan dari daerah wisata terbatas.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman yang dibangun harus dapat berperan sebagai pendukung perkembangan kota-kota lain di sekitarnya. Penduduk di permukiman terpadu dan kota-kota pertumbuhan lain dapat memanfaatkan kegiatan perekonomian. Jaringan infra struktur ini. misalnya lembaga pemerintahan. hendaknya dapat menimbulkan dampak positif terhadap daerah di sekitarnya. kelembagaan perbankan. perindustrian dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas permukiman terpadu. swasta. kegiatan sosial yang ditawarkan dengan adanya fasilitas-fasilitas sosial di permukiman terpadu. fasilitas pendidikan dan fasilitas wisata.sekitar 20 kilometer. Dalam hal perekonomian. Kelembagaan yang dibentuk ini akan saling berhubungan dengan kelembagaan-kelembagaan lain yang telah ada dalam kota-kota pertumbuhan lain di sekitar permukiman terpadu untuk melayani seluruh penduduk serta untuk mengelola permukiman terpadu. Kegiatan-kegiatan perekonomian dapat sebagian beralih ke permukiman terpadu. dan kepolisian. telepon. sekitar 60 kilometer selatan Surabaya. saluran air buangan dan pengeringan (drainase) serta tempattempat pembuangan sampah. air bersih. lembaga perbankan.2. Namun fungsi daerah Taman Dayu untuk melindungi hidrologi harus tetap terjaga. Kelembagaan yang harus ada menyertai dibangunnya permukiman terpadu adalah kelembagaan pemerintahan. Pembangunan ini akan mendukung pengembangan regional Jawa Timur di mana kota-kota di sekitar akan ikut memanfaatkan keberadaan kota Taman Dayu. namun merupakan daerah yang dilindungi. telepon dan air bersih. Menurut Soemarwoto (1985). karena dapat pula dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di sekitar permukiman terpadu.

Suatu permukiman terpadu akan selalu dilengkapi dengan permukiman sebagai tempat hunian. Kota kecil dapat meliputi luas 200 sampai 1000 ha. 2. masing-masing usaha dan/ atau kegiatan dapat dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. 2. misalnya: golf. dan tempat pembuangan sampah. terminal kota. laboratorium klinis dan lain-lain. lapangan sepak bola dan seterusnya. air bersih. apotek. 51 Tahun 1993 telah disebutkan bahwa kegiatan yang bersifat regional. 2.6. pihak yang berwenang dapat mengatur dan mensyaratkan agar permukiman terpadu yang dibangun akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat desa di sekitarnya. ukuran dan skala permukiman terpadu tidak selalu sama. jalan kota. daerah konservasi dan wisata buatan. agar dapat memberikan bantuan mata pencaharian baru bagi penduduk di sekitar permukiman terpadu. renang dan sebagainya yang membutuhkan adanya lapangan golf. pergudangan. misalnya kantor polisi atau kemungkinan juga terdapat latihan atau pendidikan untuk angkatan bersenjata tertentu. (8) Kegiatan industri kecil maupun besar dengan bangunan industri disertai dengan fasilitas pengolah limbah. tenis. atau mungkin terminal udara dan pelabuhan laut. seperti kegiatan perdagangan. jalan-jalan lingkungan. (6) Kegiatan pariwisata. hotel. pendidikan. pertokoan. kota sedang meliputi > 1000 ha sampai 5000 ha dan kota besar meliputi luas > 5000 ha. 2. (3) Kegiatan perekonomian dan perdagangan. Permukiman terpadu yang mempunyai kegiatan yang bersifat regional juga dapat terletak dalam suatu gabungan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. sepak bola. misalnya: pendidikan formal dan informal yang memerlukan gedung-gedung sekolah. maka dalam pengembangan kawasan permukiman terpadu hendaknya mencakup dan mengikuti 3 (tiga) kriteria yaitu: kriteria ekosistem.6 KRITERIA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Mengacu pada ukuran dan skala permukiman terpadu. Ukuran luas permukiman terpadu dapat berkisar 1 antara 200 sampai lebih dari 5000 ha. (10) Kegiatan untuk pengamanan kota dan angkatan bersenjata. misalnya: pasar. balai pengobatan. yang merupakan suatu kesatuan kegiatan dalam permukiman terpadu yang harus disusun AMDALnya. Hal ini hanya mungkin terjadi bila para pemrakarsa permukiman terpadu mempunyai komitmen sosial. atau ekosistem pegunungan dengan ekosistem pantai. sesuai dengan definisi kota yang biasa dipakai oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam menilai kebersihan kota dalam memperoleh Adipura.Kemungkinan penduduk di desa-desa sekitar permukiman terpadu akan berubah pola mata pencahariannya dari sektor agraris ke sektor perkotaan. atau terletak dalam satu tipe ekosistem. tempat bermain. pelabuhan. industri dan fasilitas kesehatan. misalnya: jalan tol. Dengan demikian maka dalam AMDAL untuk permukiman terpadu akan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saling terkait dengan ukuran dan skala tertentu. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas banyak yang termasuk dalam daftar wajib AMDAL sebagaimana disebutkan dalam lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya.3 KEGIATAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Kegiatan-kegiatan yang biasa terdapat dalam permukiman terpadu dan keterkaitan antar kegiatan dalam permukiman terpadu antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. (9) Kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan rumah sakit. (7) Kegiatan pendidikan. misalnya ekosistem pegunungan. (2) Kegiatan sosial masyarakat dalam fasilitas-fasilitas sosial yang dibangun taman-taman. sarana sosial. 2. misalnya dalam permukiman terpadu. olah raga dan rekreasi. dan kriteria sektor yang berwenang. jaringan pematusan kota. Penciptaan lapangan kerja di sektor non pertanian dalam permukiman terpadu harus mendapatkan perhatian yang serius. pariwisata.5 UKURAN DAN SKALA PERMUKIMAN TERPADU Seperti disebutkan dalam pendahuluan. kriteria pemrakarsa. Tetapi belum tentu suatu permukiman terpadu akan mempunyai kegiatan pariwisata atau industri atau kegiatan pelabuhan. plaza. Di samping itu.1 Kriteria ekosistem Dalam PP No. Kriteria-kriteria dimaksud adalah : 2. dapat terletak lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. wisata air atau wisata alam yang lain. sedangkan skalanya dapat berupa kota kecil. kota sedang maupun kota besar.6. balai-balai pertemuan. (5) Kegiatan olah raga dan rekreasi. (4) Kegiatan transportasi. Misalnya. jembatan. misalnya: kebun binatang. kegiatan perdagangan dapat dimiliki oleh pihak lain (swasta) seperti pertokoan. sedangkan kegiatan perdagangan lain dapat dimiliki 161 . seperti: jaringan listrik. yang menghubungkan permukiman ke tempat-tempat kegiatan lain. Misalnya penghuni permukiman akan selalu terkait dengan jalur transportasi.2 Kriteria pemrakarsa Dalam kegiatan yang bersifat regional.4 URAIAN TENTANG KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN Kegiatan sentral dalam pengembangan permukiman terpadu adalah kegiatan dalam kawasan permukiman karena dapat terkait dengan kegiatan dalam kota. telepon. Untuk itu keberadaan permukiman terpadu hendaknya juga dapat memberikan jasa dan lapangan kerja bagi penduduk yang berubah mata pencahariannya.

Pembangunan perumahan. iii. Interaksi kelompok (rapat. dan lain-lain). Jadi ada batasan bahwa dalam permukiman terpadu. sekunder. Adapun metoda identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Daftar uji sederhana. Pembuatan taman kota dan tempat bermain.oleh pemerintah. BRI. ii. Seperti yang telah disebutkan dalam kajian teori (Bab II) yang berwenang mengatur kegiatan dalam suatu permukiman terpadu akan terdiri lebih dari satu instansi. Pada tahap ini hanya akan diinventarisir dampak yang potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. peta tata guna tanah. Pembangunan gedung olah raga. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. Pembangunan lapangan golf. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. dan (3) pemusatan dampak penting. iv.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.1 Identifikasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. Demikian juga dengan kawasan wisata yang ada dalam permukiman terpadu. b) Kegiatan pembebasan lahan. iv. Analisis isi (content analysis). usaha dan/atau kegiatan yang ada dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial bagi aktivitas proyek pengembangan permukiman terpadu Langkah 1 Buat daftar rencana usaha dan/atau kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu berikut dengan rencana pembangunannya menurut persebaran ruang dan waktu. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. v. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). Penggalian saluran air. dan telepon. iii. Pengalihan aliran air. serta masyarakat (tokoh-tokoh) yang berkepentingan. ii. Pembuatan tempat pembuangan sampah. peta sistem lahan. 162 . Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/1992 tentang Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL untuk informasi yang lebih rinci. 2. listrik. Hasil langkah 1 1. dapat dimiliki oleh pihak pemerintah maupun swasta. Matriks interaksi sederhana. BAB III. Pemadatan. jalan tol. misalnya: Departemen Pekerjaan Umum akan mengatur dan bertanggung jawab untuk jembatan. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. Pembangunan pasar. atau penting tidaknya dampak. Jadi permukiman terpadu akan selalu ditangani dan dikelola oleh lebih dari satu instansi. pemrakarsa kegiatan. (2) evaluasi dampak potensial. vi. menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. ii. seperti pelabuhan dimiliki oleh Perum Pelabuhan. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. dimiliki oleh pemerintah. pengerasan. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah-langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. dan lain sebagainya. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. i. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL 3. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. iii. pintu pintu air dan kesehatan lingkungan permukiman. Pembangunan pergudangan. Pembangunan terminal dan transportasi angkutan. Bank Indonesia.3 Sektor yang berwenang Masing-masing usaha dan/atau kegiatan dalam suatu wilayah yang mempunyai dampak regional seperti permukiman terpadu. peta vegetasi. BNI. iv. 2) Kegiatan konstruksi. brainstorming. Penelaahan pustaka. 3. Departemen Perindustrian akan bertanggung jawab untuk industri-industri kecil maupun besar yang ada dalam kawasan tersebut. lokakarya. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. Pengamatan Lapangan. yang meliputi: a) Kegiatan survei.6. instansi yang bertanggung jawab. Diperoleh daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1) Kegiatan pra-konstruksi. dan pembangunan jalan lingkungan. seperti: peta rencana umum tata ruang daerah.1.

f) Pariwisata. iii.Perkebunan karet/kelapa sawit. Pola aliran dan debit sungai. h) Industri kecil dan menengah. . 3) Kegiatan Permukiman Terpadu. c) Tanah: i. . Daftar spesifik untuk setiap ekosistem yang terkena dampak. Tinggi muka air tanah.Tanaman pekarangan Langkah 3 Identifikasikan komponen lingkungan atau struktur ekosistem yang berpotensi terkena dampak akibat proyek pada dua tingkat. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: .Hutan rawa air tawar.Hutan bakau. ii. Industri kulit (sepatu dan tas).Hutan rawa payau.Kegiatan pembangunan industri kecil/menengah: i. yang meliputi kegiatan: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman.Danau/situ. b) Aktivitas sosial masyarakat di fasilitas-fasilitas sosial/umum yang ada. e) Olah raga dan rekreasi. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi: 163 d) . . 2. Diperoleh informasi tentang rencana pembangunan kota menurut persebaran ruang dan waktu. Kualitas udara. .Tambak garam. Sifat fisik tanah. k) Seni budaya.Sawah. sungai). 2) Ekosistem Lahan kering. c) Perekonomian dan perdagangan. iii. Topografi ii. Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1. yakni: 1. . .Tegalan/pertanian lahan kering. iv. . iii. iv. . b) Hidrologi: i. Tinggi.Kolam budidaya ikan air tawar.Hutan rawa bergambut. . yakni: a) Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut hasil langkah 2 b) Di tingkat regional yang merupakan dampak regional dari pengembangan permukiman terpadu Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen Lingkungan atau struktur ekosistem yang potensial terkena dampak proyek. iii. Kelembaban nisbi udara. Industri mebel kayu dan rotan. g) Pendidikan.Hutan tropika basah (berstatus konversi). Suhu udara. . j) Ketertiban dan keamanan. d) Transportasi.Tambak udang/bandeng.Kebun/talun. pada ruang dan waktu tertentu yang diantaranya adalah: 1) Lahan basah. lama dan frekuensi genangan/banjir. . ii. Unit pengolahan limbah. ii. Industri makanan. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . Sifat kimia tanah. Kualitas air permukaan (sumur. Hasil langkah 2 Diperoleh daftar tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. . misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Iklim: i. i) Penunjang kesehatan masyarakat.

getah. Mobilisasi. 12) Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa Liar. 2) Fungsi pengendalian air terutama pengendalian banjir. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. migrasi. c) Sarana dan prasarana perhubungan darat. Bila ekosistem lahan basah yang terkena dampak. seperti energi kayu dan listrik-hidro. h) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. Tinggi. yang diantaranya meliputi : 1. l) Persepsi masyarakat terhadap proyek. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. pengendalian erosi. 4) Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. rotan. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. d) Sumber mata pencaharian. tanah adat). iv. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Jenis dan populasi satwa Liar. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. iii. komunitas. misalnya: berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. dan pemecah angin (windbreak). 13) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi habitat satwa liar dan tumbuhan penting. g) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. urbanisasi. Struktur dan komposisi vegetasi. Daftar potensial dampak regional. Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut hasil langkah 2.i. ii. Pola aliran dan debit sungai. e) Peluang bekerja dan berusaha. iii. Pertumbuhan. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). 3) Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya: a) Demografi/kependudukan. yang berupa perlindungan garis pantai. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti: pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan pasokan bagi ikan serta burung-burung migran. Komunitas biota. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. ekosistem. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi. b) Hidrologi: i Tinggi muka air tanah. b) Komunitas Satwa Liar: i. iii. b) Komunitas Satwa Liar. Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi untuk setiap tipe ekosistem yang potensial terkena dampak. f) Rekreasi dan pariwisata. Produktivitas budidaya perairan. 2. Kualitas air permukaan (sumur. ii. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. 15) Fungsi sosial budaya. ii. dan gambut. ikan. Produktivitas lahan pertanian. j) Pola konsumsi. sungai). k) Pusat pertumbuhan baru dan ekonomi regional. keagamaan dan spiritual serta peninggalan sejarah. seperti: kayu. iii. i. Komunitas biota akuatik. geomorfologi dan geologi. lama dan frekuensi genangan/banjir. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Kualitas udara. daging satwa liar. 164 . 10) Fungsi pemasok energi. berupa estetika lansekap. seperti: proses ekologi. ii. identifikasikan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak penting akibat adanya proyek. iv. Sektor informal/multiplier effect. dan lansekap lahan basah. b) Fasilitas sosial dan fasilitas umum. obat. 16) Fungsi sosial ekonomi. i) Akulturasi dan asimilasi.

dan lansekap. seperti estetika lansekap.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. 3. yakni (lihat pengelompokkan pada hasil langkah 3): a) Daftar dampak penting spesifik untuk masing-masing tipe ekosistem. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok produksi pangan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6. b) Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. Komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. 7) Fungsi sosial budaya. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL kawasan pengembangan permukiman terpadu. b) Buat matrik dampak ekosistem pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat fungsi ekosistem (hasil langkah 4). seperti proses ekologi. geomorfologi dan geologi. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. c) Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2 Hasil langkah 5 a) Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan atau struktur ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. yakni yang meliputi: a. keagamaan dan spiritual. seperti pangan beras. 5) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Komponen lingkungan yang terkena dampak penting dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. komunitas. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. palawija. 165 . Adapun untuk fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. serta buah-buahan. 10) Fungsi penelitian dan pendidikan.1. Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. misalnya berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. b) Daftar dampak penting untuk tingkat/skala regional. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. 2) Fungsi pemasok produk alam.2. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. dan peninggalan sejarah. b. 11) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Langkah 5 a) Buat matrik dampak komponen yang pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan atau struktur ekosistem (hasil langkah 3). 8) Fungsi sosial ekonomi. diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. berupa estetika lansekap. 3) Fungsi produksi energi (kayu). Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. Bila ekosistem lahan kering yang terkena dampak. daftar dampak penting dikelompokkan menurut masing-masing tipe ekosistem. 9) Fungsi sosial budaya. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. hara terlarut yang terbawa ke hilir. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. hortikultura. keagamaan dan spiritual. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. ekosistem. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil Langkah 7. serta peninggalan sejarah.

166 .1. dan lampiran II Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.3 Pemusatan dampak penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. dimana prosesproses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. dapat memandu mengarahkan hal ini d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat yang berpotensi berubah secara mendasar akibat rusaknya sumber daya atom dan/atau pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek pengembangan permukiman terpadu.1. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi terjadinya perubahan fungsi ekosistem sebagai akibat adanya proyek c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan hasil langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. konstruksi dan permukiman di kawasan pengembangan permukiman terpadu. Catatan Langkah 2 : Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra-konstruksi. dan/atau . melalui media air. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta kerja yang tersedia. 3. sosial dan ekologi. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek.2.Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak penting di suatu lokasi. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak penting hasil langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan Hasil langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan penting yang akan dialami ekosistem sebagai akibat adanya proyek. konstruksi dan operasi. b) Di dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.1. Hasil langkah 1 dari butir 3.1.Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting proyek.3. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/ atau lembaga-lembaga masyarakat (social institutions) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. b) Keterkaitan antar dampak penting yang telah di identifikasi pada butir 3.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. terhadap ekosistem disekitarnya. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara : a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek .2. Hasil Langkah 2 a) Diperoleh batas ekologis di atas peta yang digunakan pada langkah 1.1. Hasil langkah 2 sampai 4 dari proses identifikasi dampak potensial. dapat digunakan untuk memandu hal ini. Hasil langkah 10 Diperoleh urutan isu-isu pokok Lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. Catatan langkah 9 : Dampak penting hasil langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui : . Hasil Langkah 1 a) Diperoleh batas kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu di atas peta yang digunakan.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting. Catatan Langkah 1: Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan proyek akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. sosial maupun ekologi.

batas administratif. dan batas administratif (hasil langkah 4). Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. lembaga non pemerintah dan/atau lembaga lokal masyarakat setempat. di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 4.Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1 dan 2. BAB IV. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis namun berpotensi terkena dampak penting akibat proyek. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (hasil langkah 1). Batas dimaksud merupakan resultante dari batas kegiatan proyek batas ekologi. batas kuasa pertambangan. batas sosial. 4. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. batas ekologi (hasil langkah 2).1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. waktu.2.2. dan tenaga yang tersedia. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. batas kawasan perkebunan. Hasil Langkah 5 Diperoleh wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. karena itu tidak dijelaskan tentang outline tersebut. Catatan Langkah 3 : Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). HasiL langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah1. studi ANDAL serta RKL dan RPL. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. Catatan langkah 4 : Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. 4.2 METODE STUDI 4. dan kendala teknis yang dihadapi. batas sosial (hasil langkah 3). misalnya: akibat aktivitas rekruitmen tenaga kerja. 167 . termasuk yang tergolong terkena dampak penting. studi ANDAL serta RKL dan RPL Kegiatan Pengembangan Permukiman Terpadu yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu.2 Wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem permukiman terpadu sebelum proyek dibangun. dan di lain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: Metode penarikan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. kampung. bulanan atau musiman. maka akurasi dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. d) Khusus untuk aspek sosial.2. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. serta sifat dan karakter komponen Lingkungan yang diukur. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh.2. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. 168 . 4. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. c) Mengingat ekosistem di sekitar pengembangan permukiman terpadu yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi.4.4 Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana kegiatan (emic). b) Dampak penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem permukiman terpadu serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. Saat pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga.

Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik kimia Komponen Lingkungan Iklim Parameter • Suhu udara • Kelembaban nisbi udara • Kualitas udara Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi • Pengumpulan data sekunder • Pengukuran di lapangan (untuk kualitas udara) • Pengamatan Lapang • Pengukuran Lapang • Pengamatan Lapang • Pelabuhan Udara terdekat • Stasiun Meteorologi terdekat. dan frekuensi genangan/ banjir • Kualitas air permukaan (sumur.Tabel 4-1. Koppen dan Oldeman • Analisis Hidrograf • Pengukuran Lapang • Penilaian Ahli Keterangan Hidrologi • Tinggi muka air tanah • Pola aliran dan debit sungai • Tinggi. Sekunder & Tersier • • • • • Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Tanah • Fisiografi. litologi • Sifat fisik tanah • Sifat kimia tanah • Observasi Lapang • Pengeboran dan pengambilan contoh • Lahan gambut • Lahan rawa • Penilaian Ahli • Analisa laboratorium 169 . lama. Sekunder & Tersier Metode Analisis Data • Tabulasi data • Klasifikasi Schmith & Ferguson. Sekunder & Tersier • • • • Visual Organoleptik Gravimetrik Elektrometrik Sifat kimia air permukaan • • • • Titrasi Titrasi Titrasi Titrasi • Sungai • Saluran Primer. • Sungai • Saluran Primer. sungai) • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna Rasa dan bau Kekeruhan Padatan tersuspensi pH DHL DO BOD COD Kesadahan total Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Karbonat (CO3) Nitrit (NO2) Nitrat (NO3) Sulfat (SO4) Sifat fisik air permukaan • Pengukuran in situ • Sungai • Pengambilan sampel air • Saluran Primer.

• Pemetaan Plasma Nutfah. • Fasilitas sosial dan penduduk ter• Observasi fasilitas umum dekat. tanah adat) • Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal • Akulturasi dan asimiliasi • Pola konsumsi • Persepsi masyarakat terhadap proyek • Pengumpulan • Desa-desa/ data pemukiman sekunder. masyarakat dan ketua suku atau adat. Sosial budaya • Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. lapang • Sarana dan • Wilayah • Wawancara prasarana administrasi perhubungan darat proyek. • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli 170 . Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik biologi Komponen Lingkungan Komunitas vegetasi Parameter • Komunitas biota • Struktur dan komposisi vegetasi Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek Keanekaragaman • Indek Keseragaman Je nis. penduduk ter• Observasi dekat. • Sumber mata pencaharian • Peluang bekerja dan berusaha • Rekreasi dan pariwisata Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik sosial Komponen Lingkungan Sosial ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli Keterangan • Pengumpulan • Desa-desa/ • Demografi dan data kependudukan pemukiman sekunder. Keterangan • Transek • Hutan bakau • Pengumpulan • Hutan rawa data sekunder • Hutan payau • Analisis vegetasi • Observasi lapangan Komunitas satwa liar • Komunitas biota almafile • Jenis dan populasi satwa liar • Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi • Transek • Pengumpulan data sekunder • Analisis satwa liar • Observasi lapangan • Hutan bakau • Hutan rawa • Hutan payau • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek keanekaragaman • Indek keseragaman jenis • Tabulasi jenis satwa liar yang dilindungi Tabel 4-3.Tabel 4-2. lapangan • Wilayah • Wawancara administrasi dengan tokoh proyek.

Oleh karena itu kegiatan persiapan. (4) Aspek jangka waktu pengembangan. Kegiatan pembangunan dimaksud dideskripsikan dengan penekanan pada pokok uraian berikut ini : 1) Kegiatan persiapan atau pra-konstruksi. listrik dan telepon. Pembuatan taman-taman kota dan tempat bermain.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan di kawasan pembangunan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. yang meliputi: a) Kegiatan survei. iii. atau kota ramah lingkungan. Industri makanan. Pembangunan pasar. ii. (6) Aspek tata ruang mikro permukiman terpadu. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan. vi. dan pembangunan jalan lingkungan. Bontang. Pengalihan aliran air. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): (1) Aspek bentuk pengembangan permukiman terpadu: a) menempel pada kota yang sudah ada (misal. c) mendukung kegiatan pertambangan (misal.1. Dari berbagai jenis kegiatan yang diutarakan pada angka (7) usahakan dapat dipaparkan : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. konstruksi dan hunian permukiman terpadu. b) Kegiatan pembebasan lahan.3 URAIAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan permukiman terpadu hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. yakni lokasi administratif dan rencana luas/skala permukiman terpadu. (8) Aspek kegiatan persiapan. 2) Kegiatan konstruksi. v. Depok). b) Alternatif lokasi. 4. (5) Aspek rencana lokasi. 3) Kegiatan hunian. Palangka Raya). b) Kegiatan masyarakat dalam fasilitas sosial & fasilitas umum yang dibangun. (7) Aspek manajemen kota/kelembagaan. e) Olahraga dan rekreasi. Pondok Indah). b) fungsi dari setiap ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Perlu diketahui aspek kegiatan ini tidak berjalan secara sekuensial serentak untuk seluruh kawasan permukiman terpadu. d) Kegiatan pembangunan industri kecil. c) Perekonomian dan perdagangan. (3) Aspek rencana daya tampung atau jumlah penghuni permukiman terpadu. iii. Pembangunan terminal dan transport angkutan. Pembangunan gedung olah raga. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan.1. e) merupakan kawasan siap bangun. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL serta Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL (Sektoral) dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. iv. iii. yang meliputi: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan: i. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). ii. Industri kulit (sepatu dan tas). maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci/detil. pengerasan. d) Transportasi.2. Unit Pengolahan Limbah. Tembagapura). g) Pendidikan. Pembuatan tempat pembuangan sampah. Pembangunan lapangan golf. Pembangunan perumahan. Pemadatan. Pembangunan pergudangan. l) Penunjang kesehatan masyarakat. misal: i. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. Penggalian saluran air. j) Ketertiban dan keamanan. misal kota dibangun berdasarkan konsep kota bisnis. ii. alternatif ruas jalan. d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan hunian (misal sarana pengolahan air limbah).2. b) lepas namun terkait dengan kota yang sudah ada (misal. c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi. k) Seni budaya. iv. f) Pariwisata. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. konstruksi dan hunian.4. iv. h) Industri kecil atau menengah. sehingga pembangunan permukiman terpadu dapat menelan waktu bertahun-tahun tergantung pada skala/luas kota dan permintaan masyarakat. kota wisata. Industri mebel kayu dan rotan. 171 . iii. konstruksi dan hunian sering dijumpai berlangsung secara paralel. (2) Aspek konsepsi pengembangan permukiman terpadu. ii. d) kota yang berdiri sendiri (misal. e) Tenaga kerja yang dicurahkan untuk kegiatan persiapan. iv.

b. e) Komunitas biota almafile. Spesies-spesies tumbuhan komersil. yang meliputi: i. 3. Tinggi dan elevasi muka air tanah. yang diantaranya meliputi : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Pemanfaatan langsung oleh masyarakat. b) Komunitas Biota. Debit sungai dan pola aliran. b. ii. f) Jenis dan populasi satwa liar. misal: energi dari kayu. dan frekuensi genangan/banjir. seperti: a. Panjang penyinaran matahari. Gambut. Pemecah angin (windbreak). Sifat kimia tanah. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya a) Demografi dan kependudukan. rusa). seperti: a. ii. terutama pengendalian banjir. Suhu dan kelembaban nisbi udara. d) Peluang bekerja dan berusaha. listrik-hidro. tanah adat) g) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. j) Persepsi masyarakat terhadap proyek. getah. b) Hidrologi. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. c. yang meliputi: i. Air tanah. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. Fungsi dimaksud berlaku untuk setiap tipe ekosistem yang strukturnya mengalami perubahan sebagaimana dimaksud pada angka 4. Komponen fisik-kimia a) Iklim. iv.4. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: a.1 Struktur ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan struktur ekosistem permukiman terpadu saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. 2) Fungsi pengendalian air. Uraian disusun berdasarkan sistimatika sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): 1. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. iii. 2. Ikan dan burung-burung migran.4.Pasokan air ke permukiman terpadu lainnya. yang meliputi: i. Curah hujan. Air permukaan. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. Kecepatan angin. Kualitas air permukaan (sumur. dan obat. ii. b. 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). Spesies langka dan dilindungi. iii. Komponen biologi a) Komunitas Vegetasi. iii. b. iv. Fungsi dimaksud adalah sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): I. f) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. c) Struktur dan komposisi vegetasi. e) Rekreasi dan pariwisata. g) Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. Fungsi ekosistem lahan basah.4. Topografi. c. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi. d) Komunitas satwa liar. Rotan. yang berupa: a. 13) Fungsi konservasi bagi: a.Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge). c) Tanah. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir b. sungai). yang berupa: a. lama. 172 . . b) Fasilitas sosial dan fasilitas perhubungan darat. Ikan dan daging satwa (misal. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. Ke lokasi lain: .4.2 Fungsi ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan fungsi-fungsi yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di wilayah tersebut. i) Pola konsumsi. Tinggi. 12) Fungsi bank gen bagi: a. d. Sifat fisik tanah. Populasi satwa liar. b. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. c) Sumber mata pencaharian. h) Akulturasi dan asimilasi. 10) Fungsi pemasok energi. Kayu. 4.1.

Pencegahan perluasan tanah sulfat masam.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. Rosot karbon (carbon sink). 5) Fungsi konservasi bagi spesies: a) Langka dan dilindungi. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). b) palawija dan hortikultura. yang meliputi: a) sumber mata pencaharian masyarakat setempat. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. geomorfologi dan geologi. c) komunitas. d) ekosistem. Estetika lansekap. 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. Ekosistem. b. yang diantaranya berupa: a. c) buah-buahan. b) hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. c. b. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting. 3) Fungsi produksi energi (kayu).II. Lansekap atau jenis-jenis permukiman terpadu. 4.1. seperti: a) estetika lansekap. yang antara lain meliputi: model matematik dan metode grup eksperimen. e. b) keagamaan dan spirituil c) peninggalan sejarah.2 (Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL). Sumber mata pencaharian masyarakat setempat. b. seperti : a) makanan pokok (beras). 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. Sebagai misal. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak penting. 2) Fungsi pemasok produk alam. 5) Mengingat di kalangan komponen ekosistem terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. yang antara lain berupa: a. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar (buruan) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan berburu oleh penduduk. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan di kalangan komponen sosial sendiri. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. c. b) habitat satwa liar dan tumbuhan penting. 8) Fungsi sosial ekonomi. langkah 2. yaitu: a) metode formal. b) tanah adat masyarakat setempat.1. Keagamaan dan spiritual. seperti: a) bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Tanah adat masyarakat setempat. proyek pengembangan permukiman terpadu yang berlokasi di pantai akan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. Misalnya proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. Komunitas. c. Peninggalan sejarah. Fungsi ekosistem lahan kering yang diantaranya meliputi: 1) Fungsi pemasok produk pangan. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. d.1. c. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a.Sebagai misal. Proses ekologi. c) pasokan hara untuk ikan dan burung-burung migran. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. d. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. b. b) metode non-formal yang antara lain meliputi: penilaian para ahli dan metode analogi. b. 2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. 15) Fungsi sosial budaya. Kerusakan pada 173 . 7) Fungsi sosial budaya. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 16) Fungsi sosial ekonomi yang diantaranya meliputi: a. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik-kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial.

disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. metode Daftar Uji Berkala dengan Pembobotan (misal. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) dan b) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Hasil langkah 1 Diperoleh prakiraan perihal besar (magnitude) dampak pada dua tingkat analisis yakni : a) Tingkat ekosistem yang terkena dampak penting Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan dari ekosistem (dengan kata lain struktur ekosistem) yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam proses pelingkupan. khususnya langkah 1: Identifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan proyek. khususnya Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL.e. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Langkah 1: Prakiraan dampak penting dengan cara: prakiraan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. dan yang tercantum pada angka 4. b) Tingkat dampak penting regional Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan tingkat regional yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. (yakni rona lingkungan hidup awal) akan berubah secara mendasar. matrik Leopold). 4. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Environmental Evaluation System).1. baik tingkat ekosistem maupun regional. proses pelingkupan. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem. Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).1.4. Dampak penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Telaah secara komprehensif seluruh dampak penting yang dialami oleh struktur sistem. b) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekonomi regional akan berubah secara mendasar akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. b) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem regional. (hasil langkah 2). yang tercantum pada angka 4. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. dan/atau metode bagan alir. Langkah 2 Telaahan secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem dan regional yang dimaksud pada langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem dan ekonomi regional dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek.1. yang tercantum pada angka 4. Catatan langkah 1 : Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem dapat dilakukan melalui metode matrik (misal.2. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu usaha dan/atau kegiatan proyek. sebagai akibat alternatif usaha dan/atau kegiatan tertentu. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.5. (hasil langkah 2). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL.5.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab Evaluasi Dampak Penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif /holistik. Hasil langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal : a) fenomena perubahan struktur ekosistem akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. 174 .2.. ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak udang.1.

Hasil langkah 2 Diperoleh sintesis komprehensif perihal fungsi ekosistem dan regional yang terkena dampak penting menurut alternatif tertentu dari proyek. BAB V. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. Lebih lanjut pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatarbelakangi kedalaman dokumen RKL. Langkah 4 Dari alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap kehidupan ekosistem dan ekonomi regional di kawasan permukiman terpadu. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. dalam pengertian generik. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. serta (ii) struktur dan fungsi ekonomi regional. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat dampak yang timbul bersifat kompleks. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) 5. Hasil langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif di saat pra-konstruksi.1 Lingkup dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Dokumen RKL. Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari usaha dan/atau kegiatan proyek. maupun penempatan permukiman pada kawasan permukiman terpadu. sebagaimana dimaksud pada langkah 1 dan 2. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di kawasan pengembangan permukiman terpadu tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. program dan/ atau upaya-upaya untuk mencegah. program atau tindakan untuk mencegah. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem dan kondisi fisik kawasan permukiman terpadu sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di rencana kawasan pengembangan permukiman terpadu. dengan fokus pada : a) fenomena perubahan fungsi ekosistem dan ekonomi regional akibat adanya alternatif tertentu dari proyek.1. mendaur ulang (recycle). Sehubungan dengan hal tersebut. 5. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). konstruksi dan penempatan permukiman. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. 5. konstruksi. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). b) Bila seluruh alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem dan ekonomi di kawasan permukiman terpadu dimaksud.1. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem dan kondisi fisik lokasi pengembangan. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan atau merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tersebut di saat pra-konstruksi. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif.3 Struktur inti dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: 175 .1. PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. lakukan telaahan sejauh mana dampak penting yang ditimbulkan terhadap (i) struktur dan fungsi ekosistem.2 Kedalaman dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. merupakan dokumen yang memuat upaya.

Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. dan angka 4. sampai ke tingkatan ekosistem. c. c) Upaya pengelolaan lingkungan. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. langkah 10. Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. Upaya. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat.6.a) Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola. dari Bab IV di muka. yakni Bab Evaluasi dampak dari dokumen ANDAL.5.6. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. a. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu kegiatan pengembangan permukiman terpadu. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. b. b) Tujuan pengelolaan lingkungan. f. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. berulang dan terencana. kawasan. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan pengembangan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. sistematik. sifat kumulatif.5. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL).5. Upaya. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. d. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem di kawasan pengembangan permukiman terpadu.1 Lingkup dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek. Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. 5. tersier. ekonomi atau kelembagaan. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting pengembangan permukiman terpadu berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). e. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. d) Waktu dan periode pengelolaan lingkungan.2. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. Pada ekosistem permukiman terpadu pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak. 176 . maka sedapat mungkin dituangkan disain teknologinya. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. atau bahkan regional. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. f) Institusi pengelolaan lingkungan.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem permukiman terpadu. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung.1. program atau tindakan untuk mencegah. di muka. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada bab prakiraan dampak dan bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat merujuk pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.2. Prakiraan dampak penting. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.

d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisa data.2 Kedalaman dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada angka 2 Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. warna. tersier.6.6. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Evaluasi dampak penting.3 Struktur inti dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau.5. Semisal. dan 4. Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk ada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. f) Institusi pemantauan Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu (proyek. yakni bab prakiraan dampak penting dan bab evaluasi dampak penting dari dokumen ANDAL. SH 177 . Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Dr. f.2. Tolok ukur dampak yang dimaksud di sini dapat berupa baku mutu limbah cair. Langkah 10. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. baku mutu lingkungan.2. c) Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. c) Tujuan pemantauan lingkungan. sebagai misal). Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). c. d) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. e.5. kandungan minyak terlarut. b) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. atau ketetapan resmi suatu instansi. A. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. b) Tolok ukur dampak. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. ttd Nadjib Dahlan. a. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu kawasan pengembangan permukiman terpadu. upaya/program/tindakan pengelolaan lingkungan. Langkah 2). Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. 5. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem permukiman terpadu. d.5. bau. suhu.5.2. lokasi dan jangka waktu serta frekuensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan.1. Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. b. Prakiraan dampak penting dan angka 4. Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola.

Komunitas vegetasi i.pusat i. Pemb.pasar iii.Pembuatan TPA i.Lampiran 3-1. Pola aliran dan debit air sungai iii. Tanah i. Pemb. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi 2.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Kualitas air permukaan (sumur. Kelembaban nisbi udara b). Kegiatan Konstruksi 3. listrik . sungai) d).Penghijauan/ reklamasi . Penggalian saluran air iv. Komponen Fisik Kimia a). sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg. Iklim i. lapangan golf iii.Unit pengolahan iv. Matriks Interaksi Dampak Kegiatan Proyek dengan Komponen Lingkungan Kegiatan Proyek 2 b i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv a b c d e f g h i 3 j 1 a Komponen Lingkungan 178 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Industri makanan ii. Pemb. Kualitas udara c). Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.Industri mebel iii.Pembuatan taman taman kota & taman bermain iv. Komunitas biota almafile ii. Sifat kimia tanah 2. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. lama dan frekuensi genangan/banjir iv. Kegiatan pra-konstruksi a. Komunitas satwa liar i. Kegiatan survei b.gedung olah raga ii. pengerasan. Pemb. Pemb. Komunitas biota ii.Penggalian aliran air v. Industri kulit pertokoan. Topografi ii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Tinggi. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Kegiatan pendidikan dan kebudayaan 1. Hidrologi i. Tinggi muka air tanah ii. terminal limbah &transportasi darat Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Jenis dan populasi satwa liar iii. Komponen Biologi a). Suhu udara ii. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. pembangunan jalan lingkungan iii. Penggalian jaringan air bersih. telpon vi.perumahan ii. Pemadatan.Pemb. Sifat fisik tanah iii. Struktur dan komposisi vegetasi b).

gedung olah raga ii.Pembuatan TPA i. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Pola konsumsi k). pembangunan jalan lingkungan iii. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman 2.Lampiran3-1. Fasilitas umumdan fasilitas sosial c). Penggalian jaringan air bersih. Sumber mata pencaharian e).Pembangunan iv. Persepsi masyarakat terhadap proyek 179 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Kegiatan pra-konstruksi a. Demografi dan Kependudukan b). Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal i).listrik . telpon vi. Rekreasi dan pariwisata g). Akulturasi dan asimilasi j).Pemb. Pemb. Peluang bekerja dan berusaha f). Industri makanan perbelanjaan iii.Unit pengolahan pergudangan limbah iv. terminal &transportasi darat Kegiatan pariwisata.perumahan ii. Pemadatan. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. Pemb. pengerasan. Pemb.pusat (sepatu dan tas) pertokoan. Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik dan tanah adat) h). Kegiatan survei b. & ii.Industri mebel ii. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a).(Lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i Kagiatan Proyek 2 3 j Komponen Lingkungan 3.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. Pemb. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Industri kulit i. Sarana dan prasarana perhubungan darat d). Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.Penghijauan/ reklamasi .pasar kayu dan rotan iii.Penggalian aliran air v. lapangan golf iii. Kegiatan Konstruksi 3.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Pemb.Penggalian saluran air iv.

Pembuatan iii. Industri makanan golf ii. Penggalian jaringan air bersih. Pemb. lokasilahanbasahlainnya. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanbahan-bahanberacun 8. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekonomi.ikandandagingsatwaliar.getah. Pemadatan.obat. lapangan perbelanjaan ii. Pemb. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. pembangunan jalan lingkungan iii. Pemb.listrik . Kegiatan pra-konstruksi a. & (sepatu dan tas) ii.Penggalian saluran air iv.Unit pengolahan kota & taman iv. Industri kulit olah raga pertokoan. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata.pusat i.yangberupa perlindungangarispantai. 3.Pembuatan TPA .rotan.dangambut 9.Industri mebel iii. EkosistemLahanBasah 1. A.pasar iii. Pemb.gedung i.terutamapengendalianbanjir 3. Fungsiperlindunganterhadapkekuatanalam. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i.Penggalian aliran air v. Kegiatan survei b.Lampiran3-2MatrikInteeraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemKawasanPengembanganPemukimanT erpaduuntukTipeEkosistem:Lahanbasahdanlahankering 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h Kegiatan Proyek 2 3 Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 180 2. terminal limbah bermain &transportasi iv.seperti kayu.danpemecah angin(windbreak) 5. pasokanbahananorganikdanorganikdanharaterlarutbagi wilayahhilirdanbagiikansertaburung-burungmigran.yangberupaair bersihyangdapatlangsungdimanfaatkanolehmasyarakat dan/atausebagaipemasokkeaquifer(groundwaterrecharge).perumahan ii.Pemb.Penghijauan/ darat reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Fungsipencegahintrusiairlautkeairtanahdan/atauair perm ukaan 4. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekologiseperti. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanunsurhara 7. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. pengerasan. Fungsipenangkapandan/ataupengendapansedimden 6. 2. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.pengendalianerosi.Pembangunan kayu dan rotan taman-taman pergudangan iv. telpon vi. Pemb.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Fungsipemasokair(kualitasdankuantitasair). Fungsipengedalianair.

Lampiran3-2(lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g Kegiatan Proyek 2 3 h Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 181 2. pengerasan.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. dan ekosistem hutan (yang berstatus konservasi) 1. Pemb. Pemb. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. lapangan golf iii. serta buah-buahan 2. listrik .Pemb.Penghijauan/ reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.gedung olah raga ii. serta ikan dan burung-burung migran.Industri mebel iii. Pemb. telpon vi.perumahan ii.pasar iii. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. palawija dan hortikultura.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. i. seperti makanan pokok (beras). Kegiatan survei b. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. 3. Industri kulit pertokoan. yang meliputi ekosistempertanian sawah. Fungsi produksi energi (kayu) 4. Penggalian jaringan air bersih.Penggalian aliran air v. Kegiatan pra-konstruksi a. Pemadatan. ekosistem pertanian lahan kering.Penggalian saluran air iv. Industri makanan ii. ekosistem. komunitas.Unit pengolahan iv. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Fungsi sosial ekonomi misalnya berupa sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan tanah adat masyarakat setempat 9. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. Fngsi pemasok produk alam. dan lansekap 6. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Fungsisosialbudaya sepertiestetikalansekap. pembangunan jalan lingkungan iii. Fungsi rekreasi dan pariwisata 7. Pemb. Fungsi pemasok produk alam. Fungsi transportasi/perhubungan 5. Pemb. terminal limbah &transportasi darat B.Pembuatan TPA . EkosistemLahan Kering. dan peninggalan sejarah 8.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1.keagamaan dan spiritual. Fungsi pemukiman masyarakat 3.pusat i. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata.

Lampiran3-2(lanjutan)

1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i

Kegiatan Proyek 2 3

Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu

j

10. 11. 12.

13.

14. 15.

16.

17. 18.

Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrik-hidro Fungsi transportasi/perhubungan Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar Fungsi konservatif bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem dan lansekap lahan basah Fungsi rekreasi dan pariwisata Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat Fungsi penelitian dan pendidikan Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam

182
2. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb.pusat i. Industri kulit pertokoan, & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Industri makanan ii. Pemb.pasar iii.Industri mebel iii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Unit pengolahan iv.Pemb. terminal limbah &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pendidikan dan kebudayaan

3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebasan lahan

Kegiatanpembangunan perumahan

Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi

i. Pemb.perumahan ii. Pemadatan, pengerasan, pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.Penggalian aliran air v. Penggalian jaringan air bersih, listrik , telpon vi.Pembuatan TPA

i. Pemb.gedung olah raga ii. Pemb. lapangan golf iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Penghijauan/ reklamasi

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah; 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH. Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

Mengingat :

PERTAMA :

KEDUA :

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 November 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup, ttd. Dr. A. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH,

Nadjib Dahlan,S.H.

183

LAMPIRAN NOMOR TANGGAL

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 5 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000

PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH BAB I. PENJELASAN UMUM 1.1 LATAR BELAKANG Upaya melengkapi tuntutan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, telah diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Di dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan secara tegas bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Salah satu kategori wilayah yang pertu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah. Ketersediaan areal lahan basah yang masih cukup luas dengan potensi sumberdaya alami yang terkandung di dalamnya masih belum banyak termanfaatkan, telah mengundang peningkatan usaha pemanfaatan lahan basah untuk berbagai sektor kegiatan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kawasan ini semakin potensial untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan yang diperkirakan akan terus berkembang antara lain, pembukaan persawahan, perkebunan dan pertambakan yang dikaitkan dengan pembangunan permukiman transmigrasi. Bersamaan dengan itu pembangunan agroindustri dan berbagai industri jasa seperti pengangkutan dan pelabuhan tentu akan semakin terfokus pada kawasan lahan basah sebagai wilayah sasarannya. Berbagai perkembangan kegiatan perekonomian baik bertaraf lokal, regional, maupun nasional akan menyebabkan keberadaan potensi sumberdaya alami terutama di kawasan lahan basah semakin terancam kelestariannya. Sejumlah program yang sudah diimplementasikan kebanyakan kurang memenuhi kaidah keberlanjutan, sehingga terjadi pemubaziran sumberdaya lahan basah dan tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Mulai tampak berkurangnya luasan alami kawasan lahan basah, dan secara langsung maupun tak langsung menurunkan mutu dan fungsi ekologis dari sumberdaya alami setempat. Pemanfaatan yang sudah berlangsung ternyata, berpengaruh besar terhadap penyusutan mutu dan keberadaan sumberdaya keanekaragaman hayati, sumberdaya perairan rawa, sungai, estuaria dan bahkan potensi laut dalam (Syarkowi, 1995 dan Verheught, 1990). Kecenderungan pemanfaatan yang ada menunjukkan bahwa, banyak pihak yang berkepentingan terhadap daerah itu masih pertu dibekali pengetahuan tentang strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Cara-cara pengelolaan berbagai program pembangunan yang ada telah menjadikan kawasan ini kurang termanfaatkan secara optimal. Padahal jika potensi yang besar itu semakin surut dan banyak yang tersiasiakan, maka pembangunan di kawasan lahan basah akan sulit berkelanjutan. Diakui bahwa kompleksitas persoalan lingkungan dan pengendalian dampak negatif pembangunan kawasan lahan basah itu sangat rumit. Keberadaan lahan basah secara geografis menghubungkan ekosistem lahan kering terhadap ekosistem pesisir dan kelautan, yang tentunya memiliki keterkaitan fungsi dan kepekaan ekosistem yang beragam pula. Pengalaman pelaksanaan studi AMDAL beberapa proyek di berbagai area lahan basah selama ini menunjukkan bahwa kompleksitas dampak lingkungan yang bisa terjadi memang sangat tinggi (Euroconsult, 1991), akan tetapi sedapat mungkin harus diupayakan memprakirakannya. Dari studi khusus tentang “Pedoman Pelingkupan AMDAL Lahan Basah” yang dilakukan oleh AWB (1991) misalnya, kompleksitas dampak lingkungan itu secara sistematis mulai dipahami dinamikanya. Walaupun demikian kenyataan tentang munculnya berbagai masalah lingkungan hidup di kawasan lahan basah dan sekitarnya selama pertengahan dekade 90-an, harus pula diakui bahwa masih banyak rahasia yang perlu diungkapkan dan diketahui dibalik dinamika dampak pembangunan lahan basah itu. Guna mengendalikan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak bijaksana itu, maka studi AMDAL harus dioptimalkan dengan mengacu kepada piranti khusus “Metodologi AMDAL Lahan Basah”. Panduan ini khusus memberi petunjuk bagaimana melaksanakan AMDAL di daerah lahan basah. Dengan ini diharapkan informasi minimal tentang karakteristik lahan basah baik yang bersifat umum maupun khusus dari komponen lingkungan yang peka terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan diarahkan agar dapat dipenuhi. Demikian pula tentang karakteristik proyek pembangunan yang prospektif berkembang di kawasan itu sangat perlu dan akan dapat dipahami atas dasar sifat kepentingannya terhadap lahan basah. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyusunan AMDAL bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan (proyek) pembangunan di daerah lahan basah. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah ini diharapkan dapat: 1. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan. 184

2. 3.

Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan, lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Mendorong langkah-langkah antisipatif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan iptek dan perkembangan sosial ekonomi dan budaya di masa depan.

1.3 PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak penting lingkungan akibat pembangunan di daerah lahan basah, secara cermat diperlukan pengetahuan tentang sifat dan kekhasan daerah lahan

KOMPONEN LINGKUNGAN
• • • • • • Iklim Tanah Kedalaman dan Kematangan Gambut Hidrologi Vegetasi dan Satwa liar Sosial Ekonomi dan Budaya serta Demografi • • • •

KOMPONEN KEGIATAN
Eksploitasi SDA di lahan basah Konservasi Lahan (Perkebunan, Persawahan/Irigasi, Pertambakan) Konservasi Balik (Kawasan Lindung dan Konservasi) Reklamasi Lahan Basah

PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL • • • • Dampak Penting Hipotetik Penetapan Batas Wilayah Studi Penetapan Tenaga Ahli Penetapan Metode Pengumpulan dan Analisis Data yang Akan Digunakan • Penetapan Lokasi Pengambilan Sampel • Penetapan Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak yang digunakan dalam Penyusunan ANDAL.

PENYUSUNAN ANDAL • • • • Survey Lapang Analisis Data Prakiraan Dampak Penting Evaluasi Dampak Penting

PENYUSUNAN RKL DAN RPL • Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan • Penetapan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1-1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL Kawasan Lahan Basah

185

basah tersebut. Hal ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat dikenal pasti sedini mungkin. Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan kawasan lahan basah disajikan pada Bab II. Kemudian diikuti oleh panduan proses pelingkupan yang disajikan pada Bab III, yang menjelaskan penentuan isu pokok, komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan, penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Panduan penyusunan analisis dampak lingkungan (ANDAL) disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selanjutnya, panduan untuk penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis, sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses: penyusunan AMDAL seperti pada Gambar 1-1. Pembangunan di daerah lahan basah akan memiliki ragam dan besaran dampak tergantung pada sistem lingkungan yang akan terkena dampak. Dengan demikian, mengikuti tujuan studi AMDAL adalah memelihara kapasitas ekosistem alamiah dalam hal penentuan parameter lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan dan analisis data, prakiraan evaluasi dampak perlu disusun atas dasar pendekatan pemeliharaan, ekosistem yang berkesinambungan. BAB II. KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM LAHAN BASAH 2.1 TIPOLOGI EKOSISTEM Keberadaan lahan basah atau lahan berawa dapat diklasifikasikan menjadi 3 zona, yaitu : (1) Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin; (2) Ekosistem rawa pasang surut air tawar; dan (3) Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak. Zonasi ini diterapkan demikian berdasarkan kekuatan air sungai dan air pasang (Sandy dan Nad Darga,1979). Pada musim hujan zona I dan II memperoleh pengaruh pasang surut, sedangkan zona III tidak dipengaruhi. Pada musim kemarau, hanya zona I yang dipengaruhi oleh luapan dan intrusi air payau/asin. Berkenaan dengan itu, maka ada tiga hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah; yaitu: (1) Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang; sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu; (2) Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (“slurry”) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan berat maupun energi lainnya, sehingga membahayakan; dan (3) Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya. Bentuk pemanfaatan yang utama dan merupakan fungsi perlindungan pada lahan basah terhadap sistem penyangga kehidupan, antara lain (1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air) (2) Fungsi pengendalian air, terutama pengendalian banjir (3) Fungsi pencegah intrusi air laut (4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam) (5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen (6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara (7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun (8) Fungsi pemasok kekayaan alam (di dalam areal lahan basah) (9) Fungsi pemasok kekayaan alam (ke luar areal lahan basah) (10) Fungsi produksi energi (kayu, listrik-hidro) (11) Fungsi transportasi/perhubungan (12) Fungsi bank gen (13) Fungsi konservasi (14) Fungsi rekreasi dan pariwisata (15) Fungsi sosial budaya (16) Fungsi sosial ekonomi (17) Fungsi penelitian dan pendidikan (18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Selanjutnya manfaat sampingan dapat dipanen dan dinikmati masyarakat sampai batas-batas tertentu tanpa merusak proses ekologis yang diperankan oleh ekosistem itu. Bentuk pemanfaatan golongan ini antara lain: (1) sumber air bagi penduduk (setempat); (2) sumber produk alami (nipah dan ikan); (3) sumber energi (kayu dan gambut); dan (4) sumber kesegaran dan keindahan (wisata). Bertolak dari pemahaman akan arti penting fungsi-fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis yang diperankan oleh ekosistem lahan basah itu, maka upaya untuk melestarikan keberadaan mutu dan fungsi ekosistem lahan basah patut direalisasikan. Ini antara lain dilakukan melalui pendekatan peraturan perundangan yang melindungi komponen-komponen kawasan yang berfungsi penting dan strategis. Pelestarian sumberdaya kawasan lahan basah dimungkinkan oleh adanya ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ketentuan perundangan itu meliputi perlindungan jenis flora dan fauna serta benda cagar budaya, yang tidak jarang banyak ditemukan pada daerah lahan basah. Sampai sejauh ini, kawasan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya antara lain: 186

Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung usaha budidaya di belakangnya. termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer.1. nipah. struktur tanah yang mudah meresapkan air bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran (Pasal 12 Keppres No. Jenis tumbuhan Nipa membutuhkan air 187 .). (b) kelestarian rawa. yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air.faktor sebagai berikut (Pasal 9 PP No. formasi Acrostichum juga dominan dan berfungsi sebagai penutup tanah hutan mangrove hingga ketinggian 3-4 meter. maka akan ditemui jenis Bakau (Rizophora spp. 32 Tahun 1990 jo PP No. Rawa yang merupakan lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik.. sosial ekonomis dan lingkungan. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung). Bersamaan dengan itu terdapat pula assosiasi dengan Nipa. yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. bertujuan untuk mempertahankan dan sebagai sumber air serta meningkatkan fungsi dan manfaatnya. dan Sonneratia marina menduduki formasi terdepan sedangkan agak kebelakang dijumpai jenis tumu atau bakau tomak (Bruguirea hexangula). Sempadan Pantai. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan kawasan yang bersangkutan. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir maupun kebakaran. Avicennia sp. 32 Tahun 1990). Pada ekosistem ini formasi Rhizophora sp. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi.(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kawasan Gambut. kimiawi. Kriteria sempadan sungai yaitu: (a) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman (Pasal 16 butir a Keppres No. Jenis-jenis ini diketahui sangat baik beradaptasi pada tanah bersalinitas tinggi sebagai pengaruh dari pasang air laut. 2. 35 tahun 1991 tentang Sungai) (b) Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 sampai dengan 15 meter (Pasal 16 Butir b Keppres No. Xylocarpus muluccensis dan Sonneratia ovata. (c) kemampuan meningkatkan perekonomian masyarakat dan (d) kelestarian lingkungan hidup.1 Ekosistem Hutan “Bakau” (Zonasi I) Ekosistem ini terdiri dari formasi bakau. yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 27 Keppres No.) dan Nyireh (Xylocarpus sp. umumnya berupa tumbuhan Api-api (Avicennia sp. Sempadan Sungai. Kriteria kawasan ini adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (Pasal 8 UU No.. 27 Tahun 1991 tentang Rawa) : (a) kemampuan meningkatkan rawa sebagai ekosistem sumber air. dan jika kondisi lahan menjadi stabil. sebagai hasil dari sedimentasi dan akumulasi lumpur yang dibawa oleh air sungai. Kawasan Sekitar Danau/Waduk.) dan Pedada (Sonneratia sp. Kriteria kawasan gambut yang dilindungi itu adalah tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa (Pasal 10 Keppres No. 32 Tahun 1990). adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestariaan fungsi danau/waduk. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung jo PP No.). adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 14 Keppres No. dengan memperhatikan faktor . yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. 32 Tahun 1990). Formasi hutan mangrove atau “bakau” ditandai dengan kehadiran jenis tanah aluvial. 35 Tahun 1991). Formasi ini begitu dinamis dengan adanya peran dari tumbuhan pemul. kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. serta formasi Acrostichum. Di sisi lain. atau biologis. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18 Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) Kawasan Resapan Air. serta melindungi sistem ekonomi yang khas di kawasan yang bersangkutan. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. Formasi hutan “bakau” ini diketahui sangat penting peranannya sebagai habitat pijah-asuh berbagai jenis ikan dan udang. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pertimbangan teknis.

Salah satu indikator formasi hutan ini adalah hadirnya tanaman pandan (Pandanus sp.1.).2 TIPOLOGI GEOFISIK Kualitas dan karakteristik lahan basah pada masing-masing zona dapat ditetapkan apabila jenis tanahnya diketahui.). (3) kedalaman lapisan pirit serta kemasan potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya. Pada umumnya sifat-sifat tanah pada lahan basah tersebut sangat berhubungan erat dengan fisiografi dimana tanah tersebut ditemukan. pada tempat -tempat yang kurang tergenang ditumbuhi oleh jenis perepat (Combretocarpus motleyi) yang bercampur dengan Camnosperma macrophylla dan meranti paya (Shorea spp. kancil (Tragulus javanicus). dan kelompok mamalia antara lain : gajah (Elephas maximus). Di bagian zona III terutama didominasi oleh tipe semak dan rumputan. Selain itu terdapat familia Dipterocarpaceae dari Genera Shorea. tapir (Tapirus indicus).).1.selama hidupnya. Secara geofisik. pengembangan dan pengelolaannya. (5) tinggi muka air tanah. Prunus sp. kera (Macaca sp. Reptilia yang hidup di habitat ini adalah biawak ( Varanus salvator).. buaya (Crocodylus porosus). dan lain-lain. meranti (Shorea sp. serta kuntul. merawan bunga (Hopea mangerawan). dan (3) tanah bergambut dan gambut.). Nama atau jenis tanah tertentu sekurang-kurangnya memberi gambaran tentang sifat dan kelakuan tahan dalam merespon suatu teknologi yang diterapkan. Pada habitat ini biasa ditemukan fauna yang tergolong reptilia. Komposisi floristik pada formasi ini mirip dengan komposisi di hutan rawa air tawar. dan jenis-jenis yang termasuk ke dalam famili Anacardiaceae. sedangkan pada lapisan gambut yang tipis ditemukan tegakan nibung (Oncosperma filamentosa). Tumbuhan pada formasi ini didominasi oleh Terentang (Camnosperma).) dan rumput yang terapung (kumpai) di perairan. (2) ketebalan dan kematangan gambut serta kandungan hara mineral. Jenis ini dapat hidup sebagai pioner di sedimen berlapis. dan Rengas (Gluta rengas). Di dekat sungaisungai besar.).4 Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III) Di daerah delta yang biasanya banyak mendapat pengaruh air asin dan payau. Hutan rawa gambut yang tidak dipengaruhi oleh air asin memiliki jenis tumbuhan yang lebih kaya. dan kelompok burung yang banyak ditemukan merupakan kelompok cemar laut (wader) dan bangau. serta kualitasnya. kucing hutan (Felix sp. Ketebalan gambut di daerah ini mencapai 2 sampai 3 meter dengan dominasi jenis palem yang merupakan indikator bahwa formasi di daerah ini merupakan formasi transisi antara tipe rawa dan gambut (hutan campuran rawa dan gambut atau mixed peat swamp forest). Komposisi tumbuhannya terdiri dari tiga zona yang secara horizontal adalah berturut-turut : zona pertama didominasi oleh jenis durian payau (Durio carrinatus). Dan berbagai laporan studi dapat dikemukakan bahwa jenis tanah dominan pada lahan basah adalah: (1) tanah aluvial. Hutan pelawan beriang (Tristania abovata) dan Ploiarium alternifolium ditemukan pada lapisan gambut yang tebal. 2. badak (Dicerorhinus sumatrensis). (2) tanah sulfat masam. beruang (Herartos malayensis). sedangkan mamalia yang umum ditemukan adalah babi hutan (Sus scoria). Fauna yang ditemukan di habitat ini pada umumnya fauna yang hidup di daerah mangrove maupun di hutan rawa air tawar. Zona kedua terdiri atas tumbuhan Sindai (Knema spp. Formasi ini merupakan pembatas antara hutan mangrove dan hutan lainnya di belakang mangrove. Di dalam formasi ini terdapat lapisan bergambut dengan ketebalan sekitar 20 cm. marin dan kubah gambut. Kelebatan formasi ini berkisar antara 100-500 meter. Formasi ini berperan sebagai pembatas terhadap ekosistem hutan bakau dengan kehadiran formasi Nibung. 2. Tumbuhan lain yang juga sering ditemukan adalah Comnosperma dan Alstonia.2 Ekosistem Hutan Raya Payau (Zona I) Merupakan formasi hutan rawa campuran air asin dan air tawar. dan (6) keadaan substratum lahan. karakteristik lahan basah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) lama dan kedalaman genangan air banjir atau air pasang. simang (Diospyros sp. Blumeodendron sp. (4) pengaruh luapan/air laut. Rincian karakteristik umum tipologi geo-fisik lahan basah disajikan pada Tabel 2-1. beberapa jenis tumbuhan dominan adalah jenis terentang abang (Camnosperma macrophylla). Informasi tentang tipologi geo-fisik lahan basah itu dapat digunakan sebagai arahan pemanfaatan. Putai (Alstonia). babi (Sus barbatus). sedangkan pada zona III termasuk grup aluvial dan kubah gambut. Fisiografi utama pada zona I termasuk grup marin dan kubah gambut. ular cincin emas (Boiga sp. 188 .. Hutan ini merupakan formasi transisi dari hutan gambut ke hutan rawa ( mixed peat swamp forest). dan beberapa jenis dari familia Poligalaceae serta Euphorbiacece.3 Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II) Formasi hutan rawa air tawar terletak di bagian belakang hutan rawa payau. Pada zona II termasuk grup aluvial. Dipterocarpus.Ini terlihat dari seringnya Nipa diketemukan di sepanjang tepi sungai dengan aliran yang tenang. Napu (Tragulus napu). baik hutan rawa maupun hutan gambut.).). 2. 2. dan Cotilelobium.1. yaitu buaya senjolong (Tomastoma schlegelii). dan umumnya terdapat di belakang hutan mangrove atau di sepanjang tepi sungai. Marsawa.

air tanah < 50 cm. III.3 TIPOLOGI AGROEKOSISTEM 2. Karakteristik Umum Tipologi Geofisik Lahan Basah No 1. Ketersediaan hara 4. yaitu : (1) Tipe A = terluapi pasang besar dan kecil. Kegaraman tanah Toksisitas Kelima faktor mutu lahan yang diindikasikan pada Tabel 2-1 tersebut penting diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian. 2. Faktor Kualitas Lahan Genangan Karakteristik Periode lamanya genangan Kedalaman genangan Kualitas air genangan Tipe luapan Tekstur tanah Kedalaman efektif tanah Ketebalan gambut Tingkat kematangan gambut Tinggi muka air tanah N-total P-tersedia K-dapat ditukar Kapasitas Tukar Kation Kejenuhan Basa PH Salinitas atau sodisitas Kejenuhan aluminium Kedalaman bahan sulfidik Keadaan substratum Satuan waktu cm kelas kelas kelas cm cm kelas cm persen ppm me/100 g tanah me/100 g tanah persen unit mmhos/cm persen cm jenis 2. 1. 5.3. Dengan tipe luapan air yang dimaksudkan itu maka pemanfaatan lahan dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe [berdasarkan luapan pasang besar (maksimum) dan pasang kecil (minimum)].4. kendala fisik lahan yang ada dan diperkirakan ada. (3) Tipe C = tidak terluapi pasang. dan (4) Tipe D = tidak terluapi dan air tanah > 50 cm Pengelompokan tipe luapan ini sepadan dengan kategorisasi hidup topografi lahan basah berdasarkan pasang besar pada MH dan MK yaitu kategori I. II. dan 5 merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi proyek pembangunan non pertanian. Media perakaran 3. Tipologi Lahan Lahan Potensial Tipe Luapan (Kategori) A (I) Pola Pemanfaatan Lahan Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/surjan Surjan pangan/holtikultura Lahan Kering Pangan/Hortikultura/Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Lahan Sulfat Masam A (I) Sawah B (II) C (III) D (IV) Lahan Gambut A (I) Sawah/Surjan “Kridit” Surjan “Kridit” Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/Surjan Surjan Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Tabel 2-2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut Sesuai dengan Tipologi Lahan dan Tipe Luapannya 189 . (2) Tipe B = terluapi pasang besar. dan IV.1 Agro ekosistem Rawa Pasang Surut Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa pasang surut dapat didasarkan pada tipe luapan air pasang surut. Adapun faktor No. seperti pada Tabel 2-2. maka dapat dikemukakan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut (Halim1994). Jika dipertimbangkan tipologi lahan tipe luapan.Tabel 2-1.

Payau/Asin Pola Pemanfaatan Sawah Payau/Asin Lahan Sulfat Masam.1 Sosekbud Dari sisi sosial ekonomi.4. Rawa lebak pada tipologi lahan tersebut umumnya termasuk rawa lebak tengahan dan/atau dalam. (2) Sumberdaya “alam-hayati” (biological resources). sebaiknya dimanfaatkan langsung sebagai lahan perkebunan kelapa. (3) Sumberdaya “alam-maliri” (flow resources). Rawa lebak bertipologi demikian umumnya termasuk rawa lebak dangkal. yang tengahan menjadi dangkal. 2.Lahan potensial. interaksi sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam seyogyanya diperhatikan keterkaitannya dengan pencemaran 190 . potongan kayu dan tempurung kelapa (yang baik untuk arang) serta sabut kelapa biasanya belum sepenuhnya dimanfaatkan penduduk sebagai bahan sumber tambahan pendapatan.3. lahan dengan tipe luapan B juga dapat disawahkan sebanyak dua kali dalam setahun. gambut sedang dan gambut dalam dapat dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dengan sistem “polder”. sesungguhnya sumberdaya alam kawasan lahan basah amat kaya. Pada lahan gambut sebaiknya diusahakan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan tanaman pangan dan hortikultura untuk beberapa musim. Demikian pula lebak dalam yang biasanya berperan sebagai gudang kehidupan berbagai jenis ikan akan berkurang kemampuan ekologisnya. Tabel 2-3 Pola Fisiografis Pemanfaatan Lahan Basah Zonasi Pasang Surut Air Tipologi Lahan Lahan Potensial. gambut dan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B dimanfaatkan untuk sawah. yaitu: (1) Sumberdaya “alam-terludesi” (exhaustible resources). karena keterisolasian lokasi dan keterbatasan sarana pengangkutan berbagai jenis sumberdaya alam dan sumberdaya turunannya masih sering tersia-siakan begitu saja. Sedangkan pada tipologi lahan gambut-dangkal. mengubah keadaan bentang lahan lebak di bagian hilir. Payau/Asin Lahan Gambut. Keempat kategori sumberdaya alam tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat daerah setempat maupun masyarakat pengusaha. (4) Sumberdaya “alam-segari” (amenity resources). baik yang terbarukan maupun yang tak terbarukan.4 TIPOLOGI SOSEKBUD DAN KESEHATAN MASYARAKAT 2. maka interaksi sosial dan proses sosial bisa beragam coraknya. Indikasi yang demikian amat perlu diperhatikan setiap kali suatu pembangunan direncanakan.2 Agroekosistem Rawa Lebak Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa lebak disesuaikan dengan tipologi lahannya seperti disajikan pada Tabel 2-3. Lahan dengan tipe luapan C juga dapat disawahkan dalam musim hujan bila diterapkan sistem surjan. Pada guludan dapat ditanam beberapa jenis tanaman pangan lainnya serta tanaman hortikultura. Misalnya. dan lebak dalam sebenarnya mengindikasikan adanya cekungan bentang lahan yang digenangi air tawar. Pembangunan suatu waduk untuk irigasi di bagian hulu misalnya. Sedangkan pada lahan sulfat masam. Dengan sistem Surjan. Sawah dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun pada lahan dengan tipe luapan A. Pemanfaatan lahan dengan tipe luapan D adalah berupa usaha tani lahan kering untuk tanaman pangan/hortikultura atau perkebunan kelapa. Lebak dangkal berubah jadi kering. Oleh karena terdapat berbagai ragam potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. Tipologi lahan aluvial dimanfaatkan untuk sawah lebak atau sawah tadah hujan. Payau/Asin Hutan Mangrove/Tambak Hutan Mangrove Sawah Sawah Lahan Kering Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa/Kelapa Sawit Pasang Surut Air Tawar Lahan Potensial Lahan Sulfat Masam Lahan Gambut Dangkal Lahan Gambut Sedang-Dalam Rawa Lebak Rawa Lebak Aluvial Rawa Lebak Gambut Dangkal Rawa Lebak Gambut Sedang Dalam Sawah/Sawah Tadah Hujan Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Pada kawasan lebak dangkal (pematang). Walaupun demikian. Dari sudut pandangan lingkungan hidup. Sumberdaya alam di kawasan lahan basah dapat dikategorikan menjadi empat kategori. lebak tengahan. 2.

pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. isu lingkungan di kawasan lahan basah juga perlu diperhatikan.1 Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. Semangat dan aktivitas gotong royong di kawasan lahan basah berbeda dengan kawasan-kawasan lain. dalam konsepsi hak ulayat tersebut ternyata masih ada hak anggota masyarakat secara individu menguasai sebagian obyek penguasaan Hak Ulayat tersebut dengan sistem tertentu. Dengan demikian.4. atau penting tidaknya dampak. dan data/informasi tentang hidrologi. instansi yang bertanggungjawab. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek. Dengan Hak Ulayat ini. (2) evaluasi dampak potensial. Namun. pada keadaan yang masih alami ciri itu sangat menonjol. maka sikap masyarakat bisa negatif terhadap aktivitas proyek pembangunan. pemahaman tentang persepsi masyarakat di kawasan lahan basah menjadi sangat penting. Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar dampak. hak untuk menanam ikan diperairan dalam kawasan proyek bekas tanah Hak Ulayat hendaknya tetap diberikan kepada penduduk setempat. dan dalam keadaan keseimbangan maka keberadaan air akan menopang kehidupan sehari-hari. Jika tidak demikian.dan pengrusakan lingkungan alam. Spektrum kegiatan gotong royong dalam suatu kekerabatan atau kelompok sosial di kawasan lahan basah relatif luas dibandingkan dengan kawasan lainnya. seperti peta vegetasi. Kawasan lahan basah di Indonesia ada yang berada dalam lingkup pengaruh atau telah merupakan perkampungan bahkan ada yang sudah merupakan bagian dari wilayah kota besar. 3. Misalnya. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Kehati-hatian diutamakan di sini. serta (tokoh-tokoh) masyarakat yang berkepentingan. Dengan kata lain suatu proyek pembangunan harus mempertimbangkan pola kebudayaan lokal. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan upaya gotong royong dalam memperluas lahan usaha. pemrakarsa kegiatan. Hak masyarakat atas tanah yang terwujud dalam Hak Ulayat di kawasan lahan basah berupa: (1) Hak untuk meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di wilayah/wewenang hukum masyarakat bersangkutan. peta sistem lahan. Di kawasan lahan basah masih terdapat penguasaan lahan secara komunal yang dikenal dengan Hak Ulayat. masyarakat hukum adat yang bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh. Keadaan ini menempatkan aspek sosial budaya sebagai komponen lingkungan yang tetap harus diperhatikan. Diantara interaksi itu ada yang patut diteladani sebagai kearifan lokal. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 3. dan (2) Hak untuk berburu dalam batas wilayah atau wewenang hukum masyarakat merdeka. Dapat dilihat bahwa penguasaan lahan oleh suatu keluarga dapat mencapai 2 sampai 5 Ha. Akan tetapi setiap sentuhan proyek pembangunan yang mengganggu dan mengubah keseimbangan alami itu. peran limpahan air yang secara musiman membatasi intensitas tanaman akan memudahkan pengendalian hama dan gulma. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. Oleh karena itu dapat dipahami jika terhadap sumberdaya alami yang dilingkupi oleh hak ulayat itu terdapat gengsi kesukuan yang tinggi. Selain itu. Di lokasi pemukiman kawasan lahan basah menunjukkan urutan jenis penyakit terbesar adalah penyakit malaria. dan (3) pemusatan dampak penting. perlu memperhatikan tradisi pemilikan lahan yang luas itu sebagai aspek pertimbangan utama. Sehubungan dengan itu.1. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL di daerah lahan basah dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. BAB III. sekunder. karena suatu keputusan yang tidak transparan oleh aparat tidak akan didukung oleh masyarakat setempat. 2. Adapun metode identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Penelaahan pustaka: 191 . tapi ada yang harus dikendalikan agar tidak meluas pengaruhnya. Serangan penyakit ini diprakirakan akan selalu berlangsung pada setiap awal kegiatan pembangunan di kawasan lahan basah. Aspek sosial lain di kawasan lahan basah yang perlu diperhatikan adalah tentang hak atas tanah. Dari segi sosial-budaya. apabila terjadi pengambilalihan tanah Hak Ulayat maka perlu dipertimbangkan untuk seyogyanya tidak secara penuh meliputi setiap jenis sumberdaya terkait yang justru menjadi sumber nafkah penduduk. Selain itu. agar sedapat mungkin kelangsungan proyek mendapat dukungan masyarakat atau paling tidak dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.2 Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Karakteristik utama lahan basah yang dicirikan dengan keberadaan air. peta tata guna tanah. misalnya sistem lelang lebak-lebung di Sumatera Selatan. baik langsung maupun tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kesehatan masyarakat.

Kegiatan konstruksi.Analisis isi (content analysis). Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial aktivitas proyek di daerah lahan basah. air permukaan (sungai. Penambahan/pengurukan lahan Seperti antara lain : pembangunan jalan iii. dan Pengamatan lapangan (observasi). Daftar uji sederhana. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Langkah 1 Buat daftar rencana kegiatan proyek yang akan dibangun di daerah lahan basah. Aksesibilitas wilayah ii. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi i. Pengambilan/perburuan satwa ii. Pembangunan saluran drainase ii. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa i. Pusat-pusat pertumbuhan baru Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi pro dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1. Panas vii. Penebangan vegetasi ii. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Introduksi spesies asing 3. brainstorming dan lain-lain). Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah i. Interaksi kelompok (rapat. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi i. danau) ii. Limbah Industri vi. Radioaktif iv. Matrik interaksi sederhana. Limbah domestik v. Pengurangan/pembuangan lahan Seperti antara lain : pembangunan tambak ii. Limbah padat ii. Hasil Langkah 1 Daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1. Pemungutan hasil iii. Pengalihan aliran iv. Limbah cair iii. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. b) Kegiatan pembebasan lahan 2. 192 . Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/I992 tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagai sumber informasinya yang lebih rinci. lokakarya. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Kanalisasi sungai iii. Kimia iii. Minyak ii. air tanah dalam d) Kegiatan penerimaan tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah i. Kegiatan operasi.

Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 3. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. Debit dan pola aliran iii. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen lingkungan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek. identifikasikan fungsi atau manfaat yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan yang akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya proyek. Tinggi dan elevasi muka air (pasang surut) ii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Curah hujan ii. Tinggi. lama.Hasil Langkah 2 Daftar tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi proyek dan/ atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Panjang penyinaran matahari iv. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. hutan bakau. dan 4. Sifat kimia tanah 2. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. identifikasikan komponen ekosistem yang akan mengalami perubahan akibat adanya proyek. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. yang meliputi: i. yang diantara adalah: 1. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Dalam Panduan ini tipe ekosistem dimaksud dibatasi pada: 1. yang meliputi: i. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. pendidikan. hutan rawa payau. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas Satwa Liar i. Fisiografi. dan frekuensi genangan/banjir iv. Sifat fisik tanah iii. yang meliputi: i. Langkah 3 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. Kecepatan angin b) Hidrologi. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Pola sedimentasi dan drainase v. 193 . Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. 2. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Komponen Biologi a) Komunitas Vegetasi i. Struktur dan komposisi vegetasi iv. nekton iii. litologi ii. 3. hutan rawa bergambut. Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. hutan rawa air tawar. kesehatan.

habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar. diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang potensial akan terkena dampak. 3. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem sebagaimana Hasil Langkah 2. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. obat. 4. a) b) c) a) b) Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. 17. geomorfologi dan geologi. yang berupa perlindungan garis pantai. Hasil langkah 5 Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. dan gambut. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7. Langkah 5 Buat matrik dampak komponen lingkungan yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan lahan basah (Hasil Langkah 3). ikan dan daging satwa liar. serta peninggalan sejarah. pengendalian erosi. seperti energi kayu. misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. seperti kayu. ekosistem. dan pemecah angin (windbreak) 5. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BA PEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6 dari identifikasi dampak potensial. rotan. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. berupa estetika lansekap. Fungsi sosial ekonomi. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (ground water recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. 11. getah. Fungsi pemasok energi. 16. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. 14.1. Buat matrik dampak fungsi ekosistem yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen fungsi ekosistem lahan basah (Hasil Langkah 4). 194 . Fungsi pengendalian air. Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. Fungsi sosial budaya. 10. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8. terutama pengendalian banjir 3. Fungsi transportasi/perhubungan 12. seperti proses ekologi. 9. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6. 2. dan lansekap lahan basah. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran. Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). keagamaan dan spiritual.Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi atau manfaat untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang diantaranya meliputi: 1. komunitas. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. dan listrik-hidro. 13. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2.

Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan Hasil Langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. Hasil Langkah I dari butir 3.yakni yang meliputi: a. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta vegetasi/peta tata guna tanah/peta sistem lahan yang tersedia.1.3 Pemusatan dampak besar dan penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak besar dan penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil langkah 7. b) Keterkaitan antar dampak besar dan penting yang telah di identifikasi pada butir 3.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak besar dan penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan. sosial maupun ekologi.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak besar dan penting. konstruksi dan operasi di daerah lahan basah. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. Lihat pula matrik pada lampiran 3-1 sebagai contoh. sosial dan ekologi. 3.Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting tergolong terkena dampak besar dan penting. Hasil Langkah 10 Isu-isu pokok lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. Hasil Langkah 1 Diperoleh batas kegiatan proyek di daerah lahan basah di atas peta yang digunakan.1. 3. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. Hasil Langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan pokok yang akan dialami ekosistem lahan basah yang bersifat mendasar akibat adanya proyek.1 dapat digunakan untuk memandu hal ini. Komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat (social institution) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra konstruksi. 195 a) .1. dan Lampiran II Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: KEP-229/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan KA-ANDAL. dan/atau Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak besar dan penting proyek. b.1.2. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL.2. Catatan Langkah 9 Dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui: Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak besar dan penting di suatu lokasi.

Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. a) b) Catatan Langkah 2 Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air.b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. dapat memandu mengarahkan hal ini. Di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah I dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1 dan 2. c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. terhadap ekosistem lahan basah di sekitarnya. 196 . Catatan Langkah 3 Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Hasil Langkah 2 Diperoleh batas ekologis di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. batas kuasa pertambangan. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak mendasar dari proyek misalnya. melalui media air. batas HPH. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. swasta dan/ atau lembaga lokal masyarakat setempat Hasil Langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Hasil Langkah 2 sampai 4 dari proses Identifikasi Dampak Potensial. melalui penyerapan tenaga kerja. Dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkena dampak penting kegiatan proyek. konstruksi dan operasi. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek. Catatan Langkah 4 Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. Catatan Langkah 1 Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau kegiatan/proyek akan melakukan kegiatan pra konstruksi. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. dimana proses-proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi tempat terjadinya gangguan atau kerusakan terhadap fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembagalembaga masyarakat yang berpotensi berubah mendasar sebagai akibat rusaknya sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek.

2. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data.Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (Hasil Langkah 1). batas administratif dan kendala teknis yang dihadapi. dan tenaga yang tersedia. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas proyek. Pelingkupan Dampak Penting Identifikasi Dampak Potensial Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek Langkah 2: Identifikasi Tipe Eksosistem Langkah 3: Identifikasi Komponen Lingkungan Langkah 4: Identifikasi Fungsi Ekosistem Langkah 5: Matrik Identifikasi Dampak Langkah 6: Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan Wilayah Studi Langkah 1: Penetapan Batas Proyek Evaluasi Dampak Potensial Langkah 7: Evaluasi Sifat Penting Dampak Langkah 8: Dampak Penting yg Ditelaah ANDAL Langkah 2: Penetapan Batas Ekologi Langkah 3: Penetapan Batas Sosial Langkah 4: Penetapan Batas Administratif Pemusatan Dampak Penting Langkah 9: Pengelompokkan Isu-isu Lingkungan Langkah 10: Pengurutan Isu-isu Lingkungan Langkah 5: Penetapan Wilayah Studi ANDAL Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL Rencana Kegiatan Proyek yang perlu Isu Pokok/Dampak Penting Ditelaah Mendalam Lingkungan yang perlu Ditelaah Mendalam Gambar 3-1. 4.2 METODE STUDI 4. ANDAL. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. RKL dan RPL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan AMDAL.2. batas ekologi (Hasil Langkah 2). Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.2 Wilayah studi ANDAL daerah lahan basah 197 . Hasil Langkah 5 Diperoleh batas wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. dalam panduan ini tidak dijelaskan tentang outline tersebut. batas sosial.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah. batas sosial (Hasil Langkah 3). Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. Skema Proses Pelingkupan Dampak Penting dan Studi BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN 4. 4. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. Karena itu. dan batas administratif (Hasil Langkah 4). batas ekologi.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan kerangka Acuan ANDAL. waktu.

e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. c) Mengingat ekosistem lahan basah yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas keakuratan dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). saat pengambilan sampel kualitas air harus dapat mewakili pola pasang surut yang ada. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/ pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (emic).2. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. 4. maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: metode pengambilan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. Tabel 4-1 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Fisik Kimia 198 . dalam studi ANDAL di ekosistem lahan basah yang terpengaruh gerak pasang surut air laut. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas.serta sifat dan karakter komponen lingkungan yang diukur. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. kampung. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. d) Khusus untuk aspek sosial.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem lahan basah sebelum proyek dibangun. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. Sebagai misal.Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL daerah lahan basah dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. bulanan atau musiman. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. Waktu pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. b) Dampak besar dan penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem lahan basah serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. dan dilain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam.

Sekunder & Tersier · Visual · Organoleptik · Gravimetrik · Elektrometrik. · Lahan gambut · Lahan rawa · Penilaian Ahli · Analisa laboratorium 199 . dan freLapang kuensi genangan/banjir · Pola sedimentasi dan drainase · Warna · Rasa dan bau · Kekeruhan · Padatan tersuspensi · pH · DHL · Pengukuran insitu · Pengambilan sampel air · Sungai · Saluran Primer. Sekunder & Tersier · Analisis Hidrograf · Pengukuran Lapang · Penilaian Ahli Sifat fisik air permukaan · Sungai · Saluran Primer. litologi · Sifat fisik tanah · Sifat kimia tanah · Observasi Lapang · Pengeboran dan pengam bilan contoh tanah. lama. Sekunder & Tersier · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Spektrofotometrik Tanah · Fisiografi.Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Iklim · Curah hujan · Suhu dan · Pengumpulan · Pelabuhan · Tabulasi data data sekunder Udara terdekat · Klasifikasi Schmith kelembaban nisbi udara · Stasiun & Ferguson. Sifat kimia air permukaan · DO · BOD · COD · Kesadahan Total · Kalsium (Ca) · Magnesium (Mg) · Mangan (Mn) · Karbonat (CO3) · Nitrit (NO2) · Nitrat (NO3) · Sulfat (SO4) · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Sungai · Saluran Primer. · Pengamatan · Lama penyinaran Meteorologi Koppen dan Lapang terdekat. Oldeman matahari · Kecepatan angin Hidrologi · Tinggi dan elevasi muka · Pengukuran air Lapang · Debit dan pola aliran · Pengamatan · Tinggi.

Aspek Biologi Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Komunitas Vegetasi · Keanekaragaman · Transek · Hutan Bakau · Penghitungan jenis/komunitas · Pengumpulan · Hutan Rawa Indek Nilai vegetasi data sekunder · Hutan Payau Penting (INP) · Keanekaragaman · Analisis vegetasi · Indek Keanekajenis/komunitas biota · Observasi ragaman air/phytoplankton lapangan · Indek Kesera· Struktur dan · Transek gaman Jenis. 200 . komposisi vegetasi · Pemetaan · Jenis dan populasi Plasma Nutfah. vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi · Zona habitat khusus dan plasma nutfah Komunitas Satwa Liar · Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar · Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton.Tabel 4-2 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data. · Tabulasi Jenis Satwa Liar yang di Lindungi. nekton · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi · Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi · Pengumpulan data sekunder · Analisis satwa liar · Observasi lapangan · Hutan Bakau · Penghitungan · Hutan Rawa Indek Nilai · Hutan Payau Penting (INP) · Indek Keanekaragaman · Indek Keseragaman Jenis.

kesehatan.· Analisis deskriptif Observasi lapang duduk terdekat. pemukiman · Aktivitas perekonomi · Observasi lapang penduduk dan perdagangan · Wawancara terdekat. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa : i. · Tabulasi silang · Analisis deskriptif dan tabulasi silang · Penilaian Ahli 4. Pengalihan aliran iv. Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Pembangunan saluran drainase ii. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): 1. · Kesehatan lingkungan adat. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei : b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Pengambilan/perburuan satwa ii. Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Kanalisasi sungai iii. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. pemukiman pen. dan peribadatan Pengumpulan · Desa-desa/ · Tabulasi silang data sekunder. 4.2. Penebangan vegetasi ii. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi : i. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Introduksi spesies asing 201 .Tabel 4-3 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Sosial Komponen Lingkungan Sosial Ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan · Kepadatan dan · pertumbuhan penduduk · Persebaran penduduk · · Peluang bekerja dan · berusaha · Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam · Persarana perhubungan air · Pemukiman penduduk · Fasilitas umum. dan tabulasi siWawancara · Wilayah lang administrasi · Penilaian Ahli proyek.4. Pemungutan hasil iii. pendidikan. Kegiatan konstruksi. Penambahan/pengurukan lahan iii. Sosial Budaya · Adat istiadat · Pengumpulan · Desa-desa/ · Kelembagaan tradisional data sekunder. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi : i. · Sistem pertanian dengan tokoh · Wilayah · Akulturasi dan asimilasi masyarakat dan administrasi · Kesehatan masyarakat ketua suku atau proyek.3 URAIAN RENCANA DAN USAHA ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana kegiatan pembangunan kawasan lahan basah hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis.

1. Komponen Biologi a) Komunitas vegetasi i. Debit dan pola aliran iii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi. Pola sedimentasi dan drainase v. litologi ii. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan operasi e) Tenaga kerja yang dicurahkan. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. Radioaktif iv. 4. Aksesibilitas wilayah ii. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas satwa liar i. Kimia iii.1 Struktur ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan struktur ekosistem lahan basah saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut.2. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran : i. Pusat-pusat pertumbuhan baru Di berbagai jenis kegiatan tersebut usahakan dapat diutarakan perihal : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan.4. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah : i. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). nekton iii.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. yang meliputi: i. yang meliputi: i. danau) ii. iv Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Sifat kimia tanah 2. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci detail. air tanah dalam d) Kegiatan rekrutmen tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah : i. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun.2. air permukaan(sungai. Kegiatan operasi. 1. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 202 . Limbah padat ii: Limbah cair iii. Minyak ii. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. yang meliputi: i. Kecepatan angin b) Hidrologi. Curah hujan ii. Sifat fisik tanah iii. lama. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi: i. Panjang penyinaran matahari . Fisiografi. Tinggi dan elevasi muka air ii. b) fungsi dari setiap ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. dan frekuensi genangan/banjir iv. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan .1. Panas vii. 4. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. b) Alternatif lokasi. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Limbah Industri vi. iv.3. alternatif ruas jalan. Tinggi. Limbah domestik v.

Gambut 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. ii. Keagamaan dan spiritual iii. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting iii. Kayu ii. Populasi satwa liar 13) Fungsi konservasi bagi: i. yang diantaranya berupa: i. Pemecah angin (windbreak) 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Tanah adat masyarakat setempat 17) Fungsi penelitian dan pendidikan 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat ii. yang berupa: i. Spesies-spesies tumbuhan komersil ii. listrik-hidro 11) Fungsi transportasi/perhubungan 12) Fungsi bank gen bagi: i. yang diantaranya meliputi: i. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya : a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir iii. 203 . geomorfologi dan geologi ii. getah. 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi ii.1. yang berupa: i. Ke lokasi lain: Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge) Pasokan air ke lahan basah lainnya 2) Fungsi pengendalian air. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam 4. seperti: i. seperti: i. Ikan dan burung-burung migran 10) Fungsi pemasok energi. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir . Pemanfaatan langsung oleh masyarakat ii. Lansekap atau jenis-jenis lahan basah 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata 15) Fungsi sosial budaya. Air tanah ii. terutama pengendalian banjir 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: i. Spesies langka dan dilindungi ii. rusa) iii.3. Peninggalan sejarah 16) Fungsi sosial ekonomi. Komunitas iv.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). Ikan dan daging satwa (misal. Estetika lansekap ii. dan obat iv. Air permukaan 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam).4. misal: energi dari kayu. yang antara lain berupa: i. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan 4.2 Fungsi ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan fungsi-fungsi ekosistem lahan basah yang saat ini masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di daerah tersebut.2 (Langkah 8: Komponen Dampak Penting yang Ditelaah ANDAL). kesehatan. Rosot karbon (carbon sink) iii. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting. Rotan. Ekosistem v. Proses ekologi. pendidikan.

b) metode non-formal yang antara lain meliputi penilaian para ahli. Sebagai misal.2. 6) Mengingat dikalangan komponen ekosistem lahan basah terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. khususnya Langkah 8: Komponen Dampak Besar dan Penting yang ditelaah dalam ANDAL b) prakiraan dilakukan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terdapat dalam angka 3.1. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. c) Daerah lahan basah umumnya merupakan medan yang berat dan terisolasi sehingga kebanyakan desa yang ada tergolong miskin. Langkah 1: Prakirakan dampak penting dengan cara: a) prakirakan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. 5) Prakiraan dampak pada komponen ekosistem lahan basah perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini: a) Ekosistem lahan basah banyak dijumpai berada antara ekosistem daratan dan ekosistem pesisir/ laut. kerusakan ekosistem hutan bakau akibat kegiatan suatu proyek pembangunan dapat mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem terumbu karang di perairan pesisir dan juga pada ekosistem rawa lebak yang terletak lebih ke pedalaman. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Panduan Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. b) Ekosistem lahan basah kebanyakan masih berwujud alami. Hasil Langkah 1 Diperoleh data dan informasi perihal besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem tertentu yang terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. sementara zona pasang surut terkait dengan ekosistem pesisir/laut. dan metode analogi 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. dan metode grup eksperimen.1 khususnya Langkah 2 : Identifikasi Tipe Ekosistem. proyek mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. sebagai landasan untuk menilai totalitas dampak proyek terhadap fungsi dari ekosistem lahan basah (untuk keperluan Bab Evaluasi Dampak). Sehingga prakiraan dampak juga harus memperhitungkan pengaruh faktor eksternal pada komponen lingkungan yang tengah ditelaah secara mendalam untuk keperluan ANDAL. Sebagai misal. dan berpendidikan rendah. Kerusakan pada ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak di pesisir Dampak besar dan penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. Prakiraan dampak penting aspek sosial dengan demikian harus mencermati kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat. Sebagai contoh: proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. b) Mekanisme aliran dampak yang bersifat antar ekosistem: Dampak penting yang dialami suatu ekosistem akibat adanya aktivitas tertentu dari proyek mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem lainnya. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada studi AMDAL Kegiatan Terpadu dan AMDAL Kawasan. tradisional. zona rawa lebak terkait dengan ekosistem daratan di atasnya.2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. yang antara lain meliputi model matematik.sehingga tingkat keanekaragaman hayati masih relatif tinggi sehingga prakiraan dampak harus dilakukan pada seluruh komponen ekosistem yang terkena dampak penting. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Sebagai contoh. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar langka dan dilindungi (gajah) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa gangguan gajah terhadap produksi pertanian. Sebagai misal. yaitu: a) metode formal. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a) Mekanisme aliran dampak yang bersifat inter ekosistem: Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. sebagaimana diutarakan pada butir 5) di atas.1.1. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan dikalangan komponen sosial sendiri.1 Langkah 2. 204 .

telaah secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem lahan basah yang dimaksud pada Langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem. b) Bila seluruh alternatif kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999.1. dan/atau metode bagan alir. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem lahan basah dimaksud Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari kegiatan proyek. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap ekosistem lahan basah. telaah secara komprehensif perubahan seluruh komponen yang terkena dampak penting (atau dalam hal ini perubahan struktur ekosistem lahan basah) akibat alternatif kegiatan tertentu proyek. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Hasil Langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. metode daftar uji berskala dengan pembobotan (misal. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. 4. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. lakukan telaahan sejauh mana dampak besar dan penting yang ditimbulkan terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana dimaksud pada Langkah 1 dan 2. (Hasil Langkah 2).1. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu kegiatan proyek. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif kegiatan proyek. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. Hasil Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan fungsi ekosistem. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.1 khususnya Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab evaluasi dampak penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif/holistik. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin dikalangan seluruh komponen dampak penting yang tercantum pada angka 4.5. Langkah 4 Dari alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan.2 (yakni Rona Lingkungan Hidup) akan berubah secara mendasar.4. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). Hasil Langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan struktur ekosistem: akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. dapat dilakukan melalui metode matrik (misal.Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti Langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. Environmental Evaluation System). 205 . Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. dan yang tercantum pada angka 4. b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Catatan Langkah 1 Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem. matrik Leopold). berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.

1. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.2 Kedalaman dokumen rencana pengelolaan lingkungan Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan.BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5.6 di muka. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di ekosistem lahan basah tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. yakni Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu dari eksosistem lahan basah. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse).1.5 (Prakiraan Dampak Penting). Dalam konteks pembangunan proyek di ekosistem lahan basah. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi.dan angka 4. Lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatar belakangi kedalaman dokumen RKL. b) Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. 206 . mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. mendaur ulang (recycle). yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif disaat pra konstruksi. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di saat pra-konstruksi.5. 5. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu tipe ekosistem lahan basah komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3.1. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada Bab Prakiraan Dampak dan Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. tersier. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. merupakan dokumen yang memuat upaya. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. Bila lebih dari 1 tipe ekosistem yang terkena dampak dan mengingat adanya keterkaitan antar ekosistem sebagaimana diutarakan pada angka 4.1. operasi maupun pasca operasi. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem lahan basah.6 dari Bab IV di muka.2 Langkah 10. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat sifat ekosistemnya yang kompleks dan multi fungsi. program dan/ atau tindakan-tindakan untuk mencegah. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. dalam pengertian generik.5.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 5. program atau tindakan untuk mencegah.3 Struktur inti dokumen rencana pengelolaan lingkungan Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola b) Tujuan pengelolaan lingkungan c) Pengelolaan lingkungan d) Waktu pengelolaan lingkungan e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan f) Institusi pengelolaan lingkungan. 5. maka pada bagian ini utarakan pula komponen lingkungan dari tipe eksositem lahan basah lainnya yang akan turut tercegah/ tertanggulangi dari kerusakan. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. konstruksi dan operasi proyek. a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). konstruksi. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem lahan basah sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem lahan basah juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya.1 Lingkup dokumen rencana pengelolaan lingkungan Dokumen RKL.

lokasi dan jangka waktu serta frekwensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan f) Institusi pemantauan lingkungan 207 .6. maka sedapat mungkin dituangkan desain teknologinya. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. sistematik.c) d) e) f) Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan dapat merujuk Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. 5. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek.2. Pada ekosistem lahan basah pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahanperubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem lahan basah yang terkena dampak. Upaya.2. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung.1 Lingkup dokumen rencana pemantauan lingkungan Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek sampai ke tingkatan ekosistem. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5. program atau tindakan untuk mencegah. ekonomi atau kelembagaan.2 Kedalaman dokumen rencana pemantauan lingkungan Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. pada dasarnya dapat dipandang sebagai pemantauan terhadap struktur ekosistem. berulang dan terencana. Upaya. kawasan. selain 6 (enam) faktor yang diutarakan pada Keputusan Menteri tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan seperti diutarakan pada paragrap berikut ini. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. Langkah 2). program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana yang disebut pada halaman III-5 s/d III-6. Pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Khusus ekosistem lahan basah.5. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan keterampilan operasional Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. atau bahkan regional. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. sifat kumulatif. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat.2. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. Pemantauan dapat dilakukan pada fungsi-fungsi ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. 5. Upaya. 5.3 Struktur inti dokumen rencana pemantauan lingkungan Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau b) Tolok ukur dampak c) Tujuan pemantauan lingkungan d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisis data. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c).

6 yakni Bab Prakiraan Dampak Penting dan Bab Evaluasi Dampak Penting dari dokumen ANDAL.1. bau. a) Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL).6 (Evaluasi Dampak Penting). Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. upaya/ program/tindakan pengelolaan lingkungan. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. Mengingat pada ekosistem lahan basah sebagian besar tolok ukur dampak yang digunakan masih banyak yang bersifat kualitatif. Halhal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. sebagai misal). baku mutu lingkungan keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. f) Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.2 Langkah 10.5 dan 4. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya.5 (Prakiraan Dampak Penting) dan angka 4. Langkah 2). warna. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Tolok ukur dampak yang dimaksud disini dapat berupa baku mutu limbah cair. d) Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. atau ketetapan resmi suatu instansi. ttd Nadjib Dahlan. kandungan minyak terlarut. c) Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. e) Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. b) Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu: (proyek. maka diperlukan kejelasan deskripsi dari tolok ukur dampak yang hendak digunakan. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. ttd Dr. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. suhu. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu tipe ekosistem lahan basah Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. SH 208 .Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). tersier. Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Semisal.6. A Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Udara c) Tanah i. Fisiografi dan litologi ii. Pemungutan hasil iii. Kimia iii. Kegiatan pra-konstruksi a. lama. Air permukaan (sungai. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Kegiatan Konstruksi 3. Sifat fisik tanah iii. Limb.Aksesibibilitas wilayah . Kecepatan angin b) Hidrologi i.Pemadatan lahan i. Penanaman tanaman iv. Kegiatan survei b. Minyak ii. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Konstruksi dam .Penambahan/ pengurukan lahan iii. Sifat kimia tanah iv. Introduksi spesies asing i. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Kanalisasi sungai iii. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Panas vii. Tinggi. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii.Lampiran3-1MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganKomponenLingkunganDaerahLahanBasah Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan I. Penebangan veg. Pola sedimentasi dan drainase 209 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Radioaktif iv. Limbah cair iii. Introduksi spesies asing i.Limbah gas i.danau) ii. Panjang penyinaran matahari iv. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim i. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Tinggi dan elevasi muka air ii.domestik v. Pembangunan saluran drainase ii. Limbah padat ii. Limb. Curah hujan ii. &frekuensi genangan/banjir iv.Pengalihan aliran iv. Debit dan pola aliran iii. ii.Industri vi.

Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 210 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Kegiatan Konstruksi 3. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Jenis dan satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Kimia iii. Jenis dan populasi nekton yang bernilaiekologi tinggi vii. Jenis dan populasi satwa liar yang bernilai ekologi tinggi v. Minyak ii. Keanekaragaman jenis/kom.danau) ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Konstruksi dam .domestik v. Limb. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Kegiatan pembebebasan lahan 2.Udara I. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Pemadatan lahan i. Kanalisasi sungai iii. Kegiatan pra-konstruksi a. Pengambilan/ perburuan satwa ii. satwa liar ii.Limbah gas i. Komponen Biologi a) Komunitas V egetasi i.Aksesibibilitas wilayah .Lampiran3-1. Radioaktif iv. ii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Zona habitat khusus dan plasma natfah b) Komunitas Satwa Liar i. Pemungutan hasil iii. Pembangunan saluran drainase ii. Keanekaragaman jenis/komunitas biota/phytoplankton iii. Penebangan veg. nekton iii. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Panas vii. Kegiatan survei b. Introduksi spesies asing i. Keanekaragaman jenis/Komunitas biota air zooplankton.Industri vi. Air permukaan (sungai.Pengalihan aliran iv. Limb. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i.

ii. Penanaman tanaman iv. Kegiatan survei b. Kegiatan pra-konstruksi a. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Limb. Konstruksi dam . Kesehatan iii. Minyak ii. Kegiatan Konstruksi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Introduksi spesies asing i.Lampiran3-1. Pembangunan saluran drainase ii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Kegiatan pembebebasan lahan 3. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Prasarana perhubungan air f) Permukiman penduduk g) Fasilitas umum : i.Industri vi.Pemadatan lahan i. Introduksi spesies asing i. Penebangan veg. Limbah padat ii.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 211 2. Penambahan/ pengurukan lahan iii.Limbah gas i.Aksesibibilitas wilayah .Udara I.domestik v. Limb.Pusat-pusat pertumbuhan baru .Pengalihan aliran iv. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.danau) ii. Kimia iii. Panas vii. Radioaktif iv. Pemungutan hasil iii.Kepribadian h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomian dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Keterangan: 1. Air permukaan (sungai. Kanalisasi sungai iii. Pendidikan ii. Limbah cair iii.

pengendalian erosi. Konstruksi dam . terutama pengendalian banjir Fungsi pencegah instrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Kegiatan Konstruksi 3.Aksesibibilitas wilayah . Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. Kegiatan survei b. Limb. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. Kimia iii. 7. getah. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. seperti kayu. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahanbahan beracun. Pembangunan saluran drainase ii. Limbah padat ii.domestik v. Penanaman tanaman iv. 6. Radioaktif iv. rotan. Penebangan veg.Industri vi. Kanalisasi sungai iii. Minyak ii. 9.Penambahan/ pengurukan lahan iii. ikan dan daging satwa liar. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Pengurangan/pembuangan lahan ii. 4. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran Keterangan: 1. Fungsi pengendalian air. yang berupa perlindungan garis pantai. obat. Air permukaan (sungai. 3.Lampiran3-2. ii. 5. Introduksi spesies asing i. Limbah cair iii. dan gambut.danau) ii. 8. Panas vii. dan pemecah angin (windbreak) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara.MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemLahanBasahuntukTipeEkosistem: hutan bakau/hutan rawa payau/hutan rawa bergambut/ hutan rawa air tawar Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan 1. Pemungutan hasil iii. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Limb.Pengalihan aliran iv. 2. 212 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Introduksi spesies asing i. Kegiatan pra-konstruksi a.Pusat-pusat pertumbuhan baru .Limbah gas i.Udara Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air).Pemadatan lahan i.

Lampiran3-2.(lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3

Komponen Lingkungan

213
Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penebangan veg. ii. Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. Kimia iii. Radioaktif iv. Limb.domestik v. Limb.Industri vi. Panas vii.Udara

10. Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrikhidro 11. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar 13. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem, dan lansekap lahan basah. 14. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah 16. Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 17. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah asam sulfat.

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebebasan lahan

2. Kegiatan Konstruksi

3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Limbah gas i. Air permukaan (sungai,danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah

Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan

Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi

i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan

i. Pembangunan saluran drainase ii. Kanalisasi sungai iii.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam

- Aksesibibilitas wilayah - Pusat-pusat pertumbuhan baru

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : 1. Bahwa untuk melaksanakan Pasal 8 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Pasal 2 Ayat (3) angka 18 serta Pasal 3 ayat (5) angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, perlu menetapkan Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 2. Bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemeritah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. BAB I TUGAS, WEWENANG, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut komisi penilai mempunyai tugas menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi Penilai dibentuk : a. Di tingkat Pusat oleh Menteri; b. Di tingkat Propinsi oleh Gubernur; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh : a. Tim teknis komisi penilai yang selanjutnya disebut tim teknis; b. Sekretariat komisi penilai yang selanjutnya disebut sekretariat komisi penilai. (4) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. Kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan/atau menyangkut pertahanan dan keamanan seperti: pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor, submarine tailing, teknologi peluncuran satelit, teknologi rekayasa genetika, eksploitasi minyak dan gas, pembangunan kilang minyak, penambangan bahan galian radioaktif, pembangunan industri pesawat terbang, pembangunan industri senjata, pembangunan industri bahan peledak, pembangunan industri yang menggunakan bahan baku dari limbah import, pembangunan bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan samudera, pengolahan limbah terpadu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 214

(5)

(6)

(7) (8)

b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu wilayah propinsi; c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; d. Di wilayah laut diatas 12 (dua belas) mil; dan e. Di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Propinsi berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi: a. Rencana usaha dan/atau kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas seperti: pembangunan industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp, pembangunan industri semen dan quarry-nya, pembangunan industri petrokimia, pembangunan hak pengusahaan hutan beserta unit pengelolaannya, pembangunan hutan tanaman industri beserta unit pengelolaannya, budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan unit pengelolaannya, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi/diesel, pembangunan bendungan, pembangunan bandar udara diluar kategori bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan diluar kategori pelabuhan samudera; b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota; dan c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) mil. Komisi penilai Kabupaten/Kota berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi semua rencana usaha dan/atau kegiatan diluar kewenangan Pusat dan Propinsi, sebagaimana diatur melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dalam hal Kabupaten/Kota tidak atau belum mampu melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan menyerahkan kewenangan tersebut kepada Propinsi. Dalam hal Propinsi tidak mampu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan (7), maka komisi penilai propinsi dapat meminta bantuan kepada komisi penilai pusat. Pasal 2

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 1, komisi penilai mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan di tingkat Pusat; b. Gubernur di tingkat Propinsi; dan c. Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 3 (1) Keanggotaan Komisi penilai terdiri dari : ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota serta anggotaanggota lainnya. (2) Ketua Komisi penilai sebagaimana di maksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat adalah Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Di tingkat Propinsi adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah; c. Di tingkat Kabupaten/Kota adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/ Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup ditingkat Kabupaten/Kota. (3) Ketua Komisi penilai bertugas : a. Melakukan koordinasi proses penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup; b. Menyampaikan bahan pertimbangan komisi penilai sebagai dasar pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota. (4) Sekretaris komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat dijabat oleh Kepala Direktorat yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; b. Di tingkat Propinsi dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi; c. Di Tingkat Kabupaten/Kota dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. (5) Sekretaris Komisi Penilai bertugas : a. Membantu tugas ketua; b. Merumuskan hasil penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan komisi penilai. (6) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai pusat memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; 215

Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (7) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Propinsi memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; f. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (8) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Kabupaten/kota memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya yang didasari atas kaidah ilmu pengetahuan, bagi para ahli; c. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; d. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 4 (1) Tim Teknis di bentuk : a. Di tingkat pusat oleh Menteri Departemen Teknis atau Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang berkedudukan di masing-masing sektor, Tim ini merupakan bagian dari tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999; b. Di tingkat Propinsi oleh Kepala Bapedal Daerah Propinsi selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Propinsi; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Kepala Bapedal Daerah Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. (2) Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang secara ex-officio dijabat oleh sekretaris komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. (2) Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesesuaian dengan pedoman umum dan/atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan; c. Kesesuaian lokasi dengan tata ruang; d. Ketepatan penerapan metode penelitian/analisis; e. Kesahihan data yang digunakan; f. Kelayakan desain, teknologi dan proses produksi yang digunakan; g. Kelayakan ekologis. Pasal 6 Dalam menjalankan tugasnya, tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 7 (1) Sekretariat Komisi Penilai berkedudukan di : a. Tingkat Pusat di Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Badan Pegendalian Dampak Lingkungan b. Tingkat Propinsi di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi c. Tingkat Kabupaten/Kota di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Sekretariat komisi penilai dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada ketua komisi penilai. 216

f.

Pasal 8 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan, perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh komisi. Pasal 9 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. BAB II KERANGKA ACUAN Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 10 (1) Kerangka acuan yang dinilai oleh : a. Komisi penilai Pusat, diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat; b. Komisi penilai Propinsi, diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai Propinsi; c. Komisi penilai Kabupaten/Kota, diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota; (2) Dokumen kerangka acuan yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar. (3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana di maksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal penerimaan dokumen. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 11 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis menilai kerangka acuan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. (3) Penilaian oleh Tim Teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (4) Semua saran, pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai. (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 12 (1) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai kerangka acuan (2) Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal rapat. (3) Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. (4) Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh sekretaris penilai. (5) Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. (6) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. (7) Dalam rapat penilaian, semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6), (7) dan (8). (8) Komisi penilai wajib memperhatikan saran, masukan dan tanggapan dari masyarakat dalam proses penentuan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan. (9) Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. (10) Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretaris komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (11) Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan kerangka acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (12) Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (13) Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian, ketua komisi setelah mendengarkan saran-saran tim teknis 217

Menerbitkan Keputusan Kesepakatan Kerangka Acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. c.berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. b. (14) Ketua Komisi penilai selaku : a. d. diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup. d. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (4) Di tingkat Pusat. b. c. Deputi Kepala Badan Pegendalian Dampak Lingkungan yang menangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup di tingkat Pusat. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib memuat kesepakatan tentang ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 14 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. b. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. Komisi penilai Kabupaten/Kota. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. b. Komisi penilai Propinsi. Bagian Keempat Keputusan Pasal 13 (1) Keputusan kesepakatan kerangka acuan diterbitkan oleh : a. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Gubernur yang bersangkutan. Komisi penilai Pusat. Gubernur yang bersangkutan. (2) Dokumen analisis dampak lingkungan hidup. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. (6) Di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan hasil rapat penilaian komisi penilai. b. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat. maka komisi penilai wajib menolak kerangka acuan tersebut. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Bupati/Walikota yang bersangkutan. BAB III ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. d. (15) Apabila rencana lokasi dilaksanakan usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. (7) Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kesepatan kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi di tingkat Propinsi. c. (5) Di tingkat Propinsi. c. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Gubernur kepada: a. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. b. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan kepada: a. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh: a. diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai propinsi. c. c. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar 218 .

pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. Dalam penilaiannya. b. pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6). Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. rencana pengembangan wilayah. Ketua komisi penilai menyampaikan berita acara penilaian dan dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) kepada: a. Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan.(3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan mencatat hari dan tanggal penerimaan dokumen. (4) Semua saran. ketua komisi berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Pusat. (3) Penilaian oleh tim teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. Bupati/Walikota. Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. c. Dalam melaksanakan tugasnya. Gubernur. masukan dan tanggapan dari masyarakat. (7) dan (8). Semua saran. Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan analisis dampak lingkungan hidup. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Dalam rapat penilaian. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Bagian Keempat Keputusan Pasal 17 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan diterbitkan oleh: a. untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi pusat. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. 219 . (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. maka rapat dipimpin oleh sekretaris komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 15 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. komisi penilai wajib memperhatikan saran.

Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan : a. Dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut. f. Gubernur. dan e. Bupati/Walikota yang bersangkutan. c. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Gubernur yang bersangkutan. Menteri. ttd Dr. b. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. b. Di tingkat Pusat pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. c. S. c. f. g. instansi terkait lainya di tingkat Propinsi. bagi dokumen yang dinilai oleh Komisi penilai Kabupaten/Kota. e. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor : Kep-13/MENLH/ 3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL dinyatakan tidak berlaku lagi. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi.(2) (3) (4) (5) (6) b. (2) Dengan berlakunya keputusan ini. b. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan. Di tingkat Pusat. instansi terkait lainya di tingkat Kabupaten/Kota. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Gubernur yang bersangkutan. b. d. c. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. d. Di tingkat Kabupaten/Kota pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. tim teknis. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Bupati/Walikota. Di tingkat Kabupaten/Kota. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 18 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai. instansi terkait lainya. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Gubernur kepada : a. Di tingkat Propinsi. A. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada : a. Pertimbangan terhadap saran. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan di tingkat Propinsi. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat. c. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. Menteri. Di tingkat Propinsi pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi.H. d. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 220 . instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ditetapkan : di Jakarta Tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. BAB V PENUTUP Pasal 19 (1) Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 Nopember 2000. e. b.

ekonomi. Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang biogeofisik-kimia. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. b. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). BAB I PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI Pasal 1 Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota wajib memenuhi kriteria: a. 6. Fungsi.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. dan 221 . perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Menimbang : 1. 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai. bahwa untuk melaksanakan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 8. budaya. 9. Mengingat : 1. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 di atas. c. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. sosial. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). d. Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai. 5. Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Susunan Organisasi. 4. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). perlu menetapkan Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/ Kota. Tugas. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). kesehatan. dan Tata Kerja Menteri Negara. dan lingkungan sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup belum mengatur tentang Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. 7. 3. perencanaan pembangunan wilayah/daerah. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. 2.

ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Tim teknis komisi penilai. g. wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Daerah Kabupaten/Kota. 2. Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. wakil dari organisasi lingkungan sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup baik dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau dari instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. dan anggota-anggota lainnya. k. komisi penilai dibantu oleh: a. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan daerah Kabupaten/Kota. Pasal 3 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota berkedudukan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau di instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. ahli di bidang lingkungan hidup. 2. Tim teknis terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 5 1. b. analisis dampak lingkungan hidup. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 6 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota bertugas menilai kerangka acuan. Sekretariat komisi penilai. d. wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan daerah Kabupaten/Kota. c. Pasal 2 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota. l. 3. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah Kabupaten/Kota. 4. wakil dari instansi terkait di daerah Kabupaten/Kota. e. Pasal 7 Dalam melaksanakan tugasnya.e. j. Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurangkurangnya untuk parameter air dan udara baik laboratorium yang berada di Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat. wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota. 222 . i. Sekretaris merangkap sebagai anggota. b. h. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. anggota lain yang dianggap perlu. Susunan keanggotaan terdiri dari Ketua merangkap sebagai anggota. f. wakil dari masyarakat yang terkena dampak. Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang dalam hal ini dirangkap oleh sekretaris komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. BAB II SUSUNAN KEANGGOTAAN Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 4 1.

Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 9 1. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd. teknologi. S. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. d. sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. Ketepatan penerapan metoda penelitian/analisis. 223 . 2. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan. perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung. Nadjib Dahlan. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 13 Biaya atas pelaksanaan kegiatan komisi penilai. tim teknis. e. A. Kesahihan data yang digunakan.Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas. Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan. Pasal 12 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. c.H. Kesesuaian dengan pedoman umum dan atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. b. analisis dampak lingkungan hidup. Ditetapkan Tanggal : di Jakarta : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. BAB V PENUTUP Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Kelayakan desain. Pasal 10 Dalam menjalankan tugasnya. dan proses produksi yang digunakan. komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Bupati/Walikota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. ttd Dr. tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis dan bertanggung jawab kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 11 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan.

1.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 6. 8. ttd. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 9 dan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 Tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. 3.H. dan Tata Kerja Menteri Negara. Ketua tim teknis dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. 7. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 2. 5. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Susunan keanggotaan komisi penilai dan tim teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran I dan II dalam Keputusan ini. Dr. Tugas. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Fungsi. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Susunan Organisasi. ME MUTU S KAN : Menetapkan : Pertama : Kedua Ketiga : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. perlu dibentuk Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Setiap anggota komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat mempunyai kewenangan pengambilan keputusan dari instansi/organisasi/masyarakat yang diwakilinya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). S. A. Anggota komisi penilai dan tim teknis dalam melaksanakan tugasnya wajib memperhatikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 224 Mengingat : Keempat: Kelima : Keenam : .

4. 8. 18. 3. 7. 19. 6. 225 .H. S. 14. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan Wakil dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen Dalam Negeri Wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional Wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan W akil dari instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan Wakil dari departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang terkait Wakil dari Propinsi yang bersangkutan Wakil dari Kabupaten/Kota yang bersangkutan Ahli di bidang lingkungan hidup Ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan Wakil dari organisasi lingkungan hidup/ Lembaga Swadaya Masyarakat sesuai dengan bidang usaha dan/ atau kegiatan yang dikaji Wakil dari masyarakat terkena dampak Anggota lain yang dianggap perlu Kedudukan Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota 1. 20. 5. 15. 2. 9. 10. Jabatan/Instansi Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kepala Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 12. ttd Dr. 11. 17. 13. A. Menteri Negara Lingkungan Hidup.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 16. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan .

A. 1. ttd Dr. Anggota Anggota Anggota Menteri Negara Lingkungan Hidup. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Jabatan/Instansi Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang paling dominan Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan lainnya Ahli dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Ahli lain di bidang ilmu yang terkait Ahli lain di bidang kegiatan yang bersangkutan Kedudukan Ketua merangkap anggota 2.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 4. S. 226 . Anggota 3.H. 5.

Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan serta Organisasi Staf Menteri Negara. 5. Kedua: Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 16 Juli 1992 Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 1. 6. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pengangkatan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup . Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintan Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1986. 2.30/MENKLH/7/1992 TENTANG PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP. 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338). Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01Tahun 1990 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 3. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL Mengingat : Pertama: Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Keputusan ini. Panduan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Tugas Pokok. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3125) .KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP . maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. 4. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan Andal. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan. 7. 227 . ttd Emil Salim.

e. Menyadari pentingnya arti kegiatan pelingkupan ini dipandang penting disusun suatu panduan pelingkupan yang komprehensif. instansi pemerintah yang terkait. 2.1. tenaga). Tujuan Pelingkupan bertujuan untuk: a. Panduan pelingkupan ini disusun dengan maksud agar pemrakarsa kegiatan. berkat identifikasi dampak yang semakin tajam. Semakin baik hasil proses pelingkupan semakin baik pula dokumen ANDAL/ SEL yang dihasilkan. PENDAHULUAN Dalam Keputusan Menteri Negara LH Nomor KEP-50/MNKLH/6/1987. sehingga data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan yang akan timbul. Keterbatasan Sumberdaya KA memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL/SEL. Manfaat Manfaat pelingkupan adalah sebagai berikut: a. Ketiga pertimbangan tersebut pada dasarnya dapat terwujud dengan baik dalam dokumen KA bila dalam penyusunan KA ditempuh suatu proses yang dikenal sebagai pelingkupan (scoping). Lampiran II. Efisiensi KA memberikan arahan tentang data dan informasi yang perlu dikumpulkan untuk penyusunan ANDAL/SEL. Menelaah kegiatan/proyek-proyek lain yang terkait dan terletak di wilayah studi. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan. dana. serta membantu menelaah dampak kumulatif dari proyek-proyek tersebut. berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar.LAMPIRAN NOMOR TENTANG : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA : KEP . 2. tentang Pedoman Penyusunan Acuan Analisis Dampak Lingkungan. TUJUAN DAN MANFAAT PELINGKUPAN 2. Lampiran II. ditegaskan bahwa dokumen Kerangka Acuan (KA) disusun karena adanya pertimbangan: 1. metode.3. sehingga dokumen ANDAL/ SEL dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan yang diusulkan. 3. tujuan.2. Panduan ini merupakan pendukung ( suplemen) untuk penyusunan KA sehingga dokumen KA yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan teknis seperti yang digariskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. proses. d. dan Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. 2. karena dampak bersifat yang kurang penting atau tidak relevan tidak akan dikaji dalam ANDAL/ SEL. 228 . Menetapkan tingkat kedalaman studi ANDAL/SEL sesuai dengan sumber daya yang tersedia (waktu. Menetapkan lingkup studi dan rancangan studi ANDAL/SEL secara sistematis.30/MENKLH/7/1992 : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1. serta kelompok masyarakat yang terkena dampak c. manfaat. sehingga data dan informasi yang terkumpul hanyalah yang relevan dengan dampak lingkungan yang telah ditelaah. PENGERTIAN. dan instansi pemerintah yang berwenang/terkait dapat memahami pengertian. Pengertian Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana kegiatan. Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak. dan prosedur pelingkupan untuk penyusunan dokumen KA 2. dan adanya arahan yang tegas dalam lingkup serta kedalaman studi ANDAL/SEL. guna menghindari pembahasan yang landung ( redundant). Keanekaragaman KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan ANDAL/SEL. termasuk dokumen ANDAL/ SEL dari proyek-proyek tersebut. b. Kegiatan pelingkupan (scoping) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan KA dan hasilnya dapat berpengaruh besar pada kualitas dokumen ANDAL/SEL. Mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam penyusunan ANDAL/SEL. Penyusunan ANDAL/SEL dapat langsung diarahkah pada hal-hal yang menjadi pokok bahasan secara mendalam. dengan meniadakan hal-hal yang dipandang kurang atau tidak penting untuk ditelaah.

Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dan komunikasi (pemusatan) dari isi pokok tersebut untuk membantu menganalisis isi dan membuat keputusan akhir. Waktu Pelaksanaan Pelingkupan Pelingkupan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sinambung ( continue).b. dan waktu untuk penyusunan ANDAL/SEL dapat dicurahkan lebih efektif dan efisien berkat terfokusnya studi ANDAL/SEL hanya pada dampak penting. kedalaman. serta rekomendasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. RPL Pelingkupan pada saat ini. dan strategi pelaksanaan studi. pakar dan instansi pemerintah tentang rencana kegiatan atau proyek yang diusulkan. Pemusatan (focussing) segenap dampak penting (hipotetis) dengan maksud agar terancang lingkup dan kedalaman studi ANDAL/SEL yang jelas dan sistematis dengan fokus bahasan dan dampak penting.2. Saat Penapisan Proyek Proses pelingkupan yang dilakukan pada saat ini ditujukan untuk menetapkan: a. dalam penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL c. Pelingkupan yang dilakukan pada saat ini lebih bersifat teknis. Identifikasi dampak potensial yang bersumber dari pemrakarsa kegiatan. hingga berakhirnya studi AMDAL/ SEMDAL. Kaitan ke tiga proses pelingkupan di atas dapat dilihat pada Gambar berikut: Identifikasi pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan menghasilkan keluaran berupa diketahuinya hal-hal penting. seperti instansi yang berwenang. masyarakat. c. Pelingkupan pada saat ini lebih merupakan proses kelembagaan. mengingat “diikutsertakannya” berbagai pihak di luar pemrakarsa. c. penyusunan dokumen Kerangka Acuan.3. Tujuannya agar studi ANDAL/SEL dan RKL/RPL tetap berada dalam konteks menelaah dampak penting lingkungan seperti yang digariskan dalam Kerangka Acuan. 229 . 3.1. sepenuhnya dilakukan oleh penyusun ANDAL/SEL. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang langsung memerlukan penyusunan ANDAL/SEL karena dipandang jelas menimbulkan dampak penting. b. senantiasa akan diarahkan untuk keperluan kajian dampak penting lingkungan. Penyusunan ANDAL/SEL dapat berlangsung dengan lebih terarah berkat adanya kejelasan lingkup studi. tokoh-tokoh masyarakat. d. dalam artian bahwa kegiatan pengumpulan data. 3. Panduan yang diutarakan di sini adalah panduan pelingkupan untuk keperluan penyusunan dokumen Kerangka Acuan. a. Kegiatan pelingkupan sebenarnya berawal sejak penapisan proyek.1. Saat Penyusunan Kerangka Acuan Pelingkupan yang berlangsung di saat penyusunan KA pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan manfaat seperti yang dimaksud pada BAB 2 panduan pelingkupan ini. Saat Penyusunan ANDAL/SEL. tenaga. RKL. RKL. Kemungkinan timbulnya konflik dan tertundanya kegiatan pembangunan proyek dapat dihindari. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang memerlukan penyusunan dokumen PIL terlebih dahulu karena “perilaku” dampak belum banyak diketahui atau diragukan. Biaya.2. berkat adanya diskusi dan konsultasi antara pemrakarsa dan berbagai pihak yang berkepentingan sejak awal kegiatan proyek. b. PROSES DAN METODE PELINGKUPAN 3. a. Dengan digunakannya pelingkupan pada saat penapisan proyek prosedur AMDAL/SEMDAL yang harus ditempuh oleh suatu rencana kegiatan dapat diputuskan dengan lebih tepat. dan para pakar. dan RPL. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang tidak memerlukan proses AMDAL/SEMDAL. a. Evaluasi segenap dampak protensial sehingga dihasilkan dampak penting hipotetis dengan meniadakan dampak potensial yang tidak atau kurang penting. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi terhadap hal-hal yang dianggap penting dimaksudkan untuk menentukan isi pokok yang tercakup dalam AMDAL (dan menghilangkan isi yang dianggap tidak penting). Proses Pelingkupan Pelingkupan untuk penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL dilaksanakan melalui serangkaian proses berikut: a. analisis data.

(2) Kualitas air. Pada tahap ini akan dihasilkan daftar dampak penting hipotetik yang belum berurutan dan terorganisir secara sistematis. catatan: contoh ini hanyak merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat). sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan patut untuk ditelaah dalam penyusunan ANDAL/SEL.KEGIATAN HAL-HAL PENTING ISI POKOK ANALISIS ISI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN LINGKUNGAN EVALUASI PEMUSATAN IDENTIFIKASI 3. Pada tahap ini yang diperlukan hanyalah menyusun daftar segenap “dampak potensial” yang mungkin akan timbul. (3) Kualitas udara. (7) Satwa liar yang dilindungi. 3. dan masyarakat sekitar rencana kegiatan/proyek. Setelah melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dengan pakar. (8) Sikap terhadap proyek. Pada tahap ini belum ada upaya untuk mengevaluasi apakah segenap dampak potensial tersebut akan merupakan dampak penting. Pemusatan (Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampakdampak penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. (6) Pendapatan penduduk. (10) Kepadatan penduduk. serta masyarakat yang terkena dampak. suatu lapangan minyak yang akan dibuka di dataran seluas 50 ha secara potensial diduga akan menimbulkan dampak terhadap beberapa komponen lingkungan di sekitarnya. (13) Sikap terhadap proyek. (14) Warisan peninggalan budaya. (12) Aksesibilitas daerah. setelah ditelaah lebih lanjut (misal melalui metode matrik atau penelaahan literatur) ternyata terdapat 6 komponen lingkungan yang tidak relevan untuk diteliti.2. dengan maksud agar diperoleh gambaran 230 .2. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak.2.1. (4) Kesuburan tanah. Identifikasi Dampak Potensi Kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer) maupun sekunder yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/ proyek. Komponen lingkungan tersebut adalah: (1) Sedimentasi sungai.3. 3. Dengan demikian dampak potensial yang secara hipotetis dipandang penting untuk ditelaah adalah: (1) Kualitas air. (6) Perikanan (sungai). (8) Vegetasi hutan. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Dari 14 komponen lingkungan yang semula dipandang merupakan dampak potensial untuk diperhatikan. Identifikasi dampak potensial ini bersumber dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Contoh: (Kasus Pengembangan lapangan minyak. (9) Kesempatan kerja. (5) Kesempatan kerja. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak potensial yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. (4) Vegetasi hutan. (11) Kesehatan masyarakat. (7) Aksesibilitas hutan.2. (2) Kualitas udara. (3) Perikanan (sungai). instansi pemerintah. (5) Erosi. instansi pemerintah.

b. lokasi pengamatan/pengukuran. 3. dana dan tenaga yang tersedia. dan pemusatan dampak penting hipotetis. b. dan lain sebagainya). metode analisis data. yakni: a. 3.1. Pertama. Ada tiga macam metode identifikasi dampak yang dapat dipilih untuk digunakan. Dampak penting hipotetis yang terkelompok inilah yang merupakan fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL/SEL. evaluasi.1. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing metoda tersebut. Metode identifikasi dampak. jumlah sampel. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) a. dokumen ANDAL/SEL yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Selanjutnya diurut berdasarkan tingkat kepentingannya baik dari segi ekonomi ataupun ekologis. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Matrik Bagan alir (Network). Kedua kelompok dampak penting hipotetis tersebut adalah: (1) Dampak terhadap kualitas air dan perikanan sungai.2. Metode Identifikasi Dampak Untuk mengidentifikasi dampak potensial dapat digunakan metode identifikasi dampak lingkungan yang secara konvensional telah dikenal. yang terdiri atas: a.3. Daftar uji kuesioner ini akan lebih memberi manfaat bila dalam mengidentifikasi dampak potensial didukung dengan pengamatan ke wilayah sekitar rencana kegiatan.1. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Delapan dampak penting yang semula belum terkelompok (menurut derajat kepentingan dampak). jenis data dan informasi yang dikumpulkan. Pengamatan lapangan. c. Daftar-uji sederhana (simple checklist) a. kedalaman dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL (batas wilayah studi.3.1. hanya berupa serangkaian daftar tentang parameter-parameter lingkungan yang perlu mendapat perhatian akibat adanya suatu rencana kegiatan.3. Metode Pelingkupan Dalam proses pelingkupan digunakan metode-metode untuk identifikasi. d. lokakarya dan rapat. Secara garis besar metode yang dapat digunakan adalah: a. Daftar-uji sederhana (simple checklist) Produk metoda ini sangat sederhana. Daftar-uji (checklist). Dari kedua kelompok dampak penting tersebut selanjutnya dijabarkan: batas wilayah studi. dan digunakan sebagai dasar untuk menjabarkan ruang lingkup. pengamatan/pengukuran. Namun demikian metoda ini hanya memberi sedikit informasi tentang dampak yang timbul bila dibandingkan dengan metoda Daftar Uji Kuesioner (questionnaire checklist) dan matrik. Penelaahan pustaka Analisis isi (content analysis) Interaksi grup (group process) yang terutama meliputi brainstorming. dan metode evaluasi dampak yang akan digunakan untuk penyusunan ANDAL/SEL Lingkup kedalaman studi ANDAL/SEL ini ditetapkan sedemikian rupa sehingga dengan waktu. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) Daftar uji jenis lainnya adalah daftar-uji dengan kuesioner.3. (2) Dampak terhadap kesempatan berusaha dan pendapatan penduduk yang tergantung pada penangkapan ikan disungai. atau bila memungkinkan metode prakiraan dampak. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. Berikut diutarakan secara singkat metode-metode dimaksud: 3. segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. c. e.3. 3. 231 .2. jumlah sample. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. lokasi.1. Daftar Uji Sederhana ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dampak potensial yang diduga akan timbul. setelah melalui serangkaian diskusi dan konsultasi yang intensif dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok dampak penting.yang utuh dan lengkap.

. perairan umum.. Matrik Matrik yang digunakan untuk keperluan identifikasi dampak merupakan matrik sederhana ( simple matrik).... jenis limbah yang dihasilkan.. Bila pengamatan lapangan ini dilakukan oleh pakar yang berpengalaman.3.2.. Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam.. n) maka pada interaksi ke ij diberi tanda atau noktah seperti X..... misal kegiatan ke i (i .. maka kemungkinan besar butir-butir yang dipandang relevan untuk ditelaah tidak termuat dalam daftar dan sebaliknya hal-hal yang tidak relevan tercantum dalam daftar.3. Bagan Alir Bagan alir (network) merupakan suatu model yang dikonstruksikan melalui jalinan hubungan sebab-akibat antara sumber penyebab dampak (kegiatan/proyek) dan faktor-faktor lingkungan yang terkena dampak..3. baik dampak lingkungan yang bersifat primer. Pengamatan Lapangan Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan dokumen KA umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat. Bila kegiatan sudah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) perlu dilakukan pula pengamatan terhadap jalannya proses produksi dan limbah yang dihasilkan. sekunder maupun tersier. Umumnya daftar-uji deskriptif ini diawali dengan parameter yang relevan untuk diteliti dan selanjutnya diikuti dengan petunjuk pencarian data.. Diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana kegiatan (misal.. namun demikian apabila daftar-uji ini tidak diverifikasi dengan kondisi lingkungan dan proyek yang diteliti. Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan.2. Pada bagian lajur tertera berbagai kegiatan pembangunan yang direncanakan.. 232 . 3. asal dan jumlah bahan baku yang digunakan rangkaian proses produksi. dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul.. rencana penanganan limbah dan lain sebagainya). Matrik sederhana menggambarkan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya.. Untuk kegiatan yang telah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci.1. b. Kelebihan matrik sederhana ini dibandingkan dengan daftar uji adalah diketahuinya sumber penyebab timbulnya potensi dampak lingkungan..3... sumber data dan bahkan metoda perkiraan dampak yang direkomendasikan untuk diterapkan. jumlah karyawan yang diserap. 3.3. Mengingat dampak suatu proyek bersifat unik dan khas maka relatif tidak ada daftar uji yang berlaku sama untuk semua proyek di semua lokasi/ruang.4. maka di samping akan diperoleh hasil yang bernilai juga dapat diperoleh gambaran umum tentang kedalaman dan lingkup studi ANDAL/SEL.1. Pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut rencana tata letak kegiatan.4..1.. Target ini dapat dicapai melalui serangkaian kegiatan berikut: a. Dengan demikian isi atau materi daftar uji yang relevan dengan karakteristik proyek dan kondisi wilayah sekitar proyek harus dikembangkan sendiri oleh penyusun ANDAL/ SEL. 3.3. Apabila suatu kegiatan proyek. 1. kondisi biologi. sedang pada bagian baris tertera berbagai komponen dan parameter lingkungan. misal komponen ke j (j : 1.. Kekuatan metoda daftar-uji ini terletak pada kesederhanaannya.. c.... secara potensial diduga menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu. m). dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan/proyek. Satu kelemahan lain dari daftar-uji adalah tidak diketahuinya secara jelas sumber penyebab dampak. Wawancara singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Daftar-uji deskriptif menguraikan tentang hal-hal yang patut untuk diteliti oleh penyusun ANDAL/SEL seperti data dan informasi yang diperlukan untuk analisis parameter yang diduga sebagai dampak penting.5.. Metode ini tergolong komunikatif untuk materi diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi pemerintah atau masyarakat awam yang ingin mengetahui dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek... d.2. Metoda bagan alir ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya aktivitas proyek...

penanggung jawab kegiatan ini juga berada di pundak pemrakarsa. calon penyusun ANDAL/SEL. 233 . atau pemusatan dampak penting. Persepsi masyarakat “ditangkap” secara tidak langsung melalui metode analisis ini (content analysis).2. Lokakarya Metode ini dapat digunakan untuk evaluasi atau pemusatan dampak penting. Mengingat inisiatif kegiatan identifikasi dampak ini berada pada pemrakarsa kegiatan. Metode ini efektif untuk digunakan dalam rapat-rapat untuk identifikasi dampak potensial. Rapat Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. lokakarya dan brainstorming. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial b.6. 3. Penelahaan Pustaka Metode ini digunakan untuk keperluan identifikasi dan evaluasi dampak potensial. Laporan-laporan resmi tentang masalah lingkungan di sekitar wilayah studi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. evaluasi. Buku-buku teks atau jurnal tentang dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. Analisis ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dampak potensial dari sudut masyarakat. Metode yang dapat digunakan antara lain: rapat. Metode ini mensyaratkan bahwa ketua rapat harus menguasai prosedur dan teknik penyusunan ANDAL/SEL. Melalui metode ini dapat dilibatkan peran serta beragam instansi yang terkait dengan proses AMDAL (pemrakarsa. didaftar untuk selanjutnya dievaluasi tingkat kepentingan dampaknya. c. evaluasi dampak potensial. atau pemusatan dampak penting. b.1. majalah dan televisi. Analisis Isi Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul menurut persepsi atau pandangan masyarakat. Interaksi Kelompok Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi.5. pakar. d. instansi pemerintah yang berwenang. perlu ditempuh prosedur pelingkupan seperti berikut ini: a. departemen sektoral. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL/SEL Berikut dikemukakan langkah-langkah kegiatan pelingkupan dimaksud: 4. Telaahan terutama difokuskan pada respon masyarakat terhadap kehadiran proyek-proyek pembangunan di sekitarnya. mengevaluasi. atau pemusatan dampak penting yang berkenaan dengan rencana kegiatan/proyek. peserta harus mengerti benar bahwa tujuan rapat adalah untuk mengidentifikasi.7. 3. seperti koran. PROSEDUR PELINGKUPAN Agar dokumen KA yang dihasilkan mampu mengarahkan penyusunan ANDAL/SEL seperti yang diharapkan. “Partisipasi” masyarakat dilibatkan secara tidak langsung dengan cara menelaah berita-berita yang disampaikan melalui berbagai media massa.1. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial Seperti telah diutarakan pada butir 3. instansi yang berwenang. Lokakarya akan memberikan manfaat yang tinggi bila dipersiapkan dengan baik dan draft dokumen KA telah tersusun dan siap untuk dibahas dalam forum. a. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Dampak Penting c. Dalam rapat.3. b. Melalui metode ini identifikasi dan evaluasi dampak potensial suatu rencana kegiatan dapat dilakukan lebih cepat berkat adanya data dan informasi dari studi-studi yang sejenis. Brainstorming Metode ini terutama digunakan untuk identifikasi dampak potensial. dan masyarakat yang terkena dampak. Dokumen AMDAL/SEMDAL dari proyek-proyek sejenis atau dari proyek-proyek di sekitar wilayah studi. kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak potensial (primer maupun sekunder) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/proyek. atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laporan-laporan penelitian tentang masalah-masalah lingkungan di sekitar wilayah studi. 4. tokoh masyarakat). untuk terlibat dalam proses pelingkupan. Dalam brainstorming dampak potensial dari sudut pemrakarsa. Pustaka yang perlu ditelaah antara lain adalah: a. c.

Pada taraf ini sudah dapat dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. dan lain sebagainya. 4. Perlu diketahui bahwa pada langkah ini proses pelingkupan semakin mengandalkan pertimbangan pakar (expert judgement). Segenap dampak penting hipotetik selanjutnya disintesis jalinan keterkaitannya sehingga diperoleh di beberapa kelompok dampak penting yang akan menjadi fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL. Batas wilayah studi dan batas/horison waktu untuk memprakirakan dampak penting yang akan timbul. evaluasi dampak potensial bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. 3. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan). dan penanggung jawab kegiatan. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik. yang menjadi fokus bahasan..2. Hal ini tidak lain karena kegiatan ini dapat diperoleh masukan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari sudut pandang masyarakat.2.3.5 dan 3. serta instansi pemerintah yang berwenang. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Pada Langkah Kedua ini evaluasi dampak potensial dan pemusatan dampak penting ditempuh sekaligus mengingat eratnya kaitan kedua proses pelingkupan tersebut. Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Kedua ini meliputi: 1. sehingga evaluasi dan pemusatan harus dilaksanakan secara kritis dan obyektif. Jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan agar dampak penting. dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL harus dijabarkan dari kelompok dampak penting hipotetik yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. dapat ditelaah secara mendalam. calon penyusun ANDAL/SEL. kedalaman. Seperti telah diutarakan pada butir 3.) dan telaahan pustaka (butir 3. Sedang pemusatan ( focussing) dimaksudkan untuk mengorganisir dampak penting hipotetik ke dalam beberapa kelompok (lihat butir 3. (brainstorming) Pengamatan terhadap kondisi wilayah sekitar rencana kegiatan dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3.2. tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Hal ini mengingat karena ruang lingkup.2. Dari segenap hasil pelingkupan tersebut selanjutnya disusun dokumen KA untuk penyusunan ANDAL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-50/MNKLH/ 6/1987. 4. 3. Berdasarkan hasil pemusatan ini selanjutnya dilakukan Langkah Ketiga.. deskripsi kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.2. 234 . 3. Lampiran II. Lampiran II.3). sebagai bahan acuan. Dampak potensial yang dipandang kurang penting atau tidak relevan ditiadakan dari daftar. Pengamatan sebaiknya dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). melalui metode rapat (butir 3. Inisiatif Langkah Kedua ini juga berada pada pemrakarsa kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun ANDAL/SEL).Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Pertama ini adalah: 1./ SEL. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (atau SEL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. sehingga sedapat mungkin kegiatan ini dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat diwakili dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL).). 2. Aspek-aspek yang dijabarkan lebih lanjut untuk keperluan penyusunan dokumen KA ANDAL/SEL perlu meliputi tentang: 1. Jenis tenaga ahli yang diperlukan berikut dengan jangka waktu yang tersedia untuk penyusunan ANDAL/SEL. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik yang dipandang yang layak untuk ditelaah secara mendalam dalam ANDAL/SEL. Sedapat mungkin lengkapi pula dengan jenis data dan jumlah sampel yang harus dikumpulkan. Evaluasi derajat kepentingan dampak setiap komponen/parameter lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak lingkungan. 3. perihal peraturan perundangundangan yang berlaku untuk penyusunan Kerangka Acuan dan ANDAL/SEL.6.6.4. serta lokasi pengumpulan data. Pemrakarsa perlu terlibat secara aktif dalam kegiatan ini agar dapat dihasilkan butir-butir identifikasi dampak yang lebih jelas/tajam. 2. Dokumen yang telah tersusun ini selanjutnya diserahkan kepada Komisi Pusat AMDAL departemen untuk dibahas dan disepakati oleh instansi yang berwenang.3. 49/MNKLH/VI/1987. 2. dengan menggunakan Keputusan Menteri Negara KLH No.4. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman ANDAL/SEL Pelingkupan yang dilakukan pada langkah ini bersifat lebih teknis. Konsultasi dan diskusi dengan para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultasi penyusun ANDAL/SEL). Dari hasil kegiatan butir 1 dan 2 pemrakarsa/konsultan penyusun ANDAL/SEL selanjutnya dapat menyusun daftar dampak potensial yang bersumber dari berbagai pihak. sehingga dapat dijadikan dasar untuk penjabaran lingkup dan kedalam studi ANDAL/SEL.

maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali. 235 . Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. S. Surat Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). dan c. 1. pengumuman. Rincian tata cara: a. b. 4. 2. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). keterlibatan masyarakat dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Penentuan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Keputusan ini. Gubernur dapat mengatur lebih lanjut: 1.H. Pengendalian Dampak Sudarsono. pendapat. dan tanggapan warga masyarakat.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 3. 2. KEDUA : KETIGA : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Pebruari 2000 Kepala Badan Lingkungan. ttd Dr. Mengingat : PERTAMA : Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan berpedoman pada Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. A. penyampaian saran.

Pendapat. faktor pengaruh sosial budaya.2 Prinsip Dasar Pelaksanaan 1) Kesetaraan posisi diantara pihak-pihak yang terlibat. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. dan masyarakat pemerhati. dan Tanggapan (1) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 2.LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1.3 Pengertian Masyarakat yang Berkepentingan: Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. 1. dan RPL di Komisi Penilai. RKL. masyarakat menyampaikan aspirasi. pendapat. b) Spesifikasi Teknik Penyampaian Saran. g) sikap instansi yang bertanggung jawab atas saran. (3) Menjelaskan dan atau melampirkan identitas pribadi. 2) Memberikan saran. khusus bagi warga masyarakat terkena dampak yang penetapannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan butir a) dibawah. dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. (2) Menuliskan dengan jelas sehingga mudah dibaca. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. 3) Duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lingkup masyarakat terkena dampak adalah: 236 . tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut. dan h) keputusan hasil penilaian dokumen AMDAL. kebutuhan. dan kerjasama dikalangan pihak-pihak yang terkait. Wakil Masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL: Wakil masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL adalah wakil dari masyarakat terkena dampak yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. pendapat. yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh. 3) Penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. 2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. f) proses penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. dan 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan. c) Tata Cara Tata cara penyampaian saran. dan 4) Koordinasi.1 Hak-hak Warga Masyarakat Hak-hak warga masyarakat dalam proses AMDAL adalah: 1) Memperoleh informasi mengenai: a) rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL. perhatian pada lingkungan hidup. pemrakarsa dan masyarakat terkena dampak terkait dengan tetap memperhatikan kemungkinan penyempurnaannya kembali pada tahap proses penilaian dokumen ANDAL. faktor pengaruh ekonomi. dan Tanggapan Bentuk tertulis (contoh: surat. komunikasi. dan dengan menggunakan mekanisme perwakilan yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan butir b) dibawah : a) Penetapan lingkup masyarakat terkena dampak Penetapan lingkup warga masyarakat terkena dampak pada tahap penyusunan KA-ANDAL dilakukan atas kesepakatan bersama antara instansi yang bertanggungjawab. Pendapat. dan tanggapan masyarakat yang disampaikan.1 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilaksanakannya keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: 1) Melindungi kepentingan masyarakat. d) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL: Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang AMDAL. HAK DAN KEWAJIBAN 2. 1. PENDAHULUAN 1. e) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). pendapat. Masyarakat Terkena Dampak: Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/ atau kegiatan. dan RPL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Penyampaian Saran. RKL. c) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan. dan tanggapan dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. ANDAL. Masyarakat Pemerhati: Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. email) atau bentuk cetak (contoh: surat pembaca di media massa) sehingga mudah didokumentasikan. Dalam proses ini. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak. dan/atau tanggapan atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL dan dokumen KA-ANDAL. b) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL).

Contoh : • adanya perbedaan antara kelompok warga masyarakat terkena dampak akibat isu konflik sosial budaya dengan kelompok akibat isu pencemaran lingkungan. RKL. dengan lama minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. 3) Menyampaikan rangkuman hasil saran. pendapat. dan lain sebagainya. dan tanggapan dari warga masyarakat serta respon dan sikap atas saran. (3) Mengacu pada batas wilayah dampak yang ditetapkan dalam studi AMDAL Warga masyarakat yang terkena dampak haruslah warga yang memang berada di dalam wilayah dampak yang batas-batasnya ditetapkan dalam studi AMDAL. pendapat. Demikian pula halnya pada saat ditemukannya alternatif mitigasi dampak dalam RKL dan RPL. Contoh : • identifikasi dampak dan wilayah sebarannya pada saat KA-ANDAL mungkin hanya menghasilkan satu kelompok masyarakat terkena dampak. Penetapan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. dan RPL kepada warga masyarakat yang berkepentingan. proyek peremajaan kota. Kriteria dan syarat wakil masyarakat terkena dampak adalah: (1) Seseorang yang diakui sebagai juru bicara dan/atau mendapat mandat dari kelompok masyarakat terkena dampak. pembuatan infrastruktur desa. Ukuran minimal tidak boleh dijadikan alasan tidak lengkapnya lingkup materi yang disampaikan. (3) Pengumuman pada papan pengumuman harus sekurang-kurangnya: • Ditulis dengan warna hitam dan dasar putih.2 Kewajiban Instansi yang Bertanggung Jawab Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai penyusunan AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Media cetak lokal dan nasional. 4) Menyediakan informasi tentang proses dan hasil keputusan penilaian dokumen KA-ANDAL dan ANDAL. termasuk juga pendapat-pendapat yang saling bertentangan. atau bentuk-bentuk pengakuan lainnya yang ditetapkan dan disetujui oleh kelompok masyarakat terkena dampak yang diwakilinya (misalnya: menetapkan tokoh masyarakat formal seperti Kepala Desa dan LKMD. • Berukuran minimal 60 x 100 cm 2 (4) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita ataupun spot iklan. (1) 2. Wujud dari pengakuan ini dapat berupa bukti yang sifatnya formal (misalnya: surat persetujuan bersama dari kelompok masyarakat yang diwakili). dan (4) Pusat dan/atau tempat pengumuman resmi yang ditetapkan dan diatur oleh instansi yang bertanggung jawab. dan lain-lain). dan tanggapan dari warga masyarakat yang disampaikan. • Ditulis dengan huruf cetak standar dengan ukuran minimal 12. (2) Memperhatikan jenis isu pokok/dampak besar dan penting yang muncul Sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan bisa memiliki lingkup warga masyarakat yang terkena dampak berbeda-beda menurut jenis isu pokok/dampak besar dan penting. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman (1) Semua bentuk pengumuman baik tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 2) Mendokumentasikan dan mengolah saran.b) Memperhatikan karakter rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diusulkan Contoh : • jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat setempat berarti menjadikan seluruh masyarakat setempat sebagai kelompok yang terkena dampak (misalnya : proyek pembukaan lahan pertanian skala besar. disampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. Warga masyarakat terkena dampak memilih sendiri wakilnya yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. (2) Papan pengumuman kantor instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat dan/atau daerah. lingkup warga masyarakat yang terkena dampak dapat membesar/mengecil. dimana kemudian dapat memunculkan kelompok masyarakat terkena dampak yang tidak teridentifikasi sebelumnya. (2) Menyuarakan semua bentuk aspirasi dan pendapat masyarakat yang diwakilinya secara apa adanya. (3) Melakukan komunikasi dan konsultasi rutin dengan masyarakat yang diwakilinya. dan 5) Memfasilitasi terlaksananya dengan baik hak warga masyarakat atas informasi dan berperanserta dalam proses AMDAL. (4) Memperhatikan tahapan proses kajian AMDAL Semakin jelas permasalahan dan alternatif mitigasi dampak. atau proyek pertambangan terhadap masyarakat suku terasing). • jenis usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pengaruh positif atau negatif besar pada satu kelompok masyarakat tertentu menjadikan hanya sebagian masyarakat menjadi kelompok yang terkena dampak (misalnya: proyek transmigrasi/ pemindahan pemukim perambah hutan yang akan mempengaruhi penduduk yang dipindahkan dan penduduk yang akan menerima. 237 . atau informal seperti tokoh adat dan tokoh agama setempat sebagai wakil yang disepakati). (2) Pengumuman tertulis di media cetak harus berukuran minimal 5x3 cm 2 dan ditulis dengan huruf standar sekurang-kurangnya berukuran 10. dan dapat ditambahkan dengan (3) Media elektronik televisi dan/atau radio. dan tanggapan warga masyarakat tersebut kepada Komisi Penilai AMDAL. namun pada saat evaluasi dampak akan dapat teridentifikasi kelompok masyarakat terkena dampak baru. pendapat.

pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat.2.3 Kewajiban Pemrakarsa Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum memulai penyusunan dokumen AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Papan pengumuman di lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. media cetak. Warga masyarakat yang berkepentingan berhak menyampaikan saran. yang teknisnya diatur dalam butir 2) sub bab 2. 2) Menyelenggarakan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan dalam penyusunan dokumen KA-ANDAL. dan tanggapan dari warga masyarakat. terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan.3. 4) Menanggapi saran. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. serta cara penanganannya. dan tanggapan dari warga masyarakat 4) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. (2) Papan pengumuman di lokasi-lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. dan 2) Mengumumkan waktu. dan tanggapan yang disampaikan oleh warga masyarakat yang berkepentingan 3. Unit yang membidangi AMDAL. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. f) Dampak lingkungan hidup yang akan timbul. dan/atau media elektronik.p.2. c) Jenis usaha dan/atau kegiatan. lokakarya. dan/atau • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Daerah : Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I u. pendapat.2. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dan (3) Media lain yang dianggap tepat dengan situasi setempat. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). RKL. 2) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : 1) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. d) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. dan tanggapan dari warga masyarakat. dengan tembusan kepada Pemrakarsa.2 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Pada saat penyusunan KA-ANDAL. 238 . b) Jenis usaha dan/atau kegiatan. pendapat. pendapat. 3) Mengumumkan hal-hal: a) Nama dan alamat pemrakarsa. c) Nama dan alamat pemrakarsa. ANDAL. b) Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan. Instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL dengan ketentuan: 1) Mengumumkan hal-hal: a) Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/ atau kegiatan.1 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL Pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL wajib: 1) Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab. dan h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan. 2) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. 3) Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL. TATA CARA KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL 3. surat. dan disampaikan kepada: • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Pusat : Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan u. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I.1. pendapat. d) Produk yang akan dihasilkan. seminar.p. pendapat. kapasitas dan lokasi kegiatan). misalnya brosur. dan e) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman Spesifikasi tampilan pengumuman sesuai dengan ketentuan b) dalam butir 1) sub bab 2. dan tanggapan. dan RPL kepada warga masyarakat yang memerlukannya. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuanpertemuan publik. 3. dengan tembusan kepada Pemrakarsa.

1. PENDAPAT. dan/atau pemrakarsa.4 Tahap Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL. 3. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. 75 hari) KEPUTUSAN KELAYAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BAPEDAL/GUBERNUR 3. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. DAN TANGGAPAN KONSULTASI PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN.3 Tahap Penilaian KA-ANDAL Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan. DAN TANGGAPAN PENILAIAN KA-ANDAL OLEH KOMISI (maks. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa. DAN TANGGAPAN PENILAIAN ANDAL.1. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. pendapat. RKL.BAGAN PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggung jawab Pemrakarsa PENGUMUMAN RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PENGUMUMAN PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL SARAN. Sonny Keraf 239 . PENDAPAT. 75 hari) PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. PENDAPAT. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. pendapat. A. RPL OLEH KOMISI (maks. ttd Dr. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. 4. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan ini. maka keputusan ini akan ditinjau kembali.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran I Keputusan ini. Mengingat : Kedua : Ketiga : Keempat : Kelima : Keenam : Ketujuh : Sudarsono. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699).H. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran IV Keputusan ini. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum dicabut. 3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). a. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Februari 2000 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Dengan ditetapkannya Keputusan ini. A. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran III Keputusan ini. b. 240 . 1. S. Yang dimaksud dengan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Ringkasan Eksekutif dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif sebagaimana dimaksud dalam lampiran V Keputusan ini. ttd Dr.

penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan: 241 . dan waktu yang tersedia. Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman bentuk. Efisiensi Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. dan penyusun studi ANDAL. dalam menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil keputusan dan perencanaan. Tujuan dan fungsi KA-ANDAL 3. sasaran.2. 4. 5. Karena itu.1. Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. 4. tetapi yang terpenting adalah juga bagi pengambilan keputusan. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa. Demikian pula rona lingkungan hidup akan berbeda menurut letak geografi. Keanekaragaman ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Namun dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33 s/d Pasal 35 PP. KA-ANDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan. Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah: a. ANDAL lebih menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut terhadap lingkungan hidup. KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL. Hasil studi kelayakan ini tidak hanya berguna untuk para perencana.2. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi AMDAL. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal. Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL. Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun akan berbeda-beda.LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) A. b. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah pemrakarsa. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL 4. Sungguhpun demikian. tenaga. berlainan dengan bagian studi kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi. keanekaragaman faktor lingkungan hidup. 3. tujuan. ukuran. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Karena itu. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. 6. dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam. dan sebagainya. Keterbatasan sumber daya Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. b. PENJELASAN UMUM 1. dana. Karena itu. Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah: a. Nomor 27 Tahun 1999. dan sebagainya. dan sebagainya. 3. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritias manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. instansi yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. Dengan demikian KAANDAL diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang harus ditelaah. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL Menurut Pasal 2 PP. pengaruh manusia. 4. tata kaitan antara keduanya tentu akan sangat bervariasi pula. metode. 2. Dengan cara ini ANDAL dapat dilakukan secara efisien. seperti antara lain: keterbatasan waktu. instansi yang bertanggung jawab.1. tenaga. KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa mengurangi mutu pekerjaan ANDAL.3. dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati selama menyusun ANDAL.

• Kesempatan kerja dan usaha. Hutan Konservasi. maka dalam studi ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan hidup. • Kualitas udara. Wawasan KA-ANDAL Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. satu sama lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan. perencana dan pengelola lingkungan hidup berupa: • Alternatif usaha dan/atau kegiatan • Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup • Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup 7. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. • Keanekaragaman hayati. • Warisan alam dan warisan budaya. • Kesehatan masyarakat. seperti antara lain: • Pemilikan dan penguasaan lahan. c.Pengumpulan data dan informasi tentang • Rencana usaha dan/atau kegiatan • Rona lingkungan hidup awal Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup awal sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan Penentuan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan Evaluasi dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 242 . Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan hidup. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah dan sistematis. • Sumber daya air. Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-ANDAL terutama dalam proses pelingkupan. • Taraf hidup masyarakat. 8. teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya dampak negatif yang lebih besar. maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup yang berciri: i. b. • Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup. d. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya. seperti antara lain: • Hutan Lindung. Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak besar dan penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. • Kenyamanan lingkungan hidup. dan Cagar Biosfer. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan: a. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri. Sehubungan dengan hal tersebut. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak yang terlibat. ii.

Pada tahap ini daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis. waktu dan tenaga. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang tersedia (dana dan waktu).1. konstruksi dan operasi. dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar. jumlah sampel yang diukur. sehingga diperoleh daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. Dari ruang rencana usaha dan/ atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. sosial. dan/atau c) interaksi kelompok (rapat. atau penting tidaknya dampak.Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena melalui proses ini dapat dihasilkan: a. dan/atau e) daftar uji (sederhana. Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut ini: a) penelaahan pustaka. Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek. dan/atau f) matrik interaksi sederhana. termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. dan/atau h) pelapisan (overlay). Pelingkupan wilayah studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak besar dan penting. masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan lapangan (observasi). dan/atau b) analisis isi (content analysis). Daftar dampak besar dan penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. dan lain-lain). serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. batas sosial. Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak besar dan penting. Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang akan dilakukan. b. instansi yang bertanggungjawab. instansi yang bertanggung jawab. Pertama. Metoda yang digunakan pada tahap ini adalah interaksi kelompok (rapat. kuesioner. Posisi batas proyek ini agar dinyatakan juga dalam koordinat. brainstorming. dan/atau d) metoda ad hoc. 2) Evaluasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. baik dari ekonomi. dan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. pemrakarsa. Untuk jelasnya proses pelaksanaan pelingkupan dapat mempelajari Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sesuai Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-30/MENKLH/7/1992. maupun ekologis. 8. 243 . Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. instansi yang bertanggungjawab serta masyarakat yang berkepentingan. segenap dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. dan/atau i) pengamatan lapangan (observasi). c. Kegiatan identifikasi dampak besar dan penting ini terutama dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL). 3) Pemusatan dampak besar dan penting ( Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan/mengorganisir dampak besar dan penting yang telah dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan hidup yang dapat mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal: • Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan dengan komponen lingkungan hidup yang mengalami perubahan mendasar (dampak besar dan penting). deskriptif). 8. lokakarya. Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metoda yang digunakan. lokakarya. Pelingkupan dampak besar dan penting Pelingkupan dampak besar dan penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut: 1) Identifikasi dampak potensial Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (primer. • Keterkaitan antar berbagai komponen dampak besar dan penting yang telah dirumuskan. dampak besar dan penting yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya. Dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting ditelaah. Isu-isu pokok lingkungan hidup tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan.2. dan/atau g) bagan alir (flowchart). batas ekologis. Kedua. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: 1) Batas proyek Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. dan para pakar. brainstorming). dan batas administratif. sekunder.

1. waktu. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan. BAB II. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan. 3) Batas sosial Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). dana. Dengan demikian. B. c. RUANG LINGKUP STUDI 2. teknis dan ekonomis. maka batas sosial ditetapkan dengan membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek. dan metode telaahan. Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan (misal.Batas ekologis Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air. udara).2. c. tehnik.1. maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. c. Mengingat dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menyebar tidak merata. ekologis serta komunitas masyarakat yang berada diluar batas proyek dan ekologis namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. 244 2) .1. dimana proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. b. Komponen usaha dan/atau kegiatan yang ditelaah yang berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkannya.Tujuan dan kegunaan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah: a. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampakdampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a. b. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi ANDAL. Kebijaksanaan Regional. Lokal dan Perusahaan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. namun penentuannya disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki keterbatasan sumber data. seperti waktu. batas HPH. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. b. c. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN BAB I. Mengidentifikasikan rona lingkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. b. Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Tujuan dan kegunaan proyek.Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah a. mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan mendasar akibat aktifitas usaha dan/atau kegiatan. kemudian diperluas ke ruang ekosistem. 4) Batas administratif Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di dalam ruang tersebut. ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup: 1. tenaga. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL Yakni ruang yang merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas. batas kuasa pertambangan). dan tenaga).

1.4. bagan alir.Lingkup wilayah studi Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek. 245 . nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/ atau kegiatan.Metode evaluasi dampak besar dan penting Pada bagian ini diuraikan metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. overlay) untuk digunakan sebagai : a. LAMPIRAN Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perizinan yang berkaitan dengan proyek dimaksud. dan mengukur komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan mendapat dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya. Disamping itu harus dilampirkan pula biodata personil penyusun ANDAL.3. Metoda formal dan non formal digunakan dalam memprakirakan besaran dampak. Sementara untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar digunakan Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Menelaah.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya. PELAKSANAAN STUDI 4. 3. ekologis. 4. BAB V. Bab ini agar dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat menggambarkan batas wilayah proyek. identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. 4.Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. sosial dan administratif. mengamati.1. METODE STUDI 3. ekologis. Evaluasi dampak besar dan penting secara holistik tersebut di atas harus mencakup baik dampak yang tergolong besar dan penting maupun tidak sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya. 4.Biaya studi Pada bagian ini diuraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan studi ANDAL. 2.3.2. mengamati dan mengukur komponen lingkungan hidup yang diperkirakan terkena dampak besar dan penting. Tata cara pelingkupan agar mengacu pada serangkaian proses pelingkupan sebagaimana dimaksud di dalam penjelasan umum. Komponen lingkungan hidup yang ditelaah karena terkena dampak.Lingkup rona lingkungan hidup awal a. BAB VI.Waktu studi Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab. BAB III. dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan.2. butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat (masyarakat yang berkepentingan). BAB IV. maka pengukuran terhadap besaran dampak kumulatif akibat berbagai usaha dan/ atau kegiatan tersebut mutlak diperhitungkan. 3. b. Dalam hal ini. Uraikan dengan singkat mengenai rona lingkungan hidup yang terkena dampak.Isu-isu pokok Uraikan secara singkat isu-isu pokok yang dapat ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai hasil pelingkupan. uraikan secara jelas untuk setiap komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. Perlu diketahui bahwa Ketua tim penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL B sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan.Metoda pengumpulan dan analisis data Pada bagian ini jelaskan metode pengumpulan dan analisis data baik primer dan/atau sekunder yang sahih dan dapat dipercaya (reliabel) untuk digunakan: a. sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala teknis yang dihadapi. DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini uraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan penyusunan dokumen KAANDAL. b. nama dan keahlian dari masing-masing anggota penyusun AMDAL.2.Metode prakiraan dampak besar dan penting Pada bagian ini jelaskan metode yang digunakan dalam studi ANDAL untuk memprakirakan besaran dampak dan penentuan tingkat kepentingan dampak. nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL.Penyusun studi AMDAL Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan. 2. 2.4. Menelaah.3. Data rona lingkungan hidup semaksimal mungkin menggunakan data aktual di lapangan. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan bersifat terpadu atau berada dalam suatu kawasan. b.

d.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. Memuat uraian singkat tentang : a. BAB I. Tujuan dan kegunaan proyek. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. konstruksi. c. Uraikan secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. b.Dampak besar dan penting yang ditelaah a. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan. b. perencana. e. c. 3. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan.Tujuan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. c. yang dihadapi selama menyusun ANDAL.1. bila dipandang perlu. 2. Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan dan lingkungan. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) RINGKASAN Ringkasan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa. Aspek-aspek yang diteliti sebagaimana dimaksud pada butir 2. termasuk masyarakat. b. c dimaksud mengacu pada hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan untuk ANDAL. a. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. sehingga dapat : 1. terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. c. operasi maupun pasca operasi. d. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media massa. Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan mengacu pada hal-hal yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan. d. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup : 1. RUANG LINGKUP STUDI Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak besar dan penting yang ditelaah serta wilayah studi. b. 2. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Mengidentifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. B. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah. dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan. BAB II. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 2.1. Kaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan dampak besar dan penting yang ditimbulkan (isu-isu pokok hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen KA-ANDAL). Merumuskan RKL dan RPL. terutama komponen usaha dan/atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. d.1. 1. PENJELASAN UMUM 1. terutama komponen lingkungan hidup yang langsung terkena dampak. b. Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak besar dan pentingnya. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan (PP Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 1). b. Baik pada tahap prakonstruksi. Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL baik AMDAL kegiatan tunggal. AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL kegiatan dalam kawasan. 246 . c. Landasan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan.LAMPIRAN II: KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. Uraikan dengan singkat kondisi rona lingkungan hidup yang terkena dampak.2.

yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 4. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta. yang berskala memadai. Penyusun ANDAL : 1) Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. Hubungan ini perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai. Hutan lindung.b. sumber daya alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi.kegiatan yang berada di sekitarnya. d. 4.3.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan . serta hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya.2. yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. c. seperti pemukiman (lingkungan hidup binaan manusia umumnya). overlay).1. 2.b. maka jenis data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder harus bersifat sahih dan dapat dipercaya ( reliable) yang diperoleh melalui metoda atau alat yang bersifat sahih. sosial budaya.Metoda pengumpulan dan analisis data a. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada Bab II butir 2. c. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala memadai.1. maka berikan uraian tentang masingmasing alternatif lokasi tersebut sebagaimana dimaksud pada butir a. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. Alternatif usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil studi kelayakan (misal: alternatif lokasi. Pemrakarsa : 1) Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. METODA STUDI 3. dan lingkungan hidup alami yang terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. Pengumpulan data dan informasi untuk demografi. Penggunaan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. sumber mata air. 3. dan dapat memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya.Metoda prakiraan dampak besar dan penting Uraikan secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak usaha dan/atau kegiatan dan penentuan sifat penting dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 2. b. Bila berdasarkan studi kelayakan terdapat beberapa alternatif lokasi usaha dan/atau kegiatan. atau teknologi proses produksi).3. dan b. dermaga dan sebagainya). sosial ekonomi. suaka margasatwa.Kegunaan dan keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan Uraian yang memuat tentang kegunaan dan keperluan mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus dilaksanakan. Uraikan secara jelas tentang metoda pengumpulan data.Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari : a. dan hasil pengamatan di lapangan.1. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL. tata letak bangunan atau sarana pendukung. dan kesehatan masyarakat menggunakan kombinasi dari tiga atau lebih metoda agar diperoleh data yang reliabilitasnya tinggi. dan kawasan lindung lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus diberikan tanda istimewa dalam peta. metoda analisis atau alat yang digunakan. cagar alam. BAB III. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan. sungai. BAB IV.2. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan tersedianya sumber daya air. 4. suaka alam.Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan Pernyataan rencana maksud dan tujuan dari rencana usaha dan/atau kegiatan perlu dikemukakan secara sistematis dan terarah.Metoda evaluasi dampak besar dan penting Uraikan singkat tentang metoda evaluasi dampak yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. energi. a.. Bila terdapat beberapa alternatif tata letak bangunan dan struktur lainnya.Wilayah Studi Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL. baik ditinjau dari segi kepentingan pemrakarsa maupun dari segi menunjang program pembangunan. sumber daya alam hayati dan. maka alternatif rancangan tersebut diutarakan pula dalam peta yang berskala memadai. Mengingat studi ANDAL merupakan telaahan mendalam atas dampak besar dan penting usaha dan/ atau kegiatan terhadap lingkungan hidup.1. b. bagan alir.2. b. Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai. 247 . jalan kereta api. pertahanan dan keamanan.

bedeng kerja. (4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan. (5) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat. RONA LINGKUNGAN HIDUP Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin mengenai: 1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. sehingga dapat diketahui input-output dan jumlah serta kualitas limbah. demikian pula neraca bahan (material balance). listrik. Misalnya: (a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan bahan/material. 4. konstruksi. dan kualifikasi pendidikan. Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain disekitarnya Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. Disamping itu. jangka waktu masa operasi. (4) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial. bila ada. Misalnya: (1) Desain dan spesifikasi teknologi yang digunakan. jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi. BAB V. tempat asal tenaga kerja. 1) Tahap pra-konstruksi/persiapan Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pra konstruksi. (c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 3) Tahap Operasi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. yang mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis perlu mendapat perhatian. cair maupun gas dan rencanarencana pengelolaannya. 248 . (3) Rencana jumlah tenaga kerja. 4) Tahap Pasca Operasi Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pasca operasi. bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi. Dalam kaitan ini perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3. jalan darurat dan sebagainya. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan setelah masa operasi berakhir. (2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan. tempat asal tenaga kerja yang akan diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa konstruksi. gudang. jalanjalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir. (3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup. (d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan berakhir. gudang. 2) Tahap konstruksi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan selama masa operasi. (b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah). (2) Jumlah dan jenis bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak besar dan penting lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya (misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya).e. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup. baik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan yang sudah ada terhadap lingkungan hidup. Perlu juga diuraikan neraca air (waterbalance) bila usaha dan/ atau kegiatan yang akan dibangun menggunakan air yang banyak.4. Misalnya: (1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah. (c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir. hingga rencana waktu pasca operasi. air) dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Uraikan secara mendalam difokuskan pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

bulanan. danau. dan sumber daya alam lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh Pemerintah setempat baik di tingkat kabupaten. a. abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. suaka margasatwa. (c) Kadar sedimentasi (lumpur). Biologi 1) Flora (a) Peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami yang meliputi tipe vegetasi. Penyusun dapat menelaah komponen lingkungan hidup yang lain diluar dari daftar contoh komponen ini bila dianggap penting berdasarkan hasil penilaian lapangan dalam studi ANDAL ini. lahan. (b) Data periodik bencana (siklus tahunan. (f) Sumber kebisingan dan getaran. (h) Kualitas fisik. struktur geologi dan jenis tanah. sesar. Penyajian kondisi sumber daya alam ini perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram. intensitas radiasi matahari. pola migrasi. kegiatan-kegiatan longsor tanah. (e) Fluktuasi . cuci. tahunan. (b) Uraikan tentang jenis-jenis vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 2) Fisiografi (a) Topografi bentuk lahan (morphologi). kegiatan-kegiatan vulkanis. pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca terburuk. (b) Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan stabilitas tanah. rencana tata guna tanah.2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/ atau kegiatan. Fisik Kimia 1) Iklim. (c) Uraikan tentang keunikan dari vegetasi dan ekosistemnya yang berada pada wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. rawa air tawar). atau berpotensi terkena dampak besar dan penting. 2) Fauna (a) Taksiran kelimpahan dan keragaman fauna. industri. habitat. kualitas udara dan kebisingan (a) Komponen iklim yang perlu diketahui antara lain seperti tipe iklim. hutan. morfologi pantai. (d) Kondisi fisik daerah resapan air permukaan dan air tanah. banjir tahunan. lima tahunan. 4) Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut. gempa. 249 . arus dan gelombang/ombak. penyebaran. sifat-sifat dan kerawanannya yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. rata-rata). (d) Pola iklim mikro. perikanan dan lain-lain serta kawasan non budidaya seperti hutan lindung . tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. banjir bandang di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. perkebunan. (b) Rata-rata debit dekade. (c) Keunikan. rawa (rawa pasang surut. keadaan angin (arah dan kecepatan). (c) Kemungkinan adanya konflik atau pembatasan yang timbul antara rencana tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan/penentuan lokasi bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. gambar. sesar. suhu (maksimum. dan lain-lain. dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (misal: longsor tanah. terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidak stabilan. propinsi atau nasional di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 3) Data dan informasi rona lingkungan hidup Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan kerawanan bentuk lahan dan batuan secara geologis. taman nasional dan lain-lain). Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan. 5) Ruang. minimum. Berikut ini adalah beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL. potensi dan kualitas air tanah (dangkal dan dalam). keistimewaan. (c) Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut. kelembaban curah hujan dan jumlah hari hujan. grafik atau foto. populasi hewan budidaya (ternak) serta satwa dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (d) Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. b. dan tanah (a) Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha dan/atau kegiatan yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangannya di masa datang. kimia dan mikrobiologi air mengacu pada baku mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. gempa. dan sebagainya). rencana tata ruang (kawasan budidaya seperti pertanian. (g) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk keperluan lainnya seperti pertanian. baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. (e) Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 3) Hidrologi (a) Karakteristik fisik sungai. (f) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk air minum. (b) Rencana pengembangan wilayah. tingkat erosi. dan sebagainya) seperti sering terjadi angin ribut. mandi.

tingkat pengangguran). 2) Proses dan potensi terjadinya pemajanan. (c) Perikehidupan hewan penting di atas. proses disosiatif/konflik sosial. 2) Ekonomi (a) Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan. pola nafkah ganda). Sedang dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra konstruksi. (f) Kekuasaan dan kewenangan (kepemimpinan formal dan informal. (g) Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut: (a) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. kohesi sosial). jenis dan jumlah aktifitas ekonomi non-formal. (c) Pertumbuhan penduduk (tingkat kelahiran. ekonomi. (b) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik-kimia. 3) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian). dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. cagar budaya). (c) Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi (misal hak ulayat). siklus dan daur hidupnya. keluarga. dengan mengacu pada Pedoman penentuan dampak besar dan penting. (d) Warisan budaya (situs purbakala. aksesibilitas wilayah). 4) Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. 3) Dalam melakukan telaahan butir 1) dan 2) tersebut perlu diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. 7) Status gizi masyarakat. kewenangan formal dan informal. 3) Budaya (a) Kebudayaan (adat-istiadat. cara pemijahan. operasi. produk domestik regional bruto. 5) Sumber daya kesehatan. perilaku dalam daerah teritorinya. tingkat kematian bayi dan pola migrasi sirkuler. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1) Demografi (a) Struktur penduduk menurut kelompok umur. 2) Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan bagi masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan. asimilasi dan integrasi. (b) Tingkat kepadatan penduduk. 6) Kondisi sanitasi lingkungan. pekerjaan dan kekuasaan. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/ atau kegiatan. permanen). pergeseran nilai kepemimpinan). 8) Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. efek ganda ekonomi. cara memelihara anaknya. komuter. (e) Pelapisan sosial berdasarkan pendidikan. (b) Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. (c) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi. BAB VI. distribusi pendapatan. jenis kelamin. (d) Tenaga kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja. termasuk cara perkembangbiakan. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. (b) Proses sosial (proses asosiatif/kerjasama. dan pemerintah. dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup. nilai dan norma budaya). fasilitas umum dan fasilitas sosial. sosial. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. konstruksi. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. pendapatan asli daerah. 250 . dan agama. pendidikan. pola penggunaan lahan. cara bertelur dan beranak. nilai tambah karena proses manufaktur. mata pencaharian. pola pemanfaatan sumber daya alam. nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. Kesehatan Masyarakat 1) Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan.(b) Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan. agama. 4) Pertahanan/Keamanan Konflik kepentingan pertahanan dan keamanan dengan rencana pembangunan usaha dan/atau kegiatan. sumber daya alam milik umum). akulturasi. c. (h) Adaptasi ekologis. pendidikan. kelompok individu yang dominan. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat. (c) Perekonomian lokal dan regional (kesempatan kerja dan berusaha. atau sumber hama dan penyakit. d.

grafik. (b) Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. 1) Telaahan terhadap dampak besar dan penting (a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI. apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal. (e) Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam.c dan d yang telah diutarakan selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. Atau mungkin akan terus berlangsung. Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. Atau antara dampak-dampak satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis dan sinergistis. bentuk teknologi yang tak sesuai dan sebagainya. 4) Diagram. BAB VIII. atau bahkan internasional.1 dan VI. dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. usulan rencana usaha dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang akan ditimbulkannya. 4) Mengingat usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi. nasional. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruhmempengaruhi. Misalnya. umpamanya lebih dari satu generasi. LAMPIRAN Dalam bab ini hendaknya disebut bahan-bahan yang dilampirkan : 1) Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam Bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan. atau teknologi yang digunakan). rujukan bagi para pelaksana dan peneliti serta penyusun analisis dampak lingkungan hidup. keputusan. 2) Telaahan sebagai dasar pengelolaan (a) Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha atau kegiatan dan rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul. DAFTAR PUSTAKA Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. 3) Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup awal.(d) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. (c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-dampak besar dan penting yang harus dikelola.b. Apabila dimungkinkan. peta. maka telaahan sebagaimana dimaksud pada butir VI. melewati batas negara Republik Indonesia. kualifikasi. (b) Yang dimaksud dengan evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak besar dan penting lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab VI. 5) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metoda-metoda formal secara matematis.2 dilakukan untuk masing-masing alternatif. (e) Dampak penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. 251 . BAB VII. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan pembangunan. mungkin saja dampak besar dan penting timbul dari rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap rona lingkungan hidup. dalam arti apakah dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti. (d) Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini. (f) Dampak penting pada butir a. uraikan kejelasan tentang waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak besar dan penting mulai timbul. Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. atau pada tingkat pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah. 2) Surat-surat tanda pengenal. gambar. BAB IX. sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak besar dan penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif. (c) Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang akan terkena dampak positif. karena rencana usaha atau kegiatan itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia. Bahan-bahan tersebut diatas tidak perlu lagi dilampirkan dalam dokumen ANDAL bilamana telah dicantumkan dalam dokumen KA. 5) Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini. Nomor 27 Tahun 1999. sebagaimana dimaksud dalam PP. dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. regional. sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan.

tata letak (tata ruang mikro) lokasi. meminimisasi. serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis. (c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. lingkup tugas dan wewenang unit. Keterbatasan data dan informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL. belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci. (b) Pokok-pokok arahan. Rencana pengelolaan lingkungan hidup Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan penanggulangan dampak negatif. menanggulangi. atau persyaratan untuk mencegah. sosial ekonomi. dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. 2. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas: (a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. (d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah. Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL. dan bila dipandang perlu. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang “basic design” untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. 4) Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/pengendalian dampak. 252 . serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut : (a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti : teknologi. (c) Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas. (b) Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan rinci rekayasa. lengkapi pula dengan acuan literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud. (d) Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.LAMPIRAN III : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) A. mengendalikan atau meningkatkan dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat strategis. maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek). tenaga. 3. dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. kriteria pedoman. dan rancang bangun proyek. dan masih memiliki beberapa alternatif. maupun institusi. kriteria atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. sistimatis. prinsip-prinsip. sebelum investasi. prinsip-prinsip. Hal ini tidak lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi. Hal ini tidak lain disebabkan karena : (a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) relatif masih umum. Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain adalah struktur organisasi. PENJELASAN UMUM 1. serta jumlah dan kualifikasi personalnya. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. prinsip-prinsip. (b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. dalam arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi.

1) 2) PENDAHULUAN Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. (1. maupun institusi. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. dan ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di atas. c) Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya dibidang pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. sosial ekonomi. (1. serta komitmen untuk melakukan penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam bentuk mencegah. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. (2. dan bantuan peran pemerintah. akan ditempuh cara : (1. (3) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. 5) Format dokumen RKL Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL. B. singkat dan jelas. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti: teknologi. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. mengurangi. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). Pernyataan kebijakan lingkungan. (b) Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. misalnya : (2. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle).2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya Rencana Pengelolaan Lingkungan. 253 . akan ditempuh cara : (1. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan yang relevan. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. BAB I.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). 3) BAB II. (1. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERNYATAAN PELAKSANAAN Pernyataan Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani diatas kertas bermaterai. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. Sebagai misal: (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. (2) Dalam rangka mencegah.

(2) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang tergolong banyak menimbulkan dampak besar dan penting turunan (dampak sekunder. Selain itu utarakan pula dampak besar dan penting turunannya yang akan turut terpengaruh akibat dikelolanya dampak besar dan penting strategis tersebut. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. (2. tersier. 254 . Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara. (b) Sumber Dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting : (1) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha dan/ atau kegiatan.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. Perlu ditegaskan bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting saja. lazim digunakan. 2) Tolok ukur dampak Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan). 3) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting yang bersifat strategis berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut tercegah/tertanggulangi/terkendali. misalnya : (2. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. (3) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak besar dan penting turunannya. rancangan rinci rekayasa. (2) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. mengurangi. dan selanjutnya).3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. Tolok ukur yang diutarakan adalah yang digunakan dalam ANDAL. (2) Dalam rangka mencegah. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan BAB III. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut: 1) Dampak penting dan sumber dampak besar dan penting (a) Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL. Sebagai misal. dan bantuan peran pemerintah. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. maka jelaskan secara singkat komponen dampak besar dan penting tersebut. atau memperbaiki kerusakan sumber daya alam. Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. atau taraf konstruksi). dan/atau telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. Komponen atau parameter lingkungan hidup yang berubah mendasar menurut ANDAL perlu ditetapkan beberapa hal yang dipandang strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan : (1) Dampak besar dan penting yang dikelola terutama ditujukan pada komponen lingkungan hidup yang menurut hasil evaluasi dampak besar dan penting merupakan dampak besar dan penting akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.(b) (c) (1. Uraikan pula sejauh mana taraf perkembangan rencana usaha dan/atau kegiatan di saat RKL sedang disusun (studi kelayakan. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki.

tulisan. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Upaya pengelolaan lingkungan hidup yang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengolahan limbah). rancangan teknik (engineering design). maupun laporan hasil-hasil penelitian. (b) Pengawas pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. serta kemampuan pemrakarsa (tenaga. PUSTAKA Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 1997 yang meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan hidup. berkepentingan. Periode pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan : sifat dampak besar dan penting yang dikelola (lama berlangsung. Bupati/Walikotamadya. dan berbalik tidaknya dampak). Tolok Ukur Dampak.). lokasi pengelolaan lingkungan hidup. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. baik yang berupa buku.4) 5) 6) 7) 8) Sebagai misal. dana). matrik serta data utama yang terkait dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. dan Institusi Pengelolaan Lingkungan Hidup. maka cantumkan pula institusi dimaksud. maka tujuan upaya pengelolaan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. COD. Padatan Tersuspensi Total. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah pencemaran air. dll. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah. (c) Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. majalah. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. makalah. (b) Biaya personil dan biaya operasioanal. 255 . agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP 51/MENLH/10/1995. Pengelolaan Lingkungan hidup Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan sifat persebaran dampak besar dan penting yang dikelola. (c) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup. bila unit atau sarana dimaksud di dalam dokumen ANDAL dinyatakan sebagai aktifitas dari rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. 2) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta (lokasi kegiatan. Sumber Dampak. khususnya parameter BOD5. sifat kumulatif. Institusi pengelolaan lingkungan hidup Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan atau sosial ekonomi. (e) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pengelolaan lingkungan hidup. (d) Keputusan Gubernur. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. BAB V. Apabila dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan atau bekerjasama dengan pihak lain. BAB IV. dan pH. dan atau institusi sebagaimana dijelaskan pada bagian penjelasan umum butir 4. Lengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggungjawab. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pembiayaan tersebut antara lain mencakup : (a) Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkungan hidup serta biaya untuk kegiatan teknis lainnya. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : Jenis Dampak .

RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut : 1. sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. (f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan hidup. (e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. dan logam berat. mulai dari tingkat proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan). pengguna hasil pemantauan. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting tersebut. Sebagai misal. B. ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan secara acak atau sesaat. BAB II. dan jelas tentang tujuan pemantauan lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan. (d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. tepat waktu dan dapat dipercaya. (c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. BOD5. Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup yang harus dipantau.LAMPIRAN IV : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) A. kandungan minyak. pelaksana pemantauan. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan. adalah pH. Koordinasi dan kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar data dan informasi yang diperoleh. Latar belakang pemantauan lingkungan hidup a. b. Uraikan secara sistematis. Disamping skala keacuhan. dan pengawas kegiatan pemantauan. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) BAB I. yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi pada data sistematik. dan selanjutnya disebarkan kepada berbagai penggunanya. mencakup : 1) Jenis data yang dikumpulkan. PENJELASAN UMUM 1. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup. (b) Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. 5) Metode analisis data. yakni : (a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. PENDAHULUAN Pendahuluan mencakup : 1. RKL dan RPL. atau terkena dampak besar dan penting. dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam dokumen RKL. bau. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. (b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. dapat bersifat tepat guna. pihak-pihak yang berkepentingan.1. Dampak besar dan penting yang dipantau Cantumkan secara singkat : (a) Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. 4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data). Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. Sumber dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting: (a) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha atau kegiatan. 2. 3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan. 2. Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan. berulang dan terencana. Walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ). 256 . (b) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. c. singkat. tergantung pada skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. indikator yang relevan untuk kualitas air limbah dan air sungai sehubungan dengan karakteristik rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun bagi masyarakat. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL. 2) Lokasi pemantauan. Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau kegiatan. Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan. suhu. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu di pantau. warna.

dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan hidup. Perlu diperhatikan bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL. atau formulir isian yang digunakan. (d) Keputusan Gubernur. maka tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Memantau mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. sumber dampak. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. Sebagai misal. rencana pemantauan lingkungan hidup (yang meliputi metode pengumpulan data. BAB IV. dan sifat kumulatif dampak). Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan data disaat penyusunan ANDAL. Cantumkan jenis peralatan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah kualitas air limbah. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak besar dan penting yang dipantau (instensitas. 257 . PUSTAKA Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL baik yang berupa buku. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6. tujuan pemantauan lingkungan hidup. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri . A. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak besar dan penting lingkungan hidup. bentuk rencana pengelolaan lingkungan hidup. Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam Baku Mutu Lingkungan hidup. dan institusi pemantau lingkungan hidup. Padatan Tersuspensi Total. lama dampak berlangsung. BAB III. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. Institusi pemantauan lingkungan hidup Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. lokasi pemantauan lingkungan hidup. (b) Lokasi pemantauan lingkungan hidup Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. Parameter lingkungan hidup yang dipantau Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau.H. dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1.3. khususnya parameter BOD 5. S. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan hidup. ttd Sudarsono. serta metode analisis). agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP: 51/MENLH/10/1995. Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. instrumen. dan dampak besar dan penting turunan yang ditimbulkannya. berkepentingan. dan sebagai umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. yang mencakup : (a) Metode pengumpulan dan analisis data Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan. 4. Metode pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator dampak besar dan penting. COD. 5. 2. instrumen. dengan memperhatikan dampak besar dan penting yang dikelola. Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran. bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksana pemantauan lingkungan hidup Cantumkan institusi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup. (c) Jangka waktu dan frekwensi pemantauan Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. (e) Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pemantauan lingkungan hidup. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. dan pH. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab. kimia. (c) Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup. maupun laporan hasil-hasil penelitian. makalah. majalah. ttd Dr. Lampiran ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut: dampak besar dan penting yang dipantau. Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. tulisan. (b) Pengawas pemantauan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RPL. Bupati/Walikotamadya.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan serta pelaporan secara terencana. ttd Sarwono Kusumaatmadja 258 . sistematis dan berkesinambungan serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Pasal 2 Panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Bahwa panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. Menimbang : a. 4. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. kreatif dan bertanggung jawab.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-105/11/1997 TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Mengingat : 1. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Pasal 1 Untuk menjamin Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dilaksanakan dengan baik. b. 3. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 Nopember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. terkoordinasi. Bahwa mengingat hal tersebut di atas. bersungguh-sungguh. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. 2.

(2) Hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada Menteri atau Pemimpin lembaga pemerintah non departemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Tujuan: 1. I dan Tk. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Instansi Teknis/Sektor yang bertanggung jawab. LATAR BELAKANG Salah satu fungsi penting didalam AMDAL (PP 51 Tahun 1993) adalah fungsi manajemen lingkungan. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. PELAKSANA PEMANTAUAN Pemantauan dilaksanakan oleh: 1. b. c). instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dapat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. DASAR HUKUM 1. sistematis dan berkesinambungan. Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 2. dan untuk memberikan acuan bagi para pelaku pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. (2) Ketentuan tentang rencana dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. C. terkoordinasi. Untuk mewujudkan maksud tersebut. 2) Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemrakarsa dilaporkan kepada: a) Gubernur KDH Tk. Bentuk pemantauan a. bersungguh-sungguh. I dan Bupati/Walikotamadya KDH Tk. Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. 3. 3. B. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyebutkan: (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan penguji terhadap: a). (3) Dalam melaksanakan pengawasan. 2. II yang bersangkutan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL. maka perlu disusun Pedoman Umum Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Pasal 11 ayat (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. 2. 259 .Lampiran : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 105 Tahun 1997 Tanggal : 14 Nopember 1997 PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) A. Dalam kaitan ini. II yang bersangkutan. Pemantauan tidak langsung (pasif) 1) Pemantauan tidak langsung (pasif) adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan tertulis oleh pihak lain. kreatif dan bertanggung jawab sehingga kualitas lingkungan dapat dipertahankan sesuai dengan fungsinya. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 4. Pemda Tk. PELAKSANAAN PEMANTAUAN 1. MAKSUD DAN TUJUAN Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL bagi kegiatan wajib AMDAL ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam melaksanakan pemantauan dan pelaporan pelaksanaan RKL dan RPL. BAPEDAL Wilayah. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. SASARAN Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. pemantauan pasif dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa. E. Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. b). Pemrakarsa usaha atau kegiatan. Pasal 25. F. Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan pelaporan secara terencana. BAPEDALDA TK I dan BAPEDALDA TK II. Fungsi manajemen lingkungan ini berupa pelaksanaan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). D.

Biaya Penyusunan Laporan. Koordinasi ini meliputi : Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi usaha atau kegiatan yang akan dipantau. Memeriksa dan mencocokkan seluruh pelaksanaan RKL dan RPL sesuai dengan dokumen. Secara keseluruhan. Bagi Instansi\Pemerintah. c. c. Melakukan pemantauan bersama. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 November 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan ttd. BAPEDAL. Instansi teknis/sektor 2) Langkah-langkah pemantauan: a. Melakukan pemantauan di lapangan. Pemantauan ini dilakukan oleh : a. Metode pelaksanaan RKL dan RPL dilakukan dengan cara: a. b) Dasar pertimbangan untuk menentukan sasaran pemantauan (uji petik) aktif pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan. kendala dan hambatan dalam pelaksanaan RKL dan RPL. Bila diperlukan. e. Permintaan Instansi tertentu. Sarwono Kusumaatmadja 260 . Mempelajari dokumen AMDAL. melakukan pengambilan contoh limbah untuk diuji di laboratorium atau keluaran pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. bila perlu pihak Laboratorium Lingkungan) dan Pemerintah Daerah (Tingkat I dan II) dimana usaha atau kegiatan itu berada. Biaya pemantauan antara lain meliputi: . b. d. digunakan sebagai: a) Masukan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pengelolaan lingkungan. Melakukan koordinasi dengan Instansi yang bertanggung jawab. dll. Oleh Instansi yang menerima laporan hasil pemantauan tersebut.b. Melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan atau masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan yang dipantau. meliputi : manajemen.Lumpsum. . BAPEDAL Wilayah. 4) Metode pemantauan di lapangan. 3) Frekuensi pemantauan lapangan dilaksanakan menurut kebutuhan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana disebutkan pada butir 2) huruf a di atas. Untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pemantauan di lapangan. maka pembiayaan dan penyediaan fasilitas pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL terintegrasi dalam manajemen usaha atau kegiatan yang direncanakan sejak dokumen AMDALnya disusun. c) BAPEDAL Pusat. Mengetahui apakah pihak-pihak tersebut telah melaksanakan pemantauan terhadap usaha-usaha atau kegiatan yang akan dipantau termasuk hasil-hasilnya. . 3) Instansi lain yang terkait. pelaksanaan pemantauan dapat menggunakan Formulir-1 dan Formulir-2. Menentukan sasaran usaha atau kegiatan yang akan dipantau. PENUTUP Hasil pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL yang sudah dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak lain tersebut perlu terus dipantau secara periodik untuk mengetahui apakah rekomendasi hasil pemantauan itu benar-benar dilaksanakan oleh pemrakarsa atau tidak.Biaya Analisis Laboratorium H. G. 5) Pelaporan hasil pemantauan lapangan Hasil pelaksanaan pemantauan disusun dalam bentuk pelaporan yang kemudian dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak Instansi Pemerintah sebagaimana telah disebutkan pada butir 2) huruf c. b. dan BAPEDAL Daerah. laporan pemrakarsa mengacu pada Formulir-3. b) Instansi Teknis/Sektor yang memberi ijin. Pemantauan langsung (aktif) 1) Pemantauan secara aktif adalah pemantauan yang langsung dilakukan di lapangan atas pelaksanaan RKL dan RPL.Biaya transportasi . Usaha atau kegiatan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap lingkungan. unit intern organisasi pengelolaan lingkungan. masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan. dengan memperhatikan/ mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Usaha atau kegiatan yang besar dan komplek permasalahan lingkungannya. Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan. Instansi terkait (termasuk. Format laporan hasil pemantauan Pemrakarsa atas pelaksanaan RKL mengacu pada Formulir-1 dan untuk pelaksanaan RPL mengacu pada Formulir-2. Bagi pemrakarsa. BAPEDAL. khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan yang akan dipantau. serta memeriksa kebenaran laporan pemantauan yang dilaksanakan oleh Pemrakarsa. pengelolaan limbah. d. b. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan. PEMBIAYAAN Untuk memperlancar pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan diperlukan dukungan dana dan fasilitas. Melakukan diskusi dengan pihak Pemrakarsa tentang manfaat. Hasil pemantauan (pasif dan atau aktif) yang telah dilakukan. Wilayah dan Daerah. atau Lembaga Swadaya Masyarakat. sumber pembiayaan dan pemenuhan fasilitas pemantauan RKL dan RPL disediakan dari masing-masing Instansi. Laporan disusun dengan sistematika sebagaimana pada Formulir-4.

Formulir-1 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RKL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN RKL NO PENGELOLAAN 4 5 6 7 8 TEKNIS PELAKSANAAN HASIL PELAKSANAAN/TEMUAN LAP ANGAN KENDALA/MASALAH 3 DA P PE G M AK NTIN SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R TINDAK LANJUT/ REKOMENDASI 1 2 261 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Formulir-2 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RPL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN METODA LOKASI W AKTU TEKNIS PELAKSANAAN HASILPEMANTAUAN TINDAKLANJUT RKL N O D M A P NTIN A PK E G SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R KENDALA/MASALAH REKOMENDASI P ARAMETER Y ANGDIP ANTAU METODA LOKASI W AKTU 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 12 1 2 262 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Sumber dampak penting . RKL . RINGKASAN R K L Tuliskan ringkasan RKL. B. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL. Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL.Jenis dampak penting .Lokasi .Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis laboratorium). BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan tolok ukur.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai. .Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada).Proses kegiatan/produksi BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A. . antara lain meliputi: . C. B.Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. LATAR BELAKANG . TUJUAN .Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Jenis dampak penting .Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai. antara lain meliputi: .FORMULIR 3 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHA ATAU KEGIATAN : LOKASI : PEMRAKARSA : TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN A.Metode Pemantauan .Jenis dan atau tahapan kegiatan . RPL . D.Pengelolaan dampak penting B.Sumber dampak penting .Kapan mulai beroperasi . HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) .Tolok ukur dampak penting .Waktu Pemantauan BAB III HASIL PELAKSANAAN A. RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. .Lokasi Pemantauan . antara lain meliputi: . 263 .

RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL. Temuan Lapangan RKL. antara lain meliputi: .Tuliskan tujuan pemantauan ini sesuai dengan butir C dalam Panduan Umum Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Proses kegiatan/produksi E. meliputi : hasil pemeriksaan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Pemrakarsa.Jelaskan kenapa pemantauan ke usaha atau kegiatan yang dipilih ini dilakukan (alasan dan hasil yang diinginkan).Pengelolaan dampak penting B. HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) .Kapan mulai beroperasi . 264 . RINGKASAN RKL Tuliskan ringkasan RKL. BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Metode Pemantauan . .Uraikan kenapa pemantauan RKL dan RPL ini penting.Proses beroperasinya alat pengelolaan lingkungan. LATAR BELAKANG . C.Jenis dan atau tahapan kegiatan . . meliputi: .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pengelolaan lingkungan.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. WAKTU .Tuliskan kapan waktu pemantauan berlangsung.Lokasi Pemantauan . . .Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan jika ada.Jenis dampak penting .Lokasi .Dapat ditambahkan tujuan lain bila memang diperlukan.Tolok ukur dampak penting . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Unit organisasi yang melakukan pengelolaan lingkungan.Sebutkan nama-nama petugas dan dari lnstansi/Unit mana. . antara lain meliputi: . PELAKSANAAN . .Sumber dampak penting .Jenis dan spesifikasi alat pengelolaan lingkungan.Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Sumber dampak penting . D. B. . antara lain meliputi .Bentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemrakarsa. .Waktu Pemantauan BAB III TEMUAN LAPANGAN/HASIL PENGECEKAN/HASIL PENGUKURAN Temuan lapangan dibagi menjadi empat hal: a. F.Jenis dampak penting .Formulir – 4 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHAATAU KEGIATAN : LOKASI PEMRAKARSA PETUGAS PELAKSANA / INSTANSI : TANGGAL : : : BAB I PENDAHULUAN A. TUJUAN .

Unit organisasi yang melaksanakan pemantauan lingkungan.LAMPIRAN Lampirkan dokumen dan atau informasi yang dirasa perlu. meliputi hasil pemeriksaan pelaksanaan pemantauan.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pemantauan lingkungan jika ada. Peta. . d. LAMPIRAN .b. dll.: . . 265 . Bandingkan hasil temuan lapangan.Proses beroperasinya alat pemantauan lingkungan. termasuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan oleh Pemrakarsa tetapi tidak termuat dalam dokumen RKL dan RPL.Keterlibatan masyarakat sekitar dalam pemantauan lingkungan. . . Gambar-gambar. Copy hasil uji limbah di laboratorium dsb.Bentuk pemantauan lingkungan yang dilaksanakan. Kesimpulan berisi hal-hal yang berkaitan dengan tingkat ketaatan Pemrakarsa dan situasi-kondisi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. BAB V REKOMENDASI Penulisan Kesimpulan dan Rekomendasi sebaiknya dipisahkan antara RKL dan RPL.Jenis dan spesifikasi alat pemantauan lingkungan. antara lain: Photo-photo. kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang terkait. Rekomendasi berisi saran tindak secara teknis. temuan lapangan/hasil pengecekan.Frekuensi dan kontinuitas pengoperasian pelaksanaan pemantauan lingkungan. . Temuan Lapangan RPL. konkret dan yang dapat diterapkan (applicable) oleh Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL. . Uraikan kendala dan hambatan Pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pemantauan lingkungan. c.Dalam memberikan rekomendasi/saran tidak perlu memperhatikan: dokumen RKL dan RPL. perkembangan teknologi yang relevan. masing-masing dengan dokumen RKL dan RPL. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan baik kegiatan maupun kualitas lingkungannya.

Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. Bahwa dalam pedoman penyusunan AMDAL. c. dan kondisi kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Setiap jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL harus melakukan kajian terhadap aspek kesehatan masyarakat pada rencana tapak (tipologi kegiatan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). 3. Menimbang : a. dan dikelola dengan baik. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. d. ttd Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. b. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP-124/12/1997 TENTANG PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN AMDAL KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Kedua : Ketiga : Keempat : Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Mengingat : 1. 060030827 266 . untuk itu setiap usaha atau kegiatan pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat. kajian aspek kesehatan masyarakat dirasakan kurang memadai untuk melakukan analisis dampak guna menyusun rencana pemantauan serta pengolahan dampak kesehatan. perlu dikaji secara mendalam. Bahwa aspek kesehatan masyarakat. Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada diktum kedua di atas dilaksanakan sesuai dengan Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL. 4. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-39/MENLH/8/1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan serendah mungkin. tipologi lingkungan). merupakan bagian dalam penyusunan AMDAL. 2. masyarakat yang akan terpajan. perlu dilakukan pengkajian aspek kesehatan masyarakat. media lingkungan. Dadang Danumihardja NIP. Bahwa kesehatan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 5.

TUJUAN Panduan ini merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk: 1. adalah hasil studi untuk mengkaji kemungkinan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup dan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan. manusia yang terpajan dan bentuk dampak kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) 267 . PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). manusia. terdapat dua komponen pokok yang tidak terpisahkan berkaitan dengan kajian aspek kesehatan masyarakat. Salah satu peraturan pelaksanaan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/ 3/1994 antara lain menyatakan bahwa kajian dampak penting dilakukan terhadap komponen biologi-kimia-fisika. perubahan parameter lingkungan. Membantu menyajikan hasil kajian yang informatif. vektor penyakit. III. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah tersebut telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2. Kondisi sanitasi lingkungan 7. dan kecelakaan). Status gizi masyarakat 8. biologis dan kimia dan kualitas parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek kesehatan Dampak Lingkungan.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN I. udara. dan pengelolaan dampak. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit B. Sumber daya kesehatan 6. 3. kejadian keracunan. dapat dipergunakan pendekatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. Kajian aspek kesehatan masyarakat yang ditelaah meliputi: 1. masyarakat terpajan (biomarker). Dua komponen pokok tersebut mencakup berbagai metoda. yaitu analisis terhadap potensi besarnya dampak. emisi/ambien. model pendekatan seperti epidemiologi. makanan. Memahami keterkaitan antara jenis usaha atau kegiatan. maka diperlukan kajian aspek kesehatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian-kajian komponen lain dalam studi AMDAL yang mencermati potensi besarnya dampak (risiko) kesehatan. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. kesehatan dan keselamatan kerja (K3). dengan kualitas kesehatan Iingkungannya. 4. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. kinerja laboratorium. Dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dengan demikian bahasan aspek kesehatan akan lebih terfokus dan terkait dalam permasalahan atau isu pokok dan suatu rencana usaha atau kegiatan yang mencakup dua hal penting yaitu perubahan kualitas lingkungan dan dinamika masyarakat disekitar rencana lokasi yang diperkirakan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. serta kajian komunikasi massa untuk diseminasi informasi. higiene. material) yang tercermin dalam sifat fisik. Membantu mempermudah proses pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL. Sedangkan kesehatan lingkungan merupakan kondisi dari berbagai media lingkungan (air. RUANG LINGKUP A. tanah. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 3. II. dan sanitasi. sosial dan kesehatan masyarakat. Untuk menggambarkan potensi besarnya dampak dan keterkaitan (asosiasi) antara parameter lingkungan dengan masyarakat yang terpajan. Kajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan untuk setiap fungsi dokumen: 1. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. yang menggambarkan kondisi pengukuran pada sumber. dan dampak interaksi (prevalensi dan insidensi penyakit. Kesehatan masyarakat merupakan kondisi ketahanan fisik dan psikis dari suatu komunitas di daerah tertentu yang merupakan implementasi dan interaksi antara perilaku yang merupakan cermin dan kebiasaan hidup. Untuk memberikan panduan sebagai arahan dalam melakukan studi guna mengkaji aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL.

media lingkungan (ambien. Identifikasi Dampak Potensial Identifikasi dampak potensial dilakukan melalui penilaian terhadap parameter lingkungan (fisik. simulasi/model Dengan mengacu Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep. Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat kebiasaan pemanfaatan air kebiasaan penggunaan bahan “reppelent” atau pelindung kebiasaan penggunaan Insektisida kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan (berobat. referensi yang relevan. Potensi besarnya dampak terjadinya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. telaah hasil uji dan analisis laboratorium 5. telaah kegiatan proyek 2. biologis. dsb) 4.14/MENLH/3/1994 dan substansi yang dijelaskan pada butir 2 pelingkupan. maka identifikasi dampak potensial dan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL dapat disusun sebagai berikut. studi banding terhadap hasil studi yang pernah dilaksanakan 7. baik akut maupun kronis seperti : keracunan. PENDAHULUAN Kerangka Acuan ANDAL pada dasarnya merupakan suatu arahan berdasarkan hasil perlingkupan dalam menentukan batasan permasalahan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang dampak penting. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. Seberapa besar/luas usaha atau kegiatan memerlukan pengerahan sumber daya manusia (lokal dan pendatang) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki potensi untuk menimbulkan penyakit menular? 3. Yang berhubungan dengan perindukan vektor (binatang perantara penyakit) perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat berkembang biaknya vektor telaah data atau informasi dan studi kesehatan lingkungan survei malarlometrik dan studi epidemiologi tentang penyakit bersumber binatang pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 3. Hal-hal yang diperhatikan dalam perlingkupan kajian aspek kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. kanker. yaitu prediksi. besarnya dampak kesehatan yang kemungkinan dapat timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan masyarakat terpajan (“population at risk”). II. tanah dan makanan) jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (di masa depan) telaah data dan informasi berdasarkan studi toksikologi. telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan referensi yang relevan 3. telaah data dan informasi berdasar pengamatan lapangan (survei. Dampak potensial hipotesis ini kemudian disusun dalam suatu daftar guna dinilai berdasarkan pandangan masyarakat. penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit Metoda pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dan suatu asosiasi atau hubungan antara parameter lingkungan. kelainan reproduksi dan penyakit menahun lainnya? 268 . Sumber daya kesehatan 6. 1. perlu diperhatikan: penyebaran bahan pencemar di media lingkungan (air. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit? 2. dan pertimbangan para pakar untuk memperoleh dampak potensial. emisi). sehingga diperoleh dampak penting hipotesis. dsb) B. Status gizi masyarakat 8. telaah para ahli/profesional 8. Kondisi sanitasi lingkungan 7. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING A. telaah hasil penggunaan/uji binatang percobaan 6. sosial) yang kemungkinan akan menjadi berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat. Dengan demikian karakteristik spesifik dampak penting dan setiap rencana usaha atau dapat diprediksi secara lebih cermat dan akurat. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. udara. kontak penderita. yang menggambarkan potensi. Ukuran atau nilai dan evaluasi dampak potensial dapat mempergunakan pertimbangan dari beberapa pernyataan di bawah ini: 1. Seberapa besar usaha/kegiatan membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan mempunyai potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan dampak potensial yang dipandang tidak relevan.ANDAL) I. studi epidemiologi dan studi kesehatan lingkungan pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 2.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN 124 Tahun 1997 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (KA. melalui: 1. observasi. Yang berhubungan dengan cemaran.

udara dan tanah. batas ekologis. Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan: a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada batas proyek di atas (butir 1). Untuk itu perlu diidentifikasi apakah di dalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang derajat kesehatannya dapat berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. sinergistik. 269 . dan biologi serta aspek sosial yang akan terganggu. konstruksi. keganasan maupun kelainan reproduksi. yang dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan. 3. penderitaan seumur hidup dan atau kematian. C. vektor penyakit. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada batas ekologi di atas (butir 2). dan mikroba secara terus-menerus atau periodik sehingga menimbulkan penyakit dan atau kematian. dan karakteristik spesifik lingkungan serta penduduk disekitar tapak lokasi rencana kegiatan yang diarahkan pada lingkup ekologi yang terkena dampak fisik. batas sosial dan batas administrasi. 4. Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut: a. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan (scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan (screening) untuk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara cermat dan mendalam sedemikian rupa sehingga diperoleh isu pokok. dan pasca konstruksi? c. Daftar dampak potensial yang diperoleh dari huruf C tersebut selanjutnya dievaluasi sehingga diperoleh dampak penting kesehatan masyarakat. Batas administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. dan kronis. 3. Keterkaitan antar komponen dampak penting yang telah dirumuskan secara holistik. penurunan intelegensia gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel atau mutasi DNA yang berakibat kelainan genetik. tahapan kegiatan maupun dampak komulatif yang terjadi Dalam proses pemusatan (focussing). kimia. dikaitkan dengan akses komunitas masyarakat terhadap pelayanan dan sarana. Keterkaitan rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting) 2. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang memiliki riwayat menyandang penyakit tertentu yang endemis dan penyakit menular potensial wabah? b. Batas Ekologis Batas ekologis ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia karena daya dukung lingkungan sedemikian rupa sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat? Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting (“focussing”) bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan dan dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang isu-isu pokok permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan risiko kesehatan secara utuh dan lengkap. parasit. Jumlah penduduk Peningkatan jumlah penduduk yang terkena dampak di masa depan dan rencana usaha atau kegiatan sehingga berpengaruh terhadap status kesehatan melalui proses akumulasi. serta pertumbuhan usaha non formal di sekitar lokasi proyek.serta sumber daya kesehatan. baik menurut waktu. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat vektor penyakit yang dapat berkembang dalam masa pra konstruksi. dengan mempertimbangkan tipologi usaha atau kegiatan. Seberapa besar usaha atau kegiatan dapat menurunkan secara berarti pemenuhan makanan dan gizi masyarakat dari generasi ke generasi? 5.4. Lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak kesehatan dan rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. Disamping batas-batas yang telah ditetapkan dalam pedoman seperti batas proyek. maka kajian aspek kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan batasan epidemiologi dari penyakit yang ada disekitar tapak lokasi. III. maka penjabaran batas-batas yang tertuang dalam pedoman dapat diuraikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Sifat dampak (akut dan kronis) Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpengaruh terhadap proses penularan penyakit akibat perubahan interaksi antara manusia dengan habitat vektor penyakit. Beban ekonomi Meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat dampak dan rencana usaha atau kegiatan sehingga masyarakat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan kesulitan akses terhadap sarana kesehatan yang ada. Apakah di dalam batas lingkungan proyek mengandung bahan berbahaya (toksik) yang berpotensi sebagai bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan? 2. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. bahan material dan manusia itu sendiri. c). 2. Berkaitan dengan masalah epidemiologi. penyusun aspek kesehatan masyarakat dalam AMDAL perlu diperhatikan prioritas kepentingannya sebagai berikut: 1. dengan memperhatikan: 1. yang berkait erat dengan batas ekologis dan sosial yang akhirnya ditetapkan sebagai batas wilayah studi.

penyusunan aspek kesehatan masyarakat dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. biologi dan sosial dan masalah kesehatan masyarakat. karena tidak semua parameter harus diteliti. 2. Parameter lingkungan dan kesehatan serta metoda prakiraan dan evaluasi dampaknya pada kesehatan masyarakat. satuan analisis (rumah tangga. desa. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk mempertajam kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. pengumpulan data sekunder. Sehubungan dengan hal tersebut. wawancara mendalam (indepth interview). rujukan. A. Media lingkungan yang menjadi wahana transportasi bahan berbahaya dan kondisi lingkungan yang menunjang terbentuknya habitat vektor penyakit. bahan-bahan pustaka dan bahanbahan referensi lain yang relevan yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. II. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data 1. Arahan pokok dan panduan ini yang perlu tercantum dalam dokumen ANDAL mencakup dua hal.Lampiran 2. 2. studi epidemiologi dan pustaka lainnya yang relevan. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). tetapi akan menyebar secara spesifik tergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. Dampak penting aspek kesehatan masyarakat dan suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat.LAMPIRAN III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) I. beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: 1. 3. serta metoda prakiraan dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain: observasi / pengamatan lapangan. ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. Uraian rencana usaha atau kegiatan yang berhubungan erat dengan aspek kesehatan masyarakat. kabupaten. dokumen-dokumen ANDAL dan kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). 6. Evaluasi dampak kesehatan masyarakat. referensi (data statistik. untuk itu perlu pemahaman akan sifat komponen dan keterkaitannya dari sudut pandang aspek kesehatan masyarakat. Sebagai alat bantu untuk melengkapi angka 3 dan 4 tersebut di atas. Metode pengumpulan dan analisis data dan butir-butir di atas. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek kesehatan masyarakat yang terdapat dalam KA. 4. melalui penelusuran data dan informasi dari hasil-hasil penelitian. mengikuti pedoman baku yang telah ditetapkan. peta. 2. 4. 5. Beberapa proses dan langkah penyusunan ANDAL akan disinggung kembali bila diperlukan disesuaikan dengan kekhususan kajian. wawancara dengan menggunakan kuesioner. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. 5. Demikian pula format penyusunan ANDAL. metoda & uji laboratorium). 3. Dan angka 3 tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kajian komponen aspek kesehatan masyarakat yang tertera pada KA ANDAL dapat mengalami penambahan dan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan antara aspek fisik-kimia. Komponen lingkungan dan masyarakat yang diteliti harus bersifat spesifik lokasi. 270 . waktu dan dana. studi kesehatan lingkungan. yaitu metodologi dan deskripsi dari kajian aspek kesehatan masyarakat. propinsi) yang akan diukur. panduan ini difokuskan pada substansi pokok yang perlu dikaji berdasarkan permasalahan pokok. Sementara itu teknis penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara umum tetap mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 . dengan memperhatikan: 1. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat secara epidemiologis: perubahan mendasar atau dampak penting lingkungan yang akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. SERTA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. Prakiraan dampak kesehatan masyarakat. ketersediaan tenaga. Memperhatikan posisi tersebut.

derajat kepekaan yang dikehendaki. Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. dan sampel biologis dan masyarakat sekitar tapak lokasi. Sementara kecenderungan dimaksudkan sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda. Besaran dampak mencakup jenis. dan biaya tidak langsung sebagai akibat dampak hilangnya produktivitas. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. dan “Cost of illness (COI)” .KA ANDAL) dan metoda yang digunakan untuk pengumpulan dan analisis data (butir A di atas).memperkirakan biaya dampak melalui perhitungan kesediaan masyarakat membayar untuk menghindari atau menurunkan dampak. Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang diperkirakan terkena dampak. baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Metoda Prakiraan Dampak Prakiraan dampak merupakan telaahan untuk melihat besaran dan kecenderungan timbulnya dampak kesehatan masyarakat. Untuk itu indikator ekonomi kesehatan yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Ada dua cara pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk menilai biaya dampak kesehatan. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas bila perlu dapat digunakan secara simultan agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. attributable. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini derajat keseragaman (homogenitas) dan populasi. Data ekonomi ditekankan pada beban masyarakat akibat dampak kesehatan (penyakit cedera) yang timbul. diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . C.7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. makin besar jumlah sampel yang harus diambil.056 tahun 1994. dan relative risk) Analisis biaya dampak kesehatan Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. Metoda Evaluasi Dampak Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. Jadi metoda yang akan digunakan hendaknya merupakan rangkuman dari dua hal tersebut. Secara umum evaluasi dampak penting mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal No. Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan antara lain adalah: Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif Analisis jalur pemajanan di masa depan Analisis risiko epidomiologis ( absolute risk. wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. Dalam hal pengambilan sampel untuk keperluan uji laboratorium sebagai kelengkapan pengumpulan data parameter lingkungan. baik secara langsung maupun tidak langsung. sebaran dan beban yang diproyeksikan kepada jumlah penduduk terkena dampak. Kep.memperkirakan biaya langsung untuk pengobatan. yaitu: Metoda “Willingness to Pay (WTPJ)” . biaya langsung bukan untuk pengobatan. 3. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 . Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain: teknik pengambilan sampel secara purposive. Metoda ini perlu disesuaikan dengan isu pokok (lihat lampiran II . dan kondisi lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kelayakan aplikasi teknik yang dipilih. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan jenis dan sifat parameter dampak penting yang akan diukur. Beberapa arahan penting untuk menetapkan prakiraan dampak penting dan aspek kesehatan masyarakat adalah: prevalensi penyakit yang berhubungan dengan vektor cukup tinggi - 271 . perlu diperhatikan tingkat “representativeness” dan karakteristik spesifik dan lingkungan dan karakteristik spesifik dan jenis “biomarker” tertentu yang kemungkinan akan berkait erat dengan dampak dan rencana usaha atau kegiatan. Metoda analisis data yang dapat digunakan adalah metoda analisis dampak kesehatan lingkungan dan metoda epidemiologi. yakni telaahan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak lingkungan terkait erat dengan masalah kesehatan masyarakat. pandangan dan aspirasi mereka. diperlukan “value judgement” dari penyusun AMDAL. 5. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap biaya yang umumnya dikeluarkan untuk jenis atau benda dampak tertentu. sifat. 4. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. teknik pengambilan sampel secara acak (random).B.

terutama aspek kesehatan masyarakat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) yang akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. dampak kesehatan akan timbul setelah periode waktu tertentu. 8. bahan-bahan berbahaya tersebut menimbulkan dampak yang tak terpulihkan. perilaku masyarakat yang berisiko cukup besar. 4. Informasi yang diperlukan untuk penyusunan rona lingkungan dan kesehatan masyarakat antara lain: 1. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan di wilayah studi. 6.. 9. 6. IV. Prevalensi penyakit menular. Status kesehatan penduduk. ekonomi yang kemungkinan besar mempengaruhi kepekaan penduduk yang terkena dampak. misalnya banyak masyarakat yang menggunakan air sungai. 7. maka rencana kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak seperti yang dinyatakan pada Bab Evaluasi Dampak (Butir II C). Akses dan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang mekanisme dispersi. 5. misalnya menyebabkan kanker. sarana atau jangkauan pelayanan kesehatan yang masih sangat terbatas. Data lain atau hasil studi yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan. persebaran “bahan berbahaya” cukup luas sehingga memungkinkan terjadinya jalur-jalur pemajanan di masa depan yang cukup luas pula. Karakteristik demografis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Pada dasarnya uraian rencana usaha atau kegiatan adalah seperti apa yang telah ditetapkan dalam pedoman umum. 12. Perilaku spesifik penduduk yang berhubungan dengan risiko. perlu dijelaskan dalam laporan studi ANDAL terinci pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. 3. 3. 4. 10. manusia rentan terhadap “bahan berbahaya” yang dibuang oleh kegiatan yang direncanakan cukup besar jumlahnya. Penggunaan lahan saat ini dan dimasa depan. Umumnya. 8. Penggunaan atau pemanfaatan sumber daya alam. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. atau merusak tanaman pangan yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. 11. Karena itu kecenderungan dan kapan kemungkinan dampak itu akan terjadi dijelaskan disertai justifikasi ilmiah yang memadai atau asumsiasumsi yang dapat diterima. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang penyakit yang berkaitan dengan pencemaran yang berhubungan dengan kegiatan yang direncanakan. Hasil prakiraan dampak penting aspek kesehatan masyarakat hendaknya dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan terjadi. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Deskripsi terbaik tentang emisi atau effluen atau perubahan kondisi fisik (perkembangan habitat vektor). Contoh data set untuk kegiatan pembangunan industri yang direncanakan: 1. Karakteristik fisik (hidrogeologis dan iklim) di wilayah kegiatan yang direncanakan. bahan-bahan berbahaya mengganggu kebutuhan hidup manusia. 2. sosial. Analisis dampak kesehatan pada alternatif rencana usaha atau kegiatan. Karakteristik epidemiologis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. Dari aspek kesehatan masyarakat. 9. absorpsi di udara.- - adanya spesies vektor penyakit di lokasi kegiatan yang direncanakan. bahan-bahan berbahaya tersebut sangat resisten di alam dan kumulatif sehingga pada jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatan penduduk yang cukup luas. misalnya pencemaran air tanah sehingga banyak masyarakat tidak memperoleh persediaan air bersih yang memadai. 2. dsb. Perumusan sistem pemantauan kesehatan untuk dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang direncanakan. absorpsi. cacat dalam kandungan. 272 . Kondisi kehidupan penduduk terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti akses kepada penyediaan air minum dan makanan dan sarana kesehatan. III. Analisis dampak kesehatan jangka panjang dan pendek. Deskripsi terbaik tentang jenis kegiatan yang direncanakan. 7. air dan tanah. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan masyarakat pada saat studi ANDAL berlangsung. Identifikasi cara-cara menghilangkan atau mengurangi dampak kesehatan dan prakiraan biaya yang diperlukan. Informasi tentang faktor lingkungan. V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING . 5.

diuraikan sifat penting dan besar dampak kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf b di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. dalam arti akan berlangsung terus selama kegiatan itu berjalan termasuk juga periode waktu kemungkinan dampak itu akan terjadi. maka dampak penting aspek kesehatan masyarakat untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika diatas. Misalnya logam berat yang terkonsumsi melalui tata perairan akan menimbulkan penyakit X setelah Y tahun. bila dampak penting kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf a. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dan suatu rencana usaha atau kegiatan. f. Pada bagian keempat.C. c. b dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dan segi positif dan atau negatif. sebagai misal: 1. Kemungkinan itu perlu disampaikan dalam studi ANDAL. Untuk itu studi ANDAL Kawasan. e. Pada bagian dua. Secara khusus perlu pula dijelaskan hubungan antara rencana kegiatan. termasuk pula apakah masyarakat yang terkena dampak tersebut terbatas pada lokasi kegiatan yang direncanakan atau akan tersebar cukup jauh dan lokasi kegiatan itu. b. Ciri dampak penting kesehatan masyarakat itu juga harus dijelaskan. EVALUASI DAMPAK PENTING Hal penting dalam evaluasi dampak penting adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau informasi dan hasil analisis aspek kesehatan masyarakat dengan standar persyaratan dan atau kriteria kesehatan dan berbagai media lingkungan (“environmental pathways”). maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjut tersebut. baik langsung maupun tidak langsung. sementara sungai itu menjadi sumber daya alam yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk budi daya pertanian.Pada setiap isu kesehatan masyarakat yang diprakirakan mengalami dampak penting dibahas melalui sistematika sebagai berikut: a. Apabila dampak kesehatan masyarakat itu dapat dihitung dalam bentuk kerugian biaya. maka sajikan cara perhitungannya. Meskipun pada umumnya dampak kesehatan timbul setelah periode tertentu. dampak penting itu timbul karena rencana usaha atau kegiatan secara kontinyu membuang logam berat ke perairan (sungai). Pada bagian pertama. dan Regional perlu diberikan perhatian yang lebih besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dan gangguan pernapasan yang ditanggungnya. Dampak terhadap gangguan sistem pernapasan penduduk di sekitar rencana usaha atau kegiatantimbul sebagai akibat dari emisi bahan-bahan berbahaya. uraikan tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan angka gangguan pernapasan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha atau kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf ll. Metode Prakiraan Dampak. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: 056 Tahun 1994) dan kriteria yang digunakan seperti contoh pada butir II. VI. 273 . d. Hasil telaahan evaluasi dampak penting hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan diarahkan kepada alternatif tindakan yang harus diambil untuk mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan kemungkinan timbulnya dampak sehingga memudahkan pengambil keputusan menggunakan data evaluasi dampak penting ini. Pada bagian tiga.B. tetapi tidak menutup kemungkinan adanya gangguan kesehatan masyarakat yang bersifat Iangsung. Penjelasan terhadap kelompok masyarakat yang akan terkena dampak perlu mencakup karakteristik demografik dan epidemiologi. 2. rona lingkungan dan kemungkinan timbulnya dampak kesehatan. Misalnya. Terpadu/multisektor.

Penyediaan daerah penyangga dan sarana umum seperti taman rekreasi dan sarana olah raga.Memantau “bahan berbahaya” pada titik-titik di media lingkungan yang menjadi jalur penyebaran.Pemilihan lokasi pembangunan yang akan menghindari atau mengurangi efek gangguan vektor yang ada dan mencegah perkembangan perindukan vektor. Karena itu pemantauan harus diarahkan kepada jalur pemajanan yang berhasil dikenali pada butir prakiraan dampak. misalnya memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam air sumur yang digunakan penduduk. . .Memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dan manusia. . antara lain: . . khususnya pada pemantauan biomarker. . perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk mencegah atau meminimisasi dampak dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh untuk tidak timbulnya dampak kesehatan. periode waktu harus disesuaikan dengan saat timbulnya dampak.Menciptakan kondisi lingkungan baru: konstruksi bebas banjir dan manipulasi lingkungan mencegah perindukan vektor.Memar.LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Rencana Pengelolaan Lingkungan (lampiran III .Memantau cara kontak antara media lingkungan yang mengandung bahan berbahaya dengan manusia. antara lain: . . Mengingat dampak kesehatan masyarakat timbul karena terbentuknya jalur pemajanan antara sumber dampak dan manusia rentan. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut di atas.Pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi.Kewaspadaan penggunaan lahan dimasa datang. . LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (lampiran IV Kep 14/MENLH/3/1994). Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Dari aspek kesehatan masyarakat. .Kep-14/MENLH/3/1994). 060030827 274 . Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut diatas. Dari aspek kesehatan masyarakat. Disamping itu. Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. apakah melalui minum atau kontak kulit.Kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan (pelayanan kesehatan). . . Dadang Danumihardja NIP.Pengendalian dampak kumulatif pada wilayah usulan baru yang akan bertambah atas pembangunan yang telah ada.Pengelolaan sampah yang dihasilkan dan kegiatan yang direncanakan. atau biomarker pada manusia kontak sesuai dengan periode yang diperlukan. .Pengelolaan tata ruang kota terhadap kesehatan mental dan kualitas lingkungan permukiman.Memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam emisi atau effluen kegiatan yang direncanakan. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk dapat melakukan pemantauan dampak kesehatan masyarakat secara tepat dan efisien. ttd. .

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). bahwa komponen aspek sosial merupakan bagian yang perlu dikaji secara mendalam dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap komponen tersebut dapat dikelola dengan baik. 2. Pasal 2 Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. b. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. c. dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. ttd Sarwono Kusumaatmadja 275 . dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Mengingat : 1. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dirasakan kurang memadai untuk melakukan kajian aspek sosial. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Pasal 1 Aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah telaahan yang dilakukan terhadap komponen demografi. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. Menimbang : a.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-299/11/ 1996 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. ekonomi.

Komponen sosial yang ditelaah meliputi : 1. penelaahan pustaka e. analisis isi g. Dengan demikian diharapkan Peraturan Pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.2.1.4. Ekonomi. dan 1. Budaya. Demografi 1. RUANG LINGKUP 1 . maka pedoman teknis kajian aspek sosial menjadi penting dalam penyusunan AMDAL dan ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kajian-kajian komponen lain. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 2.1.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN A.2. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN ( KA-ANDAL ) 1. pengamatan lapangan f. sub-komponen dan parameter sosial yang dapat diidentifikasi sebagai dampak potensial dapat dilihat pada Tabel 1: Daftar Komponen.1. Namun keadaan yang demikian masih berjalan belum sebagaimana yang diharapkan. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 2.3. 276 . Berkenaan dengan angka 2. 2. interaksi kelompok. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2.3. C. Sub. 3.1.Komponen dan Parameter Sosial terlampir. Beberapa komponen. bagan alir d. Karena itu. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek sosial dalam penyusunan AMDAL. matrik interaksi sederhana c. PENGERTIAN Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasikan dampak penting potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan. ini sangat dirasakan akibat lemahnya acuan yang digunakan sebagaimana tersebut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Memahami keterkaitan aspek biogeofisik dan sosial dalam AMDAL. Membantu mempermudah proses penyusunan aspek sosial dalam studi AMDAL. Sebagai upaya untuk lebih memperjelas dalam melakukan kajian komponen sosial seperti yang telah ditentukan.Identifikasi Dampak Potensial Dalam proses identifikasi dampak potensial dapat dipergunakan beberapa metoda sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan seperti : a. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING 2. Kajian aspek sosial dilakukan untuk setiap dokumen : 2. tersebut identifikasi dampak sebaiknya didukung juga dengan teknis analogi melalui observasi pada kegiatan atau usaha sejenis yang telah beroperasi di lokasi lain dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang fenomena dampak sosial yang timbul. 2. TUJUAN Pedoman teknis merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk : 1. daftar uji b. B. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Dalam pelingkupan aspek sosial dalam AMDAL perlu diperhatikan dua hal penting yaitu : 2. khususnya kajian dampak sosial.

1. penyusun aspek sosial dalam AMDAL perlu memperhatikan: a.3.2. 3. perlu diidentifikasi apakah didalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial budayanya berpotensi berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air.Batas Administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran 1 tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. 2. ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu : 3. dan sebaliknya. 4) Interaksi sosial yang terjalin di kalangan masyarakat setempat. wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas proyek. b. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. dan sebaliknya. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk (kepadatan dan komposisi penduduk). pranata-pranata sosial (lembaga-lembaga kemasyarakatan) yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial). Struktur sosial yang dimaksud disini seperti yang dimaksud dalam angka 3. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Berdasarkan KEPMENLH Nomor 14 tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL.Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan mendeliniasi batas-batas terluar dengan memperhatikan : a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada angka 3. Batas-batas terluar dari komunitas masyarakat yang dimaksud pada huruf a. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat ? 3. Dalam proses pemusatan (focussing).Evaluasi Dampak Potensial Evaluasi dampak potensial bertujuan menyeleksi dan menetapkan komponen dampak potensial aspek sosial yang relevan untuk ditelaah. perikanan. kegiatan ekonomi. Contoh penetapan batas sosial seperti pada Gambar 1 terlampir. Dalam penetapan dampak potensial aspek sosial tersebut dapat digunakan dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini: a. 2) Struktur kekerabatan. udara dan tanah.2. 277 .1 . c. perkebunan. 3. batas sosial dan batas administrasi. tersebut selanjutnya dievaluasi untuk memperoleh dampak penting sosial.3. berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994. Hubungan sebab akibat antar komponen dampak penting aspek sosial itu sendiri.1. relokasi penduduk). dan proses penduduk (pertumbuhan dan mobilitas penduduk)? b.Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut : a.Batas Ekologis Setelah batas ekologis ditetapkan. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat. 3) Struktur pemilikan sumber daya alam baik yang bersifat formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat). Dampak rencana usaha atau kegiatan terhadap komponen lingkungan yang akan mengalami perubahan mendasar (dampak penting). pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial.Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan / mengkategorisasikan dampak penting yang telah dirumuskan sebelumnya agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan secara utuh dan lengkap. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada angka 3.4. 3. jasa dan sebagainya). Perlu diketahui bahwa batas sosial mungkin bisa lebih luas dari batas ekologis dan batas proyek. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan atau nilainilai sosial budaya yang dikandung berpotensi berubah secara mendasar akibat aktivitas pra-konstruksi (pembebasan perolehan lahan. tersebut di atas. konstruksi dan operasi dari rencana usaha atau kegiatan? Struktur sosial yang dimaksud di sini dapat berupa : 1) Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian. Dampak rencana aspek sosial yang mengakibatkan timbulnya dampak penting pada aspek fisik-kimia dan biologi. b dan c di atas merupakan batas sosial.2. dan pemilikan sumberdaya alam (property right) ? Daftar dampak potensial yang diperoleh dari angka 2.2. Berkenaan dengan penentuan batas sosial. atau pendapatan/pengeluaran rumah tangga ? c.2. b. pola mata pencaharian penduduk. batas ekologis. c) Lokasi komunikasi masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja.

proses disosiatif (konflik sosial) c. Kebudayaan a. tingkat kematian bayi c. pekerjaan d. tingkat pengangguran 2. migrasi keluar c.ekonomi c.2. Tenaga Kerja a. tingkat kelahiran b. tingkat partisipasi angkatan kerja b. aksesibilitas wilayah 3. agama. Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan 8.kelompok individu yang dominan e. Ekonomi 1. Komponen 1. Pelapisan Sosial berdasarkan : a.proses asosiatif (kerjasama) b.pola pemanfaatan sumber daya alam c. Struktur Penduduk : a.kepemimpinan formal dan informal b. Komposisi penduduk menurut kelompok umur. Budaya 1.pusat-pusat pertumbuhan ekonomi i.keluarga 4.pergeseran nilai kepemimpinan 7.tingkat pendapatan b. Ekonomi Sumber Daya Alam a.kewenangan formal dan informal c. misal hak ulayat b. permanen) 2.kekuasaan 6.adat-istiadat b.Tabel I : Daftar Komponen.sosial e. Proses Penduduk : 2. Demografi Parameter 1.nilai dan norma budaya 2. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat d.cagar budaya 5. jenis kelamin.nilai tambah karena proses manufaktur c.efek ganda ekonomi (multiplier effect) f. pola migrasi (sirkuler. fasilitas umum dan fasilitas sosial j.Sumber daya alam milik umum (commmon property) 3.pendidikan b. Mobilitas penduduk a. Ekonomi Rumah Tangga a. migrasi masuk b. dan Parameter Sosial Perhatian : Daftar komponen. Pertumbuhan Penduduk a.asimilasi dan integrasi e.kesempatan kerja dan berusaha b. Adaptasi Ekologis . mata pencaharian.pola nafkah ganda 2. agama d. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi nonformal d.1. akulturasi d. Sub komponen dan parameter aspek sosial berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi). komuter. pola migrasi (sirkuler. 278 .distribusi pendapatan e. Perekonomian Lokal dan Regional a. pola perkembangan 3. Pranata Sosial kelembagaan Masyarakat dibidang : a. Kepadatan penduduk 2.pendidikan c.kohesi sosial 3. produk Domestik Regional Bruto g. pola penggunaan lahan d. permanen) d. komputer. b. Warisan Budaya a.ekonomi. Proses sosial a.pendapatan asli daerah h.situs purbakala b. Sub-Komponen.pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam b.nilai tanah dan sumber daya alam lainnya e. Kekuasan dan kewenangan : a. pendidikan.

Lokasi instalasi pengolahan air limbah yang direncanakan dibangun. Rencana kegiatan yang dibangun terletak di daerah persawahan padi. Air dari danau buatan digunakan untuk keperluan pabrik dan keperluan domestik. Sungai X merupakan sungai penerima air limbah rencana kegiatan dibangun di lokasi tersebut. saluran irigasi Y akan menerima air limbah yang terangkut melalui sungai X. Danau buatan yang dibangun oleh rencana kegiatan khusus untuk menampung air hujan dan aliran permukaan dari daerah sekitarnya.Keterangan Gambar 1 1. 3. Jalur pipa air untuk mengalirkan air dari danau buatan yang akan direncanakan dibangun. 6. 279 . Limbah cair direncanakan dibuang di sungai (7) setelah melalui instalasi pengolahan air limbah (2). serta pengangkutan hasil produksi. Di sekitar saluran irigasi ini juga terdapat pemukiman penduduk. Air limbah yang telah melalui proses instalasi pengolahan air limbah dialirkan ke sungai X (disimbolkan dengan angka 7). Areal rencana kegiatan diperoleh dengan cara. Batas sosial yang terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada lampiran II angka 5 tentang Pelingkupan Wilayah Studi. Bila rencana kegiatan beroperasi. 7. Sungai X akan mengalir ke saluran irigasi Y (disimbolkan dengan angka 8). Ruas jalan yang dibangun menghubungkan lokasi rencana kegiatan dengan jalan propinsi. 2. pengalihan status lahan milik masyarakat setempat (ganti rugi lahan). Jalan propinsi yang akan digunakan oleh rencana kegiatan untuk keperluan mobilisasi peralatan dan bahan baik pada saat konstruksi dan operasi. Ruas jalan yang akan dibangun lahan untuk ruas jalan diperoleh dengan cara ganti rugi lahan. 4. 8. Di sekitar sungai ini juga terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah lama menghuni daerah ini. Disepanjang jalan propinsi ini terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah menghuni daerah ini sebelum rencana kegiatan dibangun. 5.

1. sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam Pedoman Umum Penyusunan ANDAL (KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994) dan dalam Tabel 1 paduan ini diteliti untuk setiap usaha atau kegiatan wajib AMDAL.4. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan. METODA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. waktu dan dana. dokumen-dokumen ANDAL dari kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). referensi (data statistik. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. propinsi) yang akan diukur. kabupaten. Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. peta.1. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). 1. Komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifikasi lokasi. e. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. Teknik pengambilan sampel secara acak (random). c. Metode analisis yang bersifat kualitatif. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek sosial yang terdapat dalam KA. 1. d. Teknik pengambilan sampel secara purposive. b. Melalui teknik ini.Lampiran III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISlS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Dalam a. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 1. Wawancara mendalam (indepth interview). Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. c. Ketersediaan tenaga. seperti analisis statistik. Rona lingkungan hidup. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . b. c. biologi dan sosial. e. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu : a. b. Presisi (ketetapan/akurasi) yang dikehendaki.3. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain : a. desa. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. b. Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. Metoda analisis yang bersifat kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. Uraian rencana usaha atau kegiatan.2. b. Sebagai alat bantu untuk melengkapi huruf c dan d tersebut di atas. b. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5-7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. Huruf c tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa komponen aspek sosial yang tertera pada KAANDAL dapat mengalami penambahan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan yang antar aspek fisik-kimia. serta metode prakiraan dan evaluasi dampak.Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini : a. d. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL perlu diuraikan : Metode pengumpulan dan analisis data sosial. c. dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL.Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. Prakiraan dampak penting. metoda prakiraan. d. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. b. Dan evaluasi dampak penting. seperti analisis isi (content analysis) 280 . Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. pandangan dan aspirasi mereka.Metoda analisis data yang dapat digunakan antara lain : a. Observasi/pengamatan lapangan. rujukan). c.Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak. dan pustaka lainnya. A. c. Wawancara dengan kuesioner. bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. Teknik pengambilan sampel secara proporsional. 1. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. d. Satuan analisis (rumah tangga. Pengumpulan data sekunder.

5. 3) Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach) .-. antara lain : 1) Penilaian pakar (professional judgement) 2) Komparatif antar budaya (cross cultural) 3) Teknis analogi 4) Metode delphi Adapun sifat penting dari besar dampak sosial yang akan terjadi ditelaah dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) 281 .1. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul menurut dokumen AMDAL sejenis. Metode Formal. Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential expenditures willingness to pay or to accept) yang terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach).-. 2) Pendekatan harga bayangan (shadow project approach).Kelompok Masyarakat Xp* tanpa Proyek P tanpa Proyek P di lokasi studi ANDAL Kelompok Masyarakat Xp* dengan proyek P* di lokasi lain Kelompok Masyarakat Xp dengan Proyek P Waktu Saat lalu Saat studi ANDAL Saat mendatang Besar dampak. b. Metode Informal. yang terkena proyek serupa (disimbolkan P*) di lokasi lain. Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value).Data ekonomi sedapat mungkin diberi nilai moneter (valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi dapat dikuantifikasi. antara lain : 1) Proyeksi penduduk (teknik ekstrapolasi) 2) Analisis kecenderungan (trend analysis) 3) Analisis deret waktu (time series analysis) b. Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktifitas (market-based Methods). diperlukan value judgement dari penyusun AMDAL. Besar dampak proyek P* terhadap masyarakat Xp* ini dapat menjadi prakiraan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp: Ilustrasi berikut memperjelas hal dimaksud. Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. 3) Pendekatan pembatasan pengeluaran (defendive expenditures approach). 2. c. Kelompok Masyarakat Xp* pada saat tanpa Proyek P* Proyek P* Dasar prakiraan Prakiraan dampak Kelompok Masyarakat Xp* -. Metode ini terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity) 2) Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of learning approach). 4) Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai penduga (hedonic pricing). 2) Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach). METODE PRAKIRAAN DAMPAK Prakiraan dampak merupakan telaahan yang menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat adanya rencana usaha atau kegiatan. Data sosial aspek lainnya yang memungkinkan diberi nilai moneter hendaknya dilakukan pula valuasi.-. Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P) terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp).-.-. termasuk yang mempunyai nilai moneter. dapat diukur melalui dua metode berikut ini : a. Metode ini terdiri dari empat (4) pendekatan: 1) Pendekatan nilai kepemilikan (property value approach). diukur dengan cara mengukur dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan masyarakat Xp (disimbolkan Xp*). 3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach). dengan kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi bila tidak ada rencana usaha atau kegiatan (pendekatan with and without project) Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. Sehubungan dengan itu ada tiga (3) metode pemberian penilaian moneter yaitu : a.

Terpadu/multisektor. terutama aspek-aspek sosial yang menurut dokumen Kerangka Acuan (KA) akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. Pada bagian pertama. B. adalah : a. Evironmental Evaluation System (EES) d. Pada bagian kedua. biologi dan sosial). b. Matrik Tiga Tahap Fischer dan Davies e. dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. bila ada alternatif lokasi atau teknologi dari rencana usaha atau kegiatan maka 282 . Penyerapan tenaga kerja khususnya dari masyarakat setempat 3. Bersifat fleksibel. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dari segi positif dan atau negatif. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. maka uraian rencana usaha atau kegiatan perlu memuat data dan informasi yang antara lain mencakup : 1. Bersifat dinamis. uraikan isu-isu pokok lingkungan yang terdapat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) dan komponen dampak penting lingkungan hasil dari prakiraan dampak penting.2. mengenai Metode Prakiraan Dampak. metode tersebut sesuai dengan kondisi rona lingkungan dan karakteristik rencana usaha atau kegiatan yang ditelaah. 2. Bagan Alir Dampak c. Bersifat komprehensif. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dari suatu rencana usaha atau kegiatan. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan sosial di wilayah studi. d. Pada bagian tiga. c. Sistem bahasan sebagaimana pada angka 1 tersebut di atas berlaku pula untuk dampak penting yang mempunyai nilai moneter. C. baik yang positif maupun negatif. metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting lingkungan sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. METODE EVALUASI DAMPAK Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. Kebijaksanaan dan cara pembebasan/perolehan lahan 2. b. 2) Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dari berubahnya tingkat pendapatan. Setiap komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak penting) dibahas melalui sistematika sebagai berikut : a. mengenai Metode Evaluasi Dampak. EVALUASI DAMPAK PENTING 1. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 1. Pada bagian keempat. Untuk studi AMDAL Kawasan. b.3. dan skalanya berbeda serta dampaknya berbeda. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek sosial yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. bila dampak penting sosial yang telah diutarakan pada huruf a. dengan menggunakan metode yang telah diuraikan pada huruf A. c. Evaluasi dampak penting dilakukan dengan sistematika sebagai berikut : a. dan Regional perlu diberikan perhatian yang besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. dalam arti proses peleburan nilai-nilai yang satuannya berbeda harus dilakukan melalui proses yang secara ilmiah dibenarkan. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjutan tersebut. Disamping itu bila menggunakan bobot atau skala. diuraikan sifat penting dari besar dampak sosial yang telah diutarakan pada huruf b tersebut di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) d. c. sebagai misal : 1 ) Dampak terhadap pendapatan masyarakat di sekitar rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai dampak lanjutan dari perubahan pencaharian dan kesempatan berusaha. Beragam dampak penting lingkungan tersebut ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-mempengaruhi. sejauh mungkin penyusun aspek sosial ANDAL memperhatikan atau menghimpun masukan dari masyarakat yang terkena dampak. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode evaluasi dampak yang tepat untuk studi ANDAL. Rencana pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial 4. D. Bila metode yang dipakai menggunakan skala dan atau bobot maka proses peleburan (amalgamasi) harus dilakukan secara benar. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak secara holistik diantaranya adalah : a. sehingga relatif tidak ada metode evaluasi dampak yang bisa digunakan untuk semua jenis studi ANDAL. Dengan demikian. metode tersebut memenuhi syarat-syarat ilmiah. Pada bagian ke tiga. satuan. maka dampak penting aspek sosial untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika angka 1. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada saat studi ANDAL berlangsung. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana usaha atau kegiatan untuk pengambilan keputusan. e. b. USGS Matrix (Matrik Leopold) b. kondisi kesehatan masyarakat di sekitar proyek dan penyerapan tenaga kerja oleh proyek. tidak seluruh komponen sosial harus diungkapkan dalam rona lingkungan hidup. 3. Pada bagian pertama. Rencana pengembangan ekonomi masyarakat setempat. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Agar kajian dampak penting aspek sosial dapat ditelaah mendalam. dibahas/ditelaah secara holistik (komprehensip) dampak penting lingkungan (fisikkimia. Extended Cost Benefit Analysis Perlu diketahui. Pada bagian dua. uraian tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisa perbedaan kualitas lingkungan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf A. yakni telaahan secara total terhadap beragam dampak lingkungan. f. Bersifat analitis.3. metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan yang ukuran. E.

Manfaat Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah : a. 3. yang anggotanya terdiri dari pemrakarsa. mengendalikan. ttd. 4. harus mempertimbangkan prinsip saling menguntungkan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terkait. c. Sarwono Kusumaatmadja 283 . Upaya pengelolaan lingkungan tersebut perlu memperhatikan kepentingan masyarakat. Kewenangan memantau dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa. d. Hasil evaluasi tersebut harus dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan. Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah. maka di dalam dokumen perlu diutarakan teknik pengambilan sampel yang digunakan. b. dan lokasi pengambilan sampel secara jelas. 2. memantau dampak penting terhadap pertumbuhan sektor informal disekitar rencana usaha atau kegiatan. e. Pihak yang melaksanakan pengelolaan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan juga dapat instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. sejauh terdapat : a. pemerintah maupun pertimbangan pakar. pemrakarsa sebaiknya tidak hanya mengandalkan data yang diperoleh dari instrumen atau alat ukur yang dimiliki. b. dan pihak mana yang akan melaksanakan pengelolaan lingkungan. Sebagai sarana untuk uji hipotesis dampak penting yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL. Disamping itu juga harus diutarakan pada kelompok atau lapisan masyarakat mana. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. maka instansi yang bertanggung jawab dapat memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan (Pasal 11 ayat 1 PP 51/1993) LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) Di dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Apabila Analisa Dampak Lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. 3. Sebagai alat bukti untuk melindungi adanya tuntutan kerusakan atau pencemaran lingkungan.lakukan evaluasi dampak penting terhadap masing-masing alternatif tersebut. atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. dan kesehatan masyarakat maupun dari aspek sosial itu sendiri. Sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pengelolaan lingkungan. dan menanggulangi sumber dampak penting tersebut. sehingga diperoleh gambaran mengenai biaya eksternal yang akan ditanggung atau dinikmati oleh masyarakat dan atau pemrakarsa. Kesepakatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pemantauan lingkungan. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNlS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Di dalam merumuskan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. 2. melainkan juga perlu mendayagunakan informasi tentang kualitas lingkungan dari masyarakat yang terkena dampak. Kewenangan menangani atau mengelola dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa (misal. Upaya pengelolaan lingkungan aspek sosial ditempuh dengan cara mencegah. Kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak. Misalkan. 5. Dalam merancang pemantauan lingkungan bagi aspek sosial. unsur-unsur pemerintah daerah setempat. Evaluasi dampak juga dilakukan pada komponen-komponen dampak penting yang mempunyai nilai moneter. b. yang merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan. pembentukan forum komunikasi lingkungan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. Sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. Rencana pengelolaan lingkungan harus secara jelas mengutarakan upaya-upaya yang akan ditempuh untuk mencegah. menanggulangi dan mengendalikan dampak antara lain dapat berupa. dan menanggulangi dampak penting sosial yang akan timbul. 4. biologi. jumlah sampel. Bila untuk keperluan tersebut digunakan respon. serta instansi sektoral terkait. bilamana. Disamping itu pranata sosial yang sudah ada di masyarakat didayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. masyarakat sekitar yang terkena dampak. dampak penting berupa timbulnya prostitusi disekitar rencana usaha atau kegiatan). Kesempatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan. Sebagai isyarat dini tentang adanya gejala-gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. di lokasi mana. sejauh terdapat : a. 2. 3. Pihak yang melaksanakan pemantauan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan dapat juga dilakukan oleh instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. mengendalikan. baik yang bersumber dari aspek fisik-kimia. Komponen lingkungan yang dipantau difokuskan pada dampak penting yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan.

Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3538). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1990. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419).KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TENTANG PEDOMAN MENGENAI DAMPAK PENTING KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 3. 4. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Nomor 115 Tahun 1992. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting : 1. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3501). Keputusan Presiden RI Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). 2. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING Mengingat Pertama : Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini. Kedua : Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. ttd Sarwono Kusumaatmadja 284 .

termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini merupakan petunjuk dasar yang memberi arah apakah suatu rencana usaha atau kegiatan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. dan Pasal 2 dan Pasal 3 PP Nomor 51 Tahun 1993 ditentukan oleh faktor-faktor berikut: a. Sempadan Sungai f. 7. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem) j. b. Taman Wisata Alam n. b. Suaka Margasatwa. 285 . Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. UKURAN DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN 1. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu aspek lingkungan saja. 6. bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. Luas wilayah persebaran dampak. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove) k. Taman Hutan Raya m. Hutan Wisata. Dampak penting suatu usaha atau kegiatan menurut Penjelasan Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. Kawasan Hutan Lindung b. Untuk menentukan penting tidaknya dampak lingkungan akibat dilaksanakannya suatu rencana usaha atau kegiatan perlu juga diperhatikan peraturan perundangan yang berlaku baik di dalam maupun diluar wilayah negara Republik Indonesia. yakni ukuran. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan. 3. 2. muara sungai. Kawasan Rawan Bencana Alam II. e. Yang dimaksud dengan kawasan lindung menurut Penjelasan Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah sebagai berikut : a. hasil guna dan daya gunanya. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting digunakan untuk keperluan penapisan rencana usaha atau kegiatan dan penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL).LAMPIRAN KEPUTUSAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TANGGAL : 18 Maret 1994 PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING I. AMDAL kawasan dan AMDAL Regional. 5. termasuk bagi keperluan AMDAL kegiatan Terpadu/Multisektor. Kawasan Bergambut c. Taman Nasional l. Lamanya dampak berlangsung. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut. PENGERTIAN 1. Kawasan Sekitar Mata Air h. Ukuran dampak penting tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. perairan darat. Kawasan Sekitar Danau/Waduk g. Masing-masing faktor sebagaimana dimaksud datam butir 2 tersebut memiliki seperangkat kriteria dampak penting. wilayah pesisir. standar tertentu atau prinsip-prinsip tertentu. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan. c. 4. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. dan Daerah Pengungsian Satwa) i. g. Ukuran dampak penting terhadap lingkungan. Kawasan Resapan Air d. Suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dibangun di kawasan lindung yang telah berubah peruntukkannya atau lokasi rencana usaha atau kegiatan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan lindung. gugusan karang atau terumbu karang. f. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah bernilai tinggi) o. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Intensitas dampak. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Sifat kumulatif dampak. Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. d. Sempadan Pantai e. Dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL.

Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. dampak lingkungan. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri. baik yang bersikap negatif maupun positif yang mungkin ditimbulkan oleh suatu usaha atau kegiatan. Berdasarkan pengertian ini dampak lingkungan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak. atau segi kumulatif dampak yang berlangsung hanya pada satu atau lebih tahapan kegiatan. yang bernilai tinggi. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan dapat berlangsung pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari kelangsungan usaha atau kegiatan. atau drastis. jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan di wilayah studi. sejak tahap konstruksi hingga masa pasca operasi usaha atau kegiatan. Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. dalam kurun waktu yang relatif singkat. Serta berlangsung di area yang relatif luas.c. melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan. 5. pemerintah daerah. Banyaknya Komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak Mengingat komponen lingkungan hidup pada dasarnya tidak ada yang berdiri sendiri. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. Karena itu. atau habitat alaminya mangalami kerusakan. atau tidak berbaliknya dampak. Jumlah Manusia yang Akan Terkena Dampak Setiap rencana usaha atau kegiatan mempunyai sasaran sepanjang menyangkut jumlah manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat dari rencana usaha atau kegiatan itu bila nanti usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. 2. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. atau dengan kata 286 c. yang penentuannya didasarkan pada perubahan sendi-sendi kehidupan pada masyarakat tersebut dan jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan. Mengingat pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. atau segi kumulatif dampak. . yakni hanya pada tahap tertentu dari siklus usaha atau kegiatan (perencanaan. d. Luas Wilayah Persebaran Dampak Luas wilayah persebaran dampak merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan pentingnya dampak terhadap lingkungan. Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Namun demikian. berdasarkan pertimbangan ilmiah. maka kriteria dampakpenting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di kalangan masyarakat luas berada dalam posisi atau mempunyai nilai yang penting. Dengan demikian dampak lingkungan tergolong penting bila: 1. Dengan demikian dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. b. 7. taman nasional. Intensitas Dampak Intensitas dampak mengandung pengertian perubahan lingkungan yang timbul bersifat hebat. operasi. 2. Dengan kata lain dampak suatu usaha atau kegiatan ada yang berlangsung relatif singkat. dapat dialami oleh baik sejumlah manusia yang termasuk maupun yang tak termasuk dalam sasaran rencana usaha atau kegiatan. 6. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. pasca operasi). namun ada pula yang berlangsung relatif lama. atau pemerintah pusat. suaka margasatwa. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah. Adapun yang dimaksud dengan manfaat dari usaha atau kegiatan adalah manusia yang secara langsung menikmati produk suatu rencana usaha atau kegiatan dan atau yang diserap secara langsung sebagai tenaga kerja pada rencana usaha atau kegiatan. 3. cagar alam. konstruksi. e. dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi di kalangan masyarakat. dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan.

namun ada pula yang tidak dapat dipulihkan walau dengan intervensi manusia sekalipun. 287 . maka dampak pada suatu komponen lingkungan umumnya berdampak lanjut pada komponen lingkungan lainnya. 3. f. 2. bertumpuk. Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus. Atas dasar pengertian ini dampak tergolong penting bila: Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. tetapi karena aktivitas tersebut bekerja berulang kali atau terus menerus.lain satu sama lain saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. atau bertimbun. maka lama kelamaan dampaknya bersifat kumulatif. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Dengan demikian dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila: 1. Dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif bila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. ttd Sarwono Kusumaatmadja g. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu. Sifat Kumulatif Dampak Kumulatif mengandung pengertian bersifat bertambah. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik). Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak Dampak kegiatan terhadap lingkungan ada yang bersifat dapat dipulihkan. Dalam hal ini maka dampak bersifat penting bila: Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia.

AUDIT LINGKUNGAN 288 .

pelaksanaan. dan organisasi lingkungan hidup. termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang terkena dampak langsung atau berpotensi terkena dampak dan ketidakpatuhan. 6. Audit Lingkungan hidup yang diwajibkan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. 2. 3. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan. kelompok orang. Tim Verifikasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan yang diwajibkan. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup audit lingkungan hidup yang diwajibkan meliputi evaluasi masukan atau informasi. Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Menimbang : a. Kewenangan. 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Mengingat : 1. 4. 2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. kriteria ketidakpatuhan. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3. Tim Evaluasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan evaluasi terhadap masukan. 7. c. dan verifikasi laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan akibat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Tugas Fungsi. bahwa agar pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dapat dilakukan secara efektif maka diperlukan suatu pedoman. Tim Audit adalah sekelompok atau seorang auditor yang diberi tugas untuk melaksanakan audit dan tim audit juga dapat beranggotakan tenaga ahli teknis. informasi dan usulan untuk melakukan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. 289 . 4. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3434). 5. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 19. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Fungsi.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Pihak yang berkepentingan adalah orang seorang. Kewenangan. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. Auditor Lingkungan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan audit lingkungan. Tugas.

mencegah terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. FUNGSI DAN MANFAAT Pasal 3 (1) Tujuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan : a. ketidakpatuhan terhadap baku mutu lingkungan hidup. (3) Manfaat pelaksanaan audit Iingkungan hidup yang diwajibkan: a. meliputi: a. b. (3) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib memberikan informasi/data yang benar dan aktual kepada auditor. apabila telah melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. meningkatkan penaatan pengelolaan lingkungan hidup dan suatu usaha dan atau kegiatan. mengetahui status ketaatan pengelolaan lingkungan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Pasal 5 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dinyatakan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 6 (1) Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan apabila penanggung jawab usaha dan atau kegiatan menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. d. untuk mengetahui tingkat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. sebagai bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan Menteri tentang tindak lanjut penanganan ketidakpatuhan. ketidakpatuhan terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. (2) Audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilakukan oleh auditor lingkungan yang terdaftar dan atau auditor yang memenuhi kriteria kualifikasi sesuai dengan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . memberikan rekomendasi atas temuan-temuan pelaksanaan audit. memberikan uraian tentang penyebab terjadinya ketidakpatuhan. dan atau. maka Gubernur/Bupati/W alikota mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab suatu usaha dan atau kegiatan tersebut melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan.Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan dan bebas dari pertentangan kepentingan. c. b. dan atau.Prinsip Umum atau standar lainnya yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Fungsi audit Iingkungan hidup yang diwajibkan merupakan salah satu instrumen penaatan atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelola Iingkungan hidup. termasuk apabila terdapat pelanggaran dan atau ketidaktepatan penerapan kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup. telah terjadi hal yang sama atau berkaitan secara berulangkali. (2) Apabila Gubernur/Bupati/Walikota menilai bahwa suatu usaha dan atau kegiatan di wilayahnya menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. ketidakpatuhan terhadap persyaratan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilakukan. telah diberikan peringatan oleh Menteri dan atau Gubernur dan atau Bupati dan atau Walikota sekurangkurangnya 3 (tiga) kali dalam jangka waktu setahun terakhir dan atau patut diduga akan terjadi lagi di masa mendatang. dan. BAB IV KRITERIA KETIDAKPATUHAN DAN KEWENANGAN Pasal 4 Kriteria ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi dasar dikeluarkannya perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. d. c. b. 290 . dan atau. ketidakpatuhan yang mengindikasikan bahwa penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup atau tidak melaksanakan sistem pengelolaan lingkungan secara efektif. b. BAB V PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN Bagian Pertama Tata Laksana Pasal 7 (1) Tata laksana audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 19-14010-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan .BAB III TUJUAN. (2) Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila menunjukkan : a.

menugaskan pihak ketiga yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. b. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan membentuk Tim Audit. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan telah menunjuk auditor dengan pemberitahuan kepada Menteri. 291 . Kepala instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan hasil temuannya kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. dilengkapi dengan rancangan ruang lingkupnya. Gubernur/Bupati/Walikota dapat mengusulkan secara tertulis kepada Menteri untuk mengeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Pasal 9 (1) Gubernur/Bupati/Walikota menugaskan instansi yang bertanggung jawab di daerah untuk mengevaluasi masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan memeriksa unsur ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (3) Jumlah beban biaya pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (4) Tim Evaluasi melaksanakan kegiatan evaluasi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. atau. a. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. Pasal 10 Instansi pengendalian dampak lingkungan dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan dilengkapi dengan data pendukung.Bagian Kedua Mekanisme Pasal 8 Pihak yang berkepentingan dapat memberikan masukan atau informasi secara tertulis tentang terjadinya petunjuk ketidakpatuhan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). Menteri dapat: a. instansi yang bertanggung jawab di daerah. dengan dilengkapi data pendukung. atau. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. kelayakan untuk dikeluarkannya perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Apabila Menteri menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri membentuk Tim Evaluasi yang bertugas untuk mengevaluasi usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. setelah selesai melaksanakan evaluasi. ketidaklayakan untuk dikeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan memberikan alasan-alasan ketidaklayakan tersebut. (5) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan dan rekomendasi hasil evaluasi secara tertulis kepada Menteri selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja. (2) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur-unsur. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). b. Pasal 12 (1) Berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) huruf a. (3) Tim Evaluasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. (7) Apabila rekomendasi berupa ketidaklayakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) huruf b. instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan dan tenaga ahli dalam bidang yang terkait. Pasal 11 (1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 10 selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja. Menteri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. (6) Rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa. maka: a. Menteri memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. b. (3) Apabila Menteri tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri memberikan alasan-alasan mengenai ketidaksetujuan tersebut.

terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. Pasal 16 (1) Berdasarkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 September 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd. (4) Tugas Tim Verifikasi mencakup hal-hal sebagai berikut: a. (2) Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dengan membentuk Tim Verifikasi. menyusun laporan hasil verifikasi secara tertulis dan menyampaikannya kepada Menteri.Pasal 14 (1) Tim audit merumuskan Kerangka Acuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan ruang lingkup yang ditetapkan oleh Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah tim audit ditetapkan. Nabiel Makarim. apabila diperlukan dapat melaksanakan kegiatan verifikasi di lokasi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. 292 . c. ahli di bidang lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. melaksanakan kajian terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan.MSM. (3) Tim audit setelah melaksanakan tugasnya wajib menyerahkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara tertulis kepada Menteri. MPA. (5) Tim Verifikasi melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) paling lama 14 (empat belas) hari kerja. BAB VI INFORMASI DAN PUBLIKASI Pasal 17 Menteri mengumumkan surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada Masyarakat. b. (2) Tim audit mulai melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah Kerangka Acuan mendapat persetujuan dari Menteri. Menteri mengeluarkan surat perintah kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Menteri. b. Pasal 15 (1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat melakukan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. unsur lainnya yang dianggap perlu. terdiri dari : a. (3) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab dibidang pengendalian dampak lingkungan. BAB VII PENUTUP Pasal 18 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. (2) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan atau instansi yang bertanggung jawab di daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

pengembangan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan. sehingga dapat meningkatkan kinerja usaha atau kegiatan yang bersangkutan dalam kaitan dengan pelestarian kemampuan lingkungan. Nomor 3215).42/MENLH/XI/1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. meningkatkan kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan. 2. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal. Nomor 3538). Mengingat : 1. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara R. bahwa audit lingkungan sebagai suatu perangkat pengelolaan yang dilakukan secara dasar telah diakui merupakan alat yang efektif dan sangat bermanfaat bagi suatu usaha atau kegiatan dalam mengelola lingkungan hidup. 5. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan. Menimbang : 1. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN Pertama : Audit Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh dan merupakan tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha atau kegiatan. 4. berkala. 3. Penanggung jawab usaha atau kegiatan dapat memberikan sebagian atau seluruh laporan audit lingkungan kepada Pemerintah. terdokumentasi. : 1. Fungsi. Nomor 84 Tahun 1993. tujuan lainnya sebagaimana ditentukan oleh usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 4. mempublikasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan.I. Di tetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Nopember 1994 Menteri Negara Lingkungan Hidup. dan apabila terdapat kekeliruan maka keputusan ini akan ditinjau kembali.I. 2. 5. untuk itu hasil audit lingkungan dapat dimintakan keabsahannya dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha atau kegiatan wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan.I.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP. 3.I. dan obyektif terhadap prosedur dan praktek-praktek dalam pengelolaan lingkungan hidup. dan Tata Kerja Menteri Negara serta Organisasi Staf Menteri Negara. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. ttd Sarwono Kusumaatmadja 293 Kedua Ketiga Keempat . bahwa audit lingkungan dapat membantu menemukan upaya penyelesaian yang efektif tentang masalah lingkungan hidup yang dapat dihadapi suatu usaha atau kegiatan. masyarakat umum atau organisasi lainnya dengan tujuan. 2. : Audit Lingkungan dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara R. bahwa audit lingkungan adalah suatu proses untuk melaksanakan kajian secara sistematik. Tambahan Lembaran Negara R. bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk menetapkan suatu pedoman umum tentang pelaksanaan audit lingkungan dengan suatu keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Nomor 12 Tahun 1982. Tugas Pokok. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara R. 3.

Audit lingkungan yang dimaksud dalam keputusan ini dilaksanakan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan dan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat internal. (g) Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi energi. pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada proses dan peraturan. proses daur ulang dan efisiensi penggunaan sumber daya. efektif dan efisien. (e) Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bagan. dan media massa. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan. RUANG LINGKUP Audit Lingkungan perlu disusun sedemikian rupa. prosedur pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana tangggap darurat. melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk mengindentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya. (d) Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan pengurangan. FUNGSI DAN TUJUAN Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan pelaksanaan audit lingkungan bagi suatu usaha atau kegiatan. lebih terarah. periodik dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi. (c) Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/pemberhentian suatu usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEP-42/MENLH/XI/1994 22 NOVEMBER 1994 PRINSIP-PRINSIP DAN PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN A. dan pemegang saham. (f) Upaya untuk meningkatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan lingkungan. (e) Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam proses pengadilan. rona dan kerusakan lingkungan di tempat usaha atau kegiatan tersebut. yang berguna dalam penyempurnaan proses AMDAL. Manfaat Audit Lingkungan bermanfaat untuk: (a) Mengindentifikasi risiko lingkungan. 2. misalnya pembangunan yang berkelanjutan. penanganan limbah dan standar operasi lainnya. terdokumentasi. pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan. C. lembaga keuangan. Dengan adanya pedoman ini. 294 . 3. Fungsi Fungsi audit lingkungan adalah sebagai : (a) Upaya peningkatan pentaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan. serta isu lingkungan yang terkait. pemakaian ulang dan daur ulang limbah. misalnya: standar emisi udara. B. atau publikasi yang merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik. Definisi Audit Lingkungan adalah suatu atau manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik. Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat manajemen yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. PENDAHULUAN 1. sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan. pemerintah. (d) Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang tercantum dalam dokumen AMDAL. (c) Jaminan untuk rnenghindari perusakan atau kecenderungan kerusakan lingkungan. atau bagi keperluan kelompok pemerhati lingkungan. sehingga dapat memberikan informasi mengenai: 1. (b) Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi. minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang. (b) Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan atau upaya penyempurnaan rencana yang ada. limbah cair. (h) Menyediakan laporan audit lingkungan bagi keperluan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. (i) Menyediakan informasi yang memadai bagi kepentingan usaha-usaha atau kegiatan asuransi. (f) Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggung jawab dan staf suatu badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan dan tanggung jawab lingkungan. maka pengelolaan dan pemantauan lingkungan suatu usaha atau kegiatan diharapkan dapat dilakukan dengan baik.

Pada umumnya. perubahan rona lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai waktu terakhir pelaksanaan audit. (c) Pengukuran dan standar yang sesuai. D. program daur ulang. (d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan. uji emisi. Tata Laksana Pelaksanaan audit lingkungan perlu mengikuti suatu tata laksana audit. Apabila tidak. kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit. Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. konsiderasi product life cycle. 7. 5. catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan termasuk standar dan baku mutu lingkungan. (b) Keikutsertaan semua pihak Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 2. 8. serla dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi. 10. 6. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. sistem kontrol manajemen. 4. proses bahan dasar. PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. 9. peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan. Laporan harus memuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang serta dokumentasi terhadap proses produksi. bahan jadi. Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung. 11. Audit lingkungan harus berpedoman kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan. penggunaan energi. identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia. 13. Dengan mengacu pada tata laksana tersebut maka diharapkan adanya konsistensi dalam pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit. mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua aspek dan pelaksanaan tugas secara luas. Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan. Karakteristik dasar Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) Metodologi yang komprehensif. air dan sumber daya alam lainnya. B3 serta potensi kerusakan yang mungkin timbul. pentaatan terhadap hasil dan rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan). dan limbah termasuk limbah B3. perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat. Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan dengan jelas dan akurat. termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan kecelakaan. kajian resiko lingkungan. Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. 3. (c) Kemandirian dan obyektifitas auditor Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan usaha atau kegiatan yang diaudit. rencana minimalisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan. (d) Laporan tertulis. (b) Konsep pembuktian dan pengujian. Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat menerapkan teknik-teknik yang tepat. 295 .2. Kunci keberhasilan (a) Dukungan pihak pimpinan Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad pimpinan usaha atau kegiatan. perawatan. E. 12. uji rutin. Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci. tergantung pada kebutuhan atau kegiatan yang bersangkutan. Audit lingkungan tidak akan berarti kecuali bila kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. untuk menjamin pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi tersebut. maka obyektifitas dan kredibilitas akan diragukan. Tata laksana audit merupakan suatu rencana yang harus diikuti oleh auditor untuk dapat mencapai tujuan audit yang diharapkan. dll. rute pengangkutan bahan dan pembuangan limbah. efektifitas alat pengendalian pencemaran seperti ditunjukkan dalam laporan inspeksi. PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN 1. penggunaan input dan sumber daya alam. 14. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif dan prosedur yang telah ditentukan. Ruang lingkup audit lingkungan sangat luwes.

296 . 4. dan jadual kegiatan audit. atau harus ditentukan oleh tim auditor. Pedoman ini memuat instruksi-instruksi dan petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh auditor. (b) Checklist. Pra-audit Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit lingkungan. Tim auditor harus mengkaji hasil pertemuan secara garis besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan. Audit dengan menggunakan pedoman merupakan jenis tata laksana yang paling rinci. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan. status hukum. (d) Pedoman. (c) Daftar pertanyaan. Daftar pertanyaan seringkali digunakan dalam pelaksanaan audit. 2. Dalam menguji hasil temuan audit. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. diagram. hasil sampling dan pemantauan. rencana. Jenis ini merupakan cara yang umum digunakan yaitu dengan mempergunakan daftar yang rinci mengenai isi yang akan diaudit. atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor. tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum teridentifikasi dalam perencanaan. Seluruh dokumentasi selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit. 2. dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan. kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan. Pelaksanaan. (3) Pengumpulan data Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit lingkungan akan mencakup tata laksana audit. Pendahuluan Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang dilaksanakan. Kegiatan Lapangan (1) Pertemuan pendahuluan Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara khusus. penentuan tim auditor. Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang belum tersedia. dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut: 1. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian temuan audit lingkungan. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali. tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati. Pasca Audit Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil pelaksanaan audit lingkungan. peta. (5) Evaluasi hasil temuan Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji. (4) Pengujian Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. foto-foto. dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas di lapangan. Pada saat ini.Tata laksana audit sangat beragam dan tergantung pada jenis usaha dan karakteristik lingkungan. Pada umumnya. jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor. tata laksana. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang telah diidentifikasi. Bentuk pelaksanaan audit yang paling sederhana adalah mempergunakan daftar isian dari laporan yang akan dihasilkan sebagai acuan audit. tim auditor harus memaparkan hasil temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. (2) Pemeriksaan lapangan Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. 3. auditor telah mempersiapkan format baku untuk melaksanakan audit dan menyusun laporan akhir. Berikut ini adalah beberapa tata laksana audit yang umum dilaksanakan: (a) Daftar Isian. serta aspek yang harus diteliti. dan daftar pertanyaan tersebut harus dijawab secara lengkap oleh auditor. catatan dan hasil pengamatan tim auditor. struktur organisasi. Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang dibutuhkan. (6) Pertemuan akhir Setelah penelitian lapangan selesai. tim auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah.

297 . SIFAT KERAHASIAAN Laporan hasil audit lingkungan merupakan milik usaha atau kegiatan yang diaudit dan bersifat rahasia. G PENGAWASAN MUTU HASIL AUDIT . kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko bahaya Auditor juga perlu mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang dibutuhkan dalam audit. maka usaha atau kegiatan atau organisasi (non pemerintah) dianjurkan untuk membuat dan melaksanakan kode etik serta sertifikasi auditor lingkungan. dunia usaha atau kegiatan sesuai dengan kebebasannya dapat menyampaikan laporan audit lingkungan kepada pemerintah. Namun demikian. Auditor lingkungan harus mempunyai pendidikan yang sesuai dan memiliki pengalaman profesional untuk dapat melaksanakan tugasnya. masyarakat luas atau organisasi lainnya dengan tujuan sebagai berikut : (a) Publikasi terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilakukan. Auditor harus mengikuti kode etik auditor yang ada. meliputi: Kemampuan berkomunikasi Kemampuan perencanaan dan penjadualan kerja Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan Kemampuan untuk menulis laporan audit Auditor lingkungan harus terlatih secara profesional untuk menjamin ketepatan. konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit. kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit Potensi dampak lingkungan. Kemampuan yang harus dimiliki oleh tim auditor adalah meliputi pengetahuan tentang : Proses. Pemerintah dapat memberikan verifikasi atas hasil audit. prosedur dan teknis audit Karakteristik dan analisis tentang sistem manajemen Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan lingkungan Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan. (b) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap suatu kegiatan yang dicurigai sebagai kelalaian. (c) Tujuan lainnya yang ditetapkan oleh usaha atau kegiatan tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan peraturan pelaksanaan lainnya. penghindaran kewajiban dan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan. Dalam rangka menjamin bahwa audit lingkungan akan dilaksanakan secara baik dan profesional.F . (c) Hak pemerintah untuk meminta sesuatu informasi khusus sebagai dasar penentuan peringkat kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan: (d) Tanggung jawab dunia usaha atau kegiatan untuk menyediakan data hasil pengelolaan dan pemantauan kepada pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. (b) Antisipasi kebutuhan penilaian peringkat kinerja usaha atau kegiatan lainnya. Kebijakan audit lingkungan dalam hal ini tidak membatasi hal-hal sebagai berikut : (a) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin pada suatu usaha atau kegiatan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful