UNDANG-UNDANG

1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HlDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup lndonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup; bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

b.

c.

d.

e.

f.

Mengingat

: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

ME MUTU S KAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain; Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup; Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;

2.

3.

4.

2

5. 6. 7.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya; Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan; Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup; Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya; Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang; Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan; Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan; Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan; Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup; Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum; Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Pasal 2

8. 9. 10. 11.

12.

13. 14.

15.

16. 17.

18.

19. 20. 21.

22. 23.

24. 25.

Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

3

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. b. c. d. e. f. tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB lII HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara : a. b. c. d. e. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. 4

(3)

(2)

(2)

Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah : a. b. c. d. e. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetika; mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan, termasuk sumber daya genetika; mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9

(1) (2)

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikoordinasi oleh Menteri. Pasal 10

(3)

(4)

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup; menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup; menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat; memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. Pasal 11 (1) (2) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ketentuan mengenai tugas, fungsi, wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 12 (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat : a. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah; 5

b. setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. mengangkut. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 16 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 17 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya. pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 15 (1) (2) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi : menghasilkan. mengedarkan. 6 . Pasal 13 (1) (2) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. BAB Vl PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. menggunakan dan/atau membuang. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. menyimpan. BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) (2) (3) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain.

Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memeriksa peralatan. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. memasuki tempat tertentu. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan : a. Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Tanpa suatu keputusan izin. mengambil contoh. c. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri. 7 (2) (3) . pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup.(2) (3) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) (2) (3) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan di bidang lingkungan hidup. Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. pendapat masyarakat. Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. rencana tata ruang. b. meminta keterangan. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. Pasal 23 Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia.

penanggulangan. Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. Tindakan penyelamatan. Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 26 (1) (2) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. 8 (2) (3) (4) (5) . penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 27 Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan. Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan. Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. melakukan tindakan penyelamatan. dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup. Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. 9 (2) . Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. Pasal 33 (1) (2) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak. mewajibkan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. Paragraf 2 Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut.BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HlDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1 Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup.

c. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan olen pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi. Pasal 38 (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. b. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. BAB VIIl PENYIDlKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan 10 .(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. adanya bencana alam atau peperangan. masyarakat. Paragraf 3 Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku. Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang. Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. kecuali biaya atau pengeluaran riil. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. berbentuk badan hukum atau yayasan. b. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Pasal 39 (2) (3) c. Paragraf 4 Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (2) (1) (2) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat.

000. f.000. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti. 750.hidup. melakukan impor. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik lndonesia. catatan. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a. e. Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).00 (seratus lima puluh juta rupiah). catatan. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup. menyimpan bahan tersebut.000. ekspor. diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (tiga ratus juta rupiah). dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.000. dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup.000.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). 500.000. 150. sengaja melepaskan atau membuang zat. memperdagangkan.00 (seratus juta rupiah). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. energi. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. pembukuan. ke dalam udara atau ke dalam air permukaan. Pasal 42 (2) (1) Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. 300.000. c. Pasal 43 (2) (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.00 (lima ratus juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 11 (2) . melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. 100.000. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah. b. melakukan pemeriksaan atas pembukuan. d. mengangkut. menjalankan instalasi yang berbahaya. barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. (3) (4) (5) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.000. Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.000. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.

perseroan. (2) Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. perserikatan. dan/atau perbaikan akibat tindak pidana. perseroan.000. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. 150. 12 (2) (3) (4) . e. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. dan/atau penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah). dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. c. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : a. perserikatan. perseroan. perseroan. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga. dan/atau menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama (3) tiga tahun.000.000. perseroan. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. perseroan.000. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. yayasan atau organisasi lain. Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. f.00 (seratus juta rupiah). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. yayasan atau organisasi lain. perserikatan. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya.000. yayasan atau organisasi lain. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. Pasal 44 (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus. d. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama.000. perserikatan. 450. b. perserikatan.00 (seratus lima puluh juta rupiah). Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. yayasan atau organisasi lain. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. perserikatan. perseroan. dan dilakukan oleh orang-orang.(3) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. yayasan atau organisasi lain. Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan. 100. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. perserikatan atau organisasi lain.dan/atau meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. dan/atau mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini. S O E HAR TO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Agar setiap orang mengetahuinya. Nahattands LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1997 NOMOR 68 13 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi. MOERDIONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ttd. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) (2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Lambock V. Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor.

Lingkungan hidup lndonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. Oleh karena itu. serasi. Dalam pada itu. Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia. Pancasila. 14 . Sementara itu. dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup. dan bernegara dalam segala aspeknya. Untuk itu. Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. berbangsa. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. 3. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. dan keseimbangan subsistem. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. dan manusia sebagai pribadi. budaya.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UMUM 1. Oleh karena itu. keserasian. Secara hukum. 2. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. Akan tetapi. dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. dan keseimbangan. penggunaan sumber daya alam harus selaras. masyarakat. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. manusia dengan alam. keserasian. Lingkungan hidup lndonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa lndonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Di pihak lain. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. Dalam hal ini lingkungan hidup lndonesia tidak lain adalah wilayah. Dengan demikian. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. yang mempunyai aspek sosial. dan keseimbangan yang dinamis. sebagai dasar dan falsafah negara. ekonomi. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. 4. keserasian. merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. Antara manusia. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

organisasi lingkungan hidup. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. seperti lembaga swadaya masyarakat. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Pada kenyataannya. Tambahan Lembaran Negara No. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. Di sisi lain. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. penataan ruang.12. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. dan lain-lain. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. kesehatan. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. kesehatan. keterbukaan. Secara global. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. permukiman. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. dan lain-lain. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin.Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. yang diantaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. tata guna tanah. Menyadari hal tersebut di atas. tetapi juga mampu berperan secara nyata. 7. dan peran anggota masyarakat. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. Sementara itu. industri. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. industrialisasi juga menimbulkan ekses. perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. 5. termasuk sumber daya alam. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan lainnya. tegas. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. 6. Oleh karena itu. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. kelompok masyarakat adat. yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. Oleh karena itu. kehutanan. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut. 15 . Selain itu. Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. pertambangan dan energi. permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. selaras. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup.

semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi. Disamping itu.Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup Jelas Angka 2 Cukup Jelas Angka 3 Cukup Jelas Angka 4 Cukup Jelas Angka 5 Cukup Jelas Angka 6 Cukup Jelas Angka 7 Cukup Jelas Angka 8 Cukup Jelas Angka 9 Cukup Jelas Angka 10 Cukup Jelas Angka 11 Cukup Jelas Angka 12 Cukup Jelas Angka 13 Cukup Jelas Angka 14 Cukup Jelas Angka 15 Cukup Jelas 16 . berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas. baik hukum administrasi. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. Sebagai penunjang hukum administrasi. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa. dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi. hukum perdata maupun hukum pidana. dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat. Dengan demikian. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan.

laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. baik dengan cara mengajukan keberatan. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut. keterangan. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. di satu sisi. dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain.Angka 16 Cukup Jelas Angka 17 Cukup Jelas Angka 18 Cukup Jelas Angka 19 Cukup Jelas Angka 20 Cukup Jelas Angka 21 Cukup Jelas Angka 22 Cukup Jelas Angka 23 Cukup Jelas Angka 24 Cukup Jelas Angka 25 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara. dan rencana tata ruang. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. 17 . Di lain sisi. maka kemampuan lingkungan hidup. baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. harus dilestarikan. baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat.

Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. aspirasi. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. Misalnya. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Misalnya. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup. dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup.Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya. Ayat (2) Cukup jelas 18 . Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. baik secara kultural maupun secara struktural. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindaklanjuti. Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum.

Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir.Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup. Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdaya guna dan berhasil guna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. yaitu pemerintah. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional. preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber manusia. maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi 19 . masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. seperti lSO 14000. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penaatan baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi. Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keanekaragaman potensi sumber daya alam hayati dan nonhayati. integrasi. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan. dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan. bimbingan. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat. Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. dunia usaha.

d. f. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. pengangkutan. kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. c. pembiayaan. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan.alam maupun kemampuan daerah. pengumpulan. b. luas wilayah penyebaran dampak. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. e. tugas. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. peralatan. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang. dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya. 20 . Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang. situasi dan kondisi daerah. sifat kumulatif dampak. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. pemanfaatan.

air maupun udara. Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/ atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin. maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. menurut peraturan perundangundangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup. Ayat (5) Cukup jelas 21 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri. Dalam hal tertentu. maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah. yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. baik tanah. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem. dengar pendapat. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini.

Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban. Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 13 ayat (1). Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya.Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan. misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang 22 . Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan. audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. dan semua putusan arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. Ayat (2) Cukup jelas 23 . pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. b. 4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a. Pihak ketiga netral ini harus : 1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup.ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa Iingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum. 2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa. 3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian. Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 30 Ayat (1) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. Dalam pengertian ini. sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat.

menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian.Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas 24 . ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. memulihkan fungsi lingkungan hidup. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup. fakta hukum. misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan. pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. Selain diharuskan membayar ganti rugi. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah.

Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 25 . c. melainkan hanya terbatas gugatan lain. Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. b. Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas. yaitu : a. baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup. tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud.Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan.

Pasal 44 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3699 26 .

5. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. pemerataan dan keadilan. susunan. dan kedudukan pemerintahan desa. perlu ditetapkan undang-undang mengenai Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. b. f. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. 2. Pasal 18. serta potensi dari keanekaragaman Daerah. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Nomor 3153) yang menyeragamkan nama. bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah. sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. dan Nepotisme. peran serta masyarakat. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. d. dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. Menimbang : a. e.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 27 . Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. sehingga perlu diganti. peran serta masyarakat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811). Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 24. 3. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Kolusi. baik di dalam maupun di luar negeri. Pengaturan. Pasal 5 ayat (1). dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. bentuk. serta tantangan persaingan global. dan keadilan. pemerataan. Mengingat : 1. Pasal 1 ayat (1). pembagian. dan pemanfaatan sumber daya nasional. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. nyata. c. dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang diwujudkan dengan pengaturan. tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti. bahwa sehubungan dengan itu. yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Kawasan pedesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. Daerah Otonom. selanjutnya DPRD. Instansi vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. selanjutnya disebut desa. Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah di tingkat pusat dan/atau pejabat pemerintah di daerah propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan kegiatan ekonomi. selanjutnya disebut daerah. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. termasuk pengelolaan sumber daya alam. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonomi yang lain sebagai badan eksekutif daerah. selanjutnya disebut Pemerintah. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. adalah Badan Legislatif Daerah. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. pelayanan sosial. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskannya. Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ME MUTU S KAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Pemerintah Pusat. pelayanan jasa pemerintahan. Desa atau yang disebut dengan nama lain. 28 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) . adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(2) (2) (3) (4) (2) (3) (4) 29 . ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. Daerah Kabupaten. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan/atau digabung dengan daerah lain. dan pemekaran daerah. perubahan nama daerah. dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. daerah kabupaten. potensi daerah. luas daerah. nama. penggabungan. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Penghapusan. BAB III PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). Daerah Provinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Syarat-syarat pembentukan daerah. batas. BAB II PEMBAGIAN DAERAH Pasal 2 (1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. penggabungan. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. dan pemekaran daerah. jumlah penduduk. sosial politik. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan dengan undang-undang. sosial budaya. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain.(17) Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). dan Daerah Kota yang bersifat otonom. Pembentukan. Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah. (2) Pasal 3 Wilayah Daerah Provinsi. Kriteria tentang penghapusan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. pendidikan dan kebudayaan. penanaman modal. (2) (2) (2) (3) (2) e. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. dan tenaga kerja. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. moneter dan fiskal. meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. eksplorasi. b. eksploitasi. perhubungan. Kewenangan provinsi sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah. Pasal 8 (1) Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. kesehatan. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. agama. (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. pertanahan. d. pertahanan keamanan. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Provinsi. serta kewenangan bidang lain. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. peradilan. konservasi. 30 (2) . sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. Pasal 11 (4) (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. pengaturan tata ruang. meliputi : a. sarana dan prasarana. c.BAB IV KEWENANGAN DAERAH Pasal 7 (1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). lingkungan hidup. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). konservasi. pengaturan kepentingan administrasi. koperasi. dan standarisasi nasional. pertanian. Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. Pasal 9 (1) Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. industri dan perdagangan. Kewenangan Daerah di wilayah laut. Kewenangan bidang lain. dana perimbangan keuangan.

ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur. dan panitia-panitia. Pelaksanaan ketentuan. Bupati/Wakil Bupati. pimpinan. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. Pasal 17 (1) (2) (3) (4) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. tugas.Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. 31 (2) (2) (2) . Bupati/Wakil Bupati. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan undang-undang. keanggotaan. BAB V BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. komisi-komisi. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. sarana dan prasarana. Bagian Kedua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 15 Kedudukan. wewenang. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. c. DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. atau Walikota/Wakil Walikota. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). dan Walikota/Wakil Walikota. Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. Setiap penugasan. DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. susunan. hak. b.

melaksanakan pengawasan terhadap: 1. dan pembangunan. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. 5. h. pelaksanaan keputusan Gubernur. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. pejabat pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. pengajuan pertanyaan. 32 (2) (3) (2) . Bupati. g. dan c. dan h. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. meminta pertanggungjawaban Gubernur. Pelaksanaan hak. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. Bupati. pejabat pemerintah. keuangan/administrasi. b. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. 4. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. mengajukan pernyataan pendapat. pemerintahan. 2. e. mengadakan penyelidikan. f. dan pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. menentukan Anggaran Belanja DPRD. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. dan Walikota. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. (2) Pelaksanaan hak. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. protokoler. g. sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2). f. Bupati. sebagaimana dimaksud ayat (1). b.d. dan Walikota. e. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. c. bersama dengan Gubernur. bangsa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau warga masyarakat yang menolak permintaan. bersama dengan Gubernur. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Bupati. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. kebijakan Pemerintah Daerah. 3. Pejabat negara. Pelaksanaan hak. d. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

c. dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. h. f. Badan Usaha Milik Daerah. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. dan pembebanan kepada Daerah. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan diantara pimpinan DPRD. ayat (2). atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. dan kebijakan tata ruang. serta menaati segala peraturan perundangundangan. j. b. utang piutang. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. (3) (4) (3) (4) 33 . pinjaman. kecuali mengenai : a. DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. dan ayat (3). meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. Pelaksanaan ketentuan. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. Pasal 23 (1) (2) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. i. g. e. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat.Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : (1) (2) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah.

Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. ditetapkan dengan Peraturan Tata tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban.Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Anggaran Belanja Sekretaris DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. Kepala Daerah Kota disebut Walikota. baik terbuka maupun tertutup. (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Kepala Daerah Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai Kepala Eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. 34 (3) (4) (5) . Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD. Dalam kedudukan sebagai Wakil Pemerintah. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. Pasal 31 (1) (2) Kepala Daerah Provinsi disebut Gubernur. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya. Pasal 32 (1) (2) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. ditetapkan oleh Pemerintah. Bagian Ketiga Sekretariat DPRD Pasal 29 (1) (2) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. yang karena jabatannya adalah juga sebagai Wakil Pemerintah.

sebagaimana dimaksud pada ayat (3). dibentuk Panitia Pemilihan. Pasal 33 (4) (1) Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. tetapi bukan anggota. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri. g. 35 . dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. l. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. Pasal 35 (2) (3) (4) (5) (1) Panitia pemilihan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. dan bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. k. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. c. bertugas: a. h. j.(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah. sehat jasmani dan rohani. c. e. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. b. Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. b. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. Pasal 34 d. i.

rahasia. ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden. Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. 36 (2) (3) (2) (3) (4) (2) (2) (3) (2) (3) . Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD.Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan. Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4). Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Apabila ketentuan. bebas. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. Pasal 40 (1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung. jujur dan adil. misi. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum dicapai.

Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. menghormati kedaulatan rakyat.Pasal 41 Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. Sebelum memangku jabatannya. Pasal 45 (1) (2) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. 37 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (2) (3) . dan seadil-adilnya. atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. (4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 42 (1) (2) (3) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk bertindak atas nama Presiden. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. dan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). Bagian Kelima Kewajiban Kepala Daerah Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : (1) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/ Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. sejujur-jujurnya.

e. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. Tata cara. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. kroninya. Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. Bagian Ketujuh Pemberhentian Kepala Daerah Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena: a. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. . baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. dan menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. ditetapkan oleh Pemerintah. (2) (3) (4) Bagian Keenam Larangan bagi Kepala Daerah Pasal 48 (1) Kepala Daerah dilarang : a. Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. c. golongan tertentu. barang. e. d. meninggal dunia. g. 38 b. f. turut serta dalam suatu perusahaan. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. anggota keluarganya. harus dilengkapi dan atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. baik secara langsung maupun tidak langsung. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. sebagaimana dimaksud pada ayat (3).Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). d. c. b. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. menerima uang. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah.

Dengan adanya pemberitahuan. Bagian Kedelapan Tindakan Penyidikan Terhadap Kepala Daerah Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru.Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. 39 . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). enam bulan sebelumnya. Keputusan DPRD. Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2) (2) (3) (2) (3) (2) b. dan dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya dalam 2 kali 24 jam. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. (3) Setelah tindakan penyidikan. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. tanpa persetujuan DPRD. sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.

berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. dan c. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. dan seadil-adilnya. b. Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. sejujur-jujurnya. Sebelum memangku jabatannya. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. (3) (4) (6) (2) (3) (4) Bagian Kesepuluh Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 59 Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 40 . Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. (5) Ketentuan-ketentuan. DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas: a. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap.Bagian Kesembilan Wakil Kepala Daerah Pasal 56 (1) (2) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. Pasal 43 kecuali huruf g. (2) (3) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Pasal 41. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan oleh instansi vertikal. Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan daerah Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan.Bagian Kesebelas Perangkat Daerah Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. Pasal 62 (1) (2) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. dilaksanakan oleh Dinas Provinsi. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. susunan organisasi. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. sesuai dengan kebutuhan Daerah. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Kepala Kecamatan disebut Camat. Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. formasi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pembentukan. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. dan tata laksananya. 41 (2) (2) (3) (4) (5) (6) . lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). Sekretariat daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dan Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintah yang menjadi wewenang Pemerintah. Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah dari Bupati/Walikota. (3) (4) (5) (6) (7) (3) Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. Pasal 61 (1) (2) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretariat Daerah.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. kacuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Kepala Kelurahan disebut Lurah. peraturan daerah.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. 5. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. (2) BAB VI PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN KEPALA DAERAH Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Peraturan Daerah lain. Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah. Keputusan. 42 (2) (2) (2) .000.Pasal 67 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Lurah bertanggung jawab kepada Camat.000. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku.

kesejahteraan. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. dan kesejahteraan pegawai. tunjangan. pemberhentian. Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. penetapan pensiun. gaji. b. BAB VII KEPEGAWAIAN DAERAH Pasal 75 Norma. pinjaman Daerah. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. tunjangan. serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. c. dan penerimaan dari sumber daya alam. gaji. d. dana perimbangan. dan prosedur mengenai pengangkatan. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 79 (1) Sumber Pendapatan daerah terdiri atas : pendapatan asli daerah. pemindahan. (2) (2) 43 . hasil retribusi Daerah. hak dan kewajiban. pemindahan. yaitu : a. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. penetapan pensiun. dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian karier pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. pemberhentian. berdasarkan peraturan perundang-undangan. standar.Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. BAB VIII KEUANGAN DAERAH Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintahan Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. terdiri atas : a. hasil perusahaan milik Daerah. hasil pajak Daerah.

Pasal 82 (2) (3) (4) (1) (2) Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 81 (3) (4) (1) Pemerintahan Daerah dapat melakukan peminjaman dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. ayat (2). dan dana alokasi khusus. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan lebih lanjut. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. b. diterima langsung oleh Daerah penghasil. Ketentuan. penghapusan daerah sebagian atau seluruhnya. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. Pasal 85 (1) Barang Milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukkannya diatur dengan Peraturan Daerah. dan perkebunan serta Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. dibebani hak tanggungan. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). ditetapkan dengan undang-undang. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. Tata cara peminjaman. dan/atau dipindahtangankan. dan ayat (3). Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. perkotaan.b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang : a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. ditetapkan oleh Pemerintah. (2) (2) 44 . Pasal 83 (1) (2) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. (2) dana alokasi umum. Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan c.

sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). ekonomi. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pedoman tentang pengurusan. terdapat salah satu pihak yang tidak dapat menerima keputusan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 88 (1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan di luar negeri. yang diatur dengan keputusan bersama. Pedoman tentang penyusunan. kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian kepada Mahkamah Agung. dan fisik perkotaan.(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. perubahan. dan Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial. Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama. Tata cara. pertanggungjawaban. ayat (2). yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. (c) 45 . Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama antar Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. dan ayat (3). ditetapkan oleh Pemerintah. perlu ditetapkan Kawasan Perkotaan yang terdiri atas : (a) (b) Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten. BAB IX KERJASAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 87 (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerjasama antar Daerah yang diatur dengan keputusan bersama. Keputusan bersama dan/atau badan kerjasama. Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB X KAWASAN PERKOTAAN Pasal 90 Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota. Pasal 89 (2) (1) (2) Perselisihan antar Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara musyawarah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. Pasal 92 (1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan. penghapusan. 46 . dan hal-hal lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. dapat dibentuk Badan Pengelolaan Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah.Pasal 91 (1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola Kawasan Perkotaan. dan/atau Penggabungan Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. dan/atau penggabungan Desa. Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. Pembentukan. (2) Bagian Kedua Pemerintah Desa Pasal 95 (1) (2) (3) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. yang merupakan Pemerintah Desa. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penghapusan. Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. Pengikutsertaan masyarakat. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. (2) (3) (2) (3) BAB XI DESA Bagian Pertama Pembentukan. merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. dihapus. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten. ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengalaman yang sederajat. Pasal 98 d. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). serta sumber daya manusia. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. f. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. b. Daerah. dan/atau Pemerintah Kabupaten. l. i. c. e. G-30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. sejujur-jujurnya. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. sarana dan prasarana. Pemerintah Provinsi. sehat jasmani dan rohani.b. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. jujur. Pemerintah Propinsi. kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. berkelakuan baik. m. k.” Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. dan tugas Pembantuan dari Pemerintah. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. g. dan adil. (1) (2) (3) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. Sebelum memangku jabatannya. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. c. 47 . saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. dan seadil-adilnya. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. dan memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur dalam Peraturan Daerah. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. h. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. j. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

f. Pasal 103 (1) Kepala desa berhenti karena : a. c. meninggal dunia. (2) Pemberhentian Kepala Desa. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintah Desa Pasal 105 (1) (2) (3) (4) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. 48 . e. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. b. Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. e. dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. sebagaimana dimaksud dalam pasal 101. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. b. c. membina perekonomian Desa. Bagian Ketiga Badan Perwakilan Desa Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. b.Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. membina kehidupan masyarakat Desa. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. membuat Peraturan Desa. Kepala Desa : a. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. d. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya.

e. (2) Sumber pendapatan Desa. Untuk pelaksanaan kerja sama. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 49 (2) . sumbangan dari pihak ketiga. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. (3) Kepala Desa bersama-sama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa.Bagian Keempat Lembaga Lain Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. dan pinjaman Desa. 2) hasil kekayaan Desa. dan 5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. (5) Tata cara dan pungutan objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. b. Bagian Kelima Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1) hasil usaha Desa. dan 2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. 4) hasil gotong-royong. 3) hasil swadaya dan partisipasi. Bagian Keenam Kerja Sama Antar Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan Keputusan Bersama dan diberitahukan kepada Camat. c.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 112 (1) (2) Dalam rangka pembinaan. (2) (2) (3) (4) (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri dari Menteri Dalam Negeri. c. dan pengawasannya. dan wakil-wakil daerah yang dipilih oleh DPRD. wajib mengakui dan menghormati hak. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. industri. dan Kemampuan daerah kabupaten dan daerah kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pembentukan. Menteri Lain sesuai dengan kebutuhan. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. Peraturan Daerah. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. sebagaimana dimaksud dalam pasal 11. 50 (3) . sebagaimana dimaksud pada ayat (2). b. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Perimbangan keuangan pusat dan daerah.Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. penghapusan. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala daerah. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. pelaksanaan. dan adat istiadat Desa. BAB XIII DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: a. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. perwakilan asosiasi pemerintah daerah. penggabungan dan pemekaran daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). asal usul. Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Menteri Keuangan. Menteri Sekretaris Negara. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan.

sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. dan Kota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. yang meliputi badan otorita. Pasal 123 Kewenangan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 10. berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom. Pasal 119 (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan perkebunan. kawasan pariwisata. Pasal 122 Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada undang-undang ini. kawasan industri. tugas. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. wewenang. Jakarta. kawasan pertambangan. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya. Kabupaten Daerah Tingkat II. dan kawasan lain yang sejenis. kawasan bandar udara. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 117 Ibukota Negara Republik Indonesia. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. karena kedudukannya diatur tersendiri dengan undang-undang. kawasan perumahan. dan Kotamadya Daerah Tingkat II.(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam 6 (enam) bulan. kedudukan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. dan Pasal 11 undang-undang ini. kawasan pelabuhan. kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan. Pengaturan lebih lanjut. 51 (2) (2) (2) . Susunan organisasi. penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9. hak. Pasal 118 (1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. berubah masing-masing menjadi Propinsi. kawasan jalan bebas hambatan. kawasan kehutanan. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 121 Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 116 (5) (6) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretaris yang membawahkan bidang otonomi daerah dan bidang perimbangan keuangan pusat dan daerah. formasi. Kabupaten.

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n Undang-undang ini. Walikotamadya. Bupati Kepala Daerah Tingkat II. pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap menjalankan tugasnya. serta agama. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan semua Kota Administratif dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal 5 Undang-undang ini. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 huruf m. dihapus. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. Lembaga Pembantu Gubernur. Daerah Istimewa. Kabupaten. Kotamadya Administratif. Kabupaten Paniai. dapat dihapuskan jika tidak memenuhi ketentuan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom. keamanan. Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang ini. Pasal 125 (1) Kotamadya Batam. Lurah. Kabupaten. Kotamadya. Pasal 127 Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar negeri. Kabupaten Puncak Jaya. nama. Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah. Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada masa jabatan Kepala Daerah. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang ini. Bupati. Pasal 129 (1) Dengan diberlakukannya Undang-undang ini. moneter dan fiskal. seluruh instruksi. Walikota. dan Kepala Desa beserta perangkatnya yang ada. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pembantu Bupati. Kabupaten Simeuleu. Camat. Pasal 126 (1) Kecamatan. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. masa jabatan Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah. Kabupaten Daerah Tingkat II. dan Kota Administratif. dan Badan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. dan ibukota Propinsi Daerah Tingkat I.BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 Pada saat berlakunya undang-undang ini. petunjuk. sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan. menjadi perangkat Daerah. atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan Undangundang ini dinyatakan tetap berlaku. Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. batas. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya. huruf n. dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan. sudah harus berubah statusnya menjadi Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5 Undang-undang ini. dan Kota Administratif. Kabupaten Mimika. Kotamadya Daerah Tingkat II. pertahanan. Wakil Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Kelurahan. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II. Pasal 128 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. peradilan. dan huruf o Undang-undang ini. Pembantu Walikotamadya. Kotamadya. 52 (2) (3) (2) (2) (3) (2) . dan Desa atau yang disebut dengan nama lain. dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini ditetapkan sebagai Kelurahan. kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah. adalah tetap. Kelurahan. Pasal 130 (1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada masa jabatan Kepala Daerah.

Pasal 133 Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan Undang-undang ini. ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 (1) (2) Pada saat berlakunya Undang-undang ini. (3) (2) Disahkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. AKBAR TANDJUNG 53 . dinyatakan tidak berlaku lagi : Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3153) Pasal 132 (1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak Undang-undang ini ditetapkan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56. diadakan penyesuaian. Pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan secara efektif selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya Undang-undang ini. Pasal 134 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Dasar Pemikiran a. Pemberian kedudukan propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan : 1. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. nyata. dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Karena itu. pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. b. dan bertanggung jawab kepada Daerah. . di daerah pun. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat. Oleh karena itu. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Dengan demikian. dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi. serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hirarki. menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. g. pemerataan. peran serta masyarakat. Pembagian.” Di daerah-daerah yang bersifat otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. meningkatkan peran serta masyarakat. Undang-undang ini disebut “Undang-undang Pemerintah Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. e. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Dengan demikian. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Sesuai dengan Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas. penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-undang. dikemukakan bahwa “Oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. pembagian. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Pengaturan. d. Dalam penjelasan pasal tersebut. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. dan keadilan. Oleh karena itu. Undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. 54 c. nyata. f. antara lain. Di samping itu.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAH DAERAH UMUM 1. antara lain. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas.

Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. kawasan pelabuhan. i. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. dan untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. dan berkembang di daerah. moneter dan fiskal. 7. Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. 8. dan semacamnya berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonomi. pengembangan kehidupan demokrasi. pengawasan. kawasan industri. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah. 3. kawasan perkebunan. pengendalian. keadilan dan pemerataan. dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. peradilan. 4. 2. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. kawasan pertambangan. pemerataan. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatnya kemandirian Daerah Otonomi. pelaksanaan. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Disamping itu. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. Atas dasar pemikiran di atas. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. baik sebagai fungsi legislasi.2. 6. 5. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. dan evaluasi. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita. b. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. pertahanan keamanan. serta kewenangan di bidang pemerintah tertentu lainnya. agama. kawasan kehutanan.undang ini adalah sebagai berikut : 1. maka dalam Undang-undang ini pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. 2. 55 . fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. nyata dan bertanggung jawab. Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan lintas Kabupaten dan Kota. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan perumahan. nyata dan bertanggung jawab. Pembagian Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang . keadilan. kawasan perkotaan baru. untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. hidup. kawasan pariwisata. keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan. serta potensi dan keanekaragaman daerah. h. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-Daerah.

Pertanggungjawaban Kepala Daerah Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah. 8. berpengetahuan. negara. Sementara itu. Mutasi antar Daerah Propinsi dan/atau antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut. baik pengangkatan. menurut undang-undang ini kedudukannya diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota. sedangkan mutasi antar Daerah Propinsi diatur oleh Pemerintah. 6. Daerah Kota. Keuangan Daerah (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Kepegawaian Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya. 5. dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Desa. bertindak. sekaligus adalah Pimpinan Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir. dan c. dan bertanggung jawab. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Provinsi. sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah. Oleh karena itu. 7.c. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. golongan. bijaksana. dari kelompok atau etnis. dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa. d. (2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan Pemerintahan menjadi kewenangan Daerah. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi. Daerah Kabupaten. dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi. Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah Administrasi dalam rangka dekonsentrasi. pemindahan. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. dan tugas pembantuan. 3. Kepala Daerah Untuk menjadi Kepala Daerah. 4. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah. yang didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem Pemerintahan Daerah. dan berkemampuan sebagai pimpinan pemerintahan. Oleh karena itu. adalah : a. Dengan demikian. adil. memiliki etika dan moral. nyata. dan netral. digunakannya asas desentralisasi. hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan. penempatan. diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri. jujur. dan aliran. Mutasi antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah Propinsi diatur oleh Gubernur. dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. 56 . dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif. seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. DPRD dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. b. berwawasan kebangsaan. Kepala Daerah disamping sebagai pimpinan pemerintahan. serta mendapatkan kepercayaan rakyat. Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan. Pembagian Daerah di luar daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom. dekonsentrasi.

sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. (3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum. Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. (2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. (4) Sebagai perwujudan demokrasi. Kepala Desa mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya. pendapatan lain-lain yang sah. Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih dahulu oleh pejabat yang berwenang. harta benda.9. sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Pembinaan dan Pengawasan Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam upaya pemberdayaan Daerah Otonom. Pemerintahan Desa (1) Desa berdasarkan undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. memiliki kekayaan. Karena itu. (5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. 10. otonomi asli. di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan. (8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang berada di dalam Daerah Kabupaten dan/ atau Daerah Kota. dan pemberdayaan masyarakat. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-Undang Dasar 1945. baik hukum publik maupun hukum perdata. dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan. demokratisasi. (6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa. bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Untuk itu. Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. partisipasi. (7) Berdasarkan hak asal usul Desa yang bersangkutan. dan Keputusan Kepala Desa. Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas 57 .

Pasal 9 Ayat (1) Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti kewenangan di bidang pekerjaan umum. pelaksanaan. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Untuk menentukan batas dimaksud. Ayat (3) Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD. Sementara itu. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 8 Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada Daerah/ Gubernur. perhubungan. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah : perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro. kehutanan. promosi dagang dan budaya / pariwisata. dan perencanaan tata ruang propinsi. dan kebijakan Pemerintah. pengendalian lingkungan hidup. Ayat (2) Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.Ayat (2) Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain adalah bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. perencanaan. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi. demikian pula mengenai perubahan batas Daerah. dan perkebunan. Gubernur selaku Wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pengelolaan pelabuhan regional. dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah. perizinan. dalam kedudukan sebagai Wilayah Administrasi. penanganan penyakit menular dan hama tanaman. dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. pelatihan bidang tertentu. Daerah/Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan. alokasi sumber daya manusia potensial. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam. kerja sama. dan penelitian yang mencakup wilayah provinsi. 58 . setiap undang-undang mengenai pembentukan Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis Daerah yang bersangkutan. norma. dan evaluasi sesuai dengan standar. sumber daya buatan. tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi. Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama.

tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini. Oleh karena itu. Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Ayat (2) Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. kebersihan. pemadam kebakaran. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi. dan tata kota. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. antara lain. DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. pertamanan.Ayat (2) Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD Provinsi. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 59 .

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas 60 .Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di lingkungan kerja DPRD bersangkutan.

Ayat (2) Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota diberitahukan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. yakni : 61 . karena kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk pemilihan Kepala Daerah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung DPRD atau di gedung lain.Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dipilih secara berpasangan. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Huruf b.diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. produksi. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. Kepala Daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik. dan huruf d Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. antara lain yang berwujud korupsi. pengembangan teknologi. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Huruf a dan huruf e Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga masyarakat. dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia. pemasaran. Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas 62 . Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 43 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. kolusi dan nepotisme. usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan. huruf c.

Pasal 53 Ayat (1) Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur. tembusannya dikirimkan kepada Gubernur. tembusannya dikirimkan kepada Presiden. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. sedangkan berakhirnya masa jabatan Bupati/Walikota. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas 63 . dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di gedung DPRD atau gedung lain. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Budha.

64 .Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan. atau memperbaiki segala sesuatu yang telah dibuat. Paksaan penegakan hukum itu hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang sesuai dengan berat pelanggaran. Badan Pendidikan dan Pelatihan. diambil suatu tindakan paksaan. Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. karena paksaan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan. Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif kepada pelanggar. mencegah. yang merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Pasal 71 Ayat (1) Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan pemeliharaan hukum”. Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati dalam proses pengangkatan Lurah. dijalankan. atau ditiadakan yang bertentangan dengan hukum. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak ditandatangani serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. dialpakan. Badan Perencanaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Ayat (1) Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur dilakukan menurut cara yang sah. melakukan. diadakan. Pasal 70 Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan sama kecuali untuk perubahan. Apabila pelanggar tidak mengindahkannya. dan lain-lain. Lembaga Pengawasan. Ayat (4) Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemahalan hidup. Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau meniadakan.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya. peraturan dan keputusan tersebut perlu dimasyarakatkan. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. dan pemindahan pegawai antar Daerah Propinsi atau antara Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah. dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 65 . kehutanan. Pasal 80 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang pertambangan umum.Pengundangan dimaksud kecuali untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan. pemindahan pegawai antar Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota. pertambangan minyak dan gas bumi. dan perikanan. Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Huruf a Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Cukup jelas Angka (3) Cukup jelas Angka (4) Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan aset Daerah dan jasa giro. Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah.

penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 82 Ayat (1) Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala Daerah. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 81 Ayat (1) Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses lebih lanjut. Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. Pasal 83 Ayat (1) Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa kemudahan pembangunan prasarana. dan/atau penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum peminjaman tersebut dilaksanakan. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan termaksud.Ayat (2) Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah. dan/atau memindahtangankan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual. 66 . lembaga komersial. dan lain-lain. menghibahkan. menggadaikan. yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD. penyebaran lokasi industri strategis. Ayat (2) Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. tukar guling.

Pasal 94 Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa setempat. bori. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari. dan marga. dan pihak swasta. potensi Desa. dan lain-lain. dan/atau penggabungan Desa perlu dipertimbangkan luas wilayah. Pasal 95 Ayat (1) Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat. dan pemilikan. kampung. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 67 . sosial budaya. penghapusan. jumlah penduduk. Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat Desa. masyarakat. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah. Ayat (2) Dalam pembentukan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam perencanaan.Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Yang dimaksud dengan asal usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya. huta. pelaksanaan.

sarana dan prasarana. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihakpihak yang berselisih. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai dengan pembiayaan. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. serta sumber daya manusia. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. Huruf f Cukup jelas Pasal 102 Huruf a Cukup jelas Huruf b Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat Pasal 103 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 68 . diakhiri dengan ucapan “semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik.Pasal 96 Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. Pasal 101 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. Kepala Desa dapat dibantu oleh lembaga adat Desa. Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah.

Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban ekonomi tinggi dan dampak lainnya. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambatlambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru. antara lain. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. pelaksanaan tata usaha keuangan. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 106 Cukup jelas Pasal 107 Ayat (1) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati. dan perubahan serta perhitungan anggaran. tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa. baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten. Ayat (2) Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan setiap tahun meliputi penyusunan anggaran.Huruf d Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. kerja sama dengan pihak ketiga. dan kewenangan melakukan pinjaman. Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 104 Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. dan Keputusan Kepala Desa. Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Ayat (1) Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat persetujuan Badan Perwakilan Desa. dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa. Ayat (2) Cukup jelas 69 .

Ayat (3) Cukup jelas 70 . Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan asal usul adalah asal usul terbentuknya Desa yang bersangkutan. 2 orang Wakil Daerah Kabupaten. jumlah penduduk. penghapusan. dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Pemerintah. Pasal 115 Ayat (1) Mekanisme pembentukan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan.Pasal 110 Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak pembangunan tersebut. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. luas daerah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi. Pasal 112 Ayat (1) Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom melalui pemberian pedoman. Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian. dan 2 orang Wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun. sosial politik. yang terdiri atas 2 orang Wakil Daerah Propinsi. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. sosial budaya. dan pertimbangan lain. serta bersikap independen sebanyak 6 orang. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 113 Cukup jelas Pasal 114 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir dilakukan selambatlambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan dari Pemerintah. penghapusan. dan/atau pemekaran Daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut : Daerah yang akan dibentuk. pelatihan. potensi daerah. penggabungan. dihapus. penggabungan. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. bimbingan. terutama di bidang keuangan dan pemerintahan. digabung. dan supervisi. arahan. antar-Pemerintah Kabupaten.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan nasional. sedangkan isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini. sedangkan isi keistimewaannya berupa pelaksanaan kehidupan beragama. adat. Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut. Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal usul dan peranannya dalam sejarah perjuangan nasional.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Ayat (1) Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas 71 . dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan kebijakan Daerah.

Pasal 133 Cukup jelas Pasal 134 Cukup jelas ______________________________________ 72 .Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun. Ayat (2) Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah selesai dalam waktu dua tahun.

Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. tumbuhan. berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. 73 . termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. g. e. khususnya di Indonesia. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. dan jasad renik (microorganism). memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. Brazil. perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem. c. f. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. Pasal 11. Menimbang: a. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI). bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi. d. yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. diakui pula adanya peranan penting wanita. b. dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. bahwa keanekaragaman hayati di dunia. jenis dan genetik yang mencakup hewan. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia.

Agar setiap orang mengetahuinya.Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. MOERDIONO 74 . SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. dan kesehatan terus ditingkatkan. penegakan hukum. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. mencerdaskan kehidupan bangsa. Inventarisasi. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. perlu terus ditingkatkan. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. merehabilitasi kerusakan lingkungan. A. antara lain. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. f. industri. 75 . seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. perdamaian abadi dan keadilan sosial. g. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. e. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. dan ekosistem. jenis spesies. Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. terutama bagi pengembangan pertanian. perdamaian abadi. jo Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia Tanggal 17 Pebruari 1969. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994 ). di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. pemantauan. pemberian rangsangan. mengendalikan pencemaran. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia ( Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. Sumber daya alam di darat.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. menegaskan sebagai berikut : a. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. d. b. c. terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru. b. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823).

dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. b. f. Kenya. e. pada tanggal 5 Juni 1992. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. Selain negara-negara ini. Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). Brazil. Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. Brazil. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut: a. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991. Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. dengan keputusan No. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. i. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). g. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992. 15/34 tanggal 25 Mei 1989. Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INCCBD) di Madrid. Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. c. j. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. 14/17 tanggal 17 Juni 1987. Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. 76 . Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). d. Kenya. ikut hadir pula Masyarakat Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). B. d. e. l. Swiss. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. Sidang terakhir diadakan di Nairobi. k. Kenya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Konferensi di Rio de Janeiro. Kenya. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. Kenya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Fifth Session of INC-CBD di Geneva.Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. g. Dengan demikian. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. h. pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. Spanyol. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. Governing Council. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. f. c. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Brazil. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi.

Akses pada Sumber Daya Genetik. Pengesahan Protokol. 6. Konservasi In-situ. Konferensi Para Pihak. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. Ratifikasi. c. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. Keempat resolusi tersebut ialah : a. Amandemen Konvensi atau Protokol. 40. 27. 39. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. Penarikan Diri. Depositari. 25. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. 9.Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Prinsip. Tindakan Insentif. 26. yang di antaranya berisi saran. Kerja sama Internasional. Konservasi Ex-situ. 21. 19. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2. Pertukaran Informasi. Hal Berlakunya. Sumber Dana. Penerimaan atau Persetujuan. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan. 31. Hak Suara. usul perubahan. 42. Teks Asli b. 7. Lampiran II : Bagian 1. Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. Teknis dan Teknologis. 20. 13. Identifikasi dan Pemantauan. 35. 22. 18. 23. 8. Pengertian. Tujuan. Lampiran : Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring) . Mekanisme Pendanaan. 36. 2. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. Sekretariat. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. Penelitian dan Pelatihan. Lingkup Kedaulatan. 77 . 30. keberatan. C. Laporan. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. 34. dan penyempurnaan. 15. Konsiliasi (Conciliation). 24. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. 28. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. Aksesi. b. Pengesahan dan Lampiran Amandemen. 29. Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. 16. 11. 17. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. 38. Pengaturan Sekretariat Interim. 33. yaitu : 1. 4. 12. Penyelesaian Sengketa. Pengaturan Pendanaan Interim. 41. Selain itu. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Penandatanganan. 14. 37. 5. Keberatan-keberatan (Reservasi). 32. 10. 3. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. d. Interim Financial Agreement.

kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG .D. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. pelatihan. dan peningkatan peran serta masyarakat. 3. seperti halnya jenis indikator. 6. penyuluhan. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional. budaya atau ilmiah. Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia. pertanian atau nilai ekonomis yang lain. Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antar sektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. dan 3. 5. 78 . Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia. II. Jenis dan komunitas yang terancam. 8. 2. 2. atau mempunyai nilai sosial. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan. Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. c) Pertukaran Informasi. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. program. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional. ilmiah dan ekonomi penting. Dengan meratifikasi Konvensi ini. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. mempunyai nilai penting secara ekonomi. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. 4. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. d) Pengembangan pendidikan. atau yang mewakili. di dalam dan di luar negeri. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. 7. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. ilmiah atau budaya yang penting.UNDANG NO. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya.

pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. akan : (a) Memberi sidang segala dokumen. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. dengan permintaan salah satu pihak. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat. Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini. informasi dan fasilitas yang berkaitan. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. karena keadaan khusus kasus tersebut.UNDANG NO. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut. bilamana perlu. Pasal 3 1.LAMPIRAN II UNDANG . atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut. Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. atas permintaan salah satu pihak. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua. dan (b) Membantu sidang. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal. dan hukum internasional. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. Dalam persengketaan antara dua pihak. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. 2. pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. semua protokol yang berkaitan. Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama. sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. dengan persetujuan bersama. 79 . sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. 2. Pasal 2 1. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. 3. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut.

sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat. Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang. Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. 80 . Sebelum membuat keputusan akhirnya. Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak. kecuali bilamana pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Bagian 2 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya. Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. Pasal 12 Keputusan. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya.Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah.

Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut. Dewan tersebut harus. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik.Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya. menetapkan prosedurnya sendiri. 81 .

Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. 82 . g bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas. 2. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari. 2. Pasal 20 ayat (1). sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional. Pasal 5 ayat (1). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368). 5. c. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. Menimbang: a. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial. baik masa kini maupun masa depan. serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. e. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA. d. 4. 3.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. Mengingat: 1. bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. selaras. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. f. bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. b. maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri.

pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara. menunjang budidaya. perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan/atau di air. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. dan/atau di udara. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. menunjang budidaya. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati. dan rekreasi. 10. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. 15. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. 7. budaya. 4. dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 8. b. b. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. 13. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Pemerintah menetapkan : a. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. pendidikan. pendidikan.3. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat. c. 11. baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. ilmu pengetahuan. 9. 6. ekosistem unik. c. 12. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. 83 . dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. pariwisata. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. ilmu pengetahuan. baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. dan rekreasi. baik yang hidup di darat maupun di air. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. satwa. jenis asli dan atau bukan asli. Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. 16. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. 14. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. 5. pariwisata. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air.

pendidikan. pendidikan. khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja sama konservasi internasional. suaka margasatwa. (3) Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. (2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan. (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. (2) Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. (2) Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. cagar alam. pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. 84 . Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. (2) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan. juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. ilmu pengetahuan. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. dilaksanakan melalui kegiatan : a.Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. Pasal 13 (1) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. Pasal 10 W ilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan. pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. ilmu pengetahuan. b. dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. wisata terbatas. b. BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a.

(4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. ilmu pengetahuan. melukai. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. memiliki. mengangkut. ayat (2). mengangkut. menangkap. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. b. dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. membunuh. mengangkut. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa. tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. memelihara. (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. 85 . menyimpan. Pasal 23 (1) Apabila diperlukan. mengambil. menyimpan. Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian. memelihara. memusnahkan. c. memperniagakan. tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. memiliki. Pasal 24 (1) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. melukai. dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. b. (3) Pengecualian dari larangan menangkap. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. memusnahkan.Pasal 19 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. memelihara. b. BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. e. Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. (3) Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. merusak. menebang. menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam. tumbuhan dan satwa yang dilindungi. mengambil. menyimpan atau memiliki kulit. memiliki. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. d. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. memperniagakan. merusak. (2) Setiap orang dilarang untuk : a. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. b.

taman hutan raya. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masingmasing kawasan. (3) Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi. Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional. b. (2) Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. taman hutan raya. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi. Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. (3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. b. dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. (2) Di dalam zona pemanfaatan taman nasional. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional.BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. Pasal 33 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. taman hutan raya. taman wisata alam. 86 . pendidikan. pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan zona lain sesuai dengan keperluan. taman nasional. taman hutan raya. ayat (2). menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional. pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. Pasal 34 (1) Pengelolaan taman nasional. taman hutan raya. dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. dan wisata alam. dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. menunjang budidaya. ilmu pengetahuan. taman hutan raya. dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. zona pemanfaatan. dan taman wisata alam. dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian. dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. budaya. daya dukung. taman hutan raya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti. c.

e. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). f. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. h. pengkajian. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. e.BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. (2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. d. f. juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. budidaya tanaman obat-obatan. pemeliharaan untuk kesenangan. perdagangan. BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. berwenang untuk: a. b. membuat dan menandatangani berita acara. g. c. perburuan. pertukaran. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 87 . (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. penelitian dan pengembangan. g. penangkaran. b. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). peragaan. d.

000. Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167). 2. (5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133). 100.000.000. Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 88 .000.00 (dua ratus juta rupiah). Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati.00 (seratus juta rupiah). 3.000. dinyatakan tidak berlaku lagi. Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733). BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134). tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini. (3) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Agar setiap orang mengetahuinya. 4.00 (seratus juta rupiah).BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200.000. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.000.00 (lima puluh juta rupiah). Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.000. Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini. (4) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50. (2) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.

dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. yang kehadirannya tidak dapat diganti. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988. perkembangan kependudukan. Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA I. dan pemanfaatan secara lestari. Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi. yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan. keselarasan dan keseimbangan. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana. 2. dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian. sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. dipelihara. Peran serta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya. baik di darat. baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya. antara manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. Untuk itu. dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundangundangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia. taman hutan raya. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah. dilestarikan. Oleh karena itu. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah). Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. ilmu pengetahuan. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. baik secara masing-masing maupun bersamasama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup. baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional. alam nabati ataupun berupa fenomena alam. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 3. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi. pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. pengawetan 89 . di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. yaitu : 1. ilmu pengetahuan. belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. tegas. dan taman wisata alam. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari). Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. dan Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan). Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi. polusi. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya.

Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 90 . Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. tetapi termasuk di dalam pengertian satwa. sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Namun. keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Cukup jelas Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar. pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undang-undang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia.keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. II. Namun.

Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. tumbuhan. 91 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. daerah pantai. c. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati. maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. waduk. laut wilayah Indonesia. dan jasad renik. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. perlu diadakan penelitian dan inventarisasi. baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif. Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung. jurang. rawa. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. tepian sungai. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas tanah. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. danau. udara. dan lain-lain. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan. daerah pasang surut. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi. baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. bagian tertentu dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan. dan genangan air lainnya). Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai. maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. pengelolaan daerah aliran sungai. dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. areal tepi sungai.Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. dan areal berpolusi berat. tebing. satwa. tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. daerah aliran sungai. maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. dan tanah. yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. perlindungan pantai. b. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air. dan jurang. Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. pemeliharaan fungsi hidrologi hutan. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari. danau. Pasal 6 Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia. air.

dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat. maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. ilmu pengetahuan dan pendidikan. ilmu pengetahuan. Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. perburuan satwa yang berada dalam kawasan. dan pendidikan. Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer. kewenangan penentuan kegiatan penelitian. 92 . Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak.Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor. Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi. dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. baik sebagai kawasan hutan lain. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan. dan gempa bumi. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian. Namun.perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya. kebakaran. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. melihat. atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran. maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami. erosi.

sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif.Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian. guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. 93 . penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan. maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan. cara melakukan penangkapan hidup-hidup. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis. juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan. Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya. pembuatan fasilitas air minum. baik di dalam maupun di luar negeri. baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat. dan sebagainya. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang. taman safari.

Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional zona rehabilitasi, dan sebagainya. Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

94

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran), dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa. Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka melalui kegiatan penyuluhan, Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah, juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas 95

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila; b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 96

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan; b. keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. (2) Setiap orang berhak untuk: a. mengetahui rencana tata ruang; b. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 5 (1) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. (2) Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. 97

Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. (2) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undang-undang. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan, penataan ruang kawasan perkotaan, dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia; b. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi, selaras, dan seimbang antara perkembangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. (3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II; b. meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, dan interaksi lingkungan; b. tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan, serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pasal 12 (1) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. (2) Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. (3) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). (4) Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; b. aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. (2) Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya. (3) Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang, tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. 98

c. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor. b. (2) Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. diatur dengan Peraturan Pemerintah. kawasan budi daya. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. dan evaluasi. Pasal 18 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. tata guna air. kawasan budi daya. kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. c. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. yang meliputi: a. pola pengelolaan tata guna tanah. b. (2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a. pemantauan. dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. b. tata guna air. mewujudkan keterpaduan. (2) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II. 99 . tata guna udara. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. yang didasarkan atas rencana tata ruang. norma dan kriteria pemanfaatan ruang. d. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. b. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warganegara. c. BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. c. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. b. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. (2) Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penetapan kawasan lindung. dan kawasan tertentu. keterkaitan.

kawasan perkotaan. b. perindustrian. tata cara. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. keterkaitan. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. c. yang meliputi : a. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. b. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. kehutanan. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kawasan. (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun. energi. b. d. f. c. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. tata guna udara. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. penatagunaan air. 100 . pedoman. yang meliputi: a. Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. pariwisata. e. pertambangan. pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. tata guna air. e. c. b. dan prasarana pengelolaan lingkungan. pertanian. b. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. d. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. dan kawasan lainnya. arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan. (2) Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. e. penatagunaan udara. c. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. arahan pengelolaan kawasan perdesaan. keterkaitan. c. arahan pengembangan kawasan permukiman. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pengelolaan kawasan perdesaan. dan kawasan tertentu. d. c. telekomunikasi. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. d. sistem prasarana transportasi. g. dan tata guna sumber daya alam lainnya. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. kawasan perkotaan. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. b. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. d. (4) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi. mewujudkan keterpaduan. pengairan. (6) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. penatagunaan tanah. dan kawasan tertentu. energi. mewujudkan keterpaduan. telekomunikasi. arahan kebijaksanaan tata guna tanah.Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. prasarana pengelolaan lingkungan. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. pengairan. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor.

(2) Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. (3) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. (2) Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan itikad baik. b. pendidikan. Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. Pasal 29 (1) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. (2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting. Pasal 27 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. (2) Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undangundang ini. (4) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. Lembaga.BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. b. 101 . dan pelatihan. bimbingan. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a. menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan. (3) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat.

BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Agar setiap orang mengetahuinya. Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no. Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 102 . Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.13) dinyatakan tidak berlaku. maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168.

4. sosial. Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas. 3. dan estetika lingkungan. budaya. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. Akan tetapi. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. sumber daya buatan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG I. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. Dengan demikian. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. lautan. ruang lautan. 2. Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. Secara geografis letak dan kedudukan negara Indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. keselarasan. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. fungsi lokasi. tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. dan keseimbangan. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik. maka 103 . diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. musim. Oleh karena itu. maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Seiring dengan maksud tersebut. pertahanan keamanan. UMUM 1. Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. keselarasan. di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. kawah gunung berapi. selaras. ekonomi. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. hubungan manusia dengan alam. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. kualitas ruang. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem. ekonomi. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinasi. dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. akan meningkatkan keserasian. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati. budaya. Ruang meliputi ruang daratan. maka haruslah jelas batas. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian. terpadu. Oleh karena itu. ruang harus dimanfaatkan secara serasi. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. dan iklim tropisnya. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. lapisan di bawah kerak bumi. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. dilindungi dan dikelola. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. sosial. hubungan manusia dengan manusia. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. pertahanan keamanan. jenis kegiatan. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang.

perindustrian. atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. c. d. harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang. pertambangan. telekomunikasi. perumahan dan permukiman. jalan. waktu. tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). c. dan ruang udara. industri. yang merupakan ruang di luar ruang udara. perkotaan. ruang lautan. ruang lautan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. ruang lautan. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. perikanan. Selain itu. Dalam Undang-undang ini. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). perhubungan. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. pemanfaatan ruang. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35.pelaksanaan pembangunan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. pembangunan daerah. dan tempat. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi. Untuk itu. kehutanan. kepariwisataan. b. Ruang daratan. pertanahan. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. sebagai jalur perhubungan. dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Ruang daratan. pertambangan. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya. sebagai sumber energi. Landas Kontinen Indonesia. perdesaan. pemanfaatan ruang. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah teritorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah teritorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara. 104 . sebagai obyek wisata. 5. Dengan demikian. dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Potensi itu diantaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan. II. transmigrasi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundangundangan mengenai perairan. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. b. Dengan demikian.

Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan. fungsi. jalan kolektor. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai. daya dukung lingkungan. danau. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. Yang dimaksud dengan serasi. prasarana jalan seperti jalan arteri. pusat lingkungan. dan geopolitik. garis langit. gunung dan sebagainya. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu. pusat pemerintahan. jarak antar bangunan. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. Dalam mempertimbangkan aspek waktu. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. modal. keselarasan. gua. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. sebaran permukiman. optimasi. 105 . antar daerah. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. suaka alam. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. daya tampung lingkungan. rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan. dan jalan lokal. dan sebagainya. ruang lingkup wilayah yang direncanakan. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. lingkungan sosial.Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. industri. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. tempat kerja. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. selaras. dan pertanian.

Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. atau badan hukum. dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor-faktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. budi daya kehutanan. penelitian. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang. dan kegiatan pembangunan permukiman. Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. dan atau ruang. daerah. dan sebagainya. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. siklus udara. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. ikan. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan. dan lain-lain yang sejenis. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. obyek wisata lingkungan. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. ruang lautan. memberi saran. dan lain-lain yang sejenis. tambang. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal. industri. Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. penambangan lepas pantai. hak untuk melakukan angkutan laut. Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. hak pemeliharaan taman laut. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. fungsi lingkungan seperti wilayah 106 .Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. hak untuk melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi. hak untuk mengelola pariwisata bahari. pariwisata. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. tempat peristirahatan. dan sebagainya. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. siklus hidrologi. rehabilitasi. integrasi. dan ruang udara. perdagangan. pemanfaatan ruang. bahan galian. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. b. meningkatkan fungsi kawasan lindung. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. keselarasan. budi daya pertanian. dan sebagainya. tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. b. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. kelompok orang. yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang.

kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. arsitektur bangunan. kawasan bergambut. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. kawasan industri. serta kawasan perdesaan. dan sebagainya. kawasan pertahanan keamanan. b. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. dan kawasan tertentu. kegiatan pemerintahan. Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. kawasan tempat beribadah. c. kawasan berikat. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. taman hutan raya dan taman wisata alam. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. taman nasional. wilayah perbatasan. kawasan resapan air. jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. kawasan pariwisata. kawasan sekitar danau/waduk. sempadan sungai. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. dan kegiatan ekonomi. kegiatan pelayanan sosial. estetika lingkungan seperti bentang alam. kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. sempadan pantai. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. pertanaman. Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan. kawasan pantai berhutan bakau. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. konservasi flora dan fauna. dan kegiatan ekonomi. Bagi orang yang tidak mampu. kegiatan pelayanan sosial. kawasan suaka alam. tempat kegiatan pertanian. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. kawasan sekitar mata air. kawasan resapan air. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a.resapan air. taman nasional. kawasan hutan lindung. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). dan kawasan rawan bencana alam. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. kawasan pendidikan. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. kawasan pertanian. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. 107 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. kawasan perkotaan. kawasan permukiman. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja.

Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. kawasan hutan lindung. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya pertanian. dan kawasan tertentu. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. suaka alam. wilayah perbatasan. Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. taman nasional. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. kawasan perkotaan.Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. sosial. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. Kecuali kawasan tertentu. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. dan daerah latihan militer. dan pertahanan keamanan. koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. kawasan resapan air. Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. serta kawasan perdesaan. Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. di lautan dan di udara dengan negara tetangga. Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. di daratan. ekonomi. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. pariwisata. 108 . Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. lingkungan. budaya. penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. wilayah perbatasan. koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

c. agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. serta fungsi pertahanan keamanan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. d. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu.Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. b. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala. Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. sosial. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Oleh karena itu. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. atau badan hukum. budaya. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. penetapan tata ruang. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: 109 . menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. perumusan perencanaan tata ruang. Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. informasi. kelompok orang. bertitik tolak dari data. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional. Ayat (2) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. maka hak orang harus tetap dilindungi. dan fungsi wilayah serta kawasan. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. kedalaman rencana. Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. Dalam menjalankan peranannya itu.

Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan. pola pengelolaan tata guna air. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. Meskipun demikian. dan estetika lingkungan. antara lain. pertahanan keamanan. air kotor. fungsi lindung. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. pengatusan air hujan. penggunaan. teknologi. b. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. Sistem prasarana meliputi. penatagunaan air. lingkungan alam nonhayati. jaringan gas. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk 110 . Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. energi surya. jaringan transportasi seperti jalan raya. budi daya. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang. air. Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. udara. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. dampak terhadap lingkungan. flora. budaya. sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. air. penatagunaan air. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. jaringan telepon. antara lain. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. jalan kereta api. Perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. sistem prasarana. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. energi angin. tata guna air. perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. d. minyak bumi. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. dan pemanfaatan tanah. air. informasi. pola pengelolaan tata guna udara. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. lingkungan buatan. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. sumber daya alam. penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. udara. udara. Tata guna tanah. fauna. potensi meteorologi klimatologi. sumber daya buatan. c. dan geofisika. administrasi. sosial. ekonomi. dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. c. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. prioritas. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah. udara.a. Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. air. penatagunaan udara. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. penatagunaan udara. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral.

Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi. sanksi perdata. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan. atau b. Dalam pemanfaatan tanah. dan geofisika. dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi. ketidaktersediaan sarana dan prasarana. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. dan mempertahankan ruang hidupnya. pengenaan pajak yang tinggi. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. air minum. di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. meskipun Undang-undang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. hak memperoleh. Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. 111 . listrik. dan sanksi pidana. Dengan demikian. Pasal 19 Ayat (1) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. atau b. Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham. mengawasi. misalnya dalam bentuk: a. klimatologi. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. pemanfaatan udara.kepentingan masyarakat secara adil. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. imbalan. pemanfaatan air. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a. Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang.

Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung. kawasan budi daya. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. kawasan budi daya. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. daya dukung dan daya tampung lingkungan. b. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan.000. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14.000. dan stabilitas.000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. 112 .000. b.000. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. pertumbuhan.Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda. c. Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. dan kawasan lainnya. Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. c. b. pemerataan. Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. termasuk penetapan kawasan tertentu. data dan informasi. dan udara. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a. d. c. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. keanekaragaman kegiatan pembangunan. laut. e. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250.000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar. dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah.

b. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. pertumbuhan. f. g. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Selanjutnya. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I. pokok permasalahan kepentingan nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Meskipun demikian. data dan informasi. Dengan demikian. h. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. pemerataan. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. i. 113 . Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun.Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batasbatas tertentu. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. dan stabilitas. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. d. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. c. e. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang.

dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. c. daya dukung dan daya tampung lingkungan. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I. pengairan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Ayat (6) Cukup jelas 114 . e. data dan informasi. telekomunikasi. penatagunaan air. kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I. f. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. g. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. keselarasan dengan aspirasi masyarakat. air. udara dan sumber daya alam lainnya. penatagunaan tanah. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan.Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan. persediaan dan peruntukan tanah. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II memperhatikan antara lain: a. Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. d. energi. dan pengelolaan lingkungan. b. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran.

Dengan demikian. dan kegiatan yang ditetapkan. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan dalam kaitannya dengan besaran kawasan. Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. menjunjung tinggi. atau kebiasaan yang berlaku.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. dan mencegah kerusakan lingkungan. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya. mengakui. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri. Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundang-undangan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. lokasi. c. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. penguasaan. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. b. Pemilikan. kewenangan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat. 115 . dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang. dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. mempunyai dampak penting. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. hukum adat. Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar.

Sebaliknya Departemen.Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. proses. Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. jaringan pengatusan. Lembaga. pemanfaatan ruang. Ayat (2) Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai buktibukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang. Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. kualitas ruang. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. pendidikan. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang. Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. dan Badan-badan Pemerintah lainnya. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. jaringan air minum. Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. pemanfaatan ruang. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut. dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. Lembaga. penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. jaringan telepon. bimbingan. Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. standar dan kriteria teknis. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. dan kebiasaan yang berlaku. dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. prosedur. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. Ayat (3) Cukup jelas 116 . Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. hukum adat. jaringan penyediaan air baku. jaringan air kotor. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen. sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.

pariwisata. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci. lintas daerah. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. dan penyusunannya dilakukan secara berurutan. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. dikoordinasikan oleh Menteri. antara lain. Akan tetapi. sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. dan terpusat. Pada prinsipnya. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. pariwisata. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. permukiman. untuk menghindari kevakuman. dan sebagainya. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. pariwisata. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kawasan perumahan menjadi kawasan industri. kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. pertanian. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya. dan sebagainya. Sebagai contoh. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang.Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pemanfaatan ruang. industri. Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan. permukiman. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional. perdagangan. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas 117 . peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuan-ketentuannya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini.

AMDAL 118 .

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. b. 2. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. 8. 12. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. bahwa dengan diundangkannya Undang-undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. 2. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 4. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. d. Mengingat : 1. 9. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. 6. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 119 . Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 11. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . 3. ME MUTU S KAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. 7. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. 5. c. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 14. 13. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/ atau kegiatan dimaksud. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. e. 10.

berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. dan atau mempengaruhi pertahanan negara. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. (2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. e. lingkungan buatan. Pasal 7 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. e. g. f. c. (4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. serta lingkungan sosial dan budaya. dan jenis jasad renik. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. (3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya dalam 5 (lima) tahun. (2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. terpadu atau kegiatan dalam kawasan. (5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. d. luas wilayah persebaran dampak.Pasal 2 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/ atau kegiatan. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. b. jenis hewan. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya. jumlah manusia yang akan terkena dampak. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. Pasal 3 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. sifatnya kumulatif dampak. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. (3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. Pasal 4 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. 120 . h. Pasal 5 (1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : a. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. d. (2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. f. c. i. b. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. (2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait.

setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. baik pusat maupun daerah. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. (8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. organisasi lingkungan hidup di daerah. b. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a) di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 121 . instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. serta anggota lain yang dipandang perlu. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. analisis dampak lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang kesehatan. Pasal 10 (1) Komisi penilai daerah sebagaimana dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. wakil masyarakat terkena dampak. (5) Dalam menjalankan tugasnya. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. warga masyarakat yang terkena dampak. komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan. instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah. (6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. di tingkat daerah : oleh Gubernur. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. Departemen Dalam Negeri. ahli di bidang lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur.(2) Pemohon izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan instansi yang bertanggung jawab. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. ditetapkan oleh Menteri. Pasal 9 (1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. (7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. ahli di bidang yang berkaitan. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. ahli dibidang yang berkaitan. serta anggota lain yang dipandang perlu. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya. analisis dampak lingkungan hidup. (4) Dalam menjalankan tugasnya. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Komisi penilai dibentuk : a. ahli di bidang lingkungan hidup. (3) Komisi penilai menilai kerangka acuan. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. di tingkat pusat : oleh Menteri. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. analisis dampak lingkungan hidup. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. b) di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan.

Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. c. e. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. (2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2).Pasal 11 (1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). 122 . (2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan ketentuan : a. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan. di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengembangan wilayah. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. (2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 16 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. Bagian Kedua Analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup Pasal 17 (1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 12 (1) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. Pasal 15 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. BAB III TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 14 (1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. b. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. d. b. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan.

Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17. b. Gubernur dan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 21 (1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri. biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.Pasal 18 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. pendapat. diajukan oleh pemrakarsa kepada : a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 20 (1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. b. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup. Pasal 19 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. rencana pegelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh : a. dan instansi yang terkait. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). instansi terkait yang berkepentingan. dan pertimbangan terhadap saran. dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. Pasal 22 (1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa : a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. atau b. dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 19. Pasal 18. (3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. dan Pasal 20. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah (2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 123 . dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. (2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. b.

pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. atau b. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pasal 24 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini.Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 25 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatan. pelatihan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 26 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan dilokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 31 Penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. Pasal 27 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. 124 . Analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 29 (1) Pendidikan. apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya keputusan kelayakan tersebut. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan peraturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.

Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. (3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. 125 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. c. pendapat. Pasal 38 (1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. pendapat. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. b. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab. BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 35 (1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan tanggapan warga masyarakat yang berkaitan. (6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. saran. dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.BAB V PENGAWASAN Pasal 32 (1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. penilaian kerangka acuan. (2) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. pendapat. kesimpulan komisi penilai. (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. analisis dampak lingkungan hidup. (5) Saran. (2) Instansi yang bertanggung jawab menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. serta tatacara penyampaian saran. Pasal 34 (1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum. pendapat. penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. b. dan rencana pemantauan lingkungan hidup di bebankan kepada pemrakarsa. analisis dampak lingkungan hidup. pendapat. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup (2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (4) Saran. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup.

Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 ( delapan belas ) bulan sejak tanggal diundangkan. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan. atau b. memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG 126 . sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini : a. sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini.

Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. baikyang menguntungkan maupun yang merugikan. Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan yang timbul. tetapi dilain pihak ketersediaan sumber daya alam bersifat terbatas. sejak awal perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut. Dengan demikian. Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Peran masyarakat itu meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Keterlibatan warga masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan. sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup. sehingga timbul tekanan terhadap sumber daya alam. Angka (3) Cukup jelas 127 . Oleh karena itu. UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. II. Oleh karena itu. sehingga dapat diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP I. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan merupakan kepentingan seluruh masyarakat. pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Dengan keterlibatan warga masyarakat itu akan membantu dalam mengidentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan lengkap. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan mengubah rona lingkungan hidup. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan pembangunan. Hal itu merupakan konsekuensi dari kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Konsekuensinya adalah bahwa syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan. Oleh karena itu. keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup.

maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. analisis ekonomis-finansial. pengelolaan. dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. b. 128 . Ayat (3) Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi : a. analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan.Angka (4) Cukup jelas Angka (5) Cukup jelas Angka (6) Cukup jelas Angka (7) Cukup jelas Angka (8) Cukup jelas Angka (9) Cukup jelas Angka (10) Cukup jelas Angka (11) Cukup jelas Angka (12) Cukup jelas Angka (13) Cukup jelas Angka (14) Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomisfinansial. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu. maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis.Dengan ayat ini. Oleh karena itu. usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem. dan proses produksinya. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi kegiatan dimaksud. di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah.

Oleh karena itu. usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. Pasal 3 Ayat (1) Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan: c. penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. sebagai contoh seperti usaha dan/ atau kegiatan : a. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang. atau pencemaran benda cagar budaya. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. f. berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lainnya. c. g. kerusakan kawasan konservasi alam. Dengan demikian penyebutan kategori usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ayat (2) Cukup jelas 129 . Oleh karena itu kriteria ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. pembuatan jalan. pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya.Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. b. d. yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. e. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. h. Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi : a. bendungan. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. perlu ditinjau kembali. penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan. b. sehingga tidak bersifat limitatif.

Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah lembaga swadaya masyarakat. Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. tanpa izin tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. Oleh karena itu. sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Keadaan darurat ini tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Keadaan Darurat. izin penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C. izin hak pengusahaan hutan di bidang kehutanan. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung resiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. Pasal 7 Ayat (1) Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan. Ayat (2) Cukup jelas 130 . Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. ditetapkan oleh menteri yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dimaksud. kuasa pertambangan di bidang pertambangan. Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai.Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa. misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan. khususnya pengendalian dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak lingkungan hidup di daerah. Ayat (2) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Ayat (2) Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan instansi yang ditugasi di bidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. Adanya wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Sedangkan keputusan kelayakan lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Misalnya izin usaha industri di bidang perindustrian. misalnya pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar. dan rencana pemantauan lingkungan hidup.

bandar udara. yaitu proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting. eksploitasi minyak dan gas. industri pesawat terbang. pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi. industri alat-alat berat. industri baja. penilaian oleh komisi penilai. pembangunan bendungan. pembangkit listrik tenaga air. sampai ditetapkannya keputusan. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Dalam hal usaha dan/ atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau kegiatan terpadu/ multisektor. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. industri bahan peledak. industri telekomunikasi.Pasal 11 Ayat (1) Huruf (a) Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan keamanan negara misalnya : pembangkit listrik tenaga nuklir. Ligitan dan Celah Timor Huruf (d) Cukup jelas Huruf (e) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. penilaian secara teknis. kilang minyak. Berdasarkan hasil pelingkupan. industri petrokimia. pelabuhan dan rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dianggap strategis. maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat. industri senjata. serta komponenkomponen parameter lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. industri kapal. kerangka acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. penambangan uranium. Huruf (b) Cukup jelas Huruf (c) Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya: rencana usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jeias Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. Ayat (3) Cukup jelas 131 .

Oleh karena itu. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik pula. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas 132 . yang dicantumkan dalam rencana pemantauan lingkungan hidup. hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. Kerangka acuan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan hidup. cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar dan penting positif. Dengan mengetahui dampak besar dan penting itu dapat ditentukan : a. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I . Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. sampai dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penilaian secara teknis. cara memantau dampak besar dan penting tersebut. dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa.Ayat (4) Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan umum. penilaian oleh komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. demikian pula sebaliknya. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan umum. dan b. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan keputusan kepada instansi yang berwenang. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau bantuan lainnya. 133 . Oleh karena itu. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. sehingga rona lingkungan hidup yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah diterbitkan menjadi batal.Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah.

Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian mengenai analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan. melalui media cetak dan/atau media elektronik. misalnya. kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan. pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi. menjadi tanggungan pemrakarsa. dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (6) Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan sekurangkurangnya. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lokasi akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan. Ayat (5) Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam penyusunan kerangka acuan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Saran. jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas 134 .Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090). h. bahwa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) seperti tersebut pada huruf c. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Fungsi. bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). bahwa Menteri Negara Lingkungan Hidup berwenang untuk menetapkan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. Menimbang : a. bahwa pembinaan usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berada pada pemerintah. d. dan Tata Kerja Menteri Negara. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Tugas. sejalan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 4. Kewenangan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP. Mengingat : 1. 135 . bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. g. c. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Susunan Organisasi. b. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 Tentang Kedudukan. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). 5. 6. f. bahwa mengingat hal-hal seperti tersebut di atas. Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. e. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 7. bahwa salah satu upaya pembinaan tersebut dapat berupa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). bahwa daerah saat ini membutuhkan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) untuk pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 2.

instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib berkoordinasi dengan instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan untuk melakukan pemeriksaan formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. dampak lingkungan yang akan terjadi. 136 . Di a. pemrakarsa wajib menyempurnakan dan atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. di dalam izin melakukan usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. (3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib menerbitkan rekomendasi tentang UKL dan UPL kepada pemrakarsa paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah diperbaiki oleh pemrakarsa. b. (2) UKL dan UPL wajib dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan formulir isian seperti terlampir dalam Keputusan ini. Pasal 5 (1) Berdasarkan formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. c. Pasal 8 (1) Pejabat dari instansi yang berwenang wajib mencantumkan syarat dan kewajiban yang tercantum dalam program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pasal 3 dalam formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berisikan informasi: identitas pemrakarsa.2. c. b. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Kabupaten/Kota. yang proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pasal 4 Pemrakarsa mengajukan formulir isian tentang UKL dan UPL kepada: a. tanda tangan dan cap. Pasal 7 Pemrakarsa mengajukan rekomendasi tentang UKL dan UPL dari pejabat instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada instansi yang berwenang sebagai dasar penerbitan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. rencana usaha dan atau kegiatan. program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. (2) Dalam hal terdapat kekurangan informasi yang disampaikan dalam formulir isian tentang UKL dan UPL dan memerlukan tambahan dan atau perbaikan. 3. d. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. Pasal 2 (1) Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib melakukan UKL dan UPL. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Propinsi dan atau lintas batas negara. e. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib memberikan rekomendasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah Kabupaten/Kota. Pasal 6 Dalam hal formulir isian tentang UKL dan UPL tidak memerlukan perbaikan. (2) Izin yang diterbitkan oleh pejabat dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tembusannya wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertangung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota sesuai kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4.

MSM. ttd. ttd Nabiel Makarim. MPA. MPA. Pasal 10 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan Dan Kelembagaan Lingkungan Hidup. Hoetomo.Pasal 9 Dengan berlakunya keputusan ini. 137 .. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 28 Oktober 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dinyatakan tidak berlaku lagi.

ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. b. 4. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan dalam skala/ besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5. tetapi karena daya dukung. dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. 138 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Kedua Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Ketiga Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Menimbang : a. 2. daya tampung. Pertama Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini.

Kedelapan Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Dr. Ketujuh Dengan berlakunya keputusan ini. Hadi 139 . Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Hukum Lingkungan.Keempat Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi. Sudharto P. Kelima Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Keenam Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. A. ttd. maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup.

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 Tahun 2001 TANGGAL : 22 Mei 2001 JENIS RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. Pendahuluan Jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan : a. Potensi dampak penting Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan: 1. Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2. Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang AMDAL. b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul. 2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup A. Bidang Pertahanan dan Keamanan Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan skala/besaran berikut berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah

Skala/Besaran Semua besaran *

Alasan Ilmiah Khusus Beresiko terjadinya ledakan saat perjalanan dan saat penyimpanan yangmembahayakan penduduk walaupun sudah memiliki standard operating procedure (SOP) penanganan bahan peledak. * Kegiatan pengerukan dan reklamasi berpotensi mengubah ekosistem laut dan pantai. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair dan sampah padat. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan pesawat. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan latihan tempur berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan akibat ledakan. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan penyiapan lahan (land clearing) di areal yang cukup luas untuk pangkalan, landasan pacu, dan bangunan penyangga menyebabkan perubahan ekosistem. * Kegiatan latihan berpotensi menyebabkan kebisingan.

2

Pembangunan Pangkalan TNI AL

Kelas A dan B

3

Pembangunan Pangkalan TNI AU

Kelas A dan B

4

Pembangunan Pusat Latihan Tempur

Luas > 10.000 ha

5

Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri

Luas > 10.000 ha

140

B.

Bidang Pertanian Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas air, persebaran hama, penyakit dan gulma, serta perubahan kesehatan tanah akibat penggunaan pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan penyebaran penyakit endemik. Skala/besaran yang tercantum di bawah ini telah memperhitungkan potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam. Skala /besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang, dan tinggi. Skala/Besaran Luas > 2.000 ha Alasan Ilmiah Khusus * Lihat penjelasan di atas

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tanaman pangan dan hortikultura semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan

2

Luas > 5.000 ha

*

Lihat penjelasan di atas

3

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

4

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

141

C.

Bidang Perikanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang, ikan, dan pembangunan pelabuhan perikanan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam. Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan dari tumbuhtumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya

Skala/Besaran Luas > 50 ha

Alasan Ilimiah Khusus * Rusaknya ekosistem mangrove yang menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan ( nursery areas) akan mempengaruhi tingkat produktivitas daerah setempat. Beberapa komponen lingkungan yang akan terkena dampak adalah: kandungan bahan organik. perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah phytoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Berpotensi menimbulkan konflik sosial. Perubahan kualitas perairan. Pengaruh perubahan arus dan penggunaan ruang perairan. Pengaruh terhadap estetika perairan.

*

*

2

Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system): a. Di air tawar (danau) - Luas - Atau jumlah b. Di air laut - Luas - Atau jumlah

* * > 2,5 ha > 500 unit * > 5 ha > 1.000 unit *

3

Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum dan memenuhi kriteria sebagai berikut: - Panjang dermaga - Atau mempunyai Kawasan Industri Perikanan dengan luas - Atau kedalaman perairan di dermaga

> 300 m > 10 ha > -4 m LWS

Berpotensi menimbulkan dampak berupa: penurunan kualitas air, penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik sosial, pergeseran pola penyakit, dan dampak potensi limbah cair dan padat yang dihasilkan.

142

D.

Bidang Kehutanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam dan potensi konflik sosial. Skala/Besaran Semua besaran * Alasan Ilmiah Khusus Pemanenan pohon dengan diameter tertentu berpotensi merubah struktur dan komposisi tegakan, satwa liar dan habitatnya.

No. 1

Jenis Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHK)

2

Usaha Hutan Tanaman

> 5.000 ha

*

Usaha hutan tanaman dilaksanakan melalui sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), dimana untuk penyiapan lahannya dilaksanakan secara mekanis menggunakan alat berat.

E. No. 1.

Bidang Kesehatan Skala/Besaran Kelas A dan B atau yang setara * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3 / radioaktif dan potensi penularan penyakit.

Jenis Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

F.
No. 1

Bidang Perhubungan
Skala/Besaran > 25 km * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, k e b i s i n g a n , g e t a r a n , gangguan pandangan, ekologi, d a n d a m p a k sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar kegiatan serta membutuhkan area yang luas. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan kestabilan lahan (land subsidence), air tanah serta gangguan berupa dampak terhadap emisi, lalu lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, gangguan jaringan prasarana sosial (gas, listrik, air minum, telekomunikasi) dan dampak sosial di sekitar kegiatan tersebut. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi dan ekologi yang lebih luas dari batas tapak kegiatan itu sendiri. Kegiatan ini juga akan menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran sungai. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi, ekosistem, kebisingan dan dapat mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai (coastal processes). Berpotensi menimbulkan dampak terhadap

Jenis Kegiatan Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api - Panjang Pembangunan Stasiun Kereta Api

2

Stasiun kelas besar dan/atau kelas I

*

3

Konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan tanah

Semua besaran

*

4

Pengerukan alur pelayaran Sungai - Volume

* > 500.000 m3

5

Pembangunan pelabuhan dengan salah satu fasilitas berikut: a. Dermaga dengan konstruksi masif - Panjang > 200 m - Atau luas > 6.000 m2 b. Penahan gelombang (Break water/talud) - Panjang > 200 m c. Prasarana pendukung pelabuhan (terminal, gudang, peti kemas, dll)

*

*

*

143

- Luas

> 5 ha

*

d.

Single Point Mooring Boey - Untuk kapal

* > 10.000 DWT

*

6

Pengerukan: a. Capital dregging - Volume

* > 250.000 m3

b.

Maintenance dregging - Volume

> 500.000 m3

*

7

Reklamasi (pengurungan): - Luas - Atau Volume

* > 25 ha > 5.000.000 m3

ekosistem, hidrologi, garis pantai dan batimetri serta mengganggu proses-proses alamiah yang terjadi di daerah pantai. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar area yang luas. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan alur pelayaran, perubahan, batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai terutama apabila yang dibongkar muat minyak mentah yang berpotensi menimbulkan pencemaran laut dari tumpahan minyak Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri,ekosistem,dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai dan membutuhkan waktu 3 -6 bulan Berpotensi menimbulkan dampak terhadap sistem geohidrologi, hidrooseanografi, dampak sosial, ekologi, perubahan garis pantai, kestabilan lahan, lalu lintas serta mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai.

8

Kegiatan penempatan hasil keruk (dumping) a. Di darat: - Volume - Atau luas area dumping b. Di laut

> 250.000 m3 > 5 ha Semua besaran

*

Menimbulkan terjadinya perubahan bentang lahan yang akan mempengaruhi ekologi, hidrologi setempat. Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut yang akan menimbulkan dampak sosial. Termasuk kegiatan yang berteknologi tinggi, harus memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak berupa kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara.

*

9

Pembangunan bandar udara baru beserta fasilitasnya

Semua besaran ( kelas I * s.d. V) beserta hasil studi rencana induk yang telah disetujui *

10

Pengembangan bandar udara beserta Kelas I, II, III, berdasarkan * rencana pengembangan fasilitasnya (rencana induk, rencana tata letak, dll) *

11

12

Perluasan bandar udara beserta/atau fasilitasnya: a. - Pemindahan penduduk - Atau pembebasan lahan b. Reklamasi pantai: - Luas - Atau Volume ruangan c. Pemotongan bukit dan pengurugan lahan dengan volume Pemasangan kabel bawah laut

* >200 KK > 100 ha > 25 ha > 100.000 m3 > 500.000 m3 Semua besaran * * *

*

Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif ( misalnya terumbu karang). Pengoperasian kabel bawah laut rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh, penambangan pasir.

144

* Potensi berbagai jenis limbah: padat (tailing).NOx. 1 Bidang Teknologi Satelit Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus * Kegiatan ini memerlukan persyaratan lokasi yang khusus dan teknologi canggih * Bangunan peluncuran satelit dan fasilitas pendukung. * Tenaga kerja besar (+ 1-2 TK/3000 ton produk). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas (0.G.2 ha/1000 ton produk). SiO2. gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut di atas menimbulkan dampak sosial. No. tetapi menggunakan areal yang luas tetap wajib dilengkapi dengan AMDAL (nomor 15).5 ton semen membutuhkan 1 ton air). Berbagai potensi pencemaran. limbah cair (sisa cooling mengandung minyak lubrikasi pelumas). pencucian pulp. gangguan kebisingan. sehingga tidak termasuk dalam daftar berikut. 2 Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan pulp dari industri kertas budaya) Semua besaran 145 . pemasakan serpihan kayu. Beberapa jenis industri yang sudah memiliki teknologi memadai untuk mengatasi dampak negatif yang muncul. bau.COD. Beberapa jenis industri menggunakan air dengan volume sangat besar.TSS). * Kebutuhan energi besar (0. limbah gas CO 2. serat pulp. minyak dan gas. * Kebutuhan air cukup besar (3. penggilingan batubara (coalmill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (Rotary Klin and Clinker Cooler). bahan baku (raw millprocess). tanah. No. * Proses pembuatan pulp meliputi kegiatan penyiapan bahan baku. * Kebutuhan energi cukup besar baik tenaga listrik (110-140 KwH/ton) dan tenaga panas (800 .Cl2) dan limbah padat (ampas kayu. * Tenaga kerja besar. SOx. dan getaran. udara.limbahgas (H2S. terdapat proses penyiapan. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas.S02. dimana.900 Kcal/ton). debu ( CaO. Teknologi Satelit: -Pembangungan fasilitas peluncuran satelit H. termasuk daerah penyangga. Bidang Perindustrian Kegiatan bidang perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air. yang diperoleh baik dari sumber air tanah ataupun air permukaan. lumpur kering). Jenis Kegiatan 1 Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri semen dengan Proses Klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan. Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar.2 Mw/ 1000 ton produk). tertutup bagi masyarakat.NOx) dari pembakaran energi batubara. pemutihan pulp (bleaching) dan pembentukan lembaran pulp yang dalam prosesnya banyak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga berpotensi menghasilkan limbah cair (BOD. Al203FeO2) dengan radius 2-3 km.

* Tenaga kerja cukup besar. Cu.No. Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. * Kebutuhan air untuk proses pendinginan dan elektronika relatif besar (air bersih 5000 m3/ hari dan air laut 3. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang cukup luas. Cu. Cd). O2 dan tail gas dengan parameter Zn. N2. limbah cair (minyak dan scale). debu (SiO2). SOx. F. Cd. * Tenaga kerja cukup besar (1000 ton produk/ TK). Se. BOD. besi kasar/pig iron. paduan besi/alloy. Proses pembuatannya melalui pemisahan konsentrat. Zn. * Kebutuhan energi relatif besar (1 Kwh 0. Se. NH4Cl) dan limbah sisa katalis bekas yang bersifat B3. Umumnya dampak yang ditibulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang luas. Pb. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2. As. baja bloom dan baja slab) Semua besaran 5 Industri pembuatan timah hitam (Pb) dasar (termasuk industri daur ulang) Semua besaran 6 Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/ katoda tembaga (bahan baku dari Cu konsentrat) Semua besaran Alasan Ilimiah Khusus Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah hasil tambang mineral (kondensat) terdiri dari Pusat Olefin yang mengkasilkan Benzena. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2 dan NOx). Industri pembuatan besi dasar dan baja adalah merupakan industri yang mengolah besi bekas (steel scrap) atau konsentrat biji besi yang menggunakan tungku-tungku pembakaran baik menggunakan energi listrik. gas (NO x. limbah padat gipsum dan slag (Fe. Pb. COD. 146 . Ni. Proses pembuatannya melalui proses peleburan yang menghasilkan limbah gas beracun dan debu (partikulat) dan proses peredaman yang menghasilkan limbah cair dengan kadar asam yang tinggi.5 ton produk). Hg. Hg). Ni. * Kebutuhan air cukup besar (untuk pendingin 1 l/dt/1000 ton produk).3 juta m3/hari). Cr. dan Etil Benzena. Hg. limbah cair (TSS. besi spons. Sn. Zn. H2S. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang cukup luas. * Kebutuhan energi relatif besar (264 ribu Mwh/ tahun). * Tenaga kerja besar. Xylena. Jenis Kegiatan 3 Industri petrokimia hulu Skala/Besaran Semua besaran 4 Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making) meliputi usahan pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pallet bijih besi. * Potensi berbagai limbah (termasuk B3): limbah padat (basic slag). peleburan dengan tungku-tungku bertemperatur tinggi dan elektrolisa. ingot baja. batubara ataupun bahan bakar dengan proses pembakaran sampai dengan temperatur 1600 derajat Celcius. TDS & TSS). pellet baja. * Kebutuhan air untuk pendingin relatif besar (> 1000 m3/hari). SO2) debu berupa scale (2-3% dari total produk per hari). Propilena dan Butadiena serta Pusat Aromatik yang menghasilkan Benzena. Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar adalah industri yang mengolah konsentrat bahan tambang. limbah cair (Fe.Toluena. Pb. * Kebutuhan energi relatif besar (6-7 Kw ton produk) disamping bersumber dari listrik juga energi gas. Cd. As.

NO2. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas untuk bangunan pabrik dan fasilitas penunjang. SO2 & HF) dan debu Kawasan industri (industrial estate) merupakan lokasi yang dipersiapkan untuk berbagai jenis industri manufaktur yang masih prediktif. elektrolisa dan pencetakan. * Bangkitan lalulintas. * Kebutuhan air yang sangat besar untuk proses pendinginan (+ 17. Dampak penting yang ditimbulkan berasal dari: * Pengadaan lahan untuk bangunan pabrik dan landasan pacu. lebar 40 m. munisi dan bahan peledak merupakan industri yang dalam proses produksinya menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat B3. Sistem graving dock adalah galangan kapal yang dilengkapi dengan kolam perbaikan dengan ukuran panjang 100 m. sehingga dalam pengembangannya diperkirakan akan menimbulkan berbagai dampak penting antara lain disebabkan: * Kegiatan grading (pembentukan muka tanah) dan runoff (air larian). * Potensi berbagai jenis limbah dan cemaran yang masih prediktif terutama dalam hal cara pengelolaannya. * Pengadaan dan pengoperasian alat alat berat. munisi dan bahan peledak Semua besaran 147 . dan kedalaman 15 m dengan sistem sirkulasi. * Mobilisasi tenaga kerja (90 – 110 TK ha). * Kebutuhan air bersih dengan tingkat kebutuhan rata-rata 0. NH3. * Kebutuhan energi listrik cukup besar baik dalam kaitan dengan jenis pembangkit ataupun trace jaringan (0. * Potensi limbah yang dihasilkan (termasuk B3): padat (dross. * Kebutuhan pemukiman dan fasilitas sosial. pelapis bekas). 8 Kawasan Industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi) Semua besaran 9 Industri galangan kapal dengan sistem graving dock > 4.55 – 0. pengecatan lambung kapal dan bahan kimia B3) maupun limbah gas dan debu dari kegiatan sand blasting dan pengecatan. Perbaikan kapal berpotensi menghasilkan limbah cair (air ballast.1 Mw/Ha). disamping kegiatannya membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi. Pembuatan kolam graving ini dilakukan dengan mengeruk laut yang dikhawatirkan akan menyebabkan longsoran atau pun abrasi pantai.000 DWT 10 Industri pesawat terbang Semua besaran 11 Industri senjata. * Kebutuhan energi relatif besar (+ 295 ribu Mwh/hari). * Tenaga kerja sangat besar.No. Industri pesawat terbang merupakan industri strategis berteknologi tinggi yang membutuhkan tingkat pengamanan (security) yang tinggi. 7 Jenis Kegiatan Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri pembuatan aluminium dasar merupakan industri pembuatan batangan aluminium yang menggunakan bahan baku bijih alumina yang dilakukan melalui proses peleburan. gas (H2S. cair (air spray dengan kadar Flour tinggi dan air pendingin mengandung minyak). Industri senjata. * Gangguan kebisingan dan getaran.75 l/dt/ha.000 m3/hari).

air dan tanah. * Berpotensi menimbulkan pencemaran udara. 148 . 12 Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg) 13 Industri baterai basah (akumulator listrik) Semua besaran 14 Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi material yang digolongkan bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 15 Kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 s/d 14 Penggunaan areal: a. lead powder (proses pembentukan bubuk Pb). tingkat kepadatan bangunan per hektar. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. SO2. * Kebutuhan air relatif besar (+ 270 m3/hari) baik untuk proses maupun domestik.pengemasan. Potensi konflik yang timbul sangat berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk karena umumnya membutuhkan lahan yang luas dan seringkali mengubah tata guna lahan. Cr. gas (proses finishing dengan parameter Pb dan formation parameter sulfat. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar.No.Kota sedang.Tinggi > 15 m * * Termasuk dalam kategori “large dam ” (bendungan besar). * Kebutuhan air relatif besar baik untuk proses (pembuatan pasta dan pemasakan baterai) maupun domestik (170 m3/hari). kapasitas resapan air tanah. TSS. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (sludge B3. Pada umumnya proses produksi lengkap dimulai dari grid casting (persiapan. pasting (pembuatan pasta dengan H2SO4 pekat). NH3. limbah cair (Zn. * Kegiatan produksi. seperti daya dukung tanah. Sulfat & Pb). * Kebutuhan energi listrik cukup besar.Kota kecil. NOx.Kota besar. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No. NOx dan SO2). * Daya dukung lahan. sedangkan pembakaran COx. peleburan dan pencetakan timah hitam sebagai bahan aktif sel). dll. TDS. mengingat merkuri ini bersifat B3 yang mempunyai efek mutagenik. bekas kemasan). Mn & NH3). luas . Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri baterai kering yang diperkirakan menimbulkan dampak penting adalah yang menggunakan bahan baku merkuri (Hg). luas b. dan limbah padat (sludge dari IPAL dan bekas kemasan bahan penolong). Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Bendungan/Waduk atau Jenis Tampungan Air lainnya: . teratogenik dan karsinogenik terhadap manusia. CO. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. luas . pengangkutan. luas . limbah debu dan gas (H2S. penyimpanan.perdagangan danpembuangannya memerlukan persyaratan khusus. * Potensi limbah dari proses produksi seperti limbah cair (pH. lead part (pencetakan bagian-bagian aki dari timah hitam). formation\ (merupakan proses elektrolisa) dan assembling. Bidang Prasarana Wilayah Kegiatan pembangunan dan pengadaan prasarana wilayah umumnya berfungsi untuk melayani kepentingan masyarakat. Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. Zn. * Konflik sosial. COD. Pb dan Cd).Metropolitan. luas Semua besaran > 5 ha > 10 ha > 15 ha > 20 ha > 30 ha Umumnya dampak yang ditimbulkan berupa: * Bangkitan lalulintas. Hg. I. Urban: . * Penurunan kualitas lingkungan. Rural/pedesaan.

Pedesaan . Kegagalan bendungan pada luas genangan sebesar ini berpotensi mengakibatkan genangan yang cukup besar dibagian hilirnya. Gelombang pasang laut (tsunami) di Indonesia berpotensi menjangkau kawasan sebesar 500 m. Dampak pada hidrologi.Atau volume pengerukan Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Mengakibatkan perubahan pola iklim mikro dan ekosistem kawasan. dan gangguan. Pencetakan sawah.Panjang . Berpotensi mengubah ekosistem dan iklim mikro pada kawasan tersebut dan berpengaruh pada kawasan disekitarnya.Atau volume pengerukan > 15 km > 500. luas (perkelompok) 3 Pengembangan Rawa: Reklamasi rawa untuk kepentingan irigasi > 500 ha * * * > 1. Peningkatan dengan luas tambahan > 1. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Kota Besar/Metropolitan . Membutuhkan pembebasan lahan yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial. dampak sosial. Kota Sedang .000 ha * * * c. Mengakibatkan mobilisasi tenaga kerja yang signifikan pada daerah sekitarnya. Dampak pada hidrologi. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak.000 m3 * * b. dan gangguan. 5 Normalisasi Sungai dan Pembuatan Kanal Banjir a. Pembangunan baru dengan luas * * > 2. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. > 10 km > 500. Berpotensi menimbulkan dampak negatif akibat perubahan ekosistem pada kawasan tersebut.Panjang . Memerlukan bangunan tambahan yang berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada.Jarak dihitung tegak lurus pantai * > 500 m * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. Mengakibatkan mobilisasi manusia yang dapat menimbulkan dampak sosial. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Selalu memerlukan bangunan utama (headworks) dan bangunan pelengkap (oppurtenants structures) yang besar dan sangat banyak sehingga berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Perubahan Tata Air.Atau volume pengerukan > 5 km > 500.* . sehingga diperlukan kajian khusus untuk pengembangan kawasan pantai yang mencakup rentang lebih dari 500 m dari garis pantai.Panjang .000 m3 * * c.000 ha * 4 Pembangunan Pengaman Pantai dan perbaikan muara sungai: . Berpotensi mengubah sistem tata air yang ada pada kawasan yang luas secara drastis. dan gangguan. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Memerlukan alat berat dalam jumlah yang cukup banyak. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Akan mempengaruhi pola iklim mikro pada kawasan sekitarnya dan ekosistem daerah hulu dan hilir bendungan/waduk. dampak sosial.Atau luas genangan > 200 ha * * * 2 Daerah Irigasi a.000 ha * * * b.000 m3 * * 149 . Pembangunan pada rentang kawasan pantai selebar > 500 m berpotensi mengubah ekologi kawasan pantai dan muara sungai sehingga berdampak terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pelaksanaan. dampak sosial.

9 Pembangunan Perumahan/Permukiman a. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan.Panjang . gas beracun. kapasitas resapan air tanah. Kota besar.000 orang. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) limbah domestik termasuk fasilitas penunjangnya c. Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPTL). Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). udara. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan saluran di kota besar/metropolitan . Pedesaan . . udara. luas b. getaran. Dampak kebauan dan gangguan visual.Panjang Persampahan a.Panjang 12 Jaringan air bersih di kota besar/metropolitan a. seperti daya dukung tanah. gas beracun. * Isu utama adalah perubahan fungsi lahan.Atau luas b. dampak kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial. luas layanan 11 Drainase Permukiman a. * Setara dengan kota kecil-sedang/kota kecamatan. dampak kebisingan. emisi yang tinggi. * Setara dengan kota kecil. tingkat kepadatan bangunan per hektar. luas > 25 ha > 50 ha > 100 ha 10 a. gangguan visual dan dampak sosial. > 30 km 8 > 10 ha > 10. bau. TPA di daerah pasang surut. Pembangunan Jalan Tol b. getaran.000 orang.6 a.Atau kapasitas total c. Pembangunan saluran di kota sedang . dampak kebisingan. Pembangunan Jalan Layang dan Subway Pembangunan dan. dampak kebisingan. dll. Pembangunan jaringan distribusi > 2 ha > 3 ha * * Setara dengan layanan untuk 10. TPA dengan sistem open dumping Semua besaran > 2 km Bangkitan lalu lintas. * Daya dukung lahan. * Limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman. gangguan visual dan dampak sosial. > 5 ha > 5. bau. 7 > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. Bangkitan lalu lintas.Luas landfill . emisi yang tinggi. getaran. perubahan tata air. * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan).Atau luas c. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.luas c. dan gangguan kesehatan. dan gangguan kesehatan. emisi yang tinggi.000 ton > 1. > 500 ha > 5 km * Setara dengan 17. getaran. emisi yang tinggi.000 sambungan.000 ton / hari Semua ukuran Dampak potensial adalah bahaya banjir dan perubahan pola air. * Tingkat kebutuhan air sehari-hari.Kapasitas d. Pembangunan transfer station . Kota Sedang . > 10 km Berpotensi menimbulkan dampak hidrologi dan persoalan keterbatasan air.000 ton Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). getaran. termasuk fasilitas penunjangnya b. emisi yang tinggi. Kota sedang dan kecil. * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia). * Dampak kebauan dan gangguan visual.atau peningkatan jalan dengan pelebaran diluar daerah milik jalan a. Bangkitan lalu lintas.Panjang b.Atau kapasitas total b..Luas . * Setara dengan layanan untuk 10.Panjang . Pembangunan sistem perpipaan air limbah. getaran. dampak kebisingan. Dampak potensial berupa bau. gas beracun. Kota Besar/Metropolitan . dan gangguan kesehatan. Pembuangan dengan sistem control landfill / sanitary landfill (diluar B3) . Berpotensi menimbulkan dampak meningkatnya kepadatan lalulintas. 150 . Kota metropolitan. kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial.

mata air permukaan. > 250. Bijih Primer c.000 m2 15 Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk/ transmigrasi: . * Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. ekologi dan hidrologi. serta dampak dari limbah cair yang dihasilkan.Atau luas lahan > 200 KK > 100 ha J. Berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh: * Pembebasan lahan. dll) * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan) * Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Khusus bagi pusat perdagangan/perbelanjaan relatif terkonsentrasi dengan luas tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak penting: * Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi). f. Oleh sebab itu.000 ton/th (ROM) > 250. No A 1 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Skala/Besaran * > 200 ha > 50 ha (kumulatif/tahun) * Alasan Ilmiah Khusus Dampak penting terhadap lingkungan antara lain: merubah bentang alam. seperti daya dukung tanah.Jumlah penduduk yang dipindahkan .000 ton/th (ROM) > 200. * Produksi sampah. selain dampak penting yang dapat ditimbulkan. Kesenian. * Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiangtiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar. sungai. polusi udara. termasuk pengolahan. getaran apabila menggunakan peledak. Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara. tingkat kepadatan bangunan per hektar. * Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung. keterkaitannya dengan masalah pertahanan dan keamanan menjadi alasan mengapa kegiatan ini wajib dilengkapi AMDAL untuk semua besaran. Bahan galian radioaktif.Debit pengambilan Pembangunan Pusat Perkantoran. Setara kebutuhan air bersih 200. 14 > 5 ha > 10. kebisingan. Olahraga. * Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar. Batubara/gambut b.Panjang Pengambilan air dari danau.000 orang. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C e. * Daya dukung lahan.Luas lahan . kebisingan.000 ton/th (ROM) > 150. Bahan galian timbal. Bijih Sekunder/Endapan Alluvial d.Luas layanan b.000 m3/th (ROM) Semua besaran Sampai saat ini bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir. penambangan dan pemurnian 2. Pusat Perdagangan/ perbelanjaan relatif terkonsentrasi . Pendidikan. Setara kebutuhan kota sedang. termasuk pengolahan. * Dalam lingkungan perairan.Atau bangunan > 500 ha > 10 km * * > 250 I/dt Besaran diperhitungkan berdasarkan: * Pembebasan lahan * Daya dukung lahan * Tingkat kebutuhan air sehari-hari * Limbah yang dihasilkan * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran. dll. atau sumber air permukaan lainnya . sifat mudah terurai tersebut menyebabkan Pb mudah tersedia secara biologis ( bioavailable). Pembangunan jaringan transmisi . * Tingkat kebutuhan air. Jenis Kegiatan PERTAMBANGAN UMUM Luas perizinan (KP) Atau luas daerah terbuka untuk pertambangan *) *) Untuk menghindari bukaan lahan terlalu luas Tahap eksploitasi produksi: a. Tempat Ibadah. penambangan dan pemurnian Semua besaran 151 . kapasitas resapan air tanah.13 .

terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. Pembangunan PLTA dengan: . . . * * * * * * * * * * * * * * Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar.Aspek flora fauna. mengganggu alur pelayaran dan proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berpotensi menimbulkan pencemaran air permukaan. Pertimbangan ekonomis. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. * Dampak pada hidrologi (kapasitas daya).Atau luas genangan . Lapangan gas > 30 MMSCFD 2. Perubahan Ekosistem laut. Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi * Aspek sosial. Pencemaran udara. ambient dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas.Atau aliran langsung (kapasitas daya) > 15 m > 200 ha > 50 MW 5. Biomassa dan Gambut) C. ekonomi dan budaya. B. ekosistem. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Semua besaran laut 152 . * Aspek flora fauna. Melakukan pengolahan bijih dengan proses Semua besaran sianidasi KETENAGALISTRIKAN > 150 KV Pembangunan jaringan transmisi Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. Pencemaran udara. Memerlukan lokasi khusus dan berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. Pertimbangan ekonomis. limbah bahang dll) serta air tanah.Tinggi bendung . Lapangan minyak b. terutama pada pembebasan lahan. * Membutuhkan areal yang sangat luas. terutama pada pembebasan lahan. * Dampak visual (pandang). Berpotensi menimbulkan dampak pada: . Pertimbangan ekonomis. * Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut. ekonomi dan budaya terutama pada pembebasan lahan dan keresahan masyarakat Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik kimia. * Kegagalan bendungan (dam break). ekosistem.000 BOPD a. ekonomi dan budaya. air tanah dan udara. * Dampak kebisingan. * 2. ekonomi dan budaya. 1. Pembangunan PLTD/PLTG/PLTU/ PLTGU > 100 MW 3. Potensi ledakan. ³ 10 MW Angin. Eksploitasi dan pengembangan Uap Panas Bumi > 55 MW dan atau Pembangunan Panas Bumi 4. Potensi ledakan. akan mengakibatkan gelombang banjir (flood surge) yang sangat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya. air. MINYAK DAN GAS BUMI Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di darat > 5. Potensi kerusakan ekosistem. sehingga berpotensi menimbulkan dampak.3. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. * Aspek sosial. 1. terutama pada kualitas udara (emisi. * Termasuk dalam kategori “large dam” (bendungan besar). Pencemaran udara. Pembangunan pusat listrik dari jenis lain (Surya.Aspek fisik-kimia. air dan tanah. Tambang di laut Semua besaran 4. Potensi ledakan. Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik-kimia. Melakukan Submarine Tailing Disposal Semua besaran 5. * Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. air dan tanah.Aspek sosial. mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial dan gangguan kesehatan. terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk. * Aspek sosial.

Berpotensi menghasilkan limbah gas.000 BOPD 6. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. hidrologi. atau dari 5 * sumur dalam area <10 ha) Pembebasan lahan cukup luas (dapat lintas kabupaten/ kota). Berpotensi menimbulkan dampak dari penggunaan pestisida/ herbisida. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Membutuhkan area yang cukup luas. penambangan pasir. 1. gangguan lalu lintas. Khusus LNG. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. sumur tanah dalam dan mata air) * * > 50 l/dt (dari 1 * sumur. dan sampah. Merupakan industri strategis. bentang alam dan potensi konflik sosial. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya terhadap kegiatan/aktifitas nelayan. Berpotensi menghasilkan limbah gas. padat dan cair yang cukup besar. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Berpotensi menimbulkan dampak dari kegiatan laundry. tambang pasir dan alur pelayaran.000 ton/th D. Pembangunan kilang: LPG LNG > 50 MMSCFD > 550 MMSCFD * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan fungsi lahan/kawasan. Merupakan industri strategis. Pengoperasian pipa rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh. aksesibilitas lalu lintas. bangkitan lalu lintas dan sampah. K. padat dan cair yang cukup besar. Membutuhkan area yang cukup luas. Skala/Besaran > 100 ha Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. limpasan air permukaan (run off). Merupakan industri strategis. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya apabila melalui daerah pemukiman penduduk. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif. Pembangunan kilang minyak > 10. Pelaksanaan konstruksi dapat meningkatkan erosi tanah.Panjang . Berpotensi mengubah ekosistem yang lebih luas. Di darat . dan sampah. padat dan cair yang cukup besar. berpotensi menghasilkan limbah gas H2S Potensi konflik sosial. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. kebutuhan air yang besar. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. GEOLOGI TATA LINGKUNGAN Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal. pembebasan lahan. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Membutuhkan area yang cukup luas. Berpotensi menghasilkan limbah gas.3. No 1 2 Jenis Kegiatan Taman Rekreasi Kawasan Pariwisata 3 4 Hotel: Jumlah kamar Atau luas bangunan Lapangan golf (tidak termasuk driving range) > 200 unit > 5 ha Semua besaran 153 . Pemanfaatan lahan yang tumpang tindih dengan aktifitas nelayan dianggap cukup luas lintas kabupaten/kota juga dapat mengganggu aktifitas nelayan. Kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang) > 10. Bidang Pariwisata Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem. Ada potensi perambahan ROW oleh kegiatan atau aktifitas penduduk.Atau diameter pipa * * > 50 km > 20 inci * * b. pembebasan lahan. Potensi konflik sosial. Potensi intrusi air laut. Potensi konflik sosial. serta kebutuhan air yang relatif besar. Di laut Semua besaran * * * * 4. Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) a.

Reaktor Daya (PLTN) Daya > 100 KWt Semua instalasi Potensi dampak pengoperasian reaktor penelitian dengan daya <100 KWt terbatas pada lokasi reaktor. terutama kegiatan yang dipastikan akan mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam tabel. * Transportasi. menetap dan mengelola berbagai jenis dan sifat limbah B3 (tidak termasuk kegiatan skala kecil seperti pengumpulan minyak pelumas bekas. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. d. Reaktor Penelitian b. Apabila air pendingin berkurang volumenya akan menyebabkan akumulasi panas di tempat penyimpanan sumber. Proses produksi menggunakan thorium (Th) yang memiliki radiotoksisitas yang sangat tinggi. c. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. ttd.L. 2. Skala/Besaran Semua kegiatan yang bersifat jasa pelayanan. Akumulasi panas memungkinkan terjadinya kebocoran radiasi ke lingkungan. dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Semua besaran Lihat penjelasan diatas Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional (konvensi Basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat seksama dan terkontrol.000 TBq (100. Sonny Keraf 154 . A. fabrikasi bahan bakar nuklir selalu memiliki kapasitas minimal 50-100 elemen bakar/ tahun. Bidang Pengembangan Nuklir Secara umum. * Beresiko tinggi. Semua tahapan dalam proses berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan dalam bentuk radiasi. hewan. penyimpanan dan pembuangan bahan baku dan sisa-sisa bahan radioaktif. Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1 Jenis Kegiatan Pengumpulan. Jenis Kegiatan Introduksi jenis-jenis tanaman. Produksi kaos lampu Semua instalasi Semua instalasi Secara teknoekonomik. Dr. komersial. Pengolahan dan pemurnian uranium Pengolahan limbah radioaktif Pembangunan Iradiator (Kategori II s/d IV) e. minyak kotor dan “slop oil”. Fabrikasi bahan bakar nuklir Produksi > 50 elemen bakar/ tahun Produksi > 100 ton yellow cake/tahun Semua instalasi Aktivitas sumber > 37. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No 1 Jenis Kegiatan Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir: a. * Dampak radiasi pada tahap decomisioning (pasca operasi). Pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor a. pemanfaatan. Produksi Radioisotop f.000 Ci) b. 2. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. pengolahan dan/atau penimbunan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai kegiatan utama N. Membutuhkan air pendingin yang telah didemineralisasi dalam kolam beton. pemanfaatan timah dan “ flux solder”). M. * Keamanan konstruksi. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem genetika berpotensi menimbulkan dampak terhadap Salinan sesuai dengan aslinya Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1. kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan resiko radiasi. Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial.

155 .Daftar Singkatan: m m2 m3 km km2 ha l dt Kw Kwh KV Mw Mwh Kcal TBq Ci BOPD MMSCFD kubik per hari LWS DWT KK TK KP ROM LPG LNG ROW BOD COD DO TSS TDS = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = meter meter persegi meter kubik kilometer kilometer persegi hektar liter detik kilowatt kilowatt hour kilovolt megawatt megawatt hour kilocalorie Terra Becquerel Curie barrel oil per day = minyak barrel per hari million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki low water sea = di bawah permukaan laut dead weight tonnage = bobot mati kepala keluarga tenaga kerja kuasa pertambangan raw of material = bahan mentah Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan Right of way = daerah milik jalan (damija) biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi dissolved oxygen = oksigen terlarut total suspended solid = total padatan tersuspensi total dissolved solid = total padatan terlarut .

Mengingat : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 21 Pebruari 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU. Pertama Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini.H. Dr. Kedua Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). ttd. 4. 1. S. A. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional. ttd Najib Dahlan. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. 3. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Undang-ungang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 156 .KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838).

maka penyusunan studi tersebut di dalam merancang permukiman terpadu menjadi sangat strategis.2 MAKSUD DAN TUJUAN Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan. peran kota lama makin nampak terancam oleh pertimbangan kepentingan ekonomi yang sempit. Sedang disamping kebutuhan prasarana dan sarana penunjang. Bangunan lama terlalu mudah dianggap tidak efisien dan oleh karena itu perlu diremajakan yang sekaligus akan menghilangkan nilai sejarah dan kekhasan kota yang bersangkutan. kota makin terlibat di dalam ekonomi global. Ciri Keempat. Di samping itu. apabila dampak yang ditimbulkan tersebut tidak diantisipasi dan dikelola secara optimal dikhawatirkan hal ini akan menjadi unsur pembangunan sosial ekonomi yang mengabaikan kemampuan sistem alam (ekosistem). yaitu pembangunan kawasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya terus meningkat. pembangunan yang terkonsentrasi ini akan menimbulkan masalah lingkungan yang juga intensif. Oleh karena itu. penyusunan AMDAL bagi berbagai kegiatan (proyek) pengembangan pemukiman terpadu. Berdasarkan Pusat Data Properti Indonesia Tahun 1995 diketahui. dan lahan yang memiliki fungsi lindung. pembangunan kota makin menunjukkan sifatnya sebagai komoditi yang selalu mengejar nilai tambah. Sejak memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua. Mengingat salah satu cara sistematis untuk memasukkan pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangungan sosial ekonomi adalah melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). telah menghadapi dilema. pengendali banjir.Ini menimbulkan ancaman yang makin berat terhadap keberlanjutan ekosistem (sosial dan alam) kota yang sudah makin rapuh. yang didasari dengan pendekatan terhadap pembinaan terhadap struktur dan fungsi ekosistem.1. Dalam banyak hal keadaan ini menghabiskan sawah dan tambak (pantai) yang sudah didukung oleh prasarana dasar. Persoalannya kemudian rasional ekonomi yang menganggap bahwa di satu sisi lahan ini akan sangat berguna dan tinggi nilainya bila dikembangkan sebagai perumahan kelas menengah ke atas. serta masyarakat di sekitar kawasan permukiman terpadu. perkembangan kota di Indonesia menunjukkan lima ciri pokok yang menonjol. jauh diatas rata-rata nasional maupun propinsi.LATAR BELAKANG Pengembangan wilayah berdasarkan konsep permukiman terpadu. prakiraan dan evaluasi dampak.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 4 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000 PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU BAB I. Pertama. Proses yang terdiri dari proses identifikasi. 1. Dengan dasar ciri dinamika sistem lingkungan yang bersifat “site specific”. Pembangunan kota cenderung berskala mega atau super dengan intensitas yang tinggi. pada tahun 2010 diperkirakan paling sedikit setengah dari kependudukan Indonesia akan berdiam di kota dan kecenderungan ini tidak akan berbalik kembali. Atas dasar analisis yang baik tentang keterkaitan antara jenis dan tahapan kegiatan pembangunan permukiman terpadu dengan karakteristik dari ekosistem yang diperkirakan akan menerima dampak ini kemudian segenap dampak diantisipasi dan dikelola secara optimal. secara mikro ada peningkatan kualitas lingkungan akibat tertata dengan baik. ini berarti bahwa perkembangan kota akan banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. PENJELASAN UMUM 1. sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan secara makro. 3) Memberikan panduan dan pemahaman kepada penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kegiatan pengembangan permukiman terpadu. Pertimbangan pembangunan kota sudah terlalu didominasi oleh pertimbangan manfaat ekonomi saja dengan mendudukkan pertimbangan-pertimbangan lain hanya menjadi pelengkap. mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan teknologi yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik. Oleh karena. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan terpadu ini diharapkan dapat : 1) Mengendalikan cara pembukaan lahan di kawasan pengembangan permukiman terpadu sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya. kota di Indonesia memainkan peran yang makin penting. Ketiga Perkembangan ekonomi kota terus tinggi. dan flora fauna yang berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem. Hal yang kemudian perlu diingat adalah bahwa mutu yang baik dari studi AMDAL sangat bergantung pada kemampuan tim studi melakukan impact assesment. Oleh karena proses tersebut dapat dicapai dengan mengorbankan fungsi ekosistem seperti hilangnya kesuburan tanah. 2) Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan permukiman terpadu sebagai penyangga kehidupan yang bermakna penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan permukiman terpadu khususnya. Pengembangan permukiman terpadu di Indonesia dikhawatirkan mengeksploitasi lahan-lahan agraris. perubahan iklim mikro. bahwa lahan yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut makin luas. pencemaran dan penurunan potensi lahan. Kedua. 157 . pemasok air baku untuk kebutuhan penyediaan air minum. maka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan oleh pengembangan permukiman terpadu diperkirakan akan berbeda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya. Aglomerasi daerah urban menjadi ciri yang makin menonjol.

Lahan Kering. Jadi permukiman terpadu perlu 158 . Angka luas ini kelak dapat disesuaikan mengikuti peraturan yang berlaku.1 Pendekatan sistem dalam penyusunan AMDAL pengembangan pemukiman terpadu BAB II. permukiman terpadu secara cermat. Kegiatan Pra-Konstruksi . tetapi akan berkisar dari 150 orang per hektar bagi permukiman yang berada di dalam kawasan yang mempunyai ciri lingkungan yang kuat (semi urban) sampai yang mencapai kepadatan hingga 350 orang per hektar bagi yang sepenuhnya merupakan permukiman urban. Oleh karena itu. sampai pada pemusatan dampak penting dan issue pokok lingkungan. Kegiatan Konstruksi . Walaupun hingga kini belum ada ketentuan jelas.1. Kemudian diikuti oleh panduan proses penyusunan Kerangka Acuan ANDAL kawasan permukiman terpadu (Bab IV) yang menjelaskan mengenai proses pelingkupan. Dengan sendirinya kawasan ini merupakan kawasan yang utuh baik langsung menempel pada kota yang ada maupun masih ada jarak yang berupa ruang terbuka atau tidak.3. STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN LINGKUNGAN Struktur Ekosistem/Komponen Lingkungan : · Fisik – Kimia · Biologi (Flora dan Fauna) · Sosek/Sosbud/Kesmas Fungsi ekosistem (Lahan Basah. khususnya Pasal 21 telah menetapkan penyelenggaraan lingkungan siap bangun (Lisiba). Dalam pembahasan konsep undang-undang ini disebutkan bahwa konsep kawasan siap bangunan atau kasiba (Pasal 18 ayat 1) terdiri dari beberapa lingkungan perumahan (Pasal 18 ayat 2 b). panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan konsep pembangunan permukiman terpadu (Bab II). PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi. Kepadatan penduduk dan permukiman terpadu belum ditetapkan secara pasti. Sebagai suatu panduan. dan kegiatan permukiman terpadu kaitannya dengan pembangunan regional (Bab III). penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Kegiatan Permukiman Terpadu PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PENYUSUNAN ANDAL PENYUSUNAN RKL DAN RPL KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1. namun permukiman terpadu utamanya adalah sebuah permukiman yang menurut UU No 4/ 1992 tersebut (Pasal 1) adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Proses tentang penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) disajikan dalam Bab V. KONSEP PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU 2. diperlukan pengetahuan tentang struktur dan ekosistem lahan basah dan lahan kering di kawasan pembangunan permukiman terpadu yang terkena dampak. Secara skematis. juga menjelaskan komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan. Selanjutnya.1. sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL pembangunan permukiman terpadu seperti pada Gambar 1. maka segenap metode yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selain itu. maka dari beberapa diskusi luas Lisiba perumahan sebesar 200 hektar sedangkan kasiba mencapai sampai 1000 hektar. Pegunungan) STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN KEGIATAN . memprakirakan dan mengevaluasi dampak lingkungan akibat kegiatan pengembangan. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan dan sarana lingkungan yang terstruktur. identifikasi dampak potensial.1 PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. panduan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Hidup (RPL) disajikan pada Bab VI. Mengingat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang tersebut hingga kini belum terbit. Informasi ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat teridentifikasi sedini mungkin.

dapur. positif dan negatif. Kawasan Darmo Satelit di Surabaya ternyata berlangsung lebih cepat sebab kawasan ini boleh dikatakan adalah permukiman terpadu pertama di Surabaya. dan hal yang mendukung untuk memantapkan dan mengembangkan bagi dampak yang positif. dari Klender ke pusat kota pada hari dan jam kerja biasanya membutuhkan waktu paling sedikit dua jam untuk pergi atau pulang. Dalam perkembangan proses ini selalu akan terjadi pergantian pemukim baik secara alami melalui proses lahir dan mati. di samping sebagai kawasan perumahan dapat pula berfungsi sebagai wilayah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi regional. maka secara “normal” akan dibutuhkan sebanyak 215. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pembangunan ini.000 trip truk besar dengan nilai total sekitar Rp. Sekarang para pengembang menawarkan permukiman terpadu yang berwawasan lingkungan. Limbah ini harus terkelola dengan baik dan jelas dengan prinsip produksi bersih. yaitu: (1) Mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada Termasuk di dalamnya adalah berlanjutnya ekosistem yang ada. Kalau 2400 truk tersebut digandeng maka panjangnya 159 . rumah sampai akibat dari pemakaian berbagai peralatan listrik. Bumi Serpong Damai (BSD) selama lebih lima belas tahun eksistensinya. baru sekitar 200 hektar dikatakan telah “selesai” dibangun. Masalahnya pengembangan permukiman terpadu sering sulit ditentukan skala waktu rampungnya proses pembangunan. Di samping dampak yang bersifat langsung seperti diuraikan di atas. Dalam keadaan sepi (seperti antara Natal dan Tahun Baru) waktu tempuh nyata paling lama hanya empat puluh menit atau sepertiga waktu “normal”. banyak dampak yang berskala regional yang tidak langsung nampak. kayu. Walaupun bila dibandingkan dengan Kebayoran Baru atau Klender dan Depok. Permukiman terpadu tumbuh. Sedangkan terhadap dampak yang dualistis seperti naiknya harga lahan. Dapat dibayangkan pemborosan energi dan waktu yang ditimbulkan hanya oleh satu dampak ini di samping pencemaran terhadap udara dan rusaknya ekosistem di kawasan antara permukiman terpadu dan kota lama yang nilainya sulit diukur. budaya dan berbagai pemborosan. (4) Menjaga kelanjutan sistem sosial-budaya lokal Gaya hidup yang berlaku sudah secara mantap diterjemahkan ke dalam berbagai tatanan dan bentuk bangunan serta peralatan yang dipakai sehari-hari. Bila pengurugan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. pada tahap konstruksi timbul dampak yang dualistis. 65 milyar. Klender.2 RENCANA KEGIATAN PERMUKIMAN TERPADU KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN REGIONAL Sesuai dengan uraian di atas. Ada 5 (lima) prinsip utama dari konsep perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan yang harus dikembangkan sesuai kondisi awal yang ada. Depok dan sebagainya. Perubahan yang dilakukan terhadap unsur ekosistem karena adanya pembangunan gedung atau prasarananya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari unsur ekosistem yang tidak terusik. Darmo Satelit. maupun karena mobilitas penduduk antara yang datang dan pergi. sejauh ini yang diperhatikan adalah dampak pasca konstruksi dalam bentuk kemacetan lalu lintas. mutu kehidupan yang lebih baik dan sebagainya. seperti perubahan nilai. (2) Penggunaan energi yang minimal Baik rencana makro maupun mikro perumahan dan permukiman harus memanfaatkan sistem iklim yang ada (secara pasif) dan perancangan bangunan yang memanfaatkan prinsip yang sama ditambah dengan sistem radian yang dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan dengan sistem pasif. Di samping itu. Di Jakarta keadaannya paling parah.perencanaan pembangunan dan tata ruang yang lengkap dan sah serta dilengkapi dengan perumahan serta dukungan prasarana dan sarana yang menjamin penyelenggaraan perumahan serta kebutuhan hidup dan lapangan kerja yang berskala bulanan. Tidak semua dampak bersifat merugikan. Kawasan yang luasnya sekitar 2000 hektar selesai dibangun dalam waktu sekitar 20 tahun yang dikerjakan oleh lebih sepuluh pembangun perumahan (developer) dibandingkan dengan di Jakarta yang hanya dikerjakan oleh sebuah perusahaan saja. dapat dibayangkan dampak lalu lintas yang ditimbulkannya. (3) Pengendalian limbah dan pencemaran Limbah yang harus dikendalikan mulai dari yang dihasilkan oleh jamban dan kamar mandi. 2. Berbagai dampak ini harus diketahui setepat dan sedini mungkin untuk dirancang cara-cara penanganan dan penanggulangan terhadap dampak yang merugikan. utamanya yang berkaitan dengan pengadaan bahan urugan dan bahan bangunan konvensional seperti pasir. perlu dicari jalan untuk membuatnya tetap serasi dan seimbang dalam arti yang seluas-luasnya. Bila ada sebuah kawasan seluas seratus hektar. Kawasan Driyorejo di Barat Daya Surabaya mengalami tahap persiapan lebih dari dua puluh tahun. batu bata. Fungsi terakhir ini tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pertumbuhan permukiman terpadu di Indonesia. terhadap permukiman terpadu seperti Kebayoran Baru. dan sebagainya. bahan bakar fosil dan sebagainya. sebab ada cukup banyak dampak yang bersifat menguntungkan seperti terciptanya lapangan kerja baru. (5) Peningkatan pemahaman konsep lingkungan Permukiman terbentuk melalui proses yang berlangsung terus. tiap hari akan terjadi perjalanan truk sebanyak 2400 atau tiap hari kerja (delapan jam) akan lewat 300 truk. Kaidah dan pola dari warisan budaya dan pola hidup ini harus menjadi dasar awal untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan baru yang diciptakan oleh pembangunan yang maju dan berhasil yang merupakan proses berlanjut. Kini bagian ikutannya yang mulai dibangun oleh Perum Perumnas bagi RS dan RSS sebanyak 3000-4000 unit rumah tinggal yang akan selesai tahun 1996. cara membangun dan rancangan bentuk dapat berpengaruh terhadap kebutuhan energi baik jangka pendek maupun panjang. Di samping itu. Namun hingga kini konsep perumahan atau permukiman yang bersahabat dengan lingkungan belum pernah dirumuskan secara jelas. Hal ini memang menjadi kesulitan tersendiri sebab dampak yang hendak dikelola sangat tergantung dari waktu dan tempat. perlu ditambah unsur ekosistem baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang memperkaya peran ekosistem secara keseluruhan. Pemilihan bahan bangunan.

Permukiman terpadu yang dibangun harus dapat tetap melestarikan fungsi lindung dari desa-desa atau kawasan lindung di sekitarnya. baik permukiman. Jaringan infra struktur ini. Kelembagaan yang berkembang dengan adanya permukiman terpadu. 2. dengan dibangunnya permukiman terpadu. telepon dan air bersih. listrik. saluran air buangan dan pengeringan (drainase) serta tempattempat pembuangan sampah. karena dapat pula dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di sekitar permukiman terpadu. Dengan hadirnya kawasan permukiman terpadu ini diharapkan daerah disekitarnya juga dapat berkembang dan memperoleh dampak positifnya. hendaknya dapat menimbulkan dampak positif terhadap daerah di sekitarnya. sekitar 60 kilometer selatan Surabaya. Perkembangan regional. fungsi lindung dapat merupakan cagar alam hutan lindung suaka marga satwa. yaitu Perkampungan Serbaguna Tarnan Dayu.sekitar 20 kilometer. Permukiman terpadu beserta kota-kota pertumbuhan di sekitarnya dapat bersama-sama dalam membangun perkembangan regionalnya. dan kepolisian. Hal ini sangat penting karena pola kebijaksanaan dasar daerah merupakan arahan yang harus dianut. fungsi lindung dan keseimbangan budidaya suatu daerah akan tetap terjaga. dan di sisi lain permukiman terpadu pun dapat tetap berkembang dalam mendukung pengembangan regional yang telah direncanakan sesuai dengan RUTRD. Kelembagaan yang dibentuk ini akan saling berhubungan dengan kelembagaan-kelembagaan lain yang telah ada dalam kota-kota pertumbuhan lain di sekitar permukiman terpadu untuk melayani seluruh penduduk serta untuk mengelola permukiman terpadu. hutan wisata. Kelembagaan yang harus ada menyertai dibangunnya permukiman terpadu adalah kelembagaan pemerintahan. fungsi-fungsi lindung ini harus dijaga dan jangan sampai menjadi fungsi yang lain. akan memudahkan dan mempercepat hubungan antara permukiman terpadu dengan kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. jaringan listrik. dan lain-lain. Menurut Soemarwoto (1985). Pembangunan ini akan mendukung pengembangan regional Jawa Timur di mana kota-kota di sekitar akan ikut memanfaatkan keberadaan kota Taman Dayu. Batasan kawasan lindung akan merupakan hal yang sangat penting. Daerah untuk wisata yang intensif harus dibedakan dari daerah wisata terbatas. lembaga perbankan. fasilitas pendidikan dan fasilitas wisata. dan terciptalah hubungan perekonomian dengan permukiman terpadu. 2.1 Kaitan permukiman terpadu terhadap pengembangan regional Salah satu dasar yang harus dijadikan pertimbangan dalam pengembangan permukiman terpadu adalah bahwa kegiatan permukiman terpadu harus dapat mendukung kebijaksanaan dasar daerah mengenai pelestarian fungsi lindung dan keseimbangan budidaya daerah setempat. Kegiatan yang mendukung kehidupan manusia dalam suatu permukiman terpadu dapat diletakkan pada daerah budidaya yang telah dituangkan dalam pola kebijaksanaan dasar daerah. 160 . seperti jaringan transportasi. perindustrian dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas permukiman terpadu. Dalam daerah wisata yang intensif dapat dibangun fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel. kegiatan sosial yang ditawarkan dengan adanya fasilitas-fasilitas sosial di permukiman terpadu. agar fungsi lindung tetap terjaga. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem. lembaga swasta. diharapkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengatur berputarnya roda pemerintahan suatu permukiman terpadu. Padahal saat ini. Dengan demikian pelestarian. batas-batas ini dapat menghindari sengketa dan dapat menjadi pegangan bagi pengelola kawasan lindung.2. Namun fungsi daerah Taman Dayu untuk melindungi hidrologi harus tetap terjaga.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman terpadu yang dibangun dan merupakan pusat pertumbuhan baru. fasilitas pertokoan dan rekreasi. restoran kolam renang. Maka terjadilah hubungan sosial antar permukiman terpadu dengan daerah sekitarnya. dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dibangun dalam permukiman terpadu. Kegiatan-kegiatan perekonomian dapat sebagian beralih ke permukiman terpadu. swasta. Dari uraian di atas terlihat. Hutan wisata berfungsi sebagai tempat wisata. rencana kebijaksanaan dasar daerah adalah mengembangkan daerah wisata di daerah pegunungan. karena itu harus jelas. misalnya lembaga pemerintahan. antara lain adalah jaringan transportasi. Berkembangnya berbagai institusi ini. lembaga pendidikan. penduduk dari daerah sekitar dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh permukiman terpadu. Penduduk di permukiman terpadu dan kota-kota pertumbuhan lain dapat memanfaatkan kegiatan perekonomian. lapangan golf.2. bahwa setiap pembangunan perumahan dengan pembukaan lahan seluas 200 hektar perlu melakukan kajian dampak regional yang dilakukan secara teliti. Dalam hal perekonomian. hutan buru dan taman laut.2. namun merupakan daerah yang dilindungi. hendaknya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang telah ada yang pada saat itu harus diemban oleh kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. baik di peta maupun di lapangan. telepon. air bersih. misal desa-desa di sekitar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman yang dibangun harus dapat berperan sebagai pendukung perkembangan kota-kota lain di sekitarnya. kawasan perumahan yang dikembangkan di Surabaya mencapai sekitar 2000 hektar dan tanah urug umumnya diambil dari Porong. Selain itu. 2. misalnya: pengembangan wisata di kawasan lindung harus diatur agar tidak berlawanan dengan tujuan perlindungan. demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Daerah sekitar diharapkan juga dapat memasok berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan permukiman terpadu. dapat terpacu karena dibangunnya jaringan infrastruktur pendukung. permukiman terpadu dapat menunjang tumbuhnya perekonomian baru yang dampaknya dapat dirasakan secara regional. Misalnya didaerah Pasuruan Jawa Timur. Misalnya hutan lindung dan cagar alam berfungsi untuk melindungi hidrologi. sehingga penduduk dari daerah sekitar dapat memperoleh lapangan kerja baru. kelembagaan perbankan.

misalnya kantor polisi atau kemungkinan juga terdapat latihan atau pendidikan untuk angkatan bersenjata tertentu.Kemungkinan penduduk di desa-desa sekitar permukiman terpadu akan berubah pola mata pencahariannya dari sektor agraris ke sektor perkotaan.6. wisata air atau wisata alam yang lain. hotel. Misalnya penghuni permukiman akan selalu terkait dengan jalur transportasi. misalnya: kebun binatang. seperti: jaringan listrik.5 UKURAN DAN SKALA PERMUKIMAN TERPADU Seperti disebutkan dalam pendahuluan. olah raga dan rekreasi. sarana sosial. pertokoan. Untuk itu keberadaan permukiman terpadu hendaknya juga dapat memberikan jasa dan lapangan kerja bagi penduduk yang berubah mata pencahariannya. yang menghubungkan permukiman ke tempat-tempat kegiatan lain. kota sedang maupun kota besar. pendidikan. (5) Kegiatan olah raga dan rekreasi. Tetapi belum tentu suatu permukiman terpadu akan mempunyai kegiatan pariwisata atau industri atau kegiatan pelabuhan. laboratorium klinis dan lain-lain.4 URAIAN TENTANG KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN Kegiatan sentral dalam pengembangan permukiman terpadu adalah kegiatan dalam kawasan permukiman karena dapat terkait dengan kegiatan dalam kota. pergudangan. misalnya: jalan tol. terminal kota. Dengan demikian maka dalam AMDAL untuk permukiman terpadu akan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saling terkait dengan ukuran dan skala tertentu. Ukuran luas permukiman terpadu dapat berkisar 1 antara 200 sampai lebih dari 5000 ha. sedangkan kegiatan perdagangan lain dapat dimiliki 161 . 2. (3) Kegiatan perekonomian dan perdagangan. atau terletak dalam satu tipe ekosistem. 2. (10) Kegiatan untuk pengamanan kota dan angkatan bersenjata. yang merupakan suatu kesatuan kegiatan dalam permukiman terpadu yang harus disusun AMDALnya. (2) Kegiatan sosial masyarakat dalam fasilitas-fasilitas sosial yang dibangun taman-taman. (6) Kegiatan pariwisata. Kota kecil dapat meliputi luas 200 sampai 1000 ha. Kriteria-kriteria dimaksud adalah : 2. plaza.6. Penciptaan lapangan kerja di sektor non pertanian dalam permukiman terpadu harus mendapatkan perhatian yang serius. maka dalam pengembangan kawasan permukiman terpadu hendaknya mencakup dan mengikuti 3 (tiga) kriteria yaitu: kriteria ekosistem. jembatan. (4) Kegiatan transportasi. atau ekosistem pegunungan dengan ekosistem pantai. sedangkan skalanya dapat berupa kota kecil. pariwisata. telepon. 51 Tahun 1993 telah disebutkan bahwa kegiatan yang bersifat regional. 2.6 KRITERIA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Mengacu pada ukuran dan skala permukiman terpadu. (8) Kegiatan industri kecil maupun besar dengan bangunan industri disertai dengan fasilitas pengolah limbah. Permukiman terpadu yang mempunyai kegiatan yang bersifat regional juga dapat terletak dalam suatu gabungan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. 2. tenis. sepak bola. Di samping itu. daerah konservasi dan wisata buatan. pelabuhan.2 Kriteria pemrakarsa Dalam kegiatan yang bersifat regional. jalan-jalan lingkungan. seperti kegiatan perdagangan. dan kriteria sektor yang berwenang. agar dapat memberikan bantuan mata pencaharian baru bagi penduduk di sekitar permukiman terpadu. kriteria pemrakarsa. apotek. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas banyak yang termasuk dalam daftar wajib AMDAL sebagaimana disebutkan dalam lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. pihak yang berwenang dapat mengatur dan mensyaratkan agar permukiman terpadu yang dibangun akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat desa di sekitarnya. jaringan pematusan kota. kota sedang meliputi > 1000 ha sampai 5000 ha dan kota besar meliputi luas > 5000 ha. tempat bermain. jalan kota.3 KEGIATAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Kegiatan-kegiatan yang biasa terdapat dalam permukiman terpadu dan keterkaitan antar kegiatan dalam permukiman terpadu antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. misalnya ekosistem pegunungan. dan tempat pembuangan sampah. 2. air bersih. dapat terletak lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. ukuran dan skala permukiman terpadu tidak selalu sama. Hal ini hanya mungkin terjadi bila para pemrakarsa permukiman terpadu mempunyai komitmen sosial. masing-masing usaha dan/ atau kegiatan dapat dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. kegiatan perdagangan dapat dimiliki oleh pihak lain (swasta) seperti pertokoan. (7) Kegiatan pendidikan. sesuai dengan definisi kota yang biasa dipakai oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam menilai kebersihan kota dalam memperoleh Adipura. misalnya: pasar. misalnya: golf. atau mungkin terminal udara dan pelabuhan laut. balai-balai pertemuan. lapangan sepak bola dan seterusnya. misalnya dalam permukiman terpadu. balai pengobatan. Misalnya. Suatu permukiman terpadu akan selalu dilengkapi dengan permukiman sebagai tempat hunian. lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya. (9) Kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan rumah sakit. renang dan sebagainya yang membutuhkan adanya lapangan golf. industri dan fasilitas kesehatan. misalnya: pendidikan formal dan informal yang memerlukan gedung-gedung sekolah.1 Kriteria ekosistem Dalam PP No.

Demikian juga dengan kawasan wisata yang ada dalam permukiman terpadu. dan lain-lain). brainstorming. ii. seperti pelabuhan dimiliki oleh Perum Pelabuhan. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL 3. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial bagi aktivitas proyek pengembangan permukiman terpadu Langkah 1 Buat daftar rencana usaha dan/atau kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu berikut dengan rencana pembangunannya menurut persebaran ruang dan waktu. Pengalihan aliran air. dan pembangunan jalan lingkungan. dan telepon. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. serta masyarakat (tokoh-tokoh) yang berkepentingan. Penggalian saluran air.3 Sektor yang berwenang Masing-masing usaha dan/atau kegiatan dalam suatu wilayah yang mempunyai dampak regional seperti permukiman terpadu. Pembangunan terminal dan transportasi angkutan. Analisis isi (content analysis). dapat dimiliki oleh pihak pemerintah maupun swasta. Pada tahap ini hanya akan diinventarisir dampak yang potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. Pemadatan.1 Identifikasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. Pembangunan lapangan golf. pintu pintu air dan kesehatan lingkungan permukiman. dan (3) pemusatan dampak penting. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. sekunder. misalnya: Departemen Pekerjaan Umum akan mengatur dan bertanggung jawab untuk jembatan. iv. menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Pembuatan taman kota dan tempat bermain. ii. Interaksi kelompok (rapat. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. iii. BNI. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. Jadi permukiman terpadu akan selalu ditangani dan dikelola oleh lebih dari satu instansi.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Adapun metoda identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Daftar uji sederhana.6. vi. iii. lokakarya. Jadi ada batasan bahwa dalam permukiman terpadu. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). (2) evaluasi dampak potensial. BRI. Matriks interaksi sederhana. pengerasan. dan lain sebagainya. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Penelaahan pustaka. i. Seperti yang telah disebutkan dalam kajian teori (Bab II) yang berwenang mengatur kegiatan dalam suatu permukiman terpadu akan terdiri lebih dari satu instansi. listrik.oleh pemerintah. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. peta sistem lahan. iii. iv. Pembangunan gedung olah raga. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. peta vegetasi. jalan tol. iv. usaha dan/atau kegiatan yang ada dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. Hasil langkah 1 1. Pengamatan Lapangan. Diperoleh daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1) Kegiatan pra-konstruksi. b) Kegiatan pembebasan lahan. v. Pembangunan pergudangan. Bank Indonesia. atau penting tidaknya dampak. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih.1. Departemen Perindustrian akan bertanggung jawab untuk industri-industri kecil maupun besar yang ada dalam kawasan tersebut. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan. Pembangunan pasar. 2. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah-langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. BAB III. yang meliputi: a) Kegiatan survei. Pembangunan perumahan. peta tata guna tanah. 162 . 3. Pembuatan tempat pembuangan sampah. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/1992 tentang Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL untuk informasi yang lebih rinci. dimiliki oleh pemerintah. ii. seperti: peta rencana umum tata ruang daerah. instansi yang bertanggung jawab. pemrakarsa kegiatan. 2) Kegiatan konstruksi.

d) Transportasi. Sifat fisik tanah. Tinggi. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi: 163 d) . Daftar spesifik untuk setiap ekosistem yang terkena dampak.Kegiatan pembangunan industri kecil/menengah: i. ii. j) Ketertiban dan keamanan. yang meliputi kegiatan: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. Sifat kimia tanah. Tinggi muka air tanah. b) Aktivitas sosial masyarakat di fasilitas-fasilitas sosial/umum yang ada. 2.Perkebunan karet/kelapa sawit. pada ruang dan waktu tertentu yang diantaranya adalah: 1) Lahan basah. iii. . iii. f) Pariwisata. . h) Industri kecil dan menengah. Industri mebel kayu dan rotan. yakni: 1. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . c) Perekonomian dan perdagangan. iii.Sawah. . ii. Hasil langkah 2 Diperoleh daftar tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek.Hutan tropika basah (berstatus konversi). 2) Ekosistem Lahan kering. c) Tanah: i. Suhu udara. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: .Tambak garam. Pola aliran dan debit sungai. yakni: a) Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut hasil langkah 2 b) Di tingkat regional yang merupakan dampak regional dari pengembangan permukiman terpadu Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen Lingkungan atau struktur ekosistem yang potensial terkena dampak proyek.Danau/situ. Diperoleh informasi tentang rencana pembangunan kota menurut persebaran ruang dan waktu. . e) Olah raga dan rekreasi.Tambak udang/bandeng. 3) Kegiatan Permukiman Terpadu. Kelembaban nisbi udara. b) Hidrologi: i. iv. lama dan frekuensi genangan/banjir. . . .Hutan rawa payau. Kualitas air permukaan (sumur.Hutan bakau. i) Penunjang kesehatan masyarakat.Tanaman pekarangan Langkah 3 Identifikasikan komponen lingkungan atau struktur ekosistem yang berpotensi terkena dampak akibat proyek pada dua tingkat.Hutan rawa air tawar. Kualitas udara. g) Pendidikan.Tegalan/pertanian lahan kering. . sungai). . iii.Kebun/talun. Industri makanan. . iv.Hutan rawa bergambut. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Iklim: i. Topografi ii. Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1. k) Seni budaya. ii. Unit pengolahan limbah. .Kolam budidaya ikan air tawar. . Industri kulit (sepatu dan tas).

iii. Daftar potensial dampak regional. h) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. tanah adat). ii. Sektor informal/multiplier effect. Produktivitas lahan pertanian. ii. 2. iii. daging satwa liar. lama dan frekuensi genangan/banjir. identifikasikan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak penting akibat adanya proyek. 4) Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. seperti: proses ekologi. seperti: kayu. ikan. Jenis dan populasi satwa Liar. berupa estetika lansekap. 164 . seperti energi kayu dan listrik-hidro. 13) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi habitat satwa liar dan tumbuhan penting. l) Persepsi masyarakat terhadap proyek. ekosistem. komunitas. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Pertumbuhan. Komunitas biota akuatik. j) Pola konsumsi. dan gambut. dan lansekap lahan basah. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi untuk setiap tipe ekosistem yang potensial terkena dampak. f) Rekreasi dan pariwisata. 15) Fungsi sosial budaya. iii. yang berupa perlindungan garis pantai. Tinggi. b) Komunitas Satwa Liar. obat.i. misalnya: berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. i) Akulturasi dan asimilasi. g) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. Produktivitas budidaya perairan. dan pemecah angin (windbreak). getah. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). urbanisasi. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Struktur dan komposisi vegetasi. Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. keagamaan dan spiritual serta peninggalan sejarah. Mobilisasi. c) Sarana dan prasarana perhubungan darat. b) Hidrologi: i Tinggi muka air tanah. 12) Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa Liar. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Kualitas udara. k) Pusat pertumbuhan baru dan ekonomi regional. iv. ii. 3) Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya: a) Demografi/kependudukan. iv. Kualitas air permukaan (sumur. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. d) Sumber mata pencaharian. migrasi. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. Komunitas biota. sungai). rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. Bila ekosistem lahan basah yang terkena dampak. yang diantaranya meliputi : 1. 16) Fungsi sosial ekonomi. iii. 10) Fungsi pemasok energi. ii. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. e) Peluang bekerja dan berusaha. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti: pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan pasokan bagi ikan serta burung-burung migran. pengendalian erosi. b) Fasilitas sosial dan fasilitas umum. geomorfologi dan geologi. b) Komunitas Satwa Liar: i. rotan. Pola aliran dan debit sungai. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi. i. 2) Fungsi pengendalian air terutama pengendalian banjir.

hortikultura. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. 2) Fungsi pemasok produk alam. geomorfologi dan geologi. 3. dan lansekap. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok produksi pangan. b) Daftar dampak penting untuk tingkat/skala regional. Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil Langkah 7.1. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. keagamaan dan spiritual. hara terlarut yang terbawa ke hilir. 9) Fungsi sosial budaya.2. yakni yang meliputi: a. 7) Fungsi sosial budaya. daftar dampak penting dikelompokkan menurut masing-masing tipe ekosistem. b) Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. seperti proses ekologi. seperti estetika lansekap. 8) Fungsi sosial ekonomi. 10) Fungsi penelitian dan pendidikan. b) Buat matrik dampak ekosistem pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat fungsi ekosistem (hasil langkah 4). Komponen lingkungan yang terkena dampak penting dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok. keagamaan dan spiritual. 5) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. 11) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. berupa estetika lansekap. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. yakni (lihat pengelompokkan pada hasil langkah 3): a) Daftar dampak penting spesifik untuk masing-masing tipe ekosistem. palawija. Adapun untuk fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL kawasan pengembangan permukiman terpadu. b. Bila ekosistem lahan kering yang terkena dampak. dan peninggalan sejarah.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. 3) Fungsi produksi energi (kayu). sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. 165 . Komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. komunitas. serta peninggalan sejarah. ekosistem. Langkah 5 a) Buat matrik dampak komponen yang pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan atau struktur ekosistem (hasil langkah 3). Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. misalnya berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6. diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak. c) Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2 Hasil langkah 5 a) Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan atau struktur ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. serta buah-buahan. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. seperti pangan beras.

konstruksi dan operasi. b) Keterkaitan antar dampak penting yang telah di identifikasi pada butir 3. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/ atau lembaga-lembaga masyarakat (social institutions) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. dan/atau . Hasil langkah 2 sampai 4 dari proses identifikasi dampak potensial. Catatan langkah 9 : Dampak penting hasil langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui : . 166 .Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak penting di suatu lokasi. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak penting hasil langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan Hasil langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan penting yang akan dialami ekosistem sebagai akibat adanya proyek.1.3. Hasil langkah 10 Diperoleh urutan isu-isu pokok Lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. dapat memandu mengarahkan hal ini d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat yang berpotensi berubah secara mendasar akibat rusaknya sumber daya atom dan/atau pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek pengembangan permukiman terpadu. Catatan Langkah 2 : Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara : a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek .2. 3. b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. melalui media air. dapat digunakan untuk memandu hal ini. sosial dan ekologi. sosial maupun ekologi.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting.3 Pemusatan dampak penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3.Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting proyek. dan lampiran II Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Hasil langkah 1 dari butir 3.1. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi terjadinya perubahan fungsi ekosistem sebagai akibat adanya proyek c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta kerja yang tersedia. Catatan Langkah 1: Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan proyek akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. dimana prosesproses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. b) Di dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.1.1.1.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL.2. konstruksi dan permukiman di kawasan pengembangan permukiman terpadu. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra-konstruksi. Hasil Langkah 1 a) Diperoleh batas kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu di atas peta yang digunakan. Hasil Langkah 2 a) Diperoleh batas ekologis di atas peta yang digunakan pada langkah 1. terhadap ekosistem disekitarnya. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan hasil langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi.

misalnya: akibat aktivitas rekruitmen tenaga kerja. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu.Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1 dan 2. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. batas ekologi (hasil langkah 2).2 METODE STUDI 4. karena itu tidak dijelaskan tentang outline tersebut. waktu. batas kuasa pertambangan. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. studi ANDAL serta RKL dan RPL. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. batas sosial (hasil langkah 3). dan tenaga yang tersedia. HasiL langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah1. Catatan Langkah 3 : Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. dan kendala teknis yang dihadapi. Hasil Langkah 5 Diperoleh wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu. 4. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas kegiatan proyek batas ekologi. Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (hasil langkah 1). yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. BAB IV. 167 .2 Wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. dan batas administratif (hasil langkah 4). PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 4. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial.2. 4. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. batas kawasan perkebunan. batas administratif.2.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Catatan langkah 4 : Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. batas sosial. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis namun berpotensi terkena dampak penting akibat proyek. studi ANDAL serta RKL dan RPL Kegiatan Pengembangan Permukiman Terpadu yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. lembaga non pemerintah dan/atau lembaga lokal masyarakat setempat.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas. kampung. 168 . Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. b) Dampak penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem permukiman terpadu serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station).3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem permukiman terpadu sebelum proyek dibangun. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana kegiatan (emic). dan di lain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: Metode penarikan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran.4. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. bulanan atau musiman. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. d) Khusus untuk aspek sosial. 4.2. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga.2. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak.4 Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. maka akurasi dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. serta sifat dan karakter komponen Lingkungan yang diukur. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. Saat pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. c) Mengingat ekosistem di sekitar pengembangan permukiman terpadu yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi.

• Sungai • Saluran Primer. Sekunder & Tersier • • • • • Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Tanah • Fisiografi. Sekunder & Tersier Metode Analisis Data • Tabulasi data • Klasifikasi Schmith & Ferguson. sungai) • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna Rasa dan bau Kekeruhan Padatan tersuspensi pH DHL DO BOD COD Kesadahan total Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Karbonat (CO3) Nitrit (NO2) Nitrat (NO3) Sulfat (SO4) Sifat fisik air permukaan • Pengukuran in situ • Sungai • Pengambilan sampel air • Saluran Primer. dan frekuensi genangan/ banjir • Kualitas air permukaan (sumur. Koppen dan Oldeman • Analisis Hidrograf • Pengukuran Lapang • Penilaian Ahli Keterangan Hidrologi • Tinggi muka air tanah • Pola aliran dan debit sungai • Tinggi. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik kimia Komponen Lingkungan Iklim Parameter • Suhu udara • Kelembaban nisbi udara • Kualitas udara Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi • Pengumpulan data sekunder • Pengukuran di lapangan (untuk kualitas udara) • Pengamatan Lapang • Pengukuran Lapang • Pengamatan Lapang • Pelabuhan Udara terdekat • Stasiun Meteorologi terdekat. lama. Sekunder & Tersier • • • • Visual Organoleptik Gravimetrik Elektrometrik Sifat kimia air permukaan • • • • Titrasi Titrasi Titrasi Titrasi • Sungai • Saluran Primer. litologi • Sifat fisik tanah • Sifat kimia tanah • Observasi Lapang • Pengeboran dan pengambilan contoh • Lahan gambut • Lahan rawa • Penilaian Ahli • Analisa laboratorium 169 .Tabel 4-1.

masyarakat dan ketua suku atau adat. • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli 170 . tanah adat) • Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal • Akulturasi dan asimiliasi • Pola konsumsi • Persepsi masyarakat terhadap proyek • Pengumpulan • Desa-desa/ data pemukiman sekunder. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik sosial Komponen Lingkungan Sosial ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli Keterangan • Pengumpulan • Desa-desa/ • Demografi dan data kependudukan pemukiman sekunder. lapang • Sarana dan • Wilayah • Wawancara prasarana administrasi perhubungan darat proyek. Keterangan • Transek • Hutan bakau • Pengumpulan • Hutan rawa data sekunder • Hutan payau • Analisis vegetasi • Observasi lapangan Komunitas satwa liar • Komunitas biota almafile • Jenis dan populasi satwa liar • Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi • Transek • Pengumpulan data sekunder • Analisis satwa liar • Observasi lapangan • Hutan bakau • Hutan rawa • Hutan payau • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek keanekaragaman • Indek keseragaman jenis • Tabulasi jenis satwa liar yang dilindungi Tabel 4-3. • Sumber mata pencaharian • Peluang bekerja dan berusaha • Rekreasi dan pariwisata Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. • Pemetaan Plasma Nutfah. penduduk ter• Observasi dekat. lapangan • Wilayah • Wawancara administrasi dengan tokoh proyek.Tabel 4-2. Sosial budaya • Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik biologi Komponen Lingkungan Komunitas vegetasi Parameter • Komunitas biota • Struktur dan komposisi vegetasi Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek Keanekaragaman • Indek Keseragaman Je nis. • Fasilitas sosial dan penduduk ter• Observasi fasilitas umum dekat.

(6) Aspek tata ruang mikro permukiman terpadu. f) Pariwisata. 4.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan di kawasan pembangunan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4.2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL serta Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL (Sektoral) dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. alternatif ruas jalan. e) merupakan kawasan siap bangun.4. d) Transportasi. iii. ii. c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi. iv.3 URAIAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan permukiman terpadu hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. vi. Unit Pengolahan Limbah. e) Tenaga kerja yang dicurahkan untuk kegiatan persiapan. misal kota dibangun berdasarkan konsep kota bisnis. Pembuatan taman-taman kota dan tempat bermain. Pembangunan pasar. (8) Aspek kegiatan persiapan. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. misal: i. iii. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Pembangunan lapangan golf. Palangka Raya). Bontang. b) lepas namun terkait dengan kota yang sudah ada (misal. l) Penunjang kesehatan masyarakat. v. c) mendukung kegiatan pertambangan (misal. Depok). b) fungsi dari setiap ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. Pengalihan aliran air. e) Olahraga dan rekreasi.2. iii. (7) Aspek manajemen kota/kelembagaan. b) Kegiatan pembebasan lahan. iii. Pembuatan tempat pembuangan sampah. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): (1) Aspek bentuk pengembangan permukiman terpadu: a) menempel pada kota yang sudah ada (misal. c) Perekonomian dan perdagangan. konstruksi dan hunian. 2) Kegiatan konstruksi. yakni lokasi administratif dan rencana luas/skala permukiman terpadu. Industri makanan. b) Kegiatan masyarakat dalam fasilitas sosial & fasilitas umum yang dibangun. (4) Aspek jangka waktu pengembangan. listrik dan telepon. k) Seni budaya. Tembagapura). Pemadatan. d) kota yang berdiri sendiri (misal. konstruksi dan hunian sering dijumpai berlangsung secara paralel.1. (5) Aspek rencana lokasi. sehingga pembangunan permukiman terpadu dapat menelan waktu bertahun-tahun tergantung pada skala/luas kota dan permintaan masyarakat. Pondok Indah). b) Alternatif lokasi. atau kota ramah lingkungan. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci/detil. ii. Pembangunan gedung olah raga. d) Kegiatan pembangunan industri kecil. Penggalian saluran air. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan: i. j) Ketertiban dan keamanan. Perlu diketahui aspek kegiatan ini tidak berjalan secara sekuensial serentak untuk seluruh kawasan permukiman terpadu. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan. d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan hunian (misal sarana pengolahan air limbah). kota wisata. ii. ii. iv. Dari berbagai jenis kegiatan yang diutarakan pada angka (7) usahakan dapat dipaparkan : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. yang meliputi: a) Kegiatan survei. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah. g) Pendidikan. Industri mebel kayu dan rotan. Oleh karena itu kegiatan persiapan. Pembangunan terminal dan transport angkutan. iv. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. pengerasan. konstruksi dan hunian permukiman terpadu. iv. Industri kulit (sepatu dan tas). 171 . Pembangunan perumahan. (3) Aspek rencana daya tampung atau jumlah penghuni permukiman terpadu.1. dan pembangunan jalan lingkungan. Kegiatan pembangunan dimaksud dideskripsikan dengan penekanan pada pokok uraian berikut ini : 1) Kegiatan persiapan atau pra-konstruksi. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. 3) Kegiatan hunian. h) Industri kecil atau menengah. yang meliputi: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). Pembangunan pergudangan. (2) Aspek konsepsi pengembangan permukiman terpadu.

Tinggi. seperti: a. c. ii. i) Pola konsumsi. j) Persepsi masyarakat terhadap proyek. Air permukaan.4. .4. iii. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat. d) Komunitas satwa liar. 2. Pemecah angin (windbreak). b.Pasokan air ke permukiman terpadu lainnya. b.1 Struktur ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan struktur ekosistem permukiman terpadu saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. iv. Gambut. rusa). f) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. Sifat kimia tanah. yang berupa: a.2 Fungsi ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan fungsi-fungsi yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di wilayah tersebut. Kecepatan angin. 10) Fungsi pemasok energi. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. c) Tanah. f) Jenis dan populasi satwa liar. c. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. iv. 4. seperti: a. Kualitas air permukaan (sumur. Spesies langka dan dilindungi. Suhu dan kelembaban nisbi udara. Tinggi dan elevasi muka air tanah. e) Rekreasi dan pariwisata. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. Sifat fisik tanah. tanah adat) g) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. Fungsi ekosistem lahan basah. b. iii. c) Struktur dan komposisi vegetasi.1. 3. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. misal: energi dari kayu. Ke lokasi lain: . 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). Fungsi dimaksud berlaku untuk setiap tipe ekosistem yang strukturnya mengalami perubahan sebagaimana dimaksud pada angka 4. 172 . Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya a) Demografi dan kependudukan. ii. Air tanah. Ikan dan burung-burung migran. iii. terutama pengendalian banjir. Uraian disusun berdasarkan sistimatika sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): 1. lama. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: a. b) Fasilitas sosial dan fasilitas perhubungan darat. Ikan dan daging satwa (misal. Kayu. Topografi. sungai). c) Sumber mata pencaharian. yang meliputi: i. Panjang penyinaran matahari. e) Komunitas biota almafile. b) Hidrologi. b) Komunitas Biota. 2) Fungsi pengendalian air.4. ii. yang meliputi: i. yang diantaranya meliputi : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air).4. listrik-hidro. Komponen biologi a) Komunitas Vegetasi. 13) Fungsi konservasi bagi: a. b. h) Akulturasi dan asimilasi. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Populasi satwa liar. Komponen fisik-kimia a) Iklim. yang meliputi: i. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi. d. dan frekuensi genangan/banjir. Rotan. Debit sungai dan pola aliran. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. g) Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. 12) Fungsi bank gen bagi: a. Curah hujan. dan obat. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir b. yang berupa: a. b. Spesies-spesies tumbuhan komersil. d) Peluang bekerja dan berusaha.Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge). Fungsi dimaksud adalah sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): I. getah.

Komunitas.1. seperti: a) estetika lansekap. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. Fungsi ekosistem lahan kering yang diantaranya meliputi: 1) Fungsi pemasok produk pangan. c.2 (Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL). c) buah-buahan. 3) Fungsi produksi energi (kayu). 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat. yang antara lain berupa: a. c. b) tanah adat masyarakat setempat. seperti : a) makanan pokok (beras). e. yaitu: a) metode formal. Rosot karbon (carbon sink). 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. 5) Fungsi konservasi bagi spesies: a) Langka dan dilindungi. 7) Fungsi sosial budaya. 2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3.1. c) pasokan hara untuk ikan dan burung-burung migran. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. c) komunitas. c. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. b) palawija dan hortikultura. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. Kerusakan pada 173 . yang meliputi: a) sumber mata pencaharian masyarakat setempat. d. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata.II. b) hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 8) Fungsi sosial ekonomi. b. Proses ekologi.1. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a. d) ekosistem. c. b) metode non-formal yang antara lain meliputi: penilaian para ahli dan metode analogi.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting. langkah 2. b. b. yang diantaranya berupa: a. proyek pengembangan permukiman terpadu yang berlokasi di pantai akan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove.Sebagai misal. 15) Fungsi sosial budaya. 2) Fungsi pemasok produk alam. Misalnya proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. d. 5) Mengingat di kalangan komponen ekosistem terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. geomorfologi dan geologi. b) keagamaan dan spirituil c) peninggalan sejarah. Ekosistem. Peninggalan sejarah. yang antara lain meliputi: model matematik dan metode grup eksperimen. seperti: a) bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar (buruan) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan berburu oleh penduduk. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak penting. b. Tanah adat masyarakat setempat. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. b. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik-kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. Lansekap atau jenis-jenis permukiman terpadu. 4. Sebagai misal. Estetika lansekap. 16) Fungsi sosial ekonomi yang diantaranya meliputi: a. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan di kalangan komponen sosial sendiri. Keagamaan dan spiritual. b) habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam.

dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan).2. dan yang tercantum pada angka 4.e.1.5. ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak udang. metode Daftar Uji Berkala dengan Pembobotan (misal. Dampak penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek.. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. 4. b) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem regional. baik tingkat ekosistem maupun regional. (hasil langkah 2). disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Telaah secara komprehensif seluruh dampak penting yang dialami oleh struktur sistem. khususnya langkah 1: Identifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan proyek. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) dan b) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. (yakni rona lingkungan hidup awal) akan berubah secara mendasar. matrik Leopold).1.5. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Environmental Evaluation System). yang tercantum pada angka 4.4.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab Evaluasi Dampak Penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif /holistik. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu usaha dan/atau kegiatan proyek. proses pelingkupan.1. dan/atau metode bagan alir. (hasil langkah 2). 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). b) Tingkat dampak penting regional Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan tingkat regional yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam. khususnya Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Langkah 1: Prakiraan dampak penting dengan cara: prakiraan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial.2. Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. sebagai akibat alternatif usaha dan/atau kegiatan tertentu. b) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekonomi regional akan berubah secara mendasar akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. Langkah 2 Telaahan secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem dan regional yang dimaksud pada langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem dan ekonomi regional dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. Catatan langkah 1 : Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. Hasil langkah 1 Diperoleh prakiraan perihal besar (magnitude) dampak pada dua tingkat analisis yakni : a) Tingkat ekosistem yang terkena dampak penting Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan dari ekosistem (dengan kata lain struktur ekosistem) yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam proses pelingkupan. Hasil langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal : a) fenomena perubahan struktur ekosistem akibat adanya alternatif tertentu dari proyek.1. yang tercantum pada angka 4. 174 .

d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan atau merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tersebut di saat pra-konstruksi. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di kawasan pengembangan permukiman terpadu tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. dengan fokus pada : a) fenomena perubahan fungsi ekosistem dan ekonomi regional akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari usaha dan/atau kegiatan proyek. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem dan kondisi fisik lokasi pengembangan. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem dan ekonomi di kawasan permukiman terpadu dimaksud. konstruksi.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) 5. sebagaimana dimaksud pada langkah 1 dan 2.1. maupun penempatan permukiman pada kawasan permukiman terpadu. PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). dengan cara: a) Untuk setiap alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek. Lebih lanjut pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatarbelakangi kedalaman dokumen RKL. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan.1. program dan/ atau upaya-upaya untuk mencegah. mendaur ulang (recycle). mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. BAB V. serta (ii) struktur dan fungsi ekonomi regional. Langkah 4 Dari alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem dan kondisi fisik kawasan permukiman terpadu sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat dampak yang timbul bersifat kompleks. merupakan dokumen yang memuat upaya. b) Bila seluruh alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif di saat pra-konstruksi.1 Lingkup dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Dokumen RKL. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di rencana kawasan pengembangan permukiman terpadu. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya.2 Kedalaman dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). lakukan telaahan sejauh mana dampak penting yang ditimbulkan terhadap (i) struktur dan fungsi ekosistem.3 Struktur inti dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: 175 . maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). 5. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap kehidupan ekosistem dan ekonomi regional di kawasan permukiman terpadu. Sehubungan dengan hal tersebut.Hasil langkah 2 Diperoleh sintesis komprehensif perihal fungsi ekosistem dan regional yang terkena dampak penting menurut alternatif tertentu dari proyek.1. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. dalam pengertian generik. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. konstruksi dan penempatan permukiman. 5. program atau tindakan untuk mencegah. Hasil langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup.

Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). tersier. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. Upaya.1 Lingkup dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem di kawasan pengembangan permukiman terpadu. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). d. b. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan pengembangan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4.6. dan angka 4. b) Tujuan pengelolaan lingkungan. program atau tindakan untuk mencegah. sifat kumulatif. yakni Bab Evaluasi dampak dari dokumen ANDAL. e. Prakiraan dampak penting. kawasan. e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan. c) Upaya pengelolaan lingkungan. berulang dan terencana.2. d) Waktu dan periode pengelolaan lingkungan. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada bab prakiraan dampak dan bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. dari Bab IV di muka. Upaya.6. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan.1. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi.a) Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola. di muka. Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. ekonomi atau kelembagaan. c. sistematik.5. 5. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi.5.2. 176 . biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. Upaya. a. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. sampai ke tingkatan ekosistem. f) Institusi pengelolaan lingkungan. Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. langkah 10. f. atau bahkan regional. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar.5. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. maka sedapat mungkin dituangkan disain teknologinya. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu kegiatan pengembangan permukiman terpadu. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem permukiman terpadu. Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting pengembangan permukiman terpadu berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). Pada ekosistem permukiman terpadu pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat merujuk pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.

5. d. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. ttd Nadjib Dahlan.6. yakni bab prakiraan dampak penting dan bab evaluasi dampak penting dari dokumen ANDAL. tersier. dan 4. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu kawasan pengembangan permukiman terpadu. ttd Dr. keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. atau ketetapan resmi suatu instansi.5. a. bau.3 Struktur inti dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau. Evaluasi dampak penting. kandungan minyak terlarut. 5.5.6. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. Menteri Negara Lingkungan Hidup. Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. d) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem permukiman terpadu. Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). baku mutu lingkungan. A. d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisa data. f) Institusi pemantauan Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu (proyek. Komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. e. Langkah 2). Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. lokasi dan jangka waktu serta frekuensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan.5. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. SH 177 . Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk ada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. f.2. c) Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Tolok ukur dampak yang dimaksud di sini dapat berupa baku mutu limbah cair. Langkah 10. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.2.1. Semisal. warna.2 Kedalaman dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada angka 2 Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. sebagai misal). biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). b. Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. b) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. c) Tujuan pemantauan lingkungan. upaya/program/tindakan pengelolaan lingkungan. Prakiraan dampak penting dan angka 4. b) Tolok ukur dampak. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. suhu.2. c.

Tinggi muka air tanah ii. Iklim i.gedung olah raga ii. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.Penggalian aliran air v. Tanah i. Industri kulit pertokoan.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.perumahan ii. Komunitas vegetasi i. Pemb. telpon vi. Kegiatan Konstruksi 3. Hidrologi i.Pembuatan taman taman kota & taman bermain iv.pasar iii.pusat i. Penggalian jaringan air bersih.Pemb. Kegiatan survei b.Penghijauan/ reklamasi . Kualitas udara c). Jenis dan populasi satwa liar iii. Kegiatan pra-konstruksi a. Topografi ii. Suhu udara ii. sungai) d).Lampiran 3-1. pembangunan jalan lingkungan iii. Kelembaban nisbi udara b).Industri mebel iii.Unit pengolahan iv. Struktur dan komposisi vegetasi b). Komponen Fisik Kimia a). Tinggi. lapangan golf iii. Pemadatan. Pemb. Komunitas biota almafile ii.Pembuatan TPA i. Matriks Interaksi Dampak Kegiatan Proyek dengan Komponen Lingkungan Kegiatan Proyek 2 b i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv a b c d e f g h i 3 j 1 a Komponen Lingkungan 178 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Penggalian saluran air iv. Pola aliran dan debit air sungai iii. Sifat fisik tanah iii. Pemb. listrik . Pemb. Kualitas air permukaan (sumur. pengerasan. lama dan frekuensi genangan/banjir iv. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi 2. Pemb. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Komunitas satwa liar i. terminal limbah &transportasi darat Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Komunitas biota ii. Komponen Biologi a). Kegiatan pendidikan dan kebudayaan 1. Sifat kimia tanah 2.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Industri makanan ii.

Pemb. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. lapangan golf iii.Pembuatan TPA i. Pemb.gedung olah raga ii.Penggalian saluran air iv. Sarana dan prasarana perhubungan darat d). Industri makanan perbelanjaan iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.(Lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i Kagiatan Proyek 2 3 j Komponen Lingkungan 3. Penggalian jaringan air bersih.pusat (sepatu dan tas) pertokoan.Pembangunan iv. Kegiatan survei b. Kegiatan pra-konstruksi a.pasar kayu dan rotan iii. Pemadatan. Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik dan tanah adat) h).Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. pembangunan jalan lingkungan iii.perumahan ii. Fasilitas umumdan fasilitas sosial c).Penghijauan/ reklamasi . Pemb. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman 2. Pemb. Peluang bekerja dan berusaha f). Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Pola konsumsi k). terminal &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Demografi dan Kependudukan b). Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.Industri mebel ii.Lampiran3-1. Kegiatan Konstruksi 3. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a).listrik .Penggalian aliran air v. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Sumber mata pencaharian e). Industri kulit i. pengerasan. Akulturasi dan asimilasi j). & ii. Pemb.Unit pengolahan pergudangan limbah iv. Persepsi masyarakat terhadap proyek 179 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb. Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal i). Rekreasi dan pariwisata g). telpon vi.

obat. Fungsiperlindunganterhadapkekuatanalam.yangberupaair bersihyangdapatlangsungdimanfaatkanolehmasyarakat dan/atausebagaipemasokkeaquifer(groundwaterrecharge). Kegiatan survei b.dangambut 9. & (sepatu dan tas) ii.Pembuatan iii. Industri kulit olah raga pertokoan.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1.rotan. Kegiatan pra-konstruksi a. Penggalian jaringan air bersih. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekonomi. Fungsipemasokair(kualitasdankuantitasair). telpon vi. EkosistemLahanBasah 1.Penghijauan/ darat reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.Unit pengolahan kota & taman iv. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.Pembuatan TPA . Fungsipencegahintrusiairlautkeairtanahdan/atauair perm ukaan 4. lapangan perbelanjaan ii.getah. lokasilahanbasahlainnya. 3.pusat i. terminal limbah bermain &transportasi iv. A. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanunsurhara 7. pembangunan jalan lingkungan iii.yangberupa perlindungangarispantai.gedung i. Fungsipengedalianair. Pemb.Industri mebel iii.terutamapengendalianbanjir 3. Fungsipenangkapandan/ataupengendapansedimden 6. Industri makanan golf ii.ikandandagingsatwaliar. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. pasokanbahananorganikdanorganikdanharaterlarutbagi wilayahhilirdanbagiikansertaburung-burungmigran.Lampiran3-2MatrikInteeraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemKawasanPengembanganPemukimanT erpaduuntukTipeEkosistem:Lahanbasahdanlahankering 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h Kegiatan Proyek 2 3 Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 180 2. Pemb. Pemb.danpemecah angin(windbreak) 5.pasar iii.Penggalian saluran air iv.perumahan ii.Penggalian aliran air v. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. Pemb.Pemb.listrik . Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekologiseperti. 2.seperti kayu. Pemb.pengendalianerosi. pengerasan. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Pemadatan.Pembangunan kayu dan rotan taman-taman pergudangan iv. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanbahan-bahanberacun 8.

Fungsi pemasok produk alam. dan ekosistem hutan (yang berstatus konservasi) 1.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Pemb.Penghijauan/ reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Fungsisosialbudaya sepertiestetikalansekap. komunitas. Kegiatan pra-konstruksi a. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i.Industri mebel iii. Fungsi produksi energi (kayu) 4. lapangan golf iii.pusat i. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.pasar iii. Pemb. Fungsi transportasi/perhubungan 5. listrik . palawija dan hortikultura. Pemb. serta buah-buahan 2. Industri kulit pertokoan.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. Penggalian jaringan air bersih. dan lansekap 6. EkosistemLahan Kering. yang meliputi ekosistempertanian sawah. Fungsi pemukiman masyarakat 3.gedung olah raga ii. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. telpon vi. Kegiatan survei b. Pemb. ekosistem pertanian lahan kering. 3. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii.keagamaan dan spiritual. serta ikan dan burung-burung migran. pengerasan. Fungsi sosial ekonomi misalnya berupa sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan tanah adat masyarakat setempat 9. terminal limbah &transportasi darat B.Lampiran3-2(lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g Kegiatan Proyek 2 3 h Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 181 2. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. Pemadatan.Penggalian saluran air iv. Fngsi pemasok produk alam. Pemb.Penggalian aliran air v.Unit pengolahan iv. ekosistem. pembangunan jalan lingkungan iii. Pemb.perumahan ii. Industri makanan ii. hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Fungsi rekreasi dan pariwisata 7. i. seperti makanan pokok (beras). dan peninggalan sejarah 8.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1.Pembuatan TPA .

Lampiran3-2(lanjutan)

1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i

Kegiatan Proyek 2 3

Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu

j

10. 11. 12.

13.

14. 15.

16.

17. 18.

Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrik-hidro Fungsi transportasi/perhubungan Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar Fungsi konservatif bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem dan lansekap lahan basah Fungsi rekreasi dan pariwisata Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat Fungsi penelitian dan pendidikan Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam

182
2. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb.pusat i. Industri kulit pertokoan, & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Industri makanan ii. Pemb.pasar iii.Industri mebel iii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Unit pengolahan iv.Pemb. terminal limbah &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pendidikan dan kebudayaan

3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebasan lahan

Kegiatanpembangunan perumahan

Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi

i. Pemb.perumahan ii. Pemadatan, pengerasan, pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.Penggalian aliran air v. Penggalian jaringan air bersih, listrik , telpon vi.Pembuatan TPA

i. Pemb.gedung olah raga ii. Pemb. lapangan golf iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Penghijauan/ reklamasi

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah; 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH. Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

Mengingat :

PERTAMA :

KEDUA :

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 November 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup, ttd. Dr. A. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH,

Nadjib Dahlan,S.H.

183

LAMPIRAN NOMOR TANGGAL

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 5 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000

PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH BAB I. PENJELASAN UMUM 1.1 LATAR BELAKANG Upaya melengkapi tuntutan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, telah diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Di dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan secara tegas bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Salah satu kategori wilayah yang pertu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah. Ketersediaan areal lahan basah yang masih cukup luas dengan potensi sumberdaya alami yang terkandung di dalamnya masih belum banyak termanfaatkan, telah mengundang peningkatan usaha pemanfaatan lahan basah untuk berbagai sektor kegiatan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kawasan ini semakin potensial untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan yang diperkirakan akan terus berkembang antara lain, pembukaan persawahan, perkebunan dan pertambakan yang dikaitkan dengan pembangunan permukiman transmigrasi. Bersamaan dengan itu pembangunan agroindustri dan berbagai industri jasa seperti pengangkutan dan pelabuhan tentu akan semakin terfokus pada kawasan lahan basah sebagai wilayah sasarannya. Berbagai perkembangan kegiatan perekonomian baik bertaraf lokal, regional, maupun nasional akan menyebabkan keberadaan potensi sumberdaya alami terutama di kawasan lahan basah semakin terancam kelestariannya. Sejumlah program yang sudah diimplementasikan kebanyakan kurang memenuhi kaidah keberlanjutan, sehingga terjadi pemubaziran sumberdaya lahan basah dan tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Mulai tampak berkurangnya luasan alami kawasan lahan basah, dan secara langsung maupun tak langsung menurunkan mutu dan fungsi ekologis dari sumberdaya alami setempat. Pemanfaatan yang sudah berlangsung ternyata, berpengaruh besar terhadap penyusutan mutu dan keberadaan sumberdaya keanekaragaman hayati, sumberdaya perairan rawa, sungai, estuaria dan bahkan potensi laut dalam (Syarkowi, 1995 dan Verheught, 1990). Kecenderungan pemanfaatan yang ada menunjukkan bahwa, banyak pihak yang berkepentingan terhadap daerah itu masih pertu dibekali pengetahuan tentang strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Cara-cara pengelolaan berbagai program pembangunan yang ada telah menjadikan kawasan ini kurang termanfaatkan secara optimal. Padahal jika potensi yang besar itu semakin surut dan banyak yang tersiasiakan, maka pembangunan di kawasan lahan basah akan sulit berkelanjutan. Diakui bahwa kompleksitas persoalan lingkungan dan pengendalian dampak negatif pembangunan kawasan lahan basah itu sangat rumit. Keberadaan lahan basah secara geografis menghubungkan ekosistem lahan kering terhadap ekosistem pesisir dan kelautan, yang tentunya memiliki keterkaitan fungsi dan kepekaan ekosistem yang beragam pula. Pengalaman pelaksanaan studi AMDAL beberapa proyek di berbagai area lahan basah selama ini menunjukkan bahwa kompleksitas dampak lingkungan yang bisa terjadi memang sangat tinggi (Euroconsult, 1991), akan tetapi sedapat mungkin harus diupayakan memprakirakannya. Dari studi khusus tentang “Pedoman Pelingkupan AMDAL Lahan Basah” yang dilakukan oleh AWB (1991) misalnya, kompleksitas dampak lingkungan itu secara sistematis mulai dipahami dinamikanya. Walaupun demikian kenyataan tentang munculnya berbagai masalah lingkungan hidup di kawasan lahan basah dan sekitarnya selama pertengahan dekade 90-an, harus pula diakui bahwa masih banyak rahasia yang perlu diungkapkan dan diketahui dibalik dinamika dampak pembangunan lahan basah itu. Guna mengendalikan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak bijaksana itu, maka studi AMDAL harus dioptimalkan dengan mengacu kepada piranti khusus “Metodologi AMDAL Lahan Basah”. Panduan ini khusus memberi petunjuk bagaimana melaksanakan AMDAL di daerah lahan basah. Dengan ini diharapkan informasi minimal tentang karakteristik lahan basah baik yang bersifat umum maupun khusus dari komponen lingkungan yang peka terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan diarahkan agar dapat dipenuhi. Demikian pula tentang karakteristik proyek pembangunan yang prospektif berkembang di kawasan itu sangat perlu dan akan dapat dipahami atas dasar sifat kepentingannya terhadap lahan basah. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyusunan AMDAL bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan (proyek) pembangunan di daerah lahan basah. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah ini diharapkan dapat: 1. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan. 184

2. 3.

Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan, lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Mendorong langkah-langkah antisipatif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan iptek dan perkembangan sosial ekonomi dan budaya di masa depan.

1.3 PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak penting lingkungan akibat pembangunan di daerah lahan basah, secara cermat diperlukan pengetahuan tentang sifat dan kekhasan daerah lahan

KOMPONEN LINGKUNGAN
• • • • • • Iklim Tanah Kedalaman dan Kematangan Gambut Hidrologi Vegetasi dan Satwa liar Sosial Ekonomi dan Budaya serta Demografi • • • •

KOMPONEN KEGIATAN
Eksploitasi SDA di lahan basah Konservasi Lahan (Perkebunan, Persawahan/Irigasi, Pertambakan) Konservasi Balik (Kawasan Lindung dan Konservasi) Reklamasi Lahan Basah

PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL • • • • Dampak Penting Hipotetik Penetapan Batas Wilayah Studi Penetapan Tenaga Ahli Penetapan Metode Pengumpulan dan Analisis Data yang Akan Digunakan • Penetapan Lokasi Pengambilan Sampel • Penetapan Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak yang digunakan dalam Penyusunan ANDAL.

PENYUSUNAN ANDAL • • • • Survey Lapang Analisis Data Prakiraan Dampak Penting Evaluasi Dampak Penting

PENYUSUNAN RKL DAN RPL • Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan • Penetapan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1-1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL Kawasan Lahan Basah

185

basah tersebut. Hal ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat dikenal pasti sedini mungkin. Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan kawasan lahan basah disajikan pada Bab II. Kemudian diikuti oleh panduan proses pelingkupan yang disajikan pada Bab III, yang menjelaskan penentuan isu pokok, komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan, penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Panduan penyusunan analisis dampak lingkungan (ANDAL) disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selanjutnya, panduan untuk penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis, sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses: penyusunan AMDAL seperti pada Gambar 1-1. Pembangunan di daerah lahan basah akan memiliki ragam dan besaran dampak tergantung pada sistem lingkungan yang akan terkena dampak. Dengan demikian, mengikuti tujuan studi AMDAL adalah memelihara kapasitas ekosistem alamiah dalam hal penentuan parameter lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan dan analisis data, prakiraan evaluasi dampak perlu disusun atas dasar pendekatan pemeliharaan, ekosistem yang berkesinambungan. BAB II. KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM LAHAN BASAH 2.1 TIPOLOGI EKOSISTEM Keberadaan lahan basah atau lahan berawa dapat diklasifikasikan menjadi 3 zona, yaitu : (1) Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin; (2) Ekosistem rawa pasang surut air tawar; dan (3) Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak. Zonasi ini diterapkan demikian berdasarkan kekuatan air sungai dan air pasang (Sandy dan Nad Darga,1979). Pada musim hujan zona I dan II memperoleh pengaruh pasang surut, sedangkan zona III tidak dipengaruhi. Pada musim kemarau, hanya zona I yang dipengaruhi oleh luapan dan intrusi air payau/asin. Berkenaan dengan itu, maka ada tiga hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah; yaitu: (1) Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang; sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu; (2) Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (“slurry”) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan berat maupun energi lainnya, sehingga membahayakan; dan (3) Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya. Bentuk pemanfaatan yang utama dan merupakan fungsi perlindungan pada lahan basah terhadap sistem penyangga kehidupan, antara lain (1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air) (2) Fungsi pengendalian air, terutama pengendalian banjir (3) Fungsi pencegah intrusi air laut (4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam) (5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen (6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara (7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun (8) Fungsi pemasok kekayaan alam (di dalam areal lahan basah) (9) Fungsi pemasok kekayaan alam (ke luar areal lahan basah) (10) Fungsi produksi energi (kayu, listrik-hidro) (11) Fungsi transportasi/perhubungan (12) Fungsi bank gen (13) Fungsi konservasi (14) Fungsi rekreasi dan pariwisata (15) Fungsi sosial budaya (16) Fungsi sosial ekonomi (17) Fungsi penelitian dan pendidikan (18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Selanjutnya manfaat sampingan dapat dipanen dan dinikmati masyarakat sampai batas-batas tertentu tanpa merusak proses ekologis yang diperankan oleh ekosistem itu. Bentuk pemanfaatan golongan ini antara lain: (1) sumber air bagi penduduk (setempat); (2) sumber produk alami (nipah dan ikan); (3) sumber energi (kayu dan gambut); dan (4) sumber kesegaran dan keindahan (wisata). Bertolak dari pemahaman akan arti penting fungsi-fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis yang diperankan oleh ekosistem lahan basah itu, maka upaya untuk melestarikan keberadaan mutu dan fungsi ekosistem lahan basah patut direalisasikan. Ini antara lain dilakukan melalui pendekatan peraturan perundangan yang melindungi komponen-komponen kawasan yang berfungsi penting dan strategis. Pelestarian sumberdaya kawasan lahan basah dimungkinkan oleh adanya ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ketentuan perundangan itu meliputi perlindungan jenis flora dan fauna serta benda cagar budaya, yang tidak jarang banyak ditemukan pada daerah lahan basah. Sampai sejauh ini, kawasan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya antara lain: 186

faktor sebagai berikut (Pasal 9 PP No. Kriteria kawasan ini adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (Pasal 8 UU No. 32 Tahun 1990). Kriteria sempadan sungai yaitu: (a) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman (Pasal 16 butir a Keppres No. adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestariaan fungsi danau/waduk. yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. 32 Tahun 1990). yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung usaha budidaya di belakangnya. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi.). yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung).. Jenis-jenis ini diketahui sangat baik beradaptasi pada tanah bersalinitas tinggi sebagai pengaruh dari pasang air laut. yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pertimbangan teknis. nipah. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan kawasan yang bersangkutan. 35 Tahun 1991). 27 Tahun 1991 tentang Rawa) : (a) kemampuan meningkatkan rawa sebagai ekosistem sumber air. umumnya berupa tumbuhan Api-api (Avicennia sp. Sempadan Sungai. (c) kemampuan meningkatkan perekonomian masyarakat dan (d) kelestarian lingkungan hidup. yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 27 Keppres No. dan jika kondisi lahan menjadi stabil. kimiawi.(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kawasan Gambut. dan Sonneratia marina menduduki formasi terdepan sedangkan agak kebelakang dijumpai jenis tumu atau bakau tomak (Bruguirea hexangula). Kriteria kawasan gambut yang dilindungi itu adalah tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa (Pasal 10 Keppres No. sosial ekonomis dan lingkungan. serta formasi Acrostichum. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer. 2. Formasi hutan “bakau” ini diketahui sangat penting peranannya sebagai habitat pijah-asuh berbagai jenis ikan dan udang.1 Ekosistem Hutan “Bakau” (Zonasi I) Ekosistem ini terdiri dari formasi bakau. Kawasan Sekitar Danau/Waduk. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18 Keppres No.. maka akan ditemui jenis Bakau (Rizophora spp. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. dengan memperhatikan faktor . Pada ekosistem ini formasi Rhizophora sp. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung jo PP No. atau biologis. formasi Acrostichum juga dominan dan berfungsi sebagai penutup tanah hutan mangrove hingga ketinggian 3-4 meter. Di sisi lain.1.) dan Nyireh (Xylocarpus sp. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) Kawasan Resapan Air. sebagai hasil dari sedimentasi dan akumulasi lumpur yang dibawa oleh air sungai. Rawa yang merupakan lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik. bertujuan untuk mempertahankan dan sebagai sumber air serta meningkatkan fungsi dan manfaatnya. Formasi hutan mangrove atau “bakau” ditandai dengan kehadiran jenis tanah aluvial. 32 Tahun 1990). 32 Tahun 1990 jo PP No. Avicennia sp. Bersamaan dengan itu terdapat pula assosiasi dengan Nipa. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir maupun kebakaran. struktur tanah yang mudah meresapkan air bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran (Pasal 12 Keppres No. Sempadan Pantai. Formasi ini begitu dinamis dengan adanya peran dari tumbuhan pemul.) dan Pedada (Sonneratia sp. (b) kelestarian rawa. 35 tahun 1991 tentang Sungai) (b) Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 sampai dengan 15 meter (Pasal 16 Butir b Keppres No.). Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 14 Keppres No. Jenis tumbuhan Nipa membutuhkan air 187 . serta melindungi sistem ekonomi yang khas di kawasan yang bersangkutan. Xylocarpus muluccensis dan Sonneratia ovata.

Prunus sp. Pada zona II termasuk grup aluvial. Marsawa. Pada habitat ini biasa ditemukan fauna yang tergolong reptilia. Di dekat sungaisungai besar. merawan bunga (Hopea mangerawan). pengembangan dan pengelolaannya. Nama atau jenis tanah tertentu sekurang-kurangnya memberi gambaran tentang sifat dan kelakuan tahan dalam merespon suatu teknologi yang diterapkan. sedangkan mamalia yang umum ditemukan adalah babi hutan (Sus scoria). Informasi tentang tipologi geo-fisik lahan basah itu dapat digunakan sebagai arahan pemanfaatan. serta kualitasnya. Formasi ini merupakan pembatas antara hutan mangrove dan hutan lainnya di belakang mangrove. Dipterocarpus.) dan rumput yang terapung (kumpai) di perairan. Fisiografi utama pada zona I termasuk grup marin dan kubah gambut. baik hutan rawa maupun hutan gambut. beruang (Herartos malayensis). 2.2 Ekosistem Hutan Raya Payau (Zona I) Merupakan formasi hutan rawa campuran air asin dan air tawar. Fauna yang ditemukan di habitat ini pada umumnya fauna yang hidup di daerah mangrove maupun di hutan rawa air tawar. 188 .Ini terlihat dari seringnya Nipa diketemukan di sepanjang tepi sungai dengan aliran yang tenang. babi (Sus barbatus).). 2.1. Komposisi tumbuhannya terdiri dari tiga zona yang secara horizontal adalah berturut-turut : zona pertama didominasi oleh jenis durian payau (Durio carrinatus).selama hidupnya. kancil (Tragulus javanicus). Hutan pelawan beriang (Tristania abovata) dan Ploiarium alternifolium ditemukan pada lapisan gambut yang tebal.4 Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III) Di daerah delta yang biasanya banyak mendapat pengaruh air asin dan payau. Ketebalan gambut di daerah ini mencapai 2 sampai 3 meter dengan dominasi jenis palem yang merupakan indikator bahwa formasi di daerah ini merupakan formasi transisi antara tipe rawa dan gambut (hutan campuran rawa dan gambut atau mixed peat swamp forest).). (5) tinggi muka air tanah. dan beberapa jenis dari familia Poligalaceae serta Euphorbiacece. simang (Diospyros sp. sedangkan pada zona III termasuk grup aluvial dan kubah gambut. Tumbuhan lain yang juga sering ditemukan adalah Comnosperma dan Alstonia. Jenis ini dapat hidup sebagai pioner di sedimen berlapis. kera (Macaca sp. Zona kedua terdiri atas tumbuhan Sindai (Knema spp. Komposisi floristik pada formasi ini mirip dengan komposisi di hutan rawa air tawar.). 2. dan kelompok mamalia antara lain : gajah (Elephas maximus). dan (3) tanah bergambut dan gambut. badak (Dicerorhinus sumatrensis). dan (6) keadaan substratum lahan.1. dan umumnya terdapat di belakang hutan mangrove atau di sepanjang tepi sungai.2 TIPOLOGI GEOFISIK Kualitas dan karakteristik lahan basah pada masing-masing zona dapat ditetapkan apabila jenis tanahnya diketahui. karakteristik lahan basah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) lama dan kedalaman genangan air banjir atau air pasang.. Dan berbagai laporan studi dapat dikemukakan bahwa jenis tanah dominan pada lahan basah adalah: (1) tanah aluvial. (2) tanah sulfat masam. Hutan ini merupakan formasi transisi dari hutan gambut ke hutan rawa ( mixed peat swamp forest). Napu (Tragulus napu).. (2) ketebalan dan kematangan gambut serta kandungan hara mineral. Hutan rawa gambut yang tidak dipengaruhi oleh air asin memiliki jenis tumbuhan yang lebih kaya. Formasi ini berperan sebagai pembatas terhadap ekosistem hutan bakau dengan kehadiran formasi Nibung. ular cincin emas (Boiga sp. Secara geofisik. marin dan kubah gambut.).). Kelebatan formasi ini berkisar antara 100-500 meter. 2. dan lain-lain. Di dalam formasi ini terdapat lapisan bergambut dengan ketebalan sekitar 20 cm. meranti (Shorea sp. Rincian karakteristik umum tipologi geo-fisik lahan basah disajikan pada Tabel 2-1. Pada umumnya sifat-sifat tanah pada lahan basah tersebut sangat berhubungan erat dengan fisiografi dimana tanah tersebut ditemukan. pada tempat -tempat yang kurang tergenang ditumbuhi oleh jenis perepat (Combretocarpus motleyi) yang bercampur dengan Camnosperma macrophylla dan meranti paya (Shorea spp. Tumbuhan pada formasi ini didominasi oleh Terentang (Camnosperma). yaitu buaya senjolong (Tomastoma schlegelii). kucing hutan (Felix sp. Salah satu indikator formasi hutan ini adalah hadirnya tanaman pandan (Pandanus sp. dan kelompok burung yang banyak ditemukan merupakan kelompok cemar laut (wader) dan bangau.). Putai (Alstonia). dan jenis-jenis yang termasuk ke dalam famili Anacardiaceae. sedangkan pada lapisan gambut yang tipis ditemukan tegakan nibung (Oncosperma filamentosa).).3 Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II) Formasi hutan rawa air tawar terletak di bagian belakang hutan rawa payau. (4) pengaruh luapan/air laut. Selain itu terdapat familia Dipterocarpaceae dari Genera Shorea. beberapa jenis tumbuhan dominan adalah jenis terentang abang (Camnosperma macrophylla). (3) kedalaman lapisan pirit serta kemasan potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya. Blumeodendron sp. Reptilia yang hidup di habitat ini adalah biawak ( Varanus salvator). Di bagian zona III terutama didominasi oleh tipe semak dan rumputan. dan Rengas (Gluta rengas). serta kuntul. dan Cotilelobium.1. buaya (Crocodylus porosus). tapir (Tapirus indicus).

Tabel 2-1. Faktor Kualitas Lahan Genangan Karakteristik Periode lamanya genangan Kedalaman genangan Kualitas air genangan Tipe luapan Tekstur tanah Kedalaman efektif tanah Ketebalan gambut Tingkat kematangan gambut Tinggi muka air tanah N-total P-tersedia K-dapat ditukar Kapasitas Tukar Kation Kejenuhan Basa PH Salinitas atau sodisitas Kejenuhan aluminium Kedalaman bahan sulfidik Keadaan substratum Satuan waktu cm kelas kelas kelas cm cm kelas cm persen ppm me/100 g tanah me/100 g tanah persen unit mmhos/cm persen cm jenis 2. Jika dipertimbangkan tipologi lahan tipe luapan. 5. Ketersediaan hara 4. Adapun faktor No. (3) Tipe C = tidak terluapi pasang. kendala fisik lahan yang ada dan diperkirakan ada. dan 5 merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi proyek pembangunan non pertanian. seperti pada Tabel 2-2.4. yaitu : (1) Tipe A = terluapi pasang besar dan kecil. air tanah < 50 cm. Karakteristik Umum Tipologi Geofisik Lahan Basah No 1.3 TIPOLOGI AGROEKOSISTEM 2. Dengan tipe luapan air yang dimaksudkan itu maka pemanfaatan lahan dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe [berdasarkan luapan pasang besar (maksimum) dan pasang kecil (minimum)]. maka dapat dikemukakan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut (Halim1994). Tipologi Lahan Lahan Potensial Tipe Luapan (Kategori) A (I) Pola Pemanfaatan Lahan Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/surjan Surjan pangan/holtikultura Lahan Kering Pangan/Hortikultura/Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Lahan Sulfat Masam A (I) Sawah B (II) C (III) D (IV) Lahan Gambut A (I) Sawah/Surjan “Kridit” Surjan “Kridit” Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/Surjan Surjan Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Tabel 2-2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut Sesuai dengan Tipologi Lahan dan Tipe Luapannya 189 . (2) Tipe B = terluapi pasang besar. 1. Kegaraman tanah Toksisitas Kelima faktor mutu lahan yang diindikasikan pada Tabel 2-1 tersebut penting diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian.1 Agro ekosistem Rawa Pasang Surut Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa pasang surut dapat didasarkan pada tipe luapan air pasang surut. 2. dan IV. dan (4) Tipe D = tidak terluapi dan air tanah > 50 cm Pengelompokan tipe luapan ini sepadan dengan kategorisasi hidup topografi lahan basah berdasarkan pasang besar pada MH dan MK yaitu kategori I.3. II. III. Media perakaran 3.

Tabel 2-3 Pola Fisiografis Pemanfaatan Lahan Basah Zonasi Pasang Surut Air Tipologi Lahan Lahan Potensial.3. Lahan dengan tipe luapan C juga dapat disawahkan dalam musim hujan bila diterapkan sistem surjan. Sedangkan pada tipologi lahan gambut-dangkal. interaksi sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam seyogyanya diperhatikan keterkaitannya dengan pencemaran 190 . Sawah dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun pada lahan dengan tipe luapan A. potongan kayu dan tempurung kelapa (yang baik untuk arang) serta sabut kelapa biasanya belum sepenuhnya dimanfaatkan penduduk sebagai bahan sumber tambahan pendapatan. Payau/Asin Pola Pemanfaatan Sawah Payau/Asin Lahan Sulfat Masam. (3) Sumberdaya “alam-maliri” (flow resources). Misalnya. 2. mengubah keadaan bentang lahan lebak di bagian hilir. Payau/Asin Hutan Mangrove/Tambak Hutan Mangrove Sawah Sawah Lahan Kering Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa/Kelapa Sawit Pasang Surut Air Tawar Lahan Potensial Lahan Sulfat Masam Lahan Gambut Dangkal Lahan Gambut Sedang-Dalam Rawa Lebak Rawa Lebak Aluvial Rawa Lebak Gambut Dangkal Rawa Lebak Gambut Sedang Dalam Sawah/Sawah Tadah Hujan Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Pada kawasan lebak dangkal (pematang). lahan dengan tipe luapan B juga dapat disawahkan sebanyak dua kali dalam setahun. Pada lahan gambut sebaiknya diusahakan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan tanaman pangan dan hortikultura untuk beberapa musim.2 Agroekosistem Rawa Lebak Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa lebak disesuaikan dengan tipologi lahannya seperti disajikan pada Tabel 2-3. Sedangkan pada lahan sulfat masam. Demikian pula lebak dalam yang biasanya berperan sebagai gudang kehidupan berbagai jenis ikan akan berkurang kemampuan ekologisnya. Tipologi lahan aluvial dimanfaatkan untuk sawah lebak atau sawah tadah hujan. maka interaksi sosial dan proses sosial bisa beragam coraknya. Rawa lebak pada tipologi lahan tersebut umumnya termasuk rawa lebak tengahan dan/atau dalam. gambut sedang dan gambut dalam dapat dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dengan sistem “polder”. yang tengahan menjadi dangkal. (4) Sumberdaya “alam-segari” (amenity resources). Pada guludan dapat ditanam beberapa jenis tanaman pangan lainnya serta tanaman hortikultura. lebak tengahan. (2) Sumberdaya “alam-hayati” (biological resources). yaitu: (1) Sumberdaya “alam-terludesi” (exhaustible resources). Lebak dangkal berubah jadi kering.4 TIPOLOGI SOSEKBUD DAN KESEHATAN MASYARAKAT 2. sebaiknya dimanfaatkan langsung sebagai lahan perkebunan kelapa. dan lebak dalam sebenarnya mengindikasikan adanya cekungan bentang lahan yang digenangi air tawar. Dari sudut pandangan lingkungan hidup. Sumberdaya alam di kawasan lahan basah dapat dikategorikan menjadi empat kategori. Payau/Asin Lahan Gambut. Keempat kategori sumberdaya alam tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat daerah setempat maupun masyarakat pengusaha. Rawa lebak bertipologi demikian umumnya termasuk rawa lebak dangkal. sesungguhnya sumberdaya alam kawasan lahan basah amat kaya. Indikasi yang demikian amat perlu diperhatikan setiap kali suatu pembangunan direncanakan.1 Sosekbud Dari sisi sosial ekonomi. 2. Pembangunan suatu waduk untuk irigasi di bagian hulu misalnya.4. Pemanfaatan lahan dengan tipe luapan D adalah berupa usaha tani lahan kering untuk tanaman pangan/hortikultura atau perkebunan kelapa. Dengan sistem Surjan. karena keterisolasian lokasi dan keterbatasan sarana pengangkutan berbagai jenis sumberdaya alam dan sumberdaya turunannya masih sering tersia-siakan begitu saja. gambut dan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B dimanfaatkan untuk sawah.Lahan potensial. Walaupun demikian. Oleh karena terdapat berbagai ragam potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. baik yang terbarukan maupun yang tak terbarukan.

3. tapi ada yang harus dikendalikan agar tidak meluas pengaruhnya. masyarakat hukum adat yang bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh. Selain itu.2 Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Karakteristik utama lahan basah yang dicirikan dengan keberadaan air. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. Dengan Hak Ulayat ini. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. dan dalam keadaan keseimbangan maka keberadaan air akan menopang kehidupan sehari-hari. pemahaman tentang persepsi masyarakat di kawasan lahan basah menjadi sangat penting. atau penting tidaknya dampak. Akan tetapi setiap sentuhan proyek pembangunan yang mengganggu dan mengubah keseimbangan alami itu.dan pengrusakan lingkungan alam. baik langsung maupun tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kesehatan masyarakat. (2) evaluasi dampak potensial. Hak masyarakat atas tanah yang terwujud dalam Hak Ulayat di kawasan lahan basah berupa: (1) Hak untuk meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di wilayah/wewenang hukum masyarakat bersangkutan. Namun. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. misalnya sistem lelang lebak-lebung di Sumatera Selatan. peta sistem lahan. dan data/informasi tentang hidrologi. BAB III. sekunder. seperti peta vegetasi. Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar dampak. Sehubungan dengan itu. Di lokasi pemukiman kawasan lahan basah menunjukkan urutan jenis penyakit terbesar adalah penyakit malaria. dalam konsepsi hak ulayat tersebut ternyata masih ada hak anggota masyarakat secara individu menguasai sebagian obyek penguasaan Hak Ulayat tersebut dengan sistem tertentu. Selain itu. pada keadaan yang masih alami ciri itu sangat menonjol. perlu memperhatikan tradisi pemilikan lahan yang luas itu sebagai aspek pertimbangan utama. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL di daerah lahan basah dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. Oleh karena itu dapat dipahami jika terhadap sumberdaya alami yang dilingkupi oleh hak ulayat itu terdapat gengsi kesukuan yang tinggi. instansi yang bertanggungjawab. Semangat dan aktivitas gotong royong di kawasan lahan basah berbeda dengan kawasan-kawasan lain. Kawasan lahan basah di Indonesia ada yang berada dalam lingkup pengaruh atau telah merupakan perkampungan bahkan ada yang sudah merupakan bagian dari wilayah kota besar. dan (3) pemusatan dampak penting. Jika tidak demikian. Dengan kata lain suatu proyek pembangunan harus mempertimbangkan pola kebudayaan lokal. Diantara interaksi itu ada yang patut diteladani sebagai kearifan lokal. Spektrum kegiatan gotong royong dalam suatu kekerabatan atau kelompok sosial di kawasan lahan basah relatif luas dibandingkan dengan kawasan lainnya. agar sedapat mungkin kelangsungan proyek mendapat dukungan masyarakat atau paling tidak dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi. 2. Misalnya.1 Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. Aspek sosial lain di kawasan lahan basah yang perlu diperhatikan adalah tentang hak atas tanah. Serangan penyakit ini diprakirakan akan selalu berlangsung pada setiap awal kegiatan pembangunan di kawasan lahan basah. serta (tokoh-tokoh) masyarakat yang berkepentingan. hak untuk menanam ikan diperairan dalam kawasan proyek bekas tanah Hak Ulayat hendaknya tetap diberikan kepada penduduk setempat. dan (2) Hak untuk berburu dalam batas wilayah atau wewenang hukum masyarakat merdeka. Di kawasan lahan basah masih terdapat penguasaan lahan secara komunal yang dikenal dengan Hak Ulayat. peran limpahan air yang secara musiman membatasi intensitas tanaman akan memudahkan pengendalian hama dan gulma.1.4. Dengan demikian. Dari segi sosial-budaya. sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan upaya gotong royong dalam memperluas lahan usaha.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek. Adapun metode identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Penelaahan pustaka: 191 . maka sikap masyarakat bisa negatif terhadap aktivitas proyek pembangunan. isu lingkungan di kawasan lahan basah juga perlu diperhatikan. pemrakarsa kegiatan. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 3. apabila terjadi pengambilalihan tanah Hak Ulayat maka perlu dipertimbangkan untuk seyogyanya tidak secara penuh meliputi setiap jenis sumberdaya terkait yang justru menjadi sumber nafkah penduduk. karena suatu keputusan yang tidak transparan oleh aparat tidak akan didukung oleh masyarakat setempat. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Dapat dilihat bahwa penguasaan lahan oleh suatu keluarga dapat mencapai 2 sampai 5 Ha. Keadaan ini menempatkan aspek sosial budaya sebagai komponen lingkungan yang tetap harus diperhatikan. Kehati-hatian diutamakan di sini. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. peta tata guna tanah.

Kanalisasi sungai iii. Kegiatan operasi. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Matrik interaksi sederhana. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa i. Minyak ii. air permukaan (sungai. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Limbah padat ii. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei. Limbah Industri vi. Hasil Langkah 1 Daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1. Limbah cair iii. air tanah dalam d) Kegiatan penerimaan tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah i. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi i. Limbah domestik v. brainstorming dan lain-lain). yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah i. danau) ii. Interaksi kelompok (rapat. Introduksi spesies asing 3. b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi i. Pusat-pusat pertumbuhan baru Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi pro dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial aktivitas proyek di daerah lahan basah. Pengurangan/pembuangan lahan Seperti antara lain : pembangunan tambak ii. Pembangunan saluran drainase ii.Analisis isi (content analysis). Penambahan/pengurukan lahan Seperti antara lain : pembangunan jalan iii. Radioaktif iv. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/I992 tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagai sumber informasinya yang lebih rinci. Aksesibilitas wilayah ii. 192 . dan Pengamatan lapangan (observasi). Daftar uji sederhana. Kimia iii. Panas vii. Pengambilan/perburuan satwa ii. lokakarya. Pengalihan aliran iv. Pemungutan hasil iii. Langkah 1 Buat daftar rencana kegiatan proyek yang akan dibangun di daerah lahan basah. Kegiatan konstruksi. Penebangan vegetasi ii.

kesehatan. Fisiografi. 193 . Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. nekton iii. pendidikan. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Pola sedimentasi dan drainase v. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. identifikasikan komponen ekosistem yang akan mengalami perubahan akibat adanya proyek. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. litologi ii. yang meliputi: i. Dalam Panduan ini tipe ekosistem dimaksud dibatasi pada: 1. lama. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. dan 4. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. yang meliputi: i. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. hutan bakau. Komponen Biologi a) Komunitas Vegetasi i. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 3. hutan rawa bergambut. yang diantara adalah: 1. Sifat kimia tanah 2. Panjang penyinaran matahari iv. Tinggi. 2. hutan rawa air tawar. Sifat fisik tanah iii. yang meliputi: i. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Debit dan pola aliran iii. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Langkah 3 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. Kecepatan angin b) Hidrologi.Hasil Langkah 2 Daftar tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi proyek dan/ atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. identifikasikan fungsi atau manfaat yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan yang akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya proyek. hutan rawa payau. Curah hujan ii. Tinggi dan elevasi muka air (pasang surut) ii. 3. Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen lingkungan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek. dan frekuensi genangan/banjir iv. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas Satwa Liar i. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi.

Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BA PEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6 dari identifikasi dampak potensial. 11.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. 2. misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. Fungsi sosial ekonomi. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. seperti energi kayu. 3. geomorfologi dan geologi. 13. dan pemecah angin (windbreak) 5. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. ekosistem. Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan.1. seperti proses ekologi. Fungsi pengendalian air. Fungsi transportasi/perhubungan 12. komunitas. diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang potensial akan terkena dampak. Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar. rotan. a) b) c) a) b) Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. 10. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. getah. dan lansekap lahan basah. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (ground water recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. yang berupa perlindungan garis pantai. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6. obat. Hasil langkah 5 Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem sebagaimana Hasil Langkah 2. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. Buat matrik dampak fungsi ekosistem yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen fungsi ekosistem lahan basah (Hasil Langkah 4). 9. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. 17. Fungsi pemasok energi. 14. berupa estetika lansekap. Fungsi sosial budaya. ikan dan daging satwa liar. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Langkah 5 Buat matrik dampak komponen lingkungan yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan lahan basah (Hasil Langkah 3). Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. terutama pengendalian banjir 3. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. pengendalian erosi. serta peninggalan sejarah. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7. 16. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 194 . Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. keagamaan dan spiritual.Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi atau manfaat untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang diantaranya meliputi: 1. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. dan listrik-hidro. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. seperti kayu. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8. dan gambut. 4.

Komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL.2. 195 a) . b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat (social institution) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek.3 Pemusatan dampak besar dan penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak besar dan penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3.1. dan/atau Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak besar dan penting proyek. Hasil Langkah 1 Diperoleh batas kegiatan proyek di daerah lahan basah di atas peta yang digunakan.1. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan Hasil Langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak besar dan penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan.2. Hasil Langkah 10 Isu-isu pokok lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. sosial dan ekologi. konstruksi dan operasi di daerah lahan basah. sosial maupun ekologi. Lihat pula matrik pada lampiran 3-1 sebagai contoh.1.1. Hasil Langkah I dari butir 3. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra konstruksi. dan Lampiran II Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: KEP-229/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan KA-ANDAL. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. 3. b) Keterkaitan antar dampak besar dan penting yang telah di identifikasi pada butir 3. Hasil Langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan pokok yang akan dialami ekosistem lahan basah yang bersifat mendasar akibat adanya proyek.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak besar dan penting. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil langkah 7.yakni yang meliputi: a. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta vegetasi/peta tata guna tanah/peta sistem lahan yang tersedia.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. 3.1 dapat digunakan untuk memandu hal ini. Catatan Langkah 9 Dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui: Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak besar dan penting di suatu lokasi.Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting tergolong terkena dampak besar dan penting. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. b.

d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembagalembaga masyarakat yang berpotensi berubah mendasar sebagai akibat rusaknya sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek. melalui penyerapan tenaga kerja. terhadap ekosistem lahan basah di sekitarnya. batas HPH. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. a) b) Catatan Langkah 2 Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak mendasar dari proyek misalnya. udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. Catatan Langkah 3 Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah I dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1 dan 2.b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. melalui media air. Catatan Langkah 1 Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau kegiatan/proyek akan melakukan kegiatan pra konstruksi. Dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkena dampak penting kegiatan proyek. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. dimana proses-proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. dapat memandu mengarahkan hal ini. Di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi tempat terjadinya gangguan atau kerusakan terhadap fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek. batas kuasa pertambangan. Hasil Langkah 2 sampai 4 dari proses Identifikasi Dampak Potensial. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. Hasil Langkah 2 Diperoleh batas ekologis di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. konstruksi dan operasi. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. Catatan Langkah 4 Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. 196 . swasta dan/ atau lembaga lokal masyarakat setempat Hasil Langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1.

4. batas ekologi (Hasil Langkah 2). Pelingkupan Dampak Penting Identifikasi Dampak Potensial Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek Langkah 2: Identifikasi Tipe Eksosistem Langkah 3: Identifikasi Komponen Lingkungan Langkah 4: Identifikasi Fungsi Ekosistem Langkah 5: Matrik Identifikasi Dampak Langkah 6: Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan Wilayah Studi Langkah 1: Penetapan Batas Proyek Evaluasi Dampak Potensial Langkah 7: Evaluasi Sifat Penting Dampak Langkah 8: Dampak Penting yg Ditelaah ANDAL Langkah 2: Penetapan Batas Ekologi Langkah 3: Penetapan Batas Sosial Langkah 4: Penetapan Batas Administratif Pemusatan Dampak Penting Langkah 9: Pengelompokkan Isu-isu Lingkungan Langkah 10: Pengurutan Isu-isu Lingkungan Langkah 5: Penetapan Wilayah Studi ANDAL Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL Rencana Kegiatan Proyek yang perlu Isu Pokok/Dampak Penting Ditelaah Mendalam Lingkungan yang perlu Ditelaah Mendalam Gambar 3-1. Skema Proses Pelingkupan Dampak Penting dan Studi BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN 4. dan batas administratif (Hasil Langkah 4).2 METODE STUDI 4. dan tenaga yang tersedia. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. ANDAL. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. batas sosial.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas proyek. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. RKL dan RPL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan AMDAL. batas ekologi. dalam panduan ini tidak dijelaskan tentang outline tersebut.Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (Hasil Langkah 1). Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data.2 Wilayah studi ANDAL daerah lahan basah 197 . Karena itu.2. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan kerangka Acuan ANDAL. Hasil Langkah 5 Diperoleh batas wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. batas sosial (Hasil Langkah 3). waktu. 4. batas administratif dan kendala teknis yang dihadapi. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem lahan basah.2.

Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas keakuratan dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan.serta sifat dan karakter komponen lingkungan yang diukur. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. kampung. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. c) Mengingat ekosistem lahan basah yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. b) Dampak besar dan penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem lahan basah serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. d) Khusus untuk aspek sosial. bulanan atau musiman. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. Tabel 4-1 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Fisik Kimia 198 . Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3.2. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. dalam studi ANDAL di ekosistem lahan basah yang terpengaruh gerak pasang surut air laut. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. saat pengambilan sampel kualitas air harus dapat mewakili pola pasang surut yang ada. 4. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/ pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (emic). Waktu pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. dan dilain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam.Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL daerah lahan basah dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: metode pengambilan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem lahan basah sebelum proyek dibangun. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. Sebagai misal. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a).

lama. Sekunder & Tersier · Visual · Organoleptik · Gravimetrik · Elektrometrik. · Lahan gambut · Lahan rawa · Penilaian Ahli · Analisa laboratorium 199 . · Pengamatan · Lama penyinaran Meteorologi Koppen dan Lapang terdekat. Oldeman matahari · Kecepatan angin Hidrologi · Tinggi dan elevasi muka · Pengukuran air Lapang · Debit dan pola aliran · Pengamatan · Tinggi.Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Iklim · Curah hujan · Suhu dan · Pengumpulan · Pelabuhan · Tabulasi data data sekunder Udara terdekat · Klasifikasi Schmith kelembaban nisbi udara · Stasiun & Ferguson. Sifat kimia air permukaan · DO · BOD · COD · Kesadahan Total · Kalsium (Ca) · Magnesium (Mg) · Mangan (Mn) · Karbonat (CO3) · Nitrit (NO2) · Nitrat (NO3) · Sulfat (SO4) · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Sungai · Saluran Primer. Sekunder & Tersier · Analisis Hidrograf · Pengukuran Lapang · Penilaian Ahli Sifat fisik air permukaan · Sungai · Saluran Primer. dan freLapang kuensi genangan/banjir · Pola sedimentasi dan drainase · Warna · Rasa dan bau · Kekeruhan · Padatan tersuspensi · pH · DHL · Pengukuran insitu · Pengambilan sampel air · Sungai · Saluran Primer. litologi · Sifat fisik tanah · Sifat kimia tanah · Observasi Lapang · Pengeboran dan pengam bilan contoh tanah. Sekunder & Tersier · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Spektrofotometrik Tanah · Fisiografi.

nekton · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi · Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi · Pengumpulan data sekunder · Analisis satwa liar · Observasi lapangan · Hutan Bakau · Penghitungan · Hutan Rawa Indek Nilai · Hutan Payau Penting (INP) · Indek Keanekaragaman · Indek Keseragaman Jenis. vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi · Zona habitat khusus dan plasma nutfah Komunitas Satwa Liar · Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar · Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. komposisi vegetasi · Pemetaan · Jenis dan populasi Plasma Nutfah. · Tabulasi Jenis Satwa Liar yang di Lindungi.Tabel 4-2 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data.Aspek Biologi Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Komunitas Vegetasi · Keanekaragaman · Transek · Hutan Bakau · Penghitungan jenis/komunitas · Pengumpulan · Hutan Rawa Indek Nilai vegetasi data sekunder · Hutan Payau Penting (INP) · Keanekaragaman · Analisis vegetasi · Indek Keanekajenis/komunitas biota · Observasi ragaman air/phytoplankton lapangan · Indek Kesera· Struktur dan · Transek gaman Jenis. 200 .

· Tabulasi silang · Analisis deskriptif dan tabulasi silang · Penilaian Ahli 4. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi : i. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Pemungutan hasil iii. Kegiatan konstruksi. Introduksi spesies asing 201 . Penambahan/pengurukan lahan iii. pemukiman · Aktivitas perekonomi · Observasi lapang penduduk dan perdagangan · Wawancara terdekat. Pembangunan saluran drainase ii. dan tabulasi siWawancara · Wilayah lang administrasi · Penilaian Ahli proyek. Kanalisasi sungai iii. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei : b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Penebangan vegetasi ii. 4. · Sistem pertanian dengan tokoh · Wilayah · Akulturasi dan asimilasi masyarakat dan administrasi · Kesehatan masyarakat ketua suku atau proyek. Pengalihan aliran iv.2. Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi : i. pendidikan.4. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. dan peribadatan Pengumpulan · Desa-desa/ · Tabulasi silang data sekunder. Pengambilan/perburuan satwa ii.Tabel 4-3 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Sosial Komponen Lingkungan Sosial Ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan · Kepadatan dan · pertumbuhan penduduk · Persebaran penduduk · · Peluang bekerja dan · berusaha · Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam · Persarana perhubungan air · Pemukiman penduduk · Fasilitas umum. pemukiman pen.3 URAIAN RENCANA DAN USAHA ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana kegiatan pembangunan kawasan lahan basah hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. Sosial Budaya · Adat istiadat · Pengumpulan · Desa-desa/ · Kelembagaan tradisional data sekunder. kesehatan. Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. · Kesehatan lingkungan adat. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa : i.· Analisis deskriptif Observasi lapang duduk terdekat. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): 1.

b) fungsi dari setiap ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci detail.1. iv.3. Kimia iii. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Aksesibilitas wilayah ii.1. Limbah Industri vi. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas satwa liar i. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi: i. Limbah padat ii: Limbah cair iii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. yang meliputi: i. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Debit dan pola aliran iii. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 202 . iv Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v.4. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran : i. Curah hujan ii.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. danau) ii. Pola sedimentasi dan drainase v. Panas vii. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Kegiatan operasi. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi. Sifat kimia tanah 2. lama. Limbah domestik v. Komponen Biologi a) Komunitas vegetasi i. b) Alternatif lokasi. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan . alternatif ruas jalan. Sifat fisik tanah iii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. yang meliputi: i.1 Struktur ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan struktur ekosistem lahan basah saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. litologi ii. air tanah dalam d) Kegiatan rekrutmen tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah : i. Minyak ii.2.2. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan operasi e) Tenaga kerja yang dicurahkan. air permukaan(sungai. Tinggi dan elevasi muka air ii. Fisiografi. Panjang penyinaran matahari . Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Tinggi. nekton iii. Pusat-pusat pertumbuhan baru Di berbagai jenis kegiatan tersebut usahakan dapat diutarakan perihal : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. 4. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). yang meliputi: i. 4. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. 1. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. Kecepatan angin b) Hidrologi. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah : i. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. dan frekuensi genangan/banjir iv. Radioaktif iv.

2 Fungsi ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan fungsi-fungsi ekosistem lahan basah yang saat ini masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di daerah tersebut. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya : a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. yang berupa: i. Spesies-spesies tumbuhan komersil ii. Ikan dan daging satwa (misal. pendidikan.2 (Langkah 8: Komponen Dampak Penting yang Ditelaah ANDAL). kesehatan. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi ii. Peninggalan sejarah 16) Fungsi sosial ekonomi. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting. yang diantaranya meliputi: i. Proses ekologi. Ikan dan burung-burung migran 10) Fungsi pemasok energi. dan obat iv. Rotan. 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Habitat satwa liar dan tumbuhan penting iii. Rosot karbon (carbon sink) iii. seperti: i. misal: energi dari kayu. seperti: i. Estetika lansekap ii. geomorfologi dan geologi ii. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir iii. Spesies langka dan dilindungi ii. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir . Ekosistem v.1.4. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat ii. Keagamaan dan spiritual iii. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam 4. yang diantaranya berupa: i. Ke lokasi lain: Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge) Pasokan air ke lahan basah lainnya 2) Fungsi pengendalian air. listrik-hidro 11) Fungsi transportasi/perhubungan 12) Fungsi bank gen bagi: i. rusa) iii. Lansekap atau jenis-jenis lahan basah 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata 15) Fungsi sosial budaya. Kayu ii. Pemecah angin (windbreak) 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Air permukaan 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan 4. Gambut 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. Tanah adat masyarakat setempat 17) Fungsi penelitian dan pendidikan 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. yang antara lain berupa: i. Populasi satwa liar 13) Fungsi konservasi bagi: i. ii.3. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat ii. yang berupa: i. Air tanah ii. getah. 203 . terutama pengendalian banjir 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: i. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). Komunitas iv.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3.

1. Hasil Langkah 1 Diperoleh data dan informasi perihal besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem tertentu yang terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. 6) Mengingat dikalangan komponen ekosistem lahan basah terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. Sebagai contoh. dan metode grup eksperimen.1. Langkah 1: Prakirakan dampak penting dengan cara: a) prakirakan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial.sehingga tingkat keanekaragaman hayati masih relatif tinggi sehingga prakiraan dampak harus dilakukan pada seluruh komponen ekosistem yang terkena dampak penting. b) Mekanisme aliran dampak yang bersifat antar ekosistem: Dampak penting yang dialami suatu ekosistem akibat adanya aktivitas tertentu dari proyek mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem lainnya. dan metode analogi 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. sebagaimana diutarakan pada butir 5) di atas. b) Ekosistem lahan basah kebanyakan masih berwujud alami. 5) Prakiraan dampak pada komponen ekosistem lahan basah perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini: a) Ekosistem lahan basah banyak dijumpai berada antara ekosistem daratan dan ekosistem pesisir/ laut. yang antara lain meliputi model matematik. Sebagai contoh: proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan.1 Langkah 2.2. c) Daerah lahan basah umumnya merupakan medan yang berat dan terisolasi sehingga kebanyakan desa yang ada tergolong miskin. yaitu: a) metode formal. tradisional.1. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. kerusakan ekosistem hutan bakau akibat kegiatan suatu proyek pembangunan dapat mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem terumbu karang di perairan pesisir dan juga pada ekosistem rawa lebak yang terletak lebih ke pedalaman. Sebagai misal. b) metode non-formal yang antara lain meliputi penilaian para ahli. Sehingga prakiraan dampak juga harus memperhitungkan pengaruh faktor eksternal pada komponen lingkungan yang tengah ditelaah secara mendalam untuk keperluan ANDAL. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada studi AMDAL Kegiatan Terpadu dan AMDAL Kawasan. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). zona rawa lebak terkait dengan ekosistem daratan di atasnya. sementara zona pasang surut terkait dengan ekosistem pesisir/laut. Sebagai misal. Sebagai misal. dan berpendidikan rendah. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. proyek mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar langka dan dilindungi (gajah) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa gangguan gajah terhadap produksi pertanian. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan dikalangan komponen sosial sendiri. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Panduan Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a) Mekanisme aliran dampak yang bersifat inter ekosistem: Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. khususnya Langkah 8: Komponen Dampak Besar dan Penting yang ditelaah dalam ANDAL b) prakiraan dilakukan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terdapat dalam angka 3.1 khususnya Langkah 2 : Identifikasi Tipe Ekosistem. 204 . Prakiraan dampak penting aspek sosial dengan demikian harus mencermati kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat. Kerusakan pada ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak di pesisir Dampak besar dan penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. sebagai landasan untuk menilai totalitas dampak proyek terhadap fungsi dari ekosistem lahan basah (untuk keperluan Bab Evaluasi Dampak).2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial.

4. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. telaah secara komprehensif perubahan seluruh komponen yang terkena dampak penting (atau dalam hal ini perubahan struktur ekosistem lahan basah) akibat alternatif kegiatan tertentu proyek. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial.2 (yakni Rona Lingkungan Hidup) akan berubah secara mendasar. akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). b) Bila seluruh alternatif kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. (Hasil Langkah 2). dan yang tercantum pada angka 4. Hasil Langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan struktur ekosistem: akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. metode daftar uji berskala dengan pembobotan (misal. dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. telaah secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem lahan basah yang dimaksud pada Langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem. Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap ekosistem lahan basah. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu kegiatan proyek. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).5. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif kegiatan proyek. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin dikalangan seluruh komponen dampak penting yang tercantum pada angka 4. 205 .1.1 khususnya Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek. matrik Leopold). Langkah 4 Dari alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan).1. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. Hasil Langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. Hasil Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan fungsi ekosistem. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. lakukan telaahan sejauh mana dampak besar dan penting yang ditimbulkan terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana dimaksud pada Langkah 1 dan 2.4. Catatan Langkah 1 Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti Langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab evaluasi dampak penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif/holistik. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem lahan basah dimaksud Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari kegiatan proyek. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). dan/atau metode bagan alir. dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. Environmental Evaluation System). berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.

Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. 5. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat sifat ekosistemnya yang kompleks dan multi fungsi. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya.2 Langkah 10. a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL).1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 5. konstruksi dan operasi proyek. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. program atau tindakan untuk mencegah. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem lahan basah.BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada Bab Prakiraan Dampak dan Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4.1. 5. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu tipe ekosistem lahan basah komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. program dan/ atau tindakan-tindakan untuk mencegah. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. 206 .5.1 Lingkup dokumen rencana pengelolaan lingkungan Dokumen RKL. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu dari eksosistem lahan basah. maka pada bagian ini utarakan pula komponen lingkungan dari tipe eksositem lahan basah lainnya yang akan turut tercegah/ tertanggulangi dari kerusakan. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di ekosistem lahan basah tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. operasi maupun pasca operasi. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. Lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatar belakangi kedalaman dokumen RKL.5 (Prakiraan Dampak Penting). Dalam konteks pembangunan proyek di ekosistem lahan basah. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di saat pra-konstruksi. Bila lebih dari 1 tipe ekosistem yang terkena dampak dan mengingat adanya keterkaitan antar ekosistem sebagaimana diutarakan pada angka 4. b) Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). mendaur ulang (recycle). Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem lahan basah juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. yakni Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL. dalam pengertian generik. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. merupakan dokumen yang memuat upaya.dan angka 4. konstruksi. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak.3 Struktur inti dokumen rencana pengelolaan lingkungan Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola b) Tujuan pengelolaan lingkungan c) Pengelolaan lingkungan d) Waktu pengelolaan lingkungan e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan f) Institusi pengelolaan lingkungan.6 dari Bab IV di muka.2 Kedalaman dokumen rencana pengelolaan lingkungan Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. tersier.1. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya.1. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem lahan basah sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja.1. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif disaat pra konstruksi. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting.6 di muka.5.

sistematik. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. pada dasarnya dapat dipandang sebagai pemantauan terhadap struktur ekosistem. Pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya.2. Pada ekosistem lahan basah pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahanperubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem lahan basah yang terkena dampak.6. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). program atau tindakan untuk mencegah. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. lokasi dan jangka waktu serta frekwensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan f) Institusi pemantauan lingkungan 207 . Upaya. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. 5. ekonomi atau kelembagaan. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan keterampilan operasional Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. Khusus ekosistem lahan basah.1 Lingkup dokumen rencana pemantauan lingkungan Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek sampai ke tingkatan ekosistem. Upaya. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana yang disebut pada halaman III-5 s/d III-6. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi.2. kawasan. maka sedapat mungkin dituangkan desain teknologinya. sifat kumulatif.3 Struktur inti dokumen rencana pemantauan lingkungan Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau b) Tolok ukur dampak c) Tujuan pemantauan lingkungan d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisis data.c) d) e) f) Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan dapat merujuk Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Langkah 2). Pemantauan dapat dilakukan pada fungsi-fungsi ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4.2.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5.5. 5. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. atau bahkan regional. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. 5. berulang dan terencana. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar.2 Kedalaman dokumen rencana pemantauan lingkungan Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). selain 6 (enam) faktor yang diutarakan pada Keputusan Menteri tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan seperti diutarakan pada paragrap berikut ini. Upaya.

Langkah 2). warna. upaya/ program/tindakan pengelolaan lingkungan.5 dan 4. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. bau. d) Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. e) Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek.Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu tipe ekosistem lahan basah Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD.6 (Evaluasi Dampak Penting). Semisal. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi.5 (Prakiraan Dampak Penting) dan angka 4. kandungan minyak terlarut. ttd Dr. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. A Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. tersier. ttd Nadjib Dahlan. Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. a) Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL).2 Langkah 10.1. sebagai misal). c) Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. suhu. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. SH 208 . dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. Tolok ukur dampak yang dimaksud disini dapat berupa baku mutu limbah cair. Menteri Negara Lingkungan Hidup. maka diperlukan kejelasan deskripsi dari tolok ukur dampak yang hendak digunakan. Mengingat pada ekosistem lahan basah sebagian besar tolok ukur dampak yang digunakan masih banyak yang bersifat kualitatif. atau ketetapan resmi suatu instansi. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. baku mutu lingkungan keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah.6 yakni Bab Prakiraan Dampak Penting dan Bab Evaluasi Dampak Penting dari dokumen ANDAL. b) Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu: (proyek. Halhal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau.6. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. f) Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.

Kegiatan pra-konstruksi a. Kanalisasi sungai iii. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim i.Pengalihan aliran iv. Limbah cair iii. Kegiatan survei b. Pola sedimentasi dan drainase 209 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penanaman tanaman iv.Lampiran3-1MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganKomponenLingkunganDaerahLahanBasah Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan I. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii.Limbah gas i. Minyak ii.Udara c) Tanah i. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Kimia iii. Sifat fisik tanah iii. Fisiografi dan litologi ii. Pembangunan saluran drainase ii. Panas vii. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Limbah padat ii. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Introduksi spesies asing i.danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. ii.Aksesibibilitas wilayah . &frekuensi genangan/banjir iv.Pemadatan lahan i. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Pemungutan hasil iii. Panjang penyinaran matahari iv. Tinggi dan elevasi muka air ii.domestik v. Kegiatan Konstruksi 3. Sifat kimia tanah iv.Industri vi. Limb.Pusat-pusat pertumbuhan baru . lama. Curah hujan ii. Penebangan veg. Tinggi. Air permukaan (sungai. Radioaktif iv. Kecepatan angin b) Hidrologi i. Limb. Debit dan pola aliran iii. Konstruksi dam .Penambahan/ pengurukan lahan iii.

Kegiatan pembebebasan lahan 2. Introduksi spesies asing i. satwa liar ii. Limbah padat ii. Zona habitat khusus dan plasma natfah b) Komunitas Satwa Liar i. Introduksi spesies asing i. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Kegiatan pra-konstruksi a.Aksesibibilitas wilayah .Pemadatan lahan i. Keanekaragaman jenis/komunitas biota/phytoplankton iii. Kimia iii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v.Pusat-pusat pertumbuhan baru .danau) ii. Radioaktif iv. Limb. Penebangan veg.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Panas vii.Pengalihan aliran iv. Penanaman tanaman iv. Limbah cair iii. nekton iii. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilaiekologi tinggi vii. Pemungutan hasil iii. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Jenis dan populasi satwa liar yang bernilai ekologi tinggi v.domestik v. Limb. Kegiatan survei b. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Komponen Biologi a) Komunitas V egetasi i. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Jenis dan satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Air permukaan (sungai.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 210 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Keanekaragaman jenis/Komunitas biota air zooplankton. Keanekaragaman jenis/kom. Minyak ii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii.Udara I. Pembangunan saluran drainase ii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi.Lampiran3-1.Limbah gas i. Kegiatan Konstruksi 3. Konstruksi dam .Industri vi. Kanalisasi sungai iii.

Kanalisasi sungai iii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Limb. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Prasarana perhubungan air f) Permukiman penduduk g) Fasilitas umum : i. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Kesehatan iii. Penambahan/ pengurukan lahan iii. Kimia iii. Limbah padat ii. Introduksi spesies asing i. Kegiatan Konstruksi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i.Limbah gas i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Kegiatan survei b. Minyak ii.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 211 2.Aksesibibilitas wilayah . ii.Pengalihan aliran iv. Panas vii. Penebangan veg.Udara I. Limbah cair iii. Pemungutan hasil iii. Air permukaan (sungai. Pembangunan saluran drainase ii. Kegiatan pembebebasan lahan 3. Kegiatan pra-konstruksi a. Introduksi spesies asing i. Limb.domestik v. Konstruksi dam .Industri vi. Pendidikan ii.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Penanaman tanaman iv.Pemadatan lahan i.Kepribadian h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomian dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Keterangan: 1.Lampiran3-1. Radioaktif iv.danau) ii.

Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahanbahan beracun. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam.danau) ii. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. Kegiatan Konstruksi 3. Kegiatan pembebebasan lahan 2. ii. terutama pengendalian banjir Fungsi pencegah instrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. 2. Limb. dan pemecah angin (windbreak) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Panas vii. yang berupa perlindungan garis pantai. Kimia iii.Penambahan/ pengurukan lahan iii. seperti kayu.Pusat-pusat pertumbuhan baru .Limbah gas i. rotan. Air permukaan (sungai. Kanalisasi sungai iii. 212 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Pemungutan hasil iii. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i.Pemadatan lahan i.Lampiran3-2. Penanaman tanaman iv. Pembangunan saluran drainase ii. 9. 4.Industri vi. 6.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam . pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran Keterangan: 1. 3. dan gambut.Udara Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air).Aksesibibilitas wilayah . Kegiatan survei b. Radioaktif iv. Pengurangan/pembuangan lahan ii. 7. Fungsi pengendalian air. Limbah padat ii. Introduksi spesies asing i. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. ikan dan daging satwa liar. Minyak ii. Introduksi spesies asing i. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. 8. Limbah cair iii. 5.domestik v.MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemLahanBasahuntukTipeEkosistem: hutan bakau/hutan rawa payau/hutan rawa bergambut/ hutan rawa air tawar Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan 1. pengendalian erosi. Limb. getah. Penebangan veg. obat.

Lampiran3-2.(lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3

Komponen Lingkungan

213
Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penebangan veg. ii. Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. Kimia iii. Radioaktif iv. Limb.domestik v. Limb.Industri vi. Panas vii.Udara

10. Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrikhidro 11. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar 13. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem, dan lansekap lahan basah. 14. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah 16. Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 17. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah asam sulfat.

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebebasan lahan

2. Kegiatan Konstruksi

3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Limbah gas i. Air permukaan (sungai,danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah

Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan

Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi

i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan

i. Pembangunan saluran drainase ii. Kanalisasi sungai iii.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam

- Aksesibibilitas wilayah - Pusat-pusat pertumbuhan baru

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : 1. Bahwa untuk melaksanakan Pasal 8 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Pasal 2 Ayat (3) angka 18 serta Pasal 3 ayat (5) angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, perlu menetapkan Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 2. Bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemeritah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. BAB I TUGAS, WEWENANG, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut komisi penilai mempunyai tugas menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi Penilai dibentuk : a. Di tingkat Pusat oleh Menteri; b. Di tingkat Propinsi oleh Gubernur; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh : a. Tim teknis komisi penilai yang selanjutnya disebut tim teknis; b. Sekretariat komisi penilai yang selanjutnya disebut sekretariat komisi penilai. (4) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. Kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan/atau menyangkut pertahanan dan keamanan seperti: pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor, submarine tailing, teknologi peluncuran satelit, teknologi rekayasa genetika, eksploitasi minyak dan gas, pembangunan kilang minyak, penambangan bahan galian radioaktif, pembangunan industri pesawat terbang, pembangunan industri senjata, pembangunan industri bahan peledak, pembangunan industri yang menggunakan bahan baku dari limbah import, pembangunan bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan samudera, pengolahan limbah terpadu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 214

(5)

(6)

(7) (8)

b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu wilayah propinsi; c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; d. Di wilayah laut diatas 12 (dua belas) mil; dan e. Di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Propinsi berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi: a. Rencana usaha dan/atau kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas seperti: pembangunan industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp, pembangunan industri semen dan quarry-nya, pembangunan industri petrokimia, pembangunan hak pengusahaan hutan beserta unit pengelolaannya, pembangunan hutan tanaman industri beserta unit pengelolaannya, budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan unit pengelolaannya, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi/diesel, pembangunan bendungan, pembangunan bandar udara diluar kategori bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan diluar kategori pelabuhan samudera; b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota; dan c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) mil. Komisi penilai Kabupaten/Kota berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi semua rencana usaha dan/atau kegiatan diluar kewenangan Pusat dan Propinsi, sebagaimana diatur melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dalam hal Kabupaten/Kota tidak atau belum mampu melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan menyerahkan kewenangan tersebut kepada Propinsi. Dalam hal Propinsi tidak mampu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan (7), maka komisi penilai propinsi dapat meminta bantuan kepada komisi penilai pusat. Pasal 2

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 1, komisi penilai mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan di tingkat Pusat; b. Gubernur di tingkat Propinsi; dan c. Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 3 (1) Keanggotaan Komisi penilai terdiri dari : ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota serta anggotaanggota lainnya. (2) Ketua Komisi penilai sebagaimana di maksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat adalah Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Di tingkat Propinsi adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah; c. Di tingkat Kabupaten/Kota adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/ Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup ditingkat Kabupaten/Kota. (3) Ketua Komisi penilai bertugas : a. Melakukan koordinasi proses penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup; b. Menyampaikan bahan pertimbangan komisi penilai sebagai dasar pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota. (4) Sekretaris komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat dijabat oleh Kepala Direktorat yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; b. Di tingkat Propinsi dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi; c. Di Tingkat Kabupaten/Kota dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. (5) Sekretaris Komisi Penilai bertugas : a. Membantu tugas ketua; b. Merumuskan hasil penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan komisi penilai. (6) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai pusat memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; 215

Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (7) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Propinsi memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; f. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (8) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Kabupaten/kota memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya yang didasari atas kaidah ilmu pengetahuan, bagi para ahli; c. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; d. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 4 (1) Tim Teknis di bentuk : a. Di tingkat pusat oleh Menteri Departemen Teknis atau Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang berkedudukan di masing-masing sektor, Tim ini merupakan bagian dari tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999; b. Di tingkat Propinsi oleh Kepala Bapedal Daerah Propinsi selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Propinsi; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Kepala Bapedal Daerah Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. (2) Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang secara ex-officio dijabat oleh sekretaris komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. (2) Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesesuaian dengan pedoman umum dan/atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan; c. Kesesuaian lokasi dengan tata ruang; d. Ketepatan penerapan metode penelitian/analisis; e. Kesahihan data yang digunakan; f. Kelayakan desain, teknologi dan proses produksi yang digunakan; g. Kelayakan ekologis. Pasal 6 Dalam menjalankan tugasnya, tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 7 (1) Sekretariat Komisi Penilai berkedudukan di : a. Tingkat Pusat di Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Badan Pegendalian Dampak Lingkungan b. Tingkat Propinsi di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi c. Tingkat Kabupaten/Kota di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Sekretariat komisi penilai dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada ketua komisi penilai. 216

f.

Pasal 8 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan, perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh komisi. Pasal 9 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. BAB II KERANGKA ACUAN Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 10 (1) Kerangka acuan yang dinilai oleh : a. Komisi penilai Pusat, diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat; b. Komisi penilai Propinsi, diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai Propinsi; c. Komisi penilai Kabupaten/Kota, diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota; (2) Dokumen kerangka acuan yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar. (3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana di maksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal penerimaan dokumen. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 11 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis menilai kerangka acuan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. (3) Penilaian oleh Tim Teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (4) Semua saran, pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai. (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 12 (1) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai kerangka acuan (2) Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal rapat. (3) Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. (4) Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh sekretaris penilai. (5) Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. (6) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. (7) Dalam rapat penilaian, semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6), (7) dan (8). (8) Komisi penilai wajib memperhatikan saran, masukan dan tanggapan dari masyarakat dalam proses penentuan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan. (9) Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. (10) Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretaris komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (11) Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan kerangka acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (12) Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (13) Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian, ketua komisi setelah mendengarkan saran-saran tim teknis 217

(15) Apabila rencana lokasi dilaksanakan usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 14 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar 218 . Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. Bagian Keempat Keputusan Pasal 13 (1) Keputusan kesepakatan kerangka acuan diterbitkan oleh : a. b. (14) Ketua Komisi penilai selaku : a. c. c. b.berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Menerbitkan Keputusan Kesepakatan Kerangka Acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota. BAB III ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. d. maka komisi penilai wajib menolak kerangka acuan tersebut. diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat. Komisi penilai Pusat. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. b. b. d. (4) Di tingkat Pusat. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. (5) Di tingkat Propinsi. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Gubernur yang bersangkutan. (7) Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kesepatan kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. rencana pengelolaan lingkungan hidup. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi di tingkat Propinsi. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. b. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (6) Di tingkat Kabupaten/Kota. d. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. Bupati/Walikota yang bersangkutan. (2) Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan hasil rapat penilaian komisi penilai. c. Komisi penilai Propinsi. Deputi Kepala Badan Pegendalian Dampak Lingkungan yang menangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup di tingkat Pusat. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Gubernur yang bersangkutan. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib memuat kesepakatan tentang ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. (2) Dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Gubernur kepada: a. diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai propinsi. c. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. c. b. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Komisi penilai Kabupaten/Kota. c.

Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian. Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan analisis dampak lingkungan hidup. Dalam penilaiannya. Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 15 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Gubernur. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. komisi penilai wajib memperhatikan saran. Semua saran. Bupati/Walikota. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi pusat. untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6). pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. rencana pengembangan wilayah. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai.(3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan mencatat hari dan tanggal penerimaan dokumen. maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. maka rapat dipimpin oleh sekretaris komisi penilai. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. (3) Penilaian oleh tim teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. Bagian Keempat Keputusan Pasal 17 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan diterbitkan oleh: a. Dalam rapat penilaian. pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. bagi analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Pusat. Dalam melaksanakan tugasnya. Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. Ketua komisi penilai menyampaikan berita acara penilaian dan dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) kepada: a. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. masukan dan tanggapan dari masyarakat. bagi analisis dampak lingkungan hidup. c. ketua komisi berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (7) dan (8). (4) Semua saran. b. 219 . komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup.

c. Bupati/Walikota yang bersangkutan. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. BAB V PENUTUP Pasal 19 (1) Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 Nopember 2000. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. bagi dokumen yang dinilai oleh Komisi penilai Kabupaten/Kota. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. g.H. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan di tingkat Propinsi. instansi terkait lainya di tingkat Propinsi. c. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. tim teknis. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. b. Di tingkat Propinsi. e. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 18 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai. dan e. Ditetapkan : di Jakarta Tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. instansi terkait lainya. 220 . Menteri. d. f. (2) Dengan berlakunya keputusan ini. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. S. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. c. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. ttd Dr. Gubernur. e. b. c. Di tingkat Pusat pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan : a. Di tingkat Kabupaten/Kota pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota. f. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. Dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut. Gubernur yang bersangkutan. Menteri. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. Di tingkat Pusat. instansi terkait lainya di tingkat Kabupaten/Kota. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Bupati/Walikota. Di tingkat Kabupaten/Kota. d. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Gubernur kepada : a. A. Bupati/Walikota yang bersangkutan. b. Gubernur yang bersangkutan. Pertimbangan terhadap saran. Di tingkat Propinsi pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada : a. d. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.(2) (3) (4) (5) (6) b. c. b. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor : Kep-13/MENLH/ 3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL dinyatakan tidak berlaku lagi. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan.

Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). sosial. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 di atas. Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai. ekonomi.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 2. b. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. bahwa untuk melaksanakan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tugas. 2. 7. 9. Mengingat : 1. dan Tata Kerja Menteri Negara. BAB I PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI Pasal 1 Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota wajib memenuhi kriteria: a. perencanaan pembangunan wilayah/daerah. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA. Fungsi. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup belum mengatur tentang Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). 4. Susunan Organisasi. d. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. kesehatan. budaya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang biogeofisik-kimia. 6. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). perlu menetapkan Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/ Kota. dan 221 . Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. dan lingkungan sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. 5. c. 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Menimbang : 1.

serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang dalam hal ini dirangkap oleh sekretaris komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. k. f.e. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 6 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota bertugas menilai kerangka acuan. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 5 1. Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurangkurangnya untuk parameter air dan udara baik laboratorium yang berada di Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat. wakil dari instansi terkait di daerah Kabupaten/Kota. b. wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan daerah Kabupaten/Kota. Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. c. Susunan keanggotaan terdiri dari Ketua merangkap sebagai anggota. Tim teknis terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. 222 . l. Sekretaris merangkap sebagai anggota. Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Sekretariat komisi penilai. wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Daerah Kabupaten/Kota. 2. Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup baik dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau dari instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah Kabupaten/Kota. wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota. 2. j. ahli di bidang lingkungan hidup. g. d. dan anggota-anggota lainnya. 4. Pasal 7 Dalam melaksanakan tugasnya. komisi penilai dibantu oleh: a. wakil dari organisasi lingkungan sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. h. analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 2 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota. wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. e. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan daerah Kabupaten/Kota. i. anggota lain yang dianggap perlu. Pasal 3 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota berkedudukan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau di instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. b. Tim teknis komisi penilai. wakil dari masyarakat yang terkena dampak. BAB II SUSUNAN KEANGGOTAAN Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 4 1. 3.

Nadjib Dahlan. Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Bupati/Walikota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 9 1. 2. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan. S. Ketepatan penerapan metoda penelitian/analisis. perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. Pasal 12 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. BAB V PENUTUP Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. e. Ditetapkan Tanggal : di Jakarta : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan. Kelayakan desain. tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis dan bertanggung jawab kepada komisi penilai. analisis dampak lingkungan hidup. 223 . teknologi. Kesahihan data yang digunakan. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 13 Biaya atas pelaksanaan kegiatan komisi penilai.H. b. A. d. dan proses produksi yang digunakan. sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 11 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan. tim teknis. Pasal 10 Dalam menjalankan tugasnya. c. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd.Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas. ttd Dr. Kesesuaian dengan pedoman umum dan atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup.

Susunan Organisasi. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Anggota komisi penilai dan tim teknis dalam melaksanakan tugasnya wajib memperhatikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5.H. Dr. 2. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. S. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Setiap anggota komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat mempunyai kewenangan pengambilan keputusan dari instansi/organisasi/masyarakat yang diwakilinya. 6. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 3. A. Ketua tim teknis dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 Tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000. Fungsi. 224 Mengingat : Keempat: Kelima : Keenam : . perlu dibentuk Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Susunan keanggotaan komisi penilai dan tim teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran I dan II dalam Keputusan ini. 1.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. ME MUTU S KAN : Menetapkan : Pertama : Kedua Ketiga : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT. 7. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). 4. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. dan Tata Kerja Menteri Negara. Tugas. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 9 dan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. ttd. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54.

225 . Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan Wakil dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen Dalam Negeri Wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional Wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan W akil dari instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan Wakil dari departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang terkait Wakil dari Propinsi yang bersangkutan Wakil dari Kabupaten/Kota yang bersangkutan Ahli di bidang lingkungan hidup Ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan Wakil dari organisasi lingkungan hidup/ Lembaga Swadaya Masyarakat sesuai dengan bidang usaha dan/ atau kegiatan yang dikaji Wakil dari masyarakat terkena dampak Anggota lain yang dianggap perlu Kedudukan Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota 1. 13.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 4. 20. 3. 7. A. Menteri Negara Lingkungan Hidup. 14. S. 10. 18. 19. 8. ttd Dr. 11. 6.H. 5. 12. 2. 9. 15. 16. 17. Jabatan/Instansi Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kepala Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

ttd Dr. 226 . Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . 4. 1. S. Anggota 3. Anggota Anggota Anggota Menteri Negara Lingkungan Hidup.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No.H. A. Jabatan/Instansi Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang paling dominan Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan lainnya Ahli dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Ahli lain di bidang ilmu yang terkait Ahli lain di bidang kegiatan yang bersangkutan Kedudukan Ketua merangkap anggota 2. 5.

6. 227 . Kedua: Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 16 Juli 1992 Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 8. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pengangkatan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup . Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan serta Organisasi Staf Menteri Negara. 1. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan. Peraturan Pemerintan Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1986. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3125) . Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01Tahun 1990 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 2. ttd Emil Salim. 7. 4.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP . Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan Andal. 3. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL Mengingat : Pertama: Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Keputusan ini. Panduan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338).30/MENKLH/7/1992 TENTANG PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP. Tugas Pokok.

serta kelompok masyarakat yang terkena dampak c. karena dampak bersifat yang kurang penting atau tidak relevan tidak akan dikaji dalam ANDAL/ SEL. Lampiran II. Penyusunan ANDAL/SEL dapat langsung diarahkah pada hal-hal yang menjadi pokok bahasan secara mendalam. 2. Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak. sehingga data dan informasi yang terkumpul hanyalah yang relevan dengan dampak lingkungan yang telah ditelaah. Tujuan Pelingkupan bertujuan untuk: a. dan adanya arahan yang tegas dalam lingkup serta kedalaman studi ANDAL/SEL. Menelaah kegiatan/proyek-proyek lain yang terkait dan terletak di wilayah studi. dan instansi pemerintah yang berwenang/terkait dapat memahami pengertian. 3. dana. 2.1. berkat identifikasi dampak yang semakin tajam.LAMPIRAN NOMOR TENTANG : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA : KEP . instansi pemerintah yang terkait. dan Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. 228 . Keterbatasan Sumberdaya KA memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL/SEL. sehingga dokumen ANDAL/ SEL dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan yang diusulkan. tenaga). proses. tujuan. Menyadari pentingnya arti kegiatan pelingkupan ini dipandang penting disusun suatu panduan pelingkupan yang komprehensif. guna menghindari pembahasan yang landung ( redundant). Efisiensi KA memberikan arahan tentang data dan informasi yang perlu dikumpulkan untuk penyusunan ANDAL/SEL. PENDAHULUAN Dalam Keputusan Menteri Negara LH Nomor KEP-50/MNKLH/6/1987. Manfaat Manfaat pelingkupan adalah sebagai berikut: a. d. dan prosedur pelingkupan untuk penyusunan dokumen KA 2.2. TUJUAN DAN MANFAAT PELINGKUPAN 2. Kegiatan pelingkupan (scoping) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan KA dan hasilnya dapat berpengaruh besar pada kualitas dokumen ANDAL/SEL. Pengertian Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana kegiatan. ditegaskan bahwa dokumen Kerangka Acuan (KA) disusun karena adanya pertimbangan: 1. sehingga data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan yang akan timbul. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan. Ketiga pertimbangan tersebut pada dasarnya dapat terwujud dengan baik dalam dokumen KA bila dalam penyusunan KA ditempuh suatu proses yang dikenal sebagai pelingkupan (scoping). Panduan pelingkupan ini disusun dengan maksud agar pemrakarsa kegiatan. serta membantu menelaah dampak kumulatif dari proyek-proyek tersebut. Keanekaragaman KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan ANDAL/SEL. berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. e. tentang Pedoman Penyusunan Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Lampiran II. Semakin baik hasil proses pelingkupan semakin baik pula dokumen ANDAL/ SEL yang dihasilkan. Mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam penyusunan ANDAL/SEL. termasuk dokumen ANDAL/ SEL dari proyek-proyek tersebut.3.30/MENKLH/7/1992 : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1. Menetapkan tingkat kedalaman studi ANDAL/SEL sesuai dengan sumber daya yang tersedia (waktu. Menetapkan lingkup studi dan rancangan studi ANDAL/SEL secara sistematis. dengan meniadakan hal-hal yang dipandang kurang atau tidak penting untuk ditelaah. PENGERTIAN. b. metode. 2. Panduan ini merupakan pendukung ( suplemen) untuk penyusunan KA sehingga dokumen KA yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan teknis seperti yang digariskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. manfaat.

RKL. Kemungkinan timbulnya konflik dan tertundanya kegiatan pembangunan proyek dapat dihindari. b. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang memerlukan penyusunan dokumen PIL terlebih dahulu karena “perilaku” dampak belum banyak diketahui atau diragukan.b.1. Kegiatan pelingkupan sebenarnya berawal sejak penapisan proyek. dalam artian bahwa kegiatan pengumpulan data. c. berkat adanya diskusi dan konsultasi antara pemrakarsa dan berbagai pihak yang berkepentingan sejak awal kegiatan proyek. masyarakat. 3. a. serta rekomendasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. penyusunan dokumen Kerangka Acuan. 229 . Langkah selanjutnya yaitu evaluasi terhadap hal-hal yang dianggap penting dimaksudkan untuk menentukan isi pokok yang tercakup dalam AMDAL (dan menghilangkan isi yang dianggap tidak penting).2. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang langsung memerlukan penyusunan ANDAL/SEL karena dipandang jelas menimbulkan dampak penting. Pelingkupan pada saat ini lebih merupakan proses kelembagaan. Evaluasi segenap dampak protensial sehingga dihasilkan dampak penting hipotetis dengan meniadakan dampak potensial yang tidak atau kurang penting. Saat Penapisan Proyek Proses pelingkupan yang dilakukan pada saat ini ditujukan untuk menetapkan: a. Waktu Pelaksanaan Pelingkupan Pelingkupan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sinambung ( continue). Pelingkupan yang dilakukan pada saat ini lebih bersifat teknis. Biaya. Dengan digunakannya pelingkupan pada saat penapisan proyek prosedur AMDAL/SEMDAL yang harus ditempuh oleh suatu rencana kegiatan dapat diputuskan dengan lebih tepat. Saat Penyusunan Kerangka Acuan Pelingkupan yang berlangsung di saat penyusunan KA pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan manfaat seperti yang dimaksud pada BAB 2 panduan pelingkupan ini. dan waktu untuk penyusunan ANDAL/SEL dapat dicurahkan lebih efektif dan efisien berkat terfokusnya studi ANDAL/SEL hanya pada dampak penting. dalam penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL c. dan para pakar. a. Tujuannya agar studi ANDAL/SEL dan RKL/RPL tetap berada dalam konteks menelaah dampak penting lingkungan seperti yang digariskan dalam Kerangka Acuan. tokoh-tokoh masyarakat. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang tidak memerlukan proses AMDAL/SEMDAL. pakar dan instansi pemerintah tentang rencana kegiatan atau proyek yang diusulkan. sepenuhnya dilakukan oleh penyusun ANDAL/SEL. Proses Pelingkupan Pelingkupan untuk penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL dilaksanakan melalui serangkaian proses berikut: a. d. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dan komunikasi (pemusatan) dari isi pokok tersebut untuk membantu menganalisis isi dan membuat keputusan akhir. Pemusatan (focussing) segenap dampak penting (hipotetis) dengan maksud agar terancang lingkup dan kedalaman studi ANDAL/SEL yang jelas dan sistematis dengan fokus bahasan dan dampak penting. analisis data. hingga berakhirnya studi AMDAL/ SEMDAL. c.3. mengingat “diikutsertakannya” berbagai pihak di luar pemrakarsa. senantiasa akan diarahkan untuk keperluan kajian dampak penting lingkungan. Saat Penyusunan ANDAL/SEL. seperti instansi yang berwenang. RKL. RPL Pelingkupan pada saat ini. 3.1. dan RPL. kedalaman. a. tenaga. Identifikasi dampak potensial yang bersumber dari pemrakarsa kegiatan. Panduan yang diutarakan di sini adalah panduan pelingkupan untuk keperluan penyusunan dokumen Kerangka Acuan. b. Penyusunan ANDAL/SEL dapat berlangsung dengan lebih terarah berkat adanya kejelasan lingkup studi. dan strategi pelaksanaan studi. Kaitan ke tiga proses pelingkupan di atas dapat dilihat pada Gambar berikut: Identifikasi pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan menghasilkan keluaran berupa diketahuinya hal-hal penting. PROSES DAN METODE PELINGKUPAN 3.2.

(12) Aksesibilitas daerah.2. (8) Sikap terhadap proyek. Komponen lingkungan tersebut adalah: (1) Sedimentasi sungai. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan patut untuk ditelaah dalam penyusunan ANDAL/SEL. (10) Kepadatan penduduk. (5) Kesempatan kerja. Pada tahap ini akan dihasilkan daftar dampak penting hipotetik yang belum berurutan dan terorganisir secara sistematis. serta masyarakat yang terkena dampak. (6) Pendapatan penduduk. (4) Kesuburan tanah. instansi pemerintah.2. Contoh: (Kasus Pengembangan lapangan minyak.2. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. (13) Sikap terhadap proyek. (7) Aksesibilitas hutan. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Dari 14 komponen lingkungan yang semula dipandang merupakan dampak potensial untuk diperhatikan.1. 3. Identifikasi Dampak Potensi Kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer) maupun sekunder yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/ proyek. (9) Kesempatan kerja. catatan: contoh ini hanyak merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat). suatu lapangan minyak yang akan dibuka di dataran seluas 50 ha secara potensial diduga akan menimbulkan dampak terhadap beberapa komponen lingkungan di sekitarnya. (2) Kualitas air. dan masyarakat sekitar rencana kegiatan/proyek. (7) Satwa liar yang dilindungi. Pada tahap ini yang diperlukan hanyalah menyusun daftar segenap “dampak potensial” yang mungkin akan timbul. Pada tahap ini belum ada upaya untuk mengevaluasi apakah segenap dampak potensial tersebut akan merupakan dampak penting. (11) Kesehatan masyarakat. (6) Perikanan (sungai). setelah ditelaah lebih lanjut (misal melalui metode matrik atau penelaahan literatur) ternyata terdapat 6 komponen lingkungan yang tidak relevan untuk diteliti. Setelah melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dengan pakar. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak potensial yang dipandang tidak relevan atau tidak penting.KEGIATAN HAL-HAL PENTING ISI POKOK ANALISIS ISI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN LINGKUNGAN EVALUASI PEMUSATAN IDENTIFIKASI 3.3. (14) Warisan peninggalan budaya. Dengan demikian dampak potensial yang secara hipotetis dipandang penting untuk ditelaah adalah: (1) Kualitas air. (2) Kualitas udara. (8) Vegetasi hutan.2. (3) Perikanan (sungai). dengan maksud agar diperoleh gambaran 230 . (3) Kualitas udara. Pemusatan (Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampakdampak penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. (5) Erosi. Identifikasi dampak potensial ini bersumber dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. instansi pemerintah. (4) Vegetasi hutan. 3.

Secara garis besar metode yang dapat digunakan adalah: a. Kedua kelompok dampak penting hipotetis tersebut adalah: (1) Dampak terhadap kualitas air dan perikanan sungai. Penelaahan pustaka Analisis isi (content analysis) Interaksi grup (group process) yang terutama meliputi brainstorming. segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. pengamatan/pengukuran. jenis data dan informasi yang dikumpulkan.yang utuh dan lengkap. Metode identifikasi dampak. Pertama. 231 . hanya berupa serangkaian daftar tentang parameter-parameter lingkungan yang perlu mendapat perhatian akibat adanya suatu rencana kegiatan. b. Berikut diutarakan secara singkat metode-metode dimaksud: 3. lokasi pengamatan/pengukuran. dan lain sebagainya). Daftar-uji sederhana (simple checklist) a.1.3. jumlah sample. d. Daftar Uji Sederhana ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dampak potensial yang diduga akan timbul. metode analisis data. (2) Dampak terhadap kesempatan berusaha dan pendapatan penduduk yang tergantung pada penangkapan ikan disungai. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Delapan dampak penting yang semula belum terkelompok (menurut derajat kepentingan dampak). yakni: a. 3. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Matrik Bagan alir (Network). dana dan tenaga yang tersedia. yang terdiri atas: a.2. Ada tiga macam metode identifikasi dampak yang dapat dipilih untuk digunakan. 3. Daftar-uji (checklist). jumlah sampel. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. 3. dan metode evaluasi dampak yang akan digunakan untuk penyusunan ANDAL/SEL Lingkup kedalaman studi ANDAL/SEL ini ditetapkan sedemikian rupa sehingga dengan waktu. Daftar uji kuesioner ini akan lebih memberi manfaat bila dalam mengidentifikasi dampak potensial didukung dengan pengamatan ke wilayah sekitar rencana kegiatan. setelah melalui serangkaian diskusi dan konsultasi yang intensif dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok dampak penting. Selanjutnya diurut berdasarkan tingkat kepentingannya baik dari segi ekonomi ataupun ekologis.1. Namun demikian metoda ini hanya memberi sedikit informasi tentang dampak yang timbul bila dibandingkan dengan metoda Daftar Uji Kuesioner (questionnaire checklist) dan matrik. Metode Identifikasi Dampak Untuk mengidentifikasi dampak potensial dapat digunakan metode identifikasi dampak lingkungan yang secara konvensional telah dikenal. e. Daftar-uji sederhana (simple checklist) Produk metoda ini sangat sederhana. evaluasi. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) Daftar uji jenis lainnya adalah daftar-uji dengan kuesioner. Dari kedua kelompok dampak penting tersebut selanjutnya dijabarkan: batas wilayah studi. kedalaman dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL (batas wilayah studi. b.3. dokumen ANDAL/SEL yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. dan pemusatan dampak penting hipotetis.3.1. lokasi. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing metoda tersebut.2. lokakarya dan rapat. dan digunakan sebagai dasar untuk menjabarkan ruang lingkup. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) a. atau bila memungkinkan metode prakiraan dampak. c.3.1.3. c. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. Metode Pelingkupan Dalam proses pelingkupan digunakan metode-metode untuk identifikasi.1. Pengamatan lapangan. Dampak penting hipotetis yang terkelompok inilah yang merupakan fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL/SEL.

Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam.3. misal kegiatan ke i (i . asal dan jumlah bahan baku yang digunakan rangkaian proses produksi. Untuk kegiatan yang telah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci. Metode ini tergolong komunikatif untuk materi diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi pemerintah atau masyarakat awam yang ingin mengetahui dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek.. sumber data dan bahkan metoda perkiraan dampak yang direkomendasikan untuk diterapkan. Bila kegiatan sudah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) perlu dilakukan pula pengamatan terhadap jalannya proses produksi dan limbah yang dihasilkan... Diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana kegiatan (misal. dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul. 1. Satu kelemahan lain dari daftar-uji adalah tidak diketahuinya secara jelas sumber penyebab dampak.2..3. secara potensial diduga menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu.. Kelebihan matrik sederhana ini dibandingkan dengan daftar uji adalah diketahuinya sumber penyebab timbulnya potensi dampak lingkungan...2..3... d. jenis limbah yang dihasilkan. 3.2.. Matrik sederhana menggambarkan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. n) maka pada interaksi ke ij diberi tanda atau noktah seperti X.. Mengingat dampak suatu proyek bersifat unik dan khas maka relatif tidak ada daftar uji yang berlaku sama untuk semua proyek di semua lokasi/ruang.1.3. Metoda bagan alir ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya aktivitas proyek.. Kekuatan metoda daftar-uji ini terletak pada kesederhanaannya..3. b.1.4... maka kemungkinan besar butir-butir yang dipandang relevan untuk ditelaah tidak termuat dalam daftar dan sebaliknya hal-hal yang tidak relevan tercantum dalam daftar. rencana penanganan limbah dan lain sebagainya). 3. jumlah karyawan yang diserap.. Umumnya daftar-uji deskriptif ini diawali dengan parameter yang relevan untuk diteliti dan selanjutnya diikuti dengan petunjuk pencarian data. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Daftar-uji deskriptif menguraikan tentang hal-hal yang patut untuk diteliti oleh penyusun ANDAL/SEL seperti data dan informasi yang diperlukan untuk analisis parameter yang diduga sebagai dampak penting. Bagan Alir Bagan alir (network) merupakan suatu model yang dikonstruksikan melalui jalinan hubungan sebab-akibat antara sumber penyebab dampak (kegiatan/proyek) dan faktor-faktor lingkungan yang terkena dampak. Bila pengamatan lapangan ini dilakukan oleh pakar yang berpengalaman.. maka di samping akan diperoleh hasil yang bernilai juga dapat diperoleh gambaran umum tentang kedalaman dan lingkup studi ANDAL/SEL. namun demikian apabila daftar-uji ini tidak diverifikasi dengan kondisi lingkungan dan proyek yang diteliti. Pada bagian lajur tertera berbagai kegiatan pembangunan yang direncanakan. Wawancara singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek. 232 . sekunder maupun tersier...... sedang pada bagian baris tertera berbagai komponen dan parameter lingkungan. 3. baik dampak lingkungan yang bersifat primer. Dengan demikian isi atau materi daftar uji yang relevan dengan karakteristik proyek dan kondisi wilayah sekitar proyek harus dikembangkan sendiri oleh penyusun ANDAL/ SEL. perairan umum..4. Target ini dapat dicapai melalui serangkaian kegiatan berikut: a.3.. kondisi biologi. Matrik Matrik yang digunakan untuk keperluan identifikasi dampak merupakan matrik sederhana ( simple matrik)...1.. dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan/proyek. Pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut rencana tata letak kegiatan... Pengamatan Lapangan Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan dokumen KA umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat. misal komponen ke j (j : 1.5. c. Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan.. m)... Apabila suatu kegiatan proyek..

seperti koran. c. majalah dan televisi. Lokakarya akan memberikan manfaat yang tinggi bila dipersiapkan dengan baik dan draft dokumen KA telah tersusun dan siap untuk dibahas dalam forum. Metode yang dapat digunakan antara lain: rapat. Melalui metode ini identifikasi dan evaluasi dampak potensial suatu rencana kegiatan dapat dilakukan lebih cepat berkat adanya data dan informasi dari studi-studi yang sejenis. Lokakarya Metode ini dapat digunakan untuk evaluasi atau pemusatan dampak penting. kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak potensial (primer maupun sekunder) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/proyek. pakar. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL/SEL Berikut dikemukakan langkah-langkah kegiatan pelingkupan dimaksud: 4. Pustaka yang perlu ditelaah antara lain adalah: a. instansi yang berwenang. evaluasi dampak potensial. Laporan-laporan resmi tentang masalah lingkungan di sekitar wilayah studi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Dampak Penting c. atau pemusatan dampak penting. Analisis Isi Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul menurut persepsi atau pandangan masyarakat.6. 3. Analisis ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dampak potensial dari sudut masyarakat. Buku-buku teks atau jurnal tentang dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. Brainstorming Metode ini terutama digunakan untuk identifikasi dampak potensial. untuk terlibat dalam proses pelingkupan. Melalui metode ini dapat dilibatkan peran serta beragam instansi yang terkait dengan proses AMDAL (pemrakarsa. calon penyusun ANDAL/SEL. instansi pemerintah yang berwenang. Dokumen AMDAL/SEMDAL dari proyek-proyek sejenis atau dari proyek-proyek di sekitar wilayah studi. evaluasi. dan masyarakat yang terkena dampak. mengevaluasi.2. Penelahaan Pustaka Metode ini digunakan untuk keperluan identifikasi dan evaluasi dampak potensial. Telaahan terutama difokuskan pada respon masyarakat terhadap kehadiran proyek-proyek pembangunan di sekitarnya.1. d. peserta harus mengerti benar bahwa tujuan rapat adalah untuk mengidentifikasi. departemen sektoral. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial Seperti telah diutarakan pada butir 3. Metode ini mensyaratkan bahwa ketua rapat harus menguasai prosedur dan teknik penyusunan ANDAL/SEL. Interaksi Kelompok Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. a. PROSEDUR PELINGKUPAN Agar dokumen KA yang dihasilkan mampu mengarahkan penyusunan ANDAL/SEL seperti yang diharapkan. 4. atau pemusatan dampak penting yang berkenaan dengan rencana kegiatan/proyek. atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laporan-laporan penelitian tentang masalah-masalah lingkungan di sekitar wilayah studi. Dalam brainstorming dampak potensial dari sudut pemrakarsa. 233 . perlu ditempuh prosedur pelingkupan seperti berikut ini: a.3. Mengingat inisiatif kegiatan identifikasi dampak ini berada pada pemrakarsa kegiatan. 3. penanggung jawab kegiatan ini juga berada di pundak pemrakarsa.7. b. didaftar untuk selanjutnya dievaluasi tingkat kepentingan dampaknya. tokoh masyarakat). atau pemusatan dampak penting. c. Rapat Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. lokakarya dan brainstorming. “Partisipasi” masyarakat dilibatkan secara tidak langsung dengan cara menelaah berita-berita yang disampaikan melalui berbagai media massa. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial b. Metode ini efektif untuk digunakan dalam rapat-rapat untuk identifikasi dampak potensial.1.5. Persepsi masyarakat “ditangkap” secara tidak langsung melalui metode analisis ini (content analysis). b. Dalam rapat.

tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Inisiatif Langkah Kedua ini juga berada pada pemrakarsa kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun ANDAL/SEL). dan penanggung jawab kegiatan.5 dan 3. dapat ditelaah secara mendalam. 4.) dan telaahan pustaka (butir 3. (brainstorming) Pengamatan terhadap kondisi wilayah sekitar rencana kegiatan dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3.. Jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan agar dampak penting. 3. dan lain sebagainya. serta lokasi pengumpulan data. Pada taraf ini sudah dapat dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. 3. 3. 49/MNKLH/VI/1987. 2.2. Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Kedua ini meliputi: 1.2. yang menjadi fokus bahasan. Pengamatan sebaiknya dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL).4. sebagai bahan acuan. dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL harus dijabarkan dari kelompok dampak penting hipotetik yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya.Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Pertama ini adalah: 1.3. 3. 2.2.2. sehingga dapat dijadikan dasar untuk penjabaran lingkup dan kedalam studi ANDAL/SEL. Jenis tenaga ahli yang diperlukan berikut dengan jangka waktu yang tersedia untuk penyusunan ANDAL/SEL. Hal ini mengingat karena ruang lingkup. Perlu diketahui bahwa pada langkah ini proses pelingkupan semakin mengandalkan pertimbangan pakar (expert judgement). sehingga evaluasi dan pemusatan harus dilaksanakan secara kritis dan obyektif.). Batas wilayah studi dan batas/horison waktu untuk memprakirakan dampak penting yang akan timbul.2. Dari segenap hasil pelingkupan tersebut selanjutnya disusun dokumen KA untuk penyusunan ANDAL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-50/MNKLH/ 6/1987. serta instansi pemerintah yang berwenang.6. Aspek-aspek yang dijabarkan lebih lanjut untuk keperluan penyusunan dokumen KA ANDAL/SEL perlu meliputi tentang: 1. Dampak potensial yang dipandang kurang penting atau tidak relevan ditiadakan dari daftar. Lampiran II.3. Konsultasi dan diskusi dengan para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultasi penyusun ANDAL/SEL).. 4. melalui metode rapat (butir 3. 234 .3). Dari hasil kegiatan butir 1 dan 2 pemrakarsa/konsultan penyusun ANDAL/SEL selanjutnya dapat menyusun daftar dampak potensial yang bersumber dari berbagai pihak. Sedapat mungkin lengkapi pula dengan jenis data dan jumlah sampel yang harus dikumpulkan. 2. Berdasarkan hasil pemusatan ini selanjutnya dilakukan Langkah Ketiga. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Pada Langkah Kedua ini evaluasi dampak potensial dan pemusatan dampak penting ditempuh sekaligus mengingat eratnya kaitan kedua proses pelingkupan tersebut. Lampiran II./ SEL. evaluasi dampak potensial bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. perihal peraturan perundangundangan yang berlaku untuk penyusunan Kerangka Acuan dan ANDAL/SEL. Segenap dampak penting hipotetik selanjutnya disintesis jalinan keterkaitannya sehingga diperoleh di beberapa kelompok dampak penting yang akan menjadi fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL. dengan menggunakan Keputusan Menteri Negara KLH No. Evaluasi derajat kepentingan dampak setiap komponen/parameter lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak lingkungan. kedalaman. sehingga sedapat mungkin kegiatan ini dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat diwakili dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). Sedang pemusatan ( focussing) dimaksudkan untuk mengorganisir dampak penting hipotetik ke dalam beberapa kelompok (lihat butir 3.4. deskripsi kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik. Hal ini tidak lain karena kegiatan ini dapat diperoleh masukan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari sudut pandang masyarakat. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik yang dipandang yang layak untuk ditelaah secara mendalam dalam ANDAL/SEL. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman ANDAL/SEL Pelingkupan yang dilakukan pada langkah ini bersifat lebih teknis. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan). Pemrakarsa perlu terlibat secara aktif dalam kegiatan ini agar dapat dihasilkan butir-butir identifikasi dampak yang lebih jelas/tajam. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (atau SEL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987.6. Dokumen yang telah tersusun ini selanjutnya diserahkan kepada Komisi Pusat AMDAL departemen untuk dibahas dan disepakati oleh instansi yang berwenang. Seperti telah diutarakan pada butir 3. calon penyusun ANDAL/SEL.

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). keterlibatan masyarakat dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 2. penyampaian saran. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. ttd Dr. Rincian tata cara: a. 235 .H. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. S. 4. Gubernur dapat mengatur lebih lanjut: 1. 2. pengumuman. KEDUA : KETIGA : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Pebruari 2000 Kepala Badan Lingkungan. Surat Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. A. 3. dan tanggapan warga masyarakat. dan c. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. b. 1. pendapat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Penentuan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali. Pengendalian Dampak Sudarsono. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Mengingat : PERTAMA : Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan berpedoman pada Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini.

faktor pengaruh ekonomi. Masyarakat Terkena Dampak: Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/ atau kegiatan. 2. khusus bagi warga masyarakat terkena dampak yang penetapannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan butir a) dibawah. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. dan kerjasama dikalangan pihak-pihak yang terkait. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lingkup masyarakat terkena dampak adalah: 236 . dan tanggapan masyarakat yang disampaikan. pemrakarsa dan masyarakat terkena dampak terkait dengan tetap memperhatikan kemungkinan penyempurnaannya kembali pada tahap proses penilaian dokumen ANDAL. f) proses penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL. dan masyarakat pemerhati. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut. faktor pengaruh sosial budaya. dan RPL di Komisi Penilai. masyarakat menyampaikan aspirasi. Pendapat. b) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL). 2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. ANDAL. dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. dan dengan menggunakan mekanisme perwakilan yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan butir b) dibawah : a) Penetapan lingkup masyarakat terkena dampak Penetapan lingkup warga masyarakat terkena dampak pada tahap penyusunan KA-ANDAL dilakukan atas kesepakatan bersama antara instansi yang bertanggungjawab. 3) Duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. Wakil Masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL: Wakil masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL adalah wakil dari masyarakat terkena dampak yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. email) atau bentuk cetak (contoh: surat pembaca di media massa) sehingga mudah didokumentasikan. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat.1 Hak-hak Warga Masyarakat Hak-hak warga masyarakat dalam proses AMDAL adalah: 1) Memperoleh informasi mengenai: a) rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL. komunikasi. pendapat.1 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilaksanakannya keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: 1) Melindungi kepentingan masyarakat. Pendapat. b) Spesifikasi Teknik Penyampaian Saran. d) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). 1. 3) Penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. pendapat. 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan. perhatian pada lingkungan hidup. kebutuhan. Dalam proses ini. HAK DAN KEWAJIBAN 2. (3) Menjelaskan dan atau melampirkan identitas pribadi. c) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). dan Tanggapan Bentuk tertulis (contoh: surat. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak.2 Prinsip Dasar Pelaksanaan 1) Kesetaraan posisi diantara pihak-pihak yang terlibat. RKL. dan 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan.LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. dan Tanggapan (1) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. g) sikap instansi yang bertanggung jawab atas saran. Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL: Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang AMDAL. dan h) keputusan hasil penilaian dokumen AMDAL. 1. 2) Memberikan saran. (2) Menuliskan dengan jelas sehingga mudah dibaca.3 Pengertian Masyarakat yang Berkepentingan: Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. PENDAHULUAN 1. dan/atau tanggapan atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL dan dokumen KA-ANDAL. dan 4) Koordinasi. RKL. c) Tata Cara Tata cara penyampaian saran. 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan. pendapat. yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh. dan tanggapan dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. dan RPL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Penyampaian Saran. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. e) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). Masyarakat Pemerhati: Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

237 . (2) Memperhatikan jenis isu pokok/dampak besar dan penting yang muncul Sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan bisa memiliki lingkup warga masyarakat yang terkena dampak berbeda-beda menurut jenis isu pokok/dampak besar dan penting. • jenis usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pengaruh positif atau negatif besar pada satu kelompok masyarakat tertentu menjadikan hanya sebagian masyarakat menjadi kelompok yang terkena dampak (misalnya: proyek transmigrasi/ pemindahan pemukim perambah hutan yang akan mempengaruhi penduduk yang dipindahkan dan penduduk yang akan menerima. dan tanggapan dari warga masyarakat yang disampaikan. pendapat. (3) Melakukan komunikasi dan konsultasi rutin dengan masyarakat yang diwakilinya. Contoh : • adanya perbedaan antara kelompok warga masyarakat terkena dampak akibat isu konflik sosial budaya dengan kelompok akibat isu pencemaran lingkungan. dan dapat ditambahkan dengan (3) Media elektronik televisi dan/atau radio. • Ditulis dengan huruf cetak standar dengan ukuran minimal 12. (2) Menyuarakan semua bentuk aspirasi dan pendapat masyarakat yang diwakilinya secara apa adanya. (2) Pengumuman tertulis di media cetak harus berukuran minimal 5x3 cm 2 dan ditulis dengan huruf standar sekurang-kurangnya berukuran 10. atau proyek pertambangan terhadap masyarakat suku terasing). pendapat. • Berukuran minimal 60 x 100 cm 2 (4) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita ataupun spot iklan. (3) Mengacu pada batas wilayah dampak yang ditetapkan dalam studi AMDAL Warga masyarakat yang terkena dampak haruslah warga yang memang berada di dalam wilayah dampak yang batas-batasnya ditetapkan dalam studi AMDAL. pembuatan infrastruktur desa. Warga masyarakat terkena dampak memilih sendiri wakilnya yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman (1) Semua bentuk pengumuman baik tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. dengan lama minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. atau bentuk-bentuk pengakuan lainnya yang ditetapkan dan disetujui oleh kelompok masyarakat terkena dampak yang diwakilinya (misalnya: menetapkan tokoh masyarakat formal seperti Kepala Desa dan LKMD. Demikian pula halnya pada saat ditemukannya alternatif mitigasi dampak dalam RKL dan RPL. proyek peremajaan kota. (3) Pengumuman pada papan pengumuman harus sekurang-kurangnya: • Ditulis dengan warna hitam dan dasar putih. namun pada saat evaluasi dampak akan dapat teridentifikasi kelompok masyarakat terkena dampak baru. 4) Menyediakan informasi tentang proses dan hasil keputusan penilaian dokumen KA-ANDAL dan ANDAL. 3) Menyampaikan rangkuman hasil saran. 2) Mendokumentasikan dan mengolah saran. disampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. dan (4) Pusat dan/atau tempat pengumuman resmi yang ditetapkan dan diatur oleh instansi yang bertanggung jawab. termasuk juga pendapat-pendapat yang saling bertentangan. dan 5) Memfasilitasi terlaksananya dengan baik hak warga masyarakat atas informasi dan berperanserta dalam proses AMDAL. dan lain sebagainya. dimana kemudian dapat memunculkan kelompok masyarakat terkena dampak yang tidak teridentifikasi sebelumnya. dan RPL kepada warga masyarakat yang berkepentingan. RKL. Kriteria dan syarat wakil masyarakat terkena dampak adalah: (1) Seseorang yang diakui sebagai juru bicara dan/atau mendapat mandat dari kelompok masyarakat terkena dampak. dan tanggapan dari warga masyarakat serta respon dan sikap atas saran. atau informal seperti tokoh adat dan tokoh agama setempat sebagai wakil yang disepakati). lingkup warga masyarakat yang terkena dampak dapat membesar/mengecil. dan tanggapan warga masyarakat tersebut kepada Komisi Penilai AMDAL. Contoh : • identifikasi dampak dan wilayah sebarannya pada saat KA-ANDAL mungkin hanya menghasilkan satu kelompok masyarakat terkena dampak. (2) Papan pengumuman kantor instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat dan/atau daerah. dan lain-lain). pendapat. Wujud dari pengakuan ini dapat berupa bukti yang sifatnya formal (misalnya: surat persetujuan bersama dari kelompok masyarakat yang diwakili). (1) 2. Penetapan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL.b) Memperhatikan karakter rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diusulkan Contoh : • jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat setempat berarti menjadikan seluruh masyarakat setempat sebagai kelompok yang terkena dampak (misalnya : proyek pembukaan lahan pertanian skala besar.2 Kewajiban Instansi yang Bertanggung Jawab Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai penyusunan AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Media cetak lokal dan nasional. Ukuran minimal tidak boleh dijadikan alasan tidak lengkapnya lingkup materi yang disampaikan. (4) Memperhatikan tahapan proses kajian AMDAL Semakin jelas permasalahan dan alternatif mitigasi dampak.

pendapat. dan 2) Mengumumkan waktu. media cetak. pendapat. lokakarya. dan h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran.p.2. misalnya brosur.1. dan/atau • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Daerah : Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I u. pendapat. serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan. dan (3) Media lain yang dianggap tepat dengan situasi setempat. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman Spesifikasi tampilan pengumuman sesuai dengan ketentuan b) dalam butir 1) sub bab 2. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah).2. 2) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. dan/atau media elektronik. dan disampaikan kepada: • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Pusat : Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan u. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan. ANDAL. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. 238 . c) Jenis usaha dan/atau kegiatan. 2) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. surat. pendapat.3. 3. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. dan tanggapan dari warga masyarakat 4) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. f) Dampak lingkungan hidup yang akan timbul. (2) Papan pengumuman di lokasi-lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah.3 Kewajiban Pemrakarsa Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum memulai penyusunan dokumen AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Papan pengumuman di lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. d) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. c) Nama dan alamat pemrakarsa. kapasitas dan lokasi kegiatan). serta cara penanganannya.2 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Pada saat penyusunan KA-ANDAL. b) Jenis usaha dan/atau kegiatan. TATA CARA KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL 3. seminar. dan RPL kepada warga masyarakat yang memerlukannya. Instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL dengan ketentuan: 1) Mengumumkan hal-hal: a) Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/ atau kegiatan. dan tanggapan dari warga masyarakat. Warga masyarakat yang berkepentingan berhak menyampaikan saran. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : 1) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. d) Produk yang akan dihasilkan.2. pendapat. 3) Mengumumkan hal-hal: a) Nama dan alamat pemrakarsa. b) Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan. Unit yang membidangi AMDAL. dan tanggapan yang disampaikan oleh warga masyarakat yang berkepentingan 3. c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. 4) Menanggapi saran.1 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL Pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL wajib: 1) Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab. RKL. dan tanggapan dari warga masyarakat. dan tanggapan. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. dan e) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran. 3) Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuanpertemuan publik.p. yang teknisnya diatur dalam butir 2) sub bab 2. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini. 2) Menyelenggarakan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan dalam penyusunan dokumen KA-ANDAL.

PENDAPAT. RKL. PENDAPAT. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. ttd Dr. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL. DAN TANGGAPAN PENILAIAN KA-ANDAL OLEH KOMISI (maks. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2.1. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. RPL OLEH KOMISI (maks. dan/atau pemrakarsa. 75 hari) KEPUTUSAN KELAYAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BAPEDAL/GUBERNUR 3. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. DAN TANGGAPAN PENILAIAN ANDAL. pendapat.BAGAN PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggung jawab Pemrakarsa PENGUMUMAN RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PENGUMUMAN PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL SARAN. PENDAPAT. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa.3 Tahap Penilaian KA-ANDAL Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan. 75 hari) PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. pendapat. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. DAN TANGGAPAN KONSULTASI PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. Sonny Keraf 239 .4 Tahap Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL).1. 3. A. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran.

Mengingat : Kedua : Ketiga : Keempat : Kelima : Keenam : Ketujuh : Sudarsono. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran I Keputusan ini. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.H. 5. A. Dengan ditetapkannya Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Yang dimaksud dengan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. 4. 240 . Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran IV Keputusan ini. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran III Keputusan ini. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 3. Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan ini.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). ttd Dr. a. Ringkasan Eksekutif dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif sebagaimana dimaksud dalam lampiran V Keputusan ini. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. 1. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum dicabut. b. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. 2. S. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Februari 2000 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60.

metode. Dengan demikian KAANDAL diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang harus ditelaah. dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati selama menyusun ANDAL. dalam menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil keputusan dan perencanaan. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. instansi yang bertanggung jawab. 4. 2. KA-ANDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan. pengaruh manusia. dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Hasil studi kelayakan ini tidak hanya berguna untuk para perencana. berlainan dengan bagian studi kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi. KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa mengurangi mutu pekerjaan ANDAL. sasaran. Nomor 27 Tahun 1999. Efisiensi Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL Menurut Pasal 2 PP. ANDAL lebih menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut terhadap lingkungan hidup.2. dan sebagainya. b. 4. KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah pemrakarsa. Karena itu. tenaga. 3.1. dan sebagainya. 4. Dengan cara ini ANDAL dapat dilakukan secara efisien. Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL. Rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam. Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritias manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas. PENJELASAN UMUM 1. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL 4. tujuan. Keanekaragaman ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah: a. keanekaragaman faktor lingkungan hidup. Tujuan dan fungsi KA-ANDAL 3. tata kaitan antara keduanya tentu akan sangat bervariasi pula. dan sebagainya. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. Keterbatasan sumber daya Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman bentuk. dana. dan waktu yang tersedia. Demikian pula rona lingkungan hidup akan berbeda menurut letak geografi. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL. 5. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi AMDAL. instansi yang membidangi rencana usaha atau kegiatan.3. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa. Karena itu. Karena itu. tenaga. penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan: 241 .1. Namun dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33 s/d Pasal 35 PP. Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah: a.LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) A. seperti antara lain: keterbatasan waktu. 6. dan penyusun studi ANDAL. Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun akan berbeda-beda. tetapi yang terpenting adalah juga bagi pengambilan keputusan. b. ukuran. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal. Sungguhpun demikian.2.

b. d. Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan hidup. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan: a. seperti antara lain: • Pemilikan dan penguasaan lahan. Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-ANDAL terutama dalam proses pelingkupan. dan Cagar Biosfer. 242 . ii. • Kesehatan masyarakat. • Keanekaragaman hayati. perencana dan pengelola lingkungan hidup berupa: • Alternatif usaha dan/atau kegiatan • Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup • Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup 7. • Warisan alam dan warisan budaya. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak yang terlibat. teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya dampak negatif yang lebih besar. Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak besar dan penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. • Kesempatan kerja dan usaha. Sehubungan dengan hal tersebut. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah dan sistematis. • Taraf hidup masyarakat. maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup yang berciri: i. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya. maka dalam studi ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan hidup. c. • Kenyamanan lingkungan hidup. 8. Wawasan KA-ANDAL Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. • Kualitas udara.Pengumpulan data dan informasi tentang • Rencana usaha dan/atau kegiatan • Rona lingkungan hidup awal Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup awal sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan Penentuan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan Evaluasi dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan. seperti antara lain: • Hutan Lindung. Hutan Konservasi. satu sama lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan. • Sumber daya air. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri. • Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup.

dan/atau b) analisis isi (content analysis). Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak besar dan penting. dan para pakar. serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. lokakarya. Untuk jelasnya proses pelaksanaan pelingkupan dapat mempelajari Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sesuai Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-30/MENKLH/7/1992. Kedua. sehingga diperoleh daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: 1) Batas proyek Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. dan/atau h) pelapisan (overlay). atau penting tidaknya dampak. baik dari ekonomi. 8. brainstorming. Pertama. b. 8. Isu-isu pokok lingkungan hidup tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan. Pada tahap ini daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis. Pelingkupan dampak besar dan penting Pelingkupan dampak besar dan penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut: 1) Identifikasi dampak potensial Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (primer.Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena melalui proses ini dapat dihasilkan: a. Metoda yang digunakan pada tahap ini adalah interaksi kelompok (rapat. maupun ekologis. sekunder. Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek. masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan lapangan (observasi). dan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. waktu dan tenaga. dan/atau e) daftar uji (sederhana. Pelingkupan wilayah studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak besar dan penting. dan/atau f) matrik interaksi sederhana. Dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting ditelaah. • Keterkaitan antar berbagai komponen dampak besar dan penting yang telah dirumuskan. Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar.1. Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut ini: a) penelaahan pustaka. dan/atau i) pengamatan lapangan (observasi). 3) Pemusatan dampak besar dan penting ( Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan/mengorganisir dampak besar dan penting yang telah dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan hidup yang dapat mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal: • Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan dengan komponen lingkungan hidup yang mengalami perubahan mendasar (dampak besar dan penting). dan batas administratif. instansi yang bertanggungjawab serta masyarakat yang berkepentingan. instansi yang bertanggungjawab. konstruksi dan operasi. dan lain-lain). Daftar dampak besar dan penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. batas sosial. pemrakarsa. termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. 243 . segenap dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. jumlah sampel yang diukur. sosial. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang tersedia (dana dan waktu). lokakarya. kuesioner. Kegiatan identifikasi dampak besar dan penting ini terutama dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL). c. instansi yang bertanggung jawab. dan/atau c) interaksi kelompok (rapat. dan/atau d) metoda ad hoc. Dari ruang rencana usaha dan/ atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. dampak besar dan penting yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya. Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metoda yang digunakan. Posisi batas proyek ini agar dinyatakan juga dalam koordinat. 2) Evaluasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. brainstorming).2. Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang akan dilakukan. dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar. deskriptif). batas ekologis. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. dan/atau g) bagan alir (flowchart).

Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan mendasar akibat aktifitas usaha dan/atau kegiatan. RUANG LINGKUP STUDI 2. Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. b. seperti waktu. dan tenaga). tehnik. Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi ANDAL. 1. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampakdampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. dana. udara). 244 2) . dimana proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. tenaga. batas HPH. kemudian diperluas ke ruang ekosistem. maka batas sosial ditetapkan dengan membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek. Tujuan dan kegunaan proyek. Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. batas kuasa pertambangan). teknis dan ekonomis. 4) Batas administratif Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di dalam ruang tersebut.Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah a. Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan (misal. BAB II. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. b.1. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN BAB I.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. 5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL Yakni ruang yang merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai. b. Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.2. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a. Lokal dan Perusahaan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. waktu.Batas ekologis Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air. dan metode telaahan. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan. ekologis serta komunitas masyarakat yang berada diluar batas proyek dan ekologis namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja.1. namun penentuannya disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki keterbatasan sumber data. c. ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas. c. 3) Batas sosial Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Komponen usaha dan/atau kegiatan yang ditelaah yang berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkannya. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan. Mengingat dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menyebar tidak merata. b. Kebijaksanaan Regional. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. Dengan demikian. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.Tujuan dan kegunaan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah: a. B. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup: 1. c. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan. c. Mengidentifikasikan rona lingkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting.

2. butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat (masyarakat yang berkepentingan). Metoda formal dan non formal digunakan dalam memprakirakan besaran dampak. 245 .Lingkup wilayah studi Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek. sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala teknis yang dihadapi. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan bersifat terpadu atau berada dalam suatu kawasan. BAB IV. maka pengukuran terhadap besaran dampak kumulatif akibat berbagai usaha dan/ atau kegiatan tersebut mutlak diperhitungkan. ekologis. Uraikan dengan singkat mengenai rona lingkungan hidup yang terkena dampak. BAB III. 2.3. nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/ atau kegiatan. Disamping itu harus dilampirkan pula biodata personil penyusun ANDAL. ekologis. LAMPIRAN Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perizinan yang berkaitan dengan proyek dimaksud.4. 3.Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan.Waktu studi Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya. bagan alir. identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. 4. mengamati. Evaluasi dampak besar dan penting secara holistik tersebut di atas harus mencakup baik dampak yang tergolong besar dan penting maupun tidak sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya.1. nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL.4. PELAKSANAAN STUDI 4. Menelaah. DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini uraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan penyusunan dokumen KAANDAL. BAB V. sosial dan administratif. dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. 3. Perlu diketahui bahwa Ketua tim penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL B sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan. uraikan secara jelas untuk setiap komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. b.Biaya studi Pada bagian ini diuraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan studi ANDAL.2. overlay) untuk digunakan sebagai : a. Bab ini agar dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat menggambarkan batas wilayah proyek.Metode prakiraan dampak besar dan penting Pada bagian ini jelaskan metode yang digunakan dalam studi ANDAL untuk memprakirakan besaran dampak dan penentuan tingkat kepentingan dampak. Komponen lingkungan hidup yang ditelaah karena terkena dampak. mengamati dan mengukur komponen lingkungan hidup yang diperkirakan terkena dampak besar dan penting. b. BAB VI.2.Lingkup rona lingkungan hidup awal a. Dalam hal ini. Tata cara pelingkupan agar mengacu pada serangkaian proses pelingkupan sebagaimana dimaksud di dalam penjelasan umum.Metode evaluasi dampak besar dan penting Pada bagian ini diuraikan metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. Data rona lingkungan hidup semaksimal mungkin menggunakan data aktual di lapangan. 2.Penyusun studi AMDAL Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan.3. Sementara untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar digunakan Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Menelaah. b. 4. 4. METODE STUDI 3.2. nama dan keahlian dari masing-masing anggota penyusun AMDAL.1.Metoda pengumpulan dan analisis data Pada bagian ini jelaskan metode pengumpulan dan analisis data baik primer dan/atau sekunder yang sahih dan dapat dipercaya (reliabel) untuk digunakan: a. dan mengukur komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan mendapat dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya.3.Isu-isu pokok Uraikan secara singkat isu-isu pokok yang dapat ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai hasil pelingkupan.

bila dipandang perlu. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup : 1.LAMPIRAN II: KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. d. Uraikan dengan singkat kondisi rona lingkungan hidup yang terkena dampak. termasuk masyarakat.Tujuan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. 2. b. c. Aspek-aspek yang diteliti sebagaimana dimaksud pada butir 2.Dampak besar dan penting yang ditelaah a. Kaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan dampak besar dan penting yang ditimbulkan (isu-isu pokok hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen KA-ANDAL). BAB I. operasi maupun pasca operasi. d. Uraikan secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. 2. Memuat uraian singkat tentang : a. terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 3. Merumuskan RKL dan RPL. a. perencana. sehingga dapat : 1. RUANG LINGKUP STUDI Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak besar dan penting yang ditelaah serta wilayah studi. Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan dan lingkungan. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak.1. e. AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL kegiatan dalam kawasan. c. 1. d. B. Tujuan dan kegunaan proyek. 2. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan. terutama komponen usaha dan/atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. b. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. b. c. Landasan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. 246 . Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL baik AMDAL kegiatan tunggal. Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak besar dan pentingnya. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. c. Mengidentifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.1. d. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. b. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Baik pada tahap prakonstruksi. terutama komponen lingkungan hidup yang langsung terkena dampak. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah. BAB II. Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan mengacu pada hal-hal yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan.1. Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. konstruksi.2. c. c dimaksud mengacu pada hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan untuk ANDAL. b. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media massa. dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. PENJELASAN UMUM 1. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan (PP Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 1). Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) RINGKASAN Ringkasan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa. b.

b. b. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta. d.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan .2. Hutan lindung. a. pertahanan dan keamanan.1.Kegunaan dan keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan Uraian yang memuat tentang kegunaan dan keperluan mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus dilaksanakan. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan tersedianya sumber daya air. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala memadai.Metoda prakiraan dampak besar dan penting Uraikan secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak usaha dan/atau kegiatan dan penentuan sifat penting dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 2.2. Mengingat studi ANDAL merupakan telaahan mendalam atas dampak besar dan penting usaha dan/ atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Bila berdasarkan studi kelayakan terdapat beberapa alternatif lokasi usaha dan/atau kegiatan. sumber daya alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi. Penyusun ANDAL : 1) Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. b. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan. dan b. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL. suaka alam. yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. METODA STUDI 3. tata letak bangunan atau sarana pendukung. 2. dan kesehatan masyarakat menggunakan kombinasi dari tiga atau lebih metoda agar diperoleh data yang reliabilitasnya tinggi. 4. Pemrakarsa : 1) Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan.1. atau teknologi proses produksi). dan dapat memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya.3. sumber mata air.b.Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari : a. dermaga dan sebagainya). 247 . sosial ekonomi.1. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 4.kegiatan yang berada di sekitarnya. Alternatif usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil studi kelayakan (misal: alternatif lokasi. dan lingkungan hidup alami yang terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. serta hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya.. energi. overlay). baik ditinjau dari segi kepentingan pemrakarsa maupun dari segi menunjang program pembangunan. dan kawasan lindung lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus diberikan tanda istimewa dalam peta. dan hasil pengamatan di lapangan.Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan Pernyataan rencana maksud dan tujuan dari rencana usaha dan/atau kegiatan perlu dikemukakan secara sistematis dan terarah. cagar alam. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada Bab II butir 2. suaka margasatwa. maka jenis data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder harus bersifat sahih dan dapat dipercaya ( reliable) yang diperoleh melalui metoda atau alat yang bersifat sahih. BAB IV.Metoda evaluasi dampak besar dan penting Uraikan singkat tentang metoda evaluasi dampak yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. maka alternatif rancangan tersebut diutarakan pula dalam peta yang berskala memadai. Bila terdapat beberapa alternatif tata letak bangunan dan struktur lainnya. 4. maka berikan uraian tentang masingmasing alternatif lokasi tersebut sebagaimana dimaksud pada butir a. jalan kereta api. sungai.Wilayah Studi Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL. c. c. seperti pemukiman (lingkungan hidup binaan manusia umumnya). Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai.3. b. BAB III. Hubungan ini perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai. metoda analisis atau alat yang digunakan. 3. bagan alir.Metoda pengumpulan dan analisis data a. Uraikan secara jelas tentang metoda pengumpulan data. Pengumpulan data dan informasi untuk demografi. Penggunaan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. yang berskala memadai. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. 3.1. sosial budaya. sumber daya alam hayati dan.2.

(b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan selama masa operasi. cair maupun gas dan rencanarencana pengelolaannya. 4. (b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah). dan kualifikasi pendidikan. (3) Rencana jumlah tenaga kerja. jalan darurat dan sebagainya. Uraikan secara mendalam difokuskan pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Misalnya: (1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah. Perlu juga diuraikan neraca air (waterbalance) bila usaha dan/ atau kegiatan yang akan dibangun menggunakan air yang banyak. tempat asal tenaga kerja. 4) Tahap Pasca Operasi Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pasca operasi. (2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan. 1) Tahap pra-konstruksi/persiapan Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pra konstruksi. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi. listrik. (3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup. baik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan yang sudah ada terhadap lingkungan hidup. 2) Tahap konstruksi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. Disamping itu. bedeng kerja. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Dalam kaitan ini perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3. hingga rencana waktu pasca operasi. Misalnya: (1) Desain dan spesifikasi teknologi yang digunakan. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan setelah masa operasi berakhir. gudang. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup. sehingga dapat diketahui input-output dan jumlah serta kualitas limbah. demikian pula neraca bahan (material balance). RONA LINGKUNGAN HIDUP Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin mengenai: 1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir. Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain disekitarnya Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. Misalnya: (a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan bahan/material. jangka waktu masa operasi. tempat asal tenaga kerja yang akan diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. jalanjalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir.4. 3) Tahap Operasi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. air) dari rencana usaha dan/atau kegiatan. jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi. (4) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa konstruksi. BAB V. bila ada. (4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan. 248 . gudang. yang mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. (5) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat. (d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan berakhir. (2) Jumlah dan jenis bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak besar dan penting lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya (misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya). Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis perlu mendapat perhatian. (c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan. bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa. konstruksi.e.

penyebaran. (g) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk keperluan lainnya seperti pertanian. rawa air tawar). Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan. 3) Data dan informasi rona lingkungan hidup Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. kegiatan-kegiatan longsor tanah. cuci. (b) Uraikan tentang jenis-jenis vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan sumber daya alam lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh Pemerintah setempat baik di tingkat kabupaten. rencana tata guna tanah. (c) Uraikan tentang keunikan dari vegetasi dan ekosistemnya yang berada pada wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Kadar sedimentasi (lumpur). perikanan dan lain-lain serta kawasan non budidaya seperti hutan lindung . 5) Ruang. 2) Fisiografi (a) Topografi bentuk lahan (morphologi). banjir tahunan. dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (misal: longsor tanah. Berikut ini adalah beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL. intensitas radiasi matahari. (b) Rencana pengembangan wilayah. 249 . pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca terburuk. habitat. sifat-sifat dan kerawanannya yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. suaka margasatwa. pola migrasi. tahunan. populasi hewan budidaya (ternak) serta satwa dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. rata-rata). sesar. (h) Kualitas fisik. banjir bandang di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. grafik atau foto. suhu (maksimum. kimia dan mikrobiologi air mengacu pada baku mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. Fisik Kimia 1) Iklim. rawa (rawa pasang surut. arus dan gelombang/ombak. Penyajian kondisi sumber daya alam ini perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram. lahan. (f) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk air minum. dan sebagainya). dan lain-lain. 2) Fauna (a) Taksiran kelimpahan dan keragaman fauna. gempa.2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/ atau kegiatan. (d) Pola iklim mikro. minimum. gambar. struktur geologi dan jenis tanah. morfologi pantai. kelembaban curah hujan dan jumlah hari hujan. (f) Sumber kebisingan dan getaran. (c) Kemungkinan adanya konflik atau pembatasan yang timbul antara rencana tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan/penentuan lokasi bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. kualitas udara dan kebisingan (a) Komponen iklim yang perlu diketahui antara lain seperti tipe iklim. b. (d) Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. taman nasional dan lain-lain). atau berpotensi terkena dampak besar dan penting. (d) Kondisi fisik daerah resapan air permukaan dan air tanah. industri. dan sebagainya) seperti sering terjadi angin ribut. Biologi 1) Flora (a) Peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami yang meliputi tipe vegetasi. keistimewaan. sesar. danau. lima tahunan. tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. (c) Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut. (b) Data periodik bencana (siklus tahunan. potensi dan kualitas air tanah (dangkal dan dalam). bulanan. mandi. terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidak stabilan. kegiatan-kegiatan vulkanis. 3) Hidrologi (a) Karakteristik fisik sungai. baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. (b) Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan stabilitas tanah. (e) Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 4) Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut. (e) Fluktuasi . gempa. tingkat erosi. perkebunan. (b) Rata-rata debit dekade. Penyusun dapat menelaah komponen lingkungan hidup yang lain diluar dari daftar contoh komponen ini bila dianggap penting berdasarkan hasil penilaian lapangan dalam studi ANDAL ini. propinsi atau nasional di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. rencana tata ruang (kawasan budidaya seperti pertanian. hutan. (c) Keunikan. dan tanah (a) Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha dan/atau kegiatan yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangannya di masa datang. keadaan angin (arah dan kecepatan). a. dan kerawanan bentuk lahan dan batuan secara geologis.

kewenangan formal dan informal. konstruksi. sosial. (d) Tenaga kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja. keluarga. 8) Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. asimilasi dan integrasi. perilaku dalam daerah teritorinya. 3) Dalam melakukan telaahan butir 1) dan 2) tersebut perlu diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. distribusi pendapatan. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra konstruksi. (b) Tingkat kepadatan penduduk. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut: (a) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. siklus dan daur hidupnya. pola nafkah ganda). (f) Kekuasaan dan kewenangan (kepemimpinan formal dan informal. dan agama. dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. kelompok individu yang dominan. 2) Ekonomi (a) Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat. c. aksesibilitas wilayah). pendidikan. (c) Perikehidupan hewan penting di atas. (c) Pertumbuhan penduduk (tingkat kelahiran. pola penggunaan lahan. nilai tambah karena proses manufaktur. akulturasi. 3) Budaya (a) Kebudayaan (adat-istiadat. produk domestik regional bruto. dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup. komuter. cara memelihara anaknya. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. proses disosiatif/konflik sosial. ekonomi. agama. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1) Demografi (a) Struktur penduduk menurut kelompok umur. jenis kelamin. 4) Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. 7) Status gizi masyarakat. Sedang dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. 3) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian). operasi. sumber daya alam milik umum). pola pemanfaatan sumber daya alam. dan pemerintah. (c) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. 2) Proses dan potensi terjadinya pemajanan. (g) Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan. permanen). 4) Pertahanan/Keamanan Konflik kepentingan pertahanan dan keamanan dengan rencana pembangunan usaha dan/atau kegiatan. pendidikan. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. cara bertelur dan beranak. tingkat kematian bayi dan pola migrasi sirkuler. nilai dan norma budaya). Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/ atau kegiatan. (c) Perekonomian lokal dan regional (kesempatan kerja dan berusaha. nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. (d) Warisan budaya (situs purbakala. (c) Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi (misal hak ulayat). fasilitas umum dan fasilitas sosial. Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan. pendapatan asli daerah. (b) Proses sosial (proses asosiatif/kerjasama. (b) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik-kimia. kohesi sosial). dengan mengacu pada Pedoman penentuan dampak besar dan penting. 2) Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan bagi masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. atau sumber hama dan penyakit. 250 . jenis dan jumlah aktifitas ekonomi non-formal. 6) Kondisi sanitasi lingkungan. tingkat pengangguran). (h) Adaptasi ekologis. cagar budaya).(b) Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan. mata pencaharian. Kesehatan Masyarakat 1) Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan. termasuk cara perkembangbiakan. pergeseran nilai kepemimpinan). 5) Sumber daya kesehatan. (b) Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. pekerjaan dan kekuasaan. cara pemijahan. d. (e) Pelapisan sosial berdasarkan pendidikan. efek ganda ekonomi. BAB VI.

regional. atau teknologi yang digunakan). sebagaimana dimaksud dalam PP. Atau mungkin akan terus berlangsung. Nomor 27 Tahun 1999. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan pembangunan. BAB IX. Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. kualifikasi. dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. Bahan-bahan tersebut diatas tidak perlu lagi dilampirkan dalam dokumen ANDAL bilamana telah dicantumkan dalam dokumen KA. uraikan kejelasan tentang waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak besar dan penting mulai timbul. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. Atau antara dampak-dampak satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis dan sinergistis.2 dilakukan untuk masing-masing alternatif. sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan. (b) Yang dimaksud dengan evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak besar dan penting lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab VI. (b) Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas. bentuk teknologi yang tak sesuai dan sebagainya. rujukan bagi para pelaksana dan peneliti serta penyusun analisis dampak lingkungan hidup. sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak besar dan penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif. 5) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metoda-metoda formal secara matematis. nasional. Apabila dimungkinkan. 2) Surat-surat tanda pengenal. usulan rencana usaha dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang akan ditimbulkannya. (e) Dampak penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. Misalnya. mungkin saja dampak besar dan penting timbul dari rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap rona lingkungan hidup. maka telaahan sebagaimana dimaksud pada butir VI. 251 . (e) Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam.b. dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal. 1) Telaahan terhadap dampak besar dan penting (a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI.c dan d yang telah diutarakan selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. keputusan. (c) Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang akan terkena dampak positif. dalam arti apakah dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti. peta. umpamanya lebih dari satu generasi. atau pada tingkat pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah.(d) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. BAB VIII. LAMPIRAN Dalam bab ini hendaknya disebut bahan-bahan yang dilampirkan : 1) Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. (f) Dampak penting pada butir a. 4) Diagram. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruhmempengaruhi. atau bahkan internasional. grafik. 5) Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini. BAB VII. 2) Telaahan sebagai dasar pengelolaan (a) Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha atau kegiatan dan rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul. EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam Bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan. gambar. karena rencana usaha atau kegiatan itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia. (d) Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini. 4) Mengingat usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi. 3) Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup awal. melewati batas negara Republik Indonesia. (c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-dampak besar dan penting yang harus dikelola. DAFTAR PUSTAKA Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku.1 dan VI.

dan bila dipandang perlu. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang “basic design” untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. dalam arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL. kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/pengendalian dampak. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. kriteria atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa. (b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi.LAMPIRAN III : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) A. lingkup tugas dan wewenang unit. mengendalikan atau meningkatkan dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat strategis. maupun institusi. (d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. 3. tata letak (tata ruang mikro) lokasi. 252 . menanggulangi. (b) Pokok-pokok arahan. Rencana pengelolaan lingkungan hidup Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan penanggulangan dampak negatif. lengkapi pula dengan acuan literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud. sosial ekonomi. belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci. Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL. serta jumlah dan kualifikasi personalnya. 4) Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. 2. serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis. prinsip-prinsip. prinsip-prinsip. (c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. (b) Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan rinci rekayasa. atau persyaratan untuk mencegah. meminimisasi. Hal ini tidak lain disebabkan karena : (a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) relatif masih umum. Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain adalah struktur organisasi. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah. Keterbatasan data dan informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi. kriteria pedoman. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. prinsip-prinsip. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti : teknologi. Hal ini tidak lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi. sebelum investasi. tenaga. dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (c) Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih. (d) Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. PENJELASAN UMUM 1. sistimatis. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut : (a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas: (a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. dan rancang bangun proyek. maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek). mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. dan masih memiliki beberapa alternatif.

(b) Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. akan ditempuh cara : (1. (1. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. Pernyataan kebijakan lingkungan. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. (3) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). (2. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya dibidang pengelolaan lingkungan hidup. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. 253 . BAB I. misalnya : (2. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). maupun institusi. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. mengurangi. akan ditempuh cara.1) Membatasi atau mengisolasi limbah.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan yang relevan.Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. serta komitmen untuk melakukan penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam bentuk mencegah. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. singkat dan jelas. (2) Dalam rangka mencegah. 5) Format dokumen RKL Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERNYATAAN PELAKSANAAN Pernyataan Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani diatas kertas bermaterai. Sebagai misal: (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti: teknologi. sosial ekonomi. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. B. 1) 2) PENDAHULUAN Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. (1. c) Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. dan ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di atas. akan ditempuh cara : (1.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya Rencana Pengelolaan Lingkungan. dan bantuan peran pemerintah. 3) BAB II. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. (1.

rancangan rinci rekayasa.(b) (c) (1. Tolok ukur yang diutarakan adalah yang digunakan dalam ANDAL. (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. (2) Dalam rangka mencegah. tersier. Uraikan pula sejauh mana taraf perkembangan rencana usaha dan/atau kegiatan di saat RKL sedang disusun (studi kelayakan. 3) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting yang bersifat strategis berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut tercegah/tertanggulangi/terkendali. (2. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. Selain itu utarakan pula dampak besar dan penting turunannya yang akan turut terpengaruh akibat dikelolanya dampak besar dan penting strategis tersebut. lazim digunakan. Perlu ditegaskan bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting saja. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. Sebagai misal. Komponen atau parameter lingkungan hidup yang berubah mendasar menurut ANDAL perlu ditetapkan beberapa hal yang dipandang strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan : (1) Dampak besar dan penting yang dikelola terutama ditujukan pada komponen lingkungan hidup yang menurut hasil evaluasi dampak besar dan penting merupakan dampak besar dan penting akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. 254 . dan selanjutnya). atau memperbaiki kerusakan sumber daya alam. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. akan ditempuh cara.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. dan/atau telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. (b) Sumber Dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting : (1) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha dan/ atau kegiatan. maka jelaskan secara singkat komponen dampak besar dan penting tersebut. Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. mengurangi. (2) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. atau taraf konstruksi). Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan BAB III. (2) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang tergolong banyak menimbulkan dampak besar dan penting turunan (dampak sekunder. (3) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak besar dan penting turunannya. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. misalnya : (2. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. 2) Tolok ukur dampak Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan). (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut: 1) Dampak penting dan sumber dampak besar dan penting (a) Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. dan bantuan peran pemerintah. keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah.

Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 1997 yang meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan hidup. BAB IV. dan berbalik tidaknya dampak). 255 . Sumber Dampak. Upaya pengelolaan lingkungan hidup yang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengolahan limbah). Periode pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan : sifat dampak besar dan penting yang dikelola (lama berlangsung. 2) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta (lokasi kegiatan. (c) Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Bupati/Walikotamadya.4) 5) 6) 7) 8) Sebagai misal. khususnya parameter BOD5. COD. BAB V. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. bila unit atau sarana dimaksud di dalam dokumen ANDAL dinyatakan sebagai aktifitas dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. dana). lokasi pengelolaan lingkungan hidup. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Apabila dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan atau bekerjasama dengan pihak lain. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tolok Ukur Dampak. PUSTAKA Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP 51/MENLH/10/1995. Institusi pengelolaan lingkungan hidup Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. majalah. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggungjawab. serta kemampuan pemrakarsa (tenaga. dan Institusi Pengelolaan Lingkungan Hidup. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : Jenis Dampak . matrik serta data utama yang terkait dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. (e) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pengelolaan lingkungan hidup. maka tujuan upaya pengelolaan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah pencemaran air. makalah. sifat kumulatif. maka cantumkan pula institusi dimaksud. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (c) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. tulisan. (b) Biaya personil dan biaya operasioanal. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Pembiayaan tersebut antara lain mencakup : (a) Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkungan hidup serta biaya untuk kegiatan teknis lainnya. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan sifat persebaran dampak besar dan penting yang dikelola. baik yang berupa buku. (d) Keputusan Gubernur. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. rancangan teknik (engineering design). (b) Pengawas pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. dan atau institusi sebagaimana dijelaskan pada bagian penjelasan umum butir 4. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah. dan pH.). Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. maupun laporan hasil-hasil penelitian. berkepentingan. Pengelolaan Lingkungan hidup Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi. dll. Padatan Tersuspensi Total. dan atau sosial ekonomi. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai.

dan selanjutnya disebarkan kepada berbagai penggunanya. pihak-pihak yang berkepentingan. c. (c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup yang harus dipantau. yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi pada data sistematik. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan. Dampak besar dan penting yang dipantau Cantumkan secara singkat : (a) Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan secara acak atau sesaat. singkat. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau kegiatan. sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. tepat waktu dan dapat dipercaya. 3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan. Walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ). warna. Sumber dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting: (a) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha atau kegiatan. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu di pantau. mencakup : 1) Jenis data yang dikumpulkan. mulai dari tingkat proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan).1. dapat bersifat tepat guna. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut : 1. atau terkena dampak besar dan penting. Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan. berulang dan terencana. dan logam berat. dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam dokumen RKL. PENJELASAN UMUM 1. suhu. BAB II. Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan. pelaksana pemantauan. dan pengawas kegiatan pemantauan. (e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL. maupun bagi masyarakat. 2. tergantung pada skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. 2) Lokasi pemantauan. (b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting tersebut. 256 . yakni : (a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. BOD5. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. kandungan minyak. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup. Sebagai misal. adalah pH. PENDAHULUAN Pendahuluan mencakup : 1. Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan.LAMPIRAN IV : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) A. 2. (b) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. 5) Metode analisis data. indikator yang relevan untuk kualitas air limbah dan air sungai sehubungan dengan karakteristik rencana usaha dan/atau kegiatan. Uraikan secara sistematis. dan jelas tentang tujuan pemantauan lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) BAB I. bau. (f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan hidup. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. (b) Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. B. Disamping skala keacuhan. Koordinasi dan kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar data dan informasi yang diperoleh. b. 4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data). Latar belakang pemantauan lingkungan hidup a. (d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. pengguna hasil pemantauan. RKL dan RPL.

dan pH. sumber dampak. 2. Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak besar dan penting yang dipantau (instensitas. Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam Baku Mutu Lingkungan hidup. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. S. instrumen. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. instrumen. Parameter lingkungan hidup yang dipantau Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. BAB IV. (b) Pengawas pemantauan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RPL. BAB III. Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau. ttd Dr. tujuan pemantauan lingkungan hidup. Perlu diperhatikan bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL. lama dampak berlangsung. atau formulir isian yang digunakan. Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran. 5. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak besar dan penting lingkungan hidup. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. COD. bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. Cantumkan jenis peralatan. Sebagai misal. Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksana pemantauan lingkungan hidup Cantumkan institusi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup. dan dampak besar dan penting turunan yang ditimbulkannya. (b) Lokasi pemantauan lingkungan hidup Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. Bupati/Walikotamadya. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. dan sebagai umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. 4. berkepentingan. Lampiran ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut: dampak besar dan penting yang dipantau. Institusi pemantauan lingkungan hidup Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan.3. jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan hidup. (e) Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pemantauan lingkungan hidup. maupun laporan hasil-hasil penelitian. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. tulisan. Metode pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator dampak besar dan penting. khususnya parameter BOD 5. serta metode analisis). Padatan Tersuspensi Total. (c) Jangka waktu dan frekwensi pemantauan Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu.H. dan institusi pemantau lingkungan hidup. 6. bentuk rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan hidup. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. (c) Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup. kimia. rencana pemantauan lingkungan hidup (yang meliputi metode pengumpulan data. A. lokasi pemantauan lingkungan hidup. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri . dengan memperhatikan dampak besar dan penting yang dikelola. dan sifat kumulatif dampak). Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. majalah. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan data disaat penyusunan ANDAL. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah kualitas air limbah. ttd Sudarsono. (d) Keputusan Gubernur. makalah. maka tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Memantau mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. PUSTAKA Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL baik yang berupa buku. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1. dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. 257 . Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP: 51/MENLH/10/1995. yang mencakup : (a) Metode pengumpulan dan analisis data Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). ttd Sarwono Kusumaatmadja 258 . terkoordinasi. Mengingat : 1. Pasal 2 Panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan serta pelaporan secara terencana.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-105/11/1997 TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 Nopember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. b. kreatif dan bertanggung jawab. Bahwa panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. sistematis dan berkesinambungan serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Bahwa mengingat hal tersebut di atas. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 3. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. bersungguh-sungguh. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Pasal 1 Untuk menjamin Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dilaksanakan dengan baik. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Menimbang : a. 2.

kreatif dan bertanggung jawab sehingga kualitas lingkungan dapat dipertahankan sesuai dengan fungsinya. I dan Bupati/Walikotamadya KDH Tk. pemantauan pasif dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa. Pemantauan tidak langsung (pasif) 1) Pemantauan tidak langsung (pasif) adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan tertulis oleh pihak lain. c). 259 . Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. D. Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. PELAKSANA PEMANTAUAN Pemantauan dilaksanakan oleh: 1. F. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dapat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. (2) Ketentuan tentang rencana dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. E. Fungsi manajemen lingkungan ini berupa pelaksanaan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b). II yang bersangkutan. PELAKSANAAN PEMANTAUAN 1. MAKSUD DAN TUJUAN Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL bagi kegiatan wajib AMDAL ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam melaksanakan pemantauan dan pelaporan pelaksanaan RKL dan RPL.Lampiran : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 105 Tahun 1997 Tanggal : 14 Nopember 1997 PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) A. BAPEDAL Wilayah. dan untuk memberikan acuan bagi para pelaku pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. DASAR HUKUM 1. Pemda Tk. SASARAN Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. sistematis dan berkesinambungan. 3. II yang bersangkutan. 3. Tujuan: 1. Dalam kaitan ini. 2) Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemrakarsa dilaporkan kepada: a) Gubernur KDH Tk. Untuk mewujudkan maksud tersebut. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. maka perlu disusun Pedoman Umum Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). (2) Hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada Menteri atau Pemimpin lembaga pemerintah non departemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. B. Bentuk pemantauan a. b. 2. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. BAPEDALDA TK I dan BAPEDALDA TK II. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Instansi Teknis/Sektor yang bertanggung jawab. LATAR BELAKANG Salah satu fungsi penting didalam AMDAL (PP 51 Tahun 1993) adalah fungsi manajemen lingkungan. Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan pelaporan secara terencana. Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Pemrakarsa usaha atau kegiatan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). I dan Tk. terkoordinasi. C. bersungguh-sungguh. Pasal 25. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. Pasal 11 ayat (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyebutkan: (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan penguji terhadap: a). 4. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 2.

b. Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan. Usaha atau kegiatan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap lingkungan. b. PENUTUP Hasil pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL yang sudah dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak lain tersebut perlu terus dipantau secara periodik untuk mengetahui apakah rekomendasi hasil pemantauan itu benar-benar dilaksanakan oleh pemrakarsa atau tidak. c) BAPEDAL Pusat. e. kendala dan hambatan dalam pelaksanaan RKL dan RPL. c. BAPEDAL. unit intern organisasi pengelolaan lingkungan. sumber pembiayaan dan pemenuhan fasilitas pemantauan RKL dan RPL disediakan dari masing-masing Instansi. Oleh Instansi yang menerima laporan hasil pemantauan tersebut.Biaya transportasi . Pemantauan ini dilakukan oleh : a. Bagi Instansi\Pemerintah.Biaya Analisis Laboratorium H. Memeriksa dan mencocokkan seluruh pelaksanaan RKL dan RPL sesuai dengan dokumen. b. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 November 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan ttd. melakukan pengambilan contoh limbah untuk diuji di laboratorium atau keluaran pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Melakukan diskusi dengan pihak Pemrakarsa tentang manfaat. maka pembiayaan dan penyediaan fasilitas pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL terintegrasi dalam manajemen usaha atau kegiatan yang direncanakan sejak dokumen AMDALnya disusun. Format laporan hasil pemantauan Pemrakarsa atas pelaksanaan RKL mengacu pada Formulir-1 dan untuk pelaksanaan RPL mengacu pada Formulir-2. d. Laporan disusun dengan sistematika sebagaimana pada Formulir-4. Wilayah dan Daerah. Hasil pemantauan (pasif dan atau aktif) yang telah dilakukan. . digunakan sebagai: a) Masukan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pengelolaan lingkungan. laporan pemrakarsa mengacu pada Formulir-3. b. dengan memperhatikan/ mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Usaha atau kegiatan yang besar dan komplek permasalahan lingkungannya. Sarwono Kusumaatmadja 260 . Pemantauan langsung (aktif) 1) Pemantauan secara aktif adalah pemantauan yang langsung dilakukan di lapangan atas pelaksanaan RKL dan RPL. b) Dasar pertimbangan untuk menentukan sasaran pemantauan (uji petik) aktif pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan. 3) Frekuensi pemantauan lapangan dilaksanakan menurut kebutuhan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana disebutkan pada butir 2) huruf a di atas. Bila diperlukan. Untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pemantauan di lapangan. Melakukan pemantauan bersama. Melakukan koordinasi dengan Instansi yang bertanggung jawab. dll. Bagi pemrakarsa. 5) Pelaporan hasil pemantauan lapangan Hasil pelaksanaan pemantauan disusun dalam bentuk pelaporan yang kemudian dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak Instansi Pemerintah sebagaimana telah disebutkan pada butir 2) huruf c. Koordinasi ini meliputi : Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi usaha atau kegiatan yang akan dipantau. meliputi : manajemen. c.Biaya Penyusunan Laporan. pelaksanaan pemantauan dapat menggunakan Formulir-1 dan Formulir-2. 3) Instansi lain yang terkait. Mengetahui apakah pihak-pihak tersebut telah melaksanakan pemantauan terhadap usaha-usaha atau kegiatan yang akan dipantau termasuk hasil-hasilnya. atau Lembaga Swadaya Masyarakat. Permintaan Instansi tertentu. Menentukan sasaran usaha atau kegiatan yang akan dipantau. khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan yang akan dipantau. serta memeriksa kebenaran laporan pemantauan yang dilaksanakan oleh Pemrakarsa. . Melakukan pemantauan di lapangan. Biaya pemantauan antara lain meliputi: . dan BAPEDAL Daerah. Mempelajari dokumen AMDAL. b) Instansi Teknis/Sektor yang memberi ijin. Secara keseluruhan. bila perlu pihak Laboratorium Lingkungan) dan Pemerintah Daerah (Tingkat I dan II) dimana usaha atau kegiatan itu berada. G. 4) Metode pemantauan di lapangan. masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan.Lumpsum. Instansi terkait (termasuk. BAPEDAL Wilayah. PEMBIAYAAN Untuk memperlancar pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan diperlukan dukungan dana dan fasilitas. Instansi teknis/sektor 2) Langkah-langkah pemantauan: a. d. BAPEDAL. pengelolaan limbah. Metode pelaksanaan RKL dan RPL dilakukan dengan cara: a. Melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan atau masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan yang dipantau.

Formulir-1 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RKL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN RKL NO PENGELOLAAN 4 5 6 7 8 TEKNIS PELAKSANAAN HASIL PELAKSANAAN/TEMUAN LAP ANGAN KENDALA/MASALAH 3 DA P PE G M AK NTIN SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R TINDAK LANJUT/ REKOMENDASI 1 2 261 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Formulir-2 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RPL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN METODA LOKASI W AKTU TEKNIS PELAKSANAAN HASILPEMANTAUAN TINDAKLANJUT RKL N O D M A P NTIN A PK E G SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R KENDALA/MASALAH REKOMENDASI P ARAMETER Y ANGDIP ANTAU METODA LOKASI W AKTU 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 12 1 2 262 Ket : * Coret yang tidak perlu .

263 .Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis laboratorium).Jenis dampak penting .Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. B.Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai. antara lain meliputi: . . . LATAR BELAKANG . B. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan tolok ukur. RKL .Jenis dampak penting . C.Sumber dampak penting .Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL.Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Kapan mulai beroperasi .Lokasi Pemantauan .FORMULIR 3 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHA ATAU KEGIATAN : LOKASI : PEMRAKARSA : TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN A. RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Sumber dampak penting . RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL. antara lain meliputi: . Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL.Proses kegiatan/produksi BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Metode Pemantauan . HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) .Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada).Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL.Pengelolaan dampak penting B. TUJUAN . RINGKASAN R K L Tuliskan ringkasan RKL.Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai. antara lain meliputi: .Lokasi . RPL . Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.Jenis dan atau tahapan kegiatan .Waktu Pemantauan BAB III HASIL PELAKSANAAN A. .Tolok ukur dampak penting . D.

Proses kegiatan/produksi E.Formulir – 4 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHAATAU KEGIATAN : LOKASI PEMRAKARSA PETUGAS PELAKSANA / INSTANSI : TANGGAL : : : BAB I PENDAHULUAN A. RINGKASAN RKL Tuliskan ringkasan RKL.Kapan mulai beroperasi .Jenis dampak penting .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pengelolaan lingkungan.Bentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemrakarsa. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Tuliskan kapan waktu pemantauan berlangsung. meliputi: .Dapat ditambahkan tujuan lain bila memang diperlukan.Waktu Pemantauan BAB III TEMUAN LAPANGAN/HASIL PENGECEKAN/HASIL PENGUKURAN Temuan lapangan dibagi menjadi empat hal: a. LATAR BELAKANG . meliputi : hasil pemeriksaan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Pemrakarsa.Metode Pemantauan .Sumber dampak penting .Proses beroperasinya alat pengelolaan lingkungan.Pengelolaan dampak penting B. B.Jenis dan spesifikasi alat pengelolaan lingkungan. HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan jika ada.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. WAKTU .Sebutkan nama-nama petugas dan dari lnstansi/Unit mana. BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Uraikan kenapa pemantauan RKL dan RPL ini penting. . 264 . D.Jenis dan atau tahapan kegiatan . . .Tolok ukur dampak penting . .Unit organisasi yang melakukan pengelolaan lingkungan. antara lain meliputi: .Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. antara lain meliputi .Jenis dampak penting .Sumber dampak penting .Tuliskan tujuan pemantauan ini sesuai dengan butir C dalam Panduan Umum Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Lokasi . . PELAKSANAAN .Jelaskan kenapa pemantauan ke usaha atau kegiatan yang dipilih ini dilakukan (alasan dan hasil yang diinginkan). antara lain meliputi: . TUJUAN . Temuan Lapangan RKL. .Lokasi Pemantauan . F. C. . .

BAB V REKOMENDASI Penulisan Kesimpulan dan Rekomendasi sebaiknya dipisahkan antara RKL dan RPL. . antara lain: Photo-photo.Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pemantauan lingkungan. . Rekomendasi berisi saran tindak secara teknis. termasuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan oleh Pemrakarsa tetapi tidak termuat dalam dokumen RKL dan RPL. c. Temuan Lapangan RPL. meliputi hasil pemeriksaan pelaksanaan pemantauan.Proses beroperasinya alat pemantauan lingkungan. . .Dalam memberikan rekomendasi/saran tidak perlu memperhatikan: dokumen RKL dan RPL.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pemantauan lingkungan jika ada. . 265 . konkret dan yang dapat diterapkan (applicable) oleh Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.Keterlibatan masyarakat sekitar dalam pemantauan lingkungan. LAMPIRAN . . Peta. temuan lapangan/hasil pengecekan. kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang terkait. dll.Jenis dan spesifikasi alat pemantauan lingkungan.: . Bandingkan hasil temuan lapangan.Frekuensi dan kontinuitas pengoperasian pelaksanaan pemantauan lingkungan. masing-masing dengan dokumen RKL dan RPL. Gambar-gambar.Unit organisasi yang melaksanakan pemantauan lingkungan. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan baik kegiatan maupun kualitas lingkungannya. Uraikan kendala dan hambatan Pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. perkembangan teknologi yang relevan.Bentuk pemantauan lingkungan yang dilaksanakan.b. Copy hasil uji limbah di laboratorium dsb. d. . Kesimpulan berisi hal-hal yang berkaitan dengan tingkat ketaatan Pemrakarsa dan situasi-kondisi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.LAMPIRAN Lampirkan dokumen dan atau informasi yang dirasa perlu.

060030827 266 . media lingkungan. dan dikelola dengan baik. perlu dilakukan pengkajian aspek kesehatan masyarakat. Bahwa aspek kesehatan masyarakat.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP-124/12/1997 TENTANG PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN AMDAL KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. b. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. dan kondisi kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-39/MENLH/8/1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kedua : Ketiga : Keempat : Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. tipologi lingkungan). Setiap jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL harus melakukan kajian terhadap aspek kesehatan masyarakat pada rencana tapak (tipologi kegiatan. 4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. c. 3. 2. Menimbang : a. perlu dikaji secara mendalam. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada diktum kedua di atas dilaksanakan sesuai dengan Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Dadang Danumihardja NIP. sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan serendah mungkin. Bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. masyarakat yang akan terpajan. Bahwa kesehatan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. ttd Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. merupakan bagian dalam penyusunan AMDAL. untuk itu setiap usaha atau kegiatan pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat. d. Bahwa dalam pedoman penyusunan AMDAL. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. kajian aspek kesehatan masyarakat dirasakan kurang memadai untuk melakukan analisis dampak guna menyusun rencana pemantauan serta pengolahan dampak kesehatan. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 5.

TUJUAN Panduan ini merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk: 1. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 2. Status gizi masyarakat 8. higiene. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. terdapat dua komponen pokok yang tidak terpisahkan berkaitan dengan kajian aspek kesehatan masyarakat. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 3. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. manusia yang terpajan dan bentuk dampak kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Salah satu peraturan pelaksanaan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/ 3/1994 antara lain menyatakan bahwa kajian dampak penting dilakukan terhadap komponen biologi-kimia-fisika.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN I. adalah hasil studi untuk mengkaji kemungkinan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup dan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan. dapat dipergunakan pendekatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. manusia. biologis dan kimia dan kualitas parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. model pendekatan seperti epidemiologi. dan dampak interaksi (prevalensi dan insidensi penyakit. 4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) 267 . Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit B. Dengan demikian bahasan aspek kesehatan akan lebih terfokus dan terkait dalam permasalahan atau isu pokok dan suatu rencana usaha atau kegiatan yang mencakup dua hal penting yaitu perubahan kualitas lingkungan dan dinamika masyarakat disekitar rencana lokasi yang diperkirakan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. tanah. sosial dan kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat merupakan kondisi ketahanan fisik dan psikis dari suatu komunitas di daerah tertentu yang merupakan implementasi dan interaksi antara perilaku yang merupakan cermin dan kebiasaan hidup. Sumber daya kesehatan 6. dengan kualitas kesehatan Iingkungannya. yaitu analisis terhadap potensi besarnya dampak. emisi/ambien. dan pengelolaan dampak. Membantu mempermudah proses pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL. RUANG LINGKUP A. material) yang tercermin dalam sifat fisik. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. Kondisi sanitasi lingkungan 7. Membantu menyajikan hasil kajian yang informatif. serta kajian komunikasi massa untuk diseminasi informasi. III. dan sanitasi. Sedangkan kesehatan lingkungan merupakan kondisi dari berbagai media lingkungan (air. kinerja laboratorium. masyarakat terpajan (biomarker). makanan. Memahami keterkaitan antara jenis usaha atau kegiatan. Untuk menggambarkan potensi besarnya dampak dan keterkaitan (asosiasi) antara parameter lingkungan dengan masyarakat yang terpajan. vektor penyakit. kejadian keracunan. Kajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan untuk setiap fungsi dokumen: 1. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah tersebut telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kajian aspek kesehatan masyarakat yang ditelaah meliputi: 1. udara. 3. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Untuk memberikan panduan sebagai arahan dalam melakukan studi guna mengkaji aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. II. kesehatan dan keselamatan kerja (K3). maka diperlukan kajian aspek kesehatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian-kajian komponen lain dalam studi AMDAL yang mencermati potensi besarnya dampak (risiko) kesehatan. Dua komponen pokok tersebut mencakup berbagai metoda. yang menggambarkan kondisi pengukuran pada sumber. dan kecelakaan). Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek kesehatan Dampak Lingkungan. perubahan parameter lingkungan.

Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit Metoda pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dan suatu asosiasi atau hubungan antara parameter lingkungan.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN 124 Tahun 1997 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (KA. Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat kebiasaan pemanfaatan air kebiasaan penggunaan bahan “reppelent” atau pelindung kebiasaan penggunaan Insektisida kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan (berobat. Sumber daya kesehatan 6. simulasi/model Dengan mengacu Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. Yang berhubungan dengan perindukan vektor (binatang perantara penyakit) perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat berkembang biaknya vektor telaah data atau informasi dan studi kesehatan lingkungan survei malarlometrik dan studi epidemiologi tentang penyakit bersumber binatang pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 3. sehingga diperoleh dampak penting hipotesis. dsb) 4. Ukuran atau nilai dan evaluasi dampak potensial dapat mempergunakan pertimbangan dari beberapa pernyataan di bawah ini: 1. studi banding terhadap hasil studi yang pernah dilaksanakan 7. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING A. kontak penderita. Dampak potensial hipotesis ini kemudian disusun dalam suatu daftar guna dinilai berdasarkan pandangan masyarakat. biologis. Dengan demikian karakteristik spesifik dampak penting dan setiap rencana usaha atau dapat diprediksi secara lebih cermat dan akurat. referensi yang relevan. maka identifikasi dampak potensial dan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL dapat disusun sebagai berikut. sosial) yang kemungkinan akan menjadi berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat. melalui: 1.14/MENLH/3/1994 dan substansi yang dijelaskan pada butir 2 pelingkupan. Identifikasi Dampak Potensial Identifikasi dampak potensial dilakukan melalui penilaian terhadap parameter lingkungan (fisik. baik akut maupun kronis seperti : keracunan. dsb) B. tanah dan makanan) jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (di masa depan) telaah data dan informasi berdasarkan studi toksikologi. dan pertimbangan para pakar untuk memperoleh dampak potensial. studi epidemiologi dan studi kesehatan lingkungan pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 2. media lingkungan (ambien. perlu diperhatikan: penyebaran bahan pencemar di media lingkungan (air. Kondisi sanitasi lingkungan 7. Status gizi masyarakat 8. telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan referensi yang relevan 3. telaah hasil penggunaan/uji binatang percobaan 6. penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit? 2. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan dampak potensial yang dipandang tidak relevan.ANDAL) I. Seberapa besar usaha/kegiatan membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan mempunyai potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan. telaah para ahli/profesional 8. kanker. telaah kegiatan proyek 2. udara. Yang berhubungan dengan cemaran. 1. emisi). telaah hasil uji dan analisis laboratorium 5. besarnya dampak kesehatan yang kemungkinan dapat timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan masyarakat terpajan (“population at risk”). Potensi besarnya dampak terjadinya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. II. kelainan reproduksi dan penyakit menahun lainnya? 268 . yang menggambarkan potensi. observasi. Seberapa besar/luas usaha atau kegiatan memerlukan pengerahan sumber daya manusia (lokal dan pendatang) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki potensi untuk menimbulkan penyakit menular? 3. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. telaah data dan informasi berdasar pengamatan lapangan (survei. Hal-hal yang diperhatikan dalam perlingkupan kajian aspek kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. PENDAHULUAN Kerangka Acuan ANDAL pada dasarnya merupakan suatu arahan berdasarkan hasil perlingkupan dalam menentukan batasan permasalahan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang dampak penting. yaitu prediksi.

vektor penyakit. Beban ekonomi Meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat dampak dan rencana usaha atau kegiatan sehingga masyarakat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan kesulitan akses terhadap sarana kesehatan yang ada. 3. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat vektor penyakit yang dapat berkembang dalam masa pra konstruksi. Apakah di dalam batas lingkungan proyek mengandung bahan berbahaya (toksik) yang berpotensi sebagai bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan? 2. serta pertumbuhan usaha non formal di sekitar lokasi proyek. Disamping batas-batas yang telah ditetapkan dalam pedoman seperti batas proyek. dengan mempertimbangkan tipologi usaha atau kegiatan. tahapan kegiatan maupun dampak komulatif yang terjadi Dalam proses pemusatan (focussing). batas sosial dan batas administrasi. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang memiliki riwayat menyandang penyakit tertentu yang endemis dan penyakit menular potensial wabah? b. 4. penderitaan seumur hidup dan atau kematian. Keterkaitan antar komponen dampak penting yang telah dirumuskan secara holistik. dan kronis. Seberapa besar usaha atau kegiatan dapat menurunkan secara berarti pemenuhan makanan dan gizi masyarakat dari generasi ke generasi? 5. 3. Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan: a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada batas proyek di atas (butir 1). dan mikroba secara terus-menerus atau periodik sehingga menimbulkan penyakit dan atau kematian. konstruksi. dikaitkan dengan akses komunitas masyarakat terhadap pelayanan dan sarana. kimia. Lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak kesehatan dan rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. dengan memperhatikan: 1. Untuk itu perlu diidentifikasi apakah di dalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang derajat kesehatannya dapat berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. maka penjabaran batas-batas yang tertuang dalam pedoman dapat diuraikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. bahan material dan manusia itu sendiri. baik menurut waktu. maka kajian aspek kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan batasan epidemiologi dari penyakit yang ada disekitar tapak lokasi. Batas Ekologis Batas ekologis ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994. c). Berkaitan dengan masalah epidemiologi. dan karakteristik spesifik lingkungan serta penduduk disekitar tapak lokasi rencana kegiatan yang diarahkan pada lingkup ekologi yang terkena dampak fisik. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia karena daya dukung lingkungan sedemikian rupa sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat? Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting (“focussing”) bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan dan dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang isu-isu pokok permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan risiko kesehatan secara utuh dan lengkap. udara dan tanah. 2. C. batas ekologis. dan biologi serta aspek sosial yang akan terganggu. penurunan intelegensia gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel atau mutasi DNA yang berakibat kelainan genetik. sinergistik. penyusun aspek kesehatan masyarakat dalam AMDAL perlu diperhatikan prioritas kepentingannya sebagai berikut: 1.4.serta sumber daya kesehatan. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan (scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan (screening) untuk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara cermat dan mendalam sedemikian rupa sehingga diperoleh isu pokok. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Batas administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. Daftar dampak potensial yang diperoleh dari huruf C tersebut selanjutnya dievaluasi sehingga diperoleh dampak penting kesehatan masyarakat. yang dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan. Sifat dampak (akut dan kronis) Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpengaruh terhadap proses penularan penyakit akibat perubahan interaksi antara manusia dengan habitat vektor penyakit. Jumlah penduduk Peningkatan jumlah penduduk yang terkena dampak di masa depan dan rencana usaha atau kegiatan sehingga berpengaruh terhadap status kesehatan melalui proses akumulasi. yang berkait erat dengan batas ekologis dan sosial yang akhirnya ditetapkan sebagai batas wilayah studi. III. Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut: a. 269 . Keterkaitan rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting) 2. parasit. keganasan maupun kelainan reproduksi. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada batas ekologi di atas (butir 2). dan pasca konstruksi? c.

ketersediaan tenaga. karena tidak semua parameter harus diteliti. biologi dan sosial dan masalah kesehatan masyarakat.Lampiran 2. wawancara dengan menggunakan kuesioner. 3. Sementara itu teknis penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara umum tetap mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 . tetapi akan menyebar secara spesifik tergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. Media lingkungan yang menjadi wahana transportasi bahan berbahaya dan kondisi lingkungan yang menunjang terbentuknya habitat vektor penyakit. yaitu metodologi dan deskripsi dari kajian aspek kesehatan masyarakat. 2. 5. 2. referensi (data statistik. Uraian rencana usaha atau kegiatan yang berhubungan erat dengan aspek kesehatan masyarakat. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk mempertajam kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. panduan ini difokuskan pada substansi pokok yang perlu dikaji berdasarkan permasalahan pokok. II. 6. Demikian pula format penyusunan ANDAL. dengan memperhatikan: 1. A. wawancara mendalam (indepth interview). Prakiraan dampak kesehatan masyarakat. peta. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. propinsi) yang akan diukur. untuk itu perlu pemahaman akan sifat komponen dan keterkaitannya dari sudut pandang aspek kesehatan masyarakat.LAMPIRAN III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) I. desa. Dampak penting aspek kesehatan masyarakat dan suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat secara epidemiologis: perubahan mendasar atau dampak penting lingkungan yang akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. Komponen lingkungan dan masyarakat yang diteliti harus bersifat spesifik lokasi. Beberapa proses dan langkah penyusunan ANDAL akan disinggung kembali bila diperlukan disesuaikan dengan kekhususan kajian. dokumen-dokumen ANDAL dan kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). Sebagai alat bantu untuk melengkapi angka 3 dan 4 tersebut di atas. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). melalui penelusuran data dan informasi dari hasil-hasil penelitian. studi epidemiologi dan pustaka lainnya yang relevan. waktu dan dana. studi kesehatan lingkungan. 270 . 3. Sehubungan dengan hal tersebut. beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: 1. satuan analisis (rumah tangga. bahan-bahan pustaka dan bahanbahan referensi lain yang relevan yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. Arahan pokok dan panduan ini yang perlu tercantum dalam dokumen ANDAL mencakup dua hal. Dan angka 3 tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kajian komponen aspek kesehatan masyarakat yang tertera pada KA ANDAL dapat mengalami penambahan dan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan antara aspek fisik-kimia. 2. kabupaten. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan. Evaluasi dampak kesehatan masyarakat. 5. ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. mengikuti pedoman baku yang telah ditetapkan. Parameter lingkungan dan kesehatan serta metoda prakiraan dan evaluasi dampaknya pada kesehatan masyarakat. 4. Metode pengumpulan dan analisis data dan butir-butir di atas. SERTA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek kesehatan masyarakat yang terdapat dalam KA. penyusunan aspek kesehatan masyarakat dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. metoda & uji laboratorium). serta metoda prakiraan dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. 4. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain: observasi / pengamatan lapangan. Memperhatikan posisi tersebut. rujukan. pengumpulan data sekunder. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data 1.

7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. Ada dua cara pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk menilai biaya dampak kesehatan. Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. yakni telaahan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak lingkungan terkait erat dengan masalah kesehatan masyarakat. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap biaya yang umumnya dikeluarkan untuk jenis atau benda dampak tertentu. dan biaya tidak langsung sebagai akibat dampak hilangnya produktivitas. Secara umum evaluasi dampak penting mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal No. dan kondisi lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kelayakan aplikasi teknik yang dipilih. diperlukan “value judgement” dari penyusun AMDAL. Besaran dampak mencakup jenis. attributable. Metoda Evaluasi Dampak Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. Kep. Data ekonomi ditekankan pada beban masyarakat akibat dampak kesehatan (penyakit cedera) yang timbul. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan jenis dan sifat parameter dampak penting yang akan diukur. biaya langsung bukan untuk pengobatan. perlu diperhatikan tingkat “representativeness” dan karakteristik spesifik dan lingkungan dan karakteristik spesifik dan jenis “biomarker” tertentu yang kemungkinan akan berkait erat dengan dampak dan rencana usaha atau kegiatan. 3. Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan antara lain adalah: Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif Analisis jalur pemajanan di masa depan Analisis risiko epidomiologis ( absolute risk. Beberapa arahan penting untuk menetapkan prakiraan dampak penting dan aspek kesehatan masyarakat adalah: prevalensi penyakit yang berhubungan dengan vektor cukup tinggi - 271 .056 tahun 1994.KA ANDAL) dan metoda yang digunakan untuk pengumpulan dan analisis data (butir A di atas). Untuk itu indikator ekonomi kesehatan yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. teknik pengambilan sampel secara acak (random). Jadi metoda yang akan digunakan hendaknya merupakan rangkuman dari dua hal tersebut. Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang diperkirakan terkena dampak.memperkirakan biaya dampak melalui perhitungan kesediaan masyarakat membayar untuk menghindari atau menurunkan dampak. sifat. Sementara kecenderungan dimaksudkan sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini derajat keseragaman (homogenitas) dan populasi. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. Metoda Prakiraan Dampak Prakiraan dampak merupakan telaahan untuk melihat besaran dan kecenderungan timbulnya dampak kesehatan masyarakat. Dalam hal pengambilan sampel untuk keperluan uji laboratorium sebagai kelengkapan pengumpulan data parameter lingkungan. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. sebaran dan beban yang diproyeksikan kepada jumlah penduduk terkena dampak. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat.memperkirakan biaya langsung untuk pengobatan. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas bila perlu dapat digunakan secara simultan agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi.B. C. baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. dan sampel biologis dan masyarakat sekitar tapak lokasi. 5. pandangan dan aspirasi mereka. derajat kepekaan yang dikehendaki. Metoda ini perlu disesuaikan dengan isu pokok (lihat lampiran II . yaitu: Metoda “Willingness to Pay (WTPJ)” . Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain: teknik pengambilan sampel secara purposive. dan “Cost of illness (COI)” . Metoda analisis data yang dapat digunakan adalah metoda analisis dampak kesehatan lingkungan dan metoda epidemiologi. 4. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. dan relative risk) Analisis biaya dampak kesehatan Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan. baik secara langsung maupun tidak langsung. diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 .

Umumnya. persebaran “bahan berbahaya” cukup luas sehingga memungkinkan terjadinya jalur-jalur pemajanan di masa depan yang cukup luas pula. Informasi yang diperlukan untuk penyusunan rona lingkungan dan kesehatan masyarakat antara lain: 1. Penggunaan atau pemanfaatan sumber daya alam. Status kesehatan penduduk. Akses dan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. absorpsi di udara. Contoh data set untuk kegiatan pembangunan industri yang direncanakan: 1. Analisis dampak kesehatan jangka panjang dan pendek. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Pada dasarnya uraian rencana usaha atau kegiatan adalah seperti apa yang telah ditetapkan dalam pedoman umum. Prevalensi penyakit menular. absorpsi. atau merusak tanaman pangan yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. Perumusan sistem pemantauan kesehatan untuk dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang direncanakan. 4. Data lain atau hasil studi yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan. Informasi tentang faktor lingkungan. 2. 2. Dari aspek kesehatan masyarakat. Deskripsi terbaik tentang emisi atau effluen atau perubahan kondisi fisik (perkembangan habitat vektor). perilaku masyarakat yang berisiko cukup besar. 6. misalnya pencemaran air tanah sehingga banyak masyarakat tidak memperoleh persediaan air bersih yang memadai. air dan tanah. 11. 7. 12. dampak kesehatan akan timbul setelah periode waktu tertentu. bahan-bahan berbahaya tersebut menimbulkan dampak yang tak terpulihkan. sosial. terutama aspek kesehatan masyarakat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) yang akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. III. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. cacat dalam kandungan. Analisis dampak kesehatan pada alternatif rencana usaha atau kegiatan. V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING . 3. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang mekanisme dispersi. 4. Perilaku spesifik penduduk yang berhubungan dengan risiko. 7. manusia rentan terhadap “bahan berbahaya” yang dibuang oleh kegiatan yang direncanakan cukup besar jumlahnya. ekonomi yang kemungkinan besar mempengaruhi kepekaan penduduk yang terkena dampak. perlu dijelaskan dalam laporan studi ANDAL terinci pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. 10. 8. Karakteristik epidemiologis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. 3. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. IV.- - adanya spesies vektor penyakit di lokasi kegiatan yang direncanakan. Penggunaan lahan saat ini dan dimasa depan. misalnya menyebabkan kanker. maka rencana kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak seperti yang dinyatakan pada Bab Evaluasi Dampak (Butir II C). Hasil prakiraan dampak penting aspek kesehatan masyarakat hendaknya dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan terjadi. dsb. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang penyakit yang berkaitan dengan pencemaran yang berhubungan dengan kegiatan yang direncanakan. 5. 5.. 8. Kondisi kehidupan penduduk terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti akses kepada penyediaan air minum dan makanan dan sarana kesehatan. misalnya banyak masyarakat yang menggunakan air sungai. Identifikasi cara-cara menghilangkan atau mengurangi dampak kesehatan dan prakiraan biaya yang diperlukan. 9. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan di wilayah studi. bahan-bahan berbahaya tersebut sangat resisten di alam dan kumulatif sehingga pada jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatan penduduk yang cukup luas. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan masyarakat pada saat studi ANDAL berlangsung. Deskripsi terbaik tentang jenis kegiatan yang direncanakan. bahan-bahan berbahaya mengganggu kebutuhan hidup manusia. Karena itu kecenderungan dan kapan kemungkinan dampak itu akan terjadi dijelaskan disertai justifikasi ilmiah yang memadai atau asumsiasumsi yang dapat diterima. 9. Karakteristik fisik (hidrogeologis dan iklim) di wilayah kegiatan yang direncanakan. 272 . Karakteristik demografis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. 6. sarana atau jangkauan pelayanan kesehatan yang masih sangat terbatas.

Terpadu/multisektor. b.Pada setiap isu kesehatan masyarakat yang diprakirakan mengalami dampak penting dibahas melalui sistematika sebagai berikut: a. Pada bagian dua. sebagai misal: 1. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjut tersebut. Meskipun pada umumnya dampak kesehatan timbul setelah periode tertentu. dampak penting itu timbul karena rencana usaha atau kegiatan secara kontinyu membuang logam berat ke perairan (sungai). Hasil telaahan evaluasi dampak penting hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan diarahkan kepada alternatif tindakan yang harus diambil untuk mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan kemungkinan timbulnya dampak sehingga memudahkan pengambil keputusan menggunakan data evaluasi dampak penting ini. tetapi tidak menutup kemungkinan adanya gangguan kesehatan masyarakat yang bersifat Iangsung. termasuk pula apakah masyarakat yang terkena dampak tersebut terbatas pada lokasi kegiatan yang direncanakan atau akan tersebar cukup jauh dan lokasi kegiatan itu. Untuk itu studi ANDAL Kawasan. Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dan gangguan pernapasan yang ditanggungnya. baik langsung maupun tidak langsung. d. EVALUASI DAMPAK PENTING Hal penting dalam evaluasi dampak penting adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau informasi dan hasil analisis aspek kesehatan masyarakat dengan standar persyaratan dan atau kriteria kesehatan dan berbagai media lingkungan (“environmental pathways”). Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dan segi positif dan atau negatif. 273 . e. Secara khusus perlu pula dijelaskan hubungan antara rencana kegiatan. bila dampak penting kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf a. Ciri dampak penting kesehatan masyarakat itu juga harus dijelaskan. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: 056 Tahun 1994) dan kriteria yang digunakan seperti contoh pada butir II. c. sementara sungai itu menjadi sumber daya alam yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk budi daya pertanian. dalam arti akan berlangsung terus selama kegiatan itu berjalan termasuk juga periode waktu kemungkinan dampak itu akan terjadi. Dampak terhadap gangguan sistem pernapasan penduduk di sekitar rencana usaha atau kegiatantimbul sebagai akibat dari emisi bahan-bahan berbahaya.B. f. Pada bagian keempat. Misalnya logam berat yang terkonsumsi melalui tata perairan akan menimbulkan penyakit X setelah Y tahun. b dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. Penjelasan terhadap kelompok masyarakat yang akan terkena dampak perlu mencakup karakteristik demografik dan epidemiologi. diuraikan sifat penting dan besar dampak kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf b di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. rona lingkungan dan kemungkinan timbulnya dampak kesehatan. Metode Prakiraan Dampak. VI. uraikan tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan angka gangguan pernapasan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha atau kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf ll. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dan suatu rencana usaha atau kegiatan. Apabila dampak kesehatan masyarakat itu dapat dihitung dalam bentuk kerugian biaya.C. 2. maka sajikan cara perhitungannya. maka dampak penting aspek kesehatan masyarakat untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika diatas. Pada bagian tiga. Misalnya. dan Regional perlu diberikan perhatian yang lebih besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. Pada bagian pertama. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Kemungkinan itu perlu disampaikan dalam studi ANDAL.

. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut di atas. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (lampiran IV Kep 14/MENLH/3/1994). Mengingat dampak kesehatan masyarakat timbul karena terbentuknya jalur pemajanan antara sumber dampak dan manusia rentan.Pengelolaan sampah yang dihasilkan dan kegiatan yang direncanakan.Memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam emisi atau effluen kegiatan yang direncanakan.Pengendalian dampak kumulatif pada wilayah usulan baru yang akan bertambah atas pembangunan yang telah ada. ttd.Menciptakan kondisi lingkungan baru: konstruksi bebas banjir dan manipulasi lingkungan mencegah perindukan vektor. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk mencegah atau meminimisasi dampak dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh untuk tidak timbulnya dampak kesehatan.Pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi.Kewaspadaan penggunaan lahan dimasa datang. Disamping itu. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.Kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan (pelayanan kesehatan). . perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk dapat melakukan pemantauan dampak kesehatan masyarakat secara tepat dan efisien. . Dari aspek kesehatan masyarakat. . .Penyediaan daerah penyangga dan sarana umum seperti taman rekreasi dan sarana olah raga.Memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dan manusia. Dari aspek kesehatan masyarakat. khususnya pada pemantauan biomarker. atau biomarker pada manusia kontak sesuai dengan periode yang diperlukan. 060030827 274 .Pengelolaan tata ruang kota terhadap kesehatan mental dan kualitas lingkungan permukiman. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut diatas. Dadang Danumihardja NIP. Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. Karena itu pemantauan harus diarahkan kepada jalur pemajanan yang berhasil dikenali pada butir prakiraan dampak. antara lain: . .Memar.Memantau “bahan berbahaya” pada titik-titik di media lingkungan yang menjadi jalur penyebaran.Memantau cara kontak antara media lingkungan yang mengandung bahan berbahaya dengan manusia. . periode waktu harus disesuaikan dengan saat timbulnya dampak. .Kep-14/MENLH/3/1994). . misalnya memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam air sumur yang digunakan penduduk. . antara lain: . apakah melalui minum atau kontak kulit.Pemilihan lokasi pembangunan yang akan menghindari atau mengurangi efek gangguan vektor yang ada dan mencegah perkembangan perindukan vektor. . .LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Rencana Pengelolaan Lingkungan (lampiran III .

bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Pasal 1 Aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah telaahan yang dilakukan terhadap komponen demografi. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. b. ekonomi. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538).KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-299/11/ 1996 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Menimbang : a. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dirasakan kurang memadai untuk melakukan kajian aspek sosial. ttd Sarwono Kusumaatmadja 275 . dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Mengingat : 1. bahwa komponen aspek sosial merupakan bagian yang perlu dikaji secara mendalam dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap komponen tersebut dapat dikelola dengan baik. c. 3. Pasal 2 Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini.

Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN ( KA-ANDAL ) 1. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 2. 2. Namun keadaan yang demikian masih berjalan belum sebagaimana yang diharapkan. ini sangat dirasakan akibat lemahnya acuan yang digunakan sebagaimana tersebut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.3. tersebut identifikasi dampak sebaiknya didukung juga dengan teknis analogi melalui observasi pada kegiatan atau usaha sejenis yang telah beroperasi di lokasi lain dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang fenomena dampak sosial yang timbul. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 2. 3. Sebagai upaya untuk lebih memperjelas dalam melakukan kajian komponen sosial seperti yang telah ditentukan. Dengan demikian diharapkan Peraturan Pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Dalam pelingkupan aspek sosial dalam AMDAL perlu diperhatikan dua hal penting yaitu : 2. Karena itu. Kajian aspek sosial dilakukan untuk setiap dokumen : 2. dan 1. RUANG LINGKUP 1 . 2.2. maka pedoman teknis kajian aspek sosial menjadi penting dalam penyusunan AMDAL dan ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kajian-kajian komponen lain. Demografi 1. khususnya kajian dampak sosial. pengamatan lapangan f. B.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN A. Komponen sosial yang ditelaah meliputi : 1.2. Beberapa komponen. 276 . penelaahan pustaka e.1.Komponen dan Parameter Sosial terlampir. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. matrik interaksi sederhana c. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek sosial dalam penyusunan AMDAL. Sub. daftar uji b. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. Berkenaan dengan angka 2. interaksi kelompok. sub-komponen dan parameter sosial yang dapat diidentifikasi sebagai dampak potensial dapat dilihat pada Tabel 1: Daftar Komponen.1. C. Ekonomi. TUJUAN Pedoman teknis merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk : 1. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING 2. Membantu mempermudah proses penyusunan aspek sosial dalam studi AMDAL.1. bagan alir d.1. Memahami keterkaitan aspek biogeofisik dan sosial dalam AMDAL.4.3. PENGERTIAN Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasikan dampak penting potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan. Budaya.Identifikasi Dampak Potensial Dalam proses identifikasi dampak potensial dapat dipergunakan beberapa metoda sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan seperti : a. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. analisis isi g.

2.2. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada angka 3. batas ekologis. Dampak rencana usaha atau kegiatan terhadap komponen lingkungan yang akan mengalami perubahan mendasar (dampak penting). dan proses penduduk (pertumbuhan dan mobilitas penduduk)? b. atau pendapatan/pengeluaran rumah tangga ? c. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk (kepadatan dan komposisi penduduk). b. 4) Interaksi sosial yang terjalin di kalangan masyarakat setempat. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. tersebut selanjutnya dievaluasi untuk memperoleh dampak penting sosial. penyusun aspek sosial dalam AMDAL perlu memperhatikan: a. perkebunan.1. kegiatan ekonomi. Dampak rencana aspek sosial yang mengakibatkan timbulnya dampak penting pada aspek fisik-kimia dan biologi. c) Lokasi komunikasi masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. 3) Struktur pemilikan sumber daya alam baik yang bersifat formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat). Struktur sosial yang dimaksud disini seperti yang dimaksud dalam angka 3. jasa dan sebagainya). relokasi penduduk). 2) Struktur kekerabatan. c.2. Perlu diketahui bahwa batas sosial mungkin bisa lebih luas dari batas ekologis dan batas proyek. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan atau nilainilai sosial budaya yang dikandung berpotensi berubah secara mendasar akibat aktivitas pra-konstruksi (pembebasan perolehan lahan.4. berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994. konstruksi dan operasi dari rencana usaha atau kegiatan? Struktur sosial yang dimaksud di sini dapat berupa : 1) Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian. Dalam proses pemusatan (focussing). b dan c di atas merupakan batas sosial.Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan mendeliniasi batas-batas terluar dengan memperhatikan : a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada angka 3.3.2. pranata-pranata sosial (lembaga-lembaga kemasyarakatan) yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial). ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu : 3. 3. Dalam penetapan dampak potensial aspek sosial tersebut dapat digunakan dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini: a. pola mata pencaharian penduduk. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam.Evaluasi Dampak Potensial Evaluasi dampak potensial bertujuan menyeleksi dan menetapkan komponen dampak potensial aspek sosial yang relevan untuk ditelaah.Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut : a.Batas Administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran 1 tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat. perlu diidentifikasi apakah didalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial budayanya berpotensi berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat ? 3. 3. udara dan tanah.Batas Ekologis Setelah batas ekologis ditetapkan.1.2. 3. dan sebaliknya. Batas-batas terluar dari komunitas masyarakat yang dimaksud pada huruf a. b. 2. batas sosial dan batas administrasi. dan pemilikan sumberdaya alam (property right) ? Daftar dampak potensial yang diperoleh dari angka 2. Contoh penetapan batas sosial seperti pada Gambar 1 terlampir.1 .3. 277 . PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Berdasarkan KEPMENLH Nomor 14 tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL. dan sebaliknya. tersebut di atas. Berkenaan dengan penentuan batas sosial. wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas proyek. perikanan.Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan / mengkategorisasikan dampak penting yang telah dirumuskan sebelumnya agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan secara utuh dan lengkap. Hubungan sebab akibat antar komponen dampak penting aspek sosial itu sendiri.

jenis dan jumlah aktifitas ekonomi nonformal d.keluarga 4. komputer. produk Domestik Regional Bruto g. Mobilitas penduduk a.adat-istiadat b. migrasi keluar c.situs purbakala b. komuter. Proses sosial a. tingkat kematian bayi c.sosial e. Demografi Parameter 1. misal hak ulayat b. pola penggunaan lahan d. 278 . Sub komponen dan parameter aspek sosial berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi). tingkat kelahiran b. dan Parameter Sosial Perhatian : Daftar komponen.pola nafkah ganda 2. Struktur Penduduk : a.ekonomi. pola migrasi (sirkuler. pendidikan.pendidikan c. Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan 8.pendidikan b. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat d. tingkat pengangguran 2. permanen) 2. Ekonomi Sumber Daya Alam a. Kekuasan dan kewenangan : a. Pranata Sosial kelembagaan Masyarakat dibidang : a.kohesi sosial 3.nilai tambah karena proses manufaktur c. pola migrasi (sirkuler. Ekonomi 1. aksesibilitas wilayah 3.nilai tanah dan sumber daya alam lainnya e. agama. Kebudayaan a.1. Ekonomi Rumah Tangga a.proses asosiatif (kerjasama) b.pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam b. Warisan Budaya a.Sumber daya alam milik umum (commmon property) 3. Komposisi penduduk menurut kelompok umur.asimilasi dan integrasi e.distribusi pendapatan e. akulturasi d.pola pemanfaatan sumber daya alam c. Perekonomian Lokal dan Regional a.2. b.pergeseran nilai kepemimpinan 7.pendapatan asli daerah h. Kepadatan penduduk 2. Adaptasi Ekologis . Pelapisan Sosial berdasarkan : a. permanen) d.kewenangan formal dan informal c.kesempatan kerja dan berusaha b.Tabel I : Daftar Komponen. pola perkembangan 3.efek ganda ekonomi (multiplier effect) f.tingkat pendapatan b.pusat-pusat pertumbuhan ekonomi i. migrasi masuk b. Pertumbuhan Penduduk a.kelompok individu yang dominan e. fasilitas umum dan fasilitas sosial j.ekonomi c.proses disosiatif (konflik sosial) c.kekuasaan 6. Budaya 1. Proses Penduduk : 2. Komponen 1.cagar budaya 5. pekerjaan d. Sub-Komponen. agama d.kepemimpinan formal dan informal b. Tenaga Kerja a. jenis kelamin.nilai dan norma budaya 2. tingkat partisipasi angkatan kerja b. mata pencaharian.

Rencana kegiatan yang dibangun terletak di daerah persawahan padi.Keterangan Gambar 1 1. Air dari danau buatan digunakan untuk keperluan pabrik dan keperluan domestik. 2. 4. 3. Di sekitar saluran irigasi ini juga terdapat pemukiman penduduk. Jalan propinsi yang akan digunakan oleh rencana kegiatan untuk keperluan mobilisasi peralatan dan bahan baik pada saat konstruksi dan operasi. 279 . Ruas jalan yang dibangun menghubungkan lokasi rencana kegiatan dengan jalan propinsi. Lokasi instalasi pengolahan air limbah yang direncanakan dibangun. Sungai X akan mengalir ke saluran irigasi Y (disimbolkan dengan angka 8). 7. Disepanjang jalan propinsi ini terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah menghuni daerah ini sebelum rencana kegiatan dibangun. Bila rencana kegiatan beroperasi. Ruas jalan yang akan dibangun lahan untuk ruas jalan diperoleh dengan cara ganti rugi lahan. serta pengangkutan hasil produksi. Di sekitar sungai ini juga terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah lama menghuni daerah ini. Areal rencana kegiatan diperoleh dengan cara. Sungai X merupakan sungai penerima air limbah rencana kegiatan dibangun di lokasi tersebut. 5. 6. pengalihan status lahan milik masyarakat setempat (ganti rugi lahan). saluran irigasi Y akan menerima air limbah yang terangkut melalui sungai X. Limbah cair direncanakan dibuang di sungai (7) setelah melalui instalasi pengolahan air limbah (2). Air limbah yang telah melalui proses instalasi pengolahan air limbah dialirkan ke sungai X (disimbolkan dengan angka 7). Danau buatan yang dibangun oleh rencana kegiatan khusus untuk menampung air hujan dan aliran permukaan dari daerah sekitarnya. 8. Jalur pipa air untuk mengalirkan air dari danau buatan yang akan direncanakan dibangun. Batas sosial yang terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada lampiran II angka 5 tentang Pelingkupan Wilayah Studi.

b. d.3. c. dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. b. d. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. Wawancara mendalam (indepth interview).Metoda analisis data yang dapat digunakan antara lain : a. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain : a. Huruf c tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa komponen aspek sosial yang tertera pada KAANDAL dapat mengalami penambahan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan yang antar aspek fisik-kimia. METODA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. dan pustaka lainnya. c. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. metoda prakiraan. Observasi/pengamatan lapangan. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. c. dokumen-dokumen ANDAL dari kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu : a. 1. b. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. waktu dan dana. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. biologi dan sosial. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 1. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL perlu diuraikan : Metode pengumpulan dan analisis data sosial. b.Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a. Pengumpulan data sekunder. d. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. serta metode prakiraan dan evaluasi dampak. Ketersediaan tenaga. b. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. Metode analisis yang bersifat kualitatif. d. b. data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian.4.Lampiran III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISlS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Dalam a. Teknik pengambilan sampel secara purposive. Prakiraan dampak penting. peta. Uraian rencana usaha atau kegiatan. desa. Sebagai alat bantu untuk melengkapi huruf c dan d tersebut di atas. Rona lingkungan hidup. Teknik pengambilan sampel secara acak (random). e. seperti analisis statistik.Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. e. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. 1. c. Wawancara dengan kuesioner. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. Dan evaluasi dampak penting. Satuan analisis (rumah tangga. pandangan dan aspirasi mereka.2. propinsi) yang akan diukur. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan. c. Teknik pengambilan sampel secara proporsional. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5-7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. Metoda analisis yang bersifat kuantitatif. Melalui teknik ini. Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. 1. rujukan). Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini : a. referensi (data statistik. c. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA).1. 1. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek sosial yang terdapat dalam KA. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . b. Komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifikasi lokasi. seperti analisis isi (content analysis) 280 . sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam Pedoman Umum Penyusunan ANDAL (KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994) dan dalam Tabel 1 paduan ini diteliti untuk setiap usaha atau kegiatan wajib AMDAL. A. Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. Presisi (ketetapan/akurasi) yang dikehendaki. kabupaten.Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak.

2) Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach). Kelompok Masyarakat Xp* pada saat tanpa Proyek P* Proyek P* Dasar prakiraan Prakiraan dampak Kelompok Masyarakat Xp* -.-. termasuk yang mempunyai nilai moneter. Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P) terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp).-. diukur dengan cara mengukur dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan masyarakat Xp (disimbolkan Xp*). Metode ini terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity) 2) Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of learning approach). antara lain : 1) Penilaian pakar (professional judgement) 2) Komparatif antar budaya (cross cultural) 3) Teknis analogi 4) Metode delphi Adapun sifat penting dari besar dampak sosial yang akan terjadi ditelaah dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) 281 . 3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach). yang terkena proyek serupa (disimbolkan P*) di lokasi lain. antara lain : 1) Proyeksi penduduk (teknik ekstrapolasi) 2) Analisis kecenderungan (trend analysis) 3) Analisis deret waktu (time series analysis) b. Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential expenditures willingness to pay or to accept) yang terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach). b.-. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul menurut dokumen AMDAL sejenis. Metode ini terdiri dari empat (4) pendekatan: 1) Pendekatan nilai kepemilikan (property value approach). METODE PRAKIRAAN DAMPAK Prakiraan dampak merupakan telaahan yang menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat adanya rencana usaha atau kegiatan. Besar dampak proyek P* terhadap masyarakat Xp* ini dapat menjadi prakiraan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp: Ilustrasi berikut memperjelas hal dimaksud.Data ekonomi sedapat mungkin diberi nilai moneter (valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi dapat dikuantifikasi.1. 2) Pendekatan harga bayangan (shadow project approach). Metode Formal. Data sosial aspek lainnya yang memungkinkan diberi nilai moneter hendaknya dilakukan pula valuasi. Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value).-. diperlukan value judgement dari penyusun AMDAL.-.Kelompok Masyarakat Xp* tanpa Proyek P tanpa Proyek P di lokasi studi ANDAL Kelompok Masyarakat Xp* dengan proyek P* di lokasi lain Kelompok Masyarakat Xp dengan Proyek P Waktu Saat lalu Saat studi ANDAL Saat mendatang Besar dampak. 3) Pendekatan pembatasan pengeluaran (defendive expenditures approach). Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. Metode Informal. dapat diukur melalui dua metode berikut ini : a.5. Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktifitas (market-based Methods). 2. 3) Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach) . Sehubungan dengan itu ada tiga (3) metode pemberian penilaian moneter yaitu : a. 4) Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai penduga (hedonic pricing). dengan kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi bila tidak ada rencana usaha atau kegiatan (pendekatan with and without project) Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. c.

USGS Matrix (Matrik Leopold) b. dalam arti proses peleburan nilai-nilai yang satuannya berbeda harus dilakukan melalui proses yang secara ilmiah dibenarkan. EVALUASI DAMPAK PENTING 1. Bersifat komprehensif. dibahas/ditelaah secara holistik (komprehensip) dampak penting lingkungan (fisikkimia. uraian tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisa perbedaan kualitas lingkungan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf A. maka dampak penting aspek sosial untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika angka 1. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dari segi positif dan atau negatif. metode tersebut sesuai dengan kondisi rona lingkungan dan karakteristik rencana usaha atau kegiatan yang ditelaah. uraikan isu-isu pokok lingkungan yang terdapat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) dan komponen dampak penting lingkungan hasil dari prakiraan dampak penting. c. 3.2. adalah : a. yakni telaahan secara total terhadap beragam dampak lingkungan. dan Regional perlu diberikan perhatian yang besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. b. d. kondisi kesehatan masyarakat di sekitar proyek dan penyerapan tenaga kerja oleh proyek. metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting lingkungan sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. D. Setiap komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak penting) dibahas melalui sistematika sebagai berikut : a. bila dampak penting sosial yang telah diutarakan pada huruf a. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak secara holistik diantaranya adalah : a. satuan. Pada bagian pertama. dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. Penyerapan tenaga kerja khususnya dari masyarakat setempat 3. terutama aspek-aspek sosial yang menurut dokumen Kerangka Acuan (KA) akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. METODE EVALUASI DAMPAK Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. c. Extended Cost Benefit Analysis Perlu diketahui. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada saat studi ANDAL berlangsung. Evironmental Evaluation System (EES) d. Bersifat dinamis. C. Bersifat analitis. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode evaluasi dampak yang tepat untuk studi ANDAL. bila ada alternatif lokasi atau teknologi dari rencana usaha atau kegiatan maka 282 . maka uraian rencana usaha atau kegiatan perlu memuat data dan informasi yang antara lain mencakup : 1. Bagan Alir Dampak c. biologi dan sosial). metode tersebut memenuhi syarat-syarat ilmiah. Pada bagian kedua. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) d. e. sejauh mungkin penyusun aspek sosial ANDAL memperhatikan atau menghimpun masukan dari masyarakat yang terkena dampak. sehingga relatif tidak ada metode evaluasi dampak yang bisa digunakan untuk semua jenis studi ANDAL. Sistem bahasan sebagaimana pada angka 1 tersebut di atas berlaku pula untuk dampak penting yang mempunyai nilai moneter. Pada bagian pertama. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 1. Dengan demikian.3. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan sosial di wilayah studi. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana usaha atau kegiatan untuk pengambilan keputusan. Pada bagian tiga. diuraikan sifat penting dari besar dampak sosial yang telah diutarakan pada huruf b tersebut di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. Evaluasi dampak penting dilakukan dengan sistematika sebagai berikut : a. Pada bagian ke tiga. mengenai Metode Evaluasi Dampak. sebagai misal : 1 ) Dampak terhadap pendapatan masyarakat di sekitar rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai dampak lanjutan dari perubahan pencaharian dan kesempatan berusaha. Rencana pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Disamping itu bila menggunakan bobot atau skala. 2) Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dari berubahnya tingkat pendapatan. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Agar kajian dampak penting aspek sosial dapat ditelaah mendalam. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dari suatu rencana usaha atau kegiatan. metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan yang ukuran. 2. Rencana pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial 4. Kebijaksanaan dan cara pembebasan/perolehan lahan 2. Beragam dampak penting lingkungan tersebut ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-mempengaruhi. B. Bila metode yang dipakai menggunakan skala dan atau bobot maka proses peleburan (amalgamasi) harus dilakukan secara benar. Pada bagian dua. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek sosial yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. dengan menggunakan metode yang telah diuraikan pada huruf A.3. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjutan tersebut. Untuk studi AMDAL Kawasan. Terpadu/multisektor. mengenai Metode Prakiraan Dampak. Bersifat fleksibel. b. dan skalanya berbeda serta dampaknya berbeda. E. b. baik yang positif maupun negatif. f. b. Matrik Tiga Tahap Fischer dan Davies e. Pada bagian keempat. c. tidak seluruh komponen sosial harus diungkapkan dalam rona lingkungan hidup.

melainkan juga perlu mendayagunakan informasi tentang kualitas lingkungan dari masyarakat yang terkena dampak. baik yang bersumber dari aspek fisik-kimia. Kewenangan menangani atau mengelola dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa (misal. 4. b. Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah. menanggulangi dan mengendalikan dampak antara lain dapat berupa. Komponen lingkungan yang dipantau difokuskan pada dampak penting yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. dan menanggulangi sumber dampak penting tersebut. sejauh terdapat : a. pemerintah maupun pertimbangan pakar. serta instansi sektoral terkait. Sarwono Kusumaatmadja 283 . bilamana. Sebagai alat bukti untuk melindungi adanya tuntutan kerusakan atau pencemaran lingkungan. Sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. Disamping itu juga harus diutarakan pada kelompok atau lapisan masyarakat mana. Upaya pengelolaan lingkungan aspek sosial ditempuh dengan cara mencegah. dan pihak mana yang akan melaksanakan pengelolaan lingkungan. Disamping itu pranata sosial yang sudah ada di masyarakat didayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. memantau dampak penting terhadap pertumbuhan sektor informal disekitar rencana usaha atau kegiatan. Dalam merancang pemantauan lingkungan bagi aspek sosial. c. mengendalikan. dan kesehatan masyarakat maupun dari aspek sosial itu sendiri. d. Pihak yang melaksanakan pemantauan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan dapat juga dilakukan oleh instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. Kesempatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan. 2. 2. Hasil evaluasi tersebut harus dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan. biologi. Kesepakatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pemantauan lingkungan. Manfaat Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah : a. b. Apabila Analisa Dampak Lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. sehingga diperoleh gambaran mengenai biaya eksternal yang akan ditanggung atau dinikmati oleh masyarakat dan atau pemrakarsa. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. harus mempertimbangkan prinsip saling menguntungkan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terkait. unsur-unsur pemerintah daerah setempat. mengendalikan. yang merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan. atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. jumlah sampel. Sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pengelolaan lingkungan. Bila untuk keperluan tersebut digunakan respon. masyarakat sekitar yang terkena dampak. 4. Upaya pengelolaan lingkungan tersebut perlu memperhatikan kepentingan masyarakat. Evaluasi dampak juga dilakukan pada komponen-komponen dampak penting yang mempunyai nilai moneter. 3. e. yang anggotanya terdiri dari pemrakarsa. Misalkan. 3. maka instansi yang bertanggung jawab dapat memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan (Pasal 11 ayat 1 PP 51/1993) LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) Di dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Pihak yang melaksanakan pengelolaan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan juga dapat instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. pemrakarsa sebaiknya tidak hanya mengandalkan data yang diperoleh dari instrumen atau alat ukur yang dimiliki. sejauh terdapat : a. maka di dalam dokumen perlu diutarakan teknik pengambilan sampel yang digunakan. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNlS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Di dalam merumuskan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. dampak penting berupa timbulnya prostitusi disekitar rencana usaha atau kegiatan). b. Rencana pengelolaan lingkungan harus secara jelas mengutarakan upaya-upaya yang akan ditempuh untuk mencegah. Sebagai isyarat dini tentang adanya gejala-gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. Kewenangan memantau dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa. di lokasi mana. ttd. Sebagai sarana untuk uji hipotesis dampak penting yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL. 2. dan lokasi pengambilan sampel secara jelas.lakukan evaluasi dampak penting terhadap masing-masing alternatif tersebut. Kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak. 3. pembentukan forum komunikasi lingkungan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. 5. dan menanggulangi dampak penting sosial yang akan timbul.

Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3538). 3. Keputusan Presiden RI Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). 4. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. ttd Sarwono Kusumaatmadja 284 . 2. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3501). Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419). MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING Mengingat Pertama : Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1990. 5. Kedua : Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. maka keputusan ini akan ditinjau kembali.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TENTANG PEDOMAN MENGENAI DAMPAK PENTING KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting : 1. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Nomor 115 Tahun 1992.

Kawasan Rawan Bencana Alam II. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. c. Sempadan Pantai e. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Kawasan Bergambut c. Dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. Luas wilayah persebaran dampak. perairan darat. yakni ukuran. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan. Sempadan Sungai f. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini merupakan petunjuk dasar yang memberi arah apakah suatu rencana usaha atau kegiatan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu aspek lingkungan saja. termasuk bagi keperluan AMDAL kegiatan Terpadu/Multisektor. Ukuran dampak penting tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. Lamanya dampak berlangsung. Kawasan Sekitar Mata Air h. Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove) k. menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL. Taman Nasional l. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut. dan Pasal 2 dan Pasal 3 PP Nomor 51 Tahun 1993 ditentukan oleh faktor-faktor berikut: a. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. b. Taman Hutan Raya m. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah bernilai tinggi) o. f. 2. Dampak penting suatu usaha atau kegiatan menurut Penjelasan Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. Suaka Margasatwa. Kawasan Resapan Air d. Intensitas dampak. Suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dibangun di kawasan lindung yang telah berubah peruntukkannya atau lokasi rencana usaha atau kegiatan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan lindung. bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. Untuk menentukan penting tidaknya dampak lingkungan akibat dilaksanakannya suatu rencana usaha atau kegiatan perlu juga diperhatikan peraturan perundangan yang berlaku baik di dalam maupun diluar wilayah negara Republik Indonesia. d. Kawasan Sekitar Danau/Waduk g. Yang dimaksud dengan kawasan lindung menurut Penjelasan Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah sebagai berikut : a. wilayah pesisir. 6. b. Sifat kumulatif dampak. 4. standar tertentu atau prinsip-prinsip tertentu. gugusan karang atau terumbu karang. Masing-masing faktor sebagaimana dimaksud datam butir 2 tersebut memiliki seperangkat kriteria dampak penting. 285 . dan Daerah Pengungsian Satwa) i. hasil guna dan daya gunanya. termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting. perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting digunakan untuk keperluan penapisan rencana usaha atau kegiatan dan penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Kawasan Hutan Lindung b. 3. UKURAN DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN 1. muara sungai. PENGERTIAN 1. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem) j. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan. 5. 7. Ukuran dampak penting terhadap lingkungan. Hutan Wisata. g.LAMPIRAN KEPUTUSAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TANGGAL : 18 Maret 1994 PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING I. Taman Wisata Alam n. AMDAL kawasan dan AMDAL Regional. e.

6. yang bernilai tinggi. 2. Dengan kata lain dampak suatu usaha atau kegiatan ada yang berlangsung relatif singkat. sejak tahap konstruksi hingga masa pasca operasi usaha atau kegiatan. dapat dialami oleh baik sejumlah manusia yang termasuk maupun yang tak termasuk dalam sasaran rencana usaha atau kegiatan. yakni hanya pada tahap tertentu dari siklus usaha atau kegiatan (perencanaan. atau pemerintah pusat. suaka margasatwa. 7. Dengan demikian dampak lingkungan tergolong penting bila: 1. b. Karena itu. melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan. atau segi kumulatif dampak. atau drastis. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Adapun yang dimaksud dengan manfaat dari usaha atau kegiatan adalah manusia yang secara langsung menikmati produk suatu rencana usaha atau kegiatan dan atau yang diserap secara langsung sebagai tenaga kerja pada rencana usaha atau kegiatan. atau dengan kata 286 c. berdasarkan pertimbangan ilmiah. dalam kurun waktu yang relatif singkat. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Banyaknya Komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak Mengingat komponen lingkungan hidup pada dasarnya tidak ada yang berdiri sendiri. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri. pasca operasi). atau tidak berbaliknya dampak. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan dapat berlangsung pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari kelangsungan usaha atau kegiatan. yang penentuannya didasarkan pada perubahan sendi-sendi kehidupan pada masyarakat tersebut dan jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan. konstruksi.c. d. Berdasarkan pengertian ini dampak lingkungan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak. dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan. 3. baik yang bersikap negatif maupun positif yang mungkin ditimbulkan oleh suatu usaha atau kegiatan. 5. namun ada pula yang berlangsung relatif lama. dampak lingkungan. Serta berlangsung di area yang relatif luas. 4. jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan di wilayah studi. pemerintah daerah. Mengingat pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas. . Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Namun demikian. Jumlah Manusia yang Akan Terkena Dampak Setiap rencana usaha atau kegiatan mempunyai sasaran sepanjang menyangkut jumlah manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat dari rencana usaha atau kegiatan itu bila nanti usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. 2. cagar alam. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. e. taman nasional. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi di kalangan masyarakat. atau segi kumulatif dampak yang berlangsung hanya pada satu atau lebih tahapan kegiatan. Intensitas Dampak Intensitas dampak mengandung pengertian perubahan lingkungan yang timbul bersifat hebat. atau habitat alaminya mangalami kerusakan. operasi. Luas Wilayah Persebaran Dampak Luas wilayah persebaran dampak merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan pentingnya dampak terhadap lingkungan. maka kriteria dampakpenting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di kalangan masyarakat luas berada dalam posisi atau mempunyai nilai yang penting. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Dengan demikian dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik.

Dalam hal ini maka dampak bersifat penting bila: Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia. Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus. atau bertimbun. 3. Sifat Kumulatif Dampak Kumulatif mengandung pengertian bersifat bertambah. Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak Dampak kegiatan terhadap lingkungan ada yang bersifat dapat dipulihkan. ttd Sarwono Kusumaatmadja g. bertumpuk. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 287 . Dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif bila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. Atas dasar pengertian ini dampak tergolong penting bila: Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik). 2. Dengan demikian dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila: 1. sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu. f. namun ada pula yang tidak dapat dipulihkan walau dengan intervensi manusia sekalipun. maka lama kelamaan dampaknya bersifat kumulatif. maka dampak pada suatu komponen lingkungan umumnya berdampak lanjut pada komponen lingkungan lainnya. sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya.lain satu sama lain saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. tetapi karena aktivitas tersebut bekerja berulang kali atau terus menerus.

AUDIT LINGKUNGAN 288 .

Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. Tim Evaluasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan evaluasi terhadap masukan. c. informasi dan usulan untuk melakukan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. bahwa agar pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dapat dilakukan secara efektif maka diperlukan suatu pedoman.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Pihak yang berkepentingan adalah orang seorang. Mengingat : 1. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 19. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Tim Audit adalah sekelompok atau seorang auditor yang diberi tugas untuk melaksanakan audit dan tim audit juga dapat beranggotakan tenaga ahli teknis. kelompok orang. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup audit lingkungan hidup yang diwajibkan meliputi evaluasi masukan atau informasi. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan. Audit Lingkungan hidup yang diwajibkan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. 3. 289 . Kewenangan. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). dan verifikasi laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan akibat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Kewenangan. kriteria ketidakpatuhan. Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. Auditor Lingkungan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan audit lingkungan. Tim Verifikasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan yang diwajibkan. dan organisasi lingkungan hidup. b. 8. 4. 2. 3. termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang terkena dampak langsung atau berpotensi terkena dampak dan ketidakpatuhan. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. 4. 5. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara. Tugas. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. Fungsi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3434). Tugas Fungsi. Menimbang : a. 2. 5. 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. pelaksanaan.

memberikan rekomendasi atas temuan-temuan pelaksanaan audit. meliputi: a. telah diberikan peringatan oleh Menteri dan atau Gubernur dan atau Bupati dan atau Walikota sekurangkurangnya 3 (tiga) kali dalam jangka waktu setahun terakhir dan atau patut diduga akan terjadi lagi di masa mendatang. d. c. (2) Audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilakukan oleh auditor lingkungan yang terdaftar dan atau auditor yang memenuhi kriteria kualifikasi sesuai dengan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . b. (2) Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila menunjukkan : a.Prinsip Umum atau standar lainnya yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. maka Gubernur/Bupati/W alikota mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab suatu usaha dan atau kegiatan tersebut melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. ketidakpatuhan terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. ketidakpatuhan terhadap baku mutu lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dinyatakan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. termasuk apabila terdapat pelanggaran dan atau ketidaktepatan penerapan kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup. (2) Apabila Gubernur/Bupati/Walikota menilai bahwa suatu usaha dan atau kegiatan di wilayahnya menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. BAB V PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN Bagian Pertama Tata Laksana Pasal 7 (1) Tata laksana audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 19-14010-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . dan atau. (3) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib memberikan informasi/data yang benar dan aktual kepada auditor. c. apabila telah melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 6 (1) Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan apabila penanggung jawab usaha dan atau kegiatan menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. c.Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan dan bebas dari pertentangan kepentingan. untuk mengetahui tingkat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. memberikan uraian tentang penyebab terjadinya ketidakpatuhan. ketidakpatuhan terhadap persyaratan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilakukan. dan atau. mencegah terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. FUNGSI DAN MANFAAT Pasal 3 (1) Tujuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan : a. telah terjadi hal yang sama atau berkaitan secara berulangkali. mengetahui status ketaatan pengelolaan lingkungan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. dan atau. sebagai bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan Menteri tentang tindak lanjut penanganan ketidakpatuhan. (3) Manfaat pelaksanaan audit Iingkungan hidup yang diwajibkan: a. ketidakpatuhan yang mengindikasikan bahwa penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup atau tidak melaksanakan sistem pengelolaan lingkungan secara efektif. BAB IV KRITERIA KETIDAKPATUHAN DAN KEWENANGAN Pasal 4 Kriteria ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi dasar dikeluarkannya perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. 290 . b. (2) Fungsi audit Iingkungan hidup yang diwajibkan merupakan salah satu instrumen penaatan atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelola Iingkungan hidup. meningkatkan penaatan pengelolaan lingkungan hidup dan suatu usaha dan atau kegiatan. dan. b. d.BAB III TUJUAN.

a. Pasal 10 Instansi pengendalian dampak lingkungan dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan dilengkapi dengan data pendukung. 291 . Menteri memberikan alasan-alasan mengenai ketidaksetujuan tersebut. ketidaklayakan untuk dikeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan memberikan alasan-alasan ketidaklayakan tersebut. (3) Jumlah beban biaya pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. Menteri dapat: a. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. atau. kelayakan untuk dikeluarkannya perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur-unsur. (3) Tim Evaluasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan dan tenaga ahli dalam bidang yang terkait. atau. maka: a. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). Gubernur/Bupati/Walikota dapat mengusulkan secara tertulis kepada Menteri untuk mengeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan telah menunjuk auditor dengan pemberitahuan kepada Menteri. Menteri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. dengan dilengkapi data pendukung. (3) Apabila Menteri tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan.Bagian Kedua Mekanisme Pasal 8 Pihak yang berkepentingan dapat memberikan masukan atau informasi secara tertulis tentang terjadinya petunjuk ketidakpatuhan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. (2) Apabila Menteri menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. setelah selesai melaksanakan evaluasi. b. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Kepala instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan hasil temuannya kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. instansi yang bertanggung jawab di daerah. Pasal 12 (1) Berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) huruf a. Menteri membentuk Tim Evaluasi yang bertugas untuk mengevaluasi usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. dilengkapi dengan rancangan ruang lingkupnya. Menteri memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (6) Rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa. b. melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan membentuk Tim Audit. (4) Tim Evaluasi melaksanakan kegiatan evaluasi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. Pasal 9 (1) Gubernur/Bupati/Walikota menugaskan instansi yang bertanggung jawab di daerah untuk mengevaluasi masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan memeriksa unsur ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (5) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan dan rekomendasi hasil evaluasi secara tertulis kepada Menteri selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja. (7) Apabila rekomendasi berupa ketidaklayakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) huruf b. Pasal 11 (1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 10 selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja. menugaskan pihak ketiga yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. b.

apabila diperlukan dapat melaksanakan kegiatan verifikasi di lokasi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. Nabiel Makarim. Pasal 15 (1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat melakukan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. unsur lainnya yang dianggap perlu. (3) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab dibidang pengendalian dampak lingkungan. b. c. b. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. MPA. (3) Tim audit setelah melaksanakan tugasnya wajib menyerahkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara tertulis kepada Menteri. dengan membentuk Tim Verifikasi. 292 . BAB VI INFORMASI DAN PUBLIKASI Pasal 17 Menteri mengumumkan surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada Masyarakat. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 September 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. menyusun laporan hasil verifikasi secara tertulis dan menyampaikannya kepada Menteri. (2) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan atau instansi yang bertanggung jawab di daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).Pasal 14 (1) Tim audit merumuskan Kerangka Acuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan ruang lingkup yang ditetapkan oleh Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah tim audit ditetapkan. (5) Tim Verifikasi melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) paling lama 14 (empat belas) hari kerja. ahli di bidang lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. ttd. melaksanakan kajian terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Tim audit mulai melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah Kerangka Acuan mendapat persetujuan dari Menteri. Pasal 16 (1) Berdasarkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. BAB VII PENUTUP Pasal 18 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. terdiri dari : a. (4) Tugas Tim Verifikasi mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Menteri mengeluarkan surat perintah kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Menteri.MSM.

4. : Audit Lingkungan dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan ini. masyarakat umum atau organisasi lainnya dengan tujuan. untuk itu hasil audit lingkungan dapat dimintakan keabsahannya dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara R. 5. dan apabila terdapat kekeliruan maka keputusan ini akan ditinjau kembali. dan obyektif terhadap prosedur dan praktek-praktek dalam pengelolaan lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara R. pengembangan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan. bahwa audit lingkungan sebagai suatu perangkat pengelolaan yang dilakukan secara dasar telah diakui merupakan alat yang efektif dan sangat bermanfaat bagi suatu usaha atau kegiatan dalam mengelola lingkungan hidup. tujuan lainnya sebagaimana ditentukan oleh usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 3.42/MENLH/XI/1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 3. mempublikasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Tambahan Lembaran Negara R. 4. terdokumentasi. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN Pertama : Audit Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh dan merupakan tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha atau kegiatan. Nomor 3215). Tugas Pokok. berkala.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP.I. bahwa audit lingkungan adalah suatu proses untuk melaksanakan kajian secara sistematik. meningkatkan kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan.I.I. 2. bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk menetapkan suatu pedoman umum tentang pelaksanaan audit lingkungan dengan suatu keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. : 1. 2. 5. Menimbang : 1. sehingga dapat meningkatkan kinerja usaha atau kegiatan yang bersangkutan dalam kaitan dengan pelestarian kemampuan lingkungan. Nomor 84 Tahun 1993. Nomor 12 Tahun 1982. dan Tata Kerja Menteri Negara serta Organisasi Staf Menteri Negara. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara R. Penanggung jawab usaha atau kegiatan dapat memberikan sebagian atau seluruh laporan audit lingkungan kepada Pemerintah. Nomor 3538). ttd Sarwono Kusumaatmadja 293 Kedua Ketiga Keempat . Fungsi. 4.I. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal. 2. Di tetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Nopember 1994 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan. bahwa audit lingkungan dapat membantu menemukan upaya penyelesaian yang efektif tentang masalah lingkungan hidup yang dapat dihadapi suatu usaha atau kegiatan. Mengingat : 1. 3. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha atau kegiatan wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan.

minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang. limbah cair. Fungsi Fungsi audit lingkungan adalah sebagai : (a) Upaya peningkatan pentaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. PENDAHULUAN 1. sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan. pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada proses dan peraturan. yang berguna dalam penyempurnaan proses AMDAL. terdokumentasi. (c) Jaminan untuk rnenghindari perusakan atau kecenderungan kerusakan lingkungan. Definisi Audit Lingkungan adalah suatu atau manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik. 3. atau publikasi yang merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik. rona dan kerusakan lingkungan di tempat usaha atau kegiatan tersebut. RUANG LINGKUP Audit Lingkungan perlu disusun sedemikian rupa. efektif dan efisien. Audit lingkungan yang dimaksud dalam keputusan ini dilaksanakan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan dan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat internal. prosedur pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana tangggap darurat. penanganan limbah dan standar operasi lainnya. 294 . atau bagi keperluan kelompok pemerhati lingkungan. C. Dengan adanya pedoman ini. FUNGSI DAN TUJUAN Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan pelaksanaan audit lingkungan bagi suatu usaha atau kegiatan.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEP-42/MENLH/XI/1994 22 NOVEMBER 1994 PRINSIP-PRINSIP DAN PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN A. (b) Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan atau upaya penyempurnaan rencana yang ada. serta isu lingkungan yang terkait. proses daur ulang dan efisiensi penggunaan sumber daya. periodik dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi. pemerintah. pemakaian ulang dan daur ulang limbah. 2. B. (f) Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggung jawab dan staf suatu badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan dan tanggung jawab lingkungan. (e) Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam proses pengadilan. dan pemegang saham. (e) Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bagan. lebih terarah. melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk mengindentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan. misalnya pembangunan yang berkelanjutan. (d) Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang tercantum dalam dokumen AMDAL. pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan. (f) Upaya untuk meningkatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan lingkungan. (i) Menyediakan informasi yang memadai bagi kepentingan usaha-usaha atau kegiatan asuransi. lembaga keuangan. maka pengelolaan dan pemantauan lingkungan suatu usaha atau kegiatan diharapkan dapat dilakukan dengan baik. dan media massa. Manfaat Audit Lingkungan bermanfaat untuk: (a) Mengindentifikasi risiko lingkungan. misalnya: standar emisi udara. (b) Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi. (h) Menyediakan laporan audit lingkungan bagi keperluan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. sehingga dapat memberikan informasi mengenai: 1. (g) Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi energi. dan pengurangan. Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat manajemen yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. (c) Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/pemberhentian suatu usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah. sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan. (d) Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(b) Konsep pembuktian dan pengujian. Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. (d) Laporan tertulis. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif dan prosedur yang telah ditentukan. PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua aspek dan pelaksanaan tugas secara luas. termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan kecelakaan. kajian resiko lingkungan. (b) Keikutsertaan semua pihak Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang bersangkutan. konsiderasi product life cycle. 2. 11. 8. rencana minimalisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan. 10.2. Apabila tidak. uji emisi. E. (d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan. kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit. dll. Ruang lingkup audit lingkungan sangat luwes. (c) Pengukuran dan standar yang sesuai. maka obyektifitas dan kredibilitas akan diragukan. 4. Audit lingkungan tidak akan berarti kecuali bila kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. serla dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi. Pada umumnya. proses bahan dasar. 12. rute pengangkutan bahan dan pembuangan limbah. tergantung pada kebutuhan atau kegiatan yang bersangkutan. 3. Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat menerapkan teknik-teknik yang tepat. Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan dengan jelas dan akurat. perubahan rona lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai waktu terakhir pelaksanaan audit. uji rutin. Laporan harus memuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang serta dokumentasi terhadap proses produksi. Tata Laksana Pelaksanaan audit lingkungan perlu mengikuti suatu tata laksana audit. Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. efektifitas alat pengendalian pencemaran seperti ditunjukkan dalam laporan inspeksi. Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. 13. Dengan mengacu pada tata laksana tersebut maka diharapkan adanya konsistensi dalam pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit. Tata laksana audit merupakan suatu rencana yang harus diikuti oleh auditor untuk dapat mencapai tujuan audit yang diharapkan. perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat. Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung. 6. (c) Kemandirian dan obyektifitas auditor Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan usaha atau kegiatan yang diaudit. untuk menjamin pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi tersebut. 5. D. pentaatan terhadap hasil dan rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan). Karakteristik dasar Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) Metodologi yang komprehensif. air dan sumber daya alam lainnya. 14. penggunaan input dan sumber daya alam. peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan. identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia. sistem kontrol manajemen. B3 serta potensi kerusakan yang mungkin timbul. Audit lingkungan harus berpedoman kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan. bahan jadi. PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN 1. penggunaan energi. program daur ulang. 295 . 9. perawatan. Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci. 7. dan limbah termasuk limbah B3. catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan termasuk standar dan baku mutu lingkungan. Kunci keberhasilan (a) Dukungan pihak pimpinan Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad pimpinan usaha atau kegiatan.

Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali. dan daftar pertanyaan tersebut harus dijawab secara lengkap oleh auditor. Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut: 1. Bentuk pelaksanaan audit yang paling sederhana adalah mempergunakan daftar isian dari laporan yang akan dihasilkan sebagai acuan audit. Pada umumnya. tata laksana. dan jadual kegiatan audit. Pada saat ini. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit. jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor. atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor. tim auditor harus memaparkan hasil temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. tim auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah. Audit dengan menggunakan pedoman merupakan jenis tata laksana yang paling rinci. 2. Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas di lapangan. Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang belum tersedia. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian temuan audit lingkungan. Kegiatan Lapangan (1) Pertemuan pendahuluan Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit. Pendahuluan Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang dilaksanakan. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara khusus. status hukum. Dalam menguji hasil temuan audit. Pasca Audit Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil pelaksanaan audit lingkungan. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat. dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang telah diidentifikasi. serta aspek yang harus diteliti. (3) Pengumpulan data Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit lingkungan akan mencakup tata laksana audit. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan. Berikut ini adalah beberapa tata laksana audit yang umum dilaksanakan: (a) Daftar Isian. hasil sampling dan pemantauan. Pelaksanaan. 2. rencana. Jenis ini merupakan cara yang umum digunakan yaitu dengan mempergunakan daftar yang rinci mengenai isi yang akan diaudit. atau harus ditentukan oleh tim auditor. Daftar pertanyaan seringkali digunakan dalam pelaksanaan audit. foto-foto. peta. (4) Pengujian Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. (6) Pertemuan akhir Setelah penelitian lapangan selesai.Tata laksana audit sangat beragam dan tergantung pada jenis usaha dan karakteristik lingkungan. kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati. (b) Checklist. 4. Tim auditor harus mengkaji hasil pertemuan secara garis besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. struktur organisasi. penentuan tim auditor. Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang dibutuhkan. dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan. (c) Daftar pertanyaan. (d) Pedoman. 3. Pedoman ini memuat instruksi-instruksi dan petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh auditor. Seluruh dokumentasi selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan. (5) Evaluasi hasil temuan Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji. (2) Pemeriksaan lapangan Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. catatan dan hasil pengamatan tim auditor. tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum teridentifikasi dalam perencanaan. 296 . auditor telah mempersiapkan format baku untuk melaksanakan audit dan menyusun laporan akhir. diagram. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan. Pra-audit Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit lingkungan.

kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit Potensi dampak lingkungan. Kebijakan audit lingkungan dalam hal ini tidak membatasi hal-hal sebagai berikut : (a) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin pada suatu usaha atau kegiatan. G PENGAWASAN MUTU HASIL AUDIT . (c) Hak pemerintah untuk meminta sesuatu informasi khusus sebagai dasar penentuan peringkat kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan: (d) Tanggung jawab dunia usaha atau kegiatan untuk menyediakan data hasil pengelolaan dan pemantauan kepada pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. maka usaha atau kegiatan atau organisasi (non pemerintah) dianjurkan untuk membuat dan melaksanakan kode etik serta sertifikasi auditor lingkungan. dunia usaha atau kegiatan sesuai dengan kebebasannya dapat menyampaikan laporan audit lingkungan kepada pemerintah. Auditor lingkungan harus mempunyai pendidikan yang sesuai dan memiliki pengalaman profesional untuk dapat melaksanakan tugasnya. meliputi: Kemampuan berkomunikasi Kemampuan perencanaan dan penjadualan kerja Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan Kemampuan untuk menulis laporan audit Auditor lingkungan harus terlatih secara profesional untuk menjamin ketepatan. (b) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap suatu kegiatan yang dicurigai sebagai kelalaian. Auditor harus mengikuti kode etik auditor yang ada. konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit. Pemerintah dapat memberikan verifikasi atas hasil audit. Namun demikian. Kemampuan yang harus dimiliki oleh tim auditor adalah meliputi pengetahuan tentang : Proses. (b) Antisipasi kebutuhan penilaian peringkat kinerja usaha atau kegiatan lainnya. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan peraturan pelaksanaan lainnya. 297 . penghindaran kewajiban dan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan. SIFAT KERAHASIAAN Laporan hasil audit lingkungan merupakan milik usaha atau kegiatan yang diaudit dan bersifat rahasia. Dalam rangka menjamin bahwa audit lingkungan akan dilaksanakan secara baik dan profesional. masyarakat luas atau organisasi lainnya dengan tujuan sebagai berikut : (a) Publikasi terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilakukan.F . kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko bahaya Auditor juga perlu mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang dibutuhkan dalam audit. (c) Tujuan lainnya yang ditetapkan oleh usaha atau kegiatan tersebut. prosedur dan teknis audit Karakteristik dan analisis tentang sistem manajemen Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan lingkungan Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful