UNDANG-UNDANG

1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HlDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup lndonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup; bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

b.

c.

d.

e.

f.

Mengingat

: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

ME MUTU S KAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain; Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup; Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;

2.

3.

4.

2

5. 6. 7.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya; Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan; Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup; Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya; Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang; Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan; Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan; Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan; Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup; Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum; Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Pasal 2

8. 9. 10. 11.

12.

13. 14.

15.

16. 17.

18.

19. 20. 21.

22. 23.

24. 25.

Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

3

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. b. c. d. e. f. tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB lII HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara : a. b. c. d. e. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. 4

(3)

(2)

(2)

Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah : a. b. c. d. e. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetika; mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan, termasuk sumber daya genetika; mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9

(1) (2)

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikoordinasi oleh Menteri. Pasal 10

(3)

(4)

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup; menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup; menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat; memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. Pasal 11 (1) (2) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ketentuan mengenai tugas, fungsi, wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 12 (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat : a. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah; 5

pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 16 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi : menghasilkan. Pasal 17 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. menggunakan dan/atau membuang. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. menyimpan. setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. mengangkut. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) (2) (3) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup.b. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. mengedarkan. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 6 . Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 15 (1) (2) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. BAB Vl PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 13 (1) (2) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. (2) mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah.

rencana tata ruang. pendapat masyarakat. memeriksa peralatan. serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. memasuki tempat tertentu. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. 7 (2) (3) . Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. c. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) (2) (3) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan di bidang lingkungan hidup. Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Tanpa suatu keputusan izin. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. mengambil contoh. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. b. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia. Pasal 23 Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup.(2) (3) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan : a. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri. (2) Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. meminta keterangan.

penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 8 (2) (3) (4) (5) . Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. melakukan tindakan penyelamatan. Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri.Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 26 (1) (2) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. penanggulangan. didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan. pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 27 Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan. Tindakan penyelamatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan.

hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. Pasal 33 (1) (2) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1 Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan.BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HlDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. mewajibkan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Paragraf 2 Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. 9 (2) .

juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan 10 . (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan olen pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. berbentuk badan hukum atau yayasan. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB VIIl PENYIDlKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. b. masyarakat. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. adanya bencana alam atau peperangan. Pasal 38 (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. Pasal 39 (2) (3) c. pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi. Paragraf 4 Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (2) (1) (2) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Paragraf 3 Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku.(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. b. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang. c. kecuali biaya atau pengeluaran riil.

diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. pembukuan. b.00 (lima ratus juta rupiah). padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).000. d. energi. barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melakukan impor. 300. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah. 100. catatan. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000. 150. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. ekspor. melakukan pemeriksaan atas pembukuan. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.000.000.00 (seratus juta rupiah).hidup. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.000.000. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. 750. memperdagangkan. c. menyimpan bahan tersebut. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik lndonesia. 11 (2) . menjalankan instalasi yang berbahaya. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. sengaja melepaskan atau membuang zat. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti. catatan. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. mengangkut. Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). f. Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a. 500.000. Pasal 42 (2) (1) Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Pasal 43 (2) (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. (3) (4) (5) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (tiga ratus juta rupiah).00 (seratus lima puluh juta rupiah).000.000. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup. ke dalam udara atau ke dalam air permukaan. dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup.000. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. e.

c. 150. dan/atau mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. f. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. yayasan atau organisasi lain.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah). perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. perserikatan. perserikatan. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama.00 (seratus lima puluh juta rupiah). tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : a. yayasan atau organisasi lain. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain.dan/atau meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus.000. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. dan/atau perbaikan akibat tindak pidana. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. 100. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga. Pasal 44 (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.(3) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. 450.000. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. 12 (2) (3) (4) . perserikatan. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. perseroan. perserikatan. Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. e. perserikatan. (2) Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. perseroan. dan dilakukan oleh orang-orang. d. perserikatan. perseroan.000. perseroan. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. dan/atau penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. perseroan. yayasan atau organisasi lain. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000. Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan.00 (seratus juta rupiah). perseroan.000. perserikatan atau organisasi lain.000. b. yayasan atau organisasi lain. perseroan. dan/atau menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama (3) tiga tahun. yayasan atau organisasi lain. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum.

Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MOERDIONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ttd. Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi. Agar setiap orang mengetahuinya. S O E HAR TO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) (2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Nahattands LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1997 NOMOR 68 13 . Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor. Lambock V. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12.

merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. dan keseimbangan. Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. budaya. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup. penggunaan sumber daya alam harus selaras. 4. Untuk itu. dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. dan keseimbangan yang dinamis. berbangsa. Dalam pada itu. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial. Pancasila. Oleh karena itu. sebagai dasar dan falsafah negara. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. dan manusia sebagai pribadi. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. Secara hukum. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. Akan tetapi. keserasian. Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. masyarakat. dan bernegara dalam segala aspeknya. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. manusia dengan alam. Di pihak lain. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. Antara manusia. 14 . 2. Dalam hal ini lingkungan hidup lndonesia tidak lain adalah wilayah. Dengan demikian. ekonomi. Sementara itu. yang mempunyai aspek sosial. keserasian. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. Lingkungan hidup lndonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia. dan keseimbangan subsistem. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara. serasi. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UMUM 1. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. Lingkungan hidup lndonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa lndonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Oleh karena itu. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. keserasian. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. 3.

yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. dan lain-lain. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Sementara itu. tegas. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. Di sisi lain. yang diantaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. kesehatan. permukiman. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. 5. permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. tetapi juga mampu berperan secara nyata. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. termasuk sumber daya alam. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. Secara global. tata guna tanah. penataan ruang. kehutanan. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. kelompok masyarakat adat.Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin. Menyadari hal tersebut di atas. Pada kenyataannya. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. keterbukaan. pertambangan dan energi. Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Tambahan Lembaran Negara No. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. 6. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.12. Oleh karena itu. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan lainnya. kesehatan. 7. 15 . Selain itu. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri. selaras. dan peran anggota masyarakat. industrialisasi juga menimbulkan ekses. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. organisasi lingkungan hidup. industri. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. dan lain-lain. seperti lembaga swadaya masyarakat. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat.

PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup Jelas Angka 2 Cukup Jelas Angka 3 Cukup Jelas Angka 4 Cukup Jelas Angka 5 Cukup Jelas Angka 6 Cukup Jelas Angka 7 Cukup Jelas Angka 8 Cukup Jelas Angka 9 Cukup Jelas Angka 10 Cukup Jelas Angka 11 Cukup Jelas Angka 12 Cukup Jelas Angka 13 Cukup Jelas Angka 14 Cukup Jelas Angka 15 Cukup Jelas 16 . dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat. berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan. Sebagai penunjang hukum administrasi. dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. Disamping itu. hukum perdata maupun hukum pidana.Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. baik hukum administrasi. Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi. semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan. Dengan demikian. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi.

17 . Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. di satu sisi. baik dengan cara mengajukan keberatan. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan.Angka 16 Cukup Jelas Angka 17 Cukup Jelas Angka 18 Cukup Jelas Angka 19 Cukup Jelas Angka 20 Cukup Jelas Angka 21 Cukup Jelas Angka 22 Cukup Jelas Angka 23 Cukup Jelas Angka 24 Cukup Jelas Angka 25 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat. harus dilestarikan. keterangan. maka kemampuan lingkungan hidup. dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. dan rencana tata ruang. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut. Di lain sisi. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Misalnya. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup. Misalnya. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. Ayat (2) Cukup jelas 18 . Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya. Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindaklanjuti. baik secara kultural maupun secara struktural. aspirasi.Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat.

Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. bimbingan. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keanekaragaman potensi sumber daya alam hayati dan nonhayati. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat. Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional. preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan. Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir. seperti lSO 14000. maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi 19 . dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdaya guna dan berhasil guna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penaatan baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi. dunia usaha. masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber manusia.Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. yaitu pemerintah. Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah. integrasi.

Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan.alam maupun kemampuan daerah. f. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. e. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. peralatan. pengangkutan. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang. c. b. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. 20 . Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. tugas. pemanfaatan. pengumpulan. d. luas wilayah penyebaran dampak. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif. sifat kumulatif dampak. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a. situasi dan kondisi daerah. pembiayaan. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. intensitas dan lamanya dampak berlangsung.

Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah. yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. menurut peraturan perundangundangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/ atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang. baik tanah. maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri. dengar pendapat. dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini. Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. Dalam hal tertentu. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Ayat (5) Cukup jelas 21 . seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup. air maupun udara. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan. misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 13 ayat (1). Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang 22 . Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban.Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan.

b. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. 2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa. dan semua putusan arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. 4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. 3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian. Pasal 30 Ayat (1) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan. pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. Pihak ketiga netral ini harus : 1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa.ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Ayat (2) Cukup jelas 23 . para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a. Dalam pengertian ini. sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa Iingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum.

yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah. Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. memulihkan fungsi lingkungan hidup. fakta hukum. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas 24 . misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan. Selain diharuskan membayar ganti rugi. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

melainkan hanya terbatas gugatan lain. b. tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud. yaitu : a.Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 25 . baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup. c. Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup. Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas.

Pasal 44 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3699 26 .

dan Nepotisme. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. sehingga perlu diganti. peran serta masyarakat. Mengingat : 1. f. serta tantangan persaingan global. Pasal 1 ayat (1). Pengaturan. 5. sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. susunan. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Pasal 5 ayat (1). baik di dalam maupun di luar negeri. dan kedudukan pemerintahan desa. yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 18. bahwa sehubungan dengan itu. pemerataan dan keadilan. dan pemanfaatan sumber daya nasional. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 24. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. 2. bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah. yang diwujudkan dengan pengaturan. d. Menimbang : a. c. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. e. 27 . Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. bentuk. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811).UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. pembagian. dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan. Kolusi. peran serta masyarakat. serta potensi dari keanekaragaman Daerah. nyata. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti. 3. dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas. b. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Nomor 3153) yang menyeragamkan nama. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. dan keadilan. perlu ditetapkan undang-undang mengenai Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. pemerataan. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah.

Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. Kawasan pedesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah. Instansi vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. selanjutnya disebut daerah. pelayanan jasa pemerintahan. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan. dan kegiatan ekonomi. selanjutnya disebut desa. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskannya. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. termasuk pengelolaan sumber daya alam. selanjutnya DPRD. pelayanan sosial. Desa atau yang disebut dengan nama lain. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. 28 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) . Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah di tingkat pusat dan/atau pejabat pemerintah di daerah propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonomi yang lain sebagai badan eksekutif daerah. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah Otonom. selanjutnya disebut Pemerintah.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ME MUTU S KAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Pemerintah Pusat. adalah Badan Legislatif Daerah.

dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. Penghapusan. ditetapkan dengan undang-undang. dan Daerah Kota yang bersifat otonom. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. potensi daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) (2) (3) (4) (2) (3) (4) 29 . perubahan nama daerah. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. Kriteria tentang penghapusan. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah. BAB III PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sosial politik. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain. terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. BAB II PEMBAGIAN DAERAH Pasal 2 (1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. Pembentukan. dan pemekaran daerah. dan pemekaran daerah. (2) Pasal 3 Wilayah Daerah Provinsi. nama. batas. Daerah Kabupaten. penggabungan. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. jumlah penduduk. Daerah Provinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan/atau digabung dengan daerah lain. Syarat-syarat pembentukan daerah. Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). daerah kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(17) Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. penggabungan. sosial budaya. luas daerah.

dan standarisasi nasional. pendidikan dan kebudayaan. Pasal 9 (1) Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. 30 (2) . lingkungan hidup. (2) (2) (2) (3) (2) e. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. koperasi.BAB IV KEWENANGAN DAERAH Pasal 7 (1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. peradilan. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. c. dan tenaga kerja. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. pengaturan tata ruang. serta kewenangan bidang lain. pertahanan keamanan. d. Kewenangan Daerah di wilayah laut. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. eksplorasi. meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. eksploitasi. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Provinsi. kesehatan. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. industri dan perdagangan. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. perhubungan. Kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penanaman modal. konservasi. dana perimbangan keuangan. konservasi. pengaturan kepentingan administrasi. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pertanahan. sarana dan prasarana. Kewenangan provinsi sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. moneter dan fiskal. pertanian. b. Pasal 8 (1) Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. agama. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. Pasal 11 (4) (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. meliputi : a. Kewenangan bidang lain.

atau Walikota/Wakil Walikota. susunan. dan Walikota/Wakil Walikota. Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. wewenang. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. Pelaksanaan ketentuan. b. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. c. Bagian Kedua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 15 Kedudukan. DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. BAB V BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. dan panitia-panitia.Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 17 (1) (2) (3) (4) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bupati/Wakil Bupati. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. Setiap penugasan. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan undang-undang. keanggotaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). 31 (2) (2) (2) . tugas. DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. hak. komisi-komisi. sarana dan prasarana. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur. pimpinan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Wakil Bupati.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati. 3. 5. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. 4. b. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. e. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. Bupati. Bupati. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pelaksanaan hak. bersama dengan Gubernur. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 32 (2) (3) (2) . kebijakan Pemerintah Daerah. bersama dengan Gubernur. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. c. pejabat pemerintah. Pelaksanaan hak. pemerintahan. e. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. mengajukan pernyataan pendapat. dan Walikota. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. menentukan Anggaran Belanja DPRD. melaksanakan pengawasan terhadap: 1. dan Walikota. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. h. (2) Pelaksanaan hak. 2. d. protokoler. pengajuan pertanyaan. sebagaimana dimaksud ayat (1). dan menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. Bupati. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. f. pejabat pemerintah.d. keuangan/administrasi. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. Pejabat negara. dan pembangunan. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. dan h. b. sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2). Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. g. meminta pertanggungjawaban Gubernur. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. g. pelaksanaan keputusan Gubernur. f. dan c. mengadakan penyelidikan. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. bangsa. dan pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. c. e. h. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. utang piutang. g. dan kebijakan tata ruang. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. ayat (2). dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. pinjaman. f. Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. j. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pelaksanaan ketentuan. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan diantara pimpinan DPRD. dan pembebanan kepada Daerah. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. kecuali mengenai : a. b. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. d. serta menaati segala peraturan perundangundangan. Badan Usaha Milik Daerah. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. Pasal 23 (1) (2) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. i.Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : (1) (2) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) (4) (3) (4) 33 . pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan ayat (3). persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai.

sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. yang karena jabatannya adalah juga sebagai Wakil Pemerintah. Bagian Ketiga Sekretariat DPRD Pasal 29 (1) (2) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. ditetapkan oleh Pemerintah. Dalam kedudukan sebagai Wakil Pemerintah. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. ditetapkan dengan Peraturan Tata tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. sebagaimana dimaksud pada ayat (4). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). baik terbuka maupun tertutup. Kepala Daerah Kota disebut Walikota. 34 (3) (4) (5) . Anggaran Belanja Sekretaris DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 32 (1) (2) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati.Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya. (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Kepala Daerah Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai Kepala Eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Pasal 31 (1) (2) Kepala Daerah Provinsi disebut Gubernur. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan.

Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. sehat jasmani dan rohani. Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. e. 35 . sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (3). menyerahkan daftar kekayaan pribadi. c. Pasal 33 (4) (1) Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. Pasal 34 d. tetapi bukan anggota. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. k. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. bertugas: a. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. f. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. dan bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah.(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah. c. i. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. g. Pasal 35 (2) (3) (4) (5) (1) Panitia pemilihan. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. dibentuk Panitia Pemilihan. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. l. b. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri. (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. b. j. h. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33.

Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Apabila ketentuan. Pasal 40 (1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung. Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum dicapai. ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan. Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. bebas. 36 (2) (3) (2) (3) (4) (2) (2) (3) (2) (3) . Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. jujur dan adil. Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. misi.Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4). Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. rahasia.

bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. menghormati kedaulatan rakyat. 37 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (2) (3) . atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. sejujur-jujurnya. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Sebelum memangku jabatannya. Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji.Pasal 41 Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. (4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah ditetapkan oleh Pemerintah. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/ Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya. Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Pasal 45 (1) (2) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. dan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Pasal 42 (1) (2) (3) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk bertindak atas nama Presiden. dan seadil-adilnya. Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. Bagian Kelima Kewajiban Kepala Daerah Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : (1) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.

b. . dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. meninggal dunia. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. g. golongan tertentu. Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. 38 b. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. (2) (3) (4) Bagian Keenam Larangan bagi Kepala Daerah Pasal 48 (1) Kepala Daerah dilarang : a. Tata cara. turut serta dalam suatu perusahaan. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. e. kroninya. d. ditetapkan oleh Pemerintah. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. barang. Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. c. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. atau dalam yayasan bidang apa pun juga.Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. Bagian Ketujuh Pemberhentian Kepala Daerah Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena: a. e. f. menerima uang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. dan menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. baik secara langsung maupun tidak langsung. anggota keluarganya. d. c. harus dilengkapi dan atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari.

tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. (2) (2) (3) (2) (3) (2) b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. Bagian Kedelapan Tindakan Penyidikan Terhadap Kepala Daerah Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. Dengan adanya pemberitahuan. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. Keputusan DPRD. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. dan dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. enam bulan sebelumnya. Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a.Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. tanpa persetujuan DPRD. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya dalam 2 kali 24 jam. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. 39 . (3) Setelah tindakan penyidikan.

jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi.Bagian Kesembilan Wakil Kepala Daerah Pasal 56 (1) (2) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur. b. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas: a. sejujur-jujurnya. dan seadil-adilnya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. Pasal 41. (2) (3) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. (3) (4) (6) (2) (3) (4) Bagian Kesepuluh Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 59 Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. 40 . Sebelum memangku jabatannya. (5) Ketentuan-ketentuan. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan. Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Pasal 43 kecuali huruf g. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. dan c. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu.

(3) (4) (5) (6) (7) (3) Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. formasi. Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah dari Bupati/Walikota. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. Pembentukan. susunan organisasi. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. Pasal 61 (1) (2) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretariat Daerah.Bagian Kesebelas Perangkat Daerah Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. Sekretariat daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dan Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. 41 (2) (2) (3) (4) (5) (6) . Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. dan tata laksananya. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintah yang menjadi wewenang Pemerintah. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. dilaksanakan oleh Dinas Provinsi. Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 62 (1) (2) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. Kepala Kecamatan disebut Camat. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan daerah Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. dilakukan oleh instansi vertikal. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. sesuai dengan kebutuhan Daerah.

Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. kacuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. (2) BAB VI PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN KEPALA DAERAH Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Keputusan. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah.000. peraturan daerah. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah.000. 42 (2) (2) (2) . Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. 5. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Kelurahan disebut Lurah. Peraturan Daerah lain. Lurah bertanggung jawab kepada Camat. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah.Pasal 67 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan.

Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. hasil retribusi Daerah. dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. c. Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 79 (1) Sumber Pendapatan daerah terdiri atas : pendapatan asli daerah. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. hasil perusahaan milik Daerah. dan penerimaan dari sumber daya alam. penetapan pensiun. terdiri atas : a.Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. d. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. hasil pajak Daerah. hak dan kewajiban. dana perimbangan. dan prosedur mengenai pengangkatan. pemindahan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. pinjaman Daerah. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. standar. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian karier pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. gaji. pemberhentian. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. tunjangan. serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. BAB VIII KEUANGAN DAERAH Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintahan Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah. penetapan pensiun. tunjangan. (2) (2) 43 . BAB VII KEPEGAWAIAN DAERAH Pasal 75 Norma. b. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. dan kesejahteraan pegawai. gaji. pemindahan. kesejahteraan. pemberhentian. yaitu : a.

Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. Pasal 85 (1) Barang Milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. dan dana alokasi khusus.b. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan oleh Pemerintah. Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang : a. dan ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 83 (1) (2) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. Pasal 82 (2) (3) (4) (1) (2) Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang. dan/atau dipindahtangankan. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukkannya diatur dengan Peraturan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. perkotaan. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. b. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. dibebani hak tanggungan. dan c. dan perkebunan serta Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. ditetapkan dengan undang-undang. Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. penghapusan daerah sebagian atau seluruhnya. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. Ketentuan. (2) dana alokasi umum. Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Tata cara peminjaman. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Ketentuan lebih lanjut. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. (2) (2) 44 . Pasal 81 (3) (4) (1) Pemerintahan Daerah dapat melakukan peminjaman dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. ayat (2). tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. c. diterima langsung oleh Daerah penghasil.

Tata cara. pertanggungjawaban. yang diatur dengan keputusan bersama. ditetapkan oleh Pemerintah. ekonomi. kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan. (c) 45 . Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. terdapat salah satu pihak yang tidak dapat menerima keputusan Pemerintah. dan Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial. Pasal 88 (1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan di luar negeri. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. Pasal 89 (2) (1) (2) Perselisihan antar Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara musyawarah. Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama antar Daerah. Pedoman tentang penyusunan. BAB X KAWASAN PERKOTAAN Pasal 90 Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota. ayat (2). yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. perlu ditetapkan Kawasan Perkotaan yang terdiri atas : (a) (b) Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten. perubahan. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). Pedoman tentang pengurusan. Keputusan bersama dan/atau badan kerjasama. dan fisik perkotaan. pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian kepada Mahkamah Agung. dan ayat (3). Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. BAB IX KERJASAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 87 (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerjasama antar Daerah yang diatur dengan keputusan bersama.

Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. dan/atau penggabungan Desa. Pasal 92 (1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan. penghapusan. dihapus. Pengikutsertaan masyarakat. dapat dibentuk Badan Pengelolaan Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. (2) (3) (2) (3) BAB XI DESA Bagian Pertama Pembentukan. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten. Penghapusan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau Penggabungan Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. dan hal-hal lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.Pasal 91 (1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola Kawasan Perkotaan. Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. 46 . sebagaimana dimaksud pada ayat (2). bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembentukan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. yang merupakan Pemerintah Desa. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) Bagian Kedua Pemerintah Desa Pasal 95 (1) (2) (3) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya.b. b. l. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengalaman yang sederajat. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. Pasal 98 d. h. m. dan/atau Pemerintah Kabupaten. sehat jasmani dan rohani. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. c. Sebelum memangku jabatannya. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. k. f. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. e. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). jujur. g. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. c. i. dan adil.” Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. (1) (2) (3) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. serta sumber daya manusia. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. berkelakuan baik. Pemerintah Propinsi. G-30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. sejujur-jujurnya. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. j. sarana dan prasarana. dan seadil-adilnya. Daerah. 47 . Pemerintah Provinsi. dan tugas Pembantuan dari Pemerintah. kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. dan memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur dalam Peraturan Daerah.

menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. Bagian Ketiga Badan Perwakilan Desa Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. membina kehidupan masyarakat Desa. Pasal 103 (1) Kepala desa berhenti karena : a. Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. sebagaimana dimaksud dalam pasal 101. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. e. c. b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. (2) Pemberhentian Kepala Desa.Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. f. meninggal dunia. e. Kepala Desa : a. dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. membuat Peraturan Desa. d. 48 . memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. membina perekonomian Desa. c. d. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintah Desa Pasal 105 (1) (2) (3) (4) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. b. Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. b. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa.

(3) Kepala Desa bersama-sama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. 3) hasil swadaya dan partisipasi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Bagian Keempat Lembaga Lain Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. Bagian Keenam Kerja Sama Antar Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan Keputusan Bersama dan diberitahukan kepada Camat. c. 4) hasil gotong-royong. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. dan 5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. Bagian Kelima Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1) hasil usaha Desa. (5) Tata cara dan pungutan objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. (2) Sumber pendapatan Desa. 49 (2) . d. dan pinjaman Desa. (4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. 2) hasil kekayaan Desa. Untuk pelaksanaan kerja sama. dan 2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. b. sumbangan dari pihak ketiga. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e.

Menteri Lain sesuai dengan kebutuhan. dan adat istiadat Desa. dan Kemampuan daerah kabupaten dan daerah kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. 50 (3) . Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. industri. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan wakil-wakil daerah yang dipilih oleh DPRD. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. penghapusan. pembentukan. pelaksanaan. asal usul. Menteri Sekretaris Negara. b. (2) (2) (3) (4) (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri dari Menteri Dalam Negeri. c. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Perimbangan keuangan pusat dan daerah. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. wajib mengakui dan menghormati hak. dan pengawasannya. sebagaimana dimaksud dalam pasal 11. Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB XIII DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: a. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. Menteri Keuangan. Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala daerah. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. Peraturan Daerah. BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 112 (1) (2) Dalam rangka pembinaan. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). perwakilan asosiasi pemerintah daerah.Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. penggabungan dan pemekaran daerah.

kawasan kehutanan. dan Pasal 11 undang-undang ini. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. tugas. Kabupaten. 51 (2) (2) (2) . penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 10. kedudukan. wewenang. Kabupaten Daerah Tingkat II. kawasan pelabuhan. karena kedudukannya diatur tersendiri dengan undang-undang. kawasan bandar udara. kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan. hak. Pasal 119 (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan jalan bebas hambatan. kawasan industri.(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam 6 (enam) bulan. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 117 Ibukota Negara Republik Indonesia. dan kawasan lain yang sejenis. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. kawasan perkebunan. berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom. baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya. Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus. Pasal 123 Kewenangan Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada undang-undang ini. Pasal 118 (1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pengaturan lebih lanjut. formasi. berubah masing-masing menjadi Propinsi. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. yang meliputi badan otorita. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 121 Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. dan Kota. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. kawasan perumahan. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Susunan organisasi. Jakarta. kawasan pariwisata. Pasal 122 Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasal 116 (5) (6) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretaris yang membawahkan bidang otonomi daerah dan bidang perimbangan keuangan pusat dan daerah. kawasan pertambangan.

petunjuk. sudah harus berubah statusnya menjadi Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5 Undang-undang ini. Kelurahan. batas. Lembaga Pembantu Gubernur. sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan. peradilan. Kabupaten Daerah Tingkat II. Pembantu Walikotamadya. Kabupaten Mimika. Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. dan Kepala Desa beserta perangkatnya yang ada. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 130 (1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada masa jabatan Kepala Daerah. Kabupaten Puncak Jaya. dihapus. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah. pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap menjalankan tugasnya. Pasal 125 (1) Kotamadya Batam. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n Undang-undang ini. Kabupaten Simeuleu. Wakil Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Camat. Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah. Bupati. Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya. Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada masa jabatan Kepala Daerah. Kabupaten. Kabupaten. Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar negeri. dan ibukota Propinsi Daerah Tingkat I. Walikotamadya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Kabupaten Paniai. Pembantu Bupati. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang ini. atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan Undangundang ini dinyatakan tetap berlaku. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. masa jabatan Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah. dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini ditetapkan sebagai Kelurahan. keamanan. dapat dihapuskan jika tidak memenuhi ketentuan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom. Pasal 128 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. seluruh instruksi. Kotamadya Administratif. dan Kota Administratif. dan semua Kota Administratif dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal 5 Undang-undang ini. dan Kota Administratif. Walikota. Lurah. Pasal 127 Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. dan huruf o Undang-undang ini. menjadi perangkat Daerah. Pasal 126 (1) Kecamatan. Kotamadya Daerah Tingkat II. Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. moneter dan fiskal. Daerah Istimewa. Bupati Kepala Daerah Tingkat II.BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 Pada saat berlakunya undang-undang ini. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II. 52 (2) (3) (2) (2) (3) (2) . pertahanan. Pasal 129 (1) Dengan diberlakukannya Undang-undang ini. nama. Kotamadya. Kelurahan. huruf n. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. serta agama. Kotamadya. adalah tetap. Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang ini. dan Badan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. dan Desa atau yang disebut dengan nama lain. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan. sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 huruf m.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3153) Pasal 132 (1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak Undang-undang ini ditetapkan.BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 (1) (2) Pada saat berlakunya Undang-undang ini. ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. diadakan penyesuaian. dinyatakan tidak berlaku lagi : Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. Pasal 133 Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan Undang-undang ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56. (3) (2) Disahkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. Pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan secara efektif selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya Undang-undang ini. Pasal 134 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. AKBAR TANDJUNG 53 .

Undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Karena itu. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. nyata. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. meningkatkan peran serta masyarakat. penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di samping itu. b. dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. antara lain. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. di daerah pun. Undang-undang ini disebut “Undang-undang Pemerintah Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Sesuai dengan Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. f. pembagian. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas. penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi. dan keadilan. dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Pengaturan. pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAH DAERAH UMUM 1. dan bertanggung jawab kepada Daerah. dikemukakan bahwa “Oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. . antara lain. dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang. semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-undang. pemerataan. Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hirarki. d. Oleh karena itu. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka. Dalam penjelasan pasal tersebut. Pemberian kedudukan propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan : 1. nyata. Oleh karena itu. 54 c. g. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat. Dasar Pemikiran a. peran serta masyarakat.” Di daerah-daerah yang bersifat otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi. menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. e. Dengan demikian. Dengan demikian. yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. Pembagian. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan.

kawasan perumahan. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. dan evaluasi. Atas dasar pemikiran di atas. 4. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. peradilan. dan berkembang di daerah. kawasan kehutanan. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 3. nyata dan bertanggung jawab. keadilan. Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan lintas Kabupaten dan Kota. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-Daerah. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. hidup. Disamping itu. Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. serta potensi dan keanekaragaman daerah. 6. untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. baik sebagai fungsi legislasi. pertahanan keamanan. 5. 2. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatnya kemandirian Daerah Otonomi.undang ini adalah sebagai berikut : 1.2. pelaksanaan. prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang . Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. 3. nyata dan bertanggung jawab. kawasan pertambangan. sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. moneter dan fiskal. pengendalian. dan semacamnya berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonomi. i. Pembagian Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. maka dalam Undang-undang ini pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah. serta kewenangan di bidang pemerintah tertentu lainnya. kawasan industri. agama. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. 7. keadilan dan pemerataan. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. kawasan pariwisata. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. pengembangan kehidupan demokrasi. serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. kawasan perkebunan. pengawasan. dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. 55 . kawasan pelabuhan. kawasan perkotaan baru. h. pemerataan. keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan. 8. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. b. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. dan untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. 2.

DPRD dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. d. dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa. Mutasi antar Daerah Propinsi dan/atau antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut. Sementara itu. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Dengan demikian. 4. dan bertanggung jawab. 5. jujur. dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi. Pembagian Daerah di luar daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom. hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan. golongan. nyata. Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan. adalah : a. b. Mutasi antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah Propinsi diatur oleh Gubernur. Oleh karena itu. Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus. dan c. dan berkemampuan sebagai pimpinan pemerintahan. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. bertindak. dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 7. bijaksana. berpengetahuan. Kepala Daerah Untuk menjadi Kepala Daerah. 8. penempatan. dekonsentrasi. berwawasan kebangsaan. dari kelompok atau etnis. Kepegawaian Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya. sedangkan mutasi antar Daerah Propinsi diatur oleh Pemerintah. digunakannya asas desentralisasi. diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri. pemindahan. Pertanggungjawaban Kepala Daerah Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah. negara. yang didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem Pemerintahan Daerah. dan netral. 56 . 6. adil. sekaligus adalah Pimpinan Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir. Daerah Kota. (2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan Pemerintahan menjadi kewenangan Daerah. 3. dan Desa. sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah. dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Keuangan Daerah (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas. dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi. baik pengangkatan. menurut undang-undang ini kedudukannya diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota. memiliki etika dan moral. Kepala Daerah disamping sebagai pimpinan pemerintahan. dan tugas pembantuan. serta mendapatkan kepercayaan rakyat. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah Administrasi dalam rangka dekonsentrasi. Oleh karena itu. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Provinsi. dan aliran. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah.c. Daerah Kabupaten.

Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas 57 . (5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih dahulu oleh pejabat yang berwenang. sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah. Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. otonomi asli. (7) Berdasarkan hak asal usul Desa yang bersangkutan. Pemerintahan Desa (1) Desa berdasarkan undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. Kepala Desa mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya. dan Keputusan Kepala Desa. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-Undang Dasar 1945. Pembinaan dan Pengawasan Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam upaya pemberdayaan Daerah Otonom. sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Untuk itu. (3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum.9. memiliki kekayaan. yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. (2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan. harta benda. (4) Sebagai perwujudan demokrasi. Karena itu. demokratisasi. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan. baik hukum publik maupun hukum perdata. partisipasi. pendapatan lain-lain yang sah. (6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa. 10. dan pemberdayaan masyarakat. bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. (8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang berada di dalam Daerah Kabupaten dan/ atau Daerah Kota.

58 . Gubernur selaku Wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pengelolaan pelabuhan regional. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam. pengendalian lingkungan hidup. promosi dagang dan budaya / pariwisata. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Untuk menentukan batas dimaksud. dan kebijakan Pemerintah. demikian pula mengenai perubahan batas Daerah. setiap undang-undang mengenai pembentukan Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis Daerah yang bersangkutan. dan perkebunan. kerja sama. penanganan penyakit menular dan hama tanaman. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi. dan perencanaan tata ruang propinsi. Ayat (3) Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD. pelaksanaan. Sementara itu. alokasi sumber daya manusia potensial. dalam kedudukan sebagai Wilayah Administrasi. Daerah/Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 8 Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada Daerah/ Gubernur. pelatihan bidang tertentu. Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama. dan evaluasi sesuai dengan standar. dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah : perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro. dan penelitian yang mencakup wilayah provinsi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. perhubungan. norma. kehutanan. Pasal 9 Ayat (1) Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti kewenangan di bidang pekerjaan umum.Ayat (2) Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain adalah bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. perencanaan. dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah. sumber daya buatan. perizinan. tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi.

Ayat (2) Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah. Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing. pemadam kebakaran. Oleh karena itu. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD Provinsi. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 59 . Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. pertamanan. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan tata kota. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi. antara lain. kebersihan.Ayat (2) Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas 60 .Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di lingkungan kerja DPRD bersangkutan.

Ayat (2) Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota diberitahukan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah.Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dipilih secara berpasangan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk pemilihan Kepala Daerah. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung DPRD atau di gedung lain. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. yakni : 61 . karena kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah.

Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 43 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Huruf a dan huruf e Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga masyarakat. usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia.diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. kolusi dan nepotisme. pengembangan teknologi. Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas 62 . Huruf b. antara lain yang berwujud korupsi. huruf c. produksi. pemasaran. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik. dan huruf d Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Kepala Daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha.

Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Budha. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. tembusannya dikirimkan kepada Gubernur. tembusannya dikirimkan kepada Presiden. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. sedangkan berakhirnya masa jabatan Bupati/Walikota.Pasal 53 Ayat (1) Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas 63 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di gedung DPRD atau gedung lain. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu.

Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak ditandatangani serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. Ayat (4) Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah. Paksaan penegakan hukum itu hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang sesuai dengan berat pelanggaran. yang merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemahalan hidup. melakukan. diadakan. Apabila pelanggar tidak mengindahkannya. dan lain-lain. dijalankan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Ayat (1) Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur dilakukan menurut cara yang sah. Pasal 71 Ayat (1) Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan pemeliharaan hukum”. Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati dalam proses pengangkatan Lurah. mencegah. Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau meniadakan.Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan. Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif kepada pelanggar. Lembaga Pengawasan. atau ditiadakan yang bertentangan dengan hukum. atau memperbaiki segala sesuatu yang telah dibuat. karena paksaan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan. Badan Perencanaan. Badan Pendidikan dan Pelatihan. Pasal 70 Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan sama kecuali untuk perubahan. diambil suatu tindakan paksaan. dialpakan. 64 .

Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 65 . peraturan dan keputusan tersebut perlu dimasyarakatkan. pemindahan pegawai antar Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota. Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah. Pasal 80 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang pertambangan umum.Pengundangan dimaksud kecuali untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan. dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. dan perikanan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya. Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Huruf a Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Cukup jelas Angka (3) Cukup jelas Angka (4) Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan aset Daerah dan jasa giro. dan pemindahan pegawai antar Daerah Propinsi atau antara Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah. kehutanan. pertambangan minyak dan gas bumi.

66 .Ayat (2) Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah. menghibahkan. yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 81 Ayat (1) Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah. lembaga komersial. menggadaikan. dan/atau penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum peminjaman tersebut dilaksanakan. Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala Daerah. dan/atau memindahtangankan. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 82 Ayat (1) Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan termaksud. Pasal 83 Ayat (1) Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa kemudahan pembangunan prasarana. penyebaran lokasi industri strategis. penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional. Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses lebih lanjut. Ayat (2) Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. tukar guling. dan lain-lain. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual.

Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat Desa. potensi Desa. Pasal 95 Ayat (1) Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat. masyarakat. sosial budaya. dan lain-lain. Ayat (2) Dalam pembentukan. penghapusan. bori. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari.Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. dan pemilikan. jumlah penduduk. huta. pelaksanaan. dan/atau penggabungan Desa perlu dipertimbangkan luas wilayah. Pasal 94 Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa setempat. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah. dan pihak swasta. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 67 . kampung. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam perencanaan. dan marga. Yang dimaksud dengan asal usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya.

dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. sarana dan prasarana. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Kepala Desa dapat dibantu oleh lembaga adat Desa. Pasal 101 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. Huruf f Cukup jelas Pasal 102 Huruf a Cukup jelas Huruf b Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat Pasal 103 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 68 . diakhiri dengan ucapan “semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. serta sumber daya manusia. Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah.Pasal 96 Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai dengan pembiayaan. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihakpihak yang berselisih.

dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa. dan perubahan serta perhitungan anggaran. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambatlambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat. Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 104 Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. pelaksanaan tata usaha keuangan. dan kewenangan melakukan pinjaman. Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Ayat (1) Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat persetujuan Badan Perwakilan Desa. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru. Ayat (2) Cukup jelas 69 . Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa. baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten. Ayat (2) Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan setiap tahun meliputi penyusunan anggaran. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 106 Cukup jelas Pasal 107 Ayat (1) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. dan Keputusan Kepala Desa. Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban ekonomi tinggi dan dampak lainnya. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati.Huruf d Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa. kerja sama dengan pihak ketiga. antara lain.

dan 2 orang Wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun. digabung. bimbingan. pelatihan. penghapusan. penggabungan. arahan. dan pertimbangan lain. Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian. penghapusan. Ayat (3) Cukup jelas 70 . sosial politik. penggabungan. antar-Pemerintah Kabupaten. sosial budaya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 113 Cukup jelas Pasal 114 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir dilakukan selambatlambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan dari Pemerintah. Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan asal usul adalah asal usul terbentuknya Desa yang bersangkutan. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. terutama di bidang keuangan dan pemerintahan. 2 orang Wakil Daerah Kabupaten. luas daerah. Pasal 112 Ayat (1) Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom melalui pemberian pedoman. dan/atau pemekaran Daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut : Daerah yang akan dibentuk. dan supervisi. Pasal 115 Ayat (1) Mekanisme pembentukan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. jumlah penduduk. dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Pemerintah. yang terdiri atas 2 orang Wakil Daerah Propinsi.Pasal 110 Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak pembangunan tersebut. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. serta bersikap independen sebanyak 6 orang. dihapus. potensi daerah.

Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas 71 . sedangkan isi keistimewaannya berupa pelaksanaan kehidupan beragama. Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal usul dan peranannya dalam sejarah perjuangan nasional. adat. sedangkan isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini. Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Ayat (1) Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa. dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan kebijakan Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan nasional.

Pasal 133 Cukup jelas Pasal 134 Cukup jelas ______________________________________ 72 .Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun. Ayat (2) Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah selesai dalam waktu dua tahun.

dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. bahwa keanekaragaman hayati di dunia. bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. diakui pula adanya peranan penting wanita. yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. 73 . Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. d. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia. dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. jenis dan genetik yang mencakup hewan. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI). perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan. khususnya di Indonesia. b. Menimbang: a. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. tumbuhan.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. g. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi. Pasal 11. Brazil. f. dan jasad renik (microorganism). e. bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya. c.

MOERDIONO 74 . memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya. Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd.

g. pemantauan. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. terutama bagi pengembangan pertanian. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. d. penegakan hukum. menegaskan sebagai berikut : a. A. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. industri. perdamaian abadi. Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Inventarisasi. dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang. c. seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. f. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. e. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. dan kesehatan terus ditingkatkan. mengendalikan pencemaran. di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. jo Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia Tanggal 17 Pebruari 1969. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). perlu terus ditingkatkan. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia ( Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. Sumber daya alam di darat. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. pemberian rangsangan. Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. b. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. 75 .PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I. merehabilitasi kerusakan lingkungan. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994 ). mencerdaskan kehidupan bangsa. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. b. antara lain. dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. dan ekosistem. jenis spesies. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional.

Spanyol. 76 . l. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. k. First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Dengan demikian. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). Brazil. Kenya. Governing Council. Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991. pada tanggal 5 Juni 1992. e. Selain negara-negara ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). h. ikut hadir pula Masyarakat Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. 15/34 tanggal 25 Mei 1989.Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. c. j. pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. d. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). Sidang terakhir diadakan di Nairobi. Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut: a. B. dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. f. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. 14/17 tanggal 17 Juni 1987. diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. Konferensi di Rio de Janeiro. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Kenya. e. Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. i. Fifth Session of INC-CBD di Geneva. Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). Kenya. g. Kenya. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). c. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. d. Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). Swiss. Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INCCBD) di Madrid. b. Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. g. Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. Brazil. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. Kenya. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. Brazil. Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. dengan keputusan No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. f. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi.

Pengaturan Pendanaan Interim. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. 15. 29. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. 77 . Konferensi Para Pihak. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. 19. 23. d. 41. 20. Konservasi In-situ. Prinsip. b. Penandatanganan. 30. 9. Mekanisme Pendanaan. Pengesahan Protokol. 26. 25. c. Kerja sama Internasional. 37. Penarikan Diri. 32. Pertukaran Informasi. Penelitian dan Pelatihan. 21. Sekretariat. 6. 28. Amandemen Konvensi atau Protokol. 10. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2. 35. usul perubahan. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. 14. 34. 24. Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. 4. Keberatan-keberatan (Reservasi). Teknis dan Teknologis. 18. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. Pengaturan Sekretariat Interim. 27. dan penyempurnaan. Lampiran II : Bagian 1. Lingkup Kedaulatan. 36. yang di antaranya berisi saran. 13. 3. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. Hak Suara. C. Sumber Dana. Ratifikasi. yaitu : 1. Akses pada Sumber Daya Genetik. 38. 33. Teks Asli b. 5. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. Depositari. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. Identifikasi dan Pemantauan. 16. 8. Laporan. Interim Financial Agreement. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. 31. Aksesi. Tindakan Insentif. 22. Hal Berlakunya. 12. Lampiran : Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring) . 11. 39. 2. Konservasi Ex-situ. keberatan. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. Selain itu. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Pengertian. 40. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan.Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Penyelesaian Sengketa. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. Penerimaan atau Persetujuan. 7. Konsiliasi (Conciliation). 17. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. Tujuan. Keempat resolusi tersebut ialah : a. Pengesahan dan Lampiran Amandemen. 42.

b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari.D. Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG . Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia. dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. 6. pelatihan. 78 . 3. c) Pertukaran Informasi. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. 5. dan peningkatan peran serta masyarakat. program. atau mempunyai nilai sosial. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. 7. Jenis dan komunitas yang terancam. Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antar sektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. 2. ilmiah atau budaya yang penting. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. budaya atau ilmiah. penyuluhan. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. d) Pengembangan pendidikan. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. 8. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan. Dengan meratifikasi Konvensi ini. kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. dan 3. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi. pertanian atau nilai ekonomis yang lain. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. di dalam dan di luar negeri.UNDANG NO. mempunyai nilai penting secara ekonomi. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. 4. Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. II. atau yang mewakili. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. seperti halnya jenis indikator. ilmiah dan ekonomi penting. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. 2. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional.

Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini. atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. 2. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. Pasal 3 1. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. dan hukum internasional. 3. karena keadaan khusus kasus tersebut. penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. Pasal 2 1. Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. 79 . sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan.UNDANG NO. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. dengan permintaan salah satu pihak. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut. informasi dan fasilitas yang berkaitan. Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut. dan (b) Membantu sidang. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. akan : (a) Memberi sidang segala dokumen. atas permintaan salah satu pihak. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua.LAMPIRAN II UNDANG . merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. Dalam persengketaan antara dua pihak. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. 2. Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka. semua protokol yang berkaitan. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat. dengan persetujuan bersama. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. bilamana perlu. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa.

baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. Pasal 12 Keputusan. Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. Sebelum membuat keputusan akhirnya. pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya. Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. Bagian 2 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah.Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya. Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. kecuali bilamana pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat. Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak. Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. 80 .

Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya. 81 . menetapkan prosedurnya sendiri. Dewan tersebut harus. Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut.

5. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial. Pasal 20 ayat (1). Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. baik masa kini maupun masa depan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). e. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368). Pasal 5 ayat (1). bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional. serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. g bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. Menimbang: a. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari. 2. b. 3. selaras. bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. 82 . Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang. c.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri. f. 4. Mengingat: 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). d. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya.

Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. 8. yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. pendidikan. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 7. ilmu pengetahuan. dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar. 13. 12. 6. 16. 83 . dan/atau di udara.3. Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara. 14. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. 4. budaya. pariwisata. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. c. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. 9. pariwisata. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. satwa. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. 5. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. baik yang hidup di darat maupun di air. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. 11. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. ilmu pengetahuan. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat. b. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli. jenis asli dan atau bukan asli. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. c. Pemerintah menetapkan : a. dan/atau di air. menunjang budidaya. baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. 15. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. dan rekreasi. 10. dan rekreasi. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati. pendidikan. ekosistem unik. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. menunjang budidaya. b. dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. perlindungan sistem penyangga kehidupan.

Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17.Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. dilaksanakan melalui kegiatan : a. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. (2) Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. 84 . (2) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan. suaka margasatwa. cagar alam. pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. pendidikan. Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. (2) Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a. ilmu pengetahuan. dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. wisata terbatas. Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pendidikan. Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja sama konservasi internasional. b. b. (3) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan. Pasal 13 (1) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. (3) Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). Pasal 10 W ilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan. ilmu pengetahuan. Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

85 . melukai. memperniagakan. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. memperniagakan. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. menyimpan. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. mengangkut. Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. ilmu pengetahuan. b. menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam. b. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. mengangkut. dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa. Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. (2) Setiap orang dilarang untuk : a.Pasal 19 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. mengambil. (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. memusnahkan. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). membunuh. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. (3) Pengecualian dari larangan menangkap. e. mengangkut. tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. merusak. ayat (2). dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. menebang. Pasal 24 (1) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. mengambil. merusak. tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. memiliki. Pasal 23 (1) Apabila diperlukan. memiliki. melukai. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. menangkap. b. d. menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. memelihara. menyimpan. menyimpan atau memiliki kulit. b. tumbuhan dan satwa yang dilindungi. memelihara. Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian. memusnahkan. dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. memelihara. memiliki. c. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

(2) Di dalam zona pemanfaatan taman nasional. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi.dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. dan taman wisata alam. taman hutan raya. taman nasional. BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. 86 . c. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional. dan wisata alam. (3) Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi. taman hutan raya. b. dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. menunjang budidaya. (3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. ayat (2). pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam. dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. taman hutan raya. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). taman hutan raya. Pasal 34 (1) Pengelolaan taman nasional. ilmu pengetahuan. taman hutan raya. dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian. Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional. b. Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masingmasing kawasan. dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. pendidikan. taman wisata alam. Pasal 33 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. taman hutan raya. pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. dan zona lain sesuai dengan keperluan. dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. daya dukung. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional.BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. zona pemanfaatan. Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti. (2) Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. taman hutan raya. budaya. menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan.

peragaan. perburuan. b. Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. pengkajian. d. juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. penangkaran. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. penelitian dan pengembangan. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. perdagangan. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pemeliharaan untuk kesenangan. 87 . diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. (2) Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. d. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. c. tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. pertukaran. c. membuat dan menandatangani berita acara. e. e.BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. budidaya tanaman obat-obatan. f. h. g. b. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. berwenang untuk: a. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. (2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). g. f. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

000. (2) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.000. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133). (3) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1.00 (seratus juta rupiah). Agar setiap orang mengetahuinya. tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini.000.00 (dua ratus juta rupiah).BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200. Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati.000. Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.000. 3. 100. 4. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini. (5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran. Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167). dinyatakan tidak berlaku lagi. (4) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000. Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134).00 (seratus juta rupiah).00 (lima puluh juta rupiah). Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733). 2.000.000. Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 88 .

pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya. dilestarikan. yang kehadirannya tidak dapat diganti. pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan. baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA I. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan. ilmu pengetahuan. baik di darat. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. keselarasan dan keseimbangan. Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan). antara manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. yaitu : 1. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 2. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani. dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundangundangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia. Oleh karena itu. dipelihara. baik secara masing-masing maupun bersamasama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup. dan Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988. Peran serta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian. dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah). ilmu pengetahuan. belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi. sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah. Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas. yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan pemanfaatan secara lestari. Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi. belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi. Untuk itu. Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. pengawetan 89 . Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. tegas. polusi. dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari). baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya. taman hutan raya. alam nabati ataupun berupa fenomena alam. dan taman wisata alam. Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan. perkembangan kependudukan. 3.

pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undang-undang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. Namun.keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin. Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. Namun. 90 . II. Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia. Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. tetapi termasuk di dalam pengertian satwa. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Cukup jelas Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar.

danau.Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati. bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan jurang. areal tepi sungai. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. udara. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi. danau. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan. dan tanah. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. tebing. tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. 91 . Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. air. laut wilayah Indonesia. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari. daerah aliran sungai. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. dan areal berpolusi berat. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam. bagian tertentu dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. waduk. tumbuhan. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak. perlu diadakan penelitian dan inventarisasi. Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai. yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. rawa. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air. pemeliharaan fungsi hidrologi hutan. daerah pasang surut. Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan. c. b. perlindungan pantai. dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. jurang. baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif. baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas tanah. Pasal 6 Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung. tepian sungai. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. pengelolaan daerah aliran sungai. satwa. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. dan lain-lain. daerah pantai. dan jasad renik. maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. dan genangan air lainnya).

Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam. 92 . tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam. kewenangan penentuan kegiatan penelitian. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. ilmu pengetahuan dan pendidikan. Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. dan pendidikan. maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. erosi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya. perburuan satwa yang berada dalam kawasan. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan. dan gempa bumi. baik sebagai kawasan hutan lain. Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi. dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. Namun. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. kebakaran. Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional. ilmu pengetahuan. atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. melihat.perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah.Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran. Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945. maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat. dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah.

cara melakukan penangkapan hidup-hidup. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. 93 . Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. dan sebagainya. baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. baik di dalam maupun di luar negeri.Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia. sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif. sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat. guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan. penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa. juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah. pembuatan fasilitas air minum. taman safari. Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya.

Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional zona rehabilitasi, dan sebagainya. Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

94

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran), dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa. Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka melalui kegiatan penyuluhan, Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah, juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas 95

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila; b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 96

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan; b. keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. (2) Setiap orang berhak untuk: a. mengetahui rencana tata ruang; b. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 5 (1) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. (2) Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. 97

Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. (2) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undang-undang. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan, penataan ruang kawasan perkotaan, dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia; b. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi, selaras, dan seimbang antara perkembangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. (3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II; b. meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, dan interaksi lingkungan; b. tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan, serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pasal 12 (1) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. (2) Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. (3) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). (4) Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; b. aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. (2) Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya. (3) Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang, tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. 98

peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor. pemantauan. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pola pengelolaan tata guna tanah. kawasan budi daya. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. b. b. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warganegara. dan evaluasi. dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. dan kawasan tertentu. c. (2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 99 . perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. (2) Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. mewujudkan keterpaduan. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. tata guna udara. kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. diatur dengan Peraturan Pemerintah. c. tata guna air. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. yang didasarkan atas rencana tata ruang. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. yang meliputi: a. d. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II. b. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kawasan budi daya. b. c.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. penetapan kawasan lindung. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. Pasal 18 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. c. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. (2) Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. keterkaitan. norma dan kriteria pemanfaatan ruang. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a. (2) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. tata guna air. b.

dan kawasan tertentu. prasarana pengelolaan lingkungan. c. dan kawasan lainnya. pengairan. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. c. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor. e. (2) Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. penatagunaan tanah. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. mewujudkan keterpaduan. kawasan perkotaan. c. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. tata guna air. energi. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pariwisata. pengairan. b. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. sistem prasarana transportasi. tata cara. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi. b. pengelolaan kawasan perdesaan. e. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. (6) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. b. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. arahan pengelolaan kawasan perdesaan. dan prasarana pengelolaan lingkungan. g. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan.Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. d. tata guna udara. d. arahan kebijaksanaan tata guna tanah. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. keterkaitan. penatagunaan air. b. d. Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. keterkaitan. energi. pedoman. d. yang meliputi : a. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. arahan pengembangan kawasan permukiman. dan tata guna sumber daya alam lainnya. b. kehutanan. 100 . dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. c. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. e. pertanian. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kawasan. b. perindustrian. f. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. dan kawasan tertentu. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. telekomunikasi. telekomunikasi. kawasan perkotaan. c. yang meliputi: a. pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun. penatagunaan udara. d. mewujudkan keterpaduan. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. c. pertambangan. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan.

101 . (3) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan. Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. (2) Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. dan pelatihan. pendidikan. Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. b. bimbingan. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. Pasal 29 (1) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang. (2) Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan itikad baik. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undangundang ini. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat.BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. (2) Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. (4) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a. mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. Lembaga. (2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting. b. Pasal 27 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 102 . maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168. Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no.13) dinyatakan tidak berlaku. Agar setiap orang mengetahuinya.BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

2. dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. kawah gunung berapi. dilindungi dan dikelola. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem. ekonomi. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. Akan tetapi. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. Dengan demikian. selaras. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. keselarasan. tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. sosial. budaya. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. pertahanan keamanan. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Secara geografis letak dan kedudukan negara Indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. musim. pertahanan keamanan. ruang harus dimanfaatkan secara serasi. UMUM 1. dan estetika lingkungan. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. 3. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. ekonomi. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. dan keseimbangan. maka haruslah jelas batas. baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian. sumber daya buatan. Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. Oleh karena itu. di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. Oleh karena itu. Ruang meliputi ruang daratan. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. akan meningkatkan keserasian. 4. fungsi lokasi. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. hubungan manusia dengan manusia. ruang lautan. maka 103 . sosial.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG I. kualitas ruang. Seiring dengan maksud tersebut. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. keselarasan. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. dan iklim tropisnya. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. terpadu. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinasi. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. jenis kegiatan. Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. hubungan manusia dengan alam. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. budaya. lapisan di bawah kerak bumi. lautan.

pemanfaatan ruang. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. pembangunan daerah. b. kepariwisataan. perdesaan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. II. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. dan ruang udara. perkotaan. atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. sebagai sumber energi. 5. ruang lautan. dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. pertanahan. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi.pelaksanaan pembangunan. Potensi itu diantaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan. Untuk itu. b. dan tempat. sebagai jalur perhubungan. perindustrian. ruang lautan. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). telekomunikasi. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a. jalan. dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Dengan demikian. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. industri. transmigrasi. Dalam Undang-undang ini. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. Ruang daratan. Selain itu. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundangundangan mengenai perairan. Ruang daratan. tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). pertambangan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. kehutanan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Landas Kontinen Indonesia. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. 104 . waktu. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. c. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. sebagai obyek wisata. yang merupakan ruang di luar ruang udara. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. perikanan. pemanfaatan ruang. perumahan dan permukiman. dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. pertambangan. perhubungan. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. c. ruang lautan. Dengan demikian. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang. d. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah teritorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah teritorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara.

gua. 105 . Dalam mempertimbangkan aspek waktu. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. dan geopolitik. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. suaka alam. garis langit. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. sebaran permukiman. dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. pusat pemerintahan. Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai.Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu. modal. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. gunung dan sebagainya. rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan. pusat lingkungan. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. dan pertanian. daya tampung lingkungan. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. ruang lingkup wilayah yang direncanakan. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. antar daerah. daya dukung lingkungan. Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. keselarasan. fungsi. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. jalan kolektor. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. jarak antar bangunan. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. prasarana jalan seperti jalan arteri. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. danau. selaras. optimasi. dan jalan lokal. dan sebagainya. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. lingkungan sosial. tempat kerja. Yang dimaksud dengan serasi. industri. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan.

atau badan hukum. b. dan pengendalian pemanfaatan ruang. obyek wisata lingkungan. budi daya kehutanan. siklus udara. Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. hak pemeliharaan taman laut. tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang. hak untuk melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi. dan kegiatan pembangunan permukiman. dan lain-lain yang sejenis. rehabilitasi. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. siklus hidrologi. dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. dan lain-lain yang sejenis. dan sebagainya. tambang. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. penelitian. perdagangan. b. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. meningkatkan fungsi kawasan lindung. dan sebagainya. dan atau ruang. hak untuk mengelola pariwisata bahari. industri. kelompok orang. Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. ikan. Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. dan sebagainya. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. bahan galian. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. dan ruang udara. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian. integrasi.Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. daerah. penambangan lepas pantai. fungsi lingkungan seperti wilayah 106 . yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. ruang lautan. hak untuk melakukan angkutan laut. Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. budi daya pertanian. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. pariwisata. tempat peristirahatan. keselarasan. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal. pemanfaatan ruang. memberi saran. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor-faktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal.

Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan. dan kawasan rawan bencana alam. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. kegiatan pemerintahan. dan kegiatan ekonomi. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. kawasan pariwisata. jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja. tempat kegiatan pertanian. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. kawasan pertahanan keamanan. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. kawasan resapan air. kawasan perkotaan. serta kawasan perdesaan. kawasan industri. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a. kawasan pendidikan. kawasan suaka alam. kawasan sekitar danau/waduk. taman nasional.resapan air. estetika lingkungan seperti bentang alam. sempadan pantai. kawasan permukiman. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). dan kegiatan ekonomi. c. kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. kawasan pantai berhutan bakau. kawasan bergambut. wilayah perbatasan. kawasan berikat. konservasi flora dan fauna. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. arsitektur bangunan. kawasan tempat beribadah. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. dan kawasan tertentu. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. kawasan resapan air. kegiatan pelayanan sosial. taman hutan raya dan taman wisata alam. Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. taman nasional. Bagi orang yang tidak mampu. dan sebagainya. sempadan sungai. 107 . kawasan hutan lindung. kegiatan pelayanan sosial. b. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. kawasan pertanian. pertanaman. kawasan sekitar mata air.

Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. dan kawasan tertentu. dan daerah latihan militer. serta kawasan perdesaan. suaka alam. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya pertanian. baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. wilayah perbatasan. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. pariwisata. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. kawasan hutan lindung. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. dan pertahanan keamanan. sosial. penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. di lautan dan di udara dengan negara tetangga. budaya. taman nasional. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). di daratan. Kecuali kawasan tertentu. kawasan perkotaan. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. ekonomi. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. lingkungan. kawasan resapan air. Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. 108 . koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu.Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. wilayah perbatasan. Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya.

Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. budaya. kedalaman rencana. Ayat (2) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. penetapan tata ruang. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. sosial. maka hak orang harus tetap dilindungi. Oleh karena itu. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. dan fungsi wilayah serta kawasan. b. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan. kelompok orang. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Dalam menjalankan peranannya itu. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. bertitik tolak dari data. perumusan perencanaan tata ruang. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: 109 . Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. c. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. d. serta fungsi pertahanan keamanan. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. daya dukung dan daya tampung lingkungan. menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. atau badan hukum. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional. informasi. Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan.

dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. sumber daya alam. dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. energi angin. penggunaan. sosial.a. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. udara. Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk 110 . penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. lingkungan buatan. udara. perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. pengatusan air hujan. antara lain. c. sistem prasarana. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. c. antara lain. minyak bumi. budaya. pertahanan keamanan. sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah. Meskipun demikian. dan estetika lingkungan. air kotor. energi surya. pola pengelolaan tata guna air. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. sumber daya buatan. pola pengelolaan tata guna udara. jaringan transportasi seperti jalan raya. air. air. udara. budi daya. Tata guna tanah. ekonomi. dampak terhadap lingkungan. jaringan telepon. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. teknologi. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. potensi meteorologi klimatologi. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. flora. lingkungan alam nonhayati. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. penatagunaan udara. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. udara. penatagunaan air. fauna. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. penatagunaan air. air. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang. dan geofisika. Sistem prasarana meliputi. dan pemanfaatan tanah. air. Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan. tata guna air. prioritas. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. d. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. penatagunaan udara. b. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. jaringan gas. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral. informasi. administrasi. jalan kereta api. fungsi lindung.

Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. sanksi perdata. meskipun Undang-undang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. air minum. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham. imbalan. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. hak memperoleh. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. Dalam pemanfaatan tanah. listrik. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan. telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. ketidaktersediaan sarana dan prasarana. Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. 111 . dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. dan mempertahankan ruang hidupnya. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi. pemanfaatan air. Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. mengawasi. Pasal 19 Ayat (1) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. pengenaan pajak yang tinggi. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dengan demikian. atau b. Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi. pemanfaatan udara. dan geofisika. misalnya dalam bentuk: a. klimatologi. atau b. Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. dan sanksi pidana. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama.kepentingan masyarakat secara adil.

000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar. pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional. c.000. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. daya dukung dan daya tampung lingkungan. d. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250.000. laut. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a. b. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang. b. dan stabilitas. pertumbuhan. e. b. data dan informasi. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. kawasan budi daya.000. kawasan budi daya. Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung.Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. dan udara. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan. Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. dan kawasan lainnya. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. keanekaragaman kegiatan pembangunan.000. c. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. termasuk penetapan kawasan tertentu. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. 112 .000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. c. dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. pemerataan. Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional.

g. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I.Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batasbatas tertentu. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. Dengan demikian. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. d. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. e. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. f. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. c. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. dan stabilitas. 113 . Meskipun demikian. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan. Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. pertumbuhan. Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. i. b. h. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. pokok permasalahan kepentingan nasional. program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Selanjutnya. data dan informasi. pemerataan. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali.

Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. f. energi. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. e. b. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II memperhatikan antara lain: a. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun.Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan. d. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. udara dan sumber daya alam lainnya. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I. telekomunikasi. keselarasan dengan aspirasi masyarakat. Ayat (6) Cukup jelas 114 . penatagunaan air. c. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. penatagunaan tanah. kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. data dan informasi. dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. air. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. dan pengelolaan lingkungan. g. persediaan dan peruntukan tanah. pengairan.

b. mempunyai dampak penting. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Dengan demikian. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan. dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan dalam kaitannya dengan besaran kawasan. pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. atau kebiasaan yang berlaku. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundang-undangan. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya. c. dan mencegah kerusakan lingkungan. 115 . dan kegiatan yang ditetapkan. kewenangan. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat. Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Pemilikan. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri. penguasaan. dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. mengakui. lokasi. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. menjunjung tinggi. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. hukum adat. Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan.

Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. kualitas ruang. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. Ayat (2) Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai buktibukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. jaringan air kotor. Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. proses. Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. jaringan telepon. pendidikan. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. Ayat (3) Cukup jelas 116 . sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan. dan kebiasaan yang berlaku. Lembaga. dan Badan-badan Pemerintah lainnya. serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen. Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. hukum adat. Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang.Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. jaringan penyediaan air baku. dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang. Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. pemanfaatan ruang. jaringan pengatusan. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. standar dan kriteria teknis. Lembaga. Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. jaringan air minum. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. pemanfaatan ruang. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. bimbingan. prosedur. Sebaliknya Departemen. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut.

Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas 117 . sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dikoordinasikan oleh Menteri. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. pariwisata. industri. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional. permukiman. dan penyusunannya dilakukan secara berurutan. pemanfaatan ruang. pertanian. sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. perdagangan. kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. Pada prinsipnya. untuk menghindari kevakuman. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. Akan tetapi. dan sebagainya. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan. permukiman. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya. antara lain. pariwisata. pariwisata. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci. Sebagai contoh. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuan-ketentuannya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya. dan sebagainya. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. dan terpusat. Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. lintas daerah. kawasan perumahan menjadi kawasan industri. Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan.

AMDAL 118 .

Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 12. 2. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. b. 10. 4. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. 5. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. Mengingat : 1. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. c. 9. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. 13. 7. 11. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. 119 . Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/ atau kegiatan dimaksud. 2. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. d. bahwa dengan diundangkannya Undang-undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 14. 6. ME MUTU S KAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. 3.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. 8. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. e.

b. lingkungan buatan. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya. (2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. (3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya dalam 5 (lima) tahun.Pasal 2 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/ atau kegiatan. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. b. 120 . terpadu atau kegiatan dalam kawasan. Pasal 3 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. h. f. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. Pasal 5 (1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : a. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. g. i. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. c. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. (2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. (5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. dan atau mempengaruhi pertahanan negara. c. dan jenis jasad renik. jenis hewan. e. (2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. (4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. sifatnya kumulatif dampak. f. (3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. jumlah manusia yang akan terkena dampak. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. Pasal 4 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. (2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. e. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. d. d. Pasal 7 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. luas wilayah persebaran dampak. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. serta lingkungan sosial dan budaya.

instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. analisis dampak lingkungan hidup. (6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. serta anggota lain yang dipandang perlu. b. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. Departemen Dalam Negeri. instansi yang ditugasi bidang kesehatan. ditetapkan oleh Menteri. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Komisi penilai dibentuk : a. ahli di bidang lingkungan hidup. (3) Komisi penilai menilai kerangka acuan. Pasal 10 (1) Komisi penilai daerah sebagaimana dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. (5) Dalam menjalankan tugasnya. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. serta anggota lain yang dipandang perlu. ahli di bidang lingkungan hidup. (4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. (4) Dalam menjalankan tugasnya. ahli di bidang yang berkaitan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a) di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. wakil masyarakat terkena dampak. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. rencana pemantauan lingkungan hidup. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji.(2) Pemohon izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan instansi yang bertanggung jawab. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. Pasal 9 (1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan. (8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. warga masyarakat yang terkena dampak. komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. rencana pengelolaan lingkungan hidup. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. analisis dampak lingkungan hidup. b) di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur. analisis dampak lingkungan hidup. ahli dibidang yang berkaitan. di tingkat daerah : oleh Gubernur. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. 121 . organisasi lingkungan hidup di daerah. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. (7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. di tingkat pusat : oleh Menteri. baik pusat maupun daerah. instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah.

rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dengan ketentuan : a. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. Pasal 15 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. (4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. BAB III TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 14 (1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. Bagian Kedua Analisis dampak lingkungan hidup. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 12 (1) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.Pasal 11 (1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan. usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. (2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. 122 . berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. (2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2). c. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengembangan wilayah. Pasal 16 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup Pasal 17 (1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. rencana pengelolaan lingkungan hidup. d. b. (3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. e. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain.

(2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 22 (1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa : a. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup. Pasal 19 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 21 (1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Gubernur dan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 19. di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri.Pasal 18 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. instansi terkait yang berkepentingan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. pendapat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 20 (1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pegelolaan lingkungan hidup. dan pertimbangan terhadap saran. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau b. di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. 123 . b. dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh : a. (3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). (2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. b. dan Pasal 20. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 18. b. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah (2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diajukan oleh pemrakarsa kepada : a. dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). dan instansi yang terkait.

apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya keputusan kelayakan tersebut. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 29 (1) Pendidikan. Pasal 27 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 25 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatan. atau b. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pasal 31 Penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Analisis dampak lingkungan hidup. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. Pasal 26 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. pelatihan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan peraturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan dilokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pasal 24 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini.Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. 124 .

dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. saran. 125 . penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. pendapat. (4) Saran. Pasal 35 (1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 38 (1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. (5) Saran. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. penilaian kerangka acuan. (2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. pendapat. pendapat. pendapat. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. dan tanggapan warga masyarakat yang berkaitan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur. dan rencana pemantauan lingkungan hidup di bebankan kepada pemrakarsa. serta tatacara penyampaian saran. (6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). analisis dampak lingkungan hidup. pendapat. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. analisis dampak lingkungan hidup. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. (2) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. (2) Instansi yang bertanggung jawab menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. b. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. b. dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum.BAB V PENGAWASAN Pasal 32 (1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. kesimpulan komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup (2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 34 (1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan.

atau b. dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif. Agar setiap orang mengetahuinya. tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan. memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG 126 . Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 ( delapan belas ) bulan sejak tanggal diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini : a. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84.

tetapi dilain pihak ketersediaan sumber daya alam bersifat terbatas. pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. baikyang menguntungkan maupun yang merugikan. sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Hal itu merupakan konsekuensi dari kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan mengubah rona lingkungan hidup. Oleh karena itu. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut. sehingga timbul tekanan terhadap sumber daya alam. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Oleh karena itu. keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan. analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. II. sejak awal perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan merupakan kepentingan seluruh masyarakat. sehingga dapat diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Keterlibatan warga masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP I. Dengan keterlibatan warga masyarakat itu akan membantu dalam mengidentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan lengkap. menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan yang timbul. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting. pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Dengan demikian. Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Angka (3) Cukup jelas 127 . Konsekuensinya adalah bahwa syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Oleh karena itu. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan pembangunan. Peran masyarakat itu meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan.

128 . pengelolaan. dan proses produksinya.Dengan ayat ini. di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah. Ayat (3) Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. b. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. analisis ekonomis-finansial. usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. Oleh karena itu. analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu.Angka (4) Cukup jelas Angka (5) Cukup jelas Angka (6) Cukup jelas Angka (7) Cukup jelas Angka (8) Cukup jelas Angka (9) Cukup jelas Angka (10) Cukup jelas Angka (11) Cukup jelas Angka (12) Cukup jelas Angka (13) Cukup jelas Angka (14) Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomisfinansial. maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan. Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi : a. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi kegiatan dimaksud. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup.

kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. c. jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Oleh karena itu. berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lainnya. kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang.Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. b. Ayat (2) Cukup jelas 129 . kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. e. Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi : a. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. kerusakan kawasan konservasi alam. jalan kereta api dan pembukaan hutan. f. sebagai contoh seperti usaha dan/ atau kegiatan : a. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan: c. Pasal 3 Ayat (1) Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. d. bendungan. g. Oleh karena itu kriteria ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. h. penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan. yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. b. atau pencemaran benda cagar budaya. sehingga tidak bersifat limitatif. penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. pembuatan jalan. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. Dengan demikian penyebutan kategori usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. perlu ditinjau kembali. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat.

dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Keadaan darurat ini tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Keadaan Darurat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. izin penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C. Oleh karena itu. izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. dan instansi yang ditugasi di bidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup. sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. khususnya pengendalian dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak lingkungan hidup di daerah. Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah lembaga swadaya masyarakat. Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan. Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. Ayat (2) Cukup jelas 130 . Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Adanya wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Misalnya izin usaha industri di bidang perindustrian. Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan.Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung resiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. Ayat (2) Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Sedangkan keputusan kelayakan lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. misalnya pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar. tanpa izin tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. izin hak pengusahaan hutan di bidang kehutanan. kuasa pertambangan di bidang pertambangan. misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. Pasal 7 Ayat (1) Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan. ditetapkan oleh menteri yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dimaksud. Ayat (2) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

penambangan uranium. industri petrokimia. kilang minyak. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat. industri alat-alat berat. industri baja. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Ligitan dan Celah Timor Huruf (d) Cukup jelas Huruf (e) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. industri bahan peledak. Huruf (b) Cukup jelas Huruf (c) Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya: rencana usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan. industri senjata. pembangkit listrik tenaga air. Berdasarkan hasil pelingkupan. industri telekomunikasi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jeias Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. serta komponenkomponen parameter lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. industri pesawat terbang. Ayat (3) Cukup jelas 131 . bandar udara. penilaian oleh komisi penilai. industri kapal. pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi.Pasal 11 Ayat (1) Huruf (a) Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan keamanan negara misalnya : pembangkit listrik tenaga nuklir. Dalam hal usaha dan/ atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau kegiatan terpadu/ multisektor. pembangunan bendungan. penilaian secara teknis. pelabuhan dan rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dianggap strategis. sampai ditetapkannya keputusan. yaitu proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting. eksploitasi minyak dan gas. kerangka acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. dan b. yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup. Kerangka acuan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan keputusan kepada instansi yang berwenang. rencana pengelolaan lingkungan hidup. yang dicantumkan dalam rencana pemantauan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai.Ayat (4) Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan umum. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan umum. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas 132 . hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. penilaian oleh komisi penilai. sampai dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. penilaian secara teknis. Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik pula. Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar dan penting positif. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. demikian pula sebaliknya. Dengan mengetahui dampak besar dan penting itu dapat ditentukan : a. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. cara memantau dampak besar dan penting tersebut. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I .

dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup. sehingga rona lingkungan hidup yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau bantuan lainnya. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu. 133 . Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah diterbitkan menjadi batal.Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup.

Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian mengenai analisis dampak lingkungan hidup. melalui media cetak dan/atau media elektronik. pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi. Ayat (6) Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan sekurangkurangnya. menjadi tanggungan pemrakarsa. antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (5) Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam penyusunan kerangka acuan. misalnya. dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Saran. Ayat (2) Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lokasi akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas 134 . jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Mengingat : 1. dan Tata Kerja Menteri Negara. 2. Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Fungsi. f. b. 4. 135 . g. bahwa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) seperti tersebut pada huruf c. c. Tugas. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP. bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). bahwa daerah saat ini membutuhkan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) untuk pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Kewenangan. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. bahwa salah satu upaya pembinaan tersebut dapat berupa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 Tentang Kedudukan. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 7. d. 5. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. sejalan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. bahwa Menteri Negara Lingkungan Hidup berwenang untuk menetapkan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 3. Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). h. 6. bahwa mengingat hal-hal seperti tersebut di atas. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Susunan Organisasi. bahwa pembinaan usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berada pada pemerintah. e.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090). dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Menimbang : a. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. 3. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi. di dalam izin melakukan usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 6 Dalam hal formulir isian tentang UKL dan UPL tidak memerlukan perbaikan. b. d. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib berkoordinasi dengan instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan untuk melakukan pemeriksaan formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. 136 . Pasal 7 Pemrakarsa mengajukan rekomendasi tentang UKL dan UPL dari pejabat instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada instansi yang berwenang sebagai dasar penerbitan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. (2) UKL dan UPL wajib dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan formulir isian seperti terlampir dalam Keputusan ini. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib memberikan rekomendasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. Pasal 3 dalam formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berisikan informasi: identitas pemrakarsa. Pasal 5 (1) Berdasarkan formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. rencana usaha dan atau kegiatan. b. c. program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.2. Pasal 2 (1) Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib melakukan UKL dan UPL. pemrakarsa wajib menyempurnakan dan atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. e. c. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Kabupaten/Kota. Pasal 8 (1) Pejabat dari instansi yang berwenang wajib mencantumkan syarat dan kewajiban yang tercantum dalam program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. (2) Dalam hal terdapat kekurangan informasi yang disampaikan dalam formulir isian tentang UKL dan UPL dan memerlukan tambahan dan atau perbaikan. Pasal 4 Pemrakarsa mengajukan formulir isian tentang UKL dan UPL kepada: a. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah Kabupaten/Kota. (3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib menerbitkan rekomendasi tentang UKL dan UPL kepada pemrakarsa paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah diperbaiki oleh pemrakarsa. Di a. (2) Izin yang diterbitkan oleh pejabat dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tembusannya wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertangung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota sesuai kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Propinsi dan atau lintas batas negara. tanda tangan dan cap. yang proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. dampak lingkungan yang akan terjadi.

MSM. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dinyatakan tidak berlaku lagi. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 28 Oktober 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan Dan Kelembagaan Lingkungan Hidup. ttd Nabiel Makarim. 137 . ttd. MPA. Hoetomo..Pasal 9 Dengan berlakunya keputusan ini. MPA. Pasal 10 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Mengingat : 1. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Ketiga Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5. c.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Kedua Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. daya tampung. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan dalam skala/ besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 138 . b. Pertama Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. 4. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. tetapi karena daya dukung. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Menimbang : a. 3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60.

Sudharto P.Keempat Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Kelima Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Keenam Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. A. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Hukum Lingkungan. maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd. Hadi 139 . Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Ketujuh Dengan berlakunya keputusan ini. Kedelapan Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan. Dr.

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 Tahun 2001 TANGGAL : 22 Mei 2001 JENIS RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. Pendahuluan Jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan : a. Potensi dampak penting Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan: 1. Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2. Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang AMDAL. b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul. 2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup A. Bidang Pertahanan dan Keamanan Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan skala/besaran berikut berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah

Skala/Besaran Semua besaran *

Alasan Ilmiah Khusus Beresiko terjadinya ledakan saat perjalanan dan saat penyimpanan yangmembahayakan penduduk walaupun sudah memiliki standard operating procedure (SOP) penanganan bahan peledak. * Kegiatan pengerukan dan reklamasi berpotensi mengubah ekosistem laut dan pantai. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair dan sampah padat. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan pesawat. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan latihan tempur berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan akibat ledakan. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan penyiapan lahan (land clearing) di areal yang cukup luas untuk pangkalan, landasan pacu, dan bangunan penyangga menyebabkan perubahan ekosistem. * Kegiatan latihan berpotensi menyebabkan kebisingan.

2

Pembangunan Pangkalan TNI AL

Kelas A dan B

3

Pembangunan Pangkalan TNI AU

Kelas A dan B

4

Pembangunan Pusat Latihan Tempur

Luas > 10.000 ha

5

Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri

Luas > 10.000 ha

140

B.

Bidang Pertanian Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas air, persebaran hama, penyakit dan gulma, serta perubahan kesehatan tanah akibat penggunaan pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan penyebaran penyakit endemik. Skala/besaran yang tercantum di bawah ini telah memperhitungkan potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam. Skala /besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang, dan tinggi. Skala/Besaran Luas > 2.000 ha Alasan Ilmiah Khusus * Lihat penjelasan di atas

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tanaman pangan dan hortikultura semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan

2

Luas > 5.000 ha

*

Lihat penjelasan di atas

3

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

4

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

141

C.

Bidang Perikanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang, ikan, dan pembangunan pelabuhan perikanan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam. Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan dari tumbuhtumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya

Skala/Besaran Luas > 50 ha

Alasan Ilimiah Khusus * Rusaknya ekosistem mangrove yang menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan ( nursery areas) akan mempengaruhi tingkat produktivitas daerah setempat. Beberapa komponen lingkungan yang akan terkena dampak adalah: kandungan bahan organik. perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah phytoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Berpotensi menimbulkan konflik sosial. Perubahan kualitas perairan. Pengaruh perubahan arus dan penggunaan ruang perairan. Pengaruh terhadap estetika perairan.

*

*

2

Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system): a. Di air tawar (danau) - Luas - Atau jumlah b. Di air laut - Luas - Atau jumlah

* * > 2,5 ha > 500 unit * > 5 ha > 1.000 unit *

3

Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum dan memenuhi kriteria sebagai berikut: - Panjang dermaga - Atau mempunyai Kawasan Industri Perikanan dengan luas - Atau kedalaman perairan di dermaga

> 300 m > 10 ha > -4 m LWS

Berpotensi menimbulkan dampak berupa: penurunan kualitas air, penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik sosial, pergeseran pola penyakit, dan dampak potensi limbah cair dan padat yang dihasilkan.

142

D.

Bidang Kehutanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam dan potensi konflik sosial. Skala/Besaran Semua besaran * Alasan Ilmiah Khusus Pemanenan pohon dengan diameter tertentu berpotensi merubah struktur dan komposisi tegakan, satwa liar dan habitatnya.

No. 1

Jenis Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHK)

2

Usaha Hutan Tanaman

> 5.000 ha

*

Usaha hutan tanaman dilaksanakan melalui sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), dimana untuk penyiapan lahannya dilaksanakan secara mekanis menggunakan alat berat.

E. No. 1.

Bidang Kesehatan Skala/Besaran Kelas A dan B atau yang setara * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3 / radioaktif dan potensi penularan penyakit.

Jenis Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

F.
No. 1

Bidang Perhubungan
Skala/Besaran > 25 km * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, k e b i s i n g a n , g e t a r a n , gangguan pandangan, ekologi, d a n d a m p a k sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar kegiatan serta membutuhkan area yang luas. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan kestabilan lahan (land subsidence), air tanah serta gangguan berupa dampak terhadap emisi, lalu lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, gangguan jaringan prasarana sosial (gas, listrik, air minum, telekomunikasi) dan dampak sosial di sekitar kegiatan tersebut. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi dan ekologi yang lebih luas dari batas tapak kegiatan itu sendiri. Kegiatan ini juga akan menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran sungai. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi, ekosistem, kebisingan dan dapat mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai (coastal processes). Berpotensi menimbulkan dampak terhadap

Jenis Kegiatan Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api - Panjang Pembangunan Stasiun Kereta Api

2

Stasiun kelas besar dan/atau kelas I

*

3

Konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan tanah

Semua besaran

*

4

Pengerukan alur pelayaran Sungai - Volume

* > 500.000 m3

5

Pembangunan pelabuhan dengan salah satu fasilitas berikut: a. Dermaga dengan konstruksi masif - Panjang > 200 m - Atau luas > 6.000 m2 b. Penahan gelombang (Break water/talud) - Panjang > 200 m c. Prasarana pendukung pelabuhan (terminal, gudang, peti kemas, dll)

*

*

*

143

- Luas

> 5 ha

*

d.

Single Point Mooring Boey - Untuk kapal

* > 10.000 DWT

*

6

Pengerukan: a. Capital dregging - Volume

* > 250.000 m3

b.

Maintenance dregging - Volume

> 500.000 m3

*

7

Reklamasi (pengurungan): - Luas - Atau Volume

* > 25 ha > 5.000.000 m3

ekosistem, hidrologi, garis pantai dan batimetri serta mengganggu proses-proses alamiah yang terjadi di daerah pantai. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar area yang luas. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan alur pelayaran, perubahan, batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai terutama apabila yang dibongkar muat minyak mentah yang berpotensi menimbulkan pencemaran laut dari tumpahan minyak Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri,ekosistem,dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai dan membutuhkan waktu 3 -6 bulan Berpotensi menimbulkan dampak terhadap sistem geohidrologi, hidrooseanografi, dampak sosial, ekologi, perubahan garis pantai, kestabilan lahan, lalu lintas serta mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai.

8

Kegiatan penempatan hasil keruk (dumping) a. Di darat: - Volume - Atau luas area dumping b. Di laut

> 250.000 m3 > 5 ha Semua besaran

*

Menimbulkan terjadinya perubahan bentang lahan yang akan mempengaruhi ekologi, hidrologi setempat. Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut yang akan menimbulkan dampak sosial. Termasuk kegiatan yang berteknologi tinggi, harus memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak berupa kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara.

*

9

Pembangunan bandar udara baru beserta fasilitasnya

Semua besaran ( kelas I * s.d. V) beserta hasil studi rencana induk yang telah disetujui *

10

Pengembangan bandar udara beserta Kelas I, II, III, berdasarkan * rencana pengembangan fasilitasnya (rencana induk, rencana tata letak, dll) *

11

12

Perluasan bandar udara beserta/atau fasilitasnya: a. - Pemindahan penduduk - Atau pembebasan lahan b. Reklamasi pantai: - Luas - Atau Volume ruangan c. Pemotongan bukit dan pengurugan lahan dengan volume Pemasangan kabel bawah laut

* >200 KK > 100 ha > 25 ha > 100.000 m3 > 500.000 m3 Semua besaran * * *

*

Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif ( misalnya terumbu karang). Pengoperasian kabel bawah laut rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh, penambangan pasir.

144

Cl2) dan limbah padat (ampas kayu. * Kebutuhan air cukup besar (3. Beberapa jenis industri menggunakan air dengan volume sangat besar. pemutihan pulp (bleaching) dan pembentukan lembaran pulp yang dalam prosesnya banyak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga berpotensi menghasilkan limbah cair (BOD. 2 Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan pulp dari industri kertas budaya) Semua besaran 145 . * Tenaga kerja besar. minyak dan gas.NOx. Beberapa jenis industri yang sudah memiliki teknologi memadai untuk mengatasi dampak negatif yang muncul.G. bahan baku (raw millprocess). bau. Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar. penggilingan batubara (coalmill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (Rotary Klin and Clinker Cooler). pemasakan serpihan kayu. * Kebutuhan energi besar (0.S02. serat pulp. gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut di atas menimbulkan dampak sosial. sehingga tidak termasuk dalam daftar berikut. tetapi menggunakan areal yang luas tetap wajib dilengkapi dengan AMDAL (nomor 15). termasuk daerah penyangga.900 Kcal/ton). tertutup bagi masyarakat. dan getaran. No.NOx) dari pembakaran energi batubara. pencucian pulp. SiO2. udara. Bidang Perindustrian Kegiatan bidang perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air. SOx. Teknologi Satelit: -Pembangungan fasilitas peluncuran satelit H.COD. gangguan kebisingan. Al203FeO2) dengan radius 2-3 km. limbah gas CO 2. * Proses pembuatan pulp meliputi kegiatan penyiapan bahan baku.2 Mw/ 1000 ton produk). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas.TSS). debu ( CaO. Berbagai potensi pencemaran. dimana. tanah. * Tenaga kerja besar (+ 1-2 TK/3000 ton produk). terdapat proses penyiapan. yang diperoleh baik dari sumber air tanah ataupun air permukaan. 1 Bidang Teknologi Satelit Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus * Kegiatan ini memerlukan persyaratan lokasi yang khusus dan teknologi canggih * Bangunan peluncuran satelit dan fasilitas pendukung. lumpur kering). * Kebutuhan energi cukup besar baik tenaga listrik (110-140 KwH/ton) dan tenaga panas (800 . No. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas (0. limbah cair (sisa cooling mengandung minyak lubrikasi pelumas). * Potensi berbagai jenis limbah: padat (tailing). Jenis Kegiatan 1 Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri semen dengan Proses Klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan.5 ton semen membutuhkan 1 ton air).2 ha/1000 ton produk).limbahgas (H2S.

* Potensi berbagai limbah: gas (SO2 dan NOx). Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. limbah cair (Fe. * Tenaga kerja cukup besar. SOx. * Kebutuhan energi relatif besar (264 ribu Mwh/ tahun). * Tenaga kerja cukup besar (1000 ton produk/ TK). Xylena. Zn. * Potensi berbagai limbah (termasuk B3): limbah padat (basic slag). besi spons. Cd. Hg. BOD. Sn. debu (SiO2). ingot baja. pellet baja. limbah cair (minyak dan scale). Se. Ni. As. 146 . Umumnya dampak yang ditibulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang luas. COD. * Kebutuhan air untuk proses pendinginan dan elektronika relatif besar (air bersih 5000 m3/ hari dan air laut 3. O2 dan tail gas dengan parameter Zn. besi kasar/pig iron.5 ton produk). Cd. batubara ataupun bahan bakar dengan proses pembakaran sampai dengan temperatur 1600 derajat Celcius. Zn. Cd). limbah padat gipsum dan slag (Fe. limbah cair (TSS. Pb.No. * Kebutuhan air untuk pendingin relatif besar (> 1000 m3/hari). Industri pembuatan besi dasar dan baja adalah merupakan industri yang mengolah besi bekas (steel scrap) atau konsentrat biji besi yang menggunakan tungku-tungku pembakaran baik menggunakan energi listrik. peleburan dengan tungku-tungku bertemperatur tinggi dan elektrolisa. Proses pembuatannya melalui pemisahan konsentrat. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2. Cu. Hg. * Tenaga kerja besar. gas (NO x.Toluena. Cu. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang cukup luas. Cr. paduan besi/alloy. baja bloom dan baja slab) Semua besaran 5 Industri pembuatan timah hitam (Pb) dasar (termasuk industri daur ulang) Semua besaran 6 Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/ katoda tembaga (bahan baku dari Cu konsentrat) Semua besaran Alasan Ilimiah Khusus Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah hasil tambang mineral (kondensat) terdiri dari Pusat Olefin yang mengkasilkan Benzena. Propilena dan Butadiena serta Pusat Aromatik yang menghasilkan Benzena. As. Pb. * Kebutuhan air cukup besar (untuk pendingin 1 l/dt/1000 ton produk). Pb. * Kebutuhan energi relatif besar (6-7 Kw ton produk) disamping bersumber dari listrik juga energi gas. N2. Ni. Hg). F. H2S. Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar adalah industri yang mengolah konsentrat bahan tambang. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang cukup luas. Se. TDS & TSS). dan Etil Benzena.3 juta m3/hari). Jenis Kegiatan 3 Industri petrokimia hulu Skala/Besaran Semua besaran 4 Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making) meliputi usahan pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pallet bijih besi. NH4Cl) dan limbah sisa katalis bekas yang bersifat B3. Proses pembuatannya melalui proses peleburan yang menghasilkan limbah gas beracun dan debu (partikulat) dan proses peredaman yang menghasilkan limbah cair dengan kadar asam yang tinggi. * Kebutuhan energi relatif besar (1 Kwh 0. SO2) debu berupa scale (2-3% dari total produk per hari).

Industri pesawat terbang merupakan industri strategis berteknologi tinggi yang membutuhkan tingkat pengamanan (security) yang tinggi. cair (air spray dengan kadar Flour tinggi dan air pendingin mengandung minyak). * Tenaga kerja sangat besar.No. 8 Kawasan Industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi) Semua besaran 9 Industri galangan kapal dengan sistem graving dock > 4.NO2. NH3. disamping kegiatannya membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi. Sistem graving dock adalah galangan kapal yang dilengkapi dengan kolam perbaikan dengan ukuran panjang 100 m. Industri senjata. munisi dan bahan peledak merupakan industri yang dalam proses produksinya menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat B3. * Potensi berbagai jenis limbah dan cemaran yang masih prediktif terutama dalam hal cara pengelolaannya. dan kedalaman 15 m dengan sistem sirkulasi. * Kebutuhan pemukiman dan fasilitas sosial.75 l/dt/ha. Pembuatan kolam graving ini dilakukan dengan mengeruk laut yang dikhawatirkan akan menyebabkan longsoran atau pun abrasi pantai. pengecatan lambung kapal dan bahan kimia B3) maupun limbah gas dan debu dari kegiatan sand blasting dan pengecatan. Dampak penting yang ditimbulkan berasal dari: * Pengadaan lahan untuk bangunan pabrik dan landasan pacu.55 – 0. * Kebutuhan air yang sangat besar untuk proses pendinginan (+ 17. * Kebutuhan air bersih dengan tingkat kebutuhan rata-rata 0. 7 Jenis Kegiatan Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri pembuatan aluminium dasar merupakan industri pembuatan batangan aluminium yang menggunakan bahan baku bijih alumina yang dilakukan melalui proses peleburan. sehingga dalam pengembangannya diperkirakan akan menimbulkan berbagai dampak penting antara lain disebabkan: * Kegiatan grading (pembentukan muka tanah) dan runoff (air larian). * Kebutuhan energi listrik cukup besar baik dalam kaitan dengan jenis pembangkit ataupun trace jaringan (0. SO2 & HF) dan debu Kawasan industri (industrial estate) merupakan lokasi yang dipersiapkan untuk berbagai jenis industri manufaktur yang masih prediktif. * Kebutuhan energi relatif besar (+ 295 ribu Mwh/hari). * Bangkitan lalulintas. * Pengadaan dan pengoperasian alat alat berat.000 m3/hari). elektrolisa dan pencetakan. Perbaikan kapal berpotensi menghasilkan limbah cair (air ballast. munisi dan bahan peledak Semua besaran 147 . * Mobilisasi tenaga kerja (90 – 110 TK ha).1 Mw/Ha).000 DWT 10 Industri pesawat terbang Semua besaran 11 Industri senjata. gas (H2S. * Potensi limbah yang dihasilkan (termasuk B3): padat (dross. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas untuk bangunan pabrik dan fasilitas penunjang. * Gangguan kebisingan dan getaran. pelapis bekas). lebar 40 m.

sedangkan pembakaran COx.Tinggi > 15 m * * Termasuk dalam kategori “large dam ” (bendungan besar). Cr. formation\ (merupakan proses elektrolisa) dan assembling.perdagangan danpembuangannya memerlukan persyaratan khusus. 148 . * Kegiatan produksi. luas . pasting (pembuatan pasta dengan H2SO4 pekat). Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Bendungan/Waduk atau Jenis Tampungan Air lainnya: . penyimpanan. Rural/pedesaan.Kota kecil. Pada umumnya proses produksi lengkap dimulai dari grid casting (persiapan. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. COD. pengangkutan. Hg. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. * Daya dukung lahan. I. peleburan dan pencetakan timah hitam sebagai bahan aktif sel). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. NOx dan SO2). limbah cair (Zn. * Konflik sosial. dll. Sulfat & Pb).Kota besar. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No. CO. teratogenik dan karsinogenik terhadap manusia. limbah debu dan gas (H2S. Bidang Prasarana Wilayah Kegiatan pembangunan dan pengadaan prasarana wilayah umumnya berfungsi untuk melayani kepentingan masyarakat. 12 Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg) 13 Industri baterai basah (akumulator listrik) Semua besaran 14 Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi material yang digolongkan bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 15 Kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 s/d 14 Penggunaan areal: a. Urban: . seperti daya dukung tanah. * Berpotensi menimbulkan pencemaran udara. luas . * Penurunan kualitas lingkungan. * Kebutuhan air relatif besar (+ 270 m3/hari) baik untuk proses maupun domestik. luas Semua besaran > 5 ha > 10 ha > 15 ha > 20 ha > 30 ha Umumnya dampak yang ditimbulkan berupa: * Bangkitan lalulintas. Potensi konflik yang timbul sangat berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk karena umumnya membutuhkan lahan yang luas dan seringkali mengubah tata guna lahan. Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri baterai kering yang diperkirakan menimbulkan dampak penting adalah yang menggunakan bahan baku merkuri (Hg). gas (proses finishing dengan parameter Pb dan formation parameter sulfat. TDS. * Potensi limbah dari proses produksi seperti limbah cair (pH. dan limbah padat (sludge dari IPAL dan bekas kemasan bahan penolong). NOx. bekas kemasan). SO2.Metropolitan. lead part (pencetakan bagian-bagian aki dari timah hitam).Kota sedang. tingkat kepadatan bangunan per hektar. kapasitas resapan air tanah. Pb dan Cd).No. Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. Zn. air dan tanah.pengemasan. * Kebutuhan air relatif besar baik untuk proses (pembuatan pasta dan pemasakan baterai) maupun domestik (170 m3/hari). mengingat merkuri ini bersifat B3 yang mempunyai efek mutagenik. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (sludge B3. luas b. lead powder (proses pembentukan bubuk Pb). luas . TSS. NH3. * Kebutuhan energi listrik cukup besar. Mn & NH3).

Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Pedesaan .Panjang . Berpotensi mengubah ekosistem dan iklim mikro pada kawasan tersebut dan berpengaruh pada kawasan disekitarnya.* . dan gangguan.Atau volume pengerukan Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Mengakibatkan mobilisasi manusia yang dapat menimbulkan dampak sosial. dan gangguan. Pembangunan pada rentang kawasan pantai selebar > 500 m berpotensi mengubah ekologi kawasan pantai dan muara sungai sehingga berdampak terhadap keseimbangan ekosistem yang ada.000 m3 * * c.Atau volume pengerukan > 5 km > 500. dan gangguan. dampak sosial.Jarak dihitung tegak lurus pantai * > 500 m * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar.000 ha * 4 Pembangunan Pengaman Pantai dan perbaikan muara sungai: . Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. dampak sosial. Kota Sedang . baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pelaksanaan.Panjang . sehingga diperlukan kajian khusus untuk pengembangan kawasan pantai yang mencakup rentang lebih dari 500 m dari garis pantai. Kota Besar/Metropolitan .Panjang . Berpotensi menimbulkan dampak negatif akibat perubahan ekosistem pada kawasan tersebut. Mengakibatkan mobilisasi tenaga kerja yang signifikan pada daerah sekitarnya.Atau volume pengerukan > 15 km > 500. Kegagalan bendungan pada luas genangan sebesar ini berpotensi mengakibatkan genangan yang cukup besar dibagian hilirnya. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak.000 m3 * * b. Pembangunan baru dengan luas * * > 2. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Akan mempengaruhi pola iklim mikro pada kawasan sekitarnya dan ekosistem daerah hulu dan hilir bendungan/waduk. > 10 km > 500. Mengakibatkan perubahan pola iklim mikro dan ekosistem kawasan.Atau luas genangan > 200 ha * * * 2 Daerah Irigasi a. Memerlukan alat berat dalam jumlah yang cukup banyak. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. dampak sosial. Dampak pada hidrologi. Dampak pada hidrologi.000 ha * * * c. Gelombang pasang laut (tsunami) di Indonesia berpotensi menjangkau kawasan sebesar 500 m.000 ha * * * b. 5 Normalisasi Sungai dan Pembuatan Kanal Banjir a. luas (perkelompok) 3 Pengembangan Rawa: Reklamasi rawa untuk kepentingan irigasi > 500 ha * * * > 1. Selalu memerlukan bangunan utama (headworks) dan bangunan pelengkap (oppurtenants structures) yang besar dan sangat banyak sehingga berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Memerlukan bangunan tambahan yang berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Pencetakan sawah. Peningkatan dengan luas tambahan > 1. Perubahan Tata Air.000 m3 * * 149 . Berpotensi mengubah sistem tata air yang ada pada kawasan yang luas secara drastis. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Membutuhkan pembebasan lahan yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial.

Kota Besar/Metropolitan . Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). getaran. getaran. * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia). Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan.Kapasitas d. TPA dengan sistem open dumping Semua besaran > 2 km Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. Bangkitan lalu lintas. Pembuangan dengan sistem control landfill / sanitary landfill (diluar B3) . . getaran. dan gangguan kesehatan. dll. emisi yang tinggi.Atau kapasitas total b. perubahan tata air..Luas landfill . Kota Sedang . dampak kebisingan. dampak kebisingan. Pedesaan . Kota metropolitan. > 500 ha > 5 km * Setara dengan 17. * Dampak kebauan dan gangguan visual. emisi yang tinggi. Kota sedang dan kecil. Pembangunan jaringan distribusi > 2 ha > 3 ha * * Setara dengan layanan untuk 10. kebisingan.Panjang b. dan gangguan kesehatan. > 30 km 8 > 10 ha > 10. gangguan visual dan dampak sosial. TPA di daerah pasang surut.Atau luas b.000 ton > 1. Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPTL). emisi yang tinggi. Kota besar. Pembangunan Jalan Layang dan Subway Pembangunan dan. luas b. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. Pembangunan Jalan Tol b. seperti daya dukung tanah. emisi yang tinggi. luas layanan 11 Drainase Permukiman a. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.Panjang .atau peningkatan jalan dengan pelebaran diluar daerah milik jalan a.Panjang Persampahan a. * Setara dengan kota kecil-sedang/kota kecamatan. udara.Luas . gas beracun. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) limbah domestik termasuk fasilitas penunjangnya c. getaran. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan saluran di kota besar/metropolitan . Bangkitan lalu lintas. gas beracun. getaran. * Tingkat kebutuhan air sehari-hari.Atau luas c. 7 > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. luas > 25 ha > 50 ha > 100 ha 10 a. dampak kebisingan. gangguan visual dan dampak sosial. termasuk fasilitas penunjangnya b. * Limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman.000 ton Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). dampak kebisingan.6 a. * Setara dengan layanan untuk 10.000 orang. Pembangunan saluran di kota sedang .000 orang. Dampak potensial berupa bau. * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan). Pembangunan sistem perpipaan air limbah. kapasitas resapan air tanah. gas beracun.Panjang 12 Jaringan air bersih di kota besar/metropolitan a.000 sambungan. 150 . * Daya dukung lahan.luas c. * Setara dengan kota kecil. bau. tingkat kepadatan bangunan per hektar. Pembangunan transfer station .Atau kapasitas total c. dampak kebisingan. bau. * Isu utama adalah perubahan fungsi lahan. Dampak kebauan dan gangguan visual.000 ton / hari Semua ukuran Dampak potensial adalah bahaya banjir dan perubahan pola air. dan gangguan kesehatan. udara. getaran.Panjang . 9 Pembangunan Perumahan/Permukiman a. > 10 km Berpotensi menimbulkan dampak hidrologi dan persoalan keterbatasan air. Berpotensi menimbulkan dampak meningkatnya kepadatan lalulintas. > 5 ha > 5.

Kesenian. mata air permukaan. * Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung. Oleh sebab itu.Panjang Pengambilan air dari danau. Batubara/gambut b. Setara kebutuhan kota sedang. Bahan galian timbal.Luas layanan b.Atau bangunan > 500 ha > 10 km * * > 250 I/dt Besaran diperhitungkan berdasarkan: * Pembebasan lahan * Daya dukung lahan * Tingkat kebutuhan air sehari-hari * Limbah yang dihasilkan * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran. Bahan galian radioaktif. No A 1 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Skala/Besaran * > 200 ha > 50 ha (kumulatif/tahun) * Alasan Ilmiah Khusus Dampak penting terhadap lingkungan antara lain: merubah bentang alam. * Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar.Atau luas lahan > 200 KK > 100 ha J. Pendidikan. termasuk pengolahan. dll. * Daya dukung lahan.000 orang. > 250.000 ton/th (ROM) > 200.Debit pengambilan Pembangunan Pusat Perkantoran. Pusat Perdagangan/ perbelanjaan relatif terkonsentrasi . atau sumber air permukaan lainnya . selain dampak penting yang dapat ditimbulkan. kapasitas resapan air tanah. sungai. Olahraga.000 m2 15 Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk/ transmigrasi: . keterkaitannya dengan masalah pertahanan dan keamanan menjadi alasan mengapa kegiatan ini wajib dilengkapi AMDAL untuk semua besaran. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C e.000 ton/th (ROM) > 250. dll) * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan) * Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Khusus bagi pusat perdagangan/perbelanjaan relatif terkonsentrasi dengan luas tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak penting: * Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi). Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara. Pembangunan jaringan transmisi . ekologi dan hidrologi. getaran apabila menggunakan peledak. 14 > 5 ha > 10. kebisingan. Tempat Ibadah. polusi udara. termasuk pengolahan. penambangan dan pemurnian Semua besaran 151 .000 ton/th (ROM) > 150.Luas lahan .13 .000 m3/th (ROM) Semua besaran Sampai saat ini bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir. tingkat kepadatan bangunan per hektar. Berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh: * Pembebasan lahan.Jumlah penduduk yang dipindahkan . serta dampak dari limbah cair yang dihasilkan. penambangan dan pemurnian 2. * Tingkat kebutuhan air. Bijih Sekunder/Endapan Alluvial d. * Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiangtiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar. seperti daya dukung tanah. Jenis Kegiatan PERTAMBANGAN UMUM Luas perizinan (KP) Atau luas daerah terbuka untuk pertambangan *) *) Untuk menghindari bukaan lahan terlalu luas Tahap eksploitasi produksi: a. * Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. * Produksi sampah. * Dalam lingkungan perairan. sifat mudah terurai tersebut menyebabkan Pb mudah tersedia secara biologis ( bioavailable). Setara kebutuhan air bersih 200. Bijih Primer c. f. kebisingan.

Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi * Aspek sosial. 1. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik-kimia. ekonomi dan budaya. Biomassa dan Gambut) C. * 2. terutama pada pembebasan lahan. Tambang di laut Semua besaran 4. . * Aspek sosial. ekosistem.Aspek fisik-kimia. Memerlukan lokasi khusus dan berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. terutama pada pembebasan lahan. Pembangunan PLTA dengan: . terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Semua besaran laut 152 . air tanah dan udara. Pencemaran udara. terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk. Pertimbangan ekonomis. Pencemaran udara. Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berpotensi menimbulkan pencemaran air permukaan.Atau aliran langsung (kapasitas daya) > 15 m > 200 ha > 50 MW 5. air dan tanah. * Dampak kebisingan. Pembangunan pusat listrik dari jenis lain (Surya. limbah bahang dll) serta air tanah. akan mengakibatkan gelombang banjir (flood surge) yang sangat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Potensi ledakan. ambient dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. ekonomi dan budaya terutama pada pembebasan lahan dan keresahan masyarakat Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik kimia. 1. * * * * * * * * * * * * * * Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. ³ 10 MW Angin.Aspek sosial.Tinggi bendung . Potensi ledakan. ekonomi dan budaya. * Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut. Perubahan Ekosistem laut. Potensi kerusakan ekosistem. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. ekosistem. Berpotensi menimbulkan dampak pada: . * Kegagalan bendungan (dam break).000 BOPD a. * Membutuhkan areal yang sangat luas.Atau luas genangan . Lapangan minyak b. Pertimbangan ekonomis. * Termasuk dalam kategori “large dam” (bendungan besar). * Dampak visual (pandang). Melakukan Submarine Tailing Disposal Semua besaran 5. * Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. . Pembangunan PLTD/PLTG/PLTU/ PLTGU > 100 MW 3. ekonomi dan budaya. terutama pada kualitas udara (emisi. * Aspek sosial. Lapangan gas > 30 MMSCFD 2. Pertimbangan ekonomis. * Aspek flora fauna. B. air. mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial dan gangguan kesehatan. * Dampak pada hidrologi (kapasitas daya). * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. Melakukan pengolahan bijih dengan proses Semua besaran sianidasi KETENAGALISTRIKAN > 150 KV Pembangunan jaringan transmisi Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. air dan tanah. Potensi ledakan.Aspek flora fauna. Eksploitasi dan pengembangan Uap Panas Bumi > 55 MW dan atau Pembangunan Panas Bumi 4. MINYAK DAN GAS BUMI Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di darat > 5. Pencemaran udara.3. mengganggu alur pelayaran dan proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial.

Kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang) > 10. Pengoperasian pipa rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh. Pemanfaatan lahan yang tumpang tindih dengan aktifitas nelayan dianggap cukup luas lintas kabupaten/kota juga dapat mengganggu aktifitas nelayan. atau dari 5 * sumur dalam area <10 ha) Pembebasan lahan cukup luas (dapat lintas kabupaten/ kota). pembebasan lahan. Membutuhkan area yang cukup luas.000 ton/th D. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Berpotensi menimbulkan dampak dari penggunaan pestisida/ herbisida. Berpotensi menghasilkan limbah gas. penambangan pasir. pembebasan lahan. limpasan air permukaan (run off). Khusus LNG. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif. Berpotensi menghasilkan limbah gas. sumur tanah dalam dan mata air) * * > 50 l/dt (dari 1 * sumur. Skala/Besaran > 100 ha Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. Di darat . gangguan lalu lintas. padat dan cair yang cukup besar. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. bentang alam dan potensi konflik sosial. Potensi intrusi air laut. Ada potensi perambahan ROW oleh kegiatan atau aktifitas penduduk. dan sampah. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Potensi konflik sosial. bangkitan lalu lintas dan sampah. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Pembangunan kilang: LPG LNG > 50 MMSCFD > 550 MMSCFD * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5. Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) a. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Merupakan industri strategis.000 BOPD 6. tambang pasir dan alur pelayaran. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya terhadap kegiatan/aktifitas nelayan. berpotensi menghasilkan limbah gas H2S Potensi konflik sosial. K. GEOLOGI TATA LINGKUNGAN Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal. padat dan cair yang cukup besar. Pelaksanaan konstruksi dapat meningkatkan erosi tanah. Berpotensi menghasilkan limbah gas.Panjang . Membutuhkan area yang cukup luas. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. hidrologi. padat dan cair yang cukup besar. dan sampah. Membutuhkan area yang cukup luas. Merupakan industri strategis. Merupakan industri strategis. 1. aksesibilitas lalu lintas.Atau diameter pipa * * > 50 km > 20 inci * * b. Berpotensi mengubah ekosistem yang lebih luas. Berpotensi menimbulkan dampak dari kegiatan laundry. kebutuhan air yang besar. Bidang Pariwisata Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem. Pembangunan kilang minyak > 10. No 1 2 Jenis Kegiatan Taman Rekreasi Kawasan Pariwisata 3 4 Hotel: Jumlah kamar Atau luas bangunan Lapangan golf (tidak termasuk driving range) > 200 unit > 5 ha Semua besaran 153 . serta kebutuhan air yang relatif besar. Potensi konflik sosial.3. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya apabila melalui daerah pemukiman penduduk. Di laut Semua besaran * * * * 4. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan fungsi lahan/kawasan.

Pengolahan dan pemurnian uranium Pengolahan limbah radioaktif Pembangunan Iradiator (Kategori II s/d IV) e. Produksi Radioisotop f. Membutuhkan air pendingin yang telah didemineralisasi dalam kolam beton. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem genetika berpotensi menimbulkan dampak terhadap Salinan sesuai dengan aslinya Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1. pemanfaatan timah dan “ flux solder”). * Transportasi. M.000 Ci) b. Semua tahapan dalam proses berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan dalam bentuk radiasi. Bidang Pengembangan Nuklir Secara umum. Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional (konvensi Basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat seksama dan terkontrol. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No 1 Jenis Kegiatan Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir: a. Fabrikasi bahan bakar nuklir Produksi > 50 elemen bakar/ tahun Produksi > 100 ton yellow cake/tahun Semua instalasi Aktivitas sumber > 37. Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1 Jenis Kegiatan Pengumpulan. Akumulasi panas memungkinkan terjadinya kebocoran radiasi ke lingkungan. Dr. A. 2. Skala/Besaran Semua kegiatan yang bersifat jasa pelayanan. Reaktor Penelitian b. fabrikasi bahan bakar nuklir selalu memiliki kapasitas minimal 50-100 elemen bakar/ tahun. Apabila air pendingin berkurang volumenya akan menyebabkan akumulasi panas di tempat penyimpanan sumber.L. c. ttd. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia.000 TBq (100. * Keamanan konstruksi. Sonny Keraf 154 . Produksi kaos lampu Semua instalasi Semua instalasi Secara teknoekonomik. 2. Reaktor Daya (PLTN) Daya > 100 KWt Semua instalasi Potensi dampak pengoperasian reaktor penelitian dengan daya <100 KWt terbatas pada lokasi reaktor. pengolahan dan/atau penimbunan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai kegiatan utama N. kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan resiko radiasi. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. Jenis Kegiatan Introduksi jenis-jenis tanaman. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. terutama kegiatan yang dipastikan akan mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam tabel. pemanfaatan. penyimpanan dan pembuangan bahan baku dan sisa-sisa bahan radioaktif. Pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor a. Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial. * Dampak radiasi pada tahap decomisioning (pasca operasi). menetap dan mengelola berbagai jenis dan sifat limbah B3 (tidak termasuk kegiatan skala kecil seperti pengumpulan minyak pelumas bekas. * Beresiko tinggi. d. dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Semua besaran Lihat penjelasan diatas Menteri Negara Lingkungan Hidup. komersial. minyak kotor dan “slop oil”. hewan. Proses produksi menggunakan thorium (Th) yang memiliki radiotoksisitas yang sangat tinggi.

Daftar Singkatan: m m2 m3 km km2 ha l dt Kw Kwh KV Mw Mwh Kcal TBq Ci BOPD MMSCFD kubik per hari LWS DWT KK TK KP ROM LPG LNG ROW BOD COD DO TSS TDS = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = meter meter persegi meter kubik kilometer kilometer persegi hektar liter detik kilowatt kilowatt hour kilovolt megawatt megawatt hour kilocalorie Terra Becquerel Curie barrel oil per day = minyak barrel per hari million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki low water sea = di bawah permukaan laut dead weight tonnage = bobot mati kepala keluarga tenaga kerja kuasa pertambangan raw of material = bahan mentah Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan Right of way = daerah milik jalan (damija) biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi dissolved oxygen = oksigen terlarut total suspended solid = total padatan tersuspensi total dissolved solid = total padatan terlarut . 155 .

A.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Mengingat : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 21 Pebruari 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Najib Dahlan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839).H. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. 2. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. Kedua Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional. Dr. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 156 . 4. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. ttd. Undang-ungang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. S. 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU. Pertama Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini.

Atas dasar analisis yang baik tentang keterkaitan antara jenis dan tahapan kegiatan pembangunan permukiman terpadu dengan karakteristik dari ekosistem yang diperkirakan akan menerima dampak ini kemudian segenap dampak diantisipasi dan dikelola secara optimal. 3) Memberikan panduan dan pemahaman kepada penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kegiatan pengembangan permukiman terpadu. Berdasarkan Pusat Data Properti Indonesia Tahun 1995 diketahui. kota makin terlibat di dalam ekonomi global. Dengan dasar ciri dinamika sistem lingkungan yang bersifat “site specific”. penyusunan AMDAL bagi berbagai kegiatan (proyek) pengembangan pemukiman terpadu. Hal yang kemudian perlu diingat adalah bahwa mutu yang baik dari studi AMDAL sangat bergantung pada kemampuan tim studi melakukan impact assesment. yaitu pembangunan kawasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya terus meningkat. Pertimbangan pembangunan kota sudah terlalu didominasi oleh pertimbangan manfaat ekonomi saja dengan mendudukkan pertimbangan-pertimbangan lain hanya menjadi pelengkap. dan flora fauna yang berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem. Dalam banyak hal keadaan ini menghabiskan sawah dan tambak (pantai) yang sudah didukung oleh prasarana dasar. Bangunan lama terlalu mudah dianggap tidak efisien dan oleh karena itu perlu diremajakan yang sekaligus akan menghilangkan nilai sejarah dan kekhasan kota yang bersangkutan. 157 . bahwa lahan yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut makin luas. pada tahun 2010 diperkirakan paling sedikit setengah dari kependudukan Indonesia akan berdiam di kota dan kecenderungan ini tidak akan berbalik kembali. Oleh karena. Pembangunan kota cenderung berskala mega atau super dengan intensitas yang tinggi. apabila dampak yang ditimbulkan tersebut tidak diantisipasi dan dikelola secara optimal dikhawatirkan hal ini akan menjadi unsur pembangunan sosial ekonomi yang mengabaikan kemampuan sistem alam (ekosistem). Mengingat salah satu cara sistematis untuk memasukkan pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangungan sosial ekonomi adalah melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Ciri Keempat. maka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan oleh pengembangan permukiman terpadu diperkirakan akan berbeda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya. perubahan iklim mikro. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan terpadu ini diharapkan dapat : 1) Mengendalikan cara pembukaan lahan di kawasan pengembangan permukiman terpadu sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya. pengendali banjir. mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan teknologi yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik. telah menghadapi dilema. yang didasari dengan pendekatan terhadap pembinaan terhadap struktur dan fungsi ekosistem. sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan secara makro. pembangunan yang terkonsentrasi ini akan menimbulkan masalah lingkungan yang juga intensif.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 4 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000 PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU BAB I. pembangunan kota makin menunjukkan sifatnya sebagai komoditi yang selalu mengejar nilai tambah. Di samping itu. maka penyusunan studi tersebut di dalam merancang permukiman terpadu menjadi sangat strategis. Pertama. Aglomerasi daerah urban menjadi ciri yang makin menonjol. prakiraan dan evaluasi dampak. kota di Indonesia memainkan peran yang makin penting. pemasok air baku untuk kebutuhan penyediaan air minum. Sejak memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua. Oleh karena itu. jauh diatas rata-rata nasional maupun propinsi.1. Sedang disamping kebutuhan prasarana dan sarana penunjang. perkembangan kota di Indonesia menunjukkan lima ciri pokok yang menonjol. dan lahan yang memiliki fungsi lindung. secara mikro ada peningkatan kualitas lingkungan akibat tertata dengan baik. ini berarti bahwa perkembangan kota akan banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. peran kota lama makin nampak terancam oleh pertimbangan kepentingan ekonomi yang sempit.Ini menimbulkan ancaman yang makin berat terhadap keberlanjutan ekosistem (sosial dan alam) kota yang sudah makin rapuh. 1.LATAR BELAKANG Pengembangan wilayah berdasarkan konsep permukiman terpadu. pencemaran dan penurunan potensi lahan. serta masyarakat di sekitar kawasan permukiman terpadu. Pengembangan permukiman terpadu di Indonesia dikhawatirkan mengeksploitasi lahan-lahan agraris. Ketiga Perkembangan ekonomi kota terus tinggi. PENJELASAN UMUM 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan. Kedua. Proses yang terdiri dari proses identifikasi. 2) Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan permukiman terpadu sebagai penyangga kehidupan yang bermakna penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan permukiman terpadu khususnya. Oleh karena proses tersebut dapat dicapai dengan mengorbankan fungsi ekosistem seperti hilangnya kesuburan tanah. Persoalannya kemudian rasional ekonomi yang menganggap bahwa di satu sisi lahan ini akan sangat berguna dan tinggi nilainya bila dikembangkan sebagai perumahan kelas menengah ke atas.

1 PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. khususnya Pasal 21 telah menetapkan penyelenggaraan lingkungan siap bangun (Lisiba). panduan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Hidup (RPL) disajikan pada Bab VI.1 Pendekatan sistem dalam penyusunan AMDAL pengembangan pemukiman terpadu BAB II. Sebagai suatu panduan. penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Kegiatan Permukiman Terpadu PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PENYUSUNAN ANDAL PENYUSUNAN RKL DAN RPL KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1. Oleh karena itu.1. Kemudian diikuti oleh panduan proses penyusunan Kerangka Acuan ANDAL kawasan permukiman terpadu (Bab IV) yang menjelaskan mengenai proses pelingkupan.1. Pegunungan) STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN KEGIATAN . STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN LINGKUNGAN Struktur Ekosistem/Komponen Lingkungan : · Fisik – Kimia · Biologi (Flora dan Fauna) · Sosek/Sosbud/Kesmas Fungsi ekosistem (Lahan Basah. memprakirakan dan mengevaluasi dampak lingkungan akibat kegiatan pengembangan. Kegiatan Pra-Konstruksi . KONSEP PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU 2. panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan konsep pembangunan permukiman terpadu (Bab II). sampai pada pemusatan dampak penting dan issue pokok lingkungan. dan kegiatan permukiman terpadu kaitannya dengan pembangunan regional (Bab III). baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan dan sarana lingkungan yang terstruktur. Selain itu. Lahan Kering. Kegiatan Konstruksi . maka segenap metode yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. permukiman terpadu secara cermat.3. Proses tentang penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) disajikan dalam Bab V. Selanjutnya. Kepadatan penduduk dan permukiman terpadu belum ditetapkan secara pasti. Walaupun hingga kini belum ada ketentuan jelas. identifikasi dampak potensial. Secara skematis. maka dari beberapa diskusi luas Lisiba perumahan sebesar 200 hektar sedangkan kasiba mencapai sampai 1000 hektar. Jadi permukiman terpadu perlu 158 . tetapi akan berkisar dari 150 orang per hektar bagi permukiman yang berada di dalam kawasan yang mempunyai ciri lingkungan yang kuat (semi urban) sampai yang mencapai kepadatan hingga 350 orang per hektar bagi yang sepenuhnya merupakan permukiman urban. sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL pembangunan permukiman terpadu seperti pada Gambar 1. namun permukiman terpadu utamanya adalah sebuah permukiman yang menurut UU No 4/ 1992 tersebut (Pasal 1) adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. juga menjelaskan komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan. Dengan sendirinya kawasan ini merupakan kawasan yang utuh baik langsung menempel pada kota yang ada maupun masih ada jarak yang berupa ruang terbuka atau tidak. Dalam pembahasan konsep undang-undang ini disebutkan bahwa konsep kawasan siap bangunan atau kasiba (Pasal 18 ayat 1) terdiri dari beberapa lingkungan perumahan (Pasal 18 ayat 2 b). Mengingat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang tersebut hingga kini belum terbit. Angka luas ini kelak dapat disesuaikan mengikuti peraturan yang berlaku. Informasi ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat teridentifikasi sedini mungkin. diperlukan pengetahuan tentang struktur dan ekosistem lahan basah dan lahan kering di kawasan pembangunan permukiman terpadu yang terkena dampak. PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi.

(5) Peningkatan pemahaman konsep lingkungan Permukiman terbentuk melalui proses yang berlangsung terus. Sekarang para pengembang menawarkan permukiman terpadu yang berwawasan lingkungan.perencanaan pembangunan dan tata ruang yang lengkap dan sah serta dilengkapi dengan perumahan serta dukungan prasarana dan sarana yang menjamin penyelenggaraan perumahan serta kebutuhan hidup dan lapangan kerja yang berskala bulanan. Kaidah dan pola dari warisan budaya dan pola hidup ini harus menjadi dasar awal untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan baru yang diciptakan oleh pembangunan yang maju dan berhasil yang merupakan proses berlanjut. (3) Pengendalian limbah dan pencemaran Limbah yang harus dikendalikan mulai dari yang dihasilkan oleh jamban dan kamar mandi. Bila ada sebuah kawasan seluas seratus hektar. dan sebagainya. Di samping itu. batu bata. bahan bakar fosil dan sebagainya. 2. Bumi Serpong Damai (BSD) selama lebih lima belas tahun eksistensinya. Kalau 2400 truk tersebut digandeng maka panjangnya 159 . Kini bagian ikutannya yang mulai dibangun oleh Perum Perumnas bagi RS dan RSS sebanyak 3000-4000 unit rumah tinggal yang akan selesai tahun 1996. maupun karena mobilitas penduduk antara yang datang dan pergi. (2) Penggunaan energi yang minimal Baik rencana makro maupun mikro perumahan dan permukiman harus memanfaatkan sistem iklim yang ada (secara pasif) dan perancangan bangunan yang memanfaatkan prinsip yang sama ditambah dengan sistem radian yang dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan dengan sistem pasif. Kawasan Darmo Satelit di Surabaya ternyata berlangsung lebih cepat sebab kawasan ini boleh dikatakan adalah permukiman terpadu pertama di Surabaya. Masalahnya pengembangan permukiman terpadu sering sulit ditentukan skala waktu rampungnya proses pembangunan. cara membangun dan rancangan bentuk dapat berpengaruh terhadap kebutuhan energi baik jangka pendek maupun panjang. Dalam perkembangan proses ini selalu akan terjadi pergantian pemukim baik secara alami melalui proses lahir dan mati. rumah sampai akibat dari pemakaian berbagai peralatan listrik. maka secara “normal” akan dibutuhkan sebanyak 215. kayu. perlu ditambah unsur ekosistem baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang memperkaya peran ekosistem secara keseluruhan. baru sekitar 200 hektar dikatakan telah “selesai” dibangun. Permukiman terpadu tumbuh. seperti perubahan nilai. Kawasan Driyorejo di Barat Daya Surabaya mengalami tahap persiapan lebih dari dua puluh tahun. utamanya yang berkaitan dengan pengadaan bahan urugan dan bahan bangunan konvensional seperti pasir. Ada 5 (lima) prinsip utama dari konsep perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan yang harus dikembangkan sesuai kondisi awal yang ada. Sedangkan terhadap dampak yang dualistis seperti naiknya harga lahan. positif dan negatif. Berbagai dampak ini harus diketahui setepat dan sedini mungkin untuk dirancang cara-cara penanganan dan penanggulangan terhadap dampak yang merugikan. Pemilihan bahan bangunan. banyak dampak yang berskala regional yang tidak langsung nampak. dari Klender ke pusat kota pada hari dan jam kerja biasanya membutuhkan waktu paling sedikit dua jam untuk pergi atau pulang. dapur. Namun hingga kini konsep perumahan atau permukiman yang bersahabat dengan lingkungan belum pernah dirumuskan secara jelas. perlu dicari jalan untuk membuatnya tetap serasi dan seimbang dalam arti yang seluas-luasnya. Bila pengurugan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Depok dan sebagainya. dan hal yang mendukung untuk memantapkan dan mengembangkan bagi dampak yang positif. Klender. sebab ada cukup banyak dampak yang bersifat menguntungkan seperti terciptanya lapangan kerja baru.2 RENCANA KEGIATAN PERMUKIMAN TERPADU KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN REGIONAL Sesuai dengan uraian di atas. budaya dan berbagai pemborosan. dapat dibayangkan dampak lalu lintas yang ditimbulkannya. tiap hari akan terjadi perjalanan truk sebanyak 2400 atau tiap hari kerja (delapan jam) akan lewat 300 truk. Kawasan yang luasnya sekitar 2000 hektar selesai dibangun dalam waktu sekitar 20 tahun yang dikerjakan oleh lebih sepuluh pembangun perumahan (developer) dibandingkan dengan di Jakarta yang hanya dikerjakan oleh sebuah perusahaan saja. 65 milyar. Di samping itu.000 trip truk besar dengan nilai total sekitar Rp. Perubahan yang dilakukan terhadap unsur ekosistem karena adanya pembangunan gedung atau prasarananya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari unsur ekosistem yang tidak terusik. Limbah ini harus terkelola dengan baik dan jelas dengan prinsip produksi bersih. yaitu: (1) Mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada Termasuk di dalamnya adalah berlanjutnya ekosistem yang ada. Di Jakarta keadaannya paling parah. terhadap permukiman terpadu seperti Kebayoran Baru. Dapat dibayangkan pemborosan energi dan waktu yang ditimbulkan hanya oleh satu dampak ini di samping pencemaran terhadap udara dan rusaknya ekosistem di kawasan antara permukiman terpadu dan kota lama yang nilainya sulit diukur. (4) Menjaga kelanjutan sistem sosial-budaya lokal Gaya hidup yang berlaku sudah secara mantap diterjemahkan ke dalam berbagai tatanan dan bentuk bangunan serta peralatan yang dipakai sehari-hari. Fungsi terakhir ini tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pertumbuhan permukiman terpadu di Indonesia. pada tahap konstruksi timbul dampak yang dualistis. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pembangunan ini. Tidak semua dampak bersifat merugikan. Darmo Satelit. Hal ini memang menjadi kesulitan tersendiri sebab dampak yang hendak dikelola sangat tergantung dari waktu dan tempat. Di samping dampak yang bersifat langsung seperti diuraikan di atas. di samping sebagai kawasan perumahan dapat pula berfungsi sebagai wilayah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi regional. sejauh ini yang diperhatikan adalah dampak pasca konstruksi dalam bentuk kemacetan lalu lintas. Dalam keadaan sepi (seperti antara Natal dan Tahun Baru) waktu tempuh nyata paling lama hanya empat puluh menit atau sepertiga waktu “normal”. Walaupun bila dibandingkan dengan Kebayoran Baru atau Klender dan Depok. mutu kehidupan yang lebih baik dan sebagainya.

jaringan listrik. seperti jaringan transportasi. 160 . Maka terjadilah hubungan sosial antar permukiman terpadu dengan daerah sekitarnya. Penduduk di permukiman terpadu dan kota-kota pertumbuhan lain dapat memanfaatkan kegiatan perekonomian.2. Permukiman terpadu yang dibangun harus dapat tetap melestarikan fungsi lindung dari desa-desa atau kawasan lindung di sekitarnya. karena itu harus jelas. lapangan golf. agar fungsi lindung tetap terjaga. permukiman terpadu dapat menunjang tumbuhnya perekonomian baru yang dampaknya dapat dirasakan secara regional. Dengan demikian pelestarian. Perkembangan regional. Kelembagaan yang harus ada menyertai dibangunnya permukiman terpadu adalah kelembagaan pemerintahan. karena dapat pula dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di sekitar permukiman terpadu. misalnya lembaga pemerintahan. Daerah untuk wisata yang intensif harus dibedakan dari daerah wisata terbatas. Batasan kawasan lindung akan merupakan hal yang sangat penting.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman terpadu yang dibangun dan merupakan pusat pertumbuhan baru. Berkembangnya berbagai institusi ini. Dengan hadirnya kawasan permukiman terpadu ini diharapkan daerah disekitarnya juga dapat berkembang dan memperoleh dampak positifnya. diharapkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengatur berputarnya roda pemerintahan suatu permukiman terpadu. 2. 2. demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. baik di peta maupun di lapangan. namun merupakan daerah yang dilindungi. lembaga pendidikan. lembaga perbankan. telepon dan air bersih. dan lain-lain. perindustrian dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas permukiman terpadu. Kegiatan yang mendukung kehidupan manusia dalam suatu permukiman terpadu dapat diletakkan pada daerah budidaya yang telah dituangkan dalam pola kebijaksanaan dasar daerah. Misalnya hutan lindung dan cagar alam berfungsi untuk melindungi hidrologi. Daerah sekitar diharapkan juga dapat memasok berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan permukiman terpadu. Jaringan infra struktur ini. hutan wisata.1 Kaitan permukiman terpadu terhadap pengembangan regional Salah satu dasar yang harus dijadikan pertimbangan dalam pengembangan permukiman terpadu adalah bahwa kegiatan permukiman terpadu harus dapat mendukung kebijaksanaan dasar daerah mengenai pelestarian fungsi lindung dan keseimbangan budidaya daerah setempat. saluran air buangan dan pengeringan (drainase) serta tempattempat pembuangan sampah. kegiatan sosial yang ditawarkan dengan adanya fasilitas-fasilitas sosial di permukiman terpadu. kelembagaan perbankan. hendaknya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang telah ada yang pada saat itu harus diemban oleh kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. bahwa setiap pembangunan perumahan dengan pembukaan lahan seluas 200 hektar perlu melakukan kajian dampak regional yang dilakukan secara teliti. sehingga penduduk dari daerah sekitar dapat memperoleh lapangan kerja baru. dan kepolisian. Selain itu. Hutan wisata berfungsi sebagai tempat wisata. Padahal saat ini. Kegiatan-kegiatan perekonomian dapat sebagian beralih ke permukiman terpadu. misalnya: pengembangan wisata di kawasan lindung harus diatur agar tidak berlawanan dengan tujuan perlindungan. penduduk dari daerah sekitar dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh permukiman terpadu. fasilitas pertokoan dan rekreasi. yaitu Perkampungan Serbaguna Tarnan Dayu. dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dibangun dalam permukiman terpadu.2.2. swasta. Kelembagaan yang dibentuk ini akan saling berhubungan dengan kelembagaan-kelembagaan lain yang telah ada dalam kota-kota pertumbuhan lain di sekitar permukiman terpadu untuk melayani seluruh penduduk serta untuk mengelola permukiman terpadu. dengan dibangunnya permukiman terpadu. Misalnya didaerah Pasuruan Jawa Timur. Menurut Soemarwoto (1985). kawasan perumahan yang dikembangkan di Surabaya mencapai sekitar 2000 hektar dan tanah urug umumnya diambil dari Porong. lembaga swasta. hutan buru dan taman laut. hendaknya dapat menimbulkan dampak positif terhadap daerah di sekitarnya. 2. fasilitas pendidikan dan fasilitas wisata. telepon. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Hal ini sangat penting karena pola kebijaksanaan dasar daerah merupakan arahan yang harus dianut. Namun fungsi daerah Taman Dayu untuk melindungi hidrologi harus tetap terjaga. listrik. Dalam daerah wisata yang intensif dapat dibangun fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel. Dari uraian di atas terlihat. sekitar 60 kilometer selatan Surabaya. dan terciptalah hubungan perekonomian dengan permukiman terpadu. air bersih. misal desa-desa di sekitar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja. Pembangunan ini akan mendukung pengembangan regional Jawa Timur di mana kota-kota di sekitar akan ikut memanfaatkan keberadaan kota Taman Dayu. Permukiman terpadu beserta kota-kota pertumbuhan di sekitarnya dapat bersama-sama dalam membangun perkembangan regionalnya. fungsi-fungsi lindung ini harus dijaga dan jangan sampai menjadi fungsi yang lain. antara lain adalah jaringan transportasi. restoran kolam renang.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman yang dibangun harus dapat berperan sebagai pendukung perkembangan kota-kota lain di sekitarnya. dapat terpacu karena dibangunnya jaringan infrastruktur pendukung. batas-batas ini dapat menghindari sengketa dan dapat menjadi pegangan bagi pengelola kawasan lindung. fungsi lindung dan keseimbangan budidaya suatu daerah akan tetap terjaga. fungsi lindung dapat merupakan cagar alam hutan lindung suaka marga satwa.sekitar 20 kilometer. rencana kebijaksanaan dasar daerah adalah mengembangkan daerah wisata di daerah pegunungan. Kelembagaan yang berkembang dengan adanya permukiman terpadu. Dalam hal perekonomian. dan di sisi lain permukiman terpadu pun dapat tetap berkembang dalam mendukung pengembangan regional yang telah direncanakan sesuai dengan RUTRD. akan memudahkan dan mempercepat hubungan antara permukiman terpadu dengan kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. baik permukiman.

misalnya: golf.6 KRITERIA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Mengacu pada ukuran dan skala permukiman terpadu. (2) Kegiatan sosial masyarakat dalam fasilitas-fasilitas sosial yang dibangun taman-taman. telepon.6. terminal kota. atau ekosistem pegunungan dengan ekosistem pantai. Ukuran luas permukiman terpadu dapat berkisar 1 antara 200 sampai lebih dari 5000 ha. Untuk itu keberadaan permukiman terpadu hendaknya juga dapat memberikan jasa dan lapangan kerja bagi penduduk yang berubah mata pencahariannya. olah raga dan rekreasi. tempat bermain.6. Kota kecil dapat meliputi luas 200 sampai 1000 ha. maka dalam pengembangan kawasan permukiman terpadu hendaknya mencakup dan mengikuti 3 (tiga) kriteria yaitu: kriteria ekosistem. pendidikan. (6) Kegiatan pariwisata. 51 Tahun 1993 telah disebutkan bahwa kegiatan yang bersifat regional. pertokoan. misalnya ekosistem pegunungan. jaringan pematusan kota. balai pengobatan. masing-masing usaha dan/ atau kegiatan dapat dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. Tetapi belum tentu suatu permukiman terpadu akan mempunyai kegiatan pariwisata atau industri atau kegiatan pelabuhan. 2.Kemungkinan penduduk di desa-desa sekitar permukiman terpadu akan berubah pola mata pencahariannya dari sektor agraris ke sektor perkotaan. tenis. jalan kota. renang dan sebagainya yang membutuhkan adanya lapangan golf. Di samping itu. Kriteria-kriteria dimaksud adalah : 2.4 URAIAN TENTANG KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN Kegiatan sentral dalam pengembangan permukiman terpadu adalah kegiatan dalam kawasan permukiman karena dapat terkait dengan kegiatan dalam kota. (5) Kegiatan olah raga dan rekreasi. pariwisata. sedangkan kegiatan perdagangan lain dapat dimiliki 161 . lapangan sepak bola dan seterusnya. kota sedang maupun kota besar. misalnya dalam permukiman terpadu. pihak yang berwenang dapat mengatur dan mensyaratkan agar permukiman terpadu yang dibangun akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat desa di sekitarnya. sepak bola. atau mungkin terminal udara dan pelabuhan laut. seperti: jaringan listrik. dapat terletak lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. Penciptaan lapangan kerja di sektor non pertanian dalam permukiman terpadu harus mendapatkan perhatian yang serius. balai-balai pertemuan. seperti kegiatan perdagangan. Permukiman terpadu yang mempunyai kegiatan yang bersifat regional juga dapat terletak dalam suatu gabungan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. 2. sarana sosial. sesuai dengan definisi kota yang biasa dipakai oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam menilai kebersihan kota dalam memperoleh Adipura. (4) Kegiatan transportasi. pelabuhan. jalan-jalan lingkungan. 2. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas banyak yang termasuk dalam daftar wajib AMDAL sebagaimana disebutkan dalam lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. apotek.3 KEGIATAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Kegiatan-kegiatan yang biasa terdapat dalam permukiman terpadu dan keterkaitan antar kegiatan dalam permukiman terpadu antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya. Suatu permukiman terpadu akan selalu dilengkapi dengan permukiman sebagai tempat hunian. Misalnya. misalnya: jalan tol. (10) Kegiatan untuk pengamanan kota dan angkatan bersenjata. misalnya: kebun binatang. misalnya: pasar.5 UKURAN DAN SKALA PERMUKIMAN TERPADU Seperti disebutkan dalam pendahuluan. kriteria pemrakarsa. Misalnya penghuni permukiman akan selalu terkait dengan jalur transportasi. dan tempat pembuangan sampah. misalnya: pendidikan formal dan informal yang memerlukan gedung-gedung sekolah. misalnya kantor polisi atau kemungkinan juga terdapat latihan atau pendidikan untuk angkatan bersenjata tertentu. pergudangan. atau terletak dalam satu tipe ekosistem. ukuran dan skala permukiman terpadu tidak selalu sama. kegiatan perdagangan dapat dimiliki oleh pihak lain (swasta) seperti pertokoan. Dengan demikian maka dalam AMDAL untuk permukiman terpadu akan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saling terkait dengan ukuran dan skala tertentu. industri dan fasilitas kesehatan. (9) Kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan rumah sakit. Hal ini hanya mungkin terjadi bila para pemrakarsa permukiman terpadu mempunyai komitmen sosial. (7) Kegiatan pendidikan. laboratorium klinis dan lain-lain. plaza. daerah konservasi dan wisata buatan. kota sedang meliputi > 1000 ha sampai 5000 ha dan kota besar meliputi luas > 5000 ha. (8) Kegiatan industri kecil maupun besar dengan bangunan industri disertai dengan fasilitas pengolah limbah. 2.1 Kriteria ekosistem Dalam PP No. air bersih. yang menghubungkan permukiman ke tempat-tempat kegiatan lain. sedangkan skalanya dapat berupa kota kecil.2 Kriteria pemrakarsa Dalam kegiatan yang bersifat regional. yang merupakan suatu kesatuan kegiatan dalam permukiman terpadu yang harus disusun AMDALnya. agar dapat memberikan bantuan mata pencaharian baru bagi penduduk di sekitar permukiman terpadu. wisata air atau wisata alam yang lain. dan kriteria sektor yang berwenang. hotel. jembatan. (3) Kegiatan perekonomian dan perdagangan. 2.

Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. iv. Penelaahan pustaka. vi. 2) Kegiatan konstruksi. jalan tol. seperti pelabuhan dimiliki oleh Perum Pelabuhan. Hasil langkah 1 1. pengerasan. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/1992 tentang Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL untuk informasi yang lebih rinci. 2. iii. BRI. Pengamatan Lapangan. Pembuatan taman kota dan tempat bermain. 162 . yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). sekunder. dimiliki oleh pemerintah. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. iii.oleh pemerintah. Pada tahap ini hanya akan diinventarisir dampak yang potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. Pembangunan terminal dan transportasi angkutan. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Pembangunan pasar. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. brainstorming. iii. misalnya: Departemen Pekerjaan Umum akan mengatur dan bertanggung jawab untuk jembatan.3 Sektor yang berwenang Masing-masing usaha dan/atau kegiatan dalam suatu wilayah yang mempunyai dampak regional seperti permukiman terpadu. BAB III. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL 3. ii. Pembangunan perumahan. v. b) Kegiatan pembebasan lahan. Pembangunan gedung olah raga.1. Seperti yang telah disebutkan dalam kajian teori (Bab II) yang berwenang mengatur kegiatan dalam suatu permukiman terpadu akan terdiri lebih dari satu instansi. instansi yang bertanggung jawab. menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. dapat dimiliki oleh pihak pemerintah maupun swasta. peta sistem lahan. Jadi permukiman terpadu akan selalu ditangani dan dikelola oleh lebih dari satu instansi. Interaksi kelompok (rapat. Analisis isi (content analysis). Demikian juga dengan kawasan wisata yang ada dalam permukiman terpadu. dan lain-lain). c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. Diperoleh daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1) Kegiatan pra-konstruksi.6.1 Identifikasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. peta tata guna tanah. Matriks interaksi sederhana. dan lain sebagainya. Adapun metoda identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Daftar uji sederhana. pemrakarsa kegiatan. serta masyarakat (tokoh-tokoh) yang berkepentingan. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. atau penting tidaknya dampak. Pembangunan pergudangan. ii.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Pengalihan aliran air. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. pintu pintu air dan kesehatan lingkungan permukiman. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah-langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. usaha dan/atau kegiatan yang ada dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. listrik. iv. Pembuatan tempat pembuangan sampah. dan pembangunan jalan lingkungan. BNI. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial bagi aktivitas proyek pengembangan permukiman terpadu Langkah 1 Buat daftar rencana usaha dan/atau kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu berikut dengan rencana pembangunannya menurut persebaran ruang dan waktu. i. (2) evaluasi dampak potensial. yang meliputi: a) Kegiatan survei. iv. dan (3) pemusatan dampak penting. Penggalian saluran air. seperti: peta rencana umum tata ruang daerah. Bank Indonesia. peta vegetasi. 3. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. Jadi ada batasan bahwa dalam permukiman terpadu. lokakarya. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. Pemadatan. Departemen Perindustrian akan bertanggung jawab untuk industri-industri kecil maupun besar yang ada dalam kawasan tersebut. dan telepon. ii. Pembangunan lapangan golf.

Hutan tropika basah (berstatus konversi). Pola aliran dan debit sungai. . iv. i) Penunjang kesehatan masyarakat. . 3) Kegiatan Permukiman Terpadu. Tinggi muka air tanah.Perkebunan karet/kelapa sawit. iv. 2.Tegalan/pertanian lahan kering. yakni: 1.Kolam budidaya ikan air tawar. iii.Sawah. iii. h) Industri kecil dan menengah. j) Ketertiban dan keamanan. Kualitas udara. . 2) Ekosistem Lahan kering. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi: 163 d) .Hutan rawa air tawar. ii. b) Aktivitas sosial masyarakat di fasilitas-fasilitas sosial/umum yang ada. Tinggi. Unit pengolahan limbah. yakni: a) Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut hasil langkah 2 b) Di tingkat regional yang merupakan dampak regional dari pengembangan permukiman terpadu Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen Lingkungan atau struktur ekosistem yang potensial terkena dampak proyek.Hutan rawa bergambut.Tanaman pekarangan Langkah 3 Identifikasikan komponen lingkungan atau struktur ekosistem yang berpotensi terkena dampak akibat proyek pada dua tingkat. Topografi ii. iii.Tambak garam. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . e) Olah raga dan rekreasi. yang meliputi kegiatan: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. pada ruang dan waktu tertentu yang diantaranya adalah: 1) Lahan basah. . . c) Perekonomian dan perdagangan. Industri makanan. k) Seni budaya.Tambak udang/bandeng. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Iklim: i.Danau/situ. . . c) Tanah: i.Hutan bakau. sungai). Sifat fisik tanah. g) Pendidikan. Industri kulit (sepatu dan tas). lama dan frekuensi genangan/banjir. . ii. b) Hidrologi: i. Suhu udara. . ii. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . . . iii. Kelembaban nisbi udara. d) Transportasi. Sifat kimia tanah. Industri mebel kayu dan rotan.Kebun/talun. Kualitas air permukaan (sumur. Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1. f) Pariwisata. Hasil langkah 2 Diperoleh daftar tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Daftar spesifik untuk setiap ekosistem yang terkena dampak.Kegiatan pembangunan industri kecil/menengah: i.Hutan rawa payau. . Diperoleh informasi tentang rencana pembangunan kota menurut persebaran ruang dan waktu.

misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Kualitas udara. ii. Kualitas air permukaan (sumur. 2) Fungsi pengendalian air terutama pengendalian banjir. l) Persepsi masyarakat terhadap proyek. 3) Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya: a) Demografi/kependudukan. berupa estetika lansekap. Produktivitas lahan pertanian. urbanisasi. i) Akulturasi dan asimilasi. daging satwa liar. 10) Fungsi pemasok energi. 2. Tinggi. k) Pusat pertumbuhan baru dan ekonomi regional. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. 15) Fungsi sosial budaya. rotan. seperti energi kayu dan listrik-hidro. Mobilisasi. f) Rekreasi dan pariwisata. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. lama dan frekuensi genangan/banjir. dan lansekap lahan basah. seperti: proses ekologi. sungai). iv. 13) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi habitat satwa liar dan tumbuhan penting. b) Hidrologi: i Tinggi muka air tanah. iii. getah. b) Komunitas Satwa Liar. Produktivitas budidaya perairan. ikan. yang diantaranya meliputi : 1. g) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik.i. Jenis dan populasi satwa Liar. iii. geomorfologi dan geologi. 4) Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. keagamaan dan spiritual serta peninggalan sejarah. Pola aliran dan debit sungai. ekosistem. ii. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. iv. Pertumbuhan. obat. 12) Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa Liar. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). pengendalian erosi. Struktur dan komposisi vegetasi. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. e) Peluang bekerja dan berusaha. d) Sumber mata pencaharian. misalnya: berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. komunitas. Komunitas biota. Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi untuk setiap tipe ekosistem yang potensial terkena dampak. migrasi. j) Pola konsumsi. Daftar potensial dampak regional. seperti: kayu. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. tanah adat). 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Komunitas biota akuatik. dan gambut. dan pemecah angin (windbreak). i. b) Fasilitas sosial dan fasilitas umum. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Bila ekosistem lahan basah yang terkena dampak. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. ii. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. yang berupa perlindungan garis pantai. h) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. 16) Fungsi sosial ekonomi. identifikasikan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak penting akibat adanya proyek. Sektor informal/multiplier effect. b) Komunitas Satwa Liar: i. c) Sarana dan prasarana perhubungan darat. Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. 164 . iii. ii. iii. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti: pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan pasokan bagi ikan serta burung-burung migran.

komunitas. Langkah 5 a) Buat matrik dampak komponen yang pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan atau struktur ekosistem (hasil langkah 3).2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. 5) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. b) Buat matrik dampak ekosistem pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat fungsi ekosistem (hasil langkah 4). b) Daftar dampak penting untuk tingkat/skala regional. yakni yang meliputi: a. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. berupa estetika lansekap. yakni (lihat pengelompokkan pada hasil langkah 3): a) Daftar dampak penting spesifik untuk masing-masing tipe ekosistem. hara terlarut yang terbawa ke hilir. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. 3. c) Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2 Hasil langkah 5 a) Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan atau struktur ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. misalnya berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 165 . Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. b. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil Langkah 7. dan peninggalan sejarah. Komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. palawija. Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. b) Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. keagamaan dan spiritual. serta buah-buahan. 7) Fungsi sosial budaya. 8) Fungsi sosial ekonomi.1. seperti proses ekologi. 11) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok produksi pangan. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL kawasan pengembangan permukiman terpadu. serta peninggalan sejarah. seperti estetika lansekap. geomorfologi dan geologi. Bila ekosistem lahan kering yang terkena dampak. dan lansekap. 3) Fungsi produksi energi (kayu). diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak. Komponen lingkungan yang terkena dampak penting dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. daftar dampak penting dikelompokkan menurut masing-masing tipe ekosistem. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. 2) Fungsi pemasok produk alam.2. keagamaan dan spiritual. 10) Fungsi penelitian dan pendidikan. Adapun untuk fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. 9) Fungsi sosial budaya. hortikultura. ekosistem. seperti pangan beras. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. habitat satwa liar dan tumbuhan penting.

1. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak penting hasil langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan Hasil langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan penting yang akan dialami ekosistem sebagai akibat adanya proyek. konstruksi dan permukiman di kawasan pengembangan permukiman terpadu. sosial maupun ekologi. Catatan Langkah 1: Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan proyek akan melakukan kegiatan pra-konstruksi.Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak penting di suatu lokasi.1.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL.3.1. 3. dan lampiran II Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi terjadinya perubahan fungsi ekosistem sebagai akibat adanya proyek c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis.2.1. terhadap ekosistem disekitarnya. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra-konstruksi. Hasil Langkah 1 a) Diperoleh batas kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu di atas peta yang digunakan. Hasil Langkah 2 a) Diperoleh batas ekologis di atas peta yang digunakan pada langkah 1. Hasil langkah 1 dari butir 3. b) Di dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. Hasil langkah 2 sampai 4 dari proses identifikasi dampak potensial. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara : a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek . sosial dan ekologi.1. 166 . Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta kerja yang tersedia. Hasil langkah 10 Diperoleh urutan isu-isu pokok Lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. dapat memandu mengarahkan hal ini d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat yang berpotensi berubah secara mendasar akibat rusaknya sumber daya atom dan/atau pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek pengembangan permukiman terpadu. melalui media air. b) Keterkaitan antar dampak penting yang telah di identifikasi pada butir 3. dapat digunakan untuk memandu hal ini. dan/atau .Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting proyek. b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. dimana prosesproses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. konstruksi dan operasi. Catatan Langkah 2 : Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam.3 Pemusatan dampak penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan hasil langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/ atau lembaga-lembaga masyarakat (social institutions) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. Catatan langkah 9 : Dampak penting hasil langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui : .2.

batas sosial (hasil langkah 3). Hasil Langkah 5 Diperoleh wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. batas administratif. di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. batas kawasan perkebunan.2. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. HasiL langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah1. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. studi ANDAL serta RKL dan RPL Kegiatan Pengembangan Permukiman Terpadu yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. studi ANDAL serta RKL dan RPL. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. 4.2 Wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. lembaga non pemerintah dan/atau lembaga lokal masyarakat setempat. dan batas administratif (hasil langkah 4). Batas dimaksud merupakan resultante dari batas kegiatan proyek batas ekologi. Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan.2.Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1 dan 2. batas kuasa pertambangan. misalnya: akibat aktivitas rekruitmen tenaga kerja. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. batas sosial. PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 4. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. dan kendala teknis yang dihadapi. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. waktu. 4. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. karena itu tidak dijelaskan tentang outline tersebut. 167 . b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis namun berpotensi terkena dampak penting akibat proyek. Catatan langkah 4 : Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (hasil langkah 1).1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. dan tenaga yang tersedia. Catatan Langkah 3 : Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek.2 METODE STUDI 4. batas ekologi (hasil langkah 2). Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. BAB IV.

b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). maka akurasi dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana kegiatan (emic). Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak.2. serta sifat dan karakter komponen Lingkungan yang diukur. c) Mengingat ekosistem di sekitar pengembangan permukiman terpadu yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem permukiman terpadu sebelum proyek dibangun. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. Saat pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian.4. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. d) Khusus untuk aspek sosial. 168 . bulanan atau musiman. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. kampung. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. b) Dampak penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem permukiman terpadu serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak.2.4 Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. 4. dan di lain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: Metode penarikan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur.

Koppen dan Oldeman • Analisis Hidrograf • Pengukuran Lapang • Penilaian Ahli Keterangan Hidrologi • Tinggi muka air tanah • Pola aliran dan debit sungai • Tinggi. dan frekuensi genangan/ banjir • Kualitas air permukaan (sumur. litologi • Sifat fisik tanah • Sifat kimia tanah • Observasi Lapang • Pengeboran dan pengambilan contoh • Lahan gambut • Lahan rawa • Penilaian Ahli • Analisa laboratorium 169 . Sekunder & Tersier Metode Analisis Data • Tabulasi data • Klasifikasi Schmith & Ferguson. • Sungai • Saluran Primer. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik kimia Komponen Lingkungan Iklim Parameter • Suhu udara • Kelembaban nisbi udara • Kualitas udara Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi • Pengumpulan data sekunder • Pengukuran di lapangan (untuk kualitas udara) • Pengamatan Lapang • Pengukuran Lapang • Pengamatan Lapang • Pelabuhan Udara terdekat • Stasiun Meteorologi terdekat.Tabel 4-1. Sekunder & Tersier • • • • Visual Organoleptik Gravimetrik Elektrometrik Sifat kimia air permukaan • • • • Titrasi Titrasi Titrasi Titrasi • Sungai • Saluran Primer. sungai) • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna Rasa dan bau Kekeruhan Padatan tersuspensi pH DHL DO BOD COD Kesadahan total Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Karbonat (CO3) Nitrit (NO2) Nitrat (NO3) Sulfat (SO4) Sifat fisik air permukaan • Pengukuran in situ • Sungai • Pengambilan sampel air • Saluran Primer. Sekunder & Tersier • • • • • Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Tanah • Fisiografi. lama.

Sosial budaya • Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik biologi Komponen Lingkungan Komunitas vegetasi Parameter • Komunitas biota • Struktur dan komposisi vegetasi Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek Keanekaragaman • Indek Keseragaman Je nis. penduduk ter• Observasi dekat. lapangan • Wilayah • Wawancara administrasi dengan tokoh proyek. • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli 170 . • Fasilitas sosial dan penduduk ter• Observasi fasilitas umum dekat. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik sosial Komponen Lingkungan Sosial ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli Keterangan • Pengumpulan • Desa-desa/ • Demografi dan data kependudukan pemukiman sekunder. lapang • Sarana dan • Wilayah • Wawancara prasarana administrasi perhubungan darat proyek.Tabel 4-2. • Sumber mata pencaharian • Peluang bekerja dan berusaha • Rekreasi dan pariwisata Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Keterangan • Transek • Hutan bakau • Pengumpulan • Hutan rawa data sekunder • Hutan payau • Analisis vegetasi • Observasi lapangan Komunitas satwa liar • Komunitas biota almafile • Jenis dan populasi satwa liar • Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi • Transek • Pengumpulan data sekunder • Analisis satwa liar • Observasi lapangan • Hutan bakau • Hutan rawa • Hutan payau • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek keanekaragaman • Indek keseragaman jenis • Tabulasi jenis satwa liar yang dilindungi Tabel 4-3. • Pemetaan Plasma Nutfah. tanah adat) • Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal • Akulturasi dan asimiliasi • Pola konsumsi • Persepsi masyarakat terhadap proyek • Pengumpulan • Desa-desa/ data pemukiman sekunder. masyarakat dan ketua suku atau adat.

yang meliputi: a) Kegiatan survei. misal: i. (3) Aspek rencana daya tampung atau jumlah penghuni permukiman terpadu. yakni lokasi administratif dan rencana luas/skala permukiman terpadu. iii. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL serta Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL (Sektoral) dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. e) Olahraga dan rekreasi. (6) Aspek tata ruang mikro permukiman terpadu. Industri kulit (sepatu dan tas). Pondok Indah).2. Industri makanan. (7) Aspek manajemen kota/kelembagaan. Palangka Raya). iv. Depok). Penggalian saluran air. (5) Aspek rencana lokasi. Tembagapura). g) Pendidikan. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. konstruksi dan hunian sering dijumpai berlangsung secara paralel. c) Perekonomian dan perdagangan. b) Kegiatan pembebasan lahan. 4. vi. Pembangunan perumahan. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. konstruksi dan hunian. Pembuatan tempat pembuangan sampah. alternatif ruas jalan. d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan hunian (misal sarana pengolahan air limbah). atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah. kota wisata. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). yang meliputi: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. k) Seni budaya. Unit Pengolahan Limbah. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. b) Alternatif lokasi.3 URAIAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan permukiman terpadu hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. 171 . l) Penunjang kesehatan masyarakat. h) Industri kecil atau menengah. pengerasan. c) mendukung kegiatan pertambangan (misal.2. iii. b) lepas namun terkait dengan kota yang sudah ada (misal. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan. ii. Pembangunan terminal dan transport angkutan. 2) Kegiatan konstruksi. f) Pariwisata. iv. Pembangunan pergudangan. Bontang. d) Kegiatan pembangunan industri kecil. sehingga pembangunan permukiman terpadu dapat menelan waktu bertahun-tahun tergantung pada skala/luas kota dan permintaan masyarakat. v. e) Tenaga kerja yang dicurahkan untuk kegiatan persiapan. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci/detil. Pembangunan gedung olah raga. iv. Pembangunan pasar. dan pembangunan jalan lingkungan. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. b) fungsi dari setiap ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. konstruksi dan hunian permukiman terpadu. misal kota dibangun berdasarkan konsep kota bisnis. 3) Kegiatan hunian. d) kota yang berdiri sendiri (misal.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan di kawasan pembangunan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. (8) Aspek kegiatan persiapan. Kegiatan pembangunan dimaksud dideskripsikan dengan penekanan pada pokok uraian berikut ini : 1) Kegiatan persiapan atau pra-konstruksi. Industri mebel kayu dan rotan.1. iii. atau kota ramah lingkungan. Perlu diketahui aspek kegiatan ini tidak berjalan secara sekuensial serentak untuk seluruh kawasan permukiman terpadu. (4) Aspek jangka waktu pengembangan. ii. d) Transportasi. e) merupakan kawasan siap bangun. Pengalihan aliran air. Dari berbagai jenis kegiatan yang diutarakan pada angka (7) usahakan dapat dipaparkan : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan.4. Oleh karena itu kegiatan persiapan. ii. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): (1) Aspek bentuk pengembangan permukiman terpadu: a) menempel pada kota yang sudah ada (misal. Pembangunan lapangan golf. Pemadatan. c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi. iii. Pembuatan taman-taman kota dan tempat bermain. listrik dan telepon. iv. j) Ketertiban dan keamanan.1. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan: i. b) Kegiatan masyarakat dalam fasilitas sosial & fasilitas umum yang dibangun. (2) Aspek konsepsi pengembangan permukiman terpadu. ii.

6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Kualitas air permukaan (sumur. e) Rekreasi dan pariwisata. sungai). iii. b. Uraian disusun berdasarkan sistimatika sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): 1. Kayu. Ikan dan burung-burung migran. ii. yang berupa: a. Tinggi dan elevasi muka air tanah. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. Kecepatan angin. d) Peluang bekerja dan berusaha. iii. ii. 13) Fungsi konservasi bagi: a. b) Komunitas Biota. terutama pengendalian banjir. c) Tanah. Fungsi dimaksud berlaku untuk setiap tipe ekosistem yang strukturnya mengalami perubahan sebagaimana dimaksud pada angka 4. Spesies langka dan dilindungi. dan obat. 2. 4. c) Sumber mata pencaharian.1. iv. Pemecah angin (windbreak). Suhu dan kelembaban nisbi udara. b. . 172 . iv. Rotan. dan frekuensi genangan/banjir. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. d. b. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya a) Demografi dan kependudukan. tanah adat) g) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. Curah hujan. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi. rusa). yang diantaranya meliputi : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air).2 Fungsi ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan fungsi-fungsi yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di wilayah tersebut. Debit sungai dan pola aliran. misal: energi dari kayu. 10) Fungsi pemasok energi. b. yang meliputi: i. 3. Sifat kimia tanah. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat. seperti: a.4. Fungsi ekosistem lahan basah.4. 12) Fungsi bank gen bagi: a. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. listrik-hidro. c. Ke lokasi lain: . c. Fungsi dimaksud adalah sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): I. f) Jenis dan populasi satwa liar. yang meliputi: i. yang berupa: a. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen.Pasokan air ke permukiman terpadu lainnya. e) Komunitas biota almafile. j) Persepsi masyarakat terhadap proyek.4. Komponen biologi a) Komunitas Vegetasi. Topografi. h) Akulturasi dan asimilasi. b) Hidrologi.1 Struktur ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan struktur ekosistem permukiman terpadu saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. b) Fasilitas sosial dan fasilitas perhubungan darat. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir b. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Air tanah. Sifat fisik tanah. b. Populasi satwa liar. yang meliputi: i. i) Pola konsumsi. 2) Fungsi pengendalian air. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: a. Komponen fisik-kimia a) Iklim. iii. Gambut. Air permukaan. Tinggi. ii. g) Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). Ikan dan daging satwa (misal. seperti: a. c) Struktur dan komposisi vegetasi.Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge). getah. f) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. Spesies-spesies tumbuhan komersil. Panjang penyinaran matahari.4. d) Komunitas satwa liar. lama.

Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan di kalangan komponen sosial sendiri.1. Rosot karbon (carbon sink). Proses ekologi. Keagamaan dan spiritual. Lansekap atau jenis-jenis permukiman terpadu. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. Ekosistem. c. 7) Fungsi sosial budaya. b. 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. 15) Fungsi sosial budaya. c) komunitas. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. c. yang meliputi: a) sumber mata pencaharian masyarakat setempat. yang antara lain berupa: a. 5) Mengingat di kalangan komponen ekosistem terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. Estetika lansekap.II. 5) Fungsi konservasi bagi spesies: a) Langka dan dilindungi. b. seperti : a) makanan pokok (beras). Tanah adat masyarakat setempat. 2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. b. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. b) tanah adat masyarakat setempat. b) keagamaan dan spirituil c) peninggalan sejarah. 3) Fungsi produksi energi (kayu). 8) Fungsi sosial ekonomi. seperti: a) bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Kerusakan pada 173 . 16) Fungsi sosial ekonomi yang diantaranya meliputi: a. c) buah-buahan. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam. Komunitas. d) ekosistem. yang diantaranya berupa: a. seperti: a) estetika lansekap.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3.1. b) habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Fungsi ekosistem lahan kering yang diantaranya meliputi: 1) Fungsi pemasok produk pangan. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a. e. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Misalnya proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. b) metode non-formal yang antara lain meliputi: penilaian para ahli dan metode analogi. c) pasokan hara untuk ikan dan burung-burung migran. 2) Fungsi pemasok produk alam. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. yang antara lain meliputi: model matematik dan metode grup eksperimen. b. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. Sebagai misal. b) palawija dan hortikultura. proyek pengembangan permukiman terpadu yang berlokasi di pantai akan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar (buruan) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan berburu oleh penduduk. c. d. b) hara terlarut yang tertransportasi ke hilir.Sebagai misal. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak penting. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. 4. yaitu: a) metode formal. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik-kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. Peninggalan sejarah.1. d. geomorfologi dan geologi. b. langkah 2.2 (Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL). c.

c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) dan b) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.5. metode Daftar Uji Berkala dengan Pembobotan (misal. b) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem regional. yang tercantum pada angka 4.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). dan/atau metode bagan alir.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab Evaluasi Dampak Penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif /holistik. Hasil langkah 1 Diperoleh prakiraan perihal besar (magnitude) dampak pada dua tingkat analisis yakni : a) Tingkat ekosistem yang terkena dampak penting Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan dari ekosistem (dengan kata lain struktur ekosistem) yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam proses pelingkupan. sebagai akibat alternatif usaha dan/atau kegiatan tertentu. baik tingkat ekosistem maupun regional. 4. proses pelingkupan. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. Dampak penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. b) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekonomi regional akan berubah secara mendasar akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. khususnya Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL. (hasil langkah 2). dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. (yakni rona lingkungan hidup awal) akan berubah secara mendasar. Catatan langkah 1 : Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem dapat dilakukan melalui metode matrik (misal.1. 174 . dan yang tercantum pada angka 4. Environmental Evaluation System). Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Langkah 1: Prakiraan dampak penting dengan cara: prakiraan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3.1. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud.1. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Telaah secara komprehensif seluruh dampak penting yang dialami oleh struktur sistem.5.e. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. yang tercantum pada angka 4.4. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak udang. khususnya langkah 1: Identifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan proyek. (hasil langkah 2). b) Tingkat dampak penting regional Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan tingkat regional yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam. Hasil langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal : a) fenomena perubahan struktur ekosistem akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Langkah 2 Telaahan secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem dan regional yang dimaksud pada langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem dan ekonomi regional dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3.2. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu usaha dan/atau kegiatan proyek.1.. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. matrik Leopold). Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.2. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.

memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). merupakan dokumen yang memuat upaya. mendaur ulang (recycle). b) Bila seluruh alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. Sehubungan dengan hal tersebut. dengan fokus pada : a) fenomena perubahan fungsi ekosistem dan ekonomi regional akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Lebih lanjut pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatarbelakangi kedalaman dokumen RKL. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat dampak yang timbul bersifat kompleks. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. lakukan telaahan sejauh mana dampak penting yang ditimbulkan terhadap (i) struktur dan fungsi ekosistem. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek. maupun penempatan permukiman pada kawasan permukiman terpadu. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap kehidupan ekosistem dan ekonomi regional di kawasan permukiman terpadu. Langkah 4 Dari alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem dan ekonomi di kawasan permukiman terpadu dimaksud. Hasil langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan atau merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tersebut di saat pra-konstruksi. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif di saat pra-konstruksi. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem dan kondisi fisik lokasi pengembangan. sebagaimana dimaksud pada langkah 1 dan 2. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. dalam pengertian generik. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya.3 Struktur inti dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: 175 . 5. Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari usaha dan/atau kegiatan proyek. 5. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. BAB V. serta (ii) struktur dan fungsi ekonomi regional. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). program atau tindakan untuk mencegah.1. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di rencana kawasan pengembangan permukiman terpadu. konstruksi dan penempatan permukiman.Hasil langkah 2 Diperoleh sintesis komprehensif perihal fungsi ekosistem dan regional yang terkena dampak penting menurut alternatif tertentu dari proyek.1.1 Lingkup dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Dokumen RKL.1. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di kawasan pengembangan permukiman terpadu tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. program dan/ atau upaya-upaya untuk mencegah.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) 5. konstruksi. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem dan kondisi fisik kawasan permukiman terpadu sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh.2 Kedalaman dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan.

Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan. sampai ke tingkatan ekosistem. Upaya. tersier. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. Pada ekosistem permukiman terpadu pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak.6. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan pengembangan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional. b) Tujuan pengelolaan lingkungan. c) Upaya pengelolaan lingkungan. langkah 10. 5. c. Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting pengembangan permukiman terpadu berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar.6. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. yakni Bab Evaluasi dampak dari dokumen ANDAL. Prakiraan dampak penting. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. sifat kumulatif. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada bab prakiraan dampak dan bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4.2. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem permukiman terpadu. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. berulang dan terencana. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. f. Upaya.5.a) Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola. ekonomi atau kelembagaan. dan angka 4. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem di kawasan pengembangan permukiman terpadu. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. d.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. program atau tindakan untuk mencegah.2.5. Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu kegiatan pengembangan permukiman terpadu. e. b. d) Waktu dan periode pengelolaan lingkungan. f) Institusi pengelolaan lingkungan. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. kawasan. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data.1 Lingkup dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek. Upaya. di muka.5. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. maka sedapat mungkin dituangkan disain teknologinya. sistematik. a.1. dari Bab IV di muka. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. atau bahkan regional. 176 . Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat merujuk pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.

Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. c) Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. tersier. atau ketetapan resmi suatu instansi.5. warna. Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu (proyek. d) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. SH 177 . b. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya.5. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. Langkah 10. baku mutu lingkungan.1. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. ttd Nadjib Dahlan. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. b) Tolok ukur dampak. Langkah 2). suhu. e.5.2. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. a. Komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. Tolok ukur dampak yang dimaksud di sini dapat berupa baku mutu limbah cair. Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. 5.3 Struktur inti dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau.6. Evaluasi dampak penting. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.5. lokasi dan jangka waktu serta frekuensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH.2 Kedalaman dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada angka 2 Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. kandungan minyak terlarut. ttd Dr. Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk ada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. A. c) Tujuan pemantauan lingkungan. yakni bab prakiraan dampak penting dan bab evaluasi dampak penting dari dokumen ANDAL. d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisa data. f) Institusi pemantauan Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. Menteri Negara Lingkungan Hidup.2. Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. bau. Semisal.2. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. sebagai misal). dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.6. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. d. c. dan 4. f. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem permukiman terpadu. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu kawasan pengembangan permukiman terpadu. Prakiraan dampak penting dan angka 4. b) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. upaya/program/tindakan pengelolaan lingkungan. Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL).

Pemb. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Kegiatan pra-konstruksi a. telpon vi. Pola aliran dan debit air sungai iii. Kualitas air permukaan (sumur. Kegiatan pendidikan dan kebudayaan 1. Kegiatan survei b. Industri makanan ii. pengerasan. pembangunan jalan lingkungan iii. Pemb. Industri kulit pertokoan. Tanah i. Tinggi. Komunitas biota almafile ii. Pemb. Komponen Biologi a). Penggalian jaringan air bersih.pusat i.Industri mebel iii. listrik .gedung olah raga ii.Penghijauan/ reklamasi . Kelembaban nisbi udara b). lapangan golf iii. Sifat fisik tanah iii. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Suhu udara ii.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Topografi ii. Matriks Interaksi Dampak Kegiatan Proyek dengan Komponen Lingkungan Kegiatan Proyek 2 b i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv a b c d e f g h i 3 j 1 a Komponen Lingkungan 178 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Kegiatan Konstruksi 3. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi 2. lama dan frekuensi genangan/banjir iv. Komunitas vegetasi i. Jenis dan populasi satwa liar iii.Pembuatan taman taman kota & taman bermain iv. sungai) d). Pemadatan. Penggalian saluran air iv.perumahan ii. Pemb. Komponen Fisik Kimia a).Lampiran 3-1. Kualitas udara c). kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. Hidrologi i. terminal limbah &transportasi darat Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Pemb.Pemb.Pembuatan TPA i. Struktur dan komposisi vegetasi b). Iklim i.Unit pengolahan iv.Penggalian aliran air v. Sifat kimia tanah 2. Tinggi muka air tanah ii. Komunitas biota ii.pasar iii. Komunitas satwa liar i.

sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal i). Pemb. Fasilitas umumdan fasilitas sosial c).Pembuatan TPA i. Peluang bekerja dan berusaha f). pembangunan jalan lingkungan iii. Pola konsumsi k).Penggalian aliran air v. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman 2.(Lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i Kagiatan Proyek 2 3 j Komponen Lingkungan 3. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Penggalian jaringan air bersih.Pembangunan iv. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a). Kegiatan survei b.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.pusat (sepatu dan tas) pertokoan. Pemb.perumahan ii.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Akulturasi dan asimilasi j).Penggalian saluran air iv.Industri mebel ii. Pemadatan. Rekreasi dan pariwisata g).pasar kayu dan rotan iii.listrik . Persepsi masyarakat terhadap proyek 179 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Industri kulit i.Unit pengolahan pergudangan limbah iv. Pemb. Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik dan tanah adat) h). & ii.Lampiran3-1. Pemb. Sumber mata pencaharian e). Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. lapangan golf iii.Pemb. Industri makanan perbelanjaan iii. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Pemb. terminal &transportasi darat Kegiatan pariwisata.Penghijauan/ reklamasi . Kegiatan Konstruksi 3. telpon vi.gedung olah raga ii. Sarana dan prasarana perhubungan darat d). Demografi dan Kependudukan b). Kegiatan pra-konstruksi a. pengerasan.

getah.perumahan ii.Pembuatan TPA .Pemb. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekologiseperti.Pembuatan iii. Kegiatan pra-konstruksi a. Fungsipemasokair(kualitasdankuantitasair). Pemb. pembangunan jalan lingkungan iii.gedung i. Pemb.Industri mebel iii. Fungsipenangkapandan/ataupengendapansedimden 6. Industri makanan golf ii.Penghijauan/ darat reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.Lampiran3-2MatrikInteeraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemKawasanPengembanganPemukimanT erpaduuntukTipeEkosistem:Lahanbasahdanlahankering 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h Kegiatan Proyek 2 3 Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 180 2.pusat i. A. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.pasar iii.pengendalianerosi. Pemadatan.Penggalian saluran air iv. pengerasan. Pemb. Pemb.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. EkosistemLahanBasah 1. telpon vi. Pemb.seperti kayu. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. lapangan perbelanjaan ii. lokasilahanbasahlainnya. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekonomi.Penggalian aliran air v. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanbahan-bahanberacun 8.rotan. Kegiatan survei b. pasokanbahananorganikdanorganikdanharaterlarutbagi wilayahhilirdanbagiikansertaburung-burungmigran.terutamapengendalianbanjir 3. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanunsurhara 7. & (sepatu dan tas) ii. Industri kulit olah raga pertokoan. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg.dangambut 9. 2. terminal limbah bermain &transportasi iv. Fungsipengedalianair.Unit pengolahan kota & taman iv.ikandandagingsatwaliar. 3.obat.danpemecah angin(windbreak) 5.yangberupa perlindungangarispantai. Fungsipencegahintrusiairlautkeairtanahdan/atauair perm ukaan 4. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Fungsiperlindunganterhadapkekuatanalam.Pembangunan kayu dan rotan taman-taman pergudangan iv.listrik . Penggalian jaringan air bersih. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata.yangberupaair bersihyangdapatlangsungdimanfaatkanolehmasyarakat dan/atausebagaipemasokkeaquifer(groundwaterrecharge).

Industri makanan ii. serta ikan dan burung-burung migran. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. palawija dan hortikultura. Fungsi produksi energi (kayu) 4. Penggalian jaringan air bersih.Lampiran3-2(lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g Kegiatan Proyek 2 3 h Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 181 2. Pemadatan. dan ekosistem hutan (yang berstatus konservasi) 1. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Industri kulit pertokoan. dan peninggalan sejarah 8. seperti makanan pokok (beras).Pemb. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Pemb. hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Fungsi transportasi/perhubungan 5.Unit pengolahan iv.Penggalian aliran air v. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Fngsi pemasok produk alam. Pemb. pembangunan jalan lingkungan iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Industri mebel iii. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. EkosistemLahan Kering. Fungsi pemasok produk alam. ekosistem pertanian lahan kering.pusat i. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. telpon vi. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. Pemb.keagamaan dan spiritual.Penggalian saluran air iv.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1.Pembuatan TPA . Fungsi pemukiman masyarakat 3. pengerasan. Kegiatan pra-konstruksi a. Fungsisosialbudaya sepertiestetikalansekap. komunitas.perumahan ii. yang meliputi ekosistempertanian sawah. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. listrik . Kegiatan survei b. Pemb. 3. lapangan golf iii.Penghijauan/ reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. dan lansekap 6. Fungsi sosial ekonomi misalnya berupa sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan tanah adat masyarakat setempat 9. i. Pemb. serta buah-buahan 2. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. terminal limbah &transportasi darat B.pasar iii.gedung olah raga ii. ekosistem. Fungsi rekreasi dan pariwisata 7.

Lampiran3-2(lanjutan)

1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i

Kegiatan Proyek 2 3

Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu

j

10. 11. 12.

13.

14. 15.

16.

17. 18.

Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrik-hidro Fungsi transportasi/perhubungan Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar Fungsi konservatif bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem dan lansekap lahan basah Fungsi rekreasi dan pariwisata Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat Fungsi penelitian dan pendidikan Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam

182
2. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb.pusat i. Industri kulit pertokoan, & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Industri makanan ii. Pemb.pasar iii.Industri mebel iii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Unit pengolahan iv.Pemb. terminal limbah &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pendidikan dan kebudayaan

3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebasan lahan

Kegiatanpembangunan perumahan

Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi

i. Pemb.perumahan ii. Pemadatan, pengerasan, pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.Penggalian aliran air v. Penggalian jaringan air bersih, listrik , telpon vi.Pembuatan TPA

i. Pemb.gedung olah raga ii. Pemb. lapangan golf iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Penghijauan/ reklamasi

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah; 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH. Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

Mengingat :

PERTAMA :

KEDUA :

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 November 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup, ttd. Dr. A. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH,

Nadjib Dahlan,S.H.

183

LAMPIRAN NOMOR TANGGAL

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 5 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000

PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH BAB I. PENJELASAN UMUM 1.1 LATAR BELAKANG Upaya melengkapi tuntutan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, telah diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Di dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan secara tegas bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Salah satu kategori wilayah yang pertu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah. Ketersediaan areal lahan basah yang masih cukup luas dengan potensi sumberdaya alami yang terkandung di dalamnya masih belum banyak termanfaatkan, telah mengundang peningkatan usaha pemanfaatan lahan basah untuk berbagai sektor kegiatan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kawasan ini semakin potensial untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan yang diperkirakan akan terus berkembang antara lain, pembukaan persawahan, perkebunan dan pertambakan yang dikaitkan dengan pembangunan permukiman transmigrasi. Bersamaan dengan itu pembangunan agroindustri dan berbagai industri jasa seperti pengangkutan dan pelabuhan tentu akan semakin terfokus pada kawasan lahan basah sebagai wilayah sasarannya. Berbagai perkembangan kegiatan perekonomian baik bertaraf lokal, regional, maupun nasional akan menyebabkan keberadaan potensi sumberdaya alami terutama di kawasan lahan basah semakin terancam kelestariannya. Sejumlah program yang sudah diimplementasikan kebanyakan kurang memenuhi kaidah keberlanjutan, sehingga terjadi pemubaziran sumberdaya lahan basah dan tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Mulai tampak berkurangnya luasan alami kawasan lahan basah, dan secara langsung maupun tak langsung menurunkan mutu dan fungsi ekologis dari sumberdaya alami setempat. Pemanfaatan yang sudah berlangsung ternyata, berpengaruh besar terhadap penyusutan mutu dan keberadaan sumberdaya keanekaragaman hayati, sumberdaya perairan rawa, sungai, estuaria dan bahkan potensi laut dalam (Syarkowi, 1995 dan Verheught, 1990). Kecenderungan pemanfaatan yang ada menunjukkan bahwa, banyak pihak yang berkepentingan terhadap daerah itu masih pertu dibekali pengetahuan tentang strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Cara-cara pengelolaan berbagai program pembangunan yang ada telah menjadikan kawasan ini kurang termanfaatkan secara optimal. Padahal jika potensi yang besar itu semakin surut dan banyak yang tersiasiakan, maka pembangunan di kawasan lahan basah akan sulit berkelanjutan. Diakui bahwa kompleksitas persoalan lingkungan dan pengendalian dampak negatif pembangunan kawasan lahan basah itu sangat rumit. Keberadaan lahan basah secara geografis menghubungkan ekosistem lahan kering terhadap ekosistem pesisir dan kelautan, yang tentunya memiliki keterkaitan fungsi dan kepekaan ekosistem yang beragam pula. Pengalaman pelaksanaan studi AMDAL beberapa proyek di berbagai area lahan basah selama ini menunjukkan bahwa kompleksitas dampak lingkungan yang bisa terjadi memang sangat tinggi (Euroconsult, 1991), akan tetapi sedapat mungkin harus diupayakan memprakirakannya. Dari studi khusus tentang “Pedoman Pelingkupan AMDAL Lahan Basah” yang dilakukan oleh AWB (1991) misalnya, kompleksitas dampak lingkungan itu secara sistematis mulai dipahami dinamikanya. Walaupun demikian kenyataan tentang munculnya berbagai masalah lingkungan hidup di kawasan lahan basah dan sekitarnya selama pertengahan dekade 90-an, harus pula diakui bahwa masih banyak rahasia yang perlu diungkapkan dan diketahui dibalik dinamika dampak pembangunan lahan basah itu. Guna mengendalikan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak bijaksana itu, maka studi AMDAL harus dioptimalkan dengan mengacu kepada piranti khusus “Metodologi AMDAL Lahan Basah”. Panduan ini khusus memberi petunjuk bagaimana melaksanakan AMDAL di daerah lahan basah. Dengan ini diharapkan informasi minimal tentang karakteristik lahan basah baik yang bersifat umum maupun khusus dari komponen lingkungan yang peka terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan diarahkan agar dapat dipenuhi. Demikian pula tentang karakteristik proyek pembangunan yang prospektif berkembang di kawasan itu sangat perlu dan akan dapat dipahami atas dasar sifat kepentingannya terhadap lahan basah. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyusunan AMDAL bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan (proyek) pembangunan di daerah lahan basah. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah ini diharapkan dapat: 1. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan. 184

2. 3.

Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan, lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Mendorong langkah-langkah antisipatif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan iptek dan perkembangan sosial ekonomi dan budaya di masa depan.

1.3 PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak penting lingkungan akibat pembangunan di daerah lahan basah, secara cermat diperlukan pengetahuan tentang sifat dan kekhasan daerah lahan

KOMPONEN LINGKUNGAN
• • • • • • Iklim Tanah Kedalaman dan Kematangan Gambut Hidrologi Vegetasi dan Satwa liar Sosial Ekonomi dan Budaya serta Demografi • • • •

KOMPONEN KEGIATAN
Eksploitasi SDA di lahan basah Konservasi Lahan (Perkebunan, Persawahan/Irigasi, Pertambakan) Konservasi Balik (Kawasan Lindung dan Konservasi) Reklamasi Lahan Basah

PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL • • • • Dampak Penting Hipotetik Penetapan Batas Wilayah Studi Penetapan Tenaga Ahli Penetapan Metode Pengumpulan dan Analisis Data yang Akan Digunakan • Penetapan Lokasi Pengambilan Sampel • Penetapan Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak yang digunakan dalam Penyusunan ANDAL.

PENYUSUNAN ANDAL • • • • Survey Lapang Analisis Data Prakiraan Dampak Penting Evaluasi Dampak Penting

PENYUSUNAN RKL DAN RPL • Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan • Penetapan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1-1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL Kawasan Lahan Basah

185

basah tersebut. Hal ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat dikenal pasti sedini mungkin. Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan kawasan lahan basah disajikan pada Bab II. Kemudian diikuti oleh panduan proses pelingkupan yang disajikan pada Bab III, yang menjelaskan penentuan isu pokok, komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan, penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Panduan penyusunan analisis dampak lingkungan (ANDAL) disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selanjutnya, panduan untuk penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis, sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses: penyusunan AMDAL seperti pada Gambar 1-1. Pembangunan di daerah lahan basah akan memiliki ragam dan besaran dampak tergantung pada sistem lingkungan yang akan terkena dampak. Dengan demikian, mengikuti tujuan studi AMDAL adalah memelihara kapasitas ekosistem alamiah dalam hal penentuan parameter lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan dan analisis data, prakiraan evaluasi dampak perlu disusun atas dasar pendekatan pemeliharaan, ekosistem yang berkesinambungan. BAB II. KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM LAHAN BASAH 2.1 TIPOLOGI EKOSISTEM Keberadaan lahan basah atau lahan berawa dapat diklasifikasikan menjadi 3 zona, yaitu : (1) Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin; (2) Ekosistem rawa pasang surut air tawar; dan (3) Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak. Zonasi ini diterapkan demikian berdasarkan kekuatan air sungai dan air pasang (Sandy dan Nad Darga,1979). Pada musim hujan zona I dan II memperoleh pengaruh pasang surut, sedangkan zona III tidak dipengaruhi. Pada musim kemarau, hanya zona I yang dipengaruhi oleh luapan dan intrusi air payau/asin. Berkenaan dengan itu, maka ada tiga hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah; yaitu: (1) Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang; sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu; (2) Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (“slurry”) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan berat maupun energi lainnya, sehingga membahayakan; dan (3) Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya. Bentuk pemanfaatan yang utama dan merupakan fungsi perlindungan pada lahan basah terhadap sistem penyangga kehidupan, antara lain (1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air) (2) Fungsi pengendalian air, terutama pengendalian banjir (3) Fungsi pencegah intrusi air laut (4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam) (5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen (6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara (7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun (8) Fungsi pemasok kekayaan alam (di dalam areal lahan basah) (9) Fungsi pemasok kekayaan alam (ke luar areal lahan basah) (10) Fungsi produksi energi (kayu, listrik-hidro) (11) Fungsi transportasi/perhubungan (12) Fungsi bank gen (13) Fungsi konservasi (14) Fungsi rekreasi dan pariwisata (15) Fungsi sosial budaya (16) Fungsi sosial ekonomi (17) Fungsi penelitian dan pendidikan (18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Selanjutnya manfaat sampingan dapat dipanen dan dinikmati masyarakat sampai batas-batas tertentu tanpa merusak proses ekologis yang diperankan oleh ekosistem itu. Bentuk pemanfaatan golongan ini antara lain: (1) sumber air bagi penduduk (setempat); (2) sumber produk alami (nipah dan ikan); (3) sumber energi (kayu dan gambut); dan (4) sumber kesegaran dan keindahan (wisata). Bertolak dari pemahaman akan arti penting fungsi-fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis yang diperankan oleh ekosistem lahan basah itu, maka upaya untuk melestarikan keberadaan mutu dan fungsi ekosistem lahan basah patut direalisasikan. Ini antara lain dilakukan melalui pendekatan peraturan perundangan yang melindungi komponen-komponen kawasan yang berfungsi penting dan strategis. Pelestarian sumberdaya kawasan lahan basah dimungkinkan oleh adanya ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ketentuan perundangan itu meliputi perlindungan jenis flora dan fauna serta benda cagar budaya, yang tidak jarang banyak ditemukan pada daerah lahan basah. Sampai sejauh ini, kawasan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya antara lain: 186

32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung).. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 27 Keppres No. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan kawasan yang bersangkutan. Formasi hutan mangrove atau “bakau” ditandai dengan kehadiran jenis tanah aluvial.(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kawasan Gambut. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18 Keppres No. 32 Tahun 1990). serta formasi Acrostichum. Sempadan Sungai.. 27 Tahun 1991 tentang Rawa) : (a) kemampuan meningkatkan rawa sebagai ekosistem sumber air. 2. 35 Tahun 1991). Jenis tumbuhan Nipa membutuhkan air 187 . (b) kelestarian rawa. kimiawi. yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Xylocarpus muluccensis dan Sonneratia ovata.1. 32 Tahun 1990). Pada ekosistem ini formasi Rhizophora sp. termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer. Di sisi lain. Kriteria kawasan ini adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (Pasal 8 UU No. 35 tahun 1991 tentang Sungai) (b) Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 sampai dengan 15 meter (Pasal 16 Butir b Keppres No. Sempadan Pantai. serta melindungi sistem ekonomi yang khas di kawasan yang bersangkutan. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung jo PP No. Kawasan Sekitar Danau/Waduk. nipah. Avicennia sp. 32 Tahun 1990 jo PP No. yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai. kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. (c) kemampuan meningkatkan perekonomian masyarakat dan (d) kelestarian lingkungan hidup. yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. sebagai hasil dari sedimentasi dan akumulasi lumpur yang dibawa oleh air sungai. yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. Rawa yang merupakan lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) Kawasan Resapan Air. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pertimbangan teknis. Formasi ini begitu dinamis dengan adanya peran dari tumbuhan pemul.) dan Nyireh (Xylocarpus sp. Formasi hutan “bakau” ini diketahui sangat penting peranannya sebagai habitat pijah-asuh berbagai jenis ikan dan udang. dan jika kondisi lahan menjadi stabil. struktur tanah yang mudah meresapkan air bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran (Pasal 12 Keppres No.). sosial ekonomis dan lingkungan. Kriteria kawasan gambut yang dilindungi itu adalah tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa (Pasal 10 Keppres No.). adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestariaan fungsi danau/waduk. adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. umumnya berupa tumbuhan Api-api (Avicennia sp. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. bertujuan untuk mempertahankan dan sebagai sumber air serta meningkatkan fungsi dan manfaatnya. Kriteria sempadan sungai yaitu: (a) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman (Pasal 16 butir a Keppres No. dan Sonneratia marina menduduki formasi terdepan sedangkan agak kebelakang dijumpai jenis tumu atau bakau tomak (Bruguirea hexangula). atau biologis. Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung usaha budidaya di belakangnya.) dan Pedada (Sonneratia sp. formasi Acrostichum juga dominan dan berfungsi sebagai penutup tanah hutan mangrove hingga ketinggian 3-4 meter. maka akan ditemui jenis Bakau (Rizophora spp. Bersamaan dengan itu terdapat pula assosiasi dengan Nipa. Jenis-jenis ini diketahui sangat baik beradaptasi pada tanah bersalinitas tinggi sebagai pengaruh dari pasang air laut. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 14 Keppres No. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir maupun kebakaran. 32 Tahun 1990). dengan memperhatikan faktor .faktor sebagai berikut (Pasal 9 PP No.1 Ekosistem Hutan “Bakau” (Zonasi I) Ekosistem ini terdiri dari formasi bakau.

(2) ketebalan dan kematangan gambut serta kandungan hara mineral. dan Rengas (Gluta rengas). kera (Macaca sp. Dipterocarpus.). pada tempat -tempat yang kurang tergenang ditumbuhi oleh jenis perepat (Combretocarpus motleyi) yang bercampur dengan Camnosperma macrophylla dan meranti paya (Shorea spp. Pada habitat ini biasa ditemukan fauna yang tergolong reptilia.). Fisiografi utama pada zona I termasuk grup marin dan kubah gambut. Marsawa. buaya (Crocodylus porosus). dan Cotilelobium. badak (Dicerorhinus sumatrensis). (5) tinggi muka air tanah. (2) tanah sulfat masam. Tumbuhan pada formasi ini didominasi oleh Terentang (Camnosperma). sedangkan pada lapisan gambut yang tipis ditemukan tegakan nibung (Oncosperma filamentosa). Reptilia yang hidup di habitat ini adalah biawak ( Varanus salvator). 2. Di dekat sungaisungai besar. dan beberapa jenis dari familia Poligalaceae serta Euphorbiacece. 2. Tumbuhan lain yang juga sering ditemukan adalah Comnosperma dan Alstonia. Blumeodendron sp. (3) kedalaman lapisan pirit serta kemasan potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya. yaitu buaya senjolong (Tomastoma schlegelii).Ini terlihat dari seringnya Nipa diketemukan di sepanjang tepi sungai dengan aliran yang tenang. Komposisi floristik pada formasi ini mirip dengan komposisi di hutan rawa air tawar. Hutan pelawan beriang (Tristania abovata) dan Ploiarium alternifolium ditemukan pada lapisan gambut yang tebal. babi (Sus barbatus). sedangkan pada zona III termasuk grup aluvial dan kubah gambut. serta kuntul. dan lain-lain. simang (Diospyros sp. Pada zona II termasuk grup aluvial. ular cincin emas (Boiga sp.4 Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III) Di daerah delta yang biasanya banyak mendapat pengaruh air asin dan payau. Di bagian zona III terutama didominasi oleh tipe semak dan rumputan. Napu (Tragulus napu). Komposisi tumbuhannya terdiri dari tiga zona yang secara horizontal adalah berturut-turut : zona pertama didominasi oleh jenis durian payau (Durio carrinatus). (4) pengaruh luapan/air laut. Formasi ini berperan sebagai pembatas terhadap ekosistem hutan bakau dengan kehadiran formasi Nibung. meranti (Shorea sp. dan (6) keadaan substratum lahan. karakteristik lahan basah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) lama dan kedalaman genangan air banjir atau air pasang. 188 . Rincian karakteristik umum tipologi geo-fisik lahan basah disajikan pada Tabel 2-1.1. Hutan ini merupakan formasi transisi dari hutan gambut ke hutan rawa ( mixed peat swamp forest). Di dalam formasi ini terdapat lapisan bergambut dengan ketebalan sekitar 20 cm.selama hidupnya. 2. sedangkan mamalia yang umum ditemukan adalah babi hutan (Sus scoria). Zona kedua terdiri atas tumbuhan Sindai (Knema spp. Informasi tentang tipologi geo-fisik lahan basah itu dapat digunakan sebagai arahan pemanfaatan. kancil (Tragulus javanicus).1. Jenis ini dapat hidup sebagai pioner di sedimen berlapis. serta kualitasnya.3 Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II) Formasi hutan rawa air tawar terletak di bagian belakang hutan rawa payau. Fauna yang ditemukan di habitat ini pada umumnya fauna yang hidup di daerah mangrove maupun di hutan rawa air tawar.. Selain itu terdapat familia Dipterocarpaceae dari Genera Shorea. Putai (Alstonia). Secara geofisik.). Formasi ini merupakan pembatas antara hutan mangrove dan hutan lainnya di belakang mangrove. Pada umumnya sifat-sifat tanah pada lahan basah tersebut sangat berhubungan erat dengan fisiografi dimana tanah tersebut ditemukan.). Prunus sp. Salah satu indikator formasi hutan ini adalah hadirnya tanaman pandan (Pandanus sp.).2 Ekosistem Hutan Raya Payau (Zona I) Merupakan formasi hutan rawa campuran air asin dan air tawar.) dan rumput yang terapung (kumpai) di perairan. Dan berbagai laporan studi dapat dikemukakan bahwa jenis tanah dominan pada lahan basah adalah: (1) tanah aluvial. Kelebatan formasi ini berkisar antara 100-500 meter.2 TIPOLOGI GEOFISIK Kualitas dan karakteristik lahan basah pada masing-masing zona dapat ditetapkan apabila jenis tanahnya diketahui. pengembangan dan pengelolaannya. baik hutan rawa maupun hutan gambut.1. beberapa jenis tumbuhan dominan adalah jenis terentang abang (Camnosperma macrophylla).). marin dan kubah gambut.). Hutan rawa gambut yang tidak dipengaruhi oleh air asin memiliki jenis tumbuhan yang lebih kaya. 2. Nama atau jenis tanah tertentu sekurang-kurangnya memberi gambaran tentang sifat dan kelakuan tahan dalam merespon suatu teknologi yang diterapkan. Ketebalan gambut di daerah ini mencapai 2 sampai 3 meter dengan dominasi jenis palem yang merupakan indikator bahwa formasi di daerah ini merupakan formasi transisi antara tipe rawa dan gambut (hutan campuran rawa dan gambut atau mixed peat swamp forest). merawan bunga (Hopea mangerawan). kucing hutan (Felix sp. tapir (Tapirus indicus).. dan umumnya terdapat di belakang hutan mangrove atau di sepanjang tepi sungai. dan kelompok burung yang banyak ditemukan merupakan kelompok cemar laut (wader) dan bangau. beruang (Herartos malayensis). dan kelompok mamalia antara lain : gajah (Elephas maximus). dan jenis-jenis yang termasuk ke dalam famili Anacardiaceae. dan (3) tanah bergambut dan gambut.

dan 5 merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi proyek pembangunan non pertanian. 2. Adapun faktor No. air tanah < 50 cm. dan IV. Media perakaran 3. seperti pada Tabel 2-2.3.3 TIPOLOGI AGROEKOSISTEM 2.1 Agro ekosistem Rawa Pasang Surut Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa pasang surut dapat didasarkan pada tipe luapan air pasang surut. Kegaraman tanah Toksisitas Kelima faktor mutu lahan yang diindikasikan pada Tabel 2-1 tersebut penting diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian. yaitu : (1) Tipe A = terluapi pasang besar dan kecil. Jika dipertimbangkan tipologi lahan tipe luapan. dan (4) Tipe D = tidak terluapi dan air tanah > 50 cm Pengelompokan tipe luapan ini sepadan dengan kategorisasi hidup topografi lahan basah berdasarkan pasang besar pada MH dan MK yaitu kategori I. (2) Tipe B = terluapi pasang besar. maka dapat dikemukakan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut (Halim1994). Karakteristik Umum Tipologi Geofisik Lahan Basah No 1. III. 5.Tabel 2-1. Faktor Kualitas Lahan Genangan Karakteristik Periode lamanya genangan Kedalaman genangan Kualitas air genangan Tipe luapan Tekstur tanah Kedalaman efektif tanah Ketebalan gambut Tingkat kematangan gambut Tinggi muka air tanah N-total P-tersedia K-dapat ditukar Kapasitas Tukar Kation Kejenuhan Basa PH Salinitas atau sodisitas Kejenuhan aluminium Kedalaman bahan sulfidik Keadaan substratum Satuan waktu cm kelas kelas kelas cm cm kelas cm persen ppm me/100 g tanah me/100 g tanah persen unit mmhos/cm persen cm jenis 2. Ketersediaan hara 4.4. 1. kendala fisik lahan yang ada dan diperkirakan ada. Dengan tipe luapan air yang dimaksudkan itu maka pemanfaatan lahan dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe [berdasarkan luapan pasang besar (maksimum) dan pasang kecil (minimum)]. (3) Tipe C = tidak terluapi pasang. Tipologi Lahan Lahan Potensial Tipe Luapan (Kategori) A (I) Pola Pemanfaatan Lahan Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/surjan Surjan pangan/holtikultura Lahan Kering Pangan/Hortikultura/Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Lahan Sulfat Masam A (I) Sawah B (II) C (III) D (IV) Lahan Gambut A (I) Sawah/Surjan “Kridit” Surjan “Kridit” Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/Surjan Surjan Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Tabel 2-2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut Sesuai dengan Tipologi Lahan dan Tipe Luapannya 189 . II.

mengubah keadaan bentang lahan lebak di bagian hilir. yaitu: (1) Sumberdaya “alam-terludesi” (exhaustible resources). 2. Misalnya. Indikasi yang demikian amat perlu diperhatikan setiap kali suatu pembangunan direncanakan. Oleh karena terdapat berbagai ragam potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. Tabel 2-3 Pola Fisiografis Pemanfaatan Lahan Basah Zonasi Pasang Surut Air Tipologi Lahan Lahan Potensial. Dengan sistem Surjan. Sedangkan pada tipologi lahan gambut-dangkal. Sumberdaya alam di kawasan lahan basah dapat dikategorikan menjadi empat kategori. karena keterisolasian lokasi dan keterbatasan sarana pengangkutan berbagai jenis sumberdaya alam dan sumberdaya turunannya masih sering tersia-siakan begitu saja.4. Payau/Asin Hutan Mangrove/Tambak Hutan Mangrove Sawah Sawah Lahan Kering Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa/Kelapa Sawit Pasang Surut Air Tawar Lahan Potensial Lahan Sulfat Masam Lahan Gambut Dangkal Lahan Gambut Sedang-Dalam Rawa Lebak Rawa Lebak Aluvial Rawa Lebak Gambut Dangkal Rawa Lebak Gambut Sedang Dalam Sawah/Sawah Tadah Hujan Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Pada kawasan lebak dangkal (pematang). Pemanfaatan lahan dengan tipe luapan D adalah berupa usaha tani lahan kering untuk tanaman pangan/hortikultura atau perkebunan kelapa. sebaiknya dimanfaatkan langsung sebagai lahan perkebunan kelapa. (4) Sumberdaya “alam-segari” (amenity resources). Payau/Asin Lahan Gambut. Payau/Asin Pola Pemanfaatan Sawah Payau/Asin Lahan Sulfat Masam. sesungguhnya sumberdaya alam kawasan lahan basah amat kaya. Dari sudut pandangan lingkungan hidup. Pada guludan dapat ditanam beberapa jenis tanaman pangan lainnya serta tanaman hortikultura. Walaupun demikian. dan lebak dalam sebenarnya mengindikasikan adanya cekungan bentang lahan yang digenangi air tawar. Tipologi lahan aluvial dimanfaatkan untuk sawah lebak atau sawah tadah hujan.3. maka interaksi sosial dan proses sosial bisa beragam coraknya. gambut dan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B dimanfaatkan untuk sawah. (3) Sumberdaya “alam-maliri” (flow resources).Lahan potensial. lahan dengan tipe luapan B juga dapat disawahkan sebanyak dua kali dalam setahun. Keempat kategori sumberdaya alam tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat daerah setempat maupun masyarakat pengusaha. Pada lahan gambut sebaiknya diusahakan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan tanaman pangan dan hortikultura untuk beberapa musim. baik yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. gambut sedang dan gambut dalam dapat dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dengan sistem “polder”.1 Sosekbud Dari sisi sosial ekonomi. Sawah dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun pada lahan dengan tipe luapan A. Rawa lebak bertipologi demikian umumnya termasuk rawa lebak dangkal. (2) Sumberdaya “alam-hayati” (biological resources). Lebak dangkal berubah jadi kering. yang tengahan menjadi dangkal. Pembangunan suatu waduk untuk irigasi di bagian hulu misalnya. 2. Rawa lebak pada tipologi lahan tersebut umumnya termasuk rawa lebak tengahan dan/atau dalam. lebak tengahan.4 TIPOLOGI SOSEKBUD DAN KESEHATAN MASYARAKAT 2. Sedangkan pada lahan sulfat masam. Lahan dengan tipe luapan C juga dapat disawahkan dalam musim hujan bila diterapkan sistem surjan. Demikian pula lebak dalam yang biasanya berperan sebagai gudang kehidupan berbagai jenis ikan akan berkurang kemampuan ekologisnya. potongan kayu dan tempurung kelapa (yang baik untuk arang) serta sabut kelapa biasanya belum sepenuhnya dimanfaatkan penduduk sebagai bahan sumber tambahan pendapatan. interaksi sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam seyogyanya diperhatikan keterkaitannya dengan pencemaran 190 .2 Agroekosistem Rawa Lebak Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa lebak disesuaikan dengan tipologi lahannya seperti disajikan pada Tabel 2-3.

instansi yang bertanggungjawab.dan pengrusakan lingkungan alam. sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan upaya gotong royong dalam memperluas lahan usaha. Dengan demikian. Dari segi sosial-budaya. Selain itu. Spektrum kegiatan gotong royong dalam suatu kekerabatan atau kelompok sosial di kawasan lahan basah relatif luas dibandingkan dengan kawasan lainnya. maka sikap masyarakat bisa negatif terhadap aktivitas proyek pembangunan. 3.4. Serangan penyakit ini diprakirakan akan selalu berlangsung pada setiap awal kegiatan pembangunan di kawasan lahan basah. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar.1. dan dalam keadaan keseimbangan maka keberadaan air akan menopang kehidupan sehari-hari. sekunder. pemahaman tentang persepsi masyarakat di kawasan lahan basah menjadi sangat penting. misalnya sistem lelang lebak-lebung di Sumatera Selatan. Namun. masyarakat hukum adat yang bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh. Dapat dilihat bahwa penguasaan lahan oleh suatu keluarga dapat mencapai 2 sampai 5 Ha. dan (2) Hak untuk berburu dalam batas wilayah atau wewenang hukum masyarakat merdeka. Semangat dan aktivitas gotong royong di kawasan lahan basah berbeda dengan kawasan-kawasan lain. Kawasan lahan basah di Indonesia ada yang berada dalam lingkup pengaruh atau telah merupakan perkampungan bahkan ada yang sudah merupakan bagian dari wilayah kota besar. seperti peta vegetasi. serta (tokoh-tokoh) masyarakat yang berkepentingan. Diantara interaksi itu ada yang patut diteladani sebagai kearifan lokal. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 3. dalam konsepsi hak ulayat tersebut ternyata masih ada hak anggota masyarakat secara individu menguasai sebagian obyek penguasaan Hak Ulayat tersebut dengan sistem tertentu. hak untuk menanam ikan diperairan dalam kawasan proyek bekas tanah Hak Ulayat hendaknya tetap diberikan kepada penduduk setempat. Di lokasi pemukiman kawasan lahan basah menunjukkan urutan jenis penyakit terbesar adalah penyakit malaria. pemrakarsa kegiatan. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. peran limpahan air yang secara musiman membatasi intensitas tanaman akan memudahkan pengendalian hama dan gulma. apabila terjadi pengambilalihan tanah Hak Ulayat maka perlu dipertimbangkan untuk seyogyanya tidak secara penuh meliputi setiap jenis sumberdaya terkait yang justru menjadi sumber nafkah penduduk. Hak masyarakat atas tanah yang terwujud dalam Hak Ulayat di kawasan lahan basah berupa: (1) Hak untuk meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di wilayah/wewenang hukum masyarakat bersangkutan. Oleh karena itu dapat dipahami jika terhadap sumberdaya alami yang dilingkupi oleh hak ulayat itu terdapat gengsi kesukuan yang tinggi. tapi ada yang harus dikendalikan agar tidak meluas pengaruhnya. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. dan data/informasi tentang hidrologi. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek. perlu memperhatikan tradisi pemilikan lahan yang luas itu sebagai aspek pertimbangan utama. Sehubungan dengan itu. Dengan Hak Ulayat ini. Aspek sosial lain di kawasan lahan basah yang perlu diperhatikan adalah tentang hak atas tanah.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. karena suatu keputusan yang tidak transparan oleh aparat tidak akan didukung oleh masyarakat setempat. Selain itu. isu lingkungan di kawasan lahan basah juga perlu diperhatikan. Misalnya. pada keadaan yang masih alami ciri itu sangat menonjol. baik langsung maupun tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kesehatan masyarakat.1 Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. (2) evaluasi dampak potensial. Jika tidak demikian. BAB III. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL di daerah lahan basah dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. Di kawasan lahan basah masih terdapat penguasaan lahan secara komunal yang dikenal dengan Hak Ulayat. agar sedapat mungkin kelangsungan proyek mendapat dukungan masyarakat atau paling tidak dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi. Akan tetapi setiap sentuhan proyek pembangunan yang mengganggu dan mengubah keseimbangan alami itu. 2. Keadaan ini menempatkan aspek sosial budaya sebagai komponen lingkungan yang tetap harus diperhatikan. Dengan kata lain suatu proyek pembangunan harus mempertimbangkan pola kebudayaan lokal. dan (3) pemusatan dampak penting. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. peta tata guna tanah. Kehati-hatian diutamakan di sini.2 Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Karakteristik utama lahan basah yang dicirikan dengan keberadaan air. peta sistem lahan. atau penting tidaknya dampak. Adapun metode identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Penelaahan pustaka: 191 . Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar dampak.

Hasil Langkah 1 Daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1. danau) ii. Kanalisasi sungai iii. dan Pengamatan lapangan (observasi). lokakarya.Analisis isi (content analysis). air permukaan (sungai. Pengurangan/pembuangan lahan Seperti antara lain : pembangunan tambak ii. Pemungutan hasil iii. b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Kimia iii. Limbah Industri vi. Penambahan/pengurukan lahan Seperti antara lain : pembangunan jalan iii. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Pembangunan saluran drainase ii. Pengalihan aliran iv. 192 . Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Kegiatan konstruksi. Radioaktif iv. Introduksi spesies asing 3. air tanah dalam d) Kegiatan penerimaan tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah i. Daftar uji sederhana. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa i. Matrik interaksi sederhana. Minyak ii. brainstorming dan lain-lain). Panas vii. Limbah padat ii. Limbah domestik v. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/I992 tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagai sumber informasinya yang lebih rinci. Penebangan vegetasi ii. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Kegiatan operasi. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi i. Langkah 1 Buat daftar rencana kegiatan proyek yang akan dibangun di daerah lahan basah. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial aktivitas proyek di daerah lahan basah. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah i. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Pengambilan/perburuan satwa ii. Aksesibilitas wilayah ii. Limbah cair iii. Interaksi kelompok (rapat. Pusat-pusat pertumbuhan baru Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi pro dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi i.

Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. Dalam Panduan ini tipe ekosistem dimaksud dibatasi pada: 1. Curah hujan ii. Sifat fisik tanah iii. Fisiografi. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii.Hasil Langkah 2 Daftar tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi proyek dan/ atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Tinggi. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. 2. Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen lingkungan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek. identifikasikan fungsi atau manfaat yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan yang akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya proyek. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. hutan rawa air tawar. Komponen Biologi a) Komunitas Vegetasi i. Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 3. 193 . Struktur dan komposisi vegetasi iv. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Debit dan pola aliran iii. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. hutan bakau. litologi ii. Langkah 3 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. identifikasikan komponen ekosistem yang akan mengalami perubahan akibat adanya proyek. dan 4. dan frekuensi genangan/banjir iv. nekton iii. lama. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas Satwa Liar i. yang meliputi: i. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Panjang penyinaran matahari iv. 3. Tinggi dan elevasi muka air (pasang surut) ii. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. hutan rawa bergambut. Sifat kimia tanah 2. Kecepatan angin b) Hidrologi. hutan rawa payau. yang diantara adalah: 1. kesehatan. yang meliputi: i. yang meliputi: i. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. Pola sedimentasi dan drainase v. pendidikan. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah.

4. terutama pengendalian banjir 3. seperti energi kayu. Fungsi sosial ekonomi. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. seperti proses ekologi. 9. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. komunitas. 2. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (ground water recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. dan lansekap lahan basah. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. 10. yang berupa perlindungan garis pantai. dan pemecah angin (windbreak) 5. Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. ekosistem. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7. getah. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BA PEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6 dari identifikasi dampak potensial. diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang potensial akan terkena dampak. obat. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. ikan dan daging satwa liar. 3. geomorfologi dan geologi.1. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 11. Fungsi pengendalian air. seperti kayu. 16. Langkah 5 Buat matrik dampak komponen lingkungan yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan lahan basah (Hasil Langkah 3). Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8. Fungsi sosial budaya. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran.Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi atau manfaat untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang diantaranya meliputi: 1. Buat matrik dampak fungsi ekosistem yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen fungsi ekosistem lahan basah (Hasil Langkah 4). pengendalian erosi. Hasil langkah 5 Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. 14.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Fungsi pemasok energi. Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem sebagaimana Hasil Langkah 2. 17. Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. a) b) c) a) b) Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. 194 . Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. dan gambut. serta peninggalan sejarah. dan listrik-hidro. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6. Fungsi transportasi/perhubungan 12. keagamaan dan spiritual. rotan. 13. berupa estetika lansekap.

karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. dan Lampiran II Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: KEP-229/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan KA-ANDAL. b) Keterkaitan antar dampak besar dan penting yang telah di identifikasi pada butir 3. 195 a) .1.1 dapat digunakan untuk memandu hal ini.2. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7.1. Komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil langkah 7. Hasil Langkah 10 Isu-isu pokok lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra konstruksi. dan/atau Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak besar dan penting proyek. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak besar dan penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak besar dan penting. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan Hasil Langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.3 Pemusatan dampak besar dan penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak besar dan penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. Hasil Langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan pokok yang akan dialami ekosistem lahan basah yang bersifat mendasar akibat adanya proyek. 3. sosial dan ekologi.yakni yang meliputi: a.1. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat (social institution) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. sosial maupun ekologi. Hasil Langkah 1 Diperoleh batas kegiatan proyek di daerah lahan basah di atas peta yang digunakan. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta vegetasi/peta tata guna tanah/peta sistem lahan yang tersedia. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. Lihat pula matrik pada lampiran 3-1 sebagai contoh.2. 3.Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting tergolong terkena dampak besar dan penting. Catatan Langkah 9 Dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui: Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak besar dan penting di suatu lokasi. b.1. konstruksi dan operasi di daerah lahan basah. Hasil Langkah I dari butir 3.

yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. dapat memandu mengarahkan hal ini. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak mendasar dari proyek misalnya. udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. Catatan Langkah 4 Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. Catatan Langkah 1 Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau kegiatan/proyek akan melakukan kegiatan pra konstruksi. melalui penyerapan tenaga kerja. 196 . d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembagalembaga masyarakat yang berpotensi berubah mendasar sebagai akibat rusaknya sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi tempat terjadinya gangguan atau kerusakan terhadap fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek.b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. Di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dimana proses-proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. Catatan Langkah 3 Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). swasta dan/ atau lembaga lokal masyarakat setempat Hasil Langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. konstruksi dan operasi. terhadap ekosistem lahan basah di sekitarnya. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek. Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah I dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1 dan 2. batas HPH. a) b) Catatan Langkah 2 Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air. Dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkena dampak penting kegiatan proyek. melalui media air. Hasil Langkah 2 Diperoleh batas ekologis di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. batas kuasa pertambangan. Hasil Langkah 2 sampai 4 dari proses Identifikasi Dampak Potensial.

Batas dimaksud merupakan resultante dari batas proyek. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. dalam panduan ini tidak dijelaskan tentang outline tersebut. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah.2. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. batas administratif dan kendala teknis yang dihadapi. Pelingkupan Dampak Penting Identifikasi Dampak Potensial Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek Langkah 2: Identifikasi Tipe Eksosistem Langkah 3: Identifikasi Komponen Lingkungan Langkah 4: Identifikasi Fungsi Ekosistem Langkah 5: Matrik Identifikasi Dampak Langkah 6: Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan Wilayah Studi Langkah 1: Penetapan Batas Proyek Evaluasi Dampak Potensial Langkah 7: Evaluasi Sifat Penting Dampak Langkah 8: Dampak Penting yg Ditelaah ANDAL Langkah 2: Penetapan Batas Ekologi Langkah 3: Penetapan Batas Sosial Langkah 4: Penetapan Batas Administratif Pemusatan Dampak Penting Langkah 9: Pengelompokkan Isu-isu Lingkungan Langkah 10: Pengurutan Isu-isu Lingkungan Langkah 5: Penetapan Wilayah Studi ANDAL Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL Rencana Kegiatan Proyek yang perlu Isu Pokok/Dampak Penting Ditelaah Mendalam Lingkungan yang perlu Ditelaah Mendalam Gambar 3-1.Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (Hasil Langkah 1). batas sosial. Skema Proses Pelingkupan Dampak Penting dan Studi BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN 4.2 METODE STUDI 4. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. RKL dan RPL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan AMDAL. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. 4. waktu. dan batas administratif (Hasil Langkah 4).2. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder.2 Wilayah studi ANDAL daerah lahan basah 197 . batas ekologi.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan kerangka Acuan ANDAL. Karena itu. dan tenaga yang tersedia. 4. batas ekologi (Hasil Langkah 2). yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. ANDAL. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. batas sosial (Hasil Langkah 3). Hasil Langkah 5 Diperoleh batas wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1.

3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem lahan basah sebelum proyek dibangun. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak.Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL daerah lahan basah dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. kampung.2. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. 4. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. Waktu pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. b) Dampak besar dan penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem lahan basah serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. bulanan atau musiman. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. saat pengambilan sampel kualitas air harus dapat mewakili pola pasang surut yang ada.serta sifat dan karakter komponen lingkungan yang diukur. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: metode pengambilan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. Tabel 4-1 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Fisik Kimia 198 . desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. dan dilain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). Sebagai misal. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas keakuratan dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. dalam studi ANDAL di ekosistem lahan basah yang terpengaruh gerak pasang surut air laut. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/ pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (emic). Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. c) Mengingat ekosistem lahan basah yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. d) Khusus untuk aspek sosial.

Sekunder & Tersier · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Spektrofotometrik Tanah · Fisiografi. Sifat kimia air permukaan · DO · BOD · COD · Kesadahan Total · Kalsium (Ca) · Magnesium (Mg) · Mangan (Mn) · Karbonat (CO3) · Nitrit (NO2) · Nitrat (NO3) · Sulfat (SO4) · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Sungai · Saluran Primer. dan freLapang kuensi genangan/banjir · Pola sedimentasi dan drainase · Warna · Rasa dan bau · Kekeruhan · Padatan tersuspensi · pH · DHL · Pengukuran insitu · Pengambilan sampel air · Sungai · Saluran Primer. lama. litologi · Sifat fisik tanah · Sifat kimia tanah · Observasi Lapang · Pengeboran dan pengam bilan contoh tanah. Sekunder & Tersier · Visual · Organoleptik · Gravimetrik · Elektrometrik. · Lahan gambut · Lahan rawa · Penilaian Ahli · Analisa laboratorium 199 . Oldeman matahari · Kecepatan angin Hidrologi · Tinggi dan elevasi muka · Pengukuran air Lapang · Debit dan pola aliran · Pengamatan · Tinggi. · Pengamatan · Lama penyinaran Meteorologi Koppen dan Lapang terdekat. Sekunder & Tersier · Analisis Hidrograf · Pengukuran Lapang · Penilaian Ahli Sifat fisik air permukaan · Sungai · Saluran Primer.Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Iklim · Curah hujan · Suhu dan · Pengumpulan · Pelabuhan · Tabulasi data data sekunder Udara terdekat · Klasifikasi Schmith kelembaban nisbi udara · Stasiun & Ferguson.

vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi · Zona habitat khusus dan plasma nutfah Komunitas Satwa Liar · Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar · Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton.Aspek Biologi Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Komunitas Vegetasi · Keanekaragaman · Transek · Hutan Bakau · Penghitungan jenis/komunitas · Pengumpulan · Hutan Rawa Indek Nilai vegetasi data sekunder · Hutan Payau Penting (INP) · Keanekaragaman · Analisis vegetasi · Indek Keanekajenis/komunitas biota · Observasi ragaman air/phytoplankton lapangan · Indek Kesera· Struktur dan · Transek gaman Jenis.Tabel 4-2 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data. nekton · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi · Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi · Pengumpulan data sekunder · Analisis satwa liar · Observasi lapangan · Hutan Bakau · Penghitungan · Hutan Rawa Indek Nilai · Hutan Payau Penting (INP) · Indek Keanekaragaman · Indek Keseragaman Jenis. 200 . komposisi vegetasi · Pemetaan · Jenis dan populasi Plasma Nutfah. · Tabulasi Jenis Satwa Liar yang di Lindungi.

Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi : i. Pengalihan aliran iv. kesehatan. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa : i. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Pembangunan saluran drainase ii.Tabel 4-3 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Sosial Komponen Lingkungan Sosial Ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan · Kepadatan dan · pertumbuhan penduduk · Persebaran penduduk · · Peluang bekerja dan · berusaha · Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam · Persarana perhubungan air · Pemukiman penduduk · Fasilitas umum. dan tabulasi siWawancara · Wilayah lang administrasi · Penilaian Ahli proyek. Pengambilan/perburuan satwa ii. dan peribadatan Pengumpulan · Desa-desa/ · Tabulasi silang data sekunder.· Analisis deskriptif Observasi lapang duduk terdekat.2. Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Sosial Budaya · Adat istiadat · Pengumpulan · Desa-desa/ · Kelembagaan tradisional data sekunder. 4. · Sistem pertanian dengan tokoh · Wilayah · Akulturasi dan asimilasi masyarakat dan administrasi · Kesehatan masyarakat ketua suku atau proyek. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): 1. Penambahan/pengurukan lahan iii.4. Kanalisasi sungai iii. Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. pendidikan.3 URAIAN RENCANA DAN USAHA ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana kegiatan pembangunan kawasan lahan basah hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. Pengurangan/pembuangan lahan ii. pemukiman · Aktivitas perekonomi · Observasi lapang penduduk dan perdagangan · Wawancara terdekat. Introduksi spesies asing 201 . · Kesehatan lingkungan adat. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi : i. · Tabulasi silang · Analisis deskriptif dan tabulasi silang · Penilaian Ahli 4. pemukiman pen. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei : b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Pemungutan hasil iii. Penebangan vegetasi ii. Kegiatan konstruksi. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i.

Komponen Biologi a) Komunitas vegetasi i. Panjang penyinaran matahari . b) Alternatif lokasi. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran : i. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi. Fisiografi. Limbah padat ii: Limbah cair iii.3. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas satwa liar i. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Kegiatan operasi. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 202 .4. air tanah dalam d) Kegiatan rekrutmen tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah : i. 4. yang meliputi: i. Panas vii. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi: i. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. lama.2. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. b) fungsi dari setiap ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. Sifat kimia tanah 2. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. Kecepatan angin b) Hidrologi.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4.1 Struktur ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan struktur ekosistem lahan basah saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. Radioaktif iv. danau) ii. yang meliputi: i. Debit dan pola aliran iii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Sifat fisik tanah iii. Limbah Industri vi. Minyak ii. litologi ii. 1. iv Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Pola sedimentasi dan drainase v. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. 4. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Limbah domestik v. nekton iii. iv. alternatif ruas jalan.2. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan . Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton.1. Pusat-pusat pertumbuhan baru Di berbagai jenis kegiatan tersebut usahakan dapat diutarakan perihal : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. yang meliputi: i.1. air permukaan(sungai. Tinggi dan elevasi muka air ii. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci detail. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah : i. Tinggi. Aksesibilitas wilayah ii. Kimia iii. dan frekuensi genangan/banjir iv. Curah hujan ii. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan operasi e) Tenaga kerja yang dicurahkan.

Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting.2 Fungsi ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan fungsi-fungsi ekosistem lahan basah yang saat ini masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di daerah tersebut. Spesies-spesies tumbuhan komersil ii. Peninggalan sejarah 16) Fungsi sosial ekonomi.4. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting iii. Ke lokasi lain: Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge) Pasokan air ke lahan basah lainnya 2) Fungsi pengendalian air. Ekosistem v. dan obat iv. Komunitas iv. seperti: i. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat ii. Tanah adat masyarakat setempat 17) Fungsi penelitian dan pendidikan 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam.1. 203 . pendidikan. yang berupa: i. Populasi satwa liar 13) Fungsi konservasi bagi: i. Rotan. Ikan dan burung-burung migran 10) Fungsi pemasok energi. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam 4. Rosot karbon (carbon sink) iii. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan 4.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat ii. Spesies langka dan dilindungi ii. Estetika lansekap ii. Gambut 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. yang diantaranya meliputi: i. terutama pengendalian banjir 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: i. Air permukaan 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Ikan dan daging satwa (misal. rusa) iii. Lansekap atau jenis-jenis lahan basah 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata 15) Fungsi sosial budaya.3. Kayu ii.2 (Langkah 8: Komponen Dampak Penting yang Ditelaah ANDAL). yang berupa: i. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi ii. getah. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). kesehatan. seperti: i. Air tanah ii. yang diantaranya berupa: i. Proses ekologi. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir . Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya : a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Pemecah angin (windbreak) 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir iii. yang antara lain berupa: i. listrik-hidro 11) Fungsi transportasi/perhubungan 12) Fungsi bank gen bagi: i. Keagamaan dan spiritual iii. misal: energi dari kayu. geomorfologi dan geologi ii. ii.

6) Mengingat dikalangan komponen ekosistem lahan basah terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. dan berpendidikan rendah. 5) Prakiraan dampak pada komponen ekosistem lahan basah perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini: a) Ekosistem lahan basah banyak dijumpai berada antara ekosistem daratan dan ekosistem pesisir/ laut. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting.1. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar langka dan dilindungi (gajah) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa gangguan gajah terhadap produksi pertanian. khususnya Langkah 8: Komponen Dampak Besar dan Penting yang ditelaah dalam ANDAL b) prakiraan dilakukan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terdapat dalam angka 3. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a) Mekanisme aliran dampak yang bersifat inter ekosistem: Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada studi AMDAL Kegiatan Terpadu dan AMDAL Kawasan. Kerusakan pada ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak di pesisir Dampak besar dan penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. Sebagai misal. b) metode non-formal yang antara lain meliputi penilaian para ahli. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.1 Langkah 2. Sebagai contoh. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Panduan Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. sebagai landasan untuk menilai totalitas dampak proyek terhadap fungsi dari ekosistem lahan basah (untuk keperluan Bab Evaluasi Dampak).2. dan metode grup eksperimen. b) Ekosistem lahan basah kebanyakan masih berwujud alami.sehingga tingkat keanekaragaman hayati masih relatif tinggi sehingga prakiraan dampak harus dilakukan pada seluruh komponen ekosistem yang terkena dampak penting. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). dan metode analogi 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. c) Daerah lahan basah umumnya merupakan medan yang berat dan terisolasi sehingga kebanyakan desa yang ada tergolong miskin. Prakiraan dampak penting aspek sosial dengan demikian harus mencermati kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat. yang antara lain meliputi model matematik. Sebagai misal.2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. 204 . sementara zona pasang surut terkait dengan ekosistem pesisir/laut. kerusakan ekosistem hutan bakau akibat kegiatan suatu proyek pembangunan dapat mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem terumbu karang di perairan pesisir dan juga pada ekosistem rawa lebak yang terletak lebih ke pedalaman. b) Mekanisme aliran dampak yang bersifat antar ekosistem: Dampak penting yang dialami suatu ekosistem akibat adanya aktivitas tertentu dari proyek mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem lainnya. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. yaitu: a) metode formal.1 khususnya Langkah 2 : Identifikasi Tipe Ekosistem. Sehingga prakiraan dampak juga harus memperhitungkan pengaruh faktor eksternal pada komponen lingkungan yang tengah ditelaah secara mendalam untuk keperluan ANDAL. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial.1.1. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. proyek mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Langkah 1: Prakirakan dampak penting dengan cara: a) prakirakan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. Sebagai contoh: proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. zona rawa lebak terkait dengan ekosistem daratan di atasnya. sebagaimana diutarakan pada butir 5) di atas. Hasil Langkah 1 Diperoleh data dan informasi perihal besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem tertentu yang terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan dikalangan komponen sosial sendiri. tradisional. Sebagai misal.

5. b) Bila seluruh alternatif kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab evaluasi dampak penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif/holistik. lakukan telaahan sejauh mana dampak besar dan penting yang ditimbulkan terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana dimaksud pada Langkah 1 dan 2.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. Environmental Evaluation System). Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu kegiatan proyek. matrik Leopold). telaah secara komprehensif perubahan seluruh komponen yang terkena dampak penting (atau dalam hal ini perubahan struktur ekosistem lahan basah) akibat alternatif kegiatan tertentu proyek.1. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).2 (yakni Rona Lingkungan Hidup) akan berubah secara mendasar. Langkah 4 Dari alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif kegiatan proyek. dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). dan yang tercantum pada angka 4. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap ekosistem lahan basah. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. metode daftar uji berskala dengan pembobotan (misal. 4. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem lahan basah dimaksud Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari kegiatan proyek. Catatan Langkah 1 Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem.1 khususnya Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. (Hasil Langkah 2).4. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. Hasil Langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. 205 . akibat adanya alternatif tertentu dari proyek.Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti Langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. Hasil Langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan struktur ekosistem: akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin dikalangan seluruh komponen dampak penting yang tercantum pada angka 4. dan/atau metode bagan alir. telaah secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem lahan basah yang dimaksud pada Langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem. Hasil Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan fungsi ekosistem.1. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek.

Bila lebih dari 1 tipe ekosistem yang terkena dampak dan mengingat adanya keterkaitan antar ekosistem sebagaimana diutarakan pada angka 4.6 di muka. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem lahan basah juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem lahan basah. maka pada bagian ini utarakan pula komponen lingkungan dari tipe eksositem lahan basah lainnya yang akan turut tercegah/ tertanggulangi dari kerusakan. 5. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem lahan basah sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4.2 Langkah 10. mendaur ulang (recycle). yakni Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.1.3 Struktur inti dokumen rencana pengelolaan lingkungan Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola b) Tujuan pengelolaan lingkungan c) Pengelolaan lingkungan d) Waktu pengelolaan lingkungan e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan f) Institusi pengelolaan lingkungan.5 (Prakiraan Dampak Penting). Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). tersier.2 Kedalaman dokumen rencana pengelolaan lingkungan Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. 206 . program atau tindakan untuk mencegah. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada Bab Prakiraan Dampak dan Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4.5.1. Lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatar belakangi kedalaman dokumen RKL. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. b) Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek.5.1 Lingkup dokumen rencana pengelolaan lingkungan Dokumen RKL.BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu dari eksosistem lahan basah. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. konstruksi dan operasi proyek. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di ekosistem lahan basah tersebut mencakup empat kelompok aktifitas.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 5. program dan/ atau tindakan-tindakan untuk mencegah.1. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. konstruksi. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. dalam pengertian generik. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu tipe ekosistem lahan basah komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. merupakan dokumen yang memuat upaya.1. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif disaat pra konstruksi. a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat sifat ekosistemnya yang kompleks dan multi fungsi. operasi maupun pasca operasi.dan angka 4.6 dari Bab IV di muka. 5. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di saat pra-konstruksi. Dalam konteks pembangunan proyek di ekosistem lahan basah.

program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi.2. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. 5. sifat kumulatif.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. Upaya. 5. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. Pemantauan dapat dilakukan pada fungsi-fungsi ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. atau bahkan regional. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana yang disebut pada halaman III-5 s/d III-6. kawasan. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek.5. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). pada dasarnya dapat dipandang sebagai pemantauan terhadap struktur ekosistem. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. lokasi dan jangka waktu serta frekwensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan f) Institusi pemantauan lingkungan 207 .2. program atau tindakan untuk mencegah. Pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan keterampilan operasional Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan. Langkah 2). Pada ekosistem lahan basah pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahanperubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem lahan basah yang terkena dampak. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi.c) d) e) f) Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan dapat merujuk Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). 5. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. berulang dan terencana.1 Lingkup dokumen rencana pemantauan lingkungan Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek sampai ke tingkatan ekosistem.6. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi.2 Kedalaman dokumen rencana pemantauan lingkungan Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat.2. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. maka sedapat mungkin dituangkan desain teknologinya.3 Struktur inti dokumen rencana pemantauan lingkungan Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau b) Tolok ukur dampak c) Tujuan pemantauan lingkungan d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisis data. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. selain 6 (enam) faktor yang diutarakan pada Keputusan Menteri tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan seperti diutarakan pada paragrap berikut ini. Khusus ekosistem lahan basah. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. ekonomi atau kelembagaan. sistematik. Upaya.

Langkah 2). biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. atau ketetapan resmi suatu instansi. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.6. bau. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. tersier. SH 208 . Menteri Negara Lingkungan Hidup. maka diperlukan kejelasan deskripsi dari tolok ukur dampak yang hendak digunakan. upaya/ program/tindakan pengelolaan lingkungan. ttd Nadjib Dahlan.Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4.5 (Prakiraan Dampak Penting) dan angka 4. e) Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. d) Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Mengingat pada ekosistem lahan basah sebagian besar tolok ukur dampak yang digunakan masih banyak yang bersifat kualitatif.6 (Evaluasi Dampak Penting). indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. Tolok ukur dampak yang dimaksud disini dapat berupa baku mutu limbah cair. baku mutu lingkungan keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. Halhal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau.6 yakni Bab Prakiraan Dampak Penting dan Bab Evaluasi Dampak Penting dari dokumen ANDAL. Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem).2 Langkah 10. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. ttd Dr.5 dan 4. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu tipe ekosistem lahan basah Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. f) Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. c) Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola.1. a) Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). b) Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu: (proyek. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. warna. sebagai misal). kandungan minyak terlarut. Semisal. A Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. suhu.

Aksesibibilitas wilayah . lama. Panas vii. Kanalisasi sungai iii. Sifat kimia tanah iv. Limbah cair iii.Pengalihan aliran iv. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Penanaman tanaman iv. Konstruksi dam . Limb. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Kegiatan Konstruksi 3. Tinggi. Radioaktif iv. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim i. Air permukaan (sungai.Udara c) Tanah i.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Pemungutan hasil iii. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Limbah padat ii. Pembangunan saluran drainase ii.danau) ii. Fisiografi dan litologi ii. Minyak ii.Industri vi. Tinggi dan elevasi muka air ii. Introduksi spesies asing i. Sifat fisik tanah iii.domestik v. ii. Kegiatan survei b. Pola sedimentasi dan drainase 209 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Kecepatan angin b) Hidrologi i. Panjang penyinaran matahari iv. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i.Lampiran3-1MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganKomponenLingkunganDaerahLahanBasah Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan I. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Penebangan veg.Limbah gas i. &frekuensi genangan/banjir iv. Curah hujan ii. Debit dan pola aliran iii. Kimia iii. Introduksi spesies asing i. Limb.Pemadatan lahan i.

Kegiatan pembebebasan lahan 2. Keanekaragaman jenis/Komunitas biota air zooplankton. Air permukaan (sungai. Zona habitat khusus dan plasma natfah b) Komunitas Satwa Liar i. Kegiatan survei b. Limbah padat ii.Industri vi. Konstruksi dam . Jenis dan populasi satwa liar yang bernilai ekologi tinggi v.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Panas vii. nekton iii. Limbah cair iii.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Komponen Biologi a) Komunitas V egetasi i. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.danau) ii.Pengalihan aliran iv.domestik v.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 210 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Minyak ii. Penebangan veg.Pemadatan lahan i.Lampiran3-1. Jenis dan satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Penanaman tanaman iv. ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. satwa liar ii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v.Udara I. Kegiatan Konstruksi 3. Limb. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Kanalisasi sungai iii. Radioaktif iv. Pemungutan hasil iii. Keanekaragaman jenis/kom. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Limb. Introduksi spesies asing i. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Keanekaragaman jenis/komunitas biota/phytoplankton iii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Jenis dan populasi nekton yang bernilaiekologi tinggi vii.Aksesibibilitas wilayah . Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi.Limbah gas i. Introduksi spesies asing i. Kimia iii. Pembangunan saluran drainase ii.

Kanalisasi sungai iii. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Limbah gas i. Limbah padat ii. Limb.danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Introduksi spesies asing i. Penambahan/ pengurukan lahan iii. Pendidikan ii. Kegiatan Konstruksi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Minyak ii.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 211 2. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Kegiatan pra-konstruksi a. Radioaktif iv. Konstruksi dam . Panas vii. Limbah cair iii. Pembangunan saluran drainase ii. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Prasarana perhubungan air f) Permukiman penduduk g) Fasilitas umum : i.Kepribadian h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomian dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Keterangan: 1. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.Industri vi.Lampiran3-1.Pemadatan lahan i. Kegiatan pembebebasan lahan 3. Kegiatan survei b.Udara I.domestik v. Introduksi spesies asing i. Air permukaan (sungai. Penebangan veg.Aksesibibilitas wilayah . Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv.Pengalihan aliran iv. ii.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Kesehatan iii. Limb. Kimia iii.

Limb. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Fungsi pengendalian air. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. Air permukaan (sungai. 6. terutama pengendalian banjir Fungsi pencegah instrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. dan gambut. Limbah cair iii.Pemadatan lahan i.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Panas vii. Limb. Limbah padat ii. Introduksi spesies asing i. Kegiatan Konstruksi 3.Industri vi.Lampiran3-2. obat. 2. Pembangunan saluran drainase ii.domestik v. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. 4.Udara Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). rotan. 5.danau) ii. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran Keterangan: 1. getah. 3. 8.Pengalihan aliran iv.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Kegiatan pra-konstruksi a. Penanaman tanaman iv. pengendalian erosi. ikan dan daging satwa liar. Minyak ii. yang berupa perlindungan garis pantai.MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemLahanBasahuntukTipeEkosistem: hutan bakau/hutan rawa payau/hutan rawa bergambut/ hutan rawa air tawar Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan 1. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Introduksi spesies asing i. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahanbahan beracun. Pemungutan hasil iii. Radioaktif iv. Pengambilan/ perburuan satwa ii. ii. Kimia iii. Kegiatan survei b. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. 7.Aksesibibilitas wilayah . seperti kayu. Penebangan veg. Konstruksi dam . Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i.Limbah gas i. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. 212 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. dan pemecah angin (windbreak) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Kanalisasi sungai iii. 9.

Lampiran3-2.(lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3

Komponen Lingkungan

213
Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penebangan veg. ii. Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. Kimia iii. Radioaktif iv. Limb.domestik v. Limb.Industri vi. Panas vii.Udara

10. Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrikhidro 11. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar 13. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem, dan lansekap lahan basah. 14. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah 16. Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 17. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah asam sulfat.

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebebasan lahan

2. Kegiatan Konstruksi

3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Limbah gas i. Air permukaan (sungai,danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah

Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan

Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi

i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan

i. Pembangunan saluran drainase ii. Kanalisasi sungai iii.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam

- Aksesibibilitas wilayah - Pusat-pusat pertumbuhan baru

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : 1. Bahwa untuk melaksanakan Pasal 8 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Pasal 2 Ayat (3) angka 18 serta Pasal 3 ayat (5) angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, perlu menetapkan Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 2. Bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemeritah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. BAB I TUGAS, WEWENANG, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut komisi penilai mempunyai tugas menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi Penilai dibentuk : a. Di tingkat Pusat oleh Menteri; b. Di tingkat Propinsi oleh Gubernur; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh : a. Tim teknis komisi penilai yang selanjutnya disebut tim teknis; b. Sekretariat komisi penilai yang selanjutnya disebut sekretariat komisi penilai. (4) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. Kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan/atau menyangkut pertahanan dan keamanan seperti: pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor, submarine tailing, teknologi peluncuran satelit, teknologi rekayasa genetika, eksploitasi minyak dan gas, pembangunan kilang minyak, penambangan bahan galian radioaktif, pembangunan industri pesawat terbang, pembangunan industri senjata, pembangunan industri bahan peledak, pembangunan industri yang menggunakan bahan baku dari limbah import, pembangunan bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan samudera, pengolahan limbah terpadu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 214

(5)

(6)

(7) (8)

b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu wilayah propinsi; c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; d. Di wilayah laut diatas 12 (dua belas) mil; dan e. Di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Propinsi berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi: a. Rencana usaha dan/atau kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas seperti: pembangunan industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp, pembangunan industri semen dan quarry-nya, pembangunan industri petrokimia, pembangunan hak pengusahaan hutan beserta unit pengelolaannya, pembangunan hutan tanaman industri beserta unit pengelolaannya, budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan unit pengelolaannya, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi/diesel, pembangunan bendungan, pembangunan bandar udara diluar kategori bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan diluar kategori pelabuhan samudera; b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota; dan c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) mil. Komisi penilai Kabupaten/Kota berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi semua rencana usaha dan/atau kegiatan diluar kewenangan Pusat dan Propinsi, sebagaimana diatur melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dalam hal Kabupaten/Kota tidak atau belum mampu melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan menyerahkan kewenangan tersebut kepada Propinsi. Dalam hal Propinsi tidak mampu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan (7), maka komisi penilai propinsi dapat meminta bantuan kepada komisi penilai pusat. Pasal 2

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 1, komisi penilai mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan di tingkat Pusat; b. Gubernur di tingkat Propinsi; dan c. Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 3 (1) Keanggotaan Komisi penilai terdiri dari : ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota serta anggotaanggota lainnya. (2) Ketua Komisi penilai sebagaimana di maksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat adalah Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Di tingkat Propinsi adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah; c. Di tingkat Kabupaten/Kota adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/ Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup ditingkat Kabupaten/Kota. (3) Ketua Komisi penilai bertugas : a. Melakukan koordinasi proses penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup; b. Menyampaikan bahan pertimbangan komisi penilai sebagai dasar pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota. (4) Sekretaris komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat dijabat oleh Kepala Direktorat yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; b. Di tingkat Propinsi dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi; c. Di Tingkat Kabupaten/Kota dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. (5) Sekretaris Komisi Penilai bertugas : a. Membantu tugas ketua; b. Merumuskan hasil penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan komisi penilai. (6) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai pusat memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; 215

Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (7) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Propinsi memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; f. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (8) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Kabupaten/kota memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya yang didasari atas kaidah ilmu pengetahuan, bagi para ahli; c. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; d. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 4 (1) Tim Teknis di bentuk : a. Di tingkat pusat oleh Menteri Departemen Teknis atau Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang berkedudukan di masing-masing sektor, Tim ini merupakan bagian dari tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999; b. Di tingkat Propinsi oleh Kepala Bapedal Daerah Propinsi selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Propinsi; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Kepala Bapedal Daerah Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. (2) Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang secara ex-officio dijabat oleh sekretaris komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. (2) Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesesuaian dengan pedoman umum dan/atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan; c. Kesesuaian lokasi dengan tata ruang; d. Ketepatan penerapan metode penelitian/analisis; e. Kesahihan data yang digunakan; f. Kelayakan desain, teknologi dan proses produksi yang digunakan; g. Kelayakan ekologis. Pasal 6 Dalam menjalankan tugasnya, tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 7 (1) Sekretariat Komisi Penilai berkedudukan di : a. Tingkat Pusat di Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Badan Pegendalian Dampak Lingkungan b. Tingkat Propinsi di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi c. Tingkat Kabupaten/Kota di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Sekretariat komisi penilai dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada ketua komisi penilai. 216

f.

Pasal 8 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan, perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh komisi. Pasal 9 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. BAB II KERANGKA ACUAN Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 10 (1) Kerangka acuan yang dinilai oleh : a. Komisi penilai Pusat, diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat; b. Komisi penilai Propinsi, diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai Propinsi; c. Komisi penilai Kabupaten/Kota, diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota; (2) Dokumen kerangka acuan yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar. (3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana di maksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal penerimaan dokumen. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 11 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis menilai kerangka acuan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. (3) Penilaian oleh Tim Teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (4) Semua saran, pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai. (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 12 (1) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai kerangka acuan (2) Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal rapat. (3) Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. (4) Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh sekretaris penilai. (5) Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. (6) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. (7) Dalam rapat penilaian, semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6), (7) dan (8). (8) Komisi penilai wajib memperhatikan saran, masukan dan tanggapan dari masyarakat dalam proses penentuan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan. (9) Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. (10) Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretaris komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (11) Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan kerangka acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (12) Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (13) Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian, ketua komisi setelah mendengarkan saran-saran tim teknis 217

Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. maka komisi penilai wajib menolak kerangka acuan tersebut. (6) Di tingkat Kabupaten/Kota. b. d. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (2) Dokumen analisis dampak lingkungan hidup. d. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. (7) Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kesepatan kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib memuat kesepakatan tentang ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Gubernur yang bersangkutan. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. rencana pengelolaan lingkungan hidup. b. b. Komisi penilai Kabupaten/Kota. Komisi penilai Pusat. (4) Di tingkat Pusat. c. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Gubernur kepada: a. Gubernur yang bersangkutan. b. (15) Apabila rencana lokasi dilaksanakan usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai propinsi. c. (5) Di tingkat Propinsi. c. b. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat. Bagian Keempat Keputusan Pasal 13 (1) Keputusan kesepakatan kerangka acuan diterbitkan oleh : a. Komisi penilai Propinsi. c. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 14 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi di tingkat Propinsi. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat. c. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar 218 . Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. c. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan kepada: a. (14) Ketua Komisi penilai selaku : a. b.berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. d. (2) Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan hasil rapat penilaian komisi penilai. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. Deputi Kepala Badan Pegendalian Dampak Lingkungan yang menangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup di tingkat Pusat. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Menerbitkan Keputusan Kesepakatan Kerangka Acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. BAB III ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi.

(3) Penilaian oleh tim teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (7) dan (8). Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi pusat. Semua saran. maka rapat dipimpin oleh sekretaris komisi penilai. rencana pengembangan wilayah. Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. komisi penilai wajib memperhatikan saran. Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Dalam melaksanakan tugasnya. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. ketua komisi berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Pusat. Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan analisis dampak lingkungan hidup. (4) Semua saran. c. pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian. Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6). rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. Bupati/Walikota. Dalam rapat penilaian. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 15 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Gubernur.(3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan mencatat hari dan tanggal penerimaan dokumen. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. masukan dan tanggapan dari masyarakat. komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. Dalam penilaiannya. 219 . Ketua komisi penilai menyampaikan berita acara penilaian dan dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) kepada: a. maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. Bagian Keempat Keputusan Pasal 17 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan diterbitkan oleh: a. bagi analisis dampak lingkungan hidup. b. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup.

rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan. Bupati/Walikota yang bersangkutan. c. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor : Kep-13/MENLH/ 3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL dinyatakan tidak berlaku lagi. e. b. instansi terkait lainya di tingkat Propinsi. instansi terkait lainya. Bupati/Walikota. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. BAB V PENUTUP Pasal 19 (1) Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 Nopember 2000. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. S. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Di tingkat Propinsi pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. d. Di tingkat Pusat pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 220 . b. d. Di tingkat Propinsi. f. b. tim teknis. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat. b.H. instansi terkait lainya di tingkat Kabupaten/Kota. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut. Di tingkat Kabupaten/Kota pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota. Menteri. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.(2) (3) (4) (5) (6) b. (2) Dengan berlakunya keputusan ini. e. c. A. Menteri. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Gubernur. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada : a. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 18 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai. c. b. Bupati/Walikota yang bersangkutan. c. g. dan e. Ditetapkan : di Jakarta Tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. d. bagi dokumen yang dinilai oleh Komisi penilai Kabupaten/Kota. ttd Dr. Gubernur yang bersangkutan. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. f. Di tingkat Kabupaten/Kota. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan di tingkat Propinsi. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Gubernur kepada : a. Gubernur yang bersangkutan. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. Pertimbangan terhadap saran. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan : a. Di tingkat Pusat. c.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. perencanaan pembangunan wilayah/daerah. kesehatan. perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tugas. 3. d. Fungsi. Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai. BAB I PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI Pasal 1 Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota wajib memenuhi kriteria: a. b. Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. dan Tata Kerja Menteri Negara. 7. Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang biogeofisik-kimia. sosial. Mengingat : 1. Menimbang : 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). 9. 5. bahwa untuk melaksanakan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. 6. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. ekonomi. 3. c. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Susunan Organisasi. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup belum mengatur tentang Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. perlu menetapkan Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/ Kota. budaya. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 di atas. 4. dan 221 .KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). dan lingkungan sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis.

Pasal 3 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota berkedudukan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau di instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 6 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota bertugas menilai kerangka acuan. BAB II SUSUNAN KEANGGOTAAN Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 4 1. Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. komisi penilai dibantu oleh: a. d. analisis dampak lingkungan hidup. 222 . h. Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup baik dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau dari instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 5 1. i. wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Daerah Kabupaten/Kota. Sekretariat komisi penilai. wakil dari masyarakat yang terkena dampak. 3. Susunan keanggotaan terdiri dari Ketua merangkap sebagai anggota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah Kabupaten/Kota. Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang dalam hal ini dirangkap oleh sekretaris komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. b. wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. f. g. wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan daerah Kabupaten/Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Tim teknis terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota. wakil dari instansi terkait di daerah Kabupaten/Kota. Tim teknis komisi penilai. k. e. wakil dari organisasi lingkungan sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. 2. l. anggota lain yang dianggap perlu. Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurangkurangnya untuk parameter air dan udara baik laboratorium yang berada di Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat. Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Pasal 7 Dalam melaksanakan tugasnya. Sekretaris merangkap sebagai anggota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan daerah Kabupaten/Kota. 2. Pasal 2 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. b. 4.e. dan anggota-anggota lainnya. ahli di bidang lingkungan hidup. j. c.

Ketepatan penerapan metoda penelitian/analisis. e. Kelayakan desain.H. Kesesuaian dengan pedoman umum dan atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. ttd Dr. teknologi.Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas. analisis dampak lingkungan hidup. perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung. d. dan proses produksi yang digunakan. sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 9 1. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan. 223 . komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Bupati/Walikota. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 13 Biaya atas pelaksanaan kegiatan komisi penilai. Ditetapkan Tanggal : di Jakarta : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Nadjib Dahlan. S. b. 2. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. Pasal 10 Dalam menjalankan tugasnya. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd. c. tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis dan bertanggung jawab kepada komisi penilai. BAB V PENUTUP Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 11 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan. Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesahihan data yang digunakan. Pasal 12 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. A. Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. tim teknis.

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 9 dan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dr. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. 1. 6. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . dan Tata Kerja Menteri Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. ME MUTU S KAN : Menetapkan : Pertama : Kedua Ketiga : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT. Fungsi.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 Tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Susunan keanggotaan komisi penilai dan tim teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran I dan II dalam Keputusan ini. 224 Mengingat : Keempat: Kelima : Keenam : . Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). Ketua tim teknis dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat. 8. perlu dibentuk Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Setiap anggota komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat mempunyai kewenangan pengambilan keputusan dari instansi/organisasi/masyarakat yang diwakilinya. 4. Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. S. Anggota komisi penilai dan tim teknis dalam melaksanakan tugasnya wajib memperhatikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 2.H. A. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tugas. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). ttd. 7. Susunan Organisasi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952).

ttd Dr. S.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 20. A. 5. 12. 7.H. 10. 6. 8. Menteri Negara Lingkungan Hidup. 4. Jabatan/Instansi Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kepala Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 14. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan Wakil dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen Dalam Negeri Wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional Wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan W akil dari instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan Wakil dari departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang terkait Wakil dari Propinsi yang bersangkutan Wakil dari Kabupaten/Kota yang bersangkutan Ahli di bidang lingkungan hidup Ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan Wakil dari organisasi lingkungan hidup/ Lembaga Swadaya Masyarakat sesuai dengan bidang usaha dan/ atau kegiatan yang dikaji Wakil dari masyarakat terkena dampak Anggota lain yang dianggap perlu Kedudukan Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota 1. 225 . 13. 3. 17. 16. 11. 15. 2. 19. 18. 9. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan .

Jabatan/Instansi Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang paling dominan Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan lainnya Ahli dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Ahli lain di bidang ilmu yang terkait Ahli lain di bidang kegiatan yang bersangkutan Kedudukan Ketua merangkap anggota 2.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. A. S. 1. ttd Dr. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Anggota 3.H. 4. 226 . 5. Anggota Anggota Anggota Menteri Negara Lingkungan Hidup.

7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan. Panduan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. 227 . Tugas Pokok. 4. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3125) .30/MENKLH/7/1992 TENTANG PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP. 5. ttd Emil Salim. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan Andal. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kedua: Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 16 Juli 1992 Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintan Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1986. 2. 6. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL Mengingat : Pertama: Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Keputusan ini. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pengangkatan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup . 3. Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan serta Organisasi Staf Menteri Negara. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01Tahun 1990 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1. 8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP .

2. Pengertian Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana kegiatan. Lampiran II. Menetapkan tingkat kedalaman studi ANDAL/SEL sesuai dengan sumber daya yang tersedia (waktu. Manfaat Manfaat pelingkupan adalah sebagai berikut: a. 3. dan prosedur pelingkupan untuk penyusunan dokumen KA 2. dana. serta membantu menelaah dampak kumulatif dari proyek-proyek tersebut. Keanekaragaman KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan ANDAL/SEL. Penyusunan ANDAL/SEL dapat langsung diarahkah pada hal-hal yang menjadi pokok bahasan secara mendalam. 2. tentang Pedoman Penyusunan Acuan Analisis Dampak Lingkungan.2. Keterbatasan Sumberdaya KA memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL/SEL. ditegaskan bahwa dokumen Kerangka Acuan (KA) disusun karena adanya pertimbangan: 1. dengan meniadakan hal-hal yang dipandang kurang atau tidak penting untuk ditelaah. PENGERTIAN. metode. 228 . Kegiatan pelingkupan (scoping) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan KA dan hasilnya dapat berpengaruh besar pada kualitas dokumen ANDAL/SEL. Menyadari pentingnya arti kegiatan pelingkupan ini dipandang penting disusun suatu panduan pelingkupan yang komprehensif. tujuan. d. Panduan ini merupakan pendukung ( suplemen) untuk penyusunan KA sehingga dokumen KA yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan teknis seperti yang digariskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. karena dampak bersifat yang kurang penting atau tidak relevan tidak akan dikaji dalam ANDAL/ SEL. Efisiensi KA memberikan arahan tentang data dan informasi yang perlu dikumpulkan untuk penyusunan ANDAL/SEL. Menetapkan lingkup studi dan rancangan studi ANDAL/SEL secara sistematis.30/MENKLH/7/1992 : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1. sehingga dokumen ANDAL/ SEL dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan yang diusulkan. serta kelompok masyarakat yang terkena dampak c. dan instansi pemerintah yang berwenang/terkait dapat memahami pengertian. 2. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan. e. dan Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. instansi pemerintah yang terkait. sehingga data dan informasi yang terkumpul hanyalah yang relevan dengan dampak lingkungan yang telah ditelaah. proses. Mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam penyusunan ANDAL/SEL.LAMPIRAN NOMOR TENTANG : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA : KEP . Panduan pelingkupan ini disusun dengan maksud agar pemrakarsa kegiatan. manfaat. Ketiga pertimbangan tersebut pada dasarnya dapat terwujud dengan baik dalam dokumen KA bila dalam penyusunan KA ditempuh suatu proses yang dikenal sebagai pelingkupan (scoping). b. TUJUAN DAN MANFAAT PELINGKUPAN 2. Semakin baik hasil proses pelingkupan semakin baik pula dokumen ANDAL/ SEL yang dihasilkan. termasuk dokumen ANDAL/ SEL dari proyek-proyek tersebut. berkat identifikasi dampak yang semakin tajam. sehingga data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan yang akan timbul. Tujuan Pelingkupan bertujuan untuk: a. Lampiran II. guna menghindari pembahasan yang landung ( redundant). dan adanya arahan yang tegas dalam lingkup serta kedalaman studi ANDAL/SEL. tenaga). Menelaah kegiatan/proyek-proyek lain yang terkait dan terletak di wilayah studi. Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak.3. berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. PENDAHULUAN Dalam Keputusan Menteri Negara LH Nomor KEP-50/MNKLH/6/1987.1.

1. Identifikasi dampak potensial yang bersumber dari pemrakarsa kegiatan. Saat Penapisan Proyek Proses pelingkupan yang dilakukan pada saat ini ditujukan untuk menetapkan: a. Pelingkupan yang dilakukan pada saat ini lebih bersifat teknis. PROSES DAN METODE PELINGKUPAN 3. dan para pakar. RPL Pelingkupan pada saat ini. Saat Penyusunan ANDAL/SEL.2. RKL. kedalaman. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi terhadap hal-hal yang dianggap penting dimaksudkan untuk menentukan isi pokok yang tercakup dalam AMDAL (dan menghilangkan isi yang dianggap tidak penting). d. Waktu Pelaksanaan Pelingkupan Pelingkupan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sinambung ( continue).1. Kegiatan pelingkupan sebenarnya berawal sejak penapisan proyek. c. Proses Pelingkupan Pelingkupan untuk penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL dilaksanakan melalui serangkaian proses berikut: a. 229 . Pelingkupan pada saat ini lebih merupakan proses kelembagaan. b. 3. Panduan yang diutarakan di sini adalah panduan pelingkupan untuk keperluan penyusunan dokumen Kerangka Acuan. RKL. pakar dan instansi pemerintah tentang rencana kegiatan atau proyek yang diusulkan. analisis data. Penyusunan ANDAL/SEL dapat berlangsung dengan lebih terarah berkat adanya kejelasan lingkup studi. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang memerlukan penyusunan dokumen PIL terlebih dahulu karena “perilaku” dampak belum banyak diketahui atau diragukan. mengingat “diikutsertakannya” berbagai pihak di luar pemrakarsa. a. tokoh-tokoh masyarakat. Kemungkinan timbulnya konflik dan tertundanya kegiatan pembangunan proyek dapat dihindari. Tujuannya agar studi ANDAL/SEL dan RKL/RPL tetap berada dalam konteks menelaah dampak penting lingkungan seperti yang digariskan dalam Kerangka Acuan. sepenuhnya dilakukan oleh penyusun ANDAL/SEL. dan RPL. dalam penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL c. berkat adanya diskusi dan konsultasi antara pemrakarsa dan berbagai pihak yang berkepentingan sejak awal kegiatan proyek. Dengan digunakannya pelingkupan pada saat penapisan proyek prosedur AMDAL/SEMDAL yang harus ditempuh oleh suatu rencana kegiatan dapat diputuskan dengan lebih tepat.2. senantiasa akan diarahkan untuk keperluan kajian dampak penting lingkungan. b.b. hingga berakhirnya studi AMDAL/ SEMDAL. tenaga. dan strategi pelaksanaan studi. c. Biaya. seperti instansi yang berwenang. penyusunan dokumen Kerangka Acuan. serta rekomendasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. masyarakat. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang tidak memerlukan proses AMDAL/SEMDAL. Saat Penyusunan Kerangka Acuan Pelingkupan yang berlangsung di saat penyusunan KA pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan manfaat seperti yang dimaksud pada BAB 2 panduan pelingkupan ini. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang langsung memerlukan penyusunan ANDAL/SEL karena dipandang jelas menimbulkan dampak penting. Kaitan ke tiga proses pelingkupan di atas dapat dilihat pada Gambar berikut: Identifikasi pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan menghasilkan keluaran berupa diketahuinya hal-hal penting. Evaluasi segenap dampak protensial sehingga dihasilkan dampak penting hipotetis dengan meniadakan dampak potensial yang tidak atau kurang penting. Pemusatan (focussing) segenap dampak penting (hipotetis) dengan maksud agar terancang lingkup dan kedalaman studi ANDAL/SEL yang jelas dan sistematis dengan fokus bahasan dan dampak penting. a. a. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dan komunikasi (pemusatan) dari isi pokok tersebut untuk membantu menganalisis isi dan membuat keputusan akhir. dalam artian bahwa kegiatan pengumpulan data.3. 3. dan waktu untuk penyusunan ANDAL/SEL dapat dicurahkan lebih efektif dan efisien berkat terfokusnya studi ANDAL/SEL hanya pada dampak penting.

Contoh: (Kasus Pengembangan lapangan minyak. (9) Kesempatan kerja. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan patut untuk ditelaah dalam penyusunan ANDAL/SEL.2. (3) Perikanan (sungai). 3. (2) Kualitas air.KEGIATAN HAL-HAL PENTING ISI POKOK ANALISIS ISI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN LINGKUNGAN EVALUASI PEMUSATAN IDENTIFIKASI 3. suatu lapangan minyak yang akan dibuka di dataran seluas 50 ha secara potensial diduga akan menimbulkan dampak terhadap beberapa komponen lingkungan di sekitarnya. catatan: contoh ini hanyak merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat). Setelah melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dengan pakar. Pada tahap ini akan dihasilkan daftar dampak penting hipotetik yang belum berurutan dan terorganisir secara sistematis. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak potensial yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. Komponen lingkungan tersebut adalah: (1) Sedimentasi sungai. (7) Aksesibilitas hutan. (5) Kesempatan kerja. (14) Warisan peninggalan budaya. Identifikasi dampak potensial ini bersumber dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar.2. 3.2. (13) Sikap terhadap proyek. Pada tahap ini belum ada upaya untuk mengevaluasi apakah segenap dampak potensial tersebut akan merupakan dampak penting.2. (10) Kepadatan penduduk.1. (7) Satwa liar yang dilindungi. dan masyarakat sekitar rencana kegiatan/proyek. (5) Erosi. (8) Vegetasi hutan. (6) Pendapatan penduduk. Pada tahap ini yang diperlukan hanyalah menyusun daftar segenap “dampak potensial” yang mungkin akan timbul. (8) Sikap terhadap proyek. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Dari 14 komponen lingkungan yang semula dipandang merupakan dampak potensial untuk diperhatikan. (11) Kesehatan masyarakat. (3) Kualitas udara. setelah ditelaah lebih lanjut (misal melalui metode matrik atau penelaahan literatur) ternyata terdapat 6 komponen lingkungan yang tidak relevan untuk diteliti. Identifikasi Dampak Potensi Kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer) maupun sekunder yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/ proyek. Dengan demikian dampak potensial yang secara hipotetis dipandang penting untuk ditelaah adalah: (1) Kualitas air. instansi pemerintah. dengan maksud agar diperoleh gambaran 230 . Pemusatan (Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampakdampak penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. instansi pemerintah. (4) Kesuburan tanah. (4) Vegetasi hutan. (6) Perikanan (sungai). Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak.3. (12) Aksesibilitas daerah. (2) Kualitas udara. serta masyarakat yang terkena dampak.

Dari kedua kelompok dampak penting tersebut selanjutnya dijabarkan: batas wilayah studi. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Matrik Bagan alir (Network). Metode Pelingkupan Dalam proses pelingkupan digunakan metode-metode untuk identifikasi. 3. dan metode evaluasi dampak yang akan digunakan untuk penyusunan ANDAL/SEL Lingkup kedalaman studi ANDAL/SEL ini ditetapkan sedemikian rupa sehingga dengan waktu. lokakarya dan rapat. 231 .1. yang terdiri atas: a.1. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Delapan dampak penting yang semula belum terkelompok (menurut derajat kepentingan dampak). dan lain sebagainya). Metode identifikasi dampak. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. dana dan tenaga yang tersedia. Berikut diutarakan secara singkat metode-metode dimaksud: 3.3. jumlah sampel. atau bila memungkinkan metode prakiraan dampak.yang utuh dan lengkap. e. Secara garis besar metode yang dapat digunakan adalah: a.1. Daftar-uji sederhana (simple checklist) a. lokasi pengamatan/pengukuran. dan digunakan sebagai dasar untuk menjabarkan ruang lingkup. yakni: a. c. lokasi. kedalaman dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL (batas wilayah studi. Penelaahan pustaka Analisis isi (content analysis) Interaksi grup (group process) yang terutama meliputi brainstorming.2. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) a. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing metoda tersebut. Dampak penting hipotetis yang terkelompok inilah yang merupakan fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL/SEL. 3. segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. dan pemusatan dampak penting hipotetis. setelah melalui serangkaian diskusi dan konsultasi yang intensif dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok dampak penting. Kedua kelompok dampak penting hipotetis tersebut adalah: (1) Dampak terhadap kualitas air dan perikanan sungai. hanya berupa serangkaian daftar tentang parameter-parameter lingkungan yang perlu mendapat perhatian akibat adanya suatu rencana kegiatan. dokumen ANDAL/SEL yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. d. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. b. Pertama. Daftar-uji (checklist). pengamatan/pengukuran. Daftar uji kuesioner ini akan lebih memberi manfaat bila dalam mengidentifikasi dampak potensial didukung dengan pengamatan ke wilayah sekitar rencana kegiatan. Daftar Uji Sederhana ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dampak potensial yang diduga akan timbul. Selanjutnya diurut berdasarkan tingkat kepentingannya baik dari segi ekonomi ataupun ekologis. Daftar-uji sederhana (simple checklist) Produk metoda ini sangat sederhana. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) Daftar uji jenis lainnya adalah daftar-uji dengan kuesioner. Ada tiga macam metode identifikasi dampak yang dapat dipilih untuk digunakan. (2) Dampak terhadap kesempatan berusaha dan pendapatan penduduk yang tergantung pada penangkapan ikan disungai.1.3.2. metode analisis data. Pengamatan lapangan. evaluasi. c. Namun demikian metoda ini hanya memberi sedikit informasi tentang dampak yang timbul bila dibandingkan dengan metoda Daftar Uji Kuesioner (questionnaire checklist) dan matrik. b.1. 3.3. Metode Identifikasi Dampak Untuk mengidentifikasi dampak potensial dapat digunakan metode identifikasi dampak lingkungan yang secara konvensional telah dikenal.3. jumlah sample.3. jenis data dan informasi yang dikumpulkan.

4... Matrik sederhana menggambarkan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya.... Umumnya daftar-uji deskriptif ini diawali dengan parameter yang relevan untuk diteliti dan selanjutnya diikuti dengan petunjuk pencarian data... 1. Diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana kegiatan (misal.. Target ini dapat dicapai melalui serangkaian kegiatan berikut: a.. Dengan demikian isi atau materi daftar uji yang relevan dengan karakteristik proyek dan kondisi wilayah sekitar proyek harus dikembangkan sendiri oleh penyusun ANDAL/ SEL. Mengingat dampak suatu proyek bersifat unik dan khas maka relatif tidak ada daftar uji yang berlaku sama untuk semua proyek di semua lokasi/ruang... Kekuatan metoda daftar-uji ini terletak pada kesederhanaannya. Metode ini tergolong komunikatif untuk materi diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi pemerintah atau masyarakat awam yang ingin mengetahui dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek..3.2. asal dan jumlah bahan baku yang digunakan rangkaian proses produksi. sedang pada bagian baris tertera berbagai komponen dan parameter lingkungan.1. b. Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan.. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Daftar-uji deskriptif menguraikan tentang hal-hal yang patut untuk diteliti oleh penyusun ANDAL/SEL seperti data dan informasi yang diperlukan untuk analisis parameter yang diduga sebagai dampak penting.1.. Wawancara singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek.2. Pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut rencana tata letak kegiatan. Bila pengamatan lapangan ini dilakukan oleh pakar yang berpengalaman. jenis limbah yang dihasilkan. m). kondisi biologi. dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul... 3.. namun demikian apabila daftar-uji ini tidak diverifikasi dengan kondisi lingkungan dan proyek yang diteliti..3. Untuk kegiatan yang telah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci. dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan/proyek. n) maka pada interaksi ke ij diberi tanda atau noktah seperti X.1.3. jumlah karyawan yang diserap.4.. Kelebihan matrik sederhana ini dibandingkan dengan daftar uji adalah diketahuinya sumber penyebab timbulnya potensi dampak lingkungan. rencana penanganan limbah dan lain sebagainya). maka kemungkinan besar butir-butir yang dipandang relevan untuk ditelaah tidak termuat dalam daftar dan sebaliknya hal-hal yang tidak relevan tercantum dalam daftar. misal kegiatan ke i (i .. Bagan Alir Bagan alir (network) merupakan suatu model yang dikonstruksikan melalui jalinan hubungan sebab-akibat antara sumber penyebab dampak (kegiatan/proyek) dan faktor-faktor lingkungan yang terkena dampak.. Satu kelemahan lain dari daftar-uji adalah tidak diketahuinya secara jelas sumber penyebab dampak. Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam...3... secara potensial diduga menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu. 3. 3.. sekunder maupun tersier. Apabila suatu kegiatan proyek..3. 232 . Bila kegiatan sudah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) perlu dilakukan pula pengamatan terhadap jalannya proses produksi dan limbah yang dihasilkan.2. d. Metoda bagan alir ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya aktivitas proyek.5.. c....3. Matrik Matrik yang digunakan untuk keperluan identifikasi dampak merupakan matrik sederhana ( simple matrik). misal komponen ke j (j : 1. baik dampak lingkungan yang bersifat primer. maka di samping akan diperoleh hasil yang bernilai juga dapat diperoleh gambaran umum tentang kedalaman dan lingkup studi ANDAL/SEL. Pada bagian lajur tertera berbagai kegiatan pembangunan yang direncanakan. sumber data dan bahkan metoda perkiraan dampak yang direkomendasikan untuk diterapkan.. Pengamatan Lapangan Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan dokumen KA umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat... perairan umum.

departemen sektoral. tokoh masyarakat). atau pemusatan dampak penting. Dalam rapat. Metode yang dapat digunakan antara lain: rapat. 233 . calon penyusun ANDAL/SEL. instansi pemerintah yang berwenang. 4. Melalui metode ini dapat dilibatkan peran serta beragam instansi yang terkait dengan proses AMDAL (pemrakarsa.7. Telaahan terutama difokuskan pada respon masyarakat terhadap kehadiran proyek-proyek pembangunan di sekitarnya. evaluasi dampak potensial. Dokumen AMDAL/SEMDAL dari proyek-proyek sejenis atau dari proyek-proyek di sekitar wilayah studi. mengevaluasi. Laporan-laporan resmi tentang masalah lingkungan di sekitar wilayah studi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. a. atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laporan-laporan penelitian tentang masalah-masalah lingkungan di sekitar wilayah studi. Mengingat inisiatif kegiatan identifikasi dampak ini berada pada pemrakarsa kegiatan.2. c. Metode ini mensyaratkan bahwa ketua rapat harus menguasai prosedur dan teknik penyusunan ANDAL/SEL. atau pemusatan dampak penting. untuk terlibat dalam proses pelingkupan. Analisis ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dampak potensial dari sudut masyarakat. Analisis Isi Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul menurut persepsi atau pandangan masyarakat. penanggung jawab kegiatan ini juga berada di pundak pemrakarsa. majalah dan televisi. d. Interaksi Kelompok Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. didaftar untuk selanjutnya dievaluasi tingkat kepentingan dampaknya. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial b. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Dampak Penting c. Buku-buku teks atau jurnal tentang dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. Metode ini efektif untuk digunakan dalam rapat-rapat untuk identifikasi dampak potensial. b. Pustaka yang perlu ditelaah antara lain adalah: a. 3. evaluasi. Persepsi masyarakat “ditangkap” secara tidak langsung melalui metode analisis ini (content analysis). Brainstorming Metode ini terutama digunakan untuk identifikasi dampak potensial. seperti koran.1. Melalui metode ini identifikasi dan evaluasi dampak potensial suatu rencana kegiatan dapat dilakukan lebih cepat berkat adanya data dan informasi dari studi-studi yang sejenis. Rapat Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. 3. b. lokakarya dan brainstorming. Lokakarya akan memberikan manfaat yang tinggi bila dipersiapkan dengan baik dan draft dokumen KA telah tersusun dan siap untuk dibahas dalam forum. “Partisipasi” masyarakat dilibatkan secara tidak langsung dengan cara menelaah berita-berita yang disampaikan melalui berbagai media massa. Lokakarya Metode ini dapat digunakan untuk evaluasi atau pemusatan dampak penting. perlu ditempuh prosedur pelingkupan seperti berikut ini: a.1. peserta harus mengerti benar bahwa tujuan rapat adalah untuk mengidentifikasi.5. atau pemusatan dampak penting yang berkenaan dengan rencana kegiatan/proyek. PROSEDUR PELINGKUPAN Agar dokumen KA yang dihasilkan mampu mengarahkan penyusunan ANDAL/SEL seperti yang diharapkan. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL/SEL Berikut dikemukakan langkah-langkah kegiatan pelingkupan dimaksud: 4. Dalam brainstorming dampak potensial dari sudut pemrakarsa. kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak potensial (primer maupun sekunder) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/proyek. c. instansi yang berwenang.3. Penelahaan Pustaka Metode ini digunakan untuk keperluan identifikasi dan evaluasi dampak potensial.6. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial Seperti telah diutarakan pada butir 3. dan masyarakat yang terkena dampak. pakar.

tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. sehingga evaluasi dan pemusatan harus dilaksanakan secara kritis dan obyektif. Konsultasi dan diskusi dengan para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultasi penyusun ANDAL/SEL). 4. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik yang dipandang yang layak untuk ditelaah secara mendalam dalam ANDAL/SEL. dengan menggunakan Keputusan Menteri Negara KLH No. sehingga sedapat mungkin kegiatan ini dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat diwakili dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL).) dan telaahan pustaka (butir 3. 2. Dokumen yang telah tersusun ini selanjutnya diserahkan kepada Komisi Pusat AMDAL departemen untuk dibahas dan disepakati oleh instansi yang berwenang. Pemrakarsa perlu terlibat secara aktif dalam kegiatan ini agar dapat dihasilkan butir-butir identifikasi dampak yang lebih jelas/tajam. 3.5 dan 3. Dampak potensial yang dipandang kurang penting atau tidak relevan ditiadakan dari daftar. dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL harus dijabarkan dari kelompok dampak penting hipotetik yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. 3.6. Segenap dampak penting hipotetik selanjutnya disintesis jalinan keterkaitannya sehingga diperoleh di beberapa kelompok dampak penting yang akan menjadi fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL.). yang menjadi fokus bahasan. Lampiran II. Sedang pemusatan ( focussing) dimaksudkan untuk mengorganisir dampak penting hipotetik ke dalam beberapa kelompok (lihat butir 3. (brainstorming) Pengamatan terhadap kondisi wilayah sekitar rencana kegiatan dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. Evaluasi derajat kepentingan dampak setiap komponen/parameter lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak lingkungan. dan penanggung jawab kegiatan. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman ANDAL/SEL Pelingkupan yang dilakukan pada langkah ini bersifat lebih teknis.2. Pada taraf ini sudah dapat dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. Dari segenap hasil pelingkupan tersebut selanjutnya disusun dokumen KA untuk penyusunan ANDAL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-50/MNKLH/ 6/1987. melalui metode rapat (butir 3. Perlu diketahui bahwa pada langkah ini proses pelingkupan semakin mengandalkan pertimbangan pakar (expert judgement).2./ SEL. Pengamatan sebaiknya dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL).. Batas wilayah studi dan batas/horison waktu untuk memprakirakan dampak penting yang akan timbul. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (atau SEL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. sebagai bahan acuan. 2.. serta lokasi pengumpulan data. kedalaman. perihal peraturan perundangundangan yang berlaku untuk penyusunan Kerangka Acuan dan ANDAL/SEL. 2. serta instansi pemerintah yang berwenang. calon penyusun ANDAL/SEL. Inisiatif Langkah Kedua ini juga berada pada pemrakarsa kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun ANDAL/SEL). tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan).Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Pertama ini adalah: 1. 3.4.2.3.6. 3. deskripsi kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. 4. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik.2. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Pada Langkah Kedua ini evaluasi dampak potensial dan pemusatan dampak penting ditempuh sekaligus mengingat eratnya kaitan kedua proses pelingkupan tersebut. 49/MNKLH/VI/1987. dan lain sebagainya. sehingga dapat dijadikan dasar untuk penjabaran lingkup dan kedalam studi ANDAL/SEL. dapat ditelaah secara mendalam. Sedapat mungkin lengkapi pula dengan jenis data dan jumlah sampel yang harus dikumpulkan. Jenis tenaga ahli yang diperlukan berikut dengan jangka waktu yang tersedia untuk penyusunan ANDAL/SEL.4. Dari hasil kegiatan butir 1 dan 2 pemrakarsa/konsultan penyusun ANDAL/SEL selanjutnya dapat menyusun daftar dampak potensial yang bersumber dari berbagai pihak.3). 234 . Hal ini tidak lain karena kegiatan ini dapat diperoleh masukan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari sudut pandang masyarakat. Jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan agar dampak penting.2.3. Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Kedua ini meliputi: 1. Berdasarkan hasil pemusatan ini selanjutnya dilakukan Langkah Ketiga. Aspek-aspek yang dijabarkan lebih lanjut untuk keperluan penyusunan dokumen KA ANDAL/SEL perlu meliputi tentang: 1. Lampiran II. Seperti telah diutarakan pada butir 3. Hal ini mengingat karena ruang lingkup. evaluasi dampak potensial bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang tidak relevan atau tidak penting.

Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). pendapat. 2. Surat Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. ttd Dr. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). keterlibatan masyarakat dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Gubernur dapat mengatur lebih lanjut: 1. pengumuman. 235 . Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali. b. Pengendalian Dampak Sudarsono. KEDUA : KETIGA : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Pebruari 2000 Kepala Badan Lingkungan. Penentuan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. dan tanggapan warga masyarakat. S. dan c. 3. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Keputusan ini. A. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. penyampaian saran. Rincian tata cara: a. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. 1. Mengingat : PERTAMA : Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan berpedoman pada Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini.H.

email) atau bentuk cetak (contoh: surat pembaca di media massa) sehingga mudah didokumentasikan. Pendapat. pendapat.LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. dan dengan menggunakan mekanisme perwakilan yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan butir b) dibawah : a) Penetapan lingkup masyarakat terkena dampak Penetapan lingkup warga masyarakat terkena dampak pada tahap penyusunan KA-ANDAL dilakukan atas kesepakatan bersama antara instansi yang bertanggungjawab. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. b) Spesifikasi Teknik Penyampaian Saran. dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak.1 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilaksanakannya keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: 1) Melindungi kepentingan masyarakat. (3) Menjelaskan dan atau melampirkan identitas pribadi. 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 3) Duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. b) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL). 2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. 2. Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL: Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang AMDAL. Masyarakat Pemerhati: Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan h) keputusan hasil penilaian dokumen AMDAL. Dalam proses ini. dan Tanggapan (1) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. faktor pengaruh ekonomi. dan masyarakat pemerhati. dan RPL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Penyampaian Saran. dan/atau tanggapan atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL dan dokumen KA-ANDAL. PENDAHULUAN 1. Pendapat. (2) Menuliskan dengan jelas sehingga mudah dibaca. dan RPL di Komisi Penilai. f) proses penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL.1 Hak-hak Warga Masyarakat Hak-hak warga masyarakat dalam proses AMDAL adalah: 1) Memperoleh informasi mengenai: a) rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL. dan tanggapan masyarakat yang disampaikan. perhatian pada lingkungan hidup. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. dan 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan. dan 4) Koordinasi. komunikasi. e) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). c) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). d) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. 1. faktor pengaruh sosial budaya. dan Tanggapan Bentuk tertulis (contoh: surat. 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan. khusus bagi warga masyarakat terkena dampak yang penetapannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan butir a) dibawah. yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh.3 Pengertian Masyarakat yang Berkepentingan: Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. kebutuhan. pemrakarsa dan masyarakat terkena dampak terkait dengan tetap memperhatikan kemungkinan penyempurnaannya kembali pada tahap proses penilaian dokumen ANDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. RKL. masyarakat menyampaikan aspirasi. c) Tata Cara Tata cara penyampaian saran. 1.2 Prinsip Dasar Pelaksanaan 1) Kesetaraan posisi diantara pihak-pihak yang terlibat. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut. dan tanggapan dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. Wakil Masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL: Wakil masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL adalah wakil dari masyarakat terkena dampak yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. ANDAL. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lingkup masyarakat terkena dampak adalah: 236 . g) sikap instansi yang bertanggung jawab atas saran. 2) Memberikan saran. Masyarakat Terkena Dampak: Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/ atau kegiatan. dan kerjasama dikalangan pihak-pihak yang terkait. 3) Penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. RKL. pendapat. pendapat. HAK DAN KEWAJIBAN 2.

dengan lama minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. dan (4) Pusat dan/atau tempat pengumuman resmi yang ditetapkan dan diatur oleh instansi yang bertanggung jawab. (4) Memperhatikan tahapan proses kajian AMDAL Semakin jelas permasalahan dan alternatif mitigasi dampak. dan tanggapan warga masyarakat tersebut kepada Komisi Penilai AMDAL. termasuk juga pendapat-pendapat yang saling bertentangan. (3) Pengumuman pada papan pengumuman harus sekurang-kurangnya: • Ditulis dengan warna hitam dan dasar putih. dan dapat ditambahkan dengan (3) Media elektronik televisi dan/atau radio. pendapat. Wujud dari pengakuan ini dapat berupa bukti yang sifatnya formal (misalnya: surat persetujuan bersama dari kelompok masyarakat yang diwakili).2 Kewajiban Instansi yang Bertanggung Jawab Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai penyusunan AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Media cetak lokal dan nasional. dan tanggapan dari warga masyarakat yang disampaikan.b) Memperhatikan karakter rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diusulkan Contoh : • jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat setempat berarti menjadikan seluruh masyarakat setempat sebagai kelompok yang terkena dampak (misalnya : proyek pembukaan lahan pertanian skala besar. Warga masyarakat terkena dampak memilih sendiri wakilnya yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. (2) Papan pengumuman kantor instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat dan/atau daerah. atau informal seperti tokoh adat dan tokoh agama setempat sebagai wakil yang disepakati). Contoh : • identifikasi dampak dan wilayah sebarannya pada saat KA-ANDAL mungkin hanya menghasilkan satu kelompok masyarakat terkena dampak. pendapat. 4) Menyediakan informasi tentang proses dan hasil keputusan penilaian dokumen KA-ANDAL dan ANDAL. dan lain-lain). proyek peremajaan kota. (2) Pengumuman tertulis di media cetak harus berukuran minimal 5x3 cm 2 dan ditulis dengan huruf standar sekurang-kurangnya berukuran 10. pembuatan infrastruktur desa. namun pada saat evaluasi dampak akan dapat teridentifikasi kelompok masyarakat terkena dampak baru. lingkup warga masyarakat yang terkena dampak dapat membesar/mengecil. (2) Memperhatikan jenis isu pokok/dampak besar dan penting yang muncul Sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan bisa memiliki lingkup warga masyarakat yang terkena dampak berbeda-beda menurut jenis isu pokok/dampak besar dan penting. dan lain sebagainya. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman (1) Semua bentuk pengumuman baik tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. (2) Menyuarakan semua bentuk aspirasi dan pendapat masyarakat yang diwakilinya secara apa adanya. • jenis usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pengaruh positif atau negatif besar pada satu kelompok masyarakat tertentu menjadikan hanya sebagian masyarakat menjadi kelompok yang terkena dampak (misalnya: proyek transmigrasi/ pemindahan pemukim perambah hutan yang akan mempengaruhi penduduk yang dipindahkan dan penduduk yang akan menerima. Penetapan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. • Ditulis dengan huruf cetak standar dengan ukuran minimal 12. dan tanggapan dari warga masyarakat serta respon dan sikap atas saran. 2) Mendokumentasikan dan mengolah saran. RKL. atau proyek pertambangan terhadap masyarakat suku terasing). (3) Mengacu pada batas wilayah dampak yang ditetapkan dalam studi AMDAL Warga masyarakat yang terkena dampak haruslah warga yang memang berada di dalam wilayah dampak yang batas-batasnya ditetapkan dalam studi AMDAL. 3) Menyampaikan rangkuman hasil saran. (3) Melakukan komunikasi dan konsultasi rutin dengan masyarakat yang diwakilinya. pendapat. Kriteria dan syarat wakil masyarakat terkena dampak adalah: (1) Seseorang yang diakui sebagai juru bicara dan/atau mendapat mandat dari kelompok masyarakat terkena dampak. 237 . dan 5) Memfasilitasi terlaksananya dengan baik hak warga masyarakat atas informasi dan berperanserta dalam proses AMDAL. Contoh : • adanya perbedaan antara kelompok warga masyarakat terkena dampak akibat isu konflik sosial budaya dengan kelompok akibat isu pencemaran lingkungan. dimana kemudian dapat memunculkan kelompok masyarakat terkena dampak yang tidak teridentifikasi sebelumnya. (1) 2. Ukuran minimal tidak boleh dijadikan alasan tidak lengkapnya lingkup materi yang disampaikan. Demikian pula halnya pada saat ditemukannya alternatif mitigasi dampak dalam RKL dan RPL. dan RPL kepada warga masyarakat yang berkepentingan. atau bentuk-bentuk pengakuan lainnya yang ditetapkan dan disetujui oleh kelompok masyarakat terkena dampak yang diwakilinya (misalnya: menetapkan tokoh masyarakat formal seperti Kepala Desa dan LKMD. disampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. • Berukuran minimal 60 x 100 cm 2 (4) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita ataupun spot iklan.

dan h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. Unit yang membidangi AMDAL. dan (3) Media lain yang dianggap tepat dengan situasi setempat. b) Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan. 3. pendapat. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. misalnya brosur. pendapat. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. serta cara penanganannya. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. (2) Papan pengumuman di lokasi-lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. yang teknisnya diatur dalam butir 2) sub bab 2. seminar. dan tanggapan dari warga masyarakat. c) Nama dan alamat pemrakarsa. dan e) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran. dan 2) Mengumumkan waktu. surat. pendapat. d) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. f) Dampak lingkungan hidup yang akan timbul. lokakarya.1. kapasitas dan lokasi kegiatan). dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. media cetak. 2) Menyelenggarakan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan dalam penyusunan dokumen KA-ANDAL. ANDAL. dan/atau • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Daerah : Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I u. c) Jenis usaha dan/atau kegiatan.1 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL Pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL wajib: 1) Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab.3. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I. e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. 3) Mengumumkan hal-hal: a) Nama dan alamat pemrakarsa.2 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Pada saat penyusunan KA-ANDAL. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. 2) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. TATA CARA KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL 3. dan disampaikan kepada: • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Pusat : Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan u. pendapat.p. dan tanggapan. 238 .2. dan tanggapan dari warga masyarakat 4) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dan tanggapan dari warga masyarakat. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuanpertemuan publik. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. pendapat. 4) Menanggapi saran.2. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman Spesifikasi tampilan pengumuman sesuai dengan ketentuan b) dalam butir 1) sub bab 2. dan/atau media elektronik. Warga masyarakat yang berkepentingan berhak menyampaikan saran. b) Jenis usaha dan/atau kegiatan. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini. dan tanggapan yang disampaikan oleh warga masyarakat yang berkepentingan 3. pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : 1) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. 3) Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL. terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan. dengan tembusan kepada Pemrakarsa.3 Kewajiban Pemrakarsa Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum memulai penyusunan dokumen AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Papan pengumuman di lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. 2) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. d) Produk yang akan dihasilkan.2.p. dan RPL kepada warga masyarakat yang memerlukannya. RKL. Instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL dengan ketentuan: 1) Mengumumkan hal-hal: a) Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/ atau kegiatan.

BAGAN PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggung jawab Pemrakarsa PENGUMUMAN RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PENGUMUMAN PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL SARAN. DAN TANGGAPAN PENILAIAN ANDAL. DAN TANGGAPAN KONSULTASI PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. RPL OLEH KOMISI (maks. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. 3. pendapat. RKL. 75 hari) PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran.3 Tahap Penilaian KA-ANDAL Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. Sonny Keraf 239 . 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. PENDAPAT. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL. ttd Dr. dan/atau pemrakarsa. pendapat. PENDAPAT.4 Tahap Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa.1. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. DAN TANGGAPAN PENILAIAN KA-ANDAL OLEH KOMISI (maks. 75 hari) KEPUTUSAN KELAYAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BAPEDAL/GUBERNUR 3. A. PENDAPAT.1.

3. ttd Dr. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. A. Ringkasan Eksekutif dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif sebagaimana dimaksud dalam lampiran V Keputusan ini. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Februari 2000 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 240 .H. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Analisis Dampak Lingkungan Hidup. a. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). 1.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran I Keputusan ini. Yang dimaksud dengan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Mengingat : Kedua : Ketiga : Keempat : Kelima : Keenam : Ketujuh : Sudarsono. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran IV Keputusan ini. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum dicabut. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. S. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran III Keputusan ini. Dengan ditetapkannya Keputusan ini. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. 2. Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan ini. 5.

Karena itu. seperti antara lain: keterbatasan waktu. Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah: a. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL 4. tenaga.1. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL Menurut Pasal 2 PP. 3. 5. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL.2. dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritias manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas. Tujuan dan fungsi KA-ANDAL 3. instansi yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. Demikian pula rona lingkungan hidup akan berbeda menurut letak geografi. keanekaragaman faktor lingkungan hidup. dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati selama menyusun ANDAL. sasaran. KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa mengurangi mutu pekerjaan ANDAL. 2. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi AMDAL. Hasil studi kelayakan ini tidak hanya berguna untuk para perencana. penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan: 241 . dalam menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil keputusan dan perencanaan. Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. instansi yang bertanggung jawab. 4. Nomor 27 Tahun 1999. Karena itu. PENJELASAN UMUM 1. Dengan demikian KAANDAL diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang harus ditelaah. dan sebagainya. b. dan sebagainya. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa. 6. b. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. tetapi yang terpenting adalah juga bagi pengambilan keputusan. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. 4. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal. Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman bentuk. Namun dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33 s/d Pasal 35 PP.1. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah pemrakarsa. ukuran. ANDAL lebih menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut terhadap lingkungan hidup. dan sebagainya. tenaga. Karena itu. pengaruh manusia. KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai. Dengan cara ini ANDAL dapat dilakukan secara efisien. Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah: a.3. tata kaitan antara keduanya tentu akan sangat bervariasi pula. Rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam. Sungguhpun demikian. metode. Keterbatasan sumber daya Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL. 4. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL. 3.LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) A. Keanekaragaman ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. berlainan dengan bagian studi kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi. Efisiensi Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. KA-ANDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan. dan waktu yang tersedia. dana. tujuan. dan penyusun studi ANDAL. Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun akan berbeda-beda.2.

Wawasan KA-ANDAL Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. ii. Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-ANDAL terutama dalam proses pelingkupan. dan Cagar Biosfer. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak yang terlibat. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah dan sistematis. • Kesehatan masyarakat. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan: a. c. d. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. • Sumber daya air. satu sama lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan. Sehubungan dengan hal tersebut. • Kesempatan kerja dan usaha. • Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup. maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup yang berciri: i. • Kenyamanan lingkungan hidup. teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya dampak negatif yang lebih besar. • Kualitas udara. b. seperti antara lain: • Hutan Lindung. Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak besar dan penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. • Keanekaragaman hayati. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri. perencana dan pengelola lingkungan hidup berupa: • Alternatif usaha dan/atau kegiatan • Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup • Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup 7. Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan hidup. Hutan Konservasi. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya. maka dalam studi ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan hidup. seperti antara lain: • Pemilikan dan penguasaan lahan. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. • Warisan alam dan warisan budaya. • Taraf hidup masyarakat.Pengumpulan data dan informasi tentang • Rencana usaha dan/atau kegiatan • Rona lingkungan hidup awal Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup awal sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan Penentuan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan Evaluasi dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan. 8. 242 .

Pelingkupan wilayah studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak besar dan penting. Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak besar dan penting. dan/atau h) pelapisan (overlay). masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan lapangan (observasi). Isu-isu pokok lingkungan hidup tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan. dan batas administratif. Dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting ditelaah. Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek. dan/atau g) bagan alir (flowchart). dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar. dan/atau d) metoda ad hoc.1. Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. batas sosial. pemrakarsa. Dari ruang rencana usaha dan/ atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya.2. Kegiatan identifikasi dampak besar dan penting ini terutama dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL). jumlah sampel yang diukur. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: 1) Batas proyek Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. b. atau penting tidaknya dampak. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. instansi yang bertanggung jawab. sehingga diperoleh daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. Posisi batas proyek ini agar dinyatakan juga dalam koordinat. 3) Pemusatan dampak besar dan penting ( Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan/mengorganisir dampak besar dan penting yang telah dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan hidup yang dapat mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal: • Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan dengan komponen lingkungan hidup yang mengalami perubahan mendasar (dampak besar dan penting). lokakarya. instansi yang bertanggungjawab. 2) Evaluasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. dan lain-lain). termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. lokakarya. brainstorming. c. dampak besar dan penting yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya. Untuk jelasnya proses pelaksanaan pelingkupan dapat mempelajari Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sesuai Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-30/MENKLH/7/1992. kuesioner. baik dari ekonomi. brainstorming). Kedua.Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena melalui proses ini dapat dihasilkan: a. segenap dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metoda yang digunakan. Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang akan dilakukan. instansi yang bertanggungjawab serta masyarakat yang berkepentingan. dan/atau b) analisis isi (content analysis). • Keterkaitan antar berbagai komponen dampak besar dan penting yang telah dirumuskan. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. sosial. dan/atau e) daftar uji (sederhana. 243 . Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut ini: a) penelaahan pustaka. dan/atau c) interaksi kelompok (rapat. deskriptif). Pelingkupan dampak besar dan penting Pelingkupan dampak besar dan penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut: 1) Identifikasi dampak potensial Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (primer. konstruksi dan operasi. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang tersedia (dana dan waktu). dan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. Daftar dampak besar dan penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. batas ekologis. Pada tahap ini daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis. maupun ekologis. dan para pakar. Metoda yang digunakan pada tahap ini adalah interaksi kelompok (rapat. dan/atau i) pengamatan lapangan (observasi). 8. sekunder. Pertama. waktu dan tenaga. dan/atau f) matrik interaksi sederhana. 8.

batas kuasa pertambangan). Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. maka batas sosial ditetapkan dengan membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek. BAB II. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. dan tenaga). tenaga. c. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas. ekologis serta komunitas masyarakat yang berada diluar batas proyek dan ekologis namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Kebijaksanaan Regional. Mengidentifikasikan rona lingkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting. batas HPH. Mengingat dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menyebar tidak merata. dana. Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan (misal. c. mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan mendasar akibat aktifitas usaha dan/atau kegiatan. Lokal dan Perusahaan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan. udara). rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. tehnik. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN BAB I. namun penentuannya disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki keterbatasan sumber data.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. dimana proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.1. kemudian diperluas ke ruang ekosistem. RUANG LINGKUP STUDI 2. B.Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah a. 4) Batas administratif Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di dalam ruang tersebut. Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. b. maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai. 244 2) .2. Komponen usaha dan/atau kegiatan yang ditelaah yang berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkannya. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampakdampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a.Batas ekologis Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air. b. b. seperti waktu. teknis dan ekonomis. dan metode telaahan. Tujuan dan kegunaan proyek. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup: 1. 5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL Yakni ruang yang merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan.Tujuan dan kegunaan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah: a. Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi ANDAL. c. 3) Batas sosial Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial).1. ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. 1. b. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. c. waktu. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan.

identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. ekologis.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya.4. Evaluasi dampak besar dan penting secara holistik tersebut di atas harus mencakup baik dampak yang tergolong besar dan penting maupun tidak sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya.2.2. BAB III. BAB V. sosial dan administratif. 2.Waktu studi Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab.Biaya studi Pada bagian ini diuraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan studi ANDAL.3. Perlu diketahui bahwa Ketua tim penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL B sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan.Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. 245 . 3. nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL. b.Isu-isu pokok Uraikan secara singkat isu-isu pokok yang dapat ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai hasil pelingkupan. Bab ini agar dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat menggambarkan batas wilayah proyek.Lingkup rona lingkungan hidup awal a. bagan alir. 2. b. mengamati. 2. dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. nama dan keahlian dari masing-masing anggota penyusun AMDAL. ekologis. mengamati dan mengukur komponen lingkungan hidup yang diperkirakan terkena dampak besar dan penting.4. overlay) untuk digunakan sebagai : a. uraikan secara jelas untuk setiap komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. Metoda formal dan non formal digunakan dalam memprakirakan besaran dampak.Metode prakiraan dampak besar dan penting Pada bagian ini jelaskan metode yang digunakan dalam studi ANDAL untuk memprakirakan besaran dampak dan penentuan tingkat kepentingan dampak. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan bersifat terpadu atau berada dalam suatu kawasan. Menelaah. dan mengukur komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan mendapat dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya. sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala teknis yang dihadapi.1.2.1. butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat (masyarakat yang berkepentingan). Disamping itu harus dilampirkan pula biodata personil penyusun ANDAL. b. 4. maka pengukuran terhadap besaran dampak kumulatif akibat berbagai usaha dan/ atau kegiatan tersebut mutlak diperhitungkan. nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/ atau kegiatan. 4.Metode evaluasi dampak besar dan penting Pada bagian ini diuraikan metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik.Penyusun studi AMDAL Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan. 4.3. Dalam hal ini. Data rona lingkungan hidup semaksimal mungkin menggunakan data aktual di lapangan. BAB IV. Tata cara pelingkupan agar mengacu pada serangkaian proses pelingkupan sebagaimana dimaksud di dalam penjelasan umum. LAMPIRAN Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perizinan yang berkaitan dengan proyek dimaksud. DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini uraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan penyusunan dokumen KAANDAL. 3.Metoda pengumpulan dan analisis data Pada bagian ini jelaskan metode pengumpulan dan analisis data baik primer dan/atau sekunder yang sahih dan dapat dipercaya (reliabel) untuk digunakan: a.3. PELAKSANAAN STUDI 4.Lingkup wilayah studi Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek. BAB VI. Komponen lingkungan hidup yang ditelaah karena terkena dampak. Uraikan dengan singkat mengenai rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Menelaah. METODE STUDI 3. Sementara untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar digunakan Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.

Aspek-aspek yang diteliti sebagaimana dimaksud pada butir 2. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah. 246 . SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) RINGKASAN Ringkasan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa. RUANG LINGKUP STUDI Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak besar dan penting yang ditelaah serta wilayah studi. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan. b.1. bila dipandang perlu. b. Mengidentifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 2. Baik pada tahap prakonstruksi. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. d. 1. Tujuan dan kegunaan proyek. c. c. Merumuskan RKL dan RPL. c dimaksud mengacu pada hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan untuk ANDAL.LAMPIRAN II: KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. termasuk masyarakat. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. sehingga dapat : 1. B. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup : 1. BAB I.1. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. 2. Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan mengacu pada hal-hal yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan. b. perencana.2. a. Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan dan lingkungan. konstruksi. c. 3. operasi maupun pasca operasi. BAB II. b. PENJELASAN UMUM 1.1. AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL kegiatan dalam kawasan. terutama komponen usaha dan/atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya.Tujuan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. Uraikan dengan singkat kondisi rona lingkungan hidup yang terkena dampak.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a.Dampak besar dan penting yang ditelaah a. Memuat uraian singkat tentang : a. Landasan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL baik AMDAL kegiatan tunggal. Kaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan dampak besar dan penting yang ditimbulkan (isu-isu pokok hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen KA-ANDAL). c. d. 2. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. Uraikan secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. d. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media massa. dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. e. Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak besar dan pentingnya. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. c. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan (PP Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 1). d. b. terutama komponen lingkungan hidup yang langsung terkena dampak. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. b.

baik ditinjau dari segi kepentingan pemrakarsa maupun dari segi menunjang program pembangunan. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan. seperti pemukiman (lingkungan hidup binaan manusia umumnya). b. suaka margasatwa. Mengingat studi ANDAL merupakan telaahan mendalam atas dampak besar dan penting usaha dan/ atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. d. Bila terdapat beberapa alternatif tata letak bangunan dan struktur lainnya. Hubungan ini perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai. BAB III. sungai. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL.2.Kegunaan dan keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan Uraian yang memuat tentang kegunaan dan keperluan mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus dilaksanakan.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan . 4. b. maka alternatif rancangan tersebut diutarakan pula dalam peta yang berskala memadai. sumber daya alam hayati dan. sumber mata air. b.Wilayah Studi Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL. 3. pertahanan dan keamanan. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta. bagan alir. yang berskala memadai. Pemrakarsa : 1) Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. suaka alam.1. dermaga dan sebagainya). Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. overlay).Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan Pernyataan rencana maksud dan tujuan dari rencana usaha dan/atau kegiatan perlu dikemukakan secara sistematis dan terarah. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 4. yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan tersedianya sumber daya air.b. Hutan lindung. Alternatif usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil studi kelayakan (misal: alternatif lokasi. cagar alam. Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai. Uraikan secara jelas tentang metoda pengumpulan data. sosial budaya.Metoda evaluasi dampak besar dan penting Uraikan singkat tentang metoda evaluasi dampak yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik.Metoda prakiraan dampak besar dan penting Uraikan secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak usaha dan/atau kegiatan dan penentuan sifat penting dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 2. maka jenis data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder harus bersifat sahih dan dapat dipercaya ( reliable) yang diperoleh melalui metoda atau alat yang bersifat sahih. tata letak bangunan atau sarana pendukung. maka berikan uraian tentang masingmasing alternatif lokasi tersebut sebagaimana dimaksud pada butir a. energi. 247 . atau teknologi proses produksi). yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. c. dan hasil pengamatan di lapangan. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada Bab II butir 2. metoda analisis atau alat yang digunakan.1. Penggunaan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Penyusun ANDAL : 1) Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. dan kawasan lindung lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus diberikan tanda istimewa dalam peta. Pengumpulan data dan informasi untuk demografi.. 3.kegiatan yang berada di sekitarnya.2. dan lingkungan hidup alami yang terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. dan b. 2.3. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala memadai. METODA STUDI 3. sosial ekonomi.3. sumber daya alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi.1. BAB IV. c. jalan kereta api.Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari : a. Bila berdasarkan studi kelayakan terdapat beberapa alternatif lokasi usaha dan/atau kegiatan. dan kesehatan masyarakat menggunakan kombinasi dari tiga atau lebih metoda agar diperoleh data yang reliabilitasnya tinggi. serta hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya. 4.Metoda pengumpulan dan analisis data a.1.2. dan dapat memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya. a.b.

(5) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat. dan kualifikasi pendidikan. tempat asal tenaga kerja yang akan diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. 4. listrik. (2) Jumlah dan jenis bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak besar dan penting lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya (misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya).e. jalan darurat dan sebagainya. konstruksi. Dalam kaitan ini perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3. Misalnya: (1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup. cair maupun gas dan rencanarencana pengelolaannya. 2) Tahap konstruksi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. Disamping itu. (3) Rencana jumlah tenaga kerja. (3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup. Misalnya: (1) Desain dan spesifikasi teknologi yang digunakan. 1) Tahap pra-konstruksi/persiapan Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pra konstruksi.4. (c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan. 248 . (c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir. Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain disekitarnya Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. 3) Tahap Operasi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. (d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan berakhir. Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis perlu mendapat perhatian. RONA LINGKUNGAN HIDUP Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin mengenai: 1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. baik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan yang sudah ada terhadap lingkungan hidup. yang mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi. bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa konstruksi. Uraikan secara mendalam difokuskan pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. gudang. BAB V. gudang. bedeng kerja. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan selama masa operasi. (b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah). tempat asal tenaga kerja. bila ada. jangka waktu masa operasi. (2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan. Misalnya: (a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan bahan/material. (4) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial. demikian pula neraca bahan (material balance). hingga rencana waktu pasca operasi. (4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan. 4) Tahap Pasca Operasi Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pasca operasi. Perlu juga diuraikan neraca air (waterbalance) bila usaha dan/ atau kegiatan yang akan dibangun menggunakan air yang banyak. air) dari rencana usaha dan/atau kegiatan. jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi. jalanjalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir. sehingga dapat diketahui input-output dan jumlah serta kualitas limbah. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan setelah masa operasi berakhir.

terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidak stabilan. sifat-sifat dan kerawanannya yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Keunikan. gempa. cuci. dan lain-lain. rata-rata). kegiatan-kegiatan vulkanis. (c) Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut. (b) Data periodik bencana (siklus tahunan. 2) Fisiografi (a) Topografi bentuk lahan (morphologi). keistimewaan. (h) Kualitas fisik. minimum. banjir tahunan. (e) Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. penyebaran. mandi. sesar. Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan. potensi dan kualitas air tanah (dangkal dan dalam). suaka margasatwa. tahunan. (c) Kemungkinan adanya konflik atau pembatasan yang timbul antara rencana tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan/penentuan lokasi bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. kimia dan mikrobiologi air mengacu pada baku mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. b. (b) Uraikan tentang jenis-jenis vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 5) Ruang. Penyusun dapat menelaah komponen lingkungan hidup yang lain diluar dari daftar contoh komponen ini bila dianggap penting berdasarkan hasil penilaian lapangan dalam studi ANDAL ini. (f) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk air minum. suhu (maksimum. keadaan angin (arah dan kecepatan). tingkat erosi. perkebunan. abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (misal: longsor tanah. bulanan. (d) Kondisi fisik daerah resapan air permukaan dan air tanah. propinsi atau nasional di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. rencana tata ruang (kawasan budidaya seperti pertanian. rencana tata guna tanah. perikanan dan lain-lain serta kawasan non budidaya seperti hutan lindung . sesar. (c) Kadar sedimentasi (lumpur). (b) Rata-rata debit dekade. gempa. pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca terburuk. 4) Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut. taman nasional dan lain-lain). 249 . arus dan gelombang/ombak. a. (b) Rencana pengembangan wilayah. rawa (rawa pasang surut. (e) Fluktuasi . intensitas radiasi matahari. (d) Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (f) Sumber kebisingan dan getaran. pola migrasi. tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. industri. (b) Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan stabilitas tanah. atau berpotensi terkena dampak besar dan penting. morfologi pantai. dan tanah (a) Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha dan/atau kegiatan yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangannya di masa datang. kelembaban curah hujan dan jumlah hari hujan. (g) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk keperluan lainnya seperti pertanian. danau. kegiatan-kegiatan longsor tanah. lahan. Penyajian kondisi sumber daya alam ini perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram. hutan. 2) Fauna (a) Taksiran kelimpahan dan keragaman fauna. Berikut ini adalah beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL. struktur geologi dan jenis tanah. gambar. banjir bandang di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. habitat. lima tahunan. rawa air tawar). kualitas udara dan kebisingan (a) Komponen iklim yang perlu diketahui antara lain seperti tipe iklim. dan kerawanan bentuk lahan dan batuan secara geologis. populasi hewan budidaya (ternak) serta satwa dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. Fisik Kimia 1) Iklim. dan sumber daya alam lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh Pemerintah setempat baik di tingkat kabupaten. (c) Uraikan tentang keunikan dari vegetasi dan ekosistemnya yang berada pada wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan sebagainya) seperti sering terjadi angin ribut. 3) Data dan informasi rona lingkungan hidup Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. Biologi 1) Flora (a) Peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami yang meliputi tipe vegetasi. grafik atau foto. (d) Pola iklim mikro.2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/ atau kegiatan. dan sebagainya). 3) Hidrologi (a) Karakteristik fisik sungai.

cara bertelur dan beranak. (g) Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan. proses disosiatif/konflik sosial. 4) Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup. pola pemanfaatan sumber daya alam. cara pemijahan. pendidikan. akulturasi. (b) Tingkat kepadatan penduduk. dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. c. mata pencaharian. tingkat pengangguran). 2) Ekonomi (a) Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan. pola penggunaan lahan. 6) Kondisi sanitasi lingkungan. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1) Demografi (a) Struktur penduduk menurut kelompok umur. kewenangan formal dan informal. (e) Pelapisan sosial berdasarkan pendidikan. 8) Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan. d. 250 . kelompok individu yang dominan. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. dan agama. (b) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik-kimia. Kesehatan Masyarakat 1) Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan. distribusi pendapatan. (d) Warisan budaya (situs purbakala. cara memelihara anaknya. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra konstruksi. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut: (a) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. (b) Proses sosial (proses asosiatif/kerjasama. permanen). nilai dan norma budaya). jenis dan jumlah aktifitas ekonomi non-formal. sumber daya alam milik umum). (c) Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi (misal hak ulayat). tingkat kematian bayi dan pola migrasi sirkuler. produk domestik regional bruto. (c) Pertumbuhan penduduk (tingkat kelahiran. (c) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi. (f) Kekuasaan dan kewenangan (kepemimpinan formal dan informal. asimilasi dan integrasi. atau sumber hama dan penyakit. 7) Status gizi masyarakat. agama. nilai tambah karena proses manufaktur. 3) Budaya (a) Kebudayaan (adat-istiadat. termasuk cara perkembangbiakan. BAB VI. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat. pekerjaan dan kekuasaan. operasi. ekonomi. sosial. Sedang dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. kohesi sosial). 2) Proses dan potensi terjadinya pemajanan. 2) Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan bagi masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. aksesibilitas wilayah). (h) Adaptasi ekologis. (c) Perekonomian lokal dan regional (kesempatan kerja dan berusaha. (c) Perikehidupan hewan penting di atas. nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. siklus dan daur hidupnya. pola nafkah ganda). (d) Tenaga kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja. 3) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian). pergeseran nilai kepemimpinan). jenis kelamin. konstruksi. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. pendapatan asli daerah. pendidikan. cagar budaya). kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. perilaku dalam daerah teritorinya. 5) Sumber daya kesehatan. 4) Pertahanan/Keamanan Konflik kepentingan pertahanan dan keamanan dengan rencana pembangunan usaha dan/atau kegiatan.(b) Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan. keluarga. (b) Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/ atau kegiatan. 3) Dalam melakukan telaahan butir 1) dan 2) tersebut perlu diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. komuter. efek ganda ekonomi. fasilitas umum dan fasilitas sosial. dan pemerintah. dengan mengacu pada Pedoman penentuan dampak besar dan penting.

Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. 251 . sebagaimana dimaksud dalam PP. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruhmempengaruhi. apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal. Atau mungkin akan terus berlangsung. (c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-dampak besar dan penting yang harus dikelola. maka telaahan sebagaimana dimaksud pada butir VI. (c) Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang akan terkena dampak positif. grafik. karena rencana usaha atau kegiatan itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia. atau bahkan internasional. Misalnya. (d) Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini. 2) Telaahan sebagai dasar pengelolaan (a) Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha atau kegiatan dan rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul. 4) Diagram. 5) Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini.b. LAMPIRAN Dalam bab ini hendaknya disebut bahan-bahan yang dilampirkan : 1) Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun.2 dilakukan untuk masing-masing alternatif. (e) Dampak penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri.c dan d yang telah diutarakan selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan. dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. atau pada tingkat pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah.1 dan VI. uraikan kejelasan tentang waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak besar dan penting mulai timbul. gambar. (b) Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas. Bahan-bahan tersebut diatas tidak perlu lagi dilampirkan dalam dokumen ANDAL bilamana telah dicantumkan dalam dokumen KA. kualifikasi. sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan. keputusan. rujukan bagi para pelaksana dan peneliti serta penyusun analisis dampak lingkungan hidup. nasional. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. bentuk teknologi yang tak sesuai dan sebagainya. (b) Yang dimaksud dengan evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak besar dan penting lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab VI.(d) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. 2) Surat-surat tanda pengenal. (e) Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam. Apabila dimungkinkan. sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak besar dan penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif. BAB IX. (f) Dampak penting pada butir a. Nomor 27 Tahun 1999. 5) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metoda-metoda formal secara matematis. Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. atau teknologi yang digunakan). 4) Mengingat usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi. regional. EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam Bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan. usulan rencana usaha dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang akan ditimbulkannya. melewati batas negara Republik Indonesia. umpamanya lebih dari satu generasi. peta. 3) Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup awal. Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan pembangunan. BAB VII. dalam arti apakah dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti. 1) Telaahan terhadap dampak besar dan penting (a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI. Atau antara dampak-dampak satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis dan sinergistis. DAFTAR PUSTAKA Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. BAB VIII. mungkin saja dampak besar dan penting timbul dari rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap rona lingkungan hidup.

(c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. dan masih memiliki beberapa alternatif. dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas. (b) Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan rinci rekayasa. Rencana pengelolaan lingkungan hidup Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan penanggulangan dampak negatif. (c) Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih. 4) Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. prinsip-prinsip. 3. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas: (a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti : teknologi. dan bila dipandang perlu. tata letak (tata ruang mikro) lokasi. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang “basic design” untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis. meminimisasi. Keterbatasan data dan informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL.LAMPIRAN III : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) A. dalam arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL. sistimatis. lingkup tugas dan wewenang unit. Hal ini tidak lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi. mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek). lengkapi pula dengan acuan literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. dan rancang bangun proyek. (d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. tenaga. prinsip-prinsip. belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL. (b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. sebelum investasi. kriteria atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa. serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut : (a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan. kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/pengendalian dampak. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi. maupun institusi. mengendalikan atau meningkatkan dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat strategis. dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. sosial ekonomi. PENJELASAN UMUM 1. kriteria pedoman. serta jumlah dan kualifikasi personalnya. prinsip-prinsip. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah. Hal ini tidak lain disebabkan karena : (a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) relatif masih umum. (d) Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. menanggulangi. (b) Pokok-pokok arahan. Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain adalah struktur organisasi. 252 . maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. 2. atau persyaratan untuk mencegah.

(4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. 253 . atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti: teknologi. B. misalnya : (2. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. akan ditempuh cara : (1. menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya dibidang pengelolaan lingkungan hidup. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan yang relevan.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce).1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). (2) Dalam rangka mencegah. Pernyataan kebijakan lingkungan. (3) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. (1.Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. 5) Format dokumen RKL Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. akan ditempuh cara. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). maupun institusi. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. sosial ekonomi. dan bantuan peran pemerintah. Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya Rencana Pengelolaan Lingkungan. BAB I. akan ditempuh cara : (1. c) Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. 1) 2) PENDAHULUAN Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. 3) BAB II. Sebagai misal: (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (1. dan ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di atas. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. (b) Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. singkat dan jelas. serta komitmen untuk melakukan penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam bentuk mencegah. mengurangi.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERNYATAAN PELAKSANAAN Pernyataan Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani diatas kertas bermaterai. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. (1. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. (2. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle).

atau taraf konstruksi). dan/atau telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. (2. rancangan rinci rekayasa. (3) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak besar dan penting turunannya. Tolok ukur yang diutarakan adalah yang digunakan dalam ANDAL. (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting.(b) (c) (1. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut: 1) Dampak penting dan sumber dampak besar dan penting (a) Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL. Uraikan pula sejauh mana taraf perkembangan rencana usaha dan/atau kegiatan di saat RKL sedang disusun (studi kelayakan. Sebagai misal. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. dan selanjutnya). dan bantuan peran pemerintah. Komponen atau parameter lingkungan hidup yang berubah mendasar menurut ANDAL perlu ditetapkan beberapa hal yang dipandang strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan : (1) Dampak besar dan penting yang dikelola terutama ditujukan pada komponen lingkungan hidup yang menurut hasil evaluasi dampak besar dan penting merupakan dampak besar dan penting akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. akan ditempuh cara. (b) Sumber Dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting : (1) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha dan/ atau kegiatan. lazim digunakan. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. (2) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang tergolong banyak menimbulkan dampak besar dan penting turunan (dampak sekunder. 254 . misalnya : (2. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. Selain itu utarakan pula dampak besar dan penting turunannya yang akan turut terpengaruh akibat dikelolanya dampak besar dan penting strategis tersebut. Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan BAB III. maka jelaskan secara singkat komponen dampak besar dan penting tersebut. mengurangi. 2) Tolok ukur dampak Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan). Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. Perlu ditegaskan bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting saja. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. atau memperbaiki kerusakan sumber daya alam. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. tersier. 3) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting yang bersifat strategis berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut tercegah/tertanggulangi/terkendali. (2) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. (2) Dalam rangka mencegah. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada.

dan berbalik tidaknya dampak). (b) Pengawas pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. Padatan Tersuspensi Total. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan atau sosial ekonomi.4) 5) 6) 7) 8) Sebagai misal. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. Upaya pengelolaan lingkungan hidup yang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengolahan limbah). 2) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta (lokasi kegiatan. Sumber Dampak. dan pH. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. 255 . tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Pembiayaan tersebut antara lain mencakup : (a) Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkungan hidup serta biaya untuk kegiatan teknis lainnya. dan atau institusi sebagaimana dijelaskan pada bagian penjelasan umum butir 4. serta kemampuan pemrakarsa (tenaga. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan Institusi Pengelolaan Lingkungan Hidup. (c) Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional. Tolok Ukur Dampak. makalah. maka cantumkan pula institusi dimaksud. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. tulisan. BAB IV. dana). (d) Keputusan Gubernur. BAB V. bila unit atau sarana dimaksud di dalam dokumen ANDAL dinyatakan sebagai aktifitas dari rencana usaha dan/atau kegiatan. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah pencemaran air. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 1997 yang meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan hidup. matrik serta data utama yang terkait dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL. majalah. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggungjawab. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. Periode pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan : sifat dampak besar dan penting yang dikelola (lama berlangsung. Apabila dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan atau bekerjasama dengan pihak lain. maka tujuan upaya pengelolaan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. (b) Biaya personil dan biaya operasioanal. maupun laporan hasil-hasil penelitian. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. lokasi pengelolaan lingkungan hidup. berkepentingan. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP 51/MENLH/10/1995. PUSTAKA Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. baik yang berupa buku. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah.). Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (e) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pengelolaan lingkungan hidup. dll. (c) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengelolaan Lingkungan hidup Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi. rancangan teknik (engineering design). Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan sifat persebaran dampak besar dan penting yang dikelola. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : Jenis Dampak . Institusi pengelolaan lingkungan hidup Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. khususnya parameter BOD5. Lengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai. COD. sifat kumulatif. Bupati/Walikotamadya.

namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau kegiatan. RKL dan RPL. b. sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. dan selanjutnya disebarkan kepada berbagai penggunanya. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup yang harus dipantau. bau. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. suhu. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu di pantau. Sebagai misal. yakni : (a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. 2. Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan. indikator yang relevan untuk kualitas air limbah dan air sungai sehubungan dengan karakteristik rencana usaha dan/atau kegiatan. mulai dari tingkat proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan). 2. (b) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain.LAMPIRAN IV : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) A. mencakup : 1) Jenis data yang dikumpulkan. 4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data). (b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. atau terkena dampak besar dan penting. Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam dokumen RKL.1. dan jelas tentang tujuan pemantauan lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan. PENJELASAN UMUM 1. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting tersebut. yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi pada data sistematik. BAB II. dan logam berat. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. Uraikan secara sistematis. tergantung pada skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. 256 . Walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ). dan pengawas kegiatan pemantauan. 2) Lokasi pemantauan. pihak-pihak yang berkepentingan. BOD5. Latar belakang pemantauan lingkungan hidup a. tepat waktu dan dapat dipercaya. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan. (d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. singkat. (e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau. dapat bersifat tepat guna. maupun bagi masyarakat. (c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. Koordinasi dan kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar data dan informasi yang diperoleh. warna. kandungan minyak. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL. (b) Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut : 1. Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan. B. pengguna hasil pemantauan. Dampak besar dan penting yang dipantau Cantumkan secara singkat : (a) Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. adalah pH. 5) Metode analisis data. PENDAHULUAN Pendahuluan mencakup : 1. Sumber dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting: (a) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha atau kegiatan. (f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan hidup. c. Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) BAB I. Disamping skala keacuhan. ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan secara acak atau sesaat. berulang dan terencana. 3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan. pelaksana pemantauan.

Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. rencana pemantauan lingkungan hidup (yang meliputi metode pengumpulan data. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak besar dan penting lingkungan hidup. instrumen. dan sifat kumulatif dampak). Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam Baku Mutu Lingkungan hidup. kimia. ttd Sudarsono. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah kualitas air limbah. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan hidup. (b) Lokasi pemantauan lingkungan hidup Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. maupun laporan hasil-hasil penelitian. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. dengan memperhatikan dampak besar dan penting yang dikelola. maka tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Memantau mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. lama dampak berlangsung. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri . Padatan Tersuspensi Total. yang mencakup : (a) Metode pengumpulan dan analisis data Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan. 2. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. serta metode analisis). Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (c) Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup. BAB III. dan dampak besar dan penting turunan yang ditimbulkannya. dan sebagai umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. 257 . sumber dampak. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. tujuan pemantauan lingkungan hidup. Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau. BAB IV. (c) Jangka waktu dan frekwensi pemantauan Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. makalah. dan pH. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab. 6. Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran. Sebagai misal. 4. (b) Pengawas pemantauan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RPL. (d) Keputusan Gubernur. berkepentingan. atau formulir isian yang digunakan. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP: 51/MENLH/10/1995. bentuk rencana pengelolaan lingkungan hidup. bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. 5. majalah. Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan data disaat penyusunan ANDAL. COD. (e) Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pemantauan lingkungan hidup. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak besar dan penting yang dipantau (instensitas.H. instrumen. Cantumkan jenis peralatan. Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. dan institusi pemantau lingkungan hidup. A. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1. Parameter lingkungan hidup yang dipantau Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. Bupati/Walikotamadya.3. Perlu diperhatikan bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL. lokasi pemantauan lingkungan hidup. PUSTAKA Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL baik yang berupa buku. dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. Institusi pemantauan lingkungan hidup Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksana pemantauan lingkungan hidup Cantumkan institusi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup. S. Lampiran ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut: dampak besar dan penting yang dipantau. ttd Dr. tulisan. jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan hidup. khususnya parameter BOD 5. Metode pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator dampak besar dan penting.

bersungguh-sungguh. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Pasal 2 Panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. b. 4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. sistematis dan berkesinambungan serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Pasal 1 Untuk menjamin Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dilaksanakan dengan baik. Menimbang : a. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 Nopember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan serta pelaporan secara terencana. ttd Sarwono Kusumaatmadja 258 . kreatif dan bertanggung jawab. Bahwa mengingat hal tersebut di atas. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Bahwa panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. 2. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-105/11/1997 TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. terkoordinasi. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. 3.

PELAKSANAAN PEMANTAUAN 1. II yang bersangkutan. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. BAPEDAL Wilayah. Pasal 25. C. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). LATAR BELAKANG Salah satu fungsi penting didalam AMDAL (PP 51 Tahun 1993) adalah fungsi manajemen lingkungan. Pemda Tk. Fungsi manajemen lingkungan ini berupa pelaksanaan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Pemantauan tidak langsung (pasif) 1) Pemantauan tidak langsung (pasif) adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan tertulis oleh pihak lain. 259 . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 4. B. 2) Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemrakarsa dilaporkan kepada: a) Gubernur KDH Tk. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyebutkan: (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan penguji terhadap: a). b). 2. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 2. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Untuk mewujudkan maksud tersebut. Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. dan untuk memberikan acuan bagi para pelaku pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. MAKSUD DAN TUJUAN Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL bagi kegiatan wajib AMDAL ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam melaksanakan pemantauan dan pelaporan pelaksanaan RKL dan RPL. c). maka perlu disusun Pedoman Umum Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). bersungguh-sungguh. sistematis dan berkesinambungan. BAPEDALDA TK I dan BAPEDALDA TK II. I dan Tk. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. F. pemantauan pasif dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. SASARAN Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. b. Instansi Teknis/Sektor yang bertanggung jawab. I dan Bupati/Walikotamadya KDH Tk. Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan pelaporan secara terencana. Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. Pasal 11 ayat (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL. DASAR HUKUM 1. D. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. terkoordinasi. Tujuan: 1. Bentuk pemantauan a. (2) Hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada Menteri atau Pemimpin lembaga pemerintah non departemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. 3. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dapat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. 3. E. 2. Dalam kaitan ini. II yang bersangkutan. PELAKSANA PEMANTAUAN Pemantauan dilaksanakan oleh: 1.Lampiran : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 105 Tahun 1997 Tanggal : 14 Nopember 1997 PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) A. Pemrakarsa usaha atau kegiatan. (2) Ketentuan tentang rencana dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. kreatif dan bertanggung jawab sehingga kualitas lingkungan dapat dipertahankan sesuai dengan fungsinya.

BAPEDAL Wilayah. Melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan atau masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan yang dipantau. Metode pelaksanaan RKL dan RPL dilakukan dengan cara: a. PEMBIAYAAN Untuk memperlancar pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan diperlukan dukungan dana dan fasilitas. Hasil pemantauan (pasif dan atau aktif) yang telah dilakukan. 5) Pelaporan hasil pemantauan lapangan Hasil pelaksanaan pemantauan disusun dalam bentuk pelaporan yang kemudian dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak Instansi Pemerintah sebagaimana telah disebutkan pada butir 2) huruf c. . b) Instansi Teknis/Sektor yang memberi ijin. 3) Frekuensi pemantauan lapangan dilaksanakan menurut kebutuhan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana disebutkan pada butir 2) huruf a di atas. Melakukan pemantauan di lapangan. unit intern organisasi pengelolaan lingkungan. meliputi : manajemen. G. Biaya pemantauan antara lain meliputi: . Untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pemantauan di lapangan. serta memeriksa kebenaran laporan pemantauan yang dilaksanakan oleh Pemrakarsa. Instansi teknis/sektor 2) Langkah-langkah pemantauan: a. b. c. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan. Oleh Instansi yang menerima laporan hasil pemantauan tersebut.b. sumber pembiayaan dan pemenuhan fasilitas pemantauan RKL dan RPL disediakan dari masing-masing Instansi. Bagi Instansi\Pemerintah. maka pembiayaan dan penyediaan fasilitas pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL terintegrasi dalam manajemen usaha atau kegiatan yang direncanakan sejak dokumen AMDALnya disusun. Koordinasi ini meliputi : Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi usaha atau kegiatan yang akan dipantau. pengelolaan limbah. atau Lembaga Swadaya Masyarakat. dan BAPEDAL Daerah. b. Memeriksa dan mencocokkan seluruh pelaksanaan RKL dan RPL sesuai dengan dokumen. Permintaan Instansi tertentu. e. Pemantauan ini dilakukan oleh : a. kendala dan hambatan dalam pelaksanaan RKL dan RPL. Melakukan pemantauan bersama. 4) Metode pemantauan di lapangan. c. laporan pemrakarsa mengacu pada Formulir-3.Biaya Penyusunan Laporan. b. Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan. Bagi pemrakarsa. c) BAPEDAL Pusat. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 November 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan ttd. d. Secara keseluruhan. bila perlu pihak Laboratorium Lingkungan) dan Pemerintah Daerah (Tingkat I dan II) dimana usaha atau kegiatan itu berada.Biaya transportasi . BAPEDAL. Format laporan hasil pemantauan Pemrakarsa atas pelaksanaan RKL mengacu pada Formulir-1 dan untuk pelaksanaan RPL mengacu pada Formulir-2. Usaha atau kegiatan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap lingkungan. digunakan sebagai: a) Masukan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pengelolaan lingkungan. Laporan disusun dengan sistematika sebagaimana pada Formulir-4. Pemantauan langsung (aktif) 1) Pemantauan secara aktif adalah pemantauan yang langsung dilakukan di lapangan atas pelaksanaan RKL dan RPL. Melakukan koordinasi dengan Instansi yang bertanggung jawab. Mengetahui apakah pihak-pihak tersebut telah melaksanakan pemantauan terhadap usaha-usaha atau kegiatan yang akan dipantau termasuk hasil-hasilnya. masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan. PENUTUP Hasil pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL yang sudah dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak lain tersebut perlu terus dipantau secara periodik untuk mengetahui apakah rekomendasi hasil pemantauan itu benar-benar dilaksanakan oleh pemrakarsa atau tidak. BAPEDAL. Bila diperlukan. Mempelajari dokumen AMDAL. Instansi terkait (termasuk. . Sarwono Kusumaatmadja 260 .Biaya Analisis Laboratorium H. 3) Instansi lain yang terkait.Lumpsum. khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan yang akan dipantau. dll. pelaksanaan pemantauan dapat menggunakan Formulir-1 dan Formulir-2. Wilayah dan Daerah. b) Dasar pertimbangan untuk menentukan sasaran pemantauan (uji petik) aktif pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan. Melakukan diskusi dengan pihak Pemrakarsa tentang manfaat. d. Menentukan sasaran usaha atau kegiatan yang akan dipantau. melakukan pengambilan contoh limbah untuk diuji di laboratorium atau keluaran pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. dengan memperhatikan/ mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Usaha atau kegiatan yang besar dan komplek permasalahan lingkungannya.

Formulir-1 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RKL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN RKL NO PENGELOLAAN 4 5 6 7 8 TEKNIS PELAKSANAAN HASIL PELAKSANAAN/TEMUAN LAP ANGAN KENDALA/MASALAH 3 DA P PE G M AK NTIN SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R TINDAK LANJUT/ REKOMENDASI 1 2 261 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Formulir-2 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RPL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN METODA LOKASI W AKTU TEKNIS PELAKSANAAN HASILPEMANTAUAN TINDAKLANJUT RKL N O D M A P NTIN A PK E G SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R KENDALA/MASALAH REKOMENDASI P ARAMETER Y ANGDIP ANTAU METODA LOKASI W AKTU 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 12 1 2 262 Ket : * Coret yang tidak perlu .

C. RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) . Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL. 263 . . BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan tolok ukur.Jenis dampak penting .Lokasi Pemantauan .Sumber dampak penting .Lokasi .Waktu Pemantauan BAB III HASIL PELAKSANAAN A.Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Kapan mulai beroperasi . RPL .FORMULIR 3 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHA ATAU KEGIATAN : LOKASI : PEMRAKARSA : TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN A.Pengelolaan dampak penting B. .Jenis dampak penting . RKL .Sumber dampak penting .Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai. .Metode Pemantauan .Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada).Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. RINGKASAN R K L Tuliskan ringkasan RKL. antara lain meliputi: .Tolok ukur dampak penting .Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. TUJUAN . antara lain meliputi: . B.Proses kegiatan/produksi BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A. D.Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai.Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis laboratorium). antara lain meliputi: . B. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL. Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.Jenis dan atau tahapan kegiatan . LATAR BELAKANG .

C. meliputi: . RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Proses beroperasinya alat pengelolaan lingkungan. .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pengelolaan lingkungan. antara lain meliputi . antara lain meliputi: .Pengelolaan dampak penting B.Unit organisasi yang melakukan pengelolaan lingkungan. Temuan Lapangan RKL.Tuliskan tujuan pemantauan ini sesuai dengan butir C dalam Panduan Umum Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. WAKTU .Jelaskan kenapa pemantauan ke usaha atau kegiatan yang dipilih ini dilakukan (alasan dan hasil yang diinginkan).Tuliskan kapan waktu pemantauan berlangsung. . B. . F.Proses kegiatan/produksi E. .Lokasi .Jenis dampak penting . D. . antara lain meliputi: .Jenis dan spesifikasi alat pengelolaan lingkungan.Formulir – 4 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHAATAU KEGIATAN : LOKASI PEMRAKARSA PETUGAS PELAKSANA / INSTANSI : TANGGAL : : : BAB I PENDAHULUAN A.Dapat ditambahkan tujuan lain bila memang diperlukan.Lokasi Pemantauan . meliputi : hasil pemeriksaan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Pemrakarsa.Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. 264 .Sumber dampak penting .Tolok ukur dampak penting .Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan jika ada. HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) . .Sumber dampak penting .Jenis dan atau tahapan kegiatan .Kapan mulai beroperasi .Sebutkan nama-nama petugas dan dari lnstansi/Unit mana. RINGKASAN RKL Tuliskan ringkasan RKL.Bentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemrakarsa. .Metode Pemantauan . BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Uraikan kenapa pemantauan RKL dan RPL ini penting. TUJUAN .Jenis dampak penting . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan. .Waktu Pemantauan BAB III TEMUAN LAPANGAN/HASIL PENGECEKAN/HASIL PENGUKURAN Temuan lapangan dibagi menjadi empat hal: a. PELAKSANAAN . LATAR BELAKANG .

LAMPIRAN . antara lain: Photo-photo. Rekomendasi berisi saran tindak secara teknis. . perkembangan teknologi yang relevan. Gambar-gambar.Unit organisasi yang melaksanakan pemantauan lingkungan.Proses beroperasinya alat pemantauan lingkungan. BAB V REKOMENDASI Penulisan Kesimpulan dan Rekomendasi sebaiknya dipisahkan antara RKL dan RPL.b. meliputi hasil pemeriksaan pelaksanaan pemantauan. .Jenis dan spesifikasi alat pemantauan lingkungan. 265 . Bandingkan hasil temuan lapangan.: .Frekuensi dan kontinuitas pengoperasian pelaksanaan pemantauan lingkungan. d. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan baik kegiatan maupun kualitas lingkungannya. .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pemantauan lingkungan. . kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang terkait.Dalam memberikan rekomendasi/saran tidak perlu memperhatikan: dokumen RKL dan RPL. c.LAMPIRAN Lampirkan dokumen dan atau informasi yang dirasa perlu.Bentuk pemantauan lingkungan yang dilaksanakan. temuan lapangan/hasil pengecekan.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pemantauan lingkungan jika ada. Copy hasil uji limbah di laboratorium dsb. Peta. . Kesimpulan berisi hal-hal yang berkaitan dengan tingkat ketaatan Pemrakarsa dan situasi-kondisi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. termasuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan oleh Pemrakarsa tetapi tidak termuat dalam dokumen RKL dan RPL.Keterlibatan masyarakat sekitar dalam pemantauan lingkungan. masing-masing dengan dokumen RKL dan RPL. dll. . Temuan Lapangan RPL. Uraikan kendala dan hambatan Pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. . konkret dan yang dapat diterapkan (applicable) oleh Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.

Bahwa dalam pedoman penyusunan AMDAL. merupakan bagian dalam penyusunan AMDAL. dan kondisi kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Setiap jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL harus melakukan kajian terhadap aspek kesehatan masyarakat pada rencana tapak (tipologi kegiatan. 4. 2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. Bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. media lingkungan. untuk itu setiap usaha atau kegiatan pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat. Mengingat : 1. perlu dilakukan pengkajian aspek kesehatan masyarakat. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-39/MENLH/8/1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. c. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 5. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada diktum kedua di atas dilaksanakan sesuai dengan Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL. Menimbang : a. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). ttd Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. masyarakat yang akan terpajan. Bahwa kesehatan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Bahwa aspek kesehatan masyarakat. perlu dikaji secara mendalam. Kedua : Ketiga : Keempat : Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. d. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan serendah mungkin.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP-124/12/1997 TENTANG PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN AMDAL KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. tipologi lingkungan). Dadang Danumihardja NIP. 060030827 266 . kajian aspek kesehatan masyarakat dirasakan kurang memadai untuk melakukan analisis dampak guna menyusun rencana pemantauan serta pengolahan dampak kesehatan. dan dikelola dengan baik.

III. yaitu analisis terhadap potensi besarnya dampak. Untuk memberikan panduan sebagai arahan dalam melakukan studi guna mengkaji aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. makanan. Membantu mempermudah proses pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN I. dan sanitasi. model pendekatan seperti epidemiologi. Kajian aspek kesehatan masyarakat yang ditelaah meliputi: 1. Dengan demikian bahasan aspek kesehatan akan lebih terfokus dan terkait dalam permasalahan atau isu pokok dan suatu rencana usaha atau kegiatan yang mencakup dua hal penting yaitu perubahan kualitas lingkungan dan dinamika masyarakat disekitar rencana lokasi yang diperkirakan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. dan pengelolaan dampak. perubahan parameter lingkungan. Dua komponen pokok tersebut mencakup berbagai metoda. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. TUJUAN Panduan ini merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk: 1. higiene. 2. dapat dipergunakan pendekatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. manusia yang terpajan dan bentuk dampak kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. Sumber daya kesehatan 6. dan kecelakaan). kejadian keracunan. sosial dan kesehatan masyarakat. serta kajian komunikasi massa untuk diseminasi informasi. biologis dan kimia dan kualitas parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. adalah hasil studi untuk mengkaji kemungkinan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup dan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan. masyarakat terpajan (biomarker). Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) 267 . 4. 3. Kesehatan masyarakat merupakan kondisi ketahanan fisik dan psikis dari suatu komunitas di daerah tertentu yang merupakan implementasi dan interaksi antara perilaku yang merupakan cermin dan kebiasaan hidup. kesehatan dan keselamatan kerja (K3). tanah. Membantu menyajikan hasil kajian yang informatif. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. vektor penyakit. yang menggambarkan kondisi pengukuran pada sumber. manusia. kinerja laboratorium. maka diperlukan kajian aspek kesehatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian-kajian komponen lain dalam studi AMDAL yang mencermati potensi besarnya dampak (risiko) kesehatan. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). material) yang tercermin dalam sifat fisik. Status gizi masyarakat 8. Kondisi sanitasi lingkungan 7. Untuk menggambarkan potensi besarnya dampak dan keterkaitan (asosiasi) antara parameter lingkungan dengan masyarakat yang terpajan. dengan kualitas kesehatan Iingkungannya. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Kajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan untuk setiap fungsi dokumen: 1. Sedangkan kesehatan lingkungan merupakan kondisi dari berbagai media lingkungan (air. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek kesehatan Dampak Lingkungan. Dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit B. Salah satu peraturan pelaksanaan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/ 3/1994 antara lain menyatakan bahwa kajian dampak penting dilakukan terhadap komponen biologi-kimia-fisika. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah tersebut telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. emisi/ambien. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 3. RUANG LINGKUP A. dan dampak interaksi (prevalensi dan insidensi penyakit. udara. Memahami keterkaitan antara jenis usaha atau kegiatan. terdapat dua komponen pokok yang tidak terpisahkan berkaitan dengan kajian aspek kesehatan masyarakat. II.

udara. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. simulasi/model Dengan mengacu Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep. baik akut maupun kronis seperti : keracunan.14/MENLH/3/1994 dan substansi yang dijelaskan pada butir 2 pelingkupan. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. yaitu prediksi. Hal-hal yang diperhatikan dalam perlingkupan kajian aspek kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING A. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan dampak potensial yang dipandang tidak relevan. telaah data dan informasi berdasar pengamatan lapangan (survei. media lingkungan (ambien.ANDAL) I. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit Metoda pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dan suatu asosiasi atau hubungan antara parameter lingkungan. Potensi besarnya dampak terjadinya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. Status gizi masyarakat 8. Dengan demikian karakteristik spesifik dampak penting dan setiap rencana usaha atau dapat diprediksi secara lebih cermat dan akurat. dsb) B. dan pertimbangan para pakar untuk memperoleh dampak potensial. Dampak potensial hipotesis ini kemudian disusun dalam suatu daftar guna dinilai berdasarkan pandangan masyarakat. kanker. dsb) 4. Sumber daya kesehatan 6. telaah kegiatan proyek 2. biologis. Seberapa besar usaha/kegiatan membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan mempunyai potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan. yang menggambarkan potensi. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit? 2. studi epidemiologi dan studi kesehatan lingkungan pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 2. referensi yang relevan. Yang berhubungan dengan cemaran. telaah para ahli/profesional 8. kelainan reproduksi dan penyakit menahun lainnya? 268 . Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Identifikasi Dampak Potensial Identifikasi dampak potensial dilakukan melalui penilaian terhadap parameter lingkungan (fisik. besarnya dampak kesehatan yang kemungkinan dapat timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan masyarakat terpajan (“population at risk”). Ukuran atau nilai dan evaluasi dampak potensial dapat mempergunakan pertimbangan dari beberapa pernyataan di bawah ini: 1. Yang berhubungan dengan perindukan vektor (binatang perantara penyakit) perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat berkembang biaknya vektor telaah data atau informasi dan studi kesehatan lingkungan survei malarlometrik dan studi epidemiologi tentang penyakit bersumber binatang pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 3.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN 124 Tahun 1997 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (KA. maka identifikasi dampak potensial dan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL dapat disusun sebagai berikut. tanah dan makanan) jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (di masa depan) telaah data dan informasi berdasarkan studi toksikologi. kontak penderita. melalui: 1. sosial) yang kemungkinan akan menjadi berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat. emisi). penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan. sehingga diperoleh dampak penting hipotesis. observasi. telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan referensi yang relevan 3. Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat kebiasaan pemanfaatan air kebiasaan penggunaan bahan “reppelent” atau pelindung kebiasaan penggunaan Insektisida kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan (berobat. PENDAHULUAN Kerangka Acuan ANDAL pada dasarnya merupakan suatu arahan berdasarkan hasil perlingkupan dalam menentukan batasan permasalahan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang dampak penting. studi banding terhadap hasil studi yang pernah dilaksanakan 7. Seberapa besar/luas usaha atau kegiatan memerlukan pengerahan sumber daya manusia (lokal dan pendatang) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki potensi untuk menimbulkan penyakit menular? 3. perlu diperhatikan: penyebaran bahan pencemar di media lingkungan (air. telaah hasil uji dan analisis laboratorium 5. 1. II. telaah hasil penggunaan/uji binatang percobaan 6. Kondisi sanitasi lingkungan 7.

vektor penyakit. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia karena daya dukung lingkungan sedemikian rupa sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat? Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting (“focussing”) bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan dan dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang isu-isu pokok permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan risiko kesehatan secara utuh dan lengkap. Beban ekonomi Meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat dampak dan rencana usaha atau kegiatan sehingga masyarakat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan kesulitan akses terhadap sarana kesehatan yang ada. konstruksi. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan (scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan (screening) untuk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara cermat dan mendalam sedemikian rupa sehingga diperoleh isu pokok. penyusun aspek kesehatan masyarakat dalam AMDAL perlu diperhatikan prioritas kepentingannya sebagai berikut: 1. 269 . penurunan intelegensia gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel atau mutasi DNA yang berakibat kelainan genetik. serta pertumbuhan usaha non formal di sekitar lokasi proyek. sinergistik. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. dan karakteristik spesifik lingkungan serta penduduk disekitar tapak lokasi rencana kegiatan yang diarahkan pada lingkup ekologi yang terkena dampak fisik. 4. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang memiliki riwayat menyandang penyakit tertentu yang endemis dan penyakit menular potensial wabah? b. Batas Ekologis Batas ekologis ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994. Jumlah penduduk Peningkatan jumlah penduduk yang terkena dampak di masa depan dan rencana usaha atau kegiatan sehingga berpengaruh terhadap status kesehatan melalui proses akumulasi. Berkaitan dengan masalah epidemiologi. udara dan tanah. Keterkaitan rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting) 2. dikaitkan dengan akses komunitas masyarakat terhadap pelayanan dan sarana. 3. parasit. C. dan mikroba secara terus-menerus atau periodik sehingga menimbulkan penyakit dan atau kematian. dengan mempertimbangkan tipologi usaha atau kegiatan. Disamping batas-batas yang telah ditetapkan dalam pedoman seperti batas proyek. Keterkaitan antar komponen dampak penting yang telah dirumuskan secara holistik. tahapan kegiatan maupun dampak komulatif yang terjadi Dalam proses pemusatan (focussing). Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut: a. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat vektor penyakit yang dapat berkembang dalam masa pra konstruksi. III. bahan material dan manusia itu sendiri. maka penjabaran batas-batas yang tertuang dalam pedoman dapat diuraikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. kimia. batas ekologis. Seberapa besar usaha atau kegiatan dapat menurunkan secara berarti pemenuhan makanan dan gizi masyarakat dari generasi ke generasi? 5. Batas administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. dan biologi serta aspek sosial yang akan terganggu. 3. Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan: a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada batas proyek di atas (butir 1). b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada batas ekologi di atas (butir 2). Untuk itu perlu diidentifikasi apakah di dalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang derajat kesehatannya dapat berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air.4. batas sosial dan batas administrasi. penderitaan seumur hidup dan atau kematian. maka kajian aspek kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan batasan epidemiologi dari penyakit yang ada disekitar tapak lokasi. dan pasca konstruksi? c. c). Sifat dampak (akut dan kronis) Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpengaruh terhadap proses penularan penyakit akibat perubahan interaksi antara manusia dengan habitat vektor penyakit. 2. baik menurut waktu. Apakah di dalam batas lingkungan proyek mengandung bahan berbahaya (toksik) yang berpotensi sebagai bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan? 2. Lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak kesehatan dan rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. yang berkait erat dengan batas ekologis dan sosial yang akhirnya ditetapkan sebagai batas wilayah studi.serta sumber daya kesehatan. dengan memperhatikan: 1. keganasan maupun kelainan reproduksi. dan kronis. Daftar dampak potensial yang diperoleh dari huruf C tersebut selanjutnya dievaluasi sehingga diperoleh dampak penting kesehatan masyarakat. yang dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan.

Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. 3. Prakiraan dampak kesehatan masyarakat. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk mempertajam kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek kesehatan masyarakat yang terdapat dalam KA. Arahan pokok dan panduan ini yang perlu tercantum dalam dokumen ANDAL mencakup dua hal. studi kesehatan lingkungan. satuan analisis (rumah tangga. dokumen-dokumen ANDAL dan kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). Dan angka 3 tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kajian komponen aspek kesehatan masyarakat yang tertera pada KA ANDAL dapat mengalami penambahan dan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan antara aspek fisik-kimia. desa. Sebagai alat bantu untuk melengkapi angka 3 dan 4 tersebut di atas. 4. Media lingkungan yang menjadi wahana transportasi bahan berbahaya dan kondisi lingkungan yang menunjang terbentuknya habitat vektor penyakit. Komponen lingkungan dan masyarakat yang diteliti harus bersifat spesifik lokasi. tetapi akan menyebar secara spesifik tergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. panduan ini difokuskan pada substansi pokok yang perlu dikaji berdasarkan permasalahan pokok. yaitu metodologi dan deskripsi dari kajian aspek kesehatan masyarakat. 6. propinsi) yang akan diukur. Beberapa proses dan langkah penyusunan ANDAL akan disinggung kembali bila diperlukan disesuaikan dengan kekhususan kajian. dengan memperhatikan: 1. karena tidak semua parameter harus diteliti. 4. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan. beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: 1. 2. bahan-bahan pustaka dan bahanbahan referensi lain yang relevan yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. 3.Lampiran 2. wawancara dengan menggunakan kuesioner. 5. studi epidemiologi dan pustaka lainnya yang relevan. peta. Sehubungan dengan hal tersebut. penyusunan aspek kesehatan masyarakat dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. Sementara itu teknis penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara umum tetap mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 . baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat secara epidemiologis: perubahan mendasar atau dampak penting lingkungan yang akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. ketersediaan tenaga. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. melalui penelusuran data dan informasi dari hasil-hasil penelitian. 2. 270 . Metode pengumpulan dan analisis data dan butir-butir di atas. biologi dan sosial dan masalah kesehatan masyarakat.LAMPIRAN III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) I. SERTA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. Dampak penting aspek kesehatan masyarakat dan suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. Uraian rencana usaha atau kegiatan yang berhubungan erat dengan aspek kesehatan masyarakat. mengikuti pedoman baku yang telah ditetapkan. II. metoda & uji laboratorium). Metoda Pengumpulan dan Analisis Data 1. Memperhatikan posisi tersebut. serta metoda prakiraan dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. 5. pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. waktu dan dana. Parameter lingkungan dan kesehatan serta metoda prakiraan dan evaluasi dampaknya pada kesehatan masyarakat. Demikian pula format penyusunan ANDAL. kabupaten. untuk itu perlu pemahaman akan sifat komponen dan keterkaitannya dari sudut pandang aspek kesehatan masyarakat. A. rujukan. 2. pengumpulan data sekunder. referensi (data statistik. wawancara mendalam (indepth interview). Evaluasi dampak kesehatan masyarakat. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain: observasi / pengamatan lapangan.

Beberapa arahan penting untuk menetapkan prakiraan dampak penting dan aspek kesehatan masyarakat adalah: prevalensi penyakit yang berhubungan dengan vektor cukup tinggi - 271 . Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain: teknik pengambilan sampel secara purposive. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 . Untuk itu indikator ekonomi kesehatan yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. baik secara langsung maupun tidak langsung. Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. makin besar jumlah sampel yang harus diambil.memperkirakan biaya dampak melalui perhitungan kesediaan masyarakat membayar untuk menghindari atau menurunkan dampak. Metoda Prakiraan Dampak Prakiraan dampak merupakan telaahan untuk melihat besaran dan kecenderungan timbulnya dampak kesehatan masyarakat. Secara umum evaluasi dampak penting mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal No. diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . 3.056 tahun 1994. Dalam hal pengambilan sampel untuk keperluan uji laboratorium sebagai kelengkapan pengumpulan data parameter lingkungan. yakni telaahan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak lingkungan terkait erat dengan masalah kesehatan masyarakat. Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan antara lain adalah: Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif Analisis jalur pemajanan di masa depan Analisis risiko epidomiologis ( absolute risk. Besaran dampak mencakup jenis. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini derajat keseragaman (homogenitas) dan populasi. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. Sementara kecenderungan dimaksudkan sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. dan relative risk) Analisis biaya dampak kesehatan Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan. attributable. teknik pengambilan sampel secara acak (random). dan “Cost of illness (COI)” . C. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. Metoda analisis data yang dapat digunakan adalah metoda analisis dampak kesehatan lingkungan dan metoda epidemiologi. perlu diperhatikan tingkat “representativeness” dan karakteristik spesifik dan lingkungan dan karakteristik spesifik dan jenis “biomarker” tertentu yang kemungkinan akan berkait erat dengan dampak dan rencana usaha atau kegiatan.B. sifat. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan jenis dan sifat parameter dampak penting yang akan diukur. pandangan dan aspirasi mereka. dan biaya tidak langsung sebagai akibat dampak hilangnya produktivitas. sebaran dan beban yang diproyeksikan kepada jumlah penduduk terkena dampak. derajat kepekaan yang dikehendaki. yaitu: Metoda “Willingness to Pay (WTPJ)” . Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang diperkirakan terkena dampak.KA ANDAL) dan metoda yang digunakan untuk pengumpulan dan analisis data (butir A di atas). Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas bila perlu dapat digunakan secara simultan agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. 5. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh.7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. Ada dua cara pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk menilai biaya dampak kesehatan. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap biaya yang umumnya dikeluarkan untuk jenis atau benda dampak tertentu.memperkirakan biaya langsung untuk pengobatan. 4. biaya langsung bukan untuk pengobatan. Kep. diperlukan “value judgement” dari penyusun AMDAL. wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. dan kondisi lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kelayakan aplikasi teknik yang dipilih. Metoda Evaluasi Dampak Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. Data ekonomi ditekankan pada beban masyarakat akibat dampak kesehatan (penyakit cedera) yang timbul. Jadi metoda yang akan digunakan hendaknya merupakan rangkuman dari dua hal tersebut. Metoda ini perlu disesuaikan dengan isu pokok (lihat lampiran II . dan sampel biologis dan masyarakat sekitar tapak lokasi.

V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING . dsb. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang penyakit yang berkaitan dengan pencemaran yang berhubungan dengan kegiatan yang direncanakan. Status kesehatan penduduk. Dari aspek kesehatan masyarakat. Deskripsi terbaik tentang jenis kegiatan yang direncanakan. Deskripsi terbaik tentang emisi atau effluen atau perubahan kondisi fisik (perkembangan habitat vektor).. 7. bahan-bahan berbahaya mengganggu kebutuhan hidup manusia. bahan-bahan berbahaya tersebut menimbulkan dampak yang tak terpulihkan. manusia rentan terhadap “bahan berbahaya” yang dibuang oleh kegiatan yang direncanakan cukup besar jumlahnya. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Pada dasarnya uraian rencana usaha atau kegiatan adalah seperti apa yang telah ditetapkan dalam pedoman umum. 12. ekonomi yang kemungkinan besar mempengaruhi kepekaan penduduk yang terkena dampak. perilaku masyarakat yang berisiko cukup besar. Karakteristik demografis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. misalnya banyak masyarakat yang menggunakan air sungai. 7. Karena itu kecenderungan dan kapan kemungkinan dampak itu akan terjadi dijelaskan disertai justifikasi ilmiah yang memadai atau asumsiasumsi yang dapat diterima. 5. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan masyarakat pada saat studi ANDAL berlangsung. Penggunaan lahan saat ini dan dimasa depan. terutama aspek kesehatan masyarakat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) yang akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Analisis dampak kesehatan pada alternatif rencana usaha atau kegiatan. air dan tanah. III. IV. bahan-bahan berbahaya tersebut sangat resisten di alam dan kumulatif sehingga pada jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatan penduduk yang cukup luas. persebaran “bahan berbahaya” cukup luas sehingga memungkinkan terjadinya jalur-jalur pemajanan di masa depan yang cukup luas pula. misalnya pencemaran air tanah sehingga banyak masyarakat tidak memperoleh persediaan air bersih yang memadai. 3. Data lain atau hasil studi yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang mekanisme dispersi. Contoh data set untuk kegiatan pembangunan industri yang direncanakan: 1. 9. misalnya menyebabkan kanker. 4. 2. Karakteristik epidemiologis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. 9. absorpsi di udara. Hasil prakiraan dampak penting aspek kesehatan masyarakat hendaknya dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan terjadi. Identifikasi cara-cara menghilangkan atau mengurangi dampak kesehatan dan prakiraan biaya yang diperlukan. Perilaku spesifik penduduk yang berhubungan dengan risiko. Informasi yang diperlukan untuk penyusunan rona lingkungan dan kesehatan masyarakat antara lain: 1. 6. 8. cacat dalam kandungan. Kondisi kehidupan penduduk terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti akses kepada penyediaan air minum dan makanan dan sarana kesehatan. atau merusak tanaman pangan yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. Karakteristik fisik (hidrogeologis dan iklim) di wilayah kegiatan yang direncanakan. 5. Prevalensi penyakit menular. 272 . Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Akses dan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. absorpsi. sosial. 4. 10. maka rencana kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak seperti yang dinyatakan pada Bab Evaluasi Dampak (Butir II C). 11. Penggunaan atau pemanfaatan sumber daya alam. Analisis dampak kesehatan jangka panjang dan pendek. 3.- - adanya spesies vektor penyakit di lokasi kegiatan yang direncanakan. 8. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan di wilayah studi. 6. sarana atau jangkauan pelayanan kesehatan yang masih sangat terbatas. Perumusan sistem pemantauan kesehatan untuk dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang direncanakan. Umumnya. Informasi tentang faktor lingkungan. perlu dijelaskan dalam laporan studi ANDAL terinci pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. dampak kesehatan akan timbul setelah periode waktu tertentu. 2.

dan Regional perlu diberikan perhatian yang lebih besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. Meskipun pada umumnya dampak kesehatan timbul setelah periode tertentu. baik langsung maupun tidak langsung. Apabila dampak kesehatan masyarakat itu dapat dihitung dalam bentuk kerugian biaya. dampak penting itu timbul karena rencana usaha atau kegiatan secara kontinyu membuang logam berat ke perairan (sungai). Pada bagian keempat. diuraikan sifat penting dan besar dampak kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf b di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. termasuk pula apakah masyarakat yang terkena dampak tersebut terbatas pada lokasi kegiatan yang direncanakan atau akan tersebar cukup jauh dan lokasi kegiatan itu. 273 . Pada bagian tiga. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: 056 Tahun 1994) dan kriteria yang digunakan seperti contoh pada butir II. b dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. b. 2. Metode Prakiraan Dampak. Misalnya. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dan suatu rencana usaha atau kegiatan. maka dampak penting aspek kesehatan masyarakat untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika diatas. f. Dampak terhadap gangguan sistem pernapasan penduduk di sekitar rencana usaha atau kegiatantimbul sebagai akibat dari emisi bahan-bahan berbahaya. Pada bagian dua. Penjelasan terhadap kelompok masyarakat yang akan terkena dampak perlu mencakup karakteristik demografik dan epidemiologi. rona lingkungan dan kemungkinan timbulnya dampak kesehatan. Misalnya logam berat yang terkonsumsi melalui tata perairan akan menimbulkan penyakit X setelah Y tahun. bila dampak penting kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf a. maka sajikan cara perhitungannya. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dan segi positif dan atau negatif. uraikan tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan angka gangguan pernapasan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha atau kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf ll. Terpadu/multisektor. sebagai misal: 1. Untuk itu studi ANDAL Kawasan. c. dalam arti akan berlangsung terus selama kegiatan itu berjalan termasuk juga periode waktu kemungkinan dampak itu akan terjadi. VI. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjut tersebut. e.B.C. tetapi tidak menutup kemungkinan adanya gangguan kesehatan masyarakat yang bersifat Iangsung. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Pada bagian pertama. Hasil telaahan evaluasi dampak penting hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan diarahkan kepada alternatif tindakan yang harus diambil untuk mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan kemungkinan timbulnya dampak sehingga memudahkan pengambil keputusan menggunakan data evaluasi dampak penting ini. Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dan gangguan pernapasan yang ditanggungnya. Kemungkinan itu perlu disampaikan dalam studi ANDAL. Ciri dampak penting kesehatan masyarakat itu juga harus dijelaskan. sementara sungai itu menjadi sumber daya alam yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk budi daya pertanian. EVALUASI DAMPAK PENTING Hal penting dalam evaluasi dampak penting adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau informasi dan hasil analisis aspek kesehatan masyarakat dengan standar persyaratan dan atau kriteria kesehatan dan berbagai media lingkungan (“environmental pathways”). Secara khusus perlu pula dijelaskan hubungan antara rencana kegiatan. d.Pada setiap isu kesehatan masyarakat yang diprakirakan mengalami dampak penting dibahas melalui sistematika sebagai berikut: a.

.Memantau “bahan berbahaya” pada titik-titik di media lingkungan yang menjadi jalur penyebaran.Kep-14/MENLH/3/1994). misalnya memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam air sumur yang digunakan penduduk. Mengingat dampak kesehatan masyarakat timbul karena terbentuknya jalur pemajanan antara sumber dampak dan manusia rentan. . Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. . perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk mencegah atau meminimisasi dampak dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh untuk tidak timbulnya dampak kesehatan. ttd. . Dari aspek kesehatan masyarakat. .Memantau cara kontak antara media lingkungan yang mengandung bahan berbahaya dengan manusia. .Pengelolaan sampah yang dihasilkan dan kegiatan yang direncanakan. Dari aspek kesehatan masyarakat. .Pemilihan lokasi pembangunan yang akan menghindari atau mengurangi efek gangguan vektor yang ada dan mencegah perkembangan perindukan vektor. Karena itu pemantauan harus diarahkan kepada jalur pemajanan yang berhasil dikenali pada butir prakiraan dampak.Kewaspadaan penggunaan lahan dimasa datang.LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Rencana Pengelolaan Lingkungan (lampiran III . khususnya pada pemantauan biomarker.Menciptakan kondisi lingkungan baru: konstruksi bebas banjir dan manipulasi lingkungan mencegah perindukan vektor. . Dadang Danumihardja NIP.Kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan (pelayanan kesehatan).Memar. Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. antara lain: . .Pengendalian dampak kumulatif pada wilayah usulan baru yang akan bertambah atas pembangunan yang telah ada. atau biomarker pada manusia kontak sesuai dengan periode yang diperlukan. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut di atas. antara lain: .Pengelolaan tata ruang kota terhadap kesehatan mental dan kualitas lingkungan permukiman. .Memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam emisi atau effluen kegiatan yang direncanakan.Pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi. apakah melalui minum atau kontak kulit. Disamping itu. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk dapat melakukan pemantauan dampak kesehatan masyarakat secara tepat dan efisien.Memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dan manusia. periode waktu harus disesuaikan dengan saat timbulnya dampak. . . 060030827 274 . Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut diatas. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (lampiran IV Kep 14/MENLH/3/1994).Penyediaan daerah penyangga dan sarana umum seperti taman rekreasi dan sarana olah raga.

Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Pasal 1 Aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah telaahan yang dilakukan terhadap komponen demografi. bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. b. bahwa komponen aspek sosial merupakan bagian yang perlu dikaji secara mendalam dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap komponen tersebut dapat dikelola dengan baik.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-299/11/ 1996 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. c. Menimbang : a. ekonomi. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Mengingat : 1. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dirasakan kurang memadai untuk melakukan kajian aspek sosial. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Pasal 2 Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. ttd Sarwono Kusumaatmadja 275 . 2.

1. ini sangat dirasakan akibat lemahnya acuan yang digunakan sebagaimana tersebut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING 2. RUANG LINGKUP 1 . khususnya kajian dampak sosial.Komponen dan Parameter Sosial terlampir. Membantu mempermudah proses penyusunan aspek sosial dalam studi AMDAL. C.Identifikasi Dampak Potensial Dalam proses identifikasi dampak potensial dapat dipergunakan beberapa metoda sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan seperti : a. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN ( KA-ANDAL ) 1. interaksi kelompok. Beberapa komponen. Namun keadaan yang demikian masih berjalan belum sebagaimana yang diharapkan. Kajian aspek sosial dilakukan untuk setiap dokumen : 2. PENGERTIAN Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasikan dampak penting potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan. bagan alir d. tersebut identifikasi dampak sebaiknya didukung juga dengan teknis analogi melalui observasi pada kegiatan atau usaha sejenis yang telah beroperasi di lokasi lain dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang fenomena dampak sosial yang timbul. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. 3. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 2. B. 2. maka pedoman teknis kajian aspek sosial menjadi penting dalam penyusunan AMDAL dan ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kajian-kajian komponen lain.4. Ekonomi. Memahami keterkaitan aspek biogeofisik dan sosial dalam AMDAL.1.2. Budaya. Karena itu. Dengan demikian diharapkan Peraturan Pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.3. 2.1. Sub. sub-komponen dan parameter sosial yang dapat diidentifikasi sebagai dampak potensial dapat dilihat pada Tabel 1: Daftar Komponen. analisis isi g. dan 1. TUJUAN Pedoman teknis merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk : 1. Demografi 1. 276 . Komponen sosial yang ditelaah meliputi : 1. daftar uji b. penelaahan pustaka e. Berkenaan dengan angka 2.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN A. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek sosial dalam penyusunan AMDAL.2. matrik interaksi sederhana c. Dalam pelingkupan aspek sosial dalam AMDAL perlu diperhatikan dua hal penting yaitu : 2. Sebagai upaya untuk lebih memperjelas dalam melakukan kajian komponen sosial seperti yang telah ditentukan.3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 2. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. pengamatan lapangan f.1.

relokasi penduduk). dan proses penduduk (pertumbuhan dan mobilitas penduduk)? b. berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Berdasarkan KEPMENLH Nomor 14 tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat ? 3. dan sebaliknya. b. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada angka 3. dan pemilikan sumberdaya alam (property right) ? Daftar dampak potensial yang diperoleh dari angka 2.Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan mendeliniasi batas-batas terluar dengan memperhatikan : a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada angka 3. perlu diidentifikasi apakah didalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial budayanya berpotensi berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. Hubungan sebab akibat antar komponen dampak penting aspek sosial itu sendiri. Contoh penetapan batas sosial seperti pada Gambar 1 terlampir. perkebunan.Batas Administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran 1 tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu : 3.2. b dan c di atas merupakan batas sosial.1 . Batas-batas terluar dari komunitas masyarakat yang dimaksud pada huruf a. Dalam proses pemusatan (focussing). tersebut di atas. 3.Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut : a. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. c. Dampak rencana usaha atau kegiatan terhadap komponen lingkungan yang akan mengalami perubahan mendasar (dampak penting). b. 3. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan atau nilainilai sosial budaya yang dikandung berpotensi berubah secara mendasar akibat aktivitas pra-konstruksi (pembebasan perolehan lahan.3. udara dan tanah. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. 277 . Dalam penetapan dampak potensial aspek sosial tersebut dapat digunakan dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini: a. Struktur sosial yang dimaksud disini seperti yang dimaksud dalam angka 3. 2. pola mata pencaharian penduduk.2. c) Lokasi komunikasi masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. batas sosial dan batas administrasi. jasa dan sebagainya).2. batas ekologis.2. 2) Struktur kekerabatan. 4) Interaksi sosial yang terjalin di kalangan masyarakat setempat. kegiatan ekonomi. tersebut selanjutnya dievaluasi untuk memperoleh dampak penting sosial. atau pendapatan/pengeluaran rumah tangga ? c. Perlu diketahui bahwa batas sosial mungkin bisa lebih luas dari batas ekologis dan batas proyek.Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan / mengkategorisasikan dampak penting yang telah dirumuskan sebelumnya agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan secara utuh dan lengkap. konstruksi dan operasi dari rencana usaha atau kegiatan? Struktur sosial yang dimaksud di sini dapat berupa : 1) Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian.Batas Ekologis Setelah batas ekologis ditetapkan.3. dan sebaliknya. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat. Dampak rencana aspek sosial yang mengakibatkan timbulnya dampak penting pada aspek fisik-kimia dan biologi. wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas proyek.1.2. perikanan. 3. 3) Struktur pemilikan sumber daya alam baik yang bersifat formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat). Berkenaan dengan penentuan batas sosial. penyusun aspek sosial dalam AMDAL perlu memperhatikan: a. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk (kepadatan dan komposisi penduduk).1.4. pranata-pranata sosial (lembaga-lembaga kemasyarakatan) yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial).Evaluasi Dampak Potensial Evaluasi dampak potensial bertujuan menyeleksi dan menetapkan komponen dampak potensial aspek sosial yang relevan untuk ditelaah.

dan Parameter Sosial Perhatian : Daftar komponen. Pertumbuhan Penduduk a. Warisan Budaya a.asimilasi dan integrasi e. komuter. pendidikan. Sub komponen dan parameter aspek sosial berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi). jenis kelamin. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat d.Sumber daya alam milik umum (commmon property) 3. Adaptasi Ekologis . Sub-Komponen.pusat-pusat pertumbuhan ekonomi i. Ekonomi 1. Budaya 1. Struktur Penduduk : a.proses asosiatif (kerjasama) b. akulturasi d. Demografi Parameter 1. pola perkembangan 3. pola migrasi (sirkuler.kepemimpinan formal dan informal b. Kebudayaan a.ekonomi c.kesempatan kerja dan berusaha b. permanen) d. agama. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi nonformal d.2.pergeseran nilai kepemimpinan 7.adat-istiadat b.kohesi sosial 3.Tabel I : Daftar Komponen.nilai tanah dan sumber daya alam lainnya e.1. Perekonomian Lokal dan Regional a. permanen) 2. Ekonomi Sumber Daya Alam a. migrasi keluar c.pendidikan c. migrasi masuk b.keluarga 4.pendapatan asli daerah h. Ekonomi Rumah Tangga a.situs purbakala b.proses disosiatif (konflik sosial) c. produk Domestik Regional Bruto g. tingkat kematian bayi c. pekerjaan d. Pelapisan Sosial berdasarkan : a. tingkat partisipasi angkatan kerja b. aksesibilitas wilayah 3. pola migrasi (sirkuler. Komponen 1. tingkat pengangguran 2. Tenaga Kerja a. Kepadatan penduduk 2.sosial e.kewenangan formal dan informal c.pola pemanfaatan sumber daya alam c.tingkat pendapatan b.cagar budaya 5.ekonomi. mata pencaharian.efek ganda ekonomi (multiplier effect) f. Proses sosial a.kekuasaan 6.pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam b. agama d.distribusi pendapatan e. Pranata Sosial kelembagaan Masyarakat dibidang : a.pola nafkah ganda 2. pola penggunaan lahan d. fasilitas umum dan fasilitas sosial j.pendidikan b. misal hak ulayat b. Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan 8. Proses Penduduk : 2.nilai dan norma budaya 2. komputer.nilai tambah karena proses manufaktur c. tingkat kelahiran b. Komposisi penduduk menurut kelompok umur. Mobilitas penduduk a. Kekuasan dan kewenangan : a.kelompok individu yang dominan e. 278 . b.

Sungai X merupakan sungai penerima air limbah rencana kegiatan dibangun di lokasi tersebut. Air dari danau buatan digunakan untuk keperluan pabrik dan keperluan domestik. Ruas jalan yang akan dibangun lahan untuk ruas jalan diperoleh dengan cara ganti rugi lahan. 3. pengalihan status lahan milik masyarakat setempat (ganti rugi lahan). Disepanjang jalan propinsi ini terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah menghuni daerah ini sebelum rencana kegiatan dibangun. 8. Areal rencana kegiatan diperoleh dengan cara. Ruas jalan yang dibangun menghubungkan lokasi rencana kegiatan dengan jalan propinsi. Bila rencana kegiatan beroperasi.Keterangan Gambar 1 1. 5. serta pengangkutan hasil produksi. Batas sosial yang terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada lampiran II angka 5 tentang Pelingkupan Wilayah Studi. Di sekitar sungai ini juga terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah lama menghuni daerah ini. Jalan propinsi yang akan digunakan oleh rencana kegiatan untuk keperluan mobilisasi peralatan dan bahan baik pada saat konstruksi dan operasi. Danau buatan yang dibangun oleh rencana kegiatan khusus untuk menampung air hujan dan aliran permukaan dari daerah sekitarnya. 2. saluran irigasi Y akan menerima air limbah yang terangkut melalui sungai X. 6. 279 . Rencana kegiatan yang dibangun terletak di daerah persawahan padi. Di sekitar saluran irigasi ini juga terdapat pemukiman penduduk. Jalur pipa air untuk mengalirkan air dari danau buatan yang akan direncanakan dibangun. Lokasi instalasi pengolahan air limbah yang direncanakan dibangun. 7. Limbah cair direncanakan dibuang di sungai (7) setelah melalui instalasi pengolahan air limbah (2). Sungai X akan mengalir ke saluran irigasi Y (disimbolkan dengan angka 8). Air limbah yang telah melalui proses instalasi pengolahan air limbah dialirkan ke sungai X (disimbolkan dengan angka 7). 4.

Sebagai alat bantu untuk melengkapi huruf c dan d tersebut di atas. sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam Pedoman Umum Penyusunan ANDAL (KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994) dan dalam Tabel 1 paduan ini diteliti untuk setiap usaha atau kegiatan wajib AMDAL. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. Dan evaluasi dampak penting. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL perlu diuraikan : Metode pengumpulan dan analisis data sosial. Uraian rencana usaha atau kegiatan. b. seperti analisis statistik. Melalui teknik ini. 1. d. Presisi (ketetapan/akurasi) yang dikehendaki. seperti analisis isi (content analysis) 280 . 1. c. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 1. referensi (data statistik. 1. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. metoda prakiraan. Teknik pengambilan sampel secara purposive. 1. Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. b. peta.1. b. b. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain : a. serta metode prakiraan dan evaluasi dampak.2.Metoda analisis data yang dapat digunakan antara lain : a. waktu dan dana. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. c. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan. e. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini : a. b. Metode analisis yang bersifat kualitatif. dokumen-dokumen ANDAL dari kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). METODA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data.Lampiran III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISlS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Dalam a. Metoda analisis yang bersifat kuantitatif. Satuan analisis (rumah tangga.3. b. pandangan dan aspirasi mereka. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki.4. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5-7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. Wawancara dengan kuesioner. d. Ketersediaan tenaga. Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). biologi dan sosial.Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak. Huruf c tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa komponen aspek sosial yang tertera pada KAANDAL dapat mengalami penambahan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan yang antar aspek fisik-kimia. c. b. dan pustaka lainnya. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . Komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifikasi lokasi. data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. d. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek sosial yang terdapat dalam KA. Rona lingkungan hidup. A. propinsi) yang akan diukur. e. Teknik pengambilan sampel secara acak (random). Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. Prakiraan dampak penting. kabupaten. rujukan).Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. c. Pengumpulan data sekunder. Teknik pengambilan sampel secara proporsional.Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a. Wawancara mendalam (indepth interview). d. dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. Observasi/pengamatan lapangan. desa. c. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu : a. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. c.

diperlukan value judgement dari penyusun AMDAL. yang terkena proyek serupa (disimbolkan P*) di lokasi lain.1.-. antara lain : 1) Penilaian pakar (professional judgement) 2) Komparatif antar budaya (cross cultural) 3) Teknis analogi 4) Metode delphi Adapun sifat penting dari besar dampak sosial yang akan terjadi ditelaah dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) 281 . Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul menurut dokumen AMDAL sejenis. 3) Pendekatan pembatasan pengeluaran (defendive expenditures approach). Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value). Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P) terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp).-. Metode ini terdiri dari empat (4) pendekatan: 1) Pendekatan nilai kepemilikan (property value approach). Metode ini terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity) 2) Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of learning approach).Kelompok Masyarakat Xp* tanpa Proyek P tanpa Proyek P di lokasi studi ANDAL Kelompok Masyarakat Xp* dengan proyek P* di lokasi lain Kelompok Masyarakat Xp dengan Proyek P Waktu Saat lalu Saat studi ANDAL Saat mendatang Besar dampak. 2) Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach). dengan kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi bila tidak ada rencana usaha atau kegiatan (pendekatan with and without project) Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktifitas (market-based Methods).5.Data ekonomi sedapat mungkin diberi nilai moneter (valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi dapat dikuantifikasi. 3) Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach) . Data sosial aspek lainnya yang memungkinkan diberi nilai moneter hendaknya dilakukan pula valuasi. Besar dampak proyek P* terhadap masyarakat Xp* ini dapat menjadi prakiraan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp: Ilustrasi berikut memperjelas hal dimaksud. c. Metode Formal. diukur dengan cara mengukur dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan masyarakat Xp (disimbolkan Xp*). Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. 2.-. antara lain : 1) Proyeksi penduduk (teknik ekstrapolasi) 2) Analisis kecenderungan (trend analysis) 3) Analisis deret waktu (time series analysis) b.-. 4) Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai penduga (hedonic pricing).-. 2) Pendekatan harga bayangan (shadow project approach). Metode Informal. 3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach). b. Sehubungan dengan itu ada tiga (3) metode pemberian penilaian moneter yaitu : a. termasuk yang mempunyai nilai moneter. dapat diukur melalui dua metode berikut ini : a. Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential expenditures willingness to pay or to accept) yang terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach). Kelompok Masyarakat Xp* pada saat tanpa Proyek P* Proyek P* Dasar prakiraan Prakiraan dampak Kelompok Masyarakat Xp* -. METODE PRAKIRAAN DAMPAK Prakiraan dampak merupakan telaahan yang menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat adanya rencana usaha atau kegiatan.

Setiap komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak penting) dibahas melalui sistematika sebagai berikut : a. b. Bagan Alir Dampak c. 2. c. sebagai misal : 1 ) Dampak terhadap pendapatan masyarakat di sekitar rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai dampak lanjutan dari perubahan pencaharian dan kesempatan berusaha. Pada bagian keempat. sejauh mungkin penyusun aspek sosial ANDAL memperhatikan atau menghimpun masukan dari masyarakat yang terkena dampak. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Agar kajian dampak penting aspek sosial dapat ditelaah mendalam. Extended Cost Benefit Analysis Perlu diketahui. uraikan isu-isu pokok lingkungan yang terdapat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) dan komponen dampak penting lingkungan hasil dari prakiraan dampak penting. adalah : a. tidak seluruh komponen sosial harus diungkapkan dalam rona lingkungan hidup. B. e. dan Regional perlu diberikan perhatian yang besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. Sistem bahasan sebagaimana pada angka 1 tersebut di atas berlaku pula untuk dampak penting yang mempunyai nilai moneter. Bersifat fleksibel. metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting lingkungan sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan.3. Rencana pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial 4. b. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dari suatu rencana usaha atau kegiatan. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek sosial yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. METODE EVALUASI DAMPAK Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. Dengan demikian. Terpadu/multisektor. Evaluasi dampak penting dilakukan dengan sistematika sebagai berikut : a. bila dampak penting sosial yang telah diutarakan pada huruf a. Kebijaksanaan dan cara pembebasan/perolehan lahan 2. c. sehingga relatif tidak ada metode evaluasi dampak yang bisa digunakan untuk semua jenis studi ANDAL. Beragam dampak penting lingkungan tersebut ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-mempengaruhi. Bersifat analitis. terutama aspek-aspek sosial yang menurut dokumen Kerangka Acuan (KA) akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. dibahas/ditelaah secara holistik (komprehensip) dampak penting lingkungan (fisikkimia. metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan yang ukuran. biologi dan sosial). Pada bagian dua. mengenai Metode Evaluasi Dampak. Pada bagian pertama. Penyerapan tenaga kerja khususnya dari masyarakat setempat 3. kondisi kesehatan masyarakat di sekitar proyek dan penyerapan tenaga kerja oleh proyek. Pada bagian tiga. yakni telaahan secara total terhadap beragam dampak lingkungan. bila ada alternatif lokasi atau teknologi dari rencana usaha atau kegiatan maka 282 . Pada bagian ke tiga. EVALUASI DAMPAK PENTING 1. b. Bersifat komprehensif. Pada bagian kedua. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana usaha atau kegiatan untuk pengambilan keputusan. dengan menggunakan metode yang telah diuraikan pada huruf A. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode evaluasi dampak yang tepat untuk studi ANDAL. 3. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 1. diuraikan sifat penting dari besar dampak sosial yang telah diutarakan pada huruf b tersebut di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjutan tersebut. dalam arti proses peleburan nilai-nilai yang satuannya berbeda harus dilakukan melalui proses yang secara ilmiah dibenarkan. C. d.3. metode tersebut memenuhi syarat-syarat ilmiah. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) d. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dari segi positif dan atau negatif. Untuk studi AMDAL Kawasan. satuan. 2) Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dari berubahnya tingkat pendapatan. Disamping itu bila menggunakan bobot atau skala. Matrik Tiga Tahap Fischer dan Davies e. maka dampak penting aspek sosial untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika angka 1. dan skalanya berbeda serta dampaknya berbeda. f. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan sosial di wilayah studi. Bersifat dinamis. Rencana pengembangan ekonomi masyarakat setempat. dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. USGS Matrix (Matrik Leopold) b. b. c. Evironmental Evaluation System (EES) d. baik yang positif maupun negatif. D. metode tersebut sesuai dengan kondisi rona lingkungan dan karakteristik rencana usaha atau kegiatan yang ditelaah. E. uraian tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisa perbedaan kualitas lingkungan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf A. mengenai Metode Prakiraan Dampak. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada saat studi ANDAL berlangsung. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak secara holistik diantaranya adalah : a. Bila metode yang dipakai menggunakan skala dan atau bobot maka proses peleburan (amalgamasi) harus dilakukan secara benar. maka uraian rencana usaha atau kegiatan perlu memuat data dan informasi yang antara lain mencakup : 1. Pada bagian pertama.2. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pengelolaan lingkungan. yang anggotanya terdiri dari pemrakarsa. bilamana. sejauh terdapat : a. 2. Kewenangan memantau dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa.lakukan evaluasi dampak penting terhadap masing-masing alternatif tersebut. Dalam merancang pemantauan lingkungan bagi aspek sosial. 4. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. jumlah sampel. Sebagai alat bukti untuk melindungi adanya tuntutan kerusakan atau pencemaran lingkungan. dan kesehatan masyarakat maupun dari aspek sosial itu sendiri. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNlS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Di dalam merumuskan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. unsur-unsur pemerintah daerah setempat. yang merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan. Kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak. harus mempertimbangkan prinsip saling menguntungkan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terkait. masyarakat sekitar yang terkena dampak. 4. Evaluasi dampak juga dilakukan pada komponen-komponen dampak penting yang mempunyai nilai moneter. Sarwono Kusumaatmadja 283 . menanggulangi dan mengendalikan dampak antara lain dapat berupa. Kesempatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan. c. 5. melainkan juga perlu mendayagunakan informasi tentang kualitas lingkungan dari masyarakat yang terkena dampak. ttd. Sebagai isyarat dini tentang adanya gejala-gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. dan menanggulangi dampak penting sosial yang akan timbul. e. sehingga diperoleh gambaran mengenai biaya eksternal yang akan ditanggung atau dinikmati oleh masyarakat dan atau pemrakarsa. Disamping itu juga harus diutarakan pada kelompok atau lapisan masyarakat mana. Hasil evaluasi tersebut harus dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan. serta instansi sektoral terkait. mengendalikan. baik yang bersumber dari aspek fisik-kimia. mengendalikan. maka instansi yang bertanggung jawab dapat memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan (Pasal 11 ayat 1 PP 51/1993) LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) Di dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Sebagai sarana untuk uji hipotesis dampak penting yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL. Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah. 3. Sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. dan lokasi pengambilan sampel secara jelas. b. Misalkan. pemrakarsa sebaiknya tidak hanya mengandalkan data yang diperoleh dari instrumen atau alat ukur yang dimiliki. dan pihak mana yang akan melaksanakan pengelolaan lingkungan. Komponen lingkungan yang dipantau difokuskan pada dampak penting yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. sejauh terdapat : a. Apabila Analisa Dampak Lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. 3. 2. Manfaat Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah : a. maka di dalam dokumen perlu diutarakan teknik pengambilan sampel yang digunakan. Rencana pengelolaan lingkungan harus secara jelas mengutarakan upaya-upaya yang akan ditempuh untuk mencegah. Upaya pengelolaan lingkungan tersebut perlu memperhatikan kepentingan masyarakat. 2. memantau dampak penting terhadap pertumbuhan sektor informal disekitar rencana usaha atau kegiatan. b. dan menanggulangi sumber dampak penting tersebut. Pihak yang melaksanakan pengelolaan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan juga dapat instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. b. Kewenangan menangani atau mengelola dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa (misal. pemerintah maupun pertimbangan pakar. di lokasi mana. Upaya pengelolaan lingkungan aspek sosial ditempuh dengan cara mencegah. biologi. Bila untuk keperluan tersebut digunakan respon. d. 3. Pihak yang melaksanakan pemantauan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan dapat juga dilakukan oleh instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. Disamping itu pranata sosial yang sudah ada di masyarakat didayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. Kesepakatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pemantauan lingkungan. pembentukan forum komunikasi lingkungan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. dampak penting berupa timbulnya prostitusi disekitar rencana usaha atau kegiatan).

Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1990. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3501). Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3538). Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419). ttd Sarwono Kusumaatmadja 284 . 4. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Keputusan Presiden RI Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. 3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Nomor 115 Tahun 1992. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). 2. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting : 1. 5. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING Mengingat Pertama : Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TENTANG PEDOMAN MENGENAI DAMPAK PENTING KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Kedua : Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

Sempadan Pantai e. Dampak penting suatu usaha atau kegiatan menurut Penjelasan Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. PENGERTIAN 1. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu aspek lingkungan saja. 5. Luas wilayah persebaran dampak. Intensitas dampak. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. termasuk bagi keperluan AMDAL kegiatan Terpadu/Multisektor. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini merupakan petunjuk dasar yang memberi arah apakah suatu rencana usaha atau kegiatan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. 4. UKURAN DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN 1. wilayah pesisir. Yang dimaksud dengan kawasan lindung menurut Penjelasan Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah sebagai berikut : a. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting digunakan untuk keperluan penapisan rencana usaha atau kegiatan dan penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove) k. b. g. 7. AMDAL kawasan dan AMDAL Regional. menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL. Kawasan Rawan Bencana Alam II. Sempadan Sungai f. Taman Wisata Alam n. perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. b. Kawasan Hutan Lindung b. perairan darat. Taman Nasional l. gugusan karang atau terumbu karang. Suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dibangun di kawasan lindung yang telah berubah peruntukkannya atau lokasi rencana usaha atau kegiatan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan lindung. c. Kawasan Sekitar Danau/Waduk g. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. e. termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Sifat kumulatif dampak. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah bernilai tinggi) o. dan Pasal 2 dan Pasal 3 PP Nomor 51 Tahun 1993 ditentukan oleh faktor-faktor berikut: a. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan.LAMPIRAN KEPUTUSAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TANGGAL : 18 Maret 1994 PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING I. Taman Hutan Raya m. Ukuran dampak penting terhadap lingkungan. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem) j. yakni ukuran. 285 . Dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. muara sungai. atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan. Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. Kawasan Sekitar Mata Air h. Kawasan Resapan Air d. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Hutan Wisata. Ukuran dampak penting tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. 6. Kawasan Bergambut c. 2. Lamanya dampak berlangsung. bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. hasil guna dan daya gunanya. Masing-masing faktor sebagaimana dimaksud datam butir 2 tersebut memiliki seperangkat kriteria dampak penting. dan Daerah Pengungsian Satwa) i. 3. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut. standar tertentu atau prinsip-prinsip tertentu. Untuk menentukan penting tidaknya dampak lingkungan akibat dilaksanakannya suatu rencana usaha atau kegiatan perlu juga diperhatikan peraturan perundangan yang berlaku baik di dalam maupun diluar wilayah negara Republik Indonesia. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. f. d. Suaka Margasatwa.

Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan dapat berlangsung pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari kelangsungan usaha atau kegiatan. berdasarkan pertimbangan ilmiah. Jumlah Manusia yang Akan Terkena Dampak Setiap rencana usaha atau kegiatan mempunyai sasaran sepanjang menyangkut jumlah manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat dari rencana usaha atau kegiatan itu bila nanti usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan. atau drastis. Adapun yang dimaksud dengan manfaat dari usaha atau kegiatan adalah manusia yang secara langsung menikmati produk suatu rencana usaha atau kegiatan dan atau yang diserap secara langsung sebagai tenaga kerja pada rencana usaha atau kegiatan. Intensitas Dampak Intensitas dampak mengandung pengertian perubahan lingkungan yang timbul bersifat hebat. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. sejak tahap konstruksi hingga masa pasca operasi usaha atau kegiatan. Karena itu. dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi di kalangan masyarakat. Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Banyaknya Komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak Mengingat komponen lingkungan hidup pada dasarnya tidak ada yang berdiri sendiri. Serta berlangsung di area yang relatif luas. pasca operasi). suaka margasatwa. namun ada pula yang berlangsung relatif lama. 5. atau tidak berbaliknya dampak. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. 4. 7. Namun demikian. dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan. 2. b. yang penentuannya didasarkan pada perubahan sendi-sendi kehidupan pada masyarakat tersebut dan jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. cagar alam. atau habitat alaminya mangalami kerusakan. . 3. Dengan demikian dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. atau pemerintah pusat. konstruksi. dampak lingkungan. Mengingat pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas. Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. e. Dengan demikian dampak lingkungan tergolong penting bila: 1. dapat dialami oleh baik sejumlah manusia yang termasuk maupun yang tak termasuk dalam sasaran rencana usaha atau kegiatan. 2. atau dengan kata 286 c. Luas Wilayah Persebaran Dampak Luas wilayah persebaran dampak merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan pentingnya dampak terhadap lingkungan. baik yang bersikap negatif maupun positif yang mungkin ditimbulkan oleh suatu usaha atau kegiatan. Berdasarkan pengertian ini dampak lingkungan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak. pemerintah daerah. taman nasional. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah. atau segi kumulatif dampak. maka kriteria dampakpenting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di kalangan masyarakat luas berada dalam posisi atau mempunyai nilai yang penting. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. operasi. atau segi kumulatif dampak yang berlangsung hanya pada satu atau lebih tahapan kegiatan. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. Dengan kata lain dampak suatu usaha atau kegiatan ada yang berlangsung relatif singkat. dalam kurun waktu yang relatif singkat. d. jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan di wilayah studi.c. 6. yang bernilai tinggi. yakni hanya pada tahap tertentu dari siklus usaha atau kegiatan (perencanaan. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri.

Dengan demikian dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila: 1. Atas dasar pengertian ini dampak tergolong penting bila: Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik). tetapi karena aktivitas tersebut bekerja berulang kali atau terus menerus. 2. namun ada pula yang tidak dapat dipulihkan walau dengan intervensi manusia sekalipun. bertumpuk. Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak Dampak kegiatan terhadap lingkungan ada yang bersifat dapat dipulihkan. Dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif bila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting.lain satu sama lain saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. ttd Sarwono Kusumaatmadja g. atau bertimbun. sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Sifat Kumulatif Dampak Kumulatif mengandung pengertian bersifat bertambah. sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. f. 3. maka dampak pada suatu komponen lingkungan umumnya berdampak lanjut pada komponen lingkungan lainnya. Dalam hal ini maka dampak bersifat penting bila: Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia. maka lama kelamaan dampaknya bersifat kumulatif. 287 .

AUDIT LINGKUNGAN 288 .

6. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. informasi dan usulan untuk melakukan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. 8. c. Kewenangan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. 2. Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup audit lingkungan hidup yang diwajibkan meliputi evaluasi masukan atau informasi. 5. 2. Menimbang : a. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. 4. Fungsi. Tim Evaluasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan evaluasi terhadap masukan.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan. Audit Lingkungan hidup yang diwajibkan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. Kewenangan. Tim Verifikasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan yang diwajibkan. b. bahwa agar pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dapat dilakukan secara efektif maka diperlukan suatu pedoman. 4. kelompok orang. Tugas. 7. Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 19. Tugas Fungsi. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. pelaksanaan. 289 . Tim Audit adalah sekelompok atau seorang auditor yang diberi tugas untuk melaksanakan audit dan tim audit juga dapat beranggotakan tenaga ahli teknis. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. dan organisasi lingkungan hidup. Auditor Lingkungan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan audit lingkungan. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. 3. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3434). Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara. Pihak yang berkepentingan adalah orang seorang. termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang terkena dampak langsung atau berpotensi terkena dampak dan ketidakpatuhan. dan verifikasi laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan akibat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. kriteria ketidakpatuhan.

(2) Apabila Gubernur/Bupati/Walikota menilai bahwa suatu usaha dan atau kegiatan di wilayahnya menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. BAB IV KRITERIA KETIDAKPATUHAN DAN KEWENANGAN Pasal 4 Kriteria ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi dasar dikeluarkannya perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. apabila telah melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. (2) Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila menunjukkan : a. (3) Manfaat pelaksanaan audit Iingkungan hidup yang diwajibkan: a. c. ketidakpatuhan yang mengindikasikan bahwa penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup atau tidak melaksanakan sistem pengelolaan lingkungan secara efektif. (2) Audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilakukan oleh auditor lingkungan yang terdaftar dan atau auditor yang memenuhi kriteria kualifikasi sesuai dengan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . (2) Fungsi audit Iingkungan hidup yang diwajibkan merupakan salah satu instrumen penaatan atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelola Iingkungan hidup. BAB V PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN Bagian Pertama Tata Laksana Pasal 7 (1) Tata laksana audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 19-14010-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . ketidakpatuhan terhadap baku mutu lingkungan hidup. memberikan uraian tentang penyebab terjadinya ketidakpatuhan. dan atau. termasuk apabila terdapat pelanggaran dan atau ketidaktepatan penerapan kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup. untuk mengetahui tingkat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.BAB III TUJUAN. d. Pasal 5 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dinyatakan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dan atau. Pasal 6 (1) Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan apabila penanggung jawab usaha dan atau kegiatan menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. b. meningkatkan penaatan pengelolaan lingkungan hidup dan suatu usaha dan atau kegiatan. sebagai bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan Menteri tentang tindak lanjut penanganan ketidakpatuhan. (3) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib memberikan informasi/data yang benar dan aktual kepada auditor. d. dan atau. c.Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan dan bebas dari pertentangan kepentingan. b. 290 . mengetahui status ketaatan pengelolaan lingkungan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. memberikan rekomendasi atas temuan-temuan pelaksanaan audit. mencegah terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. ketidakpatuhan terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. b. c. ketidakpatuhan terhadap persyaratan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilakukan. dan. maka Gubernur/Bupati/W alikota mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab suatu usaha dan atau kegiatan tersebut melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. FUNGSI DAN MANFAAT Pasal 3 (1) Tujuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan : a. meliputi: a. telah terjadi hal yang sama atau berkaitan secara berulangkali. telah diberikan peringatan oleh Menteri dan atau Gubernur dan atau Bupati dan atau Walikota sekurangkurangnya 3 (tiga) kali dalam jangka waktu setahun terakhir dan atau patut diduga akan terjadi lagi di masa mendatang.Prinsip Umum atau standar lainnya yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan.

Menteri dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan membentuk Tim Audit. atau. b. a. dengan dilengkapi data pendukung. Kepala instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan hasil temuannya kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. dilengkapi dengan rancangan ruang lingkupnya. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). penanggung jawab usaha dan atau kegiatan telah menunjuk auditor dengan pemberitahuan kepada Menteri. menugaskan pihak ketiga yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri dapat: a. Pasal 12 (1) Berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) huruf a. maka: a. (6) Rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa. (5) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan dan rekomendasi hasil evaluasi secara tertulis kepada Menteri selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja. Pasal 9 (1) Gubernur/Bupati/Walikota menugaskan instansi yang bertanggung jawab di daerah untuk mengevaluasi masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan memeriksa unsur ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. atau. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. ketidaklayakan untuk dikeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan memberikan alasan-alasan ketidaklayakan tersebut. Menteri membentuk Tim Evaluasi yang bertugas untuk mengevaluasi usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan.Bagian Kedua Mekanisme Pasal 8 Pihak yang berkepentingan dapat memberikan masukan atau informasi secara tertulis tentang terjadinya petunjuk ketidakpatuhan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. (4) Tim Evaluasi melaksanakan kegiatan evaluasi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. 291 . Pasal 10 Instansi pengendalian dampak lingkungan dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan dilengkapi dengan data pendukung. b. Menteri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan dan tenaga ahli dalam bidang yang terkait. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. (3) Jumlah beban biaya pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (2) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur-unsur. (2) Apabila Menteri menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (7) Apabila rekomendasi berupa ketidaklayakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) huruf b. kelayakan untuk dikeluarkannya perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (3) Apabila Menteri tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri memberikan alasan-alasan mengenai ketidaksetujuan tersebut. setelah selesai melaksanakan evaluasi. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). Gubernur/Bupati/Walikota dapat mengusulkan secara tertulis kepada Menteri untuk mengeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. b. instansi yang bertanggung jawab di daerah. Menteri memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. (3) Tim Evaluasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 11 (1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 10 selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja.

Menteri mengeluarkan surat perintah kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Menteri. menyusun laporan hasil verifikasi secara tertulis dan menyampaikannya kepada Menteri. 292 . Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 September 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. apabila diperlukan dapat melaksanakan kegiatan verifikasi di lokasi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. BAB VII PENUTUP Pasal 18 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. dengan membentuk Tim Verifikasi.Pasal 14 (1) Tim audit merumuskan Kerangka Acuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan ruang lingkup yang ditetapkan oleh Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah tim audit ditetapkan. Pasal 16 (1) Berdasarkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. BAB VI INFORMASI DAN PUBLIKASI Pasal 17 Menteri mengumumkan surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada Masyarakat.MSM. (4) Tugas Tim Verifikasi mencakup hal-hal sebagai berikut: a. Nabiel Makarim. unsur lainnya yang dianggap perlu. Pasal 15 (1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat melakukan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. ahli di bidang lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. melaksanakan kajian terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan atau instansi yang bertanggung jawab di daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. MPA. ttd. (3) Tim audit setelah melaksanakan tugasnya wajib menyerahkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara tertulis kepada Menteri. terdiri dari : a. (3) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab dibidang pengendalian dampak lingkungan. (5) Tim Verifikasi melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) paling lama 14 (empat belas) hari kerja. c. (2) Tim audit mulai melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah Kerangka Acuan mendapat persetujuan dari Menteri. b.

5. Nomor 84 Tahun 1993.42/MENLH/XI/1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. untuk itu hasil audit lingkungan dapat dimintakan keabsahannya dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Tambahan Lembaran Negara R. berkala. Fungsi. 3.I. Nomor 12 Tahun 1982. 2. bahwa audit lingkungan dapat membantu menemukan upaya penyelesaian yang efektif tentang masalah lingkungan hidup yang dapat dihadapi suatu usaha atau kegiatan. Menimbang : 1. bahwa audit lingkungan sebagai suatu perangkat pengelolaan yang dilakukan secara dasar telah diakui merupakan alat yang efektif dan sangat bermanfaat bagi suatu usaha atau kegiatan dalam mengelola lingkungan hidup. 4. ttd Sarwono Kusumaatmadja 293 Kedua Ketiga Keempat . Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara R.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha atau kegiatan wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Nomor 3215). 4. dan apabila terdapat kekeliruan maka keputusan ini akan ditinjau kembali. tujuan lainnya sebagaimana ditentukan oleh usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Tugas Pokok. sehingga dapat meningkatkan kinerja usaha atau kegiatan yang bersangkutan dalam kaitan dengan pelestarian kemampuan lingkungan. 3. : Audit Lingkungan dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan ini. 2. Nomor 3538). 3. meningkatkan kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal. : 1.I.I. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara R.I. bahwa audit lingkungan adalah suatu proses untuk melaksanakan kajian secara sistematik. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN Pertama : Audit Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh dan merupakan tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha atau kegiatan. pengembangan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan. bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk menetapkan suatu pedoman umum tentang pelaksanaan audit lingkungan dengan suatu keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2. mempublikasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. dan obyektif terhadap prosedur dan praktek-praktek dalam pengelolaan lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara R. 4. dan Tata Kerja Menteri Negara serta Organisasi Staf Menteri Negara. Di tetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Nopember 1994 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. terdokumentasi. Mengingat : 1. 5. masyarakat umum atau organisasi lainnya dengan tujuan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan. Penanggung jawab usaha atau kegiatan dapat memberikan sebagian atau seluruh laporan audit lingkungan kepada Pemerintah.

minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang. Dengan adanya pedoman ini. (e) Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bagan. pemakaian ulang dan daur ulang limbah. dan pengurangan. pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada proses dan peraturan. (d) Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan. serta isu lingkungan yang terkait. RUANG LINGKUP Audit Lingkungan perlu disusun sedemikian rupa. C. proses daur ulang dan efisiensi penggunaan sumber daya. periodik dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi. lembaga keuangan. (d) Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang tercantum dalam dokumen AMDAL. Audit lingkungan yang dimaksud dalam keputusan ini dilaksanakan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan dan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat internal. (h) Menyediakan laporan audit lingkungan bagi keperluan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat manajemen yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. misalnya pembangunan yang berkelanjutan.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEP-42/MENLH/XI/1994 22 NOVEMBER 1994 PRINSIP-PRINSIP DAN PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN A. Fungsi Fungsi audit lingkungan adalah sebagai : (a) Upaya peningkatan pentaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. B. pemerintah. (e) Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam proses pengadilan. sehingga dapat memberikan informasi mengenai: 1. (f) Upaya untuk meningkatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan lingkungan. rona dan kerusakan lingkungan di tempat usaha atau kegiatan tersebut. dan media massa. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan. (c) Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/pemberhentian suatu usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah. sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan. misalnya: standar emisi udara. Definisi Audit Lingkungan adalah suatu atau manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik. 294 . efektif dan efisien. (c) Jaminan untuk rnenghindari perusakan atau kecenderungan kerusakan lingkungan. (g) Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi energi. penanganan limbah dan standar operasi lainnya. prosedur pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana tangggap darurat. maka pengelolaan dan pemantauan lingkungan suatu usaha atau kegiatan diharapkan dapat dilakukan dengan baik. pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan. atau bagi keperluan kelompok pemerhati lingkungan. lebih terarah. 3. atau publikasi yang merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik. Manfaat Audit Lingkungan bermanfaat untuk: (a) Mengindentifikasi risiko lingkungan. (f) Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggung jawab dan staf suatu badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan dan tanggung jawab lingkungan. (b) Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan atau upaya penyempurnaan rencana yang ada. yang berguna dalam penyempurnaan proses AMDAL. PENDAHULUAN 1. (b) Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi. terdokumentasi. 2. (i) Menyediakan informasi yang memadai bagi kepentingan usaha-usaha atau kegiatan asuransi. limbah cair. dan pemegang saham. FUNGSI DAN TUJUAN Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan pelaksanaan audit lingkungan bagi suatu usaha atau kegiatan. melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk mengindentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya.

maka obyektifitas dan kredibilitas akan diragukan. 6. Laporan harus memuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang serta dokumentasi terhadap proses produksi. kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit. 2. 5. 295 . Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan. 3. (d) Laporan tertulis. Pada umumnya. untuk menjamin pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi tersebut. 8. PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. 13. Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif dan prosedur yang telah ditentukan. Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat menerapkan teknik-teknik yang tepat. 12. E. 10. 7. serla dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi. D. Audit lingkungan harus berpedoman kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan. termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan kecelakaan. (b) Konsep pembuktian dan pengujian. proses bahan dasar. Karakteristik dasar Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) Metodologi yang komprehensif. perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat. dll. 11. efektifitas alat pengendalian pencemaran seperti ditunjukkan dalam laporan inspeksi. B3 serta potensi kerusakan yang mungkin timbul. 4. perubahan rona lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai waktu terakhir pelaksanaan audit.2. dan limbah termasuk limbah B3. mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua aspek dan pelaksanaan tugas secara luas. catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan termasuk standar dan baku mutu lingkungan. 9. uji emisi. (b) Keikutsertaan semua pihak Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Apabila tidak. (c) Kemandirian dan obyektifitas auditor Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan usaha atau kegiatan yang diaudit. 14. air dan sumber daya alam lainnya. program daur ulang. Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung. Tata laksana audit merupakan suatu rencana yang harus diikuti oleh auditor untuk dapat mencapai tujuan audit yang diharapkan. uji rutin. Ruang lingkup audit lingkungan sangat luwes. kajian resiko lingkungan. Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan dengan jelas dan akurat. bahan jadi. Dengan mengacu pada tata laksana tersebut maka diharapkan adanya konsistensi dalam pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit. peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan. identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia. (c) Pengukuran dan standar yang sesuai. rencana minimalisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan. penggunaan energi. rute pengangkutan bahan dan pembuangan limbah. Tata Laksana Pelaksanaan audit lingkungan perlu mengikuti suatu tata laksana audit. perawatan. Kunci keberhasilan (a) Dukungan pihak pimpinan Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad pimpinan usaha atau kegiatan. penggunaan input dan sumber daya alam. PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN 1. Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. (d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan. tergantung pada kebutuhan atau kegiatan yang bersangkutan. pentaatan terhadap hasil dan rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan). sistem kontrol manajemen. Audit lingkungan tidak akan berarti kecuali bila kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. konsiderasi product life cycle.

Bentuk pelaksanaan audit yang paling sederhana adalah mempergunakan daftar isian dari laporan yang akan dihasilkan sebagai acuan audit. Pelaksanaan. Pada saat ini. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit. jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor. atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor. tim auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah. Pra-audit Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit lingkungan. Dalam menguji hasil temuan audit. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan. 2. peta. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian temuan audit lingkungan. penentuan tim auditor. foto-foto. Kegiatan Lapangan (1) Pertemuan pendahuluan Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit. Jenis ini merupakan cara yang umum digunakan yaitu dengan mempergunakan daftar yang rinci mengenai isi yang akan diaudit. 2. (b) Checklist. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang telah diidentifikasi. Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut: 1. catatan dan hasil pengamatan tim auditor. Audit dengan menggunakan pedoman merupakan jenis tata laksana yang paling rinci. dan jadual kegiatan audit. Pada umumnya. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat. kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan. (d) Pedoman. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. (c) Daftar pertanyaan. 4. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan. tata laksana.Tata laksana audit sangat beragam dan tergantung pada jenis usaha dan karakteristik lingkungan. Daftar pertanyaan seringkali digunakan dalam pelaksanaan audit. Pasca Audit Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil pelaksanaan audit lingkungan. (5) Evaluasi hasil temuan Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji. hasil sampling dan pemantauan. Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas di lapangan. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara khusus. 3. Pedoman ini memuat instruksi-instruksi dan petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh auditor. auditor telah mempersiapkan format baku untuk melaksanakan audit dan menyusun laporan akhir. (2) Pemeriksaan lapangan Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. diagram. dan daftar pertanyaan tersebut harus dijawab secara lengkap oleh auditor. 296 . Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang dibutuhkan. dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan. Berikut ini adalah beberapa tata laksana audit yang umum dilaksanakan: (a) Daftar Isian. Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang belum tersedia. struktur organisasi. (6) Pertemuan akhir Setelah penelitian lapangan selesai. rencana. status hukum. tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum teridentifikasi dalam perencanaan. Tim auditor harus mengkaji hasil pertemuan secara garis besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. tim auditor harus memaparkan hasil temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. (4) Pengujian Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Seluruh dokumentasi selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan. (3) Pengumpulan data Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit lingkungan akan mencakup tata laksana audit. Pendahuluan Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang dilaksanakan. atau harus ditentukan oleh tim auditor. tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati. serta aspek yang harus diteliti. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali.

Namun demikian. Kebijakan audit lingkungan dalam hal ini tidak membatasi hal-hal sebagai berikut : (a) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin pada suatu usaha atau kegiatan. 297 . (c) Tujuan lainnya yang ditetapkan oleh usaha atau kegiatan tersebut. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan peraturan pelaksanaan lainnya. G PENGAWASAN MUTU HASIL AUDIT . konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit.F . penghindaran kewajiban dan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan. kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit Potensi dampak lingkungan. Auditor lingkungan harus mempunyai pendidikan yang sesuai dan memiliki pengalaman profesional untuk dapat melaksanakan tugasnya. meliputi: Kemampuan berkomunikasi Kemampuan perencanaan dan penjadualan kerja Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan Kemampuan untuk menulis laporan audit Auditor lingkungan harus terlatih secara profesional untuk menjamin ketepatan. SIFAT KERAHASIAAN Laporan hasil audit lingkungan merupakan milik usaha atau kegiatan yang diaudit dan bersifat rahasia. (b) Antisipasi kebutuhan penilaian peringkat kinerja usaha atau kegiatan lainnya. prosedur dan teknis audit Karakteristik dan analisis tentang sistem manajemen Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan lingkungan Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan. (c) Hak pemerintah untuk meminta sesuatu informasi khusus sebagai dasar penentuan peringkat kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan: (d) Tanggung jawab dunia usaha atau kegiatan untuk menyediakan data hasil pengelolaan dan pemantauan kepada pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. Kemampuan yang harus dimiliki oleh tim auditor adalah meliputi pengetahuan tentang : Proses. Auditor harus mengikuti kode etik auditor yang ada. (b) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap suatu kegiatan yang dicurigai sebagai kelalaian. dunia usaha atau kegiatan sesuai dengan kebebasannya dapat menyampaikan laporan audit lingkungan kepada pemerintah. maka usaha atau kegiatan atau organisasi (non pemerintah) dianjurkan untuk membuat dan melaksanakan kode etik serta sertifikasi auditor lingkungan. Pemerintah dapat memberikan verifikasi atas hasil audit. Dalam rangka menjamin bahwa audit lingkungan akan dilaksanakan secara baik dan profesional. kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko bahaya Auditor juga perlu mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang dibutuhkan dalam audit. masyarakat luas atau organisasi lainnya dengan tujuan sebagai berikut : (a) Publikasi terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilakukan.