UNDANG-UNDANG

1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HlDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup lndonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup; bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

b.

c.

d.

e.

f.

Mengingat

: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

ME MUTU S KAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain; Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup; Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;

2.

3.

4.

2

5. 6. 7.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya; Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan; Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup; Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya; Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang; Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan; Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan; Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan; Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup; Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum; Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Pasal 2

8. 9. 10. 11.

12.

13. 14.

15.

16. 17.

18.

19. 20. 21.

22. 23.

24. 25.

Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

3

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. b. c. d. e. f. tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB lII HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara : a. b. c. d. e. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. 4

(3)

(2)

(2)

Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah : a. b. c. d. e. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetika; mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan, termasuk sumber daya genetika; mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9

(1) (2)

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikoordinasi oleh Menteri. Pasal 10

(3)

(4)

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup; menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup; menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat; memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. Pasal 11 (1) (2) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ketentuan mengenai tugas, fungsi, wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 12 (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat : a. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah; 5

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.b. Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. mengangkut. menyimpan. menggunakan dan/atau membuang. Pasal 15 (1) (2) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. Pasal 13 (1) (2) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 6 . Pasal 17 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. mengedarkan. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi : menghasilkan. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB Vl PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya. BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) (2) (3) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pasal 16 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan.

Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan : a. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. mengambil contoh. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia. b. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan. 7 (2) (3) . serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. memeriksa peralatan. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). meminta keterangan. Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Tanpa suatu keputusan izin. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) (2) (3) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan di bidang lingkungan hidup. Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup. rencana tata ruang. memasuki tempat tertentu. Pasal 23 Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah.(2) (3) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut. Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. pendapat masyarakat. c. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi.

Pasal 26 (1) (2) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penanggulangan. Tindakan penyelamatan. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 27 Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan. dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. 8 (2) (3) (4) (5) . Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melakukan tindakan penyelamatan.Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya. Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk.

dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. Paragraf 2 Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 9 (2) . Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1 Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup. Pasal 33 (1) (2) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup. mewajibkan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup.BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HlDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa.

masyarakat.(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. c. pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan 10 . organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Paragraf 3 Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. Paragraf 4 Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (2) (1) (2) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. Pasal 38 (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. BAB VIIl PENYIDlKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan olen pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. b. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. Pasal 39 (2) (3) c. b. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. kecuali biaya atau pengeluaran riil. adanya bencana alam atau peperangan. berbentuk badan hukum atau yayasan. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang.

padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.000.000. sengaja melepaskan atau membuang zat. (3) (4) (5) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.00 (lima ratus juta rupiah).000. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.00 (tiga ratus juta rupiah). Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik lndonesia. pembukuan. ke dalam udara atau ke dalam air permukaan. Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat.hidup. Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ekspor. 300. melakukan impor. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. catatan. d. Pasal 43 (2) (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. catatan. menjalankan instalasi yang berbahaya.000. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.000. 750. dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup. b. 500.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). f. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (seratus lima puluh juta rupiah). diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp.000. 100. 150. mengangkut. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku.00 (seratus juta rupiah).000. melakukan pemeriksaan atas pembukuan. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000. menyimpan bahan tersebut. energi. 11 (2) . Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a. memperdagangkan.000. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000. c. e. Pasal 42 (2) (1) Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah.

000. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. perserikatan atau organisasi lain. f. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. 150. yayasan atau organisasi lain.000. perseroan.000. perseroan. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. e. perseroan. Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan.000.dan/atau meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. perserikatan. dan/atau penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. 450. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. perseroan. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. yayasan atau organisasi lain. yayasan atau organisasi lain. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. c. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan.00 (seratus lima puluh juta rupiah).000. yayasan atau organisasi lain.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah). dan dilakukan oleh orang-orang. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. perserikatan. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus.000. perserikatan. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. yayasan atau organisasi lain. Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. d.(3) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. perserikatan. 100. perseroan. dan/atau perbaikan akibat tindak pidana. dan/atau menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama (3) tiga tahun. perseroan. perserikatan. 12 (2) (3) (4) . dan/atau mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. perserikatan. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. perseroan. (2) Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : a.00 (seratus juta rupiah). yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. b. Pasal 44 (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini. Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. MOERDIONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ttd. Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini.BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) (2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. Agar setiap orang mengetahuinya. Nahattands LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1997 NOMOR 68 13 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi. Lambock V. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. S O E HAR TO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

Secara hukum. penggunaan sumber daya alam harus selaras.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UMUM 1. Antara manusia. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. Pancasila. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. dan keseimbangan subsistem. Lingkungan hidup lndonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. keserasian. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Oleh karena itu. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. Oleh karena itu. 3. Sementara itu. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia. dan keseimbangan yang dinamis. masyarakat. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. 14 . Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. keserasian. 4. 2. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. dan keseimbangan. dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. dan manusia sebagai pribadi. Dengan demikian. sebagai dasar dan falsafah negara. yang mempunyai aspek sosial. dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. budaya. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara. Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Akan tetapi. Untuk itu. Di pihak lain. Dalam hal ini lingkungan hidup lndonesia tidak lain adalah wilayah. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. manusia dengan alam. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. Lingkungan hidup lndonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa lndonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. berbangsa. keserasian. ekonomi. Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. dan bernegara dalam segala aspeknya. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. Dalam pada itu. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. serasi. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial.

yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. industri. Pada kenyataannya. Sementara itu. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. industrialisasi juga menimbulkan ekses. penataan ruang. 7. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. tetapi juga mampu berperan secara nyata. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Oleh karena itu. organisasi lingkungan hidup. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. pertambangan dan energi. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat. Di sisi lain. kesehatan. dan lain-lain. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut. permukiman. keterbukaan. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan lainnya. kesehatan. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu. perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. termasuk sumber daya alam. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri.Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup. 15 . Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. seperti lembaga swadaya masyarakat. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. dan lain-lain. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. Tambahan Lembaran Negara No. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. Secara global. Menyadari hal tersebut di atas. Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. dan peran anggota masyarakat. Selain itu. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. kehutanan. tata guna tanah. 5.12. yang diantaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. tegas. 6. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. selaras. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. kelompok masyarakat adat. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin.

Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa. dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat. Dengan demikian. semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. hukum perdata maupun hukum pidana. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan. Sebagai penunjang hukum administrasi. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup Jelas Angka 2 Cukup Jelas Angka 3 Cukup Jelas Angka 4 Cukup Jelas Angka 5 Cukup Jelas Angka 6 Cukup Jelas Angka 7 Cukup Jelas Angka 8 Cukup Jelas Angka 9 Cukup Jelas Angka 10 Cukup Jelas Angka 11 Cukup Jelas Angka 12 Cukup Jelas Angka 13 Cukup Jelas Angka 14 Cukup Jelas Angka 15 Cukup Jelas 16 . dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. baik hukum administrasi. berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas.Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. Disamping itu.

Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat. dan rencana tata ruang. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan. laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. maka kemampuan lingkungan hidup. harus dilestarikan.Angka 16 Cukup Jelas Angka 17 Cukup Jelas Angka 18 Cukup Jelas Angka 19 Cukup Jelas Angka 20 Cukup Jelas Angka 21 Cukup Jelas Angka 22 Cukup Jelas Angka 23 Cukup Jelas Angka 24 Cukup Jelas Angka 25 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara. Di lain sisi. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. baik dengan cara mengajukan keberatan. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. 17 . Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. keterangan. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. di satu sisi.

perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. Misalnya. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. aspirasi. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas 18 . Misalnya. Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup. Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum. baik secara kultural maupun secara struktural. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindaklanjuti. Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya.Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup.

Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber manusia. dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan. masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi 19 . Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat. preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup.Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdaya guna dan berhasil guna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penaatan baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi. dunia usaha. Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. integrasi. yaitu pemerintah. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keanekaragaman potensi sumber daya alam hayati dan nonhayati. bimbingan. Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. seperti lSO 14000. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional.

pengangkutan. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang. e. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. f. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak.alam maupun kemampuan daerah. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. 20 . situasi dan kondisi daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a. pengumpulan. dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya. pembiayaan. luas wilayah penyebaran dampak. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan. b. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif. peralatan. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang. sifat kumulatif dampak. c. d. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. tugas. kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. pemanfaatan.

Ayat (5) Cukup jelas 21 . dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. baik tanah. dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. air maupun udara. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Dalam hal tertentu. Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah. seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini. dengar pendapat. maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem. kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. menurut peraturan perundangundangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/ atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah.

Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban. Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya. Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 13 ayat (1). Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang 22 . Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan. misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa.ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. b. Ayat (2) Cukup jelas 23 . dan semua putusan arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. 4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik. pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum. Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. Pasal 30 Ayat (1) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan. yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian. Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a. Dalam pengertian ini. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. 3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. Pihak ketiga netral ini harus : 1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa Iingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum.

Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. Selain diharuskan membayar ganti rugi. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. fakta hukum. memulihkan fungsi lingkungan hidup. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas 24 . misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan.

memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup.Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. b. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. c. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 25 . Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas. melainkan hanya terbatas gugatan lain. yaitu : a. tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud.

Pasal 44 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3699 26 .

2. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 24. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. susunan. b. Pasal 1 ayat (1). dan Nepotisme. 4. dan keadilan. pemerataan. 5. Menimbang : a. dan kedudukan pemerintahan desa. serta tantangan persaingan global. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Nomor 3153) yang menyeragamkan nama. Kolusi. nyata. pembagian. dan pemanfaatan sumber daya nasional. sehingga perlu diganti. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. e. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. serta potensi dari keanekaragaman Daerah. f. dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas. 27 . Pasal 5 ayat (1). serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. peran serta masyarakat. pemerataan dan keadilan. bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. baik di dalam maupun di luar negeri. tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811). Pasal 18. peran serta masyarakat. c. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 3. Mengingat : 1. bentuk. d. yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. perlu ditetapkan undang-undang mengenai Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. yang diwujudkan dengan pengaturan.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. bahwa sehubungan dengan itu. Pengaturan.

Daerah Otonom. 28 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) . Instansi vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. dan kegiatan ekonomi. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah di tingkat pusat dan/atau pejabat pemerintah di daerah propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. pelayanan jasa pemerintahan. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonomi yang lain sebagai badan eksekutif daerah. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan. Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. pelayanan sosial. selanjutnya disebut Pemerintah. selanjutnya disebut daerah. adalah Badan Legislatif Daerah. selanjutnya disebut desa. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. selanjutnya DPRD.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ME MUTU S KAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Pemerintah Pusat. termasuk pengelolaan sumber daya alam. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. Kawasan pedesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskannya. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa atau yang disebut dengan nama lain.

Daerah Kabupaten. Kriteria tentang penghapusan. batas. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB II PEMBAGIAN DAERAH Pasal 2 (1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). perubahan nama daerah. daerah kabupaten. Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penggabungan. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. (2) Pasal 3 Wilayah Daerah Provinsi. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. ditetapkan dengan undang-undang. dan pemekaran daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jumlah penduduk. BAB III PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi. Pembentukan. dan Daerah Kota yang bersifat otonom. dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. penggabungan. Syarat-syarat pembentukan daerah. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan/atau digabung dengan daerah lain. Penghapusan. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. dan pemekaran daerah. nama. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) (2) (3) (4) (2) (3) (4) 29 . potensi daerah. terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. sosial politik. luas daerah. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain.(17) Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Daerah Provinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. sosial budaya.

dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. pengaturan kepentingan administrasi. Kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. perhubungan. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. meliputi : a. konservasi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. peradilan. Pasal 8 (1) Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. moneter dan fiskal. meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. 30 (2) . kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. industri dan perdagangan. koperasi. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. Pasal 9 (1) Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Provinsi. pendidikan dan kebudayaan. Kewenangan bidang lain. kesehatan. eksplorasi. Kewenangan provinsi sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah. Pasal 11 (4) (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. dana perimbangan keuangan. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut.BAB IV KEWENANGAN DAERAH Pasal 7 (1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. lingkungan hidup. (2) (2) (2) (3) (2) e. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. sarana dan prasarana. eksploitasi. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. dan tenaga kerja. dan standarisasi nasional. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. pengaturan tata ruang. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Kewenangan Daerah di wilayah laut. pertanian. b. serta kewenangan bidang lain. penanaman modal. c. agama. Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. pertahanan keamanan. pertanahan. konservasi.

sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). pimpinan. komisi-komisi. sarana dan prasarana. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. Bagian Kedua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 15 Kedudukan.Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Setiap penugasan. keanggotaan. Bupati/Wakil Bupati. ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. BAB V BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. wewenang. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. dan panitia-panitia. Pelaksanaan ketentuan. dan Walikota/Wakil Walikota. susunan. tugas. atau Walikota/Wakil Walikota. 31 (2) (2) (2) . Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 17 (1) (2) (3) (4) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. hak. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur. DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. c. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan undang-undang. Bupati/Wakil Bupati. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. b. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah.

b. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bersama dengan Gubernur. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. sebagaimana dimaksud ayat (1). diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. 2. pemerintahan. dan Walikota. c. f. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. b. Pelaksanaan hak. e. pelaksanaan keputusan Gubernur. Bupati. Pelaksanaan hak. dan h. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. g. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.d. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. g. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. Pejabat negara. Bupati. bangsa. meminta pertanggungjawaban Gubernur. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. 5. kebijakan Pemerintah Daerah. e. 4. mengadakan penyelidikan. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2). Bupati. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. pejabat pemerintah. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. d. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. pengajuan pertanyaan. dan menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. protokoler. dan Walikota. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Pelaksanaan hak. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. menentukan Anggaran Belanja DPRD. 32 (2) (3) (2) . dan pembangunan. keuangan/administrasi. melaksanakan pengawasan terhadap: 1. f. h. bersama dengan Gubernur. Bupati. pejabat pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mengajukan pernyataan pendapat. dan pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. dan c. 3.

penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. dan pembebanan kepada Daerah. g. dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. pinjaman. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. ayat (2). Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. kecuali mengenai : a. f. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 23 (1) (2) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. e. dan ayat (3). meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. h. j. Badan Usaha Milik Daerah. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan diantara pimpinan DPRD. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. b. i. c. d.Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : (1) (2) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. utang piutang. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. serta menaati segala peraturan perundangundangan. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. dan kebijakan tata ruang. Pelaksanaan ketentuan. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. (3) (4) (3) (4) 33 .

Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD. Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Kepala Daerah Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai Kepala Eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Anggaran Belanja Sekretaris DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. yang karena jabatannya adalah juga sebagai Wakil Pemerintah. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya. ditetapkan oleh Pemerintah. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. 34 (3) (4) (5) .Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. Kepala Daerah Kota disebut Walikota. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pasal 32 (1) (2) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. Bagian Ketiga Sekretariat DPRD Pasal 29 (1) (2) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. ditetapkan dengan Peraturan Tata tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. baik terbuka maupun tertutup. sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. Pasal 31 (1) (2) Kepala Daerah Provinsi disebut Gubernur. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. Dalam kedudukan sebagai Wakil Pemerintah.

Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. b. Pasal 35 (2) (3) (4) (5) (1) Panitia pemilihan. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri. dan bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. tetapi bukan anggota. bertugas: a. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). j. (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. Pasal 34 d. Pasal 33 (4) (1) Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. c. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. i. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. b. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). l. Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. c. g. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. sehat jasmani dan rohani. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah.(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. e. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. 35 . (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. f. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. dibentuk Panitia Pemilihan. h. k.

bebas. Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD. ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden. Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. Pasal 40 (1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung. rahasia. Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. jujur dan adil. Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum dicapai. 36 (2) (3) (2) (3) (4) (2) (2) (3) (2) (3) . Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4). Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. Apabila ketentuan. misi. Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD.Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum.

Pasal 45 (1) (2) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. dan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. (4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah ditetapkan oleh Pemerintah. dan seadil-adilnya. Bagian Kelima Kewajiban Kepala Daerah Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : (1) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. menghormati kedaulatan rakyat. Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota.Pasal 41 Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. sejujur-jujurnya. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. 37 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (2) (3) . Pasal 42 (1) (2) (3) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk bertindak atas nama Presiden. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sebelum memangku jabatannya. Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/ Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya. Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD.

(2) (3) (4) Bagian Keenam Larangan bagi Kepala Daerah Pasal 48 (1) Kepala Daerah dilarang : a. baik secara langsung maupun tidak langsung. Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. ditetapkan oleh Pemerintah. anggota keluarganya. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. f. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. harus dilengkapi dan atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. Bagian Ketujuh Pemberhentian Kepala Daerah Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena: a. g. Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. d. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. e. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. . meninggal dunia. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. barang. e. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kroninya. turut serta dalam suatu perusahaan. d. Tata cara.Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. menerima uang. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. dan menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. golongan tertentu. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. c. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. b. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. 38 b. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. c.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (2) (3) (2) (3) (2) b. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. Keputusan DPRD. dan dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. tanpa persetujuan DPRD. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya dalam 2 kali 24 jam. sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. 39 . harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Dengan adanya pemberitahuan. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru.Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. Bagian Kedelapan Tindakan Penyidikan Terhadap Kepala Daerah Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. enam bulan sebelumnya. (3) Setelah tindakan penyidikan.

sejujur-jujurnya. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. Sebelum memangku jabatannya. Pasal 41. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. Pasal 43 kecuali huruf g. dan seadil-adilnya.Bagian Kesembilan Wakil Kepala Daerah Pasal 56 (1) (2) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. (5) Ketentuan-ketentuan. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas: a. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. (2) (3) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. (3) (4) (6) (2) (3) (4) Bagian Kesepuluh Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 59 Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. dan c. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. 40 . berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. b. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota.

Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Pasal 61 (1) (2) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretariat Daerah. lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya. Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. formasi. susunan organisasi. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintah yang menjadi wewenang Pemerintah. Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. Sekretariat daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dan Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. 41 (2) (2) (3) (4) (5) (6) . Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah dari Bupati/Walikota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). Pembentukan. dan tata laksananya.Bagian Kesebelas Perangkat Daerah Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. Pasal 62 (1) (2) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. (3) (4) (5) (6) (7) (3) Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. sesuai dengan kebutuhan Daerah. Kepala Kecamatan disebut Camat. dilakukan oleh instansi vertikal. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. dilaksanakan oleh Dinas Provinsi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan daerah Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah.

Lurah bertanggung jawab kepada Camat. Peraturan Daerah lain. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. 5.000. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. kacuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah. (2) BAB VI PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN KEPALA DAERAH Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Kepala Kelurahan disebut Lurah.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. 42 (2) (2) (2) .000. peraturan daerah. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah.Pasal 67 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Keputusan. Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah.

b. dan penerimaan dari sumber daya alam. gaji. c. hasil pajak Daerah. gaji. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. hak dan kewajiban. penetapan pensiun. dan kesejahteraan pegawai. pinjaman Daerah. BAB VIII KEUANGAN DAERAH Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintahan Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. penetapan pensiun. serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. tunjangan. standar. pemberhentian.Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. d. Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 79 (1) Sumber Pendapatan daerah terdiri atas : pendapatan asli daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. pemindahan. pemindahan. tunjangan. terdiri atas : a. (2) (2) 43 . dana perimbangan. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian karier pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. yaitu : a. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. BAB VII KEPEGAWAIAN DAERAH Pasal 75 Norma. hasil perusahaan milik Daerah. pemberhentian. hasil retribusi Daerah. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. dan prosedur mengenai pengangkatan. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. kesejahteraan.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan oleh Pemerintah. dan c. dan/atau dipindahtangankan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. b. Pasal 82 (2) (3) (4) (1) (2) Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) dana alokasi umum. Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) (2) 44 . perkotaan. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. c. Pasal 81 (3) (4) (1) Pemerintahan Daerah dapat melakukan peminjaman dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. dan perkebunan serta Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang : a. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ketentuan. Ketentuan lebih lanjut. Pasal 83 (1) (2) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukkannya diatur dengan Peraturan Daerah. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. penghapusan daerah sebagian atau seluruhnya. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. ditetapkan dengan undang-undang. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dibebani hak tanggungan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tata cara peminjaman. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. Pasal 85 (1) Barang Milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. dan dana alokasi khusus. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ayat (2). diterima langsung oleh Daerah penghasil. dan ayat (3).b.

Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama. Pedoman tentang penyusunan. BAB X KAWASAN PERKOTAAN Pasal 90 Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama antar Daerah. Pedoman tentang pengurusan. perlu ditetapkan Kawasan Perkotaan yang terdiri atas : (a) (b) Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten. Keputusan bersama dan/atau badan kerjasama. dan Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial. Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan. yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. (c) 45 . ayat (2). dan fisik perkotaan. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 89 (2) (1) (2) Perselisihan antar Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara musyawarah. pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian kepada Mahkamah Agung. Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). terdapat salah satu pihak yang tidak dapat menerima keputusan Pemerintah. BAB IX KERJASAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 87 (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerjasama antar Daerah yang diatur dengan keputusan bersama. ditetapkan oleh Pemerintah. pertanggungjawaban. Tata cara. dan ayat (3). ekonomi.(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. Pasal 88 (1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan di luar negeri. perubahan. kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). yang diatur dengan keputusan bersama. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui.

ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. penghapusan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan/atau Penggabungan Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. dan hal-hal lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. 46 . merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. Penghapusan.Pasal 91 (1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola Kawasan Perkotaan. Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dan/atau penggabungan Desa. (2) (3) (2) (3) BAB XI DESA Bagian Pertama Pembentukan. Pasal 92 (1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pengikutsertaan masyarakat. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. Pembentukan. yang merupakan Pemerintah Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat dibentuk Badan Pengelolaan Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dihapus. (2) Bagian Kedua Pemerintah Desa Pasal 95 (1) (2) (3) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan.

c. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengalaman yang sederajat. 47 . saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. dan seadil-adilnya. Pemerintah Provinsi. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. G-30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. g. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. dan memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur dalam Peraturan Daerah. j. jujur. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. Pemerintah Propinsi. e. kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. dan/atau Pemerintah Kabupaten. berkelakuan baik. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. b. Daerah. sarana dan prasarana. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. serta sumber daya manusia. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. dan adil. k. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. Pasal 98 d. sehat jasmani dan rohani. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. f. h.b. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan).” Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. c. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. i. m. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. sejujur-jujurnya. (1) (2) (3) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. l. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. dan tugas Pembantuan dari Pemerintah. Sebelum memangku jabatannya.

Kepala Desa : a. b. Pasal 103 (1) Kepala desa berhenti karena : a. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. membina perekonomian Desa. (2) Pemberhentian Kepala Desa. e. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. sebagaimana dimaksud dalam pasal 101. d. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintah Desa Pasal 105 (1) (2) (3) (4) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. membina kehidupan masyarakat Desa. f. b. 48 . e. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa.Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. meninggal dunia. b. membuat Peraturan Desa. c. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. d. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. Bagian Ketiga Badan Perwakilan Desa Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c.

b. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. sumbangan dari pihak ketiga. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. dan pinjaman Desa. 4) hasil gotong-royong. dan 5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. 2) hasil kekayaan Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. (4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. (2) Sumber pendapatan Desa. dan 2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. 49 (2) . c. (3) Kepala Desa bersama-sama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. (5) Tata cara dan pungutan objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. 3) hasil swadaya dan partisipasi. Bagian Kelima Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. d. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendapatan asli Desa yang meliputi : 1) hasil usaha Desa. e. Untuk pelaksanaan kerja sama. Bagian Keenam Kerja Sama Antar Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan Keputusan Bersama dan diberitahukan kepada Camat.Bagian Keempat Lembaga Lain Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.

industri. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) (2) (3) (4) (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri dari Menteri Dalam Negeri. Perimbangan keuangan pusat dan daerah. Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. b. perwakilan asosiasi pemerintah daerah. c. Menteri Keuangan. Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala daerah. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. Peraturan Daerah.Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. asal usul. BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 112 (1) (2) Dalam rangka pembinaan. Menteri Lain sesuai dengan kebutuhan. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. sebagaimana dimaksud dalam pasal 11. BAB XIII DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: a. pembentukan. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. dan wakil-wakil daerah yang dipilih oleh DPRD. penghapusan. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelaksanaan. Menteri Sekretaris Negara. Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. wajib mengakui dan menghormati hak. penggabungan dan pemekaran daerah. dan adat istiadat Desa. dan pengawasannya. dan Kemampuan daerah kabupaten dan daerah kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. 50 (3) .

dan Pasal 11 undang-undang ini. kawasan pertambangan. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. kawasan pelabuhan. baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya. kawasan kehutanan. Pasal 123 Kewenangan Daerah. karena kedudukannya diatur tersendiri dengan undang-undang. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. berubah masing-masing menjadi Propinsi. dan kawasan lain yang sejenis. Kabupaten Daerah Tingkat II. Kabupaten. Pasal 118 (1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. wewenang. kawasan industri. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 116 (5) (6) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretaris yang membawahkan bidang otonomi daerah dan bidang perimbangan keuangan pusat dan daerah. berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 117 Ibukota Negara Republik Indonesia. yang meliputi badan otorita. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Pasal 122 Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. kawasan jalan bebas hambatan. Jakarta. kawasan bandar udara. penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9. Pengaturan lebih lanjut. kawasan pariwisata. kawasan perumahan. kedudukan. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada undang-undang ini. 51 (2) (2) (2) . Susunan organisasi. kawasan perkebunan. dan Kota. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 121 Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tugas. Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus. Pasal 119 (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pasal 10. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. formasi.(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam 6 (enam) bulan. hak. kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan.

dan Badan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. dapat dihapuskan jika tidak memenuhi ketentuan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom. Pembantu Walikotamadya. Kotamadya. keamanan. nama. sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 huruf m. Pasal 125 (1) Kotamadya Batam. dan ibukota Propinsi Daerah Tingkat I. Walikota. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. pertahanan. dan semua Kota Administratif dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal 5 Undang-undang ini. Kotamadya. batas. Pasal 129 (1) Dengan diberlakukannya Undang-undang ini. huruf n. Pembantu Bupati. Kabupaten. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n Undang-undang ini. atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan Undangundang ini dinyatakan tetap berlaku. Camat. dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini ditetapkan sebagai Kelurahan. Kabupaten Puncak Jaya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kotamadya Daerah Tingkat II. Kelurahan. Bupati. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya. Kabupaten Paniai. dan huruf o Undang-undang ini. peradilan. Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar negeri. dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan. Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah. Pasal 126 (1) Kecamatan. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. menjadi perangkat Daerah. moneter dan fiskal. Lembaga Pembantu Gubernur. Pasal 127 Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. sudah harus berubah statusnya menjadi Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5 Undang-undang ini. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II. Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada masa jabatan Kepala Daerah.BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 Pada saat berlakunya undang-undang ini. dan Kota Administratif. Bupati Kepala Daerah Tingkat II. Wakil Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah. sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan. dan Kepala Desa beserta perangkatnya yang ada. serta agama. Kelurahan. Walikotamadya. Kotamadya Administratif. Kabupaten Simeuleu. pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap menjalankan tugasnya. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang ini. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. dihapus. Kabupaten. seluruh instruksi. adalah tetap. Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Kabupaten Mimika. petunjuk. Lurah. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. Daerah Istimewa. Kabupaten Daerah Tingkat II. masa jabatan Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah. dan Kota Administratif. Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang ini. 52 (2) (3) (2) (2) (3) (2) . Pasal 130 (1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada masa jabatan Kepala Daerah. dan Desa atau yang disebut dengan nama lain. Pasal 128 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I.

memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (3) (2) Disahkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dinyatakan tidak berlaku lagi : Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38.BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 (1) (2) Pada saat berlakunya Undang-undang ini. Pasal 134 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. diadakan penyesuaian. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56. AKBAR TANDJUNG 53 . Pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan secara efektif selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya Undang-undang ini. ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3153) Pasal 132 (1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak Undang-undang ini ditetapkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). Pasal 133 Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan Undang-undang ini.

dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pengaturan. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. antara lain. Undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Oleh karena itu. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka. Karena itu. semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-undang.” Di daerah-daerah yang bersifat otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. dan bertanggung jawab kepada Daerah. Sesuai dengan Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas. Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hirarki. antara lain. nyata. d. sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pembagian. b. dikemukakan bahwa “Oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Dasar Pemikiran a. dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. peran serta masyarakat. meningkatkan peran serta masyarakat. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAH DAERAH UMUM 1. pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. di daerah pun. serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Pemberian kedudukan propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan : 1. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. dan keadilan. g. f. Undang-undang ini disebut “Undang-undang Pemerintah Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Dengan demikian. Dengan demikian. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas. pemerataan. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. 54 c. yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. e. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi. nyata. Di samping itu. Dalam penjelasan pasal tersebut. . menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. Pembagian. Oleh karena itu.

Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. pengawasan. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita. dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. 7. keadilan. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-Daerah. baik sebagai fungsi legislasi. 3. Disamping itu. peradilan. i. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Atas dasar pemikiran di atas. pemerataan. kawasan pelabuhan. dan untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang . fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. dan berkembang di daerah. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah. 8. keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan. agama. Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan lintas Kabupaten dan Kota. kawasan perumahan. kawasan perkebunan. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. kawasan industri. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. hidup. pengembangan kehidupan demokrasi. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. serta kewenangan di bidang pemerintah tertentu lainnya. sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pertahanan keamanan. untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. moneter dan fiskal. maka dalam Undang-undang ini pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. h. pelaksanaan. 55 . Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. serta potensi dan keanekaragaman daerah. 4. nyata dan bertanggung jawab.2. Pembagian Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 5.undang ini adalah sebagai berikut : 1. dan evaluasi. b. kawasan kehutanan. kawasan perkotaan baru. kawasan pertambangan. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. nyata dan bertanggung jawab. keadilan dan pemerataan. 6. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. kawasan pariwisata. 2. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. pengendalian. dan semacamnya berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonomi. 2. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatnya kemandirian Daerah Otonomi. 3. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi.

seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. 4. (2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan Pemerintahan menjadi kewenangan Daerah. dan bertanggung jawab. hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan. Mutasi antar Daerah Propinsi dan/atau antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut. menurut undang-undang ini kedudukannya diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota. dan Desa. dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dekonsentrasi. golongan. adil. dan aliran. Sementara itu. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah. 56 . jujur. dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif. Kepegawaian Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya. dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa. serta mendapatkan kepercayaan rakyat. Mutasi antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah Propinsi diatur oleh Gubernur. 7. DPRD dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus. Pembagian Daerah di luar daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom. pemindahan. berpengetahuan. b. Oleh karena itu. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi. sekaligus adalah Pimpinan Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir. dan netral. Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan. adalah : a. 6. Pertanggungjawaban Kepala Daerah Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah. dan tugas pembantuan. sedangkan mutasi antar Daerah Propinsi diatur oleh Pemerintah. Kepala Daerah Untuk menjadi Kepala Daerah. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi. 5. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah Administrasi dalam rangka dekonsentrasi. penempatan. digunakannya asas desentralisasi. 3. yang didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem Pemerintahan Daerah. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Provinsi. Daerah Kota.c. memiliki etika dan moral. bijaksana. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. nyata. Kepala Daerah disamping sebagai pimpinan pemerintahan. negara. dan berkemampuan sebagai pimpinan pemerintahan. Daerah Kabupaten. dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. baik pengangkatan. 8. Oleh karena itu. diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri. sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah. d. Keuangan Daerah (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas. dan c. Dengan demikian. dari kelompok atau etnis. bertindak. berwawasan kebangsaan.

di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan.9. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-Undang Dasar 1945. sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah. baik hukum publik maupun hukum perdata. partisipasi. 10. bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. (4) Sebagai perwujudan demokrasi. otonomi asli. sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. Pemerintahan Desa (1) Desa berdasarkan undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. memiliki kekayaan. dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan. sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. (7) Berdasarkan hak asal usul Desa yang bersangkutan. Pembinaan dan Pengawasan Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam upaya pemberdayaan Daerah Otonom. (3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum. demokratisasi. pendapatan lain-lain yang sah. Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. Karena itu. harta benda. Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih dahulu oleh pejabat yang berwenang. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. dan Keputusan Kepala Desa. Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. (5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. dan pemberdayaan masyarakat. Kepala Desa mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya. Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas 57 . yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. Untuk itu. (6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa. (2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. (8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang berada di dalam Daerah Kabupaten dan/ atau Daerah Kota.

perhubungan. Daerah/Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. perizinan. tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi. perencanaan. penanganan penyakit menular dan hama tanaman. dan perkebunan. dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 8 Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada Daerah/ Gubernur. kehutanan.Ayat (2) Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain adalah bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. alokasi sumber daya manusia potensial. dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. Ayat (3) Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD. pengendalian lingkungan hidup. dalam kedudukan sebagai Wilayah Administrasi. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi. pelatihan bidang tertentu. pelaksanaan. dan perencanaan tata ruang propinsi. sumber daya buatan. promosi dagang dan budaya / pariwisata. dan penelitian yang mencakup wilayah provinsi. Sementara itu. demikian pula mengenai perubahan batas Daerah. 58 . Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam. pengelolaan pelabuhan regional. Gubernur selaku Wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan kebijakan Pemerintah. norma. kerja sama. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Untuk menentukan batas dimaksud. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah : perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro. setiap undang-undang mengenai pembentukan Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis Daerah yang bersangkutan. dan evaluasi sesuai dengan standar. Pasal 9 Ayat (1) Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti kewenangan di bidang pekerjaan umum. Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama.

Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 59 . Oleh karena itu. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. pertamanan. antara lain. dan tata kota. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan. Ayat (2) Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing. DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah. pemadam kebakaran. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD Provinsi.Ayat (2) Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut. kebersihan.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas 60 .Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di lingkungan kerja DPRD bersangkutan.

dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk pemilihan Kepala Daerah. karena kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah. yakni : 61 . Ayat (3) Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung DPRD atau di gedung lain. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dipilih secara berpasangan. Ayat (2) Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota diberitahukan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah.

kolusi dan nepotisme. Kepala Daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia. Huruf b.diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. pemasaran. pengembangan teknologi. Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas 62 . diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. dan huruf d Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 43 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Huruf a dan huruf e Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga masyarakat. huruf c. antara lain yang berwujud korupsi. produksi. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik.

dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Budha. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas 63 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di gedung DPRD atau gedung lain. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. tembusannya dikirimkan kepada Presiden. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. tembusannya dikirimkan kepada Gubernur. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. sedangkan berakhirnya masa jabatan Bupati/Walikota. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik.Pasal 53 Ayat (1) Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur.

dijalankan. Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau meniadakan. Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati dalam proses pengangkatan Lurah. 64 . Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif kepada pelanggar. Paksaan penegakan hukum itu hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang sesuai dengan berat pelanggaran. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Ayat (1) Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur dilakukan menurut cara yang sah. Pasal 70 Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan sama kecuali untuk perubahan. Badan Pendidikan dan Pelatihan.Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan. diadakan. diambil suatu tindakan paksaan. dialpakan. yang merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. melakukan. atau ditiadakan yang bertentangan dengan hukum. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemahalan hidup. atau memperbaiki segala sesuatu yang telah dibuat. Lembaga Pengawasan. mencegah. karena paksaan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan. dan lain-lain. Apabila pelanggar tidak mengindahkannya. Badan Perencanaan. Ayat (4) Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah. Pasal 71 Ayat (1) Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan pemeliharaan hukum”. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak ditandatangani serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah.

pertambangan minyak dan gas bumi. pemindahan pegawai antar Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 65 . dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota. peraturan dan keputusan tersebut perlu dimasyarakatkan. kehutanan. Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Huruf a Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Cukup jelas Angka (3) Cukup jelas Angka (4) Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan aset Daerah dan jasa giro. Pasal 80 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang pertambangan umum. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.Pengundangan dimaksud kecuali untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan. dan pemindahan pegawai antar Daerah Propinsi atau antara Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya. Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah. dan perikanan.

menghibahkan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual. dan/atau memindahtangankan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses lebih lanjut. Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala Daerah. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan termaksud. dan lain-lain. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 81 Ayat (1) Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah. Pasal 83 Ayat (1) Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa kemudahan pembangunan prasarana. Ayat (2) Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional. 66 . yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD. lembaga komersial. Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. penyebaran lokasi industri strategis. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 82 Ayat (1) Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan undang-undang. tukar guling.Ayat (2) Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah. menggadaikan. dan/atau penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum peminjaman tersebut dilaksanakan.

Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. dan marga. masyarakat. pelaksanaan. kampung. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 67 . dan pihak swasta. penghapusan. dan/atau penggabungan Desa perlu dipertimbangkan luas wilayah. huta. Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat Desa. dan pemilikan. Yang dimaksud dengan asal usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya. bori. dan lain-lain. jumlah penduduk. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam perencanaan. Pasal 95 Ayat (1) Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat. Ayat (2) Dalam pembentukan. Pasal 94 Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa setempat. sosial budaya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah. potensi Desa. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai dengan pembiayaan. Kepala Desa dapat dibantu oleh lembaga adat Desa.Pasal 96 Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. Pasal 101 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihakpihak yang berselisih. Huruf f Cukup jelas Pasal 102 Huruf a Cukup jelas Huruf b Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat Pasal 103 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 68 . yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. serta sumber daya manusia. Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. sarana dan prasarana. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. diakhiri dengan ucapan “semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik.

dan kewenangan melakukan pinjaman. antara lain. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 106 Cukup jelas Pasal 107 Ayat (1) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa. baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban ekonomi tinggi dan dampak lainnya. kerja sama dengan pihak ketiga.Huruf d Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa. pelaksanaan tata usaha keuangan. Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Ayat (1) Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat persetujuan Badan Perwakilan Desa. dan perubahan serta perhitungan anggaran. Ayat (2) Cukup jelas 69 . Ayat (2) Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan setiap tahun meliputi penyusunan anggaran. dan Keputusan Kepala Desa. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambatlambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati. Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 104 Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan.

arahan. penghapusan. dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Pemerintah. terutama di bidang keuangan dan pemerintahan. yang terdiri atas 2 orang Wakil Daerah Propinsi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi. pelatihan. Pasal 112 Ayat (1) Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom melalui pemberian pedoman. penggabungan. serta bersikap independen sebanyak 6 orang. antar-Pemerintah Kabupaten. 2 orang Wakil Daerah Kabupaten. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 113 Cukup jelas Pasal 114 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir dilakukan selambatlambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan dari Pemerintah. sosial budaya. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. dihapus. Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan asal usul adalah asal usul terbentuknya Desa yang bersangkutan. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. dan supervisi. jumlah penduduk. Ayat (3) Cukup jelas 70 . Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian. penghapusan. luas daerah. penggabungan. dan pertimbangan lain. Pasal 115 Ayat (1) Mekanisme pembentukan. dan/atau pemekaran Daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut : Daerah yang akan dibentuk. dan 2 orang Wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. sosial politik. potensi daerah. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan.Pasal 110 Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak pembangunan tersebut. bimbingan. digabung.

Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas 71 . Ayat (2) Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan nasional.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Ayat (1) Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal usul dan peranannya dalam sejarah perjuangan nasional. sedangkan isi keistimewaannya berupa pelaksanaan kehidupan beragama. adat. dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan kebijakan Daerah. Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut. sedangkan isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini.

Ayat (2) Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah selesai dalam waktu dua tahun. Pasal 133 Cukup jelas Pasal 134 Cukup jelas ______________________________________ 72 .Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun.

b. g. bahwa keanekaragaman hayati di dunia. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. f. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan jasad renik (microorganism). khususnya di Indonesia. d. dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. tumbuhan. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem. Menimbang: a. 73 . c. memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan. yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. Pasal 11. e. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. jenis dan genetik yang mencakup hewan. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). diakui pula adanya peranan penting wanita. dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. Brazil. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI).

MOERDIONO 74 .Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.

Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. g. Inventarisasi. d. perlu terus ditingkatkan. jo Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia Tanggal 17 Pebruari 1969. merehabilitasi kerusakan lingkungan. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. A. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. e. penegakan hukum. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. terutama bagi pengembangan pertanian. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. dan ekosistem. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. f. mencerdaskan kehidupan bangsa. pemberian rangsangan. industri. perdamaian abadi. Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. dan kesehatan terus ditingkatkan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. b. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. mengendalikan pencemaran. c. antara lain. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I. dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994 ). Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. menegaskan sebagai berikut : a. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. b. jenis spesies. perdamaian abadi dan keadilan sosial. seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia ( Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. pemantauan. Sumber daya alam di darat. 75 . memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi.

Fifth Session of INC-CBD di Geneva. Kenya. Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Brazil. 15/34 tanggal 25 Mei 1989. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Brazil. dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. Kenya. Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. dengan keputusan No. Governing Council. ikut hadir pula Masyarakat Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. g. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. Kenya. pada tanggal 5 Juni 1992. Swiss. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. Kenya. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. Konferensi di Rio de Janeiro. l. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). j. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260).Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. e. Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). b. 14/17 tanggal 17 Juni 1987. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi. f. Kenya. e. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. c. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. i. Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). Sidang terakhir diadakan di Nairobi. g. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. B. yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. c. f. d. dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. Dengan demikian. Brazil. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. k. Selain negara-negara ini. h. 76 . Spanyol. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut: a. Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INCCBD) di Madrid. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992.

C. Kerja sama Internasional. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Akses pada Sumber Daya Genetik. Konservasi Ex-situ. Amandemen Konvensi atau Protokol. 22. Tindakan Insentif. Keberatan-keberatan (Reservasi). Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. Laporan. 9. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan. 30. Sekretariat. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. usul perubahan. Pengaturan Sekretariat Interim. 37. Pengertian. Pengesahan dan Lampiran Amandemen. Penelitian dan Pelatihan. 5. yaitu : 1. 8. Sumber Dana. Aksesi. 13. 42. 77 . Konservasi In-situ.Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. 14. 3. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. Teknis dan Teknologis. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. 16. Tujuan. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. 33. 7. 17. 10. 38. dan penyempurnaan. 32. Ratifikasi. Mekanisme Pendanaan. 18. Hak Suara. Selain itu. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. 19. Teks Asli b. Pengaturan Pendanaan Interim. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. 23. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. 40. Hal Berlakunya. Lampiran : Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring) . keberatan. 34. Pertukaran Informasi. 12. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. 24. Pengesahan Protokol. 6. Penarikan Diri. 4. Konsiliasi (Conciliation). Interim Financial Agreement. c. Penyelesaian Sengketa. 36. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. 2. Identifikasi dan Pemantauan. 20. 15. 41. b. 21. 28. Penerimaan atau Persetujuan. 29. 39. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. 27. yang di antaranya berisi saran. 25. Keempat resolusi tersebut ialah : a. Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. Penandatanganan. Lampiran II : Bagian 1. Lingkup Kedaulatan. Depositari. 11. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. 26. 31. Prinsip. Konferensi Para Pihak. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. 35. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. d.

78 . ilmiah atau budaya yang penting. 3. di dalam dan di luar negeri. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari. pelatihan. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. program. dan peningkatan peran serta masyarakat. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan. penyuluhan. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional. dan 3. 7. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. ilmiah dan ekonomi penting. atau mempunyai nilai sosial. Jenis dan komunitas yang terancam. II. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia. Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. d) Pengembangan pendidikan. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. 4. atau yang mewakili. c) Pertukaran Informasi. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati. 2. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi.D. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1. budaya atau ilmiah. 2. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya. Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia. mempunyai nilai penting secara ekonomi. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG . PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia.UNDANG NO. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antar sektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. pertanian atau nilai ekonomis yang lain. 8. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. 5. Dengan meratifikasi Konvensi ini. seperti halnya jenis indikator. 6.

dan hukum internasional. atas permintaan salah satu pihak. karena keadaan khusus kasus tersebut. akan : (a) Memberi sidang segala dokumen. Dalam persengketaan antara dua pihak. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. 79 . Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. bilamana perlu. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. 2. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua. dan (b) Membantu sidang. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal. dengan permintaan salah satu pihak. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka.LAMPIRAN II UNDANG . semua protokol yang berkaitan. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa. informasi dan fasilitas yang berkaitan. pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat. 3. Pasal 3 1. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini. Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut. 2. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama.UNDANG NO. sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. dengan persetujuan bersama. Pasal 2 1.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya. Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya. Bagian 2 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. 80 . Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak. Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi. Sebelum membuat keputusan akhirnya. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. Pasal 12 Keputusan. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah. Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya. Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. kecuali bilamana pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya.Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang.

81 . menetapkan prosedurnya sendiri. Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut. Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik.Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Dewan tersebut harus.

Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial. Pasal 20 ayat (1). Pasal 5 ayat (1). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. 2. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. c. g bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas. baik masa kini maupun masa depan. 82 . 5. selaras. bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Menimbang: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. d. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Mengingat: 1. f. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. e. 3. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. 4. 2. bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang. sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional.

Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. dan rekreasi. ilmu pengetahuan. dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. c. yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. 12. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. ilmu pengetahuan. dan/atau di air. perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan/atau di udara. pendidikan. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. b. 9. jenis asli dan atau bukan asli. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. satwa. pendidikan. pariwisata. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. 7. 5. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. 83 . pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan. dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar. budaya. 14. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan.3. baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Pemerintah menetapkan : a. c. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati. 16. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. ekosistem unik. 8. 10. Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. 6. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. dan rekreasi. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. pariwisata. 11. baik yang hidup di darat maupun di air. 4. 13. menunjang budidaya. b. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara. dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. 15. menunjang budidaya. BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa.

Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja sama konservasi internasional. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. suaka margasatwa. Pasal 10 W ilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan. pendidikan. (2) Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. (2) Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a. (3) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan. Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. 84 . Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. pendidikan. Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. wisata terbatas. (2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. cagar alam. juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). (3) Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. dilaksanakan melalui kegiatan : a. b. (2) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan. kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. b. Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 13 (1) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan. khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17.

melukai. (3) Pengecualian dari larangan menangkap. BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. memperniagakan. menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. menangkap. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. menyimpan. b. memelihara. b. memperniagakan. c. d. Pasal 23 (1) Apabila diperlukan. Pasal 24 (1) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. memusnahkan. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. memelihara. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. mengangkut. menyimpan atau memiliki kulit. mengambil. Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. melukai. menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam. menebang. tumbuhan dan satwa yang dilindungi. mengangkut. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. merusak. memiliki. tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. 85 . Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. memiliki. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. menyimpan. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. mengangkut. ayat (2). mengambil.Pasal 19 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. (3) Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. (2) Setiap orang dilarang untuk : a. memelihara. tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. ilmu pengetahuan. membunuh. memiliki. kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. merusak. memusnahkan. dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. b. dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. e. b. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

zona pemanfaatan. taman wisata alam.BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional. budaya. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. taman hutan raya. daya dukung. menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional. dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. taman hutan raya. Pasal 34 (1) Pengelolaan taman nasional. Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. (2) Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. taman hutan raya. ayat (2). (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). ilmu pengetahuan. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. c. 86 . menunjang budidaya. Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti. Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. taman hutan raya. dan wisata alam. BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional.dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi. taman hutan raya. taman nasional. pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. taman hutan raya. pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam. dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu. (3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. Pasal 33 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. dan taman wisata alam. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masingmasing kawasan. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. dan zona lain sesuai dengan keperluan. b. taman hutan raya. dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian. (2) Di dalam zona pemanfaatan taman nasional. pendidikan. dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. b. (3) Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi. Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional.

pemeliharaan untuk kesenangan. Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. d. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. b. berwenang untuk: a. f. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. d. budidaya tanaman obat-obatan. 87 . penelitian dan pengembangan. perdagangan.BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. h. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. peragaan. e. b. (2) Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. g. e. f. g. BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. perburuan. pengkajian. tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. membuat dan menandatangani berita acara. c. penangkaran. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. c. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. (2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. pertukaran.

(5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran. dinyatakan tidak berlaku lagi. 4.000. (3) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134).000.BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1. 100. Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. (4) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini. Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167).000. (2) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.000. Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 88 . Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati. Agar setiap orang mengetahuinya. 2.00 (seratus juta rupiah).00 (seratus juta rupiah). tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini.000. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133).000.000.00 (dua ratus juta rupiah).00 (lima puluh juta rupiah). Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733). 3. Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.000.

Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988. antara manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. baik secara masing-masing maupun bersamasama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup. Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi. maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas. yaitu : 1. dipelihara. dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari). Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Oleh karena itu. sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan. perkembangan kependudukan. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan). dilestarikan. diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundangundangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia. baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA I. dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum. dan taman wisata alam. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia. dan Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi. yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah). Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. polusi. 2. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. baik di darat. dan pemanfaatan secara lestari. ilmu pengetahuan. Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana. belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi. pengawetan 89 . taman hutan raya. 3. belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan. Untuk itu. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. yang kehadirannya tidak dapat diganti. Peran serta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. tegas. pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. alam nabati ataupun berupa fenomena alam. ilmu pengetahuan. keselarasan dan keseimbangan. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan.

sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Namun. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Cukup jelas Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar. Namun. II. pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undang-undang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia. tetapi termasuk di dalam pengertian satwa. keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin. Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. 90 .

rawa. dan areal berpolusi berat. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. dan jurang. yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). air. tebing. dan tanah. maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. bagian tertentu dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. perlu diadakan penelitian dan inventarisasi. Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. b. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). tumbuhan. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas tanah. maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak. Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung. dan lain-lain. dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. tepian sungai. areal tepi sungai. danau. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan. waduk. udara. 91 . satwa. Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari. daerah pantai. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. dan genangan air lainnya). laut wilayah Indonesia. jurang. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. daerah pasang surut. bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. c. dan jasad renik. danau. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air. daerah aliran sungai. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi. pengelolaan daerah aliran sungai. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. pemeliharaan fungsi hidrologi hutan. maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. perlindungan pantai. perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati. Pasal 6 Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia. baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif.

kewenangan penentuan kegiatan penelitian. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer. ilmu pengetahuan. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. kebakaran. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya. Namun. Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam. dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi. dan gempa bumi. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian. melihat. dan pendidikan. Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. 92 . ilmu pengetahuan dan pendidikan. maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional.perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. erosi. dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat. perburuan satwa yang berada dalam kawasan. maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami. baik sebagai kawasan hutan lain. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran. Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945. tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam. sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah.Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah. Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional.

Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah. juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat. sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif. pembuatan fasilitas air minum. maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya. dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa. Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada. baik di dalam maupun di luar negeri. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa. 93 . guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan. cara melakukan penangkapan hidup-hidup. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan. dan sebagainya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian.Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. taman safari.

Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional zona rehabilitasi, dan sebagainya. Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

94

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran), dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa. Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka melalui kegiatan penyuluhan, Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah, juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas 95

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila; b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 96

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan; b. keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. (2) Setiap orang berhak untuk: a. mengetahui rencana tata ruang; b. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 5 (1) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. (2) Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. 97

Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. (2) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undang-undang. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan, penataan ruang kawasan perkotaan, dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia; b. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi, selaras, dan seimbang antara perkembangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. (3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II; b. meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, dan interaksi lingkungan; b. tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan, serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pasal 12 (1) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. (2) Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. (3) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). (4) Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; b. aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. (2) Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya. (3) Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang, tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. 98

diatur dengan Peraturan Pemerintah. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. tata guna air. b. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. yang didasarkan atas rencana tata ruang. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. tata guna udara. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. yang meliputi: a. c. d. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. dan evaluasi. Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. kawasan budi daya. (2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. c. Pasal 18 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. pola pengelolaan tata guna tanah. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. b. mewujudkan keterpaduan. b. dan kawasan tertentu. c. 99 . penetapan kawasan lindung. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. b. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. tata guna air. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. norma dan kriteria pemanfaatan ruang. (2) Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. c. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II. kawasan budi daya. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a. BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. keterkaitan. b. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pemantauan. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warganegara.

Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. keterkaitan. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor. penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. c. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. b. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. dan tata guna sumber daya alam lainnya. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. sistem prasarana transportasi. yang meliputi : a. b. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. energi. dan kawasan lainnya. arahan kebijaksanaan tata guna tanah. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. dan prasarana pengelolaan lingkungan. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. pengairan. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi. b. pengairan. c. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. c. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. mewujudkan keterpaduan. c. d. g. d. b. b. e. pariwisata. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kawasan perkotaan. e. prasarana pengelolaan lingkungan. c. arahan pengelolaan kawasan perdesaan. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. energi. b. d. f. tata guna udara. tata cara. pertambangan. arahan pengembangan kawasan permukiman. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. telekomunikasi. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kawasan perkotaan. penatagunaan udara. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. d. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. mewujudkan keterpaduan. (6) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (4) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan. pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pedoman. d. e. pertanian. (2) Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. dan kawasan tertentu. pengelolaan kawasan perdesaan. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. tata guna air. keterkaitan. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kawasan.Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. penatagunaan tanah. dan kawasan tertentu. penatagunaan air. 100 . arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan. telekomunikasi. kehutanan. perindustrian. c. yang meliputi: a.

(2) Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan itikad baik. b. Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. 101 . mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. (2) Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undangundang ini. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. dan pelatihan. Pasal 27 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (2) Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. Lembaga. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a. (2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting. Pasal 29 (1) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. b. bimbingan. menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan. pendidikan. terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. (4) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. (3) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1).

memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168. Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no. Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 102 .13) dinyatakan tidak berlaku. Agar setiap orang mengetahuinya.BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. Oleh karena itu. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. lautan. ruang lautan. budaya. diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. dan keseimbangan. kawah gunung berapi. lapisan di bawah kerak bumi. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. Oleh karena itu. keselarasan. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinasi. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. selaras. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Dengan demikian. Secara geografis letak dan kedudukan negara Indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian. jenis kegiatan. 4. dan estetika lingkungan. tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. sosial. pertahanan keamanan. Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem. baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. budaya. Ruang meliputi ruang daratan. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati. ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. dan iklim tropisnya. maka 103 . Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. terpadu. di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. 2. pertahanan keamanan. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik. Akan tetapi. 3. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. Seiring dengan maksud tersebut. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. maka haruslah jelas batas. keselarasan. dilindungi dan dikelola. sumber daya buatan. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. UMUM 1. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG I. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. kualitas ruang. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. ekonomi. Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. hubungan manusia dengan manusia. musim. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. ekonomi. sosial. hubungan manusia dengan alam. ruang harus dimanfaatkan secara serasi. akan meningkatkan keserasian. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. fungsi lokasi.

harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. d. ruang lautan. Dengan demikian. Dengan demikian. c. perumahan dan permukiman. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. sebagai sumber energi. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. pertanahan. kepariwisataan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa. perikanan. b. jalan. Selain itu. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. dan tempat. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundangundangan mengenai perairan. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. telekomunikasi. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah teritorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah teritorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang. 104 . pembangunan daerah. dan ruang udara. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya. yang merupakan ruang di luar ruang udara. industri. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. waktu. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. sebagai obyek wisata. tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). Ruang daratan. dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. Ruang daratan. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. pemanfaatan ruang. dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. Potensi itu diantaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan. kehutanan.pelaksanaan pembangunan. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi. perhubungan. perindustrian. c. Landas Kontinen Indonesia. dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. perkotaan. pertambangan. 5. ruang lautan. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. pemanfaatan ruang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). ruang lautan. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. II. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. Dalam Undang-undang ini. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. b. pertambangan. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35. sebagai jalur perhubungan. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. perdesaan. transmigrasi. Untuk itu.

gua. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. daya dukung lingkungan. dan pertanian. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan. lingkungan sosial. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. sebaran permukiman. dan sebagainya. daya tampung lingkungan. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai. garis langit. optimasi.Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. jalan kolektor. modal. dan jalan lokal. pusat pemerintahan. dan geopolitik. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu. suaka alam. Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. jarak antar bangunan. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. industri. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. gunung dan sebagainya. danau. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. keselarasan. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor. prasarana jalan seperti jalan arteri. fungsi. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. Dalam mempertimbangkan aspek waktu. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. pusat lingkungan. 105 . ruang lingkup wilayah yang direncanakan. selaras. tempat kerja. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. antar daerah. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. Yang dimaksud dengan serasi.

dan atau ruang. hak untuk melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. siklus hidrologi. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. bahan galian. rehabilitasi. Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. industri. tempat peristirahatan. yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. fungsi lingkungan seperti wilayah 106 . dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. hak pemeliharaan taman laut. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. siklus udara. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal. dan pengendalian pemanfaatan ruang. budi daya pertanian. Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. penambangan lepas pantai. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian. tambang. memberi saran. b. daerah. perdagangan. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. ikan. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. budi daya kehutanan. hak untuk melakukan angkutan laut. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. dan lain-lain yang sejenis. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. penelitian. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan.Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. dan sebagainya. obyek wisata lingkungan. b. atau badan hukum. dan lain-lain yang sejenis. meningkatkan fungsi kawasan lindung. dan sebagainya. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang. pemanfaatan ruang. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. hak untuk mengelola pariwisata bahari. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang. kelompok orang. dan sebagainya. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. pariwisata. dan kegiatan pembangunan permukiman. Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor-faktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal. integrasi. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. dan ruang udara. keselarasan. Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi. ruang lautan.

kawasan berikat. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. b. pertanaman. kawasan sekitar danau/waduk. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. Bagi orang yang tidak mampu. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. dan kawasan rawan bencana alam. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. serta kawasan perdesaan. kawasan pantai berhutan bakau. kawasan perkotaan. dan sebagainya. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. dan kegiatan ekonomi. konservasi flora dan fauna. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. taman nasional. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. kawasan bergambut. wilayah perbatasan.resapan air. kawasan pertanian. kawasan permukiman. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. 107 . jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja. kawasan resapan air. kawasan hutan lindung. kegiatan pelayanan sosial. kegiatan pemerintahan. sempadan sungai. kawasan pertahanan keamanan. kawasan industri. c. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. kawasan tempat beribadah. taman nasional. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. kegiatan pelayanan sosial. tempat kegiatan pertanian. estetika lingkungan seperti bentang alam. Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan. Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. kawasan pendidikan. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. kawasan pariwisata. sempadan pantai. kawasan suaka alam. kawasan resapan air. taman hutan raya dan taman wisata alam. kawasan sekitar mata air. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. dan kawasan tertentu. dan kegiatan ekonomi. kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. arsitektur bangunan. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya.

Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. sosial. Kecuali kawasan tertentu. Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. taman nasional. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. pariwisata. lingkungan. baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. serta kawasan perdesaan. penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. dan kawasan tertentu. wilayah perbatasan. kawasan perkotaan. Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. dan pertahanan keamanan. kawasan hutan lindung. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. di lautan dan di udara dengan negara tetangga. kawasan resapan air. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya pertanian. Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya. wilayah perbatasan. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu. budaya. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. dan daerah latihan militer. 108 . koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1).Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. suaka alam. Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. di daratan. ekonomi.

serta fungsi pertahanan keamanan. Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. perumusan perencanaan tata ruang. atau badan hukum. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. d. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: 109 . wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. b. budaya. kedalaman rencana. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. penetapan tata ruang. kelompok orang. bertitik tolak dari data. dan fungsi wilayah serta kawasan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. informasi.Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. c. Oleh karena itu. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. sosial. agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. maka hak orang harus tetap dilindungi. Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Ayat (2) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. Dalam menjalankan peranannya itu. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional.

dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. fauna. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk 110 . penatagunaan udara. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. penatagunaan udara. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. flora. Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. udara. jaringan gas. udara. antara lain. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang. pola pengelolaan tata guna udara. antara lain. penatagunaan air. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah. udara. administrasi. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. air. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. Meskipun demikian. budi daya. air kotor. air. c. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. sumber daya buatan. dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. budaya. tata guna air. ekonomi. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. prioritas. d. dan geofisika. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. Tata guna tanah. dan estetika lingkungan. penggunaan. lingkungan alam nonhayati. jalan kereta api. penatagunaan air. teknologi. Sistem prasarana meliputi. jaringan telepon. energi surya. c. pertahanan keamanan. sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. jaringan transportasi seperti jalan raya. pengatusan air hujan. Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. lingkungan buatan. potensi meteorologi klimatologi. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. dampak terhadap lingkungan. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral. minyak bumi. udara. sosial. Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan. b. Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. pola pengelolaan tata guna air. sumber daya alam. perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. fungsi lindung. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. air. dan pemanfaatan tanah. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. air.a. energi angin. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. sistem prasarana. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. informasi. Perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa.

Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a. pemanfaatan udara. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan. hak memperoleh. Pasal 19 Ayat (1) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. pengenaan pajak yang tinggi. Dengan demikian. Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi.kepentingan masyarakat secara adil. dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. sanksi perdata. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. atau b. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. dan mempertahankan ruang hidupnya. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham. air minum. dan sanksi pidana. Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. klimatologi. dan geofisika. meskipun Undang-undang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. pemanfaatan air. ketidaktersediaan sarana dan prasarana. Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama. 111 . telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. misalnya dalam bentuk: a. Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. mengawasi. imbalan. Dalam pemanfaatan tanah. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. listrik. atau b.

Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. b. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a. 112 .000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a. pertumbuhan. b.000. daya dukung dan daya tampung lingkungan. kawasan budi daya. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar. e. pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. b. Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. c. Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. dan stabilitas. data dan informasi. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250.Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda.000. dan kawasan lainnya. dan udara. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang. laut. keanekaragaman kegiatan pembangunan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung.000. c. kawasan budi daya.000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat. dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. d. termasuk penetapan kawasan tertentu. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional. pemerataan. c. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan.000. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100.

Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batasbatas tertentu. program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan. Selanjutnya. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. d. dan stabilitas. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. daya dukung dan daya tampung lingkungan. h. c. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. pertumbuhan. e. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. pokok permasalahan kepentingan nasional. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I. data dan informasi. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Dengan demikian. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. f. i. Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun. pemerataan. Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. Meskipun demikian. g. 113 . b.

Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. energi. g. b. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. persediaan dan peruntukan tanah. e. udara dan sumber daya alam lainnya. daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. c. kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I. keselarasan dengan aspirasi masyarakat. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun. Ayat (6) Cukup jelas 114 . Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan.Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. telekomunikasi. data dan informasi. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. d. penatagunaan tanah. air. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II memperhatikan antara lain: a. penatagunaan air. pengairan. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. f. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. dan pengelolaan lingkungan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan.

kewenangan. lokasi.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). b. dan mencegah kerusakan lingkungan. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Dengan demikian. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri. menjunjung tinggi. Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. mengakui. 115 . pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. c. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. hukum adat. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. penguasaan. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan dalam kaitannya dengan besaran kawasan. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar. dan kegiatan yang ditetapkan. dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. atau kebiasaan yang berlaku. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundang-undangan. Pemilikan. mempunyai dampak penting. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya.

dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. jaringan penyediaan air baku. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. hukum adat. pemanfaatan ruang. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. jaringan air minum. dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan. penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. dan Badan-badan Pemerintah lainnya. standar dan kriteria teknis. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. jaringan air kotor. jaringan telepon.Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. Lembaga. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kualitas ruang. proses. pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang. bimbingan. Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. pemanfaatan ruang. Sebaliknya Departemen. pendidikan. prosedur. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut. jaringan pengatusan. Lembaga. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. Ayat (3) Cukup jelas 116 . serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. dan kebiasaan yang berlaku. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen. Ayat (2) Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai buktibukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain.

sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. Pada prinsipnya. pariwisata. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya. antara lain. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. pertanian. kawasan perumahan menjadi kawasan industri. untuk menghindari kevakuman. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Sebagai contoh. pemanfaatan ruang. peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuan-ketentuannya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti. dikoordinasikan oleh Menteri. industri. pariwisata. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci. perdagangan. permukiman. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang.Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. dan sebagainya. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas 117 . pariwisata. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. permukiman. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Akan tetapi. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional. dan sebagainya. lintas daerah. dan penyusunannya dilakukan secara berurutan. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya. dan terpusat. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan.

AMDAL 118 .

Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. b. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. d. 2. 3. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. 8. 10. 6. 119 . 9. 7. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. 13. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. 14. 11. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. 5. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/ atau kegiatan dimaksud. e. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. c. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa dengan diundangkannya Undang-undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 4. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . 12. Mengingat : 1. ME MUTU S KAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan.

pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. luas wilayah persebaran dampak. (2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait. serta lingkungan sosial dan budaya. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. Pasal 4 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. d. e. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. (3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya dalam 5 (lima) tahun. jenis hewan. Pasal 5 (1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : a. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. Pasal 3 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. e. h. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. b. b. (5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. g. lingkungan buatan. (2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. (3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. (4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. 120 . Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. f. terpadu atau kegiatan dalam kawasan. c. Pasal 7 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. f. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. c. dan atau mempengaruhi pertahanan negara. (2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. jumlah manusia yang akan terkena dampak. i. sifatnya kumulatif dampak. dan jenis jasad renik.Pasal 2 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/ atau kegiatan. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. d. (2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya.

organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. warga masyarakat yang terkena dampak. ahli dibidang yang berkaitan. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Komisi penilai dibentuk : a. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan.(2) Pemohon izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan instansi yang bertanggung jawab. instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. (8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. analisis dampak lingkungan hidup. (4) Dalam menjalankan tugasnya. serta anggota lain yang dipandang perlu. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. (7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. serta anggota lain yang dipandang perlu. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. organisasi lingkungan hidup di daerah. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang kesehatan. (3) Komisi penilai menilai kerangka acuan. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. ahli di bidang lingkungan hidup. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a) di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. wakil masyarakat terkena dampak. ahli di bidang yang berkaitan. di tingkat daerah : oleh Gubernur. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. ahli di bidang lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. ditetapkan oleh Menteri. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. rencana pengelolaan lingkungan hidup. 121 . komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. Pasal 10 (1) Komisi penilai daerah sebagaimana dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. (5) Dalam menjalankan tugasnya. Pasal 9 (1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup. rencana pemantauan lingkungan hidup. baik pusat maupun daerah. setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. (6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. (4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. di tingkat pusat : oleh Menteri. b) di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. Departemen Dalam Negeri. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. analisis dampak lingkungan hidup.

berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 15 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. (3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan. dengan ketentuan : a. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. (4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. c. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat. (2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. dan rencana pemantauan lingkungan hidup Pasal 17 (1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. (2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. Pasal 16 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. BAB III TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 14 (1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. b. Bagian Kedua Analisis dampak lingkungan hidup. d. rencana pengembangan wilayah. rencana pengelolaan lingkungan hidup. 122 . (2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2). dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.Pasal 11 (1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. b. Pasal 12 (1) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I.

dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. b. Pasal 19. (3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup. dan pertimbangan terhadap saran. (3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi terkait yang berkepentingan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. Pasal 19 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah (2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). diajukan oleh pemrakarsa kepada : a. Pasal 22 (1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa : a. (2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan instansi yang terkait. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). 123 . Pasal 21 (1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Gubernur dan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup. atau b. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. rencana pegelolaan lingkungan hidup. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. b. Pasal 18. dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan Pasal 20. pendapat. rencana pengelolaan lingkungan hidup.Pasal 18 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 20 (1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). dan rencana pemantauan lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri. Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. b.

Pasal 29 (1) Pendidikan. Pasal 25 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatan. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau b. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. Pasal 31 Penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. 124 . (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan dilokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Analisis dampak lingkungan hidup. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. pelatihan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Pasal 27 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya keputusan kelayakan tersebut. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pasal 24 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. (2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan peraturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 26 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup.

(2) Instansi yang bertanggung jawab menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. serta tatacara penyampaian saran. c. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. (4) Saran. 125 . (6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan tanggapan warga masyarakat yang berkaitan. pendapat. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. kesimpulan komisi penilai. b. b. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum. pendapat. (2) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. pendapat. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 35 (1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. analisis dampak lingkungan hidup.BAB V PENGAWASAN Pasal 32 (1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. Pasal 34 (1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab. saran. BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup (2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (5) Saran. Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. pendapat. analisis dampak lingkungan hidup. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur. dan rencana pemantauan lingkungan hidup di bebankan kepada pemrakarsa. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. penilaian kerangka acuan. Pasal 38 (1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pendapat.

sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan. Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 ( delapan belas ) bulan sejak tanggal diundangkan. tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini : a.(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. atau b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG 126 . Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84.

Peran masyarakat itu meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Keterlibatan warga masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP I. sejak awal perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru. Angka (3) Cukup jelas 127 . Oleh karena itu. Hal itu merupakan konsekuensi dari kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan yang timbul. UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan pembangunan. baikyang menguntungkan maupun yang merugikan. Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Dengan demikian. tetapi dilain pihak ketersediaan sumber daya alam bersifat terbatas. sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam. Oleh karena itu. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan mengubah rona lingkungan hidup. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut. pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Oleh karena itu. Konsekuensinya adalah bahwa syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan. II. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. sehingga dapat diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup. sehingga timbul tekanan terhadap sumber daya alam. Dengan keterlibatan warga masyarakat itu akan membantu dalam mengidentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan lengkap. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan merupakan kepentingan seluruh masyarakat. pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup.

Angka (4) Cukup jelas Angka (5) Cukup jelas Angka (6) Cukup jelas Angka (7) Cukup jelas Angka (8) Cukup jelas Angka (9) Cukup jelas Angka (10) Cukup jelas Angka (11) Cukup jelas Angka (12) Cukup jelas Angka (13) Cukup jelas Angka (14) Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomisfinansial. Ayat (3) Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem.Dengan ayat ini. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan. pengelolaan. dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan proses produksinya. Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi : a. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu. b. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah. 128 . berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis. analisis ekonomis-finansial. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Oleh karena itu. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi kegiatan dimaksud.

Pasal 3 Ayat (1) Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan: c. Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi : a. h. sehingga tidak bersifat limitatif. e. c. d.Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Oleh karena itu. yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. sebagai contoh seperti usaha dan/ atau kegiatan : a. Dengan demikian penyebutan kategori usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. kerusakan kawasan konservasi alam. kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. b. kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. perlu ditinjau kembali. g. pembuatan jalan. pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Oleh karena itu kriteria ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. bendungan. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lainnya. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. atau pencemaran benda cagar budaya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang. Ayat (2) Cukup jelas 129 . introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan. b. jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. f.

Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah lembaga swadaya masyarakat. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Sedangkan keputusan kelayakan lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup.Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa. ditetapkan oleh menteri yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dimaksud. Pasal 7 Ayat (1) Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan. Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. misalnya pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar. dan instansi yang ditugasi di bidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Ayat (2) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. izin penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan. Adanya wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. Ayat (2) Cukup jelas 130 . Oleh karena itu. misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. izin hak pengusahaan hutan di bidang kehutanan. khususnya pengendalian dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak lingkungan hidup di daerah. kuasa pertambangan di bidang pertambangan. tanpa izin tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. Misalnya izin usaha industri di bidang perindustrian. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Keadaan darurat ini tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Keadaan Darurat. Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung resiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. Ayat (2) Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup.

eksploitasi minyak dan gas. industri petrokimia. Ayat (3) Cukup jelas 131 . industri telekomunikasi. Ligitan dan Celah Timor Huruf (d) Cukup jelas Huruf (e) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pembangkit listrik tenaga air.Pasal 11 Ayat (1) Huruf (a) Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan keamanan negara misalnya : pembangkit listrik tenaga nuklir. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jeias Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. kerangka acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. pembangunan bendungan. industri kapal. penilaian secara teknis. penambangan uranium. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Dalam hal usaha dan/ atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau kegiatan terpadu/ multisektor. serta komponenkomponen parameter lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. yaitu proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting. industri bahan peledak. industri baja. maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat. bandar udara. sampai ditetapkannya keputusan. pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi. pelabuhan dan rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dianggap strategis. penilaian oleh komisi penilai. Huruf (b) Cukup jelas Huruf (c) Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya: rencana usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan. Berdasarkan hasil pelingkupan. industri alat-alat berat. industri senjata. kilang minyak. industri pesawat terbang. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan.

dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan keputusan kepada instansi yang berwenang. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I . dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. Oleh karena itu. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. demikian pula sebaliknya. cara memantau dampak besar dan penting tersebut. Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. sampai dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup. yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. penilaian secara teknis. penilaian oleh komisi penilai. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan umum. hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Dengan mengetahui dampak besar dan penting itu dapat ditentukan : a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan b. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II.Ayat (4) Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan umum. yang dicantumkan dalam rencana pemantauan lingkungan hidup. Kerangka acuan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas 132 . dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik pula. cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar dan penting positif. rencana pengelolaan lingkungan hidup.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. sehingga rona lingkungan hidup yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Oleh karena itu.Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. 133 . dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah diterbitkan menjadi batal. Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau bantuan lainnya. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup.

antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. melalui media cetak dan/atau media elektronik. kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan. pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi. Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian mengenai analisis dampak lingkungan hidup. dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas 134 .Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Saran. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lokasi akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan. menjadi tanggungan pemrakarsa. Ayat (5) Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam penyusunan kerangka acuan. Ayat (2) Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan. Ayat (6) Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan sekurangkurangnya. misalnya.

b. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. f. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Mengingat : 1. Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. d. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 Tentang Kedudukan. 4. 2. Susunan Organisasi. Kewenangan. 7. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). 135 . bahwa salah satu upaya pembinaan tersebut dapat berupa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa daerah saat ini membutuhkan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) untuk pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. dan Tata Kerja Menteri Negara. 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). h. sejalan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). g. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Tugas. bahwa Menteri Negara Lingkungan Hidup berwenang untuk menetapkan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. bahwa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) seperti tersebut pada huruf c. bahwa pembinaan usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berada pada pemerintah. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. e. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Fungsi. 3. 5. c. bahwa mengingat hal-hal seperti tersebut di atas. Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090). Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).

pemrakarsa wajib menyempurnakan dan atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah Kabupaten/Kota. (2) Dalam hal terdapat kekurangan informasi yang disampaikan dalam formulir isian tentang UKL dan UPL dan memerlukan tambahan dan atau perbaikan. (3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib menerbitkan rekomendasi tentang UKL dan UPL kepada pemrakarsa paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah diperbaiki oleh pemrakarsa. c. rencana usaha dan atau kegiatan. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. yang proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Propinsi dan atau lintas batas negara. (2) Izin yang diterbitkan oleh pejabat dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tembusannya wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertangung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota sesuai kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dampak lingkungan yang akan terjadi. Pasal 2 (1) Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib melakukan UKL dan UPL. tanda tangan dan cap. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Kabupaten/Kota. Pasal 8 (1) Pejabat dari instansi yang berwenang wajib mencantumkan syarat dan kewajiban yang tercantum dalam program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pasal 3 dalam formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berisikan informasi: identitas pemrakarsa. c. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib memberikan rekomendasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. 136 . (2) UKL dan UPL wajib dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan formulir isian seperti terlampir dalam Keputusan ini. Pasal 4 Pemrakarsa mengajukan formulir isian tentang UKL dan UPL kepada: a. Di a. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi. di dalam izin melakukan usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota.2. Pasal 7 Pemrakarsa mengajukan rekomendasi tentang UKL dan UPL dari pejabat instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada instansi yang berwenang sebagai dasar penerbitan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. e. Pasal 6 Dalam hal formulir isian tentang UKL dan UPL tidak memerlukan perbaikan. b. 3. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib berkoordinasi dengan instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan untuk melakukan pemeriksaan formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. d. Pasal 5 (1) Berdasarkan formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. b.

Pasal 9 Dengan berlakunya keputusan ini. Pasal 10 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. MPA. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dinyatakan tidak berlaku lagi. ttd Nabiel Makarim. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan Dan Kelembagaan Lingkungan Hidup. 137 . Hoetomo.. ttd. MPA. MSM. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 28 Oktober 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup.

6.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). 3. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). c. maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pertama Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. 5. Ketiga Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. tetapi karena daya dukung. daya tampung. 138 . 2. Kedua Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. Mengingat : 1. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan dalam skala/ besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kelima Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Keenam Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Hukum Lingkungan. maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd. Sudharto P. Hadi 139 . Dr. Kedelapan Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan. Ketujuh Dengan berlakunya keputusan ini. A.Keempat Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan.

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 Tahun 2001 TANGGAL : 22 Mei 2001 JENIS RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. Pendahuluan Jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan : a. Potensi dampak penting Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan: 1. Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2. Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang AMDAL. b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul. 2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup A. Bidang Pertahanan dan Keamanan Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan skala/besaran berikut berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah

Skala/Besaran Semua besaran *

Alasan Ilmiah Khusus Beresiko terjadinya ledakan saat perjalanan dan saat penyimpanan yangmembahayakan penduduk walaupun sudah memiliki standard operating procedure (SOP) penanganan bahan peledak. * Kegiatan pengerukan dan reklamasi berpotensi mengubah ekosistem laut dan pantai. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair dan sampah padat. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan pesawat. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan latihan tempur berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan akibat ledakan. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan penyiapan lahan (land clearing) di areal yang cukup luas untuk pangkalan, landasan pacu, dan bangunan penyangga menyebabkan perubahan ekosistem. * Kegiatan latihan berpotensi menyebabkan kebisingan.

2

Pembangunan Pangkalan TNI AL

Kelas A dan B

3

Pembangunan Pangkalan TNI AU

Kelas A dan B

4

Pembangunan Pusat Latihan Tempur

Luas > 10.000 ha

5

Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri

Luas > 10.000 ha

140

B.

Bidang Pertanian Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas air, persebaran hama, penyakit dan gulma, serta perubahan kesehatan tanah akibat penggunaan pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan penyebaran penyakit endemik. Skala/besaran yang tercantum di bawah ini telah memperhitungkan potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam. Skala /besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang, dan tinggi. Skala/Besaran Luas > 2.000 ha Alasan Ilmiah Khusus * Lihat penjelasan di atas

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tanaman pangan dan hortikultura semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan

2

Luas > 5.000 ha

*

Lihat penjelasan di atas

3

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

4

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

141

C.

Bidang Perikanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang, ikan, dan pembangunan pelabuhan perikanan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam. Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan dari tumbuhtumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya

Skala/Besaran Luas > 50 ha

Alasan Ilimiah Khusus * Rusaknya ekosistem mangrove yang menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan ( nursery areas) akan mempengaruhi tingkat produktivitas daerah setempat. Beberapa komponen lingkungan yang akan terkena dampak adalah: kandungan bahan organik. perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah phytoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Berpotensi menimbulkan konflik sosial. Perubahan kualitas perairan. Pengaruh perubahan arus dan penggunaan ruang perairan. Pengaruh terhadap estetika perairan.

*

*

2

Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system): a. Di air tawar (danau) - Luas - Atau jumlah b. Di air laut - Luas - Atau jumlah

* * > 2,5 ha > 500 unit * > 5 ha > 1.000 unit *

3

Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum dan memenuhi kriteria sebagai berikut: - Panjang dermaga - Atau mempunyai Kawasan Industri Perikanan dengan luas - Atau kedalaman perairan di dermaga

> 300 m > 10 ha > -4 m LWS

Berpotensi menimbulkan dampak berupa: penurunan kualitas air, penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik sosial, pergeseran pola penyakit, dan dampak potensi limbah cair dan padat yang dihasilkan.

142

D.

Bidang Kehutanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam dan potensi konflik sosial. Skala/Besaran Semua besaran * Alasan Ilmiah Khusus Pemanenan pohon dengan diameter tertentu berpotensi merubah struktur dan komposisi tegakan, satwa liar dan habitatnya.

No. 1

Jenis Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHK)

2

Usaha Hutan Tanaman

> 5.000 ha

*

Usaha hutan tanaman dilaksanakan melalui sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), dimana untuk penyiapan lahannya dilaksanakan secara mekanis menggunakan alat berat.

E. No. 1.

Bidang Kesehatan Skala/Besaran Kelas A dan B atau yang setara * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3 / radioaktif dan potensi penularan penyakit.

Jenis Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

F.
No. 1

Bidang Perhubungan
Skala/Besaran > 25 km * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, k e b i s i n g a n , g e t a r a n , gangguan pandangan, ekologi, d a n d a m p a k sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar kegiatan serta membutuhkan area yang luas. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan kestabilan lahan (land subsidence), air tanah serta gangguan berupa dampak terhadap emisi, lalu lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, gangguan jaringan prasarana sosial (gas, listrik, air minum, telekomunikasi) dan dampak sosial di sekitar kegiatan tersebut. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi dan ekologi yang lebih luas dari batas tapak kegiatan itu sendiri. Kegiatan ini juga akan menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran sungai. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi, ekosistem, kebisingan dan dapat mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai (coastal processes). Berpotensi menimbulkan dampak terhadap

Jenis Kegiatan Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api - Panjang Pembangunan Stasiun Kereta Api

2

Stasiun kelas besar dan/atau kelas I

*

3

Konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan tanah

Semua besaran

*

4

Pengerukan alur pelayaran Sungai - Volume

* > 500.000 m3

5

Pembangunan pelabuhan dengan salah satu fasilitas berikut: a. Dermaga dengan konstruksi masif - Panjang > 200 m - Atau luas > 6.000 m2 b. Penahan gelombang (Break water/talud) - Panjang > 200 m c. Prasarana pendukung pelabuhan (terminal, gudang, peti kemas, dll)

*

*

*

143

- Luas

> 5 ha

*

d.

Single Point Mooring Boey - Untuk kapal

* > 10.000 DWT

*

6

Pengerukan: a. Capital dregging - Volume

* > 250.000 m3

b.

Maintenance dregging - Volume

> 500.000 m3

*

7

Reklamasi (pengurungan): - Luas - Atau Volume

* > 25 ha > 5.000.000 m3

ekosistem, hidrologi, garis pantai dan batimetri serta mengganggu proses-proses alamiah yang terjadi di daerah pantai. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar area yang luas. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan alur pelayaran, perubahan, batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai terutama apabila yang dibongkar muat minyak mentah yang berpotensi menimbulkan pencemaran laut dari tumpahan minyak Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri,ekosistem,dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai dan membutuhkan waktu 3 -6 bulan Berpotensi menimbulkan dampak terhadap sistem geohidrologi, hidrooseanografi, dampak sosial, ekologi, perubahan garis pantai, kestabilan lahan, lalu lintas serta mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai.

8

Kegiatan penempatan hasil keruk (dumping) a. Di darat: - Volume - Atau luas area dumping b. Di laut

> 250.000 m3 > 5 ha Semua besaran

*

Menimbulkan terjadinya perubahan bentang lahan yang akan mempengaruhi ekologi, hidrologi setempat. Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut yang akan menimbulkan dampak sosial. Termasuk kegiatan yang berteknologi tinggi, harus memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak berupa kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara.

*

9

Pembangunan bandar udara baru beserta fasilitasnya

Semua besaran ( kelas I * s.d. V) beserta hasil studi rencana induk yang telah disetujui *

10

Pengembangan bandar udara beserta Kelas I, II, III, berdasarkan * rencana pengembangan fasilitasnya (rencana induk, rencana tata letak, dll) *

11

12

Perluasan bandar udara beserta/atau fasilitasnya: a. - Pemindahan penduduk - Atau pembebasan lahan b. Reklamasi pantai: - Luas - Atau Volume ruangan c. Pemotongan bukit dan pengurugan lahan dengan volume Pemasangan kabel bawah laut

* >200 KK > 100 ha > 25 ha > 100.000 m3 > 500.000 m3 Semua besaran * * *

*

Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif ( misalnya terumbu karang). Pengoperasian kabel bawah laut rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh, penambangan pasir.

144

G. pencucian pulp. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas (0.900 Kcal/ton). Al203FeO2) dengan radius 2-3 km. Berbagai potensi pencemaran. termasuk daerah penyangga. 2 Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan pulp dari industri kertas budaya) Semua besaran 145 . SiO2. tanah.NOx) dari pembakaran energi batubara.2 ha/1000 ton produk). minyak dan gas. * Kebutuhan energi cukup besar baik tenaga listrik (110-140 KwH/ton) dan tenaga panas (800 .limbahgas (H2S. pemasakan serpihan kayu. Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar. * Proses pembuatan pulp meliputi kegiatan penyiapan bahan baku. Beberapa jenis industri yang sudah memiliki teknologi memadai untuk mengatasi dampak negatif yang muncul.NOx. Bidang Perindustrian Kegiatan bidang perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air. pemutihan pulp (bleaching) dan pembentukan lembaran pulp yang dalam prosesnya banyak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga berpotensi menghasilkan limbah cair (BOD.2 Mw/ 1000 ton produk). penggilingan batubara (coalmill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (Rotary Klin and Clinker Cooler). * Kebutuhan air cukup besar (3. Beberapa jenis industri menggunakan air dengan volume sangat besar. dimana.TSS). limbah gas CO 2. lumpur kering). bau. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (tailing). Jenis Kegiatan 1 Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri semen dengan Proses Klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan.COD. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas. * Tenaga kerja besar (+ 1-2 TK/3000 ton produk).S02. SOx. serat pulp. No. sehingga tidak termasuk dalam daftar berikut. 1 Bidang Teknologi Satelit Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus * Kegiatan ini memerlukan persyaratan lokasi yang khusus dan teknologi canggih * Bangunan peluncuran satelit dan fasilitas pendukung. yang diperoleh baik dari sumber air tanah ataupun air permukaan. debu ( CaO. udara. tetapi menggunakan areal yang luas tetap wajib dilengkapi dengan AMDAL (nomor 15). dan getaran. tertutup bagi masyarakat.Cl2) dan limbah padat (ampas kayu. Teknologi Satelit: -Pembangungan fasilitas peluncuran satelit H. gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut di atas menimbulkan dampak sosial. No. limbah cair (sisa cooling mengandung minyak lubrikasi pelumas).5 ton semen membutuhkan 1 ton air). terdapat proses penyiapan. * Tenaga kerja besar. * Kebutuhan energi besar (0. gangguan kebisingan. bahan baku (raw millprocess).

Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. COD. SOx. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2 dan NOx). Cr. SO2) debu berupa scale (2-3% dari total produk per hari). Zn. baja bloom dan baja slab) Semua besaran 5 Industri pembuatan timah hitam (Pb) dasar (termasuk industri daur ulang) Semua besaran 6 Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/ katoda tembaga (bahan baku dari Cu konsentrat) Semua besaran Alasan Ilimiah Khusus Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah hasil tambang mineral (kondensat) terdiri dari Pusat Olefin yang mengkasilkan Benzena.5 ton produk). Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar adalah industri yang mengolah konsentrat bahan tambang. NH4Cl) dan limbah sisa katalis bekas yang bersifat B3. Pb. Pb. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang cukup luas. * Tenaga kerja cukup besar (1000 ton produk/ TK). peleburan dengan tungku-tungku bertemperatur tinggi dan elektrolisa. besi kasar/pig iron. Proses pembuatannya melalui pemisahan konsentrat. Ni. F. paduan besi/alloy. limbah cair (Fe. * Kebutuhan energi relatif besar (1 Kwh 0. Cd).No. Sn. * Kebutuhan energi relatif besar (264 ribu Mwh/ tahun). Cu. As. Hg. O2 dan tail gas dengan parameter Zn. Propilena dan Butadiena serta Pusat Aromatik yang menghasilkan Benzena. H2S. Xylena. besi spons. N2. * Kebutuhan air untuk proses pendinginan dan elektronika relatif besar (air bersih 5000 m3/ hari dan air laut 3. * Kebutuhan air cukup besar (untuk pendingin 1 l/dt/1000 ton produk). batubara ataupun bahan bakar dengan proses pembakaran sampai dengan temperatur 1600 derajat Celcius. * Kebutuhan air untuk pendingin relatif besar (> 1000 m3/hari). Hg. limbah cair (TSS. Ni. Umumnya dampak yang ditibulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang luas. * Tenaga kerja cukup besar. Cd. ingot baja. dan Etil Benzena. Cu. Jenis Kegiatan 3 Industri petrokimia hulu Skala/Besaran Semua besaran 4 Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making) meliputi usahan pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pallet bijih besi. BOD. Cd. gas (NO x. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang cukup luas. Hg). Pb. limbah padat gipsum dan slag (Fe.Toluena. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2. pellet baja. * Kebutuhan energi relatif besar (6-7 Kw ton produk) disamping bersumber dari listrik juga energi gas. debu (SiO2). * Tenaga kerja besar.3 juta m3/hari). Proses pembuatannya melalui proses peleburan yang menghasilkan limbah gas beracun dan debu (partikulat) dan proses peredaman yang menghasilkan limbah cair dengan kadar asam yang tinggi. limbah cair (minyak dan scale). TDS & TSS). 146 . As. * Potensi berbagai limbah (termasuk B3): limbah padat (basic slag). Se. Zn. Industri pembuatan besi dasar dan baja adalah merupakan industri yang mengolah besi bekas (steel scrap) atau konsentrat biji besi yang menggunakan tungku-tungku pembakaran baik menggunakan energi listrik. Se.

* Tenaga kerja sangat besar.75 l/dt/ha. * Kebutuhan energi relatif besar (+ 295 ribu Mwh/hari). * Pengadaan dan pengoperasian alat alat berat.55 – 0.000 DWT 10 Industri pesawat terbang Semua besaran 11 Industri senjata. * Gangguan kebisingan dan getaran.000 m3/hari).NO2. * Kebutuhan energi listrik cukup besar baik dalam kaitan dengan jenis pembangkit ataupun trace jaringan (0.1 Mw/Ha). Pembuatan kolam graving ini dilakukan dengan mengeruk laut yang dikhawatirkan akan menyebabkan longsoran atau pun abrasi pantai. NH3.No. munisi dan bahan peledak merupakan industri yang dalam proses produksinya menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat B3. * Kebutuhan air yang sangat besar untuk proses pendinginan (+ 17. * Potensi berbagai jenis limbah dan cemaran yang masih prediktif terutama dalam hal cara pengelolaannya. pelapis bekas). * Kebutuhan pemukiman dan fasilitas sosial. disamping kegiatannya membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi. SO2 & HF) dan debu Kawasan industri (industrial estate) merupakan lokasi yang dipersiapkan untuk berbagai jenis industri manufaktur yang masih prediktif. Industri pesawat terbang merupakan industri strategis berteknologi tinggi yang membutuhkan tingkat pengamanan (security) yang tinggi. * Bangkitan lalulintas. lebar 40 m. * Mobilisasi tenaga kerja (90 – 110 TK ha). sehingga dalam pengembangannya diperkirakan akan menimbulkan berbagai dampak penting antara lain disebabkan: * Kegiatan grading (pembentukan muka tanah) dan runoff (air larian). 8 Kawasan Industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi) Semua besaran 9 Industri galangan kapal dengan sistem graving dock > 4. 7 Jenis Kegiatan Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri pembuatan aluminium dasar merupakan industri pembuatan batangan aluminium yang menggunakan bahan baku bijih alumina yang dilakukan melalui proses peleburan. pengecatan lambung kapal dan bahan kimia B3) maupun limbah gas dan debu dari kegiatan sand blasting dan pengecatan. Dampak penting yang ditimbulkan berasal dari: * Pengadaan lahan untuk bangunan pabrik dan landasan pacu. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas untuk bangunan pabrik dan fasilitas penunjang. Industri senjata. dan kedalaman 15 m dengan sistem sirkulasi. * Potensi limbah yang dihasilkan (termasuk B3): padat (dross. elektrolisa dan pencetakan. Perbaikan kapal berpotensi menghasilkan limbah cair (air ballast. munisi dan bahan peledak Semua besaran 147 . gas (H2S. * Kebutuhan air bersih dengan tingkat kebutuhan rata-rata 0. Sistem graving dock adalah galangan kapal yang dilengkapi dengan kolam perbaikan dengan ukuran panjang 100 m. cair (air spray dengan kadar Flour tinggi dan air pendingin mengandung minyak).

mengingat merkuri ini bersifat B3 yang mempunyai efek mutagenik. lead part (pencetakan bagian-bagian aki dari timah hitam). luas .Kota besar. Bidang Prasarana Wilayah Kegiatan pembangunan dan pengadaan prasarana wilayah umumnya berfungsi untuk melayani kepentingan masyarakat.Tinggi > 15 m * * Termasuk dalam kategori “large dam ” (bendungan besar). Zn. Urban: . bekas kemasan). gas (proses finishing dengan parameter Pb dan formation parameter sulfat. * Potensi limbah dari proses produksi seperti limbah cair (pH. limbah cair (Zn.Kota kecil. air dan tanah. Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri baterai kering yang diperkirakan menimbulkan dampak penting adalah yang menggunakan bahan baku merkuri (Hg). Cr. luas b. COD. * Konflik sosial. peleburan dan pencetakan timah hitam sebagai bahan aktif sel).No. Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Bendungan/Waduk atau Jenis Tampungan Air lainnya: .Kota sedang. * Kegiatan produksi. pengangkutan. 148 . Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. Mn & NH3). CO. sedangkan pembakaran COx. 12 Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg) 13 Industri baterai basah (akumulator listrik) Semua besaran 14 Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi material yang digolongkan bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 15 Kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 s/d 14 Penggunaan areal: a.pengemasan.Metropolitan. formation\ (merupakan proses elektrolisa) dan assembling. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (sludge B3. * Kebutuhan air relatif besar (+ 270 m3/hari) baik untuk proses maupun domestik. * Penurunan kualitas lingkungan. luas . TDS. NOx. * Berpotensi menimbulkan pencemaran udara. penyimpanan. TSS. pasting (pembuatan pasta dengan H2SO4 pekat). I. lead powder (proses pembentukan bubuk Pb). tingkat kepadatan bangunan per hektar. * Daya dukung lahan. * Kebutuhan air relatif besar baik untuk proses (pembuatan pasta dan pemasakan baterai) maupun domestik (170 m3/hari). Potensi konflik yang timbul sangat berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk karena umumnya membutuhkan lahan yang luas dan seringkali mengubah tata guna lahan. limbah debu dan gas (H2S. Pb dan Cd). luas Semua besaran > 5 ha > 10 ha > 15 ha > 20 ha > 30 ha Umumnya dampak yang ditimbulkan berupa: * Bangkitan lalulintas. SO2. dan limbah padat (sludge dari IPAL dan bekas kemasan bahan penolong). * Kebutuhan energi listrik cukup besar. teratogenik dan karsinogenik terhadap manusia.perdagangan danpembuangannya memerlukan persyaratan khusus. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. kapasitas resapan air tanah. Pada umumnya proses produksi lengkap dimulai dari grid casting (persiapan. NH3. Hg. dll. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. Rural/pedesaan. Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No. Sulfat & Pb). NOx dan SO2). luas . seperti daya dukung tanah.

Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak.000 ha * * * b. sehingga diperlukan kajian khusus untuk pengembangan kawasan pantai yang mencakup rentang lebih dari 500 m dari garis pantai. dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak negatif akibat perubahan ekosistem pada kawasan tersebut.Panjang . Membutuhkan pembebasan lahan yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan.Atau volume pengerukan Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan.Atau luas genangan > 200 ha * * * 2 Daerah Irigasi a. > 10 km > 500. Akan mempengaruhi pola iklim mikro pada kawasan sekitarnya dan ekosistem daerah hulu dan hilir bendungan/waduk. Peningkatan dengan luas tambahan > 1. Kota Besar/Metropolitan . Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Pencetakan sawah. dan gangguan.* . Pembangunan pada rentang kawasan pantai selebar > 500 m berpotensi mengubah ekologi kawasan pantai dan muara sungai sehingga berdampak terhadap keseimbangan ekosistem yang ada.000 ha * * * c. Pembangunan baru dengan luas * * > 2.000 ha * 4 Pembangunan Pengaman Pantai dan perbaikan muara sungai: . Mengakibatkan perubahan pola iklim mikro dan ekosistem kawasan. dampak sosial.Atau volume pengerukan > 5 km > 500. Mengakibatkan mobilisasi tenaga kerja yang signifikan pada daerah sekitarnya.000 m3 * * c.000 m3 * * b. Berpotensi mengubah ekosistem dan iklim mikro pada kawasan tersebut dan berpengaruh pada kawasan disekitarnya. dan gangguan.Panjang . sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Gelombang pasang laut (tsunami) di Indonesia berpotensi menjangkau kawasan sebesar 500 m.000 m3 * * 149 . dampak sosial. Kota Sedang . baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pelaksanaan. Selalu memerlukan bangunan utama (headworks) dan bangunan pelengkap (oppurtenants structures) yang besar dan sangat banyak sehingga berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. luas (perkelompok) 3 Pengembangan Rawa: Reklamasi rawa untuk kepentingan irigasi > 500 ha * * * > 1. Dampak pada hidrologi.Jarak dihitung tegak lurus pantai * > 500 m * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. dan gangguan.Atau volume pengerukan > 15 km > 500. 5 Normalisasi Sungai dan Pembuatan Kanal Banjir a. Memerlukan alat berat dalam jumlah yang cukup banyak. Dampak pada hidrologi.Panjang . Memerlukan bangunan tambahan yang berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Perubahan Tata Air. Mengakibatkan mobilisasi manusia yang dapat menimbulkan dampak sosial. Kegagalan bendungan pada luas genangan sebesar ini berpotensi mengakibatkan genangan yang cukup besar dibagian hilirnya. Berpotensi mengubah sistem tata air yang ada pada kawasan yang luas secara drastis. Pedesaan .

dan gangguan kesehatan. TPA di daerah pasang surut. Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). bau. dan gangguan kesehatan.6 a.luas c.000 orang. termasuk fasilitas penunjangnya b. > 10 km Berpotensi menimbulkan dampak hidrologi dan persoalan keterbatasan air. luas > 25 ha > 50 ha > 100 ha 10 a. Pembangunan jaringan distribusi > 2 ha > 3 ha * * Setara dengan layanan untuk 10..000 ton > 1. gangguan visual dan dampak sosial. udara. * Setara dengan kota kecil-sedang/kota kecamatan. > 500 ha > 5 km * Setara dengan 17.Panjang . * Setara dengan kota kecil. gangguan visual dan dampak sosial. emisi yang tinggi. dampak kebisingan. getaran.Atau luas c.000 ton Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi).Panjang b.Panjang 12 Jaringan air bersih di kota besar/metropolitan a. Kota Besar/Metropolitan . Pembangunan transfer station . Pembangunan Jalan Tol b. Dampak kebauan dan gangguan visual. getaran. Dampak potensial berupa bau.000 orang. Kota metropolitan. Pembangunan saluran di kota besar/metropolitan . getaran. gas beracun. 150 . * Daya dukung lahan. dampak kebisingan. Pedesaan . dampak kebisingan.Luas landfill . luas b. . * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan). dampak kebisingan. 7 > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. seperti daya dukung tanah.Luas . dll. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan saluran di kota sedang . emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) limbah domestik termasuk fasilitas penunjangnya c. emisi yang tinggi.000 ton / hari Semua ukuran Dampak potensial adalah bahaya banjir dan perubahan pola air. bau. gas beracun. emisi yang tinggi. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. * Limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman. Bangkitan lalu lintas. getaran. Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. luas layanan 11 Drainase Permukiman a. kapasitas resapan air tanah. tingkat kepadatan bangunan per hektar. perubahan tata air. getaran. * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia). getaran. Kota Sedang . gas beracun. Pembuangan dengan sistem control landfill / sanitary landfill (diluar B3) .atau peningkatan jalan dengan pelebaran diluar daerah milik jalan a. udara.Atau luas b. 9 Pembangunan Perumahan/Permukiman a. dan gangguan kesehatan. Pembangunan Jalan Layang dan Subway Pembangunan dan.Kapasitas d. Berpotensi menimbulkan dampak meningkatnya kepadatan lalulintas. TPA dengan sistem open dumping Semua besaran > 2 km Bangkitan lalu lintas. * Tingkat kebutuhan air sehari-hari.Atau kapasitas total b. emisi yang tinggi. * Dampak kebauan dan gangguan visual. Kota besar.Panjang Persampahan a.000 sambungan. kebisingan.Atau kapasitas total c. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas. Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPTL). > 30 km 8 > 10 ha > 10. Kota sedang dan kecil.Panjang . dampak kebisingan. * Isu utama adalah perubahan fungsi lahan. Pembangunan sistem perpipaan air limbah. * Setara dengan layanan untuk 10. > 5 ha > 5.

14 > 5 ha > 10. Olahraga.Atau bangunan > 500 ha > 10 km * * > 250 I/dt Besaran diperhitungkan berdasarkan: * Pembebasan lahan * Daya dukung lahan * Tingkat kebutuhan air sehari-hari * Limbah yang dihasilkan * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran. mata air permukaan.000 orang.000 ton/th (ROM) > 200. dll) * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan) * Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Khusus bagi pusat perdagangan/perbelanjaan relatif terkonsentrasi dengan luas tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak penting: * Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi). sifat mudah terurai tersebut menyebabkan Pb mudah tersedia secara biologis ( bioavailable). * Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. * Daya dukung lahan. getaran apabila menggunakan peledak. kebisingan. Batubara/gambut b. Kesenian. * Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiangtiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar. tingkat kepadatan bangunan per hektar.000 ton/th (ROM) > 150. termasuk pengolahan. sungai.000 ton/th (ROM) > 250. * Dalam lingkungan perairan. atau sumber air permukaan lainnya . > 250. Bahan galian radioaktif. Setara kebutuhan air bersih 200. penambangan dan pemurnian 2.Panjang Pengambilan air dari danau. Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara.Luas layanan b. Setara kebutuhan kota sedang. penambangan dan pemurnian Semua besaran 151 . Tempat Ibadah.000 m2 15 Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk/ transmigrasi: . Pendidikan.13 . Pusat Perdagangan/ perbelanjaan relatif terkonsentrasi . Bahan galian timbal.000 m3/th (ROM) Semua besaran Sampai saat ini bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir. No A 1 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Skala/Besaran * > 200 ha > 50 ha (kumulatif/tahun) * Alasan Ilmiah Khusus Dampak penting terhadap lingkungan antara lain: merubah bentang alam. * Produksi sampah. kapasitas resapan air tanah. Jenis Kegiatan PERTAMBANGAN UMUM Luas perizinan (KP) Atau luas daerah terbuka untuk pertambangan *) *) Untuk menghindari bukaan lahan terlalu luas Tahap eksploitasi produksi: a. * Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung. Bijih Primer c.Jumlah penduduk yang dipindahkan . seperti daya dukung tanah.Luas lahan .Atau luas lahan > 200 KK > 100 ha J.Debit pengambilan Pembangunan Pusat Perkantoran. ekologi dan hidrologi. Bijih Sekunder/Endapan Alluvial d. serta dampak dari limbah cair yang dihasilkan. polusi udara. Berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh: * Pembebasan lahan. keterkaitannya dengan masalah pertahanan dan keamanan menjadi alasan mengapa kegiatan ini wajib dilengkapi AMDAL untuk semua besaran. Oleh sebab itu. Pembangunan jaringan transmisi . dll. termasuk pengolahan. * Tingkat kebutuhan air. kebisingan. selain dampak penting yang dapat ditimbulkan. f. * Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C e.

* Kegagalan bendungan (dam break). limbah bahang dll) serta air tanah. * 2.000 BOPD a. mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial dan gangguan kesehatan.Atau aliran langsung (kapasitas daya) > 15 m > 200 ha > 50 MW 5. 1. ekonomi dan budaya terutama pada pembebasan lahan dan keresahan masyarakat Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik kimia. Pencemaran udara. Biomassa dan Gambut) C. ekonomi dan budaya. * Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut.Aspek fisik-kimia. Pembangunan PLTA dengan: . Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. air. Lapangan gas > 30 MMSCFD 2. Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik-kimia.Tinggi bendung . terutama pada pembebasan lahan. ³ 10 MW Angin. Pembangunan pusat listrik dari jenis lain (Surya. air dan tanah.Atau luas genangan . * Aspek sosial. * Membutuhkan areal yang sangat luas.3. MINYAK DAN GAS BUMI Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di darat > 5. Berpotensi menimbulkan dampak pada: . . Memerlukan lokasi khusus dan berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. B. Pertimbangan ekonomis. Potensi kerusakan ekosistem. Lapangan minyak b. mengganggu alur pelayaran dan proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. air tanah dan udara. akan mengakibatkan gelombang banjir (flood surge) yang sangat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya. * Termasuk dalam kategori “large dam” (bendungan besar). Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk.Aspek flora fauna. Potensi ledakan. terutama pada pembebasan lahan. Potensi ledakan. ekonomi dan budaya. terutama pada kualitas udara (emisi. * Dampak pada hidrologi (kapasitas daya). air dan tanah. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. * Aspek flora fauna. Melakukan Submarine Tailing Disposal Semua besaran 5. * Dampak kebisingan. Eksploitasi dan pengembangan Uap Panas Bumi > 55 MW dan atau Pembangunan Panas Bumi 4. * * * * * * * * * * * * * * Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. ambient dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas.Aspek sosial. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. Pencemaran udara. 1. Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berpotensi menimbulkan pencemaran air permukaan. ekosistem. * Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. . Perubahan Ekosistem laut. Pembangunan PLTD/PLTG/PLTU/ PLTGU > 100 MW 3. Melakukan pengolahan bijih dengan proses Semua besaran sianidasi KETENAGALISTRIKAN > 150 KV Pembangunan jaringan transmisi Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. ekosistem. Pertimbangan ekonomis. Pertimbangan ekonomis. Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Semua besaran laut 152 . Pencemaran udara. Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi * Aspek sosial. ekonomi dan budaya. Potensi ledakan. * Aspek sosial. * Dampak visual (pandang). * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. Tambang di laut Semua besaran 4.

Berpotensi menghasilkan limbah gas. Skala/Besaran > 100 ha Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. Berpotensi mengubah ekosistem yang lebih luas. gangguan lalu lintas. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. bentang alam dan potensi konflik sosial. dan sampah. limpasan air permukaan (run off). aksesibilitas lalu lintas. berpotensi menghasilkan limbah gas H2S Potensi konflik sosial. Membutuhkan area yang cukup luas. dan sampah. 1. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang) > 10.000 ton/th D. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Merupakan industri strategis. kebutuhan air yang besar. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan fungsi lahan/kawasan. No 1 2 Jenis Kegiatan Taman Rekreasi Kawasan Pariwisata 3 4 Hotel: Jumlah kamar Atau luas bangunan Lapangan golf (tidak termasuk driving range) > 200 unit > 5 ha Semua besaran 153 . padat dan cair yang cukup besar. Berpotensi menimbulkan dampak dari kegiatan laundry. pembebasan lahan. hidrologi.Atau diameter pipa * * > 50 km > 20 inci * * b. Pengoperasian pipa rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh. K. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. sumur tanah dalam dan mata air) * * > 50 l/dt (dari 1 * sumur. serta kebutuhan air yang relatif besar. Membutuhkan area yang cukup luas. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Pembangunan kilang: LPG LNG > 50 MMSCFD > 550 MMSCFD * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya apabila melalui daerah pemukiman penduduk. bangkitan lalu lintas dan sampah. Pembangunan kilang minyak > 10. Merupakan industri strategis. Di darat . padat dan cair yang cukup besar. GEOLOGI TATA LINGKUNGAN Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal. Pemanfaatan lahan yang tumpang tindih dengan aktifitas nelayan dianggap cukup luas lintas kabupaten/kota juga dapat mengganggu aktifitas nelayan. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Berpotensi menimbulkan dampak dari penggunaan pestisida/ herbisida. Pelaksanaan konstruksi dapat meningkatkan erosi tanah. Potensi intrusi air laut. padat dan cair yang cukup besar. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya terhadap kegiatan/aktifitas nelayan. Bidang Pariwisata Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem.000 BOPD 6. Potensi konflik sosial. Membutuhkan area yang cukup luas.Panjang . Potensi konflik sosial. Merupakan industri strategis. Di laut Semua besaran * * * * 4. atau dari 5 * sumur dalam area <10 ha) Pembebasan lahan cukup luas (dapat lintas kabupaten/ kota). Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Ada potensi perambahan ROW oleh kegiatan atau aktifitas penduduk. Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) a. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. tambang pasir dan alur pelayaran.3. Khusus LNG. penambangan pasir. Berpotensi menghasilkan limbah gas. pembebasan lahan.

pemanfaatan timah dan “ flux solder”). Akumulasi panas memungkinkan terjadinya kebocoran radiasi ke lingkungan. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. Apabila air pendingin berkurang volumenya akan menyebabkan akumulasi panas di tempat penyimpanan sumber. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. terutama kegiatan yang dipastikan akan mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam tabel. hewan. Dr. Bidang Pengembangan Nuklir Secara umum. * Transportasi. 2. Jenis Kegiatan Introduksi jenis-jenis tanaman. Pengolahan dan pemurnian uranium Pengolahan limbah radioaktif Pembangunan Iradiator (Kategori II s/d IV) e. kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan resiko radiasi.000 TBq (100. Proses produksi menggunakan thorium (Th) yang memiliki radiotoksisitas yang sangat tinggi. menetap dan mengelola berbagai jenis dan sifat limbah B3 (tidak termasuk kegiatan skala kecil seperti pengumpulan minyak pelumas bekas. * Dampak radiasi pada tahap decomisioning (pasca operasi). komersial. Reaktor Penelitian b. Fabrikasi bahan bakar nuklir Produksi > 50 elemen bakar/ tahun Produksi > 100 ton yellow cake/tahun Semua instalasi Aktivitas sumber > 37. Skala/Besaran Semua kegiatan yang bersifat jasa pelayanan. d.L. c. pemanfaatan. Semua tahapan dalam proses berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan dalam bentuk radiasi. Membutuhkan air pendingin yang telah didemineralisasi dalam kolam beton. Pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor a. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. pengolahan dan/atau penimbunan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai kegiatan utama N. fabrikasi bahan bakar nuklir selalu memiliki kapasitas minimal 50-100 elemen bakar/ tahun. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem genetika berpotensi menimbulkan dampak terhadap Salinan sesuai dengan aslinya Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No 1 Jenis Kegiatan Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir: a. Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1 Jenis Kegiatan Pengumpulan. 2. Reaktor Daya (PLTN) Daya > 100 KWt Semua instalasi Potensi dampak pengoperasian reaktor penelitian dengan daya <100 KWt terbatas pada lokasi reaktor. M. Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial. A.000 Ci) b. * Keamanan konstruksi. Sonny Keraf 154 . * Beresiko tinggi. Produksi kaos lampu Semua instalasi Semua instalasi Secara teknoekonomik. minyak kotor dan “slop oil”. ttd. dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Semua besaran Lihat penjelasan diatas Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional (konvensi Basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat seksama dan terkontrol. penyimpanan dan pembuangan bahan baku dan sisa-sisa bahan radioaktif. Produksi Radioisotop f.

Daftar Singkatan: m m2 m3 km km2 ha l dt Kw Kwh KV Mw Mwh Kcal TBq Ci BOPD MMSCFD kubik per hari LWS DWT KK TK KP ROM LPG LNG ROW BOD COD DO TSS TDS = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = meter meter persegi meter kubik kilometer kilometer persegi hektar liter detik kilowatt kilowatt hour kilovolt megawatt megawatt hour kilocalorie Terra Becquerel Curie barrel oil per day = minyak barrel per hari million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki low water sea = di bawah permukaan laut dead weight tonnage = bobot mati kepala keluarga tenaga kerja kuasa pertambangan raw of material = bahan mentah Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan Right of way = daerah milik jalan (damija) biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi dissolved oxygen = oksigen terlarut total suspended solid = total padatan tersuspensi total dissolved solid = total padatan terlarut . 155 .

Pertama Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Mengingat : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 21 Pebruari 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kedua Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Undang-ungang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 2. 156 . 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional. A. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838).KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). S. Dr. ttd Najib Dahlan. ttd.H. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU.

Mengingat salah satu cara sistematis untuk memasukkan pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangungan sosial ekonomi adalah melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). ini berarti bahwa perkembangan kota akan banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan terpadu ini diharapkan dapat : 1) Mengendalikan cara pembukaan lahan di kawasan pengembangan permukiman terpadu sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya. telah menghadapi dilema. Berdasarkan Pusat Data Properti Indonesia Tahun 1995 diketahui. Pembangunan kota cenderung berskala mega atau super dengan intensitas yang tinggi.1. Sejak memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua. Kedua.Ini menimbulkan ancaman yang makin berat terhadap keberlanjutan ekosistem (sosial dan alam) kota yang sudah makin rapuh. perkembangan kota di Indonesia menunjukkan lima ciri pokok yang menonjol. yaitu pembangunan kawasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya terus meningkat. maka penyusunan studi tersebut di dalam merancang permukiman terpadu menjadi sangat strategis. Sedang disamping kebutuhan prasarana dan sarana penunjang. Oleh karena. 157 . pemasok air baku untuk kebutuhan penyediaan air minum. maka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan oleh pengembangan permukiman terpadu diperkirakan akan berbeda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya. Pengembangan permukiman terpadu di Indonesia dikhawatirkan mengeksploitasi lahan-lahan agraris. Oleh karena proses tersebut dapat dicapai dengan mengorbankan fungsi ekosistem seperti hilangnya kesuburan tanah. Ketiga Perkembangan ekonomi kota terus tinggi. kota di Indonesia memainkan peran yang makin penting. Hal yang kemudian perlu diingat adalah bahwa mutu yang baik dari studi AMDAL sangat bergantung pada kemampuan tim studi melakukan impact assesment. jauh diatas rata-rata nasional maupun propinsi. dan flora fauna yang berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem. perubahan iklim mikro. 3) Memberikan panduan dan pemahaman kepada penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kegiatan pengembangan permukiman terpadu. Bangunan lama terlalu mudah dianggap tidak efisien dan oleh karena itu perlu diremajakan yang sekaligus akan menghilangkan nilai sejarah dan kekhasan kota yang bersangkutan. 1. pengendali banjir. peran kota lama makin nampak terancam oleh pertimbangan kepentingan ekonomi yang sempit. Dalam banyak hal keadaan ini menghabiskan sawah dan tambak (pantai) yang sudah didukung oleh prasarana dasar. bahwa lahan yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut makin luas. pencemaran dan penurunan potensi lahan. Atas dasar analisis yang baik tentang keterkaitan antara jenis dan tahapan kegiatan pembangunan permukiman terpadu dengan karakteristik dari ekosistem yang diperkirakan akan menerima dampak ini kemudian segenap dampak diantisipasi dan dikelola secara optimal. Proses yang terdiri dari proses identifikasi.LATAR BELAKANG Pengembangan wilayah berdasarkan konsep permukiman terpadu.2 MAKSUD DAN TUJUAN Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan. secara mikro ada peningkatan kualitas lingkungan akibat tertata dengan baik. Ciri Keempat. Pertimbangan pembangunan kota sudah terlalu didominasi oleh pertimbangan manfaat ekonomi saja dengan mendudukkan pertimbangan-pertimbangan lain hanya menjadi pelengkap. 2) Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan permukiman terpadu sebagai penyangga kehidupan yang bermakna penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan permukiman terpadu khususnya. Dengan dasar ciri dinamika sistem lingkungan yang bersifat “site specific”. prakiraan dan evaluasi dampak. PENJELASAN UMUM 1. Pertama. dan lahan yang memiliki fungsi lindung. Oleh karena itu. kota makin terlibat di dalam ekonomi global. Aglomerasi daerah urban menjadi ciri yang makin menonjol. sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan secara makro. yang didasari dengan pendekatan terhadap pembinaan terhadap struktur dan fungsi ekosistem. serta masyarakat di sekitar kawasan permukiman terpadu. penyusunan AMDAL bagi berbagai kegiatan (proyek) pengembangan pemukiman terpadu. Persoalannya kemudian rasional ekonomi yang menganggap bahwa di satu sisi lahan ini akan sangat berguna dan tinggi nilainya bila dikembangkan sebagai perumahan kelas menengah ke atas.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 4 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000 PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU BAB I. mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan teknologi yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik. Di samping itu. pada tahun 2010 diperkirakan paling sedikit setengah dari kependudukan Indonesia akan berdiam di kota dan kecenderungan ini tidak akan berbalik kembali. pembangunan yang terkonsentrasi ini akan menimbulkan masalah lingkungan yang juga intensif. apabila dampak yang ditimbulkan tersebut tidak diantisipasi dan dikelola secara optimal dikhawatirkan hal ini akan menjadi unsur pembangunan sosial ekonomi yang mengabaikan kemampuan sistem alam (ekosistem). pembangunan kota makin menunjukkan sifatnya sebagai komoditi yang selalu mengejar nilai tambah.

1 PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. KONSEP PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU 2.1. Kegiatan Konstruksi . Angka luas ini kelak dapat disesuaikan mengikuti peraturan yang berlaku. Kegiatan Permukiman Terpadu PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PENYUSUNAN ANDAL PENYUSUNAN RKL DAN RPL KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1. khususnya Pasal 21 telah menetapkan penyelenggaraan lingkungan siap bangun (Lisiba). Dalam pembahasan konsep undang-undang ini disebutkan bahwa konsep kawasan siap bangunan atau kasiba (Pasal 18 ayat 1) terdiri dari beberapa lingkungan perumahan (Pasal 18 ayat 2 b). baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan dan sarana lingkungan yang terstruktur. Lahan Kering. Walaupun hingga kini belum ada ketentuan jelas. PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi. Sebagai suatu panduan. Secara skematis. permukiman terpadu secara cermat.1. maka segenap metode yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. diperlukan pengetahuan tentang struktur dan ekosistem lahan basah dan lahan kering di kawasan pembangunan permukiman terpadu yang terkena dampak.1 Pendekatan sistem dalam penyusunan AMDAL pengembangan pemukiman terpadu BAB II. juga menjelaskan komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan. Informasi ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat teridentifikasi sedini mungkin. identifikasi dampak potensial. Kepadatan penduduk dan permukiman terpadu belum ditetapkan secara pasti. Kemudian diikuti oleh panduan proses penyusunan Kerangka Acuan ANDAL kawasan permukiman terpadu (Bab IV) yang menjelaskan mengenai proses pelingkupan. Selain itu. Dengan sendirinya kawasan ini merupakan kawasan yang utuh baik langsung menempel pada kota yang ada maupun masih ada jarak yang berupa ruang terbuka atau tidak. Jadi permukiman terpadu perlu 158 . panduan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Hidup (RPL) disajikan pada Bab VI. Oleh karena itu. sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL pembangunan permukiman terpadu seperti pada Gambar 1. memprakirakan dan mengevaluasi dampak lingkungan akibat kegiatan pengembangan. penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Kegiatan Pra-Konstruksi . Selanjutnya. namun permukiman terpadu utamanya adalah sebuah permukiman yang menurut UU No 4/ 1992 tersebut (Pasal 1) adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung.3. panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan konsep pembangunan permukiman terpadu (Bab II). Pegunungan) STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN KEGIATAN . sampai pada pemusatan dampak penting dan issue pokok lingkungan. STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN LINGKUNGAN Struktur Ekosistem/Komponen Lingkungan : · Fisik – Kimia · Biologi (Flora dan Fauna) · Sosek/Sosbud/Kesmas Fungsi ekosistem (Lahan Basah. maka dari beberapa diskusi luas Lisiba perumahan sebesar 200 hektar sedangkan kasiba mencapai sampai 1000 hektar. tetapi akan berkisar dari 150 orang per hektar bagi permukiman yang berada di dalam kawasan yang mempunyai ciri lingkungan yang kuat (semi urban) sampai yang mencapai kepadatan hingga 350 orang per hektar bagi yang sepenuhnya merupakan permukiman urban. Proses tentang penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) disajikan dalam Bab V. Mengingat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang tersebut hingga kini belum terbit. dan kegiatan permukiman terpadu kaitannya dengan pembangunan regional (Bab III).

Ada 5 (lima) prinsip utama dari konsep perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan yang harus dikembangkan sesuai kondisi awal yang ada. batu bata. sejauh ini yang diperhatikan adalah dampak pasca konstruksi dalam bentuk kemacetan lalu lintas. Kawasan Darmo Satelit di Surabaya ternyata berlangsung lebih cepat sebab kawasan ini boleh dikatakan adalah permukiman terpadu pertama di Surabaya. Hal ini memang menjadi kesulitan tersendiri sebab dampak yang hendak dikelola sangat tergantung dari waktu dan tempat. (5) Peningkatan pemahaman konsep lingkungan Permukiman terbentuk melalui proses yang berlangsung terus. Di Jakarta keadaannya paling parah. mutu kehidupan yang lebih baik dan sebagainya. perlu dicari jalan untuk membuatnya tetap serasi dan seimbang dalam arti yang seluas-luasnya. cara membangun dan rancangan bentuk dapat berpengaruh terhadap kebutuhan energi baik jangka pendek maupun panjang. 2. Di samping dampak yang bersifat langsung seperti diuraikan di atas. Depok dan sebagainya. Dapat dibayangkan pemborosan energi dan waktu yang ditimbulkan hanya oleh satu dampak ini di samping pencemaran terhadap udara dan rusaknya ekosistem di kawasan antara permukiman terpadu dan kota lama yang nilainya sulit diukur. terhadap permukiman terpadu seperti Kebayoran Baru. (2) Penggunaan energi yang minimal Baik rencana makro maupun mikro perumahan dan permukiman harus memanfaatkan sistem iklim yang ada (secara pasif) dan perancangan bangunan yang memanfaatkan prinsip yang sama ditambah dengan sistem radian yang dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan dengan sistem pasif.perencanaan pembangunan dan tata ruang yang lengkap dan sah serta dilengkapi dengan perumahan serta dukungan prasarana dan sarana yang menjamin penyelenggaraan perumahan serta kebutuhan hidup dan lapangan kerja yang berskala bulanan. (3) Pengendalian limbah dan pencemaran Limbah yang harus dikendalikan mulai dari yang dihasilkan oleh jamban dan kamar mandi. Kaidah dan pola dari warisan budaya dan pola hidup ini harus menjadi dasar awal untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan baru yang diciptakan oleh pembangunan yang maju dan berhasil yang merupakan proses berlanjut.000 trip truk besar dengan nilai total sekitar Rp. Pemilihan bahan bangunan. Namun hingga kini konsep perumahan atau permukiman yang bersahabat dengan lingkungan belum pernah dirumuskan secara jelas. Kawasan Driyorejo di Barat Daya Surabaya mengalami tahap persiapan lebih dari dua puluh tahun. Klender. positif dan negatif. Dalam keadaan sepi (seperti antara Natal dan Tahun Baru) waktu tempuh nyata paling lama hanya empat puluh menit atau sepertiga waktu “normal”. Berbagai dampak ini harus diketahui setepat dan sedini mungkin untuk dirancang cara-cara penanganan dan penanggulangan terhadap dampak yang merugikan. perlu ditambah unsur ekosistem baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang memperkaya peran ekosistem secara keseluruhan. Bila pengurugan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Di samping itu. Limbah ini harus terkelola dengan baik dan jelas dengan prinsip produksi bersih. (4) Menjaga kelanjutan sistem sosial-budaya lokal Gaya hidup yang berlaku sudah secara mantap diterjemahkan ke dalam berbagai tatanan dan bentuk bangunan serta peralatan yang dipakai sehari-hari. kayu. Masalahnya pengembangan permukiman terpadu sering sulit ditentukan skala waktu rampungnya proses pembangunan. Bila ada sebuah kawasan seluas seratus hektar. Sekarang para pengembang menawarkan permukiman terpadu yang berwawasan lingkungan. Walaupun bila dibandingkan dengan Kebayoran Baru atau Klender dan Depok. Kawasan yang luasnya sekitar 2000 hektar selesai dibangun dalam waktu sekitar 20 tahun yang dikerjakan oleh lebih sepuluh pembangun perumahan (developer) dibandingkan dengan di Jakarta yang hanya dikerjakan oleh sebuah perusahaan saja. Kalau 2400 truk tersebut digandeng maka panjangnya 159 . budaya dan berbagai pemborosan. dari Klender ke pusat kota pada hari dan jam kerja biasanya membutuhkan waktu paling sedikit dua jam untuk pergi atau pulang. utamanya yang berkaitan dengan pengadaan bahan urugan dan bahan bangunan konvensional seperti pasir. Dalam perkembangan proses ini selalu akan terjadi pergantian pemukim baik secara alami melalui proses lahir dan mati. bahan bakar fosil dan sebagainya. seperti perubahan nilai. di samping sebagai kawasan perumahan dapat pula berfungsi sebagai wilayah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi regional. pada tahap konstruksi timbul dampak yang dualistis. baru sekitar 200 hektar dikatakan telah “selesai” dibangun. yaitu: (1) Mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada Termasuk di dalamnya adalah berlanjutnya ekosistem yang ada. maupun karena mobilitas penduduk antara yang datang dan pergi. Kini bagian ikutannya yang mulai dibangun oleh Perum Perumnas bagi RS dan RSS sebanyak 3000-4000 unit rumah tinggal yang akan selesai tahun 1996. maka secara “normal” akan dibutuhkan sebanyak 215. Perubahan yang dilakukan terhadap unsur ekosistem karena adanya pembangunan gedung atau prasarananya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari unsur ekosistem yang tidak terusik. Tidak semua dampak bersifat merugikan. tiap hari akan terjadi perjalanan truk sebanyak 2400 atau tiap hari kerja (delapan jam) akan lewat 300 truk. Fungsi terakhir ini tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pertumbuhan permukiman terpadu di Indonesia. dan hal yang mendukung untuk memantapkan dan mengembangkan bagi dampak yang positif. dapat dibayangkan dampak lalu lintas yang ditimbulkannya. sebab ada cukup banyak dampak yang bersifat menguntungkan seperti terciptanya lapangan kerja baru. 65 milyar. dapur. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pembangunan ini. dan sebagainya. rumah sampai akibat dari pemakaian berbagai peralatan listrik. banyak dampak yang berskala regional yang tidak langsung nampak.2 RENCANA KEGIATAN PERMUKIMAN TERPADU KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN REGIONAL Sesuai dengan uraian di atas. Permukiman terpadu tumbuh. Bumi Serpong Damai (BSD) selama lebih lima belas tahun eksistensinya. Darmo Satelit. Sedangkan terhadap dampak yang dualistis seperti naiknya harga lahan. Di samping itu.

Kegiatan yang mendukung kehidupan manusia dalam suatu permukiman terpadu dapat diletakkan pada daerah budidaya yang telah dituangkan dalam pola kebijaksanaan dasar daerah. lembaga pendidikan. Pembangunan ini akan mendukung pengembangan regional Jawa Timur di mana kota-kota di sekitar akan ikut memanfaatkan keberadaan kota Taman Dayu. Misalnya didaerah Pasuruan Jawa Timur. Dengan demikian pelestarian. agar fungsi lindung tetap terjaga. kegiatan sosial yang ditawarkan dengan adanya fasilitas-fasilitas sosial di permukiman terpadu. air bersih. akan memudahkan dan mempercepat hubungan antara permukiman terpadu dengan kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. Kelembagaan yang harus ada menyertai dibangunnya permukiman terpadu adalah kelembagaan pemerintahan. misalnya lembaga pemerintahan. 160 . baik permukiman. Hutan wisata berfungsi sebagai tempat wisata. fungsi lindung dapat merupakan cagar alam hutan lindung suaka marga satwa. Permukiman terpadu yang dibangun harus dapat tetap melestarikan fungsi lindung dari desa-desa atau kawasan lindung di sekitarnya. Permukiman terpadu beserta kota-kota pertumbuhan di sekitarnya dapat bersama-sama dalam membangun perkembangan regionalnya. namun merupakan daerah yang dilindungi. demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. misalnya: pengembangan wisata di kawasan lindung harus diatur agar tidak berlawanan dengan tujuan perlindungan. saluran air buangan dan pengeringan (drainase) serta tempattempat pembuangan sampah. hutan buru dan taman laut. dan di sisi lain permukiman terpadu pun dapat tetap berkembang dalam mendukung pengembangan regional yang telah direncanakan sesuai dengan RUTRD. hutan wisata. Dalam daerah wisata yang intensif dapat dibangun fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel. 2.2. hendaknya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang telah ada yang pada saat itu harus diemban oleh kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. karena dapat pula dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di sekitar permukiman terpadu. dan terciptalah hubungan perekonomian dengan permukiman terpadu.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman terpadu yang dibangun dan merupakan pusat pertumbuhan baru. Jaringan infra struktur ini.1 Kaitan permukiman terpadu terhadap pengembangan regional Salah satu dasar yang harus dijadikan pertimbangan dalam pengembangan permukiman terpadu adalah bahwa kegiatan permukiman terpadu harus dapat mendukung kebijaksanaan dasar daerah mengenai pelestarian fungsi lindung dan keseimbangan budidaya daerah setempat. yaitu Perkampungan Serbaguna Tarnan Dayu.sekitar 20 kilometer. dapat terpacu karena dibangunnya jaringan infrastruktur pendukung. Kelembagaan yang dibentuk ini akan saling berhubungan dengan kelembagaan-kelembagaan lain yang telah ada dalam kota-kota pertumbuhan lain di sekitar permukiman terpadu untuk melayani seluruh penduduk serta untuk mengelola permukiman terpadu. penduduk dari daerah sekitar dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh permukiman terpadu. baik di peta maupun di lapangan. dengan dibangunnya permukiman terpadu. Perkembangan regional. Dalam hal perekonomian. fasilitas pertokoan dan rekreasi. dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dibangun dalam permukiman terpadu. Berkembangnya berbagai institusi ini. fasilitas pendidikan dan fasilitas wisata. 2. Dari uraian di atas terlihat. lembaga swasta.2. telepon. fungsi-fungsi lindung ini harus dijaga dan jangan sampai menjadi fungsi yang lain. fungsi lindung dan keseimbangan budidaya suatu daerah akan tetap terjaga. Dengan hadirnya kawasan permukiman terpadu ini diharapkan daerah disekitarnya juga dapat berkembang dan memperoleh dampak positifnya.2. karena itu harus jelas. antara lain adalah jaringan transportasi. dan kepolisian. kawasan perumahan yang dikembangkan di Surabaya mencapai sekitar 2000 hektar dan tanah urug umumnya diambil dari Porong. Namun fungsi daerah Taman Dayu untuk melindungi hidrologi harus tetap terjaga. Selain itu. sehingga penduduk dari daerah sekitar dapat memperoleh lapangan kerja baru. lembaga perbankan. swasta. bahwa setiap pembangunan perumahan dengan pembukaan lahan seluas 200 hektar perlu melakukan kajian dampak regional yang dilakukan secara teliti. Kegiatan-kegiatan perekonomian dapat sebagian beralih ke permukiman terpadu. Daerah sekitar diharapkan juga dapat memasok berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan permukiman terpadu. Maka terjadilah hubungan sosial antar permukiman terpadu dengan daerah sekitarnya. sekitar 60 kilometer selatan Surabaya. misal desa-desa di sekitar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja. lapangan golf. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Padahal saat ini. telepon dan air bersih. rencana kebijaksanaan dasar daerah adalah mengembangkan daerah wisata di daerah pegunungan. 2. diharapkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengatur berputarnya roda pemerintahan suatu permukiman terpadu. listrik. Misalnya hutan lindung dan cagar alam berfungsi untuk melindungi hidrologi. permukiman terpadu dapat menunjang tumbuhnya perekonomian baru yang dampaknya dapat dirasakan secara regional. dan lain-lain. Menurut Soemarwoto (1985). Hal ini sangat penting karena pola kebijaksanaan dasar daerah merupakan arahan yang harus dianut. restoran kolam renang. Penduduk di permukiman terpadu dan kota-kota pertumbuhan lain dapat memanfaatkan kegiatan perekonomian.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman yang dibangun harus dapat berperan sebagai pendukung perkembangan kota-kota lain di sekitarnya. hendaknya dapat menimbulkan dampak positif terhadap daerah di sekitarnya. jaringan listrik. Batasan kawasan lindung akan merupakan hal yang sangat penting. Daerah untuk wisata yang intensif harus dibedakan dari daerah wisata terbatas. Kelembagaan yang berkembang dengan adanya permukiman terpadu. seperti jaringan transportasi. kelembagaan perbankan. batas-batas ini dapat menghindari sengketa dan dapat menjadi pegangan bagi pengelola kawasan lindung. perindustrian dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas permukiman terpadu.

lapangan sepak bola dan seterusnya. seperti kegiatan perdagangan. industri dan fasilitas kesehatan. atau ekosistem pegunungan dengan ekosistem pantai. misalnya: golf.4 URAIAN TENTANG KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN Kegiatan sentral dalam pengembangan permukiman terpadu adalah kegiatan dalam kawasan permukiman karena dapat terkait dengan kegiatan dalam kota. dapat terletak lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya. jaringan pematusan kota. (9) Kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan rumah sakit. Permukiman terpadu yang mempunyai kegiatan yang bersifat regional juga dapat terletak dalam suatu gabungan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. wisata air atau wisata alam yang lain. seperti: jaringan listrik. balai-balai pertemuan. pihak yang berwenang dapat mengatur dan mensyaratkan agar permukiman terpadu yang dibangun akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat desa di sekitarnya. 2. tenis. 2. pendidikan. (3) Kegiatan perekonomian dan perdagangan. sedangkan skalanya dapat berupa kota kecil. renang dan sebagainya yang membutuhkan adanya lapangan golf. yang merupakan suatu kesatuan kegiatan dalam permukiman terpadu yang harus disusun AMDALnya. jembatan.5 UKURAN DAN SKALA PERMUKIMAN TERPADU Seperti disebutkan dalam pendahuluan.6. Untuk itu keberadaan permukiman terpadu hendaknya juga dapat memberikan jasa dan lapangan kerja bagi penduduk yang berubah mata pencahariannya. laboratorium klinis dan lain-lain. sarana sosial. Ukuran luas permukiman terpadu dapat berkisar 1 antara 200 sampai lebih dari 5000 ha. atau terletak dalam satu tipe ekosistem. kegiatan perdagangan dapat dimiliki oleh pihak lain (swasta) seperti pertokoan.Kemungkinan penduduk di desa-desa sekitar permukiman terpadu akan berubah pola mata pencahariannya dari sektor agraris ke sektor perkotaan. 2. telepon. (10) Kegiatan untuk pengamanan kota dan angkatan bersenjata. kota sedang maupun kota besar. (5) Kegiatan olah raga dan rekreasi.3 KEGIATAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Kegiatan-kegiatan yang biasa terdapat dalam permukiman terpadu dan keterkaitan antar kegiatan dalam permukiman terpadu antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. maka dalam pengembangan kawasan permukiman terpadu hendaknya mencakup dan mengikuti 3 (tiga) kriteria yaitu: kriteria ekosistem. misalnya kantor polisi atau kemungkinan juga terdapat latihan atau pendidikan untuk angkatan bersenjata tertentu. Penciptaan lapangan kerja di sektor non pertanian dalam permukiman terpadu harus mendapatkan perhatian yang serius. apotek. Kota kecil dapat meliputi luas 200 sampai 1000 ha.2 Kriteria pemrakarsa Dalam kegiatan yang bersifat regional. 51 Tahun 1993 telah disebutkan bahwa kegiatan yang bersifat regional. misalnya dalam permukiman terpadu. dan kriteria sektor yang berwenang.1 Kriteria ekosistem Dalam PP No. pelabuhan. (2) Kegiatan sosial masyarakat dalam fasilitas-fasilitas sosial yang dibangun taman-taman. ukuran dan skala permukiman terpadu tidak selalu sama. dan tempat pembuangan sampah. agar dapat memberikan bantuan mata pencaharian baru bagi penduduk di sekitar permukiman terpadu. (6) Kegiatan pariwisata. atau mungkin terminal udara dan pelabuhan laut. jalan kota. misalnya: jalan tol. jalan-jalan lingkungan. (4) Kegiatan transportasi. kriteria pemrakarsa. Misalnya. terminal kota. sedangkan kegiatan perdagangan lain dapat dimiliki 161 . daerah konservasi dan wisata buatan. misalnya: kebun binatang. pergudangan. Di samping itu. pertokoan. misalnya ekosistem pegunungan. Hal ini hanya mungkin terjadi bila para pemrakarsa permukiman terpadu mempunyai komitmen sosial. 2. plaza. misalnya: pendidikan formal dan informal yang memerlukan gedung-gedung sekolah. Suatu permukiman terpadu akan selalu dilengkapi dengan permukiman sebagai tempat hunian. sepak bola. balai pengobatan. Misalnya penghuni permukiman akan selalu terkait dengan jalur transportasi. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas banyak yang termasuk dalam daftar wajib AMDAL sebagaimana disebutkan dalam lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. (7) Kegiatan pendidikan. hotel. pariwisata. tempat bermain. kota sedang meliputi > 1000 ha sampai 5000 ha dan kota besar meliputi luas > 5000 ha. (8) Kegiatan industri kecil maupun besar dengan bangunan industri disertai dengan fasilitas pengolah limbah.6 KRITERIA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Mengacu pada ukuran dan skala permukiman terpadu. 2. air bersih. misalnya: pasar. Kriteria-kriteria dimaksud adalah : 2. sesuai dengan definisi kota yang biasa dipakai oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam menilai kebersihan kota dalam memperoleh Adipura. Dengan demikian maka dalam AMDAL untuk permukiman terpadu akan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saling terkait dengan ukuran dan skala tertentu. olah raga dan rekreasi. yang menghubungkan permukiman ke tempat-tempat kegiatan lain.6. Tetapi belum tentu suatu permukiman terpadu akan mempunyai kegiatan pariwisata atau industri atau kegiatan pelabuhan. masing-masing usaha dan/ atau kegiatan dapat dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa.

Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. Pembangunan gedung olah raga. iii. listrik. iv. Adapun metoda identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Daftar uji sederhana. Pembangunan terminal dan transportasi angkutan. Penelaahan pustaka. (2) evaluasi dampak potensial. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. dimiliki oleh pemerintah. Pada tahap ini hanya akan diinventarisir dampak yang potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. i. Pengalihan aliran air. Hasil langkah 1 1. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. misalnya: Departemen Pekerjaan Umum akan mengatur dan bertanggung jawab untuk jembatan. Penggalian saluran air. Pembuatan taman kota dan tempat bermain. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. Pembangunan pasar. Demikian juga dengan kawasan wisata yang ada dalam permukiman terpadu.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. vi. Pembuatan tempat pembuangan sampah. Bank Indonesia. BRI. dan pembangunan jalan lingkungan. Pembangunan perumahan. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. BAB III. 162 . Pembangunan pergudangan.oleh pemerintah. Jadi permukiman terpadu akan selalu ditangani dan dikelola oleh lebih dari satu instansi. iv. Pemadatan. b) Kegiatan pembebasan lahan. iv.6. Pembangunan lapangan golf. pemrakarsa kegiatan. Seperti yang telah disebutkan dalam kajian teori (Bab II) yang berwenang mengatur kegiatan dalam suatu permukiman terpadu akan terdiri lebih dari satu instansi. Analisis isi (content analysis). ii. Departemen Perindustrian akan bertanggung jawab untuk industri-industri kecil maupun besar yang ada dalam kawasan tersebut. iii. lokakarya. Pengamatan Lapangan. peta vegetasi. 3. usaha dan/atau kegiatan yang ada dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. 2) Kegiatan konstruksi. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). dapat dimiliki oleh pihak pemerintah maupun swasta. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial bagi aktivitas proyek pengembangan permukiman terpadu Langkah 1 Buat daftar rencana usaha dan/atau kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu berikut dengan rencana pembangunannya menurut persebaran ruang dan waktu. ii. Diperoleh daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1) Kegiatan pra-konstruksi. jalan tol. seperti pelabuhan dimiliki oleh Perum Pelabuhan. Matriks interaksi sederhana. seperti: peta rencana umum tata ruang daerah. dan telepon. iii. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/1992 tentang Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL untuk informasi yang lebih rinci. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab.1. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. serta masyarakat (tokoh-tokoh) yang berkepentingan. peta tata guna tanah. peta sistem lahan. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah-langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. BNI. dan (3) pemusatan dampak penting. Interaksi kelompok (rapat. ii. brainstorming.3 Sektor yang berwenang Masing-masing usaha dan/atau kegiatan dalam suatu wilayah yang mempunyai dampak regional seperti permukiman terpadu. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan. dan lain sebagainya. pintu pintu air dan kesehatan lingkungan permukiman. v. instansi yang bertanggung jawab. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Jadi ada batasan bahwa dalam permukiman terpadu. pengerasan. dan lain-lain). atau penting tidaknya dampak. sekunder. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. 2.1 Identifikasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL 3. yang meliputi: a) Kegiatan survei.

iii. iii. Tinggi muka air tanah. g) Pendidikan. Sifat fisik tanah.Hutan rawa bergambut. . pada ruang dan waktu tertentu yang diantaranya adalah: 1) Lahan basah. f) Pariwisata. e) Olah raga dan rekreasi. sungai). misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Iklim: i. ii. .Hutan bakau. ii. . . Topografi ii. . Industri makanan. . 2) Ekosistem Lahan kering.Tambak garam. c) Tanah: i.Sawah. . Kualitas udara. yakni: a) Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut hasil langkah 2 b) Di tingkat regional yang merupakan dampak regional dari pengembangan permukiman terpadu Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen Lingkungan atau struktur ekosistem yang potensial terkena dampak proyek. Sifat kimia tanah. yang meliputi kegiatan: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman.Kolam budidaya ikan air tawar.Kegiatan pembangunan industri kecil/menengah: i.Perkebunan karet/kelapa sawit. Daftar spesifik untuk setiap ekosistem yang terkena dampak. c) Perekonomian dan perdagangan.Kebun/talun. Kualitas air permukaan (sumur. yakni: 1. Tinggi. iii. Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1. b) Hidrologi: i. . iv. i) Penunjang kesehatan masyarakat.Tegalan/pertanian lahan kering. j) Ketertiban dan keamanan. Kelembaban nisbi udara. iii. Hasil langkah 2 Diperoleh daftar tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Industri mebel kayu dan rotan. . Pola aliran dan debit sungai. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi: 163 d) . b) Aktivitas sosial masyarakat di fasilitas-fasilitas sosial/umum yang ada.Tanaman pekarangan Langkah 3 Identifikasikan komponen lingkungan atau struktur ekosistem yang berpotensi terkena dampak akibat proyek pada dua tingkat. lama dan frekuensi genangan/banjir. . 3) Kegiatan Permukiman Terpadu. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . Unit pengolahan limbah. . ii.Hutan rawa air tawar. k) Seni budaya. . Industri kulit (sepatu dan tas). Diperoleh informasi tentang rencana pembangunan kota menurut persebaran ruang dan waktu. h) Industri kecil dan menengah. iv. Suhu udara. d) Transportasi. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: .Hutan rawa payau.Tambak udang/bandeng.Hutan tropika basah (berstatus konversi).Danau/situ. 2.

misalnya: berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. seperti: proses ekologi. Daftar potensial dampak regional. iv. 3) Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya: a) Demografi/kependudukan. e) Peluang bekerja dan berusaha. Mobilisasi. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. iii. seperti energi kayu dan listrik-hidro. 2) Fungsi pengendalian air terutama pengendalian banjir. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. seperti: kayu. iii. b) Komunitas Satwa Liar: i. ikan. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. Pola aliran dan debit sungai. j) Pola konsumsi. g) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. b) Hidrologi: i Tinggi muka air tanah. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. b) Fasilitas sosial dan fasilitas umum. h) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. k) Pusat pertumbuhan baru dan ekonomi regional. komunitas. b) Komunitas Satwa Liar. c) Sarana dan prasarana perhubungan darat. ii. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Produktivitas lahan pertanian. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. f) Rekreasi dan pariwisata. yang diantaranya meliputi : 1. migrasi. iii. Kualitas air permukaan (sumur. 10) Fungsi pemasok energi. obat. d) Sumber mata pencaharian. yang berupa perlindungan garis pantai. iv. Struktur dan komposisi vegetasi. geomorfologi dan geologi. Bila ekosistem lahan basah yang terkena dampak. urbanisasi. rotan. pengendalian erosi. i. identifikasikan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak penting akibat adanya proyek. daging satwa liar. Sektor informal/multiplier effect. Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. 16) Fungsi sosial ekonomi. ii. ii. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. getah. ekosistem. lama dan frekuensi genangan/banjir. tanah adat). berupa estetika lansekap. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. Pertumbuhan. iii. 164 . 12) Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa Liar. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. dan lansekap lahan basah. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti: pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan pasokan bagi ikan serta burung-burung migran. Produktivitas budidaya perairan. ii. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Kualitas udara. Jenis dan populasi satwa Liar. Komunitas biota akuatik. Tinggi. l) Persepsi masyarakat terhadap proyek. dan gambut. sungai). maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi untuk setiap tipe ekosistem yang potensial terkena dampak. dan pemecah angin (windbreak). 13) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi habitat satwa liar dan tumbuhan penting. keagamaan dan spiritual serta peninggalan sejarah. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Komunitas biota. i) Akulturasi dan asimilasi. 2. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi. 4) Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam.i. 15) Fungsi sosial budaya.

b) Buat matrik dampak ekosistem pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat fungsi ekosistem (hasil langkah 4). misalnya berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat.2. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Langkah 5 a) Buat matrik dampak komponen yang pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan atau struktur ekosistem (hasil langkah 3). seperti pangan beras. keagamaan dan spiritual. seperti proses ekologi. 7) Fungsi sosial budaya. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil Langkah 7. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. serta peninggalan sejarah. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL kawasan pengembangan permukiman terpadu. hara terlarut yang terbawa ke hilir. ekosistem. 3) Fungsi produksi energi (kayu). Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. serta buah-buahan. 2) Fungsi pemasok produk alam. Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. dan peninggalan sejarah. b) Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. daftar dampak penting dikelompokkan menurut masing-masing tipe ekosistem. dan lansekap. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. b. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Komponen lingkungan yang terkena dampak penting dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok. diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak. c) Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2 Hasil langkah 5 a) Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan atau struktur ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. yakni (lihat pengelompokkan pada hasil langkah 3): a) Daftar dampak penting spesifik untuk masing-masing tipe ekosistem. 165 . b) Daftar dampak penting untuk tingkat/skala regional. 5) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. 9) Fungsi sosial budaya. hortikultura. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok produksi pangan. keagamaan dan spiritual. Adapun untuk fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. 8) Fungsi sosial ekonomi. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. komunitas. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. Komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. geomorfologi dan geologi. 10) Fungsi penelitian dan pendidikan. seperti estetika lansekap. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. Bila ekosistem lahan kering yang terkena dampak. palawija. yakni yang meliputi: a.1. 3. 11) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. berupa estetika lansekap.

dan/atau .2. Catatan Langkah 2 : Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. sosial dan ekologi. Hasil langkah 10 Diperoleh urutan isu-isu pokok Lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra-konstruksi. dimana prosesproses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. Hasil Langkah 1 a) Diperoleh batas kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu di atas peta yang digunakan. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek.2.3. dapat memandu mengarahkan hal ini d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat yang berpotensi berubah secara mendasar akibat rusaknya sumber daya atom dan/atau pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek pengembangan permukiman terpadu.1. dapat digunakan untuk memandu hal ini.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting. Catatan Langkah 1: Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan proyek akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya.1.1. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan hasil langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara : a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek . Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta kerja yang tersedia. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi terjadinya perubahan fungsi ekosistem sebagai akibat adanya proyek c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. 3. b) Di dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. Hasil langkah 2 sampai 4 dari proses identifikasi dampak potensial.3 Pemusatan dampak penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. dan lampiran II Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/ atau lembaga-lembaga masyarakat (social institutions) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. Catatan langkah 9 : Dampak penting hasil langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui : . terhadap ekosistem disekitarnya.Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak penting di suatu lokasi. sosial maupun ekologi. konstruksi dan permukiman di kawasan pengembangan permukiman terpadu.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.1. melalui media air. 166 . b) Keterkaitan antar dampak penting yang telah di identifikasi pada butir 3.Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting proyek. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak penting hasil langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan Hasil langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan penting yang akan dialami ekosistem sebagai akibat adanya proyek. Hasil langkah 1 dari butir 3. Hasil Langkah 2 a) Diperoleh batas ekologis di atas peta yang digunakan pada langkah 1.1. konstruksi dan operasi.

misalnya: akibat aktivitas rekruitmen tenaga kerja.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. studi ANDAL serta RKL dan RPL Kegiatan Pengembangan Permukiman Terpadu yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. batas administratif. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas kegiatan proyek batas ekologi. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. BAB IV. batas sosial (hasil langkah 3). Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. batas sosial. karena itu tidak dijelaskan tentang outline tersebut. batas ekologi (hasil langkah 2). Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (hasil langkah 1). Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. 167 . HasiL langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah1. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 4.2 Wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. batas kawasan perkebunan.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu. lembaga non pemerintah dan/atau lembaga lokal masyarakat setempat. dan batas administratif (hasil langkah 4). b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis namun berpotensi terkena dampak penting akibat proyek. Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. dan tenaga yang tersedia. dan kendala teknis yang dihadapi.Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1 dan 2. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. Catatan langkah 4 : Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. studi ANDAL serta RKL dan RPL. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data.2. Hasil Langkah 5 Diperoleh wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.2 METODE STUDI 4. Catatan Langkah 3 : Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). 4. batas kuasa pertambangan.2. 4. waktu.

Saat pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. kampung. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana kegiatan (emic).2. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. maka akurasi dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem permukiman terpadu sebelum proyek dibangun. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. serta sifat dan karakter komponen Lingkungan yang diukur. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. bulanan atau musiman. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas.4. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur.4 Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). 168 . c) Mengingat ekosistem di sekitar pengembangan permukiman terpadu yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi.2. d) Khusus untuk aspek sosial. 4. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. dan di lain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: Metode penarikan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). b) Dampak penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem permukiman terpadu serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak.

sungai) • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna Rasa dan bau Kekeruhan Padatan tersuspensi pH DHL DO BOD COD Kesadahan total Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Karbonat (CO3) Nitrit (NO2) Nitrat (NO3) Sulfat (SO4) Sifat fisik air permukaan • Pengukuran in situ • Sungai • Pengambilan sampel air • Saluran Primer. lama.Tabel 4-1. litologi • Sifat fisik tanah • Sifat kimia tanah • Observasi Lapang • Pengeboran dan pengambilan contoh • Lahan gambut • Lahan rawa • Penilaian Ahli • Analisa laboratorium 169 . dan frekuensi genangan/ banjir • Kualitas air permukaan (sumur. Koppen dan Oldeman • Analisis Hidrograf • Pengukuran Lapang • Penilaian Ahli Keterangan Hidrologi • Tinggi muka air tanah • Pola aliran dan debit sungai • Tinggi. • Sungai • Saluran Primer. Sekunder & Tersier • • • • • Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Tanah • Fisiografi. Sekunder & Tersier • • • • Visual Organoleptik Gravimetrik Elektrometrik Sifat kimia air permukaan • • • • Titrasi Titrasi Titrasi Titrasi • Sungai • Saluran Primer. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik kimia Komponen Lingkungan Iklim Parameter • Suhu udara • Kelembaban nisbi udara • Kualitas udara Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi • Pengumpulan data sekunder • Pengukuran di lapangan (untuk kualitas udara) • Pengamatan Lapang • Pengukuran Lapang • Pengamatan Lapang • Pelabuhan Udara terdekat • Stasiun Meteorologi terdekat. Sekunder & Tersier Metode Analisis Data • Tabulasi data • Klasifikasi Schmith & Ferguson.

Keterangan • Transek • Hutan bakau • Pengumpulan • Hutan rawa data sekunder • Hutan payau • Analisis vegetasi • Observasi lapangan Komunitas satwa liar • Komunitas biota almafile • Jenis dan populasi satwa liar • Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi • Transek • Pengumpulan data sekunder • Analisis satwa liar • Observasi lapangan • Hutan bakau • Hutan rawa • Hutan payau • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek keanekaragaman • Indek keseragaman jenis • Tabulasi jenis satwa liar yang dilindungi Tabel 4-3. • Fasilitas sosial dan penduduk ter• Observasi fasilitas umum dekat. lapang • Sarana dan • Wilayah • Wawancara prasarana administrasi perhubungan darat proyek. tanah adat) • Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal • Akulturasi dan asimiliasi • Pola konsumsi • Persepsi masyarakat terhadap proyek • Pengumpulan • Desa-desa/ data pemukiman sekunder. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik sosial Komponen Lingkungan Sosial ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli Keterangan • Pengumpulan • Desa-desa/ • Demografi dan data kependudukan pemukiman sekunder. lapangan • Wilayah • Wawancara administrasi dengan tokoh proyek. • Pemetaan Plasma Nutfah. • Sumber mata pencaharian • Peluang bekerja dan berusaha • Rekreasi dan pariwisata Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian.Tabel 4-2. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik biologi Komponen Lingkungan Komunitas vegetasi Parameter • Komunitas biota • Struktur dan komposisi vegetasi Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek Keanekaragaman • Indek Keseragaman Je nis. • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli 170 . penduduk ter• Observasi dekat. Sosial budaya • Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. masyarakat dan ketua suku atau adat.

iv. (5) Aspek rencana lokasi. Pembangunan perumahan. Industri makanan. Pembangunan pergudangan. (6) Aspek tata ruang mikro permukiman terpadu. j) Ketertiban dan keamanan. e) merupakan kawasan siap bangun. konstruksi dan hunian sering dijumpai berlangsung secara paralel. Industri kulit (sepatu dan tas). b) Kegiatan masyarakat dalam fasilitas sosial & fasilitas umum yang dibangun.2. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. iv. iii. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. 4. (2) Aspek konsepsi pengembangan permukiman terpadu. Pondok Indah). c) Perekonomian dan perdagangan. ii. Pemadatan.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan di kawasan pembangunan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4.1. Bontang. Depok). Pembuatan tempat pembuangan sampah. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i.1. Penggalian saluran air. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan. l) Penunjang kesehatan masyarakat. c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi. vi. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): (1) Aspek bentuk pengembangan permukiman terpadu: a) menempel pada kota yang sudah ada (misal. konstruksi dan hunian permukiman terpadu. Pembangunan lapangan golf. iii. Industri mebel kayu dan rotan. iv. (3) Aspek rencana daya tampung atau jumlah penghuni permukiman terpadu. g) Pendidikan. Pembangunan pasar. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah. 171 . f) Pariwisata. Perlu diketahui aspek kegiatan ini tidak berjalan secara sekuensial serentak untuk seluruh kawasan permukiman terpadu. v. b) Alternatif lokasi. ii. Pembuatan taman-taman kota dan tempat bermain. Pembangunan terminal dan transport angkutan. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). (4) Aspek jangka waktu pengembangan. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan: i. misal: i. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci/detil. (8) Aspek kegiatan persiapan. d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan hunian (misal sarana pengolahan air limbah). d) Transportasi. dan pembangunan jalan lingkungan. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. Oleh karena itu kegiatan persiapan. Pembangunan gedung olah raga. iii. listrik dan telepon. ii. e) Olahraga dan rekreasi. atau kota ramah lingkungan. konstruksi dan hunian. (7) Aspek manajemen kota/kelembagaan. d) kota yang berdiri sendiri (misal. h) Industri kecil atau menengah.4. kota wisata. iii. yang meliputi: a) Kegiatan survei.2. Palangka Raya). c) mendukung kegiatan pertambangan (misal. pengerasan. 3) Kegiatan hunian. Dari berbagai jenis kegiatan yang diutarakan pada angka (7) usahakan dapat dipaparkan : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. misal kota dibangun berdasarkan konsep kota bisnis. d) Kegiatan pembangunan industri kecil. b) fungsi dari setiap ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4.3 URAIAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan permukiman terpadu hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. ii. b) lepas namun terkait dengan kota yang sudah ada (misal. Kegiatan pembangunan dimaksud dideskripsikan dengan penekanan pada pokok uraian berikut ini : 1) Kegiatan persiapan atau pra-konstruksi. Tembagapura). yang meliputi: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. sehingga pembangunan permukiman terpadu dapat menelan waktu bertahun-tahun tergantung pada skala/luas kota dan permintaan masyarakat. Unit Pengolahan Limbah. yakni lokasi administratif dan rencana luas/skala permukiman terpadu. iv. alternatif ruas jalan. Pengalihan aliran air. b) Kegiatan pembebasan lahan. 2) Kegiatan konstruksi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL serta Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL (Sektoral) dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. k) Seni budaya. e) Tenaga kerja yang dicurahkan untuk kegiatan persiapan.

c. Pemecah angin (windbreak). yang diantaranya meliputi : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Komponen biologi a) Komunitas Vegetasi. Curah hujan. Kualitas air permukaan (sumur. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Ke lokasi lain: . yang meliputi: i.4. f) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. b) Hidrologi. d) Komunitas satwa liar. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. Gambut. Kayu. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir b. . getah. b. d) Peluang bekerja dan berusaha. ii. 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam).1. i) Pola konsumsi. Fungsi dimaksud berlaku untuk setiap tipe ekosistem yang strukturnya mengalami perubahan sebagaimana dimaksud pada angka 4. sungai). iii. 172 .1 Struktur ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan struktur ekosistem permukiman terpadu saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: a. 2.4. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen.4. 13) Fungsi konservasi bagi: a. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. j) Persepsi masyarakat terhadap proyek. yang berupa: a. ii. iv. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. iv. ii. Topografi. yang meliputi: i. 12) Fungsi bank gen bagi: a. Spesies-spesies tumbuhan komersil. Kecepatan angin. dan obat.Pasokan air ke permukiman terpadu lainnya. b. iii. Tinggi dan elevasi muka air tanah. Rotan. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. rusa). terutama pengendalian banjir. Ikan dan daging satwa (misal.4. b) Komunitas Biota. f) Jenis dan populasi satwa liar.2 Fungsi ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan fungsi-fungsi yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di wilayah tersebut. Komponen fisik-kimia a) Iklim. listrik-hidro. Ikan dan burung-burung migran. d. e) Komunitas biota almafile. 10) Fungsi pemasok energi. Sifat kimia tanah. Fungsi ekosistem lahan basah. h) Akulturasi dan asimilasi. Fungsi dimaksud adalah sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): I. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. b. c) Tanah. 3. yang meliputi: i. b) Fasilitas sosial dan fasilitas perhubungan darat. Sifat fisik tanah. b. 4. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya a) Demografi dan kependudukan. Panjang penyinaran matahari. dan frekuensi genangan/banjir. g) Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi.Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge). Suhu dan kelembaban nisbi udara. misal: energi dari kayu. Air permukaan. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi. iii. 2) Fungsi pengendalian air. Spesies langka dan dilindungi. c. Tinggi. Air tanah. c) Struktur dan komposisi vegetasi. lama. tanah adat) g) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. Debit sungai dan pola aliran. b. seperti: a. c) Sumber mata pencaharian. e) Rekreasi dan pariwisata. Populasi satwa liar. yang berupa: a. seperti: a. Uraian disusun berdasarkan sistimatika sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): 1. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat.

Rosot karbon (carbon sink). b. c. b) hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan di kalangan komponen sosial sendiri. Sebagai misal. 5) Fungsi konservasi bagi spesies: a) Langka dan dilindungi. 15) Fungsi sosial budaya. 2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3.1.2 (Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL). dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a. b) metode non-formal yang antara lain meliputi: penilaian para ahli dan metode analogi. Peninggalan sejarah. yang diantaranya berupa: a. 2) Fungsi pemasok produk alam. Keagamaan dan spiritual. d. yaitu: a) metode formal. b) palawija dan hortikultura. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Estetika lansekap.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. b) tanah adat masyarakat setempat. c. b) habitat satwa liar dan tumbuhan penting. 8) Fungsi sosial ekonomi. langkah 2. 3) Fungsi produksi energi (kayu). proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar (buruan) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan berburu oleh penduduk. d. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik-kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam. yang meliputi: a) sumber mata pencaharian masyarakat setempat. b. Lansekap atau jenis-jenis permukiman terpadu. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. Komunitas. c. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Proses ekologi. c) buah-buahan. yang antara lain meliputi: model matematik dan metode grup eksperimen. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata.1. c. yang antara lain berupa: a. seperti: a) estetika lansekap. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. c) komunitas. seperti: a) bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. b) keagamaan dan spirituil c) peninggalan sejarah. proyek pengembangan permukiman terpadu yang berlokasi di pantai akan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Fungsi ekosistem lahan kering yang diantaranya meliputi: 1) Fungsi pemasok produk pangan. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. b. Kerusakan pada 173 . Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. Ekosistem. 4. seperti : a) makanan pokok (beras). 7) Fungsi sosial budaya.II.Sebagai misal. Misalnya proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat. b. 16) Fungsi sosial ekonomi yang diantaranya meliputi: a. e. c) pasokan hara untuk ikan dan burung-burung migran.1. geomorfologi dan geologi. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak penting. 5) Mengingat di kalangan komponen ekosistem terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. b. Tanah adat masyarakat setempat. d) ekosistem.

berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. Catatan langkah 1 : Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. dan/atau metode bagan alir. 4. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem.e.1. dan yang tercantum pada angka 4. (yakni rona lingkungan hidup awal) akan berubah secara mendasar.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan).1. b) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekonomi regional akan berubah secara mendasar akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. Langkah 2 Telaahan secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem dan regional yang dimaksud pada langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem dan ekonomi regional dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. 174 . berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. khususnya Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL.2. b) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem regional. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). baik tingkat ekosistem maupun regional.1. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Telaah secara komprehensif seluruh dampak penting yang dialami oleh struktur sistem. (hasil langkah 2). c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) dan b) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. sebagai akibat alternatif usaha dan/atau kegiatan tertentu. khususnya langkah 1: Identifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan proyek. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. matrik Leopold).5. Hasil langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal : a) fenomena perubahan struktur ekosistem akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. yang tercantum pada angka 4. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek.4. Dampak penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Langkah 1: Prakiraan dampak penting dengan cara: prakiraan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. Hasil langkah 1 Diperoleh prakiraan perihal besar (magnitude) dampak pada dua tingkat analisis yakni : a) Tingkat ekosistem yang terkena dampak penting Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan dari ekosistem (dengan kata lain struktur ekosistem) yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam proses pelingkupan. (hasil langkah 2). berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak udang. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. yang tercantum pada angka 4.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab Evaluasi Dampak Penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif /holistik.5. Environmental Evaluation System).1. metode Daftar Uji Berkala dengan Pembobotan (misal. proses pelingkupan.2. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu usaha dan/atau kegiatan proyek. b) Tingkat dampak penting regional Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan tingkat regional yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam.. Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3.

konstruksi. sebagaimana dimaksud pada langkah 1 dan 2. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. dengan fokus pada : a) fenomena perubahan fungsi ekosistem dan ekonomi regional akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di kawasan pengembangan permukiman terpadu tersebut mencakup empat kelompok aktifitas.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) 5. 5. mendaur ulang (recycle). b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5.1 Lingkup dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Dokumen RKL. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat dampak yang timbul bersifat kompleks. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. serta (ii) struktur dan fungsi ekonomi regional. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek.Hasil langkah 2 Diperoleh sintesis komprehensif perihal fungsi ekosistem dan regional yang terkena dampak penting menurut alternatif tertentu dari proyek. program atau tindakan untuk mencegah. dalam pengertian generik. Hasil langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup.2 Kedalaman dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan atau merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tersebut di saat pra-konstruksi. maupun penempatan permukiman pada kawasan permukiman terpadu. lakukan telaahan sejauh mana dampak penting yang ditimbulkan terhadap (i) struktur dan fungsi ekosistem. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di rencana kawasan pengembangan permukiman terpadu. merupakan dokumen yang memuat upaya. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. b) Bila seluruh alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari usaha dan/atau kegiatan proyek.1. Langkah 4 Dari alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap kehidupan ekosistem dan ekonomi regional di kawasan permukiman terpadu.3 Struktur inti dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: 175 . Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. program dan/ atau upaya-upaya untuk mencegah.1. konstruksi dan penempatan permukiman. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem dan ekonomi di kawasan permukiman terpadu dimaksud. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi.1. c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem dan kondisi fisik kawasan permukiman terpadu sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. Sehubungan dengan hal tersebut. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem dan kondisi fisik lokasi pengembangan. 5. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif di saat pra-konstruksi. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. BAB V. Lebih lanjut pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatarbelakangi kedalaman dokumen RKL.

dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. sampai ke tingkatan ekosistem. Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat merujuk pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting pengembangan permukiman terpadu berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). Upaya. b. 5. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu kegiatan pengembangan permukiman terpadu.5. langkah 10. b) Tujuan pengelolaan lingkungan. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. Upaya.5. berulang dan terencana. maka sedapat mungkin dituangkan disain teknologinya. di muka.6. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. a. Prakiraan dampak penting. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat.a) Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. d) Waktu dan periode pengelolaan lingkungan. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya.1 Lingkup dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek. program atau tindakan untuk mencegah. c.5. kawasan. sistematik. dari Bab IV di muka. c) Upaya pengelolaan lingkungan. ekonomi atau kelembagaan. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. yakni Bab Evaluasi dampak dari dokumen ANDAL. Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul.1. Pada ekosistem permukiman terpadu pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak. tersier. sifat kumulatif. e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan pengembangan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4.2. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi.2. Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Upaya. 176 . Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. dan angka 4. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. f) Institusi pengelolaan lingkungan. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional. e. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem di kawasan pengembangan permukiman terpadu. d.6. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada bab prakiraan dampak dan bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem permukiman terpadu. atau bahkan regional. f. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3.

dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.2 Kedalaman dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada angka 2 Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Prakiraan dampak penting dan angka 4. Menteri Negara Lingkungan Hidup.2. d. e. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. lokasi dan jangka waktu serta frekuensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan. A. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu kawasan pengembangan permukiman terpadu. sebagai misal). warna.3 Struktur inti dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau. Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu (proyek. Komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. c) Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. b) Tolok ukur dampak. bau.1.2. Langkah 10. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. tersier.2. ttd Nadjib Dahlan. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisa data. d) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek.6. Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk ada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. atau ketetapan resmi suatu instansi. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. ttd Dr. c. Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.5. b) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. Semisal. kandungan minyak terlarut. a.5. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. Langkah 2). 5. Evaluasi dampak penting.5. c) Tujuan pemantauan lingkungan. yakni bab prakiraan dampak penting dan bab evaluasi dampak penting dari dokumen ANDAL. suhu. SH 177 . dan 4. f. f) Institusi pemantauan Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. upaya/program/tindakan pengelolaan lingkungan. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL).6. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem permukiman terpadu. b. baku mutu lingkungan. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola.5. Tolok ukur dampak yang dimaksud di sini dapat berupa baku mutu limbah cair. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau.

Unit pengolahan iv. Kelembaban nisbi udara b). Pemb. Sifat fisik tanah iii.pasar iii. Matriks Interaksi Dampak Kegiatan Proyek dengan Komponen Lingkungan Kegiatan Proyek 2 b i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv a b c d e f g h i 3 j 1 a Komponen Lingkungan 178 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Komponen Biologi a). sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg. Topografi ii. Kegiatan pendidikan dan kebudayaan 1.Pembuatan taman taman kota & taman bermain iv. Tinggi muka air tanah ii. terminal limbah &transportasi darat Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Kualitas air permukaan (sumur. Suhu udara ii.Industri mebel iii. Pemb. Komunitas biota almafile ii. Hidrologi i. Pemb. Sifat kimia tanah 2. sungai) d). Iklim i.gedung olah raga ii. telpon vi. Tanah i. Pola aliran dan debit air sungai iii.Pembuatan TPA i. Kegiatan survei b. Kualitas udara c).Pemb. Komponen Fisik Kimia a). Tinggi. Pemadatan. pembangunan jalan lingkungan iii. Penggalian saluran air iv.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Struktur dan komposisi vegetasi b). & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi 2. Jenis dan populasi satwa liar iii.Penggalian aliran air v. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. pengerasan. Pemb. lapangan golf iii. Komunitas satwa liar i. Industri makanan ii.pusat i. Kegiatan Konstruksi 3. Komunitas biota ii.Penghijauan/ reklamasi .perumahan ii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Penggalian jaringan air bersih. listrik . Kegiatan pra-konstruksi a.Lampiran 3-1. Komunitas vegetasi i. Pemb. lama dan frekuensi genangan/banjir iv. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Industri kulit pertokoan.

Penghijauan/ reklamasi . Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Sarana dan prasarana perhubungan darat d).Lampiran3-1. Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik dan tanah adat) h). Fasilitas umumdan fasilitas sosial c). Akulturasi dan asimilasi j). Pemb.perumahan ii. Sumber mata pencaharian e). pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.gedung olah raga ii. Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal i).pusat (sepatu dan tas) pertokoan. Kegiatan Konstruksi 3. Pola konsumsi k). Rekreasi dan pariwisata g).pasar kayu dan rotan iii. telpon vi. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman 2. Penggalian jaringan air bersih. lapangan golf iii. Industri kulit i.Penggalian aliran air v. Industri makanan perbelanjaan iii. Pemb.Pembuatan TPA i. pengerasan. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. & ii. Kegiatan pra-konstruksi a. Peluang bekerja dan berusaha f).Industri mebel ii. Pemadatan.listrik . Kegiatan survei b.Pembangunan iv. Persepsi masyarakat terhadap proyek 179 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. Demografi dan Kependudukan b).Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. terminal &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Pemb. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a). Pemb.(Lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i Kagiatan Proyek 2 3 j Komponen Lingkungan 3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Pemb.Pemb.Unit pengolahan pergudangan limbah iv.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.

dangambut 9. Fungsipengedalianair. A. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. telpon vi.seperti kayu. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanbahan-bahanberacun 8.Penggalian aliran air v.rotan. 2.ikandandagingsatwaliar.Penghijauan/ darat reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.getah. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.gedung i.obat. lokasilahanbasahlainnya. 3. Pemb. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. pembangunan jalan lingkungan iii. Kegiatan survei b.danpemecah angin(windbreak) 5. Pemb. lapangan perbelanjaan ii.terutamapengendalianbanjir 3. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekologiseperti.yangberupa perlindungangarispantai.perumahan ii. Pemb. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekonomi. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanunsurhara 7.Pembangunan kayu dan rotan taman-taman pergudangan iv. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. pengerasan.pasar iii. pasokanbahananorganikdanorganikdanharaterlarutbagi wilayahhilirdanbagiikansertaburung-burungmigran. Pemb.Pemb. & (sepatu dan tas) ii.Industri mebel iii. Kegiatan pra-konstruksi a. Fungsipemasokair(kualitasdankuantitasair).Pembuatan TPA .Lampiran3-2MatrikInteeraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemKawasanPengembanganPemukimanT erpaduuntukTipeEkosistem:Lahanbasahdanlahankering 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h Kegiatan Proyek 2 3 Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 180 2.listrik . Industri kulit olah raga pertokoan. Fungsipencegahintrusiairlautkeairtanahdan/atauair perm ukaan 4.yangberupaair bersihyangdapatlangsungdimanfaatkanolehmasyarakat dan/atausebagaipemasokkeaquifer(groundwaterrecharge).Penggalian saluran air iv. Pemb. Fungsipenangkapandan/ataupengendapansedimden 6. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.Pembuatan iii. Penggalian jaringan air bersih.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Pemadatan. EkosistemLahanBasah 1.pengendalianerosi.pusat i. terminal limbah bermain &transportasi iv. Industri makanan golf ii. Fungsiperlindunganterhadapkekuatanalam.Unit pengolahan kota & taman iv.

ekosistem pertanian lahan kering. Industri makanan ii. Pemb. Kegiatan pra-konstruksi a.perumahan ii. palawija dan hortikultura. ekosistem. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. lapangan golf iii. Penggalian jaringan air bersih. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Fngsi pemasok produk alam.pasar iii. Industri kulit pertokoan. habitat satwa liar dan tumbuhan penting.gedung olah raga ii. seperti makanan pokok (beras).pusat i. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. 3.keagamaan dan spiritual. Kegiatan survei b. dan ekosistem hutan (yang berstatus konservasi) 1.Penggalian aliran air v. Fungsi rekreasi dan pariwisata 7. EkosistemLahan Kering. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. dan lansekap 6. listrik .Industri mebel iii. Fungsi produksi energi (kayu) 4. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. pengerasan.Unit pengolahan iv. dan peninggalan sejarah 8.Penghijauan/ reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. telpon vi. Pemadatan. Pemb. Fungsi transportasi/perhubungan 5. komunitas. pembangunan jalan lingkungan iii. Pemb.Pemb. Fungsi pemukiman masyarakat 3. serta ikan dan burung-burung migran. i. Pemb.Penggalian saluran air iv. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. Fungsi pemasok produk alam. Pemb. serta buah-buahan 2.Lampiran3-2(lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g Kegiatan Proyek 2 3 h Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 181 2. Fungsi sosial ekonomi misalnya berupa sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan tanah adat masyarakat setempat 9.Pembuatan TPA .Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. yang meliputi ekosistempertanian sawah.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. terminal limbah &transportasi darat B. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Fungsisosialbudaya sepertiestetikalansekap. hara terlarut yang tertransportasi ke hilir.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.

Lampiran3-2(lanjutan)

1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i

Kegiatan Proyek 2 3

Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu

j

10. 11. 12.

13.

14. 15.

16.

17. 18.

Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrik-hidro Fungsi transportasi/perhubungan Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar Fungsi konservatif bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem dan lansekap lahan basah Fungsi rekreasi dan pariwisata Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat Fungsi penelitian dan pendidikan Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam

182
2. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb.pusat i. Industri kulit pertokoan, & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Industri makanan ii. Pemb.pasar iii.Industri mebel iii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Unit pengolahan iv.Pemb. terminal limbah &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pendidikan dan kebudayaan

3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebasan lahan

Kegiatanpembangunan perumahan

Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi

i. Pemb.perumahan ii. Pemadatan, pengerasan, pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.Penggalian aliran air v. Penggalian jaringan air bersih, listrik , telpon vi.Pembuatan TPA

i. Pemb.gedung olah raga ii. Pemb. lapangan golf iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Penghijauan/ reklamasi

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah; 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH. Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

Mengingat :

PERTAMA :

KEDUA :

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 November 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup, ttd. Dr. A. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH,

Nadjib Dahlan,S.H.

183

LAMPIRAN NOMOR TANGGAL

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 5 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000

PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH BAB I. PENJELASAN UMUM 1.1 LATAR BELAKANG Upaya melengkapi tuntutan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, telah diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Di dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan secara tegas bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Salah satu kategori wilayah yang pertu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah. Ketersediaan areal lahan basah yang masih cukup luas dengan potensi sumberdaya alami yang terkandung di dalamnya masih belum banyak termanfaatkan, telah mengundang peningkatan usaha pemanfaatan lahan basah untuk berbagai sektor kegiatan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kawasan ini semakin potensial untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan yang diperkirakan akan terus berkembang antara lain, pembukaan persawahan, perkebunan dan pertambakan yang dikaitkan dengan pembangunan permukiman transmigrasi. Bersamaan dengan itu pembangunan agroindustri dan berbagai industri jasa seperti pengangkutan dan pelabuhan tentu akan semakin terfokus pada kawasan lahan basah sebagai wilayah sasarannya. Berbagai perkembangan kegiatan perekonomian baik bertaraf lokal, regional, maupun nasional akan menyebabkan keberadaan potensi sumberdaya alami terutama di kawasan lahan basah semakin terancam kelestariannya. Sejumlah program yang sudah diimplementasikan kebanyakan kurang memenuhi kaidah keberlanjutan, sehingga terjadi pemubaziran sumberdaya lahan basah dan tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Mulai tampak berkurangnya luasan alami kawasan lahan basah, dan secara langsung maupun tak langsung menurunkan mutu dan fungsi ekologis dari sumberdaya alami setempat. Pemanfaatan yang sudah berlangsung ternyata, berpengaruh besar terhadap penyusutan mutu dan keberadaan sumberdaya keanekaragaman hayati, sumberdaya perairan rawa, sungai, estuaria dan bahkan potensi laut dalam (Syarkowi, 1995 dan Verheught, 1990). Kecenderungan pemanfaatan yang ada menunjukkan bahwa, banyak pihak yang berkepentingan terhadap daerah itu masih pertu dibekali pengetahuan tentang strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Cara-cara pengelolaan berbagai program pembangunan yang ada telah menjadikan kawasan ini kurang termanfaatkan secara optimal. Padahal jika potensi yang besar itu semakin surut dan banyak yang tersiasiakan, maka pembangunan di kawasan lahan basah akan sulit berkelanjutan. Diakui bahwa kompleksitas persoalan lingkungan dan pengendalian dampak negatif pembangunan kawasan lahan basah itu sangat rumit. Keberadaan lahan basah secara geografis menghubungkan ekosistem lahan kering terhadap ekosistem pesisir dan kelautan, yang tentunya memiliki keterkaitan fungsi dan kepekaan ekosistem yang beragam pula. Pengalaman pelaksanaan studi AMDAL beberapa proyek di berbagai area lahan basah selama ini menunjukkan bahwa kompleksitas dampak lingkungan yang bisa terjadi memang sangat tinggi (Euroconsult, 1991), akan tetapi sedapat mungkin harus diupayakan memprakirakannya. Dari studi khusus tentang “Pedoman Pelingkupan AMDAL Lahan Basah” yang dilakukan oleh AWB (1991) misalnya, kompleksitas dampak lingkungan itu secara sistematis mulai dipahami dinamikanya. Walaupun demikian kenyataan tentang munculnya berbagai masalah lingkungan hidup di kawasan lahan basah dan sekitarnya selama pertengahan dekade 90-an, harus pula diakui bahwa masih banyak rahasia yang perlu diungkapkan dan diketahui dibalik dinamika dampak pembangunan lahan basah itu. Guna mengendalikan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak bijaksana itu, maka studi AMDAL harus dioptimalkan dengan mengacu kepada piranti khusus “Metodologi AMDAL Lahan Basah”. Panduan ini khusus memberi petunjuk bagaimana melaksanakan AMDAL di daerah lahan basah. Dengan ini diharapkan informasi minimal tentang karakteristik lahan basah baik yang bersifat umum maupun khusus dari komponen lingkungan yang peka terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan diarahkan agar dapat dipenuhi. Demikian pula tentang karakteristik proyek pembangunan yang prospektif berkembang di kawasan itu sangat perlu dan akan dapat dipahami atas dasar sifat kepentingannya terhadap lahan basah. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyusunan AMDAL bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan (proyek) pembangunan di daerah lahan basah. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah ini diharapkan dapat: 1. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan. 184

2. 3.

Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan, lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Mendorong langkah-langkah antisipatif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan iptek dan perkembangan sosial ekonomi dan budaya di masa depan.

1.3 PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak penting lingkungan akibat pembangunan di daerah lahan basah, secara cermat diperlukan pengetahuan tentang sifat dan kekhasan daerah lahan

KOMPONEN LINGKUNGAN
• • • • • • Iklim Tanah Kedalaman dan Kematangan Gambut Hidrologi Vegetasi dan Satwa liar Sosial Ekonomi dan Budaya serta Demografi • • • •

KOMPONEN KEGIATAN
Eksploitasi SDA di lahan basah Konservasi Lahan (Perkebunan, Persawahan/Irigasi, Pertambakan) Konservasi Balik (Kawasan Lindung dan Konservasi) Reklamasi Lahan Basah

PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL • • • • Dampak Penting Hipotetik Penetapan Batas Wilayah Studi Penetapan Tenaga Ahli Penetapan Metode Pengumpulan dan Analisis Data yang Akan Digunakan • Penetapan Lokasi Pengambilan Sampel • Penetapan Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak yang digunakan dalam Penyusunan ANDAL.

PENYUSUNAN ANDAL • • • • Survey Lapang Analisis Data Prakiraan Dampak Penting Evaluasi Dampak Penting

PENYUSUNAN RKL DAN RPL • Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan • Penetapan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1-1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL Kawasan Lahan Basah

185

basah tersebut. Hal ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat dikenal pasti sedini mungkin. Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan kawasan lahan basah disajikan pada Bab II. Kemudian diikuti oleh panduan proses pelingkupan yang disajikan pada Bab III, yang menjelaskan penentuan isu pokok, komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan, penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Panduan penyusunan analisis dampak lingkungan (ANDAL) disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selanjutnya, panduan untuk penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis, sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses: penyusunan AMDAL seperti pada Gambar 1-1. Pembangunan di daerah lahan basah akan memiliki ragam dan besaran dampak tergantung pada sistem lingkungan yang akan terkena dampak. Dengan demikian, mengikuti tujuan studi AMDAL adalah memelihara kapasitas ekosistem alamiah dalam hal penentuan parameter lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan dan analisis data, prakiraan evaluasi dampak perlu disusun atas dasar pendekatan pemeliharaan, ekosistem yang berkesinambungan. BAB II. KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM LAHAN BASAH 2.1 TIPOLOGI EKOSISTEM Keberadaan lahan basah atau lahan berawa dapat diklasifikasikan menjadi 3 zona, yaitu : (1) Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin; (2) Ekosistem rawa pasang surut air tawar; dan (3) Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak. Zonasi ini diterapkan demikian berdasarkan kekuatan air sungai dan air pasang (Sandy dan Nad Darga,1979). Pada musim hujan zona I dan II memperoleh pengaruh pasang surut, sedangkan zona III tidak dipengaruhi. Pada musim kemarau, hanya zona I yang dipengaruhi oleh luapan dan intrusi air payau/asin. Berkenaan dengan itu, maka ada tiga hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah; yaitu: (1) Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang; sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu; (2) Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (“slurry”) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan berat maupun energi lainnya, sehingga membahayakan; dan (3) Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya. Bentuk pemanfaatan yang utama dan merupakan fungsi perlindungan pada lahan basah terhadap sistem penyangga kehidupan, antara lain (1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air) (2) Fungsi pengendalian air, terutama pengendalian banjir (3) Fungsi pencegah intrusi air laut (4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam) (5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen (6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara (7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun (8) Fungsi pemasok kekayaan alam (di dalam areal lahan basah) (9) Fungsi pemasok kekayaan alam (ke luar areal lahan basah) (10) Fungsi produksi energi (kayu, listrik-hidro) (11) Fungsi transportasi/perhubungan (12) Fungsi bank gen (13) Fungsi konservasi (14) Fungsi rekreasi dan pariwisata (15) Fungsi sosial budaya (16) Fungsi sosial ekonomi (17) Fungsi penelitian dan pendidikan (18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Selanjutnya manfaat sampingan dapat dipanen dan dinikmati masyarakat sampai batas-batas tertentu tanpa merusak proses ekologis yang diperankan oleh ekosistem itu. Bentuk pemanfaatan golongan ini antara lain: (1) sumber air bagi penduduk (setempat); (2) sumber produk alami (nipah dan ikan); (3) sumber energi (kayu dan gambut); dan (4) sumber kesegaran dan keindahan (wisata). Bertolak dari pemahaman akan arti penting fungsi-fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis yang diperankan oleh ekosistem lahan basah itu, maka upaya untuk melestarikan keberadaan mutu dan fungsi ekosistem lahan basah patut direalisasikan. Ini antara lain dilakukan melalui pendekatan peraturan perundangan yang melindungi komponen-komponen kawasan yang berfungsi penting dan strategis. Pelestarian sumberdaya kawasan lahan basah dimungkinkan oleh adanya ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ketentuan perundangan itu meliputi perlindungan jenis flora dan fauna serta benda cagar budaya, yang tidak jarang banyak ditemukan pada daerah lahan basah. Sampai sejauh ini, kawasan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya antara lain: 186

Jenis-jenis ini diketahui sangat baik beradaptasi pada tanah bersalinitas tinggi sebagai pengaruh dari pasang air laut. yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. sebagai hasil dari sedimentasi dan akumulasi lumpur yang dibawa oleh air sungai. Di sisi lain.) dan Pedada (Sonneratia sp.. Avicennia sp. Formasi hutan “bakau” ini diketahui sangat penting peranannya sebagai habitat pijah-asuh berbagai jenis ikan dan udang. termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer. Xylocarpus muluccensis dan Sonneratia ovata. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi. Pada ekosistem ini formasi Rhizophora sp. bertujuan untuk mempertahankan dan sebagai sumber air serta meningkatkan fungsi dan manfaatnya. Kriteria kawasan ini adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (Pasal 8 UU No. serta formasi Acrostichum. Kriteria sempadan sungai yaitu: (a) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman (Pasal 16 butir a Keppres No. Formasi ini begitu dinamis dengan adanya peran dari tumbuhan pemul. formasi Acrostichum juga dominan dan berfungsi sebagai penutup tanah hutan mangrove hingga ketinggian 3-4 meter. Kawasan Sekitar Danau/Waduk. kimiawi.). yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai. yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan.) dan Nyireh (Xylocarpus sp. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung). Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung usaha budidaya di belakangnya. Sempadan Pantai. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pertimbangan teknis. 32 Tahun 1990). sosial ekonomis dan lingkungan. Rawa yang merupakan lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik. dan Sonneratia marina menduduki formasi terdepan sedangkan agak kebelakang dijumpai jenis tumu atau bakau tomak (Bruguirea hexangula). 32 Tahun 1990)..faktor sebagai berikut (Pasal 9 PP No. umumnya berupa tumbuhan Api-api (Avicennia sp.1.). struktur tanah yang mudah meresapkan air bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran (Pasal 12 Keppres No. 32 Tahun 1990 jo PP No. 32 Tahun 1990). kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Bersamaan dengan itu terdapat pula assosiasi dengan Nipa. atau biologis. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18 Keppres No. Kriteria kawasan gambut yang dilindungi itu adalah tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa (Pasal 10 Keppres No. maka akan ditemui jenis Bakau (Rizophora spp. adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestariaan fungsi danau/waduk. 35 Tahun 1991).(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kawasan Gambut. nipah. (b) kelestarian rawa. Sempadan Sungai. adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung jo PP No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) Kawasan Resapan Air. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan kawasan yang bersangkutan.1 Ekosistem Hutan “Bakau” (Zonasi I) Ekosistem ini terdiri dari formasi bakau. dengan memperhatikan faktor . 2. 35 tahun 1991 tentang Sungai) (b) Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 sampai dengan 15 meter (Pasal 16 Butir b Keppres No. 27 Tahun 1991 tentang Rawa) : (a) kemampuan meningkatkan rawa sebagai ekosistem sumber air. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. serta melindungi sistem ekonomi yang khas di kawasan yang bersangkutan. yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. Jenis tumbuhan Nipa membutuhkan air 187 . Formasi hutan mangrove atau “bakau” ditandai dengan kehadiran jenis tanah aluvial. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 27 Keppres No. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 14 Keppres No. dan jika kondisi lahan menjadi stabil. (c) kemampuan meningkatkan perekonomian masyarakat dan (d) kelestarian lingkungan hidup. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir maupun kebakaran.

baik hutan rawa maupun hutan gambut. kera (Macaca sp. pengembangan dan pengelolaannya. Kelebatan formasi ini berkisar antara 100-500 meter. Di bagian zona III terutama didominasi oleh tipe semak dan rumputan. pada tempat -tempat yang kurang tergenang ditumbuhi oleh jenis perepat (Combretocarpus motleyi) yang bercampur dengan Camnosperma macrophylla dan meranti paya (Shorea spp.). merawan bunga (Hopea mangerawan). dan lain-lain. dan jenis-jenis yang termasuk ke dalam famili Anacardiaceae. (2) tanah sulfat masam. Fauna yang ditemukan di habitat ini pada umumnya fauna yang hidup di daerah mangrove maupun di hutan rawa air tawar. (4) pengaruh luapan/air laut. meranti (Shorea sp. 2. Pada zona II termasuk grup aluvial. ular cincin emas (Boiga sp. karakteristik lahan basah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) lama dan kedalaman genangan air banjir atau air pasang. Putai (Alstonia). Hutan pelawan beriang (Tristania abovata) dan Ploiarium alternifolium ditemukan pada lapisan gambut yang tebal. dan Rengas (Gluta rengas). 2. Tumbuhan lain yang juga sering ditemukan adalah Comnosperma dan Alstonia.selama hidupnya. dan kelompok burung yang banyak ditemukan merupakan kelompok cemar laut (wader) dan bangau. Informasi tentang tipologi geo-fisik lahan basah itu dapat digunakan sebagai arahan pemanfaatan. serta kuntul. Rincian karakteristik umum tipologi geo-fisik lahan basah disajikan pada Tabel 2-1. Fisiografi utama pada zona I termasuk grup marin dan kubah gambut. babi (Sus barbatus).4 Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III) Di daerah delta yang biasanya banyak mendapat pengaruh air asin dan payau. serta kualitasnya. dan Cotilelobium.1. Tumbuhan pada formasi ini didominasi oleh Terentang (Camnosperma). Blumeodendron sp. Di dekat sungaisungai besar. 188 .. Pada umumnya sifat-sifat tanah pada lahan basah tersebut sangat berhubungan erat dengan fisiografi dimana tanah tersebut ditemukan. Prunus sp. simang (Diospyros sp.1. (3) kedalaman lapisan pirit serta kemasan potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya.). Komposisi floristik pada formasi ini mirip dengan komposisi di hutan rawa air tawar. 2.) dan rumput yang terapung (kumpai) di perairan. sedangkan pada zona III termasuk grup aluvial dan kubah gambut. sedangkan mamalia yang umum ditemukan adalah babi hutan (Sus scoria).). dan kelompok mamalia antara lain : gajah (Elephas maximus).. dan (3) tanah bergambut dan gambut. (5) tinggi muka air tanah. beberapa jenis tumbuhan dominan adalah jenis terentang abang (Camnosperma macrophylla). dan beberapa jenis dari familia Poligalaceae serta Euphorbiacece. Pada habitat ini biasa ditemukan fauna yang tergolong reptilia. Reptilia yang hidup di habitat ini adalah biawak ( Varanus salvator). Hutan rawa gambut yang tidak dipengaruhi oleh air asin memiliki jenis tumbuhan yang lebih kaya.2 Ekosistem Hutan Raya Payau (Zona I) Merupakan formasi hutan rawa campuran air asin dan air tawar. 2. Jenis ini dapat hidup sebagai pioner di sedimen berlapis. marin dan kubah gambut. Formasi ini berperan sebagai pembatas terhadap ekosistem hutan bakau dengan kehadiran formasi Nibung. yaitu buaya senjolong (Tomastoma schlegelii). Napu (Tragulus napu). Selain itu terdapat familia Dipterocarpaceae dari Genera Shorea.Ini terlihat dari seringnya Nipa diketemukan di sepanjang tepi sungai dengan aliran yang tenang. badak (Dicerorhinus sumatrensis). Marsawa. Formasi ini merupakan pembatas antara hutan mangrove dan hutan lainnya di belakang mangrove. Nama atau jenis tanah tertentu sekurang-kurangnya memberi gambaran tentang sifat dan kelakuan tahan dalam merespon suatu teknologi yang diterapkan.). Salah satu indikator formasi hutan ini adalah hadirnya tanaman pandan (Pandanus sp. buaya (Crocodylus porosus).). Dan berbagai laporan studi dapat dikemukakan bahwa jenis tanah dominan pada lahan basah adalah: (1) tanah aluvial. sedangkan pada lapisan gambut yang tipis ditemukan tegakan nibung (Oncosperma filamentosa). dan umumnya terdapat di belakang hutan mangrove atau di sepanjang tepi sungai. Secara geofisik. Ketebalan gambut di daerah ini mencapai 2 sampai 3 meter dengan dominasi jenis palem yang merupakan indikator bahwa formasi di daerah ini merupakan formasi transisi antara tipe rawa dan gambut (hutan campuran rawa dan gambut atau mixed peat swamp forest).2 TIPOLOGI GEOFISIK Kualitas dan karakteristik lahan basah pada masing-masing zona dapat ditetapkan apabila jenis tanahnya diketahui. kancil (Tragulus javanicus).3 Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II) Formasi hutan rawa air tawar terletak di bagian belakang hutan rawa payau. tapir (Tapirus indicus).). Di dalam formasi ini terdapat lapisan bergambut dengan ketebalan sekitar 20 cm. Hutan ini merupakan formasi transisi dari hutan gambut ke hutan rawa ( mixed peat swamp forest). beruang (Herartos malayensis). Zona kedua terdiri atas tumbuhan Sindai (Knema spp. Dipterocarpus. Komposisi tumbuhannya terdiri dari tiga zona yang secara horizontal adalah berturut-turut : zona pertama didominasi oleh jenis durian payau (Durio carrinatus). dan (6) keadaan substratum lahan.). kucing hutan (Felix sp.1. (2) ketebalan dan kematangan gambut serta kandungan hara mineral.

dan (4) Tipe D = tidak terluapi dan air tanah > 50 cm Pengelompokan tipe luapan ini sepadan dengan kategorisasi hidup topografi lahan basah berdasarkan pasang besar pada MH dan MK yaitu kategori I. III. (2) Tipe B = terluapi pasang besar. yaitu : (1) Tipe A = terluapi pasang besar dan kecil. dan IV. 2. Faktor Kualitas Lahan Genangan Karakteristik Periode lamanya genangan Kedalaman genangan Kualitas air genangan Tipe luapan Tekstur tanah Kedalaman efektif tanah Ketebalan gambut Tingkat kematangan gambut Tinggi muka air tanah N-total P-tersedia K-dapat ditukar Kapasitas Tukar Kation Kejenuhan Basa PH Salinitas atau sodisitas Kejenuhan aluminium Kedalaman bahan sulfidik Keadaan substratum Satuan waktu cm kelas kelas kelas cm cm kelas cm persen ppm me/100 g tanah me/100 g tanah persen unit mmhos/cm persen cm jenis 2.3. seperti pada Tabel 2-2. Media perakaran 3. Karakteristik Umum Tipologi Geofisik Lahan Basah No 1. 1.1 Agro ekosistem Rawa Pasang Surut Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa pasang surut dapat didasarkan pada tipe luapan air pasang surut.4. air tanah < 50 cm. Kegaraman tanah Toksisitas Kelima faktor mutu lahan yang diindikasikan pada Tabel 2-1 tersebut penting diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian.Tabel 2-1. kendala fisik lahan yang ada dan diperkirakan ada. Adapun faktor No. 5.3 TIPOLOGI AGROEKOSISTEM 2. Ketersediaan hara 4. Tipologi Lahan Lahan Potensial Tipe Luapan (Kategori) A (I) Pola Pemanfaatan Lahan Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/surjan Surjan pangan/holtikultura Lahan Kering Pangan/Hortikultura/Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Lahan Sulfat Masam A (I) Sawah B (II) C (III) D (IV) Lahan Gambut A (I) Sawah/Surjan “Kridit” Surjan “Kridit” Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/Surjan Surjan Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Tabel 2-2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut Sesuai dengan Tipologi Lahan dan Tipe Luapannya 189 . dan 5 merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi proyek pembangunan non pertanian. Jika dipertimbangkan tipologi lahan tipe luapan. Dengan tipe luapan air yang dimaksudkan itu maka pemanfaatan lahan dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe [berdasarkan luapan pasang besar (maksimum) dan pasang kecil (minimum)]. (3) Tipe C = tidak terluapi pasang. II. maka dapat dikemukakan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut (Halim1994).

4. Rawa lebak pada tipologi lahan tersebut umumnya termasuk rawa lebak tengahan dan/atau dalam. Pada guludan dapat ditanam beberapa jenis tanaman pangan lainnya serta tanaman hortikultura. Pada lahan gambut sebaiknya diusahakan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan tanaman pangan dan hortikultura untuk beberapa musim. gambut sedang dan gambut dalam dapat dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dengan sistem “polder”.2 Agroekosistem Rawa Lebak Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa lebak disesuaikan dengan tipologi lahannya seperti disajikan pada Tabel 2-3. yang tengahan menjadi dangkal. Indikasi yang demikian amat perlu diperhatikan setiap kali suatu pembangunan direncanakan. Sumberdaya alam di kawasan lahan basah dapat dikategorikan menjadi empat kategori. Rawa lebak bertipologi demikian umumnya termasuk rawa lebak dangkal. Sedangkan pada tipologi lahan gambut-dangkal. interaksi sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam seyogyanya diperhatikan keterkaitannya dengan pencemaran 190 . Pembangunan suatu waduk untuk irigasi di bagian hulu misalnya.Lahan potensial.4 TIPOLOGI SOSEKBUD DAN KESEHATAN MASYARAKAT 2. Payau/Asin Lahan Gambut. 2.3. (3) Sumberdaya “alam-maliri” (flow resources). Demikian pula lebak dalam yang biasanya berperan sebagai gudang kehidupan berbagai jenis ikan akan berkurang kemampuan ekologisnya. potongan kayu dan tempurung kelapa (yang baik untuk arang) serta sabut kelapa biasanya belum sepenuhnya dimanfaatkan penduduk sebagai bahan sumber tambahan pendapatan. dan lebak dalam sebenarnya mengindikasikan adanya cekungan bentang lahan yang digenangi air tawar. Walaupun demikian. baik yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. lahan dengan tipe luapan B juga dapat disawahkan sebanyak dua kali dalam setahun. Tipologi lahan aluvial dimanfaatkan untuk sawah lebak atau sawah tadah hujan. maka interaksi sosial dan proses sosial bisa beragam coraknya. Dari sudut pandangan lingkungan hidup. (4) Sumberdaya “alam-segari” (amenity resources). Lahan dengan tipe luapan C juga dapat disawahkan dalam musim hujan bila diterapkan sistem surjan. Sedangkan pada lahan sulfat masam. Pemanfaatan lahan dengan tipe luapan D adalah berupa usaha tani lahan kering untuk tanaman pangan/hortikultura atau perkebunan kelapa. mengubah keadaan bentang lahan lebak di bagian hilir. gambut dan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B dimanfaatkan untuk sawah. 2. Payau/Asin Pola Pemanfaatan Sawah Payau/Asin Lahan Sulfat Masam. Payau/Asin Hutan Mangrove/Tambak Hutan Mangrove Sawah Sawah Lahan Kering Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa/Kelapa Sawit Pasang Surut Air Tawar Lahan Potensial Lahan Sulfat Masam Lahan Gambut Dangkal Lahan Gambut Sedang-Dalam Rawa Lebak Rawa Lebak Aluvial Rawa Lebak Gambut Dangkal Rawa Lebak Gambut Sedang Dalam Sawah/Sawah Tadah Hujan Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Pada kawasan lebak dangkal (pematang).1 Sosekbud Dari sisi sosial ekonomi. Dengan sistem Surjan. lebak tengahan. Sawah dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun pada lahan dengan tipe luapan A. Oleh karena terdapat berbagai ragam potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. Keempat kategori sumberdaya alam tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat daerah setempat maupun masyarakat pengusaha. sebaiknya dimanfaatkan langsung sebagai lahan perkebunan kelapa. Lebak dangkal berubah jadi kering. sesungguhnya sumberdaya alam kawasan lahan basah amat kaya. karena keterisolasian lokasi dan keterbatasan sarana pengangkutan berbagai jenis sumberdaya alam dan sumberdaya turunannya masih sering tersia-siakan begitu saja. yaitu: (1) Sumberdaya “alam-terludesi” (exhaustible resources). Tabel 2-3 Pola Fisiografis Pemanfaatan Lahan Basah Zonasi Pasang Surut Air Tipologi Lahan Lahan Potensial. Misalnya. (2) Sumberdaya “alam-hayati” (biological resources).

2. Diantara interaksi itu ada yang patut diteladani sebagai kearifan lokal. pemahaman tentang persepsi masyarakat di kawasan lahan basah menjadi sangat penting. dan data/informasi tentang hidrologi. Di lokasi pemukiman kawasan lahan basah menunjukkan urutan jenis penyakit terbesar adalah penyakit malaria. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL di daerah lahan basah dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar.2 Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Karakteristik utama lahan basah yang dicirikan dengan keberadaan air. serta (tokoh-tokoh) masyarakat yang berkepentingan. peran limpahan air yang secara musiman membatasi intensitas tanaman akan memudahkan pengendalian hama dan gulma. Aspek sosial lain di kawasan lahan basah yang perlu diperhatikan adalah tentang hak atas tanah. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 3. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. (2) evaluasi dampak potensial. Di kawasan lahan basah masih terdapat penguasaan lahan secara komunal yang dikenal dengan Hak Ulayat. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek. Selain itu.4. agar sedapat mungkin kelangsungan proyek mendapat dukungan masyarakat atau paling tidak dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi. Selain itu. Serangan penyakit ini diprakirakan akan selalu berlangsung pada setiap awal kegiatan pembangunan di kawasan lahan basah. dan (3) pemusatan dampak penting. peta sistem lahan. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. Sehubungan dengan itu.1 Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. atau penting tidaknya dampak. Akan tetapi setiap sentuhan proyek pembangunan yang mengganggu dan mengubah keseimbangan alami itu. Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar dampak.dan pengrusakan lingkungan alam. baik langsung maupun tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kesehatan masyarakat. Adapun metode identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Penelaahan pustaka: 191 . Misalnya. Dengan Hak Ulayat ini. instansi yang bertanggungjawab. perlu memperhatikan tradisi pemilikan lahan yang luas itu sebagai aspek pertimbangan utama. masyarakat hukum adat yang bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh. peta tata guna tanah. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. Keadaan ini menempatkan aspek sosial budaya sebagai komponen lingkungan yang tetap harus diperhatikan. Dengan kata lain suatu proyek pembangunan harus mempertimbangkan pola kebudayaan lokal. pada keadaan yang masih alami ciri itu sangat menonjol. maka sikap masyarakat bisa negatif terhadap aktivitas proyek pembangunan. pemrakarsa kegiatan. apabila terjadi pengambilalihan tanah Hak Ulayat maka perlu dipertimbangkan untuk seyogyanya tidak secara penuh meliputi setiap jenis sumberdaya terkait yang justru menjadi sumber nafkah penduduk. Dengan demikian. Namun. dalam konsepsi hak ulayat tersebut ternyata masih ada hak anggota masyarakat secara individu menguasai sebagian obyek penguasaan Hak Ulayat tersebut dengan sistem tertentu. seperti peta vegetasi. tapi ada yang harus dikendalikan agar tidak meluas pengaruhnya. sekunder. Kehati-hatian diutamakan di sini. isu lingkungan di kawasan lahan basah juga perlu diperhatikan. Semangat dan aktivitas gotong royong di kawasan lahan basah berbeda dengan kawasan-kawasan lain. sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan upaya gotong royong dalam memperluas lahan usaha.1. 3. hak untuk menanam ikan diperairan dalam kawasan proyek bekas tanah Hak Ulayat hendaknya tetap diberikan kepada penduduk setempat. dan dalam keadaan keseimbangan maka keberadaan air akan menopang kehidupan sehari-hari. Kawasan lahan basah di Indonesia ada yang berada dalam lingkup pengaruh atau telah merupakan perkampungan bahkan ada yang sudah merupakan bagian dari wilayah kota besar. Dari segi sosial-budaya. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. Hak masyarakat atas tanah yang terwujud dalam Hak Ulayat di kawasan lahan basah berupa: (1) Hak untuk meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di wilayah/wewenang hukum masyarakat bersangkutan. Spektrum kegiatan gotong royong dalam suatu kekerabatan atau kelompok sosial di kawasan lahan basah relatif luas dibandingkan dengan kawasan lainnya. karena suatu keputusan yang tidak transparan oleh aparat tidak akan didukung oleh masyarakat setempat. misalnya sistem lelang lebak-lebung di Sumatera Selatan. Oleh karena itu dapat dipahami jika terhadap sumberdaya alami yang dilingkupi oleh hak ulayat itu terdapat gengsi kesukuan yang tinggi. Dapat dilihat bahwa penguasaan lahan oleh suatu keluarga dapat mencapai 2 sampai 5 Ha. Jika tidak demikian. BAB III. dan (2) Hak untuk berburu dalam batas wilayah atau wewenang hukum masyarakat merdeka.

Radioaktif iv. Interaksi kelompok (rapat. Pengalihan aliran iv. b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Limbah padat ii. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa i. Matrik interaksi sederhana. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei. Pengurangan/pembuangan lahan Seperti antara lain : pembangunan tambak ii. Pembangunan saluran drainase ii. Penebangan vegetasi ii. Hasil Langkah 1 Daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1. Langkah 1 Buat daftar rencana kegiatan proyek yang akan dibangun di daerah lahan basah. Kegiatan konstruksi. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial aktivitas proyek di daerah lahan basah. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Daftar uji sederhana. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. 192 . danau) ii. dan Pengamatan lapangan (observasi). Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah i. Limbah cair iii. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/I992 tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagai sumber informasinya yang lebih rinci. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi i. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. air tanah dalam d) Kegiatan penerimaan tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah i. Kanalisasi sungai iii. Pemungutan hasil iii. Limbah Industri vi. Limbah domestik v. Kegiatan operasi. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi i. Kimia iii. Penambahan/pengurukan lahan Seperti antara lain : pembangunan jalan iii. Introduksi spesies asing 3. lokakarya.Analisis isi (content analysis). air permukaan (sungai. Panas vii. brainstorming dan lain-lain). yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Aksesibilitas wilayah ii. Minyak ii. Pengambilan/perburuan satwa ii. Pusat-pusat pertumbuhan baru Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi pro dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1.

identifikasikan fungsi atau manfaat yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan yang akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya proyek. Debit dan pola aliran iii. hutan rawa payau. hutan bakau. hutan rawa bergambut. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Sifat kimia tanah 2. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas Satwa Liar i. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. Komponen Biologi a) Komunitas Vegetasi i. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. kesehatan. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. identifikasikan komponen ekosistem yang akan mengalami perubahan akibat adanya proyek. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. hutan rawa air tawar. dan 4. pendidikan. Tinggi. Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen lingkungan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek. Langkah 3 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. litologi ii. Sifat fisik tanah iii. Dalam Panduan ini tipe ekosistem dimaksud dibatasi pada: 1. Tinggi dan elevasi muka air (pasang surut) ii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Curah hujan ii. Kecepatan angin b) Hidrologi. Panjang penyinaran matahari iv. Pola sedimentasi dan drainase v. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. nekton iii. Fisiografi.Hasil Langkah 2 Daftar tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi proyek dan/ atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. yang meliputi: i. yang meliputi: i. 193 . yang diantara adalah: 1. lama. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 3. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. 3. yang meliputi: i. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. 2. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. dan frekuensi genangan/banjir iv.

seperti kayu. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. 2. Hasil langkah 5 Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8. getah. 3. 4. 16. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. terutama pengendalian banjir 3. Fungsi sosial budaya. Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. yang berupa perlindungan garis pantai. Fungsi transportasi/perhubungan 12. 9. serta peninggalan sejarah. 17. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7. Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem sebagaimana Hasil Langkah 2. rotan. Langkah 5 Buat matrik dampak komponen lingkungan yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan lahan basah (Hasil Langkah 3). Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. obat. 13. diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang potensial akan terkena dampak. ekosistem. keagamaan dan spiritual. 14. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. geomorfologi dan geologi.Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi atau manfaat untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang diantaranya meliputi: 1. Fungsi pemasok energi. 10. komunitas. dan listrik-hidro. ikan dan daging satwa liar. 194 .1. dan pemecah angin (windbreak) 5. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. dan lansekap lahan basah. Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. seperti energi kayu. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. berupa estetika lansekap. habitat satwa liar dan tumbuhan penting.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BA PEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6 dari identifikasi dampak potensial. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. 11. pengendalian erosi. Fungsi pengendalian air. a) b) c) a) b) Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. Fungsi sosial ekonomi. Buat matrik dampak fungsi ekosistem yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen fungsi ekosistem lahan basah (Hasil Langkah 4). seperti proses ekologi. dan gambut. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (ground water recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi.

batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra konstruksi.2.Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting tergolong terkena dampak besar dan penting. sosial maupun ekologi.1. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta vegetasi/peta tata guna tanah/peta sistem lahan yang tersedia. Hasil Langkah 10 Isu-isu pokok lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi.1. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. konstruksi dan operasi di daerah lahan basah. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil langkah 7.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak besar dan penting. Lihat pula matrik pada lampiran 3-1 sebagai contoh. b. Hasil Langkah 1 Diperoleh batas kegiatan proyek di daerah lahan basah di atas peta yang digunakan. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7.yakni yang meliputi: a. 195 a) . 3. dan Lampiran II Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: KEP-229/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan KA-ANDAL.3 Pemusatan dampak besar dan penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak besar dan penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. Hasil Langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan pokok yang akan dialami ekosistem lahan basah yang bersifat mendasar akibat adanya proyek. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak besar dan penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan. Catatan Langkah 9 Dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui: Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak besar dan penting di suatu lokasi.2. b) Keterkaitan antar dampak besar dan penting yang telah di identifikasi pada butir 3.1.1. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat (social institution) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. Hasil Langkah I dari butir 3. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan Hasil Langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi.1 dapat digunakan untuk memandu hal ini. dan/atau Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak besar dan penting proyek. sosial dan ekologi. Komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. 3.

Hasil Langkah 2 sampai 4 dari proses Identifikasi Dampak Potensial. swasta dan/ atau lembaga lokal masyarakat setempat Hasil Langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1.b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. a) b) Catatan Langkah 2 Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air. Catatan Langkah 1 Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau kegiatan/proyek akan melakukan kegiatan pra konstruksi. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. Catatan Langkah 3 Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. batas HPH. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak mendasar dari proyek misalnya. dapat memandu mengarahkan hal ini. dimana proses-proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah I dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1 dan 2. Dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkena dampak penting kegiatan proyek. Hasil Langkah 2 Diperoleh batas ekologis di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi tempat terjadinya gangguan atau kerusakan terhadap fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek. udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. Catatan Langkah 4 Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. konstruksi dan operasi. 196 . Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek. d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembagalembaga masyarakat yang berpotensi berubah mendasar sebagai akibat rusaknya sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek. batas kuasa pertambangan. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. terhadap ekosistem lahan basah di sekitarnya. melalui media air. melalui penyerapan tenaga kerja.

batas sosial (Hasil Langkah 3). 4. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. RKL dan RPL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan AMDAL.2 Wilayah studi ANDAL daerah lahan basah 197 .1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan kerangka Acuan ANDAL. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. dan batas administratif (Hasil Langkah 4). Skema Proses Pelingkupan Dampak Penting dan Studi BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN 4. waktu. batas sosial.Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (Hasil Langkah 1). Karena itu. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas proyek. batas ekologi (Hasil Langkah 2). Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. ANDAL. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. Pelingkupan Dampak Penting Identifikasi Dampak Potensial Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek Langkah 2: Identifikasi Tipe Eksosistem Langkah 3: Identifikasi Komponen Lingkungan Langkah 4: Identifikasi Fungsi Ekosistem Langkah 5: Matrik Identifikasi Dampak Langkah 6: Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan Wilayah Studi Langkah 1: Penetapan Batas Proyek Evaluasi Dampak Potensial Langkah 7: Evaluasi Sifat Penting Dampak Langkah 8: Dampak Penting yg Ditelaah ANDAL Langkah 2: Penetapan Batas Ekologi Langkah 3: Penetapan Batas Sosial Langkah 4: Penetapan Batas Administratif Pemusatan Dampak Penting Langkah 9: Pengelompokkan Isu-isu Lingkungan Langkah 10: Pengurutan Isu-isu Lingkungan Langkah 5: Penetapan Wilayah Studi ANDAL Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL Rencana Kegiatan Proyek yang perlu Isu Pokok/Dampak Penting Ditelaah Mendalam Lingkungan yang perlu Ditelaah Mendalam Gambar 3-1. batas ekologi. dan tenaga yang tersedia. dalam panduan ini tidak dijelaskan tentang outline tersebut. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.2. batas administratif dan kendala teknis yang dihadapi. Hasil Langkah 5 Diperoleh batas wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. termasuk yang tergolong terkena dampak penting.2 METODE STUDI 4.2. 4. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana.

Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL daerah lahan basah dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. saat pengambilan sampel kualitas air harus dapat mewakili pola pasang surut yang ada. d) Khusus untuk aspek sosial. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas keakuratan dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/ pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (emic). c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b).serta sifat dan karakter komponen lingkungan yang diukur. maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: metode pengambilan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. c) Mengingat ekosistem lahan basah yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. Waktu pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. bulanan atau musiman. b) Dampak besar dan penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem lahan basah serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. kampung. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. 4. Tabel 4-1 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Fisik Kimia 198 . Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL.2. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem lahan basah sebelum proyek dibangun. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). dalam studi ANDAL di ekosistem lahan basah yang terpengaruh gerak pasang surut air laut. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. Sebagai misal. dan dilain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak.

Sekunder & Tersier · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Spektrofotometrik Tanah · Fisiografi.Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Iklim · Curah hujan · Suhu dan · Pengumpulan · Pelabuhan · Tabulasi data data sekunder Udara terdekat · Klasifikasi Schmith kelembaban nisbi udara · Stasiun & Ferguson. dan freLapang kuensi genangan/banjir · Pola sedimentasi dan drainase · Warna · Rasa dan bau · Kekeruhan · Padatan tersuspensi · pH · DHL · Pengukuran insitu · Pengambilan sampel air · Sungai · Saluran Primer. lama. Sekunder & Tersier · Analisis Hidrograf · Pengukuran Lapang · Penilaian Ahli Sifat fisik air permukaan · Sungai · Saluran Primer. · Pengamatan · Lama penyinaran Meteorologi Koppen dan Lapang terdekat. litologi · Sifat fisik tanah · Sifat kimia tanah · Observasi Lapang · Pengeboran dan pengam bilan contoh tanah. Sifat kimia air permukaan · DO · BOD · COD · Kesadahan Total · Kalsium (Ca) · Magnesium (Mg) · Mangan (Mn) · Karbonat (CO3) · Nitrit (NO2) · Nitrat (NO3) · Sulfat (SO4) · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Sungai · Saluran Primer. Oldeman matahari · Kecepatan angin Hidrologi · Tinggi dan elevasi muka · Pengukuran air Lapang · Debit dan pola aliran · Pengamatan · Tinggi. · Lahan gambut · Lahan rawa · Penilaian Ahli · Analisa laboratorium 199 . Sekunder & Tersier · Visual · Organoleptik · Gravimetrik · Elektrometrik.

Aspek Biologi Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Komunitas Vegetasi · Keanekaragaman · Transek · Hutan Bakau · Penghitungan jenis/komunitas · Pengumpulan · Hutan Rawa Indek Nilai vegetasi data sekunder · Hutan Payau Penting (INP) · Keanekaragaman · Analisis vegetasi · Indek Keanekajenis/komunitas biota · Observasi ragaman air/phytoplankton lapangan · Indek Kesera· Struktur dan · Transek gaman Jenis. vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi · Zona habitat khusus dan plasma nutfah Komunitas Satwa Liar · Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar · Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton.Tabel 4-2 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data. 200 . komposisi vegetasi · Pemetaan · Jenis dan populasi Plasma Nutfah. · Tabulasi Jenis Satwa Liar yang di Lindungi. nekton · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi · Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi · Pengumpulan data sekunder · Analisis satwa liar · Observasi lapangan · Hutan Bakau · Penghitungan · Hutan Rawa Indek Nilai · Hutan Payau Penting (INP) · Indek Keanekaragaman · Indek Keseragaman Jenis.

kesehatan. dan tabulasi siWawancara · Wilayah lang administrasi · Penilaian Ahli proyek. · Tabulasi silang · Analisis deskriptif dan tabulasi silang · Penilaian Ahli 4. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei : b) Kegiatan pembebasan lahan 2.4. pemukiman · Aktivitas perekonomi · Observasi lapang penduduk dan perdagangan · Wawancara terdekat. Pembangunan saluran drainase ii.· Analisis deskriptif Observasi lapang duduk terdekat. Introduksi spesies asing 201 . dan peribadatan Pengumpulan · Desa-desa/ · Tabulasi silang data sekunder. Penambahan/pengurukan lahan iii. Pengalihan aliran iv. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. pendidikan. Kegiatan konstruksi. · Kesehatan lingkungan adat. 4. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Kanalisasi sungai iii. pemukiman pen.3 URAIAN RENCANA DAN USAHA ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana kegiatan pembangunan kawasan lahan basah hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. Pengambilan/perburuan satwa ii. Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Sosial Budaya · Adat istiadat · Pengumpulan · Desa-desa/ · Kelembagaan tradisional data sekunder. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): 1.2. Penebangan vegetasi ii.Tabel 4-3 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Sosial Komponen Lingkungan Sosial Ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan · Kepadatan dan · pertumbuhan penduduk · Persebaran penduduk · · Peluang bekerja dan · berusaha · Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam · Persarana perhubungan air · Pemukiman penduduk · Fasilitas umum. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi : i. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi : i. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa : i. Pemungutan hasil iii. · Sistem pertanian dengan tokoh · Wilayah · Akulturasi dan asimilasi masyarakat dan administrasi · Kesehatan masyarakat ketua suku atau proyek.

Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 202 .4 RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas satwa liar i. lama. Pusat-pusat pertumbuhan baru Di berbagai jenis kegiatan tersebut usahakan dapat diutarakan perihal : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. Kecepatan angin b) Hidrologi. Tinggi dan elevasi muka air ii. yang meliputi: i. Limbah domestik v. Sifat fisik tanah iii. nekton iii. iv. Panas vii.3.4.2. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci detail. Pola sedimentasi dan drainase v. yang meliputi: i. Kegiatan operasi. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan operasi e) Tenaga kerja yang dicurahkan. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Tinggi. Sifat kimia tanah 2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun.2. iv Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. alternatif ruas jalan. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah : i. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. Panjang penyinaran matahari .1. air tanah dalam d) Kegiatan rekrutmen tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah : i. Kimia iii. Aksesibilitas wilayah ii. 4. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. dan frekuensi genangan/banjir iv. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). Curah hujan ii. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi: i. 4. Fisiografi. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. b) Alternatif lokasi. Minyak ii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi. Limbah Industri vi. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan . yang meliputi: i.1 Struktur ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan struktur ekosistem lahan basah saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran : i. air permukaan(sungai. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. b) fungsi dari setiap ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4.1. Komponen Biologi a) Komunitas vegetasi i. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. litologi ii. Limbah padat ii: Limbah cair iii. danau) ii. Radioaktif iv. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. 1. Debit dan pola aliran iii.

Tanah adat masyarakat setempat 17) Fungsi penelitian dan pendidikan 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat ii. Ikan dan burung-burung migran 10) Fungsi pemasok energi. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam 4. Estetika lansekap ii. rusa) iii. yang diantaranya berupa: i. yang antara lain berupa: i. Spesies langka dan dilindungi ii. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting iii. Rotan. seperti: i. Ekosistem v. kesehatan.2 Fungsi ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan fungsi-fungsi ekosistem lahan basah yang saat ini masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di daerah tersebut. Lansekap atau jenis-jenis lahan basah 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata 15) Fungsi sosial budaya. Kayu ii. Ikan dan daging satwa (misal.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. Ke lokasi lain: Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge) Pasokan air ke lahan basah lainnya 2) Fungsi pengendalian air. 203 . yang diantaranya meliputi: i. 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi ii.3. pendidikan. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). listrik-hidro 11) Fungsi transportasi/perhubungan 12) Fungsi bank gen bagi: i. seperti: i. Proses ekologi. getah. Spesies-spesies tumbuhan komersil ii. dan obat iv. Komunitas iv. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir iii. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya : a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum.4. geomorfologi dan geologi ii.2 (Langkah 8: Komponen Dampak Penting yang Ditelaah ANDAL). dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan 4. Populasi satwa liar 13) Fungsi konservasi bagi: i. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir . Rosot karbon (carbon sink) iii. Air permukaan 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). Air tanah ii. misal: energi dari kayu. ii. terutama pengendalian banjir 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: i. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat ii. yang berupa: i. Peninggalan sejarah 16) Fungsi sosial ekonomi. Keagamaan dan spiritual iii. Pemecah angin (windbreak) 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi.1. Gambut 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. yang berupa: i. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting.

proyek mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar langka dan dilindungi (gajah) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa gangguan gajah terhadap produksi pertanian. b) Ekosistem lahan basah kebanyakan masih berwujud alami. Prakiraan dampak penting aspek sosial dengan demikian harus mencermati kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat. 5) Prakiraan dampak pada komponen ekosistem lahan basah perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini: a) Ekosistem lahan basah banyak dijumpai berada antara ekosistem daratan dan ekosistem pesisir/ laut. Hasil Langkah 1 Diperoleh data dan informasi perihal besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem tertentu yang terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek.sehingga tingkat keanekaragaman hayati masih relatif tinggi sehingga prakiraan dampak harus dilakukan pada seluruh komponen ekosistem yang terkena dampak penting. Sebagai contoh: proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan dikalangan komponen sosial sendiri. yang antara lain meliputi model matematik. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Sebagai contoh. sebagaimana diutarakan pada butir 5) di atas.1. b) Mekanisme aliran dampak yang bersifat antar ekosistem: Dampak penting yang dialami suatu ekosistem akibat adanya aktivitas tertentu dari proyek mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem lainnya.2. Sehingga prakiraan dampak juga harus memperhitungkan pengaruh faktor eksternal pada komponen lingkungan yang tengah ditelaah secara mendalam untuk keperluan ANDAL. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. dan metode analogi 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. b) metode non-formal yang antara lain meliputi penilaian para ahli. dan berpendidikan rendah. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Panduan Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. zona rawa lebak terkait dengan ekosistem daratan di atasnya. dan metode grup eksperimen. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. Sebagai misal. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial.1 khususnya Langkah 2 : Identifikasi Tipe Ekosistem. c) Daerah lahan basah umumnya merupakan medan yang berat dan terisolasi sehingga kebanyakan desa yang ada tergolong miskin. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. tradisional. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada studi AMDAL Kegiatan Terpadu dan AMDAL Kawasan.2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3.1. sementara zona pasang surut terkait dengan ekosistem pesisir/laut.1. khususnya Langkah 8: Komponen Dampak Besar dan Penting yang ditelaah dalam ANDAL b) prakiraan dilakukan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terdapat dalam angka 3. 6) Mengingat dikalangan komponen ekosistem lahan basah terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. Kerusakan pada ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak di pesisir Dampak besar dan penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a) Mekanisme aliran dampak yang bersifat inter ekosistem: Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. sebagai landasan untuk menilai totalitas dampak proyek terhadap fungsi dari ekosistem lahan basah (untuk keperluan Bab Evaluasi Dampak). Sebagai misal. 204 .1 Langkah 2. Sebagai misal. Langkah 1: Prakirakan dampak penting dengan cara: a) prakirakan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). yaitu: a) metode formal. kerusakan ekosistem hutan bakau akibat kegiatan suatu proyek pembangunan dapat mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem terumbu karang di perairan pesisir dan juga pada ekosistem rawa lebak yang terletak lebih ke pedalaman.

1 khususnya Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek.1. telaah secara komprehensif perubahan seluruh komponen yang terkena dampak penting (atau dalam hal ini perubahan struktur ekosistem lahan basah) akibat alternatif kegiatan tertentu proyek. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu kegiatan proyek. b) Bila seluruh alternatif kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999.5. dan yang tercantum pada angka 4. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. lakukan telaahan sejauh mana dampak besar dan penting yang ditimbulkan terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana dimaksud pada Langkah 1 dan 2. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin dikalangan seluruh komponen dampak penting yang tercantum pada angka 4. Environmental Evaluation System).6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab evaluasi dampak penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif/holistik. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). dan/atau metode bagan alir. (Hasil Langkah 2). b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem lahan basah dimaksud Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari kegiatan proyek. Hasil Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan fungsi ekosistem. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. 205 . dengan cara: a) Untuk setiap alternatif kegiatan proyek. 4. matrik Leopold). berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). Catatan Langkah 1 Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Hasil Langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup.2 (yakni Rona Lingkungan Hidup) akan berubah secara mendasar. Hasil Langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan struktur ekosistem: akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud.Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti Langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. telaah secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem lahan basah yang dimaksud pada Langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem. dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap ekosistem lahan basah.4. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999.1. metode daftar uji berskala dengan pembobotan (misal. Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. Langkah 4 Dari alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan.

BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5.5. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem lahan basah juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. yakni Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL.2 Kedalaman dokumen rencana pengelolaan lingkungan Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. operasi maupun pasca operasi.1. Bila lebih dari 1 tipe ekosistem yang terkena dampak dan mengingat adanya keterkaitan antar ekosistem sebagaimana diutarakan pada angka 4. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.2 Langkah 10. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu dari eksosistem lahan basah. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di ekosistem lahan basah tersebut mencakup empat kelompok aktifitas.1 Lingkup dokumen rencana pengelolaan lingkungan Dokumen RKL.3 Struktur inti dokumen rencana pengelolaan lingkungan Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola b) Tujuan pengelolaan lingkungan c) Pengelolaan lingkungan d) Waktu pengelolaan lingkungan e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan f) Institusi pengelolaan lingkungan. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu tipe ekosistem lahan basah komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. program dan/ atau tindakan-tindakan untuk mencegah. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. 5. konstruksi dan operasi proyek. 5.1. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. dalam pengertian generik. tersier.6 dari Bab IV di muka. program atau tindakan untuk mencegah. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. b) Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. Lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatar belakangi kedalaman dokumen RKL.6 di muka. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada Bab Prakiraan Dampak dan Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat sifat ekosistemnya yang kompleks dan multi fungsi. Dalam konteks pembangunan proyek di ekosistem lahan basah. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di saat pra-konstruksi. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif disaat pra konstruksi. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. mendaur ulang (recycle).5 (Prakiraan Dampak Penting).dan angka 4. 206 .1. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem lahan basah. maka pada bagian ini utarakan pula komponen lingkungan dari tipe eksositem lahan basah lainnya yang akan turut tercegah/ tertanggulangi dari kerusakan.1. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem lahan basah sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder.5. konstruksi. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 5. merupakan dokumen yang memuat upaya. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan.

5. 5.2.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5. atau bahkan regional. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi.3 Struktur inti dokumen rencana pemantauan lingkungan Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau b) Tolok ukur dampak c) Tujuan pemantauan lingkungan d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisis data. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. maka sedapat mungkin dituangkan desain teknologinya. Upaya. Upaya.2. berulang dan terencana. Pemantauan dapat dilakukan pada fungsi-fungsi ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4.6. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan keterampilan operasional Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan. Pada ekosistem lahan basah pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahanperubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem lahan basah yang terkena dampak. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. Upaya. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data.c) d) e) f) Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan dapat merujuk Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan.2 Kedalaman dokumen rencana pemantauan lingkungan Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).5. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. pada dasarnya dapat dipandang sebagai pemantauan terhadap struktur ekosistem. sistematik. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana yang disebut pada halaman III-5 s/d III-6. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. ekonomi atau kelembagaan. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. 5. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. sifat kumulatif. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. kawasan. selain 6 (enam) faktor yang diutarakan pada Keputusan Menteri tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan seperti diutarakan pada paragrap berikut ini. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi.2. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). Khusus ekosistem lahan basah. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. lokasi dan jangka waktu serta frekwensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan f) Institusi pemantauan lingkungan 207 . Pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup.1 Lingkup dokumen rencana pemantauan lingkungan Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek sampai ke tingkatan ekosistem. Langkah 2). program atau tindakan untuk mencegah.

ttd Nadjib Dahlan.5 dan 4. kandungan minyak terlarut. sebagai misal). Mengingat pada ekosistem lahan basah sebagian besar tolok ukur dampak yang digunakan masih banyak yang bersifat kualitatif. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.6 (Evaluasi Dampak Penting). sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. baku mutu lingkungan keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah.6. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. upaya/ program/tindakan pengelolaan lingkungan. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3.Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. suhu. Semisal. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu tipe ekosistem lahan basah Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. bau. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. tersier. Langkah 2). ttd Dr.6 yakni Bab Prakiraan Dampak Penting dan Bab Evaluasi Dampak Penting dari dokumen ANDAL. a) Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). Menteri Negara Lingkungan Hidup. maka diperlukan kejelasan deskripsi dari tolok ukur dampak yang hendak digunakan. SH 208 . Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Tolok ukur dampak yang dimaksud disini dapat berupa baku mutu limbah cair. d) Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. f) Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. A Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. c) Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. e) Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek.1. Halhal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem).5 (Prakiraan Dampak Penting) dan angka 4. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi.2 Langkah 10. atau ketetapan resmi suatu instansi. warna. b) Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu: (proyek.

Tinggi.Pemadatan lahan i. Panas vii. Pembangunan saluran drainase ii.Aksesibibilitas wilayah . Kegiatan survei b. Penebangan veg.Penambahan/ pengurukan lahan iii. ii.danau) ii. Air permukaan (sungai. Pola sedimentasi dan drainase 209 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii.Limbah gas i. Fisiografi dan litologi ii.Pengalihan aliran iv. Limbah padat ii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Radioaktif iv.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Pengurangan/pembuangan lahan ii. Tinggi dan elevasi muka air ii.Udara c) Tanah i. Limbah cair iii. Limb. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. &frekuensi genangan/banjir iv. Kegiatan Konstruksi 3. Introduksi spesies asing i. Debit dan pola aliran iii. Pemungutan hasil iii.Industri vi. lama.Lampiran3-1MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganKomponenLingkunganDaerahLahanBasah Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan I. Curah hujan ii. Konstruksi dam . Panjang penyinaran matahari iv. Kecepatan angin b) Hidrologi i. Sifat kimia tanah iv.domestik v. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Minyak ii. Kegiatan pra-konstruksi a. Penanaman tanaman iv. Limb. Kimia iii. Kanalisasi sungai iii. Introduksi spesies asing i. Sifat fisik tanah iii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim i. Kegiatan pembebebasan lahan 2.

Limbah padat ii. satwa liar ii.Pengalihan aliran iv. Zona habitat khusus dan plasma natfah b) Komunitas Satwa Liar i. Kegiatan Konstruksi 3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.Udara I.Pusat-pusat pertumbuhan baru .domestik v. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v.Industri vi.Pemadatan lahan i. Limb. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Kegiatan survei b. Introduksi spesies asing i. Limbah cair iii.Lampiran3-1. Konstruksi dam . Pengurangan/pembuangan lahan ii. Limb. Keanekaragaman jenis/komunitas biota/phytoplankton iii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Keanekaragaman jenis/kom. Penebangan veg.danau) ii. Jenis dan populasi satwa liar yang bernilai ekologi tinggi v. Jenis dan satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1.Limbah gas i. Pemungutan hasil iii. Jenis dan populasi nekton yang bernilaiekologi tinggi vii. Pembangunan saluran drainase ii. Kegiatan pra-konstruksi a.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Minyak ii. Keanekaragaman jenis/Komunitas biota air zooplankton. Kimia iii. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Kanalisasi sungai iii.Aksesibibilitas wilayah . Panas vii. nekton iii. Radioaktif iv.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 210 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. ii. Komponen Biologi a) Komunitas V egetasi i. Air permukaan (sungai. Introduksi spesies asing i. Penanaman tanaman iv. Pengambilan/ perburuan satwa ii.

Pusat-pusat pertumbuhan baru . Pendidikan ii. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Prasarana perhubungan air f) Permukiman penduduk g) Fasilitas umum : i. Limbah cair iii. Panas vii.Aksesibibilitas wilayah . Limb. Kegiatan Konstruksi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i.Lampiran3-1. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Penambahan/ pengurukan lahan iii. Radioaktif iv. Introduksi spesies asing i. Kegiatan pembebebasan lahan 3. Minyak ii.Pemadatan lahan i. Kesehatan iii. Limb. Air permukaan (sungai. Pengurangan/pembuangan lahan ii.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 211 2.Pengalihan aliran iv. Pembangunan saluran drainase ii.danau) ii. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. ii. Kanalisasi sungai iii.domestik v. Kegiatan pra-konstruksi a. Kimia iii.Industri vi.Limbah gas i.Udara I. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Kegiatan survei b. Pemungutan hasil iii. Introduksi spesies asing i. Limbah padat ii.Kepribadian h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomian dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Keterangan: 1. Penanaman tanaman iv. Penebangan veg. Konstruksi dam .

ikan dan daging satwa liar. Pengurangan/pembuangan lahan ii. getah. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. 212 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. Kegiatan Konstruksi 3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. obat. Konstruksi dam . rotan. Limbah cair iii. Introduksi spesies asing i. 4. Penanaman tanaman iv. Kanalisasi sungai iii. Limb. Limbah padat ii. Pemungutan hasil iii. 9. Minyak ii. Kegiatan pembebebasan lahan 2.Lampiran3-2. Pembangunan saluran drainase ii. dan pemecah angin (windbreak) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. 7.danau) ii. Kegiatan pra-konstruksi a. ii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. dan gambut. terutama pengendalian banjir Fungsi pencegah instrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahanbahan beracun. Kegiatan survei b.Penambahan/ pengurukan lahan iii. seperti kayu. 2.domestik v. 8.Udara Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air).Industri vi. 6. Panas vii. pengendalian erosi.MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemLahanBasahuntukTipeEkosistem: hutan bakau/hutan rawa payau/hutan rawa bergambut/ hutan rawa air tawar Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan 1. Air permukaan (sungai. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Penebangan veg. yang berupa perlindungan garis pantai. Fungsi pengendalian air. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran Keterangan: 1. Radioaktif iv.Pemadatan lahan i. 3.Limbah gas i. Kimia iii. Introduksi spesies asing i. 5.Aksesibibilitas wilayah . Limb.Pengalihan aliran iv. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya.

Lampiran3-2.(lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3

Komponen Lingkungan

213
Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penebangan veg. ii. Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. Kimia iii. Radioaktif iv. Limb.domestik v. Limb.Industri vi. Panas vii.Udara

10. Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrikhidro 11. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar 13. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem, dan lansekap lahan basah. 14. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah 16. Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 17. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah asam sulfat.

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebebasan lahan

2. Kegiatan Konstruksi

3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Limbah gas i. Air permukaan (sungai,danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah

Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan

Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi

i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan

i. Pembangunan saluran drainase ii. Kanalisasi sungai iii.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam

- Aksesibibilitas wilayah - Pusat-pusat pertumbuhan baru

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : 1. Bahwa untuk melaksanakan Pasal 8 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Pasal 2 Ayat (3) angka 18 serta Pasal 3 ayat (5) angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, perlu menetapkan Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 2. Bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemeritah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. BAB I TUGAS, WEWENANG, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut komisi penilai mempunyai tugas menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi Penilai dibentuk : a. Di tingkat Pusat oleh Menteri; b. Di tingkat Propinsi oleh Gubernur; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh : a. Tim teknis komisi penilai yang selanjutnya disebut tim teknis; b. Sekretariat komisi penilai yang selanjutnya disebut sekretariat komisi penilai. (4) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. Kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan/atau menyangkut pertahanan dan keamanan seperti: pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor, submarine tailing, teknologi peluncuran satelit, teknologi rekayasa genetika, eksploitasi minyak dan gas, pembangunan kilang minyak, penambangan bahan galian radioaktif, pembangunan industri pesawat terbang, pembangunan industri senjata, pembangunan industri bahan peledak, pembangunan industri yang menggunakan bahan baku dari limbah import, pembangunan bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan samudera, pengolahan limbah terpadu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 214

(5)

(6)

(7) (8)

b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu wilayah propinsi; c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; d. Di wilayah laut diatas 12 (dua belas) mil; dan e. Di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Propinsi berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi: a. Rencana usaha dan/atau kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas seperti: pembangunan industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp, pembangunan industri semen dan quarry-nya, pembangunan industri petrokimia, pembangunan hak pengusahaan hutan beserta unit pengelolaannya, pembangunan hutan tanaman industri beserta unit pengelolaannya, budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan unit pengelolaannya, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi/diesel, pembangunan bendungan, pembangunan bandar udara diluar kategori bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan diluar kategori pelabuhan samudera; b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota; dan c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) mil. Komisi penilai Kabupaten/Kota berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi semua rencana usaha dan/atau kegiatan diluar kewenangan Pusat dan Propinsi, sebagaimana diatur melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dalam hal Kabupaten/Kota tidak atau belum mampu melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan menyerahkan kewenangan tersebut kepada Propinsi. Dalam hal Propinsi tidak mampu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan (7), maka komisi penilai propinsi dapat meminta bantuan kepada komisi penilai pusat. Pasal 2

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 1, komisi penilai mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan di tingkat Pusat; b. Gubernur di tingkat Propinsi; dan c. Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 3 (1) Keanggotaan Komisi penilai terdiri dari : ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota serta anggotaanggota lainnya. (2) Ketua Komisi penilai sebagaimana di maksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat adalah Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Di tingkat Propinsi adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah; c. Di tingkat Kabupaten/Kota adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/ Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup ditingkat Kabupaten/Kota. (3) Ketua Komisi penilai bertugas : a. Melakukan koordinasi proses penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup; b. Menyampaikan bahan pertimbangan komisi penilai sebagai dasar pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota. (4) Sekretaris komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat dijabat oleh Kepala Direktorat yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; b. Di tingkat Propinsi dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi; c. Di Tingkat Kabupaten/Kota dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. (5) Sekretaris Komisi Penilai bertugas : a. Membantu tugas ketua; b. Merumuskan hasil penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan komisi penilai. (6) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai pusat memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; 215

Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (7) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Propinsi memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; f. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (8) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Kabupaten/kota memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya yang didasari atas kaidah ilmu pengetahuan, bagi para ahli; c. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; d. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 4 (1) Tim Teknis di bentuk : a. Di tingkat pusat oleh Menteri Departemen Teknis atau Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang berkedudukan di masing-masing sektor, Tim ini merupakan bagian dari tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999; b. Di tingkat Propinsi oleh Kepala Bapedal Daerah Propinsi selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Propinsi; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Kepala Bapedal Daerah Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. (2) Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang secara ex-officio dijabat oleh sekretaris komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. (2) Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesesuaian dengan pedoman umum dan/atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan; c. Kesesuaian lokasi dengan tata ruang; d. Ketepatan penerapan metode penelitian/analisis; e. Kesahihan data yang digunakan; f. Kelayakan desain, teknologi dan proses produksi yang digunakan; g. Kelayakan ekologis. Pasal 6 Dalam menjalankan tugasnya, tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 7 (1) Sekretariat Komisi Penilai berkedudukan di : a. Tingkat Pusat di Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Badan Pegendalian Dampak Lingkungan b. Tingkat Propinsi di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi c. Tingkat Kabupaten/Kota di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Sekretariat komisi penilai dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada ketua komisi penilai. 216

f.

Pasal 8 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan, perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh komisi. Pasal 9 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. BAB II KERANGKA ACUAN Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 10 (1) Kerangka acuan yang dinilai oleh : a. Komisi penilai Pusat, diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat; b. Komisi penilai Propinsi, diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai Propinsi; c. Komisi penilai Kabupaten/Kota, diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota; (2) Dokumen kerangka acuan yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar. (3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana di maksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal penerimaan dokumen. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 11 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis menilai kerangka acuan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. (3) Penilaian oleh Tim Teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (4) Semua saran, pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai. (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 12 (1) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai kerangka acuan (2) Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal rapat. (3) Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. (4) Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh sekretaris penilai. (5) Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. (6) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. (7) Dalam rapat penilaian, semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6), (7) dan (8). (8) Komisi penilai wajib memperhatikan saran, masukan dan tanggapan dari masyarakat dalam proses penentuan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan. (9) Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. (10) Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretaris komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (11) Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan kerangka acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (12) Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (13) Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian, ketua komisi setelah mendengarkan saran-saran tim teknis 217

(2) Dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi di tingkat Propinsi. (4) Di tingkat Pusat. b. c. d. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh: a. Komisi penilai Kabupaten/Kota. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. d. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat. diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. c. b. diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai propinsi. Menerbitkan Keputusan Kesepakatan Kerangka Acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. b. Komisi penilai Pusat. Gubernur yang bersangkutan. (14) Ketua Komisi penilai selaku : a. d. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Deputi Kepala Badan Pegendalian Dampak Lingkungan yang menangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup di tingkat Pusat. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (2) Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan hasil rapat penilaian komisi penilai. (15) Apabila rencana lokasi dilaksanakan usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Komisi penilai Propinsi. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 14 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. (7) Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kesepatan kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. (6) Di tingkat Kabupaten/Kota. maka komisi penilai wajib menolak kerangka acuan tersebut. c. c. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Gubernur kepada: a. c. b. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. Bagian Keempat Keputusan Pasal 13 (1) Keputusan kesepakatan kerangka acuan diterbitkan oleh : a.berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat. c. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar 218 . b. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib memuat kesepakatan tentang ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. BAB III ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. (5) Di tingkat Propinsi. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup. b. Gubernur yang bersangkutan. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan kepada: a.

Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. 219 . Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian. Dalam rapat penilaian. pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. ketua komisi berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan analisis dampak lingkungan hidup. komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. bagi analisis dampak lingkungan hidup. (4) Semua saran. untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian.(3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan mencatat hari dan tanggal penerimaan dokumen. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. masukan dan tanggapan dari masyarakat. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Dalam penilaiannya. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6). Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (7) dan (8). Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi pusat. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. bagi analisis dampak lingkungan hidup. komisi penilai wajib memperhatikan saran. (3) Penilaian oleh tim teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. Semua saran. Gubernur. maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. maka rapat dipimpin oleh sekretaris komisi penilai. c. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Ketua komisi penilai menyampaikan berita acara penilaian dan dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) kepada: a. Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. b. rencana pengembangan wilayah. Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. Bupati/Walikota. Bagian Keempat Keputusan Pasal 17 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan diterbitkan oleh: a. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Pusat. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Dalam melaksanakan tugasnya. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 15 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian.

dan e. e. Bupati/Walikota. Di tingkat Pusat pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 18 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada : a. c. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. 220 . Bupati/Walikota yang bersangkutan. Gubernur yang bersangkutan.(2) (3) (4) (5) (6) b. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. (2) Dengan berlakunya keputusan ini. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. f. instansi terkait lainya. ttd Dr. c. tim teknis. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor : Kep-13/MENLH/ 3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL dinyatakan tidak berlaku lagi. b. Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan : a. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. d. Di tingkat Propinsi pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. Di tingkat Kabupaten/Kota. bagi dokumen yang dinilai oleh Komisi penilai Kabupaten/Kota. g. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Gubernur kepada : a. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. b. Di tingkat Propinsi. d. instansi terkait lainya di tingkat Propinsi. Dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan di tingkat Propinsi. f. Di tingkat Pusat. Menteri. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Gubernur. d.H. c. b. Menteri. c. instansi terkait lainya di tingkat Kabupaten/Kota. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. b. e. c. Pertimbangan terhadap saran. A. BAB V PENUTUP Pasal 19 (1) Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 Nopember 2000. Gubernur yang bersangkutan. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. Bupati/Walikota yang bersangkutan. S. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan. Di tingkat Kabupaten/Kota pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat. Ditetapkan : di Jakarta Tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3. Susunan Organisasi. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. budaya. d. ekonomi. Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. 5. Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang biogeofisik-kimia. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). dan lingkungan sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis. bahwa untuk melaksanakan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Mengingat : 1. Fungsi. Menimbang : 1. 9. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 4. Tugas. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. perlu menetapkan Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/ Kota. dan 221 . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). 3. perencanaan pembangunan wilayah/daerah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839).KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. c. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. BAB I PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI Pasal 1 Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota wajib memenuhi kriteria: a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. b. 8. dan Tata Kerja Menteri Negara. Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai. 7. 6. sosial. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 di atas. 2. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup belum mengatur tentang Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. kesehatan.

Tim teknis terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. g. 3. Pasal 3 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota berkedudukan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau di instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Susunan keanggotaan terdiri dari Ketua merangkap sebagai anggota. anggota lain yang dianggap perlu. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah Kabupaten/Kota. wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota. wakil dari organisasi lingkungan sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Tim teknis komisi penilai. 222 . 4. i. wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan daerah Kabupaten/Kota. wakil dari masyarakat yang terkena dampak. 2.e. c. Sekretaris merangkap sebagai anggota. komisi penilai dibantu oleh: a. dan anggota-anggota lainnya. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 5 1. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan daerah Kabupaten/Kota. Pasal 7 Dalam melaksanakan tugasnya. Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang dalam hal ini dirangkap oleh sekretaris komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. j. b. ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Daerah Kabupaten/Kota. ahli di bidang lingkungan hidup. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 6 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota bertugas menilai kerangka acuan. b. wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. k. f. wakil dari instansi terkait di daerah Kabupaten/Kota. Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurangkurangnya untuk parameter air dan udara baik laboratorium yang berada di Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat. 2. Sekretariat komisi penilai. Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup baik dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau dari instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. BAB II SUSUNAN KEANGGOTAAN Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 4 1. d. analisis dampak lingkungan hidup. e. l. Pasal 2 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota. Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. h. Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup.

perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung. Ketepatan penerapan metoda penelitian/analisis. Kesesuaian dengan pedoman umum dan atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. d. sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. e. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. tim teknis. 2. analisis dampak lingkungan hidup. 223 . Ditetapkan Tanggal : di Jakarta : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Bupati/Walikota. Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan. tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis dan bertanggung jawab kepada komisi penilai. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 9 1. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan. c. teknologi. Nadjib Dahlan. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 11 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan.H. Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. b. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd.Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas. dan proses produksi yang digunakan. ttd Dr. Pasal 10 Dalam menjalankan tugasnya. Kesahihan data yang digunakan. Kelayakan desain. BAB V PENUTUP Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. S. Pasal 12 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 13 Biaya atas pelaksanaan kegiatan komisi penilai. A.

Fungsi. A.H. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). ME MUTU S KAN : Menetapkan : Pertama : Kedua Ketiga : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 8. perlu dibentuk Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. 6.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 9 dan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Setiap anggota komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat mempunyai kewenangan pengambilan keputusan dari instansi/organisasi/masyarakat yang diwakilinya. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 Tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). ttd. Ketua tim teknis dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Anggota komisi penilai dan tim teknis dalam melaksanakan tugasnya wajib memperhatikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 4. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000. 5. 224 Mengingat : Keempat: Kelima : Keenam : . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Susunan Organisasi. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. Susunan keanggotaan komisi penilai dan tim teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran I dan II dalam Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. S. 7. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . 3. Tugas. dan Tata Kerja Menteri Negara. Dr. 2.

15.H. 4. 8. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . 225 . Menteri Negara Lingkungan Hidup. 13. 9. 6. Jabatan/Instansi Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kepala Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 18. 7. S. 3. 19. 17. 10. 14. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan Wakil dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen Dalam Negeri Wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional Wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan W akil dari instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan Wakil dari departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang terkait Wakil dari Propinsi yang bersangkutan Wakil dari Kabupaten/Kota yang bersangkutan Ahli di bidang lingkungan hidup Ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan Wakil dari organisasi lingkungan hidup/ Lembaga Swadaya Masyarakat sesuai dengan bidang usaha dan/ atau kegiatan yang dikaji Wakil dari masyarakat terkena dampak Anggota lain yang dianggap perlu Kedudukan Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota 1. 2. 16. 11. 12. 5. ttd Dr.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. A. 20.

LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. S. 5. Anggota 3. Jabatan/Instansi Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang paling dominan Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan lainnya Ahli dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Ahli lain di bidang ilmu yang terkait Ahli lain di bidang kegiatan yang bersangkutan Kedudukan Ketua merangkap anggota 2. A.H. 1. Anggota Anggota Anggota Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Dr. 4. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . 226 .

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL Mengingat : Pertama: Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Keputusan ini. 7. 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan.30/MENKLH/7/1992 TENTANG PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338). 4.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP . 6. Panduan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan serta Organisasi Staf Menteri Negara. 8. ttd Emil Salim. 227 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pengangkatan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup . Tugas Pokok. 5. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01Tahun 1990 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan Andal. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3125) . 1. Peraturan Pemerintan Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1986. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kedua: Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 16 Juli 1992 Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 2. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

metode. serta membantu menelaah dampak kumulatif dari proyek-proyek tersebut. Menetapkan lingkup studi dan rancangan studi ANDAL/SEL secara sistematis. Ketiga pertimbangan tersebut pada dasarnya dapat terwujud dengan baik dalam dokumen KA bila dalam penyusunan KA ditempuh suatu proses yang dikenal sebagai pelingkupan (scoping). sehingga data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan yang akan timbul. dan prosedur pelingkupan untuk penyusunan dokumen KA 2. instansi pemerintah yang terkait. Manfaat Manfaat pelingkupan adalah sebagai berikut: a. PENGERTIAN. berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Keanekaragaman KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan ANDAL/SEL. dengan meniadakan hal-hal yang dipandang kurang atau tidak penting untuk ditelaah. Tujuan Pelingkupan bertujuan untuk: a. ditegaskan bahwa dokumen Kerangka Acuan (KA) disusun karena adanya pertimbangan: 1. 2. dan adanya arahan yang tegas dalam lingkup serta kedalaman studi ANDAL/SEL.3. Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak. dan instansi pemerintah yang berwenang/terkait dapat memahami pengertian. proses. tenaga). 2. 3. e. Panduan ini merupakan pendukung ( suplemen) untuk penyusunan KA sehingga dokumen KA yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan teknis seperti yang digariskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam penyusunan ANDAL/SEL.2. 228 . Menetapkan tingkat kedalaman studi ANDAL/SEL sesuai dengan sumber daya yang tersedia (waktu. Menelaah kegiatan/proyek-proyek lain yang terkait dan terletak di wilayah studi. b. d. termasuk dokumen ANDAL/ SEL dari proyek-proyek tersebut. sehingga data dan informasi yang terkumpul hanyalah yang relevan dengan dampak lingkungan yang telah ditelaah.30/MENKLH/7/1992 : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1. Keterbatasan Sumberdaya KA memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL/SEL. tujuan. Penyusunan ANDAL/SEL dapat langsung diarahkah pada hal-hal yang menjadi pokok bahasan secara mendalam. Lampiran II. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan.LAMPIRAN NOMOR TENTANG : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA : KEP . guna menghindari pembahasan yang landung ( redundant). Panduan pelingkupan ini disusun dengan maksud agar pemrakarsa kegiatan. karena dampak bersifat yang kurang penting atau tidak relevan tidak akan dikaji dalam ANDAL/ SEL. Menyadari pentingnya arti kegiatan pelingkupan ini dipandang penting disusun suatu panduan pelingkupan yang komprehensif. serta kelompok masyarakat yang terkena dampak c. tentang Pedoman Penyusunan Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Efisiensi KA memberikan arahan tentang data dan informasi yang perlu dikumpulkan untuk penyusunan ANDAL/SEL. Pengertian Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana kegiatan. Semakin baik hasil proses pelingkupan semakin baik pula dokumen ANDAL/ SEL yang dihasilkan. 2. dana. TUJUAN DAN MANFAAT PELINGKUPAN 2. Kegiatan pelingkupan (scoping) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan KA dan hasilnya dapat berpengaruh besar pada kualitas dokumen ANDAL/SEL. manfaat.1. PENDAHULUAN Dalam Keputusan Menteri Negara LH Nomor KEP-50/MNKLH/6/1987. Lampiran II. dan Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. berkat identifikasi dampak yang semakin tajam. sehingga dokumen ANDAL/ SEL dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan yang diusulkan.

dalam penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL c. c. 3. a. senantiasa akan diarahkan untuk keperluan kajian dampak penting lingkungan. Penyusunan ANDAL/SEL dapat berlangsung dengan lebih terarah berkat adanya kejelasan lingkup studi.b. dan strategi pelaksanaan studi. berkat adanya diskusi dan konsultasi antara pemrakarsa dan berbagai pihak yang berkepentingan sejak awal kegiatan proyek. dan waktu untuk penyusunan ANDAL/SEL dapat dicurahkan lebih efektif dan efisien berkat terfokusnya studi ANDAL/SEL hanya pada dampak penting. tokoh-tokoh masyarakat. RKL. Kaitan ke tiga proses pelingkupan di atas dapat dilihat pada Gambar berikut: Identifikasi pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan menghasilkan keluaran berupa diketahuinya hal-hal penting. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang langsung memerlukan penyusunan ANDAL/SEL karena dipandang jelas menimbulkan dampak penting. Kemungkinan timbulnya konflik dan tertundanya kegiatan pembangunan proyek dapat dihindari. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang memerlukan penyusunan dokumen PIL terlebih dahulu karena “perilaku” dampak belum banyak diketahui atau diragukan. hingga berakhirnya studi AMDAL/ SEMDAL. mengingat “diikutsertakannya” berbagai pihak di luar pemrakarsa. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi terhadap hal-hal yang dianggap penting dimaksudkan untuk menentukan isi pokok yang tercakup dalam AMDAL (dan menghilangkan isi yang dianggap tidak penting). masyarakat. dan RPL. serta rekomendasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Saat Penapisan Proyek Proses pelingkupan yang dilakukan pada saat ini ditujukan untuk menetapkan: a. Pelingkupan pada saat ini lebih merupakan proses kelembagaan. dalam artian bahwa kegiatan pengumpulan data. Saat Penyusunan Kerangka Acuan Pelingkupan yang berlangsung di saat penyusunan KA pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan manfaat seperti yang dimaksud pada BAB 2 panduan pelingkupan ini. d. 3. pakar dan instansi pemerintah tentang rencana kegiatan atau proyek yang diusulkan. Evaluasi segenap dampak protensial sehingga dihasilkan dampak penting hipotetis dengan meniadakan dampak potensial yang tidak atau kurang penting. Tujuannya agar studi ANDAL/SEL dan RKL/RPL tetap berada dalam konteks menelaah dampak penting lingkungan seperti yang digariskan dalam Kerangka Acuan. RKL. penyusunan dokumen Kerangka Acuan. 229 . PROSES DAN METODE PELINGKUPAN 3. Dengan digunakannya pelingkupan pada saat penapisan proyek prosedur AMDAL/SEMDAL yang harus ditempuh oleh suatu rencana kegiatan dapat diputuskan dengan lebih tepat. b. Kegiatan pelingkupan sebenarnya berawal sejak penapisan proyek. RPL Pelingkupan pada saat ini. Pelingkupan yang dilakukan pada saat ini lebih bersifat teknis.1.1. a. Identifikasi dampak potensial yang bersumber dari pemrakarsa kegiatan. kedalaman. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dan komunikasi (pemusatan) dari isi pokok tersebut untuk membantu menganalisis isi dan membuat keputusan akhir. c.3. Pemusatan (focussing) segenap dampak penting (hipotetis) dengan maksud agar terancang lingkup dan kedalaman studi ANDAL/SEL yang jelas dan sistematis dengan fokus bahasan dan dampak penting. Proses Pelingkupan Pelingkupan untuk penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL dilaksanakan melalui serangkaian proses berikut: a. tenaga. sepenuhnya dilakukan oleh penyusun ANDAL/SEL. Waktu Pelaksanaan Pelingkupan Pelingkupan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sinambung ( continue). Biaya. dan para pakar. b. Saat Penyusunan ANDAL/SEL. seperti instansi yang berwenang.2. analisis data. Panduan yang diutarakan di sini adalah panduan pelingkupan untuk keperluan penyusunan dokumen Kerangka Acuan. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang tidak memerlukan proses AMDAL/SEMDAL.2. a.

(2) Kualitas air. (14) Warisan peninggalan budaya. (5) Kesempatan kerja.2.2. Identifikasi Dampak Potensi Kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer) maupun sekunder yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/ proyek. (10) Kepadatan penduduk. dengan maksud agar diperoleh gambaran 230 . (13) Sikap terhadap proyek. (11) Kesehatan masyarakat. (9) Kesempatan kerja. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak potensial yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. Pemusatan (Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampakdampak penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. (4) Kesuburan tanah. 3. Dengan demikian dampak potensial yang secara hipotetis dipandang penting untuk ditelaah adalah: (1) Kualitas air. (8) Vegetasi hutan. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. 3. (12) Aksesibilitas daerah. (2) Kualitas udara. Pada tahap ini yang diperlukan hanyalah menyusun daftar segenap “dampak potensial” yang mungkin akan timbul. setelah ditelaah lebih lanjut (misal melalui metode matrik atau penelaahan literatur) ternyata terdapat 6 komponen lingkungan yang tidak relevan untuk diteliti. (6) Perikanan (sungai).2. (8) Sikap terhadap proyek. dan masyarakat sekitar rencana kegiatan/proyek. catatan: contoh ini hanyak merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat). (7) Satwa liar yang dilindungi. Contoh: (Kasus Pengembangan lapangan minyak.1. Setelah melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dengan pakar. (5) Erosi. instansi pemerintah.KEGIATAN HAL-HAL PENTING ISI POKOK ANALISIS ISI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN LINGKUNGAN EVALUASI PEMUSATAN IDENTIFIKASI 3. Pada tahap ini belum ada upaya untuk mengevaluasi apakah segenap dampak potensial tersebut akan merupakan dampak penting. (3) Perikanan (sungai).2. (4) Vegetasi hutan. Identifikasi dampak potensial ini bersumber dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Dari 14 komponen lingkungan yang semula dipandang merupakan dampak potensial untuk diperhatikan. serta masyarakat yang terkena dampak. Pada tahap ini akan dihasilkan daftar dampak penting hipotetik yang belum berurutan dan terorganisir secara sistematis. instansi pemerintah. suatu lapangan minyak yang akan dibuka di dataran seluas 50 ha secara potensial diduga akan menimbulkan dampak terhadap beberapa komponen lingkungan di sekitarnya. (6) Pendapatan penduduk. (3) Kualitas udara. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan patut untuk ditelaah dalam penyusunan ANDAL/SEL. (7) Aksesibilitas hutan.3. Komponen lingkungan tersebut adalah: (1) Sedimentasi sungai.

Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) Daftar uji jenis lainnya adalah daftar-uji dengan kuesioner.1. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. Dampak penting hipotetis yang terkelompok inilah yang merupakan fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL/SEL. 3. c. metode analisis data. evaluasi. Daftar-uji (checklist). Pengamatan lapangan. setelah melalui serangkaian diskusi dan konsultasi yang intensif dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok dampak penting. lokasi pengamatan/pengukuran. pengamatan/pengukuran. (2) Dampak terhadap kesempatan berusaha dan pendapatan penduduk yang tergantung pada penangkapan ikan disungai. dan digunakan sebagai dasar untuk menjabarkan ruang lingkup. atau bila memungkinkan metode prakiraan dampak. dan metode evaluasi dampak yang akan digunakan untuk penyusunan ANDAL/SEL Lingkup kedalaman studi ANDAL/SEL ini ditetapkan sedemikian rupa sehingga dengan waktu. jumlah sample. Namun demikian metoda ini hanya memberi sedikit informasi tentang dampak yang timbul bila dibandingkan dengan metoda Daftar Uji Kuesioner (questionnaire checklist) dan matrik. Metode Identifikasi Dampak Untuk mengidentifikasi dampak potensial dapat digunakan metode identifikasi dampak lingkungan yang secara konvensional telah dikenal.2. 3.1. Daftar uji kuesioner ini akan lebih memberi manfaat bila dalam mengidentifikasi dampak potensial didukung dengan pengamatan ke wilayah sekitar rencana kegiatan. lokasi. b. Berikut diutarakan secara singkat metode-metode dimaksud: 3.1. Pertama. kedalaman dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL (batas wilayah studi. Metode identifikasi dampak. b. Metode Pelingkupan Dalam proses pelingkupan digunakan metode-metode untuk identifikasi. d. 231 .3. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing metoda tersebut. Ada tiga macam metode identifikasi dampak yang dapat dipilih untuk digunakan. segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. yang terdiri atas: a. dan pemusatan dampak penting hipotetis.3.3. dan lain sebagainya). yakni: a. Daftar-uji sederhana (simple checklist) a. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. Daftar-uji sederhana (simple checklist) Produk metoda ini sangat sederhana. dokumen ANDAL/SEL yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Daftar Uji Sederhana ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dampak potensial yang diduga akan timbul. Dari kedua kelompok dampak penting tersebut selanjutnya dijabarkan: batas wilayah studi. jumlah sampel.1.1. c. Penelaahan pustaka Analisis isi (content analysis) Interaksi grup (group process) yang terutama meliputi brainstorming. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Matrik Bagan alir (Network).3. hanya berupa serangkaian daftar tentang parameter-parameter lingkungan yang perlu mendapat perhatian akibat adanya suatu rencana kegiatan.2. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) a. e.3. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. Secara garis besar metode yang dapat digunakan adalah: a. Kedua kelompok dampak penting hipotetis tersebut adalah: (1) Dampak terhadap kualitas air dan perikanan sungai. dana dan tenaga yang tersedia.yang utuh dan lengkap. lokakarya dan rapat. Selanjutnya diurut berdasarkan tingkat kepentingannya baik dari segi ekonomi ataupun ekologis. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Delapan dampak penting yang semula belum terkelompok (menurut derajat kepentingan dampak). 3.

Bila kegiatan sudah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) perlu dilakukan pula pengamatan terhadap jalannya proses produksi dan limbah yang dihasilkan. Umumnya daftar-uji deskriptif ini diawali dengan parameter yang relevan untuk diteliti dan selanjutnya diikuti dengan petunjuk pencarian data. Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan/proyek. Bagan Alir Bagan alir (network) merupakan suatu model yang dikonstruksikan melalui jalinan hubungan sebab-akibat antara sumber penyebab dampak (kegiatan/proyek) dan faktor-faktor lingkungan yang terkena dampak.. Metode ini tergolong komunikatif untuk materi diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi pemerintah atau masyarakat awam yang ingin mengetahui dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. asal dan jumlah bahan baku yang digunakan rangkaian proses produksi..... namun demikian apabila daftar-uji ini tidak diverifikasi dengan kondisi lingkungan dan proyek yang diteliti.4. Apabila suatu kegiatan proyek.3.1. Mengingat dampak suatu proyek bersifat unik dan khas maka relatif tidak ada daftar uji yang berlaku sama untuk semua proyek di semua lokasi/ruang.3. Satu kelemahan lain dari daftar-uji adalah tidak diketahuinya secara jelas sumber penyebab dampak. Pada bagian lajur tertera berbagai kegiatan pembangunan yang direncanakan. Metoda bagan alir ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya aktivitas proyek.. Untuk kegiatan yang telah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci. Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan... Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Daftar-uji deskriptif menguraikan tentang hal-hal yang patut untuk diteliti oleh penyusun ANDAL/SEL seperti data dan informasi yang diperlukan untuk analisis parameter yang diduga sebagai dampak penting. Diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana kegiatan (misal. sumber data dan bahkan metoda perkiraan dampak yang direkomendasikan untuk diterapkan..... secara potensial diduga menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu.2.. 1.. 3. 3.. m).. dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul. Pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut rencana tata letak kegiatan. Pengamatan Lapangan Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan dokumen KA umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat... misal kegiatan ke i (i .1. b... 232 .2. Kekuatan metoda daftar-uji ini terletak pada kesederhanaannya.1... perairan umum. maka di samping akan diperoleh hasil yang bernilai juga dapat diperoleh gambaran umum tentang kedalaman dan lingkup studi ANDAL/SEL. jenis limbah yang dihasilkan.3... 3. d.3.... Matrik Matrik yang digunakan untuk keperluan identifikasi dampak merupakan matrik sederhana ( simple matrik). Wawancara singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek..3. baik dampak lingkungan yang bersifat primer.. Target ini dapat dicapai melalui serangkaian kegiatan berikut: a. c. sedang pada bagian baris tertera berbagai komponen dan parameter lingkungan.. maka kemungkinan besar butir-butir yang dipandang relevan untuk ditelaah tidak termuat dalam daftar dan sebaliknya hal-hal yang tidak relevan tercantum dalam daftar. Kelebihan matrik sederhana ini dibandingkan dengan daftar uji adalah diketahuinya sumber penyebab timbulnya potensi dampak lingkungan. Bila pengamatan lapangan ini dilakukan oleh pakar yang berpengalaman... Dengan demikian isi atau materi daftar uji yang relevan dengan karakteristik proyek dan kondisi wilayah sekitar proyek harus dikembangkan sendiri oleh penyusun ANDAL/ SEL.. misal komponen ke j (j : 1. jumlah karyawan yang diserap.2.5.4. n) maka pada interaksi ke ij diberi tanda atau noktah seperti X.3.. sekunder maupun tersier. rencana penanganan limbah dan lain sebagainya). kondisi biologi. Matrik sederhana menggambarkan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya.

Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial b. Brainstorming Metode ini terutama digunakan untuk identifikasi dampak potensial. Dalam brainstorming dampak potensial dari sudut pemrakarsa. kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak potensial (primer maupun sekunder) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/proyek.1. c. calon penyusun ANDAL/SEL.6. untuk terlibat dalam proses pelingkupan. 3. Buku-buku teks atau jurnal tentang dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. b. b.2. Metode ini mensyaratkan bahwa ketua rapat harus menguasai prosedur dan teknik penyusunan ANDAL/SEL. majalah dan televisi. 233 . perlu ditempuh prosedur pelingkupan seperti berikut ini: a. departemen sektoral. c.3. tokoh masyarakat). Melalui metode ini identifikasi dan evaluasi dampak potensial suatu rencana kegiatan dapat dilakukan lebih cepat berkat adanya data dan informasi dari studi-studi yang sejenis. Pustaka yang perlu ditelaah antara lain adalah: a. atau pemusatan dampak penting. pakar. penanggung jawab kegiatan ini juga berada di pundak pemrakarsa. PROSEDUR PELINGKUPAN Agar dokumen KA yang dihasilkan mampu mengarahkan penyusunan ANDAL/SEL seperti yang diharapkan. 3. Rapat Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. lokakarya dan brainstorming. Analisis ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dampak potensial dari sudut masyarakat. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Dampak Penting c. peserta harus mengerti benar bahwa tujuan rapat adalah untuk mengidentifikasi. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL/SEL Berikut dikemukakan langkah-langkah kegiatan pelingkupan dimaksud: 4.5.7. 4. didaftar untuk selanjutnya dievaluasi tingkat kepentingan dampaknya. mengevaluasi. Metode ini efektif untuk digunakan dalam rapat-rapat untuk identifikasi dampak potensial. atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laporan-laporan penelitian tentang masalah-masalah lingkungan di sekitar wilayah studi. Laporan-laporan resmi tentang masalah lingkungan di sekitar wilayah studi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.1. evaluasi dampak potensial. atau pemusatan dampak penting. Metode yang dapat digunakan antara lain: rapat. atau pemusatan dampak penting yang berkenaan dengan rencana kegiatan/proyek. Dokumen AMDAL/SEMDAL dari proyek-proyek sejenis atau dari proyek-proyek di sekitar wilayah studi. “Partisipasi” masyarakat dilibatkan secara tidak langsung dengan cara menelaah berita-berita yang disampaikan melalui berbagai media massa. instansi yang berwenang. a. d. seperti koran. evaluasi. Analisis Isi Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul menurut persepsi atau pandangan masyarakat. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial Seperti telah diutarakan pada butir 3. Lokakarya akan memberikan manfaat yang tinggi bila dipersiapkan dengan baik dan draft dokumen KA telah tersusun dan siap untuk dibahas dalam forum. dan masyarakat yang terkena dampak. Penelahaan Pustaka Metode ini digunakan untuk keperluan identifikasi dan evaluasi dampak potensial. instansi pemerintah yang berwenang. Persepsi masyarakat “ditangkap” secara tidak langsung melalui metode analisis ini (content analysis). Dalam rapat. Interaksi Kelompok Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. Telaahan terutama difokuskan pada respon masyarakat terhadap kehadiran proyek-proyek pembangunan di sekitarnya. Melalui metode ini dapat dilibatkan peran serta beragam instansi yang terkait dengan proses AMDAL (pemrakarsa. Mengingat inisiatif kegiatan identifikasi dampak ini berada pada pemrakarsa kegiatan. Lokakarya Metode ini dapat digunakan untuk evaluasi atau pemusatan dampak penting.

Dari segenap hasil pelingkupan tersebut selanjutnya disusun dokumen KA untuk penyusunan ANDAL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-50/MNKLH/ 6/1987. Berdasarkan hasil pemusatan ini selanjutnya dilakukan Langkah Ketiga.2. sehingga dapat dijadikan dasar untuk penjabaran lingkup dan kedalam studi ANDAL/SEL. dengan menggunakan Keputusan Menteri Negara KLH No. kedalaman. Sedang pemusatan ( focussing) dimaksudkan untuk mengorganisir dampak penting hipotetik ke dalam beberapa kelompok (lihat butir 3. Sedapat mungkin lengkapi pula dengan jenis data dan jumlah sampel yang harus dikumpulkan.2. Hal ini tidak lain karena kegiatan ini dapat diperoleh masukan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari sudut pandang masyarakat. Jenis tenaga ahli yang diperlukan berikut dengan jangka waktu yang tersedia untuk penyusunan ANDAL/SEL. evaluasi dampak potensial bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. (brainstorming) Pengamatan terhadap kondisi wilayah sekitar rencana kegiatan dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan). Konsultasi dan diskusi dengan para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultasi penyusun ANDAL/SEL).2.) dan telaahan pustaka (butir 3. dan penanggung jawab kegiatan. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Pada Langkah Kedua ini evaluasi dampak potensial dan pemusatan dampak penting ditempuh sekaligus mengingat eratnya kaitan kedua proses pelingkupan tersebut. 49/MNKLH/VI/1987.3).). deskripsi kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Perlu diketahui bahwa pada langkah ini proses pelingkupan semakin mengandalkan pertimbangan pakar (expert judgement). Jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan agar dampak penting.4. 2. Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Kedua ini meliputi: 1. 3. Pada taraf ini sudah dapat dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. calon penyusun ANDAL/SEL. Segenap dampak penting hipotetik selanjutnya disintesis jalinan keterkaitannya sehingga diperoleh di beberapa kelompok dampak penting yang akan menjadi fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL. 2. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (atau SEL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. sehingga sedapat mungkin kegiatan ini dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat diwakili dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). Evaluasi derajat kepentingan dampak setiap komponen/parameter lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak lingkungan. Dokumen yang telah tersusun ini selanjutnya diserahkan kepada Komisi Pusat AMDAL departemen untuk dibahas dan disepakati oleh instansi yang berwenang. 3. sebagai bahan acuan. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik. Pengamatan sebaiknya dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). Seperti telah diutarakan pada butir 3./ SEL. yang menjadi fokus bahasan. sehingga evaluasi dan pemusatan harus dilaksanakan secara kritis dan obyektif. serta lokasi pengumpulan data.5 dan 3. 4. Hal ini mengingat karena ruang lingkup. 2.2. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman ANDAL/SEL Pelingkupan yang dilakukan pada langkah ini bersifat lebih teknis.3. Dampak potensial yang dipandang kurang penting atau tidak relevan ditiadakan dari daftar. 3.3. tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL harus dijabarkan dari kelompok dampak penting hipotetik yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. Dari hasil kegiatan butir 1 dan 2 pemrakarsa/konsultan penyusun ANDAL/SEL selanjutnya dapat menyusun daftar dampak potensial yang bersumber dari berbagai pihak.. serta instansi pemerintah yang berwenang.6. melalui metode rapat (butir 3.Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Pertama ini adalah: 1. 3. Lampiran II.4.6. Lampiran II.. Batas wilayah studi dan batas/horison waktu untuk memprakirakan dampak penting yang akan timbul. Aspek-aspek yang dijabarkan lebih lanjut untuk keperluan penyusunan dokumen KA ANDAL/SEL perlu meliputi tentang: 1. 4. perihal peraturan perundangundangan yang berlaku untuk penyusunan Kerangka Acuan dan ANDAL/SEL. Pemrakarsa perlu terlibat secara aktif dalam kegiatan ini agar dapat dihasilkan butir-butir identifikasi dampak yang lebih jelas/tajam. 234 . dapat ditelaah secara mendalam. dan lain sebagainya. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik yang dipandang yang layak untuk ditelaah secara mendalam dalam ANDAL/SEL. Inisiatif Langkah Kedua ini juga berada pada pemrakarsa kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun ANDAL/SEL).2.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). KEDUA : KETIGA : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Pebruari 2000 Kepala Badan Lingkungan. Rincian tata cara: a. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). keterlibatan masyarakat dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. dan c. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Keputusan ini. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. 2. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.H. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. 2. b. Mengingat : PERTAMA : Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan berpedoman pada Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini. maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali. S. dan tanggapan warga masyarakat. A. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Surat Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. 235 . Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. penyampaian saran. pendapat. ttd Dr. pengumuman. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 1. Pengendalian Dampak Sudarsono. 4. Penentuan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Gubernur dapat mengatur lebih lanjut: 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

Pendapat.1 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilaksanakannya keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: 1) Melindungi kepentingan masyarakat.2 Prinsip Dasar Pelaksanaan 1) Kesetaraan posisi diantara pihak-pihak yang terlibat. Masyarakat Pemerhati: Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. HAK DAN KEWAJIBAN 2. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut. dan dengan menggunakan mekanisme perwakilan yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan butir b) dibawah : a) Penetapan lingkup masyarakat terkena dampak Penetapan lingkup warga masyarakat terkena dampak pada tahap penyusunan KA-ANDAL dilakukan atas kesepakatan bersama antara instansi yang bertanggungjawab. ANDAL. faktor pengaruh ekonomi. komunikasi. dan RPL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Penyampaian Saran. c) Tata Cara Tata cara penyampaian saran. RKL. (2) Menuliskan dengan jelas sehingga mudah dibaca. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak. khusus bagi warga masyarakat terkena dampak yang penetapannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan butir a) dibawah. dan tanggapan masyarakat yang disampaikan. pendapat. dan RPL di Komisi Penilai. (3) Menjelaskan dan atau melampirkan identitas pribadi. faktor pengaruh sosial budaya. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lingkup masyarakat terkena dampak adalah: 236 . maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 2) Memberikan saran.1 Hak-hak Warga Masyarakat Hak-hak warga masyarakat dalam proses AMDAL adalah: 1) Memperoleh informasi mengenai: a) rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL. perhatian pada lingkungan hidup. Dalam proses ini. 3) Penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. Masyarakat Terkena Dampak: Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/ atau kegiatan. 2. dan 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan. 3) Duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. e) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. pendapat. dan h) keputusan hasil penilaian dokumen AMDAL. dan/atau tanggapan atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL dan dokumen KA-ANDAL.LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1.3 Pengertian Masyarakat yang Berkepentingan: Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. Wakil Masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL: Wakil masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL adalah wakil dari masyarakat terkena dampak yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh. d) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). dan Tanggapan (1) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. dan kerjasama dikalangan pihak-pihak yang terkait. masyarakat menyampaikan aspirasi. 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan. b) Spesifikasi Teknik Penyampaian Saran. 1. Pendapat. email) atau bentuk cetak (contoh: surat pembaca di media massa) sehingga mudah didokumentasikan. pemrakarsa dan masyarakat terkena dampak terkait dengan tetap memperhatikan kemungkinan penyempurnaannya kembali pada tahap proses penilaian dokumen ANDAL. dan tanggapan dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. f) proses penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL. Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL: Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang AMDAL. kebutuhan. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. dan 4) Koordinasi. dan Tanggapan Bentuk tertulis (contoh: surat. 2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. b) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL). g) sikap instansi yang bertanggung jawab atas saran. dan masyarakat pemerhati. PENDAHULUAN 1. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan. pendapat. c) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). RKL. 1. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian.

pendapat. (2) Papan pengumuman kantor instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat dan/atau daerah. proyek peremajaan kota. Contoh : • adanya perbedaan antara kelompok warga masyarakat terkena dampak akibat isu konflik sosial budaya dengan kelompok akibat isu pencemaran lingkungan. dan tanggapan dari warga masyarakat yang disampaikan. dan tanggapan dari warga masyarakat serta respon dan sikap atas saran. Warga masyarakat terkena dampak memilih sendiri wakilnya yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. atau proyek pertambangan terhadap masyarakat suku terasing). (2) Pengumuman tertulis di media cetak harus berukuran minimal 5x3 cm 2 dan ditulis dengan huruf standar sekurang-kurangnya berukuran 10. dengan lama minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3.b) Memperhatikan karakter rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diusulkan Contoh : • jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat setempat berarti menjadikan seluruh masyarakat setempat sebagai kelompok yang terkena dampak (misalnya : proyek pembukaan lahan pertanian skala besar. • jenis usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pengaruh positif atau negatif besar pada satu kelompok masyarakat tertentu menjadikan hanya sebagian masyarakat menjadi kelompok yang terkena dampak (misalnya: proyek transmigrasi/ pemindahan pemukim perambah hutan yang akan mempengaruhi penduduk yang dipindahkan dan penduduk yang akan menerima. lingkup warga masyarakat yang terkena dampak dapat membesar/mengecil. dimana kemudian dapat memunculkan kelompok masyarakat terkena dampak yang tidak teridentifikasi sebelumnya. (3) Pengumuman pada papan pengumuman harus sekurang-kurangnya: • Ditulis dengan warna hitam dan dasar putih. dan lain sebagainya. RKL. • Berukuran minimal 60 x 100 cm 2 (4) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita ataupun spot iklan. (3) Melakukan komunikasi dan konsultasi rutin dengan masyarakat yang diwakilinya. dan 5) Memfasilitasi terlaksananya dengan baik hak warga masyarakat atas informasi dan berperanserta dalam proses AMDAL. Ukuran minimal tidak boleh dijadikan alasan tidak lengkapnya lingkup materi yang disampaikan. • Ditulis dengan huruf cetak standar dengan ukuran minimal 12. 4) Menyediakan informasi tentang proses dan hasil keputusan penilaian dokumen KA-ANDAL dan ANDAL. (3) Mengacu pada batas wilayah dampak yang ditetapkan dalam studi AMDAL Warga masyarakat yang terkena dampak haruslah warga yang memang berada di dalam wilayah dampak yang batas-batasnya ditetapkan dalam studi AMDAL. pembuatan infrastruktur desa. (2) Memperhatikan jenis isu pokok/dampak besar dan penting yang muncul Sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan bisa memiliki lingkup warga masyarakat yang terkena dampak berbeda-beda menurut jenis isu pokok/dampak besar dan penting. pendapat. 237 . 2) Mendokumentasikan dan mengolah saran. Contoh : • identifikasi dampak dan wilayah sebarannya pada saat KA-ANDAL mungkin hanya menghasilkan satu kelompok masyarakat terkena dampak. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman (1) Semua bentuk pengumuman baik tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. namun pada saat evaluasi dampak akan dapat teridentifikasi kelompok masyarakat terkena dampak baru. 3) Menyampaikan rangkuman hasil saran. (2) Menyuarakan semua bentuk aspirasi dan pendapat masyarakat yang diwakilinya secara apa adanya. Penetapan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. dan lain-lain). Kriteria dan syarat wakil masyarakat terkena dampak adalah: (1) Seseorang yang diakui sebagai juru bicara dan/atau mendapat mandat dari kelompok masyarakat terkena dampak. dan dapat ditambahkan dengan (3) Media elektronik televisi dan/atau radio. pendapat. Wujud dari pengakuan ini dapat berupa bukti yang sifatnya formal (misalnya: surat persetujuan bersama dari kelompok masyarakat yang diwakili). atau informal seperti tokoh adat dan tokoh agama setempat sebagai wakil yang disepakati). atau bentuk-bentuk pengakuan lainnya yang ditetapkan dan disetujui oleh kelompok masyarakat terkena dampak yang diwakilinya (misalnya: menetapkan tokoh masyarakat formal seperti Kepala Desa dan LKMD. (4) Memperhatikan tahapan proses kajian AMDAL Semakin jelas permasalahan dan alternatif mitigasi dampak. (1) 2.2 Kewajiban Instansi yang Bertanggung Jawab Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai penyusunan AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Media cetak lokal dan nasional. Demikian pula halnya pada saat ditemukannya alternatif mitigasi dampak dalam RKL dan RPL. disampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. termasuk juga pendapat-pendapat yang saling bertentangan. dan RPL kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dan tanggapan warga masyarakat tersebut kepada Komisi Penilai AMDAL. dan (4) Pusat dan/atau tempat pengumuman resmi yang ditetapkan dan diatur oleh instansi yang bertanggung jawab.

c) Nama dan alamat pemrakarsa. 3) Mengumumkan hal-hal: a) Nama dan alamat pemrakarsa. b) Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan. (2) Papan pengumuman di lokasi-lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. seminar. dan tanggapan dari warga masyarakat 4) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. Unit yang membidangi AMDAL. 2) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. dan 2) Mengumumkan waktu. 4) Menanggapi saran. c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat.2 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Pada saat penyusunan KA-ANDAL. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I. 3) Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL. pendapat. TATA CARA KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL 3. dan RPL kepada warga masyarakat yang memerlukannya. d) Produk yang akan dihasilkan.1 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL Pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL wajib: 1) Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab.2. Warga masyarakat yang berkepentingan berhak menyampaikan saran. 3. 238 . Instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL dengan ketentuan: 1) Mengumumkan hal-hal: a) Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/ atau kegiatan. 2) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2.p. f) Dampak lingkungan hidup yang akan timbul.2. media cetak. RKL. serta cara penanganannya.3. pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : 1) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. dan tanggapan dari warga masyarakat.p. pendapat. surat. dan tanggapan dari warga masyarakat. ANDAL. dan tanggapan yang disampaikan oleh warga masyarakat yang berkepentingan 3. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. dan h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. d) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuanpertemuan publik. lokakarya. dan tanggapan. terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan. serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan.1. 2) Menyelenggarakan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan dalam penyusunan dokumen KA-ANDAL. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman Spesifikasi tampilan pengumuman sesuai dengan ketentuan b) dalam butir 1) sub bab 2. yang teknisnya diatur dalam butir 2) sub bab 2. dan e) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. b) Jenis usaha dan/atau kegiatan. misalnya brosur. dan/atau media elektronik.3 Kewajiban Pemrakarsa Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum memulai penyusunan dokumen AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Papan pengumuman di lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. c) Jenis usaha dan/atau kegiatan. dan disampaikan kepada: • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Pusat : Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan u. dan (3) Media lain yang dianggap tepat dengan situasi setempat. pendapat. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. kapasitas dan lokasi kegiatan). dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. pendapat. dan/atau • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Daerah : Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I u. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah).2. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini. pendapat.

RPL OLEH KOMISI (maks. DAN TANGGAPAN PENILAIAN ANDAL. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan. PENDAPAT. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL. RKL. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. PENDAPAT. pendapat. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran.1.1. PENDAPAT. 3. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. dan/atau pemrakarsa. pendapat. DAN TANGGAPAN KONSULTASI PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN.BAGAN PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggung jawab Pemrakarsa PENGUMUMAN RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PENGUMUMAN PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL SARAN. 75 hari) PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. ttd Dr. A.4 Tahap Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). DAN TANGGAPAN PENILAIAN KA-ANDAL OLEH KOMISI (maks. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. 75 hari) KEPUTUSAN KELAYAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BAPEDAL/GUBERNUR 3. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.3 Tahap Penilaian KA-ANDAL Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan. Sonny Keraf 239 .

b. A. 1. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dengan ditetapkannya Keputusan ini. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Februari 2000 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 3. 2. Mengingat : Kedua : Ketiga : Keempat : Kelima : Keenam : Ketujuh : Sudarsono. Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Ringkasan Eksekutif dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif sebagaimana dimaksud dalam lampiran V Keputusan ini. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). a. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran I Keputusan ini. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran IV Keputusan ini. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839).H. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran III Keputusan ini.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum dicabut. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Analisis Dampak Lingkungan Hidup. 5. S. Yang dimaksud dengan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. ttd Dr. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. 240 .

dan sebagainya. penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan: 241 . pengaruh manusia. tujuan. Keanekaragaman ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL Menurut Pasal 2 PP. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. instansi yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi AMDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. dan sebagainya. tata kaitan antara keduanya tentu akan sangat bervariasi pula. berlainan dengan bagian studi kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi. Efisiensi Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. b. 4. ukuran.1. Namun dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33 s/d Pasal 35 PP.3. 5. Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun akan berbeda-beda. Karena itu. dan penyusun studi ANDAL. 6. Keterbatasan sumber daya Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya.2. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL 4. metode.1. tenaga. instansi yang bertanggung jawab. 3. dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Sungguhpun demikian. KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai. dan waktu yang tersedia. 3. ANDAL lebih menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut terhadap lingkungan hidup. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa. keanekaragaman faktor lingkungan hidup. dalam menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil keputusan dan perencanaan. Nomor 27 Tahun 1999. Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah: a. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal. Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL.LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) A. tenaga. Dengan cara ini ANDAL dapat dilakukan secara efisien. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritias manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas. PENJELASAN UMUM 1. sasaran. 4. dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati selama menyusun ANDAL. Karena itu. seperti antara lain: keterbatasan waktu. Tujuan dan fungsi KA-ANDAL 3. dan sebagainya. Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman bentuk. Rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam.2. tetapi yang terpenting adalah juga bagi pengambilan keputusan. Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah: a. Hasil studi kelayakan ini tidak hanya berguna untuk para perencana. dana. KA-ANDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan. Karena itu. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah pemrakarsa. 4. b. Demikian pula rona lingkungan hidup akan berbeda menurut letak geografi. 2. KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa mengurangi mutu pekerjaan ANDAL. Dengan demikian KAANDAL diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang harus ditelaah.

Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak besar dan penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. • Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup. Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-ANDAL terutama dalam proses pelingkupan. • Taraf hidup masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut. d. ii. Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan hidup. Hutan Konservasi. perencana dan pengelola lingkungan hidup berupa: • Alternatif usaha dan/atau kegiatan • Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup • Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup 7. maka dalam studi ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan hidup. • Kualitas udara. • Warisan alam dan warisan budaya. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri. 242 . satu sama lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan. Wawasan KA-ANDAL Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya dampak negatif yang lebih besar. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah dan sistematis. seperti antara lain: • Hutan Lindung. dan Cagar Biosfer. • Kenyamanan lingkungan hidup. • Sumber daya air. c. maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup yang berciri: i. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. b. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. seperti antara lain: • Pemilikan dan penguasaan lahan. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak yang terlibat.Pengumpulan data dan informasi tentang • Rencana usaha dan/atau kegiatan • Rona lingkungan hidup awal Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup awal sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan Penentuan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan Evaluasi dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan: a. • Kesehatan masyarakat. 8. • Keanekaragaman hayati. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya. • Kesempatan kerja dan usaha.

kuesioner. dan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. dampak besar dan penting yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya. Dari ruang rencana usaha dan/ atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting ditelaah. dan lain-lain). sekunder. dan para pakar. Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. • Keterkaitan antar berbagai komponen dampak besar dan penting yang telah dirumuskan. Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek. Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut ini: a) penelaahan pustaka. Pada tahap ini daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis. Isu-isu pokok lingkungan hidup tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan. c. 243 . Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang akan dilakukan. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: 1) Batas proyek Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. Pelingkupan dampak besar dan penting Pelingkupan dampak besar dan penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut: 1) Identifikasi dampak potensial Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (primer. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang tersedia (dana dan waktu). batas ekologis. instansi yang bertanggungjawab serta masyarakat yang berkepentingan. Untuk jelasnya proses pelaksanaan pelingkupan dapat mempelajari Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sesuai Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-30/MENKLH/7/1992. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. atau penting tidaknya dampak.2. lokakarya. Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak besar dan penting. maupun ekologis. dan/atau b) analisis isi (content analysis). Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metoda yang digunakan. instansi yang bertanggung jawab. dan/atau f) matrik interaksi sederhana. brainstorming). dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Pelingkupan wilayah studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak besar dan penting. masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan lapangan (observasi). Metoda yang digunakan pada tahap ini adalah interaksi kelompok (rapat. jumlah sampel yang diukur. Daftar dampak besar dan penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. b. baik dari ekonomi.Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena melalui proses ini dapat dihasilkan: a. segenap dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. dan/atau e) daftar uji (sederhana. dan/atau d) metoda ad hoc. dan batas administratif. termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. sosial. pemrakarsa. dan/atau h) pelapisan (overlay). brainstorming. lokakarya. konstruksi dan operasi. dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar. dan/atau g) bagan alir (flowchart). waktu dan tenaga. 3) Pemusatan dampak besar dan penting ( Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan/mengorganisir dampak besar dan penting yang telah dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan hidup yang dapat mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal: • Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan dengan komponen lingkungan hidup yang mengalami perubahan mendasar (dampak besar dan penting). dan/atau i) pengamatan lapangan (observasi). Kedua. Kegiatan identifikasi dampak besar dan penting ini terutama dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL). instansi yang bertanggungjawab.1. sehingga diperoleh daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. 8. batas sosial. deskriptif). 2) Evaluasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. 8. Pertama. Posisi batas proyek ini agar dinyatakan juga dalam koordinat. dan/atau c) interaksi kelompok (rapat.

Tujuan dan kegunaan proyek. 4) Batas administratif Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di dalam ruang tersebut.Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah a. Lokal dan Perusahaan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi ANDAL. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. RUANG LINGKUP STUDI 2. b. mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan mendasar akibat aktifitas usaha dan/atau kegiatan.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. B.2. Mengidentifikasikan rona lingkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN BAB I. Mengingat dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menyebar tidak merata. namun penentuannya disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki keterbatasan sumber data. maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai. batas HPH. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup: 1. ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. ekologis serta komunitas masyarakat yang berada diluar batas proyek dan ekologis namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. batas kuasa pertambangan). tenaga. b. dan metode telaahan. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan. 5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL Yakni ruang yang merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas. Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. tehnik. c. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Komponen usaha dan/atau kegiatan yang ditelaah yang berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkannya. Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan (misal.Batas ekologis Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air. Kebijaksanaan Regional. 244 2) . c. c.1. Dengan demikian. dan tenaga). udara). dimana proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. c. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. 3) Batas sosial Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok.Tujuan dan kegunaan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah: a. maka batas sosial ditetapkan dengan membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampakdampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan. ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. teknis dan ekonomis. BAB II. b. dana. kemudian diperluas ke ruang ekosistem. waktu. seperti waktu. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. 1.1. Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. b. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a. Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana.

Lingkup rona lingkungan hidup awal a.Metode evaluasi dampak besar dan penting Pada bagian ini diuraikan metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik.Isu-isu pokok Uraikan secara singkat isu-isu pokok yang dapat ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai hasil pelingkupan. 3. Menelaah.3.Penyusun studi AMDAL Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan. Tata cara pelingkupan agar mengacu pada serangkaian proses pelingkupan sebagaimana dimaksud di dalam penjelasan umum. nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL. 245 . sosial dan administratif. maka pengukuran terhadap besaran dampak kumulatif akibat berbagai usaha dan/ atau kegiatan tersebut mutlak diperhitungkan.Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. 2. Komponen lingkungan hidup yang ditelaah karena terkena dampak. 2. Uraikan dengan singkat mengenai rona lingkungan hidup yang terkena dampak. mengamati dan mengukur komponen lingkungan hidup yang diperkirakan terkena dampak besar dan penting.4. 2. 4. METODE STUDI 3. Evaluasi dampak besar dan penting secara holistik tersebut di atas harus mencakup baik dampak yang tergolong besar dan penting maupun tidak sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya. Perlu diketahui bahwa Ketua tim penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL B sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan. Bab ini agar dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat menggambarkan batas wilayah proyek.2.1.3. dan mengukur komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan mendapat dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya. ekologis.Metoda pengumpulan dan analisis data Pada bagian ini jelaskan metode pengumpulan dan analisis data baik primer dan/atau sekunder yang sahih dan dapat dipercaya (reliabel) untuk digunakan: a. Menelaah. Metoda formal dan non formal digunakan dalam memprakirakan besaran dampak. nama dan keahlian dari masing-masing anggota penyusun AMDAL. butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat (masyarakat yang berkepentingan).4.Biaya studi Pada bagian ini diuraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan studi ANDAL. BAB IV. b.Lingkup wilayah studi Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek. Sementara untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar digunakan Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan.Waktu studi Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab. DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini uraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan penyusunan dokumen KAANDAL. Data rona lingkungan hidup semaksimal mungkin menggunakan data aktual di lapangan.2. BAB V. b. overlay) untuk digunakan sebagai : a. nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/ atau kegiatan. mengamati. ekologis. dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan.1. Disamping itu harus dilampirkan pula biodata personil penyusun ANDAL. 4.3.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya. bagan alir. 4.2. 3.Metode prakiraan dampak besar dan penting Pada bagian ini jelaskan metode yang digunakan dalam studi ANDAL untuk memprakirakan besaran dampak dan penentuan tingkat kepentingan dampak. PELAKSANAAN STUDI 4. sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala teknis yang dihadapi. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan bersifat terpadu atau berada dalam suatu kawasan. b. Dalam hal ini. uraikan secara jelas untuk setiap komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. BAB VI. BAB III. LAMPIRAN Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perizinan yang berkaitan dengan proyek dimaksud.

3. c dimaksud mengacu pada hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan untuk ANDAL. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan. BAB II.Dampak besar dan penting yang ditelaah a. a. Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan dan lingkungan. b. konstruksi. operasi maupun pasca operasi. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. Mengidentifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.LAMPIRAN II: KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak besar dan pentingnya. c. c. 1. RUANG LINGKUP STUDI Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak besar dan penting yang ditelaah serta wilayah studi. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. Baik pada tahap prakonstruksi. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup : 1. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting.1. b. d. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan. terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. terutama komponen lingkungan hidup yang langsung terkena dampak. dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media massa. Aspek-aspek yang diteliti sebagaimana dimaksud pada butir 2. d.2.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. sehingga dapat : 1.1. AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL kegiatan dalam kawasan. 2. Memuat uraian singkat tentang : a. c. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. bila dipandang perlu. Uraikan dengan singkat kondisi rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Kaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan dampak besar dan penting yang ditimbulkan (isu-isu pokok hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen KA-ANDAL). c. PENJELASAN UMUM 1.1. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan (PP Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 1). Landasan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. d. B. Merumuskan RKL dan RPL. perencana. b. c. 2. termasuk masyarakat. b. Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL baik AMDAL kegiatan tunggal. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) RINGKASAN Ringkasan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa.Tujuan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. d. 246 . BAB I. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Tujuan dan kegunaan proyek. terutama komponen usaha dan/atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. e. b. b. 2. Uraikan secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan mengacu pada hal-hal yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan.

bagan alir.1. c. dan hasil pengamatan di lapangan.kegiatan yang berada di sekitarnya. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai.1. Bila berdasarkan studi kelayakan terdapat beberapa alternatif lokasi usaha dan/atau kegiatan. jalan kereta api. overlay). Hubungan ini perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai. a.3. energi. sumber daya alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi. yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. Pemrakarsa : 1) Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. Penggunaan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Pengumpulan data dan informasi untuk demografi. dan kesehatan masyarakat menggunakan kombinasi dari tiga atau lebih metoda agar diperoleh data yang reliabilitasnya tinggi. BAB IV. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala memadai. metoda analisis atau alat yang digunakan.1.Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari : a. Uraikan secara jelas tentang metoda pengumpulan data. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 4.Metoda pengumpulan dan analisis data a. sosial budaya. BAB III. Hutan lindung. d. Bila terdapat beberapa alternatif tata letak bangunan dan struktur lainnya. serta hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya.b.Metoda evaluasi dampak besar dan penting Uraikan singkat tentang metoda evaluasi dampak yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik.Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan Pernyataan rencana maksud dan tujuan dari rencana usaha dan/atau kegiatan perlu dikemukakan secara sistematis dan terarah. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan tersedianya sumber daya air. dan b. sumber mata air. dan dapat memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya. atau teknologi proses produksi).1. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada Bab II butir 2. yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan.2. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL.Wilayah Studi Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan .Metoda prakiraan dampak besar dan penting Uraikan secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak usaha dan/atau kegiatan dan penentuan sifat penting dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 2. pertahanan dan keamanan. c. sosial ekonomi. 4. yang berskala memadai.3. 4. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta. sungai. maka jenis data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder harus bersifat sahih dan dapat dipercaya ( reliable) yang diperoleh melalui metoda atau alat yang bersifat sahih.Kegunaan dan keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan Uraian yang memuat tentang kegunaan dan keperluan mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus dilaksanakan. dan kawasan lindung lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus diberikan tanda istimewa dalam peta.2.. dermaga dan sebagainya). b. b.b. 3. cagar alam. Alternatif usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil studi kelayakan (misal: alternatif lokasi. tata letak bangunan atau sarana pendukung. Penyusun ANDAL : 1) Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. sumber daya alam hayati dan. suaka alam. maka alternatif rancangan tersebut diutarakan pula dalam peta yang berskala memadai. 3. 2. Mengingat studi ANDAL merupakan telaahan mendalam atas dampak besar dan penting usaha dan/ atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. baik ditinjau dari segi kepentingan pemrakarsa maupun dari segi menunjang program pembangunan. b. suaka margasatwa.2. 247 . maka berikan uraian tentang masingmasing alternatif lokasi tersebut sebagaimana dimaksud pada butir a. dan lingkungan hidup alami yang terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai. seperti pemukiman (lingkungan hidup binaan manusia umumnya). 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan. METODA STUDI 3.

Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain disekitarnya Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi. (3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup. jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi. Perlu juga diuraikan neraca air (waterbalance) bila usaha dan/ atau kegiatan yang akan dibangun menggunakan air yang banyak. (4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan. 4) Tahap Pasca Operasi Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pasca operasi. Misalnya: (1) Desain dan spesifikasi teknologi yang digunakan. (c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan setelah masa operasi berakhir. 248 . jangka waktu masa operasi. dan kualifikasi pendidikan. demikian pula neraca bahan (material balance). 4. Misalnya: (a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan bahan/material. Uraikan secara mendalam difokuskan pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. jalanjalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir. BAB V. Misalnya: (1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah. (2) Jumlah dan jenis bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak besar dan penting lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya (misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya). 1) Tahap pra-konstruksi/persiapan Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pra konstruksi. RONA LINGKUNGAN HIDUP Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin mengenai: 1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. konstruksi. hingga rencana waktu pasca operasi. 3) Tahap Operasi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. bila ada. bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa. (c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir. jalan darurat dan sebagainya. cair maupun gas dan rencanarencana pengelolaannya.4. (4) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa konstruksi. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup. yang mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis perlu mendapat perhatian. listrik. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan selama masa operasi. 2) Tahap konstruksi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. baik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan yang sudah ada terhadap lingkungan hidup.e. air) dari rencana usaha dan/atau kegiatan. (2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan. gudang. bedeng kerja. (3) Rencana jumlah tenaga kerja. Dalam kaitan ini perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3. (5) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat. tempat asal tenaga kerja yang akan diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. sehingga dapat diketahui input-output dan jumlah serta kualitas limbah. gudang. Disamping itu. tempat asal tenaga kerja. (b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah). (d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan berakhir.

tingkat erosi. minimum. rencana tata ruang (kawasan budidaya seperti pertanian. pola migrasi. Berikut ini adalah beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL. (b) Rencana pengembangan wilayah. rawa (rawa pasang surut. sifat-sifat dan kerawanannya yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. lahan. kualitas udara dan kebisingan (a) Komponen iklim yang perlu diketahui antara lain seperti tipe iklim. banjir bandang di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. populasi hewan budidaya (ternak) serta satwa dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. Biologi 1) Flora (a) Peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami yang meliputi tipe vegetasi. (b) Uraikan tentang jenis-jenis vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 5) Ruang. (d) Kondisi fisik daerah resapan air permukaan dan air tanah. (e) Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidak stabilan. dan tanah (a) Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha dan/atau kegiatan yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangannya di masa datang. mandi. 2) Fisiografi (a) Topografi bentuk lahan (morphologi). Penyajian kondisi sumber daya alam ini perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram. gempa. (f) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk air minum. bulanan. dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (misal: longsor tanah. rata-rata). kegiatan-kegiatan vulkanis. suaka margasatwa. (d) Pola iklim mikro. kelembaban curah hujan dan jumlah hari hujan. (f) Sumber kebisingan dan getaran. gempa.2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/ atau kegiatan. suhu (maksimum. sesar. cuci. hutan. tahunan. struktur geologi dan jenis tanah. keadaan angin (arah dan kecepatan). tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. perkebunan. Fisik Kimia 1) Iklim. baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. b. arus dan gelombang/ombak. sesar. 2) Fauna (a) Taksiran kelimpahan dan keragaman fauna. 249 . (c) Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut. potensi dan kualitas air tanah (dangkal dan dalam). 3) Data dan informasi rona lingkungan hidup Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. taman nasional dan lain-lain). (b) Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan stabilitas tanah. (c) Uraikan tentang keunikan dari vegetasi dan ekosistemnya yang berada pada wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Kemungkinan adanya konflik atau pembatasan yang timbul antara rencana tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan/penentuan lokasi bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Keunikan. pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca terburuk. 3) Hidrologi (a) Karakteristik fisik sungai. dan sebagainya). (g) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk keperluan lainnya seperti pertanian. banjir tahunan. dan lain-lain. kegiatan-kegiatan longsor tanah. (e) Fluktuasi . intensitas radiasi matahari. dan sebagainya) seperti sering terjadi angin ribut. (d) Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 4) Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut. kimia dan mikrobiologi air mengacu pada baku mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan. atau berpotensi terkena dampak besar dan penting. perikanan dan lain-lain serta kawasan non budidaya seperti hutan lindung . morfologi pantai. (h) Kualitas fisik. gambar. industri. dan kerawanan bentuk lahan dan batuan secara geologis. a. (c) Kadar sedimentasi (lumpur). rencana tata guna tanah. rawa air tawar). lima tahunan. Penyusun dapat menelaah komponen lingkungan hidup yang lain diluar dari daftar contoh komponen ini bila dianggap penting berdasarkan hasil penilaian lapangan dalam studi ANDAL ini. (b) Rata-rata debit dekade. penyebaran. propinsi atau nasional di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan sumber daya alam lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh Pemerintah setempat baik di tingkat kabupaten. abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. grafik atau foto. keistimewaan. habitat. danau. (b) Data periodik bencana (siklus tahunan.

perilaku dalam daerah teritorinya. dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup. dan agama. jenis kelamin. 6) Kondisi sanitasi lingkungan. cagar budaya). (c) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi. nilai tambah karena proses manufaktur. dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. siklus dan daur hidupnya. mata pencaharian. 2) Proses dan potensi terjadinya pemajanan. sosial. (b) Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. 3) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian). 8) Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. pendapatan asli daerah. cara bertelur dan beranak. (b) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik-kimia. pendidikan. pekerjaan dan kekuasaan. proses disosiatif/konflik sosial. (b) Tingkat kepadatan penduduk. (d) Tenaga kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja. permanen). produk domestik regional bruto. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra konstruksi. ekonomi. asimilasi dan integrasi. pergeseran nilai kepemimpinan). 3) Budaya (a) Kebudayaan (adat-istiadat. 2) Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan bagi masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. tingkat pengangguran). 250 . (e) Pelapisan sosial berdasarkan pendidikan. atau sumber hama dan penyakit. dan pemerintah. nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. pola nafkah ganda). Kesehatan Masyarakat 1) Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan. kohesi sosial). operasi. 3) Dalam melakukan telaahan butir 1) dan 2) tersebut perlu diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. komuter. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut: (a) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan.(b) Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan. 4) Pertahanan/Keamanan Konflik kepentingan pertahanan dan keamanan dengan rencana pembangunan usaha dan/atau kegiatan. cara memelihara anaknya. akulturasi. kelompok individu yang dominan. 5) Sumber daya kesehatan. (c) Perekonomian lokal dan regional (kesempatan kerja dan berusaha. aksesibilitas wilayah). nilai dan norma budaya). (d) Warisan budaya (situs purbakala. pola pemanfaatan sumber daya alam. tingkat kematian bayi dan pola migrasi sirkuler. cara pemijahan. c. termasuk cara perkembangbiakan. (h) Adaptasi ekologis. 4) Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat. fasilitas umum dan fasilitas sosial. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1) Demografi (a) Struktur penduduk menurut kelompok umur. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. (c) Perikehidupan hewan penting di atas. kewenangan formal dan informal. Sedang dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. distribusi pendapatan. pola penggunaan lahan. 2) Ekonomi (a) Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan. (c) Pertumbuhan penduduk (tingkat kelahiran. efek ganda ekonomi. sumber daya alam milik umum). (g) Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan. 7) Status gizi masyarakat. (f) Kekuasaan dan kewenangan (kepemimpinan formal dan informal. pendidikan. keluarga. (c) Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi (misal hak ulayat). dengan mengacu pada Pedoman penentuan dampak besar dan penting. konstruksi. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi non-formal. agama. BAB VI. d. (b) Proses sosial (proses asosiatif/kerjasama. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/ atau kegiatan.

mungkin saja dampak besar dan penting timbul dari rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap rona lingkungan hidup. (c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-dampak besar dan penting yang harus dikelola. BAB VII. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. (b) Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas. nasional. dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. keputusan. atau pada tingkat pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah. usulan rencana usaha dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang akan ditimbulkannya.(d) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. Apabila dimungkinkan. LAMPIRAN Dalam bab ini hendaknya disebut bahan-bahan yang dilampirkan : 1) Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. BAB VIII. sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak besar dan penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif.1 dan VI. 4) Mengingat usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi. 1) Telaahan terhadap dampak besar dan penting (a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI. 5) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metoda-metoda formal secara matematis. peta. karena rencana usaha atau kegiatan itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia. DAFTAR PUSTAKA Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku.c dan d yang telah diutarakan selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan.b. maka telaahan sebagaimana dimaksud pada butir VI. BAB IX. Atau antara dampak-dampak satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis dan sinergistis. dalam arti apakah dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti. (d) Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini. atau teknologi yang digunakan). Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Nomor 27 Tahun 1999. (c) Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang akan terkena dampak positif. kualifikasi. (e) Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam. grafik. regional. (b) Yang dimaksud dengan evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak besar dan penting lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab VI. gambar. Bahan-bahan tersebut diatas tidak perlu lagi dilampirkan dalam dokumen ANDAL bilamana telah dicantumkan dalam dokumen KA. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruhmempengaruhi. Misalnya. sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan. bentuk teknologi yang tak sesuai dan sebagainya.2 dilakukan untuk masing-masing alternatif. (f) Dampak penting pada butir a. sebagaimana dimaksud dalam PP. rujukan bagi para pelaksana dan peneliti serta penyusun analisis dampak lingkungan hidup. umpamanya lebih dari satu generasi. 2) Telaahan sebagai dasar pengelolaan (a) Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha atau kegiatan dan rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul. EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam Bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan. atau bahkan internasional. 3) Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup awal. 5) Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal. 4) Diagram. Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. melewati batas negara Republik Indonesia. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan pembangunan. 2) Surat-surat tanda pengenal. uraikan kejelasan tentang waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak besar dan penting mulai timbul. (e) Dampak penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. Atau mungkin akan terus berlangsung. 251 .

dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. prinsip-prinsip. atau persyaratan untuk mencegah. mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.LAMPIRAN III : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) A. Hal ini tidak lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi. Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain adalah struktur organisasi. dalam arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL. 252 . PENJELASAN UMUM 1. kriteria atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa. serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis. dan masih memiliki beberapa alternatif. (c) Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih. dan rancang bangun proyek. tata letak (tata ruang mikro) lokasi. sosial ekonomi. Hal ini tidak lain disebabkan karena : (a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) relatif masih umum. serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut : (a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan. tenaga. (b) Pokok-pokok arahan. (d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. menanggulangi. dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. dan bila dipandang perlu. (b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi. prinsip-prinsip. sebelum investasi. lengkapi pula dengan acuan literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud. meminimisasi. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/pengendalian dampak. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas: (a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. sistimatis. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. 4) Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. Rencana pengelolaan lingkungan hidup Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan penanggulangan dampak negatif. mengendalikan atau meningkatkan dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat strategis. (b) Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan rinci rekayasa. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL. maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek). dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti : teknologi. prinsip-prinsip. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. lingkup tugas dan wewenang unit. serta jumlah dan kualifikasi personalnya. Keterbatasan data dan informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL. maupun institusi. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang “basic design” untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci. (d) Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. (c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah. 3. kriteria pedoman. 2.

Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan yang relevan.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya dibidang pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara : (1. mengurangi. B. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. Sebagai misal: (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. 1) 2) PENDAHULUAN Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. misalnya : (2.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. 5) Format dokumen RKL Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti: teknologi. serta komitmen untuk melakukan penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam bentuk mencegah. BAB I. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle).2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). (1.Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. (1. (b) Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. 3) BAB II. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERNYATAAN PELAKSANAAN Pernyataan Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani diatas kertas bermaterai. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. sosial ekonomi. c) Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. maupun institusi. dan bantuan peran pemerintah.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. (1. (3) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. singkat dan jelas. (2) Dalam rangka mencegah. Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya Rencana Pengelolaan Lingkungan. (2. dan ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di atas. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. akan ditempuh cara : (1. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. Pernyataan kebijakan lingkungan. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). 253 .2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce).

dan/atau telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. Uraikan pula sejauh mana taraf perkembangan rencana usaha dan/atau kegiatan di saat RKL sedang disusun (studi kelayakan. Komponen atau parameter lingkungan hidup yang berubah mendasar menurut ANDAL perlu ditetapkan beberapa hal yang dipandang strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan : (1) Dampak besar dan penting yang dikelola terutama ditujukan pada komponen lingkungan hidup yang menurut hasil evaluasi dampak besar dan penting merupakan dampak besar dan penting akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Sebagai misal. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. 254 . (3) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak besar dan penting turunannya. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan BAB III. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. atau memperbaiki kerusakan sumber daya alam. (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. Selain itu utarakan pula dampak besar dan penting turunannya yang akan turut terpengaruh akibat dikelolanya dampak besar dan penting strategis tersebut.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. misalnya : (2. 3) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting yang bersifat strategis berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut tercegah/tertanggulangi/terkendali. dan bantuan peran pemerintah. akan ditempuh cara. keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. 2) Tolok ukur dampak Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan). atau taraf konstruksi). Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. (2) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang tergolong banyak menimbulkan dampak besar dan penting turunan (dampak sekunder. (2. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. (2) Dalam rangka mencegah. lazim digunakan. Perlu ditegaskan bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting saja. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.(b) (c) (1. mengurangi. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. tersier.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. maka jelaskan secara singkat komponen dampak besar dan penting tersebut. Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. dan selanjutnya). (b) Sumber Dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting : (1) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha dan/ atau kegiatan. Tolok ukur yang diutarakan adalah yang digunakan dalam ANDAL. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut: 1) Dampak penting dan sumber dampak besar dan penting (a) Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL. rancangan rinci rekayasa. (2) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa.

Pembiayaan tersebut antara lain mencakup : (a) Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkungan hidup serta biaya untuk kegiatan teknis lainnya. Upaya pengelolaan lingkungan hidup yang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengolahan limbah). Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 1997 yang meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan hidup. Lengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai. rancangan teknik (engineering design). lokasi pengelolaan lingkungan hidup.). Periode pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan : sifat dampak besar dan penting yang dikelola (lama berlangsung. (c) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. PUSTAKA Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. BAB IV. dan berbalik tidaknya dampak). dan atau institusi sebagaimana dijelaskan pada bagian penjelasan umum butir 4. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : Jenis Dampak . (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (e) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pengelolaan lingkungan hidup. COD. Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. khususnya parameter BOD5. maka tujuan upaya pengelolaan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. bila unit atau sarana dimaksud di dalam dokumen ANDAL dinyatakan sebagai aktifitas dari rencana usaha dan/atau kegiatan.4) 5) 6) 7) 8) Sebagai misal. 255 . Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggungjawab. Bupati/Walikotamadya. tulisan. (d) Keputusan Gubernur. makalah. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. matrik serta data utama yang terkait dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL. (b) Pengawas pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. dan pH. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan sifat persebaran dampak besar dan penting yang dikelola. dan atau sosial ekonomi. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah pencemaran air. sifat kumulatif. Sumber Dampak. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan Institusi Pengelolaan Lingkungan Hidup. (b) Biaya personil dan biaya operasioanal. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup. maka cantumkan pula institusi dimaksud. baik yang berupa buku. dll. Apabila dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan atau bekerjasama dengan pihak lain. BAB V. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta (lokasi kegiatan. majalah. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. (c) Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional. dana). Padatan Tersuspensi Total. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP 51/MENLH/10/1995. serta kemampuan pemrakarsa (tenaga. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah. maupun laporan hasil-hasil penelitian. Institusi pengelolaan lingkungan hidup Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. berkepentingan. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pengelolaan Lingkungan hidup Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi. Tolok Ukur Dampak.

pelaksana pemantauan. b. Sebagai misal. RKL dan RPL. 2) Lokasi pemantauan. 5) Metode analisis data. dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam dokumen RKL. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut : 1. 4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data). (f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan hidup. Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL. Uraikan secara sistematis. singkat. mencakup : 1) Jenis data yang dikumpulkan. (b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. adalah pH. BAB II. atau terkena dampak besar dan penting. mulai dari tingkat proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan). tergantung pada skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup yang harus dipantau. (c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. PENDAHULUAN Pendahuluan mencakup : 1. PENJELASAN UMUM 1. Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup. tepat waktu dan dapat dipercaya. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau kegiatan. (d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. Dampak besar dan penting yang dipantau Cantumkan secara singkat : (a) Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau.LAMPIRAN IV : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) A. Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. dan selanjutnya disebarkan kepada berbagai penggunanya. warna. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. dan pengawas kegiatan pemantauan. (b) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. 2. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan.1. pihak-pihak yang berkepentingan. BOD5. bau. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting tersebut. Disamping skala keacuhan. kandungan minyak. 256 . dan logam berat. dan jelas tentang tujuan pemantauan lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan. 3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) BAB I. berulang dan terencana. Koordinasi dan kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar data dan informasi yang diperoleh. dapat bersifat tepat guna. B. yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi pada data sistematik. (b) Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu di pantau. suhu. indikator yang relevan untuk kualitas air limbah dan air sungai sehubungan dengan karakteristik rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun bagi masyarakat. 2. ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan secara acak atau sesaat. (e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau. sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. c. Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan. Latar belakang pemantauan lingkungan hidup a. pengguna hasil pemantauan. Walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ). yakni : (a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. Sumber dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting: (a) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha atau kegiatan.

(c) Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup. instrumen. (e) Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pemantauan lingkungan hidup. (d) Keputusan Gubernur. tulisan. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri .3. bentuk rencana pengelolaan lingkungan hidup. Bupati/Walikotamadya. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan hidup. makalah. 5. khususnya parameter BOD 5. BAB IV. atau formulir isian yang digunakan. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1. maka tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Memantau mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ.H. 6. (b) Lokasi pemantauan lingkungan hidup Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan pH. Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran. dan sebagai umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. ttd Sudarsono. (c) Jangka waktu dan frekwensi pemantauan Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. BAB III. dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan data disaat penyusunan ANDAL. bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. Cantumkan jenis peralatan. Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. ttd Dr. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak besar dan penting lingkungan hidup. Lampiran ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut: dampak besar dan penting yang dipantau. yang mencakup : (a) Metode pengumpulan dan analisis data Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan. Institusi pemantauan lingkungan hidup Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. instrumen. dan dampak besar dan penting turunan yang ditimbulkannya. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 257 . Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam Baku Mutu Lingkungan hidup. (b) Pengawas pemantauan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RPL. 2. dengan memperhatikan dampak besar dan penting yang dikelola. Padatan Tersuspensi Total. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak besar dan penting yang dipantau (instensitas. berkepentingan. tujuan pemantauan lingkungan hidup. Perlu diperhatikan bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL. Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksana pemantauan lingkungan hidup Cantumkan institusi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup. Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. COD. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. majalah. S. PUSTAKA Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL baik yang berupa buku. A. Parameter lingkungan hidup yang dipantau Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. Metode pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator dampak besar dan penting. lama dampak berlangsung. lokasi pemantauan lingkungan hidup. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. kimia. serta metode analisis). jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan hidup. 4. dan institusi pemantau lingkungan hidup. rencana pemantauan lingkungan hidup (yang meliputi metode pengumpulan data. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. dan sifat kumulatif dampak). sumber dampak. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP: 51/MENLH/10/1995. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah kualitas air limbah. maupun laporan hasil-hasil penelitian. Sebagai misal.

Menimbang : a. 3. 4. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-105/11/1997 TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. ttd Sarwono Kusumaatmadja 258 . MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Pasal 1 Untuk menjamin Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dilaksanakan dengan baik. b. Pasal 2 Panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 Nopember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. kreatif dan bertanggung jawab. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). bersungguh-sungguh. Bahwa panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. sistematis dan berkesinambungan serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan serta pelaporan secara terencana. 2. terkoordinasi. Bahwa mengingat hal tersebut di atas. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84.

I dan Tk. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. 3. Instansi Teknis/Sektor yang bertanggung jawab. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). 3. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. PELAKSANAAN PEMANTAUAN 1. Bentuk pemantauan a. F. C. Dalam kaitan ini. dan untuk memberikan acuan bagi para pelaku pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. Pemantauan tidak langsung (pasif) 1) Pemantauan tidak langsung (pasif) adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan tertulis oleh pihak lain. 4. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 2. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. II yang bersangkutan. Pemrakarsa usaha atau kegiatan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dapat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. bersungguh-sungguh. pemantauan pasif dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa. (2) Hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada Menteri atau Pemimpin lembaga pemerintah non departemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. 2) Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemrakarsa dilaporkan kepada: a) Gubernur KDH Tk. D. BAPEDALDA TK I dan BAPEDALDA TK II. Pasal 11 ayat (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. E. I dan Bupati/Walikotamadya KDH Tk. LATAR BELAKANG Salah satu fungsi penting didalam AMDAL (PP 51 Tahun 1993) adalah fungsi manajemen lingkungan. Tujuan: 1.Lampiran : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 105 Tahun 1997 Tanggal : 14 Nopember 1997 PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) A. II yang bersangkutan. c). kreatif dan bertanggung jawab sehingga kualitas lingkungan dapat dipertahankan sesuai dengan fungsinya. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyebutkan: (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan penguji terhadap: a). Pemda Tk. 2. (2) Ketentuan tentang rencana dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Fungsi manajemen lingkungan ini berupa pelaksanaan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). sistematis dan berkesinambungan. DASAR HUKUM 1. b). terkoordinasi. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL. MAKSUD DAN TUJUAN Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL bagi kegiatan wajib AMDAL ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam melaksanakan pemantauan dan pelaporan pelaksanaan RKL dan RPL. maka perlu disusun Pedoman Umum Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). b. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. B. Pasal 25. Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. Untuk mewujudkan maksud tersebut. PELAKSANA PEMANTAUAN Pemantauan dilaksanakan oleh: 1. BAPEDAL Wilayah. SASARAN Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. 2. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan pelaporan secara terencana. 259 .

serta memeriksa kebenaran laporan pemantauan yang dilaksanakan oleh Pemrakarsa. b) Instansi Teknis/Sektor yang memberi ijin. Sarwono Kusumaatmadja 260 . b) Dasar pertimbangan untuk menentukan sasaran pemantauan (uji petik) aktif pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan. Mempelajari dokumen AMDAL. Instansi terkait (termasuk.Lumpsum. bila perlu pihak Laboratorium Lingkungan) dan Pemerintah Daerah (Tingkat I dan II) dimana usaha atau kegiatan itu berada. Mengetahui apakah pihak-pihak tersebut telah melaksanakan pemantauan terhadap usaha-usaha atau kegiatan yang akan dipantau termasuk hasil-hasilnya. 5) Pelaporan hasil pemantauan lapangan Hasil pelaksanaan pemantauan disusun dalam bentuk pelaporan yang kemudian dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak Instansi Pemerintah sebagaimana telah disebutkan pada butir 2) huruf c. Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan.Biaya Penyusunan Laporan. 3) Frekuensi pemantauan lapangan dilaksanakan menurut kebutuhan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana disebutkan pada butir 2) huruf a di atas. dan BAPEDAL Daerah. BAPEDAL. c) BAPEDAL Pusat. Pemantauan langsung (aktif) 1) Pemantauan secara aktif adalah pemantauan yang langsung dilakukan di lapangan atas pelaksanaan RKL dan RPL. Wilayah dan Daerah. Untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pemantauan di lapangan. BAPEDAL. Bagi pemrakarsa. Memeriksa dan mencocokkan seluruh pelaksanaan RKL dan RPL sesuai dengan dokumen. atau Lembaga Swadaya Masyarakat.Biaya Analisis Laboratorium H. Usaha atau kegiatan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap lingkungan. Melakukan koordinasi dengan Instansi yang bertanggung jawab. melakukan pengambilan contoh limbah untuk diuji di laboratorium atau keluaran pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. 4) Metode pemantauan di lapangan. Pemantauan ini dilakukan oleh : a. BAPEDAL Wilayah. c. sumber pembiayaan dan pemenuhan fasilitas pemantauan RKL dan RPL disediakan dari masing-masing Instansi. Permintaan Instansi tertentu. Melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan atau masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan yang dipantau. 3) Instansi lain yang terkait.Biaya transportasi . meliputi : manajemen.b. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 November 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan ttd. b. Koordinasi ini meliputi : Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi usaha atau kegiatan yang akan dipantau. kendala dan hambatan dalam pelaksanaan RKL dan RPL. pelaksanaan pemantauan dapat menggunakan Formulir-1 dan Formulir-2. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan. Bagi Instansi\Pemerintah. Melakukan pemantauan di lapangan. dengan memperhatikan/ mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Usaha atau kegiatan yang besar dan komplek permasalahan lingkungannya. laporan pemrakarsa mengacu pada Formulir-3. dll. Instansi teknis/sektor 2) Langkah-langkah pemantauan: a. . Bila diperlukan. Metode pelaksanaan RKL dan RPL dilakukan dengan cara: a. digunakan sebagai: a) Masukan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pengelolaan lingkungan. Format laporan hasil pemantauan Pemrakarsa atas pelaksanaan RKL mengacu pada Formulir-1 dan untuk pelaksanaan RPL mengacu pada Formulir-2. Oleh Instansi yang menerima laporan hasil pemantauan tersebut. b. b. Menentukan sasaran usaha atau kegiatan yang akan dipantau. e. PEMBIAYAAN Untuk memperlancar pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan diperlukan dukungan dana dan fasilitas. unit intern organisasi pengelolaan lingkungan. Melakukan diskusi dengan pihak Pemrakarsa tentang manfaat. masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan. Biaya pemantauan antara lain meliputi: . G. c. Secara keseluruhan. maka pembiayaan dan penyediaan fasilitas pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL terintegrasi dalam manajemen usaha atau kegiatan yang direncanakan sejak dokumen AMDALnya disusun. Melakukan pemantauan bersama. d. PENUTUP Hasil pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL yang sudah dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak lain tersebut perlu terus dipantau secara periodik untuk mengetahui apakah rekomendasi hasil pemantauan itu benar-benar dilaksanakan oleh pemrakarsa atau tidak. . d. pengelolaan limbah. Hasil pemantauan (pasif dan atau aktif) yang telah dilakukan. khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan yang akan dipantau. Laporan disusun dengan sistematika sebagaimana pada Formulir-4.

Formulir-1 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RKL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN RKL NO PENGELOLAAN 4 5 6 7 8 TEKNIS PELAKSANAAN HASIL PELAKSANAAN/TEMUAN LAP ANGAN KENDALA/MASALAH 3 DA P PE G M AK NTIN SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R TINDAK LANJUT/ REKOMENDASI 1 2 261 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Formulir-2 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RPL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN METODA LOKASI W AKTU TEKNIS PELAKSANAAN HASILPEMANTAUAN TINDAKLANJUT RKL N O D M A P NTIN A PK E G SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R KENDALA/MASALAH REKOMENDASI P ARAMETER Y ANGDIP ANTAU METODA LOKASI W AKTU 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 12 1 2 262 Ket : * Coret yang tidak perlu .

C. antara lain meliputi: .FORMULIR 3 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHA ATAU KEGIATAN : LOKASI : PEMRAKARSA : TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN A. RPL . 263 . antara lain meliputi: . Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL. B.Kapan mulai beroperasi . . RINGKASAN R K L Tuliskan ringkasan RKL. LATAR BELAKANG .Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai. RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. D. RKL . .Pengelolaan dampak penting B. Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.Sumber dampak penting . HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) .Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. B.Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai.Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada).Jenis dampak penting . .Lokasi Pemantauan .Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis laboratorium).Lokasi .Jenis dan atau tahapan kegiatan . RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan tolok ukur.Proses kegiatan/produksi BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A. TUJUAN .Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL.Waktu Pemantauan BAB III HASIL PELAKSANAAN A.Tolok ukur dampak penting .Sumber dampak penting .Jenis dampak penting .Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. antara lain meliputi: .Metode Pemantauan .

Uraikan kenapa pemantauan RKL dan RPL ini penting.Jenis dan spesifikasi alat pengelolaan lingkungan.Proses kegiatan/produksi E. WAKTU .Tuliskan tujuan pemantauan ini sesuai dengan butir C dalam Panduan Umum Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan.Unit organisasi yang melakukan pengelolaan lingkungan. antara lain meliputi: .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pengelolaan lingkungan.Lokasi .Proses beroperasinya alat pengelolaan lingkungan. . antara lain meliputi . F. BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Dapat ditambahkan tujuan lain bila memang diperlukan.Sumber dampak penting . .Jenis dan atau tahapan kegiatan .Bentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemrakarsa.Tolok ukur dampak penting . RINGKASAN RKL Tuliskan ringkasan RKL.Sumber dampak penting .Tuliskan kapan waktu pemantauan berlangsung.Kapan mulai beroperasi .Jenis dampak penting . TUJUAN . 264 . . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan. . . Temuan Lapangan RKL. . . HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) .Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan jika ada. PELAKSANAAN .Sebutkan nama-nama petugas dan dari lnstansi/Unit mana.Metode Pemantauan . meliputi : hasil pemeriksaan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Pemrakarsa. B. meliputi: . antara lain meliputi: .Lokasi Pemantauan . LATAR BELAKANG .Pengelolaan dampak penting B.Jelaskan kenapa pemantauan ke usaha atau kegiatan yang dipilih ini dilakukan (alasan dan hasil yang diinginkan).Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. .Formulir – 4 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHAATAU KEGIATAN : LOKASI PEMRAKARSA PETUGAS PELAKSANA / INSTANSI : TANGGAL : : : BAB I PENDAHULUAN A. C.Waktu Pemantauan BAB III TEMUAN LAPANGAN/HASIL PENGECEKAN/HASIL PENGUKURAN Temuan lapangan dibagi menjadi empat hal: a. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Jenis dampak penting . D.

kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang terkait. BAB V REKOMENDASI Penulisan Kesimpulan dan Rekomendasi sebaiknya dipisahkan antara RKL dan RPL. temuan lapangan/hasil pengecekan. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan baik kegiatan maupun kualitas lingkungannya. LAMPIRAN . Bandingkan hasil temuan lapangan.: .Unit organisasi yang melaksanakan pemantauan lingkungan. dll.Jenis dan spesifikasi alat pemantauan lingkungan. . .Frekuensi dan kontinuitas pengoperasian pelaksanaan pemantauan lingkungan. Temuan Lapangan RPL. termasuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan oleh Pemrakarsa tetapi tidak termuat dalam dokumen RKL dan RPL. meliputi hasil pemeriksaan pelaksanaan pemantauan.LAMPIRAN Lampirkan dokumen dan atau informasi yang dirasa perlu. d. 265 . Uraikan kendala dan hambatan Pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL.Bentuk pemantauan lingkungan yang dilaksanakan. Rekomendasi berisi saran tindak secara teknis. Kesimpulan berisi hal-hal yang berkaitan dengan tingkat ketaatan Pemrakarsa dan situasi-kondisi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. . . perkembangan teknologi yang relevan. . Copy hasil uji limbah di laboratorium dsb.Keterlibatan masyarakat sekitar dalam pemantauan lingkungan. . antara lain: Photo-photo.b.Proses beroperasinya alat pemantauan lingkungan. masing-masing dengan dokumen RKL dan RPL. Peta. konkret dan yang dapat diterapkan (applicable) oleh Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.Dalam memberikan rekomendasi/saran tidak perlu memperhatikan: dokumen RKL dan RPL.Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pemantauan lingkungan. Gambar-gambar. .Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pemantauan lingkungan jika ada. c.

b. Bahwa dalam pedoman penyusunan AMDAL. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. kajian aspek kesehatan masyarakat dirasakan kurang memadai untuk melakukan analisis dampak guna menyusun rencana pemantauan serta pengolahan dampak kesehatan. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. perlu dilakukan pengkajian aspek kesehatan masyarakat. Bahwa aspek kesehatan masyarakat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 060030827 266 . Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada diktum kedua di atas dilaksanakan sesuai dengan Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL. 2. perlu dikaji secara mendalam. Setiap jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL harus melakukan kajian terhadap aspek kesehatan masyarakat pada rencana tapak (tipologi kegiatan. merupakan bagian dalam penyusunan AMDAL. media lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. d. Kedua : Ketiga : Keempat : Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP-124/12/1997 TENTANG PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN AMDAL KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Menimbang : a. dan kondisi kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. 3. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. dan dikelola dengan baik. sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan serendah mungkin. tipologi lingkungan). Bahwa kesehatan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Dadang Danumihardja NIP. masyarakat yang akan terpajan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-39/MENLH/8/1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. c. 4. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. ttd Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Mengingat : 1. untuk itu setiap usaha atau kegiatan pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat.

Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah tersebut telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. kesehatan dan keselamatan kerja (K3). 2. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek kesehatan Dampak Lingkungan. 4. adalah hasil studi untuk mengkaji kemungkinan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup dan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN I. dapat dipergunakan pendekatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) 267 . dengan kualitas kesehatan Iingkungannya. Status gizi masyarakat 8. udara. Kajian aspek kesehatan masyarakat yang ditelaah meliputi: 1. masyarakat terpajan (biomarker). Kondisi sanitasi lingkungan 7. yaitu analisis terhadap potensi besarnya dampak. dan dampak interaksi (prevalensi dan insidensi penyakit. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit B. III. sosial dan kesehatan masyarakat. Dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. material) yang tercermin dalam sifat fisik. Sedangkan kesehatan lingkungan merupakan kondisi dari berbagai media lingkungan (air. Membantu menyajikan hasil kajian yang informatif. tanah. manusia yang terpajan dan bentuk dampak kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 3. RUANG LINGKUP A. dan kecelakaan). Untuk memberikan panduan sebagai arahan dalam melakukan studi guna mengkaji aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. yang menggambarkan kondisi pengukuran pada sumber. maka diperlukan kajian aspek kesehatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian-kajian komponen lain dalam studi AMDAL yang mencermati potensi besarnya dampak (risiko) kesehatan. Kajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan untuk setiap fungsi dokumen: 1. 3. dan sanitasi. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. makanan. Dengan demikian bahasan aspek kesehatan akan lebih terfokus dan terkait dalam permasalahan atau isu pokok dan suatu rencana usaha atau kegiatan yang mencakup dua hal penting yaitu perubahan kualitas lingkungan dan dinamika masyarakat disekitar rencana lokasi yang diperkirakan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. serta kajian komunikasi massa untuk diseminasi informasi. higiene. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Untuk menggambarkan potensi besarnya dampak dan keterkaitan (asosiasi) antara parameter lingkungan dengan masyarakat yang terpajan. manusia. model pendekatan seperti epidemiologi. Membantu mempermudah proses pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL. Kesehatan masyarakat merupakan kondisi ketahanan fisik dan psikis dari suatu komunitas di daerah tertentu yang merupakan implementasi dan interaksi antara perilaku yang merupakan cermin dan kebiasaan hidup. Dua komponen pokok tersebut mencakup berbagai metoda. Salah satu peraturan pelaksanaan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/ 3/1994 antara lain menyatakan bahwa kajian dampak penting dilakukan terhadap komponen biologi-kimia-fisika. dan pengelolaan dampak. terdapat dua komponen pokok yang tidak terpisahkan berkaitan dengan kajian aspek kesehatan masyarakat. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. vektor penyakit. biologis dan kimia dan kualitas parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Sumber daya kesehatan 6. perubahan parameter lingkungan. TUJUAN Panduan ini merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk: 1. emisi/ambien. II. Memahami keterkaitan antara jenis usaha atau kegiatan. kinerja laboratorium. kejadian keracunan.

kontak penderita. emisi). telaah hasil penggunaan/uji binatang percobaan 6. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit? 2. referensi yang relevan. dsb) 4. Dampak potensial hipotesis ini kemudian disusun dalam suatu daftar guna dinilai berdasarkan pandangan masyarakat. studi epidemiologi dan studi kesehatan lingkungan pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 2. observasi. melalui: 1. telaah hasil uji dan analisis laboratorium 5. 1. dsb) B. telaah data dan informasi berdasar pengamatan lapangan (survei. Yang berhubungan dengan perindukan vektor (binatang perantara penyakit) perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat berkembang biaknya vektor telaah data atau informasi dan studi kesehatan lingkungan survei malarlometrik dan studi epidemiologi tentang penyakit bersumber binatang pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 3. udara.14/MENLH/3/1994 dan substansi yang dijelaskan pada butir 2 pelingkupan. Dengan demikian karakteristik spesifik dampak penting dan setiap rencana usaha atau dapat diprediksi secara lebih cermat dan akurat. studi banding terhadap hasil studi yang pernah dilaksanakan 7. dan pertimbangan para pakar untuk memperoleh dampak potensial. yang menggambarkan potensi. Ukuran atau nilai dan evaluasi dampak potensial dapat mempergunakan pertimbangan dari beberapa pernyataan di bawah ini: 1. II. biologis. Status gizi masyarakat 8. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING A. sosial) yang kemungkinan akan menjadi berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit Metoda pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dan suatu asosiasi atau hubungan antara parameter lingkungan. kanker. maka identifikasi dampak potensial dan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL dapat disusun sebagai berikut. baik akut maupun kronis seperti : keracunan. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan dampak potensial yang dipandang tidak relevan. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. simulasi/model Dengan mengacu Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep. Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat kebiasaan pemanfaatan air kebiasaan penggunaan bahan “reppelent” atau pelindung kebiasaan penggunaan Insektisida kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan (berobat. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Potensi besarnya dampak terjadinya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. besarnya dampak kesehatan yang kemungkinan dapat timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan masyarakat terpajan (“population at risk”). sehingga diperoleh dampak penting hipotesis. telaah kegiatan proyek 2. kelainan reproduksi dan penyakit menahun lainnya? 268 . Identifikasi Dampak Potensial Identifikasi dampak potensial dilakukan melalui penilaian terhadap parameter lingkungan (fisik.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN 124 Tahun 1997 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (KA. penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan. telaah para ahli/profesional 8. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. Yang berhubungan dengan cemaran. Seberapa besar/luas usaha atau kegiatan memerlukan pengerahan sumber daya manusia (lokal dan pendatang) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki potensi untuk menimbulkan penyakit menular? 3. perlu diperhatikan: penyebaran bahan pencemar di media lingkungan (air. Sumber daya kesehatan 6. PENDAHULUAN Kerangka Acuan ANDAL pada dasarnya merupakan suatu arahan berdasarkan hasil perlingkupan dalam menentukan batasan permasalahan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang dampak penting. Hal-hal yang diperhatikan dalam perlingkupan kajian aspek kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. yaitu prediksi. media lingkungan (ambien.ANDAL) I. Seberapa besar usaha/kegiatan membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan mempunyai potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan. tanah dan makanan) jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (di masa depan) telaah data dan informasi berdasarkan studi toksikologi. telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan referensi yang relevan 3. Kondisi sanitasi lingkungan 7.

Beban ekonomi Meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat dampak dan rencana usaha atau kegiatan sehingga masyarakat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan kesulitan akses terhadap sarana kesehatan yang ada. dengan memperhatikan: 1. udara dan tanah. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang memiliki riwayat menyandang penyakit tertentu yang endemis dan penyakit menular potensial wabah? b. batas sosial dan batas administrasi. 269 . 4. konstruksi. penyusun aspek kesehatan masyarakat dalam AMDAL perlu diperhatikan prioritas kepentingannya sebagai berikut: 1. baik menurut waktu. Disamping batas-batas yang telah ditetapkan dalam pedoman seperti batas proyek. Daftar dampak potensial yang diperoleh dari huruf C tersebut selanjutnya dievaluasi sehingga diperoleh dampak penting kesehatan masyarakat. 2. Batas Ekologis Batas ekologis ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994. parasit.serta sumber daya kesehatan. Lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak kesehatan dan rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. Sifat dampak (akut dan kronis) Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpengaruh terhadap proses penularan penyakit akibat perubahan interaksi antara manusia dengan habitat vektor penyakit. Keterkaitan rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting) 2. serta pertumbuhan usaha non formal di sekitar lokasi proyek. penderitaan seumur hidup dan atau kematian. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat vektor penyakit yang dapat berkembang dalam masa pra konstruksi. 3. Untuk itu perlu diidentifikasi apakah di dalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang derajat kesehatannya dapat berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan (scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan (screening) untuk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara cermat dan mendalam sedemikian rupa sehingga diperoleh isu pokok. Berkaitan dengan masalah epidemiologi. c). pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. maka penjabaran batas-batas yang tertuang dalam pedoman dapat diuraikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. dan kronis. batas ekologis. sinergistik. yang dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan. 3. kimia. tahapan kegiatan maupun dampak komulatif yang terjadi Dalam proses pemusatan (focussing). Apakah di dalam batas lingkungan proyek mengandung bahan berbahaya (toksik) yang berpotensi sebagai bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan? 2. dikaitkan dengan akses komunitas masyarakat terhadap pelayanan dan sarana.4. Batas administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. keganasan maupun kelainan reproduksi. dan karakteristik spesifik lingkungan serta penduduk disekitar tapak lokasi rencana kegiatan yang diarahkan pada lingkup ekologi yang terkena dampak fisik. dan mikroba secara terus-menerus atau periodik sehingga menimbulkan penyakit dan atau kematian. Jumlah penduduk Peningkatan jumlah penduduk yang terkena dampak di masa depan dan rencana usaha atau kegiatan sehingga berpengaruh terhadap status kesehatan melalui proses akumulasi. III. Keterkaitan antar komponen dampak penting yang telah dirumuskan secara holistik. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada batas ekologi di atas (butir 2). bahan material dan manusia itu sendiri. dan biologi serta aspek sosial yang akan terganggu. maka kajian aspek kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan batasan epidemiologi dari penyakit yang ada disekitar tapak lokasi. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia karena daya dukung lingkungan sedemikian rupa sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat? Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting (“focussing”) bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan dan dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang isu-isu pokok permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan risiko kesehatan secara utuh dan lengkap. Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan: a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada batas proyek di atas (butir 1). penurunan intelegensia gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel atau mutasi DNA yang berakibat kelainan genetik. Seberapa besar usaha atau kegiatan dapat menurunkan secara berarti pemenuhan makanan dan gizi masyarakat dari generasi ke generasi? 5. yang berkait erat dengan batas ekologis dan sosial yang akhirnya ditetapkan sebagai batas wilayah studi. vektor penyakit. dengan mempertimbangkan tipologi usaha atau kegiatan. Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut: a. dan pasca konstruksi? c. C.

Komponen lingkungan dan masyarakat yang diteliti harus bersifat spesifik lokasi. kabupaten. Dampak penting aspek kesehatan masyarakat dan suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. Metode pengumpulan dan analisis data dan butir-butir di atas. mengikuti pedoman baku yang telah ditetapkan. melalui penelusuran data dan informasi dari hasil-hasil penelitian. Sebagai alat bantu untuk melengkapi angka 3 dan 4 tersebut di atas. beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: 1. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain: observasi / pengamatan lapangan.LAMPIRAN III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) I. propinsi) yang akan diukur. Beberapa proses dan langkah penyusunan ANDAL akan disinggung kembali bila diperlukan disesuaikan dengan kekhususan kajian. biologi dan sosial dan masalah kesehatan masyarakat. studi epidemiologi dan pustaka lainnya yang relevan. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. 5. ketersediaan tenaga. II. A. Parameter lingkungan dan kesehatan serta metoda prakiraan dan evaluasi dampaknya pada kesehatan masyarakat. 4. yaitu metodologi dan deskripsi dari kajian aspek kesehatan masyarakat. Arahan pokok dan panduan ini yang perlu tercantum dalam dokumen ANDAL mencakup dua hal. Media lingkungan yang menjadi wahana transportasi bahan berbahaya dan kondisi lingkungan yang menunjang terbentuknya habitat vektor penyakit. 6. Uraian rencana usaha atau kegiatan yang berhubungan erat dengan aspek kesehatan masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut. metoda & uji laboratorium). serta metoda prakiraan dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. wawancara mendalam (indepth interview). 5. panduan ini difokuskan pada substansi pokok yang perlu dikaji berdasarkan permasalahan pokok. referensi (data statistik. dokumen-dokumen ANDAL dan kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). 3.Lampiran 2. desa. Memperhatikan posisi tersebut. Evaluasi dampak kesehatan masyarakat. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk mempertajam kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. SERTA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. wawancara dengan menggunakan kuesioner. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek kesehatan masyarakat yang terdapat dalam KA. 2. untuk itu perlu pemahaman akan sifat komponen dan keterkaitannya dari sudut pandang aspek kesehatan masyarakat. pengumpulan data sekunder. karena tidak semua parameter harus diteliti. 3. 2. Dan angka 3 tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kajian komponen aspek kesehatan masyarakat yang tertera pada KA ANDAL dapat mengalami penambahan dan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan antara aspek fisik-kimia. tetapi akan menyebar secara spesifik tergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. 270 . satuan analisis (rumah tangga. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data 1. Sementara itu teknis penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara umum tetap mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 . peta. Demikian pula format penyusunan ANDAL. bahan-bahan pustaka dan bahanbahan referensi lain yang relevan yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. rujukan. 2. penyusunan aspek kesehatan masyarakat dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. studi kesehatan lingkungan. dengan memperhatikan: 1. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). Prakiraan dampak kesehatan masyarakat. 4. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat secara epidemiologis: perubahan mendasar atau dampak penting lingkungan yang akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. waktu dan dana.

Jadi metoda yang akan digunakan hendaknya merupakan rangkuman dari dua hal tersebut. dan kondisi lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kelayakan aplikasi teknik yang dipilih. Metoda Evaluasi Dampak Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan jenis dan sifat parameter dampak penting yang akan diukur. pandangan dan aspirasi mereka. yaitu: Metoda “Willingness to Pay (WTPJ)” . Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas bila perlu dapat digunakan secara simultan agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. Besaran dampak mencakup jenis. diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang diperkirakan terkena dampak. Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan antara lain adalah: Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif Analisis jalur pemajanan di masa depan Analisis risiko epidomiologis ( absolute risk. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. attributable. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain: teknik pengambilan sampel secara purposive. Ada dua cara pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk menilai biaya dampak kesehatan. dan “Cost of illness (COI)” . Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. teknik pengambilan sampel secara acak (random). Kep. Metoda ini perlu disesuaikan dengan isu pokok (lihat lampiran II . dan sampel biologis dan masyarakat sekitar tapak lokasi. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa arahan penting untuk menetapkan prakiraan dampak penting dan aspek kesehatan masyarakat adalah: prevalensi penyakit yang berhubungan dengan vektor cukup tinggi - 271 . diperlukan “value judgement” dari penyusun AMDAL. 3. derajat kepekaan yang dikehendaki. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini derajat keseragaman (homogenitas) dan populasi. Sementara kecenderungan dimaksudkan sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda. sifat.056 tahun 1994. Data ekonomi ditekankan pada beban masyarakat akibat dampak kesehatan (penyakit cedera) yang timbul.memperkirakan biaya langsung untuk pengobatan. Dalam hal pengambilan sampel untuk keperluan uji laboratorium sebagai kelengkapan pengumpulan data parameter lingkungan. biaya langsung bukan untuk pengobatan. makin besar jumlah sampel yang harus diambil.KA ANDAL) dan metoda yang digunakan untuk pengumpulan dan analisis data (butir A di atas). 4. dan relative risk) Analisis biaya dampak kesehatan Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan. Secara umum evaluasi dampak penting mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal No.B. Untuk itu indikator ekonomi kesehatan yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. yakni telaahan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak lingkungan terkait erat dengan masalah kesehatan masyarakat. Metoda Prakiraan Dampak Prakiraan dampak merupakan telaahan untuk melihat besaran dan kecenderungan timbulnya dampak kesehatan masyarakat. C.7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. dan biaya tidak langsung sebagai akibat dampak hilangnya produktivitas.memperkirakan biaya dampak melalui perhitungan kesediaan masyarakat membayar untuk menghindari atau menurunkan dampak. sebaran dan beban yang diproyeksikan kepada jumlah penduduk terkena dampak. baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. perlu diperhatikan tingkat “representativeness” dan karakteristik spesifik dan lingkungan dan karakteristik spesifik dan jenis “biomarker” tertentu yang kemungkinan akan berkait erat dengan dampak dan rencana usaha atau kegiatan. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. Metoda analisis data yang dapat digunakan adalah metoda analisis dampak kesehatan lingkungan dan metoda epidemiologi. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap biaya yang umumnya dikeluarkan untuk jenis atau benda dampak tertentu. wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. 5. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 .

2. 4. sosial. Informasi yang diperlukan untuk penyusunan rona lingkungan dan kesehatan masyarakat antara lain: 1. ekonomi yang kemungkinan besar mempengaruhi kepekaan penduduk yang terkena dampak. Penggunaan lahan saat ini dan dimasa depan. Perumusan sistem pemantauan kesehatan untuk dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang direncanakan. Karakteristik demografis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. IV. cacat dalam kandungan. 7. bahan-bahan berbahaya mengganggu kebutuhan hidup manusia. Akses dan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. perilaku masyarakat yang berisiko cukup besar. Data lain atau hasil studi yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan. Informasi tentang faktor lingkungan. bahan-bahan berbahaya tersebut menimbulkan dampak yang tak terpulihkan. Contoh data set untuk kegiatan pembangunan industri yang direncanakan: 1. 5. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang penyakit yang berkaitan dengan pencemaran yang berhubungan dengan kegiatan yang direncanakan. misalnya menyebabkan kanker. 6. 4. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Pada dasarnya uraian rencana usaha atau kegiatan adalah seperti apa yang telah ditetapkan dalam pedoman umum. Prevalensi penyakit menular. V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING . 10. Deskripsi terbaik tentang jenis kegiatan yang direncanakan. 7. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang mekanisme dispersi. Deskripsi terbaik tentang emisi atau effluen atau perubahan kondisi fisik (perkembangan habitat vektor). 8. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Karena itu kecenderungan dan kapan kemungkinan dampak itu akan terjadi dijelaskan disertai justifikasi ilmiah yang memadai atau asumsiasumsi yang dapat diterima. 3. 5. Umumnya. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. Analisis dampak kesehatan jangka panjang dan pendek. 9. 9. Status kesehatan penduduk. dsb. 6. Karakteristik epidemiologis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. Perilaku spesifik penduduk yang berhubungan dengan risiko. absorpsi di udara. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan masyarakat pada saat studi ANDAL berlangsung. Hasil prakiraan dampak penting aspek kesehatan masyarakat hendaknya dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan terjadi. terutama aspek kesehatan masyarakat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) yang akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. air dan tanah. misalnya banyak masyarakat yang menggunakan air sungai. absorpsi.. 2. persebaran “bahan berbahaya” cukup luas sehingga memungkinkan terjadinya jalur-jalur pemajanan di masa depan yang cukup luas pula. Kondisi kehidupan penduduk terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti akses kepada penyediaan air minum dan makanan dan sarana kesehatan. 11. maka rencana kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak seperti yang dinyatakan pada Bab Evaluasi Dampak (Butir II C). III.- - adanya spesies vektor penyakit di lokasi kegiatan yang direncanakan. Identifikasi cara-cara menghilangkan atau mengurangi dampak kesehatan dan prakiraan biaya yang diperlukan. 3. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan di wilayah studi. perlu dijelaskan dalam laporan studi ANDAL terinci pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. dampak kesehatan akan timbul setelah periode waktu tertentu. atau merusak tanaman pangan yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. 272 . Analisis dampak kesehatan pada alternatif rencana usaha atau kegiatan. manusia rentan terhadap “bahan berbahaya” yang dibuang oleh kegiatan yang direncanakan cukup besar jumlahnya. Karakteristik fisik (hidrogeologis dan iklim) di wilayah kegiatan yang direncanakan. misalnya pencemaran air tanah sehingga banyak masyarakat tidak memperoleh persediaan air bersih yang memadai. 8. bahan-bahan berbahaya tersebut sangat resisten di alam dan kumulatif sehingga pada jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatan penduduk yang cukup luas. Dari aspek kesehatan masyarakat. Penggunaan atau pemanfaatan sumber daya alam. 12. sarana atau jangkauan pelayanan kesehatan yang masih sangat terbatas.

Pada bagian keempat. sementara sungai itu menjadi sumber daya alam yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk budi daya pertanian.Pada setiap isu kesehatan masyarakat yang diprakirakan mengalami dampak penting dibahas melalui sistematika sebagai berikut: a. 2. dalam arti akan berlangsung terus selama kegiatan itu berjalan termasuk juga periode waktu kemungkinan dampak itu akan terjadi. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. f. Metode Prakiraan Dampak. maka sajikan cara perhitungannya. Hasil telaahan evaluasi dampak penting hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan diarahkan kepada alternatif tindakan yang harus diambil untuk mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan kemungkinan timbulnya dampak sehingga memudahkan pengambil keputusan menggunakan data evaluasi dampak penting ini. 273 . c. EVALUASI DAMPAK PENTING Hal penting dalam evaluasi dampak penting adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau informasi dan hasil analisis aspek kesehatan masyarakat dengan standar persyaratan dan atau kriteria kesehatan dan berbagai media lingkungan (“environmental pathways”). VI. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: 056 Tahun 1994) dan kriteria yang digunakan seperti contoh pada butir II.C. sebagai misal: 1. rona lingkungan dan kemungkinan timbulnya dampak kesehatan. diuraikan sifat penting dan besar dampak kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf b di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. uraikan tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan angka gangguan pernapasan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha atau kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf ll. Misalnya logam berat yang terkonsumsi melalui tata perairan akan menimbulkan penyakit X setelah Y tahun. baik langsung maupun tidak langsung. Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dan gangguan pernapasan yang ditanggungnya. Apabila dampak kesehatan masyarakat itu dapat dihitung dalam bentuk kerugian biaya. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dan suatu rencana usaha atau kegiatan. Pada bagian dua. Meskipun pada umumnya dampak kesehatan timbul setelah periode tertentu. b dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. Ciri dampak penting kesehatan masyarakat itu juga harus dijelaskan. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dan segi positif dan atau negatif. bila dampak penting kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf a. maka dampak penting aspek kesehatan masyarakat untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika diatas. Pada bagian pertama. Secara khusus perlu pula dijelaskan hubungan antara rencana kegiatan. tetapi tidak menutup kemungkinan adanya gangguan kesehatan masyarakat yang bersifat Iangsung. d. Untuk itu studi ANDAL Kawasan. Dampak terhadap gangguan sistem pernapasan penduduk di sekitar rencana usaha atau kegiatantimbul sebagai akibat dari emisi bahan-bahan berbahaya. Penjelasan terhadap kelompok masyarakat yang akan terkena dampak perlu mencakup karakteristik demografik dan epidemiologi. Pada bagian tiga. dan Regional perlu diberikan perhatian yang lebih besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjut tersebut. termasuk pula apakah masyarakat yang terkena dampak tersebut terbatas pada lokasi kegiatan yang direncanakan atau akan tersebar cukup jauh dan lokasi kegiatan itu. dampak penting itu timbul karena rencana usaha atau kegiatan secara kontinyu membuang logam berat ke perairan (sungai). Misalnya. Terpadu/multisektor.B. e. Kemungkinan itu perlu disampaikan dalam studi ANDAL. b.

. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut diatas. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (lampiran IV Kep 14/MENLH/3/1994). Mengingat dampak kesehatan masyarakat timbul karena terbentuknya jalur pemajanan antara sumber dampak dan manusia rentan. misalnya memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam air sumur yang digunakan penduduk. . Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut di atas. antara lain: .Pengelolaan tata ruang kota terhadap kesehatan mental dan kualitas lingkungan permukiman.Pengendalian dampak kumulatif pada wilayah usulan baru yang akan bertambah atas pembangunan yang telah ada.Pengelolaan sampah yang dihasilkan dan kegiatan yang direncanakan. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk mencegah atau meminimisasi dampak dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh untuk tidak timbulnya dampak kesehatan.Pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi. .Memantau cara kontak antara media lingkungan yang mengandung bahan berbahaya dengan manusia. Dari aspek kesehatan masyarakat.Memantau “bahan berbahaya” pada titik-titik di media lingkungan yang menjadi jalur penyebaran. 060030827 274 . .Pemilihan lokasi pembangunan yang akan menghindari atau mengurangi efek gangguan vektor yang ada dan mencegah perkembangan perindukan vektor. .Penyediaan daerah penyangga dan sarana umum seperti taman rekreasi dan sarana olah raga. . periode waktu harus disesuaikan dengan saat timbulnya dampak.Memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam emisi atau effluen kegiatan yang direncanakan. antara lain: .Menciptakan kondisi lingkungan baru: konstruksi bebas banjir dan manipulasi lingkungan mencegah perindukan vektor. Dari aspek kesehatan masyarakat. Karena itu pemantauan harus diarahkan kepada jalur pemajanan yang berhasil dikenali pada butir prakiraan dampak. apakah melalui minum atau kontak kulit. . . Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd.Memar.Kewaspadaan penggunaan lahan dimasa datang. .Memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dan manusia. khususnya pada pemantauan biomarker. . ttd. atau biomarker pada manusia kontak sesuai dengan periode yang diperlukan.LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Rencana Pengelolaan Lingkungan (lampiran III . .Kep-14/MENLH/3/1994). . Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk dapat melakukan pemantauan dampak kesehatan masyarakat secara tepat dan efisien. Disamping itu.Kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan (pelayanan kesehatan). Dadang Danumihardja NIP.

ekonomi. Mengingat : 1. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Pasal 1 Aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah telaahan yang dilakukan terhadap komponen demografi. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). 2. c. bahwa komponen aspek sosial merupakan bagian yang perlu dikaji secara mendalam dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap komponen tersebut dapat dikelola dengan baik. ttd Sarwono Kusumaatmadja 275 . Pasal 2 Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-299/11/ 1996 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dirasakan kurang memadai untuk melakukan kajian aspek sosial. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. b. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.

Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 2.1. Budaya. Membantu mempermudah proses penyusunan aspek sosial dalam studi AMDAL.2. tersebut identifikasi dampak sebaiknya didukung juga dengan teknis analogi melalui observasi pada kegiatan atau usaha sejenis yang telah beroperasi di lokasi lain dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang fenomena dampak sosial yang timbul. Kajian aspek sosial dilakukan untuk setiap dokumen : 2.1. Sebagai upaya untuk lebih memperjelas dalam melakukan kajian komponen sosial seperti yang telah ditentukan. B. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 2. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek sosial dalam penyusunan AMDAL. C.Komponen dan Parameter Sosial terlampir. maka pedoman teknis kajian aspek sosial menjadi penting dalam penyusunan AMDAL dan ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kajian-kajian komponen lain. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN ( KA-ANDAL ) 1. bagan alir d. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING 2. analisis isi g. Dalam pelingkupan aspek sosial dalam AMDAL perlu diperhatikan dua hal penting yaitu : 2. Dengan demikian diharapkan Peraturan Pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. sub-komponen dan parameter sosial yang dapat diidentifikasi sebagai dampak potensial dapat dilihat pada Tabel 1: Daftar Komponen. 276 . Demografi 1. penelaahan pustaka e. pengamatan lapangan f. 2. Sub. RUANG LINGKUP 1 . Namun keadaan yang demikian masih berjalan belum sebagaimana yang diharapkan. PENGERTIAN Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasikan dampak penting potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN A. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. 3. khususnya kajian dampak sosial. Karena itu. Berkenaan dengan angka 2.1. dan 1. Komponen sosial yang ditelaah meliputi : 1. Ekonomi. matrik interaksi sederhana c.2.4. 2.Identifikasi Dampak Potensial Dalam proses identifikasi dampak potensial dapat dipergunakan beberapa metoda sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan seperti : a.3. Beberapa komponen.3. ini sangat dirasakan akibat lemahnya acuan yang digunakan sebagaimana tersebut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. interaksi kelompok. TUJUAN Pedoman teknis merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk : 1. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. daftar uji b. Memahami keterkaitan aspek biogeofisik dan sosial dalam AMDAL.1. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan.

Berkenaan dengan penentuan batas sosial. jasa dan sebagainya). wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas proyek.Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan / mengkategorisasikan dampak penting yang telah dirumuskan sebelumnya agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan secara utuh dan lengkap. 4) Interaksi sosial yang terjalin di kalangan masyarakat setempat. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. kegiatan ekonomi. Dampak rencana usaha atau kegiatan terhadap komponen lingkungan yang akan mengalami perubahan mendasar (dampak penting). Hubungan sebab akibat antar komponen dampak penting aspek sosial itu sendiri.Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan mendeliniasi batas-batas terluar dengan memperhatikan : a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada angka 3. dan pemilikan sumberdaya alam (property right) ? Daftar dampak potensial yang diperoleh dari angka 2.Batas Ekologis Setelah batas ekologis ditetapkan. b.1. Perlu diketahui bahwa batas sosial mungkin bisa lebih luas dari batas ekologis dan batas proyek.2. ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu : 3. dan sebaliknya. penyusun aspek sosial dalam AMDAL perlu memperhatikan: a. 3) Struktur pemilikan sumber daya alam baik yang bersifat formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat).2.2. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk (kepadatan dan komposisi penduduk). Dalam penetapan dampak potensial aspek sosial tersebut dapat digunakan dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini: a. batas sosial dan batas administrasi.Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut : a.Evaluasi Dampak Potensial Evaluasi dampak potensial bertujuan menyeleksi dan menetapkan komponen dampak potensial aspek sosial yang relevan untuk ditelaah. c) Lokasi komunikasi masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat ? 3. b. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan atau nilainilai sosial budaya yang dikandung berpotensi berubah secara mendasar akibat aktivitas pra-konstruksi (pembebasan perolehan lahan. dan sebaliknya. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada angka 3. c. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. tersebut di atas. 3. konstruksi dan operasi dari rencana usaha atau kegiatan? Struktur sosial yang dimaksud di sini dapat berupa : 1) Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Berdasarkan KEPMENLH Nomor 14 tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL. 2.3. tersebut selanjutnya dievaluasi untuk memperoleh dampak penting sosial. Contoh penetapan batas sosial seperti pada Gambar 1 terlampir. relokasi penduduk). Struktur sosial yang dimaksud disini seperti yang dimaksud dalam angka 3. Batas-batas terluar dari komunitas masyarakat yang dimaksud pada huruf a. 2) Struktur kekerabatan. batas ekologis. berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994. Dalam proses pemusatan (focussing). b dan c di atas merupakan batas sosial.2. 3. perikanan.3. perkebunan.1 .2.Batas Administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran 1 tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat. 3. dan proses penduduk (pertumbuhan dan mobilitas penduduk)? b.4. 277 . Dampak rencana aspek sosial yang mengakibatkan timbulnya dampak penting pada aspek fisik-kimia dan biologi. perlu diidentifikasi apakah didalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial budayanya berpotensi berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. pranata-pranata sosial (lembaga-lembaga kemasyarakatan) yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial).1. atau pendapatan/pengeluaran rumah tangga ? c. pola mata pencaharian penduduk. udara dan tanah.

Ekonomi 1. pola migrasi (sirkuler.kewenangan formal dan informal c.pergeseran nilai kepemimpinan 7. Budaya 1.kohesi sosial 3. Pertumbuhan Penduduk a. pola perkembangan 3. Warisan Budaya a. Kekuasan dan kewenangan : a. komuter. migrasi masuk b. Demografi Parameter 1. pola penggunaan lahan d. b. Komponen 1. Tenaga Kerja a. pendidikan. akulturasi d. Pelapisan Sosial berdasarkan : a. agama. Struktur Penduduk : a. Mobilitas penduduk a.pendidikan b.kelompok individu yang dominan e. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat d.pendapatan asli daerah h. Ekonomi Sumber Daya Alam a. Komposisi penduduk menurut kelompok umur.asimilasi dan integrasi e.ekonomi.pola pemanfaatan sumber daya alam c.pola nafkah ganda 2.ekonomi c.nilai tambah karena proses manufaktur c.Tabel I : Daftar Komponen. misal hak ulayat b. tingkat kematian bayi c. aksesibilitas wilayah 3. pola migrasi (sirkuler. permanen) 2.efek ganda ekonomi (multiplier effect) f.1. Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan 8. 278 . Sub-Komponen.pendidikan c. fasilitas umum dan fasilitas sosial j.situs purbakala b. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi nonformal d.distribusi pendapatan e.kekuasaan 6. Proses Penduduk : 2. permanen) d.cagar budaya 5. tingkat kelahiran b.pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam b.nilai tanah dan sumber daya alam lainnya e.kesempatan kerja dan berusaha b.kepemimpinan formal dan informal b.proses asosiatif (kerjasama) b. agama d. Kebudayaan a.tingkat pendapatan b.adat-istiadat b. Pranata Sosial kelembagaan Masyarakat dibidang : a. jenis kelamin. pekerjaan d.sosial e. Sub komponen dan parameter aspek sosial berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi).2. Kepadatan penduduk 2. produk Domestik Regional Bruto g. Adaptasi Ekologis .pusat-pusat pertumbuhan ekonomi i. Proses sosial a. komputer.Sumber daya alam milik umum (commmon property) 3.proses disosiatif (konflik sosial) c.keluarga 4. tingkat partisipasi angkatan kerja b. Perekonomian Lokal dan Regional a.nilai dan norma budaya 2. migrasi keluar c. Ekonomi Rumah Tangga a. tingkat pengangguran 2. dan Parameter Sosial Perhatian : Daftar komponen. mata pencaharian.

Di sekitar saluran irigasi ini juga terdapat pemukiman penduduk. 6. Di sekitar sungai ini juga terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah lama menghuni daerah ini. saluran irigasi Y akan menerima air limbah yang terangkut melalui sungai X. 5. Air dari danau buatan digunakan untuk keperluan pabrik dan keperluan domestik. Jalan propinsi yang akan digunakan oleh rencana kegiatan untuk keperluan mobilisasi peralatan dan bahan baik pada saat konstruksi dan operasi. Limbah cair direncanakan dibuang di sungai (7) setelah melalui instalasi pengolahan air limbah (2). 4. Ruas jalan yang dibangun menghubungkan lokasi rencana kegiatan dengan jalan propinsi. Lokasi instalasi pengolahan air limbah yang direncanakan dibangun. pengalihan status lahan milik masyarakat setempat (ganti rugi lahan). 7. Disepanjang jalan propinsi ini terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah menghuni daerah ini sebelum rencana kegiatan dibangun. Sungai X merupakan sungai penerima air limbah rencana kegiatan dibangun di lokasi tersebut. Air limbah yang telah melalui proses instalasi pengolahan air limbah dialirkan ke sungai X (disimbolkan dengan angka 7).Keterangan Gambar 1 1. 279 . 3. Jalur pipa air untuk mengalirkan air dari danau buatan yang akan direncanakan dibangun. Rencana kegiatan yang dibangun terletak di daerah persawahan padi. 2. Batas sosial yang terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada lampiran II angka 5 tentang Pelingkupan Wilayah Studi. Ruas jalan yang akan dibangun lahan untuk ruas jalan diperoleh dengan cara ganti rugi lahan. serta pengangkutan hasil produksi. Danau buatan yang dibangun oleh rencana kegiatan khusus untuk menampung air hujan dan aliran permukaan dari daerah sekitarnya. Sungai X akan mengalir ke saluran irigasi Y (disimbolkan dengan angka 8). Bila rencana kegiatan beroperasi. 8. Areal rencana kegiatan diperoleh dengan cara.

Metoda analisis data yang dapat digunakan antara lain : a. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain : a. Pengumpulan data sekunder. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) .Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. 1. b. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi.Lampiran III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISlS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Dalam a. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. Sebagai alat bantu untuk melengkapi huruf c dan d tersebut di atas. rujukan). Uraian rencana usaha atau kegiatan. metoda prakiraan. 1. c.Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak. d.3. Presisi (ketetapan/akurasi) yang dikehendaki. A. Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. c. c. kabupaten. 1. Satuan analisis (rumah tangga. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. c. propinsi) yang akan diukur. b. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). seperti analisis isi (content analysis) 280 . Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. Teknik pengambilan sampel secara purposive. desa.1. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu : a. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. METODA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. seperti analisis statistik. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5-7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. Huruf c tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa komponen aspek sosial yang tertera pada KAANDAL dapat mengalami penambahan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan yang antar aspek fisik-kimia. peta. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan. Wawancara mendalam (indepth interview). dokumen-dokumen ANDAL dari kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). Ketersediaan tenaga. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. serta metode prakiraan dan evaluasi dampak. b. Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat.Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a. Rona lingkungan hidup. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. c. b. Komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifikasi lokasi.4. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. e. e. Teknik pengambilan sampel secara acak (random). referensi (data statistik. sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam Pedoman Umum Penyusunan ANDAL (KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994) dan dalam Tabel 1 paduan ini diteliti untuk setiap usaha atau kegiatan wajib AMDAL. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 1. d. c. d. 1. Metode analisis yang bersifat kualitatif. Metoda analisis yang bersifat kuantitatif. biologi dan sosial. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini : a. data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL perlu diuraikan : Metode pengumpulan dan analisis data sosial. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. waktu dan dana. Dan evaluasi dampak penting.2. dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. Prakiraan dampak penting. d. Teknik pengambilan sampel secara proporsional. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. Melalui teknik ini. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek sosial yang terdapat dalam KA. pandangan dan aspirasi mereka. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. Observasi/pengamatan lapangan. Wawancara dengan kuesioner. b. Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. dan pustaka lainnya. b. b. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan.

Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul menurut dokumen AMDAL sejenis.Data ekonomi sedapat mungkin diberi nilai moneter (valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi dapat dikuantifikasi.-. 3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach). dapat diukur melalui dua metode berikut ini : a. Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. METODE PRAKIRAAN DAMPAK Prakiraan dampak merupakan telaahan yang menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat adanya rencana usaha atau kegiatan. Sehubungan dengan itu ada tiga (3) metode pemberian penilaian moneter yaitu : a. diukur dengan cara mengukur dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan masyarakat Xp (disimbolkan Xp*). Metode ini terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity) 2) Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of learning approach).-. Data sosial aspek lainnya yang memungkinkan diberi nilai moneter hendaknya dilakukan pula valuasi. Metode Formal. Kelompok Masyarakat Xp* pada saat tanpa Proyek P* Proyek P* Dasar prakiraan Prakiraan dampak Kelompok Masyarakat Xp* -. dengan kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi bila tidak ada rencana usaha atau kegiatan (pendekatan with and without project) Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. 4) Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai penduga (hedonic pricing). 3) Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach) . yang terkena proyek serupa (disimbolkan P*) di lokasi lain. b. Metode Informal. Metode ini terdiri dari empat (4) pendekatan: 1) Pendekatan nilai kepemilikan (property value approach). 2) Pendekatan harga bayangan (shadow project approach).-.-.5. diperlukan value judgement dari penyusun AMDAL.-. Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P) terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp). c. Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential expenditures willingness to pay or to accept) yang terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach). 2. termasuk yang mempunyai nilai moneter. Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktifitas (market-based Methods).Kelompok Masyarakat Xp* tanpa Proyek P tanpa Proyek P di lokasi studi ANDAL Kelompok Masyarakat Xp* dengan proyek P* di lokasi lain Kelompok Masyarakat Xp dengan Proyek P Waktu Saat lalu Saat studi ANDAL Saat mendatang Besar dampak. 3) Pendekatan pembatasan pengeluaran (defendive expenditures approach). 2) Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach). antara lain : 1) Proyeksi penduduk (teknik ekstrapolasi) 2) Analisis kecenderungan (trend analysis) 3) Analisis deret waktu (time series analysis) b. Besar dampak proyek P* terhadap masyarakat Xp* ini dapat menjadi prakiraan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp: Ilustrasi berikut memperjelas hal dimaksud. antara lain : 1) Penilaian pakar (professional judgement) 2) Komparatif antar budaya (cross cultural) 3) Teknis analogi 4) Metode delphi Adapun sifat penting dari besar dampak sosial yang akan terjadi ditelaah dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) 281 .1. Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value).

RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan sosial di wilayah studi. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode evaluasi dampak yang tepat untuk studi ANDAL. Disamping itu bila menggunakan bobot atau skala. B. Pada bagian keempat. Matrik Tiga Tahap Fischer dan Davies e. b. b. Extended Cost Benefit Analysis Perlu diketahui. metode tersebut sesuai dengan kondisi rona lingkungan dan karakteristik rencana usaha atau kegiatan yang ditelaah. mengenai Metode Prakiraan Dampak. Pada bagian pertama. Penyerapan tenaga kerja khususnya dari masyarakat setempat 3. Setiap komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak penting) dibahas melalui sistematika sebagai berikut : a. c. terutama aspek-aspek sosial yang menurut dokumen Kerangka Acuan (KA) akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. tidak seluruh komponen sosial harus diungkapkan dalam rona lingkungan hidup. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) d. bila dampak penting sosial yang telah diutarakan pada huruf a. D. c. c. Untuk studi AMDAL Kawasan. Bersifat dinamis. Evaluasi dampak penting dilakukan dengan sistematika sebagai berikut : a. yakni telaahan secara total terhadap beragam dampak lingkungan. maka uraian rencana usaha atau kegiatan perlu memuat data dan informasi yang antara lain mencakup : 1. uraian tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisa perbedaan kualitas lingkungan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf A. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dari segi positif dan atau negatif. dan Regional perlu diberikan perhatian yang besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. C. Rencana pengembangan ekonomi masyarakat setempat. adalah : a. mengenai Metode Evaluasi Dampak. bila ada alternatif lokasi atau teknologi dari rencana usaha atau kegiatan maka 282 . URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Agar kajian dampak penting aspek sosial dapat ditelaah mendalam. dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. METODE EVALUASI DAMPAK Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. b. uraikan isu-isu pokok lingkungan yang terdapat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) dan komponen dampak penting lingkungan hasil dari prakiraan dampak penting. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek sosial yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Bersifat fleksibel. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dari suatu rencana usaha atau kegiatan. f. EVALUASI DAMPAK PENTING 1.3. Bila metode yang dipakai menggunakan skala dan atau bobot maka proses peleburan (amalgamasi) harus dilakukan secara benar. d. satuan. Bagan Alir Dampak c.2. metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan yang ukuran. Bersifat komprehensif. b. maka dampak penting aspek sosial untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika angka 1. Pada bagian dua. sejauh mungkin penyusun aspek sosial ANDAL memperhatikan atau menghimpun masukan dari masyarakat yang terkena dampak. sehingga relatif tidak ada metode evaluasi dampak yang bisa digunakan untuk semua jenis studi ANDAL. Rencana pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial 4. Beragam dampak penting lingkungan tersebut ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-mempengaruhi. Kebijaksanaan dan cara pembebasan/perolehan lahan 2. sebagai misal : 1 ) Dampak terhadap pendapatan masyarakat di sekitar rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai dampak lanjutan dari perubahan pencaharian dan kesempatan berusaha. Pada bagian pertama. Dengan demikian. Terpadu/multisektor. 3. dibahas/ditelaah secara holistik (komprehensip) dampak penting lingkungan (fisikkimia. biologi dan sosial). e. E. baik yang positif maupun negatif. Pada bagian ke tiga. dan skalanya berbeda serta dampaknya berbeda. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. diuraikan sifat penting dari besar dampak sosial yang telah diutarakan pada huruf b tersebut di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. metode tersebut memenuhi syarat-syarat ilmiah. Pada bagian kedua. USGS Matrix (Matrik Leopold) b. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 1. Bersifat analitis. metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting lingkungan sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan.3. 2) Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dari berubahnya tingkat pendapatan. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak secara holistik diantaranya adalah : a. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada saat studi ANDAL berlangsung. Sistem bahasan sebagaimana pada angka 1 tersebut di atas berlaku pula untuk dampak penting yang mempunyai nilai moneter. 2. Evironmental Evaluation System (EES) d. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjutan tersebut. dengan menggunakan metode yang telah diuraikan pada huruf A. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana usaha atau kegiatan untuk pengambilan keputusan. Pada bagian tiga. dalam arti proses peleburan nilai-nilai yang satuannya berbeda harus dilakukan melalui proses yang secara ilmiah dibenarkan. kondisi kesehatan masyarakat di sekitar proyek dan penyerapan tenaga kerja oleh proyek.

Disamping itu juga harus diutarakan pada kelompok atau lapisan masyarakat mana. Dalam merancang pemantauan lingkungan bagi aspek sosial. Pihak yang melaksanakan pengelolaan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan juga dapat instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. pemerintah maupun pertimbangan pakar. 2. melainkan juga perlu mendayagunakan informasi tentang kualitas lingkungan dari masyarakat yang terkena dampak. Sebagai isyarat dini tentang adanya gejala-gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. Sebagai sarana untuk uji hipotesis dampak penting yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL. b. d. serta instansi sektoral terkait. Manfaat Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah : a. dan menanggulangi sumber dampak penting tersebut. dan lokasi pengambilan sampel secara jelas. Sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pengelolaan lingkungan. 2. bilamana. 4. mengendalikan. sejauh terdapat : a. atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. Kewenangan memantau dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa. biologi. Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah. b. menanggulangi dan mengendalikan dampak antara lain dapat berupa. Komponen lingkungan yang dipantau difokuskan pada dampak penting yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. b. 5. 3. pembentukan forum komunikasi lingkungan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul.lakukan evaluasi dampak penting terhadap masing-masing alternatif tersebut. maka di dalam dokumen perlu diutarakan teknik pengambilan sampel yang digunakan. Kewenangan menangani atau mengelola dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa (misal. jumlah sampel. Evaluasi dampak juga dilakukan pada komponen-komponen dampak penting yang mempunyai nilai moneter. 4. Disamping itu pranata sosial yang sudah ada di masyarakat didayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. 2. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNlS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Di dalam merumuskan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. dan kesehatan masyarakat maupun dari aspek sosial itu sendiri. c. sehingga diperoleh gambaran mengenai biaya eksternal yang akan ditanggung atau dinikmati oleh masyarakat dan atau pemrakarsa. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kesempatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan. Sebagai alat bukti untuk melindungi adanya tuntutan kerusakan atau pencemaran lingkungan. harus mempertimbangkan prinsip saling menguntungkan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terkait. baik yang bersumber dari aspek fisik-kimia. 3. e. Sarwono Kusumaatmadja 283 . Misalkan. maka instansi yang bertanggung jawab dapat memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan (Pasal 11 ayat 1 PP 51/1993) LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) Di dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. memantau dampak penting terhadap pertumbuhan sektor informal disekitar rencana usaha atau kegiatan. di lokasi mana. yang merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan. ttd. Bila untuk keperluan tersebut digunakan respon. dan pihak mana yang akan melaksanakan pengelolaan lingkungan. Upaya pengelolaan lingkungan aspek sosial ditempuh dengan cara mencegah. Upaya pengelolaan lingkungan tersebut perlu memperhatikan kepentingan masyarakat. Kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak. Rencana pengelolaan lingkungan harus secara jelas mengutarakan upaya-upaya yang akan ditempuh untuk mencegah. 3. yang anggotanya terdiri dari pemrakarsa. sejauh terdapat : a. unsur-unsur pemerintah daerah setempat. Hasil evaluasi tersebut harus dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan. pemrakarsa sebaiknya tidak hanya mengandalkan data yang diperoleh dari instrumen atau alat ukur yang dimiliki. dan menanggulangi dampak penting sosial yang akan timbul. Kesepakatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pemantauan lingkungan. Apabila Analisa Dampak Lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. Pihak yang melaksanakan pemantauan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan dapat juga dilakukan oleh instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. mengendalikan. Sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. dampak penting berupa timbulnya prostitusi disekitar rencana usaha atau kegiatan). masyarakat sekitar yang terkena dampak.

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TENTANG PEDOMAN MENGENAI DAMPAK PENTING KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. Kedua : Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting : 1. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3538). 4. ttd Sarwono Kusumaatmadja 284 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3501). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1990. 2. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING Mengingat Pertama : Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini. 3. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. 5. Keputusan Presiden RI Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419). Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Nomor 115 Tahun 1992.

f. wilayah pesisir. g. Untuk menentukan penting tidaknya dampak lingkungan akibat dilaksanakannya suatu rencana usaha atau kegiatan perlu juga diperhatikan peraturan perundangan yang berlaku baik di dalam maupun diluar wilayah negara Republik Indonesia. Kawasan Sekitar Danau/Waduk g. muara sungai. atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan. Luas wilayah persebaran dampak. 6. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu aspek lingkungan saja. Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. Ukuran dampak penting tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. perairan darat.LAMPIRAN KEPUTUSAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TANGGAL : 18 Maret 1994 PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING I. Ukuran dampak penting terhadap lingkungan. Suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dibangun di kawasan lindung yang telah berubah peruntukkannya atau lokasi rencana usaha atau kegiatan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan lindung. Kawasan Bergambut c. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem) j. bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. b. Intensitas dampak. AMDAL kawasan dan AMDAL Regional. menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL. termasuk bagi keperluan AMDAL kegiatan Terpadu/Multisektor. b. Masing-masing faktor sebagaimana dimaksud datam butir 2 tersebut memiliki seperangkat kriteria dampak penting. dan Pasal 2 dan Pasal 3 PP Nomor 51 Tahun 1993 ditentukan oleh faktor-faktor berikut: a. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. 4. c. hasil guna dan daya gunanya. Taman Nasional l. Taman Hutan Raya m. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini merupakan petunjuk dasar yang memberi arah apakah suatu rencana usaha atau kegiatan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting. Sifat kumulatif dampak. Dampak penting suatu usaha atau kegiatan menurut Penjelasan Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. e. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting digunakan untuk keperluan penapisan rencana usaha atau kegiatan dan penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). 285 . dan Daerah Pengungsian Satwa) i. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. d. UKURAN DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN 1. perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. gugusan karang atau terumbu karang. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah bernilai tinggi) o. Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove) k. Kawasan Rawan Bencana Alam II. 5. 2. PENGERTIAN 1. 7. Suaka Margasatwa. Kawasan Resapan Air d. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. yakni ukuran. Yang dimaksud dengan kawasan lindung menurut Penjelasan Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah sebagai berikut : a. Kawasan Sekitar Mata Air h. Taman Wisata Alam n. Lamanya dampak berlangsung. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Sempadan Pantai e. Kawasan Hutan Lindung b. standar tertentu atau prinsip-prinsip tertentu. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Sempadan Sungai f. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan. Hutan Wisata. 3.

melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan. atau segi kumulatif dampak. 4. 7. taman nasional. Adapun yang dimaksud dengan manfaat dari usaha atau kegiatan adalah manusia yang secara langsung menikmati produk suatu rencana usaha atau kegiatan dan atau yang diserap secara langsung sebagai tenaga kerja pada rencana usaha atau kegiatan. Intensitas Dampak Intensitas dampak mengandung pengertian perubahan lingkungan yang timbul bersifat hebat. atau segi kumulatif dampak yang berlangsung hanya pada satu atau lebih tahapan kegiatan. konstruksi. dampak lingkungan. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Namun demikian. pasca operasi). e. Luas Wilayah Persebaran Dampak Luas wilayah persebaran dampak merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan pentingnya dampak terhadap lingkungan. yang penentuannya didasarkan pada perubahan sendi-sendi kehidupan pada masyarakat tersebut dan jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan. berdasarkan pertimbangan ilmiah. Berdasarkan pengertian ini dampak lingkungan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak. dalam kurun waktu yang relatif singkat. dapat dialami oleh baik sejumlah manusia yang termasuk maupun yang tak termasuk dalam sasaran rencana usaha atau kegiatan. atau habitat alaminya mangalami kerusakan. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. sejak tahap konstruksi hingga masa pasca operasi usaha atau kegiatan. cagar alam. Karena itu. Banyaknya Komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak Mengingat komponen lingkungan hidup pada dasarnya tidak ada yang berdiri sendiri. 2. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah. jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan di wilayah studi.c. Dengan demikian dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. suaka margasatwa. Mengingat pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas. Serta berlangsung di area yang relatif luas. d. atau drastis. namun ada pula yang berlangsung relatif lama. Jumlah Manusia yang Akan Terkena Dampak Setiap rencana usaha atau kegiatan mempunyai sasaran sepanjang menyangkut jumlah manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat dari rencana usaha atau kegiatan itu bila nanti usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. yakni hanya pada tahap tertentu dari siklus usaha atau kegiatan (perencanaan. 5. 2. atau pemerintah pusat. b. pemerintah daerah. Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Dengan demikian dampak lingkungan tergolong penting bila: 1. atau tidak berbaliknya dampak. atau dengan kata 286 c. dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi di kalangan masyarakat. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. . baik yang bersikap negatif maupun positif yang mungkin ditimbulkan oleh suatu usaha atau kegiatan. 6. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan dapat berlangsung pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari kelangsungan usaha atau kegiatan. maka kriteria dampakpenting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di kalangan masyarakat luas berada dalam posisi atau mempunyai nilai yang penting. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. 3. yang bernilai tinggi. Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. operasi. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Dengan kata lain dampak suatu usaha atau kegiatan ada yang berlangsung relatif singkat.

f. Sifat Kumulatif Dampak Kumulatif mengandung pengertian bersifat bertambah. sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus. namun ada pula yang tidak dapat dipulihkan walau dengan intervensi manusia sekalipun. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik). 2. ttd Sarwono Kusumaatmadja g. Atas dasar pengertian ini dampak tergolong penting bila: Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. Dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif bila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting.lain satu sama lain saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. Dalam hal ini maka dampak bersifat penting bila: Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia. Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak Dampak kegiatan terhadap lingkungan ada yang bersifat dapat dipulihkan. maka lama kelamaan dampaknya bersifat kumulatif. 3. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 287 . tetapi karena aktivitas tersebut bekerja berulang kali atau terus menerus. sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu. Dengan demikian dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila: 1. atau bertimbun. maka dampak pada suatu komponen lingkungan umumnya berdampak lanjut pada komponen lingkungan lainnya. bertumpuk.

AUDIT LINGKUNGAN 288 .

3. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3434). Fungsi. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup audit lingkungan hidup yang diwajibkan meliputi evaluasi masukan atau informasi. Tugas. 4. 7. kelompok orang. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 19. Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Audit Lingkungan hidup yang diwajibkan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. pelaksanaan. dan verifikasi laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan akibat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Tim Audit adalah sekelompok atau seorang auditor yang diberi tugas untuk melaksanakan audit dan tim audit juga dapat beranggotakan tenaga ahli teknis. 4. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. dan organisasi lingkungan hidup. 6. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. Kewenangan. Pihak yang berkepentingan adalah orang seorang. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. 8. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara. Mengingat : 1. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Auditor Lingkungan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan audit lingkungan. 289 . Tugas Fungsi. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). b. 3. Kewenangan. Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Tim Verifikasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan yang diwajibkan. bahwa agar pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dapat dilakukan secara efektif maka diperlukan suatu pedoman. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Tim Evaluasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan evaluasi terhadap masukan. 2. Menimbang : a. termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang terkena dampak langsung atau berpotensi terkena dampak dan ketidakpatuhan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 5. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. kriteria ketidakpatuhan. informasi dan usulan untuk melakukan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. c.

(2) Audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilakukan oleh auditor lingkungan yang terdaftar dan atau auditor yang memenuhi kriteria kualifikasi sesuai dengan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . telah diberikan peringatan oleh Menteri dan atau Gubernur dan atau Bupati dan atau Walikota sekurangkurangnya 3 (tiga) kali dalam jangka waktu setahun terakhir dan atau patut diduga akan terjadi lagi di masa mendatang. Pasal 5 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dinyatakan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.Prinsip Umum atau standar lainnya yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (3) Manfaat pelaksanaan audit Iingkungan hidup yang diwajibkan: a. d. d. c. maka Gubernur/Bupati/W alikota mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab suatu usaha dan atau kegiatan tersebut melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. c. ketidakpatuhan terhadap persyaratan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilakukan. apabila telah melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan atau. telah terjadi hal yang sama atau berkaitan secara berulangkali. c. mengetahui status ketaatan pengelolaan lingkungan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. ketidakpatuhan terhadap baku mutu lingkungan hidup. (2) Apabila Gubernur/Bupati/Walikota menilai bahwa suatu usaha dan atau kegiatan di wilayahnya menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. b. mencegah terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. dan. (2) Fungsi audit Iingkungan hidup yang diwajibkan merupakan salah satu instrumen penaatan atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelola Iingkungan hidup. meningkatkan penaatan pengelolaan lingkungan hidup dan suatu usaha dan atau kegiatan. 290 . ketidakpatuhan terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. FUNGSI DAN MANFAAT Pasal 3 (1) Tujuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan : a. (2) Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila menunjukkan : a. b. termasuk apabila terdapat pelanggaran dan atau ketidaktepatan penerapan kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup. BAB IV KRITERIA KETIDAKPATUHAN DAN KEWENANGAN Pasal 4 Kriteria ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi dasar dikeluarkannya perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. memberikan uraian tentang penyebab terjadinya ketidakpatuhan. sebagai bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan Menteri tentang tindak lanjut penanganan ketidakpatuhan. b. memberikan rekomendasi atas temuan-temuan pelaksanaan audit.BAB III TUJUAN. BAB V PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN Bagian Pertama Tata Laksana Pasal 7 (1) Tata laksana audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 19-14010-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . dan atau. ketidakpatuhan yang mengindikasikan bahwa penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup atau tidak melaksanakan sistem pengelolaan lingkungan secara efektif.Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan dan bebas dari pertentangan kepentingan. b. meliputi: a. Pasal 6 (1) Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan apabila penanggung jawab usaha dan atau kegiatan menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (3) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib memberikan informasi/data yang benar dan aktual kepada auditor. untuk mengetahui tingkat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. dan atau.

penanggung jawab usaha dan atau kegiatan telah menunjuk auditor dengan pemberitahuan kepada Menteri. (3) Jumlah beban biaya pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. Kepala instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan hasil temuannya kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). Pasal 9 (1) Gubernur/Bupati/Walikota menugaskan instansi yang bertanggung jawab di daerah untuk mengevaluasi masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan memeriksa unsur ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. instansi yang bertanggung jawab di daerah. atau. (4) Tim Evaluasi melaksanakan kegiatan evaluasi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. (5) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan dan rekomendasi hasil evaluasi secara tertulis kepada Menteri selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja. Menteri membentuk Tim Evaluasi yang bertugas untuk mengevaluasi usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. a. instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan dan tenaga ahli dalam bidang yang terkait. setelah selesai melaksanakan evaluasi. Pasal 11 (1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 10 selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja. dilengkapi dengan rancangan ruang lingkupnya. (7) Apabila rekomendasi berupa ketidaklayakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) huruf b. ketidaklayakan untuk dikeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan memberikan alasan-alasan ketidaklayakan tersebut.Bagian Kedua Mekanisme Pasal 8 Pihak yang berkepentingan dapat memberikan masukan atau informasi secara tertulis tentang terjadinya petunjuk ketidakpatuhan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Menteri dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri dapat: a. kelayakan untuk dikeluarkannya perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. dengan dilengkapi data pendukung. (2) Apabila Menteri menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri memberikan alasan-alasan mengenai ketidaksetujuan tersebut. Pasal 12 (1) Berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) huruf a. (6) Rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. b. melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan membentuk Tim Audit. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). b. b. (2) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur-unsur. menugaskan pihak ketiga yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (3) Apabila Menteri tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. atau. Menteri memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Menteri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. (3) Tim Evaluasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. 291 . maka: a. Gubernur/Bupati/Walikota dapat mengusulkan secara tertulis kepada Menteri untuk mengeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Pasal 10 Instansi pengendalian dampak lingkungan dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan dilengkapi dengan data pendukung.

dengan membentuk Tim Verifikasi. menyusun laporan hasil verifikasi secara tertulis dan menyampaikannya kepada Menteri. ahli di bidang lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (5) Tim Verifikasi melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) paling lama 14 (empat belas) hari kerja. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri.Pasal 14 (1) Tim audit merumuskan Kerangka Acuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan ruang lingkup yang ditetapkan oleh Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah tim audit ditetapkan. (3) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab dibidang pengendalian dampak lingkungan.MSM. (3) Tim audit setelah melaksanakan tugasnya wajib menyerahkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara tertulis kepada Menteri. Pasal 16 (1) Berdasarkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. apabila diperlukan dapat melaksanakan kegiatan verifikasi di lokasi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. BAB VI INFORMASI DAN PUBLIKASI Pasal 17 Menteri mengumumkan surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada Masyarakat. Nabiel Makarim. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 September 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. MPA. (4) Tugas Tim Verifikasi mencakup hal-hal sebagai berikut: a. 292 . (2) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan atau instansi yang bertanggung jawab di daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). unsur lainnya yang dianggap perlu. (2) Tim audit mulai melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah Kerangka Acuan mendapat persetujuan dari Menteri. BAB VII PENUTUP Pasal 18 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. b. Menteri mengeluarkan surat perintah kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Menteri. Pasal 15 (1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat melakukan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. melaksanakan kajian terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. c. b. (2) Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). terdiri dari : a. ttd.

terdokumentasi. dan apabila terdapat kekeliruan maka keputusan ini akan ditinjau kembali. 3. Nomor 12 Tahun 1982. berkala.I. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan. bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk menetapkan suatu pedoman umum tentang pelaksanaan audit lingkungan dengan suatu keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup.42/MENLH/XI/1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. mempublikasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. masyarakat umum atau organisasi lainnya dengan tujuan. Menimbang : 1. 5. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN Pertama : Audit Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh dan merupakan tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha atau kegiatan.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP. Nomor 3538). Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara R. : Audit Lingkungan dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan ini. 4.I. dan obyektif terhadap prosedur dan praktek-praktek dalam pengelolaan lingkungan hidup.I. 3. : 1. tujuan lainnya sebagaimana ditentukan oleh usaha atau kegiatan yang bersangkutan. bahwa audit lingkungan sebagai suatu perangkat pengelolaan yang dilakukan secara dasar telah diakui merupakan alat yang efektif dan sangat bermanfaat bagi suatu usaha atau kegiatan dalam mengelola lingkungan hidup. pengembangan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan. 4. bahwa audit lingkungan adalah suatu proses untuk melaksanakan kajian secara sistematik. 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. dan Tata Kerja Menteri Negara serta Organisasi Staf Menteri Negara. untuk itu hasil audit lingkungan dapat dimintakan keabsahannya dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. ttd Sarwono Kusumaatmadja 293 Kedua Ketiga Keempat . 2. Mengingat : 1. Nomor 84 Tahun 1993. Tugas Pokok. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara R. 5. 4. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha atau kegiatan wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan. bahwa audit lingkungan dapat membantu menemukan upaya penyelesaian yang efektif tentang masalah lingkungan hidup yang dapat dihadapi suatu usaha atau kegiatan. Fungsi. Tambahan Lembaran Negara R. sehingga dapat meningkatkan kinerja usaha atau kegiatan yang bersangkutan dalam kaitan dengan pelestarian kemampuan lingkungan.I. Tambahan Lembaran Negara R. Nomor 3215). 2. Di tetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Nopember 1994 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Penanggung jawab usaha atau kegiatan dapat memberikan sebagian atau seluruh laporan audit lingkungan kepada Pemerintah. meningkatkan kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan. 3.

3. limbah cair. (f) Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggung jawab dan staf suatu badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan dan tanggung jawab lingkungan. 2. (d) Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang tercantum dalam dokumen AMDAL. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan. (e) Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bagan. (f) Upaya untuk meningkatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan lingkungan. pemerintah. proses daur ulang dan efisiensi penggunaan sumber daya. terdokumentasi. melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk mengindentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya. lebih terarah. 294 .LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEP-42/MENLH/XI/1994 22 NOVEMBER 1994 PRINSIP-PRINSIP DAN PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN A. (i) Menyediakan informasi yang memadai bagi kepentingan usaha-usaha atau kegiatan asuransi. serta isu lingkungan yang terkait. sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan. dan pemegang saham. Manfaat Audit Lingkungan bermanfaat untuk: (a) Mengindentifikasi risiko lingkungan. (b) Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi. minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang. Definisi Audit Lingkungan adalah suatu atau manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik. (d) Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. misalnya pembangunan yang berkelanjutan. Fungsi Fungsi audit lingkungan adalah sebagai : (a) Upaya peningkatan pentaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan. (g) Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi energi. pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada proses dan peraturan. (e) Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam proses pengadilan. sehingga dapat memberikan informasi mengenai: 1. (c) Jaminan untuk rnenghindari perusakan atau kecenderungan kerusakan lingkungan. (h) Menyediakan laporan audit lingkungan bagi keperluan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. (c) Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/pemberhentian suatu usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah. (b) Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan atau upaya penyempurnaan rencana yang ada. pemakaian ulang dan daur ulang limbah. rona dan kerusakan lingkungan di tempat usaha atau kegiatan tersebut. FUNGSI DAN TUJUAN Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan pelaksanaan audit lingkungan bagi suatu usaha atau kegiatan. PENDAHULUAN 1. penanganan limbah dan standar operasi lainnya. efektif dan efisien. periodik dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi. dan media massa. Audit lingkungan yang dimaksud dalam keputusan ini dilaksanakan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan dan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat internal. atau publikasi yang merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik. maka pengelolaan dan pemantauan lingkungan suatu usaha atau kegiatan diharapkan dapat dilakukan dengan baik. B. atau bagi keperluan kelompok pemerhati lingkungan. prosedur pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana tangggap darurat. misalnya: standar emisi udara. C. sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan. Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat manajemen yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. dan pengurangan. yang berguna dalam penyempurnaan proses AMDAL. RUANG LINGKUP Audit Lingkungan perlu disusun sedemikian rupa. lembaga keuangan. Dengan adanya pedoman ini.

Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung. 5. peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan. 13. termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan kecelakaan. Kunci keberhasilan (a) Dukungan pihak pimpinan Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad pimpinan usaha atau kegiatan. Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci. Tata laksana audit merupakan suatu rencana yang harus diikuti oleh auditor untuk dapat mencapai tujuan audit yang diharapkan. penggunaan input dan sumber daya alam. 14. Karakteristik dasar Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) Metodologi yang komprehensif. 4. catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan termasuk standar dan baku mutu lingkungan. Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan dengan jelas dan akurat. tergantung pada kebutuhan atau kegiatan yang bersangkutan. proses bahan dasar. sistem kontrol manajemen. (b) Keikutsertaan semua pihak Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan.2. E. PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. Ruang lingkup audit lingkungan sangat luwes. kajian resiko lingkungan. 295 . uji emisi. (b) Konsep pembuktian dan pengujian. Audit lingkungan harus berpedoman kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan. 10. program daur ulang. 11. D. pentaatan terhadap hasil dan rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan). Pada umumnya. dll. Dengan mengacu pada tata laksana tersebut maka diharapkan adanya konsistensi dalam pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit. efektifitas alat pengendalian pencemaran seperti ditunjukkan dalam laporan inspeksi. Tata Laksana Pelaksanaan audit lingkungan perlu mengikuti suatu tata laksana audit. identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia. mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua aspek dan pelaksanaan tugas secara luas. maka obyektifitas dan kredibilitas akan diragukan. bahan jadi. uji rutin. 8. 6. 9. dan limbah termasuk limbah B3. (c) Pengukuran dan standar yang sesuai. Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat menerapkan teknik-teknik yang tepat. Laporan harus memuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang serta dokumentasi terhadap proses produksi. penggunaan energi. Apabila tidak. perubahan rona lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai waktu terakhir pelaksanaan audit. 2. Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. (d) Laporan tertulis. konsiderasi product life cycle. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit. untuk menjamin pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi tersebut. perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat. (c) Kemandirian dan obyektifitas auditor Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan usaha atau kegiatan yang diaudit. B3 serta potensi kerusakan yang mungkin timbul. (d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan. Audit lingkungan tidak akan berarti kecuali bila kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. 12. air dan sumber daya alam lainnya. 7. 3. serla dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi. rencana minimalisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan. rute pengangkutan bahan dan pembuangan limbah. perawatan. PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN 1. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif dan prosedur yang telah ditentukan.

Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas di lapangan. status hukum. catatan dan hasil pengamatan tim auditor. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian temuan audit lingkungan. (5) Evaluasi hasil temuan Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji. (2) Pemeriksaan lapangan Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. Seluruh dokumentasi selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan. tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati. Dalam menguji hasil temuan audit. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara khusus. (d) Pedoman. (b) Checklist. Pedoman ini memuat instruksi-instruksi dan petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh auditor. 3. kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan. 2. penentuan tim auditor. Daftar pertanyaan seringkali digunakan dalam pelaksanaan audit. 2. Jenis ini merupakan cara yang umum digunakan yaitu dengan mempergunakan daftar yang rinci mengenai isi yang akan diaudit. dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. (6) Pertemuan akhir Setelah penelitian lapangan selesai. tim auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah. atau harus ditentukan oleh tim auditor. Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang dibutuhkan. struktur organisasi. hasil sampling dan pemantauan. serta aspek yang harus diteliti. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. 296 . Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut: 1. Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang belum tersedia. jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor. Pasca Audit Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil pelaksanaan audit lingkungan. atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan. tata laksana. Pada umumnya. (c) Daftar pertanyaan. Bentuk pelaksanaan audit yang paling sederhana adalah mempergunakan daftar isian dari laporan yang akan dihasilkan sebagai acuan audit. rencana. dan jadual kegiatan audit. 4.Tata laksana audit sangat beragam dan tergantung pada jenis usaha dan karakteristik lingkungan. peta. auditor telah mempersiapkan format baku untuk melaksanakan audit dan menyusun laporan akhir. Pendahuluan Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang dilaksanakan. Tim auditor harus mengkaji hasil pertemuan secara garis besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. dan daftar pertanyaan tersebut harus dijawab secara lengkap oleh auditor. Audit dengan menggunakan pedoman merupakan jenis tata laksana yang paling rinci. dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. Berikut ini adalah beberapa tata laksana audit yang umum dilaksanakan: (a) Daftar Isian. Pra-audit Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit lingkungan. tim auditor harus memaparkan hasil temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali. foto-foto. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat. Kegiatan Lapangan (1) Pertemuan pendahuluan Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit. diagram. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang telah diidentifikasi. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan. (4) Pengujian Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Pada saat ini. tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum teridentifikasi dalam perencanaan. Pelaksanaan. (3) Pengumpulan data Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit lingkungan akan mencakup tata laksana audit. dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan.

(c) Tujuan lainnya yang ditetapkan oleh usaha atau kegiatan tersebut. kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko bahaya Auditor juga perlu mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang dibutuhkan dalam audit. prosedur dan teknis audit Karakteristik dan analisis tentang sistem manajemen Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan lingkungan Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan. 297 . (b) Antisipasi kebutuhan penilaian peringkat kinerja usaha atau kegiatan lainnya. G PENGAWASAN MUTU HASIL AUDIT . Dalam rangka menjamin bahwa audit lingkungan akan dilaksanakan secara baik dan profesional. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan peraturan pelaksanaan lainnya. masyarakat luas atau organisasi lainnya dengan tujuan sebagai berikut : (a) Publikasi terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilakukan. dunia usaha atau kegiatan sesuai dengan kebebasannya dapat menyampaikan laporan audit lingkungan kepada pemerintah. Pemerintah dapat memberikan verifikasi atas hasil audit. Namun demikian. Kebijakan audit lingkungan dalam hal ini tidak membatasi hal-hal sebagai berikut : (a) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin pada suatu usaha atau kegiatan. Auditor lingkungan harus mempunyai pendidikan yang sesuai dan memiliki pengalaman profesional untuk dapat melaksanakan tugasnya. (c) Hak pemerintah untuk meminta sesuatu informasi khusus sebagai dasar penentuan peringkat kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan: (d) Tanggung jawab dunia usaha atau kegiatan untuk menyediakan data hasil pengelolaan dan pemantauan kepada pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. maka usaha atau kegiatan atau organisasi (non pemerintah) dianjurkan untuk membuat dan melaksanakan kode etik serta sertifikasi auditor lingkungan. SIFAT KERAHASIAAN Laporan hasil audit lingkungan merupakan milik usaha atau kegiatan yang diaudit dan bersifat rahasia. meliputi: Kemampuan berkomunikasi Kemampuan perencanaan dan penjadualan kerja Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan Kemampuan untuk menulis laporan audit Auditor lingkungan harus terlatih secara profesional untuk menjamin ketepatan.F . Auditor harus mengikuti kode etik auditor yang ada. konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit. penghindaran kewajiban dan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan. Kemampuan yang harus dimiliki oleh tim auditor adalah meliputi pengetahuan tentang : Proses. (b) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap suatu kegiatan yang dicurigai sebagai kelalaian. kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit Potensi dampak lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful