UNDANG-UNDANG

1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HlDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup lndonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup; bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

b.

c.

d.

e.

f.

Mengingat

: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

ME MUTU S KAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain; Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup; Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;

2.

3.

4.

2

5. 6. 7.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya; Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan; Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup; Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya; Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang; Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan; Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan; Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan; Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup; Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum; Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Pasal 2

8. 9. 10. 11.

12.

13. 14.

15.

16. 17.

18.

19. 20. 21.

22. 23.

24. 25.

Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

3

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. b. c. d. e. f. tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB lII HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara : a. b. c. d. e. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. 4

(3)

(2)

(2)

Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah : a. b. c. d. e. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetika; mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan, termasuk sumber daya genetika; mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9

(1) (2)

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikoordinasi oleh Menteri. Pasal 10

(3)

(4)

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup; menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup; menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat; memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. Pasal 11 (1) (2) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ketentuan mengenai tugas, fungsi, wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 12 (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat : a. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah; 5

BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) (2) (3) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB Vl PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pasal 13 (1) (2) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 17 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. (2) mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi : menghasilkan. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.b. Pasal 15 (1) (2) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. mengedarkan. mengangkut. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. menggunakan dan/atau membuang. Pasal 16 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan. 6 . setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya. Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. menyimpan.

serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup. Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. 7 (2) (3) . Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Tanpa suatu keputusan izin. rencana tata ruang. memeriksa peralatan. Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan : a. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia. (2) Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri.(2) (3) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut. memasuki tempat tertentu. wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 23 Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah. b. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. meminta keterangan. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) (2) (3) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan di bidang lingkungan hidup. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan. mengambil contoh. pendapat masyarakat.

kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. melakukan tindakan penyelamatan. Tindakan penyelamatan. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan. Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. Pasal 26 (1) (2) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. 8 (2) (3) (4) (5) . Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. penanggulangan. Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri.Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 27 Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan.

Pasal 33 (1) (2) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. 9 (2) . Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan.BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HlDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup. dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. mewajibkan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1 Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Paragraf 2 Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

c. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. kecuali biaya atau pengeluaran riil. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. Pasal 39 (2) (3) c. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. Pasal 38 (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan olen pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan 10 . pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi. adanya bencana alam atau peperangan. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. masyarakat. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. b. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB VIIl PENYIDlKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia.(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. berbentuk badan hukum atau yayasan. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Paragraf 4 Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (2) (1) (2) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. Paragraf 3 Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku. b.

Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). menjalankan instalasi yang berbahaya. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. mengangkut.000.hidup. memperdagangkan. 100.000.000. catatan. 11 (2) .00 (seratus lima puluh juta rupiah). dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000. b. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup. 300. f. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti. 500. c. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. energi.000. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. pembukuan.000. sengaja melepaskan atau membuang zat. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.000.000. melakukan impor. d. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah. diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Pasal 43 (2) (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.00 (seratus juta rupiah). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.00 (tiga ratus juta rupiah).00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. ke dalam udara atau ke dalam air permukaan. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 750. catatan.000. e. Pasal 42 (2) (1) Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. 150.000. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a.00 (lima ratus juta rupiah). melakukan pemeriksaan atas pembukuan. menyimpan bahan tersebut. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. ekspor. (3) (4) (5) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik lndonesia. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.

yayasan atau organisasi lain. perserikatan. perserikatan. perseroan. perseroan. perserikatan.(3) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah). Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus. perseroan. perserikatan atau organisasi lain.000.000. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum.000. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. c. e. f.000. perseroan. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. perseroan. 12 (2) (3) (4) . b. 450. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.000. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : a. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. perseroan. (2) Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. Pasal 44 (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama. dan/atau penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. dan/atau menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama (3) tiga tahun. perserikatan.00 (seratus juta rupiah). tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. yayasan atau organisasi lain. dan/atau perbaikan akibat tindak pidana. 100. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. perserikatan. d.dan/atau meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43.00 (seratus lima puluh juta rupiah). perserikatan. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain.000. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. yayasan atau organisasi lain. yayasan atau organisasi lain. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga. perseroan. yayasan atau organisasi lain. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. dan dilakukan oleh orang-orang. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. dan/atau mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. 150.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor. Lambock V. Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. S O E HAR TO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. MOERDIONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ttd. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12.BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) (2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini. Nahattands LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1997 NOMOR 68 13 .

keserasian. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. manusia dengan alam. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UMUM 1. merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. serasi. dan bernegara dalam segala aspeknya. Oleh karena itu. Sementara itu. Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. sebagai dasar dan falsafah negara. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. yang mempunyai aspek sosial. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara. keserasian. 2. Akan tetapi. Oleh karena itu. Lingkungan hidup lndonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa lndonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. Dalam pada itu. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. berbangsa. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. masyarakat. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. 4. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. 14 . Untuk itu. Secara hukum. 3. Di pihak lain. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. dan keseimbangan. budaya. dan keseimbangan yang dinamis. penggunaan sumber daya alam harus selaras. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Dengan demikian. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial. dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. ekonomi. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. Antara manusia. Pancasila. dan manusia sebagai pribadi. Lingkungan hidup lndonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. keserasian. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia. dan keseimbangan subsistem. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. Dalam hal ini lingkungan hidup lndonesia tidak lain adalah wilayah. dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup.

permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. seperti lembaga swadaya masyarakat. 6. Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin. permukiman. kesehatan. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. penataan ruang. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. yang diantaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. kesehatan. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. tata guna tanah. Tambahan Lembaran Negara No. Secara global. pertambangan dan energi. Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. dan lain-lain.12. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. 7. dan lain-lain. Oleh karena itu. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. 15 . kelompok masyarakat adat. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut. kehutanan. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan lainnya. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. dan peran anggota masyarakat. tegas. perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. Pada kenyataannya. tetapi juga mampu berperan secara nyata. selaras. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Menyadari hal tersebut di atas. Selain itu. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. 5. organisasi lingkungan hidup. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. Sementara itu. keterbukaan. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. termasuk sumber daya alam. Oleh karena itu. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. industri. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. industrialisasi juga menimbulkan ekses. yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. Di sisi lain.

baik hukum administrasi. berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas. hukum perdata maupun hukum pidana. seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan. Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi. Dengan demikian. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan.Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup Jelas Angka 2 Cukup Jelas Angka 3 Cukup Jelas Angka 4 Cukup Jelas Angka 5 Cukup Jelas Angka 6 Cukup Jelas Angka 7 Cukup Jelas Angka 8 Cukup Jelas Angka 9 Cukup Jelas Angka 10 Cukup Jelas Angka 11 Cukup Jelas Angka 12 Cukup Jelas Angka 13 Cukup Jelas Angka 14 Cukup Jelas Angka 15 Cukup Jelas 16 . Sebagai penunjang hukum administrasi. Disamping itu. dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat.

dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. baik generasi masa kini maupun generasi masa depan.Angka 16 Cukup Jelas Angka 17 Cukup Jelas Angka 18 Cukup Jelas Angka 19 Cukup Jelas Angka 20 Cukup Jelas Angka 21 Cukup Jelas Angka 22 Cukup Jelas Angka 23 Cukup Jelas Angka 24 Cukup Jelas Angka 25 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. keterangan. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut. Di lain sisi. 17 . dan rencana tata ruang. di satu sisi. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan. laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. maka kemampuan lingkungan hidup. baik dengan cara mengajukan keberatan. harus dilestarikan. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang.

aspirasi. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum. Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindaklanjuti. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup. dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. Misalnya. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas 18 . Misalnya. Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup. baik secara kultural maupun secara struktural. Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya.

preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdaya guna dan berhasil guna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan. serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber manusia. maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi 19 . Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keanekaragaman potensi sumber daya alam hayati dan nonhayati. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah. masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. bimbingan. Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. seperti lSO 14000. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat.Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. yaitu pemerintah. Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir. dunia usaha. integrasi. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penaatan baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi.

banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan.alam maupun kemampuan daerah. luas wilayah penyebaran dampak. e. 20 . d. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. peralatan. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. pemanfaatan. situasi dan kondisi daerah. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang. Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. tugas. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. pengangkutan. pengumpulan. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya. b. kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. sifat kumulatif dampak. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif. f. pembiayaan. c. intensitas dan lamanya dampak berlangsung.

maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang. dengar pendapat. Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah. Ayat (5) Cukup jelas 21 . yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini. Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/ atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. menurut peraturan perundangundangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. air maupun udara. Dalam hal tertentu. kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. baik tanah. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin.

misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya. Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 13 ayat (1). Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang 22 . Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban.Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan. Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan. Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. Pihak ketiga netral ini harus : 1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa. yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian. Pasal 30 Ayat (1) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. 2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa.ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. 4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. dan semua putusan arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik. Ayat (2) Cukup jelas 23 . sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa Iingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum. 3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. Dalam pengertian ini. b. para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a. Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan.

menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Selain diharuskan membayar ganti rugi. misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas 24 . Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu.Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar. memulihkan fungsi lingkungan hidup. pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. fakta hukum. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup.

b. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup. baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. c. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 25 . Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. melainkan hanya terbatas gugatan lain. yaitu : a. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup.Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud. Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas.

Pasal 44 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3699 26 .

dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 24. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan Nepotisme. serta tantangan persaingan global. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 18. nyata. peran serta masyarakat. Kolusi. Pengaturan. baik di dalam maupun di luar negeri. f. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. pemerataan. dan kedudukan pemerintahan desa. sehingga perlu diganti. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan. 27 . sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. perlu ditetapkan undang-undang mengenai Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan. bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah. dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. yang diwujudkan dengan pengaturan. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Menimbang : a. Pasal 1 ayat (1). d. yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. pemerataan dan keadilan. bahwa sehubungan dengan itu. 3. serta potensi dari keanekaragaman Daerah. e. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811). Pasal 5 ayat (1). pembagian. 4. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. susunan. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Mengingat : 1. tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti. 2. dan pemanfaatan sumber daya nasional. bentuk. c. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Nomor 3153) yang menyeragamkan nama. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. 5. dan keadilan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. peran serta masyarakat. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah.

Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonomi yang lain sebagai badan eksekutif daerah. selanjutnya disebut Pemerintah. Instansi vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. selanjutnya disebut desa.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ME MUTU S KAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Pemerintah Pusat. selanjutnya DPRD. Kawasan pedesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan. pelayanan sosial. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. pelayanan jasa pemerintahan. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. adalah Badan Legislatif Daerah. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. termasuk pengelolaan sumber daya alam. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. dan kegiatan ekonomi. Daerah Otonom. selanjutnya disebut daerah. Desa atau yang disebut dengan nama lain. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah. 28 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) . Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah di tingkat pusat dan/atau pejabat pemerintah di daerah propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskannya.

jumlah penduduk. Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain. Daerah Kabupaten. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. (2) (2) (3) (4) (2) (3) (4) 29 . Penghapusan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). dan pemekaran daerah. sosial politik. Syarat-syarat pembentukan daerah. penggabungan. perubahan nama daerah. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.(17) Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. ditetapkan dengan undang-undang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). potensi daerah. dan pemekaran daerah. Kriteria tentang penghapusan. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. sosial budaya. dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. nama. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Daerah Provinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. luas daerah. dan Daerah Kota yang bersifat otonom. daerah kabupaten. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pembentukan. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan/atau digabung dengan daerah lain. (2) Pasal 3 Wilayah Daerah Provinsi. penggabungan. batas. BAB II PEMBAGIAN DAERAH Pasal 2 (1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. BAB III PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi.

koperasi. dan tenaga kerja. Kewenangan Daerah di wilayah laut. d. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. meliputi : a. dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. eksploitasi. peradilan. Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. Kewenangan provinsi sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah. Pasal 11 (4) (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. industri dan perdagangan. 30 (2) . sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. c. pengaturan tata ruang. sarana dan prasarana. pengaturan kepentingan administrasi. pertanahan. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. dana perimbangan keuangan. Pasal 9 (1) Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Provinsi. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. Kewenangan bidang lain. perhubungan. eksplorasi. (2) (2) (2) (3) (2) e. pendidikan dan kebudayaan. Pasal 8 (1) Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. penanaman modal. moneter dan fiskal. meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. konservasi. pertanian. serta kewenangan bidang lain. kesehatan. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. dan standarisasi nasional. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. agama. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. b. konservasi. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pertahanan keamanan.BAB IV KEWENANGAN DAERAH Pasal 7 (1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. lingkungan hidup.

dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan undang-undang. pimpinan. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur. komisi-komisi. DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. dan Walikota/Wakil Walikota. Pelaksanaan ketentuan. sarana dan prasarana. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). b. dan panitia-panitia.Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. c. Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. 31 (2) (2) (2) . Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. tugas. Pasal 17 (1) (2) (3) (4) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. Setiap penugasan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Wakil Bupati. keanggotaan. wewenang. DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. Bupati/Wakil Bupati. hak. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. BAB V BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. susunan. atau Walikota/Wakil Walikota. Bagian Kedua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 15 Kedudukan.

Bupati. dan c. sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2). Pelaksanaan hak. pejabat pemerintah. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. b. mengajukan pernyataan pendapat. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. meminta pertanggungjawaban Gubernur. dan h. 4. sebagaimana dimaksud ayat (1). 3. keuangan/administrasi. e. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. mengadakan penyelidikan. 5. Bupati. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. 2. bangsa. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. protokoler. bersama dengan Gubernur. bersama dengan Gubernur. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. d. Bupati. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. f. Pejabat negara. c. dan Walikota. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). h. e. pelaksanaan keputusan Gubernur. pejabat pemerintah. g. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. pengajuan pertanyaan. Bupati. Pelaksanaan hak. b. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. 32 (2) (3) (2) . dan Walikota. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. pemerintahan. menentukan Anggaran Belanja DPRD. dan pembangunan. dan pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. (2) Pelaksanaan hak. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. kebijakan Pemerintah Daerah. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. g. melaksanakan pengawasan terhadap: 1. f. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).d.

atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. dan ayat (3).Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : (1) (2) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). pinjaman. c. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. (3) (4) (3) (4) 33 . Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. b. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. j. i. d. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. Pelaksanaan ketentuan. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan pembebanan kepada Daerah. dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. h. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan diantara pimpinan DPRD. Badan Usaha Milik Daerah. kecuali mengenai : a. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. e. g. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. f. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. Pasal 23 (1) (2) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. ayat (2). serta menaati segala peraturan perundangundangan. dan kebijakan tata ruang. DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. utang piutang.

Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. Bagian Ketiga Sekretariat DPRD Pasal 29 (1) (2) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. yang karena jabatannya adalah juga sebagai Wakil Pemerintah. ditetapkan dengan Peraturan Tata tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Kepala Daerah Kota disebut Walikota. Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Kepala Daerah Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai Kepala Eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. 34 (3) (4) (5) . ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (4). Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya.Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. Anggaran Belanja Sekretaris DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Pasal 31 (1) (2) Kepala Daerah Provinsi disebut Gubernur. Dalam kedudukan sebagai Wakil Pemerintah. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 32 (1) (2) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). baik terbuka maupun tertutup. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

c. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri. b. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). j. Pasal 34 d. tetapi bukan anggota. f. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. dibentuk Panitia Pemilihan. sehat jasmani dan rohani. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 35 (2) (3) (4) (5) (1) Panitia pemilihan. h. Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. Pasal 33 (4) (1) Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. g. i. k. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. l. dan bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah. 35 . b. bertugas: a. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. c. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. e. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. misi. Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan. Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. Apabila ketentuan. Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. bebas. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. Pasal 40 (1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden. jujur dan adil.Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. 36 (2) (3) (2) (3) (4) (2) (2) (3) (2) (3) . rahasia. Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4). Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum dicapai.

Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Bagian Kelima Kewajiban Kepala Daerah Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : (1) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Sebelum memangku jabatannya. sejujur-jujurnya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/ Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya. Pasal 42 (1) (2) (3) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk bertindak atas nama Presiden. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. 37 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (2) (3) . menghormati kedaulatan rakyat. dan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. dan seadil-adilnya. menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden.Pasal 41 Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. Pasal 45 (1) (2) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. (4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah ditetapkan oleh Pemerintah. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun.

d. f. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. d. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. golongan tertentu. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. 38 b. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. e. b. (2) (3) (4) Bagian Keenam Larangan bagi Kepala Daerah Pasal 48 (1) Kepala Daerah dilarang : a. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). harus dilengkapi dan atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. ditetapkan oleh Pemerintah. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. turut serta dalam suatu perusahaan. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. Bagian Ketujuh Pemberhentian Kepala Daerah Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena: a. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. anggota keluarganya. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. c. Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. Tata cara. dan menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. menerima uang. barang. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. c. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. e. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. . g. meninggal dunia. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). kroninya. selain yang dimaksud dalam Pasal 47.Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya dalam 2 kali 24 jam. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. (3) Setelah tindakan penyidikan. harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. Keputusan DPRD. Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. (2) (2) (3) (2) (3) (2) b. Bagian Kedelapan Tindakan Penyidikan Terhadap Kepala Daerah Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. dan dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. 39 . Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. tanpa persetujuan DPRD. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dengan adanya pemberitahuan. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. enam bulan sebelumnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya.

b. (2) (3) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. Pasal 43 kecuali huruf g.Bagian Kesembilan Wakil Kepala Daerah Pasal 56 (1) (2) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. (5) Ketentuan-ketentuan. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. Sebelum memangku jabatannya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. dan c. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. 40 . mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. Pasal 41. dan seadil-adilnya. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. sejujur-jujurnya. DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. (3) (4) (6) (2) (3) (4) Bagian Kesepuluh Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 59 Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas: a.

dilaksanakan oleh Dinas Provinsi. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan daerah Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. sesuai dengan kebutuhan Daerah. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Pembentukan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Kepala Kecamatan disebut Camat.Bagian Kesebelas Perangkat Daerah Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. formasi. lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya. (3) (4) (5) (6) (7) (3) Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah dari Bupati/Walikota. Pasal 61 (1) (2) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretariat Daerah. Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. susunan organisasi. Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. Sekretariat daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dan Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintah yang menjadi wewenang Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 41 (2) (2) (3) (4) (5) (6) . tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). dan tata laksananya. Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. dilakukan oleh instansi vertikal. Pasal 62 (1) (2) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah.

kacuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. Kepala Kelurahan disebut Lurah.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.000. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah. Peraturan Daerah lain. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Keputusan. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah.Pasal 67 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. (2) BAB VI PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN KEPALA DAERAH Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. peraturan daerah. 5. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. 42 (2) (2) (2) . tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Lurah bertanggung jawab kepada Camat.

berdasarkan peraturan perundang-undangan. pemberhentian. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. tunjangan. yaitu : a. dana perimbangan. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. pemberhentian. dan kesejahteraan pegawai. serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. hasil retribusi Daerah. hak dan kewajiban.Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. tunjangan. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 79 (1) Sumber Pendapatan daerah terdiri atas : pendapatan asli daerah. dan penerimaan dari sumber daya alam. terdiri atas : a. gaji. penetapan pensiun. kesejahteraan. b. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. pemindahan. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. gaji. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. penetapan pensiun. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. BAB VIII KEUANGAN DAERAH Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintahan Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. d. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian karier pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pemindahan. pinjaman Daerah. BAB VII KEPEGAWAIAN DAERAH Pasal 75 Norma. hasil perusahaan milik Daerah. hasil pajak Daerah. dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. dan prosedur mengenai pengangkatan. standar. Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. c. (2) (2) 43 .

harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. dan perkebunan serta Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. penghapusan daerah sebagian atau seluruhnya. Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. ayat (2). c. Pasal 85 (1) Barang Milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. dan/atau dipindahtangankan. (2) dana alokasi umum. Pasal 83 (1) (2) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukkannya diatur dengan Peraturan Daerah. (2) (2) 44 . Tata cara peminjaman. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 81 (3) (4) (1) Pemerintahan Daerah dapat melakukan peminjaman dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. diterima langsung oleh Daerah penghasil. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. ditetapkan oleh Pemerintah. Ketentuan. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan c.b. Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. ditetapkan dengan undang-undang. dan ayat (3). Pasal 82 (2) (3) (4) (1) (2) Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang. dan dana alokasi khusus. b. Ketentuan lebih lanjut. perkotaan. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang : a. dibebani hak tanggungan.

yang diatur dengan keputusan bersama. pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian kepada Mahkamah Agung. sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). perubahan. pertanggungjawaban. perlu ditetapkan Kawasan Perkotaan yang terdiri atas : (a) (b) Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten. Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama antar Daerah. Keputusan bersama dan/atau badan kerjasama. (c) 45 . Pedoman tentang penyusunan. dan ayat (3). BAB IX KERJASAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 87 (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerjasama antar Daerah yang diatur dengan keputusan bersama. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. BAB X KAWASAN PERKOTAAN Pasal 90 Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota. dan Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. dan fisik perkotaan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ekonomi. Pasal 89 (2) (1) (2) Perselisihan antar Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara musyawarah. Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan. Pedoman tentang pengurusan. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan oleh Pemerintah. terdapat salah satu pihak yang tidak dapat menerima keputusan Pemerintah. Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama. Tata cara. kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah. ayat (2). dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. Pasal 88 (1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan di luar negeri.

ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten. Pengikutsertaan masyarakat. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 92 (1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. (2) (3) (2) (3) BAB XI DESA Bagian Pertama Pembentukan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2).Pasal 91 (1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola Kawasan Perkotaan. dan hal-hal lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. (2) Bagian Kedua Pemerintah Desa Pasal 95 (1) (2) (3) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. Pembentukan. penghapusan. dapat dibentuk Badan Pengelolaan Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. dan/atau penggabungan Desa. yang merupakan Pemerintah Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. dihapus. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 46 . dan/atau Penggabungan Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. Penghapusan. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta.

j. dan adil. serta sumber daya manusia. 47 . berkelakuan baik. G-30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. m. c. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengalaman yang sederajat. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. sarana dan prasarana.” Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. Pasal 98 d. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. Daerah. dan/atau Pemerintah Kabupaten. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). c. jujur. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. b. dan tugas Pembantuan dari Pemerintah. Pemerintah Provinsi. e. sejujur-jujurnya. k. (1) (2) (3) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. dan seadil-adilnya. h. Sebelum memangku jabatannya. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. g.b. dan memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur dalam Peraturan Daerah. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. Pemerintah Propinsi. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. f. i. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. l. sehat jasmani dan rohani.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). membina perekonomian Desa. Bagian Ketiga Badan Perwakilan Desa Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. Pasal 103 (1) Kepala desa berhenti karena : a. d. c. b. e. meninggal dunia. Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintah Desa Pasal 105 (1) (2) (3) (4) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. b. b. Kepala Desa : a. 48 . bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. (2) Pemberhentian Kepala Desa. membuat Peraturan Desa. c. d. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. sebagaimana dimaksud dalam pasal 101. Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. membina kehidupan masyarakat Desa. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa.Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. e. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. f. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa.

b. (2) Sumber pendapatan Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. c.Bagian Keempat Lembaga Lain Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. Bagian Keenam Kerja Sama Antar Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan Keputusan Bersama dan diberitahukan kepada Camat. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1) hasil usaha Desa. 4) hasil gotong-royong. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. Untuk pelaksanaan kerja sama. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. 49 (2) . sumbangan dari pihak ketiga. (3) Kepala Desa bersama-sama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. 3) hasil swadaya dan partisipasi. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pinjaman Desa. 2) hasil kekayaan Desa. dan 2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. (5) Tata cara dan pungutan objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. (4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. e. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan 5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. Bagian Kelima Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a.

sebagaimana dimaksud pada ayat (2). penghapusan. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala daerah. 50 (3) . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. penggabungan dan pemekaran daerah. dan adat istiadat Desa. Menteri Keuangan. perwakilan asosiasi pemerintah daerah. dan wakil-wakil daerah yang dipilih oleh DPRD. asal usul. BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 112 (1) (2) Dalam rangka pembinaan. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. Perimbangan keuangan pusat dan daerah. c. dan Kemampuan daerah kabupaten dan daerah kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan pengawasannya. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. pembentukan. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. b. industri. wajib mengakui dan menghormati hak. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud dalam pasal 11. Peraturan Daerah. Menteri Sekretaris Negara. BAB XIII DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: a.Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. pelaksanaan. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. (2) (2) (3) (4) (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri dari Menteri Dalam Negeri. Menteri Lain sesuai dengan kebutuhan. Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya.

kawasan kehutanan. yang meliputi badan otorita. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. Pasal 118 (1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. kawasan perumahan. kawasan perkebunan. Jakarta. karena kedudukannya diatur tersendiri dengan undang-undang. kawasan bandar udara. hak. dan Pasal 11 undang-undang ini. wewenang. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pengaturan lebih lanjut. kawasan jalan bebas hambatan. kawasan pertambangan. baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 117 Ibukota Negara Republik Indonesia. penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9. Pasal 10. berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom. dan kawasan lain yang sejenis. kawasan pelabuhan. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 121 Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 119 (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada undang-undang ini. 51 (2) (2) (2) . Pasal 116 (5) (6) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretaris yang membawahkan bidang otonomi daerah dan bidang perimbangan keuangan pusat dan daerah. berubah masing-masing menjadi Propinsi. Pasal 122 Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. kawasan industri.(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam 6 (enam) bulan. dan Kota. kedudukan. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Kabupaten. tugas. formasi. Susunan organisasi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan. Pasal 123 Kewenangan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. kawasan pariwisata. Kabupaten Daerah Tingkat II. Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus.

Bupati. Walikotamadya. Kabupaten Mimika. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. Kabupaten. sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan. 52 (2) (3) (2) (2) (3) (2) . Pasal 126 (1) Kecamatan. Kelurahan. dan Kota Administratif. atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan Undangundang ini dinyatakan tetap berlaku. moneter dan fiskal. nama. Bupati Kepala Daerah Tingkat II. Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini ditetapkan sebagai Kelurahan. Pasal 129 (1) Dengan diberlakukannya Undang-undang ini. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya. Walikota. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. dan semua Kota Administratif dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal 5 Undang-undang ini. adalah tetap. sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 huruf m. serta agama. pertahanan. dihapus. masa jabatan Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II. peradilan. dan Badan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Camat. Kabupaten Daerah Tingkat II. Kabupaten Paniai. Kelurahan. Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah. batas. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). menjadi perangkat Daerah. Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Kotamadya. Lembaga Pembantu Gubernur. Daerah Istimewa. Pasal 130 (1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada masa jabatan Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n Undang-undang ini. petunjuk. Kotamadya Administratif. dan ibukota Propinsi Daerah Tingkat I. Kotamadya Daerah Tingkat II. Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada masa jabatan Kepala Daerah. pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap menjalankan tugasnya. sudah harus berubah statusnya menjadi Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5 Undang-undang ini. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kabupaten Puncak Jaya.BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 Pada saat berlakunya undang-undang ini. kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah. Pembantu Walikotamadya. dan Desa atau yang disebut dengan nama lain. Pasal 128 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. dan Kepala Desa beserta perangkatnya yang ada. seluruh instruksi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. dan huruf o Undang-undang ini. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. keamanan. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang ini. Wakil Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. dan Kota Administratif. dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan. Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar negeri. Pasal 125 (1) Kotamadya Batam. Pembantu Bupati. Lurah. Kabupaten. Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang ini. Kabupaten Simeuleu. dapat dihapuskan jika tidak memenuhi ketentuan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom. Kotamadya. huruf n. Pasal 127 Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan Undang-undang ini.

Pasal 134 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3153) Pasal 132 (1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak Undang-undang ini ditetapkan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56. (3) (2) Disahkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan secara efektif selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya Undang-undang ini. AKBAR TANDJUNG 53 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). dinyatakan tidak berlaku lagi : Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 (1) (2) Pada saat berlakunya Undang-undang ini. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. Pasal 133 Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan Undang-undang ini. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. diadakan penyesuaian.

Pengaturan. Dengan demikian. b. peran serta masyarakat. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. antara lain. Pembagian. pembagian. Undang-undang ini disebut “Undang-undang Pemerintah Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Karena itu. Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hirarki. Oleh karena itu. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. dan bertanggung jawab kepada Daerah. nyata. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan.” Di daerah-daerah yang bersifat otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. Di samping itu. d. serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. pemerataan. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. e. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dikemukakan bahwa “Oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Dengan demikian. Pemberian kedudukan propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan : 1. Oleh karena itu. meningkatkan peran serta masyarakat. f. penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. antara lain. dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAH DAERAH UMUM 1. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-undang. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka. Undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi. Dalam penjelasan pasal tersebut. pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. di daerah pun. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. dan keadilan. dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. Dasar Pemikiran a. 54 c. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. . nyata. g. dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang. Sesuai dengan Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas.

kawasan perkebunan. Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. serta potensi dan keanekaragaman daerah. sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan pertambangan. b. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-Daerah. kawasan pariwisata. nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. kawasan kehutanan. 3. serta kewenangan di bidang pemerintah tertentu lainnya. Atas dasar pemikiran di atas. 6. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. dan berkembang di daerah. Pembagian Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.undang ini adalah sebagai berikut : 1.2. baik sebagai fungsi legislasi. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. maka dalam Undang-undang ini pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. dan semacamnya berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonomi. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. h. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatnya kemandirian Daerah Otonomi. pertahanan keamanan. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah. hidup. pengendalian. kawasan pelabuhan. 7. kawasan perkotaan baru. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. kawasan perumahan. 55 . dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. pemerataan. Disamping itu. 8. 3. prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang . Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. 5. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. i. keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan. pengembangan kehidupan demokrasi. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 4. pelaksanaan. dan evaluasi. keadilan. pengawasan. dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. 2. kawasan industri. nyata dan bertanggung jawab. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. agama. moneter dan fiskal. keadilan dan pemerataan. 2. Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan lintas Kabupaten dan Kota. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. peradilan. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah.

dekonsentrasi. Kepegawaian Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya. 6. nyata. hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan. pemindahan. d. Mutasi antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah Propinsi diatur oleh Gubernur. baik pengangkatan. diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri. memiliki etika dan moral. dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi. sedangkan mutasi antar Daerah Propinsi diatur oleh Pemerintah. dan aliran. digunakannya asas desentralisasi. (2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan Pemerintahan menjadi kewenangan Daerah. sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah. serta mendapatkan kepercayaan rakyat. 7. yang didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem Pemerintahan Daerah. dan Desa. negara. Mutasi antar Daerah Propinsi dan/atau antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut. seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. adil. dan tugas pembantuan. dan c. golongan. 3. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Provinsi. dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Daerah Kabupaten. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pembagian Daerah di luar daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom. Kepala Daerah Untuk menjadi Kepala Daerah. Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah. Pertanggungjawaban Kepala Daerah Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah. bertindak. dan netral. b. 5. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah Administrasi dalam rangka dekonsentrasi. Daerah Kota. dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa. dan bertanggung jawab. 4. dari kelompok atau etnis. berwawasan kebangsaan. jujur. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Keuangan Daerah (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas. dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif. Dengan demikian. 56 . penempatan. Oleh karena itu. Sementara itu. 8. Kepala Daerah disamping sebagai pimpinan pemerintahan. berpengetahuan. adalah : a. Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan. DPRD dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat.c. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. bijaksana. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi. sekaligus adalah Pimpinan Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir. Oleh karena itu. menurut undang-undang ini kedudukannya diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota. dan berkemampuan sebagai pimpinan pemerintahan.

(6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa. bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. partisipasi. otonomi asli. (5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. pendapatan lain-lain yang sah. Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan. yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. (4) Sebagai perwujudan demokrasi. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-Undang Dasar 1945. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. (8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang berada di dalam Daerah Kabupaten dan/ atau Daerah Kota. harta benda. (2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. memiliki kekayaan. dan Keputusan Kepala Desa. (3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum.9. sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. (7) Berdasarkan hak asal usul Desa yang bersangkutan. demokratisasi. Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih dahulu oleh pejabat yang berwenang. Kepala Desa mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya. baik hukum publik maupun hukum perdata. Untuk itu. Karena itu. Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas 57 . dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan. 10. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. dan pemberdayaan masyarakat. sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah. Pemerintahan Desa (1) Desa berdasarkan undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. Pembinaan dan Pengawasan Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam upaya pemberdayaan Daerah Otonom.

Gubernur selaku Wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pelaksanaan. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah : perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro. perizinan. Sementara itu. dan penelitian yang mencakup wilayah provinsi. dan kebijakan Pemerintah. Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama. promosi dagang dan budaya / pariwisata. dan perkebunan. norma.Ayat (2) Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain adalah bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. perencanaan. Daerah/Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 8 Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada Daerah/ Gubernur. dan evaluasi sesuai dengan standar. kehutanan. Ayat (3) Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD. dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi. kerja sama. pelatihan bidang tertentu. sumber daya buatan. demikian pula mengenai perubahan batas Daerah. 58 . Ayat (2) Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pengendalian lingkungan hidup. dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah. tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi. setiap undang-undang mengenai pembentukan Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis Daerah yang bersangkutan. alokasi sumber daya manusia potensial. pengelolaan pelabuhan regional. perhubungan. Pasal 9 Ayat (1) Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti kewenangan di bidang pekerjaan umum. dalam kedudukan sebagai Wilayah Administrasi. penanganan penyakit menular dan hama tanaman. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Untuk menentukan batas dimaksud. dan perencanaan tata ruang propinsi. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam.

Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi. antara lain. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD Provinsi. dan tata kota. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kebersihan. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 59 . Ayat (2) Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah. pemadam kebakaran. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah. Oleh karena itu. Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. pertamanan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif.Ayat (2) Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas 60 .Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di lingkungan kerja DPRD bersangkutan.

Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung DPRD atau di gedung lain. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD.Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dipilih secara berpasangan. karena kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah. yakni : 61 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk pemilihan Kepala Daerah. Ayat (2) Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota diberitahukan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah.

kolusi dan nepotisme. huruf c. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Huruf a dan huruf e Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga masyarakat. Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas 62 . usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan.diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Huruf b. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 43 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. antara lain yang berwujud korupsi. dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia. Kepala Daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik. dan huruf d Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. pemasaran. pengembangan teknologi. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. produksi.

Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas 63 . tembusannya dikirimkan kepada Presiden. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di gedung DPRD atau gedung lain. sedangkan berakhirnya masa jabatan Bupati/Walikota. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. tembusannya dikirimkan kepada Gubernur. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Budha. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu.Pasal 53 Ayat (1) Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD.

Pasal 71 Ayat (1) Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan pemeliharaan hukum”. diadakan. Paksaan penegakan hukum itu hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang sesuai dengan berat pelanggaran. Badan Pendidikan dan Pelatihan. dijalankan. Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati dalam proses pengangkatan Lurah. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak ditandatangani serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. atau memperbaiki segala sesuatu yang telah dibuat. dialpakan. yang merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Pasal 70 Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan sama kecuali untuk perubahan. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemahalan hidup. Lembaga Pengawasan. melakukan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Ayat (1) Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur dilakukan menurut cara yang sah. diambil suatu tindakan paksaan. 64 . Apabila pelanggar tidak mengindahkannya. dan lain-lain. Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. karena paksaan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan.Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan. Badan Perencanaan. atau ditiadakan yang bertentangan dengan hukum. mencegah. Ayat (4) Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah. Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau meniadakan. Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif kepada pelanggar.

peraturan dan keputusan tersebut perlu dimasyarakatkan. pertambangan minyak dan gas bumi. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 65 . Pasal 80 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang pertambangan umum. Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Huruf a Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Cukup jelas Angka (3) Cukup jelas Angka (4) Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan aset Daerah dan jasa giro. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.Pengundangan dimaksud kecuali untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan. dan pemindahan pegawai antar Daerah Propinsi atau antara Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah. dan perikanan. kehutanan. Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya. dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. pemindahan pegawai antar Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota.

Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 81 Ayat (1) Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual. menghibahkan. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan termaksud. Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala Daerah.Ayat (2) Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah. tukar guling. menggadaikan. dan/atau memindahtangankan. yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD. dan/atau penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum peminjaman tersebut dilaksanakan. penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional. penyebaran lokasi industri strategis. Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. 66 . Pasal 83 Ayat (1) Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa kemudahan pembangunan prasarana. dan lain-lain. lembaga komersial. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses lebih lanjut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 82 Ayat (1) Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Ayat (2) Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

jumlah penduduk. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah. Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat Desa. Pasal 94 Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa setempat. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam perencanaan. huta. potensi Desa. Yang dimaksud dengan asal usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya. pelaksanaan. dan lain-lain. masyarakat. kampung.Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. dan pihak swasta. sosial budaya. dan pemilikan. dan marga. dan/atau penggabungan Desa perlu dipertimbangkan luas wilayah. Pasal 95 Ayat (1) Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 67 . bori. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari. Ayat (2) Dalam pembentukan. penghapusan.

yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihakpihak yang berselisih. Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. Pasal 101 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. diakhiri dengan ucapan “semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. Kepala Desa dapat dibantu oleh lembaga adat Desa.Pasal 96 Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. serta sumber daya manusia. sarana dan prasarana. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai dengan pembiayaan. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. Huruf f Cukup jelas Pasal 102 Huruf a Cukup jelas Huruf b Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat Pasal 103 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 68 .

dan perubahan serta perhitungan anggaran. Ayat (2) Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan setiap tahun meliputi penyusunan anggaran. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru. dan kewenangan melakukan pinjaman. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Ayat (2) Cukup jelas 69 . kerja sama dengan pihak ketiga. antara lain. Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan. pelaksanaan tata usaha keuangan. dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa. Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 104 Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa.Huruf d Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban ekonomi tinggi dan dampak lainnya. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambatlambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat. Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Ayat (1) Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat persetujuan Badan Perwakilan Desa. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 106 Cukup jelas Pasal 107 Ayat (1) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati. baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. dan Keputusan Kepala Desa.

penggabungan. jumlah penduduk. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi.Pasal 110 Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak pembangunan tersebut. serta bersikap independen sebanyak 6 orang. dihapus. luas daerah. penghapusan. Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian. 2 orang Wakil Daerah Kabupaten. antar-Pemerintah Kabupaten. dan/atau pemekaran Daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut : Daerah yang akan dibentuk. digabung. sosial politik. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. Pasal 115 Ayat (1) Mekanisme pembentukan. yang terdiri atas 2 orang Wakil Daerah Propinsi. sosial budaya. Pasal 112 Ayat (1) Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom melalui pemberian pedoman. penghapusan. pelatihan. penggabungan. terutama di bidang keuangan dan pemerintahan. dan 2 orang Wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun. potensi daerah. arahan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. dan supervisi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 113 Cukup jelas Pasal 114 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir dilakukan selambatlambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan dari Pemerintah. dan pertimbangan lain. Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan asal usul adalah asal usul terbentuknya Desa yang bersangkutan. Ayat (3) Cukup jelas 70 . dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Pemerintah. bimbingan.

adat. Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas 71 . dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan kebijakan Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan nasional. Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut. sedangkan isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Ayat (1) Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa. sedangkan isi keistimewaannya berupa pelaksanaan kehidupan beragama. Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal usul dan peranannya dalam sejarah perjuangan nasional.

Ayat (2) Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah selesai dalam waktu dua tahun.Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun. Pasal 133 Cukup jelas Pasal 134 Cukup jelas ______________________________________ 72 .

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 73 . dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. Pasal 11. termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. c. khususnya di Indonesia. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. jenis dan genetik yang mencakup hewan. e. Brazil. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. dan jasad renik (microorganism). f. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem. b. yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia. dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. diakui pula adanya peranan penting wanita. Menimbang: a. d. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. bahwa keanekaragaman hayati di dunia. bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). tumbuhan. berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI). g. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi.

memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Agar setiap orang mengetahuinya. MOERDIONO 74 . Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. dan kesehatan terus ditingkatkan. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. b. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. antara lain. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. e. jenis spesies. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. menegaskan sebagai berikut : a. industri. dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang. c. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. A. g.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I. dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. dan ekosistem. merehabilitasi kerusakan lingkungan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. pemberian rangsangan. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. perdamaian abadi. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. jo Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia Tanggal 17 Pebruari 1969. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994 ). perdamaian abadi dan keadilan sosial. terutama bagi pengembangan pertanian. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. b. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia ( Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. pemantauan. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. f. perlu terus ditingkatkan. Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru. Sumber daya alam di darat. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. Inventarisasi. d. 75 . mencerdaskan kehidupan bangsa. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. mengendalikan pencemaran. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. penegakan hukum.

dengan keputusan No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. pada tanggal 5 Juni 1992. Brazil. d. 15/34 tanggal 25 Mei 1989. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. c. ikut hadir pula Masyarakat Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut: a. pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992. First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. B. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. Selain negara-negara ini. pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. b. Sidang terakhir diadakan di Nairobi. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi. Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. e. diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. f.Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. Governing Council. Brazil. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INCCBD) di Madrid. Dengan demikian. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. g. Brazil. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. l. e. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Fifth Session of INC-CBD di Geneva. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). k. Kenya. Spanyol. c. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. g. j. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. h. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. Kenya. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. Kenya. Swiss. 76 . 14/17 tanggal 17 Juni 1987. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991. f. Kenya. Kenya. i. Konferensi di Rio de Janeiro.

Tujuan. 13. 11. d. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. 28. c. Prinsip. Konservasi In-situ. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. Laporan. yaitu : 1. Pengaturan Sekretariat Interim. 77 . 24. Identifikasi dan Pemantauan. 2. Selain itu. 15. 37. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. Kerja sama Internasional. 7. 6. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan. dan penyempurnaan. Interim Financial Agreement. Mekanisme Pendanaan. Hak Suara. 5. Sumber Dana. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. 35. Tindakan Insentif. 27. Aksesi. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. Konservasi Ex-situ. 17. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2. 19. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. 20. Pengertian. Penandatanganan. Sekretariat. Penyelesaian Sengketa. keberatan. 26. usul perubahan. 21. 36. 8. 10. 12. 39. 41. C. Ratifikasi. b. Hal Berlakunya. 40. 34. 30. Penelitian dan Pelatihan. Keberatan-keberatan (Reservasi). 38. Lampiran II : Bagian 1. Teknis dan Teknologis. Penerimaan atau Persetujuan. Pengesahan Protokol. Lingkup Kedaulatan. 32. 14.Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Konsiliasi (Conciliation). Amandemen Konvensi atau Protokol. Akses pada Sumber Daya Genetik. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. Keempat resolusi tersebut ialah : a. 16. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. Lampiran : Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring) . 23. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. 4. 29. 25. Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. Pengesahan dan Lampiran Amandemen. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. Pertukaran Informasi. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. 42. 3. yang di antaranya berisi saran. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. Pengaturan Pendanaan Interim. Penarikan Diri. 33. Depositari. 31. 22. 18. Teks Asli b. Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. 9. Konferensi Para Pihak.

6. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. pertanian atau nilai ekonomis yang lain. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan.D. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional. c) Pertukaran Informasi. II. seperti halnya jenis indikator. pelatihan. Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG .UNDANG NO. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. ilmiah dan ekonomi penting. Jenis dan komunitas yang terancam. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antar sektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. 78 . dan 3. program. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. 4. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. 3. d) Pengembangan pendidikan. penyuluhan. atau mempunyai nilai sosial. ilmiah atau budaya yang penting. budaya atau ilmiah. 8. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi. kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia. Dengan meratifikasi Konvensi ini. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional. mempunyai nilai penting secara ekonomi. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. 2. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. 7. 2. Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari. dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. atau yang mewakili. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. dan peningkatan peran serta masyarakat. di dalam dan di luar negeri. 5. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1.

Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. karena keadaan khusus kasus tersebut. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. Pasal 2 1. Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut. Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. 2. atas permintaan salah satu pihak. semua protokol yang berkaitan. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. akan : (a) Memberi sidang segala dokumen. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama. pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa. dengan persetujuan bersama. dan (b) Membantu sidang. 2. Dalam persengketaan antara dua pihak. penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut. Pasal 3 1. sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. 79 . dengan permintaan salah satu pihak. 3. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal.UNDANG NO. bilamana perlu. Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua. dan hukum internasional. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. informasi dan fasilitas yang berkaitan. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut.LAMPIRAN II UNDANG .

Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya. Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya. Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding.Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya. Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. Bagian 2 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak. Pasal 12 Keputusan. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. kecuali bilamana pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. Sebelum membuat keputusan akhirnya. 80 . dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya. baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang.

81 . Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut. Dewan tersebut harus. Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. menetapkan prosedurnya sendiri.Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya.

serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. e. bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. 4. maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri. 3. bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). Menimbang: a. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. f. dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional. bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. 5. Pasal 20 ayat (1). dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. baik masa kini maupun masa depan. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. 82 . Mengingat: 1. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 2. g bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas. Pasal 5 ayat (1). bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial. c. selaras. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368). oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari. b.

Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. 11. jenis asli dan atau bukan asli. dan rekreasi. menunjang budidaya. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 9. baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. budaya. ilmu pengetahuan. ilmu pengetahuan. satwa. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. menunjang budidaya. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. pendidikan. BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. baik yang hidup di darat maupun di air. 15. dan/atau di air. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. 7. dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian.3. ekosistem unik. 16. 5. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. 83 . perlindungan sistem penyangga kehidupan. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. pendidikan. dan rekreasi. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat. c. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. b. 4. b. dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air. dan/atau di udara. Pemerintah menetapkan : a. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. 8. 14. c. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. pariwisata. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan. 12. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. 13. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. pariwisata. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. 6. 10. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.

Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. cagar alam. BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pendidikan. 84 . kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. ilmu pengetahuan. (3) Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. b. Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. wisata terbatas. Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja sama konservasi internasional. (3) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan. (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. Pasal 10 W ilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan. juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. pendidikan. ilmu pengetahuan. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Pasal 13 (1) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. dilaksanakan melalui kegiatan : a. (2) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan. BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a. (2) Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. (2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. suaka margasatwa. b.

memelihara. (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. mengambil. Pasal 24 (1) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. ayat (2). Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian. tumbuhan dan satwa yang dilindungi. b. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. e. melukai. menyimpan atau memiliki kulit. mengangkut. mengangkut. b. memperniagakan. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. b. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). merusak. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. menyimpan. merusak. dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. (2) Setiap orang dilarang untuk : a. b. memelihara. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam. memperniagakan. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 85 . memelihara. BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. memiliki. memusnahkan. d. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa. c. tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. memusnahkan. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. menangkap. kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. mengangkut. memiliki. melukai. menyimpan. Pasal 23 (1) Apabila diperlukan. dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. (3) Pengecualian dari larangan menangkap. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. memiliki. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. ilmu pengetahuan. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.Pasal 19 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. menebang. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. membunuh. mengambil.

serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. dan wisata alam. taman hutan raya.dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. b. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional. taman hutan raya. Pasal 33 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. taman hutan raya. taman hutan raya. Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. budaya. BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. b. dan taman wisata alam. zona pemanfaatan. dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian. dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. 86 . pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masingmasing kawasan. dan zona lain sesuai dengan keperluan. ilmu pengetahuan. taman hutan raya. daya dukung. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. (3) Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi. (3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. Pasal 34 (1) Pengelolaan taman nasional. c. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. pendidikan. dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. taman hutan raya. menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional. Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional. dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu.BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. (2) Di dalam zona pemanfaatan taman nasional. menunjang budidaya. pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam. taman wisata alam. taman hutan raya. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi. Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti. taman nasional. Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional. ayat (2).

87 . b. penelitian dan pengembangan. budidaya tanaman obat-obatan. pertukaran.BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. membuat dan menandatangani berita acara. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. e. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. peragaan. b. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. h. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. e. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. d. f. penangkaran. pemeliharaan untuk kesenangan. d. c. perdagangan. juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. pengkajian. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. berwenang untuk: a. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. perburuan. g. BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. c. f. g.

dinyatakan tidak berlaku lagi. 100. (2) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100. tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini.BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200. 3. 4. Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini. BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1. Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167). Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 88 . Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733). Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 2.00 (lima puluh juta rupiah).000.000.000.00 (seratus juta rupiah).000.00 (dua ratus juta rupiah).000.00 (seratus juta rupiah).000. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134).000. (3) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133).000. Agar setiap orang mengetahuinya. Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati. (4) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50. (5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran.

Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. dan taman wisata alam. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan. diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana. belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. Untuk itu. baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA I. baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik. Peran serta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. 3. Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum. maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas. belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal. dipelihara. tegas. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya. Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah). Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi. baik secara masing-masing maupun bersamasama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani. pengawetan 89 . sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi. 2. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan). dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari). dilestarikan. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional. baik di darat. yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. ilmu pengetahuan. dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian. perkembangan kependudukan. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. keselarasan dan keseimbangan. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan. dan Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. ilmu pengetahuan. yaitu : 1. dan pemanfaatan secara lestari. polusi. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi. yang kehadirannya tidak dapat diganti. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah. di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. antara manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundangundangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia. Oleh karena itu. alam nabati ataupun berupa fenomena alam. taman hutan raya. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan.

pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undang-undang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Namun. keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin. Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. tetapi termasuk di dalam pengertian satwa. Namun. dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia. Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Cukup jelas Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar. II. 90 .keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya.

perlu diadakan penelitian dan inventarisasi. dan jasad renik. daerah pasang surut. laut wilayah Indonesia. air. Pasal 6 Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia.Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. danau. baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. rawa. jurang. daerah pantai. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. tepian sungai. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan. yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. areal tepi sungai. c. pemeliharaan fungsi hidrologi hutan. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati. dan areal berpolusi berat. baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air. tebing. Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. b. 91 . dan jurang. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. satwa. pengelolaan daerah aliran sungai. danau. maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. daerah aliran sungai. dan genangan air lainnya). tumbuhan. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas tanah. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi. dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. perlindungan pantai. bagian tertentu dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai. maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. dan lain-lain. waduk. bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. udara. dan tanah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung. Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan.

Namun. dan gempa bumi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi.perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat. 92 . Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. erosi. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional. perburuan satwa yang berada dalam kawasan. melihat. dan pendidikan. baik sebagai kawasan hutan lain. Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak. maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam. atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah. ilmu pengetahuan. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer. khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran.Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan. tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam. kewenangan penentuan kegiatan penelitian. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. ilmu pengetahuan dan pendidikan. dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. kebakaran. Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945.

sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia. juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat. taman safari. atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. baik di dalam maupun di luar negeri. maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa. Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis. 93 . penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan. guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada. dan sebagainya. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang. pembuatan fasilitas air minum.Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. cara melakukan penangkapan hidup-hidup. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya. baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa.

Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional zona rehabilitasi, dan sebagainya. Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

94

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran), dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa. Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka melalui kegiatan penyuluhan, Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah, juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas 95

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila; b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 96

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan; b. keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. (2) Setiap orang berhak untuk: a. mengetahui rencana tata ruang; b. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 5 (1) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. (2) Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. 97

Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. (2) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undang-undang. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan, penataan ruang kawasan perkotaan, dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia; b. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi, selaras, dan seimbang antara perkembangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. (3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II; b. meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, dan interaksi lingkungan; b. tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan, serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pasal 12 (1) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. (2) Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. (3) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). (4) Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; b. aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. (2) Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya. (3) Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang, tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. 98

dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. dan evaluasi. b. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. b. (2) Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. kawasan budi daya. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. 99 . tata guna air. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. b. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warganegara. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor. c. diatur dengan Peraturan Pemerintah. pemantauan. (2) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a. kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (2) Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. kawasan budi daya. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. tata guna air. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. c. dan kawasan tertentu. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. mewujudkan keterpaduan. penetapan kawasan lindung. yang didasarkan atas rencana tata ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. norma dan kriteria pemanfaatan ruang.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. c. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. keterkaitan. (2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. yang meliputi: a. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. Pasal 18 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. d. c. b. b. pola pengelolaan tata guna tanah. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. tata guna udara. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II.

b. c. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi. (2) Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. kawasan perkotaan. pengelolaan kawasan perdesaan. telekomunikasi. mewujudkan keterpaduan. arahan kebijaksanaan tata guna tanah. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan kawasan lainnya. tata cara. penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. e. prasarana pengelolaan lingkungan. yang meliputi : a. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. b. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. d. (6) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. pariwisata. keterkaitan. pedoman. b. dan tata guna sumber daya alam lainnya. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor.Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. mewujudkan keterpaduan. tata guna udara. dan prasarana pengelolaan lingkungan. f. pertambangan. sistem prasarana transportasi. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. d. telekomunikasi. dan kawasan tertentu. c. arahan pengembangan kawasan permukiman. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. keterkaitan. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. c. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kehutanan. dan kawasan tertentu. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kawasan. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. b. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. energi. (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. c. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. d. kawasan perkotaan. energi. d. arahan pengelolaan kawasan perdesaan. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. c. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. perindustrian. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. e. penatagunaan air. b. tata guna air. d. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. e. g. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. (4) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan. pertanian. penatagunaan tanah. penatagunaan udara. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. pengairan. pengairan. b. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 100 . yang meliputi: a. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan. c. pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan.

(2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting. bimbingan. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. (3) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. 101 . (2) Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. Pasal 29 (1) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a. (2) Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (4) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. dan pelatihan. Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. pendidikan. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. b. terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. (3) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. Pasal 27 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (2) Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan itikad baik. b. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undangundang ini. Lembaga. menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan.

memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Agar setiap orang mengetahuinya. maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168.13) dinyatakan tidak berlaku. Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 102 . Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no.

Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG I. kualitas ruang. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. akan meningkatkan keserasian. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. ruang harus dimanfaatkan secara serasi. sumber daya buatan. sosial. lautan. ekonomi. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. hubungan manusia dengan alam. Dengan demikian. Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinasi. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. UMUM 1. dilindungi dan dikelola. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. dan estetika lingkungan. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. Akan tetapi. Oleh karena itu. terpadu. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian. Ruang meliputi ruang daratan. ekonomi. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. keselarasan. keselarasan. maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. maka 103 . Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati. jenis kegiatan. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. pertahanan keamanan. tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. pertahanan keamanan. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. 3. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. budaya. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. budaya. musim. lapisan di bawah kerak bumi. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. sosial. kawah gunung berapi. dan iklim tropisnya. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. Secara geografis letak dan kedudukan negara Indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. maka haruslah jelas batas. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. fungsi lokasi. hubungan manusia dengan manusia. diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. selaras. dan keseimbangan. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Oleh karena itu. Seiring dengan maksud tersebut. 2. 4. ruang lautan. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan.

d. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. telekomunikasi. Potensi itu diantaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa.pelaksanaan pembangunan. pertanahan. ruang lautan. waktu. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. pertambangan. sebagai jalur perhubungan. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. pertambangan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. b. b. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. ruang lautan. Ruang daratan. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. Ruang daratan. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. perdesaan. c. pembangunan daerah. Untuk itu. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. pemanfaatan ruang. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. jalan. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. perhubungan. perikanan. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35. Dengan demikian. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. perkotaan. ruang lautan. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi. transmigrasi. industri. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. perumahan dan permukiman. Landas Kontinen Indonesia. c. sebagai sumber energi. atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah teritorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah teritorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara. II. 5. Dalam Undang-undang ini. sebagai obyek wisata. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. yang merupakan ruang di luar ruang udara. kehutanan. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. perindustrian. 104 . dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. kepariwisataan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. dan tempat. pemanfaatan ruang. dan ruang udara. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang. Dengan demikian. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). Selain itu. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundangundangan mengenai perairan. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi.

jarak antar bangunan. pusat pemerintahan. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu. jalan kolektor. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. prasarana jalan seperti jalan arteri. rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan.Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. dan jalan lokal. tempat kerja. gunung dan sebagainya. dan sebagainya. daya dukung lingkungan. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan. industri. suaka alam. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. garis langit. fungsi. optimasi. dan pertanian. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. dan geopolitik. daya tampung lingkungan. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. modal. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor. pusat lingkungan. Dalam mempertimbangkan aspek waktu. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai. sebaran permukiman. Yang dimaksud dengan serasi. lingkungan sosial. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. antar daerah. gua. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. danau. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. keselarasan. 105 . selaras. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. ruang lingkup wilayah yang direncanakan.

fungsi lingkungan seperti wilayah 106 . Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. ruang lautan. siklus hidrologi. industri. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan. penambangan lepas pantai. dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal. tambang. Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian. budi daya pertanian. hak pemeliharaan taman laut. dan atau ruang.Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. kelompok orang. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. dan ruang udara. dan sebagainya. dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor-faktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. dan pengendalian pemanfaatan ruang. Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. atau badan hukum. memberi saran. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. dan sebagainya. tempat peristirahatan. yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang. pariwisata. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. hak untuk melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. hak untuk mengelola pariwisata bahari. b. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. rehabilitasi. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. ikan. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. penelitian. dan sebagainya. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal. dan lain-lain yang sejenis. meningkatkan fungsi kawasan lindung. dan kegiatan pembangunan permukiman. daerah. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. keselarasan. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang. b. siklus udara. bahan galian. perdagangan. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. hak untuk melakukan angkutan laut. tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. obyek wisata lingkungan. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. budi daya kehutanan. Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. pemanfaatan ruang. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. dan lain-lain yang sejenis. integrasi.

kawasan pendidikan. kawasan resapan air. kawasan pantai berhutan bakau. pertanaman. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). arsitektur bangunan. kawasan berikat. kawasan sekitar danau/waduk. dan kegiatan ekonomi. kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. kawasan industri. Bagi orang yang tidak mampu. jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. tempat kegiatan pertanian. sempadan sungai. kawasan suaka alam. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja. kawasan pertanian. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. kegiatan pemerintahan. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. kawasan perkotaan. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak. c. konservasi flora dan fauna. kawasan resapan air. kawasan bergambut. taman nasional. dan kawasan rawan bencana alam. dan kegiatan ekonomi. dan sebagainya. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. estetika lingkungan seperti bentang alam. kawasan tempat beribadah. dan kawasan tertentu. kawasan sekitar mata air. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. b. serta kawasan perdesaan. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai.resapan air. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan. kawasan pertahanan keamanan. kawasan pariwisata. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. kawasan permukiman. wilayah perbatasan. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a. 107 . sempadan pantai. taman hutan raya dan taman wisata alam. kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. kegiatan pelayanan sosial. kawasan hutan lindung. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. kegiatan pelayanan sosial. taman nasional.

Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. pariwisata. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. taman nasional. Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya. Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu. Kecuali kawasan tertentu. di lautan dan di udara dengan negara tetangga. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. dan pertahanan keamanan. kawasan perkotaan. kawasan resapan air. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. wilayah perbatasan. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. kawasan hutan lindung. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. dan daerah latihan militer. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan kawasan tertentu. di daratan. Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. sosial. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. serta kawasan perdesaan. baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. lingkungan. wilayah perbatasan. Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian.Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. suaka alam. koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. 108 . ekonomi. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. budaya. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya pertanian.

Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. bertitik tolak dari data. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan.Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. c. Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. serta fungsi pertahanan keamanan. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. maka hak orang harus tetap dilindungi. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: 109 . kelompok orang. Dalam menjalankan peranannya itu. dan fungsi wilayah serta kawasan. kedalaman rencana. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. Oleh karena itu. penetapan tata ruang. atau badan hukum. perumusan perencanaan tata ruang. informasi. Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. d. sosial. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. b. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. Ayat (2) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. budaya. Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala. menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. daya dukung dan daya tampung lingkungan.

perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. udara. minyak bumi. Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. sumber daya buatan. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan geofisika. jaringan gas. administrasi. udara. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. budi daya. jaringan transportasi seperti jalan raya. lingkungan alam nonhayati. pola pengelolaan tata guna udara. penatagunaan air. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. air. flora. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang. potensi meteorologi klimatologi. udara. b. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. fauna. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. dampak terhadap lingkungan. antara lain. budaya. energi angin. teknologi. Perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa. jalan kereta api. air kotor. penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. c. prioritas. penggunaan. penatagunaan udara. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. pertahanan keamanan. c. Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan. d. sistem prasarana.a. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. dan pemanfaatan tanah. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. lingkungan buatan. fungsi lindung. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. air. penatagunaan udara. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. air. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. sosial. Tata guna tanah. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. Sistem prasarana meliputi. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk 110 . sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. tata guna air. dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. penatagunaan air. air. pola pengelolaan tata guna air. pengatusan air hujan. energi surya. sumber daya alam. jaringan telepon. antara lain. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. ekonomi. dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. dan estetika lingkungan. informasi. Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. udara. Meskipun demikian.

Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. air minum. Dalam pemanfaatan tanah. pemanfaatan udara. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan mempertahankan ruang hidupnya. ketidaktersediaan sarana dan prasarana. dan geofisika. dan sanksi pidana. dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a. meskipun Undang-undang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. hak memperoleh. atau b. klimatologi. Dengan demikian. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. mengawasi. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama. Pasal 19 Ayat (1) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. pemanfaatan air. Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. sanksi perdata. Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. 111 . di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan. atau b. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham. Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. listrik. misalnya dalam bentuk: a. pengenaan pajak yang tinggi. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. imbalan.kepentingan masyarakat secara adil. Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang.

000. laut. dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. pertumbuhan.000. b. Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.000. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar.000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. kawasan budi daya. b. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional. 112 . dan kawasan lainnya. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. data dan informasi.Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. pemerataan. b. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. e. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat. c. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250. Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung. daya dukung dan daya tampung lingkungan. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. c. pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. dan udara. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. dan stabilitas. d. c. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang.000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. keanekaragaman kegiatan pembangunan. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan.000. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. termasuk penetapan kawasan tertentu. kawasan budi daya.

program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. i. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. d. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. pemerataan. 113 . g. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. Meskipun demikian. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. c. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang. Selanjutnya. Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun. pokok permasalahan kepentingan nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. f. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. pertumbuhan. daya dukung dan daya tampung lingkungan. e. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan. Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. h. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. b. data dan informasi. dan stabilitas. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. Dengan demikian.Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batasbatas tertentu.

c. kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Ayat (6) Cukup jelas 114 . data dan informasi. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. penatagunaan air. keselarasan dengan aspirasi masyarakat. air. udara dan sumber daya alam lainnya. dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. pengairan. b. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. persediaan dan peruntukan tanah. g. f. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan. Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. penatagunaan tanah. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. energi.Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. dan pengelolaan lingkungan. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. telekomunikasi. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II memperhatikan antara lain: a. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. e. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun. d. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan.

penguasaan. mengakui. lokasi. atau kebiasaan yang berlaku. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya. Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan. mempunyai dampak penting. Dengan demikian. hukum adat. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. c. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. Pemilikan. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). 115 . Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. dan kegiatan yang ditetapkan. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. kewenangan. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri. menjunjung tinggi. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan dalam kaitannya dengan besaran kawasan. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundang-undangan. Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat. b. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. dan mencegah kerusakan lingkungan.

hukum adat. Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. jaringan telepon. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen. Ayat (2) Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai buktibukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain. Lembaga. dan kebiasaan yang berlaku. Ayat (3) Cukup jelas 116 . sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang. pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang. Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. pemanfaatan ruang. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. Sebaliknya Departemen. jaringan pengatusan. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. jaringan penyediaan air baku. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. Lembaga. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan.Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. prosedur. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut. pemanfaatan ruang. Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. bimbingan. dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. standar dan kriteria teknis. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. jaringan air minum. jaringan air kotor. penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. proses. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. kualitas ruang. Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. dan Badan-badan Pemerintah lainnya. pendidikan.

Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas 117 . kawasan perumahan menjadi kawasan industri. pariwisata. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci. dan sebagainya. dan sebagainya. pariwisata. Akan tetapi. industri. untuk menghindari kevakuman. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pariwisata. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuan-ketentuannya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pemanfaatan ruang. permukiman. dan penyusunannya dilakukan secara berurutan. antara lain. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan. perdagangan. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. Sebagai contoh. dan terpusat. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional. sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya. pertanian. sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. lintas daerah. kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. Pada prinsipnya. permukiman. dikoordinasikan oleh Menteri. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya.

AMDAL 118 .

10. bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. 11. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . 5. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 119 . 7. 6. ME MUTU S KAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. c. b. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. 3. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan. 2. 14. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. d. 12. bahwa dengan diundangkannya Undang-undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. 13. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. 2. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. e. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/ atau kegiatan dimaksud. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. 4. 9. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Mengingat : 1. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. 8.

f. sifatnya kumulatif dampak. Pasal 5 (1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : a. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. (3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. terpadu atau kegiatan dalam kawasan. i. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. dan jenis jasad renik. (2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait. d. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. g. jumlah manusia yang akan terkena dampak. (2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. lingkungan buatan. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. d. (2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya dalam 5 (lima) tahun. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. b. Pasal 3 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. (4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. dan atau mempengaruhi pertahanan negara. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. serta lingkungan sosial dan budaya. h. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. e. c. (2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. c. b. (5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. 120 . e. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. Pasal 4 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah.Pasal 2 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/ atau kegiatan. Pasal 7 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. luas wilayah persebaran dampak. jenis hewan. f. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup.

ahli di bidang lingkungan hidup. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Komisi penilai dibentuk : a. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. analisis dampak lingkungan hidup. b) di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. Pasal 9 (1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. Pasal 10 (1) Komisi penilai daerah sebagaimana dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. ahli di bidang lingkungan hidup. (7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. di tingkat daerah : oleh Gubernur. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. rencana pemantauan lingkungan hidup. 121 . instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah. di tingkat pusat : oleh Menteri. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. (6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. ahli dibidang yang berkaitan. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. warga masyarakat yang terkena dampak. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. (5) Dalam menjalankan tugasnya. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. wakil masyarakat terkena dampak. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. (3) Komisi penilai menilai kerangka acuan. (4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. analisis dampak lingkungan hidup. komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. instansi yang ditugasi bidang kesehatan. serta anggota lain yang dipandang perlu. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. Departemen Dalam Negeri. ahli di bidang yang berkaitan. b. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a) di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (4) Dalam menjalankan tugasnya. analisis dampak lingkungan hidup. baik pusat maupun daerah.(2) Pemohon izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan instansi yang bertanggung jawab. instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. ditetapkan oleh Menteri. organisasi lingkungan hidup di daerah. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. serta anggota lain yang dipandang perlu.

c. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. (2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengembangan wilayah. Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. BAB III TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 14 (1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. (2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2). b. rencana pengelolaan lingkungan hidup. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Pasal 15 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. dengan ketentuan : a. berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Bagian Kedua Analisis dampak lingkungan hidup. d. Pasal 12 (1) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 16 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. e. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab. (4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup Pasal 17 (1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. 122 . usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan.Pasal 11 (1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat.

serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup. Pasal 20 (1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). rencana pengelolaan lingkungan hidup. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. b. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh : a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri. diajukan oleh pemrakarsa kepada : a. dan Pasal 20. Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. (2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah (2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). dan rencana pemantauan lingkungan hidup.Pasal 18 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Pasal 19. b. (3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. (2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 18. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 22 (1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa : a. dan instansi yang terkait. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. b. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup. biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan pertimbangan terhadap saran. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 19 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pegelolaan lingkungan hidup. pendapat. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. atau b. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. 123 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Gubernur dan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). Pasal 21 (1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. instansi terkait yang berkepentingan. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17.

Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup. (2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya keputusan kelayakan tersebut. atau b. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pasal 24 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 26 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 27 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan dilokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. pelatihan. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. 124 . rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 25 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatan. Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan peraturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 31 Penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 29 (1) Pendidikan. (2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

kesimpulan komisi penilai. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab. dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 38 (1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. saran. pendapat. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. b. (5) Saran. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).BAB V PENGAWASAN Pasal 32 (1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. (6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Instansi yang bertanggung jawab menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. pendapat. 125 . pendapat. analisis dampak lingkungan hidup. (4) Saran. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup di bebankan kepada pemrakarsa. Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan. dan tanggapan warga masyarakat yang berkaitan. (3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup (2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. serta tatacara penyampaian saran. Pasal 34 (1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. pendapat. analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 35 (1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pendapat. (2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. c. (2) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. penilaian kerangka acuan.

BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini : a. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Agar setiap orang mengetahuinya. atau b. tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan.(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 ( delapan belas ) bulan sejak tanggal diundangkan. sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan. memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG 126 .

Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut. Oleh karena itu. tetapi dilain pihak ketersediaan sumber daya alam bersifat terbatas. Keterlibatan warga masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan. menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan yang timbul. Hal itu merupakan konsekuensi dari kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. II. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Oleh karena itu. baikyang menguntungkan maupun yang merugikan. sejak awal perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru. sehingga dapat diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. Konsekuensinya adalah bahwa syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Peran masyarakat itu meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam. keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan pembangunan. pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan keterlibatan warga masyarakat itu akan membantu dalam mengidentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan lengkap. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP I. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Oleh karena itu. Dengan demikian. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan mengubah rona lingkungan hidup. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan merupakan kepentingan seluruh masyarakat. Angka (3) Cukup jelas 127 . Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. sehingga timbul tekanan terhadap sumber daya alam. analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.

Angka (4) Cukup jelas Angka (5) Cukup jelas Angka (6) Cukup jelas Angka (7) Cukup jelas Angka (8) Cukup jelas Angka (9) Cukup jelas Angka (10) Cukup jelas Angka (11) Cukup jelas Angka (12) Cukup jelas Angka (13) Cukup jelas Angka (14) Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomisfinansial. pengelolaan. analisis ekonomis-finansial. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi kegiatan dimaksud. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. 128 . Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan.Dengan ayat ini. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu. Oleh karena itu. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. dan proses produksinya. di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah. b. maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis. Ayat (3) Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi : a.

introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. sehingga tidak bersifat limitatif.Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. kerusakan kawasan konservasi alam. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. b. Oleh karena itu. kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan. Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi : a. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. jalan kereta api dan pembukaan hutan. pembuatan jalan. e. f. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang. g. Ayat (2) Cukup jelas 129 . perlu ditinjau kembali. h. c. pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. Oleh karena itu kriteria ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. sebagai contoh seperti usaha dan/ atau kegiatan : a. bendungan. b. Dengan demikian penyebutan kategori usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. atau pencemaran benda cagar budaya. berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lainnya. jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 3 Ayat (1) Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. d. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan: c.

izin penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C. dan instansi yang ditugasi di bidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. misalnya pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar. Keadaan darurat ini tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Keadaan Darurat. ditetapkan oleh menteri yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dimaksud. misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. Sedangkan keputusan kelayakan lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah lembaga swadaya masyarakat. Pasal 7 Ayat (1) Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup.Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa. Ayat (2) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai. Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan. tanpa izin tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. Ayat (2) Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Oleh karena itu. khususnya pengendalian dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak lingkungan hidup di daerah. izin hak pengusahaan hutan di bidang kehutanan. Misalnya izin usaha industri di bidang perindustrian. Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. kuasa pertambangan di bidang pertambangan. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung resiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas 130 . Adanya wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah.

kilang minyak. Ligitan dan Celah Timor Huruf (d) Cukup jelas Huruf (e) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. industri telekomunikasi. bandar udara. kerangka acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi. industri petrokimia. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. pembangkit listrik tenaga air. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jeias Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. industri baja. penambangan uranium. maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat. Dalam hal usaha dan/ atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau kegiatan terpadu/ multisektor. sampai ditetapkannya keputusan. eksploitasi minyak dan gas. Berdasarkan hasil pelingkupan. Huruf (b) Cukup jelas Huruf (c) Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya: rencana usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan. industri kapal. industri senjata. industri pesawat terbang. yaitu proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting. pelabuhan dan rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dianggap strategis.Pasal 11 Ayat (1) Huruf (a) Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan keamanan negara misalnya : pembangkit listrik tenaga nuklir. pembangunan bendungan. industri alat-alat berat. penilaian secara teknis. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. industri bahan peledak. Ayat (3) Cukup jelas 131 . penilaian oleh komisi penilai. serta komponenkomponen parameter lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting.

Dengan mengetahui dampak besar dan penting itu dapat ditentukan : a. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak lingkungan hidup. penilaian secara teknis. yang dicantumkan dalam rencana pemantauan lingkungan hidup.Ayat (4) Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan umum. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. rencana pengelolaan lingkungan hidup. yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik pula. cara memantau dampak besar dan penting tersebut. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan umum. Oleh karena itu. cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar dan penting positif. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I . Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. sampai dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup. penilaian oleh komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. demikian pula sebaliknya. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan keputusan kepada instansi yang berwenang. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas 132 . Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. Kerangka acuan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan hidup. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. dan b.

Oleh karena itu. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. 133 . Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau bantuan lainnya. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah diterbitkan menjadi batal. sehingga rona lingkungan hidup yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup.Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup.

Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian mengenai analisis dampak lingkungan hidup. kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan. misalnya. melalui media cetak dan/atau media elektronik. menjadi tanggungan pemrakarsa. antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lokasi akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan. Ayat (6) Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan sekurangkurangnya.Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas 134 . Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Saran. Ayat (2) Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan. Ayat (5) Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam penyusunan kerangka acuan. pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi. jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya.

Kewenangan. 135 . h. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 Tentang Kedudukan.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Menimbang : a. bahwa salah satu upaya pembinaan tersebut dapat berupa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). 3. bahwa Menteri Negara Lingkungan Hidup berwenang untuk menetapkan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. bahwa mengingat hal-hal seperti tersebut di atas. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. d. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Mengingat : 1. bahwa pembinaan usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berada pada pemerintah. Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. f. Tugas. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41. Fungsi. dan Tata Kerja Menteri Negara. b. c. g. e. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Susunan Organisasi. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. 7. 2. sejalan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). bahwa daerah saat ini membutuhkan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) untuk pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). bahwa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) seperti tersebut pada huruf c.

(2) Izin yang diterbitkan oleh pejabat dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tembusannya wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertangung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota sesuai kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. Pasal 3 dalam formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berisikan informasi: identitas pemrakarsa. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Propinsi dan atau lintas batas negara.2. (3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib menerbitkan rekomendasi tentang UKL dan UPL kepada pemrakarsa paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah diperbaiki oleh pemrakarsa. c. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib memberikan rekomendasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. Pasal 8 (1) Pejabat dari instansi yang berwenang wajib mencantumkan syarat dan kewajiban yang tercantum dalam program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. d. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. Pasal 5 (1) Berdasarkan formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. c. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pasal 7 Pemrakarsa mengajukan rekomendasi tentang UKL dan UPL dari pejabat instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada instansi yang berwenang sebagai dasar penerbitan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. Pasal 4 Pemrakarsa mengajukan formulir isian tentang UKL dan UPL kepada: a. Pasal 2 (1) Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib melakukan UKL dan UPL. e. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi. rencana usaha dan atau kegiatan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib berkoordinasi dengan instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan untuk melakukan pemeriksaan formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. di dalam izin melakukan usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. tanda tangan dan cap. yang proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pasal 6 Dalam hal formulir isian tentang UKL dan UPL tidak memerlukan perbaikan. 136 . 3. b. dampak lingkungan yang akan terjadi. pemrakarsa wajib menyempurnakan dan atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. (2) UKL dan UPL wajib dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan formulir isian seperti terlampir dalam Keputusan ini. Di a. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah Kabupaten/Kota. (2) Dalam hal terdapat kekurangan informasi yang disampaikan dalam formulir isian tentang UKL dan UPL dan memerlukan tambahan dan atau perbaikan. program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Kabupaten/Kota. b.

MPA. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan Dan Kelembagaan Lingkungan Hidup. Hoetomo. 137 . Pasal 10 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dinyatakan tidak berlaku lagi. MPA. ttd. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 28 Oktober 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Nabiel Makarim. MSM..Pasal 9 Dengan berlakunya keputusan ini.

3. Pertama Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. 138 . Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. Ketiga Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Kedua Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Mengingat : 1. 4. c. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. 5. daya tampung. bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). b. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. tetapi karena daya dukung. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan dalam skala/ besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Menimbang : a. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup.

Ketujuh Dengan berlakunya keputusan ini. Sudharto P. A. ttd. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Hukum Lingkungan. Kelima Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Keenam Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. Hadi 139 . Dr.Keempat Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kedelapan Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi.

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 Tahun 2001 TANGGAL : 22 Mei 2001 JENIS RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. Pendahuluan Jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan : a. Potensi dampak penting Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan: 1. Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2. Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang AMDAL. b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul. 2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup A. Bidang Pertahanan dan Keamanan Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan skala/besaran berikut berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah

Skala/Besaran Semua besaran *

Alasan Ilmiah Khusus Beresiko terjadinya ledakan saat perjalanan dan saat penyimpanan yangmembahayakan penduduk walaupun sudah memiliki standard operating procedure (SOP) penanganan bahan peledak. * Kegiatan pengerukan dan reklamasi berpotensi mengubah ekosistem laut dan pantai. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair dan sampah padat. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan pesawat. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan latihan tempur berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan akibat ledakan. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan penyiapan lahan (land clearing) di areal yang cukup luas untuk pangkalan, landasan pacu, dan bangunan penyangga menyebabkan perubahan ekosistem. * Kegiatan latihan berpotensi menyebabkan kebisingan.

2

Pembangunan Pangkalan TNI AL

Kelas A dan B

3

Pembangunan Pangkalan TNI AU

Kelas A dan B

4

Pembangunan Pusat Latihan Tempur

Luas > 10.000 ha

5

Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri

Luas > 10.000 ha

140

B.

Bidang Pertanian Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas air, persebaran hama, penyakit dan gulma, serta perubahan kesehatan tanah akibat penggunaan pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan penyebaran penyakit endemik. Skala/besaran yang tercantum di bawah ini telah memperhitungkan potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam. Skala /besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang, dan tinggi. Skala/Besaran Luas > 2.000 ha Alasan Ilmiah Khusus * Lihat penjelasan di atas

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tanaman pangan dan hortikultura semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan

2

Luas > 5.000 ha

*

Lihat penjelasan di atas

3

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

4

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

141

C.

Bidang Perikanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang, ikan, dan pembangunan pelabuhan perikanan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam. Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan dari tumbuhtumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya

Skala/Besaran Luas > 50 ha

Alasan Ilimiah Khusus * Rusaknya ekosistem mangrove yang menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan ( nursery areas) akan mempengaruhi tingkat produktivitas daerah setempat. Beberapa komponen lingkungan yang akan terkena dampak adalah: kandungan bahan organik. perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah phytoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Berpotensi menimbulkan konflik sosial. Perubahan kualitas perairan. Pengaruh perubahan arus dan penggunaan ruang perairan. Pengaruh terhadap estetika perairan.

*

*

2

Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system): a. Di air tawar (danau) - Luas - Atau jumlah b. Di air laut - Luas - Atau jumlah

* * > 2,5 ha > 500 unit * > 5 ha > 1.000 unit *

3

Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum dan memenuhi kriteria sebagai berikut: - Panjang dermaga - Atau mempunyai Kawasan Industri Perikanan dengan luas - Atau kedalaman perairan di dermaga

> 300 m > 10 ha > -4 m LWS

Berpotensi menimbulkan dampak berupa: penurunan kualitas air, penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik sosial, pergeseran pola penyakit, dan dampak potensi limbah cair dan padat yang dihasilkan.

142

D.

Bidang Kehutanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam dan potensi konflik sosial. Skala/Besaran Semua besaran * Alasan Ilmiah Khusus Pemanenan pohon dengan diameter tertentu berpotensi merubah struktur dan komposisi tegakan, satwa liar dan habitatnya.

No. 1

Jenis Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHK)

2

Usaha Hutan Tanaman

> 5.000 ha

*

Usaha hutan tanaman dilaksanakan melalui sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), dimana untuk penyiapan lahannya dilaksanakan secara mekanis menggunakan alat berat.

E. No. 1.

Bidang Kesehatan Skala/Besaran Kelas A dan B atau yang setara * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3 / radioaktif dan potensi penularan penyakit.

Jenis Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

F.
No. 1

Bidang Perhubungan
Skala/Besaran > 25 km * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, k e b i s i n g a n , g e t a r a n , gangguan pandangan, ekologi, d a n d a m p a k sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar kegiatan serta membutuhkan area yang luas. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan kestabilan lahan (land subsidence), air tanah serta gangguan berupa dampak terhadap emisi, lalu lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, gangguan jaringan prasarana sosial (gas, listrik, air minum, telekomunikasi) dan dampak sosial di sekitar kegiatan tersebut. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi dan ekologi yang lebih luas dari batas tapak kegiatan itu sendiri. Kegiatan ini juga akan menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran sungai. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi, ekosistem, kebisingan dan dapat mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai (coastal processes). Berpotensi menimbulkan dampak terhadap

Jenis Kegiatan Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api - Panjang Pembangunan Stasiun Kereta Api

2

Stasiun kelas besar dan/atau kelas I

*

3

Konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan tanah

Semua besaran

*

4

Pengerukan alur pelayaran Sungai - Volume

* > 500.000 m3

5

Pembangunan pelabuhan dengan salah satu fasilitas berikut: a. Dermaga dengan konstruksi masif - Panjang > 200 m - Atau luas > 6.000 m2 b. Penahan gelombang (Break water/talud) - Panjang > 200 m c. Prasarana pendukung pelabuhan (terminal, gudang, peti kemas, dll)

*

*

*

143

- Luas

> 5 ha

*

d.

Single Point Mooring Boey - Untuk kapal

* > 10.000 DWT

*

6

Pengerukan: a. Capital dregging - Volume

* > 250.000 m3

b.

Maintenance dregging - Volume

> 500.000 m3

*

7

Reklamasi (pengurungan): - Luas - Atau Volume

* > 25 ha > 5.000.000 m3

ekosistem, hidrologi, garis pantai dan batimetri serta mengganggu proses-proses alamiah yang terjadi di daerah pantai. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar area yang luas. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan alur pelayaran, perubahan, batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai terutama apabila yang dibongkar muat minyak mentah yang berpotensi menimbulkan pencemaran laut dari tumpahan minyak Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri,ekosistem,dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai dan membutuhkan waktu 3 -6 bulan Berpotensi menimbulkan dampak terhadap sistem geohidrologi, hidrooseanografi, dampak sosial, ekologi, perubahan garis pantai, kestabilan lahan, lalu lintas serta mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai.

8

Kegiatan penempatan hasil keruk (dumping) a. Di darat: - Volume - Atau luas area dumping b. Di laut

> 250.000 m3 > 5 ha Semua besaran

*

Menimbulkan terjadinya perubahan bentang lahan yang akan mempengaruhi ekologi, hidrologi setempat. Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut yang akan menimbulkan dampak sosial. Termasuk kegiatan yang berteknologi tinggi, harus memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak berupa kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara.

*

9

Pembangunan bandar udara baru beserta fasilitasnya

Semua besaran ( kelas I * s.d. V) beserta hasil studi rencana induk yang telah disetujui *

10

Pengembangan bandar udara beserta Kelas I, II, III, berdasarkan * rencana pengembangan fasilitasnya (rencana induk, rencana tata letak, dll) *

11

12

Perluasan bandar udara beserta/atau fasilitasnya: a. - Pemindahan penduduk - Atau pembebasan lahan b. Reklamasi pantai: - Luas - Atau Volume ruangan c. Pemotongan bukit dan pengurugan lahan dengan volume Pemasangan kabel bawah laut

* >200 KK > 100 ha > 25 ha > 100.000 m3 > 500.000 m3 Semua besaran * * *

*

Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif ( misalnya terumbu karang). Pengoperasian kabel bawah laut rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh, penambangan pasir.

144

Berbagai potensi pencemaran. minyak dan gas. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas.G. * Tenaga kerja besar (+ 1-2 TK/3000 ton produk).TSS). debu ( CaO.NOx. udara. limbah cair (sisa cooling mengandung minyak lubrikasi pelumas). Jenis Kegiatan 1 Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri semen dengan Proses Klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan. bahan baku (raw millprocess).2 Mw/ 1000 ton produk). yang diperoleh baik dari sumber air tanah ataupun air permukaan.5 ton semen membutuhkan 1 ton air).2 ha/1000 ton produk). dimana. * Tenaga kerja besar. 2 Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan pulp dari industri kertas budaya) Semua besaran 145 . lumpur kering). Teknologi Satelit: -Pembangungan fasilitas peluncuran satelit H. tertutup bagi masyarakat. penggilingan batubara (coalmill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (Rotary Klin and Clinker Cooler). Bidang Perindustrian Kegiatan bidang perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air. No. Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar. termasuk daerah penyangga. pemasakan serpihan kayu. 1 Bidang Teknologi Satelit Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus * Kegiatan ini memerlukan persyaratan lokasi yang khusus dan teknologi canggih * Bangunan peluncuran satelit dan fasilitas pendukung.S02. Al203FeO2) dengan radius 2-3 km. terdapat proses penyiapan. tetapi menggunakan areal yang luas tetap wajib dilengkapi dengan AMDAL (nomor 15). pemutihan pulp (bleaching) dan pembentukan lembaran pulp yang dalam prosesnya banyak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga berpotensi menghasilkan limbah cair (BOD. * Kebutuhan energi cukup besar baik tenaga listrik (110-140 KwH/ton) dan tenaga panas (800 . Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas (0. SOx. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (tailing).Cl2) dan limbah padat (ampas kayu. limbah gas CO 2. bau.limbahgas (H2S. Beberapa jenis industri menggunakan air dengan volume sangat besar. * Proses pembuatan pulp meliputi kegiatan penyiapan bahan baku. * Kebutuhan air cukup besar (3. tanah.COD. gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut di atas menimbulkan dampak sosial. dan getaran.900 Kcal/ton). * Kebutuhan energi besar (0. serat pulp. gangguan kebisingan. No. Beberapa jenis industri yang sudah memiliki teknologi memadai untuk mengatasi dampak negatif yang muncul. pencucian pulp. SiO2. sehingga tidak termasuk dalam daftar berikut.NOx) dari pembakaran energi batubara.

* Kebutuhan energi relatif besar (1 Kwh 0. NH4Cl) dan limbah sisa katalis bekas yang bersifat B3. Proses pembuatannya melalui pemisahan konsentrat. Zn. Zn. Hg). * Tenaga kerja cukup besar. Pb. Pb. N2. Cd. * Tenaga kerja cukup besar (1000 ton produk/ TK). O2 dan tail gas dengan parameter Zn. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang cukup luas. As. Umumnya dampak yang ditibulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang luas.5 ton produk). H2S. As. limbah cair (TSS. COD. limbah padat gipsum dan slag (Fe. Cr. * Tenaga kerja besar. peleburan dengan tungku-tungku bertemperatur tinggi dan elektrolisa. Se. besi spons. * Kebutuhan air untuk pendingin relatif besar (> 1000 m3/hari). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang cukup luas. gas (NO x. batubara ataupun bahan bakar dengan proses pembakaran sampai dengan temperatur 1600 derajat Celcius. besi kasar/pig iron.3 juta m3/hari). * Potensi berbagai limbah: gas (SO2 dan NOx). Cd. * Kebutuhan energi relatif besar (6-7 Kw ton produk) disamping bersumber dari listrik juga energi gas. * Potensi berbagai limbah (termasuk B3): limbah padat (basic slag). * Kebutuhan air untuk proses pendinginan dan elektronika relatif besar (air bersih 5000 m3/ hari dan air laut 3. SOx. SO2) debu berupa scale (2-3% dari total produk per hari). Industri pembuatan besi dasar dan baja adalah merupakan industri yang mengolah besi bekas (steel scrap) atau konsentrat biji besi yang menggunakan tungku-tungku pembakaran baik menggunakan energi listrik. * Kebutuhan air cukup besar (untuk pendingin 1 l/dt/1000 ton produk). Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. F. pellet baja. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2. Jenis Kegiatan 3 Industri petrokimia hulu Skala/Besaran Semua besaran 4 Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making) meliputi usahan pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pallet bijih besi. debu (SiO2). Sn.No.Toluena. Hg. Ni. paduan besi/alloy. Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar adalah industri yang mengolah konsentrat bahan tambang. baja bloom dan baja slab) Semua besaran 5 Industri pembuatan timah hitam (Pb) dasar (termasuk industri daur ulang) Semua besaran 6 Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/ katoda tembaga (bahan baku dari Cu konsentrat) Semua besaran Alasan Ilimiah Khusus Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah hasil tambang mineral (kondensat) terdiri dari Pusat Olefin yang mengkasilkan Benzena. limbah cair (minyak dan scale). ingot baja. BOD. Hg. Cd). 146 . Ni. TDS & TSS). limbah cair (Fe. * Kebutuhan energi relatif besar (264 ribu Mwh/ tahun). Cu. Se. Propilena dan Butadiena serta Pusat Aromatik yang menghasilkan Benzena. Proses pembuatannya melalui proses peleburan yang menghasilkan limbah gas beracun dan debu (partikulat) dan proses peredaman yang menghasilkan limbah cair dengan kadar asam yang tinggi. Xylena. dan Etil Benzena. Pb. Cu.

pengecatan lambung kapal dan bahan kimia B3) maupun limbah gas dan debu dari kegiatan sand blasting dan pengecatan. * Kebutuhan air yang sangat besar untuk proses pendinginan (+ 17. NH3. pelapis bekas). Industri senjata. cair (air spray dengan kadar Flour tinggi dan air pendingin mengandung minyak).55 – 0. munisi dan bahan peledak Semua besaran 147 . lebar 40 m. sehingga dalam pengembangannya diperkirakan akan menimbulkan berbagai dampak penting antara lain disebabkan: * Kegiatan grading (pembentukan muka tanah) dan runoff (air larian). Industri pesawat terbang merupakan industri strategis berteknologi tinggi yang membutuhkan tingkat pengamanan (security) yang tinggi. Pembuatan kolam graving ini dilakukan dengan mengeruk laut yang dikhawatirkan akan menyebabkan longsoran atau pun abrasi pantai. * Kebutuhan energi relatif besar (+ 295 ribu Mwh/hari). munisi dan bahan peledak merupakan industri yang dalam proses produksinya menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat B3.75 l/dt/ha.000 DWT 10 Industri pesawat terbang Semua besaran 11 Industri senjata. * Potensi limbah yang dihasilkan (termasuk B3): padat (dross. disamping kegiatannya membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi. * Kebutuhan pemukiman dan fasilitas sosial. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas untuk bangunan pabrik dan fasilitas penunjang. * Kebutuhan energi listrik cukup besar baik dalam kaitan dengan jenis pembangkit ataupun trace jaringan (0. Perbaikan kapal berpotensi menghasilkan limbah cair (air ballast. elektrolisa dan pencetakan. gas (H2S. * Kebutuhan air bersih dengan tingkat kebutuhan rata-rata 0. * Gangguan kebisingan dan getaran. * Mobilisasi tenaga kerja (90 – 110 TK ha).No. Sistem graving dock adalah galangan kapal yang dilengkapi dengan kolam perbaikan dengan ukuran panjang 100 m. * Pengadaan dan pengoperasian alat alat berat. SO2 & HF) dan debu Kawasan industri (industrial estate) merupakan lokasi yang dipersiapkan untuk berbagai jenis industri manufaktur yang masih prediktif. * Potensi berbagai jenis limbah dan cemaran yang masih prediktif terutama dalam hal cara pengelolaannya.1 Mw/Ha).NO2. 8 Kawasan Industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi) Semua besaran 9 Industri galangan kapal dengan sistem graving dock > 4. dan kedalaman 15 m dengan sistem sirkulasi. * Bangkitan lalulintas. 7 Jenis Kegiatan Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri pembuatan aluminium dasar merupakan industri pembuatan batangan aluminium yang menggunakan bahan baku bijih alumina yang dilakukan melalui proses peleburan. Dampak penting yang ditimbulkan berasal dari: * Pengadaan lahan untuk bangunan pabrik dan landasan pacu.000 m3/hari). * Tenaga kerja sangat besar.

NOx. limbah cair (Zn. Zn. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. gas (proses finishing dengan parameter Pb dan formation parameter sulfat. luas Semua besaran > 5 ha > 10 ha > 15 ha > 20 ha > 30 ha Umumnya dampak yang ditimbulkan berupa: * Bangkitan lalulintas. Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri baterai kering yang diperkirakan menimbulkan dampak penting adalah yang menggunakan bahan baku merkuri (Hg). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. * Berpotensi menimbulkan pencemaran udara. formation\ (merupakan proses elektrolisa) dan assembling.Kota besar. air dan tanah. * Kebutuhan air relatif besar baik untuk proses (pembuatan pasta dan pemasakan baterai) maupun domestik (170 m3/hari). * Konflik sosial. NH3.pengemasan. limbah debu dan gas (H2S. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (sludge B3. teratogenik dan karsinogenik terhadap manusia. COD. Rural/pedesaan. Sulfat & Pb). I. CO.perdagangan danpembuangannya memerlukan persyaratan khusus. TDS. Mn & NH3). Pb dan Cd). pengangkutan. luas . * Kebutuhan air relatif besar (+ 270 m3/hari) baik untuk proses maupun domestik. Hg. dan limbah padat (sludge dari IPAL dan bekas kemasan bahan penolong). dll. seperti daya dukung tanah. 148 . Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No.Metropolitan. * Kebutuhan energi listrik cukup besar. lead powder (proses pembentukan bubuk Pb). NOx dan SO2). 12 Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg) 13 Industri baterai basah (akumulator listrik) Semua besaran 14 Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi material yang digolongkan bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 15 Kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 s/d 14 Penggunaan areal: a. luas b. Cr. kapasitas resapan air tanah. SO2. TSS.Kota sedang. tingkat kepadatan bangunan per hektar. Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. sedangkan pembakaran COx. * Kegiatan produksi. * Penurunan kualitas lingkungan.Kota kecil.No. luas . mengingat merkuri ini bersifat B3 yang mempunyai efek mutagenik. Pada umumnya proses produksi lengkap dimulai dari grid casting (persiapan.Tinggi > 15 m * * Termasuk dalam kategori “large dam ” (bendungan besar). Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Bendungan/Waduk atau Jenis Tampungan Air lainnya: . Urban: . peleburan dan pencetakan timah hitam sebagai bahan aktif sel). pasting (pembuatan pasta dengan H2SO4 pekat). * Potensi limbah dari proses produksi seperti limbah cair (pH. Bidang Prasarana Wilayah Kegiatan pembangunan dan pengadaan prasarana wilayah umumnya berfungsi untuk melayani kepentingan masyarakat. penyimpanan. Potensi konflik yang timbul sangat berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk karena umumnya membutuhkan lahan yang luas dan seringkali mengubah tata guna lahan. lead part (pencetakan bagian-bagian aki dari timah hitam). luas . bekas kemasan). * Daya dukung lahan.

Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Berpotensi mengubah sistem tata air yang ada pada kawasan yang luas secara drastis. Membutuhkan pembebasan lahan yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial. baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pelaksanaan. dan gangguan. Akan mempengaruhi pola iklim mikro pada kawasan sekitarnya dan ekosistem daerah hulu dan hilir bendungan/waduk. 5 Normalisasi Sungai dan Pembuatan Kanal Banjir a. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan.000 ha * * * b.000 m3 * * 149 . Mengakibatkan mobilisasi manusia yang dapat menimbulkan dampak sosial.000 m3 * * c. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan.Panjang .Atau volume pengerukan > 5 km > 500. > 10 km > 500.Atau volume pengerukan > 15 km > 500. Berpotensi mengubah ekosistem dan iklim mikro pada kawasan tersebut dan berpengaruh pada kawasan disekitarnya. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Selalu memerlukan bangunan utama (headworks) dan bangunan pelengkap (oppurtenants structures) yang besar dan sangat banyak sehingga berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Dampak pada hidrologi. Dampak pada hidrologi. Pembangunan pada rentang kawasan pantai selebar > 500 m berpotensi mengubah ekologi kawasan pantai dan muara sungai sehingga berdampak terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Memerlukan bangunan tambahan yang berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Mengakibatkan perubahan pola iklim mikro dan ekosistem kawasan.000 ha * 4 Pembangunan Pengaman Pantai dan perbaikan muara sungai: .Atau luas genangan > 200 ha * * * 2 Daerah Irigasi a. luas (perkelompok) 3 Pengembangan Rawa: Reklamasi rawa untuk kepentingan irigasi > 500 ha * * * > 1. Pedesaan . sehingga diperlukan kajian khusus untuk pengembangan kawasan pantai yang mencakup rentang lebih dari 500 m dari garis pantai.000 ha * * * c. Mengakibatkan mobilisasi tenaga kerja yang signifikan pada daerah sekitarnya. Memerlukan alat berat dalam jumlah yang cukup banyak.Atau volume pengerukan Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. dampak sosial. Perubahan Tata Air. Peningkatan dengan luas tambahan > 1. Berpotensi menimbulkan dampak negatif akibat perubahan ekosistem pada kawasan tersebut. Kota Sedang . dan gangguan. Pencetakan sawah.000 m3 * * b. Pembangunan baru dengan luas * * > 2.* . dampak sosial.Jarak dihitung tegak lurus pantai * > 500 m * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak.Panjang . Kegagalan bendungan pada luas genangan sebesar ini berpotensi mengakibatkan genangan yang cukup besar dibagian hilirnya. Gelombang pasang laut (tsunami) di Indonesia berpotensi menjangkau kawasan sebesar 500 m. Kota Besar/Metropolitan . dan gangguan.Panjang . dampak sosial.

Kota Sedang . Kota besar. dll. udara.atau peningkatan jalan dengan pelebaran diluar daerah milik jalan a. emisi yang tinggi. Pembangunan Jalan Layang dan Subway Pembangunan dan. getaran. Pembuangan dengan sistem control landfill / sanitary landfill (diluar B3) . * Setara dengan kota kecil-sedang/kota kecamatan. luas layanan 11 Drainase Permukiman a. Bangkitan lalu lintas. getaran.Luas landfill . . Dampak potensial berupa bau.Atau luas c. gas beracun. * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan).luas c. Pembangunan sistem perpipaan air limbah. getaran.6 a. gangguan visual dan dampak sosial.Panjang .000 sambungan. getaran. bau. dampak kebisingan. dan gangguan kesehatan. tingkat kepadatan bangunan per hektar. emisi yang tinggi. 150 . dampak kebisingan. seperti daya dukung tanah. luas b. Pembangunan saluran di kota sedang . kebisingan. 9 Pembangunan Perumahan/Permukiman a.Panjang b. * Daya dukung lahan. Kota sedang dan kecil. Pedesaan .Atau luas b.Panjang Persampahan a. * Setara dengan layanan untuk 10. termasuk fasilitas penunjangnya b.Luas . emisi yang tinggi. Pembangunan jaringan distribusi > 2 ha > 3 ha * * Setara dengan layanan untuk 10. dampak kebisingan.000 ton / hari Semua ukuran Dampak potensial adalah bahaya banjir dan perubahan pola air. kapasitas resapan air tanah. Pembangunan Jalan Tol b. gangguan visual dan dampak sosial. bau. luas > 25 ha > 50 ha > 100 ha 10 a. > 5 ha > 5. emisi yang tinggi. gas beracun. Kota Besar/Metropolitan . getaran. Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). dampak kebisingan. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas.Panjang 12 Jaringan air bersih di kota besar/metropolitan a. Pembangunan transfer station .000 ton Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). * Setara dengan kota kecil. perubahan tata air.Atau kapasitas total c. Dampak kebauan dan gangguan visual.. > 500 ha > 5 km * Setara dengan 17. Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPTL). * Limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. * Dampak kebauan dan gangguan visual. gas beracun.Atau kapasitas total b. TPA dengan sistem open dumping Semua besaran > 2 km Bangkitan lalu lintas. * Tingkat kebutuhan air sehari-hari. TPA di daerah pasang surut. * Isu utama adalah perubahan fungsi lahan. * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia).Kapasitas d. udara. dampak kebisingan. Berpotensi menimbulkan dampak meningkatnya kepadatan lalulintas. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) limbah domestik termasuk fasilitas penunjangnya c. gangguan visual dan dampak sosial. Bangkitan lalu lintas. dan gangguan kesehatan.000 ton > 1.Panjang . Pembangunan saluran di kota besar/metropolitan . emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. dan gangguan kesehatan. > 10 km Berpotensi menimbulkan dampak hidrologi dan persoalan keterbatasan air. 7 > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas. > 30 km 8 > 10 ha > 10. gangguan visual dan dampak sosial. getaran.000 orang. Kota metropolitan.000 orang.

penambangan dan pemurnian 2. Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara. f.000 ton/th (ROM) > 200. polusi udara. Jenis Kegiatan PERTAMBANGAN UMUM Luas perizinan (KP) Atau luas daerah terbuka untuk pertambangan *) *) Untuk menghindari bukaan lahan terlalu luas Tahap eksploitasi produksi: a. * Dalam lingkungan perairan. dll. Setara kebutuhan air bersih 200. * Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. Pusat Perdagangan/ perbelanjaan relatif terkonsentrasi . keterkaitannya dengan masalah pertahanan dan keamanan menjadi alasan mengapa kegiatan ini wajib dilengkapi AMDAL untuk semua besaran.000 orang. No A 1 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Skala/Besaran * > 200 ha > 50 ha (kumulatif/tahun) * Alasan Ilmiah Khusus Dampak penting terhadap lingkungan antara lain: merubah bentang alam. * Produksi sampah. Pendidikan.13 .Luas lahan . termasuk pengolahan.Atau bangunan > 500 ha > 10 km * * > 250 I/dt Besaran diperhitungkan berdasarkan: * Pembebasan lahan * Daya dukung lahan * Tingkat kebutuhan air sehari-hari * Limbah yang dihasilkan * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran.Atau luas lahan > 200 KK > 100 ha J. mata air permukaan. Berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh: * Pembebasan lahan. serta dampak dari limbah cair yang dihasilkan. Bijih Sekunder/Endapan Alluvial d. Kesenian. * Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung. Tempat Ibadah. atau sumber air permukaan lainnya . > 250.Panjang Pengambilan air dari danau. Setara kebutuhan kota sedang. selain dampak penting yang dapat ditimbulkan. getaran apabila menggunakan peledak. kebisingan. dll) * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan) * Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Khusus bagi pusat perdagangan/perbelanjaan relatif terkonsentrasi dengan luas tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak penting: * Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi).000 ton/th (ROM) > 150. * Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar.Jumlah penduduk yang dipindahkan . termasuk pengolahan. Olahraga.000 ton/th (ROM) > 250. Bijih Primer c.000 m3/th (ROM) Semua besaran Sampai saat ini bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir. seperti daya dukung tanah. Bahan galian radioaktif. sifat mudah terurai tersebut menyebabkan Pb mudah tersedia secara biologis ( bioavailable). Oleh sebab itu. sungai. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C e. penambangan dan pemurnian Semua besaran 151 . ekologi dan hidrologi. * Tingkat kebutuhan air. kebisingan.Luas layanan b. * Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiangtiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar. * Daya dukung lahan. Bahan galian timbal. kapasitas resapan air tanah.000 m2 15 Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk/ transmigrasi: . Batubara/gambut b. 14 > 5 ha > 10.Debit pengambilan Pembangunan Pusat Perkantoran. tingkat kepadatan bangunan per hektar. Pembangunan jaringan transmisi .

terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air.Atau aliran langsung (kapasitas daya) > 15 m > 200 ha > 50 MW 5. ekonomi dan budaya terutama pada pembebasan lahan dan keresahan masyarakat Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik kimia. terutama pada kualitas udara (emisi. * 2. Lapangan gas > 30 MMSCFD 2. Pencemaran udara. Potensi ledakan. Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik-kimia.Aspek sosial. ambient dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas. ³ 10 MW Angin. air dan tanah. * Membutuhkan areal yang sangat luas. Pembangunan pusat listrik dari jenis lain (Surya. Memerlukan lokasi khusus dan berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. * Aspek flora fauna. * Aspek sosial. terutama pada pembebasan lahan. Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Semua besaran laut 152 . Berpotensi menimbulkan dampak pada: . Potensi ledakan. .000 BOPD a. terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk. B. Potensi kerusakan ekosistem. * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. * Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut. MINYAK DAN GAS BUMI Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di darat > 5. Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berpotensi menimbulkan pencemaran air permukaan. Lapangan minyak b. air dan tanah. * Kegagalan bendungan (dam break). ekosistem. * Termasuk dalam kategori “large dam” (bendungan besar). terutama pada pembebasan lahan. ekosistem. ekonomi dan budaya. Tambang di laut Semua besaran 4. Melakukan Submarine Tailing Disposal Semua besaran 5. * Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial dan gangguan kesehatan. Pencemaran udara. * Dampak kebisingan. * * * * * * * * * * * * * * Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Pertimbangan ekonomis. Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi * Aspek sosial. . * Dampak visual (pandang).Tinggi bendung . akan mengakibatkan gelombang banjir (flood surge) yang sangat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya. Pertimbangan ekonomis. Potensi ledakan. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. air. Pertimbangan ekonomis. limbah bahang dll) serta air tanah. * Aspek sosial. ekonomi dan budaya. 1. Pembangunan PLTA dengan: . Melakukan pengolahan bijih dengan proses Semua besaran sianidasi KETENAGALISTRIKAN > 150 KV Pembangunan jaringan transmisi Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. air tanah dan udara. ekonomi dan budaya. 1.Atau luas genangan . Pencemaran udara. Biomassa dan Gambut) C.Aspek fisik-kimia.3. Perubahan Ekosistem laut. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. * Dampak pada hidrologi (kapasitas daya). Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran.Aspek flora fauna. Eksploitasi dan pengembangan Uap Panas Bumi > 55 MW dan atau Pembangunan Panas Bumi 4. mengganggu alur pelayaran dan proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Pembangunan PLTD/PLTG/PLTU/ PLTGU > 100 MW 3.

Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Pelaksanaan konstruksi dapat meningkatkan erosi tanah. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus.Panjang . Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. No 1 2 Jenis Kegiatan Taman Rekreasi Kawasan Pariwisata 3 4 Hotel: Jumlah kamar Atau luas bangunan Lapangan golf (tidak termasuk driving range) > 200 unit > 5 ha Semua besaran 153 . dan sampah. tambang pasir dan alur pelayaran. Berpotensi menimbulkan dampak dari kegiatan laundry. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya apabila melalui daerah pemukiman penduduk. Potensi intrusi air laut. Bidang Pariwisata Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem. Merupakan industri strategis. pembebasan lahan. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Skala/Besaran > 100 ha Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. gangguan lalu lintas.000 BOPD 6. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Di darat . Khusus LNG. Membutuhkan area yang cukup luas. dan sampah. Merupakan industri strategis. limpasan air permukaan (run off). Berpotensi menimbulkan dampak dari penggunaan pestisida/ herbisida. Berpotensi mengubah ekosistem yang lebih luas. Di laut Semua besaran * * * * 4. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Pemanfaatan lahan yang tumpang tindih dengan aktifitas nelayan dianggap cukup luas lintas kabupaten/kota juga dapat mengganggu aktifitas nelayan. padat dan cair yang cukup besar. padat dan cair yang cukup besar. aksesibilitas lalu lintas. Merupakan industri strategis. hidrologi. Ada potensi perambahan ROW oleh kegiatan atau aktifitas penduduk.000 ton/th D. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya terhadap kegiatan/aktifitas nelayan. K. 1. bangkitan lalu lintas dan sampah. Pengoperasian pipa rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh. Kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang) > 10. Potensi konflik sosial. penambangan pasir. Pembangunan kilang: LPG LNG > 50 MMSCFD > 550 MMSCFD * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5. sumur tanah dalam dan mata air) * * > 50 l/dt (dari 1 * sumur.Atau diameter pipa * * > 50 km > 20 inci * * b. Membutuhkan area yang cukup luas. padat dan cair yang cukup besar. berpotensi menghasilkan limbah gas H2S Potensi konflik sosial. serta kebutuhan air yang relatif besar. bentang alam dan potensi konflik sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan fungsi lahan/kawasan. pembebasan lahan. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. atau dari 5 * sumur dalam area <10 ha) Pembebasan lahan cukup luas (dapat lintas kabupaten/ kota). Pembangunan kilang minyak > 10. Membutuhkan area yang cukup luas. Potensi konflik sosial. kebutuhan air yang besar. GEOLOGI TATA LINGKUNGAN Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal.3. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif. Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) a.

Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional (konvensi Basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat seksama dan terkontrol. Apabila air pendingin berkurang volumenya akan menyebabkan akumulasi panas di tempat penyimpanan sumber. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. * Dampak radiasi pada tahap decomisioning (pasca operasi). Skala/Besaran Semua kegiatan yang bersifat jasa pelayanan. Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial. Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1 Jenis Kegiatan Pengumpulan. Proses produksi menggunakan thorium (Th) yang memiliki radiotoksisitas yang sangat tinggi. Jenis Kegiatan Introduksi jenis-jenis tanaman. Akumulasi panas memungkinkan terjadinya kebocoran radiasi ke lingkungan. pemanfaatan. Reaktor Penelitian b. c. Pengolahan dan pemurnian uranium Pengolahan limbah radioaktif Pembangunan Iradiator (Kategori II s/d IV) e. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem genetika berpotensi menimbulkan dampak terhadap Salinan sesuai dengan aslinya Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1. ttd.000 Ci) b. M. 2. penyimpanan dan pembuangan bahan baku dan sisa-sisa bahan radioaktif. fabrikasi bahan bakar nuklir selalu memiliki kapasitas minimal 50-100 elemen bakar/ tahun. Membutuhkan air pendingin yang telah didemineralisasi dalam kolam beton. Bidang Pengembangan Nuklir Secara umum. komersial. kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan resiko radiasi. Pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor a.L. * Transportasi. Semua tahapan dalam proses berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan dalam bentuk radiasi. * Beresiko tinggi. hewan. Dr. menetap dan mengelola berbagai jenis dan sifat limbah B3 (tidak termasuk kegiatan skala kecil seperti pengumpulan minyak pelumas bekas. Produksi kaos lampu Semua instalasi Semua instalasi Secara teknoekonomik. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No 1 Jenis Kegiatan Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir: a. terutama kegiatan yang dipastikan akan mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam tabel. Reaktor Daya (PLTN) Daya > 100 KWt Semua instalasi Potensi dampak pengoperasian reaktor penelitian dengan daya <100 KWt terbatas pada lokasi reaktor. Produksi Radioisotop f. * Keamanan konstruksi. Sonny Keraf 154 . 2. dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Semua besaran Lihat penjelasan diatas Menteri Negara Lingkungan Hidup. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. pengolahan dan/atau penimbunan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai kegiatan utama N.000 TBq (100. minyak kotor dan “slop oil”. pemanfaatan timah dan “ flux solder”). d. A. Fabrikasi bahan bakar nuklir Produksi > 50 elemen bakar/ tahun Produksi > 100 ton yellow cake/tahun Semua instalasi Aktivitas sumber > 37.

155 .Daftar Singkatan: m m2 m3 km km2 ha l dt Kw Kwh KV Mw Mwh Kcal TBq Ci BOPD MMSCFD kubik per hari LWS DWT KK TK KP ROM LPG LNG ROW BOD COD DO TSS TDS = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = meter meter persegi meter kubik kilometer kilometer persegi hektar liter detik kilowatt kilowatt hour kilovolt megawatt megawatt hour kilocalorie Terra Becquerel Curie barrel oil per day = minyak barrel per hari million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki low water sea = di bawah permukaan laut dead weight tonnage = bobot mati kepala keluarga tenaga kerja kuasa pertambangan raw of material = bahan mentah Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan Right of way = daerah milik jalan (damija) biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi dissolved oxygen = oksigen terlarut total suspended solid = total padatan tersuspensi total dissolved solid = total padatan terlarut .

Pertama Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). ttd. 156 . Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional. 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 3. ttd Najib Dahlan. S. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Undang-ungang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU. Mengingat : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 21 Pebruari 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup.H. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Dr. A. Kedua Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. 4.

pembangunan kota makin menunjukkan sifatnya sebagai komoditi yang selalu mengejar nilai tambah. 3) Memberikan panduan dan pemahaman kepada penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kegiatan pengembangan permukiman terpadu.LATAR BELAKANG Pengembangan wilayah berdasarkan konsep permukiman terpadu. Oleh karena itu. Pengembangan permukiman terpadu di Indonesia dikhawatirkan mengeksploitasi lahan-lahan agraris. penyusunan AMDAL bagi berbagai kegiatan (proyek) pengembangan pemukiman terpadu.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 4 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000 PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU BAB I. Dalam banyak hal keadaan ini menghabiskan sawah dan tambak (pantai) yang sudah didukung oleh prasarana dasar. telah menghadapi dilema. Bangunan lama terlalu mudah dianggap tidak efisien dan oleh karena itu perlu diremajakan yang sekaligus akan menghilangkan nilai sejarah dan kekhasan kota yang bersangkutan. Oleh karena proses tersebut dapat dicapai dengan mengorbankan fungsi ekosistem seperti hilangnya kesuburan tanah.Ini menimbulkan ancaman yang makin berat terhadap keberlanjutan ekosistem (sosial dan alam) kota yang sudah makin rapuh. PENJELASAN UMUM 1. kota makin terlibat di dalam ekonomi global. pada tahun 2010 diperkirakan paling sedikit setengah dari kependudukan Indonesia akan berdiam di kota dan kecenderungan ini tidak akan berbalik kembali. yang didasari dengan pendekatan terhadap pembinaan terhadap struktur dan fungsi ekosistem. pemasok air baku untuk kebutuhan penyediaan air minum. Berdasarkan Pusat Data Properti Indonesia Tahun 1995 diketahui. maka penyusunan studi tersebut di dalam merancang permukiman terpadu menjadi sangat strategis. Ketiga Perkembangan ekonomi kota terus tinggi. Ciri Keempat. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan terpadu ini diharapkan dapat : 1) Mengendalikan cara pembukaan lahan di kawasan pengembangan permukiman terpadu sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya. Persoalannya kemudian rasional ekonomi yang menganggap bahwa di satu sisi lahan ini akan sangat berguna dan tinggi nilainya bila dikembangkan sebagai perumahan kelas menengah ke atas. maka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan oleh pengembangan permukiman terpadu diperkirakan akan berbeda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya. perkembangan kota di Indonesia menunjukkan lima ciri pokok yang menonjol. Dengan dasar ciri dinamika sistem lingkungan yang bersifat “site specific”. yaitu pembangunan kawasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya terus meningkat. apabila dampak yang ditimbulkan tersebut tidak diantisipasi dan dikelola secara optimal dikhawatirkan hal ini akan menjadi unsur pembangunan sosial ekonomi yang mengabaikan kemampuan sistem alam (ekosistem). prakiraan dan evaluasi dampak. bahwa lahan yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut makin luas. 157 . Sedang disamping kebutuhan prasarana dan sarana penunjang. Sejak memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua. dan flora fauna yang berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem.2 MAKSUD DAN TUJUAN Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan. Pertama. kota di Indonesia memainkan peran yang makin penting. 1. pengendali banjir. mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan teknologi yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik. Di samping itu. secara mikro ada peningkatan kualitas lingkungan akibat tertata dengan baik. pencemaran dan penurunan potensi lahan. Hal yang kemudian perlu diingat adalah bahwa mutu yang baik dari studi AMDAL sangat bergantung pada kemampuan tim studi melakukan impact assesment. 2) Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan permukiman terpadu sebagai penyangga kehidupan yang bermakna penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan permukiman terpadu khususnya. peran kota lama makin nampak terancam oleh pertimbangan kepentingan ekonomi yang sempit. Proses yang terdiri dari proses identifikasi. Pertimbangan pembangunan kota sudah terlalu didominasi oleh pertimbangan manfaat ekonomi saja dengan mendudukkan pertimbangan-pertimbangan lain hanya menjadi pelengkap. jauh diatas rata-rata nasional maupun propinsi. perubahan iklim mikro. Aglomerasi daerah urban menjadi ciri yang makin menonjol. Pembangunan kota cenderung berskala mega atau super dengan intensitas yang tinggi. Oleh karena. ini berarti bahwa perkembangan kota akan banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. Atas dasar analisis yang baik tentang keterkaitan antara jenis dan tahapan kegiatan pembangunan permukiman terpadu dengan karakteristik dari ekosistem yang diperkirakan akan menerima dampak ini kemudian segenap dampak diantisipasi dan dikelola secara optimal. serta masyarakat di sekitar kawasan permukiman terpadu. Mengingat salah satu cara sistematis untuk memasukkan pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangungan sosial ekonomi adalah melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). pembangunan yang terkonsentrasi ini akan menimbulkan masalah lingkungan yang juga intensif.1. dan lahan yang memiliki fungsi lindung. sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan secara makro. Kedua.

baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan dan sarana lingkungan yang terstruktur. Sebagai suatu panduan. Dengan sendirinya kawasan ini merupakan kawasan yang utuh baik langsung menempel pada kota yang ada maupun masih ada jarak yang berupa ruang terbuka atau tidak. Proses tentang penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) disajikan dalam Bab V. sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL pembangunan permukiman terpadu seperti pada Gambar 1. identifikasi dampak potensial.1. Selain itu. Dalam pembahasan konsep undang-undang ini disebutkan bahwa konsep kawasan siap bangunan atau kasiba (Pasal 18 ayat 1) terdiri dari beberapa lingkungan perumahan (Pasal 18 ayat 2 b). dan kegiatan permukiman terpadu kaitannya dengan pembangunan regional (Bab III). Lahan Kering. penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL.1. namun permukiman terpadu utamanya adalah sebuah permukiman yang menurut UU No 4/ 1992 tersebut (Pasal 1) adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. Kemudian diikuti oleh panduan proses penyusunan Kerangka Acuan ANDAL kawasan permukiman terpadu (Bab IV) yang menjelaskan mengenai proses pelingkupan. maka segenap metode yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. panduan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Hidup (RPL) disajikan pada Bab VI. sampai pada pemusatan dampak penting dan issue pokok lingkungan. Kegiatan Permukiman Terpadu PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PENYUSUNAN ANDAL PENYUSUNAN RKL DAN RPL KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1.1 Pendekatan sistem dalam penyusunan AMDAL pengembangan pemukiman terpadu BAB II. KONSEP PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU 2. PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi. Informasi ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat teridentifikasi sedini mungkin. Walaupun hingga kini belum ada ketentuan jelas. maka dari beberapa diskusi luas Lisiba perumahan sebesar 200 hektar sedangkan kasiba mencapai sampai 1000 hektar. khususnya Pasal 21 telah menetapkan penyelenggaraan lingkungan siap bangun (Lisiba). Kegiatan Pra-Konstruksi . Kepadatan penduduk dan permukiman terpadu belum ditetapkan secara pasti. Jadi permukiman terpadu perlu 158 . memprakirakan dan mengevaluasi dampak lingkungan akibat kegiatan pengembangan. diperlukan pengetahuan tentang struktur dan ekosistem lahan basah dan lahan kering di kawasan pembangunan permukiman terpadu yang terkena dampak. Pegunungan) STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN KEGIATAN . tetapi akan berkisar dari 150 orang per hektar bagi permukiman yang berada di dalam kawasan yang mempunyai ciri lingkungan yang kuat (semi urban) sampai yang mencapai kepadatan hingga 350 orang per hektar bagi yang sepenuhnya merupakan permukiman urban. Oleh karena itu. Selanjutnya.1 PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Angka luas ini kelak dapat disesuaikan mengikuti peraturan yang berlaku. STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN LINGKUNGAN Struktur Ekosistem/Komponen Lingkungan : · Fisik – Kimia · Biologi (Flora dan Fauna) · Sosek/Sosbud/Kesmas Fungsi ekosistem (Lahan Basah. permukiman terpadu secara cermat. juga menjelaskan komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan. Mengingat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang tersebut hingga kini belum terbit.3. Kegiatan Konstruksi . Secara skematis. panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan konsep pembangunan permukiman terpadu (Bab II).

Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pembangunan ini. Bumi Serpong Damai (BSD) selama lebih lima belas tahun eksistensinya. Kaidah dan pola dari warisan budaya dan pola hidup ini harus menjadi dasar awal untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan baru yang diciptakan oleh pembangunan yang maju dan berhasil yang merupakan proses berlanjut. mutu kehidupan yang lebih baik dan sebagainya. budaya dan berbagai pemborosan. perlu dicari jalan untuk membuatnya tetap serasi dan seimbang dalam arti yang seluas-luasnya.000 trip truk besar dengan nilai total sekitar Rp. dari Klender ke pusat kota pada hari dan jam kerja biasanya membutuhkan waktu paling sedikit dua jam untuk pergi atau pulang. Kalau 2400 truk tersebut digandeng maka panjangnya 159 . dapat dibayangkan dampak lalu lintas yang ditimbulkannya. sejauh ini yang diperhatikan adalah dampak pasca konstruksi dalam bentuk kemacetan lalu lintas. Pemilihan bahan bangunan. Di samping itu. Di samping dampak yang bersifat langsung seperti diuraikan di atas. Limbah ini harus terkelola dengan baik dan jelas dengan prinsip produksi bersih.perencanaan pembangunan dan tata ruang yang lengkap dan sah serta dilengkapi dengan perumahan serta dukungan prasarana dan sarana yang menjamin penyelenggaraan perumahan serta kebutuhan hidup dan lapangan kerja yang berskala bulanan. Kawasan Driyorejo di Barat Daya Surabaya mengalami tahap persiapan lebih dari dua puluh tahun. di samping sebagai kawasan perumahan dapat pula berfungsi sebagai wilayah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi regional. bahan bakar fosil dan sebagainya. Masalahnya pengembangan permukiman terpadu sering sulit ditentukan skala waktu rampungnya proses pembangunan. baru sekitar 200 hektar dikatakan telah “selesai” dibangun. (4) Menjaga kelanjutan sistem sosial-budaya lokal Gaya hidup yang berlaku sudah secara mantap diterjemahkan ke dalam berbagai tatanan dan bentuk bangunan serta peralatan yang dipakai sehari-hari. Dalam keadaan sepi (seperti antara Natal dan Tahun Baru) waktu tempuh nyata paling lama hanya empat puluh menit atau sepertiga waktu “normal”. banyak dampak yang berskala regional yang tidak langsung nampak. Depok dan sebagainya. (3) Pengendalian limbah dan pencemaran Limbah yang harus dikendalikan mulai dari yang dihasilkan oleh jamban dan kamar mandi. rumah sampai akibat dari pemakaian berbagai peralatan listrik. terhadap permukiman terpadu seperti Kebayoran Baru. seperti perubahan nilai. yaitu: (1) Mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada Termasuk di dalamnya adalah berlanjutnya ekosistem yang ada. Sekarang para pengembang menawarkan permukiman terpadu yang berwawasan lingkungan. Di samping itu. pada tahap konstruksi timbul dampak yang dualistis. Permukiman terpadu tumbuh. Kini bagian ikutannya yang mulai dibangun oleh Perum Perumnas bagi RS dan RSS sebanyak 3000-4000 unit rumah tinggal yang akan selesai tahun 1996. maka secara “normal” akan dibutuhkan sebanyak 215. (2) Penggunaan energi yang minimal Baik rencana makro maupun mikro perumahan dan permukiman harus memanfaatkan sistem iklim yang ada (secara pasif) dan perancangan bangunan yang memanfaatkan prinsip yang sama ditambah dengan sistem radian yang dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan dengan sistem pasif. Klender. dan sebagainya. perlu ditambah unsur ekosistem baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang memperkaya peran ekosistem secara keseluruhan. 2. Sedangkan terhadap dampak yang dualistis seperti naiknya harga lahan. cara membangun dan rancangan bentuk dapat berpengaruh terhadap kebutuhan energi baik jangka pendek maupun panjang. Darmo Satelit. Perubahan yang dilakukan terhadap unsur ekosistem karena adanya pembangunan gedung atau prasarananya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari unsur ekosistem yang tidak terusik. Hal ini memang menjadi kesulitan tersendiri sebab dampak yang hendak dikelola sangat tergantung dari waktu dan tempat. Bila pengurugan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Ada 5 (lima) prinsip utama dari konsep perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan yang harus dikembangkan sesuai kondisi awal yang ada.2 RENCANA KEGIATAN PERMUKIMAN TERPADU KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN REGIONAL Sesuai dengan uraian di atas. Kawasan Darmo Satelit di Surabaya ternyata berlangsung lebih cepat sebab kawasan ini boleh dikatakan adalah permukiman terpadu pertama di Surabaya. Namun hingga kini konsep perumahan atau permukiman yang bersahabat dengan lingkungan belum pernah dirumuskan secara jelas. Di Jakarta keadaannya paling parah. Kawasan yang luasnya sekitar 2000 hektar selesai dibangun dalam waktu sekitar 20 tahun yang dikerjakan oleh lebih sepuluh pembangun perumahan (developer) dibandingkan dengan di Jakarta yang hanya dikerjakan oleh sebuah perusahaan saja. Bila ada sebuah kawasan seluas seratus hektar. dan hal yang mendukung untuk memantapkan dan mengembangkan bagi dampak yang positif. dapur. sebab ada cukup banyak dampak yang bersifat menguntungkan seperti terciptanya lapangan kerja baru. kayu. utamanya yang berkaitan dengan pengadaan bahan urugan dan bahan bangunan konvensional seperti pasir. 65 milyar. Fungsi terakhir ini tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pertumbuhan permukiman terpadu di Indonesia. (5) Peningkatan pemahaman konsep lingkungan Permukiman terbentuk melalui proses yang berlangsung terus. tiap hari akan terjadi perjalanan truk sebanyak 2400 atau tiap hari kerja (delapan jam) akan lewat 300 truk. Walaupun bila dibandingkan dengan Kebayoran Baru atau Klender dan Depok. batu bata. Berbagai dampak ini harus diketahui setepat dan sedini mungkin untuk dirancang cara-cara penanganan dan penanggulangan terhadap dampak yang merugikan. Dalam perkembangan proses ini selalu akan terjadi pergantian pemukim baik secara alami melalui proses lahir dan mati. Tidak semua dampak bersifat merugikan. positif dan negatif. Dapat dibayangkan pemborosan energi dan waktu yang ditimbulkan hanya oleh satu dampak ini di samping pencemaran terhadap udara dan rusaknya ekosistem di kawasan antara permukiman terpadu dan kota lama yang nilainya sulit diukur. maupun karena mobilitas penduduk antara yang datang dan pergi.

2. listrik.2. Pembangunan ini akan mendukung pengembangan regional Jawa Timur di mana kota-kota di sekitar akan ikut memanfaatkan keberadaan kota Taman Dayu. Dari uraian di atas terlihat. dan di sisi lain permukiman terpadu pun dapat tetap berkembang dalam mendukung pengembangan regional yang telah direncanakan sesuai dengan RUTRD. Permukiman terpadu beserta kota-kota pertumbuhan di sekitarnya dapat bersama-sama dalam membangun perkembangan regionalnya. agar fungsi lindung tetap terjaga. Menurut Soemarwoto (1985). hutan wisata. rencana kebijaksanaan dasar daerah adalah mengembangkan daerah wisata di daerah pegunungan. restoran kolam renang. fungsi-fungsi lindung ini harus dijaga dan jangan sampai menjadi fungsi yang lain. Daerah untuk wisata yang intensif harus dibedakan dari daerah wisata terbatas. 160 . fungsi lindung dapat merupakan cagar alam hutan lindung suaka marga satwa. karena itu harus jelas. 2. lapangan golf. Misalnya hutan lindung dan cagar alam berfungsi untuk melindungi hidrologi. dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dibangun dalam permukiman terpadu. misalnya: pengembangan wisata di kawasan lindung harus diatur agar tidak berlawanan dengan tujuan perlindungan. dan kepolisian. dan terciptalah hubungan perekonomian dengan permukiman terpadu. kegiatan sosial yang ditawarkan dengan adanya fasilitas-fasilitas sosial di permukiman terpadu. misalnya lembaga pemerintahan. diharapkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengatur berputarnya roda pemerintahan suatu permukiman terpadu.2. kawasan perumahan yang dikembangkan di Surabaya mencapai sekitar 2000 hektar dan tanah urug umumnya diambil dari Porong. lembaga pendidikan. Hal ini sangat penting karena pola kebijaksanaan dasar daerah merupakan arahan yang harus dianut. fasilitas pendidikan dan fasilitas wisata. permukiman terpadu dapat menunjang tumbuhnya perekonomian baru yang dampaknya dapat dirasakan secara regional. seperti jaringan transportasi. Dalam daerah wisata yang intensif dapat dibangun fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel. namun merupakan daerah yang dilindungi.sekitar 20 kilometer. Permukiman terpadu yang dibangun harus dapat tetap melestarikan fungsi lindung dari desa-desa atau kawasan lindung di sekitarnya. swasta. air bersih.1 Kaitan permukiman terpadu terhadap pengembangan regional Salah satu dasar yang harus dijadikan pertimbangan dalam pengembangan permukiman terpadu adalah bahwa kegiatan permukiman terpadu harus dapat mendukung kebijaksanaan dasar daerah mengenai pelestarian fungsi lindung dan keseimbangan budidaya daerah setempat. hendaknya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang telah ada yang pada saat itu harus diemban oleh kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. Berkembangnya berbagai institusi ini. Hutan wisata berfungsi sebagai tempat wisata. akan memudahkan dan mempercepat hubungan antara permukiman terpadu dengan kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. sehingga penduduk dari daerah sekitar dapat memperoleh lapangan kerja baru. bahwa setiap pembangunan perumahan dengan pembukaan lahan seluas 200 hektar perlu melakukan kajian dampak regional yang dilakukan secara teliti. lembaga swasta. Perkembangan regional.2. antara lain adalah jaringan transportasi. dan lain-lain. saluran air buangan dan pengeringan (drainase) serta tempattempat pembuangan sampah. lembaga perbankan.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman terpadu yang dibangun dan merupakan pusat pertumbuhan baru. dapat terpacu karena dibangunnya jaringan infrastruktur pendukung. yaitu Perkampungan Serbaguna Tarnan Dayu. batas-batas ini dapat menghindari sengketa dan dapat menjadi pegangan bagi pengelola kawasan lindung. Kegiatan-kegiatan perekonomian dapat sebagian beralih ke permukiman terpadu. Jaringan infra struktur ini. baik permukiman. Namun fungsi daerah Taman Dayu untuk melindungi hidrologi harus tetap terjaga. fungsi lindung dan keseimbangan budidaya suatu daerah akan tetap terjaga. jaringan listrik. Daerah sekitar diharapkan juga dapat memasok berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan permukiman terpadu. Dalam hal perekonomian. Dengan hadirnya kawasan permukiman terpadu ini diharapkan daerah disekitarnya juga dapat berkembang dan memperoleh dampak positifnya. Kelembagaan yang berkembang dengan adanya permukiman terpadu. sekitar 60 kilometer selatan Surabaya. fasilitas pertokoan dan rekreasi. kelembagaan perbankan. telepon. perindustrian dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas permukiman terpadu. 2. Kelembagaan yang harus ada menyertai dibangunnya permukiman terpadu adalah kelembagaan pemerintahan. penduduk dari daerah sekitar dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh permukiman terpadu. Misalnya didaerah Pasuruan Jawa Timur. Kegiatan yang mendukung kehidupan manusia dalam suatu permukiman terpadu dapat diletakkan pada daerah budidaya yang telah dituangkan dalam pola kebijaksanaan dasar daerah. Maka terjadilah hubungan sosial antar permukiman terpadu dengan daerah sekitarnya. dengan dibangunnya permukiman terpadu. Batasan kawasan lindung akan merupakan hal yang sangat penting. demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman yang dibangun harus dapat berperan sebagai pendukung perkembangan kota-kota lain di sekitarnya. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem. hendaknya dapat menimbulkan dampak positif terhadap daerah di sekitarnya. Padahal saat ini. misal desa-desa di sekitar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja. Kelembagaan yang dibentuk ini akan saling berhubungan dengan kelembagaan-kelembagaan lain yang telah ada dalam kota-kota pertumbuhan lain di sekitar permukiman terpadu untuk melayani seluruh penduduk serta untuk mengelola permukiman terpadu. karena dapat pula dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di sekitar permukiman terpadu. baik di peta maupun di lapangan. Penduduk di permukiman terpadu dan kota-kota pertumbuhan lain dapat memanfaatkan kegiatan perekonomian. Dengan demikian pelestarian. hutan buru dan taman laut. Selain itu. telepon dan air bersih.

(5) Kegiatan olah raga dan rekreasi. ukuran dan skala permukiman terpadu tidak selalu sama. 2. balai pengobatan. sedangkan skalanya dapat berupa kota kecil. plaza. sesuai dengan definisi kota yang biasa dipakai oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam menilai kebersihan kota dalam memperoleh Adipura. sedangkan kegiatan perdagangan lain dapat dimiliki 161 . Di samping itu. misalnya: pasar.6 KRITERIA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Mengacu pada ukuran dan skala permukiman terpadu. balai-balai pertemuan. 2. Suatu permukiman terpadu akan selalu dilengkapi dengan permukiman sebagai tempat hunian. pelabuhan. 2. telepon. lapangan sepak bola dan seterusnya. pertokoan. misalnya: jalan tol. misalnya: kebun binatang. Penciptaan lapangan kerja di sektor non pertanian dalam permukiman terpadu harus mendapatkan perhatian yang serius. atau terletak dalam satu tipe ekosistem. terminal kota. renang dan sebagainya yang membutuhkan adanya lapangan golf. dan tempat pembuangan sampah. seperti kegiatan perdagangan.4 URAIAN TENTANG KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN Kegiatan sentral dalam pengembangan permukiman terpadu adalah kegiatan dalam kawasan permukiman karena dapat terkait dengan kegiatan dalam kota.3 KEGIATAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Kegiatan-kegiatan yang biasa terdapat dalam permukiman terpadu dan keterkaitan antar kegiatan dalam permukiman terpadu antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. maka dalam pengembangan kawasan permukiman terpadu hendaknya mencakup dan mengikuti 3 (tiga) kriteria yaitu: kriteria ekosistem. Misalnya penghuni permukiman akan selalu terkait dengan jalur transportasi. jalan-jalan lingkungan. pendidikan. sarana sosial. industri dan fasilitas kesehatan. (3) Kegiatan perekonomian dan perdagangan. dapat terletak lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. pariwisata.6. (9) Kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan rumah sakit. 2. (4) Kegiatan transportasi. Tetapi belum tentu suatu permukiman terpadu akan mempunyai kegiatan pariwisata atau industri atau kegiatan pelabuhan. seperti: jaringan listrik. hotel. Kriteria-kriteria dimaksud adalah : 2. kegiatan perdagangan dapat dimiliki oleh pihak lain (swasta) seperti pertokoan. pergudangan. masing-masing usaha dan/ atau kegiatan dapat dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. daerah konservasi dan wisata buatan. kriteria pemrakarsa.2 Kriteria pemrakarsa Dalam kegiatan yang bersifat regional. (10) Kegiatan untuk pengamanan kota dan angkatan bersenjata. jaringan pematusan kota. kota sedang meliputi > 1000 ha sampai 5000 ha dan kota besar meliputi luas > 5000 ha. yang merupakan suatu kesatuan kegiatan dalam permukiman terpadu yang harus disusun AMDALnya. Hal ini hanya mungkin terjadi bila para pemrakarsa permukiman terpadu mempunyai komitmen sosial. Ukuran luas permukiman terpadu dapat berkisar 1 antara 200 sampai lebih dari 5000 ha. misalnya ekosistem pegunungan. atau ekosistem pegunungan dengan ekosistem pantai. (6) Kegiatan pariwisata.1 Kriteria ekosistem Dalam PP No. jalan kota. Untuk itu keberadaan permukiman terpadu hendaknya juga dapat memberikan jasa dan lapangan kerja bagi penduduk yang berubah mata pencahariannya. 51 Tahun 1993 telah disebutkan bahwa kegiatan yang bersifat regional.Kemungkinan penduduk di desa-desa sekitar permukiman terpadu akan berubah pola mata pencahariannya dari sektor agraris ke sektor perkotaan. jembatan. Kota kecil dapat meliputi luas 200 sampai 1000 ha. (8) Kegiatan industri kecil maupun besar dengan bangunan industri disertai dengan fasilitas pengolah limbah. dan kriteria sektor yang berwenang. wisata air atau wisata alam yang lain. tempat bermain. Dengan demikian maka dalam AMDAL untuk permukiman terpadu akan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saling terkait dengan ukuran dan skala tertentu. olah raga dan rekreasi. apotek. kota sedang maupun kota besar. atau mungkin terminal udara dan pelabuhan laut. lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya. laboratorium klinis dan lain-lain. misalnya dalam permukiman terpadu. 2. tenis.5 UKURAN DAN SKALA PERMUKIMAN TERPADU Seperti disebutkan dalam pendahuluan. pihak yang berwenang dapat mengatur dan mensyaratkan agar permukiman terpadu yang dibangun akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat desa di sekitarnya. (2) Kegiatan sosial masyarakat dalam fasilitas-fasilitas sosial yang dibangun taman-taman. agar dapat memberikan bantuan mata pencaharian baru bagi penduduk di sekitar permukiman terpadu. air bersih. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas banyak yang termasuk dalam daftar wajib AMDAL sebagaimana disebutkan dalam lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. Misalnya. misalnya kantor polisi atau kemungkinan juga terdapat latihan atau pendidikan untuk angkatan bersenjata tertentu. yang menghubungkan permukiman ke tempat-tempat kegiatan lain. misalnya: pendidikan formal dan informal yang memerlukan gedung-gedung sekolah. Permukiman terpadu yang mempunyai kegiatan yang bersifat regional juga dapat terletak dalam suatu gabungan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. (7) Kegiatan pendidikan. misalnya: golf.6. sepak bola.

PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL 3. 3. ii. peta sistem lahan. vi. seperti pelabuhan dimiliki oleh Perum Pelabuhan. dan lain-lain). pintu pintu air dan kesehatan lingkungan permukiman. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. pengerasan. Pengamatan Lapangan. 2) Kegiatan konstruksi. BAB III. b) Kegiatan pembebasan lahan. Bank Indonesia. dimiliki oleh pemerintah.oleh pemerintah. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. iv.1. usaha dan/atau kegiatan yang ada dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. 2. peta vegetasi. Pemadatan. yang meliputi: a) Kegiatan survei. BNI. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). Jadi ada batasan bahwa dalam permukiman terpadu. lokakarya. Pembangunan pergudangan.6. iii. Jadi permukiman terpadu akan selalu ditangani dan dikelola oleh lebih dari satu instansi. menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. Pembangunan terminal dan transportasi angkutan. Pembuatan taman kota dan tempat bermain. iii. seperti: peta rencana umum tata ruang daerah. i. Pembangunan pasar. Pembuatan tempat pembuangan sampah. Pembangunan perumahan. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. misalnya: Departemen Pekerjaan Umum akan mengatur dan bertanggung jawab untuk jembatan. v. (2) evaluasi dampak potensial. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/1992 tentang Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL untuk informasi yang lebih rinci. brainstorming. dapat dimiliki oleh pihak pemerintah maupun swasta. dan telepon. Pembangunan gedung olah raga. dan pembangunan jalan lingkungan. ii. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu.1 Identifikasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. pemrakarsa kegiatan. Penggalian saluran air. Pengalihan aliran air. Hasil langkah 1 1. instansi yang bertanggung jawab. 162 . BRI.3 Sektor yang berwenang Masing-masing usaha dan/atau kegiatan dalam suatu wilayah yang mempunyai dampak regional seperti permukiman terpadu. listrik. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. sekunder. Interaksi kelompok (rapat. peta tata guna tanah. iv. dan lain sebagainya. iv. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. dan (3) pemusatan dampak penting. Analisis isi (content analysis). serta masyarakat (tokoh-tokoh) yang berkepentingan. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. Diperoleh daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1) Kegiatan pra-konstruksi. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial bagi aktivitas proyek pengembangan permukiman terpadu Langkah 1 Buat daftar rencana usaha dan/atau kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu berikut dengan rencana pembangunannya menurut persebaran ruang dan waktu. jalan tol. Pembangunan lapangan golf. Departemen Perindustrian akan bertanggung jawab untuk industri-industri kecil maupun besar yang ada dalam kawasan tersebut. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah-langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Adapun metoda identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Daftar uji sederhana. Matriks interaksi sederhana.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. iii. ii. Pada tahap ini hanya akan diinventarisir dampak yang potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan. Seperti yang telah disebutkan dalam kajian teori (Bab II) yang berwenang mengatur kegiatan dalam suatu permukiman terpadu akan terdiri lebih dari satu instansi. Demikian juga dengan kawasan wisata yang ada dalam permukiman terpadu. atau penting tidaknya dampak. Penelaahan pustaka. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama.

Kualitas air permukaan (sumur. yakni: a) Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut hasil langkah 2 b) Di tingkat regional yang merupakan dampak regional dari pengembangan permukiman terpadu Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen Lingkungan atau struktur ekosistem yang potensial terkena dampak proyek. yakni: 1. Kualitas udara.Tegalan/pertanian lahan kering. yang meliputi kegiatan: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. Hasil langkah 2 Diperoleh daftar tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. .Tambak udang/bandeng. iv.Hutan rawa air tawar. . Topografi ii. Diperoleh informasi tentang rencana pembangunan kota menurut persebaran ruang dan waktu. Suhu udara.Tambak garam. 2) Ekosistem Lahan kering. . h) Industri kecil dan menengah. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi: 163 d) . Daftar spesifik untuk setiap ekosistem yang terkena dampak. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: .Kegiatan pembangunan industri kecil/menengah: i. b) Hidrologi: i.Danau/situ. Industri makanan. Industri kulit (sepatu dan tas). iii.Kolam budidaya ikan air tawar. . Unit pengolahan limbah. Tinggi. . Pola aliran dan debit sungai. . i) Penunjang kesehatan masyarakat.Hutan rawa bergambut. Tinggi muka air tanah.Perkebunan karet/kelapa sawit.Hutan tropika basah (berstatus konversi). iii. f) Pariwisata. j) Ketertiban dan keamanan. Sifat fisik tanah. 2. . d) Transportasi. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . Sifat kimia tanah. . sungai). k) Seni budaya.Hutan rawa payau. . . ii. b) Aktivitas sosial masyarakat di fasilitas-fasilitas sosial/umum yang ada. Industri mebel kayu dan rotan.Sawah. .Hutan bakau. e) Olah raga dan rekreasi. c) Perekonomian dan perdagangan. Kelembaban nisbi udara. iii. iii. 3) Kegiatan Permukiman Terpadu. iv. ii. lama dan frekuensi genangan/banjir.Tanaman pekarangan Langkah 3 Identifikasikan komponen lingkungan atau struktur ekosistem yang berpotensi terkena dampak akibat proyek pada dua tingkat. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Iklim: i. ii.Kebun/talun. g) Pendidikan. . c) Tanah: i. pada ruang dan waktu tertentu yang diantaranya adalah: 1) Lahan basah. Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1.

3) Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya: a) Demografi/kependudukan. Produktivitas budidaya perairan. getah. komunitas. 2. Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi untuk setiap tipe ekosistem yang potensial terkena dampak. k) Pusat pertumbuhan baru dan ekonomi regional. ii. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. e) Peluang bekerja dan berusaha. rotan. b) Komunitas Satwa Liar: i. iii. f) Rekreasi dan pariwisata. dan lansekap lahan basah. iii. j) Pola konsumsi. Pertumbuhan. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). lama dan frekuensi genangan/banjir. 2) Fungsi pengendalian air terutama pengendalian banjir. seperti: proses ekologi. iii. iv. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Komunitas biota akuatik. 4) Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. h) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi. 12) Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa Liar. ii. daging satwa liar. i. Bila ekosistem lahan basah yang terkena dampak. g) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. migrasi. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Kualitas udara. 164 . Pola aliran dan debit sungai. i) Akulturasi dan asimilasi. geomorfologi dan geologi. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. b) Komunitas Satwa Liar. Struktur dan komposisi vegetasi. iii.i. Kualitas air permukaan (sumur. tanah adat). 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. identifikasikan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak penting akibat adanya proyek. sungai). dan gambut. ii. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. dan pemecah angin (windbreak). 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. b) Fasilitas sosial dan fasilitas umum. yang diantaranya meliputi : 1. 16) Fungsi sosial ekonomi. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. pengendalian erosi. Daftar potensial dampak regional. l) Persepsi masyarakat terhadap proyek. seperti: kayu. d) Sumber mata pencaharian. obat. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. 13) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Sektor informal/multiplier effect. Produktivitas lahan pertanian. iv. Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. urbanisasi. Jenis dan populasi satwa Liar. 15) Fungsi sosial budaya. ikan. Komunitas biota. seperti energi kayu dan listrik-hidro. Mobilisasi. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. c) Sarana dan prasarana perhubungan darat. keagamaan dan spiritual serta peninggalan sejarah. ekosistem. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti: pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan pasokan bagi ikan serta burung-burung migran. b) Hidrologi: i Tinggi muka air tanah. misalnya: berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. Tinggi. berupa estetika lansekap. yang berupa perlindungan garis pantai. ii. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. 10) Fungsi pemasok energi.

b. Bila ekosistem lahan kering yang terkena dampak. palawija.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang terkena dampak penting.2. hortikultura. 3) Fungsi produksi energi (kayu). Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL kawasan pengembangan permukiman terpadu. Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. seperti proses ekologi. 10) Fungsi penelitian dan pendidikan. 2) Fungsi pemasok produk alam. Komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. geomorfologi dan geologi. b) Daftar dampak penting untuk tingkat/skala regional. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 7) Fungsi sosial budaya. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. daftar dampak penting dikelompokkan menurut masing-masing tipe ekosistem. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6. 9) Fungsi sosial budaya. 5) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. b) Buat matrik dampak ekosistem pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat fungsi ekosistem (hasil langkah 4). hara terlarut yang terbawa ke hilir. seperti estetika lansekap. komunitas. keagamaan dan spiritual. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. 8) Fungsi sosial ekonomi. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok produksi pangan. misalnya berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 165 .1. Langkah 5 a) Buat matrik dampak komponen yang pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan atau struktur ekosistem (hasil langkah 3). sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. 3. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Komponen lingkungan yang terkena dampak penting dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok. yakni (lihat pengelompokkan pada hasil langkah 3): a) Daftar dampak penting spesifik untuk masing-masing tipe ekosistem. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. dan peninggalan sejarah. seperti pangan beras. ekosistem. b) Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak. 11) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Adapun untuk fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. yakni yang meliputi: a. keagamaan dan spiritual. dan lansekap. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil Langkah 7. c) Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2 Hasil langkah 5 a) Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan atau struktur ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. berupa estetika lansekap. serta buah-buahan. serta peninggalan sejarah.

b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/ atau lembaga-lembaga masyarakat (social institutions) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. sosial maupun ekologi. konstruksi dan permukiman di kawasan pengembangan permukiman terpadu. terhadap ekosistem disekitarnya. dapat digunakan untuk memandu hal ini. Hasil langkah 10 Diperoleh urutan isu-isu pokok Lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. dan/atau . b) Di dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.1.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. melalui media air. Hasil Langkah 1 a) Diperoleh batas kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu di atas peta yang digunakan.1. b) Keterkaitan antar dampak penting yang telah di identifikasi pada butir 3. konstruksi dan operasi.Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting proyek. dapat memandu mengarahkan hal ini d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat yang berpotensi berubah secara mendasar akibat rusaknya sumber daya atom dan/atau pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek pengembangan permukiman terpadu. Hasil Langkah 2 a) Diperoleh batas ekologis di atas peta yang digunakan pada langkah 1. dan lampiran II Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara : a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek .1. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta kerja yang tersedia. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra-konstruksi. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. dimana prosesproses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. sosial dan ekologi. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya.1.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting. 3.2.2.1. Catatan Langkah 1: Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan proyek akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. Catatan Langkah 2 : Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam.Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak penting di suatu lokasi. Catatan langkah 9 : Dampak penting hasil langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui : . dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi terjadinya perubahan fungsi ekosistem sebagai akibat adanya proyek c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. Hasil langkah 1 dari butir 3. 166 .3 Pemusatan dampak penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak penting hasil langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan Hasil langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan penting yang akan dialami ekosistem sebagai akibat adanya proyek. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan hasil langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.3. Hasil langkah 2 sampai 4 dari proses identifikasi dampak potensial.

karena itu tidak dijelaskan tentang outline tersebut. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial.2. PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 4. batas sosial (hasil langkah 3). dan tenaga yang tersedia. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data.Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1 dan 2. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. misalnya: akibat aktivitas rekruitmen tenaga kerja. waktu. Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. Catatan Langkah 3 : Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. 167 . di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. lembaga non pemerintah dan/atau lembaga lokal masyarakat setempat. Hasil Langkah 5 Diperoleh wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. 4. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. batas kawasan perkebunan. BAB IV.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu. dan batas administratif (hasil langkah 4). HasiL langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah1.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. batas sosial. studi ANDAL serta RKL dan RPL. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis namun berpotensi terkena dampak penting akibat proyek. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas kegiatan proyek batas ekologi. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.2 METODE STUDI 4. 4. dan kendala teknis yang dihadapi.2. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. studi ANDAL serta RKL dan RPL Kegiatan Pengembangan Permukiman Terpadu yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (hasil langkah 1). Catatan langkah 4 : Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. batas kuasa pertambangan.2 Wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. batas ekologi (hasil langkah 2). Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. batas administratif.

3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem permukiman terpadu sebelum proyek dibangun. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. d) Khusus untuk aspek sosial.2.4. serta sifat dan karakter komponen Lingkungan yang diukur. kampung. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas. Saat pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. 168 . dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). bulanan atau musiman. maka akurasi dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. c) Mengingat ekosistem di sekitar pengembangan permukiman terpadu yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana kegiatan (emic). c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b).2. 4. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3.4 Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. b) Dampak penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem permukiman terpadu serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. dan di lain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: Metode penarikan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga.

• Sungai • Saluran Primer. Koppen dan Oldeman • Analisis Hidrograf • Pengukuran Lapang • Penilaian Ahli Keterangan Hidrologi • Tinggi muka air tanah • Pola aliran dan debit sungai • Tinggi. litologi • Sifat fisik tanah • Sifat kimia tanah • Observasi Lapang • Pengeboran dan pengambilan contoh • Lahan gambut • Lahan rawa • Penilaian Ahli • Analisa laboratorium 169 .Tabel 4-1. Sekunder & Tersier • • • • Visual Organoleptik Gravimetrik Elektrometrik Sifat kimia air permukaan • • • • Titrasi Titrasi Titrasi Titrasi • Sungai • Saluran Primer. sungai) • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna Rasa dan bau Kekeruhan Padatan tersuspensi pH DHL DO BOD COD Kesadahan total Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Karbonat (CO3) Nitrit (NO2) Nitrat (NO3) Sulfat (SO4) Sifat fisik air permukaan • Pengukuran in situ • Sungai • Pengambilan sampel air • Saluran Primer. lama. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik kimia Komponen Lingkungan Iklim Parameter • Suhu udara • Kelembaban nisbi udara • Kualitas udara Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi • Pengumpulan data sekunder • Pengukuran di lapangan (untuk kualitas udara) • Pengamatan Lapang • Pengukuran Lapang • Pengamatan Lapang • Pelabuhan Udara terdekat • Stasiun Meteorologi terdekat. Sekunder & Tersier • • • • • Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Tanah • Fisiografi. dan frekuensi genangan/ banjir • Kualitas air permukaan (sumur. Sekunder & Tersier Metode Analisis Data • Tabulasi data • Klasifikasi Schmith & Ferguson.

masyarakat dan ketua suku atau adat. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik biologi Komponen Lingkungan Komunitas vegetasi Parameter • Komunitas biota • Struktur dan komposisi vegetasi Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek Keanekaragaman • Indek Keseragaman Je nis. Sosial budaya • Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. lapangan • Wilayah • Wawancara administrasi dengan tokoh proyek. tanah adat) • Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal • Akulturasi dan asimiliasi • Pola konsumsi • Persepsi masyarakat terhadap proyek • Pengumpulan • Desa-desa/ data pemukiman sekunder. • Fasilitas sosial dan penduduk ter• Observasi fasilitas umum dekat. • Pemetaan Plasma Nutfah.Tabel 4-2. penduduk ter• Observasi dekat. • Sumber mata pencaharian • Peluang bekerja dan berusaha • Rekreasi dan pariwisata Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. lapang • Sarana dan • Wilayah • Wawancara prasarana administrasi perhubungan darat proyek. Keterangan • Transek • Hutan bakau • Pengumpulan • Hutan rawa data sekunder • Hutan payau • Analisis vegetasi • Observasi lapangan Komunitas satwa liar • Komunitas biota almafile • Jenis dan populasi satwa liar • Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi • Transek • Pengumpulan data sekunder • Analisis satwa liar • Observasi lapangan • Hutan bakau • Hutan rawa • Hutan payau • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek keanekaragaman • Indek keseragaman jenis • Tabulasi jenis satwa liar yang dilindungi Tabel 4-3. • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli 170 . Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik sosial Komponen Lingkungan Sosial ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli Keterangan • Pengumpulan • Desa-desa/ • Demografi dan data kependudukan pemukiman sekunder.

listrik dan telepon. Perlu diketahui aspek kegiatan ini tidak berjalan secara sekuensial serentak untuk seluruh kawasan permukiman terpadu. Industri kulit (sepatu dan tas). (5) Aspek rencana lokasi. Pembuatan tempat pembuangan sampah. Pengalihan aliran air. c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi. alternatif ruas jalan. Oleh karena itu kegiatan persiapan. 171 . iv. iv. pengerasan. atau kota ramah lingkungan. Pembuatan taman-taman kota dan tempat bermain. 2) Kegiatan konstruksi. iii.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan di kawasan pembangunan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. ii.1. b) Kegiatan pembebasan lahan. 4. yang meliputi: a) Kegiatan survei. f) Pariwisata. (4) Aspek jangka waktu pengembangan. Pembangunan gedung olah raga. Tembagapura). Pembangunan pergudangan. kota wisata. iii. 3) Kegiatan hunian.2.3 URAIAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan permukiman terpadu hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah. Industri makanan. (6) Aspek tata ruang mikro permukiman terpadu. yang meliputi: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. e) merupakan kawasan siap bangun. Depok). maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci/detil. Industri mebel kayu dan rotan. misal kota dibangun berdasarkan konsep kota bisnis. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL serta Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL (Sektoral) dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. iv. d) Transportasi. e) Olahraga dan rekreasi. Pembangunan perumahan. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan: i. sehingga pembangunan permukiman terpadu dapat menelan waktu bertahun-tahun tergantung pada skala/luas kota dan permintaan masyarakat.4. b) lepas namun terkait dengan kota yang sudah ada (misal. iii. Penggalian saluran air.2. iv. ii. (2) Aspek konsepsi pengembangan permukiman terpadu. Pembangunan lapangan golf. (7) Aspek manajemen kota/kelembagaan. ii. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): (1) Aspek bentuk pengembangan permukiman terpadu: a) menempel pada kota yang sudah ada (misal. b) Alternatif lokasi. yakni lokasi administratif dan rencana luas/skala permukiman terpadu. Dari berbagai jenis kegiatan yang diutarakan pada angka (7) usahakan dapat dipaparkan : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. konstruksi dan hunian permukiman terpadu. v. Pondok Indah). b) fungsi dari setiap ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. dan pembangunan jalan lingkungan. h) Industri kecil atau menengah. j) Ketertiban dan keamanan. (3) Aspek rencana daya tampung atau jumlah penghuni permukiman terpadu. Kegiatan pembangunan dimaksud dideskripsikan dengan penekanan pada pokok uraian berikut ini : 1) Kegiatan persiapan atau pra-konstruksi. e) Tenaga kerja yang dicurahkan untuk kegiatan persiapan. b) Kegiatan masyarakat dalam fasilitas sosial & fasilitas umum yang dibangun. iii. Palangka Raya). k) Seni budaya. Pembangunan terminal dan transport angkutan. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan. Unit Pengolahan Limbah. d) kota yang berdiri sendiri (misal.1. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). Pembangunan pasar. (8) Aspek kegiatan persiapan. d) Kegiatan pembangunan industri kecil. misal: i. ii. Bontang. konstruksi dan hunian. g) Pendidikan. konstruksi dan hunian sering dijumpai berlangsung secara paralel. c) mendukung kegiatan pertambangan (misal. vi. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. Pemadatan. c) Perekonomian dan perdagangan. l) Penunjang kesehatan masyarakat. d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan hunian (misal sarana pengolahan air limbah).

i) Pola konsumsi. getah. yang berupa: a. b. Debit sungai dan pola aliran. rusa). yang meliputi: i. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir.1. 3. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. b. Pemecah angin (windbreak). c. Ke lokasi lain: . Suhu dan kelembaban nisbi udara. Sifat kimia tanah. iii. 12) Fungsi bank gen bagi: a. f) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. iii. e) Rekreasi dan pariwisata. Panjang penyinaran matahari. Kayu. 2. seperti: a. . b.1 Struktur ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan struktur ekosistem permukiman terpadu saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Topografi. j) Persepsi masyarakat terhadap proyek. Spesies langka dan dilindungi. yang berupa: a.Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge). Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya a) Demografi dan kependudukan. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. Populasi satwa liar. yang diantaranya meliputi : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Spesies-spesies tumbuhan komersil. c) Struktur dan komposisi vegetasi. terutama pengendalian banjir. seperti: a. c) Sumber mata pencaharian. Komponen fisik-kimia a) Iklim. 4. 10) Fungsi pemasok energi. Rotan. Air tanah. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. b. b) Hidrologi. ii. Fungsi ekosistem lahan basah. 2) Fungsi pengendalian air. Uraian disusun berdasarkan sistimatika sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): 1.2 Fungsi ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan fungsi-fungsi yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di wilayah tersebut. Sifat fisik tanah.4. ii. yang meliputi: i. iii. misal: energi dari kayu. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. Air permukaan. yang meliputi: i. 13) Fungsi konservasi bagi: a. d. Ikan dan daging satwa (misal. lama. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat. Ikan dan burung-burung migran. iv. b) Fasilitas sosial dan fasilitas perhubungan darat. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: a. 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). d) Peluang bekerja dan berusaha. Komponen biologi a) Komunitas Vegetasi. Kualitas air permukaan (sumur. h) Akulturasi dan asimilasi. sungai). tanah adat) g) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. dan obat. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi. e) Komunitas biota almafile. Tinggi dan elevasi muka air tanah. 172 . Curah hujan. Gambut.4. Kecepatan angin. dan frekuensi genangan/banjir. b) Komunitas Biota. ii. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir b. Fungsi dimaksud adalah sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): I. c. b.Pasokan air ke permukiman terpadu lainnya. listrik-hidro. g) Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. f) Jenis dan populasi satwa liar. Tinggi.4. iv.4. c) Tanah. d) Komunitas satwa liar. Fungsi dimaksud berlaku untuk setiap tipe ekosistem yang strukturnya mengalami perubahan sebagaimana dimaksud pada angka 4.

yang meliputi: a) sumber mata pencaharian masyarakat setempat. b.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. c. 4. yang antara lain meliputi: model matematik dan metode grup eksperimen.II. d. 15) Fungsi sosial budaya. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam. c. 3) Fungsi produksi energi (kayu). d) ekosistem.1. b) hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar (buruan) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan berburu oleh penduduk. 7) Fungsi sosial budaya. proyek pengembangan permukiman terpadu yang berlokasi di pantai akan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Tanah adat masyarakat setempat. d. Fungsi ekosistem lahan kering yang diantaranya meliputi: 1) Fungsi pemasok produk pangan. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan di kalangan komponen sosial sendiri. b. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat. c. yang antara lain berupa: a. Peninggalan sejarah. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik-kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. Sebagai misal.1. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. Misalnya proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. seperti: a) bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. 8) Fungsi sosial ekonomi. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting. b. c) buah-buahan. Estetika lansekap.2 (Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL). geomorfologi dan geologi. Kerusakan pada 173 . Komunitas. 5) Mengingat di kalangan komponen ekosistem terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. b) palawija dan hortikultura. yang diantaranya berupa: a. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak penting. Rosot karbon (carbon sink). e. b) metode non-formal yang antara lain meliputi: penilaian para ahli dan metode analogi. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Keagamaan dan spiritual. Lansekap atau jenis-jenis permukiman terpadu.Sebagai misal. b) keagamaan dan spirituil c) peninggalan sejarah. b) habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Ekosistem. yaitu: a) metode formal. seperti: a) estetika lansekap. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. 2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. b. Proses ekologi. seperti : a) makanan pokok (beras). c. c) pasokan hara untuk ikan dan burung-burung migran. b) tanah adat masyarakat setempat. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 5) Fungsi konservasi bagi spesies: a) Langka dan dilindungi.1. b. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 2) Fungsi pemasok produk alam. langkah 2. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. c) komunitas. 16) Fungsi sosial ekonomi yang diantaranya meliputi: a.

b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud.1. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. sebagai akibat alternatif usaha dan/atau kegiatan tertentu. Hasil langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal : a) fenomena perubahan struktur ekosistem akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. metode Daftar Uji Berkala dengan Pembobotan (misal. dan/atau metode bagan alir.. (hasil langkah 2). b) Tingkat dampak penting regional Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan tingkat regional yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam.2.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). Langkah 2 Telaahan secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem dan regional yang dimaksud pada langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem dan ekonomi regional dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. 174 . 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).5. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) dan b) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. proses pelingkupan. Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak udang. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Langkah 1: Prakiraan dampak penting dengan cara: prakiraan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3.1. b) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem regional. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL.2.e. baik tingkat ekosistem maupun regional. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. (yakni rona lingkungan hidup awal) akan berubah secara mendasar. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.4. khususnya Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL.1. yang tercantum pada angka 4. b) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekonomi regional akan berubah secara mendasar akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Telaah secara komprehensif seluruh dampak penting yang dialami oleh struktur sistem. Catatan langkah 1 : Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. Environmental Evaluation System). dan yang tercantum pada angka 4. 4. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.5. Dampak penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu usaha dan/atau kegiatan proyek. Hasil langkah 1 Diperoleh prakiraan perihal besar (magnitude) dampak pada dua tingkat analisis yakni : a) Tingkat ekosistem yang terkena dampak penting Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan dari ekosistem (dengan kata lain struktur ekosistem) yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam proses pelingkupan. khususnya langkah 1: Identifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan proyek.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab Evaluasi Dampak Penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif /holistik. (hasil langkah 2).1. yang tercantum pada angka 4. matrik Leopold).

prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. dalam pengertian generik. 5. serta (ii) struktur dan fungsi ekonomi regional. konstruksi. konstruksi dan penempatan permukiman. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap kehidupan ekosistem dan ekonomi regional di kawasan permukiman terpadu.1. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem dan ekonomi di kawasan permukiman terpadu dimaksud. dengan fokus pada : a) fenomena perubahan fungsi ekosistem dan ekonomi regional akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. 5. Sehubungan dengan hal tersebut. program dan/ atau upaya-upaya untuk mencegah.1. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh. lakukan telaahan sejauh mana dampak penting yang ditimbulkan terhadap (i) struktur dan fungsi ekosistem.1. program atau tindakan untuk mencegah.2 Kedalaman dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. Lebih lanjut pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatarbelakangi kedalaman dokumen RKL. Hasil langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup.1 Lingkup dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Dokumen RKL. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di kawasan pengembangan permukiman terpadu tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. mendaur ulang (recycle). pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat dampak yang timbul bersifat kompleks. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem dan kondisi fisik kawasan permukiman terpadu sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif di saat pra-konstruksi.Hasil langkah 2 Diperoleh sintesis komprehensif perihal fungsi ekosistem dan regional yang terkena dampak penting menurut alternatif tertentu dari proyek. Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari usaha dan/atau kegiatan proyek. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di rencana kawasan pengembangan permukiman terpadu. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. merupakan dokumen yang memuat upaya. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. b) Bila seluruh alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. sebagaimana dimaksud pada langkah 1 dan 2.3 Struktur inti dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: 175 . menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem dan kondisi fisik lokasi pengembangan. BAB V.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) 5. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. Langkah 4 Dari alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). maupun penempatan permukiman pada kawasan permukiman terpadu. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan atau merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tersebut di saat pra-konstruksi. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan.

c. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada bab prakiraan dampak dan bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. 176 . Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. kawasan. sistematik. d. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem di kawasan pengembangan permukiman terpadu. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder.5. Pada ekosistem permukiman terpadu pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak. tersier.1 Lingkup dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek. Upaya.2. program atau tindakan untuk mencegah.1. sifat kumulatif. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. ekonomi atau kelembagaan. e. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. 5.5. Prakiraan dampak penting.6. f. langkah 10. maka sedapat mungkin dituangkan disain teknologinya. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. atau bahkan regional. sampai ke tingkatan ekosistem. f) Institusi pengelolaan lingkungan.2. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. dari Bab IV di muka.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). c) Upaya pengelolaan lingkungan. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional. Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. b. Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting pengembangan permukiman terpadu berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). a. Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi.6.a) Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting.5. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem permukiman terpadu. dan angka 4. d) Waktu dan periode pengelolaan lingkungan. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu kegiatan pengembangan permukiman terpadu. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan. Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. yakni Bab Evaluasi dampak dari dokumen ANDAL. di muka. Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat merujuk pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. b) Tujuan pengelolaan lingkungan. berulang dan terencana. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan pengembangan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4.

5. A. c) Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Semisal. f. d. Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisa data. e. Menteri Negara Lingkungan Hidup. Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu (proyek. ttd Dr. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. bau.5. ttd Nadjib Dahlan. tersier. sebagai misal).6. upaya/program/tindakan pengelolaan lingkungan. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. dan 4. 5. Tolok ukur dampak yang dimaksud di sini dapat berupa baku mutu limbah cair. c.5. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu kawasan pengembangan permukiman terpadu. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. b) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3.2.3 Struktur inti dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau. warna. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau.1.2 Kedalaman dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada angka 2 Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. SH 177 .5. kandungan minyak terlarut. suhu. lokasi dan jangka waktu serta frekuensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan. b) Tolok ukur dampak. keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem permukiman terpadu. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau.6. Evaluasi dampak penting. c) Tujuan pemantauan lingkungan. Langkah 2). b. Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). atau ketetapan resmi suatu instansi. Prakiraan dampak penting dan angka 4. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD.2. yakni bab prakiraan dampak penting dan bab evaluasi dampak penting dari dokumen ANDAL. d) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. Langkah 10. f) Institusi pemantauan Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4.2. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. a. Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk ada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. baku mutu lingkungan.

Pemb. pembangunan jalan lingkungan iii. Penggalian saluran air iv.Pembuatan TPA i. Pemb. Tinggi muka air tanah ii. Pemb.Industri mebel iii. Kegiatan survei b. Komunitas satwa liar i. Pemadatan.Penghijauan/ reklamasi . Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi 2. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Kegiatan pendidikan dan kebudayaan 1. Iklim i.Pemb. Kegiatan pra-konstruksi a.pusat i. Kualitas air permukaan (sumur. lama dan frekuensi genangan/banjir iv. Penggalian jaringan air bersih. pengerasan. terminal limbah &transportasi darat Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. sungai) d). telpon vi. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii.perumahan ii.Penggalian aliran air v. Industri makanan ii. Struktur dan komposisi vegetasi b). Komunitas biota ii. Suhu udara ii.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Komponen Biologi a).Pembuatan taman taman kota & taman bermain iv. Jenis dan populasi satwa liar iii. Topografi ii. Sifat fisik tanah iii. Kualitas udara c). Kegiatan Konstruksi 3. Sifat kimia tanah 2. Tinggi. listrik .Unit pengolahan iv. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. Tanah i. Pemb. lapangan golf iii. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg. Pola aliran dan debit air sungai iii.gedung olah raga ii. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Komunitas biota almafile ii. Pemb. Hidrologi i.pasar iii. Kelembaban nisbi udara b). Komunitas vegetasi i. Industri kulit pertokoan. Komponen Fisik Kimia a). Matriks Interaksi Dampak Kegiatan Proyek dengan Komponen Lingkungan Kegiatan Proyek 2 b i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv a b c d e f g h i 3 j 1 a Komponen Lingkungan 178 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i.Lampiran 3-1.

Pemb.pasar kayu dan rotan iii.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Persepsi masyarakat terhadap proyek 179 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i.Pembangunan iv.Unit pengolahan pergudangan limbah iv. Industri makanan perbelanjaan iii.listrik . Pemadatan.Pemb. Pemb.Penghijauan/ reklamasi . pengerasan. terminal &transportasi darat Kegiatan pariwisata.perumahan ii.(Lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i Kagiatan Proyek 2 3 j Komponen Lingkungan 3.Lampiran3-1. Pemb. Penggalian jaringan air bersih. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.Pembuatan TPA i. Fasilitas umumdan fasilitas sosial c). Kegiatan Konstruksi 3. telpon vi. Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik dan tanah adat) h). Pemb. Pemb. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. pembangunan jalan lingkungan iii. Sumber mata pencaharian e). Kegiatan survei b.Penggalian aliran air v.Penggalian saluran air iv. lapangan golf iii. Demografi dan Kependudukan b). Kegiatan pra-konstruksi a. Industri kulit i. Pola konsumsi k). Rekreasi dan pariwisata g). Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a).Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Sarana dan prasarana perhubungan darat d). kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman 2. Peluang bekerja dan berusaha f). Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.Industri mebel ii.gedung olah raga ii.pusat (sepatu dan tas) pertokoan. Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal i). & ii. Akulturasi dan asimilasi j).

Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.pengendalianerosi. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanunsurhara 7.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Fungsipencegahintrusiairlautkeairtanahdan/atauair perm ukaan 4.seperti kayu. lokasilahanbasahlainnya. Fungsipenangkapandan/ataupengendapansedimden 6.Lampiran3-2MatrikInteeraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemKawasanPengembanganPemukimanT erpaduuntukTipeEkosistem:Lahanbasahdanlahankering 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h Kegiatan Proyek 2 3 Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 180 2.pusat i. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. Kegiatan survei b. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanbahan-bahanberacun 8. Kegiatan pra-konstruksi a. Fungsipengedalianair. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.obat.Penghijauan/ darat reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Industri kulit olah raga pertokoan. pasokanbahananorganikdanorganikdanharaterlarutbagi wilayahhilirdanbagiikansertaburung-burungmigran.gedung i. Pemb. & (sepatu dan tas) ii. Industri makanan golf ii.Pembuatan TPA . Pemb.rotan. Pemb.yangberupa perlindungangarispantai. Penggalian jaringan air bersih.Pembuatan iii. pembangunan jalan lingkungan iii.listrik . EkosistemLahanBasah 1. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekologiseperti.Pemb.ikandandagingsatwaliar. terminal limbah bermain &transportasi iv.getah.pasar iii. pengerasan. 2.yangberupaair bersihyangdapatlangsungdimanfaatkanolehmasyarakat dan/atausebagaipemasokkeaquifer(groundwaterrecharge). telpon vi.perumahan ii. Fungsipemasokair(kualitasdankuantitasair). A. Fungsiperlindunganterhadapkekuatanalam. Pemb.Unit pengolahan kota & taman iv.danpemecah angin(windbreak) 5. lapangan perbelanjaan ii.Industri mebel iii.Penggalian saluran air iv. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekonomi.dangambut 9. 3. Pemb. Pemadatan.Pembangunan kayu dan rotan taman-taman pergudangan iv. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg.Penggalian aliran air v.terutamapengendalianbanjir 3.

Fungsi transportasi/perhubungan 5. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Pemadatan.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Fungsi pemasok produk alam. yang meliputi ekosistempertanian sawah. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. lapangan golf iii. Kegiatan pra-konstruksi a. 3. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. terminal limbah &transportasi darat B.keagamaan dan spiritual.perumahan ii. Pemb.Pemb. pengerasan. ekosistem pertanian lahan kering.Pembuatan TPA .Industri mebel iii. Fungsi sosial ekonomi misalnya berupa sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan tanah adat masyarakat setempat 9. Pemb. serta ikan dan burung-burung migran. Industri kulit pertokoan. Fungsi rekreasi dan pariwisata 7. telpon vi. seperti makanan pokok (beras). habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Kegiatan survei b. Fungsi pemukiman masyarakat 3.Lampiran3-2(lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g Kegiatan Proyek 2 3 h Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 181 2.Penggalian saluran air iv. Pemb. Penggalian jaringan air bersih.Penggalian aliran air v.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Fungsi produksi energi (kayu) 4. Pemb. listrik . serta buah-buahan 2. komunitas. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. dan peninggalan sejarah 8.Unit pengolahan iv.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. i. dan lansekap 6. dan ekosistem hutan (yang berstatus konservasi) 1. ekosistem. palawija dan hortikultura. Industri makanan ii. Pemb.gedung olah raga ii. EkosistemLahan Kering. Fungsisosialbudaya sepertiestetikalansekap. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i.pusat i.pasar iii. Fngsi pemasok produk alam. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. pembangunan jalan lingkungan iii.Penghijauan/ reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.

Lampiran3-2(lanjutan)

1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i

Kegiatan Proyek 2 3

Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu

j

10. 11. 12.

13.

14. 15.

16.

17. 18.

Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrik-hidro Fungsi transportasi/perhubungan Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar Fungsi konservatif bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem dan lansekap lahan basah Fungsi rekreasi dan pariwisata Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat Fungsi penelitian dan pendidikan Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam

182
2. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb.pusat i. Industri kulit pertokoan, & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Industri makanan ii. Pemb.pasar iii.Industri mebel iii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Unit pengolahan iv.Pemb. terminal limbah &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pendidikan dan kebudayaan

3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebasan lahan

Kegiatanpembangunan perumahan

Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi

i. Pemb.perumahan ii. Pemadatan, pengerasan, pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.Penggalian aliran air v. Penggalian jaringan air bersih, listrik , telpon vi.Pembuatan TPA

i. Pemb.gedung olah raga ii. Pemb. lapangan golf iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Penghijauan/ reklamasi

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah; 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH. Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

Mengingat :

PERTAMA :

KEDUA :

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 November 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup, ttd. Dr. A. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH,

Nadjib Dahlan,S.H.

183

LAMPIRAN NOMOR TANGGAL

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 5 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000

PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH BAB I. PENJELASAN UMUM 1.1 LATAR BELAKANG Upaya melengkapi tuntutan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, telah diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Di dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan secara tegas bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Salah satu kategori wilayah yang pertu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah. Ketersediaan areal lahan basah yang masih cukup luas dengan potensi sumberdaya alami yang terkandung di dalamnya masih belum banyak termanfaatkan, telah mengundang peningkatan usaha pemanfaatan lahan basah untuk berbagai sektor kegiatan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kawasan ini semakin potensial untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan yang diperkirakan akan terus berkembang antara lain, pembukaan persawahan, perkebunan dan pertambakan yang dikaitkan dengan pembangunan permukiman transmigrasi. Bersamaan dengan itu pembangunan agroindustri dan berbagai industri jasa seperti pengangkutan dan pelabuhan tentu akan semakin terfokus pada kawasan lahan basah sebagai wilayah sasarannya. Berbagai perkembangan kegiatan perekonomian baik bertaraf lokal, regional, maupun nasional akan menyebabkan keberadaan potensi sumberdaya alami terutama di kawasan lahan basah semakin terancam kelestariannya. Sejumlah program yang sudah diimplementasikan kebanyakan kurang memenuhi kaidah keberlanjutan, sehingga terjadi pemubaziran sumberdaya lahan basah dan tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Mulai tampak berkurangnya luasan alami kawasan lahan basah, dan secara langsung maupun tak langsung menurunkan mutu dan fungsi ekologis dari sumberdaya alami setempat. Pemanfaatan yang sudah berlangsung ternyata, berpengaruh besar terhadap penyusutan mutu dan keberadaan sumberdaya keanekaragaman hayati, sumberdaya perairan rawa, sungai, estuaria dan bahkan potensi laut dalam (Syarkowi, 1995 dan Verheught, 1990). Kecenderungan pemanfaatan yang ada menunjukkan bahwa, banyak pihak yang berkepentingan terhadap daerah itu masih pertu dibekali pengetahuan tentang strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Cara-cara pengelolaan berbagai program pembangunan yang ada telah menjadikan kawasan ini kurang termanfaatkan secara optimal. Padahal jika potensi yang besar itu semakin surut dan banyak yang tersiasiakan, maka pembangunan di kawasan lahan basah akan sulit berkelanjutan. Diakui bahwa kompleksitas persoalan lingkungan dan pengendalian dampak negatif pembangunan kawasan lahan basah itu sangat rumit. Keberadaan lahan basah secara geografis menghubungkan ekosistem lahan kering terhadap ekosistem pesisir dan kelautan, yang tentunya memiliki keterkaitan fungsi dan kepekaan ekosistem yang beragam pula. Pengalaman pelaksanaan studi AMDAL beberapa proyek di berbagai area lahan basah selama ini menunjukkan bahwa kompleksitas dampak lingkungan yang bisa terjadi memang sangat tinggi (Euroconsult, 1991), akan tetapi sedapat mungkin harus diupayakan memprakirakannya. Dari studi khusus tentang “Pedoman Pelingkupan AMDAL Lahan Basah” yang dilakukan oleh AWB (1991) misalnya, kompleksitas dampak lingkungan itu secara sistematis mulai dipahami dinamikanya. Walaupun demikian kenyataan tentang munculnya berbagai masalah lingkungan hidup di kawasan lahan basah dan sekitarnya selama pertengahan dekade 90-an, harus pula diakui bahwa masih banyak rahasia yang perlu diungkapkan dan diketahui dibalik dinamika dampak pembangunan lahan basah itu. Guna mengendalikan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak bijaksana itu, maka studi AMDAL harus dioptimalkan dengan mengacu kepada piranti khusus “Metodologi AMDAL Lahan Basah”. Panduan ini khusus memberi petunjuk bagaimana melaksanakan AMDAL di daerah lahan basah. Dengan ini diharapkan informasi minimal tentang karakteristik lahan basah baik yang bersifat umum maupun khusus dari komponen lingkungan yang peka terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan diarahkan agar dapat dipenuhi. Demikian pula tentang karakteristik proyek pembangunan yang prospektif berkembang di kawasan itu sangat perlu dan akan dapat dipahami atas dasar sifat kepentingannya terhadap lahan basah. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyusunan AMDAL bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan (proyek) pembangunan di daerah lahan basah. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah ini diharapkan dapat: 1. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan. 184

2. 3.

Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan, lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Mendorong langkah-langkah antisipatif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan iptek dan perkembangan sosial ekonomi dan budaya di masa depan.

1.3 PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak penting lingkungan akibat pembangunan di daerah lahan basah, secara cermat diperlukan pengetahuan tentang sifat dan kekhasan daerah lahan

KOMPONEN LINGKUNGAN
• • • • • • Iklim Tanah Kedalaman dan Kematangan Gambut Hidrologi Vegetasi dan Satwa liar Sosial Ekonomi dan Budaya serta Demografi • • • •

KOMPONEN KEGIATAN
Eksploitasi SDA di lahan basah Konservasi Lahan (Perkebunan, Persawahan/Irigasi, Pertambakan) Konservasi Balik (Kawasan Lindung dan Konservasi) Reklamasi Lahan Basah

PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL • • • • Dampak Penting Hipotetik Penetapan Batas Wilayah Studi Penetapan Tenaga Ahli Penetapan Metode Pengumpulan dan Analisis Data yang Akan Digunakan • Penetapan Lokasi Pengambilan Sampel • Penetapan Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak yang digunakan dalam Penyusunan ANDAL.

PENYUSUNAN ANDAL • • • • Survey Lapang Analisis Data Prakiraan Dampak Penting Evaluasi Dampak Penting

PENYUSUNAN RKL DAN RPL • Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan • Penetapan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1-1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL Kawasan Lahan Basah

185

basah tersebut. Hal ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat dikenal pasti sedini mungkin. Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan kawasan lahan basah disajikan pada Bab II. Kemudian diikuti oleh panduan proses pelingkupan yang disajikan pada Bab III, yang menjelaskan penentuan isu pokok, komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan, penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Panduan penyusunan analisis dampak lingkungan (ANDAL) disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selanjutnya, panduan untuk penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis, sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses: penyusunan AMDAL seperti pada Gambar 1-1. Pembangunan di daerah lahan basah akan memiliki ragam dan besaran dampak tergantung pada sistem lingkungan yang akan terkena dampak. Dengan demikian, mengikuti tujuan studi AMDAL adalah memelihara kapasitas ekosistem alamiah dalam hal penentuan parameter lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan dan analisis data, prakiraan evaluasi dampak perlu disusun atas dasar pendekatan pemeliharaan, ekosistem yang berkesinambungan. BAB II. KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM LAHAN BASAH 2.1 TIPOLOGI EKOSISTEM Keberadaan lahan basah atau lahan berawa dapat diklasifikasikan menjadi 3 zona, yaitu : (1) Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin; (2) Ekosistem rawa pasang surut air tawar; dan (3) Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak. Zonasi ini diterapkan demikian berdasarkan kekuatan air sungai dan air pasang (Sandy dan Nad Darga,1979). Pada musim hujan zona I dan II memperoleh pengaruh pasang surut, sedangkan zona III tidak dipengaruhi. Pada musim kemarau, hanya zona I yang dipengaruhi oleh luapan dan intrusi air payau/asin. Berkenaan dengan itu, maka ada tiga hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah; yaitu: (1) Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang; sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu; (2) Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (“slurry”) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan berat maupun energi lainnya, sehingga membahayakan; dan (3) Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya. Bentuk pemanfaatan yang utama dan merupakan fungsi perlindungan pada lahan basah terhadap sistem penyangga kehidupan, antara lain (1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air) (2) Fungsi pengendalian air, terutama pengendalian banjir (3) Fungsi pencegah intrusi air laut (4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam) (5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen (6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara (7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun (8) Fungsi pemasok kekayaan alam (di dalam areal lahan basah) (9) Fungsi pemasok kekayaan alam (ke luar areal lahan basah) (10) Fungsi produksi energi (kayu, listrik-hidro) (11) Fungsi transportasi/perhubungan (12) Fungsi bank gen (13) Fungsi konservasi (14) Fungsi rekreasi dan pariwisata (15) Fungsi sosial budaya (16) Fungsi sosial ekonomi (17) Fungsi penelitian dan pendidikan (18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Selanjutnya manfaat sampingan dapat dipanen dan dinikmati masyarakat sampai batas-batas tertentu tanpa merusak proses ekologis yang diperankan oleh ekosistem itu. Bentuk pemanfaatan golongan ini antara lain: (1) sumber air bagi penduduk (setempat); (2) sumber produk alami (nipah dan ikan); (3) sumber energi (kayu dan gambut); dan (4) sumber kesegaran dan keindahan (wisata). Bertolak dari pemahaman akan arti penting fungsi-fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis yang diperankan oleh ekosistem lahan basah itu, maka upaya untuk melestarikan keberadaan mutu dan fungsi ekosistem lahan basah patut direalisasikan. Ini antara lain dilakukan melalui pendekatan peraturan perundangan yang melindungi komponen-komponen kawasan yang berfungsi penting dan strategis. Pelestarian sumberdaya kawasan lahan basah dimungkinkan oleh adanya ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ketentuan perundangan itu meliputi perlindungan jenis flora dan fauna serta benda cagar budaya, yang tidak jarang banyak ditemukan pada daerah lahan basah. Sampai sejauh ini, kawasan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya antara lain: 186

Xylocarpus muluccensis dan Sonneratia ovata. Sempadan Sungai. yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. Formasi ini begitu dinamis dengan adanya peran dari tumbuhan pemul. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pertimbangan teknis. Jenis tumbuhan Nipa membutuhkan air 187 . maka akan ditemui jenis Bakau (Rizophora spp. dengan memperhatikan faktor . 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 27 Keppres No. adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Bersamaan dengan itu terdapat pula assosiasi dengan Nipa.). Pada ekosistem ini formasi Rhizophora sp. Kriteria sempadan sungai yaitu: (a) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman (Pasal 16 butir a Keppres No. termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer. Kawasan Sekitar Danau/Waduk. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 14 Keppres No. Kriteria kawasan ini adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (Pasal 8 UU No. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi. yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. Formasi hutan mangrove atau “bakau” ditandai dengan kehadiran jenis tanah aluvial. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung). Di sisi lain. formasi Acrostichum juga dominan dan berfungsi sebagai penutup tanah hutan mangrove hingga ketinggian 3-4 meter.) dan Nyireh (Xylocarpus sp. (c) kemampuan meningkatkan perekonomian masyarakat dan (d) kelestarian lingkungan hidup.1.). Jenis-jenis ini diketahui sangat baik beradaptasi pada tanah bersalinitas tinggi sebagai pengaruh dari pasang air laut. Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung usaha budidaya di belakangnya. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung jo PP No. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. dan jika kondisi lahan menjadi stabil. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. (b) kelestarian rawa. Formasi hutan “bakau” ini diketahui sangat penting peranannya sebagai habitat pijah-asuh berbagai jenis ikan dan udang. 2. umumnya berupa tumbuhan Api-api (Avicennia sp. atau biologis. sebagai hasil dari sedimentasi dan akumulasi lumpur yang dibawa oleh air sungai. struktur tanah yang mudah meresapkan air bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran (Pasal 12 Keppres No. 32 Tahun 1990). dan Sonneratia marina menduduki formasi terdepan sedangkan agak kebelakang dijumpai jenis tumu atau bakau tomak (Bruguirea hexangula).. 32 Tahun 1990 jo PP No. yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18 Keppres No.(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kawasan Gambut. 32 Tahun 1990). nipah..1 Ekosistem Hutan “Bakau” (Zonasi I) Ekosistem ini terdiri dari formasi bakau. serta formasi Acrostichum. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir maupun kebakaran.faktor sebagai berikut (Pasal 9 PP No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) Kawasan Resapan Air. adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestariaan fungsi danau/waduk. Kriteria kawasan gambut yang dilindungi itu adalah tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa (Pasal 10 Keppres No. Rawa yang merupakan lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik. 32 Tahun 1990). Sempadan Pantai. kimiawi. Avicennia sp. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan kawasan yang bersangkutan.) dan Pedada (Sonneratia sp. serta melindungi sistem ekonomi yang khas di kawasan yang bersangkutan. kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. 27 Tahun 1991 tentang Rawa) : (a) kemampuan meningkatkan rawa sebagai ekosistem sumber air. bertujuan untuk mempertahankan dan sebagai sumber air serta meningkatkan fungsi dan manfaatnya. 35 tahun 1991 tentang Sungai) (b) Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 sampai dengan 15 meter (Pasal 16 Butir b Keppres No. 35 Tahun 1991). yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai. sosial ekonomis dan lingkungan.

Tumbuhan pada formasi ini didominasi oleh Terentang (Camnosperma). Hutan pelawan beriang (Tristania abovata) dan Ploiarium alternifolium ditemukan pada lapisan gambut yang tebal. dan Cotilelobium.Ini terlihat dari seringnya Nipa diketemukan di sepanjang tepi sungai dengan aliran yang tenang. (4) pengaruh luapan/air laut.). Secara geofisik. sedangkan pada zona III termasuk grup aluvial dan kubah gambut. Dan berbagai laporan studi dapat dikemukakan bahwa jenis tanah dominan pada lahan basah adalah: (1) tanah aluvial. babi (Sus barbatus). (3) kedalaman lapisan pirit serta kemasan potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya. dan lain-lain..1. Komposisi floristik pada formasi ini mirip dengan komposisi di hutan rawa air tawar.). kancil (Tragulus javanicus). Tumbuhan lain yang juga sering ditemukan adalah Comnosperma dan Alstonia. kucing hutan (Felix sp. Formasi ini merupakan pembatas antara hutan mangrove dan hutan lainnya di belakang mangrove. Dipterocarpus. dan (3) tanah bergambut dan gambut. yaitu buaya senjolong (Tomastoma schlegelii). 2. Zona kedua terdiri atas tumbuhan Sindai (Knema spp. serta kualitasnya. Pada habitat ini biasa ditemukan fauna yang tergolong reptilia. Rincian karakteristik umum tipologi geo-fisik lahan basah disajikan pada Tabel 2-1. sedangkan mamalia yang umum ditemukan adalah babi hutan (Sus scoria). marin dan kubah gambut. ular cincin emas (Boiga sp. meranti (Shorea sp. Informasi tentang tipologi geo-fisik lahan basah itu dapat digunakan sebagai arahan pemanfaatan.. Putai (Alstonia). dan kelompok mamalia antara lain : gajah (Elephas maximus). kera (Macaca sp.3 Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II) Formasi hutan rawa air tawar terletak di bagian belakang hutan rawa payau. 2. Ketebalan gambut di daerah ini mencapai 2 sampai 3 meter dengan dominasi jenis palem yang merupakan indikator bahwa formasi di daerah ini merupakan formasi transisi antara tipe rawa dan gambut (hutan campuran rawa dan gambut atau mixed peat swamp forest). Pada zona II termasuk grup aluvial. sedangkan pada lapisan gambut yang tipis ditemukan tegakan nibung (Oncosperma filamentosa). 2.1. Nama atau jenis tanah tertentu sekurang-kurangnya memberi gambaran tentang sifat dan kelakuan tahan dalam merespon suatu teknologi yang diterapkan. dan jenis-jenis yang termasuk ke dalam famili Anacardiaceae. baik hutan rawa maupun hutan gambut. dan umumnya terdapat di belakang hutan mangrove atau di sepanjang tepi sungai. Blumeodendron sp. Kelebatan formasi ini berkisar antara 100-500 meter. Prunus sp. dan Rengas (Gluta rengas). 188 . Fauna yang ditemukan di habitat ini pada umumnya fauna yang hidup di daerah mangrove maupun di hutan rawa air tawar. (5) tinggi muka air tanah. Di bagian zona III terutama didominasi oleh tipe semak dan rumputan. dan beberapa jenis dari familia Poligalaceae serta Euphorbiacece. Pada umumnya sifat-sifat tanah pada lahan basah tersebut sangat berhubungan erat dengan fisiografi dimana tanah tersebut ditemukan.).2 TIPOLOGI GEOFISIK Kualitas dan karakteristik lahan basah pada masing-masing zona dapat ditetapkan apabila jenis tanahnya diketahui. Salah satu indikator formasi hutan ini adalah hadirnya tanaman pandan (Pandanus sp. Hutan ini merupakan formasi transisi dari hutan gambut ke hutan rawa ( mixed peat swamp forest). Di dekat sungaisungai besar. Formasi ini berperan sebagai pembatas terhadap ekosistem hutan bakau dengan kehadiran formasi Nibung.). tapir (Tapirus indicus). merawan bunga (Hopea mangerawan). beruang (Herartos malayensis). Marsawa.4 Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III) Di daerah delta yang biasanya banyak mendapat pengaruh air asin dan payau. buaya (Crocodylus porosus). simang (Diospyros sp.) dan rumput yang terapung (kumpai) di perairan.). dan kelompok burung yang banyak ditemukan merupakan kelompok cemar laut (wader) dan bangau. dan (6) keadaan substratum lahan. (2) tanah sulfat masam. Napu (Tragulus napu). (2) ketebalan dan kematangan gambut serta kandungan hara mineral. serta kuntul. Fisiografi utama pada zona I termasuk grup marin dan kubah gambut. Reptilia yang hidup di habitat ini adalah biawak ( Varanus salvator).selama hidupnya. Komposisi tumbuhannya terdiri dari tiga zona yang secara horizontal adalah berturut-turut : zona pertama didominasi oleh jenis durian payau (Durio carrinatus). 2. karakteristik lahan basah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) lama dan kedalaman genangan air banjir atau air pasang.2 Ekosistem Hutan Raya Payau (Zona I) Merupakan formasi hutan rawa campuran air asin dan air tawar. Hutan rawa gambut yang tidak dipengaruhi oleh air asin memiliki jenis tumbuhan yang lebih kaya. Jenis ini dapat hidup sebagai pioner di sedimen berlapis. pengembangan dan pengelolaannya.1.). Di dalam formasi ini terdapat lapisan bergambut dengan ketebalan sekitar 20 cm. Selain itu terdapat familia Dipterocarpaceae dari Genera Shorea.). beberapa jenis tumbuhan dominan adalah jenis terentang abang (Camnosperma macrophylla). pada tempat -tempat yang kurang tergenang ditumbuhi oleh jenis perepat (Combretocarpus motleyi) yang bercampur dengan Camnosperma macrophylla dan meranti paya (Shorea spp. badak (Dicerorhinus sumatrensis).

Dengan tipe luapan air yang dimaksudkan itu maka pemanfaatan lahan dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe [berdasarkan luapan pasang besar (maksimum) dan pasang kecil (minimum)]. III. dan IV. Faktor Kualitas Lahan Genangan Karakteristik Periode lamanya genangan Kedalaman genangan Kualitas air genangan Tipe luapan Tekstur tanah Kedalaman efektif tanah Ketebalan gambut Tingkat kematangan gambut Tinggi muka air tanah N-total P-tersedia K-dapat ditukar Kapasitas Tukar Kation Kejenuhan Basa PH Salinitas atau sodisitas Kejenuhan aluminium Kedalaman bahan sulfidik Keadaan substratum Satuan waktu cm kelas kelas kelas cm cm kelas cm persen ppm me/100 g tanah me/100 g tanah persen unit mmhos/cm persen cm jenis 2. 1. Kegaraman tanah Toksisitas Kelima faktor mutu lahan yang diindikasikan pada Tabel 2-1 tersebut penting diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian. air tanah < 50 cm.3. Jika dipertimbangkan tipologi lahan tipe luapan. (2) Tipe B = terluapi pasang besar. yaitu : (1) Tipe A = terluapi pasang besar dan kecil.4. Tipologi Lahan Lahan Potensial Tipe Luapan (Kategori) A (I) Pola Pemanfaatan Lahan Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/surjan Surjan pangan/holtikultura Lahan Kering Pangan/Hortikultura/Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Lahan Sulfat Masam A (I) Sawah B (II) C (III) D (IV) Lahan Gambut A (I) Sawah/Surjan “Kridit” Surjan “Kridit” Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/Surjan Surjan Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Tabel 2-2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut Sesuai dengan Tipologi Lahan dan Tipe Luapannya 189 . Karakteristik Umum Tipologi Geofisik Lahan Basah No 1. dan 5 merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi proyek pembangunan non pertanian.3 TIPOLOGI AGROEKOSISTEM 2. dan (4) Tipe D = tidak terluapi dan air tanah > 50 cm Pengelompokan tipe luapan ini sepadan dengan kategorisasi hidup topografi lahan basah berdasarkan pasang besar pada MH dan MK yaitu kategori I. Ketersediaan hara 4. seperti pada Tabel 2-2. kendala fisik lahan yang ada dan diperkirakan ada. maka dapat dikemukakan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut (Halim1994). 5. 2.Tabel 2-1. Media perakaran 3. II. Adapun faktor No.1 Agro ekosistem Rawa Pasang Surut Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa pasang surut dapat didasarkan pada tipe luapan air pasang surut. (3) Tipe C = tidak terluapi pasang.

gambut dan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B dimanfaatkan untuk sawah. dan lebak dalam sebenarnya mengindikasikan adanya cekungan bentang lahan yang digenangi air tawar.Lahan potensial. (3) Sumberdaya “alam-maliri” (flow resources). Tabel 2-3 Pola Fisiografis Pemanfaatan Lahan Basah Zonasi Pasang Surut Air Tipologi Lahan Lahan Potensial. Lebak dangkal berubah jadi kering. Tipologi lahan aluvial dimanfaatkan untuk sawah lebak atau sawah tadah hujan. Rawa lebak pada tipologi lahan tersebut umumnya termasuk rawa lebak tengahan dan/atau dalam. lahan dengan tipe luapan B juga dapat disawahkan sebanyak dua kali dalam setahun. (2) Sumberdaya “alam-hayati” (biological resources). sebaiknya dimanfaatkan langsung sebagai lahan perkebunan kelapa. 2. (4) Sumberdaya “alam-segari” (amenity resources). Sedangkan pada lahan sulfat masam. Sawah dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun pada lahan dengan tipe luapan A. Walaupun demikian. 2. sesungguhnya sumberdaya alam kawasan lahan basah amat kaya. mengubah keadaan bentang lahan lebak di bagian hilir. Rawa lebak bertipologi demikian umumnya termasuk rawa lebak dangkal. Demikian pula lebak dalam yang biasanya berperan sebagai gudang kehidupan berbagai jenis ikan akan berkurang kemampuan ekologisnya. Oleh karena terdapat berbagai ragam potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. Lahan dengan tipe luapan C juga dapat disawahkan dalam musim hujan bila diterapkan sistem surjan. baik yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. Pemanfaatan lahan dengan tipe luapan D adalah berupa usaha tani lahan kering untuk tanaman pangan/hortikultura atau perkebunan kelapa. potongan kayu dan tempurung kelapa (yang baik untuk arang) serta sabut kelapa biasanya belum sepenuhnya dimanfaatkan penduduk sebagai bahan sumber tambahan pendapatan.4.1 Sosekbud Dari sisi sosial ekonomi. Payau/Asin Lahan Gambut. Pada lahan gambut sebaiknya diusahakan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan tanaman pangan dan hortikultura untuk beberapa musim. Sedangkan pada tipologi lahan gambut-dangkal. Sumberdaya alam di kawasan lahan basah dapat dikategorikan menjadi empat kategori.2 Agroekosistem Rawa Lebak Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa lebak disesuaikan dengan tipologi lahannya seperti disajikan pada Tabel 2-3. maka interaksi sosial dan proses sosial bisa beragam coraknya. Indikasi yang demikian amat perlu diperhatikan setiap kali suatu pembangunan direncanakan.4 TIPOLOGI SOSEKBUD DAN KESEHATAN MASYARAKAT 2. Misalnya. karena keterisolasian lokasi dan keterbatasan sarana pengangkutan berbagai jenis sumberdaya alam dan sumberdaya turunannya masih sering tersia-siakan begitu saja. Keempat kategori sumberdaya alam tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat daerah setempat maupun masyarakat pengusaha. interaksi sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam seyogyanya diperhatikan keterkaitannya dengan pencemaran 190 . yaitu: (1) Sumberdaya “alam-terludesi” (exhaustible resources). Dengan sistem Surjan. yang tengahan menjadi dangkal. Payau/Asin Hutan Mangrove/Tambak Hutan Mangrove Sawah Sawah Lahan Kering Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa/Kelapa Sawit Pasang Surut Air Tawar Lahan Potensial Lahan Sulfat Masam Lahan Gambut Dangkal Lahan Gambut Sedang-Dalam Rawa Lebak Rawa Lebak Aluvial Rawa Lebak Gambut Dangkal Rawa Lebak Gambut Sedang Dalam Sawah/Sawah Tadah Hujan Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Pada kawasan lebak dangkal (pematang). Pada guludan dapat ditanam beberapa jenis tanaman pangan lainnya serta tanaman hortikultura. gambut sedang dan gambut dalam dapat dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dengan sistem “polder”. Dari sudut pandangan lingkungan hidup. lebak tengahan.3. Payau/Asin Pola Pemanfaatan Sawah Payau/Asin Lahan Sulfat Masam. Pembangunan suatu waduk untuk irigasi di bagian hulu misalnya.

sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan upaya gotong royong dalam memperluas lahan usaha. Akan tetapi setiap sentuhan proyek pembangunan yang mengganggu dan mengubah keseimbangan alami itu. Dengan demikian. Adapun metode identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Penelaahan pustaka: 191 . dan (2) Hak untuk berburu dalam batas wilayah atau wewenang hukum masyarakat merdeka. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek. Keadaan ini menempatkan aspek sosial budaya sebagai komponen lingkungan yang tetap harus diperhatikan. apabila terjadi pengambilalihan tanah Hak Ulayat maka perlu dipertimbangkan untuk seyogyanya tidak secara penuh meliputi setiap jenis sumberdaya terkait yang justru menjadi sumber nafkah penduduk. perlu memperhatikan tradisi pemilikan lahan yang luas itu sebagai aspek pertimbangan utama. Aspek sosial lain di kawasan lahan basah yang perlu diperhatikan adalah tentang hak atas tanah. maka sikap masyarakat bisa negatif terhadap aktivitas proyek pembangunan. hak untuk menanam ikan diperairan dalam kawasan proyek bekas tanah Hak Ulayat hendaknya tetap diberikan kepada penduduk setempat. atau penting tidaknya dampak. peran limpahan air yang secara musiman membatasi intensitas tanaman akan memudahkan pengendalian hama dan gulma. Dengan Hak Ulayat ini. Hak masyarakat atas tanah yang terwujud dalam Hak Ulayat di kawasan lahan basah berupa: (1) Hak untuk meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di wilayah/wewenang hukum masyarakat bersangkutan.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Dapat dilihat bahwa penguasaan lahan oleh suatu keluarga dapat mencapai 2 sampai 5 Ha. pemrakarsa kegiatan. dan data/informasi tentang hidrologi. baik langsung maupun tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kesehatan masyarakat. Diantara interaksi itu ada yang patut diteladani sebagai kearifan lokal. Dengan kata lain suatu proyek pembangunan harus mempertimbangkan pola kebudayaan lokal. Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar dampak. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL di daerah lahan basah dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. Kehati-hatian diutamakan di sini. peta tata guna tanah.dan pengrusakan lingkungan alam. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. agar sedapat mungkin kelangsungan proyek mendapat dukungan masyarakat atau paling tidak dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi. 2. dan dalam keadaan keseimbangan maka keberadaan air akan menopang kehidupan sehari-hari. Misalnya. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. tapi ada yang harus dikendalikan agar tidak meluas pengaruhnya. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. dalam konsepsi hak ulayat tersebut ternyata masih ada hak anggota masyarakat secara individu menguasai sebagian obyek penguasaan Hak Ulayat tersebut dengan sistem tertentu. Sehubungan dengan itu. instansi yang bertanggungjawab. Kawasan lahan basah di Indonesia ada yang berada dalam lingkup pengaruh atau telah merupakan perkampungan bahkan ada yang sudah merupakan bagian dari wilayah kota besar. masyarakat hukum adat yang bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh. dan (3) pemusatan dampak penting. sekunder. Serangan penyakit ini diprakirakan akan selalu berlangsung pada setiap awal kegiatan pembangunan di kawasan lahan basah. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Selain itu. pemahaman tentang persepsi masyarakat di kawasan lahan basah menjadi sangat penting. Semangat dan aktivitas gotong royong di kawasan lahan basah berbeda dengan kawasan-kawasan lain. Di lokasi pemukiman kawasan lahan basah menunjukkan urutan jenis penyakit terbesar adalah penyakit malaria. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 3. Spektrum kegiatan gotong royong dalam suatu kekerabatan atau kelompok sosial di kawasan lahan basah relatif luas dibandingkan dengan kawasan lainnya.2 Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Karakteristik utama lahan basah yang dicirikan dengan keberadaan air.4. BAB III. Oleh karena itu dapat dipahami jika terhadap sumberdaya alami yang dilingkupi oleh hak ulayat itu terdapat gengsi kesukuan yang tinggi. Jika tidak demikian. isu lingkungan di kawasan lahan basah juga perlu diperhatikan. peta sistem lahan. Di kawasan lahan basah masih terdapat penguasaan lahan secara komunal yang dikenal dengan Hak Ulayat. karena suatu keputusan yang tidak transparan oleh aparat tidak akan didukung oleh masyarakat setempat. seperti peta vegetasi. Namun. Selain itu. Dari segi sosial-budaya. (2) evaluasi dampak potensial. pada keadaan yang masih alami ciri itu sangat menonjol.1. 3. misalnya sistem lelang lebak-lebung di Sumatera Selatan. serta (tokoh-tokoh) masyarakat yang berkepentingan.1 Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer.

Matrik interaksi sederhana. danau) ii. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa i. Penebangan vegetasi ii. Introduksi spesies asing 3. Limbah cair iii. Radioaktif iv. 192 . yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Daftar uji sederhana. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Pengambilan/perburuan satwa ii.Analisis isi (content analysis). b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Pemungutan hasil iii. Panas vii. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/I992 tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagai sumber informasinya yang lebih rinci. Limbah padat ii. lokakarya. Pusat-pusat pertumbuhan baru Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi pro dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1. brainstorming dan lain-lain). Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah i. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei. Kanalisasi sungai iii. dan Pengamatan lapangan (observasi). Pembangunan saluran drainase ii. Langkah 1 Buat daftar rencana kegiatan proyek yang akan dibangun di daerah lahan basah. air permukaan (sungai. Limbah Industri vi. Limbah domestik v. Pengurangan/pembuangan lahan Seperti antara lain : pembangunan tambak ii. Kegiatan operasi. Interaksi kelompok (rapat. Pengalihan aliran iv. Kimia iii. Minyak ii. air tanah dalam d) Kegiatan penerimaan tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah i. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi i. Aksesibilitas wilayah ii. Hasil Langkah 1 Daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Kegiatan konstruksi. Penambahan/pengurukan lahan Seperti antara lain : pembangunan jalan iii. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi i. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial aktivitas proyek di daerah lahan basah.

Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen lingkungan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek. nekton iii. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2.Hasil Langkah 2 Daftar tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi proyek dan/ atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. Kecepatan angin b) Hidrologi. yang meliputi: i. pendidikan. 193 . Tinggi. dan frekuensi genangan/banjir iv. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. identifikasikan komponen ekosistem yang akan mengalami perubahan akibat adanya proyek. 2. litologi ii. lama. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. kesehatan. Sifat fisik tanah iii. identifikasikan fungsi atau manfaat yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan yang akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya proyek. Komponen Biologi a) Komunitas Vegetasi i. yang meliputi: i. Tinggi dan elevasi muka air (pasang surut) ii. hutan rawa payau. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. dan 4. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. Dalam Panduan ini tipe ekosistem dimaksud dibatasi pada: 1. Fisiografi. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. Panjang penyinaran matahari iv. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas Satwa Liar i. yang diantara adalah: 1. hutan rawa bergambut. Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 3. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Sifat kimia tanah 2. Debit dan pola aliran iii. hutan rawa air tawar. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Langkah 3 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. 3. yang meliputi: i. hutan bakau. Curah hujan ii. Pola sedimentasi dan drainase v. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi.

dan lansekap lahan basah.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. 10. 16. Fungsi sosial budaya. Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). getah. yang berupa perlindungan garis pantai. Buat matrik dampak fungsi ekosistem yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen fungsi ekosistem lahan basah (Hasil Langkah 4). Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. a) b) c) a) b) Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. seperti proses ekologi. serta peninggalan sejarah.Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi atau manfaat untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang diantaranya meliputi: 1. Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem sebagaimana Hasil Langkah 2. Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. 9. terutama pengendalian banjir 3. berupa estetika lansekap. seperti kayu. 194 . ikan dan daging satwa liar. dan pemecah angin (windbreak) 5. rotan. 17. seperti energi kayu.1. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7. dan listrik-hidro. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar. 4. misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 11. Fungsi sosial ekonomi. Fungsi pemasok energi. pengendalian erosi. dan gambut. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. komunitas. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran. Langkah 5 Buat matrik dampak komponen lingkungan yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan lahan basah (Hasil Langkah 3). Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. ekosistem. 14. 2. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BA PEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6 dari identifikasi dampak potensial. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. geomorfologi dan geologi. keagamaan dan spiritual. obat. 13. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8. Hasil langkah 5 Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. 3. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. Fungsi pengendalian air. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (ground water recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang potensial akan terkena dampak.

Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting tergolong terkena dampak besar dan penting. dan Lampiran II Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: KEP-229/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan KA-ANDAL. Catatan Langkah 9 Dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui: Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak besar dan penting di suatu lokasi. Hasil Langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan pokok yang akan dialami ekosistem lahan basah yang bersifat mendasar akibat adanya proyek.1. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. b. sosial maupun ekologi. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra konstruksi. Hasil Langkah I dari butir 3. b) Keterkaitan antar dampak besar dan penting yang telah di identifikasi pada butir 3. sosial dan ekologi. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas.2. konstruksi dan operasi di daerah lahan basah. 195 a) . Hasil Langkah 10 Isu-isu pokok lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. dan/atau Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak besar dan penting proyek. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil langkah 7.yakni yang meliputi: a. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta vegetasi/peta tata guna tanah/peta sistem lahan yang tersedia. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat (social institution) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak besar dan penting.2. 3. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak besar dan penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan. 3. Komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL.1.3 Pemusatan dampak besar dan penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak besar dan penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3.1 dapat digunakan untuk memandu hal ini. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan Hasil Langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi.1.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.1. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL. Lihat pula matrik pada lampiran 3-1 sebagai contoh. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. Hasil Langkah 1 Diperoleh batas kegiatan proyek di daerah lahan basah di atas peta yang digunakan.

dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi tempat terjadinya gangguan atau kerusakan terhadap fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. terhadap ekosistem lahan basah di sekitarnya. dapat memandu mengarahkan hal ini. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. konstruksi dan operasi. melalui penyerapan tenaga kerja. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak mendasar dari proyek misalnya. udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembagalembaga masyarakat yang berpotensi berubah mendasar sebagai akibat rusaknya sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek. Dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkena dampak penting kegiatan proyek. batas kuasa pertambangan. batas HPH. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. 196 .b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. a) b) Catatan Langkah 2 Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air. swasta dan/ atau lembaga lokal masyarakat setempat Hasil Langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dimana proses-proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. Catatan Langkah 3 Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Catatan Langkah 4 Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. Hasil Langkah 2 Diperoleh batas ekologis di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah I dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1 dan 2. melalui media air. Catatan Langkah 1 Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau kegiatan/proyek akan melakukan kegiatan pra konstruksi. Hasil Langkah 2 sampai 4 dari proses Identifikasi Dampak Potensial.

Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. Skema Proses Pelingkupan Dampak Penting dan Studi BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN 4.2 METODE STUDI 4.2 Wilayah studi ANDAL daerah lahan basah 197 . Pelingkupan Dampak Penting Identifikasi Dampak Potensial Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek Langkah 2: Identifikasi Tipe Eksosistem Langkah 3: Identifikasi Komponen Lingkungan Langkah 4: Identifikasi Fungsi Ekosistem Langkah 5: Matrik Identifikasi Dampak Langkah 6: Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan Wilayah Studi Langkah 1: Penetapan Batas Proyek Evaluasi Dampak Potensial Langkah 7: Evaluasi Sifat Penting Dampak Langkah 8: Dampak Penting yg Ditelaah ANDAL Langkah 2: Penetapan Batas Ekologi Langkah 3: Penetapan Batas Sosial Langkah 4: Penetapan Batas Administratif Pemusatan Dampak Penting Langkah 9: Pengelompokkan Isu-isu Lingkungan Langkah 10: Pengurutan Isu-isu Lingkungan Langkah 5: Penetapan Wilayah Studi ANDAL Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL Rencana Kegiatan Proyek yang perlu Isu Pokok/Dampak Penting Ditelaah Mendalam Lingkungan yang perlu Ditelaah Mendalam Gambar 3-1. dan tenaga yang tersedia. dan batas administratif (Hasil Langkah 4). dalam panduan ini tidak dijelaskan tentang outline tersebut. batas sosial. batas ekologi.Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (Hasil Langkah 1). batas administratif dan kendala teknis yang dihadapi. ANDAL. batas ekologi (Hasil Langkah 2). Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem lahan basah.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan kerangka Acuan ANDAL. waktu. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. RKL dan RPL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan AMDAL. batas sosial (Hasil Langkah 3). Hasil Langkah 5 Diperoleh batas wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. 4.2. 4. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas proyek. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.2. Karena itu.

c) Mengingat ekosistem lahan basah yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. b) Dampak besar dan penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem lahan basah serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. Tabel 4-1 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Fisik Kimia 198 . 4. bulanan atau musiman. Sebagai misal. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. dan dilain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. saat pengambilan sampel kualitas air harus dapat mewakili pola pasang surut yang ada.serta sifat dan karakter komponen lingkungan yang diukur. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: metode pengambilan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/ pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (emic). d) Khusus untuk aspek sosial. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. Waktu pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3.Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL daerah lahan basah dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.2. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas keakuratan dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem lahan basah sebelum proyek dibangun. kampung. dalam studi ANDAL di ekosistem lahan basah yang terpengaruh gerak pasang surut air laut.

Sekunder & Tersier · Analisis Hidrograf · Pengukuran Lapang · Penilaian Ahli Sifat fisik air permukaan · Sungai · Saluran Primer. litologi · Sifat fisik tanah · Sifat kimia tanah · Observasi Lapang · Pengeboran dan pengam bilan contoh tanah. Sifat kimia air permukaan · DO · BOD · COD · Kesadahan Total · Kalsium (Ca) · Magnesium (Mg) · Mangan (Mn) · Karbonat (CO3) · Nitrit (NO2) · Nitrat (NO3) · Sulfat (SO4) · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Sungai · Saluran Primer. Sekunder & Tersier · Visual · Organoleptik · Gravimetrik · Elektrometrik.Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Iklim · Curah hujan · Suhu dan · Pengumpulan · Pelabuhan · Tabulasi data data sekunder Udara terdekat · Klasifikasi Schmith kelembaban nisbi udara · Stasiun & Ferguson. · Lahan gambut · Lahan rawa · Penilaian Ahli · Analisa laboratorium 199 . dan freLapang kuensi genangan/banjir · Pola sedimentasi dan drainase · Warna · Rasa dan bau · Kekeruhan · Padatan tersuspensi · pH · DHL · Pengukuran insitu · Pengambilan sampel air · Sungai · Saluran Primer. · Pengamatan · Lama penyinaran Meteorologi Koppen dan Lapang terdekat. Sekunder & Tersier · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Spektrofotometrik Tanah · Fisiografi. Oldeman matahari · Kecepatan angin Hidrologi · Tinggi dan elevasi muka · Pengukuran air Lapang · Debit dan pola aliran · Pengamatan · Tinggi. lama.

nekton · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi · Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi · Pengumpulan data sekunder · Analisis satwa liar · Observasi lapangan · Hutan Bakau · Penghitungan · Hutan Rawa Indek Nilai · Hutan Payau Penting (INP) · Indek Keanekaragaman · Indek Keseragaman Jenis.Aspek Biologi Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Komunitas Vegetasi · Keanekaragaman · Transek · Hutan Bakau · Penghitungan jenis/komunitas · Pengumpulan · Hutan Rawa Indek Nilai vegetasi data sekunder · Hutan Payau Penting (INP) · Keanekaragaman · Analisis vegetasi · Indek Keanekajenis/komunitas biota · Observasi ragaman air/phytoplankton lapangan · Indek Kesera· Struktur dan · Transek gaman Jenis. vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi · Zona habitat khusus dan plasma nutfah Komunitas Satwa Liar · Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar · Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton.Tabel 4-2 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data. · Tabulasi Jenis Satwa Liar yang di Lindungi. komposisi vegetasi · Pemetaan · Jenis dan populasi Plasma Nutfah. 200 .

pemukiman · Aktivitas perekonomi · Observasi lapang penduduk dan perdagangan · Wawancara terdekat. Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Kegiatan konstruksi. Pemungutan hasil iii. Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. · Sistem pertanian dengan tokoh · Wilayah · Akulturasi dan asimilasi masyarakat dan administrasi · Kesehatan masyarakat ketua suku atau proyek. · Kesehatan lingkungan adat.2. pemukiman pen. Pembangunan saluran drainase ii. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Pengambilan/perburuan satwa ii.· Analisis deskriptif Observasi lapang duduk terdekat. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): 1. 4. Pengalihan aliran iv. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa : i. Penambahan/pengurukan lahan iii. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi : i. · Tabulasi silang · Analisis deskriptif dan tabulasi silang · Penilaian Ahli 4.3 URAIAN RENCANA DAN USAHA ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana kegiatan pembangunan kawasan lahan basah hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. Introduksi spesies asing 201 . yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei : b) Kegiatan pembebasan lahan 2. pendidikan. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi : i. dan tabulasi siWawancara · Wilayah lang administrasi · Penilaian Ahli proyek. Kanalisasi sungai iii. dan peribadatan Pengumpulan · Desa-desa/ · Tabulasi silang data sekunder. kesehatan. Sosial Budaya · Adat istiadat · Pengumpulan · Desa-desa/ · Kelembagaan tradisional data sekunder. Pengurangan/pembuangan lahan ii.4.Tabel 4-3 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Sosial Komponen Lingkungan Sosial Ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan · Kepadatan dan · pertumbuhan penduduk · Persebaran penduduk · · Peluang bekerja dan · berusaha · Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam · Persarana perhubungan air · Pemukiman penduduk · Fasilitas umum. Penebangan vegetasi ii.

Tinggi dan elevasi muka air ii. Limbah padat ii: Limbah cair iii. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Sifat fisik tanah iii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran : i. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci detail. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. Kegiatan operasi. Debit dan pola aliran iii. iv. Limbah Industri vi. nekton iii. Panjang penyinaran matahari . Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Pola sedimentasi dan drainase v.1.1. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. air tanah dalam d) Kegiatan rekrutmen tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah : i. Curah hujan ii. Minyak ii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Pusat-pusat pertumbuhan baru Di berbagai jenis kegiatan tersebut usahakan dapat diutarakan perihal : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. Komponen Biologi a) Komunitas vegetasi i.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. danau) ii. 4. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi. Panas vii.3. Fisiografi. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan operasi e) Tenaga kerja yang dicurahkan. litologi ii. Kimia iii. iv Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Aksesibilitas wilayah ii. Kecepatan angin b) Hidrologi. lama. Tinggi. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). Sifat kimia tanah 2. yang meliputi: i.2.1 Struktur ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan struktur ekosistem lahan basah saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Struktur dan komposisi vegetasi iv.2. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan . 4. air permukaan(sungai. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 202 . Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas satwa liar i. dan frekuensi genangan/banjir iv. Radioaktif iv. 1. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah : i. b) fungsi dari setiap ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. b) Alternatif lokasi. Limbah domestik v. yang meliputi: i.4. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. alternatif ruas jalan. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi: i. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. yang meliputi: i.

Lansekap atau jenis-jenis lahan basah 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata 15) Fungsi sosial budaya. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat ii. yang diantaranya berupa: i. Proses ekologi. getah. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam 4. kesehatan. Pemecah angin (windbreak) 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Peninggalan sejarah 16) Fungsi sosial ekonomi. ii. geomorfologi dan geologi ii. yang antara lain berupa: i. terutama pengendalian banjir 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: i. listrik-hidro 11) Fungsi transportasi/perhubungan 12) Fungsi bank gen bagi: i. seperti: i. 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air).5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. Spesies langka dan dilindungi ii. seperti: i.3. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir iii. Komunitas iv. rusa) iii.4. yang diantaranya meliputi: i. Air tanah ii. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting iii. Rosot karbon (carbon sink) iii. yang berupa: i. Tanah adat masyarakat setempat 17) Fungsi penelitian dan pendidikan 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Air permukaan 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). Rotan. Gambut 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya : a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat ii.2 Fungsi ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan fungsi-fungsi ekosistem lahan basah yang saat ini masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di daerah tersebut. Ikan dan daging satwa (misal. Spesies-spesies tumbuhan komersil ii. 203 . Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir . Ke lokasi lain: Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge) Pasokan air ke lahan basah lainnya 2) Fungsi pengendalian air. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi ii. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan 4. Ikan dan burung-burung migran 10) Fungsi pemasok energi.2 (Langkah 8: Komponen Dampak Penting yang Ditelaah ANDAL). Estetika lansekap ii. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting. misal: energi dari kayu. Populasi satwa liar 13) Fungsi konservasi bagi: i. Ekosistem v. Kayu ii. pendidikan. Keagamaan dan spiritual iii.1. yang berupa: i. dan obat iv.

Sehingga prakiraan dampak juga harus memperhitungkan pengaruh faktor eksternal pada komponen lingkungan yang tengah ditelaah secara mendalam untuk keperluan ANDAL. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar langka dan dilindungi (gajah) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa gangguan gajah terhadap produksi pertanian. tradisional. 5) Prakiraan dampak pada komponen ekosistem lahan basah perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini: a) Ekosistem lahan basah banyak dijumpai berada antara ekosistem daratan dan ekosistem pesisir/ laut. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. dan metode grup eksperimen. Langkah 1: Prakirakan dampak penting dengan cara: a) prakirakan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. yang antara lain meliputi model matematik. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. sebagai landasan untuk menilai totalitas dampak proyek terhadap fungsi dari ekosistem lahan basah (untuk keperluan Bab Evaluasi Dampak). b) metode non-formal yang antara lain meliputi penilaian para ahli. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada studi AMDAL Kegiatan Terpadu dan AMDAL Kawasan. c) Daerah lahan basah umumnya merupakan medan yang berat dan terisolasi sehingga kebanyakan desa yang ada tergolong miskin. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Panduan Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. b) Ekosistem lahan basah kebanyakan masih berwujud alami. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan dikalangan komponen sosial sendiri. Sebagai contoh: proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. dan metode analogi 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. sebagaimana diutarakan pada butir 5) di atas. Sebagai misal. 6) Mengingat dikalangan komponen ekosistem lahan basah terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. proyek mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Sebagai contoh. Sebagai misal. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. dan berpendidikan rendah. yaitu: a) metode formal.2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. zona rawa lebak terkait dengan ekosistem daratan di atasnya.1.1.sehingga tingkat keanekaragaman hayati masih relatif tinggi sehingga prakiraan dampak harus dilakukan pada seluruh komponen ekosistem yang terkena dampak penting. Kerusakan pada ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak di pesisir Dampak besar dan penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. kerusakan ekosistem hutan bakau akibat kegiatan suatu proyek pembangunan dapat mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem terumbu karang di perairan pesisir dan juga pada ekosistem rawa lebak yang terletak lebih ke pedalaman. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a) Mekanisme aliran dampak yang bersifat inter ekosistem: Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial.1 khususnya Langkah 2 : Identifikasi Tipe Ekosistem. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. Hasil Langkah 1 Diperoleh data dan informasi perihal besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem tertentu yang terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek.1 Langkah 2. khususnya Langkah 8: Komponen Dampak Besar dan Penting yang ditelaah dalam ANDAL b) prakiraan dilakukan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terdapat dalam angka 3. Sebagai misal. sementara zona pasang surut terkait dengan ekosistem pesisir/laut. b) Mekanisme aliran dampak yang bersifat antar ekosistem: Dampak penting yang dialami suatu ekosistem akibat adanya aktivitas tertentu dari proyek mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem lainnya. 204 . Prakiraan dampak penting aspek sosial dengan demikian harus mencermati kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat.1.2.

1. dan yang tercantum pada angka 4. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu kegiatan proyek. Environmental Evaluation System). dengan cara: a) Untuk setiap alternatif kegiatan proyek. (Hasil Langkah 2). Langkah 4 Dari alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan.1 khususnya Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek. Hasil Langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan struktur ekosistem: akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Catatan Langkah 1 Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem. akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab evaluasi dampak penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif/holistik. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. dan/atau metode bagan alir. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. 4. matrik Leopold).1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). lakukan telaahan sejauh mana dampak besar dan penting yang ditimbulkan terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana dimaksud pada Langkah 1 dan 2. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. b) Bila seluruh alternatif kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999.Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti Langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. telaah secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem lahan basah yang dimaksud pada Langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem.2 (yakni Rona Lingkungan Hidup) akan berubah secara mendasar. b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. 205 . telaah secara komprehensif perubahan seluruh komponen yang terkena dampak penting (atau dalam hal ini perubahan struktur ekosistem lahan basah) akibat alternatif kegiatan tertentu proyek. dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem lahan basah dimaksud Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari kegiatan proyek.5. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap ekosistem lahan basah. metode daftar uji berskala dengan pembobotan (misal. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin dikalangan seluruh komponen dampak penting yang tercantum pada angka 4. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Hasil Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan fungsi ekosistem.4.1. Hasil Langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak.

mendaur ulang (recycle). Lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatar belakangi kedalaman dokumen RKL. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di saat pra-konstruksi. dalam pengertian generik.1. b) Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat sifat ekosistemnya yang kompleks dan multi fungsi.3 Struktur inti dokumen rencana pengelolaan lingkungan Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola b) Tujuan pengelolaan lingkungan c) Pengelolaan lingkungan d) Waktu pengelolaan lingkungan e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan f) Institusi pengelolaan lingkungan. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem lahan basah sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja.2 Langkah 10. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu dari eksosistem lahan basah. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu tipe ekosistem lahan basah komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. merupakan dokumen yang memuat upaya. program atau tindakan untuk mencegah. maka pada bagian ini utarakan pula komponen lingkungan dari tipe eksositem lahan basah lainnya yang akan turut tercegah/ tertanggulangi dari kerusakan. yakni Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada Bab Prakiraan Dampak dan Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. operasi maupun pasca operasi. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak.2 Kedalaman dokumen rencana pengelolaan lingkungan Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan.5. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting.1. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek.5 (Prakiraan Dampak Penting). sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem lahan basah. konstruksi. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di ekosistem lahan basah tersebut mencakup empat kelompok aktifitas.6 di muka. tersier. Bila lebih dari 1 tipe ekosistem yang terkena dampak dan mengingat adanya keterkaitan antar ekosistem sebagaimana diutarakan pada angka 4. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan.1. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4.dan angka 4. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem lahan basah juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif disaat pra konstruksi.1 Lingkup dokumen rencana pengelolaan lingkungan Dokumen RKL.BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5.6 dari Bab IV di muka. a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). 5. 206 . 5. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. program dan/ atau tindakan-tindakan untuk mencegah. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya.5. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. Dalam konteks pembangunan proyek di ekosistem lahan basah. konstruksi dan operasi proyek.1.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 5.

5. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. atau bahkan regional. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana yang disebut pada halaman III-5 s/d III-6.2.6. Upaya.2. sifat kumulatif. 5. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. maka sedapat mungkin dituangkan desain teknologinya.c) d) e) f) Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan dapat merujuk Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).2 Kedalaman dokumen rencana pemantauan lingkungan Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. sistematik. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. ekonomi atau kelembagaan. Upaya. lokasi dan jangka waktu serta frekwensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan f) Institusi pemantauan lingkungan 207 .2. 5. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. program atau tindakan untuk mencegah. Pada ekosistem lahan basah pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahanperubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem lahan basah yang terkena dampak. Upaya.1 Lingkup dokumen rencana pemantauan lingkungan Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek sampai ke tingkatan ekosistem. 5. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. Khusus ekosistem lahan basah. pada dasarnya dapat dipandang sebagai pemantauan terhadap struktur ekosistem. kawasan. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. Langkah 2). program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan keterampilan operasional Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya.3 Struktur inti dokumen rencana pemantauan lingkungan Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau b) Tolok ukur dampak c) Tujuan pemantauan lingkungan d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisis data. selain 6 (enam) faktor yang diutarakan pada Keputusan Menteri tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan seperti diutarakan pada paragrap berikut ini. Pemantauan dapat dilakukan pada fungsi-fungsi ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. berulang dan terencana. Pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5.

upaya/ program/tindakan pengelolaan lingkungan. suhu.5 (Prakiraan Dampak Penting) dan angka 4. Semisal. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah.6 (Evaluasi Dampak Penting). Mengingat pada ekosistem lahan basah sebagian besar tolok ukur dampak yang digunakan masih banyak yang bersifat kualitatif. ttd Nadjib Dahlan. b) Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu: (proyek. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Tolok ukur dampak yang dimaksud disini dapat berupa baku mutu limbah cair. maka diperlukan kejelasan deskripsi dari tolok ukur dampak yang hendak digunakan. Halhal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. baku mutu lingkungan keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah.6 yakni Bab Prakiraan Dampak Penting dan Bab Evaluasi Dampak Penting dari dokumen ANDAL. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. d) Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. sebagai misal). sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya.1. atau ketetapan resmi suatu instansi. Langkah 2). yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu tipe ekosistem lahan basah Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting.Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. e) Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. Menteri Negara Lingkungan Hidup. SH 208 . warna. ttd Dr. c) Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. tersier. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. a) Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL).5 dan 4. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan.6. A Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. f) Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. bau.2 Langkah 10. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. kandungan minyak terlarut. Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder.

Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. lama.Lampiran3-1MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganKomponenLingkunganDaerahLahanBasah Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan I. Air permukaan (sungai. Penebangan veg. Kegiatan survei b. Introduksi spesies asing i. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Pembangunan saluran drainase ii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Kimia iii. Pemungutan hasil iii. Kegiatan pra-konstruksi a. Minyak ii. Radioaktif iv. Fisiografi dan litologi ii. Limb. Kecepatan angin b) Hidrologi i. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Tinggi dan elevasi muka air ii. Limb.Pemadatan lahan i. Introduksi spesies asing i. Kegiatan Konstruksi 3. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Debit dan pola aliran iii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Panas vii.Limbah gas i. Pola sedimentasi dan drainase 209 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Limbah padat ii. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Curah hujan ii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim i. Sifat kimia tanah iv. Limbah cair iii.Industri vi. &frekuensi genangan/banjir iv.Udara c) Tanah i.Pengalihan aliran iv.domestik v.danau) ii. Sifat fisik tanah iii. Konstruksi dam . Tinggi.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Aksesibibilitas wilayah . Kanalisasi sungai iii. Penanaman tanaman iv. Panjang penyinaran matahari iv. ii.

Limbah cair iii. Kegiatan Konstruksi 3. Jenis dan populasi satwa liar yang bernilai ekologi tinggi v. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. satwa liar ii.Lampiran3-1. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Panas vii. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Kegiatan survei b. Limb. Penebangan veg. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv.Udara I. Komponen Biologi a) Komunitas V egetasi i. Keanekaragaman jenis/kom.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan i.domestik v. Pembangunan saluran drainase ii. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Introduksi spesies asing i. Introduksi spesies asing i. Konstruksi dam .Aksesibibilitas wilayah . Keanekaragaman jenis/Komunitas biota air zooplankton. Kanalisasi sungai iii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Air permukaan (sungai. Penanaman tanaman iv. nekton iii. ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilaiekologi tinggi vii. Limbah padat ii. Kegiatan pra-konstruksi a. Keanekaragaman jenis/komunitas biota/phytoplankton iii. Kimia iii. Jenis dan satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Pemungutan hasil iii.danau) ii. Minyak ii. Radioaktif iv. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi.Pusat-pusat pertumbuhan baru .Industri vi.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 210 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Zona habitat khusus dan plasma natfah b) Komunitas Satwa Liar i.Pengalihan aliran iv. Limb.Limbah gas i. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii.

Pemungutan hasil iii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Limbah cair iii.Udara I.Pusat-pusat pertumbuhan baru .danau) ii. Kesehatan iii.Kepribadian h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomian dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Keterangan: 1. Kimia iii. Kanalisasi sungai iii.Lampiran3-1.Limbah gas i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 211 2. Limbah padat ii. Kegiatan pembebebasan lahan 3. Konstruksi dam .Pengalihan aliran iv. Introduksi spesies asing i. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Introduksi spesies asing i.Aksesibibilitas wilayah . Panas vii. ii.domestik v. Kegiatan Konstruksi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Air permukaan (sungai. Minyak ii.Industri vi. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Penambahan/ pengurukan lahan iii. Penanaman tanaman iv. Kegiatan survei b. Radioaktif iv. Pembangunan saluran drainase ii. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Prasarana perhubungan air f) Permukiman penduduk g) Fasilitas umum : i. Limb.Pemadatan lahan i. Penebangan veg. Limb. Pendidikan ii. Kegiatan pra-konstruksi a.

Kegiatan survei b.Pusat-pusat pertumbuhan baru . 8. Pengambilan/ perburuan satwa ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Minyak ii. 2. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. Fungsi pengendalian air. Radioaktif iv. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. Limb. dan pemecah angin (windbreak) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. ikan dan daging satwa liar. Pemungutan hasil iii. 6. Pengurangan/pembuangan lahan ii. 212 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. 9. Konstruksi dam . Pembangunan saluran drainase ii. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahanbahan beracun. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. rotan.Udara Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Limb.MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemLahanBasahuntukTipeEkosistem: hutan bakau/hutan rawa payau/hutan rawa bergambut/ hutan rawa air tawar Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan 1. Penebangan veg.Aksesibibilitas wilayah .danau) ii. seperti kayu. obat.Pemadatan lahan i. Kanalisasi sungai iii. 7. yang berupa perlindungan garis pantai. ii. Kegiatan Konstruksi 3. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. 4.Limbah gas i. terutama pengendalian banjir Fungsi pencegah instrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan.Lampiran3-2. Introduksi spesies asing i. dan gambut. Introduksi spesies asing i. 5. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran Keterangan: 1. 3. pengendalian erosi.Industri vi.domestik v. getah. Limbah cair iii. Air permukaan (sungai.Pengalihan aliran iv. Kegiatan pra-konstruksi a. Kimia iii. Penanaman tanaman iv. Limbah padat ii. Panas vii. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam.

Lampiran3-2.(lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3

Komponen Lingkungan

213
Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penebangan veg. ii. Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. Kimia iii. Radioaktif iv. Limb.domestik v. Limb.Industri vi. Panas vii.Udara

10. Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrikhidro 11. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar 13. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem, dan lansekap lahan basah. 14. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah 16. Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 17. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah asam sulfat.

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebebasan lahan

2. Kegiatan Konstruksi

3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Limbah gas i. Air permukaan (sungai,danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah

Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan

Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi

i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan

i. Pembangunan saluran drainase ii. Kanalisasi sungai iii.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam

- Aksesibibilitas wilayah - Pusat-pusat pertumbuhan baru

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : 1. Bahwa untuk melaksanakan Pasal 8 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Pasal 2 Ayat (3) angka 18 serta Pasal 3 ayat (5) angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, perlu menetapkan Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 2. Bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemeritah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. BAB I TUGAS, WEWENANG, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut komisi penilai mempunyai tugas menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi Penilai dibentuk : a. Di tingkat Pusat oleh Menteri; b. Di tingkat Propinsi oleh Gubernur; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh : a. Tim teknis komisi penilai yang selanjutnya disebut tim teknis; b. Sekretariat komisi penilai yang selanjutnya disebut sekretariat komisi penilai. (4) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. Kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan/atau menyangkut pertahanan dan keamanan seperti: pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor, submarine tailing, teknologi peluncuran satelit, teknologi rekayasa genetika, eksploitasi minyak dan gas, pembangunan kilang minyak, penambangan bahan galian radioaktif, pembangunan industri pesawat terbang, pembangunan industri senjata, pembangunan industri bahan peledak, pembangunan industri yang menggunakan bahan baku dari limbah import, pembangunan bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan samudera, pengolahan limbah terpadu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 214

(5)

(6)

(7) (8)

b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu wilayah propinsi; c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; d. Di wilayah laut diatas 12 (dua belas) mil; dan e. Di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Propinsi berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi: a. Rencana usaha dan/atau kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas seperti: pembangunan industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp, pembangunan industri semen dan quarry-nya, pembangunan industri petrokimia, pembangunan hak pengusahaan hutan beserta unit pengelolaannya, pembangunan hutan tanaman industri beserta unit pengelolaannya, budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan unit pengelolaannya, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi/diesel, pembangunan bendungan, pembangunan bandar udara diluar kategori bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan diluar kategori pelabuhan samudera; b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota; dan c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) mil. Komisi penilai Kabupaten/Kota berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi semua rencana usaha dan/atau kegiatan diluar kewenangan Pusat dan Propinsi, sebagaimana diatur melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dalam hal Kabupaten/Kota tidak atau belum mampu melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan menyerahkan kewenangan tersebut kepada Propinsi. Dalam hal Propinsi tidak mampu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan (7), maka komisi penilai propinsi dapat meminta bantuan kepada komisi penilai pusat. Pasal 2

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 1, komisi penilai mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan di tingkat Pusat; b. Gubernur di tingkat Propinsi; dan c. Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 3 (1) Keanggotaan Komisi penilai terdiri dari : ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota serta anggotaanggota lainnya. (2) Ketua Komisi penilai sebagaimana di maksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat adalah Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Di tingkat Propinsi adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah; c. Di tingkat Kabupaten/Kota adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/ Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup ditingkat Kabupaten/Kota. (3) Ketua Komisi penilai bertugas : a. Melakukan koordinasi proses penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup; b. Menyampaikan bahan pertimbangan komisi penilai sebagai dasar pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota. (4) Sekretaris komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat dijabat oleh Kepala Direktorat yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; b. Di tingkat Propinsi dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi; c. Di Tingkat Kabupaten/Kota dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. (5) Sekretaris Komisi Penilai bertugas : a. Membantu tugas ketua; b. Merumuskan hasil penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan komisi penilai. (6) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai pusat memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; 215

Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (7) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Propinsi memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; f. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (8) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Kabupaten/kota memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya yang didasari atas kaidah ilmu pengetahuan, bagi para ahli; c. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; d. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 4 (1) Tim Teknis di bentuk : a. Di tingkat pusat oleh Menteri Departemen Teknis atau Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang berkedudukan di masing-masing sektor, Tim ini merupakan bagian dari tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999; b. Di tingkat Propinsi oleh Kepala Bapedal Daerah Propinsi selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Propinsi; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Kepala Bapedal Daerah Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. (2) Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang secara ex-officio dijabat oleh sekretaris komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. (2) Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesesuaian dengan pedoman umum dan/atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan; c. Kesesuaian lokasi dengan tata ruang; d. Ketepatan penerapan metode penelitian/analisis; e. Kesahihan data yang digunakan; f. Kelayakan desain, teknologi dan proses produksi yang digunakan; g. Kelayakan ekologis. Pasal 6 Dalam menjalankan tugasnya, tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 7 (1) Sekretariat Komisi Penilai berkedudukan di : a. Tingkat Pusat di Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Badan Pegendalian Dampak Lingkungan b. Tingkat Propinsi di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi c. Tingkat Kabupaten/Kota di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Sekretariat komisi penilai dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada ketua komisi penilai. 216

f.

Pasal 8 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan, perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh komisi. Pasal 9 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. BAB II KERANGKA ACUAN Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 10 (1) Kerangka acuan yang dinilai oleh : a. Komisi penilai Pusat, diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat; b. Komisi penilai Propinsi, diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai Propinsi; c. Komisi penilai Kabupaten/Kota, diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota; (2) Dokumen kerangka acuan yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar. (3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana di maksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal penerimaan dokumen. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 11 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis menilai kerangka acuan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. (3) Penilaian oleh Tim Teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (4) Semua saran, pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai. (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 12 (1) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai kerangka acuan (2) Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal rapat. (3) Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. (4) Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh sekretaris penilai. (5) Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. (6) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. (7) Dalam rapat penilaian, semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6), (7) dan (8). (8) Komisi penilai wajib memperhatikan saran, masukan dan tanggapan dari masyarakat dalam proses penentuan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan. (9) Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. (10) Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretaris komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (11) Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan kerangka acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (12) Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (13) Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian, ketua komisi setelah mendengarkan saran-saran tim teknis 217

Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota.berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. c. d. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Komisi penilai Kabupaten/Kota. (5) Di tingkat Propinsi. (14) Ketua Komisi penilai selaku : a. c. c. b. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib memuat kesepakatan tentang ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. (15) Apabila rencana lokasi dilaksanakan usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan kepada: a. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Gubernur kepada: a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. b. d. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar 218 . bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. c. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Komisi penilai Pusat. Komisi penilai Propinsi. Bagian Keempat Keputusan Pasal 13 (1) Keputusan kesepakatan kerangka acuan diterbitkan oleh : a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota. b. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi di tingkat Propinsi. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 14 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. d. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. Gubernur yang bersangkutan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. (2) Dokumen analisis dampak lingkungan hidup. (6) Di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan hasil rapat penilaian komisi penilai. Deputi Kepala Badan Pegendalian Dampak Lingkungan yang menangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup di tingkat Pusat. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat. b. BAB III ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Gubernur yang bersangkutan. Menerbitkan Keputusan Kesepakatan Kerangka Acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (7) Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kesepatan kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (4) Di tingkat Pusat. b. diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai propinsi. maka komisi penilai wajib menolak kerangka acuan tersebut. c. c. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh: a. b.

Dalam penilaiannya. Ketua komisi penilai menyampaikan berita acara penilaian dan dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) kepada: a. maka rapat dipimpin oleh sekretaris komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. c. Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 15 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian. maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. Gubernur. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. Bupati/Walikota. Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. b. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. Bagian Keempat Keputusan Pasal 17 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan diterbitkan oleh: a. Semua saran. masukan dan tanggapan dari masyarakat. rencana pengembangan wilayah. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi pusat. (3) Penilaian oleh tim teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. (4) Semua saran. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. 219 . ketua komisi berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. Dalam rapat penilaian. komisi penilai wajib memperhatikan saran. Dalam melaksanakan tugasnya. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan analisis dampak lingkungan hidup. bagi analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Pusat. Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. (7) dan (8). bagi analisis dampak lingkungan hidup. semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6). rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup.(3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan mencatat hari dan tanggal penerimaan dokumen.

S. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan di tingkat Propinsi. c. b. Pertimbangan terhadap saran. 220 . salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. c. Dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut. Di tingkat Propinsi. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Menteri. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.H. instansi terkait lainya di tingkat Kabupaten/Kota. Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan : a. f. c. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. f. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. d. Menteri. dan e. c. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor : Kep-13/MENLH/ 3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL dinyatakan tidak berlaku lagi. b. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. tim teknis. b. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. g. A. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Di tingkat Propinsi pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. instansi terkait lainya di tingkat Propinsi. Di tingkat Pusat. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Gubernur. bagi dokumen yang dinilai oleh Komisi penilai Kabupaten/Kota. Gubernur yang bersangkutan. Di tingkat Pusat pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.(2) (3) (4) (5) (6) b. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada : a. ttd Dr. b. Ditetapkan : di Jakarta Tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. (2) Dengan berlakunya keputusan ini. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. e. Gubernur yang bersangkutan. d. d. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Gubernur kepada : a. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 18 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. BAB V PENUTUP Pasal 19 (1) Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 Nopember 2000. instansi terkait lainya. Di tingkat Kabupaten/Kota. b. Di tingkat Kabupaten/Kota pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota. Bupati/Walikota. e. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. c.

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. dan 221 . perlu menetapkan Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/ Kota. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. sosial. 9. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). ekonomi. 7. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. Fungsi. Mengingat : 1. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 8. bahwa untuk melaksanakan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 3. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). b. dan Tata Kerja Menteri Negara. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. perencanaan pembangunan wilayah/daerah. 2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Menimbang : 1. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA. 3. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup belum mengatur tentang Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai. budaya. Tugas. Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. 5. BAB I PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI Pasal 1 Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota wajib memenuhi kriteria: a. Susunan Organisasi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). 6. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 di atas. dan lingkungan sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis. d. c. perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. kesehatan. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang biogeofisik-kimia. 2. Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai.

Sekretaris merangkap sebagai anggota. 222 . Pasal 7 Dalam melaksanakan tugasnya. g. Susunan keanggotaan terdiri dari Ketua merangkap sebagai anggota. Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup baik dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau dari instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. anggota lain yang dianggap perlu. b. Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. l. 2. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan daerah Kabupaten/Kota. j. Pasal 2 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan daerah Kabupaten/Kota. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 6 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota bertugas menilai kerangka acuan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Tim teknis terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. f. b. wakil dari organisasi lingkungan sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurangkurangnya untuk parameter air dan udara baik laboratorium yang berada di Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat. Tim teknis komisi penilai. Pasal 3 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota berkedudukan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau di instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. wakil dari instansi terkait di daerah Kabupaten/Kota. wakil dari masyarakat yang terkena dampak. 4. k. komisi penilai dibantu oleh: a. Sekretariat komisi penilai. h. e. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 5 1. Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. dan anggota-anggota lainnya. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah Kabupaten/Kota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Daerah Kabupaten/Kota.e. ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. i. wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. c. Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang dalam hal ini dirangkap oleh sekretaris komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota. 2. analisis dampak lingkungan hidup. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. 3. BAB II SUSUNAN KEANGGOTAAN Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 4 1. d. ahli di bidang lingkungan hidup.

tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis dan bertanggung jawab kepada komisi penilai. Kesesuaian dengan pedoman umum dan atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ditetapkan Tanggal : di Jakarta : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. c. d. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. 223 . Kesahihan data yang digunakan. Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan. BAB V PENUTUP Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Bupati/Walikota. S. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan. perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung. Pasal 10 Dalam menjalankan tugasnya. Ketepatan penerapan metoda penelitian/analisis. Pasal 12 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 11 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan. Nadjib Dahlan. teknologi.Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 13 Biaya atas pelaksanaan kegiatan komisi penilai. tim teknis. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 9 1. analisis dampak lingkungan hidup. dan proses produksi yang digunakan. sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis.H. A. ttd Dr. 2. Kelayakan desain. e. b.

Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. 5. 3. 1. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). A. Susunan keanggotaan komisi penilai dan tim teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran I dan II dalam Keputusan ini. 4. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Setiap anggota komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat mempunyai kewenangan pengambilan keputusan dari instansi/organisasi/masyarakat yang diwakilinya. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.H. ttd. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Dr. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). ME MUTU S KAN : Menetapkan : Pertama : Kedua Ketiga : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT. S. 2. dan Tata Kerja Menteri Negara. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Fungsi. Ketua tim teknis dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat. Tugas. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 224 Mengingat : Keempat: Kelima : Keenam : . Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000. perlu dibentuk Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Anggota komisi penilai dan tim teknis dalam melaksanakan tugasnya wajib memperhatikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 7. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 9 dan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 8. Susunan Organisasi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 Tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 6. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838).

8. 17. 225 . 11. 9. Menteri Negara Lingkungan Hidup. S. 14. ttd Dr. 2.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 7.H. 15. 18. 19. 10. 13. 12. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan Wakil dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen Dalam Negeri Wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional Wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan W akil dari instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan Wakil dari departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang terkait Wakil dari Propinsi yang bersangkutan Wakil dari Kabupaten/Kota yang bersangkutan Ahli di bidang lingkungan hidup Ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan Wakil dari organisasi lingkungan hidup/ Lembaga Swadaya Masyarakat sesuai dengan bidang usaha dan/ atau kegiatan yang dikaji Wakil dari masyarakat terkena dampak Anggota lain yang dianggap perlu Kedudukan Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota 1. 3. 4. Jabatan/Instansi Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kepala Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 6. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . A. 16. 20. 5.

Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . S.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 1. ttd Dr. Jabatan/Instansi Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang paling dominan Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan lainnya Ahli dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Ahli lain di bidang ilmu yang terkait Ahli lain di bidang kegiatan yang bersangkutan Kedudukan Ketua merangkap anggota 2.H. Anggota 3. Anggota Anggota Anggota Menteri Negara Lingkungan Hidup. 4. 226 . 5. A.

5. 8. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01Tahun 1990 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 2. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan Andal. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tugas Pokok.30/MENKLH/7/1992 TENTANG PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP. Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan serta Organisasi Staf Menteri Negara. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3125) . 7. Peraturan Pemerintan Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1986. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pengangkatan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup .KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP . ttd Emil Salim. 4. 6. Panduan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL Mengingat : Pertama: Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338). maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. 227 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan. 3. Kedua: Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 16 Juli 1992 Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup.

3. instansi pemerintah yang terkait. Pengertian Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana kegiatan. 2. Tujuan Pelingkupan bertujuan untuk: a. b. Menelaah kegiatan/proyek-proyek lain yang terkait dan terletak di wilayah studi. Keanekaragaman KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan ANDAL/SEL.LAMPIRAN NOMOR TENTANG : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA : KEP . Panduan pelingkupan ini disusun dengan maksud agar pemrakarsa kegiatan. Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak.2. Menyadari pentingnya arti kegiatan pelingkupan ini dipandang penting disusun suatu panduan pelingkupan yang komprehensif. Semakin baik hasil proses pelingkupan semakin baik pula dokumen ANDAL/ SEL yang dihasilkan. Kegiatan pelingkupan (scoping) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan KA dan hasilnya dapat berpengaruh besar pada kualitas dokumen ANDAL/SEL. Lampiran II. Mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam penyusunan ANDAL/SEL. Menetapkan lingkup studi dan rancangan studi ANDAL/SEL secara sistematis. proses. e. Efisiensi KA memberikan arahan tentang data dan informasi yang perlu dikumpulkan untuk penyusunan ANDAL/SEL. Ketiga pertimbangan tersebut pada dasarnya dapat terwujud dengan baik dalam dokumen KA bila dalam penyusunan KA ditempuh suatu proses yang dikenal sebagai pelingkupan (scoping). dengan meniadakan hal-hal yang dipandang kurang atau tidak penting untuk ditelaah. berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. 228 .1. sehingga data dan informasi yang terkumpul hanyalah yang relevan dengan dampak lingkungan yang telah ditelaah. Panduan ini merupakan pendukung ( suplemen) untuk penyusunan KA sehingga dokumen KA yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan teknis seperti yang digariskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. berkat identifikasi dampak yang semakin tajam. tujuan. tentang Pedoman Penyusunan Acuan Analisis Dampak Lingkungan. manfaat. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan. serta membantu menelaah dampak kumulatif dari proyek-proyek tersebut. PENDAHULUAN Dalam Keputusan Menteri Negara LH Nomor KEP-50/MNKLH/6/1987. Keterbatasan Sumberdaya KA memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL/SEL. tenaga). d.30/MENKLH/7/1992 : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1. PENGERTIAN. 2. sehingga data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan yang akan timbul. 3. dan Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. dana. ditegaskan bahwa dokumen Kerangka Acuan (KA) disusun karena adanya pertimbangan: 1. Manfaat Manfaat pelingkupan adalah sebagai berikut: a. Menetapkan tingkat kedalaman studi ANDAL/SEL sesuai dengan sumber daya yang tersedia (waktu. 2. dan instansi pemerintah yang berwenang/terkait dapat memahami pengertian. serta kelompok masyarakat yang terkena dampak c. termasuk dokumen ANDAL/ SEL dari proyek-proyek tersebut. karena dampak bersifat yang kurang penting atau tidak relevan tidak akan dikaji dalam ANDAL/ SEL. metode. sehingga dokumen ANDAL/ SEL dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan yang diusulkan. dan prosedur pelingkupan untuk penyusunan dokumen KA 2. TUJUAN DAN MANFAAT PELINGKUPAN 2. guna menghindari pembahasan yang landung ( redundant). dan adanya arahan yang tegas dalam lingkup serta kedalaman studi ANDAL/SEL. Lampiran II. Penyusunan ANDAL/SEL dapat langsung diarahkah pada hal-hal yang menjadi pokok bahasan secara mendalam.

Kegiatan pelingkupan sebenarnya berawal sejak penapisan proyek. pakar dan instansi pemerintah tentang rencana kegiatan atau proyek yang diusulkan. senantiasa akan diarahkan untuk keperluan kajian dampak penting lingkungan. b. RKL.1. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dan komunikasi (pemusatan) dari isi pokok tersebut untuk membantu menganalisis isi dan membuat keputusan akhir.1. tenaga. Pelingkupan pada saat ini lebih merupakan proses kelembagaan. Identifikasi dampak potensial yang bersumber dari pemrakarsa kegiatan. d. tokoh-tokoh masyarakat. sepenuhnya dilakukan oleh penyusun ANDAL/SEL.2. kedalaman. a. a. penyusunan dokumen Kerangka Acuan. dan para pakar. c. PROSES DAN METODE PELINGKUPAN 3. c. serta rekomendasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Kaitan ke tiga proses pelingkupan di atas dapat dilihat pada Gambar berikut: Identifikasi pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan menghasilkan keluaran berupa diketahuinya hal-hal penting. masyarakat. 3. b. mengingat “diikutsertakannya” berbagai pihak di luar pemrakarsa. Tujuannya agar studi ANDAL/SEL dan RKL/RPL tetap berada dalam konteks menelaah dampak penting lingkungan seperti yang digariskan dalam Kerangka Acuan.3. RKL. a. dan waktu untuk penyusunan ANDAL/SEL dapat dicurahkan lebih efektif dan efisien berkat terfokusnya studi ANDAL/SEL hanya pada dampak penting. berkat adanya diskusi dan konsultasi antara pemrakarsa dan berbagai pihak yang berkepentingan sejak awal kegiatan proyek.2. Biaya. RPL Pelingkupan pada saat ini. dalam penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL c. Waktu Pelaksanaan Pelingkupan Pelingkupan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sinambung ( continue). Saat Penyusunan ANDAL/SEL. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang tidak memerlukan proses AMDAL/SEMDAL. Pemusatan (focussing) segenap dampak penting (hipotetis) dengan maksud agar terancang lingkup dan kedalaman studi ANDAL/SEL yang jelas dan sistematis dengan fokus bahasan dan dampak penting. 229 . Kemungkinan timbulnya konflik dan tertundanya kegiatan pembangunan proyek dapat dihindari. 3. dalam artian bahwa kegiatan pengumpulan data. hingga berakhirnya studi AMDAL/ SEMDAL. seperti instansi yang berwenang. dan RPL. dan strategi pelaksanaan studi. Dengan digunakannya pelingkupan pada saat penapisan proyek prosedur AMDAL/SEMDAL yang harus ditempuh oleh suatu rencana kegiatan dapat diputuskan dengan lebih tepat. analisis data. Penyusunan ANDAL/SEL dapat berlangsung dengan lebih terarah berkat adanya kejelasan lingkup studi. Evaluasi segenap dampak protensial sehingga dihasilkan dampak penting hipotetis dengan meniadakan dampak potensial yang tidak atau kurang penting. Saat Penapisan Proyek Proses pelingkupan yang dilakukan pada saat ini ditujukan untuk menetapkan: a. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang memerlukan penyusunan dokumen PIL terlebih dahulu karena “perilaku” dampak belum banyak diketahui atau diragukan.b. Saat Penyusunan Kerangka Acuan Pelingkupan yang berlangsung di saat penyusunan KA pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan manfaat seperti yang dimaksud pada BAB 2 panduan pelingkupan ini. Panduan yang diutarakan di sini adalah panduan pelingkupan untuk keperluan penyusunan dokumen Kerangka Acuan. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi terhadap hal-hal yang dianggap penting dimaksudkan untuk menentukan isi pokok yang tercakup dalam AMDAL (dan menghilangkan isi yang dianggap tidak penting). Pelingkupan yang dilakukan pada saat ini lebih bersifat teknis. Proses Pelingkupan Pelingkupan untuk penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL dilaksanakan melalui serangkaian proses berikut: a. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang langsung memerlukan penyusunan ANDAL/SEL karena dipandang jelas menimbulkan dampak penting.

(8) Vegetasi hutan. (7) Aksesibilitas hutan. Komponen lingkungan tersebut adalah: (1) Sedimentasi sungai. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. Contoh: (Kasus Pengembangan lapangan minyak. (13) Sikap terhadap proyek. 3.2. Pada tahap ini belum ada upaya untuk mengevaluasi apakah segenap dampak potensial tersebut akan merupakan dampak penting. Identifikasi Dampak Potensi Kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer) maupun sekunder yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/ proyek. catatan: contoh ini hanyak merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat). (11) Kesehatan masyarakat. (3) Kualitas udara. (8) Sikap terhadap proyek.1. (6) Pendapatan penduduk. Pada tahap ini akan dihasilkan daftar dampak penting hipotetik yang belum berurutan dan terorganisir secara sistematis.3. (12) Aksesibilitas daerah. Setelah melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dengan pakar. dan masyarakat sekitar rencana kegiatan/proyek. (3) Perikanan (sungai).2. (9) Kesempatan kerja. Pemusatan (Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampakdampak penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. suatu lapangan minyak yang akan dibuka di dataran seluas 50 ha secara potensial diduga akan menimbulkan dampak terhadap beberapa komponen lingkungan di sekitarnya. (2) Kualitas air. (5) Kesempatan kerja. (4) Kesuburan tanah. (2) Kualitas udara.2. (14) Warisan peninggalan budaya. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Dari 14 komponen lingkungan yang semula dipandang merupakan dampak potensial untuk diperhatikan. (5) Erosi. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak potensial yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. setelah ditelaah lebih lanjut (misal melalui metode matrik atau penelaahan literatur) ternyata terdapat 6 komponen lingkungan yang tidak relevan untuk diteliti. Pada tahap ini yang diperlukan hanyalah menyusun daftar segenap “dampak potensial” yang mungkin akan timbul. (4) Vegetasi hutan. serta masyarakat yang terkena dampak. (6) Perikanan (sungai). sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan patut untuk ditelaah dalam penyusunan ANDAL/SEL. dengan maksud agar diperoleh gambaran 230 . instansi pemerintah. 3.KEGIATAN HAL-HAL PENTING ISI POKOK ANALISIS ISI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN LINGKUNGAN EVALUASI PEMUSATAN IDENTIFIKASI 3. Identifikasi dampak potensial ini bersumber dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. (7) Satwa liar yang dilindungi.2. (10) Kepadatan penduduk. instansi pemerintah. Dengan demikian dampak potensial yang secara hipotetis dipandang penting untuk ditelaah adalah: (1) Kualitas air.

Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) a. (2) Dampak terhadap kesempatan berusaha dan pendapatan penduduk yang tergantung pada penangkapan ikan disungai. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. lokasi.3. lokasi pengamatan/pengukuran. jumlah sampel. 3.1. d. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Matrik Bagan alir (Network). c. Berikut diutarakan secara singkat metode-metode dimaksud: 3.yang utuh dan lengkap. Secara garis besar metode yang dapat digunakan adalah: a. Metode Pelingkupan Dalam proses pelingkupan digunakan metode-metode untuk identifikasi. Metode identifikasi dampak. atau bila memungkinkan metode prakiraan dampak. dan digunakan sebagai dasar untuk menjabarkan ruang lingkup. b. Ada tiga macam metode identifikasi dampak yang dapat dipilih untuk digunakan. b.3. dan pemusatan dampak penting hipotetis. dan metode evaluasi dampak yang akan digunakan untuk penyusunan ANDAL/SEL Lingkup kedalaman studi ANDAL/SEL ini ditetapkan sedemikian rupa sehingga dengan waktu. yang terdiri atas: a. c. Pertama. 3. Penelaahan pustaka Analisis isi (content analysis) Interaksi grup (group process) yang terutama meliputi brainstorming. Pengamatan lapangan.1. Daftar-uji (checklist). hanya berupa serangkaian daftar tentang parameter-parameter lingkungan yang perlu mendapat perhatian akibat adanya suatu rencana kegiatan. jumlah sample. dokumen ANDAL/SEL yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. yakni: a. 3. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Delapan dampak penting yang semula belum terkelompok (menurut derajat kepentingan dampak). 231 . Namun demikian metoda ini hanya memberi sedikit informasi tentang dampak yang timbul bila dibandingkan dengan metoda Daftar Uji Kuesioner (questionnaire checklist) dan matrik.1. lokakarya dan rapat. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing metoda tersebut. Metode Identifikasi Dampak Untuk mengidentifikasi dampak potensial dapat digunakan metode identifikasi dampak lingkungan yang secara konvensional telah dikenal.3.1. e. pengamatan/pengukuran. segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain.2.3. dana dan tenaga yang tersedia. jenis data dan informasi yang dikumpulkan.2. Daftar-uji sederhana (simple checklist) a.3. dan lain sebagainya). metode analisis data. kedalaman dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL (batas wilayah studi. evaluasi. Selanjutnya diurut berdasarkan tingkat kepentingannya baik dari segi ekonomi ataupun ekologis. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) Daftar uji jenis lainnya adalah daftar-uji dengan kuesioner. Daftar Uji Sederhana ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dampak potensial yang diduga akan timbul. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. Dari kedua kelompok dampak penting tersebut selanjutnya dijabarkan: batas wilayah studi. Dampak penting hipotetis yang terkelompok inilah yang merupakan fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL/SEL.1. Daftar uji kuesioner ini akan lebih memberi manfaat bila dalam mengidentifikasi dampak potensial didukung dengan pengamatan ke wilayah sekitar rencana kegiatan. Kedua kelompok dampak penting hipotetis tersebut adalah: (1) Dampak terhadap kualitas air dan perikanan sungai. setelah melalui serangkaian diskusi dan konsultasi yang intensif dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok dampak penting. Daftar-uji sederhana (simple checklist) Produk metoda ini sangat sederhana.

. Bila pengamatan lapangan ini dilakukan oleh pakar yang berpengalaman.. Metode ini tergolong komunikatif untuk materi diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi pemerintah atau masyarakat awam yang ingin mengetahui dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek.3. rencana penanganan limbah dan lain sebagainya). Bila kegiatan sudah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) perlu dilakukan pula pengamatan terhadap jalannya proses produksi dan limbah yang dihasilkan. jenis limbah yang dihasilkan. misal komponen ke j (j : 1... Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam. 3.. Mengingat dampak suatu proyek bersifat unik dan khas maka relatif tidak ada daftar uji yang berlaku sama untuk semua proyek di semua lokasi/ruang.. sedang pada bagian baris tertera berbagai komponen dan parameter lingkungan.2... Dengan demikian isi atau materi daftar uji yang relevan dengan karakteristik proyek dan kondisi wilayah sekitar proyek harus dikembangkan sendiri oleh penyusun ANDAL/ SEL. baik dampak lingkungan yang bersifat primer. Matrik sederhana menggambarkan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya.. Pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut rencana tata letak kegiatan. 3. Matrik Matrik yang digunakan untuk keperluan identifikasi dampak merupakan matrik sederhana ( simple matrik). Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Daftar-uji deskriptif menguraikan tentang hal-hal yang patut untuk diteliti oleh penyusun ANDAL/SEL seperti data dan informasi yang diperlukan untuk analisis parameter yang diduga sebagai dampak penting. dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul. jumlah karyawan yang diserap.1. misal kegiatan ke i (i . asal dan jumlah bahan baku yang digunakan rangkaian proses produksi.. namun demikian apabila daftar-uji ini tidak diverifikasi dengan kondisi lingkungan dan proyek yang diteliti. b. perairan umum. 232 . Kelebihan matrik sederhana ini dibandingkan dengan daftar uji adalah diketahuinya sumber penyebab timbulnya potensi dampak lingkungan.4.. Pada bagian lajur tertera berbagai kegiatan pembangunan yang direncanakan.3..1.2.3.. Target ini dapat dicapai melalui serangkaian kegiatan berikut: a.. 1.3. Diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana kegiatan (misal.. maka di samping akan diperoleh hasil yang bernilai juga dapat diperoleh gambaran umum tentang kedalaman dan lingkup studi ANDAL/SEL.. maka kemungkinan besar butir-butir yang dipandang relevan untuk ditelaah tidak termuat dalam daftar dan sebaliknya hal-hal yang tidak relevan tercantum dalam daftar..5. sekunder maupun tersier...1.. Bagan Alir Bagan alir (network) merupakan suatu model yang dikonstruksikan melalui jalinan hubungan sebab-akibat antara sumber penyebab dampak (kegiatan/proyek) dan faktor-faktor lingkungan yang terkena dampak. Umumnya daftar-uji deskriptif ini diawali dengan parameter yang relevan untuk diteliti dan selanjutnya diikuti dengan petunjuk pencarian data.. 3... c..4. sumber data dan bahkan metoda perkiraan dampak yang direkomendasikan untuk diterapkan.. Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan.3... Metoda bagan alir ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya aktivitas proyek.. Satu kelemahan lain dari daftar-uji adalah tidak diketahuinya secara jelas sumber penyebab dampak. m). kondisi biologi. Kekuatan metoda daftar-uji ini terletak pada kesederhanaannya..2. Pengamatan Lapangan Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan dokumen KA umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat.. Wawancara singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek... secara potensial diduga menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu. Untuk kegiatan yang telah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci. Apabila suatu kegiatan proyek...3. dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan/proyek. d. n) maka pada interaksi ke ij diberi tanda atau noktah seperti X.

Dokumen AMDAL/SEMDAL dari proyek-proyek sejenis atau dari proyek-proyek di sekitar wilayah studi. atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laporan-laporan penelitian tentang masalah-masalah lingkungan di sekitar wilayah studi. Buku-buku teks atau jurnal tentang dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. majalah dan televisi. penanggung jawab kegiatan ini juga berada di pundak pemrakarsa. Metode ini mensyaratkan bahwa ketua rapat harus menguasai prosedur dan teknik penyusunan ANDAL/SEL. Telaahan terutama difokuskan pada respon masyarakat terhadap kehadiran proyek-proyek pembangunan di sekitarnya. Persepsi masyarakat “ditangkap” secara tidak langsung melalui metode analisis ini (content analysis). b. kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak potensial (primer maupun sekunder) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/proyek. a.1. Lokakarya akan memberikan manfaat yang tinggi bila dipersiapkan dengan baik dan draft dokumen KA telah tersusun dan siap untuk dibahas dalam forum. departemen sektoral. instansi pemerintah yang berwenang. Rapat Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. Mengingat inisiatif kegiatan identifikasi dampak ini berada pada pemrakarsa kegiatan. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Dampak Penting c. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL/SEL Berikut dikemukakan langkah-langkah kegiatan pelingkupan dimaksud: 4. Brainstorming Metode ini terutama digunakan untuk identifikasi dampak potensial. pakar. seperti koran. Analisis Isi Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul menurut persepsi atau pandangan masyarakat. Penelahaan Pustaka Metode ini digunakan untuk keperluan identifikasi dan evaluasi dampak potensial.2. atau pemusatan dampak penting yang berkenaan dengan rencana kegiatan/proyek. Dalam rapat. b. perlu ditempuh prosedur pelingkupan seperti berikut ini: a. Melalui metode ini identifikasi dan evaluasi dampak potensial suatu rencana kegiatan dapat dilakukan lebih cepat berkat adanya data dan informasi dari studi-studi yang sejenis.1. Analisis ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dampak potensial dari sudut masyarakat. instansi yang berwenang. dan masyarakat yang terkena dampak. lokakarya dan brainstorming. 233 . Dalam brainstorming dampak potensial dari sudut pemrakarsa. tokoh masyarakat). c.5. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial Seperti telah diutarakan pada butir 3. 4. Melalui metode ini dapat dilibatkan peran serta beragam instansi yang terkait dengan proses AMDAL (pemrakarsa.6. evaluasi. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial b. 3. untuk terlibat dalam proses pelingkupan. Metode yang dapat digunakan antara lain: rapat. evaluasi dampak potensial.3. mengevaluasi. d. Pustaka yang perlu ditelaah antara lain adalah: a. PROSEDUR PELINGKUPAN Agar dokumen KA yang dihasilkan mampu mengarahkan penyusunan ANDAL/SEL seperti yang diharapkan. “Partisipasi” masyarakat dilibatkan secara tidak langsung dengan cara menelaah berita-berita yang disampaikan melalui berbagai media massa. atau pemusatan dampak penting. didaftar untuk selanjutnya dievaluasi tingkat kepentingan dampaknya. atau pemusatan dampak penting. 3. calon penyusun ANDAL/SEL. Interaksi Kelompok Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. Lokakarya Metode ini dapat digunakan untuk evaluasi atau pemusatan dampak penting. Metode ini efektif untuk digunakan dalam rapat-rapat untuk identifikasi dampak potensial. peserta harus mengerti benar bahwa tujuan rapat adalah untuk mengidentifikasi. c. Laporan-laporan resmi tentang masalah lingkungan di sekitar wilayah studi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah.7.

2.2. Sedapat mungkin lengkapi pula dengan jenis data dan jumlah sampel yang harus dikumpulkan. 3. sehingga sedapat mungkin kegiatan ini dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat diwakili dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). Perlu diketahui bahwa pada langkah ini proses pelingkupan semakin mengandalkan pertimbangan pakar (expert judgement).2.. Konsultasi dan diskusi dengan para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultasi penyusun ANDAL/SEL). Hal ini mengingat karena ruang lingkup. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Pada Langkah Kedua ini evaluasi dampak potensial dan pemusatan dampak penting ditempuh sekaligus mengingat eratnya kaitan kedua proses pelingkupan tersebut. dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL harus dijabarkan dari kelompok dampak penting hipotetik yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. 2. Dampak potensial yang dipandang kurang penting atau tidak relevan ditiadakan dari daftar.6. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan). Pemrakarsa perlu terlibat secara aktif dalam kegiatan ini agar dapat dihasilkan butir-butir identifikasi dampak yang lebih jelas/tajam. Pada taraf ini sudah dapat dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. perihal peraturan perundangundangan yang berlaku untuk penyusunan Kerangka Acuan dan ANDAL/SEL. Batas wilayah studi dan batas/horison waktu untuk memprakirakan dampak penting yang akan timbul. Lampiran II. 3. dan lain sebagainya..5 dan 3.) dan telaahan pustaka (butir 3.2. Seperti telah diutarakan pada butir 3. sehingga evaluasi dan pemusatan harus dilaksanakan secara kritis dan obyektif. calon penyusun ANDAL/SEL. 3./ SEL. 2. 49/MNKLH/VI/1987. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik yang dipandang yang layak untuk ditelaah secara mendalam dalam ANDAL/SEL.). serta lokasi pengumpulan data. 2. melalui metode rapat (butir 3.4. 4.2.4. 234 . 4.Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Pertama ini adalah: 1.3.3. Dokumen yang telah tersusun ini selanjutnya diserahkan kepada Komisi Pusat AMDAL departemen untuk dibahas dan disepakati oleh instansi yang berwenang. Inisiatif Langkah Kedua ini juga berada pada pemrakarsa kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun ANDAL/SEL). Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman ANDAL/SEL Pelingkupan yang dilakukan pada langkah ini bersifat lebih teknis. 3.3). serta instansi pemerintah yang berwenang. Dari segenap hasil pelingkupan tersebut selanjutnya disusun dokumen KA untuk penyusunan ANDAL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-50/MNKLH/ 6/1987. Hal ini tidak lain karena kegiatan ini dapat diperoleh masukan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari sudut pandang masyarakat. yang menjadi fokus bahasan. Segenap dampak penting hipotetik selanjutnya disintesis jalinan keterkaitannya sehingga diperoleh di beberapa kelompok dampak penting yang akan menjadi fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL. kedalaman. sebagai bahan acuan. dengan menggunakan Keputusan Menteri Negara KLH No. Sedang pemusatan ( focussing) dimaksudkan untuk mengorganisir dampak penting hipotetik ke dalam beberapa kelompok (lihat butir 3. (brainstorming) Pengamatan terhadap kondisi wilayah sekitar rencana kegiatan dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. Jenis tenaga ahli yang diperlukan berikut dengan jangka waktu yang tersedia untuk penyusunan ANDAL/SEL. Dari hasil kegiatan butir 1 dan 2 pemrakarsa/konsultan penyusun ANDAL/SEL selanjutnya dapat menyusun daftar dampak potensial yang bersumber dari berbagai pihak. tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Berdasarkan hasil pemusatan ini selanjutnya dilakukan Langkah Ketiga. dan penanggung jawab kegiatan. deskripsi kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Lampiran II. dapat ditelaah secara mendalam. Jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan agar dampak penting. Evaluasi derajat kepentingan dampak setiap komponen/parameter lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak lingkungan.6. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik. Pengamatan sebaiknya dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (atau SEL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. Aspek-aspek yang dijabarkan lebih lanjut untuk keperluan penyusunan dokumen KA ANDAL/SEL perlu meliputi tentang: 1. evaluasi dampak potensial bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Kedua ini meliputi: 1. sehingga dapat dijadikan dasar untuk penjabaran lingkup dan kedalam studi ANDAL/SEL.

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. pendapat. Pengendalian Dampak Sudarsono. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). ttd Dr. dan tanggapan warga masyarakat. Rincian tata cara: a. Gubernur dapat mengatur lebih lanjut: 1. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 3. penyampaian saran. 2. Surat Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 235 .H. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). KEDUA : KETIGA : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Pebruari 2000 Kepala Badan Lingkungan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. pengumuman. dan c. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Penentuan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. A. 1. b. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Mengingat : PERTAMA : Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan berpedoman pada Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini. keterlibatan masyarakat dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. S.

RKL. pemrakarsa dan masyarakat terkena dampak terkait dengan tetap memperhatikan kemungkinan penyempurnaannya kembali pada tahap proses penilaian dokumen ANDAL. c) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). dan RPL di Komisi Penilai. PENDAHULUAN 1. RKL. b) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL). dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. f) proses penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL. yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh. khusus bagi warga masyarakat terkena dampak yang penetapannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan butir a) dibawah. Masyarakat Pemerhati: Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. dan RPL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Penyampaian Saran. e) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).1 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilaksanakannya keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: 1) Melindungi kepentingan masyarakat. (2) Menuliskan dengan jelas sehingga mudah dibaca. pendapat. 1.LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. (3) Menjelaskan dan atau melampirkan identitas pribadi. Pendapat. Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL: Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang AMDAL. dan/atau tanggapan atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL dan dokumen KA-ANDAL. dan Tanggapan Bentuk tertulis (contoh: surat. email) atau bentuk cetak (contoh: surat pembaca di media massa) sehingga mudah didokumentasikan. 3) Penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut. Dalam proses ini. Pendapat. pendapat. ANDAL. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. 3) Duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. dan kerjasama dikalangan pihak-pihak yang terkait. g) sikap instansi yang bertanggung jawab atas saran. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lingkup masyarakat terkena dampak adalah: 236 . faktor pengaruh sosial budaya. perhatian pada lingkungan hidup. kebutuhan. dan 4) Koordinasi. dan dengan menggunakan mekanisme perwakilan yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan butir b) dibawah : a) Penetapan lingkup masyarakat terkena dampak Penetapan lingkup warga masyarakat terkena dampak pada tahap penyusunan KA-ANDAL dilakukan atas kesepakatan bersama antara instansi yang bertanggungjawab. 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. dan 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan. 2) Memberikan saran. Masyarakat Terkena Dampak: Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/ atau kegiatan. faktor pengaruh ekonomi. masyarakat menyampaikan aspirasi. c) Tata Cara Tata cara penyampaian saran. HAK DAN KEWAJIBAN 2.3 Pengertian Masyarakat yang Berkepentingan: Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 2. dan Tanggapan (1) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. dan tanggapan dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. 2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. dan tanggapan masyarakat yang disampaikan. 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 1. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. dan masyarakat pemerhati. pendapat.1 Hak-hak Warga Masyarakat Hak-hak warga masyarakat dalam proses AMDAL adalah: 1) Memperoleh informasi mengenai: a) rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL. dan h) keputusan hasil penilaian dokumen AMDAL. komunikasi.2 Prinsip Dasar Pelaksanaan 1) Kesetaraan posisi diantara pihak-pihak yang terlibat. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak. Wakil Masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL: Wakil masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL adalah wakil dari masyarakat terkena dampak yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. b) Spesifikasi Teknik Penyampaian Saran. d) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL).

237 . dan tanggapan dari warga masyarakat yang disampaikan. dan (4) Pusat dan/atau tempat pengumuman resmi yang ditetapkan dan diatur oleh instansi yang bertanggung jawab. pembuatan infrastruktur desa. dimana kemudian dapat memunculkan kelompok masyarakat terkena dampak yang tidak teridentifikasi sebelumnya. Demikian pula halnya pada saat ditemukannya alternatif mitigasi dampak dalam RKL dan RPL. (2) Memperhatikan jenis isu pokok/dampak besar dan penting yang muncul Sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan bisa memiliki lingkup warga masyarakat yang terkena dampak berbeda-beda menurut jenis isu pokok/dampak besar dan penting. pendapat. namun pada saat evaluasi dampak akan dapat teridentifikasi kelompok masyarakat terkena dampak baru. lingkup warga masyarakat yang terkena dampak dapat membesar/mengecil. 3) Menyampaikan rangkuman hasil saran. atau proyek pertambangan terhadap masyarakat suku terasing). (4) Memperhatikan tahapan proses kajian AMDAL Semakin jelas permasalahan dan alternatif mitigasi dampak. (3) Melakukan komunikasi dan konsultasi rutin dengan masyarakat yang diwakilinya. dan lain sebagainya. proyek peremajaan kota. dan 5) Memfasilitasi terlaksananya dengan baik hak warga masyarakat atas informasi dan berperanserta dalam proses AMDAL. • Ditulis dengan huruf cetak standar dengan ukuran minimal 12. (3) Mengacu pada batas wilayah dampak yang ditetapkan dalam studi AMDAL Warga masyarakat yang terkena dampak haruslah warga yang memang berada di dalam wilayah dampak yang batas-batasnya ditetapkan dalam studi AMDAL. Penetapan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. Ukuran minimal tidak boleh dijadikan alasan tidak lengkapnya lingkup materi yang disampaikan. termasuk juga pendapat-pendapat yang saling bertentangan. (1) 2. (3) Pengumuman pada papan pengumuman harus sekurang-kurangnya: • Ditulis dengan warna hitam dan dasar putih. • jenis usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pengaruh positif atau negatif besar pada satu kelompok masyarakat tertentu menjadikan hanya sebagian masyarakat menjadi kelompok yang terkena dampak (misalnya: proyek transmigrasi/ pemindahan pemukim perambah hutan yang akan mempengaruhi penduduk yang dipindahkan dan penduduk yang akan menerima. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman (1) Semua bentuk pengumuman baik tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Wujud dari pengakuan ini dapat berupa bukti yang sifatnya formal (misalnya: surat persetujuan bersama dari kelompok masyarakat yang diwakili).2 Kewajiban Instansi yang Bertanggung Jawab Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai penyusunan AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Media cetak lokal dan nasional. (2) Papan pengumuman kantor instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat dan/atau daerah. disampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. RKL. Warga masyarakat terkena dampak memilih sendiri wakilnya yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. atau bentuk-bentuk pengakuan lainnya yang ditetapkan dan disetujui oleh kelompok masyarakat terkena dampak yang diwakilinya (misalnya: menetapkan tokoh masyarakat formal seperti Kepala Desa dan LKMD. dan tanggapan dari warga masyarakat serta respon dan sikap atas saran. dengan lama minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. Contoh : • identifikasi dampak dan wilayah sebarannya pada saat KA-ANDAL mungkin hanya menghasilkan satu kelompok masyarakat terkena dampak. 4) Menyediakan informasi tentang proses dan hasil keputusan penilaian dokumen KA-ANDAL dan ANDAL. dan dapat ditambahkan dengan (3) Media elektronik televisi dan/atau radio.b) Memperhatikan karakter rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diusulkan Contoh : • jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat setempat berarti menjadikan seluruh masyarakat setempat sebagai kelompok yang terkena dampak (misalnya : proyek pembukaan lahan pertanian skala besar. Kriteria dan syarat wakil masyarakat terkena dampak adalah: (1) Seseorang yang diakui sebagai juru bicara dan/atau mendapat mandat dari kelompok masyarakat terkena dampak. dan tanggapan warga masyarakat tersebut kepada Komisi Penilai AMDAL. 2) Mendokumentasikan dan mengolah saran. atau informal seperti tokoh adat dan tokoh agama setempat sebagai wakil yang disepakati). pendapat. dan lain-lain). Contoh : • adanya perbedaan antara kelompok warga masyarakat terkena dampak akibat isu konflik sosial budaya dengan kelompok akibat isu pencemaran lingkungan. (2) Menyuarakan semua bentuk aspirasi dan pendapat masyarakat yang diwakilinya secara apa adanya. • Berukuran minimal 60 x 100 cm 2 (4) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita ataupun spot iklan. (2) Pengumuman tertulis di media cetak harus berukuran minimal 5x3 cm 2 dan ditulis dengan huruf standar sekurang-kurangnya berukuran 10. dan RPL kepada warga masyarakat yang berkepentingan. pendapat.

serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan. ANDAL. surat. dan tanggapan yang disampaikan oleh warga masyarakat yang berkepentingan 3. RKL. kapasitas dan lokasi kegiatan). Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I. 2) Menyelenggarakan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan dalam penyusunan dokumen KA-ANDAL. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. dan/atau • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Daerah : Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I u. terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan. pendapat. pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : 1) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. yang teknisnya diatur dalam butir 2) sub bab 2. serta cara penanganannya. dan e) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran.2. dan tanggapan dari warga masyarakat. pendapat. b) Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan.3. dan/atau media elektronik. 3. pendapat. 2) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. dan disampaikan kepada: • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Pusat : Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan u. 3) Mengumumkan hal-hal: a) Nama dan alamat pemrakarsa. dan tanggapan dari warga masyarakat 4) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. d) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. dan h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran.p. dan tanggapan dari warga masyarakat. d) Produk yang akan dihasilkan. misalnya brosur.3 Kewajiban Pemrakarsa Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum memulai penyusunan dokumen AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Papan pengumuman di lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan.p. c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. 3) Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL.2. 4) Menanggapi saran. dengan tembusan kepada Pemrakarsa.1. 2) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. lokakarya. dan 2) Mengumumkan waktu. c) Nama dan alamat pemrakarsa. (2) Papan pengumuman di lokasi-lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. pendapat. dan tanggapan. media cetak. TATA CARA KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL 3. pendapat. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. c) Jenis usaha dan/atau kegiatan. dan RPL kepada warga masyarakat yang memerlukannya. dan (3) Media lain yang dianggap tepat dengan situasi setempat. seminar.2. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. Warga masyarakat yang berkepentingan berhak menyampaikan saran. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuanpertemuan publik. b) Jenis usaha dan/atau kegiatan. e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan.2 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Pada saat penyusunan KA-ANDAL. 238 .1 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL Pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL wajib: 1) Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). Unit yang membidangi AMDAL. f) Dampak lingkungan hidup yang akan timbul. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman Spesifikasi tampilan pengumuman sesuai dengan ketentuan b) dalam butir 1) sub bab 2. Instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL dengan ketentuan: 1) Mengumumkan hal-hal: a) Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/ atau kegiatan.

dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa. 75 hari) KEPUTUSAN KELAYAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BAPEDAL/GUBERNUR 3. DAN TANGGAPAN PENILAIAN KA-ANDAL OLEH KOMISI (maks. Sonny Keraf 239 .1. PENDAPAT. 3. 75 hari) PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN.1. RPL OLEH KOMISI (maks. dan/atau pemrakarsa. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan. DAN TANGGAPAN KONSULTASI PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. RKL.4 Tahap Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). DAN TANGGAPAN PENILAIAN ANDAL. PENDAPAT.3 Tahap Penilaian KA-ANDAL Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. pendapat. pendapat. A. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. PENDAPAT.BAGAN PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggung jawab Pemrakarsa PENGUMUMAN RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PENGUMUMAN PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL SARAN. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL. ttd Dr.

Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. A. 240 . Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Mengingat : Kedua : Ketiga : Keempat : Kelima : Keenam : Ketujuh : Sudarsono. Yang dimaksud dengan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Analisis Dampak Lingkungan Hidup. 2. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran I Keputusan ini. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan ini. S. 5. Ringkasan Eksekutif dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif sebagaimana dimaksud dalam lampiran V Keputusan ini. 1. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. b. Dengan ditetapkannya Keputusan ini. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. 3. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699).H. a. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Februari 2000 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. ttd Dr. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran IV Keputusan ini. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran III Keputusan ini. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum dicabut.

LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) A. 2. dana. Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah: a. ukuran. Karena itu. dalam menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil keputusan dan perencanaan. b. Dengan cara ini ANDAL dapat dilakukan secara efisien. ANDAL lebih menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut terhadap lingkungan hidup.2. Hasil studi kelayakan ini tidak hanya berguna untuk para perencana. dan sebagainya.2. Keanekaragaman ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup.3. dan sebagainya. Karena itu. 4. tujuan.1.1. dan penyusun studi ANDAL. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritias manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas. Nomor 27 Tahun 1999. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa. PENJELASAN UMUM 1. Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL. penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan: 241 . Tujuan dan fungsi KA-ANDAL 3. 3. instansi yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. Rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL 4. tenaga. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah: a. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL Menurut Pasal 2 PP. Dengan demikian KAANDAL diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang harus ditelaah. metode. tenaga. seperti antara lain: keterbatasan waktu. keanekaragaman faktor lingkungan hidup. Demikian pula rona lingkungan hidup akan berbeda menurut letak geografi. dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati selama menyusun ANDAL. dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Karena itu. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. dan waktu yang tersedia. KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa mengurangi mutu pekerjaan ANDAL. 5. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. 4. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal. instansi yang bertanggung jawab. 4. Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun akan berbeda-beda. tetapi yang terpenting adalah juga bagi pengambilan keputusan. sasaran. 3. Efisiensi Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. dan sebagainya. Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. pengaruh manusia. Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman bentuk. KA-ANDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan. berlainan dengan bagian studi kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi AMDAL. Namun dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33 s/d Pasal 35 PP. tata kaitan antara keduanya tentu akan sangat bervariasi pula. KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah pemrakarsa. 6. Sungguhpun demikian. Keterbatasan sumber daya Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. b.

ada beberapa faktor yang harus diperhatikan: a. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah dan sistematis. seperti antara lain: • Hutan Lindung. dan Cagar Biosfer. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri. teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya dampak negatif yang lebih besar. d. • Taraf hidup masyarakat. seperti antara lain: • Pemilikan dan penguasaan lahan. Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak besar dan penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup yang berciri: i. • Keanekaragaman hayati. • Kenyamanan lingkungan hidup. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak yang terlibat. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya. perencana dan pengelola lingkungan hidup berupa: • Alternatif usaha dan/atau kegiatan • Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup • Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup 7. c.Pengumpulan data dan informasi tentang • Rencana usaha dan/atau kegiatan • Rona lingkungan hidup awal Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup awal sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan Penentuan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan Evaluasi dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan. • Warisan alam dan warisan budaya. 8. • Kesehatan masyarakat. Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan hidup. Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-ANDAL terutama dalam proses pelingkupan. • Kesempatan kerja dan usaha. 242 . Sehubungan dengan hal tersebut. Wawasan KA-ANDAL Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. • Kualitas udara. • Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup. Hutan Konservasi. satu sama lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan. b. • Sumber daya air. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. maka dalam studi ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan hidup. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. ii.

instansi yang bertanggungjawab. Kegiatan identifikasi dampak besar dan penting ini terutama dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL). serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. lokakarya. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. deskriptif). sehingga diperoleh daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL.Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena melalui proses ini dapat dihasilkan: a. sosial. dampak besar dan penting yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya. Dari ruang rencana usaha dan/ atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Pada tahap ini daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis. dan/atau h) pelapisan (overlay). • Keterkaitan antar berbagai komponen dampak besar dan penting yang telah dirumuskan. dan/atau c) interaksi kelompok (rapat. Pertama. dan lain-lain). dan/atau b) analisis isi (content analysis). Metoda yang digunakan pada tahap ini adalah interaksi kelompok (rapat. baik dari ekonomi. Daftar dampak besar dan penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. Kedua. Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metoda yang digunakan. instansi yang bertanggungjawab serta masyarakat yang berkepentingan. Pelingkupan dampak besar dan penting Pelingkupan dampak besar dan penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut: 1) Identifikasi dampak potensial Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (primer. sekunder. Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. batas ekologis. c. Pelingkupan wilayah studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak besar dan penting. batas sosial.2. Posisi batas proyek ini agar dinyatakan juga dalam koordinat. dan/atau d) metoda ad hoc. 2) Evaluasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. 8. brainstorming. dan/atau i) pengamatan lapangan (observasi). instansi yang bertanggung jawab. 8. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: 1) Batas proyek Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. dan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. dan/atau f) matrik interaksi sederhana. Isu-isu pokok lingkungan hidup tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan. konstruksi dan operasi. segenap dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. atau penting tidaknya dampak.1. dan/atau g) bagan alir (flowchart). brainstorming). dan/atau e) daftar uji (sederhana. dan para pakar. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang tersedia (dana dan waktu). 243 . jumlah sampel yang diukur. b. lokakarya. Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang akan dilakukan. Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut ini: a) penelaahan pustaka. kuesioner. maupun ekologis. termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. Untuk jelasnya proses pelaksanaan pelingkupan dapat mempelajari Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sesuai Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-30/MENKLH/7/1992. waktu dan tenaga. masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan lapangan (observasi). dan batas administratif. Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak besar dan penting. pemrakarsa. dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar. 3) Pemusatan dampak besar dan penting ( Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan/mengorganisir dampak besar dan penting yang telah dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan hidup yang dapat mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal: • Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan dengan komponen lingkungan hidup yang mengalami perubahan mendasar (dampak besar dan penting). Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek. Dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting ditelaah. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak.

Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a.2. Tujuan dan kegunaan proyek. teknis dan ekonomis. kemudian diperluas ke ruang ekosistem. batas HPH. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. maka batas sosial ditetapkan dengan membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a. 4) Batas administratif Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di dalam ruang tersebut. batas kuasa pertambangan). Kebijaksanaan Regional. ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan.1. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. dana. udara). Lokal dan Perusahaan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan. mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan mendasar akibat aktifitas usaha dan/atau kegiatan. namun penentuannya disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki keterbatasan sumber data. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup: 1. tenaga. Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan (misal. c. BAB II. Mengingat dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menyebar tidak merata. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN BAB I. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. waktu. b. dan metode telaahan. Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana. RUANG LINGKUP STUDI 2. Dengan demikian.Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah a. maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai. Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. 244 2) . 3) Batas sosial Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. c. Mengidentifikasikan rona lingkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting. Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi ANDAL.Batas ekologis Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air. 5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL Yakni ruang yang merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas. seperti waktu. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. ekologis serta komunitas masyarakat yang berada diluar batas proyek dan ekologis namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. B. b. b. b. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas. dimana proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. Komponen usaha dan/atau kegiatan yang ditelaah yang berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkannya. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan. c. dan tenaga). tehnik. c.1.Tujuan dan kegunaan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah: a. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampakdampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. 1.

dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. mengamati dan mengukur komponen lingkungan hidup yang diperkirakan terkena dampak besar dan penting. identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. Evaluasi dampak besar dan penting secara holistik tersebut di atas harus mencakup baik dampak yang tergolong besar dan penting maupun tidak sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya. nama dan keahlian dari masing-masing anggota penyusun AMDAL. maka pengukuran terhadap besaran dampak kumulatif akibat berbagai usaha dan/ atau kegiatan tersebut mutlak diperhitungkan. Disamping itu harus dilampirkan pula biodata personil penyusun ANDAL.2.4. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan bersifat terpadu atau berada dalam suatu kawasan.3. 4. PELAKSANAAN STUDI 4. dan mengukur komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan mendapat dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya. Sementara untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar digunakan Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.4. overlay) untuk digunakan sebagai : a. BAB VI.Penyusun studi AMDAL Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan. 4.1.Isu-isu pokok Uraikan secara singkat isu-isu pokok yang dapat ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai hasil pelingkupan. sosial dan administratif. LAMPIRAN Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perizinan yang berkaitan dengan proyek dimaksud. butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat (masyarakat yang berkepentingan). METODE STUDI 3. nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL. mengamati. 3. 245 .Metode prakiraan dampak besar dan penting Pada bagian ini jelaskan metode yang digunakan dalam studi ANDAL untuk memprakirakan besaran dampak dan penentuan tingkat kepentingan dampak.3.Lingkup rona lingkungan hidup awal a. nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/ atau kegiatan. ekologis.Metoda pengumpulan dan analisis data Pada bagian ini jelaskan metode pengumpulan dan analisis data baik primer dan/atau sekunder yang sahih dan dapat dipercaya (reliabel) untuk digunakan: a. uraikan secara jelas untuk setiap komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. 3. Uraikan dengan singkat mengenai rona lingkungan hidup yang terkena dampak. b. sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala teknis yang dihadapi. BAB III.3. Perlu diketahui bahwa Ketua tim penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL B sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan. 2. Bab ini agar dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat menggambarkan batas wilayah proyek. Dalam hal ini. Komponen lingkungan hidup yang ditelaah karena terkena dampak. b. Menelaah.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya. BAB V. Tata cara pelingkupan agar mengacu pada serangkaian proses pelingkupan sebagaimana dimaksud di dalam penjelasan umum. Menelaah. bagan alir.Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan.Waktu studi Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab. 2.Biaya studi Pada bagian ini diuraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan studi ANDAL. Data rona lingkungan hidup semaksimal mungkin menggunakan data aktual di lapangan. b. BAB IV. 2.Lingkup wilayah studi Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek.2. Metoda formal dan non formal digunakan dalam memprakirakan besaran dampak. DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini uraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan penyusunan dokumen KAANDAL.1. 4.2.Metode evaluasi dampak besar dan penting Pada bagian ini diuraikan metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. ekologis.

1. terutama komponen usaha dan/atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. RUANG LINGKUP STUDI Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak besar dan penting yang ditelaah serta wilayah studi. Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak besar dan pentingnya. b. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan. perencana. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL kegiatan dalam kawasan. Uraikan dengan singkat kondisi rona lingkungan hidup yang terkena dampak. b. c. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. terutama komponen lingkungan hidup yang langsung terkena dampak. b. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. c. bila dipandang perlu. c. dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan. c. d. BAB II. Kaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan dampak besar dan penting yang ditimbulkan (isu-isu pokok hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen KA-ANDAL). Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. b. d. operasi maupun pasca operasi. Mengidentifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.1.2. d. Landasan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Memuat uraian singkat tentang : a. d.Dampak besar dan penting yang ditelaah a. termasuk masyarakat. Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL baik AMDAL kegiatan tunggal. 246 . Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. 2. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. c dimaksud mengacu pada hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan untuk ANDAL. Baik pada tahap prakonstruksi. Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan dan lingkungan. Aspek-aspek yang diteliti sebagaimana dimaksud pada butir 2. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan (PP Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 1). c. a. Tujuan dan kegunaan proyek. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media massa. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) RINGKASAN Ringkasan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah. B.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a.Tujuan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. Uraikan secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. b. konstruksi.1. e. BAB I. Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan mengacu pada hal-hal yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan.LAMPIRAN II: KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. b. sehingga dapat : 1. PENJELASAN UMUM 1. terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Merumuskan RKL dan RPL. 2.1. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup : 1. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 3. 2. Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak.

dan b. energi. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan. c. baik ditinjau dari segi kepentingan pemrakarsa maupun dari segi menunjang program pembangunan. Bila berdasarkan studi kelayakan terdapat beberapa alternatif lokasi usaha dan/atau kegiatan.1. BAB III. seperti pemukiman (lingkungan hidup binaan manusia umumnya). suaka alam. Mengingat studi ANDAL merupakan telaahan mendalam atas dampak besar dan penting usaha dan/ atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. tata letak bangunan atau sarana pendukung.b..Kegunaan dan keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan Uraian yang memuat tentang kegunaan dan keperluan mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus dilaksanakan. Penyusun ANDAL : 1) Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. metoda analisis atau alat yang digunakan.Metoda pengumpulan dan analisis data a. Pengumpulan data dan informasi untuk demografi. sosial ekonomi. dan hasil pengamatan di lapangan.Wilayah Studi Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL. 3. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala memadai. sungai. serta hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya.1. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada Bab II butir 2. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 4.Metoda prakiraan dampak besar dan penting Uraikan secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak usaha dan/atau kegiatan dan penentuan sifat penting dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 2. Hutan lindung. 4.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan .b. sumber daya alam hayati dan. sosial budaya. b.1. Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai. dermaga dan sebagainya). METODA STUDI 3.kegiatan yang berada di sekitarnya. BAB IV. b. maka berikan uraian tentang masingmasing alternatif lokasi tersebut sebagaimana dimaksud pada butir a. a. 2. pertahanan dan keamanan. dan dapat memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya.2. Alternatif usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil studi kelayakan (misal: alternatif lokasi. Bila terdapat beberapa alternatif tata letak bangunan dan struktur lainnya. yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. maka alternatif rancangan tersebut diutarakan pula dalam peta yang berskala memadai.Metoda evaluasi dampak besar dan penting Uraikan singkat tentang metoda evaluasi dampak yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. dan lingkungan hidup alami yang terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. d. Hubungan ini perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai. cagar alam. dan kawasan lindung lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus diberikan tanda istimewa dalam peta. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL. yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan.3. suaka margasatwa. c. Pemrakarsa : 1) Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan.Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan Pernyataan rencana maksud dan tujuan dari rencana usaha dan/atau kegiatan perlu dikemukakan secara sistematis dan terarah. dan kesehatan masyarakat menggunakan kombinasi dari tiga atau lebih metoda agar diperoleh data yang reliabilitasnya tinggi. Uraikan secara jelas tentang metoda pengumpulan data. atau teknologi proses produksi). Penggunaan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan tersedianya sumber daya air. jalan kereta api. sumber daya alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi. overlay).3.2. bagan alir. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. sumber mata air. yang berskala memadai. 247 . 4. maka jenis data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder harus bersifat sahih dan dapat dipercaya ( reliable) yang diperoleh melalui metoda atau alat yang bersifat sahih.2.Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari : a.1. b.

Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis perlu mendapat perhatian. yang mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. sehingga dapat diketahui input-output dan jumlah serta kualitas limbah. baik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan yang sudah ada terhadap lingkungan hidup. 1) Tahap pra-konstruksi/persiapan Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pra konstruksi. Misalnya: (a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan bahan/material. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan selama masa operasi. (4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan. bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa. 248 . Misalnya: (1) Desain dan spesifikasi teknologi yang digunakan. jalanjalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa konstruksi. bila ada. tempat asal tenaga kerja. gudang. (3) Rencana jumlah tenaga kerja. Misalnya: (1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah. (2) Jumlah dan jenis bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak besar dan penting lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya (misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya).e. RONA LINGKUNGAN HIDUP Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin mengenai: 1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 2) Tahap konstruksi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. dan kualifikasi pendidikan. demikian pula neraca bahan (material balance). listrik. 3) Tahap Operasi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. cair maupun gas dan rencanarencana pengelolaannya. BAB V. tempat asal tenaga kerja yang akan diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. jangka waktu masa operasi. (c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup. jalan darurat dan sebagainya. bedeng kerja. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan setelah masa operasi berakhir. Disamping itu. jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi. (b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah). air) dari rencana usaha dan/atau kegiatan. hingga rencana waktu pasca operasi. (c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir. Dalam kaitan ini perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3. gudang. (d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan berakhir. Perlu juga diuraikan neraca air (waterbalance) bila usaha dan/ atau kegiatan yang akan dibangun menggunakan air yang banyak. konstruksi. (3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup. 4) Tahap Pasca Operasi Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pasca operasi. 4. Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain disekitarnya Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. (4) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial. (5) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat. Uraikan secara mendalam difokuskan pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.4. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi. (2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan.

suaka margasatwa. habitat. tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. danau. keistimewaan. Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan. pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca terburuk. (c) Uraikan tentang keunikan dari vegetasi dan ekosistemnya yang berada pada wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. struktur geologi dan jenis tanah. lima tahunan. 2) Fauna (a) Taksiran kelimpahan dan keragaman fauna. sifat-sifat dan kerawanannya yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (d) Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. kelembaban curah hujan dan jumlah hari hujan. (d) Kondisi fisik daerah resapan air permukaan dan air tanah. (g) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk keperluan lainnya seperti pertanian. taman nasional dan lain-lain). 4) Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut. 2) Fisiografi (a) Topografi bentuk lahan (morphologi). (b) Data periodik bencana (siklus tahunan. (c) Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut. terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidak stabilan. gempa. populasi hewan budidaya (ternak) serta satwa dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (b) Uraikan tentang jenis-jenis vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. keadaan angin (arah dan kecepatan). hutan. dan sebagainya) seperti sering terjadi angin ribut. perikanan dan lain-lain serta kawasan non budidaya seperti hutan lindung . morfologi pantai. kimia dan mikrobiologi air mengacu pada baku mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. Penyusun dapat menelaah komponen lingkungan hidup yang lain diluar dari daftar contoh komponen ini bila dianggap penting berdasarkan hasil penilaian lapangan dalam studi ANDAL ini. banjir bandang di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (misal: longsor tanah. sesar. rawa air tawar). (b) Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan stabilitas tanah. rata-rata). grafik atau foto. rawa (rawa pasang surut. (e) Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (b) Rata-rata debit dekade. arus dan gelombang/ombak. banjir tahunan. (c) Kemungkinan adanya konflik atau pembatasan yang timbul antara rencana tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan/penentuan lokasi bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. (e) Fluktuasi . Penyajian kondisi sumber daya alam ini perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram. 3) Hidrologi (a) Karakteristik fisik sungai. pola migrasi. 3) Data dan informasi rona lingkungan hidup Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. dan lain-lain. propinsi atau nasional di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. cuci. (b) Rencana pengembangan wilayah. abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. (f) Sumber kebisingan dan getaran. (h) Kualitas fisik. perkebunan. suhu (maksimum. industri. dan sumber daya alam lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh Pemerintah setempat baik di tingkat kabupaten. bulanan.2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/ atau kegiatan. (c) Keunikan. (d) Pola iklim mikro. rencana tata guna tanah. penyebaran. dan tanah (a) Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha dan/atau kegiatan yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangannya di masa datang. (f) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk air minum. (c) Kadar sedimentasi (lumpur). Fisik Kimia 1) Iklim. gambar. Biologi 1) Flora (a) Peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami yang meliputi tipe vegetasi. rencana tata ruang (kawasan budidaya seperti pertanian. 249 . dan kerawanan bentuk lahan dan batuan secara geologis. minimum. dan sebagainya). kegiatan-kegiatan vulkanis. Berikut ini adalah beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL. a. b. lahan. atau berpotensi terkena dampak besar dan penting. kualitas udara dan kebisingan (a) Komponen iklim yang perlu diketahui antara lain seperti tipe iklim. 5) Ruang. intensitas radiasi matahari. tingkat erosi. tahunan. gempa. sesar. potensi dan kualitas air tanah (dangkal dan dalam). mandi. kegiatan-kegiatan longsor tanah.

dan agama. cara memelihara anaknya. (c) Perekonomian lokal dan regional (kesempatan kerja dan berusaha. (c) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi. nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. distribusi pendapatan. efek ganda ekonomi. kohesi sosial). 6) Kondisi sanitasi lingkungan. kelompok individu yang dominan. (e) Pelapisan sosial berdasarkan pendidikan. 250 . pendapatan asli daerah. pola penggunaan lahan. Kesehatan Masyarakat 1) Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan. pola pemanfaatan sumber daya alam. aksesibilitas wilayah). agama. keluarga. BAB VI. komuter. pergeseran nilai kepemimpinan).(b) Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan. (f) Kekuasaan dan kewenangan (kepemimpinan formal dan informal. sosial. cara pemijahan. tingkat kematian bayi dan pola migrasi sirkuler. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/ atau kegiatan. (b) Proses sosial (proses asosiatif/kerjasama. ekonomi. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra konstruksi. (b) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik-kimia. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut: (a) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. 8) Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. 2) Proses dan potensi terjadinya pemajanan. pendidikan. (c) Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi (misal hak ulayat). sumber daya alam milik umum). pendidikan. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup. 4) Pertahanan/Keamanan Konflik kepentingan pertahanan dan keamanan dengan rencana pembangunan usaha dan/atau kegiatan. nilai tambah karena proses manufaktur. Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan. kewenangan formal dan informal. dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. (g) Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan. jenis kelamin. nilai dan norma budaya). c. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1) Demografi (a) Struktur penduduk menurut kelompok umur. d. 4) Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. pola nafkah ganda). dengan mengacu pada Pedoman penentuan dampak besar dan penting. proses disosiatif/konflik sosial. (d) Tenaga kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja. mata pencaharian. pekerjaan dan kekuasaan. 7) Status gizi masyarakat. akulturasi. siklus dan daur hidupnya. operasi. konstruksi. cagar budaya). 3) Budaya (a) Kebudayaan (adat-istiadat. 2) Ekonomi (a) Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat. perilaku dalam daerah teritorinya. (d) Warisan budaya (situs purbakala. (c) Pertumbuhan penduduk (tingkat kelahiran. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. 5) Sumber daya kesehatan. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. (c) Perikehidupan hewan penting di atas. asimilasi dan integrasi. (h) Adaptasi ekologis. Sedang dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. cara bertelur dan beranak. (b) Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. 2) Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan bagi masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. permanen). fasilitas umum dan fasilitas sosial. tingkat pengangguran). dan pemerintah. 3) Dalam melakukan telaahan butir 1) dan 2) tersebut perlu diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. (b) Tingkat kepadatan penduduk. produk domestik regional bruto. 3) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian). jenis dan jumlah aktifitas ekonomi non-formal. atau sumber hama dan penyakit. termasuk cara perkembangbiakan.

LAMPIRAN Dalam bab ini hendaknya disebut bahan-bahan yang dilampirkan : 1) Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. dalam arti apakah dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti.2 dilakukan untuk masing-masing alternatif. (c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-dampak besar dan penting yang harus dikelola. usulan rencana usaha dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang akan ditimbulkannya. 3) Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup awal. atau pada tingkat pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah. BAB VIII.c dan d yang telah diutarakan selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan. dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. 2) Telaahan sebagai dasar pengelolaan (a) Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha atau kegiatan dan rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul. (c) Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang akan terkena dampak positif. 5) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metoda-metoda formal secara matematis. regional. bentuk teknologi yang tak sesuai dan sebagainya. (e) Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam. rujukan bagi para pelaksana dan peneliti serta penyusun analisis dampak lingkungan hidup. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. melewati batas negara Republik Indonesia. umpamanya lebih dari satu generasi. (b) Yang dimaksud dengan evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak besar dan penting lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab VI. sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan. 4) Diagram. Nomor 27 Tahun 1999. EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam Bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. 4) Mengingat usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi. uraikan kejelasan tentang waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak besar dan penting mulai timbul. kualifikasi. Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. atau bahkan internasional. 251 . Misalnya. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruhmempengaruhi. gambar. 2) Surat-surat tanda pengenal. sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak besar dan penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif. karena rencana usaha atau kegiatan itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia. 5) Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini. BAB VII. Bahan-bahan tersebut diatas tidak perlu lagi dilampirkan dalam dokumen ANDAL bilamana telah dicantumkan dalam dokumen KA. (e) Dampak penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. peta. keputusan. mungkin saja dampak besar dan penting timbul dari rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap rona lingkungan hidup. dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. (f) Dampak penting pada butir a. atau teknologi yang digunakan). grafik.(d) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial.1 dan VI. 1) Telaahan terhadap dampak besar dan penting (a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI. (b) Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas. Apabila dimungkinkan. sebagaimana dimaksud dalam PP. (d) Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini. DAFTAR PUSTAKA Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. nasional. Atau antara dampak-dampak satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis dan sinergistis.b. apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan pembangunan. Atau mungkin akan terus berlangsung. BAB IX. maka telaahan sebagaimana dimaksud pada butir VI.

Hal ini tidak lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi. atau persyaratan untuk mencegah. dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL. serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut : (a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan. prinsip-prinsip. (d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah. Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain adalah struktur organisasi. (c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. (b) Pokok-pokok arahan. tata letak (tata ruang mikro) lokasi. kriteria pedoman. lengkapi pula dengan acuan literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud. 4) Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. sistimatis. belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci. Hal ini tidak lain disebabkan karena : (a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) relatif masih umum. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas: (a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang “basic design” untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/pengendalian dampak. menanggulangi. prinsip-prinsip. serta jumlah dan kualifikasi personalnya. sebelum investasi. maupun institusi. prinsip-prinsip. (d) Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. (c) Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih. dan rancang bangun proyek. dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. Keterbatasan data dan informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL. 252 . Rencana pengelolaan lingkungan hidup Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan penanggulangan dampak negatif. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. dan masih memiliki beberapa alternatif. meminimisasi. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti : teknologi. tenaga. serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis. dan bila dipandang perlu. maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek). (b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. kriteria atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. 3. dalam arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL.LAMPIRAN III : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) A. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi. lingkup tugas dan wewenang unit. mengendalikan atau meningkatkan dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat strategis. (b) Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan rinci rekayasa. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. sosial ekonomi. PENJELASAN UMUM 1. 2.

(5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. sosial ekonomi. c) Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. (1. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti: teknologi. (2) Dalam rangka mencegah. (1. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya dibidang pengelolaan lingkungan hidup.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. akan ditempuh cara : (1. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle).2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya Rencana Pengelolaan Lingkungan. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERNYATAAN PELAKSANAAN Pernyataan Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani diatas kertas bermaterai. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan yang relevan. Pernyataan kebijakan lingkungan. serta komitmen untuk melakukan penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam bentuk mencegah. (b) Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. 1) 2) PENDAHULUAN Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. dan ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di atas. (3) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. misalnya : (2. B. BAB I. (2. 5) Format dokumen RKL Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. 3) BAB II. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. mengurangi. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. (1. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. Sebagai misal: (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. singkat dan jelas.Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle).1) Membatasi atau mengisolasi limbah. akan ditempuh cara. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. 253 .2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). maupun institusi. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. dan bantuan peran pemerintah. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. akan ditempuh cara : (1.

1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. (3) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak besar dan penting turunannya. Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. Sebagai misal. keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah. (2. Perlu ditegaskan bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting saja. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. atau taraf konstruksi). (2) Dalam rangka mencegah.(b) (c) (1. mengurangi. 3) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting yang bersifat strategis berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut tercegah/tertanggulangi/terkendali. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. lazim digunakan. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. rancangan rinci rekayasa. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. Selain itu utarakan pula dampak besar dan penting turunannya yang akan turut terpengaruh akibat dikelolanya dampak besar dan penting strategis tersebut. atau memperbaiki kerusakan sumber daya alam. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. akan ditempuh cara. (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. 254 . dan/atau telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. (2) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang tergolong banyak menimbulkan dampak besar dan penting turunan (dampak sekunder. Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan BAB III. 2) Tolok ukur dampak Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan). Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. Uraikan pula sejauh mana taraf perkembangan rencana usaha dan/atau kegiatan di saat RKL sedang disusun (studi kelayakan. dan selanjutnya). (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut: 1) Dampak penting dan sumber dampak besar dan penting (a) Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL. (2) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. Komponen atau parameter lingkungan hidup yang berubah mendasar menurut ANDAL perlu ditetapkan beberapa hal yang dipandang strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan : (1) Dampak besar dan penting yang dikelola terutama ditujukan pada komponen lingkungan hidup yang menurut hasil evaluasi dampak besar dan penting merupakan dampak besar dan penting akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. tersier. dan bantuan peran pemerintah. Tolok ukur yang diutarakan adalah yang digunakan dalam ANDAL. (b) Sumber Dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting : (1) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha dan/ atau kegiatan. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. misalnya : (2. maka jelaskan secara singkat komponen dampak besar dan penting tersebut.

Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 1997 yang meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan hidup. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. berkepentingan. Pembiayaan tersebut antara lain mencakup : (a) Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkungan hidup serta biaya untuk kegiatan teknis lainnya. Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. dan Institusi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. rancangan teknik (engineering design). Bupati/Walikotamadya. (b) Biaya personil dan biaya operasioanal. dan pH. dan atau institusi sebagaimana dijelaskan pada bagian penjelasan umum butir 4. khususnya parameter BOD5. Sumber Dampak. Pengelolaan Lingkungan hidup Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi. BAB IV. makalah. dana).). sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah. (e) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pengelolaan lingkungan hidup. 2) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta (lokasi kegiatan. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. maupun laporan hasil-hasil penelitian. dan berbalik tidaknya dampak). Lengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai. BAB V. dan atau sosial ekonomi. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP 51/MENLH/10/1995. baik yang berupa buku. sifat kumulatif.4) 5) 6) 7) 8) Sebagai misal. (c) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. Apabila dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan atau bekerjasama dengan pihak lain. matrik serta data utama yang terkait dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan sifat persebaran dampak besar dan penting yang dikelola. (c) Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional. dll. (b) Pengawas pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. bila unit atau sarana dimaksud di dalam dokumen ANDAL dinyatakan sebagai aktifitas dari rencana usaha dan/atau kegiatan. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Upaya pengelolaan lingkungan hidup yang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengolahan limbah). (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. PUSTAKA Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. (d) Keputusan Gubernur. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah pencemaran air. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggungjawab. Padatan Tersuspensi Total. lokasi pengelolaan lingkungan hidup. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup. maka cantumkan pula institusi dimaksud. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. COD. maka tujuan upaya pengelolaan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. majalah. Institusi pengelolaan lingkungan hidup Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. Tolok Ukur Dampak. tulisan. Periode pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan : sifat dampak besar dan penting yang dikelola (lama berlangsung. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. serta kemampuan pemrakarsa (tenaga. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. 255 . LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : Jenis Dampak .

Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan. Walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ). tergantung pada skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. atau terkena dampak besar dan penting. tepat waktu dan dapat dipercaya. (b) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. Sebagai misal. BAB II. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) BAB I. berulang dan terencana. RKL dan RPL. (c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup yang harus dipantau. Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa.LAMPIRAN IV : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) A. PENJELASAN UMUM 1. (b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. 2) Lokasi pemantauan. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau kegiatan. bau. dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam dokumen RKL. dan logam berat. ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan secara acak atau sesaat. sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup. singkat. suhu. (d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. PENDAHULUAN Pendahuluan mencakup : 1. 5) Metode analisis data. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu di pantau. dan pengawas kegiatan pemantauan. maupun bagi masyarakat.1. c. pelaksana pemantauan. adalah pH. mulai dari tingkat proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan). Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan. 4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data). (f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan hidup. Sumber dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting: (a) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha atau kegiatan. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. dan selanjutnya disebarkan kepada berbagai penggunanya. indikator yang relevan untuk kualitas air limbah dan air sungai sehubungan dengan karakteristik rencana usaha dan/atau kegiatan. B. Latar belakang pemantauan lingkungan hidup a. Koordinasi dan kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar data dan informasi yang diperoleh. kandungan minyak. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting tersebut. 2. BOD5. Dampak besar dan penting yang dipantau Cantumkan secara singkat : (a) Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL. pihak-pihak yang berkepentingan. mencakup : 1) Jenis data yang dikumpulkan. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan. warna. pengguna hasil pemantauan. yakni : (a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. 2. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut : 1. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. b. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. 256 . Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan. 3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan. Disamping skala keacuhan. dapat bersifat tepat guna. (b) Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. dan jelas tentang tujuan pemantauan lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan. yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi pada data sistematik. Uraikan secara sistematis. (e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau.

Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah kualitas air limbah. serta metode analisis). Metode pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator dampak besar dan penting. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. PUSTAKA Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL baik yang berupa buku. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak besar dan penting yang dipantau (instensitas. Padatan Tersuspensi Total. COD. Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran. 2. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. maupun laporan hasil-hasil penelitian. atau formulir isian yang digunakan. dan sifat kumulatif dampak). (c) Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup. Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam Baku Mutu Lingkungan hidup. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. S. tulisan. Sebagai misal. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Lampiran ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut: dampak besar dan penting yang dipantau. yang mencakup : (a) Metode pengumpulan dan analisis data Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan. Parameter lingkungan hidup yang dipantau Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. majalah. jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan hidup.H. A. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri . dan pH. (e) Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pemantauan lingkungan hidup. ttd Dr. lokasi pemantauan lingkungan hidup. dan institusi pemantau lingkungan hidup. (b) Lokasi pemantauan lingkungan hidup Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. maka tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Memantau mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. dan dampak besar dan penting turunan yang ditimbulkannya. Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan data disaat penyusunan ANDAL. lama dampak berlangsung. instrumen. rencana pemantauan lingkungan hidup (yang meliputi metode pengumpulan data. 257 . kimia. ttd Sudarsono. berkepentingan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 4. sumber dampak. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan hidup. bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. dengan memperhatikan dampak besar dan penting yang dikelola. dan sebagai umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup.3. Institusi pemantauan lingkungan hidup Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak besar dan penting lingkungan hidup. instrumen. 5. 6. makalah. Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau. Perlu diperhatikan bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. Bupati/Walikotamadya. (c) Jangka waktu dan frekwensi pemantauan Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. BAB III. bentuk rencana pengelolaan lingkungan hidup. khususnya parameter BOD 5. (b) Pengawas pemantauan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RPL. Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksana pemantauan lingkungan hidup Cantumkan institusi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP: 51/MENLH/10/1995. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB IV. Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. (d) Keputusan Gubernur. tujuan pemantauan lingkungan hidup. Cantumkan jenis peralatan.

2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). sistematis dan berkesinambungan serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Bahwa mengingat hal tersebut di atas. ttd Sarwono Kusumaatmadja 258 . Mengingat : 1. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Pasal 2 Panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Pasal 1 Untuk menjamin Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dilaksanakan dengan baik.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-105/11/1997 TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Bahwa panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. Menimbang : a. kreatif dan bertanggung jawab. b. terkoordinasi. 4. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. bersungguh-sungguh. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 Nopember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan serta pelaporan secara terencana.

SASARAN Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. Pemrakarsa usaha atau kegiatan. DASAR HUKUM 1. Dalam kaitan ini. maka perlu disusun Pedoman Umum Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). B. E. b). 3. PELAKSANAAN PEMANTAUAN 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. 4. BAPEDALDA TK I dan BAPEDALDA TK II. dan untuk memberikan acuan bagi para pelaku pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. Fungsi manajemen lingkungan ini berupa pelaksanaan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Tujuan: 1. c). Untuk mewujudkan maksud tersebut. 2. PELAKSANA PEMANTAUAN Pemantauan dilaksanakan oleh: 1. BAPEDAL Wilayah. Bentuk pemantauan a. Pemda Tk. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). Instansi Teknis/Sektor yang bertanggung jawab. Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. II yang bersangkutan. D. C. terkoordinasi. Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL.Lampiran : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 105 Tahun 1997 Tanggal : 14 Nopember 1997 PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) A. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dapat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Pasal 11 ayat (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 2. LATAR BELAKANG Salah satu fungsi penting didalam AMDAL (PP 51 Tahun 1993) adalah fungsi manajemen lingkungan. kreatif dan bertanggung jawab sehingga kualitas lingkungan dapat dipertahankan sesuai dengan fungsinya. Pasal 25. pemantauan pasif dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa. Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan pelaporan secara terencana. (2) Hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada Menteri atau Pemimpin lembaga pemerintah non departemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. MAKSUD DAN TUJUAN Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL bagi kegiatan wajib AMDAL ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam melaksanakan pemantauan dan pelaporan pelaksanaan RKL dan RPL. Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. bersungguh-sungguh. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. 259 . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). I dan Tk. 3. b. F. II yang bersangkutan. (2) Ketentuan tentang rencana dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pemantauan tidak langsung (pasif) 1) Pemantauan tidak langsung (pasif) adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan tertulis oleh pihak lain. I dan Bupati/Walikotamadya KDH Tk. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. 2. sistematis dan berkesinambungan. 2) Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemrakarsa dilaporkan kepada: a) Gubernur KDH Tk. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyebutkan: (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan penguji terhadap: a).

Biaya Penyusunan Laporan. d.Lumpsum. b) Dasar pertimbangan untuk menentukan sasaran pemantauan (uji petik) aktif pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan. b) Instansi Teknis/Sektor yang memberi ijin. Oleh Instansi yang menerima laporan hasil pemantauan tersebut. Melakukan diskusi dengan pihak Pemrakarsa tentang manfaat. dengan memperhatikan/ mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Usaha atau kegiatan yang besar dan komplek permasalahan lingkungannya. Pemantauan ini dilakukan oleh : a. Bagi Instansi\Pemerintah. c. . Permintaan Instansi tertentu. melakukan pengambilan contoh limbah untuk diuji di laboratorium atau keluaran pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Mempelajari dokumen AMDAL. meliputi : manajemen. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 November 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan ttd. Untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pemantauan di lapangan. serta memeriksa kebenaran laporan pemantauan yang dilaksanakan oleh Pemrakarsa. c) BAPEDAL Pusat. Melakukan pemantauan di lapangan. Secara keseluruhan. masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan. Melakukan koordinasi dengan Instansi yang bertanggung jawab. Bagi pemrakarsa. digunakan sebagai: a) Masukan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pengelolaan lingkungan. b. d. pengelolaan limbah. maka pembiayaan dan penyediaan fasilitas pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL terintegrasi dalam manajemen usaha atau kegiatan yang direncanakan sejak dokumen AMDALnya disusun. Melakukan pemantauan bersama. 3) Frekuensi pemantauan lapangan dilaksanakan menurut kebutuhan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana disebutkan pada butir 2) huruf a di atas. Usaha atau kegiatan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap lingkungan. 4) Metode pemantauan di lapangan. sumber pembiayaan dan pemenuhan fasilitas pemantauan RKL dan RPL disediakan dari masing-masing Instansi. pelaksanaan pemantauan dapat menggunakan Formulir-1 dan Formulir-2. 3) Instansi lain yang terkait. laporan pemrakarsa mengacu pada Formulir-3. PEMBIAYAAN Untuk memperlancar pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan diperlukan dukungan dana dan fasilitas. khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan yang akan dipantau. Laporan disusun dengan sistematika sebagaimana pada Formulir-4.Biaya transportasi . Format laporan hasil pemantauan Pemrakarsa atas pelaksanaan RKL mengacu pada Formulir-1 dan untuk pelaksanaan RPL mengacu pada Formulir-2. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan. Melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan atau masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan yang dipantau. BAPEDAL Wilayah. kendala dan hambatan dalam pelaksanaan RKL dan RPL. Metode pelaksanaan RKL dan RPL dilakukan dengan cara: a. PENUTUP Hasil pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL yang sudah dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak lain tersebut perlu terus dipantau secara periodik untuk mengetahui apakah rekomendasi hasil pemantauan itu benar-benar dilaksanakan oleh pemrakarsa atau tidak. .b. Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan. Koordinasi ini meliputi : Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi usaha atau kegiatan yang akan dipantau. b. 5) Pelaporan hasil pemantauan lapangan Hasil pelaksanaan pemantauan disusun dalam bentuk pelaporan yang kemudian dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak Instansi Pemerintah sebagaimana telah disebutkan pada butir 2) huruf c. atau Lembaga Swadaya Masyarakat. Memeriksa dan mencocokkan seluruh pelaksanaan RKL dan RPL sesuai dengan dokumen. dan BAPEDAL Daerah. Instansi terkait (termasuk. Mengetahui apakah pihak-pihak tersebut telah melaksanakan pemantauan terhadap usaha-usaha atau kegiatan yang akan dipantau termasuk hasil-hasilnya. BAPEDAL. b. Hasil pemantauan (pasif dan atau aktif) yang telah dilakukan. unit intern organisasi pengelolaan lingkungan. c. e. G. Instansi teknis/sektor 2) Langkah-langkah pemantauan: a. Sarwono Kusumaatmadja 260 . bila perlu pihak Laboratorium Lingkungan) dan Pemerintah Daerah (Tingkat I dan II) dimana usaha atau kegiatan itu berada. Biaya pemantauan antara lain meliputi: .Biaya Analisis Laboratorium H. BAPEDAL. Bila diperlukan. Wilayah dan Daerah. dll. Pemantauan langsung (aktif) 1) Pemantauan secara aktif adalah pemantauan yang langsung dilakukan di lapangan atas pelaksanaan RKL dan RPL. Menentukan sasaran usaha atau kegiatan yang akan dipantau.

Formulir-1 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RKL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN RKL NO PENGELOLAAN 4 5 6 7 8 TEKNIS PELAKSANAAN HASIL PELAKSANAAN/TEMUAN LAP ANGAN KENDALA/MASALAH 3 DA P PE G M AK NTIN SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R TINDAK LANJUT/ REKOMENDASI 1 2 261 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Formulir-2 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RPL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN METODA LOKASI W AKTU TEKNIS PELAKSANAAN HASILPEMANTAUAN TINDAKLANJUT RKL N O D M A P NTIN A PK E G SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R KENDALA/MASALAH REKOMENDASI P ARAMETER Y ANGDIP ANTAU METODA LOKASI W AKTU 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 12 1 2 262 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Pengelolaan dampak penting B. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai. Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.Sumber dampak penting .Sumber dampak penting .Tolok ukur dampak penting . B.Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis laboratorium).Waktu Pemantauan BAB III HASIL PELAKSANAAN A. 263 .Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. RPL . C.Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai. LATAR BELAKANG . HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) . D.Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. antara lain meliputi: . . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Jenis dampak penting .Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. . antara lain meliputi: .Proses kegiatan/produksi BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Metode Pemantauan . B. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan tolok ukur.Jenis dan atau tahapan kegiatan . antara lain meliputi: . RKL . RINGKASAN R K L Tuliskan ringkasan RKL. TUJUAN . .Jenis dampak penting .Kapan mulai beroperasi .Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada).Lokasi .FORMULIR 3 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHA ATAU KEGIATAN : LOKASI : PEMRAKARSA : TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN A. Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL.Lokasi Pemantauan .

.Pengelolaan dampak penting B.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan jika ada. antara lain meliputi: .Tuliskan tujuan pemantauan ini sesuai dengan butir C dalam Panduan Umum Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. PELAKSANAAN .Jenis dampak penting . .Sebutkan nama-nama petugas dan dari lnstansi/Unit mana. . antara lain meliputi: .Sumber dampak penting . .Tolok ukur dampak penting . .Jenis dan atau tahapan kegiatan . LATAR BELAKANG .Kapan mulai beroperasi .Proses kegiatan/produksi E.Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Jenis dampak penting . WAKTU .Waktu Pemantauan BAB III TEMUAN LAPANGAN/HASIL PENGECEKAN/HASIL PENGUKURAN Temuan lapangan dibagi menjadi empat hal: a.Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pengelolaan lingkungan. meliputi: .Bentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemrakarsa. meliputi : hasil pemeriksaan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Pemrakarsa.Sumber dampak penting . antara lain meliputi . RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan.Unit organisasi yang melakukan pengelolaan lingkungan. . BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A. B. F.Proses beroperasinya alat pengelolaan lingkungan. .Lokasi . RINGKASAN RKL Tuliskan ringkasan RKL.Formulir – 4 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHAATAU KEGIATAN : LOKASI PEMRAKARSA PETUGAS PELAKSANA / INSTANSI : TANGGAL : : : BAB I PENDAHULUAN A.Uraikan kenapa pemantauan RKL dan RPL ini penting.Lokasi Pemantauan . TUJUAN . Temuan Lapangan RKL.Metode Pemantauan . .Jenis dan spesifikasi alat pengelolaan lingkungan.Jelaskan kenapa pemantauan ke usaha atau kegiatan yang dipilih ini dilakukan (alasan dan hasil yang diinginkan). HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) . C. 264 .Tuliskan kapan waktu pemantauan berlangsung.Dapat ditambahkan tujuan lain bila memang diperlukan. D. RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.

. dll.Dalam memberikan rekomendasi/saran tidak perlu memperhatikan: dokumen RKL dan RPL. . temuan lapangan/hasil pengecekan.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pemantauan lingkungan jika ada.: .Frekuensi dan kontinuitas pengoperasian pelaksanaan pemantauan lingkungan. Bandingkan hasil temuan lapangan. BAB V REKOMENDASI Penulisan Kesimpulan dan Rekomendasi sebaiknya dipisahkan antara RKL dan RPL.Unit organisasi yang melaksanakan pemantauan lingkungan. masing-masing dengan dokumen RKL dan RPL. Rekomendasi berisi saran tindak secara teknis. c. . Temuan Lapangan RPL. kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang terkait. . Uraikan kendala dan hambatan Pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. Kesimpulan berisi hal-hal yang berkaitan dengan tingkat ketaatan Pemrakarsa dan situasi-kondisi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. termasuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan oleh Pemrakarsa tetapi tidak termuat dalam dokumen RKL dan RPL. d. . antara lain: Photo-photo. konkret dan yang dapat diterapkan (applicable) oleh Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.Keterlibatan masyarakat sekitar dalam pemantauan lingkungan. .Jenis dan spesifikasi alat pemantauan lingkungan. perkembangan teknologi yang relevan. meliputi hasil pemeriksaan pelaksanaan pemantauan. LAMPIRAN .Proses beroperasinya alat pemantauan lingkungan.Bentuk pemantauan lingkungan yang dilaksanakan.LAMPIRAN Lampirkan dokumen dan atau informasi yang dirasa perlu. .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pemantauan lingkungan.b. Gambar-gambar. Copy hasil uji limbah di laboratorium dsb. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan baik kegiatan maupun kualitas lingkungannya. 265 . Peta.

b. Bahwa aspek kesehatan masyarakat. Bahwa kesehatan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. ttd Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. Kedua : Ketiga : Keempat : Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. perlu dikaji secara mendalam. 2. merupakan bagian dalam penyusunan AMDAL. Dadang Danumihardja NIP. Bahwa dalam pedoman penyusunan AMDAL. sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan serendah mungkin. Mengingat : 1. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 5. Menimbang : a. media lingkungan. c. dan kondisi kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP-124/12/1997 TENTANG PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN AMDAL KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. kajian aspek kesehatan masyarakat dirasakan kurang memadai untuk melakukan analisis dampak guna menyusun rencana pemantauan serta pengolahan dampak kesehatan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). dan dikelola dengan baik. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-39/MENLH/8/1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 060030827 266 . untuk itu setiap usaha atau kegiatan pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat. perlu dilakukan pengkajian aspek kesehatan masyarakat. Setiap jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL harus melakukan kajian terhadap aspek kesehatan masyarakat pada rencana tapak (tipologi kegiatan. 3. tipologi lingkungan). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 4. masyarakat yang akan terpajan. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada diktum kedua di atas dilaksanakan sesuai dengan Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL.

Memahami keterkaitan antara jenis usaha atau kegiatan. Sumber daya kesehatan 6. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. Untuk menggambarkan potensi besarnya dampak dan keterkaitan (asosiasi) antara parameter lingkungan dengan masyarakat yang terpajan. perubahan parameter lingkungan. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit B. adalah hasil studi untuk mengkaji kemungkinan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup dan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan. dan kecelakaan). Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek kesehatan Dampak Lingkungan. tanah. Status gizi masyarakat 8. emisi/ambien. Membantu mempermudah proses pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) 267 . udara. Kajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan untuk setiap fungsi dokumen: 1. Sedangkan kesehatan lingkungan merupakan kondisi dari berbagai media lingkungan (air. biologis dan kimia dan kualitas parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. II. model pendekatan seperti epidemiologi. Salah satu peraturan pelaksanaan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/ 3/1994 antara lain menyatakan bahwa kajian dampak penting dilakukan terhadap komponen biologi-kimia-fisika. masyarakat terpajan (biomarker). yaitu analisis terhadap potensi besarnya dampak. Kondisi sanitasi lingkungan 7. Kajian aspek kesehatan masyarakat yang ditelaah meliputi: 1. manusia yang terpajan dan bentuk dampak kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. vektor penyakit. Dengan demikian bahasan aspek kesehatan akan lebih terfokus dan terkait dalam permasalahan atau isu pokok dan suatu rencana usaha atau kegiatan yang mencakup dua hal penting yaitu perubahan kualitas lingkungan dan dinamika masyarakat disekitar rencana lokasi yang diperkirakan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 3. 3. kejadian keracunan. yang menggambarkan kondisi pengukuran pada sumber. kesehatan dan keselamatan kerja (K3).LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN I. makanan. Untuk memberikan panduan sebagai arahan dalam melakukan studi guna mengkaji aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. III. terdapat dua komponen pokok yang tidak terpisahkan berkaitan dengan kajian aspek kesehatan masyarakat. Membantu menyajikan hasil kajian yang informatif. sosial dan kesehatan masyarakat. dan pengelolaan dampak. Kesehatan masyarakat merupakan kondisi ketahanan fisik dan psikis dari suatu komunitas di daerah tertentu yang merupakan implementasi dan interaksi antara perilaku yang merupakan cermin dan kebiasaan hidup. dengan kualitas kesehatan Iingkungannya. Dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. TUJUAN Panduan ini merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk: 1. higiene. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. dapat dipergunakan pendekatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. RUANG LINGKUP A. dan sanitasi. 2. kinerja laboratorium. Dua komponen pokok tersebut mencakup berbagai metoda. manusia. maka diperlukan kajian aspek kesehatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian-kajian komponen lain dalam studi AMDAL yang mencermati potensi besarnya dampak (risiko) kesehatan. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. serta kajian komunikasi massa untuk diseminasi informasi. material) yang tercermin dalam sifat fisik. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah tersebut telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. 4. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). dan dampak interaksi (prevalensi dan insidensi penyakit. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2.

Seberapa besar/luas usaha atau kegiatan memerlukan pengerahan sumber daya manusia (lokal dan pendatang) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki potensi untuk menimbulkan penyakit menular? 3. media lingkungan (ambien. Ukuran atau nilai dan evaluasi dampak potensial dapat mempergunakan pertimbangan dari beberapa pernyataan di bawah ini: 1. yaitu prediksi. Identifikasi Dampak Potensial Identifikasi dampak potensial dilakukan melalui penilaian terhadap parameter lingkungan (fisik. kelainan reproduksi dan penyakit menahun lainnya? 268 . penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan. maka identifikasi dampak potensial dan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL dapat disusun sebagai berikut. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. yang menggambarkan potensi. sehingga diperoleh dampak penting hipotesis. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit Metoda pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dan suatu asosiasi atau hubungan antara parameter lingkungan.14/MENLH/3/1994 dan substansi yang dijelaskan pada butir 2 pelingkupan. simulasi/model Dengan mengacu Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep. biologis. telaah hasil penggunaan/uji binatang percobaan 6. Dampak potensial hipotesis ini kemudian disusun dalam suatu daftar guna dinilai berdasarkan pandangan masyarakat. Dengan demikian karakteristik spesifik dampak penting dan setiap rencana usaha atau dapat diprediksi secara lebih cermat dan akurat. Yang berhubungan dengan cemaran. Potensi besarnya dampak terjadinya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. 1. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan dampak potensial yang dipandang tidak relevan. kontak penderita. telaah para ahli/profesional 8. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. studi epidemiologi dan studi kesehatan lingkungan pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 2. kanker. udara. baik akut maupun kronis seperti : keracunan. observasi. melalui: 1. Status gizi masyarakat 8. dsb) B. Hal-hal yang diperhatikan dalam perlingkupan kajian aspek kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. emisi). Yang berhubungan dengan perindukan vektor (binatang perantara penyakit) perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat berkembang biaknya vektor telaah data atau informasi dan studi kesehatan lingkungan survei malarlometrik dan studi epidemiologi tentang penyakit bersumber binatang pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 3. sosial) yang kemungkinan akan menjadi berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN 124 Tahun 1997 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (KA. dan pertimbangan para pakar untuk memperoleh dampak potensial. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING A. Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat kebiasaan pemanfaatan air kebiasaan penggunaan bahan “reppelent” atau pelindung kebiasaan penggunaan Insektisida kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan (berobat. studi banding terhadap hasil studi yang pernah dilaksanakan 7. tanah dan makanan) jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (di masa depan) telaah data dan informasi berdasarkan studi toksikologi.ANDAL) I. perlu diperhatikan: penyebaran bahan pencemar di media lingkungan (air. telaah kegiatan proyek 2. Kondisi sanitasi lingkungan 7. Seberapa besar usaha/kegiatan membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan mempunyai potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan. Sumber daya kesehatan 6. telaah hasil uji dan analisis laboratorium 5. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit? 2. II. besarnya dampak kesehatan yang kemungkinan dapat timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan masyarakat terpajan (“population at risk”). telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan referensi yang relevan 3. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. PENDAHULUAN Kerangka Acuan ANDAL pada dasarnya merupakan suatu arahan berdasarkan hasil perlingkupan dalam menentukan batasan permasalahan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang dampak penting. dsb) 4. telaah data dan informasi berdasar pengamatan lapangan (survei. referensi yang relevan.

dan karakteristik spesifik lingkungan serta penduduk disekitar tapak lokasi rencana kegiatan yang diarahkan pada lingkup ekologi yang terkena dampak fisik. Sifat dampak (akut dan kronis) Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpengaruh terhadap proses penularan penyakit akibat perubahan interaksi antara manusia dengan habitat vektor penyakit. penderitaan seumur hidup dan atau kematian. maka kajian aspek kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan batasan epidemiologi dari penyakit yang ada disekitar tapak lokasi. dan pasca konstruksi? c.4. Keterkaitan rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting) 2. baik menurut waktu. Apakah di dalam batas lingkungan proyek mengandung bahan berbahaya (toksik) yang berpotensi sebagai bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan? 2. dikaitkan dengan akses komunitas masyarakat terhadap pelayanan dan sarana. sinergistik. Beban ekonomi Meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat dampak dan rencana usaha atau kegiatan sehingga masyarakat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan kesulitan akses terhadap sarana kesehatan yang ada. Jumlah penduduk Peningkatan jumlah penduduk yang terkena dampak di masa depan dan rencana usaha atau kegiatan sehingga berpengaruh terhadap status kesehatan melalui proses akumulasi. c). dan mikroba secara terus-menerus atau periodik sehingga menimbulkan penyakit dan atau kematian. 3. parasit. bahan material dan manusia itu sendiri. C. Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan: a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada batas proyek di atas (butir 1). b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada batas ekologi di atas (butir 2). 2. dengan mempertimbangkan tipologi usaha atau kegiatan. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat vektor penyakit yang dapat berkembang dalam masa pra konstruksi. serta pertumbuhan usaha non formal di sekitar lokasi proyek. 3. keganasan maupun kelainan reproduksi. yang berkait erat dengan batas ekologis dan sosial yang akhirnya ditetapkan sebagai batas wilayah studi. Batas Ekologis Batas ekologis ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994. penurunan intelegensia gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel atau mutasi DNA yang berakibat kelainan genetik. kimia. dan kronis. vektor penyakit. Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut: a. Berkaitan dengan masalah epidemiologi. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan (scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan (screening) untuk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara cermat dan mendalam sedemikian rupa sehingga diperoleh isu pokok. Batas administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. yang dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan. batas sosial dan batas administrasi. 269 . Daftar dampak potensial yang diperoleh dari huruf C tersebut selanjutnya dievaluasi sehingga diperoleh dampak penting kesehatan masyarakat. Disamping batas-batas yang telah ditetapkan dalam pedoman seperti batas proyek. maka penjabaran batas-batas yang tertuang dalam pedoman dapat diuraikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. tahapan kegiatan maupun dampak komulatif yang terjadi Dalam proses pemusatan (focussing). Seberapa besar usaha atau kegiatan dapat menurunkan secara berarti pemenuhan makanan dan gizi masyarakat dari generasi ke generasi? 5. batas ekologis.serta sumber daya kesehatan. dan biologi serta aspek sosial yang akan terganggu. udara dan tanah. konstruksi. Lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak kesehatan dan rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. 4. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia karena daya dukung lingkungan sedemikian rupa sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat? Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting (“focussing”) bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan dan dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang isu-isu pokok permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan risiko kesehatan secara utuh dan lengkap. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang memiliki riwayat menyandang penyakit tertentu yang endemis dan penyakit menular potensial wabah? b. III. dengan memperhatikan: 1. penyusun aspek kesehatan masyarakat dalam AMDAL perlu diperhatikan prioritas kepentingannya sebagai berikut: 1. Untuk itu perlu diidentifikasi apakah di dalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang derajat kesehatannya dapat berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. Keterkaitan antar komponen dampak penting yang telah dirumuskan secara holistik.

Beberapa proses dan langkah penyusunan ANDAL akan disinggung kembali bila diperlukan disesuaikan dengan kekhususan kajian. referensi (data statistik. 5. waktu dan dana. Dampak penting aspek kesehatan masyarakat dan suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. peta. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek kesehatan masyarakat yang terdapat dalam KA.LAMPIRAN III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) I. untuk itu perlu pemahaman akan sifat komponen dan keterkaitannya dari sudut pandang aspek kesehatan masyarakat. propinsi) yang akan diukur. rujukan. A. metoda & uji laboratorium). mengikuti pedoman baku yang telah ditetapkan. studi epidemiologi dan pustaka lainnya yang relevan. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain: observasi / pengamatan lapangan. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan. serta metoda prakiraan dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk mempertajam kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. Arahan pokok dan panduan ini yang perlu tercantum dalam dokumen ANDAL mencakup dua hal. Sebagai alat bantu untuk melengkapi angka 3 dan 4 tersebut di atas. 2. Dan angka 3 tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kajian komponen aspek kesehatan masyarakat yang tertera pada KA ANDAL dapat mengalami penambahan dan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan antara aspek fisik-kimia. tetapi akan menyebar secara spesifik tergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. Memperhatikan posisi tersebut. beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: 1. kabupaten. Sementara itu teknis penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara umum tetap mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 . Komponen lingkungan dan masyarakat yang diteliti harus bersifat spesifik lokasi. 5. bahan-bahan pustaka dan bahanbahan referensi lain yang relevan yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. studi kesehatan lingkungan. 4. biologi dan sosial dan masalah kesehatan masyarakat. panduan ini difokuskan pada substansi pokok yang perlu dikaji berdasarkan permasalahan pokok. 3. Prakiraan dampak kesehatan masyarakat. pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). Demikian pula format penyusunan ANDAL. wawancara dengan menggunakan kuesioner. karena tidak semua parameter harus diteliti. wawancara mendalam (indepth interview). 270 . dengan memperhatikan: 1. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data 1. SERTA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. 4. yaitu metodologi dan deskripsi dari kajian aspek kesehatan masyarakat. 6.Lampiran 2. Evaluasi dampak kesehatan masyarakat. 3. desa. Media lingkungan yang menjadi wahana transportasi bahan berbahaya dan kondisi lingkungan yang menunjang terbentuknya habitat vektor penyakit. penyusunan aspek kesehatan masyarakat dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. 2. dokumen-dokumen ANDAL dan kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). satuan analisis (rumah tangga. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat secara epidemiologis: perubahan mendasar atau dampak penting lingkungan yang akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. Parameter lingkungan dan kesehatan serta metoda prakiraan dan evaluasi dampaknya pada kesehatan masyarakat. 2. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. II. melalui penelusuran data dan informasi dari hasil-hasil penelitian. ketersediaan tenaga. Uraian rencana usaha atau kegiatan yang berhubungan erat dengan aspek kesehatan masyarakat. pengumpulan data sekunder. Sehubungan dengan hal tersebut. Metode pengumpulan dan analisis data dan butir-butir di atas.

Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang diperkirakan terkena dampak.memperkirakan biaya dampak melalui perhitungan kesediaan masyarakat membayar untuk menghindari atau menurunkan dampak. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. Jadi metoda yang akan digunakan hendaknya merupakan rangkuman dari dua hal tersebut. sebaran dan beban yang diproyeksikan kepada jumlah penduduk terkena dampak. Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan antara lain adalah: Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif Analisis jalur pemajanan di masa depan Analisis risiko epidomiologis ( absolute risk. Beberapa arahan penting untuk menetapkan prakiraan dampak penting dan aspek kesehatan masyarakat adalah: prevalensi penyakit yang berhubungan dengan vektor cukup tinggi - 271 . derajat kepekaan yang dikehendaki. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas bila perlu dapat digunakan secara simultan agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi.7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat.B. Kep. Data ekonomi ditekankan pada beban masyarakat akibat dampak kesehatan (penyakit cedera) yang timbul. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap biaya yang umumnya dikeluarkan untuk jenis atau benda dampak tertentu. pandangan dan aspirasi mereka. Ada dua cara pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk menilai biaya dampak kesehatan. dan sampel biologis dan masyarakat sekitar tapak lokasi. Sementara kecenderungan dimaksudkan sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda.memperkirakan biaya langsung untuk pengobatan. dan relative risk) Analisis biaya dampak kesehatan Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan. diperlukan “value judgement” dari penyusun AMDAL. Untuk itu indikator ekonomi kesehatan yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. Metoda analisis data yang dapat digunakan adalah metoda analisis dampak kesehatan lingkungan dan metoda epidemiologi. 5. teknik pengambilan sampel secara acak (random). attributable. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain: teknik pengambilan sampel secara purposive. baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif.056 tahun 1994. Besaran dampak mencakup jenis. Metoda ini perlu disesuaikan dengan isu pokok (lihat lampiran II . dengan menggunakan pedoman pertanyaan. biaya langsung bukan untuk pengobatan. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 . sifat. Metoda Evaluasi Dampak Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. 4. Secara umum evaluasi dampak penting mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal No. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. dan “Cost of illness (COI)” . yaitu: Metoda “Willingness to Pay (WTPJ)” . wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Metoda Prakiraan Dampak Prakiraan dampak merupakan telaahan untuk melihat besaran dan kecenderungan timbulnya dampak kesehatan masyarakat. C. yakni telaahan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak lingkungan terkait erat dengan masalah kesehatan masyarakat. perlu diperhatikan tingkat “representativeness” dan karakteristik spesifik dan lingkungan dan karakteristik spesifik dan jenis “biomarker” tertentu yang kemungkinan akan berkait erat dengan dampak dan rencana usaha atau kegiatan. diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan jenis dan sifat parameter dampak penting yang akan diukur. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. dan biaya tidak langsung sebagai akibat dampak hilangnya produktivitas. 3. baik secara langsung maupun tidak langsung. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. Dalam hal pengambilan sampel untuk keperluan uji laboratorium sebagai kelengkapan pengumpulan data parameter lingkungan.KA ANDAL) dan metoda yang digunakan untuk pengumpulan dan analisis data (butir A di atas). dan kondisi lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kelayakan aplikasi teknik yang dipilih. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini derajat keseragaman (homogenitas) dan populasi.

URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Pada dasarnya uraian rencana usaha atau kegiatan adalah seperti apa yang telah ditetapkan dalam pedoman umum. Kondisi kehidupan penduduk terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti akses kepada penyediaan air minum dan makanan dan sarana kesehatan. atau merusak tanaman pangan yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. Penggunaan atau pemanfaatan sumber daya alam. 7. Penggunaan lahan saat ini dan dimasa depan. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. bahan-bahan berbahaya tersebut sangat resisten di alam dan kumulatif sehingga pada jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatan penduduk yang cukup luas. terutama aspek kesehatan masyarakat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) yang akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. III. manusia rentan terhadap “bahan berbahaya” yang dibuang oleh kegiatan yang direncanakan cukup besar jumlahnya. 8. 10.. Perumusan sistem pemantauan kesehatan untuk dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang direncanakan. dsb. 2. air dan tanah. Karena itu kecenderungan dan kapan kemungkinan dampak itu akan terjadi dijelaskan disertai justifikasi ilmiah yang memadai atau asumsiasumsi yang dapat diterima. 7. Umumnya. 4. Status kesehatan penduduk. cacat dalam kandungan. 5. V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING . misalnya menyebabkan kanker. Deskripsi terbaik tentang emisi atau effluen atau perubahan kondisi fisik (perkembangan habitat vektor). Karakteristik demografis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. Analisis dampak kesehatan jangka panjang dan pendek. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan masyarakat pada saat studi ANDAL berlangsung. Karakteristik fisik (hidrogeologis dan iklim) di wilayah kegiatan yang direncanakan. Hasil prakiraan dampak penting aspek kesehatan masyarakat hendaknya dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan terjadi. 272 . RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan di wilayah studi. sosial. Informasi tentang faktor lingkungan. bahan-bahan berbahaya mengganggu kebutuhan hidup manusia. Perilaku spesifik penduduk yang berhubungan dengan risiko. 2. Informasi yang diperlukan untuk penyusunan rona lingkungan dan kesehatan masyarakat antara lain: 1. maka rencana kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak seperti yang dinyatakan pada Bab Evaluasi Dampak (Butir II C). Deskripsi terbaik yang tersedia tentang mekanisme dispersi. 3. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. absorpsi. IV. 11. Identifikasi cara-cara menghilangkan atau mengurangi dampak kesehatan dan prakiraan biaya yang diperlukan. ekonomi yang kemungkinan besar mempengaruhi kepekaan penduduk yang terkena dampak. dampak kesehatan akan timbul setelah periode waktu tertentu.- - adanya spesies vektor penyakit di lokasi kegiatan yang direncanakan. 9. 6. 3. 4. Dari aspek kesehatan masyarakat. 8. Analisis dampak kesehatan pada alternatif rencana usaha atau kegiatan. perilaku masyarakat yang berisiko cukup besar. persebaran “bahan berbahaya” cukup luas sehingga memungkinkan terjadinya jalur-jalur pemajanan di masa depan yang cukup luas pula. Contoh data set untuk kegiatan pembangunan industri yang direncanakan: 1. 6. Prevalensi penyakit menular. perlu dijelaskan dalam laporan studi ANDAL terinci pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang penyakit yang berkaitan dengan pencemaran yang berhubungan dengan kegiatan yang direncanakan. sarana atau jangkauan pelayanan kesehatan yang masih sangat terbatas. misalnya pencemaran air tanah sehingga banyak masyarakat tidak memperoleh persediaan air bersih yang memadai. 5. 9. 12. misalnya banyak masyarakat yang menggunakan air sungai. Karakteristik epidemiologis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. Akses dan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. absorpsi di udara. Deskripsi terbaik tentang jenis kegiatan yang direncanakan. bahan-bahan berbahaya tersebut menimbulkan dampak yang tak terpulihkan. Data lain atau hasil studi yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan.

e. sebagai misal: 1. bila dampak penting kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf a. Pada bagian tiga. Penjelasan terhadap kelompok masyarakat yang akan terkena dampak perlu mencakup karakteristik demografik dan epidemiologi. 2. Untuk itu studi ANDAL Kawasan. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Hasil telaahan evaluasi dampak penting hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan diarahkan kepada alternatif tindakan yang harus diambil untuk mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan kemungkinan timbulnya dampak sehingga memudahkan pengambil keputusan menggunakan data evaluasi dampak penting ini. Pada bagian keempat.Pada setiap isu kesehatan masyarakat yang diprakirakan mengalami dampak penting dibahas melalui sistematika sebagai berikut: a. Pada bagian dua. sementara sungai itu menjadi sumber daya alam yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk budi daya pertanian. 273 . maka dampak penting aspek kesehatan masyarakat untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika diatas. Meskipun pada umumnya dampak kesehatan timbul setelah periode tertentu. dampak penting itu timbul karena rencana usaha atau kegiatan secara kontinyu membuang logam berat ke perairan (sungai). Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dan gangguan pernapasan yang ditanggungnya.C. Ciri dampak penting kesehatan masyarakat itu juga harus dijelaskan. Secara khusus perlu pula dijelaskan hubungan antara rencana kegiatan. b dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: 056 Tahun 1994) dan kriteria yang digunakan seperti contoh pada butir II. dalam arti akan berlangsung terus selama kegiatan itu berjalan termasuk juga periode waktu kemungkinan dampak itu akan terjadi. Misalnya logam berat yang terkonsumsi melalui tata perairan akan menimbulkan penyakit X setelah Y tahun. Metode Prakiraan Dampak. Dampak terhadap gangguan sistem pernapasan penduduk di sekitar rencana usaha atau kegiatantimbul sebagai akibat dari emisi bahan-bahan berbahaya. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjut tersebut. rona lingkungan dan kemungkinan timbulnya dampak kesehatan. c. VI. f. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dan suatu rencana usaha atau kegiatan. tetapi tidak menutup kemungkinan adanya gangguan kesehatan masyarakat yang bersifat Iangsung. diuraikan sifat penting dan besar dampak kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf b di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. Apabila dampak kesehatan masyarakat itu dapat dihitung dalam bentuk kerugian biaya. termasuk pula apakah masyarakat yang terkena dampak tersebut terbatas pada lokasi kegiatan yang direncanakan atau akan tersebar cukup jauh dan lokasi kegiatan itu. baik langsung maupun tidak langsung. Pada bagian pertama. EVALUASI DAMPAK PENTING Hal penting dalam evaluasi dampak penting adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau informasi dan hasil analisis aspek kesehatan masyarakat dengan standar persyaratan dan atau kriteria kesehatan dan berbagai media lingkungan (“environmental pathways”). uraikan tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan angka gangguan pernapasan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha atau kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf ll.B. Misalnya. dan Regional perlu diberikan perhatian yang lebih besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dan segi positif dan atau negatif. b. d. Terpadu/multisektor. maka sajikan cara perhitungannya. Kemungkinan itu perlu disampaikan dalam studi ANDAL.

Memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam emisi atau effluen kegiatan yang direncanakan. atau biomarker pada manusia kontak sesuai dengan periode yang diperlukan. . antara lain: .Pengendalian dampak kumulatif pada wilayah usulan baru yang akan bertambah atas pembangunan yang telah ada. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut di atas. . LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (lampiran IV Kep 14/MENLH/3/1994).Penyediaan daerah penyangga dan sarana umum seperti taman rekreasi dan sarana olah raga. . 060030827 274 . Mengingat dampak kesehatan masyarakat timbul karena terbentuknya jalur pemajanan antara sumber dampak dan manusia rentan. . . antara lain: . Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. Dari aspek kesehatan masyarakat. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk dapat melakukan pemantauan dampak kesehatan masyarakat secara tepat dan efisien.Memar. periode waktu harus disesuaikan dengan saat timbulnya dampak.Memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dan manusia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. misalnya memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam air sumur yang digunakan penduduk. Dari aspek kesehatan masyarakat. ttd.Memantau cara kontak antara media lingkungan yang mengandung bahan berbahaya dengan manusia. .Pengelolaan tata ruang kota terhadap kesehatan mental dan kualitas lingkungan permukiman.Kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan (pelayanan kesehatan). .LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Rencana Pengelolaan Lingkungan (lampiran III . perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk mencegah atau meminimisasi dampak dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh untuk tidak timbulnya dampak kesehatan. .Menciptakan kondisi lingkungan baru: konstruksi bebas banjir dan manipulasi lingkungan mencegah perindukan vektor. Karena itu pemantauan harus diarahkan kepada jalur pemajanan yang berhasil dikenali pada butir prakiraan dampak. . Disamping itu. . khususnya pada pemantauan biomarker.Pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi. .Pengelolaan sampah yang dihasilkan dan kegiatan yang direncanakan.Kep-14/MENLH/3/1994). Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut diatas. apakah melalui minum atau kontak kulit.Memantau “bahan berbahaya” pada titik-titik di media lingkungan yang menjadi jalur penyebaran.Pemilihan lokasi pembangunan yang akan menghindari atau mengurangi efek gangguan vektor yang ada dan mencegah perkembangan perindukan vektor. Dadang Danumihardja NIP. .Kewaspadaan penggunaan lahan dimasa datang.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. ttd Sarwono Kusumaatmadja 275 . Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 2. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. bahwa komponen aspek sosial merupakan bagian yang perlu dikaji secara mendalam dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap komponen tersebut dapat dikelola dengan baik. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. c.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-299/11/ 1996 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 3. Pasal 2 Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Mengingat : 1. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Pasal 1 Aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah telaahan yang dilakukan terhadap komponen demografi. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dirasakan kurang memadai untuk melakukan kajian aspek sosial. b. Menimbang : a. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. ekonomi.

dan 1. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 2. Demografi 1. Beberapa komponen.1. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek sosial dalam penyusunan AMDAL. PENGERTIAN Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasikan dampak penting potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan. ini sangat dirasakan akibat lemahnya acuan yang digunakan sebagaimana tersebut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Kajian aspek sosial dilakukan untuk setiap dokumen : 2. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. sub-komponen dan parameter sosial yang dapat diidentifikasi sebagai dampak potensial dapat dilihat pada Tabel 1: Daftar Komponen. Sebagai upaya untuk lebih memperjelas dalam melakukan kajian komponen sosial seperti yang telah ditentukan. matrik interaksi sederhana c.Komponen dan Parameter Sosial terlampir.1. TUJUAN Pedoman teknis merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk : 1. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING 2.Identifikasi Dampak Potensial Dalam proses identifikasi dampak potensial dapat dipergunakan beberapa metoda sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan seperti : a. 276 . bagan alir d.1. Sub.1. 2. maka pedoman teknis kajian aspek sosial menjadi penting dalam penyusunan AMDAL dan ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kajian-kajian komponen lain. RUANG LINGKUP 1 . Ekonomi. tersebut identifikasi dampak sebaiknya didukung juga dengan teknis analogi melalui observasi pada kegiatan atau usaha sejenis yang telah beroperasi di lokasi lain dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang fenomena dampak sosial yang timbul. C. Memahami keterkaitan aspek biogeofisik dan sosial dalam AMDAL. analisis isi g. Berkenaan dengan angka 2.2. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN ( KA-ANDAL ) 1. Komponen sosial yang ditelaah meliputi : 1.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN A. Namun keadaan yang demikian masih berjalan belum sebagaimana yang diharapkan. pengamatan lapangan f. 2. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 2.3. penelaahan pustaka e. Dengan demikian diharapkan Peraturan Pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik.3. Dalam pelingkupan aspek sosial dalam AMDAL perlu diperhatikan dua hal penting yaitu : 2. Budaya. Karena itu. daftar uji b. Membantu mempermudah proses penyusunan aspek sosial dalam studi AMDAL.2.4. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. interaksi kelompok. B. khususnya kajian dampak sosial. 3. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2.

3. atau pendapatan/pengeluaran rumah tangga ? c. 3. dan sebaliknya. dan proses penduduk (pertumbuhan dan mobilitas penduduk)? b.4.2.1. berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994. perlu diidentifikasi apakah didalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial budayanya berpotensi berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. b dan c di atas merupakan batas sosial. 4) Interaksi sosial yang terjalin di kalangan masyarakat setempat. Perlu diketahui bahwa batas sosial mungkin bisa lebih luas dari batas ekologis dan batas proyek. b.Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan / mengkategorisasikan dampak penting yang telah dirumuskan sebelumnya agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan secara utuh dan lengkap. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam.2. Dalam proses pemusatan (focussing). PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Berdasarkan KEPMENLH Nomor 14 tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL. 3) Struktur pemilikan sumber daya alam baik yang bersifat formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat). tersebut selanjutnya dievaluasi untuk memperoleh dampak penting sosial. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk (kepadatan dan komposisi penduduk). pranata-pranata sosial (lembaga-lembaga kemasyarakatan) yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial).Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan mendeliniasi batas-batas terluar dengan memperhatikan : a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada angka 3. 2) Struktur kekerabatan. 277 . Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan atau nilainilai sosial budaya yang dikandung berpotensi berubah secara mendasar akibat aktivitas pra-konstruksi (pembebasan perolehan lahan. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial.2. batas ekologis. perkebunan.Batas Ekologis Setelah batas ekologis ditetapkan. Struktur sosial yang dimaksud disini seperti yang dimaksud dalam angka 3.1. Dalam penetapan dampak potensial aspek sosial tersebut dapat digunakan dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini: a. dan pemilikan sumberdaya alam (property right) ? Daftar dampak potensial yang diperoleh dari angka 2. ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu : 3. Contoh penetapan batas sosial seperti pada Gambar 1 terlampir. b. konstruksi dan operasi dari rencana usaha atau kegiatan? Struktur sosial yang dimaksud di sini dapat berupa : 1) Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian. udara dan tanah. c) Lokasi komunikasi masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja.Evaluasi Dampak Potensial Evaluasi dampak potensial bertujuan menyeleksi dan menetapkan komponen dampak potensial aspek sosial yang relevan untuk ditelaah.3. perikanan. Berkenaan dengan penentuan batas sosial. tersebut di atas. jasa dan sebagainya). Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat. batas sosial dan batas administrasi. Dampak rencana aspek sosial yang mengakibatkan timbulnya dampak penting pada aspek fisik-kimia dan biologi. Batas-batas terluar dari komunitas masyarakat yang dimaksud pada huruf a. c. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat ? 3. dan sebaliknya. relokasi penduduk). wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas proyek. pola mata pencaharian penduduk.3. Hubungan sebab akibat antar komponen dampak penting aspek sosial itu sendiri. Dampak rencana usaha atau kegiatan terhadap komponen lingkungan yang akan mengalami perubahan mendasar (dampak penting).2. kegiatan ekonomi.Batas Administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran 1 tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. 2.2. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada angka 3.Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut : a. penyusun aspek sosial dalam AMDAL perlu memperhatikan: a. 3.1 .

nilai tambah karena proses manufaktur c.pendidikan c. agama d.pola nafkah ganda 2. Adaptasi Ekologis . jenis kelamin. b. fasilitas umum dan fasilitas sosial j. Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan 8. Budaya 1.kewenangan formal dan informal c.kohesi sosial 3. misal hak ulayat b. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi nonformal d. Ekonomi 1.kepemimpinan formal dan informal b. tingkat kelahiran b. Ekonomi Sumber Daya Alam a. Kekuasan dan kewenangan : a. agama. 278 . Perekonomian Lokal dan Regional a. Pertumbuhan Penduduk a.ekonomi c. Pelapisan Sosial berdasarkan : a. Demografi Parameter 1. pola migrasi (sirkuler. Kepadatan penduduk 2. mata pencaharian.nilai tanah dan sumber daya alam lainnya e.pusat-pusat pertumbuhan ekonomi i.proses disosiatif (konflik sosial) c.keluarga 4.situs purbakala b. Warisan Budaya a.adat-istiadat b.proses asosiatif (kerjasama) b. pola migrasi (sirkuler. tingkat kematian bayi c. tingkat pengangguran 2. Kebudayaan a.pendidikan b.1.2. pendidikan. akulturasi d.kesempatan kerja dan berusaha b.pola pemanfaatan sumber daya alam c. Pranata Sosial kelembagaan Masyarakat dibidang : a.Sumber daya alam milik umum (commmon property) 3.ekonomi.cagar budaya 5.sosial e. Komposisi penduduk menurut kelompok umur. Proses sosial a.pergeseran nilai kepemimpinan 7.asimilasi dan integrasi e.pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam b. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat d.nilai dan norma budaya 2. pola perkembangan 3. komuter. Tenaga Kerja a. Struktur Penduduk : a.kekuasaan 6.efek ganda ekonomi (multiplier effect) f. permanen) d. Proses Penduduk : 2. migrasi keluar c.kelompok individu yang dominan e. aksesibilitas wilayah 3. produk Domestik Regional Bruto g. pola penggunaan lahan d. Ekonomi Rumah Tangga a.pendapatan asli daerah h. dan Parameter Sosial Perhatian : Daftar komponen. pekerjaan d. Sub komponen dan parameter aspek sosial berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi).tingkat pendapatan b. komputer. Komponen 1.Tabel I : Daftar Komponen. permanen) 2. Mobilitas penduduk a. tingkat partisipasi angkatan kerja b.distribusi pendapatan e. Sub-Komponen. migrasi masuk b.

Bila rencana kegiatan beroperasi. Disepanjang jalan propinsi ini terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah menghuni daerah ini sebelum rencana kegiatan dibangun. Danau buatan yang dibangun oleh rencana kegiatan khusus untuk menampung air hujan dan aliran permukaan dari daerah sekitarnya. saluran irigasi Y akan menerima air limbah yang terangkut melalui sungai X. Sungai X akan mengalir ke saluran irigasi Y (disimbolkan dengan angka 8). 4. Air dari danau buatan digunakan untuk keperluan pabrik dan keperluan domestik. Jalur pipa air untuk mengalirkan air dari danau buatan yang akan direncanakan dibangun. Batas sosial yang terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada lampiran II angka 5 tentang Pelingkupan Wilayah Studi. pengalihan status lahan milik masyarakat setempat (ganti rugi lahan). 3. Rencana kegiatan yang dibangun terletak di daerah persawahan padi. serta pengangkutan hasil produksi. 279 . Lokasi instalasi pengolahan air limbah yang direncanakan dibangun. Sungai X merupakan sungai penerima air limbah rencana kegiatan dibangun di lokasi tersebut. 6.Keterangan Gambar 1 1. 2. 7. Jalan propinsi yang akan digunakan oleh rencana kegiatan untuk keperluan mobilisasi peralatan dan bahan baik pada saat konstruksi dan operasi. Di sekitar sungai ini juga terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah lama menghuni daerah ini. 8. Limbah cair direncanakan dibuang di sungai (7) setelah melalui instalasi pengolahan air limbah (2). Ruas jalan yang dibangun menghubungkan lokasi rencana kegiatan dengan jalan propinsi. Air limbah yang telah melalui proses instalasi pengolahan air limbah dialirkan ke sungai X (disimbolkan dengan angka 7). Ruas jalan yang akan dibangun lahan untuk ruas jalan diperoleh dengan cara ganti rugi lahan. Areal rencana kegiatan diperoleh dengan cara. Di sekitar saluran irigasi ini juga terdapat pemukiman penduduk. 5.

Metode analisis yang bersifat kualitatif. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan. Pengumpulan data sekunder. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. b. propinsi) yang akan diukur. b. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. Sebagai alat bantu untuk melengkapi huruf c dan d tersebut di atas. Satuan analisis (rumah tangga. c.Metoda analisis data yang dapat digunakan antara lain : a. Teknik pengambilan sampel secara acak (random). c. 1. kabupaten. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . desa. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 1. Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. d. waktu dan dana. b. d. Rona lingkungan hidup. Teknik pengambilan sampel secara proporsional. dan pustaka lainnya. 1. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain : a. Melalui teknik ini. rujukan). Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. referensi (data statistik. serta metode prakiraan dan evaluasi dampak. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu : a.Lampiran III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISlS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Dalam a. Prakiraan dampak penting.4. b. Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. b. Wawancara mendalam (indepth interview). e. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. c. pandangan dan aspirasi mereka.1. A. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini : a.2. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. seperti analisis statistik. Dan evaluasi dampak penting.Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat.3. METODA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. d. 1. d. Metoda analisis yang bersifat kuantitatif. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. c. Observasi/pengamatan lapangan. Teknik pengambilan sampel secara purposive. Uraian rencana usaha atau kegiatan. Ketersediaan tenaga. data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian. b. c. biologi dan sosial. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. c. sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam Pedoman Umum Penyusunan ANDAL (KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994) dan dalam Tabel 1 paduan ini diteliti untuk setiap usaha atau kegiatan wajib AMDAL. peta. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek sosial yang terdapat dalam KA. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL perlu diuraikan : Metode pengumpulan dan analisis data sosial. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. Wawancara dengan kuesioner.Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a.Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. Komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifikasi lokasi. b. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5-7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. Huruf c tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa komponen aspek sosial yang tertera pada KAANDAL dapat mengalami penambahan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan yang antar aspek fisik-kimia. dokumen-dokumen ANDAL dari kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). 1. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). metoda prakiraan. Presisi (ketetapan/akurasi) yang dikehendaki. e. Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. seperti analisis isi (content analysis) 280 . makin besar jumlah sampel yang harus diambil. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis.

Besar dampak proyek P* terhadap masyarakat Xp* ini dapat menjadi prakiraan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp: Ilustrasi berikut memperjelas hal dimaksud.Kelompok Masyarakat Xp* tanpa Proyek P tanpa Proyek P di lokasi studi ANDAL Kelompok Masyarakat Xp* dengan proyek P* di lokasi lain Kelompok Masyarakat Xp dengan Proyek P Waktu Saat lalu Saat studi ANDAL Saat mendatang Besar dampak. Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value). 3) Pendekatan pembatasan pengeluaran (defendive expenditures approach).1. antara lain : 1) Proyeksi penduduk (teknik ekstrapolasi) 2) Analisis kecenderungan (trend analysis) 3) Analisis deret waktu (time series analysis) b. METODE PRAKIRAAN DAMPAK Prakiraan dampak merupakan telaahan yang menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat adanya rencana usaha atau kegiatan.-. dapat diukur melalui dua metode berikut ini : a.-. termasuk yang mempunyai nilai moneter. 2.-. Metode Formal. Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential expenditures willingness to pay or to accept) yang terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach). Sehubungan dengan itu ada tiga (3) metode pemberian penilaian moneter yaitu : a. diukur dengan cara mengukur dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan masyarakat Xp (disimbolkan Xp*). 4) Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai penduga (hedonic pricing). Data sosial aspek lainnya yang memungkinkan diberi nilai moneter hendaknya dilakukan pula valuasi.5. Metode ini terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity) 2) Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of learning approach). 3) Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach) . 2) Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach). c.Data ekonomi sedapat mungkin diberi nilai moneter (valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi dapat dikuantifikasi.-. 3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach). antara lain : 1) Penilaian pakar (professional judgement) 2) Komparatif antar budaya (cross cultural) 3) Teknis analogi 4) Metode delphi Adapun sifat penting dari besar dampak sosial yang akan terjadi ditelaah dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) 281 . b. Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P) terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp). Metode Informal. dengan kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi bila tidak ada rencana usaha atau kegiatan (pendekatan with and without project) Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. yang terkena proyek serupa (disimbolkan P*) di lokasi lain. Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktifitas (market-based Methods). diperlukan value judgement dari penyusun AMDAL. Metode ini terdiri dari empat (4) pendekatan: 1) Pendekatan nilai kepemilikan (property value approach). Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul menurut dokumen AMDAL sejenis.-. Kelompok Masyarakat Xp* pada saat tanpa Proyek P* Proyek P* Dasar prakiraan Prakiraan dampak Kelompok Masyarakat Xp* -. 2) Pendekatan harga bayangan (shadow project approach).

Penyerapan tenaga kerja khususnya dari masyarakat setempat 3. Bersifat analitis. f. uraian tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisa perbedaan kualitas lingkungan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf A. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak secara holistik diantaranya adalah : a. Untuk studi AMDAL Kawasan.3. Pada bagian kedua. Bersifat fleksibel. dalam arti proses peleburan nilai-nilai yang satuannya berbeda harus dilakukan melalui proses yang secara ilmiah dibenarkan. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Evaluasi dampak penting dilakukan dengan sistematika sebagai berikut : a. adalah : a. yakni telaahan secara total terhadap beragam dampak lingkungan. Bersifat dinamis. 3. dengan menggunakan metode yang telah diuraikan pada huruf A. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. b. c. Pada bagian pertama. E. satuan. Rencana pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial 4. baik yang positif maupun negatif. 2) Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dari berubahnya tingkat pendapatan. Bila metode yang dipakai menggunakan skala dan atau bobot maka proses peleburan (amalgamasi) harus dilakukan secara benar. Rencana pengembangan ekonomi masyarakat setempat. metode tersebut memenuhi syarat-syarat ilmiah. Sistem bahasan sebagaimana pada angka 1 tersebut di atas berlaku pula untuk dampak penting yang mempunyai nilai moneter. Beragam dampak penting lingkungan tersebut ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-mempengaruhi.3. maka uraian rencana usaha atau kegiatan perlu memuat data dan informasi yang antara lain mencakup : 1. Pada bagian keempat. Pada bagian dua. bila ada alternatif lokasi atau teknologi dari rencana usaha atau kegiatan maka 282 . biologi dan sosial). Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dari suatu rencana usaha atau kegiatan. mengenai Metode Prakiraan Dampak. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode evaluasi dampak yang tepat untuk studi ANDAL. Kebijaksanaan dan cara pembebasan/perolehan lahan 2. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjutan tersebut. tidak seluruh komponen sosial harus diungkapkan dalam rona lingkungan hidup. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek sosial yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Evironmental Evaluation System (EES) d. d. c. uraikan isu-isu pokok lingkungan yang terdapat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) dan komponen dampak penting lingkungan hasil dari prakiraan dampak penting. sejauh mungkin penyusun aspek sosial ANDAL memperhatikan atau menghimpun masukan dari masyarakat yang terkena dampak. C. metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting lingkungan sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. mengenai Metode Evaluasi Dampak. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 1. B. Dengan demikian. EVALUASI DAMPAK PENTING 1. diuraikan sifat penting dari besar dampak sosial yang telah diutarakan pada huruf b tersebut di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. Extended Cost Benefit Analysis Perlu diketahui. e. b. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan sosial di wilayah studi. Pada bagian tiga. sebagai misal : 1 ) Dampak terhadap pendapatan masyarakat di sekitar rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai dampak lanjutan dari perubahan pencaharian dan kesempatan berusaha. dan Regional perlu diberikan perhatian yang besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan yang ukuran. Terpadu/multisektor. METODE EVALUASI DAMPAK Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. USGS Matrix (Matrik Leopold) b. dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. kondisi kesehatan masyarakat di sekitar proyek dan penyerapan tenaga kerja oleh proyek. c. Bagan Alir Dampak c. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) d. Matrik Tiga Tahap Fischer dan Davies e. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dari segi positif dan atau negatif. Bersifat komprehensif. terutama aspek-aspek sosial yang menurut dokumen Kerangka Acuan (KA) akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. Pada bagian pertama. bila dampak penting sosial yang telah diutarakan pada huruf a. sehingga relatif tidak ada metode evaluasi dampak yang bisa digunakan untuk semua jenis studi ANDAL. Setiap komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak penting) dibahas melalui sistematika sebagai berikut : a. maka dampak penting aspek sosial untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika angka 1. dan skalanya berbeda serta dampaknya berbeda. Disamping itu bila menggunakan bobot atau skala. 2. D. b. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Agar kajian dampak penting aspek sosial dapat ditelaah mendalam. b. metode tersebut sesuai dengan kondisi rona lingkungan dan karakteristik rencana usaha atau kegiatan yang ditelaah. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada saat studi ANDAL berlangsung. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana usaha atau kegiatan untuk pengambilan keputusan. Pada bagian ke tiga. dibahas/ditelaah secara holistik (komprehensip) dampak penting lingkungan (fisikkimia.2.

yang merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan. b. Disamping itu pranata sosial yang sudah ada di masyarakat didayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. serta instansi sektoral terkait. maka instansi yang bertanggung jawab dapat memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan (Pasal 11 ayat 1 PP 51/1993) LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) Di dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. sejauh terdapat : a. maka di dalam dokumen perlu diutarakan teknik pengambilan sampel yang digunakan. 2. memantau dampak penting terhadap pertumbuhan sektor informal disekitar rencana usaha atau kegiatan. dan menanggulangi dampak penting sosial yang akan timbul. jumlah sampel. ttd. sehingga diperoleh gambaran mengenai biaya eksternal yang akan ditanggung atau dinikmati oleh masyarakat dan atau pemrakarsa. mengendalikan. pemrakarsa sebaiknya tidak hanya mengandalkan data yang diperoleh dari instrumen atau alat ukur yang dimiliki. dan pihak mana yang akan melaksanakan pengelolaan lingkungan. baik yang bersumber dari aspek fisik-kimia. Misalkan. b. dampak penting berupa timbulnya prostitusi disekitar rencana usaha atau kegiatan). dan menanggulangi sumber dampak penting tersebut. pemerintah maupun pertimbangan pakar. pembentukan forum komunikasi lingkungan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. dan kesehatan masyarakat maupun dari aspek sosial itu sendiri. c. dan lokasi pengambilan sampel secara jelas. e. Upaya pengelolaan lingkungan aspek sosial ditempuh dengan cara mencegah.lakukan evaluasi dampak penting terhadap masing-masing alternatif tersebut. 5. 2. Sarwono Kusumaatmadja 283 . harus mempertimbangkan prinsip saling menguntungkan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terkait. mengendalikan. b. Sebagai isyarat dini tentang adanya gejala-gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. di lokasi mana. Upaya pengelolaan lingkungan tersebut perlu memperhatikan kepentingan masyarakat. Manfaat Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah : a. biologi. sejauh terdapat : a. atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. Kesempatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan. Kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak. Bila untuk keperluan tersebut digunakan respon. 2. 4. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNlS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Di dalam merumuskan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pengelolaan lingkungan. menanggulangi dan mengendalikan dampak antara lain dapat berupa. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. Sebagai alat bukti untuk melindungi adanya tuntutan kerusakan atau pencemaran lingkungan. Komponen lingkungan yang dipantau difokuskan pada dampak penting yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. Sebagai sarana untuk uji hipotesis dampak penting yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL. Disamping itu juga harus diutarakan pada kelompok atau lapisan masyarakat mana. 3. Pihak yang melaksanakan pengelolaan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan juga dapat instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah. bilamana. Kewenangan memantau dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa. Evaluasi dampak juga dilakukan pada komponen-komponen dampak penting yang mempunyai nilai moneter. Apabila Analisa Dampak Lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. masyarakat sekitar yang terkena dampak. 3. melainkan juga perlu mendayagunakan informasi tentang kualitas lingkungan dari masyarakat yang terkena dampak. d. Kesepakatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pemantauan lingkungan. Dalam merancang pemantauan lingkungan bagi aspek sosial. Hasil evaluasi tersebut harus dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan. Kewenangan menangani atau mengelola dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa (misal. Pihak yang melaksanakan pemantauan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan dapat juga dilakukan oleh instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. yang anggotanya terdiri dari pemrakarsa. 4. 3. unsur-unsur pemerintah daerah setempat. Rencana pengelolaan lingkungan harus secara jelas mengutarakan upaya-upaya yang akan ditempuh untuk mencegah.

Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419). 2. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1990. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Nomor 115 Tahun 1992. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3538). Keputusan Presiden RI Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 5.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TENTANG PEDOMAN MENGENAI DAMPAK PENTING KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. 3. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. ttd Sarwono Kusumaatmadja 284 . Kedua : Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING Mengingat Pertama : Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3501). 4.

Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. Hutan Wisata. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu aspek lingkungan saja. UKURAN DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN 1. b. Taman Nasional l. Kawasan Bergambut c. Lamanya dampak berlangsung. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah bernilai tinggi) o. Sifat kumulatif dampak. Yang dimaksud dengan kawasan lindung menurut Penjelasan Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah sebagai berikut : a. gugusan karang atau terumbu karang. Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. 4. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan. Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove) k. wilayah pesisir. Kawasan Resapan Air d. Ukuran dampak penting tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. Untuk menentukan penting tidaknya dampak lingkungan akibat dilaksanakannya suatu rencana usaha atau kegiatan perlu juga diperhatikan peraturan perundangan yang berlaku baik di dalam maupun diluar wilayah negara Republik Indonesia. Kawasan Sekitar Danau/Waduk g. Taman Wisata Alam n. dan Daerah Pengungsian Satwa) i. PENGERTIAN 1. 6. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem) j. bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. 3. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Suaka Margasatwa. Suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dibangun di kawasan lindung yang telah berubah peruntukkannya atau lokasi rencana usaha atau kegiatan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan lindung. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Taman Hutan Raya m. Kawasan Rawan Bencana Alam II. g. dan Pasal 2 dan Pasal 3 PP Nomor 51 Tahun 1993 ditentukan oleh faktor-faktor berikut: a. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. b. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. Ukuran dampak penting terhadap lingkungan. perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. muara sungai. atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan. standar tertentu atau prinsip-prinsip tertentu. Dampak penting suatu usaha atau kegiatan menurut Penjelasan Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. Masing-masing faktor sebagaimana dimaksud datam butir 2 tersebut memiliki seperangkat kriteria dampak penting. 7. hasil guna dan daya gunanya. termasuk bagi keperluan AMDAL kegiatan Terpadu/Multisektor. Dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL. yakni ukuran. f. d. Intensitas dampak. e. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini merupakan petunjuk dasar yang memberi arah apakah suatu rencana usaha atau kegiatan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. perairan darat. Sempadan Pantai e. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut. Sempadan Sungai f.LAMPIRAN KEPUTUSAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TANGGAL : 18 Maret 1994 PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING I. AMDAL kawasan dan AMDAL Regional. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting digunakan untuk keperluan penapisan rencana usaha atau kegiatan dan penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting. 285 . Luas wilayah persebaran dampak. Kawasan Hutan Lindung b. Kawasan Sekitar Mata Air h. 2. c. 5.

namun ada pula yang berlangsung relatif lama. 6. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah. 4. 5. Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. Adapun yang dimaksud dengan manfaat dari usaha atau kegiatan adalah manusia yang secara langsung menikmati produk suatu rencana usaha atau kegiatan dan atau yang diserap secara langsung sebagai tenaga kerja pada rencana usaha atau kegiatan. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. operasi. e. pemerintah daerah. suaka margasatwa. melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan. atau segi kumulatif dampak. maka kriteria dampakpenting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di kalangan masyarakat luas berada dalam posisi atau mempunyai nilai yang penting. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. berdasarkan pertimbangan ilmiah. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. 7. atau segi kumulatif dampak yang berlangsung hanya pada satu atau lebih tahapan kegiatan. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan dapat berlangsung pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari kelangsungan usaha atau kegiatan. 2. yakni hanya pada tahap tertentu dari siklus usaha atau kegiatan (perencanaan. atau tidak berbaliknya dampak. yang penentuannya didasarkan pada perubahan sendi-sendi kehidupan pada masyarakat tersebut dan jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan. Jumlah Manusia yang Akan Terkena Dampak Setiap rencana usaha atau kegiatan mempunyai sasaran sepanjang menyangkut jumlah manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat dari rencana usaha atau kegiatan itu bila nanti usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. konstruksi. Dengan kata lain dampak suatu usaha atau kegiatan ada yang berlangsung relatif singkat. atau pemerintah pusat. Luas Wilayah Persebaran Dampak Luas wilayah persebaran dampak merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan pentingnya dampak terhadap lingkungan. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. atau dengan kata 286 c.c. Berdasarkan pengertian ini dampak lingkungan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak. dapat dialami oleh baik sejumlah manusia yang termasuk maupun yang tak termasuk dalam sasaran rencana usaha atau kegiatan. dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi di kalangan masyarakat. sejak tahap konstruksi hingga masa pasca operasi usaha atau kegiatan. b. pasca operasi). Karena itu. baik yang bersikap negatif maupun positif yang mungkin ditimbulkan oleh suatu usaha atau kegiatan. Mengingat pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas. dampak lingkungan. 2. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri. taman nasional. Dengan demikian dampak lingkungan tergolong penting bila: 1. Namun demikian. yang bernilai tinggi. cagar alam. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. d. jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan di wilayah studi. Serta berlangsung di area yang relatif luas. Dengan demikian dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. . pemerintah daerah atau pemerintah pusat. 3. Intensitas Dampak Intensitas dampak mengandung pengertian perubahan lingkungan yang timbul bersifat hebat. dalam kurun waktu yang relatif singkat. atau drastis. atau habitat alaminya mangalami kerusakan. Banyaknya Komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak Mengingat komponen lingkungan hidup pada dasarnya tidak ada yang berdiri sendiri.

Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus. 287 . Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak Dampak kegiatan terhadap lingkungan ada yang bersifat dapat dipulihkan. ttd Sarwono Kusumaatmadja g. Sifat Kumulatif Dampak Kumulatif mengandung pengertian bersifat bertambah. bertumpuk. tetapi karena aktivitas tersebut bekerja berulang kali atau terus menerus. maka lama kelamaan dampaknya bersifat kumulatif. atau bertimbun. f. sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. maka dampak pada suatu komponen lingkungan umumnya berdampak lanjut pada komponen lingkungan lainnya. 2. sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. 3. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu. namun ada pula yang tidak dapat dipulihkan walau dengan intervensi manusia sekalipun. Atas dasar pengertian ini dampak tergolong penting bila: Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. Dalam hal ini maka dampak bersifat penting bila: Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia. Dengan demikian dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila: 1. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik). Dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif bila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting.lain satu sama lain saling terkait dan pengaruh mempengaruhi.

AUDIT LINGKUNGAN 288 .

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Kewenangan. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. 3. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 7. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3434). Audit Lingkungan hidup yang diwajibkan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. b. Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan. dan verifikasi laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan akibat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. 3. Tim Audit adalah sekelompok atau seorang auditor yang diberi tugas untuk melaksanakan audit dan tim audit juga dapat beranggotakan tenaga ahli teknis. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 19.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. Tugas Fungsi. Tugas. 5. 6. 4. kriteria ketidakpatuhan. 8. Kewenangan. informasi dan usulan untuk melakukan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Pihak yang berkepentingan adalah orang seorang. Auditor Lingkungan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan audit lingkungan. Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. 5. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. 4. dan organisasi lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 2. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang terkena dampak langsung atau berpotensi terkena dampak dan ketidakpatuhan. Tim Evaluasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan evaluasi terhadap masukan. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup audit lingkungan hidup yang diwajibkan meliputi evaluasi masukan atau informasi. 289 . Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Menimbang : a. kelompok orang. Mengingat : 1. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan. pelaksanaan. 2. Tim Verifikasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan yang diwajibkan. Fungsi. bahwa agar pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dapat dilakukan secara efektif maka diperlukan suatu pedoman. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara.

BAB IV KRITERIA KETIDAKPATUHAN DAN KEWENANGAN Pasal 4 Kriteria ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi dasar dikeluarkannya perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. memberikan uraian tentang penyebab terjadinya ketidakpatuhan. ketidakpatuhan terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. memberikan rekomendasi atas temuan-temuan pelaksanaan audit. dan atau. c. mengetahui status ketaatan pengelolaan lingkungan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Apabila Gubernur/Bupati/Walikota menilai bahwa suatu usaha dan atau kegiatan di wilayahnya menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. apabila telah melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. dan atau. maka Gubernur/Bupati/W alikota mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab suatu usaha dan atau kegiatan tersebut melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. ketidakpatuhan terhadap baku mutu lingkungan hidup. ketidakpatuhan terhadap persyaratan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilakukan. meliputi: a. b. (3) Manfaat pelaksanaan audit Iingkungan hidup yang diwajibkan: a. ketidakpatuhan yang mengindikasikan bahwa penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup atau tidak melaksanakan sistem pengelolaan lingkungan secara efektif. (2) Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila menunjukkan : a.BAB III TUJUAN. c. c.Prinsip Umum atau standar lainnya yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilakukan oleh auditor lingkungan yang terdaftar dan atau auditor yang memenuhi kriteria kualifikasi sesuai dengan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . d. b. b. dan. Pasal 5 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dinyatakan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. mencegah terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. telah terjadi hal yang sama atau berkaitan secara berulangkali. b. dan atau. BAB V PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN Bagian Pertama Tata Laksana Pasal 7 (1) Tata laksana audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 19-14010-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . d.Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan dan bebas dari pertentangan kepentingan. FUNGSI DAN MANFAAT Pasal 3 (1) Tujuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan : a. 290 . Pasal 6 (1) Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan apabila penanggung jawab usaha dan atau kegiatan menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (2) Fungsi audit Iingkungan hidup yang diwajibkan merupakan salah satu instrumen penaatan atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelola Iingkungan hidup. sebagai bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan Menteri tentang tindak lanjut penanganan ketidakpatuhan. telah diberikan peringatan oleh Menteri dan atau Gubernur dan atau Bupati dan atau Walikota sekurangkurangnya 3 (tiga) kali dalam jangka waktu setahun terakhir dan atau patut diduga akan terjadi lagi di masa mendatang. meningkatkan penaatan pengelolaan lingkungan hidup dan suatu usaha dan atau kegiatan. (3) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib memberikan informasi/data yang benar dan aktual kepada auditor. untuk mengetahui tingkat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. termasuk apabila terdapat pelanggaran dan atau ketidaktepatan penerapan kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup.

melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan membentuk Tim Audit.Bagian Kedua Mekanisme Pasal 8 Pihak yang berkepentingan dapat memberikan masukan atau informasi secara tertulis tentang terjadinya petunjuk ketidakpatuhan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. kelayakan untuk dikeluarkannya perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Pasal 10 Instansi pengendalian dampak lingkungan dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan dilengkapi dengan data pendukung. instansi yang bertanggung jawab di daerah. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). (4) Tim Evaluasi melaksanakan kegiatan evaluasi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. dilengkapi dengan rancangan ruang lingkupnya. b. Pasal 12 (1) Berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) huruf a. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Menteri dapat: a. 291 . Pasal 9 (1) Gubernur/Bupati/Walikota menugaskan instansi yang bertanggung jawab di daerah untuk mengevaluasi masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan memeriksa unsur ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan telah menunjuk auditor dengan pemberitahuan kepada Menteri. setelah selesai melaksanakan evaluasi. Menteri membentuk Tim Evaluasi yang bertugas untuk mengevaluasi usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan dan tenaga ahli dalam bidang yang terkait. Menteri dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (3) Apabila Menteri tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. b. Menteri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (3) Jumlah beban biaya pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. (7) Apabila rekomendasi berupa ketidaklayakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) huruf b. a. atau. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. atau. maka: a. Pasal 11 (1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 10 selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja. dengan dilengkapi data pendukung. (2) Apabila Menteri menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Kepala instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan hasil temuannya kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. (5) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan dan rekomendasi hasil evaluasi secara tertulis kepada Menteri selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja. (6) Rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa. Menteri memberikan alasan-alasan mengenai ketidaksetujuan tersebut. menugaskan pihak ketiga yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. b. Gubernur/Bupati/Walikota dapat mengusulkan secara tertulis kepada Menteri untuk mengeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (2) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur-unsur. Menteri memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. ketidaklayakan untuk dikeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan memberikan alasan-alasan ketidaklayakan tersebut. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). (3) Tim Evaluasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.

(5) Tim Verifikasi melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) paling lama 14 (empat belas) hari kerja. (4) Tugas Tim Verifikasi mencakup hal-hal sebagai berikut: a. terdiri dari : a. (2) Tim audit mulai melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah Kerangka Acuan mendapat persetujuan dari Menteri. (2) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan atau instansi yang bertanggung jawab di daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). b. Pasal 16 (1) Berdasarkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (3) Tim audit setelah melaksanakan tugasnya wajib menyerahkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara tertulis kepada Menteri. BAB VII PENUTUP Pasal 18 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. (2) Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dengan membentuk Tim Verifikasi. (3) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab dibidang pengendalian dampak lingkungan. Pasal 15 (1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat melakukan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 September 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. BAB VI INFORMASI DAN PUBLIKASI Pasal 17 Menteri mengumumkan surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada Masyarakat. ahli di bidang lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. menyusun laporan hasil verifikasi secara tertulis dan menyampaikannya kepada Menteri. Nabiel Makarim.MSM. melaksanakan kajian terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. c. Menteri mengeluarkan surat perintah kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Menteri. b. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. ttd.Pasal 14 (1) Tim audit merumuskan Kerangka Acuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan ruang lingkup yang ditetapkan oleh Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah tim audit ditetapkan. MPA. unsur lainnya yang dianggap perlu. apabila diperlukan dapat melaksanakan kegiatan verifikasi di lokasi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. 292 .

bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk menetapkan suatu pedoman umum tentang pelaksanaan audit lingkungan dengan suatu keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP. terdokumentasi. Nomor 3538). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan. 4.I.I. Tambahan Lembaran Negara R. masyarakat umum atau organisasi lainnya dengan tujuan. Menimbang : 1. 2. berkala. sehingga dapat meningkatkan kinerja usaha atau kegiatan yang bersangkutan dalam kaitan dengan pelestarian kemampuan lingkungan. Di tetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Nopember 1994 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Sarwono Kusumaatmadja 293 Kedua Ketiga Keempat . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. dan apabila terdapat kekeliruan maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Nomor 84 Tahun 1993. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara R. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara R. mempublikasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. : Audit Lingkungan dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan ini. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha atau kegiatan wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan. 5. bahwa audit lingkungan dapat membantu menemukan upaya penyelesaian yang efektif tentang masalah lingkungan hidup yang dapat dihadapi suatu usaha atau kegiatan. 4. 2. dan obyektif terhadap prosedur dan praktek-praktek dalam pengelolaan lingkungan hidup. 5. untuk itu hasil audit lingkungan dapat dimintakan keabsahannya dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. meningkatkan kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal. Mengingat : 1. Nomor 12 Tahun 1982. Fungsi.I. 2.42/MENLH/XI/1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 3. pengembangan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan. 3. Tugas Pokok.I. bahwa audit lingkungan adalah suatu proses untuk melaksanakan kajian secara sistematik. tujuan lainnya sebagaimana ditentukan oleh usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Nomor 3215). Tambahan Lembaran Negara R. : 1. dan Tata Kerja Menteri Negara serta Organisasi Staf Menteri Negara. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN Pertama : Audit Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh dan merupakan tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha atau kegiatan. bahwa audit lingkungan sebagai suatu perangkat pengelolaan yang dilakukan secara dasar telah diakui merupakan alat yang efektif dan sangat bermanfaat bagi suatu usaha atau kegiatan dalam mengelola lingkungan hidup. 4. 3. Penanggung jawab usaha atau kegiatan dapat memberikan sebagian atau seluruh laporan audit lingkungan kepada Pemerintah.

Audit lingkungan yang dimaksud dalam keputusan ini dilaksanakan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan dan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat internal. proses daur ulang dan efisiensi penggunaan sumber daya. (i) Menyediakan informasi yang memadai bagi kepentingan usaha-usaha atau kegiatan asuransi. terdokumentasi. C. sehingga dapat memberikan informasi mengenai: 1. limbah cair. Manfaat Audit Lingkungan bermanfaat untuk: (a) Mengindentifikasi risiko lingkungan. (e) Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bagan. minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang. misalnya pembangunan yang berkelanjutan. atau publikasi yang merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik. (c) Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/pemberhentian suatu usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah. (d) Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. FUNGSI DAN TUJUAN Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan pelaksanaan audit lingkungan bagi suatu usaha atau kegiatan. pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan. efektif dan efisien. misalnya: standar emisi udara. prosedur pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana tangggap darurat. (e) Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam proses pengadilan. (d) Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang tercantum dalam dokumen AMDAL. dan pemegang saham. (b) Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi. lebih terarah. (f) Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggung jawab dan staf suatu badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan dan tanggung jawab lingkungan.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEP-42/MENLH/XI/1994 22 NOVEMBER 1994 PRINSIP-PRINSIP DAN PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN A. (f) Upaya untuk meningkatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan lingkungan. sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan. dan media massa. Dengan adanya pedoman ini. 294 . RUANG LINGKUP Audit Lingkungan perlu disusun sedemikian rupa. penanganan limbah dan standar operasi lainnya. pemakaian ulang dan daur ulang limbah. Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat manajemen yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. lembaga keuangan. 2. pemerintah. yang berguna dalam penyempurnaan proses AMDAL. pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada proses dan peraturan. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan. B. (g) Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi energi. periodik dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi. sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan. melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk mengindentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya. (h) Menyediakan laporan audit lingkungan bagi keperluan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. maka pengelolaan dan pemantauan lingkungan suatu usaha atau kegiatan diharapkan dapat dilakukan dengan baik. (c) Jaminan untuk rnenghindari perusakan atau kecenderungan kerusakan lingkungan. PENDAHULUAN 1. (b) Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan atau upaya penyempurnaan rencana yang ada. atau bagi keperluan kelompok pemerhati lingkungan. serta isu lingkungan yang terkait. 3. Definisi Audit Lingkungan adalah suatu atau manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik. dan pengurangan. Fungsi Fungsi audit lingkungan adalah sebagai : (a) Upaya peningkatan pentaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. rona dan kerusakan lingkungan di tempat usaha atau kegiatan tersebut.

E. Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. 11. Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung. B3 serta potensi kerusakan yang mungkin timbul. efektifitas alat pengendalian pencemaran seperti ditunjukkan dalam laporan inspeksi. pentaatan terhadap hasil dan rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan). perawatan. 9. 5. 2.2. (b) Keikutsertaan semua pihak Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang bersangkutan. Audit lingkungan tidak akan berarti kecuali bila kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. Apabila tidak. 7. kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit. mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua aspek dan pelaksanaan tugas secara luas. proses bahan dasar. perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat. uji rutin. (c) Pengukuran dan standar yang sesuai. kajian resiko lingkungan. perubahan rona lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai waktu terakhir pelaksanaan audit. 14. untuk menjamin pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi tersebut. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. sistem kontrol manajemen. 3. air dan sumber daya alam lainnya. penggunaan energi. 12. rute pengangkutan bahan dan pembuangan limbah. Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. konsiderasi product life cycle. Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat menerapkan teknik-teknik yang tepat. dan limbah termasuk limbah B3. Tata Laksana Pelaksanaan audit lingkungan perlu mengikuti suatu tata laksana audit. rencana minimalisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan. dll. program daur ulang. penggunaan input dan sumber daya alam. bahan jadi. maka obyektifitas dan kredibilitas akan diragukan. 10. tergantung pada kebutuhan atau kegiatan yang bersangkutan. 13. 4. Karakteristik dasar Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) Metodologi yang komprehensif. Audit lingkungan harus berpedoman kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan. Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan dengan jelas dan akurat. peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan. (c) Kemandirian dan obyektifitas auditor Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan usaha atau kegiatan yang diaudit. termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan kecelakaan. (d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan. Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci. Laporan harus memuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang serta dokumentasi terhadap proses produksi. uji emisi. Tata laksana audit merupakan suatu rencana yang harus diikuti oleh auditor untuk dapat mencapai tujuan audit yang diharapkan. D. 6. catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan termasuk standar dan baku mutu lingkungan. Dengan mengacu pada tata laksana tersebut maka diharapkan adanya konsistensi dalam pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit. Kunci keberhasilan (a) Dukungan pihak pimpinan Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad pimpinan usaha atau kegiatan. identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia. 8. (b) Konsep pembuktian dan pengujian. PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. serla dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi. (d) Laporan tertulis. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif dan prosedur yang telah ditentukan. PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN 1. Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan. 295 . Pada umumnya. Ruang lingkup audit lingkungan sangat luwes.

dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan.Tata laksana audit sangat beragam dan tergantung pada jenis usaha dan karakteristik lingkungan. atau harus ditentukan oleh tim auditor. Pada umumnya. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang telah diidentifikasi. (3) Pengumpulan data Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit lingkungan akan mencakup tata laksana audit. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian temuan audit lingkungan. Pedoman ini memuat instruksi-instruksi dan petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh auditor. Pasca Audit Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil pelaksanaan audit lingkungan. Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut: 1. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan. serta aspek yang harus diteliti. dan daftar pertanyaan tersebut harus dijawab secara lengkap oleh auditor. (5) Evaluasi hasil temuan Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji. Bentuk pelaksanaan audit yang paling sederhana adalah mempergunakan daftar isian dari laporan yang akan dihasilkan sebagai acuan audit. Tim auditor harus mengkaji hasil pertemuan secara garis besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor. 4. Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas di lapangan. Dalam menguji hasil temuan audit. tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum teridentifikasi dalam perencanaan. auditor telah mempersiapkan format baku untuk melaksanakan audit dan menyusun laporan akhir. tim auditor harus memaparkan hasil temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati. Pendahuluan Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang dilaksanakan. rencana. hasil sampling dan pemantauan. kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan. foto-foto. Jenis ini merupakan cara yang umum digunakan yaitu dengan mempergunakan daftar yang rinci mengenai isi yang akan diaudit. diagram. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara khusus. (d) Pedoman. struktur organisasi. Pra-audit Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit lingkungan. 3. tata laksana. atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor. 2. (c) Daftar pertanyaan. (6) Pertemuan akhir Setelah penelitian lapangan selesai. Kegiatan Lapangan (1) Pertemuan pendahuluan Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit. 296 . 2. penentuan tim auditor. Seluruh dokumentasi selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan. dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. Daftar pertanyaan seringkali digunakan dalam pelaksanaan audit. Berikut ini adalah beberapa tata laksana audit yang umum dilaksanakan: (a) Daftar Isian. (4) Pengujian Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat. Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang dibutuhkan. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan. Pada saat ini. Pelaksanaan. peta. Audit dengan menggunakan pedoman merupakan jenis tata laksana yang paling rinci. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali. dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. status hukum. Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang belum tersedia. dan jadual kegiatan audit. catatan dan hasil pengamatan tim auditor. (2) Pemeriksaan lapangan Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. tim auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah. (b) Checklist.

Kemampuan yang harus dimiliki oleh tim auditor adalah meliputi pengetahuan tentang : Proses. (b) Antisipasi kebutuhan penilaian peringkat kinerja usaha atau kegiatan lainnya. Kebijakan audit lingkungan dalam hal ini tidak membatasi hal-hal sebagai berikut : (a) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin pada suatu usaha atau kegiatan. 297 . Dalam rangka menjamin bahwa audit lingkungan akan dilaksanakan secara baik dan profesional. maka usaha atau kegiatan atau organisasi (non pemerintah) dianjurkan untuk membuat dan melaksanakan kode etik serta sertifikasi auditor lingkungan. meliputi: Kemampuan berkomunikasi Kemampuan perencanaan dan penjadualan kerja Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan Kemampuan untuk menulis laporan audit Auditor lingkungan harus terlatih secara profesional untuk menjamin ketepatan. penghindaran kewajiban dan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan. Auditor harus mengikuti kode etik auditor yang ada. G PENGAWASAN MUTU HASIL AUDIT . konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit. (c) Tujuan lainnya yang ditetapkan oleh usaha atau kegiatan tersebut. SIFAT KERAHASIAAN Laporan hasil audit lingkungan merupakan milik usaha atau kegiatan yang diaudit dan bersifat rahasia. Pemerintah dapat memberikan verifikasi atas hasil audit. Auditor lingkungan harus mempunyai pendidikan yang sesuai dan memiliki pengalaman profesional untuk dapat melaksanakan tugasnya. Namun demikian.F . kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko bahaya Auditor juga perlu mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang dibutuhkan dalam audit. dunia usaha atau kegiatan sesuai dengan kebebasannya dapat menyampaikan laporan audit lingkungan kepada pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan peraturan pelaksanaan lainnya. masyarakat luas atau organisasi lainnya dengan tujuan sebagai berikut : (a) Publikasi terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilakukan. (b) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap suatu kegiatan yang dicurigai sebagai kelalaian. kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit Potensi dampak lingkungan. (c) Hak pemerintah untuk meminta sesuatu informasi khusus sebagai dasar penentuan peringkat kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan: (d) Tanggung jawab dunia usaha atau kegiatan untuk menyediakan data hasil pengelolaan dan pemantauan kepada pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. prosedur dan teknis audit Karakteristik dan analisis tentang sistem manajemen Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan lingkungan Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan.