P. 1
03_jilid1a

03_jilid1a

|Views: 258|Likes:
Published by destyandayani

More info:

Published by: destyandayani on Dec 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2013

pdf

text

original

UNDANG-UNDANG

1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HlDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup lndonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup; bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

b.

c.

d.

e.

f.

Mengingat

: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

ME MUTU S KAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain; Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup; Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;

2.

3.

4.

2

5. 6. 7.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya; Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan; Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup; Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya; Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang; Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan; Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan; Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan; Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup; Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum; Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Pasal 2

8. 9. 10. 11.

12.

13. 14.

15.

16. 17.

18.

19. 20. 21.

22. 23.

24. 25.

Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

3

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. b. c. d. e. f. tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB lII HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara : a. b. c. d. e. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. 4

(3)

(2)

(2)

Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah : a. b. c. d. e. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetika; mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan, termasuk sumber daya genetika; mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9

(1) (2)

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikoordinasi oleh Menteri. Pasal 10

(3)

(4)

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup; menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup; menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat; memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. Pasal 11 (1) (2) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ketentuan mengenai tugas, fungsi, wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 12 (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat : a. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah; 5

pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. 6 . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 16 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan. menggunakan dan/atau membuang. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. (2) mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. mengangkut. Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB Vl PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) (2) (3) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup.b. Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. mengedarkan. Pasal 13 (1) (2) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi : menghasilkan. Pasal 17 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. Pasal 15 (1) (2) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. menyimpan.

Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Tanpa suatu keputusan izin. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. b. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. pendapat masyarakat. (2) Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. rencana tata ruang. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri. meminta keterangan. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 23 Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah. memasuki tempat tertentu. Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan : a. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. memeriksa peralatan. c. Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. mengambil contoh. Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. 7 (2) (3) . Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) (2) (3) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan di bidang lingkungan hidup. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut.(2) (3) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. 8 (2) (3) (4) (5) . Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya. (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan.Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. Tindakan penyelamatan. atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 27 Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 26 (1) (2) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. penanggulangan. dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. melakukan tindakan penyelamatan. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1 Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. Pasal 33 (1) (2) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak.BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HlDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. Paragraf 2 Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup. untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 9 (2) . gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan. hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. mewajibkan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun.

kecuali biaya atau pengeluaran riil.(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. BAB VIIl PENYIDlKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan 10 . Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. b. b. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. masyarakat. Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. Pasal 39 (2) (3) c. c. adanya bencana alam atau peperangan. Paragraf 4 Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (2) (1) (2) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan olen pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. berbentuk badan hukum atau yayasan. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. Pasal 38 (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. Paragraf 3 Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia.

100. 500. dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup. mengangkut.000. melakukan impor. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain.000. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. melakukan pemeriksaan atas pembukuan.000. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. menyimpan bahan tersebut. energi. b. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp.000. 300.hidup. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). 150. sengaja melepaskan atau membuang zat. diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. (3) (4) (5) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup.00 (seratus juta rupiah). d.000. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. ke dalam udara atau ke dalam air permukaan. Pasal 43 (2) (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku.000.00 (seratus lima puluh juta rupiah). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. pembukuan. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp.000. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah. catatan. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik lndonesia.000. f.000. ekspor. e. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a. Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). catatan. memperdagangkan.00 (tiga ratus juta rupiah).00 (lima ratus juta rupiah). melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. menjalankan instalasi yang berbahaya. Pasal 42 (2) (1) Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. 750.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. c. 11 (2) .

(3) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. perseroan. perserikatan.00 (seratus lima puluh juta rupiah).dan/atau meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. b. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. perserikatan atau organisasi lain. Pasal 44 (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. c. perserikatan. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. e. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini. perserikatan. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. 450. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. dan/atau menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama (3) tiga tahun. dan/atau penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : a. yayasan atau organisasi lain. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. perserikatan. 150. perseroan. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah). tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. perserikatan. perseroan.000. perseroan. yayasan atau organisasi lain. yayasan atau organisasi lain. perseroan. Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini. dan/atau perbaikan akibat tindak pidana. yayasan atau organisasi lain. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. perseroan. dan/atau mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga. 100.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp.000. yayasan atau organisasi lain. d. perseroan.000. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. f. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. dan dilakukan oleh orang-orang.000. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum.000. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. (2) Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. 12 (2) (3) (4) . melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama. perserikatan.00 (seratus juta rupiah).

wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini. Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi. Agar setiap orang mengetahuinya. Lambock V. BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor.BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) (2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. Nahattands LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1997 NOMOR 68 13 . Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. MOERDIONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ttd. S O E HAR TO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.

dan manusia sebagai pribadi. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. Di pihak lain. keserasian. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. keserasian. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. Dalam pada itu.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UMUM 1. 4. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. Oleh karena itu. Dengan demikian. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. Dalam hal ini lingkungan hidup lndonesia tidak lain adalah wilayah. Oleh karena itu. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. Pancasila. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. Untuk itu. 2. berbangsa. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial. masyarakat. Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. Antara manusia. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. dan bernegara dalam segala aspeknya. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. dan keseimbangan subsistem. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. manusia dengan alam. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. dan keseimbangan yang dinamis. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia. ekonomi. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. Akan tetapi. Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. sebagai dasar dan falsafah negara. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. Sementara itu. Lingkungan hidup lndonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa lndonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. 14 . dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup. Secara hukum. budaya. Lingkungan hidup lndonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. penggunaan sumber daya alam harus selaras. 3. yang mempunyai aspek sosial. keserasian. dan keseimbangan. merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. serasi.

5. tetapi juga mampu berperan secara nyata. kesehatan. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. industrialisasi juga menimbulkan ekses. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. yang diantaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. tata guna tanah. kelompok masyarakat adat. 15 . perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. kesehatan. organisasi lingkungan hidup. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat. selaras. Sementara itu.12. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. termasuk sumber daya alam. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. permukiman. Di sisi lain. Menyadari hal tersebut di atas. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. tegas. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan lain-lain. pertambangan dan energi. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. kehutanan. dan lain-lain.Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. seperti lembaga swadaya masyarakat. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. Pada kenyataannya. penataan ruang. 6. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. Oleh karena itu. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Selain itu. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. industri. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. dan peran anggota masyarakat. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. keterbukaan. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. Oleh karena itu. yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. Tambahan Lembaran Negara No. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan lainnya. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. 7. Secara global.

baik hukum administrasi. Dengan demikian. semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi. berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas. dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup Jelas Angka 2 Cukup Jelas Angka 3 Cukup Jelas Angka 4 Cukup Jelas Angka 5 Cukup Jelas Angka 6 Cukup Jelas Angka 7 Cukup Jelas Angka 8 Cukup Jelas Angka 9 Cukup Jelas Angka 10 Cukup Jelas Angka 11 Cukup Jelas Angka 12 Cukup Jelas Angka 13 Cukup Jelas Angka 14 Cukup Jelas Angka 15 Cukup Jelas 16 . seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi. dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. hukum perdata maupun hukum pidana. Disamping itu. Sebagai penunjang hukum administrasi.Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa.

baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. harus dilestarikan. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat. Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. baik dengan cara mengajukan keberatan. baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. keterangan. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. maka kemampuan lingkungan hidup. 17 .Angka 16 Cukup Jelas Angka 17 Cukup Jelas Angka 18 Cukup Jelas Angka 19 Cukup Jelas Angka 20 Cukup Jelas Angka 21 Cukup Jelas Angka 22 Cukup Jelas Angka 23 Cukup Jelas Angka 24 Cukup Jelas Angka 25 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara. laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut. Di lain sisi. dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. dan rencana tata ruang. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup. di satu sisi.

Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup. Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup. dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya. Misalnya. Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum. perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Misalnya. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. baik secara kultural maupun secara struktural. aspirasi. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindaklanjuti. Ayat (2) Cukup jelas 18 .

dunia usaha. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan.Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdaya guna dan berhasil guna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. seperti lSO 14000. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keanekaragaman potensi sumber daya alam hayati dan nonhayati. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penaatan baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi 19 . preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. bimbingan. serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber manusia. dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan. Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat. integrasi. Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. yaitu pemerintah.

Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 20 .alam maupun kemampuan daerah. c. Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang. e. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. pemanfaatan. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan. b. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. tugas. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. luas wilayah penyebaran dampak. pembiayaan. kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. situasi dan kondisi daerah. pengumpulan. d. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a. f. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. sifat kumulatif dampak. dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. pengangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. peralatan. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang. intensitas dan lamanya dampak berlangsung.

Ayat (5) Cukup jelas 21 . kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah. Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang. dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin. menurut peraturan perundangundangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan. Dalam hal tertentu. air maupun udara. yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. baik tanah. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem. seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup. dengar pendapat. dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/ atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah.

Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan. misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan. Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban. Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 13 ayat (1). Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang 22 . Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya.

audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. Dalam pengertian ini. sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa Iingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum. Pihak ketiga netral ini harus : 1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa. dan semua putusan arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. 4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik.ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Pasal 30 Ayat (1) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. Ayat (2) Cukup jelas 23 . yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian. pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. 2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa. b. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. 3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum.

pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah. fakta hukum. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Selain diharuskan membayar ganti rugi.Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup. Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas 24 . Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability. memulihkan fungsi lingkungan hidup. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan.

memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah.Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. b. yaitu : a. tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan. c. Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 25 . baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. melainkan hanya terbatas gugatan lain.

Pasal 44 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3699 26 .

2. dan keadilan. dan Nepotisme. pemerataan. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 24. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah. dan kedudukan pemerintahan desa. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. susunan. dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas. nyata. Kolusi. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti. d. baik di dalam maupun di luar negeri. Pasal 1 ayat (1). 3. peran serta masyarakat. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Nomor 3153) yang menyeragamkan nama. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. bahwa sehubungan dengan itu. perlu ditetapkan undang-undang mengenai Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. pemerataan dan keadilan. 4. serta tantangan persaingan global. 5. serta potensi dari keanekaragaman Daerah. e. c. Pasal 18. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. sehingga perlu diganti. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. peran serta masyarakat. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. b. 27 . Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811). Mengingat : 1. yang diwujudkan dengan pengaturan. f. yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. bentuk. pembagian. Pasal 5 ayat (1). Pengaturan. dan pemanfaatan sumber daya nasional.

adalah Badan Legislatif Daerah. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. selanjutnya DPRD. Instansi vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonomi yang lain sebagai badan eksekutif daerah. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskannya. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. Daerah Otonom. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pelayanan jasa pemerintahan. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. selanjutnya disebut desa. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pelayanan sosial. termasuk pengelolaan sumber daya alam. 28 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) . selanjutnya disebut Pemerintah. Desa atau yang disebut dengan nama lain. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah. selanjutnya disebut daerah. dan kegiatan ekonomi. Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. Kawasan pedesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ME MUTU S KAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Pemerintah Pusat. Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah di tingkat pusat dan/atau pejabat pemerintah di daerah propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah.

ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. perubahan nama daerah. (2) (2) (3) (4) (2) (3) (4) 29 . serta perubahan nama dan pemindahan ibukota daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. jumlah penduduk. dan pemekaran daerah. penggabungan. dan Daerah Kota yang bersifat otonom. sosial budaya. batas. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan/atau digabung dengan daerah lain. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). nama. luas daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Penghapusan. Syarat-syarat pembentukan daerah. Pembentukan. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. Daerah Kabupaten. Daerah Provinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. sosial politik. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. ditetapkan dengan undang-undang. dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. BAB III PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). dan pemekaran daerah. masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain. potensi daerah. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah. (2) Pasal 3 Wilayah Daerah Provinsi.(17) Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Kriteria tentang penghapusan. daerah kabupaten. BAB II PEMBAGIAN DAERAH Pasal 2 (1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. penggabungan.

perhubungan. d. pendidikan dan kebudayaan. lingkungan hidup.BAB IV KEWENANGAN DAERAH Pasal 7 (1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. serta kewenangan bidang lain. (2) (2) (2) (3) (2) e. Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. industri dan perdagangan. b. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Kewenangan provinsi sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah. sarana dan prasarana. Pasal 9 (1) Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Provinsi. pertanahan. c. konservasi. dan tenaga kerja. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. eksploitasi. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. koperasi. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. kesehatan. pengaturan kepentingan administrasi. dan standarisasi nasional. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. Kewenangan Daerah di wilayah laut. Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. meliputi : a. meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. pertanian. Kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. penanaman modal. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. pertahanan keamanan. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. dana perimbangan keuangan. 30 (2) . pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. konservasi. peradilan. Pasal 11 (4) (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. pengaturan tata ruang. moneter dan fiskal. eksplorasi. agama. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kewenangan bidang lain. Pasal 8 (1) Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan.

sarana dan prasarana. atau Walikota/Wakil Walikota. Bupati/Wakil Bupati. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. Bagian Kedua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 15 Kedudukan. Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. c. hak. dan panitia-panitia. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. komisi-komisi. pimpinan. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). BAB V BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. Bupati/Wakil Bupati. b. susunan. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. Setiap penugasan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. wewenang. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. tugas. dan Walikota/Wakil Walikota. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan undang-undang. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. Pelaksanaan ketentuan. Pasal 17 (1) (2) (3) (4) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 31 (2) (2) (2) . keanggotaan.Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

pengajuan pertanyaan. Pelaksanaan hak. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. dan pembangunan. 5. Pelaksanaan hak. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan h. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. menentukan Anggaran Belanja DPRD. pejabat pemerintah. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. pemerintahan. e. pelaksanaan keputusan Gubernur. dan menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. kebijakan Pemerintah Daerah. dan c. Bupati.d. (2) Pelaksanaan hak. b. h. b. Bupati. f. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. keuangan/administrasi. e. sebagaimana dimaksud ayat (1). Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. d. sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2). pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. g. mengadakan penyelidikan. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pejabat negara. g. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 4. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. protokoler. Bupati. melaksanakan pengawasan terhadap: 1. 3. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. mengajukan pernyataan pendapat. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan Walikota. bangsa. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. bersama dengan Gubernur. dan Walikota. pejabat pemerintah. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. f. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. bersama dengan Gubernur. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara. c. meminta pertanggungjawaban Gubernur. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. 32 (2) (3) (2) . 2.

penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya. atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). b. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. pinjaman. f. g. ayat (2). Badan Usaha Milik Daerah. c. dan pembebanan kepada Daerah. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. utang piutang. ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. kecuali mengenai : a. serta menaati segala peraturan perundangundangan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. e. Pelaksanaan ketentuan. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Pasal 23 (1) (2) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. h. i. dan kebijakan tata ruang.Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : (1) (2) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan ayat (3). (3) (4) (3) (4) 33 . j. d. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan diantara pimpinan DPRD.

kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya. Bagian Ketiga Sekretariat DPRD Pasal 29 (1) (2) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. 34 (3) (4) (5) . Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Kepala Daerah Kota disebut Walikota. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). ditetapkan dengan Peraturan Tata tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. ditetapkan oleh Pemerintah. yang diajukannya secara lisan atau tertulis. Pasal 32 (1) (2) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. baik terbuka maupun tertutup. sebagaimana dimaksud pada ayat (4). kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi.Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. Pasal 31 (1) (2) Kepala Daerah Provinsi disebut Gubernur. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Kepala Daerah Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai Kepala Eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. Dalam kedudukan sebagai Wakil Pemerintah. Anggaran Belanja Sekretaris DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. yang karena jabatannya adalah juga sebagai Wakil Pemerintah. Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD.

Pasal 33 (4) (1) Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. Pasal 35 (2) (3) (4) (5) (1) Panitia pemilihan. melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. 35 . dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. bertugas: a. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. c. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. g. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. sehat jasmani dan rohani. dan bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. e. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. j. c. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan.(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. f. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. h. b. i. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. tetapi bukan anggota. k. b. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. l. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. dibentuk Panitia Pemilihan. Pasal 34 d. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah.

Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). jujur dan adil.Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum dicapai. Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD. serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. 36 (2) (3) (2) (3) (4) (2) (2) (3) (2) (3) . sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4). rahasia. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 40 (1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung. Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Apabila ketentuan. Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. bebas. Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. misi. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden. Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya.

Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/ Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya. Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). menghormati kedaulatan rakyat. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan).Pasal 41 Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. sejujur-jujurnya. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Sebelum memangku jabatannya. Pasal 45 (1) (2) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran. Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. dan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. (4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah ditetapkan oleh Pemerintah. Bagian Kelima Kewajiban Kepala Daerah Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : (1) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. dan seadil-adilnya. Pasal 42 (1) (2) (3) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk bertindak atas nama Presiden. 37 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (2) (3) . atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden.

e. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. c. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. (2) (3) (4) Bagian Keenam Larangan bagi Kepala Daerah Pasal 48 (1) Kepala Daerah dilarang : a. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). harus dilengkapi dan atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. barang. Bagian Ketujuh Pemberhentian Kepala Daerah Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena: a. 38 b. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. d. d. c. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. selain yang dimaksud dalam Pasal 47. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. turut serta dalam suatu perusahaan.Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. e. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. anggota keluarganya. ditetapkan oleh Pemerintah. golongan tertentu. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. f. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. g. . dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. meninggal dunia. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). b. kroninya. baik secara langsung maupun tidak langsung. Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. dan menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan. menerima uang. Tata cara. baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah.

sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya dalam 2 kali 24 jam. Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. (3) Setelah tindakan penyidikan. 39 . sebagaimana dimaksud pada ayat (1). enam bulan sebelumnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (2) (3) (2) (3) (2) b. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD.Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. dan dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. Bagian Kedelapan Tindakan Penyidikan Terhadap Kepala Daerah Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. Dengan adanya pemberitahuan. Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. Keputusan DPRD. tanpa persetujuan DPRD. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir. Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih.

melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah. Pasal 41. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas: a. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. b. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. (2) (3) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. Pasal 43 kecuali huruf g. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. 40 . sejujur-jujurnya. Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. (5) Ketentuan-ketentuan. Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur. Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. dan c. DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan. (3) (4) (6) (2) (3) (4) Bagian Kesepuluh Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 59 Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. dan seadil-adilnya. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. Sebelum memangku jabatannya. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap.Bagian Kesembilan Wakil Kepala Daerah Pasal 56 (1) (2) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33.

Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. Pasal 62 (1) (2) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. dilaksanakan oleh Dinas Provinsi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). Pembentukan. Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. (3) (4) (5) (6) (7) (3) Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Sekretariat daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dan Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. ditetapkan dengan Keputusan Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintah yang menjadi wewenang Pemerintah. Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah dari Bupati/Walikota. Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. dilakukan oleh instansi vertikal. lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. 41 (2) (2) (3) (4) (5) (6) . Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan daerah Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. susunan organisasi. Kepala Kecamatan disebut Camat.Bagian Kesebelas Perangkat Daerah Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. Pasal 61 (1) (2) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretariat Daerah. dan tata laksananya. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. formasi. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. sesuai dengan kebutuhan Daerah. Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya.

seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah.Pasal 67 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. peraturan daerah. Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. kacuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan. (2) BAB VI PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN KEPALA DAERAH Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.000. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Lurah bertanggung jawab kepada Camat. Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. 42 (2) (2) (2) .000. Kepala Kelurahan disebut Lurah. Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah. Keputusan. Peraturan Daerah lain. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. 5.

bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. penetapan pensiun. kesejahteraan. pemindahan. c. d. hasil perusahaan milik Daerah. penetapan pensiun. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. (2) (2) 43 . gaji. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. pemberhentian. dana perimbangan. pinjaman Daerah. standar. BAB VII KEPEGAWAIAN DAERAH Pasal 75 Norma. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian karier pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. yaitu : a. b. BAB VIII KEUANGAN DAERAH Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintahan Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah. Pasal 80 (1) Dana perimbangan.Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. tunjangan. hasil pajak Daerah. hak dan kewajiban. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. dan penerimaan dari sumber daya alam. berdasarkan peraturan perundang-undangan. terdiri atas : a. Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 79 (1) Sumber Pendapatan daerah terdiri atas : pendapatan asli daerah. hasil retribusi Daerah. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. pemindahan. dan kesejahteraan pegawai. dan prosedur mengenai pengangkatan. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. pemberhentian. gaji. tunjangan. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah.

ayat (2). dan ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. Pasal 83 (1) (2) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. dibebani hak tanggungan. Pasal 85 (1) Barang Milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan c. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. dan dana alokasi khusus. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukkannya diatur dengan Peraturan Daerah. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. perkotaan. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang : a. c. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. (2) dana alokasi umum. ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 82 (2) (3) (4) (1) (2) Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. Ketentuan. Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. Ketentuan lebih lanjut. Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir.b. Tata cara peminjaman. (2) (2) 44 . penghapusan daerah sebagian atau seluruhnya. Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. dan perkebunan serta Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. diterima langsung oleh Daerah penghasil. Pasal 81 (3) (4) (1) Pemerintahan Daerah dapat melakukan peminjaman dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. ditetapkan dengan undang-undang. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. dan/atau dipindahtangankan.

BAB X KAWASAN PERKOTAAN Pasal 90 Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota. perlu ditetapkan Kawasan Perkotaan yang terdiri atas : (a) (b) Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten. Keputusan bersama dan/atau badan kerjasama. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). terdapat salah satu pihak yang tidak dapat menerima keputusan Pemerintah.(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. Pedoman tentang penyusunan. Pasal 88 (1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan di luar negeri. Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan. dan Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial. dan fisik perkotaan. Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Tata cara. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. yang diatur dengan keputusan bersama. ditetapkan oleh Pemerintah. pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian kepada Mahkamah Agung. kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah. Pedoman tentang pengurusan. ayat (2). pertanggungjawaban. pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 89 (2) (1) (2) Perselisihan antar Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara musyawarah. Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama antar Daerah. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. perubahan. ekonomi. (c) 45 . sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). BAB IX KERJASAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 87 (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerjasama antar Daerah yang diatur dengan keputusan bersama. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. dan ayat (3).

yang merupakan Pemerintah Desa. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. Pembentukan. (2) Bagian Kedua Pemerintah Desa Pasal 95 (1) (2) (3) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. Pasal 92 (1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan. 46 . Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. dan hal-hal lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten. (2) (3) (2) (3) BAB XI DESA Bagian Pertama Pembentukan. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati.Pasal 91 (1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola Kawasan Perkotaan. Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. dan/atau penggabungan Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. penghapusan. Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan/atau Penggabungan Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. Penghapusan. Pengikutsertaan masyarakat. dapat dibentuk Badan Pengelolaan Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. dihapus. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

k. j. m. dan memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur dalam Peraturan Daerah. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. G-30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. g. c. Daerah. dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan/atau Pemerintah Kabupaten. sejujur-jujurnya. c. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. i. dan adil.b. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. Sebelum memangku jabatannya. h. berkelakuan baik. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. jujur. sarana dan prasarana. f. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). (1) (2) (3) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. Pemerintah Propinsi. kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah.” Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. Pasal 98 d. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. dan seadil-adilnya. e. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. l. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. dan tugas Pembantuan dari Pemerintah. sehat jasmani dan rohani. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. Pemerintah Provinsi. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. serta sumber daya manusia. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengalaman yang sederajat. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa. b. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. 47 .

memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. d. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. (2) Pemberhentian Kepala Desa. membuat Peraturan Desa. b. Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. b. dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 103 (1) Kepala desa berhenti karena : a. d. 48 . Kepala Desa : a. e. membina kehidupan masyarakat Desa. e.Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a. Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. membina perekonomian Desa. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. meninggal dunia. Bagian Ketiga Badan Perwakilan Desa Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. f. Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. c. c. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. sebagaimana dimaksud dalam pasal 101. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintah Desa Pasal 105 (1) (2) (3) (4) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. b.

(3) Kepala Desa bersama-sama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. dan 2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dapat dibentuk Badan Kerja Sama. 2) hasil kekayaan Desa. dan pinjaman Desa. bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. e. c. dan 5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah. 4) hasil gotong-royong. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. (5) Tata cara dan pungutan objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. b. Untuk pelaksanaan kerja sama. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. (4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. 3) hasil swadaya dan partisipasi. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1) hasil usaha Desa. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 49 (2) . sumbangan dari pihak ketiga. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan.Bagian Keempat Lembaga Lain Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa. Bagian Keenam Kerja Sama Antar Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan Keputusan Bersama dan diberitahukan kepada Camat. (2) Sumber pendapatan Desa. Bagian Kelima Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a. d.

penggabungan dan pemekaran daerah. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. sebagaimana dimaksud dalam pasal 11. dan Kemampuan daerah kabupaten dan daerah kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. Perimbangan keuangan pusat dan daerah. asal usul. c. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). pelaksanaan. Peraturan Daerah. dan adat istiadat Desa. wajib mengakui dan menghormati hak. BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 112 (1) (2) Dalam rangka pembinaan. (2) (2) (3) (4) (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri dari Menteri Dalam Negeri. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala daerah. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. Menteri Sekretaris Negara. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Menteri Lain sesuai dengan kebutuhan. pembentukan. perwakilan asosiasi pemerintah daerah. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah. industri. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah.Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. b. dan wakil-wakil daerah yang dipilih oleh DPRD. 50 (3) . Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Menteri Keuangan. BAB XIII DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: a. dan pengawasannya. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. penghapusan. Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.

Kabupaten. kawasan perumahan.(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam 6 (enam) bulan. karena kedudukannya diatur tersendiri dengan undang-undang. wewenang. Pasal 119 (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Jakarta. penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus. kawasan pertambangan. kawasan bandar udara. kawasan pelabuhan. kawasan jalan bebas hambatan. dan Kota. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 121 Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I. hak. kawasan kehutanan. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. dan kawasan lain yang sejenis. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 117 Ibukota Negara Republik Indonesia. kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan. Pasal 118 (1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 122 Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 51 (2) (2) (2) . Pasal 116 (5) (6) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretaris yang membawahkan bidang otonomi daerah dan bidang perimbangan keuangan pusat dan daerah. dan Pasal 11 undang-undang ini. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 10. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom. berubah masing-masing menjadi Propinsi. Kabupaten Daerah Tingkat II. kawasan pariwisata. kawasan perkebunan. kawasan industri. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. Susunan organisasi. kedudukan. tugas. yang meliputi badan otorita. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada undang-undang ini. Pengaturan lebih lanjut. Pasal 123 Kewenangan Daerah. formasi.

Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini ditetapkan sebagai Kelurahan. Kotamadya Administratif. Kabupaten Paniai. dan huruf o Undang-undang ini. batas. pertahanan. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang ini. dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan. Kabupaten. seluruh instruksi. dan Badan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Pasal 127 Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. sudah harus berubah statusnya menjadi Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5 Undang-undang ini. Kotamadya Daerah Tingkat II. menjadi perangkat Daerah. Kabupaten Simeuleu. adalah tetap. huruf n. Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar negeri. Kotamadya. Lurah. Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang ini. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah. keamanan. Bupati Kepala Daerah Tingkat II. atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan Undangundang ini dinyatakan tetap berlaku. Kabupaten Puncak Jaya. moneter dan fiskal. Kelurahan. sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan. Pasal 128 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada masa jabatan Kepala Daerah. dan Kota Administratif. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n Undang-undang ini. sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 huruf m. kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah. Kabupaten Mimika. dapat dihapuskan jika tidak memenuhi ketentuan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom. pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap menjalankan tugasnya. Pembantu Bupati. dan ibukota Propinsi Daerah Tingkat I. dan Kepala Desa beserta perangkatnya yang ada. dan Desa atau yang disebut dengan nama lain. Walikota. petunjuk. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. dan semua Kota Administratif dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal 5 Undang-undang ini. Pasal 125 (1) Kotamadya Batam. serta agama. Kelurahan. Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Pembantu Walikotamadya. Pasal 126 (1) Kecamatan. Pasal 130 (1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada masa jabatan Kepala Daerah. Kabupaten. nama. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kotamadya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Kabupaten Daerah Tingkat II. Walikotamadya. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dihapus. dan Kota Administratif. Wakil Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. masa jabatan Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah. Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Bupati. Daerah Istimewa. peradilan. Camat. Pasal 129 (1) Dengan diberlakukannya Undang-undang ini. Lembaga Pembantu Gubernur.BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 Pada saat berlakunya undang-undang ini. 52 (2) (3) (2) (2) (3) (2) .

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). AKBAR TANDJUNG 53 . Pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan secara efektif selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya Undang-undang ini. dinyatakan tidak berlaku lagi : Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. Pasal 134 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3153) Pasal 132 (1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak Undang-undang ini ditetapkan. ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. Pasal 133 Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan Undang-undang ini. (3) (2) Disahkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 (1) (2) Pada saat berlakunya Undang-undang ini. diadakan penyesuaian. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56.

Dengan demikian. dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. nyata. 54 c. Dasar Pemikiran a. menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka. penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi. Oleh karena itu. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. . e. Undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. antara lain. nyata. dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi. Pembagian. d. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas. Dengan demikian. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. f. Pemberian kedudukan propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan : 1. dan bertanggung jawab kepada Daerah. Undang-undang ini disebut “Undang-undang Pemerintah Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pemerataan. Di samping itu. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. di daerah pun. g. semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-undang. Dalam penjelasan pasal tersebut.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAH DAERAH UMUM 1. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. antara lain. sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. dan keadilan.” Di daerah-daerah yang bersifat otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. Pengaturan. serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. peran serta masyarakat. dikemukakan bahwa “Oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Karena itu. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. meningkatkan peran serta masyarakat. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat. Sesuai dengan Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas. pembagian. Oleh karena itu. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. b. Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hirarki.

Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah. dan berkembang di daerah. sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. i. dan untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. 55 . serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. nyata dan bertanggung jawab. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. pemerataan. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatnya kemandirian Daerah Otonomi. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. 5. Pembagian Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. 3. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. moneter dan fiskal. Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. keadilan. b. Disamping itu. dan evaluasi. kawasan kehutanan. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. keadilan dan pemerataan. pengendalian. kawasan perumahan. kawasan perkotaan baru. 4. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. 6. kawasan industri. kawasan pertambangan. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan lintas Kabupaten dan Kota. pengawasan. kawasan pelabuhan. pertahanan keamanan. h. untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan perkebunan. 7. Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. serta kewenangan di bidang pemerintah tertentu lainnya. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah.undang ini adalah sebagai berikut : 1. 3. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita. pengembangan kehidupan demokrasi. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. dan semacamnya berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonomi. keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan. agama. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-Daerah. serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. hidup.2. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. nyata dan bertanggung jawab. baik sebagai fungsi legislasi. prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang . dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. 2. Atas dasar pemikiran di atas. pelaksanaan. maka dalam Undang-undang ini pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. serta potensi dan keanekaragaman daerah. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. 2. 8. kawasan pariwisata. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. peradilan.

5. 56 . dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa. bijaksana. Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan. Pembagian Daerah di luar daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom. golongan. Kepala Daerah Untuk menjadi Kepala Daerah. memiliki etika dan moral. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi. penempatan. dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi. dekonsentrasi. Daerah Kabupaten. Pertanggungjawaban Kepala Daerah Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah. Keuangan Daerah (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas. adil. dan c. 4. Dengan demikian. dan Desa. 7. Sementara itu. dan berkemampuan sebagai pimpinan pemerintahan. dan netral. dan aliran. berwawasan kebangsaan. Daerah Kota. sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah. digunakannya asas desentralisasi. yang didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem Pemerintahan Daerah. seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berpengetahuan. sekaligus adalah Pimpinan Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir. Oleh karena itu. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. Mutasi antar Daerah Propinsi dan/atau antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut. diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri. 3. nyata. dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan. Mutasi antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah Propinsi diatur oleh Gubernur. (2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan Pemerintahan menjadi kewenangan Daerah. 6. dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif. pemindahan. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah. Kepegawaian Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya. Oleh karena itu. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. jujur. menurut undang-undang ini kedudukannya diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota. b. adalah : a. Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus. DPRD dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. dari kelompok atau etnis. 8. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kepala Daerah disamping sebagai pimpinan pemerintahan. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah Administrasi dalam rangka dekonsentrasi. baik pengangkatan. d. dan tugas pembantuan.c. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Provinsi. dan bertanggung jawab. bertindak. sedangkan mutasi antar Daerah Propinsi diatur oleh Pemerintah. serta mendapatkan kepercayaan rakyat. dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. negara.

dan Keputusan Kepala Desa. demokratisasi. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. (6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa. Kepala Desa mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya. Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas 57 . harta benda. Pembinaan dan Pengawasan Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam upaya pemberdayaan Daerah Otonom. Pemerintahan Desa (1) Desa berdasarkan undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. (3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum. baik hukum publik maupun hukum perdata. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih dahulu oleh pejabat yang berwenang. (4) Sebagai perwujudan demokrasi. dan pemberdayaan masyarakat.9. Karena itu. Untuk itu. (7) Berdasarkan hak asal usul Desa yang bersangkutan. (5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. pendapatan lain-lain yang sah. otonomi asli. 10. Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. (8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang berada di dalam Daerah Kabupaten dan/ atau Daerah Kota. di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan. yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan. memiliki kekayaan. Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. partisipasi. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-Undang Dasar 1945. (2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah.

pelatihan bidang tertentu. Daerah/Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan. kehutanan. dan perkebunan. Sementara itu. Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama. dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. pengendalian lingkungan hidup. promosi dagang dan budaya / pariwisata. setiap undang-undang mengenai pembentukan Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis Daerah yang bersangkutan. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Untuk menentukan batas dimaksud. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 8 Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada Daerah/ Gubernur. dan kebijakan Pemerintah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pengelolaan pelabuhan regional. dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah. Gubernur selaku Wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan penelitian yang mencakup wilayah provinsi. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah : perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro. dalam kedudukan sebagai Wilayah Administrasi. 58 . kerja sama. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi. norma. perencanaan.Ayat (2) Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain adalah bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Ayat (3) Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD. dan evaluasi sesuai dengan standar. penanganan penyakit menular dan hama tanaman. tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi. demikian pula mengenai perubahan batas Daerah. Pasal 9 Ayat (1) Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti kewenangan di bidang pekerjaan umum. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam. alokasi sumber daya manusia potensial. perizinan. perhubungan. sumber daya buatan. dan perencanaan tata ruang propinsi. pelaksanaan.

kebersihan. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah. antara lain. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif.Ayat (2) Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD Provinsi. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini. Oleh karena itu. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 59 . pertamanan. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi. DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. dan tata kota. Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan. Ayat (2) Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. pemadam kebakaran.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas 60 .Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di lingkungan kerja DPRD bersangkutan.

dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. karena kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah. Ayat (2) Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota diberitahukan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung DPRD atau di gedung lain. yakni : 61 .Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dipilih secara berpasangan. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk pemilihan Kepala Daerah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden.

huruf c. dan huruf d Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. pemasaran. dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Huruf a dan huruf e Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga masyarakat. kolusi dan nepotisme. produksi. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. antara lain yang berwujud korupsi. usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. Huruf b. pengembangan teknologi. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 43 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat.diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas 62 . Kepala Daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi.

Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas 63 . yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. tembusannya dikirimkan kepada Gubernur. tembusannya dikirimkan kepada Presiden. sedangkan berakhirnya masa jabatan Bupati/Walikota.Pasal 53 Ayat (1) Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di gedung DPRD atau gedung lain. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Budha.

atau ditiadakan yang bertentangan dengan hukum. diambil suatu tindakan paksaan. Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau meniadakan. dan lain-lain. Badan Perencanaan. karena paksaan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan. Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif kepada pelanggar. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak ditandatangani serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. Lembaga Pengawasan. Badan Pendidikan dan Pelatihan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Ayat (1) Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur dilakukan menurut cara yang sah. diadakan. Ayat (4) Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah. dijalankan. Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. Pasal 71 Ayat (1) Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan pemeliharaan hukum”. Apabila pelanggar tidak mengindahkannya. atau memperbaiki segala sesuatu yang telah dibuat. melakukan.Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan. Pasal 70 Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan sama kecuali untuk perubahan. Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati dalam proses pengangkatan Lurah. yang merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. 64 . dialpakan. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemahalan hidup. mencegah. Paksaan penegakan hukum itu hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang sesuai dengan berat pelanggaran.

Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Huruf a Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Cukup jelas Angka (3) Cukup jelas Angka (4) Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan aset Daerah dan jasa giro. kehutanan. dan perikanan. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya. Pasal 80 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang pertambangan umum. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 65 . Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota.Pengundangan dimaksud kecuali untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan. dan pemindahan pegawai antar Daerah Propinsi atau antara Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah. dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. pertambangan minyak dan gas bumi. peraturan dan keputusan tersebut perlu dimasyarakatkan. pemindahan pegawai antar Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah.

menghibahkan. dan/atau memindahtangankan. yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD. penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional. Ayat (2) Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan termaksud. 66 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses lebih lanjut. lembaga komersial. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual. Pasal 83 Ayat (1) Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa kemudahan pembangunan prasarana. Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala Daerah. dan lain-lain. tukar guling. dan/atau penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum peminjaman tersebut dilaksanakan. penyebaran lokasi industri strategis. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 82 Ayat (1) Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 81 Ayat (1) Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah. Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. menggadaikan.Ayat (2) Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah.

jumlah penduduk. Pasal 94 Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa setempat. Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat Desa. dan pihak swasta. masyarakat. dan lain-lain. Yang dimaksud dengan asal usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah. dan marga. dan/atau penggabungan Desa perlu dipertimbangkan luas wilayah. huta.Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. sosial budaya. potensi Desa. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam perencanaan. kampung. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 67 . dan pemilikan. pelaksanaan. Ayat (2) Dalam pembentukan. Pasal 95 Ayat (1) Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat. penghapusan. bori. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari.

yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihakpihak yang berselisih. sarana dan prasarana. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. diakhiri dengan ucapan “semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. Pasal 101 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. serta sumber daya manusia. Huruf f Cukup jelas Pasal 102 Huruf a Cukup jelas Huruf b Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat Pasal 103 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 68 . Kepala Desa dapat dibantu oleh lembaga adat Desa.Pasal 96 Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai dengan pembiayaan.

Ayat (2) Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan setiap tahun meliputi penyusunan anggaran. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru.Huruf d Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa. pelaksanaan tata usaha keuangan. dan perubahan serta perhitungan anggaran. dan Keputusan Kepala Desa. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 106 Cukup jelas Pasal 107 Ayat (1) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan. antara lain. Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 104 Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati. dan kewenangan melakukan pinjaman. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban ekonomi tinggi dan dampak lainnya. baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten. tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa. Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa. Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Ayat (1) Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat persetujuan Badan Perwakilan Desa. Ayat (2) Cukup jelas 69 . kerja sama dengan pihak ketiga. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambatlambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat.

pelatihan. serta bersikap independen sebanyak 6 orang. penggabungan. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. arahan. terutama di bidang keuangan dan pemerintahan. dihapus. Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian. Ayat (3) Cukup jelas 70 . dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Pemerintah. bimbingan. antar-Pemerintah Kabupaten. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. dan 2 orang Wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun. penghapusan. 2 orang Wakil Daerah Kabupaten. Pasal 115 Ayat (1) Mekanisme pembentukan. dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. dan pertimbangan lain. penghapusan. dan supervisi. dan/atau pemekaran Daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut : Daerah yang akan dibentuk. jumlah penduduk. yang terdiri atas 2 orang Wakil Daerah Propinsi.Pasal 110 Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak pembangunan tersebut. digabung. sosial budaya. penggabungan. Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan asal usul adalah asal usul terbentuknya Desa yang bersangkutan. Pasal 112 Ayat (1) Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom melalui pemberian pedoman. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 113 Cukup jelas Pasal 114 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir dilakukan selambatlambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan dari Pemerintah. potensi daerah. sosial politik. luas daerah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi.

dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan kebijakan Daerah. Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal usul dan peranannya dalam sejarah perjuangan nasional. sedangkan isi keistimewaannya berupa pelaksanaan kehidupan beragama.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Ayat (1) Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan nasional. Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas 71 . Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut. sedangkan isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini. adat.

Pasal 133 Cukup jelas Pasal 134 Cukup jelas ______________________________________ 72 . Ayat (2) Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah selesai dalam waktu dua tahun.Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun.

bahwa keanekaragaman hayati di dunia.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. tumbuhan. termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. g. dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia. b. jenis dan genetik yang mencakup hewan. diakui pula adanya peranan penting wanita. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. e. perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan. f. Brazil. d. Menimbang: a. dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. 73 . Mengingat: Pasal 5 ayat (1). Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi. khususnya di Indonesia. memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI). c. Pasal 11. dan jasad renik (microorganism). bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem.

Agar setiap orang mengetahuinya.Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. MOERDIONO 74 . Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd.

dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. Inventarisasi. Sumber daya alam di darat. e. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. perdamaian abadi dan keadilan sosial. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). f. A. b. 75 . industri. Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. mencerdaskan kehidupan bangsa. terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia ( Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. dan ekosistem. menegaskan sebagai berikut : a. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. perdamaian abadi. terutama bagi pengembangan pertanian. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya. dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. mengendalikan pencemaran. pemantauan. g. merehabilitasi kerusakan lingkungan. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. dan kesehatan terus ditingkatkan. jenis spesies. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. jo Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia Tanggal 17 Pebruari 1969. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang. penegakan hukum. c. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. b. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. perlu terus ditingkatkan. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. pemberian rangsangan. d. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan. Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. antara lain. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994 ).PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I.

14/17 tanggal 17 Juni 1987. Kenya. 76 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. Kenya. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi.Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. dengan keputusan No. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. j. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi. pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. b. dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). g. Brazil. e. Swiss. diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. Dengan demikian. l. Brazil. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity. Selain negara-negara ini. Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INCCBD) di Madrid. pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. Konferensi di Rio de Janeiro. c. Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. B. 15/34 tanggal 25 Mei 1989. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. Kenya. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. e. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. g. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. h. Brazil. c. Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. ikut hadir pula Masyarakat Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. k. Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. d. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991. Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. pada tanggal 5 Juni 1992. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. f. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). Kenya. Fifth Session of INC-CBD di Geneva. Sidang terakhir diadakan di Nairobi. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. Spanyol. pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. f. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Kenya. Governing Council. i. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. d.

31. 41. 13. 14. Ratifikasi. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. Laporan. 30. Penandatanganan. 20. Pertukaran Informasi. Sumber Dana. Amandemen Konvensi atau Protokol. Lampiran II : Bagian 1. Akses pada Sumber Daya Genetik. 12. 24. Teknis dan Teknologis. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan. 26. 3. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. 10. Konsiliasi (Conciliation). 21. 32. Aksesi. d. 34. 6. Pengaturan Pendanaan Interim. Sekretariat. 28. Penyelesaian Sengketa. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. Konferensi Para Pihak. Mekanisme Pendanaan. 36. Konservasi Ex-situ. Interim Financial Agreement. 9. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. 16. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. Penelitian dan Pelatihan.Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. 25. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. 4. Prinsip. Tujuan. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. Teks Asli b. 77 . Konservasi In-situ. Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. Hal Berlakunya. 18. c. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. 29. Keberatan-keberatan (Reservasi). 42. Penerimaan atau Persetujuan. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. 5. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. Pengaturan Sekretariat Interim. 11. 38. Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. Depositari. 35. 19. 37. Lampiran : Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring) . Identifikasi dan Pemantauan. dan penyempurnaan. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. 15. yaitu : 1. 27. Selain itu. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2. 8. 23. 7. Keempat resolusi tersebut ialah : a. Hak Suara. Tindakan Insentif. keberatan. 17. b. Pengesahan dan Lampiran Amandemen. yang di antaranya berisi saran. 33. Pengesahan Protokol. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. Kerja sama Internasional. 22. 39. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. Penarikan Diri. Pengertian. Lingkup Kedaulatan. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. 2. usul perubahan. 40. C.

78 . d) Pengembangan pendidikan. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1. budaya atau ilmiah. Jenis dan komunitas yang terancam. 4. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. II. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. 3. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. 5. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. 8.D. program. pelatihan. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati. di dalam dan di luar negeri. 2. Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. pertanian atau nilai ekonomis yang lain. mempunyai nilai penting secara ekonomi. seperti halnya jenis indikator. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional. atau mempunyai nilai sosial. c) Pertukaran Informasi. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. 7. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. 2.UNDANG NO. ilmiah dan ekonomi penting. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. atau yang mewakili. dan 3. b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. 6. dan peningkatan peran serta masyarakat. Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG . Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antar sektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. Dengan meratifikasi Konvensi ini. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan. ilmiah atau budaya yang penting. penyuluhan. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya.

penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. dan (b) Membantu sidang. Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. karena keadaan khusus kasus tersebut. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal. 79 . Dalam persengketaan antara dua pihak.LAMPIRAN II UNDANG . dan hukum internasional. informasi dan fasilitas yang berkaitan. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. semua protokol yang berkaitan. merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. atas permintaan salah satu pihak. akan : (a) Memberi sidang segala dokumen. sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Pasal 2 1. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. dengan permintaan salah satu pihak. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat. 2. Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini. Pasal 3 1. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua. 3. 2. Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut. sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa. bilamana perlu. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka. dengan persetujuan bersama.UNDANG NO.

Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya. pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. Pasal 12 Keputusan. Sebelum membuat keputusan akhirnya. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Bagian 2 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang. Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak. dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya.Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya. Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. 80 . dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. kecuali bilamana pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi.

Dewan tersebut harus. Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut. Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. menetapkan prosedurnya sendiri. 81 .Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya.

bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. b. 2. bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. d. serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. g bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas. maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial. Mengingat: 1. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. selaras. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. 82 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional. Pasal 5 ayat (1). f. c. e.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. baik masa kini maupun masa depan. 4. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA. Pasal 20 ayat (1). Menimbang: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368). 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299).

dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar. BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. baik yang hidup di darat maupun di air. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. 11. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya. dan rekreasi. 15. yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. 14. baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. b. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan.3. menunjang budidaya. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan. 6. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. b. 12. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. pariwisata. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. 9. dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. pendidikan. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. perlindungan sistem penyangga kehidupan. 83 . 4. satwa. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati. 10. jenis asli dan atau bukan asli. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara. ilmu pengetahuan. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. menunjang budidaya. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air. Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Pemerintah menetapkan : a. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. dan rekreasi. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. 7. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. c. ilmu pengetahuan. pariwisata. 8. pendidikan. 5. 13. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. 16. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli. c. dan/atau di air. budaya. dan/atau di udara. ekosistem unik.

(2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. pendidikan. Pasal 13 (1) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. wisata terbatas. (3) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pendidikan. pengawetan jenis tumbuhan dan satwa. (2) Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. b. cagar alam. suaka margasatwa. juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a. (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 10 W ilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan. kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. ilmu pengetahuan. b. (3) Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. (2) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja sama konservasi internasional. ilmu pengetahuan.Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. 84 . dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. dilaksanakan melalui kegiatan : a. (2) Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

b. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. b. ilmu pengetahuan. melukai. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. memelihara. mengangkut. memelihara. mengangkut. (2) Setiap orang dilarang untuk : a. memiliki. b. menyimpan atau memiliki kulit. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. merusak. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. e. Pasal 24 (1) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. (3) Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. merusak. mengambil. memiliki. tumbuhan dan satwa yang dilindungi. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. menyimpan.Pasal 19 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. menebang. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. memperniagakan. menyimpan. menangkap. dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. memusnahkan. dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian. BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. c. memiliki. (3) Pengecualian dari larangan menangkap. memelihara. memperniagakan. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. 85 . d. mengangkut. (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. memusnahkan. Pasal 23 (1) Apabila diperlukan. b. mengambil. dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. membunuh. Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam. melukai. ayat (2). (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia.

(2) Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. daya dukung. taman hutan raya. dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian. dan taman wisata alam. taman nasional. dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. Pasal 33 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. (2) Di dalam zona pemanfaatan taman nasional. taman hutan raya. pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. 86 . Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional. taman hutan raya. b. zona pemanfaatan.dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 34 (1) Pengelolaan taman nasional. taman hutan raya. Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. menunjang budidaya. pendidikan. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional. dan zona lain sesuai dengan keperluan. budaya. c. taman wisata alam. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu. taman hutan raya. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional. dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam. taman hutan raya. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masingmasing kawasan. ayat (2). pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. b. ilmu pengetahuan. (3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti. BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional.BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. dan wisata alam. (3) Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi. dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. taman hutan raya.

penangkaran. BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. berwenang untuk: a. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. h. BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. d. b. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. e.BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. budidaya tanaman obat-obatan. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. perdagangan. g. Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. penelitian dan pengembangan. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. peragaan. perburuan. f. pengkajian. 87 . g. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. membuat dan menandatangani berita acara. c. (2) Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). b. pemeliharaan untuk kesenangan. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. c. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. (2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). e. pertukaran. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. f. d.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 88 .000.000.000. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134).BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200. Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini.00 (seratus juta rupiah). memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 100. Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167).000.00 (seratus juta rupiah). (4) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000.00 (dua ratus juta rupiah). 4. dinyatakan tidak berlaku lagi.000. tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini. BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini. 2.000. Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. (5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133). (2) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100. Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati.00 (lima puluh juta rupiah). Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733). BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1. (3) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. Agar setiap orang mengetahuinya.000. 3.

maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas. Peran serta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah). UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah. yaitu : 1. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya. Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum. tegas. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya. Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. dipelihara. baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya. yang kehadirannya tidak dapat diganti. Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi. Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan. sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana. di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. ilmu pengetahuan. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. alam nabati ataupun berupa fenomena alam. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan. 3. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi. dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. polusi. sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA I. dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari). Oleh karena itu. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani. pengawetan 89 . belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal. baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundangundangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia. dan pemanfaatan secara lestari. 2. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. dilestarikan. belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. antara manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. baik di darat. dan taman wisata alam. ilmu pengetahuan. baik secara masing-masing maupun bersamasama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup. keselarasan dan keseimbangan. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan). Untuk itu. taman hutan raya. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional. diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. dan Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. perkembangan kependudukan.

Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Namun. Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. tetapi termasuk di dalam pengertian satwa. keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin. Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 90 . dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia. II.keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undang-undang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Cukup jelas Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar. Namun.

Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung. satwa. Pasal 6 Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia. Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. danau. b. daerah pasang surut. bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. air. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. waduk. baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan tanah. tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. daerah pantai. baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif. maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. dan genangan air lainnya). Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. dan jurang. c. Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan.Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. bagian tertentu dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. 91 . jurang. danau. dan areal berpolusi berat. Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas tanah. Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. tebing. rawa. perlu diadakan penelitian dan inventarisasi. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. tepian sungai. udara. Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. pengelolaan daerah aliran sungai. dan jasad renik. daerah aliran sungai. yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). laut wilayah Indonesia. pemeliharaan fungsi hidrologi hutan. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). tumbuhan. dan lain-lain. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air. areal tepi sungai. perlindungan pantai. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi.

serta mengamati dan mengevaluasi perubahan. kewenangan penentuan kegiatan penelitian. Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional. perburuan satwa yang berada dalam kawasan. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran.perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat. ilmu pengetahuan. dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya. Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah. Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam. tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam.Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor. kebakaran. ilmu pengetahuan dan pendidikan. dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami. dan pendidikan. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. baik sebagai kawasan hutan lain. 92 . Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak. atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. melihat. Namun. dan gempa bumi. erosi. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945.

sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. dan sebagainya. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya.Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. pembuatan fasilitas air minum. taman safari. atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan. cara melakukan penangkapan hidup-hidup. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan. Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis. sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat. juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. baik di dalam maupun di luar negeri. maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa. guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya. 93 . Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan.

Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional zona rehabilitasi, dan sebagainya. Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

94

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran), dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa. Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka melalui kegiatan penyuluhan, Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah, juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas 95

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila; b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 96

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan; b. keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. (2) Setiap orang berhak untuk: a. mengetahui rencana tata ruang; b. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 5 (1) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. (2) Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. 97

Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. (2) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undang-undang. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan, penataan ruang kawasan perkotaan, dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia; b. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi, selaras, dan seimbang antara perkembangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. (3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II; b. meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, dan interaksi lingkungan; b. tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan, serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pasal 12 (1) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. (2) Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. (3) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). (4) Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; b. aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. (2) Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya. (3) Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang, tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. 98

dan kawasan tertentu. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. tata guna air. (2) Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. c. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. b. yang meliputi: a. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. diatur dengan Peraturan Pemerintah. kawasan budi daya. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. Pasal 18 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. b. pola pengelolaan tata guna tanah. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warganegara. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. (2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan evaluasi. b. tata guna udara. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. c. Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. b. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. c. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. c. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. pemantauan. mewujudkan keterpaduan. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. penetapan kawasan lindung. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II. tata guna air. BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. b. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. keterkaitan. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. (2) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. d. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. yang didasarkan atas rencana tata ruang. dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. norma dan kriteria pemanfaatan ruang. (2) Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. 99 . kawasan budi daya. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a.

energi. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (4) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. arahan pengelolaan kawasan perdesaan. kawasan perkotaan. e. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. dan kawasan tertentu. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. telekomunikasi. kawasan perkotaan. tata guna air. b. pertambangan. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. e. c. dan tata guna sumber daya alam lainnya. pengairan. c. keterkaitan. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. c. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. b. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. 100 . arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi. d. prasarana pengelolaan lingkungan. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. penatagunaan air. d. pengelolaan kawasan perdesaan. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. (2) Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. c. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. dan kawasan lainnya. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. kehutanan. pariwisata. c. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. f. b. arahan pengembangan kawasan permukiman. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. b. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor. pengairan. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kawasan. d. b. tata cara. b. dan prasarana pengelolaan lingkungan. mewujudkan keterpaduan. pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. keterkaitan. yang meliputi : a. penatagunaan udara. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penatagunaan tanah. (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun. g. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. e.Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. mewujudkan keterpaduan. d. arahan kebijaksanaan tata guna tanah. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. perindustrian. c. pertanian. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. dan kawasan tertentu. tata guna udara. yang meliputi: a. penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. d. (6) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. energi. pedoman. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. sistem prasarana transportasi. telekomunikasi. arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan.

b. dan pelatihan. (2) Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan itikad baik. mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a. Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undangundang ini. mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. (2) Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. (2) Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. Pasal 27 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting. menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan. (4) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. Lembaga. Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II.BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. pendidikan. (3) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. b. 101 . Pasal 29 (1) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang. terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. (3) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. bimbingan.

Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 102 . memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.13) dinyatakan tidak berlaku. Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168. Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no. Agar setiap orang mengetahuinya.

di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik. Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas. Oleh karena itu. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. Seiring dengan maksud tersebut. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. kawah gunung berapi. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. lautan. Dengan demikian. dan estetika lingkungan. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur. lapisan di bawah kerak bumi. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. maka 103 . dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. budaya. akan meningkatkan keserasian. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. hubungan manusia dengan manusia. pertahanan keamanan. dan keseimbangan.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG I. 3. dilindungi dan dikelola. Oleh karena itu. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian. kualitas ruang. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. Secara geografis letak dan kedudukan negara Indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinasi. 4. maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. ruang lautan. hubungan manusia dengan alam. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. ruang harus dimanfaatkan secara serasi. jenis kegiatan. 2. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan. sumber daya buatan. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. terpadu. fungsi lokasi. musim. maka haruslah jelas batas. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. ekonomi. Akan tetapi. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. selaras. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati. sosial. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. keselarasan. budaya. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. pertahanan keamanan. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. UMUM 1. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. sosial. Ruang meliputi ruang daratan. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem. tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. keselarasan. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. dan iklim tropisnya. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. ekonomi.

b. pertambangan. dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). pemanfaatan ruang. Dengan demikian. d. c. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Untuk itu. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35. Ruang daratan. harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya. kepariwisataan. transmigrasi. perkotaan. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. Selain itu. Dengan demikian. yang merupakan ruang di luar ruang udara. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. industri. pembangunan daerah. perikanan. Ruang daratan. kehutanan. ruang lautan. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundangundangan mengenai perairan. telekomunikasi. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. perindustrian. perumahan dan permukiman. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. dan tempat. Dalam Undang-undang ini. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. sebagai obyek wisata. pertanahan.pelaksanaan pembangunan. pertambangan. Potensi itu diantaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan. ruang lautan. atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. waktu. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah. c. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. 104 . Landas Kontinen Indonesia. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah teritorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah teritorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara. dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. sebagai sumber energi. tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). perhubungan. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. jalan. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa. sebagai jalur perhubungan. dan ruang udara. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi. 5. b. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. ruang lautan. pemanfaatan ruang. perdesaan. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang.

pusat lingkungan. pusat pemerintahan. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat.Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. optimasi. keselarasan. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. daya dukung lingkungan. 105 . dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. Dalam mempertimbangkan aspek waktu. danau. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. tempat kerja. daya tampung lingkungan. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. antar daerah. gua. ruang lingkup wilayah yang direncanakan. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. gunung dan sebagainya. suaka alam. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. dan pertanian. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. fungsi. garis langit. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan. sebaran permukiman. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. dan jalan lokal. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan. jalan kolektor. prasarana jalan seperti jalan arteri. dan sebagainya. modal. dan geopolitik. selaras. jarak antar bangunan. Yang dimaksud dengan serasi. Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. lingkungan sosial. industri. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai.

hak untuk mengelola pariwisata bahari. dan ruang udara. rehabilitasi. dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. atau badan hukum. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. tambang. budi daya kehutanan. integrasi. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal. bahan galian. penambangan lepas pantai. hak untuk melakukan angkutan laut. hak untuk melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan. dan kegiatan pembangunan permukiman. obyek wisata lingkungan. daerah. tempat peristirahatan. ikan. memberi saran. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal. dan sebagainya. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. dan lain-lain yang sejenis.Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. siklus hidrologi. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. dan atau ruang. dan sebagainya. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian. budi daya pertanian. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. hak pemeliharaan taman laut. Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. perdagangan. penelitian. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. meningkatkan fungsi kawasan lindung. pemanfaatan ruang. ruang lautan. Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. dan pengendalian pemanfaatan ruang. b. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. pariwisata. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. dan sebagainya. fungsi lingkungan seperti wilayah 106 . dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor-faktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. keselarasan. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. industri. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang. dan lain-lain yang sejenis. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. b. kelompok orang. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang. siklus udara.

Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. 107 . kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. wilayah perbatasan. dan kegiatan ekonomi. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). c. kawasan industri. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. sempadan sungai. kawasan sekitar danau/waduk. kawasan berikat. b. kawasan resapan air. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. kawasan perkotaan. Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan. dan kegiatan ekonomi. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. kawasan tempat beribadah. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. kegiatan pelayanan sosial.resapan air. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. dan kawasan rawan bencana alam. kawasan pendidikan. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. kegiatan pemerintahan. kawasan resapan air. estetika lingkungan seperti bentang alam. Bagi orang yang tidak mampu. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. kawasan suaka alam. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja. kawasan bergambut. kawasan permukiman. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. kawasan pantai berhutan bakau. pertanaman. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. taman nasional. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. serta kawasan perdesaan. taman nasional. taman hutan raya dan taman wisata alam. tempat kegiatan pertanian. dan kawasan tertentu. kawasan pertahanan keamanan. dan sebagainya. arsitektur bangunan. kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. kawasan pariwisata. kawasan hutan lindung. kawasan pertanian. konservasi flora dan fauna. sempadan pantai. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. kegiatan pelayanan sosial. kawasan sekitar mata air. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak.

di lautan dan di udara dengan negara tetangga. sosial. Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu. kawasan resapan air. dan daerah latihan militer. baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. wilayah perbatasan. Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. suaka alam. kawasan perkotaan. Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai.Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. budaya. dan pertahanan keamanan. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. wilayah perbatasan. kawasan hutan lindung. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. taman nasional. Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). ekonomi. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. di daratan. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya pertanian. 108 . serta kawasan perdesaan. penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. lingkungan. Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. dan kawasan tertentu. pariwisata. koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Kecuali kawasan tertentu. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah.

Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. Dalam menjalankan peranannya itu. daya dukung dan daya tampung lingkungan. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kelompok orang. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional. ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. maka hak orang harus tetap dilindungi. Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. sosial. b. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. atau badan hukum. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. dan fungsi wilayah serta kawasan. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. penetapan tata ruang. budaya. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Oleh karena itu. Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. perumusan perencanaan tata ruang. menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. bertitik tolak dari data. informasi. Ayat (2) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. kedalaman rencana. c. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. d.Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: 109 . Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. serta fungsi pertahanan keamanan. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini.

budi daya. fungsi lindung. air. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang. air. energi angin. jalan kereta api. penggunaan. prioritas. pola pengelolaan tata guna udara. Perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa. lingkungan buatan. pola pengelolaan tata guna air. d. penatagunaan air. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. administrasi. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. penatagunaan udara. air kotor. potensi meteorologi klimatologi. dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. jaringan transportasi seperti jalan raya. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan. dan pemanfaatan tanah. dan estetika lingkungan. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. jaringan telepon. udara. Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. dampak terhadap lingkungan. sumber daya alam. minyak bumi. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. jaringan gas. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah.a. fauna. antara lain. penatagunaan air. udara. lingkungan alam nonhayati. tata guna air. flora. penatagunaan udara. Sistem prasarana meliputi. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. air. Tata guna tanah. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk 110 . c. perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. sistem prasarana. dan geofisika. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. teknologi. udara. ekonomi. sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. pertahanan keamanan. Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Meskipun demikian. air. sosial. udara. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. informasi. sumber daya buatan. energi surya. b. pengatusan air hujan. dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. budaya. antara lain. c.

111 . dan sanksi pidana. sanksi perdata. dan mempertahankan ruang hidupnya. imbalan. meskipun Undang-undang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. klimatologi. Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham. Pasal 19 Ayat (1) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. ketidaktersediaan sarana dan prasarana. hak memperoleh. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. Dalam pemanfaatan tanah. dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. pemanfaatan air. Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. pemanfaatan udara. atau b. Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang.kepentingan masyarakat secara adil. air minum. mengawasi. Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. atau b. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a. pengenaan pajak yang tinggi. listrik. Dengan demikian. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. misalnya dalam bentuk: a. dan geofisika. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan.

pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.000. Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional. kawasan budi daya. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100. d. keanekaragaman kegiatan pembangunan. dan udara. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250. termasuk penetapan kawasan tertentu. pemerataan. c. 112 . Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. e. b. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan.000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan.000. pertumbuhan.Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda. laut. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung. dan kawasan lainnya. Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat. dan stabilitas. kawasan budi daya. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. b. data dan informasi. b.000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50.000. c. c. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang.000. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. daya dukung dan daya tampung lingkungan. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II.

i. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. dan stabilitas. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan. f. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. b. Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. Dengan demikian. pertumbuhan. d. daya dukung dan daya tampung lingkungan. pokok permasalahan kepentingan nasional. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. h.Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batasbatas tertentu. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun. 113 . Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. g. Meskipun demikian. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. pemerataan. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I. e. Selanjutnya. data dan informasi. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. c. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan.

arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I. udara dan sumber daya alam lainnya. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II memperhatikan antara lain: a. Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. d. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Ayat (6) Cukup jelas 114 . maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. keselarasan dengan aspirasi masyarakat. data dan informasi. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan pengelolaan lingkungan. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. b. persediaan dan peruntukan tanah. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. penatagunaan air. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. f. pengairan.Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. energi. penatagunaan tanah. c. e. g. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan. telekomunikasi. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. air.

mempunyai dampak penting. mengakui. penguasaan. hukum adat. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar. kewenangan. Pemilikan. Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. lokasi. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat. dan mencegah kerusakan lingkungan. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan dalam kaitannya dengan besaran kawasan. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). menjunjung tinggi. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai. dan kegiatan yang ditetapkan. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundang-undangan. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dengan demikian. dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang. c. b. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. atau kebiasaan yang berlaku. Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. 115 .

Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen. penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. hukum adat. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. jaringan penyediaan air baku. pemanfaatan ruang. Lembaga. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. dan Badan-badan Pemerintah lainnya. Ayat (3) Cukup jelas 116 . dan kebiasaan yang berlaku. jaringan air minum. Lembaga. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. proses. sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. pemanfaatan ruang. jaringan pengatusan. Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. prosedur. standar dan kriteria teknis. Ayat (2) Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai buktibukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain. bimbingan. pendidikan. dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang. Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang.Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut. Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. jaringan air kotor. jaringan telepon. Sebaliknya Departemen. kualitas ruang. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I.

peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuan-ketentuannya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti. Pada prinsipnya. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. permukiman. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. perdagangan. dan sebagainya. untuk menghindari kevakuman. pemanfaatan ruang. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya. pariwisata. dan terpusat. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya. dan sebagainya. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. industri. antara lain.Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. kawasan perumahan menjadi kawasan industri. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. pariwisata. dikoordinasikan oleh Menteri. pariwisata. lintas daerah. kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan. permukiman. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. Akan tetapi. sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas 117 . Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. dan penyusunannya dilakukan secara berurutan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Sebagai contoh. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. pertanian. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci.

AMDAL 118 .

dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. 6. 12. 14. 2. d. ME MUTU S KAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. 119 . 7. 4. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan. bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 9. 10. Mengingat : 1. e. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. 8. c. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 2. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. b. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/ atau kegiatan dimaksud. 13. 11. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 3. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). bahwa dengan diundangkannya Undang-undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan .

f. dan jenis jasad renik. (2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. h. g. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. jenis hewan. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. terpadu atau kegiatan dalam kawasan. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. (3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. (3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya dalam 5 (lima) tahun. i. b. Pasal 4 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. (2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait. d. b. sifatnya kumulatif dampak. (2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 3 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. (5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. e. luas wilayah persebaran dampak. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. Pasal 7 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. 120 . (2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. jumlah manusia yang akan terkena dampak. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. c. lingkungan buatan. f. dan atau mempengaruhi pertahanan negara. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. (4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. e. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. Pasal 5 (1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : a. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. d. c. serta lingkungan sosial dan budaya. intensitas dan lamanya dampak berlangsung.Pasal 2 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/ atau kegiatan. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup.

instansi yang ditugasi bidang kesehatan. Departemen Dalam Negeri. rencana pemantauan lingkungan hidup. warga masyarakat yang terkena dampak. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. di tingkat daerah : oleh Gubernur. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. ditetapkan oleh Menteri. (7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. baik pusat maupun daerah. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. analisis dampak lingkungan hidup. analisis dampak lingkungan hidup. serta anggota lain yang dipandang perlu. ahli dibidang yang berkaitan. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. organisasi lingkungan hidup di daerah. (6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. Pasal 9 (1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup.(2) Pemohon izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan instansi yang bertanggung jawab. 121 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. (4) Dalam menjalankan tugasnya. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. (5) Dalam menjalankan tugasnya. setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. serta anggota lain yang dipandang perlu. instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah. instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. Pasal 10 (1) Komisi penilai daerah sebagaimana dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a) di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan. analisis dampak lingkungan hidup. (8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Komisi penilai dibentuk : a. komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. di tingkat pusat : oleh Menteri. b. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur. ahli di bidang lingkungan hidup. (3) Komisi penilai menilai kerangka acuan. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya. b) di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. ahli di bidang yang berkaitan. (4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. wakil masyarakat terkena dampak. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. ahli di bidang lingkungan hidup.

maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. rencana pengembangan wilayah. (3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 12 (1) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup Pasal 17 (1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. dengan ketentuan : a. e. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). (2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2). usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. (4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. b. BAB III TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 14 (1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 15 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait.Pasal 11 (1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 16 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. (2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. b. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. d. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan. Bagian Kedua Analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 122 . (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat. c.

rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Gubernur dan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. atau b. biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 19. 123 . instansi terkait yang berkepentingan. b. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 21 (1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri.Pasal 18 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. rencana pegelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. b. Pasal 22 (1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa : a. dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). Pasal 20 (1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). (3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17. dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan pertimbangan terhadap saran. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 18. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. (3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. b. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). (2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 19 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. dan Pasal 20. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. pendapat. (2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. dan instansi yang terkait. diajukan oleh pemrakarsa kepada : a. Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah (2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup.

apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya keputusan kelayakan tersebut. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. Pasal 26 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan dilokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup.Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup. dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 25 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatan. Analisis dampak lingkungan hidup. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan peraturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 124 . Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. (2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. Pasal 29 (1) Pendidikan. maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. (2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pasal 24 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. atau b. Pasal 31 Penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. Pasal 27 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). pelatihan. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.

dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. (6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 34 (1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur. analisis dampak lingkungan hidup. (2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. pendapat. (4) Saran. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. b. dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup (2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pendapat. kesimpulan komisi penilai. 125 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 38 (1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. penilaian kerangka acuan. (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. pendapat. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. (2) Instansi yang bertanggung jawab menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. saran. dan rencana pemantauan lingkungan hidup di bebankan kepada pemrakarsa. (5) Saran. (3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab. c. pendapat. BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 35 (1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan tanggapan warga masyarakat yang berkaitan. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan.BAB V PENGAWASAN Pasal 32 (1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. b. pendapat. serta tatacara penyampaian saran.

Agar setiap orang mengetahuinya. sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan.(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini : a. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 ( delapan belas ) bulan sejak tanggal diundangkan. tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. atau b. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG 126 . sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

sejak awal perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru. UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. Keterlibatan warga masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan. Dengan keterlibatan warga masyarakat itu akan membantu dalam mengidentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan lengkap. Peran masyarakat itu meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan pembangunan. menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan yang timbul. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Konsekuensinya adalah bahwa syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Dengan demikian. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam. keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup. tetapi dilain pihak ketersediaan sumber daya alam bersifat terbatas. sehingga dapat diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan mengubah rona lingkungan hidup. Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Oleh karena itu. baikyang menguntungkan maupun yang merugikan. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan merupakan kepentingan seluruh masyarakat. Oleh karena itu.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP I. Oleh karena itu. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. sehingga timbul tekanan terhadap sumber daya alam. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting. analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan. II. sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan dampak terhadap masyarakat. Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Hal itu merupakan konsekuensi dari kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Angka (3) Cukup jelas 127 . pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.

analisis ekonomis-finansial. pengelolaan. maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis. Oleh karena itu. usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem. di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah. dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. b. Ayat (3) Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan. Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi : a. dan proses produksinya. Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu.Dengan ayat ini. analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan.Angka (4) Cukup jelas Angka (5) Cukup jelas Angka (6) Cukup jelas Angka (7) Cukup jelas Angka (8) Cukup jelas Angka (9) Cukup jelas Angka (10) Cukup jelas Angka (11) Cukup jelas Angka (12) Cukup jelas Angka (13) Cukup jelas Angka (14) Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomisfinansial. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. 128 . berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi kegiatan dimaksud.

Dengan demikian penyebutan kategori usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. f. berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lainnya. kerusakan kawasan konservasi alam. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada.Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang. b. kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. c. yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi. g. Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi : a. introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. sehingga tidak bersifat limitatif. penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan. kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. pembuatan jalan. Oleh karena itu. e. b. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan: c. Pasal 3 Ayat (1) Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. jalan kereta api dan pembukaan hutan. Oleh karena itu kriteria ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. atau pencemaran benda cagar budaya. bendungan. perlu ditinjau kembali. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas 129 . d. sebagai contoh seperti usaha dan/ atau kegiatan : a. h.

keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. izin penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C. Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah lembaga swadaya masyarakat. izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup. misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. rencana pengelolaan lingkungan hidup. sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. ditetapkan oleh menteri yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dimaksud. Misalnya izin usaha industri di bidang perindustrian. Adanya wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. izin hak pengusahaan hutan di bidang kehutanan. kuasa pertambangan di bidang pertambangan. Ayat (2) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas 130 . Oleh karena itu. Keadaan darurat ini tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Keadaan Darurat. Pasal 7 Ayat (1) Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan. dan instansi yang ditugasi di bidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. tanpa izin tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. misalnya pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar.Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa. Sedangkan keputusan kelayakan lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan. Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan. Ayat (2) Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai. khususnya pengendalian dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak lingkungan hidup di daerah. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung resiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum.

industri senjata. kerangka acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. industri petrokimia. pembangunan bendungan. Huruf (b) Cukup jelas Huruf (c) Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya: rencana usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan. Ligitan dan Celah Timor Huruf (d) Cukup jelas Huruf (e) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup.Pasal 11 Ayat (1) Huruf (a) Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan keamanan negara misalnya : pembangkit listrik tenaga nuklir. pembangkit listrik tenaga air. penilaian secara teknis. kilang minyak. bandar udara. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. industri kapal. industri telekomunikasi. penilaian oleh komisi penilai. serta komponenkomponen parameter lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. industri alat-alat berat. Berdasarkan hasil pelingkupan. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. Dalam hal usaha dan/ atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau kegiatan terpadu/ multisektor. sampai ditetapkannya keputusan. penambangan uranium. Ayat (3) Cukup jelas 131 . Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jeias Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. yaitu proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting. industri pesawat terbang. pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi. pelabuhan dan rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dianggap strategis. maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat. industri bahan peledak. eksploitasi minyak dan gas. industri baja.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas 132 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. cara memantau dampak besar dan penting tersebut. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan umum. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup. demikian pula sebaliknya. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I . dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan keputusan kepada instansi yang berwenang. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik pula. Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya.Ayat (4) Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan umum. Oleh karena itu. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. penilaian oleh komisi penilai. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. penilaian secara teknis. Kerangka acuan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan hidup. cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar dan penting positif. Dengan mengetahui dampak besar dan penting itu dapat ditentukan : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. rencana pengelolaan lingkungan hidup. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. dan b. sampai dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup. yang dicantumkan dalam rencana pemantauan lingkungan hidup. Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak lingkungan hidup.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup.Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. 133 . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup. Oleh karena itu. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah diterbitkan menjadi batal. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau bantuan lainnya. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. sehingga rona lingkungan hidup yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Keadaan ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup.

menjadi tanggungan pemrakarsa. pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi. misalnya. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lokasi akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Saran. melalui media cetak dan/atau media elektronik. jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya. dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Ayat (5) Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam penyusunan kerangka acuan. kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan. antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (6) Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan sekurangkurangnya. Ayat (2) Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas 134 . Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian mengenai analisis dampak lingkungan hidup.

bahwa salah satu upaya pembinaan tersebut dapat berupa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa mengingat hal-hal seperti tersebut di atas. dan Tata Kerja Menteri Negara. f. 2. Tugas. e. bahwa pembinaan usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berada pada pemerintah. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41. Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP. h. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). 135 . 4. c. Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. bahwa daerah saat ini membutuhkan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) untuk pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. g. Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. Kewenangan. d. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 Tentang Kedudukan. bahwa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) seperti tersebut pada huruf c. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. 7.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090). sejalan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. 3. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). bahwa Menteri Negara Lingkungan Hidup berwenang untuk menetapkan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. 6. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). Fungsi. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Susunan Organisasi. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. b.

Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. 3. tanda tangan dan cap. Pasal 3 dalam formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berisikan informasi: identitas pemrakarsa. pemrakarsa wajib menyempurnakan dan atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Kabupaten/Kota. 136 . instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib berkoordinasi dengan instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan untuk melakukan pemeriksaan formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. Di a. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota. b. (2) UKL dan UPL wajib dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan formulir isian seperti terlampir dalam Keputusan ini. yang proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pasal 7 Pemrakarsa mengajukan rekomendasi tentang UKL dan UPL dari pejabat instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada instansi yang berwenang sebagai dasar penerbitan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. (2) Izin yang diterbitkan oleh pejabat dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tembusannya wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertangung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota sesuai kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. d. di dalam izin melakukan usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. e. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. (3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib menerbitkan rekomendasi tentang UKL dan UPL kepada pemrakarsa paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah diperbaiki oleh pemrakarsa. Pasal 4 Pemrakarsa mengajukan formulir isian tentang UKL dan UPL kepada: a. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi. c. Pasal 6 Dalam hal formulir isian tentang UKL dan UPL tidak memerlukan perbaikan. c. Pasal 2 (1) Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib melakukan UKL dan UPL. b. dampak lingkungan yang akan terjadi. (2) Dalam hal terdapat kekurangan informasi yang disampaikan dalam formulir isian tentang UKL dan UPL dan memerlukan tambahan dan atau perbaikan. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah Kabupaten/Kota. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. rencana usaha dan atau kegiatan. program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Berdasarkan formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib memberikan rekomendasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Propinsi dan atau lintas batas negara.2. Pasal 8 (1) Pejabat dari instansi yang berwenang wajib mencantumkan syarat dan kewajiban yang tercantum dalam program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3.

Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 28 Oktober 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Nabiel Makarim. ttd.. MSM. Hoetomo. MPA. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dinyatakan tidak berlaku lagi. Pasal 10 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. MPA.Pasal 9 Dengan berlakunya keputusan ini. 137 . Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan Dan Kelembagaan Lingkungan Hidup.

Pertama Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan dalam skala/ besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5. bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. 138 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Ketiga Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. 3. Kedua Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). tetapi karena daya dukung. 6. 2. daya tampung. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Mengingat : 1. Menimbang : a.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59.

Ketujuh Dengan berlakunya keputusan ini. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi. maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup. Sudharto P. A. Kedelapan Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan. ttd. Dr. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kelima Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Keenam Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun.Keempat Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Hadi 139 . Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Hukum Lingkungan.

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 Tahun 2001 TANGGAL : 22 Mei 2001 JENIS RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. Pendahuluan Jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan : a. Potensi dampak penting Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan: 1. Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2. Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang AMDAL. b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul. 2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup A. Bidang Pertahanan dan Keamanan Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan skala/besaran berikut berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah

Skala/Besaran Semua besaran *

Alasan Ilmiah Khusus Beresiko terjadinya ledakan saat perjalanan dan saat penyimpanan yangmembahayakan penduduk walaupun sudah memiliki standard operating procedure (SOP) penanganan bahan peledak. * Kegiatan pengerukan dan reklamasi berpotensi mengubah ekosistem laut dan pantai. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair dan sampah padat. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan pesawat. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan latihan tempur berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan akibat ledakan. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan penyiapan lahan (land clearing) di areal yang cukup luas untuk pangkalan, landasan pacu, dan bangunan penyangga menyebabkan perubahan ekosistem. * Kegiatan latihan berpotensi menyebabkan kebisingan.

2

Pembangunan Pangkalan TNI AL

Kelas A dan B

3

Pembangunan Pangkalan TNI AU

Kelas A dan B

4

Pembangunan Pusat Latihan Tempur

Luas > 10.000 ha

5

Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri

Luas > 10.000 ha

140

B.

Bidang Pertanian Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas air, persebaran hama, penyakit dan gulma, serta perubahan kesehatan tanah akibat penggunaan pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan penyebaran penyakit endemik. Skala/besaran yang tercantum di bawah ini telah memperhitungkan potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam. Skala /besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang, dan tinggi. Skala/Besaran Luas > 2.000 ha Alasan Ilmiah Khusus * Lihat penjelasan di atas

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tanaman pangan dan hortikultura semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan

2

Luas > 5.000 ha

*

Lihat penjelasan di atas

3

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

4

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

141

C.

Bidang Perikanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang, ikan, dan pembangunan pelabuhan perikanan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam. Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan dari tumbuhtumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya

Skala/Besaran Luas > 50 ha

Alasan Ilimiah Khusus * Rusaknya ekosistem mangrove yang menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan ( nursery areas) akan mempengaruhi tingkat produktivitas daerah setempat. Beberapa komponen lingkungan yang akan terkena dampak adalah: kandungan bahan organik. perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah phytoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Berpotensi menimbulkan konflik sosial. Perubahan kualitas perairan. Pengaruh perubahan arus dan penggunaan ruang perairan. Pengaruh terhadap estetika perairan.

*

*

2

Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system): a. Di air tawar (danau) - Luas - Atau jumlah b. Di air laut - Luas - Atau jumlah

* * > 2,5 ha > 500 unit * > 5 ha > 1.000 unit *

3

Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum dan memenuhi kriteria sebagai berikut: - Panjang dermaga - Atau mempunyai Kawasan Industri Perikanan dengan luas - Atau kedalaman perairan di dermaga

> 300 m > 10 ha > -4 m LWS

Berpotensi menimbulkan dampak berupa: penurunan kualitas air, penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik sosial, pergeseran pola penyakit, dan dampak potensi limbah cair dan padat yang dihasilkan.

142

D.

Bidang Kehutanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam dan potensi konflik sosial. Skala/Besaran Semua besaran * Alasan Ilmiah Khusus Pemanenan pohon dengan diameter tertentu berpotensi merubah struktur dan komposisi tegakan, satwa liar dan habitatnya.

No. 1

Jenis Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHK)

2

Usaha Hutan Tanaman

> 5.000 ha

*

Usaha hutan tanaman dilaksanakan melalui sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), dimana untuk penyiapan lahannya dilaksanakan secara mekanis menggunakan alat berat.

E. No. 1.

Bidang Kesehatan Skala/Besaran Kelas A dan B atau yang setara * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3 / radioaktif dan potensi penularan penyakit.

Jenis Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

F.
No. 1

Bidang Perhubungan
Skala/Besaran > 25 km * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, k e b i s i n g a n , g e t a r a n , gangguan pandangan, ekologi, d a n d a m p a k sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar kegiatan serta membutuhkan area yang luas. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan kestabilan lahan (land subsidence), air tanah serta gangguan berupa dampak terhadap emisi, lalu lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, gangguan jaringan prasarana sosial (gas, listrik, air minum, telekomunikasi) dan dampak sosial di sekitar kegiatan tersebut. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi dan ekologi yang lebih luas dari batas tapak kegiatan itu sendiri. Kegiatan ini juga akan menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran sungai. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi, ekosistem, kebisingan dan dapat mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai (coastal processes). Berpotensi menimbulkan dampak terhadap

Jenis Kegiatan Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api - Panjang Pembangunan Stasiun Kereta Api

2

Stasiun kelas besar dan/atau kelas I

*

3

Konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan tanah

Semua besaran

*

4

Pengerukan alur pelayaran Sungai - Volume

* > 500.000 m3

5

Pembangunan pelabuhan dengan salah satu fasilitas berikut: a. Dermaga dengan konstruksi masif - Panjang > 200 m - Atau luas > 6.000 m2 b. Penahan gelombang (Break water/talud) - Panjang > 200 m c. Prasarana pendukung pelabuhan (terminal, gudang, peti kemas, dll)

*

*

*

143

- Luas

> 5 ha

*

d.

Single Point Mooring Boey - Untuk kapal

* > 10.000 DWT

*

6

Pengerukan: a. Capital dregging - Volume

* > 250.000 m3

b.

Maintenance dregging - Volume

> 500.000 m3

*

7

Reklamasi (pengurungan): - Luas - Atau Volume

* > 25 ha > 5.000.000 m3

ekosistem, hidrologi, garis pantai dan batimetri serta mengganggu proses-proses alamiah yang terjadi di daerah pantai. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar area yang luas. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan alur pelayaran, perubahan, batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai terutama apabila yang dibongkar muat minyak mentah yang berpotensi menimbulkan pencemaran laut dari tumpahan minyak Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri,ekosistem,dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai dan membutuhkan waktu 3 -6 bulan Berpotensi menimbulkan dampak terhadap sistem geohidrologi, hidrooseanografi, dampak sosial, ekologi, perubahan garis pantai, kestabilan lahan, lalu lintas serta mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai.

8

Kegiatan penempatan hasil keruk (dumping) a. Di darat: - Volume - Atau luas area dumping b. Di laut

> 250.000 m3 > 5 ha Semua besaran

*

Menimbulkan terjadinya perubahan bentang lahan yang akan mempengaruhi ekologi, hidrologi setempat. Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut yang akan menimbulkan dampak sosial. Termasuk kegiatan yang berteknologi tinggi, harus memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak berupa kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara.

*

9

Pembangunan bandar udara baru beserta fasilitasnya

Semua besaran ( kelas I * s.d. V) beserta hasil studi rencana induk yang telah disetujui *

10

Pengembangan bandar udara beserta Kelas I, II, III, berdasarkan * rencana pengembangan fasilitasnya (rencana induk, rencana tata letak, dll) *

11

12

Perluasan bandar udara beserta/atau fasilitasnya: a. - Pemindahan penduduk - Atau pembebasan lahan b. Reklamasi pantai: - Luas - Atau Volume ruangan c. Pemotongan bukit dan pengurugan lahan dengan volume Pemasangan kabel bawah laut

* >200 KK > 100 ha > 25 ha > 100.000 m3 > 500.000 m3 Semua besaran * * *

*

Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif ( misalnya terumbu karang). Pengoperasian kabel bawah laut rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh, penambangan pasir.

144

tanah. Beberapa jenis industri yang sudah memiliki teknologi memadai untuk mengatasi dampak negatif yang muncul.TSS). lumpur kering). SiO2. * Kebutuhan energi cukup besar baik tenaga listrik (110-140 KwH/ton) dan tenaga panas (800 . 2 Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan pulp dari industri kertas budaya) Semua besaran 145 . gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut di atas menimbulkan dampak sosial. tetapi menggunakan areal yang luas tetap wajib dilengkapi dengan AMDAL (nomor 15). * Potensi berbagai jenis limbah: padat (tailing).NOx) dari pembakaran energi batubara. yang diperoleh baik dari sumber air tanah ataupun air permukaan. debu ( CaO. Al203FeO2) dengan radius 2-3 km.NOx. Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar. Jenis Kegiatan 1 Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri semen dengan Proses Klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan. * Tenaga kerja besar (+ 1-2 TK/3000 ton produk).900 Kcal/ton). pencucian pulp. Berbagai potensi pencemaran. dimana. * Kebutuhan energi besar (0. Bidang Perindustrian Kegiatan bidang perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air. bau. * Kebutuhan air cukup besar (3. udara. termasuk daerah penyangga. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas (0.Cl2) dan limbah padat (ampas kayu.limbahgas (H2S. limbah cair (sisa cooling mengandung minyak lubrikasi pelumas). minyak dan gas. Teknologi Satelit: -Pembangungan fasilitas peluncuran satelit H. SOx. bahan baku (raw millprocess).G. pemasakan serpihan kayu. 1 Bidang Teknologi Satelit Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus * Kegiatan ini memerlukan persyaratan lokasi yang khusus dan teknologi canggih * Bangunan peluncuran satelit dan fasilitas pendukung.S02.2 Mw/ 1000 ton produk).2 ha/1000 ton produk). No. Beberapa jenis industri menggunakan air dengan volume sangat besar. sehingga tidak termasuk dalam daftar berikut. tertutup bagi masyarakat.5 ton semen membutuhkan 1 ton air). pemutihan pulp (bleaching) dan pembentukan lembaran pulp yang dalam prosesnya banyak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga berpotensi menghasilkan limbah cair (BOD. serat pulp. * Tenaga kerja besar. dan getaran. limbah gas CO 2. terdapat proses penyiapan. gangguan kebisingan. penggilingan batubara (coalmill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (Rotary Klin and Clinker Cooler). No. * Proses pembuatan pulp meliputi kegiatan penyiapan bahan baku. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas.COD.

TDS & TSS). Zn. limbah cair (minyak dan scale). Umumnya dampak yang ditibulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang luas. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2 dan NOx). debu (SiO2). baja bloom dan baja slab) Semua besaran 5 Industri pembuatan timah hitam (Pb) dasar (termasuk industri daur ulang) Semua besaran 6 Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/ katoda tembaga (bahan baku dari Cu konsentrat) Semua besaran Alasan Ilimiah Khusus Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah hasil tambang mineral (kondensat) terdiri dari Pusat Olefin yang mengkasilkan Benzena. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2. limbah cair (TSS. * Kebutuhan air cukup besar (untuk pendingin 1 l/dt/1000 ton produk). Jenis Kegiatan 3 Industri petrokimia hulu Skala/Besaran Semua besaran 4 Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making) meliputi usahan pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pallet bijih besi. * Kebutuhan air untuk proses pendinginan dan elektronika relatif besar (air bersih 5000 m3/ hari dan air laut 3. Sn.5 ton produk). * Kebutuhan energi relatif besar (6-7 Kw ton produk) disamping bersumber dari listrik juga energi gas. Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar adalah industri yang mengolah konsentrat bahan tambang. NH4Cl) dan limbah sisa katalis bekas yang bersifat B3. SOx. Hg). Zn. dan Etil Benzena. Propilena dan Butadiena serta Pusat Aromatik yang menghasilkan Benzena. As. COD. Pb. peleburan dengan tungku-tungku bertemperatur tinggi dan elektrolisa. limbah cair (Fe. * Kebutuhan air untuk pendingin relatif besar (> 1000 m3/hari). As. Cd). 146 . Xylena. Ni.Toluena. Cd. Se. Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. gas (NO x. * Tenaga kerja cukup besar. * Potensi berbagai limbah (termasuk B3): limbah padat (basic slag). Cu. * Kebutuhan energi relatif besar (264 ribu Mwh/ tahun). Industri pembuatan besi dasar dan baja adalah merupakan industri yang mengolah besi bekas (steel scrap) atau konsentrat biji besi yang menggunakan tungku-tungku pembakaran baik menggunakan energi listrik. besi kasar/pig iron. pellet baja. F. SO2) debu berupa scale (2-3% dari total produk per hari).No. besi spons. Pb. Pb. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang cukup luas. Se.3 juta m3/hari). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang cukup luas. N2. Hg. Cd. * Kebutuhan energi relatif besar (1 Kwh 0. H2S. Proses pembuatannya melalui proses peleburan yang menghasilkan limbah gas beracun dan debu (partikulat) dan proses peredaman yang menghasilkan limbah cair dengan kadar asam yang tinggi. batubara ataupun bahan bakar dengan proses pembakaran sampai dengan temperatur 1600 derajat Celcius. Hg. Cu. O2 dan tail gas dengan parameter Zn. Ni. limbah padat gipsum dan slag (Fe. * Tenaga kerja cukup besar (1000 ton produk/ TK). Cr. Proses pembuatannya melalui pemisahan konsentrat. paduan besi/alloy. ingot baja. BOD. * Tenaga kerja besar.

Perbaikan kapal berpotensi menghasilkan limbah cair (air ballast. elektrolisa dan pencetakan. NH3. * Tenaga kerja sangat besar.No.000 DWT 10 Industri pesawat terbang Semua besaran 11 Industri senjata. * Kebutuhan pemukiman dan fasilitas sosial. 8 Kawasan Industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi) Semua besaran 9 Industri galangan kapal dengan sistem graving dock > 4. Industri pesawat terbang merupakan industri strategis berteknologi tinggi yang membutuhkan tingkat pengamanan (security) yang tinggi. 7 Jenis Kegiatan Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri pembuatan aluminium dasar merupakan industri pembuatan batangan aluminium yang menggunakan bahan baku bijih alumina yang dilakukan melalui proses peleburan.NO2. * Potensi berbagai jenis limbah dan cemaran yang masih prediktif terutama dalam hal cara pengelolaannya. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas untuk bangunan pabrik dan fasilitas penunjang. sehingga dalam pengembangannya diperkirakan akan menimbulkan berbagai dampak penting antara lain disebabkan: * Kegiatan grading (pembentukan muka tanah) dan runoff (air larian). * Mobilisasi tenaga kerja (90 – 110 TK ha). disamping kegiatannya membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi. * Kebutuhan energi listrik cukup besar baik dalam kaitan dengan jenis pembangkit ataupun trace jaringan (0. * Kebutuhan air yang sangat besar untuk proses pendinginan (+ 17. pelapis bekas). lebar 40 m. * Pengadaan dan pengoperasian alat alat berat. pengecatan lambung kapal dan bahan kimia B3) maupun limbah gas dan debu dari kegiatan sand blasting dan pengecatan. * Potensi limbah yang dihasilkan (termasuk B3): padat (dross. Dampak penting yang ditimbulkan berasal dari: * Pengadaan lahan untuk bangunan pabrik dan landasan pacu. Sistem graving dock adalah galangan kapal yang dilengkapi dengan kolam perbaikan dengan ukuran panjang 100 m. Pembuatan kolam graving ini dilakukan dengan mengeruk laut yang dikhawatirkan akan menyebabkan longsoran atau pun abrasi pantai. munisi dan bahan peledak merupakan industri yang dalam proses produksinya menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat B3. munisi dan bahan peledak Semua besaran 147 .55 – 0. * Gangguan kebisingan dan getaran. cair (air spray dengan kadar Flour tinggi dan air pendingin mengandung minyak).1 Mw/Ha). * Bangkitan lalulintas. Industri senjata. * Kebutuhan energi relatif besar (+ 295 ribu Mwh/hari).000 m3/hari). dan kedalaman 15 m dengan sistem sirkulasi. * Kebutuhan air bersih dengan tingkat kebutuhan rata-rata 0. gas (H2S. SO2 & HF) dan debu Kawasan industri (industrial estate) merupakan lokasi yang dipersiapkan untuk berbagai jenis industri manufaktur yang masih prediktif.75 l/dt/ha.

SO2. Bidang Prasarana Wilayah Kegiatan pembangunan dan pengadaan prasarana wilayah umumnya berfungsi untuk melayani kepentingan masyarakat.Metropolitan. * Penurunan kualitas lingkungan.Tinggi > 15 m * * Termasuk dalam kategori “large dam ” (bendungan besar). seperti daya dukung tanah. air dan tanah. CO. * Berpotensi menimbulkan pencemaran udara. Urban: . NH3. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (sludge B3. * Konflik sosial.Kota sedang. Rural/pedesaan. dan limbah padat (sludge dari IPAL dan bekas kemasan bahan penolong). Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Bendungan/Waduk atau Jenis Tampungan Air lainnya: . formation\ (merupakan proses elektrolisa) dan assembling. luas .Kota kecil.perdagangan danpembuangannya memerlukan persyaratan khusus. * Potensi limbah dari proses produksi seperti limbah cair (pH. Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. Pb dan Cd). Hg. lead part (pencetakan bagian-bagian aki dari timah hitam). Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri baterai kering yang diperkirakan menimbulkan dampak penting adalah yang menggunakan bahan baku merkuri (Hg). Zn. bekas kemasan). sedangkan pembakaran COx. teratogenik dan karsinogenik terhadap manusia. pasting (pembuatan pasta dengan H2SO4 pekat).No. * Kebutuhan air relatif besar baik untuk proses (pembuatan pasta dan pemasakan baterai) maupun domestik (170 m3/hari). Mn & NH3). 148 . Cr. tingkat kepadatan bangunan per hektar. penyimpanan. luas b. pengangkutan. gas (proses finishing dengan parameter Pb dan formation parameter sulfat. luas Semua besaran > 5 ha > 10 ha > 15 ha > 20 ha > 30 ha Umumnya dampak yang ditimbulkan berupa: * Bangkitan lalulintas. * Kegiatan produksi. limbah cair (Zn. peleburan dan pencetakan timah hitam sebagai bahan aktif sel). Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar.pengemasan. COD. TDS. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No. limbah debu dan gas (H2S. lead powder (proses pembentukan bubuk Pb). I. mengingat merkuri ini bersifat B3 yang mempunyai efek mutagenik. luas . * Kebutuhan energi listrik cukup besar. Potensi konflik yang timbul sangat berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk karena umumnya membutuhkan lahan yang luas dan seringkali mengubah tata guna lahan. luas . NOx dan SO2). NOx. Sulfat & Pb). kapasitas resapan air tanah. dll. TSS. 12 Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg) 13 Industri baterai basah (akumulator listrik) Semua besaran 14 Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi material yang digolongkan bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 15 Kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 s/d 14 Penggunaan areal: a. * Daya dukung lahan.Kota besar. * Kebutuhan air relatif besar (+ 270 m3/hari) baik untuk proses maupun domestik. Pada umumnya proses produksi lengkap dimulai dari grid casting (persiapan.

5 Normalisasi Sungai dan Pembuatan Kanal Banjir a. Pencetakan sawah. luas (perkelompok) 3 Pengembangan Rawa: Reklamasi rawa untuk kepentingan irigasi > 500 ha * * * > 1.000 ha * * * b. Dampak pada hidrologi. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Berpotensi mengubah ekosistem dan iklim mikro pada kawasan tersebut dan berpengaruh pada kawasan disekitarnya.Atau volume pengerukan > 15 km > 500.000 m3 * * 149 .000 m3 * * b.Atau luas genangan > 200 ha * * * 2 Daerah Irigasi a. Berpotensi mengubah sistem tata air yang ada pada kawasan yang luas secara drastis. Pembangunan baru dengan luas * * > 2.000 ha * 4 Pembangunan Pengaman Pantai dan perbaikan muara sungai: .Atau volume pengerukan Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak negatif akibat perubahan ekosistem pada kawasan tersebut. Kota Besar/Metropolitan .Panjang . sehingga diperlukan kajian khusus untuk pengembangan kawasan pantai yang mencakup rentang lebih dari 500 m dari garis pantai. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Kegagalan bendungan pada luas genangan sebesar ini berpotensi mengakibatkan genangan yang cukup besar dibagian hilirnya. Selalu memerlukan bangunan utama (headworks) dan bangunan pelengkap (oppurtenants structures) yang besar dan sangat banyak sehingga berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. dampak sosial. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Akan mempengaruhi pola iklim mikro pada kawasan sekitarnya dan ekosistem daerah hulu dan hilir bendungan/waduk. Membutuhkan pembebasan lahan yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial. Mengakibatkan perubahan pola iklim mikro dan ekosistem kawasan. Perubahan Tata Air.* . Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Dampak pada hidrologi.Panjang . baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pelaksanaan. Memerlukan bangunan tambahan yang berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Gelombang pasang laut (tsunami) di Indonesia berpotensi menjangkau kawasan sebesar 500 m. Kota Sedang . Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. > 10 km > 500.Jarak dihitung tegak lurus pantai * > 500 m * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar.000 m3 * * c. Mengakibatkan mobilisasi manusia yang dapat menimbulkan dampak sosial.000 ha * * * c. dampak sosial. dan gangguan. dan gangguan. Peningkatan dengan luas tambahan > 1.Panjang .Atau volume pengerukan > 5 km > 500. Memerlukan alat berat dalam jumlah yang cukup banyak. Pembangunan pada rentang kawasan pantai selebar > 500 m berpotensi mengubah ekologi kawasan pantai dan muara sungai sehingga berdampak terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Mengakibatkan mobilisasi tenaga kerja yang signifikan pada daerah sekitarnya. Pedesaan . dan gangguan.

Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) limbah domestik termasuk fasilitas penunjangnya c. getaran.luas c.000 sambungan.000 orang. > 30 km 8 > 10 ha > 10.Panjang b.Panjang . seperti daya dukung tanah. getaran.Atau luas b. gas beracun. . * Setara dengan kota kecil. Kota sedang dan kecil. * Dampak kebauan dan gangguan visual. luas layanan 11 Drainase Permukiman a. udara. bau. dampak kebisingan.. kapasitas resapan air tanah. emisi yang tinggi. * Daya dukung lahan. * Limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman. luas > 25 ha > 50 ha > 100 ha 10 a. Dampak kebauan dan gangguan visual.000 ton / hari Semua ukuran Dampak potensial adalah bahaya banjir dan perubahan pola air.atau peningkatan jalan dengan pelebaran diluar daerah milik jalan a.000 orang. Pedesaan . Pembangunan transfer station . gangguan visual dan dampak sosial. TPA di daerah pasang surut. getaran. Pembangunan jaringan distribusi > 2 ha > 3 ha * * Setara dengan layanan untuk 10. getaran. Kota Besar/Metropolitan . > 5 ha > 5. 9 Pembangunan Perumahan/Permukiman a. gangguan visual dan dampak sosial.Kapasitas d. emisi yang tinggi. Pembangunan sistem perpipaan air limbah. luas b. dampak kebisingan. dampak kebisingan.000 ton > 1. Pembangunan Jalan Layang dan Subway Pembangunan dan. * Isu utama adalah perubahan fungsi lahan. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas. gangguan visual dan dampak sosial. > 500 ha > 5 km * Setara dengan 17. emisi yang tinggi. Bangkitan lalu lintas. bau. gas beracun. gangguan visual dan dampak sosial. TPA dengan sistem open dumping Semua besaran > 2 km Bangkitan lalu lintas. > 10 km Berpotensi menimbulkan dampak hidrologi dan persoalan keterbatasan air. * Setara dengan kota kecil-sedang/kota kecamatan.Panjang 12 Jaringan air bersih di kota besar/metropolitan a. dll. udara. Pembangunan Jalan Tol b. Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPTL).Atau kapasitas total c. tingkat kepadatan bangunan per hektar.Luas .Panjang . * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia). Kota metropolitan. emisi yang tinggi.Atau kapasitas total b. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. dan gangguan kesehatan.000 ton Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). perubahan tata air. * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan). Kota Sedang . * Setara dengan layanan untuk 10. termasuk fasilitas penunjangnya b. dampak kebisingan. Bangkitan lalu lintas. kebisingan. dampak kebisingan. 7 > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas.Atau luas c. Pembangunan saluran di kota besar/metropolitan . * Tingkat kebutuhan air sehari-hari. getaran. gangguan visual dan dampak sosial. dan gangguan kesehatan. Pembuangan dengan sistem control landfill / sanitary landfill (diluar B3) . Pembangunan saluran di kota sedang . emisi yang tinggi. 150 .Panjang Persampahan a. Dampak potensial berupa bau. dan gangguan kesehatan.6 a. Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi).Luas landfill . getaran. Kota besar. gas beracun. Berpotensi menimbulkan dampak meningkatnya kepadatan lalulintas.

Batubara/gambut b.000 orang.000 m2 15 Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk/ transmigrasi: . Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara. Oleh sebab itu.Atau bangunan > 500 ha > 10 km * * > 250 I/dt Besaran diperhitungkan berdasarkan: * Pembebasan lahan * Daya dukung lahan * Tingkat kebutuhan air sehari-hari * Limbah yang dihasilkan * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran. getaran apabila menggunakan peledak.Jumlah penduduk yang dipindahkan . kebisingan. Olahraga.Atau luas lahan > 200 KK > 100 ha J.000 ton/th (ROM) > 250. sungai. * Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiangtiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar. Berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh: * Pembebasan lahan. dll) * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan) * Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Khusus bagi pusat perdagangan/perbelanjaan relatif terkonsentrasi dengan luas tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak penting: * Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi). Bijih Sekunder/Endapan Alluvial d. * Daya dukung lahan.Luas lahan . > 250. kebisingan. Pusat Perdagangan/ perbelanjaan relatif terkonsentrasi . polusi udara. No A 1 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Skala/Besaran * > 200 ha > 50 ha (kumulatif/tahun) * Alasan Ilmiah Khusus Dampak penting terhadap lingkungan antara lain: merubah bentang alam. Bijih Primer c. Pembangunan jaringan transmisi . * Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. Setara kebutuhan kota sedang. Jenis Kegiatan PERTAMBANGAN UMUM Luas perizinan (KP) Atau luas daerah terbuka untuk pertambangan *) *) Untuk menghindari bukaan lahan terlalu luas Tahap eksploitasi produksi: a.000 m3/th (ROM) Semua besaran Sampai saat ini bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir.Debit pengambilan Pembangunan Pusat Perkantoran. seperti daya dukung tanah. Pendidikan. selain dampak penting yang dapat ditimbulkan.000 ton/th (ROM) > 200.000 ton/th (ROM) > 150. penambangan dan pemurnian Semua besaran 151 . f. Setara kebutuhan air bersih 200. atau sumber air permukaan lainnya .Luas layanan b. * Dalam lingkungan perairan.Panjang Pengambilan air dari danau. sifat mudah terurai tersebut menyebabkan Pb mudah tersedia secara biologis ( bioavailable). Bahan galian radioaktif. 14 > 5 ha > 10. kapasitas resapan air tanah. keterkaitannya dengan masalah pertahanan dan keamanan menjadi alasan mengapa kegiatan ini wajib dilengkapi AMDAL untuk semua besaran. * Tingkat kebutuhan air. mata air permukaan. ekologi dan hidrologi. * Produksi sampah. Bahan galian timbal. Kesenian. dll. Tempat Ibadah. termasuk pengolahan. serta dampak dari limbah cair yang dihasilkan. tingkat kepadatan bangunan per hektar.13 . termasuk pengolahan. penambangan dan pemurnian 2. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C e. * Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung. * Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar.

Melakukan Submarine Tailing Disposal Semua besaran 5. limbah bahang dll) serta air tanah. terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk. ambient dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas. Potensi ledakan. . . sehingga berpotensi menimbulkan dampak. ekonomi dan budaya. * Membutuhkan areal yang sangat luas. terutama pada kualitas udara (emisi. Lapangan gas > 30 MMSCFD 2. air. Potensi kerusakan ekosistem. Pencemaran udara. * * * * * * * * * * * * * * Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Eksploitasi dan pengembangan Uap Panas Bumi > 55 MW dan atau Pembangunan Panas Bumi 4. Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berpotensi menimbulkan pencemaran air permukaan. Biomassa dan Gambut) C.Atau luas genangan . Lapangan minyak b. terutama pada pembebasan lahan. Potensi ledakan. mengganggu alur pelayaran dan proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. * Kegagalan bendungan (dam break). * Aspek sosial. air tanah dan udara. * Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. Berpotensi menimbulkan dampak pada: . 1. ekonomi dan budaya terutama pada pembebasan lahan dan keresahan masyarakat Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik kimia.Tinggi bendung .000 BOPD a. ekonomi dan budaya. * Dampak kebisingan. B. MINYAK DAN GAS BUMI Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di darat > 5. 1.3. Melakukan pengolahan bijih dengan proses Semua besaran sianidasi KETENAGALISTRIKAN > 150 KV Pembangunan jaringan transmisi Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. ³ 10 MW Angin. * Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut. Pembangunan PLTA dengan: . Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi * Aspek sosial. ekosistem. Pembangunan PLTD/PLTG/PLTU/ PLTGU > 100 MW 3. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Memerlukan lokasi khusus dan berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri.Aspek sosial. air dan tanah. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. Potensi ledakan. Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Semua besaran laut 152 . * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik-kimia. Tambang di laut Semua besaran 4. air dan tanah. Pembangunan pusat listrik dari jenis lain (Surya. * Dampak visual (pandang). * 2. mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial dan gangguan kesehatan. ekonomi dan budaya. * Termasuk dalam kategori “large dam” (bendungan besar). Pencemaran udara.Aspek fisik-kimia. * Aspek flora fauna. terutama pada pembebasan lahan. Pencemaran udara. ekosistem. Pertimbangan ekonomis.Atau aliran langsung (kapasitas daya) > 15 m > 200 ha > 50 MW 5. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Pertimbangan ekonomis. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. akan mengakibatkan gelombang banjir (flood surge) yang sangat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya. * Aspek sosial. Pertimbangan ekonomis. Perubahan Ekosistem laut.Aspek flora fauna. * Dampak pada hidrologi (kapasitas daya).

Membutuhkan area yang cukup luas. padat dan cair yang cukup besar. Pengoperasian pipa rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh. Pembangunan kilang minyak > 10.000 BOPD 6. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya apabila melalui daerah pemukiman penduduk. Berpotensi menimbulkan dampak dari kegiatan laundry. 1. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Berpotensi menimbulkan dampak dari penggunaan pestisida/ herbisida.Panjang . hidrologi. Di darat . dan sampah. pembebasan lahan. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya terhadap kegiatan/aktifitas nelayan. Kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang) > 10. aksesibilitas lalu lintas. Membutuhkan area yang cukup luas. berpotensi menghasilkan limbah gas H2S Potensi konflik sosial. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Merupakan industri strategis. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Merupakan industri strategis. pembebasan lahan.3. penambangan pasir.000 ton/th D. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. No 1 2 Jenis Kegiatan Taman Rekreasi Kawasan Pariwisata 3 4 Hotel: Jumlah kamar Atau luas bangunan Lapangan golf (tidak termasuk driving range) > 200 unit > 5 ha Semua besaran 153 . Bidang Pariwisata Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem. Berpotensi mengubah ekosistem yang lebih luas. GEOLOGI TATA LINGKUNGAN Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal. Ada potensi perambahan ROW oleh kegiatan atau aktifitas penduduk. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan fungsi lahan/kawasan. sumur tanah dalam dan mata air) * * > 50 l/dt (dari 1 * sumur. bentang alam dan potensi konflik sosial. padat dan cair yang cukup besar. serta kebutuhan air yang relatif besar. Di laut Semua besaran * * * * 4. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Potensi intrusi air laut. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. bangkitan lalu lintas dan sampah. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. Berpotensi menghasilkan limbah gas. Merupakan industri strategis. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Khusus LNG. K. Pemanfaatan lahan yang tumpang tindih dengan aktifitas nelayan dianggap cukup luas lintas kabupaten/kota juga dapat mengganggu aktifitas nelayan. gangguan lalu lintas. Berpotensi menghasilkan limbah gas. atau dari 5 * sumur dalam area <10 ha) Pembebasan lahan cukup luas (dapat lintas kabupaten/ kota).Atau diameter pipa * * > 50 km > 20 inci * * b. Pembangunan kilang: LPG LNG > 50 MMSCFD > 550 MMSCFD * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5. padat dan cair yang cukup besar. Potensi konflik sosial. dan sampah. Membutuhkan area yang cukup luas. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Pelaksanaan konstruksi dapat meningkatkan erosi tanah. tambang pasir dan alur pelayaran. Skala/Besaran > 100 ha Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) a. kebutuhan air yang besar. Potensi konflik sosial. limpasan air permukaan (run off).

Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. Pengolahan dan pemurnian uranium Pengolahan limbah radioaktif Pembangunan Iradiator (Kategori II s/d IV) e. pemanfaatan. Sonny Keraf 154 . Membutuhkan air pendingin yang telah didemineralisasi dalam kolam beton. Jenis Kegiatan Introduksi jenis-jenis tanaman. M. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem genetika berpotensi menimbulkan dampak terhadap Salinan sesuai dengan aslinya Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1.L. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. fabrikasi bahan bakar nuklir selalu memiliki kapasitas minimal 50-100 elemen bakar/ tahun. Apabila air pendingin berkurang volumenya akan menyebabkan akumulasi panas di tempat penyimpanan sumber. 2. c. pengolahan dan/atau penimbunan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai kegiatan utama N. menetap dan mengelola berbagai jenis dan sifat limbah B3 (tidak termasuk kegiatan skala kecil seperti pengumpulan minyak pelumas bekas. Dr. Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1 Jenis Kegiatan Pengumpulan. Pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor a. * Keamanan konstruksi. Akumulasi panas memungkinkan terjadinya kebocoran radiasi ke lingkungan. Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional (konvensi Basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat seksama dan terkontrol. Bidang Pengembangan Nuklir Secara umum. * Transportasi. pemanfaatan timah dan “ flux solder”). komersial. terutama kegiatan yang dipastikan akan mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam tabel. Proses produksi menggunakan thorium (Th) yang memiliki radiotoksisitas yang sangat tinggi. kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan resiko radiasi. ttd. Produksi kaos lampu Semua instalasi Semua instalasi Secara teknoekonomik. Fabrikasi bahan bakar nuklir Produksi > 50 elemen bakar/ tahun Produksi > 100 ton yellow cake/tahun Semua instalasi Aktivitas sumber > 37.000 Ci) b. Skala/Besaran Semua kegiatan yang bersifat jasa pelayanan. * Beresiko tinggi. hewan. Semua tahapan dalam proses berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan dalam bentuk radiasi. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. d.000 TBq (100. minyak kotor dan “slop oil”. Reaktor Penelitian b. Reaktor Daya (PLTN) Daya > 100 KWt Semua instalasi Potensi dampak pengoperasian reaktor penelitian dengan daya <100 KWt terbatas pada lokasi reaktor. dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Semua besaran Lihat penjelasan diatas Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No 1 Jenis Kegiatan Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir: a. * Dampak radiasi pada tahap decomisioning (pasca operasi). A. Produksi Radioisotop f. Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial. penyimpanan dan pembuangan bahan baku dan sisa-sisa bahan radioaktif.

155 .Daftar Singkatan: m m2 m3 km km2 ha l dt Kw Kwh KV Mw Mwh Kcal TBq Ci BOPD MMSCFD kubik per hari LWS DWT KK TK KP ROM LPG LNG ROW BOD COD DO TSS TDS = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = meter meter persegi meter kubik kilometer kilometer persegi hektar liter detik kilowatt kilowatt hour kilovolt megawatt megawatt hour kilocalorie Terra Becquerel Curie barrel oil per day = minyak barrel per hari million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki low water sea = di bawah permukaan laut dead weight tonnage = bobot mati kepala keluarga tenaga kerja kuasa pertambangan raw of material = bahan mentah Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan Right of way = daerah milik jalan (damija) biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi dissolved oxygen = oksigen terlarut total suspended solid = total padatan tersuspensi total dissolved solid = total padatan terlarut .

Undang-ungang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Dr. 156 . 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). A. Mengingat : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 21 Pebruari 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU. S. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. Kedua Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. 4. 2. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. ttd.H. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Pertama Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699).KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. ttd Najib Dahlan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

pembangunan yang terkonsentrasi ini akan menimbulkan masalah lingkungan yang juga intensif. Oleh karena proses tersebut dapat dicapai dengan mengorbankan fungsi ekosistem seperti hilangnya kesuburan tanah. Pengembangan permukiman terpadu di Indonesia dikhawatirkan mengeksploitasi lahan-lahan agraris. Pertimbangan pembangunan kota sudah terlalu didominasi oleh pertimbangan manfaat ekonomi saja dengan mendudukkan pertimbangan-pertimbangan lain hanya menjadi pelengkap. pembangunan kota makin menunjukkan sifatnya sebagai komoditi yang selalu mengejar nilai tambah. penyusunan AMDAL bagi berbagai kegiatan (proyek) pengembangan pemukiman terpadu. Oleh karena itu. dan flora fauna yang berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem. Sedang disamping kebutuhan prasarana dan sarana penunjang. mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan teknologi yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik. telah menghadapi dilema. Kedua. Oleh karena. Proses yang terdiri dari proses identifikasi. Hal yang kemudian perlu diingat adalah bahwa mutu yang baik dari studi AMDAL sangat bergantung pada kemampuan tim studi melakukan impact assesment. Pertama. maka penyusunan studi tersebut di dalam merancang permukiman terpadu menjadi sangat strategis. pencemaran dan penurunan potensi lahan. kota makin terlibat di dalam ekonomi global.LATAR BELAKANG Pengembangan wilayah berdasarkan konsep permukiman terpadu. 3) Memberikan panduan dan pemahaman kepada penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kegiatan pengembangan permukiman terpadu. 2) Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan permukiman terpadu sebagai penyangga kehidupan yang bermakna penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan permukiman terpadu khususnya. Mengingat salah satu cara sistematis untuk memasukkan pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangungan sosial ekonomi adalah melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 4 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000 PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU BAB I. Aglomerasi daerah urban menjadi ciri yang makin menonjol. Sejak memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua. jauh diatas rata-rata nasional maupun propinsi. peran kota lama makin nampak terancam oleh pertimbangan kepentingan ekonomi yang sempit. serta masyarakat di sekitar kawasan permukiman terpadu. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan terpadu ini diharapkan dapat : 1) Mengendalikan cara pembukaan lahan di kawasan pengembangan permukiman terpadu sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya. ini berarti bahwa perkembangan kota akan banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. yang didasari dengan pendekatan terhadap pembinaan terhadap struktur dan fungsi ekosistem. Dengan dasar ciri dinamika sistem lingkungan yang bersifat “site specific”. secara mikro ada peningkatan kualitas lingkungan akibat tertata dengan baik.1. yaitu pembangunan kawasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya terus meningkat.Ini menimbulkan ancaman yang makin berat terhadap keberlanjutan ekosistem (sosial dan alam) kota yang sudah makin rapuh. Di samping itu. bahwa lahan yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut makin luas. sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan secara makro. pengendali banjir. apabila dampak yang ditimbulkan tersebut tidak diantisipasi dan dikelola secara optimal dikhawatirkan hal ini akan menjadi unsur pembangunan sosial ekonomi yang mengabaikan kemampuan sistem alam (ekosistem).2 MAKSUD DAN TUJUAN Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan. Dalam banyak hal keadaan ini menghabiskan sawah dan tambak (pantai) yang sudah didukung oleh prasarana dasar. PENJELASAN UMUM 1. prakiraan dan evaluasi dampak. 1. Ketiga Perkembangan ekonomi kota terus tinggi. 157 . kota di Indonesia memainkan peran yang makin penting. pada tahun 2010 diperkirakan paling sedikit setengah dari kependudukan Indonesia akan berdiam di kota dan kecenderungan ini tidak akan berbalik kembali. pemasok air baku untuk kebutuhan penyediaan air minum. perubahan iklim mikro. Bangunan lama terlalu mudah dianggap tidak efisien dan oleh karena itu perlu diremajakan yang sekaligus akan menghilangkan nilai sejarah dan kekhasan kota yang bersangkutan. perkembangan kota di Indonesia menunjukkan lima ciri pokok yang menonjol. Persoalannya kemudian rasional ekonomi yang menganggap bahwa di satu sisi lahan ini akan sangat berguna dan tinggi nilainya bila dikembangkan sebagai perumahan kelas menengah ke atas. Ciri Keempat. Pembangunan kota cenderung berskala mega atau super dengan intensitas yang tinggi. Berdasarkan Pusat Data Properti Indonesia Tahun 1995 diketahui. dan lahan yang memiliki fungsi lindung. Atas dasar analisis yang baik tentang keterkaitan antara jenis dan tahapan kegiatan pembangunan permukiman terpadu dengan karakteristik dari ekosistem yang diperkirakan akan menerima dampak ini kemudian segenap dampak diantisipasi dan dikelola secara optimal. maka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan oleh pengembangan permukiman terpadu diperkirakan akan berbeda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya.

Kepadatan penduduk dan permukiman terpadu belum ditetapkan secara pasti.1. PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi. Angka luas ini kelak dapat disesuaikan mengikuti peraturan yang berlaku.1 PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. diperlukan pengetahuan tentang struktur dan ekosistem lahan basah dan lahan kering di kawasan pembangunan permukiman terpadu yang terkena dampak. maka segenap metode yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci.1. Dalam pembahasan konsep undang-undang ini disebutkan bahwa konsep kawasan siap bangunan atau kasiba (Pasal 18 ayat 1) terdiri dari beberapa lingkungan perumahan (Pasal 18 ayat 2 b). Selain itu. panduan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Hidup (RPL) disajikan pada Bab VI. Sebagai suatu panduan.3. STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN LINGKUNGAN Struktur Ekosistem/Komponen Lingkungan : · Fisik – Kimia · Biologi (Flora dan Fauna) · Sosek/Sosbud/Kesmas Fungsi ekosistem (Lahan Basah. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan dan sarana lingkungan yang terstruktur. Kegiatan Permukiman Terpadu PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PENYUSUNAN ANDAL PENYUSUNAN RKL DAN RPL KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1. penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Kegiatan Pra-Konstruksi . panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan konsep pembangunan permukiman terpadu (Bab II). identifikasi dampak potensial. Mengingat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang tersebut hingga kini belum terbit. Walaupun hingga kini belum ada ketentuan jelas. namun permukiman terpadu utamanya adalah sebuah permukiman yang menurut UU No 4/ 1992 tersebut (Pasal 1) adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. tetapi akan berkisar dari 150 orang per hektar bagi permukiman yang berada di dalam kawasan yang mempunyai ciri lingkungan yang kuat (semi urban) sampai yang mencapai kepadatan hingga 350 orang per hektar bagi yang sepenuhnya merupakan permukiman urban. KONSEP PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU 2. khususnya Pasal 21 telah menetapkan penyelenggaraan lingkungan siap bangun (Lisiba). Selanjutnya. maka dari beberapa diskusi luas Lisiba perumahan sebesar 200 hektar sedangkan kasiba mencapai sampai 1000 hektar. Kemudian diikuti oleh panduan proses penyusunan Kerangka Acuan ANDAL kawasan permukiman terpadu (Bab IV) yang menjelaskan mengenai proses pelingkupan. sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL pembangunan permukiman terpadu seperti pada Gambar 1. Kegiatan Konstruksi . Oleh karena itu. Proses tentang penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) disajikan dalam Bab V. Pegunungan) STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN KEGIATAN . sampai pada pemusatan dampak penting dan issue pokok lingkungan. dan kegiatan permukiman terpadu kaitannya dengan pembangunan regional (Bab III). Lahan Kering. permukiman terpadu secara cermat. Informasi ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat teridentifikasi sedini mungkin. juga menjelaskan komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan. Secara skematis. Jadi permukiman terpadu perlu 158 .1 Pendekatan sistem dalam penyusunan AMDAL pengembangan pemukiman terpadu BAB II. memprakirakan dan mengevaluasi dampak lingkungan akibat kegiatan pengembangan. Dengan sendirinya kawasan ini merupakan kawasan yang utuh baik langsung menempel pada kota yang ada maupun masih ada jarak yang berupa ruang terbuka atau tidak.

banyak dampak yang berskala regional yang tidak langsung nampak. Permukiman terpadu tumbuh. Ada 5 (lima) prinsip utama dari konsep perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan yang harus dikembangkan sesuai kondisi awal yang ada. Kini bagian ikutannya yang mulai dibangun oleh Perum Perumnas bagi RS dan RSS sebanyak 3000-4000 unit rumah tinggal yang akan selesai tahun 1996. Klender. tiap hari akan terjadi perjalanan truk sebanyak 2400 atau tiap hari kerja (delapan jam) akan lewat 300 truk. dan sebagainya. Darmo Satelit. (3) Pengendalian limbah dan pencemaran Limbah yang harus dikendalikan mulai dari yang dihasilkan oleh jamban dan kamar mandi. bahan bakar fosil dan sebagainya. Bila pengurugan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. Dalam keadaan sepi (seperti antara Natal dan Tahun Baru) waktu tempuh nyata paling lama hanya empat puluh menit atau sepertiga waktu “normal”. Berbagai dampak ini harus diketahui setepat dan sedini mungkin untuk dirancang cara-cara penanganan dan penanggulangan terhadap dampak yang merugikan. cara membangun dan rancangan bentuk dapat berpengaruh terhadap kebutuhan energi baik jangka pendek maupun panjang. Fungsi terakhir ini tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pertumbuhan permukiman terpadu di Indonesia. Pemilihan bahan bangunan. maka secara “normal” akan dibutuhkan sebanyak 215. sejauh ini yang diperhatikan adalah dampak pasca konstruksi dalam bentuk kemacetan lalu lintas. Bumi Serpong Damai (BSD) selama lebih lima belas tahun eksistensinya. Limbah ini harus terkelola dengan baik dan jelas dengan prinsip produksi bersih. Di samping itu. sebab ada cukup banyak dampak yang bersifat menguntungkan seperti terciptanya lapangan kerja baru. Kawasan Darmo Satelit di Surabaya ternyata berlangsung lebih cepat sebab kawasan ini boleh dikatakan adalah permukiman terpadu pertama di Surabaya. Namun hingga kini konsep perumahan atau permukiman yang bersahabat dengan lingkungan belum pernah dirumuskan secara jelas. (5) Peningkatan pemahaman konsep lingkungan Permukiman terbentuk melalui proses yang berlangsung terus. dapur.perencanaan pembangunan dan tata ruang yang lengkap dan sah serta dilengkapi dengan perumahan serta dukungan prasarana dan sarana yang menjamin penyelenggaraan perumahan serta kebutuhan hidup dan lapangan kerja yang berskala bulanan. Kawasan Driyorejo di Barat Daya Surabaya mengalami tahap persiapan lebih dari dua puluh tahun. mutu kehidupan yang lebih baik dan sebagainya. Sedangkan terhadap dampak yang dualistis seperti naiknya harga lahan. Masalahnya pengembangan permukiman terpadu sering sulit ditentukan skala waktu rampungnya proses pembangunan. di samping sebagai kawasan perumahan dapat pula berfungsi sebagai wilayah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi regional. Perubahan yang dilakukan terhadap unsur ekosistem karena adanya pembangunan gedung atau prasarananya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari unsur ekosistem yang tidak terusik. Kaidah dan pola dari warisan budaya dan pola hidup ini harus menjadi dasar awal untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan baru yang diciptakan oleh pembangunan yang maju dan berhasil yang merupakan proses berlanjut. yaitu: (1) Mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada Termasuk di dalamnya adalah berlanjutnya ekosistem yang ada. 2.2 RENCANA KEGIATAN PERMUKIMAN TERPADU KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN REGIONAL Sesuai dengan uraian di atas. Di Jakarta keadaannya paling parah. perlu ditambah unsur ekosistem baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang memperkaya peran ekosistem secara keseluruhan. kayu. Di samping itu. perlu dicari jalan untuk membuatnya tetap serasi dan seimbang dalam arti yang seluas-luasnya. Dapat dibayangkan pemborosan energi dan waktu yang ditimbulkan hanya oleh satu dampak ini di samping pencemaran terhadap udara dan rusaknya ekosistem di kawasan antara permukiman terpadu dan kota lama yang nilainya sulit diukur. Kawasan yang luasnya sekitar 2000 hektar selesai dibangun dalam waktu sekitar 20 tahun yang dikerjakan oleh lebih sepuluh pembangun perumahan (developer) dibandingkan dengan di Jakarta yang hanya dikerjakan oleh sebuah perusahaan saja. rumah sampai akibat dari pemakaian berbagai peralatan listrik. seperti perubahan nilai. (2) Penggunaan energi yang minimal Baik rencana makro maupun mikro perumahan dan permukiman harus memanfaatkan sistem iklim yang ada (secara pasif) dan perancangan bangunan yang memanfaatkan prinsip yang sama ditambah dengan sistem radian yang dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan dengan sistem pasif. dan hal yang mendukung untuk memantapkan dan mengembangkan bagi dampak yang positif. Depok dan sebagainya. (4) Menjaga kelanjutan sistem sosial-budaya lokal Gaya hidup yang berlaku sudah secara mantap diterjemahkan ke dalam berbagai tatanan dan bentuk bangunan serta peralatan yang dipakai sehari-hari. maupun karena mobilitas penduduk antara yang datang dan pergi. utamanya yang berkaitan dengan pengadaan bahan urugan dan bahan bangunan konvensional seperti pasir. dapat dibayangkan dampak lalu lintas yang ditimbulkannya. Walaupun bila dibandingkan dengan Kebayoran Baru atau Klender dan Depok. pada tahap konstruksi timbul dampak yang dualistis. 65 milyar. Dalam perkembangan proses ini selalu akan terjadi pergantian pemukim baik secara alami melalui proses lahir dan mati. Tidak semua dampak bersifat merugikan. Di samping dampak yang bersifat langsung seperti diuraikan di atas. Hal ini memang menjadi kesulitan tersendiri sebab dampak yang hendak dikelola sangat tergantung dari waktu dan tempat. batu bata. Sekarang para pengembang menawarkan permukiman terpadu yang berwawasan lingkungan.000 trip truk besar dengan nilai total sekitar Rp. baru sekitar 200 hektar dikatakan telah “selesai” dibangun. dari Klender ke pusat kota pada hari dan jam kerja biasanya membutuhkan waktu paling sedikit dua jam untuk pergi atau pulang. Kalau 2400 truk tersebut digandeng maka panjangnya 159 . Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pembangunan ini. terhadap permukiman terpadu seperti Kebayoran Baru. positif dan negatif. Bila ada sebuah kawasan seluas seratus hektar. budaya dan berbagai pemborosan.

Berkembangnya berbagai institusi ini. dan terciptalah hubungan perekonomian dengan permukiman terpadu. fasilitas pendidikan dan fasilitas wisata. Hutan wisata berfungsi sebagai tempat wisata. Daerah untuk wisata yang intensif harus dibedakan dari daerah wisata terbatas. restoran kolam renang.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman yang dibangun harus dapat berperan sebagai pendukung perkembangan kota-kota lain di sekitarnya. kegiatan sosial yang ditawarkan dengan adanya fasilitas-fasilitas sosial di permukiman terpadu. telepon. Permukiman terpadu beserta kota-kota pertumbuhan di sekitarnya dapat bersama-sama dalam membangun perkembangan regionalnya. kelembagaan perbankan. Kelembagaan yang dibentuk ini akan saling berhubungan dengan kelembagaan-kelembagaan lain yang telah ada dalam kota-kota pertumbuhan lain di sekitar permukiman terpadu untuk melayani seluruh penduduk serta untuk mengelola permukiman terpadu. 2. hutan buru dan taman laut. dengan dibangunnya permukiman terpadu. Dalam daerah wisata yang intensif dapat dibangun fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel. baik di peta maupun di lapangan. kawasan perumahan yang dikembangkan di Surabaya mencapai sekitar 2000 hektar dan tanah urug umumnya diambil dari Porong. sehingga penduduk dari daerah sekitar dapat memperoleh lapangan kerja baru.2. misal desa-desa di sekitar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja. Namun fungsi daerah Taman Dayu untuk melindungi hidrologi harus tetap terjaga. Batasan kawasan lindung akan merupakan hal yang sangat penting. misalnya: pengembangan wisata di kawasan lindung harus diatur agar tidak berlawanan dengan tujuan perlindungan. yaitu Perkampungan Serbaguna Tarnan Dayu. karena dapat pula dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di sekitar permukiman terpadu. baik permukiman. fungsi lindung dapat merupakan cagar alam hutan lindung suaka marga satwa. Hal ini sangat penting karena pola kebijaksanaan dasar daerah merupakan arahan yang harus dianut. rencana kebijaksanaan dasar daerah adalah mengembangkan daerah wisata di daerah pegunungan. misalnya lembaga pemerintahan. Dari uraian di atas terlihat.1 Kaitan permukiman terpadu terhadap pengembangan regional Salah satu dasar yang harus dijadikan pertimbangan dalam pengembangan permukiman terpadu adalah bahwa kegiatan permukiman terpadu harus dapat mendukung kebijaksanaan dasar daerah mengenai pelestarian fungsi lindung dan keseimbangan budidaya daerah setempat. Permukiman terpadu yang dibangun harus dapat tetap melestarikan fungsi lindung dari desa-desa atau kawasan lindung di sekitarnya.2. listrik. swasta. Penduduk di permukiman terpadu dan kota-kota pertumbuhan lain dapat memanfaatkan kegiatan perekonomian. diharapkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengatur berputarnya roda pemerintahan suatu permukiman terpadu. lapangan golf. agar fungsi lindung tetap terjaga. permukiman terpadu dapat menunjang tumbuhnya perekonomian baru yang dampaknya dapat dirasakan secara regional. Jaringan infra struktur ini. Kelembagaan yang berkembang dengan adanya permukiman terpadu.2. 2. Kegiatan yang mendukung kehidupan manusia dalam suatu permukiman terpadu dapat diletakkan pada daerah budidaya yang telah dituangkan dalam pola kebijaksanaan dasar daerah. jaringan listrik. Kelembagaan yang harus ada menyertai dibangunnya permukiman terpadu adalah kelembagaan pemerintahan. akan memudahkan dan mempercepat hubungan antara permukiman terpadu dengan kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. Dengan demikian pelestarian. Dalam hal perekonomian. Kegiatan-kegiatan perekonomian dapat sebagian beralih ke permukiman terpadu. Menurut Soemarwoto (1985). Maka terjadilah hubungan sosial antar permukiman terpadu dengan daerah sekitarnya. dan di sisi lain permukiman terpadu pun dapat tetap berkembang dalam mendukung pengembangan regional yang telah direncanakan sesuai dengan RUTRD. dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dibangun dalam permukiman terpadu. Pembangunan ini akan mendukung pengembangan regional Jawa Timur di mana kota-kota di sekitar akan ikut memanfaatkan keberadaan kota Taman Dayu. Misalnya hutan lindung dan cagar alam berfungsi untuk melindungi hidrologi. antara lain adalah jaringan transportasi. namun merupakan daerah yang dilindungi. 2.sekitar 20 kilometer. demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. penduduk dari daerah sekitar dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh permukiman terpadu. air bersih. seperti jaringan transportasi. dapat terpacu karena dibangunnya jaringan infrastruktur pendukung. sekitar 60 kilometer selatan Surabaya.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman terpadu yang dibangun dan merupakan pusat pertumbuhan baru. hutan wisata. Perkembangan regional. dan lain-lain. hendaknya dapat menimbulkan dampak positif terhadap daerah di sekitarnya. Dengan hadirnya kawasan permukiman terpadu ini diharapkan daerah disekitarnya juga dapat berkembang dan memperoleh dampak positifnya. hendaknya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang telah ada yang pada saat itu harus diemban oleh kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. perindustrian dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas permukiman terpadu. karena itu harus jelas. lembaga perbankan. fungsi lindung dan keseimbangan budidaya suatu daerah akan tetap terjaga. fasilitas pertokoan dan rekreasi. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem. bahwa setiap pembangunan perumahan dengan pembukaan lahan seluas 200 hektar perlu melakukan kajian dampak regional yang dilakukan secara teliti. Padahal saat ini. Selain itu. batas-batas ini dapat menghindari sengketa dan dapat menjadi pegangan bagi pengelola kawasan lindung. telepon dan air bersih. lembaga swasta. dan kepolisian. saluran air buangan dan pengeringan (drainase) serta tempattempat pembuangan sampah. lembaga pendidikan. fungsi-fungsi lindung ini harus dijaga dan jangan sampai menjadi fungsi yang lain. Daerah sekitar diharapkan juga dapat memasok berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan permukiman terpadu. 160 . Misalnya didaerah Pasuruan Jawa Timur.

kriteria pemrakarsa. kegiatan perdagangan dapat dimiliki oleh pihak lain (swasta) seperti pertokoan. Untuk itu keberadaan permukiman terpadu hendaknya juga dapat memberikan jasa dan lapangan kerja bagi penduduk yang berubah mata pencahariannya. misalnya kantor polisi atau kemungkinan juga terdapat latihan atau pendidikan untuk angkatan bersenjata tertentu. misalnya: kebun binatang. air bersih. maka dalam pengembangan kawasan permukiman terpadu hendaknya mencakup dan mengikuti 3 (tiga) kriteria yaitu: kriteria ekosistem. dapat terletak lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. agar dapat memberikan bantuan mata pencaharian baru bagi penduduk di sekitar permukiman terpadu. 2. masing-masing usaha dan/ atau kegiatan dapat dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. pihak yang berwenang dapat mengatur dan mensyaratkan agar permukiman terpadu yang dibangun akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat desa di sekitarnya. balai pengobatan. jaringan pematusan kota.2 Kriteria pemrakarsa Dalam kegiatan yang bersifat regional.1 Kriteria ekosistem Dalam PP No. telepon. Misalnya. lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya.5 UKURAN DAN SKALA PERMUKIMAN TERPADU Seperti disebutkan dalam pendahuluan. (10) Kegiatan untuk pengamanan kota dan angkatan bersenjata. renang dan sebagainya yang membutuhkan adanya lapangan golf. laboratorium klinis dan lain-lain. 51 Tahun 1993 telah disebutkan bahwa kegiatan yang bersifat regional. Hal ini hanya mungkin terjadi bila para pemrakarsa permukiman terpadu mempunyai komitmen sosial. (5) Kegiatan olah raga dan rekreasi. Tetapi belum tentu suatu permukiman terpadu akan mempunyai kegiatan pariwisata atau industri atau kegiatan pelabuhan. sarana sosial. 2. (2) Kegiatan sosial masyarakat dalam fasilitas-fasilitas sosial yang dibangun taman-taman. (7) Kegiatan pendidikan. kota sedang meliputi > 1000 ha sampai 5000 ha dan kota besar meliputi luas > 5000 ha. kota sedang maupun kota besar. jalan-jalan lingkungan. pendidikan. (8) Kegiatan industri kecil maupun besar dengan bangunan industri disertai dengan fasilitas pengolah limbah. sedangkan skalanya dapat berupa kota kecil. misalnya dalam permukiman terpadu. atau terletak dalam satu tipe ekosistem. sepak bola. misalnya: golf. Ukuran luas permukiman terpadu dapat berkisar 1 antara 200 sampai lebih dari 5000 ha.6.6. 2. (3) Kegiatan perekonomian dan perdagangan. atau ekosistem pegunungan dengan ekosistem pantai. Di samping itu. daerah konservasi dan wisata buatan. Dengan demikian maka dalam AMDAL untuk permukiman terpadu akan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saling terkait dengan ukuran dan skala tertentu. seperti kegiatan perdagangan. jembatan. pertokoan. misalnya: pasar. pariwisata. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas banyak yang termasuk dalam daftar wajib AMDAL sebagaimana disebutkan dalam lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. wisata air atau wisata alam yang lain. tenis. dan kriteria sektor yang berwenang. pelabuhan. 2. pergudangan. misalnya ekosistem pegunungan. olah raga dan rekreasi. ukuran dan skala permukiman terpadu tidak selalu sama. lapangan sepak bola dan seterusnya.4 URAIAN TENTANG KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN Kegiatan sentral dalam pengembangan permukiman terpadu adalah kegiatan dalam kawasan permukiman karena dapat terkait dengan kegiatan dalam kota. misalnya: jalan tol.Kemungkinan penduduk di desa-desa sekitar permukiman terpadu akan berubah pola mata pencahariannya dari sektor agraris ke sektor perkotaan. yang merupakan suatu kesatuan kegiatan dalam permukiman terpadu yang harus disusun AMDALnya. (4) Kegiatan transportasi. Misalnya penghuni permukiman akan selalu terkait dengan jalur transportasi. Suatu permukiman terpadu akan selalu dilengkapi dengan permukiman sebagai tempat hunian. balai-balai pertemuan. dan tempat pembuangan sampah. industri dan fasilitas kesehatan. misalnya: pendidikan formal dan informal yang memerlukan gedung-gedung sekolah. 2. plaza. (6) Kegiatan pariwisata.3 KEGIATAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Kegiatan-kegiatan yang biasa terdapat dalam permukiman terpadu dan keterkaitan antar kegiatan dalam permukiman terpadu antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. atau mungkin terminal udara dan pelabuhan laut. sedangkan kegiatan perdagangan lain dapat dimiliki 161 . terminal kota. Permukiman terpadu yang mempunyai kegiatan yang bersifat regional juga dapat terletak dalam suatu gabungan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. tempat bermain. jalan kota. sesuai dengan definisi kota yang biasa dipakai oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam menilai kebersihan kota dalam memperoleh Adipura. Penciptaan lapangan kerja di sektor non pertanian dalam permukiman terpadu harus mendapatkan perhatian yang serius.6 KRITERIA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Mengacu pada ukuran dan skala permukiman terpadu. seperti: jaringan listrik. (9) Kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan rumah sakit. Kriteria-kriteria dimaksud adalah : 2. apotek. Kota kecil dapat meliputi luas 200 sampai 1000 ha. hotel. yang menghubungkan permukiman ke tempat-tempat kegiatan lain.

dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. Pembangunan terminal dan transportasi angkutan. Pembuatan taman kota dan tempat bermain. Pembangunan gedung olah raga. dimiliki oleh pemerintah. Pemadatan. BAB III. Penggalian saluran air. Matriks interaksi sederhana. usaha dan/atau kegiatan yang ada dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. lokakarya. Pembangunan pasar. Jadi permukiman terpadu akan selalu ditangani dan dikelola oleh lebih dari satu instansi. brainstorming. Bank Indonesia. dan pembangunan jalan lingkungan. peta vegetasi. atau penting tidaknya dampak. listrik. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. misalnya: Departemen Pekerjaan Umum akan mengatur dan bertanggung jawab untuk jembatan. Pembuatan tempat pembuangan sampah. pemrakarsa kegiatan. v. dan telepon.oleh pemerintah. 162 . dan lain-lain). Seperti yang telah disebutkan dalam kajian teori (Bab II) yang berwenang mengatur kegiatan dalam suatu permukiman terpadu akan terdiri lebih dari satu instansi. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. seperti: peta rencana umum tata ruang daerah. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. Pembangunan pergudangan. seperti pelabuhan dimiliki oleh Perum Pelabuhan. 2) Kegiatan konstruksi. pintu pintu air dan kesehatan lingkungan permukiman. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/1992 tentang Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL untuk informasi yang lebih rinci. 2. Analisis isi (content analysis). peta sistem lahan. yang meliputi: a) Kegiatan survei. iv. iv. vi.1 Identifikasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. sekunder. peta tata guna tanah. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. instansi yang bertanggung jawab. ii. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan. Adapun metoda identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Daftar uji sederhana. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah-langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. dan (3) pemusatan dampak penting. BRI. (2) evaluasi dampak potensial. serta masyarakat (tokoh-tokoh) yang berkepentingan. dan lain sebagainya. iii. Pada tahap ini hanya akan diinventarisir dampak yang potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL 3. b) Kegiatan pembebasan lahan. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial bagi aktivitas proyek pengembangan permukiman terpadu Langkah 1 Buat daftar rencana usaha dan/atau kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu berikut dengan rencana pembangunannya menurut persebaran ruang dan waktu. dapat dimiliki oleh pihak pemerintah maupun swasta. ii. jalan tol. Demikian juga dengan kawasan wisata yang ada dalam permukiman terpadu. Pengamatan Lapangan. Diperoleh daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1) Kegiatan pra-konstruksi. 3. Departemen Perindustrian akan bertanggung jawab untuk industri-industri kecil maupun besar yang ada dalam kawasan tersebut. iii. Interaksi kelompok (rapat. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. Pembangunan perumahan. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. Pembangunan lapangan golf. Jadi ada batasan bahwa dalam permukiman terpadu. Pengalihan aliran air. Penelaahan pustaka. ii. Hasil langkah 1 1. menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. BNI.6. iv. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. i.3 Sektor yang berwenang Masing-masing usaha dan/atau kegiatan dalam suatu wilayah yang mempunyai dampak regional seperti permukiman terpadu. iii.1. pengerasan.

Topografi ii.Hutan bakau. pada ruang dan waktu tertentu yang diantaranya adalah: 1) Lahan basah.Sawah.Tanaman pekarangan Langkah 3 Identifikasikan komponen lingkungan atau struktur ekosistem yang berpotensi terkena dampak akibat proyek pada dua tingkat. Tinggi muka air tanah. Industri makanan. 3) Kegiatan Permukiman Terpadu. h) Industri kecil dan menengah.Hutan rawa bergambut. Daftar spesifik untuk setiap ekosistem yang terkena dampak. Kelembaban nisbi udara. . iv. ii. Kualitas air permukaan (sumur. j) Ketertiban dan keamanan. . misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Iklim: i. . f) Pariwisata. c) Perekonomian dan perdagangan. iii. k) Seni budaya. . . Diperoleh informasi tentang rencana pembangunan kota menurut persebaran ruang dan waktu.Kolam budidaya ikan air tawar.Hutan rawa air tawar. . d) Transportasi.Kegiatan pembangunan industri kecil/menengah: i. Hasil langkah 2 Diperoleh daftar tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek.Hutan tropika basah (berstatus konversi). yang meliputi kegiatan: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. Sifat fisik tanah. ii. Unit pengolahan limbah. . Suhu udara. ii. yakni: a) Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut hasil langkah 2 b) Di tingkat regional yang merupakan dampak regional dari pengembangan permukiman terpadu Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen Lingkungan atau struktur ekosistem yang potensial terkena dampak proyek. Kualitas udara.Tambak udang/bandeng. lama dan frekuensi genangan/banjir. b) Aktivitas sosial masyarakat di fasilitas-fasilitas sosial/umum yang ada. b) Hidrologi: i. g) Pendidikan. yakni: 1. e) Olah raga dan rekreasi.Tegalan/pertanian lahan kering. iii. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . . 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi: 163 d) . Industri mebel kayu dan rotan.Tambak garam.Perkebunan karet/kelapa sawit. Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1. Tinggi.Hutan rawa payau. .Danau/situ. . . iii. 2) Ekosistem Lahan kering. iv. sungai). Pola aliran dan debit sungai. 2. iii. Sifat kimia tanah. Industri kulit (sepatu dan tas). i) Penunjang kesehatan masyarakat.Kebun/talun. . yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . c) Tanah: i.

getah. Pola aliran dan debit sungai. 12) Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa Liar. sungai). ii. iii. g) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi. Pertumbuhan. Produktivitas budidaya perairan. Komunitas biota akuatik. 2) Fungsi pengendalian air terutama pengendalian banjir. Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. lama dan frekuensi genangan/banjir. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. daging satwa liar. iii. Struktur dan komposisi vegetasi. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti: pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan pasokan bagi ikan serta burung-burung migran. b) Komunitas Satwa Liar: i. 16) Fungsi sosial ekonomi. i. k) Pusat pertumbuhan baru dan ekonomi regional. iii. seperti energi kayu dan listrik-hidro. yang berupa perlindungan garis pantai. Bila ekosistem lahan basah yang terkena dampak. tanah adat). 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. dan lansekap lahan basah. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. l) Persepsi masyarakat terhadap proyek. rotan. 13) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. b) Fasilitas sosial dan fasilitas umum. 3) Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya: a) Demografi/kependudukan. f) Rekreasi dan pariwisata. h) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. 2. dan gambut.i. i) Akulturasi dan asimilasi. berupa estetika lansekap. ii. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. Sektor informal/multiplier effect. ii. seperti: proses ekologi. iii. dan pemecah angin (windbreak). misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Kualitas udara. iv. 164 . seperti: kayu. yang diantaranya meliputi : 1. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. c) Sarana dan prasarana perhubungan darat. komunitas. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. Jenis dan populasi satwa Liar. migrasi. Mobilisasi. identifikasikan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak penting akibat adanya proyek. Daftar potensial dampak regional. b) Hidrologi: i Tinggi muka air tanah. 4) Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. iv. d) Sumber mata pencaharian. Kualitas air permukaan (sumur. Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi untuk setiap tipe ekosistem yang potensial terkena dampak. 10) Fungsi pemasok energi. pengendalian erosi. Produktivitas lahan pertanian. Tinggi. e) Peluang bekerja dan berusaha. ii. misalnya: berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. j) Pola konsumsi. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. 15) Fungsi sosial budaya. geomorfologi dan geologi. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. ikan. keagamaan dan spiritual serta peninggalan sejarah. Komunitas biota. urbanisasi. ekosistem. obat. b) Komunitas Satwa Liar.

Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. 2) Fungsi pemasok produk alam. 8) Fungsi sosial ekonomi. Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. habitat satwa liar dan tumbuhan penting.2. seperti pangan beras. 5) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. yakni yang meliputi: a.1. 9) Fungsi sosial budaya. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. 11) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. serta buah-buahan. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. daftar dampak penting dikelompokkan menurut masing-masing tipe ekosistem. hortikultura. geomorfologi dan geologi. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6. Bila ekosistem lahan kering yang terkena dampak. diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak. seperti proses ekologi. 165 . Komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. 3) Fungsi produksi energi (kayu). c) Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2 Hasil langkah 5 a) Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan atau struktur ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. komunitas. b) Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. Langkah 5 a) Buat matrik dampak komponen yang pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan atau struktur ekosistem (hasil langkah 3). keagamaan dan spiritual. b. 7) Fungsi sosial budaya. Adapun untuk fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil Langkah 7. Komponen lingkungan yang terkena dampak penting dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. berupa estetika lansekap. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. palawija. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. yakni (lihat pengelompokkan pada hasil langkah 3): a) Daftar dampak penting spesifik untuk masing-masing tipe ekosistem. b) Buat matrik dampak ekosistem pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat fungsi ekosistem (hasil langkah 4). seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. misalnya berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 10) Fungsi penelitian dan pendidikan. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL kawasan pengembangan permukiman terpadu.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. serta peninggalan sejarah. dan lansekap. keagamaan dan spiritual. b) Daftar dampak penting untuk tingkat/skala regional. hara terlarut yang terbawa ke hilir. dan peninggalan sejarah. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok produksi pangan. seperti estetika lansekap. 3. ekosistem.

3.2. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta kerja yang tersedia. b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. 166 . batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra-konstruksi.1. dan/atau . b) Keterkaitan antar dampak penting yang telah di identifikasi pada butir 3.1. dimana prosesproses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. 3. dapat digunakan untuk memandu hal ini. Catatan Langkah 1: Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan proyek akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. sosial maupun ekologi. Catatan Langkah 2 : Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam.Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak penting di suatu lokasi. Hasil langkah 10 Diperoleh urutan isu-isu pokok Lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. Catatan langkah 9 : Dampak penting hasil langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui : . Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek.Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting proyek. dan lampiran II Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan hasil langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. Hasil langkah 2 sampai 4 dari proses identifikasi dampak potensial. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/ atau lembaga-lembaga masyarakat (social institutions) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. dapat memandu mengarahkan hal ini d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat yang berpotensi berubah secara mendasar akibat rusaknya sumber daya atom dan/atau pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek pengembangan permukiman terpadu.1. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi terjadinya perubahan fungsi ekosistem sebagai akibat adanya proyek c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. b) Di dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak penting hasil langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan Hasil langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan penting yang akan dialami ekosistem sebagai akibat adanya proyek.3 Pemusatan dampak penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3.1. Hasil langkah 1 dari butir 3.1. terhadap ekosistem disekitarnya. konstruksi dan permukiman di kawasan pengembangan permukiman terpadu. konstruksi dan operasi.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting. Hasil Langkah 1 a) Diperoleh batas kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu di atas peta yang digunakan.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara : a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek . Hasil Langkah 2 a) Diperoleh batas ekologis di atas peta yang digunakan pada langkah 1. melalui media air. sosial dan ekologi.2.

studi ANDAL serta RKL dan RPL. batas kawasan perkebunan. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. Catatan Langkah 3 : Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (hasil langkah 1). b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana.2. batas kuasa pertambangan.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. HasiL langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah1. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas kegiatan proyek batas ekologi. batas sosial.2 METODE STUDI 4. batas sosial (hasil langkah 3). batas administratif. dan kendala teknis yang dihadapi. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. lembaga non pemerintah dan/atau lembaga lokal masyarakat setempat. 4. PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 4. batas ekologi (hasil langkah 2). b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. 167 .2.Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1 dan 2. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. studi ANDAL serta RKL dan RPL Kegiatan Pengembangan Permukiman Terpadu yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. waktu. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu. Hasil Langkah 5 Diperoleh wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1.2 Wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. dan tenaga yang tersedia. Catatan langkah 4 : Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. karena itu tidak dijelaskan tentang outline tersebut. misalnya: akibat aktivitas rekruitmen tenaga kerja. dan batas administratif (hasil langkah 4). Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis namun berpotensi terkena dampak penting akibat proyek. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. 4. BAB IV. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data.

Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. c) Mengingat ekosistem di sekitar pengembangan permukiman terpadu yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana kegiatan (emic). d) Khusus untuk aspek sosial. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. bulanan atau musiman. b) Dampak penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem permukiman terpadu serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem permukiman terpadu sebelum proyek dibangun.2.4 Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). maka akurasi dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan.2. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). kampung. 4. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. serta sifat dan karakter komponen Lingkungan yang diukur. 168 . desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. Data primer dikumpulkan melalui metode survei.4. Saat pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. dan di lain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: Metode penarikan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran.

Koppen dan Oldeman • Analisis Hidrograf • Pengukuran Lapang • Penilaian Ahli Keterangan Hidrologi • Tinggi muka air tanah • Pola aliran dan debit sungai • Tinggi. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik kimia Komponen Lingkungan Iklim Parameter • Suhu udara • Kelembaban nisbi udara • Kualitas udara Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi • Pengumpulan data sekunder • Pengukuran di lapangan (untuk kualitas udara) • Pengamatan Lapang • Pengukuran Lapang • Pengamatan Lapang • Pelabuhan Udara terdekat • Stasiun Meteorologi terdekat.Tabel 4-1. litologi • Sifat fisik tanah • Sifat kimia tanah • Observasi Lapang • Pengeboran dan pengambilan contoh • Lahan gambut • Lahan rawa • Penilaian Ahli • Analisa laboratorium 169 . Sekunder & Tersier • • • • Visual Organoleptik Gravimetrik Elektrometrik Sifat kimia air permukaan • • • • Titrasi Titrasi Titrasi Titrasi • Sungai • Saluran Primer. • Sungai • Saluran Primer. dan frekuensi genangan/ banjir • Kualitas air permukaan (sumur. sungai) • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna Rasa dan bau Kekeruhan Padatan tersuspensi pH DHL DO BOD COD Kesadahan total Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Karbonat (CO3) Nitrit (NO2) Nitrat (NO3) Sulfat (SO4) Sifat fisik air permukaan • Pengukuran in situ • Sungai • Pengambilan sampel air • Saluran Primer. Sekunder & Tersier • • • • • Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Tanah • Fisiografi. lama. Sekunder & Tersier Metode Analisis Data • Tabulasi data • Klasifikasi Schmith & Ferguson.

Sosial budaya • Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. • Fasilitas sosial dan penduduk ter• Observasi fasilitas umum dekat. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik sosial Komponen Lingkungan Sosial ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli Keterangan • Pengumpulan • Desa-desa/ • Demografi dan data kependudukan pemukiman sekunder. lapangan • Wilayah • Wawancara administrasi dengan tokoh proyek. penduduk ter• Observasi dekat. • Sumber mata pencaharian • Peluang bekerja dan berusaha • Rekreasi dan pariwisata Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian.Tabel 4-2. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik biologi Komponen Lingkungan Komunitas vegetasi Parameter • Komunitas biota • Struktur dan komposisi vegetasi Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek Keanekaragaman • Indek Keseragaman Je nis. Keterangan • Transek • Hutan bakau • Pengumpulan • Hutan rawa data sekunder • Hutan payau • Analisis vegetasi • Observasi lapangan Komunitas satwa liar • Komunitas biota almafile • Jenis dan populasi satwa liar • Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi • Transek • Pengumpulan data sekunder • Analisis satwa liar • Observasi lapangan • Hutan bakau • Hutan rawa • Hutan payau • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek keanekaragaman • Indek keseragaman jenis • Tabulasi jenis satwa liar yang dilindungi Tabel 4-3. lapang • Sarana dan • Wilayah • Wawancara prasarana administrasi perhubungan darat proyek. • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli 170 . tanah adat) • Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal • Akulturasi dan asimiliasi • Pola konsumsi • Persepsi masyarakat terhadap proyek • Pengumpulan • Desa-desa/ data pemukiman sekunder. masyarakat dan ketua suku atau adat. • Pemetaan Plasma Nutfah.

Pemadatan. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan. 4. Industri kulit (sepatu dan tas). iv. Pembangunan lapangan golf. e) Olahraga dan rekreasi. d) Kegiatan pembangunan industri kecil. b) lepas namun terkait dengan kota yang sudah ada (misal. b) Alternatif lokasi. Perlu diketahui aspek kegiatan ini tidak berjalan secara sekuensial serentak untuk seluruh kawasan permukiman terpadu. ii. 171 . Pembangunan pasar.4. vi. (2) Aspek konsepsi pengembangan permukiman terpadu. iv. (6) Aspek tata ruang mikro permukiman terpadu. (4) Aspek jangka waktu pengembangan. Pembangunan terminal dan transport angkutan. c) mendukung kegiatan pertambangan (misal. Pembangunan perumahan.1. konstruksi dan hunian permukiman terpadu. iii. ii. Bontang. konstruksi dan hunian sering dijumpai berlangsung secara paralel. yang meliputi: a) Kegiatan survei. e) merupakan kawasan siap bangun. Oleh karena itu kegiatan persiapan. Pondok Indah). e) Tenaga kerja yang dicurahkan untuk kegiatan persiapan.2. Pembuatan taman-taman kota dan tempat bermain. Dari berbagai jenis kegiatan yang diutarakan pada angka (7) usahakan dapat dipaparkan : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. konstruksi dan hunian. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): (1) Aspek bentuk pengembangan permukiman terpadu: a) menempel pada kota yang sudah ada (misal. Depok). (3) Aspek rencana daya tampung atau jumlah penghuni permukiman terpadu. Pembangunan pergudangan.2. c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi. (7) Aspek manajemen kota/kelembagaan. Palangka Raya). dan pembangunan jalan lingkungan. ii. b) Kegiatan pembebasan lahan. ii. Pembangunan gedung olah raga. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. iv. c) Perekonomian dan perdagangan. yang meliputi: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. iii.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan di kawasan pembangunan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4.1. Industri makanan. misal: i. iii. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah. listrik dan telepon. misal kota dibangun berdasarkan konsep kota bisnis. kota wisata. d) kota yang berdiri sendiri (misal. Pembuatan tempat pembuangan sampah. Kegiatan pembangunan dimaksud dideskripsikan dengan penekanan pada pokok uraian berikut ini : 1) Kegiatan persiapan atau pra-konstruksi. h) Industri kecil atau menengah. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). Industri mebel kayu dan rotan. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. g) Pendidikan. Penggalian saluran air. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. 3) Kegiatan hunian. b) Kegiatan masyarakat dalam fasilitas sosial & fasilitas umum yang dibangun. l) Penunjang kesehatan masyarakat. k) Seni budaya. iii. v. 2) Kegiatan konstruksi. atau kota ramah lingkungan. alternatif ruas jalan. yakni lokasi administratif dan rencana luas/skala permukiman terpadu. sehingga pembangunan permukiman terpadu dapat menelan waktu bertahun-tahun tergantung pada skala/luas kota dan permintaan masyarakat. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL serta Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL (Sektoral) dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. pengerasan. j) Ketertiban dan keamanan. Unit Pengolahan Limbah. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan: i.3 URAIAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan permukiman terpadu hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan hunian (misal sarana pengolahan air limbah). f) Pariwisata. b) fungsi dari setiap ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. (8) Aspek kegiatan persiapan. d) Transportasi. iv. Pengalihan aliran air. Tembagapura). maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci/detil. (5) Aspek rencana lokasi.

Curah hujan. iii. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. d. seperti: a. b. 2) Fungsi pengendalian air.Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge). b) Fasilitas sosial dan fasilitas perhubungan darat. ii. 172 . Komponen fisik-kimia a) Iklim. Ikan dan daging satwa (misal.4. Tinggi. yang diantaranya meliputi : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). g) Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi.Pasokan air ke permukiman terpadu lainnya. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir b. Spesies-spesies tumbuhan komersil. 13) Fungsi konservasi bagi: a. dan frekuensi genangan/banjir. yang meliputi: i. iii. Fungsi ekosistem lahan basah. c. Fungsi dimaksud adalah sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): I. f) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. e) Rekreasi dan pariwisata. ii. Komponen biologi a) Komunitas Vegetasi. Kualitas air permukaan (sumur. iv. 4. rusa). Topografi. Gambut. f) Jenis dan populasi satwa liar.4. b) Komunitas Biota.1 Struktur ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan struktur ekosistem permukiman terpadu saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. ii. e) Komunitas biota almafile. b) Hidrologi. tanah adat) g) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. Spesies langka dan dilindungi. seperti: a. Ke lokasi lain: . Pemecah angin (windbreak). 11) Fungsi transportasi/perhubungan.1. b. yang meliputi: i. h) Akulturasi dan asimilasi. . c) Struktur dan komposisi vegetasi.4. yang berupa: a. b.2 Fungsi ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan fungsi-fungsi yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di wilayah tersebut. lama. 12) Fungsi bank gen bagi: a. i) Pola konsumsi. Tinggi dan elevasi muka air tanah. Panjang penyinaran matahari. yang meliputi: i. Debit sungai dan pola aliran. j) Persepsi masyarakat terhadap proyek. Kecepatan angin. listrik-hidro. yang berupa: a. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya a) Demografi dan kependudukan. Air tanah. dan obat. misal: energi dari kayu. getah. Ikan dan burung-burung migran. b. Sifat fisik tanah. iii. Rotan. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Fungsi dimaksud berlaku untuk setiap tipe ekosistem yang strukturnya mengalami perubahan sebagaimana dimaksud pada angka 4. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. c) Sumber mata pencaharian. sungai). Sifat kimia tanah. Populasi satwa liar. Suhu dan kelembaban nisbi udara. 10) Fungsi pemasok energi. Kayu. Air permukaan. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. 3. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: a.4. Uraian disusun berdasarkan sistimatika sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): 1. 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). iv. d) Peluang bekerja dan berusaha. b. c) Tanah. c. d) Komunitas satwa liar. terutama pengendalian banjir. 2.

yaitu: a) metode formal. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik-kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. b) tanah adat masyarakat setempat. Keagamaan dan spiritual. d. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam.1. Kerusakan pada 173 . Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. c. b. 5) Fungsi konservasi bagi spesies: a) Langka dan dilindungi. 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. b) metode non-formal yang antara lain meliputi: penilaian para ahli dan metode analogi. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan di kalangan komponen sosial sendiri. 16) Fungsi sosial ekonomi yang diantaranya meliputi: a. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. langkah 2. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). 2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. Sebagai misal. Fungsi ekosistem lahan kering yang diantaranya meliputi: 1) Fungsi pemasok produk pangan. Proses ekologi.1. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 2) Fungsi pemasok produk alam. proyek pengembangan permukiman terpadu yang berlokasi di pantai akan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak penting. c.II. Ekosistem. 7) Fungsi sosial budaya. b) hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. c) komunitas. c. b) palawija dan hortikultura. 15) Fungsi sosial budaya. seperti: a) estetika lansekap. 3) Fungsi produksi energi (kayu). d. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata.1. Rosot karbon (carbon sink). b. b) habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam. yang antara lain meliputi: model matematik dan metode grup eksperimen. Komunitas. c) pasokan hara untuk ikan dan burung-burung migran. d) ekosistem. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar (buruan) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan berburu oleh penduduk. geomorfologi dan geologi. Estetika lansekap. 8) Fungsi sosial ekonomi. c) buah-buahan. yang antara lain berupa: a. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. b) keagamaan dan spirituil c) peninggalan sejarah.Sebagai misal. seperti: a) bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Misalnya proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. e. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat. Lansekap atau jenis-jenis permukiman terpadu. b. b. yang diantaranya berupa: a. yang meliputi: a) sumber mata pencaharian masyarakat setempat. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. Peninggalan sejarah. c. 5) Mengingat di kalangan komponen ekosistem terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. 4. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a. seperti : a) makanan pokok (beras). Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial.2 (Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL). b. Tanah adat masyarakat setempat.

metode Daftar Uji Berkala dengan Pembobotan (misal.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan).. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Langkah 1: Prakiraan dampak penting dengan cara: prakiraan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.2. baik tingkat ekosistem maupun regional. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. dan yang tercantum pada angka 4. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. matrik Leopold). sebagai akibat alternatif usaha dan/atau kegiatan tertentu.1. 174 . c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) dan b) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. yang tercantum pada angka 4. Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Telaah secara komprehensif seluruh dampak penting yang dialami oleh struktur sistem. Catatan langkah 1 : Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. Environmental Evaluation System). proses pelingkupan. khususnya langkah 1: Identifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan proyek. Dampak penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. dan/atau metode bagan alir.5. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem. 4.1. ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak udang.5. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. b) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem regional. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu usaha dan/atau kegiatan proyek. (yakni rona lingkungan hidup awal) akan berubah secara mendasar.e. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.1. Hasil langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal : a) fenomena perubahan struktur ekosistem akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL).4. Langkah 2 Telaahan secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem dan regional yang dimaksud pada langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem dan ekonomi regional dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab Evaluasi Dampak Penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif /holistik. Hasil langkah 1 Diperoleh prakiraan perihal besar (magnitude) dampak pada dua tingkat analisis yakni : a) Tingkat ekosistem yang terkena dampak penting Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan dari ekosistem (dengan kata lain struktur ekosistem) yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam proses pelingkupan. yang tercantum pada angka 4.2. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. b) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekonomi regional akan berubah secara mendasar akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. khususnya Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL. b) Tingkat dampak penting regional Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan tingkat regional yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. (hasil langkah 2). (hasil langkah 2).1.

5. Lebih lanjut pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatarbelakangi kedalaman dokumen RKL. serta (ii) struktur dan fungsi ekonomi regional. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem dan ekonomi di kawasan permukiman terpadu dimaksud. Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari usaha dan/atau kegiatan proyek. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di kawasan pengembangan permukiman terpadu tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem dan kondisi fisik kawasan permukiman terpadu sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem dan kondisi fisik lokasi pengembangan. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. mendaur ulang (recycle). Sehubungan dengan hal tersebut.1. BAB V. PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5.1 Lingkup dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Dokumen RKL. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek.Hasil langkah 2 Diperoleh sintesis komprehensif perihal fungsi ekosistem dan regional yang terkena dampak penting menurut alternatif tertentu dari proyek. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek.1. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan atau merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tersebut di saat pra-konstruksi. konstruksi dan penempatan permukiman. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat dampak yang timbul bersifat kompleks. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh. sebagaimana dimaksud pada langkah 1 dan 2. program atau tindakan untuk mencegah. dalam pengertian generik. lakukan telaahan sejauh mana dampak penting yang ditimbulkan terhadap (i) struktur dan fungsi ekosistem. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). maupun penempatan permukiman pada kawasan permukiman terpadu. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). Langkah 4 Dari alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. dengan fokus pada : a) fenomena perubahan fungsi ekosistem dan ekonomi regional akibat adanya alternatif tertentu dari proyek.3 Struktur inti dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: 175 . b) Bila seluruh alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) 5.2 Kedalaman dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif di saat pra-konstruksi. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. konstruksi. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap kehidupan ekosistem dan ekonomi regional di kawasan permukiman terpadu.1. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di rencana kawasan pengembangan permukiman terpadu. Hasil langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. 5. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. merupakan dokumen yang memuat upaya. program dan/ atau upaya-upaya untuk mencegah.

Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada bab prakiraan dampak dan bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. program atau tindakan untuk mencegah.1 Lingkup dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek. Pada ekosistem permukiman terpadu pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak. c) Upaya pengelolaan lingkungan. di muka. f) Institusi pengelolaan lingkungan. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. b) Tujuan pengelolaan lingkungan. Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. dari Bab IV di muka.5. kawasan. Prakiraan dampak penting. sifat kumulatif. d.5.2. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem permukiman terpadu. maka sedapat mungkin dituangkan disain teknologinya.1. c. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu kegiatan pengembangan permukiman terpadu. e. Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. b. Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting pengembangan permukiman terpadu berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. tersier. e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan. d) Waktu dan periode pengelolaan lingkungan. yakni Bab Evaluasi dampak dari dokumen ANDAL. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan pengembangan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. berulang dan terencana. Upaya. atau bahkan regional.6. Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat merujuk pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung.5. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional. f. Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). dan angka 4.6. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. 176 . ekonomi atau kelembagaan. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. sampai ke tingkatan ekosistem. langkah 10.2. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. 5. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). sistematik. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. a. Upaya.a) Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem di kawasan pengembangan permukiman terpadu.

yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu kawasan pengembangan permukiman terpadu. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisa data.2 Kedalaman dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada angka 2 Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. e.5. d) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. bau. Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu (proyek. Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.5. suhu. Semisal.5. Langkah 2).1. Tolok ukur dampak yang dimaksud di sini dapat berupa baku mutu limbah cair. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. tersier. f. upaya/program/tindakan pengelolaan lingkungan. f) Institusi pemantauan Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. atau ketetapan resmi suatu instansi. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem permukiman terpadu. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. kandungan minyak terlarut. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.6. Menteri Negara Lingkungan Hidup. keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah.5.3 Struktur inti dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau. Komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. sebagai misal). b) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya.2. baku mutu lingkungan. A. c. Prakiraan dampak penting dan angka 4. 5.6. c) Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. Evaluasi dampak penting. warna. a. b) Tolok ukur dampak. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi.2. yakni bab prakiraan dampak penting dan bab evaluasi dampak penting dari dokumen ANDAL. SH 177 . serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. d. ttd Dr. ttd Nadjib Dahlan.2. Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk ada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. dan 4. c) Tujuan pemantauan lingkungan. b. lokasi dan jangka waktu serta frekuensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan. Langkah 10.

Industri kulit pertokoan. pengerasan.Pembuatan taman taman kota & taman bermain iv. Kegiatan Konstruksi 3. lapangan golf iii. telpon vi.Unit pengolahan iv. Pemb. Suhu udara ii. Pola aliran dan debit air sungai iii. pembangunan jalan lingkungan iii. Kegiatan survei b.Penghijauan/ reklamasi . Kualitas air permukaan (sumur. Tinggi muka air tanah ii. Kegiatan pendidikan dan kebudayaan 1.Pembuatan TPA i. terminal limbah &transportasi darat Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Penggalian jaringan air bersih. Sifat fisik tanah iii. Pemb. listrik . Pemb.pusat i. Sifat kimia tanah 2. Matriks Interaksi Dampak Kegiatan Proyek dengan Komponen Lingkungan Kegiatan Proyek 2 b i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv a b c d e f g h i 3 j 1 a Komponen Lingkungan 178 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb. Komunitas vegetasi i. Pemb. Komponen Biologi a).Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Industri makanan ii. Tanah i. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Komunitas biota almafile ii. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.gedung olah raga ii. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg.Lampiran 3-1. Kegiatan pra-konstruksi a. Struktur dan komposisi vegetasi b). & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Komunitas biota ii. lama dan frekuensi genangan/banjir iv.Industri mebel iii.perumahan ii. sungai) d). Hidrologi i. Pemadatan. Jenis dan populasi satwa liar iii.Penggalian aliran air v. Komunitas satwa liar i.Pemb. Iklim i. Topografi ii. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi 2. Kelembaban nisbi udara b). Penggalian saluran air iv. Komponen Fisik Kimia a).Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.pasar iii. Kualitas udara c). Tinggi.

sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg.(Lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i Kagiatan Proyek 2 3 j Komponen Lingkungan 3.Pembangunan iv. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.Pembuatan TPA i. Sarana dan prasarana perhubungan darat d). kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman 2.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Kegiatan pra-konstruksi a.pasar kayu dan rotan iii. Peluang bekerja dan berusaha f). Pemb.gedung olah raga ii. telpon vi.Unit pengolahan pergudangan limbah iv. Pemadatan. pembangunan jalan lingkungan iii. Fasilitas umumdan fasilitas sosial c).perumahan ii. & ii. Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal i). Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Pemb. Industri kulit i. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a). Penggalian jaringan air bersih. Pemb. pengerasan. Kegiatan Konstruksi 3.listrik .Industri mebel ii. terminal &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Rekreasi dan pariwisata g). Sumber mata pencaharian e).Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1.Penggalian aliran air v. Akulturasi dan asimilasi j). Pemb. lapangan golf iii. Pola konsumsi k).Penghijauan/ reklamasi . Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik dan tanah adat) h).pusat (sepatu dan tas) pertokoan. Pemb.Pemb. Industri makanan perbelanjaan iii.Lampiran3-1. Persepsi masyarakat terhadap proyek 179 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Kegiatan survei b. Demografi dan Kependudukan b).Penggalian saluran air iv.

getah. 3. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekonomi.perumahan ii.Pemb. Pemb.yangberupaair bersihyangdapatlangsungdimanfaatkanolehmasyarakat dan/atausebagaipemasokkeaquifer(groundwaterrecharge).Pembuatan TPA . Pemb. Pemb.pusat i. Fungsipemasokair(kualitasdankuantitasair).gedung i.pasar iii. Fungsipenangkapandan/ataupengendapansedimden 6.Lampiran3-2MatrikInteeraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemKawasanPengembanganPemukimanT erpaduuntukTipeEkosistem:Lahanbasahdanlahankering 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h Kegiatan Proyek 2 3 Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 180 2. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanunsurhara 7.rotan.pengendalianerosi. Kegiatan survei b.danpemecah angin(windbreak) 5.ikandandagingsatwaliar. Pemb. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanbahan-bahanberacun 8. EkosistemLahanBasah 1. lokasilahanbasahlainnya. pasokanbahananorganikdanorganikdanharaterlarutbagi wilayahhilirdanbagiikansertaburung-burungmigran.listrik .dangambut 9. Industri makanan golf ii. Kegiatan pra-konstruksi a.Pembangunan kayu dan rotan taman-taman pergudangan iv.Industri mebel iii. 2. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Industri kulit olah raga pertokoan. telpon vi. Fungsiperlindunganterhadapkekuatanalam.Penggalian aliran air v. Pemadatan.yangberupa perlindungangarispantai. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. pengerasan. terminal limbah bermain &transportasi iv. Fungsipengedalianair.Penghijauan/ darat reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.Unit pengolahan kota & taman iv.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. pembangunan jalan lingkungan iii. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekologiseperti.Penggalian saluran air iv. Penggalian jaringan air bersih. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Fungsipencegahintrusiairlautkeairtanahdan/atauair perm ukaan 4.terutamapengendalianbanjir 3. lapangan perbelanjaan ii. A. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata.seperti kayu. Pemb.obat.Pembuatan iii. & (sepatu dan tas) ii.

Fungsi produksi energi (kayu) 4. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. listrik . Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. Fungsi rekreasi dan pariwisata 7. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. lapangan golf iii. Pemb. Kegiatan survei b. pengerasan.keagamaan dan spiritual. komunitas. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. palawija dan hortikultura. serta buah-buahan 2. dan peninggalan sejarah 8. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. dan lansekap 6. dan ekosistem hutan (yang berstatus konservasi) 1. terminal limbah &transportasi darat B. 3.Unit pengolahan iv. Kegiatan pra-konstruksi a. Pemb. Industri kulit pertokoan. Fngsi pemasok produk alam.Lampiran3-2(lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g Kegiatan Proyek 2 3 h Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 181 2. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir.Pembuatan TPA .perumahan ii.Penggalian aliran air v.pusat i.Penghijauan/ reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.pasar iii. i. telpon vi. Fungsi pemukiman masyarakat 3.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. hara terlarut yang tertransportasi ke hilir.gedung olah raga ii. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Fungsisosialbudaya sepertiestetikalansekap. Pemadatan. Pemb.Pemb. Pemb. Pemb. Penggalian jaringan air bersih. Fungsi transportasi/perhubungan 5. ekosistem pertanian lahan kering.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv. Fungsi pemasok produk alam. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. Industri makanan ii.Industri mebel iii.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Fungsi sosial ekonomi misalnya berupa sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan tanah adat masyarakat setempat 9. seperti makanan pokok (beras). ekosistem.Penggalian saluran air iv. EkosistemLahan Kering. serta ikan dan burung-burung migran. yang meliputi ekosistempertanian sawah. pembangunan jalan lingkungan iii.

Lampiran3-2(lanjutan)

1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i

Kegiatan Proyek 2 3

Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu

j

10. 11. 12.

13.

14. 15.

16.

17. 18.

Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrik-hidro Fungsi transportasi/perhubungan Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar Fungsi konservatif bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem dan lansekap lahan basah Fungsi rekreasi dan pariwisata Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat Fungsi penelitian dan pendidikan Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam

182
2. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb.pusat i. Industri kulit pertokoan, & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Industri makanan ii. Pemb.pasar iii.Industri mebel iii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Unit pengolahan iv.Pemb. terminal limbah &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pendidikan dan kebudayaan

3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebasan lahan

Kegiatanpembangunan perumahan

Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi

i. Pemb.perumahan ii. Pemadatan, pengerasan, pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.Penggalian aliran air v. Penggalian jaringan air bersih, listrik , telpon vi.Pembuatan TPA

i. Pemb.gedung olah raga ii. Pemb. lapangan golf iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Penghijauan/ reklamasi

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah; 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH. Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

Mengingat :

PERTAMA :

KEDUA :

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 November 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup, ttd. Dr. A. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH,

Nadjib Dahlan,S.H.

183

LAMPIRAN NOMOR TANGGAL

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 5 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000

PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH BAB I. PENJELASAN UMUM 1.1 LATAR BELAKANG Upaya melengkapi tuntutan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, telah diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Di dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan secara tegas bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Salah satu kategori wilayah yang pertu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah. Ketersediaan areal lahan basah yang masih cukup luas dengan potensi sumberdaya alami yang terkandung di dalamnya masih belum banyak termanfaatkan, telah mengundang peningkatan usaha pemanfaatan lahan basah untuk berbagai sektor kegiatan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kawasan ini semakin potensial untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan yang diperkirakan akan terus berkembang antara lain, pembukaan persawahan, perkebunan dan pertambakan yang dikaitkan dengan pembangunan permukiman transmigrasi. Bersamaan dengan itu pembangunan agroindustri dan berbagai industri jasa seperti pengangkutan dan pelabuhan tentu akan semakin terfokus pada kawasan lahan basah sebagai wilayah sasarannya. Berbagai perkembangan kegiatan perekonomian baik bertaraf lokal, regional, maupun nasional akan menyebabkan keberadaan potensi sumberdaya alami terutama di kawasan lahan basah semakin terancam kelestariannya. Sejumlah program yang sudah diimplementasikan kebanyakan kurang memenuhi kaidah keberlanjutan, sehingga terjadi pemubaziran sumberdaya lahan basah dan tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Mulai tampak berkurangnya luasan alami kawasan lahan basah, dan secara langsung maupun tak langsung menurunkan mutu dan fungsi ekologis dari sumberdaya alami setempat. Pemanfaatan yang sudah berlangsung ternyata, berpengaruh besar terhadap penyusutan mutu dan keberadaan sumberdaya keanekaragaman hayati, sumberdaya perairan rawa, sungai, estuaria dan bahkan potensi laut dalam (Syarkowi, 1995 dan Verheught, 1990). Kecenderungan pemanfaatan yang ada menunjukkan bahwa, banyak pihak yang berkepentingan terhadap daerah itu masih pertu dibekali pengetahuan tentang strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Cara-cara pengelolaan berbagai program pembangunan yang ada telah menjadikan kawasan ini kurang termanfaatkan secara optimal. Padahal jika potensi yang besar itu semakin surut dan banyak yang tersiasiakan, maka pembangunan di kawasan lahan basah akan sulit berkelanjutan. Diakui bahwa kompleksitas persoalan lingkungan dan pengendalian dampak negatif pembangunan kawasan lahan basah itu sangat rumit. Keberadaan lahan basah secara geografis menghubungkan ekosistem lahan kering terhadap ekosistem pesisir dan kelautan, yang tentunya memiliki keterkaitan fungsi dan kepekaan ekosistem yang beragam pula. Pengalaman pelaksanaan studi AMDAL beberapa proyek di berbagai area lahan basah selama ini menunjukkan bahwa kompleksitas dampak lingkungan yang bisa terjadi memang sangat tinggi (Euroconsult, 1991), akan tetapi sedapat mungkin harus diupayakan memprakirakannya. Dari studi khusus tentang “Pedoman Pelingkupan AMDAL Lahan Basah” yang dilakukan oleh AWB (1991) misalnya, kompleksitas dampak lingkungan itu secara sistematis mulai dipahami dinamikanya. Walaupun demikian kenyataan tentang munculnya berbagai masalah lingkungan hidup di kawasan lahan basah dan sekitarnya selama pertengahan dekade 90-an, harus pula diakui bahwa masih banyak rahasia yang perlu diungkapkan dan diketahui dibalik dinamika dampak pembangunan lahan basah itu. Guna mengendalikan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak bijaksana itu, maka studi AMDAL harus dioptimalkan dengan mengacu kepada piranti khusus “Metodologi AMDAL Lahan Basah”. Panduan ini khusus memberi petunjuk bagaimana melaksanakan AMDAL di daerah lahan basah. Dengan ini diharapkan informasi minimal tentang karakteristik lahan basah baik yang bersifat umum maupun khusus dari komponen lingkungan yang peka terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan diarahkan agar dapat dipenuhi. Demikian pula tentang karakteristik proyek pembangunan yang prospektif berkembang di kawasan itu sangat perlu dan akan dapat dipahami atas dasar sifat kepentingannya terhadap lahan basah. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyusunan AMDAL bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan (proyek) pembangunan di daerah lahan basah. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah ini diharapkan dapat: 1. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan. 184

2. 3.

Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan, lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Mendorong langkah-langkah antisipatif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan iptek dan perkembangan sosial ekonomi dan budaya di masa depan.

1.3 PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak penting lingkungan akibat pembangunan di daerah lahan basah, secara cermat diperlukan pengetahuan tentang sifat dan kekhasan daerah lahan

KOMPONEN LINGKUNGAN
• • • • • • Iklim Tanah Kedalaman dan Kematangan Gambut Hidrologi Vegetasi dan Satwa liar Sosial Ekonomi dan Budaya serta Demografi • • • •

KOMPONEN KEGIATAN
Eksploitasi SDA di lahan basah Konservasi Lahan (Perkebunan, Persawahan/Irigasi, Pertambakan) Konservasi Balik (Kawasan Lindung dan Konservasi) Reklamasi Lahan Basah

PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL • • • • Dampak Penting Hipotetik Penetapan Batas Wilayah Studi Penetapan Tenaga Ahli Penetapan Metode Pengumpulan dan Analisis Data yang Akan Digunakan • Penetapan Lokasi Pengambilan Sampel • Penetapan Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak yang digunakan dalam Penyusunan ANDAL.

PENYUSUNAN ANDAL • • • • Survey Lapang Analisis Data Prakiraan Dampak Penting Evaluasi Dampak Penting

PENYUSUNAN RKL DAN RPL • Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan • Penetapan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1-1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL Kawasan Lahan Basah

185

basah tersebut. Hal ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat dikenal pasti sedini mungkin. Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan kawasan lahan basah disajikan pada Bab II. Kemudian diikuti oleh panduan proses pelingkupan yang disajikan pada Bab III, yang menjelaskan penentuan isu pokok, komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan, penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Panduan penyusunan analisis dampak lingkungan (ANDAL) disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selanjutnya, panduan untuk penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis, sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses: penyusunan AMDAL seperti pada Gambar 1-1. Pembangunan di daerah lahan basah akan memiliki ragam dan besaran dampak tergantung pada sistem lingkungan yang akan terkena dampak. Dengan demikian, mengikuti tujuan studi AMDAL adalah memelihara kapasitas ekosistem alamiah dalam hal penentuan parameter lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan dan analisis data, prakiraan evaluasi dampak perlu disusun atas dasar pendekatan pemeliharaan, ekosistem yang berkesinambungan. BAB II. KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM LAHAN BASAH 2.1 TIPOLOGI EKOSISTEM Keberadaan lahan basah atau lahan berawa dapat diklasifikasikan menjadi 3 zona, yaitu : (1) Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin; (2) Ekosistem rawa pasang surut air tawar; dan (3) Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak. Zonasi ini diterapkan demikian berdasarkan kekuatan air sungai dan air pasang (Sandy dan Nad Darga,1979). Pada musim hujan zona I dan II memperoleh pengaruh pasang surut, sedangkan zona III tidak dipengaruhi. Pada musim kemarau, hanya zona I yang dipengaruhi oleh luapan dan intrusi air payau/asin. Berkenaan dengan itu, maka ada tiga hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah; yaitu: (1) Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang; sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu; (2) Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (“slurry”) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan berat maupun energi lainnya, sehingga membahayakan; dan (3) Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya. Bentuk pemanfaatan yang utama dan merupakan fungsi perlindungan pada lahan basah terhadap sistem penyangga kehidupan, antara lain (1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air) (2) Fungsi pengendalian air, terutama pengendalian banjir (3) Fungsi pencegah intrusi air laut (4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam) (5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen (6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara (7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun (8) Fungsi pemasok kekayaan alam (di dalam areal lahan basah) (9) Fungsi pemasok kekayaan alam (ke luar areal lahan basah) (10) Fungsi produksi energi (kayu, listrik-hidro) (11) Fungsi transportasi/perhubungan (12) Fungsi bank gen (13) Fungsi konservasi (14) Fungsi rekreasi dan pariwisata (15) Fungsi sosial budaya (16) Fungsi sosial ekonomi (17) Fungsi penelitian dan pendidikan (18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Selanjutnya manfaat sampingan dapat dipanen dan dinikmati masyarakat sampai batas-batas tertentu tanpa merusak proses ekologis yang diperankan oleh ekosistem itu. Bentuk pemanfaatan golongan ini antara lain: (1) sumber air bagi penduduk (setempat); (2) sumber produk alami (nipah dan ikan); (3) sumber energi (kayu dan gambut); dan (4) sumber kesegaran dan keindahan (wisata). Bertolak dari pemahaman akan arti penting fungsi-fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis yang diperankan oleh ekosistem lahan basah itu, maka upaya untuk melestarikan keberadaan mutu dan fungsi ekosistem lahan basah patut direalisasikan. Ini antara lain dilakukan melalui pendekatan peraturan perundangan yang melindungi komponen-komponen kawasan yang berfungsi penting dan strategis. Pelestarian sumberdaya kawasan lahan basah dimungkinkan oleh adanya ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ketentuan perundangan itu meliputi perlindungan jenis flora dan fauna serta benda cagar budaya, yang tidak jarang banyak ditemukan pada daerah lahan basah. Sampai sejauh ini, kawasan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya antara lain: 186

). Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 14 Keppres No..1 Ekosistem Hutan “Bakau” (Zonasi I) Ekosistem ini terdiri dari formasi bakau.faktor sebagai berikut (Pasal 9 PP No. 32 Tahun 1990). serta formasi Acrostichum. Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung usaha budidaya di belakangnya. Kawasan Pantai Berhutan Bakau. Bersamaan dengan itu terdapat pula assosiasi dengan Nipa. Xylocarpus muluccensis dan Sonneratia ovata. struktur tanah yang mudah meresapkan air bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran (Pasal 12 Keppres No. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir maupun kebakaran. Jenis tumbuhan Nipa membutuhkan air 187 . dengan memperhatikan faktor . Pada ekosistem ini formasi Rhizophora sp. atau biologis. Formasi hutan mangrove atau “bakau” ditandai dengan kehadiran jenis tanah aluvial.) dan Nyireh (Xylocarpus sp. Sempadan Sungai. Formasi ini begitu dinamis dengan adanya peran dari tumbuhan pemul. Jenis-jenis ini diketahui sangat baik beradaptasi pada tanah bersalinitas tinggi sebagai pengaruh dari pasang air laut. Avicennia sp. nipah. kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. formasi Acrostichum juga dominan dan berfungsi sebagai penutup tanah hutan mangrove hingga ketinggian 3-4 meter. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) Kawasan Resapan Air. 32 Tahun 1990 jo PP No. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan kawasan yang bersangkutan. 35 tahun 1991 tentang Sungai) (b) Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 sampai dengan 15 meter (Pasal 16 Butir b Keppres No. Formasi hutan “bakau” ini diketahui sangat penting peranannya sebagai habitat pijah-asuh berbagai jenis ikan dan udang. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. maka akan ditemui jenis Bakau (Rizophora spp. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pertimbangan teknis.1. yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. sosial ekonomis dan lingkungan. adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestariaan fungsi danau/waduk. kimiawi. sebagai hasil dari sedimentasi dan akumulasi lumpur yang dibawa oleh air sungai. Kriteria sempadan sungai yaitu: (a) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman (Pasal 16 butir a Keppres No. 2. Di sisi lain. (c) kemampuan meningkatkan perekonomian masyarakat dan (d) kelestarian lingkungan hidup. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi. yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. 27 Tahun 1991 tentang Rawa) : (a) kemampuan meningkatkan rawa sebagai ekosistem sumber air.(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kawasan Gambut. termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer. yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Rawa yang merupakan lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik.) dan Pedada (Sonneratia sp. umumnya berupa tumbuhan Api-api (Avicennia sp. (b) kelestarian rawa. bertujuan untuk mempertahankan dan sebagai sumber air serta meningkatkan fungsi dan manfaatnya. yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung).. Kawasan Sekitar Danau/Waduk. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung jo PP No. Kriteria kawasan ini adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (Pasal 8 UU No.). adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. Sempadan Pantai. 32 Tahun 1990). 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 27 Keppres No. dan jika kondisi lahan menjadi stabil. 32 Tahun 1990). 35 Tahun 1991). dan Sonneratia marina menduduki formasi terdepan sedangkan agak kebelakang dijumpai jenis tumu atau bakau tomak (Bruguirea hexangula). Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18 Keppres No. Kriteria kawasan gambut yang dilindungi itu adalah tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa (Pasal 10 Keppres No. serta melindungi sistem ekonomi yang khas di kawasan yang bersangkutan.

). pengembangan dan pengelolaannya. dan kelompok burung yang banyak ditemukan merupakan kelompok cemar laut (wader) dan bangau. sedangkan mamalia yang umum ditemukan adalah babi hutan (Sus scoria). dan Cotilelobium. Kelebatan formasi ini berkisar antara 100-500 meter.2 Ekosistem Hutan Raya Payau (Zona I) Merupakan formasi hutan rawa campuran air asin dan air tawar. Formasi ini merupakan pembatas antara hutan mangrove dan hutan lainnya di belakang mangrove. (2) ketebalan dan kematangan gambut serta kandungan hara mineral. 2. Komposisi tumbuhannya terdiri dari tiga zona yang secara horizontal adalah berturut-turut : zona pertama didominasi oleh jenis durian payau (Durio carrinatus).selama hidupnya. meranti (Shorea sp. karakteristik lahan basah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) lama dan kedalaman genangan air banjir atau air pasang.) dan rumput yang terapung (kumpai) di perairan. (5) tinggi muka air tanah. Tumbuhan pada formasi ini didominasi oleh Terentang (Camnosperma). 2.). Fisiografi utama pada zona I termasuk grup marin dan kubah gambut. dan kelompok mamalia antara lain : gajah (Elephas maximus).). simang (Diospyros sp. Hutan rawa gambut yang tidak dipengaruhi oleh air asin memiliki jenis tumbuhan yang lebih kaya. beruang (Herartos malayensis). Zona kedua terdiri atas tumbuhan Sindai (Knema spp.). Formasi ini berperan sebagai pembatas terhadap ekosistem hutan bakau dengan kehadiran formasi Nibung. dan (6) keadaan substratum lahan. serta kuntul. Napu (Tragulus napu). baik hutan rawa maupun hutan gambut.1. dan beberapa jenis dari familia Poligalaceae serta Euphorbiacece.4 Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III) Di daerah delta yang biasanya banyak mendapat pengaruh air asin dan payau. sedangkan pada lapisan gambut yang tipis ditemukan tegakan nibung (Oncosperma filamentosa). buaya (Crocodylus porosus). 2. Blumeodendron sp. ular cincin emas (Boiga sp. 2.1. merawan bunga (Hopea mangerawan).).). Putai (Alstonia). (4) pengaruh luapan/air laut. Di dalam formasi ini terdapat lapisan bergambut dengan ketebalan sekitar 20 cm..3 Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II) Formasi hutan rawa air tawar terletak di bagian belakang hutan rawa payau. dan Rengas (Gluta rengas). Hutan pelawan beriang (Tristania abovata) dan Ploiarium alternifolium ditemukan pada lapisan gambut yang tebal. marin dan kubah gambut. Fauna yang ditemukan di habitat ini pada umumnya fauna yang hidup di daerah mangrove maupun di hutan rawa air tawar. Pada habitat ini biasa ditemukan fauna yang tergolong reptilia. 188 . dan jenis-jenis yang termasuk ke dalam famili Anacardiaceae. Nama atau jenis tanah tertentu sekurang-kurangnya memberi gambaran tentang sifat dan kelakuan tahan dalam merespon suatu teknologi yang diterapkan. sedangkan pada zona III termasuk grup aluvial dan kubah gambut. Reptilia yang hidup di habitat ini adalah biawak ( Varanus salvator).). Selain itu terdapat familia Dipterocarpaceae dari Genera Shorea. Pada umumnya sifat-sifat tanah pada lahan basah tersebut sangat berhubungan erat dengan fisiografi dimana tanah tersebut ditemukan. Ketebalan gambut di daerah ini mencapai 2 sampai 3 meter dengan dominasi jenis palem yang merupakan indikator bahwa formasi di daerah ini merupakan formasi transisi antara tipe rawa dan gambut (hutan campuran rawa dan gambut atau mixed peat swamp forest). (3) kedalaman lapisan pirit serta kemasan potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya. Tumbuhan lain yang juga sering ditemukan adalah Comnosperma dan Alstonia. Hutan ini merupakan formasi transisi dari hutan gambut ke hutan rawa ( mixed peat swamp forest). dan (3) tanah bergambut dan gambut. kera (Macaca sp.. dan lain-lain. Dan berbagai laporan studi dapat dikemukakan bahwa jenis tanah dominan pada lahan basah adalah: (1) tanah aluvial. kancil (Tragulus javanicus). Salah satu indikator formasi hutan ini adalah hadirnya tanaman pandan (Pandanus sp. Informasi tentang tipologi geo-fisik lahan basah itu dapat digunakan sebagai arahan pemanfaatan. Marsawa. babi (Sus barbatus). Secara geofisik. Prunus sp. Jenis ini dapat hidup sebagai pioner di sedimen berlapis. Dipterocarpus. badak (Dicerorhinus sumatrensis). Rincian karakteristik umum tipologi geo-fisik lahan basah disajikan pada Tabel 2-1.Ini terlihat dari seringnya Nipa diketemukan di sepanjang tepi sungai dengan aliran yang tenang. Pada zona II termasuk grup aluvial.2 TIPOLOGI GEOFISIK Kualitas dan karakteristik lahan basah pada masing-masing zona dapat ditetapkan apabila jenis tanahnya diketahui. serta kualitasnya. Di bagian zona III terutama didominasi oleh tipe semak dan rumputan. (2) tanah sulfat masam. beberapa jenis tumbuhan dominan adalah jenis terentang abang (Camnosperma macrophylla).1. kucing hutan (Felix sp. dan umumnya terdapat di belakang hutan mangrove atau di sepanjang tepi sungai. tapir (Tapirus indicus). pada tempat -tempat yang kurang tergenang ditumbuhi oleh jenis perepat (Combretocarpus motleyi) yang bercampur dengan Camnosperma macrophylla dan meranti paya (Shorea spp. Di dekat sungaisungai besar. yaitu buaya senjolong (Tomastoma schlegelii). Komposisi floristik pada formasi ini mirip dengan komposisi di hutan rawa air tawar.

5. Tipologi Lahan Lahan Potensial Tipe Luapan (Kategori) A (I) Pola Pemanfaatan Lahan Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/surjan Surjan pangan/holtikultura Lahan Kering Pangan/Hortikultura/Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Lahan Sulfat Masam A (I) Sawah B (II) C (III) D (IV) Lahan Gambut A (I) Sawah/Surjan “Kridit” Surjan “Kridit” Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/Surjan Surjan Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Tabel 2-2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut Sesuai dengan Tipologi Lahan dan Tipe Luapannya 189 . dan IV. Faktor Kualitas Lahan Genangan Karakteristik Periode lamanya genangan Kedalaman genangan Kualitas air genangan Tipe luapan Tekstur tanah Kedalaman efektif tanah Ketebalan gambut Tingkat kematangan gambut Tinggi muka air tanah N-total P-tersedia K-dapat ditukar Kapasitas Tukar Kation Kejenuhan Basa PH Salinitas atau sodisitas Kejenuhan aluminium Kedalaman bahan sulfidik Keadaan substratum Satuan waktu cm kelas kelas kelas cm cm kelas cm persen ppm me/100 g tanah me/100 g tanah persen unit mmhos/cm persen cm jenis 2.1 Agro ekosistem Rawa Pasang Surut Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa pasang surut dapat didasarkan pada tipe luapan air pasang surut. Ketersediaan hara 4. Adapun faktor No. yaitu : (1) Tipe A = terluapi pasang besar dan kecil.4. maka dapat dikemukakan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut (Halim1994). Jika dipertimbangkan tipologi lahan tipe luapan.3. dan 5 merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi proyek pembangunan non pertanian. Karakteristik Umum Tipologi Geofisik Lahan Basah No 1. kendala fisik lahan yang ada dan diperkirakan ada. Dengan tipe luapan air yang dimaksudkan itu maka pemanfaatan lahan dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe [berdasarkan luapan pasang besar (maksimum) dan pasang kecil (minimum)]. dan (4) Tipe D = tidak terluapi dan air tanah > 50 cm Pengelompokan tipe luapan ini sepadan dengan kategorisasi hidup topografi lahan basah berdasarkan pasang besar pada MH dan MK yaitu kategori I. air tanah < 50 cm. II.3 TIPOLOGI AGROEKOSISTEM 2. III. 2. seperti pada Tabel 2-2. (3) Tipe C = tidak terluapi pasang. Media perakaran 3.Tabel 2-1. 1. Kegaraman tanah Toksisitas Kelima faktor mutu lahan yang diindikasikan pada Tabel 2-1 tersebut penting diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian. (2) Tipe B = terluapi pasang besar.

Payau/Asin Hutan Mangrove/Tambak Hutan Mangrove Sawah Sawah Lahan Kering Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa/Kelapa Sawit Pasang Surut Air Tawar Lahan Potensial Lahan Sulfat Masam Lahan Gambut Dangkal Lahan Gambut Sedang-Dalam Rawa Lebak Rawa Lebak Aluvial Rawa Lebak Gambut Dangkal Rawa Lebak Gambut Sedang Dalam Sawah/Sawah Tadah Hujan Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Pada kawasan lebak dangkal (pematang). Pada lahan gambut sebaiknya diusahakan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan tanaman pangan dan hortikultura untuk beberapa musim. Dengan sistem Surjan. Sedangkan pada tipologi lahan gambut-dangkal. Demikian pula lebak dalam yang biasanya berperan sebagai gudang kehidupan berbagai jenis ikan akan berkurang kemampuan ekologisnya. Pembangunan suatu waduk untuk irigasi di bagian hulu misalnya. Rawa lebak pada tipologi lahan tersebut umumnya termasuk rawa lebak tengahan dan/atau dalam. potongan kayu dan tempurung kelapa (yang baik untuk arang) serta sabut kelapa biasanya belum sepenuhnya dimanfaatkan penduduk sebagai bahan sumber tambahan pendapatan. sesungguhnya sumberdaya alam kawasan lahan basah amat kaya.4 TIPOLOGI SOSEKBUD DAN KESEHATAN MASYARAKAT 2.1 Sosekbud Dari sisi sosial ekonomi.2 Agroekosistem Rawa Lebak Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa lebak disesuaikan dengan tipologi lahannya seperti disajikan pada Tabel 2-3. Oleh karena terdapat berbagai ragam potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan lahan dengan tipe luapan D adalah berupa usaha tani lahan kering untuk tanaman pangan/hortikultura atau perkebunan kelapa. Pada guludan dapat ditanam beberapa jenis tanaman pangan lainnya serta tanaman hortikultura. baik yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. yang tengahan menjadi dangkal. Sumberdaya alam di kawasan lahan basah dapat dikategorikan menjadi empat kategori.3. Indikasi yang demikian amat perlu diperhatikan setiap kali suatu pembangunan direncanakan. Payau/Asin Pola Pemanfaatan Sawah Payau/Asin Lahan Sulfat Masam. yaitu: (1) Sumberdaya “alam-terludesi” (exhaustible resources). Rawa lebak bertipologi demikian umumnya termasuk rawa lebak dangkal.Lahan potensial. sebaiknya dimanfaatkan langsung sebagai lahan perkebunan kelapa. Misalnya. Keempat kategori sumberdaya alam tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat daerah setempat maupun masyarakat pengusaha. Tabel 2-3 Pola Fisiografis Pemanfaatan Lahan Basah Zonasi Pasang Surut Air Tipologi Lahan Lahan Potensial.4. Payau/Asin Lahan Gambut. mengubah keadaan bentang lahan lebak di bagian hilir. 2. Lebak dangkal berubah jadi kering. Tipologi lahan aluvial dimanfaatkan untuk sawah lebak atau sawah tadah hujan. gambut sedang dan gambut dalam dapat dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dengan sistem “polder”. Sedangkan pada lahan sulfat masam. Walaupun demikian. Lahan dengan tipe luapan C juga dapat disawahkan dalam musim hujan bila diterapkan sistem surjan. (4) Sumberdaya “alam-segari” (amenity resources). lahan dengan tipe luapan B juga dapat disawahkan sebanyak dua kali dalam setahun. (2) Sumberdaya “alam-hayati” (biological resources). karena keterisolasian lokasi dan keterbatasan sarana pengangkutan berbagai jenis sumberdaya alam dan sumberdaya turunannya masih sering tersia-siakan begitu saja. Sawah dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun pada lahan dengan tipe luapan A. dan lebak dalam sebenarnya mengindikasikan adanya cekungan bentang lahan yang digenangi air tawar. interaksi sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam seyogyanya diperhatikan keterkaitannya dengan pencemaran 190 . lebak tengahan. maka interaksi sosial dan proses sosial bisa beragam coraknya. (3) Sumberdaya “alam-maliri” (flow resources). Dari sudut pandangan lingkungan hidup. 2. gambut dan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B dimanfaatkan untuk sawah.

Dengan Hak Ulayat ini. 3. Kehati-hatian diutamakan di sini. karena suatu keputusan yang tidak transparan oleh aparat tidak akan didukung oleh masyarakat setempat.1. Semangat dan aktivitas gotong royong di kawasan lahan basah berbeda dengan kawasan-kawasan lain. hak untuk menanam ikan diperairan dalam kawasan proyek bekas tanah Hak Ulayat hendaknya tetap diberikan kepada penduduk setempat. pemrakarsa kegiatan. Aspek sosial lain di kawasan lahan basah yang perlu diperhatikan adalah tentang hak atas tanah. Hak masyarakat atas tanah yang terwujud dalam Hak Ulayat di kawasan lahan basah berupa: (1) Hak untuk meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di wilayah/wewenang hukum masyarakat bersangkutan. peran limpahan air yang secara musiman membatasi intensitas tanaman akan memudahkan pengendalian hama dan gulma. Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar dampak. Kawasan lahan basah di Indonesia ada yang berada dalam lingkup pengaruh atau telah merupakan perkampungan bahkan ada yang sudah merupakan bagian dari wilayah kota besar. dan (2) Hak untuk berburu dalam batas wilayah atau wewenang hukum masyarakat merdeka. Akan tetapi setiap sentuhan proyek pembangunan yang mengganggu dan mengubah keseimbangan alami itu. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. Dengan demikian. Jika tidak demikian. sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan upaya gotong royong dalam memperluas lahan usaha. dan (3) pemusatan dampak penting. apabila terjadi pengambilalihan tanah Hak Ulayat maka perlu dipertimbangkan untuk seyogyanya tidak secara penuh meliputi setiap jenis sumberdaya terkait yang justru menjadi sumber nafkah penduduk. Di lokasi pemukiman kawasan lahan basah menunjukkan urutan jenis penyakit terbesar adalah penyakit malaria.4. peta tata guna tanah. Keadaan ini menempatkan aspek sosial budaya sebagai komponen lingkungan yang tetap harus diperhatikan. Di kawasan lahan basah masih terdapat penguasaan lahan secara komunal yang dikenal dengan Hak Ulayat. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 3. atau penting tidaknya dampak. Dengan kata lain suatu proyek pembangunan harus mempertimbangkan pola kebudayaan lokal. (2) evaluasi dampak potensial. maka sikap masyarakat bisa negatif terhadap aktivitas proyek pembangunan.2 Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Karakteristik utama lahan basah yang dicirikan dengan keberadaan air. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek. perlu memperhatikan tradisi pemilikan lahan yang luas itu sebagai aspek pertimbangan utama. Sehubungan dengan itu.1 Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. peta sistem lahan. misalnya sistem lelang lebak-lebung di Sumatera Selatan. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Namun. Dari segi sosial-budaya. Dapat dilihat bahwa penguasaan lahan oleh suatu keluarga dapat mencapai 2 sampai 5 Ha. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. 2. sekunder. baik langsung maupun tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kesehatan masyarakat. agar sedapat mungkin kelangsungan proyek mendapat dukungan masyarakat atau paling tidak dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi. instansi yang bertanggungjawab. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. BAB III. Selain itu. pada keadaan yang masih alami ciri itu sangat menonjol. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL di daerah lahan basah dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. dan data/informasi tentang hidrologi. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. Diantara interaksi itu ada yang patut diteladani sebagai kearifan lokal. dan dalam keadaan keseimbangan maka keberadaan air akan menopang kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu dapat dipahami jika terhadap sumberdaya alami yang dilingkupi oleh hak ulayat itu terdapat gengsi kesukuan yang tinggi. masyarakat hukum adat yang bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh. dalam konsepsi hak ulayat tersebut ternyata masih ada hak anggota masyarakat secara individu menguasai sebagian obyek penguasaan Hak Ulayat tersebut dengan sistem tertentu. serta (tokoh-tokoh) masyarakat yang berkepentingan. seperti peta vegetasi. Selain itu. tapi ada yang harus dikendalikan agar tidak meluas pengaruhnya. isu lingkungan di kawasan lahan basah juga perlu diperhatikan. pemahaman tentang persepsi masyarakat di kawasan lahan basah menjadi sangat penting. Adapun metode identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Penelaahan pustaka: 191 . Serangan penyakit ini diprakirakan akan selalu berlangsung pada setiap awal kegiatan pembangunan di kawasan lahan basah. Spektrum kegiatan gotong royong dalam suatu kekerabatan atau kelompok sosial di kawasan lahan basah relatif luas dibandingkan dengan kawasan lainnya. Misalnya.dan pengrusakan lingkungan alam.

Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah i. brainstorming dan lain-lain). Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi i. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Aksesibilitas wilayah ii. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa i. Limbah cair iii.Analisis isi (content analysis). Pengurangan/pembuangan lahan Seperti antara lain : pembangunan tambak ii. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Introduksi spesies asing 3. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/I992 tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagai sumber informasinya yang lebih rinci. Radioaktif iv. Panas vii. Limbah domestik v. b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Daftar uji sederhana. Penambahan/pengurukan lahan Seperti antara lain : pembangunan jalan iii. Penebangan vegetasi ii. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial aktivitas proyek di daerah lahan basah. Minyak ii. air permukaan (sungai. Kegiatan operasi. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi i. Kegiatan konstruksi. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Limbah padat ii. Limbah Industri vi. lokakarya. Kimia iii. air tanah dalam d) Kegiatan penerimaan tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah i. Hasil Langkah 1 Daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1. 192 . Interaksi kelompok (rapat. Kanalisasi sungai iii. Pusat-pusat pertumbuhan baru Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi pro dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1. Pemungutan hasil iii. dan Pengamatan lapangan (observasi). Matrik interaksi sederhana. Pengambilan/perburuan satwa ii. danau) ii. Langkah 1 Buat daftar rencana kegiatan proyek yang akan dibangun di daerah lahan basah. Pembangunan saluran drainase ii. Pengalihan aliran iv.

yang diantara adalah: 1. 2. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. dan frekuensi genangan/banjir iv. identifikasikan komponen ekosistem yang akan mengalami perubahan akibat adanya proyek. yang meliputi: i. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. Tinggi. kesehatan. Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen lingkungan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek. dan 4. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 3. nekton iii. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Sifat kimia tanah 2. hutan bakau. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. pendidikan. 193 . litologi ii. Dalam Panduan ini tipe ekosistem dimaksud dibatasi pada: 1. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. hutan rawa bergambut. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. identifikasikan fungsi atau manfaat yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan yang akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya proyek. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. lama. yang meliputi: i. Debit dan pola aliran iii. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas Satwa Liar i. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. hutan rawa air tawar. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Sifat fisik tanah iii. Tinggi dan elevasi muka air (pasang surut) ii. Pola sedimentasi dan drainase v. Langkah 3 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v.Hasil Langkah 2 Daftar tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi proyek dan/ atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. 3. Panjang penyinaran matahari iv. Komponen Biologi a) Komunitas Vegetasi i. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Curah hujan ii. Fisiografi. Kecepatan angin b) Hidrologi. hutan rawa payau. yang meliputi: i. Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii.

2. Fungsi pemasok energi. Langkah 5 Buat matrik dampak komponen lingkungan yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan lahan basah (Hasil Langkah 3). a) b) c) a) b) Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. dan pemecah angin (windbreak) 5. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. geomorfologi dan geologi. ekosistem. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (ground water recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. 10. seperti kayu. dan listrik-hidro. 17. diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang potensial akan terkena dampak.Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi atau manfaat untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang diantaranya meliputi: 1. 14. yang berupa perlindungan garis pantai. obat. dan gambut. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. 9.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. ikan dan daging satwa liar. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. terutama pengendalian banjir 3. dan lansekap lahan basah. 13. seperti energi kayu. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BA PEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6 dari identifikasi dampak potensial. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8. 16. Fungsi transportasi/perhubungan 12. rotan. Fungsi pengendalian air. Buat matrik dampak fungsi ekosistem yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen fungsi ekosistem lahan basah (Hasil Langkah 4). Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran. komunitas. Hasil langkah 5 Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. Fungsi sosial ekonomi. Fungsi sosial budaya. Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 4. pengendalian erosi. 3. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. seperti proses ekologi. getah.1. berupa estetika lansekap. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. 11. 194 . serta peninggalan sejarah. Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem sebagaimana Hasil Langkah 2. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7. keagamaan dan spiritual. Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi.

2. sosial dan ekologi.1. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra konstruksi. Hasil Langkah I dari butir 3.1. Hasil Langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan pokok yang akan dialami ekosistem lahan basah yang bersifat mendasar akibat adanya proyek.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. dan/atau Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak besar dan penting proyek. b.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak besar dan penting. Catatan Langkah 9 Dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui: Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak besar dan penting di suatu lokasi. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. konstruksi dan operasi di daerah lahan basah. Hasil Langkah 10 Isu-isu pokok lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi.Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting tergolong terkena dampak besar dan penting. b) Keterkaitan antar dampak besar dan penting yang telah di identifikasi pada butir 3. 3.1. sosial maupun ekologi. Lihat pula matrik pada lampiran 3-1 sebagai contoh. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan Hasil Langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi.1. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak besar dan penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. dan Lampiran II Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: KEP-229/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan KA-ANDAL.yakni yang meliputi: a. 3. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil langkah 7.1 dapat digunakan untuk memandu hal ini.3 Pemusatan dampak besar dan penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak besar dan penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta vegetasi/peta tata guna tanah/peta sistem lahan yang tersedia.2. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat (social institution) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. 195 a) . Komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. Hasil Langkah 1 Diperoleh batas kegiatan proyek di daerah lahan basah di atas peta yang digunakan.

Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi tempat terjadinya gangguan atau kerusakan terhadap fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek. c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak mendasar dari proyek misalnya. Hasil Langkah 2 sampai 4 dari proses Identifikasi Dampak Potensial. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek. a) b) Catatan Langkah 2 Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air. dimana proses-proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. melalui media air. Hasil Langkah 2 Diperoleh batas ekologis di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. konstruksi dan operasi. melalui penyerapan tenaga kerja. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah I dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1 dan 2. swasta dan/ atau lembaga lokal masyarakat setempat Hasil Langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. terhadap ekosistem lahan basah di sekitarnya. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. Dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkena dampak penting kegiatan proyek.b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. 196 . dapat memandu mengarahkan hal ini. batas kuasa pertambangan. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. Di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Catatan Langkah 1 Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau kegiatan/proyek akan melakukan kegiatan pra konstruksi. d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembagalembaga masyarakat yang berpotensi berubah mendasar sebagai akibat rusaknya sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek. udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. batas HPH. Catatan Langkah 3 Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. Catatan Langkah 4 Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada.

Pelingkupan Dampak Penting Identifikasi Dampak Potensial Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek Langkah 2: Identifikasi Tipe Eksosistem Langkah 3: Identifikasi Komponen Lingkungan Langkah 4: Identifikasi Fungsi Ekosistem Langkah 5: Matrik Identifikasi Dampak Langkah 6: Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan Wilayah Studi Langkah 1: Penetapan Batas Proyek Evaluasi Dampak Potensial Langkah 7: Evaluasi Sifat Penting Dampak Langkah 8: Dampak Penting yg Ditelaah ANDAL Langkah 2: Penetapan Batas Ekologi Langkah 3: Penetapan Batas Sosial Langkah 4: Penetapan Batas Administratif Pemusatan Dampak Penting Langkah 9: Pengelompokkan Isu-isu Lingkungan Langkah 10: Pengurutan Isu-isu Lingkungan Langkah 5: Penetapan Wilayah Studi ANDAL Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL Rencana Kegiatan Proyek yang perlu Isu Pokok/Dampak Penting Ditelaah Mendalam Lingkungan yang perlu Ditelaah Mendalam Gambar 3-1. dan batas administratif (Hasil Langkah 4). RKL dan RPL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan AMDAL. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. waktu. dalam panduan ini tidak dijelaskan tentang outline tersebut.2 Wilayah studi ANDAL daerah lahan basah 197 . batas sosial. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem lahan basah.2 METODE STUDI 4. batas ekologi (Hasil Langkah 2). Skema Proses Pelingkupan Dampak Penting dan Studi BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN 4. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. batas ekologi.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah.2. dan tenaga yang tersedia. Hasil Langkah 5 Diperoleh batas wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. 4.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan kerangka Acuan ANDAL.Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (Hasil Langkah 1). Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. ANDAL. batas administratif dan kendala teknis yang dihadapi. batas sosial (Hasil Langkah 3). Karena itu. 4. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas proyek.2.

dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). Tabel 4-1 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Fisik Kimia 198 . d) Khusus untuk aspek sosial. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL.Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL daerah lahan basah dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. dalam studi ANDAL di ekosistem lahan basah yang terpengaruh gerak pasang surut air laut. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). 4. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur.2. b) Dampak besar dan penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem lahan basah serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: metode pengambilan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. saat pengambilan sampel kualitas air harus dapat mewakili pola pasang surut yang ada. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. Waktu pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/ pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (emic). kampung. Sebagai misal. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. dan dilain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam. Data primer dikumpulkan melalui metode survei.serta sifat dan karakter komponen lingkungan yang diukur.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem lahan basah sebelum proyek dibangun. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. c) Mengingat ekosistem lahan basah yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas keakuratan dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. bulanan atau musiman.

Sifat kimia air permukaan · DO · BOD · COD · Kesadahan Total · Kalsium (Ca) · Magnesium (Mg) · Mangan (Mn) · Karbonat (CO3) · Nitrit (NO2) · Nitrat (NO3) · Sulfat (SO4) · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Sungai · Saluran Primer. Oldeman matahari · Kecepatan angin Hidrologi · Tinggi dan elevasi muka · Pengukuran air Lapang · Debit dan pola aliran · Pengamatan · Tinggi. lama. · Pengamatan · Lama penyinaran Meteorologi Koppen dan Lapang terdekat. · Lahan gambut · Lahan rawa · Penilaian Ahli · Analisa laboratorium 199 .Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Iklim · Curah hujan · Suhu dan · Pengumpulan · Pelabuhan · Tabulasi data data sekunder Udara terdekat · Klasifikasi Schmith kelembaban nisbi udara · Stasiun & Ferguson. Sekunder & Tersier · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Spektrofotometrik Tanah · Fisiografi. litologi · Sifat fisik tanah · Sifat kimia tanah · Observasi Lapang · Pengeboran dan pengam bilan contoh tanah. Sekunder & Tersier · Visual · Organoleptik · Gravimetrik · Elektrometrik. dan freLapang kuensi genangan/banjir · Pola sedimentasi dan drainase · Warna · Rasa dan bau · Kekeruhan · Padatan tersuspensi · pH · DHL · Pengukuran insitu · Pengambilan sampel air · Sungai · Saluran Primer. Sekunder & Tersier · Analisis Hidrograf · Pengukuran Lapang · Penilaian Ahli Sifat fisik air permukaan · Sungai · Saluran Primer.

komposisi vegetasi · Pemetaan · Jenis dan populasi Plasma Nutfah. · Tabulasi Jenis Satwa Liar yang di Lindungi.Aspek Biologi Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Komunitas Vegetasi · Keanekaragaman · Transek · Hutan Bakau · Penghitungan jenis/komunitas · Pengumpulan · Hutan Rawa Indek Nilai vegetasi data sekunder · Hutan Payau Penting (INP) · Keanekaragaman · Analisis vegetasi · Indek Keanekajenis/komunitas biota · Observasi ragaman air/phytoplankton lapangan · Indek Kesera· Struktur dan · Transek gaman Jenis. nekton · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi · Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi · Pengumpulan data sekunder · Analisis satwa liar · Observasi lapangan · Hutan Bakau · Penghitungan · Hutan Rawa Indek Nilai · Hutan Payau Penting (INP) · Indek Keanekaragaman · Indek Keseragaman Jenis. vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi · Zona habitat khusus dan plasma nutfah Komunitas Satwa Liar · Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar · Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton.Tabel 4-2 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data. 200 .

Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi : i. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei : b) Kegiatan pembebasan lahan 2. · Sistem pertanian dengan tokoh · Wilayah · Akulturasi dan asimilasi masyarakat dan administrasi · Kesehatan masyarakat ketua suku atau proyek. pendidikan. Sosial Budaya · Adat istiadat · Pengumpulan · Desa-desa/ · Kelembagaan tradisional data sekunder. Pemungutan hasil iii. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi : i. Kanalisasi sungai iii.2. Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. kesehatan. 4. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa : i. Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): 1.· Analisis deskriptif Observasi lapang duduk terdekat. Pengambilan/perburuan satwa ii. pemukiman · Aktivitas perekonomi · Observasi lapang penduduk dan perdagangan · Wawancara terdekat. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. · Tabulasi silang · Analisis deskriptif dan tabulasi silang · Penilaian Ahli 4.3 URAIAN RENCANA DAN USAHA ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana kegiatan pembangunan kawasan lahan basah hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. dan peribadatan Pengumpulan · Desa-desa/ · Tabulasi silang data sekunder. pemukiman pen. dan tabulasi siWawancara · Wilayah lang administrasi · Penilaian Ahli proyek.Tabel 4-3 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Sosial Komponen Lingkungan Sosial Ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan · Kepadatan dan · pertumbuhan penduduk · Persebaran penduduk · · Peluang bekerja dan · berusaha · Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam · Persarana perhubungan air · Pemukiman penduduk · Fasilitas umum. Penebangan vegetasi ii. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Penambahan/pengurukan lahan iii. Pengurangan/pembuangan lahan ii. · Kesehatan lingkungan adat. Pengalihan aliran iv.4. Introduksi spesies asing 201 . Kegiatan konstruksi. Pembangunan saluran drainase ii.

Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi. Debit dan pola aliran iii. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah : i. Pola sedimentasi dan drainase v.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. b) fungsi dari setiap ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. Aksesibilitas wilayah ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. 1. yang meliputi: i. yang meliputi: i. Panas vii. Komponen Biologi a) Komunitas vegetasi i. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran : i. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi: i. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi.4.3. litologi ii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan operasi e) Tenaga kerja yang dicurahkan. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. Radioaktif iv. Kimia iii. Kegiatan operasi. iv. yang meliputi: i. Panjang penyinaran matahari . Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 202 . Tinggi dan elevasi muka air ii. Fisiografi.1 Struktur ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan struktur ekosistem lahan basah saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut.1. air permukaan(sungai. Tinggi. lama. dan frekuensi genangan/banjir iv. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. 4. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Curah hujan ii. Limbah Industri vi. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan .2. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Limbah padat ii: Limbah cair iii. b) Alternatif lokasi. Pusat-pusat pertumbuhan baru Di berbagai jenis kegiatan tersebut usahakan dapat diutarakan perihal : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. air tanah dalam d) Kegiatan rekrutmen tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah : i. Kecepatan angin b) Hidrologi. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci detail. nekton iii.2. alternatif ruas jalan. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah.1. Sifat fisik tanah iii. Sifat kimia tanah 2. Minyak ii. 4. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas satwa liar i. Limbah domestik v. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). danau) ii. iv Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v.

Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya : a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Populasi satwa liar 13) Fungsi konservasi bagi: i.2 Fungsi ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan fungsi-fungsi ekosistem lahan basah yang saat ini masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di daerah tersebut. yang antara lain berupa: i. Tanah adat masyarakat setempat 17) Fungsi penelitian dan pendidikan 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. yang berupa: i. Komunitas iv. 203 . Sumber mata pencaharian masyarakat setempat ii. yang diantaranya berupa: i. Air permukaan 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). Ikan dan burung-burung migran 10) Fungsi pemasok energi. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting. seperti: i. listrik-hidro 11) Fungsi transportasi/perhubungan 12) Fungsi bank gen bagi: i. Ke lokasi lain: Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge) Pasokan air ke lahan basah lainnya 2) Fungsi pengendalian air. terutama pengendalian banjir 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: i. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat ii. Estetika lansekap ii. Rotan.3. Lansekap atau jenis-jenis lahan basah 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata 15) Fungsi sosial budaya.2 (Langkah 8: Komponen Dampak Penting yang Ditelaah ANDAL). ii. Pemecah angin (windbreak) 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. dan obat iv. rusa) iii. Ekosistem v. misal: energi dari kayu. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi ii. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan 4. Ikan dan daging satwa (misal. kesehatan. Peninggalan sejarah 16) Fungsi sosial ekonomi. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam 4.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. Gambut 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. pendidikan. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting iii. Air tanah ii. Rosot karbon (carbon sink) iii. Proses ekologi. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir iii. 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). getah.4.1. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja). Spesies langka dan dilindungi ii. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir . geomorfologi dan geologi ii. Spesies-spesies tumbuhan komersil ii. Keagamaan dan spiritual iii. yang diantaranya meliputi: i. Kayu ii. seperti: i. yang berupa: i.

Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. Langkah 1: Prakirakan dampak penting dengan cara: a) prakirakan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. Hasil Langkah 1 Diperoleh data dan informasi perihal besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem tertentu yang terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. zona rawa lebak terkait dengan ekosistem daratan di atasnya. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. dan metode analogi 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan.2. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar langka dan dilindungi (gajah) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa gangguan gajah terhadap produksi pertanian. 6) Mengingat dikalangan komponen ekosistem lahan basah terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. Sebagai misal. c) Daerah lahan basah umumnya merupakan medan yang berat dan terisolasi sehingga kebanyakan desa yang ada tergolong miskin.1 Langkah 2. 5) Prakiraan dampak pada komponen ekosistem lahan basah perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini: a) Ekosistem lahan basah banyak dijumpai berada antara ekosistem daratan dan ekosistem pesisir/ laut. Sehingga prakiraan dampak juga harus memperhitungkan pengaruh faktor eksternal pada komponen lingkungan yang tengah ditelaah secara mendalam untuk keperluan ANDAL.2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a) Mekanisme aliran dampak yang bersifat inter ekosistem: Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. Prakiraan dampak penting aspek sosial dengan demikian harus mencermati kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat. Sebagai misal. khususnya Langkah 8: Komponen Dampak Besar dan Penting yang ditelaah dalam ANDAL b) prakiraan dilakukan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terdapat dalam angka 3. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. tradisional. b) metode non-formal yang antara lain meliputi penilaian para ahli. b) Ekosistem lahan basah kebanyakan masih berwujud alami. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Panduan Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL.sehingga tingkat keanekaragaman hayati masih relatif tinggi sehingga prakiraan dampak harus dilakukan pada seluruh komponen ekosistem yang terkena dampak penting. proyek mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. dan metode grup eksperimen.1 khususnya Langkah 2 : Identifikasi Tipe Ekosistem. sebagaimana diutarakan pada butir 5) di atas.1. 204 . Sebagai misal. yaitu: a) metode formal. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada studi AMDAL Kegiatan Terpadu dan AMDAL Kawasan.1. yang antara lain meliputi model matematik. b) Mekanisme aliran dampak yang bersifat antar ekosistem: Dampak penting yang dialami suatu ekosistem akibat adanya aktivitas tertentu dari proyek mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem lainnya.1. Sebagai contoh. kerusakan ekosistem hutan bakau akibat kegiatan suatu proyek pembangunan dapat mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem terumbu karang di perairan pesisir dan juga pada ekosistem rawa lebak yang terletak lebih ke pedalaman. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. sementara zona pasang surut terkait dengan ekosistem pesisir/laut. dan berpendidikan rendah. sebagai landasan untuk menilai totalitas dampak proyek terhadap fungsi dari ekosistem lahan basah (untuk keperluan Bab Evaluasi Dampak). Sebagai contoh: proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan dikalangan komponen sosial sendiri. Kerusakan pada ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak di pesisir Dampak besar dan penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek.

Hasil Langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan struktur ekosistem: akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Hasil Langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. 205 .1. Catatan Langkah 1 Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. Hasil Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan fungsi ekosistem.Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti Langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu kegiatan proyek. dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Langkah 4 Dari alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. dan/atau metode bagan alir.1. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin dikalangan seluruh komponen dampak penting yang tercantum pada angka 4. (Hasil Langkah 2). sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem lahan basah dimaksud Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari kegiatan proyek. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). telaah secara komprehensif perubahan seluruh komponen yang terkena dampak penting (atau dalam hal ini perubahan struktur ekosistem lahan basah) akibat alternatif kegiatan tertentu proyek. 4. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap ekosistem lahan basah.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab evaluasi dampak penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif/holistik. dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif kegiatan proyek. Environmental Evaluation System). metode daftar uji berskala dengan pembobotan (misal. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan). Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. telaah secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem lahan basah yang dimaksud pada Langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem.5. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). matrik Leopold). b) Bila seluruh alternatif kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999.2 (yakni Rona Lingkungan Hidup) akan berubah secara mendasar. Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak.4.1 khususnya Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. dan yang tercantum pada angka 4. b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. lakukan telaahan sejauh mana dampak besar dan penting yang ditimbulkan terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana dimaksud pada Langkah 1 dan 2.

dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting.3 Struktur inti dokumen rencana pengelolaan lingkungan Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola b) Tujuan pengelolaan lingkungan c) Pengelolaan lingkungan d) Waktu pengelolaan lingkungan e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan f) Institusi pengelolaan lingkungan. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. maka pada bagian ini utarakan pula komponen lingkungan dari tipe eksositem lahan basah lainnya yang akan turut tercegah/ tertanggulangi dari kerusakan. Bila lebih dari 1 tipe ekosistem yang terkena dampak dan mengingat adanya keterkaitan antar ekosistem sebagaimana diutarakan pada angka 4.1.BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5.dan angka 4. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif disaat pra konstruksi. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. 5.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 5. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di saat pra-konstruksi. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). program atau tindakan untuk mencegah.1.1. 206 .1 Lingkup dokumen rencana pengelolaan lingkungan Dokumen RKL. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem lahan basah. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada Bab Prakiraan Dampak dan Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu dari eksosistem lahan basah. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya.2 Langkah 10. program dan/ atau tindakan-tindakan untuk mencegah. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu tipe ekosistem lahan basah komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3.6 dari Bab IV di muka. merupakan dokumen yang memuat upaya. dalam pengertian generik. a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat sifat ekosistemnya yang kompleks dan multi fungsi.1. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem lahan basah sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. tersier. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di ekosistem lahan basah tersebut mencakup empat kelompok aktifitas.5 (Prakiraan Dampak Penting). b) Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem).5.2 Kedalaman dokumen rencana pengelolaan lingkungan Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. Dalam konteks pembangunan proyek di ekosistem lahan basah. mendaur ulang (recycle). mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem lahan basah juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. yakni Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL. Lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatar belakangi kedalaman dokumen RKL. konstruksi.5. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. konstruksi dan operasi proyek. operasi maupun pasca operasi. 5.6 di muka.

Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung.2. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan keterampilan operasional Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan. atau bahkan regional. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. pada dasarnya dapat dipandang sebagai pemantauan terhadap struktur ekosistem. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana yang disebut pada halaman III-5 s/d III-6.2. sistematik. 5. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. Upaya. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data.2.c) d) e) f) Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan dapat merujuk Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).6. Pemantauan dapat dilakukan pada fungsi-fungsi ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. selain 6 (enam) faktor yang diutarakan pada Keputusan Menteri tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan seperti diutarakan pada paragrap berikut ini.5.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat.1 Lingkup dokumen rencana pemantauan lingkungan Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek sampai ke tingkatan ekosistem. ekonomi atau kelembagaan. 5. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi.3 Struktur inti dokumen rencana pemantauan lingkungan Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau b) Tolok ukur dampak c) Tujuan pemantauan lingkungan d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisis data. Upaya. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. maka sedapat mungkin dituangkan desain teknologinya. lokasi dan jangka waktu serta frekwensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan f) Institusi pemantauan lingkungan 207 . Pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. Khusus ekosistem lahan basah. Langkah 2). sifat kumulatif. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek.2 Kedalaman dokumen rencana pemantauan lingkungan Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Pada ekosistem lahan basah pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahanperubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem lahan basah yang terkena dampak. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. kawasan. 5. berulang dan terencana. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. program atau tindakan untuk mencegah. Upaya.

6 (Evaluasi Dampak Penting). Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. Menteri Negara Lingkungan Hidup.2 Langkah 10. ttd Nadjib Dahlan. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). baku mutu lingkungan keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah.Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. upaya/ program/tindakan pengelolaan lingkungan. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. suhu. Halhal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. f) Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. ttd Dr. atau ketetapan resmi suatu instansi. Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. c) Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan. sebagai misal). yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu tipe ekosistem lahan basah Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. Semisal. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. Mengingat pada ekosistem lahan basah sebagian besar tolok ukur dampak yang digunakan masih banyak yang bersifat kualitatif. d) Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.1. kandungan minyak terlarut.6. a) Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. bau. SH 208 . Tolok ukur dampak yang dimaksud disini dapat berupa baku mutu limbah cair. tersier. warna.6 yakni Bab Prakiraan Dampak Penting dan Bab Evaluasi Dampak Penting dari dokumen ANDAL. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD. e) Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek.5 dan 4. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. Langkah 2). sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. maka diperlukan kejelasan deskripsi dari tolok ukur dampak yang hendak digunakan. b) Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu: (proyek.5 (Prakiraan Dampak Penting) dan angka 4. A Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3.

Pengurangan/pembuangan lahan ii. Tinggi dan elevasi muka air ii. Air permukaan (sungai. Sifat kimia tanah iv. Debit dan pola aliran iii. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. lama.Pengalihan aliran iv. Minyak ii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Pola sedimentasi dan drainase 209 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penanaman tanaman iv.Industri vi. Sifat fisik tanah iii. Fisiografi dan litologi ii.Limbah gas i. &frekuensi genangan/banjir iv. Konstruksi dam . Kegiatan survei b. Penebangan veg. Pemungutan hasil iii. Introduksi spesies asing i. Kanalisasi sungai iii. Kimia iii.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Panas vii.Pemadatan lahan i.Lampiran3-1MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganKomponenLingkunganDaerahLahanBasah Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan I. Introduksi spesies asing i. Radioaktif iv. Limbah cair iii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim i. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Limbah padat ii. Curah hujan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Kegiatan pembebebasan lahan 2.danau) ii. Kegiatan Konstruksi 3.Aksesibibilitas wilayah .Udara c) Tanah i. Pembangunan saluran drainase ii. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Panjang penyinaran matahari iv. Kecepatan angin b) Hidrologi i. Tinggi.domestik v. ii. Limb. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Limb.

danau) ii. Jenis dan satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 210 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. nekton iii. Limb.Industri vi.Lampiran3-1. Kegiatan Konstruksi 3. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Konstruksi dam . Penebangan veg. Panas vii.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Introduksi spesies asing i. Pemungutan hasil iii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Udara I. Kegiatan pra-konstruksi a. Keanekaragaman jenis/kom. Keanekaragaman jenis/Komunitas biota air zooplankton. Kegiatan pembebebasan lahan 2.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Minyak ii. Limb. Struktur dan komposisi vegetasi iv.Pengalihan aliran iv. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Zona habitat khusus dan plasma natfah b) Komunitas Satwa Liar i. Pembangunan saluran drainase ii.Pemadatan lahan i.Limbah gas i. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Komponen Biologi a) Komunitas V egetasi i. satwa liar ii. ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilaiekologi tinggi vii. Kanalisasi sungai iii. Radioaktif iv. Penanaman tanaman iv. Limbah cair iii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Kimia iii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi.domestik v. Keanekaragaman jenis/komunitas biota/phytoplankton iii. Jenis dan populasi satwa liar yang bernilai ekologi tinggi v. Limbah padat ii. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Air permukaan (sungai.Aksesibibilitas wilayah . Kegiatan survei b. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.

Kimia iii. Kegiatan Konstruksi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Kesehatan iii.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 211 2. Konstruksi dam . Kegiatan survei b.danau) ii. Kegiatan pra-konstruksi a.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Kanalisasi sungai iii. Radioaktif iv. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Kegiatan pembebebasan lahan 3. ii.domestik v.Aksesibibilitas wilayah .Lampiran3-1. Introduksi spesies asing i.Udara I. Penambahan/ pengurukan lahan iii. Limbah cair iii.Industri vi. Pembangunan saluran drainase ii. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Kepribadian h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomian dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Keterangan: 1. Minyak ii. Limb. Air permukaan (sungai. Pendidikan ii. Penebangan veg. Panas vii. Pemungutan hasil iii. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Prasarana perhubungan air f) Permukiman penduduk g) Fasilitas umum : i.Pemadatan lahan i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Penanaman tanaman iv.Limbah gas i. Limb. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Introduksi spesies asing i.Pengalihan aliran iv. Limbah padat ii.

Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti.Industri vi. pengendalian erosi. yang berupa perlindungan garis pantai.Lampiran3-2. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. ikan dan daging satwa liar. rotan.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Pengambilan/ perburuan satwa ii. Kanalisasi sungai iii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Limb.MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemLahanBasahuntukTipeEkosistem: hutan bakau/hutan rawa payau/hutan rawa bergambut/ hutan rawa air tawar Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan 1. 8. terutama pengendalian banjir Fungsi pencegah instrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan.domestik v. Limbah padat ii.Aksesibibilitas wilayah . Penebangan veg.Pemadatan lahan i. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Panas vii.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahanbahan beracun. 3.Pengalihan aliran iv. 9. seperti kayu. Kegiatan pra-konstruksi a.Limbah gas i. 6.danau) ii. Konstruksi dam . Pemungutan hasil iii. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Radioaktif iv. ii. Pengurangan/pembuangan lahan ii. 2. 212 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penanaman tanaman iv. Fungsi pengendalian air. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran Keterangan: 1. 5. Limbah cair iii. Introduksi spesies asing i. obat. Kegiatan survei b. Pembangunan saluran drainase ii. Air permukaan (sungai. getah. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya.Udara Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Limb. dan pemecah angin (windbreak) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Kimia iii. dan gambut. 4. 7. Kegiatan Konstruksi 3.

Lampiran3-2.(lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3

Komponen Lingkungan

213
Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penebangan veg. ii. Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. Kimia iii. Radioaktif iv. Limb.domestik v. Limb.Industri vi. Panas vii.Udara

10. Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrikhidro 11. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar 13. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem, dan lansekap lahan basah. 14. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah 16. Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 17. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah asam sulfat.

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebebasan lahan

2. Kegiatan Konstruksi

3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Limbah gas i. Air permukaan (sungai,danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah

Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan

Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi

i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan

i. Pembangunan saluran drainase ii. Kanalisasi sungai iii.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam

- Aksesibibilitas wilayah - Pusat-pusat pertumbuhan baru

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : 1. Bahwa untuk melaksanakan Pasal 8 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Pasal 2 Ayat (3) angka 18 serta Pasal 3 ayat (5) angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, perlu menetapkan Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 2. Bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemeritah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. BAB I TUGAS, WEWENANG, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut komisi penilai mempunyai tugas menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi Penilai dibentuk : a. Di tingkat Pusat oleh Menteri; b. Di tingkat Propinsi oleh Gubernur; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh : a. Tim teknis komisi penilai yang selanjutnya disebut tim teknis; b. Sekretariat komisi penilai yang selanjutnya disebut sekretariat komisi penilai. (4) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. Kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan/atau menyangkut pertahanan dan keamanan seperti: pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor, submarine tailing, teknologi peluncuran satelit, teknologi rekayasa genetika, eksploitasi minyak dan gas, pembangunan kilang minyak, penambangan bahan galian radioaktif, pembangunan industri pesawat terbang, pembangunan industri senjata, pembangunan industri bahan peledak, pembangunan industri yang menggunakan bahan baku dari limbah import, pembangunan bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan samudera, pengolahan limbah terpadu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 214

(5)

(6)

(7) (8)

b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu wilayah propinsi; c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; d. Di wilayah laut diatas 12 (dua belas) mil; dan e. Di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Propinsi berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi: a. Rencana usaha dan/atau kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas seperti: pembangunan industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp, pembangunan industri semen dan quarry-nya, pembangunan industri petrokimia, pembangunan hak pengusahaan hutan beserta unit pengelolaannya, pembangunan hutan tanaman industri beserta unit pengelolaannya, budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan unit pengelolaannya, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi/diesel, pembangunan bendungan, pembangunan bandar udara diluar kategori bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan diluar kategori pelabuhan samudera; b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota; dan c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) mil. Komisi penilai Kabupaten/Kota berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi semua rencana usaha dan/atau kegiatan diluar kewenangan Pusat dan Propinsi, sebagaimana diatur melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dalam hal Kabupaten/Kota tidak atau belum mampu melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan menyerahkan kewenangan tersebut kepada Propinsi. Dalam hal Propinsi tidak mampu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan (7), maka komisi penilai propinsi dapat meminta bantuan kepada komisi penilai pusat. Pasal 2

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 1, komisi penilai mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan di tingkat Pusat; b. Gubernur di tingkat Propinsi; dan c. Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 3 (1) Keanggotaan Komisi penilai terdiri dari : ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota serta anggotaanggota lainnya. (2) Ketua Komisi penilai sebagaimana di maksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat adalah Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Di tingkat Propinsi adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah; c. Di tingkat Kabupaten/Kota adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/ Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup ditingkat Kabupaten/Kota. (3) Ketua Komisi penilai bertugas : a. Melakukan koordinasi proses penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup; b. Menyampaikan bahan pertimbangan komisi penilai sebagai dasar pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota. (4) Sekretaris komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat dijabat oleh Kepala Direktorat yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; b. Di tingkat Propinsi dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi; c. Di Tingkat Kabupaten/Kota dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. (5) Sekretaris Komisi Penilai bertugas : a. Membantu tugas ketua; b. Merumuskan hasil penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan komisi penilai. (6) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai pusat memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; 215

Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (7) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Propinsi memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; f. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (8) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Kabupaten/kota memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya yang didasari atas kaidah ilmu pengetahuan, bagi para ahli; c. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; d. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 4 (1) Tim Teknis di bentuk : a. Di tingkat pusat oleh Menteri Departemen Teknis atau Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang berkedudukan di masing-masing sektor, Tim ini merupakan bagian dari tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999; b. Di tingkat Propinsi oleh Kepala Bapedal Daerah Propinsi selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Propinsi; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Kepala Bapedal Daerah Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. (2) Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang secara ex-officio dijabat oleh sekretaris komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. (2) Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesesuaian dengan pedoman umum dan/atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan; c. Kesesuaian lokasi dengan tata ruang; d. Ketepatan penerapan metode penelitian/analisis; e. Kesahihan data yang digunakan; f. Kelayakan desain, teknologi dan proses produksi yang digunakan; g. Kelayakan ekologis. Pasal 6 Dalam menjalankan tugasnya, tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 7 (1) Sekretariat Komisi Penilai berkedudukan di : a. Tingkat Pusat di Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Badan Pegendalian Dampak Lingkungan b. Tingkat Propinsi di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi c. Tingkat Kabupaten/Kota di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Sekretariat komisi penilai dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada ketua komisi penilai. 216

f.

Pasal 8 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan, perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh komisi. Pasal 9 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. BAB II KERANGKA ACUAN Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 10 (1) Kerangka acuan yang dinilai oleh : a. Komisi penilai Pusat, diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat; b. Komisi penilai Propinsi, diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai Propinsi; c. Komisi penilai Kabupaten/Kota, diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota; (2) Dokumen kerangka acuan yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar. (3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana di maksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal penerimaan dokumen. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 11 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis menilai kerangka acuan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. (3) Penilaian oleh Tim Teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (4) Semua saran, pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai. (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 12 (1) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai kerangka acuan (2) Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal rapat. (3) Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. (4) Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh sekretaris penilai. (5) Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. (6) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. (7) Dalam rapat penilaian, semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6), (7) dan (8). (8) Komisi penilai wajib memperhatikan saran, masukan dan tanggapan dari masyarakat dalam proses penentuan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan. (9) Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. (10) Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretaris komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (11) Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan kerangka acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (12) Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (13) Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian, ketua komisi setelah mendengarkan saran-saran tim teknis 217

c. b. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar 218 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. d. Bagian Keempat Keputusan Pasal 13 (1) Keputusan kesepakatan kerangka acuan diterbitkan oleh : a. b. b. c. (7) Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kesepatan kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. c. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Bupati/Walikota yang bersangkutan. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. (6) Di tingkat Kabupaten/Kota. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Deputi Kepala Badan Pegendalian Dampak Lingkungan yang menangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup di tingkat Pusat. Komisi penilai Propinsi. (15) Apabila rencana lokasi dilaksanakan usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. d. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Gubernur kepada: a. c. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. (4) Di tingkat Pusat. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. (5) Di tingkat Propinsi. diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai propinsi. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib memuat kesepakatan tentang ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Menerbitkan Keputusan Kesepakatan Kerangka Acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh: a. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota.berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan kepada: a. maka komisi penilai wajib menolak kerangka acuan tersebut. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi di tingkat Propinsi. diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 14 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. (14) Ketua Komisi penilai selaku : a. d. Gubernur yang bersangkutan. b. (2) Dokumen analisis dampak lingkungan hidup. diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat. Komisi penilai Kabupaten/Kota. Komisi penilai Pusat. b. c. Gubernur yang bersangkutan. BAB III ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. (2) Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan hasil rapat penilaian komisi penilai. b. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. c.

maka rapat dipimpin oleh sekretaris komisi penilai. (3) Penilaian oleh tim teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (4) Semua saran. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. Dalam penilaiannya. maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. bagi analisis dampak lingkungan hidup. pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Bagian Keempat Keputusan Pasal 17 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan diterbitkan oleh: a. Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. Dalam melaksanakan tugasnya. (7) dan (8). bagi dokumen yang dinilai oleh komisi pusat. Dalam rapat penilaian. Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. rencana pengembangan wilayah. pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. Gubernur. c. masukan dan tanggapan dari masyarakat. untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Bupati/Walikota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Pusat. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. Semua saran. 219 . Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. bagi analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 15 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6). rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. komisi penilai wajib memperhatikan saran. b. Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Ketua komisi penilai menyampaikan berita acara penilaian dan dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) kepada: a. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup.(3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan mencatat hari dan tanggal penerimaan dokumen. ketua komisi berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup.

Di tingkat Propinsi pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. instansi terkait lainya. e. bagi dokumen yang dinilai oleh Komisi penilai Kabupaten/Kota. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor : Kep-13/MENLH/ 3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL dinyatakan tidak berlaku lagi. b. BAB V PENUTUP Pasal 19 (1) Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 Nopember 2000. d. c. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. e. b. Dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut. (2) Dengan berlakunya keputusan ini. dan e. Bupati/Walikota yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. b. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan : a. S. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Bupati/Walikota. ttd Dr.(2) (3) (4) (5) (6) b. b. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan di tingkat Propinsi. c. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. d. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Menteri. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Gubernur kepada : a. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. A. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 18 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup.H. d. c. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. instansi terkait lainya di tingkat Kabupaten/Kota. c. Ditetapkan : di Jakarta Tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. b. instansi terkait lainya di tingkat Propinsi. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Di tingkat Pusat pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Gubernur yang bersangkutan. c. f. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada : a. Di tingkat Pusat. g. Menteri. f. Di tingkat Propinsi. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat. Gubernur yang bersangkutan. Di tingkat Kabupaten/Kota. Di tingkat Kabupaten/Kota pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota. tim teknis. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pertimbangan terhadap saran. 220 . Gubernur.

8. Susunan Organisasi. perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. dan Tata Kerja Menteri Negara. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. b. ekonomi. Fungsi. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). BAB I PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI Pasal 1 Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota wajib memenuhi kriteria: a. Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. d. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. 3. 2. perlu menetapkan Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/ Kota. budaya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. c. Menimbang : 1. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 di atas. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 4. Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 7. dan 221 . ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA. Mengingat : 1. 3. dan lingkungan sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. sosial. kesehatan. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup belum mengatur tentang Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. 5. bahwa untuk melaksanakan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. 9. 6. Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. perencanaan pembangunan wilayah/daerah. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang biogeofisik-kimia. Tugas.

2. wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Daerah Kabupaten/Kota. Sekretaris merangkap sebagai anggota. wakil dari instansi terkait di daerah Kabupaten/Kota. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 6 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota bertugas menilai kerangka acuan. ahli di bidang lingkungan hidup. Pasal 7 Dalam melaksanakan tugasnya. j. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 5 1. wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan daerah Kabupaten/Kota. wakil dari organisasi lingkungan sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. 2. k. h. Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurangkurangnya untuk parameter air dan udara baik laboratorium yang berada di Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat. BAB II SUSUNAN KEANGGOTAAN Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 4 1. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. l. wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota. g. wakil dari masyarakat yang terkena dampak. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah Kabupaten/Kota. anggota lain yang dianggap perlu. b. Sekretariat komisi penilai. Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. f. Susunan keanggotaan terdiri dari Ketua merangkap sebagai anggota. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. Tim teknis komisi penilai. analisis dampak lingkungan hidup. d. b. 3. Pasal 3 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota berkedudukan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau di instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup baik dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau dari instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. 4. i. c. Pasal 2 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota. e.e. komisi penilai dibantu oleh: a. dan anggota-anggota lainnya. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan daerah Kabupaten/Kota. Tim teknis terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. 222 . Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang dalam hal ini dirangkap oleh sekretaris komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota.

BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 13 Biaya atas pelaksanaan kegiatan komisi penilai. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd. 2. Ketepatan penerapan metoda penelitian/analisis. perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. A. tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis dan bertanggung jawab kepada komisi penilai. komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Bupati/Walikota.H. Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan. BAB V PENUTUP Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan. tim teknis. Pasal 10 Dalam menjalankan tugasnya. sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. S. c. Ditetapkan Tanggal : di Jakarta : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd Dr. Kesahihan data yang digunakan. Kelayakan desain. teknologi. Pasal 12 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Kesesuaian dengan pedoman umum dan atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. e. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai.Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas. d. Nadjib Dahlan. 223 . b. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 9 1. analisis dampak lingkungan hidup. Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 11 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan. dan proses produksi yang digunakan.

Tugas. perlu dibentuk Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 6. 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. 4. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . 5. 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Fungsi. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 9 dan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Susunan keanggotaan komisi penilai dan tim teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran I dan II dalam Keputusan ini. Anggota komisi penilai dan tim teknis dalam melaksanakan tugasnya wajib memperhatikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Dr.H. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000. dan Tata Kerja Menteri Negara. Setiap anggota komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat mempunyai kewenangan pengambilan keputusan dari instansi/organisasi/masyarakat yang diwakilinya. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Susunan Organisasi. 224 Mengingat : Keempat: Kelima : Keenam : . Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. ME MUTU S KAN : Menetapkan : Pertama : Kedua Ketiga : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT. A. S. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 Tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. ttd. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). 8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. 2. Ketua tim teknis dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat.

Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan Wakil dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen Dalam Negeri Wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional Wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan W akil dari instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan Wakil dari departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang terkait Wakil dari Propinsi yang bersangkutan Wakil dari Kabupaten/Kota yang bersangkutan Ahli di bidang lingkungan hidup Ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan Wakil dari organisasi lingkungan hidup/ Lembaga Swadaya Masyarakat sesuai dengan bidang usaha dan/ atau kegiatan yang dikaji Wakil dari masyarakat terkena dampak Anggota lain yang dianggap perlu Kedudukan Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota 1. 19. 3. 17. 4. 20. Menteri Negara Lingkungan Hidup. 14. ttd Dr. S. 13. 2. Jabatan/Instansi Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kepala Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan .LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. A. 6. 15. 225 . 10. 8. 7. 11.H. 16. 9. 18. 12.

Jabatan/Instansi Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang paling dominan Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan lainnya Ahli dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Ahli lain di bidang ilmu yang terkait Ahli lain di bidang kegiatan yang bersangkutan Kedudukan Ketua merangkap anggota 2.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. A. Anggota 3. ttd Dr. S. 5. 1. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Anggota Anggota Anggota Menteri Negara Lingkungan Hidup. 226 . 4.H.

Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pengangkatan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup . 7. 4. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3125) . Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 3.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP . 2. 1. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01Tahun 1990 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kedua: Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 16 Juli 1992 Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. 6. Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan serta Organisasi Staf Menteri Negara. 5. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan Andal. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338). Peraturan Pemerintan Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1986. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. Tugas Pokok. Panduan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. 227 . Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. ttd Emil Salim. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL Mengingat : Pertama: Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Keputusan ini. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan. 8.30/MENKLH/7/1992 TENTANG PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP.

LAMPIRAN NOMOR TENTANG : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA : KEP . Manfaat Manfaat pelingkupan adalah sebagai berikut: a. sehingga data dan informasi yang terkumpul hanyalah yang relevan dengan dampak lingkungan yang telah ditelaah. PENGERTIAN. tujuan. tentang Pedoman Penyusunan Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Semakin baik hasil proses pelingkupan semakin baik pula dokumen ANDAL/ SEL yang dihasilkan. berkat identifikasi dampak yang semakin tajam. ditegaskan bahwa dokumen Kerangka Acuan (KA) disusun karena adanya pertimbangan: 1. Keanekaragaman KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan ANDAL/SEL. proses. serta kelompok masyarakat yang terkena dampak c. dan adanya arahan yang tegas dalam lingkup serta kedalaman studi ANDAL/SEL. Kegiatan pelingkupan (scoping) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan KA dan hasilnya dapat berpengaruh besar pada kualitas dokumen ANDAL/SEL. tenaga). Menelaah kegiatan/proyek-proyek lain yang terkait dan terletak di wilayah studi. Keterbatasan Sumberdaya KA memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL/SEL. 2. e. sehingga data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan yang akan timbul. termasuk dokumen ANDAL/ SEL dari proyek-proyek tersebut. Mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam penyusunan ANDAL/SEL. dan prosedur pelingkupan untuk penyusunan dokumen KA 2. Menetapkan tingkat kedalaman studi ANDAL/SEL sesuai dengan sumber daya yang tersedia (waktu.1.3. 3. d. Lampiran II. b. Ketiga pertimbangan tersebut pada dasarnya dapat terwujud dengan baik dalam dokumen KA bila dalam penyusunan KA ditempuh suatu proses yang dikenal sebagai pelingkupan (scoping). Lampiran II. dana. manfaat. Pengertian Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana kegiatan.2. Efisiensi KA memberikan arahan tentang data dan informasi yang perlu dikumpulkan untuk penyusunan ANDAL/SEL. dan Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. 2. instansi pemerintah yang terkait. metode. Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak. TUJUAN DAN MANFAAT PELINGKUPAN 2. Menyadari pentingnya arti kegiatan pelingkupan ini dipandang penting disusun suatu panduan pelingkupan yang komprehensif.30/MENKLH/7/1992 : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1. serta membantu menelaah dampak kumulatif dari proyek-proyek tersebut. berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Tujuan Pelingkupan bertujuan untuk: a. dan instansi pemerintah yang berwenang/terkait dapat memahami pengertian. karena dampak bersifat yang kurang penting atau tidak relevan tidak akan dikaji dalam ANDAL/ SEL. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan. sehingga dokumen ANDAL/ SEL dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan yang diusulkan. Penyusunan ANDAL/SEL dapat langsung diarahkah pada hal-hal yang menjadi pokok bahasan secara mendalam. Panduan pelingkupan ini disusun dengan maksud agar pemrakarsa kegiatan. Menetapkan lingkup studi dan rancangan studi ANDAL/SEL secara sistematis. guna menghindari pembahasan yang landung ( redundant). 228 . PENDAHULUAN Dalam Keputusan Menteri Negara LH Nomor KEP-50/MNKLH/6/1987. dengan meniadakan hal-hal yang dipandang kurang atau tidak penting untuk ditelaah. Panduan ini merupakan pendukung ( suplemen) untuk penyusunan KA sehingga dokumen KA yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan teknis seperti yang digariskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2.

Kegiatan pelingkupan sebenarnya berawal sejak penapisan proyek. dan waktu untuk penyusunan ANDAL/SEL dapat dicurahkan lebih efektif dan efisien berkat terfokusnya studi ANDAL/SEL hanya pada dampak penting. Saat Penapisan Proyek Proses pelingkupan yang dilakukan pada saat ini ditujukan untuk menetapkan: a. berkat adanya diskusi dan konsultasi antara pemrakarsa dan berbagai pihak yang berkepentingan sejak awal kegiatan proyek. 3. d. 229 . Kaitan ke tiga proses pelingkupan di atas dapat dilihat pada Gambar berikut: Identifikasi pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan menghasilkan keluaran berupa diketahuinya hal-hal penting. seperti instansi yang berwenang. b. hingga berakhirnya studi AMDAL/ SEMDAL. dalam penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL c.3. Saat Penyusunan ANDAL/SEL. Biaya. a. b. dan RPL. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang tidak memerlukan proses AMDAL/SEMDAL. Pelingkupan pada saat ini lebih merupakan proses kelembagaan. Saat Penyusunan Kerangka Acuan Pelingkupan yang berlangsung di saat penyusunan KA pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan manfaat seperti yang dimaksud pada BAB 2 panduan pelingkupan ini. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang langsung memerlukan penyusunan ANDAL/SEL karena dipandang jelas menimbulkan dampak penting. analisis data. tenaga. tokoh-tokoh masyarakat. mengingat “diikutsertakannya” berbagai pihak di luar pemrakarsa. PROSES DAN METODE PELINGKUPAN 3. RKL. Proses Pelingkupan Pelingkupan untuk penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL dilaksanakan melalui serangkaian proses berikut: a.b. masyarakat. Pemusatan (focussing) segenap dampak penting (hipotetis) dengan maksud agar terancang lingkup dan kedalaman studi ANDAL/SEL yang jelas dan sistematis dengan fokus bahasan dan dampak penting. a. c. Penyusunan ANDAL/SEL dapat berlangsung dengan lebih terarah berkat adanya kejelasan lingkup studi. Identifikasi dampak potensial yang bersumber dari pemrakarsa kegiatan. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang memerlukan penyusunan dokumen PIL terlebih dahulu karena “perilaku” dampak belum banyak diketahui atau diragukan. Dengan digunakannya pelingkupan pada saat penapisan proyek prosedur AMDAL/SEMDAL yang harus ditempuh oleh suatu rencana kegiatan dapat diputuskan dengan lebih tepat. Evaluasi segenap dampak protensial sehingga dihasilkan dampak penting hipotetis dengan meniadakan dampak potensial yang tidak atau kurang penting.1. dan strategi pelaksanaan studi. RPL Pelingkupan pada saat ini. Pelingkupan yang dilakukan pada saat ini lebih bersifat teknis.2. serta rekomendasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan.2.1. Tujuannya agar studi ANDAL/SEL dan RKL/RPL tetap berada dalam konteks menelaah dampak penting lingkungan seperti yang digariskan dalam Kerangka Acuan. penyusunan dokumen Kerangka Acuan. pakar dan instansi pemerintah tentang rencana kegiatan atau proyek yang diusulkan. dalam artian bahwa kegiatan pengumpulan data. senantiasa akan diarahkan untuk keperluan kajian dampak penting lingkungan. Kemungkinan timbulnya konflik dan tertundanya kegiatan pembangunan proyek dapat dihindari. 3. sepenuhnya dilakukan oleh penyusun ANDAL/SEL. RKL. kedalaman. Panduan yang diutarakan di sini adalah panduan pelingkupan untuk keperluan penyusunan dokumen Kerangka Acuan. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi terhadap hal-hal yang dianggap penting dimaksudkan untuk menentukan isi pokok yang tercakup dalam AMDAL (dan menghilangkan isi yang dianggap tidak penting). c. a. Waktu Pelaksanaan Pelingkupan Pelingkupan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sinambung ( continue). Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dan komunikasi (pemusatan) dari isi pokok tersebut untuk membantu menganalisis isi dan membuat keputusan akhir. dan para pakar.

(7) Aksesibilitas hutan. (3) Kualitas udara. Pemusatan (Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampakdampak penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Setelah melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dengan pakar.1. (4) Vegetasi hutan. (2) Kualitas air. Identifikasi dampak potensial ini bersumber dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar.2. Dengan demikian dampak potensial yang secara hipotetis dipandang penting untuk ditelaah adalah: (1) Kualitas air. suatu lapangan minyak yang akan dibuka di dataran seluas 50 ha secara potensial diduga akan menimbulkan dampak terhadap beberapa komponen lingkungan di sekitarnya. Identifikasi Dampak Potensi Kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer) maupun sekunder yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/ proyek. 3.2.KEGIATAN HAL-HAL PENTING ISI POKOK ANALISIS ISI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN LINGKUNGAN EVALUASI PEMUSATAN IDENTIFIKASI 3. Contoh: (Kasus Pengembangan lapangan minyak. dan masyarakat sekitar rencana kegiatan/proyek. (9) Kesempatan kerja.2. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Dari 14 komponen lingkungan yang semula dipandang merupakan dampak potensial untuk diperhatikan. (8) Vegetasi hutan. (2) Kualitas udara. (3) Perikanan (sungai). (5) Erosi. serta masyarakat yang terkena dampak. setelah ditelaah lebih lanjut (misal melalui metode matrik atau penelaahan literatur) ternyata terdapat 6 komponen lingkungan yang tidak relevan untuk diteliti. catatan: contoh ini hanyak merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat). (13) Sikap terhadap proyek. (5) Kesempatan kerja. (6) Perikanan (sungai). (10) Kepadatan penduduk. (6) Pendapatan penduduk. dengan maksud agar diperoleh gambaran 230 . Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. (4) Kesuburan tanah. Pada tahap ini yang diperlukan hanyalah menyusun daftar segenap “dampak potensial” yang mungkin akan timbul. (8) Sikap terhadap proyek. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan patut untuk ditelaah dalam penyusunan ANDAL/SEL. 3. (12) Aksesibilitas daerah. Pada tahap ini akan dihasilkan daftar dampak penting hipotetik yang belum berurutan dan terorganisir secara sistematis. instansi pemerintah. (14) Warisan peninggalan budaya. (11) Kesehatan masyarakat. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak potensial yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. Pada tahap ini belum ada upaya untuk mengevaluasi apakah segenap dampak potensial tersebut akan merupakan dampak penting. (7) Satwa liar yang dilindungi.2. instansi pemerintah.3. Komponen lingkungan tersebut adalah: (1) Sedimentasi sungai.

3. 3. lokakarya dan rapat. Kedua kelompok dampak penting hipotetis tersebut adalah: (1) Dampak terhadap kualitas air dan perikanan sungai. Metode Identifikasi Dampak Untuk mengidentifikasi dampak potensial dapat digunakan metode identifikasi dampak lingkungan yang secara konvensional telah dikenal. metode analisis data. Metode identifikasi dampak. Namun demikian metoda ini hanya memberi sedikit informasi tentang dampak yang timbul bila dibandingkan dengan metoda Daftar Uji Kuesioner (questionnaire checklist) dan matrik. pengamatan/pengukuran. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak.1. lokasi. c.1. d.1. b.2. Selanjutnya diurut berdasarkan tingkat kepentingannya baik dari segi ekonomi ataupun ekologis. dan lain sebagainya). Penelaahan pustaka Analisis isi (content analysis) Interaksi grup (group process) yang terutama meliputi brainstorming. yang terdiri atas: a. atau bila memungkinkan metode prakiraan dampak. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) Daftar uji jenis lainnya adalah daftar-uji dengan kuesioner.3. Dampak penting hipotetis yang terkelompok inilah yang merupakan fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL/SEL. evaluasi. jumlah sampel. Daftar-uji (checklist).3. hanya berupa serangkaian daftar tentang parameter-parameter lingkungan yang perlu mendapat perhatian akibat adanya suatu rencana kegiatan. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing metoda tersebut. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Delapan dampak penting yang semula belum terkelompok (menurut derajat kepentingan dampak). Dari kedua kelompok dampak penting tersebut selanjutnya dijabarkan: batas wilayah studi. dan metode evaluasi dampak yang akan digunakan untuk penyusunan ANDAL/SEL Lingkup kedalaman studi ANDAL/SEL ini ditetapkan sedemikian rupa sehingga dengan waktu. e. dan digunakan sebagai dasar untuk menjabarkan ruang lingkup. 3.2. lokasi pengamatan/pengukuran. Secara garis besar metode yang dapat digunakan adalah: a. dokumen ANDAL/SEL yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. 231 .3. Pertama. Ada tiga macam metode identifikasi dampak yang dapat dipilih untuk digunakan.3. yakni: a. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. c. Daftar Uji Sederhana ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dampak potensial yang diduga akan timbul. kedalaman dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL (batas wilayah studi. segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain.yang utuh dan lengkap. jumlah sample. b. Pengamatan lapangan. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Matrik Bagan alir (Network). Daftar-uji sederhana (simple checklist) Produk metoda ini sangat sederhana. dana dan tenaga yang tersedia.1. Metode Pelingkupan Dalam proses pelingkupan digunakan metode-metode untuk identifikasi.1. dan pemusatan dampak penting hipotetis. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) a. (2) Dampak terhadap kesempatan berusaha dan pendapatan penduduk yang tergantung pada penangkapan ikan disungai. Berikut diutarakan secara singkat metode-metode dimaksud: 3. Daftar-uji sederhana (simple checklist) a. Daftar uji kuesioner ini akan lebih memberi manfaat bila dalam mengidentifikasi dampak potensial didukung dengan pengamatan ke wilayah sekitar rencana kegiatan.3. setelah melalui serangkaian diskusi dan konsultasi yang intensif dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok dampak penting.

Metoda bagan alir ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya aktivitas proyek. 1. Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan. rencana penanganan limbah dan lain sebagainya). d. Diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana kegiatan (misal. misal kegiatan ke i (i . Pengamatan Lapangan Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan dokumen KA umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat. sedang pada bagian baris tertera berbagai komponen dan parameter lingkungan... misal komponen ke j (j : 1. Matrik Matrik yang digunakan untuk keperluan identifikasi dampak merupakan matrik sederhana ( simple matrik). Wawancara singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek. dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul.. m). c.1. 3.5. maka di samping akan diperoleh hasil yang bernilai juga dapat diperoleh gambaran umum tentang kedalaman dan lingkup studi ANDAL/SEL.3.... Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Daftar-uji deskriptif menguraikan tentang hal-hal yang patut untuk diteliti oleh penyusun ANDAL/SEL seperti data dan informasi yang diperlukan untuk analisis parameter yang diduga sebagai dampak penting.. Matrik sederhana menggambarkan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya... Umumnya daftar-uji deskriptif ini diawali dengan parameter yang relevan untuk diteliti dan selanjutnya diikuti dengan petunjuk pencarian data. Bila pengamatan lapangan ini dilakukan oleh pakar yang berpengalaman.4. Pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut rencana tata letak kegiatan. sekunder maupun tersier. Target ini dapat dicapai melalui serangkaian kegiatan berikut: a.1. secara potensial diduga menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu.. n) maka pada interaksi ke ij diberi tanda atau noktah seperti X. Pada bagian lajur tertera berbagai kegiatan pembangunan yang direncanakan.3..... Satu kelemahan lain dari daftar-uji adalah tidak diketahuinya secara jelas sumber penyebab dampak.3.. namun demikian apabila daftar-uji ini tidak diverifikasi dengan kondisi lingkungan dan proyek yang diteliti. jumlah karyawan yang diserap....2. Kekuatan metoda daftar-uji ini terletak pada kesederhanaannya..3. perairan umum.2. Apabila suatu kegiatan proyek..3. Dengan demikian isi atau materi daftar uji yang relevan dengan karakteristik proyek dan kondisi wilayah sekitar proyek harus dikembangkan sendiri oleh penyusun ANDAL/ SEL. Bagan Alir Bagan alir (network) merupakan suatu model yang dikonstruksikan melalui jalinan hubungan sebab-akibat antara sumber penyebab dampak (kegiatan/proyek) dan faktor-faktor lingkungan yang terkena dampak.. Metode ini tergolong komunikatif untuk materi diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi pemerintah atau masyarakat awam yang ingin mengetahui dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. Bila kegiatan sudah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) perlu dilakukan pula pengamatan terhadap jalannya proses produksi dan limbah yang dihasilkan. 3... sumber data dan bahkan metoda perkiraan dampak yang direkomendasikan untuk diterapkan. maka kemungkinan besar butir-butir yang dipandang relevan untuk ditelaah tidak termuat dalam daftar dan sebaliknya hal-hal yang tidak relevan tercantum dalam daftar.2.... jenis limbah yang dihasilkan. 232 . Untuk kegiatan yang telah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci.. dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan/proyek.. 3... baik dampak lingkungan yang bersifat primer.. Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam.3. Kelebihan matrik sederhana ini dibandingkan dengan daftar uji adalah diketahuinya sumber penyebab timbulnya potensi dampak lingkungan.1. b. Mengingat dampak suatu proyek bersifat unik dan khas maka relatif tidak ada daftar uji yang berlaku sama untuk semua proyek di semua lokasi/ruang.4. asal dan jumlah bahan baku yang digunakan rangkaian proses produksi... kondisi biologi..

Laporan-laporan resmi tentang masalah lingkungan di sekitar wilayah studi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. Rapat Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. tokoh masyarakat). Lokakarya akan memberikan manfaat yang tinggi bila dipersiapkan dengan baik dan draft dokumen KA telah tersusun dan siap untuk dibahas dalam forum. Analisis ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dampak potensial dari sudut masyarakat. Brainstorming Metode ini terutama digunakan untuk identifikasi dampak potensial. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial Seperti telah diutarakan pada butir 3. atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laporan-laporan penelitian tentang masalah-masalah lingkungan di sekitar wilayah studi. seperti koran. Mengingat inisiatif kegiatan identifikasi dampak ini berada pada pemrakarsa kegiatan. 3. Dalam brainstorming dampak potensial dari sudut pemrakarsa. atau pemusatan dampak penting.1. 4.1. Metode yang dapat digunakan antara lain: rapat. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL/SEL Berikut dikemukakan langkah-langkah kegiatan pelingkupan dimaksud: 4. Penelahaan Pustaka Metode ini digunakan untuk keperluan identifikasi dan evaluasi dampak potensial. kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak potensial (primer maupun sekunder) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/proyek. Metode ini efektif untuk digunakan dalam rapat-rapat untuk identifikasi dampak potensial. departemen sektoral. c. 233 . Melalui metode ini dapat dilibatkan peran serta beragam instansi yang terkait dengan proses AMDAL (pemrakarsa. penanggung jawab kegiatan ini juga berada di pundak pemrakarsa. 3. Analisis Isi Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul menurut persepsi atau pandangan masyarakat.7. evaluasi dampak potensial. instansi yang berwenang. lokakarya dan brainstorming. atau pemusatan dampak penting yang berkenaan dengan rencana kegiatan/proyek. Telaahan terutama difokuskan pada respon masyarakat terhadap kehadiran proyek-proyek pembangunan di sekitarnya. c. Metode ini mensyaratkan bahwa ketua rapat harus menguasai prosedur dan teknik penyusunan ANDAL/SEL. peserta harus mengerti benar bahwa tujuan rapat adalah untuk mengidentifikasi.5.3. Persepsi masyarakat “ditangkap” secara tidak langsung melalui metode analisis ini (content analysis). Melalui metode ini identifikasi dan evaluasi dampak potensial suatu rencana kegiatan dapat dilakukan lebih cepat berkat adanya data dan informasi dari studi-studi yang sejenis. PROSEDUR PELINGKUPAN Agar dokumen KA yang dihasilkan mampu mengarahkan penyusunan ANDAL/SEL seperti yang diharapkan. instansi pemerintah yang berwenang. b. untuk terlibat dalam proses pelingkupan. majalah dan televisi.2. Lokakarya Metode ini dapat digunakan untuk evaluasi atau pemusatan dampak penting. Buku-buku teks atau jurnal tentang dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. perlu ditempuh prosedur pelingkupan seperti berikut ini: a. calon penyusun ANDAL/SEL. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Dampak Penting c. mengevaluasi. Pustaka yang perlu ditelaah antara lain adalah: a. “Partisipasi” masyarakat dilibatkan secara tidak langsung dengan cara menelaah berita-berita yang disampaikan melalui berbagai media massa. atau pemusatan dampak penting. Dalam rapat. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial b. Interaksi Kelompok Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. didaftar untuk selanjutnya dievaluasi tingkat kepentingan dampaknya. pakar. a. b. Dokumen AMDAL/SEMDAL dari proyek-proyek sejenis atau dari proyek-proyek di sekitar wilayah studi. dan masyarakat yang terkena dampak. d.6. evaluasi.

Lampiran II. 3. Seperti telah diutarakan pada butir 3. Sedang pemusatan ( focussing) dimaksudkan untuk mengorganisir dampak penting hipotetik ke dalam beberapa kelompok (lihat butir 3. Dokumen yang telah tersusun ini selanjutnya diserahkan kepada Komisi Pusat AMDAL departemen untuk dibahas dan disepakati oleh instansi yang berwenang. 3. Jenis tenaga ahli yang diperlukan berikut dengan jangka waktu yang tersedia untuk penyusunan ANDAL/SEL. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan). Hal ini tidak lain karena kegiatan ini dapat diperoleh masukan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari sudut pandang masyarakat. 2. sehingga evaluasi dan pemusatan harus dilaksanakan secara kritis dan obyektif. Pada taraf ini sudah dapat dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. Perlu diketahui bahwa pada langkah ini proses pelingkupan semakin mengandalkan pertimbangan pakar (expert judgement).6. yang menjadi fokus bahasan. evaluasi dampak potensial bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang tidak relevan atau tidak penting.4. 2. Konsultasi dan diskusi dengan para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultasi penyusun ANDAL/SEL). Pemrakarsa perlu terlibat secara aktif dalam kegiatan ini agar dapat dihasilkan butir-butir identifikasi dampak yang lebih jelas/tajam. Jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan agar dampak penting.). Dampak potensial yang dipandang kurang penting atau tidak relevan ditiadakan dari daftar. 4. sehingga sedapat mungkin kegiatan ini dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat diwakili dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). Lampiran II. serta instansi pemerintah yang berwenang. melalui metode rapat (butir 3.2. Dari hasil kegiatan butir 1 dan 2 pemrakarsa/konsultan penyusun ANDAL/SEL selanjutnya dapat menyusun daftar dampak potensial yang bersumber dari berbagai pihak. 3. kedalaman. 4. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (atau SEL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. sebagai bahan acuan.Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Pertama ini adalah: 1.) dan telaahan pustaka (butir 3.6. Inisiatif Langkah Kedua ini juga berada pada pemrakarsa kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun ANDAL/SEL). Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Kedua ini meliputi: 1. (brainstorming) Pengamatan terhadap kondisi wilayah sekitar rencana kegiatan dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. Segenap dampak penting hipotetik selanjutnya disintesis jalinan keterkaitannya sehingga diperoleh di beberapa kelompok dampak penting yang akan menjadi fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL. dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL harus dijabarkan dari kelompok dampak penting hipotetik yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. Hal ini mengingat karena ruang lingkup. Sedapat mungkin lengkapi pula dengan jenis data dan jumlah sampel yang harus dikumpulkan..2. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik yang dipandang yang layak untuk ditelaah secara mendalam dalam ANDAL/SEL. Evaluasi derajat kepentingan dampak setiap komponen/parameter lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak lingkungan. Batas wilayah studi dan batas/horison waktu untuk memprakirakan dampak penting yang akan timbul. 2. dan lain sebagainya.4. 3. serta lokasi pengumpulan data. perihal peraturan perundangundangan yang berlaku untuk penyusunan Kerangka Acuan dan ANDAL/SEL.5 dan 3. dapat ditelaah secara mendalam.2.3. Berdasarkan hasil pemusatan ini selanjutnya dilakukan Langkah Ketiga. 234 . sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik./ SEL. 49/MNKLH/VI/1987. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman ANDAL/SEL Pelingkupan yang dilakukan pada langkah ini bersifat lebih teknis.3. Dari segenap hasil pelingkupan tersebut selanjutnya disusun dokumen KA untuk penyusunan ANDAL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-50/MNKLH/ 6/1987. Aspek-aspek yang dijabarkan lebih lanjut untuk keperluan penyusunan dokumen KA ANDAL/SEL perlu meliputi tentang: 1. dan penanggung jawab kegiatan.3). calon penyusun ANDAL/SEL. sehingga dapat dijadikan dasar untuk penjabaran lingkup dan kedalam studi ANDAL/SEL.2. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Pada Langkah Kedua ini evaluasi dampak potensial dan pemusatan dampak penting ditempuh sekaligus mengingat eratnya kaitan kedua proses pelingkupan tersebut. tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. dengan menggunakan Keputusan Menteri Negara KLH No.2. Pengamatan sebaiknya dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL).. deskripsi kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Surat Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. Rincian tata cara: a. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. 1. penyampaian saran. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 3. maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. b. Gubernur dapat mengatur lebih lanjut: 1. dan tanggapan warga masyarakat.H. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. pendapat. KEDUA : KETIGA : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Pebruari 2000 Kepala Badan Lingkungan. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Keputusan ini. 2. A. Pengendalian Dampak Sudarsono. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 2. S. 4. 235 . ttd Dr.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. pengumuman. keterlibatan masyarakat dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Penentuan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Mengingat : PERTAMA : Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan berpedoman pada Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). dan c.

dan Tanggapan Bentuk tertulis (contoh: surat. b) Spesifikasi Teknik Penyampaian Saran. Masyarakat Terkena Dampak: Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/ atau kegiatan. dan 4) Koordinasi.1 Hak-hak Warga Masyarakat Hak-hak warga masyarakat dalam proses AMDAL adalah: 1) Memperoleh informasi mengenai: a) rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL. Pendapat. Masyarakat Pemerhati: Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. pemrakarsa dan masyarakat terkena dampak terkait dengan tetap memperhatikan kemungkinan penyempurnaannya kembali pada tahap proses penilaian dokumen ANDAL. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak. faktor pengaruh sosial budaya. HAK DAN KEWAJIBAN 2. 2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. g) sikap instansi yang bertanggung jawab atas saran. dan masyarakat pemerhati. pendapat. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. komunikasi. 2) Memberikan saran.1 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilaksanakannya keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: 1) Melindungi kepentingan masyarakat. masyarakat menyampaikan aspirasi. khusus bagi warga masyarakat terkena dampak yang penetapannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan butir a) dibawah. Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL: Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang AMDAL. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut. pendapat. (2) Menuliskan dengan jelas sehingga mudah dibaca. dan kerjasama dikalangan pihak-pihak yang terkait. c) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). dan RPL di Komisi Penilai. 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan. (3) Menjelaskan dan atau melampirkan identitas pribadi.LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan.3 Pengertian Masyarakat yang Berkepentingan: Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. dan dengan menggunakan mekanisme perwakilan yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan butir b) dibawah : a) Penetapan lingkup masyarakat terkena dampak Penetapan lingkup warga masyarakat terkena dampak pada tahap penyusunan KA-ANDAL dilakukan atas kesepakatan bersama antara instansi yang bertanggungjawab. PENDAHULUAN 1. Dalam proses ini. 1. dan RPL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Penyampaian Saran. perhatian pada lingkungan hidup. dan/atau tanggapan atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL dan dokumen KA-ANDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. d) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). c) Tata Cara Tata cara penyampaian saran. pendapat. maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. ANDAL. dan Tanggapan (1) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lingkup masyarakat terkena dampak adalah: 236 . e) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). b) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL). f) proses penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL. kebutuhan. dan tanggapan masyarakat yang disampaikan. yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh. faktor pengaruh ekonomi. dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya.2 Prinsip Dasar Pelaksanaan 1) Kesetaraan posisi diantara pihak-pihak yang terlibat. dan 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan. 1. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. 3) Duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. RKL. 2. email) atau bentuk cetak (contoh: surat pembaca di media massa) sehingga mudah didokumentasikan. Wakil Masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL: Wakil masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL adalah wakil dari masyarakat terkena dampak yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. RKL. 3) Penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. dan tanggapan dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. Pendapat. dan h) keputusan hasil penilaian dokumen AMDAL.

(3) Mengacu pada batas wilayah dampak yang ditetapkan dalam studi AMDAL Warga masyarakat yang terkena dampak haruslah warga yang memang berada di dalam wilayah dampak yang batas-batasnya ditetapkan dalam studi AMDAL.2 Kewajiban Instansi yang Bertanggung Jawab Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai penyusunan AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Media cetak lokal dan nasional. dan tanggapan dari warga masyarakat yang disampaikan. lingkup warga masyarakat yang terkena dampak dapat membesar/mengecil. pendapat. • jenis usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pengaruh positif atau negatif besar pada satu kelompok masyarakat tertentu menjadikan hanya sebagian masyarakat menjadi kelompok yang terkena dampak (misalnya: proyek transmigrasi/ pemindahan pemukim perambah hutan yang akan mempengaruhi penduduk yang dipindahkan dan penduduk yang akan menerima. 2) Mendokumentasikan dan mengolah saran. dimana kemudian dapat memunculkan kelompok masyarakat terkena dampak yang tidak teridentifikasi sebelumnya. (4) Memperhatikan tahapan proses kajian AMDAL Semakin jelas permasalahan dan alternatif mitigasi dampak. Wujud dari pengakuan ini dapat berupa bukti yang sifatnya formal (misalnya: surat persetujuan bersama dari kelompok masyarakat yang diwakili). b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman (1) Semua bentuk pengumuman baik tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. 4) Menyediakan informasi tentang proses dan hasil keputusan penilaian dokumen KA-ANDAL dan ANDAL. dan lain sebagainya. (2) Menyuarakan semua bentuk aspirasi dan pendapat masyarakat yang diwakilinya secara apa adanya. 237 . (1) 2.b) Memperhatikan karakter rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diusulkan Contoh : • jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat setempat berarti menjadikan seluruh masyarakat setempat sebagai kelompok yang terkena dampak (misalnya : proyek pembukaan lahan pertanian skala besar. (2) Pengumuman tertulis di media cetak harus berukuran minimal 5x3 cm 2 dan ditulis dengan huruf standar sekurang-kurangnya berukuran 10. dan dapat ditambahkan dengan (3) Media elektronik televisi dan/atau radio. dan (4) Pusat dan/atau tempat pengumuman resmi yang ditetapkan dan diatur oleh instansi yang bertanggung jawab. • Ditulis dengan huruf cetak standar dengan ukuran minimal 12. dan 5) Memfasilitasi terlaksananya dengan baik hak warga masyarakat atas informasi dan berperanserta dalam proses AMDAL. Warga masyarakat terkena dampak memilih sendiri wakilnya yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. proyek peremajaan kota. atau proyek pertambangan terhadap masyarakat suku terasing). Demikian pula halnya pada saat ditemukannya alternatif mitigasi dampak dalam RKL dan RPL. dan RPL kepada warga masyarakat yang berkepentingan. atau bentuk-bentuk pengakuan lainnya yang ditetapkan dan disetujui oleh kelompok masyarakat terkena dampak yang diwakilinya (misalnya: menetapkan tokoh masyarakat formal seperti Kepala Desa dan LKMD. RKL. dan tanggapan warga masyarakat tersebut kepada Komisi Penilai AMDAL. Contoh : • adanya perbedaan antara kelompok warga masyarakat terkena dampak akibat isu konflik sosial budaya dengan kelompok akibat isu pencemaran lingkungan. (3) Melakukan komunikasi dan konsultasi rutin dengan masyarakat yang diwakilinya. atau informal seperti tokoh adat dan tokoh agama setempat sebagai wakil yang disepakati). (2) Papan pengumuman kantor instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat dan/atau daerah. pembuatan infrastruktur desa. dan lain-lain). 3) Menyampaikan rangkuman hasil saran. (3) Pengumuman pada papan pengumuman harus sekurang-kurangnya: • Ditulis dengan warna hitam dan dasar putih. namun pada saat evaluasi dampak akan dapat teridentifikasi kelompok masyarakat terkena dampak baru. termasuk juga pendapat-pendapat yang saling bertentangan. Penetapan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. pendapat. Kriteria dan syarat wakil masyarakat terkena dampak adalah: (1) Seseorang yang diakui sebagai juru bicara dan/atau mendapat mandat dari kelompok masyarakat terkena dampak. • Berukuran minimal 60 x 100 cm 2 (4) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita ataupun spot iklan. Contoh : • identifikasi dampak dan wilayah sebarannya pada saat KA-ANDAL mungkin hanya menghasilkan satu kelompok masyarakat terkena dampak. (2) Memperhatikan jenis isu pokok/dampak besar dan penting yang muncul Sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan bisa memiliki lingkup warga masyarakat yang terkena dampak berbeda-beda menurut jenis isu pokok/dampak besar dan penting. pendapat. dengan lama minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. dan tanggapan dari warga masyarakat serta respon dan sikap atas saran. Ukuran minimal tidak boleh dijadikan alasan tidak lengkapnya lingkup materi yang disampaikan. disampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat.

TATA CARA KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL 3. misalnya brosur.2. dan/atau media elektronik. b) Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan. 4) Menanggapi saran. b) Jenis usaha dan/atau kegiatan. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah). Unit yang membidangi AMDAL. media cetak. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman Spesifikasi tampilan pengumuman sesuai dengan ketentuan b) dalam butir 1) sub bab 2. pendapat. RKL. dan (3) Media lain yang dianggap tepat dengan situasi setempat. yang teknisnya diatur dalam butir 2) sub bab 2. pendapat. 2) Menyelenggarakan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan dalam penyusunan dokumen KA-ANDAL. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. dan 2) Mengumumkan waktu. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. 3) Mengumumkan hal-hal: a) Nama dan alamat pemrakarsa.3. dan tanggapan. 2) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan. f) Dampak lingkungan hidup yang akan timbul.p.2. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini. d) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. 238 .1. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. seminar. c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. dan h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. pendapat. 3) Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL. 3. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. ANDAL. kapasitas dan lokasi kegiatan). 2) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. lokakarya. c) Nama dan alamat pemrakarsa. Instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL dengan ketentuan: 1) Mengumumkan hal-hal: a) Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/ atau kegiatan. c) Jenis usaha dan/atau kegiatan. pendapat. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuanpertemuan publik. d) Produk yang akan dihasilkan. dan tanggapan dari warga masyarakat. dan tanggapan dari warga masyarakat. dan/atau • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Daerah : Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I u. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I.p. (2) Papan pengumuman di lokasi-lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. pendapat. dan tanggapan yang disampaikan oleh warga masyarakat yang berkepentingan 3.2 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Pada saat penyusunan KA-ANDAL. Warga masyarakat yang berkepentingan berhak menyampaikan saran.3 Kewajiban Pemrakarsa Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum memulai penyusunan dokumen AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Papan pengumuman di lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan RPL kepada warga masyarakat yang memerlukannya.2. dan e) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran. dan tanggapan dari warga masyarakat 4) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. surat.1 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL Pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL wajib: 1) Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab. serta cara penanganannya. pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : 1) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. dan disampaikan kepada: • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Pusat : Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan u. serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan.

DAN TANGGAPAN PENILAIAN ANDAL. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. DAN TANGGAPAN PENILAIAN KA-ANDAL OLEH KOMISI (maks. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. 3. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. RKL. DAN TANGGAPAN KONSULTASI PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. A. PENDAPAT.1. pendapat. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. pendapat.3 Tahap Penilaian KA-ANDAL Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan.BAGAN PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggung jawab Pemrakarsa PENGUMUMAN RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PENGUMUMAN PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL SARAN. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. PENDAPAT. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan. ttd Dr. dan/atau pemrakarsa. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. 75 hari) KEPUTUSAN KELAYAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BAPEDAL/GUBERNUR 3. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. Sonny Keraf 239 . RPL OLEH KOMISI (maks.1. 75 hari) PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. PENDAPAT.4 Tahap Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL).

4. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Yang dimaksud dengan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. ttd Dr. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. 1. Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. b.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran I Keputusan ini. Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan ini. A. 240 . Dengan ditetapkannya Keputusan ini. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran III Keputusan ini. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 5.H. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran IV Keputusan ini. Ringkasan Eksekutif dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif sebagaimana dimaksud dalam lampiran V Keputusan ini. 2. a. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). S. Mengingat : Kedua : Ketiga : Keempat : Kelima : Keenam : Ketujuh : Sudarsono. 3. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum dicabut. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Februari 2000 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun akan berbeda-beda. dana. Nomor 27 Tahun 1999. ukuran. 3.1. dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan. Dengan demikian KAANDAL diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang harus ditelaah. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL. Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL. Demikian pula rona lingkungan hidup akan berbeda menurut letak geografi. ANDAL lebih menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut terhadap lingkungan hidup. KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal. tetapi yang terpenting adalah juga bagi pengambilan keputusan. b. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL Menurut Pasal 2 PP. 6. pengaruh manusia. 2. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL 4. penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan: 241 . PENJELASAN UMUM 1. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi AMDAL. Rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam. Karena itu. 4.1. sasaran. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa. Karena itu. 4. keanekaragaman faktor lingkungan hidup.3. seperti antara lain: keterbatasan waktu. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. dan penyusun studi ANDAL. 4. dan sebagainya. Namun dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33 s/d Pasal 35 PP.LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) A. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritias manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas. KA-ANDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan.2. Tujuan dan fungsi KA-ANDAL 3. instansi yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. metode. Keanekaragaman ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman bentuk. Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. tenaga. dan sebagainya.2. berlainan dengan bagian studi kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi. instansi yang bertanggung jawab. KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa mengurangi mutu pekerjaan ANDAL. b. tata kaitan antara keduanya tentu akan sangat bervariasi pula. tenaga. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. dan waktu yang tersedia. Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah: a. Efisiensi Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah pemrakarsa. 5. Karena itu. dan sebagainya. tujuan. 3. Keterbatasan sumber daya Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. Dengan cara ini ANDAL dapat dilakukan secara efisien. Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah: a. Hasil studi kelayakan ini tidak hanya berguna untuk para perencana. Sungguhpun demikian. dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati selama menyusun ANDAL. dalam menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil keputusan dan perencanaan.

• Keanekaragaman hayati. seperti antara lain: • Pemilikan dan penguasaan lahan. Sehubungan dengan hal tersebut. c. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya. ii. satu sama lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan. d. • Kualitas udara. Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak besar dan penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya dampak negatif yang lebih besar. • Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup. b. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak yang terlibat. • Kesehatan masyarakat. Hutan Konservasi. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. Wawasan KA-ANDAL Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup yang berciri: i. • Sumber daya air. • Warisan alam dan warisan budaya. • Taraf hidup masyarakat. dan Cagar Biosfer. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri. Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-ANDAL terutama dalam proses pelingkupan. seperti antara lain: • Hutan Lindung. • Kenyamanan lingkungan hidup. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.Pengumpulan data dan informasi tentang • Rencana usaha dan/atau kegiatan • Rona lingkungan hidup awal Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup awal sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan Penentuan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan Evaluasi dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah dan sistematis. maka dalam studi ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan hidup. 242 . Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan hidup. • Kesempatan kerja dan usaha. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan: a. perencana dan pengelola lingkungan hidup berupa: • Alternatif usaha dan/atau kegiatan • Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup • Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup 7. 8.

2. c. b. Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. dan/atau b) analisis isi (content analysis). maupun ekologis. dan/atau g) bagan alir (flowchart). lokakarya. brainstorming). Pertama. Kegiatan identifikasi dampak besar dan penting ini terutama dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL). 243 . kuesioner. segenap dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. Kedua. dan/atau i) pengamatan lapangan (observasi). dan batas administratif. • Keterkaitan antar berbagai komponen dampak besar dan penting yang telah dirumuskan. baik dari ekonomi. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. instansi yang bertanggungjawab. instansi yang bertanggung jawab. dan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. sehingga diperoleh daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL.1. konstruksi dan operasi. Pelingkupan dampak besar dan penting Pelingkupan dampak besar dan penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut: 1) Identifikasi dampak potensial Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (primer. lokakarya. Pelingkupan wilayah studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak besar dan penting. 2) Evaluasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. dan lain-lain). dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang tersedia (dana dan waktu).Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena melalui proses ini dapat dihasilkan: a. 3) Pemusatan dampak besar dan penting ( Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan/mengorganisir dampak besar dan penting yang telah dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan hidup yang dapat mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal: • Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan dengan komponen lingkungan hidup yang mengalami perubahan mendasar (dampak besar dan penting). Isu-isu pokok lingkungan hidup tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan. Pada tahap ini daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis. sekunder. termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan/atau h) pelapisan (overlay). pemrakarsa. deskriptif). 8. Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang akan dilakukan. Posisi batas proyek ini agar dinyatakan juga dalam koordinat. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: 1) Batas proyek Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. Dari ruang rencana usaha dan/ atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metoda yang digunakan. Untuk jelasnya proses pelaksanaan pelingkupan dapat mempelajari Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sesuai Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-30/MENKLH/7/1992. dampak besar dan penting yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya. Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut ini: a) penelaahan pustaka. Dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting ditelaah. waktu dan tenaga. atau penting tidaknya dampak. Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak besar dan penting. dan/atau e) daftar uji (sederhana. sosial. instansi yang bertanggungjawab serta masyarakat yang berkepentingan. batas sosial. Metoda yang digunakan pada tahap ini adalah interaksi kelompok (rapat. Daftar dampak besar dan penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. batas ekologis. brainstorming. dan/atau f) matrik interaksi sederhana. dan para pakar. dan/atau d) metoda ad hoc. jumlah sampel yang diukur. dan/atau c) interaksi kelompok (rapat. Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. 8. masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan lapangan (observasi).

Dengan demikian. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup: 1. 4) Batas administratif Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di dalam ruang tersebut. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. dan metode telaahan. 3) Batas sosial Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). RUANG LINGKUP STUDI 2. mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan mendasar akibat aktifitas usaha dan/atau kegiatan. kemudian diperluas ke ruang ekosistem.Batas ekologis Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air. Mengidentifikasikan rona lingkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting. Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana. dana. dimana proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.1. seperti waktu. Komponen usaha dan/atau kegiatan yang ditelaah yang berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkannya. c. rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a. batas HPH. Mengingat dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menyebar tidak merata. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN BAB I. teknis dan ekonomis. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. namun penentuannya disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki keterbatasan sumber data. b.Tujuan dan kegunaan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah: a. maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai. 244 2) . Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi ANDAL. udara). c. 5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL Yakni ruang yang merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas. maka batas sosial ditetapkan dengan membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek. tehnik. B.2.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. Tujuan dan kegunaan proyek. b.1. waktu. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. dan tenaga). Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan (misal. tenaga. b. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan.Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah a. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampakdampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. c. Lokal dan Perusahaan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. batas kuasa pertambangan). BAB II. b. Kebijaksanaan Regional. c. 1. ekologis serta komunitas masyarakat yang berada diluar batas proyek dan ekologis namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja.

4.2. Evaluasi dampak besar dan penting secara holistik tersebut di atas harus mencakup baik dampak yang tergolong besar dan penting maupun tidak sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya. uraikan secara jelas untuk setiap komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting. 3. mengamati.Waktu studi Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab.Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. Dalam hal ini. sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala teknis yang dihadapi. Menelaah. Tata cara pelingkupan agar mengacu pada serangkaian proses pelingkupan sebagaimana dimaksud di dalam penjelasan umum.Metode prakiraan dampak besar dan penting Pada bagian ini jelaskan metode yang digunakan dalam studi ANDAL untuk memprakirakan besaran dampak dan penentuan tingkat kepentingan dampak. 4. 2. 3. Disamping itu harus dilampirkan pula biodata personil penyusun ANDAL.2. BAB VI. bagan alir. BAB IV.2. b.Lingkup wilayah studi Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek. butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat (masyarakat yang berkepentingan).4. nama dan keahlian dari masing-masing anggota penyusun AMDAL.4. ekologis. 2. PELAKSANAAN STUDI 4.Penyusun studi AMDAL Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan. LAMPIRAN Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perizinan yang berkaitan dengan proyek dimaksud. maka pengukuran terhadap besaran dampak kumulatif akibat berbagai usaha dan/ atau kegiatan tersebut mutlak diperhitungkan.3.Biaya studi Pada bagian ini diuraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan studi ANDAL. 4.3. nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/ atau kegiatan. ekologis. METODE STUDI 3. Data rona lingkungan hidup semaksimal mungkin menggunakan data aktual di lapangan. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan bersifat terpadu atau berada dalam suatu kawasan.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya. Bab ini agar dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat menggambarkan batas wilayah proyek. b. BAB III. Metoda formal dan non formal digunakan dalam memprakirakan besaran dampak. BAB V.Lingkup rona lingkungan hidup awal a.1.Isu-isu pokok Uraikan secara singkat isu-isu pokok yang dapat ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai hasil pelingkupan.3.Metode evaluasi dampak besar dan penting Pada bagian ini diuraikan metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. Perlu diketahui bahwa Ketua tim penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL B sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan. DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini uraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan penyusunan dokumen KAANDAL. overlay) untuk digunakan sebagai : a. nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL. identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. 245 . Uraikan dengan singkat mengenai rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Sementara untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar digunakan Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. mengamati dan mengukur komponen lingkungan hidup yang diperkirakan terkena dampak besar dan penting.Metoda pengumpulan dan analisis data Pada bagian ini jelaskan metode pengumpulan dan analisis data baik primer dan/atau sekunder yang sahih dan dapat dipercaya (reliabel) untuk digunakan: a. dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. sosial dan administratif. b. dan mengukur komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan mendapat dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya. 2. Menelaah.1. Komponen lingkungan hidup yang ditelaah karena terkena dampak.

Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan (PP Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 1). Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan dan lingkungan. terutama komponen lingkungan hidup yang langsung terkena dampak. Kaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan dampak besar dan penting yang ditimbulkan (isu-isu pokok hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen KA-ANDAL). c. b. Aspek-aspek yang diteliti sebagaimana dimaksud pada butir 2. 1. Mengidentifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. b.1. RUANG LINGKUP STUDI Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak besar dan penting yang ditelaah serta wilayah studi. terutama komponen usaha dan/atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. c. Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. Landasan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. d. operasi maupun pasca operasi.1. BAB I. Merumuskan RKL dan RPL. b. 246 . Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan mengacu pada hal-hal yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan. Tujuan dan kegunaan proyek. d. 2. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah. 3. b. Uraikan dengan singkat kondisi rona lingkungan hidup yang terkena dampak. c. B.2. terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. yang dihadapi selama menyusun ANDAL. e. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. d.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. Memuat uraian singkat tentang : a. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) RINGKASAN Ringkasan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa.LAMPIRAN II: KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak besar dan pentingnya.Tujuan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. bila dipandang perlu. c dimaksud mengacu pada hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan untuk ANDAL. AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL kegiatan dalam kawasan. PENJELASAN UMUM 1. c. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media massa. Uraikan secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan. b. 2. sehingga dapat : 1. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Baik pada tahap prakonstruksi.Dampak besar dan penting yang ditelaah a. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan. perencana. 2. Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL baik AMDAL kegiatan tunggal. b. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup : 1. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. d. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. c. termasuk masyarakat. a. konstruksi. dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan.1. BAB II.

a. sosial budaya.b. Hubungan ini perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai.2. dan kawasan lindung lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus diberikan tanda istimewa dalam peta. c. tata letak bangunan atau sarana pendukung.Metoda evaluasi dampak besar dan penting Uraikan singkat tentang metoda evaluasi dampak yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. d. jalan kereta api.Metoda prakiraan dampak besar dan penting Uraikan secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak usaha dan/atau kegiatan dan penentuan sifat penting dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 2. c. 247 . Penggunaan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Penyusun ANDAL : 1) Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. metoda analisis atau alat yang digunakan. Pemrakarsa : 1) Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. maka alternatif rancangan tersebut diutarakan pula dalam peta yang berskala memadai. pertahanan dan keamanan. dan kesehatan masyarakat menggunakan kombinasi dari tiga atau lebih metoda agar diperoleh data yang reliabilitasnya tinggi. 2. b.kegiatan yang berada di sekitarnya. 3.3. 4. b. maka jenis data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder harus bersifat sahih dan dapat dipercaya ( reliable) yang diperoleh melalui metoda atau alat yang bersifat sahih. baik ditinjau dari segi kepentingan pemrakarsa maupun dari segi menunjang program pembangunan. Alternatif usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil studi kelayakan (misal: alternatif lokasi. energi. sungai. Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai. cagar alam. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL. dan lingkungan hidup alami yang terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan.Metoda pengumpulan dan analisis data a. overlay). seperti pemukiman (lingkungan hidup binaan manusia umumnya). 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan.2.Wilayah Studi Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL.Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari : a. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 4.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan . Pengumpulan data dan informasi untuk demografi.1.b. Uraikan secara jelas tentang metoda pengumpulan data. BAB IV. yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. bagan alir. Mengingat studi ANDAL merupakan telaahan mendalam atas dampak besar dan penting usaha dan/ atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. suaka margasatwa. Bila berdasarkan studi kelayakan terdapat beberapa alternatif lokasi usaha dan/atau kegiatan.1. dan dapat memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan tersedianya sumber daya air.Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan Pernyataan rencana maksud dan tujuan dari rencana usaha dan/atau kegiatan perlu dikemukakan secara sistematis dan terarah. maka berikan uraian tentang masingmasing alternatif lokasi tersebut sebagaimana dimaksud pada butir a. Bila terdapat beberapa alternatif tata letak bangunan dan struktur lainnya. 3. dan hasil pengamatan di lapangan.2. 4. atau teknologi proses produksi). sumber mata air.3.1. dermaga dan sebagainya). Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. serta hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya. METODA STUDI 3. sosial ekonomi. suaka alam.. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta.1.Kegunaan dan keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan Uraian yang memuat tentang kegunaan dan keperluan mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus dilaksanakan. dan b. yang berskala memadai. b. sumber daya alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi. sumber daya alam hayati dan. BAB III. yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada Bab II butir 2. Hutan lindung. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala memadai.

bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa. (4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan. 4. BAB V. dan kualifikasi pendidikan. konstruksi. sehingga dapat diketahui input-output dan jumlah serta kualitas limbah. RONA LINGKUNGAN HIDUP Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin mengenai: 1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan selama masa operasi. yang mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. jangka waktu masa operasi. 3) Tahap Operasi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. jalanjalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir. 1) Tahap pra-konstruksi/persiapan Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pra konstruksi. (3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup. (2) Jumlah dan jenis bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak besar dan penting lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya (misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya). Misalnya: (1) Desain dan spesifikasi teknologi yang digunakan. 4) Tahap Pasca Operasi Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pasca operasi. air) dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis perlu mendapat perhatian. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup. demikian pula neraca bahan (material balance). Perlu juga diuraikan neraca air (waterbalance) bila usaha dan/ atau kegiatan yang akan dibangun menggunakan air yang banyak. 248 . baik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan yang sudah ada terhadap lingkungan hidup. gudang. 2) Tahap konstruksi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Uraikan secara mendalam difokuskan pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain disekitarnya Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi. cair maupun gas dan rencanarencana pengelolaannya. hingga rencana waktu pasca operasi. (d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan berakhir. (5) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat. listrik. Misalnya: (1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah. Disamping itu. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa konstruksi. (2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan. jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi. Dalam kaitan ini perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3. (b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah).e.4. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan setelah masa operasi berakhir. (4) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial. (c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan. bedeng kerja. tempat asal tenaga kerja yang akan diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. Misalnya: (a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan bahan/material. (3) Rencana jumlah tenaga kerja. jalan darurat dan sebagainya. (c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir. bila ada. gudang. tempat asal tenaga kerja.

Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan. banjir bandang di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. intensitas radiasi matahari. tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. sesar. (e) Fluktuasi . rata-rata). tahunan. (b) Rata-rata debit dekade. baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. lahan. sifat-sifat dan kerawanannya yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. Biologi 1) Flora (a) Peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami yang meliputi tipe vegetasi.2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/ atau kegiatan. gambar. cuci. Fisik Kimia 1) Iklim. rawa (rawa pasang surut. populasi hewan budidaya (ternak) serta satwa dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. mandi. Penyajian kondisi sumber daya alam ini perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram. keistimewaan. grafik atau foto. dan sumber daya alam lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh Pemerintah setempat baik di tingkat kabupaten. a. 3) Hidrologi (a) Karakteristik fisik sungai. keadaan angin (arah dan kecepatan). dan lain-lain. (f) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk air minum. dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (misal: longsor tanah. suhu (maksimum. dan kerawanan bentuk lahan dan batuan secara geologis. propinsi atau nasional di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. suaka margasatwa. pola migrasi. (c) Kadar sedimentasi (lumpur). penyebaran. 2) Fauna (a) Taksiran kelimpahan dan keragaman fauna. (b) Data periodik bencana (siklus tahunan. 5) Ruang. sesar. dan tanah (a) Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha dan/atau kegiatan yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangannya di masa datang. arus dan gelombang/ombak. (c) Keunikan. (d) Kondisi fisik daerah resapan air permukaan dan air tanah. potensi dan kualitas air tanah (dangkal dan dalam). kegiatan-kegiatan longsor tanah. bulanan. hutan. Berikut ini adalah beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL. habitat. gempa. taman nasional dan lain-lain). morfologi pantai. abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. gempa. minimum. 249 . struktur geologi dan jenis tanah. kualitas udara dan kebisingan (a) Komponen iklim yang perlu diketahui antara lain seperti tipe iklim. atau berpotensi terkena dampak besar dan penting. rencana tata ruang (kawasan budidaya seperti pertanian. terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidak stabilan. (h) Kualitas fisik. (d) Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan sebagainya) seperti sering terjadi angin ribut. Penyusun dapat menelaah komponen lingkungan hidup yang lain diluar dari daftar contoh komponen ini bila dianggap penting berdasarkan hasil penilaian lapangan dalam studi ANDAL ini. perikanan dan lain-lain serta kawasan non budidaya seperti hutan lindung . (b) Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan stabilitas tanah. dan sebagainya). danau. banjir tahunan. lima tahunan. (d) Pola iklim mikro. pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca terburuk. 3) Data dan informasi rona lingkungan hidup Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (e) Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut. kegiatan-kegiatan vulkanis. tingkat erosi. perkebunan. industri. rencana tata guna tanah. b. (b) Uraikan tentang jenis-jenis vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (b) Rencana pengembangan wilayah. 2) Fisiografi (a) Topografi bentuk lahan (morphologi). rawa air tawar). (g) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk keperluan lainnya seperti pertanian. (c) Uraikan tentang keunikan dari vegetasi dan ekosistemnya yang berada pada wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. kimia dan mikrobiologi air mengacu pada baku mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. (c) Kemungkinan adanya konflik atau pembatasan yang timbul antara rencana tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan/penentuan lokasi bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. kelembaban curah hujan dan jumlah hari hujan. (f) Sumber kebisingan dan getaran. 4) Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut.

konstruksi. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat.(b) Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan. 2) Ekonomi (a) Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut: (a) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. 5) Sumber daya kesehatan. cara memelihara anaknya. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra konstruksi. pekerjaan dan kekuasaan. keluarga. pendapatan asli daerah. cara bertelur dan beranak. cara pemijahan. pendidikan. 7) Status gizi masyarakat. (c) Pertumbuhan penduduk (tingkat kelahiran. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1) Demografi (a) Struktur penduduk menurut kelompok umur. 3) Dalam melakukan telaahan butir 1) dan 2) tersebut perlu diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. cagar budaya). nilai dan norma budaya). akulturasi. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. atau sumber hama dan penyakit. (g) Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan. kelompok individu yang dominan. sumber daya alam milik umum). d. produk domestik regional bruto. c. 8) Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. 3) Budaya (a) Kebudayaan (adat-istiadat. dengan mengacu pada Pedoman penentuan dampak besar dan penting. termasuk cara perkembangbiakan. tingkat pengangguran). distribusi pendapatan. efek ganda ekonomi. perilaku dalam daerah teritorinya. komuter. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. pola penggunaan lahan. (e) Pelapisan sosial berdasarkan pendidikan. Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan. BAB VI. kewenangan formal dan informal. (b) Proses sosial (proses asosiatif/kerjasama. tingkat kematian bayi dan pola migrasi sirkuler. proses disosiatif/konflik sosial. sosial. kohesi sosial). pendidikan. (d) Warisan budaya (situs purbakala. fasilitas umum dan fasilitas sosial. pergeseran nilai kepemimpinan). Kesehatan Masyarakat 1) Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan. (h) Adaptasi ekologis. operasi. siklus dan daur hidupnya. (d) Tenaga kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja. ekonomi. (c) Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi (misal hak ulayat). (b) Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. dan pemerintah. Sedang dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. aksesibilitas wilayah). 2) Proses dan potensi terjadinya pemajanan. jenis kelamin. asimilasi dan integrasi. dan agama. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi non-formal. 2) Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan bagi masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup. (c) Perikehidupan hewan penting di atas. 6) Kondisi sanitasi lingkungan. 250 . pola nafkah ganda). nilai tambah karena proses manufaktur. (c) Perekonomian lokal dan regional (kesempatan kerja dan berusaha. (b) Tingkat kepadatan penduduk. (f) Kekuasaan dan kewenangan (kepemimpinan formal dan informal. 4) Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. 4) Pertahanan/Keamanan Konflik kepentingan pertahanan dan keamanan dengan rencana pembangunan usaha dan/atau kegiatan. (c) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/ atau kegiatan. (b) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik-kimia. mata pencaharian. agama. pola pemanfaatan sumber daya alam. 3) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian). permanen).

grafik. (c) Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang akan terkena dampak positif. Nomor 27 Tahun 1999. DAFTAR PUSTAKA Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. (c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-dampak besar dan penting yang harus dikelola. (d) Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. sebagaimana dimaksud dalam PP. 3) Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup awal. 2) Telaahan sebagai dasar pengelolaan (a) Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha atau kegiatan dan rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul. atau bahkan internasional. 4) Diagram. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan pembangunan. umpamanya lebih dari satu generasi. 5) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metoda-metoda formal secara matematis. melewati batas negara Republik Indonesia. 4) Mengingat usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi. regional.(d) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. usulan rencana usaha dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang akan ditimbulkannya. maka telaahan sebagaimana dimaksud pada butir VI. mungkin saja dampak besar dan penting timbul dari rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap rona lingkungan hidup. kualifikasi. keputusan. 1) Telaahan terhadap dampak besar dan penting (a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI. sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan. 2) Surat-surat tanda pengenal.c dan d yang telah diutarakan selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan. 251 . apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal. atau pada tingkat pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah. (b) Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas. Atau mungkin akan terus berlangsung. Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. Atau antara dampak-dampak satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis dan sinergistis. dalam arti apakah dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti. 5) Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini. Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. nasional. dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. peta. (e) Dampak penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. (f) Dampak penting pada butir a.b. atau teknologi yang digunakan). sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak besar dan penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif. Apabila dimungkinkan. Bahan-bahan tersebut diatas tidak perlu lagi dilampirkan dalam dokumen ANDAL bilamana telah dicantumkan dalam dokumen KA. LAMPIRAN Dalam bab ini hendaknya disebut bahan-bahan yang dilampirkan : 1) Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun.2 dilakukan untuk masing-masing alternatif.1 dan VI. BAB VII. EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam Bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan. karena rencana usaha atau kegiatan itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia. gambar. dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. BAB IX. rujukan bagi para pelaksana dan peneliti serta penyusun analisis dampak lingkungan hidup. (e) Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam. uraikan kejelasan tentang waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak besar dan penting mulai timbul. bentuk teknologi yang tak sesuai dan sebagainya. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruhmempengaruhi. BAB VIII. Misalnya. (b) Yang dimaksud dengan evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak besar dan penting lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab VI.

serta jumlah dan kualifikasi personalnya. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti : teknologi. kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/pengendalian dampak. dalam arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL. Hal ini tidak lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi. kriteria pedoman. mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang “basic design” untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. (d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih. (c) Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih. Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain adalah struktur organisasi. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi. meminimisasi. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. dan masih memiliki beberapa alternatif. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. sistimatis. prinsip-prinsip. mengendalikan atau meningkatkan dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat strategis.LAMPIRAN III : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) A. Hal ini tidak lain disebabkan karena : (a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) relatif masih umum. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas: (a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. lingkup tugas dan wewenang unit. prinsip-prinsip. maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek). maupun institusi. 4) Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. dan rancang bangun proyek. prinsip-prinsip. 252 . tata letak (tata ruang mikro) lokasi. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah. sosial ekonomi. sebelum investasi. dan bila dipandang perlu. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. (b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut : (a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan. (d) Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. 2. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas. Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. atau persyaratan untuk mencegah. dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (b) Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan rinci rekayasa. menanggulangi. (c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. lengkapi pula dengan acuan literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud. belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci. serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis. kriteria atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa. Rencana pengelolaan lingkungan hidup Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan penanggulangan dampak negatif. (b) Pokok-pokok arahan. Keterbatasan data dan informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL. 3. tenaga. PENJELASAN UMUM 1.

(4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. (3) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. (b) Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya dibidang pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara : (1. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. Sebagai misal: (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. B. 253 . (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada.Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. singkat dan jelas. Pernyataan kebijakan lingkungan. mengurangi. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara. (1.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERNYATAAN PELAKSANAAN Pernyataan Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani diatas kertas bermaterai. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan yang relevan. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle).2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. 5) Format dokumen RKL Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL. c) Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. dan ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di atas. BAB I. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti: teknologi. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. misalnya : (2. 3) BAB II.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. (1. Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). dan bantuan peran pemerintah. (1.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. (2. akan ditempuh cara : (1. maupun institusi. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. (2) Dalam rangka mencegah. 1) 2) PENDAHULUAN Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas. Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya Rencana Pengelolaan Lingkungan.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). serta komitmen untuk melakukan penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam bentuk mencegah. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. sosial ekonomi.

Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. akan ditempuh cara. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. Selain itu utarakan pula dampak besar dan penting turunannya yang akan turut terpengaruh akibat dikelolanya dampak besar dan penting strategis tersebut. tersier. Perlu ditegaskan bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting saja. Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan BAB III. misalnya : (2. mengurangi. atau memperbaiki kerusakan sumber daya alam.(b) (c) (1. Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. maka jelaskan secara singkat komponen dampak besar dan penting tersebut. rancangan rinci rekayasa.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. Komponen atau parameter lingkungan hidup yang berubah mendasar menurut ANDAL perlu ditetapkan beberapa hal yang dipandang strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan : (1) Dampak besar dan penting yang dikelola terutama ditujukan pada komponen lingkungan hidup yang menurut hasil evaluasi dampak besar dan penting merupakan dampak besar dan penting akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. 254 . (2) Dalam rangka mencegah. Tolok ukur yang diutarakan adalah yang digunakan dalam ANDAL. (2.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. (2) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. dan selanjutnya). Sebagai misal. (3) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak besar dan penting turunannya. 2) Tolok ukur dampak Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan). (b) Sumber Dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting : (1) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha dan/ atau kegiatan. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut: 1) Dampak penting dan sumber dampak besar dan penting (a) Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL. keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah. (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. 3) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting yang bersifat strategis berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut tercegah/tertanggulangi/terkendali. lazim digunakan. (2) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang tergolong banyak menimbulkan dampak besar dan penting turunan (dampak sekunder. Uraikan pula sejauh mana taraf perkembangan rencana usaha dan/atau kegiatan di saat RKL sedang disusun (studi kelayakan. dan bantuan peran pemerintah. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. dan/atau telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. atau taraf konstruksi). Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup.

Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggungjawab. dan atau sosial ekonomi. Periode pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan : sifat dampak besar dan penting yang dikelola (lama berlangsung. Tolok Ukur Dampak. dan pH. Bupati/Walikotamadya. dll. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah. lokasi pengelolaan lingkungan hidup. tulisan. PUSTAKA Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL. Sumber Dampak. rancangan teknik (engineering design). sifat kumulatif. maka cantumkan pula institusi dimaksud. Padatan Tersuspensi Total. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. BAB V. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. maupun laporan hasil-hasil penelitian. berkepentingan. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB IV. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 1997 yang meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan hidup. Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. COD. dan atau institusi sebagaimana dijelaskan pada bagian penjelasan umum butir 4. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : Jenis Dampak . 2) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta (lokasi kegiatan.). Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan sifat persebaran dampak besar dan penting yang dikelola. dan Institusi Pengelolaan Lingkungan Hidup. matrik serta data utama yang terkait dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL. (c) Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional. (b) Pengawas pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (e) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pengelolaan lingkungan hidup.4) 5) 6) 7) 8) Sebagai misal. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. Institusi pengelolaan lingkungan hidup Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. 255 . Pembiayaan tersebut antara lain mencakup : (a) Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkungan hidup serta biaya untuk kegiatan teknis lainnya. (c) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dana). (b) Biaya personil dan biaya operasioanal. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. makalah. Upaya pengelolaan lingkungan hidup yang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengolahan limbah). serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka tujuan upaya pengelolaan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah pencemaran air. Lengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai. Pengelolaan Lingkungan hidup Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi. bila unit atau sarana dimaksud di dalam dokumen ANDAL dinyatakan sebagai aktifitas dari rencana usaha dan/atau kegiatan. khususnya parameter BOD5. serta kemampuan pemrakarsa (tenaga. majalah. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Apabila dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan atau bekerjasama dengan pihak lain. (d) Keputusan Gubernur. dan berbalik tidaknya dampak). agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP 51/MENLH/10/1995. baik yang berupa buku.

dapat bersifat tepat guna. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup yang harus dipantau. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting tersebut. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut : 1. ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan secara acak atau sesaat. (f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan hidup. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu di pantau. (b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. b. warna. tergantung pada skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan. berulang dan terencana. yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi pada data sistematik. sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau kegiatan. suhu. atau terkena dampak besar dan penting. Dampak besar dan penting yang dipantau Cantumkan secara singkat : (a) Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan. pelaksana pemantauan. Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan. Sebagai misal. Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. dan jelas tentang tujuan pemantauan lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan. Latar belakang pemantauan lingkungan hidup a. singkat. Sumber dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting: (a) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha atau kegiatan. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. PENDAHULUAN Pendahuluan mencakup : 1. yakni : (a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. 5) Metode analisis data. B. c. 2. (d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. mulai dari tingkat proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan). (c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. maupun bagi masyarakat. BOD5.LAMPIRAN IV : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) A. PENJELASAN UMUM 1. (b) Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. dan pengawas kegiatan pemantauan. dan logam berat. pihak-pihak yang berkepentingan. pengguna hasil pemantauan. Disamping skala keacuhan. dan selanjutnya disebarkan kepada berbagai penggunanya. BAB II. (b) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. 2. Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan. 2) Lokasi pemantauan.1. indikator yang relevan untuk kualitas air limbah dan air sungai sehubungan dengan karakteristik rencana usaha dan/atau kegiatan. Uraikan secara sistematis. RKL dan RPL. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) BAB I. (e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL. Koordinasi dan kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar data dan informasi yang diperoleh. 256 . 3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan. bau. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. Walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ). mencakup : 1) Jenis data yang dikumpulkan. dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam dokumen RKL. 4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data). adalah pH. kandungan minyak. tepat waktu dan dapat dipercaya.

khususnya parameter BOD 5. (b) Lokasi pemantauan lingkungan hidup Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan hidup. rencana pemantauan lingkungan hidup (yang meliputi metode pengumpulan data. dan sebagai umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. tulisan. (c) Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup. makalah. Parameter lingkungan hidup yang dipantau Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. 5. maka tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Memantau mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah kualitas air limbah. serta metode analisis). BAB IV. 6. Cantumkan jenis peralatan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dengan memperhatikan dampak besar dan penting yang dikelola. lokasi pemantauan lingkungan hidup. dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. Perlu diperhatikan bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL. majalah. ttd Sudarsono. instrumen.H. Metode pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator dampak besar dan penting. dan institusi pemantau lingkungan hidup. bentuk rencana pengelolaan lingkungan hidup. instrumen. Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksana pemantauan lingkungan hidup Cantumkan institusi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup. 2. Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam Baku Mutu Lingkungan hidup. (b) Pengawas pemantauan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RPL. dan dampak besar dan penting turunan yang ditimbulkannya. Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1. atau formulir isian yang digunakan. sumber dampak. PUSTAKA Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL baik yang berupa buku. S. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri . Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan data disaat penyusunan ANDAL. berkepentingan. jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan hidup. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak besar dan penting lingkungan hidup. Bupati/Walikotamadya. dan pH. Lampiran ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut: dampak besar dan penting yang dipantau. Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP: 51/MENLH/10/1995. Institusi pemantauan lingkungan hidup Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. lama dampak berlangsung. BAB III. tujuan pemantauan lingkungan hidup. yang mencakup : (a) Metode pengumpulan dan analisis data Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi. maupun laporan hasil-hasil penelitian. A. (c) Jangka waktu dan frekwensi pemantauan Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. Sebagai misal. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab.3. Padatan Tersuspensi Total. 4. dan sifat kumulatif dampak). (d) Keputusan Gubernur. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. (e) Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pemantauan lingkungan hidup. Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. COD. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak besar dan penting yang dipantau (instensitas. ttd Dr. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. 257 . kimia. bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka.

kreatif dan bertanggung jawab. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 3. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. 4. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Pasal 1 Untuk menjamin Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dilaksanakan dengan baik. Pasal 2 Panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Bahwa mengingat hal tersebut di atas. sistematis dan berkesinambungan serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Bahwa panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). terkoordinasi. bersungguh-sungguh. perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan serta pelaporan secara terencana. Menimbang : a. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 Nopember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 2. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-105/11/1997 TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. b. ttd Sarwono Kusumaatmadja 258 . Mengingat : 1.

Lampiran : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 105 Tahun 1997 Tanggal : 14 Nopember 1997 PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) A. bersungguh-sungguh. laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. maka perlu disusun Pedoman Umum Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). C. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 11 ayat (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Dalam kaitan ini. c). II yang bersangkutan. Fungsi manajemen lingkungan ini berupa pelaksanaan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 2. Untuk mewujudkan maksud tersebut. 3. pemantauan pasif dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa. DASAR HUKUM 1. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. 4. Pasal 25. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. MAKSUD DAN TUJUAN Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL bagi kegiatan wajib AMDAL ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam melaksanakan pemantauan dan pelaporan pelaksanaan RKL dan RPL. PELAKSANAAN PEMANTAUAN 1. BAPEDAL Wilayah. F. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyebutkan: (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan penguji terhadap: a). Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan pelaporan secara terencana. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. Instansi Teknis/Sektor yang bertanggung jawab. Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. B. SASARAN Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. II yang bersangkutan. I dan Tk. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). E. Pemantauan tidak langsung (pasif) 1) Pemantauan tidak langsung (pasif) adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan tertulis oleh pihak lain. Tujuan: 1. 3. (2) Hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada Menteri atau Pemimpin lembaga pemerintah non departemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. (2) Ketentuan tentang rencana dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pemrakarsa usaha atau kegiatan. Pemda Tk. dan untuk memberikan acuan bagi para pelaku pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. LATAR BELAKANG Salah satu fungsi penting didalam AMDAL (PP 51 Tahun 1993) adalah fungsi manajemen lingkungan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dapat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL. Bentuk pemantauan a. terkoordinasi. I dan Bupati/Walikotamadya KDH Tk. PELAKSANA PEMANTAUAN Pemantauan dilaksanakan oleh: 1. 2. D. 2. 2) Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemrakarsa dilaporkan kepada: a) Gubernur KDH Tk. 259 . Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. kreatif dan bertanggung jawab sehingga kualitas lingkungan dapat dipertahankan sesuai dengan fungsinya. BAPEDALDA TK I dan BAPEDALDA TK II. sistematis dan berkesinambungan. b. Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. b).

Hasil pemantauan (pasif dan atau aktif) yang telah dilakukan. b) Dasar pertimbangan untuk menentukan sasaran pemantauan (uji petik) aktif pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan. Bila diperlukan. laporan pemrakarsa mengacu pada Formulir-3. pengelolaan limbah. b) Instansi Teknis/Sektor yang memberi ijin.b. dengan memperhatikan/ mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Usaha atau kegiatan yang besar dan komplek permasalahan lingkungannya. Melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan atau masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan yang dipantau. dan BAPEDAL Daerah. BAPEDAL Wilayah. Untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pemantauan di lapangan. Melakukan diskusi dengan pihak Pemrakarsa tentang manfaat. Sarwono Kusumaatmadja 260 . sumber pembiayaan dan pemenuhan fasilitas pemantauan RKL dan RPL disediakan dari masing-masing Instansi. Laporan disusun dengan sistematika sebagaimana pada Formulir-4. digunakan sebagai: a) Masukan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pengelolaan lingkungan. BAPEDAL. Bagi Instansi\Pemerintah. 3) Instansi lain yang terkait. Format laporan hasil pemantauan Pemrakarsa atas pelaksanaan RKL mengacu pada Formulir-1 dan untuk pelaksanaan RPL mengacu pada Formulir-2. Koordinasi ini meliputi : Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi usaha atau kegiatan yang akan dipantau. serta memeriksa kebenaran laporan pemantauan yang dilaksanakan oleh Pemrakarsa. Melakukan pemantauan bersama. d. Usaha atau kegiatan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap lingkungan. 4) Metode pemantauan di lapangan. Mengetahui apakah pihak-pihak tersebut telah melaksanakan pemantauan terhadap usaha-usaha atau kegiatan yang akan dipantau termasuk hasil-hasilnya. atau Lembaga Swadaya Masyarakat. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 November 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan ttd. Instansi terkait (termasuk. c. Metode pelaksanaan RKL dan RPL dilakukan dengan cara: a. PEMBIAYAAN Untuk memperlancar pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan diperlukan dukungan dana dan fasilitas. Memeriksa dan mencocokkan seluruh pelaksanaan RKL dan RPL sesuai dengan dokumen. Melakukan koordinasi dengan Instansi yang bertanggung jawab. BAPEDAL. Melakukan pemantauan di lapangan. Pemantauan langsung (aktif) 1) Pemantauan secara aktif adalah pemantauan yang langsung dilakukan di lapangan atas pelaksanaan RKL dan RPL. maka pembiayaan dan penyediaan fasilitas pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL terintegrasi dalam manajemen usaha atau kegiatan yang direncanakan sejak dokumen AMDALnya disusun. Instansi teknis/sektor 2) Langkah-langkah pemantauan: a. Permintaan Instansi tertentu. b. melakukan pengambilan contoh limbah untuk diuji di laboratorium atau keluaran pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. Secara keseluruhan.Biaya transportasi . c) BAPEDAL Pusat. PENUTUP Hasil pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL yang sudah dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak lain tersebut perlu terus dipantau secara periodik untuk mengetahui apakah rekomendasi hasil pemantauan itu benar-benar dilaksanakan oleh pemrakarsa atau tidak. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan. Oleh Instansi yang menerima laporan hasil pemantauan tersebut. khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan yang akan dipantau. masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan. Menentukan sasaran usaha atau kegiatan yang akan dipantau. unit intern organisasi pengelolaan lingkungan.Biaya Analisis Laboratorium H. 3) Frekuensi pemantauan lapangan dilaksanakan menurut kebutuhan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana disebutkan pada butir 2) huruf a di atas. d. c. kendala dan hambatan dalam pelaksanaan RKL dan RPL. meliputi : manajemen. Mempelajari dokumen AMDAL. dll. Wilayah dan Daerah. Pemantauan ini dilakukan oleh : a.Biaya Penyusunan Laporan. . Bagi pemrakarsa. e. Biaya pemantauan antara lain meliputi: . pelaksanaan pemantauan dapat menggunakan Formulir-1 dan Formulir-2. Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan. bila perlu pihak Laboratorium Lingkungan) dan Pemerintah Daerah (Tingkat I dan II) dimana usaha atau kegiatan itu berada. b. G. . b. 5) Pelaporan hasil pemantauan lapangan Hasil pelaksanaan pemantauan disusun dalam bentuk pelaporan yang kemudian dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak Instansi Pemerintah sebagaimana telah disebutkan pada butir 2) huruf c.Lumpsum.

Formulir-1 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RKL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN RKL NO PENGELOLAAN 4 5 6 7 8 TEKNIS PELAKSANAAN HASIL PELAKSANAAN/TEMUAN LAP ANGAN KENDALA/MASALAH 3 DA P PE G M AK NTIN SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R TINDAK LANJUT/ REKOMENDASI 1 2 261 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Formulir-2 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RPL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN METODA LOKASI W AKTU TEKNIS PELAKSANAAN HASILPEMANTAUAN TINDAKLANJUT RKL N O D M A P NTIN A PK E G SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R KENDALA/MASALAH REKOMENDASI P ARAMETER Y ANGDIP ANTAU METODA LOKASI W AKTU 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 12 1 2 262 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis laboratorium). antara lain meliputi: . Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL.Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. 263 .Waktu Pemantauan BAB III HASIL PELAKSANAAN A.Lokasi .Kapan mulai beroperasi . . BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan tolok ukur. B. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) . Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi.Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai.FORMULIR 3 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHA ATAU KEGIATAN : LOKASI : PEMRAKARSA : TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN A. antara lain meliputi: . . TUJUAN .Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL.Jenis dampak penting . C.Jenis dan atau tahapan kegiatan . B. RINGKASAN R K L Tuliskan ringkasan RKL.Sumber dampak penting .Lokasi Pemantauan . .Tolok ukur dampak penting .Pengelolaan dampak penting B. RKL .Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. LATAR BELAKANG .Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai.Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada). antara lain meliputi: .Metode Pemantauan . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Jenis dampak penting . RPL . D.Sumber dampak penting .Proses kegiatan/produksi BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.

Uraikan kenapa pemantauan RKL dan RPL ini penting. BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Kapan mulai beroperasi . . . 264 .Tuliskan tujuan pemantauan ini sesuai dengan butir C dalam Panduan Umum Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Jenis dan spesifikasi alat pengelolaan lingkungan.Metode Pemantauan .Waktu Pemantauan BAB III TEMUAN LAPANGAN/HASIL PENGECEKAN/HASIL PENGUKURAN Temuan lapangan dibagi menjadi empat hal: a.Tuliskan kapan waktu pemantauan berlangsung. .Pengelolaan dampak penting B.Proses kegiatan/produksi E.Dapat ditambahkan tujuan lain bila memang diperlukan. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL. .Sebutkan nama-nama petugas dan dari lnstansi/Unit mana. WAKTU . antara lain meliputi . C.Jelaskan kenapa pemantauan ke usaha atau kegiatan yang dipilih ini dilakukan (alasan dan hasil yang diinginkan).Sumber dampak penting .Lokasi . PELAKSANAAN .Unit organisasi yang melakukan pengelolaan lingkungan.Sumber dampak penting . RINGKASAN RKL Tuliskan ringkasan RKL.Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan jika ada. . B. LATAR BELAKANG .Tolok ukur dampak penting . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan. antara lain meliputi: .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pengelolaan lingkungan. meliputi: . D. TUJUAN .Jenis dampak penting .Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. F.Formulir – 4 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHAATAU KEGIATAN : LOKASI PEMRAKARSA PETUGAS PELAKSANA / INSTANSI : TANGGAL : : : BAB I PENDAHULUAN A. Temuan Lapangan RKL.Jenis dampak penting . .Lokasi Pemantauan . . meliputi : hasil pemeriksaan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Pemrakarsa.Jenis dan atau tahapan kegiatan . . antara lain meliputi: .Proses beroperasinya alat pengelolaan lingkungan.Bentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemrakarsa. HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) .

Kesimpulan berisi hal-hal yang berkaitan dengan tingkat ketaatan Pemrakarsa dan situasi-kondisi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. . Rekomendasi berisi saran tindak secara teknis. meliputi hasil pemeriksaan pelaksanaan pemantauan. d. Uraikan kendala dan hambatan Pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. . Peta. konkret dan yang dapat diterapkan (applicable) oleh Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.Unit organisasi yang melaksanakan pemantauan lingkungan. . 265 .Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pemantauan lingkungan jika ada. c.Proses beroperasinya alat pemantauan lingkungan. Temuan Lapangan RPL.Frekuensi dan kontinuitas pengoperasian pelaksanaan pemantauan lingkungan.LAMPIRAN Lampirkan dokumen dan atau informasi yang dirasa perlu.Dalam memberikan rekomendasi/saran tidak perlu memperhatikan: dokumen RKL dan RPL. masing-masing dengan dokumen RKL dan RPL.Jenis dan spesifikasi alat pemantauan lingkungan. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan baik kegiatan maupun kualitas lingkungannya. Gambar-gambar. .Keterlibatan masyarakat sekitar dalam pemantauan lingkungan.: .Bentuk pemantauan lingkungan yang dilaksanakan.b. LAMPIRAN . Copy hasil uji limbah di laboratorium dsb. Bandingkan hasil temuan lapangan. kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang terkait. .Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pemantauan lingkungan. perkembangan teknologi yang relevan. temuan lapangan/hasil pengecekan. . termasuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan oleh Pemrakarsa tetapi tidak termuat dalam dokumen RKL dan RPL. antara lain: Photo-photo. BAB V REKOMENDASI Penulisan Kesimpulan dan Rekomendasi sebaiknya dipisahkan antara RKL dan RPL. . dll.

perlu dilakukan pengkajian aspek kesehatan masyarakat. perlu dikaji secara mendalam. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. d. Bahwa dalam pedoman penyusunan AMDAL. 3. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). 4. 5. c. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. dan dikelola dengan baik. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Bahwa kesehatan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. masyarakat yang akan terpajan. Mengingat : 1. media lingkungan. ttd Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. Bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. dan kondisi kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. untuk itu setiap usaha atau kegiatan pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat. 060030827 266 .KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP-124/12/1997 TENTANG PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN AMDAL KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. merupakan bagian dalam penyusunan AMDAL. Kedua : Ketiga : Keempat : Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. b. kajian aspek kesehatan masyarakat dirasakan kurang memadai untuk melakukan analisis dampak guna menyusun rencana pemantauan serta pengolahan dampak kesehatan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-39/MENLH/8/1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Menimbang : a. sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan serendah mungkin. Bahwa aspek kesehatan masyarakat. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada diktum kedua di atas dilaksanakan sesuai dengan Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL. Setiap jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL harus melakukan kajian terhadap aspek kesehatan masyarakat pada rencana tapak (tipologi kegiatan. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. tipologi lingkungan). Dadang Danumihardja NIP.

Dua komponen pokok tersebut mencakup berbagai metoda. manusia yang terpajan dan bentuk dampak kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. Kajian aspek kesehatan masyarakat yang ditelaah meliputi: 1. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. dan kecelakaan). higiene. sosial dan kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat merupakan kondisi ketahanan fisik dan psikis dari suatu komunitas di daerah tertentu yang merupakan implementasi dan interaksi antara perilaku yang merupakan cermin dan kebiasaan hidup. emisi/ambien. masyarakat terpajan (biomarker). makanan.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN I. Salah satu peraturan pelaksanaan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/ 3/1994 antara lain menyatakan bahwa kajian dampak penting dilakukan terhadap komponen biologi-kimia-fisika. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek kesehatan Dampak Lingkungan. III. udara. kesehatan dan keselamatan kerja (K3). Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. biologis dan kimia dan kualitas parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. tanah. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) 267 . RUANG LINGKUP A. dapat dipergunakan pendekatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. manusia. Dengan demikian bahasan aspek kesehatan akan lebih terfokus dan terkait dalam permasalahan atau isu pokok dan suatu rencana usaha atau kegiatan yang mencakup dua hal penting yaitu perubahan kualitas lingkungan dan dinamika masyarakat disekitar rencana lokasi yang diperkirakan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. TUJUAN Panduan ini merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk: 1. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 3. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Membantu mempermudah proses pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL. serta kajian komunikasi massa untuk diseminasi informasi. Dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. adalah hasil studi untuk mengkaji kemungkinan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup dan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit B. Sumber daya kesehatan 6. perubahan parameter lingkungan. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. 3. 2. Untuk menggambarkan potensi besarnya dampak dan keterkaitan (asosiasi) antara parameter lingkungan dengan masyarakat yang terpajan. dan dampak interaksi (prevalensi dan insidensi penyakit. yang menggambarkan kondisi pengukuran pada sumber. Membantu menyajikan hasil kajian yang informatif. model pendekatan seperti epidemiologi. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. kejadian keracunan. terdapat dua komponen pokok yang tidak terpisahkan berkaitan dengan kajian aspek kesehatan masyarakat. dan pengelolaan dampak. Status gizi masyarakat 8. 4. Sedangkan kesehatan lingkungan merupakan kondisi dari berbagai media lingkungan (air. Memahami keterkaitan antara jenis usaha atau kegiatan. Kondisi sanitasi lingkungan 7. maka diperlukan kajian aspek kesehatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian-kajian komponen lain dalam studi AMDAL yang mencermati potensi besarnya dampak (risiko) kesehatan. II. dengan kualitas kesehatan Iingkungannya. Untuk memberikan panduan sebagai arahan dalam melakukan studi guna mengkaji aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. Kajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan untuk setiap fungsi dokumen: 1. dan sanitasi. yaitu analisis terhadap potensi besarnya dampak. material) yang tercermin dalam sifat fisik. vektor penyakit. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah tersebut telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. kinerja laboratorium. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2.

simulasi/model Dengan mengacu Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep. besarnya dampak kesehatan yang kemungkinan dapat timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan masyarakat terpajan (“population at risk”). Yang berhubungan dengan cemaran. Status gizi masyarakat 8. dan pertimbangan para pakar untuk memperoleh dampak potensial. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit? 2. Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat kebiasaan pemanfaatan air kebiasaan penggunaan bahan “reppelent” atau pelindung kebiasaan penggunaan Insektisida kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan (berobat. sehingga diperoleh dampak penting hipotesis. Kondisi sanitasi lingkungan 7. telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan referensi yang relevan 3. maka identifikasi dampak potensial dan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL dapat disusun sebagai berikut. Sumber daya kesehatan 6. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. emisi). PELINGKUPAN DAMPAK PENTING A. tanah dan makanan) jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (di masa depan) telaah data dan informasi berdasarkan studi toksikologi. udara. II. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. Identifikasi Dampak Potensial Identifikasi dampak potensial dilakukan melalui penilaian terhadap parameter lingkungan (fisik. yang menggambarkan potensi. telaah data dan informasi berdasar pengamatan lapangan (survei. dsb) B. observasi. biologis. Yang berhubungan dengan perindukan vektor (binatang perantara penyakit) perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat berkembang biaknya vektor telaah data atau informasi dan studi kesehatan lingkungan survei malarlometrik dan studi epidemiologi tentang penyakit bersumber binatang pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 3. studi epidemiologi dan studi kesehatan lingkungan pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 2. telaah hasil penggunaan/uji binatang percobaan 6. PENDAHULUAN Kerangka Acuan ANDAL pada dasarnya merupakan suatu arahan berdasarkan hasil perlingkupan dalam menentukan batasan permasalahan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang dampak penting. penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan. 1. Ukuran atau nilai dan evaluasi dampak potensial dapat mempergunakan pertimbangan dari beberapa pernyataan di bawah ini: 1. kelainan reproduksi dan penyakit menahun lainnya? 268 .ANDAL) I. telaah hasil uji dan analisis laboratorium 5. studi banding terhadap hasil studi yang pernah dilaksanakan 7. dsb) 4. Seberapa besar usaha/kegiatan membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan mempunyai potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN 124 Tahun 1997 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (KA. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. kanker. kontak penderita. perlu diperhatikan: penyebaran bahan pencemar di media lingkungan (air. Hal-hal yang diperhatikan dalam perlingkupan kajian aspek kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. melalui: 1. telaah para ahli/profesional 8. Potensi besarnya dampak terjadinya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. media lingkungan (ambien. yaitu prediksi. Seberapa besar/luas usaha atau kegiatan memerlukan pengerahan sumber daya manusia (lokal dan pendatang) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki potensi untuk menimbulkan penyakit menular? 3. referensi yang relevan.14/MENLH/3/1994 dan substansi yang dijelaskan pada butir 2 pelingkupan. baik akut maupun kronis seperti : keracunan. telaah kegiatan proyek 2. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan dampak potensial yang dipandang tidak relevan. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit Metoda pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dan suatu asosiasi atau hubungan antara parameter lingkungan. Dengan demikian karakteristik spesifik dampak penting dan setiap rencana usaha atau dapat diprediksi secara lebih cermat dan akurat. sosial) yang kemungkinan akan menjadi berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat. Dampak potensial hipotesis ini kemudian disusun dalam suatu daftar guna dinilai berdasarkan pandangan masyarakat.

konstruksi.4. dan kronis. Seberapa besar usaha atau kegiatan dapat menurunkan secara berarti pemenuhan makanan dan gizi masyarakat dari generasi ke generasi? 5. 4. dan pasca konstruksi? c. yang dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan. yang berkait erat dengan batas ekologis dan sosial yang akhirnya ditetapkan sebagai batas wilayah studi.serta sumber daya kesehatan. maka penjabaran batas-batas yang tertuang dalam pedoman dapat diuraikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. dan karakteristik spesifik lingkungan serta penduduk disekitar tapak lokasi rencana kegiatan yang diarahkan pada lingkup ekologi yang terkena dampak fisik. dan biologi serta aspek sosial yang akan terganggu. vektor penyakit. Sifat dampak (akut dan kronis) Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpengaruh terhadap proses penularan penyakit akibat perubahan interaksi antara manusia dengan habitat vektor penyakit. kimia. penurunan intelegensia gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel atau mutasi DNA yang berakibat kelainan genetik. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada batas ekologi di atas (butir 2). keganasan maupun kelainan reproduksi. serta pertumbuhan usaha non formal di sekitar lokasi proyek. Batas Ekologis Batas ekologis ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat vektor penyakit yang dapat berkembang dalam masa pra konstruksi. Disamping batas-batas yang telah ditetapkan dalam pedoman seperti batas proyek. Berkaitan dengan masalah epidemiologi. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan (scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan (screening) untuk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara cermat dan mendalam sedemikian rupa sehingga diperoleh isu pokok. Jumlah penduduk Peningkatan jumlah penduduk yang terkena dampak di masa depan dan rencana usaha atau kegiatan sehingga berpengaruh terhadap status kesehatan melalui proses akumulasi. maka kajian aspek kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan batasan epidemiologi dari penyakit yang ada disekitar tapak lokasi. Keterkaitan antar komponen dampak penting yang telah dirumuskan secara holistik. 3. 2. Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut: a. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang memiliki riwayat menyandang penyakit tertentu yang endemis dan penyakit menular potensial wabah? b. III. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. dan mikroba secara terus-menerus atau periodik sehingga menimbulkan penyakit dan atau kematian. 269 . batas ekologis. C. Beban ekonomi Meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat dampak dan rencana usaha atau kegiatan sehingga masyarakat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan kesulitan akses terhadap sarana kesehatan yang ada. batas sosial dan batas administrasi. Keterkaitan rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting) 2. penderitaan seumur hidup dan atau kematian. udara dan tanah. dikaitkan dengan akses komunitas masyarakat terhadap pelayanan dan sarana. c). Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia karena daya dukung lingkungan sedemikian rupa sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat? Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting (“focussing”) bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan dan dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang isu-isu pokok permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan risiko kesehatan secara utuh dan lengkap. Daftar dampak potensial yang diperoleh dari huruf C tersebut selanjutnya dievaluasi sehingga diperoleh dampak penting kesehatan masyarakat. Lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak kesehatan dan rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. 3. baik menurut waktu. parasit. tahapan kegiatan maupun dampak komulatif yang terjadi Dalam proses pemusatan (focussing). Apakah di dalam batas lingkungan proyek mengandung bahan berbahaya (toksik) yang berpotensi sebagai bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan? 2. dengan mempertimbangkan tipologi usaha atau kegiatan. bahan material dan manusia itu sendiri. dengan memperhatikan: 1. Batas administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. Untuk itu perlu diidentifikasi apakah di dalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang derajat kesehatannya dapat berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. penyusun aspek kesehatan masyarakat dalam AMDAL perlu diperhatikan prioritas kepentingannya sebagai berikut: 1. Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan: a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada batas proyek di atas (butir 1). sinergistik.

wawancara mendalam (indepth interview). Metode pengumpulan dan analisis data dan butir-butir di atas. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk mempertajam kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. yaitu metodologi dan deskripsi dari kajian aspek kesehatan masyarakat. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan. studi kesehatan lingkungan. Prakiraan dampak kesehatan masyarakat. 5. mengikuti pedoman baku yang telah ditetapkan. A.LAMPIRAN III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) I. Sehubungan dengan hal tersebut. penyusunan aspek kesehatan masyarakat dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. 6. satuan analisis (rumah tangga. 2. beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: 1. Uraian rencana usaha atau kegiatan yang berhubungan erat dengan aspek kesehatan masyarakat. Demikian pula format penyusunan ANDAL. studi epidemiologi dan pustaka lainnya yang relevan. II. tetapi akan menyebar secara spesifik tergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. 2. pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. referensi (data statistik. Parameter lingkungan dan kesehatan serta metoda prakiraan dan evaluasi dampaknya pada kesehatan masyarakat. dengan memperhatikan: 1. Komponen lingkungan dan masyarakat yang diteliti harus bersifat spesifik lokasi. untuk itu perlu pemahaman akan sifat komponen dan keterkaitannya dari sudut pandang aspek kesehatan masyarakat. Arahan pokok dan panduan ini yang perlu tercantum dalam dokumen ANDAL mencakup dua hal. 4. karena tidak semua parameter harus diteliti. Dan angka 3 tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kajian komponen aspek kesehatan masyarakat yang tertera pada KA ANDAL dapat mengalami penambahan dan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan antara aspek fisik-kimia. rujukan. 3. 3. SERTA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek kesehatan masyarakat yang terdapat dalam KA. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). peta. panduan ini difokuskan pada substansi pokok yang perlu dikaji berdasarkan permasalahan pokok. propinsi) yang akan diukur. metoda & uji laboratorium). 2. serta metoda prakiraan dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. Sebagai alat bantu untuk melengkapi angka 3 dan 4 tersebut di atas. Sementara itu teknis penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara umum tetap mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 . ketersediaan tenaga. waktu dan dana. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. bahan-bahan pustaka dan bahanbahan referensi lain yang relevan yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi terkait.Lampiran 2. pengumpulan data sekunder. Evaluasi dampak kesehatan masyarakat. 4. desa. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain: observasi / pengamatan lapangan. Beberapa proses dan langkah penyusunan ANDAL akan disinggung kembali bila diperlukan disesuaikan dengan kekhususan kajian. 270 . Media lingkungan yang menjadi wahana transportasi bahan berbahaya dan kondisi lingkungan yang menunjang terbentuknya habitat vektor penyakit. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data 1. 5. biologi dan sosial dan masalah kesehatan masyarakat. kabupaten. melalui penelusuran data dan informasi dari hasil-hasil penelitian. Dampak penting aspek kesehatan masyarakat dan suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. Memperhatikan posisi tersebut. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat secara epidemiologis: perubahan mendasar atau dampak penting lingkungan yang akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. wawancara dengan menggunakan kuesioner. dokumen-dokumen ANDAL dan kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi).

Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas bila perlu dapat digunakan secara simultan agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. diperlukan “value judgement” dari penyusun AMDAL. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. Metoda analisis data yang dapat digunakan adalah metoda analisis dampak kesehatan lingkungan dan metoda epidemiologi. Besaran dampak mencakup jenis. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini derajat keseragaman (homogenitas) dan populasi.KA ANDAL) dan metoda yang digunakan untuk pengumpulan dan analisis data (butir A di atas).memperkirakan biaya langsung untuk pengobatan. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain: teknik pengambilan sampel secara purposive. Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang diperkirakan terkena dampak. Secara umum evaluasi dampak penting mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal No. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap biaya yang umumnya dikeluarkan untuk jenis atau benda dampak tertentu. dan biaya tidak langsung sebagai akibat dampak hilangnya produktivitas. Sementara kecenderungan dimaksudkan sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda. 4. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. 5. yaitu: Metoda “Willingness to Pay (WTPJ)” . dan “Cost of illness (COI)” . Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan jenis dan sifat parameter dampak penting yang akan diukur. yakni telaahan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak lingkungan terkait erat dengan masalah kesehatan masyarakat. Ada dua cara pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk menilai biaya dampak kesehatan.B. teknik pengambilan sampel secara acak (random). 3. wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. Metoda ini perlu disesuaikan dengan isu pokok (lihat lampiran II . Data ekonomi ditekankan pada beban masyarakat akibat dampak kesehatan (penyakit cedera) yang timbul. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. dan relative risk) Analisis biaya dampak kesehatan Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan. Untuk itu indikator ekonomi kesehatan yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. sifat. perlu diperhatikan tingkat “representativeness” dan karakteristik spesifik dan lingkungan dan karakteristik spesifik dan jenis “biomarker” tertentu yang kemungkinan akan berkait erat dengan dampak dan rencana usaha atau kegiatan. attributable. pandangan dan aspirasi mereka. C.memperkirakan biaya dampak melalui perhitungan kesediaan masyarakat membayar untuk menghindari atau menurunkan dampak. Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. dan kondisi lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kelayakan aplikasi teknik yang dipilih. baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Kep. Jadi metoda yang akan digunakan hendaknya merupakan rangkuman dari dua hal tersebut.7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. Metoda Evaluasi Dampak Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. derajat kepekaan yang dikehendaki. Beberapa arahan penting untuk menetapkan prakiraan dampak penting dan aspek kesehatan masyarakat adalah: prevalensi penyakit yang berhubungan dengan vektor cukup tinggi - 271 .056 tahun 1994. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 . baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam hal pengambilan sampel untuk keperluan uji laboratorium sebagai kelengkapan pengumpulan data parameter lingkungan. Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan antara lain adalah: Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif Analisis jalur pemajanan di masa depan Analisis risiko epidomiologis ( absolute risk. diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . sebaran dan beban yang diproyeksikan kepada jumlah penduduk terkena dampak. biaya langsung bukan untuk pengobatan. dan sampel biologis dan masyarakat sekitar tapak lokasi. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. Metoda Prakiraan Dampak Prakiraan dampak merupakan telaahan untuk melihat besaran dan kecenderungan timbulnya dampak kesehatan masyarakat.

2. cacat dalam kandungan. 5. 4. Contoh data set untuk kegiatan pembangunan industri yang direncanakan: 1. Akses dan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. dsb. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang penyakit yang berkaitan dengan pencemaran yang berhubungan dengan kegiatan yang direncanakan. 10. IV. maka rencana kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak seperti yang dinyatakan pada Bab Evaluasi Dampak (Butir II C). 2. 6. 272 . Perilaku spesifik penduduk yang berhubungan dengan risiko.- - adanya spesies vektor penyakit di lokasi kegiatan yang direncanakan. Status kesehatan penduduk. Karakteristik demografis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan di wilayah studi. 8. 4. perlu dijelaskan dalam laporan studi ANDAL terinci pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. Informasi yang diperlukan untuk penyusunan rona lingkungan dan kesehatan masyarakat antara lain: 1. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Pada dasarnya uraian rencana usaha atau kegiatan adalah seperti apa yang telah ditetapkan dalam pedoman umum. Informasi tentang faktor lingkungan. 3. bahan-bahan berbahaya tersebut sangat resisten di alam dan kumulatif sehingga pada jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatan penduduk yang cukup luas. bahan-bahan berbahaya tersebut menimbulkan dampak yang tak terpulihkan. Analisis dampak kesehatan jangka panjang dan pendek.. misalnya banyak masyarakat yang menggunakan air sungai. persebaran “bahan berbahaya” cukup luas sehingga memungkinkan terjadinya jalur-jalur pemajanan di masa depan yang cukup luas pula. 12. bahan-bahan berbahaya mengganggu kebutuhan hidup manusia. V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING . Identifikasi cara-cara menghilangkan atau mengurangi dampak kesehatan dan prakiraan biaya yang diperlukan. absorpsi di udara. air dan tanah. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. 11. absorpsi. 6. manusia rentan terhadap “bahan berbahaya” yang dibuang oleh kegiatan yang direncanakan cukup besar jumlahnya. Umumnya. Prevalensi penyakit menular. Karakteristik epidemiologis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. Dari aspek kesehatan masyarakat. terutama aspek kesehatan masyarakat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) yang akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. dampak kesehatan akan timbul setelah periode waktu tertentu. 9. Perumusan sistem pemantauan kesehatan untuk dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang direncanakan. misalnya pencemaran air tanah sehingga banyak masyarakat tidak memperoleh persediaan air bersih yang memadai. misalnya menyebabkan kanker. sarana atau jangkauan pelayanan kesehatan yang masih sangat terbatas. Karakteristik fisik (hidrogeologis dan iklim) di wilayah kegiatan yang direncanakan. Deskripsi terbaik tentang emisi atau effluen atau perubahan kondisi fisik (perkembangan habitat vektor). 3. Hasil prakiraan dampak penting aspek kesehatan masyarakat hendaknya dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan terjadi. Deskripsi terbaik tentang jenis kegiatan yang direncanakan. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang mekanisme dispersi. 7. 7. ekonomi yang kemungkinan besar mempengaruhi kepekaan penduduk yang terkena dampak. atau merusak tanaman pangan yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. perilaku masyarakat yang berisiko cukup besar. Karena itu kecenderungan dan kapan kemungkinan dampak itu akan terjadi dijelaskan disertai justifikasi ilmiah yang memadai atau asumsiasumsi yang dapat diterima. Penggunaan lahan saat ini dan dimasa depan. III. Analisis dampak kesehatan pada alternatif rencana usaha atau kegiatan. Data lain atau hasil studi yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan. 8. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Penggunaan atau pemanfaatan sumber daya alam. Kondisi kehidupan penduduk terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti akses kepada penyediaan air minum dan makanan dan sarana kesehatan. 9. 5. sosial. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan masyarakat pada saat studi ANDAL berlangsung.

termasuk pula apakah masyarakat yang terkena dampak tersebut terbatas pada lokasi kegiatan yang direncanakan atau akan tersebar cukup jauh dan lokasi kegiatan itu. sementara sungai itu menjadi sumber daya alam yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk budi daya pertanian. uraikan tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan angka gangguan pernapasan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha atau kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf ll. EVALUASI DAMPAK PENTING Hal penting dalam evaluasi dampak penting adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau informasi dan hasil analisis aspek kesehatan masyarakat dengan standar persyaratan dan atau kriteria kesehatan dan berbagai media lingkungan (“environmental pathways”). d. Terpadu/multisektor. dan Regional perlu diberikan perhatian yang lebih besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. Misalnya logam berat yang terkonsumsi melalui tata perairan akan menimbulkan penyakit X setelah Y tahun. Metode Prakiraan Dampak. Pada bagian pertama. sebagai misal: 1. baik langsung maupun tidak langsung. f. dalam arti akan berlangsung terus selama kegiatan itu berjalan termasuk juga periode waktu kemungkinan dampak itu akan terjadi. Hasil telaahan evaluasi dampak penting hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan diarahkan kepada alternatif tindakan yang harus diambil untuk mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan kemungkinan timbulnya dampak sehingga memudahkan pengambil keputusan menggunakan data evaluasi dampak penting ini. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: 056 Tahun 1994) dan kriteria yang digunakan seperti contoh pada butir II. Pada bagian keempat. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjut tersebut. Untuk itu studi ANDAL Kawasan.C. dampak penting itu timbul karena rencana usaha atau kegiatan secara kontinyu membuang logam berat ke perairan (sungai). Pada bagian dua.B. Penjelasan terhadap kelompok masyarakat yang akan terkena dampak perlu mencakup karakteristik demografik dan epidemiologi.Pada setiap isu kesehatan masyarakat yang diprakirakan mengalami dampak penting dibahas melalui sistematika sebagai berikut: a. tetapi tidak menutup kemungkinan adanya gangguan kesehatan masyarakat yang bersifat Iangsung. rona lingkungan dan kemungkinan timbulnya dampak kesehatan. e. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dan segi positif dan atau negatif. 273 . VI. Misalnya. Apabila dampak kesehatan masyarakat itu dapat dihitung dalam bentuk kerugian biaya. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dan suatu rencana usaha atau kegiatan. Ciri dampak penting kesehatan masyarakat itu juga harus dijelaskan. Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dan gangguan pernapasan yang ditanggungnya. maka sajikan cara perhitungannya. b dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. c. bila dampak penting kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf a. Secara khusus perlu pula dijelaskan hubungan antara rencana kegiatan. Dampak terhadap gangguan sistem pernapasan penduduk di sekitar rencana usaha atau kegiatantimbul sebagai akibat dari emisi bahan-bahan berbahaya. 2. diuraikan sifat penting dan besar dampak kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf b di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. maka dampak penting aspek kesehatan masyarakat untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika diatas. Kemungkinan itu perlu disampaikan dalam studi ANDAL. Meskipun pada umumnya dampak kesehatan timbul setelah periode tertentu. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. b. Pada bagian tiga.

Pengendalian dampak kumulatif pada wilayah usulan baru yang akan bertambah atas pembangunan yang telah ada. . misalnya memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam air sumur yang digunakan penduduk.Pengelolaan tata ruang kota terhadap kesehatan mental dan kualitas lingkungan permukiman. khususnya pada pemantauan biomarker. antara lain: . periode waktu harus disesuaikan dengan saat timbulnya dampak. Disamping itu.Memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dan manusia. . perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk dapat melakukan pemantauan dampak kesehatan masyarakat secara tepat dan efisien.Menciptakan kondisi lingkungan baru: konstruksi bebas banjir dan manipulasi lingkungan mencegah perindukan vektor. .Pemilihan lokasi pembangunan yang akan menghindari atau mengurangi efek gangguan vektor yang ada dan mencegah perkembangan perindukan vektor.Kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan (pelayanan kesehatan). apakah melalui minum atau kontak kulit. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk mencegah atau meminimisasi dampak dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh untuk tidak timbulnya dampak kesehatan. . Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut di atas. .Kep-14/MENLH/3/1994). . Dadang Danumihardja NIP.LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Rencana Pengelolaan Lingkungan (lampiran III . . Dari aspek kesehatan masyarakat.Pengelolaan sampah yang dihasilkan dan kegiatan yang direncanakan. 060030827 274 . antara lain: . . .Pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi. . Mengingat dampak kesehatan masyarakat timbul karena terbentuknya jalur pemajanan antara sumber dampak dan manusia rentan.Penyediaan daerah penyangga dan sarana umum seperti taman rekreasi dan sarana olah raga. .Memantau cara kontak antara media lingkungan yang mengandung bahan berbahaya dengan manusia.Kewaspadaan penggunaan lahan dimasa datang. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut diatas. ttd.Memantau “bahan berbahaya” pada titik-titik di media lingkungan yang menjadi jalur penyebaran.Memar. atau biomarker pada manusia kontak sesuai dengan periode yang diperlukan.Memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam emisi atau effluen kegiatan yang direncanakan. . LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (lampiran IV Kep 14/MENLH/3/1994). Karena itu pemantauan harus diarahkan kepada jalur pemajanan yang berhasil dikenali pada butir prakiraan dampak. Dari aspek kesehatan masyarakat.

bahwa komponen aspek sosial merupakan bagian yang perlu dikaji secara mendalam dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap komponen tersebut dapat dikelola dengan baik. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Pasal 1 Aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah telaahan yang dilakukan terhadap komponen demografi. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 3. ttd Sarwono Kusumaatmadja 275 . dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Menimbang : a. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). ekonomi. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dirasakan kurang memadai untuk melakukan kajian aspek sosial.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-299/11/ 1996 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. b. Pasal 2 Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. 2.

Komponen dan Parameter Sosial terlampir. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING 2. Dalam pelingkupan aspek sosial dalam AMDAL perlu diperhatikan dua hal penting yaitu : 2.2.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN A. Namun keadaan yang demikian masih berjalan belum sebagaimana yang diharapkan. Sebagai upaya untuk lebih memperjelas dalam melakukan kajian komponen sosial seperti yang telah ditentukan. C. penelaahan pustaka e. PENGERTIAN Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasikan dampak penting potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan. RUANG LINGKUP 1 . Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. tersebut identifikasi dampak sebaiknya didukung juga dengan teknis analogi melalui observasi pada kegiatan atau usaha sejenis yang telah beroperasi di lokasi lain dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang fenomena dampak sosial yang timbul. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN ( KA-ANDAL ) 1. B. Sub. pengamatan lapangan f. interaksi kelompok. khususnya kajian dampak sosial. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek sosial dalam penyusunan AMDAL.1. maka pedoman teknis kajian aspek sosial menjadi penting dalam penyusunan AMDAL dan ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kajian-kajian komponen lain. analisis isi g. Budaya. Kajian aspek sosial dilakukan untuk setiap dokumen : 2. 276 . Membantu mempermudah proses penyusunan aspek sosial dalam studi AMDAL. 2. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. daftar uji b. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 2.Identifikasi Dampak Potensial Dalam proses identifikasi dampak potensial dapat dipergunakan beberapa metoda sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan seperti : a. Demografi 1.1. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. bagan alir d. Memahami keterkaitan aspek biogeofisik dan sosial dalam AMDAL.3. Berkenaan dengan angka 2. 3. ini sangat dirasakan akibat lemahnya acuan yang digunakan sebagaimana tersebut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Beberapa komponen. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 2.4. Ekonomi.2. Komponen sosial yang ditelaah meliputi : 1.3.1.1. matrik interaksi sederhana c. TUJUAN Pedoman teknis merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk : 1. 2. Dengan demikian diharapkan Peraturan Pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. Karena itu. dan 1. sub-komponen dan parameter sosial yang dapat diidentifikasi sebagai dampak potensial dapat dilihat pada Tabel 1: Daftar Komponen.

1. tersebut di atas. 277 .Evaluasi Dampak Potensial Evaluasi dampak potensial bertujuan menyeleksi dan menetapkan komponen dampak potensial aspek sosial yang relevan untuk ditelaah. c. tersebut selanjutnya dievaluasi untuk memperoleh dampak penting sosial. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Berdasarkan KEPMENLH Nomor 14 tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL. pola mata pencaharian penduduk. jasa dan sebagainya). perikanan. 4) Interaksi sosial yang terjalin di kalangan masyarakat setempat. Batas-batas terluar dari komunitas masyarakat yang dimaksud pada huruf a. 3) Struktur pemilikan sumber daya alam baik yang bersifat formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat). 3. batas sosial dan batas administrasi. atau pendapatan/pengeluaran rumah tangga ? c.3. wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas proyek. ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu : 3. dan sebaliknya. Contoh penetapan batas sosial seperti pada Gambar 1 terlampir.Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan mendeliniasi batas-batas terluar dengan memperhatikan : a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada angka 3. b dan c di atas merupakan batas sosial. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk (kepadatan dan komposisi penduduk). Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat ? 3.Batas Administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran 1 tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL.4. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat. pranata-pranata sosial (lembaga-lembaga kemasyarakatan) yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial). b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada angka 3. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial.2. Perlu diketahui bahwa batas sosial mungkin bisa lebih luas dari batas ekologis dan batas proyek.Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan / mengkategorisasikan dampak penting yang telah dirumuskan sebelumnya agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan secara utuh dan lengkap.1. konstruksi dan operasi dari rencana usaha atau kegiatan? Struktur sosial yang dimaksud di sini dapat berupa : 1) Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian. dan sebaliknya. Berkenaan dengan penentuan batas sosial. udara dan tanah. c) Lokasi komunikasi masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. 3. 2.3. dan pemilikan sumberdaya alam (property right) ? Daftar dampak potensial yang diperoleh dari angka 2. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. Hubungan sebab akibat antar komponen dampak penting aspek sosial itu sendiri.Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut : a. berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994. b. Dalam penetapan dampak potensial aspek sosial tersebut dapat digunakan dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini: a.2.Batas Ekologis Setelah batas ekologis ditetapkan. batas ekologis. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan atau nilainilai sosial budaya yang dikandung berpotensi berubah secara mendasar akibat aktivitas pra-konstruksi (pembebasan perolehan lahan.2. penyusun aspek sosial dalam AMDAL perlu memperhatikan: a. 2) Struktur kekerabatan.2. perkebunan. relokasi penduduk).1 . 3. b. Dalam proses pemusatan (focussing). perlu diidentifikasi apakah didalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial budayanya berpotensi berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. kegiatan ekonomi. dan proses penduduk (pertumbuhan dan mobilitas penduduk)? b. Dampak rencana aspek sosial yang mengakibatkan timbulnya dampak penting pada aspek fisik-kimia dan biologi. Dampak rencana usaha atau kegiatan terhadap komponen lingkungan yang akan mengalami perubahan mendasar (dampak penting).2. Struktur sosial yang dimaksud disini seperti yang dimaksud dalam angka 3.

kelompok individu yang dominan e. fasilitas umum dan fasilitas sosial j. Ekonomi Rumah Tangga a. komuter. tingkat pengangguran 2.pendidikan b.ekonomi c. pola migrasi (sirkuler. Pertumbuhan Penduduk a.proses disosiatif (konflik sosial) c. Warisan Budaya a. Sub komponen dan parameter aspek sosial berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi).distribusi pendapatan e. migrasi keluar c. agama.nilai tanah dan sumber daya alam lainnya e.pola nafkah ganda 2.pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam b. pekerjaan d. Mobilitas penduduk a. Adaptasi Ekologis . Ekonomi Sumber Daya Alam a.efek ganda ekonomi (multiplier effect) f.keluarga 4. Demografi Parameter 1.pusat-pusat pertumbuhan ekonomi i. tingkat kelahiran b. aksesibilitas wilayah 3.asimilasi dan integrasi e.cagar budaya 5.1. Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan 8.kepemimpinan formal dan informal b. Tenaga Kerja a.situs purbakala b. akulturasi d.pergeseran nilai kepemimpinan 7. Komponen 1. agama d. Proses sosial a. Kekuasan dan kewenangan : a. komputer.sosial e. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi nonformal d. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat d.kewenangan formal dan informal c. permanen) d. Pelapisan Sosial berdasarkan : a. mata pencaharian.nilai tambah karena proses manufaktur c.2. Kebudayaan a.ekonomi. dan Parameter Sosial Perhatian : Daftar komponen. pola penggunaan lahan d. tingkat partisipasi angkatan kerja b. Kepadatan penduduk 2. Budaya 1. Pranata Sosial kelembagaan Masyarakat dibidang : a. Perekonomian Lokal dan Regional a. Komposisi penduduk menurut kelompok umur. pola perkembangan 3. permanen) 2.kekuasaan 6. produk Domestik Regional Bruto g.Tabel I : Daftar Komponen.adat-istiadat b. tingkat kematian bayi c. 278 . Proses Penduduk : 2. b.proses asosiatif (kerjasama) b. Struktur Penduduk : a. pendidikan.pendidikan c.kohesi sosial 3. misal hak ulayat b.tingkat pendapatan b. jenis kelamin.pendapatan asli daerah h.pola pemanfaatan sumber daya alam c.kesempatan kerja dan berusaha b. migrasi masuk b. Sub-Komponen.nilai dan norma budaya 2. pola migrasi (sirkuler. Ekonomi 1.Sumber daya alam milik umum (commmon property) 3.

5. Jalan propinsi yang akan digunakan oleh rencana kegiatan untuk keperluan mobilisasi peralatan dan bahan baik pada saat konstruksi dan operasi. 6. Bila rencana kegiatan beroperasi. Air dari danau buatan digunakan untuk keperluan pabrik dan keperluan domestik. Di sekitar saluran irigasi ini juga terdapat pemukiman penduduk. Sungai X merupakan sungai penerima air limbah rencana kegiatan dibangun di lokasi tersebut. Disepanjang jalan propinsi ini terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah menghuni daerah ini sebelum rencana kegiatan dibangun. Rencana kegiatan yang dibangun terletak di daerah persawahan padi. Air limbah yang telah melalui proses instalasi pengolahan air limbah dialirkan ke sungai X (disimbolkan dengan angka 7). saluran irigasi Y akan menerima air limbah yang terangkut melalui sungai X. 4. 7. serta pengangkutan hasil produksi. Lokasi instalasi pengolahan air limbah yang direncanakan dibangun. 279 . Areal rencana kegiatan diperoleh dengan cara. Batas sosial yang terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada lampiran II angka 5 tentang Pelingkupan Wilayah Studi. Danau buatan yang dibangun oleh rencana kegiatan khusus untuk menampung air hujan dan aliran permukaan dari daerah sekitarnya. Ruas jalan yang akan dibangun lahan untuk ruas jalan diperoleh dengan cara ganti rugi lahan.Keterangan Gambar 1 1. Di sekitar sungai ini juga terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah lama menghuni daerah ini. Jalur pipa air untuk mengalirkan air dari danau buatan yang akan direncanakan dibangun. 8. 3. Ruas jalan yang dibangun menghubungkan lokasi rencana kegiatan dengan jalan propinsi. 2. Sungai X akan mengalir ke saluran irigasi Y (disimbolkan dengan angka 8). Limbah cair direncanakan dibuang di sungai (7) setelah melalui instalasi pengolahan air limbah (2). pengalihan status lahan milik masyarakat setempat (ganti rugi lahan).

3. desa. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. peta. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. Dan evaluasi dampak penting. sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam Pedoman Umum Penyusunan ANDAL (KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994) dan dalam Tabel 1 paduan ini diteliti untuk setiap usaha atau kegiatan wajib AMDAL. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek sosial yang terdapat dalam KA. Sebagai alat bantu untuk melengkapi huruf c dan d tersebut di atas. Teknik pengambilan sampel secara purposive. waktu dan dana. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . A. 1. Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. Komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifikasi lokasi. e. Presisi (ketetapan/akurasi) yang dikehendaki. c. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. c. biologi dan sosial. Uraian rencana usaha atau kegiatan. dan pustaka lainnya.Metoda analisis data yang dapat digunakan antara lain : a. seperti analisis statistik. d. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. Metoda analisis yang bersifat kuantitatif. Huruf c tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa komponen aspek sosial yang tertera pada KAANDAL dapat mengalami penambahan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan yang antar aspek fisik-kimia.4. d. METODA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. referensi (data statistik. b. Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. 1. Pengumpulan data sekunder. Prakiraan dampak penting. b. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. b. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. Teknik pengambilan sampel secara acak (random). Observasi/pengamatan lapangan. Melalui teknik ini. rujukan). Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5-7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. c. dokumen-dokumen ANDAL dari kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). penyusunan aspek sosial dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. seperti analisis isi (content analysis) 280 . Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. b. b. c. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). d.2. Wawancara dengan kuesioner. 1. Metode analisis yang bersifat kualitatif. Wawancara mendalam (indepth interview).Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. d. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu : a. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini : a.Lampiran III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISlS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Dalam a.1. Rona lingkungan hidup. b. b. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 1. data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian. Teknik pengambilan sampel secara proporsional. propinsi) yang akan diukur.Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak. metoda prakiraan. serta metode prakiraan dan evaluasi dampak. kabupaten. c. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain : a. 1. pandangan dan aspirasi mereka. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL perlu diuraikan : Metode pengumpulan dan analisis data sosial.Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. e. c. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. Ketersediaan tenaga. Satuan analisis (rumah tangga.

b. 4) Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai penduga (hedonic pricing). Sehubungan dengan itu ada tiga (3) metode pemberian penilaian moneter yaitu : a. Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktifitas (market-based Methods).Data ekonomi sedapat mungkin diberi nilai moneter (valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi dapat dikuantifikasi. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul menurut dokumen AMDAL sejenis. 2) Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach). Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P) terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp).-. Metode Informal. Data sosial aspek lainnya yang memungkinkan diberi nilai moneter hendaknya dilakukan pula valuasi.1.Kelompok Masyarakat Xp* tanpa Proyek P tanpa Proyek P di lokasi studi ANDAL Kelompok Masyarakat Xp* dengan proyek P* di lokasi lain Kelompok Masyarakat Xp dengan Proyek P Waktu Saat lalu Saat studi ANDAL Saat mendatang Besar dampak.-. 3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach). 2. 2) Pendekatan harga bayangan (shadow project approach).-.5. antara lain : 1) Proyeksi penduduk (teknik ekstrapolasi) 2) Analisis kecenderungan (trend analysis) 3) Analisis deret waktu (time series analysis) b. 3) Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach) . Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential expenditures willingness to pay or to accept) yang terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach). Metode ini terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity) 2) Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of learning approach). 3) Pendekatan pembatasan pengeluaran (defendive expenditures approach). Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value). dapat diukur melalui dua metode berikut ini : a. Besar dampak proyek P* terhadap masyarakat Xp* ini dapat menjadi prakiraan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp: Ilustrasi berikut memperjelas hal dimaksud. Metode ini terdiri dari empat (4) pendekatan: 1) Pendekatan nilai kepemilikan (property value approach). c. Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. dengan kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi bila tidak ada rencana usaha atau kegiatan (pendekatan with and without project) Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. antara lain : 1) Penilaian pakar (professional judgement) 2) Komparatif antar budaya (cross cultural) 3) Teknis analogi 4) Metode delphi Adapun sifat penting dari besar dampak sosial yang akan terjadi ditelaah dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) 281 . Metode Formal. termasuk yang mempunyai nilai moneter. Kelompok Masyarakat Xp* pada saat tanpa Proyek P* Proyek P* Dasar prakiraan Prakiraan dampak Kelompok Masyarakat Xp* -. METODE PRAKIRAAN DAMPAK Prakiraan dampak merupakan telaahan yang menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat adanya rencana usaha atau kegiatan. diukur dengan cara mengukur dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan masyarakat Xp (disimbolkan Xp*). diperlukan value judgement dari penyusun AMDAL.-.-. yang terkena proyek serupa (disimbolkan P*) di lokasi lain.

dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. Disamping itu bila menggunakan bobot atau skala. Bagan Alir Dampak c. metode tersebut sesuai dengan kondisi rona lingkungan dan karakteristik rencana usaha atau kegiatan yang ditelaah. maka uraian rencana usaha atau kegiatan perlu memuat data dan informasi yang antara lain mencakup : 1. b. bila ada alternatif lokasi atau teknologi dari rencana usaha atau kegiatan maka 282 . Rencana pengembangan ekonomi masyarakat setempat. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode evaluasi dampak yang tepat untuk studi ANDAL. dalam arti proses peleburan nilai-nilai yang satuannya berbeda harus dilakukan melalui proses yang secara ilmiah dibenarkan. metode tersebut memenuhi syarat-syarat ilmiah. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dari suatu rencana usaha atau kegiatan. c. B. dan skalanya berbeda serta dampaknya berbeda. Setiap komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak penting) dibahas melalui sistematika sebagai berikut : a. Sistem bahasan sebagaimana pada angka 1 tersebut di atas berlaku pula untuk dampak penting yang mempunyai nilai moneter. maka dampak penting aspek sosial untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika angka 1. bila dampak penting sosial yang telah diutarakan pada huruf a. Pada bagian dua. Pada bagian pertama. sehingga relatif tidak ada metode evaluasi dampak yang bisa digunakan untuk semua jenis studi ANDAL. sejauh mungkin penyusun aspek sosial ANDAL memperhatikan atau menghimpun masukan dari masyarakat yang terkena dampak. uraian tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisa perbedaan kualitas lingkungan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf A. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Agar kajian dampak penting aspek sosial dapat ditelaah mendalam. Bersifat fleksibel. dibahas/ditelaah secara holistik (komprehensip) dampak penting lingkungan (fisikkimia. biologi dan sosial). b. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. dengan menggunakan metode yang telah diuraikan pada huruf A. 3. Beragam dampak penting lingkungan tersebut ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-mempengaruhi. Bersifat dinamis. c. diuraikan sifat penting dari besar dampak sosial yang telah diutarakan pada huruf b tersebut di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dari segi positif dan atau negatif. Penyerapan tenaga kerja khususnya dari masyarakat setempat 3. c. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan sosial di wilayah studi. b. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana usaha atau kegiatan untuk pengambilan keputusan.3. USGS Matrix (Matrik Leopold) b. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 1. Dengan demikian. Bersifat komprehensif. metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan yang ukuran. mengenai Metode Prakiraan Dampak. D. E. Pada bagian pertama. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak secara holistik diantaranya adalah : a. e. terutama aspek-aspek sosial yang menurut dokumen Kerangka Acuan (KA) akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. dan Regional perlu diberikan perhatian yang besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif.3. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada saat studi ANDAL berlangsung. Kebijaksanaan dan cara pembebasan/perolehan lahan 2. Bersifat analitis. yakni telaahan secara total terhadap beragam dampak lingkungan. tidak seluruh komponen sosial harus diungkapkan dalam rona lingkungan hidup. sebagai misal : 1 ) Dampak terhadap pendapatan masyarakat di sekitar rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai dampak lanjutan dari perubahan pencaharian dan kesempatan berusaha. Bila metode yang dipakai menggunakan skala dan atau bobot maka proses peleburan (amalgamasi) harus dilakukan secara benar. EVALUASI DAMPAK PENTING 1. d. adalah : a. kondisi kesehatan masyarakat di sekitar proyek dan penyerapan tenaga kerja oleh proyek. metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting lingkungan sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. METODE EVALUASI DAMPAK Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. mengenai Metode Evaluasi Dampak. uraikan isu-isu pokok lingkungan yang terdapat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) dan komponen dampak penting lingkungan hasil dari prakiraan dampak penting. Terpadu/multisektor. Untuk studi AMDAL Kawasan. 2. Pada bagian ke tiga. Rencana pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial 4. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) d. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. 2) Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dari berubahnya tingkat pendapatan. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjutan tersebut. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek sosial yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Evaluasi dampak penting dilakukan dengan sistematika sebagai berikut : a.2. satuan. Pada bagian kedua. C. Extended Cost Benefit Analysis Perlu diketahui. Pada bagian tiga. baik yang positif maupun negatif. Matrik Tiga Tahap Fischer dan Davies e. b. f. Pada bagian keempat. Evironmental Evaluation System (EES) d.

maka di dalam dokumen perlu diutarakan teknik pengambilan sampel yang digunakan. Kewenangan memantau dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa. mengendalikan. e. Kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak. Hasil evaluasi tersebut harus dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan. Kesempatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan. baik yang bersumber dari aspek fisik-kimia. atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. Disamping itu pranata sosial yang sudah ada di masyarakat didayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. Misalkan. yang merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan. biologi. Kesepakatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pemantauan lingkungan. dan menanggulangi sumber dampak penting tersebut. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Disamping itu juga harus diutarakan pada kelompok atau lapisan masyarakat mana. bilamana. Sebagai sarana untuk uji hipotesis dampak penting yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL. Komponen lingkungan yang dipantau difokuskan pada dampak penting yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. Sebagai alat bukti untuk melindungi adanya tuntutan kerusakan atau pencemaran lingkungan. 4. Rencana pengelolaan lingkungan harus secara jelas mengutarakan upaya-upaya yang akan ditempuh untuk mencegah. b. c. serta instansi sektoral terkait. 5. 2.lakukan evaluasi dampak penting terhadap masing-masing alternatif tersebut. dan lokasi pengambilan sampel secara jelas. 2. 3. unsur-unsur pemerintah daerah setempat. 4. pemerintah maupun pertimbangan pakar. mengendalikan. 3. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNlS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Di dalam merumuskan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Kewenangan menangani atau mengelola dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa (misal. menanggulangi dan mengendalikan dampak antara lain dapat berupa. Dalam merancang pemantauan lingkungan bagi aspek sosial. masyarakat sekitar yang terkena dampak. Upaya pengelolaan lingkungan aspek sosial ditempuh dengan cara mencegah. dampak penting berupa timbulnya prostitusi disekitar rencana usaha atau kegiatan). Sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pengelolaan lingkungan. Sebagai isyarat dini tentang adanya gejala-gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. di lokasi mana. dan pihak mana yang akan melaksanakan pengelolaan lingkungan. Evaluasi dampak juga dilakukan pada komponen-komponen dampak penting yang mempunyai nilai moneter. pembentukan forum komunikasi lingkungan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. Manfaat Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah : a. ttd. sehingga diperoleh gambaran mengenai biaya eksternal yang akan ditanggung atau dinikmati oleh masyarakat dan atau pemrakarsa. yang anggotanya terdiri dari pemrakarsa. maka instansi yang bertanggung jawab dapat memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan (Pasal 11 ayat 1 PP 51/1993) LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) Di dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. 3. Bila untuk keperluan tersebut digunakan respon. sejauh terdapat : a. Apabila Analisa Dampak Lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. 2. b. melainkan juga perlu mendayagunakan informasi tentang kualitas lingkungan dari masyarakat yang terkena dampak. dan kesehatan masyarakat maupun dari aspek sosial itu sendiri. b. Pihak yang melaksanakan pengelolaan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan juga dapat instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah. Sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. memantau dampak penting terhadap pertumbuhan sektor informal disekitar rencana usaha atau kegiatan. Pihak yang melaksanakan pemantauan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan dapat juga dilakukan oleh instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. pemrakarsa sebaiknya tidak hanya mengandalkan data yang diperoleh dari instrumen atau alat ukur yang dimiliki. d. Upaya pengelolaan lingkungan tersebut perlu memperhatikan kepentingan masyarakat. Sarwono Kusumaatmadja 283 . sejauh terdapat : a. jumlah sampel. harus mempertimbangkan prinsip saling menguntungkan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terkait. dan menanggulangi dampak penting sosial yang akan timbul.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215).KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TENTANG PEDOMAN MENGENAI DAMPAK PENTING KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 4. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting : 1. ttd Sarwono Kusumaatmadja 284 . Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1990. Kedua : Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Nomor 115 Tahun 1992. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419). 2. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3538). 3. 5. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING Mengingat Pertama : Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini. Keputusan Presiden RI Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3501).

7. standar tertentu atau prinsip-prinsip tertentu. UKURAN DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN 1. dan Daerah Pengungsian Satwa) i. menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL. bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. f. Dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. Masing-masing faktor sebagaimana dimaksud datam butir 2 tersebut memiliki seperangkat kriteria dampak penting. perairan darat. Suaka Margasatwa. Intensitas dampak. PENGERTIAN 1. 285 . Taman Nasional l. perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. c. Yang dimaksud dengan kawasan lindung menurut Penjelasan Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah sebagai berikut : a. d. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah bernilai tinggi) o. Lamanya dampak berlangsung. Untuk menentukan penting tidaknya dampak lingkungan akibat dilaksanakannya suatu rencana usaha atau kegiatan perlu juga diperhatikan peraturan perundangan yang berlaku baik di dalam maupun diluar wilayah negara Republik Indonesia. hasil guna dan daya gunanya. b. Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove) k. Dampak penting suatu usaha atau kegiatan menurut Penjelasan Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. 3. termasuk bagi keperluan AMDAL kegiatan Terpadu/Multisektor. Taman Wisata Alam n. 6. Sifat kumulatif dampak. dan Pasal 2 dan Pasal 3 PP Nomor 51 Tahun 1993 ditentukan oleh faktor-faktor berikut: a. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan. muara sungai. Sempadan Pantai e. Kawasan Hutan Lindung b. 2. Kawasan Bergambut c. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu aspek lingkungan saja. yakni ukuran. Ukuran dampak penting terhadap lingkungan.LAMPIRAN KEPUTUSAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TANGGAL : 18 Maret 1994 PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING I. atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting digunakan untuk keperluan penapisan rencana usaha atau kegiatan dan penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Kawasan Resapan Air d. e. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. Kawasan Sekitar Danau/Waduk g. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut. g. Luas wilayah persebaran dampak. 5. wilayah pesisir. gugusan karang atau terumbu karang. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini merupakan petunjuk dasar yang memberi arah apakah suatu rencana usaha atau kegiatan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Ukuran dampak penting tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. Hutan Wisata. Taman Hutan Raya m. Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. AMDAL kawasan dan AMDAL Regional. b. Sempadan Sungai f. Suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dibangun di kawasan lindung yang telah berubah peruntukkannya atau lokasi rencana usaha atau kegiatan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan lindung. 4. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem) j. Kawasan Rawan Bencana Alam II. Kawasan Sekitar Mata Air h. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah.

atau segi kumulatif dampak. dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan. 6. berdasarkan pertimbangan ilmiah. namun ada pula yang berlangsung relatif lama. pemerintah daerah. baik yang bersikap negatif maupun positif yang mungkin ditimbulkan oleh suatu usaha atau kegiatan. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri. dapat dialami oleh baik sejumlah manusia yang termasuk maupun yang tak termasuk dalam sasaran rencana usaha atau kegiatan. Dengan kata lain dampak suatu usaha atau kegiatan ada yang berlangsung relatif singkat. dalam kurun waktu yang relatif singkat. Banyaknya Komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak Mengingat komponen lingkungan hidup pada dasarnya tidak ada yang berdiri sendiri. yang penentuannya didasarkan pada perubahan sendi-sendi kehidupan pada masyarakat tersebut dan jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah. atau pemerintah pusat. Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Luas Wilayah Persebaran Dampak Luas wilayah persebaran dampak merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan pentingnya dampak terhadap lingkungan. atau habitat alaminya mangalami kerusakan. suaka margasatwa. Adapun yang dimaksud dengan manfaat dari usaha atau kegiatan adalah manusia yang secara langsung menikmati produk suatu rencana usaha atau kegiatan dan atau yang diserap secara langsung sebagai tenaga kerja pada rencana usaha atau kegiatan. 2. konstruksi. atau drastis. 2. Karena itu. atau tidak berbaliknya dampak. 4. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat. e. yakni hanya pada tahap tertentu dari siklus usaha atau kegiatan (perencanaan. operasi. Jumlah Manusia yang Akan Terkena Dampak Setiap rencana usaha atau kegiatan mempunyai sasaran sepanjang menyangkut jumlah manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat dari rencana usaha atau kegiatan itu bila nanti usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. Namun demikian. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan dapat berlangsung pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari kelangsungan usaha atau kegiatan. . d. pasca operasi). 3. melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan.c. maka kriteria dampakpenting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di kalangan masyarakat luas berada dalam posisi atau mempunyai nilai yang penting. Serta berlangsung di area yang relatif luas. cagar alam. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. atau dengan kata 286 c. dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi di kalangan masyarakat. Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. dampak lingkungan. 7. Dengan demikian dampak lingkungan tergolong penting bila: 1. Berdasarkan pengertian ini dampak lingkungan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak. taman nasional. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Intensitas Dampak Intensitas dampak mengandung pengertian perubahan lingkungan yang timbul bersifat hebat. Mengingat pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas. Dengan demikian dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. sejak tahap konstruksi hingga masa pasca operasi usaha atau kegiatan. 5. atau segi kumulatif dampak yang berlangsung hanya pada satu atau lebih tahapan kegiatan. jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan di wilayah studi. yang bernilai tinggi.

Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu. namun ada pula yang tidak dapat dipulihkan walau dengan intervensi manusia sekalipun. ttd Sarwono Kusumaatmadja g. bertumpuk. f. 287 . tetapi karena aktivitas tersebut bekerja berulang kali atau terus menerus. Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak Dampak kegiatan terhadap lingkungan ada yang bersifat dapat dipulihkan. 3. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik). maka lama kelamaan dampaknya bersifat kumulatif. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus. Dalam hal ini maka dampak bersifat penting bila: Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia. atau bertimbun. maka dampak pada suatu komponen lingkungan umumnya berdampak lanjut pada komponen lingkungan lainnya. sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. 2. sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif bila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. Dengan demikian dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila: 1.lain satu sama lain saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. Atas dasar pengertian ini dampak tergolong penting bila: Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. Sifat Kumulatif Dampak Kumulatif mengandung pengertian bersifat bertambah.

AUDIT LINGKUNGAN 288 .

MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. 4. termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang terkena dampak langsung atau berpotensi terkena dampak dan ketidakpatuhan. 4. Tim Evaluasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan evaluasi terhadap masukan. bahwa agar pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dapat dilakukan secara efektif maka diperlukan suatu pedoman. kelompok orang.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Kewenangan. 6. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup audit lingkungan hidup yang diwajibkan meliputi evaluasi masukan atau informasi. informasi dan usulan untuk melakukan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. c. 3. Tim Audit adalah sekelompok atau seorang auditor yang diberi tugas untuk melaksanakan audit dan tim audit juga dapat beranggotakan tenaga ahli teknis. dan verifikasi laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan akibat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Audit Lingkungan hidup yang diwajibkan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. Tugas. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3434). Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menimbang : a. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. 5. Pihak yang berkepentingan adalah orang seorang. 5. dan organisasi lingkungan hidup. pelaksanaan. Auditor Lingkungan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan audit lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 8. Fungsi. 7. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. 2. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. 289 . Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 19. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 3. Tim Verifikasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan yang diwajibkan. Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Tugas Fungsi. kriteria ketidakpatuhan. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Kewenangan. 2.

Pasal 6 (1) Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan apabila penanggung jawab usaha dan atau kegiatan menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. d. ketidakpatuhan terhadap persyaratan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilakukan. memberikan uraian tentang penyebab terjadinya ketidakpatuhan. 290 . Pasal 5 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dinyatakan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup.Prinsip Umum atau standar lainnya yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. termasuk apabila terdapat pelanggaran dan atau ketidaktepatan penerapan kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup. telah terjadi hal yang sama atau berkaitan secara berulangkali. FUNGSI DAN MANFAAT Pasal 3 (1) Tujuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan : a. dan atau. (2) Apabila Gubernur/Bupati/Walikota menilai bahwa suatu usaha dan atau kegiatan di wilayahnya menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. untuk mengetahui tingkat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. d. apabila telah melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. (3) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib memberikan informasi/data yang benar dan aktual kepada auditor.Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan dan bebas dari pertentangan kepentingan. c. b. (3) Manfaat pelaksanaan audit Iingkungan hidup yang diwajibkan: a. c. dan atau. ketidakpatuhan terhadap baku mutu lingkungan hidup. meningkatkan penaatan pengelolaan lingkungan hidup dan suatu usaha dan atau kegiatan. maka Gubernur/Bupati/W alikota mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab suatu usaha dan atau kegiatan tersebut melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. c. BAB V PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN Bagian Pertama Tata Laksana Pasal 7 (1) Tata laksana audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 19-14010-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . memberikan rekomendasi atas temuan-temuan pelaksanaan audit. telah diberikan peringatan oleh Menteri dan atau Gubernur dan atau Bupati dan atau Walikota sekurangkurangnya 3 (tiga) kali dalam jangka waktu setahun terakhir dan atau patut diduga akan terjadi lagi di masa mendatang. mencegah terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. sebagai bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan Menteri tentang tindak lanjut penanganan ketidakpatuhan. BAB IV KRITERIA KETIDAKPATUHAN DAN KEWENANGAN Pasal 4 Kriteria ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi dasar dikeluarkannya perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. mengetahui status ketaatan pengelolaan lingkungan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.BAB III TUJUAN. (2) Fungsi audit Iingkungan hidup yang diwajibkan merupakan salah satu instrumen penaatan atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelola Iingkungan hidup. b. (2) Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila menunjukkan : a. dan atau. meliputi: a. ketidakpatuhan terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. dan. ketidakpatuhan yang mengindikasikan bahwa penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup atau tidak melaksanakan sistem pengelolaan lingkungan secara efektif. (2) Audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilakukan oleh auditor lingkungan yang terdaftar dan atau auditor yang memenuhi kriteria kualifikasi sesuai dengan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . b. b.

(2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). menugaskan pihak ketiga yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (6) Rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa. Kepala instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan hasil temuannya kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. (5) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan dan rekomendasi hasil evaluasi secara tertulis kepada Menteri selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja. Menteri memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. kelayakan untuk dikeluarkannya perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. setelah selesai melaksanakan evaluasi. Menteri memberikan alasan-alasan mengenai ketidaksetujuan tersebut. melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan membentuk Tim Audit. instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan dan tenaga ahli dalam bidang yang terkait. (4) Tim Evaluasi melaksanakan kegiatan evaluasi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. Pasal 10 Instansi pengendalian dampak lingkungan dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan dilengkapi dengan data pendukung. Menteri membentuk Tim Evaluasi yang bertugas untuk mengevaluasi usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. a. b. ketidaklayakan untuk dikeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan memberikan alasan-alasan ketidaklayakan tersebut. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Menteri dapat: a. Pasal 11 (1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 10 selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja. maka: a. atau. Pasal 12 (1) Berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) huruf a. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan telah menunjuk auditor dengan pemberitahuan kepada Menteri. instansi yang bertanggung jawab di daerah. atau. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2).Bagian Kedua Mekanisme Pasal 8 Pihak yang berkepentingan dapat memberikan masukan atau informasi secara tertulis tentang terjadinya petunjuk ketidakpatuhan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. (3) Apabila Menteri tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Gubernur/Bupati/Walikota dapat mengusulkan secara tertulis kepada Menteri untuk mengeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (3) Tim Evaluasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. b. (2) Apabila Menteri menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. 291 . (7) Apabila rekomendasi berupa ketidaklayakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) huruf b. Pasal 9 (1) Gubernur/Bupati/Walikota menugaskan instansi yang bertanggung jawab di daerah untuk mengevaluasi masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan memeriksa unsur ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. Menteri dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. b. dengan dilengkapi data pendukung. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). (2) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur-unsur. (3) Jumlah beban biaya pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. dilengkapi dengan rancangan ruang lingkupnya. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5.

b. BAB VII PENUTUP Pasal 18 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri.Pasal 14 (1) Tim audit merumuskan Kerangka Acuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan ruang lingkup yang ditetapkan oleh Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah tim audit ditetapkan. apabila diperlukan dapat melaksanakan kegiatan verifikasi di lokasi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. Pasal 15 (1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat melakukan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. (3) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab dibidang pengendalian dampak lingkungan. (2) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan atau instansi yang bertanggung jawab di daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melaksanakan kajian terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. ahli di bidang lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. terdiri dari : a. 292 . Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 September 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. (3) Tim audit setelah melaksanakan tugasnya wajib menyerahkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara tertulis kepada Menteri. dengan membentuk Tim Verifikasi. Pasal 16 (1) Berdasarkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. BAB VI INFORMASI DAN PUBLIKASI Pasal 17 Menteri mengumumkan surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada Masyarakat. (5) Tim Verifikasi melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) paling lama 14 (empat belas) hari kerja. MPA. (4) Tugas Tim Verifikasi mencakup hal-hal sebagai berikut: a.MSM. b. unsur lainnya yang dianggap perlu. (2) Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). ttd. menyusun laporan hasil verifikasi secara tertulis dan menyampaikannya kepada Menteri. Nabiel Makarim. (2) Tim audit mulai melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah Kerangka Acuan mendapat persetujuan dari Menteri. Menteri mengeluarkan surat perintah kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Menteri. c.

sehingga dapat meningkatkan kinerja usaha atau kegiatan yang bersangkutan dalam kaitan dengan pelestarian kemampuan lingkungan. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal.I. Menimbang : 1.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP.I. mempublikasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. bahwa audit lingkungan sebagai suatu perangkat pengelolaan yang dilakukan secara dasar telah diakui merupakan alat yang efektif dan sangat bermanfaat bagi suatu usaha atau kegiatan dalam mengelola lingkungan hidup. terdokumentasi. 2. 2. meningkatkan kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan. 5.42/MENLH/XI/1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara R. bahwa audit lingkungan adalah suatu proses untuk melaksanakan kajian secara sistematik. dan apabila terdapat kekeliruan maka keputusan ini akan ditinjau kembali. dan obyektif terhadap prosedur dan praktek-praktek dalam pengelolaan lingkungan hidup. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha atau kegiatan wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan. pengembangan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan. berkala. Tugas Pokok. : Audit Lingkungan dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan ini. Mengingat : 1. 4. tujuan lainnya sebagaimana ditentukan oleh usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 2. Fungsi. bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk menetapkan suatu pedoman umum tentang pelaksanaan audit lingkungan dengan suatu keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Di tetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Nopember 1994 Menteri Negara Lingkungan Hidup. bahwa audit lingkungan dapat membantu menemukan upaya penyelesaian yang efektif tentang masalah lingkungan hidup yang dapat dihadapi suatu usaha atau kegiatan. 3. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN Pertama : Audit Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh dan merupakan tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha atau kegiatan. untuk itu hasil audit lingkungan dapat dimintakan keabsahannya dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Nomor 12 Tahun 1982. dan Tata Kerja Menteri Negara serta Organisasi Staf Menteri Negara.I. 5. 3. : 1. 4. Nomor 3538). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara R. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara R. masyarakat umum atau organisasi lainnya dengan tujuan. 3. 4. Penanggung jawab usaha atau kegiatan dapat memberikan sebagian atau seluruh laporan audit lingkungan kepada Pemerintah. Tambahan Lembaran Negara R.I. Nomor 3215). ttd Sarwono Kusumaatmadja 293 Kedua Ketiga Keempat . Nomor 84 Tahun 1993.

C. (i) Menyediakan informasi yang memadai bagi kepentingan usaha-usaha atau kegiatan asuransi. (h) Menyediakan laporan audit lingkungan bagi keperluan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. rona dan kerusakan lingkungan di tempat usaha atau kegiatan tersebut. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan. atau bagi keperluan kelompok pemerhati lingkungan. (e) Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bagan. (e) Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam proses pengadilan. misalnya: standar emisi udara. (g) Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi energi.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEP-42/MENLH/XI/1994 22 NOVEMBER 1994 PRINSIP-PRINSIP DAN PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN A. (b) Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi. terdokumentasi. Audit lingkungan yang dimaksud dalam keputusan ini dilaksanakan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan dan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat internal. periodik dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi. prosedur pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana tangggap darurat. pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan. Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat manajemen yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. lebih terarah. Fungsi Fungsi audit lingkungan adalah sebagai : (a) Upaya peningkatan pentaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang. (b) Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan atau upaya penyempurnaan rencana yang ada. sehingga dapat memberikan informasi mengenai: 1. melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk mengindentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya. limbah cair. pemerintah. 2. dan pemegang saham. proses daur ulang dan efisiensi penggunaan sumber daya. Dengan adanya pedoman ini. 3. B. (f) Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggung jawab dan staf suatu badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan dan tanggung jawab lingkungan. maka pengelolaan dan pemantauan lingkungan suatu usaha atau kegiatan diharapkan dapat dilakukan dengan baik. yang berguna dalam penyempurnaan proses AMDAL. misalnya pembangunan yang berkelanjutan. Manfaat Audit Lingkungan bermanfaat untuk: (a) Mengindentifikasi risiko lingkungan. sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan. serta isu lingkungan yang terkait. dan pengurangan. RUANG LINGKUP Audit Lingkungan perlu disusun sedemikian rupa. FUNGSI DAN TUJUAN Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan pelaksanaan audit lingkungan bagi suatu usaha atau kegiatan. (d) Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan media massa. PENDAHULUAN 1. 294 . atau publikasi yang merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik. Definisi Audit Lingkungan adalah suatu atau manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik. (d) Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang tercantum dalam dokumen AMDAL. efektif dan efisien. sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan. (c) Jaminan untuk rnenghindari perusakan atau kecenderungan kerusakan lingkungan. pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada proses dan peraturan. (c) Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/pemberhentian suatu usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah. penanganan limbah dan standar operasi lainnya. (f) Upaya untuk meningkatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan lingkungan. pemakaian ulang dan daur ulang limbah. lembaga keuangan.

7. Audit lingkungan harus berpedoman kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan. perawatan. 9. sistem kontrol manajemen. 6. Ruang lingkup audit lingkungan sangat luwes. bahan jadi. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. Apabila tidak. untuk menjamin pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi tersebut. PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN 1.2. Pada umumnya. proses bahan dasar. (d) Laporan tertulis. konsiderasi product life cycle. dll. Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit. termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan kecelakaan. program daur ulang. E. rencana minimalisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan. (c) Pengukuran dan standar yang sesuai. Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat menerapkan teknik-teknik yang tepat. (d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan. (b) Keikutsertaan semua pihak Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang bersangkutan. PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. Karakteristik dasar Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) Metodologi yang komprehensif. Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan dengan jelas dan akurat. 2. 8. catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan termasuk standar dan baku mutu lingkungan. penggunaan input dan sumber daya alam. penggunaan energi. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif dan prosedur yang telah ditentukan. 13. 3. perubahan rona lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai waktu terakhir pelaksanaan audit. 5. 11. dan limbah termasuk limbah B3. Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan. B3 serta potensi kerusakan yang mungkin timbul. efektifitas alat pengendalian pencemaran seperti ditunjukkan dalam laporan inspeksi. Tata Laksana Pelaksanaan audit lingkungan perlu mengikuti suatu tata laksana audit. 12. Tata laksana audit merupakan suatu rencana yang harus diikuti oleh auditor untuk dapat mencapai tujuan audit yang diharapkan. 14. tergantung pada kebutuhan atau kegiatan yang bersangkutan. Laporan harus memuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang serta dokumentasi terhadap proses produksi. uji rutin. 4. peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan. pentaatan terhadap hasil dan rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan). uji emisi. rute pengangkutan bahan dan pembuangan limbah. Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung. Audit lingkungan tidak akan berarti kecuali bila kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. Kunci keberhasilan (a) Dukungan pihak pimpinan Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad pimpinan usaha atau kegiatan. (c) Kemandirian dan obyektifitas auditor Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan usaha atau kegiatan yang diaudit. mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua aspek dan pelaksanaan tugas secara luas. Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci. Dengan mengacu pada tata laksana tersebut maka diharapkan adanya konsistensi dalam pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit. 295 . Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. D. air dan sumber daya alam lainnya. identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia. maka obyektifitas dan kredibilitas akan diragukan. perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat. serla dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi. kajian resiko lingkungan. 10. (b) Konsep pembuktian dan pengujian.

Pada saat ini. dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. dan daftar pertanyaan tersebut harus dijawab secara lengkap oleh auditor. (c) Daftar pertanyaan. catatan dan hasil pengamatan tim auditor. dan jadual kegiatan audit. 296 . Berikut ini adalah beberapa tata laksana audit yang umum dilaksanakan: (a) Daftar Isian. Pra-audit Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit lingkungan. dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan. status hukum. Jenis ini merupakan cara yang umum digunakan yaitu dengan mempergunakan daftar yang rinci mengenai isi yang akan diaudit. Pada umumnya. Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang belum tersedia. peta. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat. tim auditor harus memaparkan hasil temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang dibutuhkan. dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan. Kegiatan Lapangan (1) Pertemuan pendahuluan Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit. tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum teridentifikasi dalam perencanaan. (6) Pertemuan akhir Setelah penelitian lapangan selesai. diagram. hasil sampling dan pemantauan. Pelaksanaan. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas di lapangan. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara khusus. Dalam menguji hasil temuan audit. tim auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah. Audit dengan menggunakan pedoman merupakan jenis tata laksana yang paling rinci. (2) Pemeriksaan lapangan Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. 4. 3. Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut: 1. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian temuan audit lingkungan. tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati. Pedoman ini memuat instruksi-instruksi dan petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh auditor. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit. Pasca Audit Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil pelaksanaan audit lingkungan. (3) Pengumpulan data Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit lingkungan akan mencakup tata laksana audit. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang telah diidentifikasi. (5) Evaluasi hasil temuan Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji. Seluruh dokumentasi selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan. jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor. Daftar pertanyaan seringkali digunakan dalam pelaksanaan audit. Pendahuluan Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang dilaksanakan. Bentuk pelaksanaan audit yang paling sederhana adalah mempergunakan daftar isian dari laporan yang akan dihasilkan sebagai acuan audit. 2. rencana. (4) Pengujian Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan. auditor telah mempersiapkan format baku untuk melaksanakan audit dan menyusun laporan akhir. (b) Checklist.Tata laksana audit sangat beragam dan tergantung pada jenis usaha dan karakteristik lingkungan. tata laksana. struktur organisasi. atau harus ditentukan oleh tim auditor. penentuan tim auditor. foto-foto. serta aspek yang harus diteliti. (d) Pedoman. Tim auditor harus mengkaji hasil pertemuan secara garis besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. 2. atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor.

dunia usaha atau kegiatan sesuai dengan kebebasannya dapat menyampaikan laporan audit lingkungan kepada pemerintah. Namun demikian. maka usaha atau kegiatan atau organisasi (non pemerintah) dianjurkan untuk membuat dan melaksanakan kode etik serta sertifikasi auditor lingkungan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan peraturan pelaksanaan lainnya. SIFAT KERAHASIAAN Laporan hasil audit lingkungan merupakan milik usaha atau kegiatan yang diaudit dan bersifat rahasia. meliputi: Kemampuan berkomunikasi Kemampuan perencanaan dan penjadualan kerja Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan Kemampuan untuk menulis laporan audit Auditor lingkungan harus terlatih secara profesional untuk menjamin ketepatan. Dalam rangka menjamin bahwa audit lingkungan akan dilaksanakan secara baik dan profesional. masyarakat luas atau organisasi lainnya dengan tujuan sebagai berikut : (a) Publikasi terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilakukan. kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko bahaya Auditor juga perlu mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang dibutuhkan dalam audit. (c) Tujuan lainnya yang ditetapkan oleh usaha atau kegiatan tersebut. Auditor lingkungan harus mempunyai pendidikan yang sesuai dan memiliki pengalaman profesional untuk dapat melaksanakan tugasnya. G PENGAWASAN MUTU HASIL AUDIT . Pemerintah dapat memberikan verifikasi atas hasil audit.F . 297 . (c) Hak pemerintah untuk meminta sesuatu informasi khusus sebagai dasar penentuan peringkat kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan: (d) Tanggung jawab dunia usaha atau kegiatan untuk menyediakan data hasil pengelolaan dan pemantauan kepada pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. (b) Antisipasi kebutuhan penilaian peringkat kinerja usaha atau kegiatan lainnya. konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit. Kebijakan audit lingkungan dalam hal ini tidak membatasi hal-hal sebagai berikut : (a) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin pada suatu usaha atau kegiatan. penghindaran kewajiban dan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan. kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit Potensi dampak lingkungan. Auditor harus mengikuti kode etik auditor yang ada. Kemampuan yang harus dimiliki oleh tim auditor adalah meliputi pengetahuan tentang : Proses. prosedur dan teknis audit Karakteristik dan analisis tentang sistem manajemen Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan lingkungan Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan. (b) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap suatu kegiatan yang dicurigai sebagai kelalaian.

You're Reading a Free Preview

Download