UNDANG-UNDANG

1

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HlDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup lndonesia sebagai karunia dan rahmat Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan ruang bagi kehidupan dalam segala aspek dan matranya sesuai dengan Wawasan Nusantara; bahwa dalam rangka mendayagunakan sumber daya alam untuk memajukan kesejahteraan umum seperti diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan untuk mencapai kebahagiaan hidup berdasarkan Pancasila, perlu dilaksanakan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup berdasarkan kebijaksanaan nasional yang terpadu dan menyeluruh dengan memperhitungkan kebutuhan generasi masa kini dan generasi masa depan; bahwa dipandang perlu melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup untuk melestarikan dan mengembangkan kemampuan lingkungan hidup yang serasi, selaras, dan seimbang guna menunjang terlaksananya pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa penyelenggaraan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus didasarkan pada norma hukum dengan memperhatikan tingkat kesadaran masyarakat dan perkembangan lingkungan global serta perangkat hukum internasional yang berkaitan dengan lingkungan hidup; bahwa kesadaran dan kehidupan masyarakat dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan hidup telah berkembang demikian rupa sehingga pokok materi sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) perlu disempurnakan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup; bahwa sehubungan dengan hal-hal tersebut pada huruf a, b, c, d, dan e di atas perlu ditetapkan Undang-undang tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

b.

c.

d.

e.

f.

Mengingat

: Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

ME MUTU S KAN : Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain; Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup; Pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana, yang memadukan lingkungan hidup, termasuk sumber daya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan; Ekosistem adalah tatanan unsur lingkungan hidup yang merupakan kesatuan utuh menyeluruh dan saling mempengaruhi dalam membentuk keseimbangan, stabilitas, dan produktivitas lingkungan hidup;

2.

3.

4.

2

5. 6. 7.

Pelestarian fungsi lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk memelihara kelangsungan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; Daya dukung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Pelestarian daya dukung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup terhadap tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain; Daya tampung lingkungan hidup adalah kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang masuk atau dimasukkan ke dalamnya; Pelestarian daya tampung lingkungan hidup adalah rangkaian upaya untuk melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya; Sumber daya adalah unsur lingkungan hidup yang terdiri atas sumber daya manusia, sumber daya alam, baik hayati maupun nonhayati, dan sumber daya buatan; Baku mutu lingkungan hidup adalah ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai unsur lingkungan hidup; Pencemaran lingkungan hidup adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya; Kriteria baku kerusakan lingkungan hidup adalah ukuran batas perubahan sifat fisik dan/atau hayati lingkungan hidup yang dapat ditenggang; Perusakan lingkungan hidup adalah tindakan yang menimbulkan perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik dan/atau hayatinya yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi lagi dalam menunjang pembangunan berkelanjutan; Konservasi sumber daya alam adalah pengelolaan sumber daya alam tak terbaharui untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbaharui untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; Limbah adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan; Bahan berbahaya dan beracun adalah setiap bahan yang karena sifat atau konsentrasi, jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Limbah bahan berbahaya dan beracun adalah sisa suatu usaha dan/atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusakkan lingkungan hidup, dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain; Sengketa lingkungan hidup adalah perselisihan antara dua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh adanya atau diduga adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup; Dampak lingkungan hidup adalah pengaruh perubahan pada lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan; Analisis mengenai dampak lingkungan hidup adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan; Organisasi lingkungan hidup adalah kelompok orang yang terbentuk atas kehendak dan keinginan sendiri di tengah masyarakat yang tujuan dan kegiatannya di bidang lingkungan hidup; Audit lingkungan hidup adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk menilai tingkat ketaatan terhadap persyaratan hukum yang berlaku dan/atau kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Orang adalah orang perseorangan, dan/atau kelompok orang, dan/atau badan hukum; Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. Pasal 2

8. 9. 10. 11.

12.

13. 14.

15.

16. 17.

18.

19. 20. 21.

22. 23.

24. 25.

Ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berWawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya.

3

BAB II ASAS, TUJUAN, DAN SASARAN Pasal 3 Pengelolaan lingkungan hidup yang diselenggarakan dengan asas tanggung jawab negara, asas berkelanjutan, dan asas manfaat bertujuan untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pasal 4 Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : a. b. c. d. e. f. tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup; terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup; terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup; terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana; terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. BAB lII HAK, KEWAJIBAN, DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 5 (1) (2) Setiap orang mempunyai hak yang sama atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Setiap orang mempunyai hak atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 6 (1) Setiap orang berkewajiban memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Setiap orang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan berkewajiban memberikan informasi yang benar dan akurat mengenai pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 (1) (2) Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama dan seluas-luasnya untuk berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Pelaksanaan ketentuan pada ayat (1) di atas, dilakukan dengan cara : a. b. c. d. e. meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat, dan kemitraan; menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan masyarakat; menumbuhkan ketanggapsegeraan masyarakat untuk melakukan pengawasan sosial; memberikan saran pendapat; menyampaikan informasi dan/atau menyampaikan laporan. BAB IV WEWENANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Sumber daya alam dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat, serta pengaturannya ditentukan oleh Pemerintah. 4

(3)

(2)

(2)

Untuk melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Pemerintah : a. b. c. d. e. mengatur dan mengembangkan kebijaksanaan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup; mengatur penyediaan, peruntukan, penggunaan, pengelolaan lingkungan hidup, dan pemanfaatan kembali sumber daya alam, termasuk sumber daya genetika; mengatur perbuatan hukum dan hubungan hukum antara orang dan/atau subyek hukum lainnya serta perbuatan hukum terhadap sumber daya alam dan sumber daya buatan, termasuk sumber daya genetika; mengendalikan kegiatan yang mempunyai dampak sosial; mengembangkan pendanaan bagi upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3)

Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 9

(1) (2)

Pemerintah menetapkan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang dengan tetap memperhatikan nilai-nilai agama, adat istiadat, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat. Pengelolaan lingkungan hidup, dilaksanakan secara terpadu oleh instansi pemerintah sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab masing-masing, masyarakat, serta pelaku pembangunan lain dengan memperhatikan keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Pengelolaan lingkungan hidup wajib dilakukan secara terpadu dengan penataan ruang, perlindungan sumber daya alam nonhayati, perlindungan sumber daya buatan, konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, cagar budaya, keanekaragaman hayati dan perubahan iklim. Keterpaduan perencanaan dan pelaksanaan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dikoordinasi oleh Menteri. Pasal 10

(3)

(4)

Dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup Pemerintah berkewajiban : a. b. c. d. e. f. g. h. i. mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab para pengambil keputusan dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kesadaran akan hak dan tanggung jawab masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup; mewujudkan, menumbuhkan, mengembangkan dan meningkatkan kemitraan antara masyarakat, dunia usaha dan Pemerintah dalam upaya pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang menjamin terpeliharanya daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; mengembangkan dan menerapkan perangkat yang bersifat preemtif, preventif, dan proaktif dalam upaya pencegahan penurunan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup; memanfaatkan dan mengembangkan teknologi yang akrab lingkungan hidup; menyelenggarakan penelitian dan pengembangan di bidang lingkungan hidup; menyediakan informasi lingkungan hidup dan menyebarluaskannya kepada masyarakat; memberikan penghargaan kepada orang atau lembaga yang berjasa di bidang lingkungan hidup. Pasal 11 (1) (2) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. Ketentuan mengenai tugas, fungsi, wewenang dan susunan organisasi serta tata kerja kelembagaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur lebih lanjut dengan Keputusan Presiden. Pasal 12 (1) Untuk mewujudkan keterpaduan dan keserasian pelaksanaan kebijaksanaan nasional tentang pengelolaan lingkungan hidup, Pemerintah berdasarkan peraturan perundang-undangan dapat : a. melimpahkan wewenang tertentu pengelolaan lingkungan hidup kepada perangkat di wilayah; 5

(2) mengikutsertakan peran Pemerintah Daerah untuk membantu Pemerintah Pusat dalam pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup di daerah. Ketentuan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Penyerahan urusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat menyerahkan pengelolaan limbah tersebut kepada pihak lain. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. BAB V PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Pasal 14 (1) (2) (3) Untuk menjamin pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pasal 16 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan limbah hasil usaha dan/ atau kegiatan. Ketentuan mengenai kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. menggunakan dan/atau membuang. Ketentuan mengenai baku mutu lingkungan hidup. pencegahan dan penanggulangan pencemaran serta pemulihan daya tampungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Ketentuan mengenai pengelolaan bahan berbahaya dan beracun diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun meliputi : menghasilkan. Pasal 15 (1) (2) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. menyimpan. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.b. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan perundang-undangan. mengangkut. mengedarkan. Pasal 17 (1) (2) (3) Setiap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan wajib melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun. setiap usaha dan/atau kegiatan dilarang melanggar baku mutu dan kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. pencegahan dan penanggulangan kerusakan serta pemulihan daya dukungnya diatur dengan Peraturan Pemerintah. 6 . BAB Vl PERSYARATAN PENAATAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Perizinan Pasal 18 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan untuk memperoleh izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Pasal 13 (1) (2) Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan kepada Pemerintah Daerah menjadi urusan rumah tangganya.

pendapat masyarakat. Pasal 21 Setiap orang dilarang melakukan impor limbah bahan berbahaya dan beracun. 7 (2) (3) .(2) (3) Izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Menteri dapat menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Kepala Daerah menetapkan pejabat yang berwenang melakukan pengawasan. Ketentuan pelaksanaan pasal ini diatur lebih lanjut dengan peraturan perundang-undangan. (2) Keputusan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diumumkan. b. Pembuangan limbah ke media lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dilakukan di lokasi pembuangan yang ditetapkan oleh Menteri. setiap orang dilarang melakukan pembuangan limbah ke media lingkungan hidup. Pasal 19 (1) Dalam menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib diperhatikan : a. Bagian Kedua Pengawasan Pasal 22 (1) (2) (3) Menteri melakukan pengawasan terhadap penaatan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atas ketentuan yang telah ditetapkan dalam peraturan perundangan-undangan di bidang lingkungan hidup. rencana tata ruang. Dalam hal wewenang pengawasan diserahkan kepada Pemerintah Daerah. pengawas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 berwenang melakukan pemantauan. mengambil contoh. memeriksa instalasi dan/atau alat transportasi. c. Pasal 24 (1) Untuk melaksanakan tugasnya. membuat salinan dari dokumen dan/atau membuat catatan yang diperlukan. meminta keterangan. Pasal 20 (1) (2) (3) (4) (5) Tanpa suatu keputusan izin. Kewenangan menerbitkan atau menolak permohonan izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berada pada Menteri. serta meminta keterangan dari pihak yang bertanggungjawab atas usaha dan/atau kegiatan. memasuki tempat tertentu. Setiap orang dilarang membuang limbah yang berasal dari luar wilayah Indonesia ke media lingkungan hidup Indonesia. Setiap pengawas wajib memperlihatkan surat tugas dan/atau tanda pengenal serta wajib memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan tersebut. wajib memenuhi permintaan petugas pengawas sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dicantumkan persyaratan dan kewajiban untuk melakukan upaya pengendalian dampak lingkungan hidup. Untuk melakukan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang dimintai keterangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). memeriksa peralatan. pertimbangan dan rekomendasi pejabat yang berwenang yang berkaitan dengan usaha dan/atau kegiatan tersebut. Pasal 23 Pengendalian dampak lingkungan hidup sebagai alat pengawasan dilakukan oleh suatu lembaga yang dibentuk khusus untuk itu oleh Pemerintah.

Menteri dapat melaksanakan atau menugaskan pihak ketiga untuk melaksanakan audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pihak ketiga yang berkepentingan berhak mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk melakukan paksaan pemerintahan. Wewenang sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 29 (1) Menteri berwenang memerintahkan penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup apabila yang bersangkutan menunjukkan ketidakpatuhan terhadap ketentuan yang diatur dalam Undang-undang ini. dapat diserahkan kepada Bupati/Walikotamadya/Kepala Daerah Tingkat II dengan Peraturan Daerah Tingkat I. Apabila penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). didahului dengan surat perintah dari pejabat yang berwenang. Paksaan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). (2) (3) (4) (5) (1) (2) (3) Bagian Keempat Audit Lingkungan Hidup Pasal 28 Dalam rangka peningkatan kinerja usaha dan/atau kegiatan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan/atau pemulihan atas beban biaya penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan. penanggulangan. serta menanggulangi akibat yang ditimbulkan oleh suatu pelanggaran. 8 (2) (3) (4) (5) . Menteri mengumumkan hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Dalam hal peraturan perundang-undangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dibentuk. Kepala Daerah dapat mengajukan usul untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan kepada pejabat yang berwenang. Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang diperintahkan untuk melakukan audit lingkungan hidup wajib melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pemerintah mendorong penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup. Pasal 26 (1) (2) Tata cara penetapan beban biaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) dan ayat (5) serta penagihannya ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pihak yang berkepentingan dapat mengajukan permohonan kepada pejabat yang berwenang untuk mencabut izin usaha dan/atau kegiatan karena merugikan kepentingannya. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang. penanggulangan dan/atau pemulihan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat diganti dengan pembayaran sejumlah uang tertentu. Jumlah beban biaya sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Menteri. melakukan tindakan penyelamatan.Bagian Ketiga Sanksi Administrasi Pasal 25 (1) Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I berwenang melakukan paksaan pemerintahan terhadap penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk mencegah dan mengakhiri terjadinya pelanggaran. pelaksanaannya menggunakan upaya hukum menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku Pasal 27 Pelanggaran tertentu dapat dijatuhi sanksi berupa pencabutan izin usaha dan/atau kegiatan. Tindakan penyelamatan.

Bagian Ketiga Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup Melalui Pengadilan Paragraf 1 Ganti Rugi Pasal 34 (1) Setiap perbuatan melanggar hukum berupa pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang menimbulkan kerugian pada orang lain atau lingkungan hidup. baik yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan maupun yang memiliki kewenangan mengambil keputusan. dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. dengan kewajiban membayar ganti rugi secara langsung dan seketika pada saat terjadinya pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup.BAB VII PENYELESAIAN SENGKETA LINGKUNGAN HlDUP Bagian Pertama Umum Pasal 30 (1) (2) (3) Penyelesaian sengketa lingkungan hidup dapat ditempuh melalui pengadilan atau di luar pengadilan berdasarkan pilihan secara sukarela para pihak yang bersengketa. yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun. Pasal 33 (1) (2) Pemerintah dan/atau masyarakat dapat membentuk lembaga penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup yang bersifat bebas dan tidak berpihak. mewajibkan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan untuk membayar ganti rugi dan/atau melakukan tindakan tertentu. Pasal 32 Dalam penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 31 dapat digunakan jasa pihak ketiga. Ketentuan mengenai penyedia jasa pelayanan penyelesaian sengketa lingkungan hidup diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Apabila telah dipilih upaya penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan. untuk membantu menyelesaikan sengketa lingkungan hidup. Paragraf 2 Tanggung Jawab Mutlak Pasal 35 (1) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan yang usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. gugatan melalui pengadilan hanya dapat ditempuh apabila upaya tersebut dinyatakan tidak berhasil oleh salah satu atau para pihak yang bersengketa. Bagian Kedua Penyelesaian Sengketa Lingkungan Hidup di Luar Pengadilan Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan diselenggarakan untuk mencapai kesepakatan mengenai bentuk dan besarnya ganti rugi dan/atau mengenai tindakan tertentu guna menjamin tidak akan terjadinya atau terulangnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup. Selain pembebanan untuk melakukan tindakan tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Penyelesaian sengketa di luar pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap tindak pidana lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini. 9 (2) . hakim dapat menetapkan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan penyelesaian tindakan tertentu tersebut. bertanggung jawab secara mutlak atas kerugian yang ditimbulkan.

Jika diketahui bahwa masyarakat menderita karena akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup sedemikian rupa sehingga mempengaruhi perikehidupan pokok masyarakat. Hak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terbatas pada tuntutan untuk hak melakukan tindakan tertentu tanpa adanya tuntutan ganti rugi. masyarakat. Ketentuan mengenai tenggang daluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku terhadap pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan bahan berbahaya dan beracun dan/atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun. atau adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia. juga Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan instansi pemerintah yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya di bidang pengelolaan lingkungan 10 . kecuali biaya atau pengeluaran riil. BAB VIIl PENYIDlKAN Pasal 40 (1) Selain Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. Tata cara pengajuan gugatan dalam masalah lingkungan hidup oleh orang. atau adanya tindakan pihak ketiga yang menyebabkan terjadinya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. dan dihitung sejak saat korban mengetahui adanya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. berbentuk badan hukum atau yayasan. Pasal 39 (2) (3) c.(2) Penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan/ atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. dalam anggaran dasar organisasi lingkungan hidup yang bersangkutan menyebutkan dengan tegas bahwa tujuan didirikannya organisasi tersebut adalah untuk kepentingan pelestarian fungsi lingkungan hidup. b. Paragraf 4 Hak Masyarakat dan Organisasi Lingkungan Hidup Untuk Mengajukan Gugatan Pasal 37 (2) (1) (2) Masyarakat berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan dan/atau melaporkan ke penegak hukum mengenai berbagai masalah lingkungan hidup yang merugikan perikehidupan masyarakat. dan/atau organisasi lingkungan hidup mengacu pada Hukum Acara Perdata yang berlaku. c. telah melaksanakan kegiatan sesuai dengan anggaran dasarnya. b. Organisasi lingkungan hidup berhak mengajukan gugatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) apabila memenuhi persyaratan : a. Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Paragraf 3 Daluwarsa untuk Pengajuan Gugatan Pasal 36 (1) Tenggang daluwarsa hak untuk mengajukan gugatan ke pengadilan mengikuti tenggang waktu sebagaimana diatur dalam ketentuan Hukum Acara Perdata yang berlaku. adanya bencana alam atau peperangan. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan olen pihak ketiga sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c. maka instansi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. Pasal 38 (3) (1) Dalam rangka pelaksanaan tanggung jawab pengelolaan lingkungan hidup sesuai dengan pola kemitraan. pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti rugi.

00 (seratus juta rupiah). diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana yang berlaku. (3) (4) (5) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia.000. melakukan impor.000. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. meminta bantuan ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. padahal mengetahui atau sangat beralasan untuk menduga bahwa perbuatan tersebut dapat menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan umum atau nyawa orang lain. (2) Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang : a. Penyidikan tindak pidana lingkungan hidup di perairan Indonesia dan Zona Ekonomi Eksklusif dilakukan oleh penyidik menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku BAB IX KETENTUAN PIDANA Pasal 41 (1) Barangsiapa yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. barangsiapa yang dengan sengaja memberikan informasi palsu atau menghilangkan atau menyembunyikan atau merusak informasi yang diperlukan dalam kaitannya dengan perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. b.000.000. Pasal 43 (2) (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. diancam dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. diancam dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. dan/atau komponen lain yang berbahaya atau beracun masuk di atas atau ke dalam tanah. melakukan pemeriksaan atas pembukuan. e.hidup. 11 (2) . ke dalam udara atau ke dalam air permukaan. dan dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. 500.00 (tiga ratus juta rupiah). Pasal 42 (2) (1) Barangsiapa yang karena kealpaannya melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.00 (seratus lima puluh juta rupiah). Diancam dengan pidana yang sama dengan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1).000.000. Penyidik Pejabat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyampaikan hasil penyidikan kepada Penuntut Umum melalui Penyidik Pejabat Polisi Negara Republik lndonesia. sengaja melepaskan atau membuang zat.000. catatan. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan denda paling banyak Rp. f. memperdagangkan. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. dan dokumen lain serta melakukan penyitaan terhadap bahan dan barang hasil pelanggaran yang dapat dijadikan bukti dalam perkara tindak pidana di bidang lingkungan hidup. melakukan pemeriksaan terhadap orang atau badan hukum yang diduga melakukan tindak pidana di bidang lingkungan hidup.000. d. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan hukum sehubungan dengan peristiwa tindak pidana di bidang lingkungan hidup. 300. ekspor. melakukan pemeriksaan di tempat tertentu yang diduga terdapat bahan bukti. catatan.000. 150. pembukuan.00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). 100. menjalankan instalasi yang berbahaya. menyimpan bahan tersebut.00 (lima ratus juta rupiah). pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. mengangkut. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat. energi. 750.000.

150. melakukan tindak pidana secara sendiri atau bersama-sama. yayasan atau organisasi lain.000. yayasan atau organisasi lain tersebut maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu atau terhadap kedua-duanya. Pasal 46 (1) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. yang bertindak dalam lingkungan badan hukum. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. 100. dan/atau penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan.00 (seratus juta rupiah).000.000. c. Pasal 47 Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Undang-undang ini.dan/atau meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. terhadap pelaku tindak pidana lingkungan hidup dapat pula dikenakan tindakan tata tertib berupa : a. perserikatan atau organisasi lain. (2) Pasal 45 Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini dilakukan oleh atau atas nama suatu badan hukum. e. b. Pasal 48 Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini adalah kejahatan.000. dan/atau perbaikan akibat tindak pidana. dan dilakukan oleh orang-orang. yayasan atau organisasi lain. d. panggilan untuk menghadap dan penyerahan surat-surat panggilan itu ditujukan kepada pengurus di tempat tinggal mereka. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana dijatuhkan terhadap mereka yang memberi perintah atau yang bertindak sebagai pemimpin tanpa mengingat apakah orang-orang tersebut. perserikatan. hakim dapat memerintahkan supaya pengurus menghadap sendiri di pengadilan.00 (seratus lima puluh juta rupiah). dan/atau mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. perseroan.00 (empat ratus lima puluh juta rupiah). Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini.000.000. yang pada saat penuntutan diwakili oleh bukan pengurus. perseroan. tuntutan pidana dilakukan dan sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 47 dijatuhkan baik terhadap badan hukum. yayasan atau organisasi lain. 450. perserikatan. perserikatan. karena kealpaannya melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43. yayasan atau organisasi lain. perseroan. perseroan. perserikatan. perserikatan. dan/atau menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama (3) tiga tahun. perseroan. perseroan. diancam dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp. Jika tuntutan dilakukan terhadap badan hukum. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. f. baik berdasar hubungan kerja maupun berdasar hubungan lain. 12 (2) (3) (4) .(3) Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) mengakibatkan orang mati atau luka berat. yayasan atau organisasi lain. ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiga. atau di tempat pengurus melakukan pekerjaan yang tetap. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp. dilakukan oleh atau atas nama badan hukum. Pasal 44 (1) Barangsiapa yang dengan melanggar ketentuan perundang-undangan yang berlaku. pelaku tindak pidana diancam dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun dan denda paling banyak Rp. perseroan. perserikatan.

BAB XI KETENTUAN PENUTUP Pasal 50 Pada saat berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Undang-undang ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215) dinyatakan tidak berlaku lagi. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. Pasal 52 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. maka Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. wajib menyesuaikan menurut persyaratan berdasarkan Undang-undang ini.BAB X KETENTUAN PERALIHAN Pasal 49 (1) (2) Selambat-lambatnya 5 (lima) tahun sejak diundangkannya Undang-undang ini setiap usaha dan/atau kegiatan yang telah memiliki izin. Pasal 51 Dengan berlakunya Undang-undang ini. Lambock V. Agar setiap orang mengetahuinya. S O E HAR TO Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 19 September 1997 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. MOERDIONO Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum dan Perundang-undangan ttd. Nahattands LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1997 NOMOR 68 13 . Sejak diundangkannya Undang-undang ini dilarang menerbitkan izin usaha dan/atau kegiatan yang menggunakan limbah bahan berbahaya dan beracun yang diimpor. Disahkan di Jakarta pada tanggal 19 September 1997 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd.

keserasian. pengelolaan lingkungan hidup menuntut dikembangkannya suatu sistem dengan keterpaduan sebagai ciri utamanya. Untuk itu. yang selalu harus dibina dan dikembangkan agar dapat tetap dalam keselarasan. Oleh karena itu. Keadaan yang demikian memerlukan pembinaan dan pengembangan lingkungan hidup yang didasarkan pada keadaan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup akan meningkatkan keselarasan. Lingkungan hidup lndonesia sebagai suatu ekosistem terdiri atas berbagai subsistem. Pencemaran dan perusakan lingkungan hidup itu akan merupakan beban sosial. budaya. yang pada akhirnya masyarakat dan pemerintah harus menanggung biaya pemulihannya. 4. yang mempunyai aspek sosial. Pancasila. Antara manusia. Pembangunan sebagai upaya sadar dalam mengolah dan memanfaatkan sumber daya alam untuk meningkatkan kemakmuran rakyat. yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. yang pada akhirnya akan mempengaruhi ketahanan ekosistem secara keseluruhan. merupakan kesatuan yang bulat dan utuh yang memberikan keyakinan kepada rakyat dan bangsa Indonesia bahwa kebahagiaan hidup akan tercapai jika didasarkan atas keselarasan. diperlukan suatu kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan secara taat asas dan konsekuen dari pusat sampai ke daerah. dan keseimbangan yang dinamis.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 1997 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UMUM 1. 14 . Secara hukum. Kegiatan pembangunan yang makin meningkat mengandung risiko pencemaran dan perusakan lingkungan hidup sehingga struktur dan fungsi dasar ekosistem yang menjadi penunjang kehidupan dapat rusak. baik untuk mencapai kemakmuran lahir maupun untuk mencapai kepuasan batin. Lingkungan hidup lndonesia yang dianugerahkan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat dan bangsa Indonesia merupakan karunia dan rahmat-Nya yang wajib dilestarikan dan dikembangkan kemampuannya agar dapat tetap menjadi sumber dan penunjang hidup bagi rakyat dan bangsa lndonesia serta makhluk hidup lainnya demi kelangsungan dan peningkatan kualitas hidup itu sendiri. Oleh karena itu. pembinaan dan pengembangan subsistem yang satu akan mempengaruhi subsistem yang lain. 3. wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah. Undang-Undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kemakmuran rakyat tersebut haruslah dapat dinikmati generasi masa kini dan generasi masa depan secara berkelanjutan. Dalam hal ini lingkungan hidup lndonesia tidak lain adalah wilayah. ekonomi. 2. lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya. baik dalam hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa maupun manusia dengan manusia. dan lingkungan hidup terdapat hubungan timbal balik. manusia dengan alam. ketersediaan sumber daya alam terbatas dan tidak merata. dan geografi dengan corak ragam yang berbeda yang mengakibatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang berlainan. dan seimbang dengan fungsi Iingkungan hidup. serasi. Dalam pada itu. penggunaan sumber daya alam harus selaras. sedangkan permintaan akan sumber daya alam tersebut makin meningkat sebagai akibat meningkatnya kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang makin meningkat dan beragam. keserasian. Akan tetapi. dalam rangka mencapai kemajuan lahir dan kebahagiaan batin. lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. Dengan demikian. dan manusia sebagai pribadi. sebagai dasar dan falsafah negara. dan keseimbangan subsistem. berbangsa. masyarakat. yang berarti juga meningkatkan ketahanan subsistem itu sendiri. keserasian. Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. dan keseimbangan. Di pihak lain. dan bernegara dalam segala aspeknya. baik dalam jumlah maupun dalam kualitas. Pembangunan memanfaatkan secara terus-menerus sumber daya alam guna meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. daya dukung lingkungan hidup dapat terganggu dan daya tampung lingkungan hidup dapat menurun. baik wilayah negara maupun wilayah administratif. Sementara itu.

Terpeliharanya keberlanjutan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan rakyat sehingga menuntut tanggung jawab. konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Menyadari hal tersebut di atas. 5. pertambangan dan energi. penataan ruang. permasalahan hukum lingkungan hidup yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat memerlukan pengaturan dalam bentuk hukum demi menjamin kepastian hukum. Keadaan ini mendorong makin diperlukannya upaya pengendalian dampak lingkungan hidup sehingga risiko terhadap lingkungan hidup dapat ditekan sekecil mungkin. ilmu pengetahuan dan teknologi telah meningkatkan kualitas hidup manusia. Suatu perangkat hukum yang bersifat preventif berupa izin melakukan usaha dan/atau kegiatan lain. dan lain-lain. dan seimbang untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. lingkungan hidup Indonesia harus dikelola dengan prinsip melestarikan fungsi lingkungan hidup yang serasi. Arah pembangunan jangka panjang Indonesia adalah pembangunan ekonomi dengan bertumpukan pada pembangunan industri. tata guna tanah. yaitu peraturan perundang-undangan mengenai pengairan. yang diantaranya memakai berbagai jenis bahan kimia dan zat radioaktif. yang ditandai antara lain oleh makin banyaknya ragam organisasi masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup selain lembaga swadaya masyarakat. Tambahan Lembaran Negara No. dan peran anggota masyarakat. Makin meningkatnya upaya pembangunan menyebabkan akan makin meningkat dampaknya terhadap lingkungan hidup. bahan berbahaya dan beracun beserta limbahnya perlu dikelola dengan baik. 15 . Selain itu. menjadi sarana untuk mencapai keberlanjutan pembangunan dan menjadi jaminan bagi kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan. pengembangan sistem pengelolaan lingkungan hidup sebagai bagian pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup harus diberi dasar hukum yang jelas. perkembangan lingkungan global serta aspirasi internasional akan makin mempengaruhi usaha pengelolaan lingkungan hidup Indonesia. Terlihat pula peningkatan kepeloporan masyarakat dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup sehingga masyarakat tidak hanya sekedar berperan serta. Undang-undang ini memuat norma hukum lingkungan hidup. dalam izin harus dicantumkan secara tegas syarat dan kewajiban yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan lainnya. kesehatan. seperti lembaga swadaya masyarakat. Undang-undang ini akan menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan semua peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang lingkungan hidup yang berlaku. 3215) telah menandai awal pengembangan perangkat hukum sebagai dasar bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup Indonesia sebagai bagian integral dari upaya pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. Sementara itu. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 No. Dalam kurun waktu lebih dari satu dasawarsa sejak diundangkannya Undang-undang tersebut.12. antara lain dihasilkannya limbah bahan berbahaya dan beracun. kesadaran lingkungan hidup masyarakat telah meningkat dengan pesat. 6. Pembangunan yang memadukan lingkungan hidup. Di sisi lain. untuk memelihara dan meningkatkan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan. selaras. industrialisasi juga menimbulkan ekses. industri. organisasi lingkungan hidup. keterbukaan. tegas. dan lain-lain. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia harus bebas dari buangan limbah bahan berbahaya dan beracun dari luar wilayah Indonesia. yang dapat disalurkan melalui orang perseorangan. Disamping menghasilkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Apa yang dikemukakan tersebut di atas menyiratkan ikut sertanya berbagai instansi dalam pengelolaan lingkungan hidup sehingga perlu dipertegas batas wewenang tiap-tiap instansi yang ikut serta di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Dasar hukum itu dilandasi oleh asas hukum lingkungan hidup dan penaatan setiap orang akan norma hukum lingkungan hidup yang sepenuhnya berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain. Sesuai dengan hakikat Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara hukum. Upaya pengendalian dampak lingkungan hidup tidak dapat dilepaskan dari tindakan pengawasan agar ditaatinya ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. tetapi juga mampu berperan secara nyata. gaya hidup masyarakat industri ditandai oleh pemakaian produk berbasis kimia telah meningkatkan produksi limbah bahan berbahaya dan beracun. 7. Oleh karena itu. Oleh karena itu. Secara global. kelompok masyarakat adat. dipandang perlu untuk menyempurnakan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pengelolaan lingkungan hidup. yang apabila dibuang ke dalam media lingkungan hidup dapat mengancam lingkungan hidup. Dalam mencermati perkembangan keadaan tersebut. termasuk sumber daya alam. kehutanan. Pada kenyataannya. Hal itu merupakan tantangan yang besar terhadap cara pembuangan yang aman dengan risiko yang kecil terhadap lingkungan hidup. kesehatan. permukiman.

Disamping itu. Dengan demikian. Dengan mengantisipasi kemungkinan semakin munculnya tindak pidana yang dilakukan oleh suatu korporasi.Peningkatan pendayagunaan berbagai ketentuan hukum. dan usaha untuk mengefektifkan penyelesaian sengketa lingkungan hidup secara alternatif. Sebagai penunjang hukum administrasi. semua peraturan perundang-undangan tersebut di atas dapat terangkum dalam satu sistem hukum lingkungan hidup Indonesia. seperti sanksi administrasi dan sanksi perdata. dan alternatif penyelesaian sengketa lingkungan hidup tidak efektif dan/atau tingkat kesalahan pelaku relatif berat dan/atau akibat perbuatannya relatif besar dan/atau perbuatannya menimbulkan keresahan masyarakat. hukum perdata maupun hukum pidana. yaitu penyelesaian sengketa lingkungan hidup di luar pengadilan untuk mencapai kesepakatan antarpihak yang bersengketa. dalam Undang-undang ini diatur pula pertanggungjawaban korporasi. Dengan cara penyelesaian sengketa lingkungan hidup tersebut diharapkan akan meningkatkan ketaatan masyarakat terhadap sistem nilai tentang betapa pentingnya pelestarian dan pengembangan kemampuan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia masa kini dan kehidupan manusia masa depan. perlu pula dibuka kemungkinan dilakukannya gugatan perwakilan. berlakunya ketentuan hukum pidana tetap memperhatikan asas subsidiaritas. yaitu bahwa hukum pidana hendaknya didayagunakan apabila sanksi bidang hukum lain. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup Jelas Angka 2 Cukup Jelas Angka 3 Cukup Jelas Angka 4 Cukup Jelas Angka 5 Cukup Jelas Angka 6 Cukup Jelas Angka 7 Cukup Jelas Angka 8 Cukup Jelas Angka 9 Cukup Jelas Angka 10 Cukup Jelas Angka 11 Cukup Jelas Angka 12 Cukup Jelas Angka 13 Cukup Jelas Angka 14 Cukup Jelas Angka 15 Cukup Jelas 16 . baik hukum administrasi.

baik generasi masa kini maupun generasi masa depan. baik pemantauan penaatan maupun pemantauan perubahan kualitas lingkungan hidup. 17 . Terlestarikannya kemampuan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan. laporan dan evaluasi hasil pemantauan lingkungan hidup. keterangan. harus dilestarikan. di satu sisi. Pasal 4 Cukup Jelas Pasal 5 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Hak atas informasi lingkungan hidup merupakan suatu konsekuensi logis dari hak berperan dalam pengelolaan lingkungan hidup yang berlandaskan pada asas keterbukaan. Asas keberlanjutan mengandung makna setiap orang memikul kewajibannya dan tanggung jawab terhadap generasi mendatang. Hak atas informasi lingkungan hidup akan meningkatkan nilai dan efektivitas peranserta dalam pengelolaan lingkungan hidup. dan terhadap sesamanya dalam satu generasi. maupun dengar pendapat atau dengan cara lain yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan. baik dengan cara mengajukan keberatan. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan lingkungan hidup yang menurut sifat dan tujuannya memang terbuka untuk diketahui masyarakat. negara menjamin bahwa pemanfaatan sumber daya alam akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesejahteraan dan mutu hidup rakyat. Peran tersebut dilakukan antara lain dalam proses penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau perumusan kebijaksanaan lingkungan hidup. Di lain sisi. Ayat (3) Peran sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. seperti dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. serta melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara. Informasi lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini dapat berupa data. negara mencegah dilakukannya kegiatan pemanfaatan sumber daya alam dalam wilayah yurisdiksinya yang menimbulkan kerugian terhadap wilayah yurisdiksi negara lain. maka kemampuan lingkungan hidup. dan rencana tata ruang. disamping akan membuka peluang bagi masyarakat untuk mengaktualisasikan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Untuk terlaksananya kewajiban dan tanggung jawab tersebut.Angka 16 Cukup Jelas Angka 17 Cukup Jelas Angka 18 Cukup Jelas Angka 19 Cukup Jelas Angka 20 Cukup Jelas Angka 21 Cukup Jelas Angka 22 Cukup Jelas Angka 23 Cukup Jelas Angka 24 Cukup Jelas Angka 25 Cukup Jelas Pasal 2 Cukup Jelas Pasal 3 Berdasarkan asas tanggung jawab negara.

Ayat (2) Cukup jelas 18 . Pasal 7 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Kemandirian dan keberdayaan masyarakat merupakan prasyarat untuk menumbuhkan kemampuan masyarakat sebagai pelaku dalam pengelolaan lingkungan hidup bersama dengan pemerintah dan pelaku pembangunan lainnya. aspirasi. peranserta dalam mengembangkan budaya bersih lingkungan hidup. Misalnya. Huruf c Meningkatnya ketanggapsegeraan masyarakat akan semakin menurunkan kemungkinan terjadinya dampak negatif. Pasal 6 Ayat (1) Kewajiban setiap orang sebagaimana dimaksud pada ayat ini tidak terlepas dari kedudukannya sebagai anggota masyarakat yang mencerminkan harkat manusia sebagai individu dan makhluk sosial. Misalnya. Kewajiban tersebut mengandung makna bahwa setiap orang turut berperanserta dalam upaya memelihara lingkungan hidup. dan kebutuhan serta nilai-nilai yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Ayat (2) Informasi yang benar dan akurat itu dimaksudkan untuk menilai ketaatan penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan. Pasal 8 Ayat (1) Cukup Jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Kegiatan yang mempunyai dampak sosial merupakan kegiatan yang berpengaruh terhadap kepentingan umum. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Huruf e Cukup jelas Ayat (3) Cukup Jelas Pasal 9 Ayat (1) Dalam rangka penyusunan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup dan penataan ruang wajib diperhatikan secara rasional dan proporsional potensi. Huruf b Meningkatnya kemampuan dan kepeloporan masyarakat akan meningkatkan efektifitas peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup.Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. perhatian terhadap masyarakat adat yang hidup dan kehidupannya bertumpu pada sumber daya alam yang terdapat di sekitarnya. Huruf d Cukup jelas Huruf e Dengan meningkatnya ketanggapsegeraan akan meningkatkan kecepatan pemberian informasi tentang suatu masalah lingkungan hidup sehingga dapat segera ditindaklanjuti. kegiatan penyuluhan dan bimbingan di bidang lingkungan hidup. baik secara kultural maupun secara struktural.

Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 10 Huruf a Yang dimaksud dengan pengambil keputusan dalam ketentuan ini adalah pihak-pihak yang berwenang yaitu Pemerintah. Huruf b Kegiatan ini dilakukan melalui penyuluhan. Untuk menghindari tumpang tindih wewenang dan benturan kepentingan perlu adanya koordinasi. bimbingan. dan aspirasi dapat menjadi modal utama pembangunan nasional. dan gerak langkah yang menjamin terwujudnya pengelolaan lingkungan hidup secara berdaya guna dan berhasil guna yang berlandaskan Wawasan Nusantara. integrasi. masyarakat dan pelaku pembangunan lainnya. Proaktif adalah tindakan pada tingkat produksi dengan menerapkan standarisasi lingkungan hidup. yaitu pemerintah. seperti lSO 14000. Untuk itu guna mencapai keterpaduan dan kesatuan pola pikir. Huruf c Peran masyarakat dalam Pasal ini mencakup keikutsertaan. penerapan asuransi lingkungan hidup dan audit lingkungan hidup yang dilakukan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan guna meningkatkan kinerja. maka Pemerintah Pusat dapat menetapkan wewenang tertentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi daerah baik potensi 19 . Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan perangkat yang bersifat preemtif adalah tindakan yang dilakukan pada tingkat pengambilan keputusan dan perencanaan. Perangkat pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat preemtif. Dalam rangka peran masyarakat dikembangkan kemitraan para pelaku pengelolaan lingkungan hidup. preventif dan proaktif misalnya adalah pengembangan dan penerapan teknologi akrab lingkungan hidup. dan masyarakat termasuk antara lain lembaga swadaya masyarakat dan organisasi profesi keilmuan. karakteristik kebhinekaan budaya masyarakat. baik dalam upaya maupun dalam proses pengambilan keputusan tentang pelestarian daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 12 Ayat (1) Huruf a Negara Kesatuan Republik Indonesia kaya akan keanekaragaman potensi sumber daya alam hayati dan nonhayati. serta pendidikan dan pelatihan dalam rangka peningkatan kualitas dan kuantitas sumber manusia. dunia usaha. Adapun preventif adalah tindakan tingkatan pelaksanaan melalui penaatan baku mutu limbah dan/atau instrumen ekonomi. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Huruf i Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Lingkup pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup pada dasarnya meliputi berbagai sektor yang menjadi tanggung jawab berbagai departemen dan instansi pemerintah. sinkronisasi dan simplifikasi melalui perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. seperti tata ruang dan analisis dampak lingkungan hidup.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan limbah merupakan rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan. peralatan. pembiayaan. c. sifat kumulatif dampak. d. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 17 Ayat (1) Kewajiban untuk melakukan pengelolaan dimaksud merupakan upaya untuk mengurangi terjadinya kemungkinan risiko terhadap lingkungan hidup berupa terjadinya pencemaran atau perusakan lingkungan hidup. besarnya jumlah manusia yang akan terkena dampak rencana usaha dan/atau kegiatan. tugas. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup di satu sisi merupakan bagian studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. situasi dan kondisi daerah. 20 . Ayat (2) Cukup Jelas Pasal 13 Ayat (1) Dengan memperhatikan kemampuan. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. mengingat bahan berbahaya dan beracun mempunyai potensi yang cukup besar untuk menimbulkan efek negatif. Untuk mengukur atau menentukan dampak besar dan penting tersebut di antaranya digunakan kriteria mengenai : a. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih jelas dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. dan tanggung jawab tetap berada pada pemerintah yang menugaskannya. pengolahan limbah termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. b. banyaknya komponen lingkungan hidup lain yang akan terkena dampak. di sisi lain merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Huruf b Pemerintah Pusat atau Pemerintah Daerah Tingkat I dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat II untuk berperan dalam pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup sebagai tugas pembantuan. e. f. baik dampak negatif maupun dampak positif yang akan timbul dari usaha dan/atau kegiatan sehingga dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. luas wilayah penyebaran dampak. Pemerintah Pusat dapat menyerahkan urusan di bidang lingkungan hidup kepada daerah menjadi wewenang. kepada perangkat instansi pusat yang ada di daerah dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. dan tanggung jawab Pemerintah Daerah berdasarkan asas desentralisasi. pengumpulan. pengangkutan.alam maupun kemampuan daerah. pemanfaatan. Melalui tugas pembantuan ini maka wewenang.

maka rencana pengelolaan dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang wajib dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan harus dicantumkan dan dirumuskan dengan jelas dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Namun dari proses pemanfaatan tersebut akan menghasilkan limbah. Pembuangan limbah dan/atau bahan tersebut ke media lingkungan hidup akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem. ditentukan bahwa pada prinsipnya pembuangan limbah ke media lingkungan hidup merupakan hal yang dilarang. baik tanah. Pembuangan (dumping) sebagaimana dimaksud dalam Pasal ini adalah pembuangan limbah sebagai residu suatu usaha dan/atau kegiatan dan/atau bahan lain yang tidak terpakai atau daluwarsa ke dalam media lingkungan hidup. dan lain-lain dalam proses pengambilan keputusan izin.Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Contoh izin yang dimaksud antara lain izin kuasa pertambangan untuk usaha di bidang pertambangan. Apabila suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. kecuali ke media lingkungan hidup tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. sebagai residu yang tidak dapat dimanfaatkan kembali. Bagi usaha dan/atau kegiatan yang diwajibkan untuk membuat atau melaksanakan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Misalnya kewajiban untuk mengolah limbah. Pada umumnya limbah ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke media lingkungan hidup sehingga tidak menimbulkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. syarat mutu limbah yang boleh dibuang ke dalam media lingkungan hidup. Ayat (5) Cukup jelas 21 . menurut peraturan perundangundangan yang berlaku diwajibkan melaksanakan analisis dampak lingkungan hidup. yang akan dibuang ke media lingkungan hidup. Dalam hal tertentu. maka persetujuan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut harus diajukan bersama dengan permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. Sehingga dengan ketentuan Pasal ini. limbah yang dihasilkan oleh suatu usaha dan/ atau kegiatan itu dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku suatu produk. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan harus ditegaskan kewajiban yang berkenaan dengan penaatan terhadap ketentuan mengenai pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilaksanakan oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan dalam melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. Pasal 20 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Suatu usaha dan/atau kegiatan akan menghasilkan limbah. atau izin usaha industri untuk usaha di bidang industri. dengar pendapat. dan kewajiban yang berkaitan dengan pembuangan limbah. Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan merupakan pelaksanaan atas keterbukaan pemerintahan. air maupun udara. Pengumuman izin melakukan usaha dan/atau kegiatan tersebut memungkinkan peranserta masyarakat khususnya yang belum menggunakan kesempatan dalam prosedur keberatan. seperti kewajiban melakukan swapantau dan kewajiban untuk melaporkan hasil swapantau tersebut kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan hidup.

Yang dimaksud dengan pelanggaran tertentu adalah pelanggaran oleh usaha dan/atau kegiatan yang dianggap berbobot untuk dihentikan kegiatan usahanya. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 28 Audit lingkungan hidup merupakan suatu instrumen penting bagi penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan untuk meningkatkan efisiensi kegiatan dan kinerjanya dalam menaati persyaratan lingkungan hidup yang 22 . Menteri melakukan koordinasi dengan pimpinan instansi yang bersangkutan.Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam hal menetapkan pejabat yang berwenang dari instansi lain untuk melakukan pengawasan. misalnya telah ada warga masyarakat yang terganggu kesehatannya akibat pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini merupakan pelaksanaan Pasal 13 ayat (1). Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Bobot pelanggaran peraturan lingkungan hidup bisa berbeda-beda mulai dari pelanggaran syarat administratif sampai dengan pelanggaran yang menimbulkan korban. Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan memperhatikan situasi dan kondisi tempat pengawasan adalah menghormati nilai dan norma yang berlaku baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis.

Pasal 33 Ayat (1) Lembaga penyedia jasa penyelesaian sengketa lingkungan hidup ini dimaksudkan sebagai suatu lembaga yang mampu memperlancar pelaksanaan mekanisme pilihan penyelesaian sengketa dengan mendasarkan pada prinsip ketidakberpihakan dan profesionalisme. instansi pemerintah yang terkait dengan subyek yang disengketakan. pihak ketiga netral yang tidak memiliki kewenangan mengambil keputusan. Tindakan tertentu di sini dimaksudkan sebagai upaya memulihkan fungsi lingkungan hidup dengan memperhatikan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. yaitu para pihak yang mengalami kerugian dan mengakibatkan kerugian. Lembaga penyedia jasa yang dibentuk Pemerintah dimaksudkan sebagai pelayanan publik. serta dengan kebijaksanaan dan standar yang ditetapkan secara internal oleh penanggung jawab usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya putusan yang berbeda mengenai satu sengketa Iingkungan hidup untuk menjamin kepastian hukum. Pasal 32 Untuk melancarkan jalannya perundingan di luar pengadilan. Pihak ketiga netral ini harus : 1) disetujui oleh para pihak yang bersengketa. Pasal 31 Penyelesaian sengketa lingkungan hidup melalui perundingan di luar pengadilan dilakukan secara sukarela oleh para pihak yang berkepentingan. Pihak ketiga netral ini berfungsi sebagai pihak yang memfasilitasi para pihak yang berkepentingan sehingga dapat dicapai kesepakatan. 3) memiliki ketrampilan untuk melakukan perundingan atau penengahan. 4) tidak memiliki kepentingan terhadap proses perundingan maupun hasilnya. b. sebagai upaya perlindungan masyarakat karena itu harus diumumkan.ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. serta dapat melibatkan pihak yang mempunyai kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan hidup. audit lingkungan hidup dibuat secara sukarela untuk memverifikasi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan hidup yang berlaku. pihak ketiga netral yang memiliki kewenangan mengambil keputusan berfungsi sebagai arbiter. Pasal 29 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Hasil audit lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat ini merupakan dokumen yang bersifat terbuka untuk umum. Pasal 30 Ayat (1) Ketentuan pada ayat ini dimaksudkan untuk melindungi hak keperdataan para pihak yang bersengketa. Ayat (2) Cukup jelas 23 . para pihak yang berkepentingan dapat meminta jasa pihak ketiga netral yang dapat berbentuk : a. 2) tidak memiliki hubungan keluarga dan/atau hubungan kerja dengan salah satu pihak yang bersengketa. dan semua putusan arbitrase ini bersifat tetap dan mengikat para pihak yang bersengketa. Dalam pengertian ini.

Besarnya nilai ganti rugi yang dapat dibebankan terhadap pencemar atau perusak lingkungan hidup menurut Pasal ini dapat ditetapkan sampai batas tertentu. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum pada umumnya. Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Yang dimaksud hak mengajukan gugatan perwakilan pada ayat ini adalah hak kelompok kecil masyarakat untuk bertindak mewakili masyarakat dalam jumlah besar yang dirugikan atas dasar kesamaan permasalahan. Pasal 35 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara mutlak atau strict liability. menghilangkan atau memusnahkan penyebab timbulnya pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.Pasal 34 Ayat (1) Ayat ini merupakan realisasi asas yang ada dalam hukum lingkungan hidup yang disebut asas pencemar membayar. dan tuntutan yang ditimbulkan karena pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup. memulihkan fungsi lingkungan hidup. yakni unsur kesalahan tidak perlu dibuktikan oleh pihak penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Cukup jelas 24 . Selain diharuskan membayar ganti rugi. pencemar dan/atau perusak lingkungan hidup dapat pula dibebani oleh hakim untuk melakukan tindakan hukum tertentu. misalnya perintah untuk : memasang atau memperbaiki unit pengolahan limbah sehingga limbah sesuai dengan baku mutu lingkungan hidup yang ditentukan. Yang dimaksudkan sampai batas tertentu. Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud dengan tindakan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan perbuatan persaingan curang atau kesalahan yang dilakukan Pemerintah. fakta hukum. ditentukan keharusan asuransi bagi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan atau telah tersedia dana lingkungan hidup. adalah jika menurut penetapan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Ayat (2) Pembebanan pembayaran uang paksa atas setiap hari keterlambatan pelaksanaan perintah pengadilan untuk melaksanakan tindakan tertentu adalah demi pelestarian fungsi lingkungan hidup.

b. melainkan harus memenuhi persyaratan tertentu. Dengan adanya persyaratan sebagaimana dimaksud di atas. Ayat (3) Tidak setiap organisasi lingkungan hidup dapat mengatasnamakan lingkungan hidup. menyatakan seseorang telah melakukan perbuatan melanggar hukum karena mencemarkan atau merusak lingkungan hidup.Ayat (2) Gugatan yang diajukan oleh organisasi lingkungan hidup tidak dapat berupa tuntutan membayar ganti rugi. melainkan hanya terbatas gugatan lain. Yang dimaksud dengan biaya atau pengeluaran riil adalah biaya yang nyata-nyata dapat dibuktikan telah dikeluarkan oleh organisasi lingkungan hidup. baik ke peradilan umum ataupun peradilan tata usaha negara. memerintahkan seseorang yang melakukan usaha dan/atau kegiatan untuk membuat atau memperbaiki unit pengolah limbah. yaitu : a. c. memohon kepada pengadilan agar seseorang diperintahkan untuk melakukan tindakan hukum tertentu yang berkaitan dengan tujuan pelestarian fungsi lingkungan hidup. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 41 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 43 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 25 . tergantung pada kompetensi peradilan yang bersangkutan dalam memeriksa dan mengadili perkara yang dimaksud. maka secara selektif keberadaan organisasi lingkungan hidup diakui memiliki ius standi untuk mengajukan gugatan atas nama lingkungan hidup ke pengadilan.

Pasal 44 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 45 Cukup Jelas Pasal 46 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Cukup jelas Pasal 49 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3699 26 .

pembagian. Menimbang : a. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Nomor 3153) yang menyeragamkan nama. Pasal 1 ayat (1). sehingga perlu diganti. Kolusi. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3811). Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelengaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi. serta potensi dari keanekaragaman Daerah. Pengaturan. 4. dan bertanggungjawab kepada daerah secara proporsional. bahwa dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. pemerataan dan keadilan. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pasal 5 ayat (1). f. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan Rakyat. e. b. dan Nepotisme. c. tidak sesuai dengan jiwa Undang-Undang Dasar 1945 dan perlunya mengakui serta menghormati hak asal-usul Daerah yang bersifat istimewa sehingga perlu diganti. 3. 27 . baik di dalam maupun di luar negeri. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 24. bahwa sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia menurut Undang-Undang Dasar 1945 memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. bahwa Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. peran serta masyarakat. bahwa sehubungan dengan itu. bentuk. dipandang perlu untuk lebih menekankan pada prinsip-prinsip demokrasi. peran serta masyarakat. susunan. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. yang dilaksanakan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037) tidak sesuai lagi dengan prinsip-prinsip penyelenggaraan Otonomi Daerah dan perkembangan keadaan. sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi. Pasal 18. dipandang perlu menyelenggarakan Otonomi Daerah dengan memberikan kewenangan yang luas. dan keadilan. serta tantangan persaingan global. d. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor X/MPR/1998 tentang Pokok-pokok Reformasi Pembangunan dalam Rangka Penyelamatan dan Normalisasi Kehidupan Nasional sebagai Haluan Negara. dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. yang diwujudkan dengan pengaturan. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. nyata. 2. perlu ditetapkan undang-undang mengenai Pemerintahan Daerah untuk mengganti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah dan Undang-undang Nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. dan kedudukan pemerintahan desa. pemerataan. dan pemanfaatan sumber daya nasional. Mengingat : 1. bahwa dalam menghadapi perkembangan keadaan. 5.

Kecamatan adalah wilayah kerja Camat sebagai perangkat daerah kabupaten dan daerah kota. selanjutnya disebut Pemerintah. pelayanan jasa pemerintahan. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada yang menugaskannya. pelayanan sosial. 28 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) (16) . selanjutnya DPRD. termasuk pengelolaan sumber daya alam. selanjutnya disebut desa.Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA ME MUTU S KAN Menetapkan : UNDANG-UNDANG TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan : (1) Pemerintah Pusat. Pejabat yang berwenang adalah pejabat pemerintah di tingkat pusat dan/atau pejabat pemerintah di daerah propinsi yang berwenang membina dan mengawasi penyelenggaraan pemerintahan daerah. Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Wilayah Administrasi adalah wilayah kerja Gubernur selaku wakil pemerintah. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal usul dan adat istiadat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. dan kegiatan ekonomi. Desentralisasi adalah penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah kepada Daerah Otonom dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan Desa dan dari Daerah ke Desa untuk melaksanakan tugas tertentu yang disertai pembiayaan. Kelurahan adalah wilayah kerja Lurah sebagai perangkat daerah kabupaten dan/atau daerah kota di bawah kecamatan. Dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang Pemerintah kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah dan/atau perangkat pusat di daerah. Kawasan pedesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian. adalah perangkat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri dari Presiden beserta para menteri. selanjutnya disebut daerah. Daerah Otonom. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat Daerah Otonomi yang lain sebagai badan eksekutif daerah. Instansi vertikal adalah perangkat departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen di daerah. adalah kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai batas daerah tertentu berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Desa atau yang disebut dengan nama lain. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman pedesaan. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan pemerintahan Daerah Otonom oleh Pemerintah Daerah dan DPRD menurut asas desentralisasi. adalah Badan Legislatif Daerah.

dan pemekaran daerah. penggabungan. serta perubahan nama dan pemindahan ibukota daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1). BAB III PEMBENTUKAN DAN SUSUNAN DAERAH Pasal 4 (1) Dalam rangka pelaksanaan asas desentralisasi dibentuk dan disusun daerah provinsi. Perubahan batas yang tidak mengakibatkan penghapusan suatu daerah. Syarat-syarat pembentukan daerah. Daerah Kabupaten. pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Daerah Provinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. penggabungan. dan daerah kota yang berwenang mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. dan ibukota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undangundang. dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan. jumlah penduduk. pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan. nama. dan Daerah Kota yang bersifat otonom. Penghapusan. Daerah dapat dimekarkan menjadi lebih dari satu daerah.(17) Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. perubahan nama daerah. BAB II PEMBAGIAN DAERAH Pasal 2 (1) Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi dalam Daerah Propinsi. Pembentukan. (2) (2) (3) (4) (2) (3) (4) 29 . (2) Pasal 3 Wilayah Daerah Provinsi. sosial budaya. terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sosial politik. Daerah-daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain. ditetapkan dengan undang-undang. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pasal 5 (1) Daerah dibentuk berdasarkan pertimbangan kemampuan ekonomi. luas daerah. potensi daerah. dan pertimbangan lain yang memungkinkan terselenggaranya Otonomi Daerah. daerah kabupaten. batas. Pasal 6 (1) Daerah yang tidak mampu menyelenggarakan otonomi daerah dapat dihapus dan/atau digabung dengan daerah lain. Kriteria tentang penghapusan. dan pemekaran daerah. ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 10 (1) Daerah berwenang mengelola sumber daya nasional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. pertanahan. penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh Daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh Pemerintah. pendidikan dan kebudayaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). dan bantuan penegakan keamanan dan kedaulatan negara. konservasi. lingkungan hidup. perhubungan. serta kewenangan bidang lain. Pasal 11 (4) (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. c. pendayagunaan sumber daya alam serta teknologi tinggi yang strategis. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). penanaman modal. (2) (2) (2) (3) (2) e. meliputi : a. serta kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu lainnya. Kewenangan Daerah di wilayah laut. konservasi. sistem administrasi negara dan lembaga perekonomian negara. pertanian.BAB IV KEWENANGAN DAERAH Pasal 7 (1) Kewenangan Daerah mencakup kewenangan dalam seluruh bidang pemerintahan. peradilan. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. pembinaan dan pemberdayaan sumber daya manusia. dan standarisasi nasional. agama. Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom termasuk juga kewenangan yang tidak atau belum dapat dilaksanakan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dana perimbangan keuangan. eksploitasi. pengaturan tata ruang. dan pengelolaan kekayaan laut sebatas wilayah laut tersebut. meliputi kebijakan tentang perencanaan nasional dan pengendalian pembangunan nasional secara makro. 30 (2) . (3) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut. Kewenangan bidang lain. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut. pengaturan kepentingan administrasi. industri dan perdagangan. kesehatan. kecuali kewenangan dalam bidang politik luar negeri. eksplorasi. koperasi. pertahanan keamanan. dan tenaga kerja. d. Kewenangan provinsi sebagai wilayah administrasi mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur selaku wakil pemerintah. Pasal 9 (1) Kewenangan provinsi sebagai Daerah Otonom mencakup kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas kabupaten dan kota. Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sarana dan prasarana. b. adalah sejauh sepertiga dari batas laut Daerah Provinsi. Pasal 8 (1) Kewenangan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. Kewenangan pemerintahan yang dilimpahkan kepada Gubernur dalam rangka dekonsentrasi harus disertai dengan pembiayaan sesuai dengan kewenangan yang dilimpahkan tersebut. moneter dan fiskal.

komisi-komisi. dan alat kelengkapan DPRD diatur dengan undang-undang. Bagian Kedua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Pasal 15 Kedudukan. BAB V BENTUK DAN SUSUNAN PEMERINTAHAN DAERAH Bagian Kesatu Umum Pasal 14 (1) Di Daerah dibentuk DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintah Daerah sebagai Badan Eksekutif Daerah. wewenang. DPRD sebagai Badan Legislatif Daerah berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari Pemerintah Daerah. 31 (2) (2) (2) . Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah beserta perangkat Daerah lainnya. Pelaksanaan ketentuan. c. keanggotaan. memilih Gubernur/Wakil Gubernur. Pasal 18 (1) DPRD mempunyai tugas dan wewenang : a. tugas. dan Walikota/Wakil Walikota. pimpinan.Pasal 12 Pengaturan lebih lanjut mengenai ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 dan Pasal 9 ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. atau Walikota/Wakil Walikota. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati/Wakil Bupati. Pasal 13 (1) Pemerintah dapat menugaskan kepada Daerah tugas-tugas tertentu dalam rangka tugas pembantuan disertai pembiayaan. hak. memilih anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat dari Utusan Daerah. ditetapkan dengan peraturan perundangundangan. Setiap penugasan. dan panitia-panitia. DPRD membentuk fraksi-fraksi yang bukan merupakan alat kelengkapan DPRD. Pasal 16 (1) DPRD sebagai lembaga perwakilan rakyat di Daerah merupakan wahana untuk melaksanakan demokrasi berdasarkan Pancasila. susunan. b. diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. sarana dan prasarana. Pasal 17 (1) (2) (3) (4) Keanggotaan DPRD dan jumlah anggota DPRD ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Bupati/Wakil Bupati. serta sumber daya manusia dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkannya kepada Pemerintah. Alat kelengkapan DPRD terdiri atas pimpinan. mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Gubernur/Wakil Gubernur.

sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Bupati. mengadakan penyelidikan. d. atau warga masyarakat yang menolak permintaan. Pasal 20 (1) DPRD dalam melaksanakan tugasnya berhak meminta pejabat negara. 3. dan menampung dan menindaklanjuti aspirasi Daerah dan masyarakat. mengajukan Rancangan Peraturan Daerah. (2) Pelaksanaan hak. dan c. menentukan Anggaran Belanja DPRD. pelaksanaan Peraturan Daerah dan peraturan perundang-undangan lain. memberikan pendapat dan pertimbangan kepada Pemerintah terhadap rencana perjanjian internasional yang menyangkut kepentingan Daerah. meminta pertanggungjawaban Gubernur. keuangan/administrasi. pemerintahan. pejabat pemerintah. Bupati. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. atau Walikota membentuk Peraturan Daerah. b. 4. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). bersama dengan Gubernur. 32 (2) (3) (2) . 5. dan pembangunan. menetapkan Peraturan Tata Tertib DPRD. meminta keterangan kepada Pemerintah Daerah. b. atau Walikota menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Bupati. melaksanakan pengawasan terhadap: 1. Pejabat negara. (2) Pelaksanaan tugas dan wewenang. g. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. Bupati. 2. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD. dan h. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). protokoler. bersama dengan Gubernur. Pasal 19 (1) DPRD mempunyai hak : a. Pasal 21 (1) Anggota DPRD mempunyai hak : a. dan Walikota. e. Pelaksanaan hak. e. mengajukan pernyataan pendapat.d. kebijakan Pemerintah Daerah. dan pelaksanaan kerja sama internasional di Daerah. pejabat pemerintah. f. Pelaksanaan hak. sebagaimana dimaksud ayat (1). h. bangsa. c. f. pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. diancam dengan pidana kurungan paling lama satu tahun karena merendahkan martabat dan kehormatan DPRD. mengadakan perubahan atas Rancangan Peraturan Daerah. g. dan Walikota. sebagaimana dimaksud ayat (1) dan ayat (2). pengajuan pertanyaan. pelaksanaan keputusan Gubernur. atau warga masyarakat untuk memberikan keterangan tentang suatu hal yang perlu ditangani demi kepentingan negara.

ditetapkan dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 26 Rapat tertutup dapat mengambil keputusan. mengamalkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. pemilihan Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah. Pasal 24 Peraturan Tata Tertib DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD. c. kecuali yang dinyatakan tertutup berdasarkan Peraturan Tata Tertib DPRD atau atas kesepakatan diantara pimpinan DPRD. j. penghapusan tagihan sebagian atau seluruhnya.Pasal 22 DPRD mempunyai kewajiban : (1) (2) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. membina demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. dan memperhatikan dan menyalurkan aspirasi. Pasal 25 Rapat-rapat DPRD bersifat terbuka untuk umum. ayat (2). e. b. serta memfasilitasi tindak lanjut penyelesaiannya. Pelaksanaan ketentuan. f. meningkatkan kesejahteraan rakyat di Daerah berdasarkan demokrasi ekonomi. h. pemilihan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Utusan Daerah. serta menaati segala peraturan perundangundangan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. (3) (4) (3) (4) 33 . pemilihan Ketua/Wakil Ketua DPRD. dan ayat (3). d. utang piutang. dan pembebanan kepada Daerah. menerima keluhan dan pengaduan masyarakat. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). atas permintaan sekurang-kurangnya seperlima dari jumlah anggota atau atas permintaan Kepala Daerah. Pasal 23 (1) (2) DPRD mengadakan rapat secara berkala sekurang-kurangnya enam kali dalam setahun. Kecuali yang dimaksud pada ayat (1). Badan Usaha Milik Daerah. penetapan perubahan dan penghapusan pajak dan retribusi. kecuali mengenai : a. dan kebijakan tata ruang. g. Ketua DPRD dapat mengundang anggotanya untuk mengadakan rapat selambat-lambatnya dalam waktu satu bulan setelah permintaan itu diterima. pinjaman. persetujuan penyelesaian perkara perdata secara damai. DPRD mengadakan rapat atas undangan Ketua DPRD. i.

yang diajukannya secara lisan atau tertulis.Pasal 27 Anggota DPRD tidak dapat dituntut di pengadilan karena pernyataan dan atau pendapat yang dikemukakan dalam rapat DPRD. Kepala Daerah Kota disebut Walikota. Pasal 31 (1) (2) Kepala Daerah Provinsi disebut Gubernur. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. Sekretaris DPRD dalam melaksanakan tugasnya berada di bawah dan bertanggung jawab kepada pimpinan DPRD. Sekretariat DPRD dipimpin oleh seorang Sekretaris DPRD yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas persetujuan pimpinan DPRD. Bagian Ketiga Sekretariat DPRD Pasal 29 (1) (2) Sekretariat DPRD membantu DPRD dalam menyelenggarakan tugas dan kewenangannya. Gubernur berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Dalam menjalankan tugas dan kewenangan sebagai Kepala Daerah. baik terbuka maupun tertutup. kecuali jika yang bersangkutan tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan. yang karena jabatannya adalah juga sebagai Wakil Pemerintah. kecuali jika yang bersangkutan mengumumkan apa yang disepakati dalam rapat tertutup untuk dirahasiakan atau hal-hal yang dimaksud oleh ketentuan mengenai pengumuman rahasia negara dalam buku kedua Bab I Kitab Undang-undang Hukum Pidana. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) (3) (4) (5) Bagian Keempat Kepala Daerah Pasal 30 Setiap Daerah dipimpin oleh seorang Kepala Daerah sebagai Kepala Eksekutif yang dibantu oleh seorang Wakil Kepala Daerah. Dalam hal anggota DPRD tertangkap tangan melakukan tindak pidana. Pasal 28 (1) Tindakan penyidikan terhadap anggota DPRD dapat dilaksanakan atas persetujuan tertulis Menteri Dalam Negeri bagi anggota DPRD Propinsi dan Gubernur bagi anggota DPRD Kabupaten dan Kota. 34 (3) (4) (5) . Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Propinsi. Dalam kedudukan sebagai Wakil Pemerintah. Pasal 32 (1) (2) Kepala Daerah Kabupaten disebut Bupati. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Sekretaris DPRD dapat menyediakan tenaga ahli dengan tugas membantu anggota DPRD dalam menjalankan fungsinya. Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. ditetapkan dengan Peraturan Tata tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. ditetapkan oleh Pemerintah. Anggaran Belanja Sekretaris DPRD ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan dicantumkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. selambat-lambatnya dalam tempo 2 kali 24 jam diberitahukan secara tertulis kepada Menteri Dalam Negeri dan/atau Gubernur. sebagaimana dimaksud pada ayat (4).

Tata cara pelaksanaan pertanggungjawaban. berumur sekurang-kurangnya tiga puluh tahun. Bupati/Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/Kota. melakukan kegiatan teknis pemilihan calon. (2) Bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah yang memenuhi persyaratan sesuai dengan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Panitia Pemilihan. Calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah ditetapkan oleh DPRD melalui tahap pencalonan dan pemilihan. Pasal 35 (2) (3) (4) (5) (1) Panitia pemilihan. Pasal 33 (4) (1) Yang dapat ditetapkan menjadi Kepala Daerah adalah warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. Ketua dan para Wakil Ketua DPRD karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Panitia Pemilihan merangkap sebagai anggota. f. diajukan kepada DPRD untuk ditetapkan sebagai calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah. dan bersedia dicalonkan menjadi Kepala Daerah. menyerahkan daftar kekayaan pribadi. Sekretaris DPRD karena jabatannya adalah Sekretaris Panitia Pemilihan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (3). melakukan pemeriksaan berkas identitas mengenai bakal calon berdasarkan persyaratan yang telah ditetapkan dalam Pasal 33. b. e. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Atas dan/atau sederajat. bertugas: a.(3) Dalam menjalankan tugas dan kewenangan selaku Kepala Daerah. Untuk pencalonan dan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. (1) Pengisian jabatan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. tidak sedang dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. i. mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di daerahnya. tidak pernah terlibat dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 yang dinyatakan dengan surat keterangan ketua Pengadilan Negeri. k. g. c. h. b. setia dan taat kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pemerintah yang sah. l. j. sehat jasmani dan rohani. dibentuk Panitia Pemilihan. ditetapkan dalam Peraturan Tata Tertib DPRD sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 34 d. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. dan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan pemilihan. tetapi bukan anggota. 35 .

Pasal 36 (1) Setiap fraksi melakukan kegiatan penyaringan pasangan bakal calon sesuai dengan syarat yang ditetapkan dalam Pasal 33. bebas. ditetapkan sebagai Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah oleh DPRD dan disahkan oleh Presiden. Dua fraksi atau lebih dapat secara bersama-sama mengajukan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rahasia. pimpinan rapat dapat menunda rapat paling lama satu jam. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 36 (2) (3) (2) (3) (4) (2) (2) (3) (2) (3) . serta rencana-rencana kebijakan apabila bakal calon dimaksud terpilih sebagai Kepala Daerah. Setiap anggota DPRD dapat memberikan suaranya kepada satu pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dari pasangan calon yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD. Nama-nama calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota yang akan dipilih oleh DPRD ditetapkan dengan keputusan pimpinan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 40 (1) Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilaksanakan secara langsung. rapat paripurna diundur paling lama satu jam lagi dan selanjutnya pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah tetap dilaksanakan. misi. Pimpinan DPRD mengundang bakal calon dimaksud untuk menjelaskan visi. Pasal 39 (1) Pemilihan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dilaksanakan dalam Rapat Paripurna DPRD yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD. Anggota DPRD dapat melakukan tanya jawab dengan para bakal calon. Pasal 37 (1) Dalam Rapat Paripurna DPRD. Pasal 38 (1) Nama-nama calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur yang telah ditetapkan oleh pimpinan DPRD dikonsultasikan dengan Presiden. jujur dan adil. setiap fraksi atau beberapa fraksi memberikan penjelasan mengenai bakal calonnya. Apabila jumlah anggota DPRD belum mencapai kuorum. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) belum dicapai. Apabila ketentuan. Pasangan calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang memperoleh suara terbanyak pada pemilihan. Setiap fraksi menetapkan pasangan bakal calon Kepala Daerah dan bakal calon Wakil Kepala Daerah dan menyampaikannya dalam rapat paripurna kepada pimpinan DPRD. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (4). Pimpinan DPRD dan pimpinan fraksi-fraksi melakukan penilaian atas kemampuan dan kepribadian para bakal calon dan melalui musyawarah atau pemungutan suara menetapkan sekurang-kurangnya dua pasang calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah yang akan dipilih satu pasang di antaranya oleh DPRD.

Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). sekurang-kurangnya sekali dalam satu tahun. memelihara ketentraman dan ketertiban masyarakat. Pasal 45 (1) (2) Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran.Pasal 41 Kepala Daerah mempunyai masa jabatan lima tahun dan dapat dipilih kembali hanya untuk sekali masa jabatan. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Pasal 44 (1) Kepala Daerah memimpin penyelenggaraan Pemerintahan Daerah berdasarkan kebijakan yang ditetapkan bersama DPRD. Pasal 42 (1) (2) (3) Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk untuk bertindak atas nama Presiden. 37 (2) (3) (4) (5) (6) (7) (2) (3) . menegakkan seluruh peraturan perundang-undangan. dan seadil-adilnya. Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya. menghormati kedaulatan rakyat. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Gubernur/ Bupati/Walikota dengan sebaik-baiknya. Bagian Kelima Kewajiban Kepala Daerah Pasal 43 Kepala Daerah mempunyai kewajiban : (1) mempertahankan dan memelihara keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana cita-cita Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945. Kepala Daerah wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 ayat (2). Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD. Sebelum memangku jabatannya. Kepala Daerah wajib menyampaikan laporan atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dengan tembusan kepada Gubernur bagi Kepala Daerah Kabupaten dan Kepala Daerah Kota. Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. atau jika dipandang perlu oleh Kepala Daerah atau apabila diminta oleh Presiden. memegang teguh Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. dan mengajukan Rancangan Peraturan Daerah dan menetapkannya sebagai Peraturan Daerah bersama dengan DPRD. sejujur-jujurnya. meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. (4) Tata cara pengucapan sumpah/janji dan pelantikan bagi Kepala Daerah ditetapkan oleh Pemerintah.

ditetapkan oleh Pemerintah. tidak lagi memenuhi syarat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. dan dapat menunjuk kuasa untuk mewakilinya. dan keterangannya atas kasus itu ditolak oleh DPRD. e. d. menerima uang. harus dilengkapi dan atau menyempurnakannya dalam jangka waktu paling lama tiga puluh hari. kroninya. golongan tertentu. Bagian Ketujuh Pemberhentian Kepala Daerah Pasal 49 Kepala Daerah berhenti atau diberhentikan karena: a. dan mengalami krisis kepercayaan publik yang luas akibat kasus yang melibatkan tanggung jawabnya. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. dan menjadi advokat atau kuasa hukum dalam suatu perkara di pengadilan.Pasal 46 (1) Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45. sebagaimana dimaksud pada ayat (3). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). melakukan pekerjaan lain yang memberikan keuntungan bagi dirinya. 38 b. e. d. membuat keputusan yang secara khusus memberikan keuntungan bagi dirinya. Bagi Kepala Daerah yang pertanggungjawabannya ditolak untuk kedua kalinya. dan/atau jasa dari pihak lain yang patut dapat diduga akan mempengaruhi keputusan atau tindakan yang akan dilakukannya. Pasal 47 Kepala Daerah mewakili daerahnya di dalam dan di luar pengadilan. baik secara langsung maupun tidak langsung. yang berhubungan dengan Daerah yang bersangkutan. g. Kepala Daerah yang sudah melengkapi dan/atau menyempurnakan pertanggungjawabannya menyampaikannya kembali kepada DPRD. anggota keluarganya. atau dalam yayasan bidang apa pun juga. melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 48. b. DPRD dapat mengusulkan pemberhentiannya kepada Presiden. melanggar sumpah/janji sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 ayat (3). baik milik swasta maupun milik Negara/Daerah. turut serta dalam suatu perusahaan. barang. berakhir masa jabatannya dan telah dilantik pejabat yang baru. baik pertanggungjawaban kebijakan pemerintahan maupun pertanggungjawaban keuangan. c. c. meninggal dunia. Tata cara. atau kelompok politiknya yang secara nyata merugikan kepentingan umum atau mendiskriminasikan warga negara dan golongan masyarakat lain. . (2) (3) (4) Bagian Keenam Larangan bagi Kepala Daerah Pasal 48 (1) Kepala Daerah dilarang : a. f. selain yang dimaksud dalam Pasal 47.

tidak dapat dicalonkan kembali sebagai Kepala Daerah dalam masa jabatan berikutnya. sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan. tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih. Kepala Daerah yang terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang dinyatakan dengan keputusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum yang tetap diberhentikan dari jabatannya oleh Presiden. DPRD mulai memproses pemilihan Kepala Daerah yang baru. Pasal 52 (1) Kepala Daerah yang diduga melakukan makar dan/atau perbuatan lain yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia diberhentikan untuk sementara dari jabatannya oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD. sebagaimana dimaksud dalam pasal 53. dan dituduh telah melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman mati. Pasal 54 Kepala Daerah yang ditolak pertanggungjawabannya oleh DPRD. 39 . Keputusan DPRD. Hal-hal yang dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. Kepala Daerah yang setelah melalui proses peradilan ternyata tidak terbukti melakukan makar dan perbuatan yang dapat memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bagian Kedelapan Tindakan Penyidikan Terhadap Kepala Daerah Pasal 55 (1) Tindakan penyidikan terhadap Kepala Daerah dilaksanakan setelah adanya persetujuan tertulis dari Presiden. (2) (2) (3) (2) (3) (2) b. Selambat-lambatnya satu bulan sebelum masa jabatan Kepala Daerah berakhir. Dengan adanya pemberitahuan. hal itu harus dilaporkan kepada Presiden selambat-lambatnya dalam 2 kali 24 jam. Pasal 51 Kepala Daerah diberhentikan oleh Presiden tanpa melalui Keputusan DPRD apabila terbukti melakukan tindak pidana kejahatan yang diancam dengan hukuman lima tahun atau lebih. harus dihadiri oleh sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota DPRD dan putusan diambil dengan persetujuan sekurang-kurangnya dua pertiga dari jumlah anggota yang hadir.Pasal 50 (1) Pemberhentian Kepala Daerah karena alasan-alasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 49 ditetapkan dengan Keputusan DPRD dan disahkan oleh Presiden. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 53 (1) DPRD memberitahukan akan berakhirnya masa jabatan Kepala Daerah secara tertulis kepada yang bersangkutan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). enam bulan sebelumnya. diaktifkan kembali dan direhabilitasi selaku Kepala Daerah sampai akhir masa jabatannya. atau diancam dengan hukuman mati sebagaimana yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Kepala Daerah mempersiapkan pertanggungjawaban akhir masa jabatannya kepada DPRD dan menyampaikan pertanggungjawaban tersebut selambat-lambatnya empat bulan setelah pemberitahuan. (3) Setelah tindakan penyidikan. tanpa persetujuan DPRD. sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

DPRD menyelenggarakan pemilihan Kepala Daerah Wakil Kepala Daerah selambat-lambatnya dalam waktu tiga bulan. Pasal 57 (1) Wakil Kepala Daerah mempunyai tugas: a. 40 . bersamaan dengan pelantikan Kepala Daerah. Pasal 47 sampai dengan Pasal 54. (2) (3) Wakil Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Daerah dan Negara Kesatuan Republik Indonesia”. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. Wakil Kepala Daerah mengucapkan sumpah/janji. Sekretaris Daerah melaksanakan tugas Kepala Daerah untuk sementara waktu. sejujur-jujurnya. dan seadil-adilnya. Wakil Kepala Daerah Kabupaten disebut Wakil Bupati dan Wakil Kepala Daerah Kota disebut Wakil Walikota. (5) Ketentuan-ketentuan. Sebelum memangku jabatannya. Wakil Kepala Daerah melaksanakan tugas dan wewenang Kepala Daerah apabila Kepala Daerah berhalangan. dan c. Apabila Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Pasal 58 (1) Apabila Kepala Daerah berhalangan tetap. jabatan Kepala Daerah diganti oleh Wakil Kepala Daerah sampai habis masa jabatannya. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). mengkoordinasikan kegiatan instansi pemerintahan di Daerah. Pasal 41. Pasal 43 kecuali huruf g. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Wakil Gubernur/Wakil Bupati/Wakil Walikota dengan sebaik-baiknya. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33. membantu Kepala Daerah dalam melaksanakan kewajibannya. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap.Bagian Kesembilan Wakil Kepala Daerah Pasal 56 (1) (2) Di setiap Daerah terdapat seorang Wakil Kepala Daerah. b. Apabila Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah berhalangan tetap. Kepala Daerah Provinsi disebut Wakil Gubernur. Wakil Kepala Daerah dilantik oleh Presiden atau pejabat lain yang ditunjuk. melaksanakan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Daerah. (3) (4) (6) (2) (3) (4) Bagian Kesepuluh Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah Pasal 59 Kedudukan Keuangan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. berlaku juga bagi Wakil Kepala Daerah.

ditetapkan dengan Keputusan Presiden. 41 (2) (2) (3) (4) (5) (6) . Pembentukan. Dinas dipimpin oleh seorang Kepala Dinas yang diangkat oleh Kepala Daerah dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat atas usul Sekretaris Daerah. Apabila Sekretaris Daerah berhalangan melaksanakan tugasnya. Kepala Kecamatan disebut Camat. Pasal 64 (1) Penyelenggaraan bidang pemerintah yang menjadi wewenang Pemerintah. dilakukan oleh instansi vertikal.Bagian Kesebelas Perangkat Daerah Pasal 60 Perangkat Daerah terdiri atas Sekretariat Daerah. susunan organisasi. Camat menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintah dari Bupati/Walikota. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3). dilaksanakan oleh Dinas Provinsi. Pasal 61 (1) (2) Sekretariat daerah dipimpin oleh Sekretariat Daerah. Sekretaris Daerah berkewajiban membantu Kepala Daerah dalam menyusun kebijakan serta membina hubungan kerja dengan dinas. Sekretariat daerah Propinsi diangkat oleh Gubernur atas persetujuan pimpinan DPRD dan Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Sekretaris Daerah Kabupaten atau Sekretaris Daerah Kota diangkat oleh Bupati atau Walikota atas persetujuan pimpinan DPRD dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. (3) (4) (5) (6) (7) (3) Pasal 63 Penyelenggaraan wewenang yang dilimpahkan oleh Pemerintah kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah dalam rangka dekonsentrasi. formasi. Sekretaris Daerah bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Camat diangkat oleh Bupati/Walikota atas usul Sekretaris Daerah Kabupaten/Kota dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat. Pasal 62 (1) (2) Dinas Daerah adalah unsur pelaksana Pemerintah Daerah. dan tata laksananya. Pembentukan Kecamatan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Pasal 65 Di Daerah dapat dibentuk lembaga teknis sesuai dengan kebutuhan daerah Pasal 66 (1) Kecamatan merupakan perangkat Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang dipimpin oleh Kepala Kecamatan. Camat bertanggung jawab kepada Bupati atau Walikota. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada Kepala Daerah melalui Sekretaris Daerah. Sekretaris Daerah Propinsi karena jabatannya adalah Sekretaris Wilayah Administrasi. Dinas Daerah dan lembaga teknis Daerah lainnya. tugas Sekretaris Daerah dilaksanakan oleh pejabat yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. lembaga teknis dan unit pelaksana lainnya. sesuai dengan kebutuhan Daerah.

42 (2) (2) (2) . Pasal 72 (1) Untuk melaksanakan Peraturan Daerah dan atas kuasa peraturan perundang-undangan lain yang berlaku. Pasal 68 (1) Susunan organisasi perangkat Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. Kepala Kelurahan disebut Lurah. 5.00 (lima juta rupiah) dengan atau tidak merampas barang tertentu untuk Daerah. (2) BAB VI PERATURAN DAERAH DAN KEPUTUSAN KEPALA DAERAH Pasal 69 Kepala Daerah menetapkan Peraturan Daerah atas persetujuan DPRD dalam rangka penyelenggaraan Otonomi Daerah dan penjabaran lebih lanjut dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Formasi dan persyaratan jabatan perangkat Daerah ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan Pemerintah. tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. Pembentukan Kelurahan ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Keputusan. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.Pasal 67 (1) (2) (3) (4) (5) (6) Kelurahan merupakan perangkat Kecamatan yang dipimpin oleh Kepala Kelurahan. seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar. Peraturan Daerah dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama enam bulan atau denda sebanyakbanyaknya Rp. Peraturan Daerah lain. Pasal 70 Peraturan Daerah tidak boleh bertentangan dengan kepentingan umum. dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi. Lurah bertanggung jawab kepada Camat.000. kacuali jika ditentukan lain dalam peraturan perundang-undangan.000. Lurah diangkat dari Pegawai Negeri Sipil yang memenuhi syarat oleh Walikota/Bupati atas usul Camat. Pasal 73 (1) Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Lurah menerima pelimpahan sebagian kewenangan pemerintahan dari Camat. mempunyai kekuatan hukum dan mengikat setelah diundangkan dalam Lembaran Daerah. peraturan daerah. Pasal 71 (1) Peraturan Daerah dapat memuat ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum. Kepala Daerah menetapkan keputusan Kepala Daerah.

pemberhentian.Pasal 74 (1) Penyidikan dan penuntutan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah dilakukan oleh pejabat penyidik dan penuntut sesuai dengan peraturan perundang-undangan. b. penetapan pensiun. ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. berdasarkan peraturan perundang-undangan. gaji. hasil pajak Daerah. (2) (2) 43 . sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79. Dengan Peraturan Daerah dapat juga ditunjuk pejabat lain yang diberi tugas untuk melakukan penyidikan terhadap pelanggaran atas ketentuan Peraturan Daerah. lain-lain pendapatan Daerah yang sah. serta pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Daerah yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dan hasil pengelolaan kekayaan Daerah yang dipisahkan. hasil retribusi Daerah. tunjangan. Pasal 76 Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengangkatan. terdiri atas : a. penetapan pensiun. c. dan penerimaan dari sumber daya alam. pemberhentian. dan lain-lain pendapatan asli daerah yang sah. pinjaman Daerah. tunjangan. yaitu : a. dana perimbangan. Pasal 77 Pemerintah Wilayah Propinsi melakukan pengawasan pelaksanaan administrasi kepegawaian karier pegawai di wilayahnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Penyelenggaraan tugas Pemerintah di Daerah dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Pasal 79 (1) Sumber Pendapatan daerah terdiri atas : pendapatan asli daerah. hasil perusahaan milik Daerah. pemindahan. BAB VII KEPEGAWAIAN DAERAH Pasal 75 Norma. bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan. d. dan prosedur mengenai pengangkatan. Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan. serta kedudukan hukum Pegawai Negeri Sipil di Daerah dan Pegawai Negeri Sipil Daerah. Pasal 80 (1) Dana perimbangan. kesejahteraan. standar. BAB VIII KEUANGAN DAERAH Pasal 78 (1) Penyelenggaraan tugas Pemerintahan Daerah dan DPRD dibiayai dari dan atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja daerah. dan kesejahteraan pegawai. hak dan kewajiban. gaji. pemindahan.

Pasal 86 (1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambat-lambatnya satu bulan setelah ditetapkannya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. persetujuan penyelesaian sengketa perdata secara damai. Pasal 82 (2) (3) (4) (1) (2) Pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan undang-undang. sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.b. Pemerintah memberi insentif fiskal dan nonfiskal tertentu. Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD dapat menetapkan keputusan tentang : a. dan dana alokasi khusus. Pasal 81 (3) (4) (1) Pemerintahan Daerah dapat melakukan peminjaman dalam negeri dan/atau dari sumber luar negeri untuk membiayai kegiatan pemerintahan dengan persetujuan DPRD. diterima langsung oleh Daerah penghasil. Tata cara peminjaman. (2) (2) 44 . dibebani hak tanggungan. ditetapkan dengan undang-undang. Pasal 84 Daerah dapat memiliki Badan Usaha Milik Daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan pembentukkannya diatur dengan Peraturan Daerah. perkotaan. Peminjaman dan sumber dana pinjaman yang berasal dari luar negeri. ayat (2). dan ayat (3). penghapusan daerah sebagian atau seluruhnya. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor pertambangan serta kehutanan dan penerimaan dari sumber daya alam. Pasal 83 (1) (2) Untuk mendorong pemberdayaan Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. Bagian Daerah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan sektor perdesaan. ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 85 (1) Barang Milik Daerah yang digunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat digadaikan. Pinjaman dari dalam negeri diberitahukan kepada Pemerintah dan dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh Pemerintah. Ketentuan lebih lanjut. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Daerah selambatlambatnya tiga bulan sebelum tahun anggaran berakhir. b. diterima oleh Daerah penghasil dan Daerah lainnya untuk pemerataan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Ketentuan. tindakan hukum lain mengenai barang milik Daerah. c. dan perkebunan serta Bea perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan/atau dipindahtangankan. (2) dana alokasi umum. dan c. harus mendapatkan persetujuan Pemerintah. Penentuan tarif dan tata cara pemungutan pajak dan retribusi daerah ditetapkan dengan Peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Keputusan bersama dan/atau badan kerjasama. ditetapkan oleh Pemerintah. sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1). dan fisik perkotaan. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. ayat (2). Daerah dapat mengadakan kerja sama dengan badan lain yang diatur dengan keputusan bersama. Pedoman tentang pengurusan. dan Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian dari dua atau lebih Daerah yang berbatasan sebagai satu kesatuan sosial. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah disampaikan kepada Gubernur bagi Pemerintah Kabupaten/Kota kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri bagi Pemerintah Propinsi untuk diketahui. Pedoman tentang penyusunan. BAB X KAWASAN PERKOTAAN Pasal 90 Selain Kawasan Perkotaan yang berstatus Daerah Kota. dan perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Tata cara. yang diatur dengan keputusan bersama. Pasal 89 (2) (1) (2) Perselisihan antar Daerah diselesaikan oleh Pemerintah secara musyawarah. Kawasan Perkotaan baru yang merupakan hasil pembangunan yang mengubah Kawasan Perdesaan menjadi Kawasan Perkotaan. Daerah dapat membentuk Badan Kerja Sama antar Daerah. Pasal 88 (1) Daerah dapat mengadakan kerja sama yang saling menguntungkan dengan lembaga/badan di luar negeri. terdapat salah satu pihak yang tidak dapat menerima keputusan Pemerintah. dan ayat (3). pelaksanaan tata usaha keuangan Daerah dan penyusunan perhitungan dan Belanja Daerah ditetapkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pengawasan keuangan Daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Apabila dalam penyelesaian perselisihan antar-Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1). perlu ditetapkan Kawasan Perkotaan yang terdiri atas : (a) (b) Kawasan Perkotaan yang merupakan bagian Daerah Kabupaten. pihak tersebut dapat mengajukan penyelesaian kepada Mahkamah Agung. yang membebani masyarakat dan Daerah harus mendapat persetujuan DPRD masing-masing. (c) 45 . BAB IX KERJASAMA DAN PENYELESAIAN PERSELISIHAN Pasal 87 (4) (5) (6) (1) (2) (3) (4) Beberapa Daerah dapat mengadakan kerjasama antar Daerah yang diatur dengan keputusan bersama. perubahan.(3) Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah selambat-lambatnya tiga bulan setelah berakhirnya tahun anggaran yang bersangkutan. pertanggungjawaban. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ekonomi. kecuali menyangkut kewenangan Pemerintah.

Pasal 97 Yang dapat dipilih menjadi Kepala Desa adalah penduduk Desa warga negara Republik Indonesia dengan syaratsyarat : a. Pembentukan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Penghapusan. dapat dibentuk Badan Pengelolaan Pembangunan yang bertanggung jawab kepada Kepala Daerah. penghapusan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Calon Kepala Desa yang terpilih dengan mendapatkan dukungan suara terbanyak. Pasal 94 Di Desa dibentuk Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa. Pasal 96 Masa jabatan Kepala Desa paling lama sepuluh tahun atau dua kali masa jabatan terhitung sejak tanggal ditetapkan. ditetapkan oleh Badan Perwakilan Desa dan disahkan oleh Bupati. dan/atau digabung dengan memperhatikan asal-usulnya atas prakarsa masyarakat dengan persetujuan Pemerintah Kabupaten dan DPRD. Pengikutsertaan masyarakat. Di Kawasan Perdesaan yang direncanakan dan dibangun menjadi Kawasan Perkotaan di Daerah Kabupaten. yang merupakan Pemerintah Desa. ditetapkan dengan Peraturan Daerah. dan/atau Penggabungan Desa Pasal 93 (1) Desa dapat dibentuk. Kepala Desa dipilih langsung oleh penduduk Desa dari calon yang memenuhi syarat. Pemerintah Daerah perlu mengikutsertakan masyarakat dan pihak swasta. bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2). Pengaturan mengenai Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 92 (1) Dalam penyelenggaraan pembangunan Kawasan Perkotaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Bagian Kedua Pemerintah Desa Pasal 95 (1) (2) (3) Pemerintah Desa terdiri atas Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan perangkat Desa. merupakan upaya pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan perkotaan. (2) (3) (2) (3) BAB XI DESA Bagian Pertama Pembentukan. dan hal-hal lain mengenai pengelolaan Kawasan Perkotaan ditetapkan dengan Peraturan Daerah sesuai dengan pedoman yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. dihapus. 46 . dan/atau penggabungan Desa.Pasal 91 (1) Pemerintah Kota dan/atau Pemerintah Kabupaten yang wilayahnya berbatasan langsung dapat membentuk lembaga bersama untuk mengelola Kawasan Perkotaan.

mengenal daerahnya dan dikenal oleh masyarakat di Desa setempat. j. Kepala Desa mengucapkan sumpah/janji. kewenangan yang sudah ada berdasarkan hak asal-usul Desa. c. jujur. Pemerintah Propinsi. kewenangan yang oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku belum dilaksanakan oleh Daerah dan Pemerintah. f. saya bersumpah/berjanji bahwa saya akan memenuhi kewajiban saya selaku Kepala Desa dengan sebaik-baiknya. e. dan/atau Pemerintah Kabupaten kepada Desa disertai dengan pembiayaan. k. Sebelum memangku jabatannya. berumur sekurang-kurangnya 25 tahun. Susunan kata-kata sumpah/janji dimaksud adalah sebagai berikut : “Demi Allah (Tuhan). dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. bahwa saya akan selalu taat dalam mengamalkan dan mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara. sarana dan prasarana. 47 . dan adil. Pasal 98 d. dan seadil-adilnya. Pasal 100 Tugas Pembantuan dari Pemerintah. dan tugas Pembantuan dari Pemerintah. m. G-30S/PKI dan/atau kegiatan organisasi terlarang lainnya. serta sumber daya manusia. berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan/atau berpengalaman yang sederajat. Pemerintah Provinsi. h. tidak pernah terlibat langsung atau tidak langsung dalam kegiatan yang mengkhianati Pancasila dan UndangUndang Dasar 1945. c. i. sejujur-jujurnya. dan bahwa saya akan menegakkan kehidupan demokrasi dan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai konstitusi negara serta segala peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi Desa. berkelakuan baik. tidak dicabut hak pilihnya berdasarkan keputusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap. sehat jasmani dan rohani. dan/atau Pemerintah Kabupaten. (1) (2) (3) Kepala Desa dilantik oleh Bupati atau pejabat lain yang ditunjuk. Daerah. dan memenuhi syarat-syarat lain yang sesuai dengan adat istiadat yang diatur dalam Peraturan Daerah. bersedia dicalonkan menjadi Kepala Desa.b. setia dan taat kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.” Pasal 99 Kewenangan Desa mencakup : a. nyata-nyata tidak terganggu jiwa/ingatannya. tidak pernah dihukum penjara karena melakukan tindak pidana. b. l. g.

Pasal 102 Dalam melaksanakan tugas dan kewajiban. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). d. meninggal dunia. Pelaksanaan Peraturan Desa ditetapkan dengan Keputusan Kepala Desa. dan menyampaikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya kepada Bupati. membuat Peraturan Desa. dilakukan oleh Bupati atas usul Badan Perwakilan Desa. menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. dan mewakili Desanya di dalam dan di luar pengadilan dan dapat menunjuk kuasa hukumnya. membina perekonomian Desa. Pimpinan Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh anggota. memimpin penyelenggaraan Pemerintah Desa. Pasal 103 (1) Kepala desa berhenti karena : a. tidak lagi memenuhi syarat dan/atau melanggar sumpah/janji. berakhir masa jabatan dan telah dilantik Kepala Desa yang baru. Kepala Desa : a. memelihara ketenteraman dan ketertiban masyarakat Desa. b. f. dan melakukan perbuatan yang bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan/atau norma yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Desa. b. d. 48 . e. (2) Pemberhentian Kepala Desa. Bagian Ketiga Badan Perwakilan Desa Pasal 104 Badan Perwakilan Desa atau yang disebut dengan nama lain berfungsi mengayomi adat istiadat. serta melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan Pemerintah Desa Pasal 105 (1) (2) (3) (4) Anggota Badan Perwakilan Desa dipilih dari dan oleh penduduk Desa yang memenuhi persyaratan. c. e. sebagaimana dimaksud dalam pasal 101. membina kehidupan masyarakat Desa. Badan Perwakilan Desa bersama dengan Kepala Desa menetapkan Peraturan Desa. mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. b. mengajukan berhenti atas permintaan sendiri. bertanggung jawab kepada rakyat melalui Badan Perwakilan Desa. c.Pasal 101 Tugas dan kewajiban Kepala Desa adalah : a.

4) hasil gotong-royong. 2) hasil kekayaan Desa. Bagian Keenam Kerja Sama Antar Desa Pasal 109 (1) Beberapa Desa dapat mengadakan kerja sama untuk kepentingan Desa yang diatur dengan Keputusan Bersama dan diberitahukan kepada Camat. Bagian Kelima Keuangan Desa Pasal 107 (1) Sumber pendapatan Desa terdiri atas : a. d. Pasal 108 Desa dapat memiliki badan usaha sesuai dengan peraturan perundang-undangan. (3) Kepala Desa bersama-sama Badan Perwakilan Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa. (5) Tata cara dan pungutan objek Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan bersama antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa. sumbangan dari pihak ketiga. dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. 3) hasil swadaya dan partisipasi. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. dan pinjaman Desa. (2) Sumber pendapatan Desa. (4) Pedoman penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa ditetapkan oleh Bupati. Untuk pelaksanaan kerja sama. dan 2) bagian dari dana perimbangan keuangan Pusat dan Daerah yang diterima oleh Pemerintah Kabupaten. bantuan dari Pemerintah dan Pemerintah Propinsi. b. pendapatan asli Desa yang meliputi : 1) hasil usaha Desa. dapat dibentuk Badan Kerja Sama. e. 49 (2) . bantuan dari Pemerintah Kabupaten yang meliputi : 1) bagian dari perolehan pajak dan retribusi Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). dan 5) lain-lain pendapatan asli Desa yang sah.Bagian Keempat Lembaga Lain Pasal 106 Di Desa dapat dibentuk lembaga lainnya sesuai dengan kebutuhan desa dan ditetapkan dengan Peraturan Desa.

dan wakil-wakil daerah yang dipilih oleh DPRD. pelaksanaan. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). sebagaimana dimaksud pada ayat (1). c. sebagaimana dimaksud dalam pasal 11. Peraturan Daerah. perwakilan asosiasi pemerintah daerah. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan Otonomi Daerah. BAB XII PEMBINAAN DAN PENGAWASAN Pasal 112 (1) (2) Dalam rangka pembinaan. Menteri Lain sesuai dengan kebutuhan. Pasal 113 Dalam rangka pengawasan. Pasal 114 (1) Pemerintah dapat membatalkan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bertentangan dengan kepentingan umum atau peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau peraturan perundang-undangan lainnya. Pasal 111 (1) Pengaturan lebih lanjut mengenai desa ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten. penggabungan dan pemekaran daerah. Menteri Keuangan. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan karena jabatannya adalah Ketua dan Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah.Pasal 110 Pemerintah Kabupaten dan/atau pihak ketiga yang merencanakan pembangunan bagian wilayah Desa menjadi wilayah permukiman. Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah disampaikan kepada Pemerintah selambat-lambatnya lima belas hari setelah ditetapkan. BAB XIII DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH Pasal 115 (1) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertugas memberikan pertimbangan kepada Presiden mengenai: a. Daerah yang tidak dapat menerima keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Menteri Sekretaris Negara. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). wajib mengakui dan menghormati hak. diberitahukan kepada Daerah yang bersangkutan dengan menyebutkan alasan-alasannya. dan jasa wajib mengikutsertakan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dalam perencanaan. Peraturan Daerah atau Keputusan Kepala Daerah tersebut dibatalkan pelaksanaannya. 50 (3) . dan Kemampuan daerah kabupaten dan daerah kota untuk melaksanakan kewenangan tertentu. dan adat istiadat Desa. dapat mengajukan keberatan kepada Mahkamah Agung setelah mengajukannya kepada Pemerintah. industri. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. dan pengawasannya. penghapusan. Selambat-lambatnya satu minggu setelah keputusan pembatalan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala daerah. Pedoman mengenai pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh Pemerintah berdasarkan undang-undang ini. Perimbangan keuangan pusat dan daerah. (2) (2) (3) (4) (2) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah terdiri dari Menteri Dalam Negeri. asal usul. b. pembentukan.

hak. Pasal 119 (1) Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. BAB XIV KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 117 Ibukota Negara Republik Indonesia. 51 (2) (2) (2) . wewenang. dan kawasan lain yang sejenis. baik kewenangan pangkal atas dasar pembentukan Daerah maupun kewenangan tambahan atas dasar Peraturan Pemerintah dan/atau atas dasar peraturan perundang-undangan lainnya. Pasal 118 (1) Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur dapat diberikan otonomi khusus dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kabupaten. kedudukan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah ditetapkan dengan Keputusan Presiden. formasi. kawasan bandar udara. Susunan organisasi. kawasan perumahan. tugas. kawasan pertambangan. kawasan pariwisata. Pasal 122 Keistimewaan untuk Propinsi Daerah Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah Pasal 121 Sebutan Propinsi Daerah Tingkat I.(4) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah mengadakan rapat sekurang-kurangnya satu kali dalam 6 (enam) bulan. karena kedudukannya diatur tersendiri dengan undang-undang. Pengaturan lebih lanjut. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah bertanggung jawab kepada Presiden. dan kewajiban Polisi Pamong Praja ditetapkan dengan Peraturan Daerah. kawasan jalan bebas hambatan. penyelenggaraannya disesuaikan dengan Pasal 9. Pasal 116 (5) (6) Dalam melaksanakan tugasnya Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibantu oleh Kepala Sekretaris yang membawahkan bidang otonomi daerah dan bidang perimbangan keuangan pusat dan daerah. Pasal 10. berlaku juga di kawasan otorita yang terletak di dalam Daerah Otonom. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 adalah tetap dengan ketentuan bahwa penyelenggaraan pemerintahan Propinsi Istimewa Aceh dan Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta didasarkan pada undang-undang ini. dan Kota. dan Kotamadya Daerah Tingkat II. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. kecuali ditetapkan lain oleh peraturan perundang-undangan. sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan undang-undang. berubah masing-masing menjadi Propinsi. Pengaturan mengenai penyelenggaraan otonomi khusus. Jakarta. dan Pasal 11 undang-undang ini. kawasan kehutanan. Kabupaten Daerah Tingkat II. yang meliputi badan otorita. Pasal 120 (1) Dalam rangka menyelenggarakan ketenteraman dan ketertiban umum serta untuk menegakkan Peraturan Daerah dibentuk Satuan Polisi Pamong Praja sebagai perangkat Pemerintah Daerah. kawasan pelabuhan. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. kawasan industri. Pasal 123 Kewenangan Daerah. kawasan perkebunan.

pertahanan. Kabupaten Paniai. adalah tetap. Kotamadya. dan Kota Administratif berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini ditetapkan sebagai Kelurahan. Kabupaten Puncak Jaya. kekayaannya dialihkan menjadi milik Daerah. serta agama. dan Kepala Desa beserta perangkatnya yang ada. Kotamadya Daerah Tingkat II. kecuali ditentukan lain berdasarkan Undang-undang ini. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kotamadya Administratif. Wakil Bupati Kepala Daerah Tingkat II. Pasal 127 Selama belum ditetapkan peraturan pelaksanaan Undang-undang ini. Walikotamadya. pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap menjalankan tugasnya. moneter dan fiskal. keamanan. Pasal 126 (1) Kecamatan. Daerah Istimewa. Lembaga Pembantu Gubernur. Bupati Kepala Daerah Tingkat II. Pembantu Bupati. Pasal 130 (1) Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih awal daripada masa jabatan Kepala Daerah.BAB XV KETENTUAN PERALIHAN Pasal 124 Pada saat berlakunya undang-undang ini. menjadi perangkat Daerah. dihapus. Desa-desa yang ada dalam wilayah Kotamadya. Instansi vertikal di Daerah selain yang menangani bidang-bidang luar negeri. Apabila masa jabatan Wakil Kepala Daerah berakhir lebih lambat daripada masa jabatan Kepala Daerah. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Kotamadya. dan Badan Pertimbangan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. huruf n. Kabupaten. dan Kota Administratif. atau pedoman yang ada atau yang diadakan oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah jika tidak bertentangan dengan Undangundang ini dinyatakan tetap berlaku. Semua instansi vertikal yang menjadi perangkat Daerah. dan semua Kota Administratif dapat ditingkatkan menjadi Daerah Otonom dengan memperhatikan Pasal 5 Undang-undang ini. dan huruf o Undang-undang ini. Kabupaten Simeuleu. Pasal 125 (1) Kotamadya Batam. petunjuk. batas. Pasal 128 Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundangundangan. sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 huruf m. Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. dan Desa yang ada pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini tetap sebagai Kecamatan. Kelurahan. Kelurahan. dan ibukota Propinsi Daerah Tingkat I. sudah harus berubah statusnya menjadi Kabupaten/Kota jika memenuhi ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 5 Undang-undang ini. kecuali ditentukan lain oleh peraturan perundang-undangan. Walikota. peradilan. Pasal 129 (1) Dengan diberlakukannya Undang-undang ini. Kabupaten Mimika. Pembantu Walikotamadya. sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979. sebagaimana dimaksud pada ayat (2). Bupati. dapat dihapuskan jika tidak memenuhi ketentuan untuk ditingkatkan statusnya menjadi Daerah Otonom. dan Kota Administratif. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 huruf n Undang-undang ini. masa jabatan Wakil Kepala Daerah disesuaikan dengan masa jabatan Kepala Daerah. Kabupaten. Camat. Selambat-lambatnya dua tahun setelah tanggal ditetapkannya undang-undang ini. seluruh instruksi. nama. dan Desa atau yang disebut dengan nama lain. Wakil Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. jabatan Wakil Kepala Daerah tidak diisi. sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. Wakil Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Kabupaten Daerah Tingkat II. 52 (2) (3) (2) (2) (3) (2) . Lurah.

Pelaksanaan Undang-undang ini dilakukan secara efektif selambat-lambatnya dalam waktu dua tahun sejak ditetapkannya Undang-undang ini. (3) (2) Disahkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Agar setiap orang dapat mengetahuinya. dinyatakan tidak berlaku lagi : Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa (Lembaran Negara Tahun 1979 Nomor 56. Pasal 133 Ketentuan peraturan perundang-undangan yang bertentangan dan/atau tidak sesuai dengan Undang-undang ini. diadakan penyesuaian. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037). Pasal 134 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 131 (1) (2) Pada saat berlakunya Undang-undang ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3153) Pasal 132 (1) Ketentuan pelaksanaan sebagai tindak lanjut Undang-undang ini sudah selesai selambat-lambatnya satu tahun sejak Undang-undang ini ditetapkan. AKBAR TANDJUNG 53 . memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

penyelenggaraan Otonomi Daerah juga dilaksanakan dengan prinsip-prinsip demokrasi. menyatakan bahwa pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil. pembagian. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman Daerah. untuk memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memberikan kewenangan yang luas. meningkatkan peran serta masyarakat. Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena itu. Dalam penjelasan pasal tersebut. Di daerah-daerah yang bersifat otonom (streek en locale rechtgemeenschappen) atau bersifat administrasi belaka. dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. Propinsi Daerah Tingkat I menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974. semuanya menurut aturan yang akan ditetapkan dengan Undang-undang. 54 c. dengan memberikan kesempatan dan keleluasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. nyata. dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan. d. Pemberian kedudukan propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai Wilayah Administrasi dilakukan dengan pertimbangan : 1. Dengan demikian. Oleh karena itu. pemerataan. Karena itu. . antara lain. dengan bentuk dan susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-undang. dalam Undang-undang ini dijadikan Daerah Propinsi dengan kedudukan sebagai Daerah Otonom dan sekaligus Wilayah Administrasi. Pengaturan. e. b. sebagaimana tertuang dalam Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. antara lain. g. Daerah Indonesia akan dibagi dalam Daerah Propinsi dan Daerah Propinsi akan dibagi dalam daerah yang lebih kecil. dan keadilan. pemerintahan akan bersendi atas dasar permusyawaratan. Sesuai dengan Ketetapan MPR RI Nomor XV/MPR/1998 tersebut di atas. Di samping itu.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1999 TENTANG PEMERINTAH DAERAH UMUM 1. mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. menumbuhkan prakarsa dan kreatifitas. Daerah Otonom Propinsi dan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak mempunyai hubungan hirarki. f. Dengan demikian.” Di daerah-daerah yang bersifat otonom akan diadakan Badan Perwakilan Daerah. maka Indonesia tidak akan mempunyai daerah dalam lingkungannya yang bersifat staat juga. peran serta masyarakat. dikemukakan bahwa “Oleh karena Negara Indonesia itu suatu eenheidsstaat. Negara Republik Indonesia sebagai Negara Kesatuan menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan. dan bertanggung jawab kepada Daerah. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan yang kuat untuk menyelenggarakan otonomi dengan memberikan kewenangan yang luas. Undang-undang ini disebut “Undang-undang Pemerintah Daerah” karena Undang-undang ini pada prinsipnya mengatur penyelenggaraan Pemerintahan Daerah yang lebih mengutamakan pelaksanaan asas desentralisasi. yang melaksanakan kewenangan Pemerintah Pusat yang didelegasikan kepada Gubernur. nyata. di daerah pun. serta perimbangan keuangan Pusat dan Daerah. Undang-undang ini menempatkan Otonomi Daerah secara utuh pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pembagian. Dasar Pemikiran a. dan bertanggung jawab kepada Daerah secara proporsional yang diwujudkan dengan pengaturan. yang dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 berkedudukan sebagai Kabupaten Daerah Tingkat II dan Kotamadya Daerah Tingkat II. Daerah Propinsi bukan merupakan Pemerintah atasan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Hal-hal yang mendasar dalam undang-undang ini adalah mendorong untuk memberdayakan masyarakat. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tersebut berkedudukan sebagai Daerah Otonom mempunyai kewenangan dan keleluasaan untuk membentuk dan melaksanakan kebijakan menurut prakarsa dan aspirasi masyarakat. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah Dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.

pertahanan keamanan. Disamping itu. dan berkembang di daerah. kawasan perkotaan baru. 55 . b. sedangkan Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi adalah Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. hidup. kawasan perumahan. keadilan dan pemerataan. 6. Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. pemerataan. pengembangan kehidupan demokrasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi luas. nyata dan bertanggung jawab. baik sebagai fungsi legislasi. dan kewenangan yang tidak atau belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan pertambangan. 8. keleluasaan otonomi mencakup pula kewenangan yang utuh dan bulat dalam penyelenggaraannya mulai dari perencanaan. 7. serta kewenangan di bidang pemerintah tertentu lainnya. keadilan. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. kawasan industri. 3. serta kewenangan bidang lainnya yang akan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. pengawasan. dan semacamnya berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonomi. Dengan memperhatikan pengalaman penyelenggaraan Otonomi Daerah pada masa lampau yang menganut prinsip otonomi yang nyata dan bertanggung jawab dengan penekanan pada otonomi yang lebih merupakan kewajiban daripada hak. Yang dimaksud dengan otonomi nyata adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan kewenangan pemerintahan di bidang tertentu yang secara nyata ada dan diperlukan serta tumbuh. kawasan pariwisata. Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. serta potensi dan keanekaragaman daerah. serta pemeliharaan hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar Daerah dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas.undang ini adalah sebagai berikut : 1. untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang bersifat lintas Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta melaksanakan kewenangan Otonomi Daerah yang belum dapat dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan evaluasi. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah serta antar-Daerah. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatnya kemandirian Daerah Otonomi. Atas dasar pemikiran di atas. nyata dan bertanggung jawab. berupa peningkatan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat yang semakin baik. kawasan kehutanan. i. agama. h. 2. pelaksanaan. Demikian pula di kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain seperti badan otorita. Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai wakil Pemerintah. Pembagian Daerah Isi dan jiwa yang terkandung dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya menjadi pedoman dalam penyusunan undang-undang ini dengan pokok-pokok pikiran sebagai berikut : a Sistem ketatanegaraan Indonesia wajib menjalankan prinsip pembagian kewenangan berdasarkan asas dekonsentrasi dan desentralisasi dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 4. Yang dimaksud dengan otonomi yang bertanggung jawab adalah berupa perwujudan pertanggungjawaban sebagai konsekuensi pemberian hak dan kewenangan kepada Daerah dalam wujud tugas dan kewajiban yang harus dipikul oleh Daerah dalam mencapai tujuan pemberian otonomi. kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri. prinsip-prinsip pemberian Otonomi Daerah yang dijadikan pedoman dalam Undang . tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. Otonomi untuk Daerah Propinsi diberikan secara terbatas yang meliputi kewenangan lintas Kabupaten dan Kota. kawasan pelabuhan. maka dalam Undang-undang ini pemberian kewenangan otonomi kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan kepada asas desentralisasi saja dalam wujud otonomi yang luas. kawasan perkebunan. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah. Kewenangan otonomi luas adalah keleluasaan Daerah untuk menyelenggarakan pemerintahan yang mencakup kewenangan semua bidang pemerintahan. Daerah yang dibentuk berdasarkan asas desentralisasi dan dekonsentrasi adalah Daerah Propinsi. 2. 5.2. dan untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang dilimpahkan dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. pengendalian. Daerah yang dibentuk dengan asas desentralisasi berwenang untuk menentukan dan melaksanakan kebijakan atas prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat. fungsi pengawas maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. 3. moneter dan fiskal. Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislatif Daerah. peradilan.

Pertanggungjawaban Kepala Daerah Dalam menjalankan tugas dan kewajiban Pemerintah Daerah. dan keyakinan mana pun Kepala Daerah harus bersikap arif. dan aliran. dekonsentrasi. Kepegawaian Kebijakan kepegawaian dalam undang-undang ini dianut kebijakan yang mendorong pengembangan Otonomi Daerah sehingga kebijakan kepegawaian di Daerah yang dilaksanakan oleh Daerah Otonom sesuai dengan kebutuhannya. 6. 8. yang didukung oleh perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah serta antara Propinsi dan Kabupaten/Kota yang merupakan prasyarat dalam sistem Pemerintahan Daerah. Gubernur bertanggung jawab kepada Presiden. 3. Kecamatan yang menurut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 sebagai Wilayah Administrasi dalam rangka dekonsentrasi. dan bertanggung jawab.c. DPRD dipisahkan dari Pemerintah Daerah dengan maksud untuk lebih memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban Pemerintah Daerah kepada rakyat. sedangkan dalam kedudukannya sebagai wakil Pemerintah. menurut undang-undang ini kedudukannya diubah menjadi perangkat Daerah Kabupaten atau Daerah Kota. sekaligus adalah Pimpinan Daerah dan pengayom masyarakat sehingga Kepala Daerah harus mampu berpikir. bijaksana. diperlukan kewenangan dan kemampuan menggali sumber keuangan sendiri. digunakannya asas desentralisasi. d. b. asas tugas pembantuan yang dapat dilaksanakan di Daerah Propinsi. Keuangan Daerah (1) Untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah yang luas. dan netral. Pembagian Daerah di luar daerah Propinsi dibagi habis ke dalam Daerah Otonom. dan bersikap dengan lebih mengutamakan kepentingan bangsa. Susunan Pemerintahan Daerah dan Hak DPRD Susunan Pemerintahan Daerah Otonom meliputi DPRD dan Pemerintah Daerah. 5. seseorang diharuskan memenuhi persyaratan tertentu yang intinya agar Kepala Daerah selalu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mutasi antar Daerah Propinsi dan/atau antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota didasarkan pada kesepakatan Daerah Otonom tersebut. dari kelompok atau etnis. Sementara itu. golongan. Gubernur bertanggung jawab kepada DPRD Provinsi. dan c. dan berkemampuan sebagai pimpinan pemerintahan. dan Desa. Kepala Daerah Untuk menjadi Kepala Daerah. Bupati atau Walikota bertanggung jawab kepada DPRD Kabupaten/DPRD Kota dan berkewajiban memberikan laporan kepada Presiden melalui Menteri Dalam Negeri dalam rangka pembinaan dan pengawasan. jujur. serta mendapatkan kepercayaan rakyat. 56 . Dengan demikian. adil. Mutasi antar Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam Daerah Propinsi diatur oleh Gubernur. (2) Dalam rangka menyelenggarakan Otonomi Daerah kewenangan keuangan yang melekat pada setiap kewenangan Pemerintahan menjadi kewenangan Daerah. Prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah Prinsip penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. Wilayah Administrasi yang berada dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dapat dijadikan Daerah Otonom atau dihapus. dan masyarakat umum daripada kepentingan pribadi. penempatan. dalam penyelenggaraan Otonomi Daerah di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Oleh karena itu. 7. berwawasan kebangsaan. Daerah Kabupaten. bertindak. penyelenggaraan asas desentralisasi secara utuh dan bulat yang dilaksanakan di Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. sedangkan mutasi antar Daerah Propinsi diatur oleh Pemerintah. dan tugas pembantuan. Oleh karena itu. 4. nyata. hak-hak DPRD cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat menjadi kebijakan Daerah dan melakukan fungsi pengawasan. adalah : a. baik pengangkatan. pemindahan. Kepala Daerah disamping sebagai pimpinan pemerintahan. dan mutasi maupun pemberhentian sesuai dengan peraturan perundang-undangan. negara. Daerah Kota. memiliki etika dan moral. berpengetahuan.

Untuk itu. Karena itu. dan pemberdayaan masyarakat. di Desa dibentuk Badan Perwakilan Desa atau sebutan lain yang sesuai dengan budaya yang berkembang di Desa yang bersangkutan. Kepala Desa dengan persetujuan Badan Perwakilan Desa mempunyai wewenang untuk melakukan perbuatan hukum dan mengadakan perjanjian yang saling menguntungkan. Kepala Desa bertanggung jawab pada Badan Perwakilan Desa dan menyampaikan laporan pelaksanaan tugas tersebut kepada Bupati. dan Keputusan Kepala Desa. yang berfungsi sebagai lembaga legislasi dan pengawasan dalam hal pelaksanaan Peraturan Desa. bantuan Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. (2) Penyelenggaraan Pemerintahan Desa merupakan subsistem dari sistem penyelenggaraan pemerintahan sehingga Desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakatnya. baik hukum publik maupun hukum perdata. (4) Sebagai perwujudan demokrasi. Lembaga dimaksud merupakan mitra Pemerintah Desa dalam rangka pemberdayaan masyarakat Desa. (6) Desa memiliki sumber pembiayaan berupa pendapatan Desa. Landasan pemikiran dalam pengaturan mengenai Pemerintahan Desa adalah keanekaragaman. partisipasi.9. Kepala Desa mempunyai wewenang untuk mendamaikan perkara/sengketa dari para warganya. Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas 57 . (5) Di Desa dibentuk lembaga kemasyarakatan Desa lainnya sesuai dengan kebutuhan Desa. 10. memiliki kekayaan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud Wilayah Administrasi adalah daerah administrasi menurut Undang-Undang Dasar 1945. otonomi asli. Pemerintahan Desa (1) Desa berdasarkan undang-undang ini adalah Desa atau yang disebut dengan nama lain sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum yang mempunyai susunan asli berdasarkan hak asal usul yang bersifat istimewa. (3) Desa dapat melakukan perbuatan hukum. (8) Dalam upaya meningkatkan dan mempercepat pelayanan kepada masyarakat yang bercirikan perkotaan dibentuk Kelurahan sebagai unit Pemerintah Kelurahan yang berada di dalam Daerah Kabupaten dan/ atau Daerah Kota. sebagaimana dimaksud dalam penjelasan Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945. demokratisasi. sedangkan pengawasan lebih ditekankan pada pengawasan represif untuk lebih memberikan kebebasan kepada Daerah Otonom dalam mengambil keputusan serta memberikan peran kepada DPRD dalam mewujudkan fungsinya sebagai badan pengawas terhadap pelaksanaan Otonomi Daerah. Pembinaan dan Pengawasan Yang dimaksud dengan pembinaan adalah lebih ditekankan pada memfasilitasi dalam upaya pemberdayaan Daerah Otonom. (7) Berdasarkan hak asal usul Desa yang bersangkutan. sumbangan pihak ketiga dan pinjaman Desa. harta benda. Peraturan Daerah yang ditetapkan Daerah Otonom tidak memerlukan pengesahan terlebih dahulu oleh pejabat yang berwenang. pendapatan lain-lain yang sah. dan bangunan serta dapat dituntut dan menuntut di pengadilan.

dan evaluasi sesuai dengan standar. Yang dimaksud dengan kewenangan bidang pemerintahan tertentu lainnya adalah : perencanaan dan pengendalian pembangunan regional secara makro. tetapi dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan terdapat hubungan koordinasi. dan kebijakan Pemerintah. dan sumber daya manusia yang tersedia di Daerah. dalam kedudukan sebagai Wilayah Administrasi. perizinan. pengendalian lingkungan hidup. dan penelitian yang mencakup wilayah provinsi. dan perencanaan tata ruang propinsi. Khusus di bidang keagamaan sebagian kegiatannya dapat ditugaskan oleh Pemerintah kepada Daerah sebagai upaya meningkatkan keikutsertaan Daerah dalam menumbuhkembangkan kehidupan beragama. dan/atau kemitraan dengan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota dalam kedudukan masing-masing sebagai Daerah Otonom. pelatihan bidang tertentu.Ayat (2) Yang dimaksud dengan tidak mempunyai hubungan hirarki satu sama lain adalah bahwa Daerah Propinsi tidak membawahkan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. perencanaan. kerja sama. Pasal 9 Ayat (1) Kewenangan bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten dan Kota seperti kewenangan di bidang pekerjaan umum. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 8 Dalam penyelenggaraan kewenangan Pemerintah yang diserahkan dan/atau dilimpahkan kepada Daerah/ Gubernur. Ayat (2) Yang dimaksud dengan kewenangan ini adalah kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota yang ditangani oleh Propinsi setelah ada pernyataan dari Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Daerah/Gubernur mempunyai kewenangan untuk mengelolanya mulai dari pembiayaan. pengelolaan pelabuhan regional. Pasal 5 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Untuk menentukan batas dimaksud. promosi dagang dan budaya / pariwisata. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Yang dimaksud dengan sumber daya nasional adalah sumber daya alam. norma. pelaksanaan. sumber daya buatan. perhubungan. penanganan penyakit menular dan hama tanaman. setiap undang-undang mengenai pembentukan Daerah dilengkapi dengan peta yang dapat menunjukkan dengan tepat letak geografis Daerah yang bersangkutan. alokasi sumber daya manusia potensial. Sementara itu. demikian pula mengenai perubahan batas Daerah. Ayat (3) Yang dimaksud ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah didasarkan pada usul Pemerintah Daerah dengan persetujuan DPRD. Gubernur selaku Wakil Pemerintah melakukan hubungan pembinaan dan pengawasan terhadap Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Yang dimaksud dengan moneter dan fiskal adalah kebijakan makro ekonomi. dan perkebunan. kehutanan. 58 .

Khusus kewenangan Daerah Kota disesuaikan dengan kebutuhan perkotaan. DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. dan tata kota. Oleh karena itu. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Cukup jelas Huruf f Cukup jelas 59 . Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Pemilihan anggota MPR dari Utusan Daerah hanya dilakukan oleh DPRD Provinsi. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 11 Ayat (1) Dengan diberlakukannya undang-undang ini. Ayat (2) Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. antara lain. pertamanan. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing. Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kedudukannya sebagai Badan Legislatif Daerah. kebersihan. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. pemadam kebakaran. tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah.Ayat (2) Khusus untuk penangkapan ikan secara tradisional tidak dibatasi wilayah laut. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dapat dialihkan ke Daerah Propinsi.

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Cukup jelas Pasal 25 Cukup jelas Pasal 26 Cukup jelas Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas Pasal 33 Cukup jelas 60 .Huruf g Cukup jelas Huruf h Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pejabat negara dan pejabat pemerintah adalah pejabat di lingkungan kerja DPRD bersangkutan.

Ayat (3) Cukup jelas Pasal 37 Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur dikonsultasikan dengan Presiden. yakni : 61 . Ayat (2) Calon Bupati dan calon Wakil Bupati serta calon Walikota dan calon Wakil Walikota diberitahukan kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. karena kedudukannya selaku wakil Pemerintah di Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan rapat paripurna adalah rapat yang khusus diadakan untuk pemilihan Kepala Daerah. Pemilihan secara bersamaan ini dimaksudkan untuk menjamin kerja sama yang harmonis antara Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah.Pasal 34 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah secara bersamaan adalah bahwa calon Kepala Daerah dan calon Wakil Kepala Daerah dipilih secara berpasangan. Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Kepala Daerah dapat dilakukan di Gedung DPRD atau di gedung lain.

Kepala Daerah berkewajiban mewujudkan demokrasi ekonomi dengan melaksanakan pembinaan dan pengembangan koperasi. pemasaran. dan pengolahan serta pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia. produksi. diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/Katolik. dan huruf d Larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan. huruf c. Huruf b.diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Huruf f Cukup jelas Huruf g Cukup jelas Pasal 44 Cukup jelas Pasal 45 Cukup jelas Pasal 46 Cukup jelas Pasal 47 Cukup jelas Pasal 48 Huruf a dan huruf e Larangan tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan bagi Kepala Daerah dalam melaksanakan tugasnya untuk memberikan pelayanan pemerintahan dengan tidak membeda-bedakan warga masyarakat. Pasal 49 Cukup jelas Pasal 50 Cukup jelas Pasal 51 Cukup jelas Pasal 52 Cukup jelas 62 . dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 43 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Dalam upaya meningkatkan taraf kesejahteraan rakyat. pengembangan teknologi. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. antara lain yang berwujud korupsi. usaha kecil dan menengah yang mencakup permodalan. kolusi dan nepotisme.

yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam diakhiri dengan ucapan “Semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. tembusannya dikirimkan kepada Presiden. dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Budha. dan tidak dilaksanakan dalam rapat DPRD. tembusannya dikirimkan kepada Gubernur. Pengucapan sumpah/janji dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. sedangkan berakhirnya masa jabatan Bupati/Walikota. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 54 Cukup jelas Pasal 55 Cukup jelas Pasal 56 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengucapan sumpah/janji dan pelantikan Wakil Kepala Daerah dapat dilakukan di gedung DPRD atau gedung lain.Pasal 53 Ayat (1) Pemberitahuan secara tertulis tentang berakhirnya masa jabatan Gubernur. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 57 Cukup jelas Pasal 58 Cukup jelas Pasal 59 Cukup jelas Pasal 60 Cukup jelas Pasal 61 Cukup jelas Pasal 62 Cukup jelas Pasal 63 Cukup jelas 63 .

diadakan. Lembaga Pengawasan. Jumlah denda dapat disesuaikan dengan perkembangan tingkat kemahalan hidup. Badan Perencanaan. Ayat (4) Camat dapat melimpahkan sebagian kewenangan kepada Lurah. atau memperbaiki segala sesuatu yang telah dibuat. Pasal 70 Yang dimaksud dengan Peraturan Daerah lain adalah Peraturan Daerah yang sejenis dan sama kecuali untuk perubahan. 64 . Paksaan penegakan hukum itu hendaknya hanya dilakukan dalam hal yang sangat perlu saja dengan cara seimbang sesuai dengan berat pelanggaran. Pasal 71 Ayat (1) Paksaan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah untuk menegakkan hukum dengan undang-undang ini disebut “paksaan penegakan hukum” atau “paksaan pemeliharaan hukum”. dialpakan. melakukan.Pasal 64 Cukup jelas Pasal 65 Yang dimaksud dengan lembaga teknis adalah Badan Penelitian dan Pengembangan. diambil suatu tindakan paksaan. atau ditiadakan yang bertentangan dengan hukum. karena paksaan tersebut pada umumnya dapat menimbulkan kerugian atau penderitaan. Pejabat yang menjalankan tindakan paksaan penegakan hukum terhadap pelanggar harus dengan tegas diserahi tugas tersebut. yang merupakan keharusan agar Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah tersebut mempunyai kekuatan hukum dan mengikat. Paksaan itu harus didahului oleh suatu perintah tertulis oleh penguasa eksekutif kepada pelanggar. dan lain-lain. dijalankan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 72 Cukup jelas Pasal 73 Ayat (1) Pengundangan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang bersifat mengatur dilakukan menurut cara yang sah. Badan Pendidikan dan Pelatihan. Apabila pelanggar tidak mengindahkannya. Pasal 66 Cukup jelas Pasal 67 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Sekretaris Daerah Kota/Kabupaten memberi pertimbangan kepada Walikota/Bupati dalam proses pengangkatan Lurah. Paksaan penegakan hukum itu pada umumnya berwujud mengambil atau meniadakan. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 68 Cukup jelas Pasal 69 Peraturan Daerah hanya ditandatangani oleh Kepala Daerah dan tidak ditandatangani serta Pimpinan DPRD karena DPRD bukan merupakan bagian dari Pemerintah Daerah. mencegah.

dan penerimaan lain sesuai dengan peraturan perundangundangan. Pasal 80 Ayat (1) Huruf a Yang dimaksud dengan penerimaan sumber daya alam adalah penerimaan negara yang berasal dari pengelolaan sumber daya alam antara lain di bidang pertambangan umum. dan pemindahan pegawai antar Daerah Propinsi atau antara Daerah Propinsi dan Pusat serta pemindahan pegawai Daerah antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Kabupaten/Kota di Daerah Propinsi lainnya ditetapkan oleh Pemerintah setelah berkonsultasi dengan Kepala Daerah. peraturan dan keputusan tersebut perlu dimasyarakatkan. pertambangan minyak dan gas bumi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 74 Cukup jelas Pasal 75 Cukup jelas Pasal 76 Pemindahan pegawai dalam Daerah Kabupaten/Kota dilakukan oleh Bupati/Walikota. Untuk lebih mengefektifkan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 65 . dan perikanan. pemindahan pegawai antar Daerah Kabupaten/Kota dan/atau antara Daerah Kabupaten/Kota dan Daerah Propinsi dilakukan oleh Gubernur setelah berkonsultasi dengan Bupati/Walikota.Pengundangan dimaksud kecuali untuk memenuhi formalitas hukum juga dalam rangka keterbukaan pemerintahan. Pasal 77 Cukup jelas Pasal 78 Cukup jelas Pasal 79 Huruf a Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Cukup jelas Angka (3) Cukup jelas Angka (4) Lain-lain pendapatan asli Daerah yang sah antara lain hasil penjualan aset Daerah dan jasa giro. Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Lain-lain pendapatan Daerah yang sah adalah antara lain hibah atau penerimaan dari Daerah Propinsi atau Daerah Kabupaten/Kota lainnya. Cara pengundangan yang sah adalah dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah oleh Sekretaris Daerah. kehutanan.

dan/atau memindahtangankan. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 82 Ayat (1) Daerah dapat menetapkan pajak dan retribusi dengan Peraturan Daerah sesuai dengan ketentuan undang-undang. Ayat (2) Penentuan tata cara pemungutan pajak dan retribusi Daerah termasuk pengembalian atau pembebasan pajak dan/atau retribusi Daerah yang dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 84 Cukup jelas Pasal 85 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Yang dimaksud dengan tindakan hukum lain adalah menjual. menghibahkan. yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Daerah atas persetujuan DPRD. Pasal 83 Ayat (1) Yang dimaksud dengan insentif nonfiskal adalah bantuan Pemerintah berupa kemudahan pembangunan prasarana. tukar guling. Yang berwenang mengadakan dan menanggung pinjaman Daerah adalah Kepala Daerah. penyebaran lokasi industri strategis. Dengan demikian pemrosesan lebih lanjut usulan pinjaman Daerah secara tidak langsung sudah mencerminkan persetujuan Pemerintah atas usulan termaksud. 66 . Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 81 Ayat (1) Pinjaman dalam negeri bersumber dari Pemerintah. dan lain-lain. penyebaran lokasi pusat-pusat perbankan nasional. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Mekanisme pinjaman dari sumber luar negeri harus mendapat persetujuan Pemerintah mengandung pengertian bahwa Pemerintah akan melakukan evaluasi dari berbagai aspek mengenai dapat tidaknya usulan pinjaman Daerah untuk diproses lebih lanjut. dan/atau penerbitan obligasi Daerah dengan diberitahukan kepada Pemerintah sebelum peminjaman tersebut dilaksanakan. menggadaikan.Ayat (2) Tidak termasuk bagian Pemerintah dari penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan dan Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan yang dikembalikan kepada Daerah. Di dalam Keputusan Kepala Daerah harus dicantumkan jumlah pinjaman dan sumber dana untuk memenuhi kewajiban pembayaran pinjaman. lembaga komersial.

Pasal 94 Istilah Badan Perwakilan Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat Desa setempat. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 93 Ayat (1) Istilah Desa disesuaikan dengan kondisi sosial budaya masyarakat setempat seperti nagari. dan lain-lain. dan pemilikan. bori. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 92 Ayat (1) Pemerintah Daerah perlu memfasilitasi pembentukan forum perkotaan untuk menciptakan sinergi Pemerintah Daerah. Ayat (2) Dalam pembentukan. huta. jumlah penduduk. dan pihak swasta.Pasal 86 Cukup jelas Pasal 87 Cukup jelas Pasal 88 Cukup jelas Pasal 89 Cukup jelas Pasal 90 Cukup jelas Pasal 91 Ayat (1) Yang dimaksud dengan lembaga bersama adalah lembaga yang dibentuk secara bersama oleh Pemerintah Kabupaten/Kota yang berbatasan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. kampung. penghapusan. Pasal 95 Ayat (1) Istilah Kepala Desa dapat disesuaikan dengan kondisi sosial budaya Desa setempat. dan marga. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberdayaan masyarakat adalah pengikutsertaan dalam perencanaan. masyarakat. Yang dimaksud dengan asal usul adalah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar 1945 dan penjelasannya. dan/atau penggabungan Desa perlu dipertimbangkan luas wilayah. potensi Desa. pelaksanaan. sosial budaya. Pembentukan Pemerintah Desa dan Badan Perwakilan Desa dilakukan oleh masyarakat Desa. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas 67 .

dan diawali dengan ucapan “Demi Sanghyang Adi Buddha” untuk penganut agama Buddha. serta sumber daya manusia. Kepala Desa dapat dibantu oleh lembaga adat Desa. diawali dengan ucapan “Om atah paramawisesa” untuk penganut agama Hindu. yakni : diawali dengan ucapan “Demi Allah” untuk penganut agama Islam. Segala perselisihan yang telah didamaikan oleh Kepala Desa bersifat mengikat pihakpihak yang berselisih. diakhiri dengan ucapan “semoga Tuhan menolong saya” untuk penganut agama Kristen Protestan/ Katolik. Pasal 101 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas Huruf d Cukup jelas Huruf e Untuk mendamaikan perselisihan masyarakat di Desa. Huruf f Cukup jelas Pasal 102 Huruf a Cukup jelas Huruf b Laporan Kepala Desa disampaikan kepada Bupati dengan tembusan kepada Camat Pasal 103 Ayat (1) Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Cukup jelas 68 . Ayat (3) Cukup jelas Pasal 99 Cukup jelas Pasal 100 Pemerintah Desa berhak menolak pelaksanaan Tugas Pembantuan yang tidak disertai dengan pembiayaan.Pasal 96 Daerah Kabupaten dapat menetapkan masa jabatan Kepala Desa sesuai dengan sosial budaya setempat. Pasal 97 Cukup jelas Pasal 98 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengucapan sumpah/janji Kepala Desa dilakukan menurut agama yang diakui Pemerintah. sarana dan prasarana.

Huruf e Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 104 Fungsi pengawasan Badan Perwakilan Desa meliputi pengawasan terhadap pelaksanaan Peraturan Desa. Pasal 108 Cukup jelas Pasal 109 Ayat (1) Kerja sama antar-Desa yang memberi beban kepada masyarakat harus mendapat persetujuan Badan Perwakilan Desa. Ayat (2) Kegiatan pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa yang ditetapkan setiap tahun meliputi penyusunan anggaran. Pasal 105 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Peraturan Desa tidak memerlukan pengesahan Bupati. pelaksanaan tata usaha keuangan. dengan pendirian Badan Usaha Milik Desa. dan perubahan serta perhitungan anggaran. Pemberdayaan potensi Desa dalam meningkatkan pendapatan Desa dilakukan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa. kerja sama dengan pihak ketiga. tetapi wajib disampaikan kepadanya selambatlambatnya dua minggu setelah ditetapkan dengan tembusan kepada Camat.Huruf d Untuk menghindari kekosongan dalam penyelenggaraan Pemerintahan Desa. Pendapatan Daerah dari sumber tersebut harus diberikan kepada Desa yang bersangkutan dengan pembagian secara proporsional dan adil. dan Keputusan Kepala Desa. antara lain. tidak dibenarkan adanya pungutan tambahan oleh Pemerintah Desa. Ayat (2) Cukup jelas 69 . Sumber Pendapatan Daerah yang berada di Desa. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 106 Cukup jelas Pasal 107 Ayat (1) Sumber pendapatan yang telah dimiliki dan dikelola oleh Desa tidak dibenarkan diambil alih oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah. Ketentuan ini dimaksudkan untuk menghilangkan beban ekonomi tinggi dan dampak lainnya. dan kewenangan melakukan pinjaman. Kepala Desa yang telah berakhir masa jabatannya tetap melaksanakan tugasnya sebagai Kepala Desa sampai dengan dilantiknya Kepala Desa yang baru. baik pajak maupun retribusi yang sudah dipungut oleh Daerah Kabupaten.

dan/atau dimekarkan diusulkan oleh Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD kepada Pemerintah. dan 2 orang Wakil Daerah Kota dengan masa tugas selama dua tahun. Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah menyampaikan pertimbangan untuk penyusunan rancangan undang-undang yang mengatur pembentukan. penghapusan. sosial budaya. pelatihan. penggabungan. dan/atau pemekaran Daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut : Daerah yang akan dibentuk. luas daerah. Pasal 115 Ayat (1) Mekanisme pembentukan. arahan. Pemerintah menugaskan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah untuk melakukan penelitian dengan memperhatikan kemampuan ekonomi. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 113 Cukup jelas Pasal 114 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Pengajuan keberatan kepada Mahkamah Agung sebagai upaya hukum terakhir dilakukan selambatlambatnya lima belas hari setelah adanya keputusan pembatalan dari Pemerintah. terutama di bidang keuangan dan pemerintahan. Ayat (3) Cukup jelas 70 . dan supervisi. yang terdiri atas 2 orang Wakil Daerah Propinsi. dan/atau antar-Pemerintah Kota berdasarkan pedoman yang dikeluarkan oleh Pemerintah. 2 orang Wakil Daerah Kabupaten. Ayat (2) Yang dimaksud dengan Asosiasi Pemerintah Daerah adalah organisasi yang dibentuk oleh Pemerintah Daerah dalam rangka kerja sama antar-Pemerintah Propinsi. penggabungan.Pasal 110 Pemerintah Desa yang tidak diikutsertakan dalam kegiatan dimaksud berhak menolak pembangunan tersebut. bimbingan. penghapusan. digabung. serta bersikap independen sebanyak 6 orang. antar-Pemerintah Kabupaten. potensi daerah. dihapus. jumlah penduduk. sosial politik. dan/atau pemekaran Daerah Otonom. Pasal 112 Ayat (1) Yang dimaksud dengan memfasilitasi adalah upaya memberdayakan Daerah Otonom melalui pemberian pedoman. Wakil-wakil Daerah dipilih oleh DPRD dari berbagai keahlian. Pasal 111 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Yang dimaksud dengan asal usul adalah asal usul terbentuknya Desa yang bersangkutan. dan pertimbangan lain.

Ayat (2) Cukup jelas Pasal 119 Cukup jelas Pasal 120 Cukup jelas Pasal 121 Cukup jelas Pasal 122 Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Aceh didasarkan pada sejarah perjuangan kemerdekaan nasional.Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 116 Cukup jelas Pasal 117 Cukup jelas Pasal 118 Ayat (1) Pemberian otonomi khusus kepada Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur didasarkan pada perjanjian bilateral antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Portugal di bawah supervisi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengakuan keistimewaan Propinsi Istimewa Yogyakarta didasarkan pada asal usul dan peranannya dalam sejarah perjuangan nasional. Pasal 123 Cukup jelas Pasal 124 Cukup jelas Pasal 125 Cukup jelas Pasal 126 Cukup jelas Pasal 127 Cukup jelas Pasal 128 Cukup jelas Pasal 129 Cukup jelas 71 . sedangkan isi keistimewaannya adalah pengangkatan Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Sultan Yogyakarta dan Wakil Gubernur dengan mempertimbangkan calon dari keturunan Paku Alam yang memenuhi syarat sesuai dengan undang-undang ini. Yang dimaksud dengan ditetapkan lain adalah Ketetapan MPR RI yang mengatur status Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur lebih lanjut. sedangkan isi keistimewaannya berupa pelaksanaan kehidupan beragama. adat. dan pendidikan serta memperhatikan peranan ulama dalam penetapan kebijakan Daerah.

Ayat (2) Pelaksanaan penataan dimulai sejak ditetapkannya undang-undang ini dan sudah selesai dalam waktu dua tahun.Pasal 130 Cukup jelas Pasal 131 Cukup jelas Pasal 132 Ayat (1) Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan undang-undang ini sudah harus selesai selambat-lambatnya dalam waktu satu tahun. Pasal 133 Cukup jelas Pasal 134 Cukup jelas ______________________________________ 72 .

berperan penting untuk berlanjutnya proses evolusi serta terpeliharanya keseimbangan ekosistem dan sistem kehidupan biosfer. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992 telah menghasilkan komitmen internasional dengan ditandatanganinya United Nations Convention on Biological Diversity oleh sejumlah besar negara di dunia. c. termasuk Indonesia yang kaya akan keanekaragaman hayati. dan jasad renik (microorganism). d. e. Brazil. bahwa keanekaragaman hayati di dunia. diakui pula adanya peranan penting wanita. Pasal 11. khususnya di Indonesia. Menimbang: a. f. memanfaatkan setiap unsurnya secara berkelanjutan. Dengan Persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI). dan Pasal 20 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. b. yang pada gilirannya akan mengganggu berlangsungnya kehidupan manusia. bahwa dalam rangka melestarikan keanekaragaman hayati. tumbuhan. untuk memanfaatkan kekayaan keanekaragaman hayati dan adanya keinginan untuk membagi manfaat yang adil dalam penggunaan pengetahuan tradisional tersebut melalui inovasi-inovasi. Mengingat: Pasal 5 ayat (1). Pasal 1 Mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati) yang selain naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Undang-undang ini. Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Rio de Janeiro. bahwa keanekaragaman hayati sedang mengalami pengurangan dan kehilangan yang nyata karena kegiatan tertentu manusia yang dapat menimbulkan terganggunya keseimbangan sistem kehidupan di bumi. bahwa keanekaragaman hayati yang meliputi ekosistem. bahwa adanya kesanggupan negara-negara maju untuk menyediakan sumber dana tambahan dan dana baru serta kemudahan akses untuk memperoleh alih teknologi bagi kebutuhan negara berkembang dan memperhatikan kondisi khusus negara terbelakang serta negara berkepulauan kecil sebagaimana diatur dalam United Nations Convention on Biological Diversity merupakan peluang yang perlu ditanggapi secara positif oleh Pemerintah Indonesia.UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. 73 . dan meningkatkan kerja sama internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi guna kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. dan praktik-praktik yang berkaitan dengan konservasi keanekaragaman hayati dan pemanfaatannya secara berkelanjutan. g. jenis dan genetik yang mencakup hewan. bahwa diakui adanya peranan masyarakat yang berciri tradisional seperti tercermin dalam gaya hidupnya. bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas Pemerintah Indonesia memandang perlu untuk mengesahkan United Nations Convention on Biological Diversity tersebut dengan Undang-undang. perlu dijamin keberadaan dan keberlanjutannya bagi kehidupan.

MOERDIONO 74 . Agar setiap orang mengetahuinya. SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd. Disahkan di Jakarta pada tanggal 1 Agustus 1994 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd.Pasal 2 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

jo Pengumuman Pemerintah Republik Indonesia tentang Landas Kontinen Indonesia Tanggal 17 Pebruari 1969. Kesadaran masyarakat mengenai pentingnya peranan lingkungan hidup dalam kehidupan manusia terus ditumbuhkembangkan melalui penerangan dan pendidikan dalam dan luar sekolah. perlu terus ditingkatkan. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain : a. 75 . mengendalikan pencemaran. Sumber daya alam di darat. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. e. menegaskan sebagai berikut : a. Kerja sama regional dan internasional mengenai pemeliharaan dan perlindungan lingkungan hidup. dilandasi prinsip politik luar negeri bebas aktif dan diarahkan untuk turut mewujudkan tatanan dunia baru berdasarkan kemerdekaan. Inventarisasi. Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang berkaitan dan mendukung untuk meratifikasi Konvensi dan pelaksanaannya.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION ON BIOLOGICAL DIVERSITY (KONVENSI PERSERIKATAN BANGSABANGSA MENGENAI KEANEKARAGAMAN HAYATI) I. dan ekosistem. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2994 ). dengan lebih memantapkan dan meningkatkan peranan Gerakan Nonblok. A. Hubungan luar negeri merupakan kegiatan antarbangsa baik regional maupun global melalui berbagai forum bilateral dan multilateral yang diabdikan pada kepentingan nasional. dan kesehatan terus ditingkatkan. Pembangunan lingkungan hidup yang merupakan bagian penting dari ekosistem yang berfungsi sebagai penyangga kehidupan seluruh makhluk hidup di muka bumi diarahkan pada terwujudnya kelestarian fungsi lingkungan hidup dalam keseimbangan dan keserasian yang dinamis dengan perkembangan kependudukan agar dapat menjamin pembangunan nasional yang berkelanjutan. perdamaian abadi. c. Langkah bersama antar negara berkembang untuk mempercepat terwujudnya perjanjian perdagangan internasional dan meniadakan hambatan serta pembatasan yang dilakukan oleh negara industri terhadap ekspor negara berkembang. terus dilanjutkan dalam rangka mewujudkan tata ekonomi serta tata informasi dan komunikasi dunia baru. UMUM Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain menggariskan agar Pemerintah Negara Republik Indonesia melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. dan penghitungan nilai sumber daya alam dan lingkungan hidup terus dikembangkan untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatannya. Peranan Indonesia di dunia internasional dalam membina dan mempererat persahabatan dan kerjasama yang saling menguntungkan antara bangsa-bangsa terus diperluas dan ditingkatkan. b. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landas Kontinen Indonesia ( Lembaran Negara Tahun 1973 Nomor 1. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. pemberian rangsangan. dan keadilan sosial serta ditujukan untuk lebih meningkatkan kerjasama internasional. f. perdamaian abadi dan keadilan sosial. memperluas ekspor dan penanaman modal dari luar negeri serta kerja sama ilmu pengetahuan dan teknologi. dan disertai dengan dorongan peran aktif masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup dalam setiap kegiatan ekonomi sosial. dan untuk meningkatkan kerjasama ekonomi dan kerjasama teknik antar negara berkembang. antara lain. di laut maupun di udara dikelola dan dimanfaatkan dengan memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup agar dapat mengembangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan yang memadai untuk memberikan manfaat bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. terutama bagi pengembangan pertanian. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). Penelitian dan pengembangan potensi manfaat hutan bagi kepentingan kesejahteraan bangsa. baik bagi generasi masa kini maupun bagi generasi masa depan. Konservasi kawasan hutan nasional termasuk flora dan faunanya serta keunikan alam terus ditingkatkan untuk melindungi keanekaragaman plasma nutfah. d. industri. seperti upaya lebih memantapkan dasar pemikiran kenusantaraan. Perjuangan bangsa Indonesia di dunia internasional yang menyangkut kepentingan nasional. g. Pembangunan lingkungan hidup bertujuan meningkatkan mutu. b. Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia yang berkaitan dan mendukung Konvensi. dan peran serta dalam pengembangan kebijaksanaan internasional serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang lingkungan perlu terus ditingkatkan bagi kepentingan pembangunan berkelanjutan. dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup. penegakan hukum. mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945 menggariskan bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran Rakyat: Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1993 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara khususnya tentang Lingkungan Hidup dan Hubungan Luar Negeri. jenis spesies. merehabilitasi kerusakan lingkungan. pemantauan. memanfaatkan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Kenya. dengan keputusan No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3260). c. Brazil. d. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. 76 . pada tanggal 5 Juni 1992. membentuk Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3478). k. Third Session of Intergovernmental Negotiating Commitee for a Convention on Biological Diversity (INCCBD) di Madrid. Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1989 tentang Pengesahan Convention Concerning the Protection of the World Cultural and Natural Heritage (Lembaran Negara Tahun 1989 Nomor 17). Naskah akhir Konvensi terbentuk setelah melalui beberapa tahap perundingan yang dilakukan di berbagai tempat dengan melibatkan berbagai kelompok kepakaran. yang sebelumnya didahului oleh tiga pertemuan kepakaran teknis dan tujuh sidang. Pada sidang terakhir ini disusun Nairobi Final Act of the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Tanggal inilah yang tercantum pada naskah Konvensi sebagai tanggal peresmiannya. Undang-undang Nomor 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Conventions on the Law of the Sea (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 76. Brazil. Kenya. i. 14/17 tanggal 17 Juni 1987. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Sidang terakhir diadakan di Nairobi. h. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. Indonesia merupakan negara kedelapan yang menandatangani Konvensi di Rio de Janeiro. 15/34 tanggal 25 Mei 1989. c. Fourth Session INC-CBD di Nairobi. ikut hadir pula Masyarakat Ekonomi Eropa dan beberapa badan dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Lembaga Swadaya Masyarakat internasional sebagai peninjau. l. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). pada tanggal 19 sampai dengan 23 Nopember 1990. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215).Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. Governing Council. Fifth Session of INC-CBD di Geneva. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3319). First Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. Konvensi ini telah ditandatangani oleh 157 kepala negara dan/atau kepala pemerintahan atau wakil negara pada waktu naskah Konvensi ini diresmikan di Rio de Janeiro. Second Session Ad Hoc Working Group of Legal and Technical Experts on Biological Diversity di Nairobi. g. Dalam sidang ini disajikan dan dibahas konsep (draft) Konvensi Keanekaragaman Hayati. Konferensi di Rio de Janeiro. Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991 tentang Pengesahan Convention on Wetlands of International Importance Especially as Waterfowl Habitat (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 73). Kenya. j. pada tanggal 6 sampai dengan 15 Pebruari 1992. pada tanggal 11 sampai dengan 22 Mei 1992. Ad Hoc Working Group ini menyelenggarakan sidang-sidang sebagai berikut: a. g. Dengan demikian. dibentuk Ad Hoc Working Group of Experts on Biological Diversity. Brazil. Spanyol. b. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115. d. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budi Daya Tanaman (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 46. pada tanggal 25 Nopember sampai dengan 4 Desember 1991. Kenya. Ketentuan-ketentuan dalam undang-undang yang telah berlaku dan konvensi-konvensi yang telah disahkan tersebut sejalan dengan isi United Nations Convention on Biological Diversity. pada tanggal 3 sampai dengan 14 Juni 1992. Latar Belakang Lahirnya Konvensi Konvensi Keanekaragaman Hayati yang selanjutnya disebut Konvensi. B. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 44. Kenya. dalam bahasa aslinya bernama United Nations Convention on Biological Diversity. Pertemuan dan sidang tersebut selalu dihadiri oleh delegasi Indonesia. Ad Hoc Working Group ini mempunyai kewenangan merundingkan perangkat hukum internasional untuk pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati. Sebagai tindak lanjut keputusan Governing Council No. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419). e. e. Penandatanganan ini terlaksana selama penyelenggaraan United Nations Conference on Environment and Development (UNCED). Keputusan Presiden Nomor 43 Tahun 1978 tentang Pengesahan Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Flora and Fauna (Lembaran Negara Tahun 1978 Nomor 51). pengesahan Konvensi ini tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. f. yang kemudian diselenggarakan tiga sidang dalam masa antara Nopember 1988 hingga Juli 1990. pada tanggal 25 Februari sampai dengan 6 Maret 1991. diselenggarakan antara Nopember 1988 sampai dengan Mei 1992. Berdasarkan laporan akhir Ad Hoc Working Group of Experts. Sixth Session of INC-CBD di Nairobi. pada tanggal 24 Juni sampai dengan 3 Juli 1991. f. Selain negara-negara ini. Swiss. Semua negara diundang untuk berpartisipasi dalam pertemuan pengesahan teks Konvensi yang telah disetujui. pada tanggal 23 September sampai dengan 2 Oktober 1991.

21. Keempat resolusi tersebut ialah : a. Keberatan-keberatan (Reservasi). C. Akses pada Teknologi dan Alih Teknologi. Konservasi In-situ. 42.Sesudah pengesahan ini dikeluarkan empat Resolutions Adopted by the Conference for the Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. 2. 17. Penarikan Diri. Hal Berlakunya. Pengesahan dan Lampiran Amandemen. Penerimaan atau Persetujuan. 35. Penanganan Bioteknologi dan Pembagian Keuntungan. yaitu : 1. 22. Pengertian. Batang Tubuh yang berisi pembukaan dan 42 pasal. 4. Pemanfaatan secara Berkelanjutan Komponen-komponen Keanekaragaman Hayati. Depositari. 13. Semuanya disahkan pada tanggal 22 Mei 1992. Penandatanganan. yang di antaranya berisi saran. Hak Suara. 20. Kerja sama Internasional. Naskah Konvensi Naskah Konvensi terdiri atas : a. 25. Pengkajian Dampak dan Pengurangan Dampak yang Merugikan. The Interrelationship between the Convention on Biological Diversity and the Promotion of Sustainable Agriculture. 16. 6. Akses pada Sumber Daya Genetik. Tujuan. 14. 23. Pertukaran Informasi. 3. usul perubahan. Badan Pendukung untuk Nasihat-nasihat Ilmiah. Penelitian dan Pelatihan. keberatan. 28. Pengesahan Protokol. International Cooperation for the Conservation of Biological Diversity and the Sustainable use of Its Components Pending the Entry into Force of the Convention on Biological Diversity. 41. 33. Tindakan Umum bagi Konservasi dan Pemanfaatan secara Berkelanjutan. 38. c. Ratifikasi. d. Konservasi Ex-situ. Lampiran II : Bagian 1. 36. 18. 9. Hubungan dengan Konvensi Internasional yang Lain. 7. Laporan. Penyelesaian Sengketa. Selain itu. Pengaturan Pendanaan Interim. Sumber Dana. 32. 15. 29. 8. Aksesi. Tribute to the Government of the Republic of Kenya. Pendidikan dan Kesadaran Masyarakat. Sekretariat. 39. 12. 37. Lingkup Kedaulatan. Mekanisme Pendanaan. 5. dikeluarkan juga Declaration Made at the Time of Adoption of the Agreed Text of the Convention on Biological Diversity. Konsiliasi (Conciliation). dan penyempurnaan. Teknis dan Teknologis. 77 . 40. 31. Teks Asli b. 34. Prinsip. b. 11. Tindakan Insentif. 19. Hubungan antara Konvensi dan Protokolnya. Pengaturan Sekretariat Interim. Interim Financial Agreement. Kerja Sama Teknis dan Ilmiah. Uraian secara lengkap naskah Konvensi tersebut di atas dapat dilihat pada salinan naskah asli Konvensi dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia terlampir. Lampiran : Lampiran I : Indentifikasi dan Pemantauan (Indentification and Monitoring) . 10. Konferensi Para Pihak. 26. Amandemen Konvensi atau Protokol. 30. 27. 24. Identifikasi dan Pemantauan. Arbitrase (Arbitration) dan Bagian 2.

PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Apabila terjadi perbedaan penafsiran terhadap terjemahannya dalam bahasa Indonesia. 2. Peningkatan kemampuan pemanfaatan dan pengembangan teknologi yang diperlukan untuk memanfaatkan secara lestari dan meningkatkan nilai tambah keanekaragaman hayati Indonesia dengan mengembangkan sumber daya genetik. 5. 6. Indonesia akan memperoleh manfaat berupa : 1. sesuai dengan Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan prinsip hukum Internasional. program. Jenis dan komunitas yang terancam. Peningkatan pengetahuan yang berkenaan dengan keanekaragaman hayati Indonesia sehingga dalam pemanfaatannya Indonesia benar-benar menerapkan Asas Ilmu Pengetahuan dan Teknologi seperti yang diamanatkan dalam GBHN 1993. sejumlah besar jenis atau hidupan liar endemik atau terancam kepunahan. Jaminan bahwa Pemerintah Indonesia dapat menggalang kerja sama di bidang teknis ilmiah baik antar sektor pemerintah maupun dengan sektor swasta. Genome dan gene tertentu yang mempunyai nilai sosial. dan 3. pelatihan. atau yang mewakili. meliputi : a) Penetapan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati baik in-situ maupun ex-situ. Penguasaan dan pengendalian dalam mengatur akses terhadap alih teknologi. budaya atau ilmiah. yang diperlukan oleh jenis yang bermigrasi. maka dipergunakan salinan naskah aslinya dalam bahasa Inggris. yang menyangkut bidang keanekaragaman hayati. 2. penyuluhan. atau mempunyai nilai sosial. Pengembangan sumber dana untuk penelitian dan pengembangan keanekaragaman hayati Indonesia. 7. Pengembangan dan penanganan bioteknologi sehingga Indonesia tidak dijadikan ajang uji coba pelepasan organisme yang telah direkayasa secara bioteknologi oleh negara-negara lain. Manfaat Konvensi Dengan meratifikasi Konvensi. berkerabat dengan jenis domestik atau budidaya. memadukan sejauh mungkin pelestarian dan pemanfaatan keanekaragaman hayati ke dalam rencana. berdasarkan asas perlakuan dan pembagian keuntungan yang adil dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional. kita tidak akan kehilangan kedaulatan atas sumber daya alam keanekaragaman hayati yang kita miliki karena Konvensi ini tetap mengakui bahwa negara-negara. II. Dengan meratifikasi Konvensi ini. dan kebijakan baik secara sektoral maupun lintas sektoral. 5 TAHUN 1994 IDENTITAS DAN PEMANTAUAN 1. atau bernilai penting untuk penelitian bagi konservasi dan pemantauan secara berkelanjutan keanekaragaman hayati. pertanian atau nilai ekonomis yang lain. di dalam dan di luar negeri.UNDANG NO. Pengembangan kerja sama internasional untuk peningkatan kemampuan dalam konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati. seperti halnya jenis indikator. 3. d) Pengembangan pendidikan. ilmiah atau budaya yang penting. 4. Ekosistem dan habitat berisi keragaman yang tinggi. mempunyai hak berdaulat untuk memanfaatkan sumber daya alam keanekaragaman hayati secara bekelanjutan sejalan dengan keadaan lingkungan serta sesuai dengan kebijakan pembangunan dan tanggung jawab masing-masing sehingga tidak merusak lingkungan. Pasal 2 Cukup jelas LAMPIRAN I UNDANG . 78 . dan ikut bertanggung jawab menyelamatkan kelangsungan hidup manusia pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya. unik atau dihubungkan dengan kunci proses-proses evolusi atau biologi lain. mempunyai nilai penting secara ekonomi. ilmiah dan ekonomi penting. b) Pengembangan pola-pola insentif baik secara sosial budaya maupun ekonomi untuk upaya perlindungan dan pemanfaatan secara lestari. 8. mempunyai nilai penting untuk obat-obatan. c) Pertukaran Informasi.D. dan peningkatan peran serta masyarakat. Penilaian dan pengakuan dari masyarakat internasional bahwa Indonesia peduli terhadap masalah lingkungan hidup dunia.

Dalam persengketaan antara dua pihak. sidang arbitrase harus terdiri dari tiga anggota. Pasal 2 1. 3. dan harus membuat pernyataan akhir kepada pihak-pihak yang bersengketa. karena keadaan khusus kasus tersebut. dan hukum internasional. untuk memanggil saksi-saksi atau para ahli dan menerima bukti-bukti mereka. dapat campur tangan dalam proses persidangan dengan ijin sidang. merekomendasikan langkah-langkah sementara untuk perlindungan. 79 . semua protokol yang berkaitan. 2. bilamana perlu. Sekretariat wajib menyampaikan informasi ini sehingga diterima oleh semua pihak-pihak penandatangan Konvensi ini atau kepada protokol yang berkaitan. sidang arbitrase wajib menentukan peraturan-peraturan prosedur persidangan sendiri. Sidang wajib mencatat segala pembiayaannya. Pasal 3 1. Pasal 9 Jika sidang arbitrase tidak menetapkan hal yang berlawanan. dengan persetujuan bersama.UNDANG NO. Pasal 4 Sidang arbitrase wajib membuat keputusannya sesuai dengan ketetapan Konvensi ini. tafsiran atau penerapan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. dengan permintaan salah satu pihak. Setiap lowongan harus diisi dengan cara yang telah ditentukan bagi penunjukan awal. Dalam persengketaan di antara lebih dari dua pihak. atau mempunyai tempat tinggal di dalam wilayah salah satu pihak tersebut.LAMPIRAN II UNDANG . Pasal 10 Setiap Pihak pada Konvensi yang mempunyai kepentingan bersifat hukum dalam pokok permasalahan persengketaan yang dapat terpengaruh oleh keputusan kasus tersebut. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa akan. dan (b) Membantu sidang. penengah ketiga yang akan menjadi Presiden pengadilan. menggunakan semua sarana yang dimilikinya. Pemberitahuan tersebut harus menyebutkan pokok permasalahan arbitrase dan mencantumkan secara khusus pasal-pasal dalam Konvensi atau protokol. sidang arbitrase (arbitral) wajib menjelaskan pokok permasalahan tersebut. Presiden sidang arbitrase belum ditunjuk dalam jangka waktu dua bulan sejak penunjukan penengah kedua. Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak menunjuk seorang penengah dalam jangka waktu dua bulan sejak penerimaan permohonan. 5 TAHUN 1994 Bagian 1 ARBITRASE Pasal 1 Pihak penuntut harus memberitahu sekretariat bahwa pihak-pihak tersebut mengajukan persengketaan kepada arbitrase menurut Pasal 27. Pasal 5 Jika pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. Pasal 8 Pihak-pihak yang bersengketa dan para hakim di bawah sumpah untuk melindungi kerahasiaan setiap informasi yang mereka terima secara rahasia selama berlangsungnya sidang arbitrase. informasi dan fasilitas yang berkaitan. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan sama dapat menunjuk satu penengah atas dasar persetujuan bersama. Pasal 7 Pihak-pihak yang bersengketa wajib membantu pekerjaan sidang arbitrase dan khususnya. mempunyai urusan apapun dengan kasus ini dalam kapasitas apapun. Jika pihak-pihak tersebut sepakat dengan pokok permasalahan persengketaan sebelum Presiden pengadilan ditunjuk. atas permintaan salah satu pihak. pihak yang lain dapat memberitahu Sekretaris Jenderal yang wajib mengadakan penunjukan dalam jangka dua bulan berikutnya. Penengah ketiga harus bukan warga negara salah satu pihak yang bersengketa. biaya sidang arbitrase wajib ditanggung oleh pihak-pihak yang bersengketa dengan pembagian yang sama. akan : (a) Memberi sidang segala dokumen. 2. menunjuk Presiden dalam jangka dua bulan berikutnya. atau bekerja pada salah satu dari pihak tersebut. Setiap pihak yang bersengketa harus menunjuk seorang penengah dan kedua penengah yang ditunjuk wajib menunjuk. Pasal 6 Sidang arbitrase dapat.

Keputusan tersebut harus memuat nama-nama para anggota yang telah berperan serta dan tanggal keputusan akhirnya. Pasal 3 Jika penunjukan anggota-anggota dewan dari setiap pihak yang bersengketa tidak dilaksanakan dalam jangka waktu dua bulan sejak tanggal permohonan untuk membentuk dewan konsiliasi. pihak-pihak yang mempunyai kepentingan yang sama wajib menunjuk anggota mereka pada dewan konsiliasi secara bersama-sama melalui persetujuan. Pasal 16 Keputusan sidang wajib mengikat pihak-pihak yang bersengketa. Pasal 14 Sidang wajib membuat keputusan akhirnya dalam jangka lima bulan sejak sidang tersebut sepenuhnya diangkat kecuali jika dirasa perlu untuk memperpanjang batas waktu hingga pada periode yang tidak lebih dari lima bulan lagi. Pasal 4 Jika Presiden dewan konsiliasi tidak terpilih dalam jangka waktu dua bulan sejak anggota dewan terakhir terpilih. Pasal 12 Keputusan. Setiap anggota sidang arbitrase dapat melampirkan opini terpisah atau ketidaksepakatannya pada keputusan akhir tersebut. Ketidakhadiran satu pihak atau kegagalan satu pihak untuk mempertahankan kasusnya harus tidak merupakan penghalang bagi acara persidangan. Pasal 17 Setiap perbedaan pendapat yang dapat timbul diantara pihak-pihak yang bersengketa sebagai akibat penafsiran atau cara pelaksanaan keputusan akhir tersebut dapat diajukan oleh masing-masing pihak pada sidang arbitrase yang mengeluarkan keputusan tersebut untuk ketegasannya. Sebelum membuat keputusan akhirnya. dua dipilih oleh setiap pihak yang bersengketa dan seorang Presiden yang dipilih secara bersama oleh keempat anggota tersebut. pihak yang lain dapat meminta sidang untuk melanjutkan acara persidangan dan memberikan keputusannya. Pasal 13 Jika salah satu pihak yang bersengketa tidak muncul dalam sidang arbitrase atau gagal dalam mempertahankan kasusnya. Keputusan tersebut harus tanpa permohonan banding kecuali pihak-pihak yang bersengketa sebelumnya telah menyetujui prosedur untuk naik banding. mereka dapat memilih anggota-anggota secara terpisah. kecuali bilamana pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju. dapat menunjuk seorang Presiden dalam jangka waktu dua bulan berikutnya. Dewan tersebut akan terdiri dari lima anggota. 80 . Pasal 15 Keputusan akhir sidang arbitrase harus dibatasi pada pokok permasalahan persengketaan dan harus menyatakan pertimbangan-pertimbangan yang menjadi dasarnya. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh salah satu pihak. Bagian 2 KONSILIASI (CONCILIATION) Pasal 1 Dewan konsiliasi wajib dibentuk berdasarkan permohonan salah satu pihak yang bersengketa. Jika dua atau lebih pihak yang bersengketa tersebut mempunyai kepentingan yang berbeda-beda atau bilamana ada ketidaksetujuan bilamana pihak-pihak tersebut mempunyai kepentingan yang sama. Pasal 2 Dalam persengketaan antara lebih dari dua pihak.Pasal 11 Sidang dapat mendengar dan menentukan tuntutan baik yang muncul secara langsung dari pokok permasalahan persengketaan. baik pada prosedur dan substansi sidang arbitrase harus ditentukan melalui hasil pemungutan suara terbanyak anggota-anggota sidang. Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa jika diminta oleh pihak yang mengajukan permohonan dapat membuat penunjukannya tersebut jangka dua bulan berikutnya. sidang arbitrase harus meyakinkan diri bahwa tuntutan tersebut berdasarkan pada fakta dan hukum yang kuat.

Dewan wajib membuat usulan untuk pemecahan persengketaan yang harus diterima oleh semua pihak yang bersengketa dengan itikad baik. Pasal 6 Ketidaksepakatan mengenai kewenangan dewan konsiliasi wajib diputuskan oleh dewan tersebut. kecuali bila pihak-pihak yang bersengketa tidak setuju.Pasal 5 Dewan konsiliasi wajib membuat keputusannya melalui pemungutan suara terbanyak dari para anggotanya. menetapkan prosedurnya sendiri. Dewan tersebut harus. 81 .

2. e. bahwa peraturan perundang-undangan yang ada dan masih berlaku merupakan produk hukum warisan pemerintah kolonial yang bersifat parsial. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. 82 . 4. bahwa sumber daya alam hayati Indonesia dan ekosistemnya yang mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan adalah karunia Tuhan Yang Maha Esa. baik masa kini maupun masa depan. 2. f. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51. sehingga perlu dicabut karena sudah tidak sesuai dengan perkembangan hukum dan kepentingan nasional. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan (Lembaran Negara Tahun 1985 Nomor 46. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12. d. oleh karena itu perlu dikelola dan dimanfaatkan secara lestari. dipandang perlu menetapkan ketentuan mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dalam suatu Undang-undang. g bahwa sehubungan dengan hal-hal di atas. Menimbang: a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3. bahwa untuk menjaga agar pemanfaatan sumber daya alam hayati dapat berlangsung dengan cara sebaik-baiknya. Konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas keanekaragaman dan nilainya. b. Pasal 5 ayat (1). c. 3. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3299). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368).UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. dan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Sumber daya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumber daya alam nabati (tumbuhan) dan sumber daya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur nonhayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA. bahwa unsur-unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada dasarnya saling tergantung antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi sehingga kerusakan dan kepunahan salah satu unsur akan berakibat terganggunya ekosistem. serasi dan seimbang bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan umat manusia pada umumnya. selaras. bahwa peraturan perundang-undangan produk hukum nasional yang ada belum menampung dan mengatur secara menyeluruh mengenai konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 8. maka diperlukan langkah-langkah konservasi sehingga sumber daya alam hayati dan ekosistemnya selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan serta melekat dengan pembangunan itu sendiri. Tambahan Lembaran Negara Nomor 2823). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). Mengingat: 1. Pasal 20 ayat (1). bahwa pembangunan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya adalah bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila.

ekosistem unik. Cagar alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. 13. satwa. baik hayati maupun nonhayati yang saling tergantung dan pengaruh mempengaruhi. dan/atau di air. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian. pemanfaatan secara lestari sumber daya alami hayati dan ekosistemnya. 8. 16. 6. pariwisata. yang masih mempunyai kemurnian jenisnya. 11. Cagar biosfer adalah suatu kawasan yang terdiri dari ekosistem asli. pengaturan cara pemanfaatan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. baik yang hidup bebas maupun yang dipelihara oleh manusia. menunjang budidaya. Ekosistem sumber daya alam hayati adalah sistem hubungan timbal balik antara unsur dalam alam. baik yang hidup di darat maupun di air. Taman wisata alam adalah kawasan pelestarian alam yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam. pendidikan. Pasal 4 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. Habitat adalah lingkungan tempat tumbuhan atau satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. Suaka margasatwa adalah kawasan suaka alam yang mempunyai ciri khas berupa keanekaragaman dan/atau keunikan jenis satwa yang untuk kelangsungan hidupnya dapat dilakukan pembinaan terhadap habitatnya. b. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. dan/atau ekosistem yang telah mengalami degradasi yang keseluruhan unsur alamnya dilindungi dan dilestarikan bagi kepentingan penelitian dan pendidikan. menunjang budidaya. 4. c. pendidikan.3. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. Satwa adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat dan/atau di air. wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. 12. ilmu pengetahuan. Kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Pasal 2 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumber daya alam hayati dalam ekosistemnya secara serasi dan seimbang. ilmu pengetahuan. dan/atau di udara yang masih mempunyai sifat-sifat liar. dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. perlindungan sistem penyangga kehidupan. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Tumbuhan adalah semua jenis sumber daya alam nabati. Pasal 8 (1) Untuk mewujudkan tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7. 7. baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. budaya. jenis asli dan atau bukan asli. 83 . BAB II PERLINDUNGAN SISTEM PENYANGGA KEHIDUPAN Pasal 6 Sistem penyangga kehidupan merupakan satu proses alami dari berbagai unsur hayati dan nonhayati yang menjamin kelangsungan kehidupan makhluk. 9. dan/atau di udara. Tumbuhan liar adalah tumbuhan yang hidup di alam bebas dan/atau dipelihara. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Taman hutan raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan/atau satwa yang alami atau buatan. b. Pemerintah menetapkan : a. dan rekreasi. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli. Kawasan pelestarian alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Pasal 7 Perlindungan sistem penyangga kehidupan ditujukan bagi terpeliharanya proses ekologis yang menunjang kelangsungan kehidupan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. dan rekreasi. 10. yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian. 14. pola dasar pembinaan wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. c. 15. Pasal 3 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumber daya alam hayati serta keseimbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. 5. Satwa liar adalah semua binatang yang hidup di darat. pariwisata.

Pasal 15 Kawasan suaka alam selain mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya dapat ditetapkan sebagai cagar biosfer. khususnya dalam kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17. pengawetan jenis tumbuhan dan satwa.Pasal 9 (1) Setiap pemegang hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan dalam wilayah sistem penyangga kehidupan wajib menjaga kelangsungan fungsi perlindungan wilayah tersebut. ilmu pengetahuan. (3) Tindakan penertiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. (2) Dalam rangka pelaksanaan perlindungan sistem penyangga kehidupan. (3) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di luar kawasan suaka alam dilakukan dengan menjaga dan mengembangbiakkan jenis tumbuhan dan satwa untuk menghindari bahaya kepunahan. ilmu pengetahuan. Pemerintah mengatur serta melakukan tindakan penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan yang terletak dalam wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. dan kegiatan lainnya yang menunjang budidaya. Pasal 10 W ilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan secara alami dan/atau oleh karena pemanfaatannya serta oleh sebab-sebab lainnya diikuti dengan upaya rehabilitasi secara berencana dan berkesinambungan. cagar alam. (2) Penetapan suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. 84 . pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. (2) Ketentuan lebih lanjut yang diperlukan bagi penetapan dan pemanfaatan suatu wilayah sebagai kawasan suaka alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV KAWASAN SUAKA ALAM Pasal 14 Kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 terdiri dari: a. (2) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa di dalam kawasan suaka alam dilakukan dengan membiarkan agar populasi semua jenis tumbuhan dan satwa tetap seimbang menurut proses alami di habitatnya. Pasal 13 (1) Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan suaka alam. pendidikan. (2) Di dalam suaka margasatwa dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. Pasal 12 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). BAB III PENGAWETAN KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA BESERTA EKOSISTEMNYA Pasal 11 Pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Pasal 16 (1) Pengelolaan kawasan suaka alam dilaksanakan oleh Pemerintah sebagai upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pendidikan. b. b. suaka margasatwa. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 17 (1) Di dalam cagar alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. dilaksanakan melalui kegiatan : a. dilaksanakan dengan menjaga keutuhan kawasan suaka alam agar tetap dalam keadaan asli. wisata terbatas. Pasal 18 (1) Dalam rangka kerja sama konservasi internasional.

(3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. mengeluarkan satwa yang dilindungi dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. Pasal 21 1) Setiap orang dilarang untuk : a. memperniagakan. dan membunuh satwa yang dilindungi dapat pula dilakukan dalam hal oleh karena suatu sebab satwa yang dilindungi membahayakan kehidupan manusia. tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan. mengangkut. tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. 85 . (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. memelihara. dapat dilakukan pemasukan tumbuhan dan satwa liar dari luar negeri ke dalam wilayah Negara Republik Indonesia. kecuali apabila keadaannya sudah tidak memungkinkan untuk dimanfaatkan sehingga dinilai lebih baik dimusnahkan. (2) Setiap orang dilarang untuk : a. d. mengambil. c. memusnahkan. b. tumbuhan dan satwa yang dilindungi. melukai. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi atau bagian-bagiannya yang dirampas untuk negara dikembalikan ke habitatnya atau diserahkan kepada lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dari satwa. e. dan memperniagakan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati. mengangkut. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. dan/atau penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa yang bersangkutan. memusnahkan. memperniagakan. tubuh atau bagian-bagian lain satwa yang dilindungi atau barang-barang yang dibuat dari bagian-bagian satwa tersebut atau mengeluarkannya dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati. menghilangkan fungsi dan luas kawasan suaka alam. merusak. mengangkut. ilmu pengetahuan. (3) Pengecualian dari larangan menangkap. menangkap. tumbuhan dan satwa tersebut dirampas untuk negara. menyimpan. Pasal 25 (1) Pengawasan jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi hanya dapat dilakukan dalam bentuk pemeliharaan atau pengembangbiakan oleh lembaga-lembaga yang dibentuk untuk itu. memiliki. Pasal 23 (1) Apabila diperlukan. (3) Perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. menyimpan. memelihara. menyimpan atau memiliki kulit. b. melukai. b. memelihara. memiliki. mengeluarkan tumbuhan yang dilindungi atau bagian-bagiannya dalam keadaan hidup atau mati dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain di dalam atau di luar Indonesia. merusak. menebang.Pasal 19 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan kawasan suaka alam. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Termasuk dalam penyelamatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri dengan izin Pemerintah. mengambil. membunuh. Pasal 24 (1) Apabila terjadi pelanggaran terhadap larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21. Pasal 22 (1) Pengecualian dari larangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 hanya dapat dilakukan untuk keperluan penelitian. menyimpan atau memiliki telur dan/atau sarang satwa yang dilindungi. BAB V PENGAWETAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA Pasal 20 (1) Tumbuhan dan satwa digolongkan dalam jenis: a. (2) Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digolongkan dalam : a. ayat (2). tumbuhan dan satwa yang tidak dilindungi. b. memiliki. (2) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tidak termasuk kegiatan pembinaan habitat untuk kepentingan satwa di dalam suaka marga satwa. dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Pasal 35 Dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan untuk mempertahankan atau memulihkan kelestarian sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya. Pasal 28 Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dilakukan dengan memperhatikan kelangsungan potensi. ilmu pengetahuan. Pasal 30 Kawasan pelestarian alam mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. taman hutan raya. serta menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. 86 . dan taman wisata alam dapat dibangun sarana kepariwisataan berdasarkan rencana pengelolaan. daya dukung. taman hutan raya. Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan atas zona pemanfaatan taman nasional. (2) Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus dilakukan tanpa mengurangi fungsi pokok masingmasing kawasan. BAB VII KAWASAN PELESTARIAN ALAM Pasal 29 (1) Kawasan pelestarian alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 13 terdiri dari : a. taman hutan raya. Pasal 31 (1) Di dalam taman nasional. dan taman wisata alam dengan mengikutsertakan rakyat. pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam.dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. menghilangkan fungsi dan luas zona inti taman nasional. b. Pemerintah dapat menghentikan kegiatan pemanfaatan dan menutup taman nasional.BAB VI PEMANFAATAN SECARA LESTARI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA Pasal 26 Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan : a. taman hutan raya. taman wisata alam. taman hutan raya. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan suatu wilayah sebagai kawasan pelestarian alam dan penetapan wilayah yang berbatasan dengannya sebagai daerah penyangga diatur dengan Peraturan Pemerintah. taman nasional. (2) Perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) meliputi mengurangi. taman hutan raya. dan taman wisata alam sebagian atau seluruhnya untuk selama waktu tertentu. Pasal 32 Kawasan taman nasional dikelola dengan sistem zonasi yang terdiri dari zona inti. (3) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan fungsi zona pemanfaatan dan zona lain dari taman nasional. dan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa liar. dan taman wisata alam dilaksanakan oleh Pemerintah. dan wisata alam. pendidikan. dan taman wisata alam. pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar. zona pemanfaatan. dan taman wisata alam dapat dilakukan kegiatan untuk kepentingan penelitian. Pasal 34 (1) Pengelolaan taman nasional. taman hutan raya. (4) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pasal 33 (1) Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. budaya. menunjang budidaya. ayat (2). Pasal 27 Pemanfaatan kondisi lingkungan kawasan pelestarian alam dilakukan dengan tetap menjaga kelestarian fungsi kawasan. b. dan zona lain sesuai dengan keperluan. c. (3) Untuk kegiatan kepariwisataan dan rekreasi. (2) Di dalam zona pemanfaatan taman nasional.

d. (4) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan melaporkan hasil penyidikannya kepada Penuntut Umum melalui Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia sesuai dengan ketentuan Pasal 107 Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. c. c. e. pemeliharaan untuk kesenangan. (3) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Pemerintah. melakukan penggeledahan dan penyitaan barang bukti tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. BAB IX PERAN SERTA RAKYAT Pasal 37 (1) Peran serta rakyat dalam konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui berbagai kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. penelitian dan pengembangan. penangkaran. budidaya tanaman obat-obatan. h. perdagangan. melakukan pemeriksaan terhadap orang yang diduga melakukan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang atau badan sehubungan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. juga pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu di lingkungan departemen yang lingkup tugas dan tanggung jawabnya meliputi pembinaan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. menghentikan penyidikan apabila tidak terdapat cukup bukti tentang adanya tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. perburuan. g. peragaan. pengkajian. membuat dan menandatangani berita acara. f. BAB X PENYERAHAN URUSAN DAN TUGAS PEMBANTUAN Pasal 38 (1) Dalam rangka pelaksanaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. d. melakukan pemeriksaan atas kebenaran laporan atau keterangan berkenaan dengan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. tidak mengurangi kewenangan penyidik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Undang-undang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan. Pemerintah dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang tersebut kepada Pemerintah Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. pertukaran. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. untuk melakukan penyidikan tindak pidana di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. (2) Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Kewenangan penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (3) Penyidik sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). e.BAB VIII PEMANFAATAN JENIS TUMBUHAN DAN SATWA LIAR Pasal 36 (1) Pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar dapat dilaksanakan dalam bentuk : a. diberi wewenang khusus sebagai penyidik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. memeriksa tanda pengenal seseorang yang berada dalam kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam. b. f. (2) Ketentuan lebih lanjut sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. berwenang untuk: a. b. BAB XI PENYIDIKAN Pasal 39 (1) Selain Pejabat Penyidik Kepolisian Negara Republik Indonesia. 87 . g.

(2) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp 100.BAB XII KETENTUAN PIDANA Pasal 40 (1) Barangsiapa dengan sengaja melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 33 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. 100. Pasal 44 Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Konservasi Hayati.000. Ordonansi Perlindungan Alam (Natuurbeschermingsordonnantie 1941 Staatsblad 1941 Nummer 167). BAB XIV KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini maka: 1. (3) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp. 3.000. dinyatakan tidak berlaku lagi.000. Ordonansi Perlindungan Binatang-binatang Liar (Dierenbeschermingsordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 134). Pasal 42 Semua peraturan pelaksanaan dari peraturan perundang-undangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang telah ada sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-undang ini. Pasal 45 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. 4.000.000. Agar setiap orang mengetahuinya. 2.000. tetap berlaku sampai dengan dikeluarkannya peraturan pelaksanaan yang baru berdasarkan Undang-undang ini.00 (seratus juta rupiah).00 (dua ratus juta rupiah).000.00 (seratus juta rupiah). (5) Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) adalah kejahatan dan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (4) adalah pelanggaran. Disahkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 10 Agustus 1990 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 88 . BAB XIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 Hutan suaka alam dan taman wisata yang telah ditunjuk dan ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebelum berlakunya Undang-undang ini dianggap telah ditetapkan sebagai kawasan suaka alam dan taman wisata alam berdasarkan Undang-undang ini.00 (lima puluh juta rupiah). Ordonansi Perburuan Jawa dan Madura (Jachtcrdonnantie Java en Madoera 1940 Staatsblad 1939 Nummer 733). (4) Barangsiapa karena kelalaiannya melakukan pelanggaran terhadap ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (1) dan ayat (2) serta Pasal 33 ayat (3) dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp 50.000. Ordonansi Perburuan (Jachtordonnantie 1931 Staatsblad 1931 Nummer 133).

dipelihara. ilmu pengetahuan. Undang-undang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional dan menyeluruh sangat diperlukan sebagai dasar hukum untuk mengatur perlindungan sistem penyangga kehidupan. Perubahan-perubahan yang menyangkut aspek-aspek pemerintahan. Untuk itu. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan tanggung jawab dan kewajiban Pemerintah serta masyarakat. ilmu pengetahuan. perkembangan kependudukan. Peraturan perundang-undangan warisan pemerintah kolonial yang beraneka ragam coraknya. dilestarikan. dan teknologi yang memungkinkan pemenuhan kebutuhan manusia yang menggunakan sumber daya alam hayati bagi kesejahteraan (pengawetan sumber plasma nutfah). polusi. menjamin terpeliharanya keanekaragaman sumber genetik dan tipe-tipe ekosistemnya sehingga mampu menunjang pembangunan. dan pemanfaatan secara lestari. Mengingat sifatnya yang tidak dapat diganti dan mempunyai kedudukan serta peranan penting bagi kehidupan manusia. baik di darat maupun di perairan dapat mengakibatkan timbulnya gejala erosi genetik. baik di darat. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya merupakan bagian terpenting dari sumber daya alam yang terdiri dari alam hewani. sedangkan pemulihannya kepada keadaan semula tidak mungkin lagi. dan penurunan potensi sumber daya alam hayati (pemanfaatan secara lestari). Upaya pemanfaatan secara lestari sebagai salah satu aspek konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. yang menyatukan fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan. keselarasan dan keseimbangan. Berhasilnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berkaitan erat dengan tercapainya tiga sasaran konservasi. dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi usaha pengelolaan tersebut. Akibat sampingan ilmu pengetahuan dan teknologi yang kurang bijaksana. 2. sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat perkembangan hukum dan kebutuhan bangsa Indonesia. menjamin terpeliharanya proses ekologis yang menunjang sistem penyangga kehidupan bagi kelangsungan pembangunan dan kesejahteraan manusia (perlindungan sistem penyangga kehidupan). maka pengelolaan konservasi sumber daya alam hayati beserta ekosistemnya perlu diberi dasar hukum yang jelas. Pemerintah berkewajiban meningkatkan pendidikan dan penyuluhan bagi masyarakat dalam rangka sadar konservasi. dan dimanfaatkan secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan mutu kehidupan manusia pada umumnya menurut cara yang menjamin keserasian. taman hutan raya. Oleh karena sifatnya yang luas dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan. baik secara masing-masing maupun bersamasama mempunyai fungsi dan manfaat sebagai unsur pembentuk lingkungan hidup. antara manusia dengan masyarakat maupun antara manusia dengan ekosistemnya. 3. Modal dasar sumber daya alam tersebut harus dilindungi. Demikian pula pengelolaan kawasan pelestarian alam dalam bentuk taman nasional. Peraturan perundang-undangan yang bersifat nasional yang ada kaitannya dengan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya seperti Undang-undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan Pokok Kehutanan. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988. yaitu : 1. belum harmonisnya penggunaan dan peruntukan tanah serta belum berhasilnya sasaran konservasi secara optimal. UMUM Bangsa Indonesia dianugerahi Tuhan Yang Maha Esa kekayaan berupa sumber daya alam yang berlimpah. Peran serta rakyat akan diarahkan dan digerakkan oleh Pemerintah melalui kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna. pengelolaan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sebagai bagian dari modal dasar tersebut pada hakikatnya merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang berkelanjutan sebagai pengamalan Pancasila. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Dewasa ini kenyataan menunjukkan bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional belum ada. Pidana yang berat tersebut dipandang perlu karena kerusakan atau kepunahan salah satu unsur sumber daya alam hayati dan ekosistemnya akan mengakibatkan kerugian besar bagi masyarakat yang tidak dapat dinilai dengan materi. dan taman wisata alam. dan Undangundang Nomor 9 Tahun 1985 tentang Perikanan belum mengatur secara lengkap dan belum sepenuhnya dapat dipakai sebagai dasar hukum untuk pengaturan lebih lanjut. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. diancam dengan pidana yang berat berupa pidana badan dan denda. Tindakan yang tidak bertanggung jawab yang dapat menimbulkan kerusakan pada kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam ataupun tindakan yang melanggar ketentuan tentang perlindungan tumbuhan dan satwa yang dilindungi. belum sepenuhnya dikembangkan sesuai dengan kebutuhan. yang kehadirannya tidak dapat diganti. alam nabati ataupun berupa fenomena alam. baik antara manusia dengan Tuhan penciptanya. Mengingat Negara Republik Indonesia adalah negara berdasar atas hukum. pengawetan 89 . di perairan maupun di udara yang merupakan modal dasar pembangunan nasional di segala bidang. maka upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya adalah menjadi kewajiban mutlak dari tiap generasi. tegas. Oleh karena itu. dan tuntutan keberhasilan pembangunan pada saat ini menghendaki peraturan perundangundangan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya yang bersifat nasional sesuai dengan aspirasi bangsa Indonesia.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA I. mengendalikan cara-cara pemanfaatan sumber daya alam hayati sehingga terjamin kelestariannya.

Pasal 3 Sumber daya alam hayati merupakan unsur ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. tetapi termasuk di dalam pengertian satwa. II. Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Pasal 2 Pada dasarnya semua sumber daya alam termasuk sumber daya alam hayati harus dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat dan umat manusia sesuai dengan kemampuan dan fungsinya. pemanfaatannya harus sedemikian rupa sesuai dengan Undang-undang ini sehingga dapat berlangsung secara lestari untuk masa kini dan masa depan. dan pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya agar dapat menjamin pemanfaatannya bagi kesejahteraan masyarakat dan peningkatan mutu kehidupan manusia. 90 . Undang-undang ini memuat ketentuan-ketentuan yang bersifat pokok dan mencakup semua segi di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka 2 Cukup jelas Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Ikan dan ternak tidak termasuk di dalam pengertian satwa liar. Namun. sedangkan pelaksanaannya diatur dengan Peraturan Pemerintah. Namun. Pemanfaatan dan pelestarian seperti tersebut di atas harus dilaksanakan secara serasi dan seimbang sebagai perwujudan dari asas konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. keseimbangan ekosistem harus tetap terjamin.

jurang. baik terhadap wilayah yang sudah ditetapkan maupun yang akan ditetapkan. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Perlindungan sistem penyangga kehidupan dilaksanakan dengan cara menetapkan suatu wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan. dan jurang. tepian sungai. laut wilayah Indonesia. perlu diadakan penelitian dan inventarisasi. dan jasad renik. Perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi usaha-usaha dan tindakan-tindakan yang berkaitan dengan perlindungan mata air. Pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. maka kepada pemegang hak diberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 9 Ayat (1) Yang dimaksud dengan hak pengusahaan di perairan adalah hak yang diberikan oleh Pemerintah untuk memanfaatkan sumber daya alam yang ada di perairan. bukan hak penguasaan atas wilayah perairan tersebut. Usaha dan tindakan konservasi untuk menjamin keanekaragaman jenis meliputi penjagaan agar unsur-unsur tersebut tidak punah dengan tujuan agar masing-masing unsur dapat berfungsi dalam alam dan agar senantiasa siap untuk sewaktu-waktu dimanfaatkan bagi kesejahteraan manusia. b. Punahnya salah satu unsur tidak dapat diganti dengan unsur yang lain. pemeliharaan fungsi hidrologi hutan. Wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan ini meliputi antara lain hutan lindung. bagian tertentu dari Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. maka masyarakat juga mempunyai kewajiban dan tanggung jawab dalam kegiatan konservasi. pengelolaan daerah aliran sungai. Pasal 5 Konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui tiga kegiatan : a. danau.Pasal 4 Mengingat pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Usaha pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya pada hakikatnya merupakan usaha pengendalian/pembatasan dalam pemanfaatan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilaksanakan secara terus menerus pada masa mendatang. daerah pantai. Hubungan antara unsur hayati dan nonhayati harus berlangsung dalam keadaan seimbang sebagai suatu sistem penyangga kehidupan dan karena itu perlu dilindungi. Perlindungan sistem penyangga kehidupan. 91 . daerah aliran sungai. Agar manusia tidak dihadapkan pada perubahan yang tidak diduga yang akan mempengaruhi kemampuan pemanfaatan sumber daya alam hayati. dan areal berpolusi berat. perlindungan pantai. Unsur nonhayati terdiri dari sinar matahari. rawa. Pasal 6 Unsur hayati adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia. dan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Guna pengaturannya Pemerintah menetapkan pola dasar pembinaan pemanfaatan wilayah tersebut sehingga fungsi perlindungan dan pelestariannya tetap terjamin. tebing. Semua unsur ini sangat berkait dan pengaruh mempengaruhi. Dalam menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. yang apabila terputus akan mempengaruhi kehidupan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Termasuk dalam pengertian penertiban terhadap penggunaan dan pengelolaan tanah dan hak pengusahaan di perairan meliputi pencabutan hak atas tanah dan hak pengusahaan di perairan yang pelaksanaannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. baik yang bersifat ekstratif maupun nonekstratif. tumbuhan. Pemanfaatan areal atau wilayah tersebut tetap pada subyek yang diberi hak. dan tanah. Ayat (2) Dalam Peraturan Pemerintah ini perlu diperhatikan kepentingan yang serasi antara kepentingan pemegang hak dengan kepentingan perlindungan sistem penyangga kehidupan. air. udara. Pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Dalam hal penertiban tersebut berupa pencabutan hak atas tanah. Yang dimaksud dengan perairan adalah perairan Indonesia yang meliputi perairan pedalaman (sungai. maka proses ekologis yang mengandung kehidupan itu perlu dijaga dan dilindungi. areal tepi sungai. Pengawetan jenis tumbuhan dan satwa dapat dilaksanakan di dalam kawasan (konservasi in-situ) ataupun di luar kawasan (konservasi exsitu). perlindungan terhadap gejala keunikan dan keindahan alam. danau. Kehidupan adalah merupakan suatu sistem yang terdiri dari proses yang berkait satu dengan lainnya dan saling mempengaruhi. daerah pasang surut. Sumber daya alam hayati dan ekosistemnya terdiri dari unsur-unsur hayati dan nonhayati (baik fisik maupun nonfisik). dan lain-lain. waduk. satwa. c. tetapi pemanfaatan itu harus mematuhi ketentuan yang ditetapkan Pemerintah. dan genangan air lainnya).

perburuan satwa yang berada dalam kawasan.perubahan di dalam cagar biosfer sepenuhnya berada di tangan Pemerintah. melihat. Namun. 92 . Plasma nutfah adalah unsur-unsur gen yang menentukan sifat kebakaan suatu jenis. Pengawetan diluar kawasan meliputi pengaturan mengenai pembatasan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan terhadap tumbuhan dan satwa sebagaimana diatur dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 25 Undang-undang ini. Pasal 17 Ayat (1) Fungsi penunjang budidaya dapat dilaksanakan dalam bentuk penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam cagar alam yang bersangkutan untuk keperluan permuliaan jenis dan penangkaran. atau karena pemanfaatannya yang tidak tepat serta oleh sebab-sebab lainnya perlu segera direhabilitasi agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. maka kawasan yang bersangkutan menjadi bagian dari pada jaringan konservasi internasional. sedangkan cara-cara pengelolaan harus mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah. Pengawetan di dalam kawasan dilakukan dalam bentuk kawasan suaka alam dan zona inti taman nasional. khususnya mereka yang berhak di atas wilayah tersebut. kebakaran. Ayat (2) Yang dimaksud dengan wisata terbatas adalah suatu kegiatan untuk mengunjungi. tanah negara bebas maupun tanah yang dibebani hak yang diperlukan dan mampu menjaga keutuhan kawasan suaka alam. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Adanya cagar biosfer dimaksudkan sebagai tempat penelitian. ilmu pengetahuan. Dengan ditentukannya suatu kawasan suaka alam dan kawasan tertentu lainnya sebagai cagar biosfer. dan memasukkan jenis-jenis bukan asli. dan gempa bumi. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan. maka keutuhan dan keaslian dari kawasan suaka alam tersebut perlu dijaga dari gangguan agar prosesnya berjalan secara alami. Pasal 12 Upaya pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa berupa kawasan suaka alam yang karena fungsi pokoknya adalah pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. erosi. Pengaturan diluar kawasan berupa pengawetan jenis (spesies) tumbuhan dan satwa. kewenangan penentuan kegiatan penelitian. Rehabilitasi ini perlu mengikutsertakan masyarakat. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Cukup jelas Pasal 16 Ayat (1) Pengelolaan kawasan suaka alam merupakan kewajiban Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 UndangUndang Dasar 1945. dan pendidikan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Yang dimaksud dengan perubahan terhadap keutuhan suaka alam adalah melakukan perusakan terhadap keutuhan kawasan dan ekosistemnya. Pengelolaan atas daerah penyangga tetap berada di tangan yang berhak. serta mengamati dan mengevaluasi perubahan-perubahan yang terjadi pada kawasan yang bersangkutan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan daerah penyangga adalah wilayah yang berada di luar kawasan suaka alam. dan menikmati keindahan alam di suaka margasatwa dengan persyaratan tertentu. baik sebagai kawasan hutan lain.Pasal 10 Wilayah sistem penyangga kehidupan yang mengalami kerusakan karena bencana alam seperti longsor. ilmu pengetahuan dan pendidikan. Pasal 11 Yang dimaksud dengan pengawetan disini adalah usaha untuk menjaga agar keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya tidak punah.

baik karena pengaruh habitat maupun ekosistemnya. Ayat (2) Jenis tumbuhan dan satwa dalam bahaya kepunahan meliputi jenis tumbuhan dan satwa yang dalam keadaan bahaya nyaris punah dan menuju kepunahan. guna pemanfaatan optimal bagi bangsa Indonesia. Jenis tumbuhan dan satwa yang populasinya jarang dalam arti populasinya kecil atau jarang sehingga pembiakannya sangat sulit. maka ditetapkan jenis-jenis tumbuhan satwa yang dilindungi. sedangkan jenis yang terancam punah adalah karena populasinya sudah sangat kecil serta mempunyai tingkat perkembangbiakan yang sangat lambat. pembuatan fasilitas air minum. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Yang dimaksud dengan penyelamatan jenis tumbuhan dan satwa adalah suatu upaya penyelamatan yang harus dilakukan apabila dalam keadaan tertentu tumbuhan dan satwa terancam hidupnya bila tetap berada dihabitatnya dalam bentuk pengembangbiakan dan pengobatan. Ayat (2) Yang dimaksud dengan pemberian atau penukaran jenis tumbuhan dan satwa kepada pihak lain di luar negeri adalah untuk keperluan tukar menukar antar lembaga-lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa dan hadiah Pemerintah.Ayat (2) Yang dimaksud dengan pembinaan habitat satwa adalah kegiatan yang dilakukan di dalam kawasan dengan tujuan agar satwa dapat hidup dan berkembang secara alami. Tumbuhan dan satwa yang endemik adalah tumbuhan dan satwa yang terbatas penyebarannya. Pasal 23 Ayat ( 1) Yang dimaksud dengan apabila diperlukan adalah untuk koleksi tumbuhan dan satwa untuk kebun binatang. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Yang dimaksud dengan dirampas untuk negara adalah bahwa di samping dirampas sesuai dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. sedangkan pemusnahan hanya dilaksanakan kalau cara lain ternyata tidak memberi hasil efektif. taman safari. Pemasukan jenis tumbuhan dan satwa liar ke dalam wilayah Republik Indonesia perlu diatur untuk mencegah terjadinya polusi genetik dan menjaga kemantapan ekosistem yang ada. atau kerugian materi seperti rusaknya lahan atau tanaman atau hasil pertanian. Penetapan ini dapat diubah sewaktu-waktu tergantung dari tingkat keperluannya yang ditentukan oleh tingkat bahaya kepunahan yang mengancam jenis bersangkutan. juga memberikan kewenangan kepada pejabat yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk menguasai dan menyelamatkan tumbuhan dan satwa sebelum proses pengadilan dilaksanakan. Contoh kegiatan tersebut antara lain pembuatan padang rumput untuk makanan satwa. dan sebagainya. Pasal 20 Ayat (1) Dalam rangka mengawetkan jenis. Ayat (3) Membahayakan di sini berarti tidak hanya mengancam jiwa manusia melainkan juga menimbulkan gangguan atau keresahan terhadap ketenteraman hidup manusia. Jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dimaksudkan untuk melindungi spesies tumbuhan dan satwa agar jenis tumbuhan dan satwa tersebut tidak mengalami kepunahan. 93 . baik di dalam maupun di luar negeri. cara melakukan penangkapan hidup-hidup. Ayat (3) Yang dimaksud dengan jenis tumbuhan dan satwa yang tidak asli adalah jenis tumbuhan dan jenis satwa yang tidak pernah terdapat di dalam kawasan. Ayat (4) Dalam Peraturan Pemerintah tersebut antara lain diatur cara-cara mengatasi bahaya. penggiringan dan pemindahan satwa yang bersangkutan. dan untuk permuliaan jenis tumbuhan dan satwa.

Ayat (2) Tumbuhan dan satwa yang dilindungi harus dipertahankan agar tetap berada di habitatnya. Oleh karena itu, tumbuhan dan satwa yang dirampas harus dikembalikan ke habitatnya. Kalau tidak mungkin dikembalikan ke habitatnya karena dinilai tidak dapat beradaptasi dengan habitatnya dan/atau untuk dijadikan barang bukti di pengadilan, maka tumbuhan dan satwa tersebut diserahkan atau dititipkan kepada lembaga yang bergerak di bidang konservasi tumbuhan dan satwa. Apabila keadaan sudah tidak memungkinkan karena rusak, cacat, dan tidak memungkinkan hidup, lebih baik dimusnahkan. Lembaga yang dimaksud dalam ayat ini dapat berupa lembaga pemerintah dan lembaga non pemerintah, misalnya kebun binatang, kebun botani, museum biologic herbarium, taman safari dan sebagainya yang ditunjuk dan ditetapkan oleh Pemerintah. Pasal 25 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 24 ayat (2) Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Yang dimaksud dengan kondisi lingkungan adalah potensi kawasan berupa ekosistem, keadaan iklim, fenomena alam, kekhasan jenis tumbuhan dan satwa, dan peninggalan budaya yang berada dalam kawasan tersebut. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Wilayah taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam meliputi areal daratan dan perairan. Ayat (2) Lihat penjelasan Pasal 16 ayat (2) Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 32 Yang dimaksud dengan zona inti adalah bagian kawasan taman nasional yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apa pun oleh aktivitas manusia. Yang dimaksud dengan zona pemanfaatan adalah bagian dari kawasan taman nasional yang dijadikan pusat rekreasi dan kunjungan wisata. Yang dimaksud dengan zona lain adalah zona di luar kedua zona tersebut karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional zona rehabilitasi, dan sebagainya. Pasal 33 Ayat (1) Lihat penjelasan Pasal 19 ayat ( 1) Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 34 Ayat (1) Pada dasarnya pengelolaan kawasan pelestarian alam merupakan kewajiban dari Pemerintah sebagai konsekuensi penguasaan oleh negara atas sumber daya alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945. Dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan atas zona pemanfaatan taman nasional, taman hutan raya, dan taman wisata alam, Pemerintah dapat memberikan hak pengusahaan kepada koperasi, badan usaha milik negara, perusahaan swasta dan perorangan.

94

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Pengertian mengikutsertakan rakyat di sini adalah memberi kesempatan kepada rakyat sekitarnya untuk ikut berperan dalam usaha di kawasan tersebut. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 35 Yang dimaksud dengan dalam keadaan tertentu dan sangat diperlukan adalah keadaan dan situasi yang terjadi di kawasan pelestarian alam karena bencana alam (gunung meletus, keluar gas beracun, bahaya kebakaran), dan kerusakan akibat pemanfaatan terus menerus yang dapat membahayakan pengunjung atau kehidupan tumbuhan dan satwa. Pasal 36 Ayat (1) Dalam pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar harus dilakukan dengan tetap menjaga keseimbangan populasi dengan habitatnya. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 37 Ayat (1) Peranserta rakyat dapat berupa perorangan dan kelompok masyarakat baik yang terorganisasi maupun tidak. Agar rakyat dapat berperan secara aktif dalam kegiatan konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, maka melalui kegiatan penyuluhan, Pemerintah perlu mengarahkan dan menggerakkan rakyat dengan mengikutsertakan kelompok-kelompok masyarakat. Ayat (2) Dalam upaya menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi di kalangan rakyat, maka perlu ditanamkan pengertian dan motivasi tentang konservasi sejak dini melalui jalur pendidikan sekolah dan luar sekolah. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 38 Ayat (1) Selain Pemerintah Pusat dapat menyerahkan sebagian urusan di bidang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya kepada Pemerintah Daerah, juga Pemerintah Pusat dapat menugaskan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai tugas pembantuan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 40 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas 95

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah negara kesatuan Republik Indonesia sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia dengan letak dan kedudukan yang strategis sebagai negara kepulauan dengan keanekaragaman ekosistemnya merupakan sumber daya alam yang perlu disyukuri, dilindungi, dan dikelola untuk mewujudkan tujuan pembangunan nasional sebagai pengamalan Pancasila; b. bahwa pengelolaan sumber daya alam yang beraneka ragam di daratan, di lautan, dan di udara, perlu dilakukan secara terkoordinasi dan terpadu dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan dalam pola pembangunan yang berkelanjutan dengan mengembangkan tata ruang dalam satu kesatuan tata lingkungan yang dinamis serta tetap memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup sesuai dengan pembangunan berwawasan lingkungan, yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; c. bahwa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang belum menampung tuntutan perkembangan pembangunan, sehingga perlu ditetapkan undang-undang tentang penataan ruang; Mengingat: 1. Pasal 5 ayat (1), Pasal 20 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043); 3. Undang-undang 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintah Di Daerah (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 38, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3037); 4. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215); 5. Undang-undang Nomor 20 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertahanan Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor 51, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3234), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1988 (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 3, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3368); Dengan persetujuan DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN: Menetapkan: UNDANG-UNDANG TENTANG PENATAAN RUANG. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan: 1. Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan, dan ruang udara sebagai satu kesatuan wilayah, tempat manusia dan makhluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan serta memelihara kelangsungan hidupnya. 2. Tata ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan maupun tidak. 3. Penataan ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang. 4. Rencana tata ruang adalah hasil perencanaan tata ruang. 5. Wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional. 6. Kawasan adalah wilayah dengan fungsi utama lindung atau budi daya. 7. Kawasan lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama melindungi kelestarian lingkungan hidup yang mencakup sumber daya alam dan sumber daya buatan. 8. Kawasan budi daya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi sumber-sumber daya manusia, dan sumber daya buatan. 9. Kawasan perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama pertanian termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 96

10. Kawasan perkotaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi. 11. Kawasan tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis yang penataan ruangnya diprioritaskan. BAB II ASAS DAN TUJUAN Pasal 2 Penataan ruang berasaskan: a. pemanfaatan ruang bagi semua kepentingan secara terpadu, berdaya guna dan berhasil guna, serasi, selaras, seimbang, dan berkelanjutan; b. keterbukaan, persamaan, keadilan, dan perlindungan hukum. Pasal 3 Penataan ruang bertujuan: a. terselenggaranya pemanfaatan ruang berwawasan lingkungan yang berlandaskan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional; b. terselenggaranya pengaturan pemanfaatan ruang kawasan lindung dan kawasan budi daya; c. tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk: 1) mewujudkan kehidupan bangsa yang cerdas, berbudi luhur, dan sejahtera; 2) mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; 3) meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya buatan secara berdaya guna, berhasil guna, dan tepat guna untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia; 4) mewujudkan perlindungan fungsi ruang dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan; 5) mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan dan keamanan. BAB III HAK DAN KEWAJIBAN Pasal 4 (1) Setiap orang berhak menikmati manfaat ruang termasuk pertambahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. (2) Setiap orang berhak untuk: a. mengetahui rencana tata ruang; b. berperan serta dalam penyusunan rencana tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian pemanfaatan ruang; c. memperoleh penggantian yang layak atas kondisi yang dialaminya sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan yang sesuai dengan rencana tata ruang. Pasal 5 (1) Setiap orang berkewajiban berperan serta dalam memelihara kualitas ruang. (2) Setiap orang berkewajiban menaati rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Pasal 6 Ketentuan mengenai pelaksanaan hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5 diatur dengan Peraturan Pemerintah. BAB IV PERENCANAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGENDALIAN Bagian Pertama Umum Pasal 7 (1) Penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budi daya. (2) Penataan ruang berdasarkan aspek administratif meliputi ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan dan aspek kegiatan meliputi kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, dan kawasan tertentu. 97

Pasal 8 (1) Penataan ruang wilayah Nasional, wilayah Propinsi Daerah Tingkat I, dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan secara terpadu dan tidak dipisah-pisahkan. (2) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dikoordinasikan penyusunannya oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) untuk ketentuan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. (3) Penataan ruang untuk kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dikoordinasikan penyusunannya oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I untuk kemudian dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. Pasal 9 (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, di samping meliputi ruang daratan, juga mencakup ruang lautan dan ruang udara sampai batas tertentu yang diatur dengan peraturan perundang-undangan. (2) Penataan ruang lautan dan penataan ruang udara di luar sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur secara terpusat dengan undang-undang. Pasal 10 (1) Penataan ruang kawasan perdesaan, penataan ruang kawasan perkotaan, dan penataan ruang kawasan tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) diselenggarakan sebagai bagian dari penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Penataan ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan diselenggarakan untuk: a. mencapai tata ruang kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang dalam pengembangan kehidupan manusia; b. meningkatkan fungsi kawasan perdesaan dan fungsi kawasan perkotaan secara serasi, selaras, dan seimbang antara perkembangan lingkungan dengan tata kehidupan masyarakat; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kemakmuran rakyat dan mencegah serta menanggulangi dampak negatif terhadap lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lingkungan sosial. (3) Penataan ruang kawasan tertentu diselenggarakan untuk: a. mengembangkan tata ruang kawasan yang strategis dan diprioritaskan dalam rangka penataan ruang wilayah Nasional atau wilayah Propinsi Daerah Tingkat I atau wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II; b. meningkatkan fungsi kawasan lindung dan fungsi kawasan budi daya; c. mengatur pemanfaatan ruang guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. (4) Pengelolaan kawasan tertentu diselenggarakan oleh Pemerintah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 11 Penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 10 dilakukan dengan memperhatikan: a. lingkungan alam, lingkungan buatan, lingkungan sosial, dan interaksi lingkungan; b. tahapan, pembiayaan, dan pengelolaan pembangunan, serta pembinaan kemampuan kelembagaan. Pasal 12 (1) Penataan ruang dilakukan oleh Pemerintah dengan peran serta masyarakat. (2) Tata cara dan bentuk peran serta masyarakat dalam penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 13 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan melalui proses dan prosedur penyusunan serta penetapan rencana tata ruang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Rencana tata ruang ditinjau kembali dan atau disempurnakan sesuai dengan jenis perencanaannya secara berkala. (3) Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap memperhatikan ketentuan Pasal 24 ayat (3). (4) Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara peninjauan kembali dan atau penyempurnaan rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah. Pasal 14 (1) Perencanaan tata ruang dilakukan dengan mempertimbangkan a. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan fungsi budi daya dan fungsi lindung, dimensi waktu, teknologi, sosial budaya, serta fungsi pertahanan keamanan; b. aspek pengelolaan secara terpadu berbagai sumber daya, fungsi dan estetika lingkungan, serta kualitas ruang. (2) Perencanaan tata ruang mencakup perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang, yang meliputi tata guna tanah, tata guna air, tata guna udara, dan tata guna sumber daya alam lainnya. (3) Perencanaan tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan keamanan sebagai subsistem perencanaan tata ruang, tata cara penyusunannya diatur dengan peraturan perundang-undangan. 98

peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (2) Pemanfaatan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diselenggarakan secara bertahap sesuai dengan jangka waktu yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. c. (2) Rencana tata ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) digambarkan dalam peta wilayah negara Indonesia. mewujudkan keterpaduan. keterkaitan. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah nasional. yang tingkat ketelitiannya diatur dalam peraturan perundang-undangan. dan tata guna sumber daya alam lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) butir a. diatur dengan Peraturan Pemerintah. Bagian Keempat Pengendalian Pasal 17 Pengendalian pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui kegiatan pengawasan dan penertiban terhadap pemanfaatan ruang. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Nasional adalah 25 tahun. penetapan kawasan lindung. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. yang meliputi: a. (2) Penertiban terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang diselenggarakan dalam bentuk pengenaan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. d. (2) Ketentuan mengenai pola pengelolaan tata guna tanah. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. kawasan budi daya. b. c. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. kriteria dan pola pengelolaan kawasan lindung. penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. yang didasarkan atas rencana tata ruang. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional berisi: a. tata guna udara dan tata guna sumber daya alam lainnya sesuai dengan asas penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2. b. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. c. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang. c. 99 . Pasal 18 (1) Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang diselenggarakan dalam bentuk pelaporan. tata guna air. Pasal 20 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional merupakan strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. dan keseimbangan perkembangan antara wilayah serta keserasian antar sektor. b. norma dan kriteria pemanfaatan ruang. Pasal 16 (1) Dalam pemanfaatan ruang dikembangkan: a. dan kawasan tertentu yang ditetapkan secara nasional. kawasan budi daya. tujuan nasional dari pemanfaatan ruang untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi pedoman untuk: a. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah nasional. dan kawasan tertentu. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Nasional ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. tata guna udara. BAB V RENCANA TATA RUANG Pasal 19 (1) Rencana tata ruang dibedakan atas: a. perangkat tingkat yang bersifat insentif dan disinsentif dengan menghormati hak penduduk sebagai warganegara. pemantauan. tata guna air.Bagian Ketiga Pemanfaatan Pasal 15 (1) Pemanfaatan ruang dilakukan melalui pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. b. b. dan evaluasi. pola pengelolaan tata guna tanah. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.

dan tata guna sumber daya alam lainnya. d. arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II serta keserasian antar sektor. c. (5) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah 10 tahun. b. yang meliputi : a. dan prasarana pengelolaan lingkungan. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. g. arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. penatagunaan tanah. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. penatagunaan air. perindustrian. tata guna air. prasarana pengelolaan lingkungan. (2) Rencana tata ruang kawasan tertentu dalam rangka penataan ruang wilayah nasional merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan atau Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan dengan Keputusan Presiden. pengairan. rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. telekomunikasi. dan kawasan tertentu. arahan kebijaksanaan tata guna tanah. pertambangan. penyusunan rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budi daya. kawasan perkotaan. keterkaitan. tujuan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. struktur dan pola pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. d. (4) Jangka waktu Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I adalah 15 tahun. telekomunikasi. pengairan. kehutanan. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman untuk: a. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. b. tata cara. f. d. (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi pedoman untuk: a. arahan pengembangan kawasan permukiman. b. c. tata guna udara. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berisi: a. b. energi. penetapan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. (2) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berisi: a. energi. rencana umum tata ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan kawasan tertentu. dan keseimbangan perkembangan antar wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serta keserasian antar sektor. (6) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II ditetapkan dengan peraturan daerah. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan.Pasal 21 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I merupakan penjabaran strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah nasional ke dalam strategi dan struktur pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. b. yang meliputi: a. d. 100 . arahan pengelolaan kawasan perdesaan. pedoman pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. pengelolaan kawasan perdesaan. sistem prasarana transportasi. pedoman. pengarahan lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyarakat. e. mewujudkan keterpaduan. arahan pengembangan kawasan yang diprioritaskan. arahan pengembangan sistem pusat permukiman perdesaan dan perkotaan. sistem kegiatan pembangunan dan sistem permukiman perdesaan dan perkotaan. kawasan perkotaan. pariwisata. c. c. d. perumusan kebijaksanaan pokok pemanfaatan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. serta memperhatikan keterpaduan dengan sumber daya manusia dan sumber daya buatan. keterkaitan. (5) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ditetapkan dengan peraturan daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penetapan kawasan. c. pertanian. pelaksanaan pembangunan dalam memanfaatkan ruang bagi kegiatan pembangunan. e. dan lain-lain yang diperlukan bagi penyusunan rencana tata ruang kawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. dan kawasan lainnya. e. Pasal 23 (1) Rencana tata ruang kawasan perdesaan dan rencana tata ruang kawasan perkotaan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. penatagunaan udara. b. Pasal 22 (1) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I ke dalam strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. mewujudkan keterpaduan. penataan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap perizinan lokasi pembangunan. (4) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi dasar untuk penerbitan perizinan lokasi pembangunan. c.

mengumumkan dan menyebarluaskan rencana tata ruang kepada masyarakat. mengatur tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang. bimbingan. terhadap kerugian yang timbul sebagai akibat pembatalan izin tersebut dapat dimintakan penggantian yang layak. (2) Pelaksanaan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) memberikan wewenang kepada Pemerintah untuk: a. mengatur dan menyelenggarakan penataan ruang. (2) Untuk Daerah Khusus lbukota Jakarta. dan Badan-badan Pemerintah lainnya serta koordinasi dengan Daerah sekitarnya sesuai dengan ketentuan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1990 tentang Susunan Pemerintahan Daerah Khusus lbukota Negara Republik Indonesia Jakarta. BAB VII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 30 Pada saat mulai berlakunya Undang-undang ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan penataan ruang yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan belum diganti berdasarkan Undangundang ini. (3) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan tetap menghormati hak yang dimiliki orang. (4) Penetapan mengenai perubahan fungsi ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) menjadi dasar dalam peninjauan kembali Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1). 101 . Lembaga. Pasal 29 (1) Presiden menunjuk seorang Menteri yang bertugas mengkoordinasikan penataan ruang. (2) Apabila izin sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dibuktikan telah diperoleh dengan itikad baik. menumbuhkan serta mengembangkan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat melalui penyuluhan. dan pelatihan. Pasal 25 Pemerintah menyelenggarakan pembinaan dengan: a. pendidikan. maka diperlukan pertimbangan dan persetujuan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. (3) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan setelah berkonsultasi dengan Dewan Perwakilan Rakyat. (2) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Pasal 27 (1) Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. (3) Apabila dalam penyelenggaraan penataan ruang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) terdapat hal-hal yang tidak dapat diselesaikan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 26 (1) Izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan undang-undang ini dinyatakan batal oleh Kepala Daerah yang bersangkutan. b.BAB VI WEWENANG DAN PEMBINAAN Pasal 24 (1) Negara menyelenggarakan penataan ruang untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat yang pelaksanaannya dilakukan oleh Pemerintah. Pasal 28 (1) Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan penataan ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II. pelaksanaan penataan ruang dilakukan Gubernur Kepala Daerah dengan memperhatikan pertimbangan dari Departemen. b. (2) Tugas koordinasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) termasuk pengendalian perubahan fungsi ruang suatu kawasan dan pemanfaatannya yang berskala besar dan berdampak penting.

Keputusan Letnan Gubernur Jenderal tanggal 23 Juli 1948 no. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundangan Undang-undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.BAB VIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 31 Dengan berlakunya Undang-undang ini. maka Ordonansi Pembentukan Kota (Stadsvormingsordonnantie Staatsblad Tahun 1948 Nomor 168. Pasal 32 Undang-undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Disahkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd SOEHARTO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 13 Oktober 1992 MENTERI/SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd MOERDIONO 102 .13) dinyatakan tidak berlaku.

ruang wajib dikembangkan dan dilestarikan pemanfaatannya secara optimal dan berkelanjutan demi kelangsungan hidup yang berkualitas. serta kelestarian kemampuan lingkungan untuk menopang pembangunan nasional demi tercapainya masyarakat yang adil dan makmur.PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1992 TENTANG PENATAAN RUANG I. budaya. Ini berarti perlu adanya suatu kebijaksanaan nasional penataan ruang yang memadukan berbagai kebijaksanaan pemanfaatan ruang. Di dalam subsistem tersebut terdapat sumber daya manusia dengan berbagai macam kegiatan pemanfaatan sumber daya alam. pertahanan keamanan. sumber daya buatan. sosial. fungsi lokasi. Ruang wilayah negara sebagai suatu sumber daya alam terdiri dari berbagai ruang wilayah sebagai suatu subsistem. sesuai dengan kondisi alam setempat dan teknologi yang diterapkan. Meskipun suatu ruang tidak dihuni manusia seperti ruang hampa udara. Kegiatan manusia dan makhluk hidup lainnya membutuhkan ruang sebagaimana lokasi berbagai pemanfaatan ruang atau sebaliknya suatu ruang dapat mewadahi berbagai kegiatan. maka 103 . baik oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara memberikan keyakinan bahwa kebahagiaan hidup dapat tercapai jika didasarkan atas keserasian. dan melakukan kegiatannya merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa kepada bangsa Indonesia. Secara geografis letak dan kedudukan negara Indonesia sebagai negara kepulauan adalah sangat strategis. maka haruslah jelas batas. ruang lautan. ekonomi. dan kelembagaan dengan corak ragam dan daya dukung yang berbeda satu dengan yang lainnya. pengaturan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utamanya. Garis-garis Besar Haluan Negara menetapkan bahwa pembangunan tidak hanya mengejar kemakmuran lahiriah ataupun kepuasan batiniah. sosial. kawah gunung berapi. Wilayah Negara Republik Indonesia adalah seluruh wilayah negara meliputi daratan. Oleh karena itu. Dengan kata lain wawasan penataan ruang wilayah negara Indonesia adalah Wawasan Nusantara. Ruang meliputi ruang daratan. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Undang-undang Dasar 1945 sebagai landasan konstitusional mewajibkan agar sumber daya alam dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. ekonomi. 3. yang masing-masing merupakan subsistem ruang menurut batasan administrasi. keselarasan. kalau ruang dikaitkan dengan pengaturannya. dan iklim tropisnya. dan seefektif mungkin dengan memperhatikan faktor-faktor politik. termasuk laut dan landas kontinen di sekitarnya. dan estetika lingkungan. kualitas ruang. jenis kegiatan. dan seimbang dalam pembangunan yang berkelanjutan. tetapi ruang tersebut mempunyai pengaruh terhadap kehidupan dan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan dan kelangsungan hidup. dan tingkat pemanfaatan ruang yang berbeda-beda. 2. Penataan ruang yang didasarkan pada karakteristik dan daya dukungnya serta didukung oleh teknologi yang sesuai. Laut sebagai salah satu sumber daya alam tidaklah mengenal batas wilayah. Ruang wilayah negara Indonesia sebagai wadah atau tempat bagi manusia dan makhluk lainnya hidup. ruang wilayah negara Indonesia merupakan aset besar bangsa Indonesia yang harus dimanfaatkan secara terkoordinasi. Sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa yang perlu disyukuri. terpadu. yang pada akhirnya akan mempengaruhi sistem ruang secara keseluruhan. dan keseimbangan. 4. baik bagi kepentingan nasional maupun internasional. Disadari bahwa ketersediaan ruang itu sendiri tidak tak terbatas. dan keseimbangan subsistem yang berarti juga meningkatkan daya tampungnya. UMUM 1. keselarasan. dilindungi dan dikelola. lautan. Seiring dengan maksud tersebut. Secara ekosistem kondisi alamiahnya adalah sangat khas karena menempati posisi silang di khatulistiwa antara dua benua dan dua samudera dengan cuaca. Akan tetapi. budaya. lapisan di bawah kerak bumi. maupun hubungan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa keyakinan tersebut menjadi pedoman dalam penataan ruang. ruang harus dimanfaatkan secara serasi. dan ruang udara beserta sumber daya alam yang terkandung di dalamnya bagi kehidupan dan penghidupan. akan meningkatkan keserasian. fungsi dan sistemnya dalam satu kesatuan. Masing-masing subsistem meliputi aspek politik. Dengan demikian. selaras. di mana Republik Indonesia memiliki hak berdaulat atau kewenangan hukum sesuai dengan ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun 1982 tentang Hukum laut. pertahanan keamanan. akan tetapi juga keseimbangan antara keduanya. hubungan manusia dengan alam. dan udara berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. baik dalam hidup manusia sebagai pribadi. Kemakmuran rakyat tersebut harus dapat dinikmati. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. kemungkinan besar terdapat pemborosan manfaat ruang dan penurunan kualitas ruang. Seluruh wilayah negara Indonesia terdiri dari wilayah Nasional. yang apabila tidak ditata secara baik dapat mendorong ke arah adanya ketidakseimbangan pembangunan antar wilayah serta ketidak lestarian lingkungan hidup. hubungan manusia dengan manusia. diperlukan penataan ruang untuk mengatur pemanfaatannya berdasarkan besaran kegiatan. Oleh karena pengelolaan subsistem yang satu akan berpengaruh pada subsistem yang lain. Oleh karena itu. musim. Bila pemanfaatan ruang tidak diatur dengan baik.

PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Istilah yang dirumuskan dalam Pasal ini dimaksudkan agar terdapat keseragaman pengertian atas Undangundang ini serta peraturan pelaksanaannya. yang merupakan ruang di luar ruang udara. Mengandung sejumlah ketentuan proses dan prosedur perencanaan tata ruang. transmigrasi. ruang lautan. Angka 1 Ruang yang diatur dalam Undang-undang ini adalah ruang di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi yang meliputi hak berdaulat di wilayah teritorial maupun kewenangan hukum di luar wilayah teritorial berdasarkan ketentuan konvensi yang bersangkutan yang berkaitan dengan ruang lautan dan ruang udara. Dengan demikian. waktu. perumahan dan permukiman. Selain itu. Undang-undang Nomor 4 Prp Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 22. perkotaan. dan ruang udara mempunyai potensi yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan tingkat intensitas yang berbeda untuk kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Menjamin keterbukaan rencana tata ruang bagi masyarakat sehingga dapat lebih mendorong peran serta masyarakat dalam pemanfaatan ruang yang berkualitas dalam segala segi pembangunan. dan tempat. sebagai sumber energi. dan ruang udara merupakan satu kesatuan ruang yang tidak dapat dipisah-pisahkan. undang-undang tentang penataan ruang ini memiliki ciri sebagai berikut: a. pertambangan. c. dan ruang udara. Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Ruang udara adalah ruang yang terletak di atas ruang daratan dan atau ruang lautan sekitar wilayah negara dan melekat pada bumi.pelaksanaan pembangunan. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. Ruang lautan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan laut dimulai dari sisi laut garis laut terendah termasuk dasar laut dan bagian bumi di bawahnya. pemanfaatan ruang. Tambahan Lembaran Negara Nomor 1942) jo. Dalam Undang-undang ini. b. dan pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan sistem yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya. Untuk itu. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 35. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1976 tentang Pengesahan Penyatuan Timor Timur Ke Dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Pembentukan Propinsi Daerah Tingkat I Timor Timur (Lembaran Negara Tahun 1976 Nomor 35. sebagai jalur perhubungan. dan pengendalian pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut. telekomunikasi. II. semua peraturan perundang-undangan yang menyangkut aspek pemanfaatan ruang dapat terangkum dalam satu sistem hukum penataan ruang Indonesia. 5. perikanan. Untuk menjamin tercapainya tujuan penataan ruang diperlukan peraturan perundang-undangan dalam satu kesatuan sistem yang harus memberi dasar yang jelas. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419. sebagai obyek wisata. Potensi itu diantaranya sebagai tempat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhan pangan. Sederhana tetapi dapat mencakup kemungkinan perkembangan pemanfaatan ruang pada masa depan sesuai dengan keadaan. ruang lautan. pembangunan daerah. d. Dengan demikian. dan sebagainya dengan memperhatikan di antaranya: a. di tingkat Pusat maupun di tingkat Daerah. Penataan ruang sebagai proses perencanaan tata ruang. perdesaan. Mencakup semua aspek di bidang penataan ruang sebagai dasar bagi pengaturan lebih lanjut yang perlu dituangkan dalam bentuk peraturan tersendiri. Landas Kontinen Indonesia. di mana Republik Indonesia mempunyai hak yurisdiksi. kepariwisataan. jalan. pertanahan. Pengertian ruang mencakup ruang daratan. Ruang daratan. Ruang angkasa beserta isinya seperti bulan dan benda-benda langit lainnya adalah bagian dari antariksa. pemanfaatan ruang tidak bertentangan dengan rencana tata ruang. pertambangan. 104 . ruang lautan. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3084). perindustrian. tegas dan menyeluruh guna menjamin kepastian hukum bagi upaya pemanfaatan ruang. Ruang daratan. harus sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. tambahan Lembaran Negara Nomor 3475). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49. c. kehutanan. pemanfaatan ruang. pengertian ruang udara (air-space) tidak sama dengan pengertian ruang angkasa (outerspace). perhubungan. atau sebagai tempat penelitian dan percobaan. industri. Undang-undang ini menjadi landasan untuk menilai dan menyesuaikan peraturan perundang-undangan yang memuat ketentuan tentang segi-segi pemanfaatan ruang yang telah berlaku yaitu peraturan perundangundangan mengenai perairan. Ruang daratan adalah ruang yang terletak di atas dan di bawah permukaan daratan termasuk permukaan perairan darat dan sisi darat dari garis laut terendah.

dan pertanian. tempat kerja. dan geopolitik. prasarana jalan seperti jalan arteri. daya tampung lingkungan. Angka 3 Cukup jelas Angka 4 Cukup jelas Angka 5 Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif disebut wilayah pemerintahan. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk pemanfaatan ruang yang menggambarkan ukuran. dan jalan lokal. Angka 6 Cukup jelas Angka 7 Kelestarian lingkungan hidup mencakup pula sumber daya alam dan sumber daya buatan yang mempunyai nilai sejarah dan budaya bangsa. lingkungan sosial. daya dukung lingkungan. fungsi. jarak antar bangunan. ruang lingkup wilayah yang direncanakan. Yang dimaksud dengan berdaya guna dan berhasil guna adalah bahwa penataan ruang harus dapat mewujudkan kualitas ruang yang sesuai dengan potensi dan fungsi ruang. Wujud struktural pemanfaatan ruang di antaranya meliputi hirarki pusat pelayanan seperti pusat kota. serta antara sektor dan daerah dalam satu kesatuan Wawasan Nusantara. dan keseimbangan struktur dan pola pemanfaatan ruang bagi persebaran penduduk antar wilayah. yakni kepentingan pemerintah dan masyarakat secara adil dengan memperhatikan golongan ekonomi lemah. Yang dimaksud dengan terpadu adalah bahwa penataan ruang dianalisis dan dirumuskan menjadi satu kesatuan dari berbagai kegiatan pemanfaatan ruang baik oleh pemerintah maupun masyarakat. dan lingkungan buatan yang secara hirarkis dan struktural berhubungan satu dengan yang lainnya membentuk tata ruang. Dalam mempertimbangkan aspek waktu. pusat lingkungan. Angka 8 Pembudidayaan kawasan memperhatikan asas konservasi. keselarasan. gunung dan sebagainya. 105 . modal. Wilayah yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek fungsional disebut kawasan. rancang bangun kota seperti ketinggian bangunan. Tata ruang yang dituju dengan penataan ruang ini adalah tata ruang yang direncanakan. Penataan ruang dilakukan secara terpadu dan menyeluruh mencakup antara lain pertimbangan aspek waktu.Angka 2 Yang dimaksud dengan wujud struktural pemanfaatan ruang adalah susunan unsur-unsur pembentuk ruang lingkungan alam. Tata ruang yang tidak direncanakan berupa tata ruang yang terbentuk secara alamiah seperti wilayah aliran sungai. industri. Yang dimaksud dengan serasi. sebaran permukiman. serta pola penggunaan tanah perdesaan dan perkotaan. garis langit. danau. suatu perencanaan tata ruang memperhatikan adanya aspek prakiraan. suaka alam. optimasi. pertumbuhan dan perkembangan antar sektor. persepsi yang mengungkapkan berbagai keinginan serta kebutuhan dan tujuan pemanfaatan ruang. gua. dan sebagainya. Penataan ruang harus diselenggarakan secara tertib sehingga memenuhi proses dan prosedur yang berlaku secara teratur dan konsisten. serta karakter kegiatan manusia dan atau kegiatan alam. selaras. antar daerah. dan seimbang adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin terwujudnya keserasian. Wujud pola pemanfaatan ruang di antaranya meliputi pola lokasi. pusat pemerintahan. Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Pasal 2 Yang dimaksud dengan semua kepentingan adalah bahwa penataan ruang dapat menjamin seluruh kepentingan. jalan kolektor.

tercapainya tata ruang kawasan lindung secara optimal. hak untuk mengeksploitasi sumber alam di laut seperti penangkapan ikan. tambang. Pasal 4 Ayat (1) Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan orang adalah orang seorang. dan sebagainya. hak untuk mengelola pariwisata bahari. dan sumber daya buatan melalui proses koordinasi. dan sebagainya. Hak atas pemanfaatan ruang udara dapat berupa hak untuk menggunakan jalur udara bagi lalu lintas pesawat terbang. hak untuk menggunakan media udara bagi telekomunikasi. bahan galian. atau mengajukan keberatan kepada pemerintah dalam rangka penataan ruang. industri.Yang dimaksud dengan berkelanjutan adalah bahwa penataan ruang menjamin kelestarian kemampuan daya dukung sumber daya alam dengan memperhatikan kepentingan lahir dan batin antar generasi. hak untuk melakukan kegiatan usaha seperti perkantoran. tercapainya tata ruang kawasan budi daya secara optimal. hak pemeliharaan taman laut. perdagangan. b. dan lain-lain yang sejenis. kelompok orang. dan sebagainya. siklus udara. integrasi. siklus hidrologi. hak untuk melakukan angkutan laut. budi daya pertanian. hak pengelolaan sumber daya alam seperti hutan. memberi saran. Pasal 5 Ayat (1) Kewajiban dalam memelihara kualitas ruang merupakan pencerminan rasa tanggung jawab sosial setiap orang terhadap pemanfaatan ruang. Yang dimaksud dengan penggantian yang layak adalah bahwa nilai atau besar penggantian itu tidak mengurangi tingkat kesejahteraan orang yang bersangkutan. obyek wisata lingkungan. Penggantian yang layak diberikan kepada orang yang dirugikan selaku pemegang hak atas tanah. keselarasan. ikan. pariwisata. hak untuk membangun dan mengelola prasarana transportasi seperti jalan layang. b. Hak tersebut didasarkan atas ketentuan perundang-undangan ataupun atas hukum adat dan kebiasaan yang berlaku. penelitian. ruang lautan. pemanfaatan ruang. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan lindung adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan lindung seperti upaya konservasi. Penataan ruang kawasan budi daya bertujuan : a. dan pengendalian pemanfaatan ruang. dan atau ruang. daerah. atau badan hukum. yang dapat membuktikan bahwa secara langsung dirugikan sebagai akibat pelaksanaan kegiatan pembangunan sesuai dengan rencana tata ruang dan oleh perubahan nilai ruang sebagai akibat penataan ruang. Ayat (2) Hak setiap orang dalam penataan ruang dapat diwujudkan dalam bentuk bahwa setiap orang dapat mengajukan usul. hak untuk melakukan kegiatan di dalam satuan ruang di dalam kota terapung dan atau di dalam laut. dan lain-lain yang sejenis. fungsi lingkungan seperti wilayah 106 . Hak atas pemanfaatan ruang lautan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam rumah terapung. meningkatkan fungsi kawasan lindung. Yang dimaksud dengan mewujudkan keterpaduan adalah mencegah perbenturan kepentingan yang merugikan kegiatan pembangunan antar sektor. Pasal 3 Tujuan pengaturan penataan ruang dimaksudkan untuk mengatur hubungan antara berbagai kegiatan dengan fungsi ruang guna tercapainya pemanfaatan ruang yang berkualitas. Pemerintah berkewajiban melindungi hak setiap orang untuk menikmati manfaat ruang. dan kegiatan pembangunan permukiman. dan sinkronisasi perencanaan tata ruang. dan atau melakukan kegiatan sosial seperti tempat pertemuan di dalam satuan ruang bangunan bertingkat. meningkatkan fungsi kawasan budi daya. dan ruang udara. dan masyarakat dalam penggunaan sumber daya alam dengan memperhatikan sumber daya manusia. Hak atas pemanfaatan ruang daratan dapat berupa hak untuk memiliki dan menempati satuan ruang di dalam bangunan sebagai tempat tinggal. dan keseimbangan pemanfaatan ruang yang mengindahkan faktor-faktor daya dukung lingkungan seperti struktur tanah. rehabilitasi. Penataan ruang kawasan lindung bertujuan: a. budi daya kehutanan. Yang dimaksud dengan pengaturan pemanfaatan kawasan budi daya adalah bentuk-bentuk pengaturan pemanfaatan ruang di kawasan budi daya seperti upaya eksploitasi pertambangan. Yang dimaksud dengan hak atas ruang adalah hak-hak yang diberikan atas pemanfaatan ruang daratan. penambangan lepas pantai. tempat peristirahatan. Kualitas ruang ditentukan oleh terwujudnya keserasian.

kawasan pantai berhutan bakau. kawasan industri. Termasuk dalam kawasan budi daya adalah kawasan hutan produksi. kegiatan pertahanan keamanan beserta sarana dan prasarananya. tempat kegiatan pertanian. kawasan perkotaan. Ayat (2) Penyesuaian pemanfaatan ruang. kegiatan di bidang yang bersangkutan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama yang mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang di wilayah sekitarnya. c. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perdesaan meliputi tempat permukiman perdesaan. taman hutan raya dan taman wisata alam. kegiatan pariwisata beserta sarana dan prasarananya. serta kawasan perdesaan. Pelaksanaan kewajiban menaati rencana tata ruang dilakukan sesuai dengan kemampuan setiap orang yang terkena langsung akibat pemanfaatan rencana tata ruang. konservasi flora dan fauna. jarak antara perumahan dengan fasilitas umum. kawasan pertanian. Bagi orang yang tidak mampu. Fungsi kawasan yang berwujud kawasan tertentu meliputi tempat pengembangan kegiatan yang strategis yang ditentukan dengan kriteria antara lain: a. Kegiatan dalam kawasan tertentu dapat berupa misalnya kegiatan pembangunan skala besar untuk kegiatan industri beserta sarana dan prasarananya. dan kegiatan ekonomi. kawasan sekitar danau/waduk. pusat kegiatan dalam kawasan perkotaan. taman nasional. kawasan pendidikan. pertanaman. lokasi seperti jarak antara perumahan dengan tempat kerja. kawasan sekitar mata air. kawasan permukiman. wilayah perbatasan. kawasan resapan air.resapan air. Pasal 6 Cukup jelas Pasal 7 Ayat (1) Termasuk dalam kawasan lindung adalah kawasan hutan lindung. Dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat I. tempat pemusatan dan pendistribusian kegiatan bukan pertanian seperti kegiatan pelayanan jasa pemerintahan. dan kawasan rawan bencana alam. kegiatan di suatu bidang yang mempunyai dampak baik terhadap kegiatan lain di bidang yang sejenis maupun terhadap kegiatan di bidang lainnya. dan struktur seperti pusat lingkungan dalam perumahan. kegiatan pelayanan sosial. kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan. kompensasi diatur melalui pengaturan nilai tambah yang ditimbulkan sebagai akibat adanya perubahan nilai ruang. kegiatan di bidang yang bersangkutan yang merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. arsitektur bangunan. kawasan hutan lindung. kawasan tempat beribadah. kawasan berikat. wajib dilakukan sewaktu-waktu oleh yang bersangkutan bila terjadi ketidaksesuaian pemanfaatan ruang dengan rencana tata ruang. kawasan suaka alam laut dan perairan lainnya. kawasan pariwisata. kawasan suaka alam. Pengertian memelihara kualitas ruang mencakup pula memelihara kualitas tata ruang yang direncanakan. kegiatan pemerintahan. Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat I dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. sempadan sungai. Susunan fungsi kawasan yang berwujud kawasan perkotaan meliputi tempat permukiman perkotaan. estetika lingkungan seperti bentang alam. maka sesuai haknya untuk mendapatkan penggantian yang layak. baik yang telah mempunyai izin maupun tidak. kawasan bergambut. b. taman nasional. kegiatan pelayanan sosial. dan kawasan tertentu. maka koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). kawasan resapan air. sempadan pantai. kawasan pertahanan keamanan. dan sebagainya. 107 . dan kegiatan ekonomi.

Penataan ruang tersebut berkaitan dengan lokasi dan tempat kegiatan masyarakat di daerah seperti tempat permukiman dan kegiatan nelayan dan sebagainya. wilayah perbatasan. 108 . ekonomi. maka dalam hal kawasan tersebut di atas mencakup dua atau lebih wilayah administrasi Daerah Tingkat II. Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis dan diprioritaskan adalah kawasan yang tingkat penanganannya diutamakan dalam pelaksanaan pembangunan. dan daerah latihan militer. penataan ruang dilakukan untuk terciptanya upaya dalam pemanfaatan ruang secara berdaya guna dan berhasil guna serta untuk terpeliharanya kelestarian kemampuan lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan perbatasan adalah perbatasan yang ada. lingkungan. Penataan ruang tersebut bersangkutan dengan wadah kegiatan masyarakat di daerah seperti batas ketinggian bangunan. Ayat (3) Kawasan yang meliputi lebih dari satu wilayah administratif Daerah Tingkat II dapat berupa kawasan lindung dan kawasan budi daya seperti wilayah aliran sungai. baik ditinjau dari sudut kepentingan politik. Sebagai contoh kawasan tertentu adalah kawasan strategis dalam skala besar untuk kegiatan industri. di daratan. sosial. Pasal 11 Dengan memperhatikan aspek seperti tersebut dalam Pasal ini. Kecuali kawasan tertentu. Ayat (4) Dalam hal perencanaan tata ruang kawasan tertentu. koordinasi penyusunannya diselenggarakan oleh Menteri sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 Ayat (1). kawasan hutan lindung. dan kawasan tertentu. kawasan resapan air. dan pertahanan keamanan. Pasal 9 Ayat (1) Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. di lautan dan di udara dengan negara tetangga. taman nasional. wilayah perbatasan. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berkaitan dengan ruang udara dalam batas tertentu. penggunaan jembatan penyeberangan yang diperlebar untuk pertokoan. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang daratannya berbatasan dengan laut perlu mencakup ruang lautan dalam batas tertentu. Ayat (3) Yang dimaksud dengan kawasan yang strategis adalah kawasan yang secara nasional menyangkut hajat hidup orang banyak. Penataan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. suaka alam. Kawasan tertentu dapat berada dalam satu kesatuan kawasan perdesaan dan atau kawasan perkotaan. pariwisata. serta kawasan perdesaan. budaya.Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah. Dalam kawasan perkotaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budi daya dengan kegiatan utama budidaya bukan pertanian. kawasan perkotaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dalam kawasan perdesaan terdapat kawasan lindung dan kawasan budidaya dengan kegiatan utama budidaya pertanian. koordinasi penyusunan rencana tata ruang diselenggarakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I. Bagian dari masing-masing kawasan dipadukan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan untuk ditetapkan dengan peraturan daerah.

Aspek pengelolaan dalam ketentuan ini perlu mempertimbangkan secara terpadu karena hal tersebut mempengaruhi dinamika pemanfaatan ruang. b. perumusan perencanaan tata ruang. informasi. kedalaman rencana. Ayat (2) Rencana tata ruang disusun dengan perspektif menuju keadaan pada masa depan yang diharapkan. wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II merupakan satu kesatuan proses dalam rangka mewujudkan keseimbangan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Perkembangan masyarakat dan lingkungan hidup berlangsung secara dinamis. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. serta memperhatikan keragaman wawasan kegiatan tiap sektor. kelompok orang. serta fungsi pertahanan keamanan. ditempuh langkah-langkah kegiatan: a. sosial.Pasal 12 Ayat (1) Peran serta masyarakat merupakan hal yang sangat penting dalam penataan ruang karena pada akhirnya hasil penataan ruang adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat serta untuk tercapainya tujuan penataan ruang. budaya. Ayat (4) Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Pengaturan pemanfaatan ruang untuk fungsi pertahanan keamanan di tingkat Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Ayat (3) Ketentuan ini memberikan penegasan bahwa bagaimanapun bila peninjauan kembali tersebut berakibat kepada penyempurnaan rencana tata ruang. bertitik tolak dari data. Dinamika dalam pemanfaatan ruang tercermin antara lain dalam: 109 . ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat dipakai. c. Daerah Tingkat I dan Daerah Tingkat II. maka hak orang harus tetap dilindungi. ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Proses dan prosedur penetapan rencana tata ruang diselenggarakan pada tingkat Nasional. Oleh karena itu. mengidentifikasikan berbagai potensi dan masalah pembangunan dalam suatu wilayah perencanaan. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 13 Ayat (1) Proses dan prosedur penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Dalam penyempurnaan rencana tata ruang tersebut dilaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 12. agar rencana tata ruang yang telah disusun itu tetap sesuai dengan tuntutan pembangunan dan perkembangan keadaan. masyarakat mendayagunakan kemampuannya secara aktif sebagai sarana untuk melaksanakan peran serta masyarakat dalam mencapai tujuan penataan ruang. penetapan tata ruang. dan fungsi wilayah serta kawasan. Peran serta masyarakat dalam penataan ruang dapat diselenggarakan oleh orang seorang. Dalam penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dalam menjalankan peranannya itu. Masyarakat berperan sebagai mitra pemerintah dalam penataan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilaksanakan secara terarah dan terpadu. Peninjauan kembali sebagaimana tersebut di atas bukan berarti penyusunan rencana baru secara totalitas dan hanya dapat dilakukan atas dasar Peraturan Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Ayat (4) Pasal ini. d. atau badan hukum. Jenis perencanaan dibedakan menurut hirarki administrasi pemerintahan. menentukan arah pengembangan yang akan dicapai dilihat dari segi ekonomi. rencana tata ruang dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan secara berkala.

sumber daya buatan. Ayat (2) Pemanfaatan ruang diselenggarakan secara bertahap melalui penyiapan program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang akan dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat.a. Pasal 16 Ayat (1) Pengertian pola pengelolaan tata guna tanah. pengatusan air hujan. udara. Ayat (3) Kegiatan perencanaan tata ruang untuk fungsi pertahanan keamanan karena sifatnya yang khusus memerlukan pengaturan tersendiri. dan pola pengelolaan tata guna sumber daya alam lainnya adalah sama dengan penatagunaan tanah. minyak bumi. informasi. administrasi. sumber daya alam. sungai yang dimanfaatkan sebagai sarana angkutan. dan sumber daya alam lainnya yang berwujud konsolidasi pemanfaatan tanah. serta keterkaitan antara pusat tersebut melalui. fungsi lindung. dan estetika lingkungan. Pasal 15 Ayat (1) Yang dimaksud dengan pemanfaatan ruang adalah rangkaian program kegiatan pelaksanaan pembangunan yang memanfaatkan ruang menurut jangka waktu yang ditetapkan di dalam rencana tata ruang. dan lingkungan sosial yang secara hirarkis dan fungsional berhubungan satu sama lain membentuk tata ruang. jaringan transportasi seperti jalan raya. baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. flora. perubahan status hukum tanah akibat rencana tata ruang. Yang dimaksud dengan penatagunaan tanah. sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. dimensi ruang dan waktu yang dalam kesatuan secara utuh menyeluruh serta berkualitas membentuk tata ruang. air. dan sumber daya alam lainnya sebagai satu kesatuan sistem untuk 110 . udara. dampak terhadap lingkungan. dan jaringan utilitas seperti: air bersih. budi daya. Yang dimaksud dengan pembiayaan program pemanfaatan ruang adalah mobilisasi. dan sumber daya alam lainnya melalui pengaturan kelembagaan yang terkait dengan pemanfaatan tanah. c. Meskipun demikian. supaya keberlanjutan pemanfaatan tanah. Pemanfaatan ruang diselenggarakan melalui tahapan pembangunan dengan memperhatikan sumber dan mobilisasi dana serta alokasi pembiayaan program pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang. teknologi. Yang dimaksud dengan pola pemanfaatan ruang adalah bentuk hubungan antar berbagai aspek sumber daya manusia. Ayat (2) Yang dimaksud dengan struktur pemanfaatan ruang adalah susunan dan tatanan komponen lingkungan alam hayati. ekonomi. perubahan nilai sosial akibat rencana tata ruang. antara lain. tata guna air. Tata guna tanah. Sebagai contoh sumber daya alam lainnya adalah sumber daya alam non-hayati seperti hutan. jaringan telepon. penatagunaan air. perubahan nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. antara lain. budaya. dan sumber daya alam lainnya untuk kegiatan pembangunan dan peningkatan kualitas tata ruang dapat terus berlangsung. dan tata guna udara merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang. energi angin. potensi meteorologi klimatologi. dan geofisika. udara. dan alokasi pendanaan yang diperlukan untuk pelaksanaan pembangunan. pola pengelolaan tata guna udara. prioritas. dan pemanfaatan tanah. lingkungan alam nonhayati. penatagunaan udara. b. udara. fauna. sosial. jaringan gas. Sistem prasarana meliputi. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya. sistem prasarana. air. d. air. air. penatagunaan udara. penataan ruang untuk fungsi ini tetap merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya keseluruhan penataan ruang wilayah negara. penggunaan. perkembangan serta kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi. penatagunaan air. dan penatagunaan sumber daya alam lainnya antara lain adalah penguasaan. c. jaringan listrik dan sistem pengelolaan sampah. pertahanan keamanan. dan sumber daya alam non-hayati seperti tambang mineral. Perencanaan struktur dan pola pemanfaatan ruang merupakan kegiatan menyusun rencana tata ruang yang produknya menitikberatkan kepada pengaturan hirarki pusat permukiman dan pusat pelayanan barang dan jasa. lingkungan buatan. air kotor. energi surya. pola pengelolaan tata guna air. jalan kereta api.

Apabila dengan pengaturan akan diwujudkan insentif dalam rangka pengembangan pemanfaatan ruang. sanksi perdata. Dengan demikian. dan sanksi pidana.kepentingan masyarakat secara adil. Bentuk evaluasi adalah usaha untuk menilai kemajuan kegiatan pemanfaatan ruang dalam mencapai tujuan rencana tata ruang. pengenaan pajak yang tinggi. sanksi terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang tetap dapat dikenakan berdasarkan atas ketentuan-ketentuan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. di bidang ekonomi melalui tata cara pemberian kompensasi. perlu diperhatikan faktor yang mempengaruhinya seperti faktor meteorologi. misalnya dalam bentuk: a. Penertiban adalah tindakan menertibkan yang dilakukan melalui pemeriksaan dan penyelidikan atas semua pelanggaran atau kejahatan yang dilakukan terhadap pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. atau b. Bentuk pemantauan adalah usaha atau perbuatan mengamati. air minum. maka melalui pengaturan itu dapat diberikan kemudahan tertentu: a. Yang dimaksud dengan perangkat insentif adalah pengaturan yang bertujuan memberikan rangsangan terhadap kegiatan yang seiring dengan tujuan rencana tata ruang. Dalam pemanfaatan tanah. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 17 Agar pemanfaatan ruang sesuai dengan rencana tata ruang dilakukan pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan penertiban pemanfaatan ruang. telepon dan sebagainya untuk melayani pengembangan kawasan sesuai dengan rencana tata ruang. pemanfaatan air. pemanfaatan udara. ketidaktersediaan sarana dan prasarana. Pasal 19 Ayat (1) Rencana tata ruang dibedakan menurut administrasi pemerintahan karena kewenangan mengatur pemanfaatan ruang sesuai dengan pembagian administrasi pemerintahan. dan memeriksa dengan cermat perubahan kualitas tata ruang dan lingkungan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. Pelaksanaan insentif dan disinsentif tidak boleh mengurangi hak penduduk sebagai warganegara. meskipun Undang-undang ini tidak memuat Pasal tentang ketentuan pidana. atau b. Pasal 18 Ayat (1) Bentuk pelaporan dalam ketentuan ini adalah berupa kegiatan memberi informasi secara obyektif mengenai pemanfaatan ruang baik yang sesuai maupun yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang. imbalan. dan pemanfaatan sumber daya alam lainnya. Pengenaan sanksi dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan tentang sanksi baik pelanggaran maupun kejahatan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak penduduk sebagai warganegara meliputi pengaturan atas harkat dan martabat yang sama. listrik. Ayat (2) Bentuk sanksi adalah sanksi administrasi. klimatologi. dan geofisika. di bidang fisik melalui pembangunan serta pengadaan sarana dan prasarana seperti jalan. mengawasi. Yang dimaksud dengan perangkat disinsentif adalah pengaturan yang bertujuan membatasi pertumbuhan atau mengurangi kegiatan yang tidak sejalan dengan rencana kawasan ruang. hak memperoleh. dan mempertahankan ruang hidupnya. Yang dimaksud dengan pengawasan dalam ketentuan ini adalah usaha untuk menjaga kesesuaian pemanfaatan ruang dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. 111 . Yang dimaksud dengan penertiban dalam ketentuan ini adalah usaha untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan ruang yang direncanakan dapat terwujud. Di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II penyelenggaraan pengendalian pemanfaatan ruang selain melalui kegiatan pengawasan dan penertiban juga meliputi mekanisme perizinan. dan tata cara penyelenggaraan sewa ruang dan urun saham.

b. peta wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:100. dan intensitas pemanfaatan ruang di wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II lebih tinggi daripada di wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. 112 . Pasal 20 Ayat (1) Strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.000 karena faktor-faktor seperti kepadatan penduduk dan bangunan. peta wilayah negara Indonesia dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:1. laut.000. Penataan ruang bagian wilayah nasional yang masing-masing terdiri dari beberapa propinsi sebagai satu kesatuan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional dan mewujudkan Wawasan Nusantara sebagai satu kesatuan nasional.000. dan udara. termasuk penetapan kawasan tertentu.000. daya dukung dan daya tampung lingkungan. c. pertumbuhan. harus selalu diperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. keanekaragaman kegiatan pembangunan. Dalam peraturan perundang-undangan yang mengatur peta wilayah dapat ditentukan tingkat ketelitiannya dengan pedoman: a.000.Ayat (2) Rencana tata ruang dibedakan menurut tingkat ketelitiannya karena informasi yang termuat dan skalanya berbeda. dan stabilitas. pokok permasalahan dalam lingkup global dan internasional serta pengkajian implikasi penataan ruang nasional terhadap strategi tata pengembangan internasional dan regional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional memperhatikan antara lain: a. e. keselarasan aspirasi pembangunan sektoral dan pembangunan daerah. Tingkat ketelitian tersebut di atas dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam rangka penyusunan Rencana Tata Ruang wilayah Nasional perlu diselenggarakan pula antara lain: a. Dalam pengertian minimal untuk skala peta dikandung arti bahwa suatu rencana tata ruang dapat digambarkan dalam peta wilayah berskala yang lebih besar. c. Penjabaran strategi ekonomi nasional terhadap strategi tata ruang yang saling terkait dan berkesinambungan. kawasan budi daya. Yang dimaksud dengan norma dan kriteria pemanfaatan ruang adalah ukuran berupa kriteria lokasi dan standar teknik pemanfaatan ruang yang ditetapkan dengan peraturan perundang-undangan untuk terwujudnya kualitas ruang dan tertibnya pemanfaatan ruang. pemerataan. Hal ini berarti bahwa dalam pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan. penentuan wilayah yang akan datang dalam skala nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional meliputi antara lain arahan pengembangan sistem permukiman dalam skala nasional. jaringan prasarana yang melayani kawasan produksi dan permukiman. kawasan budi daya. Ayat (3) Dengan ketentuan ini dimaksudkan bahwa Rencana Tata Ruang wilayah Nasional menjadi acuan bagi instansi pemerintah tingkat pusat dan daerah serta masyarakat untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang. c. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. b. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional yang berupa strategi nasional pengembangan pola pemanfaatan ruang merupakan kebijaksanaan pemerintah yang menetapkan rencana struktur dan pola pemanfaatan ruang nasional beserta kriteria dan pola penanganan kawasan yang harus dilindungi. d. data dan informasi. Rencana Tata Ruang wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II memerlukan peta dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. Kesatuan Wawasan Nusantara melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang membentuk sistem keterkaitan antar lokasi dan kawasan antara lain jaringan darat.000 dan peta wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:50. dan kawasan lainnya. b. Ayat (2) Yang dimaksud dengan penetapan kawasan lindung. dan kawasan tertentu secara nasional adalah bahwa pengaturan untuk penetapan kawasan tersebut secara makro dan menyeluruh diselenggarakan sebagai bagian dari strategi dan arahan kebijaksanaan pemanfaatan ruang wilayah negara. peta wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dengan tingkat ketelitian minimal berskala 1:250.

c. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional disusun untuk jangka waktu yang sama dan dengan perspektif 25 tahun ke masa depan. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I lainnya yang berbatasan. pertumbuhan. f. b. 113 . Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I menjadi acuan bagi Pemerintah Daerah untuk mengarahkan lokasi dan memanfaatkan ruang dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam memberikan rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 21 Ayat (1) Strategi dan struktur tata ruang wilayah Daerah Tingkat I dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat nasional. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. Meskipun demikian. Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional. Dengan demikian. d. dan stabilitas. Ayat (4) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 15 tahun. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan arahan kebijaksanaan yang telah ditetapkan pada 25 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. i. Ayat (2) Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I serupa Rencana Struktur Tata Ruang Propinsi Daerah Tingkat I adalah kebijaksanaan yang memberikan arahan tata ruang untuk kawasan. Ayat (4) Seiring dengan Pola Pembangunan Jangka Panjang yang berjangka waktu 25 tahun. Selanjutnya. data dan informasi. g. h. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Apabila jangka waktu 15 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I berakhir. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 15 tahun apabila strategi pemanfaatan ruang dan struktur tata ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Nasional. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I memperhatikan antara lain: a. Rencana Tata Ruang wilayah Nasional dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. keselarasan dengan aspirasi pembangunan dan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II.Rencana Tata Ruang wilayah Nasional selain menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang daratan di tingkat daerah juga menjadi pedoman untuk pemanfaatan ruang lautan dan ruang udara dalam batasbatas tertentu. maka pemanfaatan ruang untuk menyusun rencana pembangunan di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I harus tetap memperhatikan Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. potensi dan tata guna sumber daya di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan wilayah dalam skala propinsi yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu sesuai dengan rencana tata ruang. pokok permasalahan kepentingan nasional. pemerataan. modal dasar pembangunan Daerah Tingkat I. rencana tata ruang wilayah Nasional dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 25 tahun apabila terjadi perubahan kebijaksanaan nasional yang mempengaruhi pemanfaatan ruang akibat perkembangan teknologi dan keadaan yang mendasar. program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. e. maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun.

data dan informasi. penatagunaan tanah. sehingga pemanfaatan ruang dalam pelaksanaan pembangunan selalu sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang sudah ditetapkan. dan Hak Guna Usaha yang jangka waktunya 30 tahun.Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi dan struktur tata ruang yang ditetapkan pada 15 tahun dilakukan paling tidak 5 tahun sekali. f. Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Ayat (6) Cukup jelas 114 . maka dalam penyusunan rencana tata ruang yang baru hak yang telah dimiliki orang dan masyarakat yang jangka waktunya melebihi jangka waktu rencana tata ruang tetap diakui seperti. keselarasan dengan aspirasi masyarakat. persediaan dan peruntukan tanah. pengairan. c. b. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dapat ditinjau kembali dan atau disempurnakan dalam waktu kurang dari 10 tahun apabila strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan perlu ditinjau kembali dan atau disempurnakan sebagai akibat dari penjabaran Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I dan dinamika pembangunan. g. penatagunaan air. Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II adalah kebijaksanaan yang menetapkan lokasi dari kawasan yang harus dilindungi dan dibudidayakan serta wilayah yang akan diprioritaskan pengembangannya dalam jangka waktu perencanaan. pokok permasalahan Daerah Tingkat II dalam mengutamakan kepentingan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II disusun dengan perspektif ke masa depan dan untuk jangka waktu 10 tahun. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. Ayat (2) Sistem prasarana transportasi. air. Peninjauan kembali dan atau penyempurnaan yang diperlukan untuk mencapai strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang yang ditetapkan pada 10 tahun dilakukan minimal 5 tahun sekali. udara dan sumber daya alam lainnya. Hak Guna Bangunan yang jangka waktunya 20 tahun. daya dukung dan daya tampung lingkungan. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dijabarkan ke dalam program pemanfaatan ruang 5 tahunan sejalan dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. serta pembiayaan sebagaimana diatur dalam Pasal 11 dan Pasal 14. Ayat (5) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Strategi pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dirumuskan dengan mempertimbangkan kemampuan teknologi. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II memperhatikan antara lain: a. Program pemanfaatan ruang tersebut dijabarkan lagi ke dalam kegiatan pembangunan tahunan sesuai dengan tahun anggaran. kepentingan nasional dan Daerah Tingkat I. d. dan penatagunaan udara merupakan satu kesatuan dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. e. energi. telekomunikasi. dan pengelolaan lingkungan. Ayat (3) Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II menjadi pedoman bagi Pemerintah Daerah untuk menetapkan lokasi kegiatan pembangunan dalam menetapkan ruang serta dalam menyusun program pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang di daerah tersebut dan sekaligus menjadi dasar dalam pemberian rekomendasi pengarahan pemanfaatan ruang. Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II lainnya yang berbatasan. Apabila jangka waktu 10 tahun Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II berakhir. arah dan kebijaksanaan penataan ruang wilayah tingkat Nasional dan Propinsi Daerah Tingkat I.

hukum adat. mengakui. penataan ruang kawasan tertentu dianggap perlu untuk memperoleh prioritas baik dalam hal penyusunan rencana tata ruang. mempunyai dampak penting. Ayat (3) Pengertian menghormati hak yang dimiliki orang adalah suatu pengertian yang mengandung arti menghargai. c. Penyusunan rencana tata ruang kawasan tertentu dikoordinasikan oleh Menteri. kewenangan. dan kegiatan yang ditetapkan. dan pembinaan penataan ruang di tingkat nasional dilaksanakan oleh Menteri dan di tingkat daerah dilaksanakan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I dan Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Pemilikan. b. lokasi. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan dalam kaitannya dengan besaran kawasan. atau kebiasaan yang berlaku. Kepentingan hukum tersebut antara lain berupa pemilikan atau penguasaan tanah atas dasar sesuatu hak yang diakui dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (UUPA). Dengan demikian. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. dan menaati peraturan yang berlaku terhadap hak yang dimiliki orang. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perkotaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perkotaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perkotaan untuk keserasian perkembangan kawasan perkotaan secara administratif dan fungsional dengan pengembangan wilayah sekitarnya serta daya dukung dan daya tampung lingkungan. Pasal 24 Ayat (1) Pengertian menyelenggarakan adalah suatu pengertian yang mengandung kewajiban dan wewenang dalam bidang hukum publik sebagaimana perinciannya disebut dalam ayat (2) pasal ini. mengendalikan konversi pemanfaatan ruang yang berskala besar. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan perdesaan diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan perdesaan serta pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang kawasan perdesaan untuk keserasian perkembangan kegiatan pertanian di kawasan perdesaan dalam menunjang pengembangan wilayah sekitarnya. pelaksanaan program pemanfaatan ruang beserta pembiayaannya. baik terhadap kegiatan yang sejenis maupun terhadap kegiatan lainnya. Yang dimaksud dengan hak yang dimiliki orang adalah segala kepentingan hukum yang diperoleh atau dimiliki berdasarkan peraturan perundang-undangan. 115 . Ayat (2) Kelembagaan dalam penyelenggaraan. merupakan faktor pendorong bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pertahanan keamanan. Tugas dan kewajiban instansi pemerintah dalam penataan ruang wilayah negara antara lain adalah memadukan kegiatan antar instansi pemerintah dan dengan masyarakat.Pasal 23 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Kawasan tertentu yang dimaksud adalah kawasan yang strategis dan diprioritaskan bagi kepentingan nasional berdasarkan pertimbangan kriteria strategis seperti tersebut dalam ketentuan Pasal 10 Ayat (3). Arahan pengelolaan kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. Nilai strategis ditentukan antara lain oleh karena kegiatan yang berlangsung di dalam kawasan: a. pedoman dan tata cara penyusunan rencana tata ruang untuk kawasan tertentu diatur antara lain kriteria dan prosedur penetapan kawasan yang secara nasional mempunyai nilai strategis kriteria penentuan prioritas penataan ruang kawasan. dan pengelolaan kawasan tertentu dilakukan oleh Pemerintah. dan mencegah kerusakan lingkungan. Pengelolaan rencana tata ruang kawasan tertentu sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dilakukan oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. penguasaan. Ayat (3) Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan. maupun dalam hal pengendalian pemanfaatan ruang kawasan. menjunjung tinggi. mempunyai pengaruh yang besar terhadap upaya pengembangan tata ruang wilayah sekitarnya. Dalam peraturan pemerintah tentang penetapan kawasan.

Ayat (2) Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta menyusun rencana tata ruang. Penataan ruang dilakukan secara terbuka yaitu bahwa setiap pihak dapat memperoleh keterangan mengenai produk perencanaan tata ruang serta proses yang ditempuh dalam penataan ruang. serta rencana elemen pembentuk struktur pemanfaatan ruang seperti jaringan jalan. Dalam pembinaan penataan ruang ini Pemerintah mengambil langkah untuk mencegah terjadinya kerugian pada masyarakat sebagai akibat perubahan nilai ruang. Ayat (3) Cukup jelas 116 . penyelesaiannya dilakukan melalui pengadilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. baik yang telah ada sebelum maupun sesudah adanya Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang ditetapkan berdasarkan Undang-undang ini. pemanfaatan ruang. Pasal 27 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Pasal 26 Ayat (1) Izin pemanfaatan ruang adalah izin yang berkaitan dengan lokasi. Pembinaan penataan ruang meliputi pembinaan kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam bidang penyusunan rencana tata ruang. Pemulihan fungsi pemanfaatan ruang ini diselenggarakan untuk merehabilitasi fungsi ruang tersebut. bimbingan. dan pengendalian pemanfaatan ruang di wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dengan mempertimbangkan rencana pembangunan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dari Departemen. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. dan Badan-badan Pemerintah lainnya menyesuaikan perencanaannya dengan Rencana Tata Ruang wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Sebaliknya Departemen. Pembinaan peran serta masyarakat dalam penataan ruang dan peningkatan kualitas ruang dilakukan melalui upaya menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran dan tanggung jawabnya dengan program penyuluhan. dan Badan-badan Pemerintah lainnya. Lembaga. sesuai dengan alokasi dana sebagaimana tercantum dalam program pembangunan. jaringan pengatusan. dan pelatihan secara berlanjut untuk setiap tingkatan pemerintahan dan lapisan masyarakat. Apabila terjadi sengketa dalam penggantian oleh pemerintah. Yang dibatalkan dalam ayat ini adalah izin pemanfaatan ruang yang tidak sesuai. dan tata bangunan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. dan pengendalian perencanaan tata ruang oleh instansi yang diberi tugas dalam penataan ruang. standar dan kriteria teknis. sehingga upaya memelihara kualitas penataan ruang dan kualitas tata ruang dapat dilakukan secara lebih terarah. jaringan air minum. pemanfaatan ruang pengendalian pemanfaatan ruang. Ayat (2) Yang dimaksud dengan itikad baik adalah perbuatan pihak pemanfaat ruang yang mempunyai buktibukti hukum sah berupa perizinan yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang dengan maksud tidak untuk memperkaya diri sendiri secara berlebihan dan tidak merugikan pihak lain. Lembaga. prosedur. jaringan telepon. Pemulihan fungsi tersebut menjadi kewajiban Pemerintah Daerah Tingkat II. Dalam tugas pembinaan ini termasuk pula kegiatan menyusun pedoman teknis. Penggantian yang layak pada pihak yang menderita kerugian sebagai akibat pembatalan izin menjadi kewajiban bagi instansi pemerintah yang berkaitan dengan pemanfaatan ruang yang bersangkutan. kualitas ruang. hukum adat. jaringan air kotor.Pasal 25 Penyebarluasan informasi tentang penataan ruang kepada masyarakat dapat dilakukan melalui media elektronik dan media cetak serta media komunikasi lainnya. Besarnya penggantian yang layak berarti tidak mengurangi tingkat kesejahteraan pihak yang bersangkutan. Akibat kegiatan pembangunan yang tidak sesuai dengan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten Kotamadya Daerah Tingkat II adalah berubahnya fungsi ruang sehingga perlu dilakukan upaya pemulihan. dan kebiasaan yang berlaku. pemanfaatan ruang. pendidikan. jaringan listrik dalam kerangka tata ruang. jaringan penyediaan air baku. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. proses.

pariwisata. penataan ruang yang lebih rendah baik menurut jenjang administrasi pemerintahan wilayah maupun jenis perencanaannya. Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Cukup jelas 117 . pertanian. pemanfaatan ruang. Perubahan pemanfaatan ruang yang perlu dikoordinasikan. meliputi perubahan ruang lautan menjadi ruang daratan karena reklamasi di daerah pasang surut. Perubahan fungsi ruang yang terjadi setelah ditetapkan Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II disesuaikan ke dalam Rencana Tata Ruang wilayah Kabupaten/ Kotamadya Daerah Tingkat II melalui peraturan daerah yang bersangkutan. Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II menyelenggarakan koordinasi penyusunan rencana tata ruang. ketentuan Pasal 14 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokokpokok Agraria (UUPA) adalah sejalan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. dan wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dan sebagainya memerlukan pengkajian dan penilaian atas perubahan fungsi ruang tersebut secara lintas sektoral. dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. pariwisata. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 30 Dengan berlakunya Undang-undang ini. industri. rencana tata ruang harus ada mulai dari tingkat yang sangat umum sampai dengan tingkat yang terinci. Sebagai contoh. dan terpusat. Akan tetapi. sedangkan ketentuan-ketentuan yang sesuai dan sejalan perlu diatur dalam peraturan pelaksanaan sebagai penjabaran ketentuan Undang-undang ini. perubahan bentang alam perbukitan karena penambangan bahan galian golongan C. permukiman. secara hirarkis baik menurut jenjang administrasi pemerintahan maupun jenis perencanaan. antara lain. dikoordinasikan oleh Menteri. dan sebagainya. lintas daerah. Perubahan atau konversi fungsi ruang suatu kawasan yang berskala besar seperti dari kawasan hutan menjadi kawasan pertambangan. Pada prinsipnya. Ayat (2) Perubahan fungsi ruang suatu kawasan termasuk di dalamnya perubahan bentuk fisik (bentang alam) dan pemanfaatannya meliputi perubahan sebagai akibat kejadian alam maupun perbuatan manusia. Peraturan daerah yang dimaksudkan dalam Undang-undang ini adalah sama dengan peraturan daerah yang dimaksud dalam Pasal 14 UUPA. kawasan pertanian menjadi kawasan pertambangan. kawasan perumahan menjadi kawasan industri. sepanjang penyelenggaraannya tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang-undang ini. peraturan perundang-undangan yang telah ada yang berkaitan dengan penataan ruang yang ketentuan-ketentuannya mengandung Pasal yang tidak sesuai perlu diganti. permukiman. dan sebagainya. dan penyusunannya dilakukan secara berurutan. perdagangan. pariwisata. wilayah Propinsi Daerah Tingkat I. Untuk pedoman pelaksanaannya seperti dimaksud dalam Undang-undang ini dibuat peraturan pemerintah tentang penatagunaan tanah sebagai subsistem penataan ruang. untuk menghindari kevakuman. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 29 Ayat (1) Tugas koordinasi yang dimaksud meliputi keseluruhan penataan ruang wilayah nasional.Pasal 28 Ayat (1) Untuk menyelenggarakan penataan ruang di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. dapat berlaku sambil menunggu penataan ruang di atasnya.

AMDAL 118 .

c. 13. Rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL) adalah upaya penanganan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 7. Analisis dampak lingkungan hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. d. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. 3. perlu dijaga keserasian antar berbagai usaha dan/atau kegiatan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). 2. 6. 5. 8. e. Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. Dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha dan/atau kegiatan. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 9. 14. bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. dipandang perlu menetapkan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. perlu dilakukan penyesuaian terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan . Rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL) adalah upaya pemantauan komponen lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting akibat dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Komisi penilai adalah komisi yang bertugas menilai dokumen analisis mengenai dampak lingkungan dengan pengertian di tingkat pusat oleh komisi penilai pusat dan di tingkat daerah oleh komisi penilai daerah. 119 . Analisis mengenai dampak lingkungan hidup (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan. 2. 12. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. 11. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan/ atau kegiatan.PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. 4. b. bahwa dalam rangka melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan hidup sebagai upaya sadar dan berencana mengelola sumber daya secara bijaksana dalam pembangunan yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup. Kerangka acuan adalah ruang lingkup kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan. sehingga langkah pengendalian dampak negatif dan pengembangan dampak positif dapat dipersiapkan sedini mungkin. Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan adalah instansi yang membina secara teknis usaha dan/ atau kegiatan dimaksud. bahwa berdasarkan hal tersebut di atas. ME MUTU S KAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. bahwa dengan diundangkannya Undang-undang 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan di tingkat pusat berada pada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan di tingkat daerah berada pada Gubernur. Mengingat : 1. bahwa setiap usaha dan/atau kegiatan pada dasarnya menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup yang perlu dianalisis sejak awal perencanaannya. Gubernur adalah Gubernur Kepala Daerah Tingkat I atau Gubernur Kepala Daerah Istimewa atau Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta. 10.

proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan. e. eksploitasi sumber daya alam baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. (5) Pejabat dari instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan wajib mencantumkan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. b. pengubahan bentuk lahan dan bentang alam. dan atau mempengaruhi pertahanan negara. pembuatan dan penggunaan bahan hayati dan non hayati. Pasal 6 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) tidak perlu dibuat bagi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk menanggulangi suatu keadaan darurat. g. kegiatan yang mempunyai resiko tinggi. (6) Ketentuan lebih lanjut mengenai persyaratan dan kewajiban upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan setelah mempertimbangkan masukan dari instansi yang bertanggung jawab. c. jenis hewan. jumlah manusia yang akan terkena dampak. (3) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang dimaksud pada ayat (2) dapat ditinjau kembali sekurangkurangnya dalam 5 (lima) tahun. proses dan kegiatan yang hasilnya dapat mempengaruhi lingkungan alam. f. b. terpadu atau kegiatan dalam kawasan. introduksi jenis tumbuh-tumbuhan. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak. (2) Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. d. Pasal 4 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun di dalam kawasan yang sudah dibuatkan analisis mengenai dampak lingkungan tidak diwajibkan membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup lagi. (2) Usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diwajibkan untuk melakukan pengendalian dampak lingkungan hidup dan perlindungan fungsi lingkungan hidup sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kawasan. proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya dan/atau perlindungan cagar budaya. d. serta lingkungan sosial dan budaya. Pasal 5 (1) Kriteria mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup antara lain : a. pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak.Pasal 2 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/ atau kegiatan. e. 120 . (2) Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan menetapkan telah terjadinya suatu keadaan darurat. i. dan jenis jasad renik. c. (3) Penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat dilakukan melalui pendekatan studi terhadap usaha dan/atau kegiatan tunggal. luas wilayah persebaran dampak. Pasal 7 (1) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang. intensitas dan lamanya dampak berlangsung. Pasal 3 (1) Usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : a. (2) Pedoman mengenai penentuan dampak besar dan penting sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. lingkungan buatan. (2) Jenis usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan oleh Menteri setelah mendengar dan memperhatikan saran dan pendapat Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non-Departemen yang terkait. f. serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. sifatnya kumulatif dampak. (4) Bagi rencana usaha dan/atau kegiatan di luar usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib melakukan upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup yang pembinaannya berada pada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. h.

rencana pemantauan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. wakil masyarakat terkena dampak. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (4) Dalam menjalankan tugasnya. baik pusat maupun daerah. (6) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menyerahkan hasil penilaiannya kepada instansi yang bertanggung jawab untuk dijadikan dasar keputusan atas kerangka acuan. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. analisis dampak lingkungan hidup. analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : oleh Gubernur. wakil instansi terkait di Propinsi Daerah Tingkat I. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal. ahli dibidang yang berkaitan. ahli di bidang lingkungan hidup. serta anggota lain yang dipandang perlu. Komisi Penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh tim teknis yang bertugas memberikan pertimbangan teknis atas kerangka acuan. ahli di bidang lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan. (7) Ketentuan mengenai tata kerja komisi penilai dimaksud. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri. pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi daerah yang bersangkutan. Departemen Dalam Negeri. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji. organisasi lingkungan hidup di daerah. b. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) : a) di tingkat pusat berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. serta anggota lain yang dipandang perlu. instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah. dalam menjalankan usaha dan/atau kegiatannya. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mencantumkan syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan pemantauan lingkungan hidup sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang diterbitkannya. ahli di bidang yang berkaitan. wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan. departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait. rencana pengelolaan lingkungan hidup. komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dibantu oleh tim teknis dari masing-masing sektor. instansi yang ditugasi bidang kesehatan Daerah Tingkat I. b) di tingkat daerah berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Tingkat I. instansi yang ditugasi bidang pertahanan keamanan daerah. analisis dampak lingkungan hidup. instansi yang ditugasi bidang kesehatan. BAB II KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP Pasal 8 (1) Komisi penilai dibentuk : a. wakil instansi pusat dan/atau daerah yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. (4) Ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipatuhi dan dilaksanakan oleh pemrakarsa. Wakil Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang bersangkutan.(2) Pemohon izin melakukan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan oleh pemrakarsa kepada pejabat yang berwenang menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku dan wajib melampirkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 19 ayat (2) yang diberikan instansi yang bertanggung jawab. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. wakil Propinsi Daerah Tingkat I yang bersangkutan. instansi yang ditugasi bidang pertanahan. Pasal 9 (1) Komisi penilai pusat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) huruf a terdiri atas unsur-unsur instansi yang ditugasi mengelola lingkungan hidup. di tingkat pusat : oleh Menteri. (5) Dalam menjalankan tugasnya. warga masyarakat yang terkena dampak. Pasal 10 (1) Komisi penilai daerah sebagaimana dalam Pasal 8 ayat (1) huruf b terdiri atas unsur-unsur : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat I. (8) Ketentuan mengenai tata kerja tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (5) ditetapkan lebih lanjut oleh Komisi Penilai Pusat. 121 . rencana pengelolaan lingkungan hidup. ditetapkan oleh Menteri. instansi yang ditugasi bidang penanaman modal daerah. (3) Komisi penilai menilai kerangka acuan. setelah mendengar dan memperhatikan saran/pendapat Menteri Dalam Negeri dan Menteri lain dan/atau Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen yang terkait.

Pasal 12 (1) Tim teknis sebagaimana dimaksud pada Pasal 8 ayat (4) terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (4) Instansi yang bertanggung jawab wajib menolak kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) apabila rencana lokasi dilaksanakannya usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. Pasal 15 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (1) disampaikan oleh pemrakarsa kepada instansi yang bertanggung jawab. maka instansi yang bertanggung jawab dianggap menerima kerangka acuan dimaksud. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau menyangkut ketahanan dan keamanan negara. 122 . dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Bagian Kedua Analisis dampak lingkungan hidup. (3) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (2). berpedoman pada pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. b. dan oleh Gubernur untuk komisi penilai daerah tingkat I. d. (2) Keputusan atas penilaian kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib diberikan oleh instansi yang bertanggung jawab dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 ayat (2). (2) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun berdasarkan pedoman yang ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (2) Penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. komisi penilai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1). c. di tingkat pusat : kepada Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. dengan ketentuan : a. di tingkat daerah : kepada Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. Pasal 13 Dalam melaksanakan tugasnya. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain. wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya kerangka acuan pembuatan analisis dampak lingkungan hidup. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. BAB III TATA LAKSANA Bagian Pertama Kerangka Acuan Pasal 14 (1) Kerangka acuan sebagai dasar pembuatan analisis dampak lingkungan hidup disusun oleh pemrakarsa. (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan anggota tim teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri untuk komisi penilai pusat. usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah ruang lautan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup Pasal 17 (1) Pemrakarsa menyusun analisis dampak lingkungan hidup. berdasarkan kerangka acuan yang telah mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab.Pasal 11 (1) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. rencana pengembangan wilayah. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. (2) Komisi penilai daerah berwenang menilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang diluar kriteria sebagaimana dimaksud pada ayat (1). e. Pasal 16 (1) Kerangka acuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dinilai oleh komisi penilai bersama dengan pemrakarsa untuk menyepakati ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. b. usaha dan/atau kegiatan yang lokasinya meliputi lebih dari satu wilayah propinsi daerah tingkat I.

(2) Apabila instansi yang bertanggung jawab tidak menerbitkan keputusan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (1). diajukan oleh pemrakarsa kepada : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 23 Salinan analisis dampak lingkungan hidup. instansi terkait yang berkepentingan. maka rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dianggap layak lingkungan. maka instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan bahwa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak layak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup serta pemberian keputusan kelayakan lingkungan hidup atas usaha dan/atau kegiatan dilakukan sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 19 dan Pasal 20. di tingkat pusat : Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melalui komisi penilai pusat. serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan disampaikan oleh : a. (2) Komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib memberikan tanda bukti penerimaan kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal diterimanya analisis dampak lingkungan hidup.Pasal 18 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. di tingkat pusat : instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan Pasal 20. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2). rencana pengelolaan lingkungan hidup. (3) Dalam keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (2) wajib dicantumkan dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan itu. rencana pengelolaan lingkungan hidup. b. b. dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 34 ayat (1). b. (3) Penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. biaya penanggulangan dampak besar dan penting negatif lebih besar dari pada manfaat dampak besar dan penting positif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup dinilai : a. dan instansi yang terkait. dan rencana pemantauan lingkungan hidup diajukan kembali kepada instansi yang bertanggung jawab sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 17. Gubernur dan Bupati/ Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II yang bersangkutan. di tingkat daerah : Gubernur melalui komisi penilai daerah tingkat I. 123 . pendapat. di tingkat pusat : oleh komisi penilai pusat. (2) Perbaikan analisis dampak lingkungan hidup. di tingkat daerah : Gubernur kepada Menteri. Pasal 19 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. atau b. dampak besar dan penting negatif yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan tidak dapat ditanggulangi oleh teknologi yang tersedia. Pasal 21 (1) Instansi yang bertanggung jawab mengembalikan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). di tingkat daerah : oleh komisi penilai daerah (2) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1). serta salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup tidak sesuai dengan pedoman penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. rencana pegelolaan lingkungan hidup. Pasal 22 (1) Apabila hasil penilaian komisi penilai menyimpulkan bahwa : a. Pasal 18. dan pertimbangan terhadap saran. rencana pengelolaan lingkungan hidup. (2) Instansi yang berwenang menolak permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan apabila instansi yang bertanggung jawab memberikan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 19. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Pasal 20 (1) Instansi yang bertanggung jawab menerbitkan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). dalam jangka waktu selambat-lambatnya 75 (tujuh puluh lima) hari kerja terhitung sejak tanggal diterimanya dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada pemrakarsa untuk diperbaiki apabila kualitas analisis dampak lingkungan hidup.

rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang bertanggung jawab. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan pengembangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup dilakukan dengan koordinasi instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. atau b. Pasal 27 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila terjadi perubahan lingkungan hidup yang sangat mendasar akibat peristiwa alam atau karena akibat lain sebelum dan pada waktu usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. (2) Instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan melakukan pembinaan teknis pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang menjadi bagian dari izin. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan dilokasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 31 Penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan golongan ekonomi lemah dibantu pemerintah. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang pernah disetujui dapat sepenuhnya dipergunakan kembali. Pasal 25 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa memindahkan lokasi usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pasal 24 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan dinyatakan kadaluwarsa atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini. pemrakarsa wajib mengajukan kembali permohonan persetujuan atas analisis dampak lingkungan hidup. dan ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri setelah memperhatikan saran dan pendapat instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. Pasal 29 (1) Pendidikan. Pasal 26 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan menjadi batal atas kekuatan Peraturan Pemerintah ini apabila pemrakarsa mengubah desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong. Analisis dampak lingkungan hidup. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Lembaga pendidikan dan pelatihan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan koordinasi dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dengan memperhatikan sistem akreditasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. (3) Terhadap permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) instansi yang bertanggung jawab memutuskan : a. pelatihan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila keputusan kelayakan lingkungan hidup dinyatakan kadaluwarsa sebagaimana dimaksud pada ayat (1). apabila rencana usaha dan/atau kegiatan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun sejak ditertibkannya keputusan kelayakan tersebut. BAB IV PEMBINAAN Pasal 28 (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan pembinaan teknis terhadap komisi penilai pusat dan daerah. Pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini. (2) Apabila pemrakarsa hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). maka untuk melaksanakan rencana usaha dan/atau kegiatannya. Pasal 30 Kualifikasi penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup dengan pemberian lisensi/sertifikasi dan peraturannya ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan.Bagian Ketiga Kadaluwarsa dan batalnya keputusan hasil Analisis Dampak Lingkungan Hidup. 124 . maka pemrakarsa wajib membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup baru sesuai dengan ketentuan Peraturan Pemerintah ini.

pendapat. sekurangkurangnya 2 (dua) kali dalam 1 (satu) tahun. warga masyarakat yang berkepentingan berhak mengajukan saran. b. di tingkat daerah : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan daerah tingkat I. 125 . saran. dan keputusan kelayakan lingkungan hidup dari usaha dan/atau kegiatan bersifat terbuka untuk umum. c. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. dan rencana pemantauan lingkungan hidup di bebankan kepada pemrakarsa. kesimpulan komisi penilai. pengawasan dan pengevaluasian penerapan peraturan perundang-undangan di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 38 (1) Biaya pembinaan teknis dan pengawasan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32 ayat (1) dibebankan pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Pasal 34 (1) Warga masyarakat yang berkepentingan wajib dilibatkan dalam proses penyusunan kerangka acuan. (2) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan melakukan : a. (2) Instansi yang bertanggung jawab menyerahkan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) kepada suatu lembaga dokumentasi dan/atau kearsipan. penyampaian laporan pengawasan dan evaluasi hasilnya kepada Menteri secara berkala. Pasal 35 (1) Semua dokumen analisis mengenai dampak lingkungan hidup. pendapat. analisis dampak lingkungan hidup. (2) Biaya pengumuman yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang bertanggung jawab. pendapat. (5) Saran. b. BAB VII PEMBIAYAAN Pasal 36 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai dan tim teknis analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. pendapat. dengan tembusan kepada instansi yang berwenang menerbitkan izin dan Gubernur. serta tatacara penyampaian saran. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) wajib dipertimbangkan dan dikaji dalam analisis mengenai dampak lingkungan hidup. (2) Pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab dan pemrakarsa. (6) Tata cara dan bentuk pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (3) Dalam jangka waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak diumumkannya rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup (2) Bentuk dan tata cara keterlibatan warga masyarakat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dan Gubernur.BAB V PENGAWASAN Pasal 32 (1) Pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup kepada instansi yang membidangi usaha dan/ atau kegiatan yang bersangkutan. dan tanggapan warga masyarakat yang berkaitan. di tingkat pusat : pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. (4) Saran. pengujian laporan yang disampaikan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian kerangka acuan. analisis dampak lingkungan hidup. dan tanggapan tentang akan dilaksanakannya rencana usaha dan/atau kegiatan. penilaian kerangka acuan. pendapat. BAB VI KETERBUKAAN INFORMASI DAN PERAN MASYARAKAT Pasal 33 (1) Setiap usaha dan/atau kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) wajib diumumkan terlebih dahulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan tanggapan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) diajukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab.

tetap dinilai oleh komisi penilai instansi yang bersangkutan. Pasal 41 Dengan berlakunya Peraturan Pemerintah ini. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA ttd BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE Diundangkan di Jakarta Pada tanggal 7 Mei 1999 MENTERI NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA ttd AKBAR TANDJUNG 126 . dan harus selesai paling lambat 6 (enam) bulan sejak Peraturan Pemerintah ini berlaku secara efektif. atau b.(3) Biaya pembinaan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dibebankan pada anggaran instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. sudah diajukan kepada instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. sedang dalam proses penilaian oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang bersangkutan. BAB IX KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan tentang analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang telah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538) dinyatakan tidak berlaku lagi. maka Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Agar setiap orang mengetahuinya. memerintahkan pengundanganPeraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia. BAB VIII KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 Penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan yang pada saat diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini : a. Pasal 42 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku efektif 18 ( delapan belas ) bulan sejak tanggal diundangkan.

tetapi dilain pihak ketersediaan sumber daya alam bersifat terbatas. Oleh karena itu. Proses pelaksanaan pembangunan di satu pihak menghadapi permasalahan jumlah penduduk yang besar dengan tingkat pertambahan yang tinggi. Pasal 15 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan bahwa setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. maka pengambil keputusan akan memperoleh pandangan yang lebih luas dan mendalam mengenai berbagai aspek usaha dan/atau kegiatan tersebut. sehingga dapat diambil keputusan optimal dari berbagai alternatif yang tersedia. menampung aspirasi dan kearifan pengetahuan lokal dari masyarakat yang seringkali justru menjadi kunci penyelesaian persoalan dampak lingkungan yang timbul. sedangkan perubahan ini pada gilirannya akan menimbulkan dampak terhadap masyarakat. sejak awal perencanaan usaha dan/atau kegiatan sudah harus diperkirakan perubahan rona lingkungan hidup akibat pembentukan suatu kondisi lingkungan hidup yang baru. II. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka (1) Cukup jelas Angka (2) Dampak besar dan penting merupakan satu kesatuan makna dari arti dampak penting. Dengan demikian. Sebagai bagian dari studi kelayakan untuk melaksanakan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Oleh karena itu. Angka (3) Cukup jelas 127 . Hal ini berarti bahwa warga masyarakat wajib dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan atas analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Peran masyarakat itu meliputi peran dalam proses pengambilan keputusan. Kegiatan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan penduduk akan meningkatkan permintaan atas sumber daya alam. UMUM Pembangunan yang dilakukan oleh Bangsa Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup rakyat.PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 1999 TENTANG ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP I. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan salah satu alat bagi pengambil keputusan untuk mempertimbangkan akibat yang mungkin ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup guna mempersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif. Diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan akan mengubah rona lingkungan hidup. Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. yang timbul sebagai akibat diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan pembangunan. pendayagunaan sumber daya alam untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan harus disertai dengan upaya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan keterlibatan warga masyarakat itu akan membantu dalam mengidentifikasi persoalan dampak lingkungan hidup secara dini dan lengkap. Keterlibatan warga masyarakat itu merupakan pelaksanaan asas keterbukaan. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang merupakan tujuan pengelolaan lingkungan hidup menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan berkelanjutan. keterlibatan warga masyarakat yang akan terkena dampak menjadi penting dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup menetapkan hak setiap orang untuk berperan dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup. baikyang menguntungkan maupun yang merugikan. sehingga timbul tekanan terhadap sumber daya alam. Dengan dimasukkannya analisis mengenai dampak lingkungan hidup ke dalam proses perencanaan suatu usaha dan/atau kegiatan. Konsekuensinya adalah bahwa syarat dan kewajiban sebagaimana ditentukan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup harus dicantumkan sebagai ketentuan dalam izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Hal itu merupakan konsekuensi dari kewajiban setiap orang untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Oleh karena itu. Terlestarikannya fungsi lingkungan hidup yang menjadi tumpuan terlanjutkannya pembangunan merupakan kepentingan seluruh masyarakat. pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa depan adalah pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan hidup. analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan syarat yang harus dipenuhi untuk mendapatkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan.

Ayat (2) Karena analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari studi kelayakan suatu usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi pada ekosistem tertentu. Kriteria usaha dan/atau kegiatan terpadu meliputi : a. 128 . Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan terpadu/multisektor adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan yang terpadu yang direncanakan terhadap lingkungan hidup dan melibatkan lebih dari satu instansi yang membidangi kegiatan dimaksud. dan proses produksinya.Angka (4) Cukup jelas Angka (5) Cukup jelas Angka (6) Cukup jelas Angka (7) Cukup jelas Angka (8) Cukup jelas Angka (9) Cukup jelas Angka (10) Cukup jelas Angka (11) Cukup jelas Angka (12) Cukup jelas Angka (13) Cukup jelas Angka (14) Cukup jelas Pasal 2 Ayat (1) Studi kelayakan pada umumnya meliputi analisis dari aspek teknis dan aspek ekonomisfinansial. Hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup dapat digunakan sebagai masukan bagi penyusunan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. maka hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai masukan dalam perencanaan pembangunan wilayah. Ayat (3) Usaha dan/atau kegiatan tunggal adalah hanya satu jenis usaha dan/atau kegiatan yang kewenangan pembinaannya di bawah satu instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan. dan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. b. Analisis mengenai dampak lingkungan hidup khususnya dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup juga merupakan dasar dalam sistem manajemen lingkungan (Environmental Management System) usaha dan/atau kegiatan. analisis ekonomis-finansial. Oleh karena itu. analisis mengenai dampak lingkungan hidup sudah harus disusun dan mendapatkan keputusan dari instansi yang bertanggung jawab sebelum kegiatan konstruksi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dilaksanakan. usaha dan/atau kegiatan tersebut berada dalam kesatuan hamparan ekosistem. pengelolaan. di samping dapat digunakan sebagai masukan bagi perencanaan pembangunan wilayah. maka studi kelayakan bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi komponen analisis teknis.Dengan ayat ini. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut mempunyai keterkaitan dalam hal perencanaan.

kegiatan pertambangan dan eksploitasi hutan. introduksi suatu jenis hewan baru dapat mempengaruhi kehidupan hewan yang telah ada. g. Pasal 3 Ayat (1) Usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud dalam ayat ini merupakan kategori usaha dan/atau kegiatan yang berdasarkan pengalaman dan tingkat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai potensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. berbagai usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak dalam/merupakan satu kesatuan zona rencana pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan: c. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Cukup jelas Pasal 4 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Kriteria yang menentukan adanya dampak besar dan penting dalam ayat ini ditetapkan berdasarkan tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada. sebagai contoh seperti usaha dan/ atau kegiatan : a. sehingga tidak bersifat limitatif. berbagai usaha dan/atau kegiatan yang saling terkait perencanaannya antar satu dengan yang lainnya. pemanfaatan tanah yang tidak diikuti dengan usaha konservasi dan penggunaan energi yang tidak diikuti dengan teknologi yang dapat mengefisienkan pemakaiannya. kegiatan yang proses dan hasilnya menimbulkan pencemaran. introduksi suatu jenis tumbuh-tumbuhan baru atau jasad renik (mikro organisme) yang dapat menimbulkan jenis penyakit baru terhadap tanaman. Penyebutan tersebut bersifat alternatif. yang mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan teknologi.Analisis mengenai dampak lingkungan hidup usaha dan/atau kegiatan kawasan adalah hasil kajian mengenai dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup dalam satu kesatuan hamparan ekosistem zona pengembangan wilayah/kawasan sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Ilmu pengetahuan dan teknologi selalu berkembang. usaha dan/atau kegiatan tersebut terletak pada kesatuan hamparan ekosistem. e. kerusakan kawasan konservasi alam. b. f. penggunaan bahan hayati dan non hayati mencakup pula pengertian pengubahan. b. jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. perlu ditinjau kembali. pandangan dan/atau cara hidup masyarakat setempat. c. atau pencemaran benda cagar budaya. bendungan. Ayat (2) Cukup jelas 129 . Oleh karena itu kriteria ini dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. kegiatan yang menimbulkan perubahan atau pergeseran struktur tata nilai. Oleh karena itu. Dengan demikian penyebutan kategori usaha dan/atau kegiatan tersebut tidak bersifat limitatif dan dapat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. jalan kereta api dan pembukaan hutan. penerapan teknologi yang dapat menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan. pembuatan jalan. Kriteria usaha dan/atau kegiatan di zona pengembangan wilayah/kawasan meliputi : a. h. d.

Duduknya wakil instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan adalah untuk memberikan penilaian secara teknis usaha dan/atau kegiatan yang dinilai. ditetapkan oleh menteri yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dimaksud. misalnya pertahanan negara atau penanggulangan bencana alam. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 8 Cukup jelas Pasal 9 Cukup jelas Pasal 10 Ayat (1) Wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di komisi penilai daerah dapat berarti wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan wilayah dengan maksud agar terdapat keterpaduan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Keadaan darurat ini tidak sama dengan keadaan darurat sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Keadaan Darurat. Ayat (2) Analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian dari proses perizinan melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. izin hak pengusahaan hutan di bidang kehutanan. tanpa izin tersebut seseorang tidak dapat melakukan usaha dan/atau kegiatan yang dimaksud. izin hak guna usaha pertanian di bidang pertanian. Adanya wakil yang ditunjuk dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Duduknya wakil organisasi lingkungan hidup dalam komisi penilai merupakan aktualisasi hak warga masyarakat untuk berperan dalam proses pengambilan keputusan. Oleh karena itu.Pasal 6 Ayat (1) Yang dimaksud dengan keadaan darurat adalah keadaan atau kondisi yang sedemikian rupa. Sedangkan keputusan kelayakan lingkungan hidup adalah persyaratan yang diwajibkan untuk dapat menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. sehingga mengharuskan dilaksanakannya tindakan segera yang mengandung resiko terhadap lingkungan hidup demi kepentingan umum. misalnya pembangunan bendungan/dam untuk menahan bencana lahar. Ayat (2) Keadaan darurat yang tidak memerlukan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Pasal 7 Ayat (1) Untuk melakukan suatu usaha dan/atau kegiatan terdapat satu izin yang bersifat dominan. Ayat (2) Cukup jelas 130 . Adapun wakil yang ditunjuk dari bidang kesehatan di daerah dikarenakan pada akhirnya dampak semua kegiatan selalu berakhir pada aspek kesehatan. Duduknya wakil masyarakat terkena dampak suatu usaha dan/atau kegiatan diharapkan dapat memberikan masukan tentang aspirasi masyarakat yang terkena dampak akibat dari usaha dan/atau kegiatan tersebut. Izin merupakan suatu instrumen yuridis preventif. Organisasi lingkungan hidup sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang dikaji adalah lembaga swadaya masyarakat. dan instansi yang ditugasi di bidang pertanahan di daerah dimaksudkan untuk menjamin keterpaduan pengelolaan lingkungan hidup secara lintas sektor yang ada di daerah. kuasa pertambangan di bidang pertambangan. khususnya pengendalian dampak lingkungan hidup dengan kebijaksanaan dan program pengendalian dampak lingkungan hidup di daerah. izin penambangan daerah di bidang penambangan bahan galian golongan C. sebagaimana telah diterbitkan oleh instansi yang bertanggung jawab wajib dilampirkan pada permohonan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Pengangkatan para ahli dari pusat studi lingkungan hidup perguruan tinggi sebagai anggota komisi penilai daerah adalah untuk memantapkan kualitas hasil kajian analisis mengenai dampak lingkungan hidup dalam penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Misalnya izin usaha industri di bidang perindustrian.

industri petrokimia.Pasal 11 Ayat (1) Huruf (a) Usaha dan/atau kegiatan bersifat strategis dan/atau kegiatan yang menyangkut ketahanan dan keamanan negara misalnya : pembangkit listrik tenaga nuklir. pembangunan bendungan. penilaian oleh komisi penilai. kerangka acuan terutama memuat komponen-komponen aspek usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen kerangka acuan ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Huruf (b) Cukup jelas Huruf (c) Usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain misalnya: rencana usaha dan/atau kegiatan yang berlokasi di Pulau Sipadan. Dalam hal usaha dan/ atau kegiatan yang bersifat strategis ini menjadi bagian dari usaha dan/atau kegiatan terpadu/ multisektor. Berdasarkan hasil pelingkupan. Ayat (3) Cukup jelas 131 . maka penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi wewenang komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup pusat. sampai ditetapkannya keputusan. industri senjata. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jeias Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. industri telekomunikasi. konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. pembangkit listrik tenaga air. bandar udara. kilang minyak. eksploitasi minyak dan gas. industri pesawat terbang. penambangan uranium. industri bahan peledak. penilaian secara teknis. industri baja. Ligitan dan Celah Timor Huruf (d) Cukup jelas Huruf (e) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 12 Cukup jelas Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Ayat (1) Kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan hidup merupakan pegangan yang diperlukan dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. serta komponenkomponen parameter lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. industri alat-alat berat. pelabuhan dan rencana usaha dan/atau kegiatan lainnya yang menurut instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan dianggap strategis. yaitu proses pemusatan studi pada hal-hal penting yang berkaitan dengan dampak besar dan penting. industri kapal.

konsultasi dengan warga masyarakat yang berkepentingan. Jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja ini meliputi proses penyampaian dokumen analisis dampak lingkungan hidup. yang dicantumkan dalam rencana pemantauan lingkungan hidup. dan b. Rencana Tata Ruang Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat I . Kerangka acuan yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah akan menghasilkan analisis dampak lingkungan hidup.Ayat (4) Menolak untuk memberikan keputusan atas kerangka acuan adalah untuk melindungi kepentingan umum. dan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. dan rencana pemantauan lingkungan hidup ke instansi yang bertanggung jawab melalui komisi penilai. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 20 Ayat (1) Penetapan jangka waktu selama 75 (tujuh puluh lima) hari kerja dimaksudkan untuk memberikan kepastian kepada pemrakarsa. hasil penilaian atas analisis dampak lingkungan hidup. cara mengendalikan dampak besar dan penting negatif dan mengembangkan dampak besar dan penting positif. dan rencana pemantauan lingkungan hidup oleh komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup menjadi dasar bagi instansi yang bertanggung jawab dalam memberikan keputusan kepada instansi yang berwenang. cara memantau dampak besar dan penting tersebut. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Apa yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup merupakan syarat dan kewajiban yang harus dilakukan pemrakarsa apabila hendak melaksanakan usaha dan/atau kegiatannya. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang wilayah yang ditetapkan adalah Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional yang telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. sampai dengan diterbitkannya keputusan kelayakan lingkungan hidup. penilaian secara teknis. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. penilaian oleh komisi penilai. Perlindungan fungsi lingkungan hidup merupakan kepentingan umum. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 21 Cukup jelas 132 . Dengan mengetahui dampak besar dan penting itu dapat ditentukan : a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang baik pula. yang dicantumkan dalam rencana pengelolaan dampak lingkungan hidup. Sedangkan kewajiban untuk membuat analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting adalah untuk melindungi fungsi lingkungan hidup. Oleh karena itu. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Yang dimaksud dengan rencana tata ruang kawasan yang ditetapkan adalah baik rencana tata ruang kawasan tertentu yang telah ditetapkan dengan Keputusan Presiden maupun rencana tata ruang kawasan perdesaan atau rencana tata ruang kawasan perkotaan sebagai bagian dari Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah Tingkat II. demikian pula sebaliknya. Termasuk dalam pengertian rencana tata ruang kawasan adalah rencana rinci tata ruang di Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II yang meliputi rencana terperinci (detail) tata ruang kawasan di wilayah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II. Kerangka acuan merupakan dasar bagi penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Cukup jelas Pasal 19 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Dari analisis dampak lingkungan hidup dapat diketahui dampak besar dan penting yang akan ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup.

dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang telah diterbitkan menjadi batal. sehingga rona lingkungan hidup yang semula dipakai sebagai dasar penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup tidak cocok lagi digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan hidup rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. rencana pengelolaan lingkungan hidup. dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kemungkinan besar telah terjadi perubahan rona lingkungan hidup.Pasal 22 Cukup jelas Pasal 23 Cukup jelas Pasal 24 Ayat (1) Sejalan dengan cepatnya pengembangan pembangunan wilayah. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Bantuan diberikan oleh instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 25 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 26 Ayat (1) Perubahan desain dan/atau proses dan/atau kapasitas dan/atau bahan baku dan/atau bahan penolong bagi usaha dan/atau kegiatan akan menimbulkan dampak besar dan penting yang berbeda. keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 28 Cukup jelas Pasal 29 Cukup jelas Pasal 30 Cukup jelas Pasal 31 Bantuan yang dimaksud untuk golongan ekonomi lemah dapat berupa biaya penyusun analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau tenaga ahli untuk penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan hidup atau bantuan lainnya. dan rencana pemantauan lingkungan hidup. Oleh karena itu. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 27 Ayat (1) Terjadinya perubahan lingkungan hidup secara mendasar berarti hilangnya atau berubahnya rona lingkungan hidup awal yang menjadi dasar penyusunan analisis dampak lingkungan hidup. 133 . Keadaan ini menimbulkan konsekuensi batalnya keputusan kelayakan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian analisis dampak lingkungan hidup.

dikaji dalam analisis dampak lingkungan hidup dan diberikan alternatif pemecahannya dalam rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. antara lain: tentang apa yang akan dihasilkan oleh usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. pendapat dan tanggapan secara tertulis diperlukan agar terdokumentasi. melalui media cetak dan/atau media elektronik. Ayat (2) Pengumuman oleh instansi yang bertanggung jawab dapat dilakukan. misalnya. jenis dan volume limbah yang dihasilkan serta cara penanganannya. menjadi tanggungan pemrakarsa. Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Saran. Ayat (6) Dalam pengumuman akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan diberitahukan sekurangkurangnya. Sedangkan pengumuman oleh pemrakarsa dapat dilakukan dengan memasang papan pengumuman di lokasi akan diselenggarakannya usaha dan/atau kegiatan. Pasal 34 Cukup jelas Pasal 35 Cukup jelas Pasal 36 Cukup jelas Pasal 37 Biaya penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup antara lain mencakup biaya untuk mendatangkan wakil-wakil masyarakat dan para ahli yang terlibat dalam penilaian mengenai analisis dampak lingkungan hidup. Ayat (5) Semua saran dan pendapat yang diajukan oleh warga masyarakat harus tercermin dalam penyusunan kerangka acuan. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Cukup jelas Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas 134 .Pasal 32 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Cukup jelas Pasal 33 Ayat (1) Pengumuman merupakan hak setiap orang atas informasi lingkungan hidup yang berkaitan dengan peran dalam pengelolaan lingkungan hidup. kemungkinan dampak lingkungan hidup yang akan ditimbulkan.

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 86 TAHUN 2002 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 7. Tugas. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-12/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) tidak sesuai lagi dengan perkembangan saat ini. bahwa daerah saat ini membutuhkan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) untuk pengendalian pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. 135 . Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Menimbang : a. 5. Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 Tentang Kedudukan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL). 6. bahwa Menteri Negara Lingkungan Hidup berwenang untuk menetapkan kebijakan di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. h. bahwa mengingat hal-hal seperti tersebut di atas. g. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. dan Tata Kerja Menteri Negara. Susunan Organisasi. d. b. Kewenangan. bahwa pembinaan usaha dan atau kegiatan yang wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berada pada pemerintah. f. bahwa berdasarkan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa salah satu upaya pembinaan tersebut dapat berupa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. 4. Fungsi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3. c. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan Pengawasan Atas Penyelenggaraan Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4090). MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN PELAKSANAAN UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP. sejalan dengan Undangundang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Mengingat : 1. e. 2. bahwa penerbitan pedoman pelaksanaan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL) seperti tersebut pada huruf c. Upaya pengelolaan lingkungan hidup (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) adalah upaya yang dilakukan dalam pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib melakukan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). bagi usaha dan atau kegiatan yang tidak diwajibkan menyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup wajib melakukan Upaya Pengelolaan Lingkungan Hidup (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup (UPL).

c. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada 1 (satu) wilayah Kabupaten/Kota. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Kabupaten/Kota. di dalam izin melakukan usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. e. program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Propinsi dan atau lintas batas negara. rencana usaha dan atau kegiatan. tanda tangan dan cap. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib berkoordinasi dengan instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan untuk melakukan pemeriksaan formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah disampaikan paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. Pasal 6 Dalam hal formulir isian tentang UKL dan UPL tidak memerlukan perbaikan. d. apabila usaha dan atau kegiatan berlokasi pada lebih 1 (satu) Kabupaten/Kota. Pasal 3 dalam formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (2) berisikan informasi: identitas pemrakarsa. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib memberikan rekomendasi paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL. (2) UKL dan UPL wajib dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan atau kegiatan dengan menggunakan formulir isian seperti terlampir dalam Keputusan ini. (3) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota wajib menerbitkan rekomendasi tentang UKL dan UPL kepada pemrakarsa paling lambat 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya formulir isian tentang UKL dan UPL yang telah diperbaiki oleh pemrakarsa. Di a. (2) Izin yang diterbitkan oleh pejabat dari instansi yang berwenang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tembusannya wajib disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan atau instansi yang bertangung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi atau Kabupaten/Kota sesuai kewenangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup dan pengendalian dampak lingkungan. c. (2) Dalam hal terdapat kekurangan informasi yang disampaikan dalam formulir isian tentang UKL dan UPL dan memerlukan tambahan dan atau perbaikan. Pasal 2 (1) Setiap jenis usaha dan atau kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan AMDAL wajib melakukan UKL dan UPL. b. Pasal 7 Pemrakarsa mengajukan rekomendasi tentang UKL dan UPL dari pejabat instansi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 kepada instansi yang berwenang sebagai dasar penerbitan izin melakukan usaha dan atau kegiatan.2. b. Pasal 8 (1) Pejabat dari instansi yang berwenang wajib mencantumkan syarat dan kewajiban yang tercantum dalam program pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. Pemrakarsa adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan atau kegiatan yang akan dilaksanakan. Pasal 5 (1) Berdasarkan formulir isian tentang UKL dan UPL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3. 3. 136 . dampak lingkungan yang akan terjadi. yang proses dan prosedurnya tidak dilakukan menurut ketentuan Peraturan Pemerintah tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan izin melakukan usaha dan atau kegiatan. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup Propinsi. pemrakarsa wajib menyempurnakan dan atau melengkapinya sesuai hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lambat 7 (tujuh) hari kerja. Pasal 4 Pemrakarsa mengajukan formulir isian tentang UKL dan UPL kepada: a.

MSM. Ditetapkan di : Jakarta pada tanggal : 28 Oktober 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd. Pasal 10 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. MPA. ttd Nabiel Makarim. 137 . Hoetomo.Pasal 9 Dengan berlakunya keputusan ini. MPA.. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-12/MENLH/3/ 1994 tentang Pedoman Umum Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan dinyatakan tidak berlaku lagi. Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Kebijakan Dan Kelembagaan Lingkungan Hidup.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). 2.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 17 TAHUN 2001 TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Menimbang : a. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1990 Nomor 49. b. tetapi karena daya dukung. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. daya tampung. 3. 6. Ketiga Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak termasuk dalam lampiran keputusan ini tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan hidup. 5. dan tipologi ekosistem daerah setempat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. 4. 138 . Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG JENIS RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. c. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). maka bagi jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut dapat ditetapkan oleh Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952). Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. bahwa mengingat hal tersebut diatas perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa berdasarkan kenyataan terdapat jenis rencana usaha dan/atau kegiatan dalam skala/ besaran yang lebih kecil dibandingkan dengan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan sebagaimana yang tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 Tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Pertama Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Kedua Apabila skala/besaran suatu jenis rencana usaha dan/atau kegiatan lebih kecil daripada skala/besaran yang tercantum pada Lampiran keputusan ini akan tetapi atas dasar pertimbangan ilmiah mengenai daya dukung dan daya tampung lingkungan serta tipologi ekosistem setempat diperkirakan berdampak penting terhadap lingkungan hidup. bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Mengingat : 1. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419).

maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dinyatakan tidak berlaku lagi. A. Hadi 139 . Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Mei 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. ttd. maka Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat wajib mengajukan usulan secara tertulis kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup. Kelima Menteri Negara Lingkungan Hidup akan mempertimbangkan penetapan keputusan terhadap jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang diusulkan tersebut menjadi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Keenam Jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini akan ditinjau kembali sekurang-kurangnya sekali dalam 5 (lima) tahun. Sudharto P. Kedelapan Keputusan ini mulai berlaku 2 (dua) bulan sejak tanggal ditetapkan. Dr. Ketujuh Dengan berlakunya keputusan ini.Keempat Apabila Bupati/Walikota atau Gubernur untuk wilayah Daerah Khusus Ibukota Jakarta dan/atau masyarakat menganggap perlu untuk mengusulkan jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang tidak tercantum dalam Lampiran Keputusan ini tetapi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut dianggap mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Menteri Negara Lingkungan Hidup Bidang Hukum Lingkungan.

LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 17 Tahun 2001 TANGGAL : 22 Mei 2001 JENIS RENCANA USAHA DAN ATAU KEGIATAN YANG WAJIB DILENGKAPI DENGAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. Pendahuluan Jenis rencana usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ditetapkan berdasarkan : a. Potensi dampak penting Sesuai Pasal 3 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999, jenis usaha dan/atau kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan hidup wajib dilengkapi dengan AMDAL. Potensi dampak penting bagi setiap jenis usaha dan/atau kegiatan tersebut ditetapkan berdasarkan: 1. Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting. 2. Referensi internasional yang diterapkan oleh beberapa negara sebagai landasan kebijakan tentang AMDAL. b. Ketidakpastian kemampuan teknologi yang tersedia untuk menanggulangi dampak penting negatif yang akan timbul. 2. Jenis Rencana Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup A. Bidang Pertahanan dan Keamanan Secara umum, kegiatan yang berkaitan dengan aktivitas militer dengan skala/besaran berikut berpotensi menimbulkan resiko lingkungan dengan terjadinya ledakan serta keresahan sosial akibat kegiatan operasional dan penggunaan lahan yang cukup luas.

No Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Gudang Munisi Pusat dan Daerah

Skala/Besaran Semua besaran *

Alasan Ilmiah Khusus Beresiko terjadinya ledakan saat perjalanan dan saat penyimpanan yangmembahayakan penduduk walaupun sudah memiliki standard operating procedure (SOP) penanganan bahan peledak. * Kegiatan pengerukan dan reklamasi berpotensi mengubah ekosistem laut dan pantai. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair dan sampah padat. * Kegiatan pangkalan berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan pesawat. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan latihan tempur berpotensi menyebabkan dampak akibat limbah cair, sampah padat dan kebisingan akibat ledakan. * Bangunan pangkalan dan fasilitas pendukung, termasuk daerah penyangga, tertutup bagi masyarakat. * Kegiatan penyiapan lahan (land clearing) di areal yang cukup luas untuk pangkalan, landasan pacu, dan bangunan penyangga menyebabkan perubahan ekosistem. * Kegiatan latihan berpotensi menyebabkan kebisingan.

2

Pembangunan Pangkalan TNI AL

Kelas A dan B

3

Pembangunan Pangkalan TNI AU

Kelas A dan B

4

Pembangunan Pusat Latihan Tempur

Luas > 10.000 ha

5

Pembangunan Lapangan Tembak TNI AD, TNI AL, TNI AU dan Polri

Luas > 10.000 ha

140

B.

Bidang Pertanian Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan berupa erosi tanah, perubahan ketersediaan dan kualitas air, persebaran hama, penyakit dan gulma, serta perubahan kesehatan tanah akibat penggunaan pestisida/herbisida. Disamping itu sering pula muncul potensi konflik sosial dan penyebaran penyakit endemik. Skala/besaran yang tercantum di bawah ini telah memperhitungkan potensi dampak penting kegiatan terhadap ekosistem, hidrologi, dan bentang alam. Skala /besaran tersebut merupakan luasan rata-rata dari berbagai ujicoba untuk masing-masing kegiatan dengan mengambil lokasi di daerah dataran rendah, sedang, dan tinggi. Skala/Besaran Luas > 2.000 ha Alasan Ilmiah Khusus * Lihat penjelasan di atas

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tanaman pangan dan hortikultura semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya Budidaya tanaman perkebunan semusim dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan Budidaya tanaman perkebunan tahunan dengan atau tanpa unit pengolahannya: - Dalam kawasan budidaya non kehutanan - Dalam kawasan budidaya kehutanan

2

Luas > 5.000 ha

*

Lihat penjelasan di atas

3

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

4

Luas > 3.000 ha Semua besaran

*

Lihat penjelasan di atas

141

C.

Bidang Perikanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan usaha budidaya tambak udang, ikan, dan pembangunan pelabuhan perikanan adalah perubahan ekosistem perairan dan pantai, hidrologi, dan bentang alam. Pembukaan hutan mangrove akan berdampak terhadap habitat, jenis dan kelimpahan dari tumbuhtumbuhan dan hewan yang berada di kawasan tersebut.

No. 1

Jenis Kegiatan Budidaya tambak udang/ikan dengan atau tanpa unit pengolahannya

Skala/Besaran Luas > 50 ha

Alasan Ilimiah Khusus * Rusaknya ekosistem mangrove yang menjadi tempat pemijahan dan pertumbuhan ikan ( nursery areas) akan mempengaruhi tingkat produktivitas daerah setempat. Beberapa komponen lingkungan yang akan terkena dampak adalah: kandungan bahan organik. perubahan BOD, COD, DO, kecerahan air, jumlah phytoplankton maupun peningkatan virus dan bakteri. Berpotensi menimbulkan konflik sosial. Perubahan kualitas perairan. Pengaruh perubahan arus dan penggunaan ruang perairan. Pengaruh terhadap estetika perairan.

*

*

2

Usaha budidaya perikanan terapung (jaring apung dan pen system): a. Di air tawar (danau) - Luas - Atau jumlah b. Di air laut - Luas - Atau jumlah

* * > 2,5 ha > 500 unit * > 5 ha > 1.000 unit *

3

Rencana pembangunan prasarana perikanan yang berbentuk pelabuhan perikanan yang terletak di luar daerah lingkungan kerja pelabuhan umum dan memenuhi kriteria sebagai berikut: - Panjang dermaga - Atau mempunyai Kawasan Industri Perikanan dengan luas - Atau kedalaman perairan di dermaga

> 300 m > 10 ha > -4 m LWS

Berpotensi menimbulkan dampak berupa: penurunan kualitas air, penurunan stabilitas garis pantai, potensi konflik sosial, pergeseran pola penyakit, dan dampak potensi limbah cair dan padat yang dihasilkan.

142

D.

Bidang Kehutanan Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem hutan, hidrologi, keanekaragaman hayati, hama penyakit, bentang alam dan potensi konflik sosial. Skala/Besaran Semua besaran * Alasan Ilmiah Khusus Pemanenan pohon dengan diameter tertentu berpotensi merubah struktur dan komposisi tegakan, satwa liar dan habitatnya.

No. 1

Jenis Kegiatan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (UPHHK)

2

Usaha Hutan Tanaman

> 5.000 ha

*

Usaha hutan tanaman dilaksanakan melalui sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), dimana untuk penyiapan lahannya dilaksanakan secara mekanis menggunakan alat berat.

E. No. 1.

Bidang Kesehatan Skala/Besaran Kelas A dan B atau yang setara * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak penting dalam bentuk limbah B3 / radioaktif dan potensi penularan penyakit.

Jenis Kegiatan Pembangunan Rumah Sakit

F.
No. 1

Bidang Perhubungan
Skala/Besaran > 25 km * Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, k e b i s i n g a n , g e t a r a n , gangguan pandangan, ekologi, d a n d a m p a k sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar kegiatan serta membutuhkan area yang luas. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan kestabilan lahan (land subsidence), air tanah serta gangguan berupa dampak terhadap emisi, lalu lintas, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, gangguan jaringan prasarana sosial (gas, listrik, air minum, telekomunikasi) dan dampak sosial di sekitar kegiatan tersebut. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi dan ekologi yang lebih luas dari batas tapak kegiatan itu sendiri. Kegiatan ini juga akan menimbulkan gangguan terhadap lalu lintas pelayaran sungai. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak penting terhadap sistem hidrologi, ekosistem, kebisingan dan dapat mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai (coastal processes). Berpotensi menimbulkan dampak terhadap

Jenis Kegiatan Pembangunan Jaringan Jalan Kereta Api - Panjang Pembangunan Stasiun Kereta Api

2

Stasiun kelas besar dan/atau kelas I

*

3

Konstruksi bangunan jalan rel di bawah permukaan tanah

Semua besaran

*

4

Pengerukan alur pelayaran Sungai - Volume

* > 500.000 m3

5

Pembangunan pelabuhan dengan salah satu fasilitas berikut: a. Dermaga dengan konstruksi masif - Panjang > 200 m - Atau luas > 6.000 m2 b. Penahan gelombang (Break water/talud) - Panjang > 200 m c. Prasarana pendukung pelabuhan (terminal, gudang, peti kemas, dll)

*

*

*

143

- Luas

> 5 ha

*

d.

Single Point Mooring Boey - Untuk kapal

* > 10.000 DWT

*

6

Pengerukan: a. Capital dregging - Volume

* > 250.000 m3

b.

Maintenance dregging - Volume

> 500.000 m3

*

7

Reklamasi (pengurungan): - Luas - Atau Volume

* > 25 ha > 5.000.000 m3

ekosistem, hidrologi, garis pantai dan batimetri serta mengganggu proses-proses alamiah yang terjadi di daerah pantai. Berpotensi menimbulkan dampak berupa emisi, gangguan lalu lintas, aksesibilitas transportasi, kebisingan, getaran, gangguan pandangan, ekologi, dampak sosial dan keamanan di sekitar area yang luas. Kunjungan kapal yang cukup tinggi dengan bobot sekitar 5.000 - 10.000 DWT serta draft kapal minimum 4-7 m sehingga kondisi kedalaman yang dibutuhkan menjadi -5 s/d -9 m LWS. Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan alur pelayaran, perubahan, batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai terutama apabila yang dibongkar muat minyak mentah yang berpotensi menimbulkan pencemaran laut dari tumpahan minyak Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri, ekosistem, dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri,ekosistem,dan mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai dan membutuhkan waktu 3 -6 bulan Berpotensi menimbulkan dampak terhadap sistem geohidrologi, hidrooseanografi, dampak sosial, ekologi, perubahan garis pantai, kestabilan lahan, lalu lintas serta mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai.

8

Kegiatan penempatan hasil keruk (dumping) a. Di darat: - Volume - Atau luas area dumping b. Di laut

> 250.000 m3 > 5 ha Semua besaran

*

Menimbulkan terjadinya perubahan bentang lahan yang akan mempengaruhi ekologi, hidrologi setempat. Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut yang akan menimbulkan dampak sosial. Termasuk kegiatan yang berteknologi tinggi, harus memperhatikan ketentuan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak berupa kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara. Termasuk kegiatan berteknologi tinggi, harus memenuhi aturan keselamatan penerbangan dan terikat dengan konvensi internasional. Berpotensi menimbulkan dampak kebisingan, getaran, dampak sosial, keamanan negara, emisi dan kemungkinan bangkitan transportasi baik darat dan udara.

*

9

Pembangunan bandar udara baru beserta fasilitasnya

Semua besaran ( kelas I * s.d. V) beserta hasil studi rencana induk yang telah disetujui *

10

Pengembangan bandar udara beserta Kelas I, II, III, berdasarkan * rencana pengembangan fasilitasnya (rencana induk, rencana tata letak, dll) *

11

12

Perluasan bandar udara beserta/atau fasilitasnya: a. - Pemindahan penduduk - Atau pembebasan lahan b. Reklamasi pantai: - Luas - Atau Volume ruangan c. Pemotongan bukit dan pengurugan lahan dengan volume Pemasangan kabel bawah laut

* >200 KK > 100 ha > 25 ha > 100.000 m3 > 500.000 m3 Semua besaran * * *

*

Berpotensi menimbulkan dampak terhadap ekosistem laut, pola arus, batimetri, kestabilan pantai dan produktivitas laut. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif ( misalnya terumbu karang). Pengoperasian kabel bawah laut rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh, penambangan pasir.

144

SOx. 2 Industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp (tidak termasuk pulp dari kertas bekas dan pulp dari industri kertas budaya) Semua besaran 145 . gangguan fisik dan gangguan pasokan air tersebut di atas menimbulkan dampak sosial.NOx) dari pembakaran energi batubara. Bidang Perindustrian Kegiatan bidang perindustrian pada umumnya menimbulkan pencemaran air. yang diperoleh baik dari sumber air tanah ataupun air permukaan. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas. pemutihan pulp (bleaching) dan pembentukan lembaran pulp yang dalam prosesnya banyak menggunakan bahan-bahan kimia sehingga berpotensi menghasilkan limbah cair (BOD. bahan baku (raw millprocess).2 Mw/ 1000 ton produk).NOx. 1 Bidang Teknologi Satelit Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus * Kegiatan ini memerlukan persyaratan lokasi yang khusus dan teknologi canggih * Bangunan peluncuran satelit dan fasilitas pendukung. bau. Beberapa jenis industri yang sudah memiliki teknologi memadai untuk mengatasi dampak negatif yang muncul.Cl2) dan limbah padat (ampas kayu.S02. Jenis Kegiatan 1 Industri semen (yang dibuat melalui produksi klinker) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri semen dengan Proses Klinker adalah industri semen yang kegiatannya bersatu dengan kegiatan penambangan. termasuk daerah penyangga. Teknologi Satelit: -Pembangungan fasilitas peluncuran satelit H.5 ton semen membutuhkan 1 ton air). dan getaran.limbahgas (H2S. Beberapa jenis industri menggunakan air dengan volume sangat besar. * Tenaga kerja besar (+ 1-2 TK/3000 ton produk). minyak dan gas. dimana. No. terdapat proses penyiapan. limbah gas CO 2. SiO2. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas (0. Penggunaan air ini berpengaruh terhadap sistem hidrologi sekitar. * Kebutuhan air cukup besar (3. tetapi menggunakan areal yang luas tetap wajib dilengkapi dengan AMDAL (nomor 15).G. * Kebutuhan energi besar (0. serat pulp.900 Kcal/ton).COD.2 ha/1000 ton produk). udara. * Proses pembuatan pulp meliputi kegiatan penyiapan bahan baku. * Tenaga kerja besar. No. tanah. * Kebutuhan energi cukup besar baik tenaga listrik (110-140 KwH/ton) dan tenaga panas (800 . lumpur kering). sehingga tidak termasuk dalam daftar berikut. Al203FeO2) dengan radius 2-3 km. pencucian pulp.TSS). debu ( CaO. gangguan kebisingan. pemasakan serpihan kayu. limbah cair (sisa cooling mengandung minyak lubrikasi pelumas). tertutup bagi masyarakat. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (tailing). penggilingan batubara (coalmill) serta proses pembakaran dan pendinginan klinker (Rotary Klin and Clinker Cooler). Berbagai potensi pencemaran.

Hg). batubara ataupun bahan bakar dengan proses pembakaran sampai dengan temperatur 1600 derajat Celcius. Hg. Pb.Toluena. BOD. Ni. Xylena. * Kebutuhan air untuk pendingin relatif besar (> 1000 m3/hari). Cr. Cu. Hg. gas (NO x. dan Etil Benzena. NH4Cl) dan limbah sisa katalis bekas yang bersifat B3. limbah cair (TSS. SOx. * Tenaga kerja cukup besar. limbah cair (Fe. Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. As. 146 . Se. besi spons. Umumnya dampak yang ditibulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang luas. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan lahan yang cukup luas. Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar adalah industri yang mengolah konsentrat bahan tambang. baja bloom dan baja slab) Semua besaran 5 Industri pembuatan timah hitam (Pb) dasar (termasuk industri daur ulang) Semua besaran 6 Industri pembuatan tembaga (Cu) dasar/ katoda tembaga (bahan baku dari Cu konsentrat) Semua besaran Alasan Ilimiah Khusus Industri petrokimia hulu adalah industri yang mengolah hasil tambang mineral (kondensat) terdiri dari Pusat Olefin yang mengkasilkan Benzena. ingot baja. Zn. * Kebutuhan air cukup besar (untuk pendingin 1 l/dt/1000 ton produk). H2S. N2. * Potensi berbagai limbah: gas (SO2 dan NOx). pellet baja. Sn. Industri pembuatan besi dasar dan baja adalah merupakan industri yang mengolah besi bekas (steel scrap) atau konsentrat biji besi yang menggunakan tungku-tungku pembakaran baik menggunakan energi listrik. Proses pembuatannya melalui pemisahan konsentrat. besi kasar/pig iron. * Kebutuhan air untuk proses pendinginan dan elektronika relatif besar (air bersih 5000 m3/ hari dan air laut 3. Propilena dan Butadiena serta Pusat Aromatik yang menghasilkan Benzena. Se. * Kebutuhan energi relatif besar (1 Kwh 0. limbah cair (minyak dan scale).5 ton produk). * Tenaga kerja cukup besar (1000 ton produk/ TK). debu (SiO2). Pb.3 juta m3/hari). paduan besi/alloy. * Potensi berbagai limbah (termasuk B3): limbah padat (basic slag). * Kebutuhan energi relatif besar (264 ribu Mwh/ tahun). * Potensi berbagai limbah: gas (SO2. peleburan dengan tungku-tungku bertemperatur tinggi dan elektrolisa.No. * Kebutuhan energi relatif besar (6-7 Kw ton produk) disamping bersumber dari listrik juga energi gas. F. limbah padat gipsum dan slag (Fe. Cd). As. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang cukup luas. Cd. * Tenaga kerja besar. Pb. Cd. Zn. O2 dan tail gas dengan parameter Zn. Cu. COD. Proses pembuatannya melalui proses peleburan yang menghasilkan limbah gas beracun dan debu (partikulat) dan proses peredaman yang menghasilkan limbah cair dengan kadar asam yang tinggi. Ni. Jenis Kegiatan 3 Industri petrokimia hulu Skala/Besaran Semua besaran 4 Industri pembuatan besi dasar atau baja dasar (iron and steel making) meliputi usahan pembuatan besi dan baja dalam bentuk dasar seperti pallet bijih besi. TDS & TSS). SO2) debu berupa scale (2-3% dari total produk per hari).

elektrolisa dan pencetakan. * Kebutuhan energi listrik cukup besar baik dalam kaitan dengan jenis pembangkit ataupun trace jaringan (0. NH3. * Tenaga kerja sangat besar. 7 Jenis Kegiatan Industri pembuatan aluminium dasar (bahan baku dari alumina) Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri pembuatan aluminium dasar merupakan industri pembuatan batangan aluminium yang menggunakan bahan baku bijih alumina yang dilakukan melalui proses peleburan. Dampak penting yang ditimbulkan berasal dari: * Pengadaan lahan untuk bangunan pabrik dan landasan pacu. Sistem graving dock adalah galangan kapal yang dilengkapi dengan kolam perbaikan dengan ukuran panjang 100 m. sehingga dalam pengembangannya diperkirakan akan menimbulkan berbagai dampak penting antara lain disebabkan: * Kegiatan grading (pembentukan muka tanah) dan runoff (air larian). * Kebutuhan air bersih dengan tingkat kebutuhan rata-rata 0.1 Mw/Ha). * Mobilisasi tenaga kerja (90 – 110 TK ha). pengecatan lambung kapal dan bahan kimia B3) maupun limbah gas dan debu dari kegiatan sand blasting dan pengecatan. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Penggunaan lahan yang luas untuk bangunan pabrik dan fasilitas penunjang. dan kedalaman 15 m dengan sistem sirkulasi. SO2 & HF) dan debu Kawasan industri (industrial estate) merupakan lokasi yang dipersiapkan untuk berbagai jenis industri manufaktur yang masih prediktif.000 m3/hari). * Potensi limbah yang dihasilkan (termasuk B3): padat (dross. * Bangkitan lalulintas. munisi dan bahan peledak Semua besaran 147 . lebar 40 m. * Gangguan kebisingan dan getaran. Pembuatan kolam graving ini dilakukan dengan mengeruk laut yang dikhawatirkan akan menyebabkan longsoran atau pun abrasi pantai. * Kebutuhan energi relatif besar (+ 295 ribu Mwh/hari). Industri pesawat terbang merupakan industri strategis berteknologi tinggi yang membutuhkan tingkat pengamanan (security) yang tinggi. 8 Kawasan Industri (termasuk komplek industri yang terintegrasi) Semua besaran 9 Industri galangan kapal dengan sistem graving dock > 4. * Kebutuhan pemukiman dan fasilitas sosial.75 l/dt/ha. * Potensi berbagai jenis limbah dan cemaran yang masih prediktif terutama dalam hal cara pengelolaannya. pelapis bekas). disamping kegiatannya membutuhkan tingkat keamanan yang tinggi.55 – 0.NO2. gas (H2S. Perbaikan kapal berpotensi menghasilkan limbah cair (air ballast.No. Industri senjata. cair (air spray dengan kadar Flour tinggi dan air pendingin mengandung minyak). munisi dan bahan peledak merupakan industri yang dalam proses produksinya menggunakan bahan-bahan kimia yang bersifat B3.000 DWT 10 Industri pesawat terbang Semua besaran 11 Industri senjata. * Kebutuhan air yang sangat besar untuk proses pendinginan (+ 17. * Pengadaan dan pengoperasian alat alat berat.

Potensi konflik yang timbul sangat berkaitan dengan tingkat kepadatan penduduk karena umumnya membutuhkan lahan yang luas dan seringkali mengubah tata guna lahan. * Kebutuhan energi listrik cukup besar. teratogenik dan karsinogenik terhadap manusia. luas . gas (proses finishing dengan parameter Pb dan formation parameter sulfat. * Kegiatan produksi. 148 . luas . Mn & NH3). tingkat kepadatan bangunan per hektar. * Kebutuhan air relatif besar (+ 270 m3/hari) baik untuk proses maupun domestik. lead part (pencetakan bagian-bagian aki dari timah hitam). * Penurunan kualitas lingkungan.perdagangan danpembuangannya memerlukan persyaratan khusus. pengangkutan. * Potensi berbagai jenis limbah: padat (sludge B3. Pb dan Cd). formation\ (merupakan proses elektrolisa) dan assembling. Jenis Kegiatan 1 Pembangunan Bendungan/Waduk atau Jenis Tampungan Air lainnya: .No. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. luas b. pasting (pembuatan pasta dengan H2SO4 pekat).Tinggi > 15 m * * Termasuk dalam kategori “large dam ” (bendungan besar). dan limbah padat (sludge dari IPAL dan bekas kemasan bahan penolong). luas . mengingat merkuri ini bersifat B3 yang mempunyai efek mutagenik. air dan tanah. penyimpanan. NOx dan SO2). luas Semua besaran > 5 ha > 10 ha > 15 ha > 20 ha > 30 ha Umumnya dampak yang ditimbulkan berupa: * Bangkitan lalulintas. bekas kemasan). lead powder (proses pembentukan bubuk Pb).pengemasan. Zn. COD. * Kebutuhan air relatif besar baik untuk proses (pembuatan pasta dan pemasakan baterai) maupun domestik (170 m3/hari). TSS. Umumnya dampak yang ditimbulkan disebabkan oleh: * Kebutuhan tenaga kerja relatif besar. Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. 12 Industri baterai kering (yang menggunakan bahan baku merkuri/Hg) 13 Industri baterai basah (akumulator listrik) Semua besaran 14 Industri bahan kimia organik dan anorganik yang memproduksi material yang digolongkan bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 15 Kegiatan industri yang tidak termasuk angka 1 s/d 14 Penggunaan areal: a. dll. Urban: .Kota kecil. I. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan.Kota besar. Jenis Kegiatan Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Industri baterai kering yang diperkirakan menimbulkan dampak penting adalah yang menggunakan bahan baku merkuri (Hg). SO2. peleburan dan pencetakan timah hitam sebagai bahan aktif sel). kapasitas resapan air tanah. NOx. * Potensi limbah dari proses produksi seperti limbah cair (pH. * Daya dukung lahan. CO. Cr.Metropolitan. Pada umumnya proses produksi lengkap dimulai dari grid casting (persiapan. limbah cair (Zn.Kota sedang. Rural/pedesaan. Sulfat & Pb). Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No. TDS. limbah debu dan gas (H2S. Bidang Prasarana Wilayah Kegiatan pembangunan dan pengadaan prasarana wilayah umumnya berfungsi untuk melayani kepentingan masyarakat. NH3. sedangkan pembakaran COx. * Berpotensi menimbulkan pencemaran udara. seperti daya dukung tanah. * Konflik sosial. Hg.

Panjang .Atau luas genangan > 200 ha * * * 2 Daerah Irigasi a. Mengakibatkan mobilisasi tenaga kerja yang signifikan pada daerah sekitarnya.* .000 ha * * * c. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. dan gangguan.000 m3 * * c. Pedesaan .Atau volume pengerukan > 15 km > 500. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. Berpotensi mengubah ekosistem dan iklim mikro pada kawasan tersebut dan berpengaruh pada kawasan disekitarnya.000 m3 * * b. Pembangunan pada rentang kawasan pantai selebar > 500 m berpotensi mengubah ekologi kawasan pantai dan muara sungai sehingga berdampak terhadap keseimbangan ekosistem yang ada. Memerlukan alat berat dalam jumlah yang cukup banyak. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. Mengakibatkan mobilisasi manusia yang dapat menimbulkan dampak sosial. Mengakibatkan perubahan pola iklim mikro dan ekosistem kawasan. Kota Besar/Metropolitan . Selalu memerlukan bangunan utama (headworks) dan bangunan pelengkap (oppurtenants structures) yang besar dan sangat banyak sehingga berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Akan mempengaruhi pola iklim mikro pada kawasan sekitarnya dan ekosistem daerah hulu dan hilir bendungan/waduk.Atau volume pengerukan Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. Dampak pada hidrologi. Berpotensi menimbulkan dampak negatif akibat perubahan ekosistem pada kawasan tersebut. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan. > 10 km > 500. Kota Sedang . Gelombang pasang laut (tsunami) di Indonesia berpotensi menjangkau kawasan sebesar 500 m. dampak sosial. Peningkatan dengan luas tambahan > 1.Jarak dihitung tegak lurus pantai * > 500 m * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. Perubahan Tata Air. sehingga diperlukan kajian khusus untuk pengembangan kawasan pantai yang mencakup rentang lebih dari 500 m dari garis pantai. Berpotensi mengubah sistem tata air yang ada pada kawasan yang luas secara drastis. Dampak pada hidrologi. Kegagalan bendungan pada luas genangan sebesar ini berpotensi mengakibatkan genangan yang cukup besar dibagian hilirnya. dampak sosial. dan gangguan. luas (perkelompok) 3 Pengembangan Rawa: Reklamasi rawa untuk kepentingan irigasi > 500 ha * * * > 1. Mobilisasi alat besar dapat menimbulkan gangguan dan dampak. baik pada saat pelaksanaan maupun setelah pelaksanaan. dan gangguan. Terjadi timbunan tanah galian di kanan kiri sungai yang menimbulkan dampak lingkungan.000 m3 * * 149 . Memerlukan bangunan tambahan yang berpotensi untuk mengubah ekosistem yang ada. Membutuhkan pembebasan lahan yang besar sehingga berpotensi menimbulkan dampak sosial. dampak sosial. Pencetakan sawah. Pembangunan baru dengan luas * * > 2.000 ha * 4 Pembangunan Pengaman Pantai dan perbaikan muara sungai: .Panjang .000 ha * * * b.Panjang . 5 Normalisasi Sungai dan Pembuatan Kanal Banjir a.Atau volume pengerukan > 5 km > 500.

Dampak kebauan dan gangguan visual. luas b.Luas landfill . gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan. Kota Besar/Metropolitan . . Pembangunan Jalan Tol b. Pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) limbah domestik termasuk fasilitas penunjangnya c. TPA di daerah pasang surut.000 ton Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi). * Tingkat kebutuhan air sehari-hari.000 orang. gas beracun. * Setara dengan kota kecil.Atau luas c. > 500 ha > 5 km * Setara dengan 17. * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (mobilisasi material dan manusia). dampak kebisingan. getaran. Pembangunan saluran di kota besar/metropolitan . dll. Kota metropolitan. getaran.000 sambungan. 9 Pembangunan Perumahan/Permukiman a. Berpotensi menimbulkan dampak meningkatnya kepadatan lalulintas. emisi yang tinggi. gas beracun. gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan.. > 10 km Berpotensi menimbulkan dampak hidrologi dan persoalan keterbatasan air. bau. bau. dan gangguan kesehatan. Bangkitan lalu lintas. kebisingan. > 30 km 8 > 10 ha > 10. Kota besar. dampak kebisingan. Pembangunan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPTL). 7 > 5 km > 5 ha Bangkitan lalu lintas.6 a. getaran. Bangkitan lalu lintas. termasuk fasilitas penunjangnya b.atau peningkatan jalan dengan pelebaran diluar daerah milik jalan a. * Dampak kebauan dan gangguan visual.Atau luas b.Panjang b. Dampak potensial berupa bau. Pembuangan dengan sistem control landfill / sanitary landfill (diluar B3) .Luas . seperti daya dukung tanah. gas beracun. emisi yang tinggi. Pembangunan Jalan Layang dan Subway Pembangunan dan. luas layanan 11 Drainase Permukiman a.000 ton > 1.Atau kapasitas total c. perubahan tata air. getaran. udara. * Setara dengan kota kecil-sedang/kota kecamatan. emisi yang tinggi. gangguan visual dan dampak sosial. Kota Sedang . getaran. emisi yang tinggi. udara. Besaran untuk masing-masing tipologi kota diperhitungkan berdasarkan: * Tingkat pembebasan lahan. tingkat kepadatan bangunan per hektar. Pembangunan saluran di kota sedang .000 ton / hari Semua ukuran Dampak potensial adalah bahaya banjir dan perubahan pola air.000 orang. > 10 km > 10 ha Bangkitan lalu lintas. 150 .Panjang Persampahan a. * Daya dukung lahan. Pedesaan .Panjang . dan gangguan kesehatan.Atau kapasitas total b.Panjang . Kota sedang dan kecil. > 5 ha > 5. * Limbah yang dihasilkan sebagai akibat hasil kegiatan perumahan dan pemukiman. Pembangunan jaringan distribusi > 2 ha > 3 ha * * Setara dengan layanan untuk 10. luas > 25 ha > 50 ha > 100 ha 10 a. gangguan visual dan dampak sosial. dampak kebisingan. * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan). getaran. Pembangunan transfer station . TPA dengan sistem open dumping Semua besaran > 2 km Bangkitan lalu lintas. Pembangunan sistem perpipaan air limbah. Dampak potensial berupa pencemaran dari leachate (lindi).Panjang 12 Jaringan air bersih di kota besar/metropolitan a.luas c. * Setara dengan layanan untuk 10. * Isu utama adalah perubahan fungsi lahan. dan gangguan kesehatan. kapasitas resapan air tanah. gangguan visual dan dampak sosial.Kapasitas d. emisi yang tinggi.

atau sumber air permukaan lainnya .000 ton/th (ROM) > 200. Pembangunan jaringan transmisi . seperti daya dukung tanah. kebisingan. * Struktur bangunan bertingkat tinggi dan basement menyebabkan masalah dewatering dan gangguan tiangtiang pancang terhadap akuifer sumber air sekitar.Luas lahan . Pusat Perdagangan/ perbelanjaan relatif terkonsentrasi . Batubara/gambut b. 14 > 5 ha > 10.000 ton/th (ROM) > 150. ekologi dan hidrologi. tingkat kepadatan bangunan per hektar.Luas layanan b. penambangan dan pemurnian Semua besaran 151 . Bahan galian radioaktif.000 m2 15 Pembangunan kawasan permukiman untuk pemindahan penduduk/ transmigrasi: . polusi udara. dll.000 orang.Panjang Pengambilan air dari danau.Jumlah penduduk yang dipindahkan . dll) * KDB (koefisien dasar bangunan) dan KLB (koefisien luas bangunan) * Jumlah dan jenis pohon yang mungkin hilang Khusus bagi pusat perdagangan/perbelanjaan relatif terkonsentrasi dengan luas tersebut diperkirakan akan menimbulkan dampak penting: * Konflik sosial akibat pembebasan lahan (umumnya berlokasi dekat pusat kota yang memiliki kepadatan tinggi). * Produksi sampah. termasuk pengolahan. * Bangkitan pergerakan dan kebutuhan parkir pengunjung. Kesenian. No A 1 Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral Skala/Besaran * > 200 ha > 50 ha (kumulatif/tahun) * Alasan Ilmiah Khusus Dampak penting terhadap lingkungan antara lain: merubah bentang alam.000 m3/th (ROM) Semua besaran Sampai saat ini bahan radioaktif digunakan sebagai bahan bakar reaktor nuklir maupun senjata nuklir. Bijih Sekunder/Endapan Alluvial d. * Daya dukung lahan. Olahraga.13 . Bijih Primer c. kapasitas resapan air tanah. * Timah hitam (Pb) merupakan logam berat yang termasuk bahan berbahaya dan beracun (B3) yang mudah terurai. Bahan galian bukan logam atau bahan galian golongan C e. Tempat Ibadah. * Bangkitan pergerakan (traffic) dan kebutuhan permukiman dari tenaga kerja yang besar. mata air permukaan.Atau luas lahan > 200 KK > 100 ha J. kebisingan. Setara kebutuhan kota sedang. Setara kebutuhan air bersih 200. Jenis Kegiatan PERTAMBANGAN UMUM Luas perizinan (KP) Atau luas daerah terbuka untuk pertambangan *) *) Untuk menghindari bukaan lahan terlalu luas Tahap eksploitasi produksi: a.Debit pengambilan Pembangunan Pusat Perkantoran. keterkaitannya dengan masalah pertahanan dan keamanan menjadi alasan mengapa kegiatan ini wajib dilengkapi AMDAL untuk semua besaran. sifat mudah terurai tersebut menyebabkan Pb mudah tersedia secara biologis ( bioavailable). Lama kegiatan juga akan memberikan dampak penting terhadap kualitas udara.Atau bangunan > 500 ha > 10 km * * > 250 I/dt Besaran diperhitungkan berdasarkan: * Pembebasan lahan * Daya dukung lahan * Tingkat kebutuhan air sehari-hari * Limbah yang dihasilkan * Efek pembangunan terhadap lingkungan sekitar (getaran. selain dampak penting yang dapat ditimbulkan. serta dampak dari limbah cair yang dihasilkan. f. * Tingkat kebutuhan air. penambangan dan pemurnian 2. > 250. Pendidikan. Oleh sebab itu. sungai. Berpotensi menimbulkan dampak yang disebabkan oleh: * Pembebasan lahan. * Dalam lingkungan perairan. getaran apabila menggunakan peledak. Bahan galian timbal. termasuk pengolahan.000 ton/th (ROM) > 250.

akan mengakibatkan gelombang banjir (flood surge) yang sangat potensial untuk merusak lingkungan di bagian hilirnya. * Pada skala ini dibutuhkan spesifikasi khusus baik bagi material dan desain konstruksinya. Memerlukan lokasi khusus dan berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. terutama pada saat pembebasan lahan dan pemindahan penduduk. Biomassa dan Gambut) C.Atau aliran langsung (kapasitas daya) > 15 m > 200 ha > 50 MW 5. ekosistem. ekonomi dan budaya.000 BOPD a. terutama pada kualitas udara (emisi. Pencemaran udara. terutama pada pembebasan lahan. . Pencemaran udara. air dan tanah. MINYAK DAN GAS BUMI Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di darat > 5. Melakukan Submarine Tailing Disposal Semua besaran 5. Keresahan masyarakat karena gangguan kesehatan akibat transmisi * Aspek sosial. * Aspek flora fauna. * 2. Potensi ledakan. Pertimbangan ekonomis. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Potensi ledakan. Pertimbangan ekonomis. Potensi ledakan.3. ³ 10 MW Angin. 1. . * Aspek sosial. Pembangunan PLTD/PLTG/PLTU/ PLTGU > 100 MW 3. air dan tanah. ekonomi dan budaya terutama pada pembebasan lahan dan keresahan masyarakat Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik kimia. Berpotensi menimbulkan dampak pada: . terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. * Dampak pada hidrologi (kapasitas daya). Pencemaran udara. air tanah dan udara. Tambang di laut Semua besaran 4. Pembangunan PLTA dengan: . B. * Kegagalan bendungan (dam break). * Dampak kebisingan. Lapangan gas > 30 MMSCFD 2. Pertimbangan ekonomis. Eksploitasi dan pengembangan Uap Panas Bumi > 55 MW dan atau Pembangunan Panas Bumi 4.Atau luas genangan . ekonomi dan budaya. Berpotensi menimbulkan dampak pada: * Aspek fisik-kimia.Aspek sosial. Lapangan minyak b. Menggunakan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang berpotensi menimbulkan pencemaran air permukaan. ekonomi dan budaya. sehingga berpotensi menimbulkan dampak. * * * * * * * * * * * * * * Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran.Aspek flora fauna. Melakukan pengolahan bijih dengan proses Semua besaran sianidasi KETENAGALISTRIKAN > 150 KV Pembangunan jaringan transmisi Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan batimetri. air. * Dampak visual (pandang). terutama pada pembebasan lahan.Aspek fisik-kimia. Perubahan Ekosistem laut.Tinggi bendung . * Pada skala ini diperlukan quarry/burrow area yang besar. terutama pada kualitas udara (bau dan kebisingan) dan kualitas air. Potensi kerusakan ekosistem. * Membutuhkan areal yang sangat luas. * Khusus penggunaan gambut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap ekosistem gambut. * Termasuk dalam kategori “large dam” (bendungan besar). Eksploitasi Migas dan Pengembangan Produksi di Semua besaran laut 152 . 1. * Aspek sosial. Potensi menimbulkan limbah B3 dari lumpur pengeboran. Pembangunan pusat listrik dari jenis lain (Surya. limbah bahang dll) serta air tanah. ekosistem. mengganggu alur pelayaran dan proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial. mengganggu proses-proses alamiah di daerah pantai termasuk menurunnya produktivitas kawasan yang dapat menimbulkan dampak sosial dan gangguan kesehatan. ambient dan kebisingan) dan kualitas air (ceceran minyak pelumas.

Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya apabila melalui daerah pemukiman penduduk. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Membutuhkan area yang cukup luas. Merupakan industri strategis. Membutuhkan area yang cukup luas. Berpotensi menghasilkan limbah gas. hidrologi. pembebasan lahan. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi.000 BOPD 6. berpotensi menghasilkan limbah gas H2S Potensi konflik sosial. serta kebutuhan air yang relatif besar. Di laut Semua besaran * * * * 4. Berpotensi menimbulkan dampak dari penggunaan pestisida/ herbisida. Pembangunan kilang minyak > 10. Ada potensi perambahan ROW oleh kegiatan atau aktifitas penduduk. bentang alam dan potensi konflik sosial. penambangan pasir. Merupakan industri strategis. 1. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. No 1 2 Jenis Kegiatan Taman Rekreasi Kawasan Pariwisata 3 4 Hotel: Jumlah kamar Atau luas bangunan Lapangan golf (tidak termasuk driving range) > 200 unit > 5 ha Semua besaran 153 . limpasan air permukaan (run off). Potensi konflik sosial. Penyiapan area konstruksi dapat menimbulkan gangguan terhadap daerah sensitif. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi.Atau diameter pipa * * > 50 km > 20 inci * * b. Berpotensi menimbulkan dampak dari kegiatan laundry.000 ton/th D. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. dan sampah. Khusus LNG. GEOLOGI TATA LINGKUNGAN Pengambilan air bawah tanah (sumur tanah dangkal. Pengoperasian pipa rawan terhadap gangguan aktifitas lalu lintas kapal buang sauh. bangkitan lalu lintas dan sampah. Kilang minyak pelumas bekas (termasuk fasilitas penunjang) > 10. Skala/Besaran > 100 ha Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Berpotensi menimbulkan dampak berupa gangguan lalu lintas. padat dan cair yang cukup besar. Bidang Pariwisata Pada umumnya dampak penting yang ditimbulkan adalah gangguan terhadap ekosistem. Potensi intrusi air laut. Pelaksanaan konstruksi dapat meningkatkan erosi tanah. Tekanan operasi pipa cukup tinggi sehingga berbahaya terhadap kegiatan/aktifitas nelayan. Transmisi Migas (tidak termasuk pemipaan di dalam lapangan) a.Panjang . Proses pengolahan menggunakan bahan yang berpotensi menghasilkan limbah yang bersifat turunan. gangguan lalu lintas. aksesibilitas lalu lintas. Potensi dampak dari sarana penunjang khusus. Berpotensi menimbulkan dampak berupa perubahan fungsi lahan/kawasan. Berpotensi mengubah ekosistem yang lebih luas. Pemanfaatan lahan yang tumpang tindih dengan aktifitas nelayan dianggap cukup luas lintas kabupaten/kota juga dapat mengganggu aktifitas nelayan. pembebasan lahan. K.3. Berpotensi menghasilkan limbah gas. atau dari 5 * sumur dalam area <10 ha) Pembebasan lahan cukup luas (dapat lintas kabupaten/ kota). Merupakan industri strategis. Potensi perubahan dan gangguan sistem geohidrologi. Potensi konflik sosial. dan sampah. Di darat . Membutuhkan area yang cukup luas. padat dan cair yang cukup besar. sumur tanah dalam dan mata air) * * > 50 l/dt (dari 1 * sumur. Berpotensi menghasilkan limbah gas. tambang pasir dan alur pelayaran. kebutuhan air yang besar. padat dan cair yang cukup besar. Pembangunan kilang: LPG LNG > 50 MMSCFD > 550 MMSCFD * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * 5.

* Keamanan konstruksi. Membutuhkan air pendingin yang telah didemineralisasi dalam kolam beton. * Dampak radiasi pada tahap decomisioning (pasca operasi). penyimpanan dan pembuangan bahan baku dan sisa-sisa bahan radioaktif. Apabila air pendingin berkurang volumenya akan menyebabkan akumulasi panas di tempat penyimpanan sumber. c. Bidang Rekayasa Genetika Kegiatan-kegiatan yang menggunakan hasil rekayasa kesehatan manusia dan keseimbangan ekosistem genetika berpotensi menimbulkan dampak terhadap Salinan sesuai dengan aslinya Skala/Besaran Semua besaran Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1. * Transportasi. menetap dan mengelola berbagai jenis dan sifat limbah B3 (tidak termasuk kegiatan skala kecil seperti pengumpulan minyak pelumas bekas. Proses produksi menggunakan thorium (Th) yang memiliki radiotoksisitas yang sangat tinggi. Skala/Besaran Alasan Ilmiah Khusus No 1 Jenis Kegiatan Pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir: a. Dr. Pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor a. * Beresiko tinggi. kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan dan penggunaan teknologi nuklir selalu memiliki potensi dampak dan resiko radiasi.000 TBq (100. Skala/Besaran Semua kegiatan yang bersifat jasa pelayanan. Kegiatan-kegiatan ini juga secara ketat diikat dengan perjanjian internasional (konvensi Basel) yang mengharuskan pengendalian dan penanganan yang sangat seksama dan terkontrol. pemanfaatan timah dan “ flux solder”). Jenis Kegiatan Introduksi jenis-jenis tanaman. dan jasad renik produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Budidaya produk bioteknologi hasil rekayasa genetika Semua besaran Lihat penjelasan diatas Menteri Negara Lingkungan Hidup. d. Produksi kaos lampu Semua instalasi Semua instalasi Secara teknoekonomik. pemanfaatan. fabrikasi bahan bakar nuklir selalu memiliki kapasitas minimal 50-100 elemen bakar/ tahun. pengolahan dan/atau penimbunan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) sebagai kegiatan utama N. Bidang Pengembangan Nuklir Secara umum. 2. 2. Semua tahapan dalam proses berpotensi mencemari dan membahayakan lingkungan dalam bentuk radiasi. Produksi Radioisotop f. Reaktor Penelitian b.L. Alasan Ilmiah Khusus Lihat penjelasan diatas No 1 Jenis Kegiatan Pengumpulan. hewan. Bidang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) Kegiatan yang menghasilkan limbah B3 berpotensi menimbulkan dampak terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Reaktor Daya (PLTN) Daya > 100 KWt Semua instalasi Potensi dampak pengoperasian reaktor penelitian dengan daya <100 KWt terbatas pada lokasi reaktor. Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. Pengolahan dan pemurnian uranium Pengolahan limbah radioaktif Pembangunan Iradiator (Kategori II s/d IV) e.000 Ci) b. Persoalan kekhawatiran masyarakat yang selalu muncul terhadap kegiatan-kegiatan ini juga menyebabkan kecenderungan terjadinya dampak sosial. A. minyak kotor dan “slop oil”. terutama kegiatan yang dipastikan akan mengkonsentrasikan limbah B3 dalam jumlah besar sebagaimana tercantum dalam tabel. komersial. Akumulasi panas memungkinkan terjadinya kebocoran radiasi ke lingkungan. ttd. Sonny Keraf 154 . Debu radioaktif yang terlepas akan terakumulasi dalam berbagai komponen ekosistem. Fabrikasi bahan bakar nuklir Produksi > 50 elemen bakar/ tahun Produksi > 100 ton yellow cake/tahun Semua instalasi Aktivitas sumber > 37. M.

Daftar Singkatan: m m2 m3 km km2 ha l dt Kw Kwh KV Mw Mwh Kcal TBq Ci BOPD MMSCFD kubik per hari LWS DWT KK TK KP ROM LPG LNG ROW BOD COD DO TSS TDS = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = meter meter persegi meter kubik kilometer kilometer persegi hektar liter detik kilowatt kilowatt hour kilovolt megawatt megawatt hour kilocalorie Terra Becquerel Curie barrel oil per day = minyak barrel per hari million metric square cubic feet per day = juta metrik persegi kaki low water sea = di bawah permukaan laut dead weight tonnage = bobot mati kepala keluarga tenaga kerja kuasa pertambangan raw of material = bahan mentah Liquiefied Petroleum Gas = gas minyak bumi yang dicairkan Liquiefied Natural Gas = gas alam yang dicairkan Right of way = daerah milik jalan (damija) biological oxygen demand = kebutuhan oksigen biologis chemical oxygen demand = kebutuhan oksigen kimiawi dissolved oxygen = oksigen terlarut total suspended solid = total padatan tersuspensi total dissolved solid = total padatan terlarut . 155 .

Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 04 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Kedua Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. 1. Undang-ungang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839).H. Pertama Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. ttd. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU. Dr. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional. Mengingat : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 21 Pebruari 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). S. 3. 4. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan Permukiman Terpadu. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali. ttd Najib Dahlan. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. A. 156 .

ini berarti bahwa perkembangan kota akan banyak dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global. mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan teknologi yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik. Pembangunan kota cenderung berskala mega atau super dengan intensitas yang tinggi. Ciri Keempat. Dalam banyak hal keadaan ini menghabiskan sawah dan tambak (pantai) yang sudah didukung oleh prasarana dasar. perkembangan kota di Indonesia menunjukkan lima ciri pokok yang menonjol. penyusunan AMDAL bagi berbagai kegiatan (proyek) pengembangan pemukiman terpadu. perubahan iklim mikro. dan lahan yang memiliki fungsi lindung. PENJELASAN UMUM 1. Pertama. Proses yang terdiri dari proses identifikasi. maka penyusunan studi tersebut di dalam merancang permukiman terpadu menjadi sangat strategis. Aglomerasi daerah urban menjadi ciri yang makin menonjol. pembangunan yang terkonsentrasi ini akan menimbulkan masalah lingkungan yang juga intensif. Sedang disamping kebutuhan prasarana dan sarana penunjang. Pertimbangan pembangunan kota sudah terlalu didominasi oleh pertimbangan manfaat ekonomi saja dengan mendudukkan pertimbangan-pertimbangan lain hanya menjadi pelengkap. Sejak memasuki Pembangunan Jangka Panjang Kedua. kota di Indonesia memainkan peran yang makin penting.LATAR BELAKANG Pengembangan wilayah berdasarkan konsep permukiman terpadu. sehingga menyebabkan kerusakan lingkungan secara makro. prakiraan dan evaluasi dampak. Berdasarkan Pusat Data Properti Indonesia Tahun 1995 diketahui. jauh diatas rata-rata nasional maupun propinsi. dan flora fauna yang berfungsi sebagai keseimbangan ekosistem. kota makin terlibat di dalam ekonomi global. Oleh karena. pencemaran dan penurunan potensi lahan. Dengan dasar ciri dinamika sistem lingkungan yang bersifat “site specific”. Pengembangan permukiman terpadu di Indonesia dikhawatirkan mengeksploitasi lahan-lahan agraris. pada tahun 2010 diperkirakan paling sedikit setengah dari kependudukan Indonesia akan berdiam di kota dan kecenderungan ini tidak akan berbalik kembali. maka jenis dan besaran dampak yang ditimbulkan oleh pengembangan permukiman terpadu diperkirakan akan berbeda dari satu ekosistem ke ekosistem lainnya. pemasok air baku untuk kebutuhan penyediaan air minum. apabila dampak yang ditimbulkan tersebut tidak diantisipasi dan dikelola secara optimal dikhawatirkan hal ini akan menjadi unsur pembangunan sosial ekonomi yang mengabaikan kemampuan sistem alam (ekosistem). 3) Memberikan panduan dan pemahaman kepada penyusun Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) kegiatan pengembangan permukiman terpadu. yaitu pembangunan kawasan permukiman beserta fasilitas penunjangnya terus meningkat. Kedua. Oleh karena proses tersebut dapat dicapai dengan mengorbankan fungsi ekosistem seperti hilangnya kesuburan tanah. telah menghadapi dilema. Ketiga Perkembangan ekonomi kota terus tinggi. pembangunan kota makin menunjukkan sifatnya sebagai komoditi yang selalu mengejar nilai tambah. Hal yang kemudian perlu diingat adalah bahwa mutu yang baik dari studi AMDAL sangat bergantung pada kemampuan tim studi melakukan impact assesment. serta masyarakat di sekitar kawasan permukiman terpadu. secara mikro ada peningkatan kualitas lingkungan akibat tertata dengan baik. Mengingat salah satu cara sistematis untuk memasukkan pertimbangan ekologis dan kepentingan pembangungan sosial ekonomi adalah melalui Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL).2 MAKSUD DAN TUJUAN Dokumen ini dimaksudkan sebagai panduan untuk memudahkan. Persoalannya kemudian rasional ekonomi yang menganggap bahwa di satu sisi lahan ini akan sangat berguna dan tinggi nilainya bila dikembangkan sebagai perumahan kelas menengah ke atas.Ini menimbulkan ancaman yang makin berat terhadap keberlanjutan ekosistem (sosial dan alam) kota yang sudah makin rapuh. Oleh karena itu. 1. Bangunan lama terlalu mudah dianggap tidak efisien dan oleh karena itu perlu diremajakan yang sekaligus akan menghilangkan nilai sejarah dan kekhasan kota yang bersangkutan.1. 2) Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan permukiman terpadu sebagai penyangga kehidupan yang bermakna penting bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan permukiman terpadu khususnya. Di samping itu. 157 .LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 4 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000 PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN PERMUKIMAN TERPADU BAB I. bahwa lahan yang dihabiskan untuk kegiatan tersebut makin luas. pengendali banjir. peran kota lama makin nampak terancam oleh pertimbangan kepentingan ekonomi yang sempit. Atas dasar analisis yang baik tentang keterkaitan antara jenis dan tahapan kegiatan pembangunan permukiman terpadu dengan karakteristik dari ekosistem yang diperkirakan akan menerima dampak ini kemudian segenap dampak diantisipasi dan dikelola secara optimal. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan terpadu ini diharapkan dapat : 1) Mengendalikan cara pembukaan lahan di kawasan pengembangan permukiman terpadu sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya. yang didasari dengan pendekatan terhadap pembinaan terhadap struktur dan fungsi ekosistem.

penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN LINGKUNGAN Struktur Ekosistem/Komponen Lingkungan : · Fisik – Kimia · Biologi (Flora dan Fauna) · Sosek/Sosbud/Kesmas Fungsi ekosistem (Lahan Basah. Kegiatan Permukiman Terpadu PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL PENYUSUNAN ANDAL PENYUSUNAN RKL DAN RPL KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1. sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses penyusunan AMDAL pembangunan permukiman terpadu seperti pada Gambar 1. maka segenap metode yang disarankan dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selain itu. Kemudian diikuti oleh panduan proses penyusunan Kerangka Acuan ANDAL kawasan permukiman terpadu (Bab IV) yang menjelaskan mengenai proses pelingkupan. Kegiatan Pra-Konstruksi . Proses tentang penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) disajikan dalam Bab V. Oleh karena itu. tetapi akan berkisar dari 150 orang per hektar bagi permukiman yang berada di dalam kawasan yang mempunyai ciri lingkungan yang kuat (semi urban) sampai yang mencapai kepadatan hingga 350 orang per hektar bagi yang sepenuhnya merupakan permukiman urban.1 Pendekatan sistem dalam penyusunan AMDAL pengembangan pemukiman terpadu BAB II. Secara skematis. Kepadatan penduduk dan permukiman terpadu belum ditetapkan secara pasti. dan kegiatan permukiman terpadu kaitannya dengan pembangunan regional (Bab III). PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi. panduan untuk penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan Rencana Pemantauan Hidup (RPL) disajikan pada Bab VI. Pegunungan) STRUKTUR DAN FUNGSI KOMPONEN KEGIATAN . Mengingat Peraturan Pemerintah pelaksana undang-undang tersebut hingga kini belum terbit. Walaupun hingga kini belum ada ketentuan jelas. Informasi ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat teridentifikasi sedini mungkin. panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan konsep pembangunan permukiman terpadu (Bab II). diperlukan pengetahuan tentang struktur dan ekosistem lahan basah dan lahan kering di kawasan pembangunan permukiman terpadu yang terkena dampak. juga menjelaskan komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan. Angka luas ini kelak dapat disesuaikan mengikuti peraturan yang berlaku. permukiman terpadu secara cermat. KONSEP PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU 2. Lahan Kering. Dengan sendirinya kawasan ini merupakan kawasan yang utuh baik langsung menempel pada kota yang ada maupun masih ada jarak yang berupa ruang terbuka atau tidak. Sebagai suatu panduan. Dalam pembahasan konsep undang-undang ini disebutkan bahwa konsep kawasan siap bangunan atau kasiba (Pasal 18 ayat 1) terdiri dari beberapa lingkungan perumahan (Pasal 18 ayat 2 b). identifikasi dampak potensial. Kegiatan Konstruksi . maka dari beberapa diskusi luas Lisiba perumahan sebesar 200 hektar sedangkan kasiba mencapai sampai 1000 hektar.1 PRINSIP DASAR PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU BERWAWASAN LINGKUNGAN Undang-undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. khususnya Pasal 21 telah menetapkan penyelenggaraan lingkungan siap bangun (Lisiba). namun permukiman terpadu utamanya adalah sebuah permukiman yang menurut UU No 4/ 1992 tersebut (Pasal 1) adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung.1.1. baik yang berupa kawasan perkotaan maupun pedesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan dan sarana lingkungan yang terstruktur. sampai pada pemusatan dampak penting dan issue pokok lingkungan. memprakirakan dan mengevaluasi dampak lingkungan akibat kegiatan pengembangan. Selanjutnya. Jadi permukiman terpadu perlu 158 .3.

Bila pengurugan diselesaikan dalam waktu tiga bulan. dan hal yang mendukung untuk memantapkan dan mengembangkan bagi dampak yang positif. (2) Penggunaan energi yang minimal Baik rencana makro maupun mikro perumahan dan permukiman harus memanfaatkan sistem iklim yang ada (secara pasif) dan perancangan bangunan yang memanfaatkan prinsip yang sama ditambah dengan sistem radian yang dapat meningkatkan efektifitasnya dibandingkan dengan sistem pasif. Kaidah dan pola dari warisan budaya dan pola hidup ini harus menjadi dasar awal untuk dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan baru yang diciptakan oleh pembangunan yang maju dan berhasil yang merupakan proses berlanjut. Ada 5 (lima) prinsip utama dari konsep perumahan dan permukiman yang berwawasan lingkungan yang harus dikembangkan sesuai kondisi awal yang ada. utamanya yang berkaitan dengan pengadaan bahan urugan dan bahan bangunan konvensional seperti pasir. Tidak semua dampak bersifat merugikan. Limbah ini harus terkelola dengan baik dan jelas dengan prinsip produksi bersih. Di samping itu. Perubahan yang dilakukan terhadap unsur ekosistem karena adanya pembangunan gedung atau prasarananya harus diimbangi dengan peningkatan kemampuan dari unsur ekosistem yang tidak terusik. sejauh ini yang diperhatikan adalah dampak pasca konstruksi dalam bentuk kemacetan lalu lintas. kayu. Kawasan yang luasnya sekitar 2000 hektar selesai dibangun dalam waktu sekitar 20 tahun yang dikerjakan oleh lebih sepuluh pembangun perumahan (developer) dibandingkan dengan di Jakarta yang hanya dikerjakan oleh sebuah perusahaan saja. Di samping itu. Bumi Serpong Damai (BSD) selama lebih lima belas tahun eksistensinya. Fungsi terakhir ini tidak pernah menjadi pertimbangan bagi pertumbuhan permukiman terpadu di Indonesia. Darmo Satelit. Sekarang para pengembang menawarkan permukiman terpadu yang berwawasan lingkungan. Depok dan sebagainya.000 trip truk besar dengan nilai total sekitar Rp. budaya dan berbagai pemborosan. Namun hingga kini konsep perumahan atau permukiman yang bersahabat dengan lingkungan belum pernah dirumuskan secara jelas. seperti perubahan nilai. terhadap permukiman terpadu seperti Kebayoran Baru. bahan bakar fosil dan sebagainya. dapur. Kalau 2400 truk tersebut digandeng maka panjangnya 159 . Sedangkan terhadap dampak yang dualistis seperti naiknya harga lahan. Di samping dampak yang bersifat langsung seperti diuraikan di atas. Dalam perkembangan proses ini selalu akan terjadi pergantian pemukim baik secara alami melalui proses lahir dan mati. perlu dicari jalan untuk membuatnya tetap serasi dan seimbang dalam arti yang seluas-luasnya. 2. banyak dampak yang berskala regional yang tidak langsung nampak. (5) Peningkatan pemahaman konsep lingkungan Permukiman terbentuk melalui proses yang berlangsung terus. di samping sebagai kawasan perumahan dapat pula berfungsi sebagai wilayah untuk menunjang pertumbuhan ekonomi regional. perlu ditambah unsur ekosistem baik secara kuantitatif maupun kualitatif yang memperkaya peran ekosistem secara keseluruhan. dapat dibayangkan dampak lalu lintas yang ditimbulkannya. Walaupun bila dibandingkan dengan Kebayoran Baru atau Klender dan Depok. mutu kehidupan yang lebih baik dan sebagainya. pada tahap konstruksi timbul dampak yang dualistis. Kini bagian ikutannya yang mulai dibangun oleh Perum Perumnas bagi RS dan RSS sebanyak 3000-4000 unit rumah tinggal yang akan selesai tahun 1996. 65 milyar. Hal ini memang menjadi kesulitan tersendiri sebab dampak yang hendak dikelola sangat tergantung dari waktu dan tempat. yaitu: (1) Mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada Termasuk di dalamnya adalah berlanjutnya ekosistem yang ada. Masalahnya pengembangan permukiman terpadu sering sulit ditentukan skala waktu rampungnya proses pembangunan. Kawasan Driyorejo di Barat Daya Surabaya mengalami tahap persiapan lebih dari dua puluh tahun. positif dan negatif. maka secara “normal” akan dibutuhkan sebanyak 215. Banyak faktor yang mempengaruhi kecepatan proses pembangunan ini. (3) Pengendalian limbah dan pencemaran Limbah yang harus dikendalikan mulai dari yang dihasilkan oleh jamban dan kamar mandi.2 RENCANA KEGIATAN PERMUKIMAN TERPADU KAITANNYA DENGAN PEMBANGUNAN REGIONAL Sesuai dengan uraian di atas. maupun karena mobilitas penduduk antara yang datang dan pergi. Klender. Permukiman terpadu tumbuh. Dapat dibayangkan pemborosan energi dan waktu yang ditimbulkan hanya oleh satu dampak ini di samping pencemaran terhadap udara dan rusaknya ekosistem di kawasan antara permukiman terpadu dan kota lama yang nilainya sulit diukur. batu bata. tiap hari akan terjadi perjalanan truk sebanyak 2400 atau tiap hari kerja (delapan jam) akan lewat 300 truk. cara membangun dan rancangan bentuk dapat berpengaruh terhadap kebutuhan energi baik jangka pendek maupun panjang.perencanaan pembangunan dan tata ruang yang lengkap dan sah serta dilengkapi dengan perumahan serta dukungan prasarana dan sarana yang menjamin penyelenggaraan perumahan serta kebutuhan hidup dan lapangan kerja yang berskala bulanan. Di Jakarta keadaannya paling parah. Pemilihan bahan bangunan. (4) Menjaga kelanjutan sistem sosial-budaya lokal Gaya hidup yang berlaku sudah secara mantap diterjemahkan ke dalam berbagai tatanan dan bentuk bangunan serta peralatan yang dipakai sehari-hari. Kawasan Darmo Satelit di Surabaya ternyata berlangsung lebih cepat sebab kawasan ini boleh dikatakan adalah permukiman terpadu pertama di Surabaya. baru sekitar 200 hektar dikatakan telah “selesai” dibangun. Bila ada sebuah kawasan seluas seratus hektar. sebab ada cukup banyak dampak yang bersifat menguntungkan seperti terciptanya lapangan kerja baru. Berbagai dampak ini harus diketahui setepat dan sedini mungkin untuk dirancang cara-cara penanganan dan penanggulangan terhadap dampak yang merugikan. dari Klender ke pusat kota pada hari dan jam kerja biasanya membutuhkan waktu paling sedikit dua jam untuk pergi atau pulang. Dalam keadaan sepi (seperti antara Natal dan Tahun Baru) waktu tempuh nyata paling lama hanya empat puluh menit atau sepertiga waktu “normal”. dan sebagainya. rumah sampai akibat dari pemakaian berbagai peralatan listrik.

dan di sisi lain permukiman terpadu pun dapat tetap berkembang dalam mendukung pengembangan regional yang telah direncanakan sesuai dengan RUTRD. 2. Dengan hadirnya kawasan permukiman terpadu ini diharapkan daerah disekitarnya juga dapat berkembang dan memperoleh dampak positifnya. rencana kebijaksanaan dasar daerah adalah mengembangkan daerah wisata di daerah pegunungan. Kelembagaan yang berkembang dengan adanya permukiman terpadu. kelembagaan perbankan. Menurut Soemarwoto (1985). Misalnya didaerah Pasuruan Jawa Timur. fungsi lindung dapat merupakan cagar alam hutan lindung suaka marga satwa. misalnya: pengembangan wisata di kawasan lindung harus diatur agar tidak berlawanan dengan tujuan perlindungan. Daerah sekitar diharapkan juga dapat memasok berbagai jenis kebutuhan yang diperlukan permukiman terpadu. dan kegiatan-kegiatan pendidikan yang dibangun dalam permukiman terpadu. Permukiman terpadu yang dibangun harus dapat tetap melestarikan fungsi lindung dari desa-desa atau kawasan lindung di sekitarnya. Maka terjadilah hubungan sosial antar permukiman terpadu dengan daerah sekitarnya. kawasan perumahan yang dikembangkan di Surabaya mencapai sekitar 2000 hektar dan tanah urug umumnya diambil dari Porong. jaringan listrik. Dalam hal perekonomian.2. batas-batas ini dapat menghindari sengketa dan dapat menjadi pegangan bagi pengelola kawasan lindung. karena itu harus jelas. listrik. misalnya lembaga pemerintahan. Pembangunan ini akan mendukung pengembangan regional Jawa Timur di mana kota-kota di sekitar akan ikut memanfaatkan keberadaan kota Taman Dayu.2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman yang dibangun harus dapat berperan sebagai pendukung perkembangan kota-kota lain di sekitarnya. yaitu Perkampungan Serbaguna Tarnan Dayu. Selain itu. Hal ini sangat penting karena pola kebijaksanaan dasar daerah merupakan arahan yang harus dianut. swasta. antara lain adalah jaringan transportasi. 160 .2 Kaitan permukiman terpadu terhadap pusat pertumbuhan lainnya Permukiman terpadu yang dibangun dan merupakan pusat pertumbuhan baru. namun merupakan daerah yang dilindungi. dan lain-lain. telepon dan air bersih. perindustrian dan lain-lain sesuai dengan kebutuhan dan ciri khas permukiman terpadu. Daerah untuk wisata yang intensif harus dibedakan dari daerah wisata terbatas. baik permukiman. hutan buru dan taman laut. Kelembagaan yang harus ada menyertai dibangunnya permukiman terpadu adalah kelembagaan pemerintahan. Permukiman terpadu beserta kota-kota pertumbuhan di sekitarnya dapat bersama-sama dalam membangun perkembangan regionalnya. Jaringan infra struktur ini. lembaga swasta. dengan dibangunnya permukiman terpadu. sehingga penduduk dari daerah sekitar dapat memperoleh lapangan kerja baru.1 Kaitan permukiman terpadu terhadap pengembangan regional Salah satu dasar yang harus dijadikan pertimbangan dalam pengembangan permukiman terpadu adalah bahwa kegiatan permukiman terpadu harus dapat mendukung kebijaksanaan dasar daerah mengenai pelestarian fungsi lindung dan keseimbangan budidaya daerah setempat. seperti jaringan transportasi. Kegiatan yang mendukung kehidupan manusia dalam suatu permukiman terpadu dapat diletakkan pada daerah budidaya yang telah dituangkan dalam pola kebijaksanaan dasar daerah. 2. Namun fungsi daerah Taman Dayu untuk melindungi hidrologi harus tetap terjaga. kegiatan sosial yang ditawarkan dengan adanya fasilitas-fasilitas sosial di permukiman terpadu. penduduk dari daerah sekitar dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang ditawarkan oleh permukiman terpadu. agar fungsi lindung tetap terjaga. restoran kolam renang. karena dapat pula dimanfaatkan oleh daerah-daerah lain di sekitar permukiman terpadu. Hutan wisata berfungsi sebagai tempat wisata. misal desa-desa di sekitar dapat memanfaatkan kebutuhan tenaga kerja. fungsi lindung dan keseimbangan budidaya suatu daerah akan tetap terjaga. demikian juga dengan kegiatan-kegiatan sosial dan budaya. Dalam daerah wisata yang intensif dapat dibangun fasilitas-fasilitas wisata seperti hotel. permukiman terpadu dapat menunjang tumbuhnya perekonomian baru yang dampaknya dapat dirasakan secara regional. Kelembagaan yang dibentuk ini akan saling berhubungan dengan kelembagaan-kelembagaan lain yang telah ada dalam kota-kota pertumbuhan lain di sekitar permukiman terpadu untuk melayani seluruh penduduk serta untuk mengelola permukiman terpadu. akan memudahkan dan mempercepat hubungan antara permukiman terpadu dengan kota-kota pertumbuhan di sekitarnya. dapat terpacu karena dibangunnya jaringan infrastruktur pendukung.2. Berkembangnya berbagai institusi ini. Misalnya hutan lindung dan cagar alam berfungsi untuk melindungi hidrologi. dan kepolisian. diharapkan dapat berfungsi dengan baik dalam mengatur berputarnya roda pemerintahan suatu permukiman terpadu. Perkembangan regional. saluran air buangan dan pengeringan (drainase) serta tempattempat pembuangan sampah. Untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Padahal saat ini. bahwa setiap pembangunan perumahan dengan pembukaan lahan seluas 200 hektar perlu melakukan kajian dampak regional yang dilakukan secara teliti. lembaga perbankan. sekitar 60 kilometer selatan Surabaya. fungsi-fungsi lindung ini harus dijaga dan jangan sampai menjadi fungsi yang lain. fasilitas pendidikan dan fasilitas wisata. Kegiatan-kegiatan perekonomian dapat sebagian beralih ke permukiman terpadu. lapangan golf. Penduduk di permukiman terpadu dan kota-kota pertumbuhan lain dapat memanfaatkan kegiatan perekonomian. Dari uraian di atas terlihat. hendaknya dapat menimbulkan dampak positif terhadap daerah di sekitarnya. telepon. hutan wisata. 2. baik di peta maupun di lapangan. air bersih.sekitar 20 kilometer. lembaga pendidikan. Batasan kawasan lindung akan merupakan hal yang sangat penting.2. dan terciptalah hubungan perekonomian dengan permukiman terpadu. fasilitas pertokoan dan rekreasi. Dengan demikian pelestarian. hendaknya dapat mengurangi tekanan-tekanan yang telah ada yang pada saat itu harus diemban oleh kota-kota pertumbuhan di sekitarnya.

air bersih. Tetapi belum tentu suatu permukiman terpadu akan mempunyai kegiatan pariwisata atau industri atau kegiatan pelabuhan. olah raga dan rekreasi. seperti: jaringan listrik. pertokoan. Kriteria-kriteria dimaksud adalah : 2. misalnya ekosistem pegunungan. masing-masing usaha dan/ atau kegiatan dapat dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. Ukuran luas permukiman terpadu dapat berkisar 1 antara 200 sampai lebih dari 5000 ha. atau terletak dalam satu tipe ekosistem. sedangkan skalanya dapat berupa kota kecil. (6) Kegiatan pariwisata. Penciptaan lapangan kerja di sektor non pertanian dalam permukiman terpadu harus mendapatkan perhatian yang serius. terminal kota. jalan kota. Kegiatan-kegiatan yang telah disebutkan di atas banyak yang termasuk dalam daftar wajib AMDAL sebagaimana disebutkan dalam lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan AMDAL. dan tempat pembuangan sampah. Suatu permukiman terpadu akan selalu dilengkapi dengan permukiman sebagai tempat hunian. yang merupakan suatu kesatuan kegiatan dalam permukiman terpadu yang harus disusun AMDALnya. atau mungkin terminal udara dan pelabuhan laut. jaringan pematusan kota. lapangan sepak bola dan seterusnya. lengkap dengan sarana dan prasarana penunjangnya. plaza. renang dan sebagainya yang membutuhkan adanya lapangan golf. kegiatan perdagangan dapat dimiliki oleh pihak lain (swasta) seperti pertokoan. yang menghubungkan permukiman ke tempat-tempat kegiatan lain. ukuran dan skala permukiman terpadu tidak selalu sama. kriteria pemrakarsa. sesuai dengan definisi kota yang biasa dipakai oleh Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dalam menilai kebersihan kota dalam memperoleh Adipura. Misalnya. sepak bola. 2. Permukiman terpadu yang mempunyai kegiatan yang bersifat regional juga dapat terletak dalam suatu gabungan antara ekosistem darat dan ekosistem laut. laboratorium klinis dan lain-lain. (4) Kegiatan transportasi. Misalnya penghuni permukiman akan selalu terkait dengan jalur transportasi. Hal ini hanya mungkin terjadi bila para pemrakarsa permukiman terpadu mempunyai komitmen sosial. sarana sosial. pihak yang berwenang dapat mengatur dan mensyaratkan agar permukiman terpadu yang dibangun akan memberikan dampak positif terhadap kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat desa di sekitarnya. Kota kecil dapat meliputi luas 200 sampai 1000 ha. (7) Kegiatan pendidikan.Kemungkinan penduduk di desa-desa sekitar permukiman terpadu akan berubah pola mata pencahariannya dari sektor agraris ke sektor perkotaan. pergudangan.6. tempat bermain.3 KEGIATAN DALAM PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Kegiatan-kegiatan yang biasa terdapat dalam permukiman terpadu dan keterkaitan antar kegiatan dalam permukiman terpadu antara lain sebagai berikut: (1) Kegiatan kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. sedangkan kegiatan perdagangan lain dapat dimiliki 161 . balai-balai pertemuan. dan kriteria sektor yang berwenang. (2) Kegiatan sosial masyarakat dalam fasilitas-fasilitas sosial yang dibangun taman-taman. pendidikan. misalnya dalam permukiman terpadu.1 Kriteria ekosistem Dalam PP No. hotel. misalnya: jalan tol. 2. wisata air atau wisata alam yang lain.6 KRITERIA PENGEMBANGAN PERMUKIMAN TERPADU Mengacu pada ukuran dan skala permukiman terpadu.5 UKURAN DAN SKALA PERMUKIMAN TERPADU Seperti disebutkan dalam pendahuluan. jalan-jalan lingkungan. kota sedang maupun kota besar. misalnya: pendidikan formal dan informal yang memerlukan gedung-gedung sekolah.4 URAIAN TENTANG KETERKAITAN ANTARA KEGIATAN Kegiatan sentral dalam pengembangan permukiman terpadu adalah kegiatan dalam kawasan permukiman karena dapat terkait dengan kegiatan dalam kota. 2. pariwisata. daerah konservasi dan wisata buatan. misalnya: golf. misalnya kantor polisi atau kemungkinan juga terdapat latihan atau pendidikan untuk angkatan bersenjata tertentu. misalnya: pasar.6. (8) Kegiatan industri kecil maupun besar dengan bangunan industri disertai dengan fasilitas pengolah limbah. maka dalam pengembangan kawasan permukiman terpadu hendaknya mencakup dan mengikuti 3 (tiga) kriteria yaitu: kriteria ekosistem. misalnya: kebun binatang. agar dapat memberikan bantuan mata pencaharian baru bagi penduduk di sekitar permukiman terpadu. apotek. balai pengobatan. 2. atau ekosistem pegunungan dengan ekosistem pantai. pelabuhan. (9) Kegiatan untuk menunjang kesehatan masyarakat yang dilengkapi dengan rumah sakit. (3) Kegiatan perekonomian dan perdagangan. dapat terletak lebih dari satu kesatuan hamparan ekosistem. telepon. industri dan fasilitas kesehatan. (5) Kegiatan olah raga dan rekreasi. Di samping itu. 2. jembatan.2 Kriteria pemrakarsa Dalam kegiatan yang bersifat regional. Dengan demikian maka dalam AMDAL untuk permukiman terpadu akan banyak sekali kegiatan-kegiatan yang saling terkait dengan ukuran dan skala tertentu. seperti kegiatan perdagangan. kota sedang meliputi > 1000 ha sampai 5000 ha dan kota besar meliputi luas > 5000 ha. (10) Kegiatan untuk pengamanan kota dan angkatan bersenjata. 51 Tahun 1993 telah disebutkan bahwa kegiatan yang bersifat regional. Untuk itu keberadaan permukiman terpadu hendaknya juga dapat memberikan jasa dan lapangan kerja bagi penduduk yang berubah mata pencahariannya. tenis.

Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). Penggalian saluran air.1 Identifikasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. Interaksi kelompok (rapat. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan. sekunder.3 Sektor yang berwenang Masing-masing usaha dan/atau kegiatan dalam suatu wilayah yang mempunyai dampak regional seperti permukiman terpadu. instansi yang bertanggung jawab.1. i. Analisis isi (content analysis). Pembangunan lapangan golf. Jadi permukiman terpadu akan selalu ditangani dan dikelola oleh lebih dari satu instansi. pintu pintu air dan kesehatan lingkungan permukiman. dapat dimiliki oleh pihak pemerintah maupun swasta. (2) evaluasi dampak potensial. dan pembangunan jalan lingkungan. 2. iii. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. Pembangunan pasar. Penelaahan pustaka. Pembangunan pergudangan. Pada tahap ini hanya akan diinventarisir dampak yang potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. jalan tol. menjadi kewenangan lebih dari satu instansi yang bertanggung jawab. serta masyarakat (tokoh-tokoh) yang berkepentingan. yang meliputi: a) Kegiatan survei. BNI. BRI.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. peta sistem lahan. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. lokakarya. Matriks interaksi sederhana. Hasil langkah 1 1.oleh pemerintah. BAB III. PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL 3. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. vi. ii. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/1992 tentang Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL untuk informasi yang lebih rinci. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. brainstorming. peta vegetasi. dan telepon. Pembuatan taman kota dan tempat bermain. Demikian juga dengan kawasan wisata yang ada dalam permukiman terpadu. iv. pengerasan.6. Adapun metoda identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Daftar uji sederhana. misalnya: Departemen Pekerjaan Umum akan mengatur dan bertanggung jawab untuk jembatan. Bank Indonesia. dan (3) pemusatan dampak penting. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. pemrakarsa kegiatan. Jadi ada batasan bahwa dalam permukiman terpadu. Departemen Perindustrian akan bertanggung jawab untuk industri-industri kecil maupun besar yang ada dalam kawasan tersebut. 2) Kegiatan konstruksi. 3. Pembangunan perumahan. Diperoleh daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1) Kegiatan pra-konstruksi. dimiliki oleh pemerintah. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. iii. Pemadatan. v. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah-langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. seperti pelabuhan dimiliki oleh Perum Pelabuhan. iii. atau penting tidaknya dampak. ii. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial bagi aktivitas proyek pengembangan permukiman terpadu Langkah 1 Buat daftar rencana usaha dan/atau kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu berikut dengan rencana pembangunannya menurut persebaran ruang dan waktu. iv. Pengalihan aliran air. 162 . Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. b) Kegiatan pembebasan lahan. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. Seperti yang telah disebutkan dalam kajian teori (Bab II) yang berwenang mengatur kegiatan dalam suatu permukiman terpadu akan terdiri lebih dari satu instansi. listrik. dan lain-lain). iv. dan lain sebagainya. Pembuatan tempat pembuangan sampah. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. Pembangunan terminal dan transportasi angkutan. peta tata guna tanah. seperti: peta rencana umum tata ruang daerah. usaha dan/atau kegiatan yang ada dimiliki oleh lebih dari satu pemrakarsa. Pengamatan Lapangan. ii. Pembangunan gedung olah raga.

i) Penunjang kesehatan masyarakat. c) Perekonomian dan perdagangan. . iii. yakni: a) Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut hasil langkah 2 b) Di tingkat regional yang merupakan dampak regional dari pengembangan permukiman terpadu Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen Lingkungan atau struktur ekosistem yang potensial terkena dampak proyek.Hutan rawa bergambut. g) Pendidikan. .Kebun/talun.Kolam budidaya ikan air tawar. ii. j) Ketertiban dan keamanan. b) Aktivitas sosial masyarakat di fasilitas-fasilitas sosial/umum yang ada. iv. Hasil langkah 2 Diperoleh daftar tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. Suhu udara.Hutan bakau. 2) Ekosistem Lahan kering. Kualitas udara. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi: 163 d) . Topografi ii. Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem yang akan menjadi lokasi proyek dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1.Tambak udang/bandeng. . 2. h) Industri kecil dan menengah. iv.Perkebunan karet/kelapa sawit. Pola aliran dan debit sungai. Unit pengolahan limbah. c) Tanah: i. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . e) Olah raga dan rekreasi. . misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Iklim: i. Sifat kimia tanah. f) Pariwisata. iii. .Tegalan/pertanian lahan kering. b) Hidrologi: i. 3) Kegiatan Permukiman Terpadu.Hutan tropika basah (berstatus konversi). . lama dan frekuensi genangan/banjir.Tanaman pekarangan Langkah 3 Identifikasikan komponen lingkungan atau struktur ekosistem yang berpotensi terkena dampak akibat proyek pada dua tingkat. Kelembaban nisbi udara. ii. Diperoleh informasi tentang rencana pembangunan kota menurut persebaran ruang dan waktu. . sungai). Industri kulit (sepatu dan tas). d) Transportasi. Industri mebel kayu dan rotan. k) Seni budaya. . Industri makanan.Hutan rawa payau. pada ruang dan waktu tertentu yang diantaranya adalah: 1) Lahan basah.Tambak garam.Hutan rawa air tawar. Kualitas air permukaan (sumur.Sawah. iii. yang meliputi kegiatan: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. Daftar spesifik untuk setiap ekosistem yang terkena dampak.Kegiatan pembangunan industri kecil/menengah: i. Sifat fisik tanah. Tinggi muka air tanah. iii. ii. . yakni: 1. yang diantaranya meliputi tipe-tipe ekosistem sebagai berikut: . . Tinggi.Danau/situ. . .

sungai). Sektor informal/multiplier effect. i. Pola aliran dan debit sungai. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Kualitas air permukaan (sumur. ikan. Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. ii. iii. b) Hidrologi: i Tinggi muka air tanah. dan lansekap lahan basah. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. seperti: proses ekologi. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. berupa estetika lansekap. h) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. iv. keagamaan dan spiritual serta peninggalan sejarah. 16) Fungsi sosial ekonomi. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. seperti energi kayu dan listrik-hidro. daging satwa liar. ii. 15) Fungsi sosial budaya. misalnya adalah: 1) Komponen Fisik-Kimia: a) Kualitas udara. Bila ekosistem lahan basah yang terkena dampak. komunitas. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. yang berupa perlindungan garis pantai. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. 12) Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa Liar. f) Rekreasi dan pariwisata. l) Persepsi masyarakat terhadap proyek. Pertumbuhan. dan gambut. getah. tanah adat). b) Komunitas Satwa Liar. yang diantaranya meliputi : 1. 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. 13) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi habitat satwa liar dan tumbuhan penting. k) Pusat pertumbuhan baru dan ekonomi regional. Komunitas biota akuatik. identifikasikan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak penting akibat adanya proyek. b) Fasilitas sosial dan fasilitas umum. Produktivitas budidaya perairan. dan pemecah angin (windbreak). Mobilisasi. Jenis dan populasi satwa Liar. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. iii. Daftar potensial dampak regional. 164 . 3) Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya: a) Demografi/kependudukan. ii. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. Produktivitas lahan pertanian. rotan. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. iv. g) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. d) Sumber mata pencaharian. e) Peluang bekerja dan berusaha. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. 10) Fungsi pemasok energi. lama dan frekuensi genangan/banjir. 2. geomorfologi dan geologi. migrasi. 2) Fungsi pengendalian air terutama pengendalian banjir. Tinggi. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti: pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan pasokan bagi ikan serta burung-burung migran. ekosistem. ii. urbanisasi. 2) Komponen Biologi: a) Komunitas Vegetasi. Komunitas biota. pengendalian erosi. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. misalnya: berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. seperti: kayu.i. j) Pola konsumsi. obat. c) Sarana dan prasarana perhubungan darat. Struktur dan komposisi vegetasi. Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi untuk setiap tipe ekosistem yang potensial terkena dampak. iii. iii. b) Komunitas Satwa Liar: i. 4) Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. i) Akulturasi dan asimilasi.

komunitas. 165 . keagamaan dan spiritual. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. 9) Fungsi sosial budaya. serta peninggalan sejarah. 8) Fungsi sosial ekonomi. diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang potensial terkena dampak. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. seperti pangan beras. daftar dampak penting dikelompokkan menurut masing-masing tipe ekosistem. Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. 11) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. b. b) Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL kawasan pengembangan permukiman terpadu. c) Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2 Hasil langkah 5 a) Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan atau struktur ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Adapun untuk fungsi ekosistem yang terkena dampak penting. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6. ekosistem. b) Buat matrik dampak ekosistem pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat fungsi ekosistem (hasil langkah 4). dan peninggalan sejarah. maka fungsi ekosistem yang akan terkena dampak misalnya adalah : 1) Fungsi pemasok produksi pangan. Bila ekosistem lahan kering yang terkena dampak. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil Langkah 7. 7) Fungsi sosial budaya. 10) Fungsi penelitian dan pendidikan. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. 3) Fungsi produksi energi (kayu). 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. hortikultura. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. 3. 2) Fungsi pemasok produk alam. Komponen lingkungan (struktur) dan fungsi ekosistem yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL. dan lansekap. 4) Fungsi transportasi/perhubungan.2. serta buah-buahan. palawija.1. b) Daftar dampak penting untuk tingkat/skala regional. yakni (lihat pengelompokkan pada hasil langkah 3): a) Daftar dampak penting spesifik untuk masing-masing tipe ekosistem. Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. Langkah 5 a) Buat matrik dampak komponen yang pada bagian kolom memuat rencana usaha dan atau kegiatan proyek (hasil langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan atau struktur ekosistem (hasil langkah 3). Komponen lingkungan yang terkena dampak penting dikelompokkan atas 2 (dua) kelompok. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. 5) Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. berupa estetika lansekap. misalnya berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. keagamaan dan spiritual. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. hara terlarut yang terbawa ke hilir. seperti proses ekologi. yakni yang meliputi: a. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. geomorfologi dan geologi. seperti estetika lansekap.

) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting.2.1.1. b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. 166 . sosial dan ekologi. terhadap ekosistem disekitarnya. melalui media air. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak penting hasil langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan Hasil langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan penting yang akan dialami ekosistem sebagai akibat adanya proyek. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi terjadinya perubahan fungsi ekosistem sebagai akibat adanya proyek c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis.1.2.1. Hasil langkah 1 dari butir 3. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra-konstruksi. Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan hasil langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi. b) Keterkaitan antar dampak penting yang telah di identifikasi pada butir 3.Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting proyek. Hasil langkah 10 Diperoleh urutan isu-isu pokok Lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi.3. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek. dapat memandu mengarahkan hal ini d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat yang berpotensi berubah secara mendasar akibat rusaknya sumber daya atom dan/atau pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek pengembangan permukiman terpadu.Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak penting di suatu lokasi. Catatan Langkah 2 : Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air dan udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam.3 Pemusatan dampak penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3. konstruksi dan permukiman di kawasan pengembangan permukiman terpadu. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara : a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek . Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta kerja yang tersedia. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/ atau lembaga-lembaga masyarakat (social institutions) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek. dan lampiran II Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. sosial maupun ekologi. konstruksi dan operasi. Catatan Langkah 1: Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan proyek akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. Hasil Langkah 1 a) Diperoleh batas kegiatan proyek pengembangan permukiman terpadu di atas peta yang digunakan. 3. b) Di dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek.1. dan/atau . Hasil Langkah 2 a) Diperoleh batas ekologis di atas peta yang digunakan pada langkah 1. Hasil langkah 2 sampai 4 dari proses identifikasi dampak potensial. dapat digunakan untuk memandu hal ini. Catatan langkah 9 : Dampak penting hasil langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui : . dimana prosesproses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar.

Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. 167 . batas administratif.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu. Hasil Langkah 5 Diperoleh wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. 4. di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. 4. karena itu tidak dijelaskan tentang outline tersebut. studi ANDAL serta RKL dan RPL Kegiatan Pengembangan Permukiman Terpadu yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. misalnya: akibat aktivitas rekruitmen tenaga kerja. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. batas ekologi (hasil langkah 2). studi ANDAL serta RKL dan RPL. HasiL langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah1. Catatan langkah 4 : Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan Kerangka Acuan ANDAL. Catatan Langkah 3 : Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial).2. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. lembaga non pemerintah dan/atau lembaga lokal masyarakat setempat. BAB IV. dan kendala teknis yang dihadapi. Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologis namun berpotensi terkena dampak penting akibat proyek.2. Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (hasil langkah 1).2 METODE STUDI 4. batas sosial (hasil langkah 3). dan tenaga yang tersedia. batas kawasan perkebunan. waktu.2 Wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas kegiatan proyek batas ekologi. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder.Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada langkah 1 dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada hasil langkah 1 dan 2. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. batas kuasa pertambangan. PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 4. Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada langkah 1. yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. batas sosial. yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu. dan batas administratif (hasil langkah 4). b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana. termasuk yang tergolong terkena dampak penting.

e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. kampung. d) Khusus untuk aspek sosial. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. 168 . b) Dampak penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem permukiman terpadu serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak.4. c) Mengingat ekosistem di sekitar pengembangan permukiman terpadu yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. serta sifat dan karakter komponen Lingkungan yang diukur. 4. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b). data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana kegiatan (emic).4 Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur.2. maka akurasi dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Saat pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a). dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station).2. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem permukiman terpadu sebelum proyek dibangun. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas. bulanan atau musiman. dan di lain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: Metode penarikan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga.

Tabel 4-1. sungai) • • • • • • • • • • • • • • • • • Warna Rasa dan bau Kekeruhan Padatan tersuspensi pH DHL DO BOD COD Kesadahan total Kalsium (Ca) Magnesium (Mg) Mangan (Mn) Karbonat (CO3) Nitrit (NO2) Nitrat (NO3) Sulfat (SO4) Sifat fisik air permukaan • Pengukuran in situ • Sungai • Pengambilan sampel air • Saluran Primer. Sekunder & Tersier • • • • • Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Titrimetrik Spektrofotometrik Tanah • Fisiografi. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik kimia Komponen Lingkungan Iklim Parameter • Suhu udara • Kelembaban nisbi udara • Kualitas udara Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi • Pengumpulan data sekunder • Pengukuran di lapangan (untuk kualitas udara) • Pengamatan Lapang • Pengukuran Lapang • Pengamatan Lapang • Pelabuhan Udara terdekat • Stasiun Meteorologi terdekat. litologi • Sifat fisik tanah • Sifat kimia tanah • Observasi Lapang • Pengeboran dan pengambilan contoh • Lahan gambut • Lahan rawa • Penilaian Ahli • Analisa laboratorium 169 . • Sungai • Saluran Primer. Sekunder & Tersier Metode Analisis Data • Tabulasi data • Klasifikasi Schmith & Ferguson. dan frekuensi genangan/ banjir • Kualitas air permukaan (sumur. Koppen dan Oldeman • Analisis Hidrograf • Pengukuran Lapang • Penilaian Ahli Keterangan Hidrologi • Tinggi muka air tanah • Pola aliran dan debit sungai • Tinggi. Sekunder & Tersier • • • • Visual Organoleptik Gravimetrik Elektrometrik Sifat kimia air permukaan • • • • Titrasi Titrasi Titrasi Titrasi • Sungai • Saluran Primer. lama.

lapang • Sarana dan • Wilayah • Wawancara prasarana administrasi perhubungan darat proyek. • Pemetaan Plasma Nutfah. • Fasilitas sosial dan penduduk ter• Observasi fasilitas umum dekat. • Sumber mata pencaharian • Peluang bekerja dan berusaha • Rekreasi dan pariwisata Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik sosial Komponen Lingkungan Sosial ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli Keterangan • Pengumpulan • Desa-desa/ • Demografi dan data kependudukan pemukiman sekunder.Tabel 4-2. • Tabulasi silang • Analisis deskriptif dan tabulasi silang • Penilaian ahli 170 . lapangan • Wilayah • Wawancara administrasi dengan tokoh proyek. tanah adat) • Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal • Akulturasi dan asimiliasi • Pola konsumsi • Persepsi masyarakat terhadap proyek • Pengumpulan • Desa-desa/ data pemukiman sekunder. masyarakat dan ketua suku atau adat. Keterangan • Transek • Hutan bakau • Pengumpulan • Hutan rawa data sekunder • Hutan payau • Analisis vegetasi • Observasi lapangan Komunitas satwa liar • Komunitas biota almafile • Jenis dan populasi satwa liar • Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi • Transek • Pengumpulan data sekunder • Analisis satwa liar • Observasi lapangan • Hutan bakau • Hutan rawa • Hutan payau • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek keanekaragaman • Indek keseragaman jenis • Tabulasi jenis satwa liar yang dilindungi Tabel 4-3. penduduk ter• Observasi dekat. Contoh metode pengumpulan dan analisis data aspek fisik biologi Komponen Lingkungan Komunitas vegetasi Parameter • Komunitas biota • Struktur dan komposisi vegetasi Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data • Penghitungan Indek Nilai Penting (INP) • Indek Keanekaragaman • Indek Keseragaman Je nis. Sosial budaya • Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik.

Pengalihan aliran air. Industri makanan. sehingga pembangunan permukiman terpadu dapat menelan waktu bertahun-tahun tergantung pada skala/luas kota dan permintaan masyarakat. b) fungsi dari setiap ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. Bontang. iv. Pembangunan pergudangan. Perlu diketahui aspek kegiatan ini tidak berjalan secara sekuensial serentak untuk seluruh kawasan permukiman terpadu. yang meliputi: a) Kegiatan survei. h) Industri kecil atau menengah. (4) Aspek jangka waktu pengembangan. d) Kegiatan pembangunan industri kecil. konstruksi dan hunian permukiman terpadu. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan. (8) Aspek kegiatan persiapan. iii. Pembangunan terminal dan transport angkutan. (6) Aspek tata ruang mikro permukiman terpadu. Pembuatan tempat pembuangan sampah. l) Penunjang kesehatan masyarakat. pengerasan. Depok). dan pembangunan jalan lingkungan.1. iv. b) lepas namun terkait dengan kota yang sudah ada (misal. Industri mebel kayu dan rotan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL serta Pedoman Teknis Penyusunan AMDAL (Sektoral) dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Pembangunan gedung olah raga. (5) Aspek rencana lokasi. yang meliputi: a) Kegiatan pembangunan perumahan: i. yang meliputi: a) Kehidupan manusia sehari-hari dalam permukiman. 171 . kota wisata. (3) Aspek rencana daya tampung atau jumlah penghuni permukiman terpadu. Pembangunan lapangan golf. iv. b) Alternatif lokasi. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi). misal kota dibangun berdasarkan konsep kota bisnis. Pembuatan taman-taman kota dan tempat bermain.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP AWAL Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan di kawasan pembangunan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem permukiman terpadu yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. b) Kegiatan masyarakat dalam fasilitas sosial & fasilitas umum yang dibangun. k) Seni budaya. Penggalian/pembuatan jaringan air bersih. alternatif ruas jalan. Unit Pengolahan Limbah. Kegiatan pembangunan dimaksud dideskripsikan dengan penekanan pada pokok uraian berikut ini : 1) Kegiatan persiapan atau pra-konstruksi. c) Kegiatan pembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan: i. c) mendukung kegiatan pertambangan (misal. Industri kulit (sepatu dan tas). 4. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci/detil. ii. d) Transportasi. Pembangunan pusat pertokoan dan perbelanjaan. ii. f) Pariwisata.1. vi. iii. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): (1) Aspek bentuk pengembangan permukiman terpadu: a) menempel pada kota yang sudah ada (misal. Pembangunan perumahan. iii. 3) Kegiatan hunian. d) kota yang berdiri sendiri (misal.2. konstruksi dan hunian. iv. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah. iii. d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan hunian (misal sarana pengolahan air limbah). v. c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi. e) Olahraga dan rekreasi. e) merupakan kawasan siap bangun. konstruksi dan hunian sering dijumpai berlangsung secara paralel. Pembangunan pasar. j) Ketertiban dan keamanan. Pemadatan. c) Perekonomian dan perdagangan. yakni lokasi administratif dan rencana luas/skala permukiman terpadu. (2) Aspek konsepsi pengembangan permukiman terpadu. b) Kegiatan pembangunan tempat olah raga dan rekreasi: i. atau kota ramah lingkungan. g) Pendidikan. e) Tenaga kerja yang dicurahkan untuk kegiatan persiapan.4. 2) Kegiatan konstruksi. listrik dan telepon.3 URAIAN RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan kawasan permukiman terpadu hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. Palangka Raya). misal: i. Oleh karena itu kegiatan persiapan. ii. ii. Dari berbagai jenis kegiatan yang diutarakan pada angka (7) usahakan dapat dipaparkan : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. b) Kegiatan pembebasan lahan. Tembagapura). Pondok Indah). Penggalian saluran air.2. (7) Aspek manajemen kota/kelembagaan.

iii. e) Komunitas biota almafile. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi. 11) Fungsi transportasi/perhubungan. tanah adat) g) Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal. 12) Fungsi bank gen bagi: a. Kayu. Panjang penyinaran matahari. 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen. Pemecah angin (windbreak). Uraian disusun berdasarkan sistimatika sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): 1. Kualitas air permukaan (sumur. Ikan dan burung-burung migran. misal: energi dari kayu. f) Jenis dan populasi satwa liar. Komponen fisik-kimia a) Iklim. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir b. iv. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Air permukaan. Debit sungai dan pola aliran. Tinggi. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya a) Demografi dan kependudukan. iv. Spesies-spesies tumbuhan komersil. Komponen biologi a) Komunitas Vegetasi. Rotan. Gambut. b) Hidrologi. b) Komunitas Biota. 172 . yang meliputi: i. ii. Tinggi dan elevasi muka air tanah. rusa). iii. b. Ikan dan daging satwa (misal. 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. 2) Fungsi pengendalian air. yang berupa: a. dan frekuensi genangan/banjir. 10) Fungsi pemasok energi. 3. c) Sumber mata pencaharian. 2. Populasi satwa liar. Fungsi dimaksud adalah sebagai berikut (yang diutarakan di sini hanyalah contoh saja): I. iii. Ke lokasi lain: . b. . b. h) Akulturasi dan asimilasi. 4. b. 13) Fungsi konservasi bagi: a. f) Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik. yang meliputi: i. d. yang diantaranya meliputi : 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). j) Persepsi masyarakat terhadap proyek. 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun. 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. yang berupa: a. listrik-hidro. Air tanah. Curah hujan. ii.1 Struktur ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan struktur ekosistem permukiman terpadu saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. terutama pengendalian banjir. sungai). Topografi. 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: a. c) Tanah.1. c. Fungsi ekosistem lahan basah. i) Pola konsumsi. 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara.2 Fungsi ekosistem permukiman terpadu Pada bagian ini diutarakan fungsi-fungsi yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di wilayah tersebut. e) Rekreasi dan pariwisata. Sifat fisik tanah.4.4.Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge). getah. ii. Sifat kimia tanah. Spesies langka dan dilindungi. 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam).Pasokan air ke permukiman terpadu lainnya. Suhu dan kelembaban nisbi udara. c) Struktur dan komposisi vegetasi. c.4. b) Fasilitas sosial dan fasilitas perhubungan darat. b. d) Komunitas satwa liar. g) Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi. seperti: a.4. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat. dan obat. yang meliputi: i. d) Peluang bekerja dan berusaha. Kecepatan angin. seperti: a. lama. Fungsi dimaksud berlaku untuk setiap tipe ekosistem yang strukturnya mengalami perubahan sebagaimana dimaksud pada angka 4.

5) Mengingat di kalangan komponen ekosistem terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. b) tanah adat masyarakat setempat. Tanah adat masyarakat setempat. Fungsi ekosistem lahan kering yang diantaranya meliputi: 1) Fungsi pemasok produk pangan. d. 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. yang antara lain meliputi: model matematik dan metode grup eksperimen. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode. 15) Fungsi sosial budaya. 4) Fungsi transportasi/perhubungan. c. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan.Sebagai misal. 3) Fungsi produksi energi (kayu). 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. b) metode non-formal yang antara lain meliputi: penilaian para ahli dan metode analogi. e. Ekosistem. d.II. yang antara lain berupa: a. Komunitas. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). c) pasokan hara untuk ikan dan burung-burung migran. 5) Fungsi konservasi bagi spesies: a) Langka dan dilindungi. 8) Fungsi sosial ekonomi. b) hara terlarut yang tertransportasi ke hilir. Lansekap atau jenis-jenis permukiman terpadu.2 (Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL). b.5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL pengembangan permukiman terpadu pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3. geomorfologi dan geologi. seperti : a) makanan pokok (beras). b. 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata. yang diantaranya berupa: a. 16) Fungsi sosial ekonomi yang diantaranya meliputi: a. 6) Fungsi rekreasi dan pariwisata. Keagamaan dan spiritual. seperti: a) estetika lansekap. yaitu: a) metode formal. yang meliputi: a) sumber mata pencaharian masyarakat setempat. b) habitat satwa liar dan tumbuhan penting. b) keagamaan dan spirituil c) peninggalan sejarah. b. Peninggalan sejarah. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat. 2) Fungsi pemasok produk alam. b. d) ekosistem.1. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak penting. langkah 2. Sebagai misal. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat.1. b) palawija dan hortikultura. 7) Fungsi sosial budaya. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan di kalangan komponen sosial sendiri. 2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3. c. c. Misalnya proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. Kerusakan pada 173 . c) komunitas. Estetika lansekap. Proses ekologi. seperti: a) bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir.1. Rosot karbon (carbon sink). proyek pengembangan permukiman terpadu yang berlokasi di pantai akan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove. b. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik-kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. c. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a. 17) Fungsi penelitian dan pendidikan. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. 4. c) buah-buahan. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar (buruan) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa menurunnya hasil tangkapan berburu oleh penduduk.

(hasil langkah 2). Catatan langkah 1 : Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. matrik Leopold). Dampak penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. b) Tingkat dampak penting regional Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan tingkat regional yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu usaha dan/atau kegiatan proyek. 4.1. Langkah 2 Telaahan secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem dan regional yang dimaksud pada langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem dan ekonomi regional dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. dan/atau metode bagan alir. khususnya langkah 1: Identifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan proyek. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut: Langkah 1: Prakiraan dampak penting dengan cara: prakiraan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3.2.e. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial.. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. baik tingkat ekosistem maupun regional.1. ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak udang. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. proses pelingkupan. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. b) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin di kalangan seluruh komponen dampak penting tingkat ekosistem regional.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan).1. yang tercantum pada angka 4. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Telaah secara komprehensif seluruh dampak penting yang dialami oleh struktur sistem. yang tercantum pada angka 4. c) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) dan b) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting.4. sebagai akibat alternatif usaha dan/atau kegiatan tertentu.5. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3.2. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. (yakni rona lingkungan hidup awal) akan berubah secara mendasar. dan yang tercantum pada angka 4. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). khususnya Langkah 8: Komponen dampak penting yang ditelaah ANDAL.5. b) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekonomi regional akan berubah secara mendasar akibat adanya proyek pengembangan permukiman terpadu. metode Daftar Uji Berkala dengan Pembobotan (misal. Environmental Evaluation System).6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab Evaluasi Dampak Penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif /holistik.1. 174 . (hasil langkah 2). Hasil langkah 1 Diperoleh prakiraan perihal besar (magnitude) dampak pada dua tingkat analisis yakni : a) Tingkat ekosistem yang terkena dampak penting Prakiraan besar dampak untuk setiap komponen lingkungan dari ekosistem (dengan kata lain struktur ekosistem) yang dinyatakan terkena dampak penting menurut hasil langkah 8 dalam proses pelingkupan. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Hasil langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal : a) fenomena perubahan struktur ekosistem akibat adanya alternatif tertentu dari proyek.

sebagaimana dimaksud pada langkah 1 dan 2. program atau tindakan untuk mencegah. maupun penempatan permukiman pada kawasan permukiman terpadu. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL).1. program dan/ atau upaya-upaya untuk mencegah. Sehubungan dengan hal tersebut.1 Lingkup dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Dokumen RKL. b) Bila seluruh alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. BAB V.Hasil langkah 2 Diperoleh sintesis komprehensif perihal fungsi ekosistem dan regional yang terkena dampak penting menurut alternatif tertentu dari proyek. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. mendaur ulang (recycle). rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat dampak yang timbul bersifat kompleks. serta (ii) struktur dan fungsi ekonomi regional.1. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif di saat pra-konstruksi. teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 27 Tahun 1999. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di kawasan pengembangan permukiman terpadu tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse).1. maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. merupakan dokumen yang memuat upaya. dengan fokus pada : a) fenomena perubahan fungsi ekosistem dan ekonomi regional akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. dalam pengertian generik. Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari usaha dan/atau kegiatan proyek. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek. Hasil langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. Langkah 4 Dari alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem dan kondisi fisik kawasan permukiman terpadu sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem dan kondisi fisik lokasi pengembangan. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. konstruksi. lakukan telaahan sejauh mana dampak penting yang ditimbulkan terhadap (i) struktur dan fungsi ekosistem. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya. 5. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap kehidupan ekosistem dan ekonomi regional di kawasan permukiman terpadu. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek.3 Struktur inti dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: 175 .1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) 5. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak. 5. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif usaha dan/atau kegiatan proyek.2 Kedalaman dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan atau merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tersebut di saat pra-konstruksi. Lebih lanjut pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatarbelakangi kedalaman dokumen RKL. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem dan ekonomi di kawasan permukiman terpadu dimaksud. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di rencana kawasan pengembangan permukiman terpadu. konstruksi dan penempatan permukiman.

kawasan. 5. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. a. b) Tujuan pengelolaan lingkungan. sistematik. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. tersier. Upaya. yakni Bab Evaluasi dampak dari dokumen ANDAL. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada bab prakiraan dampak dan bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4.1. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting pengembangan permukiman terpadu berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi.5. Upaya. ekonomi atau kelembagaan. berulang dan terencana.1 Lingkup dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek. di muka.6. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. Pada ekosistem permukiman terpadu pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem permukiman terpadu yang terkena dampak. Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam lampiran II Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. b.5. f) Institusi pengelolaan lingkungan. menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan hidup dapat merujuk pada Lampiran III Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.2. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung.6. langkah 10. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem permukiman terpadu. d) Waktu dan periode pengelolaan lingkungan. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. e. f. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. Prakiraan dampak penting. d. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat. dari Bab IV di muka. c) Upaya pengelolaan lingkungan. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu kegiatan pengembangan permukiman terpadu. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. sifat kumulatif. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data. c. program atau tindakan untuk mencegah. sampai ke tingkatan ekosistem. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem permukiman terpadu.a) Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola.2. Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) 5. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul. atau bahkan regional. 176 . kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem di kawasan pengembangan permukiman terpadu. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan pengembangan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c). maka sedapat mungkin dituangkan disain teknologinya.5. Komponen Lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. dan angka 4.

sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya. sebagai misal). yakni bab prakiraan dampak penting dan bab evaluasi dampak penting dari dokumen ANDAL. Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisa data. dan 4. A. Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.6. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. bau. Langkah 10. atau ketetapan resmi suatu instansi. Komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. Tolok ukur dampak yang dimaksud di sini dapat berupa baku mutu limbah cair. lokasi dan jangka waktu serta frekuensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan. b) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3.2. ttd Nadjib Dahlan. suhu. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). a. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran IV Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.5. baku mutu lingkungan. Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu (proyek. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD.1. Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). upaya/program/tindakan pengelolaan lingkungan. warna. f. 5. keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk ada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. ttd Dr. Prakiraan dampak penting dan angka 4. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu kawasan pengembangan permukiman terpadu. SH 177 .2. c. Semisal.6. d. Menteri Negara Lingkungan Hidup. e. Evaluasi dampak penting. c) Tujuan pemantauan lingkungan.2 Kedalaman dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada angka 2 Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem permukiman terpadu. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau.5. b. f) Institusi pemantauan Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap kegiatan permukiman terpadu yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. kandungan minyak terlarut. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi.3 Struktur inti dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau. tersier.5. Langkah 2).5. b) Tolok ukur dampak. c) Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. d) Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada bab evaluasi dampak dari dokumen ANDAL (angka 4. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan.2.

Penggalian jaringan air bersih. Kegiatan pendidikan dan kebudayaan 1.pusat i. Pola aliran dan debit air sungai iii. Sifat kimia tanah 2. Pemb. Komunitas biota almafile ii. pengerasan. lama dan frekuensi genangan/banjir iv. Komunitas satwa liar i. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. Komponen Biologi a). Industri makanan ii.gedung olah raga ii. Jenis dan populasi satwa liar iii. Penggalian saluran air iv. Struktur dan komposisi vegetasi b). Pemb. Komponen Fisik Kimia a).perumahan ii. Komunitas biota ii. Kegiatan survei b. Pemb. Sifat fisik tanah iii.pasar iii.Pembuatan taman taman kota & taman bermain iv.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Kegiatan pra-konstruksi a. listrik . Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. Kualitas air permukaan (sumur. Pemb. telpon vi.Unit pengolahan iv. sungai) d). Kelembaban nisbi udara b). & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Kegiatan Konstruksi 3. Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi 2.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. Industri kulit pertokoan. Matriks Interaksi Dampak Kegiatan Proyek dengan Komponen Lingkungan Kegiatan Proyek 2 b i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv a b c d e f g h i 3 j 1 a Komponen Lingkungan 178 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb. Tanah i. terminal limbah &transportasi darat Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.Pemb. Kualitas udara c). Komunitas vegetasi i.Penggalian aliran air v. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg. Topografi ii.Industri mebel iii.Penghijauan/ reklamasi .Lampiran 3-1. lapangan golf iii. Pemadatan. pembangunan jalan lingkungan iii.Pembuatan TPA i. Tinggi. Iklim i. Hidrologi i. Tinggi muka air tanah ii. Suhu udara ii.

Perubahan gaya hidup dan tradisi masyarakat lokal i).Penggalian aliran air v. Rekreasi dan pariwisata g). telpon vi.Pemb.gedung olah raga ii.pasar kayu dan rotan iii. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. lapangan golf iii. Kepemilikan tanah masyarakat setempat (tanah milik dan tanah adat) h). Pemb. Industri makanan perbelanjaan iii. Pemb. Kegiatan survei b. Fasilitas umumdan fasilitas sosial c). Peluang bekerja dan berusaha f). Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. Pola konsumsi k). Kegiatan Konstruksi 3.Penggalian saluran air iv.listrik . Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. Industri kulit i. Pemb.pusat (sepatu dan tas) pertokoan.Unit pengolahan pergudangan limbah iv.Pembuatan TPA i. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg.Industri mebel ii.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.(Lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i Kagiatan Proyek 2 3 j Komponen Lingkungan 3. Persepsi masyarakat terhadap proyek 179 Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a). Sarana dan prasarana perhubungan darat d).Pembangunan iv. pembangunan jalan lingkungan iii. Pemadatan.perumahan ii. Akulturasi dan asimilasi j). Pemb. terminal &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Penggalian jaringan air bersih.Lampiran3-1. & ii. Pemb. pengerasan.Penghijauan/ reklamasi . kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman 2. Sumber mata pencaharian e). Demografi dan Kependudukan b).

Pemb. 3. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekologiseperti.obat.gedung i.ikandandagingsatwaliar. lokasilahanbasahlainnya.pasar iii. Industri kulit olah raga pertokoan. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg.getah. Industri makanan golf ii.yangberupa perlindungangarispantai. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. telpon vi.pusat i. Fungsipemasokbahan-bahanyangbernilaiekonomi.Lampiran3-2MatrikInteeraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemKawasanPengembanganPemukimanT erpaduuntukTipeEkosistem:Lahanbasahdanlahankering 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h Kegiatan Proyek 2 3 Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 180 2. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. Fungsipencegahintrusiairlautkeairtanahdan/atauair perm ukaan 4.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1. & (sepatu dan tas) ii. Fungsiperlindunganterhadapkekuatanalam. 2. Pemb.Penghijauan/ darat reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. pembangunan jalan lingkungan iii.listrik .Industri mebel iii. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanunsurhara 7.Pembangunan kayu dan rotan taman-taman pergudangan iv.yangberupaair bersihyangdapatlangsungdimanfaatkanolehmasyarakat dan/atausebagaipemasokkeaquifer(groundwaterrecharge).perumahan ii. Kegiatan survei b. pengerasan. Fungsipenangkapandan/ataupengendapansedimden 6. terminal limbah bermain &transportasi iv. Pemb.Penggalian aliran air v. lapangan perbelanjaan ii.pengendalianerosi. Pemadatan.Pembuatan iii. Fungsipengedalianair.rotan.terutamapengendalianbanjir 3. pasokanbahananorganikdanorganikdanharaterlarutbagi wilayahhilirdanbagiikansertaburung-burungmigran.Penggalian saluran air iv.Pemb. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata.dangambut 9. Fungsipenangkapandan/ataupengendapanbahan-bahanberacun 8. Pemb.Unit pengolahan kota & taman iv. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. EkosistemLahanBasah 1.seperti kayu. Penggalian jaringan air bersih. Pemb.danpemecah angin(windbreak) 5. A.Pembuatan TPA . Fungsipemasokair(kualitasdankuantitasair).

Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Fungsi transportasi/perhubungan 5. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. dan peninggalan sejarah 8. Fngsi pemasok produk alam. Fungsi produksi energi (kayu) 4. pembangunan jalan lingkungan iii. 3.pusat i. seperti bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir. Fungsi rekreasi dan pariwisata 7. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pariwisata. seperti makanan pokok (beras).keagamaan dan spiritual. pengerasan. Kegiatan pembebasan lahan Kegiatanpembangunan perumahan i. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi i. & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Pemb. Fungsisosialbudaya sepertiestetikalansekap.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Unit pengolahan iv. lapangan golf iii. Pemb. Penggalian jaringan air bersih. i. ekosistem pertanian lahan kering.gedung olah raga ii. Pemadatan. hara terlarut yang tertransportasi ke hilir.Industri mebel iii. yang meliputi ekosistempertanian sawah. komunitas. Pemb. palawija dan hortikultura. serta buah-buahan 2. Kegiatan survei b.Pembuatan TPA . EkosistemLahan Kering. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Kegiatan pendidikan dan kebudayaan Keg. terminal limbah &transportasi darat B.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv. Pemb. Industri kulit pertokoan. Fungsi pemasok produk alam.Penghijauan/ reklamasi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg.Pemb. habitat satwa liar dan tumbuhan penting. ekosistem.Lampiran3-2(lanjutan) 1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g Kegiatan Proyek 2 3 h Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu i j 181 2.Penggalian saluran air iv. serta ikan dan burung-burung migran.perumahan ii. Pemb. Industri makanan ii.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan Keterangan: 1.Penggalian aliran air v. telpon vi. Fungsi pemukiman masyarakat 3.pasar iii. Kegiatan pra-konstruksi a. listrik . Fungsi sosial ekonomi misalnya berupa sumber mata pencaharian masyarakat setempat dan tanah adat masyarakat setempat 9. dan ekosistem hutan (yang berstatus konservasi) 1. dan lansekap 6.

Lampiran3-2(lanjutan)

1 a i ii iii iv v vi i ii iii iv i ii iii iv b a b c d e f g h i

Kegiatan Proyek 2 3

Fusngsi EkosistemKawasan Pengembangan Pemukiman Terpadu

j

10. 11. 12.

13.

14. 15.

16.

17. 18.

Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrik-hidro Fungsi transportasi/perhubungan Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar Fungsi konservatif bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem dan lansekap lahan basah Fungsi rekreasi dan pariwisata Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat Fungsi penelitian dan pendidikan Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam

182
2. Kegiatan Konstruksi Kegiatanpembangunan fasilitas perekonomian dan perdagangan i. Pemb.pusat i. Industri kulit pertokoan, & (sepatu dan tas) perbelanjaan ii. Industri makanan ii. Pemb.pasar iii.Industri mebel iii.Pembangunan kayu dan rotan pergudangan iv.Unit pengolahan iv.Pemb. terminal limbah &transportasi darat Kegiatan pariwisata. Kegiatanpembangunnan industri kecil Keg. kehidupan manusia sehari-hari dalam pemukiman Kegiatan pendidikan dan kebudayaan

3. Kegiatan Pemukiman PemukimanTerpadu Keg. sosial masyarakat dalam fasilitas sosial yang dibangun Keg.Perekonomian dan perdagangan Kegiatan industri kecil maupun industri besar Kegiatan transportasi Kegiatan olah raga dan rekreasi Kegiatan penunjang kesehatan masyarakat Kegiatan ketertiban dan keamanan

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebasan lahan

Kegiatanpembangunan perumahan

Kegiatanpembangunnan tempat olah raga dan rekreasi

i. Pemb.perumahan ii. Pemadatan, pengerasan, pembangunan jalan lingkungan iii.Penggalian saluran air iv.Penggalian aliran air v. Penggalian jaringan air bersih, listrik , telpon vi.Pembuatan TPA

i. Pemb.gedung olah raga ii. Pemb. lapangan golf iii.Pembuatan taman-taman kota & taman bermain iv.Penghijauan/ reklamasi

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 05 TAHUN 2000 TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup tentang Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah; 1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838); 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 355/M/1999 tentang Kabinet Persatuan Nasional; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH. Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan, maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.

Mengingat :

PERTAMA :

KEDUA :

Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 7 November 2002 Menteri Negara Lingkungan Hidup, ttd. Dr. A. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH,

Nadjib Dahlan,S.H.

183

LAMPIRAN NOMOR TANGGAL

: KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 5 TAHUN 2000 : 21 PEBRUARI 2000

PANDUAN PENYUSUNAN AMDAL KEGIATAN PEMBANGUNAN DI DAERAH LAHAN BASAH BAB I. PENJELASAN UMUM 1.1 LATAR BELAKANG Upaya melengkapi tuntutan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, telah diwujudkan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL). Di dalam Pasal 2 ayat (1) dinyatakan secara tegas bahwa analisis mengenai dampak lingkungan hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan. Selanjutnya, dalam Pasal 2 ayat (2) dinyatakan bahwa hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan wilayah. Salah satu kategori wilayah yang pertu dioptimalkan pembangunannya adalah kawasan lahan basah. Ketersediaan areal lahan basah yang masih cukup luas dengan potensi sumberdaya alami yang terkandung di dalamnya masih belum banyak termanfaatkan, telah mengundang peningkatan usaha pemanfaatan lahan basah untuk berbagai sektor kegiatan. Berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kawasan ini semakin potensial untuk dikembangkan. Beberapa kegiatan yang diperkirakan akan terus berkembang antara lain, pembukaan persawahan, perkebunan dan pertambakan yang dikaitkan dengan pembangunan permukiman transmigrasi. Bersamaan dengan itu pembangunan agroindustri dan berbagai industri jasa seperti pengangkutan dan pelabuhan tentu akan semakin terfokus pada kawasan lahan basah sebagai wilayah sasarannya. Berbagai perkembangan kegiatan perekonomian baik bertaraf lokal, regional, maupun nasional akan menyebabkan keberadaan potensi sumberdaya alami terutama di kawasan lahan basah semakin terancam kelestariannya. Sejumlah program yang sudah diimplementasikan kebanyakan kurang memenuhi kaidah keberlanjutan, sehingga terjadi pemubaziran sumberdaya lahan basah dan tidak jarang menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan yang serius. Mulai tampak berkurangnya luasan alami kawasan lahan basah, dan secara langsung maupun tak langsung menurunkan mutu dan fungsi ekologis dari sumberdaya alami setempat. Pemanfaatan yang sudah berlangsung ternyata, berpengaruh besar terhadap penyusutan mutu dan keberadaan sumberdaya keanekaragaman hayati, sumberdaya perairan rawa, sungai, estuaria dan bahkan potensi laut dalam (Syarkowi, 1995 dan Verheught, 1990). Kecenderungan pemanfaatan yang ada menunjukkan bahwa, banyak pihak yang berkepentingan terhadap daerah itu masih pertu dibekali pengetahuan tentang strategi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Cara-cara pengelolaan berbagai program pembangunan yang ada telah menjadikan kawasan ini kurang termanfaatkan secara optimal. Padahal jika potensi yang besar itu semakin surut dan banyak yang tersiasiakan, maka pembangunan di kawasan lahan basah akan sulit berkelanjutan. Diakui bahwa kompleksitas persoalan lingkungan dan pengendalian dampak negatif pembangunan kawasan lahan basah itu sangat rumit. Keberadaan lahan basah secara geografis menghubungkan ekosistem lahan kering terhadap ekosistem pesisir dan kelautan, yang tentunya memiliki keterkaitan fungsi dan kepekaan ekosistem yang beragam pula. Pengalaman pelaksanaan studi AMDAL beberapa proyek di berbagai area lahan basah selama ini menunjukkan bahwa kompleksitas dampak lingkungan yang bisa terjadi memang sangat tinggi (Euroconsult, 1991), akan tetapi sedapat mungkin harus diupayakan memprakirakannya. Dari studi khusus tentang “Pedoman Pelingkupan AMDAL Lahan Basah” yang dilakukan oleh AWB (1991) misalnya, kompleksitas dampak lingkungan itu secara sistematis mulai dipahami dinamikanya. Walaupun demikian kenyataan tentang munculnya berbagai masalah lingkungan hidup di kawasan lahan basah dan sekitarnya selama pertengahan dekade 90-an, harus pula diakui bahwa masih banyak rahasia yang perlu diungkapkan dan diketahui dibalik dinamika dampak pembangunan lahan basah itu. Guna mengendalikan pembangunan yang dilaksanakan secara tidak bijaksana itu, maka studi AMDAL harus dioptimalkan dengan mengacu kepada piranti khusus “Metodologi AMDAL Lahan Basah”. Panduan ini khusus memberi petunjuk bagaimana melaksanakan AMDAL di daerah lahan basah. Dengan ini diharapkan informasi minimal tentang karakteristik lahan basah baik yang bersifat umum maupun khusus dari komponen lingkungan yang peka terhadap kegiatan pembangunan dan pengembangan diarahkan agar dapat dipenuhi. Demikian pula tentang karakteristik proyek pembangunan yang prospektif berkembang di kawasan itu sangat perlu dan akan dapat dipahami atas dasar sifat kepentingannya terhadap lahan basah. 1.2 MAKSUD DAN TUJUAN Panduan ini dimaksudkan untuk memudahkan penyusunan AMDAL bagi berbagai usaha dan/atau kegiatan (proyek) pembangunan di daerah lahan basah. Secara khusus Panduan Penyusunan AMDAL Kegiatan Pembangunan di Daerah Lahan Basah ini diharapkan dapat: 1. Mengendalikan cara-cara pemanfaatan lahan basah sehingga terpelihara kelestarian fungsi ekologisnya; mengingat peruntukan lahan yang tidak harmonis dan penerapan iptek yang kurang bijaksana dapat mengakibatkan gejala erosi genetik, polusi dan penurunan potensi lahan basah sulit dikendalikan. 184

2. 3.

Menopang upaya-upaya mempertahankan proses ekologis antar ekosistem di kawasan, lahan basah sebagai sistem penyangga kehidupan yang perlu bagi kelangsungan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan penduduk di kawasan lahan basah pada khususnya serta masyarakat pada umumnya. Mendorong langkah-langkah antisipatif dalam menggali dan mengembangkan potensi keanekaragaman sumber genetik serta potensi lain dari berbagai tipe ekosistem lahan basah dalam kerangka kemajuan iptek dan perkembangan sosial ekonomi dan budaya di masa depan.

1.3 PENDEKATAN DAN RUANG LINGKUP Agar dapat melakukan identifikasi, prakiraan dan evaluasi dampak penting lingkungan akibat pembangunan di daerah lahan basah, secara cermat diperlukan pengetahuan tentang sifat dan kekhasan daerah lahan

KOMPONEN LINGKUNGAN
• • • • • • Iklim Tanah Kedalaman dan Kematangan Gambut Hidrologi Vegetasi dan Satwa liar Sosial Ekonomi dan Budaya serta Demografi • • • •

KOMPONEN KEGIATAN
Eksploitasi SDA di lahan basah Konservasi Lahan (Perkebunan, Persawahan/Irigasi, Pertambakan) Konservasi Balik (Kawasan Lindung dan Konservasi) Reklamasi Lahan Basah

PROSES PELINGKUPAN DAN PENYUSUNAN KA-ANDAL • • • • Dampak Penting Hipotetik Penetapan Batas Wilayah Studi Penetapan Tenaga Ahli Penetapan Metode Pengumpulan dan Analisis Data yang Akan Digunakan • Penetapan Lokasi Pengambilan Sampel • Penetapan Metode Prakiraan dan Evaluasi Dampak yang digunakan dalam Penyusunan ANDAL.

PENYUSUNAN ANDAL • • • • Survey Lapang Analisis Data Prakiraan Dampak Penting Evaluasi Dampak Penting

PENYUSUNAN RKL DAN RPL • Penyusunan Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan • Penetapan Pihak-pihak yang Terlibat dalam Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.

KELAYAKAN LINGKUNGAN Gambar 1-1 Pendekatan Sistem dalam Penyusunan AMDAL Kawasan Lahan Basah

185

basah tersebut. Hal ini diperlukan agar ragam respon sistem lingkungan yang akan menerima dampak dapat dikenal pasti sedini mungkin. Oleh karena itu, panduan ini diawali dengan perumusan tentang kriteria dan batasan kawasan lahan basah disajikan pada Bab II. Kemudian diikuti oleh panduan proses pelingkupan yang disajikan pada Bab III, yang menjelaskan penentuan isu pokok, komponen lingkungan yang harus ditelaah akibat satu jenis kegiatan, penentuan batas wilayah studi dan lingkup waktu perkiraan dampak dalam studi AMDAL. Panduan penyusunan analisis dampak lingkungan (ANDAL) disajikan dalam Bab IV. Sebagai suatu panduan, maka segenap metode dalam dokumen ini diuraikan secara garis besar dan dilengkapi dengan bahan rujukan yang memuat metode pengumpulan atau analisis data secara terperinci. Selanjutnya, panduan untuk penyusunan rencana pengelolaan lingkungan (RKL) dan rencana pemantauan lingkungan (RPL) disajikan pada Bab V. Secara skematis, sistematika panduan ini mengikuti alur pikir proses: penyusunan AMDAL seperti pada Gambar 1-1. Pembangunan di daerah lahan basah akan memiliki ragam dan besaran dampak tergantung pada sistem lingkungan yang akan terkena dampak. Dengan demikian, mengikuti tujuan studi AMDAL adalah memelihara kapasitas ekosistem alamiah dalam hal penentuan parameter lingkungan yang harus ditelaah, pengumpulan dan analisis data, prakiraan evaluasi dampak perlu disusun atas dasar pendekatan pemeliharaan, ekosistem yang berkesinambungan. BAB II. KONSEP STRUKTUR DAN FUNGSI EKOSISTEM LAHAN BASAH 2.1 TIPOLOGI EKOSISTEM Keberadaan lahan basah atau lahan berawa dapat diklasifikasikan menjadi 3 zona, yaitu : (1) Ekosistem rawa pasang surut air payau/asin; (2) Ekosistem rawa pasang surut air tawar; dan (3) Ekosistem rawa non-pasang surut atau rawa lebak. Zonasi ini diterapkan demikian berdasarkan kekuatan air sungai dan air pasang (Sandy dan Nad Darga,1979). Pada musim hujan zona I dan II memperoleh pengaruh pasang surut, sedangkan zona III tidak dipengaruhi. Pada musim kemarau, hanya zona I yang dipengaruhi oleh luapan dan intrusi air payau/asin. Berkenaan dengan itu, maka ada tiga hal penting yang perlu diingat sehubungan dengan ekosistem lahan basah; yaitu: (1) Ekosistem lahan basah sesungguhnya memiliki potensi alami yang; sangat peka terhadap setiap sentuhan pembangunan yang merubah pengaruh perilaku air (hujan, air sungai, dan air laut) pada bentang lahan itu; (2) Ekosistem lahan basah sesungguhnya bersifat terbuka untuk menerima dan meneruskan setiap material (“slurry”) yang terbawa sebagai kandungan air, baik yang bersifat hara mineral, zat atau bahan berat maupun energi lainnya, sehingga membahayakan; dan (3) Ekosistem lahan basah sesungguhnya berperan penting dalam mengatur keseimbangan hidup setiap ekosistem darat di hulu dan sekitarnya serta setiap ekosistem kelautan di hilirnya. Bentuk pemanfaatan yang utama dan merupakan fungsi perlindungan pada lahan basah terhadap sistem penyangga kehidupan, antara lain (1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air) (2) Fungsi pengendalian air, terutama pengendalian banjir (3) Fungsi pencegah intrusi air laut (4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam) (5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen (6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara (7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun (8) Fungsi pemasok kekayaan alam (di dalam areal lahan basah) (9) Fungsi pemasok kekayaan alam (ke luar areal lahan basah) (10) Fungsi produksi energi (kayu, listrik-hidro) (11) Fungsi transportasi/perhubungan (12) Fungsi bank gen (13) Fungsi konservasi (14) Fungsi rekreasi dan pariwisata (15) Fungsi sosial budaya (16) Fungsi sosial ekonomi (17) Fungsi penelitian dan pendidikan (18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Selanjutnya manfaat sampingan dapat dipanen dan dinikmati masyarakat sampai batas-batas tertentu tanpa merusak proses ekologis yang diperankan oleh ekosistem itu. Bentuk pemanfaatan golongan ini antara lain: (1) sumber air bagi penduduk (setempat); (2) sumber produk alami (nipah dan ikan); (3) sumber energi (kayu dan gambut); dan (4) sumber kesegaran dan keindahan (wisata). Bertolak dari pemahaman akan arti penting fungsi-fungsi ekologis maupun fungsi ekonomis yang diperankan oleh ekosistem lahan basah itu, maka upaya untuk melestarikan keberadaan mutu dan fungsi ekosistem lahan basah patut direalisasikan. Ini antara lain dilakukan melalui pendekatan peraturan perundangan yang melindungi komponen-komponen kawasan yang berfungsi penting dan strategis. Pelestarian sumberdaya kawasan lahan basah dimungkinkan oleh adanya ketentuan UU Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta UU Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Ketentuan perundangan itu meliputi perlindungan jenis flora dan fauna serta benda cagar budaya, yang tidak jarang banyak ditemukan pada daerah lahan basah. Sampai sejauh ini, kawasan yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya antara lain: 186

Kriteria sempadan sungai yaitu: (a) Sekurang-kurangnya 100 meter di kiri kanan sungai besar dan 50 meter di kiri kanan sungai yang berada di luar permukiman (Pasal 16 butir a Keppres No. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung). kondisi fisik pinggir dan dasar sungai serta mengamankan aliran sungai. Di sisi lain.) dan Pedada (Sonneratia sp. Kriteria kawasan ini adalah minimal 130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat (Pasal 8 UU No. 32 Tahun 1990).(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Kawasan Gambut. Sempadan Sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai. nipah. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung jo PP No. 35 Tahun 1991). Jenis tumbuhan Nipa membutuhkan air 187 . yaitu daerah yang mempunyai kemampuan tinggi untuk meresapkan air hujan sehingga merupakan tempat pengisian air bumi (akifer) yang berguna sebagai sumber air. dan jika kondisi lahan menjadi stabil. umumnya berupa tumbuhan Api-api (Avicennia sp. Jenis-jenis ini diketahui sangat baik beradaptasi pada tanah bersalinitas tinggi sebagai pengaruh dari pasang air laut. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya Jo Pasal 27 Keppres No. maka akan ditemui jenis Bakau (Rizophora spp. Kawasan Pantai Berhutan Bakau.. yaitu kawasan yang unsur pembentuk tanahnya sebagian besar berupa sisa-sisa bahan organik yang tertimbun dalam waktu lama. Kriteria kawasan sekitar danau/waduk adalah sepanjang tepian danau/waduk yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik danau/waduk antara 50-100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 18 Keppres No. Formasi hutan “bakau” ini diketahui sangat penting peranannya sebagai habitat pijah-asuh berbagai jenis ikan dan udang.1.1 Ekosistem Hutan “Bakau” (Zonasi I) Ekosistem ini terdiri dari formasi bakau. formasi Acrostichum juga dominan dan berfungsi sebagai penutup tanah hutan mangrove hingga ketinggian 3-4 meter. Kriteria sempadan pantai adalah daratan sepanjang tepian yang lebarnya proporsional dengan bentuk dan kondisi fisik pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat (Pasal 14 Keppres No. adalah kawasan tertentu sepanjang pantai yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan dan melindungi kelestarian fungsi pantai dari gangguan berbagai kegiatan dan proses alam. Formasi ini begitu dinamis dengan adanya peran dari tumbuhan pemul. kimiawi. Avicennia sp. (b) kelestarian rawa. 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung) Kawasan Resapan Air. Pada ekosistem ini formasi Rhizophora sp. sebagai hasil dari sedimentasi dan akumulasi lumpur yang dibawa oleh air sungai.faktor sebagai berikut (Pasal 9 PP No. Perlindungan terhadap kawasan ini dilakukan untuk melestarikan hutan bakau sebagai pembentuk ekosistem hutan bakau dan tempat berkembang-biaknya berbagai biota laut disamping sebagai pelindung usaha budidaya di belakangnya. Rawa yang merupakan lahan genangan air secara alamiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase alamiah yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisik. Perlindungan terhadap kawasan gambut dilakukan untuk mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir maupun kebakaran. yaitu kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi memberi perlindungan kepada perikehidupan pantai dan lautan. sosial ekonomis dan lingkungan. dengan memperhatikan faktor . yaitu kawasan sepanjang kiri kanan sungai.. Kriteria kawasan resapan air adalah curah hujan yang tinggi. Bersamaan dengan itu terdapat pula assosiasi dengan Nipa. 27 Tahun 1991 tentang Rawa) : (a) kemampuan meningkatkan rawa sebagai ekosistem sumber air. serta melindungi sistem ekonomi yang khas di kawasan yang bersangkutan. Xylocarpus muluccensis dan Sonneratia ovata. dan Sonneratia marina menduduki formasi terdepan sedangkan agak kebelakang dijumpai jenis tumu atau bakau tomak (Bruguirea hexangula). 32 Tahun 1990). bertujuan untuk mempertahankan dan sebagai sumber air serta meningkatkan fungsi dan manfaatnya. atau biologis. yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. adalah kawasan tertentu di sekeliling danau/waduk yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi danau/waduk Perlindungan terhadap kawasan sekitar danau/waduk dilakukan untuk melindungi danau/waduk dari kegiatan budidaya yang dapat mengganggu kelestariaan fungsi danau/waduk. Konservasi rawa adalah pengelolaan rawa sebagai sumber air yang berdasarkan pertimbangan teknis. termasuk sungai buatan/kanal/ saluran irigasi primer.). Sempadan Pantai. Perlindungan terhadap kawasan resapan air dilakukan untuk memberikan ruang yang cukup bagi peresapan air hujan pada daerah tertentu untuk keperluan penyediaan kebutuhan kawasan yang bersangkutan. serta formasi Acrostichum. Formasi hutan mangrove atau “bakau” ditandai dengan kehadiran jenis tanah aluvial. 2. Kawasan Sekitar Danau/Waduk.). 32 Tahun 1990). (c) kemampuan meningkatkan perekonomian masyarakat dan (d) kelestarian lingkungan hidup.) dan Nyireh (Xylocarpus sp. struktur tanah yang mudah meresapkan air bentuk geomorfologi yang mampu meresapkan air hujan secara besar-besaran (Pasal 12 Keppres No. Kriteria kawasan gambut yang dilindungi itu adalah tanah gambut dengan ketebalan tiga meter atau lebih yang terdapat di bagian hulu sungai dan rawa (Pasal 10 Keppres No. 35 tahun 1991 tentang Sungai) (b) Untuk sungai di kawasan permukiman lebar sempadan sungai seharusnya cukup untuk membangun jalan inspeksi yaitu antara 10 sampai dengan 15 meter (Pasal 16 Butir b Keppres No. 32 Tahun 1990 jo PP No.

Hutan rawa gambut yang tidak dipengaruhi oleh air asin memiliki jenis tumbuhan yang lebih kaya.). dan beberapa jenis dari familia Poligalaceae serta Euphorbiacece. Marsawa. dan lain-lain. dan (3) tanah bergambut dan gambut. Pada habitat ini biasa ditemukan fauna yang tergolong reptilia. Nama atau jenis tanah tertentu sekurang-kurangnya memberi gambaran tentang sifat dan kelakuan tahan dalam merespon suatu teknologi yang diterapkan.). serta kuntul. Kelebatan formasi ini berkisar antara 100-500 meter.). buaya (Crocodylus porosus).3 Ekosistem Hutan Rawa Air Tawar (Zona II) Formasi hutan rawa air tawar terletak di bagian belakang hutan rawa payau. marin dan kubah gambut. dan kelompok burung yang banyak ditemukan merupakan kelompok cemar laut (wader) dan bangau.). Di dekat sungaisungai besar. Reptilia yang hidup di habitat ini adalah biawak ( Varanus salvator). Di bagian zona III terutama didominasi oleh tipe semak dan rumputan. Hutan pelawan beriang (Tristania abovata) dan Ploiarium alternifolium ditemukan pada lapisan gambut yang tebal. baik hutan rawa maupun hutan gambut. Secara geofisik. Napu (Tragulus napu). dan jenis-jenis yang termasuk ke dalam famili Anacardiaceae.1. pengembangan dan pengelolaannya. Tumbuhan lain yang juga sering ditemukan adalah Comnosperma dan Alstonia. badak (Dicerorhinus sumatrensis).2 Ekosistem Hutan Raya Payau (Zona I) Merupakan formasi hutan rawa campuran air asin dan air tawar. yaitu buaya senjolong (Tomastoma schlegelii). Pada umumnya sifat-sifat tanah pada lahan basah tersebut sangat berhubungan erat dengan fisiografi dimana tanah tersebut ditemukan. 188 .). tapir (Tapirus indicus). meranti (Shorea sp. Zona kedua terdiri atas tumbuhan Sindai (Knema spp. (5) tinggi muka air tanah. Blumeodendron sp. 2.. dan (6) keadaan substratum lahan.). beberapa jenis tumbuhan dominan adalah jenis terentang abang (Camnosperma macrophylla). (2) ketebalan dan kematangan gambut serta kandungan hara mineral. Selain itu terdapat familia Dipterocarpaceae dari Genera Shorea. Hutan ini merupakan formasi transisi dari hutan gambut ke hutan rawa ( mixed peat swamp forest).. kancil (Tragulus javanicus).1. karakteristik lahan basah yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut: (1) lama dan kedalaman genangan air banjir atau air pasang. dan umumnya terdapat di belakang hutan mangrove atau di sepanjang tepi sungai. Fisiografi utama pada zona I termasuk grup marin dan kubah gambut. Formasi ini berperan sebagai pembatas terhadap ekosistem hutan bakau dengan kehadiran formasi Nibung. Salah satu indikator formasi hutan ini adalah hadirnya tanaman pandan (Pandanus sp. (4) pengaruh luapan/air laut. Jenis ini dapat hidup sebagai pioner di sedimen berlapis. Komposisi tumbuhannya terdiri dari tiga zona yang secara horizontal adalah berturut-turut : zona pertama didominasi oleh jenis durian payau (Durio carrinatus). Di dalam formasi ini terdapat lapisan bergambut dengan ketebalan sekitar 20 cm. dan Rengas (Gluta rengas). babi (Sus barbatus). Informasi tentang tipologi geo-fisik lahan basah itu dapat digunakan sebagai arahan pemanfaatan.1. simang (Diospyros sp. Komposisi floristik pada formasi ini mirip dengan komposisi di hutan rawa air tawar. (3) kedalaman lapisan pirit serta kemasan potensial dan aktual setiap lapisan tanahnya. Fauna yang ditemukan di habitat ini pada umumnya fauna yang hidup di daerah mangrove maupun di hutan rawa air tawar. Rincian karakteristik umum tipologi geo-fisik lahan basah disajikan pada Tabel 2-1. Prunus sp. Putai (Alstonia). 2. 2. dan kelompok mamalia antara lain : gajah (Elephas maximus). Tumbuhan pada formasi ini didominasi oleh Terentang (Camnosperma). Dipterocarpus. sedangkan pada lapisan gambut yang tipis ditemukan tegakan nibung (Oncosperma filamentosa). serta kualitasnya. beruang (Herartos malayensis). sedangkan mamalia yang umum ditemukan adalah babi hutan (Sus scoria).). Pada zona II termasuk grup aluvial. Ketebalan gambut di daerah ini mencapai 2 sampai 3 meter dengan dominasi jenis palem yang merupakan indikator bahwa formasi di daerah ini merupakan formasi transisi antara tipe rawa dan gambut (hutan campuran rawa dan gambut atau mixed peat swamp forest).selama hidupnya.Ini terlihat dari seringnya Nipa diketemukan di sepanjang tepi sungai dengan aliran yang tenang.2 TIPOLOGI GEOFISIK Kualitas dan karakteristik lahan basah pada masing-masing zona dapat ditetapkan apabila jenis tanahnya diketahui.) dan rumput yang terapung (kumpai) di perairan. kera (Macaca sp. 2. Formasi ini merupakan pembatas antara hutan mangrove dan hutan lainnya di belakang mangrove. (2) tanah sulfat masam. dan Cotilelobium.4 Ekosistem Hutan Rawa Gambut (Zona III) Di daerah delta yang biasanya banyak mendapat pengaruh air asin dan payau. ular cincin emas (Boiga sp. pada tempat -tempat yang kurang tergenang ditumbuhi oleh jenis perepat (Combretocarpus motleyi) yang bercampur dengan Camnosperma macrophylla dan meranti paya (Shorea spp. sedangkan pada zona III termasuk grup aluvial dan kubah gambut. merawan bunga (Hopea mangerawan). Dan berbagai laporan studi dapat dikemukakan bahwa jenis tanah dominan pada lahan basah adalah: (1) tanah aluvial. kucing hutan (Felix sp.

III. Adapun faktor No. 1.3 TIPOLOGI AGROEKOSISTEM 2.1 Agro ekosistem Rawa Pasang Surut Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa pasang surut dapat didasarkan pada tipe luapan air pasang surut. Media perakaran 3. dan 5 merupakan hal yang patut dipertimbangkan dalam menentukan lokasi proyek pembangunan non pertanian. (2) Tipe B = terluapi pasang besar. yaitu : (1) Tipe A = terluapi pasang besar dan kecil.4. Tipologi Lahan Lahan Potensial Tipe Luapan (Kategori) A (I) Pola Pemanfaatan Lahan Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/surjan Surjan pangan/holtikultura Lahan Kering Pangan/Hortikultura/Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Lahan Sulfat Masam A (I) Sawah B (II) C (III) D (IV) Lahan Gambut A (I) Sawah/Surjan “Kridit” Surjan “Kridit” Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa Sawah B (II) C (III) D (IV) Sawah/Surjan Surjan Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa dan Kelapa Sawit Tabel 2-2 Pola Pemanfaatan Lahan Rawa Pasang Surut Sesuai dengan Tipologi Lahan dan Tipe Luapannya 189 .3.Tabel 2-1. kendala fisik lahan yang ada dan diperkirakan ada. (3) Tipe C = tidak terluapi pasang. Kegaraman tanah Toksisitas Kelima faktor mutu lahan yang diindikasikan pada Tabel 2-1 tersebut penting diperhatikan dalam penentuan kesesuaian lahan untuk kegiatan pertanian. Karakteristik Umum Tipologi Geofisik Lahan Basah No 1. air tanah < 50 cm. dan (4) Tipe D = tidak terluapi dan air tanah > 50 cm Pengelompokan tipe luapan ini sepadan dengan kategorisasi hidup topografi lahan basah berdasarkan pasang besar pada MH dan MK yaitu kategori I. seperti pada Tabel 2-2. 5. Jika dipertimbangkan tipologi lahan tipe luapan. maka dapat dikemukakan pola pemanfaatan lahan rawa pasang surut (Halim1994). II. Ketersediaan hara 4. Faktor Kualitas Lahan Genangan Karakteristik Periode lamanya genangan Kedalaman genangan Kualitas air genangan Tipe luapan Tekstur tanah Kedalaman efektif tanah Ketebalan gambut Tingkat kematangan gambut Tinggi muka air tanah N-total P-tersedia K-dapat ditukar Kapasitas Tukar Kation Kejenuhan Basa PH Salinitas atau sodisitas Kejenuhan aluminium Kedalaman bahan sulfidik Keadaan substratum Satuan waktu cm kelas kelas kelas cm cm kelas cm persen ppm me/100 g tanah me/100 g tanah persen unit mmhos/cm persen cm jenis 2. dan IV. Dengan tipe luapan air yang dimaksudkan itu maka pemanfaatan lahan dapat dikelompokkan ke dalam 4 tipe [berdasarkan luapan pasang besar (maksimum) dan pasang kecil (minimum)]. 2.

maka interaksi sosial dan proses sosial bisa beragam coraknya. Walaupun demikian. mengubah keadaan bentang lahan lebak di bagian hilir.1 Sosekbud Dari sisi sosial ekonomi. Rawa lebak bertipologi demikian umumnya termasuk rawa lebak dangkal. Oleh karena terdapat berbagai ragam potensi sumberdaya alam yang dapat dimanfaatkan. Sumberdaya alam di kawasan lahan basah dapat dikategorikan menjadi empat kategori. Pembangunan suatu waduk untuk irigasi di bagian hulu misalnya. Payau/Asin Hutan Mangrove/Tambak Hutan Mangrove Sawah Sawah Lahan Kering Pangan/Hortikultura Perkebunan Kelapa/Kelapa Sawit Pasang Surut Air Tawar Lahan Potensial Lahan Sulfat Masam Lahan Gambut Dangkal Lahan Gambut Sedang-Dalam Rawa Lebak Rawa Lebak Aluvial Rawa Lebak Gambut Dangkal Rawa Lebak Gambut Sedang Dalam Sawah/Sawah Tadah Hujan Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Perkebunan Kelapa Sawit Sistem “Polder” Pada kawasan lebak dangkal (pematang). 2. Demikian pula lebak dalam yang biasanya berperan sebagai gudang kehidupan berbagai jenis ikan akan berkurang kemampuan ekologisnya. Pemanfaatan lahan dengan tipe luapan D adalah berupa usaha tani lahan kering untuk tanaman pangan/hortikultura atau perkebunan kelapa. sebaiknya dimanfaatkan langsung sebagai lahan perkebunan kelapa. lahan dengan tipe luapan B juga dapat disawahkan sebanyak dua kali dalam setahun. Dari sudut pandangan lingkungan hidup. lebak tengahan. Rawa lebak pada tipologi lahan tersebut umumnya termasuk rawa lebak tengahan dan/atau dalam. Tipologi lahan aluvial dimanfaatkan untuk sawah lebak atau sawah tadah hujan. Sawah dapat dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun pada lahan dengan tipe luapan A. potongan kayu dan tempurung kelapa (yang baik untuk arang) serta sabut kelapa biasanya belum sepenuhnya dimanfaatkan penduduk sebagai bahan sumber tambahan pendapatan. sesungguhnya sumberdaya alam kawasan lahan basah amat kaya. Tabel 2-3 Pola Fisiografis Pemanfaatan Lahan Basah Zonasi Pasang Surut Air Tipologi Lahan Lahan Potensial. Keempat kategori sumberdaya alam tersebut telah dimanfaatkan oleh masyarakat daerah setempat maupun masyarakat pengusaha. (4) Sumberdaya “alam-segari” (amenity resources). Misalnya. Payau/Asin Pola Pemanfaatan Sawah Payau/Asin Lahan Sulfat Masam.Lahan potensial. (2) Sumberdaya “alam-hayati” (biological resources).4 TIPOLOGI SOSEKBUD DAN KESEHATAN MASYARAKAT 2.2 Agroekosistem Rawa Lebak Pola pemanfaatan lahan basah pada zona rawa lebak disesuaikan dengan tipologi lahannya seperti disajikan pada Tabel 2-3. Pada lahan gambut sebaiknya diusahakan sebagai lahan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan tanaman pangan dan hortikultura untuk beberapa musim. gambut sedang dan gambut dalam dapat dimanfaatkan untuk perkebunan kelapa sawit dengan sistem “polder”. interaksi sosial dalam pemanfaatan sumberdaya alam seyogyanya diperhatikan keterkaitannya dengan pencemaran 190 . yaitu: (1) Sumberdaya “alam-terludesi” (exhaustible resources). Dengan sistem Surjan. yang tengahan menjadi dangkal. 2. Lahan dengan tipe luapan C juga dapat disawahkan dalam musim hujan bila diterapkan sistem surjan. baik yang terbarukan maupun yang tak terbarukan. dan lebak dalam sebenarnya mengindikasikan adanya cekungan bentang lahan yang digenangi air tawar. Lebak dangkal berubah jadi kering. Indikasi yang demikian amat perlu diperhatikan setiap kali suatu pembangunan direncanakan. Sedangkan pada lahan sulfat masam. Pada guludan dapat ditanam beberapa jenis tanaman pangan lainnya serta tanaman hortikultura. karena keterisolasian lokasi dan keterbatasan sarana pengangkutan berbagai jenis sumberdaya alam dan sumberdaya turunannya masih sering tersia-siakan begitu saja. (3) Sumberdaya “alam-maliri” (flow resources). Payau/Asin Lahan Gambut. Sedangkan pada tipologi lahan gambut-dangkal.3. gambut dan sulfat masam dengan tipe luapan A dan B dimanfaatkan untuk sawah.4.

Dengan Hak Ulayat ini. sekunder. seperti peta vegetasi. peran limpahan air yang secara musiman membatasi intensitas tanaman akan memudahkan pengendalian hama dan gulma. Dengan demikian. Di lokasi pemukiman kawasan lahan basah menunjukkan urutan jenis penyakit terbesar adalah penyakit malaria. karena suatu keputusan yang tidak transparan oleh aparat tidak akan didukung oleh masyarakat setempat. pelingkupan dampak penting ditempuh melalui tiga proses utama. peta sistem lahan. dalam konsepsi hak ulayat tersebut ternyata masih ada hak anggota masyarakat secara individu menguasai sebagian obyek penguasaan Hak Ulayat tersebut dengan sistem tertentu. misalnya sistem lelang lebak-lebung di Sumatera Selatan. Semangat dan aktivitas gotong royong di kawasan lahan basah berbeda dengan kawasan-kawasan lain.1 PELINGKUPAN DAMPAK PENTING Menurut Lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. tapi ada yang harus dikendalikan agar tidak meluas pengaruhnya. peta tata guna tanah. hak untuk menanam ikan diperairan dalam kawasan proyek bekas tanah Hak Ulayat hendaknya tetap diberikan kepada penduduk setempat. pemahaman tentang persepsi masyarakat di kawasan lahan basah menjadi sangat penting. BAB III. atau penting tidaknya dampak.1 Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer. Akan tetapi setiap sentuhan proyek pembangunan yang mengganggu dan mengubah keseimbangan alami itu. Dari segi sosial-budaya. Pada tahap ini hanya diinventarisasi dampak potensial akan timbul tanpa memperhatikan besar dampak. yaitu: (1) identifikasi dampak potensial. Misalnya. dan data/informasi tentang hidrologi. dan dalam keadaan keseimbangan maka keberadaan air akan menopang kehidupan sehari-hari. Kehati-hatian diutamakan di sini. Namun. Sehubungan dengan itu. Keadaan ini menempatkan aspek sosial budaya sebagai komponen lingkungan yang tetap harus diperhatikan. sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan upaya gotong royong dalam memperluas lahan usaha. Analisis terhadap peta dan data sekunder yang ada. 3. masyarakat hukum adat yang bersangkutan menguasai tanah tersebut secara menyeluruh.4. Observasi atau kunjungan ke calon lokasi proyek. Diantara interaksi itu ada yang patut diteladani sebagai kearifan lokal. Aspek sosial lain di kawasan lahan basah yang perlu diperhatikan adalah tentang hak atas tanah.dan pengrusakan lingkungan alam. dan (2) Hak untuk berburu dalam batas wilayah atau wewenang hukum masyarakat merdeka. apabila terjadi pengambilalihan tanah Hak Ulayat maka perlu dipertimbangkan untuk seyogyanya tidak secara penuh meliputi setiap jenis sumberdaya terkait yang justru menjadi sumber nafkah penduduk. baik langsung maupun tidak berpengaruh negatif terhadap tingkat kesehatan masyarakat. Dengan kata lain suatu proyek pembangunan harus mempertimbangkan pola kebudayaan lokal. maka sikap masyarakat bisa negatif terhadap aktivitas proyek pembangunan. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul akibat adanya proyek. Oleh karena itu dapat dipahami jika terhadap sumberdaya alami yang dilingkupi oleh hak ulayat itu terdapat gengsi kesukuan yang tinggi. Jika tidak demikian. perlu memperhatikan tradisi pemilikan lahan yang luas itu sebagai aspek pertimbangan utama. 2. isu lingkungan di kawasan lahan basah juga perlu diperhatikan. Di kawasan lahan basah masih terdapat penguasaan lahan secara komunal yang dikenal dengan Hak Ulayat. agar sedapat mungkin kelangsungan proyek mendapat dukungan masyarakat atau paling tidak dampak yang ditimbulkan dapat diantisipasi. serta (tokoh-tokoh) masyarakat yang berkepentingan. Kawasan lahan basah di Indonesia ada yang berada dalam lingkup pengaruh atau telah merupakan perkampungan bahkan ada yang sudah merupakan bagian dari wilayah kota besar. Dapat dilihat bahwa penguasaan lahan oleh suatu keluarga dapat mencapai 2 sampai 5 Ha. Selain itu. pemrakarsa kegiatan. Selain itu. Identifikasi dampak potensial ditempuh melalui serangkaian langkah kegiatan berikut ini: Konsultasi dan diskusi dengan para pakar. Berikut diutarakan proses pelingkupan untuk ANDAL di daerah lahan basah dengan mengacu pada peraturan perundangan tersebut. (2) evaluasi dampak potensial. dan (3) pemusatan dampak penting. pada keadaan yang masih alami ciri itu sangat menonjol. Serangan penyakit ini diprakirakan akan selalu berlangsung pada setiap awal kegiatan pembangunan di kawasan lahan basah. Adapun metode identifikasi dampak potensial yang dapat digunakan antara lain adalah: Penelaahan pustaka: 191 . PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN 3. Spektrum kegiatan gotong royong dalam suatu kekerabatan atau kelompok sosial di kawasan lahan basah relatif luas dibandingkan dengan kawasan lainnya.1.2 Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Karakteristik utama lahan basah yang dicirikan dengan keberadaan air. Hak masyarakat atas tanah yang terwujud dalam Hak Ulayat di kawasan lahan basah berupa: (1) Hak untuk meramu atau mengumpulkan hasil hutan yang ada di wilayah/wewenang hukum masyarakat bersangkutan. instansi yang bertanggungjawab.

Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa i. Limbah cair iii. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i.Analisis isi (content analysis). Langkah 1 Buat daftar rencana kegiatan proyek yang akan dibangun di daerah lahan basah. Interaksi kelompok (rapat. 192 . Hasil Langkah 1 Daftar kegiatan atau aktivitas proyek yang dapat merupakan penyebab dampak lingkungan antara lain adalah: 1. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi i. danau) ii. Pusat-pusat pertumbuhan baru Langkah 2 Identifikasi tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi pro dan/atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1. dan Pengamatan lapangan (observasi). Pengalihan aliran iv. Matrik interaksi sederhana. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Panas vii. Minyak ii. Berikut diutarakan langkah-langkah identifikasi dampak potensial aktivitas proyek di daerah lahan basah. Limbah domestik v. air tanah dalam d) Kegiatan penerimaan tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah i. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Penebangan vegetasi ii. Kegiatan konstruksi. lokakarya. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi i. Kimia iii. brainstorming dan lain-lain). Pembangunan saluran drainase ii. Limbah Industri vi. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. Daftar uji sederhana. Radioaktif iv. Pemungutan hasil iii. Aksesibilitas wilayah ii. Introduksi spesies asing 3. b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Lihat pula KEP-30/MENKLH/7/I992 tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sebagai sumber informasinya yang lebih rinci. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah i. Penambahan/pengurukan lahan Seperti antara lain : pembangunan jalan iii. Limbah padat ii. Pengambilan/perburuan satwa ii. Kanalisasi sungai iii. air permukaan (sungai. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei. Pengurangan/pembuangan lahan Seperti antara lain : pembangunan tambak ii. Kegiatan operasi.

193 . Hasil Langkah 3 Diperoleh daftar komponen lingkungan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek. nekton iii. hutan rawa payau. identifikasikan fungsi atau manfaat yang masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan yang akan mengalami perubahan mendasar akibat adanya proyek. hutan rawa air tawar. Komponen Sosial Ekonomi dan Sosial Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. pendidikan. Komponen Biologi a) Komunitas Vegetasi i. Fisiografi. hutan rawa bergambut. Sifat fisik tanah iii. Curah hujan ii. Tinggi dan elevasi muka air (pasang surut) ii. Dalam Panduan ini tipe ekosistem dimaksud dibatasi pada: 1. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. 3.Hasil Langkah 2 Daftar tipe-tipe ekosistem lahan basah yang akan menjadi lokasi proyek dan/ atau yang akan terpengaruh oleh kegiatan proyek. dan frekuensi genangan/banjir iv. Kecepatan angin b) Hidrologi. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Tinggi. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Panjang penyinaran matahari iv. 2. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 3. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. dan 4. yang meliputi: i. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas Satwa Liar i. Langkah 3 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. kesehatan. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Sifat kimia tanah 2. lama. yang meliputi: i. yang diantara adalah: 1. Debit dan pola aliran iii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Langkah 4 Di setiap tipe ekosistem menurut Hasil Langkah 2. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. identifikasikan komponen ekosistem yang akan mengalami perubahan akibat adanya proyek. yang meliputi: i. hutan bakau. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Pola sedimentasi dan drainase v. litologi ii. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton.

ekosistem. serta peninggalan sejarah. keagamaan dan spiritual. ikan dan daging satwa liar. Buat matrik dampak fungsi ekosistem yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen fungsi ekosistem lahan basah (Hasil Langkah 4). dan pemecah angin (windbreak) 5. seperti proses ekologi. misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Langkah 5 Buat matrik dampak komponen lingkungan yang pada bagian kolom memuat rencana kegiatan proyek (Hasil Langkah 1) dan pada bagian baris memuat komponen lingkungan lahan basah (Hasil Langkah 3). habitat satwa liar dan tumbuhan penting. terutama pengendalian banjir 3. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. 10. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7. Fungsi sosial budaya. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran.2 Evaluasi dampak potensial Evaluasi dampak potensial dalam proses pelingkupan bertujuan untuk meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. Fungsi pengendalian air. sehingga diperoleh daftar dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi AMDAL. yang berupa perlindungan garis pantai. 9. 194 . Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6.1. getah. 16. berupa estetika lansekap. Terbentuk matrik dampak fungsi ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-2. 17. Fungsi sosial ekonomi. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. 3. 13. geomorfologi dan geologi. dan lansekap lahan basah. seperti energi kayu. Hasil Langkah 6 Disetiap tipe ekosistem sebagaimana dimaksud hasil langkah 2. Hasil langkah 5 Terbentuk matrik dampak komponen lingkungan ekosistem seperti contoh pada Lampiran 3-1. Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Berikut adalah langkah-langkah yang dapat digunakan untuk memandu evaluasi dampak potensial: Langkah 7 Gunakan Keputusan Kepala BA PEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak besar dan Penting untuk mengevaluasi penting tidaknya hasil langkah 6 dari identifikasi dampak potensial. rotan. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil langkah 2. Masing-masing jenis matrik dibuat sebanyak jumlah tipe ekosistem sebagaimana Hasil Langkah 2. diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang potensial akan terkena dampak. 2. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar. 4. rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah sulfat masam. pengendalian erosi. a) b) c) a) b) Langkah 6 Disetiap jenis matrik yang diperoleh dari hasil langkah 4 lakukan identifikasi dampak dengan cara: Beri tanda “X” atau “V” atau simbol lainnya pada komponen lingkungan tertentu dan fungsi tertentu dari tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. Fungsi pencegah intrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. 14. obat. 11. Fungsi pemasok energi. dan listrik-hidro. dan gambut. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Matrik sebanyak jumlah tipe ekosistem menurut hasil Langkah 2. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. komunitas. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. seperti kayu. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (ground water recharge) dan lokasi lahan basah lainnya.Hasil Langkah 4 Diperoleh daftar fungsi atau manfaat untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang diantaranya meliputi: 1.

konstruksi dan operasi di daerah lahan basah. Langkah 1 Buat batas proyek dengan cara: a) Plotkan pada peta vegetasi/peta tata guna tanah/peta sistem lahan yang tersedia. karena data/informasi tentang komponen lingkungan bersangkutan sangat terbatas. Catatan Langkah 9 Dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 dapat dikelompokkan ke dalam beberapa isu pokok lingkungan melalui: Pengelompokkan berdasarkan konsentrasi persebaran dampak besar dan penting di suatu lokasi. dan Lampiran II Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: KEP-229/11/1996 tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan KA-ANDAL. Langkah yang dapat ditempuh untuk memandu pemusatan dampak besar dan penting adalah sebagai berikut: Langkah 9 Kelompokkan dampak besar dan penting Hasil Langkah 8 atas beberapa isu pokok lingkungan. Hasil Langkah 9 Diperoleh beberapa isu pokok lingkungan yang merefleksikan perubahan-perubahan pokok yang akan dialami ekosistem lahan basah yang bersifat mendasar akibat adanya proyek. Hasil Langkah 1 Diperoleh batas kegiatan proyek di daerah lahan basah di atas peta yang digunakan. batas terluar kegiatan proyek dalam melakukan kegiatan pra konstruksi. Termasuk dalam hal ini alternatif lokasi kegiatan proyek.3 Pemusatan dampak besar dan penting (Focussing) Tujuan pemusatan dampak besar dan penting adalah untuk mengelompokkan dan mengorganisir dampak potensial yang telah dirumuskan pada tahap evaluasi dampak potensial (butir 3.1 dapat digunakan untuk memandu hal ini. Langkah 8 Tetapkan dampak penting (hipotesis) yang akan diteliti secara mendalam dalam studi ANDAL Hasil Langkah 8 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang harus diteliti secara mendalam pada studi ANDAL. Tidak dapat di evaluasi sifat pentingnya berdasarkan hasil langkah 7. Lihat pula matrik pada lampiran 3-1 sebagai contoh. Hasil Langkah I dari butir 3.2.1. 3.Hasil Langkah 7 Diperoleh daftar komponen lingkungan dan fungsi lahan basah yang berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting tergolong terkena dampak besar dan penting. b. b) Dalam batas proyek tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat (social institution) yang berpotensi berubah secara mendasar akibat adanya proyek.2. b) Keterkaitan antar dampak besar dan penting yang telah di identifikasi pada butir 3. Potensial terkena dampak penting proyek berdasarkan hasil langkah 7. dan/atau Pengelompokkan berdasarkan struktur (komponen lingkungan) dan fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak besar dan penting proyek.1. Komponen lingkungan dan fungsi ekosistem lahan basah yang tidak terkena dampak penting tidak diteliti dalam studi ANDAL.yakni yang meliputi: a. sosial dan ekologi. sosial maupun ekologi.) dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan yang secara komprehensif dapat menggambarkan: a) Keterkaitan antara rencana kegiatan proyek dengan komponen lingkungan yang akan terkena dampak besar dan penting. Hasil Langkah 10 Isu-isu pokok lingkungan berdasarkan kepentingan ekonomi. 3.1. 195 a) . Langkah 10 Urutkan isu-isu pokok lingkungan Hasil Langkah 9 menurut kepentingan dari segi ekonomi.2 PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan wilayah studi yang dikembangkan di sini mengacu pada lampiran 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL.1.

Ruang kegiatan proyek ini merupakan sumber dampak terhadap lingkungan di sekitarnya. 196 . melalui penyerapan tenaga kerja. Catatan Langkah 1 Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha atau kegiatan/proyek akan melakukan kegiatan pra konstruksi. dapat memandu mengarahkan hal ini. Batas sosial dapat menyebar di beberapa lokasi dan dapat lebih luas dari batas proyek atau batas ekologi. a) b) Catatan Langkah 2 Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari kegiatan proyek menurut media transportasi limbah (air. udara) dan/atau menurut timbulnya kerusakan sumber daya alam. batas kuasa pertambangan. terhadap ekosistem lahan basah di sekitarnya. Sebagai contoh adalah batas administratif pemerintahan daerah. Langkah 2 Buat batas ekologis pada peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Plotkan batas terjauh dari transportasi limbah proyek. konstruksi dan operasi. Dalam batas ekologis dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang terkena dampak penting kegiatan proyek. batas HPH.b) Di dalam batas proyek dimaksud teridentifikasi komunitas masyarakat atau lembaga-lembaga masyarakat yang akan terkena dampak penting kegiatan proyek. Catatan Langkah 3 Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar proyek yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). Langkah 3 Buat batas sosial di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah I dengan cara: a) Plotkan lokasi komunitas masyarakat dan/atau lembaga-lembaga masyarakat sebagaimana dimaksud pada Hasil Langkah 1 dan 2. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial Hasil Langkah 3 Diperoleh batas sosial di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. d) Di dalam batas ekologis tersebut identifikasikan komunitas masyarakat dan/atau lembagalembaga masyarakat yang berpotensi berubah mendasar sebagai akibat rusaknya sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh proyek. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat proyek. Di dalam ruang tersebut masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. dan/atau b) Plotkan batas terjauh atau lokasi-lokasi tempat terjadinya gangguan atau kerusakan terhadap fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek. melalui media air. c) Gabungkan hasil langkah a) dan b) sehingga menghasilkan batas ekologis. Catatan Langkah 4 Yang dimaksud dengan batas administratif adalah ruang dimana lembaga-lembaga masyarakat tertentu mempunyai kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu berdasarkan peraturan perundangan yang ada. swasta dan/ atau lembaga lokal masyarakat setempat Hasil Langkah 4 Diperoleh batas administratif di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. b) Plotkan lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak mendasar dari proyek misalnya. Hasil Langkah 2 sampai 4 dari proses Identifikasi Dampak Potensial. dimana proses-proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. Langkah 4 Buat batas administratif di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: Plotkan batas-batas kewenangan tertentu untuk mengatur/mengelola sumber daya alam dan lingkungan tertentu yang keabsahannya diakui oleh lembaga formal pemerintahan. Hasil Langkah 2 Diperoleh batas ekologis di atas peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1.

b) Macam data dan informasi tentang struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber data. batas ekologi. dalam panduan ini tidak dijelaskan tentang outline tersebut. batas sosial (Hasil Langkah 3). Hasil Langkah 5 Diperoleh batas wilayah studi ANDAL pada peta yang sama dengan yang digunakan pada Langkah 1. termasuk yang tergolong terkena dampak penting. 4.1 OUTLINE/RANCANGAN STUDI Outline penyusunan kerangka Acuan ANDAL.2. dan batas administratif (Hasil Langkah 4). yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. ANDAL. batas administratif dan kendala teknis yang dihadapi. Karena itu. Pelingkupan Dampak Penting Identifikasi Dampak Potensial Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek Langkah 2: Identifikasi Tipe Eksosistem Langkah 3: Identifikasi Komponen Lingkungan Langkah 4: Identifikasi Fungsi Ekosistem Langkah 5: Matrik Identifikasi Dampak Langkah 6: Identifikasi Dampak Potensial Pelingkupan Wilayah Studi Langkah 1: Penetapan Batas Proyek Evaluasi Dampak Potensial Langkah 7: Evaluasi Sifat Penting Dampak Langkah 8: Dampak Penting yg Ditelaah ANDAL Langkah 2: Penetapan Batas Ekologi Langkah 3: Penetapan Batas Sosial Langkah 4: Penetapan Batas Administratif Pemusatan Dampak Penting Langkah 9: Pengelompokkan Isu-isu Lingkungan Langkah 10: Pengurutan Isu-isu Lingkungan Langkah 5: Penetapan Wilayah Studi ANDAL Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL Rencana Kegiatan Proyek yang perlu Isu Pokok/Dampak Penting Ditelaah Mendalam Lingkungan yang perlu Ditelaah Mendalam Gambar 3-1. RKL dan RPL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah seperti yang dijelaskan dalam Pedoman Penyusunan AMDAL.2. Skema Proses Pelingkupan Dampak Penting dan Studi BAB IV PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN 4. batas ekologi (Hasil Langkah 2). waktu.1 Macam data dan informasi yang dikumpulkan Pada bagian ini diutarakan macam data dan informasi yang akan dikumpulkan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah. Data yang dikumpulkan tersebut meliputi data primer dan data sekunder. dan tenaga yang tersedia.Langkah 5 Buat batas wilayah studi ANDAL di atas peta yang sama yang digunakan pada Langkah 1 dengan cara: a) Buat batas terluar dari gabungan batas proyek (Hasil Langkah 1). Adapun data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari sumber data. batas sosial. Batas dimaksud merupakan resultante dari batas proyek. 4.2 METODE STUDI 4. b) Tetapkan batas wilayah studi ANDAL dengan mempertimbangkan hasil kegiatan butir a) di atas dengan dana.2 Wilayah studi ANDAL daerah lahan basah 197 . yakni yang meliputi: a) Macam data dan informasi tentang rencana kegiatan proyek yang dikumpulkan dalam studi ANDAL berdasarkan hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu.

dan (2) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan tidak akan terkena dampak sebagai lokasi rujukan/pembanding (reference station). bulanan atau musiman. b) memprakirakan besar dampak lingkungan yang akan dialami oleh struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagai akibat adanya proyek dengan menggunakan hasil kegiatan butir a).serta sifat dan karakter komponen lingkungan yang diukur. misal untuk biologi pada tingkatan komunitas. dan dilain pihak dalam studi ANDAL diperlukan prakiraan dampak yang tajam. Data primer dikumpulkan melalui metode survei. e) Kualitas data sekunder harus dicermati untuk itu diperlukan cross check dengan data lain yang diperoleh.3 Metode pengumpulan dan analisis data Data dan informasi tersebut dikumpulkan dan di analisis dengan maksud untuk: a) mengetahui kondisi atau rona lingkungan hidup ekosistem lahan basah sebelum proyek dibangun. Tabel 4-1 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Fisik Kimia 198 . Waktu pengambilan sampel harus dapat mewakili variabilitas harian. Untuk itu metode atau instrumen yang bersifat sahih dan reliabel merupakan pilihan utama yang harus digunakan. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pengumpulan dan analisis data adalah: a) Untuk menghasilkan data yang berkualitas keakuratan dan kemantapan alat ukur merupakan hal penting yang harus diperhatikan. Variabilitas ini harus dapat diketahui oleh penyusun ANDAL. kampung. b) Dampak besar dan penting yang diakibatkan oleh proyek pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh komponen ekosistem lahan basah serta di seluruh kelompok atau lapisan masyarakat yang terkena dampak. Pada peta ini dicantumkan pula lokasi pengamatan atau pengambilan contoh/sampel pada saat studi ANDAL dilaksanakan. 4. Contoh metode pengumpulan dan/atau analisis data yang digunakan oleh penyusun ANDAL dapat dilihat pada Tabel 4-1 sampai Tabel 4-3. saat pengambilan sampel kualitas air harus dapat mewakili pola pasang surut yang ada.Pada bagian ini dipaparkan wilayah studi ANDAL daerah lahan basah dengan mengacu pada hasil proses pelingkupan sebagaimana dimaksud pada Bab III terdahulu. Sebagai misal. dalam studi ANDAL di ekosistem lahan basah yang terpengaruh gerak pasang surut air laut. Lokasi pengambilan sampel harus dapat mewakili heterogenitas persebaran dampak. Kejelasan satuan analisis yang akan diukur. c) mengevaluasi dampak lingkungan dari proyek terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah secara holistik dengan menggunakan hasil kegiatan butir a) dan butir b).2. Adapun data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data dari pihak ketiga. yang meliputi: (1) daerah atau kelompok masyarakat yang diprakirakan akan terkena dampak. untuk aspek sosial berjenjang dari rumah tangga. c) Mengingat ekosistem lahan basah yang dimaksud dalam panduan ini merupakan ekosistem yang tergolong memiliki variabilitas dan heterogenitas yang tinggi. desa hingga kecamatan sesuai dengan parameter yang hendak diukur. d) Khusus untuk aspek sosial. maka dalam pengumpulan data atau penarikan sampel perlu diperhatikan hal berikut: metode pengambilan contoh (sampling) yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan dan efisiensi pengukuran. data dan informasi yang dikumpulkan agar tidak hanya menggunakan ukuran-ukuran yang bersifat penting dari sudut pandang pelaksana studi/ pakar (etic) namun juga menurut pandangan target group (kelompok/masyarakat sasaran) di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (emic).

lama. Sekunder & Tersier · Visual · Organoleptik · Gravimetrik · Elektrometrik. Oldeman matahari · Kecepatan angin Hidrologi · Tinggi dan elevasi muka · Pengukuran air Lapang · Debit dan pola aliran · Pengamatan · Tinggi. · Lahan gambut · Lahan rawa · Penilaian Ahli · Analisa laboratorium 199 . litologi · Sifat fisik tanah · Sifat kimia tanah · Observasi Lapang · Pengeboran dan pengam bilan contoh tanah.Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Iklim · Curah hujan · Suhu dan · Pengumpulan · Pelabuhan · Tabulasi data data sekunder Udara terdekat · Klasifikasi Schmith kelembaban nisbi udara · Stasiun & Ferguson. · Pengamatan · Lama penyinaran Meteorologi Koppen dan Lapang terdekat. Sekunder & Tersier · Analisis Hidrograf · Pengukuran Lapang · Penilaian Ahli Sifat fisik air permukaan · Sungai · Saluran Primer. dan freLapang kuensi genangan/banjir · Pola sedimentasi dan drainase · Warna · Rasa dan bau · Kekeruhan · Padatan tersuspensi · pH · DHL · Pengukuran insitu · Pengambilan sampel air · Sungai · Saluran Primer. Sekunder & Tersier · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Titrimetrik · Spektrofotometrik Tanah · Fisiografi. Sifat kimia air permukaan · DO · BOD · COD · Kesadahan Total · Kalsium (Ca) · Magnesium (Mg) · Mangan (Mn) · Karbonat (CO3) · Nitrit (NO2) · Nitrat (NO3) · Sulfat (SO4) · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Titrasi · Sungai · Saluran Primer.

Aspek Biologi Komponen Lingkungan Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan Komunitas Vegetasi · Keanekaragaman · Transek · Hutan Bakau · Penghitungan jenis/komunitas · Pengumpulan · Hutan Rawa Indek Nilai vegetasi data sekunder · Hutan Payau Penting (INP) · Keanekaragaman · Analisis vegetasi · Indek Keanekajenis/komunitas biota · Observasi ragaman air/phytoplankton lapangan · Indek Kesera· Struktur dan · Transek gaman Jenis. nekton · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi · Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi · Pengumpulan data sekunder · Analisis satwa liar · Observasi lapangan · Hutan Bakau · Penghitungan · Hutan Rawa Indek Nilai · Hutan Payau Penting (INP) · Indek Keanekaragaman · Indek Keseragaman Jenis. komposisi vegetasi · Pemetaan · Jenis dan populasi Plasma Nutfah. vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi · Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi · Zona habitat khusus dan plasma nutfah Komunitas Satwa Liar · Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar · Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. · Tabulasi Jenis Satwa Liar yang di Lindungi. 200 .Tabel 4-2 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data.

Kegiatan konstruksi. · Kesehatan lingkungan adat. Untuk perekonomian dilakukan di pusat pusat kegiatan perekonomian. Pengalihan aliran iv. yang meliputi : a) Kegiatan yang bersifat merubah lahan/lansekap lahan: i. Pemadatan lahan b) Kegiatan yang bersifat mengubah rejim hidrologi : i. Introduksi spesies asing d) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa : i. dan peribadatan Pengumpulan · Desa-desa/ · Tabulasi silang data sekunder. Kanalisasi sungai iii. kesehatan. Sosial Budaya · Adat istiadat · Pengumpulan · Desa-desa/ · Kelembagaan tradisional data sekunder.Tabel 4-3 Contoh Metode Pengumpulan dan Analisis data Aspek Sosial Komponen Lingkungan Sosial Ekonomi Parameter Metode Pengumpulan Data Metode Lokasi Metode Analisis Data Keterangan · Kepadatan dan · pertumbuhan penduduk · Persebaran penduduk · · Peluang bekerja dan · berusaha · Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam · Persarana perhubungan air · Pemukiman penduduk · Fasilitas umum. Pemungutan hasil iii. 4. Introduksi spesies asing 201 .3 URAIAN RENCANA DAN USAHA ATAU KEGIATAN Dalam bagian ini deskripsi rencana kegiatan pembangunan kawasan lahan basah hendaknya diuraikan secara rinci dan sistematis. Pengurangan/pembuangan lahan ii.4.2. · Tabulasi silang · Analisis deskriptif dan tabulasi silang · Penilaian Ahli 4. dan tabulasi siWawancara · Wilayah lang administrasi · Penilaian Ahli proyek.· Analisis deskriptif Observasi lapang duduk terdekat. Pembangunan saluran drainase ii. Penambahan/pengurukan lahan iii. pemukiman pen. Pengambilan/perburuan satwa ii. Metode prakiraan dampak dan evaluasi dampak Metode prakiraan dampak dan metode evaluasi dampak yang digunakan dalam studi ANDAL Daerah Lahan Basah agar mengikuti panduan yang terdapat pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. pendidikan. Penebangan vegetasi ii. Penanaman tanaman (penghijauan/reklamasi) iv. · Sistem pertanian dengan tokoh · Wilayah · Akulturasi dan asimilasi masyarakat dan administrasi · Kesehatan masyarakat ketua suku atau proyek. Hal-hal penting yang perlu dimuat antara lain adalah tentang (sebagian diantaranya merujuk pada Bab III di depan): 1. Kegiatan pra konstruksi yang meliputi: a) Kegiatan survei : b) Kegiatan pembebasan lahan 2. Konstruksi dam c) Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi : i. pemukiman · Aktivitas perekonomi · Observasi lapang penduduk dan perdagangan · Wawancara terdekat.

Aksesibilitas wilayah ii. Pola sedimentasi dan drainase v. Tinggi dan elevasi muka air ii. Keanekaragaman jenis/komunitas satwa liar ii. Udara b) Kegiatan instalasi dan operasi pengolah limbah : i. air permukaan(sungai. Panjang penyinaran matahari .2. Kegiatan operasi. danau) ii.1. 4. atau alternatif disain teknik yang sedang ditelaah c) Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan dalam kegiatan konstruksi d) Teknologi dan proses yang digunakan pada saat kegiatan operasi e) Tenaga kerja yang dicurahkan. Sifat fisik dan kimia air permukaan c) Tanah. iv. Sifat kimia tanah 2. air tanah dalam d) Kegiatan rekrutmen tenaga kerja e) Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah : i. dan frekuensi genangan/banjir iv. litologi ii. maka disain teknik yang diutarakan masih belum bersifat rinci detail. b) Alternatif lokasi. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim. Minyak ii. Panas vii.1 Struktur ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan struktur ekosistem lahan basah saat proyek belum dibangun dan beroperasi di daerah tersebut. Radioaktif iv. 1. Limbah padat ii: Limbah cair iii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Mengingat studi ANDAL ini dilakukan saat proyek berada pada tahap studi kelayakan . Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja).2. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekologi tinggi vii. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/zooplankton. b) fungsi dari setiap ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama fungsi lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. Debit dan pola aliran iii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. alternatif ruas jalan.4 RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan yang diutarakan dalam studi ANDAL kegiatan pembangunan di daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: a) struktur dari setiap tipe ekosistem lahan basah yang potensial terkena dampak proyek terutama komponen lingkungan yang akan terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada butir 4. iv Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekologi tinggi v. Zona habitat khusus dan plasma nutfah b) Komunitas satwa liar i. Tinggi. Kimia iii. Sifat fisik tanah iii. Kecepatan angin b) Hidrologi. Komponen Biologi a) Komunitas vegetasi i. lama.4.3. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. yang meliputi: i. Limbah domestik v. yang meliputi: a) Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran : i.1. Curah hujan ii. Struktur dan komposisi vegetasi iv. yang meliputi: i. Limbah gas c) Kegiatan pengambilan/pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi: i. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi. yang meliputi: i. Fisiografi. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Keanekaragaman jenis/komunitas biota air/phytoplankton iii. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dapat digunakan sebagai rujukan untuk pengumpulan data dan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Pusat-pusat pertumbuhan baru Di berbagai jenis kegiatan tersebut usahakan dapat diutarakan perihal : a) Disain teknik yang akan diaplikasikan. 4. nekton iii. Limbah Industri vi. Jenis satwa liar yang langka dan/atau dilindungi 202 .

ii. Rosot karbon (carbon sink) iii. yang diantaranya berupa: i. Habitat satwa liar dan tumbuhan penting iii. geomorfologi dan geologi ii. Lansekap atau jenis-jenis lahan basah 14) Fungsi rekreasi dan pariwisata 15) Fungsi sosial budaya. Keagamaan dan spiritual iii.1. yang berupa: i. seperti: i. Spesies langka dan dilindungi ii. rusa) iii. Ikan dan burung-burung migran 10) Fungsi pemasok energi. Air tanah ii. misal: energi dari kayu. Proses ekologi. Ekosistem v. pendidikan. Pencegahan perluasan tanah sulfat masam 4. kesehatan. dan obat iv. 1) Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air). Kayu ii. Ikan dan daging satwa (misal. Komunitas iv. Uraian disusun berdasarkan sistematika sebagai berikut (hanya contoh saja).5 PRAKIRAAN DAMPAK PENTING Bab tentang prakiraan dampak penting yang diutarakan dalam studi ANDAL daerah lahan basah pada dasarnya harus dapat menggambarkan tentang: 1) Analisis prakiraan dampak hanya dilakukan pada komponen-komponen lingkungan yang potensial terkena dampak penting sebagaimana dinyatakan pada angka 3.4.2 (Langkah 8: Komponen Dampak Penting yang Ditelaah ANDAL). getah. Dengan kata lain analisis prakiraan dampak hanya ditujukan pada komponen-komponen tertentu dari struktur ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting. Sumber mata pencaharian masyarakat setempat ii.3. Rotan. Tanah adat masyarakat setempat 17) Fungsi penelitian dan pendidikan 18) Fungsi pemeliharaan proses-proses alam. Bahan organik dan anorganik yang tertransportasi ke hilir . Populasi satwa liar 13) Fungsi konservasi bagi: i. yang antara lain berupa: i. Pemanfaatan langsung oleh masyarakat ii. Komponen sosial ekonomi dan sosial budaya : a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Persarana perhubungan air f) Pemukiman penduduk g) Fasilitas umum. Air permukaan 4) Fungsi lindung (dari kekuatan alam). yang diantaranya meliputi: i. Gambut 9) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi. terutama pengendalian banjir 3) Fungsi pencegah intrusi air laut ke: i. dan peribadatan h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomi dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan 4. listrik-hidro 11) Fungsi transportasi/perhubungan 12) Fungsi bank gen bagi: i. Pemecah angin (windbreak) 5) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen 6) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara 7) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahan-bahan beracun 8) Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Hara terlarut yang tertransportasi ke hilir iii. Perlindungan garis pantai dan pengendalian erosi ii. Spesies-spesies tumbuhan komersil ii. Ke lokasi lain: Pasokan air ke aquifer (groundwater recharge) Pasokan air ke lahan basah lainnya 2) Fungsi pengendalian air. seperti: i.2 Fungsi ekosistem lahan basah Pada bagian ini diuraikan fungsi-fungsi ekosistem lahan basah yang saat ini masih dimiliki oleh ekosistem bersangkutan sebelum proyek beroperasi di daerah tersebut. Peninggalan sejarah 16) Fungsi sosial ekonomi. yang berupa: i. 203 . Estetika lansekap ii.

dan metode grup eksperimen. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada Bab ini perlu dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut. sebagai landasan untuk menilai totalitas dampak proyek terhadap fungsi dari ekosistem lahan basah (untuk keperluan Bab Evaluasi Dampak). Langkah 1: Prakirakan dampak penting dengan cara: a) prakirakan besar dampak untuk setiap komponen dampak lingkungan yang terdapat dalam angka 3. Sehingga prakiraan dampak juga harus memperhitungkan pengaruh faktor eksternal pada komponen lingkungan yang tengah ditelaah secara mendalam untuk keperluan ANDAL. kerusakan ekosistem hutan bakau akibat kegiatan suatu proyek pembangunan dapat mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem terumbu karang di perairan pesisir dan juga pada ekosistem rawa lebak yang terletak lebih ke pedalaman. khususnya Langkah 8: Komponen Dampak Besar dan Penting yang ditelaah dalam ANDAL b) prakiraan dilakukan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terdapat dalam angka 3. c) Daerah lahan basah umumnya merupakan medan yang berat dan terisolasi sehingga kebanyakan desa yang ada tergolong miskin. 204 . Sebagai misal.1. Hasil Langkah 1 Diperoleh data dan informasi perihal besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem tertentu yang terkena dampak kegiatan tertentu dari proyek. yaitu: a) metode formal.1 Langkah 2. Prakiraan dampak penting aspek sosial dengan demikian harus mencermati kondisi sosial budaya dan ekonomi masyarakat setempat. yang antara lain meliputi model matematik. Proyek langsung menimbulkan dampak pada salah satu komponen sosial dan kemudian berdampak lanjutan dikalangan komponen sosial sendiri. 6) Mengingat dikalangan komponen ekosistem lahan basah terdapat keterkaitan dan ketergantungan yang tinggi. dan kemudian pada mata pencaharian penduduk setempat. 3) Prakiraan terhadap besarnya dampak lingkungan yang timbul dapat dilakukan dengan dua metode.1 khususnya Langkah 2 : Identifikasi Tipe Ekosistem. Sebagai contoh: proyek mengakibatkan erosi dan abrasi pantai yang kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada populasi biota akuatik yang bernilai ekonomi tinggi. zona rawa lebak terkait dengan ekosistem daratan di atasnya. sebagaimana diutarakan pada butir 5) di atas. b) Ekosistem lahan basah kebanyakan masih berwujud alami. dan metode analogi 4) Sehubungan dengan proyek masih berada pada tahap studi kelayakan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dan Keputusan Kepala Bapedal tentang Panduan Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL. Sebagai misal. disarankan digunakan pula sebagai acuan untuk prakiraan dampak penting. proyek mengakibatkan dampak negatif terhadap habitat satwa liar langka dan dilindungi (gajah) yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan berupa gangguan gajah terhadap produksi pertanian. maka dalam analisis prakiraan dampak (serta evaluasi dampak) perlu diperhatikan pola aliran dampak yang dapat terjadi sebagai berikut: a) Mekanisme aliran dampak yang bersifat inter ekosistem: Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen fisik kimia kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. 5) Prakiraan dampak pada komponen ekosistem lahan basah perlu memperhatikan faktor-faktor berikut ini: a) Ekosistem lahan basah banyak dijumpai berada antara ekosistem daratan dan ekosistem pesisir/ laut.1. dimana masih dilakukan pemilihan alternatif kegiatan (misal alternatif lokasi dan/atau teknologi yang digunakan). proyek mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove.2) Analisis prakiraan dampak yang dimaksud pada angka 1) di atas meliputi kajian tentang arah dan besar dampak yang akan terjadi di setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak yang dimaksud oleh angka 3.1. tradisional.2. Hal ini terutama perlu diperhatikan pada studi AMDAL Kegiatan Terpadu dan AMDAL Kawasan. b) metode non-formal yang antara lain meliputi penilaian para ahli. sementara zona pasang surut terkait dengan ekosistem pesisir/laut. Sebagai misal.sehingga tingkat keanekaragaman hayati masih relatif tinggi sehingga prakiraan dampak harus dilakukan pada seluruh komponen ekosistem yang terkena dampak penting. Sebagai contoh. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi dan kemudian menimbulkan dampak lanjutan terhadap komponen fisik-kimia dan sosial. Kerusakan pada ekosistem mangrove ini menyebabkan kerusakan pada stabilitas pantai dan kemudian berdampak lanjutan pada produksi tambak di pesisir Dampak besar dan penting yang diutarakan seluruhnya pada huruf a) selanjutnya mengakibatkan dampak balik pada kegiatan proyek. Proyek menimbulkan dampak penting pada komponen biologi yang kemudian membangkitkan dampak lanjutan pada komponen sosial. b) Mekanisme aliran dampak yang bersifat antar ekosistem: Dampak penting yang dialami suatu ekosistem akibat adanya aktivitas tertentu dari proyek mengakibatkan dampak lanjutan pada ekosistem lainnya. maka prakiraan besar dampak sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan 2) di atas dilakukan untuk masing-masing alternatif kegiatan. dan berpendidikan rendah.

telaah secara komprehensif sejauh mana perubahan struktur ekosistem lahan basah yang dimaksud pada Langkah 1 berpengaruh terhadap fungsi ekosistem.1 khususnya Langkah 1: Identifikasi Rencana Kegiatan Proyek. Catatan Langkah 1 Penelaahan secara komprehensif fenomena hubungan sebab akibat dan penyebab utama perubahan struktur ekosistem.1. Hasil Langkah 1 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan struktur ekosistem: akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak.1. 4. rumuskan arahan untuk RKL dan RPL dengan prioritas pada pencegahan dampak lingkungan.1 (yakni langkah 4 proses pelingkupan).5. lakukan telaahan sejauh mana dampak besar dan penting yang ditimbulkan terhadap struktur dan fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana dimaksud pada Langkah 1 dan 2.6 EVALUASI DAMPAK PENTING Penulisan bab evaluasi dampak penting dimaksudkan untuk: 1) Mengevaluasi dampak berbagai alternatif kegiatan proyek secara komprehensif/holistik.4. berikut dengan arti penting dari perubahan atau dampak tersebut dari sudut ekologi dan sosial. b) arti penting dari berubahnya fungsi ekosistem lahan basah dimaksud Langkah 3 Telaah kelayakan lingkungan dari kegiatan proyek.2 (yakni Rona Lingkungan Hidup) akan berubah secara mendasar. maka pilih alternatif yang paling minimum menimbulkan dampak penting negatif terhadap ekosistem lahan basah. dan/atau metode bagan alir. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. Langkah 4 Dari alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan. Hasil Langkah 2 Diperoleh prakiraan besar (atau magnitude) dampak yang akan dialami oleh setiap komponen dampak penting dari setiap tipe ekosistem dan setiap alternatif tertentu kegiatan proyek. Hasil Langkah 4 Diperoleh langkah-langkah strategis untuk: a) mencegah dan menanggulangi dampak penting negatif serta meningkatkan dampak positif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). matrik Leopold). dengan cara: a) telaah sejauh mana fungsi-fungsi ekosistem yang tercantum pada angka 3. dengan cara: a) telaah fenomena hubungan sebab-akibat yang potensial terjalin dikalangan seluruh komponen dampak penting yang tercantum pada angka 4. sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari proyek. b) arti penting dari berubahnya struktur ekosistem lahan basah dimaksud. Untuk mencapai maksud tersebut penulisan pada bab ini perlu diarahkan sebagai berikut: Langkah 1: Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak. b) Bila seluruh alternatif kegiatan proyek memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999. metode daftar uji berskala dengan pembobotan (misal.Langkah 2 Lakukan hal yang sama seperti Langkah 1 di atas untuk setiap alternatif kegiatan proyek menurut yang terdapat dalam angka 3. telaah secara komprehensif perubahan seluruh komponen yang terkena dampak penting (atau dalam hal ini perubahan struktur ekosistem lahan basah) akibat alternatif kegiatan tertentu proyek. b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut b) telaah arti penting dari perubahan yang dimaksud pada huruf a) tersebut dengan menggunakan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Hasil Langkah 2 Di setiap tipe ekosistem yang terkena dampak menurut alternatif tertentu dari proyek diperoleh sintesis komprehensif perihal: a) fenomena perubahan fungsi ekosistem. 2) Memberi arahan untuk penyusunan program-program pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang akan dituangkan dalam dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). dan yang tercantum pada angka 4. Hasil Langkah 3 Diperoleh informasi perihal alternatif kegiatan proyek yang layak dari segi lingkungan hidup. dengan cara: a) Untuk setiap alternatif kegiatan proyek. Environmental Evaluation System). dapat dilakukan melalui metode matrik (misal. b) memantau dampak penting negatif sebagai arahan untuk penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). 205 . (Hasil Langkah 2). akibat adanya alternatif tertentu dari proyek. berikut dengan penyebab utama perubahan tersebut. memenuhi Pasal 22 PP Nomor 21 Tahun 1999.

206 . b) Tujuan pengelolaan lingkungan Pada bagian ini utarakan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan dampak turunannya yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). Pada bagian ini sekaligus diutarakan pula penyebab timbulnya dampak penting. program atau tindakan yang dimaksud pada huruf a) dari sudut ekonomi. tersier.1. pencegahan dampak negatif merupakan prioritas utama mengingat sifat ekosistemnya yang kompleks dan multi fungsi.1. d) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memulihkan merehabilitasikan fungsi-fungsi tertentu ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting negatif dari proyek sebagai kompensasi terhadap rusak atau hilangnya fungsi-fungsi tertentu ekosistem di saat pra-konstruksi.1. Dalam pengertian tersebut upaya atau program pengelolaan lingkungan di ekosistem lahan basah tersebut mencakup empat kelompok aktifitas. Keempat bentuk pengelolaan lingkungan tersebut pada dasarnya merupakan upaya. b) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk memanfaatkan ulang (reuse). maka yang termuat dalam dokumen RKL adalah berupa pokok-pokok arahan. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. operasi maupun pasca operasi.BAB V PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5.6 dari Bab IV di muka. yakni: a) Pengelolaan lingkungan yang tujuan utamanya adalah untuk mencegah timbulnya dampak penting yang bersifat negatif disaat pra konstruksi. a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). 5. Dalam konteks pembangunan proyek di ekosistem lahan basah. menanggulangi dan mengendalikan kerusakan komponen lingkungan atau struktur ekosistem lahan basah.6 di muka. 5. program dan/ atau tindakan-tindakan untuk mencegah.5. konstruksi dan operasi proyek. b) Dampak penting yang dikelola adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder. prinsip-prinsip atau persyaratan untuk melaksanakan upaya. Lebih lanjut pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL dipaparkan alasan yang melatar belakangi kedalaman dokumen RKL. mendaur ulang (recycle). Bila lebih dari 1 tipe ekosistem yang terkena dampak dan mengingat adanya keterkaitan antar ekosistem sebagaimana diutarakan pada angka 4. misalnya melalui pemilihan lokasi atau teknologi yang dapat mencegah rusaknya fungsi-fungsi tertentu dari eksosistem lahan basah. dan/atau mengurangi (reduce) dampak penting yang bersifat negatif bila upaya.3 Struktur inti dokumen rencana pengelolaan lingkungan Inti dokumen RKL termuat butir yang memuat enam aspek berikut ini: a) Komponen lingkungan terkena dampak penting yang dikelola b) Tujuan pengelolaan lingkungan c) Pengelolaan lingkungan d) Waktu pengelolaan lingkungan e) Pembiayaan pengelolaan lingkungan f) Institusi pengelolaan lingkungan.2 Langkah 10. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang rancang bangun untuk pencegahan dan pengendalian dampak.1 RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) 5. maka pada bagian ini utarakan pula komponen lingkungan dari tipe eksositem lahan basah lainnya yang akan turut tercegah/ tertanggulangi dari kerusakan. Penyebab dampak penting dimaksud dapat mengacu pada Bab Prakiraan Dampak dan Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL sebagaimana tercantum pada angka 4. konstruksi.1. program atau tindakan-tindakan yang diprioritaskan pada pencegahan dampak penting yang bersifat negatif. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4.1 Lingkup dokumen rencana pengelolaan lingkungan Dokumen RKL. dalam pengertian generik.5 (Prakiraan Dampak Penting). teknologi dan sosial tidak memungkinkan atau sulit untuk ditempuh c) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk meningkatkan fungsi-fungsi alami dari ekosistem lahan basah sehingga proyek memberi dampak positif yang tidak hanya pada manfaat ekonomi saja. sehingga bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak penting turunannya. yang dipandang strategis untuk dikelola di suatu tipe ekosistem lahan basah komponen lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: a) Komponen lingkungan yang dikelola merupakan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. merupakan dokumen yang memuat upaya. Dengan dicegah/ditanggulanginya kerusakan struktur maka fungsi ekosistem lahan basah juga dapat dicegah/ditanggulangi dari kerusakan akibat proyek.dan angka 4. yakni Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL. program atau tindakan untuk mencegah.2 Kedalaman dokumen rencana pengelolaan lingkungan Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. mengendalikan dan menanggulangi dampak penting lingkungan yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari proyek.5. Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pengelolaan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4.

menanggulangi dan mengendalikan dampak negatif penting serta berbagai upaya untuk mengembangkan dampak positif penting akibat kegiatan proyek. Pembiayaan pengelolaan lingkungan Pembiayaan untuk pengelolaan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan merupakan kombinasi dari tiga pendekatan: teknologi. atau bahkan regional. lokasi dan jangka waktu serta frekwensi pemantauan) e) Pembiayaan pemantauan lingkungan f) Institusi pemantauan lingkungan 207 . 5. Lokasi pengelolaan lingkungan sejauh mungkin dilengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar. tergantung pada skala kepentingan atau keacuhan terhadap isu lingkungan yang timbul.1 Lingkup dokumen rencana pemantauan lingkungan Pemantauan lingkungan dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena perubahan lingkungan yang terjadi mulai dari tingkat sekitar proyek sampai ke tingkatan ekosistem. Upaya. pada dasarnya dapat dipandang sebagai pemantauan terhadap struktur ekosistem. 5.c) d) e) f) Pernyataan tujuan pengelolaan lingkungan dapat merujuk Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL).6. sehingga RKL dapat dijamin terlaksana secara efektif serta untuk mendeteksi perubahanperubahan yang tidak terduga pada komponen lingkungan/struktur dan fungsi ekosistem lahan basah. ekonomi atau kelembagaan. berbalik tidaknya dampak) sebagaimana telah diutarakan pada angka 4. Pengelolaan lingkungan Pada butir ini hendaknya diuraikan secara jelas upaya-upaya. berulang dan terencana.2. kawasan. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang diutarakan harus berciri sebagai berikut: Upaya. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan bermuara pada dilindungi atau dipertahankannya fungsi-fungsi ekosistem lahan basah sebagaimana yang disebut pada halaman III-5 s/d III-6. Pemantauan dapat dilakukan pada fungsi-fungsi ekosistem yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4.2. Upaya.2 RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) 5. Pada ekosistem lahan basah pemantauan lingkungan setidaknya harus mampu memantau perubahanperubahan yang terjadi di sekitar proyek dan di tingkatan ekosistem lahan basah yang terkena dampak. Pemantauan merupakan kegiatan yang berorientasi pada data.5. Waktu dan lokasi pengelolaan Pada butir ini hendaknya dijelaskan tentang waktu dan lokasi pengelolaan lingkungan dengan memperhatikan sifat dampak penting yang dikelola (lama dampak berlangsung. 5. Langkah 2). Pemantauan terhadap komponen lingkungan yang terkena dampak sebagaimana dimaksud pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. selain 6 (enam) faktor yang diutarakan pada Keputusan Menteri tersebut ada faktor lain yang perlu diperhatikan seperti diutarakan pada paragrap berikut ini. program atau tindakan pengelolaan lingkungan yang dijalankan akan dapat mencapai tujuan pengelolaan lingkungan yang tercantum pada huruf c).2. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan keterampilan operasional Institusi pengelolaan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan. Khusus ekosistem lahan basah. Tujuan utama dari dokumen RPL adalah sebagai pedoman untuk melaksanakan upaya pemantauan lingkungan. sifat kumulatif.3 Struktur inti dokumen rencana pemantauan lingkungan Struktur inti dokumen RPL pada dasarnya harus mencakup: a) Dampak penting dan indikator yang dipantau b) Tolok ukur dampak c) Tujuan pemantauan lingkungan d) Metode pemantauan lingkungan (meliputi metode pengumpulan dan analisis data. Dengan demikian kegiatan pemantauan sangat berbeda dengan pengamatan yang bersifat acak dan sesaat.2 Kedalaman dokumen rencana pemantauan lingkungan Kedalaman yang diinginkan dokumen RPL mengacu pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). sistematik. Jika upaya pengelolaan lingkungan dilakukan melalui pendekatan teknologi. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. Upaya. maka sedapat mungkin dituangkan desain teknologinya. program atau tindakan untuk mencegah.

baku mutu lingkungan keputusan pakar yang dapat diterima secara ilmiah. warna. sehingga dapat mencerminkan efektivitas pengaruh pengelolaan lingkungan terhadap dampak penting turunannya.5 dan 4. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan kelangsungan fungsi-fungsi tertentu dari ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada Bab Evaluasi Dampak dari dokumen ANDAL (angka 4.6. Mengingat pada ekosistem lahan basah sebagian besar tolok ukur dampak yang digunakan masih banyak yang bersifat kualitatif. Halhal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu dipantau. indikator yang relevan untuk kualitas air sungai (komponen lingkungan yang terkena dampak penting) adalah BOD.6 yakni Bab Prakiraan Dampak Penting dan Bab Evaluasi Dampak Penting dari dokumen ANDAL. ttd Dr. Semisal. Biaya dimaksud antara lain meliputi: biaya investasi. serta dampak turunan yang secara simultan akan turut tercegah/ tertanggulangi (keterkaitan inter ekosistem). d) Metode pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. Menteri Negara Lingkungan Hidup. dan terkena dampak penting sebagaimana yang ditelaah pada angka 4. upaya/ program/tindakan pengelolaan lingkungan. Komponen lingkungan yang dipantau mencerminkan isu pokok lingkungan sebagaimana dimaksud oleh hasil pelingkupan pada angka 3. Langkah 2). a) Dampak penting dan indikator yang dipantau Pada butir ini utarakan secara singkat komponen lingkungan yang terkena dampak penting berikut dengan penyebabnya (menurut hasil ANDAL). atau ketetapan resmi suatu instansi. sebagai misal). c) Tujuan pemantauan lingkungan Pada bagian ini uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya dampak penting di suatu tipe ekosistem lahan basah berikut dengan memperhatikan dampak penting yang dikelola. ttd Nadjib Dahlan. kandungan minyak terlarut. Tolok ukur dampak yang dimaksud disini dapat berupa baku mutu limbah cair. e) Pembiayaan pemantauan lingkungan Pembiayaan untuk kegiatan pemantauan lingkungan bersumber dari pemrakarsa proyek. Pada bagian ini juga diutarakan indikator dari komponen dampak penting yang dipantau. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. f) Institusi pemantauan lingkungan Uraian pada butir ini hendaknya mengacu pada makna yang terkandung dalam Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. SH 208 .1.6 (Evaluasi Dampak Penting).Perlu diperhatikan bahwa enam aspek pemantauan lingkungan tersebut diterapkan untuk setiap tipe ekosistem lahan basah yang terkena dampak penting sebagaimana dimaksud pada angka 4. yang dipandang strategis untuk dipantau di suatu tipe ekosistem lahan basah Komponen Lingkungan tersebut strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan: Komponen lingkungan yang dipantau hanyalah komponen yang terkena dampak penting. biaya operasi dan biaya pendidikan serta pelatihan ketrampilan operasional bagi para karyawan.2 Langkah 10. A Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH. maka diperlukan kejelasan deskripsi dari tolok ukur dampak yang hendak digunakan. tersier. suhu. Pernyataan tujuan pemantauan lingkungan dapat merujuk pada Lampiran Keputusan Menteri Negara Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan AMDAL. kuarter dan selanjutnya) dan/atau yang banyak menimbulkan dampak penting pada fungsi ekosistem lahan basah. Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan harus dipantau. bau. b) Tolok ukur dampak Pada butir ini jelaskan tolok ukur dampak yang digunakan untuk menyatakan suatu komponen lingkungan terkena dampak kegiatan tertentu: (proyek. Dampak penting yang dipantau adalah yang tergolong banyak menimbulkan dampak penting turunan (dampak sekunder.5 (Prakiraan Dampak Penting) dan angka 4.

Sifat kimia tanah iv. Limb. Kimia iii. Debit dan pola aliran iii. Introduksi spesies asing i. ii. Kanalisasi sungai iii. Komponen Fisik-Kimia a) Iklim i. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Radioaktif iv. Minyak ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Tinggi.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Jenis satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Panjang penyinaran matahari iv. Kegiatan pra-konstruksi a. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Sifat fisik tanah iii. Pembangunan saluran drainase ii. Panas vii. Pola sedimentasi dan drainase 209 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Fisiografi dan litologi ii. Pemungutan hasil iii. Tinggi dan elevasi muka air ii. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.Aksesibibilitas wilayah . &frekuensi genangan/banjir iv. Limbah padat ii. Air permukaan (sungai.danau) ii.Limbah gas i. Suhu dan kelembaban nisbi udara iii. Kegiatan survei b. Penanaman tanaman iv.Lampiran3-1MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganKomponenLingkunganDaerahLahanBasah Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan I. Curah hujan ii.Pemadatan lahan i.domestik v. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Pengalihan aliran iv. Limbah cair iii. Kegiatan pembebebasan lahan 2. Penebangan veg.Industri vi. lama. Kecepatan angin b) Hidrologi i. Limb. Introduksi spesies asing i. Kegiatan Konstruksi 3.Udara c) Tanah i. Konstruksi dam .

Air permukaan (sungai.Penambahan/ pengurukan lahan iii. Radioaktif iv. Struktur dan komposisi vegetasi iv. Keanekaragaman jenis/komunitas vegetasi ii. Limbah cair iii.domestik v. Keanekaragaman jenis/komunitas biota/phytoplankton iii. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekonomi tinggi v.Limbah gas i. Limb.Pemadatan lahan i.danau) ii. Jenis dan populasi nekton yang bernilai ekonomi tinggi vi. Jenis dan populasi vegetasi yang bernilai ekologi tinggi vi. Pembangunan saluran drainase ii. Keanekaragaman jenis/Komunitas biota air zooplankton. Introduksi spesies asing i. Komponen Biologi a) Komunitas V egetasi i.Aksesibibilitas wilayah . Limb. Jenis dan populasi nekton yang bernilaiekologi tinggi vii. Keanekaragaman jenis/kom. Kegiatan pembebebasan lahan 2.Lampiran3-1. satwa liar ii.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 210 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Konstruksi dam . Jenis dan populasi satwa liar yang bernilai ekologi tinggi v.Pengalihan aliran iv. Jenis dan satwa liar langka dan/atau dilindungi Keterangan: 1. Pemungutan hasil iii. Introduksi spesies asing i. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Kanalisasi sungai iii. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Kegiatan pra-konstruksi a. Panas vii. Minyak ii.Industri vi. nekton iii.Udara I. Kimia iii. Penebangan veg. ii. Kegiatan Konstruksi 3. Kegiatan survei b. Jenis dan populasi satwa liar bernilai ekonomi tinggi iv. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Penanaman tanaman iv. Limbah padat ii. Zona habitat khusus dan plasma natfah b) Komunitas Satwa Liar i. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i.

Radioaktif iv. Pemungutan hasil iii. Pengambilan/ perburuan satwa ii. ii. Komponen Sosial Ekonomi dan Budaya a) Kepadatan dan pertumbuhan penduduk b) Persebaran penduduk c) Peluang bekerja dan berusaha d) Pemilikan dan penguasaan atas sumber daya alam e) Prasarana perhubungan air f) Permukiman penduduk g) Fasilitas umum : i. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Kesehatan iii.danau) ii.Industri vi. Air permukaan (sungai. Introduksi spesies asing i. Panas vii. Limb.Kepribadian h) Adat istiadat i) Kelembagaan tradisional j) Aktivitas perekonomian dan perdagangan k) Sistem pertanian l) Akulturasi dan asimilasi m) Kesehatan masyarakat n) Kesehatan lingkungan Keterangan: 1. Introduksi spesies asing i. Penebangan veg. Kimia iii. Limbah cair iii. Penanaman tanaman iv.(Lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3 Komponen Lingkungan 211 2.Lampiran3-1. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Pembangunan saluran drainase ii. Konstruksi dam . Pendidikan ii. Kegiatan Konstruksi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Kegiatan survei b.Aksesibibilitas wilayah . Kegiatan pembebebasan lahan 3. Limb.Pusat-pusat pertumbuhan baru . Limbah padat ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Minyak ii. Kegiatan pra-konstruksi a.Limbah gas i.Pemadatan lahan i.Udara I. Kanalisasi sungai iii.domestik v. Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pengalihan aliran iv.

Limbah cair iii. Kegiatan pembebebasan lahan 2. pasokan bahan anorganik dan organik dan hara terlarut bagi wilayah hilir dan bagi ikan serta burung-burung migran Keterangan: 1. Limb. Kegiatan Konstruksi 3. ii. 6. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i.Pengalihan aliran iv. obat. 5. Pembangunan saluran drainase ii.danau) ii. Introduksi spesies asing i. Radioaktif iv. Limb. 2. 9. Panas vii. Kegiatan survei b. getah. Fungsi perlindungan terhadap kekuatan alam. yang berupa air bersih yang dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat dan/atau sebagai pemasok ke aquifer (groundwater recharge) dan lokasi lahan basah lainnya. Pemungutan hasil iii. 7. dan gambut. Kimia iii.domestik v.Pusat-pusat pertumbuhan baru .Industri vi.Limbah gas i. rotan. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekologi seperti. Minyak ii. Limbah padat ii. yang berupa perlindungan garis pantai. 212 Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i.Udara Fungsi pemasok air (kualitas dan kuantitas air).Penambahan/ pengurukan lahan iii. seperti kayu.Pemadatan lahan i. Kanalisasi sungai iii.Lampiran3-2. ikan dan daging satwa liar. Introduksi spesies asing i. dan pemecah angin (windbreak) Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan sedimen Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan unsur hara. 4.MatrikInteraksiDampakKegiatanProyekdenganFungsiEkosistemLahanBasahuntukTipeEkosistem: hutan bakau/hutan rawa payau/hutan rawa bergambut/ hutan rawa air tawar Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii b a ii c d a iii iv b ii c d i 2 b 3 e ii iii Komponen Lingkungan 1. Penebangan veg. pengendalian erosi. terutama pengendalian banjir Fungsi pencegah instrusi air laut ke air tanah dan/atau air permukaan. Fungsi pemasok bahan-bahan yang bernilai ekonomi. Fungsi penangkapan dan/atau pengendapan bahanbahan beracun. Fungsi pengendalian air.Aksesibibilitas wilayah . 8. Kegiatan pra-konstruksi a. 3. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Konstruksi dam . Air permukaan (sungai. Pengurangan/pembuangan lahan ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi i. Penanaman tanaman iv.

Lampiran3-2.(lanjutan) Kegiatan Proyek 1 a i iii i ii iii iv i ii iii iv i ii i ii v vi vii i iii i ii ii b a ii c d a iii iv b ii c d i e iii 2 b 3

Komponen Lingkungan

213
Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi vegetasi Kegiatan yang bersifat mengubah komposisi satwa Kegiatan proses produksi yang menimbulkan pencemaran i. Penebangan veg. ii. Pemungutan hasil iii. Penanaman tanaman iv. Introduksi spesies asing i. Pengambilan/ perburuan satwa ii. Introduksi spesies asing i. Minyak ii. Kimia iii. Radioaktif iv. Limb.domestik v. Limb.Industri vi. Panas vii.Udara

10. Fungsi produksi energi, seperti energi kayu, listrikhidro 11. Fungsi transportasi/perhubungan 12. Fungsi bank gen bagi spesies tumbuhan komersil dan populasi satwa liar 13. Fungsi konservasi bagi spesies langka dan dilindungi, habitat satwa liar dan tumbuhan penting, komunitas, ekosistem, dan lansekap lahan basah. 14. Fungsi rekreasi dan pariwisata 15. Fungsi sosial budaya, berupa estetika lansekap, keagamaan dan spiritual, serta peninggalan sejarah 16. Fungsi sosial ekonomi, misal berupa sumber mata pencaharian bagi penduduk setempat dan tanah adat masyarakat setempat. 17. Fungsi penelitian dan pendidikan 18. Fungsi pemeliharaan proses-proses alam, seperti proses ekologi, geomorfologi dan geologi, rosot karbon (carbon sink) dan pencegahan perluasan tanah asam sulfat.

Keterangan: 1. Kegiatan pra-konstruksi a. Kegiatan survei b. Kegiatan pembebebasan lahan

2. Kegiatan Konstruksi

3. Kegiatan Operasi Kegiatan instalasi dan operasi pengo lah limbah Kegiatan pemanfaatan air untuk kebutuhan domestik dan kebutuhan proses produksi i. Limbah padat ii. Limbah cair iii.Limbah gas i. Air permukaan (sungai,danau) ii. Air tanah dalam Kegiatan rekrutmen tenaga kerja Kegiatan yang mendorong pengembangan wilayah

Kegiatan yang bersifat merubah lahan/ lansekap lahan

Kegiatan yang bersifat mengubah rehidrologi

i. Pengurangan/pembuangan lahan ii.Penambahan/ pengurukan lahan iii.Pemadatan lahan

i. Pembangunan saluran drainase ii. Kanalisasi sungai iii.Pengalihan aliran iv. Konstruksi dam

- Aksesibibilitas wilayah - Pusat-pusat pertumbuhan baru

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 40 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : 1. Bahwa untuk melaksanakan Pasal 8 ayat (7) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan Pasal 2 Ayat (3) angka 18 serta Pasal 3 ayat (5) angka 16 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom, perlu menetapkan Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat, Propinsi dan Kabupaten/Kota; 2. Bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-13/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan keadaan; 3. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 diatas, perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699); 2. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintahan Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848); 4. Peraturan Pemeritah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54; Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952); 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Menteri Negara; 7. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; 8. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup; MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG TATA KERJA KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. BAB I TUGAS, WEWENANG, DAN FUNGSI Pasal 1 (1) Komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup yang selanjutnya disebut komisi penilai mempunyai tugas menilai kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup. (2) Komisi Penilai dibentuk : a. Di tingkat Pusat oleh Menteri; b. Di tingkat Propinsi oleh Gubernur; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Bupati/Walikota. (3) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibantu oleh : a. Tim teknis komisi penilai yang selanjutnya disebut tim teknis; b. Sekretariat komisi penilai yang selanjutnya disebut sekretariat komisi penilai. (4) Komisi penilai pusat berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang memenuhi kriteria : a. Kegiatan-kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas dan/atau menyangkut pertahanan dan keamanan seperti: pembangunan dan pengoperasian reaktor nuklir, pembangunan dan pengoperasian instalasi nuklir non reaktor, submarine tailing, teknologi peluncuran satelit, teknologi rekayasa genetika, eksploitasi minyak dan gas, pembangunan kilang minyak, penambangan bahan galian radioaktif, pembangunan industri pesawat terbang, pembangunan industri senjata, pembangunan industri bahan peledak, pembangunan industri yang menggunakan bahan baku dari limbah import, pembangunan bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan samudera, pengolahan limbah terpadu Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). 214

(5)

(6)

(7) (8)

b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu wilayah propinsi; c. Kegiatan yang berlokasi di wilayah sengketa dengan negara lain; d. Di wilayah laut diatas 12 (dua belas) mil; dan e. Di lintas batas negara kesatuan Republik Indonesia dengan negara lain. Komisi Penilai Propinsi berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi: a. Rencana usaha dan/atau kegiatan yang potensial berdampak negatif pada masyarakat luas seperti: pembangunan industri pulp atau industri kertas yang terintegrasi dengan industri pulp, pembangunan industri semen dan quarry-nya, pembangunan industri petrokimia, pembangunan hak pengusahaan hutan beserta unit pengelolaannya, pembangunan hutan tanaman industri beserta unit pengelolaannya, budidaya tanaman pangan dan hortikultura tahunan dengan unit pengelolaannya, pembangkit listrik tenaga air, pembangkit listrik tenaga uap/panas bumi/diesel, pembangunan bendungan, pembangunan bandar udara diluar kategori bandar udara internasional, pembangunan pelabuhan diluar kategori pelabuhan samudera; b. Lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan meliputi lebih dari satu Kabupaten/Kota; dan c. Di wilayah laut di antara 4 (empat) sampai 12 (dua belas) mil. Komisi penilai Kabupaten/Kota berwenang menilai hasil analisis mengenai dampak lingkungan hidup bagi semua rencana usaha dan/atau kegiatan diluar kewenangan Pusat dan Propinsi, sebagaimana diatur melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Dalam hal Kabupaten/Kota tidak atau belum mampu melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (6), maka pelaksanaannya dapat dilakukan dengan menyerahkan kewenangan tersebut kepada Propinsi. Dalam hal Propinsi tidak mampu melaksanakan kewenangan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dan (7), maka komisi penilai propinsi dapat meminta bantuan kepada komisi penilai pusat. Pasal 2

(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pasal 1, komisi penilai mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada: a. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan di tingkat Pusat; b. Gubernur di tingkat Propinsi; dan c. Bupati/Walikota di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Dalam melaksanakan tugasnya, komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup, rencana pengembangan wilayah, rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Pasal 3 (1) Keanggotaan Komisi penilai terdiri dari : ketua merangkap anggota, sekretaris merangkap anggota serta anggotaanggota lainnya. (2) Ketua Komisi penilai sebagaimana di maksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat adalah Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Di tingkat Propinsi adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah; c. Di tingkat Kabupaten/Kota adalah Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/ Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup ditingkat Kabupaten/Kota. (3) Ketua Komisi penilai bertugas : a. Melakukan koordinasi proses penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup, dan rencana pemantauan lingkungan hidup; b. Menyampaikan bahan pertimbangan komisi penilai sebagai dasar pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota. (4) Sekretaris komisi penilai sebagaimana dimaksud pada ayat (1): a. Di tingkat Pusat dijabat oleh Kepala Direktorat yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; b. Di tingkat Propinsi dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi; c. Di Tingkat Kabupaten/Kota dijabat oleh Kepala Bidang yang menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi menangani analisis mengenai dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. (5) Sekretaris Komisi Penilai bertugas : a. Membantu tugas ketua; b. Merumuskan hasil penilaian kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan komisi penilai. (6) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai pusat memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Propinsi dan Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; 215

Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (7) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Propinsi memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Kebijakan pembangunan daerah dan pembangunan wilayah, bagi anggota yang berasal dari tingkat Kabupaten/Kota; c. Pertimbangan sesuai kaidah ilmu pengetahuan, bagi para anggota yang berasal dari perguruan tinggi; d. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya, bagi para ahli; e. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; f. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; (8) Dalam melaksanakan penilaian, anggota komisi penilai Kabupaten/kota memberikan saran, pendapat dan tanggapan berupa: a. Kebijakan instansi yang diwakilinya, bagi anggota yang berasal dari instansi pemerintah; b. Pertimbangan sesuai dengan bidang keahliannya yang didasari atas kaidah ilmu pengetahuan, bagi para ahli; c. Kepentingan lingkungan hidup, bagi anggota yang berasal dari organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat; d. Aspirasi dan kepentingan masyarakat, bagi para anggota yang berasal dari wakil masyarakat yang diduga terkena dampak dari usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan; Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 4 (1) Tim Teknis di bentuk : a. Di tingkat pusat oleh Menteri Departemen Teknis atau Pimpinan Lembaga Pemerintahan Non Departemen yang berkedudukan di masing-masing sektor, Tim ini merupakan bagian dari tim teknis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 Ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999; b. Di tingkat Propinsi oleh Kepala Bapedal Daerah Propinsi selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Propinsi; c. Di tingkat Kabupaten/Kota oleh Kepala Bapedal Daerah Kabupaten/Kota atau Pejabat yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup selaku Ketua Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. (2) Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang secara ex-officio dijabat oleh sekretaris komisi penilai analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Pasal 5 (1) Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan, analisis dampak lingkungan hidup, rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. (2) Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Kesesuaian dengan pedoman umum dan/atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup; b. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan; c. Kesesuaian lokasi dengan tata ruang; d. Ketepatan penerapan metode penelitian/analisis; e. Kesahihan data yang digunakan; f. Kelayakan desain, teknologi dan proses produksi yang digunakan; g. Kelayakan ekologis. Pasal 6 Dalam menjalankan tugasnya, tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis kepada komisi penilai. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 7 (1) Sekretariat Komisi Penilai berkedudukan di : a. Tingkat Pusat di Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Badan Pegendalian Dampak Lingkungan b. Tingkat Propinsi di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi c. Tingkat Kabupaten/Kota di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan di tingkat Kabupaten/Kota. (2) Sekretariat komisi penilai dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab kepada ketua komisi penilai. 216

f.

Pasal 8 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan, perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung dan tugas-tugas lain yang diberikan oleh komisi. Pasal 9 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8, sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. BAB II KERANGKA ACUAN Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 10 (1) Kerangka acuan yang dinilai oleh : a. Komisi penilai Pusat, diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat; b. Komisi penilai Propinsi, diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai Propinsi; c. Komisi penilai Kabupaten/Kota, diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota; (2) Dokumen kerangka acuan yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar. (3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana di maksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan menuliskan hari dan tanggal penerimaan dokumen. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 11 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis menilai kerangka acuan. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. (3) Penilaian oleh Tim Teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. (4) Semua saran, pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai. (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 12 (1) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai kerangka acuan (2) Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal rapat. (3) Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. (4) Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh sekretaris penilai. (5) Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat, maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. (6) Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. (7) Dalam rapat penilaian, semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6), (7) dan (8). (8) Komisi penilai wajib memperhatikan saran, masukan dan tanggapan dari masyarakat dalam proses penentuan ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan. (9) Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. (10) Semua saran, pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretaris komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. (11) Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan kerangka acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. (12) Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. (13) Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian, ketua komisi setelah mendengarkan saran-saran tim teknis 217

diajukan oleh pemrakarsa kepada Gubernur melalui sekretariat komisi penilai propinsi. d. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai pusat. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. c. d. Deputi Kepala Badan Pegendalian Dampak Lingkungan yang menangani Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup di tingkat Pusat. (14) Ketua Komisi penilai selaku : a. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang diajukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sekurang-kurangnya berjumlah 35 (tiga puluh lima) eksemplar 218 . Menerbitkan Keputusan Kesepakatan Kerangka Acuan berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi.berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. Bupati/Walikota yang bersangkutan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. Gubernur yang bersangkutan. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Gubernur kepada: a. Komisi penilai Kabupaten/Kota. (2) Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mempertimbangkan hasil rapat penilaian komisi penilai. b. (3) Keputusan sebagaimana dimaksud ayat (1) wajib memuat kesepakatan tentang ruang lingkup kajian analisis dampak lingkungan hidup yang akan dilaksanakan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat propinsi. diajukan oleh pemrakarsa kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan melalui sekretariat komisi penilai pusat. c. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. c. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. b. (15) Apabila rencana lokasi dilaksanakan usaha dan/atau kegiatan terletak dalam kawasan yang tidak sesuai dengan rencana tata ruang wilayah dan/atau rencana tata ruang kawasan. Komisi penilai Pusat. b. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Bagian Pertama Prosedur Penerimaan Dokumen Pasal 14 (1) Analisis dampak lingkungan hidup. c. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh: a. (7) Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kesepatan kerangka acuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi di tingkat Propinsi. Bagian Keempat Keputusan Pasal 13 (1) Keputusan kesepakatan kerangka acuan diterbitkan oleh : a. BAB III ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Gubernur yang bersangkutan. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. (4) Di tingkat Pusat. b. Pimpinan sektor/instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan ditingkat Kabupaten/ Kota. salinan keputusan kesepakatan kerangka acuan beserta dokumennya disampaikan oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan kepada: a. diajukan oleh pemrakarsa kepada Bupati/Walikota melalui sekretariat komisi penilai Kabupaten/Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup. Bupati/Walikota yang bersangkutan. c. maka komisi penilai wajib menolak kerangka acuan tersebut. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. c. d. (5) Di tingkat Propinsi. b. (6) Di tingkat Kabupaten/Kota. Komisi penilai Propinsi. (2) Dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. b. Pimpinan sektor/instansi yang terkait dengan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.

untuk digunakan sebagai dasar pertimbangan pengambilan keputusan kelayakan lingkungan hidup bagi rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Anggota komisi penilai yang tidak hadir dalam rapat penilaian dapat memberikan masukan tertulis selambatlambatnya 5 (lima) hari kerja setelah rapat penilaian. bagi analisis dampak lingkungan hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Kabupaten/Kota. (2) Undangan dan dokumen diterima oleh seluruh peserta rapat selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian.(3) Sekretariat komisi penilai memberikan tanda bukti penerimaan dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (2) kepada pemrakarsa dengan mencatat hari dan tanggal penerimaan dokumen. rencana pengembangan wilayah. komisi penilai wajib memperhatikan kebijaksanaan nasional pengelolaan lingkungan hidup. Dalam hal ketua komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. Dalam penilaiannya. bagi analisis dampak lingkungan hidup. Dalam hal ketua dan sekretaris komisi penilai tidak dapat memimpin rapat. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. ketua komisi berhak meminta pemrakarsa untuk memperbaiki kembali dalam waktu selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja. Pemrakarsa wajib segera menanggapi dan menyempurnakan analisis dampak lingkungan hidup. Rapat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) juga dihadiri oleh penanggung jawab usaha dan/atau kegiatan atau wakil yang ditunjuk yang memiliki kapasitas untuk pengambilan keputusan. Bagian Ketiga Penilaian oleh Komisi Penilai Pasal 16 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) (11) (12) (13) (14) (15) Ketua komisi penilai mengundang para anggota untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Gubernur. Ketua komisi penilai menyampaikan berita acara penilaian dan dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (13) kepada: a. b. Bagian Kedua Penilaian oleh Tim Teknis Pasal 15 (1) Ketua komisi penilai meminta tim teknis untuk menilai analisis dampak lingkungan hidup. Dalam rapat penilaian. Undangan dan dokumen untuk rapat penilaian sudah harus diterima oleh seluruh peserta rapat selambatlambatnya 10 (sepuluh) hari kerja sebelum hari dan tanggal penilaian. pendapat dan tanggapan para anggota komisi penilai dan pemrakarsa dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai dan dituangkan dalam berita acara penilaian. maka rapat dipimpin oleh sekretaris komisi penilai. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup berdasarkan hasil penilaian komisi penilai. masukan dan tanggapan dari masyarakat. Penilaian oleh komisi penilai dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua komisi penilai. Bupati/Walikota. (4) Semua saran. (7) dan (8). rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup yang dinilai oleh komisi penilai Pusat. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. pendapat dan tanggapan anggota tim teknis dicatat oleh petugas dari sekretariat komisi penilai (5) Masukan dan pertimbangan teknis disampaikan pada rapat komisi penilai. c. Dalam melaksanakan tugasnya. komisi penilai wajib memperhatikan saran. 219 . Dokumen yang telah ditanggapi dan disempurnakan oleh pemrakarsa diserahkan kepada ketua komisi penilai melalui sekretariat komisi penilai selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak hari dan tanggal rapat penilaian dilaksanakan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Bagian Keempat Keputusan Pasal 17 (1) Keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu rencana usaha dan/atau kegiatan diterbitkan oleh: a. Dalam hal dokumen yang telah disempurnakan sebagaimana dimaksud pada ayat (11) belum memenuhi ketentuan perbaikan berdasarkan hasil penilaian. rencana tata ruang wilayah dan kepentingan pertahanan keamanan. Semua saran. (3) Penilaian oleh tim teknis dilakukan dalam bentuk rapat dan dipimpin oleh ketua tim teknis. maka rapat dipimpin oleh anggota lain yang disepakati. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi pusat. bagi analisis dampak lingkungan hidup. semua anggota komisi penilai berhak menyampaikan pendapatnya sesuai dengan ketentuan pada Pasal 3 ayat (6).

Di tingkat Kabupaten/Kota.H. Pertimbangan terhadap saran. b. bagi dokumen yang dinilai oleh komisi penilai Propinsi. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan di tingkat Propinsi. Gubernur yang bersangkutan. Di tingkat Pusat pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. bagi dokumen yang dinilai oleh Komisi penilai Kabupaten/Kota. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. f. c. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Kepala instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. Bupati/Walikota yang bersangkutan. 220 . Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. c. Menteri sektor dan/atau Pimpinan LPND. instansi terkait lainya di tingkat Kabupaten/Kota. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan. Dasar pertimbangan dikeluarkannya keputusan tersebut. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 18 Biaya pelaksanaan kegiatan komisi penilai. e. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan. f. c. S. e. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. pendapat dan tanggapan yang diajukan oleh warga masyarakat. d. Di tingkat Propinsi pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Propinsi. Gubernur. c. salinan keputusan kelayakan lingkungan hidup suatu usaha dan/atau kegiatan beserta dokumen analisis dampak lingkungan hidup. Di tingkat Propinsi. A. tim teknis. b. Menteri. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan : a. d. c. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan atau Gubernur atau Bupati/Walikota mempublikasikan keputusan kelayakan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beserta dokumennya. Di tingkat Kabupaten/Kota pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Gubernur kepada : a. (2) Dengan berlakunya keputusan ini.(2) (3) (4) (5) (6) b. Di tingkat Pusat. b. Ditetapkan : di Jakarta Tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh Bupati/Walikota kepada: a. BAB V PENUTUP Pasal 19 (1) Keputusan ini berlaku efektif pada tanggal 7 Nopember 2000. Menteri. Bupati/Walikota. Gubernur yang bersangkutan. d. Bupati/Walikota yang bersangkutan. ttd Dr. Penerbitan keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib mencantumkan : a. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor : Kep-13/MENLH/ 3/1994 tentang Pedoman Susunan Keanggotaan dan Tata Kerja Komisi AMDAL dinyatakan tidak berlaku lagi. instansi terkait lainya di tingkat Propinsi. instansi yang berwenang menerbitkan izin melakukan usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. instansi terkait lainya. b. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada : a. dan e. b. g. instansi yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan.

Tersedianya tenaga ahli sekurang-kurangnya di bidang biogeofisik-kimia. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). kesehatan. d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 dan 2 di atas. 6. 4. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. 8. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). Fungsi. Memiliki sekretariat komisi penilai yang berkedudukan di instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. perencanaan pembangunan wilayah/daerah. 3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. c. Adanya organisasi lingkungan/lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang lingkungan hidup yang telah lulus mengikuti pelatihan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dalam fungsinya sebagai salah satu anggota komisi penilai. Menimbang : 1. 3. Tugas. budaya. dan 221 . BAB I PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI Pasal 1 Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota wajib memenuhi kriteria: a. b. 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. ekonomi.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 41 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 2. dan lingkungan sebagai anggota komisi penilai dan tim teknis. perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tersedianya sumber daya manusia yang telah lulus mengikuti pelatihan Dasar-dasar Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup dan/atau Penilaian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup khususnya di instansi pemerintah untuk melaksanakan tugas dan fungsi komisi penilai. 2. sosial. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN/KOTA. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. bahwa untuk melaksanakan Pasal 6 Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54. perlu menetapkan Pedoman Pembentukan Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/ Kota. 7. dan Tata Kerja Menteri Negara. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). Susunan Organisasi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 2000 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 9. bahwa Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup belum mengatur tentang Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota.

b. 3. Sekretaris sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh salah seorang pejabat yang menangani masalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup baik dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau dari instansi lain yang menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. c. wakil dari masyarakat yang terkena dampak. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan di daerah Kabupaten/Kota. d. Pasal 2 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota dibentuk oleh Bupati/Walikota. Adanya kemudahan akses ke laboratorium yang memiliki kemampuan menguji contoh uji kualitas sekurangkurangnya untuk parameter air dan udara baik laboratorium yang berada di Kabupaten/Kota maupun di ibukota propinsi terdekat. k.e. j. wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan daerah Kabupaten/Kota. serta ahli lain dengan bidang ilmu yang terkait. analisis dampak lingkungan hidup. Tim teknis dipimpin oleh seorang ketua yang dalam hal ini dirangkap oleh sekretaris komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota. wakil dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan Daerah Kabupaten/Kota. Sekretariat komisi penilai. komisi penilai dibantu oleh: a. Pasal 7 Dalam melaksanakan tugasnya. anggota lain yang dianggap perlu. dan anggota-anggota lainnya. wakil dari organisasi lingkungan sesuai dengan bidang usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari: a. e. Pasal 3 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota berkedudukan di Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau di instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. 4. g. Tim teknis komisi penilai. 2. wakil dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota. BAB III TUGAS DAN FUNGSI Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 6 Komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota bertugas menilai kerangka acuan. h. wakil dari instansi terkait di daerah Kabupaten/Kota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan daerah Kabupaten/Kota. Tim teknis terdiri atas para ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau instansi lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. Sekretaris merangkap sebagai anggota. wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Daerah Kabupaten/Kota. b. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup. ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. Ketua sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dijabat oleh Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pejabat lain yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/Kota. f. BAB II SUSUNAN KEANGGOTAAN Bagian Pertama Komisi Penilai Pasal 4 1. Susunan keanggotaan terdiri dari Ketua merangkap sebagai anggota. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 5 1. l. ahli di bidang lingkungan hidup. 2. 222 . i.

Kesahihan data yang digunakan. Pasal 12 Dalam menjalankan tugasnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. d. 223 . Kelayakan desain. Kesesuaian dengan pedoman umum dan atau pedoman teknis di bidang analisis mengenai dampak lingkungan hidup. Bagian Ketiga Sekretariat Komisi Penilai Pasal 11 Sekretariat komisi penilai bertugas di bidang kesekretariatan. Pasal 10 Dalam menjalankan tugasnya.H. c. ttd Dr. Penilaian secara teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi penilaian terhadap: a. Ketepatan penerapan metoda penelitian/analisis. komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kabupaten/Kota mempunyai fungsi memberikan masukan dan dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan kesepakatan kerangka acuan dan keputusan kelayakan lingkungan hidup atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan kepada Bupati/Walikota. Ditetapkan Tanggal : di Jakarta : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. perlengkapan dan penyediaan informasi pendukung. Kesesuaian peraturan perundangan di bidang teknis sektor bersangkutan. S. e. BAB V PENUTUP Pasal 14 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd. teknologi. dan proses produksi yang digunakan. analisis dampak lingkungan hidup. Tim teknis bertugas menilai secara teknis kerangka acuan. Bagian Kedua Tim Teknis Pasal 9 1.Pasal 8 Dalam melaksanakan tugas. dan sekretariat komisi analisis mengenai dampak lingkungan hidup dibebankan pada anggaran Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kabupaten/Kota atau pada anggaran instansi yang ditugasi menangani pengendalian dampak lingkungan hidup di tingkat Kabupaten/ Kota yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota. BAB IV PEMBIAYAAN Pasal 13 Biaya atas pelaksanaan kegiatan komisi penilai. A. rencana pengelolaan lingkungan hidup dan rencana pemantauan lingkungan hidup atas permintaan komisi penilai. Nadjib Dahlan. b. 2. sekretariat komisi penilai berfungsi mendukung kelancaran tugas dan fungsi komisi penilai dan tim teknis. tim teknis. tim teknis berfungsi memberikan masukan dan pertimbangan teknis dan bertanggung jawab kepada komisi penilai.

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3848). Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 Tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 2. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3838). A. 7. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal 9 dan Pasal 12 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Susunan keanggotaan komisi penilai dan tim teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran I dan II dalam Keputusan ini. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3699). ME MUTU S KAN : Menetapkan : Pertama : Kedua Ketiga : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT. 224 Mengingat : Keempat: Kelima : Keenam : . Tugas. 8. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2000 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 42 TAHUN 2000 TENTANG SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI DAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000. Fungsi. 4. 5. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 6 Nopember 2000 Menteri Negara Lingkungan Hidup. Anggota komisi penilai dan tim teknis dalam melaksanakan tugasnya wajib memperhatikan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 40 Tahun 2000 tentang Pedoman Tata Kerja Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 72. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3839). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3952). 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. S. Setiap anggota komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat mempunyai kewenangan pengambilan keputusan dari instansi/organisasi/masyarakat yang diwakilinya. ttd.H. Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. dan Tata Kerja Menteri Negara. Susunan Organisasi. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. perlu dibentuk Susunan Keanggotaan Komisi Penilai dan Tim Teknis Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. Ketua tim teknis dalam melaksanakan tugasnya bertanggung jawab kepada Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat. Ketua komisi penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Pusat dalam melaksanakan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 134 Tahun 1999 tentang Kedudukan. Dr. 6. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 54.

10. 4. 19. 15. 17. 225 . 11. 9. 20.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMISI PENILAI ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 14. 16. 5. 12. Jabatan/Instansi Deputi Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan yang membidangi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Kepala Direktorat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan . Menteri Negara Lingkungan Hidup. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non Departemen yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan Wakil dari Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup Wakil dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Wakil dari Departemen Dalam Negeri Wakil dari instansi yang ditugasi bidang kesehatan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertahanan Wakil dari instansi yang ditugasi bidang perencanaan pembangunan nasional Wakil dari instansi yang ditugasi bidang penanaman modal Wakil dari instansi yang ditugasi bidang pertanahan W akil dari instansi yang ditugasi bidang ilmu pengetahuan Wakil dari departemen dan/atau lembaga pemerintah non departemen yang terkait Wakil dari Propinsi yang bersangkutan Wakil dari Kabupaten/Kota yang bersangkutan Ahli di bidang lingkungan hidup Ahli di bidang yang berkaitan dengan rencana usaha dan/atau kegiatan Wakil dari organisasi lingkungan hidup/ Lembaga Swadaya Masyarakat sesuai dengan bidang usaha dan/ atau kegiatan yang dikaji Wakil dari masyarakat terkena dampak Anggota lain yang dianggap perlu Kedudukan Ketua merangkap anggota Sekretaris merangkap anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota 1. 3. ttd Dr. 2. S. 8.H. A. 13. 6. 7. 18.

ttd Dr. S. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Kepala Biro Umum Kantor MENLH ttd Nadjib Dahlan .LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP : 42 TAHUN 2000 : 6 Nopember 2000 SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM TEKNIS ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP PUSAT No. 5.H. 4. Anggota Anggota Anggota Menteri Negara Lingkungan Hidup. A. 226 . Jabatan/Instansi Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang paling dominan Ahli dari instansi teknis yang membidangi usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan lainnya Ahli dari Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Ahli lain di bidang ilmu yang terkait Ahli lain di bidang kegiatan yang bersangkutan Kedudukan Ketua merangkap anggota 2. 1. Anggota 3.

30/MENKLH/7/1992 TENTANG PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP. Fungsi dan Tata Kerja Menteri Negara Kependudukan serta Organisasi Staf Menteri Negara. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3338). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3125) . 6. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1983 tentang Kedudukan. Peraturan Pemerintan Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 42 Tahun 1986. 8. 5. Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 50/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. maka Keputusan ini akan ditinjau kembali.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP . 227 . 7. Kedua: Ditetapkan di Pada tanggal : Jakarta : 16 Juli 1992 Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1986 tentang Analisa Mengenai Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup tentang Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan Andal. 3. 1. ttd Emil Salim. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. 2. MEMUTUSKAN : Menetapkan : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL Mengingat : Pertama: Panduan Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Surat Keputusan ini. Panduan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Tugas Pokok. Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : Kep-01Tahun 1990 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 4. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 45/M Tahun 1983 tentang Pengangkatan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup . Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 49/MENKLH/6/1987 tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting.

tentang Pedoman Penyusunan Acuan Analisis Dampak Lingkungan. Lampiran II. 228 . sehingga data dan informasi yang terkumpul hanyalah yang relevan dengan dampak lingkungan yang telah ditelaah. b. metode. Menelaah kegiatan/proyek-proyek lain yang terkait dan terletak di wilayah studi. Efisiensi KA memberikan arahan tentang data dan informasi yang perlu dikumpulkan untuk penyusunan ANDAL/SEL. instansi pemerintah yang terkait. dengan meniadakan hal-hal yang dipandang kurang atau tidak penting untuk ditelaah. Menetapkan lingkup studi dan rancangan studi ANDAL/SEL secara sistematis. dan prosedur pelingkupan untuk penyusunan dokumen KA 2.1. Keterbatasan Sumberdaya KA memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam penyusunan ANDAL/SEL. Manfaat Manfaat pelingkupan adalah sebagai berikut: a. Menyadari pentingnya arti kegiatan pelingkupan ini dipandang penting disusun suatu panduan pelingkupan yang komprehensif. Lampiran II. Mengidentifikasi dampak penting terhadap lingkungan yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam penyusunan ANDAL/SEL. serta kelompok masyarakat yang terkena dampak c. Kegiatan pelingkupan (scoping) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penyusunan KA dan hasilnya dapat berpengaruh besar pada kualitas dokumen ANDAL/SEL. TUJUAN DAN MANFAAT PELINGKUPAN 2.3. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan. tujuan. dan Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987. e. manfaat. PENDAHULUAN Dalam Keputusan Menteri Negara LH Nomor KEP-50/MNKLH/6/1987. sehingga data dan informasi yang diperoleh dapat digunakan untuk memprakirakan dampak lingkungan yang akan timbul. Menetapkan batas wilayah studi dan batas/horison waktu prakiraan dampak.LAMPIRAN NOMOR TENTANG : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA : KEP . 2. 2. Keanekaragaman KA diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen kegiatan dan komponen lingkungan yang harus ditelaah dan diamati dalam penyusunan ANDAL/SEL. dan instansi pemerintah yang berwenang/terkait dapat memahami pengertian. berdasarkan hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. proses. Semakin baik hasil proses pelingkupan semakin baik pula dokumen ANDAL/ SEL yang dihasilkan. dana. Panduan ini merupakan pendukung ( suplemen) untuk penyusunan KA sehingga dokumen KA yang dihasilkan dapat memenuhi persyaratan teknis seperti yang digariskan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku. sehingga dokumen ANDAL/ SEL dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan tentang rencana kegiatan yang diusulkan. Tujuan Pelingkupan bertujuan untuk: a. dan adanya arahan yang tegas dalam lingkup serta kedalaman studi ANDAL/SEL. karena dampak bersifat yang kurang penting atau tidak relevan tidak akan dikaji dalam ANDAL/ SEL. 2. d. Penyusunan ANDAL/SEL dapat langsung diarahkah pada hal-hal yang menjadi pokok bahasan secara mendalam. tenaga). berkat identifikasi dampak yang semakin tajam. ditegaskan bahwa dokumen Kerangka Acuan (KA) disusun karena adanya pertimbangan: 1.30/MENKLH/7/1992 : PANDUAN PELINGKUPAN UNTUK PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANDAL MENTERI NEGARA KEPENDUDUKAN DAN LINGKUNGAN HIDUP 1. 3. guna menghindari pembahasan yang landung ( redundant). Pengertian Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana kegiatan. PENGERTIAN. Panduan pelingkupan ini disusun dengan maksud agar pemrakarsa kegiatan. termasuk dokumen ANDAL/ SEL dari proyek-proyek tersebut. Ketiga pertimbangan tersebut pada dasarnya dapat terwujud dengan baik dalam dokumen KA bila dalam penyusunan KA ditempuh suatu proses yang dikenal sebagai pelingkupan (scoping).2. serta membantu menelaah dampak kumulatif dari proyek-proyek tersebut. Menetapkan tingkat kedalaman studi ANDAL/SEL sesuai dengan sumber daya yang tersedia (waktu.

mengingat “diikutsertakannya” berbagai pihak di luar pemrakarsa.1. Kemungkinan timbulnya konflik dan tertundanya kegiatan pembangunan proyek dapat dihindari. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang memerlukan penyusunan dokumen PIL terlebih dahulu karena “perilaku” dampak belum banyak diketahui atau diragukan. 3. Saat Penyusunan Kerangka Acuan Pelingkupan yang berlangsung di saat penyusunan KA pada dasarnya dimaksudkan untuk mencapai tujuan dan manfaat seperti yang dimaksud pada BAB 2 panduan pelingkupan ini.2. pakar dan instansi pemerintah tentang rencana kegiatan atau proyek yang diusulkan. Penyusunan ANDAL/SEL dapat berlangsung dengan lebih terarah berkat adanya kejelasan lingkup studi. Saat Penapisan Proyek Proses pelingkupan yang dilakukan pada saat ini ditujukan untuk menetapkan: a. dalam artian bahwa kegiatan pengumpulan data. a. Panduan yang diutarakan di sini adalah panduan pelingkupan untuk keperluan penyusunan dokumen Kerangka Acuan. sepenuhnya dilakukan oleh penyusun ANDAL/SEL. Kaitan ke tiga proses pelingkupan di atas dapat dilihat pada Gambar berikut: Identifikasi pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan menghasilkan keluaran berupa diketahuinya hal-hal penting. tokoh-tokoh masyarakat. c. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian dan komunikasi (pemusatan) dari isi pokok tersebut untuk membantu menganalisis isi dan membuat keputusan akhir. Identifikasi dampak potensial yang bersumber dari pemrakarsa kegiatan.2. Kegiatan pelingkupan sebenarnya berawal sejak penapisan proyek. tenaga. penyusunan dokumen Kerangka Acuan. berkat adanya diskusi dan konsultasi antara pemrakarsa dan berbagai pihak yang berkepentingan sejak awal kegiatan proyek. RPL Pelingkupan pada saat ini. PROSES DAN METODE PELINGKUPAN 3. Pelingkupan pada saat ini lebih merupakan proses kelembagaan. analisis data. b. Biaya. RKL. Dengan digunakannya pelingkupan pada saat penapisan proyek prosedur AMDAL/SEMDAL yang harus ditempuh oleh suatu rencana kegiatan dapat diputuskan dengan lebih tepat.1.3. seperti instansi yang berwenang. dan waktu untuk penyusunan ANDAL/SEL dapat dicurahkan lebih efektif dan efisien berkat terfokusnya studi ANDAL/SEL hanya pada dampak penting. Langkah selanjutnya yaitu evaluasi terhadap hal-hal yang dianggap penting dimaksudkan untuk menentukan isi pokok yang tercakup dalam AMDAL (dan menghilangkan isi yang dianggap tidak penting). masyarakat. Waktu Pelaksanaan Pelingkupan Pelingkupan pada dasarnya merupakan kegiatan yang sinambung ( continue). c. senantiasa akan diarahkan untuk keperluan kajian dampak penting lingkungan. dan para pakar. 229 . dan RPL. Saat Penyusunan ANDAL/SEL. a. Pelingkupan yang dilakukan pada saat ini lebih bersifat teknis. 3. b. Proses Pelingkupan Pelingkupan untuk penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL dilaksanakan melalui serangkaian proses berikut: a. Evaluasi segenap dampak protensial sehingga dihasilkan dampak penting hipotetis dengan meniadakan dampak potensial yang tidak atau kurang penting. RKL. serta rekomendasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. a. Pemusatan (focussing) segenap dampak penting (hipotetis) dengan maksud agar terancang lingkup dan kedalaman studi ANDAL/SEL yang jelas dan sistematis dengan fokus bahasan dan dampak penting. kedalaman. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang tidak memerlukan proses AMDAL/SEMDAL. d. Jenis rencana kegiatan atau proyek yang langsung memerlukan penyusunan ANDAL/SEL karena dipandang jelas menimbulkan dampak penting. dalam penyusunan Kerangka Acuan ANDAL/SEL c.b. hingga berakhirnya studi AMDAL/ SEMDAL. Tujuannya agar studi ANDAL/SEL dan RKL/RPL tetap berada dalam konteks menelaah dampak penting lingkungan seperti yang digariskan dalam Kerangka Acuan. dan strategi pelaksanaan studi.

Identifikasi dampak potensial ini bersumber dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. instansi pemerintah. (3) Kualitas udara. serta masyarakat yang terkena dampak. (3) Perikanan (sungai).2. dan masyarakat sekitar rencana kegiatan/proyek. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak potensial yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. (11) Kesehatan masyarakat. Komponen lingkungan tersebut adalah: (1) Sedimentasi sungai. Contoh: (Kasus Pengembangan lapangan minyak. setelah ditelaah lebih lanjut (misal melalui metode matrik atau penelaahan literatur) ternyata terdapat 6 komponen lingkungan yang tidak relevan untuk diteliti. catatan: contoh ini hanyak merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat). instansi pemerintah. (6) Perikanan (sungai). Pada tahap ini belum ada upaya untuk mengevaluasi apakah segenap dampak potensial tersebut akan merupakan dampak penting. 3. (7) Aksesibilitas hutan. dengan maksud agar diperoleh gambaran 230 . Pada tahap ini yang diperlukan hanyalah menyusun daftar segenap “dampak potensial” yang mungkin akan timbul.2. (5) Kesempatan kerja.2. (9) Kesempatan kerja. suatu lapangan minyak yang akan dibuka di dataran seluas 50 ha secara potensial diduga akan menimbulkan dampak terhadap beberapa komponen lingkungan di sekitarnya. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetis yang dipandang perlu dan patut untuk ditelaah dalam penyusunan ANDAL/SEL. 3. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Dari 14 komponen lingkungan yang semula dipandang merupakan dampak potensial untuk diperhatikan.1. (2) Kualitas air. Identifikasi Dampak Potensi Kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan (primer) maupun sekunder yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/ proyek. (14) Warisan peninggalan budaya. (8) Vegetasi hutan. (4) Kesuburan tanah. (8) Sikap terhadap proyek. Dengan demikian dampak potensial yang secara hipotetis dipandang penting untuk ditelaah adalah: (1) Kualitas air. (6) Pendapatan penduduk. (4) Vegetasi hutan.3. (10) Kepadatan penduduk. Pemusatan (Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan atau mengorganisir dampakdampak penting yang telah dirumuskan pada tahap sebelumnya. Setelah melalui serangkaian konsultasi dan diskusi dengan pakar.2. (5) Erosi. Pada tahap ini akan dihasilkan daftar dampak penting hipotetik yang belum berurutan dan terorganisir secara sistematis.KEGIATAN HAL-HAL PENTING ISI POKOK ANALISIS ISI DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN LINGKUNGAN EVALUASI PEMUSATAN IDENTIFIKASI 3. (2) Kualitas udara. (7) Satwa liar yang dilindungi. (13) Sikap terhadap proyek. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. (12) Aksesibilitas daerah.

hanya berupa serangkaian daftar tentang parameter-parameter lingkungan yang perlu mendapat perhatian akibat adanya suatu rencana kegiatan.2. setelah melalui serangkaian diskusi dan konsultasi yang intensif dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok dampak penting. yakni: a. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Matrik Bagan alir (Network). 3. evaluasi. Berikut diuraikan secara singkat masing-masing metoda tersebut.1. Metode identifikasi dampak. 3. Dari kedua kelompok dampak penting tersebut selanjutnya dijabarkan: batas wilayah studi.3. Namun demikian metoda ini hanya memberi sedikit informasi tentang dampak yang timbul bila dibandingkan dengan metoda Daftar Uji Kuesioner (questionnaire checklist) dan matrik. Metode Identifikasi Dampak Untuk mengidentifikasi dampak potensial dapat digunakan metode identifikasi dampak lingkungan yang secara konvensional telah dikenal. dan digunakan sebagai dasar untuk menjabarkan ruang lingkup.3. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. metode analisis data.1. Daftar-uji sederhana (simple checklist) a. 231 . Pengamatan lapangan. lokakarya dan rapat. jumlah sampel. dana dan tenaga yang tersedia. 3. Daftar-uji sederhana (simple checklist) Produk metoda ini sangat sederhana.3.yang utuh dan lengkap. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) Daftar uji jenis lainnya adalah daftar-uji dengan kuesioner. Contoh: (Lanjutan kasus lapangan minyak. lokasi. Berikut diutarakan secara singkat metode-metode dimaksud: 3.1. Secara garis besar metode yang dapat digunakan adalah: a. b. Daftar Uji Sederhana ini sangat membantu dalam mengidentifikasi dampak potensial yang diduga akan timbul. Pertama. Ada tiga macam metode identifikasi dampak yang dapat dipilih untuk digunakan. segenap dampak penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut tingkat keterkaitannya satu sama lain. yang terdiri atas: a.1. jumlah sample. dan metode evaluasi dampak yang akan digunakan untuk penyusunan ANDAL/SEL Lingkup kedalaman studi ANDAL/SEL ini ditetapkan sedemikian rupa sehingga dengan waktu. (2) Dampak terhadap kesempatan berusaha dan pendapatan penduduk yang tergantung pada penangkapan ikan disungai. dan pemusatan dampak penting hipotetis. lokasi pengamatan/pengukuran. dan lain sebagainya).1. atau bila memungkinkan metode prakiraan dampak. Penelaahan pustaka Analisis isi (content analysis) Interaksi grup (group process) yang terutama meliputi brainstorming. catatan: contoh ini hanya merupakan ilustrasi dan sifatnya tidak mengikat) Delapan dampak penting yang semula belum terkelompok (menurut derajat kepentingan dampak).2. Dampak penting hipotetis yang terkelompok inilah yang merupakan fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL/SEL. kedalaman dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL (batas wilayah studi. pengamatan/pengukuran. b.3. Kedua kelompok dampak penting hipotetis tersebut adalah: (1) Dampak terhadap kualitas air dan perikanan sungai. Daftar-uji kuesioner (questionnaire checklist) a. Metode Pelingkupan Dalam proses pelingkupan digunakan metode-metode untuk identifikasi. dokumen ANDAL/SEL yang dihasilkan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan. Selanjutnya diurut berdasarkan tingkat kepentingannya baik dari segi ekonomi ataupun ekologis. Daftar-uji (checklist). d. jenis data dan informasi yang dikumpulkan. c. Daftar uji kuesioner ini akan lebih memberi manfaat bila dalam mengidentifikasi dampak potensial didukung dengan pengamatan ke wilayah sekitar rencana kegiatan. e.3. c.

b. jenis limbah yang dihasilkan. Kelebihan matrik sederhana ini dibandingkan dengan daftar uji adalah diketahuinya sumber penyebab timbulnya potensi dampak lingkungan. Matrik Matrik yang digunakan untuk keperluan identifikasi dampak merupakan matrik sederhana ( simple matrik).2. dan lebih ditujukan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul. sekunder maupun tersier..3.3... Diskusi dengan pemrakarsa kegiatan perihal karakteristik rencana kegiatan (misal.... Metoda bagan alir ini dapat digunakan untuk mengantisipasi dampak-dampak lingkungan yang akan timbul akibat adanya aktivitas proyek. Daftar-uji deskriptif (descriptive checklist) Daftar-uji deskriptif menguraikan tentang hal-hal yang patut untuk diteliti oleh penyusun ANDAL/SEL seperti data dan informasi yang diperlukan untuk analisis parameter yang diduga sebagai dampak penting.. Matrik sederhana menggambarkan interaksi antara kegiatan proyek dengan komponen-komponen lingkungan di sekitarnya. baik dampak lingkungan yang bersifat primer. 3.2. namun demikian apabila daftar-uji ini tidak diverifikasi dengan kondisi lingkungan dan proyek yang diteliti. Pengamatan secara umum terhadap kondisi bentang alam.. d.. Wawancara singkat ini diperlukan dalam rangka untuk memperoleh masukan tentang hal-hal yang dipandang penting oleh masyarakat dan pemerintahan setempat sehubungan dengan adanya rencana kegiatan/proyek. n) maka pada interaksi ke ij diberi tanda atau noktah seperti X. m).. maka di samping akan diperoleh hasil yang bernilai juga dapat diperoleh gambaran umum tentang kedalaman dan lingkup studi ANDAL/SEL.. asal dan jumlah bahan baku yang digunakan rangkaian proses produksi.. 3... 232 . dan sosial ekonomi wilayah sekitar rencana kegiatan/proyek.3. secara potensial diduga menimbulkan dampak pada komponen lingkungan tertentu.. 1.4.3..3. rencana penanganan limbah dan lain sebagainya). Pengamatan secara umum terhadap lokasi proyek berikut rencana tata letak kegiatan. Metode ini tergolong komunikatif untuk materi diskusi dan konsultasi dengan para pejabat instansi pemerintah atau masyarakat awam yang ingin mengetahui dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek. Satu kelemahan lain dari daftar-uji adalah tidak diketahuinya secara jelas sumber penyebab dampak. Wawancara singkat dengan tokoh-tokoh masyarakat sekitar rencana kegiatan dan pejabat pemerintahan setempat perihal rencana kegiatan..1. misal komponen ke j (j : 1.. misal kegiatan ke i (i . Apabila suatu kegiatan proyek..... Kekuatan metoda daftar-uji ini terletak pada kesederhanaannya. jumlah karyawan yang diserap. Umumnya daftar-uji deskriptif ini diawali dengan parameter yang relevan untuk diteliti dan selanjutnya diikuti dengan petunjuk pencarian data. Dengan demikian isi atau materi daftar uji yang relevan dengan karakteristik proyek dan kondisi wilayah sekitar proyek harus dikembangkan sendiri oleh penyusun ANDAL/ SEL.. c. Bila kegiatan sudah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) perlu dilakukan pula pengamatan terhadap jalannya proses produksi dan limbah yang dihasilkan. Mengingat dampak suatu proyek bersifat unik dan khas maka relatif tidak ada daftar uji yang berlaku sama untuk semua proyek di semua lokasi/ruang. Bila pengamatan lapangan ini dilakukan oleh pakar yang berpengalaman. perairan umum..2. kondisi biologi.1.3. sedang pada bagian baris tertera berbagai komponen dan parameter lingkungan.... maka kemungkinan besar butir-butir yang dipandang relevan untuk ditelaah tidak termuat dalam daftar dan sebaliknya hal-hal yang tidak relevan tercantum dalam daftar...4. 3. Pengamatan Lapangan Pengamatan lapangan yang dilakukan dalam rangka penyusunan dokumen KA umumnya berlangsung dalam waktu yang singkat. Target ini dapat dicapai melalui serangkaian kegiatan berikut: a..1.. Bagan Alir Bagan alir (network) merupakan suatu model yang dikonstruksikan melalui jalinan hubungan sebab-akibat antara sumber penyebab dampak (kegiatan/proyek) dan faktor-faktor lingkungan yang terkena dampak.. sumber data dan bahkan metoda perkiraan dampak yang direkomendasikan untuk diterapkan. Untuk kegiatan yang telah berjalan (dalam rangka penyusunan SEL) dapat diperoleh data dan informasi yang lebih rinci. Pada bagian lajur tertera berbagai kegiatan pembangunan yang direncanakan..5..

perlu ditempuh prosedur pelingkupan seperti berikut ini: a. Brainstorming Metode ini terutama digunakan untuk identifikasi dampak potensial. Metode ini mensyaratkan bahwa ketua rapat harus menguasai prosedur dan teknik penyusunan ANDAL/SEL.5. 4. peserta harus mengerti benar bahwa tujuan rapat adalah untuk mengidentifikasi. tokoh masyarakat). untuk terlibat dalam proses pelingkupan. Dokumen AMDAL/SEMDAL dari proyek-proyek sejenis atau dari proyek-proyek di sekitar wilayah studi. Rapat Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. Melalui metode ini identifikasi dan evaluasi dampak potensial suatu rencana kegiatan dapat dilakukan lebih cepat berkat adanya data dan informasi dari studi-studi yang sejenis. Persepsi masyarakat “ditangkap” secara tidak langsung melalui metode analisis ini (content analysis). Pustaka yang perlu ditelaah antara lain adalah: a. Dalam brainstorming dampak potensial dari sudut pemrakarsa. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial b. calon penyusun ANDAL/SEL. 233 .3. c. Buku-buku teks atau jurnal tentang dampak lingkungan suatu kegiatan/proyek.1. Metode ini efektif untuk digunakan dalam rapat-rapat untuk identifikasi dampak potensial. PROSEDUR PELINGKUPAN Agar dokumen KA yang dihasilkan mampu mengarahkan penyusunan ANDAL/SEL seperti yang diharapkan. Interaksi Kelompok Metode ini dapat digunakan untuk identifikasi. b. 3. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Dampak Penting c. atau pemusatan dampak penting yang berkenaan dengan rencana kegiatan/proyek. atau pemusatan dampak penting. Dalam rapat.2. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman Studi ANDAL/SEL Berikut dikemukakan langkah-langkah kegiatan pelingkupan dimaksud: 4. b. Penelahaan Pustaka Metode ini digunakan untuk keperluan identifikasi dan evaluasi dampak potensial. pakar.7. atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Laporan-laporan penelitian tentang masalah-masalah lingkungan di sekitar wilayah studi. Lokakarya Metode ini dapat digunakan untuk evaluasi atau pemusatan dampak penting. Metode yang dapat digunakan antara lain: rapat. a. 3. Analisis Isi Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi dampak potensial yang akan timbul menurut persepsi atau pandangan masyarakat. majalah dan televisi. seperti koran. Analisis ini sangat bermanfaat untuk mengidentifikasi dampak potensial dari sudut masyarakat. “Partisipasi” masyarakat dilibatkan secara tidak langsung dengan cara menelaah berita-berita yang disampaikan melalui berbagai media massa. atau pemusatan dampak penting. instansi yang berwenang. kegiatan pelingkupan pada tahap ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak potensial (primer maupun sekunder) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana kegiatan/proyek. Mengingat inisiatif kegiatan identifikasi dampak ini berada pada pemrakarsa kegiatan. c. Laporan-laporan resmi tentang masalah lingkungan di sekitar wilayah studi yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah. evaluasi. Melalui metode ini dapat dilibatkan peran serta beragam instansi yang terkait dengan proses AMDAL (pemrakarsa. Lokakarya akan memberikan manfaat yang tinggi bila dipersiapkan dengan baik dan draft dokumen KA telah tersusun dan siap untuk dibahas dalam forum. instansi pemerintah yang berwenang. lokakarya dan brainstorming. dan masyarakat yang terkena dampak. penanggung jawab kegiatan ini juga berada di pundak pemrakarsa.6. departemen sektoral. d. didaftar untuk selanjutnya dievaluasi tingkat kepentingan dampaknya.1. Langkah Pertama: Identifikasi Dampak Potensial Seperti telah diutarakan pada butir 3. mengevaluasi. evaluasi dampak potensial. Telaahan terutama difokuskan pada respon masyarakat terhadap kehadiran proyek-proyek pembangunan di sekitarnya.

. dapat ditelaah secara mendalam. Dari hasil kegiatan butir 1 dan 2 pemrakarsa/konsultan penyusun ANDAL/SEL selanjutnya dapat menyusun daftar dampak potensial yang bersumber dari berbagai pihak. Dari segenap hasil pelingkupan tersebut selanjutnya disusun dokumen KA untuk penyusunan ANDAL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-50/MNKLH/ 6/1987.4.2. Segenap dampak penting hipotetik selanjutnya disintesis jalinan keterkaitannya sehingga diperoleh di beberapa kelompok dampak penting yang akan menjadi fokus bahasan dalam penyusunan ANDAL. Dokumen yang telah tersusun ini selanjutnya diserahkan kepada Komisi Pusat AMDAL departemen untuk dibahas dan disepakati oleh instansi yang berwenang. dan strategi pelaksanaan studi ANDAL/SEL harus dijabarkan dari kelompok dampak penting hipotetik yang telah dirumuskan pada langkah sebelumnya. Langkah Kedua: Evaluasi Dampak Potensial dan Pemusatan Pada Langkah Kedua ini evaluasi dampak potensial dan pemusatan dampak penting ditempuh sekaligus mengingat eratnya kaitan kedua proses pelingkupan tersebut. Sedapat mungkin lengkapi pula dengan jenis data dan jumlah sampel yang harus dikumpulkan. Hal ini tidak lain karena kegiatan ini dapat diperoleh masukan tentang dampak lingkungan yang akan timbul dari sudut pandang masyarakat. 234 . Evaluasi derajat kepentingan dampak setiap komponen/parameter lingkungan yang secara potensial akan terkena dampak lingkungan. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (atau SEL dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Negara KLH Nomor KEP-51/MNKLH/6/1987.2. 4. kedalaman. Seperti telah diutarakan pada butir 3..Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Pertama ini adalah: 1. Lampiran II. dengan menggunakan Keputusan Menteri Negara KLH No.) dan telaahan pustaka (butir 3. Kegiatan yang dilakukan pemrakarsa pada Langkah Kedua ini meliputi: 1. serta instansi pemerintah yang berwenang. yang menjadi fokus bahasan. Pada taraf ini sudah dapat dilakukan identifikasi dampak dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3.3.5 dan 3./ SEL. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik. melalui metode rapat (butir 3. sehingga sedapat mungkin kegiatan ini dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat diwakili dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). Pengamatan sebaiknya dilakukan oleh para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultan penyusun ANDAL/SEL). Pemrakarsa perlu terlibat secara aktif dalam kegiatan ini agar dapat dihasilkan butir-butir identifikasi dampak yang lebih jelas/tajam. dan penanggung jawab kegiatan. Konsultasi dan diskusi dengan para pakar (yang dalam hal ini dapat tergabung dalam konsultasi penyusun ANDAL/SEL). 4. deskripsi kegiatan yang berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. dan lain sebagainya. evaluasi dampak potensial bertujuan untuk menghilangkan atau meniadakan dampak yang dipandang tidak relevan atau tidak penting. sehingga diperoleh seperangkat dampak penting hipotetik yang dipandang yang layak untuk ditelaah secara mendalam dalam ANDAL/SEL. sehingga dapat dijadikan dasar untuk penjabaran lingkup dan kedalam studi ANDAL/SEL.3. 2.6. perihal peraturan perundangundangan yang berlaku untuk penyusunan Kerangka Acuan dan ANDAL/SEL. 3. tentang Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Studi Evaluasi Lingkungan).2. sebagai bahan acuan.4. Lampiran II. (brainstorming) Pengamatan terhadap kondisi wilayah sekitar rencana kegiatan dengan menggunakan metode seperti diutarakan pada butir 3. sehingga evaluasi dan pemusatan harus dilaksanakan secara kritis dan obyektif. Batas wilayah studi dan batas/horison waktu untuk memprakirakan dampak penting yang akan timbul.6. Hal ini mengingat karena ruang lingkup.2. 3. 2.2. 3. Perlu diketahui bahwa pada langkah ini proses pelingkupan semakin mengandalkan pertimbangan pakar (expert judgement). calon penyusun ANDAL/SEL. Jenis tenaga ahli yang diperlukan berikut dengan jangka waktu yang tersedia untuk penyusunan ANDAL/SEL. 49/MNKLH/VI/1987. Sedang pemusatan ( focussing) dimaksudkan untuk mengorganisir dampak penting hipotetik ke dalam beberapa kelompok (lihat butir 3. 2. serta lokasi pengumpulan data.).3). tentang Pedoman Penentuan Dampak Penting. Inisiatif Langkah Kedua ini juga berada pada pemrakarsa kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun ANDAL/SEL). Jenis data dan informasi yang perlu dikumpulkan agar dampak penting. Langkah Ketiga: Perumusan Lingkup dan Kedalaman ANDAL/SEL Pelingkupan yang dilakukan pada langkah ini bersifat lebih teknis. Dampak potensial yang dipandang kurang penting atau tidak relevan ditiadakan dari daftar. 3. Aspek-aspek yang dijabarkan lebih lanjut untuk keperluan penyusunan dokumen KA ANDAL/SEL perlu meliputi tentang: 1. Berdasarkan hasil pemusatan ini selanjutnya dilakukan Langkah Ketiga.

Rincian tata cara: a. dan tanggapan warga masyarakat. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). A. maka Surat Keputusan ini akan ditinjau kembali. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. penyampaian saran. 2. Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam Keputusan ini. 2. S. keterlibatan masyarakat dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. Mengingat : PERTAMA : Keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses analisis mengenai dampak lingkungan hidup diselenggarakan dengan berpedoman pada Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini. ttd Dr. pendapat. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dan c. Surat Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana di kemudian hari terdapat kekeliruan. pengumuman. KEDUA : KETIGA : Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Pebruari 2000 Kepala Badan Lingkungan. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Pengendalian Dampak Sudarsono. 1. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP. Gubernur dapat mengatur lebih lanjut: 1.H. 235 .KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TENTANG KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Penentuan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. b. 3. 4. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68.

f) proses penilaian dokumen AMDAL oleh Komisi Penilai AMDAL. pendapat.1 Hak-hak Warga Masyarakat Hak-hak warga masyarakat dalam proses AMDAL adalah: 1) Memperoleh informasi mengenai: a) rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL. c) dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL). pendapat. dan Tanggapan (1) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. dan h) keputusan hasil penilaian dokumen AMDAL. RKL. pendapat. d) dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL). maupun dampak-dampak lingkungan yang akan ditimbulkannya. 1. dan tanggapan masyarakat yang disampaikan. dan masyarakat pemerhati. kebutuhan. dan kerjasama dikalangan pihak-pihak yang terkait. HAK DAN KEWAJIBAN 2. tetapi mempunyai perhatian terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan tersebut. PENDAHULUAN 1. dan Tanggapan Bentuk tertulis (contoh: surat. ANDAL. g) sikap instansi yang bertanggung jawab atas saran. (3) Menjelaskan dan atau melampirkan identitas pribadi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menentukan lingkup masyarakat terkena dampak adalah: 236 . 2) Transparansi dalam pengambilan keputusan. 2) Memberikan saran. Dalam proses ini.LAMPIRAN : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 08 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 KETERLIBATAN MASYARAKAT DAN KETERBUKAAN INFORMASI DALAM PROSES ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP 1. dan dengan menggunakan mekanisme perwakilan yang pelaksanaannya berdasarkan ketentuan butir b) dibawah : a) Penetapan lingkup masyarakat terkena dampak Penetapan lingkup warga masyarakat terkena dampak pada tahap penyusunan KA-ANDAL dilakukan atas kesepakatan bersama antara instansi yang bertanggungjawab. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak. Pendapat. 3) Penyelesaian masalah yang bersifat adil dan bijaksana. dan RPL di Komisi Penilai.3 Pengertian Masyarakat yang Berkepentingan: Masyarakat yang berkepentingan adalah masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan antara lain sebagai berikut: kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan.1 Maksud dan Tujuan Maksud dan tujuan dilaksanakannya keterlibatan masyarakat dan keterbukaan informasi dalam proses Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) ini adalah untuk: 1) Melindungi kepentingan masyarakat. 1. b) Spesifikasi Teknik Penyampaian Saran. 2) Memberdayakan masyarakat dalam pengambilan keputusan atas rencana usaha dan/atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan. Masyarakat Terkena Dampak: Masyarakat terkena dampak adalah masyarakat yang akan merasakan dampak dari adanya rencana usaha dan/ atau kegiatan. 3) Duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. terdiri dari masyarakat yang akan mendapatkan manfaat dan masyarakat yang akan mengalami kerugian. c) Tata Cara Tata cara penyampaian saran. dan/atau tanggapan atas rencana usaha dan/atau kegiatan yang wajib menyusun AMDAL dan dokumen KA-ANDAL. faktor pengaruh ekonomi. Pendapat. yaitu dengan menghormati hak-hak semua pihak untuk mendapatkan informasi dan mewajibkan semua pihak untuk menyampaikan informasi yang harus diketahui pihak lain yang terpengaruh. e) dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL). faktor pengaruh sosial budaya. serta usulan penyelesaian masalah dari masyarakat yang berkepentingan dengan tujuan memperoleh keputusan yang terbaik. Wakil Masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL: Wakil masyarakat dalam Komisi Penilai AMDAL adalah wakil dari masyarakat terkena dampak yang telah memenuhi kriteria yang ditetapkan untuk dapat duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL. dan nilai-nilai yang dimiliki masyarakat. Keterlibatan Masyarakat dalam Proses AMDAL: Keterlibatan masyarakat dalam proses AMDAL adalah keikutsertaan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan tentang AMDAL. email) atau bentuk cetak (contoh: surat pembaca di media massa) sehingga mudah didokumentasikan. b) dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL). dan RPL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Penyampaian Saran. 2. dan 4) Menciptakan suasana kemitraan yang setara antara semua pihak yang berkepentingan. perhatian pada lingkungan hidup.2 Prinsip Dasar Pelaksanaan 1) Kesetaraan posisi diantara pihak-pihak yang terlibat. dan tanggapan dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. (2) Menuliskan dengan jelas sehingga mudah dibaca. dan 4) Koordinasi. pemrakarsa dan masyarakat terkena dampak terkait dengan tetap memperhatikan kemungkinan penyempurnaannya kembali pada tahap proses penilaian dokumen ANDAL. khusus bagi warga masyarakat terkena dampak yang penetapannya dilaksanakan berdasarkan ketentuan butir a) dibawah. masyarakat menyampaikan aspirasi. Masyarakat Pemerhati: Masyarakat pemerhati adalah masyarakat yang tidak terkena dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. RKL. dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. komunikasi. 3) Memastikan adanya transparansi dalam keseluruhan proses AMDAL dari rencana usaha dan/atau kegiatan.

dengan lama minimal 10 (sepuluh) detik untuk televisi dan 20 (dua puluh) detik untuk radio c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman (1) Semua bentuk pengumuman baik tertulis maupun tidak tertulis harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. dan tanggapan warga masyarakat tersebut kepada Komisi Penilai AMDAL. Wujud dari pengakuan ini dapat berupa bukti yang sifatnya formal (misalnya: surat persetujuan bersama dari kelompok masyarakat yang diwakili). (2) Pengumuman tertulis di media cetak harus berukuran minimal 5x3 cm 2 dan ditulis dengan huruf standar sekurang-kurangnya berukuran 10. dan (4) Pusat dan/atau tempat pengumuman resmi yang ditetapkan dan diatur oleh instansi yang bertanggung jawab. atau bentuk-bentuk pengakuan lainnya yang ditetapkan dan disetujui oleh kelompok masyarakat terkena dampak yang diwakilinya (misalnya: menetapkan tokoh masyarakat formal seperti Kepala Desa dan LKMD. namun pada saat evaluasi dampak akan dapat teridentifikasi kelompok masyarakat terkena dampak baru. Demikian pula halnya pada saat ditemukannya alternatif mitigasi dampak dalam RKL dan RPL. (1) 2. dan RPL kepada warga masyarakat yang berkepentingan. (2) Papan pengumuman kantor instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat dan/atau daerah. 4) Menyediakan informasi tentang proses dan hasil keputusan penilaian dokumen KA-ANDAL dan ANDAL. atau informal seperti tokoh adat dan tokoh agama setempat sebagai wakil yang disepakati). termasuk juga pendapat-pendapat yang saling bertentangan. (3) Mengacu pada batas wilayah dampak yang ditetapkan dalam studi AMDAL Warga masyarakat yang terkena dampak haruslah warga yang memang berada di dalam wilayah dampak yang batas-batasnya ditetapkan dalam studi AMDAL. Kriteria dan syarat wakil masyarakat terkena dampak adalah: (1) Seseorang yang diakui sebagai juru bicara dan/atau mendapat mandat dari kelompok masyarakat terkena dampak. 3) Menyampaikan rangkuman hasil saran. Contoh : • adanya perbedaan antara kelompok warga masyarakat terkena dampak akibat isu konflik sosial budaya dengan kelompok akibat isu pencemaran lingkungan. (3) Pengumuman pada papan pengumuman harus sekurang-kurangnya: • Ditulis dengan warna hitam dan dasar putih. dan lain sebagainya. 237 . • jenis usaha dan/atau kegiatan yang menyebabkan pengaruh positif atau negatif besar pada satu kelompok masyarakat tertentu menjadikan hanya sebagian masyarakat menjadi kelompok yang terkena dampak (misalnya: proyek transmigrasi/ pemindahan pemukim perambah hutan yang akan mempengaruhi penduduk yang dipindahkan dan penduduk yang akan menerima. Warga masyarakat terkena dampak memilih sendiri wakilnya yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. Ukuran minimal tidak boleh dijadikan alasan tidak lengkapnya lingkup materi yang disampaikan. • Ditulis dengan huruf cetak standar dengan ukuran minimal 12. (3) Melakukan komunikasi dan konsultasi rutin dengan masyarakat yang diwakilinya. (2) Menyuarakan semua bentuk aspirasi dan pendapat masyarakat yang diwakilinya secara apa adanya. Penetapan wakil masyarakat terkena dampak yang duduk dalam Komisi Penilai AMDAL. dan tanggapan dari warga masyarakat serta respon dan sikap atas saran. dan 5) Memfasilitasi terlaksananya dengan baik hak warga masyarakat atas informasi dan berperanserta dalam proses AMDAL.2 Kewajiban Instansi yang Bertanggung Jawab Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai penyusunan AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Media cetak lokal dan nasional. proyek peremajaan kota. (4) Memperhatikan tahapan proses kajian AMDAL Semakin jelas permasalahan dan alternatif mitigasi dampak. dan tanggapan dari warga masyarakat yang disampaikan. pendapat. pembuatan infrastruktur desa. • Berukuran minimal 60 x 100 cm 2 (4) Pengumuman pada media elektronik dapat berupa berita ataupun spot iklan. 2) Mendokumentasikan dan mengolah saran. dimana kemudian dapat memunculkan kelompok masyarakat terkena dampak yang tidak teridentifikasi sebelumnya. pendapat. RKL.b) Memperhatikan karakter rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan diusulkan Contoh : • jenis-jenis usaha dan/atau kegiatan yang membutuhkan dukungan semua lapisan masyarakat setempat berarti menjadikan seluruh masyarakat setempat sebagai kelompok yang terkena dampak (misalnya : proyek pembukaan lahan pertanian skala besar. disampaikan dengan jelas dan mudah dimengerti oleh seluruh lapisan masyarakat. Contoh : • identifikasi dampak dan wilayah sebarannya pada saat KA-ANDAL mungkin hanya menghasilkan satu kelompok masyarakat terkena dampak. dan lain-lain). pendapat. (2) Memperhatikan jenis isu pokok/dampak besar dan penting yang muncul Sebuah rencana usaha dan/atau kegiatan bisa memiliki lingkup warga masyarakat yang terkena dampak berbeda-beda menurut jenis isu pokok/dampak besar dan penting. lingkup warga masyarakat yang terkena dampak dapat membesar/mengecil. atau proyek pertambangan terhadap masyarakat suku terasing). dan dapat ditambahkan dengan (3) Media elektronik televisi dan/atau radio.

Untuk melancarkan konsultasi kepada warga masyarakat dalam tahap ini. ANDAL.p. c) Jenis usaha dan/atau kegiatan. Instansi yang bertanggung jawab wajib mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun AMDAL dengan ketentuan: 1) Mengumumkan hal-hal: a) Lokasi usaha dan/atau kegiatan serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/ atau kegiatan. diskusi terfokus dan metoda-metoda lain yang dapat dipergunakan untuk berkomunikasi secara dua arah).3. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. surat. d) Produk yang akan dihasilkan. dan (3) Media lain yang dianggap tepat dengan situasi setempat. dan isu-isu pokok mengenai dampak lingkungan yang diperkirakan akan muncul. kapasitas dan lokasi kegiatan). RKL. 3. pendapat. g) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. dan disampaikan kepada: • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Pusat : Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan u. Warga masyarakat yang berkepentingan berhak menyampaikan saran. dan/atau media elektronik. pendapat. 2) Menyelenggarakan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan dalam penyusunan dokumen KA-ANDAL. (2) Papan pengumuman di lokasi-lokasi strategis yang ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab di tingkat pusat atau daerah. 238 . TATA CARA KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL 3. seminar.1. d) Tanggal pengumuman tersebut mulai dipasang dan batas waktu pemberian saran. f) Dampak lingkungan hidup yang akan timbul.2. dan h) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab dalam menerima saran. terhadap rencana usaha dan/atau kegiatan yang diumumkan selama periode 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal pengumuman dilaksanakan. media cetak. dan tanggapan dari warga masyarakat. b) Lokasi dan luas usaha dan/atau kegiatan. dan tanggapan yang disampaikan oleh warga masyarakat yang berkepentingan 3. pendapat. serta dilengkapi dengan peta wilayah rencana usaha dan/atau kegiatan. dan e) Nama dan alamat instansi yang bertanggung jawab menerima saran. pendapat. dan tanggapan dari warga masyarakat 4) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2. Unit yang membidangi AMDAL. b) Jenis usaha dan/atau kegiatan. dan RPL kepada warga masyarakat yang memerlukannya.2.p. komponen lingkungan yang sangat penting diperhatikan karena akan terkena dampak. pemrakarsa wajib melakukan konsultasi kepada warga masyarakat yang berkepentingan. dan tanggapan. pemrakarsa harus memenuhi kewajiban sebagai berikut : 1) Menyediakan informasi dengan lingkup: penjabaran kegiatan (jenis kegiatan. tempat serta cara konsultasi yang akan dilakukan (misalnya: pertemuanpertemuan publik. 2) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatannya terhitung sejak jadwal pengumuman yang telah disepakati bersama instansi yang bertanggung jawab. b) Spesifikasi Tampilan Pengumuman Spesifikasi tampilan pengumuman sesuai dengan ketentuan b) dalam butir 1) sub bab 2. c) Tata Cara Pengumuman Tata cara pengumuman dijelaskan lebih lanjut dalam bab 3. c) Nama dan alamat pemrakarsa. dan tanggapan dari warga masyarakat.3 Kewajiban Pemrakarsa Kewajiban-kewajiban tersebut adalah: 1) Mengumumkan rencana usaha dan/atau kegiatan sebelum memulai penyusunan dokumen AMDAL dengan ketentuan: a) Spesifikasi Media Pengumuman (1) Papan pengumuman di lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. pendapat.2. dengan tembusan kepada Pemrakarsa. Pemrakarsa harus mendokumentasikan semua berkas yang berkaitan dengan pelaksanaan konsultasi dan membuat rangkuman hasilnya untuk diserahkan kepada Komisi Penilai AMDAL sebagai lampiran dokumen KA-ANDAL. 3) Memberikan informasi mengenai dokumen KA-ANDAL. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Tingkat I.2 Tahap Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) Pada saat penyusunan KA-ANDAL. Hasil dari konsultasi kepada warga masyarakat wajib digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan pelingkupan. 3) Mengumumkan hal-hal: a) Nama dan alamat pemrakarsa. 4) Menanggapi saran. yang teknisnya diatur dalam butir 2) sub bab 2. lokakarya. misalnya brosur.1 Tahap Persiapan Penyusunan AMDAL Pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan memulai menyusun dokumen AMDAL wajib: 1) Memberitahukan rencananya kepada instansi yang bertanggung jawab. dan 2) Mengumumkan waktu. dan/atau • Instansi yang bertanggung jawab di tingkat Daerah : Gubernur/Kepala Daerah Tingkat I u. e) Jenis dan volume limbah yang akan dihasilkan. serta cara penanganannya. pendapat dan tanggapan dari warga masyarakat. 2) Mengikuti ketentuan spesifikasi media dan teknik pengumuman sebagaimana diatur dalam butir 1) sub bab 2.

3 Tahap Penilaian KA-ANDAL Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai AMDAL melalui wakil yang telah ditetapkan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) Warga masyarakat terkena dampak berhak duduk sebagai anggota Komisi Penilai melalui wakil yang telah ditetapkan.1.4 Tahap Penilaian Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. Sonny Keraf 239 . ttd Dr. 75 hari) PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. dan/atau pemrakarsa. DAN TANGGAPAN PENILAIAN ANDAL. RPL OLEH KOMISI (maks. Warga masyarakat berkepentingan juga dapat menyampaikan saran. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 45 (empat puluh lima) hari kerja setelah informasi jadwal rencana sidang penilaian oleh Komisi Penilai AMDAL disebarluaskan secara resmi. A. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. PENDAPAT.1. sesuai dengan ketentuan butir 2) sub bab 2. pendapat. PENDAPAT. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab. dan tanggapannya dengan ketentuan: 1) Disampaikan kepada instansi yang bertanggung jawab dan/atau pemrakarsa. RKL. DAN TANGGAPAN PENILAIAN KA-ANDAL OLEH KOMISI (maks. DAN TANGGAPAN KONSULTASI PENYUSUNAN KA-ANDAL SARAN. 3.BAGAN PROSEDUR KETERLIBATAN MASYARAKAT DALAM PROSES AMDAL Masyarakat Berkepentingan Instansi yang Bertanggung jawab Pemrakarsa PENGUMUMAN RENCANA USAHA DAN KEGIATAN PENGUMUMAN PERSIAPAN PENYUSUNAN AMDAL SARAN. dan 3) Disampaikan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari sebelum rapat Komisi Penilai AMDAL. pendapat. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. 2) Disampaikan dalam bentuk yang mudah didokumentasikan dan/atau tertulis. 75 hari) KEPUTUSAN KELAYAKAN LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BAPEDAL/GUBERNUR 3. PENDAPAT.

4. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 59. Ringkasan Eksekutif dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Ringkasan Eksekutif sebagaimana dimaksud dalam lampiran V Keputusan ini. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 60. Keputusan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 7 November 2000 dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68. Dengan ditetapkannya Keputusan ini. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. 1. ttd Dr. 5. Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Analisis Dampak Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran II Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 17 Februari 2000 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 14 ayat (2) dan Pasal 17 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. 240 .KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/M Tahun 2000 tentang Pengangkatan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). 3. Mengingat : Kedua : Ketiga : Keempat : Kelima : Keenam : Ketujuh : Sudarsono. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 115. A. Yang dimaksud dengan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran III Keputusan ini. maka Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dinyatakan tetap berlaku sepanjang belum dicabut. Analisis Dampak Lingkungan Hidup. a. Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran IV Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501). 2. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup dibuat dengan berpedoman pada Pedoman Penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup sebagaimana dimaksud dalam lampiran I Keputusan ini. S.H. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup adalah sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup. b. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP.

dan penyusun studi ANDAL. Pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL Pihak-pihak yang secara langsung terlibat dalam penyusunan KA-ANDAL adalah pemrakarsa. pengaruh manusia. tenaga. tata kaitan antara keduanya tentu akan sangat bervariasi pula. dan sebagainya. Demikian pula rona lingkungan hidup akan berbeda menurut letak geografi. KA-ANDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun KA-ANDAL kegiatan dalam kawasan. Keanekaragaman rencana usaha dan/atau kegiatan dapat berupa keanekaragaman bentuk. Karena itu. PENJELASAN UMUM 1. Tujuan dan fungsi KA-ANDAL 3. penyusun KA-ANDAL perlu mengikuti diagram alir penyusunan ANDAL di bawah ini sehingga akhirnya dapat memberikan masukan yang diperlukan oleh perencana dan pengambil keputusan: 241 . Merumuskan lingkup dan kedalaman studi ANDAL. Nomor 27 Tahun 1999 tentang AMDAL. Sebagai salah satu bahan rujukan bagi penilai dokumen ANDAL untuk mengevaluasi hasil studi ANDAL. Dasar pertimbangan penyusunan KA-ANDAL 4. KA-ANDAL memberikan ketegasan tentang bagaimana menyesuaikan tujuan dan hasil yang ingin dicapai dalam keterbatasan sumber daya tersebut tanpa mengurangi mutu pekerjaan ANDAL. tetapi yang terpenting adalah juga bagi pengambilan keputusan. 5. Namun dalam pelaksanaan penyusunan KA-ANDAL (proses pelingkupan) harus senantiasa melibatkan para pakar serta masyarakat yang berkepentingan sesuai Pasal 33 s/d Pasal 35 PP.2. dan sebagainya. Dengan cara ini ANDAL dapat dilakukan secara efisien. sasaran. instansi yang bertanggung jawab. Pengertian Kerangka Acuan adalah ruang lingkup studi analisis dampak lingkungan hidup yang merupakan hasil pelingkupan yang disepakati oleh Pemrakarsa/Penyusun AMDAL dan Komisi AMDAL.3. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup merupakan bagian kegiatan studi kelayakan rencana usaha dan/atau kegiatan.1. dan waktu yang tersedia. dan sebagainya. b. Tujuan penyusunan KA-ANDAL adalah: a. ANDAL lebih menunjukkan pendugaan dampak yang bisa ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan tersebut terhadap lingkungan hidup. 2. Penentuan masukan berupa data dan informasi yang amat relevan ini kemudian disusun dan dirumuskan dalam KA-ANDAL. tenaga. 6. keanekaragaman faktor lingkungan hidup. tujuan. Fungsi pedoman penyusunan KA-ANDAL Pedoman penyusunan KA-ANDAL digunakan sebagai dasar bagi penyusunan KA-ANDAL baik KA-ANDAL kegiatan tunggal. berlainan dengan bagian studi kelayakan yang menggarap faktor penunjang dan penghambat terlaksananya suatu usaha dan/atau kegiatan ditinjau dari segi ekonomi dan teknologi. metode. Sungguhpun demikian. Hasil studi kelayakan ini tidak hanya berguna untuk para perencana. dalam menyusun KA-ANDAL untuk suatu ANDAL perlu dipahami bahwa hasilnya nanti akan merupakan bagian dari studi kelayakan yang akan digunakan oleh pengambil keputusan dan perencanaan. Pemakai hasil ANDAL dan hubungannya dengan penyusunan KA-ANDAL Menurut Pasal 2 PP. seperti antara lain: keterbatasan waktu. Karena itu. Dalam KA-ANDAL ditonjolkan upaya untuk menyusun prioritias manakah yang harus diutamakan agar tujuan ANDAL dapat terpenuhi meski sumber daya terbatas. KA-ANDAL ini merupakan dokumen penting untuk memberikan rujukan tentang kedalaman studi ANDAL yang akan dicapai. Keterbatasan sumber daya Penyusunan ANDAL acap kali dihadapkan pada keterbatasan sumber daya. instansi yang membidangi rencana usaha atau kegiatan. Karena itu. 4. ukuran. b. Rencana usaha dan/atau kegiatan dan rona lingkungan hidup pada umumnya sangat beraneka ragam. Efisiensi Pengumpulan data dan informasi untuk kepentingan ANDAL perlu dibatasi pada faktor-faktor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan. Fungsi dokumen KA-ANDAL adalah: a. 3. Nomor 27 Tahun 1999. dan komponen lingkungan hidup manakah yang perlu diamati selama menyusun ANDAL. 3. dan penyusun studi AMDAL tentang lingkup dan kedalaman studi ANDAL yang akan dilakukan.2. 4. Kemungkinan timbulnya dampak lingkungan hidup pun akan berbeda-beda. Mengarahkan studi ANDAL agar berjalan secara efektif dan efisien sesuai dengan biaya. Keanekaragaman ANDAL bertujuan menduga kemungkinan terjadinya dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. Dengan demikian KAANDAL diperlukan untuk memberikan arahan tentang komponen usaha dan/atau kegiatan manakah yang harus ditelaah. Sebagai rujukan penting bagi pemrakarsa.LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (KA-ANDAL) A. 4.1. dana.

Keempat faktor tersebut harus menjadi bagian integral dalam penyusunan KA-ANDAL terutama dalam proses pelingkupan. maka menjadi penting memperhatikan komponen-komponen lingkungan hidup yang berciri: i. dan Cagar Biosfer. Wawasan KA-ANDAL Dokumen KA-ANDAL harus mencerminkan secara jelas dan tegas wawasan lingkungan hidup yang harus dipertimbangkan dalam pembangunan suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Sehubungan dengan hal tersebut. Komponen lingkungan hidup yang ingin dipertahankan dan dijaga serta dilestarikan fungsinya. • Taraf hidup masyarakat. maka dalam studi ANDAL perlu ditelaah dan dievaluasi masing-masing alternatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan yang dipandang layak baik dari segi lingkungan hidup. seperti antara lain: • Hutan Lindung. Mengingat kegiatan-kegiatan pembangunan pada umumnya mengubah lingkungan hidup. Hubungan sebab akibat ini perlu dipahami sejak dini dalam proses penyusunan KA-ANDAL agar studi ANDAL dapat berjalan lebih terarah dan sistematis. Mengingat AMDAL adalah bagian dari studi kelayakan. • Kesehatan masyarakat. ii. b. seperti antara lain: • Pemilikan dan penguasaan lahan. • Keanekaragaman hayati. • Nilai-nilai budaya yang berorientasi selaras dengan lingkungan hidup. Komponen lingkungan hidup yang akan berubah secara mendasar dan perubahan tersebut dianggap penting oleh masyarakat di sekitar suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. ada beberapa faktor yang harus diperhatikan: a. Hutan Konservasi. teknis maupun ekonomis sebagai upaya untuk mencegah timbulnya dampak negatif yang lebih besar. Pada dasarnya dampak lingkungan hidup yang diakibatkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan tidak berdiri sendiri. • Kenyamanan lingkungan hidup. Proses pelingkupan Pelingkupan merupakan suatu proses awal (dini) untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasi dampak besar dan penting (hipotesis) yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan. d. perencana dan pengelola lingkungan hidup berupa: • Alternatif usaha dan/atau kegiatan • Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup • Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup 7. • Warisan alam dan warisan budaya. 8. • Kualitas udara. 242 .Pengumpulan data dan informasi tentang • Rencana usaha dan/atau kegiatan • Rona lingkungan hidup awal Proyeksi perubahan rona lingkungan hidup awal sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan Penentuan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan Evaluasi dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup Rekomendasi/saran tindak untuk pengambil keputusan. • Kesempatan kerja dan usaha. Dokumen KA-ANDAL harus menampung berbagai aspirasi tentang hal-hal yang dianggap penting untuk ditelaah dalam studi ANDAL menurut pihak-pihak yang terlibat. satu sama lain memiliki keterkaitan dan ketergantungan. • Sumber daya air. c.

Pelingkupan wilayah studi Penetapan lingkup wilayah studi dimaksudkan untuk membatasi luas wilayah studi ANDAL sesuai hasil pelingkupan dampak besar dan penting. kuesioner. Dengan demikian pada tahap ini belum ada upaya untuk menilai apakah dampak potensial tersebut merupakan dampak besar dan penting. Isu-isu pokok lingkungan hidup tersebut dirumuskan melalui 2 (dua) tahapan. • Keterkaitan antar berbagai komponen dampak besar dan penting yang telah dirumuskan. batas ekologis. 8. dan seterusnya) yang secara potensial akan timbul sebagai akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. Dari ruang rencana usaha dan/ atau kegiatan inilah bersumber dampak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. instansi yang bertanggung jawab. Kegiatan identifikasi dampak besar dan penting ini terutama dilakukan oleh pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan (yang dalam hal ini dapat diwakili oleh konsultan penyusun AMDAL).2. sekunder. brainstorming). lokakarya. masyarakat yang berkepentingan serta dilengkapi dengan hasil pengamatan lapangan (observasi). Pertama. baik dari ekonomi. dan lain-lain). batas sosial. Identifikasi dampak potensial diperoleh dari serangkaian hasil konsultasi dan diskusi dengan para pakar. pemrakarsa. dan/atau f) matrik interaksi sederhana. serta saran pendapat dan tanggapan dari masyarakat yang berkepentingan. lokakarya. dan/atau i) pengamatan lapangan (observasi). dan dengan memperhatikan keterbatasan sumber daya. Kedua. 8. instansi yang bertanggungjawab. Metoda yang digunakan pada tahap ini adalah interaksi kelompok (rapat. maupun ekologis. Pelingkupan dampak besar dan penting Pelingkupan dampak besar dan penting dilakukan melalui serangkaian proses berikut: 1) Identifikasi dampak potensial Pada tahap ini kegiatan pelingkupan dimaksudkan untuk mengidentifikasi segenap dampak lingkungan hidup (primer. deskriptif). segenap dampak besar dan penting dikelompokkan menjadi beberapa kelompok menurut keterkaitannya satu sama lain. jumlah sampel yang diukur. waktu dan tenaga.Pelingkupan merupakan proses terpenting dalam penyusunan KA-ANDAL karena melalui proses ini dapat dihasilkan: a. dan tenaga ahli yang dibutuhkan sesuai dengan sumber daya yang tersedia (dana dan waktu). Kedalaman studi ANDAL antara lain mencakup metoda yang digunakan. Lingkup wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas-batas ruang sebagai berikut: 1) Batas proyek Yang dimaksud dengan batas proyek adalah ruang dimana suatu rencana usaha dan/atau kegiatan akan melakukan kegiatan pra-konstruksi. dengan mempertimbangkan hasil konsultasi dan diskusi dengan pakar. dan batas administratif. Untuk jelasnya proses pelaksanaan pelingkupan dapat mempelajari Panduan Pelingkupan Untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL sesuai Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor: KEP-30/MENKLH/7/1992. sehingga diperoleh daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dipandang perlu dan relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL. Selain itu identifikasi dampak potensial juga dapat dilakukan dengan menggunakan metode-metode identifikasi dampak berikut ini: a) penelaahan pustaka. Daftar dampak besar dan penting potensial ini disusun berdasarkan pertimbangan atas hal-hal yang dianggap penting oleh masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan.1. dan/atau h) pelapisan (overlay). 243 . sosial. dan para pakar. Pada tahapan ini hanya diinventarisasi dampak potensial yang mungkin akan timbul tanpa memperhatikan besar/kecilnya dampak. konstruksi dan operasi. dan/atau b) analisis isi (content analysis). b. instansi yang bertanggungjawab serta masyarakat yang berkepentingan. dan/atau c) interaksi kelompok (rapat. Lingkup wilayah studi ANDAL berdasarkan beberapa pertimbangan: batas proyek. termasuk dalam hal ini alternatif lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan/atau g) bagan alir (flowchart). Posisi batas proyek ini agar dinyatakan juga dalam koordinat. dan/atau e) daftar uji (sederhana. atau penting tidaknya dampak. Dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup yang dipandang relevan untuk ditelaah secara mendalam dalam studi ANDAL dengan meniadakan hal-hal atau komponen lingkungan hidup yang dipandang kurang penting ditelaah. Semakin baik hasil pelingkupan semakin tegas dan jelas arah dari studi ANDAL yang akan dilakukan. c. Pada tahap ini daftar dampak besar dan penting hipotesis yang dihasilkan belum tertata secara sistematis. 2) Evaluasi dampak potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan/meniadakan dampak potensial yang dianggap tidak relevan atau tidak penting. dampak besar dan penting yang berkelompok tersebut selanjutnya diurut berdasarkan kepentingannya. 3) Pemusatan dampak besar dan penting ( Focussing) Pelingkupan yang dilakukan pada tahap ini bertujuan untuk mengelompokkan/mengorganisir dampak besar dan penting yang telah dirumuskan dari tahap sebelumnya dengan maksud agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan hidup yang dapat mencerminkan atau menggambarkan secara utuh dan lengkap perihal: • Keterkaitan antara rencana usaha dan/atau kegiatan dengan komponen lingkungan hidup yang mengalami perubahan mendasar (dampak besar dan penting). dan/atau d) metoda ad hoc. brainstorming.

rona lingkungan yang terkena dampak dan isu-isu pokok. Sebagai pedoman untuk kegiatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. b. Uraian ini dibuat sesuai dengan tahapan kegiatan. ruang lingkup wilayah studi memang bertitik tolak pada ruang bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. ekologis serta komunitas masyarakat yang berada diluar batas proyek dan ekologis namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha dan/atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. SISTEMATIKA PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN BAB I. Kebijaksanaan Regional. teknis dan ekonomis.1. c. Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan rencana kegiatan. batas kuasa pertambangan). udara). Memprakirakan dampak dan mengevaluasikan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. b. Uraikan secara singkat mengenai kegiatan-kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampakdampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. Tujuan dan kegunaan proyek. 4) Batas administratif Yang dimaksud dengan batas administrasi adalah ruang dimana masyarakat dapat secara leluasa melakukan kegiatan sosial ekonomi dan sosial budaya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di dalam ruang tersebut. sesuai dengan proses dinamika sosial suatu kelompok masyarakat. dimana proses alami yang berlangsung di dalam ruang tersebut diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar. kemudian diperluas ke ruang ekosistem. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak sesuai dengan jenis-jenis rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dibangun. Dengan memperhatikan batas-batas tersebut di atas dan mempertimbangkan kendala-kendala teknis yang dihadapi (dana. Komponen usaha dan/atau kegiatan yang ditelaah yang berkaitan dengan dampak yang akan ditimbulkannya. Mengidentifikasikan rona lingkungan hidup terutama yang akan terkena dampak besar dan penting. 244 2) . c. waktu.Lingkup rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan ditelaah a.Tujuan dan kegunaan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah: a. Mengintegrasikan pertimbangan lingkungan hidup dalam tahap perencanaan rinci dari suatu usaha dan/atau kegiatan. 5) Batasan ruang lingkup wilayah studi ANDAL Yakni ruang yang merupakan kesatuan dari keempat wilayah di atas. Batas ruang tersebut dapat berupa batas administrasi pemerintahan atau batas konsesi pengelolaan sumber daya oleh suatu usaha dan/atau kegiatan (misal. ruang sosial dan ruang administratif yang lebih luas. dan metode telaahan. 3) Batas sosial Yang dimaksud dengan batas sosial adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang merupakan tempat berlangsungnya berbagai interaksi sosial yang mengandung norma dan nilai tertentu yang sudah mapan (termasuk sistem dan struktur sosial). tehnik. mengingat adanya kelompok-kelompok masyarakat yang kehidupan sosial ekonomi dan budayanya akan mengalami perubahan mendasar akibat aktifitas usaha dan/atau kegiatan. Mengidentifikasikan rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilakukan terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Mengingat dampak lingkungan hidup yang ditimbulkan oleh suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menyebar tidak merata. maka akan diperoleh ruang lingkup wilayah studi yang dituangkan dalam peta dengan skala yang memadai. tenaga. Batas sosial ini sangat penting bagi pihak-pihak yang terlibat dalam studi ANDAL. Termasuk dalam ruang ini adalah ruang di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan yang secara ekologis memberi dampak terhadap aktivitas usaha dan/atau kegiatan. dana. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup: 1. b. RUANG LINGKUP STUDI 2. b.1. c. Lokal dan Perusahaan terhadap pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. BAB II. batas HPH. dan tenaga). Dengan demikian. 1.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a.Batas ekologis Yang dimaksud dengan batas ekologis adalah ruang persebaran dampak dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan menurut media transportasi limbah (air. seperti waktu. Kegunaan studi ANDAL adalah untuk: a.2. yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. Membantu pengambilan keputusan dalam pemilihan alternatif yang layak dari segi lingkungan hidup. c. maka batas sosial ditetapkan dengan membatasi batas-batas terluar dengan memperhatikan hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek. namun penentuannya disesuaikan dengan kemampuan pelaksana yang biasanya memiliki keterbatasan sumber data. B.

maka pengukuran terhadap besaran dampak kumulatif akibat berbagai usaha dan/ atau kegiatan tersebut mutlak diperhitungkan. bagan alir. Perlu diketahui bahwa Ketua tim penyusun studi AMDAL harus bersertifikat AMDAL B sedangkan anggota tim penyusun lainnya harus mempunyai keahlian yang sesuai dengan lingkup studi AMDAL yang akan dilakukan.Metode prakiraan dampak besar dan penting Pada bagian ini jelaskan metode yang digunakan dalam studi ANDAL untuk memprakirakan besaran dampak dan penentuan tingkat kepentingan dampak.Lingkup wilayah studi Wilayah studi ini merupakan resultante dari batas wilayah proyek. b. ekologis. 2. Data rona lingkungan hidup semaksimal mungkin menggunakan data aktual di lapangan. Dalam hal usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan bersifat terpadu atau berada dalam suatu kawasan. PELAKSANAAN STUDI 4.4. Menelaah. METODE STUDI 3. nama dan keahlian dari masing-masing anggota penyusun AMDAL. 3. 2. nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun AMDAL.2. identifikasi dan perumusan arah pengelolaan dampak besar dan penting lingkungan hidup yang ditimbulkan. ekologis.3. mengamati dan mengukur komponen lingkungan hidup yang diperkirakan terkena dampak besar dan penting. BAB V.Biaya studi Pada bagian ini diuraikan prosentase jenis-jenis biaya yang dibutuhkan dalam rangka penyusunan studi ANDAL. BAB IV. 4.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan-kegiatan lain yang berada di sekitarnya.1.1.Pemrakarsa Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan. b. 4.Metode evaluasi dampak besar dan penting Pada bagian ini diuraikan metode yang lazim digunakan dalam studi ANDAL untuk mengevaluasi dampak besar dan penting yang ditimbulkan oleh usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik.Isu-isu pokok Uraikan secara singkat isu-isu pokok yang dapat ditimbulkan akibat rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai hasil pelingkupan. DAFTAR PUSTAKA Pada bagian ini uraikan pustaka atau literatur yang digunakan untuk keperluan penyusunan dokumen KAANDAL. mengamati. Menelaah.3.Penyusun studi AMDAL Pada bagian ini dicantumkan nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan. 4. Dalam hal ini. overlay) untuk digunakan sebagai : a. Sementara untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak agar digunakan Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting. Komponen lingkungan hidup yang ditelaah karena terkena dampak. sosial dan administratif setelah mempertimbangkan kendala teknis yang dihadapi. sosial dan administratif. uraikan secara jelas untuk setiap komponen lingkungan hidup yang diperkirakan akan terkena dampak besar dan penting.4. Tata cara pelingkupan agar mengacu pada serangkaian proses pelingkupan sebagaimana dimaksud di dalam penjelasan umum. Metoda formal dan non formal digunakan dalam memprakirakan besaran dampak. 245 .2. dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. dan mengukur komponen rencana usaha dan/atau kegiatan yang diperkirakan mendapat dampak besar dan penting dari lingkungan hidup sekitarnya.Waktu studi Pada bagian ini diungkapkan jangka waktu pelaksanaan studi ANDAL sejak tahap persiapan hingga penyerahan laporan ke instansi yang bertanggung jawab. butir-butir penting hasil konsultasi dan diskusi dengan pihak-pihak yang terlibat (masyarakat yang berkepentingan). LAMPIRAN Pada bagian ini dilampirkan berbagai keputusan perizinan yang berkaitan dengan proyek dimaksud. Disamping itu harus dilampirkan pula biodata personil penyusun ANDAL. nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/ atau kegiatan. Uraikan dengan singkat mengenai rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Bab ini agar dilengkapi dengan peta batas wilayah studi yang dapat menggambarkan batas wilayah proyek. b.Metoda pengumpulan dan analisis data Pada bagian ini jelaskan metode pengumpulan dan analisis data baik primer dan/atau sekunder yang sahih dan dapat dipercaya (reliabel) untuk digunakan: a. 2. BAB III.Lingkup rona lingkungan hidup awal a. BAB VI. 3. Evaluasi dampak besar dan penting secara holistik tersebut di atas harus mencakup baik dampak yang tergolong besar dan penting maupun tidak sebagaimana telah dihasilkan dalam bab prakiraan dampak sebelumnya.3.2.

Baik pada tahap prakonstruksi. Aspek-aspek yang diteliti sebagaimana dimaksud pada butir 2. 246 . c dimaksud mengacu pada hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan untuk ANDAL. BAB II. operasi maupun pasca operasi.1. Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. termasuk masyarakat. Landasan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup. Tujuan dan kegunaan proyek. terutama komponen usaha dan/atau kegiatan yang berkaitan langsung dengan dampak yang ditimbulkannya. c. Mengidentifikasi komponen-komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak besar dan penting. d. Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. perencana. Rencana usaha dan/atau kegiatan dengan berbagai kemungkinan dampak besar dan pentingnya. Pengertian Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) adalah telaahan secara cermat dan mendalam tentang dampak besar dan penting suatu rencana usaha dan/atau kegiatan (PP Nomor 27 Tahun 1999 Pasal 1). b.Dampak besar dan penting yang ditelaah a. PENJELASAN UMUM 1. c. Memuat uraian singkat tentang : a. b. Keterangan mengenai kemungkinan adanya kesenjangan data informasi serta berbagai kekurangan dan keterbatasan.1. Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan. 2. d. c. Memprakirakan dan mengevaluasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.2. Hal lain yang dipandang sangat perlu untuk melengkapi ringkasan. e.LAMPIRAN II: KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) A. konstruksi. sehingga dapat : 1. Uraikan secara singkat mengenai rencana usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. Kaitan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan dampak besar dan penting yang ditimbulkan (isu-isu pokok hasil pelingkupan yang tertuang dalam dokumen KA-ANDAL). 1. Masing-masing butir yang diuraikan pada bab ruang lingkup studi ini disusun dengan mengacu pada hal-hal yang tertuang dalam dokumen Kerangka Acuan. a. c. B. Kegunaan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. RUANG LINGKUP STUDI Bab ruang lingkup studi mencakup tentang kajian dampak besar dan penting yang ditelaah serta wilayah studi. Fungsi pedoman penyusunan dokumen ANDAL Pedoman penyusunan ANDAL digunakan sebagai dasar penyusunan ANDAL baik AMDAL kegiatan tunggal. d. b. 2. b. Uraikan secara singkat jenis-jenis kegiatan yang ada di sekitar rencana lokasi beserta dampak dampak yang ditimbulkannya terhadap lingkungan hidup. b. Uraikan dengan singkat kondisi rona lingkungan hidup yang terkena dampak. Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah. bila dipandang perlu. Mudah dipahami isinya oleh semua pihak. b. BAB I. Peraturan perundang-undangan yang berlaku yang terkait dengan rencana usaha dan/atau kegiatan dan lingkungan.1. Merumuskan RKL dan RPL. Mengidentifikasi rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan.Tujuan studi Tujuan dilaksanakannya studi ANDAL adalah : a. terutama komponen lingkungan hidup yang langsung terkena dampak. terutama yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. c. dan mudah disarikan isinya bagi pemuatan dalam media massa. dan pengelola rencana usaha dan/atau kegiatan. 3. yang dihadapi selama menyusun ANDAL.Latar belakang Uraikan secara singkat latar belakang dilaksanakannya studi ANDAL ditinjau dari: a. Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Langsung mengemukakan masukan penting yang bermanfaat bagi pengambilan keputusan. 2. AMDAL kegiatan terpadu/multisektor maupun AMDAL kegiatan dalam kawasan. d. PENDAHULUAN Bab pendahuluan mencakup : 1. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP (ANDAL) RINGKASAN Ringkasan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) perlu disusun sedemikian rupa.

1. tata letak bangunan atau sarana pendukung. dermaga dan sebagainya).Metoda evaluasi dampak besar dan penting Uraikan singkat tentang metoda evaluasi dampak yang lazim digunakan dalam studi untuk menelaah dampak besar dan penting usaha dan/atau kegiatan terhadap lingkungan hidup secara holistik (seperti antara lain: matrik. BAB III. atau teknologi proses produksi). jalan kereta api. a. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab pelaksanaan rencana usaha dan/atau kegiatan. sumber daya alam non hayati serta sumber daya manusia yang diperlukan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan setelah usaha dan/atau kegiatan ini beroperasi. serta lokasi pengumpulan data berbagai komponen lingkungan hidup yang diteliti sebagaimana dimaksud pada Bab II butir 2. Lokasi pengumpulan data agar dicantumkan dalam peta dengan skala memadai. baik ditinjau dari segi kepentingan pemrakarsa maupun dari segi menunjang program pembangunan. Pemrakarsa : 1) Nama dan alamat lengkap instansi/perusahaan sebagai pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan.Kegunaan dan keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan Uraian yang memuat tentang kegunaan dan keperluan mengapa rencana usaha dan/atau kegiatan harus dilaksanakan. bagan alir. d.b. sungai. dan b. dan dapat memperlihatkan hubungan tata kaitan dan tata letak antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan usaha dan/atau kegiatan lainnya. Penentuan batas-batas lahan yang langsung akan digunakan oleh rencana usaha dan/atau kegiatan harus dinyatakan dalam peta berskala memadai.Penjelasan ini agar dilengkapi dengan peta yang dapat menggambarkan lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan beserta kegiatan . b. Pengumpulan data dan informasi untuk demografi. BAB IV. Penyusun ANDAL : 1) Nama dan alamat lengkap lembaga/perusahaan disertai dengan kualifikasi dan rujukannya. yang menjadi dasar untuk menelaah kelayakan lingkungan hidup dari berbagai alternatif usaha dan/atau kegiatan. Batas wilayah studi ANDAL dimaksud digambarkan pada peta dengan skala yang memadai. RENCANA USAHA DAN/ATAU KEGIATAN 4.Tujuan rencana usaha dan/atau kegiatan Pernyataan rencana maksud dan tujuan dari rencana usaha dan/atau kegiatan perlu dikemukakan secara sistematis dan terarah.1. 2) Nama dan alamat lengkap penanggung jawab penyusun ANDAL. Bila berdasarkan studi kelayakan terdapat beberapa alternatif lokasi usaha dan/atau kegiatan. sumber daya alam hayati dan. 2. maka jenis data yang dikumpulkan baik data primer maupun sekunder harus bersifat sahih dan dapat dipercaya ( reliable) yang diperoleh melalui metoda atau alat yang bersifat sahih.3. dan kesehatan masyarakat menggunakan kombinasi dari tiga atau lebih metoda agar diperoleh data yang reliabilitasnya tinggi. energi. Alternatif usaha dan/atau kegiatan berdasarkan hasil studi kelayakan (misal: alternatif lokasi. Mengingat studi ANDAL merupakan telaahan mendalam atas dampak besar dan penting usaha dan/ atau kegiatan terhadap lingkungan hidup. maka alternatif rancangan tersebut diutarakan pula dalam peta yang berskala memadai. overlay). cagar alam.. Bila terdapat beberapa alternatif tata letak bangunan dan struktur lainnya. 3.b. serta hubungan bangunan dan struktur tersebut dengan bangunan yang sudah ada di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan (jalan raya.2. Hubungan antara lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan dengan jarak dan tersedianya sumber daya air.Wilayah Studi Uraian singkat tentang lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan untuk ANDAL. 4. maka berikan uraian tentang masingmasing alternatif lokasi tersebut sebagaimana dimaksud pada butir a. yang memuat informasi tentang letak bangunan dan struktur lainnya yang akan dibangun dalam lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan. yang berskala memadai. 3. dan hasil pengamatan di lapangan.2.3. Penggunaan metoda formal dan non formal dalam memprakirakan besaran dampak dan Keputusan Kepala BAPEDAL tentang Pedoman Penentuan Dampak Besar dan Penting untuk memprakirakan tingkat kepentingan dampak. Uraikan secara jelas tentang metoda pengumpulan data. b.1. b. 4. pertahanan dan keamanan. sumber mata air. c. suaka alam.Identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL Isi uraian mengenai identitas pemrakarsa dan penyusun ANDAL terdiri dari : a. seperti pemukiman (lingkungan hidup binaan manusia umumnya). c. dan kawasan lindung lainnya yang terletak dekat lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan harus diberikan tanda istimewa dalam peta. sosial ekonomi.kegiatan yang berada di sekitarnya. 247 . Hutan lindung.2.Metoda pengumpulan dan analisis data a.1. Tata letak usaha dan/atau kegiatan dilengkapi dengan peta. metoda analisis atau alat yang digunakan. METODA STUDI 3. Hubungan ini perlu dikemukakan dalam peta dengan skala memadai. sosial budaya.Metoda prakiraan dampak besar dan penting Uraikan secara jelas tentang metoda yang digunakan untuk memprakirakan besar dampak usaha dan/atau kegiatan dan penentuan sifat penting dampak terhadap komponen lingkungan hidup yang dimaksud pada butir 2. dan lingkungan hidup alami yang terdapat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan. suaka margasatwa.

gudang. Misalnya: (1) Rencana penyerapan tenaga kerja menurut jumlah. dan kualifikasi pendidikan. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan selama masa operasi. (b) Uraikan tentang usaha dan/atau kegiatan pembangunan unit atau sarana pengendalian dampak (misal: unit pengolahan limbah). 4. BAB V. (c) Uraikan tentang rencana pemulihan kembali bekas-bekas material/bahan. (4) Rencana penyelamatan dan penanggulangan bahaya atau masalah selama operasi baik yang bersifat fisik maupun sosial. Perlu juga diuraikan neraca air (waterbalance) bila usaha dan/ atau kegiatan yang akan dibangun menggunakan air yang banyak. yang mengungkapkan secara mendalam komponen-komponen lingkungan hidup yang berpotensi terkena dampak penting usaha dan/atau kegiatan. (5) Karakteristik limbah yang dihasilkan baik limbah padat. tempat asal tenaga kerja yang akan diserap langsung oleh rencana usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. sehingga dapat diketahui input-output dan jumlah serta kualitas limbah. Tahap pelaksanaan usaha dan/atau kegiatan tahap pra-konstruksi. 4) Tahap Pasca Operasi Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pasca operasi. 1) Tahap pra-konstruksi/persiapan Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadwal usaha dan/atau kegiatan pada tahap pra konstruksi. Keterkaitan proyek dengan kegiatan lain disekitarnya Uraikan mengenai kegiatan-kegiatan yang berada di sekitar rencana lokasi beserta dampak-dampak yang ditimbulkannya. (b) Rencana rehabilitasi atau reklamasi lahan yang akan dilaksanakan setelah masa operasi berakhir. Uraikan secara mendalam difokuskan pada kegiatan selama masa persiapan (pra-konstruksi) yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. jalan darurat dan sebagainya. Termasuk dalam hal ini rencana pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak yang telah dibangun pada masa konstruksi. hingga rencana waktu pasca operasi. Misalnya: (1) Desain dan spesifikasi teknologi yang digunakan. air) dari rencana usaha dan/atau kegiatan. demikian pula neraca bahan (material balance). (3) Rencana jumlah tenaga kerja. jelaskan pula upaya-upaya untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan hidup yang timbul selama masa konstruksi. (4) Jenis-jenis dan tipe peralatan yang digunakan. baik dampak rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap kegiatan-kegiatan yang sudah ada atau sebaliknya maupun dampak kumulatif dari rencana usaha dan/atau kegiatan dan kegiatan yang sudah ada terhadap lingkungan hidup. 2) Tahap konstruksi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap konstruksi. 3) Tahap Operasi (a) Uraikan tentang rencana usaha dan/atau kegiatan dan jadual usaha dan/atau kegiatan pada tahap operasi. jangka waktu masa operasi. bila ada. Selain itu komponen lingkungan hidup yang memiliki arti ekologis dan ekonomis perlu mendapat perhatian. gudang. (d) Rencana penanganan tenaga kerja yang dilepas setelah masa usaha dan/atau kegiatan berakhir. (3) Kegiatan pengangkutan dan penimbunan bahan atau material yang dapat menimbulkan dampak lingkungan hidup. jalanjalan darurat dan lain-lain setelah usaha dan/atau kegiatan konstruksi berakhir. (2) Jumlah dan jenis bahan baku dan bahan penolong yang digunakan dalam proses produksi yang mungkin menimbulkan dampak besar dan penting lingkungan hidup serta cara pengangkutan dan penyimpanannya (misal: pestisida serta bahan berbahaya dan beracun lainnya). (c) Rencana pemanfaatan kembali lokasi rencana usaha dan/atau kegiatan untuk tujuan lain bila seluruh rencana usaha dan/atau kegiatan berakhir. Misalnya: (a) Rencana merapikan kembali bekas serta tempat timbunan bahan/material. RONA LINGKUNGAN HIDUP Dalam bab ini hendaknya dikemukakan rona lingkungan hidup selengkap mungkin mengenai: 1) Rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. konstruksi. Disamping itu. bila unit atau sarana dimaksud direncanakan akan dibangun oleh pemrakarsa.4. listrik. bedeng kerja. 248 . Dalam kaitan ini perlu diuraikan pula sifat-sifat limbah B3 maupun non B3. (2) Kegiatan pembangunan sarana dan prasarana (jalan. tempat asal tenaga kerja.e. cair maupun gas dan rencanarencana pengelolaannya. Uraian secara mendalam difokuskan pada usaha dan/atau kegiatan yang menjadi penyebab timbulnya dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup.

kegiatan-kegiatan vulkanis. gambar. potensi dan kualitas air tanah (dangkal dan dalam). gempa. dan tanah (a) Inventarisasi tata guna lahan dan sumber daya lainnya pada saat rencana usaha dan/atau kegiatan yang diajukan dan kemungkinan potensi pengembangannya di masa datang. baik yang sudah atau yang akan dimanfaatkan maupun yang masih dalam bentuk potensi. sifat-sifat dan kerawanannya yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. rawa air tawar). terutama ditekankan bila terdapat gejala ketidak stabilan. (f) Sumber kebisingan dan getaran. hutan. gempa. Berikut ini adalah beberapa contoh komponen lingkungan hidup yang dapat dipilih untuk ditelaah sesuai hasil pelingkupan dalam KA-ANDAL. (c) Kemungkinan adanya konflik atau pembatasan yang timbul antara rencana tata guna tanah dan sumber daya alam lainnya yang sekarang berlaku dengan adanya pemilikan/penentuan lokasi bagi rencana usaha dan/atau kegiatan. rencana tata ruang (kawasan budidaya seperti pertanian. banjir tahunan. taman nasional dan lain-lain). abrasi dan akresi serta pola sedimentasi yang terjadi secara alami di daerah penelitian. populasi hewan budidaya (ternak) serta satwa dan habitatnya yang dilindungi undang-undang dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. 2) Fauna (a) Taksiran kelimpahan dan keragaman fauna. penyebaran. tahunan. atau berpotensi terkena dampak besar dan penting. pola penyebaran bahan pencemar udara secara umum maupun pada kondisi cuaca terburuk. bulanan. banjir bandang di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. dan kerawanan bentuk lahan dan batuan secara geologis. lahan. grafik atau foto. kelembaban curah hujan dan jumlah hari hujan. (c) Keunikan. rata-rata). mandi. Penyajian kondisi sumber daya alam ini perlu dikemukakan dalam peta dan atau label dengan skala memadai dan bila perlu harus dilengkapi dengan diagram. 5) Ruang. (b) Data periodik bencana (siklus tahunan. (d) Kondisi fisik daerah resapan air permukaan dan air tanah. dan sumber daya alam lainnya yang secara resmi atau belum resmi disusun oleh Pemerintah setempat baik di tingkat kabupaten. Fisik Kimia 1) Iklim. perkebunan. (d) Inventarisasi estetika dan keindahan bentang alam serta daerah rekreasi yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. danau. (b) Indikator lingkungan hidup yang berhubungan dengan stabilitas geologis dan stabilitas tanah. dan sebagainya). kegiatan-kegiatan longsor tanah. keistimewaan.2) Kondisi kualitatif dan kuantitatif dari berbagai sumber daya alam yang ada di wilayah studi rencana usaha dan/ atau kegiatan. (b) Rencana pengembangan wilayah. rencana tata guna tanah. struktur geologi dan jenis tanah. (f) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk air minum. (g) Tingkat penyediaan dan kebutuhan/pemanfaatan air untuk keperluan lainnya seperti pertanian. (d) Pola iklim mikro. pola migrasi. kimia dan mikrobiologi air mengacu pada baku mutu dan parameter kualitas air yang terkait dengan limbah yang akan keluar. intensitas radiasi matahari. 2) Fisiografi (a) Topografi bentuk lahan (morphologi). (b) Rata-rata debit dekade. (e) Kualitas udara baik pada sumber maupun daerah sekitar wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. perikanan dan lain-lain serta kawasan non budidaya seperti hutan lindung . 4) Hidrooseanografi Pola hidrodinamika kelautan seperti pasang surut. a. dan sebagainya) seperti sering terjadi angin ribut. habitat. sesar. 3) Hidrologi (a) Karakteristik fisik sungai. (h) Kualitas fisik. suaka margasatwa. tingkat kebisingan serta periode kejadiannya. (b) Uraikan tentang jenis-jenis vegetasi dan ekosistem yang dilindungi undang-undang yang berada dalam wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. b. lima tahunan. sesar. propinsi atau nasional di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. morfologi pantai. (c) Uraikan tentang keunikan dari vegetasi dan ekosistemnya yang berada pada wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. Rona lingkungan hidup yang diuraikan pada butir ini agar dibatasi pada komponen-komponen lingkungan hidup yang berkaitan dengan. tingkat erosi. cuci. arus dan gelombang/ombak. Biologi 1) Flora (a) Peta zona biogeoklimatik dari vegetasi alami yang meliputi tipe vegetasi. (c) Kadar sedimentasi (lumpur). rawa (rawa pasang surut. 249 . (c) Data yang tersedia dari stasiun meteorologi dan geofisika yang mewakili wilayah studi tersebut. keadaan angin (arah dan kecepatan). Penyusun dapat menelaah komponen lingkungan hidup yang lain diluar dari daftar contoh komponen ini bila dianggap penting berdasarkan hasil penilaian lapangan dalam studi ANDAL ini. 3) Data dan informasi rona lingkungan hidup Uraikan secara singkat rona lingkungan hidup di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. industri. kualitas udara dan kebisingan (a) Komponen iklim yang perlu diketahui antara lain seperti tipe iklim. dan harus diuraikan dengan jelas dan seksama (misal: longsor tanah. minimum. dan lain-lain. (e) Fluktuasi . suhu (maksimum.

pekerjaan dan kekuasaan. (b) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen fisik-kimia. siklus dan daur hidupnya. 2) Penentuan arti penting perubahan kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan bagi masyarakat di wilayah studi rencana usaha dan/atau kegiatan. (c) Perekonomian lokal dan regional (kesempatan kerja dan berusaha. (f) Kekuasaan dan kewenangan (kepemimpinan formal dan informal. cara bertelur dan beranak. cara pemijahan. dan agama. asimilasi dan integrasi. (b) Proses sosial (proses asosiatif/kerjasama. nilai dan norma budaya). 250 . (c) Pranata sosial/kelembagaan masyarakat dibidang ekonomi (misal hak ulayat). 8) Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit. pola penggunaan lahan. permanen). d. PRAKIRAAN DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam bab ini hendaknya dimuat : 1) Prakiraan secara cermat dampak usaha dan/atau kegiatan pada saat pra konstruksi. cagar budaya). 4) Karakteristik spesifik penduduk yang beresiko. 3) Dalam melakukan telaahan butir 1) dan 2) tersebut perlu diperhatikan dampak yang bersifat langsung dan atau tidak langsung. (b) Tingkat kepadatan penduduk. agama. cara memelihara anaknya. (h) Adaptasi ekologis. Sedang dampak tidak langsung adalah dampak yang timbul sebagai akibat berubahnya suatu komponen lingkungan hidup dan/atau usaha atau kegiatan primer oleh adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. termasuk cara perkembangbiakan. akulturasi. sumber daya alam milik umum). BAB VI. perilaku dalam daerah teritorinya. konstruksi. 3) Budaya (a) Kebudayaan (adat-istiadat. (c) Perikehidupan hewan penting di atas. pergeseran nilai kepemimpinan).(b) Taksiran penyebaran dan kepadatan populasi hewan invertebrata yang dianggap penting karena memiliki peranan dan potensi sebagai bahan makanan. dan pemerintah. (g) Sikap dan persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan. 7) Status gizi masyarakat. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi non-formal. (e) Pelapisan sosial berdasarkan pendidikan. tingkat pengangguran). proses disosiatif/konflik sosial. Sosial Komponen sosial yang penting untuk ditelaah diantaranya: 1) Demografi (a) Struktur penduduk menurut kelompok umur. pendidikan. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan berturut-turut terhadap komponen biologi dan sosial. Kesehatan Masyarakat 1) Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan. aksesibilitas wilayah). c. jenis kelamin. kewenangan formal dan informal. Telaahan ini dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan hidup yang diperkirakan dengan adanya usaha dan/atau kegiatan. pendidikan. tingkat kematian bayi dan pola migrasi sirkuler. Dampak langsung adalah dampak yang ditimbulkan secara langsung oleh adanya usaha dan/ atau kegiatan. efek ganda ekonomi. (c) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen biologi. distribusi pendapatan. (d) Warisan budaya (situs purbakala. 2) Proses dan potensi terjadinya pemajanan. (b) Ekonomi sumber daya alam (pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. 5) Sumber daya kesehatan. pola pemanfaatan sumber daya alam. pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. fasilitas umum dan fasilitas sosial. sosial. atau sumber hama dan penyakit. kelompok individu yang dominan. 3) Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian). ekonomi. (d) Tenaga kerja (tingkat partisipasi angkatan kerja. kohesi sosial). keluarga. dan kondisi kualitas lingkungan hidup yang diprakirakan tanpa adanya usaha dan/atau kegiatan dengan menggunakan metode prakiraan dampak. produk domestik regional bruto. dengan mengacu pada Pedoman penentuan dampak besar dan penting. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat. dan pasca operasi terhadap lingkungan hidup. nilai tanah dan sumber daya alam lainnya. komuter. kemudian menimbulkan rangkaian dampak lanjutan pada komponen sosial. pendapatan asli daerah. Dalam kaitan ini maka perlu diperhatikan mekanisme aliran dampak pada berbagai komponen lingkungan hidup sebagai berikut: (a) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada komponen sosial. 6) Kondisi sanitasi lingkungan. operasi. 2) Ekonomi (a) Ekonomi rumah tangga (tingkat pendapatan. 4) Pertahanan/Keamanan Konflik kepentingan pertahanan dan keamanan dengan rencana pembangunan usaha dan/atau kegiatan. (c) Pertumbuhan penduduk (tingkat kelahiran. mata pencaharian. nilai tambah karena proses manufaktur. pola nafkah ganda).

atau bahkan internasional.b. dilakukan dengan menggunakan metode-metode evaluasi yang lazim dan sesuai dengan kaidah metoda evaluasi dampak penting dalam AMDAL sesuai keperluannya. atau teknologi yang digunakan). 1) Telaahan terhadap dampak besar dan penting (a) Telaahan secara holistik atas berbagai komponen lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar sebagaimana dikaji pada Bab VI. 251 . 3) Foto-foto yang dapat menggambarkan rona lingkungan hidup awal. Apabila dimungkinkan. sebagaimana dimaksud dalam PP. Misalnya. karena rencana usaha atau kegiatan itu dilaksanakan di suatu lokasi yang terlalu padat manusia. rujukan bagi para pelaksana dan peneliti serta penyusun analisis dampak lingkungan hidup. grafik. maka telaahan sebagaimana dimaksud pada butir VI. BAB IX. Penggunaan metoda non formal hanya dilakukan bilamana dalam melakukan analisis tersebut tidak tersedia formula-formula matematis atau hanya dapat didekati dengan metoda non formal. (e) Dampak penting berlangsung saling berantai diantara komponen sosial itu sendiri. peta. gambar. Apakah ambang batas tersebut akan mulai timbul setelah rencana usaha dan/atau kegiatan dilaksanakan atau akan terus berlangsung sejak masa pra-konstruksi dan akan berakhir bersama selesainya rencana usaha dan/atau kegiatan. (b) Yang dimaksud dengan evaluasi dampak yang bersifat holistik adalah telaahan secara totalitas terhadap beragam dampak besar dan penting lingkungan hidup yang dimaksud pada Bab VI. dalam arti apakah dampak penting baik positif atau negatif akan berlangsung terus selama rencana usaha dan/atau kegiatan itu berlangsung nanti. Beragam komponen lingkungan hidup yang terkena dampak penting tersebut (baik positif maupun negatif) ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruhmempengaruhi. serta tabel lain yang belum tercantum dalam dokumen. Nomor 27 Tahun 1999. mungkin saja dampak besar dan penting timbul dari rencana usaha dan/atau kegiatan terhadap rona lingkungan hidup. dengan sumber usaha dan/atau kegiatan penyebab dampak. atau pada tingkat pendapatan dan pendidikan yang terlampau rendah.2 dilakukan untuk masing-masing alternatif. Identifikasi kesenjangan antara perubahan yang diinginkan dan perubahan yang mungkin terjadi akibat usaha dan/atau kegiatan pembangunan. sehingga diketahui sejauh mana perimbangan dampak besar dan penting yang bersifat positif dengan yang bersifat negatif.(d) Kegiatan menimbulkan dampak penting yang bersifat langsung pada aspek fisik-kimia dan selanjutnya membangkitkan dampak pada komponen sosial. 4) Diagram. keputusan. (f) Dampak penting pada butir a. nasional. kualifikasi. 4) Mengingat usaha dan/atau kegiatan masih berada pada tahap pemilihan alternatif usaha atau kegiatan (lokasi. Hasil evaluasi ini selanjutnya menjadi masukan bagi instansi yang bertanggungjawab untuk memutuskan kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan. BAB VII. 2) Surat-surat tanda pengenal. regional. 5) Hal lain yang dianggap perlu atau relevan yang dimuat dalam lampiran ini. LAMPIRAN Dalam bab ini hendaknya disebut bahan-bahan yang dilampirkan : 1) Surat izin/rekomendasi yang telah diperoleh pemrakarsa sampai dengan saat ANDAL akan disusun. (c) Kelompok masyarakat yang akan terkena dampak negatif dan kelompok yang akan terkena dampak positif. Bahan-bahan tersebut diatas tidak perlu lagi dilampirkan dalam dokumen ANDAL bilamana telah dicantumkan dalam dokumen KA. bentuk teknologi yang tak sesuai dan sebagainya. uraikan kejelasan tentang waktu ambang batas (misal: baku mutu lingkungan) dampak besar dan penting mulai timbul. Atau antara dampak-dampak satu dengan dampak yang lainnya akan terdapat hubungan timbal balik yang antagonistis dan sinergistis. 5) Dalam melakukan analisis prakiraan dampak penting agar digunakan metoda-metoda formal secara matematis. BAB VIII. (d) Kemungkinan seberapa luas daerah yang akan terkena dampak penting ini. sehubungan dengan AMDAL merupakan komponen dari studi kelayakan. melewati batas negara Republik Indonesia. (b) Ciri dampak penting ini juga perlu dikemukakan dengan jelas. (e) Analisis bencana dan analisis risiko bila rencana usaha dan/atau kegiatan berada di dalam daerah bencana alam atau di dekat sumber bencana alam. usulan rencana usaha dan/atau kegiatan sehingga bisa memberikan wawasan yang lebih mendalam tentang hubungan timbal balik serta kemungkinan dampak lingkungan hidup penting yang akan ditimbulkannya. DAFTAR PUSTAKA Dalam hal ini hendaknya dikemukakan rujukan data dan pernyataan-pernyataan penting yang harus ditunjang oleh kepustakaan ilmiah yang mutakhir serta disajikan dalam suatu daftar pustaka dengan penulisan yang baku. EVALUASI DAMPAK BESAR DAN PENTING Dalam Bab ini hendaknya diberikan uraian mengenai hasil telaahan dampak besar dan penting dari rencana usaha dan/atau kegiatan.c dan d yang telah diutarakan selanjutnya menimbulkan dampak balik pada rencana usaha dan/atau kegiatan.1 dan VI. Atau mungkin akan terus berlangsung. apakah hanya akan dirasakan dampaknya secara lokal. (c) Dampak-dampak besar dan penting yang dihasilkan dari evaluasi disajikan sebagai dampak-dampak besar dan penting yang harus dikelola. 2) Telaahan sebagai dasar pengelolaan (a) Hubungan sebab akibat (kausatif) antara rencana usaha atau kegiatan dan rona lingkungan hidup dengan dampak positif dan negatif yang mungkin timbul. umpamanya lebih dari satu generasi.

4) Pendekatan pengelolaan lingkungan hidup Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. sosial ekonomi. lengkapi pula dengan acuan literatur tentang rancang bangun penanggulangan dampak dimaksud. (b) Pokok-pokok arahan. (b) Rencana pengelolaan lingkungan hidup dimaksud perlu dirumuskan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk pembuatan rancangan rinci rekayasa. prinsip-prinsip. prinsip-prinsip. dan dasar pelaksanaan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. (c) Rencana pengelolaan lingkungan hidup mencakup pula upaya peningkatan pengetahuan dan kemampuan karyawan pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan dalam pengelolaan lingkungan hidup hidup melalui kursus-kursus yang diperlukan pemrakarsa berikut dengan jumlah serta kualifikasi yang akan dilatih. 252 . serta mengandung ciri-ciri pokok sebagai berikut : (a) Rencana pengelolaan lingkungan hidup memuat pokok-pokok arahan. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti : teknologi. tata letak (tata ruang mikro) lokasi. serta peningkatan dampak positif yang bersifat strategis. (d) Rencana pengelolaan lingkungan hidup juga mencakup pembentukan unit organisasi yang bertanggungjawab di bidang lingkungan hidup untuk melaksanakan RKL. 3. tenaga. belum memiliki spesifikasi teknis yang rinci. Dalam pengertian tersebut upaya pengelolaan lingkungan hidup mencakup empat kelompok aktivitas: (a) Pengelolaan lingkungan yang bertujuan untuk menghindari atau mencegah dampak negatif lingkungan hidup melalui pemilihan atas alternatif. dan rancang bangun proyek. dan bila dipandang perlu. Rencana pengelolaan lingkungan hidup harus diuraikan secara jelas. Lingkup rencana pengelolaan lingkungan hidup Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) merupakan dokumen yang memuat upaya-upaya mencegah. prinsip-prinsip. Hal ini tidak lain disebabkan karena : (a) Pada taraf studi kelayakan informasi tentang rencana usaha dan/atau kegiatan (proyek) relatif masih umum. dan waktu terlanjur dicurahkan lebih banyak. Bila dipandang perlu dapat dilengkapi dengan acuan literatur tentang “basic design” untuk pencegahan/penanggulangan/pengendalian dampak. menanggulangi. Hal ini tidak lain karena pada tahap ini memang dimaksudkan untuk mengkaji sejauh mana proyek dipandang patut atau layak untuk dilaksanakan ditinjau dari segi teknis dan ekonomi. mengendalikan dan menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup yang bersifat negatif dan meningkatkan dampak positif yang timbul sebagai akibat dari suatu rencana usaha dan/atau kegiatan. sistimatis. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. serta jumlah dan kualifikasi personalnya. kriteria atau persyaratan untuk pencegahan/ penanggulangan/pengendalian dampak. lingkup tugas dan wewenang unit. Kedalaman rencana pengelolaan lingkungan hidup Mengingat dokumen AMDAL merupakan bagian dari studi kelayakan. dalam arti komponen lingkungan hidup yang dikelola adalah yang hanya mengalami perubahan mendasar sebagaimana disimpulkan oleh dokumen ANDAL. maupun hingga saat usaha dan/atau kegiatan berakhir (misalnya: rehabilitasi lokasi proyek). dan masih memiliki beberapa alternatif. kriteria atau persyaratan pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL selanjutnya akan diintegrasikan atau menjadi dasar pertimbangan bagi konsultan rekayasa dalam menyusun rancangan rinci rekayasa. atau persyaratan untuk mencegah. Disamping itu perlu diketahui bahwa rencana pengelolaan lingkungan hidup yang tertuang dalam dokumen RKL harus terkait dengan hasil dokumen ANDAL. Aspek-aspek yang perlu diutarakan sehubungan dengan hal ini antara lain adalah struktur organisasi. 2. sebelum investasi. mengendalikan atau meningkatkan dampak besar dan penting baik negatif maupun positif yang bersifat strategis. Keterbatasan data dan informasi tentang rencana usaha atau kegiatan ini sudah barang tentu berpengaruh pada bentuk kegiatan pengelolaan yang dapat dirumuskan dalam dokumen RKL. hilang atau rusak (baik dalam arti sosial ekonomi dan atau ekologis) sebagai akibat usaha dan/atau kegiatan. Rencana pengelolaan lingkungan hidup Rencana pengelolaan lingkungan hidup dapat berupa pencegahan dan penanggulangan dampak negatif. (b) Pengelolaan lingkungan hidup yang bertujuan untuk menanggulangi. kriteria pedoman. atau mengendalikan dampak negatif baik yang timbul di saat usaha dan/atau kegiatan beroperasi. (c) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat meningkatkan dampak positif sehingga dampak tersebut dapat memberikan manfaat yang lebih besar baik kepada pemrakarsa maupun pihak lain terutama masyarakat yang turut menikmati dampak positif tersebut. maka dokumen RKL hanya akan bersifat memberikan pokok-pokok arahan. meminimisasi.LAMPIRAN III : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) A. maupun institusi. PENJELASAN UMUM 1. (d) Pengelolaan lingkungan hidup yang bersifat memberikan pertimbangan ekonomi lingkungan sebagai dasar untuk memberikan kompensasi atas sumber daya tidak dapat pulih.

menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). serta komitmen untuk melakukan penyempurnaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan secara berkelanjutan dalam bentuk mencegah.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. mengurangi. dan ketiganya dinilai sekaligus maka format dokumen RKL langsung berorientasi pada keempat pokok rencana pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana pada butir 1 di atas. menanggulangi dan mengendalikan dampak lingkungan yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatannya serta melakukan pelatihan bagi karyawannya dibidang pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara : (1. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. Pernyataan kebijakan lingkungan. (1.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi.1) Membatasi atau mengisolasi limbah. maupun institusi. misalnya : (2. (3) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Uraian tentang komitmen pemrakarsa usaha dan/atau kegiatan untuk memenuhi (melaksanakan) ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan yang relevan. atau memperbaiki kerusakan sumberdaya alam. 3) BAB II.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. menggunakan kembali limbah (reuse) atau mendaur ulang (recycle). Sebagai misal: (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. akan ditempuh cara : (1. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. 253 . Uraian tentang kegunaan dilaksanakannya Rencana Pengelolaan Lingkungan.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). dan bantuan peran pemerintah. c) Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. BAB I. (b) Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun. (2. 5) Format dokumen RKL Mengingat dokumen RKL disusun sekaligus dengan dokumen ANDAL dan RPL. dapat menggunakan salah satu atau beberapa pendekatan lingkungan hidup yang selama ini kita kenal seperti: teknologi. (1. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. (a) Pendekatan teknologi Pendekatan ini adalah cara-cara atau teknologi yang digunakan untuk mengelola dampak besar dan penting lingkungan hidup. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. B. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki. Pernyataan ini harus dikemukakan secara sistematis. PENDEKATAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Untuk menangani dampak besar dan penting yang sudah diprediksi dari studi ANDAL. (1. singkat dan jelas. akan ditempuh cara. (2) Dalam rangka mencegah.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. 1) 2) PENDAHULUAN Pernyataan tentang maksud dan tujuan pelaksanaan RKL dan RPL secara umum dan jelas.Sebagai misal : (1) Dalam rangka penanggulangan limbah bahan berbahaya dan beracun.2) Melakukan minimisasi limbah dengan mengurangi jumlah/volume limbah (reduce). sosial ekonomi. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP PERNYATAAN PELAKSANAAN Pernyataan Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL yang ditandatangani diatas kertas bermaterai. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut.

tersier.3) Menetralisasi limbah dengan menambahkan zat kimia tertentu sehingga tidak membahayakan manusia dan makhluk hidup lainnya. (4) Memprioritaskan penyerapan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahlian dan ketrampilan yang dimiliki.2) Mereklamasi lahan bekas galian tambang dengan pengaturan tanah atas dan penanaman tanaman penutup tanah. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. (b) Sumber Dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting : (1) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha dan/ atau kegiatan. (2) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang tergolong banyak menimbulkan dampak besar dan penting turunan (dampak sekunder. dan/atau telah ditetapkan oleh instansi yang bersangkutan. Pendekatan sosial ekonomi Pendekatan ini adalah langkah-langkah yang akan ditempuh pemrakarsa dalam upaya menanggulangi dampak penting melalui tindakan-tindakan yang berlandaskan pada interaksi sosial. Pendekatan institusi Pendekatan ini adalah mekanisme kelembagaan yang akan ditempuh pemrakarsa dalam rangka menanggulangi dampak besar dan penting lingkungan hidup. (3) Dampak besar dan penting yang dikelola adalah dampak yang bila dicegah/ditanggulangi akan membawa pengaruh lanjutan pada dampak besar dan penting turunannya. misalnya melalui peningkatan dan daya guna dari dampak positif tersebut. Selain itu utarakan pula dampak besar dan penting turunannya yang akan turut terpengaruh akibat dikelolanya dampak besar dan penting strategis tersebut.1) Membangun terasering atau penanaman tanaman penutup tanah untuk mencegah erosi. RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut: 1) Dampak penting dan sumber dampak besar dan penting (a) Uraikan secara singkat dan jelas komponen atau parameter lingkungan hidup yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar menurut hasil ANDAL. dan bantuan peran pemerintah. (2) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. 2) Tolok ukur dampak Jelaskan tolok ukur dampak yang akan digunakan untuk mengukur komponen lingkungan hidup yang akan terkena dampak akibat rencana usaha dan/atau kegiatan berdasarkan baku mutu standar (ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan). dan selanjutnya). atau taraf konstruksi). (3) Dalam rangka meningkatkan dampak positif berupa peningkatan nilai tambah dari dampak positif yang telah ada. 3) Tujuan rencana pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dikelolanya dampak besar dan penting yang bersifat strategis berikut dengan dampak turunannya yang otomatis akan turut tercegah/tertanggulangi/terkendali. akan ditempuh cara. Uraikan pula sejauh mana taraf perkembangan rencana usaha dan/atau kegiatan di saat RKL sedang disusun (studi kelayakan. Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup secara berkala kepada pihak-pihak yang berkepentingan BAB III. (2) Pengawasan terhadap hasil unjuk kerja pengelolaan lingkungan hidup oleh instansi yang berwenang. (2. lazim digunakan.(b) (c) (1. keputusan para ahli yang dapat diterima secara ilmiah. (6) Bantuan fasilitas umum kepada masyarakat sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki pemrakarsa. Tolok ukur yang diutarakan adalah yang digunakan dalam ANDAL. (2) Permintaan bantuan kepada pemerintah untuk turut menanggulangi dampak penting lingkungan hidup karena keterbatasan kemampuan pemrakarsa. (5) Kompensasi atau ganti rugi atas lahan milik penduduk untuk keperluan rencana usaha dan/atau kegiatan dengan prinsip saling menguntungkan kedua belah pihak. misalnya : (2. (7) Menjalin interaksi sosial yang harmonis dengan masyarakat sekitar guna mencegah timbulnya kecemburuan sosial. Perlu ditegaskan bahwa yang diungkapkan hanyalah komponen atau parameter lingkungan hidup yang terkena dampak besar dan penting saja. Komponen atau parameter lingkungan hidup yang berubah mendasar menurut ANDAL perlu ditetapkan beberapa hal yang dipandang strategis untuk dikelola berdasarkan pertimbangan : (1) Dampak besar dan penting yang dikelola terutama ditujukan pada komponen lingkungan hidup yang menurut hasil evaluasi dampak besar dan penting merupakan dampak besar dan penting akibat adanya rencana usaha dan/atau kegiatan. rancangan rinci rekayasa. 254 . Sebagai misal. maka jelaskan secara singkat komponen dampak besar dan penting tersebut. (1) Melibatkan masyarakat di sekitar rencana usaha dan/atau kegiatan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai misal: (1) Kerjasama dengan instansi-instansi yang berkepentingan dan berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup. (3) Permohonan keringanan bea masuk peralatan pengendalian pencemaran. (2) Dalam rangka mencegah. mengurangi. atau memperbaiki kerusakan sumber daya alam.

Institusi pengelolaan lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan institusi pelaksana yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. COD. Periode Pengelolaan Lingkungan Hidup. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggungjawab. Tolok Ukur Dampak. Padatan Tersuspensi Total. BAB IV. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1) Ringkasan dokumen RKL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut : Jenis Dampak . sifat kumulatif. maka cantumkan pula institusi dimaksud. Lokasi pengelolaan lingkungan hidup Jelaskan rencana lokasi kegiatan pengelolaan lingkungan hidup dengan memperhatikan sifat persebaran dampak besar dan penting yang dikelola. Sumber Dampak. Pembiayaan tersebut antara lain mencakup : (a) Biaya investasi misalnya pembelian peralatan pengelolaan lingkungan hidup serta biaya untuk kegiatan teknis lainnya. dan berbalik tidaknya dampak). baik yang berupa buku. dll. Lokasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. maupun laporan hasil-hasil penelitian. BAB V. makalah. Apabila dalam melaksanakan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup pemrakarsa menugaskan atau bekerjasama dengan pihak lain. dan berkaitan dengan kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. majalah. lokasi pengelolaan lingkungan hidup. serta kemampuan pemrakarsa (tenaga. Institusi pengelolaan lingkungan hidup Pada setiap rencana pengelolaan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. bila unit atau sarana dimaksud di dalam dokumen ANDAL dinyatakan sebagai aktifitas dari rencana usaha dan/atau kegiatan. Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup. Upaya pengelolaan lingkungan hidup yang diutarakan juga mencakup upaya pengoperasian unit atau sarana pengendalian dampak (misal unit pengolahan limbah). tulisan. (b) Pengawas pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RKL. 255 . agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP 51/MENLH/10/1995. berkepentingan. (e) Peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pengelolaan lingkungan hidup.4) 5) 6) 7) 8) Sebagai misal. Pembiayaan pengelolaan lingkungan hidup Pembiayaan untuk melaksanakan RKL merupakan tugas dan tanggung jawab dari pemrakarsa rencana usaha dan/atau kegiatan yang bersangkutan. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik di tingkat nasional maupun daerah. matrik serta data utama yang terkait dengan rencana pengelolaan lingkungan hidup untuk menunjang isi dokumen RKL. Bupati/Walikotamadya. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. dan atau institusi sebagaimana dijelaskan pada bagian penjelasan umum butir 4. Pengelolaan Lingkungan hidup Jelaskan secara rinci upaya-upaya pengelolaan lingkungan hidup yang dapat dilakukan melalui pendekatan teknologi. Tujuan Pengelolaan Lingkungan Hidup. (d) Keputusan Gubernur. (b) Biaya personil dan biaya operasioanal. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam Pasal 11 UU Nomor 23 Tahun 1997 yang meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan hidup. 2) Data dan informasi penting yang merujuk dari hasil studi ANDAL seperti peta-peta (lokasi kegiatan. khususnya parameter BOD5. (c) Biaya pendidikan serta latihan keterampilan operasional. Bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. dan Institusi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Lengkapi pula dengan peta/sketsa/gambar dengan skala yang memadai. (c) Pelaporan hasil pengelolaan lingkungan hidup Cantumkan instansi-instansi yang akan dilaporkan hasil kegiatan pengelolaan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan. rancangan teknik (engineering design). PUSTAKA Pada bagian ini jelaskan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RKL.). dan pH. dana). tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri. Periode pengelolaan lingkungan hidup Uraikan secara singkat rencana tentang kapan dan berapa lama kegiatan pengelolaan lingkungan dilaksanakan dengan memperhatikan : sifat dampak besar dan penting yang dikelola (lama berlangsung. dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka tujuan upaya pengelolaan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Mengendalikan mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah pencemaran air. dan atau sosial ekonomi.

Dampak besar dan penting yang dipantau Cantumkan secara singkat : (a) Jenis komponen atau parameter lingkungan hidup yang dipandang strategis untuk dipantau. Sebagai misal. 3) Frekuensi dan jangka waktu pemantauan. Hal-hal yang dipandang tidak penting atau tidak relevan tidak perlu di pantau. Kelembagaan pemantauan lingkungan hidup yang dimaksud disini adalah institusi yang bertanggungjawab sebagai penyandang dana pemantauan. dapat bersifat tepat guna. Sumber dampak Utarakan secara singkat sumber penyebab timbulnya dampak besar dan penting: (a) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat langsung dari rencana usaha atau kegiatan. BOD5. 5) Metode analisis data. maka uraikan secara singkat jenis usaha dan/atau kegiatan yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting. dan logam berat. namun biaya yang dikeluarkan untuk pemantauan perlu diperhatikan mengingat kegiatan pemantauan senantiasa berlangsung sepanjang usia usaha dan/atau kegiatan. indikator yang relevan untuk kualitas air limbah dan air sungai sehubungan dengan karakteristik rencana usaha dan/atau kegiatan. suhu. kandungan minyak. yakni : (a) Komponen/parameter lingkungan hidup yang dipantau hanyalah yang mengalami perubahan mendasar. singkat. ada 2 (dua) kata kunci yang membedakan pemantauan dengan pengamatan secara acak atau sesaat. pelaksana pemantauan. (b) Keterkaitan yang akan dijalin antara dokumen ANDAL. RKL dan RPL. dan selanjutnya disebarkan kepada berbagai penggunanya. Koordinasi dan kerjasama antar institusi ini dipandang penting untuk digalang agar data dan informasi yang diperoleh. atau terkena dampak besar dan penting. maka utarakan secara singkat komponen atau parameter lingkungan hidup yang merupakan penyebab timbulnya dampak besar dan penting tersebut. 256 . dan sifat pengelolaan dampak lingkungan hidup yang dirumuskan dalam dokumen RKL. bau. BAB II. adalah pH. mencakup : 1) Jenis data yang dikumpulkan. 4) Metode pengumpulan data (termasuk peralatan dan instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data). Dengan demikian tidak seluruh komponen lingkungan hidup yang harus dipantau. 2.1. dan pengawas kegiatan pemantauan. Aspek-aspek yang dipantau perlu memperhatikan benar dampak besar dan penting yang dinyatakan dalam ANDAL. pengguna hasil pemantauan. Kedalaman rencana pemantauan lingkungan hidup Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam penyusunan dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup. Uraikan tentang kegunaan dilaksanakannya pemantauan lingkungan hidup baik bagi pemrakarsa usaha atau kegiatan. 2. berulang dan terencana. (b) Indikator dari komponen dampak besar dan penting yang dipantau. pihak-pihak yang berkepentingan maupun untuk kepentingan umum dalam rangka menunjang program pembangunan. B. (e) Rancangan pengumpulan dan analisis data aspek-aspek yang perlu dipantau. warna. maupun bagi masyarakat. PENDAHULUAN Pendahuluan mencakup : 1. PENJELASAN UMUM 1. Walau aspek-aspek yang akan dipantau telah dibatasi pada hal-hal yang penting saja (seperti diuraikan pada butir (a) sampai (c ). 2) Lokasi pemantauan.LAMPIRAN IV : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : 09 TAHUN 2000 TANGGAL : 17 PEBRUARI 2000 PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) A. c. (d) Pemantauan lingkungan hidup harus layak secara ekonomi. RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP Uraikan secara singkat dan jelas jenis masing-masing dampak yang ditimbulkan baik oleh satu kegiatan atau lebih dengan urutan pembahasan sebagai berikut : 1. tergantung pada skala keacuhan terhadap masalah yang dihadapi. tepat waktu dan dapat dipercaya. (c) Pemantauan dapat dilakukan pada sumber penyebab dampak dan atau terhadap komponen/parameter lingkungan hidup yang terkena dampak. (f) Dokumen RPL perlu memuat tentang kelembagaan pemantauan lingkungan hidup. pihak-pihak yang berkepentingan. Lingkup rencana pemantauan lingkungan hidup Pemantauan lingkungan hidup dapat digunakan untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi pada berbagai tingkatan. b. dan jelas tentang tujuan pemantauan lingkungan hidup yang akan diupayakan pemrakarsa sehubungan dengan pengelolaan rencana usaha dan/atau kegiatan. yakni merupakan kegiatan yang bersifat berorientasi pada data sistematik. Indikator adalah alat pemantau (sesuatu) yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan tentang suatu kondisi. SISTEMATIKA PENYUSUNAN DOKUMEN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP (RPL) BAB I. (b) Apabila dampak besar dan penting timbul sebagai akibat berubahnya komponen lingkungan hidup yang lain. Uraikan secara sistematis. mulai dari tingkat proyek (untuk memahami perilaku dampak yang timbul akibat usaha dan/atau kegiatan). Pernyataan tentang latar belakang perlunya dilaksanakan rencana pemantauan lingkungan hidup baik ditinjau dari kepentingan pemrakarsa. Dengan memantau kedua hal tersebut sekaligus akan dapat dinilai/diuji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan hidup yang dijalankan. sampai ke tingkat kawasan atau bahkan regional. Disamping skala keacuhan. Latar belakang pemantauan lingkungan hidup a.

tulisan. majalah. (c) Jangka waktu dan frekwensi pemantauan Uraikan tentang jangka waktu atau lama periode pemantauan berikut dengan frekuensinya per satuan waktu. bahan-bahan pustaka tersebut agar ditulis dengan berpedoman pada tata cara penulisan pustaka. Selain itu uraikan pula metode yang digunakan untuk menganalisis data hasil pengukuran. dan rumus yang digunakan dalam proses analisis data. Institusi pemantauan lingkungan hidup Pada setiap rencana pemantauan lingkungan hidup cantumkan institusi atau kelembagaan yang akan berurusan. LAMPIRAN Pada bagian ini lampirkan tentang : 1. makalah. lokasi pemantauan lingkungan hidup. A. Padatan Tersuspensi Total. instrumen. (d) Keputusan Gubernur. dampak yang strategis dikelola untuk suatu rencana industri pulp dan kertas adalah kualitas air limbah. Perlu diperhatikan bahwa lokasi pemantauan sejauh mungkin konsisten dengan lokasi pengumpulan data disaat penyusunan ANDAL. Parameter ini dapat meliputi aspek biologi.3. 257 . Selain itu uraikan pula tolok ukur yang digunakan untuk menilai kondisi kualitas lingkungan hidup yang dipantau. (e) Keputusan-keputusan lain yang berkaitan dengan pembentukan institusi pemantauan lingkungan hidup. bentuk rencana pengelolaan lingkungan hidup. dan sifat kumulatif dampak). Institusi pemantau lingkungan hidup yang perlu diutarakan meliputi : (a) Pelaksana pemantauan lingkungan hidup Cantumkan institusi yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan dan sebagai penyandang dana kegiatan pemantauan lingkungan hidup. khususnya parameter BOD 5. rencana pemantauan lingkungan hidup (yang meliputi metode pengumpulan data. Lampiran ringkasan dokumen RPL dalam bentuk tabel dengan urutan kolom sebagai berikut: dampak besar dan penting yang dipantau. PUSTAKA Pada bagian ini utarakan sumber data dan informasi yang digunakan dalam penyusunan RPL baik yang berupa buku. dengan memperhatikan dampak besar dan penting yang dikelola. 4. Data dan informasi yang dipandang penting untuk dilampirkan karena menunjang isi dokumen RPL. Tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara spesifik tujuan dipantaunya suatu dampak besar dan penting lingkungan hidup. Cantumkan jenis peralatan. Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. (b) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh sektor terkait. Instansi yang terlibat dalam pengawasan mungkin lebih dari satu instansi sesuai dengan lingkup wewenang dan tanggung jawab. berkepentingan. (c) Pelaporan hasil pemantauan lingkungan hidup. S. dan sebagai umpan balik untuk kegiatan pengelolaan lingkungan hidup. Sebagai misal. Metode pemantauan lingkungan hidup Uraikan secara singkat metode yang akan digunakan untuk memantau indikator dampak besar dan penting. BAB IV.H. serta metode analisis). 2. Cantumkan pula tingkat ketelitian alat yang digunakan dalam pengumpulan data sehubungan dengan tingkat ketelitian yang disyaratkan dalam Baku Mutu Lingkungan hidup. dan pH. lama dampak berlangsung. Perlu diperhatikan bahwa metode pengumpulan dan analisis data sejauh mungkin konsisten dengan metode yang digunakan disaat penyusunan ANDAL. ttd Dr. ttd Sudarsono. tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri . (b) Pengawas pemantauan lingkungan hidup Cantumkan instansi yang akan berperan sebagai pengawas bagi terlaksananya RPL. COD. sumber dampak. maka tujuan rencana pemantauan lingkungan hidup secara spesifik adalah : Memantau mutu limah cair yang dibuang ke sungai XYZ. fisika dan aspek sosial ekonomi dan budaya. kimia. Jangka waktu dan frekuensi pemantauan ditetapkan dengan mempertimbangkan sifat dampak besar dan penting yang dipantau (instensitas. serta peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan berkaitan dengan kegiatan pemantauan lingkungan hidup. 5. atau formulir isian yang digunakan. 6. (b) Lokasi pemantauan lingkungan hidup Cantumkan lokasi pemantauan yang tepat disertai dengan peta berskala yang memadai dan menunjukkan lokasi pemantauan dimaksud. Peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang pemantauan lingkungan hidup meliputi : (a) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. maupun laporan hasil-hasil penelitian. dan institusi pemantau lingkungan hidup. agar tidak melampaui baku mutu limbah cair sebagaimana yang ditetapkan dalam KEP: 51/MENLH/10/1995. Parameter lingkungan hidup yang dipantau Uraikan secara jelas tentang parameter lingkungan hidup yang dipantau. (c) Peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah. sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku baik ditingkat nasional maupun daerah. tujuan pemantauan lingkungan hidup. dan dampak besar dan penting turunan yang ditimbulkannya. Sonny Keraf Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris Utama BAPEDAL. BAB III. yang mencakup : (a) Metode pengumpulan dan analisis data Cantumkan secara singkat dan jelas metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data berikut dengan jenis peralatan. instrumen. jangka waktu dan frekuensi pemantauan lingkungan hidup. Bupati/Walikotamadya. Cantumkan instansi-instansi yang akan dilapori hasil kegiatan pemantauan lingkungan hidup secara berkala sesuai dengan lingkup tugas instansi yang bersangkutan.

sistematis dan berkesinambungan serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 Nopember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. bersungguh-sungguh. perlu dilakukan pengelolaan dan pemantauan serta pelaporan secara terencana. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-105/11/1997 TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Bahwa panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. 3. Mengingat : 1. 4. ttd Sarwono Kusumaatmadja 258 . Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. kreatif dan bertanggung jawab. Pasal 2 Panduan pemantauan pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). 2. Bahwa mengingat hal tersebut di atas. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Pasal 1 Untuk menjamin Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) dilaksanakan dengan baik. terkoordinasi. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 98 Tahun 1996 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1993 Nomor 84. Menimbang : a. b.

259 . Untuk mengetahui tingkat ketaatan pemrakarsa usaha atau kegiatan dalam melakukan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. II yang bersangkutan. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup: a. 3. Pasal 15 (1) Setiap rencana usaha dan/atau kegiatan yang kemungkinan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Fungsi manajemen lingkungan ini berupa pelaksanaan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). laporan pengawasan pelaksanaan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab. C. wajib memiliki analisis mengenai dampak lingkungan hidup. kreatif dan bertanggung jawab sehingga kualitas lingkungan dapat dipertahankan sesuai dengan fungsinya. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh pemrakarsa sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. Untuk menjamin RKL dan RPL dilaksanakan dengan baik perlu dilakukan pemantauan dan pelaporan secara terencana. Pemantauan dan pelaporan penerapan RKL dan RPL ini dimaksudkan untuk mewujudkan dan meningkatkan kesadaran para pemrakarsa usaha atau kegiatan untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan secara benar. bersungguh-sungguh. 4. Untuk mengetahui pelaksanaan RKL dan RPL. D. SASARAN Peningkatan pengelolaan dan pemantauan lingkungan serta ketaatan pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. Instansi Teknis/Sektor yang bertanggung jawab.Lampiran : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Nomor : 105 Tahun 1997 Tanggal : 14 Nopember 1997 PANDUAN PEMANTAUAN PELAKSANAAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) DAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) A. PELAKSANA PEMANTAUAN Pemantauan dilaksanakan oleh: 1. MAKSUD DAN TUJUAN Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL bagi kegiatan wajib AMDAL ini dimaksudkan untuk memberikan acuan dalam melaksanakan pemantauan dan pelaporan pelaksanaan RKL dan RPL. E. Untuk mengetahui efektifitas pelaksanaan RKL dan RPL dalam menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan. PELAKSANAAN PEMANTAUAN 1. BAPEDAL Wilayah. sistematis dan berkesinambungan. (3) Dalam melaksanakan pengawasan. F. sebagaimana dimaksud pada ayat (1). 3. B. pemantauan pasif dilaksanakan oleh Instansi Pemerintah dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan yang dilakukan oleh pemrakarsa. dan untuk memberikan acuan bagi para pelaku pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. 2) Hasil pemantauan yang dilakukan oleh Pemrakarsa dilaporkan kepada: a) Gubernur KDH Tk. serta tata cara penyusunan dan penilaian analisis mengenai dampak lingkungan hidup ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah 2. Untuk mewujudkan maksud tersebut. (2) Hasil pengujian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) disampaikan oleh instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan kepada Menteri atau Pemimpin lembaga pemerintah non departemen dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan. b). 2. maka perlu disusun Pedoman Umum Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). b. BAPEDALDA TK I dan BAPEDALDA TK II. c). instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan dapat melakukan koordinasi sesuai dengan tugas dan wewenangnya. II yang bersangkutan. laporan pemantauan lingkungan dan evaluasi hasilnya yang dilakukan oleh instansi terkait yang berkepentingan sesuai dengan rencana pengelolaan lingkungan dan rencana pemantauan lingkungan. LATAR BELAKANG Salah satu fungsi penting didalam AMDAL (PP 51 Tahun 1993) adalah fungsi manajemen lingkungan. 2. Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL). Pemda Tk. I dan Bupati/Walikotamadya KDH Tk. Bentuk pemantauan a. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan menyebutkan: (1) Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan menggunakan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan sebagai bahan penguji terhadap: a). Dalam kaitan ini. terkoordinasi. Pasal 25. Pemrakarsa usaha atau kegiatan. Pasal 11 ayat (1) Pengelolaan lingkungan hidup pada tingkat nasional dilaksanakan secara terpadu oleh perangkat kelembagaan yang dikoordinasi oleh Menteri. (2) Ketentuan tentang rencana dan/atau kegiatan yang menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup. Tujuan: 1. Pemantauan tidak langsung (pasif) 1) Pemantauan tidak langsung (pasif) adalah pemantauan yang dilakukan dengan cara memanfaatkan laporan pemantauan tertulis oleh pihak lain. I dan Tk. DASAR HUKUM 1.

Biaya Analisis Laboratorium H. masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan. sumber pembiayaan dan pemenuhan fasilitas pemantauan RKL dan RPL disediakan dari masing-masing Instansi. dll. Melakukan koordinasi dengan Instansi yang bertanggung jawab. maka pembiayaan dan penyediaan fasilitas pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL terintegrasi dalam manajemen usaha atau kegiatan yang direncanakan sejak dokumen AMDALnya disusun. serta memeriksa kebenaran laporan pemantauan yang dilaksanakan oleh Pemrakarsa. Bagi Instansi\Pemerintah. pelaksanaan pemantauan dapat menggunakan Formulir-1 dan Formulir-2. unit intern organisasi pengelolaan lingkungan. Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 14 November 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan ttd. 3) Frekuensi pemantauan lapangan dilaksanakan menurut kebutuhan dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan sebagaimana disebutkan pada butir 2) huruf a di atas. khususnya RKL dan RPL usaha atau kegiatan yang akan dipantau. laporan pemrakarsa mengacu pada Formulir-3. BAPEDAL. b. Bagi pemrakarsa. Secara keseluruhan.Biaya Penyusunan Laporan. Sarwono Kusumaatmadja 260 . Metode pelaksanaan RKL dan RPL dilakukan dengan cara: a. bila perlu pihak Laboratorium Lingkungan) dan Pemerintah Daerah (Tingkat I dan II) dimana usaha atau kegiatan itu berada.Lumpsum. d.Biaya transportasi . atau Lembaga Swadaya Masyarakat. c) BAPEDAL Pusat. b. Hasil pemantauan (pasif dan atau aktif) yang telah dilakukan. Bila diperlukan. Mempelajari dokumen AMDAL. d.b. Berpotensi menjadi sumber isu atau kasus lingkungan. . Format laporan hasil pemantauan Pemrakarsa atas pelaksanaan RKL mengacu pada Formulir-1 dan untuk pelaksanaan RPL mengacu pada Formulir-2. e. Mengetahui apakah pihak-pihak tersebut telah melaksanakan pemantauan terhadap usaha-usaha atau kegiatan yang akan dipantau termasuk hasil-hasilnya. Permintaan Instansi tertentu. BAPEDAL. dan BAPEDAL Daerah. Biaya pemantauan antara lain meliputi: . melakukan pengambilan contoh limbah untuk diuji di laboratorium atau keluaran pengelolaan lingkungan yang telah dilaksanakan. PEMBIAYAAN Untuk memperlancar pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan diperlukan dukungan dana dan fasilitas. 5) Pelaporan hasil pemantauan lapangan Hasil pelaksanaan pemantauan disusun dalam bentuk pelaporan yang kemudian dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak Instansi Pemerintah sebagaimana telah disebutkan pada butir 2) huruf c. G. pengelolaan limbah. meliputi : manajemen. Memeriksa dan mencocokkan seluruh pelaksanaan RKL dan RPL sesuai dengan dokumen. Mengumpulkan data dan informasi sekunder yang relevan. . b. b) Dasar pertimbangan untuk menentukan sasaran pemantauan (uji petik) aktif pelaksanaan RKL dan RPL di lapangan. Koordinasi ini meliputi : Pengumpulan data dan informasi yang berkaitan dengan operasi usaha atau kegiatan yang akan dipantau. dengan memperhatikan/ mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut: Usaha atau kegiatan yang besar dan komplek permasalahan lingkungannya. c. Wilayah dan Daerah. BAPEDAL Wilayah. Melakukan pemantauan bersama. digunakan sebagai: a) Masukan data dan informasi yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan pengelolaan lingkungan. Untuk membantu dan memudahkan pelaksanaan pemantauan di lapangan. Melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh masyarakat dan atau masyarakat sekitar lokasi usaha atau kegiatan yang dipantau. PENUTUP Hasil pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL yang sudah dikirimkan kepada Pemrakarsa dan pihak-pihak lain tersebut perlu terus dipantau secara periodik untuk mengetahui apakah rekomendasi hasil pemantauan itu benar-benar dilaksanakan oleh pemrakarsa atau tidak. Instansi teknis/sektor 2) Langkah-langkah pemantauan: a. b) Instansi Teknis/Sektor yang memberi ijin. 3) Instansi lain yang terkait. Oleh Instansi yang menerima laporan hasil pemantauan tersebut. Pemantauan ini dilakukan oleh : a. Usaha atau kegiatan yang berada di lokasi yang sensitif terhadap lingkungan. c. 4) Metode pemantauan di lapangan. Laporan disusun dengan sistematika sebagaimana pada Formulir-4. kendala dan hambatan dalam pelaksanaan RKL dan RPL. Melakukan pemantauan di lapangan. Instansi terkait (termasuk. Pemantauan langsung (aktif) 1) Pemantauan secara aktif adalah pemantauan yang langsung dilakukan di lapangan atas pelaksanaan RKL dan RPL. Melakukan diskusi dengan pihak Pemrakarsa tentang manfaat. Menentukan sasaran usaha atau kegiatan yang akan dipantau.

Formulir-1 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RKL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN RKL NO PENGELOLAAN 4 5 6 7 8 TEKNIS PELAKSANAAN HASIL PELAKSANAAN/TEMUAN LAP ANGAN KENDALA/MASALAH 3 DA P PE G M AK NTIN SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R TINDAK LANJUT/ REKOMENDASI 1 2 261 Ket : * Coret yang tidak perlu .

Formulir-2 MATRIK PELAKSANAAN PEMANTAUAN RPL OLEH : PEMRAKARSA / PETUGAS* WAKTU PEMERIKSAAN : ……………… PELAKSANAAN METODA LOKASI W AKTU TEKNIS PELAKSANAAN HASILPEMANTAUAN TINDAKLANJUT RKL N O D M A P NTIN A PK E G SU BE D P M R AM AK TO KU U /P R M TE LO K R A A E R KENDALA/MASALAH REKOMENDASI P ARAMETER Y ANGDIP ANTAU METODA LOKASI W AKTU 3 4 5 6 7 8 9 10 1 1 12 1 2 262 Ket : * Coret yang tidak perlu .

B. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kesesuaian hasil pelaksanaan pengelolaan lingkungan dengan tolok ukur.Lampirkan visualisasi pelaksanaan pengelolaan lingkungan (jika ada). antara lain meliputi: .Jenis dan atau tahapan kegiatan .Tolok ukur dampak penting . antara lain meliputi: . RKL .Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. Uraikan kendala dan masalah yang dihadapi. antara lain meliputi: . 263 .Waktu Pemantauan BAB III HASIL PELAKSANAAN A.Lokasi Pemantauan .Sumber dampak penting .Lokasi . HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) .Uraikan tujuan pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL.Jenis dampak penting . D.Metode Pemantauan . RINGKASAN R K L Tuliskan ringkasan RKL.Uraikan secara singkat pelaksanaan pemantauan lingkungan dan hasil yang dicapai. . RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Kapan mulai beroperasi . C.Uraikan secara singkat pelaksanaan pengelolaan lingkungan dan hasil-hasil yang dicapai.Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL.Uraikan pentingnya pemantauan pelaksanaan RKL dan RPL. RPL . Uraikan langkah-langkah perbaikan pelaksanaan RKL dan RPL. LATAR BELAKANG . B. TUJUAN .Pengelolaan dampak penting B. .Sumber dampak penting .Lampirkan berbagai hasil pengukuran (hasil pelaksanaan fisik dan hasil analisis laboratorium). .FORMULIR 3 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHA ATAU KEGIATAN : LOKASI : PEMRAKARSA : TANGGAL : BAB I PENDAHULUAN A.Jenis dampak penting . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Proses kegiatan/produksi BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.

Lokasi . B. . . HASIL YANG INGIN DICAPAI (SASARAN) . .Lokasi Pemantauan . .Tuliskan sasaran pemantauan ini sesuai dengan butir D dalam Panduan Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. antara lain meliputi: .Jenis dampak penting .Bentuk pengelolaan lingkungan yang dilakukan Pemrakarsa.Tuliskan tujuan pemantauan ini sesuai dengan butir C dalam Panduan Umum Pemantauan Pelaksanaan RKL dan RPL. D.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pengelolaan lingkungan jika ada.Unit organisasi yang melakukan pengelolaan lingkungan. antara lain meliputi: . Temuan Lapangan RKL. antara lain meliputi .Sebutkan nama-nama petugas dan dari lnstansi/Unit mana.Kapan mulai beroperasi . TUJUAN .Sumber dampak penting .Jenis dampak penting .Proses beroperasinya alat pengelolaan lingkungan. PELAKSANAAN .Dapat ditambahkan sasaran lain bila memang diperlukan. . RINGKASAN RKL Tuliskan ringkasan RKL. . 264 . LATAR BELAKANG .Dapat ditambahkan tujuan lain bila memang diperlukan.Sumber dampak penting .Waktu Pemantauan BAB III TEMUAN LAPANGAN/HASIL PENGECEKAN/HASIL PENGUKURAN Temuan lapangan dibagi menjadi empat hal: a.Metode Pemantauan . meliputi: .Jenis dan atau tahapan kegiatan . RINGKASAN DESKRIPSI KEGIATAN Tuliskan ringkasan deskripsi kegiatan.Tolok ukur dampak penting .Uraikan kenapa pemantauan RKL dan RPL ini penting. BAB II RINGKASAN RKL DAN RPL A.Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pengelolaan lingkungan. C.Formulir – 4 LAPORAN HASIL PEMANTAUAN PELAKSANAAN RKL DAN RPL BIDANG USAHAATAU KEGIATAN : LOKASI PEMRAKARSA PETUGAS PELAKSANA / INSTANSI : TANGGAL : : : BAB I PENDAHULUAN A. WAKTU .Jenis dan spesifikasi alat pengelolaan lingkungan. meliputi : hasil pemeriksaan dan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh Pemrakarsa. .Pengelolaan dampak penting B. . F.Proses kegiatan/produksi E.Tuliskan kapan waktu pemantauan berlangsung. RINGKASAN RPL Tuliskan ringkasan RPL.Jelaskan kenapa pemantauan ke usaha atau kegiatan yang dipilih ini dilakukan (alasan dan hasil yang diinginkan).

Proses beroperasinya alat pemantauan lingkungan.Keterlibatan masyarakat sekitar dalam pemantauan lingkungan. BAB IV EVALUASI Uraikan secara singkat kecenderungan adanya peningkatan/penurunan baik kegiatan maupun kualitas lingkungannya. LAMPIRAN . termasuk menguraikan hal-hal yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan yang perlu dilakukan oleh Pemrakarsa tetapi tidak termuat dalam dokumen RKL dan RPL. konkret dan yang dapat diterapkan (applicable) oleh Pemrakarsa untuk melaksanakan RKL dan RPL.LAMPIRAN Lampirkan dokumen dan atau informasi yang dirasa perlu. BAB V REKOMENDASI Penulisan Kesimpulan dan Rekomendasi sebaiknya dipisahkan antara RKL dan RPL. Rekomendasi berisi saran tindak secara teknis.Efektifitas dan efisiensi pengoperasian alat pemantauan lingkungan. Copy hasil uji limbah di laboratorium dsb.Jenis dan spesifikasi alat pemantauan lingkungan. . Bandingkan hasil temuan lapangan. meliputi hasil pemeriksaan pelaksanaan pemantauan. antara lain: Photo-photo. . d.Bentuk pemantauan lingkungan yang dilaksanakan.: . . Kesimpulan berisi hal-hal yang berkaitan dengan tingkat ketaatan Pemrakarsa dan situasi-kondisi yang berkaitan dengan pengelolaan dan pemantauan lingkungan. Temuan Lapangan RPL. Gambar-gambar. . 265 . Uraikan kendala dan hambatan Pemrakarsa dalam melaksanakan RKL dan RPL. . kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang terkait.Hal-hal lain yang berkaitan dengan pelaksanaan pemantauan lingkungan jika ada.Frekuensi dan kontinuitas pengoperasian pelaksanaan pemantauan lingkungan. masing-masing dengan dokumen RKL dan RPL. temuan lapangan/hasil pengecekan. perkembangan teknologi yang relevan. Peta.b. c.Unit organisasi yang melaksanakan pemantauan lingkungan. . . dll.Dalam memberikan rekomendasi/saran tidak perlu memperhatikan: dokumen RKL dan RPL.

Bahwa dalam pedoman penyusunan AMDAL. Dadang Danumihardja NIP. b. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Menimbang : a. sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap kesehatan masyarakat dapat ditekan serendah mungkin. dan kondisi kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. 2. MEMUTUSKAN : Menetapkan : Pertama : Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. media lingkungan. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-39/MENLH/8/1996 tentang Jenis Usaha atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dan dikelola dengan baik. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. perlu dilakukan pengkajian aspek kesehatan masyarakat. Bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. 4. Setiap jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL harus melakukan kajian terhadap aspek kesehatan masyarakat pada rencana tapak (tipologi kegiatan. untuk itu setiap usaha atau kegiatan pembangunan yang diperkirakan menimbulkan dampak penting terhadap kesehatan masyarakat. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan AMDAL. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini. merupakan bagian dalam penyusunan AMDAL. Mengingat : 1. Bahwa aspek kesehatan masyarakat. Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat sebagaimana dimaksud pada diktum kedua di atas dilaksanakan sesuai dengan Panduan Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL. tipologi lingkungan). ttd Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. 5.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR: KEP-124/12/1997 TENTANG PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN AMDAL KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Bahwa kesehatan menyentuh hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. masyarakat yang akan terpajan. kajian aspek kesehatan masyarakat dirasakan kurang memadai untuk melakukan analisis dampak guna menyusun rencana pemantauan serta pengolahan dampak kesehatan. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 3. perlu dikaji secara mendalam. d. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). c. 060030827 266 . Kedua : Ketiga : Keempat : Ditetapkan : di Jakarta Pada tanggal : 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan.

yang menggambarkan kondisi pengukuran pada sumber.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN I. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah tersebut telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. adalah hasil studi untuk mengkaji kemungkinan timbulnya dampak penting terhadap lingkungan hidup dan suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan untuk memberikan masukan pada proses pengambilan keputusan. sosial dan kesehatan masyarakat. 4. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. 3. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. manusia yang terpajan dan bentuk dampak kesehatan masyarakat serta sumber daya kesehatan. tanah. Dua komponen pokok tersebut mencakup berbagai metoda. Membantu mempermudah proses pengkajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 3. perubahan parameter lingkungan. RUANG LINGKUP A. III. dan kecelakaan). yaitu analisis terhadap potensi besarnya dampak. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. TUJUAN Panduan ini merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk: 1. Untuk memberikan panduan sebagai arahan dalam melakukan studi guna mengkaji aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. Dengan demikian bahasan aspek kesehatan akan lebih terfokus dan terkait dalam permasalahan atau isu pokok dan suatu rencana usaha atau kegiatan yang mencakup dua hal penting yaitu perubahan kualitas lingkungan dan dinamika masyarakat disekitar rencana lokasi yang diperkirakan berdampak terhadap kesehatan masyarakat. dengan kualitas kesehatan Iingkungannya. Dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. 2. serta kajian komunikasi massa untuk diseminasi informasi. Kajian aspek kesehatan masyarakat dilakukan untuk setiap fungsi dokumen: 1. udara. maka diperlukan kajian aspek kesehatan masyarakat sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kajian-kajian komponen lain dalam studi AMDAL yang mencermati potensi besarnya dampak (risiko) kesehatan. kinerja laboratorium. material) yang tercermin dalam sifat fisik. dan dampak interaksi (prevalensi dan insidensi penyakit. Kajian aspek kesehatan masyarakat yang ditelaah meliputi: 1. masyarakat terpajan (biomarker). Sedangkan kesehatan lingkungan merupakan kondisi dari berbagai media lingkungan (air. makanan. vektor penyakit. Memahami keterkaitan antara jenis usaha atau kegiatan. emisi/ambien. II. Potensi besarnya dampak timbulnya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. Kesehatan masyarakat merupakan kondisi ketahanan fisik dan psikis dari suatu komunitas di daerah tertentu yang merupakan implementasi dan interaksi antara perilaku yang merupakan cermin dan kebiasaan hidup. Untuk menggambarkan potensi besarnya dampak dan keterkaitan (asosiasi) antara parameter lingkungan dengan masyarakat yang terpajan. kesehatan dan keselamatan kerja (K3). biologis dan kimia dan kualitas parameter-parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit B. Kondisi sanitasi lingkungan 7. kejadian keracunan. terdapat dua komponen pokok yang tidak terpisahkan berkaitan dengan kajian aspek kesehatan masyarakat. Sumber daya kesehatan 6. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) 267 . PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek kesehatan Dampak Lingkungan. Membantu menyajikan hasil kajian yang informatif. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 4. higiene. Salah satu peraturan pelaksanaan yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/ 3/1994 antara lain menyatakan bahwa kajian dampak penting dilakukan terhadap komponen biologi-kimia-fisika. Status gizi masyarakat 8. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. dan pengelolaan dampak. model pendekatan seperti epidemiologi. dapat dipergunakan pendekatan Analisis Dampak Kesehatan Lingkungan. dan sanitasi. manusia.

Yang berhubungan dengan perilaku masyarakat kebiasaan pemanfaatan air kebiasaan penggunaan bahan “reppelent” atau pelindung kebiasaan penggunaan Insektisida kebiasaan yang berhubungan dengan sanitasi kebiasaan yang berhubungan dengan pengelolaan makanan kebiasaan yang berhubungan dengan masalah kesehatan (berobat. perlu diperhatikan: penyebaran bahan pencemar di media lingkungan (air. yang menggambarkan potensi. udara. Yang berhubungan dengan cemaran. maka identifikasi dampak potensial dan kajian aspek kesehatan masyarakat dalam studi AMDAL dapat disusun sebagai berikut. telaah kegiatan proyek 2. Proses dan potensi terjadinya pemajanan 3. Yang berhubungan dengan perindukan vektor (binatang perantara penyakit) perubahan lahan yang dapat menimbulkan genangan air perubahan vegetasi yang menunjang atau menghambat berkembang biaknya vektor telaah data atau informasi dan studi kesehatan lingkungan survei malarlometrik dan studi epidemiologi tentang penyakit bersumber binatang pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 3. Identifikasi Dampak Potensial Identifikasi dampak potensial dilakukan melalui penilaian terhadap parameter lingkungan (fisik. Status gizi masyarakat 8. studi epidemiologi dan studi kesehatan lingkungan pengalaman negara lain untuk kasus sejenis 2. Dampak potensial hipotesis ini kemudian disusun dalam suatu daftar guna dinilai berdasarkan pandangan masyarakat. dsb) 4. telaah hasil uji dan analisis laboratorium 5. simulasi/model Dengan mengacu Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep.ANDAL) I. melalui: 1. Potensi besarnya dampak terjadinya penyakit (angka kesakitan & angka kematian) 4. emisi). Kondisi lingkungan yang dapat memperburuk proses penyebaran penyakit Metoda pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak potensial dan suatu asosiasi atau hubungan antara parameter lingkungan. Dengan demikian karakteristik spesifik dampak penting dan setiap rencana usaha atau dapat diprediksi secara lebih cermat dan akurat. kontak penderita. telaah data dan informasi berdasar pengamatan lapangan (survei. tanah dan makanan) jalur-jalur pemajanan yang mungkin terjadi (di masa depan) telaah data dan informasi berdasarkan studi toksikologi. Parameter lingkungan yang diperkirakan terkena dampak rencana pembangunan dan berpengaruh terhadap kesehatan 2. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan perubahan kualitas lingkungan yang memungkinkan berkembang biaknya vektor penyakit? 2. observasi. Seberapa besar usaha/kegiatan membutuhkan/menggunakan bahan toksik dan mempunyai potensi untuk menimbulkan risiko kesehatan. yaitu prediksi. Ukuran atau nilai dan evaluasi dampak potensial dapat mempergunakan pertimbangan dari beberapa pernyataan di bawah ini: 1. Kondisi sanitasi lingkungan 7. Hal-hal yang diperhatikan dalam perlingkupan kajian aspek kesehatan masyarakat adalah sebagai berikut: 1. Evaluasi Dampak Potensial Pelingkupan pada tahap ini bertujuan untuk menghilangkan dampak potensial yang dipandang tidak relevan. baik akut maupun kronis seperti : keracunan. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING A. besarnya dampak kesehatan yang kemungkinan dapat timbul akibat perubahan lingkungan yang berasosiasi dengan masyarakat terpajan (“population at risk”). 1. studi banding terhadap hasil studi yang pernah dilaksanakan 7. Seberapa besar/luas usaha atau kegiatan memerlukan pengerahan sumber daya manusia (lokal dan pendatang) sehingga memungkinkan terjadinya interaksi antar penduduk dan memiliki potensi untuk menimbulkan penyakit menular? 3. sosial) yang kemungkinan akan menjadi berbagai isu yang berkaitan dengan masalah kesehatan masyarakat. telaah hasil penggunaan/uji binatang percobaan 6. biologis. dsb) B. sehingga diperoleh dampak penting hipotesis. Karakteristik spesifik penduduk yang berisiko 5. kelainan reproduksi dan penyakit menahun lainnya? 268 . PENDAHULUAN Kerangka Acuan ANDAL pada dasarnya merupakan suatu arahan berdasarkan hasil perlingkupan dalam menentukan batasan permasalahan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang dampak penting.14/MENLH/3/1994 dan substansi yang dijelaskan pada butir 2 pelingkupan. Sumber daya kesehatan 6. telaah data dan informasi berdasarkan studi pustaka dan atau bahan referensi yang relevan 3.LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN 124 Tahun 1997 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (KA. dan pertimbangan para pakar untuk memperoleh dampak potensial. II. referensi yang relevan. penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan. media lingkungan (ambien. kanker. telaah para ahli/profesional 8.

4. 2. kimia. Seberapa besar usaha atau kegiatan dapat menurunkan secara berarti pemenuhan makanan dan gizi masyarakat dari generasi ke generasi? 5. Keterkaitan antar komponen dampak penting yang telah dirumuskan secara holistik. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Pelingkupan (scoping) adalah suatu proses berjenjang melalui penapisan (screening) untuk membatasi permasalahan yang harus ditelaah secara cermat dan mendalam sedemikian rupa sehingga diperoleh isu pokok. Batas administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada batas ekologi di atas (butir 2). III. Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut: a. keganasan maupun kelainan reproduksi. dengan mempertimbangkan tipologi usaha atau kegiatan. batas ekologis. dikaitkan dengan akses komunitas masyarakat terhadap pelayanan dan sarana. Keterkaitan rencana usaha atau kegiatan dengan komponen lingkungan yang mengalami perubahan mendasar (dampak penting) 2. Apakah di dalam batas lingkungan proyek mengandung bahan berbahaya (toksik) yang berpotensi sebagai bahan pencemar yang dapat membahayakan kesehatan? 2. C. penyusun aspek kesehatan masyarakat dalam AMDAL perlu diperhatikan prioritas kepentingannya sebagai berikut: 1. maka penjabaran batas-batas yang tertuang dalam pedoman dapat diuraikan dalam pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: 1. Seberapa besar/luas rencana usaha atau kegiatan akan menurunkan kualitas sumber daya manusia karena daya dukung lingkungan sedemikian rupa sehingga berdampak terhadap kesehatan masyarakat? Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting (“focussing”) bertujuan untuk mengelompokkan dampak penting yang telah dirumuskan dan dampak potensial sehingga diperoleh gambaran tentang isu-isu pokok permasalahan lingkungan hidup yang terkait erat dengan risiko kesehatan secara utuh dan lengkap. sinergistik. maka kajian aspek kesehatan masyarakat perlu mempertimbangkan batasan epidemiologi dari penyakit yang ada disekitar tapak lokasi. Jumlah penduduk Peningkatan jumlah penduduk yang terkena dampak di masa depan dan rencana usaha atau kegiatan sehingga berpengaruh terhadap status kesehatan melalui proses akumulasi. Batas Ekologis Batas ekologis ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam Lampiran I Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 14 Tahun 1994. dan biologi serta aspek sosial yang akan terganggu. bahan material dan manusia itu sendiri. parasit. Berkaitan dengan masalah epidemiologi. dan karakteristik spesifik lingkungan serta penduduk disekitar tapak lokasi rencana kegiatan yang diarahkan pada lingkup ekologi yang terkena dampak fisik. 269 . Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang memiliki riwayat menyandang penyakit tertentu yang endemis dan penyakit menular potensial wabah? b. Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan memperhatikan: a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada batas proyek di atas (butir 1). dan pasca konstruksi? c. Disamping batas-batas yang telah ditetapkan dalam pedoman seperti batas proyek. yang dapat mengakibatkan gangguan kejiwaan. yang berkait erat dengan batas ekologis dan sosial yang akhirnya ditetapkan sebagai batas wilayah studi. Lokasi komunitas masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak kesehatan dan rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja. baik menurut waktu. konstruksi. Untuk itu perlu diidentifikasi apakah di dalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang derajat kesehatannya dapat berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air.serta sumber daya kesehatan. 3. vektor penyakit. dengan memperhatikan: 1. penurunan intelegensia gangguan metabolisme yang dapat menyebabkan terjadinya kerusakan sel atau mutasi DNA yang berakibat kelainan genetik. c). tahapan kegiatan maupun dampak komulatif yang terjadi Dalam proses pemusatan (focussing). dan mikroba secara terus-menerus atau periodik sehingga menimbulkan penyakit dan atau kematian. Beban ekonomi Meningkatkan beban ekonomi yang ditanggung masyarakat akibat dampak dan rencana usaha atau kegiatan sehingga masyarakat sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan yang optimal dan kesulitan akses terhadap sarana kesehatan yang ada. udara dan tanah. dan kronis. 3. 4. Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat vektor penyakit yang dapat berkembang dalam masa pra konstruksi. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. penderitaan seumur hidup dan atau kematian. Sifat dampak (akut dan kronis) Setiap rencana usaha atau kegiatan yang berpengaruh terhadap proses penularan penyakit akibat perubahan interaksi antara manusia dengan habitat vektor penyakit. serta pertumbuhan usaha non formal di sekitar lokasi proyek. batas sosial dan batas administrasi. Daftar dampak potensial yang diperoleh dari huruf C tersebut selanjutnya dievaluasi sehingga diperoleh dampak penting kesehatan masyarakat.

tetapi akan menyebar secara spesifik tergantung pada kondisi kesehatan masyarakat. PENDAHULUAN Panduan ini disusun untuk mempertajam kajian aspek kesehatan masyarakat dalam penyusunan AMDAL. Dan angka 3 tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa kajian komponen aspek kesehatan masyarakat yang tertera pada KA ANDAL dapat mengalami penambahan dan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan antara aspek fisik-kimia. 4. pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. referensi (data statistik. desa. Parameter lingkungan dan kesehatan serta metoda prakiraan dan evaluasi dampaknya pada kesehatan masyarakat. Sementara itu teknis penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) secara umum tetap mengacu pada Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-14/MENLH/3/1994 . Komponen lingkungan dan masyarakat yang diteliti harus bersifat spesifik lokasi. wawancara mendalam (indepth interview). serta metoda prakiraan dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. rujukan. Metoda Pengumpulan dan Analisis Data 1. Beberapa proses dan langkah penyusunan ANDAL akan disinggung kembali bila diperlukan disesuaikan dengan kekhususan kajian. 2. untuk itu perlu pemahaman akan sifat komponen dan keterkaitannya dari sudut pandang aspek kesehatan masyarakat.Lampiran 2. karena tidak semua parameter harus diteliti. pengumpulan data sekunder. 3. Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain: observasi / pengamatan lapangan. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan masalah kesehatan masyarakat secara epidemiologis: perubahan mendasar atau dampak penting lingkungan yang akan dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah.LAMPIRAN III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) I. satuan analisis (rumah tangga. Memperhatikan posisi tersebut. ketersediaan tenaga. studi epidemiologi dan pustaka lainnya yang relevan. yaitu metodologi dan deskripsi dari kajian aspek kesehatan masyarakat. panduan ini difokuskan pada substansi pokok yang perlu dikaji berdasarkan permasalahan pokok. Demikian pula format penyusunan ANDAL. mengikuti pedoman baku yang telah ditetapkan. 6. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). propinsi) yang akan diukur. 5. penyusunan aspek kesehatan masyarakat dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. Evaluasi dampak kesehatan masyarakat. Media lingkungan yang menjadi wahana transportasi bahan berbahaya dan kondisi lingkungan yang menunjang terbentuknya habitat vektor penyakit. 3. Uraian rencana usaha atau kegiatan yang berhubungan erat dengan aspek kesehatan masyarakat. studi kesehatan lingkungan. SERTA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. 5. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek kesehatan masyarakat yang terdapat dalam KA. II. Arahan pokok dan panduan ini yang perlu tercantum dalam dokumen ANDAL mencakup dua hal. bahan-bahan pustaka dan bahanbahan referensi lain yang relevan yang dapat dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. Metode pengumpulan dan analisis data dan butir-butir di atas. biologi dan sosial dan masalah kesehatan masyarakat. Prakiraan dampak kesehatan masyarakat. melalui penelusuran data dan informasi dari hasil-hasil penelitian. dokumen-dokumen ANDAL dan kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). A. 2. 4. beberapa hal penting yang perlu dipahami adalah sebagai berikut: 1. dengan memperhatikan: 1. waktu dan dana. Sehubungan dengan hal tersebut. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan dan analisis data yang relevan. Sebagai alat bantu untuk melengkapi angka 3 dan 4 tersebut di atas. ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. 270 . METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA. wawancara dengan menggunakan kuesioner. metoda & uji laboratorium). kabupaten. 2. peta. Dampak penting aspek kesehatan masyarakat dan suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat.

diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. 3. Presisi (ketepatan/akurasi) yang dikehendaki. Kep. Sementara kecenderungan dimaksudkan sebagai dampak yang segera muncul dan dampak tertunda. dan “Cost of illness (COI)” . teknik pengambilan sampel secara acak (random). biaya langsung bukan untuk pengobatan. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain: teknik pengambilan sampel secara purposive. diperlukan “value judgement” dari penyusun AMDAL. makin besar jumlah sampel yang harus diambil. yakni telaahan secara menyeluruh terhadap berbagai dampak lingkungan terkait erat dengan masalah kesehatan masyarakat. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. dan relative risk) Analisis biaya dampak kesehatan Analisis perubahan perilaku masyarakat terhadap dampak kesehatan. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini derajat keseragaman (homogenitas) dan populasi. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5 . Secara umum evaluasi dampak penting mengacu pada Keputusan Kepala Bapedal No. dan sampel biologis dan masyarakat sekitar tapak lokasi. sebaran dan beban yang diproyeksikan kepada jumlah penduduk terkena dampak. dan kondisi lingkungan lain yang berpengaruh terhadap kelayakan aplikasi teknik yang dipilih. perlu diperhatikan tingkat “representativeness” dan karakteristik spesifik dan lingkungan dan karakteristik spesifik dan jenis “biomarker” tertentu yang kemungkinan akan berkait erat dengan dampak dan rencana usaha atau kegiatan. baik secara langsung maupun tidak langsung. 4. Dalam hal pengambilan sampel untuk keperluan uji laboratorium sebagai kelengkapan pengumpulan data parameter lingkungan.memperkirakan biaya dampak melalui perhitungan kesediaan masyarakat membayar untuk menghindari atau menurunkan dampak.B. derajat kepekaan yang dikehendaki. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas bila perlu dapat digunakan secara simultan agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi.056 tahun 1994. baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Data ekonomi ditekankan pada beban masyarakat akibat dampak kesehatan (penyakit cedera) yang timbul. pandangan dan aspirasi mereka. Untuk itu indikator ekonomi kesehatan yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. C. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan jenis dan sifat parameter dampak penting yang akan diukur. Kedalaman analisis yang ingin diperoleh. Besaran dampak mencakup jenis. sifat. Beberapa arahan penting untuk menetapkan prakiraan dampak penting dan aspek kesehatan masyarakat adalah: prevalensi penyakit yang berhubungan dengan vektor cukup tinggi - 271 .memperkirakan biaya langsung untuk pengobatan. Ada dua cara pendekatan dasar yang dapat digunakan untuk menilai biaya dampak kesehatan. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat. dan biaya tidak langsung sebagai akibat dampak hilangnya produktivitas. Metoda ini perlu disesuaikan dengan isu pokok (lihat lampiran II . Metoda Prakiraan Dampak Prakiraan dampak merupakan telaahan untuk melihat besaran dan kecenderungan timbulnya dampak kesehatan masyarakat.KA ANDAL) dan metoda yang digunakan untuk pengumpulan dan analisis data (butir A di atas). Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap biaya yang umumnya dikeluarkan untuk jenis atau benda dampak tertentu. 5. yaitu: Metoda “Willingness to Pay (WTPJ)” . Metoda analisis data yang dapat digunakan adalah metoda analisis dampak kesehatan lingkungan dan metoda epidemiologi. Metoda Evaluasi Dampak Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. attributable.7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang diperkirakan terkena dampak. Beberapa metoda yang dapat dipergunakan untuk prakiraan dampak kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan perubahan lingkungan antara lain adalah: Perkiraan perluasan habitat vektor penyakit Analisis risiko kualitatif dan kuantitatif Analisis jalur pemajanan di masa depan Analisis risiko epidomiologis ( absolute risk. Jadi metoda yang akan digunakan hendaknya merupakan rangkuman dari dua hal tersebut.

misalnya banyak masyarakat yang menggunakan air sungai. 7. Karakteristik demografis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. atau merusak tanaman pangan yang pada gilirannya mengganggu keseimbangan konsumsi pangan masyarakat. Deskripsi terbaik tentang jenis kegiatan yang direncanakan. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Pada dasarnya uraian rencana usaha atau kegiatan adalah seperti apa yang telah ditetapkan dalam pedoman umum. sosial. 5. 9. Perumusan sistem pemantauan kesehatan untuk dilakukan bersama-sama dengan kegiatan yang direncanakan. Analisis dampak kesehatan pada alternatif rencana usaha atau kegiatan. 12. misalnya pencemaran air tanah sehingga banyak masyarakat tidak memperoleh persediaan air bersih yang memadai. 5. 2. bahan-bahan berbahaya mengganggu kebutuhan hidup manusia. III.. Penggunaan atau pemanfaatan sumber daya alam. misalnya menyebabkan kanker. 10. 272 . Data lain atau hasil studi yang kemungkinan besar akan berkaitan dengan kegiatan yang direncanakan. Prevalensi penyakit menular. 11. 3. dsb. Contoh data set untuk kegiatan pembangunan industri yang direncanakan: 1. Informasi tentang faktor lingkungan. 4. V PRAKIRAAN DAMPAK PENTING . sarana atau jangkauan pelayanan kesehatan yang masih sangat terbatas. ekonomi yang kemungkinan besar mempengaruhi kepekaan penduduk yang terkena dampak. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan di wilayah studi. Karena itu kecenderungan dan kapan kemungkinan dampak itu akan terjadi dijelaskan disertai justifikasi ilmiah yang memadai atau asumsiasumsi yang dapat diterima. Akses dan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. maka rencana kegiatan yang diperkirakan dapat menimbulkan dampak seperti yang dinyatakan pada Bab Evaluasi Dampak (Butir II C). 9. Karakteristik epidemiologis penduduk di wilayah kegiatan yang direncanakan. bahan-bahan berbahaya tersebut menimbulkan dampak yang tak terpulihkan. Status kesehatan penduduk. air dan tanah. Penggunaan lahan saat ini dan dimasa depan. absorpsi. IV. dampak kesehatan akan timbul setelah periode waktu tertentu. Karakteristik fisik (hidrogeologis dan iklim) di wilayah kegiatan yang direncanakan. persebaran “bahan berbahaya” cukup luas sehingga memungkinkan terjadinya jalur-jalur pemajanan di masa depan yang cukup luas pula. manusia rentan terhadap “bahan berbahaya” yang dibuang oleh kegiatan yang direncanakan cukup besar jumlahnya. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek kesehatan masyarakat yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Identifikasi cara-cara menghilangkan atau mengurangi dampak kesehatan dan prakiraan biaya yang diperlukan. Deskripsi terbaik tentang emisi atau effluen atau perubahan kondisi fisik (perkembangan habitat vektor). Informasi yang diperlukan untuk penyusunan rona lingkungan dan kesehatan masyarakat antara lain: 1. Tingkat pencemaran dan kerusakan lingkungan. absorpsi di udara. 4. 8. Kondisi kehidupan penduduk terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor seperti akses kepada penyediaan air minum dan makanan dan sarana kesehatan. 8. 6. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan masyarakat pada saat studi ANDAL berlangsung. Analisis dampak kesehatan jangka panjang dan pendek. 6. terutama aspek kesehatan masyarakat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) yang akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. Hasil prakiraan dampak penting aspek kesehatan masyarakat hendaknya dilaporkan secara rinci dalam dokumen ANDAL dengan menyebut setiap tahapan dimana dampak itu kemungkinan terjadi.- - adanya spesies vektor penyakit di lokasi kegiatan yang direncanakan. Umumnya. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang mekanisme dispersi. perlu dijelaskan dalam laporan studi ANDAL terinci pada setiap tahapan pelaksanaan kegiatan yang direncanakan. 3. Deskripsi terbaik yang tersedia tentang penyakit yang berkaitan dengan pencemaran yang berhubungan dengan kegiatan yang direncanakan. Perilaku spesifik penduduk yang berhubungan dengan risiko. 2. perilaku masyarakat yang berisiko cukup besar. cacat dalam kandungan. Dari aspek kesehatan masyarakat. 7. bahan-bahan berbahaya tersebut sangat resisten di alam dan kumulatif sehingga pada jangka panjang akan berpengaruh pada kesehatan penduduk yang cukup luas.

Pada bagian dua. Penjelasan terhadap kelompok masyarakat yang akan terkena dampak perlu mencakup karakteristik demografik dan epidemiologi. Secara khusus perlu pula dijelaskan hubungan antara rencana kegiatan. Dampak terhadap gangguan sistem pernapasan penduduk di sekitar rencana usaha atau kegiatantimbul sebagai akibat dari emisi bahan-bahan berbahaya. Pada bagian tiga. rona lingkungan dan kemungkinan timbulnya dampak kesehatan. dampak penting itu timbul karena rencana usaha atau kegiatan secara kontinyu membuang logam berat ke perairan (sungai). dalam arti akan berlangsung terus selama kegiatan itu berjalan termasuk juga periode waktu kemungkinan dampak itu akan terjadi. c. Misalnya. dan Regional perlu diberikan perhatian yang lebih besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. Pada bagian keempat.Pada setiap isu kesehatan masyarakat yang diprakirakan mengalami dampak penting dibahas melalui sistematika sebagai berikut: a. 2. Untuk itu studi ANDAL Kawasan. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjut tersebut. b dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. baik langsung maupun tidak langsung. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Meskipun pada umumnya dampak kesehatan timbul setelah periode tertentu. Misalnya logam berat yang terkonsumsi melalui tata perairan akan menimbulkan penyakit X setelah Y tahun. Apabila dampak kesehatan masyarakat itu dapat dihitung dalam bentuk kerugian biaya. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dan segi positif dan atau negatif. d. e. b. sebagai misal: 1.C. maka sajikan cara perhitungannya. VI. Hasil telaahan evaluasi dampak penting hendaknya diuraikan secara jelas dan komprehensif dan diarahkan kepada alternatif tindakan yang harus diambil untuk mencegah atau memperkecil bahkan meniadakan kemungkinan timbulnya dampak sehingga memudahkan pengambil keputusan menggunakan data evaluasi dampak penting ini. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dan suatu rencana usaha atau kegiatan. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor: 056 Tahun 1994) dan kriteria yang digunakan seperti contoh pada butir II. maka dampak penting aspek kesehatan masyarakat untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika diatas. bila dampak penting kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf a. 273 . uraikan tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisis perbedaan angka gangguan pernapasan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha atau kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf ll.B. termasuk pula apakah masyarakat yang terkena dampak tersebut terbatas pada lokasi kegiatan yang direncanakan atau akan tersebar cukup jauh dan lokasi kegiatan itu. f. Kemungkinan itu perlu disampaikan dalam studi ANDAL. Metode Prakiraan Dampak. tetapi tidak menutup kemungkinan adanya gangguan kesehatan masyarakat yang bersifat Iangsung. sementara sungai itu menjadi sumber daya alam yang banyak digunakan oleh penduduk sebagai kebutuhan air untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk budi daya pertanian. Ciri dampak penting kesehatan masyarakat itu juga harus dijelaskan. diuraikan sifat penting dan besar dampak kesehatan masyarakat yang telah diutarakan pada huruf b di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. EVALUASI DAMPAK PENTING Hal penting dalam evaluasi dampak penting adalah pengambilan keputusan berdasarkan data dan atau informasi dan hasil analisis aspek kesehatan masyarakat dengan standar persyaratan dan atau kriteria kesehatan dan berbagai media lingkungan (“environmental pathways”). Terpadu/multisektor. Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dan gangguan pernapasan yang ditanggungnya. Pada bagian pertama.

Sarwono Kusumaatmadja Salinan sesuai dengan aslinya Sekretaris BAPEDAL ttd. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk mencegah atau meminimisasi dampak dan memaksimalkan manfaat yang diperoleh untuk tidak timbulnya dampak kesehatan. . . . khususnya pada pemantauan biomarker. .Memar.Pengendalian kecelakaan dan pemajanan emisi transportasi.Penyediaan daerah penyangga dan sarana umum seperti taman rekreasi dan sarana olah raga. periode waktu harus disesuaikan dengan saat timbulnya dampak. Karena itu pemantauan harus diarahkan kepada jalur pemajanan yang berhasil dikenali pada butir prakiraan dampak.Kep-14/MENLH/3/1994).LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Rencana Pengelolaan Lingkungan (lampiran III . LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : 124 Tahun 1997 : 29 Desember 1997 PANDUAN KAJIAN ASPEK KESEHATAN MASYARAKAT DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN Kerangka pemikiran dasar dan penyusunan dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan mengacu pada pedoman umum Penyusunan Rencana Pemantauan Lingkungan (lampiran IV Kep 14/MENLH/3/1994).Pengelolaan sampah yang dihasilkan dan kegiatan yang direncanakan. Mengingat dampak kesehatan masyarakat timbul karena terbentuknya jalur pemajanan antara sumber dampak dan manusia rentan.Pengelolaan tata ruang kota terhadap kesehatan mental dan kualitas lingkungan permukiman. .Kewaspadaan penggunaan lahan dimasa datang. . Disamping itu.Pemilihan lokasi pembangunan yang akan menghindari atau mengurangi efek gangguan vektor yang ada dan mencegah perkembangan perindukan vektor. Dari aspek kesehatan masyarakat. Dadang Danumihardja NIP. antara lain: .Memantau titik-titik kontak antara media lingkungan dan manusia. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 29 Desember 1997 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. misalnya memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam air sumur yang digunakan penduduk. antara lain: . ttd. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut di atas.Memantau “bahan berbahaya” pada titik-titik di media lingkungan yang menjadi jalur penyebaran. 060030827 274 .Memantau cara kontak antara media lingkungan yang mengandung bahan berbahaya dengan manusia. . . Dari aspek kesehatan masyarakat. .Kebutuhan akan infrastruktur dan pelayanan (pelayanan kesehatan).Pengendalian dampak kumulatif pada wilayah usulan baru yang akan bertambah atas pembangunan yang telah ada. .Menciptakan kondisi lingkungan baru: konstruksi bebas banjir dan manipulasi lingkungan mencegah perindukan vektor. . apakah melalui minum atau kontak kulit. .Memantau kandungan “bahan berbahaya” dalam emisi atau effluen kegiatan yang direncanakan. Beberapa contoh arahan untuk mencapai maksud tersebut diatas. perlu dikemukakan arahan-arahan konkrit untuk dapat melakukan pemantauan dampak kesehatan masyarakat secara tepat dan efisien. atau biomarker pada manusia kontak sesuai dengan periode yang diperlukan.

3. bahwa mengingat hal seperti tersebut di atas. ME MUTU S KAN : Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN Pasal 1 Aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah telaahan yang dilakukan terhadap komponen demografi. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. ttd Sarwono Kusumaatmadja 275 . bahwa Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan dirasakan kurang memadai untuk melakukan kajian aspek sosial. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Nomor 77 Tahun 1994 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. 2. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3538). dan budaya serta merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari komponen lain dalam penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. bahwa komponen aspek sosial merupakan bagian yang perlu dikaji secara mendalam dalam penyusunan analisis mengenai dampak lingkungan sehingga dampak negatif akibat suatu kegiatan terhadap komponen tersebut dapat dikelola dengan baik.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-299/11/ 1996 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Pasal 2 Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL adalah sebagaimana dimaksud dalam Lampiran Keputusan ini. c. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. ekonomi. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Teknis Kajian Aspek Sosial Dalam Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Pasal 3 Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. b. Menimbang : a.

PENGERTIAN Pelingkupan merupakan proses awal untuk menentukan lingkup permasalahan dan mengidentifikasikan dampak penting potensial yang timbul sebagai akibat rencana usaha atau kegiatan. khususnya kajian dampak sosial. Beberapa komponen. Berkenaan dengan angka 2. 3. RUANG LINGKUP 1 .Identifikasi Dampak Potensial Dalam proses identifikasi dampak potensial dapat dipergunakan beberapa metoda sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan seperti : a. Kerangka Acuan (KA) ANDAL 2. Dalam pelingkupan aspek sosial dalam AMDAL perlu diperhatikan dua hal penting yaitu : 2. Sebagai upaya untuk lebih memperjelas dalam melakukan kajian komponen sosial seperti yang telah ditentukan. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) 2. Sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah ini telah ditetapkan pula beberapa peraturan pelaksanaannya oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup. ini sangat dirasakan akibat lemahnya acuan yang digunakan sebagaimana tersebut dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : KEP-14/MENLH/3/1994 tentang Pedoman Umum Penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. analisis isi g.2. dan 1. maka pedoman teknis kajian aspek sosial menjadi penting dalam penyusunan AMDAL dan ini merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kajian-kajian komponen lain. matrik interaksi sederhana c. 2. Sub. penelaahan pustaka e.1. pengamatan lapangan f.3. interaksi kelompok. daftar uji b.LAMPIRAN I NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN A.4. Memahami keterkaitan aspek biogeofisik dan sosial dalam AMDAL. Namun keadaan yang demikian masih berjalan belum sebagaimana yang diharapkan. PENDAHULUAN Analisis mengenai dampak lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 angka 2 Peraturan Pemerintah Nomor 51 tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah hasil studi mengenai dampak penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan. C. 2.2. Komponen sosial yang ditelaah meliputi : 1. Dengan demikian diharapkan Peraturan Pemerintah tersebut dapat dilaksanakan dengan baik. PELINGKUPAN DAMPAK PENTING 2. Ekonomi. bagan alir d. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) LAMPIRAN II NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN KERANGKA ACUAN ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN ( KA-ANDAL ) 1.1. Memahami dan melakukan kajian mengenai aspek-aspek sosial dalam penyusunan AMDAL. TUJUAN Pedoman teknis merupakan acuan yang disusun dengan tujuan untuk : 1.1. Budaya.3. Karena itu. sub-komponen dan parameter sosial yang dapat diidentifikasi sebagai dampak potensial dapat dilihat pada Tabel 1: Daftar Komponen. 276 .1. Membantu mempermudah proses penyusunan aspek sosial dalam studi AMDAL. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL) 2. Kajian aspek sosial dilakukan untuk setiap dokumen : 2. Demografi 1. tersebut identifikasi dampak sebaiknya didukung juga dengan teknis analogi melalui observasi pada kegiatan atau usaha sejenis yang telah beroperasi di lokasi lain dengan maksud untuk memperoleh informasi tentang fenomena dampak sosial yang timbul.Komponen dan Parameter Sosial terlampir. B.

b. udara dan tanah. tersebut selanjutnya dievaluasi untuk memperoleh dampak penting sosial. Batas-batas terluar dari komunitas masyarakat yang dimaksud pada huruf a. 277 . dan sebaliknya. ada beberapa langkah yang perlu ditempuh yaitu : 3.1. kegiatan ekonomi. Hubungan sebab akibat antar komponen dampak penting aspek sosial itu sendiri.1.Batas Proyek Pada saat menentukan batas proyek perlu dilakukan identifikasi sebagai berikut : a. dan sebaliknya. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar pada struktur penduduk (kepadatan dan komposisi penduduk). b dan c di atas merupakan batas sosial.Batas Administrasi Batas administrasi ditetapkan berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994 pada Lampiran 1 tentang Pedoman Umum Penyusunan KA-ANDAL.Evaluasi Dampak Potensial Evaluasi dampak potensial bertujuan menyeleksi dan menetapkan komponen dampak potensial aspek sosial yang relevan untuk ditelaah. Dalam penetapan dampak potensial aspek sosial tersebut dapat digunakan dengan beberapa pertanyaan seperti di bawah ini: a. konstruksi dan operasi dari rencana usaha atau kegiatan? Struktur sosial yang dimaksud di sini dapat berupa : 1) Struktur perekonomian masyarakat setempat (pertanian. Berkenaan dengan penentuan batas sosial. pola mata pencaharian penduduk.Batas Sosial Batas sosial ditetapkan dengan mendeliniasi batas-batas terluar dengan memperhatikan : a) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas proyek sebagaimana dimaksud pada angka 3.1 . 3. jasa dan sebagainya).2. 3. atau pendapatan/pengeluaran rumah tangga ? c. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap tatanan norma dan nilai masyarakat setempat. dan proses penduduk (pertumbuhan dan mobilitas penduduk)? b. Apakah rencana usaha atau kegiatan akan menimbulkan perubahan mendasar terhadap pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam. PELINGKUPAN WILAYAH STUDI Berdasarkan KEPMENLH Nomor 14 tahun 1994 pada Lampiran I tentang Pedoman Umum Penyusunan KAANDAL. perlu diidentifikasi apakah didalam batas ekologis tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan nilai-nilai sosial budayanya berpotensi berubah secara mendasar akibat kerusakan sumber daya alam dan pencemaran lingkungan yang ditimbulkan oleh rencana usaha atau kegiatan melalui media air. penyusun aspek sosial dalam AMDAL perlu memperhatikan: a. batas sosial dan batas administrasi. 3) Struktur pemilikan sumber daya alam baik yang bersifat formal maupun yang diakui/diatur oleh adat setempat (hak ulayat).2. wilayah studi ANDAL ditetapkan berdasarkan pertimbangan batas proyek. b.2. c) Lokasi komunikasi masyarakat yang berada di luar batas proyek dan batas ekologi namun berpotensi terkena dampak yang mendasar dari rencana usaha atau kegiatan melalui penyerapan tenaga kerja.2. Dalam proses pemusatan (focussing). dan pemilikan sumberdaya alam (property right) ? Daftar dampak potensial yang diperoleh dari angka 2. 2) Struktur kekerabatan. c. pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial. Dampak rencana aspek sosial yang mengakibatkan timbulnya dampak penting pada aspek fisik-kimia dan biologi. pranata-pranata sosial (lembaga-lembaga kemasyarakatan) yang berkaitan dengan kekerabatan (kohesi sosial). Apakah di dalam batas proyek tersebut terdapat situs purbakala atau hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan religi masyarakat setempat ? 3. 4) Interaksi sosial yang terjalin di kalangan masyarakat setempat. 2. 3.3. Perlu diketahui bahwa batas sosial mungkin bisa lebih luas dari batas ekologis dan batas proyek. Apakah di dalam batas proyek tersebut ada komunitas masyarakat yang struktur sosial dan atau nilainilai sosial budaya yang dikandung berpotensi berubah secara mendasar akibat aktivitas pra-konstruksi (pembebasan perolehan lahan. relokasi penduduk). perkebunan.3.2.Batas Ekologis Setelah batas ekologis ditetapkan. berdasarkan pengertian yang terkandung dalam KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994. tersebut di atas. perikanan. batas ekologis.4. Contoh penetapan batas sosial seperti pada Gambar 1 terlampir.Pemusatan Dampak Penting (focussing) Pemusatan dampak penting bertujuan untuk mengelompokkan / mengkategorisasikan dampak penting yang telah dirumuskan sebelumnya agar diperoleh isu-isu pokok lingkungan secara utuh dan lengkap. Dampak rencana usaha atau kegiatan terhadap komponen lingkungan yang akan mengalami perubahan mendasar (dampak penting). Struktur sosial yang dimaksud disini seperti yang dimaksud dalam angka 3. b) Hasil identifikasi komunitas masyarakat yang terdapat dalam batas ekologi sebagaimana dimaksud pada angka 3.

Warisan Budaya a. tingkat partisipasi angkatan kerja b. pola migrasi (sirkuler. pola migrasi (sirkuler.pendapatan asli daerah h. Sikap dan Persepsi Masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan 8. Perekonomian Lokal dan Regional a. Pranata Sosial kelembagaan Masyarakat dibidang : a. Sub-Komponen. 278 . Ekonomi 1. permanen) d.1. komputer.nilai dan norma budaya 2.asimilasi dan integrasi e.tingkat pendapatan b. aksesibilitas wilayah 3. Mobilitas penduduk a.kewenangan formal dan informal c. jenis kelamin. pekerjaan d.pola nafkah ganda 2. b.pusat-pusat pertumbuhan ekonomi i. dan Parameter Sosial Perhatian : Daftar komponen. agama.2. produk Domestik Regional Bruto g. pola perkembangan 3. permanen) 2.pendidikan b.ekonomi c. fasilitas umum dan fasilitas sosial j.nilai tanah dan sumber daya alam lainnya e. agama d.kesempatan kerja dan berusaha b.sosial e. Ekonomi Sumber Daya Alam a.efek ganda ekonomi (multiplier effect) f.proses disosiatif (konflik sosial) c.situs purbakala b.pola pemilikan dan penguasaan sumber daya alam b.distribusi pendapatan e. Komposisi penduduk menurut kelompok umur. Adaptasi Ekologis . misal hak ulayat b. Proses Penduduk : 2. pola penggunaan lahan d. Komponen 1. mekanisme pengambilan keputusan di kalangan masyarakat d. komuter.kepemimpinan formal dan informal b.ekonomi.kohesi sosial 3. akulturasi d.adat-istiadat b. Kekuasan dan kewenangan : a.cagar budaya 5. mata pencaharian.Sumber daya alam milik umum (commmon property) 3. jenis dan jumlah aktifitas ekonomi nonformal d.pergeseran nilai kepemimpinan 7. Kebudayaan a. pendidikan.proses asosiatif (kerjasama) b.Tabel I : Daftar Komponen. migrasi masuk b. Pelapisan Sosial berdasarkan : a. tingkat kematian bayi c.pola pemanfaatan sumber daya alam c. Proses sosial a. Tenaga Kerja a.nilai tambah karena proses manufaktur c.kelompok individu yang dominan e. tingkat pengangguran 2. tingkat kelahiran b. Pertumbuhan Penduduk a.kekuasaan 6. Sub komponen dan parameter aspek sosial berikut ini harus diseleksi lebih lanjut dan disesuaikan dengan karakteristik rencana usaha atau kegiatan dan kondisi lingkungan hidup setempat (bersifat spesifik lokasi).pendidikan c. migrasi keluar c.keluarga 4. Ekonomi Rumah Tangga a. Demografi Parameter 1. Struktur Penduduk : a. Budaya 1. Kepadatan penduduk 2.

Ruas jalan yang dibangun menghubungkan lokasi rencana kegiatan dengan jalan propinsi. Danau buatan yang dibangun oleh rencana kegiatan khusus untuk menampung air hujan dan aliran permukaan dari daerah sekitarnya. Jalan propinsi yang akan digunakan oleh rencana kegiatan untuk keperluan mobilisasi peralatan dan bahan baik pada saat konstruksi dan operasi. Limbah cair direncanakan dibuang di sungai (7) setelah melalui instalasi pengolahan air limbah (2). Di sekitar sungai ini juga terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah lama menghuni daerah ini. 4. Disepanjang jalan propinsi ini terdapat pemukiman penduduk setempat yang telah menghuni daerah ini sebelum rencana kegiatan dibangun. Ruas jalan yang akan dibangun lahan untuk ruas jalan diperoleh dengan cara ganti rugi lahan.Keterangan Gambar 1 1. saluran irigasi Y akan menerima air limbah yang terangkut melalui sungai X. 8. Jalur pipa air untuk mengalirkan air dari danau buatan yang akan direncanakan dibangun. Air limbah yang telah melalui proses instalasi pengolahan air limbah dialirkan ke sungai X (disimbolkan dengan angka 7). Rencana kegiatan yang dibangun terletak di daerah persawahan padi. Sungai X merupakan sungai penerima air limbah rencana kegiatan dibangun di lokasi tersebut. serta pengangkutan hasil produksi. Areal rencana kegiatan diperoleh dengan cara. 7. 2. 3. Lokasi instalasi pengolahan air limbah yang direncanakan dibangun. Air dari danau buatan digunakan untuk keperluan pabrik dan keperluan domestik. 5. 6. Di sekitar saluran irigasi ini juga terdapat pemukiman penduduk. Bila rencana kegiatan beroperasi. Sungai X akan mengalir ke saluran irigasi Y (disimbolkan dengan angka 8). 279 . pengalihan status lahan milik masyarakat setempat (ganti rugi lahan). Batas sosial yang terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada gambar 1 ditetapkan dengan mengikuti teknik penetapan batas sosial sebagaimana terdapat pada lampiran II angka 5 tentang Pelingkupan Wilayah Studi.

b. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA 1. c. baik yang bersifat kuantitatif atau kualitatif perlu mempertimbangkan : a. Komponen lingkungan yang diteliti merupakan penjabaran dari isu pokok aspek sosial yang terdapat dalam KA. referensi (data statistik. Lingkup wilayah studi mengacu pada penetapan wilayah studi yang digariskan dalam Kerangka Acuan (KA). makin besar jumlah sampel yang harus diambil. rujukan). Sebagai alat bantu untuk melengkapi huruf c dan d tersebut di atas. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL perlu diuraikan : Metode pengumpulan dan analisis data sosial. biologi dan sosial. Rona lingkungan hidup. propinsi) yang akan diukur.2. data dan informasi yang berupa hasil-hasil penelitian. b. bahan-bahan pustaka dan bahan-bahan lain yang relevan dikumpulkan dari berbagai instansi terkait. Derajat keseragaman (homogenitas) dari populasi. Komponen lingkungan sosial yang diteliti harus bersifat spesifikasi lokasi. c. b. dengan menggunakan pedoman pertanyaan. Perubahan mendasar atau dampak penting sosial yang dialami oleh kelompok atau lapisan masyarakat yang akan ditelaah. d. Sehubungan dengan hal tersebut ada beberapa hal penting yang perlu dipahami terlebih dahulu : a. semakin dalam analisis yang diinginkan semakin besar jumlah sampel yang dibutuhkan. kabupaten. c. Dengan demikian dalam menetapkan/memilih metode pengumpulan data dan analisis data yang relevan. Teknik pengambilan sampel secara purposive. seperti analisis statistik. Uraian rencana usaha atau kegiatan. serta metode prakiraan dan evaluasi dampak. dan evaluasi dampak yang akan digunakan dalam penyusunan AMDAL. Pengumpulan data pada sejumlah responden terpilih melalui wawancara dengan kuesioner yang terstruktur. sehingga tidak selalu seluruh komponen aspek sosial yang terdapat dalam Pedoman Umum Penyusunan ANDAL (KEPMENLH Nomor 14 Tahun 1994) dan dalam Tabel 1 paduan ini diteliti untuk setiap usaha atau kegiatan wajib AMDAL. Melalui teknik ini. b. A. Metode analisis yang bersifat kualitatif. Makin seragam populasi yang diteliti makin kecil jumlah sampel yang akan diambil. Wawancara dengan kuesioner. penyusunan aspek sosial dalam ANDAL dapat memanfaatkan Pedoman Teknis. Presisi (ketetapan/akurasi) yang dikehendaki.Metoda analisis data yang dapat digunakan antara lain : a.Lampiran III NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN ANALISlS DAMPAK LINGKUNGAN (ANDAL) Dalam a. c. desa. Metoda analisis yang bersifat kuantitatif. 1. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki. c. Diskusi kelompok terarah (focussed group discussion) . Ukuran-ukuran yang bersifat penting menurut pandangan masyarakat (emic) disekitar rencana usaha atau kegiatan. Diskusi ini dilakukan dalam kelompok kecil (5-7 orang) yang homogen untuk menghimpun pendapat. d. Teknik pengambilan sampel secara proporsional. b. Satuan analisis (rumah tangga. peta. METODA PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA.Beberapa metode pengumpulan data yang dapat dipergunakan antara lain : a. d. Jumlah sampel ditetapkan berdasarkan kriteria berikut ini : a. Wawancara mendalam (indepth interview). Kedalaman analisis yang ingin diperoleh.3. 1. d. c. Ketersediaan tenaga.1. Metode pengumpulan data yang disebutkan di atas sebaiknya digunakan secara simultan dengan maksud agar diperoleh keabsahan dan ketelitian yang tinggi. dokumen-dokumen ANDAL dari kegiatan-kegiatan sejenis (untuk keperluan analogi). METODA PRAKIRAAN DAN EVALUASI DAMPAK Bagian ini menguraikan metoda pengumpulan dan analisis data. 1. waktu dan dana. 1.Dampak penting aspek sosial dari suatu rencana usaha atau kegiatan pada umumnya tidak menyebar secara merata di seluruh kelompok dan lapisan masyarakat. pandangan dan aspirasi mereka. Pengumpulan data sekunder. Beberapa teknik pengambilan sampel yang dapat dipergunakan antara lain : a. e. seperti analisis isi (content analysis) 280 . Huruf c tersebut di atas membuka kemungkinan bahwa komponen aspek sosial yang tertera pada KAANDAL dapat mengalami penambahan atau pengurangan sepanjang terjalin keterkaitan yang antar aspek fisik-kimia. dan pustaka lainnya. e. Dan evaluasi dampak penting. b. Teknik pengambilan sampel yang dipilih harus mempertimbangkan karakteristik dampak penting yang akan timbul dan kondisi sosial masyarakat. Wawancara mendalam dengan tokoh-tokoh masyarakat atau orang-orang yang dianggap mengetahui tentang kondisi masyarakat setempat.Sampel (responden) yang dipilih harus dapat mewakili populasi suatu kelompok dan lapisan masyarakat tertentu yang terkena dampak. Teknik pengambilan sampel secara acak (random). b.4. Observasi/pengamatan lapangan. Prakiraan dampak penting. metoda prakiraan.

Penggunaan pengganti harga pasar (surrogate market value). Sehubungan dengan itu ada tiga (3) metode pemberian penilaian moneter yaitu : a. Untuk indikator ekonomi yang nilai moneternya tidak bisa dianalisis dengan akurat. 3) Pendekatan nilai kontingensi (contingent valuation approach) . antara lain : 1) Proyeksi penduduk (teknik ekstrapolasi) 2) Analisis kecenderungan (trend analysis) 3) Analisis deret waktu (time series analysis) b. b. 2. dengan kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi bila tidak ada rencana usaha atau kegiatan (pendekatan with and without project) Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk memprakirakan (besar) dampak sosial adalah dengan penggunaan teknik analogi. Besar dampak proyek P* terhadap masyarakat Xp* ini dapat menjadi prakiraan dampak proyek P terhadap masyarakat Xp: Ilustrasi berikut memperjelas hal dimaksud. Caranya antara lain dengan menggunakan analogi terhadap fenomena-fenomena dampak penting yang timbul menurut dokumen AMDAL sejenis. 3) Pendekatan pembatasan pengeluaran (defendive expenditures approach). yang terkena proyek serupa (disimbolkan P*) di lokasi lain. dapat diukur melalui dua metode berikut ini : a.-.-. Metode pasar buatan (constructed market) yang berdasar pada potensi pengeluaran atau kesediaan untuk membayar atau menerima (potential expenditures willingness to pay or to accept) yang terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan biaya pengganti (replacement cost approach). Penggunaan secara langsung berdasarkan harga pasar atau produktifitas (market-based Methods). diperlukan value judgement dari penyusun AMDAL. c.-. Metode Informal.1. Kelompok Masyarakat Xp* pada saat tanpa Proyek P* Proyek P* Dasar prakiraan Prakiraan dampak Kelompok Masyarakat Xp* -. Data sosial aspek lainnya yang memungkinkan diberi nilai moneter hendaknya dilakukan pula valuasi.-. antara lain : 1) Penilaian pakar (professional judgement) 2) Komparatif antar budaya (cross cultural) 3) Teknis analogi 4) Metode delphi Adapun sifat penting dari besar dampak sosial yang akan terjadi ditelaah dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) 281 .Kelompok Masyarakat Xp* tanpa Proyek P tanpa Proyek P di lokasi studi ANDAL Kelompok Masyarakat Xp* dengan proyek P* di lokasi lain Kelompok Masyarakat Xp dengan Proyek P Waktu Saat lalu Saat studi ANDAL Saat mendatang Besar dampak. diukur dengan cara mengukur dampak yang telah terjadi pada kelompok masyarakat yang berciri sama dengan masyarakat Xp (disimbolkan Xp*). 2) Pendekatan pembedaan upah (wage differences approach). 2) Pendekatan harga bayangan (shadow project approach).Data ekonomi sedapat mungkin diberi nilai moneter (valuation) karena sebagian besar indikator-indikator ekonomi dapat dikuantifikasi. Metode ini terdiri dari empat (4) pendekatan: 1) Pendekatan nilai kepemilikan (property value approach). 4) Pendekatan yang dikaitkan dengan nilai barang/komoditi tertentu sebagai penduga (hedonic pricing). termasuk yang mempunyai nilai moneter. 3) Pendekatan biaya perjalanan (travel cost approach).-. Metode Formal. METODE PRAKIRAAN DAMPAK Prakiraan dampak merupakan telaahan yang menganalisis perbedaan antara kondisi kualitas lingkungan yang diprakirakan akan terjadi akibat adanya rencana usaha atau kegiatan. Melalui pendekatan ini besar dampak suatu rencana usaha atau kegiatan (disimbolkan P) terhadap suatu kelompok masyarakat (disimbolkan Xp). Metode ini terdiri dari tiga (3) pendekatan : 1) Pendekatan perubahan produktivitas (change of productivity) 2) Pendekatan hilangnya mata pencaharian/penghasilan (loss of learning approach).5.

USGS Matrix (Matrik Leopold) b. Bila metode yang dipakai menggunakan skala dan atau bobot maka proses peleburan (amalgamasi) harus dilakukan secara benar. Mengingat adanya alternatif teknologi atau lokasi dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Disamping itu bila menggunakan bobot atau skala. metode tersebut mampu menggambarkan keterkaitan antar komponen dampak penting lingkungan sebagai akibat dari suatu rencana usaha atau kegiatan. Pada bagian tiga. Dengan demikian. biologi dan sosial). METODE EVALUASI DAMPAK Evaluasi dampak merupakan kajian yang bersifat holistik. sebagai misal : 1 ) Dampak terhadap pendapatan masyarakat di sekitar rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai dampak lanjutan dari perubahan pencaharian dan kesempatan berusaha. mengenai Metode Evaluasi Dampak. B. Bersifat komprehensif. C. Bagan Alir Dampak c.3. b. sehingga relatif tidak ada metode evaluasi dampak yang bisa digunakan untuk semua jenis studi ANDAL. diuraikan sifat penting dari besar dampak sosial yang telah diutarakan pada huruf b tersebut di atas ditinjau dari kepentingan masyarakat. bila dampak penting sosial yang telah diutarakan pada huruf a. dalam arti proses peleburan nilai-nilai yang satuannya berbeda harus dilakukan melalui proses yang secara ilmiah dibenarkan. b. Pada bagian dua. dan skalanya berbeda serta dampaknya berbeda. 2. Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode evaluasi dampak yang tepat untuk studi ANDAL. kondisi kesehatan masyarakat di sekitar proyek dan penyerapan tenaga kerja oleh proyek. bila ada alternatif lokasi atau teknologi dari rencana usaha atau kegiatan maka 282 . metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan yang ukuran. maka dampak penting aspek sosial untuk setiap alternatif perlu diprakirakan sesuai sistematika angka 1. c.2. d. 3. e. masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Terpadu/multisektor. dan c tersebut di atas menimbulkan dampak lanjutan. pemerintah maupun pakar dengan mengacu pada Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting (Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 056 Tahun 1994) d. metode tersebut sesuai dengan kondisi rona lingkungan dan karakteristik rencana usaha atau kegiatan yang ditelaah. dibahas/ditelaah secara holistik (komprehensip) dampak penting lingkungan (fisikkimia. Matrik Tiga Tahap Fischer dan Davies e. maka uraian rencana usaha atau kegiatan perlu memuat data dan informasi yang antara lain mencakup : 1. Rencana pengembangan ekonomi masyarakat setempat. yakni telaahan secara total terhadap beragam dampak lingkungan. uraian tentang prakiraan besar dampak yang dilakukan dengan cara menganalisa perbedaan kualitas lingkungan pada kondisi dengan dan tanpa adanya usaha kegiatan dengan menggunakan metode yang telah diutarakan pada huruf A. adalah : a. Dengan demikian rona lingkungan hidup harus bersifat spesifik lokasi dan menggambarkan kondisi lingkungan sosial pada saat studi ANDAL berlangsung. Disamping itu ditelaah pula arah perubahan dampak tersebut dari segi positif dan atau negatif. Beragam dampak penting lingkungan tersebut ditelaah sebagai satu kesatuan yang saling terkait dan saling pengaruh-mempengaruhi. Evaluasi dampak penting dilakukan dengan sistematika sebagai berikut : a. maka uraikan sub-komponen atau parameter yang terkena dampak lanjutan tersebut. Rencana pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial 4. c. PRAKIRAAN DAMPAK PENTING 1. b. Bersifat analitis. E.3. Untuk studi AMDAL Kawasan. Sistem bahasan sebagaimana pada angka 1 tersebut di atas berlaku pula untuk dampak penting yang mempunyai nilai moneter. Penyerapan tenaga kerja khususnya dari masyarakat setempat 3. Bersifat fleksibel. terutama aspek-aspek sosial yang menurut dokumen Kerangka Acuan (KA) akan terkena dampak penting dari rencana usaha atau kegiatan. c. Pada bagian kedua. mengenai Metode Prakiraan Dampak. f. Extended Cost Benefit Analysis Perlu diketahui. Metode tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi rencana usaha atau kegiatan untuk pengambilan keputusan. Pada bagian pertama. Pada bagian ke tiga. sejauh mungkin penyusun aspek sosial ANDAL memperhatikan atau menghimpun masukan dari masyarakat yang terkena dampak. Beberapa metode yang dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak secara holistik diantaranya adalah : a. D. dengan menggunakan metode yang telah diuraikan pada huruf A. b. EVALUASI DAMPAK PENTING 1. satuan. Setiap komponen lingkungan yang diprakirakan mengalami perubahan mendasar (dampak penting) dibahas melalui sistematika sebagai berikut : a. uraikan isu-isu pokok lingkungan yang terdapat dalam dokumen Kerangka Acuan (KA) dan komponen dampak penting lingkungan hasil dari prakiraan dampak penting. Kebijaksanaan dan cara pembebasan/perolehan lahan 2. Bersifat dinamis. utarakan penyebab timbulnya (sumber) dampak. Pada bagian pertama. dan Regional perlu diberikan perhatian yang besar pada prakiraan dampak yang bersifat kumulatif. RONA LINGKUNGAN HIDUP Rona lingkungan harus menggambarkan kondisi lingkungan sosial di wilayah studi. 2) Persepsi masyarakat terhadap rencana usaha atau kegiatan timbul sebagai akibat dari berubahnya tingkat pendapatan. Pada bagian keempat. tidak seluruh komponen sosial harus diungkapkan dalam rona lingkungan hidup. baik yang positif maupun negatif. Sehubungan dengan hal tersebut maka data aspek sosial yang disajikan dalam rona lingkungan harus dibatasi pada hal-hal yang mempunyai relevansi dan keterkaitan yang erat dengan prakiraan dan evaluasi dampak. Evironmental Evaluation System (EES) d. URAIAN RENCANA USAHA ATAU KEGIATAN Agar kajian dampak penting aspek sosial dapat ditelaah mendalam. metode tersebut memenuhi syarat-syarat ilmiah.

Pihak yang melaksanakan pengelolaan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan juga dapat instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. Komponen lingkungan yang dipantau difokuskan pada dampak penting yang sekaligus berfungsi sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. b. 3. di lokasi mana. 2. Hasil evaluasi tersebut harus dapat menjadi dasar untuk pengambilan keputusan atas kelayakan lingkungan dari rencana usaha atau kegiatan. Kesempatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pengelolaan lingkungan. Upaya pengelolaan lingkungan aspek sosial ditempuh dengan cara mencegah. dan pihak mana yang akan melaksanakan pengelolaan lingkungan. memantau dampak penting terhadap pertumbuhan sektor informal disekitar rencana usaha atau kegiatan. Sebagai masukan untuk penyempurnaan kegiatan pengelolaan lingkungan. Manfaat Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) adalah : a. atau biaya penanggulangan dampak negatif lebih besar dibandingkan dengan hasil dampak positifnya. 2. biologi. serta instansi sektoral terkait. mengendalikan. 4. maka di dalam dokumen perlu diutarakan teknik pengambilan sampel yang digunakan. masyarakat sekitar yang terkena dampak. menanggulangi dan mengendalikan dampak antara lain dapat berupa. Misalkan. LAMPIRAN V NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNlS KAJIAN ASPEK SOSIAL DALAM PENYUSUNAN RENCANA PEMANTAUAN LINGKUNGAN (RPL) Di dalam merumuskan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. maka instansi yang bertanggung jawab dapat memutuskan menolak rencana usaha atau kegiatan yang bersangkutan (Pasal 11 ayat 1 PP 51/1993) LAMPIRAN IV NOMOR TANGGAL : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN : KEP-299/11/1996 : 4 November 1996 PEDOMAN TEKNIS KAJIAN ASPEK SOSIAL PENYUSUNAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN (RKL) Di dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) bagi aspek sosial dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. pemrakarsa sebaiknya tidak hanya mengandalkan data yang diperoleh dari instrumen atau alat ukur yang dimiliki. Kewenangan memantau dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa. Apabila Analisa Dampak Lingkungan menyimpulkan bahwa dampak negatif tidak dapat ditanggulangi berdasarkan ilmu dan teknologi. pembentukan forum komunikasi lingkungan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. yang merupakan salah satu bentuk pengelolaan lingkungan. bilamana. sejauh terdapat : a. Bentuk-bentuk peran serta masyarakat dalam mencegah. dan menanggulangi sumber dampak penting tersebut. Kewenangan menangani atau mengelola dampak penting tertentu tidak berada pada pemrakarsa (misal. unsur-unsur pemerintah daerah setempat. dan kesehatan masyarakat maupun dari aspek sosial itu sendiri. 4. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 4 Nopember 1996 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Bila untuk keperluan tersebut digunakan respon. dan lokasi pengambilan sampel secara jelas. 3. Sebagai alat bukti untuk melindungi adanya tuntutan kerusakan atau pencemaran lingkungan.lakukan evaluasi dampak penting terhadap masing-masing alternatif tersebut. Evaluasi dampak juga dilakukan pada komponen-komponen dampak penting yang mempunyai nilai moneter. Kesepakatan antara pemrakarsa dan instansi pemerintah atau masyarakat yang berkepentingan dalam melaksanakan pemantauan lingkungan. dampak penting berupa timbulnya prostitusi disekitar rencana usaha atau kegiatan). pemerintah maupun pertimbangan pakar. c. ttd. mengendalikan. sejauh terdapat : a. baik yang bersumber dari aspek fisik-kimia. jumlah sampel. Disamping itu pranata sosial yang sudah ada di masyarakat didayagunakan untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang timbul. Sebagai alat untuk menguji efektifitas kegiatan pengelolaan lingkungan. Disamping itu juga harus diutarakan pada kelompok atau lapisan masyarakat mana. harus mempertimbangkan prinsip saling menguntungkan berdasarkan kesepakatan pihak-pihak yang terkait. Kompensasi kepada masyarakat yang terkena dampak. melainkan juga perlu mendayagunakan informasi tentang kualitas lingkungan dari masyarakat yang terkena dampak. Upaya pengelolaan lingkungan tersebut perlu memperhatikan kepentingan masyarakat. 2. Sebagai isyarat dini tentang adanya gejala-gejala pencemaran dan kerusakan lingkungan sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan. e. d. dan menanggulangi dampak penting sosial yang akan timbul. Sarwono Kusumaatmadja 283 . Rencana pengelolaan lingkungan harus secara jelas mengutarakan upaya-upaya yang akan ditempuh untuk mencegah. Sebagai sarana untuk uji hipotesis dampak penting yang dinyatakan dalam dokumen ANDAL. Pihak yang melaksanakan pemantauan lingkungan tidak hanya pemrakarsa saja melainkan dapat juga dilakukan oleh instansi pemerintah dan atau masyarakat yang berkepentingan. yang anggotanya terdiri dari pemrakarsa. 3. sehingga diperoleh gambaran mengenai biaya eksternal yang akan ditanggung atau dinikmati oleh masyarakat dan atau pemrakarsa. b. 5. Dalam merancang pemantauan lingkungan bagi aspek sosial. b.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 3215). MEMUTUSKAN : Menetapkan : PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING Mengingat Pertama : Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting adalah sebagaimana dimaksud dalam lampiran keputusan ini. 3. Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan perlu ditetapkan Keputusan Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan tentang Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting : 1.KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TENTANG PEDOMAN MENGENAI DAMPAK PENTING KEPALA BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Nomor 84 Tahun 1993. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara RI Nomor 49 Tahun 1990. 4. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan dan bilamana dikemudian hari terdapat kekeliruan. Kedua : Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. maka keputusan ini akan ditinjau kembali. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Nomor 12 Tahun 1982. 2. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3538). 5. Keputusan Presiden RI Nomor 23 Tahun 1990 tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3501). Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3419). ttd Sarwono Kusumaatmadja 284 . Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara RI Nomor 115 Tahun 1992.

termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting. Lamanya dampak berlangsung. Kawasan Resapan Air d. menyatakan bahwa setiap rencana kegiatan yang diperkirakan akan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan AMDAL. Kawasan Cagar Budaya dan Ilmu Pengetahuan (termasuk daerah karst berair. Kawasan Pantai Berhutan Bakau (mangrove) k. 3. atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan. g. Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang akan terkena dampak. 285 . 7. c. gugusan karang atau terumbu karang. Sempadan Pantai e. e. 6. Taman Nasional l. standar tertentu atau prinsip-prinsip tertentu. 2. muara sungai. b. bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. Suaka Margasatwa. Ukuran dampak penting tersebut digunakan untuk menilai apakah suatu rencana usaha atau kegiatan dapat menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan atau tidak. AMDAL kawasan dan AMDAL Regional. Kawasan Hutan Lindung b. Masing-masing faktor sebagaimana dimaksud datam butir 2 tersebut memiliki seperangkat kriteria dampak penting. PENGERTIAN 1. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau kegiatan tersebut terhadap salah satu aspek lingkungan saja. termasuk bagi keperluan AMDAL kegiatan Terpadu/Multisektor. Kawasan Rawan Bencana Alam II. Intensitas dampak. Ukuran dampak penting terhadap lingkungan. 4. f. Sifat kumulatif dampak. perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. Hutan Wisata. UKURAN DAMPAK PENTING TERHADAP LINGKUNGAN 1. Dampak penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan. b. daerah dengan budaya masyarakat istimewa. d. dan Daerah Pengungsian Satwa) i. Dampak penting suatu usaha atau kegiatan menurut Penjelasan Pasal 16 UU Nomor 4 Tahun 1982. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting digunakan untuk keperluan penapisan rencana usaha atau kegiatan dan penyusunan Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). perairan darat. Kawasan Suaka Alam (terdiri dari Cagar Alam. Kawasan Sekitar Danau/Waduk g. Kawasan Sekitar Mata Air h. Untuk menentukan penting tidaknya dampak lingkungan akibat dilaksanakannya suatu rencana usaha atau kegiatan perlu juga diperhatikan peraturan perundangan yang berlaku baik di dalam maupun diluar wilayah negara Republik Indonesia. dan Pasal 2 dan Pasal 3 PP Nomor 51 Tahun 1993 ditentukan oleh faktor-faktor berikut: a. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan. Yang dimaksud dengan kawasan lindung menurut Penjelasan Pasal 7 UU Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang adalah sebagai berikut : a. Luas wilayah persebaran dampak. Taman Hutan Raya m. Daerah Perlindungan Plasma Nutfah. wilayah pesisir. Taman Wisata Alam n. dan atol yang mempunyai ciri khas berupa keragaman dan/atau keunikan ekosistem) j.LAMPIRAN KEPUTUSAN BADAN PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN NOMOR : KEP-56/3/1994 TANGGAL : 18 Maret 1994 PEDOMAN MENGENAI UKURAN DAMPAK PENTING I. 5. Kawasan Suaka Alam Laut dan Perairan lainnya (termasuk perairan laut. Suatu rencana usaha atau kegiatan yang akan dibangun di kawasan lindung yang telah berubah peruntukkannya atau lokasi rencana usaha atau kegiatan tersebut berbatasan langsung dengan kawasan lindung. Sempadan Sungai f. Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting sebagaimana dimaksud dalam Keputusan ini merupakan petunjuk dasar yang memberi arah apakah suatu rencana usaha atau kegiatan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. daerah lokasi situs purbakala atau peninggalan sejarah bernilai tinggi) o. Kawasan Bergambut c. hasil guna dan daya gunanya. yakni ukuran. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. Jumlah manusia yang akan terkena dampak.

dampak lingkungan. yakni hanya pada tahap tertentu dari siklus usaha atau kegiatan (perencanaan. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan dapat berlangsung pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari kelangsungan usaha atau kegiatan. 7. Dengan kata lain dampak suatu usaha atau kegiatan ada yang berlangsung relatif singkat. 6. jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan di wilayah studi. atau segi kumulatif dampak yang berlangsung hanya pada satu atau lebih tahapan kegiatan. dapat dialami oleh baik sejumlah manusia yang termasuk maupun yang tak termasuk dalam sasaran rencana usaha atau kegiatan. taman nasional. 4. e. 2. Adapun yang dimaksud dengan manfaat dari usaha atau kegiatan adalah manusia yang secara langsung menikmati produk suatu rencana usaha atau kegiatan dan atau yang diserap secara langsung sebagai tenaga kerja pada rencana usaha atau kegiatan. Jumlah Manusia yang Akan Terkena Dampak Setiap rencana usaha atau kegiatan mempunyai sasaran sepanjang menyangkut jumlah manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat dari rencana usaha atau kegiatan itu bila nanti usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan.c. atau segi kumulatif dampak. atau pemerintah pusat. 2. atau drastis. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui. Luas Wilayah Persebaran Dampak Luas wilayah persebaran dampak merupakan salah satu faktor yang dapat menentukan pentingnya dampak terhadap lingkungan. suaka margasatwa. Dengan demikian dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak. Banyaknya Komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak Mengingat komponen lingkungan hidup pada dasarnya tidak ada yang berdiri sendiri. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah. atau habitat alaminya mangalami kerusakan. dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi di kalangan masyarakat. b. maka kriteria dampakpenting dikaitkan dengan sendi-sendi kehidupan yang di kalangan masyarakat luas berada dalam posisi atau mempunyai nilai yang penting. Berdasarkan pengertian ini dampak lingkungan bersifat penting bila: rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perubahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak. dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah. Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan. cagar alam. Namun demikian. atau dengan kata 286 c. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri. pemerintah daerah. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik. yang bernilai tinggi. 5. pemerintah daerah atau pemerintah pusat. baik yang bersikap negatif maupun positif yang mungkin ditimbulkan oleh suatu usaha atau kegiatan. dalam kurun waktu yang relatif singkat. . berdasarkan pertimbangan ilmiah. pasca operasi). Karena itu. 3. Mengingat pengertian manusia yang akan terkena dampak mencakup aspek yang luas. dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. atau tidak berbaliknya dampak. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Serta berlangsung di area yang relatif luas. operasi. Dengan demikian dampak lingkungan tergolong penting bila: 1. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung (hutan lindung. namun ada pula yang berlangsung relatif lama. konstruksi. d. sejak tahap konstruksi hingga masa pasca operasi usaha atau kegiatan. dampak lingkungan suatu rencana usaha atau kegiatan. Intensitas Dampak Intensitas dampak mengandung pengertian perubahan lingkungan yang timbul bersifat hebat. yang penentuannya didasarkan pada perubahan sendi-sendi kehidupan pada masyarakat tersebut dan jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila manusia di wilayah studi ANDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat.

ttd Sarwono Kusumaatmadja g. sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Sifat Kumulatif Dampak Kumulatif mengandung pengertian bersifat bertambah. 2. Dengan demikian dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila: 1. Atas dasar pengertian ini dampak tergolong penting bila: Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. namun ada pula yang tidak dapat dipulihkan walau dengan intervensi manusia sekalipun. maka lama kelamaan dampaknya bersifat kumulatif. 3. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu. sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergetik). f. Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak Dampak kegiatan terhadap lingkungan ada yang bersifat dapat dipulihkan. maka dampak pada suatu komponen lingkungan umumnya berdampak lanjut pada komponen lingkungan lainnya. Dampak suatu usaha atau kegiatan dikatakan bersifat kumulatif bila pada awalnya dampak tersebut tidak tampak atau tidak dianggap penting. atau bertimbun. 287 .lain satu sama lain saling terkait dan pengaruh mempengaruhi. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Maret 1994 Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan. Dampak lingkungan berlangsung berulang kali dan terus menerus. Dalam hal ini maka dampak bersifat penting bila: Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia. bertumpuk. tetapi karena aktivitas tersebut bekerja berulang kali atau terus menerus.

AUDIT LINGKUNGAN 288 .

termasuk masyarakat hukum adat atau badan hukum yang terkena dampak langsung atau berpotensi terkena dampak dan ketidakpatuhan. Kewenangan. kelompok orang. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Menteri Negara. Tim Evaluasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan evaluasi terhadap masukan. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 tentang Standar Nasional Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 19. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60. 6. 8. c.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. dan verifikasi laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan akibat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699). Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839). Tugas Fungsi. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. 3. Menimbang : a. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan : 1. 3. Pihak yang berkepentingan adalah orang seorang. Tugas. pelaksanaan. b. Instansi yang bertanggung jawab di daerah adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota atau instansi yang bertanggung jawab di bidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. informasi dan usulan untuk melakukan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. 4. Susunan Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Pemerintah Non-Departemen. 289 . Kewenangan. 7. Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Audit Lingkungan hidup yang diwajibkan adalah suatu proses evaluasi yang dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berdasarkan perintah Menteri atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang terkait dengan kegiatan tersebut. 4. dan organisasi lingkungan hidup. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. 2. 2. kriteria ketidakpatuhan. dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup tentang Pedoman Pelaksanaan Audit Lingkungan Hidup Yang Diwajibkan. 5. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas. Tim Audit adalah sekelompok atau seorang auditor yang diberi tugas untuk melaksanakan audit dan tim audit juga dapat beranggotakan tenaga ahli teknis. Tim Verifikasi adalah sekelompok orang yang ditugaskan oleh Menteri untuk melaksanakan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan yang diwajibkan. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68. Auditor Lingkungan adalah seseorang yang memiliki kualifikasi untuk melaksanakan audit lingkungan. Keputusan Presiden Nomor 101 Tahun 2001 tentang Kedudukan. Mengingat : 1. 5. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3434). BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Ruang lingkup audit lingkungan hidup yang diwajibkan meliputi evaluasi masukan atau informasi. Fungsi. bahwa agar pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dapat dilakukan secara efektif maka diperlukan suatu pedoman.

d. (2) Apabila Gubernur/Bupati/Walikota menilai bahwa suatu usaha dan atau kegiatan di wilayahnya menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. c. b. dan atau. dan atau. (3) Manfaat pelaksanaan audit Iingkungan hidup yang diwajibkan: a. b. apabila telah melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4. BAB IV KRITERIA KETIDAKPATUHAN DAN KEWENANGAN Pasal 4 Kriteria ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang menjadi dasar dikeluarkannya perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. c. ketidakpatuhan terhadap persyaratan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup yang harus dilakukan. termasuk apabila terdapat pelanggaran dan atau ketidaktepatan penerapan kebijaksanaan di bidang lingkungan hidup.Kriteria kualifikasi untuk auditor lingkungan dan bebas dari pertentangan kepentingan. 290 . (2) Pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) apabila menunjukkan : a. meliputi: a. d. dan atau. (2) Audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilakukan oleh auditor lingkungan yang terdaftar dan atau auditor yang memenuhi kriteria kualifikasi sesuai dengan SNI 19-14012-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . untuk mengetahui tingkat ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. FUNGSI DAN MANFAAT Pasal 3 (1) Tujuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan : a. ketidakpatuhan yang mengindikasikan bahwa penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak memiliki dokumen pengelolaan lingkungan hidup atau tidak melaksanakan sistem pengelolaan lingkungan secara efektif. mencegah terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. dan. c. sebagai bahan masukan bagi proses pengambilan keputusan Menteri tentang tindak lanjut penanganan ketidakpatuhan. b.Prinsip Umum atau standar lainnya yang sesuai dengan tujuan pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Pasal 6 (1) Menteri berwenang memerintahkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan apabila penanggung jawab usaha dan atau kegiatan menunjukkan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. ketidakpatuhan terhadap kriteria baku kerusakan lingkungan hidup. ketidakpatuhan terhadap baku mutu lingkungan hidup. maka Gubernur/Bupati/W alikota mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab suatu usaha dan atau kegiatan tersebut melakukan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. meningkatkan penaatan pengelolaan lingkungan hidup dan suatu usaha dan atau kegiatan. BAB V PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN HIDUP YANG DIWAJIBKAN Bagian Pertama Tata Laksana Pasal 7 (1) Tata laksana audit lingkungan hidup yang diwajibkan dilaksanakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia Nomor 19-14010-1997 tentang Pedoman Audit Lingkungan . b. (3) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib memberikan informasi/data yang benar dan aktual kepada auditor. telah terjadi hal yang sama atau berkaitan secara berulangkali.BAB III TUJUAN. memberikan uraian tentang penyebab terjadinya ketidakpatuhan. mengetahui status ketaatan pengelolaan lingkungan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Fungsi audit Iingkungan hidup yang diwajibkan merupakan salah satu instrumen penaatan atas ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelola Iingkungan hidup. memberikan rekomendasi atas temuan-temuan pelaksanaan audit. Pasal 5 (1) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan dinyatakan tidak mematuhi peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup. telah diberikan peringatan oleh Menteri dan atau Gubernur dan atau Bupati dan atau Walikota sekurangkurangnya 3 (tiga) kali dalam jangka waktu setahun terakhir dan atau patut diduga akan terjadi lagi di masa mendatang.

penanggung jawab usaha dan atau kegiatan tidak melaksanakan perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2). (3) Jumlah beban biaya pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh Menteri. dilengkapi dengan rancangan ruang lingkupnya. (2) Apabila instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan ketidakpatuhan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (2) Apabila dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (4) Tim Evaluasi melaksanakan kegiatan evaluasi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja. instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. (7) Apabila rekomendasi berupa ketidaklayakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (6) huruf b. (2) Apabila Menteri menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Pasal 9 (1) Gubernur/Bupati/Walikota menugaskan instansi yang bertanggung jawab di daerah untuk mengevaluasi masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan memeriksa unsur ketidakpatuhan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 dan Pasal 5. (3) Tim Evaluasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan oleh Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. a. Pasal 13 (1) Dalam jangka waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak dikeluarkannya surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2).Bagian Kedua Mekanisme Pasal 8 Pihak yang berkepentingan dapat memberikan masukan atau informasi secara tertulis tentang terjadinya petunjuk ketidakpatuhan suatu usaha dan atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan lingkungan hidup kepada Gubernur/Bupati/Walikota/Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan. kelayakan untuk dikeluarkannya perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri mengeluarkan surat perintah pelaksanaan audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. Menteri membentuk Tim Evaluasi yang bertugas untuk mengevaluasi usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Kepala instansi yang bertanggung jawab di daerah menemukan hasil temuannya kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. Menteri dapat menyetujui atau tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. maka: a. Pasal 10 Instansi pengendalian dampak lingkungan dapat mengusulkan kepada Menteri untuk memerintahkan penanggung jawab usaha dan atau kegiatan untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan masukan atau informasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan dilengkapi dengan data pendukung. atau. (3) Apabila Menteri tidak menyetujui usulan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri memberitahukan kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Pasal 12 (1) Berdasarkan rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (6) huruf a. b. Gubernur/Bupati/Walikota dapat mengusulkan secara tertulis kepada Menteri untuk mengeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Pasal 11 (1) Berdasarkan usulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dan Pasal 10 selambat-lambatnya dalam waktu 5 (lima) hari kerja. dengan dilengkapi data pendukung. atau. b. (5) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib menyampaikan laporan dan rekomendasi hasil evaluasi secara tertulis kepada Menteri selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja. setelah selesai melaksanakan evaluasi. (2) Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri dari unsur-unsur. terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. ketidaklayakan untuk dikeluarkan perintah audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan memberikan alasan-alasan ketidaklayakan tersebut. menugaskan pihak ketiga yang memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) untuk melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri memberikan alasan-alasan mengenai ketidaksetujuan tersebut. penanggung jawab usaha dan atau kegiatan telah menunjuk auditor dengan pemberitahuan kepada Menteri. (6) Rekomendasi Tim Evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dapat berupa. Menteri dapat: a. instansi yang bertanggung jawab di daerah. b. 291 . melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan dengan membentuk Tim Audit. instansi yang membidangi usaha dan atau kegiatan dan tenaga ahli dalam bidang yang terkait.

292 . BAB VI INFORMASI DAN PUBLIKASI Pasal 17 Menteri mengumumkan surat perintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (2) dan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan kepada Masyarakat. b. (3) Tim audit setelah melaksanakan tugasnya wajib menyerahkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan secara tertulis kepada Menteri. apabila diperlukan dapat melaksanakan kegiatan verifikasi di lokasi usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan. dengan membentuk Tim Verifikasi. (2) Tim Verifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Tim audit mulai melaksanakan audit lingkungan hidup yang diwajibkan selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kerja setelah Kerangka Acuan mendapat persetujuan dari Menteri. melaksanakan kajian terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. c. ttd. (3) Tim verifikasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh Sekretariat yang ditetapkan Menteri dan berkedudukan di instansi yang bertanggung jawab dibidang pengendalian dampak lingkungan. (5) Tim Verifikasi melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) paling lama 14 (empat belas) hari kerja. (4) Tugas Tim Verifikasi mencakup hal-hal sebagai berikut: a.Pasal 14 (1) Tim audit merumuskan Kerangka Acuan audit lingkungan hidup yang diwajibkan berdasarkan ruang lingkup yang ditetapkan oleh Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja setelah tim audit ditetapkan.MSM. Nabiel Makarim. ahli di bidang lingkungan hidup khususnya yang berkaitan dengan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. BAB VII PENUTUP Pasal 18 Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. terdiri dari : a. MPA. Pasal 16 (1) Berdasarkan laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. unsur lainnya yang dianggap perlu. b. Pasal 15 (1) Apabila dianggap perlu Menteri dapat melakukan verifikasi terhadap laporan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan. Menteri mengeluarkan surat perintah kepada penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang bersangkutan untuk melakukan perbaikan sesuai dengan hasil audit lingkungan hidup yang diwajibkan dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh Menteri. Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 28 September 2001 Menteri Negara Lingkungan Hidup. (2) Instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan dan atau instansi yang bertanggung jawab di daerah melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan perbaikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). terhitung sejak ditetapkan oleh Menteri. menyusun laporan hasil verifikasi secara tertulis dan menyampaikannya kepada Menteri.

dan Tata Kerja Menteri Negara serta Organisasi Staf Menteri Negara. MEMUTUSKAN : Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN Pertama : Audit Lingkungan merupakan suatu kegiatan yang dianjurkan untuk dilaksanakan oleh dan merupakan tanggung jawab pihak penanggung jawab usaha atau kegiatan. Tugas Pokok. meningkatkan kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan. dan apabila terdapat kekeliruan maka keputusan ini akan ditinjau kembali. bahwa audit lingkungan sebagai suatu perangkat pengelolaan yang dilakukan secara dasar telah diakui merupakan alat yang efektif dan sangat bermanfaat bagi suatu usaha atau kegiatan dalam mengelola lingkungan hidup. Menimbang : 1. : Audit Lingkungan dapat dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip dasar sebagaimana tercantum pada lampiran keputusan ini. : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal. bahwa oleh karena itu dipandang perlu untuk menetapkan suatu pedoman umum tentang pelaksanaan audit lingkungan dengan suatu keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup. masyarakat umum atau organisasi lainnya dengan tujuan. Nomor 3538). : 1.42/MENLH/XI/1994 TENTANG PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP. 4. Fungsi. bahwa audit lingkungan dapat membantu menemukan upaya penyelesaian yang efektif tentang masalah lingkungan hidup yang dapat dihadapi suatu usaha atau kegiatan. Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara R. 4.KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP. Penanggung jawab usaha atau kegiatan dapat memberikan sebagian atau seluruh laporan audit lingkungan kepada Pemerintah. Nomor 84 Tahun 1993. 5. bahwa setiap orang yang menjalankan suatu bidang usaha atau kegiatan wajib memelihara kelestarian kemampuan lingkungan hidup yang serasi dan seimbang untuk menunjang pembangunan yang berkelanjutan. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara R.I. mempublikasi upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan. untuk itu hasil audit lingkungan dapat dimintakan keabsahannya dari instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 4.I.I. Nomor 3215). 3.I. Tambahan Lembaran Negara R. 3. tujuan lainnya sebagaimana ditentukan oleh usaha atau kegiatan yang bersangkutan. 2. 3. Nomor 12 Tahun 1982. ttd Sarwono Kusumaatmadja 293 Kedua Ketiga Keempat . Di tetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 22 Nopember 1994 Menteri Negara Lingkungan Hidup. sehingga dapat meningkatkan kinerja usaha atau kegiatan yang bersangkutan dalam kaitan dengan pelestarian kemampuan lingkungan. berkala. bahwa audit lingkungan adalah suatu proses untuk melaksanakan kajian secara sistematik. pengembangan sistem pengelolaan dan pemantauan lingkungan. 5. dan obyektif terhadap prosedur dan praktek-praktek dalam pengelolaan lingkungan hidup. Mengingat : 1. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1993 tentang Kedudukan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 96/M Tahun 1993 tentang Pembentukan Kabinet Pembangunan VI. Tambahan Lembaran Negara R. terdokumentasi. 2. 2.

dan pemegang saham. (f) Meningkatkan kepedulian pimpinan/penanggung jawab dan staf suatu badan usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan kegiatannya terhadap kebijakan dan tanggung jawab lingkungan. (g) Mengidentifikasi kemungkinan penghematan biaya melalui upaya konservasi energi. 2. Definisi Audit Lingkungan adalah suatu atau manajemen yang meliputi evaluasi secara sistematik. 294 . prosedur pengelolaan dan pemantauan lingkungan termasuk rencana tangggap darurat. (h) Menyediakan laporan audit lingkungan bagi keperluan usaha atau kegiatan yang bersangkutan. (b) Menjadi dasar bagi pelaksanaan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan atau upaya penyempurnaan rencana yang ada. serta isu lingkungan yang terkait. pengelolaan dan pemantauan yang dilakukan. (d) Bukti keabsahan prakiraan dampak dan penerapan rekomendasi yang tercantum dalam dokumen AMDAL. melainkan suatu usaha proaktif yang dilaksanakan secara sadar untuk mengindentifikasi permasalahan lingkungan yang akan timbul sehingga dapat dilakukan upaya-upaya pencegahannya. C. dan pengurangan. Audit lingkungan bukan merupakan pemeriksaan resmi yang diharuskan oleh suatu peraturan perundang-undangan. limbah cair. sehingga dapat memberikan informasi mengenai: 1. (b) Dokumen suatu usaha atau kegiatan tentang pelaksanaan standar operasi. (e) Membuktikan pelaksanaan pengelolaan lingkungan apabila dibutuhkan dalam proses pengadilan. pemakaian ulang dan daur ulang limbah.LAMPIRAN NOMOR TANGGAL : : : KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP KEP-42/MENLH/XI/1994 22 NOVEMBER 1994 PRINSIP-PRINSIP DAN PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN A. RUANG LINGKUP Audit Lingkungan perlu disusun sedemikian rupa. Audit Lingkungan suatu usaha atau kegiatan merupakan perangkat manajemen yang dilakukan secara internal oleh suatu usaha atau kegiatan sebagai tanggung jawab pengelolaan dan pemantauan lingkungannya. Dengan adanya pedoman ini. 3. lembaga keuangan. maka pengelolaan dan pemantauan lingkungan suatu usaha atau kegiatan diharapkan dapat dilakukan dengan baik. periodik dan objektif tentang bagaimana suatu kinerja organisasi. sistem manajemen dan peralatan dengan tujuan memfasilitasi kontrol manajemen terhadap pelaksanaan upaya pengendalian dampak lingkungan dan pengkajian pentaatan kebijakan usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan tentang pengelolaan lingkungan. dan media massa. efektif dan efisien. proses daur ulang dan efisiensi penggunaan sumber daya. misalnya: standar emisi udara. Manfaat Audit Lingkungan bermanfaat untuk: (a) Mengindentifikasi risiko lingkungan. (c) Menghindari kerugian finansial seperti penutupan/pemberhentian suatu usaha atau kegiatan atau pembatasan oleh pemerintah. PENDAHULUAN 1. (i) Menyediakan informasi yang memadai bagi kepentingan usaha-usaha atau kegiatan asuransi. pemantauan dan pelaporan serta rencana perubahan pada proses dan peraturan. (e) Upaya perbaikan penggunaan sumber daya melalui penghematan penggunaan bagan. rona dan kerusakan lingkungan di tempat usaha atau kegiatan tersebut. lebih terarah. sejarah atau rangkaian suatu usaha atau kegiatan. minimisasi limbah dan identifikasi kemungkinan proses daur ulang. atau bagi keperluan kelompok pemerhati lingkungan. Fungsi Fungsi audit lingkungan adalah sebagai : (a) Upaya peningkatan pentaatan suatu usaha atau kegiatan terhadap peraturan perundang-undangan lingkungan. terdokumentasi. yang berguna dalam penyempurnaan proses AMDAL. misalnya pembangunan yang berkelanjutan. penanganan limbah dan standar operasi lainnya. FUNGSI DAN TUJUAN Pedoman Umum Pelaksanaan Audit Lingkungan dimaksudkan sebagai acuan untuk melakukan pelaksanaan audit lingkungan bagi suatu usaha atau kegiatan. (f) Upaya untuk meningkatkan tindakan yang telah dilaksanakan atau yang perlu dilaksanakan oleh suatu usaha atau kegiatan untuk memenuhi kepentingan lingkungan. B. Audit lingkungan yang dimaksud dalam keputusan ini dilaksanakan secara sukarela oleh penanggung jawab usaha atau kegiatan dan merupakan alat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang bersifat internal. (d) Mencegah tekanan sanksi hukum terhadap suatu usaha atau kegiatan atau terhadap pimpinannya berdasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku. pemerintah. (c) Jaminan untuk rnenghindari perusakan atau kecenderungan kerusakan lingkungan. atau publikasi yang merugikan akibat pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang tidak baik.

(c) Pengukuran dan standar yang sesuai. uji rutin. 2. Tata laksana audit merupakan suatu rencana yang harus diikuti oleh auditor untuk dapat mencapai tujuan audit yang diharapkan. peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kepedulian lingkungan. program daur ulang. konsiderasi product life cycle. mengingat kajian terhadap kinerja lingkungan akan meliputi semua aspek dan pelaksanaan tugas secara luas. air dan sumber daya alam lainnya. (b) Konsep pembuktian dan pengujian. Usaha atau kegiatan dan proses audit dapat menjadi sangat kompleks dan pelaksanaan audit lingkungan menjadi tidak efektif bila tidak ada dukungan yang kuat dari pimpinan usaha atau kegiatan. perubahan rona lingkungan sejak usaha atau kegiatan tersebut didirikan sampai waktu terakhir pelaksanaan audit. PEDOMAN UMUM PELAKSANAAN AUDIT LINGKUNGAN 1. 14. tergantung pada kebutuhan atau kegiatan yang bersangkutan. Konsep pembuktian dan pengujian terhadap penyimpangan pengelolaan lingkungan adalah hal yang pokok dalam audit lingkungan. Penetapan standar dan pengukuran terhadap kinerja lingkungan harus sesuai dengan usaha atau kegiatan dan proses produksi yang diaudit. rute pengangkutan bahan dan pembuangan limbah. Selain itu tim auditor harus pula diberi keleluasan untuk mengkaji hal-hal yang sensitif dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. proses bahan dasar. kemandirian auditor diartikan bahwa tim auditor harus dilaksanakan oleh orang di luar usaha atau kegiatan yang diaudit. 6. 10. (d) Laporan tertulis. dan limbah termasuk limbah B3. 7. penggunaan input dan sumber daya alam. kajian resiko lingkungan. E. perawatan. (c) Kemandirian dan obyektifitas auditor Tim audit lingkungan harus mandiri dan tidak ada keterikatan dengan usaha atau kegiatan yang diaudit. 12. Tim audit harus mengkonfirmasikan semua data dan informasi yang diperolehnya melalui pemeriksaan lapangan secara langsung. identifikasi penanganan dan penyimpanan bahan kimia. 295 .2. Karakteristik dasar Audit Lingkungan mempunyai ciri khas sebagai berikut: (a) Metodologi yang komprehensif. 8. Metodologi tersebut harus fleksibel sehingga tim auditor dapat menerapkan teknik-teknik yang tepat. Apabila tidak. 3. catatan tentang lisensi pembuangan limbah dan pentaatan terhadap peraturan perundang-undangan termasuk standar dan baku mutu lingkungan. Kunci keberhasilan (a) Dukungan pihak pimpinan Pelaksanaan audit lingkungan harus diawali dengan adanya itikad pimpinan usaha atau kegiatan. pentaatan terhadap hasil dan rekomendasi AMDAL (Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan). termasuk fasilitas untuk meminimumkan dampak buangan dan kecelakaan. serla dilandasi dengan bukti yang sahih dan terdokumentasi. rencana minimalisasi limbah dan pengendalian pencemaran lingkungan. Ruang lingkup audit lingkungan sangat luwes. 13. B3 serta potensi kerusakan yang mungkin timbul. Laporan harus memuat hasil pengamatan dan fakta-fakta penunjang serta dokumentasi terhadap proses produksi. untuk menjamin pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dokumentasi dan pengujian informasi tersebut. sistem kontrol manajemen. penggunaan energi. Pada umumnya. Audit lingkungan memerlukan tata laksana dan metodologi yang rinci. Audit lingkungan harus dilaksanakan dengan metodologi yang komprehensif dan prosedur yang telah ditentukan. Dengan mengacu pada tata laksana tersebut maka diharapkan adanya konsistensi dalam pelaksanaan audit dan pelaporan hasil audit. 11. D. 4. Audit lingkungan tidak akan berarti kecuali bila kinerja usaha atau kegiatan dapat dibandingkan dengan standar yang digunakan. Tata Laksana Pelaksanaan audit lingkungan perlu mengikuti suatu tata laksana audit. uji emisi. (b) Keikutsertaan semua pihak Keberhasilan audit lingkungan ditentukan pula oleh keikutsertaan dan kerjasama yang baik dari semua pihak dalam usaha atau kegiatan yang bersangkutan. efektifitas alat pengendalian pencemaran seperti ditunjukkan dalam laporan inspeksi. (d) Kesepakatan tentang tata laksana dan lingkup audit Harus ada kesepakatan awal antara pimpinan usaha atau kegiatan dengan tim auditor tentang lingkup audit lingkungan yang akan dilaksanakan. perencanaan dan prosedur standar operasi keadaan darurat. Audit lingkungan harus berpedoman kepada penggunaan rencana yang sistematik dan sesuai dengan prosedur pelaksanaan audit lapangan dan penyusunan laporan. PRINSIP-PRINSIP DASAR 1. maka obyektifitas dan kredibilitas akan diragukan. Seluruh data dan hasil temuan harus disajikan dengan jelas dan akurat. bahan jadi. dll. 9. 5.

serta aspek yang harus diteliti.Tata laksana audit sangat beragam dan tergantung pada jenis usaha dan karakteristik lingkungan. struktur organisasi. kertas kerja dan hal-hal lain yang berkaitan. Bentuk pelaksanaan audit yang paling sederhana adalah mempergunakan daftar isian dari laporan yang akan dihasilkan sebagai acuan audit. 2. Pelaksanaan. (4) Pengujian Prinsip utama audit lingkungan adalah bahwa informasi yang disajikan oleh tim auditor telah diuji dan dikonfirmasikan. Informasi yang diperlukan pada tahap ini meliputi informasi rinci mengenai aktifitas di lapangan. Aktifitas pra-audit juga meliputi pemilihan tata laksana audit. Jenis ini merupakan cara yang umum digunakan yaitu dengan mempergunakan daftar yang rinci mengenai isi yang akan diaudit. diagram. auditor telah mempersiapkan format baku untuk melaksanakan audit dan menyusun laporan akhir. foto-foto. Informasi tersebut harus terdokumentasi dengan baik agar mudah ditelusuri kembali. Pasca Audit Tim auditor akan menyusun laporan tertulis secara lengkap sebagai hasil pelaksanaan audit lingkungan. Pada umumnya. Dalam menguji hasil temuan audit. Daftar pertanyaan seringkali digunakan dalam pelaksanaan audit. 296 . Seluruh dokumentasi selama penelitian harus dikembalikan kepada penanggung jawab usaha atau kegiatan. Oleh karena itu tata laksana audit harus menentukan tingkat pengujian data yang dibutuhkan. Kegiatan Lapangan (1) Pertemuan pendahuluan Tahap awal yang harus dilaksanakan oleh tim audit adalah mengadakan pertemuan dengan pimpinan usaha atau kegiatan untuk mengkaji tujuan audit. Dokumentasi penunjang harus dikaji secara teliti sehingga semua hasil temuan telah ditunjang oleh data dan diuji secara tepat. 3. (5) Evaluasi hasil temuan Hasil temuan audit harus dievaluasi sesuai dengan tujuan audit dan tata laksana yang telah disetujui untuk menjamin bahwa semua isu/masalah telah dikaji. hasil sampling dan pemantauan. Dengan melaksanakan pemeriksaan lapangan. tim auditor dapat menemukan hal-hal yang terkait erat dengan kegiatan audit namun belum teridentifikasi dalam perencanaan. Pertemuan ini akan mendiskusikan berbagai hal yang belum terpecahkan atau informasi yang belum tersedia. Berikut ini adalah beberapa tata laksana audit yang umum dilaksanakan: (a) Daftar Isian. status hukum. Pra-audit Kegiatan pra-audit merupakan bagian yang penting dalam prosedur audit lingkungan. tata laksana. rencana. Tim audit akan mendapatkan gambaran tentang kegiatan usaha atau kegiatan yang akan menjadi dasar penetapan areal kegiatan yang memerlukan perhatian secara khusus. Tujuan utama pengumpulan data adalah untuk menunjang dan merupakan dasar bagi pengujian temuan audit lingkungan. Dokumentasi yang dihasilkan oleh tim auditor harus menunjang semua pernyataan. peta. Pedoman ini memuat instruksi-instruksi dan petunjuk pelaksanaan yang harus dilaksanakan oleh auditor. tim auditor harus menjamin bahwa dokumen yang dihasilkan merupakan dokumen yang asli dan sah. Laporan tersebut juga mencakup pemaparan tentang rencana tindak lanjut terhadap isu-isu yang telah diidentifikasi. Perencanaan yang baik pada tahap ini akan menentukan keberhasilan pelaksanaan audit dan tindak lanjut audit tersebut. Pada saat ini. dan lingkup usaha atau kegiatan yang akan diaudit. jenis usaha atau kegiatan dan pelaksanaan oleh tim auditor. catatan dan hasil pengamatan tim auditor. dan jadual kegiatan audit. (6) Pertemuan akhir Setelah penelitian lapangan selesai. dan daftar pertanyaan tersebut harus dijawab secara lengkap oleh auditor. Tim auditor harus mengkaji hasil pertemuan secara garis besar dan menentukan waktu penyelesaian laporan akhir. atau telah teruji melalui pengamatan langsung oleh tim auditor. (b) Checklist. (d) Pedoman. (3) Pengumpulan data Data dan informasi yang dikumpulkan selama audit lingkungan akan mencakup tata laksana audit. 2. Audit dengan menggunakan pedoman merupakan jenis tata laksana yang paling rinci. (2) Pemeriksaan lapangan Pemeriksaan di lapangan dilaksanakan setelah pertemuan pendahuluan. atau harus ditentukan oleh tim auditor. 4. Tahapan pelaksanaan audit lingkungan adalah sebagai berikut: 1. penentuan tim auditor. tujuan dan ruang lingkup audit harus telah disepakati. dokumentasi yang diberikan oleh pemilik usaha atau kegiatan. tim auditor harus memaparkan hasil temuan pendahuluan dalam suatu pertemuan akhir secara resmi. (c) Daftar pertanyaan. dan pendanaan pelaksanaan kegiatan audit. Pendahuluan Penerapan audit lingkungan akan tergantung kepada jenis audit yang dilaksanakan.

maka usaha atau kegiatan atau organisasi (non pemerintah) dianjurkan untuk membuat dan melaksanakan kode etik serta sertifikasi auditor lingkungan. kesehatan dan keselamatan kerja serta resiko bahaya Auditor juga perlu mendapatkan pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam bidang yang dibutuhkan dalam audit. (b) Antisipasi kebutuhan penilaian peringkat kinerja usaha atau kegiatan lainnya. masyarakat luas atau organisasi lainnya dengan tujuan sebagai berikut : (a) Publikasi terhadap upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang telah dilakukan. Auditor harus mengikuti kode etik auditor yang ada. Auditor lingkungan harus mempunyai pendidikan yang sesuai dan memiliki pengalaman profesional untuk dapat melaksanakan tugasnya. G PENGAWASAN MUTU HASIL AUDIT . penghindaran kewajiban dan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan. (c) Tujuan lainnya yang ditetapkan oleh usaha atau kegiatan tersebut. Namun demikian. prosedur dan teknis audit Karakteristik dan analisis tentang sistem manajemen Peraturan perundang-undangan dan kebijaksanaan lingkungan Sistem dan teknologi pengelolaan lingkungan. Dalam rangka menjamin bahwa audit lingkungan akan dilaksanakan secara baik dan profesional. Pemerintah dapat memberikan verifikasi atas hasil audit.F . meliputi: Kemampuan berkomunikasi Kemampuan perencanaan dan penjadualan kerja Kemampuan untuk menganalisis data dan hasil temuan Kemampuan untuk menulis laporan audit Auditor lingkungan harus terlatih secara profesional untuk menjamin ketepatan. Kebijakan audit lingkungan dalam hal ini tidak membatasi hal-hal sebagai berikut : (a) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan secara rutin pada suatu usaha atau kegiatan. 297 . (b) Hak pemerintah untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap suatu kegiatan yang dicurigai sebagai kelalaian. konsistensi dan objektifitas dalam pelaksanaan audit. dunia usaha atau kegiatan sesuai dengan kebebasannya dapat menyampaikan laporan audit lingkungan kepada pemerintah. Kemampuan yang harus dimiliki oleh tim auditor adalah meliputi pengetahuan tentang : Proses. SIFAT KERAHASIAAN Laporan hasil audit lingkungan merupakan milik usaha atau kegiatan yang diaudit dan bersifat rahasia. (c) Hak pemerintah untuk meminta sesuatu informasi khusus sebagai dasar penentuan peringkat kinerja lingkungan suatu usaha atau kegiatan pelanggaran terhadap pentaatan hukum dan peraturan: (d) Tanggung jawab dunia usaha atau kegiatan untuk menyediakan data hasil pengelolaan dan pemantauan kepada pemerintah sesuai ketentuan Undang-undang Nomor 4 Tahun 1982. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 1993 dan peraturan pelaksanaan lainnya. kesehatan dan keselamatan kerja Fasilitas usaha atau kegiatan yang akan diaudit Potensi dampak lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful