P. 1
ASEAN

ASEAN

|Views: 673|Likes:
Published by Muhammad Nuris

More info:

Published by: Muhammad Nuris on Dec 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

Nama : Muhammad Nuris

No : 151090112


Rencana Pembentukan ASEAN Security


Dalam peringatan ulang tahun ASEAN Jumat (08/08) pagi, Presiden Megawati menyatakan,
tidak satu negara pun yang mampu menghadapi serangan teroris internasional. Dalam
sambutannya pada hari ulang tahun ASEAN ke-36 di Gedung ASEAN Jakarta tadi pagi,
Presiden Megawati Soekarnoputri mengatakan, tidak ada sebuah negara pun yang mampu
menghadapi ancaman serangan teroris internasional. Karena itu untuk menghadapi ancaman
terorisme internasional, ASEAN telah membentuk rencana aksi regional sebagai salah
kerjasama Fungsional ASEAN. Namun kerjasama itu jadi tidak memadai ketika menghadapi
serangan teroris seperti di Bali atau di Hotel Marriott Selasa lalu. Menanggapi peryataan
Presiden Megawati tentang ancaman serangan teroris di negara-negara ASEAN itu, Menlu
Hasan Wirayudha mengungkapkan, ASEAN dalam pertemuan tahunan di Bali Oktober
mendatang akan menyiapkan pembentukan ASEAN Security Community atau Masyarakat
Keamanan ASEAN. Sementara Sekjen ASEAN Ong Keng Yong menyambut baik gagasan
pembentukan ASEAN Security Community yang lebih kepada kerjasama keamanan negara-
negara ASEAN dan bukan membentuk fakta pertahanan.


Sumber : http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=4551






Plun of Actlon Aseun Securlty Communlty : Prospek
& Kendulu
25062010

E\ Igor Dlrgunturu
Berbagai persoalan tantangan keamanan ASEAN, baik yang bersifat tradisional
(konvensional), maupun non tradisional (non konvensional) perlu untuk dicermati negara
anggota ASEAN dewasa ini dan dimasa yang akan datang. Selama 41 tahun berdirinya
ASEAN sejak tahun 1967, banyak kalangan menilai ASEAN memiliki kekompakan untuk
mengatasi berbagai tantangan keamanan yang mungkin muncul di kawasan Asia Tenggara.
Pada Bab III ini akan dibahas kemungkinan ASEAN untuk menerapkan komunitas
keamanan (security community), beberapa rencana aksi (Plan of action) dari ASEAN
Security Community sejak Bali Concord II (2003) yang sudah diwujudkan ataupun yang
belum, termasuk berbagai kerjasama kelembagaan ASEAN didalam mewujudkan
masyarakat yang berkeamanan. Pada Bab ini akhirnya penulis mencoba untuk melihat
prospek dan kendala ASEAN untuk mewujudkan ASEAN Security Community pada tahun
2015.
1. 1. Analisis Komunitas Keamanan ASEAN
ASEAN mempunyai potensi untuk menjadi komunitas keamanan di kawasan Asia Tenggara.
Hal ini diakui oleh para akademisi dan para pengambil keputusan baik didalam maupun
diluar kawasan. Salah satunya adalah kajian bahwa ASEAN dianggap sebagai sebuah
komunitas keamanan yang pluralistik, dimana masing-masing anggotanya tetap
mempertahankan kedaulatannya (Acharya,1990). Pemahaman bahwa ASEAN menjadi
komunitas keamanan lebih didasarkan pada kenyataan bahwa tidak ada satupun anggotanya
yang menggunakan kekuatan bersenjata atau anggapan perlunya digunakannya kekuatan
militer dalam menyelesaikan konflik di kawasan(Simon, 1999 :122). Sedangkan Michael
Leifer sepakat bahwa ASEAN memang sebuah komunitas keamanan karena kemampuannya
untuk mencegah konflik intra-mural dari kemungkinan eskalasi konfrontasi bersenjata
untuk menjadi komunitas politik (Leifer, 1995 : 129-132). Adalah kenyataan bahwa
ketiadaan perang diantara negara-negara anggota ASEAN sejak organisasi tersebut didirikan
tahun 1967 merupakan prestasi terbesar ASEAN dalam mengatur interaksi damai didalam
kawasan. Ada tiga kekuatan utama menurut Amitav Acharya yang menjadi prasyarat
terbentuknya satu komunitas keamanan di kawasan, yaitu :
1. A. Ancaman Keamanan dan Kerawanan Bersama
Ancaman keamanan bersama adalah sumber ketidakamanan yang berpotensi mengganggu
secara nyata terhadap stabilitas negara-negara di kawasan. Secara umum ancaman
konvensional/tradisional merupakan salah satu aspek keamanan yang sangat sensitif bagi
negara-negara ASEAN, karena berkaitan langsung dengan masalah kedaulatan, integritas
dan kelangsungan hidup suatu negara.
Yang menjadi ancaman keamanan bersama negara-negara ASEAN secara konvensional
hingga sekarang dan masih cukup relevan karena memiliki potensi konflik yang lebih
terbuka antar Negara anggota ASEAN adalah permasalahan separatisme dan konflik
perbatasan (Usman, 1996 : 159-164). Munculnya serangan terorisme di negara-negara
ASEAN atau transnational crimes yang terorganisasi telah merubah persepsi ancaman
bersama di kawasan Asia Tenggara menjadi tidak konvensional lagi (keamanan non
konvensional). Penyelundupan manusia secara ilegal, pembajakan, penyelundupan
narkotika, masalah lingkungan, pencucian uang, terorisme, kejahatan ekonomi menjadi ciri
tindak kejahatan lintas batas yang terorganisir sebagai ancaman baru di kawasan(Dirjen
Kerjasama ASEAN Deplu RI, 2005 : Bab IV). Ancaman keamanan yang bersumber dari
adanya berbagai kerawanan domestik merupakan faktor dominan dan menjadi motivasi dari
pembentukan ASEAN. Kerawanan bersama adalah celah/titik rawan yang telah terbuka
sebagai akibat dari ancaman nyata. Keamanan non tradisional, yang bersifat komprehensif
dan berorientasi pada manusia(human security) telah membuka celah kerawanan bersama
dan sekaligus menjadi ancaman nyata yang hadir dengan pola-pola modifikasi dari
sebelumnya dan telah memaksa (spin off) ASEAN untuk menata kembali agenda kerjasama
keamanannya. Hal paling penting di sini adalah adanya kesamaan persepsi dari para
pemimpin politik ASEAN akan pentingnya ¶comprehensive security¶ untuk diadopsi ke
dalam setiap bentuk kerjasama keamanannya, sebagaimana yang telah dihasilkan di
Vientiane, Laos, 2004.

Tabel
Ancaman dan kerawanan bersama
No Persepsi Ancaman
Bersama
Proliferasi Ancaman yang
menjadi Kerawanan
Bersama
Pelaku Sifat
1 Ancaman Konvensional - Konflik Perbatasan Negara Nasional
(state centric)
- Separatisme (State Actor)
2 Ancaman Non
Konvensional
(human centric/
Comprehensive security)
Transnational Crimes
1. Piracy (Pembajakan)
2. Perdagangan obat-obatan
(narkotika)
3. Penyelundupan manusia
4. Terorisme
5. Masalah lingkungan
6. Kejahatan ekonomi
Bukan Negara
(non-State Actor)
Lintas Batas
Nasional
Transnational
Organized
Crime (TOC)
1. B. Kesalingtergantungan Ekonomi dan Fungsional yang ber-Spill Over Dalam
Menciptakan Hubungan Damai
Secara formal ASEAN adalah organisasi yang memfokuskan diri pada upaya kerjasama di
bidang ekonomi, sosial dan budaya. Akan tetapi Deklarasi Bangkok merupakan komitmen
politik untuk bersatu dan bekerjasama dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas regional
agar negara-negara anggota dapat menikmati hidup merdeka tanpa campur tangan asing
serta dapat berkonsentrasi dalam memenuhi kepentingan nasionalnya.
Kerjasama dibidang ekonomi dinilai sebagai pendorong utama kerjasama antar negara
karena bidang ini tidak sensitif dan tiap negara menginginkan pertumbuhan ekonomi yang
pesat sebagai salah satu syarat penunjang pembangunan nasionalnya. Sebagaimana kita
ketahui bahwa sejak ASEAN berdiri, praktis tidak pernah terjadi konflik terbuka di antara
negara-negara yang bertetangga dengan ASEAN. Berbeda dengan situasi sebelum ASEAN
terbentuk, berbagai ketegangan, konflik maupun konfrontasi; mewarnai kawasan ini. Dalam
hal ini ASEAN telah berhasil menata hubungan bertetangga dengan baik di antara sesama
anggotanya. Keberhasilan tersebut tentunya tidak berjalan dengan sendirinya, karena ada
faktor yang mendorongnya, yaitu faktor kerjasama ekonomi dan fungsional yang ber-spill
overdalam menciptakan hubungan damai.
Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967, negara-negara
anggota telah meletakan kerjasama ekonomi sebagai salah satu agenda utama yang perlu
dikembangkan. Pada awalnya kerjasama ekonomi difokuskan pada program-program
pemberian preferensi perdagangan (preferential trade), usaha patungan (joint venture), dan
skema saling melengkapi (complementation scheme) antar pemerintah engara-negara
anggota maupun pihak swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan
(1967), Preferential Trading Arrangement (1977), ASEAN Industrial Complementation
scheme (1981), ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983), dan Enhanced Preferential
Trading Arrangement (1987). Pada dekade 80-an dan 90an ketika negara-negara di berbagai
belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan
ekonomi, negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama
adalah dengan saling membuka perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi
kawasan.
Pada KTT Ke-5 ASEAN di Singapura tahun 1992 telah ditandatangani Framework
Agreement on Enhancing ASEAN Economic cooperation menandai dicanangkannya
ASEAN Free trade area (AFTA) dan pada tanggal 1 Januari 1993 memberlakukan Common
Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai mekanisme utamanya. Pendirian AFTA
memberiksn implikasi dalam bentuk pengurangan dan eliminasi tarif, penghapusan
hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap kebijakan-kebijakan fasilitasi
perdagangan. Dalam perkembangannya, AFTA tidak hanya difokuskan pada liberalisasi
perdagangan barang, tetapi juga perdagangan dan investasi. Ada anggapan bahwa dampak
AFTA terhadap perdagangan intra ASEAN sangat minimal, sebab selama 15 tahun terakhir
perdagangan intra ASEAN tetap saja berkisar antara 20-25 persen dari seluruh perdagangan
ASEAN. Tetapi penilaian seperti ini kurang tepat. Yang lebih penting untuk diamati adalah
tingkat pertumbuhan perdagangan ASEAN secara keseluruhan yang mencapai 20-30 persen
pertahun. Kawasan ASEAN merupakan kawasan ekonomi yang terbuka bagi dunia dan
mengandalkan pertumbuhannya pada pasar global dan bukan pasar regional. AFTA memang
tidak dimaksudkan untuk menciptakan pasar regional bagi negara-negara ASEAN sendiri,
tetapi untuk membuat kawasan ASEAN menjadi yang menarik bagi produksi dunia(open
regionalism).Disamping AFTA, pada tahun 1995 ASEAN juga telah menyepakati ASEAN
Framework Agreement on Services (AFAS) untuk membuka pasar jasa-jasa di kawasan
ASEAN. Pada tahun 1996 ASEAN mengembangkan skema kerjasama baru dibidang
industri yaitu ASEAN Industrial Cooperation (AICO), dimana insentif yang diberikan
sebatas pada pemberian preferensi tarif yang semakin berkurang, artinya karena menurunnya
tarif MFN. Selanjutnya pada tahun 1998 ASEAN menandatangani kesepakatan baru, yaitu
Framework Agreement on ASEAN Investment Area (AIA), yang dimaksudkan untuk
membuat ASEAN menjadi suatu kawasan investasi yang kompetitif, terbuka dan liberal
melalui suatu persetujuan yang mengikat(Soesastro, 2007 : 316-317). KTT ke-9 ASEAN di
Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan komunitas ASEAN yang salah satu pilarnya
adalah Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). AEC bertujuan untuk menciptakan pasar
tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan bebasnya aliran barang, jasa, investasi,
tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas. (ASEAN Selayang
pandang: 2007: 42). Kesepakatan ini dapat dilihat sebagai perombakan baru dalam
perjalanan kerjasama dan integrasi ekonomi ASEAN. Ia bukan sekedar lanjutan
logis (Logical extension) dari AFTA, AFAS dan AIA, tetapi dengan jelas mengarah kepada
pembentukan pasar tunggal (Single Market) ASEAN. Dalam rumusan yang disepakati para
pemimpin ASEAN, tujuan dari AEC adalah untuk menciptakan a single market and
production base. Ini dapat diartikan sebagai integrasi penuh, kecuali di bidang keuangan dan
moneter.
Kerjasama ekonomi yang ber-spilover kepada penciptaan hubungan damai (economic road
towards peace and stability) diawali dengan ditandatanganinya deklarasi ZOPFAN hingga
munculnya dua dokumen monumental yang menjadi tonggak dalam kerjasama keamanan
(security road towards peace and stability) pada KTT I di Bali 1976, dokumen tersebut
antara lain adalah ASEAN Concord 1 dan TAC (Treaty of Amity and
Cooperation) sebagai code of conduct. Pada kenyataannya kerjasama dalam bidang
keamanan diantara negara-negara anggota ASEAN merupakan perpaduan antara kebijakan
keamanan nasional masing-masing negara anggota dalam satu pengaturan tatanan regional
yang pada akhirnya membentuk ketahanan regional (regional resilience). Komponen
internal dalam doktrin ketahanan regional pada prinsipnya merupakan upaya membina rasa
saling pengertian dan kepercayaan dalam kehidupan antar negara (confidence building
measures). Komponen eksternal yang membentuk doktrin ketahanan regional adalah
perwujudan dari semangat kemandirian ASEAN dari campur tangan negara-negara luar
kawasan. Secara substansial doktrin ketahanan regional (regional resilience), pada umumnya
menganggap campur tangan pihak luar dalam urusan internal kawasan sebagai faktor
penyebab instabilitas (Anggoro, 1996 : 133-134).
Dibawah ini terdapat uraian dari bentuk-bentuk kerjasama ekonomi dan fungsional yang
pada perkembangannya ber-spill over dalam kerjasama dalam menciptakan hubungan damai
:
a) Deklarasi Zone of Peace, Freedom, and Neutrality (ZOPFAN)
Deklarasi ZOPFAN 1971 di Kuala Lumpur merupakan komitmen politik dan kerjasama
politik dan keamanan ASEAN untuk pertama kalinya dalam sejarah ASEAN, meskipun
ASEAN di design untuk wadah kerjasama ekonomi, sosial dan budaya saja. Deklarasi
ZOPFAN terdiri dari dua bagian pokok, pendahuluan dan dua paragraf pokok. Pada paragraf
pertama menyatakan bahwa negara-negara ASEAN bertekad menjamin pengakuan dan
penghormatan atas suatu Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai, bebas dan netral
terlepas dari campur tangan kekuatan luar. Paragraf ke-2 menyatakan keinginan negara -
negara Asia Tenggara memperluas bidang kerjasama untuk memupuk kekuatan, solidaritas
dan hubungan yang lebih erat dengan sesama negara kawasan.
Dengan demikian ZOPFAN merupakan strategi besar untuk membina ketahanan regional
dan untuk membebaskan diri dari campur tangan pihak luar, baik dengan menggalang
kekuatan intra kawasan maupun mengatur keterlibatan negara-negara luar kawasan di Asia
Tenggara. Konsep ZOPFAN sebenarnya merupakan kompromi dari berbagai pendapat
negara anggota ASEAN khususnya Indonesia dan Malaysia. Prakarsa netralitas ASEAN
oleh Malaysia dilatar belakangi dengan pertimbangan politik domestik kerusuhan berdarah
di Malaysia tahun 1969. Konflik rasial ini dikhawatirkan akan mengundang perhatian China
karena banyaknya warga Malaysia keturunan Cina. Malaysia berharap agar prinsip netralitas
tersebut bisa menghalangi Cina melakukan campur tangan terhadap urusan dalam negeri
Malaysia. Sementara Indonesia menerjemahkan ZOPFAN sebagai netralitas ASEAN dari
kerjasama militer dengan negara-negara barat. Adalah ironis kerjasama militer antara
Malaysia, Singapura, Inggris, Australia, dan Selandia Baru yang tergabung dalam Five
Powers Defence Arrangement (FPDA), ditandatangani pada tahun yang sama dengan
lahirnya konsep ZOPFAN pada tahun 1971 (Anwar, 1993 : 324). Di dalam deklarasi
ZOPFAN terdapat berbagai langkah prosedural dan strategis untuk memenuhi tuntutan
tersebut yang secara keseluruhan bukan hanya memusatkan perhatiannya pada perlucutan
senjata atau pencegahan profilerasi nuklir melainkan meliputi juga kerjasama politik,
ekonomi dan fungsional lainnya. ZOPFAN bisa mengurangi kebutuhan akan intervensi
militer langsung negara-negara besar, dan yang lebih penting lagi, menghindarkan negara-
negara kecil mengundang atau mempropokasi keterlibatan negara-negara besar dalam
masalah-masalah bilateralnya
b) ASEAN Concord I
Perubahan situasi politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara yang ditandai dengan
penarikan tentara AS dari Vietnam Selatan mulai 1973 dan kemenangan Vietnam Utara atas
Vietnam Selatan pada tahun 1975 telah mengubah konfigurasi politik dan keamanan di Asia
Tenggara. Peristiwa ini mendorong para pemimpin ASEAN untuk menilai kembali situasi
Asia Tenggara dan mempertegas maksud dan tujuan pembentukan ASEAN. Para pemimpin
ASEAN sepakat untuk mengadakan KTT I di Bali, 23-25 Febuari 1976 untuk membahas
perubahan tersebut dan merumuskan langkah dan sikap strategis ASEAN. Pertemuan
tersebut menjadi momen penting dalam evolusi kerjasama keamanan ASEAN. KTT I yang
berlangsung di Bali dikemudian hari lebih dikenal sebagai Bali Concord I melahirkan dua
dokumen, yaitu; Deklarasi Kesepakatan ASEAN (Declaration of ASEAN Concord) dan
Perjanjian Persahabatan (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia).
Kedua dokumen tersebut mencerminkan penegasan kembali komitmen negara-negara
ASEAN terhadap; Deklarasi Bandung, Deklarasi Bangkok, Deklarasi ZOPFAN, dan Piagam
PBB, serta menegaskan tekad negara-negara ASEAN untuk meningkatkan perdamaian,
kemajuan, kemakmuran dan kesejahteraan negara-negara ASEAN, melalui upaya stabilitasi
politik kawasan Asia Tenggara
c) Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ) atau Kawasan Bebas Senjata
Nuklir Asia Tenggara (KBSN-AT)
Langkah strategis yang kemudian tertuang dalam program aksi ZOPFAN menggaris bawahi
pentingnya pembentukan suatu Kawasan Bebas Senjata Nuklir (KBSN) di Asia Tenggara.
Kawasan Bebas Senjata Nuklir (KBSN) terbentuk pada KTT ASEAN ke 5 di Bangkok 18
Desember 1996. Perlucutan senjata khususnya senjata nuklir, merupakan hal yang sulit dan
kompleks, sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif dan beragam, yang
mencakup pendekatan global maupun regional. Pembentukan suatu KBSN pada umumnya
dianggap sebagai upaya pengawasan senjata atau non proliferasi regional (regional arms
control and non profileration measures), dengan tujuan memberikan keamanan yang lebih
baik bagi negara-negara di kawasan dengan tidak membiarkan negara-negara kawasan untuk
memiliki senjata nuklir. Pembentukan KBSN memperkuat NPT (Non profileration treaty)
karena secara tegas melarang penempatan senjata nuklir di suatu kawasan oleh negara-
negara luar kawasan. Negara-negara penandatangan juga berharap melalui pengaturan
semacam ini mereka dapat menjauhkan diri dari semua aktivitas nuklir yang berhubungan
dengan negara-negara nuklir sehingga tidak terseret dalam persaingan negara-negara besar.
Adanya ketentuan bagi negara-negara nuklir untuk memberikan jaminan untuk tidak
menggunakan atau mengancam untuk menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara
non nuklir.
d) Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) dan Perluasannya
TAC tidak dapat dilepaskan dari upaya ASEAN untuk menciptakan kestabilan dan
perdamaian Asia Tenggara, sebagaimana diserukan oleh Deklarasi Bangkok 1967 dan
deklarasi ZOPFAN 1971. Pada prinsipnya ada dua masalah pokok yang diatur oleh
dokumen-dokumen tersebut: (1) tentang hubungan internal diantara negara-negar Asia
Tenggara; dan (2) hubungan antara negara-negara Asia Tenggara dengan kekuatan eksternal.
Dari kedua masalah pokok tersebut ASEAN menegaskan bahwa keamanan dan kestabilan
kawasan Asia Tenggara hanya dapat dicapai melalui kerjasama semua negara di kawasan
dengan menekankan pentingnya pembangunan ekonomi, sosial dan budaya di masing-
masing negara sebagai dasar pembentukan ketahanan regional Asia Tenggara. Selain itu
bersamaan dengan ini, ASEAN menyatakan keingginannya untuk bebas dari keterlibatan
persaingan dan konflik-konflik negara-negara di luar Asia Tenggara.
Sedangkan TAC yang ditandatangani di Bali 1976 mentransformasikan prinsip-prinsip dan
aspirasi ASEAN yang dicantumkan dalam Deklarasi Bangkok dan ZOPFAN ke dalam suatu
bentuk perjanjian (treaty) internasional yang mengikat dan menjadikannya sebagai rule of
the game atau yang lebih dikenal sebagai code of conduct dalam interaksi intra ASEAN. Ini
mencakup antara lain: saling menghormati kemerdekaan, kedaulatan, integritas teritorial,
dan identitas nasional; hak setiap negara untuk bebas dari campur tangan kekuatan eksternal,
subversi, dan paksaan; tidak saling mencampuri urusan dalam negeri, menyelesaikan
perbedaan dan sengketa secara damai; tidak menggunakan ancaman atau kekuatan, dan
mengembangkan kerjasama regional diantara negara-negara Asia Tenggara. Karena telah
berbentuk suatu perjanjian (treaty), TAC tidak semata-mata merupakan pernyataan politik,
melainkan telah berubah menjadi instrumen legal dari ZOPFAN 1971 dan Deklarasi
Bangkok 1967(Kusumaatmadja, 1994 : 57). Dilihat dari isinya, disamping sebagai code of
conduct, TAC juga memerankan mekanisme pemecahan atau penyelesaian konflik secara
damai(Acharya, 1994 : 250). Da1am kaitan ini TAC menyerukan agar negara- negara
anggota menyelesaikan konflik dan sengketa melalui berbagai saluran, negoisasi, dan
dengan semangat persahabatan. Jika hal ini menemui jalan buntu, maka negara- negara yang
bersengketa dapat meminta menggunakan forum High Counci (Dewan Agung), yang terdiri
dari wakil-wakil Negara anggota setingkat Menteri. Mengenai negara-negara yang tidak
terlibat konflik, tetapi mereka telah menjadi pihak TAC menyatakan bahwa mereka
mempunyai hak untuk menawarkan jasa baik yang secara moral harus dipertimbangkan oleh
semua pihak yang terlibat konflik. Sayangnya sampai sekarang forum High Council ini tidak
pernah digunakan oleh negara-negara ASEAN dalam menyelesaikan konflik internal di
antara meraka.

Tabel
Kerjasama ekonomi dan fungsional yang ber-spill lover pada kerjasama dalam
menciptakan hubungan damai
No Pertemuan
Landasan Kerjasama
Ekonomi dan Fungsional
Bentuk kerjasama
Ekonomi dan Fungsional
yang ber-Spill Over dalam
Penciptaan Hubungan
Damai
1. Kuala Lumpur 1071 Implementasi pasal 2 dalam
Deklarasi Bangkok.
Penghormatan atas kedaulatan
negara-negara ASEAN dan ikut
campur dalam urusan negara-
negara ASEAN oleh negara-
negara besar/luar kawasan.
Deklarasi Zone of Peace,
Free and
Neutrality (ZOPFAN)
2. KTT I Bali 1976 Penegasan kembali komitmen
negara-negara ASEAN
terhadap; Deklarasi Bandung,
Deklarasi Bangkok, Deklarasi
ZOPFAN, dan Piagam PBB,
serta menegaskan tekad negara-
negara ASEANuntuk
meningkatkan perdamaian,
kemajuan, kemakmuran dan
kesejahteraan negara-negara
ASEAN, melalui upaya
stabilisasi politik kawasan Asia
Tenggara
ASEAN Concord I
KTT I Bali 1976 Code of conduct yang mengatur
hubungan negara-negara
ASEAN untuk meredam konflik
Treaty of Amity and
Cooperation in Southeast
Asia (TAC)
3. Bangkok 1995 Implementasi dari Deklarasi
ZOPFAN. Membebaskan
kawasan Asia Tenggara dari
senjata nuklir oleh negara-
negara nuklir.
Southeast Asia Nuclear
Weapon Free
Zone (SEANWFZ)/Kawasan
Bebas Senjata Nuklir Asia
Tenggara (KBSN-AT)
4. KTT ASEAN Singapura
1992 dan ASEAN Post
Ministerial Conference
ASEAN Ways : Kebiasaan
ASEAN dalam menyelesaikan
persoalan / perselisihan :
ASEAN Regional Forum
(ARF).Confidence building
measures,Preventive
(PMC) 1993 konsensus, non-intervention,
konsultasi, constructive
engagement.
diplomacy & Conflict
Resolution.
5. KTT IX ASEAN di Bali
2003.
Menciptakan komunitas
keamanan yang terintegrasi
dimana tidak ada lagi hubungan
kekerasan berskala besar
diantara anggotanya.
Deklarasi Bali Concord II
2003
- ASEAN Security
Community
- ASEAN Sosio
Cultural Community
- ASEAN Economic
Community
6. KTT XIII ASEAN di
Singapura 2007.
Merupakan transformasi asean
untuk dapat menjadi organisasi
yang lebih efektif dan dinamis
serta lebih mengakar ke bawah
(people center organization).
- Ditandatanganinya
Piagam Asean yang
merupakan wujud
dari shaping and sharing of
norms dari PoA ASC
1. C. Nilai-nilai Bersama yang Mendorong Kerjasama dan Membangun Institusi
Multilateral.
Negara -negara dapat menciptakan dan menggabungkan (consolidate) komunitas keamanan
melalui upaya yang disengaja dengan membangun nilai-nilai bersama multilateral
menyebarkan nilai-nilai bersama dan berkontribusi untuk mengembangkan kebiasaan untuk
kerjasama serta menyediakan mekanisme penyelesaian persengketaan secara damai.
Nillai-nilai bersama merupakan nilai intrinsik atau nilai yang terekspresikan dari perasaan
bersama yang bersumber dari warisan budaya, peninggalan sejarah, pengalaman proses
pembentukan negara, yang kemudian membentuk suatu identitas kolektif, setelah melewati
pelbagai tantangan dan hambatan secara bersama pula untuk saling mengerti dan memahami
yang memakan waktu tidak sebentar, serta memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit
antar sesama anggota dari segi materil, maupun non materil. Selain dari apa yang di kenal
sebagai µASEAN Way¶ untuk menyelesaikan berbagai perselisihan yang terjadi di kawasan,
seperti : prinsip konsultasi, komporomi, dan consensus (musyawarah-mufakat), terdapat
paling tidak empat norma dan prinsip dasar yang juga telah menjadi nilai-nilai bersama dan
melandasi kehidupan ASEAN. Pertama, menentang penggunaan kekerasan dan
mengutamakan solusi damai. Kedua, otonomi regional. Ketiga, Prinsip tidak mencampuri
urusan negara lain (non-interfence). Keempat, Menolak pembentukan aliansi militer dan
menekankan kerjasama pertahanan bilateral (Acharya, 2001 : 45-46). Kepatuhan negara
anggota ASEAN untuk melaksanakan norma, prinsip, dan nilai bersama tersebut telah
membuat tidak adanya konflik berskala besar antar anggota ASEAN sejak 1967, dan
menguatnya keinginan mereka untuk meningkatkan kerjasama dan membangun institusi
keamanan yang bersifat multilateral. Komunitas keamanan di sebuah kawasan
mensyaratkan integrasi politik dan ekonomi pada tingkat paling tinggi sebagai prekondisi
yang dibutuhkan bagi terciptanya hubungan damai. Asumsinya berasal dari pemahaman
tentang adanya konsep spillover, yang percaya bahwa kerjasama diantara aktor-aktor
nasional independen didalam kawasan yang bersifatlow politics, seperti ekonomi dan
perdagangan, dapat secara bertahap ber-spillover (melebar atau melimpah) menciptakan
kebutuhan bersama di antara mereka untuk melakukan kerjasama pada wilayah politik dan
keamanan atau high politics (Acharya, 2003).
Nilai-nilai bersama yang telah dibentuk dan dikembangkan ASEAN yang menjadicorner
stone dalam hubungan intra ASEAN yang pada perkembangannya telah berubah
menjadi milestone dalam roadmap baru kerjasama ASEAN, setelah berhasil melewati
berbagai tantangan dan batu ujian, antara lain adalah :
a) Deklarasi Bangkok 1967
b) Deklarasi ZOPFAN 1971
c) Deklarasi Bali Concord I 1976
d) Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) dan amandemenamandemen
TAC (Protokol Manila) untuk perluasan aksesi TAC sebagai Code of Conduct oleh Negara-
Negara luar kawasan.
e) ASEAN Ways
f) Bali Concord II 2003
g) Deklarasi Hanoi beserta rencana aksinya yang meliputi; the Initiative
for ASEANIntegration (IAI) dan the Rodmap for the Integration of ASEAN (RIA)
h) Vientinne Action Programme (VAP) 2004
i) ASEAN Charter 2007
Tabel
Nilai-nilai bersama yang mendorong terbentuknya institusi multilateral
No. Pertemuan Nilai-nilai bersama Kerjasama/Institusi
Multilateral
1. Kuala Lumpur 1971 Imlementasi pasal 2 dalam
Deklarasi Bangkok
Zone of Peace, Free and
Neutrality(ZOPFAN)
Deklarasi ZOPFAN
2. Bangkok 1995 Implementasi dari Deklarasi
ZOPFAN
Southeast Asia Nuclear
Weapon Free Zone
(SEANWFZ)/Kawasan bebas
Senjata Nuklir Asia Tenggara
(KBSN-AT)
3. KTT I Bali 1976 ASEAN Concord dan Code
of Conduct
Protokol Manila
(amandemen-amandemen
TAC)
Treaty of Amity and
Cooperaton(TAC)
Perluasan aksesi TAC
sebagaiCode of Conduct Asia
Pasifik oleh negara anggota
ARF
4. KTT ASEAN
Singapura 1992 dan
ASEAN Post
Ministerial Conference
(PMC) 1993
ASEAN Ways ASEAN Regional Forum
(ARF).Confidence building
measures,diplomasi preventif
dan mekanisme penyelesaian
sengketa.
5. KTT APEC 1993 Liberalisasi perdagangan dan
investasi
Asia Pacific Economic
Cooperation(APEC)
6. Bangkok Maret 1996 Penemuan ketentuan-
ketentuan yang diatur oleh
WTO dan prinsip pasar
bebas, sistem perdagangan
mutilateral terbuka,
liberalisasi ekonomi non
diskriminatif dan ekonomi
terbuka. Membangun saling
percaya melalui ekonomi dan
perdagangan
Asia Europe Meeting (ASEM)
7. 1997 Memperkuat integrasi
ekonomi dengan Asia
Timur. Towards and
Economic and Security
community.
Kemitraan strategis ASEAN
+3 (Asia Timur)
8. AMM Hanoi-Vietnam
23 July 2001
Deklarasi Hanoi, IAI dan
RIA sebagai plan of
action untuk memperkecil
kesenjangan pembangunan
Visi ASEAN Economic
Integration
diantara anggota-anggota
baru (CLMV) dengan
anggota lama. Visi ASEAN
2020
9. ASEAN/Bali Concord
II
Road map baru kerjasama
ASEAN, mengelaborasi visi
ASEAN 2020 dengan
merencanakan batu loncatan
yang konkrit untuk meraih
tujuan-tujuan komunitas
ASEAN yang lebih luas dan
komprehensif
Integrasi ASEAN menjadi
ASEANCommunity dan
membentuk tiga pilar
kerjasama di bidang ekonomi,
sosial-budaya dan keamanan
10. KTT VIII ASEAN di
Phnom Penh,
November 2002
Ancaman terbesar terhadap
keamanan dan perdamaian
internasional dan merupakan
tantangan langsung bagi
pencapaian suatu kawasan
ASEAN yang lebih damai
dan makmur serta realisasi
visi ASEAN 2020.
- ASEAN-USA
Join Declaration for
Cooperation to Combat
International
Terrorism, Brunei 1 August
2002.
- ASEAN & China Joint
Declaration on Cooperation in
the Field of Non Traditional
Issues, Phonm Penh 4
November 2002.
- MoU between ASEAN &
RRCon Coooepration in the
Field of Non Traditional
Issues, Bangkok
10 January 2003
- Joint Declaration on
Cooperation to Combat
Terrorism, Brussels 27 January
2003.
- ASEAN-India Joint
Declaration for Cooperation to
Combat Internatinal
Terrorism, Bali 8 October
2003
- Australia-ASEAN Joint
Declaration for Cooperation to
Combat International
Terrorism, 2004
- ASEAN-Russion
FederationJoint Declaration
for Coooperation to Combat
International Terrorism, 2004
11. KTT VIII ASEAN di
Phnom Penh,
November 2002
Ancaman terbesar terhadap
keamanan dan perdamaian
internasional dan merupakan
tantangan langsung bagi
pencapaian suatu kawasan
ASEAN yang lebih damai
dan makmur serta realisasi
visi ASEAN 2020
- ASEAN-USA Joint
Declaration for Cooperation to
Combat International
Terrorism, Brunei 1 August
2002.
- ASEAN & China Joint
Declaration on Cooperation
12. KTT VIII ASEAN di
Phnom Penh,
November 2002
Ancaman terbesar terhadap
keamanan dan perdamaian
internasional dan merupakan
tantangan langsung bagi
pencapaian suatu kawasan
ASEAN yang lebih damai
dan makmur serta realisasi
visi ASEAN 2020
- ASEAN-USA Joint
Declaration for Cooperation to
Combat International
Terrorism, Brunei 1 August
2002.
- ASEAN & China Joint
Declaration on Cooperation
13. KTT IX ASEAN di
Bali 2003.
Menciptakan komunitas
keamanan yang terintegrasi
dimana tidak ada lagi
hubungan kekerasan berskala
besar diantara anggotanya.
Deklarasi Bali Concord II 2003
- ASEAN Security
Community
- ASEAN Sosio Cultural
Community
- ASEAN Economic
Community
14. KTT XIII ASEAN di
Singapura 2007.
Merupakan transformasi
asean untuk dapat menjadi
organisasi yang lebih efektif
dan dinamis serta lebih
mengakar ke bawah (people
center organization).
- Ditandatanganinya
Piagam Asean yang terdiri dari
: Pembukaan, 13 Bab dan 55
Pasal
1. 2. Plan of Action ASEAN Security Community
Perkembangan yang sangat dinamis baik di lingkungan ASEAN, kawasan maupun global
membawa tantangan-tantangan baru yang kompleks bagi ASEAN. Hal ini mendorong
ASEAN untuk melangkah maju kearah ASEAN Way to Conflict Resolution dari sekedar
ASEAN Way to conflict Management. Dalam konteks ini, adalah penting kiranya bila kita
dapat melihat pengembangan langkah-langkah konkret dan praktis untuk mewujudkan
ASEAN Security Community, yang didefinisikan sebagai :
³A Security Community exists when a group of countries have forged a sense of collective
identity, meaning the will settle differences without resorting to force. The mantra here is
renunciation of the use or threat of force. In this regard, it is important for ASEAN to
develop a higher of confidence and trust, by which members no longer perceive threats as
coming from within the community´. (Wibisono, 2006:202)
Melalui pembentukan ASEAN Security Community (ASC), negara ASEAN mengharapkan
terciptanya ketertiban regional sehingga memperkuat ketahanan nasional dan pada saat yang
bersamaan mendukung perdamaian dan keamanan dunia. Ketertiban regional sehingga
memperkuat ketahanan nasional dan pada saat yang bersamaan mendukung perdamaian dan
keamanan dunia. Ketertiban regional tersebut akan bertumpu pada norma dan aturan
hubungan baik antar negara, pencegahan konflik yang efektif, mekanisme resolusi dan
pembangunan perdamaian pasca konflik.
Perwujudan Komunitas Keamanan ASEAN memerlukan komitmen politik yang kuat dari
seluruh anggota. Di sini, Komunitas Keamanan ASEAN tidak perlu diartikan sebagai
komunitas pertahanan yang mengedepankan kerjasama militer, tetapi keamanan dalam arti
komprehensif yang menekankan pada kerjasama membangun tata pergaulan antar negara
dan mekanisme penyelesaian konflik di kawasan. Konsep komunitas keamanan merupakan
upaya untuk membangun rasa kebersamaan ASEAN sebagai satu keluarga yang memiliki
norma dan tata berinteraksi yang disepakati bersama.
Model kcamanan konvensional ASEAN yang berkisar pada non-intervensi yang mendasari
ASEAN Way dihadapkan pada model keamanan yang sangat luas dan tidak konvensional
lagi, yakni model keamanan manusia dan upaya untuk melibatkan masyarakat luas dalam
kegiatan ASEAN. Obyek keamanan ASEAN didorong agar bergeser dari negara menuju ke
perorangan. Kendati keamanan manusia dijunjung tinggi oleh berbagai kalangan terutama
kalangan civil society, tetapi ia kurang mendapat dukungan luas diantara elite politik
ASEAN. Para elite politik ASEAN tidak mudah menerima, bahwa agenda keamanan
internasional yang berpusat pada keamanan manusia dengan begitu saja menggantikan
keamanan konvensional yang berpusat pada negara. Negara-negara besar pun juga masih
tetap berpegang pada sasaran politik luar negeri yang realis untuk mendukung dan
mempertahankan kepentingan nasionalnya masing -masing.
Sampai kini memang belum tampak dengan jelas upaya pemimpin-pemimpin ASEAN
untuk menggeser postulat keamanan konvensionalnya kepada postulat keamanan non
konvensional yang lebih berorientasi pada kesejahteraan perorangan. Masih sedikit para
pemimpin ASEAN menggunakan konsep sosial-ekonomi sebagai bagian dari agenda
keamanannya. Para menteri ASEAN masih saja menekankan prinsip konsensus dan non
intervensi terhadap masalah dalam negeri negara lain.
Masalah keamanan manusia secara konsepsional menghantam prinsip non intervensi dan
memunculkan kembali perdebatan tentang intervensi dan non intervensi terhadap masalah
dalam negeri negara anggota. Prinsip non intervensi dalam hal ini harus dapat
diintepretasikan lebih longgar dalam menghadapi tantangan-tantangan baru di millennium
ketiga ini, yang memungkinkan terciptanya dialog secara mendalam dan kerjasama-
kerjasama dalam isyu-isyu seputar keamanan manusia. Kecendrungan ini menuntut adanya
pergeseran fokus keamanan dari pertahanan perbatasan nasional menuju pada keamanan
manusia. Pendekatan ini bukan berarti pertahanan kedaulatan nasional sudah tidak relevan
lagi. Keamanan manusia memberikan arti bahwa batas-batas nasional tidak lagi menjadi
benteng pertahanan satu-satunya.
Melalui konsep komunitas keamanan, negara-negara anggota diharapkan dapat membahas
secara terbuka terhadap isyu-isyu yang sensitif yang biasanya dibahas secara ´sembunyi-
sembunyi´ atau dikenal dengan istilah ³swept under the carpet´ tanpa meninggalkan
prinsip non interference. Langkah awal untuk membuka belenggu ini telah dilakukan pada
saat pertemuan AMM ke-36 di Phnom Penh pada bulan Juni 2003, ketika Indonesia
memberikan penjelasan soal Aceh dan Myanmar memberikan penjelasan tentang Aung San
Suu Kyi secara sukarela.
Komunitas Keamanan ASEAN /ASEAN Security Community (ASC) menjembatani aspirasi
ASEAN untuk mendapatkan perdamaian, stabilitas, demokrasi dan kemakmuran di dalam
lingkungan regional dimana negara-negara anggota ASEAN hidup dengan damai satu sama
lain dan dengan dunia luas dalam lingkungan yang adil demokratis dan harmonis. ASC
menjelaskan prinsip dari keamanan komprehensif yang mengenal kesalingtergantungan yang
tinggi akan politik, ekonomi dan kehidupan sosial dari lingkungan regional. Terlebih, ASC
juga memandang stabilitas politik dan sosial, kemakmuran ekonomi dan kesejajaran
Pembangunan sebagai dasar yang kuat untuk komunitas ASEAN, dan akan sesuai dalam
mencapai program-program yang akan terbangun atas dasar-dasar ini.
Komunitas Keamanan ASEAN tidak perlu diartikan sebagai komunitas pertahanan yang
mengedepankan kerjasama militer, tetapi keamanan dalam arti komprehensif yang
menekankan pada kerjasama membangun tata pergaulan antar negara dan mekanisme
penyelesaian konflik di kawasan. Konsep komunitas keamanan merupakan upaya untuk
membangun rasa kebersamaan ASEAN sebagai satu keluarga yang memiliki norma dan tata
berinteraksi yang disepakati bersama.
Komunitas keamanan berbeda dengan rejim keamanan yang mensyaratkan adanya kekuatan
eksternal dan mengandalkan perimbangan (balance of power) serta tidak dimaksudkan untuk
membentuk organisasi pertahanan. Selain itu penolakan atas penggunaan atau ancaman
penggunaan kekuatan bersenjata harus menjadi dasar bagi Komunitas Keamanan ASEAN.
Hal ini menunjukan bahwa sengketa konflik diantara negara anggota akan diselesaikan
melalui cara damai dengan demikian ASEAN wajib adanya untuk mengubah posturnya
menjadi institusi resolusi konflik.Pada lingkup eksternal, Komunitas Keamanan ASEAN
akan menyumbangkan kemajuan perdamaian dan keamanan di wilayah Asia Pasifik,
memperkuat peran ASEAN sebagai kekuatan pendorong dari ASEAN Regional Forum
(ARF) dan terus mengembangkan keterikatan ASEAN dengan negara-negara partner dialog
dan sahabat.
Sebagaimana dimandatkan oleh KTT ASEAN ke-9 di Bali, Plan of Action (PoA)diperlukan
untuk merealisasikan ASC. Dalam hal ini, Indonesia telah menyusun draf ASCPlan of
Action dan menyampaikan kepada negara-negara anggota ASEAN. Pada ASEAN SOM
tanggal 26-27 Juni 2004, draf ASC PoA telah berhasil diterima oleh negara-negara anggota
draf ASC PoA selanjutnya telah mendapatkan persetujuandari PTM ASEAN ke-37 tanggal
30 Juni 2004 untuk selanjutnya disahkan oleh KTT ASEAN ke-10 di Vientiane pada
November 2004.
Dari segi substansi, ASC PoA terdiri dari dua bagian yaitu Introduction dan Areas of
Activities. Introduction merupakan bagian pendahuluan yang mengantarkanAreas of
Activities. Areas of activities memuat Annex atau lampiran yang berisi langkah-langkah rinci
untuk melaksanakan ASC. ASC PoA terdiri dari enam komponen utama yaitu : (1) Political
Development : (2) Shaping and Sharing of Norms, (3) Conflict Prevention, (4) Conflict
Resolution, (5) Postconflict Peace Building, (6) Implementing Mechanisms, sesuai aksi
pembangunan politik yang adil, demokratik, dan harmonis telah dijabarkan pada masing-
masing persoalan dalam timeline final, seperti misalnya Piagam ASEAN tahun 2006,
ASEAN-PKF (ASEAN-Peace Keeping Force) tahun 2012, dan Pembanguna Politik tahun
2017.
1. Political Development
Dalam mendukung komitmen kita untuk mengembangkan lingkungan politik dimana
negara-negara anggota ASEAN memiliki kesetiaan untuk jalan-jalan damai dalam
menyelesaikan perbedaan-perbedaan intra-regional dan memperhatikan keamanan individu
mereka sebagai dasar keterkaitan dan dibatasi oleh lokasi geografis, visi bersama dan nilai
bersama, berdasarkan dari hal tersebut maka strategi untuk pengembangan politik adalah
1. Memajukan kesepemahaman dan penghargaan akan sistem politik, kultur dan sejarah
dari negara-negara anggota melalui peningkatan hubungan antar masyarakat dan
kegiatan track-two
2. Memajukan HAM dan kewajiban-kewajiban
3. Meletakan dasar-dasar untuk mendirikan kerangka kerja institusi untuk memfasilitasi
informasi bebas diantara negara-negara anggota ASEAN
4. Mendirikan program-program untuk saling mendukung dan mendorong diantara negara-
negara anggota ASEAN dalam pengembangan strategi untuk memperkuat aturan hukum,
sistem pengadilan dan infrasuktur legal, pelayanan publik yang efektif dan efisien, dan
pemerintahan yang baik di sektor publik dan swasta.
5. Meningkatkan partisipasi organisasi-organisasi non-pemerintah seperti ASEAN Inter -
Parliamentary Organisation (AIPO), ASEAN People¶s Assembly (APA), ASEAN
Business Advisory Council (ABAC), ASEAN Institute for Strategic and International
Studies (ISIS) dan akademisi, khususnya jaringan universitas ASEAN (AUN), dalam
memajukan inisiatif pembangunan politik ASEAN dan memperkuat peran dasar
ASEAN; dan
6. Mencegah dan memerangi korupsi
Pada elemen Political Development, kegiatan diarahkan untuk mempromosikan
pembangunan politik, termasuk penciptaan lingkungan yang adil, demokratis dan harmonis.
Isu-isu yang tercakup dalam elemen ini, antara lain : memperkuat lembaga-lembaga
demokrasi dan partisipasi rakyat, mempromosikan pengertian dan pengharagaan terhadap
sistem politik, budaya dan sejarah dari negara-negara anggota, menegakkan hukum dan
sistem peradilan, memajukan arus informasi yang bebas diantara negara-negara ASEAN,
meningkatkan good governance baik di sektor publik maupun swasta, memperkuat civil
service secara efisien dan efektif, mencegah dan memerangi korupsi, mempromosikan hak
dan kewajiban asasi manusia, mendirikan jaringan HAM dan mekanisme yang telah ada,
mempererat hubungan antar masyarakat. PoA ASC dibidang political development ini
sangat sulit karena terkait dengan prinsip non-interfensi dan konsensus yang masih melekat
kuat dalam diri ASEAN. Rencana pembangunan politik bisa berhasil sebagai rencana aksi
penerapan ASC bila sistem voting dipakai sebagai mekanisme pengambilan keputusan dalam
tubuh ASEAN. Dan yang lebih penting prinsip non-interfensi harus dirubah dan
dikembangkan sesuai dengan semangat perubahan
1. B. Shaping and Sharing of Norms
Dalam upaya kontribusi untuk membangun tanggung-jawab bersama dan membentuk
sebuah standar atau ketaatan terhadap norma-norma perilaku yang baik akan demokratis,
toleransi, kepartisipasian dan komunitas terbuka sebagai tujuan untuk menkonsolidasi dan
memperkuat solidaritas ASEAN, kepaduan dan harmoni (rasa kekitaan/we feeling). Strategi-
strategi untuk membentuk dan berbagi norma-norma termasuk:
1. Melahirkan ASEAN Charter
2. Mendorong aksesi TAC oleh negara-negara non-ASEAN
3. Menjamin implementasi penuh akan Declaration on the Conduct (DOC) dari negara-
negara di laut Cina Selatan dan bekerja menuju pengadopsian code of conduct regional
di laut cina selatan.
4. Bekerja menuju penyesaian isu-isu yang mengemuka untuk menjamin penandatanganan
negara-negara nuklir terhadap isi perjanjian SEANWFZ; dan
5. Bekerja menuju terciptanya perjanjian gotong royong legal (mutual legal assistance) dan
konvensi ASEAN dalam menangkal terorisme, dan penyusunan perjanjian ekstradisi
ASEAN sebagaimana dipertimbangkan oleh Declaration of ASEAN Concord.
6. Mengembangkan ASEAN Mutual Legal Assistance (MLA) Agreement, membentuk
kelompok kerja mengenai ASEAN Extradition Treaty yang berada dibawah tanggung
jawab ASEAN Senior Law Officials Meeting (ASLCM),
mengimplementasikan Declaration on the Conduct of parties in the South China
Sea(DoC), dan menyusun ASEAN Convention on Counter Terrorism.
Pada elemen ini, PoA ASC dinilai berhasil telah ditandatanganinya ASEAN Charter pada
KTT Ke-13 ASEAN di Singapura tahun 2007. Selain itu, Treaty on Mutual Legal Assistance
in Criminal Matters (MLAT) yang telah ditandatangani oleh seluruh negara anggota ASEAN
memberikan peluang untuk mengepung kerjasama hukum yang lebih kongkrit, terutama
dalam pemberian bantuan hukum timbal balik dibidang pidana(Swajaya, 2006 : 15)..
1. C. Pencegahan konflik (conflict prevention)
Dipandu oleh prinsip yang terartikulasi di TAC yang merupaikan kunci utama code of
conduct ASEAN mengatur hubungan-hubungan antara negara dan kunci dari instrument
diplomasi untttk memajukan perdamaian dan stabilitas di wilayah regional, maka strategi-
strategi untuk pencegahan konflik adalah :
1. Memperkuat CBMs melalui peningkatan kesempatan untuk pertukaran dan interaksi
diantara pejabat militer dan antara pejabat militer dengan masyarakat sipil, dan
memajukan pertukaran relawan pengamat pada pelatihan-pelatihan militer.
2. Memajukan lebih luas lagi transparansi dan kesepahaman akan kebijakan pertahanan dan
persepsi ancaman melalui publikasi dan pertukaran buku putih pandangan keamanan
atau pertahanan diantara negara-negara anggota ASEAN, dan pertemuan para relawan
untuk pengembangan politik dan keamanan di wilayah regional.
3. Mengembangkan early warning system yang didasarkan pada mekanisme yang ada
untuk mencegah peningkatan konflik dan memperkuat kerjasama untuk mengatasi
ancaman yang ditimbulkan oleh konflik perbatasan dan separatisme.
4. Memperkuat proses ARF (ASEAN Regional Forum)
5. Memerangi kejahatan lintas nasional (transnational crimes) dan masalah-masalah lintas
batas lainnya melalui aktifitas kerjasama regional, terutama kerjasama dalam isu-
isu keamanan non tradisional, seperti : kejahatan ekonomi, terorisme, kejahatan
lingkungan, pembajakan, narkotika, dan penyelundupan manusia.
6. Membentuk pencatatan persenjataan ASEAN untuk dikelola oleh sekretariat ASEAN
yang selaras dengan aktifitas yang mirip yang sedang diadakan oleh ARF, dan
7. Memajukan kerjasama keamanan maritim ASEAN.
Pada elemen ketiga ini juga dinilai cukup berhasil dalam implementasi PoA ASC. Memang
implementasi dua komponen rencana aksi ASC dari tahun 2003 (Bali Concord II) sampai
tahun 2008 sekarang ini banyak dilakukan pada komponen Conflict Prevention dan Shaping
and Sharing of Norms. Komponen conflict prevention antara lain ditandai oleh keberhasilan
ASEAN dalam menyelenggarakan ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) di tahun
2006 dan menghasilkan ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT) yang
menyediakan dasar hukum bagi kerjasama kawasan dibidang pemberantasan terorisme(Tan,
2006 : 20)
1. D. Resolusi konflik (conflict resolution)
Dalam upaya mendukung kepentingan kolektif dari seluruh negara-negara anggota untuk
solusi komprehensif akan konflik dan membangun perdamaian dan keamanan yang
langgeng dan sementara itu melanjutkan untuk menggunakan mekanisme nasional, bilateral
dan internasional untuk menyelesaikan persengketaan, strategi untuk resolusi konflik harus
terfokus pada pengembangan inovasi dan modalitas seperti :
1. Menggunakan pusat-pusat penjaga perdamaian nasional yang ada dan yang direncanakan
yang terdapat di negara-negara ASEAN untuk membangun perjanjian regional untuk
pemeliharaan perdamaian dan stabilitas.
2. Membangun berdasarkan model-model penyelesaian persengketaan pasifik yang ada
untuk memperkuat mereka dengan mekanisme tambahan seperti yang dibutuhkan.
3. Mengerjakan penelitian manajemen dan resolusi konflik bersama dan pertukaran
diantara pusat-pusat perdamaian ASEAN yang unggul.
Conflict Resolution disini dimaksudkan untuk mendorong negara-negara ASEAN dapat
memilih mekanisme regional dalam menyelesaikan konflik-konflik internalnya. Dengan
demikian diharapkan dapat mendukung kepentingan negara yang bersangkutan dan
kepentingan kolektif ASEAN. Prinsip dasarnya adalah penggunaan cara-cara damai dan
mencegah penggunaan kekerasan. Langkah-langkahnya antara lain memperkuat mekanisme
penyelesaian sengketa ASEAN, mengembangkan kerjasama regional untuk pemeliharaan
perdamaian nasional (national peace keeping centers) yang ada atau yang sedang
direncanakan, mengembangkan institusi pendukung seperti ASEAN Insitute for Peace and
Reconciliation. Menurut penulis elemen keempat ini sangat sukar dilaksanakan karena lagi-
lagi berkaitan dengan persoalanASEAN Way, terutama adanya hak untuk tidak mencampuri
urusan dalam negeri setiap negara anggota ASEAN (Prinsip non-interfensi). Sungguh
begitu, banyak yang berpendapat bahwa sudah tiba saatnya ASEAN merubah paradigmanya
dari sekedar mampu mencegah konflik untuk dapat menyelesaikan konfliknya sendiri.
Dalam bidang penyelesaian konflik, ASEAN memang telah berhasil mengelola potensi
konflik di Laut Cina Selatan menjadi potensi kerjasama yang melibatkan beberapa negara
ASEAN dan China. ASEAN dan China telah berhasil menyepakati Declaration on the
Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) yang ditujukan untuk menyelesaikan
persengketaan secara damai. DOC akan diimplementasikan melalui suatuCode Of Conduct
In The South China Sea. Dalam kaitan ini, ASEAN China Working Group on the
Impelementation of the Declaration on the conduct of parties in the South China
Seamenyepakati 6 proyek kerjasama dalam rangka Confidence Building Measures guna
mendukung implementasi DOC.
1. E. Pembangunan perdamaian pasca konflik (post conflict peace building)
Menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk perdamaian yang berkelanjutan dan mencegah
adanya kebangkitan kembali konflik yang membutuhkan ahli-ahli dan institasi multidisiplin
tertentu. Selain itu, strategi-strategi untuk pembanguuan perdamain pasca konflik adalah :
1. Memperkuat pendampingan permasalahan kemanusiaan dengan menyediakan tempat -
tempat perlindungan di era konflik.
2. Menerapkan program-program pengembangan sumber daya dan bangunan berkapasitas
di area yang mengalami rehabilitasi dan resolusi pasca pertikaian.
3. Bekerja menuju untuk membangun ASEAN pusat (pendampingan/ manajemen krisis
permasalahan kemanusiaan).
4. Mengurangi ketegangan inter-comunal melalui pertukaran pendidikan dan reformasi
kurikulum; dan
5. Meningkatkan kerjasama dalam rekonsiliasi dan peningkatan kultur perdamaian.
Perwujudan Komunitas Keamanan ASEAN pada tahun 2020, meminjam istilah Alfin
Toffler dalam bukunya Global Village tahun 1998, seperti layaknya sebuah dusun yang
terdiri dari sepuluh rumah tangga tanpa pagar dan saling bertetangga dengan baik. Hidup
rukun dengan penuh kesahajaan. Dengan kata lain, ASEAN bertransformasi dari
sekumpulan negara-negara yang berdekatan secara geografis menuju sebuah komunitas
yang memiliki identitas kolektif berdasarkan rasa ³ke-kita-an´ atau ³we feelings³.
Pada elemen ini kegiatan yang bisa dilakukan mencakup pendirian mekanisme bantuan
kemanusiaan, rekonstuksi dan rehabilitasi, mobilitas sumber daya, monitoring dan evaluasi
kegiatan pembangunan perdamaian pasca konflik. Tujuannya adalah menciptakan
menciptakan kondisi yang diperlukan untuk kesinambungan perdamaian di wilayah pasca
konflik, mencegah berulangnya konflik. Kegiatan elemen ini mencakup, antara lain
memperkuat bantuan kemanusiaan ASEAN, mencakup pengembangan kerja sama
pada Post-Conflict Reconstruction and Rehabilitation di daerah yang terpengaruh konflik,
mendirikan mekanisme untuk memobilitasi sumber daya guna memfasilitasipost conflict
peace building termasuk kerja sama dengan negara donor dan lembaga-lembaga
internasional. ASEAN Agreement on Disaster Relief and Emergency Response(AADMER),
yang antara lain memuat rencana pembentukan ASEAN Humanitarian Assistance Centre dan
pengaturan untuk pemberdayaan personel militer dan sipil dalam operasi penggulangan
bencana, telah disepakati oleh para Menlu ASEAN padaASEAN Ministerial Meeting (AMM)
ke-38, Juli 2005. Selain itu telah diselenggarakan pertemuan rutin ASEAN-UN Regional
Seminar on Conflict Prevention, Conflict Resolution and Peacebuilding serta ASEAN-
UN Rountable on ASEAN humanitarian Rapid Response Capacity untuk mengelaborasi
kemungkinan kerjasama ASEAN di bidang penciptaan perdamaian pasca konflik serta
operasi pemberian bantuan kemanusiaan (Peace Keeping Forces). Elemen terakhir dari PoA
ASC ini menurut penulis juga akan banyak mengalami kendala yang berkaitan dengan
adanya hak untuk tidak campur tangan masalah internal negara anggota ASEAN (Prinsip
non-interfensi). Masalah Timor Timur, Myanmar dan Kamboja adalah kasus-kasus yang
memiliki sensitivitas tinggi karena melibatkan negara-negara anggota ASEAN.
1. F. Beralih pada Implementing Mechanisms, elemen ini memuat mekanisme untuk
melaksanakan PoA yang mencakup beberapa kegiatan seperti pemberian wewenang
pada pertemuan Menlu ASEAN (AMM) untuk mengusulkan kebijakan dan aktifitas baru
guna memperkuat ASC, wewenang AMM untuk mengkaji kemajuan yang telah dicapai
ASC PoA, penugasan pada Sekjen ASEAN untuk membantu Ketua ASEAN dalam
memonitor dan mengkaji kemajuan implementasi ASC PoA. Guna memantau
perkembangan implementasi ASC PoA maka terdapat mata acara khusus berjudul
³Implementation of the ASC Plan of Action´ dalam setiap pertemuan AMM. Lebih jauh,
untuk meningkatkan koordinasi antar badan-badan ASEAN yang terkait dengan
implementasi Rencana Aksi Komunitas Keamanan ASEAN, telah
diselenggarakan ASEAN Security Community Plan of Action Coordinating Conference
(ASCCO) yang pertama di Jakarta pada 4-5 September 2006. Pertemuan ini menekankan
percepatan implementasi Rencana Aksi Komunitas Keamanan ASEAN di
bidang conflict resolution, post conflist peace building, good governance, combating
corruption serta promosi dan perlindungan HAM. Selain itu, disepakati perlunya
memperhatikan isu human security.
Pada elemen terakhir ini µpolitical will¶ dari para pemimpin negara-negara ASEAN mutlak
dibutuhkan untuk mewujudkannya. Sudah bukan rahasia lagi bahwa ASEAN lebih senang
mengadakan pertemuan (Meeting), workshop, atau lokakarya tapi lemah dalam
melaksanakan implementasinya.
1. 3. Kerjasama Kelembagaan ASEAN Untuk Mencapai Komunitas Keamanan
2. a. Piagam ASEAN (ASEAN Charter)
Penyusunan Piagam ASEAN bertujuan untuk menstransformasikan ASEAN dari sebuah
asosiasi politik yang longgar menjadi organisasi internasional yang memiliki legal
personality, berdasarkan aturan yang profesional (rule-based organization), serta memiliki
struktur organisasi yang efektif dan efisien. (Sukma, 2006: 52) Proses penyusunan draft
Piagam ASEAN (ASEAN Charter) diawali dengan pembentukan Eminent Persons Group
(EPG) on ASEAN Charter yang beranggotakan para tokoh terkemuka dari seluruh Negara
anggota dan diketuai oleh Tun Musa Hitam (EPG-Malaysia). Pembentukan EPG ini
Diresmikan pada KTT ke-11 ASEAN di Kuala Lumpur, Desember 2005, dengan
ditandatanganinya Kuala Lumpur Declaration on the Establishment of the ASEAN Charter.
Pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu, Filipina, Januari 2007, disepakati Cebu Declaration on
the Blueprint of the ASEAN Charter yang berisi kesepakatan untuk menyusun suatu Piagam
ASEAN berdasarkan rekomendasi EPG. Para Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN telah
memberikan arahan mengenai penyusunan Charter serta membentuk suatuHigh Level Task
Force (HLTF) on the drafting of ASEAN Charter yang beranggotakan para pejabat tinggi
dari negara-negara anggota. Piagam ini ditandatangani pada KTT ke-13 di Singapura, tahun
2007.
1. b. Traktat bantuan hukum timbal balik di Bidang Pidana (Treaty on Mutual Legal
Assistance in Criminal Mattersl MLAT)
ACTT ditandatangani pada KTT ke-12 ASEAN di Ceba, Filipina, Januari 2007,. Konvensi
ini memberkan dasar hukum yang kuat guna peningkatan kerjasama ASEAN dibidang
pemberantasan terorisme. Selain meiliki karakter regional, ACCT bersifat komprehensif
(meliputi aspek pencegahan, penidakan, dan program rehabilitas), sehingga memiliki nilai
tertentu bila dibandingkan dengan konvensi sejenis.
1. c. Konvensi ASEAN tentang pemberantasan terorisme (ASEAN Convention on
Counter Terrorism/ ACCT)
Pembentukan ADMMM merupakan inisiatif Indonesia dan bertujuan untuk mempromosikan
perdamaian dan stabilitas kawasan, melalui dialog serta kerjasama dibidang pertahanan dan
keamanan. ADMM telah mengadakan pertemuan pertamanya pada bulan Mei 2006 di
Kuala Lumpur, Malaysia. ADMM bersifat outward looking, terbuka, tranparan, dan
melibatkan Mitra Wicara ASEAN, sehingga dimasa mendatang dimungkinkan adanya
mekanisme ADMM Plus.

1. d. ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM)
Rencana pembentukan traktat ekstradisi ASEAN merupakan amanat Bali Concord 1976 dan
Rencana Aksi Komunitas Keamanan ASEAN. Para pejabat tinggi ASEAN dibidang hukum
dalam pertemuan ASEAN Senior Law Officials Meeting (ALSOM) ke-11 di Siam Reap,
Kamboja, 29-30 Januari 2007, menyepakati untuk membentuk kelompok kerja untuk
memulai proses perumusan traktat ekstradisi ASEAN.
1. e. Rencana Pembentukan Traktat Ekstradisi ASEAN
Rencana pembentukan traktat ekstradisi ASEAN merupakan amanat Bali Concord 1976 dan
Rencana aksi komunitas keamanan ASEAN. Para pejabat tinggi ASEAN dibidang hukum
dalam pertemuan ASEAN Senior Law Officials Meeting (ALSOM) ke 11 di Siem Reap,
Kamboja, 29-30 Januari 2007, menyepakati untuk membentuk kelompok kerja untuk
memulai proses perumusan traktat ekstradisi ASEAN.
1. f. Penyelesaian Sengketa Laut China Selatan
ASEAN telah berhasil mengelola potensi konflik di Laut China Selatan menjadi potensi
kerjasama yang melibatkan beberapa negara ASEAN dan China. ASEAN dan China telah
berhasil menyepakati Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea(DOC)
yang ditujukan untuk menyelesaikan persengketaan secara damai (Conflict Resolution).
DOC akan diimplementasikan melalui suatu code of conduct in the South China Sea.
Protokol ke-2 Amandemen TAC (Treaty Of Amity and Cooperation in South East Asia)yang
ditandatangani para Menteri Luar Negeri ASEAN dan Papua New Guinea di Manila, 25 Juli
1998 menjadi titik awal perluasan TAC diluar ASEAN, termasuk bagi Negara-negara yang
berada di kawasan laut cina selatan. Upaya ASEAN untuk mempertahankan perdamaian dan
stabilitas regional mengalami kemajuan pesat pada bulan Oktober 2003 dengan akses China
dan India dan TAC, pada KTT ke-9 ASEAN di Bali, 2003. Jepang dan Pakistan mengakses
TAC tanggal 2 Juli 2004 saat AMM ke-37 di Jakarta. Sedangkan Rusia dan Korea Selatan
mengaksesi pada Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ASEAN-Rusia dan PTM ASEAN-
Korsel, pada november 2004 di Vientiene, Laos. Selandia Baru dan Mongolia pada AMM
ke-38 mengaksesi TAC pada bulan Juli 2005 di Vientiane, Australia Mengaksesi TAC pada
bulan Desember 2005 di Kuala Lumpur sebelum penyelenggaraan KTT ke-11 ASEAN.
Pada KTT ke-12 ASEAN, Perancis dan Timor Leste mengaksesi TAC. Aksesi Perancis
kedalam TAC merupakan pengakuan penting salah satu negara Uni Eropa (UE) terhadap
eksistensi ASEAN dan pentingnya pengembangan kerjasama dengan ASEAN. UE juga telah
menyatakan niatnya untuk mengaksesi TAC yang menandakan kemajuan ASEAN sebagai
organisasi regional yang signifikan, khususnya bagi perkembangan kerjasama kedua
kawasan. Proses lebih lanjut menyangkut akses ini masih berkembang.
South-East Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ) Treaty ditandatangai di Bangkok pada
tanggal 15 Desember 1995 dan telah diratifikasi oleh seluruh negara ASEAN. Traktat ini
mulai berlaku pada tanggal 27 Maret 1997. Pembentukan SEANWFZ menunjukkan upaya
negara-negara di Asia Tenggara untuk meningkatkan perdamaian dan stabilitas kawasan
baik regional maupun global, dan dalam rangka turut serta mendukung upaya tercapainya
suatu pelucutan dan pelarangan senjata nuklir secara umum dan menyeluruh.
Traktat SEANWFZ ini disertai protokol yang merupakan suatu legal instrumant mengenai
komitmen negara ASEAN dalam upayanya memperoleh jaminan dari negara yang memiliki
senjata nuklir (Nuclear Weapon Stat/ NWS) bahwa mereka akan menghormati Traktat
SEANFWZ dan tidak akan menyerang negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Pada
pertemuan AMM ke 32 bulan Juli 1999 di Singapura, para Menlu ASEAN untuk pertama
kalinya mengadakan Sidang Komisi SEANWFZ. Hal ini merupakan langkah pertama
penting ke arah ditetapkannya traktat tersebut. Implementasi SEANWFZ perlu untuk segera
dilaksanakan guna mewujudkan kawasan Asia Tenggara yang aman dan stabil serta upaya
mewujudkan perdamaian dunia. Dalam rangka implementasi tersebut, negara-negara
anggota ASEAN berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan terkait dengan finalisasi
protokol, dan menjajagi langkah yang lebih konstruktif berupa kerjasama dengan IAEA.
Setalah 10 tahun Traktat ini berlaku (enter into force). Komisi SEANWFZ di tahun 2007
melakukan major review terhadap SEANWFZ.
ASEAN Regional Forum (ARF) diprakarsai oleh ASEAN pada tahun 1994 sebaai forum
untuk saling tukar pandangan dan informasi bagi negara-negara Asia-Pasifik mengenai
masalah-masalah politik dan keamanan, baik regional maupun internasional. Sasaran yang
hendak dicapai melalui ARF adalah mendorong saling percaya (confidence building
measures) melalui transparansi dan mencegah kemungkinan timbulnya ketegangan maupun
konflik di kawasan Asia Pasifik. Sebagai satu-satunya forum dialog keamanan di luar PBB,
yang dihadiri kekuatan besar dunia antara lain : Amerika Serikat, China, Rusia, Uni Eropa
dan Jepang, pembahasan dan tukar pandangan dalam ARF memiliki makna penting dan
strategis. Proses ARF lebih mencerminkan ASEAN Way yaitu menjalin hubungan untuk
menumbuhkan rasa saling percaya dan kebiasaan berdialog serta berkonsultasi dalam
masalah-masalah keamanan.
Kegiatan-kegiatan antar sesi yang dilakukan diantara pertemuan-pertemuan ARF, dibagi atas
Jalur Satu (Track I) yang dihadiri oleh wakil-wakil pemerintahan negara-negara ARF, dan
Jalur Dua (Track II) yang diadakan dan dihadiri oleh lembaga-lembaga penelitian (think
tank) dari negara-negara ARF. Dalam jalur satu, dua jenis kegiatan utama adalah
intersessional Support Group (ISG) dan beberapa intersessional Meeting (ISM) yang lebih
bersifat teknis. Kegiatan ISM saat ini berupa ISM on counter-terrorism and transnational
crime (ISM on CT-TC) dan ISM on Disaster Relief (ISM-DR). Proses kerjasama ARF
terbagi atas 3 tahap yaitu tahap Confidence Building Measures (CBMs), Preventive
Diplomacy (PD) dan Conflict Resolution (CR). Saat ini, ARF melangkah ketahap kedua
sambil tetap melaksanakan tahap pertama. Dalam kaitan tersebut pertemuan ISG, berubah
nama menjadi ISG CMBs and PD.

1. g. Kerjasama di Bidang Pemberantasan Kejahatan Lintas Negara
Kerjasama ASEAN dalam rangka memberantas kejahatan lintas negara (Transnational
Crime) pertama kali diangkat pada pertemuan para Menteri Dalam Negeri ASEAN di
Manila tahun 1997 yang mengeluarkan ASEAN Declaration on Transnasional Crimes.
Sebagai tindak lanjut dari deklarasi diatas, kerjasama ASEAN dalam memerangi kejahatan
lintas negara dilaksanakan melalui pembentukan pertemuan para menteri ASEAN terkait
dengan pemberantasan kejahatan lintas negara (ASEAN Ministerial Meeting on
Transnational Crime /AMMTC) beberapa perjanjian yang telah dihasilkan ASEAN terkait
dengan pemberatan kejahatan lintas negara yaitu :
1. ASEAN Plan of Action Combat Transnational Crimes yang mencakup kerjasama
pemberantasn terorisme, perdagangan obat terlarang pencucian uang, penyelundupan
dan perdagangan senjata ringan dan manusia, bajak laut, kejahatan internet dan
kejahatan ekonomi internasional.
2. Treaty on Mutual Legal Assistence in Criminal Matters (MLAT) ditandatangani tahun
2006
3. Agreement on information exchange and establishment of communication procedures
ditandatangani tahun 2002, merupakan perjanjian di tingkat sub regional guna
penanganan kejahatan lintas batas melalui pertukaran informasi,
4. ASEAN Declaration on Joint Action to Counter Terrorism ditandatangani tahun 2001
dalam penanganan terorisme dan
5. ASEAN Convention on counter terrorism di tandatangani tahun 2007 sebagai instrumen
hukum dalam penanganan terorisme.
1. h. Kerjasama dibidang hukum
Kerjasama ASEAN dibidang hukum dilaksanakan melalui mekanisme pertemuan para
pejabat tinggi ASEAN di bidagn hukum (ASEAN Senior Law officials Meeting / ASLOM)
yang dilaksanakan setiap tahun dan pertemuan para menteri Hukum ASEAN (ASEAN Law
Ministerial Meeting/ALAWMM) yang dilaksanakan setiap 3 (tiga) tahun.
Pada ASLOM ke 11 di Siem Reap, Kamboja, Januari 2007 disepakati (a)
merekomendasikan Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters (MLAT) yang
telah ditandatangani oleh semua negara anggota ASEAN kepada Al AWMM ke7 di Brunei
Darussalam, tahun 2008 (b) pembentukan Working Group on ASEAN Extradition treaty
untuk merumuskan sebuah traktat eksradisi ASEAN. Declaration of ASEAN Concord tahun
1976 dan Rencana Kerja komunitas Keamanan ASEAN. Pertemuan pertama working group
ini direncanakan untuk dilaksanakan di Indonesia di tahun 2007.
1. i. Kerjasama Di Bidang Imigrasi dan Kekonsuleran
Kerjasama ASEAN dibidang imigrasi dan kekonsuleran dilaksanakan melalui pertemuan
para Direktur Jenderal Imigrasi dan kepada Divisi Konsulter ASEAN (the Meeting of the
ASEAN Directors General of Immigration Departements and heads of consular Affairs
Divisions of the ministeries of foreign affairs /DGICM.
Para Menteri Luar Negeri ASEAN telah menandatangani Perjanjian Kerangka ASEAN
mengenai Bebas Visa (ASEAN Framework Agreement on Vis exemption) ditandatangani
pada AMM ke39 di Kuala Lumpur 25 Juli 2006. Persetujuan ini memberlakukan bebas visa
kunjungan singkat bagi warga negara anggota ASEAN yang melakukan perjalanakn
diwilayah ASEAN selama 14 hari. Perjanjian dimaksud diharapkan dapat mendorong
pencapaian komunitas ASEAN melalui peningkatan perjalanan intra ASEAN dan people to
people contact.
1. j. Kerjasama Kelambagaan Antar Parlemen
Kerjasama antar parlemen di ASEAN diselenggarakan melalui mekanisme ASEAN inter
Parlianmentary Assembly (AIPA). Semula organisasi ini bernama ASEAN Inter
Parliamentary Organization (AIPO) didirikan pada tahun 1977, beranggotakan parlemen-
parlemen dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Singpaura, dan Thailand. Saat ini
keanggotaannya telah pula mencakup parlemen-parlemen dari Kamboja, Laos, dan Vietnam,
sementara Brunei Darussalam dan Myanmar sebagai Special Observers. Dalam sidang
umum AIPO ke27 di Cebu, Filipina, 10-15 September 2003, AIPO berganti nama menjadi
ASEAN inter-parliamentary Assembly (AIPA). Pergantian nama ini dimaksudkan untuk
mendorong proses tranformasi AIPA dalam mendukung upaya perwujudan komunitas
ASEAN. Meskipun AIPA bukan badan ASEAN karena ASEAN merupakan organisasi antar
pemerintah, namun AIPA memiliki status konsultatif dengan ASEAN. AIPA melakukan
dialog dengan anggota parlemen dariengara Mitra Wicara ASEAN yang bertindak sebagai
Observers seperti Australia, Kadana, China, Uni Eropa, Jepang, Selandia Baru, Papu New
Guinea, Rusia, dan Korea Selatan.

1. k. Upaya Pembentukan Mekanisme HAM ASEAN
Para Menteri Luar negeri ASEAN pada AMM ke26 di Singapura, Juli 1993 menyepakati
perluanya mempertimbangkan pendirian mekanisme HAM regional yang sesuai di ASEAN.
Hal ini merupakan tanggapan ASEAN terhadap Vienna Declaration and Programme of
Action (1993) mengenai antara lain pendirian mekanisme HAM regional untuk mendukung
promosi dan perlindungan HAM global. AIPA di tahun yang sama mengeluarkan Human
Rights Declaration yang mencantumkan himbauan kepada pemerintah negara-negara
ASEAN untuk membentuk mekanisme HAM ASEAN.
Mekanisme HAM, pada umumnya terdiri atas 2 (dua) komponen, yaitu, instrumen hukum (
deklarasi atau konvensi) dan badan (komisi atau pengadilan HAM). Pada saat ini, Asia
Pasifik (termasuk ASEAN) merupakan satu-satunya kawasan yang belum memiliki
mekanisme HAM Regional.
Walaupun hingga saat ini pembentukan mekanisme HAM ASEAN belum terwujud, tercatat
beberapa perkembangan sebagai berikut :
1. Pembentukan Working Group on ASEAN Human Rights Mechanism (WGAHRM)
yang beranggotakan tokoh-tokoh Asia Tenggara baik dari sektor pemerintahan maupun
civil society. WGAHRM terdiri dari beberapa kelompok kerja nasional di Indonesia,
Malaysia, Thailand, Kamboja, Singapura, dan FILipina. Walaupun bukan merupakan
badan resmi ASEAN. WGAHRM telah bekerjasama dengan pemerintah beberapa
negara anggota ASEAN dan menyelenggarakan beberapa workshop dan roundtable
discussion untuk mempelajari kemungkinan pembentukan mekanisme HAM ASEAN
dan memberikan rekomendasi ke pemerintah negara-negara ASEAN, dan
2. Ditandatanganinya ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights
of Migrant Workers pada KTT ke 12 ASEAN.
1. l. Kerjasama Eksternal Asean
Saat ini ASEAN memiliki 11 Mitra Wicara (Dialogue Partners) yakni Australia, Kanda,
China, Uni Eropa, India, Jepang, Selandia Baru, Kore Selatan, Rusia, Amerika Serikat dan
UNDP. Selain itu ASEAN memiliki satu negara Mitra Wicara sektoral yaitu Pakistan
ASEAN juga melakukan hubungan terbatas dengan berbaai organisasi regional dan
internasional. Dalam menjalin kerjasama dengan negara Mitra Wicara, ASEAN menetapkan
prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :
1. Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara harus memperkuat ketahanan nasional
negara-negara ASEAN yang selanjutnya dapat meningkatkan ketahanan regional
ASEAN
2. Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara tidak dimaksudkan untuk
menggantikan kerjasama bilateral yang sudah ada
3. Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara tidak boleh mengandung ikatan-ikatan
politik yang merugikan kepentingan nasional.
4. Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara tidak boleh merugikan salah satu
negara ASEAN, dan
5. Proyek-proyek kerjasama sebaiknya dilaksanakandi kawasan ASEAN
Untuk periode tahun 2006-2009, Indonesia menjadi negara koordinator hubungan kerjasama
ASEAN-India. Sebelumnya Indonesia menjadi koordinator untuk kerjasama ASEAN-UE
(2003-2006) yang semenjak tahun 2006 telah diserahkan kepada Kamboja. Saat ini ASEAN
memiliki 11 mitra wicara penuh dan 1 mitra wicara sektoral. Selain itu, ASEAN juga
memiliki hubungan/ dialog terbatas dengan beberapa organisasi regional dan internasional.
Dalam perkembangannya, hubungan eeksternal ASEAN juga mengalami perluasan yang
ditandai dengna terbentuknya mekanisme kerjasama baru yaitu East Asia Summit (EAS).
ASEAN sebagai organisasi regional yang dinamis telah menarik banyak Negara untuk
menjadi Mitra Wicara penuh ataupun sektoral. Keberadaan MItra Wicara ikut berperan
penting dalam proses pembangunan kawasan ASEAN yang diharapkan dapat terbentuk
menjadi sebuah komunitas yang solid pada 2015.
1. 4. Prospek dan Kendala
Banyak kalangan menilai bahwa menjelang 41 tahun berdirinya ASEAN, sejak Deklarasi
Bangkok 1967, ASEAN telah berhasil mengembangkan dan mempertahankan stabilitas dan
perdamaian di kawasan Asia Tenggara, serta menumbuhkan saling percaya di antara sesama
anggotanya. Sejak Bali Concord II (2003) ASEAN Security Community (ASC), ditujukan
untuk mempercepat kerjasama politik keamanan di ASEAN yang bersifat terbuka,
berdasarkan pendekatan keamanan komprehensif, dan tidak ditujukan untuk membentuk
suatu pakta pertahanan/aliansi militer, maupun kebijakan luar negeri bersama (Common
Foreign Policy). Percepatan pembentukan ASC dari 2020 menjadi 2015, sebagaimana
disepakati para kepala negara ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu, Filipina, 13
Januari 2007, memberikan tantangan tersendiri bagi ASEAN untuk mewujudkannya. ASC
merupakan sebuah pilar yang fundamental dari komitmen ASEAN dalam mewujudkan
komunitas ASEAN. Pembentukan ASC akan memperkuat ketahanan kawasan dan
mendukung penyelesaian konflik secara damai. Terciptanya perdamaian dan stabilitas di
kawasan akan menjadi modal bagi proses pembangunan ekonomi dan sosial budaya
masyarakat ASEAN. Sebagaimana ditegaskan dalam Vientiane Action Programme (VAP)
pada KTT ke-10 ASEAN di Laos. ASC menganut prinsip keamanan komprehensif yang
mengakui saling keterikatan antara aspek-aspek politik, ekonomi, dan sosial budaya. (Kraft,
2006 : 26).
ASC memberikan mekanisme pencegahan dan penanganan konflik secara damai. Hal ini
dilakukan antara lain konsultasi bersama untuk membahas masalah-masalah politik-
keamanan kawasan seperti keamanan maritim, perluasan kerjasama pertahanan, serta
masalah-masalah keamanan nontradisional (kejahatan lintas negara, kerusakan lingkungan
hidup dan lain-lain). Dengan derajat kematangan yang ada, ASEAN diharapkan tidak lagi
menyembunyikan masalah-masalah dalam negeri yang berdampak pada stabilitas kawasan
dengan berlindung pada prinsip-prinsip non interference. Pencapaian ASC melalui Rencana
Aksi yang termuat dalam VAP diwujudkan melalui sejumlah komponen yang terdiri
dari political development, sharing and shaping of norms, conflict prevention, conflict
resolution, dan post conflict peace building. (Swajaya, 2006 : 16).
Implementasi Rencana Aksi ASC didalam komponen ³Shaping and Sharing of
norms´dilakukan terutama dengan upaya perumusan Piagam ASEAN. Sesuai dengan Cebu
Declaration on the Blueprint of the ASEAN Charter yang disahkan pada KTT ke-12 ASEAN
dan selesai pada KTT ke-13 ASEAN di Singapura, bulan Nopember 2007. Piagam ASEAN
akan mengubah ASEAN sebagai suatu rule based organization. Hal ini dibutuhkan
mengingat selama ini, karakter ASEAN sebagai sebuah asosiasi yang bersifat longgar tidak
lagi dirasakan cukup mengakomodasi potensi kerjasama dan menanggapi tantangan integrasi
kawasan dan globalisasi. Piagam ASEAN akan merefleksikan perwujudan komunitas
ASEAN yang tidak berupa lembaga supra nasional seperti Uni Eropa. Terselenggaranya
ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) merupakan capaian dari komponen conflict
prevention. Rencana Aksi ASC. ADMM memberikan peluang bagi pengembangan
kerjasama keamanan kawasan tanpa membentuk sebuah pakta pertahanan atau aliansi
militer. (Tan, 2006 : 20).
Dalam komponen ³conflict prevention´ Rencana Aksi ASC, implementasi kerjasama di
bidang pemberantasan kejahatan lintas negara diprioritaskan pada kegiatan-kegiatan yang
mungkin dilakukan. Dibidang kerjasama pemberantasan terorisme, berbagai langkah-
langkah dilakukan melalui peningkatan pemahaman dan pemeliharaan keserasian diantara
umat beragama atau kepercayaan di kawasan. Indonesia telah memprakarsai
penandatanganan ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT). Selama ini negara
ASEAN dibidang pemberantasan terorisme, baik antara negara anggota ASEAN maupun
dengan negara Mitra Wicara, didasarkan atas declaration dan plan of action yang secara
hukum tidak meningkat. ACCT memberikan dasar hukum bagi kerjasama ASEAN dibidang
pemberantasan terorisme. Capaian lain dari komponen ³Shaping and sharing of norms´
rencana aksi ASC adalah penandatangananTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal
Matters (MLAT). Traktat ini memberikan peluang untuk mendukung kerjasama hukum yang
lebih kongkrit, terutama dalam pemberian bantuan hukum timbal balik diantara para pihak
dibidang pidana.
Terkait dengan ACCT dan MLAT, ASEAN perlu untuk segera menindaklanjuti
penandatanganan perjanjian dimaksud serta mulai mengimplementasikan bidang-bidang
kerjasama di dalamnya. Tantangan ke depan bagi ASEAN dalam implementasi komponen
³Shaping and sharing of norms´ dari ASC, antara lain adalah perumusan sebuah traktat
ekstradisi ASEAN (ASEAN extradition treaty) yang juga telah diamanatkan dalam Bali
Concord 1976. Dalam hal ini, para pejabat tinggi ASEAN dibidang hukum (ALSOM) dalam
pertemuannya yang ke 11 di Siem Reap, Kamboja, bulan Januari 2007 telah menyepakati
pembentukan kelompok kerja (working group) untuk memulai proses perumusan traktat
dimaksud, termasuk juga kemungkinan pembentukanASEAN-Peace Keeping Force tahun
2012, dan pembangunan politik tahun 2017(ASEAN Selayang Pandang, 2007 : 142).
Walau beberapa target capaian dalam komponen Conflict prevention dan Shaping and
Sharing of norms telah diraih, ASEAN Perlu untuk mendorong pencapaian komponen-
komponen rencana aksi ASC lainnya, terutama dalam komponen political
development(antara lain terkait dengan good governance, combatting corruption dan
promosi dan perlindungan HAM), conflict resolution dan post conflict peace building. Hal
ini telah dicermati dalam ASEAN Security Community Coordinating Conference (ASCO)
ke1 di Jakarta, bulan September 2006. Melihat rencana aksi komunitas keamanan ASEAN,
jelas struktur politik kawasan Asia Tenggara diarahkan untuk semakin maju, terbuka, dan
demokratis. Langkah pembangunan politik akan melintasi isu-isu sensitive yang
menyangkut tuntutan demorasi layaknya di negara maju, penyelenggaran pemilu yang
bebas, pemberantasan korupsi, pemerintah yang bersih, penegakkan dan supremasi hukum,
promosi dan penghargaan HAM tidak bisa lagi di lihat sebagai sebuah retorika politik.
Bangunan ASEAN ke depan adalah rumah besar yang menggelindingkan ASEAN Shared-
common value baru, yang menjunjung tinggi bahasa global dunia, yaitu demokratisasi
dibawah pemerintahan yang transparan, memiliki akuntabilitas yang tinggi serta menghargai
Hak Asasi Manusia
1. a. Prospek
Dari apa yang telah diuraikan penulis pada Bab II dan Bab III diatas, perwujudan ASEAN
Security Community bisa dilihat masih memiliki prospek. Tantangan yang dihadapi dalam
menciptakan ASEAN Security Community sebenarnya terletak pada upaya untuk
menyelesaikan perbedaan persepsi di antara negara-negara anggota mengenai masa depan
ASEAN pada tahun 2015-2020. Sebagai contoh, sekarang ini terdapat dua pola pemikiran
diantara negara-negara ASEAN. Disatu sisi, terdapat beberapa negara ASEAN yang merasa
bahwa kelembagaan dan pendekatan yang ada sekarang ini telah mencukupi untuk
menghadapi tantangan-tantangan masa kini, namun disisi lain, terdapat pula negara-negara
ASEAN yang memandang ASEAN perlu di reformasi sehingga dapat melangkah dari
tahap conflict management ke arah conflict resolution(Wibisono, 2006 : 201). Namun perlu
disadari juga bahwa negara-negara ASEAN sebenarnya memiliki banyak kesamaan yang
bisa membantu untuk merekatkan anggota ASEAN. Kesamaan tersebut diantaranya berupa
norma-norma bersama, kesamaan pengalaman sejarah, lokasi geografis, dan kemauan
bersama untuk menghindari penggunaan kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah.
Dalam pandangan para pemimpin ASEAN, pembentukan Komunitas ASEAN ini merupakan
transformasi lanjutan dari keberhasilan ASEAN dalam menjadi region paling stabil di dunia.
Jika kita membandingkan keadaan ASEAN dengan keadaan region lain, seperti di Timur
Tengah, Semenanjung Korea, atau Afrika, pencapaian yang sering kita rasakan sebagai hal
normal ini masih dirasakan oleh region tersebut sebagai capaian yang masih jauh diraih. Hal
inilah yang menyemangati para pemimpin ASEAN untuk mengakselerasi pembentukan
Komunitas ASEAn pada tahun 2015. Dalam pandangan mereka, ASEAN adalah lingkaran
konsentris bagi setiap kebijakan luar negari masing-masing negara. Setiap hal yang
didiskusikan dalam dialog, forum atau pertemuan ASEAN adalah proyeksi dari kepentingan
nasional mereka. Sayangnya kenyataan tersebut tidak disadari oleh kebanyakan orang
ASEAN. Media massa kerap memunculkan pertanyaan seperti ini, ³Apa hasil konkrit yang
bisa didapat rakyat dari ASEAN?´, dimana pertanyaan ini mengindikasikan bahwa rakyat
masih mencari apa pentingnya ASEAN bagi mereka. Padahal, ketika mereka
mempertanyaan hal tersebut, mereka sebenarnya telah menikmati salah satu hasil konkrit
dari ASEAN, yaitu dengan nafas yang mereka nikmati tanpa rasa khawatir adanya perang
seperti yang dirasakan oleh rakyat di kawasan lain. Dengan keberhasilan ASEAN dalam
menghindari kekerasan atau konflik bersenjata di antara negara anggotanya sejak Deklarasi
Bangkok 1967, bisa dikatakan ASEAN cukup berhasil dalam mewujudkan komunitas
keamanan dan cukup matang untuk mengembangkan sejumlah mekanisme penyelesaian
konflik di kawasan. Namun perlu dicatat, bahwa usaha ini bukan merupakan pekerjaan yang
mudah karena kecenderungan ASEAN yang selama ini untuk lebih banyak meredam konflik
dari pada menyelesaikannya. Menurut hemat penulis, dimasa depan penerapan ASC secara
obyektif memerlukan pengkajian ulang cara ASEAN (ASEAN Way) dalam menyikapi
berbagai permasalah melalui kompromi, konsensus, dan campur tangan serta
menyembunyikan isu-isu politik dan keamaan yang sensitif di bawah karpet. ASEAN, oleh
karena itu, perlu mempertimbangkan untuk maju menuju ³ASEAN Way to settle disputes´.
Untuk dapat menjawab tantangan keamanan baru pasca perang dingin, ASEAN tidak
memiliki pilihan lain kecuali melakukan refleksi diri. Tata dunia baru sekarang ini
membutuhkan pemikiran-pemikiran baru, dan karenanya ASEAN harus berani bergerak
meninggalkan sikap konservatif yang selama ini melekat cukup erat, seperti melakukan
redefinisi ulang atas prinsip-prinsip yang dianut dan memperbaiki mekanisme pembuatan
atau putusan didalam tubuh ASEAN. Prinsip Non-interfence , misalnya, akan tetap menjadi
kunci dalam ASC, namun pemerintah negara-negara ASEAN diharapkan bisa bersikap lebih
fleksibel bahkan µreformis¶ dalam menerapkan prinsip tersebut, terutama yang terkait
dengan persoalan human security seperti pelanggaran HAM berat. Seperti halnya dalam
masalah prinsip non-interfence,prinsip kedaulatan nasional (state sovereignty) perlu
diterapkan secara tepat dan proporsional, terutama dalam menghadapi masalah-masalah
internal yang memiliki dampak regional (Pitsuwan, 2006 : 11-12). Hal yang sama mungkin
juga berlaku terhadap mekanisme pembuatan keputusan ASEAN yang senantiasa dilandasi
prinsipkonsensus. Sudah saatnya dimasa depan ASEAN mulai memilah-milah kapan prinsip
ini bisa diterapkan secara tepat, dan kapan ia dapat digunakan secara fleksibel. Atau
alangkah baiknya bila ASEAN mulai memperkenalkan sistam µvoting¶ sebagai mekanisme
utamanya di dalam setiap pengambilan keputusannya, terutama yang berkaitan dengan
masalah-masalah krusial, seperti pelanggaran HAM berat atau yang terkait dengan persoalan
µhuman security¶. Sejak Asia Tenggara pada tahun 1997-an diterpa krisis ekonomi,
seharusnya negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa sudah tidak ada lagi posisi
yang independen terhadap isu-isu yang berkaitan dengan persoalan keamanan non-
konvensional. Dengan kata lain, tidak ada lagi ³masalah domestik´ yang mutlak terpisah
dari negara-negara yang lain di kawasan. Beberapa isu-isu domestik suatu negara dapat
memiliki spill over effects (efek menyebar) kepada negara tetangganya. Oleh karena itu
sangat tidak realistis dimasa sekarang bila negara-negara ASEAN mencoba memisahkan
masalah dalam negerinya dengan negara tetangganya. (Pitsuwan, 2006 : Ibid). Terorisme
separatisme, pembajakan, penyelundupan dan perdagangan manusia, narkotika, dan masalah
lingkungan, jelas mempunyai implikasi negatif yang bersifat lintas batas kedaulatan
nasional. Bencana topan tropis Nargis yang menelan korban tewas mencapai 1,5 juta jiwa di
Myanmar, bulan Mei 2008 adalah contoh buruk dari negara anggota ASEAN, dimana junta
militer yang berkuasa di Myanmar hanya mengizinkan bantuan internasional sampai di
bandara Yangoon, kemudian junta militer itu sendiri yang akan mendistribusikannya kepada
korban, karena junta sangat takut pengaruh asing masuk ke negaranya dengan dalih bantuan
kemanusiaan (Kompas, 25 Mei 2008).
Sebuah security community pada umumnya didefinisikan sebagai sekelompok negara yang
telah mencapai sebuah kondisi, sebagai akibat intensitas ekonomi dan kebiasaan kerja sama,
dimana negara-negara yang tergabung dalam kelompok tersebut secara bersama memiliki
³harapan mengenai perubahan secara damai´ (expectation of peaceful change) dan
menolak ³penggunaan kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah diantara
mereka´. Dengan didorong oleh tingkat saling ketergantungan politik dan ekonomi yang
tinggi, negara-negara yang tergabung dalam sebuah security community akan mampu
membangun ³kebiasaan untuk saling mempercayai´ (habit of trust) dalam mengelola
hubungan diantara mereka. Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ASEAN selama ini
dalam mengembangkan saling hubungan dan saling percaya diantara para anggotanya pada
dasarnya telah membawa ASEAN kedalam apa yang sering disebut sebagai suatu
masyarakat pluralistik yang berkeamanan (Pluralistic Security Community). Sebuah security
community dianggap memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1) Tidak adanya kompetisi untuk membangun kekuatan militer di antara negara-negara di
kawasan (arms race);
2) Tidak adanya konflik bersenjata antar negara;
3) Adanya praktek dan institusi-institusi, baik formal dan informal, yang dapat
mengurangi, mencegah, mengelola, dan menyelesaikan konflik dan kekacauan;
4) Tingkat integrasi ekonomi yang tinggi, dan;
5) Tidak adanya sengketa teritorial di antara negara anggota.
Transformasi ASEAN untuk menjadi sebuah security community mensyaratkan tidak
hanya ketiadaan perang, tetapi juga ketiadaan prospek untuk perang. ASEAN Security
Community (ASC) telah membangun sebuah lingkaran kerjasama yang dapat mencegah
terjadinya konflik sejak awal. Bahkan apabila pertikaian terjadi, ASC akan menyediakan
sebuah kerangka untuk tidak hanya mengelola, tetapi juga menyelesaikan konflik tersebut
secara damai. ASEAN telah memiliki beberapa unsur yang memperlihatkan ciri-ciri sebagai
sebuah Security Community sebagai mana tersebut diatas. Bahkan, ASEAN juga telah
memiliki praktek-praktek dan institusi, baik formal dan informal, untuk mencegah dan
mengelola konflik diantara negara-negara anggotanya. Contohnya adalah diberlakukannya
Treaty Of Amity And Cooperation (TAC) sebagai code of conduct dalam interaksi antar
negara anggota dikawasan Asia Tenggara adalah bukti, bahwa sejak Deklarasi Bangkok
1967 negara-negara anggota ASEAN tidak pernah menggunakan kekerasan antara satu
dengan yang lainnya dalam penyelesaian konflik. Ini merupakan suatu perkembangan yang
jauh berbeda dari pengalaman hubungan antar negara dalam kawasan ini sebelum mereka
bergabung ke dalam ASEAN. Dalam perjanjian Treaty of Amity and Cooperation (TAC) di
Asia Tenggara, bila terjadi konflik, mereka bisa membentuk suatu Dewan Agung (High
Council) yang terdiri dari seorang wakil dari masing-masing negara anggota setingkat
menteri untuk mencari cara-cara penyelesaian yang wajar. Ketentuan ini tentu saja hanya
berlaku apabila pihak-pihak yang bersengketa ³sepakat´ untuk memberlakukan instrumen
itu terhadap persengketaan mereka. Memang ada berbagai kesulitan untuk menyelesaikan
persengketaan antar negara melalui TAC. Kesulitan yang paling menentukan adalah karena
semua negara ASEAN mempunyai persengketaan wilayah dengan Malaysia. Malaysia
merupakan satu-satunya negara yang berbatasan dengan semua negara ASEAN, dan karena
itu mempunyai persengketaan wilayah dengan negara-negara ASEAN lainnya. Resiko bagi
Malaysia ialah bahwa setiap negara pihak yang diminta untuk menengahi persengketaan itu
akan merugikannya sendiri, karena negara yang diminta untuk menjadi penengah juga
mempunyai permasalahan terirorial dengan Malaysia. Itulah sebabnya mengapa sampai kini
ASEAN belum mampu menyelesaikan berbagai persengketaan wilayah diantara mereka.
Secara implisit TAC menyatakan adanya kesediaan dari negara anggota ASEAN untuk
³mengesampingkan´ pertentangan dan konflik diantara mereka demi kesetiakawanan dan
proses pembangunan di ASEAN. Masalah Sabah dan gerakan separatisme Moro adalah
salah satu contoh konflik antara Malaysia-Filipina yang dapat diredam dan disembunyikan
dibawah karpet, demi kesetiakawanan, integritas dan kerukunan ASEAN. Dimasa depan,
sudah waktunya bagi ASEAN untuk bisa mengusahakan sendiri penyelesaian konflik-
konflik potensial dengan menggunakan instrumen TAC. Bahwa pemanfaatan instrumen ini
sampai sekarang belum dilakukan, tidak berarti bahwa upaya itu tidak perlu diteruskan.
Instrumen ini sudah diratifikasi oleh semua anggota ASEAN, bahkan sejak tahun 1987 telah
dilakukan perluasan aksesi terhadap perjanjian TAC kepada negara-negara di luar Asia
Tenggara, yang dikenal sebagai Protokol Manilla (Prasetyono, 1996 : 123).
Untuk bisa berkembang menjadi Security Community, dimasa mendatang ASEAN perlu
sekali lagi mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan konflik melalui instrumennya
sendiri. Keengganan negara-negara ASEAN untuk menggunakan mekanisme penyelesaian
konflik yang tersedia, misalnya High Council dalam TAC, menandakan bahwa masa depan
ASEAN masih ditandai oleh potensi disintegrasi(Huxley, 1993 : 11-13). Meskipun ketentuan
TAC tentang penyelesaian konflik secara damai melalui High Council tidak pernah
diterapkan hal ini justru menunjukkan keberhasilan ASEAN dalam mencegah munculnya
konflik serius antara negara-negara ASEAN. Dalam kaitan ini TAC lebih berperan sebagai
instrumen diplomasi preventif(Preventive Diplomacy), bukan suatu instrumen penyelesaian
konflik (conflict resolution), melalui berbagai saluran yang lebih banyak bersifat informal,
suatu ASEAN way yang telah berhasil mencegah munculnya konflik militer diantara
negara-negara ASEAN(Luhulima, 1995 : 3). Ketegangan yang timbul diantara negara-
negara ASEAN belum menjurus sampai kepada penggunaan kekuatan senjata. Dipatuhinya
prinsip-prinsip TAC telah berhasil mencegah timbulnya konflik diantara mereka.
Pada dasarnya harapan utama terwujudnya ASEAN Security Community terletak pada
komitmen politik para pemimpin negara ASEAN untuk menerapkannya dan juga dilandasi
pada keinginan dari negara anggotanya untuk : (1) memperkuat mekanisme confidence-
building measures; (2) memperkuat langkah-langkah pencegahan konflik; (3) memperkuat
proses ASEAN Regional Forum dalam mendukung terciptanya ASC; (4) memperluas
kerjasama yang berkaitan dengan masalah keamanan non-tradisional (non-konvensional);
(5) memperkuat usaha-usaha dalam mempertahankan persatuan dan keutuhan negara-negara
anggota ASEAN; (6) memperkuat kerjasama dalam menanggulangi setiap ancaman yang
ditimbulkan oleh masalah separatisme (Sukma, 2006 : 51). Bila penguatan kerjasama pada
bidang tersebut bisa lebih ditingkatkan, maka masa depan ASEAN Security Community
cukup cerah.

1. b. Kendala
Sungguhpun ada prospek bagi ASEAN didalam mewujudkan Security Community, namun
berbagai kendala tentu saja jelas ada. Secara mendasar sejak awal pembentukan ASEAN
jauh berbeda dengan Uni Eropa dalam tingkat heterogenitasyang dihadapi. 10 negara Asia
Tenggara mempunyai berbagai keragaman baik dibidang budaya, ras, agama dan
dipengaruhi oleh aneka kekuatan serta berbeda tingkat pertumbuhan ekonomi, dan beragam
pandangan politik dan ideologi. Apalagi rakyat Asia Tenggara belum terbiasa menjadi
satu. Sejarah Asia Tenggara hampir selalu terpecah-pecah dan diperburuk oleh kepentingan
asing di kawasan. Penduduk ASEAN sangat majemuk, baik dari segi etnis, bahasa, maupun
agama. Dalam sebuah negara Indonesia, misalnya, terdapat begitu banyak kelompok etnis
dan sub-etnisnya, yang juga hidup dengan bahasa lokal dan kebudayaannya masing-masing.
Berbeda dengan kondisi di Uni Eropa, yang dalam setiap negara paling tidak terdapat satu
atau tidak lebih dari empat kelompok etnis asli sehingga juga tidak terdapat banyak bahasa
yang digunakan penduduknya dalam sebuah negara atau pun antar negara. Dengan begitu,
pembentukan negara bangsa Nation State anggota Uni Eropa tidak sesulit pembentukan
negara bangsa di negara anggota ASEAN, mengingat tidak sulit untuk mencari bahasa
komunikasi (Lingua franca) yang bisa digunakan dalam kegiatan organisasi regional
mereka. Anggota Uni Eropa bisa dipersatukan oleh bahasa Inggris dan Latin karena mandala
Eropa pernah dikuasai Romawi. Sementara, ASEAN belum bisa menerima
kehadiran Bahasa Melayu sebagai Lingua franca, sebab pengaruh bahasa ini tidak
mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara. Bahasa resmi yang dipakai dalam pertemuan-
pertemuan ASEAN adalah bahasa Inggris, sedangkan Kamboja dan Laos, misalnya, hampir
tidak mampu berbahasa Inggris. Bahasa asing yang mereka kuasai adalah Perancis.
Disamping itu, penyebaran agama yang homogen yang terjadi di Eropa juga tidak dialami di
Asia Tenggara. Secara realistis, agama Kristen telah mempertemukan anggota Uni Eropa
dalam bahasa dan budaya, sedangkan di ASEAN di luar agama Hindu dan Budha yang telah
lebih dulu ada, masih ada agama Kristen dan Islam. Bisa dikatakan ASEAN adalah satu-
satunya organisasi regional yang bersifat Multisivilisasional (Huntington, 1996 : 230-
232). Heterogenitas yang tinggi tidak hanya berimplikasi pada susahnya menyatukan
anggota ASEAN, namun juga lemahnya masing-masing negara anggota dalam
menyelesaikan agenda domestiknya. Tidak mungkin suatu negara dapat menyepakati sebuah
keputusan internasional, jika semua unsur dalam negerinya belum memiliki persamaan
persepsi dan kepentingan. Heterogenitas kultur juga berdampak pada sulitnya membuat
keputusan yang efektif dan mengikat dalam setiap aktivitas ASEAN dimasa lalu. Kultur
Hinduisme, Budhisme, dan Islam yang mengakar kuat di kawasan Asia Tenggara memiliki
pengaruh atas disepakatinya musyawarah mufakat dan konsensus sebagai ASEAN way dalam
setiap penyelesaian masalah di kawasan. Hal ini membuat absennya akuntabilitas dan sanksi
terhadap negara anggota, yang dikemudian hari ternyata tidak mematuhi keputusan yang
telah dihasilkan secara mengikat. Situasi yang berbeda tanpa di Uni Eropa, yang selalu jelas
keputusannya, dan mengikat, karena selalu dilakukan lewat cara pemungutan suara (voting).
Di masa depan pengambilan keputusan dengan mekanisme pemungutan suara (voting) harus
diintroduksi dalam berbagai kegiatan atau pertemuan ASEAN (Sukma, 2006 : 53). Bila
sebuah keputusan yang penting didasarkan pada mekanisme voting, apalagi dalam situasi
darurat (Emergency), hal ini jelas lebih menciptakan good organization governance,
terutama untuk menumbuhkan akuntabilitas anggotanya. Disini, negara-negara anggota
ASEAN harus memiliki semangat penghargaan atas HAM dan keniscayaan pada
demokrasi. Mereka tidak boleh ragu, apalagi menilai bahwa demokrasi adalah sumber
masalah baru, yang akan diciptakan disintegrasi dan instabilitas di tingkat domestik dan
kawasan. Mereka justru harus berpandangan sebaliknya, bahwa sikap anti demokrasi
merupakan kendala bagi terwujudnya ASEAN Security Community (ASC). Menurut
Amitav Acharya, di Eropa budaya politik demokrasi terkait erat dengan munculnya
kecenderungan akan interdependensi ekonomi yang membantu negara-negara yang
tergabung dalam Uni Eropa untuk menciptakan masyarakat yang berkeamanan. Sebaliknya
ASEAN tidak mempunyai latar belakang kondisi budaya politik seperti itu. (Acharya, 2001 :
195). Bahkan pada kenyataannya, banyak kalangan menilai sebagian besar negara-negara
anggota ASEAN tidak demokratis sama sekali, karena mereka rata-rata mempunyai catatan
buruk dibidang HAM akibat masih kuatnya prinsip non interference dianut negara
anggotanya (Hofmann, 2006 : 58). Jelas bahwa yang dikatakan sebagai sebuahSecurity
Community adalah ketika didalam komunitas keamanan tersebut mampu memberikan ruang
yang lebih besar bagi nilai-nilai demokrasi. Jika ASEAN ingin tetap konsisten dengan
komitmennya mencapai komunitas keamanan pada 2015, maka pemerintah dari masing-
masing negara anggota jelas harus menghapuskan bentuk suksesi kepemimpinan regional
secara inkonstitusional seperti kudeta oleh junta militer dengan menggulingkan kekuasaan
legal seorang presiden atau Perdana Menteri dengan cara-cara yang dapat menimbulkan aksi
kekerasan dan instabilitas nasional, seperti di Thailand. Komunitas Keamanan ASEAN
nantinya juga telah harus menghilangkan pergantian kepemimpinan dengan cara-cara tidak
demokratis. Melihat rencana aksi komunitas keamanan ASEAN, jelas struktur politik
kawasan ASEAN diarahkan untuk semakin maju, terbuka, dan demokratis. Langkah
pembangunan politik melintasi isu-isu sensitif yang menyangkut demokrasi layaknya di
negara maju, penyelenggaraan pemilu yang bebas, pemberantasan korupsi, pemeirntah yang
bersih, penegakan dan supermasi hukum, promosi pengembangan HAM hendaknya tidak
menjadi retorika politik. Bangunan ASEAN adalah rumah besar yang menggelindingkan
ASEAN shared-common value baru, yang menjunjung tinggi bahasa global dunia,
demokrasi di bawah pemeirntah yang baik. Elemen kemanusiaan sudah pasti harus
mendapat porsi yang lebih besar didalam konsep komunitas keamanan ASEAN, dengan
lebih menciptakan situasi kondusif dalam hal kebebasan berpartisipasi dan menegakkan hak-
hak asasi manusia agar masyarakat ASEAN bisa melindungi dirinya sendiri. Memang
termasuk tanggung jawab pemerintah memberi perlindungan pada rakyatnya tetapi
perangkat terbaik dalam human security itu adalah masyarakat itu sendiri. Itu memang tidak
akan tercapai tanpa kebebasan politik, partisipasi, dan pemenuhan hak individu. Semua
harus bersifat bottom up, bukan top down. Referensi model keamanan yang berkisar pada
prinsip non interfence yang mendasari ASEAN Way dewasa ini ditantang oleh suatu model
keamanan yang sangat luas (comprehensive security) dan bersifat non konvensional, yaitu
model keamanan manusia (human security) dan upaya untuk melibatkan masyarakat luas
dalam kegiatan ASEAN. Model ini mengetengahkan kesejahteraan perorangan yang harus
dijamin oleh negara. Ia berpusat pada keamanan atau ketidakamanan manusia sebagaimana
ia terkait dengan negara atau tatanan internasional. Masalah keamanan manusia ini
memunculkan perdebatan tentang intervensi dan non intervensi dalam masalah dalam negeri
negara anggota ASEAN. Kasus Myanmar dan Kamboja merupakan tantangan pertama bagi
kebijakan non intervensi dalam masalah dalam negeri negara anggota ASEAN. (Kraft, 2006
: 26-28). Masalah Myanmar bisa membuat ASEAN dinilai negatif karena ASEAN akan
dianggap mendukung sebuah rezim yang tidak menghormati HAM (Perwita, 2006 : 154),
sehingga muncul kesan walaupun pembentukan ASEAN didasarkan pada ikatan biografis,
kesejarahan dan budaya di Asia Tenggara, pada kenyataannya pendorong utama
regionalisme ASEAN lebih banyak ditentukan oleh keinginan untuk menjaminregime
survival. Sampai munculnya ASEAN Charter 2007, semua negara anggota ASEAN masih
menganggap bahwa prinsip non intervensi sangat penting bagi hubungan antar bangsa. Oleh
karena itu, bila penghargaan atas HAM dan Demokrasi dapat dipatuhi oleh negara-negara
anggota ASEAN sebagai bagian dari pemahaman baru keamanan non konvensional
yaitu human security, maka bisa dikatakan bahwa ASEAN bukanlah melulu Asosiasi
pemerintahan, politisi dan birokrat semata, melainkan juga akan menjadi komunitas yang
lebih luas dengan merangkul kalangan masyarakat sampai tingkat paling bawah, karena
selama ini ada anggapan bahwa ASEAN dianggap belum mampu menciptakan mekanisme
partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam memberikan kontribusi yang lebih bermakna
sepanjang perjalanan organisasi regional ini selama lebih dari 4 dasawarsa.
Di Eropa, berbagai perbedaan masa lalu yang menjadi sumber konflik semakin teratasi dan
melenyap. Sebaliknya, di Asia Tenggara, masalah-masalah warisan kolonialisme
bermunculan dan berdampak pada stabilitas dalam negara dan antar negara, seperti di
Timor-Timur (Indonesia), di Mindano (Filipina), dan Pathani (Thailand). Warisan
kolonialisme yang belum selesai juga telah mengakibatkan sulitnya penyelesaian masalah
perbatasan antar negara anggota ASEAN. Antara Indonesia-Malaysia, misalnya, setelah
selesai masalah Sipadan-Ligitan, masalah baru muncul dan berpotensi dan menganggu
hubungan bilateral, misalnya, soal kepemilikan pulau Ambalat. Ini belum termasuk
persoalan dari garis perbatasan darat di sepanjang Pulau Kalimantan. Demikian pula,
Indonesia menghadapi masalah perbatasan dengan Singapura dalam soal garis perbatasan
laut di sekitar Riau, dan dengan Filipina dalam status pulau-pulau di Utara Sulawesi, yang
secara sepihak telah di klaim dalam konstitusi Filipina sebagai miliknya. Kolonialisme
selain meninggalkan konflik domestik, yaitu konflik etnik dan agama dalam negara anggota
ASEAN, juga sangat rawan menimbulkan sengketa antar negara, yaitu sengketa perbatasan.
Kasus ambalat sempat berkembang ke arah yang mengkhawatirkan. Hal ini terjadi karena
negara-negara ASEAN yang terlibat dalam konflik selama ini selalu berusaha menyimpan
masalah yang ada dan tidak berupaya menyelesaikannya secara tuntas di dalam forum
ASEAN (Acharya, 2001 : 6). Ini bisa terjadi akibat masih lemahnya mekanisme resolusi
konflik dalam ASEAN, sehingga selalu saja penyelesaian konflik perbatasan antar negara
anggotannya diserahkan pada mediasi pihak asing, yang hasilnya belum tentu memuaskan
semua pihak yang bersengketa. Belum lagi ditambah kasus Myanmar dan penahanan Aung
San Suu Kyi, yang telah menghasilkan respon yang berbeda dari anggota ASEAN. Respon
yang bersikap keras dari Malaysia, Filipina, dan Singapura sempat mengarah pada wacana
pemberian sanksi pada Myanmar, sekalipun mekanisme semacam itu belum pernah di atur.
Dimasa depan, perlu dipikirkanpemberian sanksi kepada negara-negara anggota ASEAN
yang dianggap tidak mematuhi perjanjian yang telah disepakati. ASEAN bisa dinilai sebagai
sebuah organisasi yang mendukung sebuah rezim yang tidak menghormati HAM dan
Demokrasi, karena tujuan ASEAN lebih banyak ditentukan oleh keinginan untuk menjamin
kelangsungan hidup rezim non-demokratis. Hal ini diperparah ketika ASEAN justru
menerima Myanmar menjadi anggota pada tahun 1997. Sebaliknya, jika ada kewajiban dan
sanksi dan demokratisasi menjadi keharusan bagi setiap negara anggota, maka setiap
anggota yang tidak menjalankan dapat dikenakan sanksi, mulai dari yang ringan yang berat.
Sanksi itu bisa berupa pengucilan atau harus menarik diridari keanggotaan (Sukma, 2006 :
53).
Prinsip non-interfence dan state soverignty adalah sumber dari persoalan tersebut diatas.
Diakui bahwa prinsip non intervensi dan integritas kedaulatan nasional terhadap urusan
domestik negara-negara anggota ASEAN merupakan prinsip yang paling kontroversial
dalam tubuh ASEAN, dan oleh karenanya menjadikan perkembangan ASEAN sebagai
organisasi regional menjadi agak terhambat. Seharusnya apabila terdapat isu-isu yang
mempengaruhi hubungan bilateral, regional dan ekstra regional, maka ³prinsip non-
interfence dapat diabaikan´, walaupun prinsip tersebut telah melekat dalam tubuh ASEAN
sejak awal pembentukannya(Pitsuwan, 2006 : 11). Masalah state sovereignty (kedaulatan
nasional) yang menghambat perkembangan ASEAN, tidak hanya terkait dengan persoalan
batas wilayah, tetapi juga masih beratnya negara anggota untuk dapat menerima
pemberlakuan atas azas supranasional dalam pengambilan keputusan di ASEAN. Berbeda
dengan Uni Eropa, didalam ASEAN perbedaan-perbedaan identitas nasional semakin
menguat dan menyulitkan proses integrasi. Padahal, untuk dapat terciptanya ASC, setiap
negara anggota harus bersedia menanggalkan sebagian kedaulatan nasional dan
menukarkannya dengan kedaulatan bersama atau supranasional. Dengan demikian, akan
mudah bagi ASEAN untuk mengambil keputusan kolektif secara efektif. Tidak seperti
selama ini, setiap keputusan dalam resolusi yang dihasilkan diserahkan atau tergantung
kepada masing-masing anggotanya untuk menjalankannya, tanpa kewajiban untuk
menaatinya dan sanksi yang diberikan, jika terjadi pelanggaran. ASEAN sering terperangkap
di antara retorika dan realita. Selama lebih dari 40 tahun usia ASEAN, organisasi ini sudah
banyak berbicara tentang kerjasama, tetapi ketika betul-betul di butuhkan malah tidak
terjadi. Dibalik semua sopan santun tentang solidaritas dan kerjasama, semua persoalan yang
dapat menegangkan daya santai kelompok regional ini dan prinsip tidak saling mencampuri
urusan dalam negeri jelas harus dikaji ulang. Norma dan prinsip ASEAN yang masih
berlaku, yaitu memendam konflik dengan senyum di padang golf sementara suasana di
sekitarnya diselimuti oleh masalah kawasan lintas batas yang tak kunjung padam karena
mekanismenya tidak efektif dan efisien. Apa yang disebut sebagai satu Asia Tenggara (One
Southeast Asia)tetaplah merupakan kumpulan dari banyak pusat
pengambilan keputusan dengan mekanismenya masing-masing. Minimnya kepedulian
rakyat ASEAN akan organisasi ASEAN jelas merupakan kelemahan lain dari ASEAN yang
dapat menghambat akselerasinya dalam menuju integrasi komunitas ASEAN 2015. Dibenak
mereka ASEAN hanya berupa akronim organisasi di wilayah Asia Tenggara. ASEAN
bukanlah identitas mereka. Konsep We Feeling yang bermakna dalam bagi pemimpin
ASEAN ternyata bukanlah apa-apa bagi mereka. Amitav Acharya yang seorang
konstruktivist dan banyak diilhami oleh pemikiran Karl Dutsch menyatakan bahwa
membentuk suatu komunitas dalam bidang apapun, maka We Feeling itu harus sudah ada.
Tetapi jika kita lihat pada komunitas yang ada di ASEAN, bahwa We Feeling itu tidak ada
sama sekali, apalagi jika disangkut pautkan dengan budaya dari masing-masing negara. We
Feelingitu hanya akan ada ketika memang terjadi ancaman yang dianggap hal berbahaya
secara bersama-sama. Identitas sebagai satu ASEAN saja tidak dimiliki oleh masyarakat
setiap negara anggota, karena didalam internal negara-negara itu sendiri masih terjadi
konflik antar ras, budaya suku. Bagaimana mungkin mengakui bahwa kita sebagai suatu
identitas regional bersama, jika didalam negeri saja identitas nasional masih menjadi
masalah. Tradisi ASEAN yang telah berhasil melayani para anggotanya selama lebih dari 40
tahun dalam mengambil keputusan bersama yang berdasarkanmusyawarah untuk
mencapai mufakat mungkin akan menghadapi tantangan besar dimasa depan. Pemerintah
negara anggota ASEAN makin lama akan makin sering mendengarkan keluhan dan tuntutan
dari rakyat negaranya sendiri dan rakyat negara anggota lainnya. Jika ada mekanisme untuk
menyalurkan keluhan dan tuntutan tersebut maka slogan satu Asia Tenggara akan benar-
benar memiliki makna. Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa masalah besar yang
dihadapi ASEAN selama ini adalah lemahnya implementasi dari berbagai prakarsa dan
program yang telah disepakati bersama, baik di tingkat para pemimpin ASEAN maupun di
tingkat pertemuan menteri-menteri ASEAN. Negara-negara ASEAN memang pandai
didalam merumuskan program-program kerjasama, mengadakan seminar, konferensi,
workshop, lokakarya, atau meeting (rapat), tetapi senantiasa lemah dalam pelaksanaannya.
Hal ini diakui dalam laporan eminent persons groups (EPG) on the ASEAN Charter
(Desember 2006) dan menjadi landasan bagi usulan untuk memperkuat kelembagaan
ASEAN, termasuk peran dari sekretaris Jenderal ASEAN. Selain memperkuat peran
Sekretariat ASEAN, kegiatan pemantauan (Monitoring) diusulkan untuk melibatkan pihak-
pihak non pemerintah agar dapat dibuat penilaian yang obyektif dan dapat dikembangkan
mekanisme yang dapat mendorong proses pelaksanaan kesepakatan oleh masing-masing
negara ASEAN (Soesastro, 2007 : 321). Disini pemimpin negara-negara ASEAN harus
segera mengesampingkan basa basi khas ASEAN dan muncul dengan langkah-langkah
nyata untuk mengatasi masalah yang melintasi garis batas kedaulatan negara.
Pengembangan mekanisme yang terkait dengan masalah kelembagaan ASEAN ini
merupakan tantangan terbesar bagi ASEAN. Sejauh ini negara-negara anggota ASEAN
selalu enggan untuk mengembangkan kelembagaan ASEAN. Sebagai akibatnya, kerja sama
ASEAN kini melibatkan beberapa ratus pertemuan dalam setahun dan bahkan mungkin
secara riil hanya terjadi dalam pertemuan-pertemuan itu. Lemahnya kelembagaan ASEAN
adalah akibat dari kekhawatiran negara-negara ASEAN mengenai pengaruh pengembangan
kelembagaan regional terhadap kedaulatan nasional mereka. Tetapi keinginan untuk
mempertahankan kedaulatan nasional secara absolut sebenarnya bertentangan dengan
kesepakatan untuk memperdalam integrasi ASEAN dan mewujudkan ASEAN Security
Community (ASC). Menurut hemat penulis, untuk bisa menjalankan rencana aksi ASC yang
lain terutama di bidang Political Development dan Conflict Resolution jelas mutlak
diperlukan µreintepretasi¶ dan µrevitalisasi¶ atas prinsip non-interference dan state
sovereignty.

Sumber: http://oseafas.wordpress.com/2010/06/25/plan-of-aaction-asean-security-
community-prospek-kendala/

3ODQRI$FWLRQ$VHDQ6HFXULW\&RPPXQLW\3URVSHN .HQGDOD 

E\,JRU'LUJDQWDUD

Berbagai persoalan tantangan keamanan ASEAN, baik yang bersifat tradisional (konvensional), maupun non tradisional (non konvensional) perlu untuk dicermati negara anggota ASEAN dewasa ini dan dimasa yang akan datang. Selama 41 tahun berdirinya ASEAN sejak tahun 1967, banyak kalangan menilai ASEAN memiliki kekompakan untuk mengatasi berbagai tantangan keamanan yang mungkin muncul di kawasan Asia Tenggara. Pada Bab III ini akan dibahas kemungkinan ASEAN untuk menerapkan komunitas keamanan (security community), beberapa rencana aksi (Plan of action) dari ASEAN Security Community sejak Bali Concord II (2003) yang sudah diwujudkan ataupun yang belum, termasuk berbagai kerjasama kelembagaan ASEAN didalam mewujudkan masyarakat yang berkeamanan. Pada Bab ini akhirnya penulis mencoba untuk melihat prospek dan kendala ASEAN untuk mewujudkan ASEAN Security Community pada tahun 2015. 1. 1. Analisis Komunitas Keamanan ASEAN ASEAN mempunyai potensi untuk menjadi komunitas keamanan di kawasan Asia Tenggara. Hal ini diakui oleh para akademisi dan para pengambil keputusan baik didalam maupun diluar kawasan. Salah satunya adalah kajian bahwa ASEAN dianggap sebagai sebuah komunitas keamanan yang pluralistik, dimana masing-masing anggotanya tetap mempertahankan kedaulatannya (Acharya,1990). Pemahaman bahwa ASEAN menjadi komunitas keamanan lebih didasarkan pada kenyataan bahwa tidak ada satupun anggotanya yang menggunakan kekuatan bersenjata atau anggapan perlunya digunakannya kekuatan militer dalam menyelesaikan konflik di kawasan(Simon, 1999 :122). Sedangkan Michael Leifer sepakat bahwa ASEAN memang sebuah komunitas keamanan karena kemampuannya untuk mencegah konflik intra-mural dari kemungkinan eskalasi konfrontasi bersenjata untuk menjadi komunitas politik (Leifer, 1995 : 129-132). Adalah kenyataan bahwa

ketiadaan perang diantara negara-negara anggota ASEAN sejak organisasi tersebut didirikan tahun 1967 merupakan prestasi terbesar ASEAN dalam mengatur interaksi damai didalam kawasan. Ada tiga kekuatan utama menurut Amitav Acharya yang menjadi prasyarat terbentuknya satu komunitas keamanan di kawasan, yaitu : 1. A. Ancaman Keamanan dan Kerawanan Bersama Ancaman keamanan bersama adalah sumber ketidakamanan yang berpotensi mengganggu secara nyata terhadap stabilitas negara-negara di kawasan. Secara umum ancaman konvensional/tradisional merupakan salah satu aspek keamanan yang sangat sensitif bagi negara-negara ASEAN, karena berkaitan langsung dengan masalah kedaulatan, integritas dan kelangsungan hidup suatu negara. Yang menjadi ancaman keamanan bersama negara-negara ASEAN secara konvensional hingga sekarang dan masih cukup relevan karena memiliki potensi konflik yang lebih terbuka antar Negara anggota ASEAN adalah permasalahan separatisme dan konflik perbatasan (Usman, 1996 : 159-164). Munculnya serangan terorisme di negara-negara ASEAN atau transnational crimes yang terorganisasi telah merubah persepsi ancaman bersama di kawasan Asia Tenggara menjadi tidak konvensional lagi (keamanan non konvensional). Penyelundupan manusia secara ilegal, pembajakan, penyelundupan narkotika, masalah lingkungan, pencucian uang, terorisme, kejahatan ekonomi menjadi ciri tindak kejahatan lintas batas yang terorganisir sebagai ancaman baru di kawasan(Dirjen Kerjasama ASEAN Deplu RI, 2005 : Bab IV). Ancaman keamanan yang bersumber dari adanya berbagai kerawanan domestik merupakan faktor dominan dan menjadi motivasi dari pembentukan ASEAN. Kerawanan bersama adalah celah/titik rawan yang telah terbuka sebagai akibat dari ancaman nyata. Keamanan non tradisional, yang bersifat komprehensif dan berorientasi pada manusia(human security) telah membuka celah kerawanan bersama dan sekaligus menjadi ancaman nyata yang hadir dengan pola-pola modifikasi dari sebelumnya dan telah memaksa (spin off) ASEAN untuk menata kembali agenda kerjasama keamanannya. Hal paling penting di sini adalah adanya kesamaan persepsi dari para pemimpin politik ASEAN akan pentingnya ¶comprehensive security¶ untuk diadopsi ke dalam setiap bentuk kerjasama keamanannya, sebagaimana yang telah dihasilkan di Vientiane, Laos, 2004.

Tabel Ancaman dan kerawanan bersama No Persepsi Bersama 1 Ancaman Ancaman Proliferasi Ancaman yang Pelaku menjadi Kerawanan Bersama Konvensional - Konflik Perbatasan Negara Sifat

Nasional

Terorisme 5. B. Preferential Trading Arrangement (1977). Perdagangan obat-obatan (narkotika) 3. Dalam hal ini ASEAN telah berhasil menata hubungan bertetangga dengan baik di antara sesama anggotanya. Pada dekade 80-an dan 90an ketika negara-negara di berbagai (State Actor) Bukan Negara Lintas Batas (non-State Actor) Nasional Transnational Organized Crime (TOC) . Pada awalnya kerjasama ekonomi difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential trade). Berbeda dengan situasi sebelum ASEAN terbentuk. negara-negara anggota telah meletakan kerjasama ekonomi sebagai salah satu agenda utama yang perlu dikembangkan. yaitu faktor kerjasama ekonomi dan fungsional yang ber-spill overdalam menciptakan hubungan damai. Keberhasilan tersebut tentunya tidak berjalan dengan sendirinya. sosial dan budaya. dan Enhanced Preferential Trading Arrangement (1987). Piracy (Pembajakan) 2. praktis tidak pernah terjadi konflik terbuka di antara negara-negara yang bertetangga dengan ASEAN. Kesalingtergantungan Ekonomi dan Fungsional yang ber-Spill Over Dalam Menciptakan Hubungan Damai Secara formal ASEAN adalah organisasi yang memfokuskan diri pada upaya kerjasama di bidang ekonomi. Masalah lingkungan 6. Kerjasama dibidang ekonomi dinilai sebagai pendorong utama kerjasama antar negara karena bidang ini tidak sensitif dan tiap negara menginginkan pertumbuhan ekonomi yang pesat sebagai salah satu syarat penunjang pembangunan nasionalnya. dan skema saling melengkapi (complementation scheme) antar pemerintah engara-negara anggota maupun pihak swasta di kawasan ASEAN. berbagai ketegangan. Sebagaimana kita ketahui bahwa sejak ASEAN berdiri. usaha patungan (joint venture). Kejahatan ekonomi 1. ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983). mewarnai kawasan ini. seperti ASEAN Industrial Projects Plan (1967). konflik maupun konfrontasi. ASEAN Industrial Complementation scheme (1981). Akan tetapi Deklarasi Bangkok merupakan komitmen politik untuk bersatu dan bekerjasama dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas regional agar negara-negara anggota dapat menikmati hidup merdeka tanpa campur tangan asing serta dapat berkonsentrasi dalam memenuhi kepentingan nasionalnya. Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967.(state centric) . karena ada faktor yang mendorongnya.Separatisme 2 Ancaman Konvensional (human centric/ Comprehensive security) Non Transnational Crimes 1. Penyelundupan manusia 4.

Ada anggapan bahwa dampak AFTA terhadap perdagangan intra ASEAN sangat minimal. Kesepakatan ini dapat dilihat sebagai perombakan baru dalam perjalanan kerjasama dan integrasi ekonomi ASEAN. Dalam rumusan yang disepakati para pemimpin ASEAN. Pada KTT Ke-5 ASEAN di Singapura tahun 1992 telah ditandatangani Framework Agreement on Enhancing ASEAN Economic cooperation menandai dicanangkannya ASEAN Free trade area (AFTA) dan pada tanggal 1 Januari 1993 memberlakukan Common Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai mekanisme utamanya. penghapusan hambatan-hambatan non-tarif. tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas. AFTA memang tidak dimaksudkan untuk menciptakan pasar regional bagi negara -negara ASEAN sendiri. investasi.belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi. dan perbaikan terhadap kebijakan-kebijakan fasilitasi perdagangan. Pendirian AFTA memberiksn implikasi dalam bentuk pengurangan dan eliminasi tarif. Yang lebih penting untuk diamati adalah tingkat pertumbuhan perdagangan ASEAN secara keseluruhan yang mencapai 20-30 persen pertahun. Dalam perkembangannya. terbuka dan liberal melalui suatu persetujuan yang mengikat(Soesastro. Ini dapat diartikan sebagai integrasi penuh. (ASEAN Selayang pandang: 2007: 42). Kawasan ASEAN merupakan kawasan ekonomi yang terbuka bagi dunia dan mengandalkan pertumbuhannya pada pasar global dan bukan pasar regional. jasa. dimana insentif yang diberikan sebatas pada pemberian preferensi tarif yang semakin berkurang. yaitu Framework Agreement on ASEAN Investment Area (AIA). AEC bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan bebasnya aliran barang. sebab selama 15 tahun terakhir perdagangan intra ASEAN tetap saja berkisar antara 20-25 persen dari seluruh perdagangan ASEAN. artinya karena menurunnya tarif MFN. tujuan dari AEC adalah untuk menciptakan a single market and production base.Disamping AFTA. Kerjasama ekonomi yang ber-spilover kepada penciptaan hubungan damai (economic road towards peace and stability) diawali dengan ditandatanganinya deklarasi ZOPFAN hingga . KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan komunitas ASEAN yang salah satu pilarnya adalah Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). Tetapi penilaian seperti ini kurang tepat. tetapi untuk membuat kawasan ASEAN menjadi yang menarik bagi produksi dunia (open regionalism). Selanjutnya pada tahun 1998 ASEAN menandatangani kesepakatan baru. tetapi juga perdagangan dan investasi. 2007 : 316-317). Pada tahun 1996 ASEAN mengembangkan skema kerjasama baru dibidang industri yaitu ASEAN Industrial Cooperation (AICO). pada tahun 1995 ASEAN juga telah menyepakati ASEAN Framework Agreement on Services (AFAS) untuk membuka pasar jasa-jasa di kawasan ASEAN. AFTA tidak hanya difokuskan pada liberalisasi perdagangan barang. AFAS dan AIA. yang dimaksudkan untuk membuat ASEAN menjadi suatu kawasan investasi yang kompetitif. negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka perekonomian mereka. guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan. kecuali di bidang keuangan dan moneter. tetapi dengan jelas mengarah kepada pembentukan pasar tunggal (Single Market) ASEAN. Ia bukan sekedar lanjutan logis (Logical extension) dari AFTA.

Dengan demikian ZOPFAN merupakan strategi besar untuk membina ketahanan regional dan untuk membebaskan diri dari campur tangan pihak luar. Singapura. Secara substansial doktrin ketahanan regional (regional resilience). baik dengan menggalang kekuatan intra kawasan maupun mengatur keterlibatan negara-negara luar kawasan di Asia Tenggara. ditandatangani pada tahun yang sama dengan . Pada paragraf pertama menyatakan bahwa negara-negara ASEAN bertekad menjamin pengakuan dan penghormatan atas suatu Asia Tenggara sebagai kawasan yang damai. Komponen eksternal yang membentuk doktrin ketahanan regional adalah perwujudan dari semangat kemandirian ASEAN dari campur tangan negara-negara luar kawasan. pendahuluan dan dua paragraf pokok. sosial dan budaya saja. Paragraf ke-2 menyatakan keinginan negara negara Asia Tenggara memperluas bidang kerjasama untuk memupuk kekuatan. Prakarsa netralitas ASEAN oleh Malaysia dilatar belakangi dengan pertimbangan politik domestik kerusuhan berdarah di Malaysia tahun 1969. pada umumnya menganggap campur tangan pihak luar dalam urusan internal kawasan sebagai faktor penyebab instabilitas (Anggoro. Deklarasi ZOPFAN terdiri dari dua bagian pokok. Inggris. solidaritas dan hubungan yang lebih erat dengan sesama negara kawasan. Malaysia berharap agar prinsip netralitas tersebut bisa menghalangi Cina melakukan campur tangan terhadap urusan dalam negeri Malaysia. meskipun ASEAN di design untuk wadah kerjasama ekonomi. Konflik rasial ini dikhawatirkan akan mengundang perhatian China karena banyaknya warga Malaysia keturunan Cina. Australia. Konsep ZOPFAN sebenarnya merupakan kompromi dari berbagai pendapat negara anggota ASEAN khususnya Indonesia dan Malaysia. Pada kenyataannya kerjasama dalam bidang keamanan diantara negara-negara anggota ASEAN merupakan perpaduan antara kebijakan keamanan nasional masing-masing negara anggota dalam satu pengaturan tatanan regional yang pada akhirnya membentuk ketahanan regional (regional resilience). 1996 : 133-134). Dibawah ini terdapat uraian dari bentuk-bentuk kerjasama ekonomi dan fungsional yang pada perkembangannya ber-spill over dalam kerjasama dalam menciptakan hubungan damai : a) Deklarasi Zone of Peace. dokumen tersebut antara lain adalah ASEAN Concord 1 dan TAC (Treaty of Amity and Cooperation) sebagai code of conduct. bebas dan netral terlepas dari campur tangan kekuatan luar.munculnya dua dokumen monumental yang menjadi tonggak dalam kerjasama keamanan (security road towards peace and stability) pada KTT I di Bali 1976. Sementara Indonesia menerjemahkan ZOPFAN sebagai netralitas ASEAN dari kerjasama militer dengan negara-negara barat. dan Selandia Baru yang tergabung dalam Five Powers Defence Arrangement (FPDA). Freedom. Komponen internal dalam doktrin ketahanan regional pada prinsipnya merupakan upaya membina rasa saling pengertian dan kepercayaan dalam kehidupan antar negara (confidence building measures). Adalah ironis kerjasama militer antara Malaysia. and Neutrality (ZOPFAN) Deklarasi ZOPFAN 1971 di Kuala Lumpur merupakan komitmen politik dan kerjasama politik dan keamanan ASEAN untuk pertama kalinya dalam sejarah ASEAN.

sehingga diperlukan pendekatan yang komprehensif dan beragam. dan Piagam PBB. ekonomi dan fungsional lainnya. Pembentukan KBSN memperkuat NPT (Non profileration treaty) karena secara tegas melarang penempatan senjata nuklir di suatu kawasan oleh negara negara luar kawasan. Kawasan Bebas Senjata Nuklir (KBSN) terbentuk pada KTT ASEAN ke 5 di Bangkok 18 Desember 1996. 1993 : 324). Peristiwa ini mendorong para pemimpin ASEAN untuk menilai kembali situasi Asia Tenggara dan mempertegas maksud dan tujuan pembentukan ASEAN. KTT I yang berlangsung di Bali dikemudian hari lebih dikenal sebagai Bali Concord I melahirkan dua dokumen. melalui upaya stabilitasi politik kawasan Asia Tenggara c) Southeast Asia Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ) atau Kawasan Bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (KBSN-AT) Langkah strategis yang kemudian tertuang dalam program aksi ZOPFAN menggaris bawahi pentingnya pembentukan suatu Kawasan Bebas Senjata Nuklir (KBSN) di Asia Tenggara. ZOPFAN bisa mengurangi kebutuhan akan intervensi militer langsung negara-negara besar. Perlucutan senjata khususnya senjata nuklir. Pembentukan suatu KBSN pada umumnya dianggap sebagai upaya pengawasan senjata atau non proliferasi regional (regional arms control and non profileration measures). Di dalam deklarasi ZOPFAN terdapat berbagai langkah prosedural dan strategis untuk memenuhi tuntutan tersebut yang secara keseluruhan bukan hanya memusatkan perhatiannya pada perlucutan senjata atau pencegahan profilerasi nuklir melainkan meliputi juga kerjasama politik. kemajuan. kemakmuran dan kesejahteraan negara-negara ASEAN. merupakan hal yang sulit dan kompleks. Kedua dokumen tersebut mencerminkan penegasan kembali komitmen negara-negara ASEAN terhadap. dengan tujuan memberikan keamanan yang lebih baik bagi negara-negara di kawasan dengan tidak membiarkan negara-negara kawasan untuk memiliki senjata nuklir. Negara-negara penandatangan juga berharap melalui pengaturan . yang mencakup pendekatan global maupun regional. dan yang lebih penting lagi. serta menegaskan tekad negara-negara ASEAN untuk meningkatkan perdamaian. menghindarkan negaranegara kecil mengundang atau mempropokasi keterlibatan negara-negara besar dalam masalah-masalah bilateralnya b) ASEAN Concord I Perubahan situasi politik dan keamanan di kawasan Asia Tenggara yang ditandai dengan penarikan tentara AS dari Vietnam Selatan mulai 1973 dan kemenangan Vietnam Utara atas Vietnam Selatan pada tahun 1975 telah mengubah konfigurasi politik dan keamanan di Asia Tenggara. Deklarasi Kesepakatan ASEAN (Declaration of ASEAN Concord) dan Perjanjian Persahabatan (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia). yaitu. Para pemimpin ASEAN sepakat untuk mengadakan KTT I di Bali. Deklarasi ZOPFAN.lahirnya konsep ZOPFAN pada tahun 1971 (Anwar. Deklarasi Bangkok. Deklarasi Bandung. Pertemuan tersebut menjadi momen penting dalam evolusi kerjasama keamanan ASEAN. 23-25 Febuari 1976 untuk membahas perubahan tersebut dan merumuskan langkah dan sikap strategis ASEAN.

dan identitas nasional. ASEAN menyatakan keingginannya untuk bebas dari keterlibatan persaingan dan konflik-konflik negara-negara di luar Asia Tenggara. dan (2) hubungan antara negara-negara Asia Tenggara dengan kekuatan eksternal. Jika hal ini menemui jalan buntu. disamping sebagai code of conduct. Dari kedua masalah pokok tersebut ASEAN menegaskan bahwa keamanan dan kestabilan kawasan Asia Tenggara hanya dapat dicapai melalui kerjasama semua negara di kawasan dengan menekankan pentingnya pembangunan ekonomi. dan mengembangkan kerjasama regional diantara negara-negara Asia Tenggara. . kedaulatan. Ini mencakup antara lain: saling menghormati kemerdekaan. dan dengan semangat persahabatan. menyelesaikan perbedaan dan sengketa secara damai. maka negara.semacam ini mereka dapat menjauhkan diri dari semua aktivitas nuklir yang berhubungan dengan negara-negara nuklir sehingga tidak terseret dalam persaingan negara-negara besar. Sedangkan TAC yang ditandatangani di Bali 1976 mentransformasikan prinsip-prinsip dan aspirasi ASEAN yang dicantumkan dalam Deklarasi Bangkok dan ZOPFAN ke dalam suatu bentuk perjanjian (treaty) internasional yang mengikat dan menjadikannya sebagai rule of the game atau yang lebih dikenal sebagai code of conduct dalam interaksi intra ASEAN. hak setiap negara untuk bebas dari campur tangan kekuatan eksternal. subversi. Karena telah berbentuk suatu perjanjian (treaty). tidak menggunakan ancaman atau kekuatan. melainkan telah berubah menjadi instrumen legal dari ZOPFAN 1971 dan Deklarasi Bangkok 1967(Kusumaatmadja. sebagaimana diserukan oleh Deklarasi Bangkok 1967 dan deklarasi ZOPFAN 1971. Sayangnya sampai sekarang forum High Council ini tidak pernah digunakan oleh negara-negara ASEAN dalam menyelesaikan konflik internal di antara meraka. TAC juga memerankan mekanisme pemecahan atau penyelesaian konflik secara damai(Acharya. Dilihat dari isinya. Selain itu bersamaan dengan ini. TAC tidak semata-mata merupakan pernyataan politik. Adanya ketentuan bagi negara-negara nuklir untuk memberikan jaminan untuk tidak menggunakan atau mengancam untuk menggunakan senjata nuklir terhadap negara-negara non nuklir. Pada prinsipnya ada dua masalah pokok yang diatur oleh dokumen-dokumen tersebut: (1) tentang hubungan internal diantara negara-negar Asia Tenggara. sosial dan budaya di masingmasing negara sebagai dasar pembentukan ketahanan regional Asia Tenggara. negoisasi. Da1am kaitan ini TAC menyerukan agar negara.negara anggota menyelesaikan konflik dan sengketa melalui berbagai saluran. d) Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) dan Perluasannya TAC tidak dapat dilepaskan dari upaya ASEAN untuk menciptakan kestabilan dan perdamaian Asia Tenggara. dan paksaan. yang terdiri dari wakil-wakil Negara anggota setingkat Menteri.negara yang bersengketa dapat meminta menggunakan forum High Counci (Dewan Agung). tidak saling mencampuri urusan dalam negeri. 1994 : 57). Mengenai negara-negara yang tidak terlibat konflik. integritas teritorial. tetapi mereka telah menjadi pihak TAC menyatakan bahwa mereka mempunyai hak untuk menawarkan jasa baik yang secara moral harus dipertimbangkan oleh semua pihak yang terlibat konflik. 1994 : 250).

Deklarasi Bangkok. Deklarasi Bandung.Tabel Kerjasama ekonomi dan fungsional yang ber-spill lover pada kerjasama dalam menciptakan hubungan damai Landasan Kerjasama Bentuk kerjasama Ekonomi dan Fungsional Ekonomi dan Fungsional yang ber-Spill Over dalam Penciptaan Hubungan Damai Kuala Lumpur 1071 Implementasi pasal 2 dalam Deklarasi Zone of Peace. serta menegaskan tekad negaranegara ASEANuntuk meningkatkan perdamaian. . 3.Confidence building Ministerial Conference persoalan / perselisihan : measures. dan Piagam PBB. melalui upaya stabilisasi politik kawasan Asia Tenggara KTT I Bali 1976 Code of conduct yang mengatur Treaty of Amity and hubungan negara-negara Cooperation in Southeast ASEAN untuk meredam konflik Asia (TAC) Bangkok 1995 Implementasi dari Deklarasi Southeast Asia Nuclear ZOPFAN.Bebas Senjata Nuklir Asia negara nuklir. Deklarasi Bangkok. 4. Free and Penghormatan atas kedaulatan Neutrality (ZOPFAN) negara-negara ASEAN dan ikut campur dalam urusan negaranegara ASEAN oleh negaranegara besar/luar kawasan. 2. Membebaskan Weapon Free kawasan Asia Tenggara dari Zone (SEANWFZ)/Kawasan senjata nuklir oleh negara. Deklarasi ZOPFAN. KTT I Bali 1976 Penegasan kembali komitmen ASEAN Concord I negara-negara ASEAN terhadap. Tenggara (KBSN-AT) KTT ASEAN Singapura ASEAN Ways : Kebiasaan ASEAN Regional Forum 1992 dan ASEAN Post ASEAN dalam menyelesaikan (ARF). kemakmuran dan kesejahteraan negara-negara ASEAN. kemajuan.Preventive No Pertemuan 1.

KTT XIII ASEAN di Merupakan transformasi asean Ditandatanganinya Singapura 2007. non-intervention. Selain dari apa yang di kenal sebagai µASEAN Way¶ untuk menyelesaikan berbagai perselisihan yang terjadi di kawasan. 2001 : 45-46). prinsip. setelah melewati pelbagai tantangan dan hambatan secara bersama pula untuk saling mengerti dan memahami yang memakan waktu tidak sebentar. Nilai-nilai Bersama yang Mendorong Kerjasama dan Membangun Institusi Multilateral. norms dari PoA ASC 1. konsensus. peninggalan sejarah. keamanan yang terintegrasi 2003 dimana tidak ada lagi hubungan ASEAN Security kekerasan berskala besar Community diantara anggotanya. Ketiga. C.(PMC) 1993 5. Kepatuhan negara anggota ASEAN untuk melaksanakan norma. Negara -negara dapat menciptakan dan menggabungkan (consolidate) komunitas keamanan melalui upaya yang disengaja dengan membangun nilai-nilai bersama multilateral menyebarkan nilai-nilai bersama dan berkontribusi untuk mengembangkan kebiasaan untuk kerjasama serta menyediakan mekanisme penyelesaian persengketaan secara damai. constructive Resolution. Keempat. yang kemudian membentuk suatu identitas kolektif. KTT IX ASEAN di Bali Menciptakan komunitas Deklarasi Bali Concord II 2003. otonomi regional. dan nilai bersama tersebut telah membuat tidak adanya konflik berskala besar antar anggota ASEAN sejak 1967. Menolak pembentukan aliansi militer dan menekankan kerjasama pertahanan bilateral (Acharya. untuk dapat menjadi organisasi Piagam Asean yang yang lebih efektif dan dinamis merupakan wujud serta lebih mengakar ke bawah dari shaping and sharing of (people center organization). ASEAN Cultural Community Sosio ASEAN Economic Community 6. pengalaman proses pembentukan negara. terdapat paling tidak empat norma dan prinsip dasar yang juga telah menjadi nilai-nilai bersama dan melandasi kehidupan ASEAN. Pertama. Kedua. seperti : prinsip konsultasi. serta memerlukan pengorbanan yang tidak sedikit antar sesama anggota dari segi materil. engagement. komporomi. dan . Prinsip tidak mencampuri urusan negara lain (non-interfence). Nillai-nilai bersama merupakan nilai intrinsik atau nilai yang terekspresikan dari perasaan bersama yang bersumber dari warisan budaya. diplomacy & Conflict konsultasi. maupun non materil. menentang penggunaan kekerasan dan mengutamakan solusi damai. dan consensus (musyawarah-mufakat).

Nilai-nilai bersama yang telah dibentuk dan dikembangkan ASEAN yang menjadi corner stone dalam hubungan intra ASEAN yang pada perkembangannya telah berubah menjadi milestone dalam roadmap baru kerjasama ASEAN. Komunitas keamanan di sebuah kawasan mensyaratkan integrasi politik dan ekonomi pada tingkat paling tinggi sebagai prekondisi yang dibutuhkan bagi terciptanya hubungan damai. antara lain adalah : a) b) c) Deklarasi Bangkok 1967 Deklarasi ZOPFAN 1971 Deklarasi Bali Concord I 1976 d) Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC) dan amandemenamandemen TAC (Protokol Manila) untuk perluasan aksesi TAC sebagai Code of Conduct oleh NegaraNegara luar kawasan.menguatnya keinginan mereka untuk meningkatkan kerjasama dan membangun institusi keamanan yang bersifat multilateral. 2003). Asumsinya berasal dari pemahaman tentang adanya konsep spillover. Kuala Lumpur 1971 Nilai-nilai bersama Kerjasama/Institusi Multilateral Imlementasi pasal 2 dalam Zone of Peace. e) f) ASEAN Ways Bali Concord II 2003 g) Deklarasi Hanoi beserta rencana aksinya yang meliputi. setelah berhasil melewati berbagai tantangan dan batu ujian. the Initiative for ASEANIntegration (IAI) dan the Rodmap for the Integration of ASEAN (RIA) h) i) Tabel Nilai-nilai bersama yang mendorong terbentuknya institusi multilateral No. dapat secara bertahap ber-spillover (melebar atau melimpah) menciptakan kebutuhan bersama di antara mereka untuk melakukan kerjasama pada wilayah politik dan keamanan atau high politics (Acharya. seperti ekonomi dan perdagangan. yang percaya bahwa kerjasama diantara aktor-aktor nasional independen didalam kawasan yang bersifatlow politics. Free and Deklarasi Bangkok Neutrality(ZOPFAN) Vientinne Action Programme (VAP) 2004 ASEAN Charter 2007 . Pertemuan 1.

Membangun saling percaya melalui ekonomi dan perdagangan 1997 Memperkuat integrasi Kemitraan strategis ASEAN ekonomi dengan Asia +3 (Asia Timur) Timur. AMM Hanoi-Vietnam Deklarasi Hanoi. KTT I Bali 1976 ASEAN Concord dan Code Treaty of Amity of Conduct Cooperaton(TAC) and Protokol Manila Perluasan aksesi TAC (amandemen-amandemen sebagaiCode of Conduct Asia TAC) Pasifik oleh negara anggota ARF 4. 7. Towards and Economic and Security community. . KTT ASEAN ASEAN Ways ASEAN Regional Forum Singapura 1992 dan (ARF).Asia Europe Meeting (ASEM) ketentuan yang diatur oleh WTO dan prinsip pasar bebas. KTT APEC 1993 Liberalisasi perdagangan dan Asia Pacific Economic investasi Cooperation(APEC) Bangkok Maret 1996 Penemuan ketentuan.diplomasi preventif Ministerial Conference dan mekanisme penyelesaian (PMC) 1993 sengketa. 6. Bangkok 1995 Implementasi dari Deklarasi Southeast Asia Nuclear ZOPFAN Weapon Free Zone (SEANWFZ)/Kawasan bebas Senjata Nuklir Asia Tenggara (KBSN-AT) 3.Confidence building ASEAN Post measures. 8. IAI dan Visi ASEAN Economic RIA sebagai plan of Integration 23 July 2001 action untuk memperkecil kesenjangan pembangunan 5.Deklarasi ZOPFAN 2. sistem perdagangan mutilateral terbuka. liberalisasi ekonomi non diskriminatif dan ekonomi terbuka.

ASEAN/Bali Concord Road map baru kerjasama Integrasi ASEAN menjadi II ASEAN. Brussels 27 January 2003. dan makmur serta realisasi ASEAN & China Joint visi ASEAN 2020. Phonm Penh 4 November 2002. Visi ASEAN 2020 9. Brunei 1 August ASEAN yang lebih damai 2002. keamanan dan perdamaianJoin Declaration for November 2002 internasional dan merupakanCooperation to Combat tantangan langsung bagi International pencapaian suatu kawasan Terrorism. KTT VIII ASEAN di Ancaman terbesar terhadapASEAN-USA Phnom Penh. mengelaborasi visi ASEANCommunity dan ASEAN 2020 dengan membentuk tiga pilar merencanakan batu loncatankerjasama di bidang ekonomi. yang konkrit untuk meraih sosial-budaya dan keamanan tujuan-tujuan komunitas ASEAN yang lebih luas dan komprehensif 10. ASEAN-India Joint Declaration for Cooperation to Combat Internatinal Terrorism. Declaration on Cooperation in the Field of Non Traditional Issues. Bangkok 10 January 2003 Joint Declaration on Cooperation to Combat Terrorism. Bali 8 October 2003 Australia-ASEAN Joint Declaration for Cooperation to .diantara anggota-anggota baru (CLMV) dengan anggota lama. MoU between ASEAN & RRCon Coooepration in the Field of Non Traditional Issues.

keamanan dan perdamaianDeclaration for Cooperation to November 2002 internasional dan merupakanCombat International tantangan langsung bagi Terrorism. 2. ASEAN Sosio Cultural Community ASEAN Community Economic 14. KTT XIII ASEAN di Merupakan transformasi Ditandatanganinya Singapura 2007. asean untuk dapat menjadi Piagam Asean yang terdiri dari organisasi yang lebih efektif : Pembukaan. keamanan yang terintegrasi ASEAN Security dimana tidak ada lagi Community hubungan kekerasan berskala besar diantara anggotanya. 1. 13 Bab dan 55 dan dinamis serta lebihPasal mengakar ke bawah (people center organization).Combat International Terrorism. KTT IX ASEAN di Menciptakan komunitas Deklarasi Bali Concord II 2003 Bali 2003. Brunei 1 August pencapaian suatu kawasan2002. Brunei 1 August pencapaian suatu kawasan2002. 2004 ASEAN-Russion FederationJoint Declaration for Coooperation to Combat International Terrorism. ASEAN yang lebih damai ASEAN & China Joint dan makmur serta realisasi Declaration on Cooperation visi ASEAN 2020 12. keamanan dan perdamaianDeclaration for Cooperation to November 2002 internasional dan merupakanCombat International tantangan langsung bagi Terrorism. ASEAN yang lebih damai ASEAN & China Joint dan makmur serta realisasi Declaration on Cooperation visi ASEAN 2020 13. KTT VIII ASEAN di Ancaman terbesar terhadapASEAN-USA Joint Phnom Penh. 2004 11. KTT VIII ASEAN di Ancaman terbesar terhadapASEAN-USA Joint Phnom Penh. Plan of Action ASEAN Security Community .

tetapi keamanan dalam arti komprehensif yang menekankan pada kerjasama membangun tata pergaulan antar negara dan mekanisme penyelesaian konflik di kawasan. Kendati keamanan manusia dijunjung tinggi oleh berbagai kalangan terutama kalangan civil society. Komunitas Keamanan ASEAN tidak perlu diartikan sebagai komunitas pertahanan yang mengedepankan kerjasama militer. Di sini. Ketertiban regional sehingga memperkuat ketahanan nasional dan pada saat yang bersamaan mendukung perdamaian dan keamanan dunia. negara ASEAN mengharapkan terciptanya ketertiban regional sehingga memperkuat ketahanan nasional dan pada saat yang bersamaan mendukung perdamaian dan keamanan dunia. In this regard. Hal ini mendorong ASEAN untuk melangkah maju kearah ASEAN Way to Conflict Resolution dari sekedar ASEAN Way to conflict Management. 2006:202) Melalui pembentukan ASEAN Security Community (ASC). Negara-negara besar pun juga masih tetap berpegang pada sasaran politik luar negeri yang realis untuk mendukung dan mempertahankan kepentingan nasionalnya masing -masing. Masih sedikit para . (Wibisono. Model kcamanan konvensional ASEAN yang berkisar pada non-intervensi yang mendasari ASEAN Way dihadapkan pada model keamanan yang sangat luas dan tidak konvensional lagi. Perwujudan Komunitas Keamanan ASEAN memerlukan komitmen politik yang kuat dari seluruh anggota. Ketertiban regional tersebut akan bertumpu pada norma dan aturan hubungan baik antar negara. Obyek keamanan ASEAN didorong agar bergeser dari negara menuju ke perorangan. pencegahan konflik yang efektif. by which members no longer perceive threats as coming from within the community´. yakni model keamanan manusia dan upaya untuk melibatkan masyarakat luas dalam kegiatan ASEAN. meaning the will settle differences without resorting to force. kawasan maupun global membawa tantangan-tantangan baru yang kompleks bagi ASEAN. mekanisme resolusi dan pembangunan perdamaian pasca konflik. adalah penting kiranya bila kita dapat melihat pengembangan langkah-langkah konkret dan praktis untuk mewujudkan ASEAN Security Community. it is important for ASEAN to develop a higher of confidence and trust. The mantra here is renunciation of the use or threat of force.Perkembangan yang sangat dinamis baik di lingkungan ASEAN. Sampai kini memang belum tampak dengan jelas upaya pemimpin-pemimpin ASEAN untuk menggeser postulat keamanan konvensionalnya kepada postulat keamanan non konvensional yang lebih berorientasi pada kesejahteraan perorangan. Konsep komunitas keamanan merupakan upaya untuk membangun rasa kebersamaan ASEAN sebagai satu keluarga yang memiliki norma dan tata berinteraksi yang disepakati bersama. tetapi ia kurang mendapat dukungan luas diantara elite politik ASEAN. Para elite politik ASEAN tidak mudah menerima. bahwa agenda keamanan internasional yang berpusat pada keamanan manusia dengan begitu saja menggantikan keamanan konvensional yang berpusat pada negara. Dalam konteks ini. yang didefinisikan sebagai : ³A Security Community exists when a group of countries have forged a sense of collective identity.

Para menteri ASEAN masih saja menekankan prinsip konsensus dan non intervensi terhadap masalah dalam negeri negara lain. Pendekatan ini bukan berarti pertahanan kedaulatan nasional sudah tidak relevan lagi. . Selain itu penolakan atas penggunaan atau ancaman penggunaan kekuatan bersenjata harus menjadi dasar bagi Komunitas Keamanan ASEAN. stabilitas. kemakmuran ekonomi dan kesejajaran Pembangunan sebagai dasar yang kuat untuk komunitas ASEAN. Komunitas Keamanan ASEAN /ASEAN Security Community (ASC) menjembatani aspirasi ASEAN untuk mendapatkan perdamaian. Terlebih. Prinsip non intervensi dalam hal ini harus dapat diintepretasikan lebih longgar dalam menghadapi tantangan-tantangan baru di millennium ketiga ini. ketika Indonesia memberikan penjelasan soal Aceh dan Myanmar memberikan penjelasan tentang Aung San Suu Kyi secara sukarela. ASC juga memandang stabilitas politik dan sosial. Masalah keamanan manusia secara konsepsional menghantam prin non intervensi dan sip memunculkan kembali perdebatan tentang intervensi dan non intervensi terhadap masalah dalam negeri negara anggota. Langkah awal untuk membuka belenggu ini telah dilakukan pada saat pertemuan AMM ke-36 di Phnom Penh pada bulan Juni 2003. ekonomi dan kehidupan sosial dari lingkungan regional. Melalui konsep komunitas keamanan. yang memungkinkan terciptanya dialog secara mendalam dan kerjasamakerjasama dalam isyu-isyu seputar keamanan manusia. demokrasi dan kemakmuran di dalam lingkungan regional dimana negara-negara anggota ASEAN hidup dengan damai satu sama lain dan dengan dunia luas dalam lingkungan yang adil demokratis dan harmonis. Konsep komunitas keamanan merupakan upaya untuk membangun rasa kebersamaan ASEAN sebagai satu keluarga yang memiliki norma dan tata berinteraksi yang disepakati bersama. tetapi keamanan dalam arti komprehensif yang menekankan pada kerjasama membangun tata pergaulan antar negara dan mekanisme penyelesaian konflik di kawasan. ASC menjelaskan prinsip dari keamanan komprehensif yang mengenal kesalingtergantungan yang tinggi akan politik.pemimpin ASEAN menggunakan konsep sosial-ekonomi sebagai bagian dari agenda keamanannya. Komunitas keamanan berbeda dengan rejim keamanan yang mensyaratkan adanya kekuatan eksternal dan mengandalkan perimbangan (balance of power) serta tidak dimaksudkan untuk membentuk organisasi pertahanan. Keamanan manusia memberikan arti bahwa batas-batas nasional tidak lagi menjadi benteng pertahanan satu-satunya. negara-negara anggota diharapkan dapat membahas secara terbuka terhadap isyu-isyu yang sensitif yang biasanya dibahas secara ´sembunyisembunyi´ atau dikenal dengan istilah ³swept under the carpet´ tanpa meninggalkan prinsip non interference. Kecendrungan ini menuntut adanya pergeseran fokus keamanan dari pertahanan perbatasan nasional menuju pada keamanan manusia. dan akan sesuai dalam mencapai program-program yang akan terbangun atas dasar-dasar ini. Komunitas Keamanan ASEAN tidak perlu diartikan sebagai komunitas pertahanan yang mengedepankan kerjasama militer.

Sebagaimana dimandatkan oleh KTT ASEAN ke-9 di Bali. (4) Conflict Resolution. 1. Komunitas Keamanan ASEAN akan menyumbangkan kemajuan perdamaian dan keamanan di wilayah Asia Pasifik. berdasarkan dari hal tersebut maka strategi untuk pengembangan politik adalah 1. dan harmonis telah dijabarkan pada masingmasing persoalan dalam timeline final. memperkuat peran ASEAN sebagai kekuatan pendorong dari ASEAN Regional Forum (ARF) dan terus mengembangkan keterikatan ASEAN dengan negara-negara partner dialog dan sahabat. seperti misalnya Piagam ASEAN tahun 2006. Dari segi substansi. dan Pembanguna Politik tahun 2017. Political Development Dalam mendukung komitmen kita untuk mengembangkan lingkungan politik dimana negara-negara anggota ASEAN memiliki kesetiaan untuk jalan-jalan damai dalam menyelesaikan perbedaan-perbedaan intra-regional dan memperhatikan keamanan individu mereka sebagai dasar keterkaitan dan dibatasi oleh lokasi geografis. (6) Implementing Mechanisms. ASC PoA terdiri dari enam komponen utama yaitu : (1) Political Development : (2) Shaping and Sharing of Norms. Pada ASEAN SOM tanggal 26-27 Juni 2004. Introduction merupakan bagian pendahuluan yang mengantarkan Areas of Activities. Dalam hal ini. Areas of activities memuat Annex atau lampiran yang berisi langkah-langkah rinci untuk melaksanakan ASC. (3) Conflict Prevention. (5) Postconflict Peace Building.Pada lingkup eksternal. Mendirikan program-program untuk saling mendukung dan mendorong diantara negaranegara anggota ASEAN dalam pengembangan strategi untuk memperkuat aturan hukum. ASC PoA terdiri dari dua bagian yaitu Introduction dan Areas of Activities. draf ASC PoA telah berhasil diterima oleh negara-negara anggota draf ASC PoA selanjutnya telah mendapatkan persetujuandari PTM ASEAN ke-37 tanggal 30 Juni 2004 untuk selanjutnya disahkan oleh KTT ASEAN ke-10 di Vientiane pada November 2004.Hal ini menunjukan bahwa sengketa konflik diantara negara anggota akan diselesaikan melalui cara damai dengan demikian ASEAN wajib adanya untuk mengubah posturnya menjadi institusi resolusi konflik. . visi bersama dan nilai bersama. Indonesia telah menyusun draf ASCPlan of Action dan menyampaikan kepada negara-negara anggota ASEAN. Memajukan HAM dan kewajiban-kewajiban 3. Meletakan dasar-dasar untuk mendirikan kerangka kerja institusi untuk memfasilitasi informasi bebas diantara negara-negara anggota ASEAN 4. demokratik. kultur dan sejarah dari negara-negara anggota melalui peningkatan hubungan antar masyarakat dan kegiatan track-two 2. ASEAN-PKF (ASEAN-Peace Keeping Force) tahun 2012. Plan of Action (PoA)diperlukan untuk merealisasikan ASC. Memajukan kesepemahaman dan penghargaan akan sistem politik. sesuai aksi pembangunan politik yang adil.

dalam memajukan inisiatif pembangunan politik ASEAN dan memperkuat peran dasar ASEAN. Dan yang lebih penting prinsip non-interfensi harus dirubah dan dikembangkan sesuai dengan semangat perubahan 1. antara lain : memperkuat lembaga-lembaga demokrasi dan partisipasi rakyat. mencegah dan memerangi korupsi. Rencana pembangunan politik bisa berhasil sebagai rencana aksi penerapan ASC bila sistem voting dipakai sebagai mekanisme pengambilan keputusan dalam tubuh ASEAN. mempererat hubungan antar masyarakat. dan 6. demokratis dan harmonis. menegakkan hukum dan sistem peradilan. kepartisipasian dan komunitas terbuka sebagai tujuan untuk menkonsolidasi dan memperkuat solidaritas ASEAN. Melahirkan ASEAN Charter 2. 5. ASEAN Institute for Strategic and International Studies (ISIS) dan akademisi. toleransi.sistem pengadilan dan infrasuktur legal. Menjamin implementasi penuh akan Declaration on the Conduct (DOC) dari negaranegara di laut Cina Selatan dan bekerja menuju pengadopsian code of conduct regional di laut cina selatan. pelayanan publik yang efektif dan efisien. memperkuat civil service secara efisien dan efektif. khususnya jaringan universitas ASEAN (AUN). dan pemerintahan yang baik di sektor publik dan swasta. ASEAN Business Advisory Council (ABAC). meningkatkan good governance baik di sektor publik maupun swasta. kepaduan dan harmoni (rasa kekitaan/we feeling). budaya dan sejarah dari negara-negara anggota. mempromosikan pengertian dan pengharagaan terhadap sistem politik. dan . mempromosikan hak dan kewajiban asasi manusia. Isu-isu yang tercakup dalam elemen ini. Mendorong aksesi TAC oleh negara-negara non-ASEAN 3. kegiatan diarahkan untuk mempromosikan pembangunan politik. Mencegah dan memerangi korupsi Pada elemen Political Development. Meningkatkan partisipasi organisasi-organisasi non-pemerintah seperti ASEAN Inter Parliamentary Organisation (AIPO). Shaping and Sharing of Norms Dalam upaya kontribusi untuk membangun tanggung-jawab bersama dan membentuk sebuah standar atau ketaatan terhadap norma-norma perilaku yang baik akan demokratis. memajukan arus informasi yang bebas diantara negara -negara ASEAN. mendirikan jaringan HAM dan mekanisme yang telah ada. termasuk penciptaan lingkungan yang adil. ASEAN People¶s Assembly (APA). Bekerja menuju penyesaian isu-isu yang mengemuka untuk menjamin penandatanganan negara-negara nuklir terhadap isi perjanjian SEANWFZ. 4. Strategistrategi untuk membentuk dan berbagi norma-norma termasuk: 1. B. PoA ASC dibidang political development ini sangat sulit karena terkait dengan prinsip non-interfensi dan konsensus yang masih melekat kuat dalam diri ASEAN.

. dan 7. narkotika. Mengembangkan early warning system yang didasarkan pada mekanisme yang ada untuk mencegah peningkatan konflik dan memperkuat kerjasama untuk mengatasi ancaman yang ditimbulkan oleh konflik perbatasan dan separatisme. 2. Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters (MLAT) yang telah ditandatangani oleh seluruh negara anggota ASEAN memberikan peluang untuk mengepung kerjasama hukum yang lebih kongkrit. dan memajukan pertukaran relawan pengamat pada pelatihan-pelatihan militer. 6. terutama dalam pemberian bantuan hukum timbal balik dibidang pidana(Swajaya. Pada elemen ini. Memajukan lebih luas lagi transparansi dan kesepahaman akan kebijakan pertahanan dan persepsi ancaman melalui publikasi dan pertukaran buku putih pandangan keamanan atau pertahanan diantara negara-negara anggota ASEAN. kejahatan lingkungan. Membentuk pencatatan persenjataan ASEAN untuk dikelola oleh sekretariat ASEAN yang selaras dengan aktifitas yang mirip yang sedang diadakan oleh ARF. seperti : kejahatan ekonomi. 2006 : 15). pembajakan. dan menyusun ASEAN Convention on Counter Terrorism. Bekerja menuju terciptanya perjanjian gotong royong legal (mutual legal assistance) dan konvensi ASEAN dalam menangkal terorisme. Mengembangkan ASEAN Mutual Legal Assistance (MLA) Agreement. Pencegahan konflik (conflict prevention) Dipandu oleh prinsip yang terartikulasi di TAC yang merupaikan kunci utama code of conduct ASEAN mengatur hubungan-hubungan antara negara dan kunci dari instrument diplomasi untttk memajukan perdamaian dan stabilitas di wilayah regional. mengimplementasikan Declaration on the Conduct of parties in the South China Sea(DoC). 6. 4. Selain itu.5. maka strategi strategi untuk pencegahan konflik adalah : 1. terorisme. 1. Memperkuat CBMs melalui peningkatan kesempatan untuk pertukaran dan interaksi diantara pejabat militer dan antara pejabat militer dengan masyarakat sipil. C. dan penyelundupan manusia. Memerangi kejahatan lintas nasional (transnational crimes) dan masalah-masalah lintas batas lainnya melalui aktifitas kerjasama regional. dan penyusunan perjanjian ekstradisi ASEAN sebagaimana dipertimbangkan oleh Declaration of ASEAN Concord.. Memajukan kerjasama keamanan maritim ASEAN. Memperkuat proses ARF (ASEAN Regional Forum) 5. terutama kerjasama dalam isuisu keamanan non tradisional. 3. PoA ASC dinilai berhasil telah ditandatanganinya ASEAN Charter pada KTT Ke-13 ASEAN di Singapura tahun 2007. membentuk kelompok kerja mengenai ASEAN Extradition Treaty yang berada dibawah tanggung jawab ASEAN Senior Law Officials Meeting (ASLCM). dan pertemuan para relawan untuk pengembangan politik dan keamanan di wilayah regional.

2006 : 20) 1. Menggunakan pusat-pusat penjaga perdamaian nasional yang ada dan yang direncanakan yang terdapat di negara-negara ASEAN untuk membangun perjanjian regional untuk pemeliharaan perdamaian dan stabilitas. Membangun berdasarkan model-model penyelesaian persengketaan pasifik yang ada untuk memperkuat mereka dengan mekanisme tambahan seperti yang dibutuhkan. banyak yang berpendapat bahwa sudah tiba saatnya ASEAN merubah paradigmanya dari sekedar mampu mencegah konflik untuk dapat menyelesaikan konfliknya sendiri. Sungguh begitu. ASEAN memang telah berhasil mengelola potensi konflik di Laut Cina Selatan menjadi potensi kerjasama yang melibatkan beberapa negara ASEAN dan China. Prinsip dasarnya adalah penggunaan cara-cara damai dan mencegah penggunaan kekerasan. mengembangkan institusi pendukung seperti ASEAN Insitute for Peace and Reconciliation.Pada elemen ketiga ini juga dinilai cukup berhasil dalam implementasi PoA ASC. ASEAN dan China telah berhasil menyepakati Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea (DOC) yang ditujukan untuk menyelesaikan persengketaan secara damai. Resolusi konflik (conflict resolution) Dalam upaya mendukung kepentingan kolektif dari seluruh negara-negara anggota untuk solusi komprehensif akan konflik dan membangun perdamaian dan keamanan yang langgeng dan sementara itu melanjutkan untuk menggunakan mekanisme nasional. 2. mengembangkan kerjasama regional untuk pemeliharaan perdamaian nasional (national peace keeping centers) yang ada atau yang sedang direncanakan. terutama adanya hak untuk tidak mencampuri urusan dalam negeri setiap negara anggota ASEAN (Prinsip non-interfensi). Mengerjakan penelitian manajemen dan resolusi konflik bersama dan pertukaran diantara pusat-pusat perdamaian ASEAN yang unggul. bilateral dan internasional untuk menyelesaikan persengketaan. 3. Menurut penulis elemen keempat ini sangat sukar dilaksanakan karena lagilagi berkaitan dengan persoalanASEAN Way. Komponen conflict prevention antara lain ditandai oleh keberhasilan ASEAN dalam menyelenggarakan ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) di tahun 2006 dan menghasilkan ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT) yang menyediakan dasar hukum bagi kerjasama kawasan dibidang pemberantasan terorisme (Tan. D. Conflict Resolution disini dimaksudkan untuk mendorong negara-negara ASEAN dapat memilih mekanisme regional dalam menyelesaikan konflik-konflik internalnya. Dengan demikian diharapkan dapat mendukung kepentingan negara yang bersangkutan dan kepentingan kolektif ASEAN. Langkah-langkahnya antara lain memperkuat mekanisme penyelesaian sengketa ASEAN. Dalam bidang penyelesaian konflik. DOC akan diimplementasikan melalui suatu Code Of Conduct . Memang implementasi dua komponen rencana aksi ASC dari tahun 2003 (Bali Concord II) sampai tahun 2008 sekarang ini banyak dilakukan pada komponen Conflict Prevention dan Shaping and Sharing of Norms. strategi untuk resolusi konflik harus terfokus pada pengembangan inovasi dan modalitas seperti : 1.

Tujuannya adalah menciptakan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk kesinambungan perdamaian di wilayah pasca konflik. E. rekonstuksi dan rehabilitasi. Meningkatkan kerjasama dalam rekonsiliasi dan peningkatan kultur perdamaian. ASEAN China Working Group on the Impelementation of the Declaration on the conduct of parties in the South China Seamenyepakati 6 proyek kerjasama dalam rangka Confidence Building Measures guna mendukung implementasi DOC. Perwujudan Komunitas Keamanan ASEAN pada tahun 2020. Dalam kaitan ini.In The South China Sea. mencakup pengembangan kerja sama pada Post-Conflict Reconstruction and Rehabilitation di daerah yang terpengaruh konflik. Pada elemen ini kegiatan yang bisa dilakukan mencakup pendirian mekanisme bantuan kemanusiaan. Selain itu. telah disepakati oleh para Menlu ASEAN padaASEAN Ministerial Meeting (AMM) ke-38. mencegah berulangnya konflik. Dengan kata lain. Menerapkan program-program pengembangan sumber daya dan bangunan berkapasitas di area yang mengalami rehabilitasi dan resolusi pasca pertikaian. Juli 2005. dan 5. mobilitas sumber daya. Memperkuat pendampingan permasalahan kemanusiaan dengan menyediakan tempat tempat perlindungan di era konflik. Conflict Resolution and Peacebuilding serta ASEAN- . antara lain memperkuat bantuan kemanusiaan ASEAN. Mengurangi ketegangan inter-comunal melalui pertukaran pendidikan dan reformasi kurikulum. 4. Bekerja menuju untuk membangun ASEAN pusat (pendampingan/ manajemen krisis permasalahan kemanusiaan). seperti layaknya sebuah dusun yang terdiri dari sepuluh rumah tangga tanpa pagar dan saling bertetangga dengan baik. ASEAN bertransformasi dari sekumpulan negara-negara yang berdekatan secara geografis menuju sebuah komunitas yang memiliki identitas kolektif berdasarkan rasa ³ke-kita-an´ atau ³we feelings³. ASEAN Agreement on Disaster Relief and Emergency Response(AADMER). Kegiatan elemen ini mencakup. yang antara lain memuat rencana pembentukan ASEAN Humanitarian Assistance Centre dan pengaturan untuk pemberdayaan personel militer dan sipil dalam operasi penggulangan bencana. Hidup rukun dengan penuh kesahajaan. 1. Selain itu telah diselenggarakan pertemuan rutin ASEAN-UN Regional Seminar on Conflict Prevention. strategi-strategi untuk pembanguuan perdamain pasca konflik adalah : 1. 3. meminjam istilah Alfin Toffler dalam bukunya Global Village tahun 1998. monitoring dan evaluasi kegiatan pembangunan perdamaian pasca konflik. mendirikan mekanisme untuk memobilitasi sumber daya guna memfasilitasipost conflict peace building termasuk kerja sama dengan negara donor dan lembaga-lembaga internasional. Pembangunan perdamaian pasca konflik (post conflict peace building) Menciptakan kondisi yang dibutuhkan untuk perdamaian yang berkelanjutan dan mencegah adanya kebangkitan kembali konflik yang membutuhkan ahli-ahli dan institasi multidisiplin tertentu. 2.

Pembentukan EPG ini Diresmikan pada KTT ke-11 ASEAN di Kuala Lumpur. a. 3. dengan ditandatanganinya Kuala Lumpur Declaration on the Establishment of the ASEAN Charter. penugasan pada Sekjen ASEAN untuk membantu Ketua ASEAN dalam memonitor dan mengkaji kemajuan implementasi ASC PoA. Desember 2005. Masalah Timor Timur. Piagam ASEAN (ASEAN Charter) Penyusunan Piagam ASEAN bertujuan untuk menstransformasikan ASEAN dari sebuah asosiasi politik yang longgar menjadi organisasi internasional yang memiliki legal personality. Januari 2007. post conflist peace building. telah diselenggarakan ASEAN Security Community Plan of Action Coordinating Conference (ASCCO) yang pertama di Jakarta pada 4-5 September 2006. Elemen terakhir dari PoA ASC ini menurut penulis juga akan banyak mengalami kendala yang berkaitan dengan adanya hak untuk tidak campur tangan masalah internal negara anggota ASEAN (Prinsip non-interfensi). workshop. Selain itu. (Sukma. berdasarkan aturan yang profesional (rule-based organization). Lebih jauh. combating corruption serta promosi dan perlindungan HAM. atau lokakarya tapi lemah dalam melaksanakan implementasinya. Pada elemen terakhir ini µpolitical will¶ dari para pemimpin negara-negara ASEAN mutlak dibutuhkan untuk mewujudkannya. untuk meningkatkan koordinasi antar badan-badan ASEAN yang terkait dengan implementasi Rencana Aksi Komunitas Keamanan ASEAN. F. 2006: 52) Proses penyusunan draft Piagam ASEAN (ASEAN Charter) diawali dengan pembentukan Eminent Persons Group (EPG) on ASEAN Charter yang beranggotakan para tokoh terkemuka dari seluruh Negara anggota dan diketuai oleh Tun Musa Hitam (EPG-Malaysia). Filipina. 1.UN Rountable on ASEAN humanitarian Rapid Response Capacity untuk mengelaborasi kemungkinan kerjasama ASEAN di bidang penciptaan perdamaian pasca konflik serta operasi pemberian bantuan kemanusiaan (Peace Keeping Forces). Myanmar dan Kamboja adalah kasus -kasus yang memiliki sensitivitas tinggi karena melibatkan negara-negara anggota ASEAN. elemen ini memuat mekanisme untuk melaksanakan PoA yang mencakup beberapa kegiatan seperti pemberian wewenang pada pertemuan Menlu ASEAN (AMM) untuk mengusulkan kebijakan dan aktifitas baru guna memperkuat ASC. Sudah bukan rahasia lagi bahwa ASEAN lebih senang mengadakan pertemuan (Meeting). Pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu. disepakati perlunya memperhatikan isu human security. disepakati Cebu Declaration on . Guna memantau perkembangan implementasi ASC PoA maka terdapat mata acara khusus berjudul ³Implementation of the ASC Plan of Action´ dalam setiap pertemuan AMM. Beralih pada Implementing Mechanisms. Pertemuan ini menekankan percepatan implementasi Rencana Aksi Komunitas Keamanan ASEAN di bidang conflict resolution. wewenang AMM untuk mengkaji kemajuan yang telah dicapai ASC PoA. serta memiliki struktur organisasi yang efektif dan efisien. 1. Kerjasama Kelembagaan ASEAN Untuk Mencapai Komunitas Keamanan 2. good governance.

b. f. terbuka. melalui dialog serta kerjasama dibidang pertahanan dan keamanan. dan melibatkan Mitra Wicara ASEAN. ADMM bersifat outward looking. Para pejabat tinggi ASEAN dibidang hukum dalam pertemuan ASEAN Senior Law Officials Meeting (ALSOM) ke 11 di Siem Reap. 29-30 Januari 2007. penidakan. Penyelesaian Sengketa Laut China Selatan . 1. Para Kepala Negara/Pemerintahan ASEAN telah memberikan arahan mengenai penyusunan Charter serta membentuk suatu High Level Task Force (HLTF) on the drafting of ASEAN Charter yang beranggotakan para pejabat tinggi dari negara-negara anggota.the Blueprint of the ASEAN Charter yang berisi kesepakatan untuk menyusun suatu Piagam ASEAN berdasarkan rekomendasi EPG. Konvensi ini memberkan dasar hukum yang kuat guna peningkatan kerjasama ASEAN dibidang pemberantasan terorisme. Filipina. e. Selain meiliki karakter regional. Piagam ini ditandatangani pada KTT ke-13 di Singapura. Kamboja. ADMM telah mengadakan pertemuan pertamanya pada bulan Mei 2006 di Kuala Lumpur. Kamboja. 1. ACCT bersifat komprehensif (meliputi aspek pencegahan. menyepakati untuk membentuk kelompok kerja untuk memulai proses perumusan traktat ekstradisi ASEAN. menyepakati untuk membentuk kelompok kerja untuk memulai proses perumusan traktat ekstradisi ASEAN. Para pejabat tinggi ASEAN dibidang hukum dalam pertemuan ASEAN Senior Law Officials Meeting (ALSOM) ke-11 di Siam Reap. ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) Rencana pembentukan traktat ekstradisi ASEAN merupakan amanat Bali Concord 1976 dan Rencana Aksi Komunitas Keamanan ASEAN. Malaysia. sehingga dimasa mendatang dimungkinkan adanya mekanisme ADMM Plus. tranparan. 1. dan program rehabilitas). 29-30 Januari 2007. tahun 2007. c. Januari 2007. Traktat bantuan hukum timbal balik di Bidang Pidana (Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Mattersl MLAT) ACTT ditandatangani pada KTT ke-12 ASEAN di Ceba. Rencana Pembentukan Traktat Ekstradisi ASEAN Rencana pembentukan traktat ekstradisi ASEAN merupakan amanat Bali Concord 1976 dan Rencana aksi komunitas keamanan ASEAN. 1. Konvensi ASEAN tentang pemberantasan terorisme (ASEAN Convention on Counter Terrorism/ ACCT) Pembentukan ADMMM merupakan inisiatif Indonesia dan bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas kawasan. d. 1. sehingga memiliki nilai tertentu bila dibandingkan dengan konvensi sejenis..

Laos. Traktat SEANWFZ ini disertai protokol yang merupakan suatu legal instrumant mengenai komitmen negara ASEAN dalam upayanya memperoleh jaminan dari negara yang memiliki senjata nuklir (Nuclear Weapon Stat/ NWS) bahwa mereka akan menghormati Traktat SEANFWZ dan tidak akan menyerang negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Upaya ASEAN untuk mempertahankan perdamaian dan stabilitas regional mengalami kemajuan pesat pada bulan Oktober 2003 dengan akses China dan India dan TAC. Protokol ke-2 Amandemen TAC (Treaty Of Amity and Cooperation in South East Asia)yang ditandatangani para Menteri Luar Negeri ASEAN dan Papua New Guinea di Manila. dan dalam rangka turut serta mendukung upaya tercapainya suatu pelucutan dan pelarangan senjata nuklir secara umum dan menyeluruh. Aksesi Perancis kedalam TAC merupakan pengakuan penting salah satu negara Uni Eropa (UE) terhadap eksistensi ASEAN dan pentingnya pengembangan kerjasama dengan ASEAN. Sedangkan Rusia dan Korea Selatan mengaksesi pada Pertemuan Tingkat Menteri (PTM) ASEAN-Rusia dan PTM ASEANKorsel. Australia Mengaksesi TAC pada bulan Desember 2005 di Kuala Lumpur sebelum penyelenggaraan KTT ke-11 ASEAN. para Menlu ASEAN untuk pertama kalinya mengadakan Sidang Komisi SEANWFZ. Proses lebih lanjut menyangkut akses ini masih berkembang. South-East Nuclear Weapon Free Zone (SEANWFZ) Treaty ditandatangai di Bangkok pada tanggal 15 Desember 1995 dan telah diratifikasi oleh seluruh negara ASEAN. Traktat ini mulai berlaku pada tanggal 27 Maret 1997. Implementasi SEANWFZ perlu untuk segera dilaksanakan guna mewujudkan kawasan Asia Tenggara yang aman dan stabil serta upaya mewujudkan perdamaian dunia. Pada KTT ke-12 ASEAN. termasuk bagi Negara-negara yang berada di kawasan laut cina selatan. Perancis dan Timor Leste mengaksesi TAC. Pembentukan SEANWFZ menunjukkan upaya negara-negara di Asia Tenggara untuk meningkatkan perdamaian dan stabilitas kawasan baik regional maupun global. Hal ini merupakan langkah pertama penting ke arah ditetapkannya traktat tersebut. UE juga telah menyatakan niatnya untuk mengaksesi TAC yang menandakan kem ajuan ASEAN sebagai organisasi regional yang signifikan. ASEAN dan China telah berhasil menyepakati Declaration on the Conduct of Parties in the South China Sea(DOC) yang ditujukan untuk menyelesaikan persengketaan secara damai (Conflict Resolution). 25 Juli 1998 menjadi titik awal perluasan TAC diluar ASEAN. Setalah 10 tahun Traktat ini berlaku (enter into force). Komisi SEANWFZ di tahun 2007 . pada november 2004 di Vientiene.ASEAN telah berhasil mengelola potensi konflik di Laut China Selatan menjadi potensi kerjasama yang melibatkan beberapa negara ASEAN dan China. Dalam rangka implementasi tersebut. pada KTT ke-9 ASEAN di Bali. Selandia Baru dan Mongolia pada AMM ke-38 mengaksesi TAC pada bulan Juli 2005 di Vientiane. DOC akan diimplementasikan melalui suatu code of conduct in the South China Sea. dan menjajagi langkah yang lebih konstruktif berupa kerjasama dengan IAEA. negara-negara anggota ASEAN berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan terkait dengan finalisasi protokol. Pada pertemuan AMM ke 32 bulan Juli 1999 di Singapura. khususnya bagi perkembangan kerjasama kedua kawasan. 2003. Jepang dan Pakistan mengakses TAC tanggal 2 Juli 2004 saat AMM ke-37 di Jakarta.

Dalam jalur satu. penyelundupan dan perdagangan senjata ringan dan manusia. kejahatan internet dan kejahatan ekonomi internasional. Saat ini. Uni Eropa dan Jepang. dua jenis kegiatan utama adalah intersessional Support Group (ISG) dan beberapa intersessional Meeting (ISM) yang lebih bersifat teknis. ASEAN Regional Forum (ARF) diprakarsai oleh ASEAN pada tahun 1994 sebaai forum untuk saling tukar pandangan dan informasi bagi negara-negara Asia-Pasifik mengenai masalah-masalah politik dan keamanan. dan Jalur Dua (Track II) yang diadakan dan dihadiri oleh lembaga-lembaga penelitian (think tank) dari negara-negara ARF. dibagi atas Jalur Satu (Track I) yang dihadiri oleh wakil-wakil pemerintahan negara-negara ARF. ARF melangkah ketahap kedua sambil tetap melaksanakan tahap pertama. g. 1. Preventive Diplomacy (PD) dan Conflict Resolution (CR). Kegiatan ISM saat ini berupa ISM on counter-terrorism and transnational crime (ISM on CT-TC) dan ISM on Disaster Relief (ISM-DR). China. Proses ARF lebih mencerminkan ASEAN Way yaitu menjalin hubungan untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan kebiasaan berdialog serta berkonsultasi dalam masalah-masalah keamanan. Rusia. Sasaran yang hendak dicapai melalui ARF adalah mendorong saling percaya (confidence building measures) melalui transparansi dan mencegah kemungkinan timbulnya ketegangan maupun konflik di kawasan Asia Pasifik. Treaty on Mutual Legal Assistence in Criminal Matters (MLAT) ditandatangani tahun . Dalam kaitan tersebut pertemuan ISG. bajak laut. kerjasama ASEAN dalam memerangi kejahatan lintas negara dilaksanakan melalui pembentukan pertemuan para menteri ASEAN terkait dengan pemberantasan kejahatan lintas negara (ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime /AMMTC) beberapa perjanjian yang telah dihasilkan ASEAN terkait dengan pemberatan kejahatan lintas negara yaitu : 1. berubah nama menjadi ISG CMBs and PD. pembahasan dan tukar pandangan dalam ARF memiliki makna penting dan strategis. ASEAN Plan of Action Combat Transnational Crimes yang mencakup kerjasama pemberantasn terorisme. baik regional maupun internasional. Sebagai satu-satunya forum dialog keamanan di luar PBB. Kerjasama di Bidang Pemberantasan Kejahatan Lintas Negara Kerjasama ASEAN dalam rangka memberantas kejahatan lintas negara (Transnational Crime) pertama kali diangkat pada pertemuan para Menteri Dalam Negeri ASEAN di Manila tahun 1997 yang mengeluarkan ASEAN Declaration on Transnasional Crimes.melakukan major review terhadap SEANWFZ. Kegiatan-kegiatan antar sesi yang dilakukan diantara pertemuan-pertemuan ARF. perdagangan obat terlarang pencucian uang. 2. yang dihadiri kekuatan besar dunia antara lain : Amerika Serikat. Proses kerjasama ARF terbagi atas 3 tahap yaitu tahap Confidence Building Measures (CBMs). Sebagai tindak lanjut dari deklarasi diatas.

Kerjasama Di Bidang Imigrasi dan Kekonsuleran Kerjasama ASEAN dibidang imigrasi dan kekonsuleran dilaksanakan melalui pertemuan para Direktur Jenderal Imigrasi dan kepada Divisi Konsulter ASEAN (the Meeting of the ASEAN Directors General of Immigration Departements and heads of consular Affairs Divisions of the ministeries of foreign affairs /DGICM. merupakan perjanjian di tingkat sub regional guna penanganan kejahatan lintas batas melalui pertukaran informasi. Kerjasama dibidang hukum Kerjasama ASEAN dibidang hukum dilaksanakan melalui mekanisme pertemuan para pejabat tinggi ASEAN di bidagn hukum (ASEAN Senior Law officials Meeting / ASLOM) yang dilaksanakan setiap tahun dan pertemuan para menteri Hukum ASEAN (ASEAN Law Ministerial Meeting/ALAWMM) yang dilaksanakan setiap 3 (tiga) tahun. 1. Kerjasama Kelambagaan Antar Parlemen Kerjasama antar parlemen di ASEAN diselenggarakan melalui mekanisme ASEAN inter Parlianmentary Assembly (AIPA). j. Para Menteri Luar Negeri ASEAN telah menandatangani Perjanjian Kerangka ASEAN mengenai Bebas Visa (ASEAN Framework Agreement on Vis exemption) ditandatangani pada AMM ke39 di Kuala Lumpur 25 Juli 2006. Pada ASLOM ke 11 di Siem Reap. Kamboja. 1. Januari 2007 disepakati (a) merekomendasikan Treaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters (MLAT) yang telah ditandatangani oleh semua negara anggota ASEAN kepada Al AWMM ke7 di Brunei Darussalam.2006 3. Persetujuan ini memberlakukan bebas visa kunjungan singkat bagi warga negara anggota ASEAN yang melakukan perjalanakn diwilayah ASEAN selama 14 hari. h. Perjanjian dimaksud diharapkan dapat mendorong pencapaian komunitas ASEAN melalui peningkatan perjalanan intra ASEAN dan people to people contact. Declaration of ASEAN Concord tahun 1976 dan Rencana Kerja komunitas Keamanan ASEAN. i. Pertemuan pertama working group ini direncanakan untuk dilaksanakan di Indonesia di tahun 2007. 1. Agreement on information exchange and establishment of communication procedures ditandatangani tahun 2002. Semula organisasi ini bernama ASEAN Inter . ASEAN Convention on counter terrorism di tandatangani tahun 2007 sebagai instrumen hukum dalam penanganan terorisme. tahun 2008 (b) pembentukan Working Group on ASEAN Extradition treaty untuk merumuskan sebuah traktat eksradisi ASEAN. ASEAN Declaration on Joint Action to Counter Terrorism ditandatangani tahun 2001 dalam penanganan terorisme dan 5. 4.

Walaupun bukan merupakan badan resmi ASEAN. WGAHRM telah bekerjasama dengan pemerintah beberapa negara anggota ASEAN dan menyelenggarakan beberapa workshop dan roundtable discussion untuk mempelajari kemungkinan pembentukan mekanisme HAM ASEAN dan memberikan rekomendasi ke pemerintah negara-negara ASEAN. dan Vietnam. instrumen hukum ( deklarasi atau konvensi) dan badan (komisi atau pengadilan HAM). Dalam sidang umum AIPO ke27 di Cebu.Parliamentary Organization (AIPO) didirikan pada tahun 1977. Ditandatanganinya ASEAN Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers pada KTT ke 12 ASEAN. Saat ini keanggotaannya telah pula mencakup parlemen-parlemen dari Kamboja. Kadana. k. WGAHRM terdiri dari beberapa kelompok kerja nasional di Indonesia. AIPA di tahun yang sama mengeluarkan Human Rights Declaration yang mencantumkan himbauan kepada pemerintah negara -negara ASEAN untuk membentuk mekanisme HAM ASEAN. dan FILipina. dan Korea Selatan. Asia Pasifik (termasuk ASEAN) merupakan satu-satunya kawasan yang belum memiliki mekanisme HAM Regional. pada umumnya terdiri atas 2 (dua) komponen. Hal ini merupakan tanggapan ASEAN terhadap Vienna Declaration and Programme of Action (1993) mengenai antara lain pendirian mekanisme HAM regional untuk mendukung promosi dan perlindungan HAM global. Walaupun hingga saat ini pembentukan mekanisme HAM ASEAN belum terwujud. sementara Brunei Darussalam dan Myanmar sebagai Special Observers. . tercatat beberapa perkembangan sebagai berikut : 1. Pada saat ini. namun AIPA memiliki status konsultatif dengan ASEAN. Uni Eropa. beranggotakan parlemenparlemen dari Indonesia. Laos. Rusia. Selandia Baru. Malaysia. Malaysia. dan 2. Jepang. Pembentukan Working Group on ASEAN Human Rights Mechanism (WGAHRM) yang beranggotakan tokoh-tokoh Asia Tenggara baik dari sektor pemerintahan maupun civil society. AIPO berganti nama menjadi ASEAN inter-parliamentary Assembly (AIPA). AIPA melakukan dialog dengan anggota parlemen dariengara Mitra Wicara ASEAN yang bertindak sebagai Observers seperti Australia. Singpaura. China. dan Thailand. yaitu. Kamboja. 10-15 September 2003. Filipina. Mekanisme HAM. Juli 1993 menyepakati perluanya mempertimbangkan pendirian mekanisme HAM regional yang sesuai di ASEAN. Pergantian nama ini dimaksudkan untuk mendorong proses tranformasi AIPA dalam mendukung upaya perwujudan komunitas ASEAN. Thailand. Papu New Guinea. Meskipun AIPA bukan badan ASEAN karena ASEAN merupakan organisasi antar pemerintah. 1. Filipina. Singapura. Upaya Pembentukan Mekanisme HAM ASEAN Para Menteri Luar negeri ASEAN pada AMM ke26 di Singapura.

Selain itu ASEAN memiliki satu negara Mitra Wicara sektoral yaitu Pakistan ASEAN juga melakukan hubungan terbatas dengan berbaai organisasi regional dan internasional. ASEAN menetapkan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut : 1. dan 5.1. Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara tidak dimaksudkan untuk menggantikan kerjasama bilateral yang sudah ada 3. Selain itu. Keberadaan MItra Wicara ikut berperan penting dalam proses pembangunan kawasan ASEAN yang diharapkan dapat terbentuk menjadi sebuah komunitas yang solid pada 2015. Kerjasama Eksternal Asean Saat ini ASEAN memiliki 11 Mitra Wicara (Dialogue Partners) yakni Australia. maupun kebijakan luar negeri bersama (Common Foreign Policy). ASEAN juga memiliki hubungan/ dialog terbatas dengan beberapa organisasi regional dan internasional. Jepang. serta menumbuhkan saling percaya di antara sesama anggotanya. 1. Rusia. Sejak Bali Concord II (2003) ASEAN Security Community (ASC). Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara harus memperkuat ketahanan nasional negara-negara ASEAN yang selanjutnya dapat meningkatkan ketahanan regional ASEAN 2. 4. dan tidak ditujukan untuk membentuk suatu pakta pertahanan/aliansi militer. Uni Eropa. Amerika Serikat dan UNDP. Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara tidak boleh mengandung ikatan-ikatan politik yang merugikan kepentingan nasional. 4. Sebelumnya Indonesia menjadi koordinator untuk kerjasama ASEAN-UE (2003-2006) yang semenjak tahun 2006 telah diserahkan kepada Kamboja. Indonesia menjadi negara koordinator hubungan kerjasama ASEAN-India. hubungan eeksternal ASEAN juga mengalami perluasan yang ditandai dengna terbentuknya mekanisme kerjasama baru yaitu East Asia Summit (EAS). Kore Selatan. ASEAN sebagai organisasi regional yang dinamis telah menarik banyak Negara untuk menjadi Mitra Wicara penuh ataupun sektoral. Saat ini ASEAN memiliki 11 mitra wicara penuh dan 1 mitra wicara sektoral. Prospek dan Kendala Banyak kalangan menilai bahwa menjelang 41 tahun berdirinya ASEAN. Proyek-proyek kerjasama sebaiknya dilaksanakandi kawasan ASEAN Untuk periode tahun 2006-2009. ditujukan untuk mempercepat kerjasama politik keamanan di ASEAN yang bersifat terbuka. India. ASEAN telah berhasil mengembangkan dan mempertahankan stabilitas dan perdamaian di kawasan Asia Tenggara. Kanda. sejak Deklarasi Bangkok 1967. Dalam menjalin kerjasama dengan negara Mitra Wicara. Selandia Baru. sebagaimana . Percepatan pembentukan ASC dari 2020 menjadi 2015. berdasarkan pendekatan keamanan komprehensif. China. l. Kerjasama ASEAN dengan negara Mitra Wicara tidak boleh merugikan salah satu negara ASEAN. Dalam perkembangannya.

Pembentukan ASC akan memperkuat ketahanan kawasan dan mendukung penyelesaian konflik secara damai. (Tan. Dibidang kerjasama pemberantasan terorisme. dan post conflict peace building. sharing and shaping of norms. karakter ASEAN sebagai sebuah asosiasi yang bersifat longgar tidak lagi dirasakan cukup mengakomodasi potensi kerjasama dan menanggapi tantangan integrasi kawasan dan globalisasi. Hal ini dibutuhkan mengingat selama ini. implementasi kerjasama di bidang pemberantasan kejahatan lintas negara diprioritaskan pada kegiatan -kegiatan yang mungkin dilakukan. ASEAN diharapkan tidak lagi menyembunyikan masalah-masalah dalam negeri yang berdampak pada stabilitas kawasan dengan berlindung pada prinsip-prinsip non interference. conflict prevention. Dengan derajat kematangan yang ada. Hal ini dilakukan antara lain konsultasi bersama untuk membahas masalah-masalah politikkeamanan kawasan seperti keamanan maritim. berbagai langkahlangkah dilakukan melalui peningkatan pemahaman dan pemeliharaan keserasian diantara umat beragama atau kepercayaan di kawasan. Sesuai dengan Cebu Declaration on the Blueprint of the ASEAN Charter yang disahkan pada KTT ke-12 ASEAN dan selesai pada KTT ke-13 ASEAN di Singapura.disepakati para kepala negara ASEAN pada KTT ke-12 ASEAN di Cebu. Selama ini negara ASEAN dibidang pemberantasan terorisme. 13 Januari 2007. serta masalah-masalah keamanan nontradisional (kejahatan lintas negara. conflict resolution. Piagam ASEAN akan merefleksikan perwujudan komunitas ASEAN yang tidak berupa lembaga supra nasional seperti Uni Eropa. 2006 : 16). 2006 : 20). Dalam komponen ³conflict prevention´ Rencana Aksi ASC. Pencapaian ASC melalui Rencana Aksi yang termuat dalam VAP diwujudkan melalui sejumlah komponen yang terdiri dari political development. Terciptanya perdamaian dan stabilitas di kawasan akan menjadi modal bagi proses pembangunan ekonomi dan sosial budaya masyarakat ASEAN. ASC menganut prinsip keamanan komprehensif yang mengakui saling keterikatan antara aspek-aspek politik. kerusakan lingkungan hidup dan lain-lain). Implementasi Rencana Aksi ASC didalam komponen ³Shaping and Sharing of norms´dilakukan terutama dengan upaya perumusan Piagam ASEAN. Terselenggaranya ASEAN Defence Ministers Meeting (ADMM) merupakan capaian dari komponen conflict prevention. Indonesia telah memprakarsai penandatanganan ASEAN Convention on Counter Terrorism (ACCT). (Swajaya. ASC memberikan mekanisme pencegahan dan penanganan konflik secara damai. dan sosial budaya. Sebagaimana ditegaskan dalam Vientiane Action Programme (VAP) pada KTT ke-10 ASEAN di Laos. memberikan tantangan tersendiri bagi ASEAN untuk mewujudkannya. perluasan kerjasama pertahanan. Filipina. Rencana Aksi ASC. (Kraft. bulan Nopember 2007. ASC merupakan sebuah pilar yang fundamental dari komitmen ASEAN dalam mewujudkan komunitas ASEAN. baik antara negara anggota ASEAN maupun dengan negara Mitra Wicara. didasarkan atas declaration dan plan of action yang secara . ekonomi. 2006 : 26). Piagam ASEAN akan mengubah ASEAN sebagai suatu rule based organization. ADMM memberikan peluang bagi pengembangan kerjasama keamanan kawasan tanpa membentuk sebuah pakta pertahanan atau aliansi militer.

terutama dalam komponen political development(antara lain terkait dengan good governance. pemberantasan korupsi. dan demokratis. yaitu demokratisasi dibawah pemerintahan yang transparan. Tantangan yang dihadapi dalam menciptakan ASEAN Security Community sebenarnya terletak pada upaya untuk menyelesaikan perbedaan persepsi di antara negara-negara anggota mengenai masa depan ASEAN pada tahun 2015-2020. promosi dan penghargaan HAM tidak bisa lagi di lihat sebagai sebuah retorika politik. sekarang ini terdapat dua pola pemikiran diantara negara-negara ASEAN. ACCT memberikan dasar hukum bagi kerjasama ASEAN dibidang pemberantasan terorisme. jelas struktur politik kawasan Asia Tenggara diarahkan untuk semakin maju. Terkait dengan ACCT dan MLAT. para pejabat tinggi ASEAN dibidang hukum (ALSOM) dalam pertemuannya yang ke 11 di Siem Reap. 2007 : 142). yang menjunjung tinggi bahasa global dunia. Disatu sisi. Walau beberapa target capaian dalam komponen Conflict prevention dan Shaping and Sharing of norms telah diraih. terbuka. termasuk juga kemungkinan pembentukanASEAN-Peace Keeping Force tahun 2012. Dalam hal ini. dan pembangunan politik tahun 2017(ASEAN Selayang Pandang. ASEAN perlu untuk segera menindaklanjuti penandatanganan perjanjian dimaksud serta mulai mengimplementasikan bidang -bidang kerjasama di dalamnya. pemerintah yang bersih. a.hukum tidak meningkat. Hal ini telah dicermati dalam ASEAN Security Community Coordinating Conference (ASCO) ke1 di Jakarta. Prospek Dari apa yang telah diuraikan penulis pada Bab II dan Bab III diatas. perwujudan ASEAN Security Community bisa dilihat masih memiliki prospek. conflict resolution dan post conflict peace building. ASEAN Perlu untuk mendorong pencapaian komponenkomponen rencana aksi ASC lainnya. memiliki akuntabilitas yang tinggi serta menghargai Hak Asasi Manusia 1. Kamboja. combatting corruption dan promosi dan perlindungan HAM). terutama dalam pemberian bantuan hukum timbal balik diantara para pihak dibidang pidana. Langkah pembangunan politik akan melintasi isu-isu sensitive yang menyangkut tuntutan demorasi layaknya di negara maju. antara lain adalah perumusan sebuah traktat ekstradisi ASEAN (ASEAN extradition treaty) yang juga telah diamanatkan dalam Bali Concord 1976. bulan Januari 2007 telah menyepakati pembentukan kelompok kerja (working group) untuk memulai proses perumusan traktat dimaksud. terdapat beberapa negara ASEAN yang merasa bahwa kelembagaan dan pendekatan yang ada sekarang ini telah mencukupi untuk . Tantangan ke depan bagi ASEAN dalam implementasi komponen ³Shaping and sharing of norms´ dari ASC. bulan September 2006. penyelenggaran pemilu yang bebas. Traktat ini memberikan peluang untuk mendukung kerjasama hukum yang lebih kongkrit. Bangunan ASEAN ke depan adalah rumah besar yang menggelindingkan ASEAN Sharedcommon value baru. Capaian lain dari komponen ³Shaping and sharing of norms´ rencana aksi ASC adalah penandatangananTreaty on Mutual Legal Assistance in Criminal Matters (MLAT). Melihat rencana aksi komunitas keamanan ASEAN. penegakkan dan supremasi hukum. Sebagai contoh.

Prinsip Non-interfence . Menurut hemat penulis. Untuk dapat menjawab tantangan keamanan baru pasca perang dingin. forum atau pertemuan ASEAN adalah proyeksi dari kepentingan nasional mereka. seperti di Timur Tengah. Kesamaan tersebut diantaranya berupa norma-norma bersama. terdapat pula negara-negara ASEAN yang memandang ASEAN perlu di reformasi sehingga dapat melangkah dari tahap conflict management ke arah conflict resolution(Wibisono. 2006 : 201). ASEAN adalah lingkaran konsentris bagi setiap kebijakan luar negari masing-masing negara. mereka sebenarnya telah menikmati salah satu hasil konkrit dari ASEAN. Namun perlu dicatat. dan karenanya ASEAN harus berani bergerak meninggalkan sikap konservatif yang selama ini melekat cukup erat. pembentukan Komunitas ASEAN ini merupakan transformasi lanjutan dari keberhasilan ASEAN dalam menjadi region paling stabil di dunia. dimana pertanyaan ini mengindikasikan bahwa rakyat masih mencari apa pentingnya ASEAN bagi mereka. konsensus. Dalam pandangan mereka. misalnya. pencapaian yang sering kita rasakan sebagai hal normal ini masih dirasakan oleh region tersebut sebagai capaian yang masih jauh diraih. Setiap hal yang didiskusikan dalam dialog. Seperti halnya dalam masalah prinsip non-interfence. namun pemerintah negara-negara ASEAN diharapkan bisa bersikap lebih fleksibel bahkan µreformis¶ dalam menerapkan prinsip tersebut. Sayangnya kenyataan tersebut tidak disadari oleh kebanyakan orang ASEAN. ASEAN tidak memiliki pilihan lain kecuali melakukan refleksi diri. namun disisi lain. Dengan keberhasilan ASEAN dalam menghindari kekerasan atau konflik bersenjata di antara negara anggotanya sejak Deklarasi Bangkok 1967. ketika mereka mempertanyaan hal tersebut. oleh karena itu. Media massa kerap memunculkan pertanyaan seperti ini.menghadapi tantangan-tantangan masa kini. seperti melakukan redefinisi ulang atas prinsip-prinsip yang dianut dan memperbaiki mekanisme pembuatan atau putusan didalam tubuh ASEAN. yaitu dengan nafas yang mereka nikmati tanpa rasa khawatir adanya perang seperti yang dirasakan oleh rakyat di kawasan lain. dimasa depan penerapan ASC secara obyektif memerlukan pengkajian ulang cara ASEAN (ASEAN Way) dalam menyikapi berbagai permasalah melalui kompromi. atau Afrika. kesamaan pengalaman sejarah. Padahal. perlu mempertimbangkan untuk maju menuju ³ASEAN Way to settle disputes´. Tata dunia baru sekarang ini membutuhkan pemikiran-pemikiran baru. dan kemauan bersama untuk menghindari penggunaan kekerasan sebagai cara penyelesaian masalah. ASEAN. akan tetap menjadi kunci dalam ASC. Semenanjung Korea. dan campur tangan serta menyembunyikan isu-isu politik dan keamaan yang sensitif di bawah karpet. Dalam pandangan para pemimpin ASEAN. bisa dikatakan ASEAN cukup berhasil dalam mewujudkan komunitas keamanan dan cukup matang untuk mengembangkan sejumlah mekanisme penyelesaian konflik di kawasan. lokasi geografis. bahwa usaha ini bukan merupakan pekerjaan yang mudah karena kecenderungan ASEAN yang selama ini untuk lebih banyak meredam konflik dari pada menyelesaikannya. terutama yang terkait dengan persoalan human security seperti pelanggaran HAM berat.prinsip kedaulatan nasional (state sovereignty) perlu . ³Apa hasil konkrit yang bisa didapat rakyat dari ASEAN?´. Hal inilah yang menyemangati para pemimpin ASEAN untuk mengakselerasi pembentukan Komunitas ASEAn pada tahun 2015. Jika kita membandingkan keadaan ASEAN dengan keadaan region lain. Namun perlu disadari juga bahwa negara-negara ASEAN sebenarnya memiliki banyak kesamaan yang bisa membantu untuk merekatkan anggota ASEAN.

Bencana topan tropis Nargis yang menelan korban tewas mencapai 1.diterapkan secara tepat dan proporsional.5 juta jiwa di Myanmar. Sudah saatnya dimasa depan ASEAN mulai memilah-milah kapan prinsip ini bisa diterapkan secara tepat. seperti pelanggaran HAM berat atau yang terkait dengan persoalan µhuman security¶. kemudian junta militer itu sendiri yang akan mendistribusikannya kepada korban. dan kapan ia dapat digunakan secara fleksibel. Dengan kata lain. . (Pitsuwan. negara-negara yang tergabung dalam sebuah security community akan mampu membangun ³kebiasaan untuk saling mempercayai´ (habit of trust) dalam mengelola hubungan diantara mereka. dan masalah lingkungan. tidak ada lagi ³masalah domestik´ yang mutlak terpisah dari negara-negara yang lain di kawasan. penyelundupan dan perdagangan manusia. dimana junta militer yang berkuasa di Myanmar hanya mengizinkan bantuan internasional sampai di bandara Yangoon. Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai ASEAN selama ini dalam mengembangkan saling hubungan dan saling percaya diantara para anggotanya pada dasarnya telah membawa ASEAN kedalam apa yang sering disebut sebagai suatu masyarakat pluralistik yang berkeamanan (Pluralistic Security Community). bulan Mei 2008 adalah contoh buruk dari negara anggota ASEAN. Beberapa isu -isu domestik suatu negara dapat memiliki spill over effects (efek menyebar) kepada negara tetangganya. Sebuah security community dianggap memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) Tidak adanya kompetisi untuk membangun kekuatan militer di antara negara-negara di kawasan (arms race). 2006 : Ibid). Sejak Asia Tenggara pada tahun 1997-an diterpa krisis ekonomi. Atau alangkah baiknya bila ASEAN mulai memperkenalkan sistam µvoting¶ sebagai mekanisme utamanya di dalam setiap pengambilan keputusannya. 2006 : 11-12). karena junta sangat takut pengaruh asing masuk ke negaranya dengan dalih bantuan kemanusiaan (Kompas. dimana negara-negara yang tergabung dalam kelompok tersebut secara bersama memiliki ³harapan mengenai perubahan secara damai´ (expectation of peaceful change) dan menolak ³penggunaan kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah diantara mereka´. terutama yang berkaitan dengan masalah-masalah krusial. pembajakan. terutama dalam menghadapi masalah-masalah internal yang memiliki dampak regional (Pitsuwan. Hal yang sama mungkin juga berlaku terhadap mekanisme pembuatan keputusan ASEAN yang senantiasa dilandasi prinsipkonsensus. Sebuah security community pada umumnya didefinisikan sebagai sekelompok negara yang telah mencapai sebuah kondisi. Dengan didorong oleh tingkat saling ketergantungan politik dan ekonomi yang tinggi. Oleh karena itu sangat tidak realistis dimasa sekarang bila negara-negara ASEAN mencoba memisahkan masalah dalam negerinya dengan negara tetangganya. jelas mempunyai implikasi negatif yang bersifat lintas batas kedaulatan nasional. seharusnya negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa sudah tidak ada lagi posisi yang independen terhadap isu-isu yang berkaitan dengan persoalan keamanan nonkonvensional. sebagai akibat intensitas ekonomi dan kebiasaan kerja sama. Terorisme separatisme. 2) Tidak adanya konflik bersenjata antar negara. narkotika. 25 Mei 2008).

tetapi juga menyelesaikan konflik tersebut secara damai.3) Adanya praktek dan institusi-institusi. tidak berarti bahwa upaya itu tidak perlu diteruskan. sudah waktunya bagi ASEAN untuk bisa mengusahakan sendiri penyelesaian konflikkonflik potensial dengan menggunakan instrumen TAC. Bahkan apabila pertikaian terjadi. Bahkan. dan menyelesaikan konflik dan kekacauan. integritas dan kerukunan ASEAN. Itulah sebabnya mengapa sampai kini ASEAN belum mampu menyelesaikan berbagai persengketaan wilayah diantara mereka. ASEAN juga telah memiliki praktek-praktek dan institusi. bahwa sejak Deklarasi Bangkok 1967 negara-negara anggota ASEAN tidak pernah menggunakan kekerasan antara satu dengan yang lainnya dalam penyelesaian konflik. ASEAN telah memiliki beberapa unsur yang memperlihatkan ciri-ciri sebagai sebuah Security Community sebagai mana tersebut diatas. mereka bisa membentuk suatu Dewan Agung (High Council) yang terdiri dari seorang wakil dari masing-masing negara anggota setingkat menteri untuk mencari cara-cara penyelesaian yang wajar. Transformasi ASEAN untuk menjadi sebuah security community mensyaratkan tidak hanya ketiadaan perang. Ketentuan ini tentu saja hanya berlaku apabila pihak-pihak yang bersengketa ³sepakat´ untuk memberlakukan instrumen itu terhadap persengketaan mereka. bahkan sejak tahun 1987 telah . Tidak adanya sengketa teritorial di antara negara anggota. bila terjadi konflik. dan. Resiko bagi Malaysia ialah bahwa setiap negara pihak yang diminta untuk menengahi persengketaan itu akan merugikannya sendiri. tetapi juga ketiadaan prospek untuk perang. karena negara yang diminta untuk menjadi penengah juga mempunyai permasalahan terirorial dengan Malaysia. mengelola. baik formal dan informal. Contohnya adalah diberlakukannya Treaty Of Amity And Cooperation (TAC) sebagai code of conduct dalam interaksi antar negara anggota dikawasan Asia Tenggara adalah bukti. mencegah. Ini merupakan suatu perkembangan yang jauh berbeda dari pengalaman hubungan antar negara dalam kawasan ini sebelum mereka bergabung ke dalam ASEAN. 4) 5) Tingkat integrasi ekonomi yang tinggi. untuk mencegah dan mengelola konflik diantara negara-negara anggotanya. Malaysia merupakan satu-satunya negara yang berbatasan dengan semua negara ASEAN. Masalah Sabah dan gerakan separatisme Moro adalah salah satu contoh konflik antara Malaysia-Filipina yang dapat diredam dan disembunyikan dibawah karpet. ASC akan menyediakan sebuah kerangka untuk tidak hanya mengelola. dan karena itu mempunyai persengketaan wilayah dengan negara-negara ASEAN lainnya. Memang ada berbagai kesulitan untuk menyelesaikan persengketaan antar negara melalui TAC. Dimasa depan. Kesulitan yang paling menentukan adalah karena semua negara ASEAN mempunyai persengketaan wilayah dengan Malaysia. Instrumen ini sudah diratifikasi oleh semua anggota ASEAN. Secara implisit TAC menyatakan adanya kesediaan dari negara anggota ASEAN untuk ³mengesampingkan´ pertentangan dan konflik diantara mereka demi kesetiakawanan dan proses pembangunan di ASEAN. demi kesetiakawanan. yang dapat mengurangi. Dalam perjanjian Treaty of Amity and Cooperation (TAC) di Asia Tenggara. baik formal dan informal. ASEAN Security Community (ASC) telah membangun sebuah lingkaran kerjasama yang dapat mencegah terjadinya konflik sejak awal. Bahwa pemanfaatan instrumen ini sampai sekarang belum dilakukan.

yang dikenal sebagai Protokol Manilla (Prasetyono. Sejarah Asia Tenggara hampir selalu terpecah-pecah dan diperburuk oleh kepentingan asing di kawasan. misalnya High Council dalam TAC. 1995 : 3). Penduduk ASEAN sangat majemuk. 1993 : 11-13). melalui berbagai saluran yang lebih banyak bersifat informal. 1. yang juga hidup dengan bahasa lokal dan kebudayaannya masing-masing. (2) memperkuat langkah-langkah pencegahan konflik. Secara mendasar sejak awal pembentukan ASEAN jauh berbeda dengan Uni Eropa dalam tingkat heterogenitasyang dihadapi. (6) memperkuat kerjasama dalam menanggulangi setiap ancaman yang ditimbulkan oleh masalah separatisme (Sukma. (3) memperkuat proses ASEAN Regional Forum dalam mendukung terciptanya ASC. Keengganan negara-negara ASEAN untuk menggunakan mekanisme penyelesaian konflik yang tersedia. baik dari segi etnis. b. maka masa depan ASEAN Security Community cukup cerah. Dalam kaitan ini TAC lebih berperan sebagai instrumen diplomasi preventif(Preventive Diplomacy). Ketegangan yang timbul diantara negaranegara ASEAN belum menjurus sampai kepada penggunaan kekuatan senjata. terdapat begitu banyak kelompok etnis dan sub-etnisnya. bahasa. (4) memperluas kerjasama yang berkaitan dengan masalah keamanan non-tradisional (non-konvensional). Dipatuhinya prinsip-prinsip TAC telah berhasil mencegah timbulnya konflik diantara mereka. maupun agama. ras. dan beragam pandangan politik dan ideologi. . menandakan bahwa masa depan ASEAN masih ditandai oleh potensi disintegrasi(Huxley. (5) memperkuat usaha-usaha dalam mempertahankan persatuan dan keutuhan negara-negara anggota ASEAN. Bila penguatan kerjasama pada bidang tersebut bisa lebih ditingkatkan. 10 negara Asia Tenggara mempunyai berbagai keragaman baik dibidang budaya. misalnya. Apalagi rakyat Asia Tenggara belum terbiasa menjadi satu. dimasa mendatang ASEAN perlu sekali lagi mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan konflik melalui instrumennya sendiri. 1996 : 123).dilakukan perluasan aksesi terhadap perjanjian TAC kepada negara-negara di luar Asia Tenggara. Dalam sebuah negara Indonesia. 2006 : 51). Kendala Sungguhpun ada prospek bagi ASEAN didalam mewujudkan Security Community. namun berbagai kendala tentu saja jelas ada. Meskipun ketentuan TAC tentang penyelesaian konflik secara damai melalui High Council tidak pernah diterapkan hal ini justru menunjukkan keberhasilan ASEAN dalam mencegah munculnya konflik serius antara negara-negara ASEAN. bukan suatu instrumen penyelesaian konflik (conflict resolution). Pada dasarnya harapan utama terwujudnya ASEAN Security Community terletak pada komitmen politik para pemimpin negara ASEAN untuk menerapkannya dan juga dilandasi pada keinginan dari negara anggotanya untuk : (1) memperkuat mekanisme confidencebuilding measures. suatu ASEAN way yang telah berhasil mencegah munculnya konflik militer diantara negara-negara ASEAN(Luhulima. Untuk bisa berkembang menjadi Security Community. agama dan dipengaruhi oleh aneka kekuatan serta berbeda tingkat pertumbuhan ekonomi.

pembentukan negara bangsa Nation State anggota Uni Eropa tidak sesulit pembentukan negara bangsa di negara anggota ASEAN. Tidak mungkin suatu negara dapat menyepakati sebuah keputusan internasional. Kultur Hinduisme. Sementara. masih ada agama Kristen dan Islam. Situasi yang berbeda tanpa di Uni Eropa. yang selalu jelas keputusannya. di Eropa budaya politik demokrasi terkait erat dengan munculnya kecenderungan akan interdependensi ekonomi yang membantu negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa untuk menciptakan masyarakat yang berkeamanan. apalagi menilai bahwa demokrasi adalah sumber masalah baru. sedangkan Kamboja dan Laos. Heterogenitas kultur juga berdampak pada sulitnya membuat keputusan yang efektif dan mengikat dalam setiap aktivitas ASEAN dimasa lalu. agama Kristen telah mempertemukan anggota Uni Eropa dalam bahasa dan budaya. Disini. Bahasa asing yang mereka kuasai adalah Perancis. Mereka justru harus berpandangan sebaliknya. sebab pengaruh bahasa ini tidak mencakup seluruh wilayah Asia Tenggara. Sebaliknya . Bisa dikataka ASEAN adalah satun satunya organisasi regional yang bersifat Multisivilisasional (Huntington. Anggota Uni Eropa bisa dipersatukan oleh bahasa Inggris dan Latin karena mandala Eropa pernah dikuasai Romawi. Budhisme. Heterogenitas yang tinggi tidak hanya berimplikasi pada susahnya menyatukan anggota ASEAN. yang dalam setiap negara paling tidak terdapat satu atau tidak lebih dari empat kelompok etnis asli sehingga juga tidak terdapat banyak bahasa yang digunakan penduduknya dalam sebuah negara atau pun antar negara. yang akan diciptakan disintegrasi dan instabilitas di tingkat domestik dan kawasan. 1996 : 230232). dan Islam yang mengakar kuat di kawasan Asia Tenggara memiliki pengaruh atas disepakatinya musyawarah mufakat dan konsensus sebagai ASEAN way dalam setiap penyelesaian masalah di kawasan. Secara realistis. misalnya. Di masa depan pengambilan keputusan dengan mekanisme pemungutan suara (voting) harus diintroduksi dalam berbagai kegiatan atau pertemuan ASEAN (Sukma. hal ini jelas lebih menciptakan good organization governance. mengingat tidak sulit untuk mencari bahasa komunikasi (Lingua franca) yang bisa digunakan dalam kegiatan organisasi regional mereka. yang dikemudian hari ternyata tidak mematuhi keputusan yang telah dihasilkan secara mengikat. penyebaran agama yang homogen yang terjadi di Eropa juga tidak dialami di Asia Tenggara. Hal ini membuat absennya akuntabilitas dan sanksi terhadap negara anggota. hampir tidak mampu berbahasa Inggris. namun juga lemahnya masing-masing negara anggota dalam menyelesaikan agenda domestiknya. Mereka tidak boleh ragu. 2006 : 53). Disamping itu. Menurut Amitav Acharya. ASEAN belum bisa menerima kehadiran Bahasa Melayu sebagai Lingua franca. karena selalu dilakukan lewat cara pemungutan suara (voting). Dengan begitu. terutama untuk menumbuhkan akuntabilitas anggotanya. Bila sebuah keputusan yang penting didasarkan pada mekanisme voting. apalagi dalam situasi darurat (Emergency). sedangkan di ASEAN di luar agama Hindu dan Budha yang telah lebih dulu ada. dan mengikat. bahwa sikap anti demokrasi merupakan kendala bagi terwujudnya ASEAN Security Community (ASC). negara-negara anggota ASEAN harus memiliki semangat penghargaan atas HAM dan keniscayaan pada demokrasi. Bahasa resmi yang dipakai dalam pertemuanpertemuan ASEAN adalah bahasa Inggris. jika semua unsur dalam negerinya belum memiliki persamaan persepsi dan kepentingan.Berbeda dengan kondisi di Uni Eropa.

Masalah Myanmar bisa membuat ASEAN dinilai negatif karena ASEAN akan dianggap mendukung sebuah rezim yang tidak menghormati HAM (Perwita. Langkah pembangunan politik melintasi isu-isu sensitif yang menyangkut demokrasi layaknya di negara maju. 2001 : 195). 2006 : 26-28). sehingga muncul kesan walaupun pembentukan ASEAN didasarkan pada ikatan biografis. Ia berpusat pada keamanan atau ketidakamanan manusia sebagaimana ia terkait dengan negara atau tatanan internasional. banyak kalangan menilai sebagian besar negara-negara anggota ASEAN tidak demokratis sama sekali. partisipasi. Masalah keamanan manusia ini memunculkan perdebatan tentang intervensi dan non intervensi dalam masalah dalam negeri negara anggota ASEAN. kesejarahan dan budaya di Asia Tenggara. dan pemenuhan hak individu. pada kenyataannya pendorong utama regionalisme ASEAN lebih banyak ditentukan oleh keinginan untuk menjaminregime survival. (Kraft. semua negara anggota ASEAN masih . Melihat rencana aksi komunitas keamanan ASEAN. bukan top down. Memang termasuk tanggung jawab pemerintah memberi perlindungan pada rakyatnya tetapi perangkat terbaik dalam human security itu adalah masyarakat itu sendiri. maka pemerintah dari masingmasing negara anggota jelas harus menghapuskan bentuk suksesi kepemimpinan regional secara inkonstitusional seperti kudeta oleh junta militer dengan menggulingkan kekuasaan legal seorang presiden atau Perdana Menteri dengan cara-cara yang dapat menimbulkan aksi kekerasan dan instabilitas nasional. seperti di Thailand. Jika ASEAN ingin tetap konsisten dengan komitmennya mencapai komunitas keamanan pada 2015. Jelas bahwa yang dikatakan sebagai sebuahSecurity Community adalah ketika didalam komunitas keamanan tersebut mampu memberikan ruang yang lebih besar bagi nilai-nilai demokrasi. (Acharya.ASEAN tidak mempunyai latar belakang kondisi budaya politik seperti itu. dengan lebih menciptakan situasi kondusif dalam hal kebebasan berpartisipasi dan menegakkan hakhak asasi manusia agar masyarakat ASEAN bisa melindungi dirinya sendiri. jelas struktur politik kawasan ASEAN diarahkan untuk semakin maju. Sampai munculnya ASEAN Charter 2007. penyelenggaraan pemilu yang bebas. demokrasi di bawah pemeirntah yang baik. Itu mem ang tidak akan tercapai tanpa kebebasan politik. karena mereka rata-rata mempunyai catatan buruk dibidang HAM akibat masih kuatnya prinsip non interference dianut negara anggotanya (Hofmann. Model ini mengetengahkan kesejahteraan perorangan yang harus dijamin oleh negara. pemberantasan korupsi. yaitu model keamanan manusia (human security) dan upaya untuk melibatkan masyarakat luas dalam kegiatan ASEAN. Referensi model keamanan yang berkisar pada prinsip non interfence yang mendasari ASEAN Way dewasa ini ditantang oleh suatu model keamanan yang sangat luas (comprehensive security) dan bersifat non konvensional. dan demokratis. penegakan dan supermasi hukum. Kasus Myanmar dan Kamboja merupakan tantangan pertama bagi kebijakan non intervensi dalam masalah dalam negeri negara anggota ASEAN. Bahkan pada kenyataannya. terbuka. promosi pengembangan HAM hendaknya tidak menjadi retorika politik. 2006 : 154). Semua harus bersifat bottom up. Komunitas Keamanan ASEAN nantinya juga telah harus menghilangkan pergantian kepemimpinan dengan cara-cara tidak demokratis. Bangunan ASEAN adalah rumah besar yang menggelindingkan ASEAN shared-common value baru. yang menjunjung tinggi bahasa global dunia. Elemen kemanusiaan sudah pasti harus mendapat porsi yang lebih besar didalam konsep komunitas keamanan ASEAN. pemeirntah yang bersih. 2006 : 58).

berbagai perbedaan masa lalu yang menjadi sumber konflik semakin teratasi dan melenyap. di Mindano (Filipina). Filipina. masalah baru muncul dan berpotensi dan menganggu hubungan bilateral. Ini belum termasuk persoalan dari garis perbatasan darat di sepanjang Pulau Kalimantan. melainkan juga akan menjadi komunitas yang lebih luas dengan merangkul kalangan masyarakat sampai tingkat paling bawah.menganggap bahwa prinsip non intervensi sangat penting bagi hubungan antar bangsa. juga sangat rawan menimbulkan sengketa antar negara. yaitu konflik etnik dan agama dalam negara anggota ASEAN. perlu dipikirkanpemberian sanksi kepada negara-negara anggota ASEAN yang dianggap tidak mematuhi perjanjian yang telah disepakati. setelah selesai masalah Sipadan-Ligitan. Hal ini terjadi karena negara-negara ASEAN yang terlibat dalam konflik selama ini selalu berusaha menyimpan masalah yang ada dan tidak berupaya menyelesaikannya secara tuntas di dalam forum ASEAN (Acharya. sekalipun mekanisme semacam itu belum pernah di atur. Respon yang bersikap keras dari Malaysia. karena selama ini ada anggapan bahwa ASEAN dianggap belum mampu menciptakan mekanisme partisipasi masyarakat yang lebih luas dalam memberikan kontribusi yang lebih bermakna sepanjang perjalanan organisasi regional ini selama lebih dari 4 dasawarsa. maka bisa dikatakan bahwa ASEAN bukanlah melulu Asosiasi pemerintahan. Dimasa depan. Ini bisa terjadi akibat masih lemahnya mekanisme resolusi konflik dalam ASEAN. maka setiap anggota yang tidak menjalankan dapat dikenakan sanksi. Antara Indonesia-Malaysia. yang telah menghasilkan respon yang berbeda dari anggota ASEAN. Kasus ambalat sempat berkembang ke arah yang mengkhawatirkan. 2001 : 6). yang hasilnya belum tentu memuaskan semua pihak yang bersengketa. masalah-masalah warisan kolonialisme bermunculan dan berdampak pada stabilitas dalam negara dan antar negara. Sanksi itu bisa berupa pengucilan atau harus menarik diridari keanggotaan (Sukma. di Asia Tenggara. Oleh karena itu. Kolonialisme selain meninggalkan konflik domestik. yang secara sepihak telah di klaim dalam konstitusi Filipina sebagai miliknya. jika ada kewajiban dan sanksi dan demokratisasi menjadi keharusan bagi setiap negara anggota. Indonesia menghadapi masalah perbatasan dengan Singapura dalam soal garis perbatasan laut di sekitar Riau. Demikian pula. Warisan kolonialisme yang belum selesai juga telah mengakibatkan sulitnya penyelesaian masalah perbatasan antar negara anggota ASEAN. misalnya. 2006 : . karena tujuan ASEAN lebih banyak ditentukan oleh keinginan untuk menjamin kelangsungan hidup rezim non-demokratis. Di Eropa. ASEAN bisa dinilai sebagai sebuah organisasi yang mendukung sebuah rezim yang tidak menghormati HAM dan Demokrasi. Sebaliknya. sehingga selalu saja penyelesaian konflik perbatasan antar negara anggotannya diserahkan pada mediasi pihak asing. politisi dan birokrat semata. misalnya. dan Pathani (Thailand). dan Singapura sempat mengarah pada wacana pemberian sanksi pada Myanmar. Hal ini diperparah ketika ASEAN justru menerima Myanmar menjadi anggota pada tahun 1997. yaitu sengketa perbatasan. dan dengan Filipina dalam status pulau-pulau di Utara Sulawesi. Belum lagi ditambah kasus Myanmar dan penahanan Aung San Suu Kyi. seperti di Timor-Timur (Indonesia). mulai dari yang ringan yang berat. Sebaliknya. bila penghargaan atas HAM dan Demokrasi dapat dipatuhi oleh negara-negara anggota ASEAN sebagai bagian dari pemahaman baru keamanan non konvensional yaitu human security. soal kepemilikan pulau Ambalat.

apalagi jika disangkut pautkan dengan budaya dari masing-masing negara. Masalah state sovereignty (kedaulatan nasional) yang menghambat perkembangan ASEAN. Tetapi jika kita lihat pada komunitas yang ada di ASEAN. Amitav Acharya yang seorang konstruktivist dan banyak diilhami oleh pemikiran Karl Dutsch menyatakan bahwa membentuk suatu komunitas dalam bidang apapun. tanpa kewajiban untuk menaatinya dan sanksi yang diberikan. setiap keputusan dalam resolusi yang dihasilkan diserahkan atau tergantung kepada masing-masing anggotanya untuk menjalankannya. Dibenak mereka ASEAN hanya berupa akronim organisasi di wilayah Asia Tenggara. walaupun prinsip tersebut telah melekat dalam tubuh ASEAN sejak awal pembentukannya(Pitsuwan. maka We Feeling itu harus sudah ada. semua persoalan yang dapat menegangkan daya santai kelompok regional ini dan prinsip tidak saling mencampuri urusan dalam negeri jelas harus dikaji ulang. bahwa We Feeling itu tidak ada sama sekali. dan oleh karenanya menjadikan perkembangan ASEAN sebagai organisasi regional menjadi agak terhambat. We Feelingitu hanya akan ada ketika memang terjadi ancaman yang dianggap hal berbahaya secara bersama-sama. Identitas sebagai satu ASEAN saja tidak dimiliki oleh masyarakat setiap negara anggota. Padahal. didalam ASEAN perbedaan-perbedaan identitas nasional semakin menguat dan menyulitkan proses integrasi. maka ³prinsip noninterfence dapat diabaikan´. akan mudah bagi ASEAN untuk mengambil keputusan kolektif secara efektif. Diakui bahwa prinsip non intervensi dan integritas kedaulatan nasional terhadap urusan domestik negara-negara anggota ASEAN merupakan prinsip yang paling kontroversial dalam tubuh ASEAN.53). Berbeda dengan Uni Eropa. tidak hanya terkait dengan persoalan batas wilayah. tetapi juga masih beratnya negara anggota untuk dapat menerima pemberlakuan atas azas supranasional dalam pengambilan keputusan di ASEAN. regional dan ekstra regional. ASEAN bukanlah identitas mereka. organisasi ini sudah banyak berbicara tentang kerjasama. Minimnya kepedulian rakyat ASEAN akan organisasi ASEAN jelas merupakan kelemahan lain dari ASEAN yang dapat menghambat akselerasinya dalam menuju integrasi komunitas ASEAN 2015. 2006 : 11). Dibalik semua sopan santun tentang solidaritas dan kerjasama. tetapi ketika betul-betul di butuhkan malah tidak terjadi. Prinsip non-interfence dan state soverignty adalah sumber dari persoalan tersebut diatas. Seharusnya apabila terdapat isu-isu yang mempengaruhi hubungan bilateral. jika terjadi pelanggaran. Norma dan prinsip ASEAN yang masih berlaku. untuk dapat terciptanya ASC. Tidak seperti selama ini. yaitu memendam konflik dengan senyum di padang golf sementara suasana di sekitarnya diselimuti oleh masalah kawasan lintas batas yang tak kunjung padam karena mekanismenya tidak efektif dan efisien. Selama lebih dari 40 tahun usia ASEAN. setiap negara anggota harus bersedia menanggalkan sebagian kedaulatan nasional dan menukarkannya dengan kedaulatan bersama atau supranasional. ASEAN sering terperangkap di antara retorika dan realita. Konsep We Feeling yang bermakna dalam bagi pemimpin ASEAN ternyata bukanlah apa-apa bagi mereka. karena didalam internal negara-negara itu sendiri masih terjadi . Apa yang disebut sebagai satu Asia Tenggara (One Southeast Asia)tetaplah merupakan kumpulan dari banyak pusat pengambilan keputusan dengan mekanismenya masing-masing. Dengan demikian.

Menurut hemat penulis. atau meeting (rapat). kerja sama ASEAN kini melibatkan beberapa ratus pertemuan dalam setahun dan bahkan mungkin secara riil hanya terjadi dalam pertemuan-pertemuan itu. kegiatan pemantauan (Monitoring) diusulkan untuk melibatkan pihakpihak non pemerintah agar dapat dibuat penilaian yang obyektif dan dapat dikembangkan mekanisme yang dapat mendorong proses pelaksanaan kesepakatan oleh masing-masing negara ASEAN (Soesastro. Selain memperkuat peran Sekretariat ASEAN. Tradisi ASEAN yang telah berhasil melayani para anggotanya selama lebih dari 40 tahun dalam mengambil keputusan bersama yang berdasarkanmusyawarah untuk mencapai mufakat mungkin akan menghadapi tantangan besar dimasa depan. Tetapi keinginan untuk mempertahankan kedaulatan nasional secara absolut sebenarnya bertentangan dengan kesepakatan untuk memperdalam integrasi ASEAN dan mewujudkan ASEAN Security Community (ASC). untuk bisa menjalankan rencana aksi ASC yang lain terutama di bidang Political Development dan Conflict Resolution jelas mutlak diperlukan µreintepretasi¶ dan µrevitalisasi¶ atas prinsip non-interference dan state sovereignty. Sumber: http://oseafas. Jika ada mekanisme untuk menyalurkan keluhan dan tuntutan tersebut maka slogan satu Asia Tenggara akan benar benar memiliki makna. lokakarya. Pemerintah negara anggota ASEAN makin lama akan makin sering mendengarkan keluhan dan tuntutan dari rakyat negaranya sendiri dan rakyat negara anggota lainnya. Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa masalah besar yang dihadapi ASEAN selama ini adalah lemahnya implementasi dari berbagai prakarsa dan program yang telah disepakati bersama. termasuk peran dari sekretaris Jenderal ASEAN.konflik antar ras. jika didalam negeri saja identitas nasional masih menjadi masalah.wordpress. Lemahnya kelembagaan ASEAN adalah akibat dari kekhawatiran negara-negara ASEAN mengenai pengaruh pengembangan kelembagaan regional terhadap kedaulatan nasional mereka. baik di tingkat para pemimpin ASEAN maupun di tingkat pertemuan menteri-menteri ASEAN. budaya suku. Pengembangan mekanisme yang terkait dengan masalah kelembagaan ASEAN ini merupakan tantangan terbesar bagi ASEAN.com/2010/06/25/plan-of-aaction-asean-securitycommunity-prospek-kendala/ . workshop. Negara-negara ASEAN memang pandai didalam merumuskan program-program kerjasama. Sejauh ini negara-negara anggota ASEAN selalu enggan untuk mengembangkan kelembagaan ASEAN. Sebagai akibatnya. Disini pemimpin negara-negara ASEAN harus segera mengesampingkan basa basi khas ASEAN dan muncul dengan langkah-langkah nyata untuk mengatasi masalah yang melintasi garis batas kedaulatan negara. tetapi senantiasa lemah dalam pelaksanaannya. Bagaimana mungkin mengakui bahwa kita sebagai suatu identitas regional bersama. konferensi. mengadakan seminar. Hal ini diakui dalam laporan eminent persons groups (EPG) on the ASEAN Charter (Desember 2006) dan menjadi landasan bagi usulan untuk memperkuat kelembagaan ASEAN. 2007 : 321).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->