Hukum Tahlilan

Assalamu'alaikum wr wb, Saat ini di milis Media Dakwah ramai diperdebatkan masalah tahlil. Mudah -mudahan tulisan ini adalah tulisan yang terakhir. Tahlil, mengucapkan La ilaaha illallahu memang dianjurkan. Meski demikian, acara tahlilan di mana ketika ada orang meninggal, maka pada hari pertama, ke 7, 40, 100, dan 1000 keluarga yang mati harus menyelenggarakan hal itu, saya tidak menemukannya pada kitab Hadits Bukhari dan Muslim. Pada ajaran Imam Madzhab pun tidak ada aturan hari ke 1, 7, 40, 100, 1000, dsb. Bahkan beberapa ulama mensinyalir itu berasal dari tradisi Hindu/Budha di Indonesia (sinkretisme). Menurut saya pribadi, dengan mengadakan 5 acara makan-makan tersebut ke banyak orang, jika tiap hari acara menghabiskan Rp 2 juta, maka untuk 5 hari acara akan menghabiskan Rp 10 juta. Bagi keluarga yang kaya mungkin tidak masalah (meski boros/mubazir). Tapi bagi keluarga miskin sangat berat. Apalagi jika yang meninggal adalah tulang punggung keluarga (bapak/suami). Bayangkan, orang sudah ditimpa musibah kematian, masyarakat menuntut keluarga tsb untuk mengadakan acara tahlilan yang memakan biaya hingga jutaan rupiah. Islamikah itu? Bagi yang pro tahlil, mudah -mudahan bisa memberikan hadits yang shahih dan jelas tentang itu. Wassalam Tahlilan I. PENDAHULUAN Dakwah mengajak manusia kepada Allah SWT membutuhkan sikap lemah lembut dan tegas, karena yang dihadapi seorang da I adalah berbagai lapisan masyarakat. Jika dakwah dilakukan terlalu kasar, maka mereka tidak akan menerima dan bahkan lari darinya. Dalam masyarakat terjadi beberapa kesalahan dan kemunkaran, namun dianggap suatu ajaran agama, antara lain: Upacara perkawinan, acara tujuh bulanan, upacara kematian, dan lain sebagainya. Dalam kesempatan ini Pusat Konsultasi Syariah ingin memberikan penjelasan hal -hal yang berkaitan dengan upacara kematian, tegasnya masalah hukum tahlilan dan hal-hal yang terkait dengannya seperti[1]: · Waktu pelaksanaan tahlilan upacara kematian. · Hidangan untuk para tamu. · Menghadiahkan pah ala untuk orang yang telah meninggal. · Solusi dan sikap seorang da I yang mesti dilakukan.

Rasulullah SAW bersabda: Úä ÚÈÏ Çááå Èä ÌÚÝÑ ÞÇá áãÇ ÌÇÁ äÚì ÌÚÝÑ Ííä ÞÊá ÞÇá ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã : ÇÕäÚæÇ áÃá ÌÚÝÑ ØÚÇãÇ ÝÞÏ ÃÊÇåã ãÇ íÔÛáåã {ÑæÇå ÇáÔÇÝÚí æÃÍãÏ} . selanjutnya dilakukan pada hari ke -40. para da I terdahulu tidak memberantasnya. tahlil. Upacara semacam ini kemudian dianamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar ma syarakat. ke-100. WAKTU PELAKSANAAN TAHLILAN Tahlilan atau upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. Padahal Nabi Muhammad SAW memerintahkan supaya para tetangga memberi atau menye diakan makanan kepada keluarga mayyit. ke -100. Dan ada juga yang melakukan pada hari ke -1000. biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai dengan hari ke-tujuh. Menurut penyelidikan para ahli. ke-satu tahun pertama. dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh -ruh ghaib. Pahala bacaan Alqur an dan dzikir tersebut dihadiahkan kepada si mayyit. mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. upacara tersebut diadopsi oleh para da I terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme. selanjutnya malam ketiga. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul -kumpul dan mengadakan upacara-upacara sesaji. membaca mantera -mantera atau sekedar kumpul -kumpul. dua tahun dan malam ke-1000. keluarga mayyit biasanya menyediakan makanan untuk orang -orang yang datang pada upacara tersebut sebagai sedekah. tetapi mengalihkan dari upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Para tetangga. tahmid. ketiga dst. do a dan bacaan-bacaan Alqur an. maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk(sumerup) ke dalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mati. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk -pauk untuk shodaqoh. shalawat dan do a. Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam. Hal semacam itu dilakukan pada malam pertama kemtian. satu tahun. seperti membakar kemenyan. keluarga si mayyit mengundang orang untuk membaca beberapa ayat dan surat Alquran. Menurut kepercayaan Animisme. sanak famili. kedua. III. MENYEDIAKAN MAKANAN Dalam acara Tahlilan . agam a Budha dan Hindu. tasbih. dan handai tolan supaya datang ikut bela sungkawa dengan membawa sesuatu untuk penyelenggaraan jenazah atau membawa makanan untuk keluarga yang dilanda musibah. Mantera-mantera digantika dengan dzikir. Sebagai langkah awal.II. ketujuh. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan -kawan atau masyarakat tidak tidur. Dalam upacara dihari -hari tersebut. Hinduisme dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya.

Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mufti Madzhab Syafi i: äÚã ãÇ íÝÚá ÇáäÇÓ ãä ÇáÅÌÊãÇÚ ÚäÏ Ãåá ÇáãíÊ æÕäÚ ÇáØÚÇã ãä ÇáÈÏÚ ÇáãäßÑÉ ÇáÊí íËÇÈ Úáì ãäÚåÇ æáí ÇáÃãÑ Artinya: Ya. Riwayat lain menerangkan: Bahwa Jarir datang kepada Umar ra.Artinya: Berkata Abdullah bin Ja far tatkala datang khabar bahwa Ja far telah terbunuh. lalu Umar bertanya: Adakah mayyit kalian diratapi ? Dia menjawab: Tidak. Rasulullah SAW bersabda: Bikinkanlah makanan untuk keluarga Ja far karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkan mereka (HR Asy -Syafi I dan Ahmad). Diterangkan dalam kitab Ianatu Thalibin jilid 2 hal 145-146 . (Al Mugni Ibnu Qudamah zuz 2 hal 43). Jadi yang menyediakan makanan adalah tetangga untuk keluarga yang kena musibah kematian. penguasa akan diberi pahala karena melarang manusia dari perbuatan bid ah . Fatwa dari Mufti Madzhab Hanafi: äÚã íËÇÈ æáí ÇáÃãÑ Úáì ãäÚåã ãä Êáß ÇáÃãæÑ Çá Êí åí ãä ÇáÈÏÚ Artinya: Ya. lalu bertanya juga: Adakah orang -orang berkumpul di keluarga mayyit dan membuat ma kanan ? Dia menjawab:ya. maka Umar berkata: Yang demikian adalah ratapan . bahwa fatwa -fatwa dari mufti -mufti Mekah dari 4 Madzhab menerangkan bahwa pe rbuatan perbuatan itu adalah munkar: 1. 3 dan 4 Fatwa Madzhab Maliki dan Hambali: ÝÞÏ ÃÌÇÈ ÈäÙíÑ åÐíä ÇáÌæÇÈíä ãÝÊí ÇáÓÇÏÉ ÇáãÇáßíÉ . Dan hadits lain menerangkan bahwa menghidangkan makanan dalam upacara kematian adalah termasuk meratap yang dilarang oleh agama sebagaimana hadits yang diriwayatkan imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan sanad yang shohih: ßäÇ äÚÏ ÇáÅÌÊãÇÚ Åáì Ãåá ÇáãíÊ æÕäÚåã ÇáØÚÇã ÈÚÏ ÏÝäå ãä ÇáäíÇÍÉ Artinya: Adalah kami (para sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap . bukan yang terkena musibah menyediakan makanan buat orang yang datang. perbuatan yang dilakukan oleh beberapa orang berkumpul dirumah orang yang kena musibah kematian dan menyediakan makanan adalah perbuatan bid ah munkarah dan penguasa yang mencegahnya akan mendapatkan pahala . 2.

Nasa I dan Ahmad). Surat Yaasiin:54 ÝÇáíæã áÇ ÊÙáã äÝÓ æáÇÊÌÒæä ÅáÇ ãÇ ßäÊã ÊÚãáæä Artinya: Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan 3. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdo a dan mengahadiahkan pahala ibadah kepada orang yang telah meninggal dunia. kecuali tiga hal: Sedekah jariyah. Surat Al B aqaraah 286 áåÇ ãÇ ßÓÈÊ æÚáíåÇ ãÇÇßÊÓÈÊ Artinya: Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya . BERDO A MENGHADIAHKAN PAHALA KEPADA ORANG YANG TELAH MENINGGAL. IV. At-Tirmidzi. bahwa orang yang telah mati tidak bisa mendapat tambahan pahala kecuali yang disebutkan dalam hadits: ÅÐÇ ãÇÊ ÇÈä ÂÏã ÇäÞØÚ Úãáå ÅáÇ ãä ËáÇË: ÕÏÞÉ ÌÇÑíÉ Ãæ æáÏ ÕÇáÍ íÏÚæ áå Ãæ Úáã íäÊÝÚ Èå ãä ÈÚÏå Artinya: Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya. anak yang shalih yang mendo akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya (HR Muslim. A. Ayat-ayat diatas adalah sebagai jawaban dari keterangan yang mempunyai maksud yang sama. Dengan demikian jelaslah bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan makan -minum yang disediakan oleh keluarga mayyit adalah perbuatan munkar yang harus dihindari. PENDAPAT PERTAMA Hal tersebut tidak diperintahkan agama dalil: 1. berdasarkan .æãÝÊí ÇáÓÇÏÉ ÇáÍäÇÈáÉ Artinya: Telah menjawab seperti kedua jawaban di atas mufti Madzhab Maliki dan Mufti Madzhab Hambali . Abu Dawud. Firman Allah surat An -Najm:38-39: ÃáÇ ÊÒÑ æÇÒÑÉ æÒÑ ÃÎÑì æÃä áíÓ ááÅäÓÇä ÅáÇ ãÇ ÓÚì Artinya: Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya 2.

B. dalam hadits banyak disebutkan do a tentang shalat jenazah. 2. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi I dan pendapat Madzhab Malik. C. Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan orang lain. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW: áÇ íÕáì ÃÍÏ Úä ÃÍÏ æáÇ íÕæã ÃÍÏ Úä ÃÍÏ æáßä íØÚã Úäå ãßÇä ßá íæã ãÏÇ ãä ÍäØÉ {ÑæÇå ÇáäÓÇÆ} Artinya: Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain. sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur an tidak sampai.íÞæá: Çááåã ÇÛÝÑáå æÇÑÍãå æÇÚÝ Úäå æÚÇÝå æÃßÑã äÒáå ææÓÚ ãÏÎáå æÇÛÓáå ÈãÇÁ æËáÌ æÈÑÏ æäÞå ãä ÇáÎØÇíÇ ßãÇ íäÞì ÇáËæÈ ÇáÃÈíÖ ãä ÇáÏäÓ æÃÈÏáå . Dalil Alqur an: æÇáÐíä ÌÇÄæÇ ãä ÈÚÏåã íÞæáæä ÑÈäÇ ÇÛÝÑ áäÇ æáÅÎæÇääÇ ÓÈÞæäÇ ÈÇáÅíãÇä Artinya: Dan orang -orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor). Dalil Hadits a. mereka berdo a : Ya Tuhan kami. PENDAPAT KETIGA Do a dan ibadah baik maliyah maupun badaniyah bisa bermanfaat untuk mayyit berdasarkan dalil berikut ini: 1. sebagaimana sewaktu hidup seseorang tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. Pahala ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji sampai kepada mayyit. beri ampunlah kami dan saudar -saudar kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami (QS Al Hasyr : 10) Dalam ayat ini Allah SWT menyanjung orang -orang yang beriman karena mereka memohonkan ampun (istighfar) untuk orang -orang beriman sebelum mereka. do a setelah mayyit dikubur dan do a ziarah kubur. Tentang do a shalat jenazah antara lain. Ini menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat manfaat dari istighfar orang yang masih hidup. dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain. tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum (HR An -Nasa I). Rasulullah SAW bersabda: Úä ÚæÝ Èä ãÇáß ÞÇá: ÓãÚÊ ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã-æÞÏ Õáì Úáì ÌäÇÒÉ . PENDAPAT KEDUA Membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah.

muliakanlah tempat tinggalnya. Ucapkan: ÇáÓáÇã Úáì Ãåá ÇáÏíÇÑ ãä ÇáãÄãäíä æÇáãÓáãíä æíÑÍã Çááå ÇáãÓÊÞÏãíä ãäÇ æÇáãÓÊÃÎÑíä æÃäÇ Åä ÔÇÁ Çááå Èßã ÇááÇÍÞæä (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli kubur baik mu min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada generasi pendahulu dan generasi mendatang da n sesungguhnya insya Allah .kami pasti menyusul) (HR Muslim). Rasulullah SAW bersabda: Úä ÚËãÇä ÇÈä ÚÝÇä ÑÖí Çááå Úäå ÞÇá ßÇä ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÅÐÇ ÎÑÌ ãä ÏÝä ÇáãíÊ æÞÝ Úáíå ÝÞÇá: ÇÓÊÛÝÑæÇ áÃÎíßã æÇÓÃáæÇ áå ÇáÊËÈíÊ ÝÅäå ÇáÃä íÓÃá {ÑæÇå ÃÈæ ÏÇæÏ} Artinya: Dari Ustman bin Affan ra berkata: Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda: mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya. p asangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka (HR Muslim). bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran. gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya. Tentang do a setelah mayyit dikuburkan. b. sehatkanlah dia. karena sekarang dia sedang ditanya (HR Abu Dawud) Sedangkan tentang do a ziarah kubur antara lain diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW: ßíÝ ÊÞæá ÅÐÇ ÇÓÊÛÝÑÊ áÃåá ÇáÞÈæÑ ¿ÞÇá :Þæáí : ÇáÓáÇã Úáì Ãåá ÇáÏíÇÑ ãä ãä ÇáãÄãäíä æÇáãÓáãíä æíÑÍã Çááå ÇáãÓÊÞÏãíä ãäÇ æÇáãÓÊÃÎÑíä æÃäÇ Åä ÔÇÁ Çááå Èßã ÇááÇÍÞæä {ÑæÇå ãÓáã} Artinya: bakaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur ? Rasul SAW menjawab. keluarga yang lebih baik dari keluarganya. maafkanlah dia. mandikanlah dia dengan air es dan air embun. Dalam Hadits tentang sampainya pahala shadaqah kepada mayyit Úä ÇÈä ÚÈÇÓ ÑÖí Çááå ÚäåãÇ Ãä ÓÚÏ Èä ÚÈÇÏÉ ÊæÝíÊ Ããå æåæ ÛÇÆÈ ÚäåÇ ÝÃÊì ÇáäÈí Öáì Çááå Úáíå æÓáã ÝÞÇá: Åä Ããí ÊæÝíÊ æÃäÇ ÛÇÆ È ÚäåÇ Ýåá íäÝÚ Ãä ÊÕÏÞÊ ÚäåÇ ¿ÞÇá : äÚã . luaskanlah kuburannya.ÏÇÑÇ ÎíÑÇ ãä ÏÇÑå æÃåáÇ ÎíÑÇ ãä Ãåáå æÒæÌÇ ÎíÑÇ ãä ÒæÌå æÞå ÝÊäÉ ÇáÞÈÑ æÚÐÇÈ ÇáäÇÑ {ÑæÇå ãÓ áã } Artinya: Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW setelah selesai shalat jenazah-bersabda: Ya Allah ampunilah dosanya. sayangilah dia.ÞÇá :ÝÅäí ÃÔåÏß Ãä ÍÇÆØí ÇáãÎÑÇÝ ÕÏÞÉ ÚäåÇ {ÑæÇå .

ÍÌí ÚäåÇ ÃÑÃíÊ áæ ßÇä Úáì Ããß Ïíä ÃßäÊ ÞÇÖíÊå ¿ÇÞÖæÇ Çááå ÝÇááå ÃÍÞ ÈÇáæÝÇÁ {ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí} Artinya:Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan berta nya: Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji. apakah saya melakukah haji untuknya ? rasul menjawab: Ya. apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya. Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Haji Úä ÇÈä ÚÈÇÓ ÑÖí Çááå ÚäåãÇ Ãä ÇãÑÃÉ ãä ÌåíäÉ ÌÇÁÊ Åáì ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÝÞÇáÊ: Åä Ããí äÐÑÊ Ãä ÊÍÌ Ýáã ÊÍÌ ÍÊì ãÇÊÊ ÃÝÃÍÌ ÚäåÇ ¿ ÞÇá : äÚã . namun belum terlaksana sampai ia meninggal. Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Saum Úä ÚÇÆÔÉ ÑÖí Çááå ÚäåÇ Ãä ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÞÇá : ãä ãÇÊ æÚáíå ÕíÇã ÕÇã Úäå æáíå {ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æãÓáã } Artinya: Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya berpuasa untuknya (HR Bukhari dan Muslim) d. apakah kamu membayarnya ? bayarlah hutang Allah. Bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga. bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang. c. Para ulama sepakat bahwa do a dalam shalat jenazah bermanfaat bagi mayyit. karena hu tang Allah lebih berhak untuk dibayar (HR Bukhari) 3. Ketika ia telah membayarnya nabi SAW bersabda: ÇáÂä ÈÑÏÊ Úáíå ÌáÏÊå Artinya: Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya (HR Ahmad) 4. Ini berdasarkan hadit s Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar.ÇáÈÎÇÑí} Artinya: Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat. Dalil Ijma a. Dalil Qiyas . Saad berkata: saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahka n untuknya (HR Bukhari). lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya: Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat. b.

karena puasa dalah menahan diri dari yang membatalkan disertai niat. Jika de mikian bagaimana tidak sampai pahala membaca Alqur an yang berupa perbuatan dan niat. Islam telah memberikan penjelasan sampainya pahala ibadah badaniyah seperti membaca Alqur an dan lainnya diqiyaskan dengan sampainya puasa. Hal ini akan menghapuskan angan-angannya bahwa dia akan selamat karena amal orang-tua dan nenek moyangnya yang terdahulu. Dapat dijawab dengan dua jawaban: 1. Firman Allah: {ÃáÇ ÊÒÑ æÇÒÑÉ æÒÑ ÃÎÑì æÃä áíÓ ááÅäÓÇä ÅáÇ ãÇ ÓÚì} Adalah dua ayat muhkamat yang menunjukkan keadilan Allah SWT. Alqur an tidak menafikan seseorang mengambil manfaat dari usaha orang lain. dan itu pahalanya bisa sampai kepada mayyit. Bahkan do a orang Islam dapat bermanfaat untuk orang Islam lain. Oleh karena itu Allah menerangkan bahwa manusia tidak memiliki kecuali hasil usahanya sendiri. 2. . ia bisa memberikannya kepada orang lain dan jika tidak mau hasil usahanya itu dia milik i sendiri. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim. Ayat pertama menjelaskan bahwa Allah SWT tidak menyiksa seseorang karena kesalahan orang lain. Bahwa seseorang dengan usaha dan hubungan baiknya mendapatkan banyak kawan dan memp unyai keturunan dan kasih sayang terhadap orang lain. Itu adalah hasil usahanya sendiri. yang dinafikan adalah memiliki suatu manfaat yang bukan usahanya. Jawaban Terhadap Pendapat Pertama Firman Allah.Pahala itu adalah hak orang yang beramal. Hal itu mengundang simpatisan orang untuk berdo a dan menghadiahkan pahala. Adapun usaha orang lain adalah miliknya jika ia mau. Allah SWT tidak menyatakan bahwa dia tidak dapat mengambil manfaat kecuali dari usahanya sendiri. Bahkan hubungan melalui agama merupakan sebab yang paling besar bagi sampainya manfaat orang Islam kepada saudaranya dikala hidup dan sesudah wafatnya. Sedangkan ayat kedua menerangkan bahwa seseorang tidak mendapatkan kebahagaiaan kecuali dengan usahanya sendiri. surat An -Najm:38-39: ÃáÇ ÊÒÑ æÇÒÑÉ æÒÑ ÃÎÑì æÃä áíÓ ááÅäÓÇä ÅáÇ ãÇ ÓÚì Artinya: Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orng lain dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya . maka hal itu tidak ad halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya.

Kemudian perhatikan juga fardhu kifayah. dimana sebagian orang mewakili seb agian yang lain. Hal itu karena seorang penduduk Mekah wajib melakukan ibadah haji apabila ia mampu berjalan ke Arafah tanpa disyaratkan harus memiliki harta. padahal qurban adalah melalui menumpahkan darah. Jadi ibadah haji bukan ibadah yang terdiri dari harta dan badan.Sedangkan firman Allah surat Al Baqarah 286: {áåÇ ãÇ ßÓÈÊ æÚáíåÇ ãÇÇßÊÓÈÊ} {ÝÇáíæã áÇ ÊÙáã äÝÓ æáÇÊÌÒæä ÅáÇ ãÇ ßäÊã ÊÚãáæä} Dan firman Allah surat Yasiin 54: Menerangkan bahwa seseorang tid ak akan disiksa lantaran perbuatan orang lain. Allah Maha Besar. setelah selesai shalat beliau diberikan seekor domba lalu beliau menyembelihnya seraya meng ucapkan: ÈÓã Çááå æÇááå ÃßÈÑ Çááåã åÐÇ Úäí æÚãä áã íÖÍ ãä ÃãÊí Artinya: Dengan nama Allah. mengatakan: ÇäÞØÚ Úãáå (putuslah amalnya). maka pahalanya ak an sampai kepadanya bukan pahala amalnya. Jawaban Terhadap Jawaban Kedua Rasulullah SAW menganjurkan puasa untuk menggantikan puasa orang yang telah meninggal padahal ibadah puasa seseorang tidak boleh digantikan orang lain. Adapun argumentasi mereka dengan hadits: {ÅÐÇ ãÇÊ ÇÈä ÂÏã ÇäÞØÚ Úãáå ÅáÇ ãä ËáÇË: ÕÏÞÉ ÌÇÑíÉ Ãæ æáÏ ÕÇáÍ íÏÚæ áå Ãæ Úáã íäÊÝÚ Èå ãä ÈÚÏå} Adalah argumentasi yang tidak dapat dipertanggung -jawabkan. tapi upahnya . Kemudian persoalan ini. bukan menggantikan pahala. Dalam hadits ini Rasulullah SAW menghadiahkan pahala qurban untuk umatnya yang tidak mampu berqurban. Demikian juga ibadah haji merupakan ibadah badaniyah. namun Rasul saw. Abu Dawud dan Turmudzi yang menerangkan bahwa ia pernah shalat Iedul Adha bersama Rasulullah SAW. sebagaimana seorang buruh tidak boleh digantikan orang lain. sebagaimana dalam pembebasan utang. Adapun amal orang lain adalah miliknya jika orang lain tersebut menghadiahkan amalnya untuk dia. namun ibadah badan saja. persoalan menghadiahkan pahala. kare na Rasulullah SAW tidak berkata :ÇäÞØÚ ÇäÊÝÇÚå (putuslah pengambilan manfaatnya). Harta bukan merupakan rukun dalam haji tetapi sarana. ya Alla. kurban ini untukku dan untuk umatku yang belum melakukan qurban . Begitu juga hadits Jabir ra yang diriwayatkan Ahmad.

atau yayasan atau. takbir.7. Ja far bin Abi Thalib. hari libur jum at atau lainnya. tahlil. namun jika tidak. Ini adalah sisa -sisa agama Animisme. RT untuk membantu setiap keluarga yang kena musibah. b. tasbih. Maqasid Syari ah: Bahwa Islam selalu menganjurkan untuk peduli dan membantu orang yang sedang susah.1.100.40. Hindu dan Budha. maka hal itu tugas mulia bagi setiap muslim terutama para da I. shalawat. haul (ulang tahun kematian). ke-100. q Di laksanakan di masjid setelah sholat Jum at tanpa hidangan. KESIMPULAN HUKUM TAHLILA N · Ditinjau dari segi bacaan: ayat -ayat suci Alqur an. ketujuh. c. V.do a dll semua itu sangat dianjurkan oleh Islam untuk membacanya. dan ke-1000. ke -40. ketiga.3. q Hidangan dapat dikordinir oleh majelis ta lim. · Ditinjau dari sisi hidangan yang disediakan oleh keluarga mayyit . SOLUSI q Merubah hari -hari yang ditentukan oleh Animisme. 1 tahun 1000 menjadi hari lainnya. keluarga mayyit dapat bersedekah semampunya untuk mayyit. Yang penting tidak terfokus hari tertentu seakan -akan ketentuan agama.syariahonline. hal ini sangat tercela menurut Islam. Namun realitanya sebaliknya arang yang kena musibah yang memberi ban tuan kepada orang yang tidak kena musibah. berarti menyetujui bahkan melegitimasi perbuatan itu. · Ditinjau dari sisi waktu : Bahwa tahlilan hari pertama. Banyak orang miskin memaksakan diri untuk menyediakan hidangan sekalipun dengan hutang.com/artikel/?act=view&id=22 Hukum Mengadakan Tahlil . http://www. Hindu dan Budha yang dibawa oleh pemeluk agama Islam dari kalangan mereka SIKAP DA I TERHADAP TAHLILAN YANG DILESTARIKAN MAYORITAS MASYARAKAT Jika mengikutinya dengan maksud untuk membawa misi perbaikan dan amar ma ruf nahi munkar dengan bijak.boleh diberikan kepada orang lain jika ia mau. hal ini bertentangan dengan hadits: a. tahmid. merubah sisa -sisa jahiliyah menjadi Islam.

biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai den gan hari ke -tujuh." Riwayat lain menerangkan: Bahwa Jarir datang kepada Umar ra. Yang Mengharamkan Mereka yang mengharamkan tindakan seperti ini mendasarkan pendapatnya pada hadits -hadits berikut. dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh -ruh ghaib. ke-100. "Ya. tasbih." (Al Mugni Ibnu Qudamah juz 2 h al 43). ada juga yang berpendapat sebaliknya. lalu Umar be rtanya. meski . Setelah orang -orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam. mere ka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. agama Budha dan Hindu. Mantera-mantera digantika dengan dzikir. selanjutnya malam ketiga. Hinduis me dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. seperti membakar kemenyan. ketujuh. Menurut kepercayaan Animisme. satu tahun. tahlil. tetapi mengalihkan dari upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Salah satunya yang diriwayatkan imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan sanad yan g shohih: "Adalah kami (para sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap. "Tidak. Dan ada juga yang melakukan pada hari ke -1. "Adakah orang -orang berkumpul di keluarga mayyit dan membuat makanan?" Dia menjawab. Sebagai langkah awal." lalu bertanya juga. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk -pauk untuk shodaqoh. "Yang demikian adalah ratapan. shalawat dan do'a. ke-satu tahun pertama. do'a dan bacaan-bacaan Al-Qur'an. dua tahun dan malam ke-1000. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan -kawan atau masyarakat tidak tidur. Dalam upacara di hari-hari tersebut. keluarga si mayyit mengundang orang untuk membaca be berapa ayat dan surat Al -Qur'an. upacara tersebut diadopsi oleh para da'I terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme. Hal semacam itu dilakukan pada malam pertama kemtian. selanjutnya dilakukan pada hari ke -40.000. Upacara semacam ini kemudian dinamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar masyarakat. membaca mantera-mantera atau sekedar kumpul -kumpul. maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk (sumerup) ke dalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mati. para da'i terdahulu tidak memberantasnya. kedua. tahmid. Sebagian ulama mengharamkan praktek seperti ini. ketiga dan seterusnya. ke -100.Tahlilan atau upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. "Adakah mayyit kalian diratapi?" Dia menjawab. Menurut penyelidikan para ahli." maka Umar berkata. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul -kumpul dan mengadakan upacara -upacara sesaji.

semua menunjukkan bahwa kemungkinan perbuatan orang yang masih hidup bisa berpengaruh kepada orang yang s udah meninggal. Wallahu a'lam ." 2. Fatwa dari Mufti Madzhab Hanafi: "Ya. 100 hari dan 1000 hari. Sedangkan masalah makan -makan yang disuguhkan kepada para hadirin yang ikut tahlilan tidak bisa begitu saja dianggap warisan dari nenek moyang. badal haji. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mufti Madzhab Syafi'i: "Ya. membayarkan hutang mayit. memang tidak ada riwayat yang menyebutkan hal itu. penguasa akan diberi pahala karena melarang manusia dari perbuatan bid'ah.Diterangkan dalam kitab I'anatu Thalibin jilid 2 hal 145-146. melainkan sekedar suguhan kepada para tamu yang datang. sampainya pahala shaum. perbuatan yang dilakukan oleh beberapa orang berkumpul di rumah orang yang kena musibah kematian dan menyediakan makanan adalah perbuatan bid'ah munkarah dan penguasa yang mencegahnya akan mendapatkan pahala. Namun terkait dengan momentum 7 hari." Yang Tidak Mengharamkan Mereka yang tidak mengharamkan mendasarkan pendapat mereka bahwa bahwa jumhur ulama mengatakan bahwa mengirim pahala kepada orang yang meninggal itu bisa disampaikan. bahwa fatwa -fatwa dari mufti -mufti Mekah dari 4 Madzhab menerangkan bahwa perbuatan perbuatan itu adalah munkar: 1. Dan menyuguhkan tamu merupakan ibadah dan anjuran dalam Islam. Sehingga bisa dikatakan bahwa penetapan hari-hari itu bukan dari syariat Islam. Sedangkan pendapat yang masyhur dari mazhab As-Syafi'iyah dan Al -Malikiyah mengatakan bahwa hanya amalan yang terkait dengan ibad ah maliyah (harta) saja yang bisa dikirimkan pahalanya. Sebab makanan itu bukan tujuan utama dari acara tahlila n. Misalnya adanya syariat shalat jenazah. Dan bahwa bacaan zikir dan tilawah Al -Quran itu bisa dikirimkan pahalanya kepada orang yang sudah meninggal. ziarah kubur dan doa untuk mereka dan lainnya.

bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. beserta masyarakat sekitarnya. namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur¶an dan As Sunnah. Asy Syafi¶i. Semoga Allah subhanahu wata¶ala mencurahkan hidayah dan inayah -Nya kepada kita semua. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya. Para pembaca. membaca beberapa ayat Al Qur¶an. jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Bukankah Allah subhanahu wata¶ala telah berfirman (artinya): ³Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu. dzikir-dzikir. Konsekuensinya. berkumpul sanak keluarga. sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki. dan disertai do¶a-do¶a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. handai taulan. 2007 by Kajian Islam Assunnah Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur¶an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu µalaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur¶an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. Namun . Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali). kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. maka acara tersebut dikenal dengan istilah ³Tahlilan´. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya. Namun pada dasarnya menu hidangan ³lebih dari sekedarnya´ cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan? Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit). Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan. walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif. Abu Hanifah.´ (An Nisaa¶: 59) Historis Upacara Tahlilan Para pembaca. Secara bersama-sama. dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. di masa para sahabatnya ? dan para Tabi¶in maupun Tabi¶ut tabi¶in. Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan. Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan. semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur¶an dan Sunnah Rasulullah. Ahmad.TAHLILAN DALAM TIMBANGAN ISLAM Posted on Agustus 18. Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik. maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur¶an) dan Ar Rasul (As Sunnah). bid¶ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan. hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman. memang demikianlah kenyataannya. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: ³wajib´) untuk dikerjakan dan sebaliknya. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran. kalau kita buka catatan sejarah Islam. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo¶akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan.

baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.´ (Muttafaqun alaihi) Para pembaca. Pada dasarnya. Suatu ketika Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang.´ (Al Maidah: 3) Juga Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam bersabda: ³Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naa r (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya. 1. yang pertama menyatakan: ³Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam´. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur¶an. Allah subhanahu wata¶ala berfirman (artinya): ³Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian. dzikir-dzikir dan disertai dengan do¶a-do¶a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit. maupun dzikir-dzikir dan do¶a-do¶a ala Islam menurut mereka. yang kedua menyatakan: ³Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka´. maka Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam menegur mereka.´ (H. saya shalat dan saya pula tidur. mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. dzikir-dzikir. ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata¶ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan? Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya. walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur¶an. Allah subhanahu wata¶ala menyatakan dalam Al Qur¶an (artinya): ³Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup. dan telah Aku sempurnakan nikmat Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian. Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek. yang terakhir menyatakan: ³Saya tidak akan menikah´. dan saya menikahi wanita. dan do¶a-do¶a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.´ (Al Mulk: 2) Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna ³yang paling baik amalnya´ ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam Acara tahlilan ±paling tidak± terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu: Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur¶an. Tidak ada suatu ibadah. bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam. Atas dasar ini. Memang benar Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur¶an. Bacaan Al Qur¶an. berdzikir dan berdoa.acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do¶a-do¶a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur¶an. karena memang telah dinyatakanoleh Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya. dzikir-dzikir. Kedua: Penyajian hidangan makanan. Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain. pihak yang membolehkan acara tahlilan. beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits .R Ath Thabrani) Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna. seraya berkata: ³Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka. dan do¶a-do¶a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara. supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.

´ Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329). Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi¶i.tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam bersabda: ³Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami.R Ahmad. dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur¶an tidak akan sampai kepada si mayit. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi¶I: ³Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah±pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara¶ (syari¶at) sendiri´.´ (H. sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya´.´ (Muttafaqun alaihi. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata¶ala (artinya): ³Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya´. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Al Imam Asy Syafi¶i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu µAl Um¶ (1/248): ³Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit ±pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Ibnu Majah dan lainnya) Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi¶i dalam masalah ini. dari lafazh Muslim) Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi: ³Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal. penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya. Simaklah firman Allah subhanahu wata¶ala (artinya): ³Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orangorang yang paling merugi perbuatannya. karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi¶i. maka memiliki hukum tersendiri.´ (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niy ahah (meratapi mayit). Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu µanhum. Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi¶i tentang hukum bacaan Al Qur¶an yang dihadiahkan kepada si mayit. . maka amalan tersebut tertolak. 211) Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi¶i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi¶i diatas didalam kitabnya Majmu¶ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: ³Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um. Jarir bin Abdillah radhiallahu µanhu±salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam± berkata: ³Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diadaadakan dalam agama (bid¶ah ±pent). maka amalan tersebut tertolak. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini. hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya. (An Najm: 39). Karena hal itu akan menambah kesedihan dan m emberatkan urusan mereka. Memang secara sepintas pula. (Al Kahfi: 103-104) Lebih ditegaskan lagi dalam hadits µAisyah radhiallahu µanha. 2.tersebut. Penyajian hidangan makanan.

R Abu Dawud.´ (H. disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam dalam hadistnya: ³Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja¶far. Karena telah datang perkara (kematian -pent) yang menyibukkan mereka. . At Tirmidzi dan lainnya) Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. supaya meringankan beban yang mereka alami. Wallahu µa¶lam.Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi¶i? Malah yang semestinya.