Hukum Tahlilan

Assalamu'alaikum wr wb, Saat ini di milis Media Dakwah ramai diperdebatkan masalah tahlil. Mudah -mudahan tulisan ini adalah tulisan yang terakhir. Tahlil, mengucapkan La ilaaha illallahu memang dianjurkan. Meski demikian, acara tahlilan di mana ketika ada orang meninggal, maka pada hari pertama, ke 7, 40, 100, dan 1000 keluarga yang mati harus menyelenggarakan hal itu, saya tidak menemukannya pada kitab Hadits Bukhari dan Muslim. Pada ajaran Imam Madzhab pun tidak ada aturan hari ke 1, 7, 40, 100, 1000, dsb. Bahkan beberapa ulama mensinyalir itu berasal dari tradisi Hindu/Budha di Indonesia (sinkretisme). Menurut saya pribadi, dengan mengadakan 5 acara makan-makan tersebut ke banyak orang, jika tiap hari acara menghabiskan Rp 2 juta, maka untuk 5 hari acara akan menghabiskan Rp 10 juta. Bagi keluarga yang kaya mungkin tidak masalah (meski boros/mubazir). Tapi bagi keluarga miskin sangat berat. Apalagi jika yang meninggal adalah tulang punggung keluarga (bapak/suami). Bayangkan, orang sudah ditimpa musibah kematian, masyarakat menuntut keluarga tsb untuk mengadakan acara tahlilan yang memakan biaya hingga jutaan rupiah. Islamikah itu? Bagi yang pro tahlil, mudah -mudahan bisa memberikan hadits yang shahih dan jelas tentang itu. Wassalam Tahlilan I. PENDAHULUAN Dakwah mengajak manusia kepada Allah SWT membutuhkan sikap lemah lembut dan tegas, karena yang dihadapi seorang da I adalah berbagai lapisan masyarakat. Jika dakwah dilakukan terlalu kasar, maka mereka tidak akan menerima dan bahkan lari darinya. Dalam masyarakat terjadi beberapa kesalahan dan kemunkaran, namun dianggap suatu ajaran agama, antara lain: Upacara perkawinan, acara tujuh bulanan, upacara kematian, dan lain sebagainya. Dalam kesempatan ini Pusat Konsultasi Syariah ingin memberikan penjelasan hal -hal yang berkaitan dengan upacara kematian, tegasnya masalah hukum tahlilan dan hal-hal yang terkait dengannya seperti[1]: · Waktu pelaksanaan tahlilan upacara kematian. · Hidangan untuk para tamu. · Menghadiahkan pah ala untuk orang yang telah meninggal. · Solusi dan sikap seorang da I yang mesti dilakukan.

ketujuh. selanjutnya dilakukan pada hari ke -40. maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk(sumerup) ke dalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mati. tahmid. Para tetangga. kedua. Setelah orang-orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam. ke-100. dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh -ruh ghaib. Menurut kepercayaan Animisme.II. seperti membakar kemenyan. para da I terdahulu tidak memberantasnya. shalawat dan do a. keluarga mayyit biasanya menyediakan makanan untuk orang -orang yang datang pada upacara tersebut sebagai sedekah. Padahal Nabi Muhammad SAW memerintahkan supaya para tetangga memberi atau menye diakan makanan kepada keluarga mayyit. mereka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan -kawan atau masyarakat tidak tidur. agam a Budha dan Hindu. Mantera-mantera digantika dengan dzikir. Dan ada juga yang melakukan pada hari ke -1000. Sebagai langkah awal. membaca mantera -mantera atau sekedar kumpul -kumpul. biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai dengan hari ke-tujuh. tahlil. satu tahun. Pahala bacaan Alqur an dan dzikir tersebut dihadiahkan kepada si mayyit. ketiga dst. Menurut penyelidikan para ahli. sanak famili. dua tahun dan malam ke-1000. Hinduisme dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk -pauk untuk shodaqoh. ke -100. Dalam upacara dihari -hari tersebut. tasbih. WAKTU PELAKSANAAN TAHLILAN Tahlilan atau upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. tetapi mengalihkan dari upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Hal semacam itu dilakukan pada malam pertama kemtian. selanjutnya malam ketiga. do a dan bacaan-bacaan Alqur an. ke-satu tahun pertama. keluarga si mayyit mengundang orang untuk membaca beberapa ayat dan surat Alquran. Rasulullah SAW bersabda: Úä ÚÈÏ Çááå Èä ÌÚÝÑ ÞÇá áãÇ ÌÇÁ äÚì ÌÚÝÑ Ííä ÞÊá ÞÇá ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã : ÇÕäÚæÇ áÃá ÌÚÝÑ ØÚÇãÇ ÝÞÏ ÃÊÇåã ãÇ íÔÛáåã {ÑæÇå ÇáÔÇÝÚí æÃÍãÏ} . upacara tersebut diadopsi oleh para da I terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme. Upacara semacam ini kemudian dianamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar ma syarakat. III. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul -kumpul dan mengadakan upacara-upacara sesaji. dan handai tolan supaya datang ikut bela sungkawa dengan membawa sesuatu untuk penyelenggaraan jenazah atau membawa makanan untuk keluarga yang dilanda musibah. MENYEDIAKAN MAKANAN Dalam acara Tahlilan .

bukan yang terkena musibah menyediakan makanan buat orang yang datang. lalu Umar bertanya: Adakah mayyit kalian diratapi ? Dia menjawab: Tidak.Artinya: Berkata Abdullah bin Ja far tatkala datang khabar bahwa Ja far telah terbunuh. Diterangkan dalam kitab Ianatu Thalibin jilid 2 hal 145-146 . bahwa fatwa -fatwa dari mufti -mufti Mekah dari 4 Madzhab menerangkan bahwa pe rbuatan perbuatan itu adalah munkar: 1. 3 dan 4 Fatwa Madzhab Maliki dan Hambali: ÝÞÏ ÃÌÇÈ ÈäÙíÑ åÐíä ÇáÌæÇÈíä ãÝÊí ÇáÓÇÏÉ ÇáãÇáßíÉ . maka Umar berkata: Yang demikian adalah ratapan . (Al Mugni Ibnu Qudamah zuz 2 hal 43). perbuatan yang dilakukan oleh beberapa orang berkumpul dirumah orang yang kena musibah kematian dan menyediakan makanan adalah perbuatan bid ah munkarah dan penguasa yang mencegahnya akan mendapatkan pahala . Dan hadits lain menerangkan bahwa menghidangkan makanan dalam upacara kematian adalah termasuk meratap yang dilarang oleh agama sebagaimana hadits yang diriwayatkan imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan sanad yang shohih: ßäÇ äÚÏ ÇáÅÌÊãÇÚ Åáì Ãåá ÇáãíÊ æÕäÚåã ÇáØÚÇã ÈÚÏ ÏÝäå ãä ÇáäíÇÍÉ Artinya: Adalah kami (para sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap . Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mufti Madzhab Syafi i: äÚã ãÇ íÝÚá ÇáäÇÓ ãä ÇáÅÌÊãÇÚ ÚäÏ Ãåá ÇáãíÊ æÕäÚ ÇáØÚÇã ãä ÇáÈÏÚ ÇáãäßÑÉ ÇáÊí íËÇÈ Úáì ãäÚåÇ æáí ÇáÃãÑ Artinya: Ya. Jadi yang menyediakan makanan adalah tetangga untuk keluarga yang kena musibah kematian. Rasulullah SAW bersabda: Bikinkanlah makanan untuk keluarga Ja far karena telah datang kepada mereka hal yang menyibukkan mereka (HR Asy -Syafi I dan Ahmad). 2. Riwayat lain menerangkan: Bahwa Jarir datang kepada Umar ra. Fatwa dari Mufti Madzhab Hanafi: äÚã íËÇÈ æáí ÇáÃãÑ Úáì ãäÚåã ãä Êáß ÇáÃãæÑ Çá Êí åí ãä ÇáÈÏÚ Artinya: Ya. lalu bertanya juga: Adakah orang -orang berkumpul di keluarga mayyit dan membuat ma kanan ? Dia menjawab:ya. penguasa akan diberi pahala karena melarang manusia dari perbuatan bid ah .

BERDO A MENGHADIAHKAN PAHALA KEPADA ORANG YANG TELAH MENINGGAL. Abu Dawud. berdasarkan . bahwa orang yang telah mati tidak bisa mendapat tambahan pahala kecuali yang disebutkan dalam hadits: ÅÐÇ ãÇÊ ÇÈä ÂÏã ÇäÞØÚ Úãáå ÅáÇ ãä ËáÇË: ÕÏÞÉ ÌÇÑíÉ Ãæ æáÏ ÕÇáÍ íÏÚæ áå Ãæ Úáã íäÊÝÚ Èå ãä ÈÚÏå Artinya: Apabila seorang manusia meninggal maka putuslah amalnya. Surat Al B aqaraah 286 áåÇ ãÇ ßÓÈÊ æÚáíåÇ ãÇÇßÊÓÈÊ Artinya: Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya . Surat Yaasiin:54 ÝÇáíæã áÇ ÊÙáã äÝÓ æáÇÊÌÒæä ÅáÇ ãÇ ßäÊã ÊÚãáæä Artinya: Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan 3. PENDAPAT PERTAMA Hal tersebut tidak diperintahkan agama dalil: 1. Firman Allah surat An -Najm:38-39: ÃáÇ ÊÒÑ æÇÒÑÉ æÒÑ ÃÎÑì æÃä áíÓ ááÅäÓÇä ÅáÇ ãÇ ÓÚì Artinya: Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya 2. Dengan demikian jelaslah bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan makan -minum yang disediakan oleh keluarga mayyit adalah perbuatan munkar yang harus dihindari. Ayat-ayat diatas adalah sebagai jawaban dari keterangan yang mempunyai maksud yang sama. anak yang shalih yang mendo akannya atau ilmu yang bermanfaat sesudahnya (HR Muslim. A. Para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdo a dan mengahadiahkan pahala ibadah kepada orang yang telah meninggal dunia. At-Tirmidzi.æãÝÊí ÇáÓÇÏÉ ÇáÍäÇÈáÉ Artinya: Telah menjawab seperti kedua jawaban di atas mufti Madzhab Maliki dan Mufti Madzhab Hambali . Nasa I dan Ahmad). kecuali tiga hal: Sedekah jariyah. IV.

PENDAPAT KEDUA Membedakan antara ibadah badaniyah dan ibadah maliyah. Pahala ibadah maliyah seperti shadaqah dan hajji sampai kepada mayyit. beri ampunlah kami dan saudar -saudar kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami (QS Al Hasyr : 10) Dalam ayat ini Allah SWT menyanjung orang -orang yang beriman karena mereka memohonkan ampun (istighfar) untuk orang -orang beriman sebelum mereka. Tentang do a shalat jenazah antara lain. C. tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum (HR An -Nasa I). dan seseorang tidak boleh melakukan shaum untuk menggantikan orang lain. Dalil Hadits a. dalam hadits banyak disebutkan do a tentang shalat jenazah. Ini menunjukkan bahwa orang yang telah meninggal dapat manfaat dari istighfar orang yang masih hidup. Pendapat ini merupakan pendapat yang masyhur dari Madzhab Syafi I dan pendapat Madzhab Malik. Hal ini sesuai dengan sabda Rasul SAW: áÇ íÕáì ÃÍÏ Úä ÃÍÏ æáÇ íÕæã ÃÍÏ Úä ÃÍÏ æáßä íØÚã Úäå ãßÇä ßá íæã ãÏÇ ãä ÍäØÉ {ÑæÇå ÇáäÓÇÆ} Artinya: Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk menggantikan orang lain.B. sebagaimana sewaktu hidup seseorang tidak boleh menyertakan ibadah tersebut untuk menggantikan orang lain. PENDAPAT KETIGA Do a dan ibadah baik maliyah maupun badaniyah bisa bermanfaat untuk mayyit berdasarkan dalil berikut ini: 1. do a setelah mayyit dikubur dan do a ziarah kubur. 2. Dalil Alqur an: æÇáÐíä ÌÇÄæÇ ãä ÈÚÏåã íÞæáæä ÑÈäÇ ÇÛÝÑ áäÇ æáÅÎæÇääÇ ÓÈÞæäÇ ÈÇáÅíãÇä Artinya: Dan orang -orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor). sedangkan ibadah badaniyah seperti shalat dan bacaan Alqur an tidak sampai. mereka berdo a : Ya Tuhan kami.íÞæá: Çááåã ÇÛÝÑáå æÇÑÍãå æÇÚÝ Úäå æÚÇÝå æÃßÑã äÒáå ææÓÚ ãÏÎáå æÇÛÓáå ÈãÇÁ æËáÌ æÈÑÏ æäÞå ãä ÇáÎØÇíÇ ßãÇ íäÞì ÇáËæÈ ÇáÃÈíÖ ãä ÇáÏäÓ æÃÈÏáå . Rasulullah SAW bersabda: Úä ÚæÝ Èä ãÇáß ÞÇá: ÓãÚÊ ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã-æÞÏ Õáì Úáì ÌäÇÒÉ . Mereka berpendapat bahwa ibadah badaniyah adalah termasuk kategori ibadah yang tidak bisa digantikan orang lain.

gantikanlah untuknya tempat tinggal yang lebih baik dari tempat tinggalnya. mandikanlah dia dengan air es dan air embun.ÏÇÑÇ ÎíÑÇ ãä ÏÇÑå æÃåáÇ ÎíÑÇ ãä Ãåáå æÒæÌÇ ÎíÑÇ ãä ÒæÌå æÞå ÝÊäÉ ÇáÞÈÑ æÚÐÇÈ ÇáäÇÑ {ÑæÇå ãÓ áã } Artinya: Dari Auf bin Malik ia berkata: Saya telah mendengar Rasulullah SAW setelah selesai shalat jenazah-bersabda: Ya Allah ampunilah dosanya. Ucapkan: ÇáÓáÇã Úáì Ãåá ÇáÏíÇÑ ãä ÇáãÄãäíä æÇáãÓáãíä æíÑÍã Çááå ÇáãÓÊÞÏãíä ãäÇ æÇáãÓÊÃÎÑíä æÃäÇ Åä ÔÇÁ Çááå Èßã ÇááÇÍÞæä (salam sejahtera semoga dilimpahkan kepada ahli kubur baik mu min maupun muslim dan semoga Allah memberikan rahmat kepada generasi pendahulu dan generasi mendatang da n sesungguhnya insya Allah . keluarga yang lebih baik dari keluarganya. Dalam Hadits tentang sampainya pahala shadaqah kepada mayyit Úä ÇÈä ÚÈÇÓ ÑÖí Çááå ÚäåãÇ Ãä ÓÚÏ Èä ÚÈÇÏÉ ÊæÝíÊ Ããå æåæ ÛÇÆÈ ÚäåÇ ÝÃÊì ÇáäÈí Öáì Çááå Úáíå æÓáã ÝÞÇá: Åä Ããí ÊæÝíÊ æÃäÇ ÛÇÆ È ÚäåÇ Ýåá íäÝÚ Ãä ÊÕÏÞÊ ÚäåÇ ¿ÞÇá : äÚã . sayangilah dia. sehatkanlah dia. Tentang do a setelah mayyit dikuburkan. luaskanlah kuburannya. p asangan yang lebih baik dari pasangannya dan peliharalah dia dari siksa kubur dan siksa neraka (HR Muslim).ÞÇá :ÝÅäí ÃÔåÏß Ãä ÍÇÆØí ÇáãÎÑÇÝ ÕÏÞÉ ÚäåÇ {ÑæÇå . bersihkanlah dari segala kesalahan sebagaimana kain putih bersih dari kotoran.kami pasti menyusul) (HR Muslim). b. Rasulullah SAW bersabda: Úä ÚËãÇä ÇÈä ÚÝÇä ÑÖí Çááå Úäå ÞÇá ßÇä ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÅÐÇ ÎÑÌ ãä ÏÝä ÇáãíÊ æÞÝ Úáíå ÝÞÇá: ÇÓÊÛÝÑæÇ áÃÎíßã æÇÓÃáæÇ áå ÇáÊËÈíÊ ÝÅäå ÇáÃä íÓÃá {ÑæÇå ÃÈæ ÏÇæÏ} Artinya: Dari Ustman bin Affan ra berkata: Adalah Nabi SAW apabila selesai menguburkan mayyit beliau beridiri lalu bersabda: mohonkan ampun untuk saudaramu dan mintalah keteguhan hati untuknya. maafkanlah dia. karena sekarang dia sedang ditanya (HR Abu Dawud) Sedangkan tentang do a ziarah kubur antara lain diriwayatkan oleh Aisyah ra bahwa ia bertanya kepada Nabi SAW: ßíÝ ÊÞæá ÅÐÇ ÇÓÊÛÝÑÊ áÃåá ÇáÞÈæÑ ¿ÞÇá :Þæáí : ÇáÓáÇã Úáì Ãåá ÇáÏíÇÑ ãä ãä ÇáãÄãäíä æÇáãÓáãíä æíÑÍã Çááå ÇáãÓÊÞÏãíä ãäÇ æÇáãÓÊÃÎÑíä æÃäÇ Åä ÔÇÁ Çááå Èßã ÇááÇÍÞæä {ÑæÇå ãÓáã} Artinya: bakaimana pendapatmu kalau saya memohonkan ampun untuk ahli kubur ? Rasul SAW menjawab. muliakanlah tempat tinggalnya.

Dalil Qiyas . Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Saum Úä ÚÇÆÔÉ ÑÖí Çááå ÚäåÇ Ãä ÑÓæá Çááå Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÞÇá : ãä ãÇÊ æÚáíå ÕíÇã ÕÇã Úäå æáíå {ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí æãÓáã } Artinya: Dari Aisyah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa yang meninggal dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka keluarganya berpuasa untuknya (HR Bukhari dan Muslim) d. Dalil Ijma a. Saad berkata: saksikanlah bahwa kebunku yang banyak buahnya aku sedekahka n untuknya (HR Bukhari). Dalil Hadits Tentang Sampainya Pahala Haji Úä ÇÈä ÚÈÇÓ ÑÖí Çááå ÚäåãÇ Ãä ÇãÑÃÉ ãä ÌåíäÉ ÌÇÁÊ Åáì ÇáäÈí Õáì Çááå Úáíå æÓáã ÝÞÇáÊ: Åä Ããí äÐÑÊ Ãä ÊÍÌ Ýáã ÊÍÌ ÍÊì ãÇÊÊ ÃÝÃÍÌ ÚäåÇ ¿ ÞÇá : äÚã . apakah jika saya bersedekah untuknya bermanfaat baginya ? Rasul SAW menjawab: Ya. lalu ia datang kepada Nabi SAW unntuk bertanya: Wahai Rasulullah SAW sesungguhnya ibuku telah meninggal sedang saya tidak ada di tempat. apakah saya melakukah haji untuknya ? rasul menjawab: Ya. karena hu tang Allah lebih berhak untuk dibayar (HR Bukhari) 3. Ini berdasarkan hadit s Abu Qotadah dimana ia telah menjamin untuk membayar hutang seorang mayyit sebanyak dua dinar. b. ÍÌí ÚäåÇ ÃÑÃíÊ áæ ßÇä Úáì Ããß Ïíä ÃßäÊ ÞÇÖíÊå ¿ÇÞÖæÇ Çááå ÝÇááå ÃÍÞ ÈÇáæÝÇÁ {ÑæÇå ÇáÈÎÇÑí} Artinya:Dari Ibnu Abbas ra bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi SAW dan berta nya: Sesungguhnya ibuku nadzar untuk hajji. c. namun belum terlaksana sampai ia meninggal.ÇáÈÎÇÑí} Artinya: Dari Abdullah bin Abbas ra bahwa Saad bin Ubadah ibunya meninggal dunia ketika ia tidak ada ditempat. apakah kamu membayarnya ? bayarlah hutang Allah. Para ulama sepakat bahwa do a dalam shalat jenazah bermanfaat bagi mayyit. bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang. Ketika ia telah membayarnya nabi SAW bersabda: ÇáÂä ÈÑÏÊ Úáíå ÌáÏÊå Artinya: Sekarang engkau telah mendinginkan kulitnya (HR Ahmad) 4. Bebasnya utang mayyit yang ditanggung oleh orang lain sekalipun bukan keluarga.

maka hal itu tidak ad halangan sebagaimana tidak dilarang menghadiahkan harta untuk orang lain di waktu hidupnya dan membebaskan utang setelah wafatnya. surat An -Najm:38-39: ÃáÇ ÊÒÑ æÇÒÑÉ æÒÑ ÃÎÑì æÃä áíÓ ááÅäÓÇä ÅáÇ ãÇ ÓÚì Artinya: Yaitu bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orng lain dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya . Allah SWT tidak menyatakan bahwa dia tidak dapat mengambil manfaat kecuali dari usahanya sendiri. Hal ini akan menghapuskan angan-angannya bahwa dia akan selamat karena amal orang-tua dan nenek moyangnya yang terdahulu. Firman Allah: {ÃáÇ ÊÒÑ æÇÒÑÉ æÒÑ ÃÎÑì æÃä áíÓ ááÅäÓÇä ÅáÇ ãÇ ÓÚì} Adalah dua ayat muhkamat yang menunjukkan keadilan Allah SWT. yang dinafikan adalah memiliki suatu manfaat yang bukan usahanya. Dapat dijawab dengan dua jawaban: 1. Alqur an tidak menafikan seseorang mengambil manfaat dari usaha orang lain. Jawaban Terhadap Pendapat Pertama Firman Allah. Itu adalah hasil usahanya sendiri. Bahwa seseorang dengan usaha dan hubungan baiknya mendapatkan banyak kawan dan memp unyai keturunan dan kasih sayang terhadap orang lain. Bahkan do a orang Islam dapat bermanfaat untuk orang Islam lain. 2. Sedangkan ayat kedua menerangkan bahwa seseorang tidak mendapatkan kebahagaiaan kecuali dengan usahanya sendiri. Hal itu mengundang simpatisan orang untuk berdo a dan menghadiahkan pahala. Jika ia menghadiahkan kepada saudaranya yang muslim. Islam telah memberikan penjelasan sampainya pahala ibadah badaniyah seperti membaca Alqur an dan lainnya diqiyaskan dengan sampainya puasa. Ayat pertama menjelaskan bahwa Allah SWT tidak menyiksa seseorang karena kesalahan orang lain. Bahkan hubungan melalui agama merupakan sebab yang paling besar bagi sampainya manfaat orang Islam kepada saudaranya dikala hidup dan sesudah wafatnya. Adapun usaha orang lain adalah miliknya jika ia mau. Jika de mikian bagaimana tidak sampai pahala membaca Alqur an yang berupa perbuatan dan niat. ia bisa memberikannya kepada orang lain dan jika tidak mau hasil usahanya itu dia milik i sendiri. dan itu pahalanya bisa sampai kepada mayyit. karena puasa dalah menahan diri dari yang membatalkan disertai niat.Pahala itu adalah hak orang yang beramal. . Oleh karena itu Allah menerangkan bahwa manusia tidak memiliki kecuali hasil usahanya sendiri.

Kemudian persoalan ini. Dalam hadits ini Rasulullah SAW menghadiahkan pahala qurban untuk umatnya yang tidak mampu berqurban. Adapun argumentasi mereka dengan hadits: {ÅÐÇ ãÇÊ ÇÈä ÂÏã ÇäÞØÚ Úãáå ÅáÇ ãä ËáÇË: ÕÏÞÉ ÌÇÑíÉ Ãæ æáÏ ÕÇáÍ íÏÚæ áå Ãæ Úáã íäÊÝÚ Èå ãä ÈÚÏå} Adalah argumentasi yang tidak dapat dipertanggung -jawabkan. sebagaimana dalam pembebasan utang. bukan menggantikan pahala. persoalan menghadiahkan pahala. mengatakan: ÇäÞØÚ Úãáå (putuslah amalnya). setelah selesai shalat beliau diberikan seekor domba lalu beliau menyembelihnya seraya meng ucapkan: ÈÓã Çááå æÇááå ÃßÈÑ Çááåã åÐÇ Úäí æÚãä áã íÖÍ ãä ÃãÊí Artinya: Dengan nama Allah. Allah Maha Besar. Hal itu karena seorang penduduk Mekah wajib melakukan ibadah haji apabila ia mampu berjalan ke Arafah tanpa disyaratkan harus memiliki harta. ya Alla. Abu Dawud dan Turmudzi yang menerangkan bahwa ia pernah shalat Iedul Adha bersama Rasulullah SAW.Sedangkan firman Allah surat Al Baqarah 286: {áåÇ ãÇ ßÓÈÊ æÚáíåÇ ãÇÇßÊÓÈÊ} {ÝÇáíæã áÇ ÊÙáã äÝÓ æáÇÊÌÒæä ÅáÇ ãÇ ßäÊã ÊÚãáæä} Dan firman Allah surat Yasiin 54: Menerangkan bahwa seseorang tid ak akan disiksa lantaran perbuatan orang lain. dimana sebagian orang mewakili seb agian yang lain. Begitu juga hadits Jabir ra yang diriwayatkan Ahmad. kare na Rasulullah SAW tidak berkata :ÇäÞØÚ ÇäÊÝÇÚå (putuslah pengambilan manfaatnya). Jadi ibadah haji bukan ibadah yang terdiri dari harta dan badan. Adapun amal orang lain adalah miliknya jika orang lain tersebut menghadiahkan amalnya untuk dia. namun Rasul saw. Harta bukan merupakan rukun dalam haji tetapi sarana. Jawaban Terhadap Jawaban Kedua Rasulullah SAW menganjurkan puasa untuk menggantikan puasa orang yang telah meninggal padahal ibadah puasa seseorang tidak boleh digantikan orang lain. kurban ini untukku dan untuk umatku yang belum melakukan qurban . padahal qurban adalah melalui menumpahkan darah. namun ibadah badan saja. Demikian juga ibadah haji merupakan ibadah badaniyah. sebagaimana seorang buruh tidak boleh digantikan orang lain. maka pahalanya ak an sampai kepadanya bukan pahala amalnya. Kemudian perhatikan juga fardhu kifayah. tapi upahnya .

do a dll semua itu sangat dianjurkan oleh Islam untuk membacanya. ketujuh. Hindu dan Budha yang dibawa oleh pemeluk agama Islam dari kalangan mereka SIKAP DA I TERHADAP TAHLILAN YANG DILESTARIKAN MAYORITAS MASYARAKAT Jika mengikutinya dengan maksud untuk membawa misi perbaikan dan amar ma ruf nahi munkar dengan bijak. tahmid. atau yayasan atau. takbir. Ini adalah sisa -sisa agama Animisme. ke-100.7. hari libur jum at atau lainnya. http://www. berarti menyetujui bahkan melegitimasi perbuatan itu. SOLUSI q Merubah hari -hari yang ditentukan oleh Animisme.com/artikel/?act=view&id=22 Hukum Mengadakan Tahlil . Namun realitanya sebaliknya arang yang kena musibah yang memberi ban tuan kepada orang yang tidak kena musibah. maka hal itu tugas mulia bagi setiap muslim terutama para da I. · Ditinjau dari sisi waktu : Bahwa tahlilan hari pertama. ketiga. q Hidangan dapat dikordinir oleh majelis ta lim. · Ditinjau dari sisi hidangan yang disediakan oleh keluarga mayyit . tasbih.boleh diberikan kepada orang lain jika ia mau. Hindu dan Budha.1. haul (ulang tahun kematian). Maqasid Syari ah: Bahwa Islam selalu menganjurkan untuk peduli dan membantu orang yang sedang susah. c. KESIMPULAN HUKUM TAHLILA N · Ditinjau dari segi bacaan: ayat -ayat suci Alqur an. V. 1 tahun 1000 menjadi hari lainnya. shalawat. dan ke-1000.40.3. merubah sisa -sisa jahiliyah menjadi Islam. b.syariahonline.100. Ja far bin Abi Thalib. q Di laksanakan di masjid setelah sholat Jum at tanpa hidangan. hal ini sangat tercela menurut Islam. hal ini bertentangan dengan hadits: a. tahlil. ke -40. Yang penting tidak terfokus hari tertentu seakan -akan ketentuan agama. RT untuk membantu setiap keluarga yang kena musibah. namun jika tidak. Banyak orang miskin memaksakan diri untuk menyediakan hidangan sekalipun dengan hutang. keluarga mayyit dapat bersedekah semampunya untuk mayyit.

"Adakah mayyit kalian diratapi?" Dia menjawab. Upacara semacam ini kemudian dinamakan Tahlilan yang sekarang telah membudaya pada sebagian besar masyarakat. ada juga yang berpendapat sebaliknya. "Yang demikian adalah ratapan. seperti membakar kemenyan." maka Umar berkata. Sebagian ulama mengharamkan praktek seperti ini. do'a dan bacaan-bacaan Al-Qur'an. kedua. Sebagai langkah awal. satu tahun. Dalam upacara di hari-hari tersebut. "Tidak. selanjutnya malam ketiga. Menurut penyelidikan para ahli. membaca mantera-mantera atau sekedar kumpul -kumpul. dan sesaji terhadap yang ghaib atau ruh -ruh ghaib. Salah satunya yang diriwayatkan imam Ahmad dari Jabir bin Abdullah Al Bajali dengan sanad yan g shohih: "Adalah kami (para sahabat) menganggap bahwa berkumpul di rumah ahli mayyit dan mereka menyediakan makanan sesudah mayyit dimakamkan adalah termasuk perbuatan meratap. maka ruh orang mati tadi akan marah dan masuk (sumerup) ke dalam jasad orang yang masih hidup dari keluarga si mati." (Al Mugni Ibnu Qudamah juz 2 h al 43). selanjutnya dilakukan pada hari ke -40. Jika dalam rumah tadi tidak ada orang ramai yang berkumpul -kumpul dan mengadakan upacara -upacara sesaji. ke -100. tahlil. lalu Umar be rtanya. tahmid. shalawat dan do'a.000. Yang Mengharamkan Mereka yang mengharamkan tindakan seperti ini mendasarkan pendapatnya pada hadits -hadits berikut. Setelah orang -orang yang mempunyai kepercayaan tersebut masuk Islam. Menurut kepercayaan Animisme. keluarga si mayyit mengundang orang untuk membaca be berapa ayat dan surat Al -Qur'an. Hinduis me dan Budhisme bila seseorang meninggal dunia maka ruhnya akan datang kerumah pada malam hari mengunjungi keluarganya. para da'i terdahulu tidak memberantasnya. "Ya. ke-100. "Adakah orang -orang berkumpul di keluarga mayyit dan membuat makanan?" Dia menjawab. agama Budha dan Hindu. ketiga dan seterusnya. Dan ada juga yang melakukan pada hari ke -1. dua tahun dan malam ke-1000. upacara tersebut diadopsi oleh para da'I terdahulu dari upacara kepercayaan Animisme. tasbih. tetapi mengalihkan dari upacara yang bersifat Hindu dan Budha itu menjadi upacara yang bernafaskan Islam. Sesaji diganti dengan nasi dan lauk -pauk untuk shodaqoh. biasanya dilakukan pada hari pertama kematian sampai den gan hari ke -tujuh.Tahlilan atau upacara selamatan untuk orang yang telah meninggal. Maka untuk itu semalaman para tetangga dan kawan -kawan atau masyarakat tidak tidur. ke-satu tahun pertama." lalu bertanya juga. meski . Mantera-mantera digantika dengan dzikir. ketujuh. mere ka tetap melakukan upacara-upacara tersebut. Hal semacam itu dilakukan pada malam pertama kemtian." Riwayat lain menerangkan: Bahwa Jarir datang kepada Umar ra.

badal haji. Sedangkan masalah makan -makan yang disuguhkan kepada para hadirin yang ikut tahlilan tidak bisa begitu saja dianggap warisan dari nenek moyang. perbuatan yang dilakukan oleh beberapa orang berkumpul di rumah orang yang kena musibah kematian dan menyediakan makanan adalah perbuatan bid'ah munkarah dan penguasa yang mencegahnya akan mendapatkan pahala." 2. penguasa akan diberi pahala karena melarang manusia dari perbuatan bid'ah. membayarkan hutang mayit. 100 hari dan 1000 hari. melainkan sekedar suguhan kepada para tamu yang datang. Namun terkait dengan momentum 7 hari. Sayyid Ahmad Zaini Dahlan mufti Madzhab Syafi'i: "Ya. bahwa fatwa -fatwa dari mufti -mufti Mekah dari 4 Madzhab menerangkan bahwa perbuatan perbuatan itu adalah munkar: 1. semua menunjukkan bahwa kemungkinan perbuatan orang yang masih hidup bisa berpengaruh kepada orang yang s udah meninggal. Wallahu a'lam ." Yang Tidak Mengharamkan Mereka yang tidak mengharamkan mendasarkan pendapat mereka bahwa bahwa jumhur ulama mengatakan bahwa mengirim pahala kepada orang yang meninggal itu bisa disampaikan. Sebab makanan itu bukan tujuan utama dari acara tahlila n. Sedangkan pendapat yang masyhur dari mazhab As-Syafi'iyah dan Al -Malikiyah mengatakan bahwa hanya amalan yang terkait dengan ibad ah maliyah (harta) saja yang bisa dikirimkan pahalanya. Dan menyuguhkan tamu merupakan ibadah dan anjuran dalam Islam. memang tidak ada riwayat yang menyebutkan hal itu. Fatwa dari Mufti Madzhab Hanafi: "Ya. Dan bahwa bacaan zikir dan tilawah Al -Quran itu bisa dikirimkan pahalanya kepada orang yang sudah meninggal. Sehingga bisa dikatakan bahwa penetapan hari-hari itu bukan dari syariat Islam.Diterangkan dalam kitab I'anatu Thalibin jilid 2 hal 145-146. Misalnya adanya syariat shalat jenazah. sampainya pahala shaum. ziarah kubur dan doa untuk mereka dan lainnya.

kalau kita buka catatan sejarah Islam. Upacara tersebut sebagai bentuk penghormatan dan mendo¶akan orang yang telah meninggalkan dunia yang diselenggarakan pada waktu seperti halnya waktu tahlilan. Secara bersama-sama. 2007 by Kajian Islam Assunnah Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Qur¶an dan mengutus Nabi Muhammad shalallahu µalaihi wasallam sebagai penjelas dan pembimbing untuk memahami Al Qur¶an tersebut sehingga menjadi petunjuk bagi umat manusia. dan disertai do¶a-do¶a tertentu untuk dikirimkan kepada si mayit. pembahasan kajian kali ini bukan dimaksudkan untuk menyerang mereka yang suka tahlilan. Sebenarnya acara tahlilan semacam ini telah lama menjadi pro dan kontra di kalangan umat Islam. Bukankah Allah subhanahu wata¶ala telah berfirman (artinya): ³Maka jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu. Konsekuensinya. dan ulama lainnya yang semasa dengan mereka ataupun sesudah mereka. hingga tanpa disadari menjadi suatu kelaziman.´ (An Nisaa¶: 59) Historis Upacara Tahlilan Para pembaca.TAHLILAN DALAM TIMBANGAN ISLAM Posted on Agustus 18. di masa para sahabatnya ? dan para Tabi¶in maupun Tabi¶ut tabi¶in. Abu Hanifah. walaupun terkadang berbeda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Karena dari sekian materi bacaannya terdapat kalimat tahlil yang diulang-ulang (ratusan kali bahkan ada yang sampai ribuan kali). handai taulan. Yang demikian itu lebih utama bagi kalian dan lebih baik akibatnya. Asy Syafi¶i. dzikir-dzikir. namun sebagai nasehat untuk kita bersama agar berpikir lebih jernih dan dewasa bahwa kita (umat Islam) memiliki pedoman baku yang telah diyakini keabsahannya yaitu Al Qur¶an dan As Sunnah. Bahkan acara tersebut tidak dikenal pula oleh para Imam-Imam Ahlus Sunnah seperti Al Imam Malik. Sikap seperti inilah yang sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim yang benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya. Bahkan lebih jauh lagi acara tersebut telah membangun opini muatan hukum yaitu sunnah (baca: ³wajib´) untuk dikerjakan dan sebaliknya. Ahmad. jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun . maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur¶an) dan Ar Rasul (As Sunnah). Lalu dari mana sejarah munculnya acara tahlilan? Awal mula acara tersebut berasal dari upacara peribadatan (baca: selamatan) nenek moyang bangsa Indonesia yang mayoritasnya beragama Hindu dan Budha. beserta masyarakat sekitarnya. Sebagai muslim sejati yang selalu mengedepankan kebenaran. Model penyajian hidangan biasanya selalu variatif. maka acara ritual tahlilan tidak dijumpai di masa Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. semua pro dan kontra harus dikembalikan kepada Al Qur¶an dan Sunnah Rasulullah. Lalu diselenggarakan kembali pada hari ke 40 dan ke 100. tergantung adat yang berjalan di tempat tersebut. Semoga Allah subhanahu wata¶ala mencurahkan hidayah dan inayah -Nya kepada kita semua. Namun pada dasarnya menu hidangan ³lebih dari sekedarnya´ cenderung mirip menu hidangan yang berbau kemeriahan. kemudian terus berlangsung setiap hari sampai hari ketujuh. maka acara tersebut dikenal dengan istilah ³Tahlilan´. sehingga dapat membuka mata hati kita untuk senantiasa menerima kebenaran hakiki. Telah kita maklumi bersama bahwa acara tahlilan merupakan upacara ritual seremonial yang biasa dilakukan oleh keumuman masyarakat Indonesia untuk memperingati hari kematian. membaca beberapa ayat Al Qur¶an. bid¶ah (hal yang baru dan ajaib) apabila ditinggalkan. Para pembaca. Untuk selanjutnya acara tersebut diadakan tiap tahun dari hari kematian si mayit. berkumpul sanak keluarga. bila ada yang tidak menyelenggarakan acara tersebut berarti telah menyalahi adat dan akibatnya ia diasingkan dari masyarakat. Entah telah berapa abad lamanya acara tersebut diselenggarakan. Tidak lepas pula dalam acara tersebut penjamuan yang disajikan pada tiap kali acara diselenggarakan. Acara ini biasanya diselenggarakan setelah selesai proses penguburan (terkadang dilakukan sebelum penguburan mayit). Sehingga acara tersebut terkesan pesta kecil-kecilan. memang demikianlah kenyataannya.

´ (Al Maidah: 3) Juga Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam bersabda: ³Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naa r (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya. pihak yang membolehkan acara tahlilan. Kedua: Penyajian hidangan makanan. Suatu ketika Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang.R Ath Thabrani) Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna. dan do¶a-do¶a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit. maupun dzikir-dzikir dan do¶a-do¶a ala Islam menurut mereka. bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur¶an. beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits . Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek. berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah. tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. saya shalat dan saya pula tidur.acara tahlilan secara praktis di lapangan berbeda dengan prosesi selamatan agama lain yaitu dengan cara mengganti dzikir-dzikir dan do¶a-do¶a ala agama lain dengan bacaan dari Al Qur¶an. yang kedua menyatakan: ³Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka´. dzikir-dzikir dan disertai dengan do¶a-do¶a tertentu yang ditujukan dan dihadiahkan kepada si mayit. supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya. dzikir-dzikir. Tidak ada suatu ibadah. dan saya menikahi wanita.´ (Al Mulk: 2) Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna ³yang paling baik amalnya´ ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. seraya berkata: ³Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka. Memang benar Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur¶an. Tahlilan Dalam Kaca Mata Islam Acara tahlilan ±paling tidak± terfokus pada dua acara yang paling penting yaitu: Pertama: Pembacaan beberapa ayat/ surat Al Qur¶an. waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarakan? Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya. walaupun secara historis acara tahlilan bukan berasal dari ajaran Islam. Dari aspek historis ini kita bisa mengetahui bahwa sebenarnya acara tahlilan merupakan adopsi (pengambilan) dan sinkretisasi (pembauran) dengan agama lain. Dua hal di atas perlu ditinjau kembali dalam kaca mata Islam.´ (Muttafaqun alaihi) Para pembaca. yang terakhir menyatakan: ³Saya tidak akan menikah´. dan do¶a-do¶a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara. Allah subhanahu wata¶ala berfirman (artinya): ³Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian. Atas dasar ini. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur¶an. Allah subhanahu wata¶ala menyatakan dalam Al Qur¶an (artinya): ³Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup. ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata¶ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. 1. mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. karena memang telah dinyatakanoleh Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya.´ (H. dzikir-dzikir. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku. yang pertama menyatakan: ³Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam´. Bacaan Al Qur¶an. baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. dan telah Aku sempurnakan nikmat Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian. maka Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam menegur mereka. berdzikir dan berdoa. Pada dasarnya.

2. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini.´ Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya´. Ibnu Majah dan lainnya) Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam dan para ulama salaf. maka memiliki hukum tersendiri. maka amalan tersebut tertolak. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi¶i dalam masalah ini. serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niy ahah (meratapi mayit). (Al Kahfi: 103-104) Lebih ditegaskan lagi dalam hadits µAisyah radhiallahu µanha. (An Najm: 39). Simaklah firman Allah subhanahu wata¶ala (artinya): ³Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orangorang yang paling merugi perbuatannya. Al Imam Asy Syafi¶i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu µAl Um¶ (1/248): ³Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit ±pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan.tersebut.´ (H.R Ahmad. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata¶ala (artinya): ³Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya´.tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam. karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi¶i. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata¶ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Penyajian hidangan makanan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan m emberatkan urusan mereka. penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi¶i. beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur¶an tidak akan sampai kepada si mayit. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diadaadakan dalam agama (bid¶ah ±pent). maka amalan tersebut tertolak. dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam bersabda: ³Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami. Jarir bin Abdillah radhiallahu µanhu±salah seorang sahabat Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam± berkata: ³Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi¶I: ³Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah±pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara¶ (syari¶at) sendiri´. (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329). Memang secara sepintas pula. dari lafazh Muslim) Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi: ³Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal.´ (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiallahu µanhum. hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya. . Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi¶i tentang hukum bacaan Al Qur¶an yang dihadiahkan kepada si mayit. 211) Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi¶i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi¶i diatas didalam kitabnya Majmu¶ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: ³Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um.´ (Muttafaqun alaihi.

At Tirmidzi dan lainnya) Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Karena telah datang perkara (kematian -pent) yang menyibukkan mereka. supaya meringankan beban yang mereka alami. .´ (H.Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi¶i? Malah yang semestinya. Wallahu µa¶lam. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalallahu µalaihi wasallam dalam hadistnya: ³Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja¶far. disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit.R Abu Dawud.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful