P. 1
pendidikan ekonomi kreatif

pendidikan ekonomi kreatif

|Views: 374|Likes:
Published by pdpersiskotabog8116

More info:

Published by: pdpersiskotabog8116 on Dec 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/03/2013

pdf

text

original

Pendidikan Ekonomi Kreatif, Solusi bagi Pengangguran Akademik

Senin, 22 November 2010 - Dibaca 124 kali Setiap orang pasti mempunyai impian untuk mengenyam pendidikan hingga ke jenjang yang setinggi-tingginya. Mulai dari SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi. Bahkan orang yang berasal dari keluarga biasa-biasa saja selalu berharap agar salah seorang dari keluarganya dapat mengenyam bangku pendidikan sampai ke jenjang doctor bila memungkinkan. Tak asing lagi jika kita melihat banyak orang tua di desa-desa yang nekat menjual sawah mereka demi biaya sekolah sang anak. Apa gerangan yang membuat orang begitu obsesi untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya? Jawaban dari pertanyaan itu adalah demi sebuah pekerjaan yang layak dan meningkatkan taraf hidup. Dari zaman dahulu paradigma masyarakat kita selalu berpikir bahwa dengan mengantongi ijazah pendidikan tinggi seseorang pasti akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Bekerja di tempat yang enak, ruangan ber-AC, dan dengan honor yang tinggi tentunya. Namun pada kenyataannya, impian tidaklah selalu sama dengan kenyataan. Sakarang ini ijazah tak lagi menjamin pekerjaan seseorang. Jangankan ijazah SMA, bahkan orang yang berijazah perguruan tinggi pun tak selalu beruntung mendapatkan pekerjaan. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa angka pengangguran di Indonesia bagaikan bom waktu yang siap meledak pada saatnya. Berdasarkan data Badan Statistik Nasional (BSN), jumlah pengangguran di Indonesia hingga februari 2010 mencapai angka 8.59 juta jiwa atau sekitar 7.41 persen dari total penduduk Indonesia. Ironisnya, angka pengangguran itu tak hanya didominasi oleh orang-orang yang tak berpendidkan saja. Bahkan orang-orang yang lulus perguruan tinggi pun tak luput dari predikat “pengangguran”. Inilah yang kemudian disebut sebagai pengangguran akademik. Ditulis dalam kompas.com (28/10/10), bahwa angka pengangguran akademik lebih dari dua juta orang. Padahal, tanpa merekapun angka pengangguran di Indonesia kian melambung. Jika sudah begini, mau jadi apa negara kita ini. Jika mereka yang berpendidikan tinggi saja tak mampu mendapatkan pekerjaan, apa kabar dengan mereka yang hanya lulusan SMA atau di bawahnya. Hal yang perlu dikhawatirkan adalah pandangan masyarakat terhadap dunia pendidikan di negeri kita ini. Tak menutup kemungkinan masyarakat awam akan memandang pendidikan sebelah mata jika kondisi ini terus dibiarkan begitu saja. Mereka tak mau lagi mengindahkan imbauan pemerintah tentang wajib belajar sembilan tahun. Para orang tua akan lebih memilih anaknya untuk membantu perekonomian keluarga ketimbang untuk sekolah yang dianggap hanya membuang-buang biaya, toh ujung-ujungnya jadi pengangguran juga. Apa yang salah dengan dunia pendidikan kita. Sepertinya ini tak hanya menjadi pekerjaan rumah bagi para guru di sekolah atau di perguruan tinggi, namun juga menjadi

pekerjaan rumah bagi pemerintah. Ada hal yang harus dibenahi dengan dunia pendidikan kita, entah itu sistim, kurikulum, maupun yang lainnya. Rupanya kondisi ini tak hanya menjadi kerisauan segelintir orang saja. Pemerintah pun mulai merasa gerah dengan angka pengangguran di negeri kita ini. Ini dibuktikan dengan digagasnya pendidikan ekonomi kreatif beberapa tahun silam. Ekonomi kreatif pertama kali diperkenalkan oleh John Howkins, penulis buku "Creative Economy, How People Make Money from Ideas" . Menurutnya ekonomi baru telah muncul seputar industri kreatif yang dikendalikan oleh hukum kekayaan intelektual seperti paten, hak cipta, merek, royalti, dan desain. Menurut sumber lain ekonomi kreatif merupakan upaya penciptaan nilai tambah melalui pengembangan intelektual dan talenta baik pribadi maupun kelompok. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ekonomi kreatif adalah upaya pemenuhan kebutuhan hidup dengan mengoptimalkan potensi kreativitas sehingga meningkatkan nilai komersiil suatu produk. Oleh karena itu, kreativitas yang tinggi dan ide serta gagasan yang fresh dan orisinil. Ekonomi Kreatif merupakan era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan pada ide dan stock of knowledge dari SDM sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Alvin Toffler (1980) dalam teorinya melakukan pembagian gelombang peradaban ekonomi kedalam tiga gelombang.Gelombang pertama adalah gelombang ekonomi pertanian. Kedua, gelombang ekonomi industri, dan yang ketiga adalah gelombang ekonomi informasi. Kemudian diprediksikan gelombang keempat inilah merupakan gelombang ekonomi kreatif yang berorientasi pada ide dan gagasan kreatif. Dengan ekonomi kreatif, rakyat jadi mandiri; meminimalkan ketergantungan, mengikis mental buruh, menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran, menyemarakkan dunia pariwisata, menggaet devisa. Pada akhirnya, rakyat jadi makmur. Munculnya ekonomi kreatif di Indonesia berawal pada tahun 2006. Pada saat itu, dalam sebuah kesemapatan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mengarahkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Kemudian pemerintah melalui Kementerian perdagangan dan perindustrian bekerja sama dengan KADIN membentuk Indonesia Design Power untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Gagasan ekonomi kreatif harus dipandang dan ditempatkan sebagai gagasan yang unggul untuk masyarakat yang memiliki keunggulan. Karenanya pencanangan ekonomi kreatif juga harus mendapat dukungan khususnya dari masyarakat. Pengembangan ekonomi kreatif berasumsi bahwa masyarakat di mana ekonomi kreatif dikembangkan adalah masyarakat yang memiliki atau bersedia untuk tumbuh secara kreatif berdasarkan kriteria pengembangan industri atau ekonomi kreatif. Persoalannya, kendala yang harus dihadapi adalah bagaimana menghadapi rakyat awam yang tidak proaktif, yang terbiasa menunggu perintah dan petunjuk berperilaku kontraproduktif. Di sinilah dunia pendidikan memegang peran penting. Melalui pendidikan ekonomi kreatif, siswa dan mahasiswa disiapkan secara fisik dan mental untu menjadi manusia yang berjiwa enterpreunership. Sehingga ketika mereka lulus dan meninggalkan bangku pendidikan, mereka tak lagi kebingungan untuk mencari kerja karena mereka telah memiliki skill. Bahkan mereka berpeluang untuk membuka

lowongan kerja bagi orang lain. Di sekolah, ekonomi kreatif ini dapat diajarkan kepada siswa melalui berbagai macam kegiatan baik yang berhubungan dengan materi pembelajaran maupun tidak. Misalnya, pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam, para siswa tak hanya diajarkan materi saja. Tapi mereka juga harus bereksperimen. Beberapa materi yang dapat diimplementasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari seperti sel elektrolisis (penyepuhan), pembangkit listrik tenaga air, angin, dan lainnya, larutan elektrolit (dapat menghasilkan arus listrik), wawasan sadar lingkungan (memanfaatkan barang bekas untuk digunakan kembali maupun dijadikan sebagai hiasan), dan masih banyak lagi materi yang sangat aplikatif dan kontekstual bagi para siswa. Pada mata pelajaran kerajinan dan kesenian misalnya, siswa dapat diajarkan bagiaman cara membuat bermacam-macam kerajinan dan kesenian tangan, cara memasak, membuat keu, dan yang lainnya. Pada mata pelajaran ekonomi, siswa dapat diajarkan bagaimana cara mendirikan dan mengelola koperasi dengan baik. Dan masih banyak hal-hal lain yang dapat diajarkan secara praktis kepada para siswa. Itu semua merupakan modal yang sanga besar bagi para siswa maupun mahasiswa untuk masa depan mereka. Mental mereka sedikit demi sedikit akan mulai terbangun untuk menjadi enterpreuner sejati. Ditingkat perguruan tinggi tentunya akan lebih mudah mengajarkan ekonomi kreatif ini karena mereka bukan lagi siswa sekolah yang harus disuapi. Mahasiswa akan lebih aktif dan kreatif, tergantung bagaimana sistim dan para pendidik mengarahkan mereka. Perlu diingat bahwa dalam pendidikan ekonomi kreatif ini, modal mental saja tak cukup. Yang paling penting adalah sikap inovatif, karena bagaimanapun juga, permintaan pasar selalu berkembang dan konsumen akan mudah tergiur dengan produk-produk baru yang ditawarkan. Ekonomi kreatif tak hanya berkutat dalam satu bidang saja, namun ekonomi kreatif punyai 14 subsektor industri, yaitu periklanan (advertising), arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fashion, video/ film/ animasi/ fotografi, game, musik, seni pertunjukan (showbiz), penerbitan/percetakan, software, televisi/ radio (broadcasting), dan riset & pengembangan (R&D). Dari sekian banyak sektor ekonomi kreatif itu, di Indonesia sendiri ekonomi kreatif yang berkembang pesat adalah dalam bidang kerajinan yang berbasis warisan budaya. Ini dapat dilihat dari produk-produk yang dihasilkan oleh para putra bangsa di berbagai daerah, terutama daerah pariwisata. Tahap selanjutnya adalah bagaimana pemerintah mengelola kreativitas anak bangsa ini menjadi produk unggulan. Dengan demikian, pendidikan ekonomi kreatif yang diberikan di sekolah maupun perguruan tinggi diharapkan mampu mengikis mental buruh ketika para siswa dan mahasiswa meninggalkan bangku kuliah. Mereka tak lagi harus berdesak-desakan di bursa kerja untuk melamar pekerjaan dengan peluang yang sangat kecil. Karena bagaiamanapun juga keterampilan sangat dibutuhkan, tak hanya ijazah. Selain itu, sangat diharapkan mereka dapat membuka lapangan pekerjaan di berbagai sektor sehingga dapat

mengurangi angka pengangguran di negeri tercinta, terutama pengangguran akademik. Pendidikan ekonomi kreatif ini akan berjalan sesuai dengan harapan jika semua pihak yang terlibat benar-benar mencurahkan kemampuan dan konsisten terhadap apa yang menjadi kewajibannya. Pemerintah, pendidik, siswa/ mahasiswa, maupun para pengusaha sekalipun harus terlibat aktif dalam pengembangan ekonomi kreatif ini. Sehingga bangsa kita akan lebih maju dan terangkat martabatnya di mata dunia. INTERNALISASI EKONOMI KREATIF DAN PENDIDIKAN BUDAYA KARAKTER BANGSA DALAM DUNIA PENDIDIKAN Oleh : Siti Melina Andri Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta A. Perkembangan Kurikulum Pendidikan di Indonesia Dunia pendidikan di Indonesia dapat dikatakan masih dalam tahap perkembangan. Pergantian kurikulum seringkali mewarnai perkembangan pendidikan di Indonesia. Hingga kini, sebanyak 9 kali penyempurnaan kurikulum yang telah dilaksanakan oleh pemerintah. Dalam perjalanan sejarah sejak tahun 1945, kurikulum pendidikan nasional telah mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 dan 2006. Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Sebab, kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di masyarakat (Dion Eprijum Ginanto: 2009). Semua kurikulum nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu Pancasila dan UUD 1945. Perbedaanya terletak pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta strategi maupun pendekatan dalam merealisasikannya. Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Puskur: 2010). Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, diharapkan mampu mencetak lulusan yang memiliki potensi yang unggul serta memiliki keterampilan dalam hidup agar dapat bersaing baik dalam negeri maupun dengan luar negeri. B. Persaingan Global dalam Dunia Pendidikan Pada era globalisasi seperti sekarang ini, persaingan kehidupan pada berbagai sektor sudah sangat meluas, tidak hanya bersaing dengan masyarakat dari dalam negeri saja, melainkan sudah mulai bersaing masyarakat global. Persaingan tidak hanya dalam bidang perekonomian saja, dalam bidang pendidikan pun mulai persaingan sudah sangat terasa di berbagai daerah. Sebagai anak bangsa, kita harus siap menghadapi persaingan tersebut, karena bagi siapa yang tidak dapat bertahan maka akan terlempar dari perputaran persaingan. Oleh karena itu perlu penanganan khusus untuk menyelesaikan permasalahan

ini. Tugas pemerintah yang harus mulai membenahi sistem pendidikan nasional agar dapat mempertahankan bangsa dari ketertinggalan bahkan membawa nama bangsa serta mengharumkan Indonesia ke kancah internasional. Salah satu sektor yang harus dibenahi adalah dalam bidang pendidikan, karena dengan pendidikan yang baik seseorang dapat bertahan hidup dimanapun ia berada. Pendidikan di Indonesia saat ini relatif masih berkembang. Hal ini dapat dilihat dari keberhasilan anak bangsa berprestasi yang mampu bersaing dengan negara lain dalam berbagai kejuaran. Ada beberapa diantara mereka yang mampu mengharumkan nama bangsa dengan mengikuti berbagai ajang kejuaraan internasional seperti olimpiade sains, kejuaraan aplikasi TI (Teknologi Informasi) dan kejuaraan lainnya. Akan tetapi persentase jumlah anak yang berprestasi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah anak yang kurang berprestasi. Rata-rata anak yang berprestasi hanya dari kalangan ekonomi menengah ke atas yang memiliki motivasi tinggi, karena didukung oleh fasilitas yang memadai dan lingkungan yang kondusif serta asupan gizi yang memenuhi standar 4 (empat) sehat 5 (lima) sempurna, sehingga berpeluang besar untuk mengukir prestasi. Akan tetapi beda halnya dengan nasib anak dari kalangan ekonomi menengah ke bawah yang memiliki kompetensi yang tinggi dan kemauan yang besar untuk mengembangkan intelektualitas dan kreatifitas yang dimilikinya namun terbentur masalah ekonomi dan fasilitas yang kurang memadai. Lingkungan keluarga sudah tentu tidak dapat membantunya dikarenakan keterbatasan biaya. Maka kewajiban sekolahlah yang seharusnya dapat memfasilitasi anak berbakat seperti itu. Kenyataannya masih banyak sekolah yang belum mampu mengatasi permasalahan tersebut, terutama bagi sekolah yang berada di pedalaman yang jauh dari perhatian pemerintah pusat, sehingga sangat minim fasilitas sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah tersebut. Kemungkinan besar akan sulit mewujudkan tujuan pendidikan seperti yang tertulis dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. C. Gagasan Ekonomi Kreatif dalam Dunia Pendidikan Indonesia sebagai negara berkembang dituntut untuk dapat bersaing dengan negara berkembang lainnya. Untuk itu presiden Susilo Bambang Yodhoyono mengarahkan untuk mengembangkan kegiatan ekonomi yang kreatif. Munculnya ekonomi kreatif di Indonesia berawal pada tahun 2006. Pada saat itu, dalam sebuah kesemapatan presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono mengarahkan untuk mengembangkan ekonomi kreatif di Indonesia. Ekonomi Kreatif merupakan era ekonomi baru yang mengintensifkan informasi dan kreativitas dengan mengandalkan pada ide dan stock of knowledge dari SDM sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonominya. Semburat harapan muncul dengan diluncurkannya program baru dari pemerintah untuk menunjang pencapaian kemajuan ekonomi rakyat dengan tajuk “ekonomi kreatif”, meskipun di tempat lain sudah lebih dulu dilansir. Program ini beberapa waktu lalu telah dikampanyekan orang nomor satu di negeri ini. Menteri terkait pun sibuk mensosialisasikannya.

Program ini diharapkan membantu kesenjangan yang terjadi pada rakyat dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah. Dengan ekonomi kreatif, rakyat menjadi mandiri; meminimalkan ketergantungan, mengikis mental buruh, menciptakan lapangan kerja baru, mengurangi pengangguran, menyemarakkan dunia pariwisata, dan dapat menggaet devisa. Sehingga rakyat menjadi makmur. Persoalannya, kendala yang harus dihadapi adalah bagaimana menghadapi rakyat awam yang tidak proaktif, yang terbiasa menunggu perintah dan petunjuk berperilaku kontraproduktif. Upaya yang telah didesain dan dijalankan pemerintah pusat ternyata masih juga terkendala lemahnya apresiasi para penyelenggara negara di daerah. Jangan heran kalau oknum di instansi terkait sangat tidak paham dengan persoalan ini. Sebagai negara yang sedang berkembang Indonesia mempunyai tantangan untuk meningkatkan taraf hidup penduduknya baik dari segi pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Oleh karena itu, pemerintah menggagas untuk diterapkannya ekonomi kreatif di Indonesia. Bercermin dari berbagai kendala yang dihadapi dalam upaya penerapan ekonomi kreatif itu maka pemerintah mencoba memasukkan ekonomi kreatif ini ke dalam kurikulum pendidikan yang tertuang dalam KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang salah satu acuan operasional KTSP adalah tuntutan dunia kerja di mana kurikulum harus memuat kecakapan hidup untuk membekali peserta didik memasuki dunia kerja sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik dan kebutuhan dunia kerja, khususnya bagi mereka yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Hal ini merupakan salah satu inovasi yang dilakukan pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan di Indonesia. Penerapan ekonomi kreatif dapat aplikasikan melalui proses pembelajaran, di mana setelah guru selesai atau sedang memberikan materi pelajaran, sebisa mungkin guru memberikan contoh aplikasi materi tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang dapat memberikan nilai ekonomi dan sebaiknya guru dapat memotivasi siswa agar dapat memunculkan kreatifitasnya, sehingga siswa terpacu untuk mengeluarkan ide-idenya dan menciptakan suatu inovasi baru yang mempunyai nilai ekonomi dan daya jual. Kelak kreatifitasnya itu dapat diterapkan di masa yang akan datang untuk membekali kecakapan hidupnya. Kecakapan hidup juga dapat diaplikasikan melalui mulok (muatan lokal) masing-masing instansi. Dengan mendatangkan para ahli yang sesuai dengan kecakapan yang diinginkan. Substansinya dapat berupa program keterampilan produk dan jasa (Puskur: 2010), Contoh: § Bidang Budidaya: Tanaman Hias, Tanaman Obat, Sayur, Pembibitan ikan hias dan konsumsi, dll.

§ Bidang Pengolahan: Pembuatan Abon, Kerupuk, Ikan Asin, Baso dll. § Bidang TIK dan lain-lain: Web Desain, Berkomunkasi sebagai Guide, akuntansi komputer, Kewirausahaan dll. Selain ekonomi kreatif yang sedang booming di gembar-gemborkan oleh kalangan pemerintah, pendidikan budaya karakter bangsapun sudah mulai diterapkan dalam sistem pendididkan nasional melalui kurikulum. D. Urgensi Penerapan Budaya Karakter Bangsa dalam Dunia Pendidikan Budaya dan karakter merupakan hasil dari pendidikan dalam arti luas. Budaya dan karakter bangsa Indonesia secara konseptual tercermin dalam rumusan dan kandungan sila-sila Pancasila. Membangun budaya dan karakter secara psikologis harus bertumpu pada pembangunan hati, otak dan fisik. Dengan demikian pendidikan budaya dan karakter bangsa ditekankan pada internalisasi, personalia atau penghayatan, dan pembentukan prilaku peserta didik. Sebagai suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik, pendidikan juga merupakan suatu usaha kolektif dari masyarakat dan bangsa dalam mempersiapkan generasi mudanya bagi kehidupan mereka, kelangsungan kehidupan masyarakat dan bangsa yang lebih baik di masa depan. Oleh karena itu pendidikan harus disikapi sebagai proses pewarisan budaya dan pembangunan bangsa dan karakter (nation and character building) bagi generasi muda. Proses pengembangan budaya dan karakter bangsa dimaksudkan sebagai wahana untuk menjamin kelangsungan serta peningkatan kualitas kehidupan masyarakat dan bangsa di masa mendatang. Pengembangan yang dilakukan melalui pendidikan harus diwujudkan dalam bentuk proses pengembangan potensi diri setiap peserta didik sebagai komponen pendukung budaya dan karakter bangsa di masa mendatang. Oleh karena itu program pendidikan budaya dan karakter bangsa haruslah berfokus pada pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang mendasar dan baik atau fundamental, diperlukan, dan diinginkan oleh masyarakat dan bangsa. Pengembangan pendidikan budaya dan karakter sangat strategis bagi keberlangsungan dan keunggulan bangsa di masa mendatang. Pengembangan tersebut harus dilakukan dengan perencanaan yang baik, pendekatan yang sesuai, dan metode belajar dan pembelajaran yang efektif. Sesuai dengan sifat nilai, pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan usaha bersama sekolah dan oleh karenanya harus dilakukan secara bersama oleh semua guru, semua mata pelajaran, dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari budaya sekolah. Pendidikan budaya dan karakter bangsa merupakan proses pendidikan yang berpusat pada pengembangan nilai-nilai budaya dan karakter pada masyarakat sekolah termasuk di dalamnya dan paling utama peserta didik. Pengembangan nilai-nilai tersebut harus tetap menempatkan peserta didik sebagai subjek yang aktif mempelajari, menginternalkan, memasukkan nilai dalam sistem nilai yang sudah ada pada dirinya, menjadikan nilai baru tersebut menjadi bagian dari kepribadian dirinya. Secara kontekstual nilai-nilai itu terus berkembang selama mereka berada dalam proses pendidikan di sekolah dan masyarakat,

dan menjadi dasar untuk mempelajari nilai-nilai baru setelah sepenuhnya berkarya di masyarakat. Dengan perkataan lain, nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang dimiliki peserta didik tersebut akan menjadi modal dasar menjadikan mereka sebagai warganegara Indonesia yang mampu membangun bangsa dan negaranya. Internalisasi ekonomi kreatif dan budaya karakter bangsa dalam dunia pendidikan diharapkan mampu menciptakan lulusan yang memiliki kompetensi baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik yang bersinergi sehingga mampu menjadikan pribadi yang mandiri, cakap, kreatif, berkarakter, dan bertanggungjawab. Sehingga jika ia tidak mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, maka kreatifitas yang telah diajarkan dapat diaplikasikan untuk menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi dan mempunyai daya jual yang tinggi. Apalagi jika ia membuat inovasi baru dalam kreatifitasnya serta ulet dan jujur dalam berusaha, maka dapat dipastikan kesuksesan akan diraihnya. Akan tetapi segiat apapun seseorang itu berusaha jika tanpa disertai dengan doa, maka semua itu akan sia-sia, karena kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, berdoa, dan bertawakal. Terlepas dari itu semua ada yang lebih berhak menentukan jalan hidup kita. (wawlahu ‘alamu bissawab).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->