P. 1
Laporan Kasep

Laporan Kasep

|Views: 933|Likes:
Published by Arief Rahman

More info:

Published by: Arief Rahman on Dec 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/25/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

I. DEFINISI Partus kasep adalah suatu keadaan persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga menimbulkan komplikasi pada ibu dan atau janin.

II. PATOFISIOLOGI Penyebab kemacetan dapat karena : 1. Faktor Tenaga (Power) a. Inersia Uteri Inersia uteri adalahkelainan his yang kekuatannya tidak adekuat untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar. Sifatnya lebih lemah, lebih singkat dan lebih jarang jika dibandingkan dengan his yang normal.
y

Inersia Uteri Primer Kelemahan his timbul sejak dari permulaan persalinan , sering terjadi pada awal fase laten.

y

Inersia Uteri Sekunder Kelemahan his yang timbul setelah adanya his yang kuat teratur dan dalam jangka waktu yang lama. Terjadi pada fase aktif atau kala I dank ala II.

Etiologi Multipara, kelainan letak janin, disproporsi sefalopelvik, kehamilan ganda, hidramnion, uterus bikornis unikolis.

Penatalaksanaan Pastikan tidak ada disroporsi sefalopelvik.Dapat dilakukan pemecahan ketuban (amniotomi) atau berikan oksitosin 5 satuan dalam larutan glukosa 5% secarainfus intravena dengan kecepatan 12 tetes permernit.Tetesan dapat dinaikkan perlahan lahan sampai kira-kira 50 tetes, tergantung hasilnya. Bila tidak ada kemajuan setelah beberapa jam pemberian oksitosin, maka indikasi untuk melakukan seksio sesarea.

1

Pada kala II, persalinalan dapat diakhiri dengan ektraksi vakum atau cunam jika syarat-syarat terpenuhi.

b. Incoordinate Uterine Action Incoordinate Uterine Action adalah kelainan his pada persalinan berupa perubahan sifat his, yaitu meningkatnya tonus otot uterus, di dalam dan di luar his, serta tidak ada koordinasi antara kontraksi bagian atas, tengah, dan bawah sehingga his tida efisien mengadakan pembukaan serviks.

Etiologi Pemberian oksitosin berlebihan atau ketuban pecah lama yang disertai infeksi

Penatalaksanaan Karena belum ada obat untuk memperbaiki koordinasi fungsional antara bagianbagian uterus, maka hanya dapat dilakukan pengobatan secara simtomatis. Penderita dapat diberikan analgesic (morfin, petidin,dan lain-lain) untuk mengurangi tonus otot dan ketakutan penderita. Selanjutnya persalinan dapat dilakukan dengan ektraksi vakum atau cunam jika syarat-syarat terpenuhi.Apabila terjadi retraksi patologis pada kala I dan II segera lakukan seksio sesarea.

2. Faktor Panggul (Passage) Kelainan dalam ukuran atau bentuk jalan lahir bisa menghalangi kemajuan persalinan atau menyebabkan kemacetannya. a. Kesempitan Pintu Atas Panggul Pintu atas panggul dianggap sempit apabila conjugata vera kurang dari 10 cm atau diameter transversa kurang dari 12 cm. Oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala. Apabila pada panggul sempit pintu atas panggul tidak tertutupdengan sempurna oleh kepala janin, ketuban bisa pecah pada pembukaan kecil dan ada bahaya pula terjadinya prolapsus funikuli.

2

maka lakukan tindakan untuk mempercepat persalinan. Dapat dilakukan ektraksi cunam. Etiologi Posisi oksipitalis posterior persistenssering terjadi pada panggul anthropoid dan android. multipara akibat lembeknya otot dasar panggul.Apabila kala II terlalu lama dan terdapat gawat janin. 3. a. c.5 cm perlu kita waspada terhadap kemungkinan kesukaran pada persalinan.b. Kelainan Letak. Kesempitan Pintu Tengah Panggul Ukuran terpenting adalah distansia interspinarum kurang dari 9. Penatalaksanaan Dapat dilakukan persalinan spontan pervaginam dengan pengawasan yang baik. Kepala janin akan lahir dalam keadaan muka di bawah simfisis fubis. Presentasi atau Posisi y Posisi Oksipitalis Posterior Persistens Posisi oksipitalis posterior persistens adalah ubun-ubun kecil menetap di belakang karena tidak ke depan ketika mencapai dasar panggul. Faktor Janin (Passenger) Persalinan dapat mengalami gangguan atau kemacetan karena kelainan dalam letak atau dalam bentuk janin.Pada panggul tengah yang sempit. maka sudut arkus pubis mengecil pula ( < 90° ) sehingga timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa. namun sebelumnya usakan ubun-ubun kecil di depan dengan cara memutar kepala dengan tangan atau cunam. lebih sering ditemukan posisio oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap (transverse arrest). apalagi bila diameter sagitalis posterior pendek pula. 3 . kepala janin yang kecil dan bulat sehingga tidak ada paksaan pada belakang kepala untuk memutar ke depan. Kesempitan Pintu Bawah Panggul Bila diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm.

seperti janin besar. 4 . Apabila dagu di bagian belakang dan tidak dapat memutar ke depan waktu putaran paksi dalam di sebut posisi mento posterior persistens dan janin tidak dapat lahir spontan. tangn lani berusaha meniadakan ekstensi tubuh janin dengan menekan dada dari luar. adanya tumor di leher rahim bagian depan atau keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala. Pada posisi mentoposterior persistens. yaitu satu tangn penolong di masukkan ke dalam vagina untuk memegang bagian belakang ke pala janin.y Presentasi Puncak Kepala Presentasi puncak kepala atau presentasi sinsiput (ubun-ubun besar) adalah kelainan akibat defleksi ringan kepala janin ketika memasuki ruang panggul sehingga ubun-ubun besar merupakan bagian terendah dari janin. berikan kesempatan kepada dagu untuk memutar ke depan. pada k II ala yang berlangsung lama diindikasikan untuk ektraksi cunam.Pada presentasi puncakkepala tidak terjadi fleksi kepala maksimal sehingga lingkaran kepala yang melalui jalan lahir adalah sirkumferensia frontooksipitalis dengan glabela di bawah simfisis sebagai hipomoklion. Penatalaksanaan Apabila dagu berada di depan. anensefalus dan kematian janin intrauterine. Etiologi Panggul sempit. Dapat juag dilakukan perasat Thorn. bila tidak berhasil maka dilakukan seksio sesarea. Bila dagu berada di belakang. usahakan untuk dagu memutar ke depan dengan satu tangn yang dimasukkan ke dalam vagina. diharapkan terjadi persalinan spontan jika tidak terdapat disproporsi sefalopelvik. y Presentasi Muka Presentasi muka adalah kepala dalam kedudukan defleksi maksimal sehingga oksiput tertekan pada punggung dan muka merupakan bagian terndah janin. kemudian menariknya ke bawah.

hidrosefalus. 5 . pada umumnya presentasi dahi merupakan kedudukan sementara dan sebagian besar berubah menjadi presentasi muka atau belakan kepala. tidak dapat dilakukan persalinan spontan pervaginam sehingga harus seksio sesarea. bahu.y Presentasi Dahi Presentasi dahi adalah kedudukan kepala di antara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga dahi merupakan bagian terendah. plasenta previa. lahirkan bayi dengan perasat Bracht. kemudian kepala. anesefalus dan kematian janin dalam rahim Penatalaksanaan pada janin kecil dan panggul yang luas. y Letak Sungsang Letak sungsang adalah janin terletak memanjang dengan kepala di fundus uteri dan bokong di bagian bawah kavum uteri.pada letak sungsang. dan lain-lain Penatalaksaan lakukan versi luar pada kehamilan 34-38 minggu bila syarat versi luar tepenuhi. lakukan manual aid atau dibantu cunam. pada presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin normal. penangan sama dilakukan pada presentasi muka. bila bahu dan kepala tidak dapat dilahirkan dengan perasat Bracht. prematuritas. Etiologi sering didapatkan pada panggula sempit. Etiologi muliparitas. tuomur leher rahim bagian depan atau keadaan yang menghalangi terjadinya fleksi kepala. panggul sempit. seperti janin besar. kehamilan ganda. bila pada persalinan masih letak sungsang. dimulai dari lahirnya bokong. berturut-turut lahir bagian yang makin lama makin besar.

y Letak Lintang Letak lintang adalah keadaan sumbu memanjang janin kira-kira tegak lurus dengan sumbu memanjang ibu. segera lakukan seksiosesarea. kecilkan kepala janin pada permulaan persalinan. kehamilan ganda. tidak ada kesempitan panggul dan janin tidak seberapa besar. Penatalaksaan Pada hidrosefalus yang nyata. panggul sempit. Pada primigravida. plasenta previa.Pada multigravida. Etiologi Aliran serebrospinalis mengalami gangguan (tidak lancar) atau produksinya yang berlebihan. kemudian dilakukan versi ekstraksi. Etiologi Muliparitas.bila janin letak sungsang.bila sumbu memanjang tersebut membentuk sudut lancip disebut letak lintang oblik. bila janin masih hidup. yang biasanya sementara Karen kemudian akan berubah menjadi posisi longitudinal pada persalinan. lakukan pengeluaran cairan dari kepala yang tidak dapat lahir dengan pungsi 6 . segera lakukan seksio sesarea. hidrosefalus. dan lain-lain Penatalaksanaan lakukan versi luar jika syarat versi luar terpenuhi. prematuritas. bila riwayat obstetric baik. lahirkan y Hidrosefalus Hidrosefalus adalah penimbunan cairan serebrospinal dalam ventrikel otak sehingga kepala menjadi lebih besar dan terjadi pelebaran sutura dan ubun ubun. bila versi luar tidak berhasil. dapat ditunggu dan diawasi sampai pembukaan serviks lengkap. pada letak lintang kasep. Bila janin sudah mati.Pada pembukaan serviks 3 cm. pervaginam dengan dekapitasi. keluarkan cairan serebrospinal dengan pungsi kepala menggunakan jarum spinal.

Cara pimpinan yang salah dapat mengakibatkan terjadinya persalinan yang lama dan komplikasinya. Keadaan Umum ibu y y y Dehidrasi Febris Perut kembung (Meteorismus) 7 .atau perforasi melalui foramen oksipitaslis magnum atau sutura temporalis. Faktor Penolong (provider) Seorang pemimpin persalinan harus bisa memberikan dorongan kepada ibu yang ada dalam masa persalinan dan harus mengetahui waktu-waktu kapan haru mulai memimpin persalinan.kosongkan kandung kemih terlebih dahulu. DIAGNOSIS 1. kental kehijau-hijauan dan berbau Kaput suksadeneum besar Moulage kepala yang hebat Kematian janin dalam rahim (IUFD) IV. GEJALA KLINIS 1. III. Dianjurkan untuk melakukan ventrikulosentesis transabdominal dengan jarum spinal. 4. Pada Janin y y y y y Denyut jantung janin cepat/ tidak teratur bahkan sampai negatif Air ketuban bervampur mekonium. Pada Ibu y y y y y y y y Gelisah Lemah dan dehidrasi Suhu badan meningkat Nadi cepat Perut kembung (meteorismus) His hilang dan lemah Udema vulva Udema serviks 2.

tetapimudah didorong bila rahim sudah robek. Ibu y y y y Infeksi sampai sepsis Dehidrasi.y y Syok Anemia Oliguria Udema vulva Ruptur uteri iminens y y y 2. Bagian terendah anak sukar digerakkan bila rahim belum robek. Pemeriksaan dalam y y Keluar air ketuban yang keruh dan berbau campuran mekonium.uterus dan rektum.vagina.6ºC y V. Auskultasi Denyut Jantung Janin : y y Takikardi/brakardi Ireguler Negatif y 4. Palpasi y y His lemah atau hilang Gerak janin tidak ada Janin mudah diraba y 3.Syok. disertai keluarnyadarah. KOMPLIKASI 1. y y Kaput suksadeneum yang besar Moulage yang hebat Suhu rektal > 37.Kegagalan fungsi organ-organ Robekan jalan lahir Robekan pada buli-buli. 8 .

PENATALAKSANAAN 1. tetesan cepat (cairan dapat diberikan menurut kebutuhan) c.kaki. Terminasi Kehamilan y Bila syarat persalinan pervaginam memenuhi dapat dilakukan ekstraksi vakum/ ekstraksi forceps atau embriotomi y Bila syarat persalinan pervaginam tidak terpenuhi maka dilakukan seksio sesarea.lengan. Penrunan panas y y Injeksi Xylomidon 2 cc IM Kompres dengan air dingin 2.kepala karena pertolongan persalinan dengan tindakan. Anak y y y y Gawat janin dalam rahim sampai meninggal Lahir dalam asfiksia berat sehingga menimbulkan cacat otak menetap Trauma persalinan Patah tulang. injeksi gentamycin 80 mg/12 jam dan Metronidazole Rektal Supositoria I gram/12 jam selama 3 hari. VI.dada. Memperbaiki Keadaan Umum Ibu a. kalori dan elektrolit y y infuse Ringer Laktat Infus Dektrose 5 % 250 cc. Pasang infuse dan kateter urine b. Koreksi asam basa dengan pengukuran CO2 darah dan pH d. Pemberian cairan. 9 .2. dilanjutkan Amoksisilin 3 x 500 mg/hari selama 2 hari y Injeksi Ceftriaxone 1 gram/hari selama 3 hari dilanjutkan Amoksisilin 3 x 500 mg/hari selama 2 hari e. Pemberian antibiotika spektrum luas secara parenteral y Injeksi Ampisilin 1 gram/6 jam.

ANAMNESIS Keluhan Utama :sakit perut menjalar ke pinggang Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke RSU Mataram dengan rujukan dari puskesmas Krg. Sebelumnya pasien datang ke puskesmas Krg. Selanjutnya pasien terus berusaha mengedan. Di Puskesmas Krg Taliwang pasien di rawat dan dilakukan pemeriksaan.Pasien sudah dinasehati oleh bidan supaya jangan mengedan dulu tetapi pasien tidak tahan dengan sakit perutnya. IDENTITAS PASIEN Nama Pasien : Ny.00 wita pasien mengatakan dia 10 . Jam 12. KS Umur : 31 tahun Agama : Hindu Suku : Bali Pendidikan : SD Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Alamat : Karang Kelebut. Jam 16.00 wita (6-011-2010).00 wia t pasien mengeluh keluar air kemudian dilakukan pemeriksaan. Taliwang (7-11-2010/ jam 18.35) dengan keluhan sakit perut menjalar sampai ke pinggang sejak jam 19.BAB II LAPORAN KASUS I. Taliwang dengan G2P1A0H1 39-40 minggu T/H/IU presentasi kepala kala I fase aktif memanjang. Cakra Nama Suami : Tn. G Umur : 35tahun Agama : Hindu Suku : Bali Pendidikan : SMA Pekerjaan : Wiraswasta Alamat : Karang Kelebut.Cakra II.

00 wita) a. Status Obstetri Abdomen Inspeksi :perut membesar simetris. strie gravidarum (+). Rh -/-. Riwayat Obstetri : 1. murmur (-) : Ves +/+. alergi (-). Perempuan. Riwayat penyakit hipertensi (-). Wh -/: sesuai status obstetri : akral hangat (+). bidan. bandle (-) Palpasi : Leopold I : Bokong Leopold II : Punggung di kiri Leopold III : Kepala Leopold IV : Bagian terendah janin sudah masuk PAP (4/5) 11 TFU : 32 cm TBJ : 3255 g . ikterus -/:S1S2 tunggal. di puskesmas. di puskesmas. HPHT : 20 April 2010 THP : 27 Januari 2011 Riwayat ANC : 7 kali. Hamil ini Riwayat perkawinan : perkawinan ke-1 (selama 12 tahun) RiwayatKB : suntik 3 bulan RencanaKB : suntiK 3 bulan III. diabetes mellitus(-).2 °C : anemis -/-. PEMERIKSAAN FISIK (7-11-2010/ jam 17. umur 10 tahun. Status Generalis Keadaan umum : ibu tampak kesakitan Kesadaran TD N R T Mata Jantung Paru Abdomen Ekstremitas : Compos Mentis (E4V5M6) : 110/70 mmHg : 80 x/menit : 20 x/menit : 37.diperiksa kembali kemudian pasien dipasang infus dan dirujuk ke RSUPNTB. Gerakan janin (+). 2. regular. 2500 g. parut operasi (-). edema (-) b.

VI.8 Trombosit :139. DIAGNOSIS G2P1A0H138-39 minggu T/H/IU presentasi kepala kala I fase aktif dengan kasep. teraba kepala.000/ mm3 HbSAg : - V. eff 70 %. ketuban (-). IV.caput (+). udema porsio (+).4 % Leukosit : 18. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan Laboratorium : HGB : 15. PENATALAKSANAAN  Observasi keadaan ibu dan janin  Resusitasi dan Rehidrasi  Lapor ke supervisor: a. Menasehati ibu supaya jangan mengedan terus b. Usul Seksio Cesaria  KIE : a. tidak teraba bagian kecil janin atau tali pusat. denominator belum jelas. Menganjurkan ibu miring ke kiri 12 .000/ mm3 HCT : 49.His : 3 x 10¶ ~ 35´ DJJ : 12-13-12 Pemeriksaan Dalam : Inspeksi : udema vulva (-) Inspekulo : VT : Ø 6 cm. penurunan H II.400/mm3 Eritrosit :5.280.

kemudian di Puskesmas dilakukan pemeriksaan dalam didapatkan pembukaan serviks 4 cm. Pada palpasi daerah fundus (Leopold I) teraba lunak-kenyal dan tidak bulat sehingga memilki kesan bokong berada pada fundus uterus. temperature 37. didapatkan pembukaan serviks 6 cm. ketuban (-). tanda anemis dan ikterus tidak tampak. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien tampak kesakitan dan kelelahan namun vital sign dalam batas normal. Tekanan darah 110/70 mmHg. frekuensi nadi 80 x/menit. 13 . Setelah itu pada jam 16. suara napas versikuler. Untuk pemeriksaan obstetri didapatkan bahwa perut tampak membesar simetris. tidak tampak adanya skar (jaringan parut) atau luka bekas operasi dan tidak tampak adanya bandle. regular. Tinggi fundus uteri 32 cm. ketuban (-). tidak suara tambahan dan pada ekstrimitas tidak didapatkan adanya edema serta akral terasa hangat. dimana pemeriksa menghadap kaki pasien kemudian kedua telapak tangan melakukan palapasi didaerah bagian terbawah uterus.BAB III PEMBAHASAN Pasien merupakan kiriman dari Puskesmas Karang Taliwang dengan G2P1A0H1 3940 minggu T/H/IU presentasi kepala kala I fase aktif memanjang. adanya striae gravidarum. keras dan bulat sehingga memiliki kesan bagian kepala janin (presentasi kepala) kemudian dilanjutkan dengan tindakan menggoyangkan kepala janin tersebut untuk mengetahui kepala janin sudah masuk pintu atas panggul (PAP) atau tidak dan ternyata kepala janin tidak bisa digoyangkan sehingga menandakan kepala janin tersebut sudah masuk pintu atas panggul.2°C. kita dapat memperoleh informasi bahwa proses persalinannya lama. Pada kasus ini kedua telapak tangan pemeriksa membentuk sudut divergen sehingga memiliki kesan kepala sudah masuk pintu atas panggul kemudian dilajutkan dengan menentukan seberapa besar bagian kepala janin sudah pintu atas panggul dengan menggunakan metode perlimaan dan didapatkan bahwa hanya sebagian kecil bagian kepala janin yang sudah masuk pintu atas panggul (1/5) dan sebagian besar bagian kepala belum masuk PAP (4/5). suara denyut jantung I dan II tunggal. dilakukan pemeriksaan dalam lagi pada pasien. Dari keterangan tersebut.00 wita pasien mengeluh keluar air. Dengan demikian pada jam 16.Untuk palpasi daerah samping uterus (Leopold II) didapatkan punggung janin di sebelah kiri sedangkan palpasi pada daerah uterus bagian bawah (Leopold III) teraba bagian yang melenting. udema porsio (+) dan caput (+). frekuensi nafas 20x/menit. eff 70%. Karena kepala janin sudah masuk pintu atas panggul maka dilanjutkan dengan pemeriksaan Leopold IV. Sebelumnya pada jam 12.30 pasien kemudian dirujuk ke RSUPNTB.00 wita. eff 50%.

Dengan demikian.Secara patofisiologis pada pasien ini kemungkinan terjadi ketidak seimbangan antara besar janin dan ruang panggul serta faktor penolong.Berdasarkan pengukuran tinggi fundus uteri dan dari hasil palpasi ternyata kepala janin sudah masuk pintu atas panggul maka didapatkan taksiran berat janin sekitar 3255 gram. effisment 70 %. penurunan H II. udema porsio (+). diagnosis pasien pada kasus ini lebih ke arah partus kasep. Penatalaksaan pasien dengan partus kasep pada kasus ini pada awalnya adalah perbaiki kedaan umum pasien dengan melakukan rehidrasi dan resusitasi untuk menjaga kondisi ibu dan janin tetap dalam keadaan yang baik dengan memberikan infuse RL 2 kolf gerojok dan D5 5% 1 kolf 20 tetes/menit serta berikan oksigen pada ibu dan ibu dalam posisi miring ke kiri. didapatkan pembukaan serviks 6 cm. 14 . Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan fisik secara umum didapatkan bahwa pasien mengalami perjalanan persalinan (partus) yang lama sehingga menimbulkan komplikasi pada ibu berupa ibu tampak kesakitan dan kelelahan serta adanya udema pada porsio meskipun vital sign dalam batas yang normal sedangkan komplikasi pada janin hanya didapatkan adanya kaput merskipun denyut jantung janin masih baik dan air ketuban masih jernih. denominator belum jelas. Selain itu. Selanjutnya.Tidak tampak adanya edema pada daerah vulva. tidak teraba bagian kecil janin atau tali pusat. Kemudian dilakukan pemeriksaan dalam ( aginal v toucher).cara terbaik untuk mengakhiri kehamilan adalah dengan melakukan seksio cesaria karena syarat persalinan secara spontan pervaginam dan vakum ekstraksi sudah tidak terpenuhi. Selanjutnya. caput (+). pada pemeriksaan daerah genital tampak dalam batas normal. teraba kepala. ket (-). pada pemeriksaan didapatkan kontraksi uterus (his) sebanyak 3 kali dalam 10 menit sela ma 30 detik dan frekuensi denyut jantung janin sebesar 13-13-13 (156 kali/menit).

Hasil Laboratorium : alergi (-).00 wita)  KIE : a. tidak aktif fase aktif memanjang. ket (-).000/ mm3 3 Pasien datang ke puskesmas Krg. HCT : 49. Riwayat penyakit (setuju/ jam 18. Taliwang O A G2P1A0H1 39 P 38. Gerakan teraba bagian kecil janin atau tali pusat janin (+). caput (+). diabetes mellitus(-). eff 70 %.35 wita) : TD : 120/70 mmHg N : 84 x/mnt 15 . udema porsio (+).000/ mm keluhan sakit perut menjalar HbSAg : sejak jam mengedan terus b.8 Taliwang (17-01-2001) dengan Trombosit : 139. T/H/IU presentasi  Rehidrasi dengan a. Observasi ibu dan janin keadaan minggu dengan Ø 6 cm. Advice : SC G2P1A0H1 39-40 minggu penurunan H II.Waktu 17.00 wita (16-01-2010) Pemeriksaan di puskesmas (18.400/mm3 Kronologi : Eritrosit : 5.4 % Leukosit : 18. teraba kepala. denominator belum kepala kala I fase  Lapor ke supervisor: kasep T/H/IU presentasi kepala kala I jelas. Menganjurkan ibu miring ke kiri sampai ke pinggang 19. HGB : 15.280. Usul : SC b. Menasehati supaya ibu jangan hipertensi (-).00 S Pasien datang ke RSU Mataram His : 3 x 10¶~ 30´ dengan rujukan dari puskesmas VT : Krg.

Jam 12. ampisilin 1 g Jam 16. eff 25 %. tidak teraba bagian kecil janin atau tali pusat.00 wita TD : 110/80 mmHg N : 88 x/mnt 16 . ketuban (+). eff 50 %.5°C TFU : 32 cm TBJ : 3100 g DJJ : 12-12-12 His : + VT : Ø 2 cm.00 wita (18-01-2021) TD : 110/80 mmHg N : 88 x/mnt DJJ : 11-12-12 His : 3 x 10¶ ~ 30´ VT : ø 4 cm. head palpable. AM (-). descensus HII. penurunan HI. teraba kepala. Tx : inj.R :22 x/mnt T : 36.

30 wita Infus RL Pasien di rujuk ke RSU Mataram Riwayat obstetri : 1. ubun-ubun kecil di kiri depan. puskesmas. umur 10 tahun 2.8 FHR : 11-12-12 UC : 4 x10¶~30 ³ VT : Ø 6 cm. Jam 16. penurunan HII. bidan. udema porsio.R : 22 x/mnt T : 36. Hamil ini HPHT :20-04-2009 HTP : 27-01-2010 17 .AM(-) teraba kepala. 2500 g. perempuan. caput (+). eff 70%.

berat 3500 g. panjang badan 48 cm.jenis kelamin laki-laki. perdarahan. Puskesmas Riwayat KB : suntik 3 bulan Rencana KB : Suntik 3 bulan 17.10 20.00 Sakit perut >>> DJJ : 12-13-12 His : 3 x 10¶~ 30´ OK Cito (baju belum siap OK belum disiapkan) 20.ANC : 7 kali . anus (+) 5 menit kemudian plasenta lahir spontan.30 Sakit perut>>> DJJ : 12-13-12 His : 3 x 10¶~ 30´ Observasi keadaan ibu dan janin Persiapan SC (pasang DC. lengkap. injeksi 2 gram ampisilin) 18. A-S 7-9. 18 .15 Sakit perut >>> SC dimulai Bayi lahir.

22. Observasi keadaan ibu dan bayi Motivasi ibu untuk menyusui bayi Kontraksi uterus baik TFU 2 jari bawah pusat Lokia rubra (+) Perdarahan pervaginam (-) Urine : 500 cc Baby : HR : 140 x/mnt R : 40 x/mnt 19 .8°C pervaginam.15 Pasien merasa masih lemah TD : 110/60 mmHg N : 80 x/mnt R : 20 x/mnt T : 36.00 TD : 110/70 mmHg N : 80 x/mnt R : 20 x/mnt T : 36. perdarahan 150 cc.cairan ketuban hijau.8°C Observasi keadaan ibu dan bayi Motivasi ibu untuk makan dan minum Observasi perdarahan Kontraksi uterus baik TFU 1 jari bawah pusat 07.

A B. Cetakan 11.DAFTAR PUSTAKA 1. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 2. Edisi 3. Kumboyo. Edisi III. Jilid I. 2000. dkk. Kelainan pada Persalinan. Kapita Selekta Kedokteran. Editor. 2006. Saifuddin. Mansjoer. 2005. Jakarta Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo 3. Wiknjosastro. 2001. Rumah Sakit Umum Mataram 20 . Standar Pelayanan Medik SMF Obstetri dan Ginekologi. Hanifa. Patologi Persalinan dan Penanganannya. Buku Panduaan Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Persalinan Lama. Ilmu Kebidanan. Penerbit : Media Aesculapius 4. Saifuddin. Editor Wiknjosastro. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Arief. Edisi 1. Cetakan 7.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->