P. 1
Tegangan Permukaan

Tegangan Permukaan

|Views: 3,363|Likes:
Published by Oggix
farmasi
farmasi

More info:

Published by: Oggix on Dec 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/22/2013

pdf

text

original

TEGANGAN PERMUKAAN I. Tujuan Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk : 1.

Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi tegangan permukaan suatu zat cair. 2. Menggunakan alat-alat penentuan tegangan permukaan suatu zat cair. 3. Menentukan tegangan permukaan zat cair. 4. Menentukan tegangan antar permukaan dua zat cair yang tidak bercampur. II. Dasar Teori Bila dua fase dicampurkan maka batas antara fase – fase tersebut dinamakan antar permukaan. Batas antara zat cair atau zat padat dengan udara lazimnya disebut permukaan. Sedangkan batas antara zat cair dengan zat cair lain yang tidak bercampur atau antara zat padat dengan zat cair disebut antar permukaan (Astuti dkk., 2008). Bila fase - fase berada bersama - sama, batas antara keduanya disebut suatu antarmuka. Beberapa jenis antarmuka dapat terjadi, bergantung pada apakah kedua fase yang berdekatan adalah dalam keadaan padat, cair, atau gas. Secara umum, antarmuka dapat dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni antarmuka cairan dan antarmuka padatan. Antarmuka cair membicarakan tentang penggabungan dari suatu fase air dengan suatu fase gas atau fase cair lain. Bagian antarmuka padat membicarakan tentang sistem yang mengandung antarmuka padat/gas dan antarmuka padat/cair (Astuti dkk., 2008). Istilah permukaan biasanya dipakai bila membicarakan suatu antarmuka gas/padat atau suatu antar muka gas/cair. Setiap permukaan adalah suatu antarmuka. Jadi, suatu permukaan meja membentuk suatu antarmuka gas/padat dengan udara di atasnya, dan permukaan dari suatu tetes air membentuk suatu antarmuka gas/cair. Setiap partikel dari zat, apakah itu sel, bakteri, koloid, granul, atau manusia, mempunyai suatu antarmuka pada batas sekelilingnya (Astuti dkk., 2008). Di dalam zat cair, satu molekul dikelilingi oleh molekul-molekul lainnya yang sejenis dari segala arah sehingga gaya tarik menarik sesama molekulnya (gaya kohesi), sama besar. Pada permukaan zat cair terjadi gaya tarik menarik antara molekul cairan dengan molekul udara (adhesi). Gaya adhesi lebih kecil bila dibandingkan dengan gaya kohesi sehingga molekul di permukaan zat cair cenderung tertarik ke arah dalam. Tetapi hal ini tidak terjadi karena adanya gaya yang bekerja sejajar dengan permukaan zat cair yang mengimbangi besarnya gaya kohesi antar molekul di dalam zat cair terhadap molekul sejenisnya di permukaan. Akibatnya, molekul tersebut tetap berada di

permukaan. Gaya ini disebut tegangan permukaan. Atau dengan kata lain tergangan permukaan adalah gaya per satuan panjang yang harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan dalam.Sedangkan tegangan antar permukaan adalah tegangan pada antar permukaan dua cairan yang tidak bercampur atau antara permukaan zat padat dengan cairan. Tegangan antar permukaan selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan karena gaya adhesi antara dua zat cair yang tidak bercampur selalu lebih besar daripada gaya adhesi antara zat cair dengan udara. Bila dua zat cair dapat bercampur dengan sempurna, maka tegangan antar permukaan tidak eksis. Tegangan permukaan dinyatakan sebagai gaya per satuan panjang yang diperlukan untuk memperluas permukaan suatu zat. Simbol yang digunakan untuk tegangan permukaan adalah γ dan satuannya adalah dyne cm-1 (Astuti dkk., 2007). Tegangan permukaan juga dapat digambarkan dengan suatu kerangka kawat tiga sisi dimana suatu batang yang dapat bergerak diletakkan. Suatu film (lapisan tipis) sabun dibentuk di daerah ABCD dan dapat direntangkan dengan menggunakan gaya f (seperti suatu massa yang menggantung) pada batang yang dapat bergerak dengan panjang L, yang bekerja melawan tegangan permukaan dari film sabun tersebut. Bila massa diangkat, film akan mengkerut karena tegangan permukaannya. Tegangan permukaan (γ) dari larutan yang membentuk film tersebut merupakan suatu fungsi dari gaya yang harus dipakai untuk memecah film dari fungsi dari panjang batang yang dapat bergerak yang berhubungan dengan film tersebut. Karena film sabun tersebut mempunyai dua antarmuka gas (satu di atas dan satu di bawah bidang kertas), panjang total bidang yang berhubungan sama dengan dua kali panjang batang tersebut. Jadi didapatkan suatu rumus:

Dimana : ♣ fb = gaya yang dibutuhkan untuk memecah film
♣ L = panjang dari batang yang dapat bergerak (Astuti dkk., 2008).

Dari beberapa metode (cara) yang ada untuk mendapatkan tegangan permukaan dan tegangan antarmuka, hanya metode kenaikan kapiler, dan Du Nouy ring yang akan diuraikan. Keterangan yang terperinci untuk metode-metode lain, seperti berat tetesan, tekanan gelembung, tetesan sessile, dan lempeng Wilhelmy, lihat risalah dari Harkins dan Alexander, Drost - Hansen, dan Hiemenz. Tetapi, perlu dicatat bahwa pemilihan suatu metode tertentu sering bergantung pada apakah tegangan permukaan atau tegangan antarmuka yang akan ditentukan, ketepatan dan kemudahan yang diinginkan, ukuran sampel yang tersedia, dan apakah efek waktu pada tegangan permukaan akan diteliti atau

tidak. Dalam kenyataan, tidak ada satu pun metode yang terbaik untuk semua sistem (Martin dkk., 1990). 1. Metode Kenaikan Kapiler Bila suatu tabung kapiler diletakan dalam cairan di sebuah beaker (gelas piala), biasanya cairan itu naik ke pipa sampai ketinggian tertentu. Hal ini disebabkan bilamana kekuatan adhesi antara molekul-molekul cairan dan dinding kapiler lebih besar daripada kohesi antara molekul-molekul cairan, sehingga cairn itu membasahi dinding kapiler, menyebar dan meninggi dalam pipa. Dengan mengukur kenaikan ini dalam kapiler, memungkinkan kita dapat menentukan metode kenaikan kapiler tidak dapat diketahui tekanan-tekanan antarmuka (Martin dkk., 1990). Bayangkan suatu tabung kapiler yang mempunyai jari-jari dalam r dicelupkan dalam suatu cairan yang membasahi permukaannya. Cairan tersebut terus naik dalam tabung karena adanya tegangan permukaan, sampai pergerakan ke atas persis diimbangi oleh gaya gravitasi ke bawah karena bobot dari cairan tersebut (Martin dkk., 1990). Komposisi gaya vertikal ke atas yang dihasilkan dari tegangan permukaan ciran tersebut pada setiap titik pada keliling lingkaran permukaan batas adalah : α = γ cos θ Total gaya ke atas sekeliling lingkaran dalam tabung tersebut adalah : 2πrγ cos θ Dimana: ∗

θ = sudut kontak antara permukaan cairan dan dinding kapiler 2πr = keliling lingkaran dalam dari kapiler tersebut. Untuk air dan cairan - cairan yang umum dipakai lainnya, sudut θ tidak berarti, yakni, cairan tersebut membasahi dinding kapiler sehingga cos θ dianggap sama dengan satu untuk tujuan-tujuan praktis (Martin dkk., 1990).

Gaya gravitasi yang bekerja melawan (massa < percepatan) adalah luas penampang - melintang kolom πr2, kali tinggi kolam cairan sampai titik terendah dari meniskus h, dikalikan dengan perbedaan bobot jenis cairan ρ dan uapnya ρo kali percepatan gravitasi, yaitu : πr2h (ρ - ρo) g + w. Bagian persamaan terakhir yaitu w, ditambahkan untuk memperhitungkan bobot cairan di atas h dalam meniskus. Bila cairan telah naik sampai tinggi maksimumnya, yang bisa dibaca dari kalibrasi dari tabung kapiler, gaya-gaya yang melawan berada dalam kesetimbangan, dan dengan

demikian tegangan permukaan dapat dihitung. Bobot jenis dari uap, sudut kontak, dan w biasanya dapat diabaikan, jadi didapatkan : 2πrγ = π r2hρg
1 rhρg 2

γ =

Kenaikan kapiler bisa juga diterangkan sebagai akibat adanya perbedaan tekanan antara kedua lengkungan meniskus cairan dalam kapiler. Pada persamaan ∆P = 2γ/r, bahwa tekanan dari sisi yang cekung dari permukaan yang lengkung adalah lebih besar daripada tekanan pada sisi cembung. Ini berarti bahwa tekanan dalam cairan yang langsung di bawah meniskus lebih kecil daripada tekanan di luar tabung pada ketinggian yang sama. Akibatnya, cairan akan menaiki kapiler sampai tekanan hidrostatik yang dihasilkan menyamai perbedaan antara kedua lengkungan meniskus. Dengan menggunakan simbol yang sama seperti sebelumnya dan mengabaikan sudut kontak maka didapatkan : ∆P = 2γ/r = ρgh di mana ρgh adalah tekanan hidrostatik. Dengan menyusun kembali persamaan di atas memberikan γ = rρgh/2 yang identik dengan persamaan γ =
1 rhρg, yang 2

diturunkan berdasarkan gaya - gaya adhesif melawan gaya - gaya kohesif. 2. Tensiometer Du Nouy Tensiometer Du Nouy, dipakai secara luas untuk mengukur tegangan permukaan dan tegangan antarmuka. Prinsip dari alat tersebut bergantung pada kenyataan bahwa gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin platinairidium yang dicelupkan pada permukaan atau antarmuka adalah sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antarmuka (Martin dkk., 1990). Gaya yang diperlukan untuk melepaskan cincin dengan cara ini diberikan oleh suatu kawat spiral dan dicatat dalam satuan dyne pada suatu penunjuk yang berkalibrasi. Tegangan permukaan diberikan oleh rumus : γ=
yang dibaca pada penunjuk dalam dyne 2 ×keliling cincin

× faktor koreksi

Sebenarnya, alat tersebut mengukur bobot dari cairan yang dikeluarkan dari bidang antarmuka tepat sebelum cincin tersebut menjadi lepas. Suatu faktor koreksi perlu dalam persamaan di atas karena teori sederhana tersebut tidak

memperhitungkan variabel- variabel tertentu seperti jari-jari dari cincin, jari-jari dari kawat yang dipakai untuk membentuk cincin, dan volume cairan yang diangkat keluar dari permukaan. Kesalahan sebesar 25% bisa terjadi bila faktor koreksi tidak dihitung dan dipakai. Metode perhitungan faktor koreksi telah diuraikan oleh Harkins Dan Jordan dan, suatu ketepatan kira-kira 0.25% dapat diperoleh dengan pengerjaan yang cermat (Martin dkk., 1990). Fenomena antarmuka dalam farmasi adalah faktor-faktor yang berarti yang mempengaruhi absorpsi obat pada bahan pembantu padat dalam bentuk sediaan,penetrasi/penembusan molekul melalui memnran biologis ,pembentukan dan kestabilan serta dispersi dari partikel yang tidak larut dalam media cair untuk membentuk suspensi (Astuti dkk., 2008). 3. Wilhelmy Metode ini menggunakan lempeng wilhelmy sebagai alat untuk mengukurnya. Lempeng wilhelmy adalah lempeng tipis yang digunakan untuk mengukur tegangan permukaan atau antarpermukaan antara udara dengan larutan atau antar senyawa dalam larutan. Pada metode ini, lempeng harus diletakkan tegak lurus dengan tegangan antar permukaan, dan tekanan yang digunakan yang diukur. Metode Ludwig Wilhelmy ini berkembang dan digunakan untuk persiapan dan monitoring dari Langmuir - Blodgett film (Anonim, tt).

4. Gambar 1. Metode Lempeng Wilhelmy Lempeng wilhelmy biasanya menggunakan lempeng yang berukuran beberapa cm2.. Lempeng ini sering terbuat dari kaca atau platina yang agak berat untuk dapat terbasahi sempurna. Tekanan pada lempeng yang terendam diukur dengan menggunakan tensiometer atau microbalance dan untuk menghitung tegangan permukaan digunakan rumus :
α=
F 2 − cos Φ

dimana  adalah panjang dari lempeng wilhelmy yang terendam dan θ adalah sudut antara larutan dengan lempeng. Namun pada prakteknya sudut ini sulit ntuk diukur sehingga metode ini jarang digunakan (Anonim, tt). III. Alat dan Bahan a. Alat

Tensiometer Digital

Gambar 1. Alat Tensiometer Keterangan gambar tensiometer: 1 2 3&4 5 6 : Konektor untuk tombol TD 1 E : Indikator tinggi air : Alat pengatur ketinggian kaki tensiometer : Tombol penggerak manual : Meja sampel

Keterangan Gambar Alat pengatur digital: 1 : Tombol pengatur jenis pengukuran 2 : Tombol pengatur tara, angka 0 (PT) 3 : Tombol pengatur kalibrasi (PK) − Cawan petri − Bunsen b. Bahan − Air − Minyak nabati

IV. Cara Kerja  Kalibrasi Alat Sebelum melakukan percobaan, alat yang digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu dengan cara sebagai berikut: 1. Cincin dipasangkan pada kaitnya. 2. Tensiometer dihidupkan dengan memindahkan tombol TD 1 E ke posisi ON. 3. Lalu posisi mode uji dipindahkan ke simbol cincin. 4. Pembacaan pada layar diatur dengan potensiometer tara (PT) sehingga sama dengan 00,0. 5. Pemberat kalibrasi 500 mg dipasang pada kait untuk menambah berat cincin. 6. Harga kalibrasi untuk cincin yang digunakan dihitung melalui persamaan berikut: FKR = Keterangan: FKR GKR g d GKR . g 2πd

= Harga kalibrasi cincin (nM.m-1) = Pemberat kalibrasi (g) = Gaya gravitasi (cm.detik-1) = Garis tengah cincin (cm)

 Pengukuran Tegangan Permukaan 1. Meja sampel digerakkan ke bawah serendah mungkin dan cairan uji di dalam cawan petri diletakkan di atas meja sampel. 2. Meja sampel bersama cairan uji digerakkan ke atas perlahan-lahan sampai cincin berada kira-kira 2-3 mm di bawah permukaan cairan. 3. Kemudian meja dengan cairan uji digerakkan kembali ke bawah secara perlahanlahan sampai cincin menarik lamela ke luar permukaan cairan. Pada saat ini nilai yang tertera pada layar akan naik. Nilai ini akan mencapai maksimumnya sampai sesaat sebelum lamela pecah. Nilai maksimum yang diperoleh merupakan besarnya tegangan permukaan cairan yang belum dikoreksi. 4. Faktor koreksi cincin dihitung dengan menggunakan persamaan berikut:
f = 0,000918 .OS ruk 0,8759 + D

Keterangan

OSruk D

: tegangan permukaan yang belum dikoreksi (nM.m-1) : bobot jenis cairan yang diuji (g.cm-3)

5. Kalikan harga tegangan permukaan yang diperoleh dengan faktor koreksi yang

dihitung. Hasil kali tersebut adalah harga tegangan permukaan mutlak dalam mN.m-1.

 Penentuan Tegangan antar Permukaan 1. Meja sampel digerakkan ke bawah dan cincin diambil dari kaitnya. 2. Cincin dibersihkan dengan cara memanaskannya pada nyala api etanol sampai berwarna merah. 3. Biarkan cincin menjadi dingin dan dilembabkan dengan air kemudian dipasangkan kembali pada kaitnya. 4. Cawan petri diisi sampel yang mempunyai bobot jenis lebih besar, misalnya air. 5. Meja sampel digerakkan ke atas sampai cincin tercelup kira-kira 2-3 mm di bawah permukaan cairan. 6. Secara perlahan-lahan cairan berbobot jenis lebih kecil ditambahkan sampai mencapai ketebalan kira-kira 1 cm.
7. Kemudian meja dengan cairan uji digerakkan kembali ke bawah secara

perlahan-lahan sampai cincin menarik lamela ke luar dari fase cairan yang berada di sebelah bawah. Pada saat ini nilai yang tertera pada layar akan naik. Nilai ini akan mencapai maksimumnya sampai sesaat sebelum lamela pecah. Nilai maksimum yang diperoleh merupakan besarnya tegangan antar permukaan cairan yang belum dikoreksi. 8. Faktor koreksi cincin dihitung dengan menggunakan persamaan berikut: f = 0,8759 + Keterangan D1 D2 0,000918 .OS ruk D1 − D 2 : bobot jenis cairan yang berada di bawah (g.cm-3) : bobot jenis cairan yang berada di atas (g.cm-3)

9. Nilai tegangan antar permukaan dua cairan yang diperoleh dikalikan dengan

faktor koreksi yang telah dihitung. Nilai yang diperoleh adalah besarnya tegangan antar permukaan mutlak dua cairan dalam mN.m-1. V. PEMBAHASAN Tegangan permukaan adalah gaya per satuan panjang yang harus diberikan sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan ke dalam. Tegangan permukaan mempunyai satuan dyne/cm dalam sistem cgs (Martin et al., 1990). Hal ini sebanding dengan keadaan yang terjadi bila suatu objek yang menggantung di pinggir jurang pada seutas tali ditarik ke atas oleh seseorang yang memegang tali tersebut dan berjalan menjauhi tepi jurang. Tegangan permukaan muncul pada permukaan cairan/padatan dengan udara. Simbol yang

digunakan untuk tegangan permukaan adalah γ dan satuannya adalah dyne cm -1 (Astuti dkk., 2009). Selain tegangan permukaan, ada juga istilah tegangan antarmuka. Tegangan antarmuka adalah gaya per satuan panjang yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tidak bercampur dan seperti tegangan permukaan memiliki satuan dyne/cm. Tegangan antarmuka selalu lebih kecil daripada tegangan permukaan karena gaya adhesi antara 2 fase cair yang membentuk suatu antarmuka adalah lebih besar daripada bila suatu fase cair dan suatu fase gas berada bersama-sama. Jadi bila 2 cairan bercampur dengan sempurna tidak ada tegangan antarmuka yang terjadi (Astuti dkk., 2009). Metode - metode yang dapat digunakan dalam mengukur besarnya tegangan permukaan dan tegangan antarmuka suatu sampel antara lain metode pipa kapiler, metode cincin DuNuoy, dan metode wilhelmy. Dalam memilih metode pengukuran tegangan permukaan maupun tegangan antarmuka adalah ketepatan dan kemudahan yang diinginkan, digunakan untuk mengukur tegangan permukaan atau tegangan antarmuka, ukuran sampel yang tersedia, dan keperluan penelitian terhadap efek waktu pada tegangan permukaan (Martin et al., 1983). Tensiometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur tegangan permukaan atau tegangan antarmuka cairan. Pengukuran tegangan permukaan atau antar muka dilakukan dengan menggunakan tensiometer berdasarkan pada pengukuran tekanan atau gaya dari interaksi suatu lempeng dengan permukaan atau antarmuka dua zat cair yang tidak saling bercampur. Tensiometer yang baik adalah tensiometer yang tertutup, kedap udara, tabung berisi air (barel) dengan ujung keropos pada salah satu ujungnya dan gauge vakum di sisi lain. Sebuah tensiometer berpori terdiri dari cangkir, dihubungkan melalui sebuah benda tegar tabung vakum untuk mengukur, dengan semua komponen diisi dengan air. Cangkir yang berpori biasanya terbuat dari keramik karena kekuatan struktural serta permeabilitas untuk aliran air. Tubuh tabung biasanya transparan sehingga air dalam tensiometer dapat dengan mudah dilihat. Sebuah tabung vakum Bourdon gauge biasanya digunakan untuk pengukuran potensial air. Pengukur vakum dapat dilengkapi dengan saklar magnet untuk irigasi otomatis kontrol. Sebuah manometer air raksa juga dapat digunakan untuk akurasi yang lebih besar, atau tekanan transduser dapat digunakan untuk merekam secara otomatis dan terus-menerus tensiometer pembacaan (Harrison, 2009). Salah satu kegunaan tensiometer yang paling bermanfaat adalah untuk mengukur atau memonitoring status air lahan. Alat ini terdiri dari suatu poros (biasanya terbuat dari

ceramic) yang dihubungkan ke suatu pengukur hampa udara (mekanik atau elektronik transducer) melalui suatu tabung tabung yang berisi air. Ketika potensi matrik lahan lebih rendah ( lebih negatif) dibanding tekanan yang sejenis di dalam tensiometer, air bergerak sepanjang gradien energi potensial kelahan melalui cangkir poros. Air mengalir ke dalam lahan sampai keseimbangan dicapai dan pengisapan di dalam tensiometer sama dengan matrik potensi lahan. Ketika lahan dibasahi, arus bergerak ke arah yang terbalik, dan air masuk ke dalam tensiometer sampai suatu keseimbangan baru dicapai (Harrison, 2009) Tensiometer DuNouy merupakan salah satu jenis tensiometer yang digunakan untuk mengukur tegangan permukaan dan antar muka. Prinsip dari tensiometer ini bergantung pada kenyataan bahwa gaya yang diperlukan untuk melepaskan suatu cincin platina iridium yang dicelupkan pada permukaan atau antar muka adalah sebanding dengan tegangan permukaan atau tegangan antar muka. Gaya yang diperlukan untuk melepaskan cincin dengan cara ini diberikan oleh suatu kawat spiral dan dicatat dalam satuan dyne pada suatu petunjuk yang dikalibrasi. Tegangan permukaan dinyatakan dengan rumus :

Faktor koreksi diperlukan dalam perhitungan karena tidak memperhitungkan variabel-variabel tertentu seperti jari-jari cincin, jari-jari kawat, dan volume cairan yang diangkat keluar dari permukaan (Martin et al., 1983). Selain tensiometer Du Noy, dapat juga digunakan tensiometer digital dalam pengukuran tegangan permukaan dan antarmuka.

Sebelum melakukan percobaan, alat yang digunakan harus dikalibrasi terlebih dahulu. Harga kalibrasi untuk cincin yang digunakan dihitung melalui persamaan berikut:
i. FKR =

GKR . g 2π d

Keterangan: FKR GKR g d : Harga kalibrasi cincin (nM.m-1) : Pemberat kalibrasi (g) : Gaya gravitasi (cm.detik-1) : Garis tengah cincin (cm)

VI. KESIMPULAN
1. Tegangan permukaan adalah gaya sejajar pada permukaan untuk mengimbangi tarikan

ke dalam, sedangkan tegangan antarmuka adalah gaya yang terdapat pada antarmuka dua fase cair yang tak bercampur.
2. Metode - metode yang dapat digunakan dalam mengukur besarnya tegangan

permukaan dan tegangan antarmuka suatu sampel antara lain metode pipa kapiler, metode cincin DuNuoy, dan metode wilhelmy. 3. Tensiometer bekerja berdasarkan pengukuran tekanan atau gaya dari interaksi suatu lempeng dengan permukaan atau antarmuka dua zat cair yang tidak saling bercampur.

DAFTAR PUSTAKA Astuti, K. W., N. M. P. Susanti, I. M. A. G. Wirasuta, dan I. N. K. Widjaja. 2007. Petunjuk Praktikum Farmasi Fisika. Jimbaran: Jurusan Farmasi F.MIPA UNUD. Astuti, K. W., N. M. P. Susanti, dan I. N. K. Widjaja. 2008. Buku Ajar Farmasi Fisika. Jimbaran: Jurusan Farmasi F.MIPA UNUD. Harrison, D. S. dan A. G. Smajstria. 2009. Tensiometer Untuk Penjadwalan Irigasi Available at : http://edis/ifas/ufl.edu Opened at : 07 Desember 2009 Martin, A., J. Swarbrick, dan A. Cammarata. 1983. Farmasi Fisik Edisi III Jilid 2. Jakarta : UI Press

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->