P. 1
etnofarmasi suku tengger kecamatan sukapura kabupaten probolinggo

etnofarmasi suku tengger kecamatan sukapura kabupaten probolinggo

|Views: 3,285|Likes:
Published by YayaSulthonAziz
Etnofarmasi berasal dari kata etno dan farmasi. Etno adalah suku atau kelompok, sedangkan farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang obat obatan. Menurut Pieroni et al, (2002) Etnofarmasi adalah gabungan disiplin ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara kebiasaan kultur dalam suatu kelompok masyarakat ditinjau dari sisi farmasetisnya. Oleh sebab itu akan melibatkan studi identifikasi, klasifikasi dari produk natural (etnobiologi), preparasi secara farmasetis (etnofarmasetis) dan efek yang diklaim (etnofarmakologi) beserta aspek pengobatan secara sosial (etnomedisin).
Penelitian etnofarmasi difokuskan pada sebuah komunitas untuk menemukan kembali “ Resep” tradisional dan mencoba mengevaluasinya baik secara biologis maupun secara kultural (Pieroni et al., 2002). Dalam pendekatannya dengan masyarakat, etnofarmasi sama dengan etnografi yang menjadikan pengamat terlibat dalam kebudayaan yang sedang diteliti (Haviland, 1999). Oleh sebab itu akan didapatkan referensi untuk pengembangan atau penemuan obat baru yang berasal dari komunitas atau etnis tertentu.
dan studi yang dilakukan di suku tengger kecamatan sukapura kabupaten probolinggo menemukan kembali pengobatan- pengobatan tradisional yang sudah turun temurun dingunakan oleh suku tersebut.
Etnofarmasi berasal dari kata etno dan farmasi. Etno adalah suku atau kelompok, sedangkan farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang obat obatan. Menurut Pieroni et al, (2002) Etnofarmasi adalah gabungan disiplin ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara kebiasaan kultur dalam suatu kelompok masyarakat ditinjau dari sisi farmasetisnya. Oleh sebab itu akan melibatkan studi identifikasi, klasifikasi dari produk natural (etnobiologi), preparasi secara farmasetis (etnofarmasetis) dan efek yang diklaim (etnofarmakologi) beserta aspek pengobatan secara sosial (etnomedisin).
Penelitian etnofarmasi difokuskan pada sebuah komunitas untuk menemukan kembali “ Resep” tradisional dan mencoba mengevaluasinya baik secara biologis maupun secara kultural (Pieroni et al., 2002). Dalam pendekatannya dengan masyarakat, etnofarmasi sama dengan etnografi yang menjadikan pengamat terlibat dalam kebudayaan yang sedang diteliti (Haviland, 1999). Oleh sebab itu akan didapatkan referensi untuk pengembangan atau penemuan obat baru yang berasal dari komunitas atau etnis tertentu.
dan studi yang dilakukan di suku tengger kecamatan sukapura kabupaten probolinggo menemukan kembali pengobatan- pengobatan tradisional yang sudah turun temurun dingunakan oleh suku tersebut.

More info:

Published by: YayaSulthonAziz on Dec 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

1

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki hutan tropika terbesar kedua di dunia, kaya dengan keanekaragaman hayati dan dikenal sebagai salah satu negara “megabiodiversity” kedua setelah Brazilia (Ersam, 2004). Didalamnya terdapat kurang lebih 40.000 jenis tumbuhan, dan dari jumlah tersebut sekitar 1.300 diantaranya digunakan sebagai obat tradisional (Muktiningsih et al., 2001). Keanekaragaman obat tradisional yang ada memberikan suatu referensi baru terhadap dunia pengobatan. Menurut Kuntorini (2005) melonjaknya harga obat sintetis dan efek sampingnya bagi kesehatan meningkatkan kembali penggunaaan obat tradisional oleh masyarakat dengan memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di sekitar. Obat tradisional dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat secara turun temurun dan sampai sekarang ini banyak yang terbukti secara ilmiah berkhasiat obat pengembangan obat baru (Siswandono dan Soekardjo, 2000). Akan tetapi cara-cara pengobatan tradisional tidak dicatat dengan baik karena teknik pengobatannya diajarkan secara lisan (Rosita et al., 2007), sehingga dalam perkembangannya banyak teknik pengobatan lama yang hilang atau terlupakan. Hal tersebut mendorong untuk dilakukannya upaya pemanfaatan dan pelestarian pengetahuan masyarakat atau suku tentang pengobatan tradisional yang telah dilakukan secara empiris. Upaya tersebut mulai dari inventarisasi, pemanfaatan, budi daya sampai dengan penggalian kembali pengetahuan suku lokal tentang obat tradisional (Darmono, 2007). 1 (Syukur dan Hernani, 2002). Selain itu obat tradisional tersebut dapat digunakan sebagai dasar

2

Langkah awal yang sangat membantu untuk menggali pengetahuan suku lokal terhadap resep tradisional berkhasiat obat yaitu dengan berbagai pendekatan secara ilmiah (Kuntorini, 2005). Salah satu pendekatan tersebut adalah etnofarmasi (Pieroni et al., 2002). Pendekatan etnofarmasi telah dilakukan di berbagai suku di Indonesia, diantaranya yang telah diterapkan pada masyarakat lokal Suku Muna Kecamatan Wakarumba, Kabupaten Muna, Sulawesi Utara (Windadri et al, 2006), dan di sekitar kawasan Gunung Gede Pangrango (Rosita et al, 2007). Keduanya mendapatkan resep tradisional dari pengetahuan suku lokal tersebut. Tengger sebagai salah satu suku di Indonesia, menurut Sutarto (2009) masyarakatnya masih bersikukuh dengan tradisi yang diwarisi dari para pendahulunya. Tradisi tersebut antara lain upacara Kasada, upacara Karo, Upacara Unan-Unan dan masih banyak lagi upacara lain yang sampai sekarang masih dijalankan dengan norma-norma sosial yang tetap terjaga. Salah satu norma sosial yang ada adalah interaksi Suku Tengger dengan alam sekitar yang terdapat banyak sumberdaya alamnya. Sumberdaya alam tersebut berada dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang berupa fenomena Kaldera Tengger dengan lautan pasir yang luas, pemandangan alam dan atraksi geologis Gunung Bromo dan Gunung Semeru, keragaman flora langka dan endemik serta potensi hidrologis yang tinggi termasuk keberadaan 6 buah danau alami yang indah (Hidayat dan Risna, 2007). Keadaan alam yang ada mampu menarik banyak wisatawan domestik maupun mancanegara datang ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Wisatawan umumnya membawa peradaban modern yang dapat menggeser sejumlah pengetahuan lokal masyarakat (Windadri et al., 2006). Hal ini dapat menyebabkan pengetahuan tentang tumbuhan obat pada masyarakat atau Suku Tengger juga mengalami erosi (hilang). Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian etnofarmasi di suku Tengger agar kelestarian pengetahuan maupun penggunaan obat tradisional tetap terjaga dan dapat digunakan sebagai referensi dasar pengembangan bahan obat baru.

3

1.2 Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang maka masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: 1. Tumbuhan, hewan dan bahan mineral apa yang dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional oleh Suku Tengger? 2. Bagaimana cara penggunaan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral tersebut sebagai obat tradisional? 3. Berapa persentase pengetahuan atau penggunaan setiap tumbuhan, hewan, dan bahan mineral tersebut sebagai obat tradisional? 1.3 Tujuan Penelitian di lingkungan Suku Tengger ini bertujuan untuk: 1. Melakukan inventarisasi tumbuhan, hewan, dan bahan mineral yang dimanfaatkan Suku Tengger sebagai bahan obat tradisional. 2. Mengetahui cara penggunaan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral untuk pengobatan. 3. Mengetahui persentase pengetahuan atau penggunaan setiap tumbuhan, hewan, dan bahan mineral tersebut sebagai obat 1.4 Manfaat Penelitian ini diharapkan membawa manfaat antara lain: 1. Memberikan informasi mengenai tumbuhan, hewan, dan bahan mineral yang digunakan oleh Suku Tengger sebagai bahan obat tradisional. 2. Memberikan informasi cara penggunaan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral tersebut untuk pengobatan. 3. Memberikan informasi persentase pengetahuan atau penggunaan setiap tumbuhan, hewan, dan bahan mineral tersebut sebagai obat 4. Sebagai dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai Etnofarmasi Suku Tengger dan pengembangan obat di Indonesia.

4

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Tentang Etnofarmasi Sebagian besar peneliti di berbagai negara di dunia menyadari bahwa sukusuku terasing memiliki berbagai kearifan, pengetahuan, dan pengalaman yang bermakna besar bagi manusia dalam masyarakat modern. Kedekatan mereka dengan alam, pengetahuan mengenai tumbuhan yang bergizi atau mengandung berbagai zat yang dapat mengobati berbagai penyakit dan keberhasilan masyarakat untuk mempertahankan eksistensinya dari generasi ke generasi merupakan sesuatu yang mengandung banyak pelajaran bagi manusia dan masyarakat modern (Rosita et al., 2007). Secara etnografi masyarakat Indonesia terdiri dari beberapa ratus suku yang masing-masing mempunyai kebudayaan yang berbeda-beda. Hal itu tampak dari bahasa, adat-istiadatnya dan pengetahuan lokal tradisional dalam memanfaatkan tumbuhan obat. Pengetahuan tumbuhan obat ini spesifik bagi setiap etnis, sesuai dengan kondisi lingkungan tempat tinggal masing-masing suku atau etnis (Muktiningsih et al., 2001). Etnofarmasi berasal dari kata etno dan farmasi. Etno adalah suku atau kelompok, sedangkan farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang obat obatan. Menurut Pieroni et al, (2002) Etnofarmasi adalah gabungan disiplin ilmu yang mempelajari tentang hubungan antara kebiasaan kultur dalam suatu kelompok masyarakat ditinjau dari sisi farmasetisnya. Oleh sebab itu akan melibatkan studi identifikasi, klasifikasi dari produk natural (etnobiologi), preparasi secara farmasetis (etnofarmasetis) dan efek yang diklaim (etnofarmakologi) beserta aspek pengobatan secara sosial (etnomedisin).

4

5

Penelitian etnofarmasi difokuskan pada sebuah komunitas untuk menemukan kembali “ Resep” tradisional dan mencoba mengevaluasinya baik secara biologis maupun secara kultural (Pieroni et al., 2002). Dalam pendekatannya dengan masyarakat, etnofarmasi sama dengan etnografi yang menjadikan pengamat terlibat dalam kebudayaan yang sedang diteliti (Haviland, 1999). Oleh sebab itu akan didapatkan referensi untuk pengembangan atau penemuan obat baru yang berasal dari komunitas atau etnis tertentu. Pieroni et al, (2002) telah melakukan penelitian mengenai Etnofarmasi pada Etnis Albanian di utara Basilicata Italia. Ditemukan lima puluh empat tumbuhan yang digunakan sebagai obat, dari tumbuhan yang didapatkan terdapat bermacam-macam cara penggunaan dan kegunaannya. Di Indonesia penelitian pemanfaatan tumbuhan obat oleh suku atau masyarakat juga pernah dilakukan. Windadri et al, (2006) melakukan penelitian di masyarakat lokal suku Muna Kecamatan Wakarumba, Kabupaten Muna, sulawesi Utara, dan didapatkan enam puluh satu tanaman sebagai obat oleh suku lokal tersebut. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Rosita et al, (2007), didapatkan delapan puluh tanaman berkhasiat obat menurut masyarakat di sekitar kawasan Gunung Gede Pangrango. 2.2 Pengobatan Tradisional Tumbuhan telah lama diketahui sebagai salah satu sumber daya yang sangat penting dalam upaya pengobatan dan mempertahankan kesehatan masyarakat. Sejarah awal suatu tumbuhan sulit untuk ditelusuri sebagai obat, meskipun demikian ada pendapat bahwa suatu tumbuhan digunakan sebagai obat didasarkan pada tandatanda fisik (bentuk, warna, rasa) yang ada pada tumbuhan atau bagian tumbuhan tersebut, dan tanda-tanda tersebut diyakini berkaitan dengan tanda-tanda penyakit atau tanda-tanda penyebab penyakit yang akan diobatinya ( Gana et al., 2008). Adapun yang dimaksud dengan obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan galenik atau campuran bahan-bahan tersebut yang secara tradisional telah digunakan untuk

6

pengobatan berdasarkan pengalaman masyarakat (Katno dan Pramono, 2009), dan pada kenyataannya bahan obat alam yang berasal dari tumbuhan porsinya lebih besar dibandingkan yang berasal dari hewan atau mineral, sehingga sebutan obat tradisional (OT) hampir selalu identik dengan tanaman obat (TO) karena sebagian besar OT berasal dari TO. Penggunaan suatu tumbuhan sebagai obat tradisional di Indonesia telah dilakukan oleh nenek moyang kita sejak berabad-abad yang lalu. Obat tradisional tersebut telah digunakan oleh sebagian masyarakat Indonesia secara turun menurun (Zein, 2005). Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya naskah lama pada daun lontar Husodo (Jawa), Usada (Bali), Lontarak pabbura (Sulawesi Selatan), dokumen Serat Primbon Jampi, Serat Racikan Boreh Wulang nDalem dan relief candi Borobudur yang menggambarkan orang sedang meracik obat (jamu) dengan tumbuhan sebagai bahan bakunya (Sukandar, 2009). Menurut Sari (2006) penggunaan obat tradisional secara umum dinilai lebih aman dari pada penggunaan obat modern. Hal ini disebabkan karena obat tradisional tersebut memiliki efek samping yang relatif lebih sedikit dari pada obat modern. Bahkan sampai saat inipun menurut perkiraan badan kesehatan dunia (WHO), 80% penduduk dunia masih menggantungkan dirinya pada pengobatan tradisional termasuk penggunaan obat yang berasal dari tumbuhan (Radji, 2005). Banyak penyakit dapat disembuhkan dengan pengobatan tradisional, seperti halnya pada penyakit malaria yang di Indonesia banyak menggunakan tumbuhan seperti sambiloto, pule, brotowali dan johar yang dapat mencegah kerusakan hati, limpa dan meningkatkan imunitas dibandingkan obat modern (Zein, 2005). Selain malaria, pengobatan batu ginjal juga menggunakan tumbuhan obat dan relatif aman. Tanaman yang digunakan untuk pengobatan batu ginjal seperti: asam jawa (Tamarindus indica), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), dan sambiloto (Andrograpidis paniculata) yang mengandung bahan aktif kalium dan berguna sebagai peluruh batu ginjal dan terbukti berkhasiat dibandingkan obat modern (Wakidi, 2003).

7

Dilihat dari kemanjurannya atau manfaat sebagai bahan pengobatan, obat tradisional tergantung dari beberapa hal antara lain: kebenaran bahan, ketepatan dosis, ketepatan waktu penggunaan, ketepatan cara penggunaan, ketepatan telaah informasi, dan tanpa penyalahgunaan obat tradisional itu sendiri (Sari, 2006). Semakin tepat atau baik dalam penggunaan atau pemilihan bahan, maka kemanjuran atau manfaat pengobatan akan didapatkan. 2.2.1 Kelebihan dan Kelemahan Obat Tradisional Dibandingkan obat-obat modern, OT/TO memiliki beberapa kelebihan dan kelemahan. Kelebihannya antara lain: efek sampingnya relatif rendah, dalam suatu ramuan dengan komponen berbeda memiliki efek saling mendukung, pada satu tanaman memiliki lebih dari satu efek farmakologi serta lebih sesuai untuk penyakitpenyakit metabolik dan degeneratif. Sedangkan kelemahannya yaitu: efek farmakologis yang lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar berbagai jenis mikroorganisme (Katno dan Pramono, 2009). Lemahnya efek farmakologis dikarenakan rendahnya kadar senyawa aktif dalam bahan obat alam serta kompleknya senyawa yang umum terdapat pada tanaman. Hal ini bisa diupayakan dengan ekstrak terpurifikasi, yaitu suatu hasil ekstraksi selektif yang hanya menyari senyawa-senyawa yang berguna dan membatasi sekecil mungkin senyawa yang ikut tersari. Demikian juga dengan sifat bahan baku yang higroskopis dan mudah terkontaminasi mikroba, perlu penanganan pascapanen yang benar dan tepat (seperti cara pencucian, pengeringan, sortasi, pengubahan bentuk, pengepakan serta penyimpanan). Untuk mengurangi kelemahan tersebut, para ahli telah menempuh berbagai cara pendekatan agar dapat ditemukan bentuk obat tradisional yang ideal. Dengan demikian didapatkan obat tradisional yang telah teruji khasiat dan keamanannya. Pendekatan tersebut dikelompokkan menjadi kelompok obat fitoterapi atau fitofarmaka (Katno dan Pramono, 2009).

8

2.3 Tinjauan Tentang Suku Tengger 2.3.1 Keadaan Geografis Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS) ditetapkan menjadi kawasan taman nasional sejak Oktober 1982 berdasarkan Surat Pernyataan Menteri Pertanian Nomor 736/Mentan/X/1982. Kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional karena memiliki potensi kekayaan alam yang tidak saja besar namun juga unik. Kekayaan alam tersebut berupa fenomena Kaldera Tengger dengan lautan pasir yang luas, pemandangan alam dan atraksi geologis Gunung Bromo dan Gunung Semeru (Hidayat et al., 2007). Jumlah luas keseluruhan TN-BTS ialah 50.273,30 ha, didalamnya terdapat pegunungan, dan juga terdapat 4 buah danau (ranu) masingmasing : Ranu Pani (1 ha), Ranu Regulo (0,75 ha), Ranu Kumbolo (14 ha) dan Ranu Darungan (0,5 ha), (Dephut, 2009a). TN-BTS terletak pada 70 54’-80 13’ LS dan 1120 51’-1130 04’ BT. Adapun kondisi fisik wilayah tersebut terletak pada ketinggian 750-3.676 m dari permukaan laut (dpl). Gunung Bromo menjulang dengan ketinggian 2.392 m dpl dan Gunung Semeru dengan ketinggian 3.676 m dpl. Kondisi tanah adalah regosol dan litosol, dan warna tanah kelabu, coklat, coklat kekuning-kuningan sampai putih dan suhu udara antara 30C sampai 200C (Sudiro, 2001). Keadaan topografi bervariasi dari bergelombang dengan lereng yang landai sampai berbukit bahkan bergunung dengan derajat kemiringan yang tegak dengan curah hujan rata-rata 6.604 mm/tahun dan memiliki tipe ekosistem sub montana dan sub alphin dengan pohon-pohon yang besar dan tinggi berusia ratusan tahun (Dephut, 2009a). Suku Tengger berada di TN-BTS dan merupakan suku asli yang beragama Hindu (Dephut, 2009a). Wilayah yang dimasukkan ke dalam “Desa Tengger” yaitu desa-desa dalam wilayah 4 kabupaten yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan masih memegang teguh adat-istiadat Tengger, dan desa-desa yang dimaksud yaitu Ngadas, Jetak, Wonotoro, Ngadirejo, dan Ngadisari (Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo), Ledokombo, Pandansari, dan Wonokerso (Kecamatan Sumber, Kabupaten Probolinggo), Tosari, Wonokitri, Sedaeng, Ngadiwono,

9

Podokoyo (Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan), Keduwung (Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan), Ngadas (Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang), dan Argosari serta Ranu Pani (Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang) (Sutarto, 2009).

Gambar 2.1 “Desa Tengger” yang masyarakatnya mayoritas beragama Hindu Tengger

Saat ini, desa yang termasuk dalam “ Desa Tengger” hanya desa-desa yang berada di Kecamatan Sukapura (Gambar 2.1) yang masyarakatnya mayoritas masih

10

beragama Hindu Tengger. Desa-desa di kawasan Tosari, Ranu Pani dan yang lain sudah mengalami Islamisasi (Sutarto 2009. Komunikasi pribadi). “ Desa Tengger” yang pada awalnya berjumlah tujuh belas desa yang tersebar diempat Kabupaten, sekarang tinggal lima desa yaitu Desa Ngadirejo, Desa Ngadas, Desa Jetak, Desa Wonotoro, Desa Ngadisari, yang berada di Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Pada bulan Maret 2003 “desa Tengger” berpenduduk 6274 jiwa yang tersebar di Desa Ngadirejo 2750 jiwa, Desa Ngadas 685 jiwa, Desa Jetak 559 jiwa, Desa Wonotoro 717 Jiwa, dan Desa Ngadisari 1563 jiwa (Sutarto, 2007). 2.3.2 Sejarah Suku Tengger Sejarah suku Tengger menurut Sutarto (2009) sebagai berikut: Kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru tidak banyak memiliki data kepurbakalaan dan kesejarahan yang dapat mengungkap kehidupan masyarakat Tengger. Prasasti batu yang pertama kali ditemukan, berangka tahun 851 Saka (929 M), menyebutkan bahwa sebuah desa bernama Walandhit, yang terletak di kawasan pegunungan Tengger, adalah sebuah tempat suci yang dihuni oleh hulun hyang, yakni orang yang menghabiskan hidupnya sebagai abdi dewata. Prasasti kedua yang ditemukan, masih dalam abad yang sama, menyatakan bahwa di kawasan ini penduduknya melakukan peribadatan yang berkiblat kepada Gunung Bromo, dan menyembah dewa yang bernama Sang Hyang Swayambuwa, atau yang dalam agama Hindu dikenal sebagai Dewa Brahma. Pada tahun 1880 seorang perempuan Tengger menemukan sebuah prasasti yang terbuat dari kuningan di daerah Penanjakan yang termasuk Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan. Prasasti ini berangka tahun 1327 Saka atau 1407 M yang menyebutkan bahwa sebuah desa bernama Walandhit dihuni oleh hulun hyang atau abdi dewata, dan tanah di sekitar Walandhit disebut hila-hila atau suci. Warga desa Walandhit dibebaskan dari kewajiban membayar titileman, yakni pajak upacara kenegaraan karena mereka berkewajiban melakukan pemujaan terhadap Gunung Bromo, sebuah gunung yang dikeramatkan.

11

Prasasti Walandhit menunjukkan bahwa kawasan Bromo-Tengger-Semeru sudah berpenghuni sejak Kerajaan Majapahit masih berjaya. Oleh karena itu, adanya keyakinan bahwa nenek moyang orang Tengger adalah pengungsi dari Majapahit perlu dikaji ulang. Ada dua kemungkinan yang perlu dipertimbangkan, pertama meskipun orang Walandhit bukan keturunan Majapahit, kegiatan beragama Suku Tengger tidak berbeda jauh atau mungkin sama dengan warga kerajaan Majapahit pada umumnya, yaitu melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang bercorak HinduBudha. Kemungkinan kedua, masyarakat Walandhit dengan suka cita menerima para pengungsi dari Majapahit yang terdesak oleh ekspansi Kerajaan Islam Demak, terutama setelah Karsyan Prawira dan daerah sekitarnya berhasil diislamkan oleh tentara Demak pada abad ke-16 M. Para pengungsi dari Majapahit tersebut kemudian menyatu dan menurunkan orang Tengger yang kita kenal sampai sekarang. Pada waktu itu daerah pedalaman termasuk dataran tinggi Tengger, belum sempat direbut oleh tentara Demak. Suku Tengger sekarang begitu yakin bahwa nama Tengger berasal dari paduan dua suku kata teakhir dari nama nenek moyang mereka, yaitu Rara Anteng (TENG) dan Jaka Seger (GER). Rara Anteng dipercaya sebagai putri Raja Brawijaya V dari Kerajaan Majapahit dan Jaka Seger, putra seorang brahmana yang bertapa di dataran tinggi Tengger. Di samping itu, orang Tengger juga menegaskan bahwa kata Tengger mengacu kepada pengertian Tengering Budi Luhur (Tanda Keluhuran Budi Pekerti). Walaupun semua prasasti belum dapat mengungkapkan sejarah yang jelas mengenai asal mula suku Tengger, namun adat dan kebudayaan tetap terjaga sampai sekarang. Pemuka adat atau dukun di Suku Tengger merupakan para pewaris aktif tradisi Tengger. Berdasarkan Sudjatno (1994), dukun bagi Suku Tengger adalah pemuka masyarakat yang berperan sebagai pusat nilai-nilai. Peran yang setrategis itu menyebabkan dukun dijadikan sebagai panutan masyarakat, pemimpin religi, agen perubahan, dan juga sebagai pusat konsultasi masyarakat dan biasa disebut dukun gedhe (dukun besar). Sedangkan dukun yang dapat menyembuhkan dan membuat

12

orang menjadi sakit adalah dukun cilik (dukun kecil) (Sutarto, 2007). Saat ini, keberadaan dukun cilik (Batra) di Kecamatan Sukapura sudah tidak ditemukan (Berdasarkan peninjauan yang dilakukan penulis pada bulan Mei 2009), sehingga diperlukan kembali penggalian pengetahuan pengobatan tradisional di Suku Tengger untuk pelestarian keanekaragaman budaya suku bangsa. 2.3.3 Kehidupan Suku Tengger Menurut Sutarto (2009) identitas Suku Tengger terkesan problematis dan membuat banyak orang tertipu, karena Suku Tengger bukan suku primitif, suku terasing, atau suku lain yang berbeda dari suku Jawa. Hal tersebut dilihat dari tata kehidupan yang dijalani oleh Suku Tengger, seperti penggunaan sepeda motor sebagai alat transportasi, media elektronik televisi dan radio yang hampir semua keluarga memiliki, demikian juga alat komunikasi Handphone yang hampir semua kalangan muda juga memilikinya. Imajinasi dan eksotisme masal modern yang ditangkap melalui media elektronik yang dimiliki Suku Tengger hanya membuat Suku Tengger terhenyak dan terkagum-kagum tetapi belum terpengaruh oleh gaya hidup orang-orang atau tokoh-tokoh yang mereka lihat melalui media tersebut. Sebagian besar Suku Tengger masih memposisikan dirinya sebagai wong gunung (orang yang tinggal di gunung) yang berbeda dari wong ngare (orang yang bertempat tinggal di tempat rata, di dataran rendah atau di kota). Di mata wong gunung, wong ngare itu penuh kesenjangan, banyak yang kaya, tetapi banyak pula yang miskin, tidak memiliki tanah. Menurut wong gunung, wong ngare itu lebih suka menyendiri dan membedakan status. Wong ngare sering menilai seseorang dari pangkatnya. Sebaliknya, bagi wong gunung, semua orang dianggap sama (padha) dan satu keturunaan (sakturunan). Karena padha dan sakturunan, maka dalam kehidupan wong gunung tidak dikenal istilah kongkon (menyuruh) orang lain. Istilah yang dikenal adalah bantu kuwat yakni memberi bantuan kepada tetangganya karena beban pekerjaan tetangga tersebut terlalu berat (Sutarto, 2009). Begitu juga dengan

13

semangat pluralisme yang diejawantahkan melalui sikap budaya dan agama membuat Suku Tengger terbebas dari konflik yang berdimensi etnis dan keagamaan Kejujuran dan ketulusan Suku Tengger masih dapat dilihat sampai saat ini, dengan angka kejahatan di desa-desa Tengger pada umumnya hampir tidak ada. Suasana damai, tenteram, aman, dan penuh toleransi tercermin dalam kehidupan sehari-hari Suku Tengger. Galba et al, (1989) menambahkan bahwa Suku Tengger menjaga hubungannya dengan alam dan mencintai alam lingkungan tempat mereka tinggal dengan cara mereka memanfaatkannya sebagai lahan pertanian dan bertani dengan baik. Dalam hal ini,Suku Tengger tidak merusak hutan untuk dijadikan ladang atau untuk diambil kayunya atau membuang sampah secara sembarangan yang akan berakibat pada pencemaran lingkungan lahan pertanian. Hal ini telah diketahui Suku Tengger untuk menjaga agar tidak terjadi erosi di hutan dan mencegah terjadinya banjir. Dalam menjaga keselarasan antara alam dan kehidupan manusia, Suku Tengger juga mengadakan serangkaian upacara. Upacara Kasodo merupakan salah satu upacara untuk menjaga keselarasan alam, yaitu menjaga agar Dewa tidak marah sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti gunung meletus, tanah menjadi tidak subur, panen gagal dan sebagainya (Galba et al., 1989). Suku Tengger juga dikenal sebagai petani tradisional yang tangguh. Ketika hasil pertanian mengalami harga yang tidak stabil dan biaya operasional yang tinggi dalam pengolahan pertanian, tidak menyusutkan semangat Suku Tengger dalam mengelola dan mempertahankan tradisi sebagai petani tradisional. Hal ini terlihat dari persentase Suku Tengger yang bermata pencaharian sebagai petani sebanyak 95% (Sutarto, 2009). Dengan demikian, kegiatan pertanian menyatu dalam kehidupan sehari-hari Suku Tengger.

14

2.3.4 Flora dan Fauna di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru a. Flora Di wilayah TN-BTS terdapat kurang lebih 600 jenis flora, dan yang banyak dijumpai antara lain mentigi (Vaccinium varingaefolium), akasia (Acacia decurrens), kemlandingan gunung (Albisia lophanta), cemara gunung (Casuarina junghuniana) dan adas (Funiculum vulgare). Begitu juga di hutan Semeru bagian selatan terdapat 157 jenis anggrek seperti Malaxis purpureonervosa, Maleola witteana dan Liparis rhodochila. Di samping jenis-jenis di atas terdapat pula jenis tumbuhan pegunungan Tengger di antaranya pakis uling (Cyathea tenggeriensis), putihan (Buddleja asiatica), senduro (Anaphalis sp.) dan anting-anting (Fuchsia magallanica), jamuju (Dacrycarpus imbricatus), cemara gunung (Casuarina sp.), eidelweis (Anaphalis javanica), berbagai jenis anggrek dan jenis rumput langka (Styphelia pungieus) (Dephut, 2009b). Hidayat dan Risna (2007) menemukan 13 jenis tumbuhan obat di resort Ranu Pani, Senduro dan Pronojiwo. Tiga jenis diantaranya termasuk kategori tumbuhan obat langka yaitu pronojiwo (Euchresta horsfieldii), pulosari (Alyxia reinwardtii) dan sintok (Cinnamomum sintoc) di kawasan TN-BTS, dan satu jenis tumbuhan obat langka yaitu purwoceng (Pimpinella pruatjan) ditemukan di perkebunan penduduk. b. Fauna Di TN-BTS terdapat sekitar 137 jenis burung, 22 jenis mamalia dan 4 jenis reptilia. Sedikit jenis mamalia yang dapat dijumpai, di antaranya babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), trenggiling (Manis javanica), landak (Hystrix brachyura), budeng (Presbytis cristata) dan beberapa jenis mamalia kecil lainnya (Dephut, 2009b). Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di TN-BTS antara lain luwak (Pardofelis marmorata), rusa (Cervus timorensis ), kera ekor panjang (Macaca fascicularis), kijang (Muntiacus muntjak ), ayam hutan merah (Gallus gallus), macan tutul (Panthera pardus ), ajag (Cuon alpinus ) dan berbagai jenis burung seperti alapalap burung (Accipiter virgatus ), rangkong (Buceros rhinoceros silvestris), elang ular

15

bido (Spilornis cheela bido), srigunting hitam (Dicrurus macrocercus), dan elang bondol (Haliastur indus) yang hidup di Ranu Pani, Ranu Regulo, dan Ranu Kumbolo (Dephut, 2009a). Hewan lain yaitu kupu-kupu yang ditemukan di Hutan Ireng-ireng wilayah konservasi Senduro Lumajang kawasan TN-BTS. Ditemukan sebanyak 31 species dan sub species yang berasal dari 21 genus dalam delapan famili. Satu species dilindungi undang-undang di Indonesia yaitu Troides Helena (Suharto et al., 2005). 2.3.5 Pengetahuan Suku Tengger Tentang Flora -Fauna dan Manfaatnya a. Pengetahuan Flora Keadaan alam sebagaimana yang telah diuraikan, terutama dari jenis tanah, keadaan tanah, dan suhu udara daerah Tengger akan mempengaruhi dan sangat menentukan keberadaan jenis tumbuhan yang dapat tumbuh subur secara alami. Tumbuh-tumbuhan yang dapat hidup subur di kawasan Tengger sangat beragam, mulai dari tanaman pohon yang besar sampai tanaman herba dan tergolong kecil. Tanaman pohon, seperti akasia, cemara gunung, bambu dapat dijumpai di sekitar pegunungan Tengger. Sedangkan tanaman herba, termasuk jenis sayuran sangat beragam, misalnya kentang, kubis, wortel, jagung, ubi ketela, bawang putih, bawang prei, sawi, dan tomat yang merupakan hasil pertanian Suku Tengger (Sutarto, 2009). Dahulu, jagung merupakan tanaman pokok Suku Tengger, tetapi saat ini tidak banyak ditanam lagi. Hal ini disebabkan karena nilai ekonominya rendah, oleh sebab itu Suku Tengger menggantinya dengan sayur-sayuran yang nilai ekonominya tinggi. Meskipun demikian, masih dapat dijumpai di beberapa wilayah Suku Tengger masih menanam jagung di lahan pertaniannya, karena tidak semua Suku Tengger mengganti makanan pokoknya dengan beras. Bahkan sampai sekarang nasi aron Tengger (nasi jagung) masih tercatat sebagai makanan tradisional dalam khazanah kuliner Nusantara (Sutarto, 2009). Selain hasil pertanian, Suku Tengger juga menanam cemara, pinus, pakis, dan akasia yang dapat menahan longsoran tanah (Sutarto, 2009). Selain itu, dalam kesehariannya Suku Tengger mempergunakan batang dan ranting pohon cemara

16

untuk bahan bakar dapur (pawon), dan berdiang (gegeni) untuk mengatasi hawa dingin. b. Pengetahuan Fauna Suku Tengger sebagian besar memiliki sapi, kerbau, kambing, kuda, dan ayam sebagai binatang ternak (Depdikbud, 1997). Binatang ternak tersebut dagingnya digunakan untuk dikonsumsi, dijual untuk kebutuhan rumah tangga dan dipakai untuk keperluan selamatan atau upacara adat. Sedangkan kotorannya sengaja dikumpulkan untuk pupuk kandang pada lahan pertanian mereka. Binatang ternak dipelihara dengan dibuatkan kandang tersendiri yang terpisah jauh dari rumah pemukiman penduduk. Hewan ternak tersebut tidak dilepas supaya tidak mengganggu dan merusak tanaman atau lahan pertanian. Rumput gajah biasanya digunakan sebagai makanan ternak setiap hari, karena makanan ternak ini tidak sulit diperoleh dan umumya banyak ditanam di tegalan atau di pekarangan penduduk. Suku Tengger menggunakan hasil pertanian dan ternak untuk dikonsumsi, dijual, dan digunakan untuk upacara adat. Hal ini dapat dilihat pada upacara Kasodo yang mempersembahkan hasil pertanian dan ternak untuk dipersembahkan ke Gunung Bromo setiap setahun sekali. Hasil pertanian dan ternak di tempatkan pada sebuah Ongkek (alat sesaji yang terbuat dari kayu dan bambu petung yang dapat dipikul) yang berisi jagung, bawang merah, kubis, pisang, kentang, dan kadangkadang padi, dan kelapa, dan juga kambing, ayam, angsa, itik, serta burung. Ongkek biasanya diberi hiasan bunga dan janur kuning agar kelihatan indah. Untuk persembahan yang lain seperti pada upacara Karo, Unan-unan, Entas-entas Suku Tengger menggunakan Kerbau sebagai hewan kurban dan juga kemenyan digunakan dalam selamatannya (Sutarto, 2007).

17

BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk mengetahui pengggunaan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral yang diketahui atau digunakan Suku Tengger sebagai obat, sedangkan metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan atau penggunaan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral sebagai obat (Sudjatno, 1994). 3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian 3.2.1 Tempat penelitian Penelitian ini dilakukan di Desa Ngadas, Jetak, Wonotoro, Ngadirejo, dan Ngadisari Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. 3.2.2 Waktu penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli – Desember tahun 2009. 3.3 Populasi Dan Sampel 3.3.1 Populasi Suku Tengger di Desa Ngadas, Jetak, Wonotoro, Ngadirejo, dan Ngadisari Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. 3.3.2 Sampel Suku Tengger yang mengetahui atau menggunakan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral dalam pengobatan tradisional.

17

18

3.3.3 Teknik Pengambilan Sampel Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Snowball Sampling. Dengan menentukan sampel awal kemudian menentukan sampel berikutnya berdasarkan informasi yang diperoleh (Suharyanto et al., 2009). Dalam metode sampling dimulai dengan kelompok kecil yang diminta untuk menunjukkan kawan masing-masing. Kemudian kawan-kawan itu diminta pula menunjukkan kawannya masing-masing lainnya, dan begitu seterusnya sehingga kelompok itu bertambah besar bagaikan bola salju (Snowball) yang kian bertambah besar bila meluncur dari puncak ke bawah (Soeratno, 1993). 3.4 Teknik Pengumpulan Data Pengumpulan data didapatkan melalui wawancara semi-structured dan structured dengan informan yang mengetahui atau menggunakan tumbuhan sebagai obat (Pieroni et al., 2002), dengan menggunakan tipe pertanyaan open-ended (Notoatmodjo, 2002). Teknik tersebut lazim digunakan dalam penelitian etnobotani (Cotton, 1996). Apabila dimungkinkan juga menerapkan teknik observasi langsung (participant observation) dengan mengikuti sebagian aktivitas sehari-hari penduduk. Setiap jenis tumbuhan, hewan, dan bahan mineral yang dimanfaatkan sebagai bahan obat dicatat nama lokal, bagian yang digunakan, cara penggunaan, dan kegunaannya. Jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang belum diketahui nama ilmiahnya diambil contoh herbariumnya untuk keperluan identifikasi. 3.5 Instrumen Penelitian Alat atau instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan alat-alat pedoman wawancara (kuisioner) serta sarana dokumentasi (kamera dan alat perekam).

19

3.6 Rancangan Penelitian Rancangan penelitian yang diterapkan Sa1 Pa S Sn Sa2 Sast Sb1 Pb S Sn Sb2 Sbst Sc1 P Pc S Sn Sc2 Scst Sd1 Pd S Sn Sd2 Sdst Se1 Pe S Sn Se2 Sest Gambar 3.1 Rancangan penelitian untuk pengambilan data P Pa Pb Pc Pd Pe = Populasi = Populasi desa Ngadas = Populasi desa Jetak = Populasi desa Wonotoro = Populasi desa Ngadirejo = Populasi desa Ngadisari D

20

Sn S Sa1 Sa2 Sast Sb1 Sb2 Sbst Sc1 Sc2 Scst Sd1 Sd2 Sdst Se1 Se2 Sest D

= Pengambilan Snowball = Sampel = Sampel desa Ngadas 1 = Sampel desa Ngadas 2 = Sampel desa Ngadas seterusnya = Sampel desa Jetak 1 = Sampel desa Jetak 2 = Sampel desa Jetak seterusnya = Sampel desa Wonotoro 1 = Sampel desa Wonotoro 2 = Sampel desa Wonotoro seterusnya = Sampel desa Ngadirejo 1 = Sampel desa Ngadirejo 2 = Sampel desa Ngadirejo seterusnya = Sampel desa Ngadisari 1 = Sampel desa Ngadisari 2 = Sampel desa Ngadisari seterusnya = Data

3.7 Prosedur Penelitian Prosedur kerja dimulai dari persiapan penelitian hingga Analisis hasil meliputi tahap-tahap sebagai berikut: 3.7.1 Menentukan sampel Sampel yang dipilih berdasarkan teknik pengambilan sampel (Snowball Sampling). 3.7.2 Interview Informan Berdasarkan Pieroni et al, (2002) interview yang digunakan dalam penelitian bersifat semi-structured dan structured. Pieroni et al, (2002) menyebutkan bahwa tahap pertama dari studi lapangan yang dilakukan, para informan ditanya apakah menggunakan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral obat dan pengobatan natural, kemudian informasi spesifik selanjutnya didapatkan dengan menggunakan wawancara yang terstruktur dengan pertanyaan-pertanyaan yang lebih komplek, informan ditanya secara spesifik untuk menjelaskan metode dan cara preparasi dari

21

pengobatan yang digunakan. Hal ini dilakukan dengan menggunakan media kuisioner. Kuisioner tersebut akan menjadi acuan dari pertanyaan yang akan diberikan kepada informan dan disertai dengan dokumentasi yang mendukung keabsahan kuisioner tersebut. Kuisioner yang diberikan berisikan tentang: nama tumbuhan, nama hewan, bahan mineral, penyakit yang diobati, cara penggunaan (dimakan/diminum, penggunaan luar/oles), bagian tumbuhan yang digunakan (akar, daun, kulit batang, kayu, bunga, biji, buah, kulit buah dan bagian lainnya), cara meramu obat (komposisi, digosok, direbus, ditumbuk, dihancurkan, dosis). 3.8 Metode Analisis 3.8.1 Pengumpulan Data Data hasil wawancara disusun seperti tabel 3.1 sampai 3.3
Tabel 3.1 Tabulasi Daftar Tumbuhan yang Diketahui atau Digunakan oleh Suku Tengger sebagai obat
Nama Tumbuhan Lokal Ilmiah Kegunaan Nama Famili Bagian Tumbuhan Penyakit Persentase Pengetahuan Penggunaan

No

1 2 3

st

22

Tabel 3.2 Tabulasi Daftar Hewan yang Diketahui atau Digunakan oleh Suku Tengger sebagai Obat No Nama hewan Lokal Ilmiah Nama famili Penyakit Persentase
Pengetahuan Penggunaan

1 2 3 st
Tabel 3.3 Tabulasi Daftar Bahan Mineral yang Diketahui atau Digunakan oleh Suku Tengger sebagai Obat No 1 2 3 Bahan mineral Penyakit Persentase
Pengetahuan Penggunaan

st

3.8.2 Analisis Data Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu: a. Analisis Nama Ilmiah Dan Famili Tumbuhan dan hewan yang digunakan olah Suku Tengger sebagai obat diidentifikasi di Herbarium Jemberiense Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Jember. b. Analisis Kegunaan Dari hasil interview informan diketahui kegunaan tumbuhan, hewan dan bahan mineral sebagai obat menurut Suku Tengger. Tumbuhan yang diketahui atau digunakan sebagai obat dilakukan studi literatur dengan pendekatan kemotaksonomi.

23

c. Analisis Persentase Pengetahuan Atau Penggunaan Tumbuhan, Hewan dan Bahan Mineral Menurut berikut: X = a n Keterangan:
X a n = Angka rata-rata = Jumlah jawaban mengenai tumbuhan, hewan, dan bahan mineral yang diketahui atau digunakan = Jumlah responden

Sunarto et al, (1991) persentase pengetahuan atau penggunaan setiap

tumbuhan, hewan dan bahan mineral dapat dihitung menggunakan rumus sebagai

x 100%

Penulisan data persentase pengetahuan atau penggunaan dari tumbuhan atau hewan yang digunakan oleh Suku Tengger sebagai obat dalam tabel (Pieroni et al., 2002): = Informasi yang didapatkan sampai 20% = Informasi yang didapatkan lebih dari 20%-50% = Informasi yang didapatkan lebih besar dari 50%

24

3.9 Skema Kerja Penelitian

Mempersiapkan instrumen penelitian

Menentukan Sampel

Interview narasumber

Analisis data

Pembahasan dan kesimpulan
Gambar 3.2 Skema kerja penelitian

25

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Jenis Penyakit dan Cara Pengobatan Hasil penelitian pada masyarakat lokal Suku Tengger Kecamatan Sukapura yang terdiri dari 5 desa yaitu Desa Ngadirejo, Desa Ngadas, Desa Jetak, Desa Wonotoro, dan Desa Ngadisari dari 29 narasumber terinventarisir 29 jenis penyakit dengan 60 resep tradisional (Tabel 4.1). Resep tersebut telah digunakan sebagai obat tradisional secara turun temurun yang didalamnya terdapat berbagai jenis tumbuhan dan beberapa jenis hewan serta bahan mineral. Tumbuhan, hewan, serta bahan mineral yang digunakan untuk resep tradisional dalam bentuk tunggal atau campuran dengan jenis lainnya (ramuan). Secara tunggal umumnya untuk mengatasi penyakit yang bersifat ringan, misalnya pada luka dapat diobati menggunakan getah pisang serta menggunakan daun ganjan (Tagetes signata Bartl.) untuk mengobati mimisan yang penggunaannya dengan lansung disumpatkan pada hidung. Suku Tengger menggunakan campuran antara lobak tengger dan jambu wer untuk penyakit yang relatif berat seperti sipilis. Lebih lanjut tentang penyakit yang timbul, cara peramuan, penggunaan, dan kandungan yang dimungkinkan berkhasiat obat, dibahas satu persatu berdasarkan penyakit. 4.1.1 Ambeien Daun Ceplukan pada Suku Tengger digunakan untuk mengobati masalah ambeien. Daun ceplukan (Physalis angulata L.) ditumbuk halus kemudian dioleskan di dubur orang yang menderita. Ceplukan (Physalis angulata L.) yang berasal dari famili Solanaceae menurut Depkes (1995) digunakan sebagai penyembuh penyakit bisul, borok, kencing manis dengan kandungan didalamnya antara lain asam sitrat, fisalin sterol/ terpen, saponin, flavonoid, dan alkaloid. Kandungan utama yang aktif pada bagian daun dan kelopak menurut Sastroamidjojo (1997) adalah fisalin dengan kegunaannya sebagai diuretikum, dan jika terlalu banyak pemakaiannya maka akan 25

26

menyebabkan pusing. Belum diketahui literature yang menyebutkan bahwa daun Ceplukan dapat digunakan untuk pengobatan ambeien. 4.1.2 Badan panas Suku Tengger pada kasus pengobatan badan panas menggunakan banyak resep tradisional, antara lain: a. Kunyit dan Sirih Rimpang Kunyit (Curcuma domestica Valeton) dari famili Zingiberaceae ditambah daun Sirih (Piper betle L.) dari famili Piperaceae dalam suatu tempat kemudian ditumbuk. Jumlah Kunyit dan daun Sirih yang digunakan, Suku Tengger menggunakan dengan secukupnya. Hasil dari tumbukan yang sudah halus dioleskan di kening dan pusar dari penderita. Kandungan bahan aktif dari Kunyit (Curcuma domestica Valeton) antara lain minyak atsiri 3-5%, kurkumin, pati, tanin, dan damar (Depkes, 1977). Khasiat Kunyit bisa digunakan sebagai pengobatan untuk penyakit badan panas (Wijayakusuma et al., 1998), namun belum diketahui literatur yang menyebutkan bahwa kandungan bahan aktif dari Kunyit yang berfungsi sebagai obat badan panas. Sirih (Piper betle L.) mengandung minyak atsiri, kavibetol, estrogel, eugenol, metaleugenol, karvakrol, terpinen, seskuiterpen, fenil propanan, dan tanin (Depkes 1980). Kegunaan yang umum dari Sirih adalah sebagai antiseptik (Asean,1993; Depkes,1980; Sastroamidjojo,1997). Belum diketahui literatur yang menyebutkan penggunaan Sirih sebagai antipiretik, namun pada penggunaan Sirih bersama dengan Kunyit kemungkinan ada kandungan tertentu sehingga terjadi efek farmakologi sebagai antipiretik. b. Adas, Dringu, dan Temulawak Cara peramuan dari Adas (Foeniculum vulgare Mill.), Dringu (Acorus calamus L.), dan Temulawak (Curcuma xantorrhiza L.) yaitu dengan daun atau bunga dari adas secukupnya ditambahkan daun Dringu tiga lembar dan rimpang temulawak secukupnya. Adas, Dringu serta Temulawak dimasukkan pada sebuah

27

wadah dan dihaluskan. Bahan obat yang sudah halus dioleskan pada kening. Cara peramuan dan pengobatan panas dengan resep tradisional ini sudah lama dikenal oleh Suku Tengger terutama oleh para Dukun bayi. Pengobatan ramuan ini disertai mantra khusus. Tumbuhan Adas (Foeniculum vulgare Mill.) dari famili Apiaceae kandungan utamanya adalah minyak atsiri yang didalamnya terdapat anethol yang tinggi (Sastroamidjojo, 1997). Kandungan minyak atsiri dalam tumbuhan famili Apiaceae sangat banyak dan ada dua komponen utama didalamnya, yaitu anethol dan estragole, komponen utama tersebut bisa digunakan sebagai antipiretik. Contoh tumbuhan yang digunakan sebagai antipiretik dari famili Apiaceae lainnya yaitu Pimpinella anisum L, dan Angelica archangelica L. (Newal et al., 1995). Dringu (Acorus calamus L.) famili Araceae untuk pengobatan tradisional di Indonesia sudah tidak asing lagi. Dringu digunakan sebagai pengobatan pada masa nifas, obat limpa yang membesar, diare dan gigi yang goyang serta insektisida, dengan kandungan utamanya adalah minyak atsiri 1,5-3,5 % yang didalamnya terdapat kandungan utama asasilaldehid, eugenol, dan asaron, zat pahit akorin, amilum dan tanin (Depkes, 1978; Sastroamidjojo, 1997). Temulawak (Curcuma xantorrhiza L.) dari famili Zingiberaceae mempunyai kandungan bahan aktif minyak atsiri yang didalamnya terkandung sikloisoren, mirsen, d kamfer, metilkarbon, zat warna kurkumin (Depkes, 1979). Bahan aktif yang terkandung pada temulawak dapat digunakan sebagai pengobatan demam atau panas (Dalimartha, 2000). Campuran Adas, Dringu serta Temulawak yang aktif sebagai obat panas adalah Adas dan Temulawak, dimungkinkan Dringu mempunyai aktifitas lain untuk pengobatan badan panas. c. Daun Dadap Dadap (Erythrina lythosperma Miq.) berasal dari famili Fabaceae digunakan oleh Suku Tengger sebagai obat penyakit panas. Cara peramuan dan penggunaan daun Dadap yaitu dicuci bersih kemudian ditempelkan di kening penderita panas. Daun yang ditempelkan dan sudah kering diganti lagi dengan daun yang baru. panas bayi dengan

28

Kandungan bahan aktif tumbuhan Dadap (Erythrina lythosperma Miq.) antara lain alkaloid hypaphorine (Sastroamidjojo, 1997), dari kandungan bahan aktif tersebut daun dadap digunakan sebagai obat demam (antipiretik) (Depkes,1989; Sastroamidjojo, 1997). d. Buah Jeruk Nipis dengan Minyak Kayu Putih Suku Tengger meramu resep pengobatan tradisional dari perasan buah Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) ditambah Minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra L.) untuk pengobatan badan panas. Campuran dari Jeruk nipis dan Minyak kayu putih dioleskan keseluruh badan penderita panas. Buah Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) memiliki kandungan bahan aktif synephrine dan Nmethyltyramine, dari kandungan yang ada dapat digunakan sebagai obat batuk (Dalimartha, 2000). Belum diketahui literatur yang menyebutkan Jeruk nipis dapat digunakan sebagai antipiretik, namun dari famili yang sama yaitu pada tumbuhan Citrus medica Linn. digunakan sebagai antipiretik (Sastroamidjojo, 1997). Kandungan dari Minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra L.) dalam antara lain minyak atsiri yang terdiri dari sineol 50-65%, α-terpineol, valeraldehida, dan belzaldehida, dengan kandungan tersebut dapat digunakan sebagai pengobatan demam, flu dan perut kembung (karminatif) (Wijayakusuma et al., 1998). e. Daun Bawang Merah, Daun Adas, dan Tepung Beras Daun Bawang Merah, daun Adas, dan Tepung Beras dihaluskan bersamaan dalam suatu wadah kemudian dioleskan langsung keseluruh bagian tubuh atau bahasa jawanya dibobok untuk pengobatan panas. Pengetahuan dan penggunaan dari tumbuhan bawang merah (Allium ascolanicum L.) dari famili Liliaceae menunjukkan frekuensi yang cukup baik untuk pengobatan panas badan (antipiretik). Kandungan bawang merah (Allium ascolanicum L.) didalamnya adalah flavonoid, tannin 1%, minyak atsiri yang mengandung komponen sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, kaemferol, kuersetin, florogusin (Depkes, 1997). Kebanyakan dari famili Liliaceae digunakan sebagai antiseptik, antibakteri dan ekspektoran (Asean, 1993; Newall et al., 1995). Literatur yang menyebutkan bawang merah sebagai antipiretik belum

29

ditemukan, namun Rosita et al., (2007) menyebutkan bahwa penggunaan bawang merah sebagai antipiretik atau pengobatan badan panas digunakan pada Suku lokal di Gunung Gede Pangarango. f. Daun Lampes Tumbuhan lampes (Ocimum sp.) famili Lamiaceae digunakan sebagai pengobatan badan panas. Tumbuhan lampes tumbuh liar di pekarangan warga Suku Tengger. Populasi dari tumbuhan lampes di kawasan Tengger sudah sangat sedikit sekali, ditandai dengan sangat sulitnya untuk menemukan tumbuhan ini. Tumbuhan lampes menyerupai tumbuhan mentol dilihat dari bau dan bentuk daun, tetapi lebar dan tebal daun tidak sama dengan daun mentol. Daun lampes lebih besar dan lebih tebal dari pada daun mentol. Pada suku Labiatae yang mempunyai rasa dan bau mentol, mempunyai fungsi sebagai antiseptik dan flatulen (Newal et al., 1995). g. Calitus Calitus (Eucalyptus globulus Labill.) famili Myrtaceae digunakan untuk pengobatan panas. Daun diremas-remas kemudian dioleskan keseluruh badan. Kandungan aktifnya antara lain: flavonoid eucaliptrin, quercetin, quercitrin, rutin, minyak atsiri, dan eucalyptol (lineole) 70%-85%, dari kandungan tersebut dapat digunakan sebagai antiseptik dan ekspektoran (Newal et al., 1995). Belum diketahui literatur yang menyebutkan calitus dapat digunakan sebagai obat panas, namun jika didekatkan dengan famili yang sama yaitu tumbuhan kayu putih (Melaleuca leucadendra L.) maka calitus diduga juga dapat digunakan sebagai bahan obat panas. 4.1.3 Batuk Kasus penyakit batuk pada Suku Tengger sering terjadi. Bisa dilihat dari banyaknya jenis resep tradisional yang digunakan untuk pengobatan. a. Jahe Jahe (Zingiber officinale Roscoe) dari famili Zingiberaceae sudah sangat lazim digunakan untuk pengobatan tradisional di Indonesia. Penggunaan Jahe pada Suku Tengger untuk menyembuhkan batuk. Peramuannya yaitu dengan cara rimpang

30

dari jahe dibersihkan kemudian ditumbuk, jahe yang ditumbuk tidak sampai halus kemudian disedu dengan air panas. Selain untuk pengobatan batuk, jahe digunakan sebagai minuman penghangat badan oleh Suku Tengger. Kandungan bahan aktif Jahe (Zingiber officinale Roscoe) antara lain minyak atsiri 2-3% mengandung zingiberen, felandren, kamfen, limonen, borneol, sineol, sitral dan zingiberol, minyak dammar yang mengandung zingeron, dengan kegunaan dari Jahe sebagai karminatif (Depkes,1978; Newall et al., 1995), selain itu jahe digunakan sebagai antitusife dan ekspektoran (Asean, 1993; Sastroamidjojo,1997). b. Buah Jeruk Nipis dan Kecap Suku Tengger menggunakan Jeruk nipis sebagai obat batuk, dan untuk penggunaannya ditambahkan bahan lain yaitu kecap. Peramuan obat batuk dengan buah Jeruk nipis yaitu buah yang sudah tua diperas kemudian ditambahkan kecap dan air secukupnya. Buah Jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) memiliki kandungan bahan aktif synephrine dan N-methyltyramine, dari kandungan yang ada dapat digunakan sebagai obat batuk (Dalimartha, 2000). c. Akar Adas Akar Adas (Foeniculum vulgare Mill.) dari famili Apiaceae direbus kemudian diambil airnya. Air rebusan akar adas digunakan untuk pengobatan batuk dengan aturan pemakaian sebanyak tiga kali sehari satu gelas. Kandungan Adas sudah diterangkan sebelumnya dan dapat digunakan sebagai ekspektoran (Asean,1993). Kandungan aktif sebagai ekspektoran belum ada literatur yang menjelaskan. d. Bawang Pre ditambah Garam Bawang Pre (Allium fistulosum L.) dari famili Liliaceae di bakar kemudian ditambahkan garam secukupnya. Hasil bakaran yang sudah hampir hangus langsung dimakan untuk pengobatan batuk. Famili Liliaceae yang bisa digunakan sebagai obat batuk atau ekspektoran salah satunya adalah Bawang putih (Newall et al., 1995). Pendekatan kemotaksonomi yang berada pada Genus yang sama dimungkinkan Bawang Pre juga bisa digunakan sebagai ekspektoran. Penelitian lebih lanjut dari penggunaan Bawang Pre yang dicanpur dengan garam untuk obat batuk.

31

e. Daun Asam Tengger Daun Asam Tengger (Radicula armoracia Robinson) famili Brassicaceae digunakan sebagai obat batuk. Daun dipotong-potong dan cuci dengan air, kemudian dibungkus dengan daun pisang dan dibakar di perapian sampai layu. Sesudah layu daun Asam Tengger dimakan langsung. Asam Tengger tidak sama dengan Asam Jawa (Tamarindus indica L.), Asem Tengger hampir sama dengan Lobak Tengger (Raphanus raphanistrum L.) yang berasal dari famili Brassicaceae perbedaanya pada bentuk dan struktur bunganya. Asem Tengger dapat digunakan sebagai antiseptik, stimulan, diuretik, dan infeksi saluran pernafasan dengan kandungan aktif dalam herba Asem Tengger antara lain: fenol, minyak atsiri, asam askorbat, asparagin, enzim peroksidase, resin, dan gula (Newall et al., 1995), sedangkan kandungan aktif yang ada pada daun antara lain: kaemferol dan quersetin. 4.1.4 Beri-beri Penyakit beri-beri jarang sekali muncul pada Suku Tengger, namun di Suku Tengger terdapat resep tradisional yang selalu dijaga sampai sekarang untuk pengobatan penyakit beri-beri. Suku Tengger menggunakan Jamur Impes (Bovista gigantea (Batsch) Gray) famili Lycoperdaceae sebagai pengobatan. Jamur Impes diambil secukupnya kemudian ditambahkan air dan langsung dioleskan pada bagian tubuh yang terkena beri-beri. Suku Tengger menyertakan mantra pada waktu mengoleskannya. Penggunaan yang umum dari Jamur Impes antara lain digunakan untuk menghentikan pendarahan dan luka yang mengering (Sastroamidjojo,1997). Belum diketahui literatur yang menyebutkan kandungan dan manfaat dari Jamur Impes untuk pengobatan beri-beri. Jamur Impes muncul di daerah Tengger pada waktu musim hujan. Keberadaan dari Jamur Impes pada musim hujan sekarang ini sangat sulit ditemukan. Menurut

32

masyarakat Suku Tengger, hilangnya Jamur Impes dikarenakan penggunaan dari bahan kimia untuk tanaman sayur-sayuran. Jamur Impes yang peneliti temui sudah disimpan salah satu warga Suku Tengger selama kurang lebih 4 tahun. Berukuran sebesar bola basket berwarna coklat, dengan permukaan seperti debu yang menyembul ketika jamur dirobek. 4.1.5 Cacar Nanah Biji Jagung (Zea mays) famili Poaceae ditambah daun Adas (Foeniculum vulgare Mill.) digunakan untuk pengobatan Cacar Nanah. Jagung (Zea mays) mempunyai kandungan bahan aktif saponin, steroid/ triterpenoid, tannin 2%, tanin alantoin, dammar karvakrol, dan minyak lemak (Depkes, 1995). Kandungan tersebut digunakan untuk pengobatan hipertensi dan deuretik (Depkes, 1995; Newall et al., 1995). Campuran biji jagung dan daun adas belum ada literatur yang jelas untuk pengobatan cacar nanah. 4.1.6 Darah Tinggi Penggunaan Seledri (Apium graveolens L) famili Apiaceae untuk pengobatan darah tinggi dilakukan oleh Suku Tengger. Daun Seledri dicuci bersih kemudian dimakan secara mentah. Kandungan Seledri antara lain flavon glukosida, zat pahit, minyak atsiri, vitamin kolin, dan lipase, dari kandungan tersebut daun Seledri dapat digunakan sebagai pemacu enzim pencernaan dan deuretik (Asean, 1993; Depkes, 1989; Newall et al.,1995). Apialkali merupakan bahan aktif antihipertensi dari Seledri (Wijayakusuma, 2000). Penggunaan daun Seledri sebagai antihipertensi atau pengobatan darah tinggi juga dilakukan oleh Suku lokal Gunung Gede Pangarango (Rosita et al., 2007).

33

4.1.7 Diare Obat tradisional yang digunakan oleh Suku Tengger untuk pengobatan diare sangat umum atau banyak individu Suku Tengger mengetahui atau menggunakannya, diantaranya: a. Tumbuhan Grunggung Grunggung (Potentilla argunta Pursh) berasal dari famili Rosaceae digunakan sebagai pengobatan penyakit diare oleh Suku Tengger. Bagian yang digunakan sebagai obat diare adalah buahnya yang masih muda. Buah muda Grunggung ditandai dengan warna buah yang hijau dan sedikit keunguan. Pengobatan untuk diare yaitu dengan cara buah grunggung dipetik dari dahannya kemudian dicuci bersih dan langsung dimakan. Persentase pengetahuan dan penggunaan dari tumbuhan Grunggung sebagai obat diare cukup besar. Grunggung (Potentilla arguta Pursh) dapat digunakan sebagi antidiare (Lans et al., 2007). Famili Rosaceae jenis lain yang dapat digunakan sebagai anti diare diantaranya adalah tumbuhan Agrimonia eupatoria L., Geum urbanum L., Sanguisorba officinalis L. dengan kandungan bahan yang ada didalamnya antara lain Tanin, flavonoid dan Vitamin (Newall et al., 1995) b. Buah Pisang Buah pisang (Musa paradisiaca L.) famili Musaceae yang masih mentah dibakar sampai hangus kemudian dimakan. Pisang mempunyai kandungan kimia serotanina, norepinefrina, noreadrenalina, hidroksi-triptamina, dopamine, tannin, vitaminA, vitamin B, dan vitamin C dengan kegunaan pisang sebagai penawar racun (Depkes, 1989). Sedangkan menurut Sastroamidjojo (1997) getah dari pohon pisang yang digunakan sebagai antidiare. Penggunaan getah pisang sebagai antidiare juga telah dilakukan oleh Suku lokal Gunung Gede Pangarango (Rosita et al., 2007). c. Daun Jambu biji Daun jambu biji sudah sangat lazim digunakan oleh berbagai Suku di Indonesia sebagai obat antidiare. Penggunaan Daun muda jambu biji (Psidium guajava L.) di Suku Tengger dengan cara direbus kemudian air rebusan diminum sehari tiga kali satu gelas. Kandungan aktif yang ada pada jambu biji antara lain

34

tannin 9-12%, minyak atsiri, minyak lemak, dan asam malat, dari kandungan tersebut digunakan sebagai pengobatan diare (Depkes, 1977; Sastroamidjojo, 1997). d. Jambu Wer Tumbuhan Jambu Wer (Pimento dionica L.) satu famili dengan jambu biji yaitu famili Myrtaceae. Pada Suku Tengger digunakan sebagai antidiare. Cara penggunaannya yaitu buah yang masih muda dicuci bersih dan kemudian dimakan langsung. Kandungan dan kegunaan dari Jambu Wer berdasarkan literatur belum ditemukan, namun dengan kesamaan famili dengan jambu biji dimungkinkan mempunyai kandungan yang mirip dan bisa digunakan sebagai antidiare. e. Kulit Manggis Kulit buah manggis oleh Suku Tengger tidak dibuang, tetapi dimanfaatkan sebagai pengobatan diare. Cara pengobatannya relatife mudah yaitu dengan cara kulit buah dibakar pada perapian sampai hangus kemudian setelah dingin dimakan langsung. Manggis (Garcinia mangostana L.) berasal dari famili Clusiaceae dengan kandungan aktif didalamnya triterpenoid, tannin, resin, mangostin (Depkes, 1989). Kandungan bahan aktif kulit buah manggis dapat digunakan sebagai antidiare (Depkes, 1989; Sastroamidjojo, 1997). 4.1.8 Gabak (Keringat Tidak Keluar) Gabak pada Suku Tengger biasanya terjadi pada anak-anak. Pengobatannya menggunakan daun adas (Foeniculum vulgare Mill.) yang ditumbuk sampai halus, kemudian dioleskan keseluruh bagian tubuh. Adas digunakan sebagai karminatif dan ekspektoran (Sastroamidjojo, 1997). Belum ada literatur yang menerangkan tentang penggunaan Adas maupun dari famili yang sama dengan Adas sebagai obat gabak. 4.1.9 Gatal a. Daun Tirem Tirem (Cayratia clematidea Domin) famili Vitaceae digunakan untuk mengobati gatal gatal. Daun tirem dicuci bersih kemudian direbus sampai mendidih.

35

Hasil rebusan diminum airnya sehari dua sampai tiga kali satu gelas kecil. Belum diketahui literatur yang menjelaskan kandungan dan kegunaan dari tirem untuk pengobatan gatal. b. Akar Pangotan Pangotan (Microsorium buergerianum (Miq.) Ching) di Suku Tengger digunakan untuk penyembuhan gatal-gatal. Bagian tumbuhan pangotan yang digunakan adalah akarnya. Akar dari pangotan menyerupai rimpang seperti pada layaknya famili zingiberaceae. Pangotan (Microsorium buergerianum (Miq.) Ching) merupakan jenis tumbuhan paku famili Polypodiaceae. Tumbuhan pangotan digunakan untuk pengobatan gatal-gatal dengan cara merebus akarnya. Hasil rebusan tersebut diminum dua sampai tiga kali sehari satu gelas. c. Daun Adas Penggunaan daun Adas (Foeniculum vulgare Mill.) untuk pengobatan gatalgatal belum diketahui literatur yang menyebutkan. Akan tetapi, Famili Apiaceae yang lain seperti Pimpinella anisum L, Angelia archangelica L, Apium graveolens, dan Petroselinum crispum (Mill.) Nyman. dapat digunakan sebagai antiseptik (Newall et al., 1995). 4.1.10 Kencing Manis Suku Tengger mengobati kencing manis menggunakan kulit dari buah manggis (Garcinia mangostana L.) famili Clusiaceae. Penggunaan kulit manggis untuk pengobatan kencing manis belum ada literatur yang menyebutkan. Akan tetapi, buah dalam dari manggis bisa digunakan sebagai obat radang alat kelamin (Sastroamidjojo, 1997). 4.1.11 Kencing Terasa Sakit dan Panas Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.) oleh Suku Tengger digunakan sebagai pengobatan sakit yang dirasa panas dan sakit sekali pada waktu kencing. Akar Alang-alang (Imperata cylindrica L.) digunakan dengan cara ditumbuk sampai

36

halus kemudian ditambah air panas secukupnya. Setelah dingin, air rendaman dapat diminum dengan aturan sehari tiga kali satu gelas. Tumbuhan Alang-alang dapat digunakan sebagai diuretik, dengan kandungan minyak atsiri yang banyak pada rimpang. Komponen minyak atsiri tersebut antara lain arundion, fernenol, isoarborinol, clyindrin, simiarenol, campesterol (Asean 1993). 4.1.12 Leresan (Sipilis) Penyakit sipilis jarang sekali muncul pada Suku Tengger, namun pengobatan tradisional untuk mengatasinya sudah dikenal Suku Tengger sejak lama, diantaranya: a. Lobak Tengger dan Jambu Wer Sipilis atau yang biasa disebut di Suku Tengger leresan menurut responden dari sebagian Suku Tengger adalah penyakit yang diderita oleh laki-laki yang sakit saat mengeluarkan kencing. Pada waktu kencing mengeluarkan nanah dan terasa sangat panas dan sakit. Penyakit ini, diderita oleh sebagian Suku Tengger yang biasanya melakukan hubungan dengan wanita bukan pasangannya, atau bagi laki-laki yang bekerja terlalu keras dengan suhu yang dingin. Suku Tengger menggunakan daun Jambu Wer (Pimento dionica L.) dengan akar dari Lobak Tengger (Raphanus raphanistrum L.) yang direbus, air rebusan tersebut diminum sebagai pengobatan sipilis. Jambu Wer (Pimento dionica L.) anggota famili Myrtaceae sangat sedikit literatur yang menyebutkan kandungan dan khasiatnya, tetapi dari famili Myrtaceae yang lain seperti pada Eucalyptus globulus Labill. daun dan minyaknya dapat digunakan sebagai antiseptik atau antibakteri (Newall et al., 1995). Begitu juga tumbuhan lain dari famili yang sama yaitu Eugenia caryophyllus (Spreng.) Bull. digunakan sebagai antiseptik. Kandungan yang ada pada famili Myrtaceae antara lain flavonoid, tanin, saponin dan minyak atsiri, namun belum diketahui mana yang berfungsi sebagai antiseptik (Newall et al.,1995).

37

Lobak Tengger (Rapanus raphanistrum L.) dari famili Brasicaceae belum diketahui literatur yang menyebutkan kandungan dan juga khasiat untuk pengobatan sipilis. Namun, tumbuhan lain yang satu famili dengan Lobak Tengger seperti pada tumbuhan Radicula armorica L. mempunyai khasiat sebagai anti infeksi saluran urin dan juga sebagai antiseptik dengan kandungan utama dalam akar dari Radicula armorica L. adalah fenol, yang didalamnya terdapat derifat asam caffeic dan derifat asam hydroxycinnamic (Newall et al., 1995). Kandungan tersebut belum diketahui senyawa mana yang berkhasiat sebagai antiseptik dan antiinfeksi saluran kencing. b. Kecap, Telur dan Cuka Cara pengobatan lain untuk sipilis menggunakan campuran dari kecap, kuning telur dan cuka. Pengobatan sipilis dengan cara ini dilakukan dengan disertai pijatan pijatan pada sekitar kemaluan laki-laki dan mantra-mantra khusus. Pemijatan dan mantra ini hanya dilakukan oleh mereka dari Suku Tengger yang bisa dan dipercaya dapat mengobati atau menyembuhkan penyakit sipilis ini. 4.1.13 Luka Gores Sebagian besar warga Suku Tengger bekerja sebagai petani yang kemungkinan mengalami luka gores benda tajam atau terjatuh sering dijumpai. Pengobatan luka menggunakan obat tradisional bahan alam pada Suku Tengger banyak sekali macamnya, antara lain; a. Minyak Tanah dan Sawang (jaring laba-laba) Selain menggunakan berbagai macam tumbuhan yang ada, Suku Tengger menggunakan bahan mineral dan juga hasil metabolisme dari hewan. Bahan mineral yang dipakai untuk mengobati luka adalah minyak tanah. Minyak tanah digunakan sebagai pembersih luka setelah terkena benda tajam atau tergores, minyak tanah ini dimaksudkan sebagai antiseptik. Selanjutnya, untuk menutup luka Suku Tengger menggunakan Sawang (jaring laba-laba). Belum diketahui penelitian pasti mengenai kegunaan Minyak tanah sebagai Antiseptik dan Sawang sebagai penutup luka.

38

b. Getah Pisang Dahan pisang (Musa paradisiaca L.) famili Musaceae dipotong kemudian langsung dioleskan pada bagian yang luka. Pisang mempunyai kandungan kimia serotanin, norepinefrin, noreadrenalina, hidroksitriptamina, dopamin, tanin, vitamin A, vitamin B, dan vitamin C dengan keguanaan pisang sebagai penawar racun (Depkes, 1989). Menurut Sastroamidjojo (1997) getah pisang bisa digunakan sebagai pengobat luka, baik luka gores maupun luka terbakar. Penggunaan pisang sebagai pengobatan luka juga digunakan oleh Suku lokal Gunung Gede Pangarango (Rosita et al., 2007). c. Bawang Merah atau Bawang Putih Bawang merah atau bawang putih biasanya digunakan sebagai bumbu dapur, oleh Suku Tengger digunakan sebagai obat luka. Penggunaannya dengan cara ditumbuk halus kemudian ditambahkan gula pasir secukupnya. Setelah penambahan gula pasir, hasil tumbukan dilekatkan pada luka. Bawang merah mempunyai kandungan didalamnya adalah flavonoid, tanin 1% minyak atsiri mengandung komponen sikloaliin, metilaliin, dihidroaliin, kaemferol, kuersetin, florogusin (Depkes,1997; Sastroamidjojo,1997). Sedangkan Bawang putih (Allium sativum L.) didalamnya terdapat tanin <1% minyak atsiri, dialilsulfida, alisin, enzim alinase, vitamin A, vitamin B, dan juga Vitamin C (Depkes 1997). Kandungan bawang merah dan bawang putih dapat digunakan sebagai antiseptik (Newall et al., 1995). d. Daun Sirih Daun sirih (Piper betle L.) famili Piperaceae banyak digunakan oleh Suku Tengger untuk mengobat luka. Daun sirih dipetik kemudian dicuci bersih, setelah itu ditumbuk sampai halus dan langsung dioleskan pada bagian tubuh yang terluka. Sirih dapat digunakan sebagai antiseptik luka (Depkes, 1980; Sastroamidjojo,1997). Kandungan utama daun sirih adalah minyak atsiri yang didalamnya mengandung hidroksi kavikol, kavibetol, estragol, eugenol, metileugenol, karvakrol, terpinen, seskuiterpen, fenil propanan, dan tannin (Depkes, 1980).

39

4.1.14 Masuk Angin Suhu udara yang dingin menyebabkan masuk angin sering dijumpai pada Suku Tengger. Obat tradisional yang digunakan antara lain: a. Kayu Putih Kandungan minyak kayu putih (Melaleuca leucadendra L.) adalah minyak atsiri yang terdiri dari sineol 50-65%, α-terpineol, valeraldehida, dan belzaldehida, dengan kegunaan sebagai perut kembung (karminatif) (Depkes,1979; Wijayakusuma et al., 1998). Pada Suku Tengger, dahulu minyak kayu putih didapatkan dari penyulingan sendiri dari daun kayu putih. Kayu putih yang disuling didapatkan dari hutan sekitar kawasan Tengger. Namun, sekarang ini Suku Tengger sudah tidak lagi menyuling kayu putih melainkan langsung membeli di Toko-toko sekitar. b. Menggunakan Bunga Adas Bunga adas digunakan sebagai obat masuk angin memiliki frekuensi pengetahuan dan penggunaan yang cukup banyak pada Suku Tengger. Hal Ini disebabkan karena tumbuhan adas tumbuh subur di kawasan Tengger dan juga suhu udara yang dingin menyebabkan frekuensi terserang masuk angin atau kurang enak badan cukup banyak, terutama pada anak-anak. Tumbuhan Adas (Foeniculum vulgare L.) dari famili Apiaceae tumbuh liar dikawasan Tengger dengan kandungan utamanya adalah minyak atsiri yang didalamnya terdapat anethol yang tinggi dan digunakan sebagai pengobatan perut kembung (Sastroamidjojo, 1997). Cara pengobatannya cukup sederhana yaitu bunga Adas sebanyak satu genggam diremasremas kemudian dioleskan langsung pada perut. 4.1.15 Memperlancar Kencing dan Gejala Penyakit Ginjal Alang-alang yang tumbuh liar oleh Suku Tengger digunakan untuk memperlancar kencing dan gejala penyakit ginjal. Dalam penggunaannya akar Alangalang (Imperata cylindrica L.) famili Graminae ditambah lempuyang (Pragmites australis). Lempuyang yang digunakan oleh Suku Tengger bukan lempuyang yang berasal dari famili Zingiberaceae, melainkan dari famili Graminae. Peramuannya

40

yaitu dengan diambil akar alang-alang secukupnya ditambah akar lempuyang yang kemudian ditumbuk sampai halus. Setelah dirasa cukup halus hasil tumbukan tersebut direbus dengan air secukupnya. Air hasil rebusan diminum sehari tiga kali satu gelas. Alang-alang dapat digunakan sebagai obat penghancur batu ginjal. Kandungan kimia di dalamnya antara lain damar, asam kresik, kalium dan logam alkali. Kalium merupakan zat yang diduga kuat sebagai penghancur batu ginjal (Wakidi, 2003). Lempuyang (Pragmites australis) dan Alang-alang (Imperata cylindrical L.) masih dalam satu famili. Diduga kuat dengan keterkaitan famili tersebut Lempuyang juga mempunyai kandungan dan aktivitas yang sama dengan Alang alang. 4.1.16 Mimisan Ganjan di wilayah Tengger tumbuh liar seperti rumput, Suku Tengger menyebutnya sebagai hama tumbuhan. Ganjan (Tagetes signata Bartl.) dari suku Asteraceae digunakan oleh Suku Tengger sebagai obat mimisan. Tumbuhan dari famili Asteraceae yang digunakan sebagai obat mimisan antara lain Artemisia vulgaris L., Eupatorium triplinerve Vahl. (Dalimartha, 1999). Zat yang terkandung didalam kedua tumbuhan tersebut antara lain glikosida dan tanin (Sastroamidjojo, 1997). Penggunaan Ganjan sebagai obat mimisan sangat sederhana sekali. Daun Ganjan diremas-remas kemudian di sumbatkan ke lubang hidung yang keluar darah mimisan. 4.1.17 Pegal Linu Obat tradisional yang digunakan oleh Suku Tengger untuk Pegal Linu antara lain: a. Tepung Otot Tumbuhan Tepung otot (belum teridentifikasi 1) tumbuh liar menjalar di tanah seperti rerumputan yang lain. Penggunaan Tepung otot sudah familiar pada Suku Tengger, hal ini disebabkan karena tumbuhan tepung otot digunakan oleh

41

sebagian besar Suku Tengger yang mayoritas pekerjaannya sebagai petani dan rentan terkena pegal linu. Penggunaan tepung otot sangat mudah yaitu tumbuhan tepung otot yang menjalar dikumpulkan satu genggam kemudian dibasahi dengan air secukupnya. Setelah terbasahi, tepung otot diremas-remas dan kemudian digosokkan pada bagian tubuh yang terserang pegal linu. b. Pangotan dan Pakis Sayur Microsorium buergerianum (Miq.) Ching atau yang biasa disebut oleh Suku Tengger tumbuhan Pangotan berasal dari satu famili dengan Pakis Sayur (Diplazium esculentum (Retz.) Sw.) yaitu famili Polypodiaceae. Campuran dari kedua tumbuhan tersebut pada Suku Tengger digunakan sebagai pengobatan pegal linu atau yang biasa disebut Linu-linu. Penggunaannya yaitu dengan mencampurkan akar dari pangotan dan herba pakis sayur yang kemudian direbus dengan air secukupnya. Air rebusan yang sudah dingin diminum sehari dua kali satu gelas. Pangotan mempunyai nama umum Paku Pedang yang mempunyai kandungan aktif alkaloid, saponin dan polifenol dengan khasiatnya sebagai anti radang (anti inflamasi), anti bakteri dan peluruh air seni (IPTEK, 2009). Dapat disimpulkan sementara bahwa antara pangotan dan pakis sayur mempunyai kandungan dan fungsi yang sama. 4.1.18 Penguat Syahwat (Afrodisiak) Penggunaan buah Terong Belanda (Cyphomandra betaca (Cav.) Sendtn.) famili Solanaceae sebagai penguat syahwat pada Suku Tengger dinformasikan oleh sedikit responden. Suku Tengger masih menganggap tabu mengenai masalah ini, sehingga belum semua informasi tersampaikan. Maka, perlu adanya pendekatan yang lebih lanjut untuk menggali informasi tentang afrodisiak pada Suku Tengger. Buah terong belanda yang sudah berwarna merah dipetik dan langsung dimakan. Kandungan aktif didalamnya alkaloid, flavonoid dan tanin. Kandungan tersebut umum digunakan sebagai obat penurun tekanan darah tinggi dan penyegar badan (IPTEK, 2009).

42

4.1.19 Penyakit Kuning Pring kuning (Bambusa vulgaris Schrad.) famili Graminae di Suku tengger digunakan sebagai obat penyakit kuning (hepatitis). Bagian yang digunakan untuk pengobatan adalah akar Pring kuning yang direbus. Air rebusan diminum sehari dua sampai tiga kali satu gelas. Belum ada literatur yang menjelaskan bahwa Pring kuning dapat digunakan sebagai bahan pengobatan penyakit kuning. Bahan obat lain yang digunakan untuk menyembuhkan penyakit kuning pada Suku Tengger adalah hewan Keong Mas. Cara peramuannya yaitu, Keong Mas dikeluarkan dari cangkangnya kemudian dicuci bersih. Hasil cucian Keong Mas dibakar di perapian sampai matang, setelah matang langsung dimakan. Hewan Keong Mas juga belum ada literatur yang menjelaskan kandungan dan kegunaan sebagai obat penyakit kuning. 4.1.20 Perut Kembung a. Beras Kencur dan Daun Sirih Pengobatan perut kembung menggunakan campuran antara beras kencur dan daun sirih. Kandungan sirih (sudah dijelaskan dipengobatan luka gores) dapat digunakan sebagai karminativ (perut kembung) (Asean. 1993). Sedangkan kandungan dari kencur (Kaempferia galanga L.) famili Zingiberaceae antara lain minyak atsiri 2,4-3,9 % yang mempunyai aktifitas Sastroamidjojo, 1997). b. Simbukan Daun simbukan (Paedaria foetida L.) famili Rubiaceae digunakan sebagai obat kembung (karminatf) dengan kandungan bahan aktif glikosida iridoid asperulin, aukobin, paederosida dari arbutin, triterpen, sistosteral, paederon dan paederolan, peifridenalol asetat,dan metil merkapan (Depkes, 1989). Penggunaannya menurut Suku Tengger yaitu dengan cara daun simbukan dicuci bersih kemudian direbus dengan air, hasil rebusan diminum secukupnya. sebagai karminatif (Depkes, 1977;

43

4.1.21 Rematik Suku tengger menggunakan tumbuhan Bawang pre (Allium fistulosum L.) dari famili Liliaceae sebagai pengobatan asam urat dan rematik. Bawang pre dibakar kemudian dioleskan pada bagian tubuh yang linu atau terasa sakit untuk pengobatan rematik. Selain menggunakan bawang pre, Suku Tengger menggunakan akar Pring kuning atau Bambu kuning (Bambusa vulgaris Schrad.) sebagai pengobatan penyakit rematik. Akar Pring kuning direbus kemudian diminum air rebusannya sehari dua sampai tiga kali satu gelas. Bawang pre maupun Pring kuning belum ada literatur yang menyebutkan kandungan dan kegunaan sebagai obat rematik atau asam urat. 4.1.22 Sakit Gigi Tumbuhan Kamboja (Plumeria rubra L.) famili Apocynaceae getah daun digunakan sebagai obat sakit gigi pada Suku Tengger. Penggunaanya yaitu dengan cara getah dari daun diambil, kemudian diteteskan pada bagian gigi yang sakit. Kandungan kamboja (Plumeria rubra L.) antara lain flavonoid dan polifenol (IPTEK, 2009), dari kandungan tersebut bisa digunakan sebagai obat sakit gigi (IPTEK, 2009; Sastroamidjojo, 1997). Damar dan asam plumeria diduga kuat sebagai bahan aktif yang berada di daun kamboja dan bisa digunakan untuk pengobatan sakit gigi (Sastroamidjojo, 1997). 4.1.23 Sakit Perut. Pangotan (Microsorium buergerianum (Miq.) Ching) mempunyai nama umum Paku pedang yang mempunyai kandungan alkaloid, saponin dan polifenol dengan khasiat anti radang, anti bakteri dan peluruh air seni (IPTEK, 2009). Sakit perut bisa disebabkan karena bakteri-bakteri yang kurang menguntungkan berada dalam perut. Pangotan digunakan sebagai antibakteri pada Suku Tengger untuk pengobatan sakit perut. Akar pangotan dikelupas kemudian direndam di air hangat. Setelah beberapa jam perendaman, air rendaman akar pangotan diminum secukupnya.

44

4.1.24 Penyakit Dalam (Panas, Batuk, dan Pusing) Suku Tengger menggunakan campuran beberapa tumbuhan untuk mengobati penyakit komplikasi seperti panas, batuk, pusing. Diantaranya menggunakan buah Adas (Foeniculum vulgare Mill.), akar lempuyang (Pragmites australis) famili Poaceae, akar Tepung otot (belum teridentifikasi 1), kulit Keningar (Cinnamomum burmani (Nees & T. Nees) Bl.), Mrica (Piper nigrum L.), serta Pule (Alstonia scdolaris R. Br.). Semua bahan ditumbuk menjadi satu kemudian direbus. Setelah direbus sampai mendidih, kemudian disaring dengan kain yang bersih. Hasil saringan yang digunakan untuk pengobatan dengan aturan pemakaiannya yaitu sehari dua sampai tiga kali satu sendok makan. Beberapa tumbuhan yang digunakan sebagai campuran untuk mengobati segala penyakit memang sudah banyak disebutkan di beberapa literatur. Sastroamidjojo (1997) menyebutkan antara lain Adas (Foeniculum vulgare Mill.), Mrica (Piper nigrum L), Pule (Alstonia shcolaris R. Br.) dapat digunakan untuk pengobatan panas, batuk dan stamina. Sedangkan akar lempuyang (Pragmites australis), akar Tepung otot (tidak teridentifikasi 1) belum ada literatur yang menyebutkan kandungan diantara keduanya yang bisa digunakan sebagai bahan pengobatan. 4.1.25 Stamina Suku Tengger dalam menjaga kondisi tubuh (stamina) juga mempunyai resep tradisional, diantaranya: a. Mrica, Telur jawa, dan Madu Suku Tengger untuk meningkatkan stamina menggunakan resep tradisional campuran antara biji Mrica (Piper nigrum L) famili Piperaceae, Telur Jawa, dan Madu. Satu sendok kecil mrica yang sudah halus dicampur dengan satu kuning telur jawa dan ditambah madu secukupnya. Campuran tersebut diminum sehari satu kali sebelum tidur malam.

45

Mrica (Piper nigrum L) dengan kandungan minyak atsiri yang didalamnya terdapat felandrin, dipenten, kariopilen, enthoksilin, limonene, alkaloid piperina dan kavisina mempunyai kegunaan sebagai karminativ dan iritasi lokal (Depkes, 1980). IPTEK (2009) menyebutkan bahwa dari kandungan tersebut juga digunakan sebagai tekanan darah tinggi, obat sesak nafas dan peluruh keringat. Belum ada yang menyebutkan bahwa dari kandungan tersebut digunakan sebagai penambah stamina. b. Akar Pangotan Pangotan (Microsorium buergerianum (Miq.) Ching) mempunyai nama umum Paku pedang yang mempunyai kandungan alkaloid, saponin dan polifenol dengan khasiat anti radang, anti bakteri dan peluruh air seni (IPTEK, 2009), dari kandungan tersebut belum ada literatur yang menyebutkan bahwa akar pangotan dapat digunakan sebagai penambah stamina. 4.1.26 Stamina pada Ibu Hamil Daun pepaya (Carica papaya L.) dan daun ketela pohon (Manihot utilissima Pohl) digunakan untuk meningkatkan stamina pada ibu hamil. Daun dari kedua tumbuhan tersebut direbus kemudian diminum airnya sehari dua kali, setiap pagi dan sore hari satu gelas. Daun pepaya mempunyai kandungan enzim papain, alkaloid karpaina, pseudo karpaina, glikosida, karposida, dan saponin (Depkes, 1989), dari kandungan yang ada bisa digunakan untuk meningkatkan stamina pada ibu hamil (Sastroamidjojo, 1997). 4.1.27 Sulit Buang Air Besar a. Jambe dan Beras Kandungan jambe (Areca catechu L.) famili Arecaceae antara lain arekolin, arekaidin, guvasin, guvakolin, isoguvasin, gula dan resin (Depkes, 1989). Kandungan tersebut mempunyai kegunaan sebagai obat cacing dan anti diare (Depkes,1989; Sastroamidjojo,1997). Belum ada penelitian lebih lanjut mengenai jambe dan juga

46

penambahan beras yang dihaluskan digunakan sebagai pengobat sulit buang air besar seperti yang dilakukan oleh Suku Tengger. Buah jambe yang sudah masak dicacah halus kemudian digoreng di tempat penggorengan yang terbuat dari tanah liat. Hasil penggorengan yang sudah hangus kemudian ditumbuk sampai halus. Cara pemakaiannya yaitu dengan disedu menggunakan air panas hasil tumbukan buah jambe yang sudah digoreng dua sampai tiga sendok makan. Diminum sehari dua kali, pagi dan malam hari. b. Daun Ceplukan Daun ceplukan (Physalis angulata L.) famili Solanaceae digunakan oleh Suku Tengger untuk mengatasi sulit buang air besar. Kandungan bahan di dalamnya antara lain asam sitrat, fisalin sterol/ terpen, saponin, flavonoid, dan alkaloid (Depkes, 1995). Kandungan utama yang aktif pada daun dan kelopak adalah fisalin dengan kegunaannya sebagai diuretikum, dan jika terlalu banyak pemakaiannya maka akan dapat menyebabkan pusing (Sastroamidjojo, 1997). Jenis tumbuhan yang berasal dari satu famili dengan ceplukan salah satunya adalah Capsicum sp. dengan kegunaan sebagai antipiretik, antiflatulen dan sebagai obat mules atau sakit perut (Depkes, 1995). 4.1.28 Tenggorokan Serik Tebu (Saccaharum officinarum L.) digunakan oleh Suku Tengger untuk pengobatan tenggorokan serik. Menurut Suku Tengger, tenggorokan serik terjadi ketika individu atau warga Suku yang akan terkena batuk. Cara pengobatannya cukup mudah yaitu tebu dipotong kira-kira satu jengkal orang dewasa kemudian dibakar di perapian. Setelah tebu kelihatan hangus, diangkat dan ditunggu sampai dingin. Tebu hasil pembakaran dikelupas dari kulitnya kemudian diperas sampai keluar airnya. Air perasan diminum sehari tiga kali. Kandungan kimia dari tebu (Saccaharum officinarum L.) adalah glikosida, saponin, flavonoid, dan polifenol digunakan sebagai obat batuk (IPTEK, 2009). yang dapat

47

4.1.29 Typus Cacing yang digunakan berada di pohon pisang yang sudah busuk untuk mengobati penyakit typus. Cacing direbus dengan air kemudian air rebusan diminum sehari dua kali satu gelas. Cacing yang digunakan oleh Suku Tengger belum teridentifikasi, sehingga kandungan dan manfaat yang jelas belum dapat ditemukan. 4.2 Jenis Tumbuhan, Hewan dan Bahan Mineral Berdasarkan hasil penelitian di Suku Tengger terdapat 47 tumbuhan dan juga 3 jenis hewan yang digunakan untuk pengobatan di Suku Tengger (Tabel 4.2 dan Tabel 4.3). Dari tabel persentase tersebut Adas (Foeniculum vulgare Mill.) dan Pisang (Musa paradisiaca L.) mempunyai persentase pengetahuan dan penggunaan yang paling tinggi (lebih dari 50%). Bawang merah (Allium ascolanicum L.), Dringu (Acorus calamus L.), Ganjan (Tagetes signata Bartl.), Grunggung (Pothentilla argunta Pursh), Jambu biji (Psidium guajava L.), Jambu wer (Pimento dionica L.), Kunyit (Curcuma domestica Valeton), dan Tepung otot (belum teridentifikasi 1) mempunyai persentase pengetahuan atau penggunaan yang relatif sedang (berkisar antara 20%-50%). Sedangkan sisa tumbuhan sampai 20%. Bahan obat yang berasal dari hewan yang diketahui atau digunakan oleh Suku Tengger semuanya mempunyai persentase sampai 20%. Sedangkan untuk bahan mineral alam juga mempunyai persentase pengetahuan atau penggunaan sampai 20%. Semakin tinggi persentase penggunaan atau pengetahuan semakin tinggi tingkat kepercayaan bahwa tumbuhan, hewan atau bahan mineral alam dapat memberikan pengobatan. Jenis-jenis tumbuhan yang digunakan dalam sistem pengobatan pada umumnya adalah tumbuhan yang tumbuh di pekarangan dan dikembangkan dengan teknik budidaya sederhana (asal tanam), sedangkan bahan obat hewan dan bahan mineral alam didapatkan Suku Tengger jika memerlukan dan didapatkan disekitar yang lain mempunyai persentase

48

kawasan Tengger. Selain itu, ada beberapa jenis tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang diambil langsung dari hutan sekitar wilayah Tengger. Suku Tengger mengambil tumbuhan, hewan dan bahan mineral alam sebagai obat dalam jumlah kecil, sehingga penyusutan dari tumbuhan obat di wilayah Tengger relatif rendah. Akan tetapi, keadaan wilayah Tengger yang sekarang banyak digunakan sebagai kawasan ladang produktif untuk tanaman sayur-sayuran menyebabkan beberapa tumbuhan obat menjadi langka. Seperti jamur impes yang tidak tahan terhadap bahan-bahan kimia untuk penanaman sayur. Begitu juga dengan keong mas yang berada disekitar aliran sungai yang keberadaannya sudah hampir tidak ada, sehingga perlu adanya kesadaran dari semua pihak untuk tetap melestarikan tumbuhan atau hewan yang bisa digunakan oleh Suku Tengger sebagai resep pengobatan tradisional. Obat tradisional yang ada, digunakan oleh Suku Tengger secara turun temurun dan diwariskan dari generasi ke generasi seiring dengan pewarisan budaya Suku Tenger. Namun, pola pewarisan tersebut sangat terbatas dikalangan usia rata-rata diatas 45 tahun keatas. Hal ini terbukti dari responden yang memberikan informasi dari hasil metode pengambilan sample Snowball Sampling hanya dikalangan umur 45 tahun keatas. Dikhawatirkan ada kecenderungan terjadinya pengikisan pengetahuan pengobatan tradisional pada Suku Tengger.

49

BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Pengetahuan atau penggunaan obat tradisional pada Suku Tengger Kecamatan Sukapura yang terdiri dari 5 desa yaitu Desa Ngadirejo, Desa Ngadas, Desa Jetak, Desa Wonotoro, dan Desa Ngadisari dari 29 narasumber telah terinventarisir 29 jenis penyakit dengan 60 resep tradisional serta terdapat 47 tumbuhan, 3 jenis hewan dan 5 bahan mineral alam yang digunakan sebagai pengobatan di Suku Tengger. Bahanbahan yang digunakan sebagai bahan obat oleh Suku Tengger sebagian besar sudah diteliti dan mempunyai khasiat obat, sehingga memiliki prospek untuk dikembangkan menjadi bahan baku industri obat tradisional. Cara penggunaan tumbuhan, hewan, dan bahan mineral pada Suku Tengger sebagai obat tradisional sangat sederhana antara lain: campuran bahan atau bahan tunggal ditumbuk, diremas-remas, atau direbus kemudian diminum atau diolesakan pada bagian tubuh yang sakit. Jenis-jenis penyakit yang diobati pada Suku Tengger adalah penyakit ringan yang sering terjangkit di kawasan tersebut. Sedangkan ratarata persentase pengetahuan atau penggunaan bahan obat sebagian besar ada pada angka 20% kebawah, hanya terdapat 2 bahan obat yang mempunyai persentase lebih dari 50% dan 8 bahan bahan obat yang mempunyai persentase 20%-50%. Semakin tinggi persentase penggunaan atau pengetahuan semakin tinggi tingkat kepercayaan bahwa tumbuhan, hewan atau bahan mineral alam dapat memberikan pengobatan. 5.2 Saran Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kegunaan dan kandungan aktif dari tumbuhan, hewan dan bahan mineral yang digunakan sebagai obat tradisional oleh Suku Tengger dan pelestarian pengetahuan atau penggunaan obat tradisional pada Suku Tengger karena pola pewarisan sangat terbatas dikalangan usia rata-rata diatas 45 tahun keatas.

49

50

DAFTAR PUSTAKA

Asean. 1993. Standard of Asean Herbal Medicine Volume I. Jakarta: Aksara Buana Printing. Cotton, C.M. 1996. Ethnobotany: Principles and Applications. Chichester: John Wiley and Sons Ltd Dalimarta, setiawan. 1991. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid I. Jakarta: Trubus Agriwidya. Dalimarta, setiawan. 2000. Atlas Tumbuhan Obat Indonesia Jilid II. Jakarta: Trubus Agriwidya. Darmono. 2007. Kajian Etnobotani Tumbuhan Jalukap (Centella asiatica L.) di Suku Dayak Bukit Desa Haratai 1 Loksado. Bioscientiae. 4 (2) : 71-78. Depdikbud. 1997. Sistem Pemerintahan Tradisional di Tengger Jawa timur. Jakarta: CV Putra Sejati Raya. Dephut .2009a. Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru http://www.dephut.go.id/informasi/tamnas/bromo_1.html [04 Mei 2009]

Dephut. 2009b.Flora dan fauna. http://www.dephut.go.id/informasi/tamnas/bromo_2 html [04 05 09] Depkes. 1977. Materia Medika Indonesia Jilid I. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Depkes. 1978. Materia Medika Indonesia Jilid II. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Depkes. 1979. Materia Medika Indonesia Jilid III. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Depkes. 1980. Materia Medika Indonesia Jilid IV. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Depkes. 1989. Materia Medika Indonesia Jilid V. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. 50

51

Depkes. 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. Jakarta: Direktorat Jendral Pengawasan Obat dan Makanan. Ersam, T. 2004. Keunggulan Biodiversitas Hutan Tropika Indonesia dalam Merekayasa Model Molekul Alami. Seminar Nasional Kimia VI. http://www.its.ac. id/ personal/ files/ pub/764-beckers-chem-Kimia%20ITS %20TE%2004.pdf [04 Mei 2009] Gana, Singgih, dan Haryanto. 2009. Prospek Tumbuhan Indonesia dalam Kesehatan dan Permasalahannya. http://www.isfinational. or.id/pt -isfi penerbitan/ 126/480-prospek-tumbuhan- indonesia-dalam-kesehatan-dan permasalahannya [26 April 2009] Galba, Manan, Herutomo, dan Darnys. 1989. Pola Kehidupan Sosial Budaya dalam Hubungan dengan Konsep Sanitasi pada Masyarakat Tengger. Tidak Dipublikasikan. Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya.. Jember: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Universitas Jember Kerja sama dengan Direktoral Jendral dan Kebudayaan dan direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional. Hariana, A. 2005. Tumbuhan Obat dan Khasiatnya Seri 1. Jakarta: Penebar Swadaya. Haviland, W.A. 1999. Antropology Edisi Keempat Jilid I. Diterjemahkan Soekadijo. Jakarta: Airlangga Hidayat, S., dan Risna, R. 2007. Kajian Ekologi Tumbuhan Obat Langka di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Biodiversitas. 8 (3) : 169-173. IPTEK. 2009. Tumbuhan obat. http://Iptek.apjii.or.id/ obat/depkes/buku.pdf [22 11 09] attikel/ttg/tanaman

Katno dan Pramono, S. 2009. Tingkat Manfaat dan Keamanan Tanaman obat dan obatTradisional.http://cintaialam.tripod.com/keamanan_obat %20tradisional.pdf [26 04 09] Kuntorini, E.M. 2005. Botani Ekonomi Suku Zingiberaceae Sebagai Obat Tradisional Oleh Masyarakat di Kotamadya Banjarbaru. Bioscientiae. 2 (1) : 25-36. Lans, C., Turner, N., Khan, T., Brauer, G., Boepple, W. 2007. Ethnoveterinary Medicine Used For Ruminants In British Columbia Canada. Journal Of Ethnobiologi And Ethnomedicine. 3 (11) : 1-22.

52

Muktiningsih, S. R., Syahrul, M., Harsana, I.W., Budhi, M., dan Panjaitan, P. 2001. Review Tanaman Obat Yang Digunakan Oleh Pengobat Tradisional Di Sumatra Utara,Sumatra Selatan, Bali dan Sulawesi Selatan.Media Litbang Kesehatan.11 (4) 25. Newall, C., Anderson, I., Philipson. J. 1995. Herbal Medicines. The school of Pharmacy University of London: Departemen of Pharmacognosy. Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta. Pieroni, A., Quave, C., Nebel, S., dan Henrich, M. 2002. Ethnopharmacy of the Ethnic Albanians (Arbereshe) of Northern Basilicata, Italy. Fitoterapia. 72 (2002): 217-241. Radji, M. 2005. Peran Bioteknologi dan Mikroba Endofit Dalam Pengembangan Obat Herbal. Majalah Ilmu Kefarmasian. 2 (3) : 113-126. Rosita, S.M.D., Rostiana, O., Pribadi, dan Hernani. 2007. Penggalian IPTEK Etnomedisin di Gunung Gede Pangrango. Bul. Littro. 18 (1) : 13-28. Sari, L.O.R.K. 2006. Pemanfaatan Obat Tradisional Dengan Pertimbangan Manfaat Dan Keamanan. Majalah Ilmu Kefarmasian.3 (1): 1-7. Sastroamidjojo, Seno. 1997. Obat Asli Indonesia. Jakarta: Dian Rakyat. Siswandono dan Soekardjo, B. University Press. 2000. Kimia Medisinal 1. Surabaya: Airlangga

Soeratno. 1993. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis.Yogyakarta: Akademi Manajemen Perusahaan YKPN. Sudiro, 2001. Legenda dan Religi sebagai Integrasi Bangsa. Humaniora. 13 (1) : 100110. Sudjatno, A. 1994. Peran Dukun dan Orang Tua dalam Penentuan Usia Kawin pada Masyarakat Tengger Jawa Timur. Tidak Dipublikasikan. Laporan Penelitian. Jember: Universitas Jember. Suharto, Wagiyana, Zulkarnain, R. 2005. Survei Kupu-Kupu(Rhopalocera: Lepidoptera) di Hutan Ireng-Ireng Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Jurnal Ilmu Dasar. 6 (1) : 62-65.

53

Suharyanto, Parwati, Rinaldi. 2009. Analisis Pemasaran dan Tataniaga Anggur di Bali.http://ejournal.unud.ac.id/ abstrak/(2) %20 soca-suharyanto %20dan %20 parwati-pemasaran %20anggur(1).pdf [04 Mei 2009] Sukandar, E.Y. 2009. Tren dan Paradigma Dunia Farmasi, Industri-Klinik-Teknologi Kesehatan, disampaikan dalam orasi ilmiah Dies Natalis ITB.http:/itb.ac.id/focus/focus_file/orasi-ilmiah-dies-45.pdf. [01 Mei2009] Sunarto, Suandra, I K., Rato, D., Sugijono, dan Sriono, E. 1991. Sikap Masyarakat Tengger Terhadap Norma-Norma yang Berlaku di Desa Ngadisari Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo. Laporan Penelitian. Tidak Dipublikasikan. Jember: Departemen Pendidikan dan Kebudayan Universitas Jember Sutarto, A. 2007. Saya Orang Tengger Saya Punya Agama, Kisah Orang Tengger Menemukan Agamanya. Jember: Kelompok Peduli Budaya dan Wisata Daerah Jawa Timur Sutarto, A. 2009. Sekilas tentang Masyarakat Tengger. http:// prabu.files.wordpress.com/2009/02/ayu-sutarto-sekilas-tentang-masyarakattengger.pdf [26 April 2009]

Syukur, C dan Hernani. 2002. Budidaya Tanaman Obat Komersial Cetakan 2. Jakarta: Penebar Swadaya Wakidi. 2003. Prospek Tumbuhan Obat Tradisional untuk Menghancurkan Batu Ginjal (Urolitikum). http://library.usu.ac.id/download/fk [01 Mei 2009] Wijayakusuma, H., 2000. Potensi Tumbuhan Obat Asli Indonesia Sebagai Produk Kesehatan. Risalah Pertemuan ILmiah Penelitian dan Pengembangan Teknologi Isotop dan Radiasi. 25-31 Wijayakusuma, H., Dalimartha, S., Wirian, A.S. 1998. Tanaman Berkhasiat Obat di Indonesia Jilid 4. Jakarta: Pustaka Kartini. Windadri, F. I., Rahayu, M., Uji, T., dan Rustiami, H. 2006. Pemanfaatan Tumbuhan sebagai Bahan Obat Oleh Masyarakat Lokal Suku Muna Di Kecamatan Wakarumba, Kabupaten Muna, Sulawesi Utara. Biodiversitas. 7 (4) : 333339. Zein, U. 2005. Pemanfaatan Tumbuhan Obat dalam Upaya Pemeliharaan Kesehatan. http://library.usu.ac.id/download/fk/penydalam-umar7.pdf [01 Mei 2009]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->