P. 1
Adat Dalam Dinamika Politik Aceh

Adat Dalam Dinamika Politik Aceh

|Views: 1,645|Likes:
Published by Khairul Umami
Buku ini adalah hasil dari proyek penelitian pertama ICAIOS ‘Adat dalam Dinamika Politik Aceh’ yang dilakukan sepanjang tahun 2009-2010 dengan dana bantuan BRR yang memungkinkan pekerjaan ICAIOS dalam bulan-bulan awal. Empat peneliti yang terlibat dalam proyek penelitian pendek ini ingin mendekati istilah adat dari perspektif yang baru dan menganalisis bagaimana posisi lembaga adat dan tradisi-tradisi adat berperan dalam perkembangan politis di daerah-daerah Aceh dalam masa transformasi ini. Apakah Aceh mengalami revitalisasi adat yang cukup kuat di berbagai daerah di Indonesia sejak Orde Baru dan proses desentralisasi? Hasil investigasi mereka bisa kita membaca dalam buku ini. Kami harap buku ini bisa berfungsi sebagai alat pembuka diskusi tentang posisi adat dan lembaganya di Aceh, dan menginspirasi peneliti-peneliti yang lain untuk mengeksplorasi isu ini secara lebih lanjut dan dalam.
Buku ini adalah hasil dari proyek penelitian pertama ICAIOS ‘Adat dalam Dinamika Politik Aceh’ yang dilakukan sepanjang tahun 2009-2010 dengan dana bantuan BRR yang memungkinkan pekerjaan ICAIOS dalam bulan-bulan awal. Empat peneliti yang terlibat dalam proyek penelitian pendek ini ingin mendekati istilah adat dari perspektif yang baru dan menganalisis bagaimana posisi lembaga adat dan tradisi-tradisi adat berperan dalam perkembangan politis di daerah-daerah Aceh dalam masa transformasi ini. Apakah Aceh mengalami revitalisasi adat yang cukup kuat di berbagai daerah di Indonesia sejak Orde Baru dan proses desentralisasi? Hasil investigasi mereka bisa kita membaca dalam buku ini. Kami harap buku ini bisa berfungsi sebagai alat pembuka diskusi tentang posisi adat dan lembaganya di Aceh, dan menginspirasi peneliti-peneliti yang lain untuk mengeksplorasi isu ini secara lebih lanjut dan dalam.

More info:

Published by: Khairul Umami on Dec 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

08/02/2014

Sections

ADAT

dalam Dinamika Politik

ACEH

Editor:

LEENA AVONIUS & SEHAT IHSAN SHADIQIN

Adat
dalam
Dinamika
Politik
Aceh

ADAT

dalam Dinamika Politik

ACEH

Editor:

Leena Avonius & Sehat Ihsan Shadiqin

Banda Aceh
2010

Diterbitkan pertama kali pada November 2010,
hasil dari proyek penelitian pertama ICAIOS
‘Adat dalam Dinamika Politik Aceh’
yang dilakukan sepanjang tahun 2009-2010

Editor:

Leena Avonius dan Sehat Ihsan Shadiqin.

Proofreader:

Husaini Nurdin

Editor Bahasa:

T. Murdani dan Lukman Emha

© 2010, ICAIOS.
Gedung PT ISB
Universitas Syiah Kuala
Jl. T. Nyak Arief, Darussalam
Banda Aceh. 23111. Indonesia

Cetakan 1, November 2010

Diterbitkan oleh

International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS)

bekerjasama dengan

Aceh Research Training Institute (ARTI)

xvi + 228 h. 13 x 20 cm.
ISBN: 978-979-1234567

Tataletak dan sampul dirancang dengan huruf Lucida oleh Khairul Umami.
Foto sampul milik Sehat Ihsan Shadiqin

Hak cipta dilindungi Undang-undang.

LEENA AVONIUS

Leena Avonius menerima gelar doktornya pada jurusan
Antropologi dari Universitas Leiden pada tahun 2004. Setelah
menyelesaikan penelitian pascadoktoralnya di Renvall Institute
Universitas Helsinki dalam tahun 2008, dia mulai bekerja di
International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS)
sebagai Direktur Internasional.

NUR LAILA

Nurlaila adalah dosen di Fakultas Ushuluddin. Alumni Program
Pascasarjana IAIN Ar-Raniry Banda Aceh. Aktif di Lembaga
Jaringan Masyarakat Adat Aceh Besar (JKMA). Banyak penelitian
yang dilakukan berkaitan dengan adat, di antaranya Adat Pantang
Blang dan Pergeserannya di Aceh Besar. Enumerator untuk
beberapa penelitian di antaranya Peran Perempuan dalam Proses
Penyelesaian Masalah oleh Perangkat Adat di Gampong. Penelitian
dengan lembaga ACARP tentang Gampong Bangkit dan Gampong
tidak Bangkit Setelah Tsunami di Calang. Enumerator untuk
penelitian MDF tentang Keterlibatan Masyarakat Lemah dalam
Pengambilan Keputusan di Tingkat Gampong, juga pernah terlibat
dalam penelitian Perempuan dan Proses Perdamaian di Aceh.
Dapat dihubungi di: laila_lamsie@yahoo.com

Kontributor

vi

ZULKARNAINI

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Teuku
Umar Meulaboh. Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di
Universitas Kebangsaan Malaysia dalam bidang Theology of
Philosophy. Pernah meneliti tentang Respon dan Tanggapan
Siswa beserta Guru terhadap Keberadaan Universitas Teuku Umar
(2007), Pengarusutamaan Gender di Kecamatan Meureubo, Aceh
Barat (2007). Zulkarnaini Muslim dapat dihubungi lewat email:
zulkarnaini_ma@yahoo.co.id atau metazul@ymail.com

SEHAT IHSAN SHADIQIN

Tercatat sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry
Banda Aceh. Menyelesaikan pendidikan Pascasarjana di IAIN Ar-
Raniry Banda Aceh pada tahun 2002. Aktif melakukan penelitian
sosial keagamaan, terutama berhubungan dengan sufisme, adat
budaya, syariat Islam dan politik lokal di Aceh. Saat ini sedang
menyelesaikan pendidikan S3 di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
dalam bidang Islamic Studies. Bisa dihubungi melalui email:
sehatihsan@yahoo.com

KONTRIBUTOR

Prakata

dari ICAIOS dan Tim Peneliti

International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS)
didirikan pada tahun 2008. Keputusan untuk membangun satu
lembaga penelitian antar-universitas yang kuat dibuat bersama
Gubernur Aceh, BRR dan tiga universitas lokal (Universitas
Syiah Kuala, IAIN Ar-Raniry and Universitas Malikussaleh). Pusat
penelitian ini berada di lingkungan kampus di Darussalam, Banda
Aceh. Selain memfasilitasi penelitian akademik yang merupakan
kerja sama antara Aceh dan institusi international, pusat penelitian
ini juga mendukung transformasi Aceh dengan cara menawarkan
sejumlah training untuk akademisi, perwakilan-perwakilan
pemerintahan dan juga rakyat sipil.

Buku ini adalah hasil dari proyek penelitian pertama ICAIOS ‘Adat
dalam Dinamika Politik Aceh’ yang dilakukan sepanjang tahun 2009-
2010 dengan dana bantuan BRR yang memungkinkan pekerjaan
ICAIOS dalam bulan-bulan awal. Tiga peneliti yang terlibat dalam
proyek penelitian pendek ini ingin mendekati istilah adat dari
perspektif yang baru dan menganalisis bagaimana posisi lembaga
adat dan tradisi-tradisi adat berperan dalam perkembangan politis
di daerah-daerah Aceh dalam masa transformasi ini. Apakah Aceh
mengalami revitalisasi adat yang cukup kuat sebagaimana daerah
lain di Indonesia sejak Orde Baru dan proses desentralisasi? Hasil

viii

investigasi mereka bisa kita membaca dalam buku ini. Kami harap
buku ini bisa berfungsi sebagai alat pembuka diskusi tentang
posisi adat dan lembaganya di Aceh, dan menginspirasi peneliti-
peneliti yang lain untuk mengeksplorasi isu ini secara lebih lanjut
dan dalam.

Sebuah karya akademik lahir dari proses diskusi yang panjang
yang melibatkan banyak orang dengan berbagai perannya. Oleh
sebab itu kami berterima kasih kepada semua orang yang telah
terlibat dalam menyelesaikan karya ini baik secara langsung
maupun tidak. Ucapan terima kasih terutama kami berikan kepada
narasumber kami di Aceh Besar, Nagan Raya dan Bener Meriah yang
telah menyediakan waktu untuk berbagai pengetahuan mengenai
daerahnya. Tanpa mengurangi rasa hormat kami kepada semuanya,
beberapa nama kami sebutkan di sini. Bapak Michael Leigh dan
Harold Crouch dari Aceh Research Training Institute (ARTI) yang
memberikan fasilitas untuk kelancaran penelitian ini. ARTI juga
mendanai penertiban hasil penelitian kami dalam buku ini. Ibu
Eka Srimulyani dari IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, Minako Sakai
dari The University of New South Wales Canbera, Argo Twikromo
dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, Richard Chauvel dari
Victoria University di Melbourne, dan Silvia Vignato dari Bicocca
University, Milan, yang masing-masing telah memberikan masukan
dan koreksi untuk kesempurnaan penelitian yang kami lakukan.
Terima kasih juga kami sampaikan kepada staf ARTI dan ICAIOS
Aceh yang telah melakukan yang terbaik untuk kesempurnaan
penelitian ini.

PRAKATA DARI ICAIOS DAN TIM PENELITI

Pengantar

oleh: Minako Sakai

ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH IS A WELCOME
addition to our social science studies on Acehnese society in
contemporary Indonesia. There are several reasons to celebrate
the publication of this book. Although it is a relatively small
collection of ethnographic accounts, this volume has significant
implications for social science studies of Aceh.
First of all, the prolonged conflict between Jakarta and Aceh
(1976- 2005) has prevented local researchers from undertaking
empirical research in the field. This has been particularly
damaging for a discipline like anthropology where extensive
ethnographic fieldwork over time is expected to play a central
role in the analysis. DOM and conflicts have made such tasks
nearly impossible. Secondly, because of the nearly three decade-
long military conflict, access to research resources for local
academics was limited. In particular, access to basic library
resources at the tertiary level lagged for a long time behind the
rest of Indonesia. The tsunami in December 2004 swept away

x

much of Banda Aceh, which further reduced the capacity to
undertake empirical research within the Achenese population.
Five years after the Helsinki peace treaty, we are now seeing
the first fruits of peace in Aceh, as shown in this collection.
The three authors, Sehat Ihsan Shadiqin, Laila and Zulkarnaini
are local Acehnese researchers who embarked on documenting
the implications of political and social change undertakings in
Acehnese communities under the guidance of ARTI-ICAIOS.
Dr Avonius, a social anthropologist, has encouraged these
researchers to bravely undertake ethnographic research in
three regions of Aceh: Aceh Besar, Nagan Raya and Bener
Meriah.

The theme which runs through this volume is the role of
adat in the community, which is indeed timely. The role of
revival of adat has been one of the important areas of research
in anthropology and politics of Indonesia since regional
autonomy was implemented in 2001 in Indonesia. The central
government of Indonesia introduced regional autonomy to
transfer decision-making power to local governments as part
of democratisation following the fall of the strongly-centralised
governance of Suharto in 1998. An area, which this policy was
expected to encourage and grow was that of regional identities
and cultures. During Suharto’s rule, administrative governance
and the educational curriculum were determined by the
central government. Particularly UU No. 5 1974 and UU No.
5 1979 significantly curtailed the authority of the indigenous
governance system, which led to erosion of hukum adat, the
basis of regional cultures and values across the archipelago.
In response, efforts were made to revive local administrative

ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

xi

governance and to claim communal land associated with
these administrative units. For example, in West Sumatra the
traditional governance system, nagari, was officially revived,
but to date the nagari still lacks interest from community
members to assume adat-related office, or communal resources
to re-establish nagari as a truly functional social organisation.
From a comparative perspective, ethnographic case studies
on the revival of adat in Aceh highlight interesting insights
into the politics of adat in contemporary Indonesia. This is
especially true in Aceh where Islamic law was implemented
as part of special autonomy, while UUPA in 2006 also
stipulated that adat be used for governance. Consequently,
the contestation continues to exist between the use of adat
and Islamic law in settling cases and disputes in the daily
lives of Acehenese. Furthermore, the peace agreement and the
Tsunami disaster have brought together a large number of
foreign-funded NGOs in Aceh, some of which work on gender-
equity issues in Aceh. As demonstrated in Laila’s work, NGOs
and international community’s agenda further have further
created polemics in the lives of Achenese. Zulkarnaini’s work
shows contention and rivalry among the local royals who are
the two main founders of the region. However, the interesting
outcomes are that the state, Pemerintah Nagan Raya, funds
for kenduri, one of the main adat events in the region. This
highlights the fact that in contemporary Aceh, the revival of
adat involves not only community participation but also state
financial support. Sehat’s work on Gayo shows the complexity
of the meaning of adat. The meaning of adat is not limited to a
single understanding and efforts to revive adat have inherently

PENGANTAR

xii

a political nature. Thus, the meaning of adat is being reinvented
to suit the modern life of the Gaya who live in Aceh.
I encourage the readers to share this book on the dynamics
of the politics of adat in Aceh, as seen by local researchers
from Aceh.

September 2010
The University of New South Wales, Australia

ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Daftar Singkatan
dan Istilah

AMAN

: Aliansi Masyarakat Adat Nusantara

BRR

: Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh dan Nias

Dayah

: Lembaga pendidikan tradisional seperti pesantren di

Jawa

DOM

: Daerah Operasi Militer

DPRA

: Dewan Perwakilan Rakyat Aceh

DPRK

: Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten/Kota

GAM

: Gerakan Aceh Merdeka

HAM

: Hak Asasi Manusia

IAIN

: Institut Agama Islam Negeri

ICAIOS

: International Center for Aceh and Indian Ocean

Studies

Imum

: Imam, biasanya sebagai pemimpin dalam hal agama,
namun sering juga dipercayakan sebagai pemimpin
upacara adat

IOM

: International Organization for Migration

JKMA

: Jaringan Komunitas Masyarakat Adat
KKTGA : Kelompok Kerja Transformasi Gender Aceh
KPA

: Komite Peralihan Aceh

LAKA

: Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh

LKMD

: Lembaga Kerukunan dan Musyawarah Desa

LMD

: Lembaga Musyawarah Desa

xiv

LSM

: Lembaga Swadaya Masyarakat

MAA

: Majelis Adat Aceh
Meunasah : Bangunan di gampong-gampong yang digunakan
untuk kepentingan ibadah maupun untuk kepentingan
sosial masyarakat

MoU

: Memorandum of Understanding

MPD

: Majelis Pendidikan Daerah

MPU

: Majelis Permusyawaratan Ulama

NAD

: Nanggroe Aceh Darussalam

NGO

: Non-Govermental Organization

ORBA

: Orde Baru

Polmas

: Perpolisian Masyarakat

Polri

: Polisi Republik Indonesia

PWI

: Persatuan Wartawan Indonesia

Qanun

: Peraturan Daerah (Perda) baik di tingkat kabupaten
maupun provinsi

Raqan

: Rancangan Qanun

RI

: Republik Indonesia
Teungku : Ulama, kyai, ustaz
TNI

: Tentara Nasional Indonesia

UNDP

: United Nations Development Program
Unsyiah : Universitas Syiah Kuala
UU

: Undang-Undang

UUPA

: Undang-Undang Pemerintahan Aceh

DAFTAR SINGKATAN DAN ISTILAH

Daftar Isi

Kontributor

v

Prakata dari ICAIOS dan Tim Peneliti

vii

Pengantar

Minako Sakai

ix

Daftar Singkatan dan Istilah

xiii

Daftar Isi

xv

Pendahuluan: Revitalisasi Adat di Indonesia dan Aceh

Leena Avonius dan Sehat Ihsan Shadiqin

1

Revitalisasi Peradilan Adat di Aceh Besar

Nur Laila

25

Revitalisasi Lembaga Adat di Nagan Raya

Zulkarnaini

69

Wacana dan Peran “Orang Adat” dalam
Revitalisasi Adat Gayo

Sehat Ihsan Shadiqin

111

Daftar Pustaka

155

Lampiran

Qanun Aceh Nomor 9 Tahun 2008

169

Qanun Aceh Nomor 10 Tahun 2008

187

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11
Tahun 2006

215

Indeks

225

JATUHNYA REZIM ORDE BARU DI BAWAH KEPEMIMPINAN
Suharto pada 1998 telah menyebabkan lahirnya berbagai
perkembangan baru dalam tata pemerintahan di Indonesia.
Salah satu perkembangan tersebut adalah lahirnya otonomi
daerah, yaitu dengan menggantikan Undang-Undang No. 5
tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah
dan Undang-Undang No. 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan
Desa dengan Undang-Undang No. 22 tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah. Pengantian dasar hukum juga terjadi
dalam keuangan daerah dengan lahirnya Undang-Undang No. 25
tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah
Pusat dan Daerah. Undang-Undang Otonomi Daerah kemudian
direvisi menjadi UU. No. 32 tahun 2004.
Peraturan tentang otonomi daerah tersebut dipersiapkan
dan diimplementasikan dengan cepat pada tahun-tahun
pertama era reformasi yang penuh semangat membangun
Indonesia baru berbasis regionalisme. Penggantian ini

Pendahuluan:

Revitalisasi Adat di Indonesia
dan Aceh

oleh: Leena Avonius dan Sehat Ihsan Shadiqin

2

ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

memberikan kesempatan kepada pemerintah daerah untuk
mengembangkan kreatifitas dan menjadikan daerah lebih baik
sesuai dengan potensi dan kemampuan yang ada. Aspek positif
yang juga dirasakan adalah kesempatan membangun kembali
institusi-institusi adat lokal yang telah dihalangi oleh kebijakan
sentralisasi pada masa pemerintahan Suharto. Kesempatan
membangun kembali adat ini menjadi demikian penting karena
Indonesia adalah negara yang punya kemajemukan tinggi
dalam budaya dan kemasyarakatan. Pada masa Orde Baru
kemajemukan ini dilihat sebagai ancaman terhadap kesatuan
negara. Akibatnya, sistem pemerintahan menjadi sentralistis
dan seragam. Sejak jatuhnya pemerintahan Orde Baru daerah-
daerah Indonesia ikut membangun sistem pemerintahan baru
yang berbasis penghormatan terhadap -bukan hanya tradisi
dan seni tetapi juga- lembaga-lembaga sosio-politik masyarakat
dan kepentingan lokal.
Beberapa daerah di Indonesia termasuk Aceh tidak ikut
menikmati kesempatan yang dibuka oleh UU Otonomi Daerah.
Di Aceh ada dua alasan untuk ini. Pertama, sudah sejak 1950-
an Aceh punya otonomi yang diatur dalam undang-undang
sendiri. Pada tahun 2001 Undang-Undang No. 18 tentang
Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diperbaharui status Aceh
sebagai daerah istimewa. Alasan yang kedua, meskipun Aceh
pada tahun 1998 tidak lagi dikategorisasikan sebagai Daerah
Operasi Militer (DOM), provinsi ini tetap termasuk sebagai
daerah konflik, dan pemerintahan sipil tidak berfungsi dengan
baik. Peraturan-peraturan tentang otonomi daerah maupun
tentang otonomi khusus tidak dapat diimplementasikan secara

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

3

optimal. Apalagi pada tahun 2003 Aceh kembali ditetapkan
sebagai Daerah Operasi Militer yang setahun kemudian
menjadi status Darurat Sipil. Baru setelah proses perdamaian
yang terakhir ini mulai tahun 2005 situasi di Aceh menjadi
lebih kondusif untuk otonomi daerah. Undang-Undang No.
11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh meletakkan dasar
yang baru untuk mengimplementasikan peraturan-peraturan
tentang otonomi daerah di Aceh, termasuk pasal-pasal khusus
tentang lembaga-lembaga adat dan posisi adat pada umumnya.
Dalam bagian ini kami akan diskusikan latarbelakang
historis, legal dan politik yang perlu diketahui untuk mengerti
secara dalam artikel-artikel selanjutnya yang menganalisis
revitalisasi adat yang terjadi di tiga kabupaten di Aceh setelah
munculnya UU-PA pada tahun 2006.

Adat dan Warisan Pemerintahan Kolonial

Perbincangan mengenai adat dan pemerintahan di Indonesia
sebenarnya memiliki sejarah yang panjang dan tidak bisa
dimulai dari jatuhnya Orde Baru. Sejak masa penjajahan Belanda
adat menjadi bagian dari kepentingan politik pemerintahan.
Hal yang sama juga terjadi pada masa pemerintahan Sukarno
setelah Indonesia merdeka, zaman Orde Baru di bawah rezim
Suharto sampai zaman reformasi sekarang ini. Meskipun
hubungan antara adat dan pemerintahan yang terbangun pada
setiap pemerintahan berbeda-beda, namun secara umum setiap
rezim menggunakan adat sebagai bagian dari kesuksesan
pemerintahannya.

Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, adat telah
menjadi bagian dari sistem politik pemerintahan Hindia-

4

ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Belanda dalam melancarkan imperialismenya melalui kebijakan
hukum adat (adatrecht) (Davidson, 2007).1

Konsep adatrecht
ini dikembangkan dari Universitas Leiden di mana Cornelis
van Vollenhoven (1876–1933) menjadi tokoh utamanya. Ia
mendefinisikan adat sebagai tata aturan dalam kehidupan
masyarakat di Indonesia, dengan kata recht, sebuah kata yang
secara konvensional diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai
law’ atau ‘hukum’ dalam bahasa Indonesia (Fasseur, 2007: 51).
Definisi adat sebagai hukum meminggirkan aspek-aspek adat
yang lain seperti tradisi-tradisi sosial, religius dan seni, maupun
kekuasaan ekonomi dan politik yang berbasis adat.
Van Vollenhoven dan teman-temannya di Leiden turun
ke lapangan di pulau-pulau Hindia-Belanda dengan tujuan
membuat kompilasi-kompilasi hukum adat. Akhirnya mereka
harus mengakui bahwa model hukum Eropa (Roman Law)
kurang cocok dengan kenyataan dalam praktek-praktek adat
yang lebih ke arah rekonsiliasi. Meskipun begitu, pengertian
adat sebagai hukum tetap hidup di Indonesia sampai sekarang
(Avonius 2004: 114). Bab-bab selanjutnya dalam buku ini juga
membuktikan bahwa adat sebagai sistem hukum dan rekonsiliasi
sekarang masih hidup di gampong-gampong di Aceh.
Apa yang dilakukan Cornelis van Vollenhoven sesuai
dengan kebijakan “politik etis” dan prinsip ’indirect rule’
(pemerintahan tidak langsung) yang dilakukan oleh pemerintah
Hindia Belanda. Pada prinsipnya pemerintah kolonial tidak
mau campur tangan dengan kehidupan masyarakat pribumi

1

Istilah adatrecht sendiri pertama kali disebutkan oleh C. Snouck Hurgronje
dalam bukunya "De Atjehers" (1908) untuk memberi nama pada satu sistem
pengendalian sosial (social control) yang hidup dalam masyarakat Indonesia.

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

5

di desa-desa, tetapi dengan waktu yang sama otonomi desa
sangat dibatasi oleh keinginan ekonomi dan politik Belanda.
Pendekatan kontroversial pemerintah kolonial terhadap
masyarakat pribumi ini juga diwarnai oleh orientalisme dan
paternalisme. Program hukum adat ini bisa kita lihat sebagai
suatu perhatian paternalistik atas kesejahteraan penduduk
pribumi Indonesia, yang dianggap terancam oleh proses
pembangunan komersial dan westernisasi yang tak terkendali
(Biezeveld, 2007: 205 dari Kahn, 1993). Dalam pengertian
pemerintah kolonial masyarakat pribumi punya tradisi yang
kuat tetapi belum mampu mengurus daerahnya sendiri
tanpa pendukungan dan instruksi dari Belanda. Kebijakan ini
memiliki pengaruh besar dalam sistem peradatan di Nusantara
dengan kekuasaan pemerintahan Belanda yang tidak terbatas.
Satu contoh dari pengaruhnya politik kolonial yang
masih terlihat adalah ’desa’ sebagai kesatuan administratif.
Sampai akhir abad ke-19 komunitas-komunitas di Nusantara
mempunyai sistem sosio-ekonomi yang beragam. Bentuknya
gampong dan dusun (atau apa saja namanya) yang berada
sebelum desa-desa dibuat bervariasi tergantung budaya dan
sistem sosial lokal. Pembatasan desa administrasi tidak selalu
cocok dengan pembatasan desa adat, contohnya kita masih
bisa lihat misalnya di Bali di mana ’desa dinas’ dan ’desa adat’
dibedakan (Warren, 1991).
Dengan kedatangannya desa administrasi posisi komunitas
lokal terhadap negara juga berubah. Misalnya di Aceh gampong
punya posisi otonom yang cukup tinggi, dan pada umumnya
gampong mengurus masalahnya sendiri. Selain gampong ada
juga mukim, sejenis pengurus adat yang mewakili beberapa

6

ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

gampong terhadap raja. Kita tidak perlu menjadi terlalu
romantis kalau lihat masa lalu di gampong di bawah kerajaan,
pasti ada kekurangan dalam sistem itu juga. Tetapi ada juga
mekanisme-mekanisme yang menghindari raja menguasai
secara sewenang-wenang. Yang menjadi masalah pada masa
kolonial adalah perubahan yang tidak lengkap: Belanda
ingin membangun sistem administrasi yang modern dengan
melahirkan desa-desa administrasi, tetapi dengan waktu
yang sama pemerintah penjajahan memposisikan sendiri
sebagai raja tanpa mengubah posisi tersebut. Akibatnya desa
yang menggantikan gampong itu meletak dalam posisi yang
jauh lebih lemah terhadap negara daripada gampong yang
digantikannya.

Warisan kolonial memengaruhi sistem hukum dan
pemerintahan pada masa awal kemerdekaan Indonesia. Sikap
pemerintahan Sukarno terhadap adat ternyata tidak kalah
kontroversialnya dengan masa kolonial. Di satu sisi pemimpin-
pemimpin nasionalis merasa adat kurang cocok dengan sistem
masyarakat modern yang mau dibangun di Indonesia. Sistem
adat dianggap sesuatu yang kuno dan penuh feodalisme. Di
sisi lain, beberapa tokoh yang cukup berperan dalam nation-
building
mendapatkan pendidikan di Belanda dan karena itu
mereka dipengaruhi oleh pikiran-pikiran van Vollenhoven yang
sudah dibicarakan di atas. Satu contoh yang cukup baik adalah
Supomo, ahli hukum dan adat yang juga alumni Universitas
Leiden. Supomo ikut terlibat dalam merancang Undang-Undang
Dasar Indonesia. Model integralisme yang ditawarkan Supomo
diwarnai oleh ’tradisionalisme romantik.’ Sistem integralisme
Supomo mengutamakan hubungan harmonis antara penguasa

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

7

dan masyarakat, dan melihat bahwa sistem berbasis adat yang
hierarkis di mana si penguasa mengambil keputusan yang dia
melihat terbaik tanpa konsultasi dengan masyarakat masih
bisa bertahan dalam negara modern (Bourchier, 2001: 113-
114). Pada waktu yang sama orang yang lain, seperti Sukarno
sendiri, justru melihat adat dan desa sebagai contoh pergaulan
hidup bersama yang demokratis. Sebenarnya posisi-posisi yang
berbeda ini bisa saja kita dapat dalam adat yang tidak pernah
seragam dan sederhana.
Meskipun debat tentang posisi lembaga adat cukup panas
pada 1950-an dan banyak pihak yang menganggap adat
sesuatu yang sangat penting, ternyata sistem-sistem adat
dibiarkan. Sistem pemerintahan pada umumnya lemah pada
masa Orde Lama. Kalau kita lihat sistem hukum, tidak banyak
kaum elit politik yang ingin memelihara sistem pengadilan
adat yang diutamakan pada masa kolonial. Di awal 1950-an
peradilan-peradilan adat dihapus hampir di seluruh Indonesia
dan digantikan dengan peradilan negara (Bourchier, 2007: 117-
118). Lembaga-lembaga adat yang lain juga tidak mendapatkan
perhatian khusus dari pemerintah yang lebih fokus membangun
sistem administrasi negara yang modern.

Institusi Adat dalam Pemerintahan Orde Baru

Pada masa pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Suharto
institusi adat mendapat tantangan yang lebih besar lagi. Hal
ini disebabkan kebijakan sentralisasi yang dilakukan oleh
pemerintah Suharto. Sentralisasi merupakan kebijakan di
mana pemerintah melakukan intervensi sampai pada tingkat
pemerintahan lokal pedesaan. Hal ini dilakukan dengan

8

ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

membentuk jaringan administrasi yang ketat dan serupa di
seluruh daerah di Indonesia. Kebijakan ini tertuang dalam
Undang-undang No. 5 Tahun 1979 tentang Sistem Pemerintahan
Desa. Alasan utama yang dimunculkan adalah kebutuhan
pembangunan dan efektifitas pemerintahan. Akibatnya adalah
munculnya suatu sistem yang paling sentralistis dan tidak
punya fleksibilitas sedikitpun untuk memperhatikan keperluan-
keperluan yang ada di daerah-daerah negara yang luas ini.
Pemerintah Orde Baru tetap mengakui kemajemukan
budaya dan masyarakat Indonesia, dan juga posisi adat sebagai
dasar pluralisme. Tetapi adat hanya diposisikan sebagai seni
dan budaya (Acciaioli, 1985). Di beberapa daerah ritus-ritus
adat dipasarkan untuk dijual kepada wisatawan domestik
dan internasional. Hukum adat secara teoritis tetap diakui
sebagai satu sumber hukum yang dipakai dalam penyelesaian
kasus-kasus di pengadilan, tetapi dalam praktis hakim-
hakim jarang memperhatikannya. Selama pemerintahan
Orde Baru banyak institusi lokal dikebiri oleh pemerintah
dan tidak dapat dijalankan. Misalnya sistem pemerintahan
runggun (lembaga kekerabatan Adat Karo), Kerapatan Adat
Nagari (dalam masyarakat Minangkabau Sumatra Barat), dan
sistem pemerintahan mukim yang ada di Aceh dan berbagai
sistem pemerintahan lokal yang ada di berbagai daerah lain
di Indonesia (Rosnidar, 2003: 1). Lembaga-lembaga adat yang
masih berperan dalam sistem pemerintahan lokal dipinggirkan
oleh lahirnya lembaga LMD dan LKMD. Tokoh-tokoh adat
tidak terlibat lagi dalam pengambilan keputusan dalam desa
secara formal, meskipun mungkin masih dihormati sebagai
ahli adat dan tradisi oleh masyarakat setempat. Karena itu

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

9

di kebanyakan komunitas keahlian adat yang dipegang oleh
tokoh-tokoh adat tua tidak dapat dibelajari oleh generasi
muda. Akibatnya, banyak pengetahuan adat sudah hilang dan
tidak bisa dibangun kembali.

Otonomi Daerah dan Kebangkitan Institusi Adat

Jatuhnya pemerintah Suharto pada 1998 menjadi momentum
yang sangat penting dalam kebangkitan adat di Indonesia.
Beberapa daerah menggunakan kesempatan ini sebagai awal
menguatkan kembali sistem adat yang ada di daerahnya
masing-masing. Kejatuhan Suharto bisa dianggap sebagai awal
dari berakhirnya hegemoni pemerintah terhadap institusi
pemerintahan lokal berdasarkan adat. Di bawah pemerintahan
B.J. Habibie, Indonesia memasuki babak baru dalam sistem
pemerintahannya dengan berlakunya Undang-Undang Otonomi
Daerah di mana daerah-daerah memiliki kewenangan dalam
membangun sistem pemerintahan dan pengelolaan keuangan
sendiri. Kewenangan mengelola pemerintahan yang disebutkan
dalam UU Otonomi Daerah bermakna adanya kesempatan kepada
masyarakat adat di berbagai daerah untuk mengembalikan
peran adat dalam kehidupan sosial dan pemerintahan lokal.
Dengan berakhirnya pemerintahan Orde Baru ini maka
komunitas-komunitas lokal di berbagai daerah di Indonesia
mulai bangkit dan menjalin komunikasi. Komunikasi antar
daerah ini difasilitasi oleh beberapa LSM-LSM Indonesia.2

Dari
komunikasi ini lahir sejenis gerakan yang dinamakan diri

2

Khususnya WALHI yang menjadi aktor utama pada tahun-tahun awal
menaikkan kesadaran masyarakat adat di Indonesia.

10ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

sebagai gerakan masyarakat adat. Pada tanggal 21 Mei tahun
1999 masyarakat adat di seluruh Indonesia melakukan kongres
yang pertama di Jakarta dan menyimpulkan beberapa hal:
1. Adat adalah sesuatu yang bersifat luhur dan menjadi
landasan kehidupan Masyarakat Adat yang utama;
2. Adat di Nusantara ini sangat majemuk, karena itu tidak
ada tempat bagi kebijakan negara yang berlaku seragam
sifatnya.
3. Jauh sebelum negara berdiri, Masyarakat Adat di Nusantara
telah terlebih dahulu mampu mengembangkan suatu
sistem kehidupan sebagaimana yang diinginkan dan
dipahami sendiri. Oleh sebab itu negara harus menghormati
kedaulatan Masyarakat Adat ini.
4. Masyarakat Adat pada dasarnya terdiri dari makhluk
manusia yang lain oleh sebab itu, warga Masyarakat Adat
juga berhak atas kehidupan yang layak dan pantas menurut
nilai-nilai sosial yang berlaku. Untuk itu seluruh tindakan
negara yang keluar dari kepatutan kemanusiaan universal
dan tidak sesuai dengan rasa keadilan yang dipahami oleh
Masyarakat Adat harus segera diakhiri.
5. Atas dasar rasa kebersamaan senasib sepenanggungan,
Masyarakat Adat Nusantara wajib untuk saling bahu-
membahu demi terwujudnya kehidupan Masyarakat Adat
yang layak dan berdaulat.3
Kesimpulan dalam pertemuan masyarakat adat pada awal
rezim reformasi ini menunjukkan adanya kesadaran akan

3

Keputusan Kongres Masyarakat Adat No. 02/KMAN/1999 tanggal 21
Maret 1999 tentang deklarasi Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

11

ketertindasan masyarakat adat pada masa pemerintahan Orde
Baru dan keinginan untuk bangkit kembali pada masa reformasi.
Keinginan ini akan dilakukan dengan penghargaan terhadap
aspek-aspek spesifik yang ada dalam setiap masyarakat adat
yang ada di Indonesia.
Selama sepuluh tahun terakhir gerakan masyarakat adat
cukup berperan di daerah-daerah Indonesia dalam membangun
pemerintahan yang dasarnya sistem sosial dan budaya lokal.
Lembaga-lembaga adat yang lemah ataupun sempat hilang
pada masa Order Baru dibangun kembali. Generasi mudapun
jauh lebih tertarik pada adat dan pengetahuan lokal. Generasi
muda sering mengikut proses revitalisasi lembaga-lembaga
adat karena keterlibatannya LSM-LSM lokal maupun nasional
yang memfasilitasi proses tersebut. Misalnya di Aceh Jaringan
Komunitas Masyarakat Adat (JKMA) adalah satu LSM lokal
yang terlibat dalam gerakan masyarakat adat. Perkembangan
ini tidak serupa di seluruh Indonesia, di beberapa daerah
masyarakat adat menjadi aktor yang sangat kuat, tetapi di
daerah-daerah lain setelah antusiasme awal gerakan ini tidak
dapat posisi kuat dalam pemerintahan lokal.
Para peneliti sudah cukup banyak menulis tentang adat
pada masa reformasi ini, dan lebih khusus tentang gerakan
masyarakat adat yang didiskusikan di atas. AMAN sendiri sudah
menertibkan beberapa buku yang menjelaskan tujuan dan
kegiatan anggota-anggota jaringan ini (Kartika dan Gautama,
1999). Ada beberapa perkumpulan artikel yang mendiskusi
perkembangan-perkembangan di berbagai daerah di Indonesia
(Davidson dan Henley, 2007; Sakai, Banks dan Walker, 2009,
Sakai, 2002). Ahli-ahli antropologi menganalisis revitalisasi

12ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

adat secara lebih dalam di beberapa daerah, misalnya Acciaioli
(2001, 2002) dan Li (2001) di Sulawesi, Avonius (2004) di
Lombok, Twikromo (2008) di Sumba, Benda-Beckmann dan
Benda-Beckmann (2001) di Sumatra Barat, dan Davidson
(2007) di Kalimantan Barat. Dengan buku ini kami harap bisa
membuka ruang diskusi dan analisis tentang perkembangan di
Aceh, yang sampai sekarang belum termasuk sebagai analisis
revitalisasi adat di Indonesia.

Aceh, Konflik dan Perdamaian

Kebangkitan adat di berbagai daerah di Indonesia sebagaimana
tergambar dalam penelitian-penelitian yang tersebut di atas
tidak serta merta sama dengan apa yang terjadi di Aceh.
Pascajatuhnya rezim Orde Baru di bawah kepemimpinan
Suharto, di Aceh konflik panjang di antara Gerakan Aceh
Merdeka (GAM) dengan pemerintah Republik Indonesia (RI)
terus berlanjut. Konflik bersenjata yang terjadi di Aceh pada
awal reformasi ini menyebabkan banyak efek dari kebijakan
pemerintah Indonesia di bawah rezim reformasi tidak
berkembang, termasuk kebijakan mengenai Otonomi Daerah.
Meskipun pemilihan umum tahun 1999 dan 2004 di Aceh
dilaksanakan sebagaimana di daerah lain di Indonesia, namun
dari sisi partisipasi masyarakat dan proses pelaksanaannya
dipengaruhi oleh tekanan konflik dan perang bersenjata antara
pasukan TNI/Polri dengan GAM.
Kondisi di atas menyebabkan revitalisasi adat di Aceh tidak
seiring dengan apa yang terjadi di daerah lain di Indonesia.
Namun demikian bukan berarti di Aceh tidak ada usaha ke arah
revitalisasi tersebut. Beberapa kebijakan pemerintah Indonesia

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

13

dan lokal Aceh memberikan dampak pada usaha revitalisasi
adat. Misalnya UU No. 44 Tahun 1999 tentang Keistimewaan
Aceh menegaskan kembali bahwa Aceh adalah daerah istimewa
dalam bidang adat, agama dan pendidikan.4

Penyelenggaraan
keistimewaan tersebut menurut Pasal 3 ayat (2) meliputi: (1)
penyelenggaraan kehidupan beragama, (2) penyelenggaraan
kehidupan adat, (3) penyelenggaraan pendidikan, dan (4) peran
ulama dalam penetapan kebijakan daerah. Berdasarkan UU ini
pemerintah memberikan ruang kepada masyarakat adat lokal
untuk bangkit dam memungkinkan kembali adat yang ada
dalam masyarakat mereka.
Status keistimewaan Aceh dikonfirmasikan dengan
keluarnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang
Otonomi Khusus bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Kebijakan ini
menyebabkan lahirnya tiga lembaga baru di Aceh yaitu Majelis
Adat Aceh (MAA) yang mengurus masalah adat; Majelis
Permusyawaratan Ulama (MPU) yang membidangi masalah
agama Islam dan Majelis Pendidikan Daerah (MPD) yang
mengurus masalah pendidikan. MAA merupakan perubahan
dari Lembaga Adat dan Kebudayaan Aceh (LAKA) yang dibentuk
pada masa Gubernur Aceh Prof. Ali Hasjmy (1957-1964). Pada
tahun 2003 muncul juga sebuah qanun yang cukup penting
yaitu Qanun No. 4 Tahun 2003 Tentang Mukim.
Tetapi pada masa pemerintahan Megawati Sukarnoputri
tahun 2003 di Aceh kembali dilakukan Operasi Militer, dan

4

Dasarnya keistimewaan Aceh meletak dalam perjanjian perdamaian
setelah konfik Darul Islam pada tahun 1959.

14ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Undang-Undang Otonomi Khusus tidak dapat dilaksanakan. UU
tersebut juga cukup banyak dikritisi oleh kelompok-kelompok
masyarakat di Aceh maupun pemerhati dari luar daerah ini.
Kritik umum yang muncul adalah bahwa pada pemerintah
Aceh jauh lebih banyak memfokuskan untuk membangun
sistem Syariat Islam dan menguatkan MPU. Karena itu pasal-
pasal tentang adat dan posisi MAA sebagai lembaga yang
seharusnya sekuat MPU termarjinalisasikan. Baru setelah
proses perdamaian mulai tahun 2005 dan dasar hukum yang
baru tentang Pemerintahan Aceh muncul tahun kemudian
revitalisasi adat mulai nampak di Aceh.

UU-PA dan Revitalisasi Adat

Pada tahun 2005 perjanjian perdamaian antara Pemerintah
Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka ditulis dalam satu
Memorandum of Understanding (MoU) yang berfungsi sebagai
dasar untuk mengundangkan dan mengimplementasikan
pemerintahan sendiri di Aceh. MoU tersebut belum banyak
membicarakan adat, kata tersebut hanya disebut satu kali
dalam pasal 1.1.6. yang menetapkan bahwa qanun-qanun di
Aceh harus “menghormati tradisi sejarah dan adat istiadat
rakyat Aceh.” Dan meskipun tidak menyebut kata adat pasal
selanjutnya (1.1.7.) yang tentang pembentukannya Lembaga
Wali Nanggroe juga tidak kalah pentingnya terhadap proses
revitalisasi lembaga adat di Aceh.
Sebagai tindak lanjut dari kesepakatan damai dan untuk
mengimplementasikan MoU Helsinki, Pemerintah Indonesia
telah mengeluarkan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU-
PA) No. 11 Tahun 2006. Saat itu, Undang-Undang Nomor 18

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

15

Tahun 2001 dicabut dan diganti dengan UU-PA. Dalam Undang-
Undang tersebut, keberadaan lembaga adat dijelaskan secara
lebih spesifik.5

Bab XII membicarakan tentang Lembaga Wali
Nanggroe dan memposisikan Wali Nanggroe sebagai pemimpin
adat yang tertinggi di Aceh. Bab XIII mendaftarkan tigabelas
lembaga adat6

yang harus difungsikan dan berperan “sebagai
wahana partisipasi masyarakat” dalam penyelenggaraan
Pemerintahan Aceh di tingkat kabupaten/kota maupun
provinsi. Secara lebih detail, Bab XV menjelaskan mengenai
mukim dan gampong.
Untuk pelaksanaan pasal-pasal UU-PA tentang Adat
Pemerintah Aceh telah mengeluarkan beberapa regulasi di
tingkat provinsi: Qanun No. 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan
Kehidupan Adat dan Adat Istiadat, serta Qanun No. 10 Tahun
2008 tentang Lembaga Adat. Kedua qanun tersebut di satu
sisi menjadi indikasi keseriusan Pemerintah Aceh dalam
upaya menjadikan adat yang ada di Aceh berlaku kembali dan
menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pemerintahan
Aceh. Di sisi lain ini juga dapat menjadi sebuah “sentralisasi”
yang dilakukan Pemerintah Aceh terhadap pluralitas adat yang
ada di berbagai kabupaten di Aceh. Saat ini Aceh memiliki 23
kabupaten yang setiap kabupaten memiliki perkembangan adat

5

Pasal-pasal UU-PA tentang adat bisa dilihat di lampiran buku ini.

6

Tigabelas lembaga tersebut adalah: 1) Majelis Adat Aceh, 2) imum mukim
atau nama lain, 3) imum chiek atau nama lain, 4) keuchik atau nama lain, 5)
tuha peut atau nama lain, 6) tuha lapan atau nama lain, 7) imum meunasah
atau nama lain, 8) keujruen blang atau nama lain, 9) panglima laot atau nama
lain, 10) pawang glee atau nama lain, 11) peutua seuneubok atau nama lain,
12) haria peukan atau nama lain, dan 13) syahbanda atau nama lain. (UU-
PA, Pasal 98(3))

16ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

tersendiri. Di daerah yang mayoritas dihuni oleh suku Aceh
sekalipun memiliki adat yang khas. Misalnya perkembangan
adat yang ada di Aceh Barat berbeda dengan adat di Aceh
Timur, meskipun pada dasarnya mereka sama-sama Aceh.
Perbedaan ini lebih besar lagi pada suku-suku kecil yang ada
di kabupaten lain, seperti suku Gayo, Alas, Kluet dan lainnnya.
Implikasi dari UU-PA maupun qanun-qanun provinsi ini
adalah pemerintah kabupaten diminta untuk menghidupkan
kembali lembaga adat Aceh di wilayahnya masing-masing.
Setiap kabupaten diwajibkan menyusun qanun mukim sendiri
sebagai wujud dari pemerintahan adat di daerahnya. Dalam
qanun mukim akan diatur mengenai kelembagaan adat yang
lain yang pernah ada di Aceh seperti keujruen blang, panglima
laot, pawang glee, etua seuneubok, haria peukan,
dan lain
sebagainya. Bahkan ada kecenderungan memahami lembaga
mukim sebagai sebuah pemerintahan di tingkat mukim, di
mana selain memiliki pemimpin eksekutif (imum mukim) juga
memiliki anggota legislatif yang disebut tuha lapan. Lembaga
mukim juga diharapkan masuk menjadi bagian dari birokrasi
resmi pemerintahan yang membawahi beberapa buah gampong.
Di level provinsi, kelembagaan adat ini akan dipegang oleh
sebuah lembaga yang disebut dengan Wali Nanggroe. Pasal
96 (1) UU-PA menjelaskan bahwa Wali Nanggroe merupakan
“kepemimpinan adat sebagai pemersatu masyarakat yang
independen, berwibawa, dan berwenang membina dan
mengawasi penyelenggaraan kehidupan lembaga-lembaga
adat, adat istiadat, dan pemberian gelar/derajat dan upacara-
upacara adat lainnya.” Selama beberapa tahun terakhir ini
tuntutan agar lembaga Wali Nanggroe terealisasi semakin

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

17

menguat di Aceh. Pada tahun 2009 Pansus XI DPRA telah
melakukan dengar pendapat dan melakukan usaha menyusun
Qanun Wali Nanggroe, termasuk berkunjung ke Swedia untuk
bertemu dengan Hasan Tiro yang akan dijadikan Wali Nanggroe
pertama. Namun sayangnya karena beberapa alasan teknis dan
koordinasi mereka gagal bertemu.
Meskipun begitu, beberapa bulan sebelum masa jabatan
anggota DPRA periode 2004-2009 berakhir, dewan tetap
melakukan pembahasan mengenai Rancangan Qanun (Raqan)
Wali Nanggroe. Namun Raqan Wali Nanggroe tersebut tidak
diterima oleh eksekutif (Tabloid Kontras: 506 | Tahun XI 10-
16 September 2009). Penolakan itu didasari pada beberapa
alasan; pertama, pengesahan Qanun Wali Nanggroe dianggap
belum mendesak; kedua, pengesahan qanun ini akan berakibat
bertambahnya beban anggaran pemerintah daerah; dan ketiga,
kedudukan Wali Nanggroe yang belum jelas, apakah sebagai
mitra Pemerintah Aceh, atau sebagai lembaga tertinggi yang
berada sejajar dengan Pemerintah Aceh.
Paska penolakan Raqan Wali Nanggroe pada akhir 2009,
ada perkembangan lain pertengahan tahun 2010 yang akan
memengaruhi proses ini. Di awal Juni 2010 Hasan Tiro
meninggal dunia, dan meninggalkan ruang yang cukup
besar untuk persaingan terhadap posisi Wali Nanggroe
tersebut.7

DPRA baru yang sedang dikuasai oleh partai lokal
menjanjikan bahwa Qanun Wali Nanggroe akan diprioritasikan

7

Akhir Agustus 2010 para petinggi mantan GAM telah memilih Malik
Mahmud, Perdana Menteri GAM di masa konfik, menggantikan Hasan
Tiro sebagai Wali Nanggroe (Modus Aceh Edisi 6-12 September 2010, hlm
14-15: ’Dari Mentroe ke Wali Nanggroe’)

18ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

dalam Program Legislasi (Prolega) 2010. Baru setelah qanun
tersebut disahkan menjadi lebih jelas apa sebenarnya posisi
Wali Nanggroe terhadap pemerintah, apa saja tugasnya Wali
Nanggroe, dan bagaimana proses seleksinya.

Adat dalam Praktek

Kebanyakan tulisan yang tentang adat di Aceh sampai sekarang
lebih berfokus ke masalah-masalah normatif, dan/atau
diskusikan sistem adat secara ideal. Buku ini mencoba pindah
fokus ke arah bagaimana adat dipraktekkan, dan melihat
dinamika dalam proses revitalisasi lembaga adat yang sedang
berjalan di Aceh saat ini.
Apakah peran pemerintah daerah dan respon yang diberikan
berbagai kalangan untuk kebangkitan adat sebagaimana kami
paparkan di atas mendapat sambutan dari masyarakat secara
umum di Aceh? Singkatnya, apakah revitalisasi adat yang
dilakukan pasca kejatuhan Orde Baru mendapatkan apresiasi
dari semua kelompok masyarakat di Aceh? Bagaimana
bentuk apresiasi tersebut dihubungkan dengan kebijakan
pemerintah daerah yang selama ini menjadikan adat sebagai
bagian dari program mereka? Pertanyaan inilah yang akan
dieksplorasi dalam lembaran-lembaran buku ini. Pernyataan
ini dirasa perlu untuk mendapatkan sebuah gambaran
hubungan pemerintahan, lembaga adat dan masyarakat pasca
tumbangnya Orde Baru. Apalagi dalam kajian yang dilakukan
di beberapa daerah lain di Indonesia menunjukkan bagaimana
respon itu sangat beragam.
Buku ini berawal dari penelitian yang dilakukan oleh
sekelompok kecil peneliti muda Aceh yang berasal dari daerah

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

19

yang berbeda. Penelitian tersebut diawali dengan keinginan
untuk melihat berbagai revitalisasi lembaga adat yang ada
dalam masyarakat di beberapa kabupaten di Aceh yaitu Aceh
Besar, Nagan Raya dan Bener Meriah.8

Ketiga lokasi ini menjadi
daerah yang kami anggap memiliki keunikan tersendiri. Aceh
Besar dikenal sebagai “Aceh utama” karena faktor sejarahnya.
Dalam kajian historis Aceh Besar menjadi pusat kerajaan Aceh
Darussalam pada abad XV sampai XIX. Hal ini menyebabkan
Aceh Besar memiliki sejarah adat yang komplit terutama
mengenai hubungan adat dengan kekuasaan pemerintahan.
Bahkan istilah-istilah adat yang ada saat ini dalam masyarakat
Aceh pada dasarnya adalah istilah yang berasal dari Aceh
Besar. Sementara Nagan Raya adalah sebuah kabupaten yang
memiliki sistem peradatan Aceh yang lebih spesifik. Hal ini
disebabkan adanya pengaruh kharismatik dari seorang ulama
(Abu Peuleukung) yang ada di sana. Dan lokasi ketiga yaitu
Bener Meriah dipilih sebagai representasi adat Gayo yang sama
sekali berbeda dengan apa yang berkembang di Aceh secara
umum. Namun sebagai bagian dari Provinsi Aceh, Bener Meriah
juga memiliki keterkaitan dengan kebijakan pemerintah Aceh
termasuk dalam hal adat.
Jelas tiga kabupaten ini belum bisa mewakili Aceh pada
seluruhnya dan banyak hal dan isu yang penting dalam proses
revitalisasi adat belum termasuk buku ini. Akan tetapi beberapa

8

Pemilihan lokasi ini tidak dimaksudkan bahwa pembatasan kabupaten
selalu mirip pembatasan daerah-daerah adat di Aceh. Tetapi karena dalam
buku ini kami memfokuskan meneliti hubungan antara pemerintah
kabupaten dengan lembaga-lembaga adat, maka kami memilih mencocokkan
daerah penelitian dengan daerah administrasi kabupaten

20ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

tema-tema yang menarik muncul dari kajian-kajian tiga ini,
yang kami harap akan menginspirasi penelitian-penelitian dan
diskusi selanjutnya tentang perkembangan adat di Aceh pada
masa ini.

Adat dan Pemerintahan

Satu kesimpulan yang muncul dari kajian-kajian ini adalah
variasi respon yang diberikan oleh pemerintah provinsi dan
pemerintah kabupaten di Aceh dalam usaha revitalisasi adat.
Selain membentuk MAA, Pemerintah Aceh juga menugaskan
beberapa instansi di kantor Gubernur Aceh menangani
masalah-masalah adat. Biro Keistimewaan punya satu sub-
bagian yang menangani masalah kebudayaan dan adat istiadat.
Satu bagian Biro Hukum memperhatikan hukum adat. Dan Biro
Pemerintahanpun punya pegawai-pegawai yang ditugaskan
untuk menangani lembaga-lembaga adat seperti mukim dan
gampong. Namun ternyata MAA yang jauh lebih aktif daripada
biro-biro pemerintahan dalam melaksanakan berbagai upaya
membangun kembali institusi adat yang ada di Aceh. Usaha ini
nampak dalam kegiatan-kegiatan yang melibatkan mukim di
seluruh Aceh. Beberapa upaya untuk menertibkan administrasi
mukim di daerah juga dilakukan oleh MAA.
Di beberapa kabupaten yang menjadi lokasi penelitian ini
juga nampak dialektika pemerintah daerah kabupaten dalam
merespon usaha revitalisasi adat. Kondisi seperti ini terjadi
di Bener Meriah di mana pemerintah setempat hampir tidak
menunjukkan keinginannya membangun kembali institusi
adat dalam pemerintahan. Meskipun dalam beberapa kegiatan
formal ia melibatkan tokoh adat, namun jelas secara institusi

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

21

perhatiannya pada usaha kebangkitan kembali adat hampir
tidak ada.

Berbeda dengan Bener Meriah, pemerintah Kabupaten Nagan
Raya nampak lebih aktif dan berpartisipasi dalam membangun
adat. Dari apa yang ditulis oleh Zulkarnaini kita dapat saksikan
bagaimana pemerintah terlibat dari beberapa prosesi adat di
sana. Namun hal ini harus dipahami juga berkaitan dengan
keterkaitan genealogis pemimpin pemerintahan dengan
Peuleukung. Peuleukung yang pada awalnya adalah nama
sebuah tempat menjadi sangat mewarnai adat Nagan Raya
setelah seorang ulama kharismatik lahir di sana. Hingga kini
keturunan ulama Peuleukung menjadi penguasa di Nagan Raya.
Namun demikian keterlibatan pemerintah di sini lebih banyak
pada prosesi adat semata. Sementara dalam usaha melakukan
sebuah revitalisasi adat nampaknya pemerintah Nagan Raya
tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi di derah lain di
Aceh.

Peradilan Adat

Dalam kehidupan sehari-hari di gampong-gampong di Aceh,
lembaga adat masih sering dipakai dalam penyelesaian
sengketa-sengketa. Kalau ada masalah yang ternyata tidak
dapat diselesaikan di antara dua belah pihak paling sering
masyarakat di gampong minta bantuan dari keuchik untuk
menyelesaikannya. Prosedur penyelesaian sengketa di gampong
lebih mirip rekonsiliasi daripada proses hukum formal. Tetapi
harus diakui juga, seperti dikemukakan oleh Nurlaila di Aceh
Besar, bahwa belum pasti semua orang di gampong ingin
menggunakan lembaga adat untuk menangani kasus-kasus

22ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

sengketa. Mereka justru merasa lebih aman kalau kasus dibawa
ke sistem pengadilan formal. Selain itu juga nampak, orang-
orang yang status sosio-ekonominya lebih kuat lebih memilih
peradilan formal daripada peradilan adat. Masyarakat miskin di
gampong tidak punya pilihan tersebut, karena pada umumnya
mereka tidak mampu membayar proses hukum formal yang
lumayan mahal.

Aktor-aktor dalam Revitalisasi Adat

Kalau menganalisis prosesnya revitalisasi lembaga-lembaga
adat di Aceh selama beberapa tahun yang terakhir ini kita bisa
lihat bahwa aktor-aktor utama dalam proses ini hampir serupa
dengan apa yang ada di daerah Indonesia yang lain. Selain
lembaga pemerintah ada juga unsur-unsur dari masyarakat sipil
yang berperan dalam proses ini. Tingkat aktifitas tokoh-tokoh
pemerintah ternyata sangat bervariasi di antara kabupaten-
kabupaten, seperti sudah didiskusikan di atas. Aktor-aktor
non-pemerintah di semua kabupaten hampir sama. Majelis
Adat Aceh, yang sejenis aktor semi-pemerintah pada umumnya
sangat aktif dalam proses ini, tetapi kegiatannya tergantung
dukungan dari lembaga-lembaga lain. MAA dalam perannya
melakukan banyak workshop, seminar, pelatihan dan lain
sebagainya kepada imum mukim, keuchik, imum chik untuk
lebih mengerti masalah adat dan menjalankannya di daerah
mereka.

Sementara LSM-LSM meresponnya dengan penguatan
lembaga mukim dan peran mereka dalam masalah-masalah
tertentu. Dalam hal ini Aceh tidak jauh beda dengan daerah-
daerah lain di Indonesia. Ternyata di mana saja justru lembaga

PENDAHULUAN: REVITALISASI ADAT DI INDONESIA DAN ACEH

23

sipil masyarakat yang menjadi aktor penting untuk mendukung
pemberdayaan lembaga-lembaga adat. Di Banda Aceh saja kami
mendapatkan beberapa LSM yang memiliki program khusus
dalam pemberdayaan masyarakat adat ini seperti Prodeelat,
Rumpun Bambu, Green Aceh Institute, Jaringan Komunitas
Masyarakat Adat (JKMA) dan lain sebagainya. LSM-LSM ini
memiliki peran dalam usaha membangun kembali peran adat
dalam masyarakat dengan mengaktifkan kembali kelembagaan
adat. Mereka juga ikut melakukan pelatihan, workshop, seminar
untuk penguatan tersebut. Bahkan JKMA yang kantornya
ada di seluruh kabupaten di Aceh memfasilitasi penyusunan
rancangan qanun mukim di setiap daerah tingkat dua untuk
diajukan kepada eksekutif dan legislatif daerah tersebut.
Respon dan dukungan juga diberikan oleh lembaga
kepolisian melalui program Perpolisian Masyarakat (Polmas).
Polmas adalah sebuah upaya untuk menjadikan polisi sebagai
bagian dari masyarakat dan masyarakat sebagai bagian dari polisi
dalam tugas-tugas tertentu. Dalam hal ini polisi menggunakan
tokoh adat dan agama untuk menjadi “polisi” di daerah mereka
masing-masing dengan tugas menyelesaikan masalah yang ada
di gampong mereka sebelum membawanya kepada polisi. Hal
ini sangat dekat dengan peran mukim yang selama ini memang
bertugas dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam
masyarakat di daerah kepemimpinannya. Dengan program ini
maka polisi berkepentingan untuk melakukan pelatihan kepada
mukim dan aparatur adat yang lain sehingga mereka dapat
melaksanakan peran tersebut dengan baik.
Contoh-contoh yang muncul dari penelitian tim kami
menunjukkan bahwa revitalisasi lembaga-lembaga adat di

24ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Aceh adalah proses yang sangat kompleks dan memengaruhi
masyarakat maupun sistem pemerintahan di Aceh secara luas.
Proses ini punya potensi yang cukup tinggi untuk pemberdayaan
masyarakat untuk berpartisipasi dalam penyelenggaraan
pemerintahan Aceh. Akan tetapi, dalam proses revitalisasi ini
ada juga beberapa risiko yang bisa menghalangi terealisasinya
partisipasi tersebut secara ideal. Misalnya ada potensi konflik
di antara lembaga-lembaga yang terlibat, dan juga potensi
politisasi lembaga-lembaga adat. Penelitian primer yang
mengemukakan dan menganalisis situasi langsung di lapangan
bisa membantu aktor-aktor yang berperan mengantisipasi
risiko-risiko yang ada, dan mencari solusi pada masalah-
masalah yang ada. Kami berharap buku ini bisa membuka
ruang untuk diskusi dan penelitian selanjutnya tentang adat
di Aceh.

Revitalisasi
Peradilan Adat
di Aceh Besar

oleh: Nur Laila

ACEH BESAR

Awalnya Kabupaten Aceh Besar merupakan daerah yang terdiri
dari tiga kewedanan yaitu kewedanan Seulimum, Lhok Nga
dan Sabang. Kabupaten Aceh Besar disahkan menjadi daerah
otonom melalui Undang-Undang No. 7 tahun 1956 dengan ibu
kota di Banda Aceh. Pada 29 Agustus 1983 Kabupaten Aceh Besar
resmi dipindahkan ke Kota Jantho sebagai ibukota. Kabupaten
Aceh Besar memiliki luas wilayah 2.974,12 km, 23 kecamatan,
68 mukim dan 604 desa/kelurahan. Jumlah penduduk 309.512
jiwa (laki-laki 159.721 jiwa dan perempuan 149.791 jiwa)
dengan kepadatan 116 jiwa/km. Secara geografis terletak
pada 5,2’ – 5,8’ LU dan 95,0’ – 95,8’ BT. Keadaan alam terbagi
dalam daratan landai, tanah berbukit atau bergelombang serta
tanah pegunungan yang curam. Kondisi tersebut menyebabkan
sebagian wilayahnya berada pada pesisir pantai dan pada
bagian yang lain berada di pedalaman. Secara demografi
penduduk yang mendiami Aceh Besar adalah termasuk etnis
Aceh (ureung Aceh) dan juga di Aceh banyak sekali suku-suku
yang lain sebagai pendatang seperti Arab, Batak, India dan dan
belakangan ini banyak suku Jawa yang berdatangan khususnya
pada masa Belanda juga juga pada masa Orde Baru dengan
program transmigrasi khususnya di daerah Jantho dan Saree,
kedua daerah ini pembauran budaya cukup kentara.

26ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

SANTI1

SEKARANG SUDAH PUAS KARENA SURAT CERAI
dari Mahkamah Syar’iyah Jantho, tempat ia memperkarakan
kasus perceraian dengan suaminya sudah keluar dengan
status hukum pasakh. Santi menggugat cerai suaminya karena
menurut dia sudah tidak ada kecocokan lagi di antara mereka
berdua. Proses perceraian Santi tidak terlepas dari peran
mediasi dari salah satu LSM lokal yaitu KKTGA yang bergerak di
bidang pemberdayaan perempuan. Proses ini juga dibantu oleh
keuchik dari gampong Santi, karena kasus Santi bukan hanya
karena ia tidak cocok dengan suaminya, tapi sudah beralih
pada perebutan anak. Menurut keuchik gampong di mana Santi
berdomisili, kasus mereka sudah berlapis, dan tidak mungkin
lagi diselesaikan secara adat. Dalam kasus Santi pihak perangkat
gampong sudah pernah mendamaikan Santi dan suaminya dua
kali dalam masalah percekcokan rumah tangga. Pada kali ketiga
percekcokan terjadi disertai dengan kasus perebutan anak.
Menurut keuchik gampong Santi, pihak suami, keluarga
suami dan perangkat adat gampong asal suami Santi tidak
proaktif untuk menyelesaikan masalah ini. Oleh sebab itu, agar
masalah tidak berlarut, pihak keuchik gampong Santi yang
khawatir kasus ini akan beralih pada kasus lain memutuskan
meminta bantuan KKTGA. Sang keuchik mengenal lembaga
KKTGA karena ia pernah diundang dalam salah satu
pelatihan yang mereka adakan. Lewat bantuan ini kasus Santi
ditangani, bukan hanya masalah anak tapi juga masalah
status perkawinannya. Santi tidak sanggup lagi hidup dengan
suaminya dengan beragam alasan hingga akhirnya ia memilih

1

Santi bukan nama aslinya.

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

27

untuk bercerai dan sah menurut hukum dengan surat cerai
dari pengadilan Mahkamah Syar’iyah Jantho.
Akan tetapi, suami Santi, sebut saja Rahman, merasa sangat
kesal dan tidak bisa menerima keputusan Mahkamah Syar’iyah
Jantho. Dia merasa dalam kasusnya telah cacat hukum, dan
menurutnya lagi proses perceraiannya tidak sesuai dengan
tatacara hukum yang sebenarnya. Menurut Rahman rumah
tangganya sebenarnya masih bisa dipertahankan seandainya
dilalui dengan proses yang muslihat yang sesuai dengan
tatacara hukum yang berlaku dalam masyarakat Aceh yaitu
melalui peradilan adat. Menurutnya perceraian mereka terjadi
karena campur tangan “NGO gender.”2

Menurutnya “NGO
gender” tersebut telah membawa kasus mereka langsung ke
pengadilan Mahkamah Syar’iyah, atas prakarsa keuchik desa
istrinya, hingga mereka akhirnya bercerai.
Rahman memang mengakui bahwa dalam rumah tangganya
sudah pernah ada percekcokan, tetapi menurutnya hal itu
lumrah. Dia bercerita bahwa dalam kasus percekcokan tersebut
mereka pernah didamaikan dua kali oleh perangkat desa dan
berhasil. Tapi pada kasus yang ketiga ini pihak perangkat desa
istrinya tidak menyelesaikan secara adat terlebih dahulu, akan
tetapi langsung membawa kasus mereka pada pihak “gender”.
Padahal secara adat masalah mereka harus diselesaikan oleh
perangkat adat di desa dan bila di tingkat desa tidak bisa
didamaikan masih ada lembaga mukim. Di dalam lembaga
tersebut ada peradilan adat yang bisa menangani masalah

2

Kata-kata ‘NGO gender’ ini penulis kutip dari kutipan langsung pada saat
wawancara dengan Rahman tanggal 25 Agustus 2009, maksudnya adalah
NGO yang peduli masalah perempuan.

28ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

mereka, tidak perlu langsung ke Mahkamah Syar’iyah.
Kesimpulan Rahman adalah bahwa mereka (keluarga Santi dan
perangkat desa Santi) tidak menghargai peradilan adat.
Rahman berpendapat bahwa lembaga NGO, terutama
NGO gender, telah merusak tatanan lembaga adat di Aceh.
Sebenarnya banyak masalah bisa diselesaikan dengan adat,
tetapi NGO gender langsung menangani tanpa melibatkan lagi
lembaga adat. Menurut dia pihak pemerintah, yakni Mahkamah
Syar’iyah, sekarang lebih mendengar pengaduan dari NGO
gender daripada perangkat adat baik di desa walaupun di
tingkat mukim. Akhirnya Rahman mempertanyakan untuk
apa Aceh ini banyak sekali mengeluarkan qanun tentang
pemperdayaan kembali lembaga adat kalau akhirnya yang
didengar adalah pihak sponsor dan pemerintah. Pihak
pemerintah menurutnya lagi sekarang seperti didekte oleh
NGO-NGO yang datang dari luar Aceh terutama NGO gender.
Dia mempertanyakan apa bedanya dengan tidak ada qanun
lembaga adat, kalau toh ternyata kasus yang diselesaikan oleh
Mahkamah Syar’iyah dari tahun ke tahun terus meningkat
berkali lipat. Dan menurutnya juga orang Aceh ini terlena,
sebenarnya Aceh bisa membedayakan kearifan lokal sendiri
tapi tertipu dengan nikmat sesaat yang dijanjikan oleh pihak
donor yang sebenarnya hanya mengacaukan Aceh saja.
Berdasarkan kasus di atas, terlihat dalam revitalisasi
lembaga peradilan adat terjadi suatu polemik, bahkan terkesan
ada dua wajah peradilan yaitu peradilan adat versus peradilan
agama (Mahkamah Syar’iyah). Kondisi ini sangat kontradiksi
dengan adagium/hadih maja atau istilah Aceh yang mengatakan
adat ngen hukom hanjeut cre, lagee zat ngen sifeut, lagee mata

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

29

puteh ngen mata hitam (adat dan hukum tidak boleh bercerai
seperti zat dan sifat, seperti mata hitam dengan mata putih).
Kalaulah adagium di atas mengatakan bahwa hukum dengan
adat seperti zat dan sifat, lantas sekarang ada dua bentuk
peradilan yaitu peradilan adat dan peradilan agama.
Dalam artikel ini penulis tidak melakukan perbandingan
antara peradilan agama dengan peradilan adat, namun
berdasarkan latar belakang di atas artikel ini memfokuskan
untuk mengkaji sejauh mana revitalisasi lembaga peradilan
adat dalam menyelesaikan berbagai kasus dalam masyarakat.
Mengingat pemberdayaan peradilan adat merupakan salah
satu agenda penting dalam pemberdayaan lembaga adat di
Aceh, terutama di Aceh Besar
Revitalisasi lembaga adat sekarang terus direspon oleh
berbagai pihak baik pemerintah maupun non pemerintah, dalam
berbagai bidang termasuk peradilan adat. Majelis Adat Aceh
(MAA) sebagai lembaga bentukan pemerintah yang mengurusi
masalah adat Aceh, menjadikan program pembentukan dan
pemberdayaan peradilan adat sebagai program utama mereka
dalam dua tahun terakhir ini. Sehingga semestinya peradilan
adat terutama di Aceh Besar akan menjadi sebuah lembaga
adat yang lebih baik dibandingkan dengan lembaga adat
lainnya. Mengingat letak Aceh Besar yang dekat dengan ibu kota
Provinsi Aceh, sehingga bila ada pemberdayaan oleh berbagai
pihak Aceh Besar menjadi daerah pertama atau menjadi daerah
pilot proyek untuk berbagai pemberdayaan.
Untuk keperluan menjelaskan masalah di atas, penulis
melakukan studi lapangan di beberapa kecamatan di Aceh Besar
selama Juni 2009 hingga Maret 2010. Penulis mewawancarai

30ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

masyarakat biasa, dan juga para tokoh adat dan pekerja LSM
yang melakukan program berkaitan dengan adat Aceh. Selain
itu penulis juga terlibat dalam beberapa kegiatan adat di Aceh
Besar, termasuk mengikuti beberapa proses peradilan adat
yang dilaksanakan selama melakukan studi lapangan. Penulis
juga mengikuti beberapa workshop berkaitan dengan adat,
baik yang diadakan oleh pemerintah Aceh Besar melalui MAA
atau yang dilaksanakan oleh LSM lokal dan internasional yang
bekerja di Aceh Besar.

Pengertian Peradilan Adat

Pada saat mendengar istilah peradilan adat yang paling sering
terbayang pada persepsi kita adalah suatu peradilan yang
diselenggarakan di tingkat-tingkat gampong atau desa. Peradilan
adat tersebut bertujuan menyelesaikan sengketa-sengketa
menurut adat istiadat dan kebiasaan di lingkungan masyarakat
itu sendiri. Atau boleh jadi ada juga yang terbayang pada
hukum-hukum adat. Untuk sampai pada pengertian peradilan
adat tersebut penulis terlebih dahulu akan menjelaskan tentang
hukum adat. Saat ini hukum adat di Indonesia telah menjadi
sebuah objek studi para ahli dan telah dipraktekkan sejak
zaman kekuasaan Belanda dan Jepang di Indonesia.
Snouck Hurgronje adalah seorang yang pertama kali
memakai istilah hukum adat dengan nama adatrecht (Bahasa
Belanda) yang kemudian diikuti oleh sarjana-sarjana hukum
lainnya dan kemudian menjadi teknis-juridis. Pada tahun
1920 istilah adatrecht pertama kali dipakai dalam undang-
undang Belanda mengenai perguruan tinggi Belanda (Bushar
Muhammad 2003: 1-7). Adatrecht ini sendiri mempunyai

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

31

pengertian yang beragam. Akan tetapi hukum adat itu tetap
juga mempunyai unsur-unsur asli maupun unsur-unsur
keagamaan, walaupun di beberapa daerah unsur agama tidak
begitu berpengaruh. Namun dalam arti sempit hukum adat
adalah hukum asli yang tidak tertulis yang didasarkan pada
kebudayaan dan pandangan hidup bangsa Indonesia yang
memberi pedoman pada sebagian besar bangsa Indonesia dalam
kehidupan sehari-hari, antar sesama lebih-lebih di pedesaan.
Snouck Hurgronje membenarkan tidak semua hukum agama
menjadi hukum adat, hanya bagian-bagian hidup manusia
yang mesra yang berhubungan erat dengan kepercayaan dan
kehidupan batin saja. (Bushar 2003 : 4).
Setelah Indonesia merdeka, adatrecht tidak lagi menjadi
hukum yuridis formal, dan adatrecht juga tidak dikenal
lagi sebagai perpaduan hukum adat dengan hukum agama.
Karena kemudian permasalahan mengenai agama diatur di
bawah “peradilan agama” di mana segala permasalahan yang
menyangkut masalah agama diselesaikan di pengadilan agama
sesuai dengan ketentuan agama masing-masing. Sedangkan
masalah hukum tentang adat istiadat tidak lagi diatur dalam
ketentuan hukum formal yang diakui oleh negara, tapi adat di
suatu tempat hanya secara de facto diakui dan dipatuhi oleh
masyarakat adat di suatu tempat. Di samping itu kemudian
juga dikenal peradilan formal lainnya seperti peradilan negeri,
peradilan tinggi, dan peradilan militer secara otonom (Mardani
2009: 28).

Dengan ditetapkannya peradilan agama sebagai suatu
peradilan formal di Indonesia, peradilan adat dan hukum
adat hanyalah merupakan bagian dari kemaslahatan dan

32ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

kearifan lokal setiap komunitas masyarakat tertentu. Tujuan
peradilan adat adalah untuk menyelesaikan masalah-masalah
antar manusia di tingkat desa. Namun keputusan yang diambil
secara adat tidak mempunyai kekuatan hukum secara formal.
Misalnya kalau sepasang suami istri bercerai dalam pengadilan
adat, secara hukum adat, pasangan ini sudah resmi bercerai.
Namun karena hukum adat itu sendiri tidak mempunyai
kekuatan hukum secara formal, masih diperlukan sebuah
tahapan lain untuk mendapatkan legalitas formalnya.
Frase ‘peradilan adat’ merupakan salah satu bentuk
revitalisasi lembaga adat di Aceh. Frase ini tidak lahir dari
masyarakat adat itu sendiri, tapi dinamai oleh orang dari luar
yang melihat dan memantau apa yang terjadi dalam masyarakat.
Hal ini disebabkan dalam masyarakat di tingkat desa tidak
mengenal istilah ‘peradilan adat.’ Sama halnya dengan istilah
‘hukum adat’ seperti yang dikatakan oleh Van Vollenhoven
yang memperkenalkan hukum adat, yakni istilahnya muncul
dari sarjana-sarjana, ahli-ahli dan peminat-peminat lain yang
di luar masyarakat adat. Von Svigny menulis, hukum adat itu
ist und wird mit dem volk, hukum adat itu ada di tengah-tengah
rakyat sendiri dirasakan dan dipraktekkan oleh rakyat sendiri
tiap hari, jadi ganjil sekali untuk mengatakan bahwa rakyat
“menemukan hukum adat” (Bushar 2003 : 14).
Istilah ’peradilan adat’ sekarang banyak kita dengar dari
kalangan-kalangan MAA, dan beberapa LSM yang mempunyai
program untuk pemberdayaan lembaga tersebut. Sedangkan
dalam kalangan masyarakat sendiri yang mempraktekkan
mekanisme penyelesaian sengketa lewat lembaga ini tidak
mengatakan menyelesaikan perkara lewat peradilan adat.

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

33

Mereka mempunyai istilah sendiri seperti pedame ureung
(mendamaikan orang), peumat jaroe (berjabat tangan)
meudame (berdamai). Hal ini pernah penulis tanyakan pada
seorang keuchik di Lam Aling yang baru saja pulang dari
training peradilan adat pada 2009. Beliau mengaku sangat
tidak familiar dengan kata peradilan adat, sehingga tetap saja
menjawab baru pulang dari training mengenai adat, dan yang
dibicarakan adalah masalah cara peudame ureung (cara-cara
mendamaikan orang).
Istilah ‘peradilan adat’ sekarang ini pertama kali
dipopulerkan oleh MAA dan menjadi program kerja untuk
MAA yang kemudian didukung oleh beberapa NGO lokal dan
internasional. Dalam pemberdayaan lembaga peradilan adat
mereka mempunyai program kerjanya masing-masing dan
dengan pendekatan masing-masing pula. Oleh sebab itu istilah
peradilan adat sekarang menjadi lebih dikenal untuk mereka
yang meneliti adat dan sebagian kecil masyarakat umum
sekarang juga mulai menyebutkan istilah tersebut. Namun
dalam prakteknya lembaga peradilan adat masih berlangsung
menurut kebiasaan dan tradisi masyarakat setempat. Meskipun
banyak tokoh-tokoh adat yang sudah mengikuti training atau
pelatihan tentang mekanisme tentang tata cara sebuah peradilan
adat dijalankan seperti halnya peradilan formal, namun dalam
prakteknya masih berjalan sebagaimana biasanya.
Dalam sejarah Aceh tercatat sejak masa Iskandar Muda
(1607-1636) kekuasaan peradilan dipegang oleh qadhi malikul
adil
di tingkat kerajaan, dan qadhi ulee balang di tiap daerah.
Di bawahnya ada qadhi di tingkat mukim, dan yang terendah
adalah ureung tuha gampong (perangkat di tingkat gampong).

34ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Semua perkara yang terjadi terlebih dahulu diselesaikan di
tingkat gampong. Apabila di tingkat gampong tidak selesai
naik banding ke tingkat mukim. Suatu perkara yang sudah
tidak sanggup diselesaikan di tingkat mukim baru dilimpahkan
pada qadhi ulee balang. Bentuk peradilan ini sudah sama
dengan peradilan formal, karena sudah ada hakim, sudah ada
yang kalah dan yang menang, dan juga sudah membayar untuk
proses peradilan serta sudah ada penjara. Namun hanya sedikit
kasus yang sampai ke qadhi malikul adil dan apabila suatu
kasus sudah sampai pada penyelesaian di tingkat qadhi malikul
adil
berarti sudah dimejahijaukan seperti istilah sekarang
(Mardani 2009: 32) sehingga dalam pepatah atau adagium
Aceh dikenal dengan: Pantang peudeung meulingteung sarong,
Pantang rincong meulinteung mata, Pantang ureung diteuoeh
kaom, Pantang hukom ta ba bak meja.
Artinya pantang pedang
melewati sarung, pantang rencong matanya ke atas, pantang
orang mananyakan/menjelekkan kaum/keturunan, pantang
hukum di bawa ke meja pengadilan.
Istilah ‘hukum adat’ di Indonesia memang sejak zaman
Belanda sudah dikenal, diteliti dan dipraktekkan. Sedangkan
istilah ‘peradilan adat’ ini adalah istilah baru, maka belum banyak
literatur yang membahas tentang pengertian istilah peradilan
adat. Abdurrahman mengatakan dalam makalahnya di seminar
pelatihan peradilan adat yang diselenggarakan oleh MAA pada
tanggal 2-6 Juni 2009 bahwa ‘peradilan adat’ adalah sejenis
peradilan perdamaian untuk menyelesaikan berbagai sengketa
dalam masyarakat yang ada pada dua tingkat komunitas yaitu
desa dan mukim. Peradilan adat bukan bagian dari peradilan
formal tapi sebagai alternatif wadah penyelesaian perkara.

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

35

Muhammad Umar dalam buku Peradaban Aceh (2006: 83)
mengatakan peradilan adat adalah pengadilan secara adat,
pengadilan adat bukan melayani orang perkara, bukan mencari
mana yang benar mana yang salah, tetapi ialah mengusahakan
yang bertikai untuk berbaikan/berdamai. Penyelesaian perkara
melalui lembaga adat merupakan penyelesaian perkara secara
damai, untuk merukunkan para pihak yang berperkara dan
memberikan sanksi adat bagi orang yang melakukan perbuatan
yang melanggar adat setempat. Penyelesaian perkara secara
adat sekarang ini dikenal dengan istilah peradilan adat.
Oleh sebab itu peradilan berbeda dengan peradilan formal
yang diurus oleh negara, tetapi ia menjadi alternatif wadah
penyelesaian perkara. Umar juga menambahkan, kalau dilihat
dari sisi filosofisnya, peradilan adat memberikan nilai tambah
bagi kehidupan masyarakat karena bisa tetap menjamin
terjaganya keseimbangan kerukunan dan ketentraman
masyarakat. Peradilan adat sebagai peradilan perdamaian
bertujuan untuk menyelesaikan berbagai sengketa dalam
masyarakat yakni gampong dan mukim, majelis ini terdiri dari
beberapa fungsionaris (Umar 2006: 83).
Ketua MAA Provinsi Aceh, Badruzzaman mengatakan:
“Sejak zaman dulu peradilan adat di Aceh sudah ada, namun
dulu bukan dinamakan dengan peradilan adat karena peradilan
tersebut bagian dari peradilan pemerintahan kerajaan Aceh
itu sendiri. Namun sekarang karena kita sudah mengenal
pengadilan yang lain, yang modern, maka pengadilan model
dahulu disebut dengan pengadilan adat, dan sekarang di
tingkat desa sistem pengadilan tersebut masih berjalan tapi
tidak dinamakan dengan pengadilan adat hanya diselesaikan

36ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

secara adat oleh orang tua di gampong.”3

Badruzzaman
menambahkan peradilan adat dalam konteks Aceh memang
merupakan sesuatu yang sangat diinginkan oleh masyarakat
Aceh, dan merupakan lembaga yang murah dan secara
psikologi dapat memuaskan. Hal ini disebabkan pengadilan
adat berusaha mendamaikan, bukan mencari siapa yang salah
dan yang benar.

Dalam hadih maja Aceh dikenal sebuah ungkapan:
Hukom lillah sumpah bek, Hukum adat ikat bek, Hukom
ade pake bek, Hukom meujroh pake bek.
Artinya berhukum
dengan hukum Allah jangan ada sumpah, berhukum dengan
hukum adat jangan diikat, hukum itu harus adil, dengan
hukum perdamaian bisa ditegakkan. Sebuah ungkapan lain
menyebutkan: Kuah beu lemak u bek beukah atau uleu beu
mate ranteng bek patah,
artinya kuah harus lemak tapi kelapa
jangan pecah, atau ular harus mati ranting jangan patah.
Adagium di atas berarti suatu masalah atau perkara dapat
diselesaikan tanpa mengeluarkan dana yang banyak. Selain
itu ada sebuah ungkapan lain: ”Hai aneuk hai bek tameupake,
Menyoe na masalah yang rayeuk ta peu ubit, Yang ubit tapeu
gadoh, Beu tameujroh-jroh sabe keudroe-droe, Ubiet rugoe
rayeuk that laba, Lee syedara panyang kaom, Hana untong
menyoe ta meulhoe, Tameuperkara habeh paon, methon-thon
han seuleusoe.”
Ungkapan ini bisa diartikan dengan; hai anak
jangan bertengkar, kalau ada masalah yang besar diperkecilkan,
kalau ada yang kecil dihilangkan saja, sesama saudara sendiri
harus berbaikan, karena ruginya sedikit untungnya banyak,

3

Wawancara dengan ketua MAA Aceh tanggal 20 Nevember 2009

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

37

banyak saudara banyak keluarga, tidak ada untung kalau kita
berkelahi, kalau memperkarakan sesuatu akan habis emas,
dan bertahun-tahun tidak selesai.
Dengan melihat hadih maja di atas menjadi suatu bukti
bahwa dalam sejarah Aceh istilah yang masa sekarang
dinamakan sebagai ’peradilan adat’ di tingkat desa merupakan
suatu peradilan yang dibutuhkan dan dipandang efektif untuk
menyelesaikan berbagai perkara yang terjadi sehingga tercipta
suatu perdamaian di kalangan masyarakat. Banyak juga adagium
yang menghendaki suatu perkara sebaiknya diselesaikan dulu
menurut peradilan adat di setiap gampong dan bisa dibanding
ke tingkat mukim. Sudah sejak dulu di Aceh sudah dikenal juga
peradilan di tingkat selanjutnya, tidak ubahnya seperti peradilan
formal kita sekarang, sehingga tercipta adagium-adagium atau
hadih maja yang mengingatkan bahwa suatu perkara sebaiknya
diselesaikan terlebih dahulu di peradilan adat.

Dasar Hukum Pelaksanaan Peradilan Adat di Aceh

Untuk melaksanakan peradilan adat sekarang ini didukung
oleh sejumlah peraturan perundang-undangan. Dengan kata
lain payung hukum untuk pelaksanaan lembaga peradilan adat
sudah mamadai baik di tingkat gampong maupun di tingkat
mukim. Berikut ini undang-undang, qanun dan persetujuan
yang mengatur tentang pelaksanaan peradilan adat di Aceh
dan khususnya di Aceh Besar:
1. Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 tentang
Penyelenggaraan Keistimewaan Aceh, pasal 3 dan 6
menegaskan bahwa: daerah diberikan kewenangan untuk
menghidupkan adat yang sesuai dengan syariat Islam.

38ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang
Pemerintahan Aceh.
3. Qanun Aceh Nomor 4 Tahun 2003 tentang Pemerintahan
Mukim dalam Provinsi NAD. Dan Qanun Nomor 5 tahun
2003 tentang Pemerintahan Gampong dalam Provinsi
Nanggroe Aceh.
4. Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan Kehidupan
Adat dan Adat Istiadat serta Qanun Aceh Nomor 10 Tahun
2008 tentang Lembaga Adat.
5. Qanun Aceh Besar Nomor 8 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Gampong dan Qanun Aceh Besar Nomor 10
tahun 2007 tentang Tuha Peut Gampong.
6. Keputusan bersama antara kepolisian, gubernur, MAA, IAIN
Ar-Raniry, Balai Syura dan Persatuan Wartawan Indonesia
(PWI) tahun 2008. Dalam MoU tersebut menyebutkan:
”Adakalanya proses pendekatan permasalahan kamtibmas
dan kejahatan untuk mencari pemecahan masalah melalui
upaya memahami masalah, analisa masalah, mengusulkan
alternatif solusi dalam rangka menciptakan rasa aman,
bukan berdasarkan hukum pidana tapi juga hukum-hukum
adat.”4

Perangkat Pelaksana Peradilan Adat

Dalam sebuah hadih maja disebutkan: Menyoe carong
tapeulaku, boh labu jeut keu aso kaya, menyoe hana carong
tapeulaku, aneuk teungku jeut keu beulaga.
Artinya, kalau kita

4

Keputusan ini memang tidak mempunyai efek hukum secara langsung,
tapi bisa juga dilihat sebagai suatu pacuan untuk pelaksanaan peradilan adat

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

39

cerdik dalam melakukan sesuatu, maka buah labu bisa jadi
serikaya, tapi jika bila tidak cerdik dalam melakukan sesuatu,
anak ulamapun bisa jadi pencuri. Dalam ungkapan lain
disebutkan: Menyoe carong tapeuantok, dalam bak jok diteubiet
saka, menyoe hana carong tapeuantok, sieuroe seuntok lale
meudawa.
Artinya, kalau kita bijak dalam berbuat, dari buah
(pohon) aren bisa keluar gula (yaitu gula aren), namun kalau
tidak padai melakukan sesuatu, asyik berkelahi sepanjang hari.
Hadih maja ini mengandung makna bahwa bila segala sesuatu
dilakukan dengan bijaksana dan dengan manajemen yang baik
dan tepat akan memudahkan dan dapat bijaksanalah ia.
Adapun badan, atau orang yang menyelenggarakan
peradilan adat baik di gampong maupun di tingkat mukim
sangat tergantung pada suatu kasus di tingkat komunitas
masyarakat baik di tingkat gampong maupun mukim. Dalam
buku Pedoman Peradilan Adat di Aceh yang diterbitkan oleh
MAA kerja sama dengan UNDP Indonesia, Uni Eropa, APPS dan
Bappenas, mencoba menawarkan mekanisme peradilan adat
dijalankan seperti halnya peradilan formal. Di tingkat gampong
peradilan adat terdiri dari keuchik sebagai ketua; Sekretaris
Gampong sebagai panitera; imum meunasah dan tuha peut
sebagai anggota, serta Ulama, tokoh adat/cendikiwan lainnya
di gampong yang bersangkutan (ahli di bidangnya) sesuai
kebutuhan. Sementara di tingkat mukim peradilan adat terdiri
dari imum mukim sebagai ketua; Sekretaris mukim sebagai
panitera; tuha peut mukim sebagai anggota, dan ulama, tokoh
adat/cendikiawan lainnya sesuai dengan kebutuhan.
Dalam proses pelaksanaan peradilan adat yang berlangsung
dalam masyarakat sebenarnya tidak terdapat perangkat

40ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

peradilan/hakim peradilan yang jelas dan baku. Hal ini
disebabkan peradilan adat yang dipraktekkan tidak mempunyai
ketentuan yang baku, dan belum ada ketentuan hukumnya
tertulis. Bahkan masih dijumpai di lapangan sekretaris desa
yang seharusnya berperan sebagai panitera dalam peradilan
adat yang tidak bisa baca tulis. Pada umumnya mereka diangkat
sebagai sekretaris desa karena kewibawaan dan kejujuran.
Hal ini terbukti di kecamatan Kuta Cot Glie pada saat adanya
program pemberdayaan untuk para sekretaris desa yang oleh
program PNPM-MP diharuskan untuk bisa baca tulis. Ternyata
ada beberapa sekretaris desa yang diwakili oleh orang lain,
alias disuruh orang lain mengikuti pelatihan tersebut dengan
alasan sekretaris desa sendiri tidak pandai menulis.
Peradilan adat biasanya dipraktekkan di kalangan
masyarakat dengan berbagai cara:
1. Diselesaikan sendiri antar pelaku yang bermasalah
tanpa melibatkan unsur lain (menyelesaikan sendiri)
dengan berdamai sendiri, misalnya dalam kasus tabrakan
kecil. Kalau tidak melibatkan keluarga tidak ada proses

peusijuek.5

2. Diselesaikan dengan cara melibatkan antar keluarga yang
bermasalah tanpa melibatkan orang lain atau unsur lain

5

Peusijuek adalah suatu serimoni untuk berdamai yang dalam serimoni
tersebut ada ketan kuning satu nampan, daun seunijuek, satu jenis rumput
on naleung sambo, on manek mano (sejenis daun yang ada bunga kecil-kecil
putih), beras, padi dan sedikit tepung. Dalam acara tersebut sebagai tanda
perdamaian kedua belah pihak yang bermasalah didudukkan dalam satu
tikar berdampingan kemudian kedua orang ini dipeusijuek oleh petua adat
dan keduanya disulangkan nasi ketan tadi dan akhirnya keduanya berjabat
tangan tanda damai

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

41

seperti keuchik, tapi diselesaikan sesama keluarga yang
bermasalah (secara kekeluargaan). Proses penyelesaian
tergantung kasus, dan kesepakatan kedua keluarga kadang
kala dengan peusijuek atau denda yang disepakati antar
sesama keluarga yang bermasalah.
3. Adakala suatu masalah yang terjadi diselesaikan oleh orang
cerdik pandai atau orang yang berpengaruh di suatu desa
tanpa melibatkan perangkat desa secara formal.
4. Dengan melibatkan perangkat desa atau disebut diselesaikan
secara adat oleh ureung tuha gampong, bila suatu masalah
sudah dilaporkan kepada perangkat desa, maka pihak
perangkat gampong memanggil pihak yang bermasalah
untuk diadili, dan sanksi atau hukum yang diterima
tergantung kesepakatan para perangkat ureung tuha
gampong
proses perdamaian diakhiri dengan peusijuek.
5. Banding ke mukim, dengan melibatkan unsur mukim: bila
suatu masalah tidak bisa diselesaikan di tingkat desa bisa
dibanding ke tingkat mukim, yang diselesaikan secara adat
oleh para perangkat mukim.
6. Peradilan adat juga bisa diselesaikan oleh lembaga-lembaga
adat yang lain yang khusus, tergantung masalah yang terjadi.
Misalnya, masalah yang terjadi di laut akan diselesaikan
oleh lembaga panglima laot. Masalah menyangkut masalah
hutan juga akan diselesaikan oleh pawang uteun, dan begitu
juga dengan masalah yang terjadi di lahan bisa diselesaikan
oleh seunebok.
Dalam konteks Aceh Besar sekarang yang sudah
mempraktekkan (kembali) lembaga peradilan adat secara
efektif adalah di wilayah lembaga panglima laot, sedangkan

42ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

wilayah lembaga adat yang lain ternyata belum efektif
berjalan. Dalam praktiknya sekarang, peradilan adat juga
belum memiliki fungsionaris yang baku dan tetap. Dari hasil
pengamatan penulis di lapangan praktek peradilan adat di
Aceh Besar pada masa kini bisa disimpulkan sebagai berikut:
keuchik biasanya dilibatkan apabila ada sidang gampong
secara keseluruhan; keujruen blang menangani masalah yang
berkaitan dengan persawahan dan sumber air sawah; panglima
laot
dipanggil apabila masalah berkaitan dengan kelautan dan
perikanan. Sementara lembaga adat yang lain ternyata belum
begitu berfungsi, seperti peutua seuneubok, haria peukan,
shahbandar
dan lainnya.
Jika persoalan di tingkat gampong tidak selesai
atau cakupannya lebih luas dari sebuah gampong, maka
penyelesaiannya akan diberikan kepada imum mukim.
Secara khusus imum mukim mempunyai wewenang untuk
menyandingkan perkara banding yang datang dari keuchik di
wilayahnya, menyidangkan perkara banding yang datang dari
keujruen blang, menyidangkan perkara banding yang datang
dari haria peukan, menyidangkan perkara banding yang datang
dari panglima laot, dan menyidangkan perkara banding yang
datang dari imum meunasah (Umar, 2006: 84). Namun dalam
kenyataanya lembaga peradilan adat di tingkat mukim belum
berjalan, karena mukim tidak punya anggaran sebagaimana
halnya desa.6

Peradilan adat di tingkat mukim sampai sekarang
di Aceh Besar memang belum ada yang berfungsi secara

6

Wawancara dengan ketua Forum Duek Pakat Imum Mukim Aceh Rayeuk,
Bapak Nasruddin pada tanggal 25 Maret, 2010.

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

43

optimal. Dalam amatan penulis hanya dua mukim yang baru
menggagaskan peradilan adat tersebut yaitu mukim Jeumpet
dan Lampanah.

Wewenang Peradilan Adat

Suatu perkara akan diproses secara hukum adat di tingkat
perangkat gampong dengan peradilan adat bila suatu kasus
sudah dilaporkan pada perangkat gampong (ureung tuha
gampong
), baik pada keuchik, tuha peut, teungku imum, atau
sekretaris gampong oleh pihak yang terlibat. Biasanya tanpa
laporan dari masyarakat pihak perangkat gampong tidak
beraksi, kecuali dalam masalah yang sangat terdesak atau
krusial seperti pembunuhan, penganiayaan dan ketertiban
umum lainnya. Namun kalau masalah keluarga seperti ahli
waris, perkawinan dan masalah lainnya meskipun diketahui
oleh pihak perangkat gampong jarang sekali langsung diproses,
tapi terlebih dahulu menunggu laporan.
Ketika saya berada di lapangan saya sempat membuktikan
satu kasus pelanggaran yang diabaikan oleh para perangkat
gampong karena tidak adanya laporan dari masyarakat. Dalam
kasus tersebut seorang suami menthalak (mengucapkan kata
cerai) istrinya dengan thalak tiga. Menurut hukum Islam si
suami tidak boleh lagi pulang ke rumah istrinya, sebelum si
istri tersebut dinikahi oleh orang lain, bercerai, lalu menikah
kembali dengan suaminya yang lama. Namun karena mereka
sudah terjalin cinta kembali, pasangan ini berkumpul lagi
seperti semula. Kalau ditinjau dari kacamata hukum Islam
dan dari adat hal ini sudah sejenis pelanggaran. Akan tetapi
karena kasus tersebut tidak dilaporkan ke perangkat gampong

44ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

sehingga hanya menjadi gosip di antara warga saja dan tidak
ada proses hukum.

Namun bila suatu kasus melanggar ketertiban umum dan
meresahkan warga perangkat gampong langsung turun tangan.
Hal ini terlihat dalam kejadian yang terjadi di sebuah gampong di
Kecamatan Kuta Cot Glie. Ada satu keluarga yang tidak bersedia
menghibahkan sebagian tanahnya untuk pembuatan saluran di
gampong, padahal saluran tersebut sangat diperlukan untuk
kebersihan dan kenyamanan gampong. Mengetahui hal ini,
pihak perangkat gampong melakukan beberapa upaya untuk
meyakinkan keluarga tersebut agar memberikan sebagian
tanahnya, namun tetap tidak berhasil. Lalu aparatur gampong
mengadakan rapat dan memutuskan untuk menjatuhkan vonis:
keluarga tersebut tidak akan mendapatkan pelayanan apapun
dari gampong. Vonis ini membuat keluarga tersebut melunak
hingga akhirnya -mungkin dengan berat hati- menghibahkan
sebagian tanahnya untuk saluran.
Bila suatu kasus tidak bisa lagi diselesaikan secara
adat pihak gampong akan memberikan wewenang untuk
diselesaikannya melalui hukum formal. Tetapi ternyata tidak
semua menunggu keputusan dari pihak gampong. Dalam
masyarakat yang sudah tahu prosedur dan biasanya dari
kalangan yang menengah ke atas bila ada masalah mereka
memilih langsung memperkarakannya pada peradilan formal.
Mereka beralasan untuk memperkarakan masalah ke peradilan
formal karena legalitas hukumnya jelas. Tetapi juga pemilihan
prosedur itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri karena
menandakan mereka memiliki cukup uang. Di dalam gampong,
warga akan mendapat prestise (kebanggaan) bila suatu masalah

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

45

sudah sampai ke pengadilan formal. Dalam kalangan Aceh
Besar sering dikatakan dengan ungkapan “masalah nyan ka
dipeuek u Jantho”
(masalah tersebut sudah dinaikkan ke Jantho
maksudnya peradilan formal yang letaknya di kota Jantho).
Ini menandakan suatu kehebatan, karena sudah diperkarakan
tingkat formal bukan hanya di tingkat gampong.
Kalau kita lihat realitas sepertinya masyarakat banyak
yang sudah yakin kalau peradilan formal sudah dapat
menyelesaikan segala jenis masalah, dan bisa menjadi
alternatif untuk peradilan adat. Namun selama ini ada juga
sejenis kasus pelanggaran yang tidak bisa dipungkiri oleh
masyarakat tetapi masih terjadi di tengah masyarakat di Aceh
Besar yaitu masalah santet (ilmu hitam). Masalah santet yang
diyakini masyarakat Aceh Besar ini tidak bisa diselesaikan
melalui hukum formal, karena peradilan formal belum
menyediakan hukum untuk menyelesaikan masalah ilmu
hitam. Oleh sebab itu proses penyelesaian masalah santet ini
murni harus melalui peradilan adat.
Dalam buku Pedoman Peradilan Adat di Aceh, MAA
membatasi beberapa kasus yang menjadi kewenangan
peradilan adat dan di luar wewenang peradilan adat yaitu:

46ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Kewenangan Peradilan Adat

Di Luar Kewenangan
Peradilan Adat

Pembatasan tanah
Pelanggaran dalam bersawah
dan pertanian lainnya
Perselisihan antar keluarga
Wasiat
Fitnah
Perkelahian
Perkawinan
Pencurian
Masalah pelepasan ternak
Kecelakaan lalulintas
(kecelaan ringan)
Ketidakseragaman turun ke
sawah

Pembunuhan
Pemerkosaan
Narkoba, ganja dan sejenisnya
Pencurian berat
Subversif (membangkang
terhadap negara)
Penghinaan terhadap
pemerintah yang sah
Kecelakaan lalulintas berat
Penculikan
Khalwat
Perampokan bersenjata

Menurut Qanun Nomor 9 Tahun 2008 tentang Pembinaan
Adat dan Adat Istiadat pasal 13 mengatakan sengketa/
perselisihan adat dan adat istiadat meliputi berbagai persoalan
yang terjadi dalam masyarakat dalam skala kecil atau
persoalan antar warga. Antara lain masalah-masalah dalam
rumah tangga, masalah pelanggaran syariat Islam, perselisihan
hak milik, pencurian ringan yang masih dapat ditangani oleh
perangkat adat, sengekta di tempat kerja dan lain sebagainya.
Qanun ini tidak membatasi kewenangan di luar peradilan
adat. Karena dalam qanun tidak secara jelas membatasi
masalah yang diselesaikan secara adat, maka tidak tertutup
kemungkinan semua masalah yang terjadi dalam masyarakat
bisa diselesaikan secara adat.

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

47

Apakah penyelesaian secara adat dibatasi atau tidak, dalam
prakteknya sebagian besar masyarakat masih menjalankan
tata cara seperti dahulu dalam menyelesaikan masalah
dengan lembaga adat. Hal ini memang sangat berkaitan
dengan keinginan dan preferensi individu yang bersangkutan
dalam menyikapi masalah. Ini kita bisa lihat misalnya dalam
penyelesaiaan masalah kecelakaan lalu lintas. Meskipun
kasus kecelakaan telah diselesaikan secara kekeluargaan
oleh parangkat adat di tingkat desa, namun bila ada warga
yang tidak puas dan ia mempunyai cukup uang, ia bisa saja
memperkarakan kembali ke pengadilan formal. Sedangkan
warga yang miskin dan tidak begitu tahu tentang hukum
formal paling sering memilih cukup dengan peradilan adat di
gampong saja.

Kalau ditanya sama tokoh-tokoh adat sendiri, mereka
ingin meluaskan wewenangan peradilan adat. Menurut
salah seorang tokoh adat dari Aceh Besar, yang ikut dalam
pelatihan Peradilan Adat yang diselenggarakan oleh MAA
Aceh, dalam konteks budaya Aceh semua permasalahan
sebenarnya bisa diselesaikan secara adat, karena kesemuanya
telah pernah dipraktekkan dalam masyarakat Aceh.7

Akan
tetapi, menurutnya sekarang, pada saat lembaga adat ini mulai
hendak diberdayakan lagi, banyak sekali pembatasan yang
mesti diikuti. Sehingga ini dapat mehilangkan substansi dari
peradilan adat itu sendiri. Padahal kalau diselesaikan menurut
tatacara peradilan adat antar yang bertingkai akan kembali
menjadi baik dan akan menjadi saudara.

7

Wawancara dengan tokoh adat di Aceh Besar, tanggal 12 Juli 2009

48ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Dia mencontohkan dalam kasus tabrakan yang
menyebabkan kematian, kalau diperkarakan ke pengadilan
formal pasti akan lahir suatu keputusan tentang siapa yang
menang dan siapa yang salah. Yang salah mesti membayar denda
atau yang menabrak biasanya akan dimasukkan dalam penjara.
Padahal kalau diselesaikan secara adat mereka akan menjadi
saudara dan tidak akan jadi permusuhan karena tidak ada yang
dipenjara. Menurut tokoh adat tersebut meskipun orang tidak
dipenjarakan tetap dia bisa menginsafi perbuatannya. Kalau
diselesaikan dengan cara adat tidak akan menjadi dendam
baru di antara kedua belah pihak. Ia mengistilahkan kasus
seperti ini dengan sebuah hadih maja, “Bu seut paya, muruwa
meuraseuki.”
Peribahasa di atas secara harfiah diartikan dengan
”monyet yang membuang air di parit, biawak yang dapat
rezeki.” Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan kalau
ada masalah jangan melibatkan orang lain, karena bisa jadi
akan dimanfaatkan oleh orang lain. Seandainya masalah bisa
diselesaikan sendiri akan lebih mudah dan murah.
Seorang peserta pelatihan lain, yang juga tokoh adat di
daerah Kuta Cot Glie juga mempermasalahkan pembatasan-
pembatasan wewenang peradilan adat yang dia menanggap
kreasi baru. Menurut dia materi-materi yang dibahas dalam
pelatihan peradilan adat tersebut, yang misalnya tentang
wewenang peradilan adat serta peran perempuan dalam
perspektif adat, bertentangan dengan adat. Dia berpendapat
bahwa dalam adat Aceh tidak ada pembatasan untuk masalah
yang bisa diselesaikan secara adat. Dia juga keberatan kalau
perempuan dilibatkan dalam perangkat peradilan karena
menurut dia hal tersebut tidak sesuai dengan adat Aceh. Dia

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

49

menambahkan, keterlibatan unsur perempuan dalam lembaga
tuha peut (lembaga legislatif) di tingkat desa juga tidak ada
dasar dalam agama. Dasar tuha peut tersebut dari pancaran
sahabat nabi, dan sahabat nabi tidak ada unsur perempuan.
Namun pernyataan beliau ini sangat bertentangan dengan
apa yang terjadi ketika sebuah masalah menimpa keluarganya.
Setelah salah seorang keponakannya tertembak oleh aparat
keamanan. Tokoh adat tersebut langsung meminta aparat
kepolisian untuk mengusut tuntas kasus penembakan tersebut.
Dalam hal ini beliau tidak pernah menawarkan penyelesaian
masalah dengan peradilan adat, padahal pada umumnya beliau
sangat yakin semua masalah dapat diselesaikan dengan peradilan
adat. Dari contoh inipun kita bisa lihat bahwa pembatasan
wewenang peradilan adat masih kurang jelas, dan apakah suatu
kasus akan dibawa ke peradilan adat atau ke peradilan formal
sangat tergantung pada pilihan individu yang terlibat.

Proses Penyelesaian Perkara

Dalam proses penyelesaian perkara peradilan adat tidak
pernah membedakan kasus pidana atau perdata. Pihak
perangkat desa akan mengusaha menyelesaikan semua
masalah yang dilaporkan pada pada perangkat desa. Meskipun
dalam prakteknya sampai sekarang dalam peradilan adat di
tingkat desa cara penyelesaian sengketa pidana dan perdata
belum dibedakan, buku Pedoman Peradilan Adat di Aceh telah
membedakan tata cara penyelesaian sengketa dan pidana.
Menurut buku pedoman ini penyelesaian sengketa perdata/
pidana mulai dengan menerima pengaduan, dan proses
selanjutnya adalah sidang persiapan, penulusuran duduk

50ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

sengketa, sidang persiapan putusan, penawaran alternatif,
rapat pengambilan keputusan dan yang terakhir pelaksanaan
keputusan. Sementara penyelesaian perkara yang bersifat
pidana prosesnya berbeda: setelah menerima laporan, tokoh
peradilan mengamankan para pihak, melakukan penanganan
khusus untuk perempuan atau anak-anak, mengkondusifkan
suasana damai terutama pada pihak keluarga yang dirugikan,
dan dalam pelaksanaan putusan mengadakan peusijuek untuk
mengembalikan kerukunan.
Di samping adanya perbedaan antara perkara kasus pidana
dan perdata, buku pedoman tersebut juga mengharuskan
adanya kelengkapan administrasi dalam proses pelaksanaan
peradilan adat. Alasan yang dikasih untuk kewajiban ini
adalah bahwa di zaman yang semakin modern ini, administrasi
peradilan gampong/mukim semakin dibutuhkan. Pembukuan
setiap peristiwa dan pengumpulan data tentang kasus tersebut
harus dilakukan untuk membuktikan bahwa apa yang pernah
dilakukan benar terjadi dan tidak terbantah lagi.
Kelengkapan administrasi minimal yang harus ada dalam
setiap peradilan adat di gampong/mukim adalah:
1. Buku registrasi yang berfungsi untuk mencatat setiap
laporan dari masyarakat tentang adanya sengketa/perkara
yang terjadi dan diminta untuk diselesaikan secara adat di
gampong.
2. Lembaran berita acara, yang dibuat untuk mencatat segala
yang mengemuka yang muncul dalam proses persidangan.
Segala data atau keterangan sedetil mungkin harus tercatat
dalam berita acara, baik keterangan dari pihak saksi-saksi,
alat bukti, maupun pertimbangan para majelis peradilan

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

51

3. Buku induk perkara, yang berisikan hal-hal pokok dari
keseluruhan penyelesaian perkara. Buku ini diperlukan
untuk memudahkan menemukan sengketa-sengketa yang
pernah diselesaikan. Buku ini mencatat semua kasus yang
pernah ditangani, karena itu cukup satu buku untuk satu
desa/mukim.
4. Lembaran keputusan perkara, merupakan surat keputusan
yang dikeluarkan oleh pihak peradilan adat di desa tentang
suatu perkara yang dilengkapi dengan nomor.
Selain itu juga tata letak sidang peradilan adat gampong
diseragamkan, seperti halnya letak persidangan formal. Di
samping itu juga diatur teknis musyawarah dalam peradilan
adat di antaranya: adanya perantara atau mediator yang
mempunyai peran, tahapan pertemuan dan strategi pertemuan
tertentu, seperti halnya peradilan formal.
Namun dalam praktek ternyata proses penyelesaian
perkara masih belum sesuai dengan cara yang dilatihkan
oleh MAA. Masyarakat yang diwawancarai mengakui bahwa
proses penyelesaian perkara masih belum dilengkapi dengan
administrasi yang berupa buku catatan perkara. Hal yang sama
dikonfirmasi juga oleh seorang staff lapangan dari IOM yang
mengomentar usaha sosialisasi oleh UNDP dan MAA dalam
hal penyelesaian perkara.8

Pada saat pelatihan pihak MAA
memang sudah membagikan contoh buku registrasi, lembaran
berita acara dan contoh buku induk perkara, serta lembaran
keputusan perkara. Namun di desa prosedur baru itu belum

8

Wawancara dengan Pak Darmi Yunus, staf lapangan IOM tanggal 4

Desember 2009

52ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

dijalankan, dengan alasan belum perlu, dan warga masih
mengikuti segala keputusan yang di keluarkan perangkat desa
tanpa tertulis hitam di atas putih. Kebiasaan lama masih juga
dilihat dalam tata letak persidangan, yang belum diatur seperti
peradilan formal tetapi seperti rapat gampong yang biasa.
Demikian halnya dalam masalah peran perempuan: meskipun
dalam pelatihan selalu diarahkan untuk diikutsertakan pihak
perempuan, dalam praktek perempuan masih tetap merupakan
hal yang tabu untuk diikutsertakan, kecuali kalau perempuan
tersebut dipanggil sebagai saksi.

Keputusan Peradilan Adat

Keputusan peradilan adat sangat beragam. Keputusan-
keputusan bisa bervariasi antara satu kasus dengan kasus
yang lain meskipun jenis kasusnya sama. Selain itu keputusan-
keputusan juga sangat bervariasi antara satu tempat dengan
tempat yang lain. Beberapa jenis-jenis sanksi yang biasa
dijatuhkan dalam peradilan adat di Aceh Besar adalah sebagai
berikut:

Nasihat

Keputusan ini bukan berupa sebuah denda yang diberikan
kepada pelaku, namun hanya kata-kata nasihat atau wejengan
yang diberikan oleh tokoh adat kepada si pelaku atau yang
melakukan kesalahan. Keputusan nasihat diberikan dalam
kasus-kasus ringan, misalnya adanya permasalahan fitnah dan
gosip yang tidak ada buktinya atau pertengkaran mulut antar
warga karena masalah kecil.

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

53

Teguran

Hampir sama dengan nesehat, teguran diberikan oleh
pihak yang mengadili kepada yang bersalah. Namun sifat dari
teguran ini bisa saja berupa peringatan dan bahkan sudah
termasuk pada suatu ancaman. Misalnya seorang warga yang
tidak mau ikut bergotong royong dua kali di desa. Ia akan
diberikan teguran bahwa ia akan didenda pada kali ketiga.
Ancaman denda bisa berupa tidak diberikan raskin (beras
untuk orang miskin) kepadanya.

Permintaan Maaf

Keputusan permintaan maaf sangat tergantung kepada
kasus. Dalam kasus yang bersifat pribadi, permintaan maaf juga
dilakukan oleh seorang yang bersalah kepada korbanya secara
langsung secara pribadi. Namun adakalanya permintaan maaf
dilakukan secara umum karena melanggar ketertiban umum.
Misalnya, orang yang berkhalwat di suatu desa, menurut warga
desa ia telah mengkotori desanya, maka ia harus minta maaf
di depan umum.

Diyat

Dalam sanksi ini, pelaku membayar denda kepada korban
sesuai dengan kasus atau masalah yang terjadi. Dalam kasus
yang menyebabkan keluarnya darah atau meninggal dunia,
maka hukuman dan denda dinamakan dengan diyat, atau
dalam bahasa Aceh dinamakan diet. Diyat dilakukan dengan
membayar uang atau tergantung keputusan ureung tuha
gampong
, dan tergantung masalah. Dalam pengertian budaya
Aceh ini dikenal dengan luka ta sipat, darah ta sukat (luka

54ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

diukur, darah ditakar). Maka besarnya diet sangat tergantung
pada besarnya luka dan banyaknya darah yang keluar. Prosesi
ini akan diakhiri dengan upacara peusijuek dan peumat jaroe
(berjabat tangan) sebagai tanda telah dilakukan perdamaian.

Denda

Hukuman denda juga dijatuhkan sesuai dengan kasus yang
terjadi. Denda bisa berupa harta, atau uang. Tetapi orang yang
bersalah bisa juga didenda dengan cara dia tidak mendapatkan
pelayanan dari perangkat desa selama waktu yang tertentu.
Biasanya denda diberikan dalam kasus kesalahan yang
menyebabkan kerugian harta benda dengan menggantikannya
dengan barang lain yang memiliki fungsi yang sama.

Ganti Rugi

Hampir sama dengan denda, ganti rugi biasanya
dijatuhkan pada kasus pencurian dan atau tabrakan. Seorang
pencuri yang sudah ketahuan mencuri disuruh menggantikan
seluruh barang yang pernah dicurinya. Jumlah totalnya akan
ditentukan melalui keputusan adat. Demikian juga seorang
seorang yang menabrak harus memberikan ganti rugi sesuai
dengan kerugian yang diderita oleh korbannya.

Dikucilkan

Hukuman bisa juga diberikan oleh warga desa kepada
seseorang yang sering membuat masalah di suatu desa. Seorang
yang tidak pernah ikut gotong royong, tidak pernah ikut rapat,
tidak pernah ikut dalam kegiatan orang meninggal dan pesta
perkawinan di desa, saja dikucilkan. Artinya, jika ada masalah

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

55

yang menimpa dirinya maka masyarakat tidak peduli dan tidak
membantu orang tersebut mengatasi masalahnya. Contohnya,
kalau ada di antara anggota keluarganya yang meninggal dunia,
maka ia harus menyelesaikan sendiri jenazah keluarganya
tersebut dan masyarakat tidak ikut mendoakannya.

Dikeluarkan dari Gampong

Seorang yang melanggar adat bisa juga dikeluarkan
dari gampong oleh masyarakat. Hal ini terjadi bila seorang
mempunyai perangai seperti tersebut di atas ditambah
ada pekerjaan dia yang mengotori desa, misalnya seorang
bandar judi atau narkoba. Kalau ia sudah diberikan beberapa
nasihat dan teguran namun dia masih tidak menghentikan
pekerjaannya, dan tidak mau dengar apapun yang dikatakan
oleh perangkat gampong. Kalau perkara sudah berulang-ulang
dilakukan tanpa perubahan maka ia bisa saja dikeluarkan dari
gampong. Biasanya masyarakat akan membangkit sendiri untuk
berdemonstrasi, bisa dengan mengancam akan membakar
rumah pelaku bila dia tidak keluar dari desa tersebut. Ini bisa
juga terjadi pada kasus asusila.

Pencabutan Gelar Adat

Hal ini dilakukan bila perangkat adat tersebut terbukti
melawan hukum adat. Misalnya kalau seorang teungku meunasah
terbukti melakukan khalwat ia akan langsung dicabut gelar
teungku dan tidak berhak lagi memimpin upacara keagamaan.

Toep Meunalee

Sanksi ini dikenakan kepada seseorang yang menuduh

56ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

tanpa adanya bukti. Maka orang yang menuduh, karena
sudah mencemarkan nama baik orang yang dituduh, ia harus
membayar denda dengan nama toep meunalee (menutup malu).
Sanksi toep meunalee tergantung keputusan para parangkat
desa, dan disesuikan dengan kondisi masalah. Adakalanya
dengan memotong lembu atau kambing yang dimasak dan
dibagikan kepada warga desa. Namun ada kalanya sanksi
ini dipenuhi dengan hanya potong ayam saja, atau dengan
uang, atau dengan emas. Tetapi pada terakhir acara tersebut
tetap harus mengadakan acara peusijuk sebagai tanda bahwa
keduanya sudah berdamai.

Sanksi Adat di Laut

Hukuman dan sanksi yang berlaku dalam peradilan adat
sebagaimana tersebut di atas sangat berviariasi, tergantung
kapada permasalahan yang terjadi adakalanya sekedar teguran
atau nasihat apabila kasus yang terjadi tidak berat. Namun saat
ini ada pengecualian untuk perkara yang terjadi di laut atau
dalam masyarakat nelayan. Panglima laot sudah mempunyai
pedoman baku tentang sanksi yang dikenakan bagi nelayan
melanggar adat istiadat/tatacara penangkapan ikan. Dia akan
dikenakan tindakan hukum berupa pantang ke laut selama tiga
hari dan seluruh hasil tangkapan disita untuk kas panglima
laot
.

Sebagai sebuah lembaga yang sudah teratur dalam
manajemennya lembaga panglima laot telah mempunyai
syarat-syarat pengajuan persidangan perkara.
1. Setiap orang/pawang yang mengajukan perkara pada
lembaga hukum adat laot atau lembaga persidangan adat

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

57

laot harus membayar uang meja sebesar Rp 15.000.- (lima
belas ribu rupiah)
2. Pengajuan perkara tidak boleh lewat hari Kamis
3. Biaya sidang dipungut 10% dari uang hasil perkara
4. Penggugat sudah harus menghadirkan saksi-saksi pada saat
sidang dibuka
5. Saksi-saksi dari pihak yang berpekara disyaratkan harus
mengangkat sumpah
6. Apabila penggugat atau tergugat tidak menghadiri sidang
sampai dengan dua kali persidangan maka mejelis akan
mengambil keputusan
7. Apabila penggugat dan tergugat tidak hadir, perkara dapat
ditolak dan lembaga hakim akan mengambil biaya sidang
10% dari uang yang diperkarakan.

Selain itu lembaga panglima laot juga mengalami
ketentuan-ketentuan adat laot lain yang sudah baku yaitu di
antaranya adat laot tidak boleh bertentangan dengan peraturan
pemerintah dan agama Islam. Sedangkan pada wilayah adat
yang lain belum mempunyai ketetapan yang pasti sebagaimana
panglima laot.

Revitalisasi Peradilan Adat di Aceh Besar

Tidak bisa dipungkiri Aceh Besar sebenarnya merupakan
daerah yang diuntungkan dari beragam pemberdayaan yang
dilakukan baik oleh pemerintah maupun non pemerintah. Hal
ini karena letaknya Aceh Besar yang sangat strategis dekat
dengan ibu kota provinsi. Termasuk di dalamnya masalah
pemberdayaan di bidang adat. Dalam pengamatan penulis ada

58ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

beberapa bentuk revitalisasi peradilan adat yang dilakukan di
Aceh Besar, yaitu:

Pembentukan Qanun Gampong

Di setiap desa di Aceh Besar sekarang sudah terbentuk
qanun gampong, namun komposisi dan materi qanun
gampong sangat bervariasi. Qanun-qanun ini bisa hanya
berisi rencana pembangunan desa yang terdiri dari rencana
lima tahun, satu tahun, serta anggaran gampong. Selain tiga
dokumen di atas ini di beberapa gampong di Aceh Besar sudah
terdapat dan dikeluarkan qanun gampong tentang adat, tata
tertib, dan lingkungan gampong, yang berisi semua tatacara
adat dan sanksi adat yang berkaitan pelanggaran. Bentuk
qanun gampong seperti ini antara lain terdapat di kemukiman
Jantho. Di sana ada sekitar lima desa yang sudah mempunyai
qanun gampong dan sanksi sudah diregulasi secara tertulis
dan tersimpan di kantor desa. Upaya pembuatan qanun di
kemukiman Jantho ini difasilitasi oleh ESP USAID Aceh pada
tahun 2008. Selain qanun gampong di kemukiman Jantho, di
Lampanah Leungah kecamatan Seulimum juga terdapat qanun
yang berjudul “Dokumen Kesepakatan Adat: Mukim Lampanah
Leungah.
” Qanun ini berisi wewenang, fungsi dan kedudukan
dari para perangkat lembaga adat. Dokumen ini difokuskan
pada pelestarian lingkungan hidup, hutan dan sumber daya
hutan. Hal ini disebabkan karena Lampanah secara geografis
terletak di kaki gunung Seulawah yang sudah ditetapkan
sebagai Daerah Hutan Lindung sejak tahun 2005 atas prakarsa
NGO Yayasan Rumpun Bambu Indonesia (YRBI)

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

59

Pelatihan

Banyak lembaga, baik pemerintah maupun non pemerintah
melakukan beragam pelatihan yang menyangkut peradilan adat
di Aceh Besar. Mulai awal bulan November sampai pertengahan
Desember tahun 2009, UNDP bersama MAA telah melakukan
pelatihan peradilan adat bagi 604 keuchik di seluruh gampong
di Aceh Besar. Pelatihan ini mengajarkan keuchik tentang
tatacara dan mekanisme sistem peradilan adat yang baik.
Di samping itu juga ada beberapa lembaga yang melakukan
pelatihan yang berkaitan dengan peradilan adat, yang diikuti
oleh tokoh-tokoh adat.

Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM)

Forum ini adalah sebuah langkah yang baru direncanakan
oleh Polda Aceh, dalam rangka menyukseskan program Polmas
(perpolisian masyarakat). Forum ini merupakan suatu upaya
pencegahan beragam masalah yang terjadi dalam masyarakat.
Pencegahan tidak dilihat lagi sebagai tanggung jawab polisi,
namun keinginannya polisi bersama dengan masyarakat
melakukan pencegahan bersama. Menurut FKPM ini, masalah
yang muncul di gampong tidak perlu langsung dilapor ke
pengadilan atau kantor polisi, tetapi masyarakat akan dibantu
oleh polisi terlebih dahulu untuk memecahkan masalah
tersebut melalui forum tuha peut dan perangkat adat lainnya
di gampong. Bentuk penyelesaian masalah secara adat di desa
seperti dimaksudkan oleh pihak FKPM jarang menyebutkanya
penyelesaian menurut peradilan adat. FKPM ini adalah program
kerjasama dengan IOM dan masih dalam tahap pilot proyek di
beberapa desa di Aceh Besar.

60ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Ketidakpedulian Warga Terhadap Peradilan Adat

Seharusnya program pemberdayaan tersebut yang telah
dilakukan dapat menjadikan lembaga peradilan adat lebih baik
dan sebagai pilihan masyarakat di samping payung hukum
formal. Apalagi peradilan adat didukung oleh berbagai pihak
baik di tingkat gampong maupun di tingkat mukim. Dengan
demikian, sejatinya dengan adanya peradilan adat kasus
di peradilan formal seperti agama akan menurun. Namun
yang terjadi justru sebaliknya, jumlah kasus yang masuk ke
Pengadilan Agama Aceh Besar justru semakin meningkat. Pada
tahun 2006 ada 484 kasus yang masuk ke Mahkamah Syar’iyah,
tahun 2007 meningkat 859, tahun 2008 terjadi penurunan dari
tahun 2007 yaitu 608 kasus akan tetapi akan naik lagi pada
tahun 2009, yang sudah diperoleh hanya sampai bulan Mei
yaitu 357 kasus. Sampai sekarang, menurut seorang pegawai
di pengadilan Mahkamah Sya’riyah tahun ini juga meningkat.9
Dari pantauan penulis di beberapa daerah di wilayah
Aceh Besar, berbagai program revitalisasi lembaga peradilan
adat belum banyak berpengaruh. Hal ini disebabkan karena
masyarakat memang sudah mempraktekkannya peradilan adat
sejak lama, dan bila ada yang tidak puas mereka baru menempuh
tahap peradilan formal. Inipun sangat khusus karena alternatif
ini terbuka hanya bagi mereka yang mempunyai uang dan
mempunyai kapasitas untuk memperkarakan sebuah masalah
ke tingkat selanjutnya. Namun suatu relitas bagi mereka
yang tidak punya uang dan tidak mengerti tentang hukum
dicukupkan dengan peradilan di gampong.

9

Sumber data animous dari kantor Mahkamah Syar’iyah Kota Jantho

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

61

Ketidakmampuan ini bisa sangat menyulitkan kehidupan
orang di gampong. Hal ini terjadi dalam kasus perceraian antara
Murni dan Ali.10

Secara hukum agama dan hukum adat Murni
tanpa harus ke pengadilan Mahkamah Syar’iyah sudah bisa
dikatakan bercerai, karena Ali telah menthalak Murni dengan
raji’i (talak tiga). Setelah menalak istrinya, Ali melaporkan
ungkapan thalak tersebut pada perangkat desa. Perangkat
desapun sudah mengatakan sah Murni sudah bercerai karena
juga disertai sikap Ali yang sering menganiaya Murni, dan
sudah lama tidak pulang untuk mencukupi nafkah lahir batin
untuk Murni. Tapi sekarang Murni ingin kawin dengan laki-laki
lain, tetapi dia tidak boleh langsung menikah meskipun secara
agama dan hukum adat sudah cerai, karena belum keluar surat
cerai dari Mahkamah Syar’iyah Jantho. Karena itu pihak Kantor
Urusan Agama (KUA) tidak bisa menikahkan Murni dengan calon
suaminya.Kasus Murni tidaklah serumit ’mantan suaminya’
Ali, karena Ali sekarang sudah kawin lagi dengan Rubamah.
Ali kawin dengan Rubamah tidak melalui KUA tapi menikah di
bawah tangan (nikah siri), yaitu dinikahkan oleh seorang kadhi
secara agama dan adat saja, dan ini dianggap sudah sah. Di
pihak lain pun Ali tidak mempermasalahkan nikahnya tercatat
atau tidak di KUA, yang penting menurutnya sudah sah secara
agama dan adat. Kasus-kasus seperti ini sudah lazim terjadi
dari dulu, dan ternyata usaha revitalisasi peradilan adat yang
berlangsung sekarang belum membawa perubahan.
Begitu juga dengan kasus-kasusyang membuktikan
bahwa tidak semua warga peduli tentang peradilan formal.

10

bukan nama-nama asli

62ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Misalnya sudah pernah terjadi kasus kawin cerainya Bapak
Husni. Sekarang Bapak Husni sudah kawin dengan tujuh orang
perempuan, dan hampir tidak ada perkawinannya yang tercatat
di KUA. Hanya pernikahannya yang pertama yang tercatat dan
mempunyai buku nikah, sedangkan yang lain dia melakukan
dengan nikah di bawah tangan atau nikah dengan kadhi illegal
tanpa dicatat di pencatatan nikah. Namun masyarakat tidak
menganggap suatu hal yang melanggar syariat karena apa yang
dilakukan Husni ini secara adat dan secara agama sudah sah,
warga tidak memprotesnya. Dan beliaupun tidak mebutuhkan
pengakuan secara hukum formal. Jadi peran dan kedudukan
peradilan adat sekarang ini sangat tergantung kebutuhan dan
kepentingan masyarakat itu sendiri. Ketika ia merasa butuh
kepastian secara formal ia akan melapor ke peradilan agama,
dan ketika ia merasa cukup dengan peradilan adat masalah dia
cukup diselesaikan secara adat saja.
Ada satu kasus yang juga membuktikan argumen ini. Dalam
kasus tersebut anak Ibu Heni (bukan nama asli) yang berumur
12 tahun berkelahi sesama temannya. Ibu Heni langsung
melaporkan ke polisi karena ayahnya seorang mantan pejabat
teras di Jantho. Sebenarnya kasus tersebut adalah perkelahian
ringan dan bisa saja diselesaikan secara adat di desa, namun
karena bapaknya seorang mantan pejabat, dan tahu prosedur
hukum formal langsung melaporkan pada polisi. Akibatnya,
perangkat desapun sekarang tidak bisa menyelesaikan karena
sudah dilimpahkan ke polisi.
Berdasarkan realitas yang digambarkan di atas, ternyata
pemberdayaan lembaga peradilan adat sekarang dilakukan
secara parsial atau secara sepihak dan tidak secara menyeluruh

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

63

serta tidak ada saling koordinasi. Seandainya saja antara
peradilan adat dan peradilan formal saling menjalin koordinasi,
maka peradilan adat di tingkat gampong dan mukim akan
bangkit lagi marwahnya, atau eksistensi peradilan adat akan
lebih kuat. Dan lebih jauh akan menjadikan adagium “hukom
ngen adat lagee zat ngen sifeut
, hukum dengan adat seperti
zan dan sifat, lebih terasa. Namun dalam realitasnya dengan
melihat konteks sekarang “hukom ngen adat lagee ie ngen
minyeuk,
hukum dan adat seperti air dengan minyak yaitu
tidak pernah bersatu. Peradilan adat terus dikembangkan, di
pihak lain pihak peradilan formal juga terus berjalan dengan
tatacaranya tersendiri tanpa koordinasi antara peradilan adat
dengan peradilan formal.

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa kenyataan yang terdapat di lapangan,
revitalisasi peradilan adat di Aceh Besar ternyata tidak begitu
berperan. Ada beberapa alasan untuk ini yang disimpulkan di
berikut ini.

Tidak kuatnya lembaga mukim sebagai banding perkara
dari gampong. Peradilan adat di tingkat mukim belum dibentuk
karena faktor sejarah: lembaga mukim sudah lama tidak aktif.
Sebenarnya lembaga mukim kalau kita lihat dari landasan
hukumnya sudah sangat kuat karena qanun nomor 4 tahun
2003 tentang Pemerintahan Mukim. Namun implementasinya
qanun ini hanya sampai ke imum mukim, dan dalam beberapa
tempat sudah ada sekretaris mukim, sedangkan struktur
lembaga mukim yang lain belum ada. Faktor lain adalah juga
karena sumber daya manusia mukim masih kurang, seperti

64ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

dikemukakan oleh satu penelitian yang dilakukan tahun
2005. Menurut penelitian ini pada umumnya imum mukim
hanya tamatan sekolah dasar (Nurlif: 2005). Sehingga bila ada
masalah yang tidak bisa diselesaikan di tingkat gampong tidak
ada peradilan adat banding, maka satu-satunya pilihan adalah
peradilan formal.

Meskipun usaha revitalisasi terus dilakukan oleh
berbagai pihak, namun di pihak lain pemerintah sendiri
belum melakukan koordinasi antar lembaga peradilan
adat dengan pengadilan formal. Meskipun qanun nomor 9
tahun 2008 tentang Peran Lembaga Adat dalam Bab II pasal
13 (3) mengatakan: aparat penegak hukum memberikan
kesempatan agar sengketa/perselisihan deselesaikan terlebih
dahulu secara adat di Gampong atau nama lain. Tapi dalam
implementasinya, pihak peradilan formal tidak menanyakan
dan tidak mensyaratkan suatu kasus yang mereka tangani
terlebih dahulu harus diselesaikan secara adat. Mereka
dengan leluasa menangani semua kasus yang diadukan karena
memang tidak ada suatu perintah bahwa suatu perkara akan
diproses di pengadilan formal bila tidak mampu diselesaikan
secara adat. Begitu juga dengan lembaga-lembaga lain dalam
melakukan pemberdayaan hanya menjalankan misinya masing-
masing, tanpa peduli atau mengaitkan dengan program yang
pernah dilakukan oleh lembaga lain, mungkin kasarnya hanya
menjalani misinya sendiri.
Tokoh-tokoh yang melakukan revitalisasi adat hanyalah
beberapa orang tua yang tertarik dengan pemberdayaan
adat. Sangat jarang kita melihat tokoh muda yang ikut dalam
berbagai kegitan yang berkaitan dengan adat. Penulis yang

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

65

mengikuti lima kali seminar tentang adat di Aceh Besar tetap
berjumpa dengan tokoh adat yang sama. Dalam kasus lain hal
ini menurut penulis juga sebuah tantangan bagi revitalisasi
adat di Aceh Besar karena para tokoh atau pelaku utama di
tingkat pemerintah yakni MAA diisi oleh tokoh-tokoh yang
sudah sangat lanjut usia dan pada umumnya pensiunan
Pegawai Negeri Sipil. Dari data yang ada kita bisa lihat sebagai
berikut: Ketua MAA Aceh Besar Teungku Ibrahim, mantan
anggota dewan DPRK Aceh Besar, umurnya 78 tahun. Wakil
Ketua, M. Hasbi, pensiunan kantor P&K Aceh Besar, umurnya 65
tahun. Sekretaris, Abdurraman, pensiunan sekretaris anggota
dewan DPRK Jantho, umurnya 68 tahun.11

Kita bisa tanyakan
bagaimana masa depan lembaga adat kalau tokoh-tokoh muda
tidak terlibatkan dalam posisi-posisi kunci?
Sebagai warga Aceh Besar, saya melihat (mungkin sangat
subjektif) di antara pihak lembaga donor ada yang hanya
memanfaatkan peluang saja dalam melakukan pemberdayaan
revitalisasi adat di Aceh Besar seperti contoh kasus. Sebuah
lembaga donor melakukan pembinaan terhadap lembaga adat
hanya melakukan di level desa. Bila suatu masalah tidak bisa
terselesaikan langsung diberikan arahan kepada peradilan
formal. Mereka tidak menunjukkan lembaga mukim sebagai
tempat banding bila tidak selesai di level desa. Alasannya
dalam program mereka hanya ada di tingkat desa, tidak
masuk dalam lembaga mukim. Padahal mereka tahu lembaga
mukim di Aceh Besar juga sedang diberdayakan, tapi mereka

11

Sumber: struktur pengurus MAA Aceh Besar dan hasil wawancara dengan
ketua MAA tanggal 28 Juli 2009.

66ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

tidak memperdulikan masalah tersebut karena bukan
wewenangnya.

Ketua MAA Aceh sendiri juga mengakui banyak lembaga
pemberdayaan tentang adat di Aceh tidak melakukan koordinasi
terutama dengan pihak MAA sendiri. Pak Badruzzaman
mencontohkan adanya beberapa NGO yang mempunyai
program pemberdayaan lembaga adat di Aceh Besar, seperti
LOGICA-AIPRD. Lembaga ini melakukan pemberdayaan kepada
para tuha peut di Aceh Besar. Menurutnya mereka tidak
melakukan koordinasi dengan pihak MAA Aceh dan MAA Aceh
Besar. Mereka bergerak terus sendiri-sendiri ke gampong-
gampong. Mereka juga mempunyai program pemberdayaan
perempuan untuk mengisi lembaga tuha peut, namun ini juga
tidak dikoordinasi dengan MAA.12
Meskipun payung hukum untuk membangun peradilan
adat sudah kuat, namun peradilan adat dari segi kekuatan
hukum tidaklah sama dengan pengadilan formal. Keputusan
dari peradilan adat ini tidak pernah dicatat. Pihak
penyelenggara peradilan ini tidak mempunyai tradisi untuk
mencatat atau menulis berita acara dan tatacara peradilannya.
Sehingga walaupun secara de facto diakui oleh masyarakat
sendiri bahwa suatu perkara sudah diselesaikan secara adat,
namun karena tidak pernah dicatat tidak mempunyai bukti
secara tertulis bahwa suatu perkara sudah diselesaikan
secara peradilan adat. Terkecuali peradilan adat panglima
laot
yang sudah mempunyai mekanisme tersendiri dalam
masalah kelautan. Sedangkan lembaga adat yang lain sampai

12

Wawancara dengan ketua MAA Aceh Besar, tanggal 5 Juli 2009

REVITALISASI PERADILAN ADAT DI ACEH BESAR

67

sekarang belum ada suatu tradisi menulis atau mencatat tiap
perkara.

Di samping itu juga kesadaran masyarakat tentang
kedudukan peradilan adat juga masih sangat beragam. Di satu
pihak ada yang hanya mengandalkan peradilan adat tanpa
peduli dengan peradilan formal. Sementara di pihak lain masih
terdapat masyarakat yang tidak percaya dengan keberadaan
peradilan adat, hingga apabila ada suatu kasus kecilpun
mereka melapor ke peradilan formal. Hal ini biasanya berlaku
pada masyarakat kelas menengah ke atas yang sudah tahu
prosedur peradilan formal, seperti kasus yang pernah penulis
kemukakan di atas.

Tidak bisa dipungkiri dalam proses peradilan adat masih
terdapat bias terutama terhadap perempuan. Alasannya karena
perangkat adat di gampong yang melaksanakan peradilan
adat belum ada keterwakilan perempuan. Alasan kedua bila
ada kasus yang diselesaikan secara adat pihak perempuan
jarang dilibatkan. Alasan ketiga kaum perempuan jarang yang
diikutsertakan dalam proses peradilan, biasanya diwakilkan
oleh walinya, kecuali sebagai saksi.

Revitalisasi
Lembaga Adat
di Nagan Raya

oleh: Zulkarnaini

NAGAN RAYA

Kabupaten Nagan Raya secara geografis terletak pada lokasi
03º40 - 04º38’ Lintang Utara dan 96º11’ - 96º48’ Bujur Timur
dengan luas wilayahnya 3.363,72 Km² (336.372 hektar).
Kabupaten Nagan Raya berbatasan dengan Kabupaten Aceh
Barat dan Aceh Tengah di sebelah Utara, Kabupaten Gayo Lues
dan Aceh Barat Daya di sebelah Timur, Kabupaten Aceh Barat
di sebelah Barat dan di bagian Selatan berbatasan dengan
Samudera Indonesia. Pada tahun 2007 terdapat penduduk
dengan klasifikasi keluarga prasejahtera sebanyak 9.142 KK
(28,31 %), keluarga sejahtera I sebanyak 8.555 KK (26,49 %),
keluarga sejahtera II sebanyak 8.548 KK (26,47 %), keluarga
sejahtera III sebanyak 4.130 KK (12,79 %) dan keluarga sejahtera
plus sebanyak 1.917 KK (5,94 %). Penduduknya beragama
Islam, terdiri dari petani, peternak, nelayan, pedagang, PNS
dan TNI/Polri. Terdiri dari suku Aceh, Jawa, Padang, Batak.
Nagan Raya adalah kabupaten baru dari pemekaran kabupaten
induknya Aceh Barat. Pemekaran kabupaten ini terbentuk
pada tanggal 2 Juli 2002. Pada tahun 2007 Nagan Raya telah
mengalami pemekaran wilayah kecamatan yaitu dari 5 (lima)
kecamatan menjadi 8 (delapan) kecamatan. Saat ini Nagan
Raya memiliki 27 mukim dan 223 gampong.

70ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

REVITALISASI ADAT DI ACEH SETELAH ADANYA UU-PA
tahun 2006 lebih terfokus membangun lembaga adat seperti
lembaga mukim. Keistimewaan Aceh dalam bidang adat istiadat
juga termaktub dalam Undang-Undang No. 44 Tahun 1999
tentang Pelaksanaan Keistimewaan Aceh; Undang-Undang No. 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; dan Undang-Undang
No. 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh. Kemudian,
dikeluarkan pula Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 52 Tahun
2007 tentang Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Adat
Istiadat dan Nilai Sosial Budaya Masyarakat. Sebagai tindak
lanjut dari beberapa undang-undang nasional itu, disusunlah
Qanun Aceh No. 4 Tahun 2003 tentang Mukim dan Qanun No.
3 Tahun 2004 tentang Majelis Adat Aceh. Tahun 2008 DPRA
mengeluarkan Qanun No. 9 tentang Pembinaan Kehidupan Adat
dan Adat Istiadat, dan juga Qanun No.10 Tahun 2008 tentang
Lembaga Adat. Kesemuanya itu merupakan payung hukum bagi
usaha pengisian keistimewaan Aceh dalam bidang Adat dan
Istiadat (Yusri Yusuf, 2009: 1).
Di tulisan ini saya lebih memfokuskan dalam bidang
adat istiadat. Tulisan ini merupakan kajian pada berbagai
perkembangan di Kabupaten Nagan Raya dalam hal adat.
Kabupaten Nagan Raya berbeda dengan beberapa kabupaten
lainnya di Aceh, salah satunya dalam hal revitalisasi adat. Saat ini
daerah lain sedang giat-giatnya melaksanakan revitalisasi adat,
terutama semenjak otonomi khusus dan UU-PA didengungkan,
ternyata di Nagan Raya justru tidak tampak. Hal ini bisa jadi
karena adat istiadat memang telah menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari tradisi kehidupan masyarakat setempat.
Dalam kehidupan sosial masyarakat nampak kentara nuansa

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

71

adatnya dan masih cukup kental terutama dalam institusi adat
keluarga dan komunitas pengikut Abu Habib Muda Seunagan
(Abu Peuleukung).

Artikel ini menjelaskan berbagai hal berkaitan dengan
revitalisasi lembaga adat, dan apa saja yang membuat adat
istiadat di Nagan Raya masih tetap bertahan sampai sekarang.
Saya memfokuskan tulisan ini untuk menjawab beberapa
pertanyaan; bagaimana peran Peuleukung dalam setting adat
di Nagan Raya?; Bagaimana bentuk adat yang dipengaruhi
oleh Peuleukung?; dan Bagaimana kontrol Peuleukung
terhadap lembaga adat? Untuk menjawab pertanyaan ini saya
memperoleh dari kerja lapangan selama enam bulan melalui
wawancara mendalam dengan para tokoh adat, tokoh agama,
dan pegiat LSM lokal. Saya juga melakukan FGD dengan
beberapa kelompok masyarakat dan para tokoh adat. Selain itu
saya mengamati pelaksanaan adat istiadat dalam institusi adat
keluarga serta praktek adat komunitas pengikut Abu Habib
Muda Seunagan dalam berbagai momen dan kesempatan.
Pembahasan ini dirasakan perlu untuk mengetahui apa
kepentingannya sehingga adat istiadat di Kabupaten Nagan
Raya ini masih terpelihara dan terjaga dengan baik, siapa yang
berada di balik bertahannya institusi adat ini.

Sejarah Peuleukung

Kedatangan orang Arab ke kepulauan Nusantara sebahagian
dengan tujuan berdagang. Akan tetapi mereka datang tidak
hanya membawa barang-barang dagangan, melainkan juga
membawa agama Islam. Di Hadramaut (Yaman Selatan), para
pedagang ini dikenal berpengetahuan luas, pedagang dan

72ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

pekerja keras, bahkan sebagiannya juga dikenal sebagai wali
atau orang suci. Mereka inilah yang dikenal dengan kelompok
Habib di Nusantara. Komunitas Habib, di samping komunitas-
komunitas Arab lainnya telah lama terbentuk di banyak daerah
di Nusantara; di antaranya di Kampung Cikoang (Makasar), di
Solo (Jawa Tengah), di Kwintang (Jakarta Pusat), dan juga di
Nagan Raya di Aceh. Khusus di Jakarta Pusat golongan Habib
ini dulunya dipimpin oleh Ulama Besar Almarhum Habib Ali
bin Abdurrahman al-Habsyi. Sementara di Peuleukung, Nagan
Raya dulunya dipimpin oleh Abu Habib Muda Seunagan yang
bergelar Habib Syaikhuna Quthub Nasbah.
Abu Habib Muda Seunagan dilahirkan kira-kira pada tahun
1860 di Gampong Kreung Kulu, Blang Ara, Seunagan Timur,
yang sekarang merupakan kecamatan yang ada di daerah dalam
Kabupaten Nagan Raya. Abu Habib Muda Seunagan merupakan
anak keempat dari 14 orang bersaudara; 10 orang laki-laki dan
empat orang perempuan. Tidak seorangpun dari familinya
yang mengetahui persis tentang hari, tanggal dan bulan ia
dilahirkan. Hal demikian sudah umum terjadi pada masyarakat
zaman dulu, meskipun mereka seorang ulama maupun guru,
tetapi soal mencatat hari dan tanggal kelahiran anak atau cucu
kurang diperhatikan. Selain hanya tahun kelahirannya saja
yang diperingati atau menghubungkan peristiwa-peristiwa
yang mudah diingat seperti waktu terjadi gerhana matahari,
waktu zaman penjajahan Belanda maupun Jepang.
Abu Habib Muda Seunagan yang nama aslinya Habib
Muhammad Yeddin bin Habib Muhammad Yasin bin Habib
Abdurrahman Quthubul Ujud bin Habib Abdul Qadir
Rama’any bin Said Athaf (Intu) silsilah beliau diyakini oleh

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

73

para pengikutnya sampai kepada Rasulullah SAW. Said
Muhammad Yeddin atau Abu Habib Muda Seunagan memiliki
sejumlah nama lain seperti, Abu Peuleukung, Abu Nagan, Abu
Balee (balai), Abu Tuha (tua), dan Teungku Puteh (putih). Dari
sejumlah nama yang ia sandang sebagai bukti nyata bahwa
seluruh kehidupannya ia curahkan untuk kemaslahatan umat,
sehingga nama negeri atau tempat menyatu dalam dirinya.
Dari sinilah bibit kasih sayang, kagum dan hormat terlahir
dari lubuk hati umat, itulah yang terjadi pada diri Abu Habib
Muda Seunagan, sesuatu yang memang jelas terbukti, terlihat,
terdengar oleh orang-orang sepanjang hidupnya sehingga
tidak dapat dipungkiri kebenarannya. Para Habib memiliki
bermacam-macam marga atau klan seperti al-Atas, al-Habsyi,
al-Aydrus, al-Haddad,
dan lain-lain. Abu Habib Muda Seunagan
bermarga Habib diyakini para pengikutnya masih keturunan
Rasulullah SAW (Sammina Daud, 2009: 28-29).
Menurut Jakfar (bukan nama sebenarnya), seorang pengikut,
saat ini pengikut dari Abu Habib Muda Seunagan diperkirakan
berjumlah lebih kurang 50.000 orang yang tersebar di berbagai
daerah, di antaranya Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Selatan,
Takengon, dan juga daerah lainnya di Aceh. Menurut Said
Mahadri1

bagi pengikut Abu Habib Muda Seunagan ini, apapun
yang pernah diwasiatkannya adalah sumpah yang harus
dilaksanakan. Menurutnya tarekat itu sendiri sama dengan
“terikat”, yang berarti siapapun yang telah disumpah harus
mewasiatkan lagi kepada anak cucunya tentang beberapa hal.

1

Samaran dari nama tokoh agama, pengikut setia Abu Habib Muda

Seunagan.

74ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Di antara isi sumpah adalah tidak boleh berzina, tidak boleh
mencuri dan hal-hal lain yang dilarang agama. Semua itu harus
diikuti dan tidak ada yang berani melanggar walaupun orang
yang disumpah adalah orang yang sedikit ilmu agamanya
tetapi diamalkan apa yang “geuwasiet guree” (diwasiatkan oleh
guru). Menurut keyakinan pengikut Abu Habib Muda Seunagan
ini, ilmu yang dimiliki beliau adalah ilmu hakikat dan makrifat,
sedangkan yang diketahui masyarakat adalah ilmu syariat.
Pengaruhnya Abu Habib Muda Seunagan sangat terlihat
dalam masyarakat Nagan Raya selama kehidupannya maupun
setelah tokoh besar ini meninggal dunia. Reputasinya dia juga
terdengar di luar Aceh. Pada saat hidupnya banyak masyarakat
yang membawa ratusan kerbau memintanya membacakan
tahlil untuk anggota keluarga mereka yang telah meninggal.
Sepah dari sirih yang ia makan dijadikan sebagai obat oleh
para pengikutnya. Perkataannya selalu diikuti karena beliau
mengetahui apa yang akan terjadi ke depan; apakah itu tentang
akan adanya bala dan sebagainya. Saat dia hidup setiap pejabat
yang datang ke Aceh pasti mengunjunginya baik dari pejabat
sipil maupun militer. Sukarno sebagai seorang presiden
pertama Republik Indonesia pertama juga telah berkunjung
dan menghadiahkan satu mobil Land Rover yang sampai saat
ini masih dirawat dengan baik oleh keluarga Peuleukung.
Saat Abu Habib Muda menghembuskan nafas terakhir
pada hari Rabu 14 Juni 1972 M bertepatan dengan 4 Jumadil
Awal
, para pelayat dari berbagai daerah datang ke komplek
kediamannya. Bahkan sebagian para pelayat menerobos hutan
belantara dengan jalan kaki menelusuri jalan setapak. Jenazah
Abu Habib Muda Seunagan malam itu disemayamkan di rumah

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

75

duka, baru ke esokan harinya dimakamkan. Saat Jenazah
almarhum diusung memasuki a’ziyin untuk memasuki kubah
pemakaman, terjadi perebutan di antara para mu’aziyin untuk
saling mengusung jenazah, sehingga ada teriakan agar para
pelayat tidak saling berebut mengangkat jenazah. Keributan
kecil itu berhenti ketika seorang mengumandangkan salawat,
kemudian diikuti oleh yang lain, akhirnya jenazah dapat
diletakkan di tepi liang kubur.
Pada masa G30S PKI, orang-orang yang tertuduh dan
terlibat baru akan selamat ketika dapat lari ke Peuleukung
dan mencari perlindungan dari Habib Muda Seunagan. Dalam
masa konflik Aceh sekalipun, ada banyak razia yang dilakukan
oleh aparat keamanan, namun yang menarik adalah bagi yang
punya surat cap sikureung (sembilan) yang dikeluarkan oleh
keluarga Peuleukung langsung dibebaskan tanpa diproses
sedangkan yang mempunyai Kartu Tanda Penduduk saja tetap
diproses. Saat ini yang meneruskan ajaran Abu Habib Muda
Seunagan ini adalah Abu Qudrat, putra bungsu dari Abu Habib
Muda Seunagan dan satu-satunya yang masih hidup saat ini.

Stratifikasi Sosial

Di daerah Nagan Raya menurut perjalanan sejarah terdapat
pelapisan sosial (golongan-golongan) pada masyarakat,
terutama pada masa yang lalu (saat masih berdirinya kerajaan
kecil). Pelapisan sosial itu terbentuk berdasarkan keturunan dan
mempunyai kedudukan tersendiri di dalam masyarakat saat
itu. Pelapisan sosial pada masa lalu dalam masyarakat Nagan
Raya dapat dibagi dalam; golongan ulee balang yang memegang
tampuk pemerintahan (raja) beserta keluarganya; golongan ulee

76ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

balang cut dan ulama; golongan patut-patut (pejabat negeri)
dan orang terkemuka/cerdik pandai; dan golongan rakyat
(Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, 2004: 24).
Saat ini stratifikasi sosial sedikit telah bergeser, karena
sistem kerajaan sudah tidak ada lagi sejak era kemerdekaan.
Lambat laun para golongan habib yang dulu hanya datang
menyebarkan Islam dan juga berniaga telah mendapat tempat
tersendiri di kalangan masyarakat Nagan Raya terutama
semenjak berakarnya pengaruh Abu Habib Muda Seunagan ini
dalam kalangan masyarakat setempat. Perubahan ini membuat
pelapisan sosial menjadi sedikit berubah: golongan Habib/
Said (yang ada silsilah dari keluarga Abu Habib Muda Seunagan
dan berasal dari Gampong Peuleukung, Blang Ara dan Pulo Ie);
golongan Raja/Ampon/Teuku (khusus yang punya kedudukan
dan kaya); golongan pejabat pemerintahan dan orang-orang
kaya; dan golongan masyarakat biasa.
Perlakuan adat menjadi berbeda berdasarkan pelapisan
sosial, masing-masingnya mempunyai reusam2

yang berbeda-
beda. Nuansa ini masih tergambar jelas dari sikap masyarakat
biasa terhadap kedua golongan yang lebih tinggi. Terhadap
keturunan Raja seperti ampon dan teuku misalnya; selalu
disambut dengan bu dalong (nasi dulang) dan idang (hidangan)
berlapis dalam setiap kunjungan upacara adat/kenduri.
Khusus bagi keturunan Habib atau Said di samping disambut

2

Arti reusam apabila ditafsirkan sesuai maksud isi reusam itu sendiri
adalah adab, karena maksud reusam terkandung tiga unsur yaitu diplomasi,
keprotokolan dan etika. Dalam ketiga unsur itulah terkandung adab, karena
yang berperan sebagai pelaksana reusam itu ada dua: Laksamana dan
Bintara.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

77

dengan hal serupa seperti kaum raja juga bila bersalaman,
oleh masyarakat biasa selalunya membolak-balikkan telapak
tangan dua kali sambil mencium tangan sang Habib/Said
sebagai tanda keberkatan dan kemuliaan. Hal ini karena
sebagian masyarakat masih meyakini bahwa akan berdosa
jika tidak bersalaman demikian. Ternyata ada juga masyarakat
biasa yang disambut dengan bu dalong apabila mempunyai
kedudukan dalam pemerintahan dan posisi ketokohan dalam
masyarakat. Misalnya, tokoh-tokoh yang dilaqabkan dengan
Habib oleh masyarakat, walaupun yang bersangkutan bukan
keturunan Habib, namun adalah pengikut setia Abu Habib
Muda Seunagan yang telah menjadi pemuka agama.
Perlakuan khusus dalam penyambutan tamu oleh
masyarakat dalam setiap upacara adat terhadap golongan
Teuku dan Said ini, biasanya adalah khusus Teuku dan Said
yang berasal dari tiga gampong yaitu: Peuleukung, Blang
Ara dan Pulo Ie. Meskipun keturunan dari tiga gampong
ini sekarang sudah tersebar ke berbagai daerah lain, yang
terpenting berasal dari ketiga gampong tersebut; masyarakat
yang memberikan penyambutan bu dalong ini kebanyakannya
adalah pengikut setia Abu Habib Muda Seunagan.
Karena perubahan stratifikasi sosial dalam sejarah di
Nagan Raya hari ini ada dua jenis kelompok keturunan elit
yang terpisah. Penghormatan masyarakat biasa terhadap
dua kelompok ini ternyata sedikit berbeda, seperti kita bisa
mengobservasi dari perbedaan perlakuan terhadap kaum
Raja/Teuku dan kaum Said/Habib di Nagan Raya. Kaum raja
hanya dihormati ketika mempunyai kekuasaan dan kekayaan
saja, sedangkan yang tidak mempunyai kekuasaan dan

78ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

kekayaan diperlakukan sama dengan orang biasa. Sementara
kaum Habib/Said tidak demikian, walaupun mereka yang
masih anak-anak sekalipun sangat dihormati dan dimuliakan
malah dipanggil dengan sebutan Abu yang bermakna
kemuliaan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh Almarhum
Abu Habib Muda Seunagan atau Abu Peuleukung yang masih
sangat dominan.

Ragam Budaya yang Dipengaruhi Peuleukung

Kehadiran Abu Habib Muda Seunagan sebagai ulama
kharismatik yang paling berpengaruh semasa hidupnya secara
tidak langsung telah mewarnai adat istiadat masyarakat Nagan
Raya. Kehadiran ini juga menambah kentalnya adat istiadat
itu sendiri, walaupun Nagan Raya semenjak dulunya nuansa
adatnya memang sudah begitu kuat mengakar di masyarakat
termasuk dari lapisan bawah sekalipun. Saat ini masih ada
tradisi di masyarakat yang tergambar dalam hadih maja
(pribahasa) sebagai berikut:

“Mulia wareh ranup lampuan, mulia rakan mameh suara,
adat tajunjong, hukom peutimang, kanun ngon reusam
wajeb tajaga.”
(Artinya: Famili berkunjung disambut
dengan sirih, dalam pergaulan hendaklah dengan suara
yang lemah lembut, setiap orang hendaklah menjunjung
tinggi adat dan menghormati hukum, qanun dan reusam
mesti dijaga).
Hadih maja di atas tergambar dalam adat kebiasaan
masyarakat yang telah turun-temurun berlaku pada masyarakat
Nagan Raya terutama dalam penyambutan tamu. Di Nagan
Raya, tamu selalu mendapat tempat yang begitu mulia karena
ini merupakan perintah agama, sebagaimana kita ketahui

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

79

bahwa agama dan adat “lagee zat ngon sifeut” (seperti zat
dengan sifat), artinya perintah agama dijadikan petunjuk dan
kebiasaan adat oleh masyarakat. Tergambar dari keterangan
gambar logo dari Kabupaten Nagan Raya di poin ke 5 berbunyi:
Dalong (dulang), cawan dan perangkat alat untuk peusijuek,
melambangkan adat budaya memuliakan tamu yang sudah
menjadi turun-temurun dalam masyarakat Kabupaten Nagan
Raya.”

Ada banyak jenis upacara adat yang ada di Nagan Raya.
Namun sebagian dari tradisi adat ini telah hilang seperti diakui
oleh beberapa tokoh masyarakat. Sherwin3

dan Shilin4

misalnya
mengemukakan, dalam penjualan tanah, dulu ada kenduri bu
leukat
(nasi ketan), sehingga semua saksi dalam hal jual beli
ini datang. Demikian juga dalam pembagian harta warisan,
dulunya setelah selesai pembagian selalu diadakan kenduri dan
dipanggil seluruh ahli famili sebagai bentuk syukuran. Dalam
kenduri perkawinanpun ada sebagian tata cara adat yang telah
ditiadakan seperti menaikkan pengantin ke atas tandu, atau
pengajaran oleh penganjo (pendamping pengantin) dalam hal
tata cara bersuami istri dan sebagainya. Namun ada banyak
upacara adat yang masih dilaksanakan secara besar-besaran di
Nagan Raya sampai saat ini. Di bawah ini ada beberapa upacara
adat yang membedakan adat Nagan Raya dari daerah Aceh
yang lain.

3

Nama samaran dari tokoh masyarakat salah satu gampong di Nagan Raya.

4

Nama samaran dari salah seorang keuchik di salah satu gampong dalam
kawasan Nagan Raya.

80ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Kenduri Perkawinan

Secara garis besarnya upacara adat di Nagan Raya bisa
dikelompokkan kepada dua jenis kenduri; keureuja udep (kerja
hidup) dan keureuja mate (kerja mati). Pelaksanakan upacara
adat di Nagan Raya masih sangat kental nuansa adatnya, hal
ini tergambar dari keureuja udep dan keureuja mate tersebut.
Masyarakat tidak main-main dalam menjalankan adat istiadat
ini. Contohnya, untuk keureuja udep upacara perkawinan;
mulai dari proses peminangan sampai dengan upacara pesta
perkawinan dilangsungkan, ada tahapan-tahapan yang harus
dilewati, ada banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh
kedua belah keluarga mempelai; mulai dari membawa ranup
meuh
(sirih emas) saat acara pelamaran, bu meudalong (nasi
dulang) saat peresmian dan sebagainya. Bu meudalong itu harus
dibawa dan saling berbalas. Kalau bu bit (nasi biasa) dibalas
dengan bu leukat (Nasi Ketan). Apabila tidak dipenuhi biasanya
akan terjadi perselisihan/ pertengkaran antar dua keluarga dan
berakibat ditundanya upacara perkawinan sampai dipenuhinya
aturan adat gampong tersebut.
Dalam pelaksanaan adat istiadat perkawinan, selalu diawali
oleh adanya kesepakatan dua insan (agam ngon dara/laki
dengan perempuan) yang disambut baik oleh kedua orang tua.
Namun, kebiasaan di Nagan Raya secara tradisi kesepakatan
awal terjadi antar hubungan kedua belah pihak orang tua
agam dengan dara atau pihak ketiga (wali) yang merencanakan
untuk mengikat hubungan persaudaraan dengan menjodohkan
putra-putri saudara mereka (para orang tua atau wali calon
mempelai). Langkah berikutnya adalah mengawali usaha
perjodohan ini dengan pemanggilan tuha gampong (tetua

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

81

gampong) oleh orang tua calon linto seperti keuchik, imum
chik
dan keluarga dekat lainnya untuk membicarakan langkah-
langkah anaknya menuju rencana perkawinan (Pemerintahan
Kabupaten Nagan Raya 2004: 98-99).

Menyoe meukawen sabe keudroe droe
Hana rugoe keurueng leubeh hareuta
Menyoe alang jeut teulong teumeulong
Watee na teulansong mangat teumeuhaba
.
(Kalau kawin sesama sendiri
tidak rugi kurang lebih harta
kalau membutuhkan sesuatu bisa tolong-menolong
sewaktu diadakan sesuatu mudah membicarakannya)

Ungkapan tersebut adalah sebagai pedoman dan alasan
mengapa orang-orang tua tempo dulu lebih cenderung
mengawinkan anaknya sesama famili. Apabila tidak dapat
persesuaian mencari jodoh dalam lingkungan famili dan
lingkungan warga/kaum, barulah orang tua mencari calon/
jodoh anaknya di luar lingkungannya (Muhammad Umar
2008: 156).

Seiring perkembangan zaman, terlihat bahwa usaha jodoh
menjodohkan ini sudah sedikit berkurang karena kebanyakan
muda-mudi sekarang di Nagan Raya telah memiliki pilihan
jodohnya sendiri. Pengalaman saya sendiri yang juga beristrikan
orang Nagan Raya, ketika proses pelamaran ternyata calon istri
(istri saya sekarang) memang pernah dijodohkan dengan pihak
kerabat dekat, namun hal tersebut bukan sesuatu yang harus
dipenuhi karena tergantung dari sang anak sendiri, apakah
bersedia atau tidak. Jadi tidak ada pemaksaan untuk menerima
apa yang telah dijodohkan tersebut. Apalagi calon istri ternyata

82ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

lebih tertarik dengan peneliti, sehingga urusan perjodohan
tersebut dengan sendirinya batal. Menyangkut adat siapa pun
calon suami/istri dari luar Nagan Raya yang melaksanakan
perkawinan dengan warga Nagan Raya mesti disepakati dulu
melalui pihak seulangke (penghubung) dari pihak laki-laki
kepada seulangke pihak perempuan, demikian pernyataan
dari salah satu tokoh adat bernama Muhsidin, antara lain
menyepakati perihal mengikuti sepenuhnya adat setempat
atau ada batasan tertentu yang diikuti, karena salah satu pihak
(terutama laki-laki) masih dalam proses memasuki wilayah
lain dengan adat yang berbeda. Kecuali reusam yang boleh
disesuaikan dengan adat masing-masing daerahnya. Contohnya
membawa bu meubungong (nasi ketan yang dihias) itu adalah
wajib dari pandangan adat. Adapun bentuk dan modelnya
disesuaikan dengan adat daerah masing-masing antara lain
cara menghiasnya dan sebagainya. Ketika pihak laki-laki telah
menetap atau melaksanakan kegiatan adat di daerah Nagan
Raya segala bentuk kegiatan keureuja udep dan keureuja mate
yang dilaksanakan mesti mengikuti adat istiadat Nagan Raya.
Di Nagan Raya ketika proses pelamaran dilakukan dan
diterima oleh pihak keluarga perempuan maka diputuskanlah
kapan acara peresmian dilaksanakan. Bentuk dari acara
peresmian ini berbeda menurut strata sosial dalam masyarakat.
Khusus bagi keturunan raja yang mempunyai kedudukan
tertentu dalam masyarakat, upacara perkawinan dilangsungkan
secara besar-besaran. Contohnya seperti perkawinan anak
dari Bupati Nagan Raya saat ini (2006-2011). Kepanitiaannya
melibatkan seluruh unsur pemerintahan kabupaten. Hal ini
disebabkan, di samping pimpinan daerah, yang bersangkutan

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

83

adalah keturunan dari Raja Beutong dari pihak ayah serta
keturunan dari Habib Muda Seunagan dari pihak ibu. Dalam
perayaan upacara adat perkawinan tersebut yang bertindak
menjadi ketua panitianya adalah Bapak Sekda Kabupaten Nagan
Raya sendiri. Acaranya berlangsung selama tujuh hari tujuh
malam. Hampir seluruh masyarakat diundang secara terbuka.
Hidangan yang disediakan dalam dua model; model hidangan
tradisional sebagaimana kebiasaan masyarakat Nagan Raya,
dan model hidangan modern (ala francaise) tergantung kelas
masyarakat yang hadir. Selain itu pesta dimeriahkan dengan
hiburan yang lengkap, baik tradisional maupun modern. Di
siang harinya ada pertunjukan Band dan Keyboard, namun
ketika malam hari disuguhkan hiburan tradisional seperti
seukat, seudati, rapa’i dan sebagainya.

Kenduri Kematian
Berkenaan keureuja mate (kenduri orang meninggal)
oleh keluarga dekat, dan juga oleh keluarga dari pertalian
perkawinan membawa tilam gulong yang disesuaikan menurut
kemampuan. Menurut Jimali,5

tilam gulong adalah adat khas
Nagan Raya yang tidak ditemukan di daerah lain. Seorang
narasumber saya, Bapak Jamaluluddin, tilam gulong ini wajib
dalam adat disediakan oleh menantu perempuan kepada pihak
mertua laki-laki sebagai pertanda anak almarhum adalah laki-
laki dan akan menyusul adat berikutnya dari pihak besan
selama tujuh hari berturut-turut misalnya membawakan
kambing, sayur, kelapa, minyak dan lain-lain sesuai dengan

5

Nama samaran seorang tuha peut gampong di Nagan Raya.

84ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

kemampuan. Hari pertama sampai hari ke tujuh, besan
berdatangan ke tempat kenduri tidak serentak, terutama
bagi yang punya banyak besan, kecuali pada hari ke empat
puluh semua besan berkumpul. Bagi yang tidak memiliki anak
laki-laki yang telah dikawinkan, atau ia hanya mempunyai
anak perempuan saja, maka ketika ia meninggal tidak ada
yang menyediakan tilam gulong kecuali kain kafan putih
selengkapnya. Pengadaannya ditanggung oleh pihak besan laki-
laki jika ia telah mengawinkan anak perempuannya, namun
jika ia tidak mengawinkan satupun anak perempuannya maka
keluarga yang menyediakan kain kafannya, namun tidak boleh
menyediakan tilam gulong. Di daerah lain pun yang disediakan
bagi orang yang sudah meninggal adalah kain kafan putih saja.
Di samping itu diadakan kenduri acara meu ateut (berbuku).
Ateut mulai dari neu lhe (hari ketiga), neu limoeng (hari kelima),
si nujoeh (hari ketujuh), si ploh (hari ke 10), dua ploh (hari ke
20), lhe ploh (hari ke 30) sampai hari ke peut ploh (hari ke 40).
Khusus hari ke empatpuluh tidak semua masyarakat boleh
datang tetapi hanya yang diundang. Acara kenduri ini biasanya
dibuat secara besar-besaran oleh keluarga si meninggal dengan
memotong kerbau, kambing, bebek, dan ayam juga ikan, telor
asin dan sebagainya.
Stratifikasi sosial bisa dilihat juga dalam besarannya
upacara adat kematian. Upacara adat kematian terbesar yang
pernah ada di Nagan Raya adalah saat meninggalnya Abu
Habib Muda Seunagan yang bergelar Habib Syaikhuna Quthub
Nasbah pada tanggal 14 Juni 1972 bertepatan dengan 4

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

85

Jumadil Awal 1392.6

Ketika keluarganya mengadakan tahlilan
untuk almarhum, bantuan logistik sangat banyak diterima
dari berbagai pihak, baik dari keluarga besar Peuleukung
maupun masyarakat umum. Dalam acara tersebut tercatat
99 (sembilan puluh sembilan) ekor kerbau terkumpul, 20 ton
beras, ratusan kambing, ribuan ayam dan bebek ditambah lagi
puluhan truk sayur-mayur, buah kelapa dan kayu bakar yang
tidak terhitung diantar dengan truk maupun diantar sendiri
secara berombongan. Bantuan atau pemberian ini tidak hanya
berasal dari warga yang kaya, namun warga yang memiliki
dua ekor kerbau pun turut menyumbang satu ekor untuk
keperluan tahlilan. Ratusan juru masak siap mandi keringat
mempersiapkan menu yang siap saji untuk dikonsumsikan
para tamu yang datang berkunjung. Semua masyarakat yang
turut berpartisipasi tidak mengharapkan imbalan apapun
kecuali barakah (keberkahan) almarhum yang diyakini sebagai
keturunan wali songo yang bertalian nasab dengan Rasulullah
SAW (Sammina Daud 2009: 132).
Demikian juga saat meninggalnya salah satu anggota
keluarga Abu Habib Muda Seunagan. Masyarakat selalu
berbondong-bondong membawa kerbau, sapi, kambing dan
sebagainya, menurut kemampuan masing-masing untuk
dikendurikan. Banyak pengikut yang berharap hewan
bawaannya duluan yang disembelih untuk kenduri. Di sana
terkenal sebuah istilah grak jeunazah di rumoh, grak kenduri di
yup
(jenazah selesai dimandikan, kerbau selesai dipotong). Ada
yang berbeda saat pemandian jenazah dari keturunan Habib

6

Ulama Tarekat Syattariyah.

86ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Muda Seunagan ini. Semua para pelayat yang datang, khususnya
pengikut fanatik dari Habib Muda Seunagan, menampung air
yang berasal dari pemandian jenazah tersebut untuk dibawa
pulang dengan tujuan dijadikan obat. Bahkan ada sebagian
pengikutnya yang langsung meminum air tersebut karena
diyakini sebagai keberkahan. Sebagian masyarakat yang sempat
peneliti wawancarai mengakui hal ini terutama masyarakat
yang menyaksikan secara langsung. Hal yang sama juga terjadi
saat meninggalnya anak perempuan dari Abu Habib Muda
Seunagan. Upacara kematian ibunda dari Bupati Nagan Raya ini
pun mendapat perlakuan serupa dari para pengikut Abu Habib
Muda, termasuk meminum dan membawa pulang air pemandian
jenazah serta pelaksanaan kenduri secara besar-besaran.

Kenduri Laot

Sebagian masyarakat Aceh percaya bahwa makhluk-
makhluk halus yang jahat mendiami tempat-tempat yang
angker seperti hutan, laut, lubuk yang dalam, kuala, rawa-rawa,
pohon-pohon besar dan sebagainya. Makhluk-makhluk ini
dianggap mengganggu masyarakat. Untuk menolak gangguan
tersebut mereka mengadakan berbagai jenis upacara. Upacara
ini dilakukan dengan berbagai cara atau bentuk. Ada yang
melakukannya dengan mengadakan kenduri di tempat-tempat
yang dihuni oleh makhluk halus tersebut, seperti di bawah
pohon besar, kenduri laut dan sebagainya (Rusdi Sufi dan Agus
Budi Wibowo 2007: 63), namun ada pula yang melakukannya
di rumah atau masjid/mushalla dengan diniatkan untuk
keselamatan bersama.
Khusus bagi masyarakat nelayan dalam wilayah Nagan Raya

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

87

setiap tahunnya dalam musim Timur7

, selalu melaksanakan

kenduri laut. Informasi yang saya terima dari Salman8

bahwa
untuk kenduri tingkat kabupaten dilaksanakan tiga tahun
sekali. Kenduri ini dilaksanakan secara besar-besaran secara
bergiliran dalam beberapa tempat yang berbeda dengan
mengundang tokoh ulama, tokoh adat dan pejabat kabupaten.
Bentuk dari persiapan kenduri ini adalah dengan mewajibkan
setiap nelayan untuk menyumbangkan sejumlah dana sesuai
dengan kesepakatan per perahu nelayan. Sisanya dibantu
oleh Dinas Kelautan, pihak kecamatan dan bahkan bantuan
dari kabupaten termasuk dari Bupati sendiri. Bantuan dari
pemerintah ini diberikan sebagai bentuk perhatian pemerintah
kepada masyarakat nelayan.
Pada malam kenduri masyarakat melaksanakan pengajian
dan zikir di pinggir pantai sampai menjelang pagi. Pada pagi
hari akan dipilih seekor kambing warna hitam yang dililit warna
putih untuk dijadikan teumalang. Menurut Pawang Abdullah,9
penyembelihan kambing langsung dipimpin oleh Abu Qudrat
yang merupakan anak bungsu dari Abu Habib Muda Seunagan.
Beliau pula yang langsung memilih orang-orang khusus
yang tidak pernah meninggalkan shalat untuk melepaskan
kambing tersebut ke muara laut. Setelah kenduri ini selama

7

Musim Timur merupakan musim banyaknya nelayan turun ke laut karena
ombak lautnya tidak besar seperti musim Barat.

8

Nama samaran salah satu unsur pimpinan dalam Lembaga Adat Laot
Kabupaten Nagan Raya.

9

Nama samaran dari salah seorang Panglima Lhok di Nagan Raya.

88ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

tiga hari masyarakat dilarang melaut. Menurut Wardana10
hal ini dilakukan sebagai penghargaan kepada makhluk
halus bernama Nek Ti. Ternyata tidak semua di Nagan Raya
menerima upacara-upacara seperti ini dengan baik. Misalnya,
menurut Ahmad11

khusus daerah panglima lhok kawasan
Kuala Tadu, istilah peuleuh (melepaskan) teumalang (sesajen)
telah dihilangkan di daerahnya karena dianggap bertentangan
dengan ajaran Islam.

Kenduri Blang

Kenduri Blang sebenarnya juga dilaksanakan di hampir
semua tempat di Aceh, tetapi untuk kenduri secara besar-besaran
jarang dilakukan di tempat lain. Upacara adat ini dilakukan
menjelang petani turun ke sawah sebagaimana hasil keputusan
rapat pada tingkat kecamatan. Dalam pertemuan penentuan
tersebut pihak kecamatan mengundang imum mukim,
keujruen chik (keujruen tingkat kecamatan), hop keujruen
(keujruen di tingkat mukim), keujruen gampong, dan para ahli
pham gampong (cerdik pandai) untuk bermusyawarah terlebih
dahulu dengan tibanya masa turun ke sawah. Biasanya mereka
terlebih dahulu membentuk panitia kenduri, menetapkan
lokasi, dan memastikan berapa biaya yang diperlukan. Kenduri
ini untuk tingkat kecamatan dilaksanakan dengan memotong
kerbau atau kambing dan mengundang orang-orang luar yang
dianggap penting dan seluruh masyarakat dalam kecamatan
tersebut.

10

Nama samaran dari salah seorang nelayan di Nagan Raya.

11

Nama samaran dari salah satu Panglima Lhok di Nagan Raya.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

89

Kenduri turun ke sawah (troen u blang) dilaksanakan
pada awal setiap tahun. Kenduri hanya dilaksanakan pada
tingkat kabupaten dan gampong. Menurut Syahdana12

untuk
kenduri tingkat kabupaten, Bupati langsung yang mengundang
seluruh para keujruen blang, mulai dari keujruen kabupaten,
kecamatan, kemukiman dan gampong yang ada dalam
kawasan Nagan Raya. Acara ini dilaksanakan di bendungan
irigasi Ulee Jalan, menurut salah seorang keujruen blang
hal ini dimaksudkan agar lancarnya aliran air dibendungan
terutama dengan pemotongan kerbau serta pembacaan
surat yasin dan acara zikir. Kenduri di tingkat kabupaten ini
adalah untuk menentukan waktunya turun ke sawah secara
serentak di seluruh Nagan Raya. Menurut Syahdana, ada tiga
tahapan kenduri sawah, yaitu kenduri troen u blang (turun ke
sawah), kenduri dara pade (muda padi) dan kenduri bunteng
pade
(bunting padi). Kenduri troen u blang (turun ke sawah)
dikenal sebagai kenduri peutroen bijeh (turunkan bibit padi)
ke sawah. Kenduri dara pade (muda padi) dikenal sebagai
khanduri kanji (kenduri bubur). Sementara kenduri bunting
padi dikenal dengan kenduri leumang yang dilaksanakan pada
ulee thon (akhir tahun) setelah keumeukoh (panen). Kadang-
kadang kenduri ini disebut dengan nama kenduri Nabi Adam.
Semua bentuk kenduri di atas secara umum kegiatannya
adalah membaca Surah Yasin dari al-Qur’an, melaksanakan
zikir dan berdoa bersama serta mengundang Abu Qudrat
yang merupakan anak bungsu dari Abu Peuleukung demi
memberkati upacara adat yang dilaksanakan.

12

Nama samaran dari salah satu keujruen blang di Nagan Raya.

90ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Karakter Masyarakat Menambah Besarnya Adat

Masyarakat Nagan Raya dikenal dengan “masyarakat banyak
akal” atau rameune. Menurut Ramlani13

ini tidak terlepas
dari kebiasaan masyarakat yang terkesan melebih-lebihkan
adat istiadat, sehingga adat menjadi besar (rayeuk adat) dan
bertahan. Ada beberapa pendapat tentang asalnya istilah
rameune. Menurut satu pendapat rameune ini berasal dari kata
rahmani dalam bahasa Arab yang artinya rahmat. Contohnya
seseorang yang datang ke sebuah warung nasi/kopi, dengan
mengucapkan Assalamu’alaikum dan tanpa diminta oleh
pemilik warung ia langsung pergi ke belakang warung. Di
sana ia mencuci piring dan peralatan makan yang kotor
dengan maksud digratiskan biaya makan dan minum. Hal ini
mendatangkan “rahmat” karena “lhe akai” (banyak akal).
Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa istilah rameune
menunjukkan kebiasaan masyarakat Nagan Raya yang tampil
beda dengan daerah lainnya. Hal ini misalnya terlihat dalam
pembuatan keukarah sebagai kue adat Aceh yang ukurannya
jauh lebih besar di Nagan Raya dibandingkan dengan di
daerah lain di Aceh. Demikian juga, masyarakat Nagan Raya
suka balas membalas dalam urusan adat untuk menunjukkan
kemampuan keluarga. Misalnya, satu mobil kue dibalas dua
mobil kue dan seterusnya walaupun buat makan sehari hari
harus berhutang, hal ini dianggap tidak masalah. Dalam
masyarakat Nagan dikenal sebuah istilah “menyoe peusieng
engkoet sure dikeu rumoh, menyo eungkoet bileh dilikoet moh

(kalau membersihkan ikan tongkol dilakukan di depan rumah,

13

Nama samaran dari salah seorang keuchik di Nagan Raya.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

91

sementara kalau ikan kecil di belakang rumah). Ungkapan ini
dimaksudkan, yang hebat, tinggi, keren, dinampakkan kepada
orang lain. Sementara kalau tidak hebat disembunyikan saja.
Pendeknya mereka tidak boleh kalah di depan orang.
Masyarakat Nagan Raya juga dikenal memiliki rasa
persaudaraan yang tinggi. Hal ini antara lain terlihat dalam
hubungan kekeluargaan. Jika ada salah satu dari keluarga
besarnya membuat kenduri, maka seluruh keluarga besar yang
lain ikut membantu kesuksesan kenduri tersebut. Bantuan
tersebut bisa saja dengan menanggung biaya secara patungan.
Kalau tidak ada uang, bisa saja dengan memberikan cincin
emas, membayarkan sewa keyboard, menyerahkan beras dan
sebaginya. Saat giliran keluarga yang lain akan dibalaskan pula
serupa seperti yang pernah ia terima dari saudaranya.
Mereka juga mempunyai rasa perkauman yang tinggi.
Merasa senasib bila ada warganya mendapat perlakuan yang
tidak menyenangkan dari warga daerah lain, dengan beramai-
ramai mendatangi dalam membantu dalam mencari keadilan.
Saya sendiri punya pengalaman ketika ingin pulang ke Nagan
Raya dari Banda Aceh. Ketika memesan mobil sewaan saya
bertanya “apakah mobil ini pulang sampai ke Nagan?” Salah
seorang dari mereka menjawab: “iya, nyou moto ureung tanyoe,
mobil droe tanyoe”
(Iya, ini mobil kita). Setelah naik ke mobil,
sopir dan penumpang yang berasal dari Nagan Raya bercerita
kalau banyak ureung geutanyoe (orang kita), maksudnya warga
Nagan Raya di Rukoh, Darussalam dan seluruh Banda Aceh
yang berhasil. Jelas di sini menunjukkan mereka ada satu rasa
sebagai orang Nagan di perantauan.

92ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Peuleukung dan Peran Politiknya

Masyarakat Nagan Raya saat ini secara umum masih sangat
memuliakan kaum Habib/Said. Termasuk dalam penentuan
hak politiknya, mereka menjatuhkan pilihan berkaitan dengan
pemuliaan tersebut. Memang pemilihan kepala daerah (Bupati)
yang dilaksanakan pada Desember 2006, mayoritas masyarakat
tidak menjatuhkan pilihannya kepada salah satu kontestan
dari kalangan Habib yang kebetulan saat itu menjadi salah satu
bakal calon kepala daerah dalam Pilkadasung (pemilihan kepala
daerah secara langsung), hal ini lebih disebabkan dukungan
keluarga besar Peuleukung mengarah ke kontestan dari
keturunan Teuku dari pihak ayah14

dan Habib dari pihak ibu.
Ketika hal ini saya tanyakan kepada beberapa informan,
ternyata sebagian di antara mereka mengatakan bahwa
calon dari kalangan Habib tersebut tidak mendapat restu
dari Peuleukung. Walaupun Habib yang menjadi konstestan
tersebut masih dalam garis keturunan Peuleukung, sebagian
masyarakat tersebut tetap menganggap bahwa lebih baik kalau
posisi pemimpin itu diduduki oleh orang dari keturunan raja.
Apalagi bila keturunan raja tersebut memiliki hubungan darah
dengan keturunan Peuleukung akan dianggap lebih tepat lagi
karena kedua keturunan tersebut sangat dihormati di Nagan

14

Ayahnya adalah Raja Beutong yang memerintah kerajaan kecil di
Nagan Raya yang berakhir setelah kedatangan Jepang. Pasca kemerdekaan
keturunan raja Betong masih mendapatkan tempat di dalam masyarakat
berupa penghormatan sosial dan budaya. Salah seorang turunan Raja Betong
adalah Teuku Azzaman yang tidak lain merupakan ayah dari T. Zulkarnaini,
Bupati Nagan Raya periode 2007-2012. Istri T. Azzaman adalah anak
perempuan dari Abu Peuleukung. Inilah yang menyebabkan T. Zulkarnani
dianggap memiliki garis keturunan Raja dan ulama sekaligus

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

93

Raya, demikian pernyataan informan yang peneliti wawancarai.
Kebetulan hal tersebut direpresentasikan oleh salah seorang
kontestan dalam Pilkada tersebut. Menurut para informan ini
masyarakat Nagan Raya sendiri menyadari adat istiadat ini
identik dengan raja, sehingga keturunan raja sampai saat ini
masih mendapat tempat tersendiri di masyarakat Nagan Raya
yang sangat memelihara sekali adat istiadatnya.
Persaingan antara kaum Teuku dengan kaum Habib di
Nagan Raya sebelumnya tidak pernah terjadi terutama dalam
masalah politik. Sebagaimana pendapat sebagian masyarakat
yang peneliti wawancarai, bahwa pilihan politik mereka adalah
menurut arahan keluarga besar Peuleukung. Calon-calon
yang tidak mendapat dukungan dari kalangan keluarga besar
Peuleukung terutama dari Abu Qudrat sendiri dipastikan akan
kalah dalam pemilihan Kepala Daerah. Abu Adabusri,15

seorang
yang saya wawancarai tentang hal ini bercerita, bahwa ketika
isu pemekaran Kabupaten Nagan Raya dihembuskan, Abu
Qudrat pernah memanggil seluruh keluarga besar Peuleukung
dan orang-orang yang selama ini dekat dengan Peuleukung.
Pada pertemuan tersebut Abu Qudrat bertanya kepada mereka
berdua yang juga ikut hadir berkenaan tentang siapakah di
antara keduanya yang lebih layak saat itu untuk memimpin
Kabupaten Nagan Raya kedepan16

. Ternyata dalam pertemuan
itu sang Habib dari garis keturunan Peuleukung menjawab,
bahwa yang lebih tualah yang paling sesuai dan layak untuk

15

Nama samaran dari salah satu tokoh masyarakat di Nagan Raya yang
masih bertalian darah dengan keluarga Peuleukung.

16

Saat itu Kabupaten Nagan Raya tidak lama lagi akan dibentuk.

94ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

memimpin Nagan Raya ke depan. Pada waktu itu sang Habib
ini belum punya niat untuk maju sebagai calon Bupati, tetapi
memutuskan mendukung abangnya yang dari pihak ibu juga
merupakan syarifah/aja (anak kandung dari Habib Muda
Seunagan).

Namun pada waktu Pilkada tahun 2006, ketika masa
jabatan sang abang sebagai pejabat Bupati ini habis dan
mencalonkan kembali untuk Bupati defenitif ternyata sang
Habib bernama Said Mahdi yang sebelumnya telah pernah
mendukung Ampon Bang tadi berubah menjadi rival/saingan.
Namun karena tidak mendapat dukungan dari keluarga besar
Abu Habib Muda Seunagan akhirnya sang Habib tadi kalah
dan abangnya yang dikenal dengan sebutan Ampon Bang
oleh masyarakat, kembali terpilih menjadi Bupati Kabupaten
Nagan Raya. Seorang informan bernama Maidin17

mengatakan
bahwa Habib Qudrat sebenarnya bukan tidak mendukung sang
Habib tadi, akan tetapi karena keputusan sang Habib untuk
mencalonkan diri sudah terlambat saat ketika keluarga besar
Peuleukung telah memutuskan untuk mendukung Ampon
Bang (nama Becil bupati sekarang). Apalagi selama Ampon
Bang berkuasa sebagai pejabat Bupati di periode sebelumnya
ia dinilai berhasil termasuk dapat menjaga nama baik keluarga
besar Peuleukung.

Persaingan Antar Bangsawan

Meskipun secara kasat mata kaum bangsawan yang terkenal
di Nagan Raya hanyalah dari keturunan Abu Peleukueng dan

17

Nama samaran.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

95

Raja Beutong, namun beberapa kalangan lain juga mengklaim
sebagai keturunan raja. Tidak hanya di Nagan Raya, klaim
mereka jauh lebih luas, yaitu turunan raja Melayu. Artinya,
Nagan Raya adalah sebuah daerah yang menjadi pusat akhir
dari perkembangan raja-raja Nusantara. Sekelompok orang
mengklaim dirinya sebagai turunan raja tersebut ingin
menyatukan kembali turunan raja yang ada di berbagai daerah
lain di Nusantara.

Kontestasi di antara elemen masyarakat yang menginginkan
adanya legitimasi sosial atas keningratan mereka bisa kita lihat
dalam polemik yang muncul setelah satu tokoh yang ingin
mengklaim sendirinya sebagai keturunan ninggrat berusaha
mengorganisir beberapa acara publik untuk membuktikan
posisinya dalam masyarakat. Debat publik ini mulai dengan
munculnya satu undangan dalam surat kabar:

Hari Rabu, tanggal 19 Agustus 2009 pukul 08.30 s/d
selesai bertempat di Masjid Jamik Abu Habib Muda
Seunagan, Kampung Peuleukung Seunagan Timur.
Keluarga Besar Abu Habib Muda Seunagan mengundang
berbagai kalangan masyarakat untuk menghadiri acara
zikir syukur atas terpilihnya Bapak SBY-Boediono sebagai
Presiden dan Wakil Presiden RI masa bakti 2009–2014.

Dalam undangan itu disebutkan bahwa acara akan dihadiri
langsung oleh ketua pemenangan Nasional SBY–Boediono yakni
Bapak Hatta Radjasa dan rombongan VIP di mana undangan
ditanda-tangani langsung oleh Abu Habib Qudrat sebagai
pemegang amanah keluarga besar Abu Habib Muda Seunagan.
Satu hari setelah acara oleh beberapa kalangan yang
menamakan dirinya sebagai tokoh muda Nagan dan Raja Muda

96ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Nagan dari Barisan Pemuda Aceh (BPA) mengeluarkan kritiknya
bahwa acara zikir tersebut telah dipolitisasi. Menurut Wan DP
dan Teuku Arif Cham dari BPA hal ini terlihat dari mencuatnya
tuntutan berbau politis yakni pemekaran Aceh dengan
menambah provinsi baru, Aceh Lauser Antara (ALA) dan Aceh
Barat Selatan (ABAS). Pernyataan ini langsung dibantah oleh
TRK, yang ketua pelaksana zikir syukur cinta NKRI se-Aceh
Keluarga Besar Abu Habib Muda Seunagan.18

Menurutnya
apa yang diberitakan oleh BPA dan yang menamakan dirinya
sebagai tokoh muda Nagan Raya tidak didukung oleh fakta-
fakta yang sebenarnya.
Klarifikasi yang disampaikan dalam koran lokal tersebut
mendapat reaksi kembali dari Wan DP dan Teuku Arif Cham.
Dalam siaran persnya kepada harian Serambi Indonesia tanggal
22 Agustus 2009 mereka mengungkapkan kekecewaannya
terhadap pernyataan panitia zikir. Mereka mengatakan bahwa
bukan BPA tetapi justru panitia yang dinilai telah memutar
balikkan fakta.19

Balasan ini kemudian dibalas oleh seseorang
lain dari mantan kombatan yang berinisial CM20

Bahwa komentar yang dilakukan Wan Datok Polem dan
Teuku Arif Cham di media massa merupakan bentuk

18

TRK adalah adik kandung Bupati Nagan Raya saat ini. Berita ini dimuat
pada Harian Serambi Indonesia 22 Agustus 2009 “Soal Politisasi Acara Zikir
di Nagan”.

19

Harian Serambi tanggal 23 Agustus 2009.

20

CM adalah adik ipar Bupati Nagan Raya saat ini, yang Khusus mendatangi
Biro Serambi Meulaboh, Jumat 21 Agustus 2009 untuk mengklarifkasi berita
sebelumnya dari WAN DP dan TEUKU ARIF CHAM yang disampaikan ke
Serambi Indonesia tanggal 19 Agustus 2009.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

97

provokasi yang disampaikan kepada masyarakat.
Menurutnya pernyataan pemekaran yang disampaikan
Bupati Nagan Raya beberapa waktu lalu merupakan
komentar seorang pejabat negara untuk meminta
sesuatu kepada pemerintah khususnya kepada Presiden
SBY. Hal ini tentu sangat wajar dan tidak ada unsur
untuk memecahkan Aceh, karena masih dalam bingkai
NKRI, ibarat anak meminta sesuatu kepada bapak dan
itu wajar-wajar saja.

Selanjutnya CM mengecilkan tokoh-tokoh muda yang
mengkritik dan mengatakan bahwa,

Wan DP dan Teuku Arif Cham tidak punya kapasitas,
keduanya bukanlah tokoh pemuda seperti yang mereka
akui dalam pernyataannya di media massa, apalagi
yang bersangkutan menurut Cut Man bukanlah mantan
kombatan GAM, bukan tim suksesnya Irwandi–Nazar,
keduanya hanyalah masyarakat biasa layaknya pemuda
lainnya.

Melihat polemik yang semakin meruncing yang terjadi
di kalangan elemen masyarakat di Nagan Raya, pemerintah
Provinsi Aceh pun ikut berusaha meredam untuk kebaikan
bersama. Terkait dengan berita yang beredar tersebut
Wakil Gubernur Muhammad Nazar mengajak masyarakat
Aceh berfikir cerdas terkait polemik zikir di Nagan. Berikut
pernyataan Wagub:

Kita di Aceh ini kan berasal dari satu endatu (nenek
moyang), karena itu mari terus kita pupuk dan kita jaga
persaudaraan ini secara bersama-sama. Pemerintah pusat
kini sudah mengerti betul bahwa Provinsi Aceh itu hanya
satu. Karenanya alokasi anggaran baik yang bersumber
dari APBN, APBA, APBK maupun yang bersumber dari
bantuan-bantuan donor lain, sepenuhnya digunakan

98ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

untuk pembangunan dan kemajuan seluruh Kabupaten/
Kota yang ada di Provinsi ini, jadi kalau ada pihak yang
mempolarisasi masyarakat untuk hal-hal di sluar itu
sama dengan menganiaya diri sendiri.21

Tetapi polemik tetap berlanjut, dan beberapa hari
kemudian Wan DP dan Teuku Arif Cham mengklaim dirinya
tidak hanya sebagai tokoh muda Nagan dan Barisan Pemuda
Aceh (BPA), tetapi juga sebagai Sri Paduka Keluarga Besar Raja
Muda Nagan. Dengan mengatasnamakan mewakili seluruh
pemuda Nagan Raya dengan nada yang sama dengan panitia
pelaksana zikir syukur cinta NKRI se-Aceh Keluarga Besar Abu
Habib Muda Seunagan sebelumnya, mereka mengucapkan
selamat di media massa22

atas terpilihnya SBY-Boediono
sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia
periode 2009-2014. Selain itu mereka juga mengucapkan
terima kasih sedalam-dalamnya atas persatuan raja-raja Aceh,
dan masyarakat Aceh yang telah mempersatukan Aceh dalam
NKRI.

Dalam koran yang sama Wan DP dan Teuku Arif Cham
me nyampaikan juga bahwa Raja Nagan akan mengundang
keturunan raja-raja Melayu dalam rangka memperkuat
silaturahim, budaya dan kesenian Aceh. Dalam hal ini ia juga
akan mengundang dari Malaysia untuk mencari dan menyusun
kembali silsilah raja-raja Aceh yang kini dianggap nyaris
hilang dari lembaran sejarah. Prakarsa ini menurut mereka
berdua (Wan DP dan Teuku Arif Cham) semata-mata untuk

21

Harian Serambi Indonesia tanggal 23 Agustus 2009 kolom 1 dan 11.

22

Harian Serambi tanggal 25 Agustus 2009.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA

99

menyelamatkan sejarah dan meluruskan kembali silsilah
raja-raja Aceh. Mereka berharap kegiatan yang akan mereka
selenggarakan mendapat restu dan dukungan semua pihak.
Dalam berita ini Wan DP dan Teuku Arif Cham mengakui
dirinya bukan hanya sebagai tokoh muda tetapi sebagai
keturunan dari para ninggrat Aceh tempo dulu.
Pada bulan Ramadhan tanggal 15 September tahun 2009,
beberapa waktu sebelum polemik di atas muncul Wan DP dan
Teuku Arif Cham tersebut menyerahkan bantuan meugang
Hari Raya Idul Fitri 1430 Hijriah berupa uang tunai sebesar Rp.
50.000.000,- kepada masyarakat Beutong Ateuh, Nagan Raya.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh mereka kepada
pimpinan pesantren Teungku Malikul yang merupakan putra
almarhum Teungku Bantaqiah.23

Ia berpesan agar bantuan
tersebut disampaikan kepada masyarakat Beutong Ateuh
sebagai bentuk kepedulian pihaknya selaku generasi muda
Nagan Raya terhadap masyarakat Beutong Ateuh yang sampai
saat ini tampak masih sangat tertinggal, dibandingkan dengan
kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Naga Raya. Sejumlah
tokoh masyarakat Nagan Raya turut menyaksikan penyerahan
bantuan tersebut.24

Polemik ini mengkonfirmasikan observasi bahwa
masyarakat dan elit politik di Nagan Raya masih berpegang
pada adat dan sistem stratifikasi sosial yang basisnya dalam

23

Ia adalah pimpinan pesantren yang tewas bersama beberapa muridnya
ketika lokasi pesantren ini diserang aparat keamanan pada saat konfik Aceh
berlangsung.

24

Liputan Harian Serambi Indonesia yang dimuat pada tanggal 15
September 2009, halaman 10.

100ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

kerajaan dan Habib. Meskipun ada kelompok atau tokoh-
tokoh yang mencoba melawan hegemoni elit politik yang ada,
mereka tetap memilih melawannya dengan memakai diskursus
adat dan kerajaan. Kedua tokoh muda yang ingin mengikuti
persaingan dengan Bupati setempat mengklaim sendirinya
sebagai keturunan raja yang lain. Mereka tidak memilih
membantah pentingnya adat atau kelompok keturunan.

Bentuk Ibadah Pengikut Peuleukung

Pada dasarnya kebudayaan Aceh diwarnai oleh ajaran Islam,
termasuk di Peuleukung. Pengaruh dari Habib Muda Seunagan
ini pada mulanya dimulai dari tampilnya beliau sebagai
mursyid bagi Tarikat Sattariah, sehingga kharismanya sebagai
seorang ulama kharismatik bukan hanya mempengaruhi
bidang keagamaan saja di kalangan pengikutnya tetapi juga
adat istiadat yang telah peneliti kemukakan di atas. Berkenaan
dengan masalah agama perlu peneliti uraikan sedikit di sini
karena hal ini adalah awal dari hegemoni Peuleukung di Nagan
Raya. Beberapa bentuk peribadatan pengikut Abu Habib Muda
Seunagan ini yang berbeda dengan masyarakat lain pada
umumnya sesama Islam.
Setiap musim Haji, menjelang hari raya Idul Adha ada
ribuan jama’ah pengikut ajaran Peuleukung dari berbagai
pelosok datang secara berombongan ke Gampong Peuleukung.
Jamaah ini tidak hanya dari kawasan Nagan Raya, tetapi juga
dari Aceh Barat, Aceh Selatan dan Aceh Tengah. Rombongan
tersebut datang untuk shalat Idul Adha ke dua tempat; gampong
Peuleukung tempat Abu Habib Muda Seunagan dikuburkan
dan ke Gampong Rambong Cut Pulo Ie tempat ayahandanya

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA101

dikuburkan yakni Habib Muhammad Yassin dengan panggilan
Habib Padang Sali. Di Pulo Ie ini juga dikuburkan nenek dari
Habib Muda Seunagan yang bernama Habib Abdurrahim. Oleh
masyarakat, kebiasaan dari pengikut Habib Muda Seunagan
ini disebut sebagai pelaksanaan ibadah Haji. Dan jamaah yang
melakukan haji ke sana setelah selesai dilaqabkan dengan Haji
Peuleukung dan Haji Pulo Ie.
Namun demikian, pengikut Habib Muda Seunagan sendiri
tidak mengakui demikian. Mereka menganggap apa yang
mereka lakukan hanyalah melaksanakan ziarah kubur. Di
sana mereka membaca zikir bersama yang mereka sebut
dengan zikir dua belas dan berdoa. Tetapi oleh masyarakat
terutama yang pernah menyaksikan, apa yang dilakukan oleh
para pengikut Abu Peulekueng ini sama persis dengan rukun
haji yang dilakukan di Mekkah. Misalnya mereka mendirikan
tenda-tenda, berpakaian putih seperti orang ihram di Mekkah,
mengelilingi kubur seperti mengelilingi Ka’bah untuk bertawaf.
Khusus di Pulo Ie, banyak pengikut Abu Peuleukung yang
membawa pulang tanah dari kuburan sebagai keberkatan dan
obat. Selain itu, tempat ini tidak hanya dikunjungi saat musim
haji tetapi juga musim lainnya, umumnya untuk menunaikan
nazar.

Ada perbedaan cara beribadah yang dilaksanakan
pengikut Abu Habib Muda Seunagan di Pulo Ie dengan yang
di Peuleukung. Di Pulo Ie cara beribadahnya sama persis
seperti haji di Mekkah di mana makamnya dikelilingi sambil
membacakan sesuatu. Tetapi di Peuleukung didirikan tenda,
mereka berzikir di balai dekat kuburan dan selanjutnya masuk
ke masjid untuk beribadah, di mana antara masjid dan kuburan

102ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

saling berdekatan. Pengikut Abu Peuleukung ini juga meyakini
adanya puasa tumpang.25

Namun salah seorang khalifah rateb
(zikir) yang memimpin dayah pengajian Peuleukung yang
tersebar di berbagai gampong, mengatakan puasa tumpang
bukanlah diajarkan oleh Abu Habib Muda.
Awalnya karena masyarakat sudah menganggap kalau
Habib Muda ini adalah Waliyullah dan mendapatkan ilham
langsung dari Allah SWT, sehingga apapun yang pernah dilihat
dari beliau pasti diikuti. Dalam konteks puasa tumpang, saat itu
Abu Habib Muda sedang sakit lalu beliau berbuka pada siang
hari dan memakan sirih. Ketika hal ini dilihat oleh masyarakat
pengikutnya, dianggap pembenaran bahwa dibolehkan puasa
tumpang. Sehingga saat ini banyak pengikutnya melakukan
buka puasa lebih cepat dari kaum muslimin pada umumnya
di bulan Ramadhan. Selain itu, pengikut Abu Peuleukung juga
merayakan Idul Fitri lebih duluan satu hari dibandingkan
dengan jadwal pemerintah yang tertera dalam kelender
tahunan. Menurut sebagian pengikutnya, ini dimaksudkan agar
pelaksanaannya serentak dengan hari raya di Mekkah.

Haul Tahunan Habib Muda Seunagan
Peringatan haul (kenduri tahunan kematian) Habib Muda
dilaksanakan setiap tahun secara rutin. Ini merupakan agenda
tahunan yang jatuh tepat pada 4 Jumadil Awal setiap tahun
Hijriah. Haul dilaksanakan pada malam hari. Sebelum haul
digelar, sorenya jama’ah berziarah ke makam Abu Peuleukung.

25

Puasa tumpang adalah berbuka pada siang hari atau sore hari di bulan
Ramadhan yang dilakukan oleh beberapa pengikut Abu Peuleukung.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA103

Peringatan haul ini bukanlah sekedar peringatan biasa, karena
diharapkan jama’ah yang hadir meneladani perjuangan beliau
sebagai guru mursyid Tarekat Syattariyah dan mensyariatkan
ajaran Rasulullah dalam menegakkan kalimah tauhid. Seluruh
pengikut yang datang dari berbagai daerah memadati lokasi
peringatan haul yang berada di komplek kediamannya (rumoh
rayeuk
) di Gampong Peuleukung.
Haul dilaksanakan tepat jam 21.00 WIB pada malam hari.
Peringatan ini berlangsung khidmat. Masing-masing jama’ah
yang dipimpin oleh seorang khalifah mulai berdoa dengan
mengharap limpahan rahmat dan barakah dari Allah SWT.
Ada jama’ah yang berzikir, melakukan tahlil zikir (bil jahr) ada
yang menggunakan tasbih dan tahmid. Ada pula jama’ah yang
membacakan suratul ikhlas dan ada pula kelompok zikir yang
khusus dari Gampong Seumouet-Ulee Jalan (Beutong Bawah).
Jama’ah ini dalam berdoa tampil beda dengan kelompok lain.
Jama’ah ini membacakan lantunan Maulud Barzanji karya
Syekh Ja’far al-Barzanji dan Siratun Nabawi karya sejarawan
Abu Ishaq. Kelompok zikir dari Gampong Seumot ini umumnya
telah berumur rata-rata 40 tahun.
Ketika jarum jam telah mununjukkan pukul 1.00 WIB,
seluruh jama’ah beristirahat sambil menikmati kopi disusul
dengan kue khas Nagan Raya; keukarah, setelah jama’ah selesai
menikmati makanan ringan dan suguhan kopi selanjutnya
panitia menyajikan nasi hidangan yang masih hangat lengkap
dengan lauk pauk ditambah telur asin yang merupakan
makanan favorit Nagan Raya. Selesai mencicipi makanan,
seluruh jama’ah meneruskan zikir dan doa sampai jam 5.00 WIB
pagi, kemudian acara haul ditutup dengan doa bersama yang

104ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

dipimpin langsung oleh Habib Qudrat putra almarhum sebagai
pemegang amanah Abu Habib Muda Seunagan (Sammina Daud,
2009 :117-119).

Peuleukung dan Pengaruh Ajarannya dalam Pandangan
Aliran Lain

Seperti halnya daerah lain di Indonesia tentu bukan hanya
Tarekat Syattariyah saja yang berkembang di Nagan Raya. Di sana
berkembang juga Tarekat Naqsabandi, Perti, Muhammadiyah
dan Nahdlatul Ulama. Setiap aliran mendapat tempat tersendiri
di kalangan masyarakat Nagan Raya. Buktinya banyak masjid,
meunasah dan balee seumeubeut (pondok pengajian), yang
dibangun oleh berbagai aliran/paham yang berbeda. Namun
demikian dilihat dari jamaah yang mendirikan shalat tetap
bercampur dari berbagai aliran/paham yang berbeda tersebut.
Sejauh ini berbagai aliran itu masih tetap saling
menghormati kalangan lain yang berbeda. Hal ini dapat
disaksikan di masjid yang para pengurusnya dari aliran
tertentu namun pelaksanaan ibadahnya bersama aliran yang
lain sesama Islam meskipun ada hal-hal tertentu yang tidak
diikuti oleh semua jamaah. Persoalan menyangkut khilafiah
saat ini jarang dipertentangkan aliran yang ada di Nagan Raya.
Sepertinya masyarakat mulai menyadari pentingnya saling
menghormati dan menghargai satu sama lain. Demikian juga
halnya dengan pengikut Abu Peuleukung di mana mereka juga
mendirikan masjid, mushalla dan dayah tersendiri.
Menurut Pak Rizal26

sebenarnya di Nagan Raya tidak semua

26

Nama samaran dari tokoh salah satu aliran yang berbeda dengan ajaran

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA105

masyarakatnya menjadi pengikut Abu Habib Muda Seunagan.
Walaupun pengaruh Abu Habib Muda ini tersebar sampai ke
berbagai daerah lain di Aceh hal ini tidak terlepas dari sejarah
awal penyebaran autad (delapan orang) sebagai orang-
orang khusus (pemikir inti) yang disebarkan di gampong-
gampong terdekat. Selain itu ada juga abdal (12 orang) yang
diutus untuk menyebarkan ajaran ini ke daerah lain sebagai
langkah awal untuk mengajak orang supaya datang belajar
ke Peuleukung. Ajakan tersebut untuk mendapatkan wasiat
dan ajaran rateb (zikir) oleh Abu Habib Muda Seunagan di
Peuleukung. Semenjak dibentuknya autad dan abdal inilah
mulai banyak orang yang datang ke Peuleukung. Ada yang
datang untuk menunaikan nazar ke sana. Setelah sampai
mereka lalu menjadi pengikut setia dan fanatik terhadap Abu
Peulekueng dibandingkan dengan pengikut aliran yang lain
pada pemimpin mereka.
Wujud fanatisme ini antara lain terlihat dari penghormatan
dan pelayanan berlebihan pada Abu Peulekueng. Dari beberapa
cerita yang saya peroleh dari masyarakat, banyak yang
menyaksikan, ketika Abu Habib Muda Seunagan ini melakukan
kunjungannya ke daerah lain beliau tidak sempat menginjakkan
kakinya di tanah. Dari satu tempat ke tempat lainnya ia disambut
dengan ditandu oleh para pengikutnya diberbagai gampong
yang ia kunjungi. Selain itu wujud fanatisme ini bisa juga
dilihat dari salah satu bentuk zikir para pengikutnya tentang
Abu Peuleukung. Zikir ini menunjukkan betapa fanatiknya

Peuleukung, ia masih bertalian darah dengan keluarga Peuleukung karena
neneknya adalah adik sepupu Abu Peuleukung.

106ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

para pengikut Peuleukung terhadap pemimpinnya antara lain

Lailaha Illallah Zikrullah kepada Abu, soe yang kheun Zikrullah
rahmat meulimpah dalam kubu.
artinyaLailaha Illah Zikrullah
kepada Abu, barangsiapa yang mengatakan Zikrullah rahmat
berlimpah di dalam kubur.”
Pak Rizal sendiri bukan pengikut Peuleukung, tapi ia
mengakui banyak tahu mengenai Peuleukung. Menurutnya
posisi Abu Peuleukung di kalangan para pengikutnya. Antara
lain Abu Habib Muda Seunagan ini diyakini dalam menuntut
ilmu tidak berkaki dan tidak berjari. Tidak berkaki diartikan
tidak pernah pergi ke luar menuntut ilmu, sementara tidak
berjari
diartikan beliau tidak mengajarkan orang tapi hanya
berwasiat saja. Sepengetahuan Pak Rizal, Abu Habib Muda
Seunagan pernah berguru pada Teungku Jawa. Teungku
Jawa ini bukan berarti orang Jawa, tapi pernah menuntut
ilmu sampai ke Jawa. Teungku Jawa inilah tempat Abu
Habib Muda Seunagan belajar rateb 12 (zikir dua belas)
dengan beberapa murid yang lain. Ketika Teungku Jawa
meninggal dunia, rateb ini tidak ada lagi yang memimpin.
Ada yang menawarkan kepada Teungku Kali, salah seorang
murid Teungku Jawa, untuk menggantikan Teungku Jawa
memimpin rateb 12. Akan tetapi Teungku Kali menolak dan
merasa tidak mampu. Setelah saling tolak menolak, akhirnya
yang menggantikannya adalah Mahyeddin (nama kecil dari
Abu Habib Muda Seunagan).
Saat ini, menurut Pak Rizal, pengaruh ajaran Peuleukung
dalam kawasan Nagan Raya tersebar di berbagai gampong
dengan jumlah persentase berbeda menurut gampong dan
kecamatan. Ada gampong yang sedikit pengikut ada pula

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA107

yang banyak. Jadi bukan 100% warga di Nagan Raya menjadi
pengikut Abu Habib Muda Seunagan. Bahkan ada beberapa
gampong yang sama sekali tidak terdapat pengikut Peuleukung,
termasuk gampong Pak Rizal. Hal ini juga dibenarkan Pak
Samsul.27

Menurut Ibu Sapiah28

di gampong tempatnya
berdomisili juga tidak ada yang menjadi pengikut Peuleukung,
tapi masyarakatnya menghargai dan menghormati Peuleukung
apalagi banyak dari anggota masyarakat gampongnya memiliki
hubungan kekerabatan dengan Ampon Bang.29

Pada saat
upacara adat perlakuan masyarakat yang berbeda aliran/paham
dengan Peuleukung tetap memperlakukan para habib dari
garis keturunan Peuleukung ini dengan penuh penghormatan.
Misalnya mereka menyediakan bu dalong (nasi dulang), sama
seperti penyambutan dari keturunan para raja/teuku.

Lembaga Adat dan Peran Pemerintah dalam Revitalisasinya

Dalam PERDA Provinsi Aceh Nomor 7 Tahun 2000 tentang
penyelenggaraan kehidupan adat, lembaga adat diartikan
sebagai suatu organisasi kemasyarakatan adat yang dibentuk
oleh suatu masyarakat hukum adat tertentu, mempunyai
wilayah tertentu dan harta kekayaan sendiri serta berhak
dan berwewenang untuk mengatur dan mengurus serta
menyelesaikan hal-hal yang berkaitan dengan adat Aceh. Di

27

Nama samaran dari tokoh dari paham/aliran yang berbeda dengan

Peuleukung.

28

Nama samaran dari seorang aktivis perempuan.

29

Sebutan panggilan untuk Teuku Zulkarnaini oleh masyarakat yang
merupakan nama kecil beliau yang saat ini sebagai Bupati Nagan Raya.

108ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

Nagan Raya lembaga adat ini sudah lama hilang sejak zaman
Jepang yang memang sengaja dihilangkan fungsinya. Namun
hal ini tidak menyebabkan adat istiadat di Nagan Raya
mengikut hilang, bahkan masih begitu terjaga kelestariannya.
Salah satu tokoh adat Teungku Muhammad,30

mengatakan
hal ini terlihat dari praktek adat institusi keluarga dan para
pengikut Abu Peuleukung.
Diterbitkannya Undang-undang Nomor 11 Tahun 2006
tentang Pemerintahan Aceh berkonsekuensi pada diberikannya
kedudukan hukum yang kuat terhadap pemerintahan mukim
dan gampong dalam sistem pemerintahan Aceh. UU tersebut juga
mengatur bahwa setiap kabupaten berwajib membuat qanun
mukim sendiri untuk mengatur secara teknis posisi dan fungsi
lembaga adat tersebut. Ternyata di Nagan Raya qanun tentang
mukim belum ada. Draf penjelasan atas Qanun Kabupaten Nagan
Raya Tentang Pemerintahan Mukim ini, saya dapatkan ketika
berkunjung yang kedua ke kantor Jaringan Komunitas Masyarakat
Adat Bumi Teuku Umar (JKMA BTU). Menurut penjelasan dari
Sekretaris Pelaksana JKMA BTU draf ini telah diserahterimakan
ke Bupati Nagan Raya pada bulan Maret 2009, beserta dengan
Qanun Kabupaten Nagan Raya Tentang Pemerintahan Mukim,
namun belum ada pengesahannya sehingga belum dinomorkan.
Meskipun Pemerintah Daerah Nagan Raya belum
mengeluarkan qanun mukim ini tidak berarti ketidakpedulian
terhadap lembaga-lembaga adat. Pemerintah Nagan Raya telah
menyediakan beberapa insentif setiap bulannya kepada para

30

Nama samaran dari salah satu unsur ketua dalam lembaga MAA
Kabupaten Nagan Raya.

REVITALISASI LEMBAGA ADAT DI NAGAN RAYA109

imum mukim, keuchik, tuha peut, teungku meunasah, keujruen
blang, panglima laot
dan pimpinan lembaga adat lainnya. Hal ini
diakui oleh Razali.31

Menurut Razali bentuk insentif ini bervariasi
menurut tinggi rendahnya jabatan yang disalurkan tiga bulan
sekali melalui dinas terkait. Misalnya keujruen blang melalui
Dinas Pertanian, panglima laot melalui Dinas Perikanan dan
Kelautan. Pemerintah Nagan Raya juga memberikan seperangkat
pakaian setiap tahunnya kepada pimpinan dari setiap lembaga
adat. Bentuk pakaian ini tidak sama antara masing-masing
lembaga adat tetapi seragam. Misalnya pimpinan keujruen
blang
kabupaten itu seragam sampai pimpinan tingkat bawah.
Pemerintah Nagan Raya juga memfasilitasi para pimpinan
lembaga adat melakukan studi banding ke daerah lain di
Indonesia. Sebagaimana pengakuan dari Ramli,32

bahwa dirinya
beserta hop keujruen, penyuluh, dan ketua kelompok tani
Kecamatan Kuala, pernah melakukan kunjungan ke Palembang
pada tahun 2007 yang difasilitasi oleh Pemerintah Kabupaten
Nagan Raya melalui Dinas Pertanian, dimana seluruh biaya
pesawat dan penginapan ditanggung Pemerintah Nagan Raya.
Anggaran biaya kenduri sawah dan laut yang didiskusikan
di atas dianggarkan berdasarkan permohonan para pimpinan
lembaga adat laot dan keujruen kabupaten melalui dinas
terkait. Selanjutnya RAB anggaran ini menunggu persetujuan
Bupati dan Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK).
Setelah mendapat persetujuan, anggaran biaya kenduri akan
disalurkan melalui dinas terkait untuk diserahkan ke lembaga

31

Nama samaran dari salah seorang keujruen chik Nagan Raya.

32

Nama samaran dari salah seorang keujruen chik Nagan Raya.

110ADAT DALAM DINAMIKA POLITIK ACEH

adat yang akan melakukan upacara kenduri. Semua bentuk
kegiatan kenduri yang dilaksanakan oleh lembaga adat yang
dibantu oleh pemerintah baru dianggap sempurna apabila
terlibat Abu Habib Qudrat yang merupakan satu-satunya
keturunan Peuleukung yang masih hidup. Dalam kenduri juga
disertai dengan doa dan zikir dari orang-orang terpilih dan doa
penutupnya dipimpin langsung oleh Abu Habib Qudrat sebagai
pemegang amanah terbesar Abu Peuleukung.

Kesimpulan

Dari apa yang telah saya kemukakan di atas tampak bahwa
praktek adat di Nagan Raya terkait erat dengan kuasa
Peuleukung di samping kebanggaan masyarakatnya dalam
mempertahankan sebutan Rameune Nagan. Kondisi ini
menyebabkan berbagai kebijakan pemerintah pusat dan
daerah melalui otonomi khusus, termasuk dengan lahirnya
Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU-PA) tahun 2006, tidak
memberikan pengaruh signifikan dalam revitalisasi lembaga
adat di Nagan Raya. Besarnya adat belum disertai dengan upaya
revitalisasi terhadap lembaga adat itu sendiri sehingga peran
dari lembaga adat tidak berpengaruh besar terhadap eksistensi
adat dalam masyarakat. Namun figur Peuleukung selalu
menjadi acuan bagi sebagian masyarakat dalam pelaksanaan
adat, termasuk di dalamnya lembaga adat dan pemerintahan.

Wacana dan Peran
“Orang Adat” dalam
Revitalisasi Adat Gayo

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->