PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

mengembangkan kehidupan demokrasi. j. l. mengelola administrasi kependudukan. kesatuan dan kerukunan nasional. dlsb. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). k. e. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. m. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. mewujudkan keadilan dan pemerataan. Dengan demikian.a. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. d. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. b. melestarikan lingkungan hidup. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. Essensi Pelayanan Publik. c. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. dan o. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. Jadi. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. melestarikan nilai sosial budaya. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. n. h. g. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. tidak terikat kepada ruang dan waktu. mengembangkan sistem jaminan sosial. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. f. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. melindungi masyarakat. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. 3. menjaga persatuan. i. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak.

Jakarta 2005.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. rumah sakit dsb. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. perindustrian atau peternakan. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. Akte Kelahiran. Izin usaha . merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. Depdagri. dlsb. pengaturan tata tertib dan ketentraman. jembatan. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. pertambangan. sekolah. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. hlm. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. pertanian. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan. hlm. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. Misalnya. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. IMB. seperti pengaturan untuk KPT. 50 13 7 . jalan.50 14 Ibid. KK.

Dari data statistik mata pencaharian penduduk. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. sbb: Pertama. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. seperti : pelayanan kesehatan. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. Kedua. misalnya core-competence di bidang pertanian. terutama dalam mencari akar permasalahannya.16 Kalau begitu. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. Ibid. relokasi pedagang kaki lima. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. 8 .Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. jalan. hlm 3. 29 Oktober 2006. Oleh karena itu. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. lingkungan air minum. Pemanfaatan lahan. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. pariwisata dlsb. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. Dengan demikian.3. hlm. b. pendidikan. tiadanya jaringan irigasi. peternakan. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. Sedangkan. “Kegagalan Negara Agraris”. transportasi perkotaan. resetlement daerah2 kumuh dlsb. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. industri.

dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private). sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. Dari kondisi tersebut.Daerah dengan Swasta (public private partnership) . harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya. sesuai dengan kondisi. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. 9 . Akan tetapi. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Disamping itu. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). transportasi dlsb. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No..17 Dalam pada itu. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. fasilitas umum dlsb. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. dalam bentuk infrastruktur.c.. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. kesehatan. lingkungan. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. karena 17 18 Ibid. atau dilakukan kemitraan antara Pem. kekhasan. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services.

hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. b. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. meliputi: a. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. tanggung jawab. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. Kedua. kewenangan. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Initiatif tersebut bisa dilakukan. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah.kesempatan. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. dan antar Pemerintahan daerah. dan c. b. dan d. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. b. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. Keempat. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. maka dalam UU No. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. Kalau dalam UU No. bidang pelayanan umum. meliputi: a. dan penentuan standar pelayanan minimal. dan c. meliputi: a. meliputi: a. Ketiga. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. 10 . dan c. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. 4. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. c. b.

dan bebas dari pajak. konservasi. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. pemeliharaan. dan pengelolaan kekayaan laut. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. pengaturan administrasi. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. political will) 11 . budi daya dan pelestarian. tannggung jawab. 5. meliputi: a. eksploitasi. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. meliputi: a. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut.Kelima. b. keamanan. pengendalian dampak. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. dan c. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. b. Kesenjangan antara niat dan realitas. Keenam. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. pengaturan tata ruang. ikut serta dalam pemeliharaan. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. Ketentuan tersebut diatas. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. dan c. pemanfaatan. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. meliputi: eksplorasi. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. kewenangan.

baik mengusir penjajah. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. Namun. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara.Soeharto. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang.negara di Asean. meredam berbagai pemberontakan. Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia.asalan. Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara . kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. kini di urutan ke-76. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita.ganti. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar. tetapi pekerjaan besar. berdasarkan asas desentralisasi. pekerjaan yang genius. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. Dalam sejarah bangsa ini. dan 19 Editorial Media Indonesia. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. Misalnya. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI).). Penggantinya H. berkat pimpinan negara yang lalu. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. 12 .8867/Tahun XXXVI. 16 Maret 2005/No. Rabu. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. Ini bukan kerja yang asal .M.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya. Sebagai bangsa yang besar. Bung Karno.

dengan dikeluarkannya Undang . dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Undang .Filipina di urutan ke-98. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap.Undang Nomor 6 Tahun 1959. Alasannya. 13 . dan yang berpihak kepada rakyat. Rezim Orde Lama. 6. disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang .Undang Nomor 1 Tahun 1945. kini penduduk miskin mencapai 36. Apakah dengan melalui Undang . menurut Badan Pusat Statistik 2004. Undang . upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan. melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance).Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu. yang sesungguhnya faham ini. Dengan kebijakan ini.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang . Editorial Media Indonesia. Melihat sekilas perspektif historis. Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. Dalam pada itu. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”. Namun.Undang Nomor 22 Tahun 1948. tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek .20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin. dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin.1 juta.praktek sentralisasi. hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid.Undang Nomor 1 Tahun 1957.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal.

Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. Oleh karena itu. pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”.pokok Pemerintahan di Daerah. Melalui konsep Undang . Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. disesuaikan dengan kemampuan daerah.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. Namun.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila. Prinsip Otonomi yang seluas . karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang .Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. yang digelar melalui UU No. Konsekuensinya. pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. Dengan keputusan politik tersebut. Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. Dengan demikian pula. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . Maka keluarlah Undang .saja. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. Dengan demikian. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional.luasnya. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan.sama dengan asas dekonsentrasi. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Penelitian yang terus menerus saya lakukan. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Itulah pula sebabnya. Melalaui Undang . kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. Tampaknya. syarat .

namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. bertanggung jawab dan demokratis. karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat. Kemudian. dalam era Undang .administrasi pemerintahan di Indonesia.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.hampir tidak berfungsi.sendat.Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun. 15 . yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol.angsur selambat .Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat. Dengan demikian.tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I. boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali. Demikian pula. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat. dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar). Namun.Undang Nomor 5 Tahun 1974. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang .lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang .lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut. dengan menekankan bahwa titik . yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II.Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat………. Walaupun Undang . eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. dst. bersih.Undang Nomor 22 Tahun 1999. sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat . Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus.” Sebelum terjadi perubahan Undang . karena PP tersebut tegas .undangan politik dan pemerintahan. tidak berjalan dengan baik. Ini adalah lagi . menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang . dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”.

Pengalaman menunjukkan.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD. Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah.mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme. sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang .pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung.lebihan.nya ditolak atau karena sebab .Undang Nomor 22 Tahun 1999. menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut.kerja. salah satu alasan mengapa Undang . Dengan demikian. banyak perilaku 16 . bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD. Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut.mana. Disamping itu. uang terhamburkan dimana .sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . dan bertanggung jawab kepada DPRD. ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. Namun. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. Inilah pula. Kalau bertanggung jawab kepada rakyat. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra .Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah. 7. terjadi konflik horizontal dimana . dimana hampir 30% pasal . kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. apakah karena LPJ .

gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis.masyarakat pemilih menjadi anarchist. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. 21 Maret 2006. memperburuk wajah kita. bahkan seolah . hlm. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen.aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. dan disusul sekarang dengan aksi .l. a.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir . dan merusak. mengusir. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang……………. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu.1 17 . Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh.kuat seakan .jalan.akhir ini. dan bukan melaksanakan Pilkada.dst. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh.gedung dan sarana pemerintahan.akan Indonesia begitu hebatnya. Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. dengan dalih pencerminan “demokrasi”. Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. dst. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. di era reformasi wajah Indonesia digebuk . Setiap hari kita memaki. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah. karena ketidak puasan hasil Pilkada. keahlian. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. entah di jalan . antara lain: a. demi keamanan dan pembangunan. Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia.orang di bagian dunia yang lain. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah . merusak gedung .olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara. entah di parlemen. Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . Kita membutuhkan modal. dan teknologi. sehingga tidak memerlukan lagi orang . 21 Editorial Media Indonesia. Sekarang. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi.”21 8. Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI. tetapi anarkistis. Pekan-pekan ini. Di Era Orde Baru. mengecam. sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat.

d. Pemerintahan Daerah. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. Materi Workshop. LAPI. Pemerintahan Daerah.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. KPUD. 9. kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004). termasuk Tim Suksesnya dll. Sesungguhnya. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang . perguruan tinggi.b. 3-4. 2004. baik di kalangan masyarakat. semangat dan jiwa. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi .unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. sehingga. Kalau pemilih tidak memilih nama. KPUD tidak jelas bertanggung . Pasal 57 UU No. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. Maraknya “politik . dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur . Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. namun Pasal tsb dalam judicial . hlm. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. para calon Kepala Daerah. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq.jawab kepada siapa. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. ideenya. 22 18 .uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada.interpretasi dan persepsi yang berbeda . dalam menyelenggarakan Pilkada. sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. c. f. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq.beda. e.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya.

akan berjalan baik.tanda gambar dan bukan orang. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi.pidana.cara tersebut diterapkan di Indonesia. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. akuntabilitas individu akan berkurang. Karena itu. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. Persoalannya sekarang. Akibatnya. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut.cara yang sama. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. Kedua. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”).negara maju. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter . Dengan demikian. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. Kondisi ini. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. Ini berarti. Sebagai konsekuensinya. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. seperti di Amerika. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. kalau cara . maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. akibatnya. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap. konsekuensi dari pemilihan langsung. seperti di Amerika. Namun. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. Di negara . maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. maka dengan imbalan uang.

Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif. Demikian juga dengan posisi DPRD.tertib dan kode . Forum Komunikasi. Keempat. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang . maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. tanpa adanya kemajuan yang berarti. sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik.Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. a. professionalisme. Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen.etik DPRD. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi.undangan. karena bagaimanapun juga posisi 20 . placement. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya.hak tersebut secara effektif.undangan. serta ethik dan moral. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. maka diharapkan DPRD sedikit .politik” (Pejabat karier). development dan appraisal dari PNS Daerah. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. artinya unsur .menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . Ketiga.l. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian. maka rakyat sebagai “stake . Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. DPRD yang lemah.banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. anggaran dan kontrol.holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Oleh karena itu. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak . Namun.

Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang .undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. serta berpihak kepada rakyat. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut. 10.PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan. 10 Nopember 2006.Undang Nomor 22 Tahun 1948. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . bersih dan bertanggung jawab. 3.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang .undangan politik dan pemerintahan. Undang . Undang - 21 . Demikian. Jakarta. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. Penutup. Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. Terima kasih atas perhatiannya.

kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. yaitu Undang . timbulnya raja . egoisme kedaerahan yang sempit. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini. Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah. peran serta masyarakat.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. sampai kepada paket kebijakan terakhir. 6 Tahun 1959. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. 5 Tahun 1960. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional.Undang ini masih jauh dari harapan.Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang .prinsip demokrasi. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. Namun demikian. peningkatan daya saing daerah.Undang Nomor 5 Tahun 1979. Undang . pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. ada pula yang beranggapan bahwa Undang . serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. masih setengah hati. Apalagi Undang – Undang 22 .kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Namun sebaliknya. PenPres No.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat. Hal tersebut. Undang . Undang . pemerataan dan keadilan.Undang Nomor 1 Tahun 1957. dan masih berbau “status quo”.Undang Nomor 32 Tahun 1956. sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. arogansi kekuasaan. Penetapan Presiden (PenPres) No.raja kecil di daerah dlsb. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip .Undang Nomor 18 Tahun 1965. adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. bersih. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak . Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959. dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi.

Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. 23 23 . maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. desentralisasi administrasi. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ditinjau dari perspektif Daerah. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. dalam Jurnal CSIS. Dalam pada itu. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. Namun. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber . karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. Dengan kata lain. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Demikian pula.1. Tahun XXXIX/2000. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. otonomi terbatas. otonomi luas. No. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. seperti – desentralisasi politik. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama.87. terutama Daerah Kabupaten/Kota. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif.23 Maraknya korupsi di daerah. hlm. ditinjau dari perspektif nasional. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara.sumber keuangan yang tidak proportional. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. antara lain. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah. Kategorisasi. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi. tidak adil dan sangat berat ke pusat.

11 25 Ibid. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. 8. desentralisasi fungsional. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. deconcentration. dan sebagainya. yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. Pusat Penelitian Politik. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie). Syarif Hidayat. 2002. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang .sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. Akan tetapi.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”.11. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI).Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi. ditinjau dari tataran teoritis. hlm. Walaupun begitu. “Evaluasi UU No. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. 4.istilah lainnya. hlm.24 Oleh karena itu. Walaupun demikian. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah . Pada masa sekarang. seperti decenralization. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). desentralisasi administratif (adminisrative decentralization).yang dimiliki oleh pemerintah daerah. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. desentralisasi politik (political decentralization). devolution.. otonomi dan medebewind. 24 24 . Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. melainkan merupakan sub .

Disini. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. 1961.64. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk .bentuk atau macam . Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. hlm.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. baik secara politik maupun administrasi.3. There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character. 27 United Nations. New York: United Nations. Handbook of Public Administration. yaitu melalui deconcentration atau devolution.macam decentralization. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization).29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization. 1962.64. 26 25 . Departement of Economic and Social Affair. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas .organ di daerah. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry.e. Technical Assistant Progame. Decentralization for National and Local Development. bukan hanya sekedar pelimpahan.28Jadi. New York: UN. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. hlm. Division for Public Administration. whose responsibility continues). Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). sedangkan devolution kepada badan . 28 Ibid. hal ini berbeda dengan devolution. namun juga memiliki keleluasaan. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan.. Department of Economics and Social Affair. 29 Ibid. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ .badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah. hlm. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries.

yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal.. 31 Akan tetapi.keputusan yang lebih substansial. Kewenangan itu bervariasi. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. 1987. Sedangkan desentralisasi politik. 33 Midjaja. hlm. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro . hlm. 30 26 .. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya.32 Dengan demikian. Sebaliknya. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah.. bahwa desentralisasi. Bandung. Subarda. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. 5-6 September 1992. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan.forma sampai kepada keputusan . Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal. 32 Ibid. hlm. Jakarta: LP3ES. Managing Development in the Third World. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal. jika pemerintah lokal semata . Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant.215.215-216. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya. Carolie dan Louise G. White.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . bahwa hak . 213-214. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad.hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . hlm. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya.tingkat lokal.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal. 20 Januari 1992. dalam Ateng Syafrudin. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. 31 Ibid. baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal.tahan.1.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. Bandung: Unpad. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber .33 saya justru berpendapat sebaliknya. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah.

keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. and non . maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal. sebagai bentuk pertama.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. 27 . Menurutnya. local adminisrative units. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan. decision making. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. Pemerintah pusat membentuk unit . Rondinelli. Decentralization and Development. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . Ibid. G. semi-autonomous and parastatal organizations. Konsekuensi dari devolution ini. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi.autonomous and parastatal agencies. and Cheema. Shabbir. local government.governmental institutions. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. 1988. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government. 34 35 hlm.. or non -governmental organizations. and Cheema. Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out. yaitu: deconcentration.35 Oleh karena itu. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. Shabbir.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. dalam Rondinelli. Ateng Syafrudin. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri).” Dengan batasan ini. Dennis A. SAGE Publications Inc. 18-19. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. Dennis A. Policy Implementation in Developing Countries. G.prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . Dengan demikian. Beverly Hills. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. or administrative authority from the central government to its field organizations. delegation to semi . devolution to local government. California. decentralization dalam bentuk deconcentration. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan.

pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility. bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. ciri . terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia.sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas .ciri karakteristik tersebut. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. Ketiga.cara baru dalam 28 . Dengan memperhatikan ciri . terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an. disebut sebagai the second wave of decentralization.tingkat pemerintahan. Kelima. unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka.batas wilayah yang jelas dan legal. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat. Sedangkan ciri yang Kelima. dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas .tugas umum pemerintahan. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. Kedua. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya. Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya.Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama. sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat .unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. Kedua. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. unit pemerintahan bersifat otonom. melihat perlunya dikembangkan cara . justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . vertrauwen). melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an.ciri Kesatu dan Ketiga. Oleh karena itu.tugas umum pemerintahan. Keempat. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas .

Menurut versi kontinental. Menurut konsep ini. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam.24.mata. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . Bandung. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam .37 Dalam hubungan ini. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. kegiatan pemerintahan semakin meluas. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization. 1990.19. hlm. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. guna kelancaran pekerjaan semata . Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government.36 Dengan demikian.macam. hanya dengan istilah yang berbeda. ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. 36 29 . 2001. hlm. adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian. Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. Ketiga. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur. desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. sehingga dengan demikian.daerah otonom). desentralisasi digolongkan menjadi dua.

menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia.W. juga berarti pemerintahan (bestuur). kotamadya dan seterusnya. 1979. “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”. van het de Grondwet noemt.peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving). maupun dari tataran Koesoemahatmadja. Seperti dikatakan C.. Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini.16. Hal ini berbeda dengan pendapat J.golongan yang bersangkutan sendiri.Undang dasar atau perundang . eigen huishouding. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang .J. seperti propinsi. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap.undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi.14. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie).40 Dengan demikian. Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . Akan tetapi. hlm. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie).melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. hlm.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan .39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan .badan otonom. baik ditinjau dari perspektif akademik. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan. dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum. badan .38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam. 39 Ibid. 40 Ibid. zelfstandigheid. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur..badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan .Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. dan bukan onafhankelijkheid. 38 30 . Bandung: Binacipta.15. Kedua.daerah otonom di dalam lingkungannya. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). hlm. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving). yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah . van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken.

bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. urusan . Dengan perkataan lain. Pertama. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil . hlm.kepentingan dari pusat atau daerah . 41 31 .urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas. hlm. Akan tetapi. Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan . 1983.wakil dari yang diperintah. bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. “Pasang Surut Otonomi Daerah”. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. hlm. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan.cit. Karena.43 Selanjutnya dikatakan. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya.. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). otonomi adalah hak. op. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. Kalau dikatakan.42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur.cara penyelesaian tugas tersebut. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin. diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut. 42 Ibid.23. Dalam menjalankan tugas .daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat . 25 43 Koesoemahatmadja.21. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama. Bandung: Binacipta. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan. Kedua.tugas medebewind. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan.41 Dengan demikian. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara .operasional.

op. sarana dan prasarana. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas.. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. Padahal. suatu negara bangsa merupakan genusnya. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. disertai dengan pembiayaan. 47. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. desentralisasi. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya. antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub .46 Karenanya pula. seperti telah disinggung dimuka. karena dalam konsep itu pembiayaan. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya.cit. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. melainkan merupakan sub . Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. 46 E. Karenanya. Jakarta: Yayasan Pariba. 44 45 32 . di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis.ordinasi.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat).Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. hlm. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. Koswara. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. yaitu negara bangsa (nation state). Masalahnya.. 2001. sedangkan sentralisasi. Ibid. hlm. Dengan perkataan lain.thesa” dari sentralisasi.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang .45 Padahal. Jadi. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. hlm.27-28. serta sumber daya manusia. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat.lain. menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi. “Otonomi Daerah. melainkan ada bagian .

setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. Kedua.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi. Arah. EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. dan Strategi”.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. Konsep. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. 5. 47 33 . peranserta dan oto . Yogyakarta: PT.menerus menjadi dilema. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . 1987. Sebuah Analisis. T. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 5. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.1. Ketiga.aktivitas masyarakat. Tiara Wacana. “Politik Pembangunan.. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah.prinsip partisipasi dan transparansi. Respons juridis . serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. pemerataan dan keadilan. baik sebagai badan legislative daerah.politik pada suatu waktu47. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dalam rangka menjalankan prinsi . dan pergeseran kedua nilai ini terus . dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”. Keempat. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. tergantung kepada konfigurasi . memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. hlm. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto.

dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . dengan 34 . 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Kelima. kawasan perumahan.kedua institusi tersebut. sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. seperti badan otorita. kawasan perkebunan.prinsip Good Governance. Keenam. kawasan pelabuhan.daerah. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain.usul dan otonomi asli. 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. maupun tantangan persaingan global. kawasaan industri. serta antar -Daerah. keadilan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. kawasan perkotaan baru. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. kawasan pertambangan. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. yang memiliki hak asal . 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. baik sebagai fungsi legislasi. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. kawasan pariwisata dan semacamnya. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. baik di dalam negeri. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. kawasan kehutanan. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. nyata dan bertanggung jawab.

Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda .sistem dan sub . bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan.rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. hendaknya dijaga benar . melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini.lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat. berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas. nyata dan bertanggung jawab.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. Dalam pada itu. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 . baik dalam memahami pasal . perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak .pasal Undang . self-determination. model ini lebih menekankan kepada aspek . kemerdekaan atau ketidak tergantungan). memberikan pengendalian. dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu .beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. Oleh karena itu. adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi.ordinasi dari Pemerintahan nasional. dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”. (dalam pengertian independent.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut.prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. Dari prinsip . terlepas dan bebas dari supervisi. terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.aspek demokrasi.kotak. onafhankelijkheid. pengendalian. yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. local differences and system diversity). tetap merupakan sub . Dalam hubungan ini. dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. Jadi.

dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. maupun psikologis serta sosio . 5. yaitu: Pertama.benturan baik yuridis. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . melainkan terdapat benturan . sebab kalau tidak. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. nyata dan bertanggungjawab.2. Tahapan instalasi. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. Kedua. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru.kewenangan pusat kepada daerah. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. dan terakhir Keempat. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. pengembangan demokrasi. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. pemerataan dan keadilan. Realisasi Undang . Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. ketiga.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. politik. yaitu mulai Januari sampai Desember. persatuan dan kesatuan bangsa. Tahapan stabilisasi. Namun. Tahapan konsolidasi. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

daerah. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata . tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. Jakarta. baik dalam rangka dekonsentrasi. Demikian pula. dan 218. 2003. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. 1998. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. dan Departemen . 202. 208.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. dalam E.departemen Sektoral. 48 37 . Koswara. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. 49 Remy Prud’homme. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. hampir selama k. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . Belum sinkronnya peraturan perundang . menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. masih timbul persoalan .masing. namun dalam praktiknya. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu.tingkat pemerintahan.persoalan yang mengemuka di lapangan.macam. “Teori Pemerintahan Daerah. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul. hlm. Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. maupun selaku Wakil Pemerintah.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. “The Dangers of Decentralizartion”. IIP Press. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . sesuai kehendaknya masing . juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja.l.

bahwa Daerah .Undang Dasar 1945. baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi. namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah. maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang .rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.lines dan rambu .dan diseminasi terlebih dahulu. Sebab. (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non .Undang yang baru. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur. banyak penjelasan Pasal . tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas. Di dalam UUD 1945.lines sebagai acuan. penjelasan Pasal 18 (lama). walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota.daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka. 38 . meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis. Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah. sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan. Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . tanpa ada guide .rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan.Undang. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide .pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang . baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat.

psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota.jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden. dinas . menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . terutama Pasal 8 ayat (2).tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. Dalam pada itu. Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. mengawasi.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. penyeimbang.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004).tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD. dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi.tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri. namun disana . penyelaras. ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi. dan pemersatu bangsa. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi. sehingga akan timbul tumpang . Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah . sedangkan tugas . Mudah . Demikian pula. yang ternyata membawa dampak politis . misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”. Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan.dinas daerah propinsi.benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. dengan tidak adanya (c) 39 . yang selanjutnya pelaksanaan tugas . Tugas . melainkan dipertanggung . sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan. melakukan supervisi dan memfasilitasi. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah. agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal. Sebab.mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti.Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. benar . dan bukan dekonsentrasi.kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. Instrumen. IV/MPR/2000. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. XV?MPR/1988.3. 5. (2) Ketetapan MPR No. I/MPR/2003. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. (2). Dari perspektif perundang-undangan. 18.undangan yang lebih tinggi. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. baik ditinjau dari perspektif Konsep. Kolusi. yaitu: Pasal .undangan normatif. 22D.pasal 1. (3) Ketetapan MPR No. dan Nepotisme. terutama menyangkut perundang . 18B. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. (1) UUD 1945 telah diamandemen. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . maupun Inplementasi. 5/MPR/2003. 23E ayat 24 ayat (1). Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. DPD dan DPRD. (4) Ketetapan MPR No. (5) Ketetapan MPR No. 5. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah.prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. (6) Keputusan MPR No. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. VI/MPR?2002.undang lainnya. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . 20.undangan. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . 21. 31 ayat (1). 33 dan 34. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. 18A. diantaranya adalah sebagai berikut: a. kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. DPR. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. IV/MPR/1999. (7) 40 .

undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. IV/2000. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. Dari perspektif Implementasi. Penyusunan pengaturan perundang . Dalam pada itu. ovelapping. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000.ekses 41 . Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . c.rambu. b. Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat. • Penyusunan peraturan perundang .undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.undangan. • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara.rambu yang jelas. sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan. namun tanpa diberikan rambu . sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum.  Dari perspektif Instrumen. d. baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Dari perspektif Konsep.

sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. bangsa dan negara yang lebih tinggi. Disamping itu. sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. Demikian pula. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara.4. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. 5. Pertimbangan lain. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . secara operasional kurang berjalan dengan baik. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. hubungan kemitra . sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier.undangan sektoral yang belum disesuaikan. f. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . Dalam pada itu. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. e. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. Pengaruh Lingkungan strategis.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah.

Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Kedua: Akuntabilitas. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”. Artinya. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. dimana dalam strata pemerintahan daerah. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas.4. Ketiga: Efisiensi. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. baik personil.5. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi.berat otonomi itu diletakkan. Dengan demikian. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. pemerintah daerah provinsi. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota.1. daerah kabupaten/ kota. apabila suatu bagian 43 . maupun sarana. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. untuk mendapatkan ketepatan. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat.

dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. yaitu antara pemerintah pusat. antara lain sering terjadi duplikasi. daerah provinsi.cit. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. sehingga terjadi model piramid terbalik. Koswara. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer).50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. bersifat saling berhubungaan (interconnection).masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi .undang pembentukannya. Sadar atau tidak. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. dan kurang memberikan E. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. Sebaliknya.dependent). Keserasian hubungan.. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. Keempat. maupun pada penyerahan . di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. op. karena mengandung beberapa kelemahan.urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan.penyerahan selanjutnya. Sebenarnya.positive dan jurisdiksi negatif51. 50 51 44 . yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. baik di dalam undang . perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. Disamping itu. saling tergantung (inter .

18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat.Undang Nomor 18 Tahun 1965. karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . dan kabupaten/ kota.Undang Nomor 5 Tahun 1974. politik. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang . Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium). Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi. yaitu: Pertama. Demikian pula.luasnya.Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang . baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . juridis. kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . karena pada umumnya mereka sudah established.pasal 18.keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi.negara maju lainnya akan sangat berbeda. dimana istilah itu baik dalam Undang . maupun operasional. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara . Namun. baik secara akademik. dimana teori ini dapat digunakan secara efektif.undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. setidak . Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut. yaitu Pasal . Penggunaan istilah “otonomi seluas . Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 .luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan. meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. Dengan demikian. provinsi. baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah.

ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Ketiga. maupun dalam tataran operasional.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. 46 . Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi.” 5. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”. Walaupun demikian.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. menyangkut Pembagian Daerah.pemerintahan daerah provinsi. Undang . karena otonomi bukan asas melainkan “hak. Kedua. karena dalam Pasal 18 baru.4. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. atau antara provinsi dan kabupaten dan kota.2. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. diatur dengan undang .tiap provinsi. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. tidak diadakan perubahan. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang .Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. yang tiap . Politik luar negeri. kabupaten dan kota. daerah kabupaten. yang diatur dengan undang undang”. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945. baik dalam tataran konsep akademik.daerah provinsi. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945.Asas penyelenggaraan pemerintahan. karena tidak lazim dipakai.

Pertahanan. c.undangan di bawahnya ikut keliru. 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang . Yustisi. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. melainkan suatu hak. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. dan dekonsentrasi. Keamanan. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. d. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan. Padahal asas . Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. b.Undang Nomor 32 Tahun 2004. dan f. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. Disamping itu. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen). melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c.asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. e. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading. Moneter dan fiskal nasional. karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda.asas desentralisasi. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas . Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Pemerintah dapat: a. jangan sampai perundang . 47 . Padahal. tugas pembantuan.32/2004.b.52 6. Agama. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”.

sbb: a. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. baik dalam proses penentuan kebijakan. e. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam. b. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. Dampak negatif. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat.2. h. b. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. g.l. a. anggaran dan pengawasan. akan semakin meningkat. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. karena kompetisi professional. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. memberatkan masyarakat. 48 . d. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah.Undang ini.1. bersih. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan.6. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. c. 6. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. f. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). dalam arti peningkatan Akuntabilitas. baik kualitas maupun kuantitas.

e. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. 7. yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan). hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara.sistem pemerintahan daerah secara sinergis. hutan. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. seperti: hubungan pusat dan daerah.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. lautan. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. terjadinya multi-interpretasi. seperti sumber daya air.tingkat pemerintahan yang berbeda.Undang Sektoral yang bersangkutan. penegasan prinsip .pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri . penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan.. munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . Daerah Propinsi. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. lingkungan hidup dlsb. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. belum sinkronnya perundang . PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata .sendiri. d. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. serta daya saing daerah. 2) 49 . 1). terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi. Dengan penyempurnaan tersebut. sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. dan Pusat.mata untuk mengatasi masalah yang timbul. karena masing .c. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub . pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah. f. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . Dalam pada itu. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). ataupun Pusat.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah.

sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah.tugas dekonsentras Namun.menarik pembagian kekuasaan. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). tidak lagi sebagai ajang tarik .undangan yang ada. Demikian pula. Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. serta prinsip . kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”. hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. Kalau saja. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah.isu strategis dan penting.daerah terpelihara dengan baik. baik yang bersifat lokal maupun regional. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. isu . dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. Dalam hubungan ini. baik antara pusat dan daerah. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . hubungan pusat . tidak mendukungnya. sangat disayangkan perundang . dapat diwujudkan. pemberdayaan. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat. sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. dan pengembangan demokrasi. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional.sehingga tercipta stabilitas. akuntabilitas. daya saing daerah. 6) 50 .Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan. 3) Terjadinya penggantian Undang .

instansi pemerintah dan pemerintah daerah. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur.menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”. Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”). 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah.tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . karena adanya tarik . dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah. dengan dasar hukum yang tegas. harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral.aktivitas masyarakat. sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . Pelaksanaan otonomi daerah. Teknis. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang . tidak ada. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus . melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut.q.menerus agar segala peraturan perundang .undangan Sekotral lainnya. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto . Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. guna memberdayakan masyarakat sendiri.q. yaitu tugas . serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis.

perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. Dalam pada itu. sehingga baik dari segi akademik. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. 52 . hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan. juridis. Jakarta. 8.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang. baik bagi masyarakat. lembaga masyarakat. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang .Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Berdasarkan hal tersebut. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing .administratif. kalangan perguruan tinggi. baik dari segi konsep akademik dan juridis. baik di pusat maupun di daerah. politik dan operasional. maupun empirik . maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang .berperan mendorong dan memfasilitasinya. dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. benar benar dapat dipertanggungjawabkan. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang . yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. baik antara Pemerintah. dan pelayan publik terabaikan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . partai politik. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. kesatuan pandang.Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. memiliki kesatuan sikap. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. 3 April 2006.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan.

E. Koswara Kertapradja 53 .