PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

dan o. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. Jadi. c. k. tidak terikat kepada ruang dan waktu. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. mewujudkan keadilan dan pemerataan. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. kesatuan dan kerukunan nasional. b. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. l. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. mengembangkan kehidupan demokrasi. g.a. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. h. i. d. Dengan demikian. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. f. melindungi masyarakat. e. m. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. mengembangkan sistem jaminan sosial. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. mengelola administrasi kependudukan. menjaga persatuan. 3. melestarikan lingkungan hidup. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. melestarikan nilai sosial budaya. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. n. dlsb. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. Essensi Pelayanan Publik. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. j. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

pertambangan. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. KK. Depdagri. Izin usaha . jalan. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. jembatan.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. Akte Kelahiran. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. hlm. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. dlsb. Jakarta 2005. seperti pengaturan untuk KPT. IMB. perindustrian atau peternakan. 50 13 7 . kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. pengaturan tata tertib dan ketentraman.50 14 Ibid. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. Misalnya.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. pertanian. sekolah. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan. rumah sakit dsb. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. hlm. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat.

Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. jalan. Kedua. tiadanya jaringan irigasi. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. terutama dalam mencari akar permasalahannya. resetlement daerah2 kumuh dlsb. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a.16 Kalau begitu. seperti : pelayanan kesehatan. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. peternakan.3. Ibid. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. Oleh karena itu. 8 . relokasi pedagang kaki lima. lingkungan air minum. hlm. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. misalnya core-competence di bidang pertanian. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. Sedangkan. 29 Oktober 2006. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. hlm 3. pendidikan. pariwisata dlsb. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. Pemanfaatan lahan. industri. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. transportasi perkotaan.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. Dengan demikian. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. sbb: Pertama. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. b. “Kegagalan Negara Agraris”.

. transportasi dlsb. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.Daerah dengan Swasta (public private partnership) . 9 . dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. sesuai dengan kondisi. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya.c. Dari kondisi tersebut. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services. atau dilakukan kemitraan antara Pem. kesehatan. Akan tetapi. karena 17 18 Ibid. Disamping itu.17 Dalam pada itu. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. lingkungan. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. dalam bentuk infrastruktur. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. kekhasan. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private). sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. fasilitas umum dlsb. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs.

Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. meliputi: a. Keempat. b. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. bidang pelayanan umum. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Kedua. tanggung jawab. dan c. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. b. dan antar Pemerintahan daerah. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. b. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. c. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. dan penentuan standar pelayanan minimal. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah.kesempatan. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. 10 . hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. Initiatif tersebut bisa dilakukan. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. maka dalam UU No. dan d. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. b. Kalau dalam UU No. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. kewenangan. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. dan c. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. meliputi: a. dan c. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. 4. meliputi: a. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. Ketiga. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. meliputi: a.

ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. pengendalian dampak. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. dan bebas dari pajak. pemanfaatan. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud.Kelima. 5. meliputi: a. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. pengaturan tata ruang. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. keamanan. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. tannggung jawab. Ketentuan tersebut diatas. b. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Keenam. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. b. dan c. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. ikut serta dalam pemeliharaan. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. dan c. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. political will) 11 . dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. budi daya dan pelestarian. kewenangan. meliputi: a. eksploitasi. konservasi. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. dan pengelolaan kekayaan laut. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. pengaturan administrasi. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. meliputi: eksplorasi. pemeliharaan. Kesenjangan antara niat dan realitas.

undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu.8867/Tahun XXXVI. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya.ganti. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . pekerjaan yang genius. Dalam sejarah bangsa ini.). sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb.negara di Asean. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang .asalan. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI). praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. Sebagai bangsa yang besar. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga. tetapi pekerjaan besar. Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. Misalnya. Namun. berdasarkan asas desentralisasi. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara.Soeharto. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. meredam berbagai pemberontakan.M. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara . dan 19 Editorial Media Indonesia. Rabu. kini di urutan ke-76. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. Penggantinya H. berkat pimpinan negara yang lalu. 12 . 16 Maret 2005/No. Bung Karno. Ini bukan kerja yang asal . kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). baik mengusir penjajah.

Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”. yang sesungguhnya faham ini.Undang Nomor 1 Tahun 1945. disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. 6. 13 .1 juta. dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin. mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan kebijakan ini.Undang Nomor 6 Tahun 1959. yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . Undang . Dalam pada itu. dan yang berpihak kepada rakyat. upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan.Filipina di urutan ke-98. Namun. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu. Editorial Media Indonesia. kini penduduk miskin mencapai 36. dengan dikeluarkannya Undang . Alasannya.Undang Nomor 1 Tahun 1957. menurut Badan Pusat Statistik 2004.20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa.praktek sentralisasi. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance). Rezim Orde Lama. Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang . Undang . Apakah dengan melalui Undang . Melihat sekilas perspektif historis. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959.Undang Nomor 22 Tahun 1948.

Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. Dengan demikian pula. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. yang digelar melalui UU No. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. Namun. Konsekuensinya. syarat . Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. Penelitian yang terus menerus saya lakukan. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. disesuaikan dengan kemampuan daerah. pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. Oleh karena itu. Melalaui Undang . yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dengan keputusan politik tersebut. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan.sama dengan asas dekonsentrasi. Maka keluarlah Undang . Dengan demikian. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku. Tampaknya.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II. Prinsip Otonomi yang seluas .Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.saja.luasnya. seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila. karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang .pokok Pemerintahan di Daerah. Melalui konsep Undang . Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . Itulah pula sebabnya. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan.

bersih. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol. dst.lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut.administrasi pemerintahan di Indonesia. Ini adalah lagi . namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. Namun. Walaupun Undang . karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat. kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I. dengan menekankan bahwa titik . Kemudian. Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus. yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II.hampir tidak berfungsi. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. Dengan demikian. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian.Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar).berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II. dalam era Undang .Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun. dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”.Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. Demikian pula.sendat.” Sebelum terjadi perubahan Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974. yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . tidak berjalan dengan baik. 15 .angsur selambat . karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang . karena PP tersebut tegas . menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali. eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat………. bertanggung jawab dan demokratis. sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat .undangan politik dan pemerintahan.lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang . dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat.

sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme.Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. uang terhamburkan dimana . kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang . Inilah pula.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD. Dengan demikian. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD.Undang Nomor 32 Tahun 2004.sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. salah satu alasan mengapa Undang . melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih .kerja. Disamping itu. Namun. ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. terjadi konflik horizontal dimana . sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah.nya ditolak atau karena sebab . terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. dimana hampir 30% pasal .mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. 7. Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. Pengalaman menunjukkan. apakah karena LPJ . daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra . Kalau bertanggung jawab kepada rakyat.Undang Nomor 22 Tahun 1999. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu.pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah. dan bertanggung jawab kepada DPRD.mana.lebihan. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. banyak perilaku 16 . Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah.

wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara. entah di jalan .gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. bahkan seolah . memperburuk wajah kita. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh. karena ketidak puasan hasil Pilkada. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super .akhir ini. dan merusak. dst. Di Era Orde Baru. mengecam. Pekan-pekan ini.kuat seakan .akan Indonesia begitu hebatnya. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah. Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. 21 Maret 2006. Kita membutuhkan modal. Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir . antara lain: a. tetapi anarkistis. demi keamanan dan pembangunan. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang……………. dan teknologi. sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB.1 17 . Setiap hari kita memaki.”21 8.aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu.orang di bagian dunia yang lain. keahlian. sehingga tidak memerlukan lagi orang . dan disusul sekarang dengan aksi . 21 Editorial Media Indonesia. a. hlm. merusak gedung . dengan dalih pencerminan “demokrasi”. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia.olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. mengusir. di era reformasi wajah Indonesia digebuk .dst. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. Sekarang. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen.masyarakat pemilih menjadi anarchist. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah .jalan. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh.l. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu.gedung dan sarana pemerintahan. entah di parlemen. dan bukan melaksanakan Pilkada.

serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. namun Pasal tsb dalam judicial . Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. hlm. Materi Workshop.unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. Pemerintahan Daerah. semangat dan jiwa. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. ideenya. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. perguruan tinggi. Pasal 57 UU No. f.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. dalam menyelenggarakan Pilkada. baik di kalangan masyarakat.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. termasuk Tim Suksesnya dll. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur . c. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah. Kalau pemilih tidak memilih nama. Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . KPUD. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah. kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. sehingga. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004). DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. e. 9. para calon Kepala Daerah. 3-4. 2004. d. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang . sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. Sesungguhnya.b.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. Maraknya “politik .interpretasi dan persepsi yang berbeda .review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. Pemerintahan Daerah. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq. LAPI.jawab kepada siapa. KPUD tidak jelas bertanggung .beda. 22 18 .

Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. Di negara . dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter . pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis.cara yang sama. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat.negara maju. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. maka dengan imbalan uang. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”). Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. Akibatnya. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. Karena itu. Dengan demikian. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih. konsekuensi dari pemilihan langsung.tanda gambar dan bukan orang. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. Kondisi ini. seperti di Amerika. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . Kedua.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs.pidana. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. akuntabilitas individu akan berkurang. seperti di Amerika. Sebagai konsekuensinya. akan berjalan baik.cara tersebut diterapkan di Indonesia. kalau cara . Persoalannya sekarang. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. Ini berarti. Namun. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. akibatnya. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap.

serta ethik dan moral.menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . development dan appraisal dari PNS Daerah.l. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya. placement. Oleh karena itu. tanpa adanya kemajuan yang berarti. sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. Namun. professionalisme. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional.holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah.politik” (Pejabat karier).undangan. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah. Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”. Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang .hak tersebut secara effektif. karena bagaimanapun juga posisi 20 . Ketiga. kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang.Undang Nomor 22 Tahun 1999. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif.undangan.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. Keempat. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen. maka diharapkan DPRD sedikit . Demikian juga dengan posisi DPRD. Forum Komunikasi. anggaran dan kontrol. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang . diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. artinya unsur . Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. DPRD yang lemah. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak .tertib dan kode . untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. maka rakyat sebagai “stake . DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD.banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. a.etik DPRD.

undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut. bersih dan bertanggung jawab. Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang .Undang Nomor 22 Tahun 1948. Undang . 10. 3.undangan politik dan pemerintahan. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. serta berpihak kepada rakyat. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . Undang - 21 . Penutup. Jakarta. Terima kasih atas perhatiannya.PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. 10 Nopember 2006. Demikian.

pemerataan dan keadilan.prinsip demokrasi. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. bersih. egoisme kedaerahan yang sempit. yaitu Undang . timbulnya raja . Undang . adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah. 5 Tahun 1960. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya. pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. Hal tersebut. Undang . ada pula yang beranggapan bahwa Undang . Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959. peran serta masyarakat. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak .Undang Nomor 18 Tahun 1965. berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat. dan masih berbau “status quo”.Undang ini masih jauh dari harapan.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Undang . sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . 6 Tahun 1959.Undang Nomor 5 Tahun 1979. arogansi kekuasaan. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. peningkatan daya saing daerah.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang .Undang Nomor 32 Tahun 1956.Undang Nomor 1 Tahun 1957. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah.Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang . Namun demikian. PenPres No. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. Namun sebaliknya.raja kecil di daerah dlsb. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional. dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi. masih setengah hati. Penetapan Presiden (PenPres) No. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. Apalagi Undang – Undang 22 . sampai kepada paket kebijakan terakhir.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini.

adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber .87.sumber keuangan yang tidak proportional. Demikian pula. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. antara lain. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004.23 Maraknya korupsi di daerah. tidak adil dan sangat berat ke pusat. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah. otonomi terbatas. dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. Namun. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. terutama Daerah Kabupaten/Kota. seperti – desentralisasi politik. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. dalam Jurnal CSIS. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. Kategorisasi. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi. No. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. ditinjau dari perspektif nasional.1. desentralisasi administrasi. Dalam pada itu. Ditinjau dari perspektif Daerah. Tahun XXXIX/2000. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. 23 23 . otonomi luas. hlm. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. Dengan kata lain. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat.

Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. hlm. 2002. dan sebagainya. 8. hlm. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). Pusat Penelitian Politik. Walaupun begitu.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. ditinjau dari tataran teoritis. Walaupun demikian. seperti decenralization.istilah lainnya. devolution. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. Syarif Hidayat. otonomi dan medebewind. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang .24 Oleh karena itu. desentralisasi politik (political decentralization). Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization). beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi. melainkan merupakan sub . Pada masa sekarang. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”. dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. “Evaluasi UU No.11. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. 4. deconcentration. desentralisasi fungsional.yang dimiliki oleh pemerintah daerah.Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie).. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. 24 24 . Akan tetapi. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah .11 25 Ibid.

New York: United Nations. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. hlm. 29 Ibid.e. 26 25 . Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). sedangkan devolution kepada badan . There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities.3. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization). 28 Ibid. whose responsibility continues). Para pejabat tersebut bekerja dalam batas . Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry.organ di daerah.28Jadi. Departement of Economic and Social Affair. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . hal ini berbeda dengan devolution. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization.64.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. Technical Assistant Progame. Division for Public Administration. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk . Disini.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan. Handbook of Public Administration.bentuk atau macam . yaitu melalui deconcentration atau devolution. namun juga memiliki keleluasaan. hlm.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat.badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. bukan hanya sekedar pelimpahan. New York: UN. 27 United Nations. Department of Economics and Social Affair. Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal.. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations. Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. baik secara politik maupun administrasi. 1962. 1961.64.macam decentralization. Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. hlm. Decentralization for National and Local Development.

215-216. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya... baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat.keputusan yang lebih substansial. hlm. 5-6 September 1992. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya. Kewenangan itu bervariasi. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia.forma sampai kepada keputusan . resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. 213-214.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal. Sedangkan desentralisasi politik. Jakarta: LP3ES. Carolie dan Louise G. Sebaliknya. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. 30 26 . yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah. Bandung: Unpad.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal..30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. Managing Development in the Third World. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”. Bandung.1.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. 33 Midjaja. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya. Subarda. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. hlm. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. hlm. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. dalam Ateng Syafrudin.32 Dengan demikian. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber . 20 Januari 1992. 31 Ibid.hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . jika pemerintah lokal semata . 1987.tingkat lokal. 32 Ibid. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut.215. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. 31 Akan tetapi. bahwa desentralisasi. bahwa hak .33 saya justru berpendapat sebaliknya.tahan. White. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah. hlm. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro .

G. yaitu: deconcentration. Pemerintah pusat membentuk unit . baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. dalam Rondinelli. Decentralization and Development. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. Shabbir. local government. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government.” Dengan batasan ini. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan. semi-autonomous and parastatal organizations. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. 34 35 hlm. Dennis A. Dennis A. 27 . Rondinelli. Beverly Hills. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . and Cheema. devolution to local government. delegation to semi . 1988. Policy Implementation in Developing Countries.autonomous and parastatal agencies. Ibid. decision making. Konsekuensi dari devolution ini. Dengan demikian. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan.. Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal.governmental institutions. keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). Ateng Syafrudin. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. 18-19. or non -governmental organizations. or administrative authority from the central government to its field organizations. SAGE Publications Inc. G. Shabbir. decentralization dalam bentuk deconcentration. California. and non . local adminisrative units. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. Menurutnya.prinsip pembagian kewenangan dan prinsip .34 Sejalan dengan pendapat Bryant.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan. and Cheema.35 Oleh karena itu. sebagai bentuk pertama.

dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas .Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama.sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas . karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. melihat perlunya dikembangkan cara .batas wilayah yang jelas dan legal. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia.ciri Kesatu dan Ketiga. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat .tugas umum pemerintahan. Keempat. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility. Kedua. Kedua. pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an.cara baru dalam 28 . Kelima.ciri karakteristik tersebut. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. vertrauwen). sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. disebut sebagai the second wave of decentralization. unit pemerintahan bersifat otonom.tugas umum pemerintahan. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas . terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya.tingkat pemerintahan. unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. ciri . bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. Sedangkan ciri yang Kelima. Dengan memperhatikan ciri . justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Oleh karena itu. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan.unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. Ketiga. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama.

mata. hlm. Ketiga. Menurut versi kontinental. Menurut konsep ini. adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. 36 29 . dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama.macam. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan.daerah otonom). sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat. desentralisasi digolongkan menjadi dua.37 Dalam hubungan ini. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. hlm. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. guna kelancaran pekerjaan semata . Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. 1990.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . Bandung.36 Dengan demikian. sehingga dengan demikian. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government. Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara. ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. kegiatan pemerintahan semakin meluas. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. 2001. hanya dengan istilah yang berbeda.24. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur.19. Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments.

Seperti dikatakan C.40 Dengan demikian. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut. badan . “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”. Kedua. 39 Ibid.badan otonom. 38 30 .15. seperti propinsi.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan . kotamadya dan seterusnya.daerah otonom di dalam lingkungannya. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving). yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom).38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah .39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan ..peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . hlm. eigen huishouding. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu.14. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie).undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi.16. hlm.J.W. maupun dari tataran Koesoemahatmadja. menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia.golongan yang bersangkutan sendiri. van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang . baik ditinjau dari perspektif akademik.badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan . rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan. Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. dan bukan onafhankelijkheid. 1979. dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum. juga berarti pemerintahan (bestuur). Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini. Akan tetapi. Bandung: Binacipta. 40 Ibid.Undang dasar atau perundang .. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. hlm. van het de Grondwet noemt. Hal ini berbeda dengan pendapat J. zelfstandigheid. Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving). yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur.

op. 25 43 Koesoemahatmadja. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman. Kalau dikatakan.kepentingan dari pusat atau daerah . diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas. Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan . tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan. Dalam menjalankan tugas . Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan.41 Dengan demikian. Bandung: Binacipta.21. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.tugas medebewind.43 Selanjutnya dikatakan. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama. Kedua. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat.42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur. Karena. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . Akan tetapi. urusan .23. “Pasang Surut Otonomi Daerah”. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya..daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat . wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. hlm. hlm. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil . hlm.operasional. Pertama. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan.cara penyelesaian tugas tersebut. 41 31 . bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). 42 Ibid. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin. otonomi adalah hak. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. Dengan perkataan lain. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan.alat perlengkapan daerah yang lebih bawah.cit.wakil dari yang diperintah. 1983.

namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. suatu negara bangsa merupakan genusnya. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. 2001. op. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. karena dalam konsep itu pembiayaan. Koswara.ordinasi. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. sarana dan prasarana. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. hlm. Padahal. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. 47. disertai dengan pembiayaan.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. “Otonomi Daerah. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . sedangkan sentralisasi.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. hlm. 44 45 32 .. Dengan perkataan lain. Karenanya. desentralisasi. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. hlm.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang .lain. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. 46 E. dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. serta sumber daya manusia. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan. Masalahnya. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya.thesa” dari sentralisasi. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. Ibid. Jadi. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya.46 Karenanya pula. Jakarta: Yayasan Pariba.cit..45 Padahal.27-28.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat). karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya. melainkan ada bagian . menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi. seperti telah disinggung dimuka. melainkan merupakan sub . yaitu negara bangsa (nation state).

Respons juridis . 5. Ketiga. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. T. Tiara Wacana. dan pergeseran kedua nilai ini terus . sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. tergantung kepada konfigurasi . yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”.prinsip partisipasi dan transparansi.menerus menjadi dilema. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. 1987. 5. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. Konsep.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. 47 33 . dalam rangka menjalankan prinsi .. “Politik Pembangunan. Sebuah Analisis.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi. Arah.1. hlm. baik sebagai badan legislative daerah. peranserta dan oto . Yogyakarta: PT. EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. Keempat.politik pada suatu waktu47. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”. pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum. pemerataan dan keadilan. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Kedua. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”.aktivitas masyarakat. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. dan Strategi”.

kawasan perkotaan baru. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat.usul dan otonomi asli. nyata dan bertanggung jawab.prinsip Good Governance. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . kawasan pariwisata dan semacamnya. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. kawasan pertambangan. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. maupun tantangan persaingan global. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. kawasan perumahan. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. baik sebagai fungsi legislasi. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. Keenam. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. kawasan perkebunan. baik di dalam negeri. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. kawasan kehutanan. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . dengan 34 . sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah.kedua institusi tersebut. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. yang memiliki hak asal . kawasan pelabuhan. keadilan.daerah. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. kawasaan industri. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. Kelima. seperti badan otorita. serta antar -Daerah.

nyata dan bertanggung jawab.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”.lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. Jadi. terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Oleh karena itu.pasal Undang . maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . tetap merupakan sub .rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . Dari prinsip . terlepas dan bebas dari supervisi. pengendalian. kemerdekaan atau ketidak tergantungan).Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. onafhankelijkheid. memberikan pengendalian.aspek demokrasi.beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa.sistem dan sub . melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini. adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi.prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. local differences and system diversity). baik dalam memahami pasal . sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . self-determination.kotak. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak . berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. model ini lebih menekankan kepada aspek . perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan. perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic.ordinasi dari Pemerintahan nasional. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. hendaknya dijaga benar . (dalam pengertian independent. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. Dalam hubungan ini. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 . bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”. dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. Dalam pada itu.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat.

Namun. pemerataan dan keadilan. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas.kewenangan pusat kepada daerah. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. Tahapan instalasi. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa.2. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . melainkan terdapat benturan . Realisasi Undang .benturan baik yuridis. Tahapan stabilisasi. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. pengembangan demokrasi. politik. sebab kalau tidak. yaitu mulai Januari sampai Desember. Kedua. yaitu: Pertama. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. 5. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance. maupun psikologis serta sosio . Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. Tahapan konsolidasi. nyata dan bertanggungjawab. dan terakhir Keempat. ketiga. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. persatuan dan kesatuan bangsa.

sesuai kehendaknya masing . Demikian pula. 208. baik dalam rangka dekonsentrasi.daerah. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota.l. 202.masing. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul. Koswara. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu.macam. dan Departemen .persoalan yang mengemuka di lapangan. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 48 37 . menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. “Teori Pemerintahan Daerah. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. IIP Press. Jakarta. “The Dangers of Decentralizartion”. dalam E. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. 2003. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. maupun selaku Wakil Pemerintah. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. masih timbul persoalan . Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata . 49 Remy Prud’homme. namun dalam praktiknya. hampir selama k. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan.departemen Sektoral. dan 218.tingkat pemerintahan. Belum sinkronnya peraturan perundang . disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . hlm. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . 1998.

tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang . melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”).Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis. 38 . dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur.dan diseminasi terlebih dahulu. sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan. namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah. tanpa ada guide . (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur. baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan. banyak penjelasan Pasal . baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi. meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi.rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. Sebab. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang . walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota.pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah.lines dan rambu .daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka.Undang Dasar 1945. bahwa Daerah . (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non . Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”.lines sebagai acuan. maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi.Undang. Di dalam UUD 1945. penjelasan Pasal 18 (lama). sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide . Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang .Undang yang baru.

dinas . melainkan dipertanggung . Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan. terutama Pasal 8 ayat (2).Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi.mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri. Demikian pula.jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden. Tugas . yang selanjutnya pelaksanaan tugas . yang ternyata membawa dampak politis . mengawasi. Mudah . sedangkan tugas . Dalam pada itu.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. melakukan supervisi dan memfasilitasi. Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004). penyeimbang. menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . sehingga akan timbul tumpang . Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah . dan bukan dekonsentrasi. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”.benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal.kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.dinas daerah propinsi.tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. dengan tidak adanya (c) 39 . sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”.tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. benar . Sebab. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. namun disana . penyelaras. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan pemersatu bangsa.

IV/MPR/2000. 18A. terutama menyangkut perundang . XV?MPR/1988. DPR. yaitu: Pasal . (2) Ketetapan MPR No.prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. 33 dan 34. 5. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. (1) UUD 1945 telah diamandemen. (5) Ketetapan MPR No. IV/MPR/1999. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . (7) 40 . terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. baik ditinjau dari perspektif Konsep. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . (4) Ketetapan MPR No.belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. (6) Keputusan MPR No.undangan yang lebih tinggi. (2). 5/MPR/2003. 18. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 31 ayat (1).pasal 1.3.undangan normatif. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. DPD dan DPRD. 22D. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . Instrumen. 23E ayat 24 ayat (1). 21. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. diantaranya adalah sebagai berikut: a. dan Nepotisme. maupun Inplementasi. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. I/MPR/2003. Kolusi. VI/MPR?2002. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. 20. 18B. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar .undangan. Dari perspektif perundang-undangan. (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.undang lainnya. 5. (3) Ketetapan MPR No. kepentingan nasional ataupun peraturan perundang .

b. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan. sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda.ekses 41 . baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali. Dari perspektif Konsep. IV/2000.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . Dalam pada itu. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. d. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. • Penyusunan peraturan perundang . Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang .  Dari perspektif Instrumen.undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya.rambu yang jelas. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. Dari perspektif Implementasi.rambu.undangan. c. ovelapping. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. namun tanpa diberikan rambu . Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. Penyusunan pengaturan perundang .

ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. Disamping itu. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. hubungan kemitra . Dalam pada itu.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. Pertimbangan lain.4. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. secara operasional kurang berjalan dengan baik. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . bangsa dan negara yang lebih tinggi. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. f.undangan sektoral yang belum disesuaikan. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. Pengaruh Lingkungan strategis. e. Demikian pula. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 5. memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat.

sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . Dengan demikian. untuk mendapatkan ketepatan.5. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. baik personil. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.4. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. dimana dalam strata pemerintahan daerah. Ketiga: Efisiensi. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin.berat otonomi itu diletakkan. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. maupun sarana. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. apabila suatu bagian 43 . kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi.1. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. pemerintah daerah provinsi. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”. daerah kabupaten/ kota. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. Artinya. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. Kedua: Akuntabilitas. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Sadar atau tidak. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. Keempat. Disamping itu. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. dan kurang memberikan E. Sebenarnya. daerah provinsi.. Koswara. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas.50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif.cit. antara lain sering terjadi duplikasi. sehingga terjadi model piramid terbalik. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. karena mengandung beberapa kelemahan. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. 50 51 44 . apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. baik di dalam undang .dependent).masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi .undang pembentukannya. saling tergantung (inter .urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . bersifat saling berhubungaan (interconnection). pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. yaitu antara pemerintah pusat. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan.positive dan jurisdiksi negatif51. Keserasian hubungan. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. maupun pada penyerahan . op. maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . Sebaliknya.penyerahan selanjutnya.

Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR .soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat. maupun operasional. Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. karena pada umumnya mereka sudah established. karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang . terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan. Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 . yaitu Pasal . baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. dimana istilah itu baik dalam Undang . yaitu: Pertama. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara . 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat. kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal .luasnya. Penggunaan istilah “otonomi seluas . setidak .pasal 18. baik secara akademik. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. dimana teori ini dapat digunakan secara efektif.Undang Nomor 5 Tahun 1974. baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya.undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . Demikian pula. Namun. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut. Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium). Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi.negara maju lainnya akan sangat berbeda.luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. provinsi. dan kabupaten/ kota.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . politik. Dengan demikian.keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi. karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. juridis.Undang Nomor 18 Tahun 1965. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang .

dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a.pemerintahan daerah provinsi. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah.” 5. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. daerah kabupaten. karena otonomi bukan asas melainkan “hak. maupun dalam tataran operasional. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. tidak diadakan perubahan.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. karena dalam Pasal 18 baru. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . baik dalam tataran konsep akademik. 46 . kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Undang . Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. yang tiap .4.daerah provinsi. diatur dengan undang . Walaupun demikian. yang diatur dengan undang undang”. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut.Asas penyelenggaraan pemerintahan. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. karena tidak lazim dipakai. menyangkut Pembagian Daerah.tiap provinsi. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Ketiga. atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945.2. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”. ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Kedua. Politik luar negeri. kabupaten dan kota. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama.

d. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang . karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. Pemerintah dapat: a. dan dekonsentrasi. jangan sampai perundang . tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan.52 6. dan f. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Padahal. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas .asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. Keamanan. c.b.asas desentralisasi. 47 . wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. b. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading. Agama. Padahal asas . e.undangan di bawahnya ikut keliru. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. Pertahanan. mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. Moneter dan fiskal nasional. tugas pembantuan. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen).32/2004. Yustisi. Disamping itu. melainkan suatu hak. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No.

baik dalam proses penentuan kebijakan.2. b. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. g. e. a. b. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. bersih.6. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya.1. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. Dampak negatif. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. 48 . anggaran dan pengawasan. c. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. sbb: a. karena kompetisi professional. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. 6. akan semakin meningkat. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat.l. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat. h. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. memberatkan masyarakat. baik kualitas maupun kuantitas. f. d.Undang ini. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam.

seperti sumber daya air. karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. hutan. d. lingkungan hidup dlsb. dan Pusat. munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan. 2) 49 . pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah. e. belum sinkronnya perundang . terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub .pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata .mata untuk mengatasi masalah yang timbul.tingkat pemerintahan yang berbeda.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri . sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat .c. lautan. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan). dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq.Undang Sektoral yang bersangkutan.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah. Dalam pada itu. penegasan prinsip . 1). Dengan penyempurnaan tersebut. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi. sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. seperti: hubungan pusat dan daerah. terjadinya multi-interpretasi. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. karena masing . serta daya saing daerah.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”)..sistem pemerintahan daerah secara sinergis. 7. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. Daerah Propinsi. ataupun Pusat. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. f.sendiri. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan.

sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan. hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. isu .prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan.daerah terpelihara dengan baik. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah.isu strategis dan penting. daya saing daerah. tidak mendukungnya. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional. terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah. 3) Terjadinya penggantian Undang . maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. baik yang bersifat lokal maupun regional. akuntabilitas. hubungan pusat . 6) 50 . sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. Demikian pula. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah.undangan yang ada. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. Dalam hubungan ini. Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”.sehingga tercipta stabilitas. dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan pengembangan demokrasi. sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. dapat diwujudkan. harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. sangat disayangkan perundang . Kalau saja.menarik pembagian kekuasaan. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. baik antara pusat dan daerah. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory).tugas dekonsentras Namun. tidak lagi sebagai ajang tarik . pemberdayaan. serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. serta prinsip .

7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . Pelaksanaan otonomi daerah. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto . harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut. Teknis. baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. yaitu tugas .tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq.menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik".q.undangan Sekotral lainnya. karena adanya tarik . Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”).q. guna memberdayakan masyarakat sendiri.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”.instansi pemerintah dan pemerintah daerah. Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang . sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis. dengan dasar hukum yang tegas. yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah.aktivitas masyarakat. segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus .undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . tidak ada. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”).menerus agar segala peraturan perundang . yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah.

memiliki kesatuan sikap. perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”.administratif. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan. sehingga baik dari segi akademik. baik bagi masyarakat. politik dan operasional. Dalam pada itu. 3 April 2006. Jakarta. benar benar dapat dipertanggungjawabkan. dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas. juridis.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. maupun empirik . baik antara Pemerintah. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang .berperan mendorong dan memfasilitasinya. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. kesatuan pandang. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . partai politik.Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. baik di pusat maupun di daerah. sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. Berdasarkan hal tersebut. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . 8. kalangan perguruan tinggi. sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. 52 . hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang. lembaga masyarakat. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang . dan pelayan publik terabaikan. dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. baik dari segi konsep akademik dan juridis.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama.

E. Koswara Kertapradja 53 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful