PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

f. Essensi Pelayanan Publik. c. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. b. melestarikan nilai sosial budaya. e. melestarikan lingkungan hidup. l. Jadi. k. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. i. g. mengembangkan sistem jaminan sosial. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). dlsb. m. n. Dengan demikian. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. h. j. mengembangkan kehidupan demokrasi. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. mewujudkan keadilan dan pemerataan. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat.a. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . 3. kesatuan dan kerukunan nasional. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. menjaga persatuan. mengelola administrasi kependudukan. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. d. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. dan o. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. melindungi masyarakat. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. tidak terikat kepada ruang dan waktu.

hlm.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. jembatan. Misalnya. 50 13 7 . 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. Depdagri. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. Jakarta 2005. Izin usaha . adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. IMB. pengaturan tata tertib dan ketentraman. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik.50 14 Ibid. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. pertanian. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. hlm.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. seperti pengaturan untuk KPT. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. perindustrian atau peternakan. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. KK. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. rumah sakit dsb. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. pertambangan. sekolah. jalan. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan. Akte Kelahiran. dlsb.

peternakan. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. lingkungan air minum. industri. 29 Oktober 2006. Dengan demikian. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. Kedua. 8 . Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. tiadanya jaringan irigasi. “Kegagalan Negara Agraris”. Oleh karena itu. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. pariwisata dlsb. seperti : pelayanan kesehatan. Ibid.16 Kalau begitu. hlm. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. misalnya core-competence di bidang pertanian.3. pendidikan. Sedangkan. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. sbb: Pertama. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. transportasi perkotaan. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). relokasi pedagang kaki lima. Pemanfaatan lahan. b. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. jalan. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. terutama dalam mencari akar permasalahannya. resetlement daerah2 kumuh dlsb. kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. hlm 3. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan.

hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. Dari kondisi tersebut. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. dalam bentuk infrastruktur.. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. kesehatan. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. Akan tetapi. bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). karena 17 18 Ibid.. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. sesuai dengan kondisi.17 Dalam pada itu. atau dilakukan kemitraan antara Pem. transportasi dlsb. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. fasilitas umum dlsb. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private). 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. Disamping itu. kekhasan. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs. lingkungan. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. 9 .c.Daerah dengan Swasta (public private partnership) . terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah.

b. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. dan d. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. Kalau dalam UU No. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. b. tanggung jawab. c. b. meliputi: a. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. Initiatif tersebut bisa dilakukan. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. bidang pelayanan umum. meliputi: a. meliputi: a. Keempat. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. dan penentuan standar pelayanan minimal. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. 10 . dan antar Pemerintahan daerah. Kedua. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. dan c. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. maka dalam UU No. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. 4. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. kewenangan. b. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. Ketiga. dan c. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. dan c. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota.kesempatan. meliputi: a.

dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. eksploitasi. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. meliputi: a. Keenam. Kesenjangan antara niat dan realitas. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. b. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. b. Ketentuan tersebut diatas. dan c. pengendalian dampak. political will) 11 . Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. kewenangan. keamanan. konservasi. ikut serta dalam pemeliharaan. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. 5.Kelima. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. dan pengelolaan kekayaan laut. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pemanfaatan. tannggung jawab. pengaturan administrasi. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. dan bebas dari pajak. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. dan c. meliputi: a. meliputi: eksplorasi. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. budi daya dan pelestarian. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. pemeliharaan. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. pengaturan tata ruang.

kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara .8867/Tahun XXXVI. dan 19 Editorial Media Indonesia. Misalnya. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. 16 Maret 2005/No. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita. kini di urutan ke-76. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI).negara di Asean. Dalam sejarah bangsa ini. baik mengusir penjajah. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. berkat pimpinan negara yang lalu.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan.Soeharto.ganti. Rabu. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. 12 . Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga.M. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development).asalan. berdasarkan asas desentralisasi.). praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar. “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . Bung Karno. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya. kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. Ini bukan kerja yang asal . pekerjaan yang genius. Namun. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. Sebagai bangsa yang besar. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. tetapi pekerjaan besar. meredam berbagai pemberontakan.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. Penggantinya H. Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb.

Rezim Orde Lama. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal. Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia.Filipina di urutan ke-98. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu. dengan dikeluarkannya Undang . mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. 13 . sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang. 6. upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan. Undang . dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin. dan yang berpihak kepada rakyat. Alasannya. kini penduduk miskin mencapai 36. dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.Undang Nomor 1 Tahun 1957.praktek sentralisasi. hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. Dengan kebijakan ini. disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . Editorial Media Indonesia. Apakah dengan melalui Undang .Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . Namun.1 juta. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”. Melihat sekilas perspektif historis. menurut Badan Pusat Statistik 2004. yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance).Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS .Undang Nomor 22 Tahun 1948.Undang Nomor 1 Tahun 1945. Undang . Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang .20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi.Undang Nomor 6 Tahun 1959. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959. yang sesungguhnya faham ini. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”. Dalam pada itu.

pokok Pemerintahan di Daerah. Dengan demikian. yang digelar melalui UU No. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. Konsekuensinya. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. syarat . pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. Namun. Prinsip Otonomi yang seluas . menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”. Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”. pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . Itulah pula sebabnya. karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang .sama dengan asas dekonsentrasi.saja. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. disesuaikan dengan kemampuan daerah.Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum. Tampaknya.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. Penelitian yang terus menerus saya lakukan.luasnya. Dengan demikian pula. Melalaui Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. Maka keluarlah Undang . demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. Dengan keputusan politik tersebut. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. Oleh karena itu. Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. Melalui konsep Undang .

karena PP tersebut tegas . dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”.sendat. dst.undangan politik dan pemerintahan. boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali.tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I. dalam era Undang . Ini adalah lagi . menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II.Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . tidak berjalan dengan baik.administrasi pemerintahan di Indonesia. kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . Namun. dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat. 15 .lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut. karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang .lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang . dengan menekankan bahwa titik . Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus.Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun. bersih. sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat . menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat……….Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. Demikian pula. menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Kemudian. yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. Dengan demikian. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II.Undang Nomor 5 Tahun 1974.Undang Nomor 22 Tahun 1999. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat.hampir tidak berfungsi. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol.” Sebelum terjadi perubahan Undang . yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar). karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat. eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II.angsur selambat . namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. bertanggung jawab dan demokratis. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. Walaupun Undang .

tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra . sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis.sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat.pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung.lebihan.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang .Undang Nomor 32 Tahun 2004. Inilah pula. menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. dan bertanggung jawab kepada DPRD. Disamping itu. Dengan demikian.mana. uang terhamburkan dimana . ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah.nya ditolak atau karena sebab . Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . dimana hampir 30% pasal . terjadi konflik horizontal dimana . Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . banyak perilaku 16 . Pengalaman menunjukkan.Undang Nomor 22 Tahun 1999. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . Kalau bertanggung jawab kepada rakyat. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD.mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD. apakah karena LPJ . Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD.Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD. Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Namun.kerja. Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa. 7. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. salah satu alasan mengapa Undang .

Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. mengecam. antara lain: a. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah . dan teknologi. entah di parlemen. dan bukan melaksanakan Pilkada. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat.aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . merusak gedung . a.l. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh.masyarakat pemilih menjadi anarchist. entah di jalan . dst. di era reformasi wajah Indonesia digebuk . Pekan-pekan ini.olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut.akan Indonesia begitu hebatnya. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir . Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada.”21 8.jalan. Di Era Orde Baru. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang…………….orang di bagian dunia yang lain. bahkan seolah . dan disusul sekarang dengan aksi . Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI. Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. demi keamanan dan pembangunan. tetapi anarkistis. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi. memperburuk wajah kita. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. dan merusak.gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi.akhir ini. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara.dst. hlm. Setiap hari kita memaki.1 17 . yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia. mengusir. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah. keahlian. Kita membutuhkan modal.kuat seakan . sehingga tidak memerlukan lagi orang . karena ketidak puasan hasil Pilkada. dengan dalih pencerminan “demokrasi”. 21 Editorial Media Indonesia. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu. Sekarang. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. 21 Maret 2006.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya.gedung dan sarana pemerintahan.

LAPI. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. dalam menyelenggarakan Pilkada. Sesungguhnya. Pemerintahan Daerah. semangat dan jiwa. 22 18 . Pasal 57 UU No. d. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . c. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah. Materi Workshop. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004). termasuk Tim Suksesnya dll. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. para calon Kepala Daerah. e. perguruan tinggi. kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang .interpretasi dan persepsi yang berbeda . 2004. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar.beda. Kalau pemilih tidak memilih nama. Pemerintahan Daerah. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. hlm. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. KPUD tidak jelas bertanggung . namun Pasal tsb dalam judicial . Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur . ideenya. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. baik di kalangan masyarakat. Maraknya “politik . sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. KPUD. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP).b. Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. sehingga. 3-4.unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. 9. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg.jawab kepada siapa. f. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq.

cara tersebut diterapkan di Indonesia. akuntabilitas individu akan berkurang. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. seperti di Amerika. Di negara . dimana pendidikan politik rakyat belum mantap. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. kalau cara . Dengan demikian. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . Karena itu. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. Persoalannya sekarang. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter . karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. Ini berarti. akibatnya. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah.tanda gambar dan bukan orang.cara yang sama.negara maju. seperti di Amerika. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. Akibatnya. konsekuensi dari pemilihan langsung.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. maka dengan imbalan uang. Namun. akan berjalan baik. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”). Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat.pidana. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. Kedua. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. Sebagai konsekuensinya. Kondisi ini. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah.

Undang Nomor 22 Tahun 1999. maka rakyat sebagai “stake . Ketiga. sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . Keempat.holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah. kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif.tertib dan kode . anggaran dan kontrol.l.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian.menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . placement. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak . development dan appraisal dari PNS Daerah. a. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. maka diharapkan DPRD sedikit .hak tersebut secara effektif. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. karena bagaimanapun juga posisi 20 .politik” (Pejabat karier). Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. artinya unsur . terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah.undangan.undangan. Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. professionalisme. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi. Demikian juga dengan posisi DPRD. tanpa adanya kemajuan yang berarti. Forum Komunikasi.etik DPRD. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. Namun. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. DPRD yang lemah. Oleh karena itu. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang .banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. serta ethik dan moral. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen.

Undang .Undang Nomor 22 Tahun 1948.PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . Demikian.undangan politik dan pemerintahan. Penutup. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . Undang - 21 . Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . 3. Jakarta.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. serta berpihak kepada rakyat. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut. 10 Nopember 2006. Terima kasih atas perhatiannya. 10. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. bersih dan bertanggung jawab.

adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . Penetapan Presiden (PenPres) No. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah. kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah. serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal tersebut.Undang Nomor 18 Tahun 1965. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional. Undang . Undang .prinsip demokrasi. sampai kepada paket kebijakan terakhir. pemerataan dan keadilan. egoisme kedaerahan yang sempit.Undang Nomor 1 Tahun 1957. dan masih berbau “status quo”. peningkatan daya saing daerah. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. masih setengah hati. Namun sebaliknya. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.Undang ini masih jauh dari harapan. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. arogansi kekuasaan.Undang Nomor 5 Tahun 1979. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. 5 Tahun 1960. Apalagi Undang – Undang 22 . Namun demikian. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak . ada pula yang beranggapan bahwa Undang . yaitu Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang .raja kecil di daerah dlsb. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini. timbulnya raja . baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . 6 Tahun 1959.Undang Nomor 32 Tahun 1956. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. PenPres No. Undang . peran serta masyarakat.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. bersih. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah.

desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. Demikian pula. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. otonomi terbatas. terutama Daerah Kabupaten/Kota. desentralisasi administrasi. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. seperti – desentralisasi politik. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru.23 Maraknya korupsi di daerah. dalam Jurnal CSIS. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif. Dengan kata lain. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. Namun. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. Ditinjau dari perspektif Daerah. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi.sumber keuangan yang tidak proportional.87. Tahun XXXIX/2000. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber . dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. Dalam pada itu. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. Kategorisasi. tidak adil dan sangat berat ke pusat. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. 23 23 . dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. antara lain. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. hlm. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. No. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah.1. ditinjau dari perspektif nasional. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. otonomi luas.

deconcentration. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). Pada masa sekarang. hlm. 8.11. Pusat Penelitian Politik. Walaupun begitu. hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara..istilah lainnya. 24 24 . yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. 2002. Syarif Hidayat. desentralisasi fungsional. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. Akan tetapi. hlm. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). “Evaluasi UU No. seperti decenralization. Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie). Walaupun demikian. desentralisasi politik (political decentralization). melainkan merupakan sub . otonomi dan medebewind. devolution. dan sebagainya. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang .Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. ditinjau dari tataran teoritis. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah . dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization). karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis.24 Oleh karena itu.11 25 Ibid. beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”.yang dimiliki oleh pemerintah daerah. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. 4. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar.

hlm. bukan hanya sekedar pelimpahan. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization). namun juga memiliki keleluasaan.64.badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan.64. Decentralization for National and Local Development.e. sedangkan devolution kepada badan .28Jadi. 1962. Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. whose responsibility continues). hlm. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). New York: United Nations. 26 25 .macam decentralization.3. Technical Assistant Progame. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas . Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. 1961. 27 United Nations. baik secara politik maupun administrasi. Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk .. yaitu melalui deconcentration atau devolution. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. Department of Economics and Social Affair. Disini. Division for Public Administration. hal ini berbeda dengan devolution. Handbook of Public Administration.organ di daerah.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization. 28 Ibid. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. hlm. 29 Ibid.bentuk atau macam .27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat. Departement of Economic and Social Affair. New York: UN.

tingkat lokal..1..mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. bahwa desentralisasi. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia. dalam Ateng Syafrudin. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah.215. hlm. White. jika pemerintah lokal semata .sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal. Jakarta: LP3ES.tahan.32 Dengan demikian.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya.33 saya justru berpendapat sebaliknya. bahwa hak . Sebaliknya. hlm.. 1987. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya. 32 Ibid. 20 Januari 1992. Bandung. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. 213-214. 31 Ibid. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro . diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. Managing Development in the Third World. 31 Akan tetapi. Subarda. yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah. hlm. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. 30 26 . Kewenangan itu bervariasi. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber .forma sampai kepada keputusan . baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. 5-6 September 1992. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya.215-216. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. Sedangkan desentralisasi politik.keputusan yang lebih substansial. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya. Carolie dan Louise G. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal. 33 Midjaja. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan.hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat. hlm. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. Bandung: Unpad.

” Dengan batasan ini. keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. Ibid. decentralization dalam bentuk deconcentration. G. 27 . Policy Implementation in Developing Countries. Konsekuensi dari devolution ini. G. dalam Rondinelli.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). sebagai bentuk pertama. Shabbir. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. Dennis A. Shabbir.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. Rondinelli. devolution to local government. and non .34 Sejalan dengan pendapat Bryant. Beverly Hills. or non -governmental organizations. Decentralization and Development. and Cheema. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal. local adminisrative units. local government. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan.autonomous and parastatal agencies.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan. semi-autonomous and parastatal organizations. Dennis A. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. delegation to semi .prinsip pembagian kewenangan dan prinsip .. 1988. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. California.governmental institutions. or administrative authority from the central government to its field organizations. 18-19. Pemerintah pusat membentuk unit . Menurutnya. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. decision making. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. SAGE Publications Inc. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government. Dengan demikian.35 Oleh karena itu. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. yaitu: deconcentration. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out. 34 35 hlm. and Cheema. Ateng Syafrudin.

tugas umum pemerintahan.sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas .batas wilayah yang jelas dan legal. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. Kedua. Ketiga. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat . unit pemerintahan bersifat otonom.tugas umum pemerintahan. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility. ciri . terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas . oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat.tingkat pemerintahan. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. vertrauwen). Oleh karena itu. dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas . terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Keempat. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya. Sedangkan ciri yang Kelima.unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya.cara baru dalam 28 . karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia. disebut sebagai the second wave of decentralization. Kelima. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat. Kedua. melihat perlunya dikembangkan cara .ciri Kesatu dan Ketiga. pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an.ciri karakteristik tersebut. Dengan memperhatikan ciri .Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama.

sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. Menurut konsep ini.mata. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. hlm.macam. 2001. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. Ketiga. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). desentralisasi digolongkan menjadi dua. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah .36 Dengan demikian. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments. ternyata decentralization tidak berdiri sendiri.19. Menurut versi kontinental. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. 1990.daerah otonom).daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . hlm. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government. Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental.37 Dalam hubungan ini. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur.24. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. guna kelancaran pekerjaan semata . adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian. kegiatan pemerintahan semakin meluas. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . 36 29 . “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”. hanya dengan istilah yang berbeda. Bandung. sehingga dengan demikian. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”.

38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam.J.badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan . Hal ini berbeda dengan pendapat J. zelfstandigheid. baik ditinjau dari perspektif akademik. badan . van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken.15. 40 Ibid. hlm. Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. Bandung: Binacipta. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving).undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi. van het de Grondwet noemt. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan.badan otonom. Akan tetapi. maupun dari tataran Koesoemahatmadja.39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan . dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum.W. menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia. Seperti dikatakan C. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini.daerah otonom di dalam lingkungannya.. Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving).40 Dengan demikian. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang . 38 30 .14. dan bukan onafhankelijkheid. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. seperti propinsi. hlm. juga berarti pemerintahan (bestuur). 39 Ibid. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah .16. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap. kotamadya dan seterusnya. Kedua. Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). hlm. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie).kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan .peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). 1979. “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”.Undang dasar atau perundang . eigen huishouding.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan.golongan yang bersangkutan sendiri..

bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman.tugas medebewind. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil .operasional. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi.42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur.43 Selanjutnya dikatakan.cara penyelesaian tugas tersebut. 25 43 Koesoemahatmadja. Kalau dikatakan.41 Dengan demikian. hlm. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan. otonomi adalah hak. 41 31 . bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Karena. hlm. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. urusan .21. Dengan perkataan lain. 1983. Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan . hlm. Bandung: Binacipta.. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya.kepentingan dari pusat atau daerah . Pertama.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin.daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat . 42 Ibid. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk).23. Dalam menjalankan tugas . sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Akan tetapi. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan.wakil dari yang diperintah. “Pasang Surut Otonomi Daerah”. tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan.cit. Kedua. diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut.alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat. op.

hlm. suatu negara bangsa merupakan genusnya. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. disertai dengan pembiayaan. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. Karenanya. 2001. Dengan perkataan lain. serta sumber daya manusia. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. 44 45 32 .46 Karenanya pula. karena dalam konsep itu pembiayaan. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. Jakarta: Yayasan Pariba..27-28. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya. hlm. Jadi.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat). menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. 46 E.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara.thesa” dari sentralisasi. Ibid. Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. melainkan merupakan sub . antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . desentralisasi. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya.45 Padahal. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. hlm. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Masalahnya. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang .. Koswara. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. Padahal. yaitu negara bangsa (nation state). sarana dan prasarana.lain. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. op. “Otonomi Daerah.ordinasi. 47. melainkan ada bagian . sedangkan sentralisasi.cit. seperti telah disinggung dimuka.

dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. “Politik Pembangunan.aktivitas masyarakat. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. Keempat. Konsep. 5. Ketiga.menerus menjadi dilema. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). 47 33 . serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. hlm. T. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. Tiara Wacana. Sebuah Analisis. Respons juridis .1. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. dan pergeseran kedua nilai ini terus . Kedua. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”. Yogyakarta: PT.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi. Arah. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. peranserta dan oto .. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. 5. 1987. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”.prinsip partisipasi dan transparansi. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”. tergantung kepada konfigurasi . dan Strategi”. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.politik pada suatu waktu47. pemerataan dan keadilan. dalam rangka menjalankan prinsi . EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”. baik sebagai badan legislative daerah.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum.

kawasaan industri.usul dan otonomi asli. keadilan. seperti badan otorita. serta antar -Daerah. kawasan pariwisata dan semacamnya. kawasan perkotaan baru. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.kedua institusi tersebut. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. Kelima. dengan 34 . 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom.prinsip Good Governance. kawasan kehutanan. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. kawasan perumahan. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan pelabuhan.daerah. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. kawasan pertambangan. maupun tantangan persaingan global. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. kawasan perkebunan. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. baik di dalam negeri. yang memiliki hak asal . fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. nyata dan bertanggung jawab. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. baik sebagai fungsi legislasi. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. Keenam. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah.

prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . Oleh karena itu. Dalam pada itu. sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . terlepas dan bebas dari supervisi. baik dalam memahami pasal .ordinasi dari Pemerintahan nasional. onafhankelijkheid. dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. tetap merupakan sub . Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak . pengendalian.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. model ini lebih menekankan kepada aspek . terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 . perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut.aspek demokrasi. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan.lebihan dan kurang proporsional dari Daerah.pasal Undang . local differences and system diversity). berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas. Dalam hubungan ini. dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . memberikan pengendalian.beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. self-determination.kotak. Dari prinsip . nyata dan bertanggung jawab. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”.rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jadi. melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. kemerdekaan atau ketidak tergantungan). (dalam pengertian independent. adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi.sistem dan sub . hendaknya dijaga benar .

nyata dan bertanggungjawab. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001.kewenangan pusat kepada daerah. Realisasi Undang .kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. dan terakhir Keempat. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. melainkan terdapat benturan . Tahapan stabilisasi. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia. Tahapan konsolidasi.benturan baik yuridis. persatuan dan kesatuan bangsa. Kedua. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. Namun. sebab kalau tidak. pengembangan demokrasi. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. ketiga. 5.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. yaitu mulai Januari sampai Desember. pemerataan dan keadilan. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. yaitu: Pertama. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. politik. maupun psikologis serta sosio .2. Tahapan instalasi. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah.

karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata .daerah. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. dan Departemen .masing. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. “Teori Pemerintahan Daerah. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. 202.macam. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu. 1998. 2003. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. hlm. sesuai kehendaknya masing . menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah.tingkat pemerintahan. Koswara. IIP Press. namun dalam praktiknya. “The Dangers of Decentralizartion”. Belum sinkronnya peraturan perundang . Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi. 49 Remy Prud’homme. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah.l. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. maupun selaku Wakil Pemerintah. 48 37 . Jakarta. dalam E. Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. dan 218.persoalan yang mengemuka di lapangan.departemen Sektoral. baik dalam rangka dekonsentrasi. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. masih timbul persoalan . 208. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. hampir selama k. Demikian pula. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam .

pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas.dan diseminasi terlebih dahulu. Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah. baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi. bahwa Daerah . banyak penjelasan Pasal . (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non . yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang . dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur.lines dan rambu . Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang .Undang Dasar 1945. baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat. sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide .lines sebagai acuan. Sebab. Di dalam UUD 1945. (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur.Undang yang baru.rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. 38 . Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5.daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”. namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis.Undang. penjelasan Pasal 18 (lama). maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan. walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . tanpa ada guide . tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas.

yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. Demikian pula.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. sedangkan tugas . Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi.jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. dan pemersatu bangsa. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. namun disana . melainkan dipertanggung . menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah . dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi. melakukan supervisi dan memfasilitasi.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004). dan bukan dekonsentrasi. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan.benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. dengan tidak adanya (c) 39 . Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. terutama Pasal 8 ayat (2). Dalam pada itu. ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi.Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. Sebab. Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan. Tugas .kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. penyeimbang. yang selanjutnya pelaksanaan tugas . Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain.tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”.tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”. penyelaras. yang ternyata membawa dampak politis . benar . Mudah . mengawasi. dinas . sehingga akan timbul tumpang .dinas daerah propinsi.

22D. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum.undangan. (5) Ketetapan MPR No. 33 dan 34.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. (4) Ketetapan MPR No. terutama menyangkut perundang . 20. XV?MPR/1988. IV/MPR/2000. (3) Ketetapan MPR No. 18.undang lainnya. Instrumen. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . 18A. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”.pasal 1. DPR. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. Dari perspektif perundang-undangan. DPD dan DPRD. 5/MPR/2003.3. diantaranya adalah sebagai berikut: a. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang .prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. (2). I/MPR/2003. Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 5. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. 31 ayat (1). (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. maupun Inplementasi. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan Nepotisme.belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. VI/MPR?2002. Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.undangan normatif. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. 18B. (6) Keputusan MPR No. 23E ayat 24 ayat (1).undangan yang lebih tinggi. baik ditinjau dari perspektif Konsep. (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. (2) Ketetapan MPR No. 21. Kolusi. (1) UUD 1945 telah diamandemen. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 5. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . (7) 40 . IV/MPR/1999. yaitu: Pasal .

Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. c.ekses 41 . • Penyusunan peraturan perundang . sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. Dari perspektif Konsep. b. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . ovelapping.  Dari perspektif Instrumen. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional.undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No. • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. Dari perspektif Implementasi.undangan. d. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . namun tanpa diberikan rambu . sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. IV/2000. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. Dalam pada itu. Penyusunan pengaturan perundang .undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya.rambu yang jelas. Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali.rambu. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat.

undangan sektoral yang belum disesuaikan.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . e. seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. f. yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. hubungan kemitra . bangsa dan negara yang lebih tinggi. Disamping itu. Demikian pula. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.4. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam pada itu. 5.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pertimbangan lain. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. Pengaruh Lingkungan strategis. secara operasional kurang berjalan dengan baik. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang.

baik personil. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut.4. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. Dengan demikian.5. apabila suatu bagian 43 . maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.berat otonomi itu diletakkan. untuk mendapatkan ketepatan. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. Ketiga: Efisiensi. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. Kedua: Akuntabilitas. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. maupun sarana. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. daerah kabupaten/ kota. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . Artinya.1. pemerintah daerah provinsi. dimana dalam strata pemerintahan daerah.

Disamping itu. saling tergantung (inter . bersifat saling berhubungaan (interconnection).cit. kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. Keempat.undang pembentukannya. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. antara lain sering terjadi duplikasi. Koswara. Sebaliknya. baik di dalam undang . Sadar atau tidak. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah.. sehingga terjadi model piramid terbalik. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. Keserasian hubungan. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. maupun pada penyerahan . dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. karena mengandung beberapa kelemahan. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu.penyerahan selanjutnya. 50 51 44 .masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi .50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda.dependent).positive dan jurisdiksi negatif51. yaitu antara pemerintah pusat. Sebenarnya. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. op. yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. daerah provinsi. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan.urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. dan kurang memberikan E. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu.

negara maju lainnya akan sangat berbeda. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas .undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah. dan kabupaten/ kota. Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 . Dengan demikian. karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara . yaitu Pasal . Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang . Demikian pula.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium).luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . Namun.luasnya. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang .keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. maupun operasional. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan.Undang Nomor 18 Tahun 1965. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut. baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah. politik. Penggunaan istilah “otonomi seluas . dimana teori ini dapat digunakan secara efektif. yaitu: Pertama. setidak . dimana istilah itu baik dalam Undang . kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat.Undang Nomor 5 Tahun 1974.Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. provinsi. meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . juridis. karena pada umumnya mereka sudah established.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat.pasal 18. Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi. baik secara akademik.

disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. kabupaten dan kota. diatur dengan undang . yang tiap . karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru.4. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. menyangkut Pembagian Daerah. baik dalam tataran konsep akademik. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. 46 . “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . yang diatur dengan undang undang”.Asas penyelenggaraan pemerintahan. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. Kedua. daerah kabupaten. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut.pemerintahan daerah provinsi. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. maupun dalam tataran operasional.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”.tiap provinsi. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik.2. Ketiga. Undang . kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . Walaupun demikian. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. karena dalam Pasal 18 baru. tidak diadakan perubahan. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. Politik luar negeri. karena otonomi bukan asas melainkan “hak. Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”.” 5. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah.daerah provinsi. karena tidak lazim dipakai. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”.

Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).undangan di bawahnya ikut keliru. d. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No. 47 . Pertahanan.32/2004. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen). Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan. dan f. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. Keamanan. Padahal. karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda. e. Yustisi.52 6. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang .asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. jangan sampai perundang . Pemerintah dapat: a. Agama.asas desentralisasi. Disamping itu. c. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. melainkan suatu hak. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. Padahal asas . mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”.b. tugas pembantuan. Moneter dan fiskal nasional. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. b. dan dekonsentrasi. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas .Undang Nomor 32 Tahun 2004.

2. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. anggaran dan pengawasan. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. bersih. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. akan semakin meningkat. baik kualitas maupun kuantitas. 48 . c.Undang ini. b. karena kompetisi professional. baik dalam proses penentuan kebijakan.l. b. memberatkan masyarakat.6. Dampak negatif. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. f. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. sbb: a. g. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. 6.1. d. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. e. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. a. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. h. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah.

sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah. 2) 49 . diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan.sistem pemerintahan daerah secara sinergis. hutan. seperti sumber daya air. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. serta daya saing daerah. sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub .sendiri. lingkungan hidup dlsb. Dengan penyempurnaan tersebut. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. karena masing . terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi.tingkat pemerintahan yang berbeda. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi.c. 1).pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas. e. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). f. Dalam pada itu. terjadinya multi-interpretasi. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . d.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”).mata untuk mengatasi masalah yang timbul. penegasan prinsip . 7. yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan). seperti: hubungan pusat dan daerah. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. Daerah Propinsi.. hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara.Undang Sektoral yang bersangkutan. dan Pusat. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata . karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. lautan. ataupun Pusat. belum sinkronnya perundang . sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri .

harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. 6) 50 . instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah.menarik pembagian kekuasaan. Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . pemberdayaan. Kalau saja. sangat disayangkan perundang .daerah terpelihara dengan baik. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. tidak mendukungnya. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional.tugas dekonsentras Namun. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat. isu . Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. akuntabilitas. tidak lagi sebagai ajang tarik .sehingga tercipta stabilitas. serta prinsip . daya saing daerah. sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. baik yang bersifat lokal maupun regional. dapat diwujudkan. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. 3) Terjadinya penggantian Undang .undangan yang ada. Dalam hubungan ini. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan. terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. baik antara pusat dan daerah. hubungan pusat .isu strategis dan penting. Demikian pula. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. dan pengembangan demokrasi.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu.tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”).undangan Sekotral lainnya. Pelaksanaan otonomi daerah. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis. guna memberdayakan masyarakat sendiri. 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah.menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan. Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.aktivitas masyarakat.q. tidak ada. baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. yaitu tugas . maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah. sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat.instansi pemerintah dan pemerintah daerah. dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto .menerus agar segala peraturan perundang .q. karena adanya tarik . harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus . Teknis. dengan dasar hukum yang tegas.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang .

Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. 8. 3 April 2006. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. baik dari segi konsep akademik dan juridis. kesatuan pandang. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . baik di pusat maupun di daerah. Dalam pada itu.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. benar benar dapat dipertanggungjawabkan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang. lembaga masyarakat. memiliki kesatuan sikap. baik bagi masyarakat. partai politik. sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. politik dan operasional. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang .administratif.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. kalangan perguruan tinggi. Berdasarkan hal tersebut. juridis. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang . dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya.berperan mendorong dan memfasilitasinya. dan pelayan publik terabaikan.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. maupun empirik . sehingga baik dari segi akademik. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. Jakarta. 52 . kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. baik antara Pemerintah.

E. Koswara Kertapradja 53 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful