PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

Jadi. mengembangkan sistem jaminan sosial. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. 3. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. d. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. f. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. Dengan demikian. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. m. dlsb. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles.a. l. h. tidak terikat kepada ruang dan waktu. j. c. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. melestarikan nilai sosial budaya. b. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. dan o. n. melindungi masyarakat. e. melestarikan lingkungan hidup. mengembangkan kehidupan demokrasi. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. mengelola administrasi kependudukan. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. Essensi Pelayanan Publik. kesatuan dan kerukunan nasional. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . k. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). menjaga persatuan. g. mewujudkan keadilan dan pemerataan. i. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan.

50 14 Ibid. Akte Kelahiran. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. pertanian. perindustrian atau peternakan. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. dlsb. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan. KK. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. pertambangan. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. seperti pengaturan untuk KPT. 50 13 7 . IMB. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. jembatan. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. sekolah. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. rumah sakit dsb. Depdagri. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. hlm. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. pengaturan tata tertib dan ketentraman. Misalnya. Jakarta 2005. jalan.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. hlm. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. Izin usaha .

b. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. Sedangkan. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. peternakan. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. jalan. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya.16 Kalau begitu. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. Pemanfaatan lahan. resetlement daerah2 kumuh dlsb.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. Dengan demikian. misalnya core-competence di bidang pertanian.3. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. pariwisata dlsb. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. 8 . yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. sbb: Pertama. seperti : pelayanan kesehatan. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). “Kegagalan Negara Agraris”. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. pendidikan. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. transportasi perkotaan. Oleh karena itu. industri. hlm 3. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. 29 Oktober 2006. lingkungan air minum. tiadanya jaringan irigasi. relokasi pedagang kaki lima. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. hlm. Kedua. terutama dalam mencari akar permasalahannya. kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. Ibid.

. Dari kondisi tersebut. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. kesehatan. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. transportasi dlsb. atau dilakukan kemitraan antara Pem. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. dalam bentuk infrastruktur. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. sesuai dengan kondisi. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. fasilitas umum dlsb. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private)..Daerah dengan Swasta (public private partnership) . Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. lingkungan. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services.17 Dalam pada itu. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs.c. karena 17 18 Ibid. 9 . perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). kekhasan. Disamping itu. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. Akan tetapi.

maupun peningkatan kerjasama antar daerah. Keempat. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. dan c. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. tanggung jawab. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. 4. c. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. dan c. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. b. Initiatif tersebut bisa dilakukan. Ketiga. maka dalam UU No. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. b. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. bidang pelayanan umum. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. b. dan penentuan standar pelayanan minimal.kesempatan. meliputi: a. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. meliputi: a. b. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. kewenangan. dan antar Pemerintahan daerah. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. dan c. meliputi: a. 10 . dan d. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. meliputi: a. Kalau dalam UU No. Kedua. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama.

political will) 11 . meliputi: a. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. dan bebas dari pajak. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. Ketentuan tersebut diatas. dan c. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. eksploitasi. Keenam. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. tannggung jawab. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. ikut serta dalam pemeliharaan. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. pemanfaatan. 5. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan c. pengendalian dampak. pengaturan administrasi. budi daya dan pelestarian. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. meliputi: a. dan pengelolaan kekayaan laut. Kesenjangan antara niat dan realitas. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. pemeliharaan. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara.Kelima. konservasi. meliputi: eksplorasi. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. b. kewenangan. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. b. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. pengaturan tata ruang. keamanan. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota.

“Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI). Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia.). seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula.Soeharto.negara di Asean. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar.8867/Tahun XXXVI. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara . 12 . beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. pekerjaan yang genius. Sebagai bangsa yang besar. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita. meredam berbagai pemberontakan. Ini bukan kerja yang asal .asalan. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. berkat pimpinan negara yang lalu. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. Bung Karno. kini di urutan ke-76. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu.ganti. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. Rabu. tetapi pekerjaan besar. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. Penggantinya H. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. Dalam sejarah bangsa ini.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. 16 Maret 2005/No. dan 19 Editorial Media Indonesia. berdasarkan asas desentralisasi. Misalnya. Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. Namun. baik mengusir penjajah. kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan.M.

yang sesungguhnya faham ini. Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang . Undang . kini penduduk miskin mencapai 36.praktek sentralisasi.1 juta. Undang . Alasannya. Dalam pada itu. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”. dengan dikeluarkannya Undang . tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . Rezim Orde Lama. Melihat sekilas perspektif historis. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal.Filipina di urutan ke-98.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. Editorial Media Indonesia. 6. melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance).Undang Nomor 1 Tahun 1957. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin.Undang Nomor 1 Tahun 1945. upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan. mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . Namun.Undang Nomor 22 Tahun 1948.20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia. dan yang berpihak kepada rakyat. menurut Badan Pusat Statistik 2004.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”. Dengan kebijakan ini. Apakah dengan melalui Undang . dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin. yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang.Undang Nomor 6 Tahun 1959. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . 13 . dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu.

Itulah pula sebabnya. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Melalaui Undang . karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang . yang digelar melalui UU No. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 .sama dengan asas dekonsentrasi.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia.luasnya.saja. syarat . dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. Prinsip Otonomi yang seluas . disesuaikan dengan kemampuan daerah. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku. Tampaknya. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. Penelitian yang terus menerus saya lakukan.Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. Namun. Dengan demikian. pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. Konsekuensinya. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. Melalui konsep Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Oleh karena itu. Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”.pokok Pemerintahan di Daerah. Dengan demikian pula. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . Dengan keputusan politik tersebut. Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . Maka keluarlah Undang . sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan.

lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II. dalam era Undang .tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I.Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun. tidak berjalan dengan baik. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.administrasi pemerintahan di Indonesia.Undang Nomor 22 Tahun 1999. Ini adalah lagi . kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . Namun. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol. namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. dst. Kemudian. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang . eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat.lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang .” Sebelum terjadi perubahan Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat. menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . Walaupun Undang . Dengan demikian. bertanggung jawab dan demokratis. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat.Undang Nomor 5 Tahun 1974. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat……….hampir tidak berfungsi.undangan politik dan pemerintahan. dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”. yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali. 15 . sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat .sendat. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. bersih. Demikian pula. dengan menekankan bahwa titik . karena PP tersebut tegas .angsur selambat . dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat. yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar). Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus.

mana. menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah. kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. Kalau bertanggung jawab kepada rakyat.pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis.mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD.nya ditolak atau karena sebab . ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD.sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra . Dengan demikian.Undang Nomor 32 Tahun 2004. Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. salah satu alasan mengapa Undang .lebihan. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. Disamping itu. 7. Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang . Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . Namun. apakah karena LPJ . uang terhamburkan dimana . melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden.Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan bertanggung jawab kepada DPRD.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah. sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD. terjadi konflik horizontal dimana .dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. Pengalaman menunjukkan. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. dimana hampir 30% pasal .kerja. Inilah pula. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme. banyak perilaku 16 .

kuat seakan . keahlian. dst. Pekan-pekan ini. mengecam. Setiap hari kita memaki. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah. Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. 21 Maret 2006. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu. tetapi anarkistis.dst. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. sehingga tidak memerlukan lagi orang . entah di jalan .jalan.aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. antara lain: a.gedung dan sarana pemerintahan. 21 Editorial Media Indonesia. demi keamanan dan pembangunan. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. a. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . Sekarang. karena ketidak puasan hasil Pilkada. dan bukan melaksanakan Pilkada. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. mengusir.orang di bagian dunia yang lain. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. entah di parlemen. bahkan seolah . dan teknologi.masyarakat pemilih menjadi anarchist. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah . hlm. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. Di Era Orde Baru. Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia. dan disusul sekarang dengan aksi . tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen. wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara.1 17 .”21 8. di era reformasi wajah Indonesia digebuk .olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat. Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir . merusak gedung .akhir ini. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang……………. Kita membutuhkan modal.l. dengan dalih pencerminan “demokrasi”.akan Indonesia begitu hebatnya. memperburuk wajah kita. dan merusak.gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi.

namun Pasal tsb dalam judicial . dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur . 22 18 . “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004).unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. f. e.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq. 2004. sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. KPUD. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). Maraknya “politik .b. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang .jawab kepada siapa. ideenya. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. LAPI. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal.interpretasi dan persepsi yang berbeda . dalam menyelenggarakan Pilkada. Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. 3-4. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. KPUD tidak jelas bertanggung . Kalau pemilih tidak memilih nama. kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. termasuk Tim Suksesnya dll. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq.beda. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. para calon Kepala Daerah. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah. baik di kalangan masyarakat. perguruan tinggi. sehingga. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. Materi Workshop. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. Pemerintahan Daerah. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. hlm. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . Sesungguhnya. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. Pemerintahan Daerah. c. Pasal 57 UU No.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. semangat dan jiwa. d.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah. 9.

maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . Kedua. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. Akibatnya. akibatnya. kalau cara . Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap.pidana. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”).tanda gambar dan bukan orang. Karena itu. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. akan berjalan baik. Di negara . ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. Persoalannya sekarang.negara maju. Namun. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . Dengan demikian. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat. seperti di Amerika. maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah.cara tersebut diterapkan di Indonesia. Kondisi ini. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter .productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. Sebagai konsekuensinya. maka dengan imbalan uang. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . konsekuensi dari pemilihan langsung. seperti di Amerika. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. akuntabilitas individu akan berkurang.cara yang sama. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . Ini berarti.

maka rakyat sebagai “stake .etik DPRD. Keempat. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah.banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. karena bagaimanapun juga posisi 20 .politik” (Pejabat karier). Demikian juga dengan posisi DPRD. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang .holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah.hak tersebut secara effektif.undangan. DPRD yang lemah.tertib dan kode .menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah. Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. placement. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. maka diharapkan DPRD sedikit . kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif. Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang . Namun. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya. serta ethik dan moral.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah.undangan. Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah. development dan appraisal dari PNS Daerah. tanpa adanya kemajuan yang berarti. a. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. anggaran dan kontrol. Forum Komunikasi. artinya unsur . dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah.l. professionalisme.Undang Nomor 22 Tahun 1999. Oleh karena itu. Ketiga. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak . baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru.

Undang - 21 . 3. bersih dan bertanggung jawab. Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . Terima kasih atas perhatiannya. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. Undang .PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. 10. Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.undangan politik dan pemerintahan.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . 10 Nopember 2006.Undang Nomor 22 Tahun 1948. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . serta berpihak kepada rakyat. Penutup. Demikian. Jakarta. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut.

Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang .Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.raja kecil di daerah dlsb. Undang . terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. Hal tersebut. berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat. sampai kepada paket kebijakan terakhir. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . peningkatan daya saing daerah. baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak . 6 Tahun 1959. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. Namun sebaliknya.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya. timbulnya raja . 5 Tahun 1960. kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. dan masih berbau “status quo”.prinsip demokrasi. Namun demikian. sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. pemerataan dan keadilan. Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah.Undang Nomor 18 Tahun 1965. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959.Undang ini masih jauh dari harapan.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional. Undang . Undang . adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . bersih. arogansi kekuasaan. peran serta masyarakat. egoisme kedaerahan yang sempit. Penetapan Presiden (PenPres) No. Apalagi Undang – Undang 22 . yaitu Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1979. dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi. PenPres No.Undang Nomor 32 Tahun 1956. masih setengah hati. ada pula yang beranggapan bahwa Undang .Undang Nomor 1 Tahun 1957.

“Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. Dengan kata lain. dalam Jurnal CSIS. Tahun XXXIX/2000. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. ditinjau dari perspektif nasional. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. Dalam pada itu. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. Namun. Demikian pula.sumber keuangan yang tidak proportional. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber .Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. 23 23 . otonomi luas. Ditinjau dari perspektif Daerah. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi.1. seperti – desentralisasi politik. otonomi terbatas.87. hlm. antara lain. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. desentralisasi administrasi. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. tidak adil dan sangat berat ke pusat. No. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. terutama Daerah Kabupaten/Kota. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi.23 Maraknya korupsi di daerah. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Kategorisasi. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah.

ditinjau dari tataran teoritis. Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. Walaupun begitu. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. 24 24 . hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. Syarif Hidayat. Pusat Penelitian Politik. desentralisasi fungsional. “Evaluasi UU No. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. devolution.11 25 Ibid. beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi.. hlm. 8.Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. seperti decenralization. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie).11.yang dimiliki oleh pemerintah daerah. desentralisasi politik (political decentralization). Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Akan tetapi. dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar.24 Oleh karena itu. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah . Walaupun demikian. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. deconcentration.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda.istilah lainnya. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). desentralisasi administratif (adminisrative decentralization). melainkan merupakan sub . Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). dan sebagainya. otonomi dan medebewind. Pada masa sekarang. 2002. 4. hlm. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang .

hlm.organ di daerah. Disini. bukan hanya sekedar pelimpahan.3. whose responsibility continues). Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. Division for Public Administration. hal ini berbeda dengan devolution. 27 United Nations. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries. New York: UN. 29 Ibid. yaitu melalui deconcentration atau devolution. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk . karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization). Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah.macam decentralization.28Jadi. 1962. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ .batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan. sedangkan devolution kepada badan .64.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. 1961. Department of Economics and Social Affair. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas .e. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. baik secara politik maupun administrasi. There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. Decentralization for National and Local Development. Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. Handbook of Public Administration.badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat. hlm. New York: United Nations. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). hlm.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization. 26 25 . Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character. Technical Assistant Progame. namun juga memiliki keleluasaan. Departement of Economic and Social Affair. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. 28 Ibid.. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations.bentuk atau macam .64.

diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya. 5-6 September 1992. White.hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan ..215. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya. Subarda. 32 Ibid. 20 Januari 1992. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . Bandung. hlm. 213-214. hlm. 33 Midjaja. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan.215-216. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”. bahwa desentralisasi.1. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. 1987. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya.tahan.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal.keputusan yang lebih substansial. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro . dalam Ateng Syafrudin. 31 Akan tetapi. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya.forma sampai kepada keputusan . hlm. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber . Carolie dan Louise G. Jakarta: LP3ES. baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. Kewenangan itu bervariasi. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. Managing Development in the Third World. Sedangkan desentralisasi politik. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. 31 Ibid. Sebaliknya.. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. bahwa hak . Bandung: Unpad. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia. hlm.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional.33 saya justru berpendapat sebaliknya.32 Dengan demikian.. jika pemerintah lokal semata .tingkat lokal. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. 30 26 . yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah.

governmental institutions.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan. California. Decentralization and Development. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan. Pemerintah pusat membentuk unit .” Dengan batasan ini. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government. G.prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . Policy Implementation in Developing Countries. decentralization dalam bentuk deconcentration. local government. dalam Rondinelli.35 Oleh karena itu. and Cheema. G. Konsekuensi dari devolution ini. Shabbir. 1988. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . Dennis A. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal. Shabbir. Dengan demikian. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. Beverly Hills. yaitu: deconcentration. and Cheema. or administrative authority from the central government to its field organizations. Ateng Syafrudin. Rondinelli. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. SAGE Publications Inc.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. semi-autonomous and parastatal organizations. Dennis A. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. delegation to semi . Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. decision making. Ibid. and non . Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization.autonomous and parastatal agencies. keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. local adminisrative units. 18-19. 27 .. or non -governmental organizations. devolution to local government. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. 34 35 hlm. Menurutnya.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. sebagai bentuk pertama.

ciri . disebut sebagai the second wave of decentralization. Keempat. dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas . terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit .ciri Kesatu dan Ketiga.Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama.ciri karakteristik tersebut. bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.cara baru dalam 28 .tingkat pemerintahan. Kelima. vertrauwen). sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. Dengan memperhatikan ciri . oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat. Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas . Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . Kedua. pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an.tugas umum pemerintahan. unit pemerintahan bersifat otonom.batas wilayah yang jelas dan legal. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat . Ketiga. melihat perlunya dikembangkan cara . unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. Kedua. Oleh karena itu. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. Sedangkan ciri yang Kelima. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility.sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas .unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya.tugas umum pemerintahan. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat.

37 Dalam hubungan ini. desentralisasi digolongkan menjadi dua. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. kegiatan pemerintahan semakin meluas. 36 29 . Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental. decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. Bandung.36 Dengan demikian. adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian. hlm. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government. Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments.24. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). Ketiga. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. 2001. hanya dengan istilah yang berbeda.daerah otonom). sehingga dengan demikian. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. 1990. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat.19. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. Menurut konsep ini. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. guna kelancaran pekerjaan semata . hlm.mata. Menurut versi kontinental. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”.macam. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah .

38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. zelfstandigheid. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan..15. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah . Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan .daerah otonom di dalam lingkungannya.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan .J. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. Akan tetapi. 1979. 39 Ibid. seperti propinsi. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang . maupun dari tataran Koesoemahatmadja. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving). baik ditinjau dari perspektif akademik. juga berarti pemerintahan (bestuur). b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). eigen huishouding. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap. Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving). dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). hlm. van het de Grondwet noemt.peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia. 40 Ibid.16.undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi.badan otonom. van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur. Bandung: Binacipta. dan bukan onafhankelijkheid. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). kotamadya dan seterusnya.. “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”.golongan yang bersangkutan sendiri. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini.14.40 Dengan demikian.Undang dasar atau perundang . hlm. Hal ini berbeda dengan pendapat J. badan .Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah.badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan . Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut.W.39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan . Seperti dikatakan C. Kedua. hlm. 38 30 .

cit.cara penyelesaian tugas tersebut. Kalau dikatakan. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin. “Pasang Surut Otonomi Daerah”. hlm. op. bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. Karena.alat perlengkapan daerah yang lebih bawah.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas. hlm. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . Akan tetapi. Kedua. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri.tugas medebewind. Pertama. Bandung: Binacipta. tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama. otonomi adalah hak.daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat . Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan .operasional. Dengan perkataan lain.41 Dengan demikian. 25 43 Koesoemahatmadja. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman.. urusan . hlm.21. 41 31 .42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.43 Selanjutnya dikatakan.wakil dari yang diperintah. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. Dalam menjalankan tugas . Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil .23. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk).kepentingan dari pusat atau daerah . 1983. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat. 42 Ibid. wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya. diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut.

sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang . Karenanya. sarana dan prasarana. Masalahnya. Ibid. Padahal. melainkan merupakan sub .. desentralisasi. hlm. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. 2001. op. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. 46 E. Jadi.lain. hlm. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan.. karena dalam konsep itu pembiayaan.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . suatu negara bangsa merupakan genusnya. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Koswara.ordinasi. Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. sedangkan sentralisasi. Dengan perkataan lain. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi. hlm. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. yaitu negara bangsa (nation state). Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. 44 45 32 .27-28.cit. seperti telah disinggung dimuka. melainkan ada bagian . Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.45 Padahal.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat). serta sumber daya manusia. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. “Otonomi Daerah.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein.thesa” dari sentralisasi. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas.46 Karenanya pula. disertai dengan pembiayaan. 47. Jakarta: Yayasan Pariba. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya.

Keempat. dan Strategi”. Ketiga.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi. hlm. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. dalam rangka menjalankan prinsi . Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.aktivitas masyarakat. 47 33 . Kedua. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. dan pergeseran kedua nilai ini terus .1. pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum.. tergantung kepada konfigurasi . Konsep. 1987. baik sebagai badan legislative daerah. “Politik Pembangunan. pemerataan dan keadilan. T. 5. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”.menerus menjadi dilema. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. peranserta dan oto . Yogyakarta: PT. Sebuah Analisis.politik pada suatu waktu47. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). 5. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama.prinsip partisipasi dan transparansi. Tiara Wacana. Arah. Respons juridis .

5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom.kedua institusi tersebut. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. kawasaan industri.prinsip Good Governance. baik di dalam negeri. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. kawasan perkotaan baru. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . yang memiliki hak asal . kawasan pariwisata dan semacamnya. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. kawasan pelabuhan. kawasan perumahan. Kelima. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . maupun tantangan persaingan global. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. kawasan kehutanan. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. seperti badan otorita. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. nyata dan bertanggung jawab. keadilan. Keenam. baik sebagai fungsi legislasi. serta antar -Daerah. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dengan 34 . kawasan perkebunan. kawasan pertambangan. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas.daerah. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.usul dan otonomi asli. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah.

baik dalam memahami pasal . dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . Oleh karena itu.kotak. Dalam hubungan ini.aspek demokrasi.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak . yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 .Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini. hendaknya dijaga benar . adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. memberikan pengendalian. Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. self-determination. yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. (dalam pengertian independent. tetap merupakan sub . Jadi. berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.sistem dan sub . terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. nyata dan bertanggung jawab.ordinasi dari Pemerintahan nasional.prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . onafhankelijkheid.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. model ini lebih menekankan kepada aspek .lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan. kemerdekaan atau ketidak tergantungan). perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic.rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”.pasal Undang . terlepas dan bebas dari supervisi. Dari prinsip .benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. Dalam pada itu. pengendalian.beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat. local differences and system diversity).

sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . Namun. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. persatuan dan kesatuan bangsa. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. Tahapan stabilisasi. maupun psikologis serta sosio . dan terakhir Keempat. pemerataan dan keadilan. melainkan terdapat benturan .2. yaitu: Pertama.benturan baik yuridis. Kedua. yang diproyeksikan tahun 2004–2007.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. pengembangan demokrasi. ketiga. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Realisasi Undang . nyata dan bertanggungjawab. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. Tahapan konsolidasi.kewenangan pusat kepada daerah. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia. sebab kalau tidak. 5. yaitu mulai Januari sampai Desember. Tahapan instalasi. politik. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. hlm. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. namun dalam praktiknya.daerah. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . baik dalam rangka dekonsentrasi. 208. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. Belum sinkronnya peraturan perundang . masih timbul persoalan . atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. Jakarta. hampir selama k. menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata .l. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja. 1998. dalam E. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.masing. maupun selaku Wakil Pemerintah. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. dan Departemen . IIP Press. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency.tingkat pemerintahan. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . dan 218. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. sesuai kehendaknya masing .persoalan yang mengemuka di lapangan. “Teori Pemerintahan Daerah. 49 Remy Prud’homme. Demikian pula. 2003. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.macam. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. “The Dangers of Decentralizartion”. 48 37 . 202. Koswara.departemen Sektoral. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”.

maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi. Di dalam UUD 1945. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis. Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . penjelasan Pasal 18 (lama). sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide .Undang. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi.rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah. Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah. walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat.dan diseminasi terlebih dahulu. tanpa ada guide . Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5. atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang .Undang yang baru. Sebab.lines dan rambu . 38 . (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non . tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas.pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur. bahwa Daerah . (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur.Undang Dasar 1945.lines sebagai acuan. banyak penjelasan Pasal .daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang . sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan. meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”.

tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. terutama Pasal 8 ayat (2). namun disana . dan bukan dekonsentrasi. yang ternyata membawa dampak politis . Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12.Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. sehingga akan timbul tumpang . Demikian pula. Dalam pada itu. Sebab. yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan. dengan tidak adanya (c) 39 .tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD.kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. dinas . terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah . yang selanjutnya pelaksanaan tugas . menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi. Mudah . melainkan dipertanggung .psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”. Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. dan pemersatu bangsa.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. penyeimbang. misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”. Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi. sedangkan tugas . meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden. melakukan supervisi dan memfasilitasi.mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. benar . Tugas . Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri.dinas daerah propinsi. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. penyelaras. mengawasi. ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004).benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal.

(6) Keputusan MPR No. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. diantaranya adalah sebagai berikut: a. (2) Ketetapan MPR No. 18. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. maupun Inplementasi. (4) Ketetapan MPR No. Instrumen. terutama menyangkut perundang . yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. 31 ayat (1). (3) Ketetapan MPR No. kepentingan nasional ataupun peraturan perundang .3. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . XV?MPR/1988. (1) UUD 1945 telah diamandemen. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. 21. VI/MPR?2002. 33 dan 34. I/MPR/2003. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. (5) Ketetapan MPR No. baik ditinjau dari perspektif Konsep. (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. 5. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. 5. dan Nepotisme.undangan normatif. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. DPD dan DPRD. Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Kolusi.undangan yang lebih tinggi. 5/MPR/2003. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . Dari perspektif perundang-undangan. IV/MPR/2000. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. 18B. 22D. Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang .prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. 23E ayat 24 ayat (1).belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. (7) 40 . yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip .undangan. (2). 18A. IV/MPR/1999. 20. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.undang lainnya. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. yaitu: Pasal . DPR.pasal 1.

undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. Dalam pada itu. Dari perspektif Implementasi. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . • Penyusunan peraturan perundang .undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. b. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali. Dari perspektif Konsep. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat. sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda.undangan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No. sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. Penyusunan pengaturan perundang . belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan.rambu. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. ovelapping. c.ekses 41 . IV/2000. d.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara.  Dari perspektif Instrumen.rambu yang jelas. baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. namun tanpa diberikan rambu .

yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis.4. seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. hubungan kemitra . memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat.undangan sektoral yang belum disesuaikan. e. secara operasional kurang berjalan dengan baik. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. Pengaruh Lingkungan strategis. Dalam pada itu. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . Disamping itu. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. f.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. bangsa dan negara yang lebih tinggi. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. 5.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier. Demikian pula. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pertimbangan lain. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. Dengan demikian.1. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. Ketiga: Efisiensi. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. daerah kabupaten/ kota. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. Kedua: Akuntabilitas. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. pemerintah daerah provinsi. Artinya. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. dimana dalam strata pemerintahan daerah. maupun sarana.5. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent.berat otonomi itu diletakkan. baik personil. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. untuk mendapatkan ketepatan.4. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. apabila suatu bagian 43 . sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi.

dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif.urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. baik di dalam undang . yaitu antara pemerintah pusat. op. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . Keserasian hubungan.penyerahan selanjutnya.50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. Sadar atau tidak. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. maupun pada penyerahan . karena mengandung beberapa kelemahan. 50 51 44 .positive dan jurisdiksi negatif51. maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. Koswara. Sebenarnya. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. Sebaliknya. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi.dependent). akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. Disamping itu. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah.undang pembentukannya. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat.masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi . dan kurang memberikan E. bersifat saling berhubungaan (interconnection).. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. sehingga terjadi model piramid terbalik. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi. Keempat. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). antara lain sering terjadi duplikasi. daerah provinsi.cit. saling tergantung (inter .

juridis.Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi.Undang Nomor 18 Tahun 1965. Namun.luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . setidak .luasnya. Demikian pula. yaitu Pasal . yaitu: Pertama. baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah. politik. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. dimana teori ini dapat digunakan secara efektif. terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan. Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara . maupun operasional. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang .pasal 18. dan kabupaten/ kota.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat.Undang Nomor 5 Tahun 1974. 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat. Penggunaan istilah “otonomi seluas . Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 . kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang . baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. baik secara akademik. dimana istilah itu baik dalam Undang . namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi.keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. karena pada umumnya mereka sudah established. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut.negara maju lainnya akan sangat berbeda. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. Dengan demikian. Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium). karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. provinsi.undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” .tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah.

Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah.Asas penyelenggaraan pemerintahan.” 5. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”.4. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”. karena dalam Pasal 18 baru.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. baik dalam tataran konsep akademik. Kedua. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. daerah kabupaten.2. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. karena tidak lazim dipakai. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . Undang . Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . Walaupun demikian. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah.pemerintahan daerah provinsi. tidak diadakan perubahan.tiap provinsi. menyangkut Pembagian Daerah. 46 . ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. kabupaten dan kota. Politik luar negeri. yang tiap . atau antara provinsi dan kabupaten dan kota.daerah provinsi. Ketiga. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. diatur dengan undang . yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut. maupun dalam tataran operasional. yang diatur dengan undang undang”. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. karena otonomi bukan asas melainkan “hak.

karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda. mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. Moneter dan fiskal nasional. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. d. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading. melainkan suatu hak. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan.asas desentralisasi. Pemerintah dapat: a. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen). Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. b.Undang Nomor 32 Tahun 2004. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. dan dekonsentrasi. Disamping itu. Keamanan.asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. dan f. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. tugas pembantuan. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang .b.32/2004. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. Padahal asas . 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No. Yustisi. c. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas .undangan di bawahnya ikut keliru. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. Agama. jangan sampai perundang . Padahal.52 6. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Pertahanan. e. 47 . menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan.

terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam. b.6. e. f. memberatkan masyarakat. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. h. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. Dampak negatif. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. b. anggaran dan pengawasan. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi.2. c. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. sbb: a. a. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. 6. karena kompetisi professional.Undang ini.1. akan semakin meningkat. 48 . bersih.l. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. g. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. baik dalam proses penentuan kebijakan. baik kualitas maupun kuantitas. d.

lingkungan hidup dlsb. Dalam pada itu. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . 2) 49 . hutan. serta daya saing daerah. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan).mata untuk mengatasi masalah yang timbul. munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. lautan. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri .pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas.tingkat pemerintahan yang berbeda. 1). Daerah Propinsi. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). belum sinkronnya perundang .c. terjadinya multi-interpretasi. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). penegasan prinsip . d. hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. seperti: hubungan pusat dan daerah. sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. Dengan penyempurnaan tersebut. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata . 7. ataupun Pusat. f. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub .sendiri. terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi.Undang Sektoral yang bersangkutan.sistem pemerintahan daerah secara sinergis.. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. e. pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah. dan Pusat. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . karena masing . sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. seperti sumber daya air.

sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. pemberdayaan. dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. Kalau saja. akuntabilitas.tugas dekonsentras Namun. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. baik antara pusat dan daerah. sangat disayangkan perundang . sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. hubungan pusat . baik yang bersifat lokal maupun regional. dan pengembangan demokrasi.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . dapat diwujudkan. Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. Demikian pula. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi.menarik pembagian kekuasaan. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i.undangan yang ada.sehingga tercipta stabilitas. serta prinsip . dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional.isu strategis dan penting. 3) Terjadinya penggantian Undang . baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. tidak mendukungnya. hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”. serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan. Dalam hubungan ini. isu . sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. daya saing daerah. 6) 50 . tidak lagi sebagai ajang tarik .daerah terpelihara dengan baik.

baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. tidak ada. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis. Pelaksanaan otonomi daerah.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. yaitu tugas . harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”).menerus agar segala peraturan perundang . maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah. yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur.aktivitas masyarakat. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan.instansi pemerintah dan pemerintah daerah.undangan Sekotral lainnya. 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.q.tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus . Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang . Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto .q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.q. sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu. dengan dasar hukum yang tegas. karena adanya tarik . guna memberdayakan masyarakat sendiri. Teknis. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi .

sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang . dan pelayan publik terabaikan. politik dan operasional. juridis. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan. 52 . yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . memiliki kesatuan sikap.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. kesatuan pandang.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang.berperan mendorong dan memfasilitasinya. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang . PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. Berdasarkan hal tersebut. kalangan perguruan tinggi. 3 April 2006. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. benar benar dapat dipertanggungjawabkan. baik dari segi konsep akademik dan juridis. sehingga baik dari segi akademik. lembaga masyarakat. perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. Dalam pada itu.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. baik bagi masyarakat.administratif. maupun empirik . baik di pusat maupun di daerah.Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. baik antara Pemerintah. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. partai politik. sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. 8. Jakarta. dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas.

E. Koswara Kertapradja 53 .