PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

c. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. Dengan demikian. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. f. kesatuan dan kerukunan nasional. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. melestarikan lingkungan hidup. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. d. melestarikan nilai sosial budaya. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. dlsb. l. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. n. mengembangkan kehidupan demokrasi. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. j. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. h. b. e. 3. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . dan o. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. melindungi masyarakat. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). menjaga persatuan. m. Jadi. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. i. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. mengembangkan sistem jaminan sosial.a. mewujudkan keadilan dan pemerataan. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. Essensi Pelayanan Publik. mengelola administrasi kependudukan. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. k. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. tidak terikat kepada ruang dan waktu. g. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. perindustrian atau peternakan. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. rumah sakit dsb. Depdagri. Misalnya. hlm. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. KK. 50 13 7 . dlsb. IMB. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. jalan. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. sekolah. Izin usaha . Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. pengaturan tata tertib dan ketentraman. seperti pengaturan untuk KPT. pertanian. Jakarta 2005. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. pertambangan. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan. jembatan.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. Akte Kelahiran. hlm.50 14 Ibid.

kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. hlm 3. misalnya core-competence di bidang pertanian. resetlement daerah2 kumuh dlsb. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. Oleh karena itu. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. 29 Oktober 2006. Sedangkan. sbb: Pertama. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. Kedua. Ibid. pariwisata dlsb. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. peternakan. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. Pemanfaatan lahan. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. transportasi perkotaan. terutama dalam mencari akar permasalahannya.16 Kalau begitu. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. b. seperti : pelayanan kesehatan. tiadanya jaringan irigasi. pendidikan. industri. lingkungan air minum. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. 8 . jalan.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. “Kegagalan Negara Agraris”. hlm.3. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. Dengan demikian. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. relokasi pedagang kaki lima. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya.

terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private).. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. fasilitas umum dlsb. sesuai dengan kondisi. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dari kondisi tersebut. 9 . dalam bentuk infrastruktur.c. karena 17 18 Ibid. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya.17 Dalam pada itu. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services. atau dilakukan kemitraan antara Pem. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs. kekhasan. Disamping itu. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. Akan tetapi. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. transportasi dlsb. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. lingkungan.Daerah dengan Swasta (public private partnership) .. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. kesehatan.

dan antar Pemerintahan daerah. Kedua. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. b. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. Keempat. b. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. dan c. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota.kesempatan. meliputi: a. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. 4. meliputi: a. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. dan c. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. maka dalam UU No. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. c. b. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. dan penentuan standar pelayanan minimal. dan c. meliputi: a. Ketiga. kewenangan. b. bidang pelayanan umum. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. Kalau dalam UU No. tanggung jawab. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. dan d. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. Initiatif tersebut bisa dilakukan. 10 . meliputi: a. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama.

Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. b. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. pengaturan tata ruang. meliputi: eksplorasi. dan bebas dari pajak. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Kesenjangan antara niat dan realitas. pemanfaatan. Keenam. dan c. pengendalian dampak. 5. keamanan. tannggung jawab. budi daya dan pelestarian. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. ikut serta dalam pemeliharaan. b. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. Ketentuan tersebut diatas. dan pengelolaan kekayaan laut. pemeliharaan. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia.Kelima. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. eksploitasi. pengaturan administrasi. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. kewenangan. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. meliputi: a. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. konservasi. political will) 11 . meliputi: a. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. dan c.

sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb.negara di Asean. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. tetapi pekerjaan besar. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu. berkat pimpinan negara yang lalu. “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI). menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara .asalan. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. 12 . Rabu. kini di urutan ke-76. berdasarkan asas desentralisasi. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga. Ini bukan kerja yang asal . Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. baik mengusir penjajah. Namun. 16 Maret 2005/No.Soeharto. Misalnya.M.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. pekerjaan yang genius. kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . Sebagai bangsa yang besar. Dalam sejarah bangsa ini.). dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. Penggantinya H.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. dan 19 Editorial Media Indonesia.ganti. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. meredam berbagai pemberontakan.8867/Tahun XXXVI. Bung Karno.

tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . Undang . sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia. Rezim Orde Lama. 6. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu. Alasannya. upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan. Melihat sekilas perspektif historis.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”. yang sesungguhnya faham ini. Editorial Media Indonesia. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang .1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal. hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance). setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Dengan kebijakan ini.20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. kini penduduk miskin mencapai 36. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin. dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin.Undang Nomor 1 Tahun 1957. 13 . namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang . Namun. mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.praktek sentralisasi. dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. dan yang berpihak kepada rakyat. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang.Filipina di urutan ke-98.Undang Nomor 22 Tahun 1948.1 juta. Dalam pada itu. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”.Undang Nomor 6 Tahun 1959. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. Undang . disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . Apakah dengan melalui Undang . menurut Badan Pusat Statistik 2004. dengan dikeluarkannya Undang .Undang Nomor 1 Tahun 1945.

Namun. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”.pokok Pemerintahan di Daerah. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. disesuaikan dengan kemampuan daerah.Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum. karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang . pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila.saja.sama dengan asas dekonsentrasi. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. yang digelar melalui UU No. Konsekuensinya. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . Dengan demikian. Penelitian yang terus menerus saya lakukan. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959.luasnya. kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. Tampaknya. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. Prinsip Otonomi yang seluas . Maka keluarlah Undang . Melalui konsep Undang . 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. Dengan keputusan politik tersebut.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . Oleh karena itu.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. Melalaui Undang . Itulah pula sebabnya. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. syarat . pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. Dengan demikian pula. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II.

karena PP tersebut tegas . dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. Walaupun Undang . dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat.undangan politik dan pemerintahan. menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar). yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II. Dengan demikian. sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat . karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang . Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus.Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun.administrasi pemerintahan di Indonesia. yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur .sendat. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat……….angsur selambat . bersih. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. Namun.hampir tidak berfungsi. tidak berjalan dengan baik.Undang Nomor 22 Tahun 1999. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol. kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . dalam era Undang . Kemudian. Demikian pula.Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir .lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974. 15 . menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. dst. karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat.” Sebelum terjadi perubahan Undang . bertanggung jawab dan demokratis.lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut.tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I. boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali. Ini adalah lagi . namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. dengan menekankan bahwa titik .Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II.

Undang Nomor 22 Tahun 1999. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra . Inilah pula. Namun. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. Disamping itu. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. salah satu alasan mengapa Undang . menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa. uang terhamburkan dimana . Dengan demikian.lebihan.Undang Nomor 32 Tahun 2004. Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang .mana. ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD.kerja. dimana hampir 30% pasal . terjadi konflik horizontal dimana .mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD. sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang .Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD.nya ditolak atau karena sebab . banyak perilaku 16 .pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung.sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Pengalaman menunjukkan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah. Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. apakah karena LPJ . dan bertanggung jawab kepada DPRD. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. 7. Kalau bertanggung jawab kepada rakyat. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD. melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden. kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme.

gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang……………. dan disusul sekarang dengan aksi . Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus.”21 8. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah . wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya.aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. mengecam. tetapi anarkistis. sehingga tidak memerlukan lagi orang .1 17 . antara lain: a. merusak gedung . dst. hlm.dst. Setiap hari kita memaki. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu.l. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. 21 Maret 2006. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada.masyarakat pemilih menjadi anarchist. bahkan seolah . dan merusak. Kita membutuhkan modal. a. keahlian. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia. demi keamanan dan pembangunan. dengan dalih pencerminan “demokrasi”. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah.kuat seakan . mengusir. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. Pekan-pekan ini. Di Era Orde Baru.akan Indonesia begitu hebatnya. sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir . memperburuk wajah kita. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh. dan bukan melaksanakan Pilkada. entah di jalan .orang di bagian dunia yang lain. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi.jalan. dan teknologi. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh. Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. di era reformasi wajah Indonesia digebuk .gedung dan sarana pemerintahan. karena ketidak puasan hasil Pilkada. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI.akhir ini.olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. 21 Editorial Media Indonesia. entah di parlemen. Sekarang.

hlm. Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah.unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. 9. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. dalam menyelenggarakan Pilkada. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah. Sesungguhnya. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. KPUD tidak jelas bertanggung . 3-4. semangat dan jiwa. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur .interpretasi dan persepsi yang berbeda . 2004. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. Pasal 57 UU No.jawab kepada siapa. kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. ideenya. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. baik di kalangan masyarakat. para calon Kepala Daerah.beda. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. KPUD. d. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang . namun Pasal tsb dalam judicial . serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. termasuk Tim Suksesnya dll. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). Materi Workshop. Maraknya “politik . sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . sehingga. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. LAPI. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004). c. Pemerintahan Daerah. Kalau pemilih tidak memilih nama. 22 18 . e.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. Pemerintahan Daerah. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. perguruan tinggi. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. f.b.

cara yang sama.cara tersebut diterapkan di Indonesia. Karena itu. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. akibatnya. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . Dengan demikian. Kedua. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. maka dengan imbalan uang. seperti di Amerika. akan berjalan baik. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. Ini berarti. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter .productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah.negara maju. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . Kondisi ini. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. Namun. konsekuensi dari pemilihan langsung. maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis.tanda gambar dan bukan orang.pidana. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. akuntabilitas individu akan berkurang. Sebagai konsekuensinya. kalau cara . apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”). karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. Persoalannya sekarang. Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. Akibatnya.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. seperti di Amerika. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. Di negara . dimana pendidikan politik rakyat belum mantap.

tertib dan kode . sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . Demikian juga dengan posisi DPRD. maka diharapkan DPRD sedikit . a. Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. Oleh karena itu. Namun. serta ethik dan moral. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif.undangan. sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk.menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . maka rakyat sebagai “stake . harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah.hak tersebut secara effektif.banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak . tanpa adanya kemajuan yang berarti.undangan. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang . professionalisme. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya.etik DPRD. kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM.politik” (Pejabat karier). Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi.holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. Keempat. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. development dan appraisal dari PNS Daerah. DPRD yang lemah. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen. placement. Ketiga.l. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. karena bagaimanapun juga posisi 20 . Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”. artinya unsur . anggaran dan kontrol. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian. Forum Komunikasi.

dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. 3. Demikian. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang .PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut. Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. 10.undangan politik dan pemerintahan. Undang . Penutup. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. Undang - 21 . bersih dan bertanggung jawab.Undang Nomor 22 Tahun 1948. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . serta berpihak kepada rakyat.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. 10 Nopember 2006.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. Terima kasih atas perhatiannya. Jakarta.

5 Tahun 1960. bersih. Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah. serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. PenPres No. arogansi kekuasaan.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. pemerataan dan keadilan. Namun sebaliknya. sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah.Undang Nomor 32 Tahun 1956. Hal tersebut. ada pula yang beranggapan bahwa Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang . kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah. egoisme kedaerahan yang sempit.prinsip demokrasi. timbulnya raja . pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. dan masih berbau “status quo”. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya.raja kecil di daerah dlsb. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. peningkatan daya saing daerah. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak . dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. Undang . terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. Undang . yaitu Undang . baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . 6 Tahun 1959. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. sampai kepada paket kebijakan terakhir.Undang ini masih jauh dari harapan. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1979. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. Namun demikian. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959. Apalagi Undang – Undang 22 . masih setengah hati. Penetapan Presiden (PenPres) No.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . Undang . berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat. dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi. peran serta masyarakat. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini.Undang Nomor 18 Tahun 1965.Undang Nomor 1 Tahun 1957.

dalam Jurnal CSIS. hlm. No. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif.87. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Ditinjau dari perspektif Daerah. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. Demikian pula. tidak adil dan sangat berat ke pusat. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. seperti – desentralisasi politik. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. otonomi terbatas. Dengan kata lain. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. Namun. otonomi luas.1. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. ditinjau dari perspektif nasional. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah.23 Maraknya korupsi di daerah. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kategorisasi. Dalam pada itu. desentralisasi administrasi. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. terutama Daerah Kabupaten/Kota. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. antara lain. 23 23 .sumber keuangan yang tidak proportional. Tahun XXXIX/2000. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber .

istilah lainnya. Walaupun begitu. 4. 8. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda.yang dimiliki oleh pemerintah daerah. desentralisasi fungsional.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”. hlm. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah . Pusat Penelitian Politik. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang . yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. dan sebagainya. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis.11 25 Ibid.11. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). Walaupun demikian. 24 24 . beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi.Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. deconcentration. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. desentralisasi politik (political decentralization). Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi.24 Oleh karena itu. Akan tetapi. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. Syarif Hidayat. Pada masa sekarang.. hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. devolution. hlm. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization). ditinjau dari tataran teoritis. seperti decenralization. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie). dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. melainkan merupakan sub . 2002. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. “Evaluasi UU No. otonomi dan medebewind.

Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. Decentralization for National and Local Development. 1962. 28 Ibid. There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. baik secara politik maupun administrasi. New York: United Nations.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat. Division for Public Administration. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. Disini.macam decentralization. Technical Assistant Progame. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. bukan hanya sekedar pelimpahan. yaitu melalui deconcentration atau devolution. New York: UN. Departement of Economic and Social Affair.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character.64. 29 Ibid. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries. 27 United Nations.e. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk .organ di daerah. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations.bentuk atau macam . namun juga memiliki keleluasaan. Department of Economics and Social Affair. hal ini berbeda dengan devolution. 26 25 . Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). Handbook of Public Administration. sedangkan devolution kepada badan . karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. 1961. hlm. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. hlm. hlm.64. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas .28Jadi..Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i.3.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization).badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. whose responsibility continues).

yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai.tahan. 30 26 . Yang perlu menjadi perhatian disini adalah. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah.215-216. bahwa desentralisasi. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya.1. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. hlm.32 Dengan demikian. Sebaliknya. 33 Midjaja. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”. 1987. 32 Ibid.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya.. Subarda. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. Sedangkan desentralisasi politik.keputusan yang lebih substansial. hlm.tingkat lokal. 213-214. 31 Akan tetapi.forma sampai kepada keputusan . jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya. Kewenangan itu bervariasi.hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal. Carolie dan Louise G. Managing Development in the Third World. 31 Ibid. dalam Ateng Syafrudin. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. hlm.33 saya justru berpendapat sebaliknya.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal.. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat.215. White.. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan. hlm.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . Bandung: Unpad. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut. jika pemerintah lokal semata . Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. Jakarta: LP3ES. bahwa hak . yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber . 20 Januari 1992. baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro . Bandung. 5-6 September 1992.

and Cheema. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. dalam Rondinelli. 1988.” Dengan batasan ini. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. yaitu: deconcentration. Dennis A. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. local adminisrative units. Konsekuensi dari devolution ini. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. Ibid. Pemerintah pusat membentuk unit . 27 . California. G. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan.. decision making. and non . Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out.35 Oleh karena itu.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan. or administrative authority from the central government to its field organizations. G. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. 34 35 hlm.prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . Shabbir.governmental institutions. and Cheema. keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. SAGE Publications Inc. Policy Implementation in Developing Countries. semi-autonomous and parastatal organizations. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. delegation to semi .autonomous and parastatal agencies. devolution to local government.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). Dennis A. Beverly Hills.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. Shabbir. Rondinelli. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . sebagai bentuk pertama. 18-19. Decentralization and Development. decentralization dalam bentuk deconcentration. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. Dengan demikian. local government. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal. or non -governmental organizations. Ateng Syafrudin. Menurutnya. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction.

terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. melihat perlunya dikembangkan cara .batas wilayah yang jelas dan legal. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. Oleh karena itu. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat . oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat.ciri Kesatu dan Ketiga. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas . bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber .tugas umum pemerintahan. pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. unit pemerintahan bersifat otonom. sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. Sedangkan ciri yang Kelima. Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. disebut sebagai the second wave of decentralization.sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas . namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. vertrauwen). dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. Dengan memperhatikan ciri . melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. Keempat. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia.ciri karakteristik tersebut.tugas umum pemerintahan. dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas .tingkat pemerintahan.unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. Kelima.Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama. Kedua. Ketiga. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an. ciri . Kedua.cara baru dalam 28 .

Menurut versi kontinental. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie.daerah otonom). dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government.24.mata. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur. guna kelancaran pekerjaan semata . “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental.36 Dengan demikian. desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments. desentralisasi digolongkan menjadi dua. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. hlm. hlm. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat. Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . sehingga dengan demikian. Ketiga. hanya dengan istilah yang berbeda. 1990. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam .macam. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. Menurut konsep ini. Bandung. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. decentralisatie tsb mempunyai dua wajah.19. 36 29 .37 Dalam hubungan ini. 2001. kegiatan pemerintahan semakin meluas. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization.

hlm.Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. Kedua. Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving).badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan .Undang dasar atau perundang . menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia. kotamadya dan seterusnya.golongan yang bersangkutan sendiri. zelfstandigheid. baik ditinjau dari perspektif akademik. Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan.15.W. maupun dari tataran Koesoemahatmadja. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap. 38 30 . badan .daerah otonom di dalam lingkungannya. 40 Ibid.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur. hlm. 39 Ibid. eigen huishouding. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). Akan tetapi. 1979. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang .39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan . van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut.peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . dan bukan onafhankelijkheid...badan otonom. seperti propinsi. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie).38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam.J.14.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan . Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . hlm. Bandung: Binacipta. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving). Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan. “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”.undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi. Hal ini berbeda dengan pendapat J.40 Dengan demikian. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). van het de Grondwet noemt. dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum. Seperti dikatakan C. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan.16. juga berarti pemerintahan (bestuur). desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah .

wakil dari yang diperintah.cit. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman.cara penyelesaian tugas tersebut. Dengan perkataan lain.43 Selanjutnya dikatakan. wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.tugas medebewind. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . Kalau dikatakan.alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat.21.23. Bandung: Binacipta. hlm.operasional. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. urusan . Karena. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas. otonomi adalah hak. hlm. 1983. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin. “Pasang Surut Otonomi Daerah”.41 Dengan demikian. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya. 42 Ibid. Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan . diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut. 25 43 Koesoemahatmadja. Pertama. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan.. hlm. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil . Akan tetapi. op. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). Kedua.42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur. 41 31 . tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan. Dalam menjalankan tugas . pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan.kepentingan dari pusat atau daerah . bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama.daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat .

karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. disertai dengan pembiayaan. op. 44 45 32 . hlm.ordinasi. hlm. 2001.27-28. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. 46 E. Masalahnya. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. Dengan perkataan lain. sarana dan prasarana.. Karenanya. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan. Koswara. Jakarta: Yayasan Pariba.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat).lain.cit. Padahal. dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. serta sumber daya manusia. desentralisasi. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri.45 Padahal. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya. yaitu negara bangsa (nation state). menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang . Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . seperti telah disinggung dimuka. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. “Otonomi Daerah. Jadi.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara.thesa” dari sentralisasi. antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. suatu negara bangsa merupakan genusnya. Ibid. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. melainkan merupakan sub . melainkan ada bagian . saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.46 Karenanya pula. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu.. sedangkan sentralisasi. hlm. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. karena dalam konsep itu pembiayaan. 47.

Kedua. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. peranserta dan oto . Tiara Wacana. dan pergeseran kedua nilai ini terus . yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . Keempat..menerus menjadi dilema. 5. Yogyakarta: PT.politik pada suatu waktu47. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. Respons juridis . Ketiga. hlm. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. “Politik Pembangunan.prinsip partisipasi dan transparansi. pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum. 1987. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi.aktivitas masyarakat.1. Arah. 47 33 . tergantung kepada konfigurasi . memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. T. 5. dalam rangka menjalankan prinsi . sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. Konsep. baik sebagai badan legislative daerah. dan Strategi”. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. Sebuah Analisis. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. pemerataan dan keadilan. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. kawasan pelabuhan. baik di dalam negeri. kawasan perkebunan. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. seperti badan otorita.kedua institusi tersebut.prinsip Good Governance. kawasaan industri. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. serta antar -Daerah. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. kawasan kehutanan. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. kawasan pariwisata dan semacamnya. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. dengan 34 . kawasan perkotaan baru. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. kawasan pertambangan. Kelima. maupun tantangan persaingan global. baik sebagai fungsi legislasi. kawasan perumahan. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. nyata dan bertanggung jawab. sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. yang memiliki hak asal . Keenam. keadilan. 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom.usul dan otonomi asli.daerah. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah.

kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. pengendalian. adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi.rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas. yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat. local differences and system diversity). Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. onafhankelijkheid. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 . Jadi.pasal Undang . terlepas dan bebas dari supervisi. Dari prinsip . Oleh karena itu.prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan.kotak.lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. Dalam pada itu. model ini lebih menekankan kepada aspek . memberikan pengendalian. kemerdekaan atau ketidak tergantungan).sistem dan sub . baik dalam memahami pasal . nyata dan bertanggung jawab. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. hendaknya dijaga benar . terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. (dalam pengertian independent. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”. Dalam hubungan ini. dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI.beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. self-determination.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak . tetap merupakan sub . dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”.ordinasi dari Pemerintahan nasional.aspek demokrasi. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic. melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini.

yaitu mulai Januari sampai Desember. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . Kedua. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. Tahapan instalasi. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. ketiga. melainkan terdapat benturan . Tahapan stabilisasi. persatuan dan kesatuan bangsa. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. maupun psikologis serta sosio . Realisasi Undang . politik. yaitu: Pertama. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia.kewenangan pusat kepada daerah. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. pemerataan dan keadilan. Namun. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. Tahapan konsolidasi. sebab kalau tidak. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. nyata dan bertanggungjawab.benturan baik yuridis. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. pengembangan demokrasi.2.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. dan terakhir Keempat. 5. Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu.

masih timbul persoalan . 2003. maupun selaku Wakil Pemerintah. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota.departemen Sektoral. dalam E.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. 48 37 . Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi.l. hlm. “The Dangers of Decentralizartion”. 208. IIP Press.daerah.tingkat pemerintahan.masing. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. 202. sesuai kehendaknya masing . “Teori Pemerintahan Daerah. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan Departemen . Jakarta. Koswara. hampir selama k. Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”. Belum sinkronnya peraturan perundang . baik dalam rangka dekonsentrasi. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata . dan 218. 1998. 49 Remy Prud’homme.macam. namun dalam praktiknya.persoalan yang mengemuka di lapangan. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . Demikian pula. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah.

penjelasan Pasal 18 (lama). Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah. tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas. maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi. sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide . sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan. 38 . Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . bahwa Daerah . melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”).Undang Dasar 1945.dan diseminasi terlebih dahulu. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang .pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi.rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan. dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat. tanpa ada guide . Di dalam UUD 1945.lines sebagai acuan. (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non . banyak penjelasan Pasal . ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang .Undang. walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5. Sebab.Undang yang baru. (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah.daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka.lines dan rambu .

Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang selanjutnya pelaksanaan tugas . dan pemersatu bangsa. mengawasi. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”. namun disana . melakukan supervisi dan memfasilitasi.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan.jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden. dan bukan dekonsentrasi. Dalam pada itu. sedangkan tugas . Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan.dinas daerah propinsi.tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Mudah . menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . yang ternyata membawa dampak politis . terutama Pasal 8 ayat (2). agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal.tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD.Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD.benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dengan tidak adanya (c) 39 . akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah .mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti.kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. penyelaras. penyeimbang. sehingga akan timbul tumpang . misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”. benar . ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi. Sebab. dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004). dinas . Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. melainkan dipertanggung . Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. Tugas . Demikian pula.

22D. Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. (5) Ketetapan MPR No. (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 18. XV?MPR/1988. terutama menyangkut perundang . terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.3. Dari perspektif perundang-undangan. 20. 5. IV/MPR/2000. DPR. (6) Keputusan MPR No.undangan.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. 23E ayat 24 ayat (1). VI/MPR?2002. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. I/MPR/2003. diantaranya adalah sebagai berikut: a.pasal 1. (2) Ketetapan MPR No.prinsip manajemen pemerintahan yang efektif.belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . (2).undang lainnya.undangan yang lebih tinggi. baik ditinjau dari perspektif Konsep. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. maupun Inplementasi. (3) Ketetapan MPR No. 21. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. IV/MPR/1999. Kolusi. 5. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. (7) 40 . DPD dan DPRD. 18B. 31 ayat (1). (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. 18A. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . dan Nepotisme.undangan normatif. (4) Ketetapan MPR No. (1) UUD 1945 telah diamandemen. 33 dan 34. 5/MPR/2003. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. yaitu: Pasal . terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. Instrumen.

sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda.rambu yang jelas.undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . namun tanpa diberikan rambu . Dari perspektif Konsep. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah.undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali. Dalam pada itu. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No.undangan.ekses 41 . Penyusunan pengaturan perundang . c. IV/2000. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan. Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. ovelapping.  Dari perspektif Instrumen. d.rambu. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. Dari perspektif Implementasi. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. b. • Penyusunan peraturan perundang . sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien.

secara operasional kurang berjalan dengan baik.undangan sektoral yang belum disesuaikan. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . Pengaruh Lingkungan strategis. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. Dalam pada itu. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan.4. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. f. Disamping itu. yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. 5. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Pertimbangan lain. sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. hubungan kemitra . Demikian pula. bangsa dan negara yang lebih tinggi. e. memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.

kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. daerah kabupaten/ kota. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. baik personil. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. untuk mendapatkan ketepatan. apabila suatu bagian 43 . Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat.1. Artinya.4. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. Ketiga: Efisiensi. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. pemerintah daerah provinsi. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dimana dalam strata pemerintahan daerah. Kedua: Akuntabilitas. Dengan demikian. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”.5. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin.berat otonomi itu diletakkan. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”. maupun sarana. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat.

maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. Keserasian hubungan. saling tergantung (inter . kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan.cit. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu.masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi . Koswara. op. maupun pada penyerahan . Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. bersifat saling berhubungaan (interconnection). perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan.urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. Sadar atau tidak. Sebaliknya. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif. baik di dalam undang . disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh.penyerahan selanjutnya.dependent).. yaitu antara pemerintah pusat. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. Disamping itu.50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. 50 51 44 . Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. sehingga terjadi model piramid terbalik. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. Keempat. Sebenarnya. yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. antara lain sering terjadi duplikasi. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu.positive dan jurisdiksi negatif51. dan kurang memberikan E. daerah provinsi.undang pembentukannya. karena mengandung beberapa kelemahan. di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat.

baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah.negara maju lainnya akan sangat berbeda. sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. maupun operasional. Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium). kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi. yaitu: Pertama. karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. Dengan demikian.Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. yaitu Pasal . karena pada umumnya mereka sudah established. provinsi. terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan. Penggunaan istilah “otonomi seluas . setidak . baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara . politik. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang . Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. Demikian pula. Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. Namun. Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 .luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang .soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut.luasnya. dimana teori ini dapat digunakan secara efektif. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang .undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah.pasal 18. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . dimana istilah itu baik dalam Undang . baik secara akademik. dan kabupaten/ kota. 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat.keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji.Undang Nomor 18 Tahun 1965.Undang Nomor 5 Tahun 1974. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. juridis.

ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a.daerah provinsi.pemerintahan daerah provinsi. karena dalam Pasal 18 baru. yang diatur dengan undang undang”.Asas penyelenggaraan pemerintahan. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. Walaupun demikian. karena otonomi bukan asas melainkan “hak. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. baik dalam tataran konsep akademik. Ketiga. tidak diadakan perubahan. Politik luar negeri. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. kabupaten dan kota.4. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. Undang .2. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. menyangkut Pembagian Daerah. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. diatur dengan undang . kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat.tiap provinsi. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. yang tiap . kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. maupun dalam tataran operasional. karena tidak lazim dipakai. daerah kabupaten. Kedua. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah.” 5. 46 .

Keamanan. melainkan suatu hak. Agama. d. dan f. Disamping itu. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. 47 . karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah.asas desentralisasi. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. Moneter dan fiskal nasional. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang . dan dekonsentrasi.Undang Nomor 32 Tahun 2004.52 6. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas . jangan sampai perundang .asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. Yustisi. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. Pemerintah dapat: a.32/2004. Padahal asas .undangan di bawahnya ikut keliru. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. e. Padahal.b. tugas pembantuan. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. c. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen). mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. b. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan. Pertahanan. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading.

Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. baik dalam proses penentuan kebijakan. 6. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). Dampak negatif. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. b. bersih.1. sbb: a. g. 48 . f. anggaran dan pengawasan. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat.2. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. b.Undang ini. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. memberatkan masyarakat. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. e. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik.l. c. terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. d.6. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. a. baik kualitas maupun kuantitas. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. akan semakin meningkat. karena kompetisi professional. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. h. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik.

belum sinkronnya perundang . f.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah. terjadinya multi-interpretasi.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). 1). hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata . pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah.mata untuk mengatasi masalah yang timbul. 7.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri . sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. ataupun Pusat.sendiri. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. dan Pusat.sistem pemerintahan daerah secara sinergis. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan penyempurnaan tersebut.pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas..c. penegasan prinsip .tingkat pemerintahan yang berbeda. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . 2) 49 . penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. Daerah Propinsi. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan). munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan. d. hutan. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. karena masing . karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub . lautan.Undang Sektoral yang bersangkutan. lingkungan hidup dlsb. seperti sumber daya air. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. Dalam pada itu. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). e. seperti: hubungan pusat dan daerah. serta daya saing daerah. sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat .

maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. tidak lagi sebagai ajang tarik . sangat disayangkan perundang . maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. 3) Terjadinya penggantian Undang . dapat diwujudkan. hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. daya saing daerah. baik antara pusat dan daerah. Demikian pula.undangan yang ada. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan.isu strategis dan penting. harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. akuntabilitas. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat. dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. hubungan pusat . Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah.tugas dekonsentras Namun. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”. Kalau saja.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. tidak mendukungnya. baik yang bersifat lokal maupun regional. dan pengembangan demokrasi. pemberdayaan. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional.sehingga tercipta stabilitas.menarik pembagian kekuasaan. sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. Dalam hubungan ini. 6) 50 . sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif.daerah terpelihara dengan baik. serta prinsip . dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. isu . instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah.

undangan Sekotral lainnya. 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah. tidak ada. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah. karena adanya tarik .menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto . yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.q. dengan dasar hukum yang tegas. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Teknis. guna memberdayakan masyarakat sendiri. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis. Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. yaitu tugas . segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus .siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”. sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . Pelaksanaan otonomi daerah. yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang .menerus agar segala peraturan perundang .instansi pemerintah dan pemerintah daerah.aktivitas masyarakat. harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut.q. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang .tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”).

dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. 52 .Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. Berdasarkan hal tersebut. baik antara Pemerintah. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . 3 April 2006. yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang . Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. politik dan operasional.berperan mendorong dan memfasilitasinya. partai politik.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. lembaga masyarakat. dan pelayan publik terabaikan. perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. kalangan perguruan tinggi. memiliki kesatuan sikap. Jakarta.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. maupun empirik .Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. benar benar dapat dipertanggungjawabkan. dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas. baik di pusat maupun di daerah. maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. Dalam pada itu. baik dari segi konsep akademik dan juridis. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang . sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . kesatuan pandang. sehingga baik dari segi akademik.Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. juridis. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . baik bagi masyarakat. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan. 8.administratif.

E. Koswara Kertapradja 53 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful