PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

c. melestarikan nilai sosial budaya. e. menjaga persatuan. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. dan o. tidak terikat kepada ruang dan waktu. dlsb. g. j. Essensi Pelayanan Publik. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. l. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. f. d. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. melestarikan lingkungan hidup. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. kesatuan dan kerukunan nasional. mengembangkan kehidupan demokrasi. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). mewujudkan keadilan dan pemerataan. n. Jadi. k. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. i. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. melindungi masyarakat. h. m. b. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. mengelola administrasi kependudukan. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. 3. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. mengembangkan sumber daya produktif di daerah.a. mengembangkan sistem jaminan sosial. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah.

pertanian. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. KK. hlm. Misalnya. IMB. 50 13 7 . 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. Izin usaha . ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan.50 14 Ibid. pengaturan tata tertib dan ketentraman. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. jalan. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. perindustrian atau peternakan. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. jembatan. Akte Kelahiran. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. seperti pengaturan untuk KPT. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. pertambangan. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. dlsb. sekolah. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. Depdagri. hlm. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. Jakarta 2005. rumah sakit dsb. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut.

bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. Sedangkan. misalnya core-competence di bidang pertanian. terutama dalam mencari akar permasalahannya. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. Oleh karena itu. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. industri. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran.16 Kalau begitu. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. resetlement daerah2 kumuh dlsb. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. seperti : pelayanan kesehatan. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. hlm 3. b. Ibid. Pemanfaatan lahan. sbb: Pertama. pendidikan. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. Dengan demikian. peternakan. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. Kedua. lingkungan air minum. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. 8 . transportasi perkotaan.3. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. jalan. relokasi pedagang kaki lima. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. 29 Oktober 2006. “Kegagalan Negara Agraris”. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). pariwisata dlsb. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. tiadanya jaringan irigasi. hlm.

.. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik.c. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dari kondisi tersebut. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. sesuai dengan kondisi. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. Disamping itu. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. karena 17 18 Ibid. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private). lingkungan. 9 . transportasi dlsb. fasilitas umum dlsb. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. dalam bentuk infrastruktur. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar. kesehatan. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah.17 Dalam pada itu. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. Akan tetapi. atau dilakukan kemitraan antara Pem.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. kekhasan. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah.Daerah dengan Swasta (public private partnership) .

pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. dan penentuan standar pelayanan minimal. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. meliputi: a. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. Ketiga. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. dan c. b. kewenangan. bidang pelayanan umum. maka dalam UU No. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. meliputi: a. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan c. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. c. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. dan d. dan c. meliputi: a. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. tanggung jawab. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. b. Kedua. dan antar Pemerintahan daerah. 10 . hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. 4. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. meliputi: a. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain.kesempatan. b. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. b. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. Keempat. Kalau dalam UU No. Initiatif tersebut bisa dilakukan. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah.

meliputi: a. ikut serta dalam pemeliharaan. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. meliputi: eksplorasi. konservasi.Kelima. pengendalian dampak. pengaturan tata ruang. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. kewenangan. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. Ketentuan tersebut diatas. dan c. dan bebas dari pajak. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. Kesenjangan antara niat dan realitas. keamanan. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. meliputi: a. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. dan c. b. eksploitasi. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. b. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. tannggung jawab. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. political will) 11 . maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. pengaturan administrasi. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. pemeliharaan. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. budi daya dan pelestarian. 5. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. dan pengelolaan kekayaan laut. Keenam. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. pemanfaatan.

). meredam berbagai pemberontakan. 12 .M. Ini bukan kerja yang asal . “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. Sebagai bangsa yang besar. Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga. tetapi pekerjaan besar. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara . Dalam sejarah bangsa ini. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar.ganti. Penggantinya H. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. baik mengusir penjajah. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita.Soeharto. berdasarkan asas desentralisasi. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang .negara di Asean. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. Misalnya. berkat pimpinan negara yang lalu. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI).Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. Bung Karno. Namun. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb.asalan. Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. dan 19 Editorial Media Indonesia. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. pekerjaan yang genius. kini di urutan ke-76. Rabu. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. 16 Maret 2005/No. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu.8867/Tahun XXXVI. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya.

Rezim Orde Lama.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.Undang Nomor 22 Tahun 1948. Apakah dengan melalui Undang . 13 .Undang Nomor 1 Tahun 1945. Dalam pada itu. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”.Undang Nomor 6 Tahun 1959.Filipina di urutan ke-98. yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. Melihat sekilas perspektif historis. Namun. dengan dikeluarkannya Undang . menurut Badan Pusat Statistik 2004.20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu. upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan. dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang .1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal. Dengan kebijakan ini. Editorial Media Indonesia.1 juta. melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance). Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . Undang . serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan. 6. sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang.Undang Nomor 1 Tahun 1957. hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. yang sesungguhnya faham ini. tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin. dan yang berpihak kepada rakyat. Undang . Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang . dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin. kini penduduk miskin mencapai 36. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”.praktek sentralisasi. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. Alasannya. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”.saja. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional.luasnya. yang digelar melalui UU No.Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. syarat .Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. Melalui konsep Undang . karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang . Konsekuensinya. Maka keluarlah Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan. seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia.sama dengan asas dekonsentrasi.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . Dengan demikian pula.pokok Pemerintahan di Daerah. Tampaknya. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. Itulah pula sebabnya. Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. Prinsip Otonomi yang seluas . Namun. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . Melalaui Undang . Oleh karena itu.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Dengan keputusan politik tersebut. Penelitian yang terus menerus saya lakukan. disesuaikan dengan kemampuan daerah. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini.

Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol. Demikian pula. Dengan demikian. karena PP tersebut tegas . boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali. yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II.Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat. tidak berjalan dengan baik.hampir tidak berfungsi. kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang .” Sebelum terjadi perubahan Undang .Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun.tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I. dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”. menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. dalam era Undang .lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang . menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat………. namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat. dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar). dengan menekankan bahwa titik . dst.lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut. eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. Walaupun Undang . dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II. yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II.Undang Nomor 5 Tahun 1974. 15 .sendat.undangan politik dan pemerintahan. Kemudian.Undang Nomor 22 Tahun 1999. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat. sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat . Ini adalah lagi . menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat.angsur selambat . bersih.Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. bertanggung jawab dan demokratis. Namun.administrasi pemerintahan di Indonesia.

sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis. Disamping itu. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . Pengalaman menunjukkan. Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme. Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah. Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. Dengan demikian. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra .Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD.lebihan. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. uang terhamburkan dimana . Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD.pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. dimana hampir 30% pasal . ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. dan bertanggung jawab kepada DPRD.nya ditolak atau karena sebab . apakah karena LPJ .Undang Nomor 32 Tahun 2004. Namun. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. banyak perilaku 16 .Undang Nomor 22 Tahun 1999. 7. kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang .kerja. Inilah pula.sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang .mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden. Kalau bertanggung jawab kepada rakyat. terjadi konflik horizontal dimana .Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD.mana. salah satu alasan mengapa Undang .

21 Editorial Media Indonesia.”21 8. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh. sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat. keahlian.kuat seakan . karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu. di era reformasi wajah Indonesia digebuk .gedung dan sarana pemerintahan. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh.l. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang……………. dan bukan melaksanakan Pilkada. karena ketidak puasan hasil Pilkada. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. entah di parlemen.orang di bagian dunia yang lain. antara lain: a. dengan dalih pencerminan “demokrasi”. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah .olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. Kita membutuhkan modal. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. mengusir. mengecam. 21 Maret 2006. Di Era Orde Baru. entah di jalan . sehingga tidak memerlukan lagi orang . tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. dan merusak. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah.akan Indonesia begitu hebatnya. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . Setiap hari kita memaki. hlm. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. dst.gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi. dan teknologi.1 17 . a. Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat.jalan. demi keamanan dan pembangunan.dst.akhir ini. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir .masyarakat pemilih menjadi anarchist. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen. bahkan seolah .aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara. Sekarang. Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI. Pekan-pekan ini. dan disusul sekarang dengan aksi .olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. tetapi anarkistis. merusak gedung . Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia. memperburuk wajah kita.

dalam menyelenggarakan Pilkada. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. Materi Workshop. Sesungguhnya.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. Pemerintahan Daerah. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. c. Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. LAPI. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang . hlm. semangat dan jiwa. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. perguruan tinggi. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi .uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. 9.b. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. 2004. 3-4. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). KPUD tidak jelas bertanggung . Kalau pemilih tidak memilih nama. Pasal 57 UU No. 22 18 . sehingga. namun Pasal tsb dalam judicial . KPUD. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004). kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq. sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. f. Pemerintahan Daerah. ideenya.interpretasi dan persepsi yang berbeda . e.unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. termasuk Tim Suksesnya dll. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah. baik di kalangan masyarakat. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka.jawab kepada siapa.beda. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur .32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. d. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. Maraknya “politik . para calon Kepala Daerah. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg.

Ini berarti. akibatnya. seperti di Amerika. Di negara . Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. Akibatnya. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya.cara tersebut diterapkan di Indonesia.pidana.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat.negara maju. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis. maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. Dengan demikian. akuntabilitas individu akan berkurang. Kedua. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih.cara yang sama. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . konsekuensi dari pemilihan langsung. karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. Karena itu. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. seperti di Amerika. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter . Sebagai konsekuensinya. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan.tanda gambar dan bukan orang. Namun. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”). rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. akan berjalan baik.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. kalau cara . dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. maka dengan imbalan uang. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut. Persoalannya sekarang. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. Kondisi ini. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih.

anggaran dan kontrol. placement. Ketiga. kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang.l. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. maka rakyat sebagai “stake . tanpa adanya kemajuan yang berarti. Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. professionalisme. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . artinya unsur . sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah. Forum Komunikasi. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah.menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang .unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian.hak tersebut secara effektif. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah. Namun.tertib dan kode . serta ethik dan moral. development dan appraisal dari PNS Daerah.undangan. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. DPRD yang lemah. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak . Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif.undangan. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang .politik” (Pejabat karier). a. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. Keempat. Demikian juga dengan posisi DPRD. Oleh karena itu. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM.etik DPRD.holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya.banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. karena bagaimanapun juga posisi 20 .Undang Nomor 22 Tahun 1999. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen. maka diharapkan DPRD sedikit .

Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. Jakarta.undangan politik dan pemerintahan.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. Penutup.PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. 10 Nopember 2006. APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . Undang . beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut.Undang Nomor 22 Tahun 1948. Undang - 21 . Terima kasih atas perhatiannya. 3. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. bersih dan bertanggung jawab. serta berpihak kepada rakyat. Demikian. Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . 10.

sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. Apalagi Undang – Undang 22 . Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah. timbulnya raja . masih setengah hati. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak .Undang Nomor 5 Tahun 1979. berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . bersih. ada pula yang beranggapan bahwa Undang . pemerataan dan keadilan.Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang .Undang ini masih jauh dari harapan.prinsip demokrasi.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . 6 Tahun 1959. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. Namun demikian. yaitu Undang . egoisme kedaerahan yang sempit.Undang Nomor 1 Tahun 1957.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Undang . peran serta masyarakat. serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik.raja kecil di daerah dlsb. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional. sampai kepada paket kebijakan terakhir. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya. sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. PenPres No. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini. baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . Undang . dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. arogansi kekuasaan. dan masih berbau “status quo”.Undang Nomor 32 Tahun 1956. pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah.Undang Nomor 18 Tahun 1965. Hal tersebut. Penetapan Presiden (PenPres) No. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. Namun sebaliknya.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. 5 Tahun 1960. peningkatan daya saing daerah. Undang . dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi.

dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. 23 23 . Dalam pada itu. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber . seperti – desentralisasi politik. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. Namun. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Kategorisasi. No. Ditinjau dari perspektif Daerah. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah.87. ditinjau dari perspektif nasional. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah.1. dalam Jurnal CSIS. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. otonomi luas. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.sumber keuangan yang tidak proportional.23 Maraknya korupsi di daerah. otonomi terbatas. tidak adil dan sangat berat ke pusat. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. Tahun XXXIX/2000. hlm. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. Dengan kata lain. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. Demikian pula. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. desentralisasi administrasi. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. terutama Daerah Kabupaten/Kota. antara lain. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut.

karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang . Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization). pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah . hlm.. “Evaluasi UU No. Pada masa sekarang. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). 24 24 . dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. Walaupun begitu. 2002. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie). devolution.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara.11 25 Ibid.istilah lainnya. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi.Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs.24 Oleh karena itu. desentralisasi politik (political decentralization). 8. Akan tetapi.yang dimiliki oleh pemerintah daerah. seperti decenralization. Walaupun demikian.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. hlm. Pusat Penelitian Politik. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Syarif Hidayat. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. ditinjau dari tataran teoritis. Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi.11. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. desentralisasi fungsional. otonomi dan medebewind. melainkan merupakan sub . hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. deconcentration. dan sebagainya. 4.

29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan. Technical Assistant Progame.64.3. 1961. There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities.e. namun juga memiliki keleluasaan.organ di daerah. New York: UN. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. hlm. Department of Economics and Social Affair. New York: United Nations. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk . bukan hanya sekedar pelimpahan. Decentralization for National and Local Development. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority).badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah. 26 25 . Departement of Economic and Social Affair. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. Division for Public Administration. yaitu melalui deconcentration atau devolution.28Jadi. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries. 28 Ibid. hlm. Handbook of Public Administration. hal ini berbeda dengan devolution. baik secara politik maupun administrasi. Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization). 1962.macam decentralization.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat. 27 United Nations. hlm. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara.. Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. whose responsibility continues). sedangkan devolution kepada badan .64. 29 Ibid.bentuk atau macam . Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas . Disini. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character.

5-6 September 1992. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro .mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. jika pemerintah lokal semata . hlm. 31 Akan tetapi. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah. bahwa desentralisasi.1. hlm. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat.. Bandung. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. 33 Midjaja. 32 Ibid. 213-214.215. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah.32 Dengan demikian.tahan. Carolie dan Louise G. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya.forma sampai kepada keputusan .hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya. Sedangkan desentralisasi politik. yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah.. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. Bandung: Unpad. bahwa hak . Managing Development in the Third World. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya.215-216. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal.tingkat lokal. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya. White. Jakarta: LP3ES. dalam Ateng Syafrudin.33 saya justru berpendapat sebaliknya. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia.keputusan yang lebih substansial. Kewenangan itu bervariasi. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber . Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. 20 Januari 1992. hlm. Sebaliknya. 31 Ibid. baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. hlm. 1987. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan .. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan. Subarda. 30 26 . terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut.

prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government.autonomous and parastatal agencies.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan. Dennis A. local adminisrative units. Shabbir. Rondinelli. Menurutnya.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). sebagai bentuk pertama. devolution to local government. keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . Konsekuensi dari devolution ini. Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out. yaitu: deconcentration.governmental institutions. Dengan demikian. SAGE Publications Inc. California. 27 . karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. decentralization dalam bentuk deconcentration. semi-autonomous and parastatal organizations. or non -governmental organizations. 1988. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. or administrative authority from the central government to its field organizations. local government. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. Decentralization and Development. Policy Implementation in Developing Countries. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. and Cheema. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. 18-19. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. 34 35 hlm. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. Pemerintah pusat membentuk unit . and Cheema. Shabbir. and non .prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. G. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. Ateng Syafrudin. delegation to semi . dalam Rondinelli. decision making. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal.” Dengan batasan ini. Beverly Hills.35 Oleh karena itu. G.. Dennis A. Ibid. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan.

sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas . Kedua. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.tingkat pemerintahan.tugas umum pemerintahan. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. Sedangkan ciri yang Kelima. Dengan memperhatikan ciri . Kedua. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat . oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas .tugas umum pemerintahan.cara baru dalam 28 . terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. vertrauwen). melihat perlunya dikembangkan cara . dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility.Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. Kelima. Oleh karena itu. pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an. Keempat. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat.ciri karakteristik tersebut. dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas . terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. ciri . bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. Ketiga. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. disebut sebagai the second wave of decentralization.batas wilayah yang jelas dan legal. sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. unit pemerintahan bersifat otonom. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan.ciri Kesatu dan Ketiga.unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan.

adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian.daerah otonom). Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental.macam.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. hanya dengan istilah yang berbeda. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”. Bandung. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government. 2001. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. hlm. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah.19.24. Menurut versi kontinental.37 Dalam hubungan ini. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments. Menurut konsep ini. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . Ketiga. 1990. sehingga dengan demikian. desentralisasi digolongkan menjadi dua. guna kelancaran pekerjaan semata . dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . hlm. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur.36 Dengan demikian. 36 29 . kegiatan pemerintahan semakin meluas.mata. desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization.

15. Akan tetapi. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini. hlm.38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap. baik ditinjau dari perspektif akademik.W.badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan . kotamadya dan seterusnya.golongan yang bersangkutan sendiri.14.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan.16. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut.40 Dengan demikian.peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . 39 Ibid. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom).J. 38 30 . adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang . badan .daerah otonom di dalam lingkungannya. Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving).39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan . “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”. seperti propinsi.Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving). dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum.. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan. hlm. juga berarti pemerintahan (bestuur). hlm. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie).Undang dasar atau perundang . Kedua. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. zelfstandigheid.undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi. van het de Grondwet noemt. 40 Ibid. Hal ini berbeda dengan pendapat J. dan bukan onafhankelijkheid. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah . maupun dari tataran Koesoemahatmadja.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan . van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan. Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan.. 1979. Bandung: Binacipta. menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur. Seperti dikatakan C.badan otonom. eigen huishouding.

Dengan perkataan lain. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri.21. “Pasang Surut Otonomi Daerah”. Kalau dikatakan. hlm.cit. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi.operasional. otonomi adalah hak. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan. bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil .daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat .alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. op. 42 Ibid.tugas medebewind. urusan . diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut. 1983. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya.wakil dari yang diperintah. Dalam menjalankan tugas .urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas. Bandung: Binacipta.42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur.. hlm. bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan . tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara .43 Selanjutnya dikatakan. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama. Pertama. hlm. 41 31 . “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin.kepentingan dari pusat atau daerah . Kedua. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan. Akan tetapi.23. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara.41 Dengan demikian. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman.cara penyelesaian tugas tersebut. 25 43 Koesoemahatmadja. Karena.

Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. suatu negara bangsa merupakan genusnya.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat).. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan.lain. disertai dengan pembiayaan. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. op. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom.cit. sedangkan sentralisasi. menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi.45 Padahal. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. 44 45 32 . desentralisasi. hlm. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya. Padahal. hlm.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. yaitu negara bangsa (nation state).27-28.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. melainkan merupakan sub . bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang .thesa” dari sentralisasi. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. 47. sarana dan prasarana. Jakarta: Yayasan Pariba.ordinasi.46 Karenanya pula. melainkan ada bagian . antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . seperti telah disinggung dimuka. 46 E. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan. Jadi. Karenanya. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. Koswara. Ibid. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. hlm. karena dalam konsep itu pembiayaan. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein.. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. Masalahnya. serta sumber daya manusia. “Otonomi Daerah. Dengan perkataan lain. 2001.

pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi.. Konsep. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. 5. Yogyakarta: PT. Respons juridis . T. EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. pemerataan dan keadilan. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). 5. Arah. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”. peranserta dan oto . Ketiga. Kedua. baik sebagai badan legislative daerah.prinsip partisipasi dan transparansi. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”.1. hlm. tergantung kepada konfigurasi . 1987. dan Strategi”. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”. dalam rangka menjalankan prinsi . Keempat. Sebuah Analisis. sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.aktivitas masyarakat. “Politik Pembangunan. dan pergeseran kedua nilai ini terus .politik pada suatu waktu47. Tiara Wacana. 47 33 . serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah.menerus menjadi dilema.

usul dan otonomi asli. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. kawasan pariwisata dan semacamnya. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.daerah. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. kawasan perkebunan. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. kawasan kehutanan. kawasan perumahan. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. maupun tantangan persaingan global. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. baik di dalam negeri. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. serta antar -Daerah. kawasan pelabuhan. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. keadilan. seperti badan otorita. Keenam.kedua institusi tersebut. Kelima. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. dengan 34 . pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . nyata dan bertanggung jawab. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. baik sebagai fungsi legislasi. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. yang memiliki hak asal . 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. kawasan perkotaan baru.prinsip Good Governance. sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. kawasan pertambangan. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . kawasaan industri.

tetap merupakan sub . kemerdekaan atau ketidak tergantungan).pasal Undang .ordinasi dari Pemerintahan nasional. berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 . Dalam pada itu. terlepas dan bebas dari supervisi. melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini.prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. memberikan pengendalian. model ini lebih menekankan kepada aspek . Dalam hubungan ini.aspek demokrasi. onafhankelijkheid.beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. baik dalam memahami pasal . hendaknya dijaga benar . dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda .rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari prinsip . perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. Oleh karena itu. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan. local differences and system diversity). pengendalian. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak . yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut. adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi. terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.sistem dan sub . dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas.kotak. (dalam pengertian independent. Jadi.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. nyata dan bertanggung jawab. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”.lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. self-determination.

kewenangan pusat kepada daerah. ketiga. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. melainkan terdapat benturan . pengembangan demokrasi. Tahapan stabilisasi. Kedua.benturan baik yuridis. pemerataan dan keadilan. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. Tahapan instalasi. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. maupun psikologis serta sosio . yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. 5. Realisasi Undang . Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. politik. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. Tahapan konsolidasi.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. sebab kalau tidak. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.2. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . yaitu: Pertama. yaitu mulai Januari sampai Desember. Namun.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. dan terakhir Keempat. nyata dan bertanggungjawab. persatuan dan kesatuan bangsa.

l. “Teori Pemerintahan Daerah. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul. menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. masih timbul persoalan . disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu. 202. 2003. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat .masing.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. namun dalam praktiknya. “The Dangers of Decentralizartion”. hampir selama k. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah.persoalan yang mengemuka di lapangan. 48 37 . Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. IIP Press.macam. Jakarta. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja. Belum sinkronnya peraturan perundang . dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. Koswara. dan Departemen . hlm. baik dalam rangka dekonsentrasi. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 208. maupun selaku Wakil Pemerintah.daerah. dan 218. Demikian pula.departemen Sektoral. dalam E. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata . sesuai kehendaknya masing . 1998. 49 Remy Prud’homme.tingkat pemerintahan.

baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat. (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur. (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non . tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas. Sebab.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis.lines sebagai acuan. sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide .Undang.Undang Dasar 1945.pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. Di dalam UUD 1945.lines dan rambu . sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan. walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . 38 . penjelasan Pasal 18 (lama). maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi. Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . bahwa Daerah . namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan.rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut. tanpa ada guide . atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang . Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). banyak penjelasan Pasal . dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang . meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5. Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah.dan diseminasi terlebih dahulu. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”.Undang yang baru.daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.

terutama Pasal 8 ayat (2). Mudah . Dalam pada itu. sedangkan tugas . dan bukan dekonsentrasi. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. yang selanjutnya pelaksanaan tugas . Tugas . dan pemersatu bangsa. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah . Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri.dinas daerah propinsi.mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal. namun disana .tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”. mengawasi. Demikian pula. dengan tidak adanya (c) 39 .tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi. Sebab.Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”.jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden. penyeimbang. Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi. yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. benar . sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004). melainkan dipertanggung . yang ternyata membawa dampak politis .benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik.tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan. Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi.kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. penyelaras. melakukan supervisi dan memfasilitasi. dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. dinas . yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. sehingga akan timbul tumpang .

undangan yang lebih tinggi. 20. I/MPR/2003. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. IV/MPR/2000.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah.undangan. dan Nepotisme. (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.undang lainnya.pasal 1. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. 18A. 22D. terutama menyangkut perundang . 18B. 21. yaitu: Pasal . 31 ayat (1). Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. IV/MPR/1999. 23E ayat 24 ayat (1). DPD dan DPRD. (1) UUD 1945 telah diamandemen. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. baik ditinjau dari perspektif Konsep. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. diantaranya adalah sebagai berikut: a. DPR. maupun Inplementasi. VI/MPR?2002. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. (3) Ketetapan MPR No. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . 33 dan 34. 5. (2). Dari perspektif perundang-undangan. (2) Ketetapan MPR No. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. 18.belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. XV?MPR/1988.prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. (6) Keputusan MPR No. (7) 40 . (5) Ketetapan MPR No. 5/MPR/2003. kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . Instrumen. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang .undangan normatif. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”.3. (4) Ketetapan MPR No. 5. Kolusi.

Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi.  Dari perspektif Instrumen. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan. Dari perspektif Konsep. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu .undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya.undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. namun tanpa diberikan rambu . sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. Penyusunan pengaturan perundang . • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. ovelapping. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. c. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. • Penyusunan peraturan perundang .rambu yang jelas.undangan. Dalam pada itu. b.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. IV/2000. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. Dari perspektif Implementasi. d.ekses 41 . Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi.rambu. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.

f. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik. secara operasional kurang berjalan dengan baik. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat. 5. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.undangan sektoral yang belum disesuaikan. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah.4. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . Pengaruh Lingkungan strategis. bangsa dan negara yang lebih tinggi. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. e. Disamping itu. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. hubungan kemitra . seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. Pertimbangan lain. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Demikian pula. Dalam pada itu. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut .

karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. Kedua: Akuntabilitas. Dengan demikian. Ketiga: Efisiensi. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . pemerintah daerah provinsi. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. daerah kabupaten/ kota. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi.4. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut.5. Artinya. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. dimana dalam strata pemerintahan daerah. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. baik personil. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi. untuk mendapatkan ketepatan. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. maupun sarana.berat otonomi itu diletakkan.1. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. apabila suatu bagian 43 .

yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah.urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. Sebenarnya.masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi . dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. daerah provinsi. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif. op. baik di dalam undang . kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . Keempat. Koswara. Keserasian hubungan.penyerahan selanjutnya. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. maupun pada penyerahan .dependent).cit. dan kurang memberikan E. di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. Disamping itu. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. sehingga terjadi model piramid terbalik. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi. saling tergantung (inter . Sebaliknya. Sadar atau tidak. 50 51 44 .undang pembentukannya. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer).positive dan jurisdiksi negatif51.50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. yaitu antara pemerintah pusat. bersifat saling berhubungaan (interconnection).. karena mengandung beberapa kelemahan. antara lain sering terjadi duplikasi.

Undang Nomor 18 Tahun 1965. karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 . Demikian pula. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat. dimana teori ini dapat digunakan secara efektif.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip.pasal 18. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. Dengan demikian. kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal .undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . Penggunaan istilah “otonomi seluas . Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah. juridis. karena pada umumnya mereka sudah established. Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi.Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara . misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . yaitu Pasal . 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat. baik secara akademik. setidak . baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. yaitu: Pertama. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang . provinsi. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. politik.negara maju lainnya akan sangat berbeda. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan.Undang Nomor 5 Tahun 1974. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut. Namun. sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. maupun operasional. dimana istilah itu baik dalam Undang .keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi.luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . dan kabupaten/ kota.luasnya. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang . Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium).

karena tidak lazim dipakai. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”.2.pemerintahan daerah provinsi.” 5. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. Politik luar negeri.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. daerah kabupaten. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. kabupaten dan kota. 46 . Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a. maupun dalam tataran operasional. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. baik dalam tataran konsep akademik. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. Walaupun demikian.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah.4.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. Undang . wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. yang tiap .daerah provinsi. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut. Kedua. Ketiga. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru.Asas penyelenggaraan pemerintahan. atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. diatur dengan undang . menyangkut Pembagian Daerah. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. tidak diadakan perubahan. yang diatur dengan undang undang”. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang .tiap provinsi. karena otonomi bukan asas melainkan “hak. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. karena dalam Pasal 18 baru.

Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004.32/2004. dan dekonsentrasi. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).b. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No. Moneter dan fiskal nasional. Pemerintah dapat: a. e. melainkan suatu hak. dan f. d. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. Yustisi. Padahal asas . b.52 6. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading.undangan di bawahnya ikut keliru. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. 47 . Agama. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. Pertahanan. tugas pembantuan. mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. jangan sampai perundang . Keamanan. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas . melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. Disamping itu. karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda.asas desentralisasi. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang . wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. Padahal. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. c. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen).asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa.

e. a.Undang ini. memberatkan masyarakat. baik dalam proses penentuan kebijakan. b. akan semakin meningkat. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. 6. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. anggaran dan pengawasan.6. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. sbb: a. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. baik kualitas maupun kuantitas. karena kompetisi professional. b. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya.l. g.2. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. d. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. Dampak negatif. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. bersih. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam. h.1. f. 48 . yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. c. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang .

PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata . d. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. f. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . hutan. 2) 49 . hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah. Dalam pada itu. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. seperti sumber daya air. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub . Daerah Propinsi. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . karena masing . munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri . 1). yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan).prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). belum sinkronnya perundang . dan Pusat.. sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. e. lingkungan hidup dlsb. seperti: hubungan pusat dan daerah. terjadinya multi-interpretasi.sendiri.mata untuk mengatasi masalah yang timbul. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis.sistem pemerintahan daerah secara sinergis. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. lautan. terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah.c. serta daya saing daerah. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq.Undang Sektoral yang bersangkutan. penegasan prinsip .pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas. 7. ataupun Pusat.tingkat pemerintahan yang berbeda. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . Dengan penyempurnaan tersebut. karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota.

sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah.menarik pembagian kekuasaan. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. baik yang bersifat lokal maupun regional. Kalau saja. Dalam hubungan ini. Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. tidak mendukungnya.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. dapat diwujudkan. akuntabilitas. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. tidak lagi sebagai ajang tarik . harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. pemberdayaan. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). 6) 50 . serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). serta prinsip .tugas dekonsentras Namun. hubungan pusat . terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan. sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. 3) Terjadinya penggantian Undang . dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. baik antara pusat dan daerah. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat. isu . sangat disayangkan perundang . sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. Demikian pula.daerah terpelihara dengan baik. dan pengembangan demokrasi. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional.sehingga tercipta stabilitas. Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”.isu strategis dan penting. daya saing daerah.undangan yang ada.

Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto . tidak ada. dengan dasar hukum yang tegas. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis.q. yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut. guna memberdayakan masyarakat sendiri. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.menerus agar segala peraturan perundang .menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan. Teknis.aktivitas masyarakat. Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". Pelaksanaan otonomi daerah.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”.instansi pemerintah dan pemerintah daerah.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah.undangan Sekotral lainnya. yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah. sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang .q. yaitu tugas . baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”). melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”).undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. karena adanya tarik . segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus . dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah.tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq.

Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. baik antara Pemerintah. sehingga baik dari segi akademik. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan. yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. 52 . sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . memiliki kesatuan sikap. baik di pusat maupun di daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. baik dari segi konsep akademik dan juridis.berperan mendorong dan memfasilitasinya. 8.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. politik dan operasional. partai politik. dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas.administratif. maupun empirik . 3 April 2006. baik bagi masyarakat. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang . Berdasarkan hal tersebut. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . Jakarta.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang . harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. benar benar dapat dipertanggungjawabkan. juridis. kalangan perguruan tinggi. kesatuan pandang. dan pelayan publik terabaikan. lembaga masyarakat. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dalam pada itu.

E. Koswara Kertapradja 53 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful