P. 1
otda-pelayanan-publik

otda-pelayanan-publik

|Views: 132|Likes:
Published by Jayanti Fatmasari

More info:

Published by: Jayanti Fatmasari on Dec 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2010

pdf

text

original

PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

b. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. f. d. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. tidak terikat kepada ruang dan waktu. e. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). i. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. Essensi Pelayanan Publik. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. mewujudkan keadilan dan pemerataan. h. dan o. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. j. mengembangkan kehidupan demokrasi. mengembangkan sistem jaminan sosial. n. 3. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. c. kesatuan dan kerukunan nasional. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. dlsb. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. m. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. melindungi masyarakat. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. mengelola administrasi kependudukan. melestarikan nilai sosial budaya. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana.a. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. g. l. k. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. Jadi. melestarikan lingkungan hidup. menjaga persatuan.

sekolah. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. dlsb. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. jembatan. hlm. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. 50 13 7 . hlm. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. IMB. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. seperti pengaturan untuk KPT. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. KK.50 14 Ibid. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. ”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. pertambangan. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. pertanian. Izin usaha . Depdagri. rumah sakit dsb. perindustrian atau peternakan. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat. Akte Kelahiran. pengaturan tata tertib dan ketentraman. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. jalan. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. Jakarta 2005. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. Misalnya.

setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 29 Oktober 2006. hlm. bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. Dengan demikian. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. sbb: Pertama. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. Oleh karena itu. seperti : pelayanan kesehatan. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya. transportasi perkotaan. “Kegagalan Negara Agraris”. hlm 3. Sedangkan.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan. lingkungan air minum. jalan. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). peternakan. pendidikan. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. pariwisata dlsb. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. bahwa mengadu nasib ke Jakarta.3. Ibid. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. industri. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat.16 Kalau begitu. resetlement daerah2 kumuh dlsb. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. tiadanya jaringan irigasi. relokasi pedagang kaki lima. 8 . yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. b. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. misalnya core-competence di bidang pertanian. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. terutama dalam mencari akar permasalahannya. Pemanfaatan lahan. Kedua.

Disamping itu. kesehatan.. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. Akan tetapi. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. fasilitas umum dlsb. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya.c. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. atau dilakukan kemitraan antara Pem. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah. 9 . terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. kekhasan. Dari kondisi tersebut. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. sesuai dengan kondisi.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. karena 17 18 Ibid. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services. lingkungan. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya.17 Dalam pada itu. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs. dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar. transportasi dlsb..Daerah dengan Swasta (public private partnership) . dalam bentuk infrastruktur. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private).

dan c. meliputi: a. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. bidang pelayanan umum. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. dan c. meliputi: a. meliputi: a. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. Keempat. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. kewenangan. Initiatif tersebut bisa dilakukan. dan d. b. c. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. 10 . 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal.kesempatan. meliputi: a. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. Kalau dalam UU No. b. Ketiga. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. dan c. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. tanggung jawab. maka dalam UU No. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. b. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. b. 4. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. dan penentuan standar pelayanan minimal. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. dan antar Pemerintahan daerah. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. Kedua. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah.

Kelima. dan pengelolaan kekayaan laut. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. political will) 11 . ikut serta dalam pemeliharaan. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. pengaturan tata ruang. meliputi: a. b. dan c. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. pemeliharaan. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pengendalian dampak. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. meliputi: eksplorasi. Ketentuan tersebut diatas. Kesenjangan antara niat dan realitas. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. tannggung jawab. 5. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. eksploitasi. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. Keenam. pengaturan administrasi. budi daya dan pelestarian. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. pemanfaatan. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil. kewenangan. b. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. konservasi. dan c. keamanan. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. dan bebas dari pajak. meliputi: a.

Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar. berdasarkan asas desentralisasi. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development). beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. meredam berbagai pemberontakan. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. Rabu. sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. baik mengusir penjajah. pekerjaan yang genius. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara . kini di urutan ke-76. 12 . “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru.ganti. tetapi pekerjaan besar. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia.8867/Tahun XXXVI. Bung Karno. berkat pimpinan negara yang lalu. dan 19 Editorial Media Indonesia. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita.M. Sebagai bangsa yang besar. Penggantinya H. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. 16 Maret 2005/No. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI). Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti . kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa.). Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga.asalan.Soeharto.negara di Asean. Dalam sejarah bangsa ini. Misalnya. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. Ini bukan kerja yang asal .

dan yang berpihak kepada rakyat.Undang Nomor 1 Tahun 1957. melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance). kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . Melihat sekilas perspektif historis. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin. namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan. Undang . Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang . Rezim Orde Lama. disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . 6. Apakah dengan melalui Undang . mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . Editorial Media Indonesia. Dalam pada itu. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”. yang sesungguhnya faham ini.20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. Undang . Alasannya. dengan dikeluarkannya Undang . serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal. dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin. kini penduduk miskin mencapai 36.Undang Nomor 1 Tahun 1945.1 juta. yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid. Dengan kebijakan ini. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu.Undang Nomor 22 Tahun 1948. menurut Badan Pusat Statistik 2004. sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. 13 . Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia. dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.praktek sentralisasi.Undang Nomor 6 Tahun 1959. tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek .Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang. Namun.Filipina di urutan ke-98.

menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. disesuaikan dengan kemampuan daerah. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi.sama dengan asas dekonsentrasi. pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Prinsip Otonomi yang seluas . Melalaui Undang . ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan.Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. Konsekuensinya. yang digelar melalui UU No.saja. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan. Maka keluarlah Undang .pokok Pemerintahan di Daerah. karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang . Dengan demikian pula. Dengan keputusan politik tersebut. Penelitian yang terus menerus saya lakukan.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . Melalui konsep Undang .luasnya. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. Dengan demikian. Itulah pula sebabnya. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku. syarat . Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”. harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila. Namun. Tampaknya. banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu.syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”. Oleh karena itu. ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”.

Undang Nomor 22 Tahun 1999. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur . bersih. 15 . dengan menekankan bahwa titik . Dengan demikian. dst. Walaupun Undang . tidak berjalan dengan baik. boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali.” Sebelum terjadi perubahan Undang .administrasi pemerintahan di Indonesia. kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat .Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir . dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”. Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus. Demikian pula. Ini adalah lagi .tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol. dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat.undangan politik dan pemerintahan. menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. karena PP tersebut tegas . dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar). menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat………. bertanggung jawab dan demokratis.Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun.lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang . karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II.Undang Nomor 5 Tahun 1974.sendat. namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II.angsur selambat . eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. Namun.hampir tidak berfungsi. dalam era Undang . karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah. Kemudian.Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang .lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut. yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan.

mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . apakah karena LPJ . Namun. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. Pengalaman menunjukkan.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang . Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. salah satu alasan mengapa Undang . belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . Dengan demikian. dimana hampir 30% pasal . Disamping itu. melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden.pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra .Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah. Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang .nya ditolak atau karena sebab . idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis.Undang Nomor 32 Tahun 2004. menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. 7.Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. banyak perilaku 16 . daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat.lebihan. kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Inilah pula. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD.Undang Nomor 22 Tahun 1999. Kalau bertanggung jawab kepada rakyat. sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah.dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD. uang terhamburkan dimana .sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD.mana. Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme.kerja. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. dan bertanggung jawab kepada DPRD. terjadi konflik horizontal dimana . ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah.

Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI.masyarakat pemilih menjadi anarchist. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi. Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh.jalan. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. mengusir. dan bukan melaksanakan Pilkada. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah . Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus. di era reformasi wajah Indonesia digebuk . Setiap hari kita memaki. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang……………. Kita membutuhkan modal. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. mengecam. memperburuk wajah kita.gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi. Pekan-pekan ini.dst. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir . Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. a. dan teknologi.kuat seakan . Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia. wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara.akan Indonesia begitu hebatnya. bahkan seolah . dan merusak. entah di jalan . Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. dan disusul sekarang dengan aksi .aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. antara lain: a. hlm. sehingga tidak memerlukan lagi orang . pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB.l.orang di bagian dunia yang lain. demi keamanan dan pembangunan.olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. Di Era Orde Baru. sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen. entah di parlemen. keahlian. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . 21 Editorial Media Indonesia. merusak gedung . Sekarang. dst. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. tetapi anarkistis.akhir ini. 21 Maret 2006. karena ketidak puasan hasil Pilkada. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh. dengan dalih pencerminan “demokrasi”.1 17 .gedung dan sarana pemerintahan. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan.”21 8.

Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. Maraknya “politik . 3-4. perguruan tinggi. Sesungguhnya. para calon Kepala Daerah. DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. 22 18 . Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). 2004. sehingga masyarakat kurang memahami aturan main.jawab kepada siapa. hlm.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004).b. Pemerintahan Daerah. dalam menyelenggarakan Pilkada. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. e. Kalau pemilih tidak memilih nama. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah. baik di kalangan masyarakat. ideenya. sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah.interpretasi dan persepsi yang berbeda . d. Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq. LAPI. c. KPUD.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. KPUD tidak jelas bertanggung .unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. Pemerintahan Daerah. Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada.review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur . termasuk Tim Suksesnya dll. f. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol.beda. namun Pasal tsb dalam judicial . Materi Workshop. 9. sehingga. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah. semangat dan jiwa. Pasal 57 UU No.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang .

sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. Namun. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. Akibatnya. Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. Ini berarti.cara tersebut diterapkan di Indonesia. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”). maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD.pidana.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah.tanda gambar dan bukan orang. pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 .cara yang sama. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut. konsekuensi dari pemilihan langsung.cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih. akan berjalan baik. Persoalannya sekarang. Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat. Kedua.negara maju. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. Karena itu. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . Dengan demikian. seperti di Amerika. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan. seperti di Amerika. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. maka dengan imbalan uang. kalau cara . pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter . Kondisi ini. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . akibatnya. akuntabilitas individu akan berkurang. karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. Di negara . ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. Sebagai konsekuensinya.

sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik.etik DPRD.undangan. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi. maka diharapkan DPRD sedikit .undangan. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. Oleh karena itu. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . a. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. professionalisme. harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah.tertib dan kode . baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. maka rakyat sebagai “stake . Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. Demikian juga dengan posisi DPRD. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah. Forum Komunikasi. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. Keempat.unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian. serta ethik dan moral. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang .holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah. placement. dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah. anggaran dan kontrol. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas.politik” (Pejabat karier). artinya unsur .Undang Nomor 22 Tahun 1999. tanpa adanya kemajuan yang berarti. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. Namun. Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. development dan appraisal dari PNS Daerah.menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif. karena bagaimanapun juga posisi 20 .banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. DPRD yang lemah. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak . DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi.hak tersebut secara effektif.l. Ketiga. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah. Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”.

Demikian.Undang Nomor 22 Tahun 1948.PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. Undang . APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG .undangan politik dan pemerintahan. Terima kasih atas perhatiannya. serta berpihak kepada rakyat. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. 10 Nopember 2006. Penutup. Undang - 21 . bersih dan bertanggung jawab.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. Jakarta. 10. 3. Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut.

timbulnya raja . PenPres No. sampai kepada paket kebijakan terakhir. Hal tersebut. Apalagi Undang – Undang 22 . pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. Namun demikian. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini. baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip .raja kecil di daerah dlsb.Undang Nomor 5 Tahun 1979. 5 Tahun 1960. egoisme kedaerahan yang sempit.Undang Nomor 32 Tahun 1956.prinsip demokrasi.Undang Nomor 1 Tahun 1957.Undang Nomor 18 Tahun 1965. serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak . Undang . yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip .Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959. pemerataan dan keadilan. bersih. dan masih berbau “status quo”. Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah. Undang . kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah. Penetapan Presiden (PenPres) No. ada pula yang beranggapan bahwa Undang .Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. arogansi kekuasaan. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. 6 Tahun 1959. peran serta masyarakat.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. Undang . serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah.Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang . yaitu Undang . dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi. berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat. peningkatan daya saing daerah. masih setengah hati. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya.Undang ini masih jauh dari harapan. Namun sebaliknya. baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional.

Dengan kata lain. Tahun XXXIX/2000. Namun. seperti – desentralisasi politik. Kategorisasi. tidak adil dan sangat berat ke pusat. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. terutama Daerah Kabupaten/Kota. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi. No.1. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi. ditinjau dari perspektif nasional. desentralisasi administrasi. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. antara lain.sumber keuangan yang tidak proportional. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. otonomi luas. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. Demikian pula.87. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. hlm. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. otonomi terbatas. 23 23 . desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.23 Maraknya korupsi di daerah. Ditinjau dari perspektif Daerah. dalam Jurnal CSIS. dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat. Dalam pada itu. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber . baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif.

melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH. yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. Syarif Hidayat. 8. seperti decenralization. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). 2002. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization).Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs. dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. Akan tetapi. Walaupun begitu. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang . Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi. hlm. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah . Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. 24 24 . ditinjau dari tataran teoritis. beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi. Walaupun demikian. otonomi dan medebewind. dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”.11. devolution. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”.. dan sebagainya.11 25 Ibid. hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie). Pusat Penelitian Politik. “Evaluasi UU No. deconcentration. melainkan merupakan sub . hlm. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda.24 Oleh karena itu.yang dimiliki oleh pemerintah daerah. desentralisasi politik (political decentralization).istilah lainnya. 4. Pada masa sekarang. desentralisasi fungsional.

Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal.64.64.macam decentralization. Technical Assistant Progame. Departement of Economic and Social Affair. Handbook of Public Administration. Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan. baik secara politik maupun administrasi.badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah.28Jadi. Division for Public Administration.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat.e. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk . tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . hlm. 27 United Nations. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries.bentuk atau macam . Disini. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority). 28 Ibid. New York: UN. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. 26 25 . Decentralization for National and Local Development.organ di daerah. hlm. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character. 1961.. 29 Ibid. There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. New York: United Nations. hlm. 1962. delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations. Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah.3.batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. namun juga memiliki keleluasaan. sedangkan devolution kepada badan . Department of Economics and Social Affair. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas . bukan hanya sekedar pelimpahan.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization.Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. whose responsibility continues). yaitu melalui deconcentration atau devolution. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. hal ini berbeda dengan devolution. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization).

Jakarta: LP3ES. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal.1. 30 26 . “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya. yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya.215-216. Sedangkan desentralisasi politik. Bandung.forma sampai kepada keputusan .. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat. 20 Januari 1992. 1987.hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. White. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah. dalam Ateng Syafrudin.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro . 33 Midjaja. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber . 213-214..32 Dengan demikian. Kewenangan itu bervariasi. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya. hlm. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. Subarda. Carolie dan Louise G.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal.keputusan yang lebih substansial.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal. Bandung: Unpad. Managing Development in the Third World.33 saya justru berpendapat sebaliknya. 31 Akan tetapi. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. hlm.215. karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. 31 Ibid. bahwa hak . resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan.. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut. 32 Ibid. jika pemerintah lokal semata . bahwa desentralisasi.tahan.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . hlm. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. Sebaliknya. hlm.tingkat lokal. 5-6 September 1992. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya.

keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. Beverly Hills. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government. Konsekuensi dari devolution ini.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. devolution to local government. Dennis A. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal.” Dengan batasan ini. Menurutnya. decision making. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). Ibid. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan. SAGE Publications Inc. and non . kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. Pemerintah pusat membentuk unit . Ateng Syafrudin. sebagai bentuk pertama.. local adminisrative units. or administrative authority from the central government to its field organizations. dalam Rondinelli.autonomous and parastatal agencies. California.35 Oleh karena itu. 1988. Decentralization and Development. Dengan demikian.prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . local government. decentralization dalam bentuk deconcentration. 27 . Policy Implementation in Developing Countries. Dennis A. Rondinelli. 34 35 hlm. yaitu: deconcentration. Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan. Shabbir. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. Shabbir. G. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. and Cheema. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip .governmental institutions. or non -governmental organizations. 18-19. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan. delegation to semi . Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. and Cheema. semi-autonomous and parastatal organizations. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. G.

ciri karakteristik tersebut. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas . Dengan memperhatikan ciri .Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama. vertrauwen). unit pemerintahan bersifat otonom. dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas .unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan. sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. Oleh karena itu. unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an.tugas umum pemerintahan. terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . boleh dikatakan mirip dengan Indonesia. bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. Sedangkan ciri yang Kelima. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia.cara baru dalam 28 .sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas . Ketiga. Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya. Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat . Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. Kelima. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . Kedua. Keempat. pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan.tugas umum pemerintahan. pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility. ciri . melihat perlunya dikembangkan cara . Kedua. disebut sebagai the second wave of decentralization.batas wilayah yang jelas dan legal. oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat. terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.tingkat pemerintahan.ciri Kesatu dan Ketiga.

Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie.daerah otonom). hlm. hanya dengan istilah yang berbeda. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments.37 Dalam hubungan ini. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. sehingga dengan demikian.mata. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . 1990.19.36 Dengan demikian. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur. Menurut konsep ini. 36 29 . Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan. hlm. Menurut versi kontinental. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam. Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental. Ketiga. guna kelancaran pekerjaan semata . Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. decentralisatie tsb mempunyai dua wajah. kegiatan pemerintahan semakin meluas. 2001. desentralisasi digolongkan menjadi dua.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian.macam. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984).24. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara. Bandung.

Seperti dikatakan C. juga berarti pemerintahan (bestuur). yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). hlm. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie).W. badan . Hal ini berbeda dengan pendapat J.daerah otonom di dalam lingkungannya. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). dan bukan onafhankelijkheid. “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini.39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan .15. otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving).peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . van het de Grondwet noemt.16. menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia. hlm.. Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap.undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi. Bandung: Binacipta. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken.Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah. hlm. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah .. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur. Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. kotamadya dan seterusnya.Undang dasar atau perundang . Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut. maupun dari tataran Koesoemahatmadja. seperti propinsi. eigen huishouding.38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam.14. 1979. baik ditinjau dari perspektif akademik. 39 Ibid. 40 Ibid.40 Dengan demikian.J.badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan . Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving). 38 30 . Akan tetapi. zelfstandigheid.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan . dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan. Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan .golongan yang bersangkutan sendiri. Kedua. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang .badan otonom.

25 43 Koesoemahatmadja. wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. “Pasang Surut Otonomi Daerah”. hlm.cara penyelesaian tugas tersebut. 42 Ibid. Pertama. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas.. Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan .alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk).daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat .kepentingan dari pusat atau daerah . Dalam menjalankan tugas .tugas medebewind. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat. 41 31 .41 Dengan demikian. otonomi adalah hak. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil . hlm. Akan tetapi. bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . Kedua.23. bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid). tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan.42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur. hlm.43 Selanjutnya dikatakan. Karena. Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu. diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan.wakil dari yang diperintah.21. 1983. Bandung: Binacipta.operasional. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama.cit. op. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin. urusan . Kalau dikatakan. Dengan perkataan lain.

menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi. 47. 44 45 32 . disertai dengan pembiayaan. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat). desentralisasi. Ibid.45 Padahal. dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi.. hlm. melainkan ada bagian . antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . Karenanya. yaitu negara bangsa (nation state). Jakarta: Yayasan Pariba. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. Padahal. hlm. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. op. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. 2001.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti .lain. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. sedangkan sentralisasi. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. melainkan merupakan sub . Jadi. 46 E. seperti telah disinggung dimuka. Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. serta sumber daya manusia. di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan.46 Karenanya pula. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan.cit. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya. Dengan perkataan lain.ordinasi.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan. maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. “Otonomi Daerah. Masalahnya. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. karena dalam konsep itu pembiayaan.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. suatu negara bangsa merupakan genusnya. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. hlm.27-28. sarana dan prasarana.” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang . Koswara. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia.thesa” dari sentralisasi. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis.. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut.

sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dalam rangka menjalankan prinsi . 5. Keempat. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. Kedua. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”. hlm. Konsep. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”.politik pada suatu waktu47.1.menerus menjadi dilema. Arah. Ketiga. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik . pemerataan dan keadilan. EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. “Politik Pembangunan. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.. 47 33 . Yogyakarta: PT.aktivitas masyarakat. dan pergeseran kedua nilai ini terus . 5. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. Sebuah Analisis. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”. tergantung kepada konfigurasi . T.prinsip partisipasi dan transparansi. dan Strategi”. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. peranserta dan oto . Respons juridis . Tiara Wacana. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. 1987. baik sebagai badan legislative daerah.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi.

sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. kawasan pertambangan. kawasan perkotaan baru. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah. maupun tantangan persaingan global. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara. kawasaan industri. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. baik di dalam negeri. dengan 34 .kedua institusi tersebut. 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. kawasan perkebunan. Keenam. kawasan kehutanan. fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. keadilan. nyata dan bertanggung jawab. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain.prinsip Good Governance. serta antar -Daerah. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. kawasan pelabuhan.usul dan otonomi asli. yang memiliki hak asal . baik sebagai fungsi legislasi. seperti badan otorita. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . Kelima. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. kawasan perumahan. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota.daerah. kawasan pariwisata dan semacamnya. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas.

kemerdekaan atau ketidak tergantungan). melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini. memberikan pengendalian.rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu.beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. baik dalam memahami pasal . hendaknya dijaga benar .kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan. Dalam hubungan ini. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak .prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas. perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic. Dari prinsip . Dalam pada itu.pasal Undang . adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi. yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”. pengendalian. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas. dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. (dalam pengertian independent.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. nyata dan bertanggung jawab. Oleh karena itu.aspek demokrasi.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut.kotak. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 . dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”. sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . terlepas dan bebas dari supervisi.ordinasi dari Pemerintahan nasional.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”. self-determination. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat. local differences and system diversity). Jadi. model ini lebih menekankan kepada aspek . tetap merupakan sub . onafhankelijkheid.sistem dan sub .

sebab kalau tidak. nyata dan bertanggungjawab. pengembangan demokrasi. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. 5. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. yaitu mulai Januari sampai Desember. Tahapan stabilisasi. maupun psikologis serta sosio . sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. pemerataan dan keadilan. Realisasi Undang . ketiga.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan.benturan baik yuridis. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. Tahapan konsolidasi. Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu. persatuan dan kesatuan bangsa.2. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. melainkan terdapat benturan . Namun. Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia. Tahapan instalasi. yaitu: Pertama. politik.kewenangan pusat kepada daerah. dan terakhir Keempat. Kedua.

dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. 1998. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul.tingkat pemerintahan.persoalan yang mengemuka di lapangan. masih timbul persoalan . menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. namun dalam praktiknya. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . Belum sinkronnya peraturan perundang . hampir selama k. Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. 202. Jakarta. 2003. Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”. Koswara. 48 37 . dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. dan Departemen . baik dalam rangka dekonsentrasi. Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption.daerah. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan.l. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata .masing. sesuai kehendaknya masing . tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. maupun selaku Wakil Pemerintah. dan 218. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Demikian pula. “Teori Pemerintahan Daerah. IIP Press. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. dalam E.macam. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam .departemen Sektoral. “The Dangers of Decentralizartion”. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu. 49 Remy Prud’homme. 208. hlm.mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja.

Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan. Sebab. (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur. Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5. Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. tanpa ada guide .Undang yang baru. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang . dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”.lines dan rambu . (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non . sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan.Undang Dasar 1945.daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang . baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi. banyak penjelasan Pasal . baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat. bahwa Daerah .rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis. penjelasan Pasal 18 (lama).Undang. namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah. tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas.pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur. Di dalam UUD 1945. maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi.lines sebagai acuan. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide . 38 . walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota.dan diseminasi terlebih dahulu.

penyelaras. yang selanjutnya pelaksanaan tugas .kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dengan tidak adanya (c) 39 . sehingga akan timbul tumpang .jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. terutama Pasal 8 ayat (2). Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. benar . dan bukan dekonsentrasi. Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004). yang ternyata membawa dampak politis .tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. melainkan dipertanggung . Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12.mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”.dinas daerah propinsi. Demikian pula. Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. melakukan supervisi dan memfasilitasi.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah. mengawasi. agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah .tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD. Mudah . misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”.Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. Tugas . Dalam pada itu. dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi. penyeimbang. sedangkan tugas .benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. namun disana . yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. Sebab. menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . dinas . ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. dan pemersatu bangsa.

undangan yang lebih tinggi. Dari perspektif perundang-undangan. yaitu: Pasal . 18A. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. 5/MPR/2003.undangan. XV?MPR/1988.undang lainnya. 5. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . IV/MPR/1999. (6) Keputusan MPR No. (2). terutama menyangkut perundang . Kolusi. (4) Ketetapan MPR No.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. 23E ayat 24 ayat (1). VI/MPR?2002. Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yaitu: (1) Ketetapan MPR No. 21. 18B. kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . dan Nepotisme. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. I/MPR/2003. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. 5. (7) 40 .pasal 1. maupun Inplementasi. DPD dan DPRD. 18. (1) UUD 1945 telah diamandemen. DPR. diantaranya adalah sebagai berikut: a. Instrumen. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. 22D. 20. (5) Ketetapan MPR No.undangan normatif. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip . yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.3. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. baik ditinjau dari perspektif Konsep. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. (2) Ketetapan MPR No. 33 dan 34. 31 ayat (1).prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. IV/MPR/2000. (3) Ketetapan MPR No.

sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. b. baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah.Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. c. d. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. • Penyusunan peraturan perundang . sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan. namun tanpa diberikan rambu . Dari perspektif Implementasi.ekses 41 .rambu yang jelas. IV/2000. sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No.undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . Dalam pada itu.  Dari perspektif Instrumen. • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . Penyusunan pengaturan perundang .undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. ovelapping. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat.rambu. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah. Dari perspektif Konsep.undangan.

sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat.4. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . Demikian pula. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik.ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah.undangan sektoral yang belum disesuaikan. hubungan kemitra . sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. secara operasional kurang berjalan dengan baik.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Disamping itu. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. Pengaruh Lingkungan strategis. seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang. f. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. bangsa dan negara yang lebih tinggi. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat. 5. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. e. Pertimbangan lain. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. Dalam pada itu. adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. untuk mendapatkan ketepatan. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. apabila suatu bagian 43 . maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. maupun sarana. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. Dengan demikian. Artinya. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.berat otonomi itu diletakkan. daerah kabupaten/ kota. Ketiga: Efisiensi. pemerintah daerah provinsi. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. baik personil. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”. dimana dalam strata pemerintahan daerah.5. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. Kedua: Akuntabilitas. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas.1. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”.4. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat.

yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. dan kurang memberikan E.penyerahan selanjutnya. yaitu antara pemerintah pusat.positive dan jurisdiksi negatif51. di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi. Keempat. hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. maupun pada penyerahan .undang pembentukannya. Sebenarnya. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. antara lain sering terjadi duplikasi.dependent). kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” .urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat.. daerah provinsi. Sadar atau tidak. Keserasian hubungan. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu. karena mengandung beberapa kelemahan. baik di dalam undang . Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif. 50 51 44 . hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif. bersifat saling berhubungaan (interconnection). akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. Sebaliknya. Koswara.masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi .cit. Disamping itu. op. dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. saling tergantung (inter .50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . sehingga terjadi model piramid terbalik. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah.

Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR . Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 .keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi. yaitu Pasal . dimana istilah itu baik dalam Undang . Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. provinsi. yaitu: Pertama. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang .luasnya. karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah.luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara .Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas .undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. Demikian pula. Dengan demikian. namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. setidak . baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah.pasal 18.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat.negara maju lainnya akan sangat berbeda. Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium). karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. Namun. maupun operasional.tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. Penggunaan istilah “otonomi seluas . terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . karena pada umumnya mereka sudah established. 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat. juridis. sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. dimana teori ini dapat digunakan secara efektif.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah.Undang Nomor 18 Tahun 1965. kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang . baik secara akademik. dan kabupaten/ kota. politik. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi.Undang Nomor 5 Tahun 1974. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut.

kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . maupun dalam tataran operasional. ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Undang . kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”. kabupaten dan kota. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. menyangkut Pembagian Daerah. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. yang diatur dengan undang undang”. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. tidak diadakan perubahan. Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a.Asas penyelenggaraan pemerintahan.” 5.tiap provinsi. Ketiga. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran. Kedua.pemerintahan daerah provinsi. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. karena otonomi bukan asas melainkan “hak. Politik luar negeri. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. diatur dengan undang .4. atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. karena tidak lazim dipakai.2. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik. Walaupun demikian.undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. karena dalam Pasal 18 baru. baik dalam tataran konsep akademik.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. yang tiap . wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. 46 . tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945. daerah kabupaten.daerah provinsi.

Padahal. dan f. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang . mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”. mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. Keamanan. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan. b. c. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3). jangan sampai perundang .asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan.Undang Nomor 32 Tahun 2004. karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan.b. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. Padahal asas . d. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. Yustisi. Agama. Disamping itu. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI.undangan di bawahnya ikut keliru. melainkan suatu hak. e. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas . tugas pembantuan. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. Pertahanan. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. dan dekonsentrasi. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas.asas desentralisasi.52 6. Moneter dan fiskal nasional. 47 . 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No.32/2004. Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen). Pemerintah dapat: a.

a.1. 48 .l. terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. bersih. 6. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a.Undang ini. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. c.6. d. dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). memberatkan masyarakat. g. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. b. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. h. f. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. baik kualitas maupun kuantitas. e. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. akan semakin meningkat. sbb: a. baik dalam proses penentuan kebijakan. b. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. anggaran dan pengawasan. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat. karena kompetisi professional. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. Dampak negatif. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya.2. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam.

Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub .. e. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata .c. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. d.mata untuk mengatasi masalah yang timbul. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. Dengan penyempurnaan tersebut.sistem pemerintahan daerah secara sinergis.pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas.masing merasa mempunyai kompetensi sendiri .undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah. seperti sumber daya air. karena masing .sendiri. yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan).tingkat pemerintahan yang berbeda. ataupun Pusat. f. lingkungan hidup dlsb. dan Pusat. pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah. Dalam pada itu. 1). sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. 2) 49 . terjadinya multi-interpretasi. lautan. 7. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi. seperti: hubungan pusat dan daerah. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . penegasan prinsip .prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). Daerah Propinsi. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). serta daya saing daerah.Undang Sektoral yang bersangkutan. munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang . belum sinkronnya perundang . hutan. sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal .

keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga.tugas dekonsentras Namun.isu strategis dan penting. tidak lagi sebagai ajang tarik . hubungan pusat . dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Demikian pula. Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”. pemberdayaan. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. baik yang bersifat lokal maupun regional. maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i. serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. dapat diwujudkan. dan pengembangan demokrasi. serta prinsip . tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat. 3) Terjadinya penggantian Undang . serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. 6) 50 . harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. isu . maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat. akuntabilitas. Dalam hubungan ini. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. sangat disayangkan perundang .prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. Kalau saja. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. baik antara pusat dan daerah.daerah terpelihara dengan baik.sehingga tercipta stabilitas. sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan.undangan yang ada. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory). daya saing daerah. sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah. terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah.menarik pembagian kekuasaan. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. tidak mendukungnya. sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan.

tidak ada.undangan Sekotral lainnya.tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah. Teknis. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah. yaitu tugas . Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang .menerus agar segala peraturan perundang . sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”). melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur. harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto .q.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. dengan dasar hukum yang tegas. dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c.q.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . Pelaksanaan otonomi daerah. Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis. guna memberdayakan masyarakat sendiri.aktivitas masyarakat. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi . harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut.menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”.instansi pemerintah dan pemerintah daerah. karena adanya tarik . segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus . Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.

dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. lembaga masyarakat. Berdasarkan hal tersebut. sehingga baik dari segi akademik. 52 . perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang . baik di pusat maupun di daerah. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . baik antara Pemerintah. politik dan operasional. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang . yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang .masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. kesatuan pandang. baik bagi masyarakat. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang .Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya. baik dari segi konsep akademik dan juridis.Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. kalangan perguruan tinggi. Dalam pada itu.berperan mendorong dan memfasilitasinya.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. memiliki kesatuan sikap. juridis. benar benar dapat dipertanggungjawabkan. 8. dan pelayan publik terabaikan. sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. 3 April 2006. maupun empirik . dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas. hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan. Jakarta. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa.administratif. partai politik. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya.

E. Koswara Kertapradja 53 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->