PERANAN DAN TUGAS UTAMA PEMERINTAHAN DAERAH DALAM PELAYANAN PUBLIK (Suatu Analisis Akademik dan Empirik Mengenai

Implementasi Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Menurut Versi UU No. 32 Tahun 2004 dalam Mendukung Hubungan antar Pemerintahan dan Mendorong Kerjasama antar Daerah dalam upaya mewujudkan pelayanan public yang baik)1 Oleh: Prof.Dr. H. Zaidan Nawawi2 1. Latar Belakang Pilosofis.
Pembahasan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dilandasi asumsi bahwa hubungan antara orang yang memerintah dan orang yang diperintah, sama halnya dengan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah merupakan masalah klasik dalam ilmu politik. Paradigma lama yang memandang masih kuatnya hubungan sub-ordinasi antara pemerintah dan rakyat, nampaknya sudah mulai luntur yang dalam paradigma baru cendurung menghendaki hubungan yang setara antara pemerintah dan rakyat. Peranan pemerintah tidak lagi membawahi dan memerintah, melainkan lebih mengarahkan dan memfasilitasi apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Persoalan utamanya bersumber pada seberapa bebas masyarakat (baca: pemerintah daerah) bergerak atau berinitiatif dalam lingkungan kekuasaan negara, dan seberapa besar pula masyarakat daerah dapat mempengaruhi kebijakan negara dan atau pemerintahan daerah yang pada giliranya kebijakan itu akan berujung kepada pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Atas dasar inilah konsep desentralisasi dan otonomi dapat dipandang, baik sebagai fenomena politik maupun administrasi negara. Walaupun Pemerintahan Negara Republik Indonesia tidak menganut “faham negara integralistik”3, namun penyelenggaraan Pemerintahan negara di bawah regime demokrasi terpimpin dan regime orde baru pada masa yang lalu, demikian pula pada masa-masa pemerintahan selanjutnya, menunjukkan betapa kuatnya “faham negara integralistik” yang mempengaruhi penyelenggaraan sistem pemerintahan negara, dimana negara memiliki kemauan dan kepentingan yang
1 2

“Faham Negara Integralistik” adalah suatu faham yang memandang kepentingan individu dan kepentingan masyarakat harus dilihat secara keseluruhan (integral), tidak terpisah sendirisendiri, dengan kata lain setiap kepentingan apapaun selalu harus dikaitkan dengan kepentingan Negara secara keseluruhan.
3

1

sering berbeda dengan kepentingan warganya, yang dapat melakukan intervensi kedalam kehidupan masyarakat, sekalipun hal itu didedikasikan untuk kesejahteraan dan kemajuan masyarakat itu sendiri4. Kondisi seperti ini dimungkinkan terjadi, karena setiap kebijakan yang ditetapkan sebagai kebijakan publik, sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh sikap, perilaku, dan value judgement dari para penyelenggara negara (human behaviour and value judgement), yang pada gilirannya dipandang sebagai “pembenaran hukum” dan sebagai alat pemaksa yang harus ditaati oleh rakyat. Dalam “faham negara integralistik”, negara mempunyai kekuasaan mutlak, dimana kedaulatan negara mengatasi kedaulatan rakyat. Semua bagian - bagian dalam keseluruhan diarahkan kepada persatuan dan kesatuan, bagi negara yang terpenting adalah keseluruhan bukan bagian - bagian. Itulah faham negara integralistik yang sering dipraktekkan oleh para penyelenggara kekuasaan pemerintahan negara. Ide faham “Negara integralistik” ini semula diekspose dan direkomendasikan oleh Prof. Dr. Supomo pada sidang BUPKI tanggal 15 Mei 1945 dengan mengemukakan 3 (tiga) pilihan yang diusulkan untuk dijadikan dasar Negara, apabila Indonesia telah merdeka, yaitu faham: (1) Individualisme; (2) Kolektivisme; dan (3) Integralistik Para Pendiri Negara (The Founding Fathers) kurang sefaham dengan ide negara integralistik ini yang akan dijadikan konsep dasar negara, karena faham ini menonjolkan sifat totalitarian dari negara yang tidak selaras dengan ide kekeluargaan yang bersifat egalitarian. Ide kekeluargaan menghendaki posisi sejajar antara fihak fihak yang berinteraksi, termasuk antara negara dan masyarakatnya.5 Hal ini dapat terlihat dari pasal - pasal dalam UUD 1945 yang secara ideatif bertolak belakang dengan gagasan faham negara integralistik tersebut, misalnya pasal 28 yang menjamin hak - hak azasi manusia6, dan pasal 18 yang menghormati dan menghargai sifat - sifat khusus dari daerah - daerah yang ada di Indonesia. 7 Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 sebenarnya berusaha mengatur keseimbangan antara individualisme dan kolektivisme, UUD 1945 menganut kedaulatan rakyat, dan bukan kedaulatan negara.
Alfred Stepan, The State and Society, Peru in comparative perspective, Princeton, NJ: Princeton UP, 1978, hlm. 26-27 5 Ide tentang negara integralistik ini dipaparkan oleh Soepomo dalam sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945, ketika membahas dasar negara apabila kelak Indonesia merdeka. Pembahasan yang sangat tajam mengenai penyimpangan gagasan Soepomo ini, dapat dilihat dalam karya Marsilam Simanjuntak, Pandangan Negara Integralistik, Jakarta: Grafiti, 1994. 6 Pasal 28 UUD 1945 yang tadinya hanya 1 pasal, setelah amandemen kedua berubah menjadi 10 Pasal, yaitu 28A, 28B, 28C, 28D, 28E, 28F, 28G, 28H, 28I, dan 28J 7 Pasal 18 UUD 1945 yang tadinya hanya satu pasal berubah menjadi 3 (tiga) pasal, yaitu pasal 18, 18A, 18B setelah terjadi amandemen kedua.
4

2

Dari kenyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan faham negara integralistik sering lebih banyak bersifat politis daripada hukum tata negara. 8 Namun, apabila dikaitkan dengan konteks desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, maka fenomena ini sebenarnya sudah terjadi sejak awal penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia. Situasi inilah yang sedikit - banyak mempengaruhi penyelenggaraan otonomi daerah di Indonesia, baik sebagai suatu fenomena politik maupun fenomena administrasi yang seharusnya ditujukan bagi kesejahteraan masyarakat. Salah satu argumentasi dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah mendekatkan pemerintah dalam bentuk Pemerintah Daerah kepada masyarakat, agar pemerintah daerah memahami keinginan, aspirasi dan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian tingkat kesejahteraan masyarakat akan sangat tergantung kepada tingkat ”pelayanan publik” yang disediakan oleh pemerintah daerah. Paradigma ”otonomi daerah” menurut semangat UU No. 32 Tahun 2004 adalah ”otonomi masyarakat”, dalam arti Pemerintah Daerah sebagai perwujudan dari ”otonomi masyarakat” dituntut untuk lebih mampu mensejahterakan masyarakat melalui pelayanan publik dibanding dengan pemerintah pusat yang jaraknya lebih jauh kepada masyarakat. Motivasi yang mendorong tumbangnya rejim orde baru oleh gerakan reformasi dengan dipelopori oleh para mahasiswa pada pertengahan tahun 1998 adalah karena melihat fenomena penyelenggaraan pemerintahan negara berorientasi kepada format politik totalitarian, sehingga tidak mencerminkan dan menjamin terwujudnya keadilan, demokrasi dan kesejahteraan bagi rakyat banyak. Salah satu kebijakan politik yang menjadi sumber kelemahan dan mendorong terjadinya krisis multidimensi yang mengancam keutuhan negara bangsa adalah diterapkannya sistem pemerintahan negara yang terlalu sentralistik dengan mengabaikan prinsip - prinsip demokrasi, peran serta masyarakat, baik langsung maupun melalui kontrol perwakilan rakyat, serta pemerataan dan keadilan, yang pada gilirannya kebhinekaan dalam segala bidang kehidupan yang menjadi sumber potensi dan keanekaragaman daerah, terabaikan pula. Kebijakan politik tersebut, tidak hanya berdampak terbelenggunya aspirasi, oto-aktivitas dan kreativitas masyarakat setempat, melainkan juga mematikan sumber potensi dan sumber daya di daerah, terutama sumberdaya manusianya, yang pada gilirannya pula pelayanan publik dalam upaya mensejahterakan masyarakat tidak terselenggara dengan optimal.
8

Marsilam Simanjuntak, op.cit., hlm. 247.

3

2. Prinsip-prinsip Penyelenggaraan Pemerintahan. Prinsip penyelenggaraan pemerintahan, bisa dilihat dari dua aspek, yaitu: Pertama, prinsip penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ditetapkan atau dianut oleh suatu negara bangsa (Nation State) sebagai satu kebijakan, seperti sentralisasi, desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi, parlementair, presidensiil dlsb. Tergantung dari sistem mana yang dianut oleh suatu Negara Bangsa (Nation State) tersebut. Sistem ini berkaitan dengan kebijakan pembagian kekuasaan (Division of Power) di dalam lingkungan kekuasaan pemerintahan negara, baik secara horisontal (Capital Division of Power) antara lembaga-lembaga negara yang ada, maupun secara vertikal antara Pusat dan Daerah (Areal Division of Power). Di dalan Negara Kesatuan (Unitary State), secara vertikal terdapat ”Satuan Pemerintahan Nasional” (Pemerintah Pusat) dan ”Satuan Pemerintahan SubNational” (Pemerintahan Daerah), sedangkan secara horisontal terdapat Badanbadan/Lembaga Legislatif, Eksekutif, dan Judicatif. Kekuasaan atau kewenangan dibagi (”diberikan; toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada satuan pemerintahan daerah yang dibentuk dengan Undang-undang, namun kedaulatan (souvereignty) yang melekat kepada Negara dan Bangsa tidak dibagi kepada pemerintah daerah. Satuan Pemerintahan Sub Nasional merupakan hasil pembentukan dan pengembangan pemerintahan. Karenanya, kewenangan pemerintahan sub nasional dapat ditambah, dikurangi atau bahkan dapat dihapuskan melalui proses hukum dan per-undang-undangan. Kedudukan satuan pemerintahan sub nasional, karenanya pula adalah ”tergantung” (dependent) kepada pemerintah nasional. Karena itu pula ia berada di bawah (sub ordinated) pemerintah nasional. Sistem pemerintahan NKRI tidak menganut paham ”sentralisme” dalam kekuasaan, melainkan mengakui dan menganut prinsip ”desentralisasi” dalam pemerintahan. Sesuai dengan amanat UUD, dalam rangka menjalankan prinsip desentralisasi di wilayah NKRI dibentuk daerah-daerah Provinsi, dan di wilayah provinsi dibentuk daerah-daerah kabupaten/kota sebagai daerah otonom. Secara juridis, politis dan administratif, daerah otonom mempunyai kewenangan ”otonomi daerah” yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat kepada masyarakat setempat dalam wilayah tertentu sesuai dengan aspirasi dan otoaktivitas masyarakat sendiri untuk menentukan nasibnya sendiri, yang dijalankan oleh pemerintahan daerah yang mempunyai kewenangan dan berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sendiri . Dengan kata lain ”daerah otonom” mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan perundang-undangan. Dalam menjalankan penyelenggaraan pemerintahan, tidak sepenuhnya dilaksanakan secara ”desentralistik”, tetapi ada beberapa bagian yang tetap

4

dilaksanakan secara ”sentral”, karena pertimbangan pencapaian tujuan (doelmatig), dayaguna dan hasilguna, serta karena sifat dan coraknya yang tidak bisa lain harus diselenggarakan secara sentral. Pertimbangannya didasarkan kepada kriteria eksternalitas, akuntabilitas, efisiensi dan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan, seperti dianut di dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagai pengganti UU No. 22 Tahun 1999. Kedua, dalam koridor Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 yang sering terabaikan dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kaitannya dengan pelayanan publik adalah prinsip penyelenggaraan pemerintahan dari aspek ”kepatutan pemerintahanan” (”Behoorlijk Bestuur”), karena aspek ini seringkali dipengaruhi oleh ”perilaku” (behaviour) dan value judgement dari para penyelenggara negara. Prinsipprinsip tersebut seperti, antara lain: Vrijbestuur; Nach Freies Ermessen, Preventieve Rechtszorg; Omnipresence dan Van zelf principles, serta prinsip-prinsip umum penyelenggaraan pemerintahan negara yang baik, sering terabaikan. Walaupun UU No. 32 Tahun 2004 mencantumkan asas-asas kepatutan dengan merujuk kepada UU No. 28 Tahun 1999,9 tetapi tidak secara imperatif mengkaitkannya dengan asas-asas penyelenggaraan pemerintahan sebagai suatu sistem. Bahkan suatu kekeliruan yang cukup mendasar dalam UU No. 32 Tahun 2004 tersebut yang membedakan antara asas penyelenggaraan sistem pemerintahan di pusat dengan asas penyelenggaraan sistem pemerintahan pada pemerintahan daerah, yang menekankan bahwa dalam menyelenggarakan pemerintahan, pemerintah menggunakan asas-asas desentralisasi, tugas pembantuan, dan dekonsentrasi, sesuai dengan peraturan perundang-undangan,10 sedangkan penyelenggaraan pemerintahan daerah, pemerintahan daerah menggunakan asas ”otonomi dan tugas pembantuan”11 sebagai asas penyelenggaraan pemerintahan di daerah, padahal ”otonomi dan tugas pembantuan” merupakan hak dan wewenang (bukan asas) yang diberikan (”toekennen”) oleh pemerintah pusat yang merupakan manifestasi atau perwujudan dianutnya asas desentralisasi dalam sistem pemerintahan di Indonesia. Oleh karena itu, betapapun baiknya sistem penyelenggaraan pemerintahan yang dianut oleh suatu negara bangsa, kalau tidak dibarengi dengan penegakkan ”asas-asas kepatutan pemerintahan” yang dilakukan oleh para penyelenggara negara, maka kepentingan masyarakat dalam bentuk pelayanan publik untuk mensejahterakan masyarakat, tetap akan sulit untuk dapat diwujudkan. Dalam kedudukannya sebagai Daerah Otonom, dan dalam menyelenggarakan pemerintahan daerah, dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat, ditegaskan dalam UU No. 32 Tahun 2004, bahwa Daerah berkewajiban untuk:12
Lihat Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004 Lihat Pasal 20 ayat (2) UU No. 32 Tahun 2004. 11 Ayat (3) Pasal 20 UU No. 32 Tahun 2004. 12 Lihat Pasal 22 UU No.32 Tahun 2004.
9 10

5

mengembangkan sistem jaminan sosial. menyusun perencanaan dan tata ruang daerah. mengelola administrasi kependudukan. menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan. n. meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Preventieve Rechtszorg adalah suatu prinsip dalam pemerintahan yang menyatakan bahwa peranan dan tugas utama pemerintahan adalah menjaga agar supaya anggota masyarakat mentaati tertib hukum dan mencegah (to prevent) agar supaya masyarakat tidak melanggar aturan-aturan hukum yang berlaku. mengembangkan kehidupan demokrasi. sekalipun tidak secara terus menerus diawasi oleh pemerintah. melestarikan nilai sosial budaya. g. Jadi. kesatuan dan kerukunan nasional. tidak terikat kepada ruang dan waktu. Prinsip ini berkaitan dengan prinsip Omnipresence dan Van Zelf principles. sehingga disini terjadi ”kewajiban yang berimbang” antara pemerintah dan masyarakat. namun ketika rakyat memerlukan pertolongan atau bantuan. dalam menerapkan asas ”Omnipresence dan Van zelf principles” yang pada dasarnya memandang bahwa pemerintahan itu berada di mana-mana. menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak. dan o. k. e. kewenangan yang diberikan kepada masyarakat dalam bentuk otonomi 6 . d. serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. sehingga pada intinya prinsip ini mewajibkan kepada masyarakat untuk tetap mentaati peraturan perundang-undangan yang sudah dikeluarkan oleh pemerintah. mengembangkan sumber daya produktif di daerah. f.a. membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya. j. Dengan demikian. h. l. 3. meningkatkan pelayanan dasar pendidikan. m. b. menjaga persatuan. mewujudkan keadilan dan pemerataan. melestarikan lingkungan hidup. i. kewajiban lain yang diatur dalam perundang-undangan Misalnya. dlsb. intinya adalah ”tidak patut” (onbehoorlijk) apabila para aktor penyelenggara negara membiarkan anggota masyarakat untuk melanggar hukum kemudian ditindak (represif). c. Essensi Pelayanan Publik. maka dengan sendirinya (van zelf) merupakan kewajiban bagi pemerintah untuk membantunya. contohnya: penggusuran kios-kios PKL di jalan-jalan trotoir. Salah satu argumen dalam pelaksanaan otonomi daerah adalah bahwa perangkat pemerintahan daerah dengan kewenangan-kewenangan otonominya harus mampu menyediakan pelayanan publik sesuai dengan kebutuhan masyarakat. melindungi masyarakat.

”Derasnya arus urbanisasi ke Jakarta seiring dengan kembalinya arus mudik Lebaran. hlm. merupakan bentuk kegagalan konsistensi Indonesia sebagai negara agraris. Apabila dikaitkan dengan posisi Pemerintah Daerah sebagai lembaga yang memperoleh ”legitimasi” dari rakyat untuk menyelenggarakan ”good and regulations” tersebut. dengan perkataan lain seberapapun luasnya otonomi daerah yang diberikan. pertanian. adalah tidak logis atau tidak riil-rasional. dlsb. pertambangan. Sedangkan dalam kelompok Regulations yang dihasilkan umumnya yang bersifat ’Regulatory” atau Pengaturan. dalam penyelenggaraan otonomi daerah menurut semangat UU No. kalau Pemerintahan Daerah yang murni perkotaan. seperti pengaturan untuk KPT. jembatan. 50 13 7 . Akte Kelahiran. 32 Tahun 2004 yang menganut prinsip ”otonomi nyata dan bertanggungjawab” mengisyaratkan bahwa Pemerintahan Daerah dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kewenangan yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. Izin usaha . Depdagri.daerah itu adalah suatu ”alat” (means) untuk mencapai ”tujuan” (end) dalam wujud pelayanan publik guna mensejahterakan masyarakat. Dari dasar pemikiran ini lahir konsep yang sangat dikenal sebagai ”No Tax Without Representation” 14 Dalam pada itu. tapi relatif kecil sekali dibandingkan kebutuhan-kebutuhan yang merupakan ”corecompetence” di perkotaan. pertanyaanya adalah: ” Sejauh mana Pemerintah Daerah mampu mempertanggungjawabkan kuantitas dan kualitas output yang dihasilkannya. KK. ditekankan kepada kegiatan urusanurusan yang berkaitan dengan urusan kehutanan. Grand design implementasi otonomi daerah dalam koridor UU nomor 32 tahun 2004.50 14 Ibid. sehingga benar-benar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat? Untuk itulah rakyat membayar pajak dan mempercayakan penggunaan pajak tersebut kepada wakil-wakil rakyat yang dipilih melalui mekanisme Pemilihan Umum dan Pemilihan Kepala Daerah.Kelompok dari Goods adalah barang-barang atau fasilitas publik yang dihasilkan Pedmda seperti pasar. Walaupun urusan-urusan tersebut ada di perkotaan. IMB. bagaimanapun juga harus dikaitkan dengan ”kebutuhan riil masyarakat di daerah”. Misalnya. rumah sakit dsb. perindustrian atau peternakan. jalan. Jakarta 2005. dan bagimana dampaknya yang ditimbulkan oleh pelayanan publik tersebut. pengaturan tata tertib dan ketentraman. Oleh karena itu argumen pertama untuk menentukan pelayanan publik yang diperlukan oleh masyarakat adalah Pemerintah Daerah perlu mengidentifikasi apa-apa saja input (masukan) sesuai kebutuhan masyarakat untuk diolah menjadi output (produk) yang perlu dihasilkan oleh Pemerintah Daerah sehingga menjadi outcome yang dapat memenuhi pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah. hlm. sekolah. 13 ”Pada dasarnya output Pemda adalah untuk menghasilkan ”good and regulations” untuk kepentingan publik. haruslah mampu memanifestasikan ”pelayanan publik” yang berkorelasi atau yang ”relevant” dengan kebutuhan masyarakat.

bisa diukur dari 3 indikator sbb: a. fasilitas pencegah dan pemadam kebakaran. Oleh karena itu. karena kondisi lahan di desa mereka sangat memprihatinkan. misalnya core-competence di bidang pertanian. fasilitas untuk pejalan kaki (trotoir). kekeringan menyebabkan banyak lahan terlantar. Ibid. Untuk menentukan core-competence suatu daerah. dan listrik di pedesaan menyebabkan parahnya kehidupan ekonomi di pedesaan. 8 . peternakan. Dari pemanfaatan lahan akan terlihat sektor mana yang dikembangkan di daerah yang bersangkutan. Sedangkan. Kedua. baik oleh penentu kebijakan di daerah maupun di pusat. di sisi lain berbagai persoalan di pedesaan seperti minimnya infrastruktur dan kesulitan lahan terus terjadi. akan terlihat sektor mana yang paling menyerap tenaga kerja penduduk daerah ybs. yaitu kebutuhan daerah untuk melakukan kewenangan yang berdasarkan pertimbangan urusan-urusan ”unggulan” yang akan dilakukan daerah tersebut untuk memajukan daerahnya masing-masing.16 Kalau begitu. pendekatan atas dasar sektor unggulan (”core-competence”) daerah. sbb: Pertama. Beberapa warga desa yang ikut bersama pemudik balik ke Jakarta mengaku.3. pariwisata dlsb. tiadanya jaringan irigasi. Pemerintah Daerah sudah seharusnya memberikan perhatian untuk pengembangan sektor-sektor yang menyerap tenaga kerja penduduk terbanyak. Dari data statistik mata pencaharian penduduk. bahwa mengadu nasib ke Jakarta. seperti : pelayanan kesehatan. pendekatan isi otonomi yang berorientasi kepada penyediaan pelayanan publik untuk memenuhi kebutuhan pokok (Basic needs) masyarakat. relokasi pedagang kaki lima. Pemanfaatan lahan. hlm 3. resetlement daerah2 kumuh dlsb. Komposisi penduduk menurut mata pencahariannya. 15 16 Dipetik dari harian Kompas. sehingga tidak mengherankan jika warga desa terus mengalir ke kota untuk mencari nasib. Penentuan core-competence ini didasarkan kepada perhitungan terhadap apa yang menjadi unggulan suatu daerah yang pengembangannya akan berdampak sangat besar terhadap pembangunan sosial ekonomi daerah ybs. terutama dalam mencari akar permasalahannya. 29 Oktober 2006. industri. hlm. jalan. pendidikan. buat apa kebijakan desentralisasi dengan memberikan otonomi yang luas dan bertanggung jawab kepada Daerah kalau bukan untuk mensejahterakan rakyat di pedesaan? Pertanyaan inilah yang harus terjawab. b. transportasi perkotaan. “Kegagalan Negara Agraris”. lingkungan air minum. Dengan demikian. setidaknya ada dua pendekatan yang bisa dipakai dalam menentukan isi otonomi sesuai dengan kebutuhan masyarakat.Salah satu akan persoalan yang mendasari adalah sempitnya akses petani kecil dan buruh tani terhadap tanah serta infrastruktur pertanian”15 Kondisi ini semakin parah karena kebijakan pembangunan yang menitik beratkan kepada ”pertumbuhan” (growth) masih tetap menenmpatkan kota-kota besar seperti Jakarta sebagai pusat pertumbuhan.

Pertimbangan dari ketiga faktor tersebut akan memberikan gambaran kepada Pemerintah Daerah. terutama dampaknya terhadap kegiatan penduduk.17 Dalam pada itu. namun Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota sebaiknya pro-aktif mengambil initiatif dan oto-aktivitas dalam menentukan option tersebut. atau dilakukan kemitraan antara Pem. Dari setiap sektor yang ada dalam komposisi PDRB. Dari komposisi PDRB dapat dilihat sektor mana yang memberikan kontribusi paling besar terhadap perekonomian daerah. Disamping itu. perlu menjadi perfhatian bahwa urusan pemerintahan Kabupaten/Kota yang bersifat pilihan (option) dalam UU No. sudah barang tentu termasuk fasilitas pelayanan umum yang harus disediakan oleh pemerintah. sektor-sektor mana yang menjadi andalan daerah yang bersangkutan untuk dikembangkan. dan potensi unggulan daerah yang bersangkutan.c. Akan tetapi.. dan juga urusan yang berkaitan dengan pengembangan corecompetence daerah ybs. 32 Tahun 2004 beserta penjelasannya. dilihat sektor mana yang mempunyai ”forward linkage” dan ”backward linkage” terbesar. Keleluasaan (diskresi) yang cukup luas yang diberikan kepada Daerah oleh UU No. 9 . transportasi dlsb. maka isi otonomi daerah dari satu daerah akan berbeda dengan daerah lainnya. karena 17 18 Ibid. sehingga pemahaman sektor unggulan tsb akan menjadi acuan bagi Daerah dalam menentukan isi otonomi atas dasar corecompetence daerah ybs. apakah suatu urusan tersebut akan sepenuhnya dilakukan oleh Pemerintahan Daerah sendiri public). dengan mengacu kepada pendekatan core-competence. fasilitas umum dlsb. lingkungan. terutama yang menyangkut dengan pelayanan publik. kekhasan. kesehatan. sesuai dengan kondisi. Komposisi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). harus juga menjadi perhatian Pemerintahan Daerah untuk menentukan pilihan (option) yang paling optimal dalam melaksanakan urusan otonominya.. atau diserahkan sepenuhnya kepada swasta (private). Dari kondisi tersebut. maka Pemerintahan Daerah haruslah berhati-hati dalam menentukan urusan-urusan mana saja yang akan dijadikan ruang lingkup otonominya. 32 Tahun 2004 ditegaskan bahwa urusan itu adalah urusan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.18 Walaupun pelaksanaan ketentuan tersebut dijanjikan dalam UU 32/2004 akan diatur lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah. tergantung dari sektor mana yang akan dikembangkan sebagai core competence diluar kewenangan yang menjadi kewajiban untuk penyediaan basic services. hlm 52 Lihat Pasal 14 ayat (2) UU No.Daerah dengan Swasta (public private partnership) . bukan juga berarti bahwa Pemerintahan Daerah dapat mengenyampingkan urusan-urusan yang merupakan pelayanan terhadap kebutuhan pokok (basic services) masyarakat seperti: pendidikan. dalam bentuk infrastruktur.32 Tahun 2004 untuk menentukan isi otonominya.

meliputi: a. Kedua. baik melalui pengembangan hubungan pemeriantahan. Kalau dalam UU No. kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. Keempat. b. 4. pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. 32 Tahun 2004 dengan tegas dinyatakan bahwa terdapat hubungan pemerintahan yang mencakup 3 (tiga) hal. tanggung jawab. meliputi: a. Initiatif tersebut bisa dilakukan. pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah. dan antar Pemerintahan daerah. yaitu hubungan dalam bidang keuangan. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan.kesempatan. serta kewenangan untuk mengatur dan mengurus pemerintahan sendiri dan kepentingan masyarakat setempat secara undang-undang telah diberikan kepada pemerintahan/masyarakat daerah. pembiayaan bersama atas kerjasama antar daerah. pengelolaan perizinan bersama dalam bidang pelayanan umum. 10 . maka dalam UU No. kewenangan. dan c. dan penentuan standar pelayanan minimal. dan d. bidang pelayanan umum. pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. meliputi: a. pinjaman dan/atau hibah antar pemerintahan daerah. pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. dan c. fasilitasi pelaksanaan kerjasama antar pemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum. b. pelaksanaan bidang pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah. maupun peningkatan kerjasama antar daerah. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah dalam bidang pelayanan umum. Ketiga. yang kesemuanya meliputi hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah. meliputi: a. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang keuangan. pendanaan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawab bersama. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pelayanan umum. dan bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. b. b. dan c. bagi hasil pajak dan nonpajak antara pemerintahan provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Mendorong Hubungan Pemerintahan dan Kerjasama antar Daerah. sehingga pola hubungan tersebut menjadi sbb: Pertama. c. 22 Tahun 1999 dinyatakan bahwa antara Daerah Provinsi dan Daerah Kabupaten/Kota masing-masing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain.

dan pengelolaan kekayaan laut. ditentukan paling jauh 12 (duabelas) mil laut. maka kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tsb dibagi sama jarak atau diukur sesuai prinsip garis tengah dari wilayah antara 2 (dua) provinsi tersebut. eksploitasi. dan bebas manangkap ikan di seluruh pengelolaan perikanan dalam wilayah Republik Indonesia. diukur dari garis pantai kearah laut lepas dan/atau kearah perairan kepulauan untuk provinsi. kerjasama dan bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antar pemerintahan daerah. kewenangan. Yang dimaksud dengan ”nelayan kecil” disini adalah nelayan masyarakat tradisional Indonesia yang menggunakan bahan dan alat penangkapan ikan secara tradisional. dimana daerah akan memperoleh bagi hasil atas pengelolaan sumber daya di bawah dasar dan/atau di dasar laut. pemanfaatan. Kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut tersebut. ikut serta dalam pemeliharaan. meliputi: eksplorasi. meliputi: a. 5. penegakkan hukum terhadap perauran yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewsenangannya oleh pemerintah. pelaksanaan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang menjadi kewenangan daerah. political will) 11 . Konstatasi adanya kesenjangan antara niat (willingness. bagi hasil atas pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. Kewenangan daerah untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Kesenjangan antara niat dan realitas. dan ikut serta dalam pertahanan kedaulatan negara. b. pengaturan administrasi. dan 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi diperuntukkan untuk Kabupaten/Kota. dan c. b. Daerah yang memiliki ”wilayah laut” diberikan kewenangan untuk mengelola sumber daya di wilayah laut. Ketentuan tersebut diatas. pengelolaan peridzinan bersama dalam pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan bebas dari pajak. pengaturan tata ruang. Apabila wilayah laut antara 2 (dua) provinsi kurang dari 24 (dua puluh empat) mil.Kelima. tidak berlaku bagi penangkapan ikan oleh nelayan kecil. keamanan. budi daya dan pelestarian. hubungan antar Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. tannggung jawab. dan terhadapnya tidak dikenakan surat idzin usaha. yang pengaturannya sesuai dengan perundang-undangan. pemeliharaan. pengendalian dampak. penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. Keenam. dan untuk Kabupaten/Kota memperoleh 1/3 (sepertiga) dari wilayah kewenangan provinsi dimaksud. konservasi. meliputi: a. hubungan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan daerah dalam bidang pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya. dan c.

12 . Kita juga telah memperlihatkan kepada dunia atas kemampuan kita mngintegrasikan seluruh wilayah dan masyarakat Indonesia yang tersebar di berbagai wilayah yang amat luas ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. kualitas manusia Indonesia terburuk di antara negara . sehingga dalam realisasi manajemen pemerintahan terdapat beberapa Keppres yang dikeluarkan yang dalam praktek mengalahkan kekuatan Undang-undang.Pemerintah Indonesia dan realitas di lapangan dalam melaksanakan asas desentralisasi dan otonomi daerah. pekerjaan yang genius. Ia hidup dalam mimpi mimpi dan gagasan besar.8867/Tahun XXXVI. berdasarkan asas desentralisasi. adalah sangat mudah difahami kalau menurut ukuran Human Development Index (HDI).asalan. baik mengusir penjajah. praktek perkoncoan dan kronisme pun tidak bisa dihindarkan. sumber-sumber daya alam dan sumber daya lainnya dlsb. sejauh ini perwujudan asas ini masih senggang dari idealisasi yang diharapkan. kini di urutan ke-76. tetapi yang kurang diperhatikan adalah merumuskan atau membuat fondasi tahapan seperti apa yang harus dilalui untuk menjadi bangsa yang besar itu. Penggantinya H.undangan serta komitmen politik pemerintah yang sangat jelas menginginkan terwujudnya otonomi daerah dalam penyelenggaraan administrasi pemerintahan di Indonesia. dan 19 Editorial Media Indonesia. Keduanya telah mengorbankan kualitas manusia Indonesia19 Dampaknya. Baik Bung Karno maupun Pak Harto kurang memperhatikan aspek pembngunan manusia (human development).ganti. Pengelolaan negara dan keluarga pun menjadi wilayah yang sulit dibedakan. berawal dari perkembangan konfigurasi politik yang mendasari piranti perundang . Rabu.Soeharto.negara di Asean. Bung Karno. Pengelola negara yang mestinya melayani publik. seharusnya kita bisa mengatasi segala persoalan yang besar pula. beberapa urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daeah Kabupaten/Kota. nyatanya masih tetap ditangani oleh pusat dengan dalih eksternalitas dan akuntabilitas tergolong kepada kepentingan nasional (seperti: petanahan. berkat pimpinan negara yang lalu. seorang yang gandrung akan persatuan dan selalu bergelora bicara masa depan bangsa. Sebagai bangsa yang besar. Ini bukan kerja yang asal . Dalam sejarah bangsa ini.M. tetapi pekerjaan besar. Misalnya. Namun. menggerakan sejarah persatuan dengan doktrin dan kekuatan tentara. Politik menjadi “tertib” sebab semuanya dalam bingkai dan kontrol negara. dimana Indonesia berada di peringkat ke-111 di antara 175 negara di dunia. sedangkan Malaysia yang dulu hampir seluruhnya belajar dari kita. memposisikan dirinya sebagai pihak yang harus dilayani. meredam berbagai pemberontakan. Dalam tumpang tindih garis batas wilayah negara dan keluarga. dan jatuh bangunnya sistem pemerintahan yang berganti .). “Politik” adalah panglima di masa orde lama dan “stabilitas” adalah panglima di masa orde baru. yang seharusnya sudah bisa direalisasikan di daerah. kita melihat kenyataan selalu bisa keluar dari berbagai kemelut bangsa. 16 Maret 2005/No.

namun dasarnya adalah Dekrit Presiden yang menyelamatkan kesatuan dan persatuan bangsa. Undang . hanya berhasil menghapuskan “dualisme struktural” 20 Ibid.Undang Nomor 22 Tahun 1948.1 juta. 13 .Undang Nomor 6 Tahun 1959. tampak sebenarnya adanya semacam kesinambungan upaya mewujudkan desentralisasi yang selalu berakhir dengan munculnya praktek . Namun. Itulah era Demokrasi Terpimpin dengan semangat “Faham Negara Intergralistik”.Undang Nomor 1 Tahun 1957 yang didasarkan kepada UUDS . upaya pemerintah untuk menghapuskan “dualisme” dalam penyelenggaraan pemerintahan. Rezim Orde Lama.Undang Nomor 1 Tahun 1957 menjadi “sistem pemerintahan tunggal” (Eenhoofdig-bestuur) dengan mengangkat dan mendudukan Kepala Daerah sebagai “alat daerah” dan sekaligus sebagai “alat pusat”.20 Inilah salah satu masalah cukup mendasar yang menjadi tantangan kita dalam menghadapi krisis multidimensi. Kondisi kemiskinan seperti ini setara dengan keadaan 15 tahun yang lalu.1950 melalui sistem pemerintahanan yang parlementer dan dilandasi oleh faham demokrasi yang sangat liberal. sekalipun “Penetapan Presiden” mempunyai derajat lebih rendah daripada Undang-undang. melalui kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia menuju kepada proses penyelenggaraan pemerintahan yang baik (Good governance).Undang Nomor 1 Tahun 1945. pada masa rezim Orde Lama dengan menggunakan semangat Demokrasi Terpimpin.Undang Nomor 1 Tahun 1957 umurnya tidak panjang. Pengecualian terjadi pada masa berlakunya Undang . Alasannya. kembali terjebak dalam pola “sentralisasi” yang merombak “sistem pemerintahan kolegial” (collegial bestuur) yang dianut dalam Undang . yang hampir kolaps pada Sidang Dewan Kontituante yang gagal membentuk UUD tetap. mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan kebijakan ini. Editorial Media Indonesia. 6. dengan dikeluarkannya Undang . disamping untuk menghapus dualisme pemerintahan yang marasuk penyelenggaraan pemerintahan pada masa Undang . dan yang berpihak kepada rakyat. sekali lagi secara konstitutional tidak dianut di dalam UUD 1945. setelah keluar Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Melihat sekilas perspektif historis. Undang . Dalam pada itu.Undang Nomor 1 Tahun 1957.praktek sentralisasi. serta menghapuskan dualisme dalam pemerintahan.Filipina di urutan ke-98. Apakah dengan melalui Undang . dengan dalih atas dasar semangat Demokrasi Terpimpin. yang sesungguhnya faham ini. Melalui kajian sejarah administrasi pemerintahan di Indonesia. kini penduduk miskin mencapai 36. dan keburu dipangkas dengan dikeluarkannya Penetapan Presiden Nomor 6 Tahun 1959 yang merombak secara fundamental Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 hanya dengan sebuah “Penetapan Presiden” tanpa meminta persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. menurut Badan Pusat Statistik 2004.

pada era rezim Orde Baru diambil keputusan politik yang menetapkan Demokrasi Pancasila sebagai landasan berpolitik bangsa. Itulah pula sebabnya. yang digelar melalui UU No. sedangkan dualisme dalam fungsi (dualism in function) tetap tidak terhapuskan. Dengan keputusan politik tersebut.luasnya. terutama setelah dikeluarkannya PenPres Nomor 6 Tahun 1959 dipandang sebagai “retreat from autonomy”. Maka lahirlah konsep “otonomi nyata dan bertanggung jawab”. 18 Tahun 1965 tidak dianut lagi. pemberian otonomi daerah dalam wujud hak dan kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah sendiri. Penelitian yang terus menerus saya lakukan.sama dengan asas dekonsentrasi. seluruh tatanan pemerintahan harus disesuaikan dengan isi dan semangat Demokrasi Pancasila. dengan upaya mewujudkan asas desentralisasi pemerintahan. dikehendaki agar pelaksanaan Otonomi Daerah ini tidak mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. serta kerangka besar dalam pembangunan nasional. Konsekuensinya. terlihat adanya kausalitas antara sistem politik dan pemerintahan yang berlaku.pokok Pemerintahan di Daerah. karena justru penyelenggaraan pemerintahan dalam pelaksanaan fungsi “dekonsentrasi” yang menyangkut fungsi “pemerintahan umum” (“Algemene bestuur”) yang menurut Undang .syarat semacam ini yang memunculkan kendala baru bagi perwujudan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia. Namun.Undang Nomor 6 Tahun 1959 tentang Penyerahan Tugas Tugas Pemerintah Pusat dalam bidang Pemerintahan Umum. yang menyatakan bahwa penyelenggaraan pemerintahan di Indonesia setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Pemerintah Indonesia tampaknya sangat menyadari kausalitas ini. karena berdasarkan pengalaman konsep ini sangat rawan disintegrasi dan dikhawatirkan akan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa. Tampaknya. Dengan demikian. Maka keluarlah Undang . kedudukan dan peranan Kepala Daerah semakin diperkuat dan semakin dominan. menemukan bahwa UU Undang Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang menitik beratkan pelaksanaan otonomi daerah pada Daerah Tingkat II. disesuaikan dengan kemampuan daerah. syarat . Prinsip Otonomi yang seluas . Melalaui Undang . ternyata kembali terjebak dengan kecendurungan awal munculnya sentralisasi pelaksanaan 14 . Melalui konsep Undang . banyak kritikan yang dilontarkan kepada rezim pemerintahan pada saat itu. Itulah era pemerintahan yang disebut “Executive heavy” atau sering juga disebut “Strong Executive System”.saja.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini pemerintah bertekad untuk mewujudkan Otonomi Daerah. demikian pula paradigma yang menyatakan bahwa azas desentralisasi dilaksanakan bersama . Otonomi daerah dipandang lebih merupakan “kewajiban” daripada “hak”. Oleh karena itu. ataupun membahayakan kesinambungan gerak pembangunan nasional.Undang Nomor 5 Tahun 1974 ini. Perbantuan Pegawai Negeri dan Penyerahan Keuangannya kepada Pemerintah Daerah diletakkan kembali di tangan Kepala Derah dalam kedudukannya sebagai “alat pusat”.Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok . harus disusun Undang – Undang yang menjadi landasan penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia. Dengan demikian pula.

yang diletakkan di tangan Kepala Daerah dalam kedudukannya sebagai Kepala Wilayah.lambatnya dalam waktu 2 (dua) tahun sejak dikeluarkannya PP tersebut. menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat……….Undang ini bertahan selama lebih dari 25 tahun. Walaupun Undang .Undang Nomor 5 Tahun 1974 hampir .tegas menyatakan bahwa kebijakan peletakan titik berat otonomi daerah pada Daerah Tingkat II sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengurangi keberadaan dan peranan Pemerintah Daerah Tingkat I.Undang Nomor 22 Tahun 1999. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat. menyerahkan lebih lanjut kewenangan otonominya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II. eksistensi Daerah Tingkat I sebagai “daerah otonom” tetap kuat. Pemerintah Daerah Tingkat I yang secara imperatif dalam PP tsb diwajibkan untuk secara berangsur .Undang Nomor 5 Tahun 1974 baru dapat dikeluarkan 18 (delapan belas) tahun kemudian. karena Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan Undang . Perumusan “Otonomi Daerah” yang merupakan pergeseran paradigma yang berpihak kepada rakyat. dalam era Undang . dengan lebih menonjolkan kepada keberpihakan kepada rakyat.Undang Nomor 5 Tahun 1974. dengan menggeser paradigma “Executive heavy” kepada “Legislative heavy”. namun keinginan politik ini tidak bisa direalisasikan. Demikian pula. Dengan demikian.hampir tidak berfungsi. dengan menekankan bahwa titik . Ini adalah lagi . yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah dengan titik berat pada Daerah Tingkat II. yang dalam prakteknya dekonsentrasi lebih menonjol dan sangat dominan. dilihat dari sisi hubungan kelembagaan antara Eksekutif dan Legislatif ternyata adanya hubungan kemitraan yang sebenarnya kurang tepat (hubungan yang tidak sejajar). bersih. kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . bertanggung jawab dan demokratis. Kemudian. dimana DPRD sebagai penyalur aspirasi rakyat dalam pengembangan demokrasi dan sebagai alat kontrol. menyebutkan bahwa “Otonomi Daerah adalah kewenangan daerah otonom untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. sedangkan Daerah Tingkat II perkembangan otonominya tetap tersendat . tidak berjalan dengan baik. 15 . karena PP tersebut tegas .” Sebelum terjadi perubahan Undang . Peraturan Pemerintah inipun tidak berjalan mulus.sendat. karena lagi-lagi Pemerintah Pusat tidak konsekuen dengan kebijakannya yang mestinya Pemerintah Pusat menyerahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Pemerintah Daerah dengan mengutamakan penyerahannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II.undangan politik dan pemerintahan.berat otonomi diletakkan pada Daerah Tingkat II.administrasi pemerintahan di Indonesia. boleh dikatakan tidak berjalan sama sekali.lagi penonjolan wajah “Eksekutif heavy” dalam era konfigurasi politik menurut Undang .angsur selambat . Namun. dst. karena didominasi oleh wewenang Kepala Daerah/ Kepala Wilayah yang sangat kuat.

Dengan demikian. Pengalaman menunjukkan.sebab lain yang kecendurungan menunjukkan kekuasaan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah. kembali terjebak kepada nuansa “re-sentralisasi” dalam penyelenggaraan otonomi daerah. Inilah pula. Pergantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang . dan bertanggung jawab kepada DPRD. kenyataan di lapangan banyak kericuhan terjadi dalam pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah. belum lagi terjadinya “money politic” yang berlebih . sebaliknya orang yang terpilih sebagai Kepala Daerah. meskipun menurut jiwa dan semangat Undang . apakah karena LPJ . Namun tidak jarang pula terjadi konflik vertikal. idenya ingin mengembangkan strategi baru yang lebih dinamis. Kebijakan Pilkada yang membawa anarkhisme. daripada diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat.mana. kondisi tersebut tidak memungkinkan adanya “kemitraan” yang sejajar dan kecendurungan secara realitas posisi DPRD lebih kuat daripada Kepala Daerah. tetapi di pasal lain menegaskan bahwa kedudukan DPRD dan Kepala Daerah adalah sejajar sebagai mitra .kerja. terjadi konflik horizontal dimana .lebihan. ada orang yang bangkrut setelah tidak terpilih menjadi Kepala Daerah. 7.pasal dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 (pasal 56 s/d pasal 119) mengatur tentang Pemilihan Kepala Daerah secara langsung.mana hanya untuk memenangkan jabatan Kepala Daerah. bahwa sering terjadi ”impeachment” terhadap Kepala Daerah hanya dengan keputusan DPRD. salah satu alasan mengapa Undang . Sedangkan DPRD sendiri tidak jelas bertangungg jawab kepada siapa.Undang Nomor 22 Tahun 1999 pemberhentian Kepala Daerah tidak sepenuhnya berada dalam kompetensi DPRD. uang terhamburkan dimana . menjadi kebingungan bagaimana mengembalikan uang biaya Pilkada yang jumlahnya milyaran rupiah itu. Hubungan Eksekutif – Legislatif Daerah. ketika salah satu calon yang diajukan oleh Parpol ditolak oleh KPUD. tidak terdapat mekanisme yang jelas bagaimana bentuk pertanggung jawaban DPRD tersebut. Inilah suatu paradigma yang cenderung lebih menjukkan “Legislative heavy” dalam sistem Pemerintahan Daerah yang berjalan menurut Undang . melainkan kewenangan untuk memberhentidkan Kepala Daerah tersebut berada pada Presiden. Kalau bertanggung jawab kepada rakyat. dimana hampir 30% pasal . Namun.Undang Nomor 22 Tahun 1999 diganti dengan Undang .dimana Kepala Daerah dipilih dan ditetapkan oleh DPRD.Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang tujuannya antara lain untuk mengembalikan dan mewujudkan keseimbangan dari “Legislatif heavy” kepada “Eksekutif heavy” dan keseimbangan antara hubungan kekuasaan pusat dan daerah. Disamping itu. terutama setelah salah satu “calon terpilih” dinyatakan menang dalam Pilkada tersebut. banyak perilaku 16 .nya ditolak atau karena sebab .Undang Nomor 32 Tahun 2004. sehingga mencerminkan gejala bahwa kewenangan DPRD lebih tinggi dari Kepala Daerah.Undang Nomor 22 Tahun 1999.

Sedikit saya mengutip Editorial Media Indonesia.akan Indonesia begitu hebatnya. sbb: “Wajah Indonesia berubah total akhir .gedung dan sarana pemerintahan. tetapi nyatanya kaostik dan anarkhis. 21 Editorial Media Indonesia. Pekan-pekan ini. Kita membutuhkan modal.akhir ini.masyarakat pemilih menjadi anarchist. dst.olah ada kesan bahwa tidak ada satu badan publikpun yang semestinya bertanggung jawab untuk menyelesaikan persoalan persoalan tersebut. Para elite bangsa sekarang tenggelam dalam keyakinan super . Semua ini hanya bisa diperoleh apabila kita menampilkan wajah yang menawan dan bersahabat. hlm. mengecam. keahlian. Kelemahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dalam penyelenggaraan Pilkada. entah di jalan . sehingga membawa dampak instabilitas dalam pemerintahan dan ketidak tentraman dalam masyarakat. Padahal Indonesia sangat miskin dan lemah. sehingga tidak memerlukan lagi orang . a. karena tugas dan kewenangan KPU (KPUD) adalah melaksanakan Pemilu.aksi menentang Exxon Mobile di Blok Cepu.jalan. di era reformasi wajah Indonesia digebuk . demi keamanan dan pembangunan. Bangsa yang tidak menghargai perjanjian dan komitmen. memperburuk wajah kita.1 17 . Kita sekarang muncul sebagai bangsa yang gaduh. dan teknologi. dan bukan melaksanakan Pilkada.olah pemerintah tidak mampu lagi untuk menyelesaikannya. Penunjukan KPUD sebagai Pelaksana Pemilihan Kepala Daerah secara Langsung (PILKADA) adalah kurang tepat. citra Indonesia tidak lagi sekedar bangsa yang gaduh. merusak gedung . Ada beberapa kelemahan terdapat dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang berdampak kerancuan dalam implementasi Pilkada. yang berjudul “Wajah Seram Indonesia”. dengan dalih pencerminan “demokrasi”. Di Era Orde Baru. Setiap hari kita memaki. Di parlemen hampir setiap minggu kita mendengar tentang ancaman angket dan interpelasi. Indonesia tidak lagi hanya bangsa yang gaduh.gebuk oleh rakyatnya sendiri atas nama demokrasi. Demonstrasi menentang PT Freeport di Papua yang berujung kematian tiga anggota Polri dan satu TNI. Di jalan raya demonstrasi oleh warga dan anggota LSM tidak pernah putus.kuat seakan .orang di bagian dunia yang lain. entah di parlemen. wajah Indonesia ditampar-tampar oleh Negara. Tidak wajah garang yang selalu mengepal tinju dan menghunus pedang……………. dan disusul sekarang dengan aksi . 21 Maret 2006. tetapi anarkistis. pembakaran kamp milik PT Newmont di NTB. mengusir. Apa saja yang dirasa tidak sesuai dengan pikiran individu atau kelompok diributkan. karena ketidak puasan hasil Pilkada.l. dan banyak lagi persoalan persoalan yang muncul yang mencerminkan seolah . dan merusak. antara lain: a. bahkan seolah .”21 8.dst. Sekarang.

3-4. hlm. semangat dan jiwa.32/2004 menyatakan bahwa Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah diselenggarakan oleh KPUD yang bertanggung jawab kepada DPRD. Sesungguhnya. Pemerintahan Daerah. kurang sekali disosialisasikan kepada masyarakat luas. Kalau rakyat lebih banyak memilih I Made Suwandi. namun Pasal tsb dalam judicial . Masalahnya sering calon yang mendapatkan suara terbanyak. Sosialisasi dan diseminasi peraturan perundang . f. sehingga skenario format hubungan yang akan terjadi adalah sebagai berikut:22 Pertama. Materi Workshop. 22 18 . Panitia Pengawas Pilkada tidak berfungsi secara optimal. maka alternatifnya adalah menusuk tanda gambar. Pasal 57 UU No. Hasil Pemilu 5 April 2004 juga menunjukkan bahwa hanya 2 orang anggota DPR di tingkat Nasional yang benar-benar terpilih yang memenuhi “Bilangan Pembagi Pemilih” (BPP). sehingga dalam pelaksanaannya menimbulkan multi . 2004.interpretasi dan persepsi yang berbeda . DPRD akan dipilih dengan sistem proportional terbuka. yang berarti Elite Parpol yang akan memegang peranan utama menentukan siapa yang akan didudukkan di lembaga legislatif daerah.b. baik di kalangan masyarakat. 9. sehingga. Kalau pemilih tidak memilih nama. e. LAPI.beda. “ Implikasi Pemilihan Kepala Daerah Langsung” (Dalam koridor UU 32 Tahun 2004).review dicabut oleh Mahkamah Konstitusi. Penyelenggaraan Pilkada merupakan kompetensi Pemerintah cq.jawab kepada siapa.uang” hampir di seluruh lini penyelenggaraan Pilkada. KPUD. Upaya menyeimbangkan hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah.undangan tentang Pilkada sebagaimana tertuang dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pelaksanaannya. serta konsekuensi konsekuensi yang bakal terjadi pada Pilkada. KPUD tidak jelas bertanggung . dalam menyelenggarakan Pilkada. tidak memenuhi treshold BPP yang diunjuk mewakili parpol di DPR atau DPRD dan menimbulkan konflik internal di tubuh parpol. ideenya. sehingga masyarakat kurang memahami aturan main. maka diharapkan akan merubah perimbangan hubungan antara Eksekutif dan Legislatif daerah. Pemerintahan Daerah. termasuk Tim Suksesnya dll. pers dll yang bertanggung jawab kepada Pemerintah cq. para calon Kepala Daerah. Maraknya “politik . kalau pemilihan Kepala Daerah dilakukan secara langsung. d.unsurnya terdiri dari tokoh masyarakat. c. perguruan tinggi. ini berarti ada tanda gambar dan sekali gus daftar nama caleg. dan karenanya perlu dibentuk Panitia/ Komisi Pemilihan Kepala Daerah yang unsur .

cara “money politics” dalam pemilihan Kepala Daerah. dimana di kalangan masyarakat Indonesia masih kental cara . maka sudah bisa dipastikan akan terjadi instabilitas dalam pemerintahan daerah. rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk memilih seseorang calon Kepala Derah. Kondisi ini.tanda gambar dan bukan orang. akan berjalan baik. pemerintahan yang tidak stabil sudah barang tentu akan mengganggu stabilitas keamanan dan counter . konsekuensi dari pemilihan langsung. Dengan demikian. Namun. Ini berarti. tidak lagi Kepala Daerah bertanggung jawab kepada DPRD sekalipun DPRD mempunyai posisi sebagai wakil rakyat. Karenanya perlu penegasan dan difahami oleh rakyat bahwa pemberhentian Kepala Derah hanya dapat dilakukan apabila ybs melakukan tindak . kalau cara . pelaksanaan demokrasi tendensinya anarkhis.negara maju. Akibatnya. Persoalannya sekarang. kepada siapa Kepala Daerah harus bertanggung jawab? Karena Kepala Derah dipilih langsung oleh rakyat. Di negara . Dengan kata lain akuntabilitas Kepala Daerah akan lebih kuat dibanding dengan akuntabilitas DPRD. Kedua. akan terjadi pergeseran (shift) titik berat kekuatan politik yang tadinya ke DPRD (“Legislative heavy”) akan bergeser kepada Kepala Deerah (“Executive heavy”). supaya mereka menyadari bahwa sekali mereka memilih Kepala Daerah maka mereka akan menanggung segala konsekuensi dari pilihannya tersebut. Kondisi tersebut akan diperkuat lagi dengan adanya dukungan perangkat daerah kepada Kepala Daerah. artinya rakyat akan memberikan legitimasi politik secara langsung kepada orang yang dipilihnya. ini berarti bahwa Kepala Daerah akan mendapatkan legitimasi penuh dari rakyat pemilih. Ini adalah akibat akuntabilitas Kepala Daerah yang lebih kuat dibandingkan dengan DPRD. seperti di Amerika. Kalau Kepala Daerah dipilih secara langsung. jelas akan lebih memperkuat posisi Kepala Daerah. Karena itu. karena Kepala Derah pun akan mengklaim dirinya sebagai wakil rakyat yang dipilih secara langsung. Lantas mekanismenya bagaimana kalau Kepala Daerah bertanggung jawab langsung kepada rakyat.pidana. akuntabilitas individu akan berkurang.cara yang sama. dimana pendidikan politik rakyat belum mantap. mengundurkan diri atau tidak lagi mampu 19 . maka dengan imbalan uang. maka seyogyanya ia (Kepala Daerah) bertanggung jawab langsung kepada rakyat. akibatnya.cara tersebut diterapkan di Indonesia. Sebagai konsekuensinya. maka baik DPRD maupun Kepala Daerah akan bertanggung jawab langsung kepada rakyat pemilih.productive terhadap laju pertumbuhan dan investasi. dan apakah rakyat bisa memberhentikan Kepala Derah apabila rakyat tidak menyukai atau mempercayainya lagi. dimana akuntabilitas Kepala Daerah lebih bersifat individu dibanding dengan akuntabilitas DPRD yang bersifat kolegial. dalam rangka pemilihan Kepala Derah perlu adanya sosialisasi dan pendidikan politik yang intensif bagi rakyat pemilih. sedang akuntabilitas kolektif akan lebih menonjol. demikian juga sebaliknya rakyat akan dengan mudah digerakkan untuk menjatuhkan Kepala Daerah dengan cara . Kepala Derah dapat diberhentikan oleh rakyat apabila diatas 50% pemilih menyatakan tidak menghendaki lagi Kepala Daerah ybs. apabila pendidikan politik rakyat sudah mantap. seperti di Amerika. yang pada gilirannya kondisi tersebut akan menciptakan krisis yang berkepanjangan.

kalau kualitas anggota DPRD tetap seperti sekarang. anggota DPRD dapat di re-call oleh pimpinan Parpolnya. DPRD diharapakan akan tetap mempunyai otoritas di bidang legislasi. sedangkan pejabat karir adalah pejabat yang melaksanakan/ mengoperasionalkan kebijakan tersebut kedalam bentuk pelayanan publik atau pemenuhan kebutuhan publik. professionalisme.politik” (Pejabat karier). Forum Komunikasi. Untuk memberikan keleluasaan kepada Daerah di bidang manajemen kepegawaian. sehingga akan menciptakan kondisi “Executive heavy” seperti terjadi puluhan tahun pada masa orde baru. karena bagaimanapun juga posisi 20 . Demikian juga dengan posisi DPRD. dan fungsi anggaran dalam menetapkan dan mendayagunakan potensi anggaran daerah. serta ethik dan moral. maka rakyat sebagai “stake . harus ada perubahan yang signifikan terhadap konstruksi pemerintahan daerah. baik kepada DPRD maupun kepada Kepala Daerah melalui upaya revitalisasi LSM. dan “integrated system” diterapkan dalam rangka menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional dan otonomi daerah.etik DPRD. fungsi legislasi dalam membuat kebijakan. dengan diberikannya kewenangan manajemen kepegawaian sebagaimana diatur dalam Pasal 76 Undang .l.banyak akan mampu mengimbangi kekuatan Eksekutif. terjadi kecendurungan kooptasi oleh kekuatan politik di daerah. baik dari pihak Kepala Daerah maupun dari DPRD. Dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terdapat masalah kepegawaian daerah.hak tersebut secara effektif. Ketiga. development dan appraisal dari PNS Daerah.tertib dan kode . Dalam pada itu ada Badan Kehormatan dalam lembaga DPRD yang nantinya akan menerima komplain dari masyarakat tentang anggota DPRD dan dapat memberhentikan anggota DPRD apabila anggota DPRD terbukti melanggar tata . dengan diberlakukannya Undang – Undang Nomor 31 Tahun 2002 tentang Parpol. tanpa adanya kemajuan yang berarti. maka Daerah sebaiknya dilibatkan dalam proses rekrutmen.menjalankan tugasnya sebagai Kepala Derah sebagaimana ditentukan dalam perundang . DPRD yang lemah. maka akan sulit bagi DPRD untuk mengimbangi kekuatan dan kinerja eksekutif yang didukung oleh perangkat daerah yang professional. untuk menciptakan “check and balances” yang seimbang. anggaran dan kontrol. sesuai dengan hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang . a. misalnya banyak kasus terjadi pemberhentian Sekda oleh Kepala Daerah/ DPRD tanpa alasan yang jelas. terutama yang menyangkut kejelasan antara “pejabat politik” (Kepala Daerah dan DPRD) dengan “Pejabat non . Pejabat politik adalah pejabat yang bertugas merumuskan dan menetapkan “kebijakan publik”.holders” utama dalam penyelenggaraan otonomi daerah. berpotensi untuk melemahkan fungsi kontrol terhadap eksekutif. perlu digerakkan agar mampu menjadi “pressures and supporters”. Oleh karena itu. artinya unsur . Apabila mereka mampu mempergunakan kewenangan dan hak .unsur “separated system” dalam manajemen kepegawaian.undangan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susduk. placement.Undang Nomor 22 Tahun 1999. Keempat. diberikan kepada daerah dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah.undangan. maka diharapkan DPRD sedikit . Namun. Organisasi professi dll yang berbasis demokrasi.

APRESIASI KEBIJAKAN DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH MENURUT PERSPEKTIF UNDANG . Demikian. dengan memberikan keleluasaan penyelenggaraan otonomi daerah yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 adalah suatu strategi dan paradigma baru dalam upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan daerah yang kuat.PNS tetap harus difungsikan sebagai perekat negara dan bangsa disamping professionalisme pegawai yang perlu terus ditingkatkan. Jakarta. Terima kasih atas perhatiannya. 10. Penutup.undangan politik dan pemerintahan.UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999.undangan pemerintahan daerah yang diwarnai dengan berbagai perkembangan konfigurasi politik sejak lahirnya Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1945. beberapa pokok-pokok pikiran tentang pelaksanaan kebijakan penyelenggaraan otonomi daerah sebagai bahan masukan dalam Seminar ini untuk didiskusikan lebih lanjut. 10 Nopember 2006. bersih dan bertanggung jawab. Pemerintah NKRI telah berhasil mengundangkan berbagai perundang . Undang .Undang Nomor 22 Tahun 1948. Kebijakan desentralisasi yang telah ditetapkan pemerintah dalam rangka reformasi perundang . Dengan melihat perspektif historis ketata-negaraan Indonesia. 3. Undang - 21 . Berbagai upaya dan terobosan politik telah banyak dilakukan dalam rangka membangun pemerintahan daerah yang baik dan berpihak kepada rakyat. serta berpihak kepada rakyat.

yaitu Undang . timbulnya raja .Undang Nomor 32 Tahun 1956. dan tidak terkendalinya oleh pemerintah pusat. sampai kepada paket kebijakan terakhir. Berbagai pendapat dan pandangan telah banyak dilontarkan orang terhadap kelahiran Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1959. Namun sebaliknya. yang pada gilirannya akan mengakibatkan lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa. dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan (“disintegrasi”) karena terkotak . peningkatan daya saing daerah. Namun demikian.Undang Nomor 18 Tahun 1965. Bahkan ada yang beranggapan bahwa dengan otonomi daerah ini. egoisme kedaerahan yang sempit. masih mengandung berbagai kelemahan dan masalah. terutama dalam mewujudkan pemerintahan daerah yang baik. dan masih berbau “status quo”. PenPres No. kolusi dan nepotisme (KKN) akan merajalela di daerah. 6 Tahun 1959. Ada yang menganggap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 terlalu luas memberikan kewenangan kepada daerah. masih setengah hati. bersih. pemerintah yang menamakan dirinya sebagai “pemerintah orde reformasi” nyatanya tidak reformis dan dalam memberikan otonomi kepada daerah. Undang . adalah suatu prasyarat yang harus terjawab dalam upaya menjalankan “keinginan politik” (political will”) pemerintah untuk menjadikan Daerah Otonom yang mandiri berdasarkan prinsip . baik secara konsep akademik maupun operasional signifikan dalam upaya menerapkan prinsip . Undang . dikhawatirkan akan memindahkan birokrasi pusat ke daerah dengan segala ekses -eksenya seperti korupsi.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah.kotaknya antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. peran serta masyarakat. yang akhirnya daerah yang merasa sangat kuat akan tidak peduli terhadap daerah lainnya.Undang Nomor 1 Tahun 1957. Hal tersebut. Apalagi Undang – Undang 22 . serta menjamin tetap terjaga dan terpeliharanya Negara Kesatuan Republik Indonesia.Undang Nomor 5 Tahun 1979.Undang ini masih jauh dari harapan. pemerataan dan keadilan.prinsip demokrasi. sehingga dengan keleluasaan (“discretionary power”) yang diberikan kepada Daerah. serta memperhatikan potensi dan keanekaragaman daerah. Undang .raja kecil di daerah dlsb.Undang Nomor 22 dan 25 Tahun 1999 sebagai produk kebijakan politik desentralisasi dan otonomi daerah pada masa pemerintahan transisi. Yang menjadi fokus pertanyaan adalah apakah kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang dituangkan dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 itu. ada pula yang beranggapan bahwa Undang . sehingga timbul kesenjangan antar daerah dan laju pertumbuhan antar daerah.prinsip akuntabilitas publik dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. tidak dapat dipungkiri bahwa paket Undang . arogansi kekuasaan. Penetapan Presiden (PenPres) No. berwibawa dan bertanggung jawab (“Good Governance”) serta berpihak kepada rakyat.Undang Nomor 5 Tahun 1974 dan Undang . baik ditinjau dari tataran konsep maupun tataran operasional. 5 Tahun 1960.

dianggapnya masih terlalu berorientasi ke pusat.87. maupun para anggota badan Legislatif (DPRD) membuktikan kebenaran anggapan masyarakat tersebut. Konsep hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah menjadi penting untuk dikaji. 23 23 .1. desentralisasi administrasi.Nomor 25 Tahun 1999 dengan segala peraturan pelaksanaannya. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. justru merasa sangat risau dan khawatir terhadap eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. ditinjau dari perspektif nasional. karakteristik desentralisasi dan otonomi daerah yang diterapkan dalam suatu negara. dalam Jurnal CSIS. Kategorisasi. Inilah sesungguhnya yang didambakan oleh daerah sejak lama. desentralisasi dan otonomi yang kini semakin nyaring terdengar. sebagian masyarakat beranggapan bahwa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 mampu menjawab tuntutan demokrasi. Inilah pula antara lain salah satu pertimbangan mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang pemerintahan daerah yang baru berumur kurang dari 5 (lima) tahun telah diganti dengan Undang – Undang yang baru. otonomi daerah yang diberikan kepada daerah Propinsi sangat terbatas yang hanya meliputi kewenangan yang bersifat lintas kabupaten/ kota sebagaimana diatur dalam Pasal 9 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 25/2000. sementara sebagian lainnya justru menganggap kedua UU tersebut sebagai sumber malapetaka bagi beberapa daerah tertentu dan bahkan bagi Indonesia. pemerintah pusat yang telah memberikan kewenangan yang luas kepada daerah sebagaimnana ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (1) dan Pasal 11 Undang – Undang Nomorr 22 Tahun 1999. otonomi luas. No. Dalam pada itu. adanya arogansi pusat dengan pencerminan pembagian sumber . Demikian pula. karena sebagian besar kewenangan dan sumber keuangan telah diserahkan kepada daerah. dan otonomi khusus – semuanya sangat ditentukan oleh seberapa jauh kekuasaan dan wewenang Pande Radja Silalahi. Dengan kata lain.sumber keuangan yang tidak proportional. kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 adalah merupakan angin segar dan sangat menguntungkan daerah. karena ia merupakan salah satu komponen utama dari fondasi yang menopang keberadaan “bangunan” desentralisasi dan otonomi daerah. Ditinjau dari perspektif Daerah. “Implikasi Kebijakan Ekonomi Pemerintah Pusat dan Pembangunan Ekonomi di Daerah”. baik yang dilakukan oleh para pejabat Eksekutif. otonomi terbatas. tidak adil dan sangat berat ke pusat. hlm. antara lain. seperti – desentralisasi politik. karena sisa kewenangannya sangat dibatasi.23 Maraknya korupsi di daerah. dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan keuangan antara pusat dan daerah telah diganti dengan Undang – Undang Nomor 33 Tahun 2004. sangat ditentukan oleh format pengaturan distribusi kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Tahun XXXIX/2000. Namun. sehingga daerah bisa mengatur dan mengurus kepentingan masyrakat setempat. terutama Daerah Kabupaten/Kota.

dalam “Evaluasi Implementasi Otonomi Daerah”. deconcentration. Pusat Penelitian Politik. devolution. “Evaluasi UU No. Konsep desentralisasi sering dibahas dalam konteks pembahasan mengenai sistem penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan.22 Tahun 1999: Tinjauan Kritis atas Konsep Hubungan Kekuasaan Pusat – Daerah”. Syarif Hidayat.Undang yang secara materiil sudah diserahkan kepada Daerah ybs.yang dimiliki oleh pemerintah daerah. karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis. desentralisasi politik (political decentralization). desentralisasi jabatan (ambtelijke decentralisatie). seperti decenralization. Walaupun begitu. hlm. beberapa batasan perlu diajukan sebagai bahan perbandingan dan bahasan dalam upaya menemukan pengertian yang mendasar tentang pelaksanaan otonomi daerah sebagai manifestasi dari politik desentralisasi. Akan tetapi.. Pada masa sekarang. desentralisasi administratif (adminisrative decentralization). 2002. desentralisasi fungsional. ditinjau dari tataran teoritis. hampir setiap negara bangsa (nation state) menganut desentralisasi sebagai suatu asas dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan negara. desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie). dan 11 serta penjelasannya) harus ada “pengakuan” (“erkennen”) dari Pemerintah sampai sekarang belum dijalankan secara tuntas sampai dicabutnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 oleh Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. 4. Berbagai definisi tentang desentralisasi dan otonomi telah banyak dikemukakan oleh para penulis yang sudah barang tentu pada umumnya didasarkan pada sudut pandang yang berbeda. karakteristik hubungan kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah telah didudukkan sebagai variabel penting yang membedakan dua konsep antara perspektif “desentralisasi politik” (“political decentralization perspective”) dan perspectif “desentralisasi administrative” (“administrative decentralization perspective”)25 Salah satu hal yang amat penting dan mungkin terlupakan adalah bahwa urusan/kewenangan yang sudah dimiliki oleh Daerah otonom sejak pembentukannya dengan Undang . Suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan pula merupakan alternatif dari sentralisasi.24 Oleh karena itu. desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. 8.11. Karenanya suatu negara bangsa merupakan genus dari species desentralisasi dan sentralisasi. melainkan merupakan sub .sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. pengertian desentralisasi tersebut sering dikacaukan (interchangeably) dengan istilah . yang menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 (Pasal 7.istilah lainnya. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. otonomi dan medebewind. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPI). hlm. Walaupun demikian. TINJAUAN TEORITIS: PANDANGAN TENTANG DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH.11 25 Ibid. dan sebagainya. 24 24 .

badan politik di daerah yang disebut pemerintah daerah.29 Dalam kenyatannya memang ada dua bentuk decentralization. Division for Public Administration. namun juga memiliki keleluasaan. sedangkan devolution kepada badan .e. yaitu melalui deconcentration atau devolution. hlm. Para pejabat tersebut bekerja dalam batas . delegation) to field offices or by devolution to local authorities or local bodies”26 Batasan ini dimaksudkan untuk menjelaskan proses penyerahan wewenang dari pusat kepada organ di daerah melalui dua cara. Kalau deconcentration melalui delegasi kekuasaan kepada pejabat pejabatnya di daerah. 29 Ibid. Disini. Dengan demikian bentuk devolution merupakan type of arrangement having a political as well as an administrative character.. karena itu adalah kompetensinya politik desentralisasi. Technical Assistant Progame. Desentralisasi administratif adalah suatu delegasi wewenang pelaksanaan yang diberikan kepada pejabat pusat di tingkat lokal. yaitu yang bersifat administatif (administative decentralization) dan yang bersifat politik (political decentralization). There are two principal forms of decentralization of governmental powers and functions are deconcentration to area offices of administration and devolution to state and local authorities. kewenangan dan tanggung jawab tertentu dalam mengembangkan kebijaksanaan pemberian jasa dan pelayanan di United Nations. tidak dijelaskan isi dan keluasan kewenangan tersebut serta konsekuensi-konsekuensi apa penyerahan itu bagi organ . Handbook of Public Administration. hal ini berbeda dengan devolution. 27 United Nations. Sifatnya adalah penyerahan nyata berupa fungsi dan kekuasaan.3. hlm.27 Yang dimaksud dengan area offices of administration adalah suatu perangkat wilayah yang berada di luar kantor pusat. 1961. Departement of Economic and Social Affair. Kepada pejabatnya oleh departemen pusat dilimpahkan wewenang dan tanggung jawab bidang tertentu yang bertindak sebagai perwakilan departemen pusat untuk melaksanakan fungsi bidang tertentu yang bersifat administratif tanpa menerima penyerahan penuh kekuasaan (final authority).64.64. whose responsibility continues). baik secara politik maupun administrasi.28Jadi. Batasan itu lebih memfokuskan kepada bentuk .batas rencana dan sumber pembiayaan yang sudah ditentukan.macam decentralization. bukan hanya sekedar pelimpahan. Pertanggungjawaban akhir tetap berada pada departemen pusat (the arrangement is administrative in nature and implies no transfer of final authority from the ministry. Department of Economics and Social Affair. dimana sebagian kekuasaan yang diserahkan kepada badan politik di daerah itu merupakan kekuasaan penuh untuk mengambil keputusan. New York: United Nations. Current Concept and Pracice with Special Reference to Developing Countries.bentuk atau macam .Salah satu batasan tentang desentralisasi yang sering dibahas adalah: “decentralization refers to the transfer of authority away from the national capital whether by deconcentration (i. Decentralization for National and Local Development. 26 25 . 28 Ibid. New York: UN.organ di daerah. hlm. 1962.

33 Midjaja. Sebaliknya. 32 Ibid.. jika suatu unit lokal diberi kesempatan untuk meningkatkan kekuasaannya. maka para pemuka dan warga masyarakat akan mempunyai investasi kecil saja di dalamnya. diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Sumber Daya Manusia dan Lingkungan. yaitu wewenang pembuatan keputusan dan kontrol tertentu terhadap sumber .forma sampai kepada keputusan . White.1. kemampuan untuk mengembangkan otoritasnya akan meningkat.30 Pengertian ini lebih menekankan kepada dampak atau konsekuensi penyerahan wewenang untuk mengambil keputusan dan kontrol oleh badan . 31 Ibid.215. terutama untuk mempengaruhi elit birokrasi dan pengambil keputusan di pusat yang nampaknya belum sepenuh hati rela menyerahkan berbagai kewenangan dan sumber daya kepada daerah. resistensi dan pembangkangan daerah terhadap pusat. Makalah disajikan dalam diskusi terbatas. bahwa desentralisasi. 1987.mata hanya ditugaskan untuk mengikuti kebijakan nasional. bahwa hak . karena kekhawatiran timbulnya disintegrasi dalam pelaksanaan otonomi daerah. Carolie dan Louise G. Konsep desentralisasi yang menekankan kepada salah satu cara untuk memberdayakan kapasitas lokal. Managing Development in the Third World. Sedangkan desentralisasi politik. Bandung. terjemahan Rusyant “Manajemen Pembangunan untuk Negara Berkembang”.215-216. Jakarta: LP3ES. Kalau ada orang yang berpendapat bahwa pemberian otonomi kepada daerah dapat menimbulkan disintegrasi dan karenanya harus diwaspadai. baik secara politik maupun administrasi merupakan salah satu cara untuk mengembangkan kapasitas lokal. hlm. hlm.. bahkan kebanyakan orang sekarang mempersoalkan kapan dan bagaimana peletakkan otonomi Bryant. “Pidato Pengarahan pada Pembukaan Sespanas-Seskoad.sumber daya yang diberikan kepada badan badan pemerintah regional dan lokal. dapat didjadikan titik tolak pemikiran dalam rangka mengembangkan penyelenggaraaan otonomi daerah di Indonesia.. jutru akan menimbulkan “disintegrasi”. Bandung: Unpad.tahan.33 saya justru berpendapat sebaliknya. mulai dari penetapan peraturan-peraturan yang sifatnya pro .hak dan kewenangan otonomi daerah yang ditahan . dalam Ateng Syafrudin. Jika suatu badan lokal diserahi tanggung jawab dan sumber daya. Subarda. hlm. dimana kekuasaan dan pengaruh cendurung bertumpu pada sumber daya. kekuasaan pada tingkat nasional tidak dengan sendirinya akan menyusut. jika pemerintah lokal semata .32 Dengan demikian. yang sesungguhnya hal itu dikarenakan “konflik kepentingan” antara individu-individu di Pusat dan Daerah.keputusan yang lebih substansial. hlm. Pemerintah Pusat malah mungkin memperoleh respek dan kepercayaan karena menyerahkan proyek dan sumber daya kepada unit lokal.badan otonom daerah yang menuju kepada pemberdayaan (empowerment) kapasitas lokal. 31 Akan tetapi. 20 Januari 1992. 5-6 September 1992. Yang perlu menjadi perhatian disini adalah. 30 26 . 213-214. Kewenangan itu bervariasi. Pendayagunaan Otonomi Daerah yang Bertitik Berat pada Daerah Tingkat II dan Implikasinya pada Manajemen Pembangunan.tingkat lokal. dan dengan demikian akan meningkatkan pengaruh serta legitimasinya.

Pendapat ini tidak berbeda dengan pendapat Bryant. local adminisrative units. G. 34 35 hlm. Decentralization and Development. semi-autonomous and parastatal organizations. saya akan lebih memfokuskan kepada bentuk yang ketiga yang ada relevansinya atau setidaknya sebagai perbandingan dengan kebijakan desentralisasi di Indonesia. baik di pusat maupun di daerah tanpa mengikutsertakan masyarakat lokal. Beverly Hills. Menurutnya. Dengan demikian. yaitu: deconcentration.autonomous and parastatal agencies. 18-19. and non . sebagai bentuk pertama. SAGE Publications Inc. decision making. dalam Rondinelli. “Implementing Decentralization Policies: An Introduction. Bentuk yang kedua tidak akan saya bahas. Shabbir. bukan mepersoalkan kekhawatiran disintegrasi. Dennis A.pada daerah tingkat lokal itu akan dilaksanakan.34 Sejalan dengan pendapat Bryant. Ateng Syafrudin. keempat bentuk decentralization ini merupakan species dari genus decentralization. maka sudah bisa dibayangkan tidak akan mendorong kepada pemberdayaan masyarakat lokal.prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. Rondinelli. devolution to local government. 27 . local government. Rondinelli membedakan 4 (empat) bentuk decentralization. Selanjutnya dikatakan bahwa kewenangan dan tanggung jawab yang diberikan lebih banyak berupa shifting of workload from a central government ministry or agency headquarters to its own field staff located in offices outside of the national capital without transferring to them the authority to make decisions or to exercise discretion in carrying them out.governmental institutions. pada hakekatnya hanya merupakan pembagian kewenangan dan tanggung jawab administratif antara departemen pusat dengan pejabat pusat di lapangan. California. delegation to semi .35 Oleh karena itu.prinsip pembagian kewenangan dan prinsip . decentralization dalam bentuk deconcentration. and Cheema. kalau suatu sistem pemerintah daerah yang kebijakannya lebih mengutamakan deconcentration daripada devolution. Shabbir. Ibid. or administrative authority from the central government to its field organizations.” Dengan batasan ini. and Cheema. Dennis A.unit atau badan badan pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara independen (mandiri). Rondinelli (1988) lebih luas memaparkan konsep decentralization dengan memberikan batasan sebagai berfikut: “the transfer of planning. Policy Implementation in Developing Countries. Pemerintah pusat membentuk unit .. karena dalam deconcentration semua keputusan sudah ditetapkan. Bentuk ketiga dari decentralization yang lebih relevan dengan perkembangan politik dan pemerintahan di Indonesia adalah devolution to local government. Konsekuensi dari devolution ini. G. 1988. meskipun harus tetap disesuaikan dengan prinsip . or non -governmental organizations.

Konsep decentralization ini didasarkan kepada adanya perhatian yang semakin besar untuk memberikan keleluasaan decentralization dalam kewenangan perencanaan. namun ciri yang Keempat adalah justru menjadi “tantangan” bagi pemerintah daerah di Indonesia pada umumnya.batas wilayah yang jelas dan legal.unit organisasi lainnya dalam suatu sistem pemerintahan.tingkat pemerintahan. Kalau kita bandingkan dengan sistem di Indonesia. Kedua.tugas umum pemerintahan. bahwa kedudukan pemerintah daerah adalah “tergantung” (dependent) dan karenanya Pemerintah Daerah berada “dibawah” (subordinated) Pemerintah Pusat.tugas umum pemerintahan. ciri . pengambilan keputusan dan administrasi yang pada tahun 1970-an.cara baru dalam 28 . terutama dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. mandiri (independent) dan secara tegas terpisah dari tingkat . Kedua. dan mempunyai wewenang untuk melakukan tugas . oleh karena kita masih melihat bahwa segala keinginan atau tuntutan masyarakat seringkali tidak diajukan kepada pemerintah daerah setempat. Ketiga. Sedangkan ciri yang Kelima. justru kita tidak memiliki kesetaraan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. unit pemerintahaan tersebut diakui mempunyai batas .sumber daya untuk mendukung pelaksanaan tugas . vertrauwen). Dengan memperhatikan ciri . unit pemerintahan daerah tersebut berstatus sebagai badan hukum dan berwenang mengelola dan memanfaatkan sumber . sehingga prinsip ini tidak sejalan dengan prinsip hubungan pusat – daerah dalam NKRI. namun dalam beberapa hal masih terdapat perbedaan. karena prinsip desentralisasi yang dianut dalam NKRI. Oleh karena itu. Keempat. melainkan langsung ke Pusat karena kurangnya “keterpercayaan” terhadap pemerintah daerah setempat yang dipandangnya tidak bakalan dapat menyelesaikan permasalahan di daerah. unit pemerintahan bersifat otonom. unit pemerintahan daerah tersebut diakui oleh warganya sebagai suatu lembaga yang akan memberikan pelayanan kepada masyarakat guna memenuhi kebutuhan mereka. misalnya kewenangan untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya nasional. dengan didorong oleh tiga hal kekuatan sebagai berikut: Pertama. disebut sebagai the second wave of decentralization. Kelima. melihat kenyataan hasil yang tidak memuaskan akibat perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi secara terpusat yang berjalan sekitar tahun 1950 dan 1960-an. terdapat hubungan kesetaraan dan saling menguntungkan melalui koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta unit . Pemerintah pusat tidak melakukan pengawasan langsung terhadapnya.ciri karakteristik tersebut.Ada beberapa karakteristik bentuk devolution sebagai berikut: Pertama. pemerintah daerah ini mempunyai pengaruh dan kewibawaan terhadap warganya (credibility. bagi daerah di Indonesia masih sangat terbatas. melihat perlunya dikembangkan cara .ciri Kesatu dan Ketiga. nampaknya ada beberapa hal kemiripan kebijakan desentralisasi yang sedang dilancarkan di Indonesia. boleh dikatakan mirip dengan Indonesia.

ternyata decentralization tidak berdiri sendiri. didefinisikan sebagai the ransfer of administrative responsibility from central to local government.24. desentralisasi lazim dibagi dalam dua macam: Pertama. desentralisasi digolongkan menjadi dua. Disertasi Untuk Memperoleh Gelar Doktor Dalam Ilmu Hukum pada Universitas Padjadjaran. Kalau kita bandingkan dengan versi kontinental. 36 29 .macam. Sementara deconcentration yang dalam hal ini oleh Mawhood telah dipersamakan dengan administrative decentralization.daerah untuk mengurus rumah tangganya sendiri (daerah . sehingga semakin sulit untuk mencapai efisiensi dan efektifitas apabila semua perencanaan dan kegiatan pembangunan dipusatkan pada pemerintah pusat. Desentralisasi ini adalah sistem untuk mewujudkan asas demokrasi yang memberikan kesempatan kepada rakyat untuk ikut serta dalam proses penyelenggaraan kekuasaan negara. “Hubungan antara Pusat dan Daerah berdasarkan Azas Desentralisasi Menurut UUD 1945”. yaitu ambtelijke decentralisatie dan staatskundige decentralisatie yang dibagi lagi menjadi territoriale decentralisatie dan functionele decentralisatie. Mawhood tidak menjadikan decentralization sebagai genus dengan species devolution dan deconcentration. Menurut versi kontinental. 1990. Dari berbagai batasan dan pengertian yang dikemukakan diatas. dalam Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. dekonsentrasi (deconcentration) atau ambtelijke decentralisatie adalah pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan negara tingkat lebih atas kepada bawahannya guna Diana Conyers (1984). kegiatan pemerintahan semakin meluas. 37 Didiskusikan dalam Bagir Manan.36 Dengan demikian.mengelola program dan proyek serta administrasi pembangunan yang meliputi strategi pertumbuhan dan pemerataan yang dijalankan selama tahun 1970-an. Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2P-LIPPI). 2001. melainkan decentralization sebagai genus dan mempunyai species yang bermacam . decentralisatie tsb mempunyai dua wajah.mata. Namun Mawhood (1987 : 9) dengan tegas mengatakan bahwa decentralization adalah devolution of power from central to local governments. melihat kenyataan kehidupan masyarakat semakin kompleks. guna kelancaran pekerjaan semata . hlm.37 Dalam hubungan ini. melainkan memisahkan antara decentralization dan deconcentration. adalah pemberian (pemasrahan) kekuasaan dari atas kebawah di dalam rangka kepegawaian.daerah otonom). Ketiga. dapat dipahami bahwa pengertian decentralisatie sebagai “staatskundige decentralisatie” (desentralisasi ketatanegaraan) merupakan pelimpahan kekuasaan pemerintahan dari pusat kepada daerah . “Desentralisasi dan Otonomi Daerah: Perspektif Teoritis dan Perbandingan”. yaitu autonomie dan medebewind atau zelfbestuur. pada prinsipnya sama mendudukan decentralization sebagai genus dengan species yang bermacam-macam.19. Menurut konsep ini. Yang dimaksud dengan ambtelijke decentralisatie. Sedangkan yang dimaksud dengan staatskundige decentralisatie merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan negara. hanya dengan istilah yang berbeda. sehingga dengan demikian. dalam Paradigma Baru Otonomi Daerah. Bandung. hlm.

Di dalam desentralisasi politik atau ketatanegaraan ini..Undang Nomor 32 Tahun 2004 adalah asas penyelenggaraan dalam pemerintahan daerah.W. 1979. Desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) ini dibagi lagi menjadi dua macam: a) desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie).38 Kedua pandangan ini membagi desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) menjadi dua macam. Bandung: Binacipta. rakyat dengan mempergunakan berbagai saluran tertentu (perwakilan) ikut serta di dalam pemerintahan. Hal ini berbeda dengan pendapat J. hlm. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus sesuatu atau beberapa kepentingan tertentu. menurut perkembangan sejarahnya di Indonesia. 40 Ibid.daerah otonom di dalam lingkungannya. b) desentralisasi fungsional (functionele decentralisatie). Seperti dikatakan C. yaitu: otonomi (autonomie) dan medebewind atau zelfbestuur. baik ditinjau dari perspektif akademik. dan dengan jalan menyelenggarakan kepentingan umum..16.40 Dengan demikian. adalah kurang tepat kalau dikatakan bahwa otonomi dan medebewind (tugas pembantuan) sebagaimana ditegaskan dalam Undang . seperti propinsi.badan tersebut dengan initiatifnya sendiri dapat mengurus rumah tangganya dengan jalan mengadakan peraturan . Dalam desentralisasi semacam ini rakyat tidak diikut sertakan. Kewajiban pemerintah dalam hubungan ini hanyalah memberikan pengesahan atas segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh golongan-golongan kepentingan tersebut. maupun dari tataran Koesoemahatmadja.kepentingan tertentu diselenggarakan oleh golongan . “Pengantar Ke Arah Sistem Pemerintahan Daerah di Indonesia”.39 Dengan diberikannya hak dan kekuasaan perundangan/ pengaturan dan pemerintahan kepada badan . zelfstandigheid.melancarkan pelaksanaan tugas pemerintahan. van der Pot bahwa autonomie betekent anders dan het woord zou doen vermoeden-regeling en bestuur van eigen zaken.badan otonom. 38 30 .peraturan daerah yang tidak boleh bertentangan dengan Undang . van het de Grondwet noemt. badan . 39 Ibid. hlm.Undang dasar atau perundang . otonomi itu selain berarti perundangan (wetgeving). Di dalam desentralisasi semacam ini dikehendaki agar kepentingan . Schrieke yang mengatakan bahwa autonomie adalah eigen meesterschap.14. dan bukan onafhankelijkheid. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan otonomi adalah asas penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah “misleading” dan dikhawatirkan akan menyesatkan.golongan yang bersangkutan sendiri. yaitu pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangga daerah masing masing (otonom). juga berarti pemerintahan (bestuur). eigen huishouding. desentralisasi ketatanegaraan (staatskundige decentralisatie) atau juga disebut “desentralisasi politik” (politieke decentralisatie) adalah pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan (regelende en bestuurende bevoegheid) kepada daerah . kotamadya dan seterusnya. Akan tetapi.J. Kedua.undangan lainnya yang tingkatnya lebih tinggi.15. Otonomi berarti pengundangan sendiri (zelfwetgeving). hlm.

“Pasang Surut Otonomi Daerah”.23.cara penyelesaian tugas tersebut. bahwa otonomi itu bermakna kebebasan atau kemandirian (zelfstandigheid) tetapi bukan kemerdekaan (onafhankelijkheid).daerah yang tingkatannya lebih atas oleh alat . hlm. Dengan perkataan lain. pemberian kepercayaan dan wewenang untuk memikirkan dan menetapkan sendiri cara . Kalau dikatakan. otonomi itu merupakan manifestasi atau perwujudan kewenangan yang diberikan (“toekennen”) oleh pemerintah pusat.operasional. “Het Staatsrecht der Zelfregelende Gemeenschappen” dalam Ateng Syafrudin. Akan tetapi. wewenang dan kewajiban untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat. maka di dalamnya terkandung dua aspek utama.wakil dari yang diperintah. 25 43 Koesoemahatmadja. Kebebasan yang terbatas atau kemandirian itu merupakan wujud pemberian kesempatan yang harus dipertanggungjawabkan. otonomi dapat diartikan sebagai kesempatan untuk menggunakan prakarsa sendiri atas segala macam nilai yang dikuasai untuk mengurus kepentingan umum (penduduk). bahwa “Jika ternyata ada daerah yang tidak menjalankan tugas bantuannya atau tidak begitu baik melakukan tugasnya. urusan .. Pertama. tidak beralih menjadi urusan rumah tangga daerah yang dimintakan bantuan. dalam melakukan bantuannya itu diserahkan sepenuhnya kepada daerah itu sendiri. sebagai sanksinya pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan hanya dapat menghentikan perbuatan dari daerah yang dimintakan bantuan. Kedua.tugas medebewind. pemberian tugas dan kewenangan untuk menyelesaikan suatu urusan. Istilah zelfbestuur adalah terjemahan dari selfgovernment yang di Inggris diartikan sebagai segala kegiatan pemerintahan di tiap bagian dari Inggris yang dilakukan oleh wakil .42 Kemudian mengenai medebewind atau zelfbestuur. 41 31 . Daerah otonom yang diminta bantuan itu tidak berada di bawah perintah dari dan tidak pula dapat diminta pertanggungjawaban oleh pemerintah pusat/ daerah yang lebih tinggi. hlm. otonomi adalah hak. hlm. 1983. sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi teritorial (territoriale decentralisatie) sebagai suatu sistem dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. untuk selanjutnya dipertimbangkan tentang pelaksanaan kepentingan atasan termaksud dengan jalan Logeman.urusan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah masih tetap merupakan urusan pusat cq daerah yang lebih atas.21.kepentingan dari pusat atau daerah . Di Belanda medebewind atau zelfbestuur diartikan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan . Bandung: Binacipta.alat perlengkapan daerah yang lebih bawah. Dalam menjalankan tugas .cit. Karena. op.41 Dengan demikian.43 Selanjutnya dikatakan. 42 Ibid. diartikan sebagai pemberian kemungkinan kepada pemerintah pusat/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih atas untuk minta bantuan kepada pemerintah daerah/ pemerintah daerah yang tingkatannya lebih rendah agar menyelenggarakan tugas atau urusan pemerintah pusat atau rumah tangga (daerah yang tingkatannya lebih atas) tersebut. bagaimana cara daerah otonom yang dimintakan bantuan itu.

di dalam konsep tugas pembantuan yang perlu disediakan oleh pemerintah pusat adalah hanya pembiayaan. walaupun suatu negara bangsa menganut asas desentralisasi. 47. melainkan merupakan rangkaian kesatuan dari suatu sistem yang lebih besar. bagaimana mencari keseimbangan diantara species tersebut.21-22 Syarif Hidayat dan Bhenyamin Hoessein. karena kalau itu rumusannya berarti “dekonsentrasi” bukan tugas pembantuan. Untuk Demokrasi dan Kemandirian Rakyat”. Dengan menyimak berbagai batasan dan pengertian desentralisasi seperti diuraikan diatas. karena dalam konsep itu pembiayaan. melainkan merupakan sub .27-28. Jakarta: Yayasan Pariba. Seperti ditegaskan dalam tulisan Syarif Hidayat (2001 : 27-28) bahwa secara prinsipal. disertai dengan pembiayaan.ordinasi. 44 45 32 .thesa” dari sentralisasi. sedangkan sentralisasi.sub sistem dalam kerangka sistem organisasi negara. Koswara. Padahal. namun tidak semua urusan kewenangan diserahkan kepada daerah otonom. Karenanya. Dengan perkataan lain.Undang Nomor 22 Tahun 1999 disebut dengan tugas pembantuan.. 46 E. melainkan ada bagian . maka dilancarkan ide desentralisasi dengan berbagai corak dan bentuknya. hlm. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. semuanya disediakan oleh pemerintah pusat. Pengertian tugas pembantuan versi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menurut pandangan saya adalah keliru. dengan tidak mengurangi hak pemerintah pusat/ daerah yang minta bantuan untuk menuntut kerugian dari daerah yang melalaikan kewajibannya.cit. karena yang ditugaskan berkewajiban untuk melaporkan dan mempertanggungjawabkannya. serta sumber daya manusia. op. seperti telah disinggung dimuka. bahwa desentralisasi bukan merupakan sistem yang berdiri sendiri. hlm.45 Padahal. desentralisasi. yaitu suatu penugasan dari pemerintah kepada daerah dan desa untuk melaksanakan tugas tertentu. suatu negara bangsa merupakan genusnya. “Otonomi Daerah. Jadi. 2001. saya dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar melihat karena kecendurungan sentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan negara. dapat dikatakan bahwa lahirnya ide desentralisasi merupakan sebuah “anti . sarana dan prasarana. menurut pandangan saya suatu negara bangsa menganut desentralisasi bukan merupakan alternatif dari sentralisasi.lain. Ibid..” 44 Berbeda dengan konsep medebewind menurut versi Indonesia yang menurut Undang . yaitu negara bangsa (nation state). karena antara desentralisasi dan sentralisasi tidak dilawankan dan karenanya tidak bersifat dikotomis.46 Karenanya pula. dekonsentrasi dan tugas pembantuan merupakan speciesnya. hlm. antara yang menugaskan (pemerintah pusat) dan yang ditugaskan ada hubungan sub . Masalahnya. sedangkan peralatan dan personil justru merupakan kewajiban pemerintah daerah dalam upaya membantu pelaksanaan tugas tertentu dari pemerintah pusat atau pem erintah daerah yang lebih tinggi tingkatannya. dengan kewajiban melaporkan pelaksanaannya dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskan.bagian urusan tertentu yang tetap dikelola secara sentral (terpusat).

peranserta dan oto . Respons juridis .. Yogyakarta: PT. pemerataan dan keadilan. 5. memberdayakan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. hlm. Konsep. Melihat perspektif Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.1. “Politik Pembangunan. memantapkan hubungan antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Kepala Daerah. Kedua. dan dilain pihak menekankan “nilai desentralisasi dan otonomi daerah” yang akan melahirkan nilai dan bentuk “sentrifugal”.keseimbangan” yang tepat dalam meletakkan bobot desentralisasi dan sentralisasi. Ketiga. setidaknya ada enam pemikiran dasar dalam pembentukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999: Pertama. serta memperhatikan heteroginitas daerah dan perbedaan setempat. dan pergeseran kedua nilai ini terus . Tiara Wacana.formal terhadap dilemma ini bervariasi dari waktu ke waktu. dalam rangka membangun prinsip keterpercayaan (akseptabilitas dan kredibilitas). Pemikiran dasar terbentuknya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. serta penyalur aspirasi masyarakat sebagai sarana pengembangan demokrasi. dan Strategi”. serta meletakkan hubungan kemitraan dan kesejajaran institutional antara Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dengan Kepala Daerah.politik pada suatu waktu47. sebagai upaya mewujudkan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraaan otonomi daerah dalam rangka penetapan kebijakan desentralisasi dengan memberikan keleluasaan kepada daerah untuk menjadikan “daerah otonom” yang mandiri dalam naungan sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. dengan tujuan untuk menciptakan kerjasama yang erat antara Moeljarto. Terjadi pergeseran antara “dua kutub nilai”.Sejarah ketatanegaraan Indonesia mencatat upaya yang terus-menerus mencari “titik .aktivitas masyarakat. 1987. sehingga akan mewujudkan nilai dan bentuk “sentripetal”. tergantung kepada konfigurasi . baik sebagai badan legislative daerah. Arah.menerus menjadi dilema. 5. yaitu “nilai pembangunan bangsa dan integritas nasional” disatu pihak yang menekankan pentingnya “sentralisasi”. Keempat. 47 33 . Sebuah Analisis. EVALUASI PELAKSANAAN UNDANG – UNDANG NOMOR 22 TAHUN 1999. dalam rangka menjalankan prinsi . pemberian keleluasaan yang pada hakekatnya diberikan kepada masyarakat daerah sebagai kesatuan masyarakat hukum.prinsip partisipasi dan transparansi. terutama dalam perwujudan akuntabilitas publik yang mendudukan Kepala Daerah bertanggung jawab kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. T. maupun sebagai badan pengawas atas pelaksanaan kebijakan daerah yang dijalankan oleh Kepala Daerah. dilaksanakan atas dasar prinsip-prinsip demokrasi.

fungsi pengawasan maupun fungsi anggaran atas penyelenggaraan Pemerintah Daerah. 4) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus sesuai dengan konstitusi negara.kedua institusi tersebut. seperti badan otorita. kawasan pelabuhan. untuk mendudukan kembali posisi “Desa” atau dengan nama lain. kawasan pertambangan. kawasan perkebunan. 9) Pelaksanaan asas tugas pembantuan dimungkinkan. pemerataan serta potensi dan keanekaragaman Daerah. Sejalan dengan dasar pemikiran tersebut diatas. sedang Otonomi Daerah Propinsi merupakan otonomi yang terbatas. 2) Pelaksanaan Otonomi Daerah didasarkan pada otonomi yang luas. kawasan perumahan. menjaga dan memelihara stabilitas pemerintahan untuk kepentingan dan kesejahteraan rakyat. kawasan pariwisata dan semacamnya. 7) Pelaksanaan otonomi daerah harus lebih meningkatkan peranan dan fungsi badan legislative daerah. yang memiliki hak asal . tetapi juga dari Pemerintah dan Daerah kepada Desa dengan disertai pembiayaan. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 semangatnya mengandung prinsip-prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah sebagai berikut: 1) Penyelenggaraan Otonomi Daerah dilaksanakan dengan memperhatikan aspek demokrasi. baik sebagai fungsi legislasi. kawasan kehutanan. sehingga asas dekonsentrasi dalam lingkungan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak dianut lagi. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia. yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia. yang mau tidak mau pengaruhnya akan sangat dirasakan oleh daerah . sebagai kesatuan masyarakat hukum terrendah. Kelima.usul dan otonomi asli. berlaku ketentuan Peraturan Daerah Otonom. untuk mengantisipasi perkembangan keadaan. 8) Pelaksanaan asas dekonsentrasi diletakkan pada Daerah Provinsi dalam kedudukannya sebagai Wilayah Administrasi untuk melaksanakan kewenangan pemerintahan tertentu yang dilimpahkan kepada Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. tidak hanya dari Pemerintah kepada Daerah.prinsip Good Governance. nyata dan bertanggung jawab. baik di dalam negeri. Dari keenam pemikiran dasar tersebut secara signifikan dan potensial telah tertampung dijalankannya prinsip . serta antar -Daerah. sehingga tetap terjamin hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah.daerah. kawasaan industri. maupun tantangan persaingan global. kawasan perkotaan baru. keadilan. dengan 34 . 6) Pada kawasan-kawasan khusus yang dibina oleh Pemerintah atau pihak lain. Keenam. 3) Pelaksanaan Otonomi Daerah yang luas dan utuh diletakkan pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. dan karenanya dalam Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada lagi Wilayah Administrasi. 5) Pelaksanaan Otonomi Daerah harus lebih meningkatkan kemandirian Daerah Otonom.

pasal Undang . dan dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah Pusat yang berperan untuk menjaga keseimbangan dan memelihara hubungan yang serasi antara Pusat dan Daerah dalam kerangka NKRI. hendaknya dijaga benar .rambu dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam pada itu. Dalam hubungan ini.ordinasi dari Pemerintahan nasional. terutama bagi Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini lebih condong menganut kepada “The Local Democratic Model”. memberikan pengendalian. maupun dalam implementasinya tidak menimbulkan interpretasi yang berbeda . perlu ditekankan bahwa dengan mendudukkan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah menurut Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. bimbingan dan fasilitasi kepada daerah kabupaten/ kota yang berada dalam wilayah administrasi provinsi yang bersangkutan. pembinaan dan pengawasan pemerintah pusat. self-determination. melainkan keleluasaan otonomi yang diberikan kepada Daerah ini. (dalam pengertian independent. terlepas dan bebas dari supervisi. namun posisi kemandirian daerah otonom seperti itu tidak berarti bahwa Daerah-daerah itu akan berkotak . Walaupun kebijakan desentralisasi yang tertuang dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 ini telah melahirkan pemberian otonomi yang luas.prinsip dasar penyelenggaraan otonomi daerah tersebut di atas.benar agar gerakan pergeseran pendulum tersebut. dan karenanya harus terjamin bahwa pelaksanaan otonomi daerah itu tidak keluar dari rambu . nyata dan bertanggung jawab.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tersebut.aspek demokrasi. baik dalam memahami pasal . perbedaan setempat dan keanekaragaman daerah (“democratic. Oleh karena itu.kotak. yang pada dasarnya untuk terwujudnya kemandirian daerah. onafhankelijkheid. model ini lebih menekankan kepada aspek . demikian pula sikap dan perilaku birokrasi pusat yang enggan untuk bergeser dari paradigma lama dalam memperlakukan pembagian 35 .sistem dan sub .beda dan mengarah kepada sikap dan tindakan yang akan membahayakan kesatuan dan persatuan bangsa. tetap merupakan sub .lebihan dan kurang proporsional dari Daerah. Dari prinsip . yang ditinjau dari segi tujuannya atau valuesnya. Salah satu konstruksi untuk menjaga dan menjamin penyelenggaraan otonomi daerah yang demikian itu. kemerdekaan atau ketidak tergantungan). sikap emosional dan tuntutan yang berlebih . pengendalian.kewajiban melaporkan pelaksanaan dan mempertanggungjawabkan kepada yang menugaskannya. bukan berarti kembali kepada paradigma lama seperti dalam Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 dimana Gubernur berperan kuat sebagai “interventionist”. adalah dengan mendjadikan daerah Provinsi sekaligus sebagai Wilayah Administrasi. Jadi. dapat disimpulkan bahwa ada “keinginan politik” (“political will”) yang kuat dari Pemerintah Pusat untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah yang semula sangat sentralistik dan bercorak “centripetal” menjadi desentralistik yang bersifat “centrifugal”. local differences and system diversity). berbeda dengan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 yang lebih cendurung menganut “The Structural Efficiency Model”.

maupun psikologis serta sosio . dan terakhir Keempat. Dengan melihat hasil evaluasi seperti itu.benturan baik yuridis. sebab kalau tidak. Tahapan stabilisasi.Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak serta merta berjalan mulus seperti yang diharapkan. 5. yang justru dimaksudkan untuk memperkuat integrasi. hal tersebut bukan saja akan mengaburkan makna persatuan dan kesatuan bangsa. melainkan pula akan mengaburkan makna pemberian otonomi yang luas. maka pelaksanaan otonomi daerah secara formal menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dimulai Januari 2001. yang diproyeksikan tahun 2004–2007. Realisasi Undang . walaupun secara teoritis pada dasarnya implementasi otonomi daerah seharusnya sudah dapat berlangsung di 36 . sehingga secara efektif pelaksanaan otonomi daerah menurut semangat Undang Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 akan dimulai pada Mei 2001. sebaiknya sejauh mungkin dieliminir. yaitu mulai Januari sampai Desember. Tahapan inisisasi yang dilakukan selama tahun 2001.kultural yang menghambat jalannya pelaksanaan otonomi daerah. pengembangan demokrasi. persatuan dan kesatuan bangsa. ketiga. yaitu: Pertama. melainkan terdapat benturan . Ini prinsip transparansi yang harus dijaga benar dalam penyelenggaraaan pemerintahan daerah. Tahapan konsolidasi. Pelaksanaan kebijakan desentralisasi berdasarkan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah berlangsung sejak Januari 2001 dengan tahapan-tahapan yang prosesnya sudah ditetapkan secara makro. bahkan menurut perspektif Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 sebagai pengganti Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diupayakan untuk mewujudkan peningkatan “daya saing daerah”. politik. Tahapan instalasi. mengingat kebijakan tentang tahun fiskal yang baru. dimana setelah tahun 2007 diharapkan lay-out atau bentangan daerah otonom secara lebih nyata dapat dilihat di seluruh wilayah daerah otonom di Indonesia. pemerataan dan keadilan. agar tidak menyimpang dari upaya mewujudkan Good Governance.kewenangan pusat kepada daerah. yang diproyeksikan akan berlangsung dalam tahun 2002-2003. Kedua. Namun. nyata dan bertanggungjawab. Amanat UU 22/1999 menyebutkan bahwa selama dua tahun diproyeksikan persiapan segala peraturan perundangan organik Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.2. Realisasi Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. yang pada akhirnya ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan rakyat.

Ketentuan yang menyatakan tidak adanya hubungan hierarki48 antara Propinsi dan Kabupaten/Kota.macam. 48 37 . sesuai kehendaknya masing . karena ketidak tegasan meletakkan fungsi dan kewenangan Gubernur dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. “Teori Pemerintahan Daerah. Koswara. 1998. hlm. Demikian pula. menambah rumitnya hubungan kewenangan antara pusat dan daerah. dapat ditafsirkan bahwa semua kewenangan pemerintahan diluar yang dikecualikan. “The Dangers of Decentralizartion”. Jakarta. atau sebagai ruang yang potensial untuk mengadakan kolusi antara DPRD dengan Kepala Daerah. namun dalam praktiknya. tanpa melihat sifat dan coraknya serta ruang lingkup urusan pemerintahan di Daerah. (2) (3) (4) (5) Persoalan tersebut muncul. Belum sinkronnya peraturan perundang . Inilah salah satu alasan yang menjadi kritikan Remy Proud’homme (1998: 2)49 yang antara lain menyatakan bahwa memberikan desentralisasi yang luas kepada daerah “ can increase disparities”. karena Laporan Pertanggungjawaban Akhir Tahun Angggaran hanya dilihat semata .mata sebagai wahana untuk menjatuhkan Kepala Daerah. Kedudukan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kurang berfungsi. 202. Hubungan DPRD dengan Kepala Daerah yang sering menimbulkan ketegangan. dan Departemen . dan 218. IIP Press.undangan Sektoral yang belum disesuaikan dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. 4 tahun berjalan dalam praktik memunculkan hubungan yang kurang harmonis antara Gubernur dan Bupati/Walikota di beberapa kasus tertentu. jeopardize stability and might be accompanied by more corruption. tanpa ada sosialisasi Dalam UU yang baru (UU 32/2004) ketentuan mengenai “tidak adanya hubungan hierarkhis” sudah dihapus. dimana Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak secara tegas mengatur kewenangan Propinsi dan Kabupaten/ Kota. dalam E. masih timbul persoalan .tingkat pemerintahan.departemen Sektoral.l. disamping karena penafsiran terhadap pasal-pasal Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 tersebut diartikan secara “letterlijk” dan dengan berbagai persepsi yang bermacam . 208. disamping menyebutkan bahwa decentralization can undermine efficiency. baik dalam rangka dekonsentrasi. hampir selama k.masing. dipandang sepenuhnya menjadi kewenangan daerah. antara lain: (1) Menyangkut pengaturan prinsip-prinsip dasar dan distribusi kewenangan diantara tingkat . 2003. 49 Remy Prud’homme.persoalan yang mengemuka di lapangan.daerah. juga karena Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 diluncurkan dan diberlakukan begitu saja. maupun selaku Wakil Pemerintah. dengan diletakannya otonomi daerah pada Daerah Kabupaten/ Kota dan diberikan otonomi yang luas sebagaimana dinyatakan dalam pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

Walaupun Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 menyatakan secara eksplisit bahwa Daerah Propinsi berkedudukan juga sebagai Wilayah Administrasi. Lazimnya “daerah administrasi” yang menganut “Split model” yang dikepalai oleh seorang Kepala Wilayah.lines dan rambu . melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku wakil pemerintah (dalam konteks “Integrated Perfectoral System”). walaupun hanya terbatas kepada 3 (tiga) hal sebagai berikut: (a) Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/ kota. 38 .Undang. sehingga PP tersebut merupakan “umbrella” yang memuat guide . maupun dan terutama dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah dalam kaitannya dengan pelaksanaan asas dekonsentrasi tidak jelas dan tidak secara eksplisit menggambarkan lingkup dekonsentrasi di Propinsi.dan diseminasi terlebih dahulu. (6) Isu lain yang menonjol adalah menyangkut kedudukan dan peran Gubernur. baik dalam hal menafsirkan sesuatu pasal maupun rambu . Sebab.daerah itu bersifat autonom (Streek en locale rechtsgemeenschappen) atau bersifat administrative belaka. Dalam kedudukan sebagai “Wakil Pemerintah” menurut Undang . bahwa Daerah . baik sebagai Kepala Daerah Otonom Propinsi. meskipun dalam penjelasannya disebutkan “cukup jelas”.Departemen (LPND) yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral/ Teknis. baik bagi perangkat pemerintah daerah maupun bagi perangkat pemerintah pusat. banyak penjelasan Pasal . (7) Demikian pula kewenangan dekonsentrasi bagi instansi vertikal tidak dengan tegas dinyatakan bahwa instansi vertikal adalah perangkat Departemen dan/atau Lembaga Pemerintah Non .Undang Dasar 1945. Padahal Presiden menurut UUD (Pasal 5. tugas dan wewenang Gubernur lebih tegas. namun tidak jelas apakah dengan demikian kedudukan Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah. (b) Koordinasi penyelenggaraan urusan Pemerintah di daerah provinsi dan kabupaten/ kota.pasal dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang tidak jelas. penjelasan Pasal 18 (lama). tanpa ada guide . Di dalam UUD 1945. yaitu Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. ayat 2) mempunyai kewenangan untuk mengeluarkan PP tentang mulai diberlakukannya suatu Undang .Undang yang baru. dan tidak hanya berkoordinasi dengan Gubernur.rambu yang mestinya jadi acuan bagi pelaksanaan UU tersebut.lines sebagai acuan. sebelum peraturan pelaksananaan (peraturan organik) dikeluarkan.rambu bagi pelaksanaan secara operasional di lapangan. dekonsentrasi fungsional) di wilayah dalam yurisdiksi tertentu sebagai “lingkungan kerjanya”. atau dalam kedudukan selaku Wakil Pemerintah apakah Gubernur juga sebagai Kepala Wilayah? Dalam penjelasan Pasal 2 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 hanya menyatakan bahwa yang dimaksud dengan Wilayah Administrasi adalah “daerah administrasi” menurut Undang .

tugas tersebut dipertanggungjawabkan kepada DPRD. dan pemersatu bangsa. sebab kalau kewenangan pemerintah pusat dilaksanakan oleh perangkat daerah otonom adalah tugas pembantuan. benar . yang pada gilirannya fungsi dan peranan Gubernur yang diharapkan akan menjadi koordinator. dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak tercantum lagi. terutama menyangkut “Tata Cara Pelimpahan Wewenang dan Penyelenggaraan Kewenangan”. Dalam hubungan dengan penyelenggaraan dekonsentrasi. yang selanjutnya pelaksanaan tugas . agar Daerah mampu menjalankan otonominya secara optimal. melakukan supervisi dan memfasilitasi.benar secara operasional dapat diselenggarakan secara baik. sehingga akan timbul tumpang . ketentuan Pasal 4 ayat (2) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 yang menyatakan bahwa daerah-daerah Provinsi. dengan tidak adanya (c) 39 .dinas daerah propinsi. penyeimbang. meskipun PP 39/2001 tentang penyelenggaraan dekonsentrasi merupakan tindak lanjut dan peraturan organik dari Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. dan bukan dekonsentrasi.tugas “dekonsentrasi” sebagaimana termaksud dalam Pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan PP 39 Tahun 2003 sama sekali tidak disinggung lagi dalam Undang – Undang yang baru (Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004).mudahan peraturan pelaksanaan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 nanti. dinas . Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 12. Menyangkut penyelenggaraan dekonsentrasi. Mudah . Demikian pula. terutama Pasal 8 ayat (2).jawabkan oleh Gubernur sebagai Wakil Pemerintah kepada Presiden.dinas daerah propinsi berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur selaku Kepala Daerah Otonom Propinsi. sehinga penyelenggaraan manajemen pemerintahan di daerah akan lebih efektif dan efisien. yang ternyata membawa dampak politis . misalnya saja disebutkan bahwa pelimpahan sebagian kewenangan kepada Gubernur “mesti ditetapkan dengan Keputusan Presiden”. mengawasi.sini masih menimbulkan kerancuan untuk dapat secara otomatis dijalankan oleh Gubernur selaku Wakil Pemerintah. yang semestinya melekat pada Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Sebagai Wakil Pemerintah di Daerah dalam konteks “Integrated Prefectoral System”.tindih pertanggungjawaban kepada Presiden dan DPRD. Kabupaten dan Kota masingmasing berdiri sendiri dan tidak mempunyai hubungan hierarkhi satu sama lain. menurut pasal 63 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 pelaksanaannya dilakukan oleh dinas . namun disana . Gubernur memang seharusnya mempunyai kewenangan untuk mengkoordinasikan. Tugas .kelamahan yang terdapat dalam Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. penyelaras. Ketentuan itu tidak tepat dan menimbulkan masalah serta bertentangan dengan konsep dekonsentrasi itu sendiri.tugas dekonsentrasi tidak dipertanggungjawabkan kepada DPRD. sedangkan tugas .Koordinasi pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan tugas pembantuan di daerah provinsi dan kabupaten/ kota. Sebab. Dalam pada itu.psikologis yang tidak menguntungkan menyangkut hubungan antara Gubernur dan Bupati/ Walikota. akan mengadakan penyesuaian terhadap kelemah . melainkan dipertanggung .

(6) Keputusan MPR No. DPR. IV/MPR/1999. (4) Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. 18.belakangi mengapa Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 perlu dirubah atau diganti. 5. melainkan juga akan merapuhkan persatuan dan kesatuan bangsa dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. (2). Kolusi. yaitu: (1) Ketetapan MPR No.undangan yang lebih tinggi. 20. terutama dalam menjalankan “Tutelage Power”. dan Nepotisme.pasal 1. (6) Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang . kepentingan nasional ataupun peraturan perundang . XV?MPR/1988. diantaranya: (1) Undang – Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi. 22D. (3) Ketetapan MPR No. (3) Perlunya penyerasian dan penyelarasan dengan Undang . diantaranya adalah sebagai berikut: a. DPD dan DPRD. (1) UUD 1945 telah diamandemen. 31 ayat (1). Dengan melihat hasil evaluasi terhadap Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan pelaksanaannya telah mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Dari perspektif perundang-undangan. (3) Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. Instrumen. terutama pasal-pasal yang terkait langsung dengan Sistem Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah.undangan. 23E ayat 24 ayat (1). I/MPR/2003. 21. Beberapa pertimbangan perlunya perubahan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.ketegasan pengaturan mengenai tugas dan kewenangan Gubernur sebagai Wakil Pemerintah. terutama menyangkut perundang .prinsip manajemen pemerintahan yang efektif. yang erat kaitannya dengan penyelenggaraan sistem pemerintahan daerah. maka dikhawatirkan akan menimbulkan permasalahan yang kompleks dalam kaitan dengan mensinergikan kepentingan antar tingkat pemerintahan sebagai suatu kesatuan sistem dalam Negara Kesatuan RI. yang pada gilirannya bukan saja akan mengganggu penyelenggaraan prinsip .3. (4) Ketetapan MPR No. yaitu: Pasal . 33 dan 34. maupun Inplementasi. yaitu menjalankan kewenangan Pusat untuk menjaga dan memelihara agar kebijakan dan jalannya penyelenggaraan pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota tidak menyimpang dan tidak bertentangan dengan kepentingan umum. (2) Ketetapan MPR No. (5) Undang – Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara. 18B. Adapun beberapa pertimbangan yang melatar . 5. (5) Ketetapan MPR No. 5/MPR/2003. (7) 40 . (2) Undang – Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. baik ditinjau dari perspektif Konsep. VI/MPR?2002. Beberapa Ketetapan MPR yang berkaitan dengan pemerintahan daerah. 18A.undangan normatif.undang lainnya. IV/MPR/2000.

Undang – Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara. b. • Belum harmonisnya berbagai peraturan perundang . Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 memberi kuasa kepada pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi tanpa diberikan rambu . • Penyusunan peraturan perundang . Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 telah memberi kuasa kepada Pemerintah untuk mengatur tindak lanjut kebijakan desentralisasi. Penyusunan pengaturan perundang . sehingga sering menimbulkan konflik dan penafsiran yang berbeda. ovelapping.undangan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya.undnagan sebagai tindak lanjut penyesuaian dengan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 belum dapat dilakukan sepenuhnya.  Dari perspektif Instrumen. namun tanpa diberikan rambu .rambu yang jelas. sehingga banyak daerah mengambil prakarsa sendiri dalam membuat peraturan daerah dengan wewenang yang diberikan TAP MPR No. Dari perspektif Implementasi. Sistem pengelolaan kepegawaian yang didasarkan kepada separated system menimbulkan ekses . c. baik yang diterbitkan pemerintah maupun daerah.ekses 41 . sehingga daerah berprakarsa membuat pengaturan sendiri dengan wewenang yang diberikan Tap MPR IV/2000. Dari perspektif Konsep. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong otonomi daerah.undangan. baik yang diterbitkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. d. sehingga sering menimbulkan penafsiran yang berbeda. Karena pemberian otonomi yang luas yang tidak terkendali. sehingga terjadi pembengkakan struktur yang tidak effisien. (8) Undang – Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional. pembentukan lembaga pemerintahan daerah sering kurang memperhatikan atau kurang berorientasi kepada peningkatan pelayanan masyarakat. Dalam pada itu. Dalam pengelolaan kewenangan sering memunculkan friksi. redundent dan conflict of interest antar tingkat pemerintahan. belum sinkronnya berbagai peraturan perundang undangan.rambu. sehingga menimbulkan peluang munculnya kebijakan yang tidak mendorong terselenggaranya otonomi daerah secara transparan atau terdapat peraturan organik yang menyimpang dari esensi UU pokoknya. sehingga cendurung mengurangi dan mengganggu pelayanan umum. IV/2000.

adalah juga yang mendorong perlunya penyempurnaan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999. Kerjasama antara DPRD dan Kepala Daerah yang mestinya diarahkan untuk kepentingan kesejahteraan rakyat. akibat belum memadainya pedoman yang diperlukan dan adanya berbagai perundang . Pengaruh Lingkungan strategis. perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat merupakan tantangan untuk menyesuaikan sistem dan prosedur manajemen pemerintahan daerah. atau bahkan sering dijadikan ajang “politik uang” dalam penerimaan atau penolakan LPJ tersebut.sejajaran antara DPRD dan Kepala Daerah. karena dalam prakteknya DPRD sering mendominasi Kepala Daerah. Demikian pula. yang menjadi pertimbangan lainnya adalah pengaruh lingkungan strategis. memerlukan landasan peran serta dan mekanisme penyaluran aspirasi masyarakat. Paradigma baru pembagian urusan pemerintahan 42 . secara operasional kurang berjalan dengan baik. 5. dalam praktek sering dijadikan sebagai praktek “kolusi” atau pertentangan kepentingan yang berlarut . seperti globalisasi ekonomi dan perdagangan bebas menuntut efisiensi dan daya saing masyarakat.larut yang sudah barang tentu akan menimbulkan “ketidak stabilan” dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. Pertimbangan lain. hubungan kemitra .ethnosentrisme dan terbatasnya mobilitas pegawai dalam pengembangan karier. f. Dalam pada itu. sehingga memerlukan arahan yang jelas sebagai kebijakan pemerintah yang perlu dituangkan dalam undang undang. misalnya peletakan dasar sistem informasi manajemen dalam segala bidang. serta perlunya kepastian hukum terhadap persamaan kedudukan seluruh warga negara. bahwa perkembangan tuntutan demokratisasi dan Hak Azasi Manusia (HAM) yang semakin menonjol dalam berbagai aspek kehidupan. bangsa dan negara yang lebih tinggi. e.4. Demokratisasi dan Hak Asasi Manusia. penetapan APBD lebih banyak berorientasi kepada menutup untuk keperluan aparat daerah dan DPRD daripada untuk keperluan pelayanan publik.undangan sektoral yang belum disesuaikan. Disamping itu. Timbulnya kebijakan sektoral di daerah yang tidak sejalan dengan semangat otonomi daerah. yang pada gilirannya membawa dampak penurunan terhadap pelayanan masyarakat. misalnya dalam Laporan Pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD sering dipergunakan sebagai ajang politik untuk menjatuhkan Kepala Daerah dan bukan untuk menilai performance Kepala Daerah menurut ukuran Renstra. sebagai tindak lanjut Pasal 112 dan 133 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999.

dan ada pula bagian urusan yang diserahkan kepada kabupaten/ kota. Ketiga: Efisiensi. dan apabila nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. maupun sarana. adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan tersedianya sumber daya. sebab baik Daerah Provinsi maupun Daerah Kabupaten/ Kota mempunyai kedudukan yang sama sebagai Daerah Otonom. dimana dalam strata pemerintahan daerah. Mengenai strategi hubungan kekuasaan antara pusat dan daerah. daerah kabupaten/ kota.1. maka akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut kepada masyarakat akan lebih terjamin. didasarkan kepada 4 (empat) kriteria yang meliputi: Pertama: Eksternalitas. untuk mendapatkan ketepatan. karena paradigma yang dianutnya adalah konsep “pembagian urusan pemerintahan” yang bersifat “concurrent”. baik personil. pemerintah daerah provinsi. dan kecepatan hasil yang harus dicapai dalam penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan tersebut. adalah suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tiangkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/ dekat dari urusan yang ditangani tersebut. Kedua: Akuntabilitas. Dengan demikian. artinya urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama disemua tingkat pemerintahan. Artinya. kabupaten/ kota merupakan pemerintahan daerah yang paling dekat kepada masyarakat. maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/ kota.5. sedangkan dalam Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tidak dengan tegas menyatakan tentang letak atau titik . apabila dampaknya regional menjadi kewenangan provinsi. baik yang menyangkut “urusan wajib” maupun “urusan pilihan”.Peletakkan Otonomi Daerah dan pembagian urusan yang bersifat Concurrent. apabila suatu bagian 43 . Apabila dampak yang ditimbulkan itu bersifat lokal. ada bagian urusan yang diserahkan kepada provinsi. Pembagian urusan yang bersifat “Concurrent”.berat otonomi itu diletakkan. Dengan demikian setiap urusan yang bersifat concurrent senantiasa ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.4. yaitu suatu pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan mempertimbangkan dampak/ akibat yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. dilaksanakan bersama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Kenapa letak otonomi tidak dinyatakan dengan tegas. kalau Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan tegas menyatakan bahwa letak otonomi adalah pada Daerah Kabupaten/Kota dalam memfungsikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk mewujudkan pembagian kewenangan yang bersifat concurrent tersebut secara proporsional antara pemerintah pusat.

undang pembentukannya. kecendurungan terjadi sharing ratio dalam pembagian kewenangan yang sering membias keatas. tidak termasuk kepada urusan rumah tangga daerah. dan daerah kabupaten/ kota mempunyai kewenangan urusan yang sama. saling tergantung (inter . Sebaliknya. Sebenarnya. maupun pada penyerahan . hanya sifat dan gradasi yang berbeda yang ditentukan oleh 4 (empat) kriteria tersebut diatas. Dalam kaitan dengan ajaran “ de drie kringenleer” ini.50 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 memperinci secara tegas “urusan wajib” yang menjadi kewenangan daerah. Disamping itu. perumus Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 cendurung menggunakan teori atau ajaran dari negeri Belanda yang sering disebut “de drie kringenleer” . maka bagian urusan tersebut diserahkan kepada daerah Provinsi dan/ atau Kabupaten/ Kota. op. dan saling mendukung secara sinergis sebagai satu kesatuan sistem yang menyeluruh. akan sangat dipengaruhi oleh potensi sumber daya dari sebagian urusan yang akan diserahkan itu. Jadi apa yang tidak tercantum dalam rincian itu. daerah provinsi. pada masa Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1974 kita menggunakan ajaran ‘Rumah Tangga Materiil” (Materiele Huishoudingsleer). Keserasian hubungan. Sadar atau tidak. apabila suatu bagian urusan tertentu akan lebih berdayaguna dan berhasilguna bila ditangani oleh pemerintah pusat. disamping adanya kewenangan “pilihan” (option) yang didasarkan kepada konsep concurrent tadi.penyerahan selanjutnya. Kewenangan setiap daerah meliputi tugas tugas yang ditentukan satu per satu secara nominatif.masing lingkungan kekuasaan bersikap dan bertindak jurisdiksi . demikian pula kevaccuman pemerintahan sering terjadi karena ada kecendurungan masing . sehingga terjadi model piramid terbalik. karena mengandung beberapa kelemahan.cit. Dalam ajaran ini ada yang disebut “taak verdeling” antara pusat dan daerah. dengan perkataan lain daerah yang berszangkutan tidak mempunyai kewenangan untuk mengatur dan mengurus kegiatan di luar yang sudah diperinci atau yang secara a priori telah ditetapkan. maka bagian urusan tersebut tetap ditangani oleh pemerintah pusat. adalah bahwa pengelolaan bagian urusan pemerintahan yang dikerjakan oleh tingkat pemerintahan yang berbeda. kejumbuhan (overlapping) sulit untuk dihindarkan. dan kurang memberikan E. hlm 73-74 Sikap dan tindakan Jurisdiksi-positif dan/atau Jurisdiksi-negatif.positive dan jurisdiksi negatif51. yaitu antara pemerintah pusat. antara lain sering terjadi duplikasi. yaitu suatu sistem dalam penyerahan kewenangan dalam rangka otonomi daerah. baik di dalam undang .. Keempat.dependent).urusan dalam penanganannya dipastikan akan lebih berdayaguna dan berhasilguna dilaksanakan oleh daerah Provinsi dan/ atau Daerah Kabupaten/ Kota dibandingkan apabila ditangani oleh pemerintah pusat. yaitu ajaran tentang pembagian urusan kewenangan dalam 3 lingkungan kekuasaan. Koswara. 50 51 44 . dimana antara pemerintah pusat dan daerah terdapat pembagian tugas yang diperinci secara tegas. bersifat saling berhubungaan (interconnection). di Negeri Belanda sendiri teori ini sudah tidak dipakai lagi.

keleluasaan (descretion) kepada daerah untuk berinisiatif dan berinovasi. baik aparatur maupun masyarakatnya tergolong kepada kaum menengah. Demikian pula. Walaupun pengembangan paradigma baru yang dituangkan ke dalam Undang Undang Nomor 32 Tahun 2004 berasal dari ide Ketetapan MPR .Undang Nomor 5 Tahun 1974 maupun dalam Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tidak dipergunakan lagi. karena pada umumnya mereka sudah established.pasal 18.Undang Nomor 5 Tahun 1974. sedangkan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. terutama mengenai apa yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat dan penyesuaian terhadap Pasal 18 UUD 1945 setelah amandemen kedua. 18A dan 18B yang meliputi 11 (sebelas) ayat. Penggunaan istilah “otonomi seluas . Dalam prakteknya konsep ini sulit dioperasionalkan. Pasal 18A ayat (1) hanya menyatakan bahwa “Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan 45 . setidak . dimana teori ini dapat digunakan secara efektif. dan kabupaten/ kota. Dengan demikian.soal yang masuk lingkungan pemerintah pusat. karena faktor pendidikan dan rasionalitas SDM aparatur pemerintah daerah di Indonesia yang relatif masih rendah. misalnya Pasal 18 ayat (5) hanya menyatakan bahwa “Pemerintah Daerah menjalankan otonomi seluas . namun tidak ada satu ayatpun yang secara ekplisit mengatur tentang pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah. Kalau yang dimaksud dengan pemberian otonomi bertingkat terhadap Daerah Propinsi.luasnya. yaitu Pasal . maupun operasional. ajaran ini tidak mendorong daerah untuk berprakarsa dan mengembangkan potensi wilayahnya diluar urusan yang tercantum dalam undang undang pembentukannya. politik. Kabupaten dan Kota sama dengan system penyerahan kewenangan otonomi proporsional bertingkat berarti kembali kepada paradigma lama sebagaimana dianut dalam Undang .negara maju lainnya akan sangat berbeda. meskipun Pasal 18 UUD 1945 diperluas menjadi tiga Pasal. Namun. Kalau dibandingkan dengan negeri Belanda dan Inggris atau di negara . kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang . karena berdasarkan pengalaman istilah tersebut ternyata dapat menimbulkan kecendurungan pemikiran yang dapat membahayakan keutuhan Negara Kesatuan dan tidak serasi dengan maksud dan tujuan pemberian otonomi kepada Daerah.Undang Nomor 18 Tahun 1965.undang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat” . kecuali kalau ditetapkan secara pasti (clear cut) mana soal . dimana istilah itu baik dalam Undang . Tap MPR di atas dapat dikatakan sebagai upaya politik untuk menggeser pendulum pembagian kekuasaan antara Pusat dan Daerah pada “titik keseimbangan” (equilibrium).tidaknya terdapat tiga persoalan yang prinsip. baik secara akademik. yaitu: Pertama. juridis. namun Ketetapan MPR itu sendiri perlu dikaji. baik dari segi pendidikan maupun dari strata sosialnya. provinsi.RI Nomor IV/MPRRI/2000 Tentang Rekomendasi Kebijakan Dalam Penyelenggaraan Otonomi Daerah. perlu adanya klarifikasi terhadap TAP MPR tersebut.luasnya” berarti kembali kepada paradigma Undang . terutama keseimbangan antara kekuasaan Pemerintah Pusat dengan kekuasaan Pemerintah Daerah disemua tingkat pemerintahan.

yang berbunyi sebagai berikut: Pasal 1 ayat (1) : “Negara Indonesia ialah Negara Kesatuan yang berbentuk Republik.” 5. ayat (1) yang dibagi adalah “Negara Kesatuan Republik Indonesia”.2. kabupaten dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah. karena saya tetap berpegang kepada Pasal 1 ayat (1) yang dalam Perubahan Pertama UUD 1945. Namun Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 lama dinyatakan tidak berlaku lagi.tiap provinsi. karena semangatnya sudah ditampung dalam berbagai perubahan/tambahan Pasal dalam UUD 1945 yang baru. Politik luar negeri. baik dalam tataran konsep akademik. Kedua. Undang . Ketiga. tidak diadakan perubahan. yang diatur dengan undang undang”. “Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah . karena tidak lazim dipakai. kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang . Pasal 10 ayat (3) menegaskan bahwa yang menjadi urusan Pemerintah yang dikecualikan tersebut adalah: a.undang ditentukan menjadi urusan pemerintah pusat. 46 .undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah”. karena secara eksplisit menyatakan “NKRI dibagi”.daerah provinsi.4. saya tidak berpretensi untuk menganggap bahwa Perubahan Kedua UUD 1945 yang menyangkut Pasal 18 ayat (1) sebagai Pasal yang bernuansa “Federasi”. daerah kabupaten. kabupaten dan kota. Walaupun demikian. yang tiap . maupun dalam tataran operasional. Pasal 18 ayat (2) hanya menyatakan bahwa “Pemerintahan daerah provinsi. sehingga ketiga persoalan diatas bisa diklarifikasikan (clarified) dengan baik. Ada sementara anggapan orang bahwa Pasal 18 baru ayat (1) ini bernuansa “Federasi”. Pasal 18 baru UUD 1945 tidak menganut lagi asas dekonsentrasi dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan di daerah. menyangkut Pembagian Daerah.Undang Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan bahwa Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Penekanan terhadap terminologi “asas otonomi” dikhawatirkan akan menimbulkan “misleading” dalam penafsiran.pemerintahan daerah provinsi. karena dalam Pasal 18 baru. karena otonomi bukan asas melainkan “hak. dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan”. dan daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota. kecuali apabila Penjelasan Pasal 18 lama. disamping asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan. atau antara provinsi dan kabupaten dan kota. diatur dengan undang . wewenang dan kewajiban” untuk mengatur dan mengurus sendiri pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat yang diserahkan oleh pemerintah pusat kepada daerah. Dalam perubahan kedua UUD 1945 tidak lagi mengenal “Pembagian Daerah” seperti halnya dalam Pasal 18 lama.Asas penyelenggaraan pemerintahan. yang bunyi selengkapnya adalah sebagai berikut. tetap berlaku sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari batang tubuh UUD 1945.

Undang Nomor 32 Tahun 2004. menugaskan sebagian urusan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa berdasarkan asas tugas pembantuan. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 agak rancuh mengaturnya. b. mestinya sebagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) tersebut dimungkinkan untuk diserahkan kepada daerah melalui asas “desentralisasi”.b. karena otonomi dan tugas pembantuan bukan asas. mestinya diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi. d.undangan di bawahnya ikut keliru. dan dekonsentrasi.asas desentralisasi. c. karena dalam UU tsb asas penyelenggaraan pemerintahan diatur dengan menetapkan bahwa antara penyelenggaraan pemerintahan di Pusat dan di Daerah berbeda. tidak hanya melalui “tugas pembantuan”. tetapi kalau itu merupakan kekeliruan.32/2004. sedang penyelenggaraan pemerintahan di daerah menggunakan asas otonomi dan tugas pembantuan. otonomi dan tugas pembantuan sebagai “asas” adalah misleading.52 6. Pada Pemerintah pusat menggunakan asas . Walaupun kata-kata asas otonomi dan tugas pembantuan itu berasal dari UUD (setelah diamandemen). Keamanan. 52 DAMPAK PENYELENGGARAAN OTONOMI DAERAH Lihat Pasal 20 ayat (2) dan (3) UU No. Dari uraian Pasal 10 ini dapat diartikan bahwa tidak ada kemungkinan daerah akan memperoleh tambahan kewenangan dari Pemerintah selain dari yang sudah ditetapkan dalam Pasal 13 dan 14 Undang . Yustisi. atau dapat menugaskan kepada pemerintahan daerah dan/ atau pemerintahan desa. wewenang dan kewajibansebagai manifestasi atau perwujudan atau konkritisasi dianutnya asas desentralisasi dalam NKRI. menyelenggarakan sendiri sebagian urusan pemerintahan. Padahal. Disamping itu. Agama. 47 . dan f. Selanjutnya ayat (5) menegaskan bahwa dalam urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan Pemerintah di luar urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3).asas tersebut merupakan suatu kebijakan (“policy”) yang berlaku baik di pusat maupun di daerah sebagai satu kesatuan sistem yang tidak bisa dipisahkan. melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada Gubernur selaku wakil Pemerintah atau: c. Pertahanan. e. Padahal asas . tugas pembantuan. Mengenai penetapan asas penyelenggaraan pemerintahan. melainkan suatu hak. Moneter dan fiskal nasional. Pemerintah dapat: a. Ayat (4) menyebutkan bahwa penyelenggaraan urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) Pemerintah menyelenggarakan sendiri atau dapat melimpahkan sebagian urusan pemerintahan kepada perangkat Pemerintah atau wakil Pemerintah di daerah. jangan sampai perundang .

dikhawatirkan akan menimbulkan dampak ekonomi biaya tinggi. b. dan kurang terjaminnya kelestarian lingkungan (tidak transparan dan tidak akuntabel). baik kualitas maupun kuantitas. baik dalam proses penentuan kebijakan.6. sejalan dengan meningkatnya tuntutan dari masyarakat akan pelayanan yang lebih baik. kemungkinan munculnya konflik kepentingan antar Daerah dan antara Daerah dan pusat yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya alam. akan semakin meningkat. 48 . pemberian pelayanan umum kepada masyarakat semakin meningkat. dalam arti peningkatan Akuntabilitas. munculnya kreativitas dan inovasi Daerah untuk mengembangkan pembangunan daerahnya. bersih.2. f. Walaupun kita melihat secara potensial dampak positif dari pelaksanaan otonomi daerah. e. 6. yang pada gilirannya akan menimbulkan “keterpercayaan” masyarakat kepada pemerintah daerah. meningkatnya peranan DPRD sebagai wahana demokrasi dan penyalur aspirasi rakyat dalam menjalankan fungsi legislasi. anggaran dan pengawasan. karena adanya keleluasaan untuk mengambil keputusan. h. baik yang dilakukan oleh masyarakat maupun DPRD. b. serta terbukanya peluang karier yang lebih tinggi. g. sbb: a. c. Perkembangan proses demokrasi dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan akan meningkat. terpercaya dan akuntabel (“Good Governance”) semakin sangat didambakan oleh masyarakat. Dampak Positif Sesuai dengan tujuan pemberian otonomi daerah. munculnya semangat kedaerahan yang menjadi faktor pendorong yang kuat bagi pengembangan daerahnya. Dampak negatif.Undang ini. sehingga keinginan untuk mewujudkan pemerintahan yang baik. a. meningkatnya gairah birokrasi pemerintahan Daerah.1. dan pelaksanaan maupun dalam proses evaluasi dan pengawasan.l. d. diharapkan pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 membawa dampak positif yang secara umum dapat dikategorikan sebagai berikut: a. namun perlu juga mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi secara negatif dalam pelaksanaan otonomi daerah menurut Undang . karena kompetisi professional. keinginan bagi Daerah Otonom untuk meningkatkan penghasilan asli Daerah (PAD) yang berlebihan. Partisipasi aktif masyarakat dalam proses kepemerintahan. meningkatnya pengawasan atas jalannya pemerintahan Daerah. memberatkan masyarakat.

masing merasa mempunyai kompetensi sendiri .. dan Pusat. diarahkan kepada substansi yang bersifat strategis. sikap dan perilaku birokrasi pusat yang cenderung untuk tetap mempertahankan statusquo. terjadinya multi-interpretasi. kemungkinan terjadi pengaturan daerah yang over regulated atau benturan antara peraturan daerah di tingkat Daerah Kabupaten/ Kota dengan Daerah Propinsi. d.pasal didalamnya yang tidak atau kurang jelas.undangan sektoral pusat dengan Undang Undang tentang pemerintahan daerah. sehingga integritas dan sinergitas tidak terjamin. e. karena lemahnya antara perencanaan pembangunan Daerah Kabupaten/ Kota. sehingga para pejabat birokrasi Departemen Sektoral pusat masih berpegang kepada Undang .mata untuk mengatasi masalah yang timbul. belum sinkronnya perundang . tetapi juga untuk menegaskan visi dan misi yang jelas dalam menetapkan format dan sistem pemerintahan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. hendaknya Pemerintah secara transparan dan tidak menyimpang dari tujuan untuk kebaikan bangsa dan negara. yang memungkinkan terjadinya segmentasi antar Daerah (tidak transparan).sendiri. 7. terutama dalam mempertahankan kewenangan pusat yang enggan menyerahkannya kepada Daerah (tidak transparan). seperti sumber daya air. hutan.prinsip penyelenggaraan pemerintahan daerah yang baik (“Good Governance”). karena masing . serta daya saing daerah. seperti: hubungan pusat dan daerah. penegasan hirarki dalam sistem pemerintahan. ataupun Pusat. pembagian kewenangan dan urusan pada tingkat . pengembangan demokrasi dan peningkatan kemandirian daerah. Dalam pada itu. baik terhadap jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang – Undang Nomor 25 Tahun 1999 maupun terhadap pasal . Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. f.Undang Sektoral yang bersangkutan. penataan kembali sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemerintahan. Daerah Propinsi. lingkungan hidup dlsb. PROSPEK OTONOMI DAERAH MELALUI SOLUSI ALTERNATIF Upaya penyempurnaan/penggantian Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 bukan semata .tingkat pemerintahan yang berbeda.c. Yang terpenting adalah bagaimana upaya mengembangkan satu kesatuan sistem antara sistem pemerintahan nasional dan sub . sehingga akan mengganggu kepada makna persatuan dan kesatuan bangsa. 2) 49 . penegasan prinsip . lautan.sistem pemerintahan daerah secara sinergis. Dengan penyempurnaan tersebut. 1). munculnya egoisme kedaerahan yang sempit yang mendorong atau menjurus kepada eksklusivisme daerah dan proteksionisme kedaerahan. dan belum menyesuaikan dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq. terutama untuk mewujudkan komitmen kebijakan desentralisasi.

serta efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pemerintahan. tidak lagi sebagai ajang tarik . hendaknya dapat diselesaikan secara tuntas oleh Gubernur. Kalau saja. isu .menarik pembagian kekuasaan. hubungan pusat . sehingga nasib dan kepentingan rakyat terabaikan. akuntabilitas. tanpa dilandasi dasar hukum kewenangan yang kuat.tugas dekonsentras Namun. baik antara pusat dan daerah. instabilitas dan stagnasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan daerah. Demikian pula. Untuk lebih memantapkan penyelenggaraan otonomi daerah. dapat dituntaskan oleh Gubernur dalam kedudukan ia (Gubernur) sebagai Wakil Pemerintah (representative of the President). sangat disayangkan perundang . sehingga tidak memungkinkan Gubernur untuk bertindak pro aktif. 6) 50 .isu strategis dan penting. baik yang bersifat lokal maupun regional.daerah terpelihara dengan baik. dan ketegangan -ketegangan dan kerancuan di daerah yang selama ini sering terjadi. dimana pemerintahan daerah seharusnya menjadi “backbone” dari stabilitas pemerintahan nasional. baik dari aspek “teori sisa” (Residual Theory).undangan yang ada. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. kepada Gubernur dalam kedudukannya sebagai Wakil Pemerintah diberikan keleluasaan untuk menjalankan tugas “pemerintahan umum” (algemene 4) 5) i.sehingga tercipta stabilitas. keutuhan dan kesatuan bangsa tetap terjaga. serta prinsip . Ditinjau dari aspek asas kepatutan penyelenggaraan pemerintahan (Berhoorlijk Bestuur) seharusnya ia (Gubernur) memiliki kewenangan “Vrijbestuur”. terutama dalam upaya menyelesaikan berbagai kasus dan permasalahan di daerah. dapat diwujudkan. Ini adalah sebagai konsekuensi didudukannya Gubernur sebagai Wakil Pemerintah dalam rangka menjalankan tugas . tidak mendukungnya. daya saing daerah. pemberdayaan. sebaiknya Pemerintah Pusat mengatur lebih lanjut dengan memberikan penugasan dan kewenangan yang tegas kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah.prinsip perilaku “Good Governance” di semua tingkat pemerintahan. maka secara transparan perlu mengoptimalkan peranan dan fungsi Gubernur selaku Wakil Pemerintah. harus ditempatkan pada proporsi waktu dan situasi yang tepat untuk menghindarkan kerancuhan. sehingga pada gilirannya akan mengurangi bertumpuknya “beban” (burden) pada pemerintah pusat.Undang Nomor 22 Tahun 1999 dengan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 tetap harus di arahkan kepada upaya pencapaian kemandirian pemerintah daerah yang berorientasi kepada pelayanan. serta diperlukan secara proporsional bagi semua level pemerintahan. maupun hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah sebagaimana selama ini terjadi. sehingga segala persoalan yang terjadi di Daerah. dan pengembangan demokrasi. 3) Terjadinya penggantian Undang . Dalam hubungan ini. maupun dan terutama dari aspek “Nach Freies Ermessen” yang seharusnya melekat pada diri seorang Gubernur.

karena adanya tarik . dengan dasar hukum yang tegas.q Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 itu sendiri seharusnya berkedudukan sebagai “batu penjuru” (“corner stone”) bagi perundang . 7) Mengingat pengaturan lebih lanjut yang menegaskan kedudukan dan tugas serta kewenangan Gubernur selaku Wakil Pemerintah. maka seyogyanya sebagai tindak lanjut Pasal 38 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. tidak ada.menarik kewenangan dan tarik menarik kepentingan.bestuur) di daerahnya melalui asas “Vrijbestuur”.undangan dan peraturan daerah dijalankan oleh instansi .aktivitas masyarakat. yaitu tugas . yang posisinya tidak hanya wajib berkoordinasi dengan Gubernur. Pasal 10 Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.tugas yang dikecualikan menurut Pasal 7 Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 cq.menerus agar segala peraturan perundang . Seluruh peraturan perundang-undangan yang menjadi dasar penyelenggaraan tugas-tugas substantif Departemen Sektoral/ Departemen Teknis. serta mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk menjamin stabilitas dan kelancaran penyelenggaraan pemerintahan di daerah secara baik". Kewenangan dekonsentrasi yang dijalankan oleh Instansi Vertikal (“dekonsentrasi fungsional”). selaras dengan jiwa dan semangat Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. harus ada penegasan bahwa Instansi Vertikal dimaksud adalah perangkat Departemen dan/ atau LPND yang mempunyai tugas dan kewenangan khusus (Sektoral. Teknis. guna memberdayakan masyarakat sendiri. Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004 dimaksudkan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi dan oto . Pelaksanaan otonomi daerah.q. maka diharapkan ia (Gubernur) akan mampu untuk mentuntaskan segala persoalan yang terjadi di daerah. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindarkan terjadinya kesimpang . baik yang terbit sebelum maupun sesudah terbitnya Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. dimana kedudukan Undang – Undang Nomor 22 Tahun 1999 c. yang pada gilirannya akan mengakibatkan terhambatnya kelancaran pelaksanaan otonomi daerah yang seharusnya dapat memberikan pelayanan prima kepada masyarakat setempat. segera dikeluarkan Instruksi Presiden yang intinya menugaskan dan memberikan keleluasaan kepada Gubernur untuk “mengusahakan secara terus .q.undangan Sekotral lainnya. Fungsional) di wilayah dalam jurisdiksi tertentu. sedangkan pemerintah daerah 8) 9) 10) 51 . harus dengan sendirinya menyesuaikan dengan semangat Undang – Undang tersebut.siuran penyelenggaraan pemerintahan di daerah. melainkan kedudukannya berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Gubernur selaku Wakil Pemerintah (dalam konteks “Integrated Prefectoral System”). Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004.instansi pemerintah dan pemerintah daerah.

maupun empirik . dengan kemungkinan memberikan alternatif solusinya. sehingga hasil perubahan itu akan menghasilkan produk Undang .Undang Nomor 32 Tahun 2004 kita tidak seharusnya a priori untuk segera merobah Undang . sehingga kelemahan dan kekurang sempurnaan Pasal pasal dan instrumen yang ada. 3 April 2006. yang pada gilirannya hanya akan merugikan kepentingan rakyat banyak. 11) Perlu mensosialisasikan dan mendesiminasikan Undang . perlu merubah paradigma pemerintahan dari birokrasi yang berpola pikir (mindset) bernuansa “dilayani” menjadi “melayani”. kesatuan pemahaman dan kesatuan interpretasi. harus ada persiapan yang matang dan keterbukaan sedemikian rupa. hendaknya semua komponen penyelenggara pemerintahan.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan turut serta mensosialisasikannya.berperan mendorong dan memfasilitasinya. PENUTUP Demikian beberapa pemikiran tentang penyelenggaraan pelaksanaan kebijakan otonomi daerah untuk dikembangkan dan didiskusikan lebih lanjut. Dalam pada itu. baik di pusat maupun di daerah. baik bagi masyarakat. Jakarta. partai politik. maupun bagi para pejabat di pusat dan di daerah. dan pelayan publik terabaikan.administratif. baik antara Pemerintah. lembaga masyarakat. baik dari segi konsep akademik dan juridis. sambil mewacanakan berbagai aspek permasalahanya. 12) Menyikapi kelemahan dan atau kelebihan Undang . juridis. Dalam mengantisipasi perubahan Undang – Undang Nomor 32 Tahun 2004. melainkan kita perlu memahami substansi dan semangat Undang . hendaknya disikapi secara positif dan penuh kearifan.Undang yang bisa diimplementasikan dengan persepsi dan interpretasi yang sama antara Pusat dan Daerah. politik dan operasional. 52 . dan para praktisi operasional dan disosialisakan kepada masyarakat luas.Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan peraturan pelaksanaannya agar terdapat interpretasi dan persepsi yang sama. kesatuan pandang. sehingga baik dari segi akademik. kalangan perguruan tinggi. Berdasarkan hal tersebut.Undang Nomor 32 Tahun 2004 sekarang.masing kepentingan yang akan mengakibatkan terjadinya konflik kepentingan dan konflik kewenangan. memiliki kesatuan sikap. sehingga tidak terjadi upaya-upaya manipulasi untuk menonjolkan masing . 8. benar benar dapat dipertanggungjawabkan.

Koswara Kertapradja 53 .E.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful