SASTRA SEBAGAI SEBUAH DISIPLIN ILMU

Pertampilan S. Brahmana Staf Pengajar Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Abstract The writing to try understands literature as one the other science. The requirements of science are have ontology, epistemology and axiology. Writer to try explain ontology,epistemology and axiology from letter as a science. Key words: ontology, epistemology, and axiology 1. PENDAHULUAN 1.1 Pengertian Ilmu Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (1995:373), Ilmu adalah pengetahuan atau kepandaian,baik tentang segala yang masuk jenis kebatinan maupun yang berkenan dengan keadaan alam. Sementara Komaruddin (1985: 39 –40) mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan hasil penelitian dengan menggunakan metode penelitian dan pengembangan yang memberikan pemahaman dan informasi tentang gejala-gejala alam dan sosial. Ilmu menjawab pertanyaan "mengapa" terjadi hubungan kausal (sebab-akibat), secara sistematis berdasarkan metodologi. Ilmu juga bersifat generalisasi. Sejalan dengan hal itu Gazalba (1991:40) mengatakan bahwa ilmu haruslah sistematis berdasarkan metodologi, dan berusaha mencapai generalisasi, sedangkan Sumantri (1994:237) mengatakan bahwa ilmu merupakan hasil karya perseorangan yang dikomunikasikan dan dikaji secara terbuka oleh masyarakat. Arthur Thomson (Gie, 2000) mendefinisikan ilmu sebagai pelukisan faktafakta pengalaman secara lengkap dan konsisten dalam istilah-istilah sesederhana mungkin. Maka ilmu mencari ilmu pengetahuan dari segi-segi tertentu, bidangbidang khusus dengan obyeknya unsurunsur alam; benda-benda mati saja, tanaman saja, hewan saja, manusia saja. Ilmu juga mempelajari segi-segi tertentu kehidupan, mempelajari jurusanjurusan tertentu tentang hukum, hukum adat, hukum kriminil dan perdata, dan sebagainya. Ilmu hanya memberikan penjelasan khusus tentang fakta, sedangkan tentang penjelasan umum tentang obyek yang

yang dinamakan metode keilmuan. Ontologi ada yang menyebutnya dengan istilah teori kebenaran. yang dipertanyakan dalam ontologi ini apakah hakikat atau inti atau esensi dari pengetahuan tersebut. Maka. apakah hakikat.3 Sifat Ilmu Ilmu memiliki sifat sebagai berikut (Bawa. Epistemologi mengkaji tentang validitas (keabsahan) dan batas-batas ilmu pengetahuan. Manfaat atau kegunaan apakah yang dapat langsung dirasakan atau tidak langsung. artinya ilmu tidak terlepas dari kesalahan (bukan kesalahan metodenya) . Ontologi membahas tentang hakikat. inti. atau esensi dari yang disebut pengetahuan atau dengan kata lain ontology mengkaji tentang ‘realitas sejati’ dari pengetahuan. Ontologi adalah hakikat. sedangkan tentang "bagaimana seharusnya" menjadi tugas filsafat menjelaskannya. Ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan melalui proses tertentu. 1. dan sebagainya. 1. b. 2003:12-13): a. Syaratnya ada tiga yaitu mempunyai ontologi. Aksiologi atau deontologi mengenai hal-hal yang normatif. Maka perhatian ilmu terpusat pada "bagaimana adanya". inti. Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan (Pranarka. esensi dari komunikasi. Misalnya apakah hakikat. sejauh mana dampak atau pengaruhnya terhadap manusia. Artinya hasil dari setiap ilmu boleh dipakai oleh siapa saja. Hasil ilmu tidak bersifat mutlak.dipelajarinya diserahkannya kepada filsafat. Misalnya kegunaan ilmu. esensi dari sastra.2 Syarat Ilmu Pengetahuan Sesuatu untuk dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan ada syaratnya. 1987:3). Bersifat akumulatif dan milik bersama. Metode keilmuan ini ada dua pertama metode deduksi dan kedua metode induksi. mempunyai epistemologi dan mempunyai ksiologi atau deontologi. dan sebagainya. atau esensi.

penyair. Maka itu sastra dapat berarti alat untuk mengajar. b. dan d. Rasional. 1. Dalam KUBI (1996:882) dijelaskan sastra adalah: . Sastrawan bersinonim pujangga. rasional. obyektif. Bersifat umum. sarana. buku instruksi atau pengajaran. Esensi atau hakikat ilmu bahwa ilmu mempunyai ontologi (hakikat atau esensi). dan mempunyai aksiologi (deontologi) yaitu kegunaan atau kemanfaatan ilmu pengetahuan. sastra bersinonim dengan bahasa indah. bukan berasal dari intuisi pribadi. tidak bersifat mutlak. sehingga jelas batasbatasnya antara ilmu pengetahuan yang satu dengan ilmu pengetahuan yang lainnya. akar kata sas biasanya menunjukkan alat. bersifat umum. Ilmu bersifat akumulatif. seni kata. Bersifat empiris c. Awalan su berarti baik. 2.c. Kesusastraan bersinonim dengan literatur. indah. inti dari pengetahuan. pengarang.4 Simpulan Hakikat ilmu adalah esensi. bahwa sifat ilmiah adalah. Sifat ilmu adalah kumulatif. buku petunjuk. mempunyai epistemologi (metode atau cara mendapatkan pengetahuan yang benar). Apakah kesusastraan itu? Dalam Kamus Sinonim Bahasa Indonesia yang disusun oleh Kridalaksana (1977:154). PENGERTIAN SASTRA Istilah sastra dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa sansekerta. buku. kepustakaan. persuratan. Ilmu itu obyektif artinya berdasarkan fakta dan atau faktual. sehingga susastra dapat dibandingkan dengan belles-lettres (Teeuw. bersifat empiris. pustaka. atau hal-hal yang gaib. a. Menurut Ralph Rose dan Ernest Van den Haag. 1988:23).

keartistikan. dkk (1973: 11) kesusastraan ialah segala karangan yang baik bentuk dan isinya. gaya bahasa) yang dipakai di kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). 3 Kitab suci Hindu. karya tulis yang jika dibandingkan dengan yang lain. Sedangkan kesusastraan. (3) (orang) pandai-pandai. memiliki berbagai ketentuan seperti keaslian. Menurut Ahmad (1952:6) kesusastraan ialah himpunan segala sastera atau karangan yang indah. Kesusastraan atau seni sastra ialah segala pensahiran pikiran atau perasaan manusia dengan memakai alat bahasa. keartisikan. berarti pikiran atau ide yang dikemukakan. dan sebagainya) 5 Tulisan. Kemudian berdasarkan Simposium Bahasa dan Kesusastraan Indonesia pada tanggal 25-28 Oktober 1966 (1967:184). Eagleton (1988:1-2) mengatakan kesusastraan adalah karya tulisan yang bersifat "imajinatif. dijelaskan sastra. Dalam Kamus Sastra yang ditulis oleh Sudjiman (1986). sedangkan isi. kesastraan. kesusastraan). karangan yang baik. diungkapkan kesusastraan adalah sebuah peristiwa seni yang memakai bahasa . baik dengan lisan maupun tulisan yang memenuhi syarat-syarat kesenian. Luxemburg. keindahan dalam isi dan ungkapannya. karya lisan atau tertulis yang memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keorisinalan. huruf. hitungan. keindahan dalam isi dan ungkapannya. kitab primbon (berisi ramalan. (1) ahli sastra. Sedangkan menurut Nasution. sastra adalah sebuah nama yang dengan alasan tertentu diberikan kepada sejumlah hasil tertentu dalam suatu lingkungan kebudayaan. cerdik cendekia. dan ungkapan.1 Bahasa (kata-kata. yang jika dibandingkan dengan tulisan lain. kitab ilmu pengetahuan. perihal sastra (maknanya lebih luas daripada Sastrawan. pengarang prosa dan puisi. keartistikan. 2 Karya tulis. memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian. keindahan dalam isi.9) mengatakan kesusastraan merupakan sebuah ciptaan. Kesusastraan adalah sejenis karya tulisan yang mewakili suatu keganasan1 yang teratur terhadap pertuturan biasa. 4 Pustaka. (2) pujangga. Sastra bukanlah sebuah benda yang kita jumpai. yang dimaksud bentuk dan isi ialah pemakaian bahasa dan teknik pengolahan sesuatu karangan. dkk. sebuah kreasi. (1984:5. Kesusastraan mengubah dan memadatkan bahasa harian.

bahkan oleh ahlinya sendiri seperti Hudson dan Warren yang sudah menyusun buku pengantar untuk pemahaman susastra. sastra adalah kegiatan kreatif dan imajinatif.sebagai mediumnya. Jadi. Salah satu penyebab utama timbulnya masalah kemurnian ilmu susastra adalah karena obyeknya yakni karya sastra yang "licin dan cair"2. direkonstruksi sipengarang berdasarkan kehendak hatinya (anutan rohaninya)3. sastra sebagai ilmu menurut Teeuw (1988:120) menunjukkan keistimewaan. Bersifat imajinatif. Apakah sastra?. Sampai sekarang belum ada seorang pun yang berhasil memberi jawaban atas pertanyaan ilmu sastra. berarti kalaupun realitas yang disajikan sebuah karya sastra adalah sebuah realitas yang sungguhsungguh ada. maka kemudian menurut Hutagalung "meskipun telah lama diterima sebagai ilmu dan diajarkan di perguruan tinggi. Di samping itu. barangkali juga keanehan yang mungkin tidak dapat dilihat pada banyak cabang ilmu pengetahuan lain yaitu obyek utama penelitiannya tidak tentu malahan tidak karuan. ilmu susastra (sastra. Sastra sebagai karya imajinatif adalah rekaan. bukan saling berbeda. permasalahan sebenarnya dapat disederhanakan menjadi dua bagian: Pertama sastra dalam pengertian: sastra sebagai karya imajinatif. hasil konstruksi seorang pengarang sementara sastra sebagai seni bahasa adalah kreativitas. Kedua sastra dalam pengertian seni bahasa (sebagai karya .kreatif). Sebagai kegiatan kreatif karya sastra adalah sebuah seni bahasa. seolah-olah dapat dijadikan studi sejarah misalnya. Melihat keluasan seperti yang dikemukakan oleh Teeuw tersebut. Pada kenyataannya antara pendekatan yang satu dengan yang lainnya saling mengisi. tetapi realitas seperti ini adalah realitas yang sudah dimodifikasi. sebab kalau pembicaraan terhadap sebuah karya sastra lebih ditekankan . Dengan bertolak dari pandangan di atas. pen) masih diragukan kemurniannya sebagai ilmu. saling mendukung dalam memberi arti terhadap pemahaman sebuah karya sastra. Kedua pendekatan ini hanya terpisah dalam istilah saja. Dalam hal ini maka pendekatan karya sastra dapat dibagi atas dua bagian besar yang dikenal dengan pendekatan instrinsik dan ekstrinsik4.

setidaktidaknya karya sastra mengandung tujuh unsur. baik nilai filsafat. Menurut pandangan penulis setidaknya ada lima ontologi atau hakikat atau esensi sastra sebagai ilmu pertama sastra sebagai bahasa. maka semakin jelas terjawab masalah epistemologi sastra atau kesusastraan. Pertanyaan kemudian. Apakah Sastra atau kesusastraan itu media komunikasi atau bukan? Dengan terjawab hakikat sastra ini. apa ontologi sastra belum terjawab. Menekankan ke bidang sosiologi misalnya. SASTRA SEBAGAI ILMU 3. sastra sebagai komunikasi. akan menjadi semacam pembicaraan tentang sejarah. serta (7) latar kesejarahannya (Aminuddin. (6) nilai.ke segi ekstrinsiknya. 3. Ontologi Sastra Sastra Sebagai Bahasa Sastra Sebagai Seni/Estetika Sastra Sebagai Komunikasi Sastra Sebagai Simbol . Menekankan kepada bidang sejarah misalnya. (4) keindahan. epistemologi. sastra sebagai seni. agama. dan sastra sebagai hiburan. sastra sebagai simbol artinya dibalik teks ada makna lain. (2) struktur wacana. bagaimana ontologi sastra sebagai ilmu? Bagaimana epistemologi sastra sebagai ilmu dan bagaimana aksiologi atau deontologi sastra sebagai ilmu? 3. Nyatanya hingga kini. yakni unsur (1) kebahasaan.1 Syarat Ilmu Seperti telah dikemukakan di atas bahwa sesuatu itu dapat digolongkan menjadi ilmu harus memiliki ontologi.1. walaupun pengertian sastra dan ilmu astra samar-samar. (5) sosial budaya.1 Ontologi Sastra Apa yang menjadi ontologi atau hakikat atau inti sastra atau kesusastraan? Apakah Sastra atau kesusastraan itu seni atau bukan. (3) signifikan sastra. maupun psikologi. 1987: 51). akan menjadi semacam uraian tentang sosiologi. pembicaraan karya sastra menjadi lain. boleh jadi bukan lagi pembicaraan tentang kesusastraan. aksiologi (deontologi). Jadi.

banyak metode pendekatan. maka epistemologi sastra itu. Ilmu-Ilmu Tentang Simbol Kajian Budaya Populer Disiplin Ilmu yang Terkait Semantik. maka epistemologinya adalah ilmu komunikasi.2 Epistemologi Sastra Berdasarkan lima ontologi sastra tersebut. Bila kita menganggap sastra sebagai simbol. pengkajian terhadap sastra. maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kebudayaan populer. maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kebahasaaan. maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu tentang simbol. Analisis Wacana.1. menghasilkan. Hedonisme dan sebagainya. atau esensinya. Bila kita menganggap sastra sebagai seni. Hal inilah yang menyebabkan dalam tataran epistemologi. esensi yang berbeda. sastra sebagai ilmu mempunyai lebih dari satu ontologi. Bila kita menganggap sastra sebagai hiburan. hakekat. Ontologi. Simbolisme. Bila kita menganggap sastra sebagai komunikasi. . hakikat. Bila kita menganggap sastra sebagai bahasa. Psikologi. 3.Sastra Sebagai Hiburan Di sinilah keunikan sastra sebagai ilmu. Ilmu Komunikasi dan sebagainya Hermenutika. maka epistemologinya adalah ilmu-ilmu kesenian. Sintaktis dan sebagainya Seni dan Estetika dan sebagainya. Ontologi Sastra Sebagai Bahasa Sastra Sebagai Seni Sastra Sebagai Komunikasi Sastra Sebagai Simbol Sastra Sebagai Hiburan Arahan Epistemologi Ilmu-Ilmu Tentang Kebahasaan Ilmu-Ilmu Tentang Seni dan Estetika Ilmu-ilmu Tentang Komunikasi Ilmu-Ilmu Tentang Simbol Kajian Budaya Populer Epistemologi Ilmu-Ilmu Tentang Bahasa Ilmu-Ilmu Tentang Seni Ilmu-ilmu Tentang Komunikasi . atau memerlukan metode pengkajian yang berbeda pula. Dekonstruksi dan sebagainya. bergantung dari ontologi yang dipahami.

tradisional. lingusitik. hedonisme. Kedua pendekatan ini hanya 4 Karya Sastra harus memberikan penerangan bagi persoalan-persoalan . melahirkan epistemologi sastra seperti yang sudah digunakan selama ini seperti srukturalisme. Soal apakah keenam unsur ini terdapat di dalam sebuah karya sastra atau tidak. humanisme. sosiosastra (sosiologi sastra). pragmatik. 6 Karya Sastra harus mampu memberikan hiburan bagi rakyat (penikmatnya). semantik. didaktis. sosiokultural. ekspresi. tematik.2 Empat Sifat Sastra sebagai Ilmu Pendekatan5 terhadap karya sastra dapat dibagi atas dua bagian besar yang dikenal dengan pendekatan instrinsik dan ekstrinsik. simbolisme. menjadi masalah lain. relegiusme. elusidatori. tekstual. 3. judisial. evaluatif. hermeneutika. dalam masyarakat. intertektualitas. induktif. biografis. kombinasi kelima ontologi tersebut. dekonstruksi. utilitarisme. 3. sekuensi. komparatif. intensional. 5 Karya Sastra harus menciptakan ide-ide dan gagasan-gagasan baru. artistik. vitalisme.3 Aksiologi (Deontologi) Sastra Bagaimana asksiologi atau deontologi sastra? Bila mengikuti ontologi atau hakikat atau esensi sastra di atas. impresionistik.1. eksistensialisme. sosial budaya. namun fungsional. obyektif. mitopeik. mimesis. perspektif. doktrin. absolustik. sosiopsikologis. Karya Sastra harus menuntun ke arah pembangunan rohani bangsa. praktis. dan sebagainya seperti semiotik. maka aksiologi atau deontologi sastra adalah: Karya Sastra harus mencerminkan dan memupuk rasa keindahan. relativistik. Maka yang menjadi aksiologi sastra adalah keenam unsur di atas. psikologi sastra. 2 3 Karya Sastra harus membimbing peradapan dan keutuhan bangsa. emotif. historis.Penggunaan atau penerapannya tidak kaku. interprestasi. politik/ideologi. analitis. general.

Pada kenyatannya antara pendekatan yang satu dengan yang lainnya saling mengisi. berdiri dan sejajar dengan disiplin ilmu lain. Teori-teorinya selalu disempurnakan. sastra sebagai disiplin ilmu. tetapi dibentuk berdasarkan kajiankajian atau penelitian-penelitian sebelumnya. atau hitam-putih. atau kritik.terpisah dalam istilah saja. ditambah. mempunyai empat sifat: No 1 Sifat Kumulatif. artinya kelemahan pendekatan yang satu dicoba 2 Empiris tampung pada pendekatan yang lainnya. mungkin sulit melepaskan dirinya dari penilaian sebelumnya. sastra sebagai ilmu tidak menilai dari segi moral seperti buruk dan baik. Penjelasan Sastra sebagai ilmu bersifat kumulatif. didekati. . Namun sastra sebagai kajian. Sedangkan kemandirian sastra sebagai ilmu-sastra. Teori ini disusun berdasarkan penelitian dan kajian terhadap karya-karya 4 Tidak Terlibat ke dalam Masalah Moral Jadi. Artinya sastra sebagai ilmu tidak sekaligus jadi. Namun studi sastra sebagai bagian dari cabang ilmu pengetahuan. bergantung kepada dinamika yang terdapat di dalam karya sastra tersebut. Sastra sebagai ilmu mempunyai teori. sebab (karya) sastra itu dapat dilihat. Berdasarkan sifat kumulatifnya. diperbaiki sehingga mampu menampung dinamika yang tumbuh di dalam sastra itu sendiri. saling mendukung dalam memberi arti terhadap pemahaman sebuah karya sastra. maka sastra sebagai ilmu didasarkan kepada penelitian dan pengkajian sebelumnya. dibicarakan dari berbagai sudut dan kepentingan. Kenyataan atau realitas karya sastra tidak saja bersifat fakta 3 Teori tetapi juga faktual6. Sebagai contoh semakin bervariasinya pendekatanpendekatan terhadap karya sastra menunjukkan kepada kita pendekatan-pendekatan tersebut mencoba menampung dinamika yang berkembang yang terdapat pada sebuah karya sastra. Artinya dalam upaya memahami dan menjelaskan sebuah karya sastra.

Berdasarkan uraian di atas. termasuk merugikan bagi pengembangan disiplin ilmu secara umum. semiotik. Hubungan antara ilmu sastra dengan ilmu bahasa saling melengkapi. Sebab pengembangan ilmu sastra sebagai sebuah disiplin ilmu tidak akan mampu mengarah kepada dinamika yang diperlukan oleh dinamika yang berkembang di dalam karya sastra itu sendiri. Sastra sebagai bagian dari kebudayaan harus dilihat dalam pengertian luas yang berdimensi multi. Sumbangan karya sastra sebagai karya fiksi dalam menghumanisasikan kehidupan memang bagus. Adapun beberapa pendekatan yang lazim dipergunakan dalam pemahami karya sastra antara lain. jelaslah bahwa sastra itu bukan bagian dari bahasa walaupun sastra mempergunakan bahasa sebagai medianya. Sastra memberi arti kepada bahasa dan bahasa juga memberi arti kepada sastra. Anggapan yang keliru yang menganggap sastra dan bahasa satu. sejarah dan politik. Sastra adalah bagian dari kebudayaan bukan bagian dari bahasa.baik dan buruk. ilmu sosiologi. dan lainnya. psikologi melahirkan psikologi sastra. namun sumbangan sastra sebagai ilmu bagi pengembangan interdisiplin juga menjadi penting di masa depan. filsafat. Demikian juga halnya dengan disiplin ilmu sastra. . disiplin ilmu sastra bukan bagian dari ilmu bahasa (linguistik). strukturalisme. bukan saja merugikan bagi kemajuan disiplin ilmu sastra itu sendiri. melahirkan sosiologi sastra. kita tidak akan pernah memahami alasan-alasan yang diberlakukan misalnya oleh Kejaksaan Agung ketika melarang buku-buku fiksi tertentu. tetapi juga merugikan kepada banyak bidang terkait. sebab kalau tidak demikian. atau memahami polisi dalam tidak memberikan izin terhadap pementasan-pementasan seperti baca puisi. bukan saling menaklukkan.

Endnote 1 Istilah keganasan ini adalah istilah Malaysia. intertektualitas. doktrin. 3 Karya sastra harus menuntun kearah kemajuan rohani bangsa. ekspresi. strukturalisme. ontologi sastra sebagai ilmu itu. 2 Karya sastra harus membimbing peradapan dan keutuhan bangsa. pragmatik. 14 Juli 1986. hermeneutika. sebab data seperti ini tidak dapat menjawab satu atau 2 3 . historis. relativistik. analisis wacana. mimesis. komparatif. Pengutipan di atas dikutip dari terjemahan dalam bahasa Malaysia. mempunyai lima inti atau hakikat yaitu sastra sebagai bahasa. general. Kompas Senin. sastra sebagai komunikasi. dan sebagainya. dan sastra sebagai hiburan. sosiokultural. posmoderenis. semiotik.4. postrukturalis. 6 Karya sastra harus mampu memberikan hiburan bagi rakyat (penikmatnya). 14 Juli 1984. dekonstruksi. sekuensi. 5 Karya sastra harus menciptakan ide-ide dan gagasan-gagasan baru. obyektif. Menelaah realitas sosial seperti ini sejarah misalnya jelas sangat sulit. juga Suara Karya. eksistensional. impresionistik. simbolisme. intensional. analitis. lingusitik. didaktis. politik/ideologi. tematik. elusidatori. Misalnya. Dari segi epistemolgi melahirkan banyak metode mengkaji sastra. judisial. Dari segi aksiologi atau deontologi: 1 Karya sastra harus mencerminkan dan memupuk rasa keindahan. Di sinilah ketidakakuratan karya sastra dalam mengungkapkan realitas sosial. lokasi kejadian kerap tidak jelas disebutkan saja di sebuah daerah antah berantah. Dalam karya-karya sastra lama misalnya. sosiopsikologis. 4 Karya sastra harus memberikan penerangan bagi persoalan-persoalan dalam masyarakat. sastra sebagai simbol. semantik. mitopeik. tekstual. induktif. emotif. tradisional. KESIMPULAN Dari segi ontologi. sastra sebagai seni. parafrastis. psikologi sastra. evaluatif. partikular. realisme. sosiosastra (sosiologi sastra).

masalah rasa (feeling). alasannya. Kesusastraan dan Kekuasaan. Apa yang dilakukan oleh seorang kritikus misalnya tidak lebih hanya sebatas tafsiran berdasarkan tanda-tanda yang terdapat di dalam karya sastra tersebut. ada anggapan. majalah Prima. Pendekatan ekstrinsik adalah pendekatan yang berdasarkan hal-hal yang mempengaruhi penciptaan karya sastra itu dari unsur luar seperti sejarah. amanat/tujuan (intention). walaupun realitas di dalam sebuah karya sastra moderen dapat menjawab 4 W di atas. perubahan sosial. Mengapa Williem Shakespeare merekonstruksi fakta ini (baca diputarbalikkan). Salah satu contoh ini adalah karya Williem Shakespeare yang berjudul King Lear. tentu ada maksudmaksud tersendiri. ideologi (anutan rohani si penulis/pengarang) dan sebagainya. tetapi dalam karya Williem Shakespeare. tokoh King Lear menderita kekalahan (Wiratmo Soekito. sehebat apapun ilmu bantu yang dipergunakan seseorang untuk memahami sebuah karya sastra. imaji (imagery) dan sebagainya. Dalam prosa antara lain plot. 5 Dalam hubungan ini dipergunakan istilah pendekatan. Dalam sejarah tokoh King Lear menang dalam peperangan. nada (tone). hal ini dikarenakan sifat karya sastra itu yaitu imajinatif. diksi (diction). Ini berarti telah terjadi pemutarbalikan fakta. hal 47-50). direkonstruksi si pengarang untuk tujuantujuannya. Maret 1979. Tetapi dalam karya-karya sastra moderen. maka yang dibicarakan antara lain. walaupun realitas sebuah karya sastra dapat dimasukkan ke dalam gambaran sesungguhnya dari sebuah kenyataan yang terjadi di tengah- .dua W dari 4 W yaitu W (Where) di mana yaitu mengenai lokasi kejadian atau (When) kapan yaitu tahun berapa kejadian itu ada. misalnya sebuah puisi. penokohan. 6 Dalam pengertian ini. seseorang itu tetap tidak dapat menangkap apa yang dimaksudkan si penulisnya. 4 Pendekatan instrinsik adalah pendekatan yang berdasarkan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra itu dari dalam. latar dan sebagainya. tetapi karya sastra moderen juga tidak dapat dijadikan bahan studi sejarah. Yang dapat menangkap maksud sesungguhnya dari sebuah karya sastra hanyalah pengarangnya sendiri. Realitas yang sesungguhnya kerapkali sudah dimanipulasi.

Bandung: Penerbit C. Jan van. Logika.html (7/2/2003) Mundiri. Positivisme. The Liang. Yogyakarta: Rakasarosin. 1988. Kamus Istilah Skripsi dan Tesis. terjemahan Muhammad Hj.Yogyakarta: Penerbit Liberty. 1991.Post Positivisme dan Post Modernisme. Hardiyanto.W. Epistemologi . Terry. Neong. DAFTAR PUSTAKA Aminuddin. Pranarka. Jakarta: Bulan Bintang. 1987.1984. dkk.org/Publication/ISLAM96 /islam_1722. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia. Penerbit: Angkasa Bandung. Metodologi Keilmuan:Pengenalan Awal Sebuah Pemahaman Kamus Umum Bahasa Indonesia. Sinar Baru. Teori Kesusastraan Suatu Pengenalan. Buku I. 2000. tetapi kecenderungan karya sastra adalah mencoba menggambarkan bukan realitas yang sesungguhnya. Eagleton. When=apabila. dari yang dituntut untuk menentukan fakta. 1987. Sidi. Who= siapa. terjemahan Dick Hartoko.M. 2001. Muhadjir. Karya sastra yang mengandung unsure sejarah misalnya. Munawir. ada makna lain (tersirat). II dan III. Soegeng. Saleh. Pengantar Filsafat Ilmu. Filsafat Ilmu. Pengantar Apresiasi KaryaSastra. Sistematika Fisafat. Gramedia.tengah perjalanan peradapan manusia (sejarah misalnya) (tersurat). Netralitas Ilmu dalamSorotan. Gie. Jakarta: Rajawali Pers. A. 1985.V. http://www. Gazalba. dan Where=di mana). 2000. Komaruddin. Jakarta: PT.istecs. Pengantar Ilmu Sastra. 1995. kerapkali tidak dapat menjawab 4 W (What=apa. Luxemburg. Wahyudin.

Sumardjo. Panuti. Sumantri.Dasar Suatu Pengantar.Girimukti Pasaka. Teori Kesusastraan. 1994. Gramedia. Kamus Istilah Sastra. A. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Jaya . Sastra dan Ilmu Sastra:Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Sinar Harapan. Sudjiman. . Jakob. Jakarta. Filsafat Seni. 1989. 1988. Jujun S. 2000. Jakarta: Penerbit Gramedia. Rene Wellek dan Austin Warren. Jakarta: CSIS. Teeuw. Jakarta: Penerbit PT. 1986. Bandung:ITB Bandung.