P. 1
Kezaliman Dalam Penulisan Sejarah Islam

Kezaliman Dalam Penulisan Sejarah Islam

|Views: 373|Likes:
Published by shecutesib9835

More info:

Published by: shecutesib9835 on Dec 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

Kezaliman Dalam Penulisan Sejarah Islam

⊆ 2/23/2009 03:07:00 PM by Jaringan Komunikasi Ummat | Fikrah , Sejarah . | ˜ 2 komentar »

Oleh Y. Herman Ibrahim Saya harus minta maaf kepada ilmuwan sejarah untuk mengatakan bahwa sejarah adalah ilmu yang paling tidak imiah. Argumen saya adalah sesuatu dikatakan ilmiah pertamatama harus objektif. Kedua, proses dan hasilnya harus terukur secara kuantitatif dan kualitatif. Ketiga, kebenarannya dapat dibuktikan secara empiris atau paling tidak secara laboratoris. Sejarah menjadi tidak objektif karena sejarah ditulis oleh penguasa dan disebarluaskan lewat kekuasaannya itu. Ukuran kebenarannya paling-paling hanya pada “waktu terjadinya peristiwa” bukan pada substansi. Juga ada kesulitan dalam menguji kebenaran sejarah secara empiris maupun laboratoris karena metodologinya sarat kepentingan kekuasaan. Dalam penulisan sejarah nasional yang paling dirugikan dan dizalimi adalah Islam. Nyaris semua produk sejarah Indonesia yang diajarkan kepada anak sekolah sejak SD sampai perguruan tinggi adalah sejarah yang anti dan menegasikan Islam. Para pemuda kita dibutakan atas sejarah masa lalu kebesaran Islam. Para ilmuwan sejarah pun bisu atau membisukan diri atas penulisan sejarah yang tidak berpihak kepada kebenaran. Determinasi kekuasaan sejak zaman Belanda sampai pemerintahan sendiri sangat kuat, tetapi mereka paranoid terhadap Islam. Tengok kebohongan kisah pertemuan Kartosoewiryo dengan Westerling di Gedung Pakuan Bandung. Kisah ini sangat keji karena sumber sejarahnya adalah pengadilan sandiwara atas kasus Schmidt dan Jungschlaeger. Hal ini ditulis ulang oleh Her Suganda di PIkiran Rakyat (5/2). Tentu saja Her Suganda mengambil dari sumber resmi yang dalam hal ini dibuat oleh penguasa saat itu. Haris bin Suhaemi yang dijadikan saksi dan dikutip kesaksiannya dalam tulisan itu digambarkan sebagai orang yang dekat dengan Imam Negara Islam Indonesia (NII), S.M. Kartosoewiryo as syahid. Padahal, nama Haris bin Suhaemi tidak dikenal di kalangan pimpinan tinggi maupun menengah NII. Di pengadilan dia membual pernah menyaksikan pertemuan antara S.M. Kartosoewiryo dan wali negara Pasundan R.A.A. Wiranatakusumah dan bekas kapten Westerling. Dia juga berkisah melihat kapal selam menurunkan perlengkapan perang, senjata, adan munisi, serta droping dari epsawat terbang asing untuk melengkapi mesin perang DI/TII. Anehnya, di tulisan Her Suganda, di katakan bahwa Kartosoewiryo gagal melaksanakan ambisinya karena lemahnya persenjataan dan kesulitan komunikasi. Menurut Her Suganda, Kartosoewiryo hanya bisa mengacau di daerah Sukaraja dan Cikalong, Tasikmalaya Selatan. Kebohongan dan fitnah yang dilansir oleh saksi lain di pengadilan tersebut sangat memojokkan perjuangan Islam NII. Meskipun demikian, harus diakui bahwa NII mengalami fragmentasi yakni NII pro-Proklamasi 17 Agustus 1945 pimpinan H.Zainal Abidin dan Ajengan Patah, NII pro-Belanda yang dipimpin Sultan Hamid II yang

bersekutu dengan Westerling, serta NII pimpinan S.M. Kartosoewiryo yang menajiskan hubungan dengan kaum kafir. Dalam pernyataan bantahan yang dilansir oleh Komandemen Tertinggi ANgkatan Perang NII No. IX/7/1955, dinyatakan bahwa usaha merangkaikan dan mencampuradukkan (saman-smelten) perjuangan Islam NII dengan gerakan subversif yang dilakukan Westerling dan sekelompok orang Indonesia adalah sangat absurd dan sama sekali tidak mengandung kebenaran sedikitpun. Bantahan ini tidak mendapatkan tempat di media karena bias kekuasaan. Rakyat Indonesia selalu dicekoki tuduhan seakan-akan gerakan Islam identik dengan pemberontakan. Kehadiran dan deklarasi NII sebenarnya tidak pada posisi ada negara di dalam negara karena Republik Indonesia berdasarkan Perjanjian Renville hanya berada di Yogyakarta dan sekitarnya. Lebih tepat dikatakan kehadiran NII adalah sebuah negara dengan negara yang sejajar jika disandingkan dengan RI. Lain halnya dengan negara Pasundan yang benar-benar merupakan produk Belanda. Orang-orang nasionalis tidak bisa sependapat dalam perkara ini, tetapi kebenaran sejarah tidak bisa ditutupi terusmenerus. Menurut Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi, M.A., M.Phil., sejarah Islam perlu dipaparkan dengan jujur dan diinternalisasi terus-menerus untuk membangun semangat perjuangan dan peradaban. Orang Yahudi sangat berkepentingan memalsukan sejarah Islam karena mereka paham bahwa sejarah bisa menjadi sumber inspirasi yang tiada habisnya bagi kemajuan umat manusia. Dengan segala cara mereka melakukan manipulasi sejarah seakan-akan sumbangan Barat terhadap peradaban manusia lebih hebat daripada Islam. Banyak contoh, betapa sejarah Islam bukan saja ditutup-tutupi, tetapi dikisahkan dalam bentuk kekalahan dan ketertinggalan. Pembodohan bisa dilakukan lewat sejarah. Lihat sejarah Islam Nusantara yang tidak pernah sungguh-sungguh menggambarkan kejayaan Samudera Pasai, Ternate, dan Tidore serta pengislaman Papua oleh Kerajaan Islam Bacan. Anehnya, yang selalu dibanggakan adalah kisah kejayaan Majapahit dan Sriwijaya yang konon bisa mempersatukan Nusantara. Para ulama yang oleh pujangga Mataram Ronggowarsito pada abad XIX disebut Walisongo sebenarnya adalah penyebar dan penegak syariat Islam lewat kekuasaan yang dibangunnya. Dari mulai Giri, Demak, dan Cirebon. Di masa Mataram yang telah meramu Islam dengan sinkretisme, para ulama tersebut dimistifikasi sebagai tokoh-tokoh keramat dan digjaya tetapi pada saat yang sama direduksi menjadi pengembang ajaran tasawuf. Krisis sejarah berikutnya adalah pengaburan Kebangkitan Nasional yang dimanipulasi seakan-akan berawal dari berdirinya paguyuban Boedi Oetomo. Bandingkan dengan Syarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan 25 tahun lebih tua daripada Boedi Utomo. Organisasi ini menjelma menjadi Syarikat Islam yang terbuka untuk seluruh rakyat Indonesia dari segala lapisan yang mayoritas beragama Islam. Faktanya, pendiri Syarikat Islam H.O.S. Cokroaminoto dan murid-muridnya adalah kaum pergerakan yang menjadi pejuang politik dan militer. Hizbullah adalah laskar Islam yang menjadi inti peristiwa heroik 10 November di

Surabaya. Di Jawa Tengah tatkala TNI di bawah Soedirman mengalahkan sekutu sebenarnya terdiri atas elemen-elemen tentara Islam. Peristiwa yang dikenal dengan Palagan Ambarawa 15 Desember 19435 dan dijadikan Hari Eka Paksi (hari TNI AD) itu sama sekali tidak mengisahkan keterlibatan laskar santri. Menjadi catatan penting bahwa pemberontakan PKI Madiun lebih banyak dihancurkan oleh Hizbullah, namun yang ditonjolkan dalam sejarah adalah prestasi Divisi Siliwangi. Akhirnya di hari-hari kehidupan bangsa yang konon telah merdeka selama 63 tahun ini, umat Islam selalu terpinggirkan. Bangsa ini lebih memilih pendidikan sekuler dan mengikuti strategi Yahudi yang memisahkan agama dengan politik. Mayoritas umat Islam terbawa arus pemikiran yang menolak nilai-nilai agama menjadi sumber hukum positif. Sekarang dengan kecanggihan media yang dikontrol asing, perlawanan Islam politik pada tingkat tertentu dikategorikan sebagai tindak terorisme. Hasbunallah wa ni’mal wakil. Amin. *** Penulis, pengamat politik dan militer Sumber: Pikiran Rakyat, 18 Februari 2009

2 Responses to Kezaliman Dalam Penulisan Sejarah Islam
1. Anonim Says:
3 Maret 2009 17.08 Kecenderungan

kaum Muslim di banyak negara di dunia dalam menanggapi ketidakberdayaannya menghadapi tantangan zaman adalah dengan serta-merta melancarkan tudingan terhadap kaum Yahudi dan kaum Kristen. Bukti-bukti yang kuat tidak pernah dihadirkan, namun semangat untuk selalu menuduh adanya kepentingan untuk menghancurkan Islam selalu diagungagungkan. Di sinilah letak kelemahan kaum Muslim dalam menyikapi permasalahan, yaitu dengan menyerang balik tanpa bukti-bukti yang jelas. Sejarah adalah sebuah ilmu yang sangat tua, yang sudah ada sejak kehadiran manusia di bumi, tepat ketika manusia mulai tertarik untuk menuliskan hal-hal tentang mereka sendiri yang telah terjadi sebelumnya. Komentar saudara Herman Ibrahim yang menuduh adanya kezaliman dalam penulisan sejarah Islam adalah salah satu bentuk ketidakakuratan dalam pembelaan terhadap Islam, seperti yang saya jelaskan di atas. Komentar beliau lebih tepatnya harus dialamatkan kepada saudara-saudara Muslim yang tidak berdaya dalam ranah ilmu pengetahuan saat ini. Betul, kaum Muslim pernah sangat maju dalam bidang ilmiah, namun kebanyakan kaum Muslim sekarang lebih banyak bernostalgia dalam hal tersebut, bukannya malah berusaha untuk mengembalikan kejayaan tersebut. Tudingan Herman Ibrahim terhadap ilmu sejarah yang dianggap tidak ilmiah karena metodologinya sarat kepentingan kekuasaan adalah tudingan yang sangat tidak ilmiah. Dalam ranah ilmiah, kritikan terhadap suatu pendapat sangatlah wajar, namun bentuknya harus bersifat ilmiah juga dan tidak didasarkan atas

kepentingan untuk membela sesuatu hal yang sangat subjektif (dalam hal ini, saya melihat saudara Herman Ibrahim bertendensi untuk membela Islam dan menuding kaum Yahudi dan Kristen sebagai biang keladi di belakangnya). Ketidaksetujuan saya terhadap saudara Herman Ibrahim adalah ketidakakuratannya dalam melempar kritik. Seharusnya, kritik ini dilemparkan kepada kaum Muslim yang justru tidak pernah belajar sejarah secara ilmiah, melainkan selalu menerima pesan-pesan bertendensi kebencian terhadap kaum Yahudi dan Kristen dari sebagian kaum Muslim yang memiliki kepentingan sendiri. Yang lebih penting lagi adalah ketidakilmiahan saudara Herman Ibrahim dalam memberikan contohcontoh yang memperlihatkan bahwa penulisan sejarah Islam di Indonesia sangat berat sebelah. Contoh-contoh yang diberikan sangat bertendensi untuk membela Islam secara membabi-buta. Saya tidak tahu sumber-sumber apa yang dipakai olehnya, namun jelas bahwa saudara Herman Ibrahim tidak pernah belajar ilmu sejarah secara ilmiah, karena jika iya, maka beliau akan tahu bahwa penulisan sejarah Islam, bahkan di Barat sudah berlangsung lama dan perkembangan yang ada saat ini justru sangat pesat di mana Islam dan Muslim menjadi perhatian besar di dunia Barat, dan tidak lagi diletakkan sebagai bagian dari orientalisme yang menganggap bahwa dunia Timur, dan Islam khususnya adalah objek studi. Kecenderungan yang ada sekarang adalah menganggap Timur dan Islam sebagai subjek, yang tentu saja berbeda dengan fase sebelumnya. Semoga saudara Herman Ibrahim bisa lebih bijak dalam mengkritik suatu hal dengan memperlihatkan bukti-bukti yang kuat. (Yanwar Pribadi, pernah belajar tentang Islam di Belanda dan sedang melakukan penelitian lanjutan tentang sejarah Islam di Indonesia, juga di Belanda) 2. Cakra Says: 3 Maret 2009 23.07 Anonim Says: "Dalam ranah ilmiah, kritikan terhadap suatu pendapat sangatlah wajar, namun bentuknya harus bersifat ilmiah juga dan tidak didasarkan atas kepentingan untuk membela sesuatu hal yang sangat subjektif (dalam hal ini, saya melihat saudara Herman Ibrahim bertendensi untuk membela Islam dan menuding kaum Yahudi dan Kristen sebagai biang keladi di belakangnya)." Dalam ilmu sejarah, sesuatu bisa dianggap ilmiah selama ia bisa disertai dengan bukti-bukti, dan dalam contoh yang dia ajukan sebagai argumen, penulis mengajukan bukti-bukti tersebut, diantaranya: 1) tulisan Her Suganda di PIkiran Rakyat (5/2), dan 2) pernyataan bantahan yang dilansir oleh Komandemen Tertinggi ANgkatan Perang NII No. IX/7/1955. untuk melihat arsip-arsip aslinya tentu saja anda harus melakukan penelitian langsung, atau setidaknya bertanya langsung kepada yang bersangkutan. namun demikian, dlm tradisi penulisan ilmiah, mencantumkan rujukannya saja pun tanpa harus menunjukkan buku/referensi aslinya sudah bisa diterima.

Risalah Dari Balik Jeruji Besi : Prinsip Perlu Bukti dan Pengorbanan
Oleh Malika Alexandrina pada Jum'at 29 Oktober 2010, 11:01 AM Print Risalah ini merupakan pesan sekaligus tazkiroh yang sangat berharga buat kita semua yang memilih jalan tauhid dan jihad. Risalah dari balik jeruji besi, yang ditulis langsung oleh ikhwan yang sekarang merasakan nikmat dari sebuah prinsip dan pengorbanan yang menjadi pilihannya. Prinsip bukanlah benda mati yang tertera di dalam buku-buku atau terpendam di dalam hati. Prinsip adalah sesuatu yang hidup di dunia nyata, meski kita tidak menyadarinya. Jika antum ingin mengetahui harga sebuah prinsip bagi seseorang. Lihatlah sejauh mana pengorbanannya terhadap prinsip tersebut. Kata-kata di atas sempat menyita perhatian saya. Sebuah kata-kata yang menyimpan makna mendalam yang tidak dapat dipahami oleh selain orang yang memiliki prinsip yang kuat dan nilai yang tinggi lagi mulia. Alangkah indah kata-kata yang diucapkan penyair berikut : “Barangsiapa memiliki tekad kuat untuk meraih kemuliaan.. Apa saja yang dihadapi dalam memperjuangkannya terasa nikmat..” Saya teringat dengan kisah Al Mutanabbi yang membayar mahal untuk sebuah bait syair yang dia ucapkan ketika dia hendak menyelematkan diri dari orang-orang yang hendak membunuhnya anaknya berkata kepadanya : “Bukankah engkau telah mengatakan, Aku dikenal pemberani oleh kuda, malam, padang sahara, pedang, tombak, kertas dan pena. Demi mendengar itu, ia pun tidak jadi lari. Dia kembali untuk berperang sampai terbunuh. Hanya supaya tidak dikatakan pengecut. Lain lagi Abu Jahal dia ingin sekali membunuh Muhammad S.A.W. Dia mencari-cari waktu yang tepat untuk melaksanakan keinginannya tersebut. Dia telah kerahkan segala kemampuannya untuk membunuh orang yang telah merubah tatanan masyarakatnya. Namun begitu dia tetap tidak mau mengorbankan prinsipnya, demi menjaga wibawa dan kehormatannya. Meski untuk itu ia harus kehilangan berbagai kesempatan emas untuk melaksanakan keinginannya itu. Salah seorang pengikutnya mengatakan kepadanya : “Kenapa kita tidak datangi saja Muhammad ke rumahnya lalu kita bunuh, daripada kita terus diam saja” Abu Jahal menjawab “Supaya bangsa Arab tidak mengatakan bahwa kita telah membunuh anak kabilah kita sendiri.” Inilah sepenggal kisah orang-orang yang memegang prinsip. Berapa banyak orang sanggup menderita atau menahan kesenangan dan hawa nafsunya demi prinsip yang mereka miliki, padahal itu hanya prinsip yang mereka miliki, padahal itu hanya prinsip duniawi. Namun karena mereka merasa mulia dan punya wibawa sehingga kalau mereka melakukan tindakan-tindakan hina yang tidak pantas dilakukan orang yang jantan, mereka khawatir akan hina dimata orang, maka mereka sanggup berkorban dan menahan

diri. Kalau begitu apa kiranya yang pantas kita katakana kepada orang yang justru mengorbankan bahkan menjual harga dirinya atau negrinya atau agamanya atau saudarasaudaranya dengan beberapa keeping uang atau kesenangannya atau jabatan? Jika perjuangan untuk sebuah prinsip yang tujuannya hanya untuk menjaga gengsi dan wibawa, serta supaya tidak direndahkan orang itu saja seperti ini. Lalu bagaimana kiranya jika prinsip yang diperjuangkan itu berkaitan dengan agama dan kepentingan akhirat. Dahulu ketika Sa’ad bin Abi Waqqosh masuk Islam ia mendapat tekanan dari ibunya agar dia meninggalkan agama barunya itu. Ibunya pun mogok makan. Pada saat itu Sa’ad mengatakan kepada ibunya “Wahai ibu, andaikan ibu punya 100 nyawa, lalu nyawa itu keluar satu persatu, aku takkan meninggalkan agamaku, maka terserah ibu, mau makan atau tidak.” Ada lagi An Nablusi. Seorang penguasa Daulah Fathimiyah yang kafir memanggilnya, lalu mengatakan kepadanya “Benarkah kamu mengatakan jika aku punya 10 anak panah akan ku gunakan 9 buah untuk membidik orang Nasrani dan 1 buah untuk membidik orang-orang Fathimiyah?.” An Nablusi menjawab “Aku tidak mengatakan seperti itu yang aku katakan adalah jika aku punya 10 anak panah akan ku gunakan 9 buah untuk membidik kalian dan 1 buah untuk orang-orang Nasrani.” Kemudian An Nablusi dikuliti dari kepalanya ketika sampai daerah jantung ia ditusuk. Dalam kisah lain, Sholeh Ismail penguasa Damaskus meminta bantuan kepada bangsa salibis untuk memerangi Najmuddin Ayyub yang memerintahkan Mesir. Dan sebagai imbalannya, Sholeh Ismail sanggup memberikan persenjataan dan mempersilahkan bangsa salibis itu untuk masuk Damaskus. Hal itu diketahui oleh Al ‘Izz bin Abdis Salam. Ini adalah pengkhianatan yang dilakukan Sultan Sholeh. Al ‘Izz pun segera naik mimbar dan menjelaskan tentang tercelanya memberikan loyalitas kepada musuh dan hinanya sebuah pengkhianatan. Demi mendengar itu Sultan Sholeh segera memerintahkan untuk menangkap Al ‘Izz dan mengasingkannya. Melihat kejadian itu rakyatpun mendatangi Sultan dan memprotesnya. Maka Sultan pun mengirim utusan kepada Al ‘Izz ditempat pengasingannya. Utusan itu mengatakan kepadanya “Tuanku meminta agar engkau kembali. Hanya engkau harus mencium tangannya.” Al ‘Izz dengan tegas menjawab “Wahai orang yang malang, kembalilah dan katakana kepada tuanmu ‘Al ‘Izz itu demi Allah tidak mau engkau cium kakinya, lalu bagaimana mungkin dia mau mencium tanganmu, Wahai orang yang malang! Dunia kalian lain dengan dunia kami.” Diantara yang teguh memegang prinsip lainnya adalah Imam Ahmad bin Hambal. Beliau mengisahkan “Berkali-kali saya tidak sadarkan diri. Jika saya tidak lagi dipukul baru saya sadar kembali. Dan pukulan itu tidak ada hentinya kecuali saya telah tumbang.” Namun beliau tetap teguh diatas prinsipnya sampai akhirnya Allah memenangkan sunnah melalui perantara beliau.

Kalau mau dikisahkan semua orang-orang yang memegang prinsip pasti banyak sekali dan akan menghabiskan banyak halaman. Namun ini cukup untuk menjelaskan bahwa orang-orang yang mau menjual prinsip mereka dengan harga yang murah namun ia berlagak mengajak kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah. Sesungguhnya mereka itu ibarat laba-laba yang membuat sarang dan rumah laba-laba yang paling rapuh. Ikhwah fillah! Marilah kita teguhkan pendirian kita. Jangan seperti bunglon atau beo. Jika orang itu baik ikut baik, jika orang itu tidak baik, juga ikut tidak baik. Mari kita membiasakan untuk berdoa : “Ya Allah, yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami dalam mentaati-Mu. Ya Allah, jika Engkau hendak menyesatkan suatu kaum maka cabutlah nyawaku dalam keadaan tidak tersesat

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9705/risalah-dari-balik-jeruji-besiprinsip-perlu-bukti-dan-pengorbanan#ixzz1fuhtOUM0

Badai Pasti Berlalu, Jihad Selamanya!
Oleh Malika Alexandrina pada Rabu 20 Oktober 2010, 10:04 PM Print
Risalah ini ditulis langsung oleh M. Jibriel Abdul Rahman a.k.a Prince of Jihad ditujukan Kepada para sahabat-sahabat seperjuangan dan para mujahid dan mujahidah muda di bumi Indonesia yang ku cintai karena Allah.

Bismillahirrahmanirrahim Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh¦ Subhanallah, segala puji bagi Allah yang dengan kitab-Nya telah menerangi hati. Shalawat dan salam buat pimpinan mujahidin, Muhammad shallallahu alaihi wasallam, beserta keluarga dan para sahabatnya. Amma ba’du: Dengan izin Allah, Aku dapat menulis kembali untuk sahabat-sahabat yang aku cintai karena Allah. Puji syukurku kepada Rabbul Izzati, yang memberikan ku kekuatan berupa kesabaran dan keistiqamahan untuk diri ini, dalam melalui setiap detik waktu dimana kebebasanku dirampas oleh para thaghut-thaghut yang mereka hanya takut kepada manusia selain Pencipta-nya. Semua rahmat Allah ini, berupa ujian dan sebagainya, ku jadikan sebagai bekal untuk di akhirat sana. Jalan jihad yang kupilih selama ini adalah jalan yang terbaik yang ku rasakan, walau kadang ada saja bisikan-bisikan syetan yang hampir saja membuatku lemah, namun shalat dan taqarrub ilallah saja yang bisa membangkitkan segala bentuk kegundahan ini.

Subhanallah, hampir 5 bulan ku disini. Hari-hari sulit itupun berlalu, yang ada sekarang ketenangan dan ketentraman. Selama ini ku selalu merasakan bahwa setiap perjuangan jihad yang kita tempuh harus ada duri-duri yang menghalang, namun perhatikanlah wahai mujahid dan mujahidah para sahabatku, di saat engkau meridhai dan selalu ikhlas dalam segala hal yang menimpamu, kau akan selalu merasa dekat dengan Allah subhanahu wa ta’ala, walau kadang air matamu harus menetes di pipi mu, lalu mengalir, sedang hati mu bak dicincang-cincang oleh pisau-pisau sehingga membuat sesak di dada mu dalam menahan segala kepedihan oleh siksaan dan hinaan para musuh-musuh dien ini. Demi Allah, badai pasti berlalu, Allahu Akbar! Indahnya berjuang di jalan Allah, kenapa kau harus takut dan mundur! Setiap jihad yang kau tempuh, semuanya akan berakhir dengan kemuliaan. Wahai para pemuda/pemudi: mujahid dan mujahidah fie sabililah sedang apa kalian di luar sana? Apa yang kalian cari untuk hidup yang fana ini? Untuk siapakah kalian hidup? Apa yang telah kalian korbankan buat agama Allah ini? Masihkah kalian berkutat dalam sebuah permasalahan yang tidak ada habisnya dengan berdebat kusir dan saling menyalahkan? Apa kalian tidak malu dengan musuh-musuh dien ini yang mereka telah mempersiapkan kekuatan mereka untuk menghabisi kalian dan kehormatan wanitawanita muslimah di luar sana? Hasbunallah wanikmal wakiil. Ikhwani wa akhwati rahimakumullah Semua diantara kita bisa berbicara apa saja dengan apa yang ia miliki dari sedikit ilmu yang ia teguk dengan mempelajarinya. Namun apa itu sudah cukup untuk menjadikanmu mulia?! Sebanyak mana ilmu yang kau miliki, sehingga kadang kau merasa lebih baik dari orang lain. Hati yang bersih putih itu bisa menjadi hitam gara-gara kau menyombongkan diri dengan kehebatan yang kau rasakan kaulah yang paling benar di muka bumi ini. Sungguh ironis, bila ada manusia yang tidak pernah tawadhu’ dengan ilmu yang Allah karuniakan. Apa sih manfaatnya menjadi manusia takabur, hatinya penuh kedengkian, serta tidak suka sahabatnya merasakan kegembiraan, dan ia lebih suka menggunjing dan menebar fitnah sehingga membuat manusia lain terjerumus ke dalam api neraka! Apa ini akhlak pemuda dan pemudi yang mengaku-ngaku berjihad di jalan Allah?! Sedangkan ia belum pernah diuji dengan kesusahan dan kesulitan. Hati ini kadang perlu nasehat dan teguran agar tidak lalai. Motivasi dan tahridh Insya Allah bisa membuat hati yang keras menjadi lembut. Semua ini perlu keikhlasan, Demi Allah, Aku sedih bila ada diantara sahabat-sahabat yang Aku kenal atau tidak, terjebak dalam hal-hal yang semestinya ia tidak perlu jatuh di dalamnya. Mungkin kadang kalian merasa aneh, kenapa Aku agak sedikit emosi dan kasar dalam mengutarakan berbagai bentuk perkara, dari hal tahridh dan motivasi. Demi Allah, karena Aku adalah pemuda seperti kalian, yang juga merasakan segala hal kesulitan dalam setiap tindakan yang terjadi. Kegelisahan terhadap hal-hal yang terjadi pada ummat ini, sehingga kadang melihat kedzaliman-kedzaliman yang terjadi di muka bumi ini membuat kita semua menjadi pemuda-pemudi yang peka zaman dan tampil menjadi sosok-sosok militan yang kadang saja melebihi orang-orang yang berpengalaman dalam hal itu.

Dari sederet hal dan masalah dalam perjuangan ini, Allah subhanahu wa ta’ala, memberikan Aku sedikit ilmu, yang Aku berharap ilmu ini bisa bermanfaat buat mujahidmujahid muda di luar sana. Semoga semua nasehat dan motivasi yang bisa Aku sampaikan ini bisa membuat kalian lebih dewasa untuk menghadapi segala rintangan dalam membela agama Allah ini. Tujuan yang mulia ini tidaklah mudah saudaraku, bahkan cita-citaku ingin menjadi pemuda pengukir sejarah dengan darah, yang pastinya dengan dakwah dan jihad. Namun semua ini bukan hal yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Ia butuh banyak pengorbanan, jiwa raga, darah, dan segalanya. Ikhwani Fillah Selalu sebelum ini, Aku sering menyampaikan betapa pentingnya persatuan dan ukhuwah, serta aqidah. Ilmu dan amal. Ucapan tanpa perbuatan apalah artinya? Begitu juga istiqamah dan kesabaran. Semua pengalaman telah mengajarkan ku bagaimana dan untuk apa? Bagaimana caranya atau metode terbaik dalam dakwah dan jihad, dan untuk apa kita berjuang fie sabilillah. Sementara itu kita mengetahui bahwa menjadi mujahid di jalan Allah tidaklah gampang dan membuahkan banyak problematika dalam urusan duniawi serta kehidupan ke depan. Renungkan hadits-hadits dan pengalaman mujahid yang ikhlas dalam menjalani ujian-ujian di medan dakwah dan jihad ini beserta seluruh tantangannya.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala itu tergantung kepada besarnya ujian. Jika Allah mencintai suatu kaum maka Allah akan mengujinya. Siapa yang ridha maka baginya keridhaan Allah dan siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. At Tirmidzi dan Abu Dawud)

Dan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yang berikut: “Siapa yang dikehendaki Allah padanya suatu kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah (diberi cobaan) kepadanya.” (HR. Bukhari, Ahmad, dan Malik) Subhanallah, berdasarkan hadits-hadits berikut, dan berbagai pengalaman para mujahid yang ikhlas dalam berjihad, diperoleh data bahwa berbagai bentuk ujian yang ditemui dalam medan jihad fie sabilillah, yang sering menimpa ke atas mereka, sebagai berikut: 1. Mujahid itu menjadi asing di tengah masyarakat maupun di tengah keluarga sendiri. Karena reaksi ini muncul disebabkan kebodohan dan kekurangan ilmu jihad itu sendiri. Biasanya mujahid tidak banyak yang kuat menghadapi tantangan ini, karena masih ada pertalian darah dan cinta, diantara istri, anak, orang tua dan lain-lain. Dan jika kita terus pada prinsip jihad ini, bisa jadi mereka sendiri yang akan melaporkan kita kepada para thaghut dan memboikot perjuangan kita. 2. Karena menjadi mujahid adalah orang asing dalam masyarakat, maka lapangan kerja dan rezeki halal menjadi sempit, serta selalu diawasi oleh thagut, dimusuhi oleh masyarakat, difitnah, dihina dan direndahkan dengan berbagai perkara yang menyakitkan.

3. Disebabkan sumber mencari rezeki halal menjadi sulit dan sempit, dan sulit beradaptasi di masyarakat, maka nafkah yang diperoleh menjadi terbatas, bahkan menjadi miskin. 4. Dikarenakan keluarga memboikot, masyarakat memusuhi, bahkan rezeki dan nafkah hampir-hampir sulit untuk diperoleh untuk diri sendiri dan keluarga, sehingga situasi ini membuat jiwa dan iman menjadi goyah dan goncang, dan membuat dirinya bertanya, apakah jihad ini harus dilanjutkan?! Atau mundur sejenak demi memperbaiki ekonomi keluarga?! 5. Berbeda dengan ujian ketika berada langsung di medan perang itu sendiri, bentuk ujian menjadi berbeda, ingat dengan dunia, perasaan takut dan khawatir menyelubungi diri, bahkan khawatir dengan serangan-serangan musuh yang begitu dahsyat dari segala penjuru. Dalam kondisi begini, sedangkan persiapan sangatlah minim dibanding pasukan musuh. Selain kekhawatiran dan rasa takut, para mujahidin juga akan merasakan kelaparan, sakit badan akibat tembakan peluru musuh-musuh Islam. 6. Sehingga bilamana mujahidin itu ditangkap, maka para musuh-musuh akan berlaku kejam terhadapnya, menyiksanya tanpa belas kasih, dan mencaci dengan cacian yang menyakitkan. Maka benarlah firman Allah Azza wa Jalla: "Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakitimu, dan mereka ingin kamu (kembali) kafir.” (QS Al Mumtahanah (60): 2) Subhanallah, banyak mujahid yang gugur menghadapi bentuk ujian berikut, bahkan berbalik menjadi spionase (mata-mata/intel) bagi pihak thaghut dalam memata-matai para mujahidin. Ikhwani wa Akhwati Fillah Sedikit kisah dariku dalam mengalami tindakan bejat para musuh-musuh dan thaghut ini sewaktu berada dalam tawanan mereka. Semoga kisah ini juga mewakili para mujahid yang lain, dan menjadi ladang amal untukku, dan semoga Allah menjada keikhlasan kami dalam jihad ini. Allahumma amien. Satu ketika, sewaktu Aku dalam kondisi yang sangat mengenaskan. Mataku ditutup menggunakan plastik, lalu ditempeli lakban serta tangan dan kaki diborgol. Mereka para musuh Allah ini tidak segan-segan lagi untuk menyiksaku, sungguh naif sekali mereka, Demi Allah ikhwah, mereka ini lebih hina dari binatang, pengecut, hanya mampu menyiksa kita dengan kondisiku terikat. Bahkan kata-kata penghinaan terhadap jihad sering muncul, ditambah dengan ludahan dari mulut busuk mereka. Qaatalahumullah… Tidak dinafikan, situasi seperti itu akan membuat hati kita hancur, bahkan pasrah, sehingga di saat itu ingin saja lidah ini mengucapkan kata-kata menyerah serta berbalik menjadi kufur. Berat sekali ujian-ujian para da’i dan mujahid ikhwani fillah…

Sebenarnya banyak lagi kisah, namun suatu saat nanti Aku akan ceritakan, Insya Allah. Maha Suci Allah, semua ini Aku dan teman-teman mujahid yang lain lalui dengan ikhlas, walau ada juga yang tidak tahan. Semoga mereka bisa sabar dan istiqamah. Melalui hal ini, ada juga ujian lain yang Aku rasakan, bahkan lebih pelik lagi. Kita selalu disalahkan, bahkan dituduh dengan tuduhan yang keji. Bagiku, Aku berjuang untuk mencari keridhaan Allah dan menikmati semua pengalaman ini dengan ikhlas dan sabar, karena Allah mengetahui apa yang terbaik untuk hambaNya. Dari sedikit kisah dan motivasi ini, saudaraku yang Aku cintai karena Allah… para mujahidin dan mujahidah muda sekalian, renungkanlah, dan muhasabahlah… mengapa kita tidak bisa bersatu…?! Mengapa kita suka berpecah dan saling menggembosi? Bukankah semua amalan itu bukan untuk siapa-siapa juga. Semua kembali untuk diri masing-masing. Ketauhilah, cepat atau lambat Allah akan memperlihatkan mana yang haq dan mana yang bathil, mana yang istiqamah dan mana yang tidak. Justru bagi yang kerjanya hanya bisa berkoar-koar dan memecah belah umat inilah yang akan sengsara, karena ilmunya tidak bermanfaat untuk manusia, tapi justru membuat kebencian diantara manusia. Apa yang telah Anda berikan untuk agama Allah ini? Karya apa yang Anda berikan untuk izzatul Islam? Sehingga manusia mengingat dan mendapat manfaat darinya? Berbuatlah walaupun sedikit, dewasalah dan rendahkanlah emosi serta kesombongan sesaatmu itu. Karena tidak ada manfaatnya juga untuk dirimu jika kamu menyombongkan diri terhadap orang lain. Ilmu itu milik Allah, kapan saja Allah bisa memuliakan kamu dan menghinakan kamu. Sadarlah, ummat ini butuh manusia-manusia yang luar biasa, yang bisa menuntun mereka ke satu barisan yang bisa membawa mereka ke surga. Jadi, jangan jadi manusia yang dangkal, seolah-olah ilmu Allah itu sedikit. Pelajari cara yang terbaik untuk menyampaikan dakwah dan jihad ini, dia tidak akan selesai jika kamu selalu memvonis, atau mengkafirkan mereka! Nabi adalah sosok qudwah hasanah, sosok terbaik dalam menyampaikan dakwahnya. Namun banyak diantara kita tidak memperhatikan hal-hal realita kekinian yang ada. Kita ini berhadapan dengan manusia abad 21, yang butuh metode dakwah yang hebat serta modern, namun tidak keluar dari koridor Al Qur’an dan As Sunnah. Lihatlah Dr Syaikh Abdullah Azzam (rahimahullah), sungguh luar biasa, dia bisa menyatukan kaum muslimin dari timur ke barat, sehingga seluruh ummat Islam berkumpul di bawah satu bendera jihad di waktu jihad Afghan. Bahkan para mujahid-mujahid kala itu sangat menghormati hal-hal khilafiyah diantara mazhab yang dianut, dan sewaktu itu rakyat Afghanistan yang bermazhab Hanafi tidak pernah mempermasalahkan mujahid yang bermazhab Syafi’i. Luar biasa, Anda tahu kenapa? Karena hati mereka telah bersatu, dalam ukhuwah dan aqidah, dan andai ada khilaf, mereka menyelesaikannya dengan baik. Lalu bagaimana kondisi kita saat ini? sangat memprihatinkan sekali ikhwani fillah. Sebelum Aku ditangkap, Aku sempat melihat hal-hal pelik ini, bahkan disini (penjara), Aku mendengar kabar dari beberapa saudaraku yang konsisten dalam dakwah ini, mereka bercerita kondisi yang terjadi diantara yang mengaku mujahid atau da’i, justru sebaliknya

saling menjegal, menjatuhkan di forum-forum Islam, merasa argumentasinya paling bagus, bahkan memvonis khawarij dan murji’ah sementara tidak tahu dengan makna tuduhan itu, serta tidak punya unsur malu dan tawadhu’. Hasbunallah wa nikmal wakil… Percayalah, Anda yang termasuk melakukan hal tersebut sudah membuat gembira para thaghut dan mencoreng nama jihad dan mujahidin itu sendiri. La hawla wa laa quwwata illa billah… Apa kalian mengaku beriman kepada Allah, sedangkan kalian belum diuji? Coba renungkan surat Al Ankabut, ayat ke 2 - 3 “Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.” (QS Al Ankabut (29): 23) Janganlah sombong wahai orang-orang yang lupa diri, Allah lebih mengetahui orangorang yang benar, dan mana yang berdusta, dan bukan hanya mengaku-ngaku beriman! Bertaqwalah kepada Allah! Dan bertaubatlah dan jadilah manusia yang bermanfaat. Maka kembalilah kepada Al Qur’an dan As Sunnah di saat semua hal yang kau perbuat telah melenceng. Menjadi manusia yang baik itu mudah, selalu muhasabah dan melihat pada kelemahan diri sebelum melihat atau menunjuk kepada diri orang lain. Ingat dengan falsafah jari sewaktu menunjuk, satu buat orang yang ditunjuk, selebihnya untuk diri kita. Saudaraku yang Aku cintai karena Allah… Aku bukanlah pemuda yang sempurna, bahkan lebih banyak kekurangannya dari kelebihannya. Namun Allah memberikan pelajaran berharga dengan harusnya Aku beruzlah di penjara ini. Banyak hikmah dan manfaat yang aku dapatkan, sehingga Aku juga ingin kalian sepertiku, walau tidak semua bisa seperti ini. Paling tidak menjadi yang terbaik buat perjalanan jihad ini adalah impian kita semua. Sehingga saling menasehati dalam kesabaran dan kebaikan adalah kerja terbaik bagi cikal bakal mujahid fie sabilillah. Sebelum kita dipilih menjadi mujahid yang hebat atau agung seperti Syaikh Abdullah Azzam, Syaikh Usamah, dan lain-lain, maka kita harus mulai dari hal-hal yang sederhana, dan melalui segala rintangan dan ujian ini dengan penuh sabar dan istiqamah. “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka.” (QS At Taubah (9): 111) Surga, oh surga yang indah, Aku ingin surga yang indah ini, dan itulah janji Allah buat para mujahidnya. Begitu juga kalian. Tapi kita harus terbunuh sebagai syuhada’ dulu ikhwah. Bila mana kita sudah berani menjadikan jihad fie sabilillah ini sebagai program hidup ini (yuqtal aw yaghlib) membunuh atau terbunuh, berperang atau diperangi, menang atau mati di jalan Allah, maka orang itu termasuk muflihun sejati. Namun hanya segelintir manusia seperti ini menjadi pilihan Allah, Baadiruu…. Segeralah mengejarnya… Allahu Akbar! Semoga Allah memilih kita sebagai mujahid dan mujahidahnya, dan bersatu dalam barisan mujahidnya sehingga kita meraih syahid di dalamnya. Maafkan Aku atas segala

kesalahan dan do’akan Aku agar istiqamah dalam ujian ini, dan diberikan kemenangan dalam segala urusan. Aku mencintai kalian karena Allah, teruslah berjuang, dengan apapun semampu kalian. Bangkitlah dan perangilah thaghut sampai hari kiamat. Semoga kita bisa bertemu lagi di alam bebas. Yang benar hanya milik Allah, yang salah dari pribadi Aku. Ilal liqo’, Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar! Wal Izzatu lillah…! Saudara kalian Prince of Jihad, Muhammad Jibriel AR 7/1/2010 Istana Uzlah, Depok

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9601/badai-pasti-berlalu-jihadselamanya#ixzz1fuiBMjkQ

Khutbah Idul Adha 1431 H: Menolak Syari’ah Menuai Bencana
Oleh Saif Al Battar pada Senin 15 November 2010, 04:44 PM Print Oleh: Ustadz Irfan S. Awwas (Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin) Bismillahirrahmanirrahim... MENGAWALI khutbah ini, terlebih dahulu marilah kita memuji kebesaran Ilahy, yang telah menunjukkan jalan hidayah, sehingga kita menjadi orang-orang yang beriman. Kita bersyukur kepada Allah Swt yang telah mencukupkan segala kebutuhan makhluk-Nya. Allah Swt mengetahui, makhluk-Nya membutuhkan sinar mentari agar senantiasa menyinari bumi, dan malam untuk beristirahat, maka Allah tidak menghentikan peredaran matahari, dan tidak mencabut perputaran malam; walau sepanjang malam dan siang hari banyak manusia bergelimang dalam dosa, menolak perintah dan mengabaikan larangan-Nya. Shalawat dan salam kita sampaikan kepada Nabi Muhammad Saw, keluarga, para shahabat, tabi'it-tabi'in serta seluruh kaum Muslimin yang setia mengikuti sunnah beliau hingga hari kiamat. Kemudian, sebagai khatib pada kesempatan khutbah Idul Adha 1431 H ini, kami mengingatkan diri pribadi dan segenap jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan taqwa, agar Allah Swt berkenan memberi solusi atas problem yang kita hadapi. Marilah

peningkatan taqwa ini kita jadikan sebagai agenda hidup yang utama, agar menjadi manusia ideal menurut Islam, seperti firman-Nya: "Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di hadapan Allah adalah orang yang paling bertaqwa. Sesung- guhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (Qs. Al-Hujurat, 49:13) Di zaman kita sekarang ini, sedikit orang yang menjadi kan taqwa sebagai pola hidupnya, yaitu menjalani hidup di bawah naungan syari'at Allah. Kebanyakan umat Islam adalah 'Muslim Otodidak' yang mengamalkan Islam menurut pemahaman dan penghayatan pribadinya, sehingga adakalanya benar dan lebih sering keliru mema hami dan mengamalkan perintah taqwallah. Sebagai manifestasi pola hidup taqwa, Islam mengajar- kan supaya manusia menjalani kehidupan berdasarkan petunjuk Allah. Dan mengikuti petunjuk Allah berarti menjalani kehidupan ini sebagai hamba Allah, menyembah-Nya sesuai dengan yang diperintahkanNya, serta melaksa- nakan syari'at Islam agar tercapai missi rahmatan lil alamin. Prinsip utama beragama Islam adalah memiliki aqidah yang lurus tanpa dicampuri kesyirikan, ibadah yang benar, akhlak yang terpuji, dan muamalah (hubungan sosial) yang baik. Adapun pilar-pilar aqidah meliputi iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitabkitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhirat, dan takdir, yang kita kenal dengan rukun iman. Ibadah yang benar adalah ibadah yang didasarkan atas perintah Allah, bukan karena bisikan jin atau berdasarkan wangsit juru kunci merapi. Sedangkan prinsip akhlak dan muamalah yang baik mengikuti tauladan rasulullah Saw. Beriman kepada rukun iman yang enam, menuntut pengakuan terhadap satu-satunya agama yang benar, adalah Islam. Oleh karena itu, dalam segala urusan, orang berimana tidak pantas mengikuti gaya hidup orang kafir, sekuler, liberal, yang tidak mengimani rukun iman itu. Tidak pantas bagi orang beriman mengikuti jalan hidup yang ditunjukkan oleh kaum sesat dan dimurkai Allah seperti Yahudi, Nasrani serta orang-orang musyrik. Lebih tidak pantas lagi, ketika rakyat Indonesia ditimpa musibah tsunami, gempa dan gunung berapi, anggota DPR RI malah ngelencer ke Belanda, belajar hukum kolonial pada mantan penjajah. Atau belajar etika dan moral, ke negeri Plato Yunani, sekadar menghabiskan anggaran belanja. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Di hari Idul Adha yang penuh barakah ini, marilah kita memperbanyak istighfar, membasahi bibir dengan lantunan takbir, tahmid, dan tahlil sebagai manifestasi rasa syukur kita kepada Allah swt. Pada hari Senin kemarin, 9 Dzulhijjah 1431 H, sekitar 3 juta orang dari 1,5 milliar umat Islam seluruh dunia, wukuf di Arafah, menunaikan ibadah haji, rukun Islam yang ke

lima. Sungguh menakjubkan, belum pernah ada seruan apapun di muka bumi ini selain dari seruan Allah yang mampu menghimpun manusia sebanyak itu di satu lokasi yang sama, pada waktu yang sama, untuk tujuan yang sama, dan mengenakan pakaian ihram yang sama. Wuquf di padang Arafah merupakan puncak ibadah haji. Seluruh jamaah berkumpul, mengenakan pakaian ihram. Mereka melepaskan segala pakaian kemewahan duniawi, segala kedudukan dan jabatan duniawi, mereka lupakan negeri asal mereka, bahkan harta kekayaan maupun jabatan duniawi tak lagi berarti. Pikiran dan hati hanya terfokus untuk menghadap Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Pengampun. Sementara, kita yang belum berkesempatan menunai- kan ibadah haji tahun ini, hari ini dalam suasana kepriha- tinan mendalam atas musibah merapi, kita berkumpul di tempat ini untuk beribadah kepada Allah, melaksanakan perintah agama: 'Idul Qurban, sambil mengumandangkan takbir, tahmid dan tahlil. Inilah hari besar kemanusiaan dan keimanan, untuk mengenang peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim setelah beliau menerima wahyu Ilahy melalui mimpi, yang memerintahkan untuk menyembelih puteranya, Ismail As. Sekiranya spirit kebersamaan dengan motivasi iman seperti ditunjukkan di padang Arafah itu, ditauladani dan menjadi inspirasi bagi pemerintah Indonesia khususnya dan pemerintah di negeri-negeri Muslim umumnya, tentulah perbedaan hari raya Idul Adha tidak perlu berulangkali terjadi. Mengapa harus ngotot dengan egoisme masing-masing, melestarikan perbedaan dengan dalih rukyah ataupun hisabiyah. Semestinya bangsa Indonesia dapat mempelopori persatuan kaum Muslimin, dengan saling merendahkan sayap sesama Muslim, agar tidak melestarikan perbedaan parsial. Bukankah ka'bah yang menjadi kiblat shalat kaum Muslim sedunia hanya ada di Makkah, sebagaimana padang Arafah tempat wukuf, tiada duanya di muka bumi ini, selain di Makah? Nuansa politisasi ibadah, masih kental dalam perbedaan hari Idul Adha ini. Dimasa rasulullah Saw dan khulafaur rasyidin, penentuan Idul Adha mengikuti penentuan hari wukuf Arafah. Tidak pernah ditentukan dengan cara lain, karena itu menyalahi cara ini berarti menyalahi cara Rasulullah Saw. Perbuatan demikian adalah bid'ah yang sesat dan menyesatkan. Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Sambil memuji dan membesarkan asma Allah, marilah kita merenungkan dan mengambil i'tibar dari berbagai musibah yang tak henti-hentinya menghempas kehidupan masyarakat dan bangsa kita. Situasi dan kondisi bangsa Indonesia hari ini, bagai berdiri ditepi jurang pada malam gelap gulita. Berbagai musibah alam dan kejadian memilukan, telah membuat rakyat

negeri ini kebingungan menghadapi banyak persoal- an hidup, dan mengkhawatirkan persoalan-persoalan yang akan datang berikutnya. Barangkali benar, bangsa Indonesia tengah menuai akibat perbuatan mungkarat yang dilakukan manusia-manusia tidak bermoral, pejabat yang zalim, ingkar dan tidak tunduk pada aturan Allah dalam menyuburkan bumi dan mengelola negeri ini. Seakan tidak ada tempat tinggal yang aman dan nyaman untuk didiami. Menurut Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), 83 persen wilayah Indonesia rawan bencana. Dalam kurun waktu 381 tahun sejak 1629 hingga 2010, tsunami sudah terjadi sebanyak 171 kali di Indonesia. Dan dalam sepuluh tahun terakhir, ada lebih dari enam ribu bencana terjadi di Indonesia. Ibarat kata, rakyat Indonesia terus menerus dikejar-kejar bencana, di dalam negeri hingga mancanegara. Lihatlah nasib TKI dan TKW, berapa banyak di antara mereka yang dianiaya atau diperkosa majikannya; bahkan nasib calon jamaah haji kita pun setiap tahun tak henti dirundung sial. Ada yang ditimpa kelaparan, juga kehilang- an barang bawaan di pemondokan; bahkan banyak yang tidak bisa berangkat ke tanah suci sekalipun sudah melunasi ONH dan memegang visa. Pertanyaannya, mengapa negeri kita kian akrab dengan adzab dan kian jauh dari rahmat Allah? Alangkah bijaksana jika bangsa Indonesia merenungkan firman Allah dalam AlQur'an surat Al-A'raf ayat 97-99, sebagai jawaban atas pertanyaan ini. "Apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari tatkala mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka diwaktu pagi ketika mereka sedang bermain-main? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi." (Qs. Al-A'raf, 7:97-99) Perilaku umat yang kering dari ajaran agama akan menyuburkan kemaksiatan dan kedurhakaan kepada Allah. Seperti dikatakan seorang ulama, Hasan Albasri: "Seorang mukmin mengerjakan amal taat dengan hati dan perasaan yang senantiasa takut pada Allah, sedang orang yang durhaka berbuat maksiat dengan rasa aman."

MENYIKAPI MUSIBAH Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah Bangsa Indonesia patut berkabung, karena negeri kita tidak saja terancam bencana alam. Tapi yang lebih memprihatinkan, negeri kita juga terancam virus korupsi, dekadensi

moral, kemiskinan, kerusuhan sosial antar warga, narkoba, aliran sesat, bahkan penculikan dan jual beli anak. Lebih memprihatinkan lagi, semakin sering musibah menimpa, masyarakat luas malah semakin berani dan terbuka berbuat dosa. Segala musibah ini, bukannya mendorong kita untuk taqarrub ilallah, menyadari dosa dan kesalahan, lalu memperbaiki diri dengan meningkatkan amal shalih. Tapi justru semakin ingkar dan memusuhi syari'at Allah. Di kalangan masyarakat, nampaknya belum juga menyadari, bahwa segala derita dan kesengsaraan yang kita alami, berkaitan erat dengan kemaksiatan dan dosa yang merajalela. Allah Swt berfirman: "Apakah belum jelas bagi mereka yang mewarisi suatu negeri sesudah lenyap penduduknya yang lama, bahwa jika Kami menghendaki tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga tidak dapat mendengar pelajaran lagi?" (Qs. Al-A'raf, 7:100) Ayat ini mempertanyakan cara kita menyikapi bencana yang datang bertubi-tubi silih berganti. Apakah belum cukup untuk menyadarkan kita, berapa banyak umat yang sebelum kita telah ditimpa bencana? Belumkah cukup untuk mengingatkan kita, segala peristiwa bencana mulai Tsunami Aceh Desember 2004, gempa bumi di jogjakarta (2006) hingga bencana dahsyat Gempa tektonik 30 September 2009 di Padang, Sumatera Barat. Bahkan di atas puing-puing jenazah mereka kita berjalan, menjadi kan nya daerah wisata. Kini dan disini, sejak 26 Oktober lalu, kita diliputi awan panas gunung merapi. Sungguh pedih, menyaksikan korban anak-anak, orang tua dan wanita yang terpanggang bara lahar pijar, awan panas dan debu merapi. Perkam- pungan penduduk luluh lantak, sehingga memaksa lebih dari 100.000 orang dievakuasi, dan lebih dari 100 orang meninggal. Sebelumnya 25 Oktober, lebih dari 400 orang meninggal di Kepulauan Mentawai dan lebih dari 15.000 orang kehilangan tempat tinggal akibat tsunami. Puluhan orang masih tidak ditemukan. Begitupun, banjir yang melanda Wasior di Papua Barat menyebabkan sedikitnya 148 orang meninggal. Subhanallah, apa dosa rakyat Indonesia, sehingga terus menerus digoncang fitnah dan dilanda musibah? Amirul Mukminin, Ali bin Thalib ra berkata: "Tidaklah turun bencana kecuali diundang oleh dosa. Dan tidak akan dicabut suatu bencana kecuali dengan tobat." Dosa yang dilakukan secara individu maupun kolektif di negeri ini sungguh dahsyat. Di zaman orde lama, rakyat Indonesia digiring pada ideologi Nasakom, sehingga kaum anti tuhan PKI hidup subur. Di zaman orde baru, bangsa Indonesia ditaklukkan dengan asas tunggal pancasila, yang kemudian atas tuntutan reformasi dihapuskan oleh Presiden BJ Habibi. Pada saat ini, kezaliman dan korupsi merajalela. Dan di zaman reformasi ini, berkembang aliran sesat dan melakukan deradikalisasi Islam melalui terjemahan Alqur'an

terbaru dengan misi liberalisme dan sekularisme. Semua perbuatan ini adalah terkutuk yang mengundang murka Allah. Para pemimpin formal maupun informal, seharus- nya menjadi contoh yang baik, bukan contoh yang buruk bagi rakyatnya. Sebab, para pemimpin menjadi simbol kebangkitan atau kehancuran suatu bangsa. Merekalah yang bertanggung jawab terhadap kerusakan dan penyelewengan-penyelewengan di penjuru negeri yang mengakibatkan lahirnya kemungkaran kolektif secara merata. Di dalam Qur'an disebut model kepemimpinan di duni ini ada dua, yaitu pemimpin yang mengajak kepada Nur dan pemimpin yang mengajak kepada Nar. Pemimpin yang mengajak pada Nur, digambarkan di dalam Al-Qur'an sebagai sosok yang memimpin rakyatnya ke jalan Allah. "Kami jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka menyembah." (Qs. Al-Anbiya, 21:73) Ketika para pemimpin menyimpang dari petunjuk Allah dan meninggalkan syari'at Islam dalam menjalankan roda pemerintahan, mereka pasti membawa rakyatnya mengikuti jalan syetan yang akan menjerumuskan mereka pada malapetaka di dunia dan di akhirat. Karena itu, semestinya bangsa Indonesia tidak mempercayakan nasib dan masa depan negeri ini pada mereka yang akan mencelakakan rakyatnya: "Dan Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menyeru manusia ke neraka dan di hari kiamat mereka tidak akan ditolong. Dan Kami ikutkanlah la'nat kepada mereka di dunia ini, dan pada hari kiamat mereka termasuk orang-orangyang dijauhkan dari rahmat Allah." (Qs. Al-Qashas, 28:41-42) Oleh karena itu, seruan untuk menegakkan Syari'at Islam di lembaga negara, bukan saja untuk membebaskan manusia dari belenggu kemiskinan dan penindasan. Tetapi juga untuk membebaskan umat dari ancaman siksa Allah yang datang mungkin disaat kita sedang tidur, atau disaat kita sibuk bermain-main di pagi hari; atau disaat yang kita tidak sangka, yang tidak dapat dipantau sekalipun menggu- nakan teknologi canggih. Pada saat negeri kita diguncang bencana seperti sekarang, alangkah baiknya jika para pemimpin negeri ini belajar pada kebijakan khalifah Umar Ibnul Khathab, tatkala rakyat yang dipimpinnya mengalami pacekelik. Beliau yang bergelar Al-Faruq, telah meletakkan dasar-dasar semangat saling membantu dan meringankan beban sesama, tentang bagaimana seharusnya para pemimpin berbuat pada saat rakyatnya mengalami penderitaan? Pada masa kekhalifahan Umar Ibnul Khattab ra, pernah terjadi kemarau panjang, diikuti bencana alam, gempa bumi dan angin badai. Akibatnya, kelaparan merajalela, wabah penyakit melanda masyarakat dan hewan ternak. Demikian sedih menyaksikan kondisi

rakyatnya, sehingga beliau bersumpah tidak akan makan daging dan minum susu sebelum bahan makanan tersebut dinikmati oleh semua penduduk. Umar yang Agung berusaha keras menundukkan ambisi pribadinya, mengendalikan kepentingan diri dan keluarganya, demi mengutamakan kepentingan rakyat yang lebih membutuhkan. Sehingga keluarlah ucapannya yang terkenal: "Bagaimana aku dapat memperhatikan keadaan rakyat, jika aku sendiri tidak merasakan apa yang mereka rasakan." Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Negeri ini sedang menantikan fajar menyingsing, sambil menelusuri jejak yang dapat membimbing ke jalan hidayah. Adakah solusi atau jalan keluar dari segala ancaman musibah ini? Al-Qur'an menjelaskan, manusia akan dapat terbebas dari murka Allah, asalkan mau mematuhi aturan-aturan Allah dalam bentuk ibadah, perilaku sosial, termasuk dalam sistem pemerintahan. Jaminan ini termaktub dalam Qs. Al A'raf ayat 96: "Sekiranya penduduk negeri-negeri di dunia ini beriman dan bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan membukakan pintu-pintu berkah dari langit dan dari bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Kami itu, maka Kami siksa mereka akibat perbuatannya." Ayat ini menjelaskan, bahwa kunci pembuka rezki dan pembebas dari bencana adalah iman dan taqwa. Artinya, jika kita ingin menikmati indahnya Islam dan merasakan berbahagianya menjadi Muslim, kerjakanlah perintah dan jauhi larangan Allah, ambil yang halal dan tinggalkan yang haram. Allah akan memberi berkah kepada rakyat yang beriman, taat dan menjauhi syirik. Sebaliknya akan mengazab rakyat yang berbuat syirik, maksiat dan mengingkari syari'at Allah.

MUNAJAT Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah ‫ال اكبر ال اكبر ول الحمد‬ Mengakhiri khutbah ini, marilah kita berdo'a, dengan meluruskan niat, membersihkan hati dan menjernihkan fikiran. Semoga Allah memperkenankan do'a hamba-Nya yang ikhlas, memperbaiki kehidupan kita, sehingga negeri ini menjadi baldatun thayyibatun warabbun ghafur, negeri dengan predikat 'gemah ripah loh jinawi' dan mendapat ampunan Allah Swt.

ِ ِ ُ ّ َ ُ َ ِ ْ ِ َ ْ َ ِ َ َ َ ّ َ ِ ِ َ ُ َّ ُ َ َ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِ َ ِ ْ َ َ ْ َ َ َ َ ْ َ ِ ِ ُ ْ ُ َ َ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ ْ ّ ُ ّ َ ‫اللهم اقسم لنا من خشيتك ما تحول به بيننا وبين معصيتك ، ومن طاعتك ما تبلغنا به جنتك ، ومن اليقين ما تهون به‬ ‫علينا مصائب الدنيا ، اللهم متعنا بأسماعنا ، وأبصارنا ، وقواتنا ، ماأحييتنا ، واجعله الوارث منا ، واجعل ثأرنا على‬ ََ َ َ ْ َ ْ َ ْ َ ّ ِ َ ِ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ َ ْ َ ْ َ َ َ ِ ّ ُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ َ ْ َ ِ َ ْ ِ َ ّ ُ ّ َ َ ْ ّ َ ِ َ َ َ ْ ََ َ َ َ ِ ْ ِ َ َْ َ َ َ ّ َ َ َ ْ َ َ ْ ّ ِ َ ْ َ َ َ َ ِ ْ ِ ْ ِ َ َ َ ْ ِ ُ َ ْ َ َ َ َ َ َ ْ َ ََ َ ْ ُ ْ َ َ َ ََ َ ‫منْ ظلمنا ، وانصرنا على من عادانا ، ول تجعل مصيبتنا في ديننا ، ول تجعل الدنيا أكبر همنا ، ومبلغ علمنا ، ول‬ ‫تسلط علينا من ل يرحمنا اللهم ألف بين قلوبنا ، وأصلح ذات بيننا ، واهدنا سبل السلم ، ونجنا من الظلمات إلى‬ َِ ِ َ ُّ َ ِ َ ّ َ َ ِ َ ّ َ ُ ُ َ ِ ْ َ َ ِ ْ َ َ َ ْ ِْ ََ َ ِ ْ ُُ َ ْ َ ْ َّ ّ ُ ّ َ َ ُ َ ْ َ َ ْ َ َ ْ ََ ْ َّ ُ ُ ْ ِ ّ ُ ّ ّ َ ْ َ َ ّ ِ َ ْ ََ ْ َُ َ ِ ّ ّ ُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ ْ ُُ َ َ ِ َ ْ ََ َ ِ َ ْ َ ْ ِ َ َ ْ ِ َ َ ِ ْ ّ ‫. النور ، وبارك لنا في أسماعنا ، وأبصارنا ، وقلوبنا ، وأزواجنا ، وذرياتنا ، وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم‬ ‫وصلى ال على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، والحمد ل رب العالمين ، اللهم اغفر لنا ولوالدينا وارحمهم كما‬ َ َ ْ ُ ْ َ ْ َ َ ْ ِ ِ َ َِ َ َ ْ ِ ْ ّ ُ ّ َ َ ْ ِ َ َ ْ ّ َ ِ ُ ْ َ ْ َ َ ْ ِ َ ْ َ ِ ِ ْ َ َ ِ ِ ََ َ ٍ ّ َ َ ََ ُ َّ َ ‫ربونا )ربيانا( صغارا ، ولجميع المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الحياء منهم والموات ، اللهم ربنا آتنا‬ َ ِ َ ّ َ ّ ُ ّ َ ِ َ ْ َ ْ َ ْ ُ ْ ِ ِ َ ْ َ ْ ِ َ ِ ْ ُ ْ َ َ ْ ِ ِ ْ ُ ْ َ ِ َ ِْ ُ ْ َ َ ْ ِ ِْ ُ ْ ِ ِ َ َِ ً َ ِ َ َ َ َ َ ْ َّ ‫ِ ّ ْ َ َ َ َ َ َ ِ ْ ِ َ ِ َ َ َ َ َ ِ َ َ َ َ ّ ِ َ َّ ُ ََ ُ َ ّ ٍ َ ََ ِ ِ َ َ ْ ِ ِ َ ْ َ ِ ْ َ ُ ْ َ َ َّك‬ َ ‫في الدنيا حسنة وفي الخرة حسنة وقنا عذاب النار ، وصلى ال على محمد وعلى آله وصحبه أجمعين ، سبحان رب‬ َ ْ ِ َ َ ْ ّ َ ّ ُ ْ َ ْ َ َ ْ َِ ْ ُ ْ ََ ٌ َ َ َ َ ُ ِ َ ّ َ ِ ّ ِ ْ ّ َ ‫رب العزة عما يصفون ، وسلم على المرسلين والحمد ل رب العالمين‬ ِ Ya Allah, ya Rab kami, bagi-bagikanlah kepada kami demi takut kepada-Mu apa yang dapat kiranya menghalang antara kami dan ma'siat kepada-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu apa yang sekiranya dapat menyampaikan kami ke sorga-Mu; dan (bagi-bagikan juga kepada kami) demi taat kepada-Mu dan demi suatu keyakinan yang kiranya meringankan beban musibah dunia kami. Ya Allah, ya Rab kami, senangkanlah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan -penglihatan kami dan kekuatan kami pada apa yang Engkau telah menghidupkan kami, dan jadikanlah ia sebagai warisan dari kami, dan jadikanlah pembelaan kami (memukul) orang-orang yang menzhalimi kami serta bantulah kami dari menghadapi orang-orang yang memusuhi kami; dan jangan kiranya Engkau jadikan musibah kami mengenai agama kami, jangan pula Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita kami yang paling besar, tidak juga sebagai tujuan akhir dari ilmu pengetahuan kami; dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menaruh sayang kepada kami (HR. Tirmidzi dan ia berkata hadist ini hasan.) Ya Allah, persatukanlah hati-hati kami dan perbaikilah keadaan kami dan tunjukilah kami jalan-jalan keselamatan serta entaskanlah kami dari kegelapan menuju cahaya yang terang. Dan jauhkanlah kami dari kejahatan yang tampak maupun tersembunyi dan berkatilah pendengaran-pendengaran kami, penglihatan-penglihatan kami, hati-hati kami dan isteri-isteri serta anak keturunan kami, dan ampunilah kami sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Shalawat atas Nabi Muhammad SAW dan ahli keluarga serta sahabat-sahabat beliau semuanya. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.

(Disampaikan di hadapan Jamaah Shalat 'Idul Adha 10 Dzulhijjah 1431 H/ 16 November 2010 M, di Halaman Balai Kota, Jogjakarta) Raih amal shalih, sebarkan informasi ini... Sarankan pengunjung lain untuk membaca tulisan ini juga.

Tulisan Lainnya Tentang
• • • •

musibah idul adha khutbah ied musibah dunia

Comments
Setuju Banget Dislike Community Disqus

2 people liked this.

Showing 3 comments
Urutan tampil

þÿ

Subscribe by email

Subscribe by RSS

Shindu Bangun

3 minggu yang lalu

Kebetulan ana sholat ied di Tugu Pahlawan dimana yang berkutbah adalah ketua Muhammadyah Din Samsudin. Dalam kotbahnya juga menyinggun masalah musibah yang dialami negeri ini. Dikatakan musibah ini adalah Ujian dari Alloh. Kemudian disebutkan pula, musibah2 itu karena banyaknya aktivitas2 masyarakat indonesia yang masih percaya klenik dan mengarah ke perbuatan musyrik. Dari situ dapat kita ambil padangan Muhammadyah terhadap masalah negeri ini. Padahal negeri ini jelas2 telah di berikan adzab. Flag Dian Herdianto and 3 more liked this Setuju Banget Jawab Jawab Lampa 2 minggu yang lalu

• • •

• • •

Asslm.... sedikit komentar, pemerintah itu melaksanakan apa yg telah di Undangundangkan, sedangkan yg membuat undang-undang itu adalah para anggota DPR/MPR, anggota DPR/MPR itu sebagiannya juga orang-orang Muhammadiya, jadi pertanyaannya adalah apakah orang_orang Muhammadiya itu telah mengacu kpd Syari'at yang datangnya dari Allah Subehanahuwata'alah ketika membuat Undang-undang ? Flag Dian Herdianto and 1 more liked this Setuju Banget Jawab Jawab Marwah Khaerunnisa 2 minggu yang lalu

sudah jelas tidak sesuai dengan SYARIA'AT soalnya itu kan bikinan manusia sedangkan syariat itu bikinan ALLAH,sedangkan syari'at ALLAH tidak boleh diganti dengan syari'at bikinan manusia,ALLAH yang mengatur seluruh ALAM,maka siapakah yang berani membikin aturan baru??berarti dia menentang ALLAH bukan??

Source: http://arrahmah.com/index.php/blog/read/9922/khutbah-idul-adha-1431-hmenolak-syariah-menuai-bencana#ixzz1fuiOP0IQ

Bantahan Ustadz Aman Atas Kedustaan Nasir Abas
⊆ 10/10/2010 01:18:00 PM by Cakra | Ummat . | ˜ 0 komentar »

JAKARTA - Selasa (5/10) TV One menayangkan Kabar Petang yang memuat wawancara tentang terorisme dengan nara sumber Nasir Abas. Dalam wawancara tersebut Nasir Abas menyatakan pemimpin operasi lapangan perampokan Bank dan penyerangan di Medan, Taufik Hidayat pernah terlibat kasus bom Cimanggis bersama Oman Rochman/Aman Abdurrahman, orang yang paling keras di dalam mengkafirkan orang di luar jama'ahnya. Ustadz Aman pun membantah kedustaan Nasir Abas tersebut. Berikut selengkapnya. Ustadz Aman Tidak Kenal Taufik Hidayat

Bismillaahirrahmaanirrahiim Assalaamu a'laikum wr.wb. Segala puji hanya milik Allah & semoga sholawat dan salam dilimpahkan kepada Rasul & para sahabatnya. Wa ba'du: Sungguh telah sampai kabar kepada saya bahwa pada hari Selasa tanggal 5 Oktober 2010 TV One telah menayangkan Kabar Petang yang memuat wawancara tentang terorisme yang di antara nara sumbernya adalah Nasir Abbas, di mana dia menyatakan bahwa perampokan Bank & penyerangan di Medan, salah satu dari pemimpin operasi lapangannya adalah Taufik Hidayat yang pernah terlibat kasus bom Cimanggis bersama Oman Rochman/ Aman Abdurrahman, orang yang paling keras di dalam mengkafirkan orang di luar jama'ahnya. Demi kejernihan da'wah tauhid dan jihad saya merasa perlu memberikan klarifikasi atas pernyataan tersebut, walau secara pribadi sebenarnya saya tidak ingin menanggapi kebohongan pernyataan Nasir Abbas itu, karena pihak kepolisianpun menyimpan file data (nama/foto) seluruh saudara saya yang terjerat kasus pelatihan perakitan bom di Cimanggis Maret 2004. Apakah di sana ada nama Taufik Hidayat atau fotonya? Tentu saja tidak ada dan tidak akan pernah ada selamanya. Ketahuilah, sesungguhnya saya tidak mengenal orang yang bernama Taufik Hidayat dan dia tidak ada sangkut pautnya dengan kasus Cimanggis Maret 2004 yang dulu ditangani oleh Kasat Kamneg Polda Metro Jaya, AKBP Tito Karnavian (sekarang mantan Kadensus 88), sehingga ia pasti sangat mengetahui bahwa Taufik Hidayat tidak ada kaitannya dengan saya dan kasus Cimanggis. Silahkan minta data-datanya di Polda Metro Jaya ! Yang ada adalah nama Syarif Hidayat, dan beliau sudah wafat di LP Paledang Bogor tahun 2006, 2 bulan sebelum waktu pembebasannya, rahimahullah. Silahkan cek datanya ke LP Paledang. Jadi apa gerangan yang membuat Nasir Abbas berkata bohong??? Dari mana dia mendapatkan data palsu yang dia kira benar itu??? Sungguh ini menunjukkan kepada publik bahwa dia telah menyebarkan fitnah dan TV One pun tidak selektif dalam menentukan nara sumber atau komentator. Sungguh kasihan Nasir Abbas mantan mujahid !!! Kemudian ketahuilah wahai kaum muslimin, sesungguhnya keyakinan saya dan saudarasaudara satu jama'ah adalah bahwa setiap orang yang mengaku muslim atau menampakkan tanda-tanda keislaman lagi tidak menunjukkan satupun pembatal keislaman yang nyata, maka dia adalah muslim, saudara kami, kami mencintainya, kami mengucapkan salam kepadanya, shalat bermakmum kepadanya jika ia menjadi imam sholat, kami menshalatkan jenazahnya, memakan sembelihannya dan lain-lain yang

merupakan bentuk interaksi yang selayaknya dilakukan oleh sesama muslim baik dia dari organisasi, kelompok atau jama'ah apapun, baik yang kami kenal ataupun tidak, walau berlainan pendapat dalam hal-hal yang tidak membatalkan keislaman. Sehingga berdustalah orang yang menyatakan bahwa kami mengkafirkan orang-orang selain jama'ah pengajian kami. Yang kami kafirkan adalah orang yang telah Allah dan RasulNya kafirkan dengan nash yang sharih (jelas), setelah terpenuhi syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya. Silahkan buka tulisan dan terjemahan saya dalam pembahasan Tauhid yang telah banyak beredar di masyarakat dan di tangan pihak kepolisian. Silahkan telaah dengan melapangkan dada untuk mencari kebenaran, seraya memohon hidayah dan bimbingan dengan memelas kepada Allah Ta'ala. Hindarkanlah sikap angkuh dan sombong, karena hidayah itu bagaikan air yang hanya mengalir ke tempat yang rendah, yaitu hati yang merendahkan diri di hadapan Allah Ta'ala. Pandangan Ustadz Aman Tentang Fa'i Ketahuilah pula wahai saudara-saudara mujahidin dan kaum muslimin pada umumnya, bahwa cara mendapatkan harta yang saat ini ramai dibicarakan sebagai fa'i dengan jalan perampokan bank atau pembobolan ATM di negeri semacam ini dengan realita yang kita ketahui, adalah cara-cara yang justeru lebih mendatangkan madlarat bagi da'wah tauhid dan jihad di hadapan kaum muslimin. Sungguh saya tidak mengetahui kelompok mana yang melakukan tindakan-tindakan tersebut. Maka tidak benarlah tuduhan bahwa saya mengkafirkan orang secara sembarangan atau mengkafirkan orang di luar jama'ah dan menghalalkan darah dan hartanya. Sungguh itu adalah dusta dan fitnah yang keji. Dan di Sisi Allah-lah perhitungannya. Semoga Allah Ta'ala membimbing kita kepada jalan yang lurus, yaitu Tauhid (kufur kepada thaghut dan iman kepada Allah), aamiin... Di akhir tulisan ini saya mengharapkan agar kaum muslimin tidak menelan bulat-bulat pemberitaan baik dari media cetak maupun elektronik (apalagi media-media yang sudah terkenal sering memojokkan Islam dan kaum muslimin), karena banyak memanipulasi sehingga pemberitaannya jauh dari realita sebenarnya. Silahkan mencari kejelasan kasus kepada para pelakunya setelah lepas dari tekanan dan ancaman pihak-pihak tertentu... Wallahu Ta'ala A'lam Wassalaamu 'alaikum wr.wb. Sijn PMJ, akhir Syawwal 1431 H ABU SULAIMAN AMAN ABDURRAHMAN

JAT Berikan Pers Release Soal Pernyataan Kapolri di Medan

⊆ 9/22/2010 10:54:00 PM by Cakra | Pernyataan Sikap , Ummat . | ˜ 0 komentar »

SOLO - Berkaitan dengan isi pernyataan Kapolri Jend.(Pol) Bambang Hendarso Danuri pada tanggal 20 September 2010 kemarin soal penangkapan dan penembakkan 18 tersangka teroris , dimana diantara pernyataannya menyebutkan bahwa menurut keterangan tersangka, mereka terlibat dengan Al Qoidah dan JAT ( Jama’ah Anshorut Tauhid ), seperti yang dimuat dalam Kompas, 21 September 2010. Dan juga munculnya upaya pengkait-kaitan Ustad Abu Bakar Ba’asyir dengan kasus perampokan Bank CIMB Medan tersebut padahal beliau berada dalam tahanan Bareskrim Mabes Polri sebagaimana pemberitaan beberapa mass media, tudingan yang bernuansa fitnah dilontarkan, dengan menerabas prinsip praduga tidak bersalah, oleh Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen ( Pol ) Iskandar Hasan. Untuk itu, Pengurus Pusat Jama’ah Anshorut Tauhid mengadakan jumpa pers bersama para jurnalis media dan perlu menyatakan hal – hal penting sebagai berikut : Bahwa JAT telah berulangkali menegaskan garis perjuangan yang ditempuh adalah terbuka dalam arti semua program kami terang-terangan dan tidak ada kegiatan atau program kami yang bersifat rahasia. Bahwa JAT tidak memiliki dan tidak merencanakan program yang mengindikasikan adanya muatan atau unsur-unsur yang terkait dengan kriminalitas apalagi terorisme . JAT memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga ketentraman masyarakat dari berbagai kejahatan jadi tidak mungkin terlibat dalam hal – hal yang bertentangan dengan kepentingan bersama itu. JAT menolak dengan keras berbagai upaya rekayasa terorisasi maupun kriminalisasi terhadap berbagai kasus yang menimpa aktivis atau ulama Islam, sebagaimana upaya pengkait-kaitan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dengan tindak kriminalitas atau terorisme. Khusus untuk kasus Medan, JAT juga menengarai dan mengendus bau busuk intrik-intrik dan rekayasa jahat dibalik peristiwa perampokan tersebut. Yakni adanya upaya kuat untuk mengkambing-hitamkan kelompok tertentu sejak pertamakali kasus ini terjadi dan mencuat di berbagai liputan dan pemberitaan. Maka upaya-upaya yang selalu mengkait-kaitkan institusi JAT dengan tersangka pelaku kriminal maupun dugaan pelaku tindak terorisme yang dilakukan seseorang, jelas merupakan upaya rekayasa pemaksaan kasus seperti jaman – jaman orde baru yang selalu menjadikan Islam dan kaum Muslimin sebagai pesakitan. JAT mengingatkan semua pihak demi kebaikan semua lapisan masyarakat dan bangsa, yakni untuk tidak melibatkan diri dalam upaya rekayasa penyudutan dan pembusukan Islam dan kaum muslimin di negri ini. Hentikanlah berbagai fitnah dan semua kebohongan publik yang telah dilakukan tanpa belas kasih dan tiada rasa malu itu. Karena hal itu hanya akan menambah beban penderitaan mayoritas rakyat . JAT percaya, bahwa pada akhirnya akan terbukti adanya otak dan tangan-tangan asing yang bermain

untuk terus menerus melemahkan bangsa yang mayoritas muslim ini agar sumber daya manusia dan kekayaan alamnya terus mereka bisa kuasai. Terakhir, sebagai kaum yang lemah, JAT menyatakan berpasrah diri dan menggantung harapan kepada Alloh Azza wa Jalla, Rabb semua bahkan Rabb alam semesta, dimana kami yakin IA tidak pernah lalai dari perbuatan hamba-hambaNya, IA juga tidak pernah mengabaikan doa-doa orang-orang yang mengimaniNya. Sungguh IA Maha Gagah dan Maha Perkasa untuk membela Diin dan UmmatNya serta Maha Berkuasa atas segala urusan hamba-hambaNya. Hasbunalloh wa ni’mal Wakiil, ni’mal Maula wa ni’man Nashiir . Pernyataan tersebut disampaikan oleh pelaksana Amir JAT, Muhammad Achwan, dalam jumpa pers di kantor JAT Pusat di Cemani Selatan, Grogol, Solo, Rabu 11 Syawwal 1431/ 22 September 2010. [Jku/muslimdaily.net]

IMPLEMENTASI QANUN JINAYAT DI ACEH
⊆ 12/06/2009 10:00:00 PM by Admin Jku Online | Fikrah . | ˜ 0 komentar »

Oleh Fauzan Al-Anshari (Direktur Lembaga Kajian Syariat Islam – LKSI)

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) barubaru ini telah mengesahkan draf Qanun Jinayat (Hukum Pidana) yang mengatur sanksi sejumlah tindak pidana sesuai hukum Islam, misalnya cambuk dan rajam untuk jarimah (kejahatan) zina. Namun draf tersebut hingga kini belum juga ditandatangani oleh Gubernur NAD Irwandi Yusuf. Ada apa gerangan? Wakil Gubernur NAD Mohammad Nazar dalam diskusi khusus bertajuk "Kajian Hukum tentang Qanun Jinayat di Aceh" di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) mengatakan, banyak isi draf yang tidak sesuai dengan usulan awal pemerintah daerah, sehingga Gubernur tidak menandatanganinya. Isi draf yang disetujui DPR Aceh banyak mengalami perubahan dari draf awal yang diajukan oleh pemerintah. (Kompas.com, 29/10) Penolakan Massif Sejumlah tokoh dan LSM pun beramai-ramai mengeroyok aspirasi masyarakat Aceh yang ingin wilayahnya bersih dari perzinaan dengan menerapkan syariat Islam, yakni hukuman rajam bagi pezina yang sudah menikah (muhshan) dan cambuk bagi pezina yang pelakunya belum menikah (ghairu muhshan). Di antaranya adalah Ketua Umum

PBNU KH Hasyim Muzadi yang menegaskan bahwa Syariat Islam adalah untuk individu dan bukan untuk negara. Pernyataan Hasyim ini menjawab pertanyaan Wakil Dubes Amerika Serikat, Ted Osius dalam pertemuan keduanya di Gedung PBNU, Jakarta (Republika Newsroom, 10/11). Ted mempertanyakan kepada KH Hasyim Muzadi tentang Qanun Jinayat di Aceh yang memasukkan hukuman rajam bagi pelaku zina yang telah menikah. Hasyim mengungkapkan bahwa ajaran syariat Islam diperkenalkan sebagai kewajiban individu sedangkan sebagai warga negara, wajib mematuhi undang-undang yang ada. Dalam kesempatan berbeda, Hasyim pernah menjelaskan hal yang sama dengan memberi contoh tak perlu UU Anti Korupsi Islam karena sejatinya, korupsi sendiri sudah bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Sementara itu Jaringan Nasional Pemantau Kebijakan Lokal mendesak agar Qanun Jinayat yang sudah disetujui DPRD Aceh dibatalkan oleh pemerintah pusat karena dinilai melanggar HAM. Gabungan dari beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) itu mendesak pembatalan Qanun Jinayat ke Departemen Dalam Negeri dan ditemui Kepala Bagian Penyusunan Rancangan Perundang-undangan Biro Hukum Depdagri Zudan Arif Fakrulloh. (Kompas.com, 6/11). Menggugat Rasionalitas Aneh memang, sebuah draf undang-undang yang sudah disahkan melalui mekanisme demokrasi yang dianut negeri ini masih terus dirong-rong hanya karena materinya dianggap melanggar HAM. Padahal yang paling berkepentingan terhadap draf tersebut adalah rakyat Aceh yang ingin seluruh wilayahnya bersih dari kejahatan perzinaan dan cabang-cabangnya. Sebagaimana kejahatan khalwat (pacaran) sudah dikenai sanksi ta’zir berupa cambuk yang sangat efektif menyelamatkan generasi muda Aceh dari pergaulan bebas yang banyak menelan korban remaja kita. Sebagaimana diketahui, hukuman terhadap perzinaan (mukah atau overspel) yang diatur oleh Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pasal 284 adalah pidana penjara paling lama sembilan bulan dan hanya berlaku bagi pelaku yang sudah menikah. Sedangkan bagi pelaku zina yang belum menikah tidak ada hukumannya. Bahkan perzinaan yang dilakukan oleh mereka yang sudah menikah tidak akan dihukum jika tidak ada pihak yang mengadu dari suami atau istri yang merasa tercemar nama baiknya dalam waktu paling lama tiga bulan. Dengan aturan KUHP seperti itu maka wajarlah jika perzinaan kian merebak di segala lapisan. Data hasil survei Komnas Perlindungan Anak tahun 2008 di 33 Provinsi di seluruh Indonesia menyimpulkan: 62,7% pelajar SMP-SMA di Indonesia sudah tidak perawan lagi. Sementara itu, 39,65 % dari 2.880 remaja usia 15-24 th di Propinsi Jawa Barat mengaku pernah berhubungan seks sebelum nikah. Data lain dari majalah Matra menyimpulkan, bahwa 2 dari 3 orang laki-laki eksekutif ternyata berselingkuh. Belum lagi kalau anggota DPR atau eksekutif disurvei, bisa jadi prosentasenya juga tinggi. Pada

saat yang sama praktek poligami dipersulit melalui UU no.1 tahun 1974 pasal 4 dan 5. Maka lengkaplah kerusakan moral dan sistem hukum kita yang tidak akan mampu memperkecil, apalagi membasmi perzinaan. Bandingkan dengan hukum Islam yang memberikan sanksi tegas kepada pelaku kejahatan yang merusak nasab dan menjatuhkan nilai kemanusiaan hingga lebih buruk daripada binatang, yaitu dengan memberlakukan hukuman cambuk dan rajam bagi pezina. Rinciannya sebagai berikut: “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan keji, hendaklah ada empat orang saksi di antara kamu (yang menyaksikan). Kemudian apabila mereka telah memberi persaksian, maka kurunglah mereka (wanita-wanita itu) dalam rumah sampai mereka menemui ajalnya, atau sampai Allah memberi jalan lain kepadanya”. (QS. AnNisa/4:15) Menurut jumhur mufassirin (mayoritas ahli tafsir), yang dimaksud dengan perbuatan keji di atas ialah perbuatan zina. Menurut pendapat lain, ialah segala perbuatan mesum seperti: zina (heteroseks), homoseks (liwath) atau lesbian (musahaqah), berzina dengan binatang dan yang sejenisnya. Menurut pendapat Muslim dan Mujahid, yang dimaksud dengan perbuatan keji ialah musahaqah (lesbian). Dan yang dimaksud dengan “jalan yang lain itu” ialah dengan turunnya QS. An-Nur/24:2. “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap orang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah (rasa) belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan syariat) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman”. (QS. An-Nur/24:2) Rasulullah saw bersabda: "Ambillah oleh kalian hukum dariku, ambillah hukum dariku! Sesungguhnya Allah telah menjadikan bagi kaum wanita jalan keluar yang lain, yaitu (bagi) janda dan duda (yang berzina) hukumannya didera 100 kali dan dirajam dengan batu (sampai mati), sedangkan gadis dan jejaka hukumannya didera 100 kali dan diasingkan selama 1 (satu) tahun’.” (HR. Muslim, Ahmad, Ad-Darimy, Abu Dawud, Attirmidzi, Ath-Thahawy, Ath-Thayalisi dan Al Baihaqi). Dari hadits ini jelas sekali, bahwa hukum yang ditetapkan dalam surat An-Nisa/4:15 yaitu “... atau Allah akan menjadikan bagi mereka jalan yang lain”, yaitu pelaku zina muhshan dirajam sampai mati dan pelaku ghairu muhshan cukup dicambuk 100 kali dan diasingkan selama satu tahun. Jadi apa dasarnya Hasyim Muzadi mengatakan seperti itu? Kesimpulan Tujuan pernikahan adalah untuk melestarikan kehidupan manusia secara manusiawi berdasarkan cinta dan kasih sayang (QS. Ar-Rum:21). Oleh sebab itu dibutuhkan regulasi syariat yang mampu menjaga kemuliaan lembaga pernikahan ini, yakni dengan membuat

aturan yang sangat ketat terhadap para perusaknya. Mungkin dalam kaitan ini pemerintah mengintervensi urusan pernikahan dengan mewajibkan setiap pernikahan dicatatkan di Kantor Urusan Agama. Namun, anehnya, untuk urusan pelanggaran nikah (zina) pemerintah tidak konsisten. Mestinya berlakukan hukum sesuai keyakinan masingmasing. Silakan umat Kristen menerapkan syariatnya, kalau ada. Umat lain pun juga harus difasilitasi, karena hubungan suami istri (jimak) didasarkan atas keyakinan agama, bukan surat nikah. Demokrasi ternyata tidak boleh untuk menerapkan hukum Islam walaupun hal itu menjadi aspirasi mayoritas mutlak penduduk negeri ini. Kasus tersendatnya draf Qanun Jinayat dan Qanun Acara Jinayat Aceh menjadi pelajaran teramat penting bagi kita, bahwa demokrasi kini telah berubah menjadi agama baru yang menafikan ajaran agama samawi. Demokrasi bebas untuk menyalurkan aspirasi apa pun asal tidak bertentangan dengan HAM yang telah disusun oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Hukum rajam dan cambuk dianggap bertentangan dengan HAM, karenanya harus dilarang diterapkan di suatu negeri yang mendasarkan hidupnya pada demokrasi tanpa peduli dengan kerusakan moral yang ditimbulkan akibat tidak diterapkannya hukum Allah swt. Kita tinggal menunggu hari kehancuran moral anak-anak kita. Astaghfirullahal ’adzim

Berhijrah di Jalan Alloh SWT
Posted by Kata Islam at 6:49 AM . Tuesday, September 29, 2009 Labels: Bacalah Dengan Nama Rabbmu, Hijrah Dalam hal ini kita lihat Firman Allah SWT : ٌ ِ َ ٌ ْ ِ َ ‫َ ّ ِ َ َ َ ُ َ َ َ ُ َ َ َ ُ ِ َ ِ ِ ّ َ ّ ِ َ َ َ ْ َ َ َ ُ ُ َ ِ َ ُ ُ ْ ُ ْ ِ ُ َ َ ّ َ ُ ْ َ ْ ِ َة‬ ‫والذين ءامنوا وهاجروا وجاهدوا في سبيل ال والذين ءاووا ونصروا أولئك هم المؤمنون حقا لهم مغفر ٌ ورزق كريم‬ ِ 74)) “Dan orang-orang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah, dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan pertolongan, mereka itulah sebenar-benarnya yang beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia”. (QS. Al Anfal : 74). Umat Islam pada zaman Nabi SAW telah berhijrah dari Makkah ke Yatsrib. Dan setelah memproklamirkan negara Islam di Yastrib kemudian menjadi Madinah, dapat leluasa menjalankan hukum-hukum Islam tanpa gangguan dari konco-konconya Abu Jahal, Abu Lahab dan sebangsanya. Walaupun di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menerangkan tentang hijrah, namun tidak didapat ayat yang mengharuskan kita berhijrah ke sesuatu tempat tertentu. Adapun nabi berhijrah ke Yastrib, di sana pada masa itu di dapat banyak umat mu’minin yang kemudiannya dinamakan golongan Anshar (penolong). Yang mana telah sanggup membantu kedatangan pihak muslimin dari Makkah. Tentu sebagai jalan yang paling mudah untuk berhijrah pada waktu itu hanya ke Yastrib.

Makkah bumi Allah ; Yastrib pun bumi Allah, maka mengapa umat Islam di kala itu meninggalkan Makkah ? Tentu, karena di Makkah selalu diancam secara fisik oleh pihak musyrikin. Dan mengapa demikian diancam ? Sebabnya ialah “konsisten” terhadap ajaran Islam, tidak mencampuradukkan antara ajaran yang hak dan yang bathil. Sehingga tidak kompromi dengan kaum penentang azas Islam. Pengikut-pengikut Rasul itu “benarbenar hanya menyembah kepada Allah SWT”, berarti siap berjuang mengenyahkan rangkulan pihak musyrikin. Karena itulah dapat diambil pengertian bahwa yang menjadi masalah pokok dari sebabnya hijrah, bukanlah persoalan tempat. Melainkan, keharusan mempunyai garis pemisah dari kekuasaan yang bathil. Kemudian memperkuat yang hak supaya dapat didhahirkan dan dipertahankan. Telah kita jelaskan bahwa bagi umat Islam pada zaman Nabi lebih mudah memproklamirkan Negara Islam Madinah (Yastrib) daripada di Makkah. Berbeda dengan itu, maka keadaan umat Islam di Indonesia dewasa ini yang pada umumnya tidak mempunyai kaum anshar di luar Indonesia. Namun dengan hal-hal itu tidak berarti lepas dari kewajiban berhijrah. Hijrah adalah syarat bagi seseorang yang memisahkan diri dari keadaan yang bathil. Jadi, bila kita sadar bahwa diri masih berada (terlibat) pada hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Allah, maka harus segera berhijrah semaksimal kemampuan yang ada, walau hanya dalam bentuk aqidah. Hal itu sejalan dengan yang dinyatakan dalam QS. Ali Imran : 28-30. Bagaimanapun keadaannya, maka berhijrah dalam bentuk aqidah adalah wajib dilakukan (fardhu a’in). Sebagai analogi untuk itu ; kita diwajibkan melakukan shalat yang lima waktu pada prinsipnya harus dilakukan dengan berdiri, tetapi bilamana dalam keadaan darurat yang benar-benar telah memaksa kita tidak sanggup berdiri, maka dibolehkan sambil duduk. Bila duduk pun tidak dapat dilakukan, maka boleh dilakukannya sambil berbaring. Namun, shalat tetap hukumnya wajib dikerjakan. Berhijrah yaitu memisahkan posisi diri dari yang bathil adalah tegas perintah dari Allah SWT, sama wajibnya dengan shalat. Jadi, wajib dalam mengerjakannya, hanya cara pelaksanaannya saja yang harus dengan sehabis-habisnya daya. Dengan itu bila tidak berdaya untuk berhijrah yang sama dengan kesempurnaan semustinya, maka tetap diwajibkan berhijrah sebatas kemampuan usaha kita. Antara shalat dan berhijrah fisabiilillah, keduanya mempunyai kaitan satu sama lain. Kedudukan hukumnya tidak dapat dibeda-bedakan, hukumnya sama wajib. Sebagaimana bahwa esensi dari mengerjakan shalat, berarti bersedia membuat garis yang memisahkan dari hal-hal yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah SWT. Namun, bagaimanapun wajibnya sesuatu amal, kita adalah manusia, lemah. Kita diperintahkan taat kepada Allah menurut kemampuan yang ada pada diri kita. Allah tidak membebankan kewajiban pada seseorang kecuali berdasarkan kemampuannya. (lihat QS. 2 : 286, QS. 7 : 42, QS. 64 : 16). Dalam ayat itu diterangkan, bahwa yang “sebenar-benarnya beriman” adalah yang berhijrah dan mempertahankan posisi hijrah (jihad fisabiilillah). Juga, yang memberi tempat kediaman serta menolong yang sedang mempertahankan kedaulatan Islam dari

ancaman musuh. Memperhatikan surat Ali Imron ayat 28-30 beserta sejarah Nabi SAW. dimengerti bahwa pada masa nabi pun tidak semua pengikut rosul itu dapat melakukan hijrah dalam bentuk teritorial, melainkan tetap mereka tinggal di daerah Mekkah karena mereka terpaksa oleh kondisi dan situasi. Namun dalam aqidah mereka hanya mengakui kelembagaan yang berazas Islam di Madinah. Sejajar dengan itu, bila kondisi dan situasi dalam mengemban amanat dari Alloh SWT. mengharuskan tinggal di Indonesia, maka berdiamlah di Indonesia karena Indonesia pun bagian dari bumi, tempat berbakti kepada Alloh SWT. Kita mempunyai hak untuk menjadikan Indonesia tempat bersujud yang sebenarnya kepada Alloh. Juga, berhak membebaskan Indonesia dari kekuatan yang menolak berlakunya hukum Islam secara kaffah. Serta wajib mendepak pemerintahan yang telah merampok hak-hak kemerdekaan kita mengamalkan ketentuan kitabulloh. Kita mutlak di Indonesia ini memiliki garis pemisah dari kepemimpinan yang bathal. Untuk itu perhatikan sekelumit sabda Nabi SAW. “…orang yang berhijrah (muhajir) yaitu yang pindah dari apa yang dilarang oleh Alloh SWT.” (HR. Bukhori). Kesimpulan…!!! Cukup jelas bahwa yang menjadi titik tolaknya berhijrah itu, bukanlah meninggalkan tempat, akan tetapi keharusan meninggalkan hal yang bathal serta pindah kepada yang hak. Dalam kalimat yang lain yaitu beralih dari struktur thoghut kepada yang berdasarkan “kebenaran Alloh SWT atau pindah kepemimpinan (ulil amri) yang bukan Islam kepada berpedoman hukum-hukum Islam. Oleh karena itu bahwa Ummat Islam Indonesia pun pada dasarnya sudah melakukan “hijrah”, yang mana telah meninggalkan struktur kolonial Belanda, pindah kepada yang bernama “Negara Islam Indonesia” (NII) yang berdasarkan kepada Al Quran dan Sunnah Nabi SAW (lihat pasal 2, ayat 1-2 konstitusi NII). Ummat Islam Indonesia telah menyatakan diri berhijrah dari pemerintah Belanda, yang mana sebelum itu kolonialis tersebut telah mengambil alih kedaulatan dari kaum nasionalis Indonesia ketika pemerintahan Sukarno-Hatta mengibarkan bendera putih pada tanggal 19 Desember 1948 di Yogyakarta “…dia bersama banyak pemimpin lain termasuk Hatta, Syahrir dan Suryadarma memilih untuk mengibarkan bendera putih dan menyerah.”(“TEMPO”, 20 Maret 1982 hal. 15). Dengan pengibaran bendera putih maka sejak saat itu juga, secara de jure bahwa Proklamasi Kemerdekaan yang pernah diumumkan oleh Sukarno-Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 pun telah bubar-menyerah total akibat agresi Belanda pada tanggal 19-12-1948 di Yogyakarta. Sebab itu, agar kita mengetahui adanya proses yang merintangi NII, maka selanjutnya silakan pahami kembali artikel dibawah ini: 1. Hilangnya nilai Proklamasi RI 17-8-1945 2. Menguliti Mitos RI buatan Sukarno dengen kelompok Unitaris RI nya 3. Proklamasi NII vs Proklamasi RI Sekali kebenaran yang berdasarkan Islam diproklamirkan, maka sikap kita adalah wajib

mempertahankannya. Perjuangan NII bukanlah hanya hak seseorang yang menjadi oknumnya, melainkan hak ummat Islam. S.M. Kartosuwiryo tertangkap saat memimpin perjuangan dan tidak pernah membubarkan kelembagaan NII. Sebab itu beliau siap dihadapkan ke muka regu tembak, tidak bersedia menandatangani perintah mencabut proklamasi, dan tidak menuruti perintah dari pihak Republik Indonesia untuk menghentikan perjuangan. Begitulah bahwa mempertahankan furqon wajib terus dilakukan sejalan dengan kemampuan kondisinya. Kini bagi beliau telah selesai menyandang tugas dari Alloh SWT. Maka, kita inilah selaku pelanjutnya. Jelas kita sambut dengan gembira karena merupakan kesempatan diri guna mencapai “ridho Alloh SWT”. Dan wajib bersyukur bahwa kita masih diberikan usia untuk menjual diri kepada Alloh, serta berpihak pada jalan yang benar. Satu kali yang “hak” dinyatakan berdiri, maka pada dasar sejarahnya tak dapat dihapuskan. Dari itu bagi yang tidak mengakui proklamasi kemerdekaan Islam 7 Agustus 1949 itu, berarti tidak mengakui kebenaran yang telah ada. Atau selain itu termasuk juga pemecah perjuangan (mufariq lil jama’ah). Cuma ada dua jalan (Qs. 90:10). Pengertiannya, bilamana posisi diri seseorang itu tidak pada yang “hak”, maka berarti ada pada jalan yang “bathal”. Selaras dengan itu bahwa lembaga Imamah yang diproklamasikan pada tanggal 7 Agustus 1949 itu adakah “satu-satunya” wadah yang memisahkan yang hak dari kekuasaan yang bathal di Indonesia, juga sesuai dengan bunyi proklamasinya yang menyatakan berlakunya hukum Islam bagi seluruh ummat Islam Indonesia, maka bagi yang melawannya berarti diluar garis hijrah dan wajib ditumpas. Demikianlah “Furqon di Indonesia”. Allohu Akbar…! NII dari dulu sampai sekarang sudah banyak di propokasi dan dipropaganda oleh Musuhnya (Thogut RI) dengan sebutan gerombolan, aliran sesat, Duruk Imah (DI, terjemahannya bakar rumah) dan bahkan sekarang istilah terorisme sudah mulai mereka publikasikan. Madinah / Abu Qital

Berjanji ( Bai'at ) Kepada Siapa?
Posted by Kata Islam at 9:22 AM . Monday, October 20, 2008 Labels: Bacalah Dengan Nama Rabbmu, Dienul Islam, Hijrah Kenyataan memilukan yang kita saksikan dan rasakan ini, tidak bisa lain, hanya merupakan salah satu saja dari akibat perpecahan kaum muslimin. Merelakan diri hidup berfirqah-firqah, menyuburkan jamaah minal muslimin, yang masing-masing merasa lebih benar. Anehnya dalam keadaan berpecah belah seperti itu, masing-masing dari golongan itu mengaku sudah kembali kepada Al Quran dan Sunnah. Padahal Rasulullah dan para sahabat beliau, yang senantiasa beramar ma'ruf nahi munkar itu, tidak pernah membenarkan adanya pola hidup berpecah menjadi bergolongan dalam Islam. Sebaliknya mereka semua tunduk dan patuh di bawah kendali seorang Imam atau Khalifah.

Kita bersyukur ke hadirat Allah rabbul jalil, bahwa atas rahmat-nya para sabiquna awwalun, dari kalangan Muhajirin wal Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka. Sekalipun terjadi perbedaan Visi, bahkan bertengkar dan bersitegang urat leher di dalam memilih imam mereka, dengan berbagai argumentasi masing-masing yang mereka anggap benar, ternyata tiada sudi memperpanjang debat yang berakibat masing-masing golongan berdiri sendiri tanpa imam. Sebab mereka faham betul akan makna firman Allah : "Dan taatlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar ( QS.8:46 ) Cobalah bayangkan, sekiranya masing-masing "firqah" dari jama'ah minal Muhajirin, jamaah minal Anshar dan lain-lain. tetap bertahan dan dengan niat masing-masing ber'amar ma'ruf nahi mungkar, kembali kepada Al Quran dan Sunnah Rasul tanpa adanya kesatuan jama'ah dan imamah, serta masing-masing merasa benar dengan sikapnya itu. Apa gerangan yang bakal terjadi bagi kelanjutan perjuangan Islam, jika mereka membiarkan diri tanpa Imam? Sekiranya hal itu terjadi, niscaya Ummat Islam kebingungan untuk memilih jama'ah manakah yang lebih afdhal. Apakah memilih jama'ah Muhajirin lebih utama ataukah mengikuti jama'ah Anshar? atau memilih alternatif lain, mengikuti jama'ah Muhajirin di tahun pertama dan ditahun berikutnya menyatakan diri keluar dari kelompok Muhajirin untuk bergabung ke dalam jama'ah Anshar. Dan misalkan masing-masing jama'ah membai'at anggotanya, maka bai'atnya pun tidak berarti apa-apa, karena mereka berpandangan boleh keluar masuk jama'ah secara bebas tanpa konsekuensi sam'an wa tha'atan. Bai'at yang seperti itu hanyalah permainan belaka dan tidak sesuai dengan sunnah Rasul, karena hakekat bai'at itu adalah berbai'at kepada Allah swt. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan mereka, maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah maka Allah akan memberinya pahala yang besar. ( QS.48:10 ) Pantaskah Ummat Islam yang diwajibkan bersatu dan diharamkan berpecah belah oleh Allah dan Rasul-nya, hanya akan menampilkan organisasi-organisasi sempalan yang tidak nyunnah itu tengah percaturan dunia yang serba canggih dewasa ini? Ummatun yad'auna ilal khairi...dari contoh siapakah, bahwa keluar dari jamaah ataupun berdiri sendiri tanpa adanya Imam yang wajib didengar dan dita'ati? Seharusnya timbul kesadaran dan keberanian dari sejumlah jama'ah minal muslimin dewasa ini. Bila mereka yakin bahwa sekarang ini tidak ada Jama'ah Ummat Islam , setelah kekhilafan Turki Utsmani hilang pada tahun 1924 dan tiada berkelanjutan (Estafeta perjuangan), mengambil alih permasalahan dami kelanjutan kekhalifahan bagi seluruh ummat islam.

Hendaknya ada yang tampil memroklamirkan kembali berdirinya sistem tersebut, walaupun hanya menguasai sekeping wilayah di permukaan bumi ini. Sekiranya dihancurkan musuh dan kalah lagi, maka ummat islam tetap berkewajiban melanjutkan meskipun dalam keadaan sembunyi dan dalam situasi darurat, sehingga secara terus menerus ummat Islam tidak kehilangan jama'ah dan Imamah. Pemilihan seorang imam dapat berlanjut melalui musyawarah ahlul halli wal aqdi dari para warga yang telah menggabungkan diri ke dalam jama'ah. Bagaimana teknik pelaksanaanya, bisa dipikirkan kemudian; yang penting adanya kemauan yang kuat untuk maksud di atas terlebih dahulu. Sebab jika tidak berlanjut berarti hilanglah jamaah dan imamah untuk kesekian kalinya. Dalam keadaan demikian ummat Islam dihadapkan pada alternatif, sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya: "Dari Hudzaifah bin al-Yaman berkata: Bahwasanya orang banyak bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan, sedang aku menanyai beliau tentang kejelekan karena khawatir akan menimpa diriku. Maka aku berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami dahulu berada dalam kejahiliyahan dan kejelekan, lalu Allah mendatangkan kebaikan (sekarang ini), maka apakah setelah kebaikan ini akan datang kejelekan ?" Rasulullah bersabda: "Ya". Aku bertanya lagi, "Dan apakah sesudah kejelekan itu akan datang kebaikan lagi?" Rasulullah menjawab: "Ya, akan tetapi di dalamnya terdapat dakhonun (kerusakan)". Akupun bertanya, "Apakah kerusakan itu? "Beliau menjawab: "Suatu kaum yang mengambil sunnah bukan dari sunnahku dan menerima petunjuk buka dari petunjukku. Kamu mengenal mereka tapi kamu mengingkarinya". Aku bertanya, "Apakah sesudah kebaikan ada lagi kejelekan? "Beliau menjawab: Ya, Yaitu para penyeru di atas pintu neraka jahannam. Barang siapa memenuhi seruan mereka, maka terjerumuslah ia ke dalam jahannam itu". Aku berkata,"Wahai Rasulullah, Beritahukanlah sifat-sifat mereka kepada kami". Beliaupun bersabda: "Mereka itu adalah orang-orang dari bangsa kita sendiri dan berbicara dengan bahasa kita". Aku bertanya, "Apakah yang anda perintahkan kepadaku jika yang demikian itu aku dapati? "Beliaupun bersabda: "Hendaklah engkau senantiasa berada dalam jama'ah kaum muslimin dan imam mereka". Aku bertanya, "Bagaimana jika tidak ada jama'ah dan imam bagi kaum muslimin? " Beliau menjawab: "Maka hendaklah engkau terpaksa memakan akar kayu, sehingga maut merengut jiwamu sedangkan engkau tetap dalam keadaan demikian". ( HR. Bukhari Muslim ) Di dalam hadist tersebut hanya ada dua alternatif, yaitu mempertahankan jama'ah muslimin dan Imam mereka. ataukah menyingkir dari keterlibatan diri dari semua golongan yang ada karena kesesatab, sekalipun terpaksa hidup menderita hingga ajal tiba. Hal ini berarti penekanan, agar ummat Islam waspada jangan sampai kehilangan jama'ah dan imamah, sehingga mereka tidak perlu uzlah (mengisolir diri). Adapun orang-orang beriman, ketika membaca hadist di atas, tidak mungkin berkata bahwa wawasan Rasulullah kurang luas dan miskin informasi. Mengapa beliau tidak mengatakan: "Jika jama'ah dan Imam bagi keseluruhan kaum muslimin sudah tidak ada, maka cukuplah dengan jama'ah-jama'ah minal muslimin (golongan-golongan dari ummat islam)". Ucapan demikian hanya dimiliki oleh otak orang-orang yang ada penyakitnya.

Jama'atum minal muslimin yang sadar akan tugas dan tanggung jawabnya terhadap AdDienul Islam, niscaya akan segera bersatu dalam satu kesatuan jama'ah dan imamah, bukan justru mempertahankan statusnya yang berada diluar jamaah, tanpa Imam atau Khalifah. Islam tidak mengenal jalan buntu dalam menjawab problem ummatnya, kecuali bagi orang-orang yang sesat. Karena solusi bagi setiap persoalan senantiasa diberikan Allah kepada hamba-hambanya yang bertaqwa dan bersungguh-sungguh di dalam berfikir. Allah berfirman: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. ( QS.29:69 ) Patutlah kita bersyukur kepada Allah, bahwa para intelektual muslim dari berbagai bidang ilmu dan keahlian dewasa ini. Setelah menyaksikan kebobrokan mental manusia disegala tingkatan dan penindasan atas sesama yang terus merajalela, baik oleh mereka yang super kuat maupun yang bersembunyi di balik demokrasi serta tirai hak asasi, sebagai hasil binaan dan pengarahan dari konsepsi berdasarkan rekayasa otak manusia semata, tanpa iman dan perhitungan keselamatan akhirat. Bukankah telah cukup banyak kita mendengar dan menyaksikan bahwa diantara para penguasa yang mengaku beragama Islam, ternyata tanpa segan-segan menganggap orangorang yang beriman yang hendak menegakan hukum Allah dan Rasulnya sebagai penjahat dan pengacau, yang membuat keresahan di masyarakat? Apakah kita tidak berpikir, siapakah sesungguhnya mereka yang mengusir, memenjarakan dan membunuh orang-orang beriman yang sadar terhadap dien mereka? Layakkah mereka mendapatkan dukungan ummat Islam, justru untuk menghancurkan hukum Islam itu sendiri? Maka kemanakah kita akan melangkah mempertanyakan adanya jama'ah dan imamah? belum pernahkah ada sekolompok muslim di muka bumi yang luas ini, yang dengan gagah berani memproklamirkan sistem kekhilafahan Islam setelah tahun 1924 tidak berlanjutnya kekhilafahan turki? ataukah buat selama-lamanya tidak akan pernah ada? Adalah sangat mengherankan jika ummat Islam yang telah diwajibkan Allah dan Rasulnya untuk hidup dalam satu kesatuan jama'ah, justru hidup berpecah belah, berfirqah-firqah dan tiada sudi bersatu. Kenyataan yang mengherankan tersebut sesungguhnya hanya akibat dari apa yang telah dinyatakan Allah : Kullu hizbim bima ladaihim farihun (Setiap kelompok bangga dengan kelompoknya sendiri), disamping penyakit Al Wahn (Cinta dunia tapi takut mati) yang telah merajalela menyakiti batang tubuh kaum muslimin. Ironisnya lagi, pertengkaran dan pertikaian antara sesama kelompok muslim dewasa ini justru di damaikan oleh penguasa-penguasa non Islam. Mengapa justru juru damai datang dari orang-orang kafir dan bukan dari kalangan ummat Islam sendiri? memang sangatlah menggelikan hati, Akankah kita terus menerus mengumandangkan slogan bersatu dan bersatu....sementara kita tetap statis dalam perpecahan? Belumkah tiba waktunya

jama'ah-jama'ah minal muslimin keluar untuk memenuhi kewajiban berjama'ah dan menta'ati Ulil Amri minkum? dimanakah sikap kal bunyan yasuddu ba'dhuhum ba;dha (seperti bangunan yang kokoh, saling menguatkan diantara mereka) itulah pertanyaan serta agenda permasalahan yang mestinya di jawab oleh setiap muslim yang tulus dan mengharap keridaan Allah Malikurrahman. __________________
Oleh. Ustadz Abul Hasan

1 comments:
Cakra said... alhamdulillah, secara internal, keberadaan dan komunikasi di antara Imaroh Islam Afghanistan, Kaukasus dan Daulah Islam Irak, juga dg berbagai kelompok lainnya, merupakan tanda positif bagi kebangkitan ummat dan kelahiran kembali khilafah Islam. secara eksternal, kebangkrutan ekonomi Amrik dan tanda2 kekalahan mereka di berbagai negeri, terutama di Irak dan Afghanistan semakin membuat kita berbesar hati. yg perlu kita waspadai mungkin, sebagaimana semangat dari pesan Idul Fitri Amirul Mukminin Mullah Muhammad Umar Mujahid, adl intrik dan provokasi musuh yg terus berupaya memecah-belah dan mengadu-domba ummat Islam. dg mengutip pesan Mullah Muhammad Umar, "berikan tempat di hatimu bagi saudara dan rakyat kalian, agar dapat benar-benar mengalahkan musuh," dan semoga kita dapat "bertindak benar-benar berdasarkan ‫".واعتصموابحبل ال‬

Mengenal Sejarah PKS
Posted by Kata Islam at 1:45 AM . Thursday, October 16, 2008 Labels: Bacalah Dengan Nama Rabbmu, Propaganda, Sejarah Rumus utama binaan intel Bila dia ditangkap lalu dibebaskan maka kemungkinan besar dia sudah jadi anjing suruhan, bila dia istiqamah pasti dikubur. Dan bila dia dibebaskannya tahun 1970-1988 maka 100 % dipastikan dia binaan intel karena era 1970-1988 adalah era Ali Moertopo dan L.B Moerdani dua Jendral yang paling anti islam, mereka tidak akan membebaskan anggota ekstrim kanan kalau tidak berguna untuk menghancurkan gerakan islam. Dan dua jendral inilah yang membuat metode penghancuran gerakan islam dengan menggunakan islam radikal.

Bagi yang pernah aktif di Pengkaderan Inti IM, memang tercium sekali rencana dan pola gerakannya yang penuh rahasia dan membuat jaringan tanpa nama terkesan didesain dan dirancang oleh suatu gerakan intelejen dan kayaknya sangat tidak mungkin dirancang oleh perorangan........ Harokaha Ikhwanul Muslimin atau Harakah Tarbiyah Dalam perkembangan pergerakan Islam di Indonesia, pada tahun 1984 muncul kubu Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan. Helmi Aminuddin pernah menjadi Menlu NII komando Adah Djaelani. Pernah ditangkap oleh Kopkamtib pada tahun 1980 dan sempat ditahan pihak militer selama kurang lebih 3 tahun namun kemudian dilepaskan dari Rumah Tahanan Militer Cimanggis tanpa melalui persidangan pada tahun 1984. Selanjutnya Helmi Aminuddin menyatakan keluar dari struktur maupun ajaran NII komando Adah Djaelani, kemudian ditampung dan dipelihara oleh mantan tokoh Bakin (Soeripto) . Soeripto (sekarang menjabat anggota DPR Thaghut RI) menjadi sponsor sekaligus promotor dan bertindak sebagai pemberi tugas kepada Helmi Aminuddin antara lain untuk mengadopsi ajaran dan manhaj serta berhubungan langsung secara organisasional dengan gerakan Ikhwanul Muslimin faksi Qiyadah Syaikh Sa'id Hawwa di Timur Tengah sekitar tahun 1985. Maka pergilah Helmi Aminuddin ke Timur Tengah untuk mengadopsi gerakan Ikhwan tsb sekalipun alasan kepergiannya kesana Helmi mengatakan untuk menyelesaikan studinya yang belum rampung. Sepulangnya dari Timur Tengah Helmi Aminuddin mulai mengibarkan bendera gerakan IM-Ikhwanul Muslimin di Indonesia seraya melakukan klaim sebagai representasi gerakan Islam kaffah, universal dan menafikan seluruh gerakan Islam lain yg bersifat lokal di Indonesia. Pada tahun 1991 Helmi Aminuddin diangkat sebagai Mursyid atau elite komando organisasi gerakan Ikhwanul Muslimin untuk kawasan Asia Tenggara. Eksistensi gerakan ini cepat berkembang secara signifikan khususnya di kawasan Ibu kota DKI Jakarta. Tetapi awal awal tahun 1998 nama Helmi Aminuddin tiba-tiba raib dari blantika gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin yang bermarkas di Yayasan Al-Hikmah di kawasan Jl.Bangka Jakarta Selatan, juga di Yayasan Iqra' di kawasan Pondok Gede Jakarta Timur sebagai basis sentral pemukiman elite mereka, serta Yayasan Nurul Fikri di kawasan Depok. Bahkan Helmi sempat diisukan dipecat atau dima'zulkan Harokah lamanya (NII), ada juga isu yang menyebut Helmi telah bergabung ke kelompok Syi'ah. Akan tetapi pada kenyataanya Helmi Aminuddin bin Danu Muhammad Hasan sebenarnya tetap menjadi orang nomor satu dan terpenting dalam kelompok gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin ini, hanya mungkin di masa kini keberadaan namanya dirasa perlu untuk sementara waktu secara resmi ditarik dari peredaran gerakan Ikwan, bahkan nama Helmi Aminuddin tidak diakui keberadaanya oleh para elite dan komunitas PKS (Partai

Keadilan Sejahtera) yang ada sekarang. Mungkin inilah cara mereka menyembunyikan struktur (Siriyyatu Tandzhim) pergerakan Ikhwanul Muslimin di Indonesia. Kini Helmi Aminuddin mengkonsentrasikan diri secara khusus mengelola pesantren dan Islamic village di kawasan Cinangka Banten atas kucuran dana diantaranya sebagaian dari Bimantara, dari Timur Tengah serta dari Soeripto sebagai akses dana Orde Baru Cendana. Helmi Aminuddin memanage / mengendalikan gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia dari balik layar. Pada tahun 1998 berkat dibidani tangan dingin Soeripto mantan Bakin tsb gerakan Tarbiyyah Ikhwanul Muslimin Indonesia berhasil ikut partisipasi merayakan pesta demokrasi dengan m enjadi salah satu kontestan. Saat itu gerakan Tarbiyah Ikhwanul Muslimin Indonesia merubah manhajnya dan berubah bentuk menjadi Partai Keadilan (PK) dan kemudian bermetamorfosis lagi menjadi PKS (Partai Keadlian Sejahtera). Meskipun terbentuknya PKS ini menuai pro dan kontra ditubuh gerakan Ikhwan, tetapi melalui Musyawarah Syuro mereka perubahan menjadi partai PK saat itu mendapat mayoritas suara, sehingga secara resmi gerakan Ikwan telah berubah menjadi partai (Partai Keadilan). Di tahun 1987 - 1988 aparat intelejen memang sedang getol menggarap dengan serius dengan memberi peluang bagi lahirnya dua kubu kekuatan dakwah yang mengatasnamakan Islam namun secara subtansi saling bertentangan, yang pertama adalah kekuatan dakwah Islam Ikhwanul Muslimin Mesir di bawah sponsor dan control tokoh Bakin Soeripto. Sedang yang kedua adalah kekuatan dakwah beraliran NII KW IX Abu Toto yang sesat dan bermisi merusak Islam umumnya dan khususnya melemahkan Pergerakan NII yang sebenarnya, yaitu yg menjadi musuh nomor wahid Thaghut NKRI. PKS sebagai metamorfosis dari gerakan Ikhwanul Muslimin Indonesia secara resmi berdasarkan konstitusi Pancasila dan UUD '45 walaupun asas partainya Islam. Dalam hal ini Soeripto tetap tidak bersedia menjawab soal hubungan dan kedekatannya dengan Danu Muhammad Hasan di awal Orde Baru maupun dengan sang putra Danu, yaitu Helmi Aminuddin yang disebutnya sebagai ustadz muda (mursyid Ikhwanul Muslimin Asia Tenggara) yang dimulai tahun 1984 selama beberapa tahun di rumah Mas Ton ( Hartono Mardjono) hingga akhirnya berubah menjadi Partai Keadilan di tahun 1999 dan pada tahun 2003 menjadi Partai Keadilan Sejahtera. Soeripto sebagai kader BAKIN oleh komunitas Ikhwanul Muslimin Indonesia sangat diyakini telah bersih / tobat dan berhasil dibina dan dimanfaatkan oleh elite Ikhwan. Padahal siapa yang dimanfaatkan dan siapa yang memanfaatkan menjadi tidak jelas. Harap diingat bahwa dunia intelejen tidak mengenal apa yang diistilahkan dengan pension, demikian halnya Soeripto, masih belum terbukti pemihakannya terhadap Islam sebagai sebuah kontra RI. Berita diatas pernah diklarifikasi oleh para tokoh dan pengurus PKS secara apologi diplomatis yg dialamatkan ke Majalah Dewan Rakyat melalui Majalah SAKSI. Padahal akurasi data dan informasi tentang berita diatas sebenarnya bias dikonfirmasikan kepada sekitar 15 tokoh yg salah satu diantaranya sudah almarhum, yaitu Bung Hartono

Mardjono. Tulisan diatas bukan sebagai fitnah, tetapi sebagai bahan renungan dan penyelidikan bagi setiap muslim dan muslimah yg dengan ikhlas berjuang dalam Islam akan tetapi masih buta hebatnya serta rumitnya dunia intelejen musuh. Saya yakin para ikhwan di PKS banyak yg ikhlash berjuang, tapi keikhlasan tsb sangat disayangkan kalau dimanfaatkan atau dibiaskan musuh. Beberapa ikhwan di PKS pernah bilang kalau sampai tingkat DPC keberadaan ikhwan diragukan, dalam arti sudah banyak intel disana. Namun yang harus diwaspadai bahwa intel itu justeru menyusup lewat atas, langsung menempel kalangan elite atau atasan sehingga bias mempengaruhi kebijakankebijakan / langkah-langkah perjuangan. Sebagai contoh dikalangan ikhwan PKS sudah sangat kental dikenal dan difahami kalau dalam dunia politik sekarang adalah kondisi yg pada jaman Rosulullah tidak dialami, sehingga dengan bermetamorfosisnya Tarbiyah IM menjadi Parpol adalah suatu ijtihad yg tidak melanggar syar'I dan meminimalisir pertumpahan darah. Tapi bisa jadi itulah salah satu pengaruh kebijakan intel untuk menumpulkan ghiroh dan membelokkan citacita perjuangan Islam secara perlahan. Tapi jangan salah menilai bahwa perjuangan Islam itu harus radikal dan membabi buta, itu salah !!! akan tetapi belajarlah dan pelajarilah sejarah karena dalam Qs.48:23 Sunnatulah itu akan berulang kembali . Wallohi a'lam bi shawab ____________________________________________________ Referensi : mail-archive.com/fupm-ejip@usahamulia.net/msg03531.html

2 comments:
Admin said... bukan manhaj kami untuk melawan manhaj lainnya yang tidak sepaham dengan kami.tetapi yang lebih penting dari itu adalah jagalah persaudaraan kita sesama muslim.kami ikwanul muslimin yang terjun dalam partai politik memang lebih bayak lika-likunya contoh seperti fitnah cacian makian bahkan ancaman .oleh dari itu marilah ikat sapu lidi agar menjadi satu ikatan yg kuat . jangan hanya dengan sebatang lidi kita membersihkan kotoran.tetapi dengan satu ikatan sapulidi kotoran mana yang tidak bisa kita sapu November 2, 2008 8:39 PM Pelajar Muslim said... Rasulullah telah memberikan pola perjuangan kepada kita dalam menegakkan DINULLAH yaitu dengan pola yang menjadi prinsip dan termaktum dalam Alquran dan terbukti dalam sejarah, yaitu IMAN, HIJRAH, JIHAD , FURQON...Islam itu tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari nya, karena islam

adalah wujud kemulkiyahan Allah...relakah islam diatur oleh aturan selain Allah, relakah islam kolaborasi dengan ideologi selain tauhid, relakah islam berkumpul bersama2 bersama orang2 musyrik dalam menentukan hukum untuk seluruh manusia, disanalah letak furkon islam.... jadikanlah Al-quran debagai hukum Rasulullah sebagai uswah dan Islam sebagai DIN jangan mencampur adukkan antara hak dan yang batil Antara ideologi dengan tauhid antara hukum islam dengan selain islam antara thogut dengan Allah Hendaknya furqon Siasah dengan Sebersih2 aqidah wala talbisul haq bil batil May 15, 2009 11:19 PM

Yahudi di Tubuh Group Bakrie
Friday, 03 December 2010 14:55 |

Artawijaya (Penulis Buku “Jaringan Yahudi Internasional di Nusantara”) Pengusaha-pengusaha Yahudi dimanapun berada selalu berusaha menyusup dalam kekuasaan dan menciptakan kartel politik untuk kepentingan membangun tata dunia baru, Novus Ordo Seclorum, di bawah kendali Zionisme internasional. Akankah Grup Bakrie menjadi ‘kendaraan’ bagi dinasti Yahudi untuk menjalankan “agenda-agenda rahasianya” di Indonesia? Di tengah ramainya tudingan mengenai kongkalikong Abu Rizal Bakrie dengan mafia pajak Gayus Tambunan, publik Indonesia dikejutkan dengan berita tukar guling perusahaan milik Group Bakrie dengan Vallar Plc yang dimiliki Dinasti Rothschild, keluarga Yahudi terpandang di Eropa yang mempunyai catatan kelam sebagai pebisnis dan pembuat makar politik untuk kepentingan Yahudi internasional. Perjanjian tukar guling dua perusahaan besar tersebut dilakukan di Singapura, negeri tetangga Indonesia yang selama ini dikenal sebagai “Satelit Israel di Asia Tenggara”. Sudah menjadi rahasia umum, karena tak adanya hubungan diplomatik antara Israel dan Indonesia, maka lobi-lobi bisnis pengusaha Yahudi dengan pengusaha di negeri ini dilakukan dengan menggunakan negara ketiga, yakni Singapura. Bahkan ada yang menyebut, kedubes Israel di Singapura, juga merangkap sebagai kedubes Israel untuk Indonesia.

Written by Shodiq Ramadhan |

Theo Kamsa, orang yang baru-baru ini menyelesaikan studi doktornya tentang “Yahudi di Kawasan Selat Malaka” dari Vrije Universitiet, Belanda, menyatakan bahwa orang Yahudi aktif berbisnis kawasan asia. Dari Singapura mereka melebarkan bisnis ke Indonesia dan Malaysia. Dari Singapura mereka mengunjungi Indonesia dan Malaysia.”Kentara sekali pertautan aktivitas mereka dari Indonesia, ke Malaysia dan Singapura, melampaui batas-batas negara yang formal,” ujar Theo seperti dikutip Radio Nederland. Pekan-pekan ini beberapa media nasional ramai-ramai menurunkan laporan tentang jejaring Yahudi di Indonesia. Majalah Suara Hidayatullah memuat laporan utama “Hubungan Gelap Indonesia-Zionis-Israel”, Harian Umum Republika, mengutip berita dari The New York Times memuat laporan tentang berdirinya Tugu Menorah milik Yahudi di Manado. Tugu Menorah yang disebut terbesar di dunia itu, dikabarkan menggunakan dana APBD pemerintah setempat dan melibatkan elit-elit politik dan pengusaha lokal di daerah tersebut. Sedangkan dua majalah nasional lainnya, Gatra dan Tempo, memuat laporan tentang tukar guling Bakrie Brothers tbk dengan Vallar Plc yang berkedudukan di London, Inggris.Majalah Gatra bahkan memuat headline di sampul depan dengan judul “Jejak Yahudi di Grup Bakrie”. Sementara itu, situs-situs berita online memuat rencana Dinasti Rothschild untuk menguasai sektor energi, terutama batu bara di Indonesia dengan berkolaborasi lewat Grup Bakrie. Sebelumnya, Majalah Warta Ekonomi juga memuat laporan utama tentang ekspansi pebisnis Yahudi di Indonesia. Bahkan, bisa dibilang, ekspansi tersebut tak lebih dari “hubungan gelap” antara pengusaha Yahudi dan penguasa di Indonesia yang memuluskan lobi-lobi bisnis mereka di negeri ini. Majalah Warta Ekonomi memuat headline di sampul depan dengan judul “Ekspansi Bisnis Soros dan Israel di Indonesia”. Para pebisnis Yahudi selalu melakukan lobi-lobi bisnis dengan high level, top person, atau top leader di negara manapun mereka melakukan ekspansi bisnisnya. Mereka tak mau melakukan lobi-lobi dengan orang ecek-ecek atau non-important person apalagi pengusaha yang tidak memiliki jaringan ke lini kekuasaan. Karena itu, mereka melakukan lobi-lobi dengan top person di Kadin (Kamar Dagang Industri) Indonesia atau melakukan lobi langsung dengan top leader di negeri ini, seperti pertemuan antara George Soros dengan Wapres Boediono dan pejabat tinggi lainnya di Indonesia beberapa waktu lalu. Sedangkan Vallar Plc yang dimiliki oleh Nathaniel Philip Victor James Rothschild, generasi kedepalan Dinasti Rothschild sukses melakukan lobi bisnis dengan perusahaan besar milik Grup Bakrie, yang tentu saja akan berimbas pada keuntungan dalam berbagai sisi, tak hanya bisnis, mengingat orang tertua di Grup Bakrie, yakni Abu Rizal Bakrie adalah Ketua Umum Partai Golkar, partai terbesar di Indonesia yang mempunyai jaringan kuat di lini kekuasaan. Bagi Yahudi, bisnis tak semata bisnis, namun ada tujuan pokok yang mereka incar, yakni mengkooptasi kekuasaan.Mereka berusaha menancapkan taring kekuasaannya di seluruh dunia untuk memuluskan ide besar mereka membangun tata pemeritahan tunggal, Novus Ordo Seclorum, di bawah Kendali Zionisme Internasional. Upaya mengkooptasi kekuasaan, bahkan dengan cara makar sekalipun, pernah dilakukan Dinasti Yahudi di negara-negara Eropa dan Amerika. Awalnya lewat pengusaan lewat sektor bisnis strategis, seperti telekomunikasi, sumber daya alam, perbankan, persenjataan, pertaniaan, dan sebagainya, yang berujung pada kooptasi kekuasaan. Untuk memuluskan agendanya, selain dengan top person yang memegang kekuasaan formal, jejaring Yahudi juga berusaha menggunakan LSM-LSM yang dibiayai dan dibentuk oleh mereka. Jika di Amerika ada American Israeli Public Affair Comitte (AIPAC), maka di Indonesia pada tahun 2002 lalu dilaunching Indonesia-Israel Public Affair Comitte (IIPAC) yang diketuai oleh Benjamin Ketang, kader muda NU binaan Gus Dur yang berhasil menyelesaikan studi masternya di Hebrew University, Jerussalem. Benjamin Ketang yang bernama asli Nur Hamid adalah kader muda NU yang diplot untuk membangun sebuah jejaring politik dan bisnis Yahudi di Indonesia. IIPAC yang diketuai Ketang beraliansi ke AIPAC dan Australia Jewish Comitte. Ekspansi pebisnis Yahudi memiliki tujuan utama terciptanya sebuah “kartel politik” alias

persekongkolan politik, antara pengusaha dan penguasa, antara pebisnis dan para komprador. Freeport, ExxonM obile, dan lainlain adalah wujud nyata persekongkolan politik yang mengeruk kekayaan Indonesia dan menyengsarakan jutaan rakyat di negeri ini. Karenanya, upaya Dinasti Rotshcild untuk menguasai sumber daya alam di sektor batu bara di Indonesia, yang berkolaborasi dengan Grup Bakrie perlu diwaspadai, mengingat Abu Rizal Bakrie sebagai sesepuh di perusahaan keluarga ini adalah orang nomor wahid di partai terbesar di Indonesia yang memiliki akses ke jantung kekuasaan di negeri ini. []

Inilah Bocoran Wikileaks yang Paling Kontroversial
Monday, 06 December 2010 11:16 |

Kali ini Wikileaks menerbitkan kawat diplomatik yang memuat daftar panjang fasilitas di seluruh dunia, yang dianggap Amerika Serikat sangat penting bagi keamanan nasional negara tersebut. Daftar tersebut memuat ratusan fasilitas seperti jaringan pipa, kabel bawah laut, dan pabrikpabrik di berbagai tempat di dunia yang oleh para diplomat AS dianggap akan melemahkan keamanan bila diserang atau dihancurkan. Ratusan fasilitas tersebut dimuat harian Inggris, The Times, untuk edisi hari Senin (6/12) ini dengan judul berita "Wikileaks ungkap daftar sasaran teroris". Yang juga dianggap sebagai fasilitas penting adalah tambang kobalt di Kongo, perusahaan antiracun ular di Australia, dan pabrik insulin di Denmark. Kawat diplomatik ini dikirim oleh Departemen Luar Negeri AS Februari tahun lalu untuk semua kantor kedutaan besar AS di seluruh dunia. Paling kontroversial Para pejabat Deplu AS meminta semua perwakilan di luar negeri mencatat semua fasilitas, yang apabila rusak, bisa mengganggu kesehatan masyarakat, perekonomian, atau keamanan nasional AS. Di Inggris, fasilitas itu mencakup pusat komunikasi satelit dan sambungan kabel transatlantik di beberapa kota. Yang juga dianggap penting adalah perusahaan milik BAE Systems (perusahaan alat-alat pertahanan Inggris) yang membuat senjata dan kapal selam di Edinburgh. Para diplomat AS menyebut perusahaan BAE Systems di Edinburgh tersebut penting untuk membuat kapal selam bertenaga nuklir. Wartawan BBC Jonathan Marcus menyebut dokumen tersebut sebagai bocoran Wikileaks paling kontroversial sejauh ini. Marcus mengatakan penerbitan dokumen ini mungkin tidak bisa dianggap sebagai gangguan keamanan serius, namun banyak negara mungkin akan menilainya sebagai perkembangan yang tidak diinginkan. Dan semuanya ini akan memicu pertanyaan apakah ada manfaat besar dari kebocoran informasi penting seperti ini. (bbc/mj)

Written by Jaka |

Ditunggu Bocoran WikiLeaks Soal Terorisme
Friday, 03 December 2010 17:55 |

M. Shodiq Ramadhan (Chief Editor Suara Islam Online)

Written by Shodiq Ramadhan |

Geger akibat situs WikiLeaks (www.wikileaks.org) sedang melanda dunia. Situs yang dipimpin Julian Assange dan bermarkas di Swedia itu terus membocorkan ratusan ribu file rahasia yang terkait dengan aktivitas Pemerintah Amerika Serikat. Sepekan ini saja, WikiLeaks telah membuat masyarakat dunia terperanjat dengan mengungkap dokumen yang menyatakan bahwa Arab Saudi, Kuwait, dan beberapa negara Timur Tengah menginginkan agar Amerika menyerang Iran karena memiliki nuklir. Menurut WikiLeaks, dokumen yang mereka rilis itu dijamin kesahihannya. Tidak ada dokumen palsu. Bagaimana cara memperolehnya, dirahasiakan. Tetapi, gara-gara aktiviatsnya itu, Julian Assange kini sedang diburu Interpol. Bagi Pemerintah dan masyarakat Indonesia, kini juga menjadi saat-saat yang mendebarkan menunggu bocoran dokumen WikiLeaks. Konon kabarnya harian The Guardian dari Inggris mengklaim memiliki 251 ribu lebih dokumen kawat diplomatik AS. Dari sekian banyak jumlah dokumen tersebut, 3.059 berasal dari kedutaan Amerika di Jakarta dan 167 dari konsulat Amerika di Surabaya. Dokumen tertua adalah tanggal 19 November 1990, sementara yang terbaru 27 Februari 2010. Jumlah dokumen dari Indonesia tersebut merupakan jumlah terbanyak dibanding dengan jumlah dokumen dari kedutaan Amerika di negara lain di Asia Tenggara. Di Bangkok, misalnya, jumlah dokumen yang terbuka 2.941, Manila 1.796, dan Singapura 704. Ini menandakan bahwa Indonesia memiliki posisi penting di mata Amerika. Kita belum tahu seberapa tinggi tingkat kerahasiaan dokumen-dokumen itu. Beberapa dokumen yang dilansir hanya menceritakan Kasus Timor-Timur, Pemilu 2004 dan Pelatihan Kopassus. Dalam dokumen berkode CRS Report RS20332 dengan judul East Timor Crisis: US Policy and Options tertanggal 5 November 1999 itu disebutkan bahwa Pemerintahan Bill Clinton menekan RI agar menerima kehadiran pasukan perdamai an internasional di Timor Timur usai jajak pendapat 1999. Selain itu juga menghentikan kerja sama militer AS dan Indonesia dan mengancam sanksi lebih keras bila tak mau

bekerja sama, mengendalikan milisi, dan memulangkan 200 ribu pengungsi Timor Timur. Amerika juga mendukung keputusan IMF dan Bank Dunia agar menghentikan bantuan mereka untuk Indonesia. Bantuan yang dihapus untuk tahun 2000 antara lain bantuan ekonomi 75 juta dolar AS, Economic Support Funds 5 juta dolar AS dan IMET 400 ribu dolar Mengenai Pemilu 2004 yang memenangkan pasangan SBY-JK, dalam dokumen tertanggal 20 Mei 2005 berkode CRS Report RS21874, Analyst in Southeast and South Asian Affairs, disebutkan bahwa SBY adalah the thinking general. Dalam dokumen itu juga terungkap bahwa suksesnya Pemilu 2004 meneguhkan dominasi partai sekuler, yaitu Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat. Sementara itu, berkaitan dengan Pelatihan Kopassus, dokumen yang bertajuk Joint Combined Exchange Training (JCET) and Human Rights Background and Issues for Congress, tertanggal 26 Januari 1999 menyebutkan bahwa sejak tahun 1992, Kongres AS memutus program Pelatihan dan Pendidikan Militer Internasional (IMET) untuk Indonesia setelah tragedi Santa Cruz. Tetapi, di bawah program JECT Dephan yang di setujui oleh Deplu, pasukan Baret Hijau AS melatih 60 anggota pasukan khusus TNI di Indonesia yang sebagian besar Kopassus. JECT berdalih pelatihan murni militer meskipun kurikulum latihan perang kota berjudul ‘crowd control’. Akhirnya, pada April 1998, anggota Kongres AS menyurati Menteri Pertahanan Cohen Evans yang menyebut program JECT telah mengakali larangan Kongres. Akibatnya JECT dihentikan pada 8 Mei 1998. Bagaimana dengan dokumen yang menyebut peranan Amerika dalam penanganan terorisme di Indonesia?. Kita belum tahu. Sebab dokumen mengenai hal itu belum dibocorkan oleh WikiLeaks. Yang jelas secara kasat mata penanganan kasus terorisme di Indonesia sejak tahun 2002 sangat kental berbau Amerika. Sejak pembentukan Detasemen Khusus 88 (Densus 88), pendanaan, program pelatihannya, dan penangkapan sejumlah tersangka terorisme, Amerika ternyata mengambil peranan dibaliknya. Dalam kasus penangkapan Ustadz Abu Bakar Baasyir misalnya, setidaknya ada tiga bukti yang selama ini diketahui banyak pihak telah melibatkan Amerika. Pertama, pengakuan mantan penerjemah Presiden Bush dan Megawati di Gedung Putih, Fred Burks, di Pengadilan. Dalam persidangan Ustadz Abu tahun 2005, Fred Burks membeberkan semua rencana Amerika untuk me’render’ Ustadz Abu. Pria kelahiran 20 Februari 1958 itu menyebut adanya negosiasi tingkat tinggi, di mana Amerika meminta Indonesia menyerahkan Ustadz Abu ke tahanan Amerika. Tapi Presiden Megawati menolak tekanan itu. Fred Burks juga berkata bahwa tiga pekan sebelum bom Bali ada pertemuan rahasia di rumah Megawati, Jl. Teuku Umar (16/9/02) yang dihadiri oleh Ralph L Boyce, Dubes AS untuk Indonesia, Karen Brooks (Direktur Asia National Security Council), seorang perempuan agen CIA yang diperkenalkan sebagai asisten khusus Bush, dan Burks sendiri. Sedangkan Megawati sendirian. Dalam pertemuan 20-an menit itu si agen CIA berkata bahwa pemerintah Amerika meminta agar Ustadz Abu diserahkan ke Amerika

karena terkait jaringan Al-Qaeda. Megawati menolak, dengan alasan kalau dia menyerahkan Ustadz Abu ke Amerika akan timbul instabilitas politik dan agama yang tidak akan sanggup ia tanggung. Namun si agen CIA itu justru mengancam, "Jika Ba'asyir tidak diserahkan ke Amerika sebelum Konferensi APEC (enam minggu setelah pertemuan itu) situasi akan tambah sulit. Pertemuan pun bubar. Bom Bali pun meledak (12/10/02). Burks berkata, "Peristiwa itu memberi alasan yang diperlukan Megawati sehingga Ba'asyir ditahan sampai sekarang, meskipun dia (Mega) tidak menyerahkannya ke Amerika”. Bukti kedua yang menjelaskan keterlibatan Amerika dalam penangkapan Ustadz Abu adalah ketika Pemerintah AS mengutus Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Tom Ridge (10/3/04) untuk menekan Presiden Megawati, Menko Polkam SBY, dan Kapolri Jendral Da'i Bachtiar agar tetap menahan Ustadz Abu setelah bebas dari Rutan Salemba. Maka peristiwa itu memaksa ribuan personil PHH mengambil paksa Ustadz Abu pada hari Jum'at (30/4/04) pukul 06.55 WIB setelah sejak pukul 05.00 WIB bentrok dengan para aktivis ormas Islam yang turut menyambut rencana pembebasan beliau. Hasil kunjungan Tom Ridge kepada Menko Polkam SBY saat itu (8/3/04) seperti dilaporkan kantor berita Perancis AFP sebagai berikut: Isu seputar akan dijeratnya kembali Ba'asyir ini muncul ketika pihak Amerika Serikat dan beberapa diplomat asing kecewa terhadap keputusan Mahkamah Agung (MA) yang telah menetapkan 1,5 tahun penjara potong masa tahanan bagi ustadz yang juga pendiri Pondok Pesantren AlMukmin, Ngruki, Solo itu. Sehari setelah keluarnya keputusan MA itu, Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat Tom Ridge, menemui Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono (8/3) dengan mengatakan bahwa keputusan pengadilan Indonesia terhadap Ba'asyir bukanlah keputusan yang tepat. "Kami harap tidak lama lagi dia akan dibawa ke pengadilan dengan cara lain," kata Ridge seperti dikutip AFP. Beberapa saat usai pertemuan itu, ada pernyataan dari kantor Menkopolkam, "Jika ada bukti baru, sama saja, dari dalam atau luar Indonesia, beliau akan didakwa lagi," ujar Harsanto, salah seorang staf Susilo Bambang Yudhoyono pada AFP. Bukti ketiga, adalah pengakuan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif melalui tulisannya di rubrik Resonansi HU Republika (13/4/04). Ia mengaku diminta langsung oleh Dubes AS di Jakarta Ralph L Boyce (28/3/04) agar melobi Ketua MA dan Kapolri supaya Ustadz Abu tetap ditahan sebelum pemilu dilangsungkan. Untuk kepentingan itu pihak Dubes menyiapkan semua fasilitas yang dibutuhkan. Syafii mengaku langsung menolak dengan tegas, kendatipun dia sendiri tidak sepaham dengan visi dan misi perjuangan Ust Abu. Bagaimana dengan penangkapan Ustadz Abu di Banjar Patroman, Ciamis, Jawa Barat beberapa bulan lalu?. Apakah ini juga bagian dari skenario dan pesanan Amerika?. Kita tunggu seberapa banyak dokumen rahasia yang dimiliki WikiLeaks terkait Indonesia terutama soal penanganan kasus terorisme. Sedikit banyak, dokumen yang terungkap

tersebut akan membuka perselingkuhan antara pejabat-pejabat di negeri ini dengan Amerika Serikat. Apakah kelak ada pihak yang kebakaran jenggot jika dokumen tersebut dibuka, mari kita tunggu cicilan dokumen dari Wikileaks. []

• • •

Add New Search RSS

Comments (3)

|2010-12-04 21:11:14 noor - amerika kebakaran jenggot

Amerika kebakaran jenggot karena wikileaks ini. IMHO bocoran wikileaks valid, karena jika tidak valid, tidak mungkin Amerika dengan berbagai cara mencoba membungkamnya.
o o

0 1

ReplyQuote

|2010-12-07 07:34:10 Anonymous

Mereka akan melakkn tipv daya....Ssengghnya tipv daya yg HAK...lebih canggih d lebih indah.
o o

0 0

ReplyQuote

|2010-12-07 09:27:05 abahyasa

Dasar syetan, selalu gerah melihat para da'i, ulama warotsatul anbiya'

Indonesia Perlu Solusi Radikal
Sunday, 28 November 2010 16:39 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Dalam diskusi Forum Kajian Sosial Kemasyarakatan (FKSK) Rabu, 24 November lalu di Jakarta terungkap bahwa program deradikalisasi yang diluncurkan oleh pemerintah dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) sebagai operatornya tidak lepas dari grand design AS dalam war on terrorism. Dan sasaran dari program tersebut adalah mereka yang berjuang untuk tegaknya syariah dan system pemerintahan Islam, khilafah. Sehari setelah acara FKSK, sekretariat FUI mendapatkan kiriman file presentasi program deradikalisasi oleh BNPT yang disampaikan dalam salah satu proyek sosialisasinya, yakni di Halaqah Nasional Penanggulangan Terorisme di MUI 6 November lalu. Setelah memaparkan kasus terorisme yang menonjol sejak Bom Natal tahun 2000 hingga bom Marriot II tahun 2009 pada slide 2, presentasi yang disampaikan oleh Kepala BNPT Ansyaad Mbai itu pada slide 3 langsung menuding Khilafah Islamiyah/Daulah Islamiyah dan Syariat Islam sebagai tujuan terorisme aktual. Disebutkan bahwa itu adalah hasil investigasi alias pengakuan para teroris. Bagi mereka yang kurang informasi dan berfikir dangkal tentu akan serta merta menyetujui pernyataan slide tersebut dan selanjutnya akan menyetujui sasaran program deradikalisasi, yakni pemberangusan ide-ide Islam kaffah, ideology Islam, syariat Islam, system pemerintahan Islam, daulah khilafah Islamiyah, dan setiap gerakan yang berjuang untuk mewujudkan ide-ide Islam tersebut di tengah masyarakat muslim.
Padahal tidak ada dosa dari kelompok anak kaum muslimin itu kecuali bahwa mereka menyajikan solusi untuk probolematika bangsanya, kaum muslim yang terbesar di dunia ini, dengan solusi Islam. Sebab dalam pikiran Ansyaad Mbai dan orang yang serupa dengannya, tidak ada solusi Islam untuk negara ini. Negara ini sudah final.

Tidak ada lagi wacana yang memperbolehkan syariat Islam sebagai solusi berbagai masalah bangsa dan negara, baik dalam bidang ekonomi, politik, social budaya, dan lain-lain. Menurut mereka, negara ini telah menganut 4 azimat negara, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Itu mereka artikan bukan Islam dan tidak boleh Islam. Artinya, mereka mengharamkan adanya ide-ide dan hokum syariat Islam dalam keempat azimat itu. Jadi tidak boleh ada Pancasila yang Islami, UUD 1945 yang Islami, NKRI yang Islami, dan Bhineka Tunggal Ika yang Islami. Bahkan untuk memberikan tafsiran implementasinya saja, seperti RUU-Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU-APP) mereka tolak habis-habisan karena mereka nilai telah memasukkan penafsiran Islam ke dalam RUU tersebut. Mereka ingin UU di NKRI harus steril dari pikiranpikiran syariat Islam sekalipun 90 persen penduduk NKRI adalah umat Islam. Alasan klasik mereka, negara kita bukan negara agama dan meskipun mayoritas, umat Islam tidak sendiri, tapi kita hidup bersama umat lain. Kita hidup dalam masyarakat plural. Janganlah Bhineka Tunggal Ika kita dihancurkan karena memaksakan syariat Islam, atau memaksakan RUU-APP yang mengandung muatan syariat Islam! Tentu saja alasan-alasan klise mereka itu bagi orang yang mau berfikir sedikit mendalam dan jernih jelas sangat lemah. Mereka menolak masuknya syariat Islam dalam UU –bahkan belakangan mereka juga persoalkan perda-perda “syariat” di berbagai daerah—dengan alasan umat Islam, walau mayoritas, tapi bukan satu-satunya unsur dalam bangsa dan negara Indonesia. Sementara mereka memasukkan penafsiran liberal untuk implementasi pasal 33 UUD 1945 tetang pengelolaan sumber daya alam. Sehingga UU Migas yang menganut pikiran neo liberal mereka loloskan. Padahal kaum neolib jumlahnya hanya segelintir orang di negeri ini. Kenapa alasan yang sama untuk menolak syariat Islam tidak mereka terapkan kepada penafsiran kaum neoliberal? Akhirnya dengan UU Migas, UU Sumber Daya Air, UU Penanaman Modal, dan UU serupa yang berhaluan liberal tersebut para kapitalis manca negara mendapat kemudahan untuk semakin menguasai sumber-sumber kekayaan kita. Negara kita yang punya empat azimat tersebut semakin terseret ke dalam pusaran arus ekonomi liberal yng digerakkan oleh kaum serakah dunia. Dan dalam peta dunia kita menjadi negara obyek, bukan syubyek. Kita menjadi negara yang kekayaannya dirampok habis-habisan, kantong kita dirogoh, bahkan keringat kita pun diperas sampai kering. Rakyat banyak, khususnya para santri yang ahlu ibadat yang selama ini dibius dengan kalimat negara kita sudah final, dan waspadai gerakan trans nasional yang membawa ideology syariat, itu tidak banyak membaca berita bahwa sudah ratusan hingga ribuan triliun kekayaan emas kita di Mimika diangkut oleh Freeport McMoran, Tambang emas kita di NTB diambil Newmont, Blok Cepu kita yang bercadangan minyak 2 milyar barrel diambil Exxon Mobil wakto Condy Rice datang, juga Blok D Natuna yang bercadangan 6 ribu Triliun dipastikan untuk AS, dan masih banyak lagi! Semua itu dibiarkan oleh para pejabat penjaga empat azimat negara ini. Dan empat azimat negara ini tidak pernah bisa menolak perampokan besar-besaran itu karena steril dari syariat Islam. Oleh karena itu, kenapa tidak kita coba syariat Islam sebagai sistem ekonomi dan pemerintahan kita terapkan untuk mencegah pembobolan berbagai kekayaan negara kita oleh asing dan para kroninya yang menguasai negara ini? Memang itu solusi radikal. Tapi bukankah Indonesia perlu itu?. Muhammad Al Khaththath

Add New

• •

Search RSS

Comments (1)

|2010-12-07 09:25:22 abu icanimovic - SETUJU

Saya setuju solusi radikal Ust.!!! Sudah menunggu saatnya kebangkitan Islam, dan kehinaan bagi orang-orang kafir.. Anysad Mbai ke laut aj lu, dilarung...biar mulutmu itu ditutup aja pake air laut daripada ngoceh yg bukan-bukan, dasar Kafir.

Antara UU Terorisme dan UU Nazi
Thursday, 20 May 2010 09:54 |
• Keinginan rezim SBY untuk merevisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (UU Terorisme) menimbulkan pro dan kontra. Pasalnya, jika revisi nanti disetujui DPR, maka bisa menjurus pada pemberlakukan UU ISA (Internal Securiry Act) seperti di Malaysia atau kembali ke zaman otoriter Orde Baru, dimana seseorang yang dicurigai anti pemerintah bisa ditangkap sewenang-wenang tanpa melalui proses pengadilan. Pemberlakuan ISA di Malaysia memungkinkan seseorang yang dicurigai polisi sebagai teroris dapat ditahan tanpa proses pengadilan selama 2 tahun dengan dalih membahayakan keamanan negara, sehingga bisa disalahgunakan untuk membungkam lawan-lawan politik pemerintah. Sedangkan pada UU terorisme hanya ditahan maksimal 7 hari sejak pertama kali ditangkap. Jika tidak ditemukan cukup bukti, maka wajib dilepaskan. Namun bagi mantan komandan pertama Densus 88 Mabes Polri, Komjen (Pol) Drs Gories Mere, sesungguhnya UU Terorisme cukup kontroversial, sebab pernah diberlakukan secara berlaku surut terhadap ketiga pelaku Bom Bali I, Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudera, sehingga ketiganya dieksekusi mati tahun 2008 lalu. “Di dunia ini hanya ada dua UU yang diberlakukan secara berlaku surut, yakni UU Nazi di Jerman untuk menghukum para penjahat perang Nazi pasca PD II dan UU Terorisme di Indonesia,” ujar Kepada Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen (Pol) Drs Gories Mere kepada Suara Islam seusai melantik para Pejabat BNN Eselon II, III, IV di Kantor Pusat BNN Jakarta, Rabu (19/5).

Written by Ahmad Fahmi |

Menurut Gories Mere, UU Nazi dibuat tahun 1947 sementara para penjahat perang Nazi Jerman ditangkap tentara sekutu tahun 1945 pasca berakhirnya PD II. Sedangkan UU Terorisme ditetapkan Presiden Megawati pada 4 April 2003 sementara Amrozi, Ali Ghufron dan Imam Samudera melakukan Bom Bali I pada 12 Oktober 2002. Karena UU Terorisme dinilai bermasalah dalam penetapan berlaku surut terhadap ketiga pelaku Bom Bali I, maka oleh Mahkamah Konstitusi (MK) pemberlakuan berlaku surut itu dibatalkan pada tahun 2005, namun ketiganya oleh Pengadilan terlanjur ditetapkan mendapat hukuman mati. Menurut Gories Mere, sesuai dengan Keputusan MK tersebut, jika nantinya pelaku Bom Bali I seperti Hambali yang sekarang ditahan di penjara Guantanamo AS berhasil diekstradisi ke Indonesia, maka UU Terorisme tidak akan diberlakukan terhadap dirinya. Sebab penetapan berlaku surut sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi. (Lim)

• • •

Add New Search RSS

Comments (1)

|2010-05-20 10:44:01 ilham

revisi juga tuw uu tipikor tidak ada lagi hukuman penjara buat koruptor,,,gantikan dengan hukum tembak....dooorrrrr

ri Mulyani "Big Fish Pajak"
Thursday, 22 April 2010 13:32 | Written by Jaka |

Adanya Intervensi Menteri Keuangan Sri Mulyani Indriawati (SMI) dalam kasus penggelapan pajak pemilik PT Ramayana Lestari Sentosa, Paulus Tumewu disayangkan banyak kalangan. Seperti dilaporkan Asosiasi Pembayar pajak Indonesia (APPI) di hadapan Komisi III DPR RI, Selasa (204) lalu, bahwa Menkeu Sri Mulyani pernah memberikan disposisi untuk menyelesaikan pengemplangan pajak Bos Ramayana itu

secara damai. Disposisi ini diberikan Menkeu melalui penasihat Menkeu Bidang Reformasi Pajak Marsillam Simanjuntak dan berlanjut ke Kejaksaan Agung saat dipimpin Abdurrahman Saleh. Terkait juga Gubernur Gorontalo saat itu, Fadel Muhammad. Mantan Dirjen Pajak, Fuad Bawazier, belum mau berkomentar soal kasus pengemplangan pajak pemilik Ramayana, Paulus Tumewu yang dibekingi Sri Mulyani. "Soal kasus Paulus, aku lagi minta dokumennya. Tapi belum dapat. Maunya dapat dokumennya dulu baru mau komentar ah. Dijanjiin hari ini nih. Tapi belum dapat juga," ujar Fuad Bawazie, Rabu (21/4). Fuad Bawazier menjelaskan, kasus pengemplangan pajak Paulus Tumewu yang diduga kuat melibatkan campur tangan Menteri Keuangan Sri Mulyani, memperbesar opini negatif terhadap Sri Mulyani. "Saya dengar memang dia suka intervensi. Saya waktu jadi Dirjen belum pernah diintervensi," ungkapnya. Kasus Pajak Halliburton Fuad pun mulai membeberkan kisah lain. Konon, Sri Mulyani juga terlibat dalam kasus pajak perusahaan Halliburton Indonesia, milik mantan Wakil Presiden AS, Dick Cheney. Dari yang ia dengar, permohonan tunggakan pajak Halliburton lolos akibat intervensi Menkeu pula. Seingatnya kasus terjadi saat Ditjen Pajak di bawah komando Darmin Nasution. Menurut Fuad, di Ditjen Pajak dikenal peninjauan kembali kasus pajak secara internal yang biasa disebut PK Kecil. Saat PK Kecil soal pajak Halliburton itulah intervensi Sri Mulyani terjadi. "Konon kabarnya, dengan intervensi Menkeu, di PK Kecil kelima dalam hitungan hari langsung diterima. Argumentasi para Direktur di Ditjen Pajak ditenggelamkan oleh Menkeu," tanpa lagi merinci secara detail. Fuad menyatakan keyakinannya bahwa kasus-kasus besar pajak akan terbuka dengan sendirinya satu persatu. "Kita tunggu sajalah, satu persatu akan terbuka sendirinya," tutup Fuad.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->