HERNIA INGUINALIS LATERALIS

A. PENGERTIAN. Hernia adalah suatu tonjolan (Protrusion) dari organ dan sebagian organ intra abdominal keluar kavum abdomen melalui lakus minoris (Facial defek) dinding abdomen dan masih meliputi peritoneum. Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis internus yang terletak di sebelah lateral vasa epigastrika inferior, menyusuri kanalis inguinalis dan keluar ke rongga perut melalui anulus inguinalis eksternus. Pada pria yang normal kanalis inguinalis berisi fasikulus spermatikus, vasa spermatika, nervus spermatikus, muskulus kresmater, rotundum. A. PENYEBAB 1. 2. Kongenital Terjadi prosesus vaginalis. Terjadi sejak bayi lahir seperti: hernia inguinalis, hernia umbilikalis, hernia Bochdalek. Akuista atau di dapat. Terjadinya hernia setelah dewasa / manula, disebabkan tekanan intra abdominal yang meningkat dan dalam waktu yang lama, misal: batuk kronis, gangguan proses kencing (prostat hypertropi, strictura uretra), konstipasi kronis, ascites dan trauma kecelakaan. kegagalan dalam hal penutupan prosesus vaginalis peritonier, dan ligamentum

B. PATOFISIOLOGI. Kanalis inguinalis adalah kanal yang normal pada fetus, pada bula ke-8 kehamilan terjadi desensus testis melalui kanal tersebut, penurunan testis tersebut akan menarik peritonium ke daerah scrotum sehingga terjadi penonjolan peritonium yang disebut dengan Prosesus Vaginalis Peritoneai. Pada bayi yang sudah lahir, umumnya prosesus ini telah mengalami obliterasi sehingga isi rongga perut tidak dapat melalui kanal tersebut. Namun dalam beberapa hal seringkali kanalis ini tidak dapat menutup, karena testis kiri turun terlebih dulu, maka kanalis inguinalis kanan lebih sering terbuka. Bila kanalis kiri terbuka maka biasanya yang kanan juga terbuka. Dalam keadaan normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia 2 bulan. Bila prosesus terbuka terus (karena tidak mengalami obliterasi) akan timbul hernia inguinalis lateralis kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup. Namun karena merupakan Lokus Minoris Resistensie, maka pada keadaan yang menyebabkan tekanan intra abdominal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul Hernia Inguinalis Lateralis Akuisita. Keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan intra abdominal adalah kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan saat defekasi dan mengejan pada saat miksi misalnya akibat hypertropi prostat. C. PEMBAGIAN. 1. Menurut Tempat Lokasinya : Hernia Scrotalis.

2. -

Hernia Femoralis. Hernia Umbilikalis. Hernia Inguinalis. Hernia Insisional. Hernia Fragmatika. Hernia Epigastrika. Menurut Gejalanya:; Hernia Reponibilis.

Penonjolan yang terjadi tersebut dapat dimasukkan kembali secara manual. Hernia Irreponibilis. Penonjolan yang terjadi dan tonjolan tersebut tidak dapat dikembalikan secara manual disertai nyeri tekan. Hernia Inkarserata. Terjadi tonjolan yang tidak bisa kembali serta terjadi gangguan pasase usus dan nyeri hebat. Nyeri Hernia Strangulata. hebat, pembuluh darah terjepit, gangguan

vaskularisasi karena masih ada makanan di usus yang terdapat penonjolan tersebut, maka akan terjadi eksudat cairan. Hernia Richter. Hernia reponibilis yang turun naik. B. TANDA DAN GEJALA Ada benjolan/burut pada daerah selangkangan / Nyeri pada saat mengejan, mengangkat benda. kemaluan / lipat paha.

sedangkan recuren yang terjadi setelah dua tahun timbul karena kelemahan progresif pada fasia pasien. kantong diikat dan dilakukan Bassiny Plasty atau tekhnik lain untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis (untuk bedah elektif). Bedah darurat. bila vital dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi dan anastomosis end to end. C. Tindakan operasi: Herniotomy dan Herniorafi. Hernia recuren yang terjadi dalam beberapa bulan / setahun biasanya menunjukkan refair yang tidak adekuat. Kanalis inguinalis dibuka. maka faktor penyebab terjadinya hernia harus dicari dan diperbaiki (batuk kronis. Hernia Inguinalis Reponibilis dan Ireponibilis dilakukan tindakan bedah efektif untuk mencegah terjadi . prinsipnya hampir sama dengan bedah elektif. acites dan lain-lain). Cuman Hernia langsung dicari dan dipotong. Prinsip terapi operatif pada hernia inguinalis : Untuk memperoleh keberhasilan. prostat tumor. PENATALAKSANAAN Pada komplikasi. Tidak flatus / BAB.- Mual dan kembung. isi hernia dimasukkan. usus halus dilihat vital atau tidak. dipisahkan dari peritonium dan diligasi. Sakus hernia indirek harus diisolasi.

gangguan miksi. Menyembuhkan semua penyebab dari tekanan intra abdominal yang tinggi. Persiapan Pra Bedah Usaha mencegah kekambuhan o o Sedapat mungkin menurunkan berat badan pasien yang obesitas. o Usia lanjut. HERNIA INGUINALIS LATERALIS . o Keadaan umum yang jelek. pembedahan dapat ditunda sampai keseimbangan air dan elektrolit dipenuhi dengan pemberian infus dan pemasangan pipa lambung. seperti: radang saluran nafas. Hernia inguinalis lateralis yang dijumpai pada usia lanjut. Pada bayi dan anak pembedahan dilakukan sedini mungkin setelah diagnosa dilakukan. kecuali ada kontra indikasi dapat juga digunakan anastesi lokal. Anastesi yang digunakan biasanya umum. perlu pemeriksaan yang menyeluruh untuk melihat kemungkinan penyebab. obstipasi kronis. Kontra Indikasi o Hernia yang sangat besar. Bila timbul inkarserata.HERNIOTOMI  Indikasi Semua hernia inguinalis lateralis harus dibedah.

Perawatan Post-Operasi Terapi cairan. yaitu: Irisan transversal sesuai dengan lipatan kulit. mencegah komplikasi tentang pasien diajarkan Informed consent (tanda persetujuan . Tidak perlu membebaskan funikulus. merasa sakit / nyeri pada daerah luka / insisi setelah operasi. hanya saja terdapat beberapa perubahan. 2. spermatikus. Mobilisasi pasca operasi (di tempat tidur). c. PERAWATAN / PERSIAPAN PASIEN PRE OPERASI HERNIOTOMI 1. Tidak perlu melakukan plastik Bacini. d. Menjelaskan bagaimana tubuh Menjelaskan Untuk (atelektasis) bahwa akan akan tetap berfungsi setelah dilakukan herniotomi. a. secara tertulis). b. Perawatan luka (3 hari pasca operasi ganti balutan). pasca operasi Penyuluhan pre operasi : Menjelaskan apa yang akan dihadapi oleh pasien jika ia akan dioperasi. HERNIOTOMI PADA ANAK Teknik operasi sama dengan orang dewasa. Memotong tidak sampai Anulus Eksternus (kecuali bila disertai hidrokel).

Tindakan pemberian cairan dan elektrolit maupun plasma sebelum operasi. berpuasa b. Hygiene Pasien harus mandi sebelum operasi. d. tinggi karbohidrat. 3. sedapat mungkin . Nutrisi nafas Pasien diberi makanan yang berkadar lemak rendah. Mulut harus dibersihkan. Pre medikasi: kateterisasi harus dihindari. Obat-obatan pre medikasi Eliminasi Kandung kencing harus kosong.kesehatan paru-paru. Perhatikan balance 6 – 8 jam pre operasi. protein. kalau perlu kolaborasi pemberian obat penenang. vitamin dan kalori. e. Pengosongan isi usus dengan pemberian garam fisiologis atau di lavement. c. batuk efektif. Kuku disikat dan cat kuku dibuang. Cairan Pasien tidak boleh minum selama 8 jam sebelum operasi. Persiapan fisik. Pasien harus 12 – 18 jam sebelum operasi. Istirahat Malam sebelum operasi diusahakan agar pasien dapat tidur nyenyak dan beristirahat. menarik dalam. f.

Obat anti muntah. Baju pasien diganti barang-barang berharga diserahkan pada keluarga. dan bertujuan sebagai: ∗ ∗ ∗ Menghilangkan perasaan gelisah dan takut sebelum operasi. Atrofin mengurangi sekresi dari mulut dan saluran pernafasan. jangan dibawa ke kamar tunggu terlalu cepat. Menurunkan BMR untuk mengurangi pemakaian O2 dalam tubuh. ∗ ∗ g. Morfin untuk mengurangi perasan sakit. . h. Analgesia.Adalah pemberian obat untuk menjamin anastesi dapat berjalan dengan baik dan lancar. sebab dengan terlalu baju lama khusus menunggu operasi. saat operasi akan menyebabkan pasien gelisah dan takut. Pasien yang akan dioperasi harus dibawa tepat pada waktunya. Mengurangi pemakaian obat anestesi dasar (utama). i. Melemahkan gerak refleks pada sistem saraf otonom untuk menahan keluarnya air liur dan sekresi di bagian atas tenggorok untuk mencegah konvulsi dan muntah. Kulit Observasi tanda-tanda vital Transporting pasien Yang sering digunakan adalah: Mencukur bagian yang akan dioperasi.

2. setelah diberitahukan selesainya operasi. Ada yang kaget mengetahui diadakan inhakasi oksigen. Dalam hal demikian perawat perlu memberi penjelasan. 3. pasien baru merasa tenang. Pasien yang sadar kembali dari anastesi banyak yang mulai tidur lagi. PERAWATAN PASIEN DI KAMAR PEMULIHAN (RECOVERY ROOM) Selesai operasi. Sebaiknya pasien dirawat di kamar pemulihan yang bertempat dekat dengan kamar operasi untuk diawasi oleh dokter anastesi dan perawat kamar operasi.PERAWATAN PASIEN YANG TELAH MENJALANI OPERASI (POST OPERATIVE) I. Hal-hal yang perlu diperhatikan setelah sadar kembali. Dan penting agar memberitahu kepada pasien bahwa operasi telah selesai. Dalam hal demikian pasien harus dalam posisi miring. mulai sadar dari anesthesia umum sampai keadaan umum pasien menjadi stabil. Cegah agar pasien tidak terjatuh dari tempat tidur dan hindarkan bahaya-bahaya lain. . Pasien dalam keadaan tersebut di atas memerlukan perawatan dengan berpedoman sebagai berikut: 1. Amankan tenggorokan dan cegah tersumbatnya pernafasan karena tidak keluarnya sekret/karena lidah jatuh ke belakang atau salah menelan. Ada yang bertanya operasi akan dimulai sekarang.

nadi. Khususnya untuk menyelamatkan saluran pernafasan dan mengadakan perawatan untuk mencegah terjadinya shock. nyeri dan lain-lain. Perhatikan suhu. lain-lain). Selanjutnya perawatan diadakan menurut tingkat penyembuhan masing-masing pasien. PERAWATAN PASIEN SETELAH KEMBALI KE RUANGAN Setelah pasien kembali ke ruangan dari kamar pemulihan. Terima status pasien. 2. pernafasan dan tekanan darah. rasa kedinginan. Kebersihan rongga mulut. cairan 4. Cek jenis anastesi. 6. adanya rasa mual / muntah. Ambil tindakan selanjutnya jika perlu (seperti continous dower catheter. keadaan umum pasien dan banyaknya obat yang diberikan padanya. inhalasi oksigen dan Jika diberikan transfusi darah / infus tempat jarum infus terpasang dan . perdarahan. 5.II. banyaknya transfusi darah / infus cairan dan tindakan-tindakan yang perlu diambil segera. 3. Saint Carolus di Tokyo: 1. 7. Di bawah ini adalah pokok-pokok yang dimuat di dalam pengaturan perawatan pasien setelah operasi yang digunakan sebagai contoh prosedur perawatan dan pengobatan di Rumah Sakit. perawat di ruangan mengadakan perawatan selama 24 jam. cara operasi. adanya selimut). Ketenangan (bunyi / cahaya). Pengaturan suhu (masuk angin atau perhatikan banyaknya tetesan. Foto roentgen dan daftar untuk pengecekan untuk pasien.

Sekaligus menghilangkan isogin yang dipakai untuk mendesinfeksi kulit. denyutan nadi. III. 9. keluhan sakit. Lakukan dengan menyeka. Ubah posisi pasien setiap 1-2 jam Suruh melakukan pernafasan dalam Laporkan segera jika terdapat perubahan pada tekanan darah. Pembersihan seluruh tubuh. Bersihkan keringat dan getah luar dengan sabun dan air hangat. 10. 1. 2. keadaan pernafasan. 12. 11. Tidak sedikit yang mengalami inflamasi kulit karena rangsangan obat isogin. dengan petunjuk. sesuai petunjuk dokter. Hari pertama setelah operasi perlu mencek keadaan sambil memperhatikan laporan tentang keadaan pasien malam hari. Menyuruh membersihkan rongga mulut dengan sikat merupakan langkah pertama untuk mencegah infeksi pada sistem pernafasan dan parotis setelah operasi.PAGI HARI SETELAH OPERASI SAMPAI WAKTU DAPAT BERJALAN. 10 jam. ini semua berguna untuk: Ukur banyaknya makanan yang masuk serta eliminasi menurut jenis operasi dan sesuai Usahakan mengeluarkan urine 6 . jam setelah operasi.8. perdarahan dan cairan tubuh yang keluar. Perawatan selaput rongga lendir rongga perut.

Melemahkan ketegangan tubuh yang kaku karena berbaring. . . 4. . Bila gerakan ini yang merupakan salah satu penyakit komplikasi paru-paru yang dialami setelah operasi. 3. yaitu: . Karena terasa sakit pasien merasa ragu-ragu melakukannya.Merangsang peredaran darah dan perasaan menjadi segar. Latihan nafas dalam. Dengan posisi berbaring miring. suruh pasien meluruskan dan membengkokkan sendi lutut dan kaki. .Sambil menekan bagian insisi dengan tangan pasien /tangan perawat. Lakukan pernafasan perut < 10 kali. . .Bila sekret sulit untuk dikeluarkan karena kental.Menolong terisapnya darah ke dalam bilik kanan jantung.Mendorong sirkulasi paru-paru sehingga mencegah atelektasis Pelaksanaan: . Gerakan tungkai. inhalasi uap sangat berguna / suruh meniup perlahanlahan dan lama sampai mengeluarkan gelembung udara.Suruh pasien mengeluarkan sekret yang tertimbun di dalam kerongkongan dengan batuk.- Memberikan rangsangan pada otot-otot kulit.Mendorong pelebaran paru-paru. . tetapi beri penjelasan tentang hal ini (alasan dari latihan nafas dalam).

Meteorismus / kembung. 3. KOMPLIKASI SETELAH OPERASI 1. 3. PENATALAKSANAAN POST OPERASI Mempertahankan output urine dalam jumlah yang cukup. kekentalan darah. Output urine harus diperiksa setiap 1-2 jam. Output urine harus sama dengan jumlah cairan yang masuk. Retensio urine.2-2. 7. Status nutrisi pasien harus dimonitor. V. Pasien harus diberikan protein 1. Penyebab thrombus sesudah operasi adalah: a.0 gr/kg BB/hari. Pneomonia / radang paru. 5. . 2. b. tolong pasien untuk melakukannya. Muntah/Vomiting. c. IV. Meningkatnya viskositas atau darah dan luka kimia mekanis. Shock. Bakteri di dalam selaput pembuluh Terhambatnya peredaran darah. Monitor kemungkinan dehidrasi yang dialami oleh klien. Perdarahan. cukup protein dan karbohidrat. 1.tidak dapat dilakukan sendiri. Jumlah output urine tetap 30 ml/jam. Ini merangsang peredaran darah pada susunan darah balik di bagian tungkai sehingga dapat mencegah tersumbatnya pembuluh darah. 6. Thromboflebitis. 2. 4. Konsumsi kalori 35-40 KKal/Kg BB/hari.

Pasien yang memiliki resiko paralitik ileus yang disebabkan manipulasi perut pada saat dilakukan operasi harus diperiksa bising usus. PADA HARI PERTAMA POST OPERASI:     Perawatan selaput lendir rongga mulut.4. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan Hernia: 1. Cek alat dan perlengkapan yang dipakai untuk pasien. PADA HARI KE-3 POST OPERASI:   Buka balutan luka. . Nyeri (saat mengejan) berhubungan dengan kondisi hernia atau intervensi pembedahan. Membersihkan seluruh tubuh. Menggerakkan tungkai  untuk mencegah terjadinya trombus pada pembuluh darah. PADA HARI KE 7 – 10 POST OPERASI :   Mengangkat jahitan berselang satu jahitan. Jahitan boleh diangkat seluruhnya jika luka sudah kering dan merapat. distensi abdominal dan mual. Membersihkan tanpa mengangkat jahitan.

Catatan: tempatkan penopang sebelum pasien turun dari tempat tidur. karakter. gunakan skala nyeri dengan pasien. . Berikan atau ajarkan pasien tentang pemasangan penopang scrotal atau kompres es yang sering digunakan untuk membatasi edema dan mengendalikan nyeri setelah perbaikan hernia inguinal. secara khusus sebelum aktivitas pasca operasi. gunakan Berikan analgesik sesuai program bila tindakan kenyamanan juga distraksi. khususnya bila turun dari tempat tidur. e. Beritahu pasien untuk menghindari mengejan. ajarkan pasien untuk menekan insisi dengan tangan/bantal selama episode batuk. batuk dan mengangkat berat. d. menetap yang dapat menandakan komplikasi. beratnya. Kaji dan dokumentasikan nyeri. persepsi subjektif pasien tentang ketidaknyamanan menurun. rentang ketidaknyamanan dari 0 (tidak ada nyeri) sampai 10 (nyeri paling buruk). faktor pencetus dan metoda penghilangan.Hasil yang diharapkan Dalam 1 jam intervensi. Intervensi Keperawatan a. ini secara khusus penting selama periode pasca c. b. laporkan nyeri berat. lokasi. Ajarkan pasien bagaimana menggunakan penopang bila diprogramkan dan anjurkan penggunaannya sebanyak mungkin. dibuktikan dengan skala nyeri. indikator-indikator objektif seperti meringis tidak ada. meregang. operasi awal dan selama 6 minggu setelah pembedahan. Interaksi diindikasikan. durasi.

metode Crede (tekanan diberikan dari umbilicus sampai pubis) dapat digunakan untuk merangsang refleks berkemih lemah. 2. pasien berkemih tanpa kesulitan. Bila tindakan ini tidak efektif. 100 ml. Retensi trauma dan perkemihan yang berhubungan selama penggunaan anastetik pembedahan abdomen bawah.verbal untuk meningkatkan ekspresi perasaan dan dan teknik menurunkan ansietas. Intervensi Keperawatan a. dokumentasikan derajat penghilangan yang didapat dengan menggunakan skala nyeri. Hasil yang diharapkan Dalam 8-10 jam pasca pembedahan. mendengar bunyi air mengalir / tempatkan tangan dalam air hangat. pada posisi normal Permudah untuk berkemih biarkan dengan pasien mengimplementasikan intervensi berikut: Posisikan pasien berkemih. b. sering < supra pubic atau laporan pasien tentang tidak berkemih. c. dengan nyeri. Kaji dan dokumentasikan keluaran distensi urine. keluaran urine 100 ml setiap berkemih dan adekuat (kira-kira 1000-1500 ml) dalam periode 24 jam. coba teteskan air hangat di atas perineum kecuali dikontraindikasikan. Pantau dokumentasikan dan laporkan berkemih . gosokkan punggung penurun stress seperti: latihan relaksasi.

Ajarkan pasien mekanika tubuh tepat untuk bergerak dan mengangkat. Pengertian Merawat luka steril adalah merawat luka bersih akibat tindakan bedah aseptik. Hasil yang diharapkan Setelah instruksi pasien mengungkapkan pengetahuan tentang tanda dan gejala komplikasi gastro intestinal dan memenuhi tindakan yang diprogramkan untuk pencegahan. MERAWAT LUKA STERIL 1. Indikasi Luka SC. 2. menetap. Intervensi Keperawatan a. Persiapan Alat Pinset anatomis . distensi abdomen yang dapat memperberat awitan inkarserata atau strangulasi usus. Laparatomy. Kurang pengetahuan. 3. Ajarkan pasien untuk waspada dan melaporkan nyeri berat. muntah. Anjurkan pasien untuk mengkonsumsi diet tinggi sisa atau menggunakan suplemen diet serat untuk mencegah komplikasi. potensial terhadap komplikasi gastro intestinal berkenaan dengan adanya hernia dan tindakan yang dapat mencegah kekambuhan. Anjurkan masukan cairan sedikitnya 2 – 3 liter/hari untuk meningkatkan konsistensi faeces lunak.3. c. mual. b. demam.

plaster. Merapikan pasien. Pelaksanaan Perawat cuci tangan. kapas Kantong plastik 4. Mengatur posisi pasien. - Persiapan pasien Memberitahu pasien tentang tindakan yang akan dilakukan Menyiapkan lingkungan pasien. Menutup luka dengan rapat. 5.- Pinset sirurgis Gunting Korentang Kasa steril di dalam tromol Bengkok Alkohol 70 % Bethadine Bensin. . Membuka plaster pada balutan dengan kapas yang diberi bensin. - Buang kasa yang sudah digunakan untuk membersihkan luka ke dalam bengkok Memberi Bethadine pada luka. Memasukkan balutan kotor ke dalam kantong plastik. Membersihkan daerah sekitar luka dengan alkohol 70 % dengan gerakan se arah mulai dari atas ke bawah atau dari dekat luka dan terus makin keluar.

- Membuang kotoran. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Airlangga. Media Aeusculapius. Marilyn E. et a. Pedoman Teknik Operasi. membereskan alat-alat dan mengembalikannya ke tempat semula. et al.l. Wibowo. 1990. DAFTAR PUSTAKA Mansjoer. Perawat cuci tangan. Jakarta. Edisi 3 jilid II. . Soetamto. Jakarta Dongoes. Edisi 3 EGC. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. Arif.

DATA DEMOGRAFI Tanggal Wawancara Tanggal MRS No RMK Nama Umur Jenis kelamin Suku bangsa Agama Pendidikan Pekerjaan Status perkawinan : 14 April 2004 : 12 April 2004 : 00 16 01 : Ny. R. R DENGAN POST OPERASI HERNIA INGUINALIS LATERALIS SINISTRA (HERNIOTOMI) DI RUANG KASUARI RSUD BANJARBARU I. : 59 Tahun : Perempuan : Banjar / Indonesia : Islam : : Ibu Rumah Tangga : Janda .ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny.

Amoxan Tab 3 x 500 gr. Riwayat Penyakit Dahulu Menurut keterangan klien. Klien memeriksakan diri ke poliklinik bedah RSUD Banjarbaru.Pronalges Supp Indikasi. Persepsi Kesehatan Dan Penanganan Kesehatan  Keluhan Utama Setelah operasi dilaksanakan tanggal 13 April 2004. Landasan Ulin : ASKES : Hernia Inguinalis Lateralis (HIL) Sinistra Post Op Herniatomi) POLA FUNGSIONAL 1.Alamat Penanggung Jawab Diagnosa Medis : Guntung Payung RT.01. ± 3 tahun yang lalu. Riwayat Penyakit Sekarang Sejak ± 2 bulan yang lalu terdapat benjolan pada lipatan paha kiri serta terdapat benjolan. . terdapat nyeri luka post operasi HIL Sinistra. . RK 01. tapi tidak pernah diperiksakan / diobati. atas saran dari petugas.Infus RL/D 5%: 20 tetes/menit. klien mau untuk di operasi di RSUD Banjarbaru. Upaya Pencegahan     . Sudah ada benjolan yang dirasakan namun hilang timbul apalagi setelah berbaring. dan kemudian hal ini dirasakan klien sangat mengganggu. Penggunaan Obat Sekarang .

Tembakau .Mendatangi instansi kesehatan terdekat seperti Puskesmas .Imunisasi Tidak pernah  Alergi Pasien tidak pernah mempunyai riwayat alergi. : Tidak pernah : tidak pernah  .Riwayat penggunaan obat-obatan lain   . .Penyakit masa anak-anak Tidak pernah menderita penyakit yang menurut pasien tidak perlu membutuhkan perawatan di Rumah Sakit. baik terhadap makanan maupun bahan-bahan allergen lainnya. Riwayat Sosial Selama dirawat klien sering ngobrol dengan pasien lain dan keluarga lain. Klien mudah diajak berkomunikasi dan kooperatif terhadap perawat. Kebiasaan .Prosedur bedah Pasien sebelumnya pernah menjalani prosedur pembedahan yaitu tubektomy (± 30 tahun yang lalu). . Riwayat Penyakit Keluarga Dalam keluarga pasien tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti yang diderita klien saat ini dan tidak ada menderita penyakit menular.Alkohol Tidak ada.

turgor baik (dicubit kembali cepat < 1 detik). minum air putih biasa ± 8 – 10 ml/hari.Kulit Warna kulit sawo matang. suhu 36. . penurunan jumlah konsumsi dari 1 porsi hingga ½ porsi. Tidak terdapat memar.Berat badan: (Berat badan sebelum MRS)  45 Kg (Berat badan post operasi) 43 Kg. Pola Nutrisi – Metabolik  Masukan Nutrisi Sebelum Sakit Makan nasi biasa.5 C. Tidak ada makanan pantangan  Masukan Nutrisi Saat Sakit Diet bubur biasa (Tinggi Kalori Tinggi Protein). Pemeriksaan Fisik Tanda vital . jumlah 1 – 2 piring ( ± 200 – 400 gram) tergantung selera. . °  . Klien mengatakan kurang terbiasa makanan dalam bentuk bubur.Tinggi badan: ± 145 cm. frekwensi 2 – 3 kali sehari. tidak ada edema. Tidak ada gangguan pemenuhan nutrisi. Laboratorium Dan Diagnostik Tidak tercantum pada status 2. Tidak ada kesulitan untuk menelan. terdapat lesi luka operasi pada daerah perut kiri bawah. tidak pucat.

Mulut Kebersihan kurang. Pemeriksaan Fisik . Warna kuning tua.Abdomen (Data Fokus) Inspeksi Palpasi Gambar : : Terdapat luka atau insisi bedah pada quadrant kiri bawah. : Nyeri tekan pada daerah sekitar operasi. Tidak ada luka pada kulit kepala. Gusi tidak ada pembengkakan. Pola Eliminasi . . lurus dan tipis.. Lidah bersih. Wicara normal . Saat sakit ( post operasi ) tidak pernah BAB. tidak beruban.BAB / Faeces Sebelum sakit klien mengatakan BAB 2 kali sehari. Dengan panjang insisi ± 10 cm. mukosa dan tonsil tidak ada peradangan.  Luka insisi bedah 3.Rambut dan kulit kepala Warna rambut hitam.

Klien hanya bisa duduk dan berbaring di tempat tidur. Frekwensi bising usus 5 x/menit (Normal: 8-12 x/menit). masalah tidak ada. 4. .BAK / Urine Saat sakit dan setelah sakit kebiasaan miksi normal. Pola Aktivitas . Struktur simetris. .Pemeriksaan Fisik Pernafasan / Sirkulasi TD Respirasi : 120/80 mmHg. Dan bila ingin beraktivitas harus dibantu oleh keluarga. Urethra tidak terkaji.Saat sakit Klien tidak mampu melaksanakan aktivitas secara penuh karena ada nyeri pada daerah bekas insisi. Distensi tidak ada. . frekuensi 4-5 kali sehari dengan jumlah ± 250/miksi. : 20 x/menit. Rectum Lesi tidak ada . Blast/kandung kencing tidak mengalami distensi. Pemeriksaan fisik Ginjal Tidak teraba.Abdomen Terdapat luka insisi pada quadrant kiri bawah ( ± 10 cm ).Sebelum sakit Dapat melakukan aktivitas sehari-hari di rumah (sebagai ibu rumah tangga). nyeri ketuk tidak ada.

tapi masih bisa beraktivitas di tempat tidur. 6. Klien sering merasakan nyeri terasa seperti di iris (perih) di daerah luka post operasi  Skala 2 (Berdasarkan skala nyeri 0 – 4). Klien tidak menggunakan alat bantu untuk mendengar. Pada saat sakit / post operasi  Pasien mengatakan tidak merasakan masalah dengan tidurnya kadang-kadang terdapat rasa nyeri namun tidak seberapa. Pola Kognitif – Konseptual Pendengaran Normal. refleks terhadap cahaya baik yang kiri maupun yang kanan ada.Nadi : 80 x/menit. 5. tidak menggunakan kaca mata. Nyeri/ketidaknyamanan. karena adanya nyeri di daerah insisi. tidak ada masalah dari fungsi pendengaran. . Pola Tidur – Istirahat Kebiasaan tidur (sebelum sakit) ± 4 – 5 jam/hari. Muskuloskeletal Rentang gerak terbatas. Di Rumah Sakit diberikan injeksi analgesik dan teknik distraksi untuk menangani nyeri yang dirasakan pasien.. Penglihatan Normal. Pemeriksaan Fisik Mata Pupil isokor.

Pola Persepsi Diri/Konsep Diri Tidak ada masalah selama perawatan. GCS : 4. cara mengambil keputusan dibantu oleh keluarga. 11. 10. Klien merasa lega.6 7. Pola Seksualitas Klien menjalani hidupnya dengan kondisi sebagai janda (dalam usia yang tidak produktif lagi fungsi organnya). Selama dalam perawatan pasien hanya berdo’a dan berzikir kepada Allah SWT terhadap keadaan dan kesembuhannya. 8.Status mental Compos mentis. karena klien dibiayai oleh ASKES. klien tidak meminta untuk kunjungan pemuka agama. . Pola Peran/Hubungan Status di dalam keluarga klien adalah sebagai ibu rumah tangga. baik cara perawatan maupun dari segi finansial.5. 9. Pola Koping – Toleransi Stress Kemampuan beradaptasi baik. karena ia telah melewati tahap operasi yang dianggap sangat mencemaskannya. Keluarga memberikan perhatian penuh pada pasien. Klien serta keluarga menerima dengan baik pelayanan Rumah Sakit terhadap perawatan post operasinya. Pola Nilai Dan Kepercayaan Tidak ada pembatasan dalam religius. Klien memecahkan masalah bersama dengan keluarga.

Klien tampak meringis. jenis bubur.ANALISA DATA NO 1.Klien mengatakan Nafsu nafsu makannya menurun kurang karena tidak terbiasa dengan makanan yang disediakan. DS: . DO: .Adanya insisi bedah pada perut quadrant kiri bawah (± 10 cm). dari 2.Klien mengeluh nyeri Luka bekas insisi Nyeri akut pada luka bekas bedah insisi.Berat badan post makan Nutrisi kurang kebutuhan. DS: DATA ETIOLOGI MASALAH . terasa perih  Nyeri skala 2 (dari skala nyeri 0 – 4) DO: . .

Klien mengeluh badannya terasa lemah. DS: DO: Penurunan dan Kerusakan kelemahan fisik fisik. Infus terpasang. .aktivitas klien dibantu oleh keluarga. sekunder terhadap operasi herniotomi mobilitas 4.operasi ± 43 Kg. DO: . Klien hanya berbaring dan duduk di tempat tidur saja. Insisi bedah (tempat Resti terjadinya infeksi masuknya organisme) . . DS: .Berat badan klien turun ± 2 kg.Berat badan sebelum MRS ± 45 Kg. 3.

Berikan 3. penurun nyeri teratasi. 2. distraksi selama mengalihkan Ekspresi tidak nyeri akut. Memantau tanda vital: 1. Untuk mengetahui 1.N O 1. yang diperlukan tentang dalam 2 jam 3. nadi: berkurang (terkontrol). pasien. Ajarkan metode 5.Adanya insisi bedah pada perut quadrant kiri bawah (± 10 cm. Mengkaji tingkat persepsi teratasi Setelah diberikan persepsi klien 2.Klien mengeluh nyeri pada luka bekas insisi  skala 2. distraksi selama nyeri hilang/berkurang runan rasa nyeri. perhatiannya dan 5. sampai di mana klien untuk menghadapi 3. Mengajarkan metode meringis. hilang 1. Nyeri akut hasil: 2. Ekspresi teknik distraksi – derajat nyeri nyeri. Kaji tingkat 2. Pantau TD. (dari skala nyeri 0 – 4) . kesadaran. Mengajarkan metode analgetik nyeri katan atau penudirasakannya. Ajarkan metode 4. Agar pasien terjadinya serta setelah informasi tentang mengetahui/menge penanganan nyeri. terhadap nyeri. akut: bercerita membaca skala 0 dari skala 4. pernapasan: dan dengan kriteria diharapkan. Memberikan informasi tegang. nadi. kesadaran terkontrol. 1. dari hasil yang 80 x/mnt. Agar diketahui klien dan kemampuan sebagian. wajah tidak relaksasi dan mengganggu 3. Nyeri pernapasan dan indikasi kemajuan TD: 120/90 mmHg. dapat melupakan penurunan nyeri non nyerinya walaupun invasif: Teknik relaksasi hanya sejenak. pemberian terjadinya peningnal nyeri yang 4. DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN Nyeri INTERVENSI RASIONAL IMPLEMENTASI EVALUASI Nyeri Akut sehubungan dengan luka bekas insisi bedah. Agar pasien dapat latihan nafas dalam. nyeri 0 – 4. Berkolaborasi dalam non invasif pemberian analgesik dan . mengatur posisi yang 5.Klien tampak meringis. . Agar nyeri dapat nyaman: semi fowler. 20x/mnt. 6. ditandai dengan : . compos mentis.

Klien mengatakan nafsu makannya menurun karena tidak terbiasa dengan makanan yang disediakan  jenis bubur. Mengkaji kebiasaan memodifikasi tentang pola makan. nutrisi yang adekuat untuk penyembuhan luka post operasi herniotomi.Dalam waktu 3. . Kolaborasi dalam 6. 6.Berat badan post operasi ± Nutrisi pasien 1. Jelaskan pentingnya 24 jam pasien masukan nutrisi menunjukkan yang adekuat. Agar rasa dan penggunaan penyedap aroma dari rasa (seperti bumbu) Pada waktu makan siang dan sore porsi makan yang disediakan ± 200 gr dapat dihabiskan semua oleh klien. antibiotik. makanan yang diberikan oleh pihak Rumah Sakit. Mengajarkan pada klien 4. Ajarkan pada klien penggunaan 1. 2. Agar dapat 1. 4. peningkatan Berat badan ± 1 kg. 4. .5 kg (Sabtu 15 April penurunan berat 2004) badan. Menimbang berat badan: peningkatan atau 43. Analgetik dapat pemberian obat meredakan rasa pereda sakit yang nyeri dan antibiotik optimal  mempercepat analgetik dan kesembuhan luka. Timbang berat disediakan (± badan setiap hari. 200 gr) dapat dihabiskan. 2. Agar klien 3. ditandai dengan : . 3. Menjelaskan tentang termotivasi untuk pentingnya masukan makan. Agar mengetahui 2.seperti: relaksasi. antibiotik : Nutrisi kurang dari kebutuhan sehubungan dengan nafsu makan menurun.Pada waktu makan siang dan sore porsi yang 2. Kaji kebiasaan terpenuhi dengan klien tentang pola kriteria hasil : makan. . .

5. Mobilisasi sekret dalam dan batuk memperbaiki efektif. dengan optimal. Mobilitas yang 2. makanan lebih menarik. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan dan kelemahan fisik sekunder terhadap operasi herniotomi ditandai dengan : . . Memberikan pijatan di kulit dan mempertahankan kekeringan kulit. pertahankan mencegah iritasi kekeringan kulit. 3. sirkulasi. penyedap rasa (seperti bumbu).Klien hanya berbaring dan duduk di 1. . adanya pilihan intervensi. Masalah belum teratasi. Agar kekurangan pasien agar nutrisi dapat mengkonsumsi teratasi. 3. Mendorong nafas dalam dan batuk efektif. 4.- 43 Kg Berat badan sebelum MRS ± 45 kg. derajat dengan kriteria: keterbatasan. Merangsang kulit. Menganjurkan agar mengkonsumsi makanan yang disukai. 5. Ubah posisi 2.Klien mengeluh badannya terasa lemah. terbatas. . Mempertahankan 1. ekspansi paru. tirah baring. 3. kulit. Miring kiri atau miring kanan. Mengubah posisi secara sering bila tirah baring. Dorong nafas 4. Mempengaruhi mobilitas fisik aktivitas. Kaji keterbatasan 1. 4. Berikan pijatan 3. Menurunkan sudah tidak secara sering bila ketidaknyamanan. Mengkaji aktivitas. makananmakanan kesukaannya. untuk meningkatkan nafsu makan klien. Berat badan klien turun ± 2 kg.Infus yang terpasang. 2. Instruksikan pada 5. keterbatasan Mobilitas masih terbatas.

teknik . dengan tanda-tanda secara dini tanda infeksi : terjadi kriteria hasil : infeksi. mengeluarkan cairan yang .Tidak ada eksudat eksudat serta tidak keluar.Tidak ada perubahan Luka bersih dan perubahan warna.5°C tanda-tanda 3. cermat. Identifikasi 1.tempat saja. adanya tanda. suhu. Perubahan tanda 2. . Melakukan perawatan infeksi dan perawatan luka tetap dalam luka dengan teknik memahami dengan teknik keadaan steril. Lakukan 3.Mencuci tangan aseptik dalam dengan cermat mengganti sebelum balutan luka. tidak Resiko tinggi terjadinya infeksi sehubungan dengan insisi bedah . Observasi tanda 2. Agar luka insisi 3.2. adanya insisi. hari setelah tangan dengan dengan : pulang. 4. mengurangi organisme tentang kurangi yang masuk ke dalam pencegahan organisme yang luka pada waktu kekambuhan masuk ke dalam melakukan perawatan (dengan kontrol) 3 luka dengan: cuci luka/mengganti balutan.Infeksi terjadi. tidur Infeksi tidak 1. yang keluar. warna pada tidak suhu. melaksanakan tindakan. seperti terjadinya infeksi. Untuk mengenal 1. bengkak. vital klien vital vital Setelah diberikan mengindikasikan TD : 120/90 mm Hg penkes pasien terjadinya infeksi Nadi: 80x /menit dapat Respirasi: 22 x /menit mengidentifikasi Suhu: 37. Mengidentifikasi tanda. Mengobservasi tanda tanda infeksi.

Memberikan kesehatanpenyakit. Amoxan. Antibiotik dapat pemberian antibiotik: pemberian mencegah infeksi. Berikan 6. Mempertahankan 4. ulang . yaitu tentang tandabengkak. merah dan pemeriksaan fungsiolaesa. 4. Memberikan pendidikan 6. Agar daya tahan masukan kalori protein masukan kalori tubuh pasien yang adekuat : diet protein yang meningkat dan TKTP adekuat.Berikan dini/mengenali tandapengetahuan tanda infeksi. panas. Untuk mencegah kesehatan : pendidikan kekambuhan . 6.Mempergunakan teknik aseptik dalam mengganti balutan luka. pengetahuan tentang persiapan pulang: deteksi . Pertahankan 4. - . Kolaborasi dalam 5. 5. antibiotik. tanda infeksi. infeksi dapat dihindari. nyeri. Berkolaborasi dalam 5. (kontrol) 3 hari setelah keluar dari Rumah Sakit.Menjelaskan dan (kontrol) 3 menganjurkan pada hari setelah pasien terhadap keluar dari pemeriksaan ulang rumah sakit.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful