Puasa Bagi Pekerja Berat A.

Pendahuluan Puasa merupakan ibadah pokok yang ditetapkan sebagai salah satu rukun Islam. Dengan demikian karena puasa merupakan ibadah pokok maka dia harus dilaksanakan sebagai salah satu kewajiban bagi orang yang beriman. Kewajiban ini secara jelas dengan menggunakan kata kataba yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 183. Apabila diteliti isi kandungan ayat-ayat sesudah ayat 183 dari surat alBaqarah tersebut, yang menjelaskan masalah siapa saja yang mendapat rukhsah, akan dapat menimbulkan permasalahan bagi pekerja berat yang terus menerus termasuk pada bulan Ramadhan. Bagi mereka puasa adalah persoalan yang dilematis, disatu sisi puasa merupakan perintah agama yang wajib dilaksanakan, sementara di sisi lain tuntutan ekonomi yang membuat mereka tidak bisa untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Oleh karena itu dalam makalah ini akan dibahas mengenai masalah puasa bagi pekerja berat, apakah ada keringanan bagi mereka tersebut atau tidak. B. Pembahasan 1. Pengertian Puasa Kata puasa dalam bahasa Arab digunakan dengan kata al-shaum, di mana kata al-shaum itu sendiri berarti

‫المساك و الكف عن الشيئ‬

(menahan diri dari sesuatu)1, baik dalam bentuk perkataan ataupun perbuatan. Terkait masalah puasa ini, dalam al-Qur’an terdapat unkapan kata shiyam yang terulang sebanyak delapan kali. Kata shiyamdi sini menurut hukum syara’ berarti puasa, dan pada surat yang lain digunakan ungkapan shaum, yang berarti menahan diri untuk tidak berbicara 2. Hal ini terlihat dalam surat Maryam ayat 26 :

. Wahbah al-Zuhaili, al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh, (Damaskus: Dar al-Fikr, 2002), Juz III, h. 1616. 2 . Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh,(Jakarta Timur: Prenada Media, 2003), Cet1, h. 52.

1

1

ungkapan kata-kata yang beraneka ragamtersebut berasal dari akar kata yang sama yakni shawama. loc. h. . 3 2 . Kata ini juga masing-masing sekali dalam bentuk perintah berpuasa di bulan Ramadhan. Wawasan al-Qur’an: Tafsir atas Berbagai Persoalan Umat. sehingga kata shiyam hanya digunakan untuk enahan dari makan. satu kali dalam bentuk kata kerja yang menyatakan bahwa “berpuasa adalah baik untuk kamu” dan satu kali dalam bentuk sebagai pelaku yaitu al-shaimin wa alshaimat. Demikian ungkapan Maryam yang diajarkan oleh Malaikat Jibril ketika ada yang mempertanyakan tentang kelahiran anaknya Isa AS. 522 4 . atau “tidak bergerak”. maka aku tidak akan berbicara dengan seorang Manusia pun pada hari ini". Demikian halnya ungkapan para fuqaha sebagaimana yang telah dikutip oleh Wahbah al-Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh menyatakan bahwa definisi puasa (al-shaum) secara istilah adalah: ‫المساك نهار ا عن المفطرات بنية من أهلة من طلللوع‬ ‫الفجر إلى غروب الشمش‬ “Menahan diri di siang hari dari segala yang membatalkan puasa dengan disertai niat sejak terbitnya fajar sehingga terbenamnya matahari”4.cit. Quraish Shihab. 1998). Wahbah al-Zuhaili. minum dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari”3. M. Quraish Shihab.‫إ ِني ن َذ َرت للرحمن صوْما فَل َن أ ُك َل ّم ال ْي َوْم إ ِن ْسيا‬ ّ ّ ِ َ َ ً َ ِ َ ْ ّ ِ ُ ْ ْ Artinya: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah. Lebih lanjut menurut M. Selanjutnya pengertian kebahasaan dipersempit maknanya oleh hukum syari’at. (Jakarta: Mizan. yang dari segi bahasa maknanya berkisar pada “menahan” dan “berhenti”.

2. dan kegiatan menahan diri dari segala yang dapat membatalkan puasa dalam waktu tertentu (mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari). serta tidak mendatangi tempat-tempat yang diharamkan”5. Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi (selanjutnya disebut Imam al-Qurthubi).183.t. 185 dan 187.Dalam redaksi yang sedikit berbeda.th). 5 3 . namun pada esensinya memiliki persamaan yang saling melengkapi terhadap rukun dari puasa itu sendiri. Jilid I. yaitu niat untuk berpuasa. Abu Abdullah Muhammad alQurthubi dalam kitabnya al-Jami’il Ahkam al-Qur’an menyatakan bahwa alshaum itu adalah: ‫المساك عن المفطرات مع اقتران النية به م لن طل لوع‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫الفجر إلى غلروب الشلمش و تملامه و كملاله باجتنلاب‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫ل‬ ‫المحطورات و عدم الوقوع في المحرمات‬ “Menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa yang dibarengi dengan niat sejak terbitnya fajar samapai terbenamnya matahari. Ayat-ayat tersebut di antaranya adalah surat al-Baqarah ayat 183 yaitu : ‫يا أ َي ّها ال ّذين آمنوا ك ُت ِب عَل َي ْك ُم الص ليام ك َم لا ك ُت ِلب عَل َلى‬ ‫َ ل‬ ‫ّ َ ُ َل‬ ُ َ َ ِ َ َ ُ َ ‫ال ّذين من قَب ْل ِك ُم ل َعَل ّك ُم ت َت ّقون‬ َ ُ ْ ْ ْ ِ َ ِ . 184. al-Jami’il Ahkam al-Qur’an. menyelesaikan dan menyempurnakannya dengan menjauhi perbuatan maksit. Kewajiban Puasa Ramadhan Dasar yang menjadi kewajiban puasa terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 183. (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah. Walaupun dari beberapa definisi yang telah dikemukakan di atas terlihat memiliki perbedaan dalam redaksi.h.

dan tidak pula dijelaskan berapa kewajiban puasa itu. 4 . (yaitu): memberi makan seorang miskin. apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan. tetapi hanya disebutkan sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum kamu."Hai orang-orang yang beriman. tetapi hanya kewajiban ‫أ َيام لا‬ ‫ّ ًل‬ hanya ‫معللدودات‬ ٍ َ ُ ْ َ (beberapa hari tertentu). Sedangkan terhadap “orang-orang yang merasa sangat berat berpuasa. diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa" Dalam tuntutan puasa pada ayat di atas tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan. Dengan demikian maka wajar pula jika umat Islam melaksanakannya. Surat al-Baqarah ayat 184 di atas menjelaskan bahwa puasa itu bukanlah untuk sepanjang tahun. Dan puasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”. maka itulah yang lebih baik baginya. maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hai-hari lain. yakni agar menjadi orang yang bertakwa. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka). Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah. Selanjutnya firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 184 sebagai berikut : ‫أ َياما معْدودات فَمن كلَلان من ْك ُلم مريض لا أ َوْ عَل َلى س لفر‬ ‫ل‬ ‫ْ َ ِ ًل‬ ِ َ ٍ َ ُ َ ً ّ ْ َ ٍ َ َ ُ ‫فَعِدةٌ من أ َيام أ‬ ‫ّ ِ ْ ّ ٍ خر وَعَل َلى ال ّلذين ي ُطيقلون َه فِد ْي َلة ط َعَلام‬ ‫ل‬ ٌ ُ ‫ل‬ ُ ‫ِ ُل‬ َ ِ َ َ َ ‫مسكين فَمن تط َوعَ خيرا فَهو خير ل َه وأ‬ ‫ُ َ َ ْ ٌ ُ َ ن ت َصلوموا خي ْلر‬ ْ ُ ‫ُل‬ ٌ َ ًْ َ ّ َ ْ َ ٍ ِ ْ ِ ‫ل َك ُم إ ِن ك ُن ْت ُم ت َعْل َمون‬ َ ُ ْ ْ ْ “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. dan dalam keadaan sehat. sehingga bagi “siapa saja yang sakit atau dalam perjalanan” maka boleh untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan tersebut dan menggantinya pada hari-hari di bulan lain. Demikian inipun diwajibkan bagi setiap mukallaf yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya (muqim).

Sedangkan menurut sebagian ulama. terkait dengan ibadah puasa bagi orang yang sakit dapat dilihat dari dua keadaan. Kedua. 185 . Sebagaimana Tharif bin Tamam al-‘Utharidi pernah menemui Ibnu Sirin tengah makan di siang hari bulan Ramadhan dengan alasan jari tangannya sakit dan menurutnya kebolehan ini sama dengan kebolehan ifthar bagi musafir dengan ‘illat telah dilakukannya perjalanan (al-safar)7. keadaan subjek hukum bentuk pertama ini diungkapkan dengan kalimat ‫فمن كلان منكلم مريضلا‬ “siapa saja di antara kamu yang menderita sakit”. Ibid. Demikian juga menurut Jumhur Ulama. apabila seseorang yang sakit itu tetap juga ingin berpuasa. yaitu memberi makan seorang miskin”. pertama. maka dalam hal ini sangat dianjurkan untuk berbuka6. namun dengan puasanya itu ternyata ia merasa telah menambah sakitnya atau akan menambah lama waktu penyembuhan. Menurut Imam alQurthubi. Terhadap apa yang terkandung pada dua ayat di atas telah memperlihatkan adanya beberapa aspek hukum yang terkait dengan keadaan subjek hukum (mukallaf) dalam hubungannya dengan kewajiban berpuasa. maka dalam hal ini wajib hukumnya untuk berbuka. h. Dengan demikian bagi 6 7 . keadaan sakit yang sedang dialami tersebut membuatnya sangat lemah dan sangat berat untuk berpuasa. seperti Ibnu Sirin menyatakan bahwa penyakit apapun namanya yang diderita oleh seseorang. aspek hukum yang dimaksud di antaranya adalah: 1. telah membolehkannya untuk berbuka. op. Orang yang sakit Dalam bahasa al-Qur’an.cit. Imam al-Qurthubi.maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah. 5 . orang yang sakit masih mampu untuk berpuasa dengan penuh resiko dan kesusahan. maka berbuka adalah lebih baik baginya.

Orang yang dalam perjalanan Keadaan mukallaf yang sedang dalam perjalanan pada bulan puasa diungkapkan dengan kalimat ‫أو عللى سلفر‬ ‫ل‬ ‫ل‬ “atau dalam perjalanan”. Di sisi lain harus diingat bahwa konsekwensi hukum bagi orang yang tidak berpuasa dengan sebab sakit atau dalam perjalanan adalah dengan mengganti puasa Ramadhan yang telah dibatalkan dengan puasa pada waktu yang lain sesuai dengan jumlah puasa yang ditinggalkan.cit. 186.orang yang sakit boleh untuk berbuka dan orang ini diwajibkan untuk mengqada pada hari lain sebanyak hari yang ia berbuka. Namun demikian dapat dikatakan bahwa Allah SWT sengaja memilih redaksi demikian guna menyerahkan kepada nurani manusia masing-masing untuk menentukan sendiri apakah ia sanggup –dalam salah satu dari dua keadaan tersebut (sakit atau dalam perjalanan) – untuk berpuasa atau tidak9. 9 . Tafsir Ayat al-Ahkam.. 3.cit. h. apakah karena hanya dengan adanya unsur perjalanan (al-safar) atau unsur lain seperti tingkat keletihan dan kesulitan yang dialami ketika melakukan perjalanan.Quraish Shihab.525 8 6 . h. Keumuman lafaz tersebut berkenaan dengan keadaan “sakit” dan “dalam perjalanan” yang tercantum di dalam al-Qur’an adalah faktor dari perbedaan pendapat. dan berapa jumlah minimal jarak tempuh suatu perjalanan. Orang yang Lemah (merasa sangat berat/sulit untuk berpuasa) . h. 2. Perbedaan tersebut secara garis besar berkisar pada perbedaan yang berkenaan dengan bagaimana pengaruh dari tujuan suatu perjalanan di satu sisi. M.Muhammad Ali al-Sayis.63-66 lihat juga Imam al-urthubi. op. op. Para ulama berbeda pendapat tentang bentuk perjalanan (al-safar) yang membolehkan pelakunya mengambil rukhsah dalam bentuk berbuka puasa dan mengqasar shalat8. dan juga perbedaan pada masalah ‘illat (sebab) kebolehan iftar.

Kamus Kontemporer Arab-Indonesia. Sedangkan menurut istilah ulama tafsir. (Yogyakarta: Multi Karya Grafika. istitha’ah dan wus’u. h. di antaranya adalah bagaimana majna yang terkandung dari kata ithaqah. 1219. Juz I. Makna ithaqah Kata ithaqah berasal dari kata thaqa-yathiqu. cet-9. yang secara bahasa berarti kemampuan. Berkenaan dengan siapa saja yang digolongkan ke dalam makna kata ‫يطيقونه‬ akan dijelaskan lebih jauh pada pembahasan di bawah ini. Puasa Bagi Pekerja Berat Sebelum menguraikan bagaimana kedudukan ataupun pengaruh dari keadaan yang dialami oleh seseorang yang berpropesi sebagai pekerja berat terhadap pelaksanaan puasa Ramadhan. Zuhdi Muhdhar.th). seperti Muhammad Syaltut dan Muhammad Ali al-Sayis dalam kitabnya menyatakan bahwa ithaqah adalah: ‫اسم للقدرة على شيئ مع الشدة و المشقة‬ “Istilah yang menggunakan untuk menunjukkan adanya kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan keadaan yang sangat berat dan sulit” Demikianlah pendapat kebanyakan ulama. 1. 10 7 . 11 . Muhammad Ali al-Ssabuni. t. 133. kekuatan10.h. Penggalan ayat ini diperselisihkan maknanya oleh para mufassir. 3.Keadaan orang yang merasa berat menjalankan puasa diungkapkan dalam al-Qur’an dengan kalimat ‫و على الذين يطيقونه‬ (dan bagi orang yang berat menjalankannya). (Beirut: Dar al Qur’an al-Karim. Atabik ‘Ali dan A. Selanjutnya kata ithaqah dengan makna . Tafsir Ayat al-Ahkam min al-Qur’an. terlebih dahulu akan dijelaskan beberapa makna dari istilah-istilah yang biasanya selalu terkait dengan aktifitas subjek hukum dalam melaksanakan berbagai kewajiban. 1996). hanya saja al-Shabuni dengan mengutip pendapat al-Ragib mengomentari kata tersebut dengan mengibaratkannya kepada keadaan leher yang terlilit oleh sesuatu (tercekik)11.

Juz 2. namun dengan kecerdasan dan lepintarannya menyusun strategi dalam merancang medan tempur.Hamka. sehingga pasukan Thalut ragu dan bimbang. Kata Istitha’ah Kata istitha’ah terbentuk dari tsilasi mazid tiga huruf yang terambil dari kata tha’a yathi’u-thauan. Meskipun belum begitu banyak pengalamannya di Medan pertempuran. serta orang sakit yang sudah tidak mungkin lagi bisa sembuh. 8 . Namun demikian. dan Allah beserta orang-orang yang sabar. 1993). 12 ." Kata “ ‫طاقة‬ “ dalam ayat ini menggambarkan betapa sulitnya pasukan Thalut melawan tentara Jalut yang begitu banyak dan memiliki persenjataan yang lengkap. h." orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah. berkata: "Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dengan demikian maka kata thaqah dimaksudkan untuk memikul beban yang tidak sanggup dipikul karena begitu beratnya. orangorang yang Telah minum berkata: "Tak ada kesanggupan kami pada hari Ini untuk melawan Jalut dan tentaranya. tentara jalut dapat dilumpuhkan12. sebagian lainnya tetap optimis sehingga dengan pertolongan Allah (tentu dengan caranya sendiri) dengan mengirim seseorang yang masih muda belia yaitu Daud yang dipersiapkan untuk menjadi seorang Nabi. yang secara etimologi berarti taat.kesanggupan dapat ditemukan dalam surat al-Baqarah ayat 249 sebagai berikut : Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia Telah menyeberangi sungai itu. 385. Secara logika keadaan ini memperlihatkan betapa sulit atau tidak mungkinnya pasukan Thalut untuk melawan apalagi mengalahakan pasukan Jalut. (Jakarta: Panji Masyarakat. sehingga mereka ini tidak mungkin lagi untuk melakukan pekerjaan yang begitu berat. Keadaan ini seperti orang tua dan wanita hamil yang sudah lemah. 2. Tafsir al-Azhar.

seseorang tidak akan dituntut untuk melakukan perbuatan yang melebihi kemampuannya. dan keamanan.Abdul Aziz Dahlan. Karena itu dapat disimpulkan bahwa kata istitha’ah ini konotasinya adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang secara prima. t. 14 9 . di mana ‫ل ي ُك َل ّف الل ّه ن َفسا إل وُسعَها‬ ُ َ ْ ِ ً ْ ُ 13 . sebab ketiga hal tersebut berhubungan lansung dengan kemampuan jasmaniah. Sebagai contoh pelaksanaan ibadah haji. Oleh karena itu. Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an. mental maupun dalam bentuk material. Beranjak dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa semakin tinggi daya kemampuan seseorang. maka semakin tinggi pula tuntutan untuk mengerjakan suatu perbuatan. yang biasanya dimaksudkan dengan kemampuan dan kesanggupan. h. karena yang ditemukan hanya dalam bentuk kata kerja. Jilid III. . Al-Raghib al-Isfahani. Ensiklopedi Hukum Islam. 783.th). meterial. demikian karena kata tersebut terkait dengan sejauh mana seseorang diberi kewajiban dalam bertindak hukum atas dirinya sebagai subjek hukum. Istitha’ah adalah pecahan dari kata tha’a dalam bentuk benda. Sedangkan dalam al-Qur’an. 1997). serta nikah. (Jakarta: Ichtiar Negeri Baru van Hoese. h. Kata istitha’ah ini dibahas secara lengkap oleh para fuqaha secara detail dalam pembahasan tentang haji dan umrah.430. bentuk yang seperti ini nyaris tidak ditemukan. Demikian ini sebagaimana firman Allah yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 286 sebagai berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” Selanjutnya kata istitha’ah dalam kajian fiqh merupakan kajian yang fundamental. kata istitha’ah dalam bentuk ini dapat dipahami dengan keadaan seseorang yang tunduk untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan agama sesuai dengan kondisinya. baik dari segi fisik. (Beirut: Dar al-Fikr.patuh dan tunduk13. baik dalam bentuk fi’il madhi ataupun fi’il mudhari’. Maka begitu juga sebaliknya. Ungkapan seperti ini dapat ditemukan sebanyak 42 kali dalam surat dan ayat yang kesemuanya berarti sanggup dan mampu14.

2017 10 . op. Secara istilah al-wus’u menurut Muhammad Ali al-Sayis adalah : ‫اسم للقدرة على الشيئ السهولة‬ “Suatu istilah yang menunjukkan adanya kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan sesuatu dengan sangat mudah” Dalam al-Qur’an kata yang seakar dengan kata wus’u dapat ditemukan dalam beberapa surat dengan makna yang berbeda-beda. luas. di antaranya dengan makna kemampuan sebagaiman yang terdapat dalam firman Allah surat al-Baqarah ayat 233 sebagai berikut : ‫ل ت ُك َل ّف ن َفس إل وُسعَها‬ َ ْ ِ ٌ ْ ُ tidak dibebani melainkan menurut kadar kemampuannya” Pada permulaan ayat di atas berbicara tentang bolehnya seorang ibu menyusukan anaknya kepada orang lain.h. di samping petunjuk yang menyatakan tentang tanggung jawab seorang ibu untuk menyusukan anaknya. Makna kata al-wus’u Kata al-wus’u terambil dari kata wasa’a. kesanggupan atau kemampuan15. Atabik Ali dan A. lapang.was’an yang secara etimologi berarti tidak sempit. cit. 3. Zuhdi Muhdhar.yausa’u. punya kekuatan.dalam pelaksanaannya seseorang dituntut untuk mempunyai kemampuan prima dari berbagai aspek. dan sekaligus tanggung jawab seorang ayah untuk memberikan nafkah dan pakaian menurut cara yang patut dan sesuai dengan kesanggupannya. Makna wus’u berikut : dalam arti kesanggupan dapat ditemukan dalam surat al-An’am ayat 152 sebagai “Seseorang ‫ل ت ُك َل ّف ن َفسا إل وُسعَها‬ ْ ُ َ ْ ِ 15 . kekayaan.

sebagaimana yang terdapat dalam surat alNisa’ ayat 130 sebagai berikut : 11 . sebagaimana terdapat pada surat al-Nisa’ ayat 100 sebagai berikut : ‫وَمن ي ُهاجر في سبيل الل ّهِ ي َجد ْ في الرض مراغَما ك َثيرا‬ ِ ِ ِ ْ ِ َ ْ َ ً َ ُ ِ ْ ً ِ ِ ِ َ ‫وَسعَة‬ ً َ “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah. orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah… Selanjutnya kata wus’u juga bisa bermakna kecukupan. yang kesemuanya itu diperintah menurut kadar kemampuan manusia. sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Nur ayat 22: ُ ُ ‫ول ي َأ ْت َلل أول ُللو ال ْفض لل من ْك ُلم والس لعَةِ أ َن ي ُؤْت ُللوا أول ِللي‬ ِ ِ ْ َ ْ ّ َ ْ ِ َ ّ ‫ال ْقربى وال ْمساكين وال ْمهاجرين في سبيل الل‬ ‫َ ِ ِ ه‬ ِ ِ َ ِ ِ َ ُ َ َ ِ َ َ َ َ ْ ُ Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya). niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. Pada ayat yang lain kata wus’u berarti luas. Surat al-mukminun ayat 62 tentang kewajiban menjalankan agama.“ … kami tidak akan memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar kesanggupannya…” Keseluruhan ayat tersebut secara untuk umum membicarakan tentang larangan mengambil harta anak yatim secara tidak sah. Makna yang sama juga ditemukan dalam surat al-A’raf ayat 42 yang memaparkan beramal tentang setelah tempat orang-orang yang saleh menggambarkan keadaan neraka.” Kata wus’u terkadang juga bermakna lapang.

Dari beberapa ayat yang terdapat dalam beberapa surat di atas. orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula). yaitu pemberian menurut yang patut. Oleh karena itu seseorang tidak dituntut memikul lagi beban yang Seperti dirasa anjuran memberatkan menyulitkan. Allah SWT hanya memerintahkan kepada orang-orang yang punya harta lebih dari cukup untuk dapat menafkahkan sebagian hartanya di jalan Allah SWT. secara umum jelas terdapat perbedaan mendasar di samping adanya persamaan. Untuk lebih memperjelas terhadap persoalan yang dibahas.َ ّ َ ْ ‫وَإ ِن ي َت َفرقا ي ُغْن الل ّله كل ملن سلعَت ِهِ وَكلَلان الل ّله واسلعا‬ ً ِ َ ُ َ َ ْ ِ ُ ُ ِ ‫حكيما‬ ً ِ َ Jika keduanya bercerai. dan adalah Allah Maha luas (karuniaNya) lagi Maha Bijaksana. Sedangkan kata wus’u dalam bentuk isim fa’il dapat ditemukan dalam surat al-Baqarah ayat 236 : َ َ ّ ‫وَمت ّعوهُن عَلى ال ْموسع قَد َرهُ وَعَلى ال ْمقت ِرِ قَد َرهُ متاعللا‬ ْ ُ ً َ َ ُ ُ َ ُ ِ ِ ُ َ ‫بال ْمعْروف حقا عَلى ال ْمحسنين‬ ّ َ ِ ُ َ ِ َ ِ ِ ْ ُ dan hendaklah kamu berikan suatu mut'ah (pemberian) kepada mereka. Beranjak dari uraian seputar penggunaan ketiga kata di atas. Kata ithaqah yang terdapat dalam surat al12 . Maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. berinfak. maka kata wus’u dapat dikatakan lebih mengarah kepada kemampuan untuk berbuat dengan tidak ada unsur paksaan. maka akan dikemukakan hal-hal penting dari ketiga ungkapan tersebut. yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.

Baqarah ayat 286 memiliki pengertian sama dengan kata ithaqah yang terdapat dalam ayat 249. Sebagai contoh kekuatan yang dimiliki tentara Jalut seperti yang disonyalir dalam ayat 249 tersebut juga tidak mampu untuk dilawan. seperti dalam pelaksanaan ibadah haji. Allah SWT juga hanya istitha’ah. Di sisi lain. Begitu pula halnya kata ithaqah yang terdapat dalam ayat 286. lebih karena di samping mereka memiliki jumlah yang begitu besar punya persenjataan yang lengkap dibandingkan tentara Thalut. ibu hamil dan orang sakit yang sudah tidak dapat diharapkan lagi kesembuhannya ke dalam golongan yathiqunah. Artinya pemakaian pekerjaan kata yang tersebut berat hanya tidak digunakan sanggup untuk untuk dan dilaksanakan. Di mana kata istitha’ah itu sendiri secara sederhana dapat dipahami denga kemampuan yang prima. yang oleh Muhammad ali al-sayis memberikan hambanya kewajiban yang kata al-wus’u ini berada dia untuk berbuat kepada hal atas kata al-ithaqah. sehingga ayat seolah-olah hendak mengatakan bagi siapa saja yang benar-benar lemah atau tidak sanggup melaksanakan puasa. Barangkali pemahaman inilah yang menyebabkan para mufassir dan fuqaha memasukkan orang yang sudah tua renta. dan masalah pelaksanaan perkawinan sebagaimana yang terdapat dalam hadits Rasulullah SAW. 13 . Selanjutnya dapat dipahami bahwa Allah SWT dalam berbagai keadaan hanya memberikan tuntutan sesuai dengan kemampuan hambanya (al-wus’u). maka silakan untuk tidak berpuasa.

Ahmad Musthafa al-Maraghi. 72. 16 14 . mereka itu adalah orang tua yang sudah lemah. orang tua renta dan bagi mereka diwajibkan membayar fidyah.Sedangkan cakupan makna yang terkandung pada kata yathiqunah menurut sebagian ulama sebagaimana yang dikemukakan Muhammad Ali al-Sayis dalam kitabnya menyatakan bahwa dalam kata itu hanya mencakup orang yang sudah tua renta. Abu Bakar bin Ali al-Razi al Jashass. Jilid I. Dan ketiga. kata yathiqunah yang secara sederhana dapat dimaknai dengan beban yang disertai dengan kesulitan yang sangat berat. Tafsir al-Maraghi. h. (Beirut: Dar al Fikr. orang yang merasa sangat sukar (betul-betul kesulitan) melaksanakannya maka bagi mereka juga wajib fidyah.th). 17 . wanita hamil. Demikian halnya menurut al-Jashas. anaknya17 Untuk itu. Ahkam al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kutub al –‘Ilmiyah. wanita hamil dan menyusui apabila khawatir terhadap dirinya. Sdangkan menurut Imam al-Maraghi cakupan kata yathiqunah dalam ayat 184 di atas adalah bagi setiap orang yang berat menjalankannya. Lebih jauh ia mengemukakan bahwa orang-orang tersebut ditetapkan berdasarkan akal. 1974).216. Juz I h. di mana menurutnya hanya ada tiga golongan yang termasuk ke dalam cakupan ayat tersebut yaitu. pekerja berat. orang tidak yang terlalu berat memikul beban seperti sehingga mampu melaksanakannya. pertama. tetapi berdasarkan pada tauqif dari rasulullah SAW16. Kedua. orang sakit yang sudah tidak dapat lagi diharapkan kesembuhannya. wanita hamil dan wanita yang sedang menyusui. narapidana yang dijatuhi hukuman berat seumur hidup. t. maka terhadap pekerja .

Sebab apabila para pekerja berat dimaksud tidak dimasukkan kepada bagian dari makna yathiqunah. sebagaimana yang terdapat dalam surat al-Baqarah ayat 185 : …Allah Menghendaki kemudahan bagimu. yaitu memberi makan orang miskin. membayar fidyah. Sesuai dengan firman Allah yang artinya “Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya. dan tidak menghendaki kesukaran bagimu… Dengan demikian bagi pekerja berat . mereka dapat diklasifikasikan dalam dua bagian . Hal ini tentu tidak sesuai dengan prinsip dalam Islam yang senantiasa menghendaki kemudahan bagi setiap umatnya bukan sebaliknya. atau nekad tetap bekerja yang berimbas pada kesusahan dan kesulitan yang bersangatan atas dirinya atau bahkan mengancam keselamatan dirinya.berat. Kedua. dalam artian tetap harus berpuasa maka terhadap pekerja itu hanya ada dua pilihan yaitu berhenti bekerja yang berakibat akan pada terancamnya kelansungan kehidupan keluarganya. pekerja berat yang sifatnya kontinyu sehingga tidak mempunya waktu luang untuk mengqadha lantaran sehari-hari pekerjaan keras dan kasar. Karenanya mereka ini wajib 15 ‫ي ُريد ُ الل ّه ب ِك ُم ال ْي ُسر ول ي ُريد ُ ب ِك ُم ال ْعُسر‬ ُ ُ ُ َ ْ َ َ ْ ِ ِ . Sebagai gantinya mereka harus membayar fidyah. Pertama . apabila pekerjaan itu memang dilakukan sepanjang masa dan tidak ada pilihan mata pencaharian lain baginya. pekerja berat yang sifatnya temporer yang masih memiliki waktu luang untuk melakukan qadha. seperti buruh tambang sebagaimana yang dikemukakan oleh Imam al-Maraghi hanya akan dapat digolongkan kepada apa yang terkandung pada kata yathiqunah dalam surat al-Baqarah ayat 184.

Wallahu a’lam.t. al-Jami’il Ahkam al-Qur’an. C.mengqadha puasanya sebagai mana orang sakit yang masih diharapkan sembuh dan musafir. dan itu dilakukan sepanjang hidupnya. maka terhadap mereka dapat digolongkan kepada kelompok yathiqunah artinya mereka dapat diberikan rukhsah dalam bentuk kebolehan membatalkan puasa dan mengganti kewajiban tersebut dengan membayar fidyah. Daftar Pustaka Abi Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshari al-Qurthubi (selanjutnya disebut Imam al-Qurthubi).th 16 . maka dapat disimpulkan bahwa bagi pekerja berat seperti pekerja tambang atau pekerja jenis lainnya yang tidak mempunyai pilihan lain untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarganya. Penutup. dan dari prinsip dalam Islam yang selalu menghendaki kemudahan bagi setiap umatnya. Berdasarkan uraian yang terkandung dari makna keumuman lafazh yang ditelaah dari berbagai pendapat para mufasir sebagaimana yang telah dikemukakan di atas. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah.

al-Fiqh al-Islamy wa Adillatuh.Al-Maraghi. Jakarta: Ichtiar Negeri Baru van Hoese.(Jakarta Timur: Prenada Media. Ahmad Musthafa. Al-Raghib. Quraish Shihab. Jakarta: Mizan. Damaskus: Dar al-Fikr. 2003 17 . Kamus Kontemporer Arab-Indonesia. 2002 Dahlan. Muhammad Ali. Tafsir Ayat al-Ahkam M. Tafsir al-Azhar. Ahkam al-Qur’an Beirut: Dar al-Kutub al –‘Ilmiyah Al-Isfahani. Beirut: Dar al Qur’an al-Karim Muhammad Ali Al-Sayis. Tafsir al-Maraghi. Quraish. 1997 Hamka. Wawasan al-Qur’an: Tafsir atas Berbagai Persoalan Umat. 1974 Al Jashass. 1998 Syarifuddin. Mu’jam Mufradat Alfazh al-Qur’an. Zuhdi Muhdhar. Abu Bakar bin Ali al-Razi. 1996 Al-Zuhaili. Tafsir Ayat al-Ahkam min alQur’an. Abdul Aziz. (Beirut: Dar al Fikr. Muhammad Ali. 1993 Muhammad Ali al-Ssabuni. Jakarta: Panji Masyarakat. Ensiklopedi Hukum Islam. Amir. Beirut: Dar al-Fikr ‘Ali. Wahbah. Garis-Garis Besar Fiqh. Atabik dan A. Yogyakarta: Multi Karya Grafika. M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful