P. 1
Makalah Sosiantropologi Pendidikan

Makalah Sosiantropologi Pendidikan

|Views: 480|Likes:
Published by Busra Ferry
Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala puji, puja serta syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, yang senantiasa memberikan curahan kasih rahmat-Nya kepada hambaNya, yang benar-benar ingin mencari ridha serta inayah-Nya. Tidak lupa rahmat serta keselamatan semoga tercurah limpah kepada paduka alam, uswah kehidupan muslim serta penutup para Nabi dan Rasul Allah, yakni Nabi Muhammad Saw. Akhirnya atas izin Allah SWT makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini penulis sampaikan kepada dosen mat
Kata Pengantar
Alhamdulillah, segala puji, puja serta syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, yang senantiasa memberikan curahan kasih rahmat-Nya kepada hambaNya, yang benar-benar ingin mencari ridha serta inayah-Nya. Tidak lupa rahmat serta keselamatan semoga tercurah limpah kepada paduka alam, uswah kehidupan muslim serta penutup para Nabi dan Rasul Allah, yakni Nabi Muhammad Saw. Akhirnya atas izin Allah SWT makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini penulis sampaikan kepada dosen mat

More info:

Published by: Busra Ferry on Dec 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

Kata Pengantar

Alhamdulillah, segala puji, puja serta syukur kita panjatkan ke hadirat Illahi Rabbi, yang senantiasa memberikan curahan kasih rahmat-Nya kepada hambaNya, yang benar-benar ingin mencari ridha serta inayah-Nya. Tidak lupa rahmat serta keselamatan semoga tercurah limpah kepada paduka alam, uswah kehidupan muslim serta penutup para Nabi dan Rasul Allah, yakni Nabi Muhammad Saw. Akhirnya atas izin Allah SWT makalah ini dapat diselesaikan. Makalah ini penulis sampaikan kepada dosen mata kuliah Sosiantropologi Pendidikan sebagai salah satu tugas mata kuliah tersebut. Tidak lupa saya ucapkan terima kasih kepada Ibu dosen yang telah berjasa mencurahkan ilmu kepada penulis. Penulis memohon kepada dosen khusunya, umumnya para pembaca barang kali menemukan kesalahan atau kekurangan dalam karya tulis ini baik dari segi bahasan maupun isinya harap maklum. Selain itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun kepada semua pembaca demi lebih baiknya karyakarya tulis yang akan datang.

Gorontalo, Oktober 2010

Penulis

Kelompok V | 1

Daftar Isi
Kata Pengantar……………………………………………………………………………. .1 Daftar Isi……………………………………………………………………………………. 2 BAB I -PENDAHULAN A. Latar Belakang Masalah……………………………………………………….4 B. Rumusan Masalah………………………………………………………………4 C. Metode Pemecahan Masalah………………………………………………….4 PEMBAHASAN BAB II -LANDASAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN A. Pengertian Landasan Sosiologi……………………………………………….6 B.Latar Belakang Pendidikan…………………………….6 Historis Sosiologi Sosiologi

C.Landasan Pendidikan………………………………………………6

D.Ruang Lingkup Dan Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan………………6 E.Masyarakat Indonesia Sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional…………………………………………………………………… ……..6 BAB III -SISTIM NILAI BUDAYA
Kelompok V | 2

A. Konsep Nilai, Sistem Nilai Dan Orientasi Nilai……………………………16 B. Sistem nilai di masyarakat……………………………………………………16 C. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai budaya……….16 . D. Perbedaan nilai dan moral…………………………………………………..16 E. Pandangan dari nilai masyarakat terhadap individu, keluarga dan masyarakat………………………………………………………………… ……16 BAB IV -PENGARUH LINGKUNGAN TERHADAP MASYARAKAT A. Pengertian Lingkungan……………………………………………………….35 B. Lingkungan dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar………………35 C. Macam-Macam Lingkungan…………………………………………………35 BAB V -IMPLIKASI PENDIDIKAN YANG BERDASARKAN ANTROPOLOGI DI INDONESIA A.Landasan Historis Pendidikan………………………………………………...40 B.Landasan Yuridis Pendidikan…………………………………………………40 C.Landasan Sosiologis Dan Antropologis Pendidikan……………………….40

Kelompok V | 3

BAB III – PENUTUP………………………………………………………………………46 Daftar Pustaka……………………………………………………………………………..4 7

BAB I PENDAHULAN
A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk hidup yang diberikan berbagai potensi oleh Tuhan, setidaknya manusia diberikan panca indera dalam hidupnya. Namun tentu saja potensi yang dimilikinya harus digunakan semaksimal mungkin sebagai bekal dalam menjalani hidupnya. Untuk memaksimalkan semua potensi yang dimiliki oleh kita sebagai manusia, tentunya harus ada sesuatu yang mengarahkan dan membimbingnya, supaya berjalan dan terarah sesuai dengan apa yang diharapkan.

Kelompok V | 4

Mengingat begitu besar dan berharganya potensi yang dimiliki manusia, maka manusia harus dibekali dengan pendidikan yang cukup sejak dini. Dilain pihak manusia juga memiliki kemampuan dan diberikan akal pikiran yang berbeda dengan makhluk yang lain. Sedangkan pendidikan itu adalah usaha yang disengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan kemampuan manusia agar bermanfaat bagi kepentingan hidupnya. Secara sosiologi pendidikan adalah sebuah warisan budaya dari generasi kegenerasi, agar kehidupan masyarakat berkelanjutan, dan identitas masyarakat itu tetap terpelihara. Sosial budaya merupakan bagian hidup manusia yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan hampir setiap kegiatan manusia tidak terlepas dari unsur sosial budaya.\ Memasuki abad ke-21 dan menyongsong milenium ketiga tentu akan terjadi banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat sebagai akibat dari era globalisasi. Dan pada kenyataannya masyarakat mengalami perubahan sosial yang begitu cepat, maju dan memperlihatkan gejala desintegratif yang meliputi berbagai sendi kehidupan dan menjadi masalah, salah satunya dirasakan oleh dunia pendidikan. Tak hanya perubahan sosial, budaya pun berpengaruh besar dalam dunia pendidikan akibat dari pergeseran paradigma pendidikan yaitu mengubah cara hidup, berkomunikasi, berpikir, dan cara bagaimana mencapai kesejahteraan. Dengan mengetahui begitu pesatnya arus perkembangan dunia diharapkan dunia pendidikan dapat merespon hal-hal tersebut secara baik dan bijak. B. Rumusan Masalah Dari rumusan masalah diatas yang bersifat umum, dapat dijabarkan beberapa pertanyaan sebagai berikut :
Kelompok V | 5

1. Apa pengertian Sosiologi Pendidikan ? 2. Sosiologi dan Pendidikan ? 3. Kebudayaan dan Pendidikan ? 4. Apa fungsi sosial budaya terhadap pendidikan ? 5. Apa dampak dari konsep pendidikan ? C. Metode Pemecahan Masalah Pemecahan masalah yaitu langkah-langkah yang ditempuh dalam

menyelesaikan permasalahan yang dituangkan dalam rumusan masalah, sedangkan langkah-langkah yang dilakukan dalam menjawab permasalahan dalam makalah ini adalah Metode Copy Paste dari Internet yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas dalam makalah ini. BAB II Landasan Antropologi Pendidikan A.Pengertian Landasan Sosiologi Manusia selalu hidup berkelompok, sesuatu yang juga terdapat pada makhluk hidup lainnya yakni hewan. Meskipun demikian, pengelompokan manusia jauh lebih rumit dari pengelompokan hewan. Pada hewan, hidup berkelompok memiliki ciri-ciri (Wayan Ardhana, 1968) sebagai berikut: (a) ada pembagian kerja, (b) ada ketergantungan antar anggota, (c) ada kerjasama antar anggota, (d) ada komunikasi antar anggota, (e) ada diskriminasi antar individu yang hidup dalam kelompok lain. Ciri-ciri hewan tersebut dapat pula ditemukan pada manusia. Kehidupan sosial manusia tersebut dipelajari oleh filsafat, yang berusaha mencari hakekat
Kelompok V | 6

masyarakat yang sebenarnya. Filsafat sosial sering membedakan manusia sebagai individu dan manusia sebagai anggota masyarakat. Pandangan aliran-aliran filsafat tentang realitas sosial itu berbeda-beda, sehingga dapat ditemukan bermacammacam aliran filsafat sosial. Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa, karena pergeseran pandangan tentang masyarakat, sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kokoh. Sosiologi sebagai ilmu yang otonom dapat lahir karena terlepas dari pengaruh filsafat. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte (17981857) pada tahun 1839, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan positif yang memepelajari masyarakat. Sosiologi mempelajari berbagai tindakan sosial yang menjelma dalam realitas sosial. Mengingat banyaknya realitas social, maka lahirlah berbagai cabang sosiologi seperti sosiologi kebudayaan, sosiologi ekonomi, sosiologi agama, sosiologi pengetahuan, sosiologi pendidikan, dan lain-lain. Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi, yang memungkinkan generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga sekolah yang dengan sengaja di bentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatnya perhatian sosiologi pada kegiatan pendidikan tersebut maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan. B.Latar Belakang Historis Sosiologi Pendidikan Ketika diangkat menjadi Presiden American Sosiological Association pada tahun 1883, Lester Frank Ward, yang berpandangan demokratis, menyampaikan pidato pengukuhan dengan menekankan bahwa sumber utama perbedaan kelas sosial dalam masyarakat Amerika adalah perbedaan dalam memiliki kesempatan,
Kelompok V | 7

khususnya kesempatan dalam memperoleh pendidikan. Orang berpendidikan lebih tinggi memiliki peluang lebih besar untuk maju dan memiliki kehidupan yang lebih bermutu. Pendidikan dipandang sebagai faktor pembeda antara kelas-kelas sosial yang cukup merisaukan. Untuk menghilangkan perbedaan-perbedaan tersebut ia mendesak pemerintahnya agar menyelenggarakan wajib belajar. Usulan itu dikabulkan, dan wajib belajar di USA berlangsung 11 tahun, sampai tamat Senior High School (Rochman Natawidjaja, et. al., 2007: 78). Buah pikiran Ward dijadikan landasan untuk lahirnya Educational Sociology sebagai cabang ilmu yang baru dalam sosiologi pada awal abad ke-20. Ia sering dijuluki sebagai “Bapak Sosiologi Pendidikan”(Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 79). Fokus kajian Educational Sociology adalah penggunaan pendidikan pendidikan sebagai alat untuk memecahkan permasalahan social dan sekaligus memberikan rekomendasi untuk mendukung perkembangan pendidikan itu sendiri. Kelahiran cabang ilmu baru ini mendapat sambutan luas dikalangan universitas di USA. Hal itu terbukti dari adanya 14 universitas yang menyelenggarakan perkuliahan Educational Sociology, pada tahun 1914. Selanjutnya, pada tahun 1923 dibentuk organisasi professional bernama National Society for the Study of Educational Sociology dan menerbitkan Journal of educational Sociology. Pada tahun 1948, organisasi progesional yang mandiri itu bergabung ke dalam seksi pendidikan dari American Sociological Society. Pada tahun 1928 Robert Angel mengeritik Educational Sociology dan memperkenalkan nama baru yaitu Sociology of Education dengan focus perhatian pada penelitian dan publikasi hasilnya, sehingga Sociology of Education bisa menjadi sumber data dan informasi ilmiah, serta studi akademis yang bertujuan mengembangkan teori dan ilmu sendiri.
Kelompok V | 8

Dengan dukungan dana penelitian yang memadai, berhembuslah angin segar dan menarik para sosiolog untuk melakukan penelitian dalam bidang pendidikan. Maka diubahlah nama Educational Sociology menjadi Sociology of Education dan Journal of Educational Sociology menjadi Journal of the Sociology of Education (1963). Serta seksi Educational Sociology dalam American Sociological Society pun berubah menjadi seksi Sociology of Education yang berlaku sampai sekarang. Penelitian dan publikasi hasilnya menandai kehidupan Sociology of Education sejak pasca Perang Dunia II. Sosiologi lahir dalam abad ke-19 di Eropa karena pergeseran pandangan tentang masyarakat sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kokoh. Nama sosiologi untuk pertama kali digunakan oleh August Comte (1798-1857) pada tahun 1839 (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 96). Di Prancis, pelopor sosiologi pendidikan yang terkemuka adalah Durkheim (1858-1917), merupakan Guru Besar Sosiologi dan Pendidikan pada Universitas Sorbonne. Di Jerman, Max Weber (1864-1920) menyoroti keadaan dan

penyelenggaraan pendidikan pada masyarakat dengan latar belakang sosial budaya serta tingkat kemajuan berbeda. Sedang di Inggris, perhatian sosiologi pada pendidikan pada awalnya kurang berkembang karena pelopor sosiologi-nya, yaitu Herbert Spencer (1820-1903) justru merupakan Darwinisme Sosial. Namun belakangan, di Inggris muncul aliran sosiologi yang memfokuskan perhatiannya akan analisis pendidikan pada level mikro, yaitu mengenai interaksi social yang terjadi dalam ruang belajar. Berstein, misalnya, berusaha dengan jalan menyajikan lukisan tentang kenyataan dan permasalahan yang terdapat dalam sistem persekolahan dengan tujuan agar para pengambil keputusan menentukan langkahlangkah perbaikan yang tepat. Pendekatan Berstein ini oleh Karabel dijuluki
Kelompok V | 9

sebagai atheoretical, pragmatic, descriptive, and policy focused (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 80). Di Indonesia, perhatian akan peran pendidikan dalam pengembangan masyarakat, dimulai sekitar tahun 1900, saat Indonesia masih dijajah Belanda. Para pendukung politis etis di Negeri Belanda saat itu melihat adanya keterpurukan kehidupan orang Indonesia. Mereka mendesak agar pemerintah jajahan melakukan politik balas budi untuk memerangi ketidakadilan melalui edukasi, irigasi, dan emigrasi. Meskipun pada mulanya program pendidkan itu amat elitis, lama kelamaan meluas dan meningkat ke arah yang makin populis sampai penyelenggaraan wajib belajar dewasa ini. Pelopor pendidikan pada saat itu antara lain: Van Deventer, R.A.Kartini, dan R.Dewi Sartika. C.Landasan Sosiologi Pendidikan Landasan sosiologi mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian pada pola hubungan antar pribadi dan antar kelompok dalam masyrakat tersebut. Untuk terciptanya kehidupan masyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya menjadi norma-norma social yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh masingmasing anggota masyarakat. Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh pengikutnya, yaitu: (1) paham individualisme, (2) paham kolektivisme, (3) paham integralistik.

Kelompok V | 10

Paham individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya, asalkan tidak mengganggu keamanan orang lain. Dampak individualisme menimbulkan cara pandang yang lebih

mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, usaha untuk mencapai pengembangan diri, antara anggota masyarakat satu dengan yang lain saling berkompetisi sehingga menimbulkan dampak yang kuat. Paham kolektivisme memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan kedudukan anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya. Sedangkan paham integralistik dilandasi pemahaman bahwa masing-masing anggota masyarakat saling berhubungan erat satu sama lain secara organis merupakan masyarakat. Masyarakat integralistik menempatkan manusia tidak secara individualis melainkan dalam konteks strukturnya manusia adalah pribadi dan juga merupakan relasi. Kepentingan masyarakat secara keseluruhan diutamakan tanpa merugikan kepentingan pribadi. Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia secara orang per orang melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.
Kelompok V | 11

D.Ruang Lingkup Dan Fungsi Kajian Sosiologi Pendidikan Para ahli Sosiologi dan ahli Pendidikan sepakat bahwa, sesuai dengan namanya, Sosiologi Pendidikan atau Sociology of Education (juga Educational Sociology) adalah cabang ilmu Sosiologi, yang pengkajiannya diperlukan oleh professional dibidang pendidikan (calon guru, para guru, dan pemikir pendidikan) dan para mahasisiwa serta professional sosiologi. Mengenai ruang lingkup Sosiologi Pendidikan, Brookover mengemukakan adanya empat pokok bahasan berikut: (1) Hubungan sistem pendidikan dengan sistem social lain, (2) Hubungan sekolah dengan komunitas sekitar, (3) Hubungan antar manusia dalam sistem pendidikan, (4) Pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 81). Sosiologi Pendidikan diharapkan mampu memberikan rekomendasi

mengenai bagaimana harapan dan tuntutan masyarakat mengenai isi dan proses pendidikan itu, atau bagaimana sebaiknya pendidikan itu berlangsung menurut kacamata kepentingan masyarakat, baik pada level nasional maupun lokal. Sosiologi Pendidikan secara operasional dapat defenisi sebagai cabang sosiologi yang memusatkan perhatian pada mempelajari hubungan antara pranata pendidikan dengan pranata kehidupan lain, antara unit pendidikan dengan komunitas sekitar, interaksi social antara orang-orang dalam satu unit pendidikan, dan dampak pendidikan pada kehidupan peserta didik (Rochman Natawidjaja, et. Al., 2007: 82). Sebagaimana ilmu pengetahuan pada umumnya, Sosiologi Pendidikan dituntut melakukan tiga fungsi pokok.

Kelompok V | 12

Pertama, fungsi eksplanasi, yaitu menjelaskan atau memberikan pemahaman tentang fenomena yang termasuk ke dalam ruang lingkup pembahasannya. Untuk diperlukan konsep-konsep, proposisi-proposisi mulai dari yang bercorak generalisasi empirik sampai dalil dan hukum-hukum yang mantap, data dan informasi mengenai hasil penelitian lapangan yang actual, baik dari lingkungan sendiri maupun dari lingkungan lain, serta informasi tentang masalah dan tantangan yang dihadapi. Dengan informasi yang lengkap dan akurat, komunikan akan memperoleh pemahaman dan wawasan yang baik dan akan dapat menafsirkan fenomena-fenomena yang dihadapi secara akurat. Penjelasanpenjelasan itu bisa disampaikan melalui berbagai media komunikasi. Kedua, fungsi prediksi, yaitu meramalkan kondisi dan permasalahan pendidikan yang diperkirakan akan muncul pada masa yang akan datang. Sejalan dengan itu, tuntutan masyarakat akan berubah dan berkembang akibat bekerjanya faktor-faktor internal dan eksternal yang masuk ke dalam masyarakat melalui berbagai media komunikasi. Fungsi prediksi ini amat diperlukan dalam perencanaan pengembangan pendidikan guna mengantisipasi kondisi dan tantangan baru. Ketiga, fungsi utilisasi, yaitu menangani permasalahan-permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan masyarakat seperti masalah lapangan kerja dan pengangguran, konflik sosial, kerusakan lingkungan, dan lain-lain yang memerlukan dukungan pendidikan, dan masalah penyelenggaraan pendidikan sendiri. Jadi, secara umum Sosiologi Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsi-fungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena siosial dan

Kelompok V | 13

pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang hubungan antara pendidikan dengan pranata kehidupan lain. E.Masyarakat Indonesia Sebagai Landasan Sosiologis Sistem Pendidikan Nasional Masyarakat selalu mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antar sesamanya, saling tergantung dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, pada umumnya bertempat tinggal di wilayah tertentu, dan adakalanya mereka memiliki hubungan darah atau memiliki kepentingan bersama. Masyarakat dapat merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun dalam arti sempit. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak misalnya masyarakat bangsa, sedang dalam arti sempit lebih konkrit misalnya marga atau suku. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri utama, antara lain: (1) ada interaksi antara warga-warganya, (2) pola tingkah laku warganya diatur oleh adapt istiadat, norma-norma, hukum, dan aturan-aturan khas, (3) ada rasa identitas kuat yang mengikat para warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan adat- istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial (Umar Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 100).

Kelompok V | 14

Masyarakat Indonesia mempnyai perjalanan sejarah yang panjang. Dari dulu hingga kini, ciri yang menonjol dari masyarakat Indonesia adalah sebagai masyarakat majemuk yang tersebar di ribuan pulau di nusantara. Melalui perjalanan panjang, masyarakat yang bhineka tersebut akhirnya mencapai satu kesatuan politik untuk mendirikan satu negara serta berusaha mewujudkan satu masyarakat Indonesia sebagaiu masyarakat yang bhinneka tunggal ika. Sampai saat ini, masyarakat Indonesia masih ditandai oleh dua ciri yang unik, yakni (1) secara horizontal ditandai oleh adanya kesatuan-kesatuan social atau komunitas berdasarkan perbedaan suku, agama, adat istiadat, dan kedaerahan, dan (2) secara vertical ditandai oleh adanya perbedaan pola kehidupan antara lapisan atas, menengah, dan lapisan bawah. Pada zaman penjajahan, sifat dasar masyarakat Indonesia yang menonjol adalah (1) terjadi segmentasi ke dalam bentuk kelompok social atau golongan social jajahan yang seringkali memiliki sub-kebudayaan sendiri, (2) memiliki struktur social yang terbagi-bagi, (3) seringkali anggota masyarakat atau kelompok tidak mengembangkan consensus di antara mereka terhadap nilai-nilai yang bersifat mendasar, (4) diantara kelompok relative seringkali mengalami konflik, (5) terdapat saling ketergantungan di bidang ekonomi, (6) adanya dominasi politiuk oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok social yang lain, dan (7) secara relative integrasi social sukar dapat tumbuh (Wayan Ardhana, 1986: Modul 1/70). Masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan, utamanya pada zaman pemerintahan Orde Baru, telah banyak mengalami perubahan. Sebagai masyarakat majemuk, maka komunitas dengan ciri-ciri unik, baik secara horizontal maupun secara vertical, masih dapat ditemukan, demikian pula halnya dengan sifat-sifat dasar dari zaman penjajahan belum terhapus seluruhnya.
Kelompok V | 15

Namun niat politik yang kuat menjadi suatu masyarakat bangsa Indonesia serta kemajuan dalam berbagai bidang pembangunan, maka sisi ketunggalan dari “bhinneka tunggal ika” makin mencuat. Berbagai upaya dilakukan, baik melalui kegiatan jalur sekolah maupun jalur luar sekolah, telah menumbuhkan benih-benih persatuan dan kesatuan yang semakin kokoh. Berbagai upaya telah dilakukan dengan tidak mengabaikan kenyataan tentang kemajemukan masyarakat Indonesia. Hal terakhir tersebut kini makin mendapat perhatian yang semestinya dengan antara lain dimasukkannya muatan lokal (mulok) di dalam kurikulum sekolah. Perlu ditegaskan bahwa muatan local di dalam kurikulum tidak dimaksudkan sebagai upaya membentuk “manusia lokal”, akan tetapi haruslah dirancang dan dilaksanakan dalam rangka mewujudkan “manusia Indonesia” di suatu lokal tertentu. Dengan demikian akan dapat diwujudkan manusia Indonesia dengan wawasan nusantara dan berjiwa nasional akan tetapi yang memahami dan menyatu dengan lingkungan (alam, sosial, dan budaya) de sekitarnya.

Kelompok V | 16

Bab III Sistem Nilai Budaya

A. Konsep Nilai, Sistem Nilai Dan Orientasi Nilai. Sistem nilai budaya merupakan tingkat yang paling abstrak dari adat. Suatu system nilai budaya terdiri dari konsepsi-konsepsi, yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Karena itu, suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi, bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkrit, seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya juga berpedoman kepada sistem nilai budaya itu.

Kelompok V | 17

Konsepsi-kosepsi tentang nilai yang hidup dalam pikiran sebagian besar warga masyarakat membentuk sistem nilai budaya. Sistem nilai budaya demikian kuat meresap dalam jiwa warga masyarakat sehingga sukar diganti dengan nilai budaya dan dalam waktu yang singkat.

B. Sistem nilai di masyarakat Menilai berarti memberi pertimbangan untuk menentukan apakah sesuatu itu bermanfaat/berguna atau tidak, baik atau buruk, benar atau salah. Hasil penilian diebut nilai (value).

Manusia selalu lebih menghendaki nilai kemanfaatan/kegunaan dari pada kerugian, nilai kebaikan dari pada keburukan dan nilai kebenaran dari pada kesalahan. Alasannya adalah nilai kerugian, keburukan dan kesalahan itu nol atau kosong, tidak berarti apa-apa, bahkan dapat menjadi sumber kehancuran, kemiskinan dan kebodohan atau kesalahan dia dianggap telah melakukan penyimpangan karena salah arah serta salah jalan. Manusia ini perlu disadarkan dan diselamatkan, sehingga dia kembali ke jalan yang benar, baik dan bermanfaat/berguna bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat.

Sistem nilai budaya yang sudah berpola meliputi segala aspek nilai kehidupan masyarakat. Kehidupan masyarakat adalah pola kehidupan yang berkelompok dalam bentuk-bentuk tertentu karena : 1. ikatan perkawinan dan keturunan darah, seperti keluarga. 2. Kesatuan geografis, seperti desa dan marga. 3. Kesamaan asal usul seperti etnis Melayu, Cina dan Sunda
Kelompok V | 18

4. Kesamaan kepentingan dan tujuan, seperti subak, organisasi pemuda dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta 5. Kesamaan keahlian dan ketrampilan seperti profesi keilmuan.

Sistem nilai budaya yang sudah berpola merupakan gambaran sikap, pikiran, dan tingkah laku anggota/warga yang diwujudkan dalam bentuk sikap dan perbuatan dalam hidup bermasyarakat. Setiap anggota / warga masyarakat menyesuaikan diri dengan sistem nilai budaya mereka yang sudah berpola itu. Sistem nilai budaya tersebut adalah produk budaya hasil pengalaman hidup yang berlangsung terus menerus, terbiasa yang akhirnya disepakati bersama sebagai pedoman hidup mereka dan sebagai identitas kelompok masyrarkat.

Sistem nilai budaya yang sudah berpola itu antara lain mengenai : 1. struktur kelompok masyarakat 2. bentuk rumah dan anggota penghuninya. 3. perkawinan dan proses pelangsungannya 4. etika dan tata krama dalam pergaulan hidup 5. bahasa dan tutur kata dalam komunikasi 6. bentuk dan cara berpakaian serta penggunaannya dan 7. tata tertib makan dan minum (jenis, cara, dan penyajiannya).

Pengalaman nyata yang mereka peroleh dalam hubungan dan interaksi sesame anggota masyararkat mengandung nilai-nilai yang menyatukan dan memperkuat kesatuan mereka dalam kelompok masyarakat tertentu. Nilai-nilai

Kelompok V | 19

hidup tersebut terus menjadi kenangan yang tidak terlupakan, harapan menatap masa depan yang lebih cerah.

Belajar dari pengalaman menempuh tahap-tahap perekembangan dan konflik yang telah dialami oleh anggota keluarga, kemudian ditujukan pula kepada leluhur dan menjadi acuan pula bagi generasi. Seperti dikatakan oleh Paul Pearsall (1997), pada beberapa pola pertumbuhan keluarga yang berkembang, anggota keluarga yang memiliki perspektif dan kepedulian terhadap fase dan pola pertumbuhan keluarga, adalah cara utama menyadarkan diri siapa mereka, sanggup mengatasi krisis keluarga, tabah dan mempertahankan pandangan hidup keluarga. Pandangan hidup yang dimaksud adalah sistem nilai budaya.

C. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan nilai budaya.

Menurut Munandar Sulaiman (1992), faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan perkembangan nilai budaya adalah :

1. Jarak komunikasi antara kelompok etnis. Masih terdapat jarak komunikasi antara kelompok etnis, hal yang sering menimbulkan konflik budaya seseorang yang bergerak dari satu kelompiok etnis ke kelompok etnis yang lain.

Kelompok V | 20

Contoh migdrasi ke kelompok etnis yang berbeda mungkin menimbulkan pergeseran sistem nilai budaya yang sudah ada di daerah kelompok etnis penduduk asli, misalnya menganggap rendah status etnis pendatang (negatif), tetapi mungkin juga etnis pendatang menjadi penggerak pembangunan di daerah kelompok etnis penduduk asli (positif).

2. pelaksanaan pembangunan, Pelaksanaan pembangunan yang terus menerus akan dapat merubah sistem nilai ke arah yang positif dan negatif.. Pergeseran sistem nilai yang mengarah ke perbaikan antara lain : a. Pola hidup tradisional, dan bertaraf lokal yang berbau mistis, berubah menjadi pola hidup modern bertaraf nasional-internasional yang berbasis ilmu pengetahuan dan teklnologi.

b. Pola hidup sederhana yang hanya bergantung pada alam lingkungan, meningkat menjadi pola hidup modern yang mampu menguasai alam lingkungan dengan dukungan prasarana dan sarana serta teknologi.

c. Pola hidup makmur yang hanya kecukupan sandang, pangan, dan perumahan meningkat menjadi pola hidup makmur dan juga sehat, teratur, bersih dan senang serta aman sesuai dengan standar menurut ilmu pengetahuan dan teknologi.

d. Kemampuan kerja yang hanya berbasis kekuatan fisik dan pengalaman, meningkat menjadi kemampuan kerja berbasis keahlian, dan ketrampilan yang didukung teknologi.
Kelompok V | 21

Pergeseran sitem nilai yang mengarah negatif antara lain : a. Penggusuran hak milik seseorang untuk kepentingan pembangunan tanpa prosedur hukum yang pasti dan tanpa ganti kerugian yang layak, bahkan tanpa ganti kerugian sama sekali.

b. Mengurangi atau meniadakan arti kemanusiaan seseorang memandang manusia sebagai obyek sasaran yang selalu dikenai penertiban, serta hak asasinya tidak dihargai.

c. Tindakan sewenang-wenang dan tidak ada kepastian hukum dalam hubungan antara penguasa / pejabat / majikan dengan rakyat bawahan / buruh.

3. kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat menimbulkan konflik dengan tata nilai budaya yang sudah ada, perubahan kondisi kehidupan manusia, sehingga manusia bingung sendiri terhadap kemajuan yang telah diciptakan. Hal ini merupakan akibat sifat ambivalen teknologi yang selain memiliki segi positif, juga memiliki segi negatif.Sebagai dampak negatif teknologi, manusia menjadi resah. Keresahan manusia muncul akibat adanya benturan nilai teknologi modern dengan nilai-nilai tradisional (konvensional). Ilmu pengetahuan dan teklnologi berpihjak pada suatu kerangka budaya. Kontak budaya yang ada dengan budaya ssing menimbulkan perubahan orientasi budaya yang mengakibatkan perubahan sistem nilai budaya.
Kelompok V | 22

D. Perbedaan nilai dan moral Nilai merupakan kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan terhadap sesuatu hal mengenai baik-buruk, benar-salah, patut-tidak patut, mulia-hina, maupun pentingatau tidak penting.

Dalam kenyataannya orang dapat saja mengembangkan perasaannya sendiri yang mungkin saja berbeda dengan perasaan sebagian besar warga masyarakat. Kenyataan ini melahirkan adanya nilai individual, yakni nilai-nilai yang dianut oleh individu sebagai sebagai orang perorangan yang mungkin saja selaras dengan nilai- nilai yang dianut oleh orang lain, tetapi dapat pula berbeda atau bahkan bertentangan.

Adapun nilai-nilai yang dianut oleh sebagian warga masyarakat dinamakan nilai sosial.

Berikut dikemukakan beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli mengenai nilai sosial : 1. Kimball Young, nilai sosial adalah asumsi abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting.

2. A. W. Green : nilai sosial adalah kesadaran yang secara relatif berlangsung disertai emosi terhadap obyek.

Kelompok V | 23

3. Woods: nilai sosial merupakan petunjuk-petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan sehari- hari. Jenis-jenis nilai Notonegoro membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu sebagai gerikut : 1. Nilai material, yakni meliputi berbagai konsepsi mengenai segala sesuatu yangberguna bagi jasmani manusia.

2. Nilai vital, yaitu meliputi bergai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berguna bagi manusia dalam melaksanakan berbagai aktivitas.

3. Nilai kerohanian, yaitu meliputi berbagai konsepsi yang berkaitan dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kebutuhan rohani manusia seperti : a. nilai kebenaran, yakni yang bersumber pada akal manusia (cipta); b. nilai keindahan, yakni nilai yang bersumber pada unsur perasaan (estetika); c. nilai moral, yakni yang bersumber pada unsur kehendak (karsa) dan d. nilai keagamaan, (religiusitas), yakni nilai yang bersumber pada revelasi (wahyu) dari Tuhan.

Ciri-ciri nilai sosial Untuk lebih mengenal nilai sosial, berikut dikemukakan beberapa ciri tentang nilai sesuai yang dikemukakan oleh Huky: 1. Nilai merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis ataupun bawaan lahir.
Kelompok V | 24

2. Nilai sosial diimbaskan. Nilai dapat diteruskan dan diimbaskan dari satu orang atau kelompok ke orang atau kelompok lain melalui berbagai macam prosessosial seperti kontak sosial, komunikasi interaksi, difusi, adaptasi, adopsi, akulturasi maupun asimilasi. 3. Nilai dipelajari. Nilai diperoleh, dicapai dan dijadikan milik diri melalui proses be- lajar, yakni sosialisasi yang berlangsung sejak masa kanak-kanak dalam keluarga.

4. Nilai memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang disetujui dan yang telah diterima secara sosial itu menjadi dasar bagi tindakan dan tingkah laku, baik secara pribadi, kelompok maupun masyarakat secara keseluruhan.

5. Nilai merupakan asumsi-asumsi abstrak dimana terdapat konsensus sosial tentang harga relatif dari obyek dalam masyarakat. Nilai-nilai sosial secara konseptual merupakan abstraksi dari unsur-unsur nilai bermacam-macam obyek di dalam masyarakat.

6. Nilai-nilai cenderung berkaitan satu dengan yang lain dan membentuk pola pola dan sistem nilai dalam masyarakat. Dalam hal ini apabila tidak terjadi keharmonisan jalinan integral dari nilai-nilai akan timbul problema sosial dalam masyarakat. 7. Sistem-sistem nilai beragam bentuknya antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain, sesuai dengan penilian yang diperlihatkan oleh setiap
Kelompok V | 25

kebudayaan terhadap bentuk-bentuk kegiatan tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Dengan kata lain, keanekaragaman kebudayaan dengan bentuk dan fungsi yang saling berbeda, menghasilkan sistem nilai yang berbeda pula.

8. Nilai selalu memberikan pilihan dari sistem-sistem nilai yang ada, sesuai dengan tingkatan kepentingannya.

9. Masing-masing nilai dapat mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap orang perorangan dan masyarakat sebagai keseluruhan.

10. Nilai-nilai juga melibatkan emosi dan perasaan.

11. Nilai-nilai dapat mempengaruhi perkembangan pribadi dalam masyarakat secara positif maupun negatif.

Fungsi nilai social Fungsi sosial antara lain sebagai berikut: 1. Sebagai faktor pendorong, hal ini berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan.

2. Sebagai petunjuk arah: cara berpikir, berperasaan, dan bertindak, serta panduan menentukan pilihan, sarana untuk menimbang penilaian masyarakat, penentu dalam memenuhi peran sosial, dan pengumpulan orang dalam suatu kelompok sosial.

Kelompok V | 26

3. Nilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan pengikat tertentu. Nilai mendorong, menuntun, dan kadang-kadang menekan para individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan. Nilai menimbulkan perasaan bersalah dan menyiksa bagi pelanggarnya.

4. Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan kelompok atau masyarakat.

5. Nilai dapat berfungsi sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masyarakat.

Pengertian Norma Sosial Nilai dan norma selalu berkaitan, walaupun demikian keduanya dapat dibedakan. Untuk melihat kejelasan hubungan antara nilai dengan norma, dapat dinyatakan bahwa norma pada dasarnya adalah juga nilai tetapi disertai dengan sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya.

Nilai merupakan sikap dan peerasaan-perasaan yang diperlihatkan oleh orang perorangan, kelompok ataupun masyarakat secara keseluruhan tentang baikburuk, benar-salah, suka-tidak suka, dan sebagainya terhadap obyek, baik material maupun non material.

Norma merupakan aturan- aturan dengan sanksi-sanksi yang dimaksudkan untuk mendorong bahkan menekan orang-perorang, kelompok atau masyarakat secara keseluruhan untuk mencapai nilai-nilai sosial. Dengan kata lain, nilai dan
Kelompok V | 27

norma sosial bergandengan dalam mendorong dan menekan anggota masyarakat untuk memenuhi atau mencapai hal- hal yang dianggap baik dalam masyarakat.

Norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat apakah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima karena sesuai dengan harapan sebagian besar warga masyarakat ataukah merupakan tindakan yang menyimpang karena tidak sesuai dengan harapan sebagian besar masyarakat. Norma dibangun di atas nilai sosial, dan norma sosial diciptakan untuk menjaga dan mempertahankan nilai sosial. Macam-macam norma sosial Dilihat dari tingkat sanksi atau kekuatan mengikatnya terdapat beberapa macam norma. 1. Tata cara (usage) tata cara merupakan norma yang menunjuk kepada satu bentuk perbuatan dengan sanksi yang sangat ringan terhadap pelanggarnya, misalnya aturan memegang garpu atau sendok ketika makan, cara memegang gelas ketika minum, serta mencuci tangan sebelum makan. Suatu pelanggaran atau penyimpangan terhadapnya tidak akan mengakibatkan hukuman yang berat, tetapi hanya sekadar celaan atau dinyatakan tidak sopan oleh orang lain.

2. Kebiasaan (folkways) Kebiasaan atau folksways merupakan cara-cara bertindak yang digemari masya- rakat sehingga dilakukan berulang-ulang oleh banyak orang. Folksways mempu- nyai kekuatan mengikat lebih besar dari pada tata cara. Misalnya mengucapkan salam ketika bertemu, membungkukkan badan sebagai tanda penghormatan kepada orang yang lebih tua, serta membuang sampah pada tempatnya. Apabila perbuatan tersebut tidak dilakukan, maka dianggap sebagai
Kelompok V | 28

penyimpangan terhadap kebiasaan umum dalam masyarakat dan setiap orang akan menyalah- kannya. Sanksinya dapat berupa teguran, sindiran atau dipergunjingkan.

3. Tata kelakuan (mores) Tata kelakuan merupakan norma yang bersumber kepada filsafat, ajaran agama atau ideologi yang dianut oleh masyarakat. Pelanggarnya disebut jahat. Contoh : larangan berzina, berjudi, minum minuman keras, penggunaan narkotika dan zat-zat aditif (obat-obatan terlarang), dan mencuri. Menurut Mac Iver dan Page, apabila kebiasaan (folkways) tidak hanya dianggap sebagai cara berperilaku, tetapi juga diterima sebagai norma pengatur, maka kebiasaan tadi pun menjadi mores. Ia mencerminkan sifat-sifat yang hidup dan secara sadar atau tidak digunakan sebagai alat pengawas oleh masyarakat terhadap warganya.

Tata kelakuan di satu pihak memaksakan suatu perbuatan dan di lain pihak melarang suatu perbuatan, sehingga secara langsung merupakan suatu alat pengendalian sosial agar anggota masyarakat menyesuaikan tindakan-tindakan dan perbuat- an-perbuatannya dengan tata kelakuan itu.

Tata kelakuan sangat penting dalam masyarakat, karena berfungsi: a. memberi batas-batas kepada kelakuan-kelakuan individu. Setiap masyarakat mempunyai tata kelakuan masing-masing yang sering kali berbeda antara yang satu dengan yang lain. Suatu masyarkat dengan tegas malarang pergaulan bebas antara pemuda dengan pemudi, sebaliknya larangan tersebut dapat saja tidak jelas pada masyarakat yang lain. Namun juga terdaoat perilaku-perilaku yang secara

Kelompok V | 29

umum atau universal ditentang atau dilarang oleh tata kelakuan yang berlaku di berbagai masyarakat dari berbagai suku bangsa di dunia.

b. Tata kelakuan mengidentifikasikan individu dengan kelompoknya. Di satu pihak tata kelakuan memaksa agar individu menyesuaikan tindakan-tindakan- nya dengan tata kelakuan yang berlaku, dan di lain pihak memaksa masyara- kat untuk menerima individu berdasarkan kesanggupannya menyesuaikan dirinya dengan tata kelakuan yang berlaku. Bahkan, tata kelakuan dapat masyarakat memberikan penghargaan kepada para warganya yang dapat dianggap sebagai teladan dalam bertindak dan bertingkah laku.

c. Tata kelakuan menjaga solidaritas antara anggota-anggota masyarakat sehingga mengukuhkan ikatan dan mendorong tercapainya integrasi social yang kuat.

4. Adat ( customs) Adat merupakan norma yang tidak tertulis namun sangat kuat mengikat sehingga anggota-anggota masyarakat yang melanggar adat-istiadat akan menderita, karena sanksi keras yang kadang-kadang secara tidak langsung dikenakan. Misalnya pada masyarakat yang melarang terjadinya perceeraian, apabila terjadisuatu perceraian maka tidak hanya yang bersangkutan yang mendapatkan sanksi atau menjadi tercemar, tetapi seluruh keluarga atau bahkan masyarakatnya. Sanksi atas pelanggaran terhadap adat istiadat dapat

berupapengucilan, dikeluarkan dari masyarakat atau harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya melakukan upacara tertentu sebagai media rehabilitasi dirinya.

Kelompok V | 30

5. Hukum (laws) Hukum merupakan norma yang bersifat formal dan berupa aturan tertulis. Ketentuan sanksi terhadap pelanggar paling tegas apabila dibandingkan dengan norma-norma yang disebut terdahulu. Hukum adalah suatu rangkaian aturan yang ditujukan kepada anggota masyarakat yang berisi ketentuan-ketentuan, perintah, kewajiban ataupun larangan, agar dalam masyarakat tercipta suatu ketertiban dan keadilan. Ketentuan-ketentuan dalam norma hukum lazimnya diindikasikan dalam bentuk kitab undang-undang atau konvensi-konvensi.

Disamping norma-norma yang tersebut di atas, dalam masyarakat masih terdapat pula norma yang mengatur tentang tindakan-tindakan yang berkaitan dengan estetika, seperti tari-tarian, pakaian, musik, arsitektur rumah, dan interior mobil. Mirip dengan estetika adalah mode atau fashion. Mode atau fashion merupakan cara atau gaya dalam melakukan atau membuat sesuatu yang sering berubah-ubah dan diikuti oleh banyak orang. Salah satu ciri khas mode adalah sifatnya yang massal dan tiba- tiba dalam waktu yang relatif singkat.

Norma yang bserlaku dalam masyarakat dapat pula dibedakan berdasarkan jenis atau sumbernya yaitu sebagai berikut : 1. Norma agama, yakni ketentuan-ketentuan hidup bermasyarakat yang bersumber pada ajaran agama (wahyu atau revelasi). 2. Norma kesopanan atau etika, yakni ketentuan-ketentuan hidup yang berlaku dalam hubungan atau interaksi sosial antar manusia dalam masyarakat.

3. Norma kesusilaan, yakni ketentuan-ketentuan yang bersumber pada hati nurani, moral atau filsafat hidup.
Kelompok V | 31

4. Norma hukum, yakni ketentuan-ketenteuan tertulis yang berlaku dalam bersumber pada kitab undang-undang suatu negara tertentu.

E. Pandangan dari nilai masyarakat terhadap individu, keluarga dan masyarakat.

Sebagai bagian dari adat istiadat dan wujud ideal dari kebudayaan, sistem nilai budaya seolah-olah berada di luar dan di atas diri para individu yang menjadi warga masyarakat yang bersangkutan. Para individu itu sejak kecil telah diresapi dengan nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakatnya sehingga konsepsikonsepsi itu sejak lama telah berakar dalam alam jiwa mereka. Itulah sebabnya nilai-nilai budaya adi sukar diganti dengan nilai-nilai budaya lain dalam waktu singkat Keluarga juga berfungsi sebagai sumber budaya dan nilai budaya. Dikatakan sum- ber budaya karena keluarga adalah pusat interaksi sosial pertama suami dan isteri kemudian ditambah anak yang lahir dari hubungan suami dan isteri.

Dengan demiki- an, interaksi sosial yang membentuk budaya keluarga adalah interaksi ayah dan i- bu, interaksi antara ayah-ibu dan anak mereka. Karena interaksi tersebut berlang- sung lama dan terus menerus, maka terbentuklah sistem nilai budaya yang bersifat normatif dalam lingkungan keluarga, yang menjadi pedoman hidup anggota keluar- ga. Sistem nilai ini akhirnya membudaya. Fungsi keluarga ini disebut juga fungsi sosial budaya.

Kelompok V | 32

Perkembangan budaya dapat mengakibatkan terjadi perubahan sistem nilai dalam kehidupan keluarga. Karena keluarga itu awal dari kehidupan bermasyrakat, maka perubahan sistem nilai akan terjadi pula dialam lingkungan masyarakat yang lebih luas. Faktor internal yang mempengaruhi kehidupan keluarga terutama berasal dari kelakuan ayah dalam membimbing keluarga.

Faktor internal tersebut antara lain : 1. kemauan kerja keras menghidupi keluarga. 2. melindungi anggota keluarga. 3. memberi contoh berbuat baik kepada keluarga dan lingkungan hidupnya. 4. kemampuan menciptakan norma moral bagi kehidupan keluarga.

Ayah sebagai kepala keluaraga menjadi panutan keluarga. Artinya, apabila terjadi perubahan sistem nilai pada ayah selaku kepala keluarga, akan diikuti pula oleh anggota sekeluarga. Apabila perubahan sistem nilai itu positif dalam arti bermanfaat menuju pada kebaikan dan kesejahteraan hal ini menjadi faktor pendorong ke arah perkembabngan budaya yang lebih maju dan sehat. Kehidupan keluarga tersebut dapat menjadi contoh bagi masyarakat luas.

Contoh perubahan sistem nilai positif itu antara lain sbabgai berikut: 1. budaya malas dan pasif berubah menjadi budaya aktif kreatif dan produktif. 2. budaya komuniasi kurang terbuka dalam keluarga berubah menjadi budaya kasih sayang, ramah, serta suka memperhatikan dan menghargai pendapat anggota keluarga.

Kelompok V | 33

Sebaliknya, apabila perubahan sistem nilai yang dicontohkan oleh ayah selaku kapala keluarga itu negatif (akbiat pengaruh faktor eksternal), artinya merusak tata kehidupan keluarga yang sudah baik, hal ini akan menimbulkan dampak yang merugikan nilai-nilai kehidupan keluarga. Dampak merugikan terseebut dapat berbentuk peniruan mentah-mentah oleh anggota keluarga terhadap kelakuan yang dicontohkan ayah sebagai kepala keluarga, bahkan mungkin akan ditiru juga oleh anggota masyakat di lingkungannya.

Beberapa contoh perubahan sistem nilai negarif, antara lain adalah: 1. Peniruan budaya Barat tanpa menghiraukan aspek keburukannya. 2. Budaya paguyuban berubah menjadi budaya pamrih (komersial). 3. kemauan kerja keras yang produktif berubah menjadi suka bersantai dan konsumtif. 4. Tutur, bahasa halus berubah menjadi kasar dalam pergaulan keluarga. 5. Pergaulan santun berubah menjadi bebas dan mengabaikan etika. 6. Busana tertutup berubah menjadi mode terbuka dan merangsang. Anggota keluarga atau anggota masyarakat yang lain yang tidak setuju dengan perubahan sistem nilai negatif akan memberikan reaksi dan sikap oposisi. Bentuk bentuk reaksi dan sikap oposisi itu antara lain tercermin pada keadaan berikut ini: 1. Pembangkangan, kebencian, ataupun permusuhan dalam keluarga. 2. Interaksi dan komunikasi dalam keluarga semakin berkurang dan tidak berarti. 3. Rasa hormat, saling menghargai, dan kasih sayang dalam keluarga makin pudar dan menjadi kurang bermakna. 4.. Keadaan norma kehidupan keluarga mulai kendur dan cenderung dilanggar.
Kelompok V | 34

5. Pergi dari dan datang ke rumah tidak pernah lagi terdengar ucapan salam santun. Faktor eksternal dapat mengubah sistem nilai keluarga menuju ke arah perbaikan dan peningkatan kualitas hidup yang lebih baik daripada keadaan sebelumnya (perubahan sistem nilai positif).

Faktor eksterenal tersebut antara lain adalah yang berikut ini: 1. Pendidikan, pelatihan dan penyuluhan. Faktor ini membekali keluarga dengan ilmu pengetahuan dan teknologi serta ketrampilan guna menjadi hidup berkualitas.

2. Kegiatan keagamaan Faktor ini membekali keluarga dengan iman dan takwa yang menjadi pedoman kehidupan etis dan berguna sebagai pencegah perbuatan mungkar yang merugikan diri sendiri dan keluarga.

3. Pergaulan dan komunikasi Faktor ini membekali keluarga dengan pengalaman hidup yang bermanfaat bagi perbaikan nasib dan menjadi sumber keberhasilan.

4. Pembauran dalam kelompok masyrakat Faktor ini membekali keluarga dengan pengalaman sistem nilai yang diperolehnya dari hubungan dan cara hidup masysdrakat setempat. 5. Adaptasi budaya setempat dan budaya pendatang Faktor ini membekali keluarga dengan sitem nilai baru yang lebih baik dari keadaan sebelumnya karena perpaduan dan penyesuaian unsur-unsur positif dari kedua budaya yang berlainan.

Kelompok V | 35

Bab IV Pengaruh Lingkungan Terhadap Masyarakat

A. Pengertian Lingkungan Yang dimaksud dengan lingkungan disini ialah, segala sesuatu yang terdapat disekitar, baik makhluk hidup maupun benda mati. Yang dimaksud dengan
Kelompok V | 36

lingkungan dalam pembahasan ini menitik beratkan pada lingkungan dimana terjadi proses interaksi, baik lingkungan inforaml (keluarga), atau non formal (Masyarakat), atau lingkungan formal sekolah itu sendiri. Jadi tegasnya yang dimaksud dengan lingkungan ialah : “Kawasan wilayah dan segala sesuatu yang terdapat didalamnya, golongan, kalangan” 1.Pengaruh Pengaruh ialah : “Daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang, benda, dsb) yang berkuasa atau yang berkekuatan (ghaib dsb)” 2.Dalam hubungannya dengan judul makalah ini, yang dimaksud dengan pengaruh yaitu suatu kekuatan yang timbul dari luar individu yang menjadi sebab terhadap prestasi belajar pada anak. Pendidikan Menurut Carted V Good : pendidikan adalah sejumlah dari pada proses yang cukup lama untuk membina kemampuan pembawaan dan beberapa bentuk dari pada tingkah laku kepada nilai yang lebih baik dimasyarakat dimana ia tinggal. Dari pengertian diatas, dapat kita kemukakan bahwa pendidikan merupakan suatu proses yang terjadi di samping kehidupan guna mewujudkan aneka pembedaan dalam rangka membentuk dan mengembangkan segala potensi yang bersifat pembawaan, intelektual dan emosional bagi manusia itu sendiri atau bimbingan orang dewasa terhadap anak didik dalam perkembangannua menuju arah kedewasaan. Perlu diketahui bahwa pendidikan terjadi di mana saja dan kapan saja asalkan berbeda dalam suatu hubungan yang dapat menimbulkan pengaruhpengaruh atau perubahan-perubahan yang positif.
Kelompok V | 37

Prestasi Belajar Prestasi belajar ialah hasil yang dicapai, dilakukan atau dikerjakan. Yang dimaksud penulis ialah daya mampu anak atau siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru terhadap materi pelajaran atau bidang studi yang diwujudkan, misalnya dalam bentuk nilai Raport atau Hasil Ujian. B. Lingkungan dan Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Sebagaimana telah disebutkan diatas, istilah lingkungan itu menjadi jelas dan terarah pada sasaran yang dituju. Lingkungan adalah merupakan salah satu faktor dalam pendidikan yang tidak kalah pentingnya dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan pendidikan yang digolongkan salah satu faktor disamping faktor-faktor lainnya. Kendati demikian, sebagian para ahli ada juga yang menolak keterlibatan faktor lingkungan tersebut.

Mengenai pengertian linkungan, disamping yang telah dikemukakan diatas, penulis kutipkan kembali pengertian lingkungan menurut para ahli, antara lain : Drs. H.M. Hafiz Anshari Lingkungan ialah : “segala sesuatu yang ada disekitar anak baik berupa benda-benda, peristiwa-peristiwa yang terjadi maupun kondisi masyarakat terutama yang dapat memberikan pengaruh kuat kepada anak yaitu lingkungan dimana proses pendidikan berlangsung dan lingkungan mana anak bergaul sehari-hari”.
Kelompok V | 38

Drs. Amir Daein Lingkungan ialah : “ segala sesuatu yang berada diluar diri anak yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak”. Ali Saifullah, MA Lingkungan ialah : “segala sesuatu yang terdapat disekitar anak yang bersifat kebendaan dan karena itu bukan pribadi atau pergaulan yang bersifat pribadi”. Dari beberapa pendapat para ahli yang penulis sebutkan diatas, dapatlah kita simpukan, bahwa pada prinsipnya pendapat para sarjana tersebut sama dalam mengambil pengertian tentang lingkungan, yaitu segala sesuatu yang ada disekitar anak dan dapat memberikan pengaruh terhadap anak dalam perkembangannya, sehingga tidak bisa dipungkiri akan berpengaruh pula terhadap prestasi belajar pada anak. C. Macam-Macam Lingkungan Macam-macam lingkungan disini maksudnya ialah macam-macam

lingkungan yang berwujud tempat dan bentuk lingkungan yang mempunyai peranan penting dan dapat memberikan pengaruh terhadap anak didik. oleh karena itu penulis membahas mengenai lingkungan ini meninjau dari dua segi : Ditinjau dari sudut tempat dimana lembaga penmdidikan itu dikembangkan. Jika pembicaraan tentang lingkungan dimana pendidikan itu dikembangan atau pusat pendidikan. Pada garis besarnya Ki Hajar Diwantoro menyebutkan ada 3 (tiga) lingkungan pendidikan :

Kelompok V | 39

Lingkungan Keluarga Lingkungan Sekolah Lingkungan Masyarakat Adapun pembawaan dari ketiga lingkungan tersebut, secara panjang lebar akan penulis paparkan pada pembahasa yang akan datang. Kalau kita meninjau dari sudut dalam hubungan dengan manusia, maka dapat dikelompokkan : Lingkungan yang tidak dapat dirubah Lingkungan yang tidak dapat dirubah terdapat diluar kemampuan manusia untuk merubahnya, misalnya iklim, keadaan alam, dan sebagainya. Lingkungan yang dapat dirubah Lingkungan yang dapat dirubah atau dipengaruhi, seperti bahan makanan, cara memasak, cara mengolah dan sebagainya. Sebab dalam kenyataannya, makanan yang bergizi baik akan dapat meningkatkn prestasi belajar pada anak.

Lingkungan buatan manusia Milleu yang secara sadar dan sengaja diadakan, adalah segala lingkungan yang diadakan dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertentu, mislanya sebagai contoh permainan anak-anak, bahan kepustakaan termasuk komplek lembaga pendidikan/sekolah dan lembaga sosial lainnya yang bergerak dibidang pendidikan.
Kelompok V | 40

Bab V Iplikasi Pendidikan Yang Berdasarkan Antropologi Di Indonesia

A.Landasan Historis Pendidikan Implikasi Adalah Dampak/Pengaruh
Kelompok V | 41

Pengaruh bangsa Portugis dalam bidang pendidikan utamanya berkenan dengan penyebaran agama Katholik. Demi kepentingan tersebut, tahun 1536 mereka mendirikan sekolah (Seminarie) di Ternate, selain itu didirikan pula di Solo. Kurikulum pendidikannya berisi pendidikan agama Katholik, ditambah pelajaran membaca menulis dan berhitung. Pendidikan oleh kaum pergerakan Kebangsaan (pergerakan Nasional) sebagai Sarana Perjuangan Kemerdekaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Nasional. Bagi bangsa Indonesia berbagai kondisi yang sangat merugikan akibat kebijakan dan praktek-praktek penjajahan telah menimbulkan rasa senasib sepenanggungan sebagai bangsa yang dijajah sehingga muncul rasa kebangsaan/nasionalisme. Sejak Kebangkitan Nasional (1908) sifat perjuangan rakyat Indonesia dilakukan melalui berbagai partai dan organisasi, baik melalui jalur politik praktis, jalur ekonomi, social budaya, dan khususnya melalui jalur pendidikan. Sifat perjuangan bangsa kita saat itu tidak lagi hanya menitik beratkan pada perjuangan fisik. Mengingat cirri-ciri pendidikan yang diselenggarakan pemerintah Kolonial Belanda yang tidak memungkinkan bangsa Indonesia untuk menjadi cerdas, bebas, bersatu, dan merdeka, maka kaum pergerakan semakin menyadari bahwa pendidikan yang bersifat nasional harus segera dimasukan ke dalam program perjuangannya. Implikasi kekuasaan pemerintahan pendudukan militer Jepang dalam bidang pendidikan di Indonesia yaitu : 1) Tujuan dan isi pendidikan diarahkan demi kepentingan perang Asia Timur Raya.
Kelompok V | 42

2) Hilangnya Sistem Dualisme dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang bersifat dualistis membedakan dua jenis sekolah untuk anak-anak bangsa Belanda dan anak-anak Bumi Putera dihapuskan pada zaman Jepang. Sekolah Desa masih tetap ada dan namanya diganti menjadi Sekolah Pertama. Susunan jenjenag sekolah menjadi : a) Sekolah Rakyat 6 tahun (termasuk sekolah pertama). b) Sekolah Menengah 3 tahun c) Sekolah Menengah Tinggi 3 tahun d) Perguruan Tinggi 3) Sistem Pendidikan menjadi lebih merakyat (populis) Tujuan pendidikan tentang Nasional. Agama, Sesuai dengan dan Tap MPRS No. maka

XXVI/MPRS/1966

Pendidikan

Kebudayaan,

dirumuskan bahwa Tujuan Pendidikan adalah untuk membentuk manusia Pancasila sejati berdasarkan Pembukaan UUD 1945 dan isi UUD 1945. Selanjutnya dalam UU No. 2 Tahun 1989 ditegaskan lagi bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggungjawab kemasyarakatan dan kebangsaan. B.Landasan Yuridis Pendidikan Apabila Anda mengkaji alinea keempat Pembukaan UUD 1945, disana tersurat dan tersirat cita-cita nasional dibidang pendidikan, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehubungan dengan ini, Pasal 31 ayat (3) UUD
Kelompok V | 43

1945 mengamanatkan atar ‘Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Strategi Pembangunan Pendidikan Nasional meliputi : 1. Pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia 2. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi 3. Prose pembelajaran yang mendidik dan dialogis 4. Evaluasi, akreditas, dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan 5. Peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan 6. Penyediaan sarana belajar yang mendidik 7. Pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan berkeadilan 8. Penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata 9. Pelaksanaan wajib belajar 10. Pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan 11. Pemberdayaan peran masyarakat 12. Pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat, dan 13. Pelaksanaan pengawsan dalam sistem pendidikan nasional C.Landasan Sosiologis Dan Antropologis Pendidikan I. Individu, Masyarakat, dan Kebuayaan Individu adalah manusia perseorangan sebagai kesatuan yang tak dapat dibagi, memiliki perbedaan dengan yang lainnya sehingga bersifat unik, serta bebas mengambil keputusan atau tindakan lainnya sehingga bersifat unik, serta bebas mengambil keputusan atau tindakan atas pilihan dan tanggung jawabnya. (otonom).

Kelompok V | 44

Adapun masyarakat didefinisikan oleh Ralp Linton sebagai berikut‘setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menggangp diri mereka sebagai satu kesatuan social dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas”. Dari dua definisi tersebut, dapat diidentifikasi adanya empat unsur di dalam masyarakat yaitu : 1) Manusia (individu-individu) yang hidup bersama 2) Melakukan mempunyai social dalam waktu yang cukup lama 3) Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan 4) Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan, sehingga setiap individu di dalamnya merasa terikat satu dengan yang lainnya. II. Pendidikan Sosial dan Enkulturasi Sebagaimana kita maklumi, manusia berbeda dengan hewan yang seluruh perilakunya dikendalikan oleh naluri yang diperoleh sejak kelahirannya. Saat kelahirannya, manusia dalam keadaan tak berdaya, karena naluri yang dibawa ketika kelahirannya relative tidak lengkap. Ia belum memiliki sistem nilai, norma, pengetahuan, adat kebiasaan, serta belum mengetahui dan belum dapat menggunakan dengan tepat berbagai benda sebagai hasil karya masyarakatnya. Anak manusia harus belajar dalam waktu yang relative lebih panjang untuk mampu melaksanakan berbagai peranan sesuai statusnya dan sesuai kebudayaan masyarakatnya. III. Pendidikan sebagai Pranata Sosial

Kelompok V | 45

Pranata Sosial. Theodorson G.A mendefinisikan pranata social sebagai ‘an interrelated system of social roles and norms organized about the satisfaction of an important social need or function” (Sudardja Adiwikarta, 1998). Pranata social adalah suatu sistem peran dan norma social yang saling berhubungan dan terorganisasi disekitar pemenuhan kebutuhan atau fungsi social yang penting. Pendidikan Formal (Sekola). Pendidikan formal adalah pendidikan yang terstrukutr dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. (Pasal 1 ayat 11 UU RI No. 20 Tahun 2003). Fungsi pendidikan Sekolah. Pendidikan sekolah dapat dikemukakan fungsi-fungsi sebagai berikut> 1) Fungsi transmisi kebudayaan masayarakat 2) Fungsi sosialisasi (memilih dan mengajarkan peranan social) 3) Fungsi integrasi social 4) Fungsi mengembangkan kepribadian individu/anak 5) Fungsi mempersiapkan anak untuk suatu pekerjaan 6) Fungsi inovasi/men-transformasi masyarakat dan kebudayaan Pendidikan Informal yaitu pendidikan yang berlangsung/terselenggara secara wajar atau secara alamiah di dalam lingkungan hidup sehari-hari. Pendidikan informal antara lain berlangsung di dalam keluarga, pergaulan anak. ϖ Definisi. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang (pasal 1 ayat (12) UU RI No. 20 Tahun 2003).

Kelompok V | 46

ϖ Fungsi. Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional. ϖ Lingkup. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup,

pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaran, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. ϖ Satuan Pendidikan. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan majelis taklim, serta satuan pendidikan yang sejenis.

BAB III PENUTUP
Simpulan Dari hasil hasil pembahasan yang telah disajikan pada bab II, secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. sosiologi merupakan ilmu yang membahas atau mempelajari interaksi dan pergaulan antara manusia dalam kelompok dan struktur sosial.

Kelompok V | 47

2. kebudayaan adalah totalitas yang kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang diperoleh orang sebagai anggota masyarakat. 3. sosiologi pendidikan, yaitu ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang hubungan dan interaksi manusia, baik itu individu atau kelompok dengan peresekolahan sehingga terjalin kerja sama yang sinergi dan berkesinambungan antara manusia dengan pendidikan. 4. bahwa pendidikan adalah bagian dari kebudayaan. Bila kebudayaan berubah maka pendidikan juga bisa berubah dan bila pendidikan berubah akan dapat mengubah kebudayaan. 5. Hubungan antara lembaga pendidikan dengan masyarakat dapat dianalogikan sebagai selembar kain batik. Dalam hal ini motif-motif atau pola-pola gambarnya adalah lembaga pendidikan dan kain latarnya adalah masyarakat. Antara lembaga pendidikan dengan masyarakat terjadi hubungan timbal balik simbiosis mutualisme. Pendidikan atau sekolah memberi manfaat untuk meningkatkan peranan mereka sebagai warga masyrakat.

Daftar Pustaka
Made, Pidarta. Landasan Kependidikan Stimulus Ilmu Pendidikan Bercorak Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta, 2000 Ruswandi, Uus. Hermawan Heris, A. Nurhamzah. Landasan Pendidikan. Bandung: CV. Insan Mandiri, 2008. Sutikno Sobry, M. Landasan Pendidikan. Bandung: Prospect, 2008.
Kelompok V | 48

Tim Sosiologi. Sosiologi Suatu Kajian Kehidupan Masyarakat. Jakarta: Yudhistira, 2003.

www.newyouth.com/archives www.re-searchengines.com http://defauzan.wordpress.com/2009/04/18/makalah-landasan-sosialbudaya-pendidikan/ http://webcache.googleusercontent.com/search? q=cache:C6mgzm9dnnwJ:www.unikkediri.ac.id/unik/images/Ditat_Agribisnis/isbdpertanian2009.pdf? PHPSESSID %3D627e3e83afbc9b243e360aaa94a39a4b+implikasi+pendidikan+sosio logi,abu+ahmadi&hl=id&gl=id http://naniwijayantiloma.blogspot.Com 2009/9. http://ahmadazhar.wordpress.com/2009/09/14/lingkungan-dan pengaruhnya/#more-328 http://yandiyulio.wordpress.com/2009/05/25/landasan-pendidikan/

SOSIANTROPOLOGI PENDIDIKAN
LANDASAN ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
Tugas ini Di Buat Untuk Melengkapi Tugas Mata Kuliah Sosiantropologi Pendidikan

Kelompok V | 49

Disusun Oleh :
KELOMPOK V

FERRI BUSRA FADLUN RAHMAN FATMAWATI MADINA IRNAWATI PAKAYA ISMIRANTI S. HARMAIN
(Kelas A.1.1)

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGRI GORONTALO T.P 2010/2011

Kelompok V | 50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->