P. 1
ASMA BRONKIAL Barrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrru Worddddddddddd !!!!1 03

ASMA BRONKIAL Barrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrru Worddddddddddd !!!!1 03

|Views: 519|Likes:
Published by Iin Rahmawati Spkk

More info:

Published by: Iin Rahmawati Spkk on Dec 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/31/2013

pdf

text

original

Makalah Diagnostik &Pemeriksaan Fisik

ASMA BRONKIAL

Oleh : Kelompok IV(B2) Fasilitator:dr.Yanti Fitri Yasa.SpTHT Anggota Kelompok:
Devi Allif Pratiwi Iin Rahmawati Ilham Bakri (08-209) (08-020) (08-089) Domu Partahian Rambe (08-010)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BAITURRAHMAH PADANG 2010

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah S.W.T yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Shalawat beriring salam penulis kirimkan kepada junjungan alam yakni Nabi Muhammad S.A.W yang telah membawa kita dari alam kegelapan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan seperti yang kita rasakan sekarang ini. Melalui makalah ini penulis mengucapkan terima kasih kepada yang telah membimbing dr.Yanti Fitri Yasa.SpTHT penulis dalam peyelesaian makalah ini, dengan judul ”ASMA BROKIAL”. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu baik secara moril dan materil dalam menyelesaikan makalah ini. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulis memohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Dan semua saran serta kritik sifatnya membangun akan penulis terima dengan senang hati. Akhirnya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Padang,14 Juli 2010

Penulis

literatur tertua menyatakan bahawa kata asma berasal dari “ Azo ” atau “ azein “ yang berarti bernafas dengan sulit. Pasien merasa sesak berkurang jika pasien duduk atau istirahat.BAB I LATAR BELAKANG 1.2 Latar Belakang Masalah Istilah asma telah dikenal sejak lama. Karakteristik ini menyebabkan terjadinya gejala-gejala asma seperti batuk. Obtruksi saluran nafas yang bersifat reversible baik secara spontan maunpun secara farmakologis. 1. Obstruksi saluran nafas ini berlangsung secara bertahap. pada suatu ketika dapat pula menjada akut atau mendadak sehingga menimbulkan kesulitan bernafas. Setelah dokter melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik. . Berat ringannya obstruksi saluran nafas tergantung pada diameter lumen saluran nafas. perlahan-lahan dan bahkan menetap selama pengobatan. Selain sesak nafas pasien juga mengeluh nyeri dada jika serangan sesak berlangsung.Sesak nafas dirasakan pasien terutama jika pasien sedang membersihkan ruangan berdebu. 2.9 : 1. Hippocrates juga menyatakan bahwa terjadinya dypsnea berkorelasi dengan meningkatnya umur1. peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai rangsangan. mengi dan sesak nafas. Sehari sebelum sesak pasien merasa demam yang tidak menggigil selama sehari dan di sertai batuk yang berkurang setelah pasien minum obat. dipengaruhi oleh edema dinding bronkus.untuk lebih pastinya pasian dianjurkan tes laboratorium dan tes penunjang lainnya. literatur ilmiah dari berbagai negara telah cukup menjelaskan tentang asma tetapi meskipun demikian para ahli masih belum sepakat definisi tentang asma itu sendiri.pasien diduga menderita asma bronkial. sedang pilek dan bila sedang banyak pikiran. Inflamasi saluran pernafasan bersifat kronis 3. Definisi asma yang saat ini banyak dipakai di indonesia yaitu Asma adalah penyakit paru dengan karakteristik1. pasien datang ke RS pada tanggal 18 juni 2010 dengan keluhan nafas sesak.1 Trigger Ibuk Ratna seorang ibu rumah tangga berumur 47 th datang ke poliklinik paru RSI Sitirahmah.

2. Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan. peningkatan respon saluran nafas terhadap berbagai rangsangan. Obtruksi saluran nafas yang bersifat reversible baik secara spontan maunpun secara farmakologis. penderita sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus. Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya. Faktor predisposisi Genetik.3Definisi Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten. Definisi asma yang saat ini banyak dipakai di indonesia yaitu Asma adalah penyakit paru dengan karakteristik : 1. Inflamasi saluran pernafasan bersifat kronis 3. Asma bronchial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari pengobatan (The American Thoracic Society). 1. Status asmatikus adalah episode serangan asma yang tidak membaik dengan terapi bronkodilator. Penderita dengan penyakit alergi biasanya mempunyai keluarga dekat juga menderita penyakit alergi.produksi mukus. 2.4 Etiologi Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan asma bronkhial. Faktor presipitasi . reversible dimana trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. meskipun belum diketahui bagaimana cara penurunannya yang jelas. Karena adanya bakat alergi ini. kontraksi dan hipertrofi otot polos bronkus. 1. 1. Hipotesis dianggap akibat peningkatan respon terhadap berbagai rangsang didasari oleh inflamasi saluran pernafasan.

Lingkungan kerja Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. bulu binatang. industri tekstil. selain itu juga bisa memperberat serangan asma yang sudah ada. Karena jika stressnya belum diatasi maka gejala asmanya belum bisa diobati. Perubahan cuaca Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis. Gejala ini membaik pada waktu libur atau cuti. musim kemarau. yang masuk melalui kontak dengan kulit (perhiasan. Stress Stress/gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma. yang masuk melalui saluran pernapasan (debu. seperti musim hujan. polisi lalu lintas. yang masuk melalui mulut (makanan dan obat-obatan)  Kontaktan. Disamping gejala asma yang timbul harus segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguan emosi perlu diberi nasehat untuk menyelesaikan masalah pribadinya. . pabrik asbes. bakteri dan polusi)  Ingestan. musim bunga. Kadang-kadang serangan berhubungan dengan musim. Alergen. logam dan jam tangan) b.a. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu. yaitu :  Inhalan. serbuk bunga. c. spora jamur. Atmosfir yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium hewan. Hal ini berkaitan dengan dimana dia bekerja. d.

bulu binatang. Oleh karena itu jika ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas. seperti debu. Asma ekstrinsik sering dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik terhadap alergi. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma. 1. Olahraga/ aktifitas jasmani yang berat Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani atau olahraga yang berat.e. serbuk bunga. maka akan terjadi serangan asma ekstrinsik. asma bronkhial dapat diklasifikasikan menjadi 3 tipe. Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut. obat-obatan (antibiotic dan aspirin) dan spora jamur. . yaitu : 1.5 Klasifikasi Gambar 1 : tipe asma Berdasarkan penyebabnya. Ekstrinsik (alergik) Ditandai dengan reaksi alergik yang disebabkan oleh faktor-faktor pencetus yang spesifik.

Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk alergik dan non-alergik. Prevalensi terjadinya asma lebih banyak pada anak kecil dari pada orang dewasa. 1. faktor keturunan. Pada negara maju seperti Amerika dan Inggris insiden 2 terjadinya asma adalah 5 % dari populasi.7 Manifestasi Klinik Biasanya pada penderita yang sedang bebas serangan tidak ditemukan gejala klinis. gelisah. kunjungan pasien dengan asma bronkiale meliputi 1-12%9. Perbandingan antara anak perempuan dan anak laki-laki 1. tetapi menjelang dewasa perbandingan ini sama dan pada fase menopause perbandingan antara perempuan dan lakilaki relatif tidak jauh berbeda saat anak. ini merupakan jumlah yang cukup banyak. antara lain : jenis kelamin.6 Epidemiologi Insiden terjadinya asma dipengaruhi oleh berbagai faktor. serta faktor lingkungan. umur pasien. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik dan emfisema. 3. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan. 1. Jumlah ini tidak mutlak karena tiap negara mempunyai karakteristik multi faktor yang tidak sama sehingga insiden terjadinya asma pun menjadi berbeda. . Asma gabungan Bentuk asma yang paling umum. status atopi. seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi saluran pernafasan dan emosi.2.5 : 1. Untuk kanada. duduk dengan menyangga ke depan. tapi pada saat serangan penderita tampak bernafas cepat dan dalam. Australia dan Spanyol. Untuk indonesia antara 5 s/d 7 %. serta tanpa otot-otot bantu pernafasan bekerja dengan keras.Gejala dan tanda klinis sangat dipengaruhi oleh berat ringannya asma yang diderita. Intrinsik (non alergik) Ditandai dengan adanya reaksi non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak diketahui.

Asma intermiten ringan. gejala terjadi kurang dari seminggu sekali dengan fungsi paru normal atau mendekati normal diantara episode serangan. Gejala-gejala tersebut tidak selalu dijumpai bersamaan. Terdapat gangguan tidur karena terbangun malam hari. dan pada sebagian penderita ada yang merasa nyeri di dada. gangguan kesadaran. 4. Asma persisten ringan.8 Patofisiologi Asma ditandai dengan kontraksi spastik dari otot polos bronkus yang menyebabkan sukar bernafas. sianosis. Asma persisten moderat. mengi ( wheezing ). gejala muncul lebih dari sekali dalam seminggu dengan fungsi paru normal atau mendekati normal diantara episode serangan. dan keterbatasan jalan napas moderat hingga berat. gejala muncul tiap hari dan mengganggu aktivitas harian.tachicardi dan pernafasan cepat dangkal . Penyebab yang umum adalah hipersensitivitas bronkhioulus terhadap bendabenda asing di udara. gejala distress berat hingga tidak bisa tidur. 3. Penderita asma dapat dikategorikan menjadi sebagai berikut: 1. Keterbatasan jalan napas yang kurang respon terhadap bronkodilator inhalasi dan dapat mengancam nyawa. hyperinflasi dada. di lain pihak ada juga yang sangat jelas gejalanya. Asma berat.Bisa saja seorang penderita asma hampir-hampir tidak menunjukkan gejala yang spesifik sama sekali. gejala-gejala yang timbul makin banyak. 2. 1. 5. gejala muncul setiap hari dengan keterbatasan jalan napas ringan hingga moderat. batuk. Reaksi yang timbul pada asma tipe alergi diduga terjadi dengan cara . Gejala dan tanda tersebut antara lain: · Batuk · Nafas sesak (dispnea) terlebih pada saat mengeluarkan nafas (ekspirasi) · Wheezing (mengi) · Nafas dangkal dan cepat · Ronkhi · Retraksi dinding dada · Pernafasan cuping hidung (menunjukkan telah digunakannya semua otot-otot bantu pernafasan dalam usaha mengatasi sesak yang terjadi) · Hiperinflasi toraks (dada seperti gentong) Gejala klasik dari asma bronkial ini adalah sesak nafas. Pada serangan asma yang lebih berat . Asma persisten berat. antara lain : silent chest.

alergen bereaksi dengan antibodi yang telah terlekat pada sel mast dan menyebabkan sel ini akan mengeluarkan berbagai macam zat. Pada asma. Gambar 2. zat anafilaksis yang bereaksi lambat (yang merupakan leukotrient). diantaranya histamin.sebagai berikut : seorang yang alergi mempunyai kecenderungan untuk membentuk sejumlah antibody IgE abnormal dalam jumlah besar dan antibodi ini menyebabkan reaksi alergi bila reaksi dengan antigen spesifikasinya. antibody ini terutama melekat pada sel mast yang terdapat pada interstisial paru yang berhubungan erat dengan brokhiolus dan bronkhus kecil. mekanisme asma Efek gabungan dari semua faktor-faktor ini akan menghasilkan adema lokal pada dinding bronkhioulus kecil maupun sekresi mukus yang kental dalam lumen bronkhioulus dan spasme otot polos bronkhiolus sehingga menyebabkan tahanan saluran napas menjadi sangat meningkat. . Bila seseorang menghirup alergen maka antibody IgE orang tersebut meningkat. faktor kemotaktik eosinofilik dan bradikinin.

tetapi sekali-kali melakukan ekspirasi. maka sumbatan selanjutnya adalah akibat dari tekanan eksternal yang menimbulkan obstruksi berat terutama selama ekspirasi. Penyempitan saluran nafas Pada asma. Karena bronkiolus sudah tersumbat sebagian. Pada penderita asma biasanya dapat melakukan inspirasi dengan baik dan adekuat. diameter bronkiolus lebih berkurang selama ekspirasi daripada selama inspirasi karena peningkatan tekanan dalam paru selama eksirasi paksa menekan bagian luar bronkiolus. Hal ini menyebabkan dispnea. Hal ini bisa menyebabkan barrel chest.Gambar 3. . Kapasitas residu fungsional dan volume residu paru menjadi sangat meningkat selama serangan asma akibat kesukaran mengeluarkan udara ekspirasi dari paru.

.hal ini untuk mengetahui adanya kemungkinan apakah ini penyakit herediter. Keluhan utama: sesak nafas.. -Apakah sesak nafasnya terjadi pada waktu berolahraga?.....Riwayat Penyakit Keluarga : Mungkin ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau penyakit alergi yang lain....waktu istirahat?.mulai sejak sebelum keluhan utama.demam Semua keluhan biasanya bersifat episodik dan reversible.semburan pasir?....demam?. b.atau suka dengan bunga?hal-hal ini di tanyakan untuk mengetahui faktor dan hal-hal yang memicu terjadinya sesak nafas.apakah ada riwayat penyakit asma bronkial di dalam keluarga? d.apakah ada riwayat penyakit asma bronkial di dalam keluarga? e.seperti:apakah pasien menyukai binatang periaraan yg memunyai bulu? apakah pasien punya kebiasaan memakai kipas angin?.atau memelihara hewan berbulu? c.. Keluhan tambahan:nyeri dada..atau penyakit infeksi.Riwayat pribadi Untuk mengetahui apakah ada hubungannya penyakit asma yang diderita pasien debgan kebiasaan pasien...perlu ditanyakan hal-hal berikut ini: -Sudah berapa lama anda menderuta sesak nafas? -Apakah sesak nafas itu terjadi secara tiba-tiba? -Apakah sesak nafasnya terjadi secara terus-menerus.sampai datang berobat.BAB II ANAMNESA YANG TERKAIT TRIGGER 2.sudah berapa lama?dan berapa banyak? -Apakah anda pernah terpapar debu?.Riwayat Penyakit Keluarga : Mungkin ada riwayat keluarga dengan penyakit yang sama atau penyakit alergi yang lain...duduk? -Apa yang membuat sesak nafasnya memburuk?Apa yang meredakannya? -Apakah sesak nafasnya disertai wheezing?.parau? -Apakah anda meroko?jika iaya.nyeri dada?..batuk....batuk?...hal ini untuk mengetahui adanya kemungkinan apakah ini penyakit herediter..Riwayat Penyakit Dahulu : Tanyakan apakah pasien pernah dirawat?tanyakan obat-obat yang pernah diminum pasien? apakah pernah melakukan pemeriksaan seperti foto paru? d....batuk darah?.palpitasi?..berbaring lurus?.. Riwayat penyakit sekarang Merupakan cerita kronologis..atau penyakit infeksi. • Kepada pasien dengan keluhan sesak nafas. .terinci tentang kesehatanpasien.1Anamnesa a.

auskultasi 1. Latimus dorsi untuk membantu mengatasi meningkatnya tahanan terhadap aliran keluar selama ekspirasi.Suatu teknik yang lazim pasien dengan obstruksi bronkus cendrung memegang sisisisi tempat tidur dan mengunakan m.PALPASI Palpasi adalah “meletekkan tangan”(meraba).seperti stridor dn wheezing ?berkaitan dengan obstruksi aliran udara. c) Inspeksi leher Perhatikan apakah pernafasan pasien dibantu oleh kerja otot-otot tambahan?pemakaian otototot tambahan adalah salah satu tanda paling dini adanya obstruksi salurn nafas seperti yg terjadi pada asma.pemeriksaan meliputi: 1. Perkusi 4.baik dada bagian posterior maupun dada bagian anterior .2. apakah ada sianosis? b) Inspeksi sikap tubuh Pasien dengan obstruksi saluran pernafasan cendrung memilih posisi dimana mereka dapat menyokong lengan mereka dan memfiksasi otot-otot bahu dan leher untuk membantu respirasi.palpasi dipakai untuk pemeriksaan dada meliputi: • • • Pergerakan dada kanan dan kiri Fremitus suara Daerah nyeri tekan .pemeriksaan fisik dilakukan di daerah dada.2 Pemeriksaaan Fisik Pada penderira yang diduga mengidap asma bronkial. Inspeksi 2.yaitu: a) Inspeksi ekspresi wajah Apakah pasien dalam keadaan menderita akut?apakah cuping hidung mengembang?atau bernafas dengan bibir dikerutkan?apakah ada tanda-tanda pernafasan yg bisa didengar.INSPEKSI  Perhatikan pasien • Tampak gelisah? Sesak? Susah bernafas? • Posisi penderita • Gerakan dada • Bentuk dada • Tipe pernafasan • Frekwensi nafas – dangkal/dalam • Pernafasan cuping hidung • Sianosis  Teknik Inspeksi. 2. Palpasi 3.

menimbulkan bunyi redup. .dengan nada tinggi.paru-paru mengembang secara berlebihan. Pada penyakit paru menyebabkan satu sisi dada bergerak lebih sedikit ketimbang sisi lain.menghasilkan bunyi sonor dengan ampliudo tinggi dan tinggi nada lebih rendah.ini disebut fremitus taktil.berlangsung singkat.Keadaankeadaan klinis yang mengurangi penghantaran gelombang suara ini akan mengurangi fremitus taktil.dengan itu pemeriksa dapat menilai perbedaan penghantaran suara didinding dada.seperti hati.bila seseorang mempalpasi dinding dada ketika ia sedang berbicara .seperti lambung.  Teknik pemeriksaanya: Letakkan sisi ulnar tangan kanan pada dinding dada.maka fremitus taktil akan melemah. Jika terdapat jaringan lemak. c)Pemeriksaan fremitus taktil  Prinsip fremitus taktil Kata yang diucapakan menimbulan getaranyang dapat didengar bila seseorang mendengarnya di dada dan paru-paru. • Perkusi diatas struktur yang mengandung udara dan jaringan .dan minta pasien mengatakan 77.dan bergaung. • Perkusi diatas masa oto besar . 3.fremitus taktil digerakkan dan tangan pemeriksa digerakka ke posisi yang sama pada sisi yang berlawanan. • Perkusi diatas struktur berlubang dan berisi udara.dan amplitudo rendah tanpa resonansi.ini disebut fremitus vokal.menghasilkan bunyi timpani.PERKUSI  Prinsip Perkusi Prinsip perkusi adalah mengetuk pada permukaan untuk menentukan struktur dibawahnya. b) Pemeriksaan pergerakan dada posterior Tangan diletakkan di punggung pasien secara mendatar dgn ibu jari sejajar garis tengah kirakira setinggi iga ke sepuluh dam menarik garis sedikit ke arah garis tengah. Teknik palpasi a) Palpasi untuk nyeri tekan Semua daerah dada harus diperiksa untuk mengetahui adanya daerah-daerah nyeri tekan.getaran ini dapat dirasakan .perhatikan simetri gerakan tangan.meminta pasien untuk berbicara lebih keras akan meningkatkan sensasi taktil. Pasien diminta untuk menarik nafas dalam dan pehatikan gerakan tangan.seperti paruparu.dengan nada tinggi.seperti paha menimbulkan bunyi pekak. • Perkusi di atas organ padat .adanya udara atau cairan di rongga dada.

bel harus ditempelkan secar longgar pada kulit.kasar. 3) Bronkovikuler Bunyi campuran antara bunyi bronkial dan vesikular.dan dengan tinggi nada tinggi. 4) Vesikular Bunyi lemah dengan tinggi nada rendah yang terdengar kebanyakan diatas lapangan paru.  Jenis-jenis bunyi pernafasan. 4.yaitu: 1) Trakeal Bunyi yang sangat keras.AUSKULTASI  Prinsip auskultasi Auskultasi adalah teknik mendengarkan bunyi yang dihasilkan didalam tubuh.SUARA NADA WAKTU DENSITAS Pekak Redup Sonor Hipersonor Timpani > Tinggi Tinggi Normal Rendah > Rendah > Pendek Pendek Normal Panjang > Panjang Padat Udara < Normal Udara > Udara  Teknik perkusi Perkusi dada memakai jari tengah yang diletakkan dengan kuat pada dinding dada sejajar dengan iga pada sela iga dengan telapak tangan tangan dan jari lain tidak menyentuh dada tersebut.auskultasi dada digunakan untuk mengenali bunyi paru-paru.sebalikny diaphragma ditempalkan lebih kuat pada kulit.ujung jari tengah tangan kanan mengetuk dengan cepat dan tajam pada falang terminal jari kiri terletak diatas dinding dada. 2) Bronkial Bunyi yang keras dengan tinggi nada tinggi.bukan dari siku.gerakan jari pengetuk harus berasal dari pergelangan tangan.sedangkan diaphragma untuk menditeksi bunyi dengan tinggi nada lebih tinggi. Stetoskop mempunyai 2 bagian yaitu:bel dan diaphragma.yang terdengar pada bagian trakea ekstratoraks.biasanya alat yang digunakan adalah stetoskop. • • • Suara nafas normal pada bayi adalah bronkhovesikuler Suara nafas normal pada anak besar vesikuler Suara tambahan : -Wheezing .dimana bel dipakai untuk menditeksi bunyi dengan tinggi nada rendah.

-Stridor -Ronki basah halus / basah kasar. Auskultasi dada posterior Pemeriksaan harus dilakukan dari sisi kesisi.dari atas ke bawah . Auskultasi dada anterior Pemeriksaan dilakukan dengan posisi pasien duduk.  Teknik auskultasi a. .setelah itu pasien di seuruh berbaring. b.dengan membandingkan satu sisi dengan sisi lainnya..

maka dapat dilihat bentuk gambaran radiolusen pada paruparu. • Bila terjadi pneumonia mediastinum. · Creole yang merupakan fragmen dari epitel bronkus. maka gambaran radiolusen akan semakin bertambah.BAB III DIAGNOSIS 3. • Bila terdapat komplikasi. Pada waktu serangan menunjukan gambaran hiperinflasi pada paru-paru yakni radiolusen yang bertambah dan peleburan rongga intercostalis. • Bila terdapat komplikasi empisema (COPD). dan pneumoperikardium.000/mm3 dimana menandakan terdapatnya suatu infeksi. serta diafragma yang menurun. maka terdapat gambaran infiltrate pada paru • Dapat pula menimbulkan gambaran atelektasis lokal. maka kelainan yang didapat adalah sebagai berikut: • Bila disertai dengan bronkitis. atau asidosis. pneumotoraks. 3. umumnya bersifat mukoid dengan viskositas yang tinggi dan kadang terdapat mucus plug. .2Pemeriksaan penunjang 1.1Pemeriksaan Laboratorium 1. Pemeriksaan darah · Analisa gas darah pada umumnya normal akan tetapi dapat pula terjadi hipoksemia. · Netrofil dan eosinopil yang terdapat pada sputum. Pemeriksaan sputum Pemeriksaan sputum dilakukan untuk melihat adanya: · Kristal-kristal charcot leyden yang merupakan degranulasi dari kristal eosinopil. Akan tetapi bila terdapat komplikasi. Pemeriksaan radiologi Gambaran radiologi pada asma pada umumnya normal. · Spiral curshmann. maka bercak-bercak di hilus akan bertambah. · Hiponatremia dan kadar leukosit kadang-kadang di atas 15. 2. hiperkapnia. · Kadang pada darah terdapat peningkatan dari SGOT dan LDH. · Pada pemeriksaan faktor-faktor alergi terjadi peningkatan dari Ig E pada waktu serangan dan menurun pada waktu bebas dari serangan. yakni yang merupakan cast cell (sel cetakan) dari cabang bronkus.

Spirometri Untuk menunjukkan adanya obstruksi jalan nafas reversible. Tidak adanya respon aerosol bronkodilator lebih dari 20%. Pemeriksaan tes kulit Dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan berbagai alergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada asma. . Benyak penderita tanpa keluhan tetapi pemeriksaan spirometrinya menunjukkan obstruksi. yakni terdapatnya sinus tachycardia.2. Pemeriksaan spirometri tidak saja penting untuk menegakkan diagnosis tetapi juga penting untuk menilai berat obstruksi dan efek pengobatan. yakni terdapatnya RBB ( Right bundle branch block). cara yang paling cepat dan sederhana diagnosis asma adalah melihat respon pengobatan dengan bronkodilator. dan VES atau terjadinya depresi segmen ST negative. Elektrokardiografi Gambaran elektrokardiografi yang terjadi selama serangan dapat dibagi menjadi 3 bagian. Pemeriksaan spirometer dilakukan sebelum dan sesudah pamberian bronkodilator aerosol (inhaler atau nebulizer) golongan adrenergik. Peningkatan FEV1 atau FVC sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma. yakni pada umumnya terjadi right axis deviasi dan clock wise rotation. SVES. 5. 3. • Scanning paru Dengan scanning paru melalui inhalasi dapat dipelajari bahwa redistribusi udara selama serangan asma tidak menyeluruh pada paru-paru. dan disesuaikan dengan gambaran yang terjadi pada empisema paru yaitu : • perubahan aksi jantung. • Tanda-tanda hopoksemia. • Terdapatnya tanda-tanda hipertropi otot jantung.

Fenoterol (berotec) . Menghilangkan obstruksi jalan nafas dengan segara. 2. Karena sering merangsang lambung bentuk tablet atau . Ada juga yang berbentuk bubuk halus yang dihirup (Ventolin Diskhaler dan Bricasma Turbuhaler) atau cairan broncodilator (Alupent. tetapi cara kerjanya berbeda.BAB IV PENATALAKSANAAN 4. Santin (teofilin) Nama obat : . Memberikan penerangan kepada penderita ataupun keluarganya mengenai penyakit asma. Mengenal dan menghindari fakto-faktor yang dapat mencetuskan serangan asma 3. suntikan dan semprotan. Pengobatan farmakologik : Bronkodilator : obat yang melebarkan saluran nafas.Terbutalin (bricasma) Obat-obat golongan simpatomimetik tersedia dalam bentuk tablet. Simpatomimetik/ andrenergik (Adrenalin dan efedrin) Nama obat : . yaitu: 1. baik pengobatannya maupun tentang perjalanan penyakitnya sehingga penderita mengerti tujuan penngobatan yang diberikan dan bekerjasama dengan dokter atau perawat yang merawatnnya. sirup. Berotec. Cara pemakaian : Bentuk suntikan teofillin / aminofilin dipakai pada serangan asma akut. Pengobatan pada asma bronkhial terbagi 2.Aminofilin (Euphilin Retard) . Sehingga bila kedua obat ini dikombinasikan efeknya saling memperkuat. Yang berupa semprotan: MDI (Metered dose inhaler).Teofilin (Amilex) Efek dari teofilin sama dengan obat golongan simpatomimetik. b.Aminofilin (Amicam supp) . Pengobatan non farmakologik: • Memberikan penyuluhan • Menghindari faktor pencetus • Pemberian cairan • Fisiotherapy • Beri O2 bila perlu.1 Penatalaksanaan Prinsip umum pengobatan asma bronchial adalah : 1. 2.Orsiprenalin (Alupent) . dan disuntikan perlahan-lahan langsung ke pembuluh darah. brivasma serts Ventolin) yang oleh alat khusus diubah menjadi aerosol (partikel-partikel yang sangat halus ) untuk selanjutnya dihirup. Terbagi dalam 2 golongan : a.

.leukotrien antagonis S . Teofilin ada juga dalam bentuk supositoria yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam anus.beta agonis jangka panjang . 4.Pemulihan cepat dari eksaserbasi akut 2.yaitu: 1.Beta agonis aksi pendek.kortikosteroid inhalasi .2TERAPI Terapi medikasi asma dibagi menjadi 2 kategori.mengatasi eksaserbasi akut asma . Supositoria ini digunakan jika penderita karena sesuatu hal tidak dapat minum teofilin (misalnya muntah atau lambung kering).sirupnya sebaiknya diminum sesudah makan. antikolinergik dan kortikosteroid sistemik. Itulah sebabnya penderita yang mempunyai sakit lambung sebaiknya berhati-hati bila minum obat ini.nedocromil . Quick relief : .methylxantine . Medikasi kontrol jangka panjang : .cromolyn sodium .

Jakarta: EGC. Rab. Jakarta : AGC. Crompton. (2000) “Rencana Asuhan Keperawatan”. Rab. Apa dan Bagaimana Pengobatannya”. dikutip dari Ilmu Penyakit Dalam. M. M. A. M. Guyton & Hall (1997) “Buku Ajar Fisiologi Kedokteran”. (1980) “Diagnosis and Management of Respiratory Disease”. G. 2004. R. Roux. 2005. (1998) “Agenda Gawat Darurat”. H. Robin and Cotran Pathologic Basics of Disease 7th Edition : Elseiver Saunders Kasper Dennis L. J. Blacwell Scientific Publication. Philadelpia : Lea & Febiger. L. Jakarta : EGC. Jakarta : Info Medika. Buku Satu. & Geissler.. C. L. Abbas. Doenges. Jakarta : Hipokrates. E. (1996) “Ilmu Penyakit Paru”.DAFTAR PUSAKA Baratawidjaja. dan Lorraine M. Brunner & Suddart (2002) “Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah”. Price. (1995) “Asma . A. G & Lockhart. (1990) “Asma Bronchiale”. Moorhouse. Jakarta : Hipokrates. Sundaru. Kumar. T. Harrison's Principles of Internal Medicine 16th Edition: McGraw-Hill Professional . Fausto. (1995) “Pulmonary Disease”. Wilson. T. Jakarta : EGC. (1999) “Keperawatan Medikal Bedah”.. Jakarta : EGC. Sylvia A. Jakarta : FK UI. et. Price. (1995) “Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit”. Crockett. Pullen. Staff Pengajar FK UI (1997) “Ilmu Kesehatan Anak”. (1997) “Penanganan Asma dalam Penyakit Primer”. R. Jakarta : FK UI.1994. C. Jakarta : Salemba Medika. Patofisiologi konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 4. Jakarta : EGC. Volume 1. S & Wilson.al. F. Hudak & Gallo (1997) “Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik”. Reeves. Jakarta : Hipocrates. K.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->