P. 1
6655-Kondisi Ekspor Impor Kedelai

6655-Kondisi Ekspor Impor Kedelai

|Views: 1,034|Likes:
Published by driremes

More info:

Categories:Types, Letters
Published by: driremes on Dec 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/29/2013

pdf

text

original

/'f.mbangrIRM Sf!lilor 1'f.rluaian di Er« t;11)bllli.

~IL~i

Bab 3

KONOISI EKSPOR DAN IMPOR SUBSEKTOR TANAMAN KEDElAI OJ ERA GlOBAlISASI

Oleh: Nurlia Lis/jail!

3.1 Pendahuluan

Globalisasi dapat membuat perubahan tatanan perekonomian dalam suatu negara menjadi lebih maju atau bahkan menjadi semakin tertinggal. Perubahan tersebut terjadi karena dengan adanya globalisasi, maka kesempatan dan peluang untuk bersaing di tingkat dunia internasional pad a produk yang sarna akan semakin ketat. Salah satu bentuk dari adanya globalisasi adalah perdagangan bebas. Oalam perdagangan bebas, khususnya pada sektor pertanian. globalisasi telah membuat pembangunan sektor pertanian menjadi terhambat. Keadaan ini disebabkan persaingan yang sangat ketat dari produk-produk pertanian sejenis yang diimpor. Salah satu produk pertanian dalam hal ini tanaman pangan, yang memiliki persaingan ketat dengan produk impor yaitu komoditi kedelai. 8ahkan sampai sekarang ini produk kedelai dalam negeri masih kalah bersaing dengan produk kedelai impor (Pearson, 2005).

Meningkatnya permintaan akan kebutuhan pangan khususnya pad a kedelai dan berkembangnya industri pengolahan pangan yang menggunakan kedelai sebagai bahan baku menyebabkan tingkat kebutuhan konsumsi kedelai menjadi meningkat. Saat ini tingkat kebutuhannya mencapai lebih dari 2,24 juta setiap tahunnya. Padahal, produksi kedelai di dalam negeri hanya mampu memenuhi sekilar 32 persen konsumsi domestik, sedangkan sisanya harus diperoleh melalui impor (Malian. 2004). Keadaan terse but membuat Indonesia menjadi negara ketiga pengimpor kedelai terbesar setelah Cina dan Jepang.

Impor kedelai Indonesia diperkirakan akan semakin besar pada tahun mendatang, karena tidak adanya proteksi dari pemerintah seperti dengan dipermudahnya tataniaga impor: berupa dlhapuskannya monopoli Bulog sebagai

44

l'rnrlJllllglllllliiSekliJr Perlalliandi Bm (;/(lbalimsi

tunggal serta dibebaskannya bea masuk dan pajak pertambahan nilai kedelai. Subsidi ekspor yang dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai pengimpor utama kedelai di Indonesia juga membuat kedelai impor

<,o,,..,,,,1<"1n menguasai pasaran dalam negeri.

Kondisi ini bertentangan dengan kebijakan yang diterapkan pada negara berkembang. Sebagai contoh, India, Gina, dan Thailand yang menerapkan tarif bea masuk untuk komoditi kedelai sebesar 75 persen, 141,82 persen, dan 25persen. Penerapan kebijakan tersebut membuat komoditi kedelai negara ··tersebutdapat bersaing dengan kedelai impor dan membuat petani kedeJai merasa terlindungi. OJeh sebab itu, pemerintah seJaku pihak yang memiliki peran penting dalam penerapan kebijakan, harus dapat mengkaji uJang kebijakan yang telah diterapkan agar menguntungkan semua pihak dan meningkatkan produktivitas kedelai Indonesia.

Bab ini bertujuan untuk mengungkapkan kondisi ekspor dan impor tanaman pangan dl Indonesia, khususnya pada komoditas kedelai, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhinya, bagaimanakah kebijakan perdagangannya, pengaruhnya terhadap perdagangan domestik, dan dapatkah Indonesia melepaskan diri dari ketergantungan irnpor dan berubah menjadi negara pengekspor. Kemudian dalam beberapa aspek akan dibandingkan dengan kondisi yang dimiliki oleh negara lain. Dipilihnya ~moditas kedeJai karena kedeJai merupakan salah satu komoditas tanaman pan~n yang pasokannya semakin tidak dapat dipenuhi di dalam negeri. Sekalipun ditan~ dengan cara yang paling sederhana pun, produktivitas dan produksinya dala~ negeri tetap saja tidak dapat memenuhi permintaan yang semakin meningka~ Untuk tahun 1989 irnpor kedeJai masih dibawah 400.000 ton, sedangkan pada tahun 1996, irnpor melonjak menjadi mendekati 800.000 ton. Besarnya angka imp6r tersebut merupakan salah satu indikator bahwa kebutuhan

,

kedelai sangat besar untuk memenuhi kebutuhan penduduk. Hal itu disebabkan kedeJai merupakan bahan utama dalam berbagai jenis produk olahan. Namun sebelum melangkah pada aspek-aspek yang dikemukakan di atas, terlebih dahulu diberikan gambaran perkembangan kondisi ketahanan pang an Indonesia sa at ini.

45

[>~mbangllnan Seklor ')forlunian dj Era t;lobaU,msi

3.2 Kondisi Ketahanan Panqan Indonesia

Kondisi ketahanan pangan Indonesia saat ini berdasarkan indikator ketahanan pang an tahun 2000, kondisinya balk secara makro, tetapi rentan secara mikro. Ini karena walaupun secara makro ketersediaan pangan telah memenuhi standar kecukupan, namun kecukupan tingkat nasional tersebut tidak tercermin dalarn tingkat konsumsi pangan per kapita. Kondisi ini terlihat dari tingginya balita yang mengalami kekurangan gizi dan gizi buruk sertabanyaknya ibu-ibu hamil dan menyusui yang mengalami kekurangan energi kronis (Achmad Suryana, 2003)

Sebenarnya yang menjadi inti persoalan dalam mewujudkan ketahanan pangan yaitu terkait dengan adanya pertumbuhan permintaan pangan yang lebih cepat dari pertumbuhan penyediaannya. Tingginya permintaan pangan itu sejalan dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan ekonomi, peningkatan daya be Ii rnasyarakat, dan perubahan selera. Adanya dinamika dari sisi permintaan ini menyebabkan kebutuhan pang an secara nasional meningkat dalarn jumlah, mutu, dan keragaman, tetapi kapasitas produksi pangan nasional pertumbuhannya lambat atau rnalah stagnan. Dengan demikian, bila persoalan ini tidak dapat diatasi, kebutuhan impor menjadi semakin membengkak yang pada level tertentu apabila terjadi ketergantungan yang sangat tinggi dapat membahayakan kedaulatan negara.

Seperti terlihat pada tabel 3.1 dibawahini, dalam kurun waktu 5 tahun (1999/2003) jumlah impor produk bahan pangan selalu lebih besar daripada jumlah ekspornya. Keadaan tersebut membuat neraca perdagangan produk pertanian hasil tanaman pangan selalu dalam poslsi defisit. Impor produk pang an tersebut di dominasi oleh beras, kedelai, dan jagung yang merupakan komoditas utama tanaman pangan. Untuk komoditas padi (beras), sejak tahun 2000 kondlsi impornya mengalami penurunan yang cukup tajam bila dibandingkan dengan tahun 1999. Pad a tahun 1999 jumlah impornya mencapai 4.748.059,64 ton, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya jumlahnya telah mengalami penurunan dan tidak sampai mencapai 1.500.000 ton. Komoditas jagung, kondisi impornya selalu meningkat setiap tahunnya, dengan volume impor pad a tahun 2003 adalah 1.345.446 ton, sedangkan pada tahun sebelumnya rata-rata hanya mencapai 1.017.998,3 ton per tahun. SebaJiknya, untuk ekspornya walaupun belum dapat

46

Pf'lIIblllll{lIIl11ll Se/;lar Perlanillll di Bra GlllbalislI!li

jumlah impornya, jumlah ekspor jagung ini cukup tinggi bila dibandingkan padi. Untuk komoditas kedelai rata-rata volume impornya selama 5 tahun sebesar 1.254.766 ton, dengan jumlah impor terbesar pada tahun 2002 1.365.253 ton. Sedangkan untuk rata-rata volume ekspornya hanya sebesar ton, dengan jumlah ekspor terbesar pada tahun 2001 (1.188,05 ton).

Tabel3.1

Volume Ekspor, Impor, dan Produksi Komoditas Utama Tanaman Pangan 1999/2003 (Ton)

.< .
.. ; .: Komoditas Tahun
1999 2000 2001 2002 2003
.: , .. Impor 4.748.059.64 1.354.901.04 642.168.01 1.798.144 1.427.375
~pkdi (Berns) Ekspor 2.699.99 1.189.36 3.925.97 4.946 676
)' .. " Produksi 50.866.000 51.899.000 50.461.000 51.490.000 52.138.000
Impor 618.059.97 1.264.575.03 1.035.296.97 1.154.063 1.345.446
i JagLing Ekspor 90.645.85 28.065.87 90.473.86 16.306 33.691
... 1,' Produksi 9.204,000 9.677.000 9.347.000 9.654.000 10.886.000
Impor 1.301.755 1.277.685 1.136.419 1.365.253 1.192.717
I: Kedelai Ekspor 5 521 1.188 235 169
Produksi 1.383.000 1.018.000 827.000 673.000 672.000 Sumber; BPS drolah. Tahun 199912003.

Negatifnya neraca perdagangan komoditas tanaman pang an tersebut selain disebabkan oleh jumlah impor produk pangan yang lebih besar bila dibandingkan dengan jumlah ekspornya, jugadisebabkan pula oleh jumlah produksinya selama kurun waktu tersebut yang relatif lambat atau stagnan. Untuk komoditas padi (beras) jumlah produksinya paling tinggi pada tahun 2003 yaitu sebesar 52.138.000 ton [urnlah lni mengalami kenaikan bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Walaupun dengan laju pertumbuhan yang hanya sebesar 2,5 persen selarna 5 tahun terakhir (1999/2003). Untuk Jagung total produksinya juga mengalami peningkatan, dengan total produksi sebesar 18.886.000 ton (2003) yang merupakan total produksi terbesar. Laju kenaikan produksi jagung ini relatif lebih baik bila dibandingkan dengan padi yaitu sebesar 18,3 persen. Sedangkan untuk komoditas kedelai, laju produksinya selama 5 tahun terakhir semakin menurun, dimana jumlah produksi kedelai dalam negeri setiap tahunnya seJalu menurun sehingga menyebabkan impor kedelai semakin tinggi setiap tahunnya.

47

1'~lIIb(lllgllnlln Seklur I'erlaninn di Era Globalisll$l

Dari data tersebut terlihat bahwa memang Indonesia mengimpor pangan dengan jumlah yang besar setiap tahunnya. Pada produk pang an utama seperti beras dan gulaseJain untuk kecukupan pangan bagi rakyat juga sebagai sumber pendapatan bagi mayoritas petani. Namun, yang terjadi yaitu tidak adanya perlindungan terhadap petani seperti tarif dan insentif lainnya, yang ada bahwa pemerintah mencabut subsidi untuk petani padahal negara-negara besar seperti Amerika justru semakin meningkatkan subsidinya (Santoso, 2005).

Tampaknya pemerintah Indonesia lebih patuh pada kesepakatan multilateral seperti WTO, dibandingkan dengan memberikan perlindungan pada petani. Pada tahun 2003, petani masih harus mengalami kejaluhan harga akibat dari serbuan impor pang an negara lain dan kondisi tersebut tanpa adanya perlindungan yang memadai dari negara. Bahkan ketahanan pangan yang dipilih sebagai pijakan kebijakan pangan nasional hanya peduli pad a bagaimana pang an bisa tersedia, dan tidak menegaskan bagaimana pangan tersebut dapat diperoleh dan siapa yang menyediakannya (Swasono, Harian Bernas, 2004). Apabila tidak ada upaya yang cukup radikal dalam mengatasi persoalan pangan ini, pada tahun-tahun selanjutnya situasi pangan rakyat akan telap terpuruk dan berpotensi secara multiplier effect pada kerentanan sosial yang dapat berdampak semakin besar dan kompleks.

48

3.3 Mengapa Impor Kedelai?

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk dan berkembangnya industri olahan dari perkotaan hingga pedesaan telah membuat kebutuhan akan kedelai nasional selalu meningkat setiap tahunnya. Menurut Manurung dalam Deptan (2004), pada tahun 2004 diperkirakan kebutuhan kedelai akan mencapai 1.951.000 ton, sedangkan produksi kedelai beberapa tahun terakhir ini cenderung menurun. Pad a tahun 1999 produksi kedelai mencapai 1.383.000 ton, dan pada tahun 2002 mencapai 673.000 ton, kemudian pad a tahun 2003 hanya mencapai 671.000 ton. Oleh sebab itu, untuk menutupi kekurangannya terpaksa dilakukan impor sekitar 1,1 juta sampai dengan 1,3 juta tonftahunnya.

I'tlltb(lll",uuillin Seklil(PerlanillJldi~~~·~I~q~!isi1si·

Menurunnya produksi tanaman kedelai ini tidak saja disebabkan oleh faktor 'produktivitasnya yang rendah, melainkan juga karen a terdapat faktor-faklor penting lainnya. Pertama, menurunnya gairah petani untuk menanam kedelai karena dianggap kurang menguntungkan dibandingkan apabila menanam komoditi 'Iainnya. Hal itu disebabkan banjirnya kedelai impor dengan harga yang lebih murah dan kualitas yang lebih baik bila dibandingkan dengan kedelai dalam negeri sehingga membuat produksi dalam negeri kalah bersaing dalam pasar .

. . Kedua, yaitu keterbatasan kemampuan petani berlahan sempit dalam menerapkan teknologi tepat guna yang menyebabkan tingkat produktivitas usaha tani relatif stagnan. Keterbatasan ini disebabkan oleh faktor ekonomi, yaitu harga input yang relatif rnahal dibandingkan dengan penghasilan yang dapat diperoleh petani dari lahannya. Walaupun sekarang semakin banyak tenaga kerja yang terdidik di pedesaan, tetapi mereka enggan untuk bekerja di sektor pertanian. Mereka lebih rnernilih untuk bekerja di luar sektor pertanian yang menjanjikan penghasilan yang lebih tinggi. Keadaan tersebut juga semakin mempersulit peningkatan dan perkembangan produksi pangan dalam negeri.

Ketiga, keterbatasan modal petani terutama untuk membell sarana produksi seperti bibit unggul, pupuk, obat-obatan pembasmi hama, dan sebagainya. Keempat, fenomena iklim yang semakin tidak menentu karena pengaruh global warming yang diakibatkan oleh ernlsl karbon dan penebangan hutan yang berlebihan. Khususnya untuk tanaman kedelai diharuskan iklim yang sesuai dengan daerah asal kedelai karena dapat berpengaruh terhadap produksi. Kemudian banyaknya serangan hama dan penyakit menyebabkan petani enggan menanam kedelai. Walaupun pada kenyataannya negara lain yang juga beriklim tropis, tetapi mereka mampu memproduksi kedelai dengan volume yang tinggi.

Kelima, rnasih belum optimalnya dukungan dari pemerintah untuk usaha peni'ngkatan produksi kedelai, baik pad a kebijakan import kebijakan permodalan, ataupun kebijakan sarana produksi. Ditinjau dari sisi kebijakan lrnpornya untuk kedelai, yang dilakukan pemerintah rnulai bulan Januari 2005, yaitu dengan mulai menetapkan bea masuk impor kedelai sebesar 10 persen telah membuat harga kedelai dalam negeri menjadi lebih meningkat dan dapat sedikit meningkatkan min at petani untuk menan am kedelai (Bali Post, 2005).

49

l'emban.,"Ulltm Sekloi'Periailiandi Ei'a'CI(lfj~lisa.~i

Keenam, adanya penerapan subsidi oleh negara maju yang berdampak pada menurunnya harga produk pertanian di pasar dunia. Hal itu telah berlangsung secara terus menerus selarna implementasi Agreement on Agricultural, pada saat dim ana Indonesia menerapkan trade liberalization secara sepihak seperti yang dllakukan dalarn konteks AFTA dengan tarif MFN sebesar 0-5persen (kecuali untuk beras dan gula). Selain itu, menurut Malian (2004), pemberian subsidi ekspor yang dilakukan oleh Amerika Serikat sebagai negara eksportir terbesar dunia kepada Indonesia juga merangsang para importir kedelai untuk memanfaatkan fasllitas tersebut. Akibatnya, impor kedelai semakin banyak masuk ke pasar dalam negeri.

3.4 Situasi Pasar Kedelai Dunia 3.4.1 Keadaan Produksi Kede/ai Dunia

Negara produsen utama kedelai dunia terbesar adalah Amerika Serikat dengan share ratio sebesar 47persen. Kemudian diikuti oleh Brazil sebesar 20persen, Argentina 13persen, Cina 9persen, dan lainnya 11 persen (Grafik 3.1). Selama kurun waktu 5 tahun (1999/2003) keempat negara ini telah menyumbangkan tidak kurang dari 90persen produksi kedeJai dunia. Sementara Indonesia hanya mampu berkontribusisebesar 0.6persen (Tabel 3.2). Padahal, Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki patensi yang besar terhadap hasil pertanian.

50

/'ern/m"gIlRillt SrilillJi' /'erlaainndiJira (;Itlbali.~a~i

Grafik 3.1.

Share Negara Utama Kedelai Dunia 1999/2003

Sumber: FAG. Tstum 199912003

Pad a Tabel 3.2 di bawah ini terJihat bahwa, rataan produktivitas di empat negara produsen kedelai nampak cukup tinggi yaitu 33,8 ton per hektar, dengan tingkat rataan produktivitas di Amerika Serikat sebesar 3,3 ton per hektar, Brazil sebesar 13,3 ton per hektar, Gina sebesar 0,3 dan Argentina sebesar 16.9 ton per hektar. Karena pangsa produksi keempat negara produsen utama ini cukup besar dengan produktivitas yang tinggi, tidak mengherankan apabila rataan hasil per hektar kedelai dunia hampir mendekati rataan negara produsen utama, yaitu 35,2 ton per hektar. Sementara tingkat yang dapat dlcapai oleh Indonesia masih sangat rendah sekali, yaitu hanya 3,5 persen dari rataan produktivitas kedelai dunia.

Tabel3.2

Pertumbuhan Produksi, Area, dan Produktivitas Kedelai Indonesia, Negara Produsen Utama dan Dunia Tahun 1999/2003

Uraian Indonesia Negara Produsen Utama Lainnya Dunia
USA Brazil Cina Arcenfina
Rataan Produksi 914.65 73.510 39.042 15.446 26.409 8.09 163.412
(000 Ion)
RataanArea 745,4 22.460 2.930 54.591 1.561 4.631 88.918.4
(000 Hal
Rataan Produktivilas 1,2 3,3 13,3 0,3 16,9 0,2 35.2
{Ton per Hal Sumber. FAG Production Year Book, 1999/2003

51

-------------

3.4.2 Po/a ekspor Kede/ai Negara-Negara Produsen Utama

Tingkat produktivltas tertinggi dar! keempat negara produsen utama kedelai adalah Argentina yang sentra produksinya masih diwarnai oleh peningkatan hasil per hektar. Peningkatan produktivitas di Argentina ini lebih cenderung land saving, yaitu peningkatan kemampuan lahan untuk menghasilkan. Walaupun rataan produksinya masih di bawah Amerika Serikat dan Brazil tetapi karena dilakukan penanganan yang serius oleh pemerintah setempat rnelalul penggunaan teknologi yang tepat guna, bibit unggul, dan sebagainya, maka tingkat produktivitasnya pun menjadi tinggi. (Soekartawi, 2002) menjelaskan bahwa luas lahan pertanian akan mempengaruhi skala usaha, pada akhirnya akan mempengaruhi efisiensi atau tidaknya suatu usaha pertanian. Sering dijumpai bahwa semakin luas lahan yang dipakai sebagai usaha pertanian, rnaka akan semakin tidak efisien lahan tersebut. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa luasnya lahan mengakibatkan upaya untuk melakukan tindakan yang mengarah pada segi efisiensi akan berkurang, karena lemahnya pengawasan terhadap penggunaan faktor produksi. terbatasnya persediaan tenaga kerja,dan terbatasnya persediaan modal. Kondisi itulah yang terjadi di Gina, walaupun Gina merupakan salah satu negara produsen utama kedelai dunia, tetapi di lain pihak tingkat produktivitasnya masih rendah, bahkan bila dibandinqkan dengan Indonesia pun masih lebih baik Indonesia. Apabila Cina lebih memperhatikan pertanian kedelainya dengan peningkatan kemampuan lahan yang lebih efektif dan efisien, maka suatu saat tingkat produktivitasnya dapat meningkat tajam.

Sepanjang tahun 1999/2003 pangsa ekspor kedelai dunia di dominasi oleh.

Amerika dengan share rasio sebesar 58persen, negara ini juga merupakan produsen utama kedelai dunia. Kemudian diikuti oleh Brazil, Argentina, dan Paraguay sebesar 22 persen, 8 persen, dan 5 persen secara berturut-turut (Grafik 3.2) Untuk ekspor dunia ternyata Gina tidak termasuk kedalam negara eksportir utama kedelai, karena walaupun Cina termasuk pada negara produsen utama dunia tetapi jumlah produksi yang ada belum dapat memenuhi kebutuhan penduduknya yang sangat tinggi. Oleh sebab ltu, Gina harus mengimpor kedelai

52

· .... ········;;·./'J/rib((fIe,"Uii.~nSektoiPerlaniait·dFita·Glnbali~a.~i

dari negara lain dan Cina merupakan negara pengimpor dengan jumlah terbesar di

.--_._ .. _-----_._-----_.----

Grafik 3.2

Share Negara Eksportir Utama Kedelai Dunia Tahun 1999/2003

5% 7%

o USA • Brazil 0 Argentina 0 Paraguay • Lainnya

Sumber: USDA. Oio/ah Subdil Pemssersn Intemasional Tanaman Pangan. Tahun 2004

Pada Tabel 3.3 terti hat bahwa kondisi ekspor kedelai dari tahun 1999 sampai dengan 2003 retatif mengalami kenaikan setiap tahunnya. Walaupun sempat terjadi penurunan di tahun 2002. Diawali dengan tingkat pertumbuhan ekspor kedeJai dunia pada tahun 1999 yang hanya sebesar 5,8 persen, Kemudian pertumbuhan ekspor kedelai terus menqalami peningkatan setiaptahunnya seiring denqan semakin meningkatnya produksi yang dihasilkan oleh negara-negara tersebut. Pada tahun 2000 ekspor kedelai dunia mulai meningkat sebesar 17,7persen. Peningkatan ekspor tersebut terjadi sampai dengan tahun 2001, karena di tahun 2002 terjadi penurunan laju ekspor kedelai sebesar 4,1 persen yang diakibatkan oleh menurunnya hasil produksi Arnerika sebagai negara produsen pertama di dunia. Walaupun pada akhirnya kondisi laju ekspor dunia tersebut pulih kembali dengan adanya peningkatan laju ekspor sebesar 19,1 persen.

53

Tabel3.3

Volume Ekspor dan Laju Volume Ekspor Kedelai Negara Produsen Utama Tahun 1999/2003 (Ton)

Negara Tahun
1999 2000 2001 2002 2003
USA Ekspor 23.150.306 27.192.220 26.933.830 27.432.930 31.019.677
Laju ekspor 13,5 17,5 6,4 -5,2 13,1
Bmzil Ekspor 8.917.210 11.517.260 15.675.543 15.970.003 19.890.467
Laju akspor -3,9 29.2 36.1 1,9 24,5
Argentina Ekspor 3.065.436 4.122.890 7.364.865 6.163.391 8,709.581
Laju ekspor 7.8 34.5 78.6 -16,3 41.3
Paraguay Ekspor 2.048.333 1.795.768 2.342.272 1.775.366 1.727.363
Laju ekspor -2,9 -12,3 30.4 ·24.2 -2,7
Lainnya Ekspor 2.972.106 2.625.326 2.549.697 3.202.545 3.600.197
Laju skspor -10,9 -11.7 -2.9 25.6 12.4
Dunia Ekspor 40.153.391 47.253.464 56.866.27 54.544.235 64.947.285
Laju ekspor 5.8 17,7 20.3 -4.1 19.1 Sumber. FAO, Tahun 199812003

Dalam jangka waktu 10 tahun, berdasarkan penelltian yang dilakukan oleh Departemen Pertanian tahun 2004. adanya ekspansi dari eksportir dapat mengurangi share Amerika pad a pasar dunia menjadi 29persen, dibandingkan share pad a tahun 2002/2003 sebesar 45persen. Share ekspor Amerika untuk pasar soybean meal dan minyak kedelai juga akan menurun setelah tahun 2004/2005. Ekspor kedelai 2004/2005 akan menurun sebesar 1,2 juta ton menjadi 63,6 juta ton, Hampir semua negara eksportir utama akan mengalami hal ini, khususnya USA, Argentina dan Paraguay. Pengecualian terjadi pada Canada yang ekspor kedelainya diprediksi akan meningkat untuk tahun 2004/2005.

Selanjutnya, dari Tabel 3.4, apabila dilihat dari sisi perdagangan dunia, ternyata nilai ekspor kedelai dunia relatif bernilai positif setiap tahunnya. Keadaan itu disebabkan nilai ekspor yang selalu mengalami kenaikan. Kondisi terse but diakibatkan unit value yang rnerupakan bagian utama dalam ekspor selalu meningkat dari tahun ke tahun. Namun, pada kurun waktu tahun 2001-2002 terjadi penurunan laju ekspor yang cukup drastis, dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu dari 13.1 persen menjadi 3.7 persen. Turunnya laju ekspor pada kurun waktu tersebut disebabkan nilai ekspor dunia yang tidak mengalami peningkatan signifikan seperti pada tahun sebefumnya dan karena adanya penurunan harga

54

lil;;:'>" m_

l'emb(wgllRan ,lip,frlar I'p,rlanillll di Era Glilbalisa.~i

kedelai dunia dari US$ 182 pada tahun 2001 menjadi US$ 181 pada tahun 2002. Secara keseluruhan kondisi ekspor kedelai duma baik volume ekspor ataupun nilai skspor relatif mengalami kenaikan setiap tahunnya, serta di dominasi oleh negara Amerika Serikat dan Brazil. Keberhasilan negara tersebut dalam mengembangkan kedelainya disebabkan adanya dukungan "policaJ wilr dari pemerintah yang sangat besar, antara lain dalam bentuk subsidi agro input (benih, pupuk, dan obat-obatan), paralatan mekanisasi dan subsidi harga dengan penetapan harga jual (support

, price) 2 (Deptan Biro Kerjasama Luar Negeri, 2002), Disamping itu, adanya 'kebijakan penetapan tarif impor pada negara tersebut juga membuat kondisi pertanian kedelainya menjadi semakin terHndungi. Misalnya, India dan Cina yang

, inenerapkan tarif bea masuk cukup tinggi yaitu 75persen untuk India dan 141,82 persen untuk Cina, dimana tarif tersebut hampir mendekati tarif yang diterapkan oleh WTO (100 persen untuk India dan 180 persen untuk Cina). Thailand juga menerapkan tarif bea masuk sebesar 25 persen untuk komoditi kedelainya, sedangkan untuk negara Amerika Serikat, Uni Eropa menggunakan tarif sepesifik untuk kebanyakan komoditi pertaniannya.

Support Price yaitu bilamana harga pasar lebih rendah maka pernerintah wajib rncmbeli produksi petani (Deptan, 2002).

55

l'embllnguRtl/l.Sr.kllJr l'erlanjn.ndiE'raGlobali.~It~i

Tabel 3.4.

Nilai Ekspor dan Laju Nilai Ekspor Kedelai Negara Produsen Ulama T ahun 1999/2003

Negara Tahun
1999 2000 2001 2002 2003
USA EksQor (000 US$) 4.556,937 5.312.704 5.451.073 5.623,574 7.936.302
Laju ekspor (persen) -6,7 16,6 2,6 3,2 41,1
Brazir Ekspor (000 US$) 1.593.294 2.187.879 2.725.508 3.031.984 4.290.443
Laju ekspor (persen) -26,8 37,3 24,6 11.2 41,5
Argentina Ekspor (000 US$) 510.139 776.853 1.244.464 1.118.763 1.840.328
Laju ekspor (persen) -20,7 52.3 60,2 -10.1 64.5
Paraguay Ekspor (000 USS) 307.135 285.924 356.315 382.305 516.959
Laju ekspor (persen) -30.2 -6.9 24,6 7,3 35,2
Lainnya Ekspor (000 USS) 648.362 600.253 584.262 591.603 404.674
Laju ekspor (perse n) -23,9 -7,5 -2,7 1,3 -31,6
Dunia Ekspor (000 US$) 7.615.867 9.163.613 10.361.642 10.748.229 14.986.706
Laju ekspor (persen) -15,3 20.3 13,1 3,7 39,5 Sumber. FAO Statistik, Tahun 1998/2003

3.4.3 Kondisi Impor Kedelai Dunia

Pad a wilayah Asia sedikitnya terdapat empat negara importir kedelai utama dengan total pangsa impor sebesar 58 persen, Cina merupakan irnportir utama di kawasan ini, bahkan di dunia dengan proporsi impor sebesar 47,6 persen pada tahun 2003. Sedangkan untuk di luar kawasan Asia, negara irnportir penting lainnya adalah Belanda, Jerman, Meksiko dengan pangsa impor sebesar 12,5 persen, 10,4 persen, dan 1 Opersen. Selebihnya merupakan negara-negara importir keeil dengan pangsa impor kurang dari 25 persen (24,1 persen). Hal itu dapat dilihat darl Tabel 3.5 dan 3.6. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa keempat negara importir utama tersebut yaitu Clna, Jepang, Belanda, dan Meksiko memiliki potensi untuk menaikkan harga kedelai dunia.

Terlihat dari Tabel 3.5 di bawah ini, bahwa untuk tujuh negara impor kedelai utama di atas, hanya Gina dan Indonesia yang sempat melonjak laju impornya pada kurun waktu 1999/2000, karena berkurangnya pasokan produksi dalam negeri, sedanqkan konsumsi dan pertambahan penduduk terus naik. Untuk kelirna: negara lainnya, laju impor mereka relatif stabil.

56

TabeI3.S.

Volume dan Laju Impor Kedelai Negara Importir Utama Tahun 1999/2003 (Ton)

: : Negara Importir Keterangan 1999 2000 2001 2002 2003
Cina Vo1.lmpor 4.318.634 10.419.060 13.939.480 11.314.372 20.741.007
.... • 1; Laju impor 35,3 141,3 33,8 -18.8 83,3
Jepang Vol.lmpor 4.884.212 4.829.378 6.235.791 5.038.937 5.172.520
Laju impor 2,8 -1,1 29,1 -19,2 2,7
8elanda Vo1.lmpor 4.875.601 5.381.490 4.831.951 5.601.601 5.444.748
Laju irnpor -10,9 10,4 -10,2 15,9 -2.8
Jerman Vol. tmpor 4.218.293 3.840.424 4.574.084 4.345.729 4.515.526
Laju impor 19,9 -9 19,1 -5 3.9
Meksiko Vol.lmpor 3.489.399 4.067.280 3.984.886 4.479.680 4.382.508
Laiu impor 16.6 -2 12,4 -2,2 -4.7
Thailand Vol. tmpor 687.255 1.007.984 1.320.404 1.363.224 1.528.557
Laju impor 46,7 31 3.2 12,1 10,5
Indonesia Vol. Impor 546.528 1.277.685 1.136.419 1.365.253 1.192.717
.. Laju irnpor 59,3 133,8 -11,1 20,1 -12,6
Lainhya Vol.lmpor 7.905.455 8.075.221 9.359.876 10.040.401 10.522.065
t.aiu imQ_or -8,3 2,1 15,9 7,3 4,8
Total Vol.lmpor 30.925.377 38.898.522 45.382.891 43.549.197 53.499.648
l.aju impor 35 25,8 16,7 -4 22,8 Sumber. FAO Statlsllk. Tallun 199812003

Kemudian bila dilihat dar! nilai impornya (Tabel 3.6), dalam periode 1999- 2003 rataan laju impor kedelai dunia sebesar 12,6 persen selama 5 tahun. Peningkatan nilai irnpor terbesar terjadi pada tahun 2002/2003 yaitu 44,5 persen, kenaikan tersebut disebabkan adanya .peningkatan volume Irnpor dunia yang cukup besar pada tahun tersebut yaitu sebesar 43.549.197 ton pada tahun 2002 menjadi 53.499.648 ton pada tahun 2003. Gina yang merupakan negara pengimpor terbesar di dunia ternyata memiliki nilai rata-rata laju pertumbuhan per tahunnya sebesar 59,2 persen, kemudian diikuti dengan Indonesia yang juga memiliki nilai rata-rata laju pertumbuhan impor yang tinggi per tahunnya yaitu sebesar 43,9 persen. Sedangkan Jepang yang jumlah volume impor kedelainya per tahun lebih besar daripada Indonesia justru nilai rata an laju pertumbuhan per tahunnya hanya sebesar 1,2 persen. Hal ini disebabkan walaupun Jepang mengimpor dalam jumlah besar per tahunnya tetapi pertambahannya relatif lamban, tidak seperti Indonesia. Secara keseluruhan, kondisi impor kedelai dunia di dominasi oleh Gina, pad a tahun 2003 jumlah impornya telah mencapai lebih dari

57

Tabel3,6

Nilai dan Laju Nilai Impor Kedelai Negara Importir Utama Tahun 1999/2003

;-: ".

20 juta ton, Meskipun posisi Indonesia berada pad a tingkat ketujuh di dunia pada negara pengimpor kedelai, namun laju impornya sangat tinggi bila dibandingkan dengan negara pengimpor lainnya (kecuali Cina), Kondisi tersebut diakibatkan kebijakan proteksi yaitu bea masuk kedelai impor selarna tahun 1999/2001 masih rendah blla dibandingkan dengan negara lain, serta tingginya permintaan akan kedelai dalam negeri telah membuat Indonesia menjadi pangsa pasar yang diminati oleh negara pengekspor kedelai dunia.

Negara Importir 1999 2000 2001 2002 2003
Cina Nilai Impor (000 USS) 890,304 2,270,236 2,809,522 2.482,838 5.416.861
Laju nilai impor 10,6 155,0 23,8 .11,6 118,2
Jepang Nitai lrnpor (000 US$) 1.196.645 1.224.359 1.169.671 1223.090 1.517.223
Laju nilai rmpor ·16,63 2,3 4,46 4,6 24,0
Belanda Nilai Impor (DOD USS) 951.D28 1,087.653 1.216.509 1.163.910 1.377.888
Laju nil ai impor -30,0 14,4 11,8 -4,3 18,4
Jerman Nilai Impor (000 USS) 885.216 807.069 918.861 908.354 1.162.459
Laju nilai impor -2,3 -8,8 13,9 -1,1 27,3
Meksiko Nilai lrnpor (000 USS) 828.667 784.062 851,792 925.391 1.068.202
Laju nilai impor -3,8 -5,4 8,6 8.6 15,4
Thailand Nilai lmpor (000 USS) 210.195 286.935 278.668 324,309 442.007
Laju nilai impor 21,7 36,5 ·2,9 16,4 36,3
Indonesia Nitai Impor (000 US$) 301.688 275.481 239.322 299.219 330.497
Laju nil ai impor 205.7 -8,7 ·13,1 25,0 10,5
Lainnya Nilai Impor (000 US$) 1,773,838 1.810.407 2.098.194 2.462.838 2.830.296
Laju nilai impor -38,0 2,1 15,9 17,4 14,9
Total Nilai lrnpor (000 US$) 7.037.581 8.546,202 9.582.539 9,789,949 14.145.433
Laju nilai imper -17,2 21,4 12,1 2.2 44,5 Sumber: FAD Statrstrk, Tahun 1998/2003

3.5 Kondisi Pasar Ked elai Indonesia

3.5.1 Produksi dan Kecukupan Kedelai Indonesia

Sebelum tahun 1975, Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor kedelai terbesar ketiga di dunia setelah Amerika Serikat dan Cina. Namun, kondisi yang terjadi sekarang ini justru produksi kedelai semakin menurun setiap tahunnya

58

dan produksi dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 32persen konsumsi domestik (Malian, 2003). Seperti terlihat pada Tabel 3.7, produksi bersih kedelai dalam 5 tahun terakhir (1999/2003) cenderung menurun drastis. Pada tahun 1999 produksl bersihnya mencapai 1.382.848 ton, namun pada tahun 2003 produksinya hanya sebesar 672.000 ton. Penurunan produksi tersebut disebabkan menyusutnya lahan penanaman kedelai hingga 54,2persen dalam kurun waktu antara tahun 1999 sampai dengan tahun 2003, yaitu dari 1.151.000 hektar hingga hanya 527.000 hektar (BPS, 2004). Penyusutan lahan tersebut diakibatkan oleh banyaknya petani yang enggan untuk menaman kedelai karena harga jualnya relatif lebih mahal bila dibandingkan dengan kedelai impor (Tabel 3.7). Namun, menurut Subdlt Pemasaran Internasional Tanaman Pang an (2004), di tahun 2004 diperkirakan produksi bersih kedelai akan meningkat sekitar 1,07 persen disebabkan adanya program bangkit kedelai yang telah dimulai semenjak awal tahun 2004.

Tabel3.7

Perkembangan Produksi, Konsumsi Per Kapila, dan Jumlah Konsumsi Kedelai Tahun 1999/2003

Produksi Produktivitas Tingkat Konsumsi Ketersediaaan Kecukupan
Tahun 8ersih Kons/Kap
(Ion) (1) (Kw/ha) (kg/ka pita/thn) (ton) (2) (3) (ton) (ton)
1999 1.382.848 12,01 1.151.079 3.038.178 2.569.597 -468.581
2000 1.017.634 12,34 824.484 3.092.872 2.211.069 -881.803
2001 826.932 12.18 678.848 3.204.412 1.893.771 -1.310.641
2002 652.755 11,95 546.216 4.058.344 1.809.992 -2.248.352
2003 672.000 12.81 526.000 4.186.157 1.311.196 -2.874.961 Keteranqan :

1 - Produksi kotor dikurangi uniuk kebutuhan bibit 39,84 kglha dan kedelai /ercecer 5 persen 2 ::: Jumlah Penduduk dikalikan konsumsi per kapita

3 = Produksi i- tmpor - Ekspor

Sumber: BPS, diotah, Tahun 199912003

59

Dari Tabel tersebut juga terlihat bahwa Indonesia memiliki tingkat pertumbuhan produktivitas sebesar 1,6 persen, yang tidak cukup mengimbangi tingkat pertumbuhan konsumsi sebesar 8,8persen. Ini mengindikasikan bahwa upaya pemenuhan konsumsi kedelai tiap tahun di Indonesia rnasih sangat jauh dari tingkat swasembada. Bahkan tingkat pertumbuhan ketersediaan hanya -15,1

60

persen. Tingkat pertumbuhan konsumsi terbesar ada pada kurun tahun 2001/2002, yaitu sebesar 26,6 persen, yang kemudian jatuh eukup tajarn pad a tahun berikutnya (3,1 persen), walaupun seeara rata-rata tingkat konsumsi kedelai relatif naik setiap tahunnya. Keadaan ini disebabkan semakin bertambahnya kebutuhan kedelai untuk industri taueo, susu, keeap, dan lain-lain yang menggunakan kedelai sebagai bahan dasarnya. Sebaliknya, justru pad a tahun tersebut (kurun tahun 2003f2004) tingkat pertumbuhan produktivitas naik tajam hingga rnencapal 6,9 persen dari tahun sebelumnya sebesar -1 ,9 persen.

3.5.2 Kondisi Ekspor Kedelai Indonesia

Adanya kondisi yang terbalik bila dibandingkan dengan awal tahun 1975, dim ana pada masa itu Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor kedelai dunia, menu rut banyak pihak disebabkan kebijakan pembangunan pertanian yang hanya berorientasi pada pemenuhan pasar dalam negeri. Hal tersebut bertujuan agar pemerintah dapat menekan impornya khususnya pada komoditas padi (beras) sehingga membuat komoditas lainnya terbengkalai dan tanpa disadari semakin lama semakin besar ketergantungannya pad a impor.

Pada kurun waktu 5 tahun, apabila ditinjau dari sisi kontinuitas mengenai perkembangan volume ekspor kedelai di negara tujuan, nampaknya Indonesia mampu memelihara eksporseeara terus-menerus, walaupun dengan jumlah yang keci!. Namun, Vietnam yang awalnya merupakan negara utama tujuan ekspor kedelai dari tahun 2000/2001, semenjak tahun 2002 sudah tidak menjadi tujuan ekspor lagi. Kondisi ini disebabkan Indonesia sudah tidak dapat memenuhi permintaan kedeJai yang dibutuhkan oleh Vietnam, walaupun pada tahun tersebut produktivitas kedelai di Indonesia mengalami peningkatan. Pada kurun waktu 2000/2004, Indonesia hanya rnelakukan ekspor ke negara Hongkong, India, Taiwan, dan Jepang, dengan jumlah yang keeil dan tidak selalu setlap tahunnya melakukan ekspor ke negara tersebut (Tabel 3.8).

~':. ----,-

Tabel3.8

Perkembangan Volume Ekspor Kedelai Indonesia Berdasarkan Negara Tujuan Tahun 2000/2004 (Kg)

Negara Tuiuan 2000 2001 2002 2003 2004"
Vietnam 498.350 1.138.223 0 0 a
Hongkong a 21.000 106.043 0 0
India 0 0 0 68.911 0
Jepang 0 0 19.858 0 0
Taiwan 0 0 0 0 44.000
Lainnya 22.498 28.825 109.543 100.089 29.535
Total 520.839 1.188.048 235.444 169.000 73.535 Keleranqan . - Data serape: bulan Juli 2004

Sumber: BPS. Diolah Subdit Pemasaran Inlemasional Tenemon Pangan. 2004.

3.5.3 Kondisi Impor dan Perkembangan Kebijakan Kedelai Indonesia

Pada Tabel 3.9 dapat diperhatikan bahwa Amerika merupakan negara utama penghasil kedelai dunia dengan pangsa pasar sekitar 66 persen. Sekarang ini pun, Amerika merupakan negara pengekspor terbesar ke Indonesia dengan volume impor tahun 2003 sebesar 1.122.900 ton, atau sekitar 66 persen dari total volume impor kedelai Indonesia. Kemudian diikuti oleh Argentina 5 persen. Malaysia sekitar 4persen, dan Canada sekitar 2 persen. Impor kedelai terse but terdiri dari kedelai segar atau biji kedelai dan kedelai olahan (bungkil kedelai, dan sebagainya). Berdasarkan catatan BPS (1995/1998), total impor kedelai baik segar maupun olahan dari tahun 1995/1998 berkisar 1 juta -1,7 juta ton. Namun, sejak tahun 1999/2003 total irnpor kedelai meningkat menjadi 2,2 juta - 2,8 juta ton. Khusus untuk kedelai kuning sejak tahun 1999 hingga 2003 mencapai lebih dari 1 juta ton.

Tabel3.9

Perkembangan Volume Impor Kedelai Indonesia Berdasarkan Negara Asal Tahun 2000/2004 (Ton)

Negara Tujuan 2000 2001 2002 2003 2004·
USA 539.368 399.472 1.121.965 1.122.900 549.759
Argentina 92.066 0 77.187 10.276 92.805
Malaysia 31.322 93.429 76.382 17.983 5.255
Canada 46.333 10.503 47.617 18.393 353
SinQapura 4.631 14.207 37.546 549 38
Lainnya 563.967 617.808 4.558 226.16 3.770
Total 1.277.683 1.136.419 1.365.253 1.192.717 651.979 Sumber. BPS, D/olah SubdJ/ Pemasar'<Jn In/emasJonal Tanaman Pangan, 2004 (Data ssmpe: bulan Juti 2004).

61

1'f.IIIIJ1l11gUIUlIl Selilt!r l'erlallillIl di lira GlllbaliMsi,

Impor kedelai Indonesia selama 10 tahun terakhir (1993/2003) relatif terus meningkat setiap tahunnya (Tabet 3.10). Terlihat dari volume impor yang semakin bertambah setiap tahunnya. Kecuali pada tahun 1998, volume impor kedelai mengalami penurunan dan mulai meningkat lagi pada tahun 1999. Keadaan tersebut disebabkan adanya peningkatan harga kedelai internasional yang cukup tajam, yaitu Rp 1.720/kg pad a tahun 1998 dan menjadi Rp 1.375 pada tahun 1999. Selain itu, karena peningkatan harga di pasaran dunia erat kaitannya dengan fiuktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, maka krisis moneter yang membuat nilai rupiah menjadi terdepresiasi hampir Rp 12.000 per 1 US$ juga telah mempengaruhi impor kedelai.

Kemudian pada Tabel 3.10 dapat kita lihat bahwa peningkatan nilai lrnpor ternyata lebih banyak ditentukan oleh peningkatan volume impornya yang mengalami peningkatan lebih cepat bila dibandingkan dengan harganya. Apabila kita bandingkan dengan kemampuan Indonesia untuk mengekspor kedelai, maka hal ini terlihat sang at kontras sekali, yailu kondisi ekspor kedelai Indonesia yang tidak sarnpal sepersepuluh dari nilai impornya. Keadaan ini rnengmdikasikan bahwa ketergantungan impor kedelai Indonesia masih sangat tinggi. Keadaan tni tentu renlan bagi perekonomian Indonesia sendiri terhadap gejolak harga kedelai internasional.

Tabe13.10

Perkembangan Volume, Harga, dan Nilai Impor Kedelai di Indonesia Tahun 1993/2003

Tahun Volume (Ton) Harga(US${fon) Nilai (US$)
1993 723.808 272 197.092.718
1994 800.461 304 243.733.803
1995 607.393 297 180.589.872
1996 746.329 337 251.655.734
1997 616.375 335 206.674.204
1998 343.124 288 98.692.548
1999 1.301.755 232 301.687.516
2000 1.277.685 216 275.481.228
2001 1.136.419 211 239.321.562
2002 1.365.253 219 299.219.056
2003 1.192.717 277 330.496.585 Sumber. Stetisti« Impor, BPS Jakarta. Tahun 199312003

62

Peningkatan impor ini disebabkan peningkatan konsumsi kedelai Indonesia yang tidak dibarengi dengan peningkatan produksi. Produksi menurun dari 1.708.523 ton pada tahun 1993 menjadi 672.000 ton pada tahun 2003 menyusul menurunnya luas panen lebih dari 50persen. Oleh sebab itu, impor kedelai Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir dari 723.808 ton (tahun 1993) menjadi 1.192.717 ton (tahun 2003). Selain itu, peningkatan impor kedelai juga disebabkan oleh lebih rendahnya harga kedelai di pasar internasional dibandingkan dengan harga kedelai domestik. Kondisi tersebut bahkan diperburuk lagi dengan tidak dimanfaatkannya batas pagu maksimum bea masuk (ceiling binding rate) sesuai komitmen Indonesia dalam WTO, serta adanya kemudahan tataniaga impor berupa dihapuskannya monopoli BULOG sebagai importir tunggal. Disamping itu, Amerika Serikat yang merupakan negara eksportir kedelai terbesar juga menyediakan fasilitas subsidi ekspor yang merangsang para importir kedelai di Indonesia untuk memanfaatkan fasilitas tersebut.

Kemudian, dilihat dari perkembangan neraca perdagangan kedelai Indonesia dalam kurun waktu 10 tahun (1993/2003), kondisi keseimbangan ekspor-impor nya selalu negatif dari tahun ke tahun (Tabel 3.11). Kondisi ini signifikan terhadap penurunan produksi kedelai pada tahun tersebut. Walaupun sempat menguat pada tahun 1998 karena mulai tahun 1999, pengadaan barang dalarn negeri, impor, penyimpanan dan panyaluran tidak lagi dimonopoli oleh BULOG sehingga semakin banyak pihak swasta atau LSM yang melakukan hal serupa. Ini berhubungan dengan kebijakan stabilisasi harga dalarn negeri yang menyangkut pengadaan pasokan dalam negeri yang cukup dan harga yang terkendali. Ini juga menyangkut proteksi terhadap komoditas kedelai di Indonesia dari tahun ke tahun. Apabila program bangkit kedelal tidak berhasil meningkatkan produksi, diperkirakan impor kedelai akan tumbuh semakin besar. Kemudian, dengan rendahnya tingkat efisiensi di daJam negeri, sementara subsidi ekspor di negara eksportir tetap tinggi juga akan tetap mendorong peningkatan impor. Oleh sebab itu, upaya peningkatan produksi perlu diimbangi dengan penerapan tarif impor, sehingga petanl mendapat penghasilan yang layak dari usahatani kedelai.

63

--,-.;
,
""""", "':':': ":::'"::::",.::,:,,,',,:, ')emballgllitllll Selilllr Perlanirin difraG10fiafiliasf ',':
Tabe13.11
Perkembangan Neraca Perdagangan Komoditas KedeJai Indonesia :
Tahun 2000/2003 "
TAHUN NILAI (US $)
Ekspor lmpor Net ::
1993 263.976 197.092.718 -196.828.742 .'.
1994 12.060 243.733.803 -243.721.743
1995 29.241 180.589.872 -180.560.631
1996 115.557 251.655.734 -251.540.177
1997 780 206.674.204 -206.673.424
1998 20 98.692.548 -98.692.528
1999 17.810 301.687.516 -301.669.706 '.
2000 116.832 275.481.228 -275.364.396 ':
2001 344.868 239.321.562 -238.976.694
2002 152.231 299.219.056 -299.066.825
2003 299.986 330.496.585 -330.196.599
Sumber: BPS, Tahun 199312003
Tingginya permintaan akan kedeJai dalam negeri lelah menjadikan impor
kedelai menjadi [alan pintas agar dapal memasok kekurangan dalarn negeri. Hal
itu disebabkan oleh beberapa hal, antara lain karen a harganya dapat lebih murah
dan kualitasnya juga jauh lebih baik. Bahkan sampai dengan beberapa waktu lalu,
sesuai dengan kesepakatan bersama antara pemerintah Indonesia dan IMF yang
tertuang dalam Lol(Letter of Intent) disebutkan bahwa pemerintah membebaskan i
bea masuk (8M) kedelai dan pajak pertambahan nllai (PPN) sebesar nol persen,
serta mengenakan pajak penghasilan (PPH) sebesar 2,5 persen. Tetapi khusus
untuk pihak asing dikenakan restitusi PPH apabila mengalami kerugian (National
Soya Bean Production). "
Kebijakan pemerintah yang menurunkan tarlf impor itulah yang seringkali ,.
:
disebut sebagai penyebab menurunnya produksi dan meningkatnya irnpor. .
Keputusan Menperindag No. 406/MPP/Kep/11/1997 juga menghapuskan peran '.
....
BULOG dalam perdagangan kedelai. Meskipun tujuannya membantu untuk
menumbuhkan agroindustri kedelai - sebagian besar usaha kecil - memperoJeh :
bahan baku yang murah, tetapi kebijakan ini tidak sejaJan dengan keputusan .',
..
,
64 .
"
.~ l'I~lllbllllgllnan S~klllr I'~rlaninn di I;'ra CI(Jbnlisasi

Menkeu No. 543/KMK-0111997. Januari 1998, impor kedelai dikenai tarif sebesar 20persen secara gradual turun menjadi 5persen pada tahun 2003.

Pada awalnya, instrumen kebijaksanaan harga pada komoditi kedelai adalah penetapan harga dasar (floor price) yang dimulai pad a tahun 1979/1980 dan berakhir pada tahun 1991. Selama berlakunya harga dasar kedelai, harga dasar dimulai dari Rp 210 per kg pada tahun 1979/1980 kemudian meningkat hingga menjadi Rp 500 per kg pad a tahun 1991. Rasio antara harga dasar kedelai terhadap harga dasar gabah kering mula-mula terus meningkat selama periode 1979/1980-1981/1982, yaitu dari 2,5 menjadi 2,6, tetapi kemudian terus menurun sampai 1998 hingga rnencapai 1,5 dan sesudah itu meningkat lag] hingga menjadi 1,7 pada tahun 1991. Hal ini mencerminkan bahwa mula-mula kebijaksanaan pemerintah bias pada pengembangan kedelai dibanding-kan dengan padi untuk mempercepat peningkatan produksi kedelai, tetapi akhirnya kembali bias pada padi untuk mempercepat peningkatan produksi beras nasional.

Kemudian, dalarn menetapkan harga dasar kedelai, pemerintah cukup mempertimbangkan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, tetapi kurang memperhatikan harga dunia dalam dollar AS, dimana elastisitas masing-masing adalah 0,4 dan -0,11. Disamping itu, pemerintah juga ban yak memper-timbangkan faktor lain dalam penetapan harga dasar, antara lain biaya produksi usaha tani kedelai, dan tingkat keuntungan tertentu yang harus diperoleh petani. Keadaan tersebut membuat harga dasar kedelai dalam neqeri menjadi tinggi sehingga harga jual pun menjadi lebih tinggi bila dibandinqkan dengan harga jual kedelai impor.

Murahnya harga jual kedelai impor disebabkan tidak adanya penetapan tarif bea masuk untuk kedelai impor di Indonesia. Oleh sebab itu, Pemerintah diharapkan dapat menerapkan kebijakan tata niaga kedelai dengan melakukan pembatasan impor (tarif bea masuk) dan insentif/subsidi bagi petani produsen (lnkoptl, 2001). Seperti yang dilakukan oleh beberapa negara ASEAN yang menerapkan bea masuk terhadap kedelai, misalnya Thailand dan Filipina menerapkan bea masuk atas impor kedelai sebesar 5 persen untuk kedelai impor. India dan Cina juga menerapkan tarif bea masuk untuk komoditi kedelai sebesar 75 persen (India), dan 141,82 persen (Cina).

65

Sedangkan di Jepang, kebijakan produksi kedelai ini terbagi menjadi dua kategori, pertama untuk kedelai yang akan dijadikan rninyak, maka akan diberlakukan sistem tarif dengan tujuan untuk membatasi impor minyak kedelai. Kedua, untuk komoditas kedelai yang digunakan langsung sebagai bahan makanan, maka akan diberikan subsidi oleh pemerintah dengan tujuan agar harga kedelai domestik menjadi lebih terjangkau untuk dikonsumsi oleh masyarakat Jepang. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah Jepang sangat memperhatikan kondlsi gizi penduduknya. Selain itu, para petani yang beralih dari bertanam padi menjadi menan am kedelai, akan mendapatkan kompensasi apabila ternyata harga jual padi di pasaran lebih tinggi daripada kedeJai, sehingga kesejahteraan petani menjadi terjaga. Pada akhirnya walaupun Jepang tetap melakukan impor kedelai untuk memenuhi kebutuhan domesliknya tetapi hal ilu tidak membual petani takut untuk menanan kedeJai dan harga kedelai domestik pun relatif stabil.

. 3.6 Peluang Pengembangan dan Tantanqan Peningkatan Produksi Kedelai

Peluang pasar bagi produk tanaman pangan khususnya kedelai yang masih terbuka luas baik domestik ataupun internasional yaitu:

1. Adanya penduduk Indonesia yang berjumlah besar, yang merupakan pasar . domeslik potensial bagi produk-produk tanaman pangan.

2. Oi samping pasar domestik, potensipasar intemasional juga semakin terbuka sebagai konsekuensi dari tiberatisasi perdagangan dunia. Oengan adanya liberalisasi perdagangan dunia akan meminimumkan berbagai proteksi perdagangan dan membuka pasar bagi negara-negara produsen pertanian.

3. Penggunaan produk pertanian termasuk tanaman pangan khususnya kedelai semakin beragam, tidak saja untuk makanan langsung dan ekspor, Jetapi juga dalarn bentuk produk oJahan, sebagai bahan baku industri dan pakan ternak. Oengan demikian terbuka kesempatan untuk mengembang-kan diversifikasi produk tanaman pang an (kedelai) untuk mendorong peningkatan keragaman permintaan, nilai tambah serta pendapatan petani dan masyarakat.

66

· ... ·Pemll(lllgullun SeklQf l'ulUllil1l1 di Era G/llbulisasi

Sedangkan tantangannya yakni dalam upaya peningkatan dan produktivitas tanaman kedelai. Dalam hal ini harus mengubah pola tanam yang belurn intensif menjadi pola tanam intensif. Hal tersebut dapat dilaksanakan dengan cara lebih memantapkan penataan yang me lip uti perbaikan serta penyempurnaan dalam penerapan teknologi pad a setiap siklus produksi, yang dimulai dari proses persiapan dan pembuatan serta penyediaan pembenihan kedelai yang ungguJ, persiapan lahan budidaya, penerapan teknologi penanaman, pemelihataan tanaman, proses pemanenan, proses penanganan hasif, dan distribusi pemasaran hasil.

Beberapa upaya yang perlu ditempuh untuk mengejar peningkatan produksi kedelai ini antara lain, yaitu :

1. Membantu pihak usaha kecil dalam bidang agribisnis tanaman kedelai agar mereka mampu memanfaatkan peluang dan sekaligus untuk memecahkan masalah yang dihadapi (kelemahan sistem, penerapan teknologi, distribusil pemasaran) yang dilaksanakan melalui pengembangan kebijakan di sektor pemerintah, moneter dan sektor riil,

2. Mendorong usaha besar untuk turut aktif meningkatkan produksi kedelai dalam bentuk kemitraan dengan usaha kecil dalam program kemitraan terpadu. Dengan pol a hubungan kemitraan ini diharapkan kendala yang dihadapi usaha kecil dalam hal permodalan dan pemasaran serta teknologi dapat diatasi.

3. Mengarahkan pengembangan program kemitraan terpadu tanaman kedelai ke kawasan-kawasan yang masih paten sial di luar jawa, khususnya daerah transmigrasi yang telah memiliki jaringan irigasi teknis, atau daerah transmigrasi yang memiliki lahan usaha yang belum dimanfaatkan. Untuk itu, pemerintah perlu mendorong daerah transmigrasi kawasan timur Indonesia dengan harapan agar dari lahan ini minimal mampu dipenuhi kebutuhan lokal di kawasan ini sehingga tidak lagi tergantung pad a pasokan dari Jawa, bahkan diharapkan mampu berperan menyuplai kebutuhan nasional.

Selain ketiga upaya diatas, perlu juga diciptakan kondisi yang kondusif untuk memberikan perlindungan pada petani. Menciptakan dan mewujudkan kemandirian

67

J>elllbangrmanSelil6rPerlimian di iraCColJalisasi.

pangan nasional agar lebih ditekankan pada peran petani serta stakeholder yang mengawal sistem produksi dari keterjaminan penyediaan teknologi, sarana produksl hingga industri hilirnya. Fasilitas kebijakan yang memberikan kemudahan petani pangan mendapatkan subsidi teknologi, mekanisasi dan fasilitasi penunjang budidaya, perlindungan pasar serta kebijakan impor terbatas diperlukan untuk kembafi menggairahkan pertanian pangan. Selain itu, menurul Dr. a.p. Joshi, Acting Director National Research Center for Indore India dalam laporan Deptan, 2002, untuk mengembangkan kedeJai di Indonesia juga diperlukan dukungan harga kedeiai dari pemerintah (support price) dan meningkatkan kegiatan pemuliaan guna memperoleh varietas baru yang lebih unggul. DaJam hal ini perfu adanya rencana dan pedoman yang jelas dan sistematis sebagai komitmen bagi stakeholder khususnya dari pemerintah melalui Departemen Pertanian dan departemen terkait dalam mewujudkan kemandirian pangan.

Menurut Manurung (2004), produksi kedeJai Indonesia akan ditingkatkan melalui program swasembada kedelai, yang dilakukan dengan periuasan areal tanam kedelai secara bertahap sehingga pada tahun 2008 diharapkan areal kedelai bisa mencapai 2 juta hektar. Namun. keberhasilan swasembada kedeJai harus didukung oleh kebijakan fiskal pemerintah yang mendukung terutama dalam hal pemasaran dan penerapan bea masuk kedelai impor. Bea masuk kedelai sejak Januari 2005 ditetapkan 10 persen, kebijakan tersebut menjadikan harga kedeJai meningkat dan diharapkan dapat meningkatkan minat petani (Bali Post, 12 April 2004). Dengan adanya penetapan tarif masuk kedelai mufai Januari lalu, telah membuat harga kedefai konsumsi cukup naik dengan signifikan. Kenaikan harga kedelai inj diperkirakan berlangsung cukup lama, karena dipicu oleh merosotnya luas panen kedelai di AS dan kenaikan konsumsi kedelai di Cina yang merupakan negara pengimpor terbesar dunia.

3.7 Penutup

Adanya peningkatan jumlah penduduk dan berkembangnya industri pengolahan yang menggunakan kedelai sebagai bahan dasarnya teiah membuat kebutuhan akan kedelai meningkat setiap tahunnya. Namun, kebutuhan yang

68

~ .. --.

l'elIlbrurgllnan Seklor I'erlaitian dj Era Gr(lbalisa.~i

meningkat tidak dapat diimbangi dengan produksi yang meningkat pula. Hal ltu tidak saja disebabkan oleh faktor produktivitasnya yang rendah, melainkan juga karena terdapat faktor-faktor penting lainnya. Pertama, menurunnya gairah petani untuk menanam kedeJai karena dianggap kurang menguntungkan dibandingkan apabila menanam komoditi lainnya. Kedua, kelerbatasan kemampuan petani dalam menerapkan teknologi tepat guna yang menyebabkan tingkat produktivitas usaha tani relatif stagnan. Ketiga, keterbatasan modal petani terutama untuk membeli sarana produksi. Keempat, fenomena iklim yang semakin tidak menentu karena pengaruh global warming dan banyaknya hama. Kelima, masih belum optimalnya dukungan dari pemerintah untuk usaha peningkatan produksi kedelai, baik pada kebijakan impor, kebijakan permodalan, ataupun kebijakan sarana produksi. Keenam, pemberian subsidi ekspor oleh Amerika kepada Indonesia yang berdampak pada semakin banyaknya kedelai impor di pasaran dalam negeri.

Oleh sebab itu, agar dapat memenuhi kebutuhan akan kedelai, maka pemerintah mau tidak mau melakukan impor. Untuk mengantisipasi semakin bergantungnya kebutuhan kedelai lrnpor, maka pemerintah sudah seharusnya mulai menaruh perhatian khusus pada komoditas kedelai. Hal itu dapat dilakukan dengan menetapkan program swasembada kedelai, memberikan bantuan kepada petani melalui program kemitraan, dan menciptakan suasana yang kondusif bagi petani khususnya dengan cara menjamin ketersediaan teknologi, sarana produksi, serta fasilitas kemudahan dalam pinjaman maupun perlindungan pasar.

69

1'l:!lItbllngrllllln Sf.klor/'f.rlaliitui·dfErtJClofialisa.~i

DAFTAR PUSTAKA

------ (berbagai edisi), FAG Statistics, Key Statistics of Food and agricultural Externall Trade, pada : http://www.fao.org

--------- (berbagai edisl), FAG Statistics, Major Food and Agricultural Commodities and Producers, pada : http://www.fao.org

--------- (berbagai edisi), Statistik Indonesia, BPS Jakarta.

--------- (2001), US Government Sector Papers: Oilseeds, Washington Council on

International Trade, pada : http://www.wcit.org

---------- (2004), Prospek dan Tantangan Pembangunan Tanaman Pangan, Penelitian Departemen Pertanian.

----------, FAOSTAT, World Bank - World Development Indicators, 2004.

--------, Feedstuff : Soybeans & Soybean meal Price Trend, pada

http://www.foodmarketexchange.com

--------- Feedstuff Soybeans & Soybean meal Trade, pada

http://www.foodmarketexchange.com

--------, National Soya Bean Production, Produksi Kedelai Nesionel Belum Mencukupi.

Amang, Beddu, M. Husein Sawit dan Anas Rachman (1994), Keunggulan Komparatif Struktur Proyeksi dan Perdagangan Intemasional Kedelai Indonesia: Ekonomi Kedelai di Indonesia, IPB Press.

Arifin, Bustanul (2004), Analisis Ekonomi Pertanian Indonesia, Jakarta: Kompas, Mei 2004.

Bali Post (2005), Bali Jadi Sentra Produksi Kedelai Nasional, Bali Post, 12 April 2005, pada : http://www.balipost.co.id

Chandra, Alexander C (2005), Indonesia dan Ancaman Perjanjian Perdagangan Bebas Bilateral, Jakarta: Institute for Global Justice (IGI), Maret 2005.

Halwani, R Hendra (2002), Ekonomi Internasional dan Globalisasi Ekonomi, Jakarta: Ghalia Indonesia, November 2002.

Hamamoto, Tetsuo, John Dyck and Jim Stout (2002), Electronic Outlook Report From The Economic Research Service: Oilseed Policies in Japan, USDA, Desember 2002, pada : http://www.ers.usda.qov

Hutapea, Jaegopal dan Ali Zum Mashar, Ketahanan Pangan dan Teknoloqi :

Produktivitas Menuju Kemandirian Pertanian Indonesia

70

P!!lIIbaIbUU~Seklf)rPerlanjllndi Era Gh,~alisa.d

A. Husni (2004), Kebijakan Perdagangan Intemasional Komoditas Pertanian Indonesia, Analisis Kebijaksanaan Perdagangan, Volume 2 No.2, Juni 2004.

Andreas (2005), Kompas, Fokus : Kebijakan Pertanian di Tengah Arus

Perdagangan Dunie, 19 Maret 2005, pada : http://www.kompas.com

Scott, Carl Gotsch, dan Sjaiful Bahri ( 2005), Analisis Elisiensi dan Daya Saing Sisiem Usahatani kedelai di Jember, Jawa Timur .- Aplikasi Policy Analysis Matrix pada Pertanian Indonesia, Yayasan Obor Indonesia. Edisi I. Januari 2005.

Irena dan Hilman Hidayat (2005), Sindikat lmportir Kedela; Singkirkan Koperasi Tahu Tempe, Bisnis Indonesia, Februari 2005, pada : http://www.bisnis.com

Cakrawala Pengembangan Agro Sejahtera (2005), Budidaya Kede/ai Perlu

Ditingkatkan, CPAS 22 Agustus 2005, pada

http://www.agroindonesia.com

Santoso, Ferry dan Banu Astono (2005), Proteksi Negara Maju Kepada Petaninya Membuat Perdagangan Tidak 'Feir", September 2005, pada hrtp:llwww.kompas.com

Soekartawi (2002). Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian .- Teori dan Aplikasi, edisi revisi, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Juni 2002.

Southeast Asia Council for Food Security and Fair Trade (SEACON) (1999), Proceedings of the Conference on the People's Response to the Food Security Crisis in Southeast Asia, October 1999, Bangkok: SEACON.

Subandriyo, Toto ((2002), Indonesia dan lroni Pangan Dunia, 16 Oktober 2002, diakses 30 September, pada : http://www.google.com

Sudaryanto, Tahlim, I Wayan Rusastra, Amiruddin Syam dan Mewa Ariani (2002), Analisis Kebijaksanaan .- Paradigma Pembangunan dan kebijaksanaan Pengembangan Agro intiusin, Puslitbang Sosial Ekonomi Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 2002.

Suryana, Achmad (2003), Kapita Selekta .- Evolusi Pemikiran Kebijakan Ketahanan Pangan, Yogyakarla : September 2003.

Swasono, Wening (2004), Kondisi Pangan Kita .- Masih Seperli Dufu, Harian Bernas, Januari 2004.

Tjitroresmi, Endang (2002), Ketergantungan Indonesia Terhadap Pasokan Kede/ai dan Jagung Dari Pasar Global .- Globalisasi Krisis Ekonomi & Kebangkitan Ekonorni Kerakyatan, Agustus 2002.

71

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->