DAMPAK LI MBAH CAI R PT KERTAS BASUKI RACHMAT

,
BANYUWANGI TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT

















Tesi s

Unt uk memenuhi sebagian persyarat an
mencapai der aj at Sarj ana S- 2 pada
Program St udi I lmu Lingkungan



Rachman Cahy ono
L4K006016







PROGRAM MAGI STER I LMU LI NGKUNGAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNI VERSI TAS DI PONEGORO
SEMARANG
2007
TESI S



DAMPAK LI MBAH CAI R PT KERTAS BASUKI RACHMAT,
BANYUWANGI TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT





Di susun ol eh




Rachman Cahy ono
L4K006016








Menget ahui,
Komisi Pembimbing





Pembimbing Ut ama Pembimbing Kedua







Dr. I r. Purwant o, DEA. Dra. Kismart ini, MSi.


PERNYATAAN



Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun
sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Lingkungan Universitas
Diponegoro seluruhnya merupakan hasil karya saya.
Adapun bagian - bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari
hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan
norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan
hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian - bagian tertentu, saya
bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan
sanksi - sanksi lainnya sesuai dengan perundang – undangan yang berlaku.




Semarang, 15 Agustus 2007



Rachman Cahyono



TESI S

LEMBAR PENGESAHAN


DAMPAK LI MBAH CAI R PT KERTAS BASUKI RACHMAT,
BANYUWANGI TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT



Disusun oleh


RACHMAN CAHYONO
L4K 006016


Telah dipert ahankan di depan Tim Penguj i
pada t anggal 15 Agust us 2007
dan dinyat akan t elah memenuhi syarat unt uk dit erima



KETUA Tanda Tangan


Dr . I r . Pur w ant o, DEA . . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. .


Anggot a :

1. Dr a. Ki smar t i ni , MSi . . . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. .



2. Pr of . Dr . dr . Ani es, M.Kes., PKK. . . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. .



3. I r . Danny Sut r i snant o, M.Eng. . . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. . .. .. .. .. . ... . .. .. .

















Ket ua Program St udi
Magist er I lmu Lingkungan






Pr of . Dr . Sudhar t o P. Hadi , MES.
LEMBAR PERSEMBAHAN




“ ·· .. . . · ··
. ·· ” · ·
“ .. · ”
· ·


















“Kupersembahkan tesis ini untuk istri (Inastuti Idayanti, SP.) dan
anakku tercinta (Muhammad Hanif Nasrul Rahman)”



KATA PENGANTAR



Puji syukur, alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah
SWT. yang telah memberikan bimbingan, kesehatan dan kemudahan
sehingga tesis ini dapat tersusun dengan baik. Shalawat dan salam
tidak lupa penulis sampaikan kepada Rasulullah, Muhammad SAW.
sebagai suri tauladan umat manusia, karena dengan atas petunjuknya
kita dapat membedakan yang haram dan halal.
Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro. Di dalam tesis ini
terkandung banyak informasi dan pengetahuan yang sangat berguna
bagi para pembaca dan pembuat kebijakan antara lain kesehatan
masyarakat, pengelolaan limbah dan lingkungan lainnya.
Tak lupa penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada
pihak pihak yang telah membantu sehingga terselesaikannya tesis ini,
antara lain kepada :
1. Istri tercinta, Inastuti Idayanti beserta ananda, Muh. Hanif Nasrul
Rahman yang telah memberi semangat dan mendoakan penulis
2. BAPPENAS yang telah memberi bantuan dan kesempatan kepada
penulis
3. Pemerintah Kabupaten Jember yang telah memberi kesempatan
dan bantuan kepada penulis
4. Bapak Dr. Ir. Purwanto, DEA. dan Ibu Dra. Kismartini, MSi. selaku
pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulisan
tesis ini
5. Bapak Prof. Dr. dr. Anies, M.Kes., PKK. dan Bapak Ir. Danny
Sutrisnanto, M.Eng. selaku penguji yang telah mengarahkan
penulisan tesis ini
6. Bapak Prof. Sudharto P. Hadi, MES, Ph.D. dan Bapak Ir. Agus
Hadiyarto, MT. selaku Ketua dan Sekretaris MIL, UNDIP
7. Bapak Drs. Edy Suhartono, MSi. dan para pengelola MIL, UNDIP
yang telah membantu kelancaran studi
8. Manajemen PT Kertas Basuki Rachmat, staf Puskesmas
Singotrunan, dan staf Kelurahan Lateng, Banyuwangi yang telah
membantu memberi data
9. dan teman – teman angkatan 15 kelas kerja sama BAPPENAS
serta pihak – pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Penulis sadar masih banyak kekurangan yang ada dalam tesis
ini. Oleh karena itu masukan dan saran untuk perbaikan penulisan
tesis ini sangat penulis harapkan. Mudah – mudahan tesis ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Amien.






Penulis
ABSTRAK



Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kesehatan masyarakat di
sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dengan
kesehatan masyarakat di wilayah lain, dampak keberadaan limbah cair PT Kertas
Basuki Rachmat terhadap kualitas kesehatan masyarakat di sekitar saluran
pembuangan limbah cair dan mencari strategi pengurangan dampak negatif
tersebut. Penelitian ini menggunakan metode diskripsi kuantitatif dan kualitatif
dimana data yang terkumpul lewat kuisioner pada populasi uji (bertempat di
sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat) dan populasi kontrol
(bertempat tinggal sebelum PT Kertas Basuki Rachmat) dianalisis secara statistik.
Selain itu juga dilakukan analisis kualitatif berdasarkan data dari informan,
Puskesmas, dan instansi terkait.
Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan
antara populasi uji dengan populasi kontrol terhadap intensitas penyakit diare,
sakit perut/ penyakit saluran pencernaan lain, demam/ panas, flu/ pilek, sakit
kepala/ pusing, sakit kulit, batuk, dan asma/ penyakit saluran pernafasan lainnya.
Selain itu juga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap intensitas penyakit
tersebut pada populasi uji sebelum dan setelah bertempat tinggal di sekitar saluran
pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Populasi uji relatif lebih
sering mengalami penyakit – penyakit tersebut dibandingkan populasi kontrol.
Secara keseluruhan juga terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas
kesehatan populasi uji dan populasi kontrol. Ini berarti kualitas kesehatan
masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat
lebih rendah daripada populasi kontrol. Akan tetapi terhadap anggota keluarga
yang meninggal dunia tidak ada perbedaan yang signifikan.
Perbedaan kualitas kesehatan masyarakat disebabkan oleh keberadaan
limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dimana populasi uji lebih sering
mengalami penyakit – penyakit tersebut setelah bertempat tinggal di sekitar
saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Hasil analisis
sampel air sumur populasi uji diperoleh kesadahan jumlah, kadar klorida, nitrat,
dan sulfat yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi kontrol, sedangkan
kadar zat besi pada sampel air sumur populasi kontrol lebih tinggi daripada
populasi uji.
Berdasarkan analisis SWOT diperoleh strategi mengoptimalkan proses
produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas, mengoptimalkan fasilitas
pengolah limbah cair untuk menghasilkan limbah cair yang memenuhi baku mutu,
meningkatkan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup, dan meningkatkan
taraf kesehatan masyarakat sekitar.

Kata kunci : saluran limbah cair, PT Kertas Basuki Rachmat, kesehatan
masyarakat
ABSTRACT



This research to analyse difference of health of society around PT Kertas
Basuki Rachmat liquid waste channel with health of society in other region,
impact existence of PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste to quality of health of
society around liquid waste channel and look for the negative impact reduction
strategy. This research use quantitative diskripsi method and qualitative where
gathered to data pass quisioner at test population have (place to around liquid
waste channel PT Kertas Basuki Rachmat) and control population (residing
before PT Kertas Basuki Rachmat) analysed statistically. Besides also to analyse
qualitative pursuant to data from informan, Puskesmas, and relevant institution.
Result of statistical analysis show the existence of difference which is
signifikan between test population with control population to diarrhoea disease
intensity, stomachache/ other digestive tract disease, fever, flu/ head cold,
headache, skin pain, cough, and asthma/ other respiratory tract disease. Besides
also there are difference which is signifikan to the disease intensity at test
population before and after residing around PT Kertas Basuki Rachmat liquid
waste channel. Test population relative more regular of the disease compared to
control population.
As a whole also there are difference which is signifikan between quality of
health of test population and control population. This means quality of health of
society around PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste dismissal channel lower
than control population. However to family member passing away there no
difference which is signifikan.
Difference of quality of health of society because of existence of PT
Kertas Basuki Rachmat liquid waste where test population more regular of the
disease after residing around PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste channel.
Result of test population well water sampel analysis obtained by hardness,
chloride, nitrate, and sulphate compared to higher level of control population,
while ferrum rate at control population well water sampel higher than test
population.
Pursuant to SWOT analysis obtained by strategy to optimalize production,
to optimalize instalation liquid waste facility, to improving management of
environment and to increase the standart of health of society.

Keyword : liquid waste channel, PT Kertas Basuki Rachmat, health of society

BAB I

PENDAHULUAN



1.1. LATAR BELAKANG


Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, bertambah pula
kebutuhan manusia terhadap barang – barang keperluan sehari – hari
termasuk diantaranya kertas. Kertas diperlukan tidak hanya sebagai alat
tulis dan buku atau majalah tetapi juga sebagai tissu, pembungkus rokok,
pembungkus makanan dan minuman dan sebagainya.
Peningkatan kebutuhan kertas ini terlihat dari peningkatan konsumsi
kertas di Indonesia. Pada tahun 1996 konsumsi kertas di Indonesia sebesar
3.119.970 ton per tahun, meningkat terus menjadi 5,3 juta ton per tahun
pada tahun 2002 dengan produksi sebesar 7,6 juta ton per tahun.
Permintaan kertas yang paling besar adalah jenis kertas HVS atau kertas
tulis, dibanding kertas lainnya, yaitu sekitar 60 % dari produksi kertas.
(Kompas, 2002). Peningkatan kebutuhan kertas tersebut mendorong
berdirinya beberapa industri pulp dan kertas, termasuk di Jawa Timur.
Industri pulp dan kertas telah berkembang pesat di Indonesia setelah
investasi besar – besaran di akhir tahun 1980 – an. Sejak akhir tahun 1980
– an kapasitas produksi meningkat hampir 700 persen. Total produksi dari
dalam negeri telah meningkat dari 3 juta ton per tahun pada tahun 1997
menjadi 5,6 juta ton per tahun hingga tahun 2002. Indonesia telah menjadi
produsen pulp terbesar ke sembilan dunia dan produsen kertas terbesar ke
sebelas (Rahayuningsih, 2002).
Keberadaan pabrik pulp dan kertas di Jawa Timur telah memberikan
kontribusi besar dalam ekspor non migas Jawa Timur. Berdasarkan sumber
BI Surabaya, pada semester I tahun 2003 dari 2.597 juta dollar AS, nilai
ekspor non migas Jawa Timur sumbangan terbesar diberikan oleh sektor
industri pulp dan kertas yaitu sebesar 348 juta dollar AS (Arisandi, 2004).
Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu kabupaten di Propinsi
Jawa Timur dan merupakan wilayah yang terletak di bagian paling ujung
timur Pulau Jawa, tahun 2006 mempunyai jumlah penduduk sebanyak
1.575.089 jiwa (BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi, 2006). Kabupaten
Banyuwangi merupakan salah satu wilayah di Propinsi Jawa Timur yang
paling luas dan banyak penduduknya. Dengan kondisi alamnya yang subur
dengan sungai yang hampir tidak pernah kering sepanjang tahun serta dekat
dengan laut memungkinkan di daerah ini berkembang beberapa industri
yang mengandalkan sumber daya alam sepanjang tahun,. Salah satu
diantaranya adalah industri kertas.
PT Kertas Basuki Rachmat sebagai industri kertas di Kabupaten
Banyuwangi, terletak di Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi, Jawa Timur
didirikan atas dasar Ketetapan MPRS No. II tahun 1960 dengan nama
proyek pabrik kertas Basuki Rachmat dengan luas areal 50 Ha dan
kapasitas produksi 13.000 ton/ tahun. PT Kertas Basuki Rachmat
diresmikan pada tanggal 26 April 1969.
Pada mulanya PT Kertas Basuki Rachmat menggunakan bahan baku
bambu 100 % yang disuplai dari Perhutani Banyuwangi. Akan tetapi pada
tahun 1975 PT Kertas Basuki Rachmat di samping bambu menggunakan
juga pohon turi, pinus, meranti, damar, dan apak yang disuplai dari
Perhutani Banyuwangi. Pada tahun 1981 bahan baku ditambah dengan
albasia, kaliandra, lamtoro, maesopsis dan chip beli dengan kadar air rata-
rata 40 %. Karena kondisi perusahaan yang kurang memungkinkan maka
pada tahun 1997, PT Kertas Basuki Rachmat menggunakan bahan baku
kertas bekas (afval) yaitu antara lain jenis kertas HVS, ivory, art paper,
CD, HVS bergaris dan buku tulis (PT Kertas Basuki Rachmat, 1989).
Sejak berdirinya PT Kertas Basuki Rachmat perekonomian
masyarakat Banyuwangi, khususnya di sekitarnya meningkat dan
membawa keuntungan finansial baik bagi masyarakat, pemerintah
kabupaten, pemerintah propinsi maupun pusat.
Akan tetapi pendirian industri pulp dan kertas ternyata tidak saja
membawa keuntungan finansial yang sangat besar tetapi membawa dampak
negatif yaitu berupa limbah industri yang semakin banyak. Limbah industri
pulp dan kertas dapat berupa gas, cair maupun padat. Limbah tersebut
secara langsung atau tidak berdampak negatif terhadap organisme terutama
manusia.
Perusahaan kertas merupakan salah satu penyebab kerusakan
lingkungan karena karakteristik limbahnya yang memiliki nilai BOD/ COD
(kebutuhan oksigen dalam menguraikan senyawa biologi dan kimia) yang
sangat tinggi. Apabila limbah cair tersebut dibuang ke perairan akan
mengakibatkan kematian ikan dan biota air lainnya. Selain itu limbah cair
industri kertas menimbulkan bau busuk, sedangkan bahan kimia yang
terikut dalam limbah cair tersebut menimbulkan gangguan pernafasan bagi
penduduk yang tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah, bahkan
tercium sampai beratus – ratus meter dari tempat tersebut (Rini, 2002).
Data dari Puskesmas setempat menggambarkan kondisi kesehatan
yang masih kurang layak. Pada tahun 2006 jumlah penderita diare di
Kelurahan Lateng yang berkunjung ke Puskesmas setempat adalah
sebanyak 244 orang meningkat pesat dari tahun 2005 yaitu sebesar 155
orang, ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) 203 orang, DBD (Demam
Berdarah Dengue) 5 orang dan campak 6 orang (Puskesmas Singotrunan,
Kecamatan Banyuwangi, 2007).
Pada bulan Juni 2004 dalam program PROPER (program pentaatan
industri dalam pengelolaan lingkungan), beberapa pabrik kertas yang
berada di Jawa Timur masuk dalam daftar merah atau buruk dalam
memenuhi kriteria baku mutu buangan limbah cair. PT Kertas Basuki
Rachmat sendiri berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.
228 tahun 2005 tentang hasil penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam
pengelolaan lingkungan hidup (PROPER) tahun 2004/2005 tanggal 2
Agustus 2005 masuk dalam nomer 53 peringkat hitam artinya perusahaan
tidak mempunyai kepedulian sama sekali terhadap lingkungan dan siap
dikenakan sanksi (KLH, 2005).
Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan penelitian untuk
menguji apakah limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat tersebut
mempengaruhi kesehatan masyarakat di sekitarnya. Penelitian serupa
pernah dilakukan oleh peneliti dari luar negeri antara lain di India (Yadav,
2006), Kanada (Bond dan Lee, 2000), Inggris (Nhu Lee, 2003) dan
Norwegia (Langseth dan Kjaerheim, 2004) yang pada dasarnya terdapat
pengaruh negatif keberadaan industri pulp dan kertas terhadap kesehatan
pekerja atau masyarakat di sekitarnya. Sedangkan di Indonesia pernah
dilakukan oleh peneliti luar di Sungai Kampar, Riau (Lee dkk., 2002)
dimana terdapat peningkatan resiko sakit diare pada anak – anak di
sepanjang Sungai Kampar, Riau khususnya yang minum secara langsung
dari sungai yang dialiri limbah industri pulp dan kertas.

1.2. PERUMUSAN MASALAH

Dari uraian diatas, ada beberapa permasalahan yang akan diteliti
yaitu :
1. Apakah ada perbedaan kesehatan masyarakat di sekitar saluran
pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dengan
kesehatan masyarakat di wilayah lain.
2. Bagaimana dampak limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat terhadap
kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cairnya.
3. Bagaimana mengurangi dampak negatif yang timbul di masa
mendatang.

1.3. TUJUAN PENELITIAN


Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis :
1. Perbedaan kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan
limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dengan kesehatan masyarakat
di wilayah lain
2. Dampak keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat,
Banyuwangi terhadap kualitas kesehatan masyarakat di sekitar tempat
pembuangan limbah cair tersebut.
3. Strategi pengurangan dampak negatif limbah cair PT Kertas Basuki
Rachmat.

1.4. MANFAAT PENELITIAN


Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pengambil
kebijakan di daerah setempat untuk menentukan baku mutu limbah,
regulasi kebijakan di bidang industri terutama pendirian industri dan
pembuangan limbahnya, serta mengatasi dampak negatif yang terjadi pada
masyarakat akibat pengaruh pembuangan limbah industri tersebut.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA



Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi
serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan
mengandung selulosa dan hemiselulosa.
Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet
dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa
Sumeria, prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan
daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara
beberapa abad lampau.
Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis
menulis yaitu pada masa wangsa Firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur
Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa,
meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. Dari kata papirus
(papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa
Belanda, bahasa Jerman, bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa
Spanyol yang berarti kertas.
Tercatat dalam sejarah adalah peradaban China yang menyumbangkan
kertas bagi dunia. Adalah Tsai Lun yang menemukan kertas dari bahan bambu
yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. Penemuan ini
akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa
China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu. Pada akhirnya,
teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ke tangan orang-orang Arab pada masa
Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran
Sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang
mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab sehingga di zaman
Abbasiyah, muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun
Samarkand dan kota-kota industri lainnya, kemudian menyebar ke Italia dan India
lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa
Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia
(http://id.wikipedia.org).

2.1. PROSES PEMBUATAN KERTAS

Bahan baku untuk pembuatan pulp antara lain kayu pinus merkusii,
bambu, jerami, bagase, kertas bekas dan lain-lain. Menurut Rini (2002),
kayu sebagai bahan baku dalam industri kertas mengandung beberapa
komponen antara lain :
1. selulosa
Selulosa merupakan komponen yang paling dikehendaki
dalam pembuatan kertas karena bersifat panjang dan kuat. Menurut
Stanley (2001) dalam kayu mengandung sekitar 50 % komponen
selulosa.
2. hemiselulosa
Hemiselulosa lebih mudah larut dalam air dan biasanya
dihilangkan dalam proses pulping.
3. lignin
Lignin berfungsi merekatkan serat – serat selulosa sehingga
menjadi kaku. Pada proses pulping secara kimia dan proses pemutihan
akan menghilangkan komponen lignin tanpa mengurangi serat
selulosa. Menurut Stanley (2001) komponen lignin dalam kayu adalah
sekitar 30 %.
4. bahan ekstraktif
Komponen ini meliputi hormon tumbuhan, resin, asam lemak
dan unsur lain. Komponen ini sangat beracun bagi kehidupan perairan
dan mencapai jumlah toksik akut dalam limbah industri kertas.
Menurut Stanley (2001), jumlah komponen hemiselulosa dan
hidrokarbon dalam kayu adalah sekitar 20 %.
Proses produksi kertas terdiri dari beberapa tahap yang pada intinya
adalah sebagai berikut :

2.1.1. Pembuburan kayu (pulping)

Menurut Stanley (2001), proses pembuatan pulp (pulping)
pada prinsipnya terbagi atas :
1. Proses Kimia
Proses pembuatan pulp secara kimia terdiri dari dua
jenis proses yaitu :
a. Proses Sulfat (kraft)
Proses ini merupakan proses industri pulp yang
dominan di dunia dengan menghasilkan kekuatan yang
tinggi, serat panjang, dan kandungan lignin dalam pulp
sangat rendah. Proses ini dilakukan dengan memasak
potongan kayu dalam sodium hidroksida/ soda kaustik
dan cairan sodium (disebut larutan putih (white liquor)
yaitu campuran sodium hidroksida dan sodium sulfida).
Dengan proses ini lignin dan resin kayu akan dilepaskan
dari serat selulosa pulp kemudian dicuci dan diputihkan.
Pada proses ini umumnya dilakukan dengan proses
tertutup sehingga 95 – 98 % bahan kimia yang digunakan
dapat digunakan kembali.
b. Proses Sulfit
Proses ini menggunakan peralatan yang serupa
dengan proses kraft tetapi menggunakan bahan kimia
yang berbeda. Karakteristik pulp yang dihasilkan adalah
kuat, lembut dan lebih terang warnanya daripada proses
kraft sehingga dapat mengurangi tahap pemutih. Bahan
kimia yang digunakan adalah asam sulfat atau hidrogen
sulfit untuk memasak bahan baku sehingga dihasilkan
asam sulfit atau pulp bisulfit. Umumnya rata – rata
recovery bahan kimia tidak setinggi proses kraft.
2. Proses Mekanik
Proses pembuatan pulp secara kimia terdiri dari dua
jenis proses yaitu :
a. Penggilingan kayu
Proses ini merupakan proses yang paling dasar
dari proses pulping dan penggilingan kayu atau potongan
kayu yang bertujuan untuk memisahkan serat. Kualitas
pulp pada proses ini rendah karena masih mengandung
lignin sehingga kertas yang dihasilkan mudah robek dan
agak kusam. Akibatnya kertas tersebut banyak digunakan
untuk kertas koran dan kertas yang memerlukan sedikit
kekuatan sobek.
b. Proses thermomechanical atau chemo-thermomechanical
Dua variasi proses mekanik tersebut digunakan
secara luas di industri pulp untuk mengurangi konsumsi
energi. Pada proses thermomechanical hanya digunakan
kayu lunak yang direbus sebelum digiling. Sedangkan
pada proses chemothermomechanical potongan kayu
direndam dengan bahan kimia berbasis sulfur untuk
mengekstrak resin dan lignin.
Menurut Kompas (2003), salah satu akibat proses ini adalah
menghasilkan gas berbau berupa senyawa hidrogen sulfida (H
2
S),
metil merkaptan, dimetilsulfid, dimetil disulfid dan komponen gas
sulfur yang sangat berdampak negatif terhadap kesehatan manusia.

2.1.2. Pencucian (washing)

Hasil pemasakan merupakan serat yang masih berwarna
coklat dan mengandung sisa cairan pemasak. Serat ini masih
mengandung serat – serat yang tidak dikehendaki.
Proses pencucian pulp dilakukan untuk menghilangkan
materi yang tidak diinginkan yang akan mempengaruhi dosis zat
pemutih. Hasil samping dari proses ini berupa black liquor, debu
dan lignin. Setelah dicuci pulp dihilangkan lignin yang tersisa
(delignifikasi) menggunkan oksigen dalam larutan putih sehingga
menghasilkan bubur kayu yang lebih putih. Proses ini akan
mengurangi jumlah klorin yang dibutuhkan dalam proses pemutihan
(bleaching).

2.1.3. Pemutihan (bleaching)

Proses ini bertujuan untuk menghilangkan lignin tanpa
merusak selulosa. Proses ini biasanya melibatkan beberapa tahap.
Menurut Kompas (2003), proses pemutihan menggunakan zat kimia
utamanya ClO
2
dan cairan yang masih tertinggal berubah menjadi
limbah dengan kandungan berbagai bahan kimia berupa
organoklorin yang umumnya beracun.
Menurut EPA (1997), udara yang keluar dari tangki
bleaching mengandung polutan berbahaya seperti kloroform,
metanol, formaldehid dan metil etil keton. Sedangkan bahan kimia
yang menggunakan senyawa klorin organik sebagai bahan
bleaching dapat membentuk beberapa senyawa toksik seperti
dioksin, furan dan klorin organik (kloroform).


2.1.4. Pembentukan kertas

Pulp yang dihasilkan dari tahap sebelumnya selanjutnya
dilakukan penggilingan, pengempaan (pressing) untuk mengurangi
kadar air dan diikuti dengan pengeringan (drying) dengan
menggunakan uap. Untuk mendapatkan permukaan yang halus
(pada kertas cetak/tulis) dilakukan proses calendering sesudah
pengeringan, sedangkan untuk membuat permukaan yang
mengkilat dan berwarna, sesudah calendering dilakukan proses
pelapisan (coating) untuk produk kertas cetak. Menurut Rini
(2002), kadang - kadang juga dilapisi dengan kaolin untuk
memutihkan permukaan atau diberi pengikat yang mengandung
formaldehide, ammonia atau polivinil alkohol agar lebih kuat.
2.2. LIMBAH INDUSTRI KERTAS
Pada proses pembuatan kertas terdapat zat yang berpotensi
mencemari lingkungan. Menurut Rini (2002), limbah proses pembuatan
kertas yang berpotensi mencemari lingkungan tersebut dibagi menjadi 4
kelompok yaitu :
a. limbah cair, yang terdiri dari :
- padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu, serat dan
pigmen,
- senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa, gula, alkohol,
lignin, terpentin, zat pengurai serat, perekat pati dan zat sintetis
yang menghasilkan BOD (Biological Oxygen Demand) tinggi,
- limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna
kertas,
- bahan anorganik seperti NaOH, Na
2
SO
4
dan klorin,
- limbah panas,
- mikroba seperti golongan bakteri koliform.
b. Partikulat yang terdiri dari :
- abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain
- partikulat zat kimia terutama yang mengandung natrium dan
kalsium.
c. Gas yang terdiri dari :
- gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H
2
S yang
dilepaskan dari berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan
proses pemulihan bahan kimia
- oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil, kraft recovery
furnace dan lime kiln (tanur kapur)
- uap yang mengganggu jarak pandangan
d. Limbah padat yang terdiri dari :
- sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder
- limbah dari potongan kayu.

Menurut JEMAI (1999), industri pulp dan kertas mempunyai
karakteristik limbah cair yang mengandung BOD, COD (Chemical
Oxygen Demand), padatan terlarut, fenol, warna dan bau dalam jumlah
besar, namun biasanya tidak mengandung bahan toksik (beracun). Akan
tetapi menurut Arisandi (2004), selain memiliki karakteristik tersebut,
nilai BOD/ COD yang sangat tinggi mengakibatkan degradasi kualitas air
yang ditandai dengan matinya ikan dan biota air. Pada beberapa limbah
cair industri kertas didapatkan unsur Pb (timbal) yang sangat berbahaya
bagi lingkungan. Sedangkan menurut Sunoko (2005), limbah pembuatan
pulp dan kertas sebagian besar mengandung serat dan padatan
tersuspensi, resin dan asam lemah, fenol terklorinasi, asam organik
terklorinasi dan senyawa terklorinasi netral.
Lebih lanjut Sunoko (2005) mengatakan bahwa limbah pulp juga
mengandung logam seperti Zn (seng), Cd (kadmium), Cr (kromium), Cu
(tembaga), Pb (timah hitam) dan Hg (air raksa). Dari hasil analisis
sampel limbah pulp dari Boat Harbour, Kanada pada bulan Oktober 1990,
kandungan logam arsen total sebesar 0,13 mg/l, kadmium total sebesar
0,01 mg/l, kromium total sebesar 0,01 mg/l, tembaga total sebesar 0,01
mg/l, Pb total sebesar 0,02 mg/l, Hg total sebesar 0,00015 mg/l, seng total
sebesar 0,07 mg/l, nikel total sebesar 0,01 mg/l dan kobalt sebesar 0,01
mg/l.
Tabel 1. Baku mutu limbah cair industri pulp dan kertas

Parameter

Kadar
maksimum
(kg/ton)
a)

Beban pencemaran
maksimum
(kg/ton)
a)

Kadar maksimum
(kg/ton)
b)

BOD
5
150 25,5 70
COD 350 59,5 150
TSS 150 25,5 70
Pb - - 0,1
pH 6,0 – 9,0
Debit limbah
maksimum
170 m
3
/ton produk kertas kering
50 m
3
/ton produk
kertas kering
Sumber :
a)
Menteri Lingkungan Hidup (1995)
b)
Keputusan Gubernur Jawa Timur tanggal 17 Juni 2002
Keterangan :
- : tidak diatur
Pb : khusus untuk industri yang melakukan proses de-inking dalam
pembuatan pulp untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan
pulpnya

Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang
mengandung klorin. Klorin ini akan bereaksi dengan senyawa organik
dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti dioksin. Dioksin ini
ditemukan dalam proses pembuatan kertas, air limbah (efluen) bahkan di
dalam produk kertas yang dihasilkan. Meskipun konsentrasi dioksin di
air limbah sangat kecil, tetapi selama pabrik terus beroperasi, konsentrasi
dioksin di dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa
organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda
jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses
biomagnifikasi. Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam
jaringan tubuh hewan air menjadi ratusan kali lebih besar dibandingkan di
dalam air tempat hidupnya (Rini, 2002).
Baku mutu limbah cair untuk industri pulp dan kertas seperti yang
diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.
51/MenLH/10/1995 adalah sebagaimana Tabel 1 di atas.

2.3. PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI

Limbah industri terdiri dari limbah gas, cair dan padat. Menurut
Sunu (2001), berbagai cara untuk mencegah pencemaran udara antara lain :
1. Pencemar berbentuk gas
a. Adsorbsi
Adsorbsi merupakan proses melekatnya molekul polutan atau ion
pada permukaan zat padat, yaitu adsorben, seperti karbon aktif dan
silikat.
b. Absorbsi
Absorbsi merupakan proses penyerapan yang memerlukan solven
yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan konsentrasinya.
c. Kondensasi
Kondensasi merupakan proses perubahan uap air atau benda gas
menjadi cair pada suhu udara di bawah titik embun.
d. Pembakaran
Pembakaran merupakan proses untuk menghancurkan gas
hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan dengan menggunakan
proses oksidasi panas yang disebut incineration menghasilkan gas
karbon dioksida (CO
2
) dan air.

2. Pencemaran berbentuk partikel
a. Filter
Filter udara bertujuan menangkap debu atau partikel yang ikut
keluar cerobong atau stack pada permukaan filter agar tidak ikut
terlepas ke lingkungan.
b. Filter basah
Cara kerja filter basah atau scrubbers/ wet collectors adalah
membersihkan udara kotor dengan menyemprotkan air dari bagian
atas alat sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat.
c. Elektrostatik
Alat pengendap elektrostatik menggunakan arus searah (DC) yang
mempunyai tegangan 25 – 100 KV sehingga terjadi pemberian
muatan pada polutan dan akhirnya mengendap.
d. Kolektor mekanis
Kolektor mekanis merupakan proses pengendapan polutan partikel
berukuran besar secara gravitasi. Contohnya adalah cyclone
separators (pengendap siklon) dengan memanfaatkan gaya
sentrifugal.
3. Program penghijauan
Program penghijauan bertujuan untuk menyerap hasil pencemaran
udara berupa gas karbon dioksida (CO
2
) dan melepas oksigen sehingga
mengurangi jumlah polutan di udara.
4. Pembersih udara secara elektronik
Pembersih udara secara elektronik (electronic air cleaner) dapat
berfungsi mengurangi polutan udara dalam ruangan.
5. Ventilasi udara dan exhaust fan
Ventilasi udara dan exhaust fan bertujuan agar kebutuhan oksigen
ruangan tercukupi dan polutan segera keluar dari ruangan sehingga
ruangan bebes polutan.
Lebih lanjut Sunu (2001) menyatakan bahwa proses pengolahan
limbah cair pada dasarnya dikelompokkan menjadi 3 tahap yaitu :
1. Pengolahan primer
Pengolahan primer bertujuan membuang bahan – bahan padatan yang
mengendap atau mengapung. Pada dasarnya pengolahan primer terdiri
dari tahap – tahap untuk memisahkan air dari limbah padatan dengan
membiarkan padatan tersebut mengendap atau memisahkan bagian –
bagian padatan yang mengapung. Pengolahan primer ini dapat
menghilangkan sebagian BOD dan padatan tersuspensi serta sebagian
komponen organik. Proses pengolahan primer limbah cair ini biasanya
belum memadai dan masih diperlukan proses pengolahan selanjutnya.
2. Pengolahan sekunder
Pengolahan sekunder limbah cair merupakan proses dekomposisi
bahan – bahan padatan secara biologis. Penerapan yang efektif akan
dapat menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan BOD.
Ada 2 proses pada pengolahan sekunder yaitu :
a. Penyaring trikle
Penyaring trikle menggunakan lapisan batu dan kerikil dimana
limbah cair dialirkan melalui lapisan ini secara lambat. Dengan
bantuan bakteri yang berkembang pada batu dan kerikil akan
mengkonsumsi sebagian besar bahan – bahan organik.
b. Lumpur aktif
Kecepatan aktivitas bakteri dapat ditingkatkan dengan cara
memasukkan udara dan lumpur yang mengandung bakteri ke
dalam tangki sehingga lebih banyak mengalami kontak dengan
limbah cair yang telah diolah pada proses pengolahan primer.
Selama proses ini limbah organik dipecah menjadi senyawa –
senyawa yang lebih sederhana oleh bakteri yang terdapat di
dalam lumpur aktif.


3. Pengolahan tersier
Proses pengolahan primer dan sekunder limbah cair dapat menurunkan
BOD air dan meghilangkan bakteri yang berbahaya. Akan tetapi
proses tersebut tidak dapat menghilangkan komponen organik dan
anorganik terlarut. Oleh karena itu perlu dilengkapi dengan
pengolahan tersier.
Pengolahan limbah cair pada industri pulp dan kertas terdiri atas
tahap netralisasi, pengolahan primer, pengolahan sekunder dan tahap
pengembangan. Sebelum masuk ke tempat pengendapan primer, air limbah
masuk dalam tempat penampungan dan netralisasi. Pada tahap ini
digunakan saringan untuk menghilangkan benda – benda besar yang masuk
ke air limbah.
Pengendapan primer biasanya bekerja atas dasar gaya berat. Oleh
karenanya memerlukan waktu tinggal sampai 24 jam. Untuk meningkatkan
proses pengendapan dapat digunakan bahan flokulasi dan koagulasi di
samping mengurangi bahan yang membutuhkan oksigen. Pengolahan
secara biologis dapat mengurangi kadar racun dan meningkatkan kualitas
air buangan (bau, warna, dan potensi yang mengganggu badan air).
Apabila terdapat lahan yang memadai dapat digunakan laguna fakultatif
dan laguna aerasi. Laguna aerasi akan mengurangi 80 % BOD dengan
waktu tinggal 10 hari.
Apabila tidak terdapat lahan yang memadai maka proses lumpur
aktif, parit oksidasi dan trickling filter dapat digunakan dengan hasil
kualitas yang sama tetapi membutuhkan biaya operasional yang tinggi.
Tahap pengembangan dilakukan dengan kapasitas yang lebih besar, melalui
pengolahan fisik dan kimia untuk melindungi badan air penerima (Devi,
2004).
Sedangkan endapan (sludge) yang biasanya diperoleh dari proses
filter press dari IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), menurut Sunu
(2001) dapat dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya dan
Beracun) atau tidak. Pembuangan lumpur organik, termasuk pada industri
pulp dan kertas, dapat dibedakan menjadi :
1. Metode pembakaran
Metode pembakaran ini merupakan salah satu cara untuk mencegah
dampak lingkungan yang lebih luas sebelum dilakukan pembuangan
akhir. Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain adalah
metode incinerator basah yang mengoksidasi lumpur organik pada
suhu dan tekanan tinggi.
2. Metode fermentasi metan dan metode pembusukan
Metode fermentasi metan dilakukan menggunakan tangki fermentasi
sehingga dihasilkan gas metan, sedangkan metode pembusukan akan
diperoleh hasil akhir berupa kompos.
Lumpur yang dihasilkan dari pengolahan buangan pada masa lalu
biasanya ditimbun. Akan tetapi sistem ini menimbulkan bau karena
pembusukan dan menyebabkan pencemaran air tanah dan air permukaan.
Sekarang lumpur dihilangkan airnya dan dibakar atau digunakan sebagai
bahan bakar (Rini, 2002).

2.4. DAMPAK LIMBAH INDUSTRI KERTAS

Keberadaan industri kertas seringkali memicu protes masyarakat
seperti yang pernah terjadi di Kabupaten Nganjuk (Arisandi, 2004)
dimana buangan limbah industri kertas menimbulkan bau busuk.
Akibatnya sebagian besar sumur gali masyarakat sekitar tidak dapat
dimanfaatkan. Sedangkan bahan kimia yang terikut dalam limbah cair
setiap malam menimbulkan gangguan pernafasan bagi penduduk yang
tinggal di bantaran kali.
Menurut Arisandi (2004), limbah perusahaan kertas memiliki nilai
BOD/ COD yang sangat tinggi sehingga apabila dibuang ke perairan akan
mengakibatkan degradasi kualitas air yang ditandai dengan matinya ikan
dan biota air lainnya. Di samping itu limbah industri kertas yang
menimbulkan bau busuk yang mengganggu pernafasan penduduk di
sekitarnya karena terdapat komponen selulosa (bahan dasar pulp) bila
tertimbun di dasar sungai.
Hal ini serupa dengan yang ditulis JEMAI (1999), bahwa jenis
polutan berlumpur yang mengandung padatan tersuspensi organik dan
anorganik antara lain dihasilkan oleh industri kertas dan pulp dimana
pengaruhnya pada konsentrasi tinggi menyebabkan ikan susah bernafas
dan mengganggu fotosintesa.
Menurut Rini (2002), pencemaran lingkungan yang disebabkan
oleh industri kertas antara lain :
a. membunuh ikan, kerang, dan invertebrata akuatik lainnya
b. memasukkan zat kimia karsinogenik dan zat pengganggu aktivitas
hormon ke dalam lingkungan
c. menghabiskan jutaan liter air tawar
d. menimbulkan resiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat kimia
berbahaya dari limbah industri yang mencemari lingkungan
Dalam percobaan laboratorium efluen industri kertas menyebabkan
penyimpangan reproduksi pada zooplankton dan invertebrata yang
merupakan prey dari ikan serta kerusakan genetik dan reaksi sistem
kekebalan tubuh pada ikan (Rini, 2002) dan kerusakan hati serta deformasi
tulang belakang (Minister of Health Canada, 2004).
Lebih lanjut Rini (2002) mengatakan bahwa dioksin yang
merupakan salah satu jenis organoklorin dan menimbulkan efek toksin,
banyak ditemukan dalam konsentrasi tinggi di daerah masyarakat pesisir
yang mempunyai pabrik pulp. Senyawa organoklorin dapat menimbulkan
berbagai gangguan kesehatan seperti kanker, cacat lahir, endometriosis,
penurunan jumlah spermatozoa, dan gangguan perkembangan janin.
Senyawa organoklorin juga menyebabkan kerusakan genetis dan
penurunan daya tahan ikan salmon dan ikan lainnya. Adapun menurut
Slamet (2002), zat organik yang bereaksi dengan klor dapat menjadi
senyawa yang karsinogenik seperti trihalometan yang pengaruhnya
terhadap kesehatan dapat bersifat langsung.
Dioksin sering digunakan untuk menyatakan tiga jenis zat kimia
dengan toksisitas akut yaitu dioksin, furan, dan polychlorinated biphenyls
(PCBs) yang semuanya memiliki dua cincin benzena dan senyawa klorin
(Rini, 2002).
Partikel yang dihasilkan oleh industri pulp dan kertas dapat
mengganggu kesehatan antara lain meningkatkan resiko penyakit
pernafasan dan kardiovaskuler serta kematian prematur. Sedangkan
kloroform kemungkinan besar dapat menyebabkan kanker, paparan jangka
pendek dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat dan mengakibatkan
pusing dan sakit kepala. Sedangkan dalam jangka panjang dapat
mempengaruhi liver. Paparan dioksin dan furan dapat menyebabkan
gangguan kulit, kanker, mempengaruhi reproduksi serta sistem kekebalan
tubuh (EPA, 1997).
Menurut Green (2005), terdapat beberapa senyawa dalam industri
pulp dan kertas yang berpeluang besar bersifat karsinogenik, yaitu :
1. asbes
Asbes dapat menyebabkan kanker paru – paru, digunakan pada
penyambungan pipa dan boiler.
2. aditif kertas lainnya termasuk benzidine-base dyes, formaldehid dan
epichlorohydrin yang berpeluang menimbulkan kanker pada
manusia.
3. kromium heksavalen dan senyawa nikel
Senyawa ini umumnya digunakan pada pengelasan stainless steel dan
dikenal sebagai karsinogenik terhadap paru – paru dan organ
pernafasan lain.
4. debu kayu (utamanya kayu keras)
Debu kayu keras dikenal sebagai penyebab kanker pernafasan.
5. hidrazin, styren, minyak mineral, chlorinated phenols dan dioxin
Senyawa – senyawa tersebut berpeluang besar menyebabkan kanker.
Sedangkan Hirsch (1999) menggolongkan resiko terhadap
kesehatan yang disebabkan oleh polutan industri pulp ke dalam 5 golongan
utama, yaitu asma dan penyakit paru – paru lainnya, kanker, masalah
reproduksi (infertilitas) dan hormon, ketidakmampuan belajar, dan efek
kesehatan lain seperti penyakit hati, kehilangan sistem kekebalan, alergi
dan sebagainya. Lebih lanjut Hirsch (1999) menyebutkan beberapa
polutan industri pulp yang mempengaruhi kesehatan adalah :
1. bahan partikulat
Bahan partikulat ini menyebabkan asma dan penyakit hati.
2. dioxin
Senyawa dioxin menyebabkan kanker, diabetes, ketidakmampuan
belajar dan penyakit lainnya.
3. klorin/ gas Cl
2

Senyawa ini menyebabkan penyakit paru – paru, masalah hormon
dan reproduksi.
4. hidrogen sulfida
Gas H
2
S ini menyebabkan kerusakan sistem kekebalan, masalah
pernafasan dan alergi.
5. formaldehid dan asetaldehid
Senyawa formaldehid dan asetaldehid ini menyebabkan kanker.
Menurut Yadav (2006), polychlorinated biphenyls (PCBs) melalui
air dapat masuk ke ikan yang bila dikonsumsi oleh manusia dapat
menyebabkan penyakit (umumnya kanker). Paparan PCB berhubungan
dengan aktivitas biokimia yang berdampak negatif terhadap kesehatan
seperti peningkatan ekskresi 17-hydroxycorticosteroid dan aktivitas g-
glutamyl transpeptidase, penurunan serum bilirubin dan peningkatan
limfosit, peningkatan penyakit kulit seperti chlorane, folliculitis dan
dermatitis, hepatomegali, peningkatan serum kolesterol dan tekanan darah.
PCB juga meningkatkan frekuensi penyakit yang berbahaya dan
meningkatkan kematian karena kanker saluran pencernaan, hematologic
neoplasma dan frekuensi kanker paru.
Lebih lanjut Yadav (2006) mengatakan bahwa senyawa dioksin
yang dihasilkan dari industri kertas melalui air limbah dapat masuk ke
ikan yang dikonsumsi oleh manusia dan mengakibatkan dampak negatif
pada kesehatan. Senyawa 2,3,7,8-tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2378-
TCDD) merupakan senyawa organik yang paling toksik, tidak terdegradasi
secara biologi dan menyebabkan penyakit bintik hitam di kulit. Beberapa
senyawa toksik bersifat merusak kesehatan reproduksi dan menyebabkan
kemandulan pada manusia.
Zat kimia lain yang kemungkinan besar terdapat di dalam limbah
pulp dan kertas adalah logam – logam berbahaya antara lain air raksa, Pb,
kadmium, kromium dan sebagainya. Menurut Slamet (2002), gejala
keracunan air raksa secara umum seperti sakit kepala, mudah lelah dan
teriritasi, lengan dan kulit terasa kebal, sulit menelan, penglihatan kabur,
luas penglihatan menyempit, ketajaman pendengaran berkurang dan
koordinasi otot – otot lenyap. Beberapa orang secara konstan merasa
seperti ada logam di mulut, gusi membengkak dan diare secara meluas.
Sedangkan untuk kadmium, sebenarnya tubuh manusia tidak
membutuhkannya dalam proses metabolisme. Apabila kadmium masuk ke
dalam tubuh sebagian akan terkumpul di dalam hati, ginjal dan sebagian
dikeluarkan lewat saluran pencernaan. Gejala keracunan kadmium antara
lain sakit pinggang yang semakin parah, tulang punggung terasa sangat
nyeri yang diikuti dengan osteomalacia (pelunakan tulang) dan faktur
tulang punggung yang multipel. Kematian biasanya diakibatkan karena
gagal ginjal.
Air raksa (Hg) merupakan racun sistemik dan diakumulasikan ke
hati, ginjal, limfa dan tulang. Keracunan Hg akan menimbulkan gejala
ganggunan susunan syaraf pusat seperti kelainan kepribadian dan tremor,
kejang, pikun, insomnia, kehilangan kepercayaan diri, iritasi, depresi dan
rasa ketakutan. Gejala gastro intestinal seperti stomatitis, hipersalivasi,
colitis, sakit saat mengunyah, ginggivitis, garis hitam pada gusi (leadline)
dan gigi mudah melepas. Kulit dapat menderita dermatitis dan ulcer. Hg
organik cenderung merusak sistem susunan syaraf pusat, sedangkan Hg
anorganik biasanya merusak ginjal dan menyebabkan cacat bawaan
(Slamet 2002).

2.5. KESEHATAN MASYARAKAT

Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, pada
pasal 1 butir 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesehatan adalah
keadaan meliputi kesehatan badan, rohani (mental) dan sosial dan bukan
hanya keadaan yang bebas penyakit, cacat dan kelemahan sehingga dapat
hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Derajat kesehatan masyarakat
dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor
pelayanan kesehatan, dan faktor bawaan (keturunan). Dari keempat faktor
tersebut, faktor lingkungan merupakan faktor yang paling besar
pengaruhnya dibandingkan dengan ketiga faktor yang lain.
Pada umumnya, bila manusia dan lingkungannya berada dalam
keadaan seimbang, maka keduanya berada dalam keadaan sehat. Akan
tetapi karena sesuatu sebab sehingga keseimbangan ini tergangggu atau
mungkin tidak dapat tercapai, maka dapat menimbulkan dampak yang
merugikan bagi kesehatan. Keseimbangan tersebut sangat kompleks (Anies,
2006).
Selanjutnya Soemirat (2000) mengatakan dalam paradigma
kesehatan lingkungan ada 4 simpul yang berkaitan dengan proses pajanan
B3 yang dapat mengganggu kesehatan. Keempat simpul tersebut adalah :
- Simpul 1 : Jenis dan skala kegiatan yang diduga menjadi sumber
pencemar atau biasa disebut sebagai sumber emisi B3.
Sumber emisi B3 pada umumnya berasal dari sektor industri,
transportasi, yang mengeluarkan berbagai bahan buangan yang
mengandung senyawa kimia yang tidak dikehendaki. Emisi tersebut
dapat berupa gas, cairan, maupun partikel yang mengandung senyawa
organik maupun anorganik.
- Simpul 2 : Media lingkungan (air, tanah, udara, biota).
Emisi dari simpul 1 dibuang ke lingkungan, kemudian menyebar
secara luas di lingkungan sesuai dengan kondisi media transportasi
limbah. Bila melalui udara, maka sebarannya tergantung dari arah
angin dominan dan dapat menjangkau wilayah yang cukup luas. Bila
melalui air maka dapat menyebar sesuai dengan arah aliran yang
sebarannya dapat sangat jauh. Komponen lain yang ikut menyebarkan
emisi tersebut adalah biota air yang ikut tercemar.
- Simpul 3 : Pemajanan B3 ke manusia.
Di lingkungan, manusia dapat menghirup udara yang tercemar, minum
air yang tercemar, makan makanan yang terkontaminasi dan dapat pula
kemasukan B3 melalui kulit. Pada umumnya titik pemajanan B3
kedalam tubuh manusia melalui pernafasan, oral (mulut) dan kulit
- Simpul 4 : Dampak Kesehatan yang timbul.
Akibat kontak dengan B3 atau terpajan oleh pencemar melalui
berbagai cara seperti pada simpul 3, maka dampak kesehatan yang
timbul bervariasi dari ringan, sedang, sampai berat bahkan sampai
menimbulkan kematian, tergantung dari dosis dan waktu pemajanan.
Jenis penyakit yang ditimbulkan, pada umumnya merupakan penyakit
non infeksi antara lain keracunan, kerusakan organ, kanker, hipertensi,
asma bronchioli, pengaruh pada janin yang dapat mangakibatkan lahir
cacat (cacat bawaan), kemunduran mental, gangguan pertumbuhan
baik fisik maupun psikis, gangguan kecerdasan dan lain sebagainya.
Air sebagai bagian dari lingkungan manusia mempunyai pengaruh
langsung maupun tidak terhadap kesehatan manusia. Adanya pengotoran
badan air oleh zat – zat kimia dapat menurunkan kadar oksigen terlarut, zat-
zat kimia yang sukar diuraikan secara alamiah dan menyebabkan masalah
seperti estetika, kekeruhan dan kesehatan. Sedangkan pengaruh langsung
air adalah sebagai penyebar penyebab penyakit ataupun sebagai sarang
penyebar penyakit (Slamet, 2002).
Menurut Soemirat (2000), faktor – faktor yang menentukan
perbedaan atau variabilitas faktor biologi manusia yang diturunkan yang
menentukan sekali terjadinya penyakit adalah :
1. usia
Berbagai penyakit dapat menyerang usia tertentu seperti polio,
pertusis, difteri, cacar air dan sebagainya banyak menyerang anak –
anak karena belum mempunyai kekebalan terhadapnya, penyakit
degeneratif banyak menyerang orang tua dan penyakit karena
ketidakseimbangan hormonal banyak menyerang golongan usia akil
balig.
2. jenis kelamin
Perbedaan insidensi berbagai penyakit disebabkan paparan
terhadap agen bagi setiap jenis kelamin yang berbeda. Menurut
Notoadmodjo (2003), angka di luar negeri menunjukkan angka
kesakitan lebih tinggi terjadi pada wanita dan angka kematian terjadi
lebih tinggi pada semua umur. Hal tersebut disebabkan oleh faktor –
faktor intrinsik antara lain :
a. faktor keturunan yang terkait dengan jenis kelamin atau
perbedaan hormonal
b. berperannya faktor – faktor lingkungan, misalnya lebih banyak
pria merokok, minum minuman keras, candu, bekerja keras dan
melakukan pekerjaan berbahaya daripada wanita
3. bangsa
Perbedaan antarbangsa menentukan perbedaan komposisi
genetiknya yang selanjutnya akan menentukan kepekaan atau
kekebalan terhadap penyakit tertentu. Pada umumnya warna kulit
yang gelap lebih tahan terhadap penyakit kulit. Sebaliknya TBC lebih
mudah berkembang pada golongan kulit hitam daripada Kaukasian.
4. keluarga
Faktor keluarga berhubungan dengan faktor genetik yang dapat
diturunkan apabila lingkungan memungkinkan untuk timbul, misalnya
penyakit diabetes mellitus, buta warna, hemofilia, asma atau penyakit
jiwa. Penyakit TBC dapat timbul lebih cepat pada individu yang
mempunyai bakat yang diturunkan. Urutan anak akan berbeda baik
dalam potensial kesehatan maupun potensial penyakit dan perlakuan
keluarga terhadapnya.
5. daya tahan natural
Daya tahan natural adalah struktur dan fungsi tubuh serta
sistem kekebalan yang didapat manusia sejak lahir. Kekebalan
alamiah didapat secara alamiah karena infeksi atau mendapat antibodi
dari ibu selama dalam kandungan, misalnya adalah penyakit morbili,
polio, dan cacar air.
Sedangkan atribut yang didapat oleh seseorang setelah lahir antara
lain adalah :
1. status kesehatan
Yang termasuk di dalam status kesehatan ini adalah status
fisiologis, status gizi dan pengalaman sakit. Status fisiologis adalah
keadaan fungsi tubuh seseorang yang akan mempengaruhi manifestasi
suatu penyakit. Status gizi didapat dari nutrien yang diberikan
kepadanya. Sedangkan pengalaman sakit ikut menentukan kekuatan
tubuhnya.

2. status kekebalan
Kekebalan terhadap penyakit diperoleh dari pengalaman sakit,
pemberian vaksinasi (kekebalan aktif) dan mendapat serum
(kekebalan pasif).
3. perilaku
Perilaku ditentukan oleh panutan, budaya, sumber daya,
perasaan dan pemikiran seseorang. Panutan yaitu tokoh penting
dalam masyarakat seperti tokoh masyarakat, tokoh agama maupun
orang yang berpendidikan tinggi serta budaya sebagai cara/ gaya
hidup dapat mengubah perilaku masyarakat. Demikian juga dengan
perasaan dan pemikiran seseorang. Sedangkan sumber daya yang
meliputi ketersediaan materi, waktu, keterampilan, uang, fasilitas dan
sebagainya akan mempengaruhi taraf kesehatan seseorang.
Menurut Soemirat (2003), bahan asing bagi tubuh organisme
(disebut xenobiotik) dapat masuk ke dalam tubuh organisme melalui
berbagai jalan, yaitu :
1. oral
Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme
melalui mulut dan masuk ke dalam saluran pencernaan.
2. inhalasi
Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme
melalui saluran pernafasan. Kondisi ini akan memudahkan bahan
asing tersebut masuk ke peredaran darah.
3. dermal
Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme
melalui kulit. Kondisi ini akan lebih mudah memasuki peredaran
darah dibanding per oral.


4. parenteral
Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme
melalui suntikan.

2.6. PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI KERTAS
Produksi bersih didefinisikan sebagai upaya penerapan yang
kontinyu dari suatu strategi pengelolaan lingkungan yang integral dan
preventif terhadap proses, produk dan jasa untuk meningkatkan ekoefisiensi
dan mengurangi terjadinya resiko terhadap manusia dan lingkungan (Liana,
1999). Dalam pemakaiannya banyak pihak menggunakan istilah yang
berbeda untuk menggambarkan tindakan produksi bersih, seperti
pencegahan polusi, pengurangan, minimisasi limbah, pengurangan sumber
dan teknologi bersih. Istilah produksi bersih digunakan untuk menjelaskan
pendekatan secara konsep dan operasi terhadap proses dan produk yang
dapat memperkecil dampak keseluruhan daur hidup produk terhadap
manusia dan lingkungan.
Konsep penerapan produksi bersih digambarkan sebagaimana
Gambar 1 di bawah ini :
TOTAL QUALITY
TOTAL QUALITY ENVIRONMENTAL MANAGEMENT
Pencegahan Pencemaran (Pollution Prevention)
Minimisasi Limbah (Waste Minimization)
Daur Ulang (Recycling)
Pengendalian Pencemaran (Pollution Control)
Pengolahan & Pembuangan (Treatment & Disposal)
Remediasi (Remediation)
Sumber : Liana B, 1999
Gambar 1. Konsep penerapan produksi bersih
Cleaner
Technology
Clean
Technology
Technology
C
L
E
A
N

P
R
O
D
U
C
T
I
O
N
Menurut KMB-EP3 (2004), peluang produksi bersih pada industri
kertas antara lain adalah :
1. Penanganan bahan baku
Sebaiknya bahan baku serpihan – serpihan kayu (chip) yang
akan digunakan sebagai bahan baku atau akan disimpan, diletakkan di
tempat yang tidak bersinggungan langsung dengan tanah agar tidak
terkontaminasi oleh kotoran dan kerikil halus.
2. Pembuatan bubur kertas
Untuk mengurangi kehilangan serat maka perlu perbaikan
kinerja peralatan seperti pompa, penyaring (filter), dan mesin agar
dapat bekerja secara optimal sehingga tidak ada kehilangan bahan.
3. Pembuatan kertas
Agar pemakaian bahan kimia dapat dikurangi maka pada
mesin kertas diupayakan dipasang alat pengukur pH yang bekerja
secara otomatis. Untuk mesin lainnya perlu dilakukan peningkatan
kinerja dengan mengganti bagian yang rusak atau dengan mengganti
bagian yang berkorosi dengan bahan yang tahan korosi.
4. Penghematan air
Untuk mengurangi pemakaian air bersih (fresh water) maka
perlu menggunakan kembali air bersih yang telah digunakan oleh
mesin – mesin lain sebagai pembilas. Air dari pompa vakum dapat
digunakan kembali pada bagian proses lain yang membutuhkan air
panas (misalnya pada tahap akhir pencucian pulp). Langkah lainnya
adalah memperbaiki pompa yang bocor. Pemakaian air yang
berlebihan akan mengurangi keuntungan perusahaan, di sisi lain
perlindungan alam juga harus dijaga dengan pemakaian air secara
efisien.

5. Penghematan energi
Pemakaian energi yang efisien akan menurunkan biaya
energi. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghemat
energi antara lain adalah memanfaatkan uap yang terjadi pada tangki
kondensat sesudah uap tersebut dipakai pada proses pengeringan untuk
air boiler serta memperbaiki insulasi yang rusak sehingga tidak ada
uap panas yang terbuang.
6. Penghematan bahan kimia
Di samping harganya yang mahal, bahan kimia juga
menimbulkan masalah pada lingkungan sehingga diupayakan memakai
bahan kimia seminimal mungkin serta melakukan pengolahan kembali
agar bisa dimanfaatkan kembali (didaur ulang).
7. Minimalisasi limbah
Menurut Rini (2002), program minimalisasi limbah yang
efektif akan mengurangi biaya produksi dan beban pengelolaan limbah
berbahaya sehingga akan meningkatkan efisiensi, kualitas produk dan
hubungan baik dengan masyarakat. Berbagai cara untuk mencapai
minimalisasi limbah mencakup tiga bagian utama yaitu :
a. pengurangan dari sumbernya
Pengurangan sumber limbah mencakup pemeliharaan
dan perawatan yang baik (good house keeping) antara lain dengan
mencegah terjadinya ceceran dan tumpahan bahan. Perubahan
dalam proses produksi sehingga terjadi perubahan input bahan,
pengawasan proses yang lebih ketat, modifikasi peralatan dan
perubahan teknologi yang lebih hemat.



b. daur ulang
Daur ulang dilakukan dengan recovery bahan, air dan
energi bekas pakai untuk dipakai kembali dalam proses
berikutnya.
c. modifikasi produk
Modifikasi produk bertujuan untuk meningkatkan usia
produk sehingga lebih tahan lama, mempermudah daur ulang dan
minimalisasi dampak lingkungan dari pembuangan produk
tersebut.
Sedangkan menurut Devi (2004), banyak industri pulp baru
dirancang secara termomekanik atau kimia mekanik karena banyak bahan
perusak lingkungan yang dihasilkan oleh pabrik konvensional dengan
proses kraft atau sulfit. Di samping itu langkah – langkah lain yang harus
dilakukan di pabrik baru tersebut adalah :
1. Sistem pengambilan kembali bahan kimia secara efisien
2. Pelepasan kulit kayu secara kering
3. Pembakaran limbah dan pengambilan panas kembali
4. Pendaurulangan buangan kilang pengelantangan ke ketel
pengambilan kembali bahan kimia
5. Sistem pencucian brownstock bertahap banyak dengan aliran
berlawanan yang efisien
6. Penggunaan klor dioksida untuk menggantikan klorin dalam proses
pengelantangan konvensional
7. Pemasakan berlanjut dalam proses pembuatan pulp secara kimia
8. Pengurangan lignin oksigen setelah pemasakan secara kimia
9. Pengendalian penggunaan klor yang ketat dalam pengelantangan
dengan cara pemantauan
10. Konservasi dan daur ulang air dalam pabrik kertas dapat mengurangi
volume air limbah sebesar 77 %
11. Sistem deteksi dan pengambilan kembali tumpahan

2.7. SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN
Menurut Sontang Manik (2003), standar manajemen lingkungan
internasional ISO (International Standarization Organization) seri 14000
merupakan upaya memadukan manajemen lingkungan dengan persyaratan
manajemen lainnya (produksi, mutu, tenaga kerja) sehingga tujuan
perusahaan secara ekonomi dapat tercapai. ISO 14001 bertujuan
memberikan unsur – unsur sistem manajemen lingkungan serta membantu
perusahaan untuk penerapan dan penyempurnaan sistem manajemen
lingkungan. Dokumen ISO 14001 berisi unsur – unsur yang harus dipenuhi
oleh perusahaan yang ingin memperoleh sertifikat ISO 14001 atau
perusahaan yang ingin menerapkan sistem manajemen lingkungan (SML)
menurut ISO 14001.
SML adalah bagian dari sistem manajemen keseluruhan yang
meliputi struktur organisasi, perencanaan, proses kegiatan, serta sumber
daya untuk mengembangkan, menerapkan, mencapai, memelihara, dan
mengkaji kebijakan lingkungan. Kinerja lingkungan adalah hasil SML
yang dapat diukur yang berkaitan dengan pengendalian dari organisasi atas
aspek – aspek lingkungan, yang didasarkan pada kebijakan, tujuan dan
sasaran lingkungan yang diinginkan.
Beberapa keuntungan dalam menerapkan SML yaitu :
- pengendalian dampak yang lebih baik
- menekan resiko yang membahayakan lingkungan
- memberi jaminan kepada pelanggan tentang komitmen manajemen
lingkungan
- hubungan dengan masyarakat sekitar perusahaan baik
- kepedulian perusahaan terhadap lingkungan
- ikut menjaga kualitas lingkungan
- mematuhi peraturan perundang - undangan yang berlaku
- membuat sistem manajemen yang efektif
- meningkatkan kepercayaan dan kepuasan konsumen
Sistem manajemen lingkungan yang mengikuti model
Rencanakan-Lakukan-Periksa-Tindaki (Plan-Do-Check-Act atau PDCA)
merupakan proses yang terus berjalan untuk perbaikan berkelanjutan
sebagaimana Gambar 2 dibawah ini.

















Sumber : Badan Standarisasi Nasional (2005)
Gambar 2. Model sistem manajemen lingkungan

Model PDCA adalah proses yang terus menerus, berulang yang
memungkinkan organisasi untuk menetapkan, menerapkan dan
memelihara kebijakan lingkungannya yang didasarkan pada
kepemimpinan manajemen puncak dan komitmen untuk sistem
manajemen lingkungan. Menurut Badan Standarisasi Nasional (2005),
pimpinan
Pemerik-
saan
Penerapan
dan operasi
Rencanakan
Definisi ulang
Perbaikan
berkelanjutan
Tinjauan
manajemen
setelah organisasi melakukan evaluasi status terkininya yang terkait
dengan lingkungan langkah – langkah proses berikutnya adalah :
1. Perencanaan
Yaitu menetapkan proses perencanaan yang terus – menerus yang
memungkinkan organisasi untuk :
a. mengidentifikasi aspek lingkungan dan dampak lingkungan yang
terkait
b. mengidentifikasi dan memantau persyaratan peraturan dan
lainnya yang berlaku serta membuat kriteria kinerja internal bila
diperlukan
c. membuat tujuan dan sasaran serta merumuskan pencapaiannya
d. mengembangkan dan menggunakan indikator kinerja
2. Penerapan
Yaitu menerapkan dan melaksanakan sistem manajemen lingkungan
a. menciptakan struktur manajemen, menetapkan peran dan tanggung
jawab dengan kewenangan yang memadai
b. menyediakan sumber dana yang memadai
c. melatih pekerja untuk kepentingan organisasi
d. menetapkan proses komunikasi internal dan eksternal
e. menetapkan dan memelihara dokumentasi
f. menetapkan dan menerapkan pengendalian dokumen
g. menetapkan dan memelihara pengendalian operasi
h. menjamin adanya kesiagaan dan tanggap darurat
3. Pemeriksaan
Yaitu menilai proses sistem manajemen lingkungan
a. melakukan pemantauan dan pengukuran terus-menerus
b. mengevaluasi status penaatan
c. mengidentifikasi ketidaksesuaian dan melakukan tindakan koreksi
dan pencegahan
d. mengelola rekaman
e. melakukan audit internal secara berkala
4. Tindakan
Yaitu mengkaji dan melakukan tindakan untuk menyempurnakan
sistem manajemen lingkungan
a. melakukan tinjauan manajemen terhadap sistem manajemen
lingkungan pada interval yang memadai
b. mengidentifikasi bidang untuk penyempurnaan
Proses yang terus – menerus itu memungkinkan organisasi untuk
menyempurnakan sistem manajemen lingkungannya dan keseluruhan
kinerja lingkungannya secara berkelanjutan.

2.8. HIPOTESIS

Berdasarkan dasar teori di atas dapat ditarik hipotesis yaitu :
1. Terdapat perbedaan kualitas kesehatan masyarakat yang hidup di sekitar
saluran pembuangan limbah PT Kertas Basuki Rachmat dengan
masyarakat di wilayah lain.
2. Kualitas kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah
PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi oleh kualitas limbah yang
dibuang.


BAB III

METODE PENELITIAN



3.1. KERANGKA PENDEKATAN MASALAH


Menurut Soemirat (2000), pengukuran paparan dengan suatu agen
yang berasal dari lingkungan yang dapat menyebabkan penyakit dapat
dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif. Pengukuran kualitatif
didapat dengan cara wawancara atau kuisioner. Hal ini sering dilakukan
pada studi retrospektif atau melihat kembali ke masa lalu sebelum penyakit
terjadi tetapi orangnya pada saat itu telah menderita sakit.
Lebih lanjut Soemirat (2000) mengatakan bahwa pengukuran efek/
gejala dari suatu penyakit dapat dilakukan dengan kuisioner yang standar.
Kuisioner dapat digunakan untuk memperoleh data tentang kebiasaan
sampel. Adanya gejala suatu penyakit kemudian dapat dihubungkan
dengan keadaan lingkungan dan kebiasaan.
Pada studi riwayat kasus/ kasus kontrol dilakukan pengamatan
secara observasional terhadap masalah kesehatan yang telah lalu
(retrospektif). Pokok pengamatan dimulai dari kasus yang sudah terjadi
kemudian dilacak ke masa lalu. Biasanya studi riwayat kasus dilakukan
dengan kontrol yang mempunyai ciri (misalnya umur, jenis kelamin, ras,
tingkat sosial, dan lain-lain) yang kurang lebih sebanding dengan
kelompok kasus (Budioro, 2002).
Untuk keperluan tersebut maka penelitian yang dilakukan disini
dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :
1. Kuantitatif
Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui kualitas
kesehatan masyarakat pada kedua populasi berdasarkan data yang
terkumpul lewat kuisioner yang selanjutnya dilakukan analisis
secara kuantitatif. Pendekatan kuantitatif lebih dominan daripada
pendekatan kualitatif.
2. Kualitatif
Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui dampak
limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat terhadap kesehatan
masyarakat di sekitarnya berdasarkan data yang dikumpulkan dari
para informan dan instansi terkait lainnya. Pendekatan kualitatif
berfungsi untuk memperkuat pendekatan kuantitatif
Untuk menggambarkan langkah-langkah penelitian tersebut dibuat
diagram alir pendekatan penelitian. Dengan diagram tersebut diharapkan
langkah - langkah penelitian dapat dilakukan secara tepat dan runtut.
Adapun alur pendekatan penelitian yang dilakukan adalah seperti diagram
alir di bawah ini.
Penjabaran dari masing-masing tahap adalah sebagai berikut :
1. Permasalahan
Permasalahan diperoleh dari berbagai sumber baik di
lapangan, data sekunder maupun pendapat dari para informan.
Permasalahan tersebut selanjutnya diformulasi dengan pertanyaan-
pertanyaan dalam kuisioner.
2. Pengumpulan Data
Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data dari kedua
populasi yaitu populasi kontrol yaitu populasi pembanding yang
berada jauh dari saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat, maupun
populasi uji yaitu populasi yang berada dekat saluran limbah PT
Kertas Basuki Rachmat.
Untuk keperluan ini populasi kontrol dan populasi uji
dipilih yang mempunyai karakteristik fisik maupun biologi yang
kurang lebih sama antara lain :
- letak dekat dengan kota
- komposisi umur
- komposisi jenis kelamin
- komposisi tingkat sosial ekonomi
- menggunakan sumur untuk keperluan rumah tangga




















Gambar 3. Diagram Alir Pendekatan Penelitian

Selanjutnya kedua populasi tersebut diberi kuisioner dengan
pertanyaan yang sama meliputi :
- sakit diare
- sakit pencernaan lainnya (kembung, kotoran berdarah dan
sebagainya)
Permasalahan
Identifikasi Penyebab
Analisis Data
Pengumpulan Data
Kesimpulan
Rekomendasi
Populasi kontrol Populasi uji
Evaluasi
sebelum
setelah
- sakit demam
- sakit kepala/ pusing
- sakit kulit
- sakit batuk
- sakit pernafasan lain (asma, sesak nafas dan sebagainya)
- sakit flu/ pilek
- anggota keluarga yang meninggal karena sakit
Pada populasi uji juga diberi pertanyaan mengenai tempat
tinggal sebelum berada di sekitar saluran limbah cair PT Kertas
Basuki Rachmat. Pada sampel yang pernah bertempat tinggal selain
di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat juga diberi
pertanyaan mengenai intensitas sakit – sakit di atas.
3. Analisis Data
Data yang terkumpul dari populasi uji dan populasi kontrol
tersebut selanjutnya dibandingkan dan diuji secara statistik dengan
uji beda untuk masing-masing parameter maupun secara kumulatif
untuk semua parameter. Demikian juga data antar populasi uji
sebelum dan setelah tinggal di tempat sekarang juga dianalisis.
Analisis data menggunakan program SPSS 12,0.
4. Identifikasi Penyebab
Hasil dari analisis uji beda selanjutnya diidentifikasi
penyebabnya berdasarkan data yang diperoleh dari para informan,
Puskesmas setempat, data kualitas sumber air, data kualitas limbah
cair PT Kertas Basuki Rachmat dan data dari pihak - pihak terkait
lainnya.
5. Evaluasi
Dari data yang telah terkumpul dan data dari pihak – pihak
terkait di atas selanjutnya dievalusi apakah ada pengaruh limbah cair
PT Kertas Basuki Rachmat terhadap kualitas kesehatan masyarakat
pada populasi uji. Di samping itu juga dievaluasi kemungkinan
faktor yang menyebabkannya.
6. Kesimpulan
Dari evaluasi di atas selanjutnya diperoleh suatu kesimpulan
yang terkait dengan tujuan penelitian.
7. Rekomendasi
Dari kesimpulan yang diperoleh kemudian dibuat
rekomendasi untuk mencegah timbulnya dampak negatif di masa
mendatang yang ditujukan kepada pembuat kebijakan di lapangan.

3.2. RUANG LINGKUP

Limbah cair yang akan diteliti adalah limbah cair yang dikeluarkan
oleh PT Kertas Basuki Rachmat dan dialirkan ke saluran limbah di sekitar
pemukiman penduduk. Adapun kesehatan masyarakat yang akan diamati
adalah intensitas sakit diare, pencernaan lainnya, demam, sakit kepala,
kulit, batuk, pernafasan lainnya, flu/ pilek serta anggota keluarga yang
meninggal karena sakit.
Untuk mengukur intensitas terjangkitnya sakit tersebut dibuat
pembatasan sebagai berikut :
Tabel 2. Batasan intensitas terjangkitnya sakit
Skala Intensitas Batasan
1. Tidak pernah rata-rata kurang dari setahun sekali
2. Jarang rata-rata 1 – 6 kali setahun
3. Kadang - kadang rata-rata 7 -12 kali setahun
4. Sering rata-rata lebih dari 12 kali setahun



3.3. WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan April
2007 dan berlokasi di sepanjang jalur pembuangan limbah cair PT Kertas
Basuki Rachmat di Kelurahan Lateng serta Kelurahan Pengantigan
Kecamatan Banyuwangi, Kabupaten Banyuwangi, Propinsi Jawa Timur.

3.4. JENIS SUMBER DATA

Pada penelitian ini digunakan 2 jenis sumber data yaitu data primer
dan data sekunder.
1. Data primer
Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari
lapangan. Data ini meliputi pertanyaan - pertanyaan yang
disampaikan kepada responden melalui kuisioner, hasil observasi
dan wawancara kepada para informan.
2. Data sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak
langsung dari lapangan. Data sekunder tersebut antara lain adalah :
- data kandungan bahan kimia dalam limbah cair industri
kertas,
- data kesehatan penduduk,
- data geografi,
- data hasil uji kualitas air sumur,
- data kependudukan,
- data pendukung lainnya yang diperoleh dari buku, jurnal,
pamflet maupun internet.

3.5. TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini
digunakan beberapa teknik yaitu :
1. Kuisioner
Data yang dikumpulkan dengan kuisioner diberikan
kepada para responden dengan pertanyaan yang sama baik untuk
populasi kontrol maupun populasi uji dengan basis rumah tangga.
Kuisioner diberikan dalam dua tahap yaitu tahap pendahuluan
untuk menjaring sampel yang memenuhi kriteria, dan tahap
lanjutan untuk mendapatkan informasi tentang status kesehatan
sampel.
2. Observasi
Observasi dilakukan dengan cara pengamatan dan
pencatatan terhadap kondisi fisik, sosial, budaya masyarakat,
kondisi fisik saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki
Rachmat, proses produksi dan proses pengolahan limbah PT Kertas
Basuki Rachmat dan lain-lain yang diperoleh di lapangan.
3. Wawancara
Wawancara dilakukan secara terbatas kepada petugas
Puskesmas, tokoh masyarakat, pihak PT Kertas Basuki Rachmat
atau pihak - pihak lain yang terkait.

3.6. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL

Dari populasi warga/ penduduk yang bermukim di sekitar saluran
pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat sekitar 1 km dari PT
Kertas Basuki Rachmat ke arah laut (Kelurahan Lateng) dan di wilayah
lain (Kelurahan Pengantigan) diambil sampel sebanyak masing-masing 66
orang dengan sistem purposive sampel (pengambilan sampel dengan
pertimbangan dan sifat-sifat tertentu). Pengambilan sampel dilakukan
dengan basis rumah tangga. Kepada masing-masing responden baik pada
populasi uji maupun populasi kontrol diberikan kuisioner yang berisi
pertanyaan yang sama secara terbuka maupun tertutup. Selanjutnya pada
populasi uji yang pernah tinggal di tempat lain yaitu sebelum berada di
sekitar salurah limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat yaitu sebanyak 39
orang juga diberi kuisioner yang berisi pertanyaan yang sama. Sedangkan
pengambilan air sumur pada masing – masing populasi uji dan populasi
kontrol dilakukan dengan sistem acak (random sample). Peta lokasi
penelitian tertera dalam Lampiran 2.
3.7. TEKNIK ANALISIS DATA

Data yang terkumpul dari para responden selanjutnya dianalisis
secara statistik dengan metode statistik komparatif dengan
membandingkan masing - masing parameter maupun kumulasi semua
parameter dari populasi satu dengan yang lainnya menggunakan uji beda (t
- test). Adapun hipotesis yang diajukan adalah :
Ho : tidak terdapat perbedaan antara parameter populasi satu dengan
populasi kedua
atau Ho : µ
1
= µ
2

Ha : terdapat perbedaan antara parameter populasi satu dengan
populasi kedua
atau Ha : µ
1
≠ µ
2

(Sugiyono, 2002)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN



4.1 GAMBARAN LOKASI PENELITIAN
4.1.1 KABUPATEN BANYUWANGI
Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah paling timur dari
Pulau Jawa, berada pada garis 7,43
o
– 8,46
o
LS dan 113,53
o

114,38
o
BT berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di sebelah
utara, Kabupaten Jember dan Bondowoso di sebelah barat, Selat Bali
di sebelah timur dan Samudera Hindia di sebelah selatan. Umumnya
daerah bagian selatan, barat dan utara merupakan daerah
pegunungan, sehingga pada daerah ini mempunyai tingkat
kemiringan tanah dengan rata – rata mencapai 40
o
serta dengan rata-
rata curah hujan lebih tinggi dibanding dengan daerah di bagian lain.
Sedangkan daerah datar terbentang luas dari bagian selatan hingga
utara yang tidak berbukit. Daerah ini banyak dialiri sungai – sungai
yang bermanfaat untuk mengairi hamparan sawah yang luas.
Kabupaten Banyuwangi mempunyai luas daratan sebesar
5.782,50 km
2
. Sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi
masih merupakan daerah kawasan hutan yaitu sekitar 14,21 %,
daerah persawahan yaitu sekitar 11,53 %, perkebunan yaitu sekitar
14,21 %, pemukiman sekitar 21,66 % dan sisanya untuk berbagai
manfaat seperti jalan, ladang dan sebagainya.
Tingkat kesuburan tanah di Kabupaten Banyuwangi
dipengaruhi juga oleh adanya DAS (Daerah Aliran Sungai) di
wilayah ini. Di Kabupaten Banyuwangi terdapat 35 buah DAS yang
sepanjang tahun cukup untuk mengairi sawah. Salah satu DAS yang
ada tersebut adalah DAS Sukowidi, yang terdiri dari sungai
Sukowidi dengan panjang 10.869 meter, Sungai Kelir dengan
panjang 14.444 meter, dan Sungai Bulak sepanjang 3.888 meter,
mampu mengairi sawah seluas 257 hekter.
Berdasarkan hasil sensus tahun 2000, penduduk Kabupaten
Banyuwangi tergambar dalam Tabel 3 di bawah ini. Sedangkan
pada tahun 2006 jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi adalah
1.575.089 (Bappeda Kabupaten Banyuwangi, 2006).

Tabel 3. Distribusi penduduk Kabupaten Banyuwangi berdasarkan
hasil sensus tahun 2000
Kel. umur Laki - laki Wanita Total
0 – 4 tahun 59.313 56.465 115.778
5 – 9 tahun 62.523 59.734 122.257
10 – 14 tahun 66.952 62.228 129.180
15 – 19 tahun 72.375 67.213 139.588
20 – 24 tahun 59.420 63.967 123.387
25 – 29 tahun 64.998 69.036 134.034
30 – 34 tahun 62.542 65.889 128.431
35 – 39 tahun 61.357 61.516 122.873
40 – 44 tahun 51.806 50.546 102.352
45 – 49 tahun 45.298 42.183 87.481
50 – 54 tahun 37.758 35.877 73.635
55 – 59 tahun 30.862 28.966 59.828
60 – 64 tahun 24.979 27.610 52.589
65 – 69 tahun 18.027 20.358 38.385
70 – 74 tahun 13.272 14.692 27.964
75 tahun ke atas 14.578 16.451 31.029
total 746.060 742.731 1.488.791
Sumber : Bappeda Kabupaten Banyuwangi, 2006



Kabupaten Banyuwangi mempunyai ibukota Kecamatan
Banyuwangi dengan luas sebesar 30,13 km
2
atau 0,52 % dari luas
Kabupaten Banyuwangi. Pada tahun 2006 jumlah penduduk
Kecamatan Banyuwangi adalah sebanyak 107.715 jiwa atau 29.106
keluarga dengan kepadatan penduduk 3,575 jiwa/ km
2
. Pada tahun
2006, jumlah keluarga miskin di Kabupaten Banyuwangi sebanyak
157.818 keluarga atau 464.555 jiwa dengan rata – rata 2,94 jiwa per
keluarga. Sedangkan di Kecamatan Banyuwangi jumlah keluarga
miskin sebanyak 7.815 keluarga atau 25.415 jiwa dengan rata – rata
3,25 jiwa per keluarga (Pemkab Banyuwangi, 2006). Gambar peta
Kabupaten Banyuwangi tertera pada Lampiran 3.

4.1.2 KELURAHAN LATENG, KECAMATAN BANYUWANGI
Kelurahan Lateng merupakan salah satu kelurahan di
Kecamatan Banyuwangi. Kelurahan ini dilewati oleh saluran
pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat yang mengalir
menuju ke laut yaitu Selat Bali. Kelurahan Lateng berbatasan
dengan Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro di sebelah utara,
Kelurahan Temenggungan, Kecamatan Banyuwangi di sebelah
selatan, Kelurahan Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi di sebelah
barat dan Selat Bali di sebelah timur.
Pada tahun 2006 jumlah penduduk Kelurahan Lateng adalah
sebesar 8.691 jiwa dengan perincian 4.260 jiwa laki-laki dan 4.431
jiwa perempuan (sebagaimana Tabel 4 di bawah) atau dengan
kepadatan penduduk sebanyak 12,36 jiwa/ km
2
dengan pertumbuhan
penduduk sebesar 0,39 % per tahun. Sebagian besar penduduk
Kelurahan Lateng bermata pencaharian buruh industri (13,87 %),
pegawai swasta (7,48 %), pedagang (7,02 %), transportasi (5,06 %),
tukang batu (2,98 %) , tukang kayu (2,30 %) dan pekerjaan informal
lainnya. Sebagian besar penduduk Kelurahan Lateng berpendidikan
terakhir tamat SLTA (40,02 %), tamat SLTP (32,82 %) dan yang
buta huruf sebanyak 0,95 % (Pemkab Banyuwangi, 2006). Gambar
peta Kecamatan Banyuwangi tertera pada Lampiran 4.
Tabel 4. Distribusi penduduk Kelurahan Lateng tahun 2006
Kel. umur Laki - laki Wanita Total
0 – 4 tahun 390 448 838
5 – 12 tahun 482 511 993
13 – 18 tahun 969 973 1.942
19 – 25 tahun 481 583 1.064
26 – 35 tahun 364 321 685
36 – 45 tahun 350 353 703
46 – 50 tahun 239 269 508
51 – 60 tahun 249 268 517
61 – 75 tahun 192 195 387
diatas 75 tahun 545 510 1.053
total 4.260 4.431 8.691
Sumber : Data Kelurahan Lateng, 2006

Berdasarkan kebutuhan air bersih, sebanyak 86,82 % dari
jumlah keluarga di Kelurahan Lateng telah terpenuhi kebutuhan air
bersihnya, baik dari sumur gali, sumur pompa, maupun PDAM.
Sedangkan berdasarkan kondisi perumahan, sebanyak 55,67 % sudah
merupakan rumah sehat dan sisanya (44,33 %) masih merupakan
rumah tidak sehat. Sebanyak 83,04 % rumah yang ada telah
memiliki WC atau jamban untuk membuang kotoran, sedangkan
sisanya (16,96 %) masih membuang kotoran ke saluran pembuangan
air limbah (Pemkab Banyuwangi, 2006).



4.2 GAMBARAN PT KERTAS BASUKI RACHMAT
1. Perusahaan
PT Kertas Basuki Rachmat diresmikan pada tanggal 26 April
1969 oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Bapak M.
Yusuf. Kemudian sejak tanggal 19 Mei 1982 berdasarkan Peraturan
Pemerintah No. 16 tahun 1982 tentang pengalihan bentuk Perusahaan
Umum Kertas Basuki Rachmat menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero). Gambaran fisik PT Kertas Basuki Rachmat terlihat pada
Gambar 4 di bawah ini.


(a) (b)

Gambar 4. Foto PT Kertas Basuki Rachmat : (a) Bagian depan (pintu masuk)
(b) Bangunan pabrik PT Kertas Basuki Rachmat

2. Bahan Baku
Sejak tahun 1997 karena kondisi perusahaan yang menurun,
PT Kertas Basuki Rachmat mulai menggunakan bahan baku kertas
bekas (afval). Sifat – sifat kertas afval tersebut PT Kertas Basuki
Rachmat (2004) antara lain :
- karena sudah mengalami refining sebelumnya, tugas refining
lebih ringan. Untuk kondisi refiner dan mesin kertas yang
dipakai oleh PT Kertas Basuki Rachmat, makin tinggi
penggunaan afval, kelancaran mesin kertas makin meningkat
karena freeness lebih mudah tercapai dan anyaman serat lebih
mudah terjadi.
- cenderung lebih kotor karena ikutan dari afval-nya maupun
campuran dalam pengelolaannya.
- brightness lebih rendah dari pulp karena sudah terwarnai dan
terkotori
- lebih banyak membawa bakteri dan jamur karena banyak
mengandung bahan – bahan kimia yang merupakan sumber
makanan bakteri dan jamur seperti starch, coating material
fines dan lain - lain
3. Proses Produksi
Secara umum proses produksi di PT Kertas Basuki Rachmat
dapat digambarkan dalam diagram alir Gambar 5 di bawah ini.
Secara ringkas proses pembuatan kertas di PT Kertas Basuki
Rachmat dengan bahan baku kayu–kayuan adalah sebagai berikut :
kayu yang telah mengalami penyerpihan (chip) dimasak dengan
white liquor yang terdiri dari NaOH, Na
2
SO
4
, Na
2
CO
3
dan Na
2
S
selama 3 – 4 jam dengan suhu 170
o
C dan tekanan 7 atm serta
berakhir dengan pembentukan bubur (pulp). Pulp selanjutnya
ditambah dengan bekas cairan pemasak warna hitam (black liquor)
kemudian dicuci dan siap mengalami proses pemutihan.
Di PT Kertas Basuki Rachmat proses pemutihan (bleaching)
dilakukan melalui 5 tingkat yaitu :
- tingkat I klorinasi menggunakan gas Cl
2
dengan Brightness
31 % Ht.
- tingkat II ekstraksi alkali menggunakan soda kaustik
- tingkat III pemberian hipoklorit dengan Brightness 76 % Ht.
- tingkat IV ekstraksi alkali menggunakan soda kaustik
- tingkat V pemberian hipoklorit dengan Brightness 81 % Ht.





























Sumber : PT Kertas Basuki Rachmat, 1985
Gambar 5. Diagram alir proses produksi kertas di PT Kertas Basuki
Rachmat dengan bahan baku kayu - kayuan

Pemutihan
Penggilingan
Mesin kertas
Pencucian
dan
Pemasakan
Penyerpihan
Bahan baku
Penyempurnaan
Produk kertas
uap
Black liquor
Bahan bakar
Bahan kimia
Bahan
tambahan
uap
White water
evaporator
Rec. Boiler
Recausticizing
Green liquor
White liquor
Salt Cake
Black liquor
Bahan
kimia
Keterangan :
: Daur ulang pemakaian
bahan kimia
: Daur ulang pemakaian
air
Hasil dari proses ini pulp yang tadinya berwarna coklat menjadi
putih.
Pulp putih selanjutnya dihaluskan, dilembutkan dan diberi
bahan pengisi, perekat, pewarna dan sebagainya sesuai macam
kertas yang akan dibuat. Proses terakhir adalah pembuatan
lembaran kertas dimana lembaran kertas yang masih basah diperas
menggunakan roll press kemudian dikeringkan dengan uap panas.
Selanjutnya lembaran kertas yang sudah kering tersebut dihaluskan
dan digulung serta siap dipak dan dipasarkan (PT Kertas Basuki
Rachmat, 1989).
Sejak tahun 1997, PT Kertas Basuki Rachmat beralih
menggunakan bahan baku kertas bekas (afval). Adapun gambaran
proses produksi dengan bahan baku kertas bekas (afval) tersebut
adalah sebagaimana Gambar 6 di bawah ini.
Secara ringkas dapat dijelaskan proses pembuatan kertas dari
bahan baku kertas bekas (afval) adalah sebagai berikut : bahan
baku kertas bekas (afval) yang berupa kertas tanpa tinta dilarutkan
dalam air dan white water (yaitu air bekas proses sebelumnya)
sambil diaduk sampai homogen pada hidra pulper. Kemudian
bahan baku tersebut disaring untuk memisahkan pengotor seperti
kain, plastik, logam, pasir dan sebagainya serta kertas yang tidak
larut air.
Sel anj ut ny a bahan k er t as t er sebut
di t ambah bahan pembant u y ang t er di r i dar i :
- si zi ng agent dengan t uj uan agar k er t as
t ahan basah y ai t u Al k i l Ket one Di mer
( AKD) ,
- penambah k ek uat an l embar an ( dr y st r engt h
agent ) y ang mer upak an modi f i ed st ar ch
sebagai k at i on unt uk mengi k at ser at
sebagai ani on sehi ngga meni ngk at k an
k ek uat an day a i k at ant ar pul p,





























Fresh water
Hidra
pulper
Screening
White water
Wire and
press part
Calendering
Pengot or
dan k er t as
Dry part
Produk
rusak
Fresh water
Kertas bekas
(afval)
Settling
tank
Product
Pope reel
Produk
rusak
Bahan
pemba
t
White water
Endapan
Cairan
Steam

Sumber : PT Kertas Basuki Rachmat, 2004
Gambar 6. Proses produksi kertas dengan bahan baku kertas bekas
- f i l l er ( bahan pengi si ) y ai t u CaCO
3
,
- bahan r et ensi ( r et ent i on ai d) yang
mer upak an pengi k at ant ar f i ber ser t a
memper bai k i si f at – si f at AKD ser t a
memper bai k i f or masi ,
- bahan ant i bak t er i y ai t u y ang ber si f at non
ok si dat or unt uk mencegah t umbuhny a
bak t er i dan j amur pada k er t as,
- pew ar na k er t as dengan basi c dy es yang
mampu meny at uk an w ar na – w ar na l ai n
menj adi put i h k ebi r uan ( unt uk k er t as HVS) .
Adapun j eni s pew ar na y ang di per gunak an
di PT Ker t as Basuk i Rachmat adal ah di r ect
vi ol et dan di r ect sk y bl ue unt uk k er t as HVS
dan met hy l vi ol et dan mal achi t e gr een
unt uk k er t as CD,
- NaOH y ang di t ambahk an secar a i nsi dent al
unt uk k er t as y ang ber t i nt a,
Kemudi an bahan k er t as mel al ui w i r e and
pr ess par t sehi ngga membent uk l embar an basah
dengan menghasi l k an w hi t e w at er dan f r esh
w at er sebagai pembi l as mesi n. Dengan bant uan
uap panas ( st eam) pada dr y par t l embar an
basah t er sebut di k er i ngk an dan di hal usk an pada
cal ender i ng. Ter ak hi r l embar an k er t as di gul ung
at au di pot ong sesuai k eper l uan ( PT Ker t as
Basuk i Rachmat , 2004) .
4. Unit Penunjang Produksi
Untuk membantu proses produksi kertas dengan bahan
baku pulp dari kayu – kayuan, PT Kertas Basuki Rachmat memiliki
beberapa unit penunjang produksi. Unit penunjang produksi
tersebut adalah :
b. Unit Evaporator
Unit evaporator bertujuan untuk mengentalkan black liquor
yang diterima dari unit pencucian dari 9
o
Be menjadi 26
o
Be.
c. Unit Recovery Boiler
Black liquor kental hasil evaporator dibakar dalam dapur
(furnace) recovery boiler yang telah diberi Na
2
SO
4
sehingga
tereduksi menjadi Na
2
S. Lelehan dari hasil pembakaran
ditampung dalam desolving tank dan dilarutkan dengan weak
white liquor menjadi green liquor.
d. Unit Recausticizing
Unit ini memproduksi cairan pemasak (white liquor) dengan
penambahan kapur sehingga bereaksi sebagai berikut :
CaO + Na
2
CO
3
2 NaOH + CaCO
3

e. Unit Chlor Alkali Plant
Unit ini bertujuan untuk menghasilkan NaOH, Cl
2
cair,
Ca(OCl)
2
dan HCl secara elektrolisis dengan anoda grafit dan
katoda air raksa (Hg).
f. Unit Liquifaction
Unit ini bertujuan untuk memproduksi Cl
2
cair dari gas Cl
2

dengan penambahan H
2
SO
4
.
g. Unit Hypo Making
Unit ini bertujuan untuk memproduksi kalsium hipoklorit atau
Ca(OCl)
2
dari gas Cl
2
yang direaksikan dengan larutan kapur.
h. Unit HCl Plant
Unit ini bertujuan untuk menghasilkan HCl dari gas Cl
2
dan
gas H
2
dari hasil elektrolisis dan kemudian dilarutkan dengan
air lunak.



4.3 LIMBAH PT KERTAS BASUKI RACHMAT
Limbah PT Kertas Basuki Rachmat pada dasarnya terdiri dari tiga
macam yaitu limbah cair, limbah gas dan limbah padat. Setelah
menggunakan bahan baku kertas bekas, limbah cair dan limbah gas PT
Kertas Basuki Rachmat tidak bermasalah. Akan tetapi limbah padat yang
berupa hasil pressing lumpur (sludge) dari limbah cair dan oli bekas masih
dianggap bermasalah terutama oleh Kantor Negara Lingkungan Hidup
(KLH) pada saat penilaian PROPER 2005.
Pembuangan limbah padat masih berupa penumpukan dan
pemanfaatan limbah padat (lumpur) tersebut belum memiliki ijin dari KLH
sedangkan oli bekas sebagai bagian dari bahan beracun dan berbahaya (B3)
belum dikelola secara baik. Padahal sejak tahun 2005 tersebut sistem
penilaian PROPER berubah dari sistem kumulatif menjadi sistem gugur
artinya jika pada kriteria di atas sudah tidak memenuhi, maka dianggap
gugur meskipun kriteria di bawahnya memenuhi. Akibatnya peringkat
PROPER PT Kertas Basuki Rachmat tahun 2005 menjadi hitam yang berarti
turun dari PROPER 2004 dan sebelumnya yang berada pada peringkat biru.

4.4 LIMBAH CAIR PT KERTAS BASUKI RACHMAT
4.4.1 Penanganan Limbah Cair
Limbah cair dari proses produksi kert as di PT Kert as Basuki
Rachmat sebanyak 40 % nya t elah dipakai ulang sehingga
mengurangi volume limbah cair yang dibuang. Selanj ut nya
limbah cair dari proses produksi dit ampung di unit pengolahan
limbah. Di sini limbah cair t ersebut melalui beberapa t ahap
pengolahan yait u sebagaimana t ergambar dalam Gambar 7 di
bawah ini.























endapan
Thickener
Bak kontrol
Buang ke laut
Screening
Equalisasi
Netralisasi
Colector
Clarifier
dijual
pressing
lumpur
cairan
kotoran
cairan
Asam/ basa
Flokulan/
koagulan
cairan
cairan
Limbah cair



Sumber : PT Kertas Basuki Rachmat, 2004
Gambar 7. Proses penanganan limbah cair PT KBR

Air limbah dari sisa proses produksi disaring melewati bar
screen sebanyak tiga kali. Tujuannya adalah untuk memisahkan
padatan, sisa kertas yang terikut dan bahan – bahan yang tidak larut
lainnya. Selanjutnya limbah cair tersebut disatukan dalam bak
equalisasi agar bersifat homogen, kemudian dilakukan netralisasi dan
dilanjutkan dengan penambahan flokulan dan koagulan.
Penambahan flokulan dan koagulan bertujuan untuk mengendapkan
padatan terlarut di clarifier yang selanjutnya endapan yang terbentuk
dipisahkan dari cairannya. Endapan tersebut kemudian menuju bak
colector dan thickener.
Menurut Siregar (2005), equalisasi bertujuan menyetarakan
laju alir dan karakteristik air limbah, mengurangi ukuran dan biaya
proses pengolahan selanjutnya dan memperbaiki performa proses
selanjutnya. Proses netralisasi bertujuan menetralkan air limbah
dengan penambahan bahan – bahan kimia yang bersifat asam pada
air limbah yang basa dan sebaliknya. Proses koagulasi dan flokulasi
adalah konversi dari polutan – polutan yang tersuspensi koloid yang
sangat halus di dalam air limbah menjadi gumpalan – gumpalan yang
dapat diendapkan, disaring atau diapungkan. Sedangkan thickener
bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi padatan (lumpur) dan
mengurangi volume.


Gambar 8. Keadaan fisik saluran pembuangan limbah PT Kertas
Basuki Rachmat

Lumpur (sludge) yang ada dalam endapan selanjutnya dipress
dan dijual ke pabrik karton karena lumpur tersebut masih
mengandung sisa kertas halus. Cairan dari proses pressing
selanjutnya digabungkan dengan cairan dari clarifier menuju bak
kontrol. Pada bak kontrol tersebut ditanam jenis ikan air tawar
sebagai indikator biologis sebelum limbah cair dibuang menuju ke
laut.
Air buangan pabrik disalurkan melalui selokan/ saluran
khusus yang dibuat dengan konstruksi beton sepanjang 2 km menuju
ke Selat Bali yang merupakan pertemuan antara Laut Jawa dan
Samudera Hindia, dimana arusnya sangat deras. Dengan saluran
khusus yang dibuat dengan konstruksi beton tersebut maka
kemungkinan terjadinya perembesan limbah cair ke daerah sekitar
akan terkurangi. Gambaran fisik saluran pembuangan limbah PT
Kertas Basuki Rachmat terlihat pada Gambar 8 di atas.
4.4.2 Karakteristik Limbah Cair
Limbah cair yang akan dibuang ke saluran limbah terlebih dahulu
diuji. Secara rutin setiap bulan sekali limbah cair tersebut diambil oleh
petugas dari bagian Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten
Banyuwangi untuk dikirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan
dan Pemberantasan Penyakit Menular di Surabaya guna diuji kualitasnya.
Beberapa hasil pengujian tersebut tergambar dalam Tabel 5 di bawah ini.
Berdasarkan Tabel 5 tersebut, limbah cair PT Kertas Basuki
Rachmat pada tanggal 1 Maret 2007 melebihi volume limbah cair/ satuan
produk yang diijinkan sesuai baku mutu limbah cair berdasarkan SK
Gubernur Jawa Timur No. 45 tahun 2002.


Tabel 5. Hasil pengujian mutu limbah cair PT Kertas Basuki
Rachmat
Hasil analisis
No. Parameter Satuan
Baku Mutu Limbah Cair
SK Gub. Jawa Timur No.45
tahun 2002
29 Maret
2006
1 Maret
2007
1. Volume lim-
bah cair/ sa-
tuan produk
m
3
/
ton
produk
50 - 101,14
2. pH - 6 – 9 7,0 7,3
3. BOD5 mg/lt 70 20 31
4. COD mg/lt 150 46 74
5. TSS mg/lt 70 3 15
6. Pb mg/lt 0,1 <0,0036 <0,0036
Sumber : Laporan laboratorium PT KBR, 2006 – 2007
Keterangan : - tidak diuji
Hasil analisis limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat tersebut
cenderung mengalami kenaikan baik kandungan BOD5, COD,
maupun TSS. Ini berarti kualitas limbah cair PT Kertas Basuki
Rachmat cenderung mengalami penurunan dari baku mutu yang
dipersyaratkan. Hal tersebut dikarenakan terjadi peningkatan
produksi kertas sehingga juga terjadi peningkatan limbah cair yang
dihasilkan dan kurangnya pengendalian.
Peningkatan volume limbah cair per satuan produk pada
tanggal 1 Maret 2007 yang melebihi baku mutu menandakan bahwa
proses produksi kertas di PT Kertas Basuki Rachmat belum
sepenuhnya menerapkan konsep produksi bersih dimana volume
limbah cair yang dihasilkan cukup banyak. Banyaknya limbah cair
tersebut disebabkan masih banyaknya volume air yang digunakan
(tidak ada pemakaian ulang air untuk mengurangi volume limbah).
Sedangkan hasil pemeriksaan air limbah PT Kertas Basuki
Rachmat tanggal 13 Juni 1991 ketika masih menggunakan bahan
baku kayu – kayuan sebagai pulp adalah seperti tertulis pada
Lampiran 5.
Berdasarkan hasil pemeriksaan tanggal 13 Juni 1991 tersebut,
kualitas air limbah PT Kertas Basuki Rachmat yang dibuang ke laut
masih belum memenuhi atau melebihi ambang batas yang
dipersyaratkan. Pada hasil pemeriksaan tersebut temperatur, BOD,
COD, padatan terlarut, dan fosfat (PO
4
3-
) masih belum memenuhi
baku mutu yang dipersyaratkan dalam baku mutu air limbah sesuai
SK Gubernur Jawa Timur No. 414 tahun 1987.
4.4.3 Penelitian dan Pemanfaatan Limbah
Menurut PT Kertas Basuki Rachmat (1985), sejak pabrik
berdiri masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pantai telah
memanfaatkan air limbah pabrik. Selokan air limbah oleh
masyarakat dibendung kemudian airnya dipergunakan untuk
mengairi tanahnya sehingga tanah yang tadinya hanya ditanami
palawija dapat ditanami padi dua kali setahun. Dari pengalaman
para petani pada waktu di Banyuwangi ada serangan hama wereng,
ternyata sawah yang diairi air limbah PT Kertas Basuki Rachmat
tidak ikut terserang.
Guna mencari jawaban atas masalah – masalah yang sudah
dan akan timbul akibat keberadaan air limbah PT Kertas Basuki
Rachmat terhadap lingkungan khususnya habitat tanah dan air, tim
bioteknologi ITB dipimpin oleh Drs. Unus Suriawiria pada bulan
Maret 1977 sampai dengan bulan Pebruari 1978 melakukan
penelitian secara biologis. Adapun hasil penelitian tersebut adalah :
- Air limbah PT Kertas Basuki Rachmat sejak keluar dari unit
penghasil air limbah sudah mengandung bakteri (terutama bakteri
pengguna air buangan) dan jamur, yang melakukan biodegradasi
sehingga menurunkan toksisitas air limbah, serta ganggang yang
berfungsi melakukan fotosintesis sehingga meningkatkan kadar
oksigen air limbah.
- Air limbah PT Kertas Basuki Rachmat tidak beracun terhadap
ikan mas
- Belum terdapat bukti adanya bahan karsinogenik pada tanaman
padi, palawija dan ikan yang terkena air buangan PT Kertas
Basuki Rachmat
- Air limbah PT Kertas Basuki Rachmat dapat memusnahkan
bakteri koli penyebab penyakit saluran pencernaan.


Gambar 9. Limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat untuk mengairi sawah

4.5 UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Menurut PT Kertas Basuki Rachmat (1989), berbagai upaya telah
dilakukan oleh PT Kertas Basuki Rachmat dalam rangka pengelolaan
lingkungan. Dalam usaha pencegahan PT Kertas Basuki Rachmat telah
menerapkan teknologi daur ulang bahan kimia (chemical recovery) dan daur
ulang penggunaan air di berbagai tahapan proses untuk mencegah
pencemaran air. Sedangkan untuk mencegah pencemaran udara telah
diterapkan teknologi pengendapan debu secara elektrostatik (electric dust
precipitator).
Adapun usaha untuk menanggulangi pencemaran yang telah
dilakukan oleh PT Kertas Basuki Rachmat adalah :

2. penanggulangan pencemaran air, melalui :
- pada unit pengolah air limbah dilakukan sedimentasi, netralisasi,
dan pengenceran sebelum dibuang ke luar pabrik
- penampungan reject pulp di centri cleaner
- penampungan serat kasar di Cowan Screen dan Johnson Screen
3. penanggulangan pencemaran udara, melalui :
- penghijauan menggunakan pohon akasia yang ditanam pada areal
tanah milik PT Kertas Basuki Rachmat seluas sekitar 10 hektar
- pembuangan gas dan asap hasil pembakaran dari pabrik melalui
cerobong asap setinggi 45 meter ke udara
4. penanggulangan pencemaran tanah, melalui :
- pembuangan sisa pelarutan kapur (grit), lumpur kapur (lime mud)
dari proses recousticizing dan lumpur dari kolam sedimentasi di
tempat khusus dalam areal pabrik
- memanfaatkan endapan air limbah yang masih mengandung serat
untuk dijual ke pabrik karton
Lebih lanjut dikatakan bahwa air limbah yang dibuang dilakukan
monitoring yang meliputi :
2. pemeriksaan di laboratorium pabrik secara rutin setiap hari
3. pemeriksaan secara rutin sebulan sekali oleh Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan di Surabaya sesuai SK Gubernur
4. pemeriksaan analitis air sumur masyarakat sekitar sawah yang
menggunakan air limbah PT Kertas Basuki Rachmat
5. pemeriksaan analitis tanah sawah/ tegalan yang dikenai maupun tidak
dikenai air limbah PT Kertas Basuki Rachmat
6. pemeriksaan analitis air laut di sekitar muara selokan air limbah yang
masuk ke laut
7. penampungan keluhan masyarakat yang timbul baik menyangkut
pencemaran air, tanah maupun udara oleh PT Kertas Basuki Rachmat

4.6 GAMBARAN POPULASI UJI DAN POPULASI KONTROL
Populasi uji dan populasi kontrol diambil berdasarkan basis
keluarga/ rumah tangga. Populasi uji merupakan masyarakat yang tinggal
di kanan – kiri saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat
di Kelurahan Lateng, Kecamatan Banyuwangi. Sedangkan populasi kontrol
merupakan masyarakat yang tinggal di sebelah barat daya (sebelum) PT
Kertas Basuki Rachmat yaitu di Kelurahan Pengantigan, Kecamatan
Banyuwangi. Untuk meminimalkan bias maka distribusi sampel pada
populasi kontrol disamakan dengan sampel pada populasi uji yaitu pada
golongan umur, tingkat pendapatan kepala keluarga dan jenis kelamin
dengan masing – masing populasi sebanyak 66 orang.
Adapun gambaran populasi uji dan populasi kontrol tersebut
berdasarkan golongan umur, jenis kelamin dan tingkat pendapatan kepala
keluarga tertera dalam Tabel 6 berikut :
Tabel 6. Distribusi masing – masing populasi uji dan populasi kontrol
berdasarkan golongan umur, jenis kelamin dan tingkat pendapatan
kepala keluarga

Tingkat pendapatan kepala keluarga
< Rp 500.000,-
Rp 500.000,- s/d
Rp 750.000,-
Rp 751.000,- s/d
Rp 1.000.000,-
>Rp
1.000.000,-
Golo-
ngan
umur
(th)
laki perp laki perp laki perp laki perp
To-
tal
0 – 5 1 1 1 - - - - - 3
6 – 12 3 1 5 1 1 - - - 11
13 - 18 1 1 2 3 - 1 1 - 9
19–40 3 4 2 2 2 2 1 1 17
41-60 2 1 3 5 1 3 - 1 16
> 60 1 2 2 3 1 - 1 - 10
jumlah 11 10 15 14 5 6 3 2 66
Sumber : Hasil kuisioner, diolah
Berdasarkan jenis pekerjaan populasi uji dan populasi kontrol adalah
sebagaimana tergambar dalam diagram berikut :
0
1,52
0
0
7,58
3,03
28,79
27,27
1,52
3,03
62,12
65,15
0 10 20 30 40 50 60 70
prosentase
PNS
Tentara/polisi
Swasta
Pelajar
Pensiunan
Lain-lain
j
e
n
i
s

p
e
k
e
r
j
a
a
n
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 10. Distribusi jenis pekerjaan populasi uji dan populasi kontrol

Dari gambar di atas terlihat bahwa sebagian besar sampel uji bermata
pencaharian lain – lain yaitu sebanyak 62,12 %, demikian juga dengan
sampel kontrol yaitu sebanyak 65,15 %. Jenis pekerjaan tersebut adalah
tukang becak, pedagang, tukang kayu/tukang batu, buruh dan tidak bekerja.
Berdasarkan pendidikan terakhirnya, populasi uji sebagian besar
berpendidikan tidak tamat SD yaitu sebanyak 57,58 % untuk populasi uji
dan 39,39 % untuk populasi kontrol. Gambaran tingkat pendidikan terakhir
populasi uji dan populasi kontrol terlihat dalam diagram pada Gambar 11.
Berdasarkan lama tinggal, sebagian besar sampel uji telah tinggal di
sekitar saluran pembuangan limbah PT Kertas Basuki Rachmat selama 15
sampai dengan 20 tahun yaitu (sebanyak 27,27 %) dan bahkan terdapat
sampel yang telah tinggal lebih dari 20 tahun (yaitu sebanyak 21,21 %),
sedangkan sampel kontrol telah tinggal di Kelurahan Pengantigan,
Kecamatan Banyuwangi sebagian besar selama lebih dari 20 tahun (yaitu
sebanyak 36,36 %). Lamanya tinggal populasi uji dan populasi kontrol
tergambar dalam Gambar 12 di bawah ini.

57,58
39,39
22,73
31,82
9,09
18,18
10,61
10,61
0
0
0 10 20 30 40 50 60
prosentase
tidak tamat SD
tamat SD
tamat SLTP
tamat SLTA
tamat sarjana
t
i
n
g
k
a
t

p
e
n
d
i
d
i
k
a
n
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 11. Distribusi pendidikan terakhir populasi uji dan populasi kontrol


6,06
12,12
21,21
25,76
24,24
7,58
27,27
18,18
21,21
36,36
0 5 10 15 20 25 30 35 40
prosentase
< 5 tahun
5 - 9,5 tahun
10 - 14,5 tahun
15 - 20 tahun
> 20 tahun
l
a
m
a

t
i
n
g
g
a
l
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 12. Distribusi lama tinggal populasi uji dan populasi kontrol

Semua sampel uji menggunakan sumber air berasal dari air sumur
baik untuk mandi, mencuci, minum maupun memasak demikian juga
dengan sampel kontrol. Adapun untuk tempat membuang hajat sebagian
besar sampel uji maupun sampel kontrol menggunakan jamban keluarga.
Pada populasi uji beberapa sampel menggunakan sungai sebagai
tempat membuang hajat (4,55 %), bahkan saluran limbah (12,12 %),
jamban keluarga maupun saluran limbah (7,58 %), dan sungai maupun
saluran limbah (9,09 %). Adapun populasi kontrol sebanyak 22,73 %
menggunakan sungai sebagai tempat membuang hajat. Gambaran
distribusi tempat membuang hajat pada populasi uji maupun populasi
kontrol tergambar dalam Gambar 13.
62,12
71,21
4,55
6,06
4,55
22,73
12,12
0
7,58
0
9,09
0
0 10 20 30 40 50 60 70 80
prosentase
jamban keluarga
jamban bersama
sungai
saluran limbah
jamban keluarga+
saluran limbah
sungai+ saluran limbah
t
e
m
p
a
t

p
e
m
b
u
a
n
g
a
n

h
a
j
a
t
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 13. Distribusi tempat membuang hajat populasi uji dan populasi
kontrol

4.7 KUALITAS AIR SUMUR
Berdasarkan hasil kuisioner, dari sebanyak 20 rumah yang berada di
kanan kiri saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat,
sebanyak 70 % rumah mempunyai sumur yang berjarak 4 – 8 meter dari
saluran pembuangan limbah cair, 10 % rumah mempunyai sumur berjarak
8,1 - 13 meter, dan 20 % rumah mempunyai sumur berjarak lebih dari 13
meter. Gambar jarak rumah dan sumur dengan saluran limbah PT Kertas
Basuki Rachmat tertera di bawah ini.




Gambar 14. Jarak rumah penduduk dengan saluran limbah PT Kertas
Basuki Rachmat




Gambar 15. Jarak sumur penduduk dengan saluran limbah PT KBR

Akan tetapi meskipun sebagian besar jarak sumurnya 4 – 8 meter
dari saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat, hanya
sebanyak 1 rumah yang berubah warna air sumurnya dan tidak ada yang
Saluran
limbah
PT KBR
sumur
berubah bau air sumurnya. Hal ini dikarenakan saluran pembuangan limbah
cair PT Kertas Basuki Rachmat dibuat dengan konstruksi beton pada bagian
samping dan bawahnya sehingga sangat kecil kemungkinan limbah cair
tersebut meresap ke dalam tanah dan mencemari air sumur warga.
Berdasarkan hasil pengujian laboratorium terhadap sampel air sumur
pada populasi uji ternyata beberapa senyawa seperti air raksa (Hg), mangan
(Mn), nitrit dan timbal (Pb) sama dengan sampel air sumur pada populasi
kontrol yaitu 0,00 mg/ liter. Sedangkan senyawa lainnya berbeda.
Selengkapnya hasil pengujian laboratorium terhadap sampel air sumur
tersebut tertulis pada Tabel 7 di bawah ini.
Tabel 7. Hasil analisis sampel air sumur populasi uji dan populasi kontrol
Lokasi
No. Parameter satuan
Baku Mutu
Permenkes No :
416/Menkes/Per
/IX/1990
Lateng
Pengan-
tigan
1. Air raksa (Hg) mg/lt 0,001 0,00 0,00
2. Zat Besi (Fe) mg/lt 1,0 0,00 0,12
3. Kadmium (Cd) mg/lt 0,005 0,00 0,00
4. Kesadahan jumlah mg/lt 500 173,73 79,39
5. Klorida mg/lt 600 25,52 15,95
6. Mangan mg/lt 0,5 0,00 0,00
7. Nitrat, sebagai N mg/lt 10 9,36 1,86
8. Nitrit, sebagai N mg/lt 1 0,00 0,00
9. pH - 6 - 9 7,0 7,2
10. Sulfat mg/lt 400 24,63 16,44
11. Timbal (Pb) mg/lt 0,05 0,00 0,00
Sumber : Hasil pengujian sampel air sumur, 2007
Kadar zat besi pada sampel air sumur populasi kontrol lebih tinggi
daripada populasi uji kemungkinan disebabkan sampel air sumur pada
populasi kontrol berawal dari tempat yang kadar bahan organiknya tinggi
atau pada air tanah dalam yang bersuasana anaerob (tidak mengandung
oksigen) (Effendi, 2003). Akan tetapi kadar zat besi pada sampel air sumur
populasi uji dan populasi kontrol masih memenuhi baku mutu.
Kesadahan (hardness) adalah gambaran jumlah kation logam
bervalensi dua di dalam perairan (biasanya kalsium dan magnesium). Pada
perairan yang sadah (hard) kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan
sulfat biasanya tinggi (Effendi, 2003). Berdasarkan hasil uji sampel air
sumur dimana kesadahan jumlah sampel air sumur pada populasi uji lebih
tinggi daripada populasi kontrol, meskipun jumlahnya masih memenuhi
baku mutu, disebabkan pengaruh kalsium yang tinggi pada buangan /
limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Limbah cair PT Kertas Basuki
Rachmat yang dihasilkan dari bahan baku kertas bekas mengandung
kalsium yang berasal dari zat pengisi (filler) kertas bekas dalam jumlah
yang cukup besar (yaitu senyawa CaCO
3
) sehingga limbah cair tampak
berwarna putih keruh sebagaimana terlihat pada Gambar 8 di atas.
Kadar klorida pada sampel air sumur populasi uji dan populasi
kontrol masih memenuhi baku mutu. Menurut Effendi (2003), keberadaan
klorida di dalam perairan alami berkisar antara 2 – 20 mg/ liter, namun
kadar klorida pada sampel air sumur populasi uji melebihi 20 mg/ liter yaitu
25,52 mg/ liter. Kadar klorida yang tinggi pada sampel air sumur populasi
uji kemungkinan berasal dari resapan/ intrusi air laut ke dalam air sumur
populasi uji. Hal ini dikarenakan jarak sumur populasi uji relatif dekat
dengan laut yaitu kurang lebih 2 km.
Senyawa nitrat sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil.
Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar/ alami biasanya tidak pernah
lebih dari 0,1 mg/ liter. Kadar lebih dari 5 mg/ liter menggambarkan
terjadinya pencemaran antropogenik dari aktivitas manusia dan tinja hewan
(Effendi, 2003). Dengan demikian tingginya kadar nitrat pada sampel air
sumur populasi uji yaitu 9,36 mg/ liter, yang lebih dari 5 mg/ liter,
menggambarkan adanya pencemaran kotoran manusia dan hewan yang
meresap ke dalam air sumur tersebut karena terlalu dekatnya tempat
pembuangan kotoran manusia tersebut (saptic tank) dengan sumur.
Meskipun demikian kadar nitrat pada sampel air sumur populasi uji dan
populasi kontrol masih memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 10
mg/ liter.
Kadar sulfat pada sampel air sumur populasi uji (24,63 mg/ liter)
dan pada sampel air sumur populasi kontrol (16,44 mg/ liter) masih
memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 400 mg/ liter. Tingginya
kadar sulfat pada sampel air sumur populasi uji kemungkinan berasal dari
hasil oksidasi senyawa H
2
S atau senyawa sulfur lainnya. Menurut Effendi
(2003), pada perairan alami yang mendapat cukup aerasi biasanya tidak
ditemukan H
2
S karena telah teroksidasi menjadi sulfat. Senyawa H
2
S dan
senyawa sulfur lainnya merupakan salah satu zat pencemar yang dihasilkan
dari proses pembuatan kertas dengan bahan baku pulp (Rini, 2002).
Senyawa - senyawa tersebut, yang jumlahnya sangat banyak pada saat PT
Kertas Basuki Rachmat memproduksi kertas dari bahan baku pulp, meresap
ke dalam tanah dan keluar larut sedikit – demi sedikit ke dalam air sumur
penduduk di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat hingga
sekarang.
4.8 KESEHATAN MASYARAKAT POPULASI UJI DAN POPULASI
KONTROL
Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Singotrunan pada
tahun 2005 dan 2006 tercatat penyakit yang menduduki 10 besar yang
diderita oleh pengunjung Puskesmas tersebut yang membawahi diantaranya
Kelurahan Lateng dan Pengantigan. Kesepuluh penyakit tersebut adalah
sebagaimana tertulis dalam Tabel 8.


Tabel 8. Sepuluh besar penyakit pada Puskesmas Singotrunan tahun 2006 –
2007
No.
Jenis penyakit
Jumlah
2005 2006
1. Infeksi akut lain pada saluran pernafasan atas 2.613 4.669
2. Penyakit pada otot dan jaringan pengikat (tulang
belakang, radang sendi)
2.047 2.382
3. Penyakit lain pada saluran pernafasan atas 1.648 1.991
4. Penyakit pulpa dan jaringan periapikal 1.610 2.090
5. Ginggivitis dan penyakit periodental 1.347 1.706
6. Tekanan darah tinggi 1.280 1.734
7. TB paru 934 -
8. Acne vulgaris, piodemi, ulkus tropika 795 896
9. Tosilitis 715 1.674
10. Penyakit kulit alergi/ dermatitis/ eksim 655 1.121
Sumber : Puskesmas Singotrunan, Banyuwangi 2005 – 2006
Di samping itu pada tahun 2006, di Puskesmas Singotrunan juga
tercatat penyakit lainnya yang diderita cukup banyak yaitu penyakit kulit
karena jamur sebanyak 921 orang, tukak lambung dan usus dua belas jari
sebanyak 775 orang, diare 702 orang, infeksi mastoid 599 orang, disenteri
amubiasis 599 orang dan gangguan gigi serta jaringan lainnya/ abses 462
orang.
Berdasarkan hasil kuisioner kualitas kesehatan populasi uji dan
populasi kontrol adalah sebagai berikut :
4.8.1. Sakit Diare
Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 7,58 % dari populasi uji
menyatakan tidak pernah sakit diare, 68,18 % jarang, 15,15 % kadang –
kadang dan 9,09 % sering. Sedangkan dari populasi kontrol 36,36 %
menyatakan tidak pernah sakit diare, 54,55 % jarang, 6,06 % kadang -
kadang dan 3,03 % sering. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi
kontrol dimana t hitung (3,563) lebih besar dari t tabel (0,063) serta populasi
uji relatif lebih sering mengalami diare (rata – rata 2,26) daripada populasi
kontrol (rata – rata 1,76). Ini berarti populasi uji mengalami sakit diare
dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang, sedangkan
populasi kontrol dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang.
Gambaran intensitas sakit diare pada populasi uji dan populasi kontrol
tergambar dalam Gambar 16 di bawah ini.
Menurut Werner dkk. (2001) diare atau mencret adalah suatu
keadaan dimana kotoran (feses) yang dikeluarkan encer atau berair.
Penyebab utama diare adalah gizi buruk, infeksi virus, bakteri, amuba,
cacing, keracunan makanan, alergi makanan dan susu dan sebagainya.
Diare lebih sering terjadi dan berbahaya pada anak kecil terutama yang
menderita kekurangan gizi.
7,58
36,36
68,18
54,55
15,15
6,06
9,09
3,03
0 10 20 30 40 50 60 70
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 16. Intensitas sakit diare pada populasi uji dan populasi kontrol

Keadaan ini sesuai dengan yang ditemukan Lee dkk. (2002) bahwa
terdapat peningkatan resiko sakit diare pada anak – anak di sepanjang
Sungai Kampar, Riau khususnya yang minum secara langsung dari sungai
yang dialiri limbah industri pulp dan kertas. Hal ini juga sesuai dengan
hasil uji sampel air sumur populasi uji dimana kadar nitrat, sebagai indikasi
adanya pencemaran antropogenik, cukup tinggi.
4.8.2. Sakit Pencernaan Lain
Berdasarkan hasil kuisioner yang diperoleh dari populasi uji
sebanyak 30,30 % menyatakan tidak pernah sakit perut/ pencernaan lain
seperti kembung, susah buang air besar atau kotoran berdarah, 37,88 %
jarang, 10,16 % kadang – kadang dan 21,21 % sering. Sedangkan dari
populasi kontrol 40,91 % menyatakan tidak pernah sakit perut/ pencernaan
lain, 30,88 % jarang, 12,12 % kadang - kadang dan 6,06 % sering. Hasil
analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (2,378) lebih
besar dari t tabel (0,063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami
diare (rata – rata 2,23) daripada populasi kontrol (rata-rata 1,83). Ini berarti
populasi uji mengalami sakit pencernaan lain dengan intensitas jarang
sampai dengan kadang – kadang, sedangkan populasi kontrol dengan
intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. Gambaran intensitas sakit
perut/ pencernaan lain pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar
dalam Gambar 17 di bawah ini.
Susah buang air besar (konstipasi) merupakan keluarnya kotoran
(feses) yang keras dan memerlukan tenaga untuk mengejan. Konstipasi
bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan suatu gejala. Penyebab
terjadinya konstipasi antara lain penyakit diabetes melitus, hipokalemia,
hiperkalsemia dan senyawa toksik misalnya timah hitam (Pb) (Cooper dkk,
1987).

30,30
40,91
37,88
40,91
10,61
12,12
21,21
6,06
0 10 20 30 40 50
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 17. Intensitas sakit perut/ pencernaan lain pada populasi uji dan
populasi kontrol

Dr. Nhu Lee dari British Columbia Cancer Agency (2001)
melaporkan adanya resiko kanker prostat dan kanker saluran pencernaan
termasuk leukimia pada pekerja industri pulp dan kertas, demikian juga
Bond dan Le (2000) melaporkan adanya peningkatan yang signifikan
terhadap kanker lambung, usus besar, prostat dan leukimia terhadap pekerja
industri pulp dan kertas di Kanada.
4.8.3. Sakit Demam
Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 1,52 % dari populasi uji
menyatakan tidak pernah sakit demam 40,91 % jarang, 33,33 % kadang –
kadang dan 24,24 % sering. Sedangkan dari populasi kontrol 12,12 %
menyatakan tidak pernah sakit demam 66,67 % jarang, 16,67 % kadang -
kadang dan 4,55 % sering. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi
kontrol dimana t hitung (5,053) lebih besar dari t tabel (0,063) serta populasi
uji relatif lebih sering mengalami sakit demam (rata – rata 2,80) daripada
populasi kontrol (rata – rata 2,14). Ini berarti populasi uji mengalami sakit
demam dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang, demikian
pula dengan populasi kontrol. Gambaran intensitas sakit demam pada
populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 18 di bawah ini.

1,52
12,12
40,91
66,67
33,33
16,67
24,24
4,55
0 20 40 60 80
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 18. Intensitas sakit demam pada populasi uji dan populasi kontrol

Menurut Soemirat (2003), demam adalah suatu keadaan dimana
temperatur badan melebihi normal (yaitu 36 – 37
o
C). Demam dapat
disebabkan oleh infeksi mikroba patogen maupun beberapa logam seperti
kobalt, mangan, timah hitam, seng, timah, arsen, kadmium, tembaga, zat
besi, air raksa dan nikel.
4.8.4. Sakit Kepala/Pusing
Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 1,52 % dari populasi uji
menyatakan tidak pernah sakit kepala/ pusing, 36,36 % jarang, 18,18 %
kadang – kadang dan 43,94 % sering. Sedangkan dari populasi kontrol
18,18 % menyatakan tidak pernah sakit kepala/ pusing, 43,94 % jarang,
25,76 % kadang - kadang dan 12,12 % sering. Hasil analisis statistik
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji
dengan populasi kontrol dimana t hitung (5,497 lebih besar dari t tabel
(0,063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami sakit kepala/ pusing
(rata – rata 3,05) daripada populasi kontrol (rata – rata 2,32). Ini berarti
populasi uji mengalami sakit kepala/ pusing dengan intensitas kadang –
kadang sampai dengan sering, sedangkan populasi kontrol dengan intensitas
jarang sampai dengan kadang - kadang. Gambaran intensitas sakit kepala/
pusing pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 19
di bawah ini.
1,52
18,18
36,36
43,94
18,18
25,76
43,94
12,12
0 10 20 30 40 50
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 19. Intensitas sakit kepala/ pusing pada populasi uji dan populasi
kontrol

Sakit kepala sering terjadi bersama panas. Sakit kepala yang terjadi
secara terus – menerus dapat merupakan tanda penyakit menahun atau
keadaan gizi buruk (Warner dkk, 2001).
Hirsch (1999) mengatakan beberapa senyawa dalam limbah industri
pulp dan kertas memberikan gejala sakit kepala, mata terbakar dan kesulitan
bernafas. Lebih jauh Hirsch (1999) mengatakan terdapat fakta yang
mengaitkan klorofenol (salah satu senyawa yang terdapat dalam limbah
industri pulp dan kertas) dengan efek kesehatan terhadap manusia termasuk
depresi, anemia, disfungsi hati dan ginjal serta kematian pada orang yang
terpapar secara akut.



4.8.5. Sakit Kulit
Berdasarkan hasil kuisioner 80,30 % dari populasi uji menyatakan
tidak pernah sakit kulit, 6,09 % jarang, 4,55 % kadang – kadang dan 6,06 %
sering. Sedangkan dari populasi kontrol 90,91 % menyatakan tidak pernah
sakit kulit, 6,06 % jarang, 1,52 % kadang - kadang 1,52 % sering. Hasil
analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan
antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (1,811) lebih
besar dari t tabel (0,063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami
sakit kulit (rata – rata 1,36) daripada populasi kontrol (rata – rata 1,14). Ini
berarti populasi uji maupun populasi kontrol mengalami sakit kulit dengan
intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. Gambaran intensitas sakit
kulit pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 20 di
bawah ini.

80,30
90,91
9,09
6,06
4,55
1,52
6,06
1,52
0 20 40 60 80 100
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 20. Intensitas sakit kulit pada populasi uji dan populasi kontrol
Kelainan kulit tidak saja dipengaruhi oleh anatomi dan faal kulit
tetapi juga dipengaruhi oleh ketebalan kulit, warna kulit, usia, jenis kelamin,
kelembaban kulit, bakat terhadap alergi serta faktor eksternal seperti cuaca,
debu dan kualitas lingkungan (Soemirat, 2003). Berdasarkan hasil
penelitian Yadav (2006) menyimpulkan bahwa 9 dari 15 orang pekerja
sebuah industri pulp dan kertas di India mengalami keracunan kulit yang
berasal dari paparan berbagai polutan.
4.8.6. Sakit Batuk
Berdasarkan hasil kuisioner tidak ada dari populasi uji yang
menyatakan tidak pernah sakit batuk, 50,0 % jarang, 27,27 % kadang –
kadang dan 22,73 % sering. Sedangkan dari populasi kontrol 21,21 %
menyatakan tidak pernah sakit batuk, 54,55 % jarang, 18,18 % kadang -
kadang dan 6,06 % sering. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi
kontrol dimana t hitung (4,270) lebih besar dari t tabel (0,063) serta populasi
uji relatif lebih sering mengalami sakit batuk (rata – rata 2,73) daripada
populasi kontrol (rata – rata 2,09). Ini berarti populasi uji mengalami sakit
batuk dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang, demikian
pula dengan populasi kontrol. Gambaran intensitas sakit batuk pada
populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 21 di bawah ini.

0,00
21,21
50,00
54,55
27,27
18,18
22,73
6,06
0 10 20 30 40 50 60
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 21. Intensitas sakit batuk pada populasi uji dan populasi kontrol

Werner dkk. (2001) menyatakan bahwa batuk bukan merupakan
suatu penyakit tetapi gejala penyakit seperti penyakit tenggorokan, paru –
paru atau bronchus.
4.8.7. Sakit Pernafasan Lain
Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 74,24 % dari populasi uji
menyatakan tidak pernah sakit asma/ sesak nafas, 9,09 % jarang, 4,55 %
kadang – kadang dan 12,12 % sering. Sedangkan dari populasi kontrol
92,42 % menyatakan tidak pernah sakit asma/ sesak nafas, 4,55 % jarang,
3,03 % kadang - kadang dan tidak ada yang sering. Hasil analisis statistik
menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji
dengan populasi kontrol dimana t hitung (3,433) lebih besar dari t tabel
(0,063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami asma/ sesak nafas
(rata – rata 1,55) daripada populasi kontrol (rata – rata 1,11). Ini berarti
populasi uji maupun populasi kontrol mengalami sakit pernafasan lain
dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. Gambaran intensitas
sakit pernafasan lain (sesak dan sebagainya) pada populasi uji dan populasi
kontrol tergambar dalam Gambar 22 di bawah ini.
74,24
92,42
9,09
4,55
4,55
3,03
12,12
0,00
0 20 40 60 80 100
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 22. Intensitas sakit asma pada populasi uji dan populasi kontrol

Menurut Werner dkk. (2001) asma merupakan penyakit bawaan
anak – anak yang disebabkan oleh memakan atau menghirup alergen.
Penyakit asma akan memburuk pada musim – musim tertentu atau pada
malam hari. Sedangkan Soemirat (2003) menyatakan bahwa berbagai debu
seperti silika, besi, asbes, antrasit, kobalt, bagasse, barium dan lain – lain
akan memasuki paru – paru dan menyebabkan kerusakan paru – paru
(penyakitnya disebut pneumociniosis). Secara klinis penderita akan sesak
nafas, nafas pendek, kapasitas kerja turun tetapi tidak disertai demam.
Lebih lanjut Soemirat (2003) mengatakan bahwa pneumociniosis di
Indonesia sering disertai dengan komplikasi TBC karena banyaknya
insidensi TBC. Gejala alergi dapat pula disebabkan oleh nikel, kromium
dan berbagai zat organik.
Hasil penelitian tersebut sesuai dengan yang dilaporkan oleh Yadav
(2006) bahwa sebanyak 21 pekerja industri pulp dan kertas di India
menderita asma maupun masalah pernafasan dengan gejala seperti asma.
Tingginya kasus penyakit asma dan pernafasan lain pada populasi
uji dapat juga berasal dari senyawa klorin (organoklorin, klorin dioksida dan
sebagainya) yang ada dalam sampel air sumur atau yang terhirup dalam
jumlah yang cukup banyak (Green, 2005 serta Lean et al, 2006) dan bahkan
Hirsch (1999) mengatakan senyawa klorin dan gas Cl
2
dapat menyebabkan
penyakit paru – paru, masalah hormon, dan reproduksi.
4.8.8. Sakit Flu / Pilek
Berdasarkan hasil kuisioner tidak ada dari populasi uji menyatakan
tidak pernah sakit flu/ pilek, 28,79 % jarang, 39,39 % kadang – kadang dan
31,82 % sering. Sedangkan dari populasi kontrol 4,55 % menyatakan tidak
pernah sakit flu/ pilek, 62,12 % jarang, 27,27 % kadang - kadang dan 6,06
% sering. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung
(5,484) lebih besar dari t tabel (0,063) serta populasi uji relatif lebih sering
mengalami sakit flu/ pilek (rata – rata 3,03) daripada populasi kontrol (rata
– rata 2,35). Ini berarti populasi uji mengalami sakit flu/ pilek dengan
intensitas kadang – kadang sampai dengan sering, sedangkan populasi
kontrol dengan intensitas jarang sampai dengan kadang - kadang.
Gambaran intensitas sakit flu/ pilek pada populasi uji dan populasi kontrol
tergambar dalam Gambar 23 di bawah ini.
0,00
4,55
28,79
62,12
39,39
27,27
31,82
6,06
0 20 40 60 80
prosentase
tidak pernah
jarang
kadang-kadang
sering
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s
populasi kontrol
populasi uji

Gambar 23. Intensitas sakit flu/ pilek pada populasi uji dan populasi kontrol

Sakit flu atau pilek merupakan penyakit yang disebabkan oleh
infeksi virus atau alergi. Penyakit ini dapat sembuh sendiri tanpa harus
diobati (Werner dkk., 2001).
4.8.9. Anggota Keluarga Meninggal
Berdasarkan hasil analisis statistik terhadap anggota keluarga yang
telah meninggal dunia selama bertempat di lokasi populasi uji, diperoleh
tidak adanya perbedaan yang signifikan dengan populasi kontrol dimana t
hitung (0,000) lebih kecil daripada t tabel (0,063). Dengan demikian pada
populasi uji relatif sama jumlah anggota keluarga yang meninggal dunia
selama tinggal di tempat sekarang karena sakit dibandingkan dengan
populasi kontrol. Adapun jenis penyakit yang diderita oleh anggota
keluarga yang meninggal dunia tersebut antara lain tipus, maag, paru-paru,
sesak nafas, ginjal, demam dan gabag.
4.8.10. Kumulatif
Secara kumulatif/ keseluruhan berdasarkan hasil analisis statistik
didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas
kesehatan masyarakat pada populasi uji dengan populasi kontrol dimana
diperoleh t hitung (7,631) lebih besar daripada t tabel (0,063). Berdasarkan
hasil analisis statistik tersebut juga diperoleh bahwa populasi uji relatif lebih
sering menderita sakit – sakit di atas (rata – rata 2,54) yang berarti kualitas
kesehatannya lebih rendah daripada populasi kontrol (rata – rata 2,00). Ini
berarti populasi uji secara kumulatif mengalami sakit – sakit tersebut
dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang, sedangkan
populasi kontrol dengan intensitas jarang.
Secara umum tingginya kasus beberapa penyakit pada populasi uji
disebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh anggota masyarakat. Salah
satu yang memicu menurunnya sistem kekebalan tubuh anggota masyarakat
tersebut adalah paparan gas H
2
S (Hirsch, 1999).
4.9 KESEHATAN MASYARAKAT POPULASI UJI SEBELUM DAN
SETELAH BERTEMPAT DI SEKITAR SALURAN LIMBAH
Berdasarkan hasil kuisioner kesehatan masyarakat populasi uji
sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT
Kertas Basuki Rachmat adalah sebagai berikut :
4.9.1. Sakit Diare
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (2,485) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami diare (rata – rata 2,26) daripada sebelumnya (rata – rata
1,92). Ini berarti populasi uji mengalami sakit diare dengan intensitas jarang
sampai dengan kadang – kadang pada saat bertempat tinggal sekarang,
sedangkan pada saat bertempat tinggal sebelumnya dengan intensitas tidak
pernah sampai dengan jarang.
Tingginya intensitas sakit diare pada populasi uji setelah bertempat
tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat disebabkan
kondisi air sumur yang dipengaruhi oleh limbah cair PT Kertas Basuki
Rachmat.
4.9.2. Sakit Pencernaan Lain
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (3,056) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami sakit perut/ pencernaan lainnya (rata – rata 2,33) daripada
sebelumnya (rata – rata 1,82). Ini berarti populasi uji setelah bertempat
tinggal sekarang mengalami sakit pencernaan lain dengan intensitas jarang
sampai dengan kadang – kadang, sedangkan sebelumnya dengan intensitas
tidak pernah sampai dengan jarang.
Peningkatan intensitas terjadinya sakit pencernaan lain pada
populasi uji setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas
Basuki Rachmat serupa dengan yang dilaporkan Bond dan Le (2000)
dimana terjadi peningkatan penderita kanker lambung, usus besar, prostat,
dan leukimia pada pekerja industri pulp dan kertas di Kanada. Sedangkan
Lean, dkk (2006) menyatakan bahwa paparan senyawa organoklorin pada
industri pulp dan kertas dapat menyebabkan kanker saluran pencernaan.

4.9.3. Sakit Demam
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (2,542) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami sakit demam (rata – rata 2,67) daripada sebelumnya (rata
– rata 2,23). Ini berarti populasi uji baik sebelum maupun setelah bertempat
tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat mengalami
Sakit demam dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang.
Sakit demam merupakan gejala terjangkitnya penyakit – penyakit
tertentu seperti infeksi dan keracunan. Tingginya intensitas terjadinya sakit
demam pada populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas
Basuki Rachmat disebabkan pengaruh limbah PT Kertas Basuki Rachmat
yang mengalir di sekitar mereka dan masuk ke dalam air sumur warga.
4.9.4. Sakit Kepala
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (5,010) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami sakit kepala (rata – rata 3,15) daripada sebelumnya (rata –
rata 2,33). Ini berarti populasi uji mengalami sakit kepala setelah bertempat
tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dengan
intensitas kadang – kadang sampai dengan sering, sedangkan sebelumnya
dengan intensitas jarang sampai dengan kadang - kadang.
Sakit kepala/ pusing yang terjadi secara terus – menerus merupakan
salah satu gejala penyakit menahun (Warner dkk, 2001). Meningkatnya
intensitas sakit kepala/ pusing pada populasi uji setelah bertempat di sekitar
saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat disebabkan pengaruh limbah PT
Kertas Basuki Rachmat. Menurut EPA (1997) paparan senyawa kloroform
(salah satu senyawa yang dihasilkan industri pulp dan kertas) dalam waktu
singkat dapat mengakibatkan pusing dan sakit kepala serta mempengaruhi
sistem syaraf pusat.
4.9.5. Sakit Kulit
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (2,837) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami sakit kulit (rata – rata 1,51) daripada sebelumnya (rata –
rata 1,13). Ini berarti populasi uji pada saat sebelum maupun setelah
bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat
mengalami sakit kulit dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang.
Intensitas sakit kulit yang tinggi pada populasi uji setelah bertempat
tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi
oleh limbah PT Kertas Basuki Rachmat. Salah satu senyawa yang dapat
menyebabkan penyakit kulit tersebut adalah dioksin. paparan dioksin dalam
waktu lama menyebabkan penyakit kulit yang disebut chloracne (Murray,
1992 dan EPA, 1997).
4.9.6. Sakit Batuk
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (3,804) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami sakit batuk (rata – rata 2,74) daripada sebelumnya (rata –
rata 2,21). Ini berarti populasi uji pada saat sebelum maupun setelah
bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat
mengalami sakit batuk dengan intensitas jarang sampai dengan kadang –
kadang.
Batuk merupakan salah satu gejala penyakit saluran pernafasan.
Peningkatan intensitas sakit batuk pada populasi uji setelah tinggal di sekitar
saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi limbah PT Kertas
Basuki Rachmat. Sebagaimana dinyatakan oleh EPA (1997), Green, (2005)
dan Lean, dkk (2006) bahwa paparan senyawa organoklorin dalam industri
pulp dan kertas menyebabkan gangguan pernafasan bahkan dapat
mengakibatkan kanker sistem pernafasan.
4.9.7. Sakit Pernafasan Lain
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (2,317) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami sakit asma/ sesak nafas (rata – rata 1,51) daripada
sebelumnya (rata – rata 1,18). Ini berarti populasi uji pada saat sebelum
maupun setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas
Basuki Rachmat mengalami sakit pernafasan lain dengan intensitas tidak
pernah sampai dengan jarang.
Besarnya intensitas sakit pernafasan lain (seperti asma/ sesak nafas)
pada populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki
Rachmat dipengaruhi limbah PT Kertas Basuki Rachmat. Paparan senyawa
dalam limbah industri pulp dan kertas menyebabkan penyakit asma dengan
gejala peningkatan iritasi saluran pernafasan, batuk, bersin, dan penurunan
aliran udara (Green, 2005).


4.9.8. Sakit Flu/ Pilek
Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata
secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t
hitung (3,748) lebih besar daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati
rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih
sering mengalami sakit flu/ pilek (rata – rata 2,87) daripada sebelumnya
(rata – rata 2,36). Ini berarti populasi uji pada saat sebelum maupun setelah
bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat
mengalami sakit flu/ pilek dengan intensitas jarang sampai dengan kadang –
kadang.
Sakit flu/ pilek terjadi karena penurunan daya tahan tubuh. Sakit
flu/ pilek yang meningkat intensitasnya pada populasi uji yang tinggal di
sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi oleh limbah
PT Kertas Basuki Rachmat. Penurunan daya tahan tubuh, menurut EPA
(1997) dapat disebabkan oleh paparan senyawa furan dan dioksin dalam
limbah industri pulp dan kertas.
4.9.9. Kumulatif
Secara kumulatif/ keseluruhan kualitas kesehatan masyarakat
populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki
Rachmat lebih rendah daripada sebelumnya. Secara statistik menunjukkan
terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (6,672) lebih besar
daripada t hitung (0,063), serta setelah menempati rumah di sekitar saluran
limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit -
sakit tersebut (rata – rata 2,38) daripada sebelumnya (rata – rata 1,90). Ini
berarti populasi uji setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT
Kertas Basuki Rachmat mengalami sakit - sakit tersebut dengan intensitas
jarang sampai dengan kadang – kadang, sedangkan sebelumnya dengan
intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. Rekapitulasi masing –
masing parameter kesehatan tersebut tertera pada Tabel 9 di bawah ini.
Perbedaan kualitas kesehatan masyarakat pada populasi uji setelah
tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat disebabkan
oleh pengaruh keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat yang
mengalir di sekitar kediaman mereka. Keadaan ini senada dengan yang
diungkapkan oleh Hirsch (1999) bahwa polutan industri pulp dan kertas
dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia.

Tabel 9. Rekapitulasi masing – masing parameter kesehatan pada populasi
uji sebelum dan setelah bertempat di sekitar saluran limbah PT
KBR
Rata – rata insidensi Signifikansi
No. Parameter
sebelum setelah
1. Sakit diare 1,92 2,26 Berbeda nyata
2. Sakit pencernaan lain 1,82 2,33
Berbeda nyata
3. Sakit demam 2,33 2,67
Berbeda nyata
4. Sakit kepala 2,33 3,15
Berbeda nyata
5. Sakit kulit 1,13 1,51
Berbeda nyata
6. Sakit batuk 2,21 2,74
Berbeda nyata
7. Sakit pernafasan lain
(asma/ sesak nafas)
1,18 1,51
Berbeda nyata
8. Sakit flu/ pilek 2,36 2,87
Berbeda nyata
9. Kumulatif 1,90 2,38 Berbeda nyata
Sumber : data diolah
Hal ini diperkuat dengan sangat dekatnya sumur masyarakat sekitar
yaitu rata – rata sekitar 4 - 8 meter dari saluran limbah. Kondisi ini
dibuktikan dengan kesadahan jumlah, kadar klorida, nitrat dan sulfat yang
lebih tinggi pada sampel air sumur populasi uji dibandingkan dengan
sampel air sumur pada populasi kontrol. Meskipun kadar logam dan
senyawa – senyawa yang dianalisis lebih kecil dari batas maksimun yang
diperkenankan, tetapi lama – kelamaan senyawa tersebut akan terakumulasi
di dalam tubuh mereka dan menimbulkan gangguan kesehatan yang baru
dirasakan sekarang. Keadaan tersebut diperparah dengan keadaan ekonomi
sampel uji yang mayoritas masih di bawah garis kemiskinan dimana mereka
kurang memperhatikan aspek gizi pada konsumsi mereka.
4.10 ANALISIS SWOT
Untuk mengedentifikasi berbagai faktor secara sistematis guna
merumuskan strategi perusahaan dilakukan analisis SWOT. Menurut
Rangkuti (2006), analisis ini didasarkan pada logika yang dapat
memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunies), namun
secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman
(threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan
pengembangan misi, tujuan, strategi dan kebijakan perusahaan.
Dalam menganalisis kekuatan (strenghts), peluang (opportunies),
kelemahan (weakness) dan ancaman (threats) pada PT Kertas Basuki
Rachmat maka dilakukan analisis lingkungan eksternal dan internal sebagai
berikut :
4.10.1. Analisis Lingkungan Eksternal
Untuk menganalisis lingkungan eksternal PT Kertas Basuki
Rachmat maka perlu mengidentifikasi faktor – faktor eksternal yaitu
peluang dan tantangan yang dihadapi perusahaan sebagai berikut :
4.10.1.1. Peluang (Opportunies)
4.10.1.1.1. Kebutuhan akan kertas semakin meningkat
Seiring dengan bertambahnya jumlah manusia dengan berbagai
aktivitasnya terutama di bidang pendidikan, perkantoran dan percetakan
maka menuntut penggunaan kertas yang semakin meningkat pula. Menurut
Rini (2002), industri kertas merupakan salah satu jenis industri terbesar di
dunia menghasilkan 178 juta ton pulp, 278 juta ton karton dan kertas serta
menghabiskan 670 juta ton kayu. Pada dekade berikutnya pertumbuhan
industri kertas diperkirakan antara 2 sampai dengan 3,5 % per tahun.
4.10.1.1.2. Sumber air yang melimpah
PT Kertas Basuki Rachmat menggunakan sumber air dari Sungai
Sukowidi dengan panjang 10.869 meter yang dikenal sebagai salah satu
sungai yang tidak pernah kering airnya (Bappeda Kabupaten Banyuwangi,
2006). Di samping itu selama ini daerah Kabupaten Banyuwangi juga
merupakan daerah yang tidak pernah mengalami kekeringan meskipun
dilanda musim kemarau yang cukup panjang. Keunggulan ini akan sangat
membantu bagi PT Kertas Basuki Rachmat karena akan dapat dimanfaatkan
untuk proses produksi maupun proses pengolahan limbah.
4.10.1.1.3. Dekat dengan pantai
Jarak PT Kertas Basuki Rachmat dengan laut yaitu Selat Bali
diperkirakan 2 km. Relatif dekatnya jarak PT Kertas Basuki Rachmat
dengan laut akan memudahkan dalam pembuangan limbah cair karena tidak
perlu membuang limbah cair ke sungai akan tetapi bisa langsung dibuang ke
laut setelah melewati saluran limbah cair khusus. Dengan demikian akan
semakin memperkecil peluang kontak limbah cairnya dengan masyarakat
yang memanfaatkan sungai untuk semua keperluan seperti mandi, mencuci
dan membuang hajat.
4.10.1.2. Tantangan (Threats)
4.10.1.2.1. Banyaknya industri kertas yang baru dan moderen
Semenjak tahun 1980 – an, di Pulau Jawa khususnya mulai berdiri
beberapa industri kertas. Menurut Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK,
2007) sampai dengan akhir tahun 2006 di Indonesia telah berdiri 125 buah
industri pulp dan kertas. Industri – industri kertas tersebut pada umumnya
telah menggunakan proses produksi dan peralatan yang lebih baru dan lebih
moderen. Dengan luas perusahaan yang lebih kecil, industri – industri baru
tersebut mampu memproduksi berbagai jenis kertas dengan produksi per
hari lebih besar dengan tenaga kerja yang lebih sedikit. Hal ini merupakan
salah satu tantangan tersendiri yang dihadapi oleh PT Kertas Basuki
Rachmat.
4.10.1.2.2. Tuntutan peraturan mengenai lingkungan yang semakin ketat
Semakin banyaknya aktifitas manusia dalam memanfaatkan,
mengolah dan mendistribusikan sumber daya alam menyebabkan semakin
menurunnya kualitas lingkungan. Kegiatan manusia tersebut secara
langsung atau tidak menimbulkan kerusakan, pencemaran atau bahkan
kematian atau punahnya suatu ekosistem dalam lingkungan. Pada
umumnya aktifitas manusia yang mengakibatkan kerusakan dan penurunan
daya dukung lingkungan disebabkan oleh adanya pengaruh dari kegiatan
manusia yang tidak berwawasan lingkungan, seperti industri, transportasi,
pertambangan dan sebagainya. Akibatnya akan mengurangi kemampuan
alam untuk mendukung kehidupan manusia. Pengaruhnya terhadap manusia
antara lain adalah akan mengurangi atau menurunkan kualitas kehidupan
manusia.
Untuk mencegah terjadinya dampak negatif dari kegiatan – kegiatan
manusia terhadap kualitas lingkungan maka pemerintah membuat peraturan
perundang – undangan di bidang lingkungan sebagai kendali kegiatan
manusia tersebut agar tidak merusak lingkungan. Beberapa peraturan
perundang – undangan yang terkait dengan kegiatan PT Kertas Basuki
Rachmat antara lain adalah peraturan mengenai limbah B3, pencemaran
udara, air dan tanah, pengelolaan lingkungan hidup, baku mutu limbah,
AMDAL dan sebagianya.
Bagi industi peraturan tersebut merupakan pembatas agar
perusahaan beroperasi dalam jalur yang benar dan tidak menimbulkan
kerusakan lingkungan. Di lain pihak peraturan tersebut juga sebagai
tantangan bagi industri untuk dapat menunjukkan citranya di masyarakat
sebagai industri yang bersih (tidak mencemari lingkungan). Efeknya adalah
akan menambah kepercayaan masyarakat, pemerintah, dan dunia usaha
terhadap kinerja industri tersebut.
4.10.1.2.3. Limbah industri yang mengganggu lingkungan
Industri kertas menghasilkan limbah cair, padat dan gas yang
cukup mengganggu lingkungan. Limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat
pada saat masih menggunakan bahan baku kayu – kayuan berwarna coklat
kehitaman dan berbau menyesakkan dada serta kadang – kadang disertai
buih yang menggunung. Sedangkan pada saat menggunakan bahan baku
kertas bekas limbah cair yang dihasilkan berwarna putih keruh dan
mengandung kapur. Demikian pula dengan limbah padat yang merupakan
hasil endapan limbah cair. Adapun limbah gas lebih berbau belerang pada
saat menggunakan bahan baku kayu – kayuan daripada menggunakan bahan
baku kertas bekas.
Limbah tersebut mengakibatkan dampak yang besar bagi
masyarakat di sekitarnya terutama yang bertempat tinggal di sekitar saluran
pembuangan limbah cair. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat
sekitar dan dinas terkait, limbah cair tersebut beberapa kali diprotes oleh
masyarakat sekitar karena buih atau resapannya ke sumur penduduk sekitar
beberapa tahun yang lalu.
4.10.1.2.4. Kondisi Kesehatan Masyarakat Sekitar Masih Rendah
Berdasarkan data dari Puskesmas Singotrunan menggambarkan
kondisi kesehatan masyarakat di Kelurahan Lateng yang masih kurang
layak. Pada tahun 2006 jumlah penderita diare di Kelurahan Lateng yang
berkunjung ke Puskesmas setempat adalah sebanyak 244 orang meningkat
pesat dari tahun 2005 yaitu sebesar 155 orang, ISPA (Infeksi Saluran
Pernafasan Akut) 203 orang, DBD (Demam Berdarah Dengue) 5 orang dan
campak 6 orang (Puskesmas Singotrunan, Kecamatan Banyuwangi, 2007).
Dibandingkan dengan wilayah lain di ibukota Kabupaten
Banyuwangi tingkat kesehatan masyarakat di wilayah ini masih relatif
rendah. Tingkat kesehatan yang rendah tersebut menyebabkan menurunnya
kualitas hidup masyarakat.
4.10.2. Analisis Lingkungan Internal
Untuk menganalisis lingkungan internal maka perlu diidentifikasi
faktor – faktor internal yaitu kekuatan (strenghts) dan kelemahan
(weakness) sebagai berikut :
4.10.2.1. Kekuatan (Strenghts)
4.10.2.1.1. PT Kertas Basuki Rachmat merupakan salah satu industri kertas
tertua di Indonesia
PT Kertas Basuki Rachmat yang berdiri tahun 1969 merupakan
salah satu industri kertas tertua di Indonesia (PT Kertas Basuki Rachmat,
1989). Dengan kondisi ini berarti PT Kertas Basuki Rachmat lebih
berpengalaman dalam proses produksi, manajemen, pemasaran produk
kertas dan sebagainya. Dengan demikian PT Kertas Basuki Rachmat akan
lebih mudah mengembangkan dan meningkatkan kinerjanya mengingat
telah lebih mengetahui kelemahan dan kelebihan masing – masing alat,
proses, manajemen dan sebagainya. Ini merupakan satu kekuatan tersendiri
bagi PT Kertas Basuki Rachmat yang belum tentu dimiliki oleh industri
kertas lain terutama yang masih baru.
4.10.2.1.2. Memiliki fasilitas produksi dan pendukung yang mencukupi
PT Kertas Basuki Rachmat mempunyai fasilitas produksi dan
pendukung yang mencukupi untuk berjalannya suatu proses produksi kertas
dengan kapasitas 30 – 40 ton per hari (PT Kertas Basuki Rachmat, 1989).
Fasilitas produksi tersebut terdiri atas peralatan produksi, gudang bahan
baku, gudang produk, bengkel, alat transportasi dan lain – lain yang
mendukung proses produksi sehingga dihasilkan produk yang sesuai
spesifikasi/ standar yang diinginkan.
4.10.2.1.3. Memiliki fasilitas pengolah limbah cair yang mendukung
PT Kertas Basuki Rachmat mempunyai fasilitas pengolah limbah
cair yang mampu mengolah limbah cair yang dihasilkan dengan kapasitas
produksi 150 ton per hari. Sedangkan kapasitas produksi yang ada
sekarang baru 30 – 40 ton per hari dengan volume limbah cair yang
dihasilkan sekitar 5000 m
3
per hari (PT Kertas Basuki Rachmat, 1989).
Fasilitas pengolah limbah tersebut telah dilengkapi dengan bak – bak
maupun peralatannya seperti pompa, penyaring (filter), pengaduk (mixer)
dan sebagainya.
4.10.2.2. Kelemahan (Weakness)
4.10.2.2.1. Kinerja perusahaan yang semakin menurun karena peralatan
yang sudah tua
Seiring dengan semakin bertambahnya usia PT Kertas Basuki
Rachmat, semakin menurunkan kinerja perusahaan disebabkan peralatan
produksi dan penunjang lainnya yang sudah tua. Beberapa peralatan sudah
terlihat berkarat dan tidak optimal bekerja. Akan tetapi bukan berarti
peralatan tersebut sudah tidak bisa dipergunakan karena beberapa peralatan
lainnya masih dapat beroperasi dalam kondisi yang cukup optimum.
Pada awalnya kinerja perusahaan diatur pada kapasitas produksi
150 ton per hari namun sekarang kapasitas produksi sudah menurun
menjadi 30 – 40 ton per hari (PT Kertas Basuki Rachmat, 1989).
4.10.2.2.2. Peralatan pengolah limbah cair belum bekerja secara optimal
PT Kertas Basuki Rachmat telah memiliki fasilitas pengolah
limbah cair yang mendukung. Akan tetapi fasilitas pengolah limbah cair
tersebut belum difungsikan secara optimal. Peralatan pengolah limbah
seperti mixer, pompa dan sebagainya maupun bak – bak pengolah limbah
belum dipergunakan secara keseluruhan. Hal tersebut disebabkan
menurunnya kapasitas produksi PT Kertas Basuki Rachmat dari 150 ton per
hari menjadi 30 – 40 ton per hari (PT Kertas Basuki Rachmat, 1989).
Berdasarkan identifikasi faktor – faktor internal dan eksternal PT
Kertas Basuki Rachmat di atas maka kemudian diperoleh beberapa alternatif
sebagaimana matrik seperti yang tertera dalam Gambar 24 di bawah ini.
Faktor Internal







Faktor Eksternal
Kekuatan
(Strenghts) :
- Salah satu industri
kertas tertua di
Indonesia
- Fasilitas produksi
dan pendukung
cukup
- Fasilitas pengolah
limbah mendukung
Kelemahan
(Weakness) :
- Kinerja perusahaan
semakin menurun
karena peralatan
sudah tua
- Peralatan pengolah
limbah cair belum
bekerja secara
optimal

Peluang (Opportunies) :
- Kebutuhan kertas semakin
meningkat
- Sumber air yang melimpah
- Dekat dengan pantai

Tantangan (Threats) :
- Banyaknya industri kertas
yang baru dan moderen
- Tuntutan peraturan
mengenai lingkungan yang
semakin ketat
- Limbah industri
mengganggu lingkungan
- Kesehatan Masyarakat
Sekitar Masih Rendah

Strategi :
1. Mengoptimalkan proses produksi untuk
menghasilkan produk yang berkualitas
2. Mengoptimalkan fasilitas pengolah limbah
cair untuk menghasilkan limbah cair yang
memenuhi baku mutu
3. Meningkatkan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan hidup
4. Meningkatkan taraf kesehatan masyarakat
sekitar
Gambar 24. Matriks SWOT di PT Kertas Basuki Rachmat

4.11 USULAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN
Melalui pendekatan model PDCA, strategi yang dihasilkan dari
analisis SWOT selanjutnya ditetapkan sebagai rencana (plan) perusahaan.
Selanjutnya sebagai salah satu langkah pada tahap penerapan (do), maka
dibuat kegiatan/ program untuk menjabarkan strategi – strategi tersebut.
Kemudian pada masing – masing kegiatan/ program tersebut ditetapkan
prosedur penilaian, pengujian, pengukuran dan monitoring sebagai salah
satu langkah pada tahap pemeriksaan (check). Dengan demikian penjabaran
dari pendekatan model PDCA tersebut dan realitanya pada kasus PT Kertas
Basuki Rachmat dapat dilihat pada Tabel 10.
Tabel 10. Penjabaran pendekatan model PDCA dan realitanya di PT Kertas
Basuki Rachmat
No.
Perenca-
naan (Plan)
Penerapan (Do) Pemeriksaan (Check)
Reali-
sasi
Pengukuran volume air
pada sumber air
sudah
Pengukuran penggunaan
air masing-masing proses
belum
Pengukuran air yang
terbuang setiap proses
belum
Optimalisasi
penggunaan air
Kemungkinan air yang
bisa dipakai ulang
sudah
Pengukuran jumlah bahan
baku yang akan dipakai
sudah
Pengukuran jumlah bahan
baku yang dipakai
sudah
Pengukuran jumlah bahan
baku yang terbuang
belum
Pengukuran jumlah bahan
baku yang rusak
belum
Optimalisasi
penggunaan bahan
baku
Kemungkinan bahan baku
yang bisa dipakai ulang
belum
Pengukuran jumlah bahan
pembantu yang akan
dipakai
sudah
1.






















Optimalisasi
Proses
Produksi




















Optimalisasi
penggunaan bahan
pembantu
Pengukuran jumlah bahan
pembantu yang dipakai
sudah
Pengukuran jumlah bahan
pembantu yang terbuang
belum
Pengukuran jumlah bahan
pembantu yang rusak
belum
Kemungkinan bahan
pembantu yang bisa
dipakai ulang
belum
Pengukuran bahan bakar
yang akan dipakai
sudah
Pengukuran bahan bakar
yang dipakai
sudah
Pengukuran bahan bakar
yang terbuang
belum
Optimalisasi
penggunaan bahan
bakar
Kemungkinan bahan bakar
yang bisa dipakai ulang
belum
Pengukuran bahan yang
masuk
sudah
Pengukuran bahan yang
keluar
sudah
Pengukuran bahan yang
terbuang
belum
Optimalisasi proses
produksi pada ma-
sing - masing mesin
Kemungkinan bahan yang
bisa dimanfaatkan lagi
belum
Pengukuran hasil produksi
sesuai standar
sudah
Pengukuran hasil produksi
yang sesuai standar
sudah
Pengukuran hasil produksi
yang tidak sesuai standar
sudah
Pengukuran hasil produksi
yang rusak
sudah












































Optimalisasi hasil
produksi
Kemungkinan hasil pro-
duksi rusak yang masih
bisa diproses ulang
belum
Pengukuran volume
limbah yang masuk
belum
Pengukuran volume
limbah yang keluar
belum
Optimalisasi proses
produksi pada
masing - masing
tahap pengolahan
Pengukuran waktu proses belum
Pengukuran jumlah bahan
pembantu yang digunakan
sudah Optimalisasi penggu-
naan bahan pemban-
tu pada tiap tahap
pengolahan
Pengukuran efektivitas
hasil pengolahan
belum
2. Optimalisasi
fasilitas
pengolah
limbah cair
Optimalisasi penggu-
naan peralatan pada
Pengukuran fungsi alat
pada saat limbah masuk
belum
masing - masing
tahap pengolahan
Pengukuran fungsi alat
pada saat limbah keluar
belum
Pengukuran volume
limbah yang akan dibuang
sudah Hasil akhir limbah
yang siap dibuang
Pengukuran parameter uji
baku mutu limbah cair
sudah
Pengolahan limbah
cair
Pengambilan sampel sebe-
lum dibuang secara
berkala
sudah
Pengukuran volume lim-
bah padat yang dihasilkan
belum Pengolahan limbah
padat
Pengujian sampel limbah
padat secara berkala
sudah
Pengukuran polutan pada
saat keluar pengendap
debu elektrostatik
sudah Pengolahan limbah
gas
Pengujian secara berkala
polutan
sudah
Pengukuran secara berkala
kualitas limbah cair di
beberapa tempat sekitar
saluran limbah cair
belum
Pengukuran secara berkala
kualitas limbah cair di
beberapa sumur penduduk
sekitar saluran limbah cair
belum
Pemantauan limbah
cair di lapangan
Pengukuran secara berkala
kualitas limbah cair di
beberapa sawah sekitar
saluran limbah cair
belum
Pengukuran secara berkala
kualitas limbah padat di
beberapa tempat sekitar
tempat pembuangan
belum Pemantauan limbah
padat di lapangan
Pengukuran secara berkala
kualitas tanah di beberapa
tempat sekitar tempat
pembuangan
belum
Pengukuran secara berkala
kadar polutan di beberapa
tempat sekitar perusahaan
belum
3.






































Pemantauan
dan pengelo-
laan ling-
kungan



































Pemantauan polutan
di lapangan
Pengukuran secara berkala
kadar polutan di beberapa
tempat dengan radius dan
arah berbeda
belum

Penanaman pohon diseki-
tar areal pabrik
sudah
Pembangunan saluran
limbah cair dengan beton
tertutup
belum
Pemantauan saluran
limbah cair yang bocor
atau rusak
belum


Pengelolaan
lingkungan
Pembuangan limbah padat
secara sanitary landfill
belum
Mendata jumlah penduduk
sakit sebelum penyuluhan
belum
Mendata jumlah penduduk
sakit setelah penyuluhan
secara periodik
belum
Penyuluhan hidup
bersih

Memantau perkembangan
kesehatan masyarakat
secara rutin
belum
Mendata jumlah penduduk
yang rawan gizi
sudah
Peningkatan gizi balita
dengan pemberian
makanan bergizi
sudah
Peningkatan gizi
masyarakat
Memantau perkembangan
gizi balita
sudah
Membangun fasilitas air
bersih
belum
Mengukur debit air agar
mencukupi
belum
Menganalisis kualitas air
sumber secara rutin
belum
Memantau kerusakan
fasilitas secara rutin
belum
4. Meningkat -
kan taraf
kesehatan
masyarakat

















Menyediakan
fasilitas air bersih

Memperbaiki kerusakan
fasilitas
belum
Pada rencana optimalisasi proses produksi diharapkan akan
diperoleh gambaran nyata besarnya pemakaian air, bahan baku, bahan
pembantu dan bahan bakar, potensi penghematannya serta kemungkinan
pemakaian ulang bahan – bahan tersebut. Di samping itu diharapkan akan
juga diperoleh gambaran nyata keadaan mesin dan peralatan produksi serta
produktivitas produksi per satuan waktu.
Pada rencana optimalisasi fasilitas pengolah limbah cair
diharapkan akan diperoleh keadaan yang sebenarnya dari masing – masing
tahap pengolah limbah baik dari efektivitasnya, kemungkinan penghematan
bahan bakar dan bahan pembantu, kondisi peralatan serta standar baku mutu
limbah cair yang harus dipenuhi. Sedangkan pada rencana pemantauan dan
pengelolaan lingkungan diharapkan akan diperoleh data dari kecukupan
proses pengolahan limbah cair, padat, dan gas PT Kertas Basuki Rachmat
dalam memenuhi baku mutu, mencegah dampak negatif di masyarakat
akibat pembuangan limbah tersebut.
Pada rencana peningkatan taraf kesehatan masyarakat diharapkan
akan diperoleh gambaran nyata besarnya penduduk yang sakit, balita rawan
gizi dan fasilitas air bersih yang tidak tercemar atau layak konsumsi,
terpenuhi dalam waktu lama sesuai jumlah kebutuhannya, serta dengan
kualitas yang konstan (tidak menurun sesuai waktu). Dengan demikian
penduduk tidak akan mengkonsumsi air sumur yang tercemar limbah PT
Kertas Basuki Rachmat.
Berdasarkan tabel tersebut ternyata masih banyak pengecekan yang
belum dilakukan oleh PT Kertas Basuki Rachmat bersama instansi terkait.
Seharusnya PT Kertas Basuki Rachmat melakukan upaya – upaya tersebut
karena tidak hanya akan mengurangi jumlah pemakaian bahan baku, air,
bahan pembantu, dan bahan bakar, tetapi juga akan mengurangi biaya
produksi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan perusahaan.
Disamping itu dengan upaya – upaya tersebut PT Kertas Basuki Rachmat
sekaligus juga melakukan pembinaan dan pemberdayaan masyarakat sekitar
perusahaan sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan terhadap
lingkungan sekitarnya.
Berdasarkan konsep PDCA tersebut maka pihak PT Kertas Basuki
Rachmat harus melakukan :
1. Program produksi bersih dengan mengoptimalkan proses produksi
untuk menghasilkan produksi yang berkualitas dengan meminimalkan
bahan baku, air dan energi yang digunakan.
2. Program optimalisasi fasilitas pengolah limbah untuk menghasilkan
limbah yang memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan.
3. Program pemantauan dan pengelolaan lingkungan baik terhadap
limbah yang dihasilkan maupun dampak terhadap lingkungan sekitar.
4. Upaya peningkatan taraf kesehatan masyarakat sekitar melalui
penyuluhan hidup bersih, peningkatan gizi masyarakat dan
penyediaan fasilitas air bersih yang dilakukan bersama instansi terkait.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian terhadap kesehatan masyarakat
terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji (Kelurahan Lateng)
dan populasi kontrol (Kelurahan Pengantigan) pada intensitas sakit diare,
sakit pencernaan lain, demam, batuk, sakit pernafasan lain, sakit kulit dan
flu/ pilek dimana intensitas sakit pada populasi uji lebih sering daripada
populasi kontrol yang berarti kualitas kesehatan masyarakat pada populasi
uji relatif lebih rendah daripada populasi kontrol. Selain itu juga terdapat
perbedaan yang signifikan antara sampel pada populasi uji yang pernah
tinggal di tempat lain dengan tempat tinggalnya sekarang dimana intensitas
sakit di tempat sekarang lebih sering daripada di tempat lain yang berarti
kualitas kesehatan masyarakat setelah bertempat tinggal sekarang lebih
rendah daripada sebelumnya.
Perbedaan kualitas kesehatan masyarakat pada populasi uji
dibandingkan dengan populasi kontrol disebabkan oleh pengaruh
keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dimana kesadahan
jumlah, kadar klorida, nitrat dan sulfat pada sampel air sumur populasi uji
lebih tinggi dibandingkan dengan sampel air sumur pada populasi kontrol.
Berdasarkan analisis SWOT diperoleh strategi mengoptimalkan
proses produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas,
mengoptimalkan fasilitas pengolah limbah cair untuk menghasilkan limbah
cair yang memenuhi baku mutu, meningkatkan pengelolaan dan pemantauan
lingkungan hidup, dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sekitar.



5.2. SARAN
Dengan memperhatikan kesimpulan di atas dan kondisi yang ada
pada masyarakat di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat maka
dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut :
1. Perlu pemantauan dari pemerintah daerah setempat secara rutin
terhadap kualitas limbah yang dihasilkan PT Kertas Basuki Rachmat
serta kondisi saluran pembuangan limbah cairnya agar tidak meresap
ke sumur penduduk yang tinggal di sekitar saluran tersebut.
2. Perlu penerapan peraturan yang lebih ketat terutama oleh aparatur
pemerintah setempat perihal ketentuan pembangunan tempat tinggal
di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat
dan jarak minimal sumur yang boleh dibuat.
3. PT Kertas Basuki Rachmat bersama instansi terkait perlu melakukan
sosialisasi hidup bersih dan pemberian bantuan baik berupa dana,
materi maupun pelatihan kepada masyarakat sekitar agar mereka dapat
meningkat keadaan sosial ekonominya sehingga tidak rentan terhadap
penyakit serta meningkat kualitas hidupnya.
BIODATA PENULIS



Rachman Cahyono lahir di Banyuwangi pada
tanggal 7 Juli 1972. Menyelesaikan pendidikan SD,
SMP dan SMA di kota Banyuwangi. Pada tahun
1996 penulis menyelesaikan sarjana pada jurusan
Teknologi Pangan dan Gizi, Institut Pertanian Bogor
(IPB) dengan gelar Sarjana Teknologi Pertanian
(S.TP.). Tahun 1996 – 1998 penulis pernah bekerja pada PT 2 Tang yang
memproduksi air minum dalam kemasan. Tahun 1998 – 2002 penulis
bekerja pada PT Rimbaria Rekawira di Surabaya yang memproduksi saos
dan kecap. Tahun 2002 sampai sekarang bekerja sebagai PNS di
Pemerintah Kabupaten Jember. Penulis masuk Program Pasca Sarjana
Magister Ilmu Lingkungan, Universitas Diponegoro atas beasiswa
BAPPENAS pada tahun 2006 dan berhasil menyelesaikannya pada tahun
2007 dengan tesis berjudul “Dampak Limbah Cair PT Kertas Basuki
Rachmat, Banyuwangi terhadap Kesehatan Masyarakat”


TESIS

DAMPAK LIMBAH CAIR PT KERTAS BASUKI RACHMAT, BANYUWANGI TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT

Disusun oleh

Rachman Cahyono L4K006016

Mengetahui, Komisi Pembimbing

Pembimbing Utama

Pembimbing Kedua

Dr. Ir. Purwanto, DEA.

Dra. Kismartini, MSi.

PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro seluruhnya merupakan hasil karya saya. Adapun bagian - bagian tertentu dalam penulisan tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah. Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian - bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi - sanksi lainnya sesuai dengan perundang – undangan yang berlaku.

Semarang, 15 Agustus 2007

Rachman Cahyono

......Kes.. Tanda Tangan ... Anies. BANYUWANGI TERHADAP KESEHATAN MASYARAKAT Disusun oleh RACHMAN CAHYONO L4K 006016 Telah dipertahankan di depan Tim Penguji pada tanggal 15 Agustus 2007 dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima KETUA Dr.. Dr...... Prof................TESIS LEMBAR PENGESAHAN DAMPAK LIMBAH CAIR PT KERTAS BASUKI RACHMAT...... .... Purwanto...... Ir.... PKK.................. M...... ........... MES. Ir.... Kismartini................................ Hadi. ...... Dra.. 3... MSi......... ................ Ketua Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Prof.. Sudharto P.. Danny Sutrisnanto.. DEA Anggota : 1... Dr.........Eng. dr............ 2.. M..

SP.) dan anakku tercinta (Muhammad Hanif Nasrul Rahman)” .LEMBAR PERSEMBAHAN “ Allah mengangkat orang yang beriman dan berilmu diantaramu dengan beberapa derajat ” (QS Al Mujadalah : 11) “ Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan ” (QS Alam Nasyrah : 6) “Kupersembahkan tesis ini untuk istri (Inastuti Idayanti.

dan Ibu Dra. UNDIP .. 4. selaku Ketua dan Sekretaris MIL. PKK. M. 3. Muhammad SAW. Tak lupa penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak pihak yang telah membantu sehingga terselesaikannya tesis ini. 2. Bapak Prof. kesehatan dan kemudahan sehingga tesis ini dapat tersusun dengan baik. Danny Sutrisnanto. Bapak Prof. selaku penguji yang telah mengarahkan penulisan tesis ini 6. pengelolaan limbah dan lingkungan lainnya. Dr. selaku pembimbing yang telah membimbing dan mengarahkan penulisan tesis ini 5. dan Bapak Ir. Anies. Ir. alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Hanif Nasrul Rahman yang telah memberi semangat dan mendoakan penulis BAPPENAS yang telah memberi bantuan dan kesempatan kepada penulis Pemerintah Kabupaten Jember yang telah memberi kesempatan dan bantuan kepada penulis Bapak Dr. Ph.KATA PENGANTAR Puji syukur. Inastuti Idayanti beserta ananda. M. karena dengan atas petunjuknya kita dapat membedakan yang haram dan halal. Istri tercinta.Eng. Agus Hadiyarto. Sudharto P. Tesis ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro. antara lain kepada : 1.Kes. yang telah memberikan bimbingan.D. Kismartini. Purwanto. dr. MES. dan Bapak Ir. Di dalam tesis ini terkandung banyak informasi dan pengetahuan yang sangat berguna bagi para pembaca dan pembuat kebijakan antara lain kesehatan masyarakat. Hadi. Muh. sebagai suri tauladan umat manusia. DEA. Shalawat dan salam tidak lupa penulis sampaikan kepada Rasulullah. MSi. MT.

Banyuwangi yang telah membantu memberi data 9. Mudah – mudahan tesis ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. UNDIP yang telah membantu kelancaran studi Manajemen PT Kertas Basuki Rachmat. dan para pengelola MIL. Penulis sadar masih banyak kekurangan yang ada dalam tesis ini. Oleh karena itu masukan dan saran untuk perbaikan penulisan tesis ini sangat penulis harapkan. Amien. MSi. Bapak Drs. staf Puskesmas Singotrunan. 8. dan staf Kelurahan Lateng. dan teman – teman angkatan 15 kelas kerja sama BAPPENAS serta pihak – pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.7. Penulis . Edy Suhartono.

nitrat. demam/ panas. meningkatkan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup. sakit kulit. sakit perut/ penyakit saluran pencernaan lain. sedangkan kadar zat besi pada sampel air sumur populasi kontrol lebih tinggi daripada populasi uji. kesehatan . dan sulfat yang lebih tinggi dibandingkan dengan populasi kontrol. mengoptimalkan fasilitas pengolah limbah cair untuk menghasilkan limbah cair yang memenuhi baku mutu. masyarakat PT Kertas Basuki Rachmat. flu/ pilek. Hasil analisis sampel air sumur populasi uji diperoleh kesadahan jumlah. Ini berarti kualitas kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat lebih rendah daripada populasi kontrol. Penelitian ini menggunakan metode diskripsi kuantitatif dan kualitatif dimana data yang terkumpul lewat kuisioner pada populasi uji (bertempat di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat) dan populasi kontrol (bertempat tinggal sebelum PT Kertas Basuki Rachmat) dianalisis secara statistik. Selain itu juga terdapat perbedaan yang signifikan terhadap intensitas penyakit tersebut pada populasi uji sebelum dan setelah bertempat tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Puskesmas. batuk. Hasil analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol terhadap intensitas penyakit diare. Secara keseluruhan juga terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas kesehatan populasi uji dan populasi kontrol. kadar klorida. Akan tetapi terhadap anggota keluarga yang meninggal dunia tidak ada perbedaan yang signifikan. Berdasarkan analisis SWOT diperoleh strategi mengoptimalkan proses produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas. dan asma/ penyakit saluran pernafasan lainnya. Populasi uji relatif lebih sering mengalami penyakit – penyakit tersebut dibandingkan populasi kontrol. sakit kepala/ pusing. dampak keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat terhadap kualitas kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cair dan mencari strategi pengurangan dampak negatif tersebut. Perbedaan kualitas kesehatan masyarakat disebabkan oleh keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dimana populasi uji lebih sering mengalami penyakit – penyakit tersebut setelah bertempat tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. dan instansi terkait. Selain itu juga dilakukan analisis kualitatif berdasarkan data dari informan.ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dengan kesehatan masyarakat di wilayah lain. Kata kunci : saluran limbah cair. dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sekitar.

and asthma/ other respiratory tract disease. Puskesmas. and relevant institution. Result of test population well water sampel analysis obtained by hardness. Difference of quality of health of society because of existence of PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste where test population more regular of the disease after residing around PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste channel. skin pain. while ferrum rate at control population well water sampel higher than test population. nitrate. However to family member passing away there no difference which is signifikan. Besides also there are difference which is signifikan to the disease intensity at test population before and after residing around PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste channel. stomachache/ other digestive tract disease. to optimalize instalation liquid waste facility. As a whole also there are difference which is signifikan between quality of health of test population and control population. Test population relative more regular of the disease compared to control population. health of society . and sulphate compared to higher level of control population. cough. Result of statistical analysis show the existence of difference which is signifikan between test population with control population to diarrhoea disease intensity. Besides also to analyse qualitative pursuant to data from informan. Pursuant to SWOT analysis obtained by strategy to optimalize production. headache. to improving management of environment and to increase the standart of health of society. This means quality of health of society around PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste dismissal channel lower than control population. impact existence of PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste to quality of health of society around liquid waste channel and look for the negative impact reduction strategy. This research use quantitative diskripsi method and qualitative where gathered to data pass quisioner at test population have (place to around liquid waste channel PT Kertas Basuki Rachmat) and control population (residing before PT Kertas Basuki Rachmat) analysed statistically.ABSTRACT This research to analyse difference of health of society around PT Kertas Basuki Rachmat liquid waste channel with health of society in other region. fever. PT Kertas Basuki Rachmat. chloride. Keyword : liquid waste channel. flu/ head cold.

LATAR BELAKANG Seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Pada tahun 1996 konsumsi kertas di Indonesia sebesar 3.597 juta dollar AS. yaitu sekitar 60 % dari produksi kertas. Kertas diperlukan tidak hanya sebagai alat tulis dan buku atau majalah tetapi juga sebagai tissu. termasuk di Jawa Timur.3 juta ton per tahun pada tahun 2002 dengan produksi sebesar 7. Permintaan kertas yang paling besar adalah jenis kertas HVS atau kertas tulis. meningkat terus menjadi 5. Peningkatan kebutuhan kertas tersebut mendorong berdirinya beberapa industri pulp dan kertas. (Kompas. Industri pulp dan kertas telah berkembang pesat di Indonesia setelah investasi besar – besaran di akhir tahun 1980 – an. Keberadaan pabrik pulp dan kertas di Jawa Timur telah memberikan kontribusi besar dalam ekspor non migas Jawa Timur. Peningkatan kebutuhan kertas ini terlihat dari peningkatan konsumsi kertas di Indonesia. . pembungkus makanan dan minuman dan sebagainya. Total produksi dari dalam negeri telah meningkat dari 3 juta ton per tahun pada tahun 1997 menjadi 5.BAB I PENDAHULUAN 1. pembungkus rokok.6 juta ton per tahun hingga tahun 2002.1. pada semester I tahun 2003 dari 2. Sejak akhir tahun 1980 – an kapasitas produksi meningkat hampir 700 persen.6 juta ton per tahun. nilai ekspor non migas Jawa Timur sumbangan terbesar diberikan oleh sektor industri pulp dan kertas yaitu sebesar 348 juta dollar AS (Arisandi. Berdasarkan sumber BI Surabaya.970 ton per tahun.119. dibanding kertas lainnya. 2004). 2002). 2002). bertambah pula kebutuhan manusia terhadap barang – barang keperluan sehari – hari termasuk diantaranya kertas. Indonesia telah menjadi produsen pulp terbesar ke sembilan dunia dan produsen kertas terbesar ke sebelas (Rahayuningsih.

Sejak berdirinya PT Kertas Basuki Rachmat perekonomian masyarakat Banyuwangi. damar. Kabupaten Banyuwangi merupakan salah satu wilayah di Propinsi Jawa Timur yang paling luas dan banyak penduduknya. Karena kondisi perusahaan yang kurang memungkinkan maka pada tahun 1997. 1989).575. PT Kertas Basuki Rachmat Salah satu . pinus. lamtoro. meranti.. maesopsis dan chip beli dengan kadar air ratarata 40 %. Akan tetapi pada tahun 1975 PT Kertas Basuki Rachmat di samping bambu menggunakan juga pohon turi. PT Kertas Basuki Rachmat sebagai industri kertas di Kabupaten Banyuwangi. terletak di Kelurahan Singotrunan.Kabupaten Banyuwangi sebagai salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur dan merupakan wilayah yang terletak di bagian paling ujung timur Pulau Jawa. Pada tahun 1981 bahan baku ditambah dengan albasia. diantaranya adalah industri kertas. HVS bergaris dan buku tulis (PT Kertas Basuki Rachmat. diresmikan pada tanggal 26 April 1969. khususnya di sekitarnya meningkat dan membawa keuntungan finansial baik bagi masyarakat. art paper. CD. Pada mulanya PT Kertas Basuki Rachmat menggunakan bahan baku bambu 100 % yang disuplai dari Perhutani Banyuwangi.000 ton/ tahun. 2006). pemerintah propinsi maupun pusat.089 jiwa (BAPPEDA Kabupaten Banyuwangi. PT Kertas Basuki Rachmat menggunakan bahan baku kertas bekas (afval) yaitu antara lain jenis kertas HVS. Banyuwangi. tahun 2006 mempunyai jumlah penduduk sebanyak 1. II tahun 1960 dengan nama proyek pabrik kertas Basuki Rachmat dengan luas areal 50 Ha dan kapasitas produksi 13. kaliandra. dan apak yang disuplai dari Perhutani Banyuwangi. ivory. Dengan kondisi alamnya yang subur dengan sungai yang hampir tidak pernah kering sepanjang tahun serta dekat dengan laut memungkinkan di daerah ini berkembang beberapa industri yang mengandalkan sumber daya alam sepanjang tahun. Jawa Timur didirikan atas dasar Ketetapan MPRS No. pemerintah kabupaten.

2007). Pada bulan Juni 2004 dalam program PROPER (program pentaatan industri dalam pengelolaan lingkungan). Apabila limbah cair tersebut dibuang ke perairan akan mengakibatkan kematian ikan dan biota air lainnya. sedangkan bahan kimia yang terikut dalam limbah cair tersebut menimbulkan gangguan pernafasan bagi penduduk yang tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah. Limbah industri pulp dan kertas dapat berupa gas. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) 203 orang.Akan tetapi pendirian industri pulp dan kertas ternyata tidak saja membawa keuntungan finansial yang sangat besar tetapi membawa dampak negatif yaitu berupa limbah industri yang semakin banyak. Limbah tersebut secara langsung atau tidak berdampak negatif terhadap organisme terutama manusia. Perusahaan kertas merupakan salah satu penyebab kerusakan lingkungan karena karakteristik limbahnya yang memiliki nilai BOD/ COD (kebutuhan oksigen dalam menguraikan senyawa biologi dan kimia) yang sangat tinggi. DBD (Demam Berdarah Dengue) 5 orang dan campak 6 orang (Puskesmas Singotrunan. PT Kertas Basuki Rachmat sendiri berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 2002). Kecamatan Banyuwangi. Pada tahun 2006 jumlah penderita diare di Kelurahan Lateng yang berkunjung ke Puskesmas setempat adalah sebanyak 244 orang meningkat pesat dari tahun 2005 yaitu sebesar 155 orang. 228 tahun 2005 tentang hasil penilaian peringkat kinerja perusahaan dalam pengelolaan lingkungan hidup (PROPER) tahun 2004/2005 tanggal 2 Agustus 2005 masuk dalam nomer 53 peringkat hitam artinya perusahaan . Selain itu limbah cair industri kertas menimbulkan bau busuk. Data dari Puskesmas setempat menggambarkan kondisi kesehatan yang masih kurang layak. beberapa pabrik kertas yang berada di Jawa Timur masuk dalam daftar merah atau buruk dalam memenuhi kriteria baku mutu buangan limbah cair. bahkan tercium sampai beratus – ratus meter dari tempat tersebut (Rini. cair maupun padat.

Bagaimana dampak limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat terhadap kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cairnya. ada beberapa permasalahan yang akan diteliti yaitu : 1. 2006). 1.. Riau (Lee dkk. PERUMUSAN MASALAH Dari uraian diatas. Bagaimana mengurangi dampak negatif yang timbul di masa mendatang. Kanada (Bond dan Lee. Berdasarkan hal tersebut peneliti melakukan penelitian untuk menguji apakah limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat tersebut mempengaruhi kesehatan masyarakat di sekitarnya. 2003) dan Norwegia (Langseth dan Kjaerheim. 1.3. 2005). 2000). Penelitian serupa pernah dilakukan oleh peneliti dari luar negeri antara lain di India (Yadav. 2004) yang pada dasarnya terdapat pengaruh negatif keberadaan industri pulp dan kertas terhadap kesehatan pekerja atau masyarakat di sekitarnya. Sedangkan di Indonesia pernah dilakukan oleh peneliti luar di Sungai Kampar. Apakah ada perbedaan kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dengan kesehatan masyarakat di wilayah lain. 3. Inggris (Nhu Lee. Riau khususnya yang minum secara langsung dari sungai yang dialiri limbah industri pulp dan kertas.2.tidak mempunyai kepedulian sama sekali terhadap lingkungan dan siap dikenakan sanksi (KLH. 2. 2002) dimana terdapat peningkatan resiko sakit diare pada anak – anak di sepanjang Sungai Kampar. TUJUAN PENELITIAN Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis : .

Strategi pengurangan dampak negatif limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Dampak keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. . 3. Banyuwangi terhadap kualitas kesehatan masyarakat di sekitar tempat pembuangan limbah cair tersebut. Perbedaan kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dengan kesehatan masyarakat di wilayah lain 2. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh pengambil kebijakan di daerah setempat untuk menentukan baku mutu limbah.4. serta mengatasi dampak negatif yang terjadi pada masyarakat akibat pengaruh pembuangan limbah industri tersebut. regulasi kebijakan di bidang industri terutama pendirian industri dan pembuangan limbahnya. 1.1.

yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Adalah Tsai Lun yang menemukan kertas dari bahan bambu yang mudah didapat di seantero China pada tahun 101 Masehi. bahasa Jerman. teknik pembuatan kertas tersebut jatuh ke tangan orang-orang Arab pada masa Abbasiyah terutama setelah kalahnya pasukan Dinasti Tang dalam Pertempuran Sungai Talas pada tahun 751 Masehi dimana para tawanan-tawanan perang mengajarkan cara pembuatan kertas kepada orang-orang Arab sehingga di zaman Abbasiyah. dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau. Peradaban Mesir Kuno menyumbangkan papirus sebagai media tulis menulis yaitu pada masa wangsa Firaun kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah sampai Romawi di Laut Tengah dan menyebar ke seantero Eropa. meskipun penggunaan papirus masih dirasakan sangat mahal. prasasti dari batu. papier dalam bahasa Belanda. sutra. muncullah pusat-pusat industri kertas baik di Baghdad maupun Samarkand dan kota-kota industri lainnya. kulit atau tulang binatang. bangsa-bangsa dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Serat yang digunakan biasanya adalah alami. kayu.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Kertas adalah bahan yang tipis dan rata. Hal ini bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria. bahasa Perancis misalnya atau papel dalam bahasa Spanyol yang berarti kertas. Sebelum ditemukan kertas. Dari kata papirus (papyrus) itulah dikenal sebagai paper dalam bahasa Inggris. kemudian menyebar ke Italia dan India lalu Eropa khususnya setelah Perang Salib dan jatuhnya Grenada dari bangsa . Pada akhirnya. bambu. Penemuan ini akhirnya menyebar ke Jepang dan Korea seiring menyebarnya bangsa-bangsa China ke timur dan berkembangnya peradaban di kawasan itu. Tercatat dalam sejarah adalah peradaban China yang menyumbangkan kertas bagi dunia.

Menurut Stanley (2001) komponen lignin dalam kayu adalah sekitar 30 %. Menurut Stanley (2001). lignin Lignin berfungsi merekatkan serat – serat selulosa sehingga menjadi kaku. jerami. Pada proses pulping secara kimia dan proses pemutihan akan menghilangkan komponen lignin tanpa mengurangi serat selulosa. jumlah komponen hemiselulosa dan hidrokarbon dalam kayu adalah sekitar 20 %. Komponen ini sangat beracun bagi kehidupan perairan dan mencapai jumlah toksik akut dalam limbah industri kertas. kertas bekas dan lain-lain.1. asam lemak dan unsur lain. PROSES PEMBUATAN KERTAS Bahan baku untuk pembuatan pulp antara lain kayu pinus merkusii. selulosa Selulosa merupakan komponen yang paling dikehendaki dalam pembuatan kertas karena bersifat panjang dan kuat. bambu. 4.Moor ke tangan orang-orang Spanyol serta ke seluruh dunia (http://id. hemiselulosa Hemiselulosa lebih mudah larut dalam air dan biasanya dihilangkan dalam proses pulping. 3. Menurut Rini (2002). bagase. 2.org). 2.wikipedia. bahan ekstraktif Komponen ini meliputi hormon tumbuhan. Menurut Stanley (2001) dalam kayu mengandung sekitar 50 % komponen selulosa. kayu sebagai bahan baku dalam industri kertas mengandung beberapa komponen antara lain : 1. . resin.

Proses Kimia Proses pembuatan pulp secara kimia terdiri dari dua jenis proses yaitu : a.Proses produksi kertas terdiri dari beberapa tahap yang pada intinya adalah sebagai berikut : 2. Pada proses ini umumnya dilakukan dengan proses tertutup sehingga 95 – 98 % bahan kimia yang digunakan dapat digunakan kembali. Karakteristik pulp yang dihasilkan adalah kuat. Dengan proses ini lignin dan resin kayu akan dilepaskan dari serat selulosa pulp kemudian dicuci dan diputihkan. proses pembuatan pulp (pulping) pada prinsipnya terbagi atas : 1.1.1. Proses ini dilakukan dengan memasak potongan kayu dalam sodium hidroksida/ soda kaustik dan cairan sodium (disebut larutan putih (white liquor) yaitu campuran sodium hidroksida dan sodium sulfida). b. Pembuburan kayu (pulping) Menurut Stanley (2001). Proses Sulfat (kraft) Proses ini merupakan proses industri pulp yang dominan di dunia dengan menghasilkan kekuatan yang tinggi. serat panjang. Proses Sulfit Proses ini menggunakan peralatan yang serupa dengan proses kraft tetapi menggunakan bahan kimia yang berbeda. lembut dan lebih terang warnanya daripada proses . dan kandungan lignin dalam pulp sangat rendah.

. Menurut Kompas (2003). Pada proses thermomechanical hanya digunakan kayu lunak yang direbus sebelum digiling. Umumnya rata – rata recovery bahan kimia tidak setinggi proses kraft. Penggilingan kayu Proses ini merupakan proses yang paling dasar dari proses pulping dan penggilingan kayu atau potongan kayu yang bertujuan untuk memisahkan serat. salah satu akibat proses ini adalah menghasilkan gas berbau berupa senyawa hidrogen sulfida (H2S). Kualitas pulp pada proses ini rendah karena masih mengandung lignin sehingga kertas yang dihasilkan mudah robek dan agak kusam. Akibatnya kertas tersebut banyak digunakan untuk kertas koran dan kertas yang memerlukan sedikit kekuatan sobek. Proses thermomechanical atau chemo-thermomechanical Dua variasi proses mekanik tersebut digunakan secara luas di industri pulp untuk mengurangi konsumsi energi. b. Proses Mekanik Proses pembuatan pulp secara kimia terdiri dari dua jenis proses yaitu : a. 2. Sedangkan pada proses chemothermomechanical potongan kayu direndam dengan bahan kimia berbasis sulfur untuk mengekstrak resin dan lignin.kraft sehingga dapat mengurangi tahap pemutih. Bahan kimia yang digunakan adalah asam sulfat atau hidrogen sulfit untuk memasak bahan baku sehingga dihasilkan asam sulfit atau pulp bisulfit.

metil merkaptan. Pemutihan (bleaching) Proses ini bertujuan untuk menghilangkan lignin tanpa merusak selulosa. Hasil samping dari proses ini berupa black liquor. mengandung serat – serat yang tidak dikehendaki. Proses ini biasanya melibatkan beberapa tahap.3. 2. metanol. Sedangkan bahan kimia yang menggunakan senyawa klorin organik sebagai bahan bleaching dapat membentuk beberapa senyawa toksik seperti dioksin.2. debu dan lignin. formaldehid dan metil etil keton. dimetil disulfid dan komponen gas sulfur yang sangat berdampak negatif terhadap kesehatan manusia. Menurut Kompas (2003). mengurangi jumlah klorin yang dibutuhkan dalam proses pemutihan Serat ini masih . Setelah dicuci pulp dihilangkan lignin yang tersisa Proses ini akan (delignifikasi) menggunkan oksigen dalam larutan putih sehingga menghasilkan bubur kayu yang lebih putih.1. Proses pencucian pulp dilakukan untuk menghilangkan materi yang tidak diinginkan yang akan mempengaruhi dosis zat pemutih. udara yang keluar dari tangki bleaching mengandung polutan berbahaya seperti kloroform. 2. furan dan klorin organik (kloroform). proses pemutihan menggunakan zat kimia utamanya ClO2 dan cairan yang masih tertinggal berubah menjadi limbah dengan kandungan berbagai bahan kimia berupa organoklorin yang umumnya beracun.1. dimetilsulfid. Pencucian (washing) Hasil pemasakan merupakan serat yang masih berwarna coklat dan mengandung sisa cairan pemasak. Menurut EPA (1997). (bleaching).

serat dan pigmen. 2. sesudah calendering dilakukan proses pelapisan (coating) untuk produk kertas cetak.4. .mikroba seperti golongan bakteri koliform.kadang juga dilapisi dengan kaolin untuk memutihkan permukaan atau diberi pengikat yang mengandung formaldehide. Menurut Rini (2002). limbah proses pembuatan kertas yang berpotensi mencemari lingkungan tersebut dibagi menjadi 4 kelompok yaitu : a. alkohol.limbah cair berwarna pekat yang berasal dari lignin dan pewarna kertas. ammonia atau polivinil alkohol agar lebih kuat. . . . Pembentukan kertas Pulp yang dihasilkan dari tahap sebelumnya selanjutnya dilakukan penggilingan. yang terdiri dari : . pengeringan. limbah cair.bahan anorganik seperti NaOH.limbah panas. LIMBAH INDUSTRI KERTAS Pada proses pembuatan kertas terdapat zat yang berpotensi mencemari lingkungan.2. Untuk mendapatkan permukaan yang halus untuk membuat permukaan yang (pada kertas cetak/tulis) dilakukan proses calendering sesudah sedangkan mengkilat dan berwarna. perekat pati dan zat sintetis yang menghasilkan BOD (Biological Oxygen Demand) tinggi. terpentin.senyawa organik koloid terlarut seperti hemiselulosa. . Na2SO4 dan klorin. Menurut Rini (2002).padatan tersuspensi yang mengandung partikel kayu. pengempaan (pressing) untuk mengurangi kadar air dan diikuti dengan pengeringan (drying) dengan menggunakan uap.1.2. kadang . . zat pengurai serat. gula. lignin.

kraft recovery furnace dan lime kiln (tanur kapur) . fenol terklorinasi. Cu (tembaga). asam organik terklorinasi dan senyawa terklorinasi netral. Cd (kadmium).sludge dari pengolahan limbah primer dan sekunder . padatan terlarut. resin dan asam lemah. Pb (timah hitam) dan Hg (air raksa). Partikulat yang terdiri dari : abu dari pembakaran kayu bakar dan sumber energi lain partikulat zat kimia terutama yang mengandung natrium dan kalsium.uap yang mengganggu jarak pandangan d. Lebih lanjut Sunoko (2005) mengatakan bahwa limbah pulp juga mengandung logam seperti Zn (seng). Cr (kromium). Akan tetapi menurut Arisandi (2004). COD (Chemical Oxygen Demand). . c.oksida sulfur dari pembakaran bahan bakar fosil. industri pulp dan kertas mempunyai karakteristik limbah cair yang mengandung BOD.b. Sedangkan menurut Sunoko (2005).gas sulfur yang berbau busuk seperti merkaptan dan H2S yang dilepaskan dari berbagai tahap dalam proses kraft pulping dan proses pemulihan bahan kimia . limbah pembuatan pulp dan kertas sebagian besar mengandung serat dan padatan tersuspensi. Kanada pada bulan Oktober 1990. Dari hasil analisis sampel limbah pulp dari Boat Harbour. nilai BOD/ COD yang sangat tinggi mengakibatkan degradasi kualitas air yang ditandai dengan matinya ikan dan biota air. Limbah padat yang terdiri dari : . Menurut JEMAI (1999). warna dan bau dalam jumlah besar. namun biasanya tidak mengandung bahan toksik (beracun). Pada beberapa limbah cair industri kertas didapatkan unsur Pb (timbal) yang sangat berbahaya bagi lingkungan. Gas yang terdiri dari : . selain memiliki karakteristik tersebut. fenol.limbah dari potongan kayu.

kandungan logam arsen total sebesar 0.0 – 9. Tabel 1. tetapi selama pabrik terus beroperasi. kadmium total sebesar 0. air limbah (efluen) bahkan di dalam produk kertas yang dihasilkan.5 25.01 mg/l.0 170 m3 /ton produk kertas kering 50 m3 /ton produk kertas kering Parameter Kadar maksimum (kg/ton) b) 70 150 70 0. nikel total sebesar 0.13 mg/l. seng total sebesar 0. Dioksin ini ditemukan dalam proses pembuatan kertas.01 mg/l. Pb total sebesar 0. Meskipun konsentrasi dioksin di air limbah sangat kecil. tembaga total sebesar 0.5 6. Hg total sebesar 0. konsentrasi Pb : khusus untuk industri yang melakukan proses de-inking dalam .01 mg/l. Baku mutu limbah cair industri pulp dan kertas Kadar maksimum (kg/ton) a) 150 350 150 Beban pencemaran maksimum (kg/ton) a) 25.02 mg/l.00015 mg/l. kromium total sebesar 0.1 BOD 5 COD TSS Pb pH Debit limbah maksimum b) Sumber : a) Menteri Lingkungan Hidup (1995) Keputusan Gubernur Jawa Timur tanggal 17 Juni 2002 Keterangan : : tidak diatur pembuatan pulp untuk memenuhi sebagian atau seluruh kebutuhan pulpnya Sebagian besar industri kertas menggunakan pemutih yang mengandung klorin.01 mg/l.07 mg/l. Klorin ini akan bereaksi dengan senyawa organik dalam kayu membentuk senyawa toksik seperti dioksin.01 mg/l dan kobalt sebesar 0.5 59.

dioksin di dalam air akan terus bertambah. Dioksin adalah senyawa organik yang sukar terdegradasi dan konsentrasinya akan berlipat ganda jika masuk ke dalam rantai makanan karena adanya proses biomagnifikasi. Hal ini menyebabkan konsentrasi dioksin di dalam

jaringan tubuh hewan air menjadi ratusan kali lebih besar dibandingkan di dalam air tempat hidupnya (Rini, 2002). Baku mutu limbah cair untuk industri pulp dan kertas seperti yang diatur dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No. 51/MenLH/10/1995 adalah sebagaimana Tabel 1 di atas.

2.3.

PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI Limbah industri terdiri dari limbah gas, cair dan padat. Menurut Sunu (2001), berbagai cara untuk mencegah pencemaran udara antara lain : 1. Pencemar berbentuk gas a. Adsorbsi Adsorbsi merupakan proses melekatnya molekul polutan atau ion pada permukaan zat padat, yaitu adsorben, seperti karbon aktif dan silikat. b. Absorbsi Absorbsi merupakan proses penyerapan yang memerlukan solven yang baik untuk memisahkan polutan gas dengan konsentrasinya. c. Kondensasi Kondensasi merupakan proses perubahan uap air atau benda gas menjadi cair pada suhu udara di bawah titik embun. d. Pembakaran Pembakaran merupakan proses untuk menghancurkan gas hidrokarbon yang terdapat di dalam polutan dengan menggunakan proses oksidasi panas yang disebut incineration menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan air.

2.

Pencemaran berbentuk partikel a. Filter Filter udara bertujuan menangkap debu atau partikel yang ikut keluar cerobong atau stack pada permukaan filter agar tidak ikut terlepas ke lingkungan. b. Filter basah Cara kerja filter basah atau scrubbers/ wet collectors adalah membersihkan udara kotor dengan menyemprotkan air dari bagian atas alat sedangkan udara yang kotor dari bagian bawah alat. c. Elektrostatik Alat pengendap elektrostatik menggunakan arus searah (DC) yang mempunyai tegangan 25 – 100 KV sehingga terjadi pemberian muatan pada polutan dan akhirnya mengendap. d. Kolektor mekanis Kolektor mekanis merupakan proses pengendapan polutan partikel berukuran besar secara gravitasi. sentrifugal. Contohnya adalah cyclone separators (pengendap siklon) dengan memanfaatkan gaya

3.

Program penghijauan Program penghijauan bertujuan untuk menyerap hasil pencemaran udara berupa gas karbon dioksida (CO2) dan melepas oksigen sehingga mengurangi jumlah polutan di udara.

4.

Pembersih udara secara elektronik Pembersih udara secara elektronik (electronic air cleaner) dapat berfungsi mengurangi polutan udara dalam ruangan.

5.

Ventilasi udara dan exhaust fan Ventilasi udara dan exhaust fan bertujuan agar kebutuhan oksigen ruangan tercukupi dan polutan segera keluar dari ruangan sehingga ruangan bebes polutan. Lebih lanjut Sunu (2001) menyatakan bahwa proses pengolahan

limbah cair pada dasarnya dikelompokkan menjadi 3 tahap yaitu :

1.

Pengolahan primer Pengolahan primer bertujuan membuang bahan – bahan padatan yang mengendap atau mengapung. Pada dasarnya pengolahan primer terdiri dari tahap – tahap untuk memisahkan air dari limbah padatan dengan membiarkan padatan tersebut mengendap atau memisahkan bagian – bagian padatan yang mengapung. Pengolahan primer ini dapat menghilangkan sebagian BOD dan padatan tersuspensi serta sebagian komponen organik. Proses pengolahan primer limbah cair ini biasanya belum memadai dan masih diperlukan proses pengolahan selanjutnya.

2.

Pengolahan sekunder Pengolahan sekunder limbah cair merupakan proses dekomposisi bahan – bahan padatan secara biologis. Penerapan yang efektif akan dapat menghilangkan sebagian besar padatan tersuspensi dan BOD. Ada 2 proses pada pengolahan sekunder yaitu : a. Penyaring trikle Penyaring trikle menggunakan lapisan batu dan kerikil dimana limbah cair dialirkan melalui lapisan ini secara lambat. Dengan bantuan bakteri yang berkembang pada batu dan kerikil akan mengkonsumsi sebagian besar bahan – bahan organik. b. Lumpur aktif Kecepatan aktivitas bakteri dapat ditingkatkan dengan cara memasukkan udara dan lumpur yang mengandung bakteri ke dalam tangki sehingga lebih banyak mengalami kontak dengan limbah cair yang telah diolah pada proses pengolahan primer. Selama proses ini limbah organik dipecah menjadi senyawa – senyawa yang lebih sederhana oleh bakteri yang terdapat di dalam lumpur aktif.

3.

Pengolahan tersier

ke air limbah.Proses pengolahan primer dan sekunder limbah cair dapat menurunkan BOD air dan meghilangkan bakteri yang berbahaya. dan potensi yang mengganggu badan air). pengolahan primer. Pengolahan limbah cair pada industri pulp dan kertas terdiri atas tahap netralisasi. parit oksidasi dan trickling filter dapat digunakan dengan hasil kualitas yang sama tetapi membutuhkan biaya operasional yang tinggi. melalui pengolahan fisik dan kimia untuk melindungi badan air penerima (Devi. warna. Pengolahan secara biologis dapat mengurangi kadar racun dan meningkatkan kualitas air buangan (bau. Laguna aerasi akan mengurangi 80 % BOD dengan waktu tinggal 10 hari. Sedangkan endapan (sludge) yang biasanya diperoleh dari proses filter press dari IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah). Pembuangan lumpur organik. 2004). Oleh karenanya memerlukan waktu tinggal sampai 24 jam. Sebelum masuk ke tempat pengendapan primer. Pengendapan primer biasanya bekerja atas dasar gaya berat. Untuk meningkatkan proses pengendapan dapat digunakan bahan flokulasi dan koagulasi di samping mengurangi bahan yang membutuhkan oksigen. air limbah masuk dalam tempat penampungan dan netralisasi. termasuk pada industri pulp dan kertas. Apabila terdapat lahan yang memadai dapat digunakan laguna fakultatif dan laguna aerasi. pengolahan sekunder dan tahap pengembangan. menurut Sunu (2001) dapat dikategorikan sebagai limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) atau tidak. dapat dibedakan menjadi : Pada tahap ini digunakan saringan untuk menghilangkan benda – benda besar yang masuk Akan tetapi proses tersebut tidak dapat menghilangkan komponen organik dan Oleh karena itu perlu dilengkapi dengan . Tahap pengembangan dilakukan dengan kapasitas yang lebih besar. Apabila tidak terdapat lahan yang memadai maka proses lumpur aktif. anorganik terlarut. pengolahan tersier.

Sedangkan bahan kimia yang terikut dalam limbah cair setiap malam menimbulkan gangguan pernafasan bagi penduduk yang tinggal di bantaran kali. limbah perusahaan kertas memiliki nilai BOD/ COD yang sangat tinggi sehingga apabila dibuang ke perairan akan mengakibatkan degradasi kualitas air yang ditandai dengan matinya ikan dan biota air lainnya. DAMPAK LIMBAH INDUSTRI KERTAS Keberadaan industri kertas seringkali memicu protes masyarakat seperti yang pernah terjadi di Kabupaten Nganjuk (Arisandi. Akan tetapi sistem ini menimbulkan bau karena pembusukan dan menyebabkan pencemaran air tanah dan air permukaan.1. Beberapa metode yang dapat dilakukan antara lain adalah metode incinerator basah yang mengoksidasi lumpur organik pada suhu dan tekanan tinggi. Lumpur yang dihasilkan dari pengolahan buangan pada masa lalu biasanya ditimbun. 2002). Metode fermentasi metan dan metode pembusukan Metode fermentasi metan dilakukan menggunakan tangki fermentasi sehingga dihasilkan gas metan. Akibatnya sebagian besar sumur gali masyarakat sekitar tidak dapat dimanfaatkan.4. Menurut Arisandi (2004). 2. 2. sedangkan metode pembusukan akan diperoleh hasil akhir berupa kompos. 2004) dimana buangan limbah industri kertas menimbulkan bau busuk. Metode pembakaran Metode pembakaran ini merupakan salah satu cara untuk mencegah dampak lingkungan yang lebih luas sebelum dilakukan pembuangan akhir. Sekarang lumpur dihilangkan airnya dan dibakar atau digunakan sebagai bahan bakar (Rini. Di samping itu limbah industri kertas yang menimbulkan bau busuk yang mengganggu pernafasan penduduk di .

d. Menurut Rini (2002). .sekitarnya karena terdapat komponen selulosa (bahan dasar pulp) bila tertimbun di dasar sungai. Hal ini serupa dengan yang ditulis JEMAI (1999). b. bahwa jenis polutan berlumpur yang mengandung padatan tersuspensi organik dan anorganik antara lain dihasilkan oleh industri kertas dan pulp dimana pengaruhnya pada konsentrasi tinggi menyebabkan ikan susah bernafas dan mengganggu fotosintesa. Senyawa organoklorin dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan seperti kanker. zat organik yang bereaksi dengan klor dapat menjadi senyawa yang karsinogenik seperti trihalometan yang pengaruhnya terhadap kesehatan dapat bersifat langsung. Adapun menurut Slamet (2002). banyak ditemukan dalam konsentrasi tinggi di daerah masyarakat pesisir yang mempunyai pabrik pulp. dan gangguan perkembangan janin. pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh industri kertas antara lain : a. 2004). kerang. Lebih lanjut Rini (2002) mengatakan bahwa dioksin yang merupakan salah satu jenis organoklorin dan menimbulkan efek toksin. 2002) dan kerusakan hati serta deformasi tulang belakang (Minister of Health Canada. cacat lahir. endometriosis. dan invertebrata akuatik lainnya memasukkan zat kimia karsinogenik dan zat pengganggu aktivitas hormon ke dalam lingkungan menghabiskan jutaan liter air tawar menimbulkan resiko terpaparnya masyarakat oleh buangan zat kimia berbahaya dari limbah industri yang mencemari lingkungan Dalam percobaan laboratorium efluen industri kertas menyebabkan penyimpangan reproduksi pada zooplankton dan invertebrata yang merupakan prey dari ikan serta kerusakan genetik dan reaksi sistem kekebalan tubuh pada ikan (Rini. c. membunuh ikan. penurunan jumlah spermatozoa. Senyawa organoklorin juga menyebabkan kerusakan genetis dan penurunan daya tahan ikan salmon dan ikan lainnya.

dan polychlorinated biphenyls (PCBs) yang semuanya memiliki dua cincin benzena dan senyawa klorin (Rini. mempengaruhi reproduksi serta sistem kekebalan . 1997). digunakan pada penyambungan pipa dan boiler. 4. hidrazin. formaldehid dan epichlorohydrin yang berpeluang menimbulkan kanker pada manusia. Menurut Green (2005). Sedangkan dalam jangka panjang dapat Paparan dioksin dan furan dapat menyebabkan gangguan kulit. 2002). 3. kromium heksavalen dan senyawa nikel Senyawa ini umumnya digunakan pada pengelasan stainless steel dan dikenal sebagai karsinogenik terhadap paru – paru dan organ pernafasan lain. chlorinated phenols dan dioxin Senyawa – senyawa tersebut berpeluang besar menyebabkan kanker. furan.Dioksin sering digunakan untuk menyatakan tiga jenis zat kimia dengan toksisitas akut yaitu dioksin. mempengaruhi liver. styren. kanker. 2. Partikel yang dihasilkan oleh industri pulp dan kertas dapat mengganggu kesehatan antara lain meningkatkan resiko penyakit pernafasan dan kardiovaskuler serta kematian prematur. paparan jangka pendek dapat mempengaruhi sistem syaraf pusat dan mengakibatkan pusing dan sakit kepala. debu kayu (utamanya kayu keras) Debu kayu keras dikenal sebagai penyebab kanker pernafasan. tubuh (EPA. Sedangkan kloroform kemungkinan besar dapat menyebabkan kanker. 5. terdapat beberapa senyawa dalam industri pulp dan kertas yang berpeluang besar bersifat karsinogenik. aditif kertas lainnya termasuk benzidine-base dyes. asbes Asbes dapat menyebabkan kanker paru – paru. minyak mineral. yaitu : 1.

polychlorinated biphenyls (PCBs) melalui air dapat masuk ke ikan yang bila dikonsumsi oleh manusia dapat menyebabkan penyakit (umumnya kanker). klorin/ gas Cl2 Senyawa ini menyebabkan penyakit paru – paru. 3.Sedangkan Hirsch (1999) menggolongkan resiko terhadap kesehatan yang disebabkan oleh polutan industri pulp ke dalam 5 golongan utama. Menurut Yadav (2006). folliculitis dan dermatitis. Paparan PCB berhubungan dengan aktivitas biokimia yang berdampak negatif terhadap kesehatan seperti peningkatan ekskresi 17-hydroxycorticosteroid dan aktivitas gglutamyl transpeptidase. 5. ketidakmampuan belajar dan penyakit lainnya. hepatomegali. kanker. PCB juga meningkatkan frekuensi penyakit yang berbahaya dan . yaitu asma dan penyakit paru – paru lainnya. masalah pernafasan dan alergi. hidrogen sulfida Gas H2S ini menyebabkan kerusakan sistem kekebalan. diabetes. penurunan serum bilirubin dan peningkatan limfosit. Lebih lanjut Hirsch (1999) menyebutkan beberapa polutan industri pulp yang mempengaruhi kesehatan adalah : bahan partikulat Bahan partikulat ini menyebabkan asma dan penyakit hati. peningkatan serum kolesterol dan tekanan darah. masalah reproduksi (infertilitas) dan hormon. dioxin Senyawa dioxin menyebabkan kanker. peningkatan penyakit kulit seperti chlorane. 4. 1. formaldehid dan asetaldehid Senyawa formaldehid dan asetaldehid ini menyebabkan kanker. alergi dan sebagainya. ketidakmampuan belajar. dan efek kesehatan lain seperti penyakit hati. kehilangan sistem kekebalan. masalah hormon dan reproduksi. 2.

Sedangkan untuk kadmium. Air raksa (Hg) merupakan racun sistemik dan diakumulasikan ke hati. sulit menelan. Zat kimia lain yang kemungkinan besar terdapat di dalam limbah pulp dan kertas adalah logam – logam berbahaya antara lain air raksa. kehilangan kepercayaan diri.7. Lebih lanjut Yadav (2006) mengatakan bahwa senyawa dioksin yang dihasilkan dari industri kertas melalui air limbah dapat masuk ke ikan yang dikonsumsi oleh manusia dan mengakibatkan dampak negatif pada kesehatan. gejala keracunan air raksa secara umum seperti sakit kepala. Menurut Slamet (2002). tulang punggung terasa sangat nyeri yang diikuti dengan osteomalacia (pelunakan tulang) dan faktur tulang punggung yang multipel. Gejala gastro intestinal seperti stomatitis. ginjal dan sebagian dikeluarkan lewat saluran pencernaan. Apabila kadmium masuk ke dalam tubuh sebagian akan terkumpul di dalam hati. depresi dan rasa ketakutan. kejang. pikun.8-tetrachlorodibenzo-p-dioxin (2378TCDD) merupakan senyawa organik yang paling toksik. tidak terdegradasi secara biologi dan menyebabkan penyakit bintik hitam di kulit. Beberapa senyawa toksik bersifat merusak kesehatan reproduksi dan menyebabkan kemandulan pada manusia. Beberapa orang secara konstan merasa seperti ada logam di mulut. hematologic neoplasma dan frekuensi kanker paru. hipersalivasi. penglihatan kabur.3. kromium dan sebagainya. ketajaman pendengaran berkurang dan koordinasi otot – otot lenyap. Gejala keracunan kadmium antara lain sakit pinggang yang semakin parah. sebenarnya tubuh manusia tidak membutuhkannya dalam proses metabolisme. luas penglihatan menyempit. gusi membengkak dan diare secara meluas. ginjal. Senyawa 2. insomnia. Pb. iritasi. . mudah lelah dan teriritasi. Keracunan Hg akan menimbulkan gejala ganggunan susunan syaraf pusat seperti kelainan kepribadian dan tremor. limfa dan tulang. lengan dan kulit terasa kebal. kadmium.meningkatkan kematian karena kanker saluran pencernaan. Kematian biasanya diakibatkan karena gagal ginjal.

KESEHATAN MASYARAKAT Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. Hg organik cenderung merusak sistem susunan syaraf pusat. Akan tetapi karena sesuatu sebab sehingga keseimbangan ini tergangggu atau mungkin tidak dapat tercapai. garis hitam pada gusi (leadline) dan gigi mudah melepas. Pada umumnya.colitis. cacat dan kelemahan sehingga dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomi. dan faktor bawaan (keturunan). Selanjutnya Soemirat (2000) mengatakan dalam paradigma kesehatan lingkungan ada 4 simpul yang berkaitan dengan proses pajanan B3 yang dapat mengganggu kesehatan. faktor pelayanan kesehatan. Dari keempat faktor tersebut.5. maka dapat menimbulkan dampak yang merugikan bagi kesehatan. pada pasal 1 butir 1 disebutkan bahwa yang dimaksud dengan kesehatan adalah keadaan meliputi kesehatan badan. 2. faktor perilaku. rohani (mental) dan sosial dan bukan hanya keadaan yang bebas penyakit. yang mengeluarkan berbagai bahan buangan yang . yaitu faktor lingkungan. transportasi. sakit saat mengunyah. bila manusia dan lingkungannya berada dalam keadaan seimbang. Keempat simpul tersebut adalah : Simpul 1 : Jenis dan skala kegiatan yang diduga menjadi sumber pencemar atau biasa disebut sebagai sumber emisi B3. 2006). Sumber emisi B3 pada umumnya berasal dari sektor industri. sedangkan Hg anorganik biasanya merusak ginjal dan menyebabkan cacat bawaan (Slamet 2002). Keseimbangan tersebut sangat kompleks (Anies. maka keduanya berada dalam keadaan sehat. ginggivitis. Kulit dapat menderita dermatitis dan ulcer. faktor lingkungan merupakan faktor yang paling besar pengaruhnya dibandingkan dengan ketiga faktor yang lain. Derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi oleh 4 faktor.

Air sebagai bagian dari lingkungan manusia mempunyai pengaruh langsung maupun tidak terhadap kesehatan manusia. udara. maka dampak kesehatan yang timbul bervariasi dari ringan. tanah. makan makanan yang terkontaminasi dan dapat pula kemasukan B3 melalui kulit. Adanya pengotoran badan air oleh zat – zat kimia dapat menurunkan kadar oksigen terlarut. tergantung dari dosis dan waktu pemajanan. Komponen lain yang ikut menyebarkan emisi tersebut adalah biota air yang ikut tercemar. Pada umumnya titik pemajanan B3 kedalam tubuh manusia melalui pernafasan. kanker. hipertensi. maupun partikel yang mengandung senyawa organik maupun anorganik. Emisi dari simpul 1 dibuang ke lingkungan. Jenis penyakit yang ditimbulkan. Akibat kontak dengan B3 atau terpajan oleh pencemar melalui berbagai cara seperti pada simpul 3. gangguan kecerdasan dan lain sebagainya. minum air yang tercemar. asma bronchioli. zat- . Emisi tersebut dapat berupa gas. biota). kemunduran mental. pada umumnya merupakan penyakit non infeksi antara lain keracunan. Bila melalui air maka dapat menyebar sesuai dengan arah aliran yang sebarannya dapat sangat jauh. sedang. maka sebarannya tergantung dari arah angin dominan dan dapat menjangkau wilayah yang cukup luas. cairan. sampai berat bahkan sampai menimbulkan kematian. kerusakan organ. pengaruh pada janin yang dapat mangakibatkan lahir cacat (cacat bawaan). manusia dapat menghirup udara yang tercemar. Bila melalui udara. Di lingkungan. gangguan pertumbuhan baik fisik maupun psikis. Simpul 2 : Media lingkungan (air. kemudian menyebar secara luas di lingkungan sesuai dengan kondisi media transportasi limbah. Simpul 3 : Pemajanan B3 ke manusia.mengandung senyawa kimia yang tidak dikehendaki. oral (mulut) dan kulit Simpul 4 : Dampak Kesehatan yang timbul.

Menurut Notoadmodjo (2003). jenis kelamin Perbedaan insidensi berbagai penyakit disebabkan paparan terhadap agen bagi setiap jenis kelamin yang berbeda. difteri. Sedangkan pengaruh langsung air adalah sebagai penyebar penyebab penyakit ataupun sebagai sarang penyebar penyakit (Slamet. b. faktor keturunan yang terkait dengan jenis kelamin atau perbedaan hormonal berperannya faktor – faktor lingkungan. kekeruhan dan kesehatan. 2. faktor – faktor yang menentukan perbedaan atau variabilitas faktor biologi manusia yang diturunkan yang menentukan sekali terjadinya penyakit adalah : 1. 2002). angka di luar negeri menunjukkan angka kesakitan lebih tinggi terjadi pada wanita dan angka kematian terjadi lebih tinggi pada semua umur. bangsa Perbedaan antarbangsa menentukan perbedaan komposisi genetiknya yang selanjutnya akan menentukan kepekaan atau . penyakit degeneratif banyak menyerang orang tua dan penyakit karena ketidakseimbangan hormonal banyak menyerang golongan usia akil balig. misalnya lebih banyak pria merokok. candu. Menurut Soemirat (2000). pertusis. Hal tersebut disebabkan oleh faktor – faktor intrinsik antara lain : a. cacar air dan sebagainya banyak menyerang anak – anak karena belum mempunyai kekebalan terhadapnya. minum minuman keras. bekerja keras dan melakukan pekerjaan berbahaya daripada wanita 3. usia Berbagai penyakit dapat menyerang usia tertentu seperti polio.zat kimia yang sukar diuraikan secara alamiah dan menyebabkan masalah seperti estetika.

buta warna. 5. hemofilia. Penyakit TBC dapat timbul lebih cepat pada individu yang mempunyai bakat yang diturunkan. Status fisiologis adalah keadaan fungsi tubuh seseorang yang akan mempengaruhi manifestasi suatu penyakit. Sebaliknya TBC lebih mudah berkembang pada golongan kulit hitam daripada Kaukasian. Sedangkan pengalaman sakit ikut menentukan kekuatan . Status gizi didapat dari nutrien yang diberikan kepadanya. Sedangkan atribut yang didapat oleh seseorang setelah lahir antara lain adalah : 1. Kekebalan alamiah didapat secara alamiah karena infeksi atau mendapat antibodi dari ibu selama dalam kandungan. misalnya penyakit diabetes mellitus. polio. status kesehatan Yang termasuk di dalam status kesehatan ini adalah status fisiologis. misalnya adalah penyakit morbili. Pada umumnya warna kulit yang gelap lebih tahan terhadap penyakit kulit. dan cacar air. 4.kekebalan terhadap penyakit tertentu. tubuhnya. daya tahan natural Daya tahan natural adalah struktur dan fungsi tubuh serta sistem kekebalan yang didapat manusia sejak lahir. status gizi dan pengalaman sakit. Urutan anak akan berbeda baik dalam potensial kesehatan maupun potensial penyakit dan perlakuan keluarga terhadapnya. asma atau penyakit jiwa. keluarga Faktor keluarga berhubungan dengan faktor genetik yang dapat diturunkan apabila lingkungan memungkinkan untuk timbul.

inhalasi Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme melalui saluran pernafasan. bahan asing bagi tubuh organisme (disebut xenobiotik) dapat masuk ke dalam tubuh organisme melalui berbagai jalan. Sedangkan sumber daya yang meliputi ketersediaan materi. status kekebalan Kekebalan terhadap penyakit diperoleh dari pengalaman sakit. yaitu : 1. 3. budaya. fasilitas dan sebagainya akan mempengaruhi taraf kesehatan seseorang.2. Kondisi ini akan memudahkan bahan asing tersebut masuk ke peredaran darah. keterampilan. Menurut Soemirat (2003). Demikian juga dengan perasaan dan pemikiran seseorang. oral Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme melalui mulut dan masuk ke dalam saluran pencernaan. sumber daya. perilaku Perilaku ditentukan oleh panutan. uang. waktu. perasaan dan pemikiran seseorang. tokoh agama maupun orang yang berpendidikan tinggi serta budaya sebagai cara/ gaya hidup dapat mengubah perilaku masyarakat. Panutan yaitu tokoh penting dalam masyarakat seperti tokoh masyarakat. pemberian vaksinasi (kekebalan aktif) dan mendapat serum (kekebalan pasif). Kondisi ini akan lebih mudah memasuki peredaran darah dibanding per oral. dermal Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme melalui kulit. 2. . 3.

Istilah produksi bersih digunakan untuk menjelaskan pendekatan secara konsep dan operasi terhadap proses dan produk yang dapat memperkecil dampak keseluruhan daur hidup produk terhadap manusia dan lingkungan.4. produk dan jasa untuk meningkatkan ekoefisiensi dan mengurangi terjadinya resiko terhadap manusia dan lingkungan (Liana. pengurangan sumber dan teknologi bersih. 1999 Gambar 1. Konsep penerapan produksi bersih digambarkan sebagaimana Gambar 1 di bawah ini : C L E A N P R O D U C T I O N TOTAL QUALITY TOTAL QUALITY ENVIRONMENTAL MANAGEMENT Cleaner Technology Pencegahan Pencemaran (Pollution Prevention) Minimisasi Limbah (Waste Minimization) Daur Ulang (Recycling) Pengendalian Pencemaran (Pollution Control) Pengolahan & Pembuangan (Treatment & Disposal) Remediasi (Remediation) Sumber : Liana B. pengurangan. PRODUKSI BERSIH PADA INDUSTRI KERTAS Produksi bersih didefinisikan sebagai upaya penerapan yang kontinyu dari suatu strategi pengelolaan lingkungan yang integral dan preventif terhadap proses.6. 2. parenteral Adalah masuknya bahan asing ke dalam tubuh organisme melalui suntikan. berbeda Dalam pemakaiannya banyak pihak menggunakan istilah yang untuk menggambarkan tindakan produksi bersih. 1999). Konsep penerapan produksi bersih Technology Clean Technology . seperti pencegahan polusi. minimisasi limbah.

diletakkan di tempat yang tidak bersinggungan langsung dengan tanah agar tidak terkontaminasi oleh kotoran dan kerikil halus. dan mesin agar dapat bekerja secara optimal sehingga tidak ada kehilangan bahan. penyaring (filter). 3. peluang produksi bersih pada industri kertas antara lain adalah : 1. .Menurut KMB-EP3 (2004). Langkah lainnya adalah memperbaiki pompa yang bocor. Untuk mesin lainnya perlu dilakukan peningkatan kinerja dengan mengganti bagian yang rusak atau dengan mengganti bagian yang berkorosi dengan bahan yang tahan korosi. Pemakaian air yang berlebihan akan mengurangi keuntungan perusahaan. di sisi lain perlindungan alam juga harus dijaga dengan pemakaian air secara efisien. Penanganan bahan baku Sebaiknya bahan baku serpihan – serpihan kayu (chip) yang akan digunakan sebagai bahan baku atau akan disimpan. Air dari pompa vakum dapat digunakan kembali pada bagian proses lain yang membutuhkan air panas (misalnya pada tahap akhir pencucian pulp). 4. Pembuatan bubur kertas Untuk mengurangi kehilangan serat maka perlu perbaikan kinerja peralatan seperti pompa. Penghematan air Untuk mengurangi pemakaian air bersih (fresh water) maka perlu menggunakan kembali air bersih yang telah digunakan oleh mesin – mesin lain sebagai pembilas. 2. Pembuatan kertas Agar pemakaian bahan kimia dapat dikurangi maka pada mesin kertas diupayakan dipasang alat pengukur pH yang bekerja secara otomatis.

pengawasan proses yang lebih ketat.5. pengurangan dari sumbernya Pengurangan sumber limbah mencakup pemeliharaan dan perawatan yang baik (good house keeping) antara lain dengan mencegah terjadinya ceceran dan tumpahan bahan. Penghematan bahan kimia Di samping harganya yang mahal. Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghemat energi antara lain adalah memanfaatkan uap yang terjadi pada tangki kondensat sesudah uap tersebut dipakai pada proses pengeringan untuk air boiler serta memperbaiki insulasi yang rusak sehingga tidak ada uap panas yang terbuang. Minimalisasi limbah Menurut Rini (2002). kualitas produk dan hubungan baik dengan masyarakat. bahan kimia juga menimbulkan masalah pada lingkungan sehingga diupayakan memakai bahan kimia seminimal mungkin serta melakukan pengolahan kembali agar bisa dimanfaatkan kembali (didaur ulang). 7. program minimalisasi limbah yang efektif akan mengurangi biaya produksi dan beban pengelolaan limbah berbahaya sehingga akan meningkatkan efisiensi. Perubahan dalam proses produksi sehingga terjadi perubahan input bahan. Penghematan energi Pemakaian energi yang efisien akan menurunkan biaya energi. 6. Berbagai cara untuk mencapai minimalisasi limbah mencakup tiga bagian utama yaitu : a. . modifikasi peralatan dan perubahan teknologi yang lebih hemat.

7. mempermudah daur ulang dan minimalisasi dampak lingkungan dari pembuangan produk tersebut. modifikasi produk Modifikasi produk bertujuan untuk meningkatkan usia produk sehingga lebih tahan lama. Di samping itu langkah – langkah lain yang harus dilakukan di pabrik baru tersebut adalah : 1. c. 4. 6. 2. 8. 3. 10. daur ulang Daur ulang dilakukan dengan recovery bahan. Sedangkan menurut Devi (2004). 9. 5. banyak industri pulp baru dirancang secara termomekanik atau kimia mekanik karena banyak bahan perusak lingkungan yang dihasilkan oleh pabrik konvensional dengan proses kraft atau sulfit. air dan energi bekas pakai untuk dipakai kembali dalam proses berikutnya.b. Sistem pengambilan kembali bahan kimia secara efisien Pelepasan kulit kayu secara kering Pembakaran limbah dan pengambilan panas kembali Pendaurulangan buangan kilang pengelantangan ke ketel pengambilan kembali bahan kimia Sistem pencucian brownstock bertahap banyak dengan aliran berlawanan yang efisien Penggunaan klor dioksida untuk menggantikan klorin dalam proses pengelantangan konvensional Pemasakan berlanjut dalam proses pembuatan pulp secara kimia Pengurangan lignin oksigen setelah pemasakan secara kimia Pengendalian penggunaan klor yang ketat dalam pengelantangan dengan cara pemantauan Konservasi dan daur ulang air dalam pabrik kertas dapat mengurangi volume air limbah sebesar 77 % .

tujuan dan sasaran lingkungan yang diinginkan. menerapkan. memelihara. serta sumber daya untuk mengembangkan. standar manajemen lingkungan internasional ISO (International Standarization Organization) seri 14000 merupakan upaya memadukan manajemen lingkungan dengan persyaratan manajemen lainnya (produksi. Beberapa keuntungan dalam menerapkan SML yaitu : pengendalian dampak yang lebih baik menekan resiko yang membahayakan lingkungan memberi jaminan kepada pelanggan tentang komitmen manajemen lingkungan hubungan dengan masyarakat sekitar perusahaan baik kepedulian perusahaan terhadap lingkungan ikut menjaga kualitas lingkungan mematuhi peraturan perundang .7. ISO 14001 bertujuan memberikan unsur – unsur sistem manajemen lingkungan serta membantu perusahaan untuk penerapan dan penyempurnaan sistem manajemen lingkungan. proses kegiatan. dan mengkaji kebijakan lingkungan. SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN Menurut Sontang Manik (2003). tenaga kerja) sehingga tujuan perusahaan secara ekonomi dapat tercapai. Kinerja lingkungan adalah hasil SML yang dapat diukur yang berkaitan dengan pengendalian dari organisasi atas aspek – aspek lingkungan.undangan yang berlaku . Dokumen ISO 14001 berisi unsur – unsur yang harus dipenuhi oleh perusahaan yang ingin memperoleh sertifikat ISO 14001 atau perusahaan yang ingin menerapkan sistem manajemen lingkungan (SML) menurut ISO 14001. mutu. Sistem deteksi dan pengambilan kembali tumpahan 2.11. perencanaan. mencapai. SML adalah bagian dari sistem manajemen keseluruhan yang meliputi struktur organisasi. yang didasarkan pada kebijakan.

- membuat sistem manajemen yang efektif meningkatkan kepercayaan dan kepuasan konsumen Sistem manajemen lingkungan yang mengikuti model Rencanakan-Lakukan-Periksa-Tindaki (Plan-Do-Check-Act atau PDCA) merupakan proses yang terus berjalan untuk perbaikan berkelanjutan sebagaimana Gambar 2 dibawah ini. berulang yang memungkinkan memelihara kepemimpinan organisasi manajemen untuk puncak menetapkan. yang dan menerapkan didasarkan untuk dan pada sistem kebijakan lingkungannya komitmen manajemen lingkungan. Model sistem manajemen lingkungan Model PDCA adalah proses yang terus menerus. . Perbaikan berkelanjutan Tinjauan manajemen Definisi ulang Rencanakan Pemeriksaan Penerapan dan operasi pimpinan Sumber : Badan Standarisasi Nasional (2005) Gambar 2. Menurut Badan Standarisasi Nasional (2005).

melakukan audit internal secara berkala . mengembangkan dan menggunakan indikator kinerja 2. Penerapan Yaitu menerapkan dan melaksanakan sistem manajemen lingkungan a. Perencanaan Yaitu menetapkan proses perencanaan yang terus – menerus yang memungkinkan organisasi untuk : a. menetapkan dan menerapkan pengendalian dokumen g.mengidentifikasi ketidaksesuaian dan melakukan tindakan koreksi dan pencegahan d.melakukan pemantauan dan pengukuran terus-menerus b. menjamin adanya kesiagaan dan tanggap darurat 3. menetapkan peran dan tanggung jawab dengan kewenangan yang memadai b.menciptakan struktur manajemen. mengelola rekaman e. mengidentifikasi dan memantau persyaratan peraturan dan lainnya yang berlaku serta membuat kriteria kinerja internal bila diperlukan c. membuat tujuan dan sasaran serta merumuskan pencapaiannya d. menyediakan sumber dana yang memadai c. mengidentifikasi aspek lingkungan dan dampak lingkungan yang terkait b. menetapkan dan memelihara pengendalian operasi h.setelah organisasi melakukan evaluasi status terkininya yang terkait dengan lingkungan langkah – langkah proses berikutnya adalah : 1.melatih pekerja untuk kepentingan organisasi d. Pemeriksaan Yaitu menilai proses sistem manajemen lingkungan a. mengevaluasi status penaatan c.menetapkan dan memelihara dokumentasi f. menetapkan proses komunikasi internal dan eksternal e.

2. HIPOTESIS Berdasarkan dasar teori di atas dapat ditarik hipotesis yaitu : 1. Tindakan Yaitu mengkaji dan melakukan tindakan untuk menyempurnakan sistem manajemen lingkungan a. Terdapat perbedaan kualitas kesehatan masyarakat yang hidup di sekitar saluran pembuangan limbah PT Kertas Basuki Rachmat dengan masyarakat di wilayah lain.melakukan tinjauan manajemen terhadap sistem manajemen lingkungan pada interval yang memadai b. Kualitas kesehatan masyarakat di sekitar saluran pembuangan limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi oleh kualitas limbah yang dibuang. mengidentifikasi bidang untuk penyempurnaan Proses yang terus – menerus itu memungkinkan organisasi untuk menyempurnakan sistem manajemen lingkungannya dan keseluruhan kinerja lingkungannya secara berkelanjutan.4. 2.8. .

KERANGKA PENDEKATAN MASALAH Menurut Soemirat (2000). Pokok pengamatan dimulai dari kasus yang sudah terjadi kemudian dilacak ke masa lalu.1. dan lain-lain) yang kurang lebih sebanding dengan kelompok kasus (Budioro. Pengukuran kualitatif didapat dengan cara wawancara atau kuisioner. Adanya gejala suatu penyakit kemudian dapat dihubungkan dengan keadaan lingkungan dan kebiasaan. Untuk keperluan tersebut maka penelitian yang dilakukan disini dilakukan dengan dua pendekatan yaitu : 1. 2002). pengukuran paparan dengan suatu agen yang berasal dari lingkungan yang dapat menyebabkan penyakit dapat dilakukan secara kualitatif maupun kuantitatif.BAB III METODE PENELITIAN 3. Biasanya studi riwayat kasus dilakukan dengan kontrol yang mempunyai ciri (misalnya umur. Kuisioner dapat digunakan untuk memperoleh data tentang kebiasaan sampel. tingkat sosial. Pada studi riwayat kasus/ kasus kontrol dilakukan pengamatan secara observasional terhadap masalah kesehatan yang telah lalu (retrospektif). Lebih lanjut Soemirat (2000) mengatakan bahwa pengukuran efek/ gejala dari suatu penyakit dapat dilakukan dengan kuisioner yang standar. Kuantitatif Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui kualitas kesehatan masyarakat pada kedua populasi berdasarkan data yang terkumpul lewat kuisioner yang selanjutnya dilakukan analisis . ras. jenis kelamin. Hal ini sering dilakukan pada studi retrospektif atau melihat kembali ke masa lalu sebelum penyakit terjadi tetapi orangnya pada saat itu telah menderita sakit.

2. Permasalahan tersebut selanjutnya diformulasi dengan pertanyaanpertanyaan dalam kuisioner. Permasalahan Permasalahan diperoleh dari berbagai sumber baik di lapangan. 2.secara kuantitatif. Pendekatan kualitatif berfungsi untuk memperkuat pendekatan kuantitatif Untuk menggambarkan langkah-langkah penelitian tersebut dibuat diagram alir pendekatan penelitian. Penjabaran dari masing-masing tahap adalah sebagai berikut : 1. Pendekatan kuantitatif lebih dominan daripada pendekatan kualitatif. Kualitatif Pendekatan ini dilakukan untuk mengetahui dampak limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat terhadap kesehatan masyarakat di sekitarnya berdasarkan data yang dikumpulkan dari para informan dan instansi terkait lainnya. data sekunder maupun pendapat dari para informan. Dengan diagram tersebut diharapkan langkah . Adapun alur pendekatan penelitian yang dilakukan adalah seperti diagram alir di bawah ini. Pengumpulan Data Pada tahap ini dilakukan pengumpulan data dari kedua populasi yaitu populasi kontrol yaitu populasi pembanding yang berada jauh dari saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat.langkah penelitian dapat dilakukan secara tepat dan runtut. Untuk keperluan ini populasi kontrol dan populasi uji dipilih yang mempunyai karakteristik fisik maupun biologi yang kurang lebih sama antara lain : letak dekat dengan kota . maupun populasi uji yaitu populasi yang berada dekat saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat.

Diagram Alir Pendekatan Penelitian Selanjutnya kedua populasi tersebut diberi kuisioner dengan pertanyaan yang sama meliputi : sakit diare sakit pencernaan lainnya (kembung. kotoran berdarah dan sebagainya) .- komposisi umur komposisi jenis kelamin komposisi tingkat sosial ekonomi menggunakan sumur untuk keperluan rumah tangga Permasalahan Pengumpulan Data Populasi kontrol Populasi uji sebelum setelah Analisis Data Identifikasi Penyebab Evaluasi Kesimpulan Rekomendasi Gambar 3.

- sakit demam sakit kepala/ pusing sakit kulit sakit batuk sakit pernafasan lain (asma. 5. data kualitas limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dan data dari pihak . Evaluasi Dari data yang telah terkumpul dan data dari pihak – pihak terkait di atas selanjutnya dievalusi apakah ada pengaruh limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat terhadap kualitas kesehatan masyarakat . Analisis Data Data yang terkumpul dari populasi uji dan populasi kontrol tersebut selanjutnya dibandingkan dan diuji secara statistik dengan uji beda untuk masing-masing parameter maupun secara kumulatif untuk semua parameter. data kualitas sumber air.pihak terkait lainnya. 4. Identifikasi Penyebab Hasil dari analisis uji beda selanjutnya diidentifikasi penyebabnya berdasarkan data yang diperoleh dari para informan. Analisis data menggunakan program SPSS 12. 3. Pada sampel yang pernah bertempat tinggal selain di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat juga diberi pertanyaan mengenai intensitas sakit – sakit di atas.0. sesak nafas dan sebagainya) sakit flu/ pilek anggota keluarga yang meninggal karena sakit Pada populasi uji juga diberi pertanyaan mengenai tempat tinggal sebelum berada di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Demikian juga data antar populasi uji sebelum dan setelah tinggal di tempat sekarang juga dianalisis. Puskesmas setempat.

pada populasi uji. Adapun kesehatan masyarakat yang akan diamati adalah intensitas sakit diare. Rekomendasi Dari kesimpulan yang diperoleh kemudian dibuat rekomendasi untuk mencegah timbulnya dampak negatif di masa mendatang yang ditujukan kepada pembuat kebijakan di lapangan. Di samping itu juga dievaluasi kemungkinan faktor yang menyebabkannya. 2. pernafasan lainnya. 7. Intensitas Tidak pernah Jarang Kadang . batuk. 4.kadang Sering Batasan rata-rata kurang dari setahun sekali rata-rata 1 – 6 kali setahun rata-rata 7 -12 kali setahun rata-rata lebih dari 12 kali setahun . 3. 6. 3.2. Batasan intensitas terjangkitnya sakit Skala 1. sakit kepala. demam. Kesimpulan Dari evaluasi di atas selanjutnya diperoleh suatu kesimpulan yang terkait dengan tujuan penelitian. Untuk mengukur intensitas terjangkitnya sakit tersebut dibuat pembatasan sebagai berikut : Tabel 2. pencernaan lainnya. flu/ pilek serta anggota keluarga yang meninggal karena sakit. RUANG LINGKUP Limbah cair yang akan diteliti adalah limbah cair yang dikeluarkan oleh PT Kertas Basuki Rachmat dan dialirkan ke saluran limbah di sekitar pemukiman penduduk. kulit.

JENIS SUMBER DATA Pada penelitian ini digunakan 2 jenis sumber data yaitu data primer dan data sekunder. 3. WAKTU DAN LOKASI PENELITIAN Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai dengan April 2007 dan berlokasi di sepanjang jalur pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat di Kelurahan Lateng serta Kelurahan Pengantigan Kecamatan Banyuwangi. pamflet maupun internet. Kabupaten Banyuwangi.5. Data ini meliputi pertanyaan . jurnal. data geografi. 3.3. data pendukung lainnya yang diperoleh dari buku. TEKNIK PENGUMPULAN DATA Untuk mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan beberapa teknik yaitu : .4. Data sekunder Data sekunder merupakan data yang diperoleh secara tidak langsung dari lapangan. 1. Data sekunder tersebut antara lain adalah : data kandungan bahan kimia dalam limbah cair industri kertas. data hasil uji kualitas air sumur. Data primer Data primer merupakan data yang diperoleh langsung dari lapangan.pertanyaan yang disampaikan kepada responden melalui kuisioner.3. data kependudukan. data kesehatan penduduk. 2. Propinsi Jawa Timur. hasil observasi dan wawancara kepada para informan.

pihak PT Kertas Basuki Rachmat atau pihak . dan tahap lanjutan untuk mendapatkan informasi tentang status kesehatan sampel. Kuisioner diberikan dalam dua tahap yaitu tahap pendahuluan untuk menjaring sampel yang memenuhi kriteria. Observasi Observasi dilakukan dengan cara pengamatan dan pencatatan terhadap kondisi fisik. Pengambilan sampel dilakukan dengan basis rumah tangga. 2. Wawancara Wawancara dilakukan secara terbatas kepada petugas Puskesmas. budaya masyarakat. proses produksi dan proses pengolahan limbah PT Kertas Basuki Rachmat dan lain-lain yang diperoleh di lapangan.6. Kepada masing-masing responden baik pada populasi uji maupun populasi kontrol diberikan kuisioner yang berisi pertanyaan yang sama secara terbuka maupun tertutup. Kuisioner Data yang dikumpulkan dengan kuisioner diberikan kepada para responden dengan pertanyaan yang sama baik untuk populasi kontrol maupun populasi uji dengan basis rumah tangga. 3. tokoh masyarakat.pihak lain yang terkait.1. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL Dari populasi warga/ penduduk yang bermukim di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat sekitar 1 km dari PT Kertas Basuki Rachmat ke arah laut (Kelurahan Lateng) dan di wilayah lain (Kelurahan Pengantigan) diambil sampel sebanyak masing-masing 66 orang dengan sistem purposive sampel (pengambilan sampel dengan pertimbangan dan sifat-sifat tertentu). sosial. 3. kondisi fisik saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Selanjutnya pada .

TEKNIK ANALISIS DATA Data yang terkumpul dari para responden selanjutnya dianalisis secara statistik dengan metode statistik komparatif dengan membandingkan masing . Sedangkan pengambilan air sumur pada masing – masing populasi uji dan populasi kontrol dilakukan dengan sistem acak (random sample).populasi uji yang pernah tinggal di tempat lain yaitu sebelum berada di sekitar salurah limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat yaitu sebanyak 39 orang juga diberi kuisioner yang berisi pertanyaan yang sama. 2002) Peta lokasi . 3. penelitian tertera dalam Lampiran 2. Adapun hipotesis yang diajukan adalah : Ho : tidak terdapat perbedaan antara parameter populasi satu dengan populasi kedua atau Ho : µ1 = µ2 Ha : terdapat perbedaan antara parameter populasi satu dengan populasi kedua atau Ha : µ1 ≠ µ2 (Sugiyono.test).masing parameter maupun kumulasi semua parameter dari populasi satu dengan yang lainnya menggunakan uji beda (t .7.

50 km2 .BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Tingkat kesuburan tanah di Kabupaten Banyuwangi dipengaruhi juga oleh adanya DAS (Daerah Aliran Sungai) di wilayah ini. Kabupaten Banyuwangi mempunyai luas daratan sebesar 5. Umumnya daerah bagian selatan.53 %. Kabupaten Jember dan Bondowoso di sebelah barat.1 GAMBARAN LOKASI PENELITIAN 4.1 KABUPATEN BANYUWANGI Kabupaten Banyuwangi merupakan wilayah paling timur dari Pulau Jawa. Selat Bali di sebelah timur dan Samudera Hindia di sebelah selatan.38o BT berbatasan dengan Kabupaten Situbondo di sebelah utara. Di Kabupaten Banyuwangi terdapat 35 buah DAS yang sepanjang tahun cukup untuk mengairi sawah.1. perkebunan yaitu sekitar 14.21 %.869 meter. pemukiman sekitar 21. Salah satu DAS yang ada tersebut adalah DAS Sukowidi. ladang dan sebagainya.53o – 114. yang terdiri dari sungai Sukowidi dengan panjang 10. berada pada garis 7.46o LS dan 113. daerah persawahan yaitu sekitar 11. barat dan utara merupakan daerah pegunungan.782. Sungai Kelir dengan .21 %. Sedangkan daerah datar terbentang luas dari bagian selatan hingga utara yang tidak berbukit. Sebagian besar wilayah Kabupaten Banyuwangi masih merupakan daerah kawasan hutan yaitu sekitar 14.43o – 8.66 % dan sisanya untuk berbagai manfaat seperti jalan. sehingga pada daerah ini mempunyai tingkat kemiringan tanah dengan rata – rata mencapai 40 o serta dengan ratarata curah hujan lebih tinggi dibanding dengan daerah di bagian lain. Daerah ini banyak dialiri sungai – sungai yang bermanfaat untuk mengairi hamparan sawah yang luas.

588 123.828 52.888 meter. Sedangkan pada tahun 2006 jumlah penduduk Kabupaten Banyuwangi adalah 1. Tabel 3. Berdasarkan hasil sensus tahun 2000.575.357 51.laki 59. umur 0 – 4 tahun 5 – 9 tahun 10 – 14 tahun 15 – 19 tahun 20 – 24 tahun 25 – 29 tahun 30 – 34 tahun 35 – 39 tahun 40 – 44 tahun 45 – 49 tahun 50 – 54 tahun 55 – 59 tahun 60 – 64 tahun 65 – 69 tahun 70 – 74 tahun 75 tahun ke atas total Laki .451 742.516 50.578 746.967 69.692 16.444 meter.610 20.298 37.027 13.873 102.806 45.228 67.481 73.352 87. 2006).889 61.034 128. 2006 . penduduk Kabupaten Banyuwangi tergambar dalam Tabel 3 di bawah ini.385 27.060 Wanita 56.635 59.964 31.089 (Bappeda Kabupaten Banyuwangi.213 63.731 Total 115.257 129.387 134.734 62.488.979 18.877 28.778 122.313 62.589 38.358 14.420 64. Distribusi penduduk Kabupaten Banyuwangi berdasarkan hasil sensus tahun 2000 Kel.375 59.272 14. dan Sungai Bulak sepanjang 3.431 122.952 72.998 62.036 65.029 1.966 27.546 42.542 61.183 35.862 24.791 Sumber : Bappeda Kabupaten Banyuwangi.180 139.758 30.523 66.panjang 14. mampu mengairi sawah seluas 257 hekter.465 59.

87 %).555 jiwa dengan rata – rata 2.39 % per tahun.36 jiwa/ km2 dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0. Kelurahan ini dilewati oleh saluran Kelurahan Lateng berbatasan pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat yang mengalir menuju ke laut yaitu Selat Bali.106 keluarga dengan kepadatan penduduk 3. Kecamatan Kalipuro di sebelah utara. Kelurahan Singotrunan. Pada tahun 2006. KECAMATAN BANYUWANGI Kelurahan Lateng merupakan salah satu kelurahan di Kecamatan Banyuwangi. pedagang (7. tukang kayu (2.691 jiwa dengan perincian 4. Sedangkan di Kecamatan Banyuwangi jumlah keluarga miskin sebanyak 7. Kelurahan Temenggungan.260 jiwa laki-laki dan 4.48 %). Sebagian besar penduduk Kelurahan Lateng bermata pencaharian buruh industri (13.98 %) . jumlah keluarga miskin di Kabupaten Banyuwangi sebanyak 157.52 % dari luas Kabupaten Banyuwangi. Kecamatan Banyuwangi di sebelah barat dan Selat Bali di sebelah timur.02 %). transportasi (5.715 jiwa atau 29.94 jiwa per keluarga.1. Kecamatan Banyuwangi di sebelah selatan. dengan Kelurahan Klatak.30 %) dan pekerjaan informal lainnya.2 KELURAHAN LATENG.06 %).575 jiwa/ km2 .815 keluarga atau 25. Pada tahun 2006 jumlah penduduk Kecamatan Banyuwangi adalah sebanyak 107. pegawai swasta (7. Sebagian besar penduduk Kelurahan Lateng berpendidikan . 2006).25 jiwa per keluarga (Pemkab Banyuwangi.13 km2 atau 0.431 jiwa perempuan (sebagaimana Tabel 4 di bawah) atau dengan kepadatan penduduk sebanyak 12. 4. tukang batu (2. Gambar peta Kabupaten Banyuwangi tertera pada Lampiran 3. Pada tahun 2006 jumlah penduduk Kelurahan Lateng adalah sebesar 8.Kabupaten Banyuwangi mempunyai ibukota Kecamatan Banyuwangi dengan luas sebesar 30.818 keluarga atau 464.415 jiwa dengan rata – rata 3.

260 Wanita 448 511 973 583 321 353 269 268 195 510 4. Sebanyak 83. tamat SLTP (32. Tabel 4. sedangkan sisanya (16.laki 390 482 969 481 364 350 239 249 192 545 4.691 Sumber : Data Kelurahan Lateng.82 %) dan yang buta huruf sebanyak 0. baik dari sumur gali.95 % (Pemkab Banyuwangi.82 % dari jumlah keluarga di Kelurahan Lateng telah terpenuhi kebutuhan air bersihnya. sebanyak 55.terakhir tamat SLTA (40.053 8. sumur pompa. 2006). sebanyak 86. Gambar peta Kecamatan Banyuwangi tertera pada Lampiran 4. 2006).04 % rumah yang ada telah memiliki WC atau jamban untuk membuang kotoran.064 685 703 508 517 387 1. Distribusi penduduk Kelurahan Lateng tahun 2006 Kel. Sedangkan berdasarkan kondisi perumahan.02 %).33 %) masih merupakan rumah tidak sehat. maupun PDAM. 2006 Berdasarkan kebutuhan air bersih.431 Total 838 993 1.96 %) masih membuang kotoran ke saluran pembuangan air limbah (Pemkab Banyuwangi.67 % sudah merupakan rumah sehat dan sisanya (44. umur 0 – 4 tahun 5 – 12 tahun 13 – 18 tahun 19 – 25 tahun 26 – 35 tahun 36 – 45 tahun 46 – 50 tahun 51 – 60 tahun 61 – 75 tahun diatas 75 tahun total Laki . .942 1.

Bahan Baku Sejak tahun 1997 karena kondisi perusahaan yang menurun. makin tinggi penggunaan afval.2 GAMBARAN PT KERTAS BASUKI RACHMAT 1. Kemudian sejak tanggal 19 Mei 1982 berdasarkan Peraturan Pemerintah No. Yusuf. (a) (b) Gambar 4. kelancaran mesin kertas makin meningkat . Bapak M. Foto PT Kertas Basuki Rachmat : (a) Bagian depan (pintu masuk) (b) Bangunan pabrik PT Kertas Basuki Rachmat 2. Perusahaan PT Kertas Basuki Rachmat diresmikan pada tanggal 26 April 1969 oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia. Untuk kondisi refiner dan mesin kertas yang dipakai oleh PT Kertas Basuki Rachmat. 16 tahun 1982 tentang pengalihan bentuk Perusahaan Umum Kertas Basuki Rachmat menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). tugas refining lebih ringan. Gambaran fisik PT Kertas Basuki Rachmat terlihat pada Gambar 4 di bawah ini.4. Sifat – sifat kertas afval tersebut PT Kertas Basuki Rachmat (2004) antara lain : karena sudah mengalami refining sebelumnya. PT Kertas Basuki Rachmat mulai menggunakan bahan baku kertas bekas (afval).

karena freeness lebih mudah tercapai dan anyaman serat lebih mudah terjadi.lain 3. tingkat II ekstraksi alkali menggunakan soda kaustik tingkat III pemberian hipoklorit dengan Brightness 76 % Ht. Na2SO4. Secara ringkas proses pembuatan kertas di PT Kertas Basuki Rachmat dengan bahan baku kayu–kayuan adalah sebagai berikut : kayu yang telah mengalami penyerpihan (chip) dimasak dengan white liquor yang terdiri dari NaOH. Di PT Kertas Basuki Rachmat proses pemutihan (bleaching) dilakukan melalui 5 tingkat yaitu : tingkat I klorinasi menggunakan gas Cl2 dengan Brightness 31 % Ht. Na2CO3 dan Na2S selama 3 – 4 jam dengan suhu 170 oC dan tekanan 7 atm serta berakhir dengan pembentukan bubur (pulp). . Pulp selanjutnya ditambah dengan bekas cairan pemasak warna hitam (black liquor) kemudian dicuci dan siap mengalami proses pemutihan. brightness lebih rendah dari pulp karena sudah terwarnai dan terkotori lebih banyak membawa bakteri dan jamur karena banyak mengandung bahan – bahan kimia yang merupakan sumber makanan bakteri dan jamur seperti starch. cenderung lebih kotor karena ikutan dari afval-nya maupun campuran dalam pengelolaannya. tingkat IV ekstraksi alkali menggunakan soda kaustik tingkat V pemberian hipoklorit dengan Brightness 81 % Ht. Proses Produksi Secara umum proses produksi di PT Kertas Basuki Rachmat dapat digambarkan dalam diagram alir Gambar 5 di bawah ini. coating material fines dan lain .

Diagram alir proses produksi kertas di PT Kertas Basuki Rachmat dengan bahan baku kayu . Boiler Bahan kimia Black liquor Pemutihan evaporator Bahan tambahan Penggilingan uap Mesin kertas White water Penyempurnaan Keterangan : : Daur ulang pemakaian bahan kimia Produk kertas Sumber : PT Kertas Basuki Rachmat. 1985 : Daur ulang pemakaian air Gambar 5.Bahan baku Penyerpihan Bahan kimia uap Pemasakan Black liquor White liquor Recausticizing Green liquor Bahan bakar Pencucian dan Salt Cake Rec.kayuan .

plastik. Pulp putih selanjutnya dihaluskan. Selanjutnya bahan kertas tersebut ditambah bahan pembantu yang terdiri dari : sizing agent dengan tujuan agar kertas tahan (AKD). Kemudian bahan baku tersebut disaring untuk memisahkan pengotor seperti kain. dilembutkan dan diberi bahan pengisi. logam.Hasil dari proses ini pulp yang tadinya berwarna coklat menjadi putih. perekat. Proses terakhir adalah pembuatan lembaran kertas dimana lembaran kertas yang masih basah diperas menggunakan roll press kemudian dikeringkan dengan uap panas. PT Kertas Basuki Rachmat beralih menggunakan bahan baku kertas bekas (afval). Sejak tahun 1997. pewarna dan sebagainya sesuai macam kertas yang akan dibuat. pasir dan sebagainya serta kertas yang tidak larut air. Secara ringkas dapat dijelaskan proses pembuatan kertas dari bahan baku kertas bekas (afval) adalah sebagai berikut : bahan baku kertas bekas (afval) yang berupa kertas tanpa tinta dilarutkan dalam air dan white water (yaitu air bekas proses sebelumnya) sambil diaduk sampai homogen pada hidra pulper. Selanjutnya lembaran kertas yang sudah kering tersebut dihaluskan dan digulung serta siap dipak dan dipasarkan (PT Kertas Basuki Rachmat. 1989). Adapun gambaran proses produksi dengan bahan baku kertas bekas (afval) tersebut adalah sebagaimana Gambar 6 di bawah ini. penambah kekuatan lembaran (dry strength agent) yang merupakan modified starch sebagai kation untuk mengikat serat basah yaitu Alkil Ketone Dimer .

Hidra Kertas bekas (afval) Fresh water White water pulper Screening Pengotor dan kertas Bahan pemba t Cairan Wire and press part Endapan Settling tank White water Produk rusak Fresh water Dry part Produk rusak Steam Calendering Pope reel Product .sebagai anion sehingga meningkatkan kekuatan daya ikat antar pulp.

NaOH yang ditambahkan secara insidental untuk kertas yang bertinta. Adapun jenis pewarna yang dipergunakan di PT Kertas Basuki Rachmat adalah direct violet dan direct sky blue untuk kertas HVS dan methyl violet dan malachite green untuk kertas CD. Dengan bantuan uap panas (steam) pada dry part lembaran basah tersebut dikeringkan dan dihaluskan pada calendering.Sumber : PT Kertas Basuki Rachmat. bahan anti bakteri yaitu yang bersifat non oksidator untuk mencegah tumbuhnya bakteri dan jamur pada kertas. Terakhir lembaran kertas digulung . Kemudian bahan kertas melalui wire and press part sehingga membentuk lembaran basah dengan menghasilkan white water dan fresh water sebagai pembilas mesin. Proses produksi kertas dengan bahan baku kertas bekas filler (bahan pengisi) yaitu CaCO3. bahan retensi (retention antar sifat – aid) fiber AKD yang serta serta merupakan memperbaiki pengikat sifat memperbaiki formasi. pewarna kertas dengan basic dyes yang mampu menyatukan warna – warna lain menjadi putih kebiruan (untuk kertas HVS). 2004 Gambar 6.

Unit Penunjang Produksi Untuk membantu proses produksi kertas dengan bahan baku pulp dari kayu – kayuan.atau dipotong sesuai keperluan (PT Kertas Basuki Rachmat. tersebut adalah : b. Lelehan dari hasil pembakaran ditampung dalam desolving tank dan dilarutkan dengan weak white liquor menjadi green liquor. 4. Ca(OCl)2 dan HCl secara elektrolisis dengan anoda grafit dan katoda air raksa (Hg). Unit Chlor Alkali Plant Unit ini bertujuan untuk menghasilkan NaOH. Unit Liquifaction Unit ini bertujuan untuk memproduksi Cl2 cair dari gas Cl2 dengan penambahan H2SO4. c. d. Unit Recausticizing Unit ini memproduksi cairan pemasak (white liquor) dengan penambahan kapur sehingga bereaksi sebagai berikut : CaO + Na2CO3 e. 2004). Unit Evaporator Unit evaporator bertujuan untuk mengentalkan black liquor yang diterima dari unit pencucian dari 9 oBe menjadi 26 oBe. PT Kertas Basuki Rachmat memiliki beberapa unit penunjang produksi. Cl2 cair. Unit Recovery Boiler Black liquor kental hasil evaporator dibakar dalam dapur (furnace) recovery boiler yang telah diberi Na2SO4 sehingga tereduksi menjadi Na2S. f. 2 NaOH + CaCO3 Unit penunjang produksi .

4. limbah gas dan limbah padat. Akan tetapi limbah padat yang berupa hasil pressing lumpur (sludge) dari limbah cair dan oli bekas masih dianggap bermasalah terutama oleh Kantor Negara Lingkungan Hidup (KLH) pada saat penilaian PROPER 2005. Unit Hypo Making Unit ini bertujuan untuk memproduksi kalsium hipoklorit atau Ca(OCl)2 dari gas Cl2 yang direaksikan dengan larutan kapur. Setelah menggunakan bahan baku kertas bekas. Unit HCl Plant Unit ini bertujuan untuk menghasilkan HCl dari gas Cl2 dan gas H2 dari hasil elektrolisis dan kemudian dilarutkan dengan air lunak. Padahal sejak tahun 2005 tersebut sistem penilaian PROPER berubah dari sistem kumulatif menjadi sistem gugur artinya jika pada kriteria di atas sudah tidak memenuhi.3 LIMBAH PT KERTAS BASUKI RACHMAT Limbah PT Kertas Basuki Rachmat pada dasarnya terdiri dari tiga macam yaitu limbah cair. maka dianggap gugur meskipun kriteria di bawahnya memenuhi. . Pembuangan limbah padat masih berupa penumpukan dan pemanfaatan limbah padat (lumpur) tersebut belum memiliki ijin dari KLH sedangkan oli bekas sebagai bagian dari bahan beracun dan berbahaya (B3) belum dikelola secara baik. Akibatnya peringkat PROPER PT Kertas Basuki Rachmat tahun 2005 menjadi hitam yang berarti turun dari PROPER 2004 dan sebelumnya yang berada pada peringkat biru. limbah cair dan limbah gas PT Kertas Basuki Rachmat tidak bermasalah. h.g.

4 LIMBAH CAIR PT KERTAS BASUKI RACHMAT 4.1 Penanganan Limbah Cair Limbah cair dari proses produksi kertas di PT Kertas Basuki Rachmat sebanyak 40 % nya telah dipakai ulang sehingga mengurangi volume limbah cair yang dibuang. Limbah cair Screening cairan kotoran dijual Equalisasi pressing Asam/ basa Netralisasi Flokulan/ koagulan endapan Clarifier Colector Thickener lumpur cairan Bak kontrol cairan Buang ke laut cairan .4. Di sini limbah cair tersebut melalui beberapa tahap pengolahan yaitu sebagaimana tergambar dalam Gambar 7 di bawah ini. Selanjutnya limbah cair dari proses produksi ditampung di unit pengolahan limbah.4.

2004 Gambar 7. equalisasi agar bersifat homogen. lainnya. Proses netralisasi bertujuan menetralkan air limbah dengan penambahan bahan – bahan kimia yang bersifat asam pada air limbah yang basa dan sebaliknya. Tujuannya adalah untuk memisahkan padatan. sisa kertas yang terikut dan bahan – bahan yang tidak larut Selanjutnya limbah cair tersebut disatukan dalam bak dengan penambahan flokulan dan koagulan. mengurangi ukuran dan biaya proses pengolahan selanjutnya dan memperbaiki performa proses selanjutnya.Sumber : PT Kertas Basuki Rachmat. Menurut Siregar (2005). Proses penanganan limbah cair PT KBR Air limbah dari sisa proses produksi disaring melewati bar screen sebanyak tiga kali. Proses koagulasi dan flokulasi adalah konversi dari polutan – polutan yang tersuspensi koloid yang sangat halus di dalam air limbah menjadi gumpalan – gumpalan yang dapat diendapkan. equalisasi bertujuan menyetarakan laju alir dan karakteristik air limbah. disaring atau diapungkan. kemudian dilakukan netralisasi dan dilanjutkan Penambahan flokulan dan koagulan bertujuan untuk mengendapkan padatan terlarut di clarifier yang selanjutnya endapan yang terbentuk dipisahkan dari cairannya. Endapan tersebut kemudian menuju bak colector dan thickener. . Sedangkan thickener bertujuan untuk meningkatkan konsentrasi padatan (lumpur) dan mengurangi volume.

Gambar 8. laut.2 Karakteristik Limbah Cair Cairan dari proses pressing selanjutnya digabungkan dengan cairan dari clarifier menuju bak Pada bak kontrol tersebut ditanam jenis ikan air tawar sebagai indikator biologis sebelum limbah cair dibuang menuju ke . kontrol. Keadaan fisik saluran pembuangan limbah PT Kertas Basuki Rachmat Lumpur (sludge) yang ada dalam endapan selanjutnya dipress dan dijual ke pabrik karton karena lumpur tersebut masih mengandung sisa kertas halus. Gambaran fisik saluran pembuangan limbah PT Kertas Basuki Rachmat terlihat pada Gambar 8 di atas. Air buangan pabrik disalurkan melalui selokan/ saluran khusus yang dibuat dengan konstruksi beton sepanjang 2 km menuju ke Selat Bali yang merupakan pertemuan antara Laut Jawa dan Samudera Hindia.4. dimana arusnya sangat deras. Dengan saluran khusus yang dibuat dengan konstruksi beton tersebut maka kemungkinan terjadinya perembesan limbah cair ke daerah sekitar akan terkurangi. 4.

0036 Sumber : Laporan laboratorium PT KBR. 2006 – 2007 Keterangan : . Ini berarti kualitas limbah cair PT Kertas Basuki Hal tersebut dikarenakan terjadi peningkatan Rachmat cenderung mengalami penurunan dari baku mutu yang .0036 101. 4.Limbah cair yang akan dibuang ke saluran limbah terlebih dahulu diuji. Jawa Timur No.0 20 46 3 <0. dipersyaratkan. Tabel 5.14 7. Secara rutin setiap bulan sekali limbah cair tersebut diambil oleh petugas dari bagian Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk dikirim ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular di Surabaya guna diuji kualitasnya. COD. 45 tahun 2002. Hasil pengujian mutu limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat No. 3.tidak diuji Hasil analisis limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat tersebut cenderung mengalami kenaikan baik kandungan BOD5. Volume limbah cair/ satuan produk pH BOD5 COD TSS Pb m3/ ton produk mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt 50 6–9 70 150 70 0.3 31 74 15 <0. Beberapa hasil pengujian tersebut tergambar dalam Tabel 5 di bawah ini. 6.45 tahun 2002 Hasil analisis 29 Maret 1 Maret 2006 2007 1. limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat pada tanggal 1 Maret 2007 melebihi volume limbah cair/ satuan produk yang diijinkan sesuai baku mutu limbah cair berdasarkan SK Gubernur Jawa Timur No. maupun TSS. 5. 2. Parameter Satuan Baku Mutu Limbah Cair SK Gub. Berdasarkan Tabel 5 tersebut.1 7.

Dari pengalaman para petani pada waktu di Banyuwangi ada serangan hama wereng. . kualitas air limbah PT Kertas Basuki Rachmat yang dibuang ke laut masih belum memenuhi atau melebihi ambang batas yang dipersyaratkan. Berdasarkan hasil pemeriksaan tanggal 13 Juni 1991 tersebut. dan fosfat (PO43-) masih belum memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan dalam baku mutu air limbah sesuai SK Gubernur Jawa Timur No. Sedangkan hasil pemeriksaan air limbah PT Kertas Basuki Rachmat tanggal 13 Juni 1991 ketika masih menggunakan bahan baku kayu – kayuan sebagai pulp adalah seperti tertulis pada Lampiran 5. Banyaknya limbah cair tersebut disebabkan masih banyaknya volume air yang digunakan (tidak ada pemakaian ulang air untuk mengurangi volume limbah). 4. 414 tahun 1987. padatan terlarut. Peningkatan volume limbah cair per satuan produk pada tanggal 1 Maret 2007 yang melebihi baku mutu menandakan bahwa proses produksi kertas di PT Kertas Basuki Rachmat belum sepenuhnya menerapkan konsep produksi bersih dimana volume limbah cair yang dihasilkan cukup banyak.4.produksi kertas sehingga juga terjadi peningkatan limbah cair yang dihasilkan dan kurangnya pengendalian. Pada hasil pemeriksaan tersebut temperatur. COD. BOD. sejak pabrik berdiri masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar pantai telah memanfaatkan air limbah pabrik.3 Penelitian dan Pemanfaatan Limbah Menurut PT Kertas Basuki Rachmat (1985). Selokan air limbah oleh masyarakat dibendung kemudian airnya dipergunakan untuk mengairi tanahnya sehingga tanah yang tadinya hanya ditanami palawija dapat ditanami padi dua kali setahun.

yang melakukan biodegradasi sehingga menurunkan toksisitas air limbah. Limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat untuk mengairi sawah . tim bioteknologi ITB dipimpin oleh Drs.ternyata sawah yang diairi air limbah PT Kertas Basuki Rachmat tidak ikut terserang. Adapun hasil penelitian tersebut adalah : Air limbah PT Kertas Basuki Rachmat sejak keluar dari unit penghasil air limbah sudah mengandung bakteri (terutama bakteri pengguna air buangan) dan jamur. Guna mencari jawaban atas masalah – masalah yang sudah dan akan timbul akibat keberadaan air limbah PT Kertas Basuki Rachmat terhadap lingkungan khususnya habitat tanah dan air. palawija dan ikan yang terkena air buangan PT Kertas Basuki Rachmat Air limbah PT Kertas Basuki Rachmat dapat memusnahkan bakteri koli penyebab penyakit saluran pencernaan. Unus Suriawiria pada bulan Maret 1977 sampai dengan bulan Pebruari 1978 melakukan penelitian secara biologis. Gambar 9. serta ganggang yang berfungsi melakukan fotosintesis sehingga meningkatkan kadar oksigen air limbah. Air limbah PT Kertas Basuki Rachmat tidak beracun terhadap ikan mas Belum terdapat bukti adanya bahan karsinogenik pada tanaman padi.

netralisasi. melalui : 3. melalui : pembuangan sisa pelarutan kapur (grit). berbagai upaya telah dilakukan oleh PT Kertas Basuki Rachmat dalam rangka pengelolaan lingkungan.4. lumpur kapur (lime mud) dari proses recousticizing dan lumpur dari kolam sedimentasi di tempat khusus dalam areal pabrik memanfaatkan endapan air limbah yang masih mengandung serat untuk dijual ke pabrik karton Lebih lanjut dikatakan bahwa air limbah yang dibuang dilakukan monitoring yang meliputi : penanggulangan pencemaran udara. melalui : . dan pengenceran sebelum dibuang ke luar pabrik penampungan reject pulp di centri cleaner penampungan serat kasar di Cowan Screen dan Johnson Screen penghijauan menggunakan pohon akasia yang ditanam pada areal tanah milik PT Kertas Basuki Rachmat seluas sekitar 10 hektar pembuangan gas dan asap hasil pembakaran dari pabrik melalui cerobong asap setinggi 45 meter ke udara penanggulangan pencemaran tanah. 4. Adapun usaha untuk menanggulangi pencemaran yang telah dilakukan oleh PT Kertas Basuki Rachmat adalah : 2.5 UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN Menurut PT Kertas Basuki Rachmat (1989). Sedangkan untuk mencegah pencemaran udara telah diterapkan teknologi pengendapan debu secara elektrostatik (electric dust precipitator). pada unit pengolah air limbah dilakukan sedimentasi. penanggulangan pencemaran air. Dalam usaha pencegahan PT Kertas Basuki Rachmat telah menerapkan teknologi daur ulang bahan kimia (chemical recovery) dan daur ulang penggunaan air di berbagai tahapan proses untuk mencegah pencemaran air.

Kecamatan Banyuwangi. Kecamatan Banyuwangi. 4. jenis kelamin dan tingkat pendapatan kepala keluarga . 3. pemeriksaan di laboratorium pabrik secara rutin setiap hari pemeriksaan secara rutin sebulan sekali oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan di Surabaya sesuai SK Gubernur pemeriksaan analitis air sumur masyarakat sekitar sawah yang menggunakan air limbah PT Kertas Basuki Rachmat pemeriksaan analitis tanah sawah/ tegalan yang dikenai maupun tidak dikenai air limbah PT Kertas Basuki Rachmat pemeriksaan analitis air laut di sekitar muara selokan air limbah yang masuk ke laut penampungan keluhan masyarakat yang timbul baik menyangkut pencemaran air. jenis kelamin dan tingkat pendapatan kepala keluarga tertera dalam Tabel 6 berikut : Tabel 6.6 GAMBARAN POPULASI UJI DAN POPULASI KONTROL Populasi uji dan populasi kontrol diambil berdasarkan basis keluarga/ rumah tangga. 6.2. Untuk meminimalkan bias maka distribusi sampel pada populasi kontrol disamakan dengan sampel pada populasi uji yaitu pada golongan umur. tingkat pendapatan kepala keluarga dan jenis kelamin dengan masing – masing populasi sebanyak 66 orang. Adapun gambaran populasi uji dan populasi kontrol tersebut berdasarkan golongan umur. Distribusi masing – masing populasi uji dan populasi kontrol berdasarkan golongan umur. tanah maupun udara oleh PT Kertas Basuki Rachmat 4. 7. Sedangkan populasi kontrol merupakan masyarakat yang tinggal di sebelah barat daya (sebelum) PT Kertas Basuki Rachmat yaitu di Kelurahan Pengantigan. 5. Populasi uji merupakan masyarakat yang tinggal di kanan – kiri saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat di Kelurahan Lateng.

000..52 0 10 20 30 3.18 19–40 41-60 > 60 jumlah Tingkat pendapatan kepala keluarga < Rp 500.79 Pelajar Swasta Tentara/polisi PNS 0 0 0 1.laki perp Rp 500.12 1. Jenis pekerjaan tersebut adalah tukang becak.52 Pensiunan jenis pekerjaan 27.000.000.58 40 50 60 70 populasi kontrol populasi uji prosentase Gambar 10.03 62.s/d Rp 750.000.000.27 28. tukang kayu/tukang batu..15 Lain-lain 3.000. buruh dan tidak bekerja.000.000. diolah Berdasarkan jenis pekerjaan populasi uji dan populasi kontrol adalah sebagaimana tergambar dalam diagram berikut : 65. demikian juga dengan sampel kontrol yaitu sebanyak 65.s/d Rp 1.laki perp >Rp 1.15 %.12 %.laki perp Rp 751. .Golongan umur (th) 0–5 6 – 12 13 .laki perp Total 1 3 1 3 2 1 11 1 1 1 4 1 2 10 1 5 2 2 3 2 15 1 3 2 5 3 14 1 2 1 1 5 1 2 3 6 1 1 1 3 1 1 2 3 11 9 17 16 10 66 Sumber : Hasil kuisioner. pedagang.03 7. Distribusi jenis pekerjaan populasi uji dan populasi kontrol Dari gambar di atas terlihat bahwa sebagian besar sampel uji bermata pencaharian lain – lain yaitu sebanyak 62.

Kecamatan Banyuwangi sebagian besar selama lebih dari 20 tahun (yaitu sebanyak 36.18 9. tamat sarjana tingkat pendidikan tamat SLTA tamat SLTP tamat SD tidak tamat SD 0 populasi kontrol populasi uji 0 0 10. sedangkan sampel kontrol telah tinggal di Kelurahan Pengantigan. Distribusi pendidikan terakhir populasi uji dan populasi kontrol .39 % untuk populasi kontrol.27 %) dan bahkan terdapat sampel yang telah tinggal lebih dari 20 tahun (yaitu sebanyak 21.61 18. Lamanya tinggal populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 12 di bawah ini. sebagian besar sampel uji telah tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah PT Kertas Basuki Rachmat selama 15 sampai dengan 20 tahun yaitu (sebanyak 27. Gambaran tingkat pendidikan terakhir populasi uji dan populasi kontrol terlihat dalam diagram pada Gambar 11.Berdasarkan pendidikan terakhirnya.61 10. populasi uji sebagian besar berpendidikan tidak tamat SD yaitu sebanyak 57. Berdasarkan lama tinggal.73 39.21 %).58 % untuk populasi uji dan 39.82 22.09 31.39 57.58 10 20 30 prosentase 40 50 60 Gambar 11.36 %).

dan sungai maupun saluran limbah (9.20 tahun 7. mencuci.73 % Gambaran menggunakan sungai sebagai tempat membuang hajat. Pada populasi uji beberapa sampel menggunakan sungai sebagai tempat membuang hajat (4.36.5 tahun 5 .14.55 %).58 %). minum maupun memasak demikian juga dengan sampel kontrol.76 21.09 %).12 6.5 tahun 21. Adapun populasi kontrol sebanyak 22.06 10 15 20 25 30 35 40 24. bahkan saluran limbah (12.21 < 5 tahun 0 5 12.12 %).58 10 . Distribusi lama tinggal populasi uji dan populasi kontrol Semua sampel uji menggunakan sumber air berasal dari air sumur baik untuk mandi. kontrol tergambar dalam Gambar 13.27 populasi kontrol populasi uji lama tinggal prosentase Gambar 12. jamban keluarga maupun saluran limbah (7.24 25.21 18. distribusi tempat membuang hajat pada populasi uji maupun populasi .18 27. Adapun untuk tempat membuang hajat sebagian besar sampel uji maupun sampel kontrol menggunakan jamban keluarga.36 > 20 tahun 15 .9.

dan 20 % rumah mempunyai sumur berjarak lebih dari 13 meter.12 22. . Distribusi tempat membuang hajat populasi uji dan populasi kontrol 4.09 0 7.06 4.21 62.55 6.12 0 10 20 30 40 prosentase 50 60 70 80 tem pem pat buangan hajat sungai jamban bersama jamban keluarga populas i kontrol populas i uji Gambar 13.1 .55 71.73 4.0 sungai+ saluran limbah jamban keluarga+ saluran limbah saluran limbah 9. sebanyak 70 % rumah mempunyai sumur yang berjarak 4 – 8 meter dari saluran pembuangan limbah cair. dari sebanyak 20 rumah yang berada di kanan kiri saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Gambar jarak rumah dan sumur dengan saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat tertera di bawah ini.13 meter. 10 % rumah mempunyai sumur berjarak 8.58 0 12.7 KUALITAS AIR SUMUR Berdasarkan hasil kuisioner.

hanya sebanyak 1 rumah yang berubah warna air sumurnya dan tidak ada yang .Gambar 14. Jarak sumur penduduk dengan saluran limbah PT KBR Akan tetapi meskipun sebagian besar jarak sumurnya 4 – 8 meter dari saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Jarak rumah penduduk dengan saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat Saluran limbah PT KBR sumur Gambar 15.

berubah bau air sumurnya. Hal ini dikarenakan saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dibuat dengan konstruksi beton pada bagian samping dan bawahnya sehingga sangat kecil kemungkinan limbah cair tersebut meresap ke dalam tanah dan mencemari air sumur warga. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium terhadap sampel air sumur pada populasi uji ternyata beberapa senyawa seperti air raksa (Hg), mangan (Mn), nitrit dan timbal (Pb) sama dengan sampel air sumur pada populasi kontrol yaitu 0,00 mg/ liter. Sedangkan senyawa lainnya berbeda. Selengkapnya hasil pengujian laboratorium terhadap sampel air sumur tersebut tertulis pada Tabel 7 di bawah ini. Tabel 7. Hasil analisis sampel air sumur populasi uji dan populasi kontrol
Baku Mutu Permenkes No : 416/Menkes/Per /IX/1990

Lokasi Lateng 0,00 0,00 0,00 173,73 25,52 0,00 9,36 0,00 7,0 24,63 0,00 Pengantigan 0,00 0,12 0,00 79,39 15,95 0,00 1,86 0,00 7,2 16,44 0,00

No.

Parameter

satuan

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11.

Air raksa (Hg) Zat Besi (Fe) Kadmium (Cd) Kesadahan jumlah Klorida Mangan Nitrat, sebagai N Nitrit, sebagai N pH Sulfat Timbal (Pb)

mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt mg/lt

0,001 1,0 0,005 500 600 0,5 10 1 6-9 400 0,05

Sumber : Hasil pengujian sampel air sumur, 2007 Kadar zat besi pada sampel air sumur populasi kontrol lebih tinggi daripada populasi uji kemungkinan disebabkan sampel air sumur pada populasi kontrol berawal dari tempat yang kadar bahan organiknya tinggi atau pada air tanah dalam yang bersuasana anaerob (tidak mengandung

oksigen) (Effendi, 2003). Akan tetapi kadar zat besi pada sampel air sumur populasi uji dan populasi kontrol masih memenuhi baku mutu. Kesadahan (hardness) adalah gambaran jumlah kation logam bervalensi dua di dalam perairan (biasanya kalsium dan magnesium). Pada perairan yang sadah (hard) kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan sulfat biasanya tinggi (Effendi, 2003). Berdasarkan hasil uji sampel air sumur dimana kesadahan jumlah sampel air sumur pada populasi uji lebih tinggi daripada populasi kontrol, meskipun jumlahnya masih memenuhi baku mutu, disebabkan pengaruh kalsium yang tinggi pada buangan / limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. Limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat yang dihasilkan dari bahan baku kertas bekas mengandung kalsium yang berasal dari zat pengisi (filler) kertas bekas dalam jumlah yang cukup besar (yaitu senyawa CaCO3) sehingga limbah cair tampak berwarna putih keruh sebagaimana terlihat pada Gambar 8 di atas. Kadar klorida pada sampel air sumur populasi uji dan populasi kontrol masih memenuhi baku mutu. Menurut Effendi (2003), keberadaan klorida di dalam perairan alami berkisar antara 2 – 20 mg/ liter, namun kadar klorida pada sampel air sumur populasi uji melebihi 20 mg/ liter yaitu 25,52 mg/ liter. Kadar klorida yang tinggi pada sampel air sumur populasi uji kemungkinan berasal dari resapan/ intrusi air laut ke dalam air sumur populasi uji. Hal ini dikarenakan jarak sumur populasi uji relatif dekat dengan laut yaitu kurang lebih 2 km. Senyawa nitrat sangat mudah larut dalam air dan bersifat stabil. Kadar nitrat di perairan yang tidak tercemar/ alami biasanya tidak pernah lebih dari 0,1 mg/ liter. Kadar lebih dari 5 mg/ liter menggambarkan terjadinya pencemaran antropogenik dari aktivitas manusia dan tinja hewan (Effendi, 2003). Dengan demikian tingginya kadar nitrat pada sampel air sumur populasi uji yaitu 9,36 mg/ liter, yang lebih dari 5 mg/ liter, menggambarkan adanya pencemaran kotoran manusia dan hewan yang meresap ke dalam air sumur tersebut karena terlalu dekatnya tempat pembuangan kotoran manusia tersebut (saptic tank) dengan sumur.

Meskipun demikian kadar nitrat pada sampel air sumur populasi uji dan populasi kontrol masih memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 10 mg/ liter. Kadar sulfat pada sampel air sumur populasi uji (24,63 mg/ liter) dan pada sampel air sumur populasi kontrol (16,44 mg/ liter) masih memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan yaitu 400 mg/ liter. Tingginya kadar sulfat pada sampel air sumur populasi uji kemungkinan berasal dari hasil oksidasi senyawa H2S atau senyawa sulfur lainnya. Menurut Effendi (2003), pada perairan alami yang mendapat cukup aerasi biasanya tidak ditemukan H2S karena telah teroksidasi menjadi sulfat. Senyawa H2S dan senyawa sulfur lainnya merupakan salah satu zat pencemar yang dihasilkan dari proses pembuatan kertas dengan bahan baku pulp (Rini, 2002). Senyawa - senyawa tersebut, yang jumlahnya sangat banyak pada saat PT Kertas Basuki Rachmat memproduksi kertas dari bahan baku pulp, meresap ke dalam tanah dan keluar larut sedikit – demi sedikit ke dalam air sumur penduduk di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat hingga sekarang. 4.8 KESEHATAN MASYARAKAT POPULASI UJI DAN POPULASI KONTROL Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Singotrunan pada tahun 2005 dan 2006 tercatat penyakit yang menduduki 10 besar yang diderita oleh pengunjung Puskesmas tersebut yang membawahi diantaranya Kelurahan Lateng dan Pengantigan. Kesepuluh penyakit tersebut adalah sebagaimana tertulis dalam Tabel 8.

Tabel 8. Sepuluh besar penyakit pada Puskesmas Singotrunan tahun 2006 – 2007
No.

Jenis penyakit

Jumlah

121 Sumber : Puskesmas Singotrunan. 4.09 % sering.26) daripada populasi .706 1.15 % kadang – kadang dan 9. di Puskesmas Singotrunan juga tercatat penyakit lainnya yang diderita cukup banyak yaitu penyakit kulit karena jamur sebanyak 921 orang. disenteri amubiasis 599 orang dan gangguan gigi serta jaringan lainnya/ abses 462 orang.090 1.669 Penyakit pada otot dan jaringan pengikat (tulang 2. infeksi mastoid 599 orang. 3. 8.648 1. radang sendi) Penyakit lain pada saluran pernafasan atas Penyakit pulpa dan jaringan periapikal Ginggivitis dan penyakit periodental Tekanan darah tinggi TB paru Acne vulgaris.2005 1.58 % dari populasi uji menyatakan tidak pernah sakit diare. diare 702 orang.347 1. Sakit Diare Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 7.063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami diare (rata – rata 2.734 934 795 896 715 1.610 2. tukak lambung dan usus dua belas jari sebanyak 775 orang. Sedangkan dari populasi kontrol 36.03 % sering. 6.382 belakang. Banyuwangi 2005 – 2006 Di samping itu pada tahun 2006. 7. 68.18 % jarang. 6.991 1.280 1.55 % jarang. 2.36 % menyatakan tidak pernah sakit diare. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (3.1.613 4.047 2.8. 54. 9. 10. 5. piodemi. 2006 Infeksi akut lain pada saluran pernafasan atas 2. ulkus tropika Tosilitis Penyakit kulit alergi/ dermatitis/ eksim 1. 15.563) lebih besar dari t tabel (0.674 655 1. Berdasarkan hasil kuisioner kualitas kesehatan populasi uji dan populasi kontrol adalah sebagai berikut : 4.06 % kadang kadang dan 3.

Hal ini juga sesuai dengan hasil uji sampel air sumur populasi uji dimana kadar nitrat.09 6. Penyebab utama diare adalah gizi buruk.55 68.18 36. cacing. sedangkan populasi kontrol dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. infeksi virus. bakteri. Intensitas sakit diare pada populasi uji dan populasi kontrol Keadaan ini sesuai dengan yang ditemukan Lee dkk.36 tidak pernah 0 7. keracunan makanan.03 sering kadang-kadang jarang 9.76).06 intensitas 15. Ini berarti populasi uji mengalami sakit diare dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang.kontrol (rata – rata 1. Menurut Werner dkk.8.58 10 20 30 40 50 60 70 prosentase populasi kontrol populasi uji Gambar 16.2. Sakit Pencernaan Lain . 3. (2002) bahwa terdapat peningkatan resiko sakit diare pada anak – anak di sepanjang Sungai Kampar. Gambaran intensitas sakit diare pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 16 di bawah ini. 4. Riau khususnya yang minum secara langsung dari sungai yang dialiri limbah industri pulp dan kertas.15 54. alergi makanan dan susu dan sebagainya. sebagai indikasi adanya pencemaran antropogenik. (2001) diare atau mencret adalah suatu keadaan dimana kotoran (feses) yang dikeluarkan encer atau berair. Diare lebih sering terjadi dan berbahaya pada anak kecil terutama yang menderita kekurangan gizi. cukup tinggi. amuba.

sedangkan populasi kontrol dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. Ini berarti populasi uji mengalami sakit pencernaan lain dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang.06 % sering. Penyebab terjadinya konstipasi antara lain penyakit diabetes melitus. . hipokalemia. Susah buang air besar (konstipasi) merupakan keluarnya kotoran (feses) yang keras dan memerlukan tenaga untuk mengejan.063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami diare (rata – rata 2.kadang dan 6.23) daripada populasi kontrol (rata-rata 1.378) lebih besar dari t tabel (0.16 % kadang – kadang dan 21. hiperkalsemia dan senyawa toksik misalnya timah hitam (Pb) (Cooper dkk. 37. Gambaran intensitas sakit perut/ pencernaan lain pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 17 di bawah ini.Berdasarkan hasil kuisioner yang diperoleh dari populasi uji sebanyak 30. susah buang air besar atau kotoran berdarah. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (2. 10.88 % jarang. Konstipasi bukan merupakan suatu penyakit tetapi merupakan suatu gejala. 12.21 % sering. Sedangkan dari populasi kontrol 40.88 % jarang.12 % kadang .91 % menyatakan tidak pernah sakit perut/ pencernaan lain.83).30 % menyatakan tidak pernah sakit perut/ pencernaan lain seperti kembung. 30. 1987).

30 0 10 20 30 40 50 tidak pernah prosentase populasi kontrol populasi uji Gambar 17.91 % jarang.91 30.06 sering 12.52 % dari populasi uji menyatakan tidak pernah sakit demam 40. Nhu Lee dari British Columbia Cancer Agency (2001) melaporkan adanya resiko kanker prostat dan kanker saluran pencernaan termasuk leukimia pada pekerja industri pulp dan kertas. 33.053) lebih besar dari t tabel (0.33 % kadang – kadang dan 24.61 40. Intensitas sakit perut/ pencernaan lain pada populasi uji dan populasi kontrol Dr.24 % sering. 16.67 % kadang kadang dan 4.80) daripada populasi kontrol (rata – rata 2.3. usus besar.88 40. demikian juga Bond dan Le (2000) melaporkan adanya peningkatan yang signifikan terhadap kanker lambung.8. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (5.67 % jarang.12 % menyatakan tidak pernah sakit demam 66.12 21. 4.55 % sering.6. demikian . Sakit Demam Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 1.14).063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami sakit demam (rata – rata 2.91 jarang 37. Ini berarti populasi uji mengalami sakit demam dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang. Sedangkan dari populasi kontrol 12. prostat dan leukimia terhadap pekerja industri pulp dan kertas di Kanada.21 intensitas kadang-kadang 10.

Sakit Kepala/Pusing Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 1. Intensitas sakit demam pada populasi uji dan populasi kontrol Menurut Soemirat (2003). demam adalah suatu keadaan dimana temperatur badan melebihi normal (yaitu 36 – 37 oC).33 66. 25. Gambaran intensitas sakit demam pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 18 di bawah ini.497 lebih besar dari t tabel (0.kadang dan 12. timah hitam. 4. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (5.36 % jarang.18 % kadang – kadang dan 43. 43. Demam dapat disebabkan oleh infeksi mikroba patogen maupun beberapa logam seperti kobalt.12 % sering. kadmium.67 intensitas kadang-kadang 33.05) daripada populasi kontrol (rata – rata 2.063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami sakit kepala/ pusing (rata – rata 3.52 % dari populasi uji menyatakan tidak pernah sakit kepala/ pusing. 4. arsen. 36.94 % jarang.67 40.18 % menyatakan tidak pernah sakit kepala/ pusing. seng.76 % kadang . 18. air raksa dan nikel.24 16. Sedangkan dari populasi kontrol 18. timah. tembaga.pula dengan populasi kontrol.8.52 jarang tidak pernah 0 20 40 prosentase 60 80 populasi kontrol populasi uji Gambar 18. Ini berarti .12 1.91 12.4. mangan.55 sering 24.94 % sering. zat besi.32).

Gambaran intensitas sakit kepala/ pusing pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 19 di bawah ini. Sakit kepala yang terjadi secara terus – menerus dapat merupakan tanda penyakit menahun atau keadaan gizi buruk (Warner dkk.12 43. sedangkan populasi kontrol dengan intensitas jarang sampai dengan kadang .populasi uji mengalami sakit kepala/ pusing dengan intensitas kadang – kadang sampai dengan sering.94 intensitas tidak pernah 0 1. disfungsi hati dan ginjal serta kematian pada orang yang terpapar secara akut. .76 18. 2001).18 25. Hirsch (1999) mengatakan beberapa senyawa dalam limbah industri pulp dan kertas memberikan gejala sakit kepala.kadang.18 43. mata terbakar dan kesulitan bernafas.52 10 20 30 40 50 prosentase populasi kontrol populasi uji Gambar 19. anemia. Lebih jauh Hirsch (1999) mengatakan terdapat fakta yang mengaitkan klorofenol (salah satu senyawa yang terdapat dalam limbah industri pulp dan kertas) dengan efek kesehatan terhadap manusia termasuk depresi.94 sering kadang-kadang jarang 36. Intensitas sakit kepala/ pusing pada populasi uji dan populasi kontrol Sakit kepala sering terjadi bersama panas. 12.36 18.

55 % kadang – kadang dan 6. 1. 6. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (1. Intensitas sakit kulit pada populasi uji dan populasi kontrol Kelainan kulit tidak saja dipengaruhi oleh anatomi dan faal kulit tetapi juga dipengaruhi oleh ketebalan kulit.kadang 1.06 % sering.52 % sering.52 sering kadang-kadang 6.36) daripada populasi kontrol (rata – rata 1.14).5. Sakit Kulit Berdasarkan hasil kuisioner 80. jenis kelamin.063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami sakit kulit (rata – rata 1.91 % menyatakan tidak pernah sakit kulit.09 % jarang. bakat terhadap alergi serta faktor eksternal seperti cuaca.09 90. kelembaban kulit.55 6. debu dan kualitas lingkungan (Soemirat. usia.06 % jarang. 1. 4.30 % dari populasi uji menyatakan tidak pernah sakit kulit. Berdasarkan hasil penelitian Yadav (2006) menyimpulkan bahwa 9 dari 15 orang pekerja .30 20 40 60 80 100 prosentase populasi kontrol populasi uji Gambar 20. Sedangkan dari populasi kontrol 90.91 jarang tidak pernah 0 80. Gambaran intensitas sakit kulit pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 20 di bawah ini.52 intensitas 4. 6.06 1.811) lebih besar dari t tabel (0. warna kulit.8.4.52 % kadang . 2003). Ini berarti populasi uji maupun populasi kontrol mengalami sakit kulit dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang.06 9.

Sakit Batuk Berdasarkan hasil kuisioner tidak ada dari populasi uji yang menyatakan tidak pernah sakit batuk.06 % sering. demikian pula dengan populasi kontrol.270) lebih besar dari t tabel (0.73 18. 50.73 % sering.55 50.18 % kadang kadang dan 6. 6. Ini berarti populasi uji mengalami sakit batuk dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang.00 21.73) daripada populasi kontrol (rata – rata 2.06 sering 22.063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami sakit batuk (rata – rata 2. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (4. Gambaran intensitas sakit batuk pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 21 di bawah ini.55 % jarang.09). 27. 54.8.27 % kadang – kadang dan 22.sebuah industri pulp dan kertas di India mengalami keracunan kulit yang berasal dari paparan berbagai polutan.27 54.0 % jarang. Sedangkan dari populasi kontrol 21. 18.21 tidak pernah 0 0. Intensitas sakit batuk pada populasi uji dan populasi kontrol .00 10 20 30 prosentase 40 50 60 jarang populasi kontrol populasi uji Gambar 21.18 intensitas kadang-kadang 27.21 % menyatakan tidak pernah sakit batuk.6. 4.

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (3. (2001) menyatakan bahwa batuk bukan merupakan suatu penyakit tetapi gejala penyakit seperti penyakit tenggorokan. Sedangkan dari populasi kontrol 92.8.12 3. Ini berarti populasi uji maupun populasi kontrol mengalami sakit pernafasan lain dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang.Werner dkk.55) daripada populasi kontrol (rata – rata 1.11). Gambaran intensitas sakit pernafasan lain (sesak dan sebagainya) pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 22 di bawah ini. 3.09 % jarang.55 jarang tidak pernah 0 9. Sakit Pernafasan Lain Berdasarkan hasil kuisioner sebanyak 74. 4.42 % menyatakan tidak pernah sakit asma/ sesak nafas. 4. paru – paru atau bronchus.063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami asma/ sesak nafas (rata – rata 1.00 sering 12.24 20 40 60 80 100 prosentase populasi kontrol populasi uji Gambar 22.03 % kadang .55 4.12 % sering.09 92.03 intensitas kadang-kadang 4.24 % dari populasi uji menyatakan tidak pernah sakit asma/ sesak nafas. 4.42 74. 0.kadang dan tidak ada yang sering.433) lebih besar dari t tabel (0.55 % kadang – kadang dan 12.55 % jarang.7. 9. Intensitas sakit asma pada populasi uji dan populasi kontrol .

39. Hasil penelitian tersebut sesuai dengan yang dilaporkan oleh Yadav (2006) bahwa sebanyak 21 pekerja industri pulp dan kertas di India menderita asma maupun masalah pernafasan dengan gejala seperti asma.Menurut Werner dkk. asbes.03) daripada populasi kontrol (rata . Gejala alergi dapat pula disebabkan oleh nikel. masalah hormon.063) serta populasi uji relatif lebih sering mengalami sakit flu/ pilek (rata – rata 3. Secara klinis penderita akan sesak nafas.8. (2001) asma merupakan penyakit bawaan anak – anak yang disebabkan oleh memakan atau menghirup alergen.06 % sering. kobalt.27 % kadang . kromium dan berbagai zat organik. 2006) dan bahkan Hirsch (1999) mengatakan senyawa klorin dan gas Cl2 dapat menyebabkan penyakit paru – paru.82 % sering. barium dan lain – lain akan memasuki paru – paru dan menyebabkan kerusakan paru – paru (penyakitnya disebut pneumociniosis).55 % menyatakan tidak pernah sakit flu/ pilek. dan reproduksi. kapasitas kerja turun tetapi tidak disertai demam. Penyakit asma akan memburuk pada musim – musim tertentu atau pada malam hari. 28. 62.8. 4. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji dengan populasi kontrol dimana t hitung (5.12 % jarang. 27.39 % kadang – kadang dan 31. klorin dioksida dan sebagainya) yang ada dalam sampel air sumur atau yang terhirup dalam jumlah yang cukup banyak (Green.79 % jarang. besi. 2005 serta Lean et al. Sedangkan dari populasi kontrol 4.484) lebih besar dari t tabel (0. antrasit. Sedangkan Soemirat (2003) menyatakan bahwa berbagai debu seperti silika. Tingginya kasus penyakit asma dan pernafasan lain pada populasi uji dapat juga berasal dari senyawa klorin (organoklorin.kadang dan 6. nafas pendek. Lebih lanjut Soemirat (2003) mengatakan bahwa pneumociniosis di Indonesia sering disertai dengan komplikasi TBC karena banyaknya insidensi TBC. Sakit Flu / Pilek Berdasarkan hasil kuisioner tidak ada dari populasi uji menyatakan tidak pernah sakit flu/ pilek. bagasse.

– rata 2.000) lebih kecil daripada t tabel (0.00 31.kadang.39 62. Anggota Keluarga Meninggal Berdasarkan hasil analisis statistik terhadap anggota keluarga yang telah meninggal dunia selama bertempat di lokasi populasi uji.12 28.27 39.82 27.35). 4. Penyakit ini dapat sembuh sendiri tanpa harus diobati (Werner dkk.9. 6. Intensitas sakit flu/ pilek pada populasi uji dan populasi kontrol Sakit flu atau pilek merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau alergi.79 20 40 60 80 prosentase populasi kontrol populasi uji Gambar 23. diperoleh tidak adanya perbedaan yang signifikan dengan populasi kontrol dimana t hitung (0.063). Dengan demikian pada populasi uji relatif sama jumlah anggota keluarga yang meninggal dunia selama tinggal di tempat sekarang karena sakit dibandingkan dengan populasi kontrol. Adapun jenis penyakit yang diderita oleh anggota .. 2001).06 sering intensitas kadang-kadang jarang tidak pernah 0 4. Gambaran intensitas sakit flu/ pilek pada populasi uji dan populasi kontrol tergambar dalam Gambar 23 di bawah ini. sedangkan populasi kontrol dengan intensitas jarang sampai dengan kadang . Ini berarti populasi uji mengalami sakit flu/ pilek dengan intensitas kadang – kadang sampai dengan sering.8.55 0.

9 KESEHATAN MASYARAKAT POPULASI UJI SEBELUM DAN SETELAH BERTEMPAT DI SEKITAR SALURAN LIMBAH Berdasarkan hasil kuisioner kesehatan masyarakat populasi uji sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat adalah sebagai berikut : 4. Kumulatif Secara kumulatif/ keseluruhan berdasarkan hasil analisis statistik didapatkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kualitas kesehatan masyarakat pada populasi uji dengan populasi kontrol dimana diperoleh t hitung (7. Sakit Diare Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (2. serta setelah menempati . 4.1.9.631) lebih besar daripada t tabel (0. 4. sesak nafas.10. demam dan gabag. Salah satu yang memicu menurunnya sistem kekebalan tubuh anggota masyarakat tersebut adalah paparan gas H2S (Hirsch.063).00).54) yang berarti kualitas kesehatannya lebih rendah daripada populasi kontrol (rata – rata 2.keluarga yang meninggal dunia tersebut antara lain tipus. sedangkan populasi kontrol dengan intensitas jarang. Berdasarkan hasil analisis statistik tersebut juga diperoleh bahwa populasi uji relatif lebih sering menderita sakit – sakit di atas (rata – rata 2.485) lebih besar daripada t hitung (0.063). paru-paru. maag. 1999).8. Ini berarti populasi uji secara kumulatif mengalami sakit – sakit tersebut dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang. ginjal. Secara umum tingginya kasus beberapa penyakit pada populasi uji disebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh anggota masyarakat.

Sedangkan Lean. sedangkan sebelumnya dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit perut/ pencernaan lainnya (rata – rata 2. .056) lebih besar daripada t hitung (0. Ini berarti populasi uji mengalami sakit diare dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang pada saat bertempat tinggal sekarang. Tingginya intensitas sakit diare pada populasi uji setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat disebabkan kondisi air sumur yang dipengaruhi oleh limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat. sedangkan pada saat bertempat tinggal sebelumnya dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang.26) daripada sebelumnya (rata – rata 1.82). Peningkatan intensitas terjadinya sakit pencernaan lain pada populasi uji setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat serupa dengan yang dilaporkan Bond dan Le (2000) dimana terjadi peningkatan penderita kanker lambung.9. prostat. Ini berarti populasi uji setelah bertempat tinggal sekarang mengalami sakit pencernaan lain dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang.2. Sakit Pencernaan Lain Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (3. 4.rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami diare (rata – rata 2. usus besar.063).92). dkk (2006) menyatakan bahwa paparan senyawa organoklorin pada industri pulp dan kertas dapat menyebabkan kanker saluran pencernaan. dan leukimia pada pekerja industri pulp dan kertas di Kanada.33) daripada sebelumnya (rata – rata 1.

Sakit Demam Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (2.15) daripada sebelumnya (rata – rata 2. serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit kepala (rata – rata 3.67) daripada sebelumnya (rata – rata 2.063).kadang.33). 2001).010) lebih besar daripada t hitung (0.542) lebih besar daripada t hitung (0.4.3. Sakit Kepala Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (5. Ini berarti populasi uji mengalami sakit kepala setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dengan intensitas kadang – kadang sampai dengan sering.4. Sakit demam merupakan gejala terjangkitnya penyakit – penyakit tertentu seperti infeksi dan keracunan.9. serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit demam (rata – rata 2.9. Meningkatnya intensitas sakit kepala/ pusing pada populasi uji setelah bertempat di sekitar .23). Sakit kepala/ pusing yang terjadi secara terus – menerus merupakan salah satu gejala penyakit menahun (Warner dkk.063). Tingginya intensitas terjadinya sakit demam pada populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat disebabkan pengaruh limbah PT Kertas Basuki Rachmat yang mengalir di sekitar mereka dan masuk ke dalam air sumur warga. 4. sedangkan sebelumnya dengan intensitas jarang sampai dengan kadang . Ini berarti populasi uji baik sebelum maupun setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat mengalami Sakit demam dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang.

13). Ini berarti populasi uji pada saat sebelum maupun setelah . 1997).063). Sakit Kulit Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (2.6.5. 1992 dan EPA.9. paparan dioksin dalam waktu lama menyebabkan penyakit kulit yang disebut chloracne (Murray.063).74) daripada sebelumnya (rata – rata 2.804) lebih besar daripada t hitung (0. Sakit Batuk Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (3. 4.saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat disebabkan pengaruh limbah PT Kertas Basuki Rachmat. Menurut EPA (1997) paparan senyawa kloroform (salah satu senyawa yang dihasilkan industri pulp dan kertas) dalam waktu singkat dapat mengakibatkan pusing dan sakit kepala serta mempengaruhi sistem syaraf pusat. serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit kulit (rata – rata 1. Intensitas sakit kulit yang tinggi pada populasi uji setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi oleh limbah PT Kertas Basuki Rachmat. Ini berarti populasi uji pada saat sebelum maupun setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat mengalami sakit kulit dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit batuk (rata – rata 2. Salah satu senyawa yang dapat menyebabkan penyakit kulit tersebut adalah dioksin. 4.9.51) daripada sebelumnya (rata – rata 1.837) lebih besar daripada t hitung (0.21).

bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat mengalami sakit batuk dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang. Sebagaimana dinyatakan oleh EPA (1997). batuk. 2005). Besarnya intensitas sakit pernafasan lain (seperti asma/ sesak nafas) pada populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi limbah PT Kertas Basuki Rachmat.18). serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit asma/ sesak nafas (rata – rata 1. . Paparan senyawa dalam limbah industri pulp dan kertas menyebabkan penyakit asma dengan gejala peningkatan iritasi saluran pernafasan. Batuk merupakan salah satu gejala penyakit saluran pernafasan. (2005) dan Lean.7. Green. bersin.9. Peningkatan intensitas sakit batuk pada populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi limbah PT Kertas Basuki Rachmat.063). dan penurunan aliran udara (Green. 4.51) daripada sebelumnya (rata – rata 1. dkk (2006) bahwa paparan senyawa organoklorin dalam industri pulp dan kertas menyebabkan gangguan pernafasan bahkan dapat mengakibatkan kanker sistem pernafasan. Sakit Pernafasan Lain Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (2.317) lebih besar daripada t hitung (0. Ini berarti populasi uji pada saat sebelum maupun setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat mengalami sakit pernafasan lain dengan intensitas tidak pernah sampai dengan jarang.

9. Sakit Flu/ Pilek Dibandingkan dengan data antara sebelum dan setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat ternyata secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (3. Secara statistik menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan dimana t hitung (6.9.38) daripada sebelumnya (rata – rata 1. 4. Sakit flu/ pilek terjadi karena penurunan daya tahan tubuh.36).9.748) lebih besar daripada t hitung (0.8.4. Kumulatif Secara kumulatif/ keseluruhan kualitas kesehatan masyarakat populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat lebih rendah daripada sebelumnya. Ini berarti populasi uji setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat mengalami sakit .063).87) daripada sebelumnya (rata – rata 2. Penurunan daya tahan tubuh. serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit sakit tersebut (rata – rata 2.672) lebih besar daripada t hitung (0. sedangkan sebelumnya dengan . Sakit flu/ pilek yang meningkat intensitasnya pada populasi uji yang tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat dipengaruhi oleh limbah PT Kertas Basuki Rachmat. serta setelah menempati rumah di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat relatif lebih sering mengalami sakit flu/ pilek (rata – rata 2.90).063). menurut EPA (1997) dapat disebabkan oleh paparan senyawa furan dan dioksin dalam limbah industri pulp dan kertas.sakit tersebut dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang. Ini berarti populasi uji pada saat sebelum maupun setelah bertempat tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat mengalami sakit flu/ pilek dengan intensitas jarang sampai dengan kadang – kadang.

26 2. 3. kadar klorida.8 meter dari saluran limbah.90 setelah 2.74 1.33 2.67 3.38 Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Berbeda nyata Signifikansi Sumber : data diolah Hal ini diperkuat dengan sangat dekatnya sumur masyarakat sekitar yaitu rata – rata sekitar 4 . 5.21 1.51 2. 4.18 2.51 2.36 1.82 2. 2.33 1. 7.intensitas tidak pernah sampai dengan jarang. Perbedaan kualitas kesehatan masyarakat pada populasi uji setelah tinggal di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat disebabkan oleh pengaruh keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat yang mengalir di sekitar kediaman mereka. Rekapitulasi masing – masing parameter kesehatan tersebut tertera pada Tabel 9 di bawah ini. Kondisi ini dibuktikan dengan kesadahan jumlah.13 2.92 1. 6. Tabel 9.15 1. Parameter Sakit diare Sakit pencernaan lain Sakit demam Sakit kepala Sakit kulit Sakit batuk Sakit pernafasan lain (asma/ sesak nafas) Sakit flu/ pilek Kumulatif Rata – rata insidensi sebelum 1.87 2. nitrat dan sulfat yang lebih tinggi pada sampel air sumur populasi uji dibandingkan dengan sampel air sumur pada populasi kontrol. Meskipun kadar logam dan senyawa – senyawa yang dianalisis lebih kecil dari batas maksimun yang . 8.33 2. Rekapitulasi masing – masing parameter kesehatan pada populasi uji sebelum dan setelah bertempat di sekitar saluran limbah PT KBR No. 9. Keadaan ini senada dengan yang diungkapkan oleh Hirsch (1999) bahwa polutan industri pulp dan kertas dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. 1.

Menurut Rini (2002). kelemahan (weakness) dan ancaman (threats) pada PT Kertas Basuki Rachmat maka dilakukan analisis lingkungan eksternal dan internal sebagai berikut : 4.diperkenankan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).1. perkantoran dan percetakan maka menuntut penggunaan kertas yang semakin meningkat pula. Dalam menganalisis kekuatan (strenghts). tujuan. 4.1. tetapi lama – kelamaan senyawa tersebut akan terakumulasi di dalam tubuh mereka dan menimbulkan gangguan kesehatan yang baru dirasakan sekarang. industri kertas merupakan salah satu jenis industri terbesar di .1.1. Analisis Lingkungan Eksternal Untuk menganalisis lingkungan eksternal PT Kertas Basuki Rachmat maka perlu mengidentifikasi faktor – faktor eksternal yaitu peluang dan tantangan yang dihadapi perusahaan sebagai berikut : 4. peluang (opportunies).10 ANALISIS SWOT Untuk mengedentifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan dilakukan analisis SWOT.1. Kebutuhan akan kertas semakin meningkat Seiring dengan bertambahnya jumlah manusia dengan berbagai aktivitasnya terutama di bidang pendidikan. Keadaan tersebut diperparah dengan keadaan ekonomi sampel uji yang mayoritas masih di bawah garis kemiskinan dimana mereka kurang memperhatikan aspek gizi pada konsumsi mereka.10. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi.10.1. strategi dan kebijakan perusahaan. Peluang (Opportunies) 4. Menurut Rangkuti (2006).10. analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunies).

869 meter yang dikenal sebagai salah satu sungai yang tidak pernah kering airnya (Bappeda Kabupaten Banyuwangi. 4.1. Banyaknya industri kertas yang baru dan moderen Semenjak tahun 1980 – an. Relatif dekatnya jarak PT Kertas Basuki Rachmat dengan laut akan memudahkan dalam pembuangan limbah cair karena tidak perlu membuang limbah cair ke sungai akan tetapi bisa langsung dibuang ke laut setelah melewati saluran limbah cair khusus.dunia menghasilkan 178 juta ton pulp.1.10.2. Industri – industri kertas tersebut pada umumnya .10.1. 2006).1. 2007) sampai dengan akhir tahun 2006 di Indonesia telah berdiri 125 buah industri pulp dan kertas.1.5 % per tahun. mencuci dan membuang hajat. Menurut Balai Besar Pulp dan Kertas (BBPK.10.1. Keunggulan ini akan sangat membantu bagi PT Kertas Basuki Rachmat karena akan dapat dimanfaatkan untuk proses produksi maupun proses pengolahan limbah. di Pulau Jawa khususnya mulai berdiri beberapa industri kertas.2. 278 juta ton karton dan kertas serta menghabiskan 670 juta ton kayu.2. 4. Sumber air yang melimpah PT Kertas Basuki Rachmat menggunakan sumber air dari Sungai Sukowidi dengan panjang 10.1. Pada dekade berikutnya pertumbuhan industri kertas diperkirakan antara 2 sampai dengan 3.10. Dekat dengan pantai Jarak PT Kertas Basuki Rachmat dengan laut yaitu Selat Bali diperkirakan 2 km.3. Di samping itu selama ini daerah Kabupaten Banyuwangi juga merupakan daerah yang tidak pernah mengalami kekeringan meskipun dilanda musim kemarau yang cukup panjang. 4. Tantangan (Threats) 4. Dengan demikian akan semakin memperkecil peluang kontak limbah cairnya dengan masyarakat yang memanfaatkan sungai untuk semua keperluan seperti mandi.

Hal ini merupakan salah satu tantangan tersendiri yang dihadapi oleh PT Kertas Basuki Rachmat.1. Beberapa peraturan perundang – undangan yang terkait dengan kegiatan PT Kertas Basuki Rachmat antara lain adalah peraturan mengenai limbah B3.2. umumnya aktifitas manusia yang mengakibatkan kerusakan dan penurunan daya dukung lingkungan disebabkan oleh adanya pengaruh dari kegiatan manusia yang tidak berwawasan lingkungan. Pengaruhnya terhadap manusia antara lain adalah akan mengurangi atau menurunkan kualitas kehidupan manusia. Untuk mencegah terjadinya dampak negatif dari kegiatan – kegiatan manusia terhadap kualitas lingkungan maka pemerintah membuat peraturan perundang – undangan di bidang lingkungan sebagai kendali kegiatan manusia tersebut agar tidak merusak lingkungan. Tuntutan peraturan mengenai lingkungan yang semakin ketat Semakin banyaknya aktifitas manusia dalam memanfaatkan. 4. Bagi industi peraturan tersebut merupakan pembatas agar perusahaan beroperasi dalam jalur yang benar dan tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. baku mutu limbah. transportasi. Akibatnya akan mengurangi kemampuan alam untuk mendukung kehidupan manusia. Dengan luas perusahaan yang lebih kecil. mengolah dan mendistribusikan sumber daya alam menyebabkan semakin menurunnya kualitas lingkungan. AMDAL dan sebagianya.10.telah menggunakan proses produksi dan peralatan yang lebih baru dan lebih moderen. pencemaran udara. pencemaran atau bahkan kematian atau punahnya suatu ekosistem dalam lingkungan. industri – industri baru tersebut mampu memproduksi berbagai jenis kertas dengan produksi per hari lebih besar dengan tenaga kerja yang lebih sedikit. seperti industri. Kegiatan manusia tersebut secara Pada langsung atau tidak menimbulkan kerusakan. Di lain pihak peraturan tersebut juga sebagai .2. pengelolaan lingkungan hidup. pertambangan dan sebagainya. air dan tanah.

Kecamatan Banyuwangi. 2007). DBD (Demam Berdarah Dengue) 5 orang dan campak 6 orang (Puskesmas Singotrunan.10. Kondisi Kesehatan Masyarakat Sekitar Masih Rendah Berdasarkan data dari Puskesmas Singotrunan menggambarkan kondisi kesehatan masyarakat di Kelurahan Lateng yang masih kurang layak. Adapun limbah gas lebih berbau belerang pada saat menggunakan bahan baku kayu – kayuan daripada menggunakan bahan baku kertas bekas. dan dunia usaha terhadap kinerja industri tersebut.3. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar dan dinas terkait. pemerintah. 4. Pada tahun 2006 jumlah penderita diare di Kelurahan Lateng yang berkunjung ke Puskesmas setempat adalah sebanyak 244 orang meningkat pesat dari tahun 2005 yaitu sebesar 155 orang.2. padat dan gas yang cukup mengganggu lingkungan. . limbah cair tersebut beberapa kali diprotes oleh masyarakat sekitar karena buih atau resapannya ke sumur penduduk sekitar beberapa tahun yang lalu. 4.10. Limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat pada saat masih menggunakan bahan baku kayu – kayuan berwarna coklat kehitaman dan berbau menyesakkan dada serta kadang – kadang disertai buih yang menggunung.tantangan bagi industri untuk dapat menunjukkan citranya di masyarakat sebagai industri yang bersih (tidak mencemari lingkungan).4. Sedangkan pada saat menggunakan bahan baku kertas bekas limbah cair yang dihasilkan berwarna putih keruh dan mengandung kapur. Demikian pula dengan limbah padat yang merupakan hasil endapan limbah cair. Efeknya adalah akan menambah kepercayaan masyarakat.1. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) 203 orang. Limbah industri yang mengganggu lingkungan Industri kertas menghasilkan limbah cair. Limbah tersebut mengakibatkan dampak yang besar bagi masyarakat di sekitarnya terutama yang bertempat tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah cair.2.1.

2.2. Analisis Lingkungan Internal Untuk menganalisis lingkungan internal maka perlu diidentifikasi faktor – faktor internal yaitu kekuatan (strenghts) dan kelemahan (weakness) sebagai berikut : 4.2. 1989).2.10. 4. gudang bahan baku.10.1.10. proses. bengkel. 4. Kekuatan (Strenghts) 4.Dibandingkan dengan wilayah lain di ibukota Kabupaten Banyuwangi tingkat kesehatan masyarakat di wilayah ini masih relatif rendah. Dengan kondisi ini berarti PT Kertas Basuki Rachmat lebih berpengalaman dalam proses produksi.1. Tingkat kesehatan yang rendah tersebut menyebabkan menurunnya kualitas hidup masyarakat. Ini merupakan satu kekuatan tersendiri bagi PT Kertas Basuki Rachmat yang belum tentu dimiliki oleh industri kertas lain terutama yang masih baru.1. manajemen. PT Kertas Basuki Rachmat merupakan salah satu industri kertas tertua di Indonesia PT Kertas Basuki Rachmat yang berdiri tahun 1969 merupakan salah satu industri kertas tertua di Indonesia (PT Kertas Basuki Rachmat. Dengan demikian PT Kertas Basuki Rachmat akan lebih mudah mengembangkan dan meningkatkan kinerjanya mengingat telah lebih mengetahui kelemahan dan kelebihan masing – masing alat. 1989). alat transportasi dan lain – lain yang . Fasilitas produksi tersebut terdiri atas peralatan produksi.2.10. manajemen dan sebagainya. gudang produk.1. pemasaran produk kertas dan sebagainya. Memiliki fasilitas produksi dan pendukung yang mencukupi PT Kertas Basuki Rachmat mempunyai fasilitas produksi dan pendukung yang mencukupi untuk berjalannya suatu proses produksi kertas dengan kapasitas 30 – 40 ton per hari (PT Kertas Basuki Rachmat.

10. pengaduk (mixer) dan sebagainya.2.mendukung proses produksi sehingga dihasilkan produk yang sesuai spesifikasi/ standar yang diinginkan. 1989).1. Beberapa peralatan sudah terlihat berkarat dan tidak optimal bekerja.2.2. 4. semakin menurunkan kinerja perusahaan disebabkan peralatan produksi dan penunjang lainnya yang sudah tua. Sedangkan kapasitas produksi yang ada sekarang baru 30 – 40 ton per hari dengan volume limbah cair yang dihasilkan sekitar 5000 m3 per hari (PT Kertas Basuki Rachmat.10. Memiliki fasilitas pengolah limbah cair yang mendukung PT Kertas Basuki Rachmat mempunyai fasilitas pengolah limbah cair yang mampu mengolah limbah cair yang dihasilkan dengan kapasitas produksi 150 ton per hari.2.2. 4.2.10. penyaring (filter).1. Kinerja perusahaan yang semakin menurun karena peralatan yang sudah tua Seiring dengan semakin bertambahnya usia PT Kertas Basuki Rachmat. Peralatan pengolah limbah .2. Kelemahan (Weakness) 4.10.2. Peralatan pengolah limbah cair belum bekerja secara optimal PT Kertas Basuki Rachmat telah memiliki fasilitas pengolah limbah cair yang mendukung. 1989). 4. Akan tetapi bukan berarti peralatan tersebut sudah tidak bisa dipergunakan karena beberapa peralatan lainnya masih dapat beroperasi dalam kondisi yang cukup optimum.3. Pada awalnya kinerja perusahaan diatur pada kapasitas produksi 150 ton per hari namun sekarang kapasitas produksi sudah menurun menjadi 30 – 40 ton per hari (PT Kertas Basuki Rachmat. Akan tetapi fasilitas pengolah limbah cair tersebut belum difungsikan secara optimal. Fasilitas pengolah limbah tersebut telah dilengkapi dengan bak – bak maupun peralatannya seperti pompa.

Dekat dengan pantai 2. Berdasarkan identifikasi faktor – faktor internal dan eksternal PT Kertas Basuki Rachmat di atas maka kemudian diperoleh beberapa alternatif sebagaimana matrik seperti yang tertera dalam Gambar 24 di bawah ini.Kinerja perusahaan semakin menurun karena peralatan sudah tua . Mengoptimalkan fasilitas pengolah limbah Tantangan (Threats) : cair untuk menghasilkan limbah cair yang . Matriks SWOT di PT Kertas Basuki Rachmat .Sumber air yang melimpah menghasilkan produk yang berkualitas .Kebutuhan kertas semakin meningkat 1. Hal tersebut disebabkan menurunnya kapasitas produksi PT Kertas Basuki Rachmat dari 150 ton per hari menjadi 30 – 40 ton per hari (PT Kertas Basuki Rachmat.Peralatan pengolah limbah cair belum bekerja secara optimal Faktor Eksternal Peluang (Opportunies) : Strategi : .Fasilitas produksi dan pendukung cukup . Meningkatkan taraf kesehatan masyarakat mengganggu lingkungan sekitar .Limbah industri 4.Salah satu industri kertas tertua di Indonesia .Banyaknya industri kertas memenuhi baku mutu yang baru dan moderen . Meningkatkan pengelolaan dan mengenai lingkungan yang pemantauan lingkungan hidup semakin ketat .Kesehatan Masyarakat Sekitar Masih Rendah Gambar 24.seperti mixer.Tuntutan peraturan 3.Fasilitas pengolah limbah mendukung Kelemahan (Weakness) : . Mengoptimalkan proses produksi untuk . pompa dan sebagainya maupun bak – bak pengolah limbah belum dipergunakan secara keseluruhan. Faktor Internal Kekuatan (Strenghts) : . 1989).

Selanjutnya sebagai salah satu langkah pada tahap penerapan (do). 1. Kemudian pada masing – masing kegiatan/ program tersebut ditetapkan prosedur penilaian. Penjabaran pendekatan model PDCA dan realitanya di PT Kertas Basuki Rachmat No. pengujian. strategi yang dihasilkan dari analisis SWOT selanjutnya ditetapkan sebagai rencana (plan) perusahaan. maka dibuat kegiatan/ program untuk menjabarkan strategi – strategi tersebut. Tabel 10.4. Dengan demikian penjabaran dari pendekatan model PDCA tersebut dan realitanya pada kasus PT Kertas Basuki Rachmat dapat dilihat pada Tabel 10. Perencanaan (Plan) Optimalisasi Proses Produksi Penerapan (Do) Optimalisasi penggunaan air Pemeriksaan (Check) Pengukuran volume air pada sumber air Pengukuran penggunaan air masing-masing proses Pengukuran air yang terbuang setiap proses Kemungkinan air yang bisa dipakai ulang Pengukuran jumlah bahan baku yang akan dipakai Pengukuran jumlah bahan baku yang dipakai Pengukuran jumlah bahan baku yang terbuang Pengukuran jumlah bahan baku yang rusak Kemungkinan bahan baku yang bisa dipakai ulang Pengukuran jumlah bahan pembantu yang akan dipakai Pengukuran jumlah bahan pembantu yang dipakai Realisasi sudah belum belum sudah sudah sudah belum belum belum sudah sudah Optimalisasi penggunaan bahan baku Optimalisasi penggunaan bahan pembantu .11 USULAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN Melalui pendekatan model PDCA. pengukuran dan monitoring sebagai salah satu langkah pada tahap pemeriksaan (check).

2.masing mesin Pengukuran bahan yang keluar Pengukuran bahan yang terbuang Kemungkinan bahan yang bisa dimanfaatkan lagi Optimalisasi hasil Pengukuran hasil produksi produksi sesuai standar Pengukuran hasil produksi yang sesuai standar Pengukuran hasil produksi yang tidak sesuai standar Pengukuran hasil produksi yang rusak Kemungkinan hasil produksi rusak yang masih bisa diproses ulang Optimalisasi proses Pengukuran volume produksi pada limbah yang masuk masing .pembantu yang digunakan tu pada tiap tahap Pengukuran efektivitas pengolahan hasil pengolahan Optimalisasi penggu. Optimalisasi fasilitas pengolah limbah cair Pengukuran jumlah bahan pembantu yang terbuang Pengukuran jumlah bahan pembantu yang rusak Kemungkinan bahan pembantu yang bisa dipakai ulang Optimalisasi Pengukuran bahan bakar penggunaan bahan yang akan dipakai bakar Pengukuran bahan bakar yang dipakai Pengukuran bahan bakar yang terbuang Kemungkinan bahan bakar yang bisa dipakai ulang Optimalisasi proses Pengukuran bahan yang produksi pada mamasuk sing .Pengukuran jumlah bahan naan bahan pemban.Pengukuran fungsi alat naan peralatan pada pada saat limbah masuk belum belum belum sudah sudah belum belum sudah sudah belum belum sudah sudah sudah sudah belum belum belum belum sudah belum belum .masing Pengukuran volume tahap pengolahan limbah yang keluar Pengukuran waktu proses Optimalisasi penggu.

masing .masing tahap pengolahan Hasil akhir limbah yang siap dibuang 3.cair laan lingkungan Pengolahan limbah padat Pengolahan limbah gas Pemantauan limbah cair di lapangan Pemantauan limbah padat di lapangan Pemantauan polutan di lapangan Pengukuran fungsi alat pada saat limbah keluar Pengukuran volume limbah yang akan dibuang Pengukuran parameter uji baku mutu limbah cair Pengambilan sampel sebelum dibuang secara berkala Pengukuran volume limbah padat yang dihasilkan Pengujian sampel limbah padat secara berkala Pengukuran polutan pada saat keluar pengendap debu elektrostatik Pengujian secara berkala polutan Pengukuran secara berkala kualitas limbah cair di beberapa tempat sekitar saluran limbah cair Pengukuran secara berkala kualitas limbah cair di beberapa sumur penduduk sekitar saluran limbah cair Pengukuran secara berkala kualitas limbah cair di beberapa sawah sekitar saluran limbah cair Pengukuran secara berkala kualitas limbah padat di beberapa tempat sekitar tempat pembuangan Pengukuran secara berkala kualitas tanah di beberapa tempat sekitar tempat pembuangan Pengukuran secara berkala kadar polutan di beberapa tempat sekitar perusahaan Pengukuran secara berkala kadar polutan di beberapa tempat dengan radius dan arah berbeda belum sudah sudah sudah belum sudah sudah sudah belum belum belum belum belum belum belum . Pemantauan Pengolahan limbah dan pengelo.

Pengelolaan lingkungan 4. bahan pembantu dan bahan bakar. Meningkat kan taraf kesehatan masyarakat Penyuluhan hidup bersih Peningkatan gizi masyarakat Menyediakan fasilitas air bersih Penanaman pohon disekitar areal pabrik Pembangunan saluran limbah cair dengan beton tertutup Pemantauan saluran limbah cair yang bocor atau rusak Pembuangan limbah padat secara sanitary landfill Mendata jumlah penduduk sakit sebelum penyuluhan Mendata jumlah penduduk sakit setelah penyuluhan secara periodik Memantau perkembangan kesehatan masyarakat secara rutin Mendata jumlah penduduk yang rawan gizi Peningkatan gizi balita dengan pemberian makanan bergizi Memantau perkembangan gizi balita Membangun fasilitas air bersih Mengukur debit air agar mencukupi Menganalisis kualitas air sumber secara rutin Memantau kerusakan fasilitas secara rutin Memperbaiki kerusakan fasilitas sudah belum belum belum belum belum belum sudah sudah sudah belum belum belum belum belum Pada rencana optimalisasi proses produksi diharapkan akan diperoleh gambaran nyata besarnya pemakaian air. bahan baku. . Di samping itu diharapkan akan juga diperoleh gambaran nyata keadaan mesin dan peralatan produksi serta produktivitas produksi per satuan waktu. potensi penghematannya serta kemungkinan pemakaian ulang bahan – bahan tersebut.

Dengan demikian penduduk tidak akan mengkonsumsi air sumur yang tercemar limbah PT Kertas Basuki Rachmat. padat. air dan energi yang digunakan. tetapi juga akan mengurangi biaya produksi yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan perusahaan. kondisi peralatan serta standar baku mutu limbah cair yang harus dipenuhi. Berdasarkan tabel tersebut ternyata masih banyak pengecekan yang belum dilakukan oleh PT Kertas Basuki Rachmat bersama instansi terkait. Pada rencana peningkatan taraf kesehatan masyarakat diharapkan akan diperoleh gambaran nyata besarnya penduduk yang sakit. air. Berdasarkan konsep PDCA tersebut maka pihak PT Kertas Basuki Rachmat harus melakukan : 1. . Sedangkan pada rencana pemantauan dan pengelolaan lingkungan diharapkan akan diperoleh data dari kecukupan proses pengolahan limbah cair. Program produksi bersih dengan mengoptimalkan proses produksi untuk menghasilkan produksi yang berkualitas dengan meminimalkan bahan baku. balita rawan gizi dan fasilitas air bersih yang tidak tercemar atau layak konsumsi. Disamping itu dengan upaya – upaya tersebut PT Kertas Basuki Rachmat sekaligus juga melakukan pembinaan dan pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan sebagai wujud tanggung jawab sosial perusahaan terhadap lingkungan sekitarnya. serta dengan kualitas yang konstan (tidak menurun sesuai waktu). Seharusnya PT Kertas Basuki Rachmat melakukan upaya – upaya tersebut karena tidak hanya akan mengurangi jumlah pemakaian bahan baku.Pada rencana optimalisasi fasilitas pengolah limbah cair diharapkan akan diperoleh keadaan yang sebenarnya dari masing – masing tahap pengolah limbah baik dari efektivitasnya. terpenuhi dalam waktu lama sesuai jumlah kebutuhannya. kemungkinan penghematan bahan bakar dan bahan pembantu. dan bahan bakar. mencegah dampak negatif di masyarakat akibat pembuangan limbah tersebut. dan gas PT Kertas Basuki Rachmat dalam memenuhi baku mutu. bahan pembantu.

4. Program pemantauan dan pengelolaan lingkungan baik terhadap limbah yang dihasilkan maupun dampak terhadap lingkungan sekitar. 3. Upaya peningkatan taraf kesehatan masyarakat sekitar melalui penyuluhan hidup bersih. peningkatan gizi masyarakat dan penyediaan fasilitas air bersih yang dilakukan bersama instansi terkait. Program optimalisasi fasilitas pengolah limbah untuk menghasilkan limbah yang memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. .2.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Selain itu juga terdapat perbedaan yang signifikan antara sampel pada populasi uji yang pernah tinggal di tempat lain dengan tempat tinggalnya sekarang dimana intensitas sakit di tempat sekarang lebih sering daripada di tempat lain yang berarti kualitas kesehatan masyarakat setelah bertempat tinggal sekarang lebih rendah daripada sebelumnya. sakit pernafasan lain. sakit pencernaan lain. . demam.1. Perbedaan kualitas kesehatan masyarakat pada populasi uji dibandingkan dengan populasi kontrol disebabkan oleh pengaruh keberadaan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dimana kesadahan jumlah. sakit kulit dan flu/ pilek dimana intensitas sakit pada populasi uji lebih sering daripada populasi kontrol yang berarti kualitas kesehatan masyarakat pada populasi uji relatif lebih rendah daripada populasi kontrol. mengoptimalkan fasilitas pengolah limbah cair untuk menghasilkan limbah cair yang memenuhi baku mutu. kadar klorida. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian terhadap kesehatan masyarakat terdapat perbedaan yang signifikan antara populasi uji (Kelurahan Lateng) dan populasi kontrol (Kelurahan Pengantigan) pada intensitas sakit diare. dan meningkatkan taraf kesehatan masyarakat sekitar. batuk. nitrat dan sulfat pada sampel air sumur populasi uji lebih tinggi dibandingkan dengan sampel air sumur pada populasi kontrol. Berdasarkan analisis SWOT diperoleh strategi mengoptimalkan proses produksi untuk menghasilkan produk yang berkualitas. meningkatkan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup.

2. .5. materi maupun pelatihan kepada masyarakat sekitar agar mereka dapat meningkat keadaan sosial ekonominya sehingga tidak rentan terhadap penyakit serta meningkat kualitas hidupnya. SARAN Dengan memperhatikan kesimpulan di atas dan kondisi yang ada pada masyarakat di sekitar saluran limbah PT Kertas Basuki Rachmat maka dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut : 1. 3. Perlu penerapan peraturan yang lebih ketat terutama oleh aparatur pemerintah setempat perihal ketentuan pembangunan tempat tinggal di sekitar saluran pembuangan limbah cair PT Kertas Basuki Rachmat dan jarak minimal sumur yang boleh dibuat.2. Perlu pemantauan dari pemerintah daerah setempat secara rutin terhadap kualitas limbah yang dihasilkan PT Kertas Basuki Rachmat serta kondisi saluran pembuangan limbah cairnya agar tidak meresap ke sumur penduduk yang tinggal di sekitar saluran tersebut. PT Kertas Basuki Rachmat bersama instansi terkait perlu melakukan sosialisasi hidup bersih dan pemberian bantuan baik berupa dana.

TP. SMP dan SMA di kota Banyuwangi. Tahun 1998 – 2002 penulis bekerja pada PT Rimbaria Rekawira di Surabaya yang memproduksi saos dan kecap. Tahun 2002 sampai sekarang bekerja sebagai PNS di Pemerintah Kabupaten Jember. Penulis masuk Program Pasca Sarjana Magister Ilmu Lingkungan. Menyelesaikan pendidikan SD. Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan gelar Sarjana Teknologi Pertanian (S.BIODATA PENULIS Rachman Cahyono lahir di Banyuwangi pada tanggal 7 Juli 1972. Universitas Diponegoro atas beasiswa BAPPENAS pada tahun 2006 dan berhasil menyelesaikannya pada tahun 2007 dengan tesis berjudul “Dampak Limbah Cair PT Kertas Basuki Rachmat. Pada tahun 1996 penulis menyelesaikan sarjana pada jurusan Teknologi Pangan dan Gizi. Banyuwangi terhadap Kesehatan Masyarakat” . Tahun 1996 – 1998 penulis pernah bekerja pada PT 2 Tang yang memproduksi air minum dalam kemasan.).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful