A.

Aliran Tasawuf Sunni Tasawuf sunni merupakan aliran tasawuf yang ajarannya berusaha memadukan aspek syari’ah dan hakikat namun diberi interpertasi dan metode baru yang belum dikenal pada masa salaf as-shalihin dan lebih mementingkan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah serta bagaimana cara menjauhkan diri dari semua hal yang dapat menggangu kekhusyu’an jalannya ibadah yang mereka lakukan. Aliran tasawuf ini memiliki ciri yang paling utama yaitu kekuatan dan kekhusyu’annya beribadah kepada Allah, dzikrullah serta konsekuen dan juga konsisten dalam sikap walaupun mereka diserang dengan segala godaan kehidupan duniawi. Dari awal prosesnya, corak tasawuf ini muncul dikarenakan ketegangan-ketegangan dikalangan sufi, baik yang bersifat internal maupun eksternal yaitu para sufi dan ulama’ zahir baik para fuqaha maupun mutakallimin. Hal itu menyebabkan citra tasawuf menjadi jelek dimata umat, maka sebagian tokoh sufi melakukan usaha-usaha untuk mengmbalikan citra tasawuf. Usaha ini memperoleh kesempurnaan ditangan Ghozali, yang kemudian melahirkan Tasawuf Sunni. Ada pendapat yang mengatakan bahwa asketisme (zuhud) itu adalah cikal bakal timbulnya tasawuf. Sedangkan asketisme itu sendiri sumbernya adalah ajaran Islam, baik yang bersumber dari Al-Qur’an, sunnah maupun kehidupan sahabat nabi. Pengertian umum dari Zuhud sendiri adalah Zuhhaad, jamak dari zahid. Zahid diambil dari Zuhd yang artinya ”tidak ingin”. Tidak “demam” kepada dunia, keemegahan, harta benda dan pangkat. Menurut Abu Yazid Busthami ketika ditanya orang apa arti zuhud itu, beliau menjawab: tidak mempunyai apaapa dan tidak dipunyai apa-apa. Gerakan asketisme itu sendiri dapat dibedakan menjadi 4 aliran utama; 1. Aliran Bashroh Aliran Bashroh mulai Nampak pada abad kedua Hijriyah. Aliran ini muncul dengan ciri khasnya yaitu, sikap asketisme yang sangat kuat dan lebih ekstrim serta mengembangkan sikap yang amat takut terhadap murka Allah, serta amat sangat takut terhadap siksa diakhirat. Pada periode inilah, mulai meluas dan berkembangnya sufisme. Artinya konsep-konsep yang tadinya semata-mata sebagai sikap hidup saja kemudian disusun sebagai upaya untuk mencapai tujuan. Tokoh terpenting dari aliran ini. Antara lain; Malik Ibnu Dinar dan Hassan Al-Bashri. 2. Aliran Madinah Sejak masa permulaan Islam, di Madinah sudah terlihat kelompok-kelompok asketis yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah dan menempatkan rosulullah sebagai idola kezuhudan mereka. Ciri yang paling utama di aliran ini adalah kekuatan dan kekhusyu’an beribadah kepada Allah, konsekuen serta kensisten dalam sikap walaupun dating berbagai godaan. Bagi mereka yang terpenting bagi mereka adalah mendepatkan diri kepada Allah serta menjauhkan diri dari segala hal yang dapat mengurangi kekhusyu’an beribadah kepada Allah. Tokohnya yang terkenal diantaranya adalah Salman Al-Farisi dan Abdullah Ibnu Mas’ud. 3. Aliran Kuffah Apabila kedua aliran diatas lebih mengarahkan perhatian kepada ibadah dan menghindari pengaruhpengaruh yang merusak. Maka, aliran Kuffah lebih bercorak idealis. Gemar kepada hal-hal yang bersifat imajinatif yang biasanya dituangkan dalam bentuk puisi, tekstualis dalam memahami ketetapan dan sedikit cenderung kepada aliran syi’ah. Namun, secara keseluruhan aliran ini masih berpola Ahlu sunnah wal jama’ah. Ciri khas aliran ini yaitu rasa keagamaan yang kental, asketisme yang keras, kerendahan hati dan kesederhanaan hidup. Tokohnya yang terkenal yaitu, Shufyan AlTsauri.

setelah ia menjadi warga Bashrah. Serta menyadari kekurang sempurnaannya. Muh. Hasan al-Basri Hasan al-Basri adalah seorang sufi angkatan tabi’in. mencari kelemahan diri. Dr. merenungkan kebesaran tuhan. Begitu juga sama halnya dengan Tasawuf sunni. Kesimpulan dari ajaran Hasan al-Bashri ialah zuhud atau menjauhi kehidupan duniawi sehingga perhatian terpusat pada kehidupan dunia akhirat dan mawas diri dan selalu memikirkan kehidupan ukhrowi adalah jalan yang akan menyampaikan seseorang kepada kebahagiaan yang abadi. B. Tokohnya adalah Dzuu al-Nun al mishri. Aliran Mesir Aliran mesir memiliki kesamaan cirri dengan aliran madinah. Diantara ajarannya yang terpenting adalah zuhud serta khauf dan raja’. Dasar-dasar ajaran zuhud ini kemudian dikembangkan oleh tokoh-tokoh tasawuf yang datang kemudian dengan beberapa perbedaan sesuai dengan pengalaman serta kemampuan pribadi para sufi itu sendiri. ia membuka pengajian disana karena keprihatinannya melihat gaya hidup dan kehidupan masyarakat yang telah terpengaruh oleh duniawi sebagai salah satu ekses dari kemakmuran ekonomi yang dicapai negeri-negeri Islam pada masa itu. tapi sebaliknya tidak mungkin menjadi sufi tanpa melalui zuhud atau asketisme. Katanya tidak seorang manusiapun yang tidak pernah merasa takut dan keluh kesah. Sebab aliran ini sebenarnya adalah perluasan dari aliran madinah yang tersebar melalui sahabat yang ikut serta ke Mesir pada saat Islam memasuki kawasan itu. Oleh karena itu.4. Dasar pendiriannya yang paling utama adalah zuhud terhadap kehidupan duniawi sehingga ia menolak segala kesenangan dan kenikmatan duniawi. ialah karena takut akan siksa Tuhan dalam neraka. Lahir di Madinah pada tahun 21 H tetapi dibesarkan di Wadi al-Qura. guru besar filsafat Islam dalam “Fuad I University” mengatakan kemungkinan bahwasanya zuhud Hasan al-Bashri yang didasarkan kepada takut. Hal ini pula yang menyebabkan penamaan tasawuf sunni. Tokoh-tokoh Tasawuf Sunni Munculnya aliran-aliran tasawuf ini tidak terlepas dari tokoh-tokoh yang berperan di dalamnya. . Karena itu tasawuf tipe awal ini dapat diterima sebagian besar ulama terutama ulama ahlu sunnah wal jama’ah. Dari aliran-aliran diatas dapat dilihat bahwa tokoh-tokoh aliran-aliran tersebut adalah ahlu zuhud. Dengan pengertian merasa takut kepada siksa Allah karena berbuat dosa dan sering melalakikan perintahNya. Nama lengkapnya adalah Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi al-Hasan. Hasan al-Bashri berkeyakinan bahwa perasaan takut atau khouf itu sama dengan memetik amal sholeh. tekun beribadah. Prinsip kedua Hasan al-Bashri adalah al-khouf dan raja’. tetapi yang pasti sufisme yang awal adalah sufisme yang konsisten dan berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam. Diantaranya ada yang memilih hidup sederhana dan mengasingkan diri. Garakan itulah yang menyebabkan Hasan Basri kelak menjadi orang yang sangat berperan dalam pertumbuhan kehidupan sufi di bashrah. prinsip ajaran ini adalah mengandung sikap kesiapan untuk melakukan mawas diri atau muhasabah agar selalu memikirkan kehidupan yang akan dating yaitu kehidupan yang hakiki dan abadi. Mustofa Helmi. Namun tidak setiap yang zuhud bias disebut sufi. memikirkan dan memperhatikan keindahan alam semesta. dunia ini harus dijauhi serta kenikmatan hidup duniawi harus ditolak. seorang yang sangat taqwa. Hasan al-bashri mengumpamakan dunia ini seperti ular terasa mulus kalau disentuh tangan tetapi racunnya dapat mematikan. berdzikir. Sulit dipastikan kapan asketisme itu beralih ke sufisme. Diantara sufi yang berpengaruh dari aliran-aliran tasawuf sunni dengan antara lain sebagai berikut: 1. Setahun sesudah perang Shiffin dia pindah ke Bashrah dan menetap di sana sampai ia meninggal tahun 110 H. Oleh karena itu. wara’ dan zahid.

hanya Engkau yang kucinta. Meskipun begitu. . Pandangan hidupnya yang cukup sensitif barangkali yang menyebabkan banyak yang menentangnya. Dari syair-syair berikut ini dapat diungkap apa yang ia maksud dengan al-mahabbah: Kasihku. 2. bahkan para Fuqaha mengadukannya kepada ulama Mesir yang menuduhnya sebagai orang yang zindiq. Bahkan sewaktu ia ditanyai tentang cintanya kepad Rasulullah SAW. Sebagia seorang ahli tasawuf. setelah dalam kesucian dan kejernihannya. Bisa dikatakan. Ia lahir di Bashrah tahun 95 H. orang banyak tetap menuduhnya sebagai seorang yang zindiq. dengan al-hubb ia ingin memandang wajah Tuhan yang ia rindu. Dzu Al-Nun Al-Misri Nama lengkapnya adalah Abu al-Faidi Tsauban bin Ibrahim Dzu al-Nun al-Mishri al-Akhimini Qibthy. Ajaran terpenting dari sufi wanita ini adalah al-mahabbah dan bahkan menurut menurut banyak pendapat. Tidak sampai di situ. Walau mata jasadku tak mampu melihat Engkau. Sedikit sekali yang dapat diketahui tentang silsilah keturunan dan riwayat pendidikannya karena masih banyak orang yang belum mengungkapkan masalah ini. karena hati Rabiah pada saat itu tertarik akan surga. Cinta murni kepada Tuhan adalah puncak ajarannya dalam tasawuf yang pada umumnya dituangkan melalui syair-syair dan kalimat-kalimat puitis. Cinta kepada Allah adalah satu-satunya cinta menurutnya sehingga ia tidak bersedia mambagi cintanya untuk yang lainnya. Seperti kata-katanya “Cintaku kepada Allah telah menutup hatiku untuk mencintai selain Dia”. Rabiah Al-Adawiyah Nama lengkapnya adalah Rabiah al-adawiyah binti ismail al Adawiyah al Bashoriyah. rasa estetika yang dalam berhadapan dengan situasi yang ia hadapi pada masa itu. Ia dilahirkan di Akhmin daerah Mesir. Hal ini barangkali ada kaitannya dengan kodratnya sebagai wanita yang berhati lembut dan penuh kasih. ia menjawab: “Sebenarnya aku sangat mencintai Rasulullah. Pernyataan ini dipertegas lagi olehnya lagi mealui syair berikut ini: “Daku tenggelam dalam merenung kekasih jiwa. dan Rabiah mengira bahwa sakitnya itu dikarenakan ghirah atau kecemburuan Allah kepadanya.Hasan al-Basri merupakan pribadi yang cemerlang dan suri tauladan yang benar bagi akhlak luhur. Karena kekasih. Dzu al-Nun memandang bahwa ulama-ulama Hadits dan Fiqih memberikan ilmunya kepada masyarakat sebagai salah satu hal yang menarik keduniaan disamping sebagai obor bagi agama. Namun mata hatiku memandang-Mu selalu. bahwa sejak masa kanak-kanaknya dia telah hafal Al-Quran dan sangat kuat beribadah serta hidup sederhana. 3. Namun demikian telah disebut-sebut oleh orang banyak sebagai seorang sufi yang tersohor dan tekemuka diantara sufi-sufi lainnya pada abad 3 Hijriah. disebut rabi’ah karena ia puteri ke empat dari anakanak Ismail. Namun sekembalinya dari perkelanaan tersebut. serta suluk-nya yang dijadikan sebagai contoh. Hasan al-Basri bukanlah seorang sufi. Bahkan orangorang menuruhnya untuk pergi ke Baghdad menemui khalifahuntuk menerima pengadilan. Diceritakan. Beliau selalu menyiarkan kemuliaan yang tinggi dengan petuahnya yang berpengaruh dan ucapannya yang mantap. Pintu hatiku telah tertutup bagi selain-Mu. Sirna segalanya selain Dia. ia merupakan orang pertama yang mengajarkan al-hubb dengan isi dan pengertian yang khas tasawuf. Dan beberapa sufi menjenguknya. dalam arti yang tepat pada kata shufi. namun kecintaanku pada al-Khaliq telah melupakanku untuk mencintai siapa saja selain Dia”. ingin dibukakan tabir yang memisahkan dirinya dengan Tuhan. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa suatu ketika Rabi’ah al-Adawiyah berkeluh-kesah sakit. sirna rasa benci dan murka”. juga digelari Ummu al-Khair. sampai pada akhirnya dia sampai memutuskan untuk sementara waktu pergi dari negerinya dan berkelana ke negeri lain.

Pengetahuan tentang keesaan Tuhan melalui bukti-bukti dan pendemonstrasian ilmiah dan hal ini merupakan milik orang-orangyang bijak. Abu Hamid Al-Ghazali Menurut Abu al-Wafa’ al-Ganimi al-Taftazani. kalau bukan karena Tuhan. Pengetahuan orang yang beriman tentang Allah pada umumnya. ada dua corak tasawuf yang berkembang di kalangan sufi. ia kembali mengjarkan ajaran tasawufnya dan semenjak itu pula tasawuf berkembang dengan pesat di kawasan mesir. dia juga pelopor doktrin al-makrifah.” 4. dan takut berubah. Ternyata kemudian ajarannya diterima di Baghdad. serta menyenangi segala sesuatu hanya semata-mata karena Allah. corak tasawuf sunni. 3. Dia membagi tiga kualitas pengetahuan. yaitu pertama. Jasa-jasa Dzu al-Nun yang paling besar adalah sebagai peletak dasar tentang jenjang perjalanan sufi menuju Allah. pengetahuan merupakan hasil pengamatan inderawi. 2. bahwa cirri-ciri makrifat itu ialah seseorang menerima segala sesuatu itu adalah atas nama Allah dan memutuskan segala sesuatu itu dengan menyerahkan kepada Allah.” Dzun al-Nun al-Mishri Rahimahumullah pun pernah berkata. Disamping itu. yaitu: 1. Ketika Dzu al-Nun ditanya tentang bagaimana ia mengenal Tuhan. di mana para pengikutnya cenderung pada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahat) serta bertolak dari keadaan fana menuju pernyataan tentang terhadinya penyatuan ataupun hulul. Simuh menyatakan bahwa pada dua corak tasawuf yaitu union mistik dan personal/transendentalis mistik. Menurutnya. Kedua. Ucapan hikmah lain dari Dzu al-Nun al-Mishri adalah: “Pangkal pembicaraan pada empat hal: Mencintai Allah Yang Maha Agung. yang disebut al-maqomat. Pendapat senada juga diungkapkan oleh Simuh dengan menggunakan istilah yang berbeda. Dalam hal ini ia membedakan antara pengetahuan dengan keyakinan. dan merekalah yang mengusahakan kebebasan Dzu al-Nun tersebut. di mana para pengikutnya memagari tasawuf mereka dengan Alquran dan as-Sunnah serta mengaitkan keadaan dan tingkatan rohaniah mereka dengan keduanya. pintar dan terpelajar. membenci kekikiran. yaitu apa yang ia dapat diterima melalui panca indera. dan ini merupakan milik orang-orang yang shaleh (wali Allah) yang dapat mengenal wajah Allah dengan mata hatinya. Sekembalinya di Mesir. lalu dijawab. sedangkan tobat orang khusus dari kelengahan. Sedangkan personal/transendentalis mistik yaitu suatu corak tasawuf yang menekankan aspek personal bagi manusia dan Tuhan. Union mistik yaitu suatu corak tasawuf yang memandang manusia bersumber dari Tuhan dan dapat mencapai penghayatan kesatuan kembali dengan Tuhannya. “Tobat orang awam adalah perbuatan dosa.Akan tetapi di Baghdad ada banyak sufi yang berasal dari mesir dan diantara mereka ada yang bekerja sebagai pegawai di lingkungan istana.” Pernah juga ditanya tentang tobat. Pada paham ini hubungan manusia dengan Tuhan dilukiskan sebagai hubungan antara makhluk dengan khalik . Sedangkan keyakinan adalah hasil dari apa yang dipikirkan dan / atau diperoleh melalui intuisi. maka dia menjawab: “Aku mengenal Tuhan karena Tuhan sendiri. mengikuti Al-Qur’an. yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui pengakuan atau syahadat. Ajarannya member petunjuk arah jalan menuju kedekatan dengan Allah sesuai dengan pandangan sufi. Pengetahuan tentang sifat-sifat Yang Maha Esa. aku tidak akan mengenal Tuhan” Dzu al-Nun menerangkan. corak tasawuf semi-filosofis. “Al-Hikmah tidak akan pernah tinggal pada seseorang yang pada perutnya penuh dengan makanan.

4. Konsepsi al-Gazali yang mengkompromikan antara pengalaman sufisme dengan syariat telah dijelaskan di dalam kitabnya yang terkenal yaitu Ihya Ulumuddin. yang membawa syariat. Di dalam bagian tersebut diuraikan secara berturut-turut sebagai berikut: Kitab alTaubah. a. yang melahirkan tindakan untuk bertaubat. yang tidak mengingkari sufisme yang tumbuh dari tuntunan Alquran. dan Kitab Zikr alMaut wa Ba’dah. Dimulai dengan membahas keajaiban hati beserta nafsu-nafsu. di antaranya: Konsep taubat. menurut Abdul Qadir Mahmud. dan mengisi dengan sepenuh hati hanya bagi Tuhan semata. Kitab al-Niyyah wa al-Ikhlas wa al-Sidq. Dibahas pula bagaimana tingkat-tingkat pengamalan syariat yang sempurna lahir batin. sikap (hal). Kitab al-Khauf wa al-Raja. Kemudian dilanjutkan tentang cara mengkonsentrasikan seluruh kesadaran untuk berzikir kepada Allah. dengan berpegang teguh pada spirit Islam. tawakkal. Kitab al-Tafakkur. dan ma’rifah. Taubat Pemahaman tentang taubat. Di tangan al-Gazali tasawuf menjadi halal bagi kaum syariat.Dari dua corak tasawuf tersebut. Kitab al-Mahabbah wa al-Syauq qa al-Uns wa al-Ridha. Maqamat-maqamat ini menjelaskan beberapa point yang dianggap penting untuk memahami konsep tasawuf yang diajarkan oleh al-Gazali. Hasil dari zikir adalah fana dan ma’rifat kepada Allah. sesudah kaum ulama memandangnya sebagai hal yang menyeleweng dari Islam. Kitab Tauhid wa al-Tawakkal. para pemimpin sunni pertama telah menunjukkan ketegaran mereka menghadapi gelombang pengaruh gnostik barat dan timur. Jilid pertama dan kedua berisi ajaran syariat dan aqidah disertai dasar-dasar ayat-ayat suci Alquran serta hadis dan penafsirannya. Kitab al-Sabr wa al-Syukr. juga yang menyuguhkan masalah-masalah metafisika. menurut al-Gazali mencakup tiga hal: Ilmu. Dengan demikian. Pengetahuan itu melahirkan sikap sedih dan menyesal. Ilmu adalah pengetahuan seseorang tentang bahawa yang diakibatkan dosa besar. corak tasawuf al-Gazali lebih menekankan pada aspek pendidikan moralitas bagi para pencari kebenaran. yakni ajaran tentang penyucian hati yang dalam ajaran tasawuf diartikan memutuskan setiap persangkutan dengan dunia. Karya besar ini terdiri dari 4 jilid. khusus membahas tasawuf dan tuntunan budi luhur bagi kesempurnaan sebuah pengamalan syariat. Kitab al-Faqr wa al-Zuhd. al-Gazali masuk pada kelompok yang memiliki corak tasawuf sunni. amarah. . Mereka mampu merumuskan sufisme yang islami dan mampu bertahan terhadap pelbagai fitnah yang merongrong aqidah Islam di kalangan sufirme. lawwamah dan mutmainnah yang ketiganya saling berebut untuk menguasai batin manusia. dan tindakan. zuhud. Kitab al-Muqarabah wa al-Muhasabah. yang menempatkan syariat dan hakikat secara seimbang. Sufisme sunni akhirnya beruntung mendapatkan seorang tokoh pembenteng dan pengawal bagi spirit metode Islami yaitu al-Gazali. bahkan di tangan al-Gazali lah tasawuf sunni mencpai kematangannya. Kemudian dilanjutkan tantang ajaran jihad akbar untuk memerangi dan menguasai nafsu amarah dan lawwamah. Tobat harus dilakukan dengan kesadaran hati yang penuh dan berjanji pada diri seindiri untuk tidak mengulangi perbuatan dosa. khususnya juz IV. Pada jilid ketiga dan keempat.1 Maqamat-maqamat dalam Tasawuf al-Gazali Maqamat-maqamat yang diajarkan oleh al-Gazali terdapat di dalam kitabnya Ihya Ulumuddin. Mahmud berpendapat.

Zuhud dalam tingkatan ini adalah zuhudnya orang-orang pengecut. hati tidak akan terbebas dari belenggu. seorang sufi harus berpaling dari hawa nafsu. Keterikatan am’rifah dengan amal (ibadah) inilah yang membedakan konsepsi ma’rifah al-Gazali dengan konsepsi ma’rifah Abu Yazid alBustami. Zuhud dalam tingkatan ini adalah zuhudnya orang-orang yang berpengharapan. Selanjutnya. Menurut al-Gazali. ma’rifah bukan hanya diartikan melihat Tuhan.b. jika cermin qalbu tidak bening. Sedangkan menurut tasawuf. rizki. Tanpa jiwa tawakal seperti itu. Tawakal Tawakal dalam tasawuf diartikan berserah diri kepada kehendak Tuhan seperti halnya mayat di depan orang yang memandikannya. maka untuk mendapatkan hati yang bening. bukan ikatan takut. Ma’rifah pada Allah bukan merupakan ilmu yang dapat ditangkap dengan panca indera dan akal pikiran. al-Gazali menjelaskan bahwa ma’rifah ini menimbulkan mahabbah (mencintai Tuhan). ma’rifah berarti mengetahui Allah Swt dari dekat. Ma’rifah Ma’rifah (gnosis) secara umum diartikan sebagai ilmu atau pengetahuan yang diperoleh melalui akal. Bagi al-Gazali. sikap tawakal lahir dari keyakinan yang teguh akan kemahakuasaan Allah sebagai pencipta. Maha Pengasih. dan mahabbah baginya bukan mahabbah sebagai yang diucapkan Rabi’ah al-Adawiyah. tak pilih kasih pada makhluknya. Dia berkuasa melakukan apa saja terhadap manusia. Memperoleh ma’rifah merupakan proses yang bersifat terus menerus. harus pula diyakini bahwa Dia juga Maha Rahman. makin banyak pula yang diketahuinya tentang rahasia Tuhan dan semakin dekatlah ia kepada-Nya. Zuhud Dalam keadaan ini seorang calon sufi harus meninggalkan kesenangan duniawi dan hanya mengharapkan kesenangan ukhrawi. Zuhud yang didorong oleh keinginan untuk melepaskan diri dari memperhatikan apa saja selain Allah dalam rangka membersihkan diri daripadanya dan menganggap remeh terhadap apa yang selain Allah. Makin banyak seorang sufi memperoleh ma’rifah. Al-Gazali membagi tingkatan zuhud dari segi tingkatan motivasi yang mendorongnya kepada tiga tingkatan: Zuhud yang didorong oleh rasa takut terhadap api neraka dan yang semacamnya. tetapi mahabbah dalam bentuk cinta seseorang kepada yang berbuat baik kepadanya. manusia seharusnya berserah diri kepada Tuhannya dengan sepenuh hati. maka ia tidak dapat memantulkan realitas-realitas ilmu. cinta yang timbul dari kasih dan rahmat Tuhan kepada manusia yang memberi manusia hidup. tetapi merupakan suatu pengalaman dan penghayatan yang bersifat langsung. yang menganggap ketekunan dalam ibadah sebagai pertanda tidak layaknya orang memperoleh ma’rifah dari Tuhan. Proses yang dilakukan oleh seorang sufi untuk memperoleh ma’rifah yaitu dengan cara riyadhah dan mujahadah dalam beribadah. kesenangan dan lainlain. Menurut al-Gazali. Jelasnya. Zuhud dalam tingkatan inilah yang merupakan sikap zuhud para arifin. d. tetapi juga mengetahui rahasia Allah dan mengetahui peraturan-peraturan Tuhan tentang segala yang ada. Karena itu. c. Sementara ilmu adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. qalbu bagaikan cermin. Walaupun demikian. . Zuhud yang didorong oleh motif mencari kenikmatan hidup di akhirat. yang hubungannya dengan Allah diikat oleh ikatan pengharapan dan cinta. Adapun penyebab qalbu tidak bening adalah hawa nafsu. Tawakal dalam pengertian tasawuf adalah suatu syarat mutlak sebagai tangga memutuskan segala ikatan dengan dunia secara total dan final. Alat yang digunakan untuk mendapatkan ma’rifah adalah qalbu.

Menurut al-Gazali ma’rifah dan mahabbah adalah derajat tertinggi yang dapat dicapai seorang sufi. . semakin kuat mahabbahnya.Kadar mahabbadh seorang sufi ditentukan oleh kedalaman ma’rifah yang dimilikinya. Semakin kuat ma’rifahnya.

Tokoh-tokoh penting yang termasuk kelompok sufi falsafi antara lain adalah al-Hallaj (244 – 309 H/ 858 – 922 M) Ibnu’ Arabi (560 H – 638 H) al-Jili (767 H – 805 H). Tasawuf falsafi ini tentu saja dikembangkan oleh para sufi yang filosof. terutama tentang penciptanya serta penciptaannya. alMuhasibi (165 H – 243 H). Tasawuf Akhlaki. 3. Tasawuf Akhlaki (Tasawuf Sunni) Tasawuf Akhlaki adalah tasawuf yang berorientasi pada perbaikan akhlak’ mencari hakikat kebenaran yang mewujudkan menuasia yang dapat ma’rifah kepada Allah.FALSAFI DAN IRFANI A. kursi. Latihan rohaniah dengan rasa. Tasawuf ‘Irfani Tasawuf ‘Irfani adalah tasawuf yang berusaha menyikap hakikat kebenaran atau ma’rifah diperoleh . ‘arasy. Ibnu Sab’in (lahir tahun 614 H) as-Sukhrawardi dan yang lainnya. (nafsu) yang dibantu oleh syaithan. wahyu kenabian. Tasawuf Falsafi Tasawuf Falsafi adalah tasawuf yang didasarkan kepada keterpaduan teori-teori tasawuf dan falsafah. Hujjatul Islam Abu Hamid al-Gajali (450 H – 505 H). Sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an. B. Keempat perkara itu adalah sebagai berikut: 1. Sementara potensi untuk menjadi buruk adalah an-Nafs. malaikat. al-Qusyairi (376 H – 465 H). dengan metode-metode tertentu yang telah dirumuskan. serta intropeksi diri yang timbul dari dirinya. intuisi. biasa disebut juga dengan istilah tasawuf sunni. C. Ibnu Khaldun berendapat bahwa objek utama yang menjadi perhatian tasawuf falsafi ada empat perkara. Peristiwa-peristiwa dalam alam maupun kosmos yang brepengaruh terhadap berbagai bentuk kekeramatan atau keluarbiasaan. dan susunan yang kosmos. surat as-Syams : 7-8 sebagai berikut : Artinya : “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Tasawuf Akhlaki ini dikembangkan oleh ulama salaf as-salih. misalnya sifat-sifat rabbani. hakikat realitas segala yang wujud. 2. Ibnu Atoilah asSakandari dan lain-lain. Syaikh al-Islam Sultan al-Aulia Abdul Qadir al-Jilani (470 – 561 H). Penciptaan ungkapan-ungkapan yang pengertiannya sepintas samar-samar (syatahiyyat) yang dalam hal ini telah melahirkan reaksi masyarakat berupa mengingkarinya. Dalam diri manusia ada potensi untuk menjadibaik dan potensi untuk menjadi buruk. Potensi untuk menjadi baik adalah al-‘Aql dan al-Qalb. ruh. Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib. Para sufi yang mengembangkan taswuf akhlaki antara lain : Hasan al-Basri (21 H – 110 H). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya”. menyetujui atau menginterpretasikannya. 4. yang gaib maupun yang nampak.TASAWUF AKHLAKI.

Ilmu itu diperoleh karena si sufi berupaya melakukan tasfiyat al-Qalb. Junaidi al-Bagdadi (W. Abu Yazid al-Bustami (200 H – 261 H). ‘Ain alQudhat al-Hamdani. Dzunnun al-Misri (180 H – 246 H). hakikat kebenaran tersingkap lewat ilham (intuisi). 297 H). . Tokoh-tokoh yang mengembangkan tasawuf ‘irfani antara lain : Rabi’ah al-Adawiyah (96 – 185 H). Abu Bakar as-Syibli. Syaikh Najmuddin al-Kubra dan lain-lainnya.dengan tidak melalui logika atau pembelajaran atau pemikiran tetapi melalui pemebirian Tuhan (mauhibah). Dengan hati yang suci seseorang dapat berdialog secara batini dengan Tuhan sehingga pengetahuan atau ma’rifah dimasukkan Allah ke dalam hatinya. Syaikh Abu Hasan al-Khurqani. Ibnu ‘Arabi. Jalaluddin Rumi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful