P. 1
Mengapa Organisasi

Mengapa Organisasi

|Views: 118|Likes:

More info:

Published by: Aan Safwandi EmoTicore on Dec 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2010

pdf

text

original

Mengapa Organisasi/Perusahaan Perlu Menciptakan Budaya Belajar (Bagian 1

)
2009 June 22 tags: Budaya Belajar, Knowledge Management, Learning Organization, Organisasi Pembelajar, Unilever by Muhammad Noer

X Selamat Datang pengembara Google! Jika artikel berikut bermanfaat, Anda mungkin tertarik mendaftar RSS feed Blog ini untuk mendapatkan update secara rutin. You were searching for "hambatan-hambatan dalam pembelajaran membaca". See posts relating to your search » Powered by WP Greet Box Tulisan berikut merupakan pembahasan dalam bentuk tertulis dari seminar yang saya bawakan pada forum HPSMI (Himpunan Pengelola Sumber Daya Manusia Indonesia) dengan topik “Membangun Budaya Belajar di Perusahaan Menuju Learning Organization” Karena pembahasan cukup panjang, maka tulisan saya bagi dalam dua bagian. Bagian pertama membahas tentang mengapa organisasi perlu menciptakan budaya belajar sebagai landasan dalam menciptakan Learning Organization. Bagian kedua akan saya tulis kemudian yang membahas studi kasus pendekatan yang dilakukan oleh PT. Unilever Indonesia, Tbk dalam menciptakan budaya belajar sekaligus

penerapan Knowledge Management di perusahaan yang meraih penghargaan Most Admired Knowledge Enterprise (MAKE) sebanyak 3 kali berturut-turut pada 2005-2008. ###

BAGIAN PERTAMA Mengapa Organisasi Perlu Menciptakan Budaya Belajar
Alvin Toffler dalam salah tulisannya menyebutkan, “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.” Ya, buta huruf di zaman modern bukanlah karena tidak bisa baca tulis, melainkan karena tidak dapat belajar (learn), membuang apa yang sudah pernah dipelajari (unlearn) dan mempelajari kembali sesuatu karena mungkin sudah terlupakan atau diabaikan (relearn). Karena itu semangat belajar dan terlebih lagi budaya belajar, sangat penting dimiliki oleh individu-individu dalam sebuah organisasi sehingga menjadi organisasi pembelajar (Learning Organization). Hal ini hanya bisa terjadi ketika individu dalam organiasi menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab atas proses belajarnya. Mereka menjadi orang-orang yang belajar bukan karena diperintahkan atau diatur oleh organisasi, melainkan belajar karena kebutuhan dan tanggung jawab pribadi untuk mengembangkan diri.

Mengapa Organisasi Perlu Belajar?
Setidaknya ada empat alasan penting mengapa organisasi perlu terus belajar meskipun bisa jadi saat ini telah menjadi organisasi yang relatif lebih baik dibandingkan organisasi sejenis. 1. Kompetisi Yang Semakin Ketat Jika kita perhatikan saat ini, kompetisi yang ada semakin ketat. Sebuah perusahaan atau organisasi tidak bisa menganggap sebelah mata kompetitornya karena kelengahan sedikit dapat membuat ketertinggalan. Agar bisa memenangkan kompetisi atau setidaknya tidak tertinggal dari kompetisi, diperlukan proses belajar yang terus menerus. 2. Sinergi Antar Anggota Tim Hampir tidak ada pekerjaan yang sama sekali tidak membutuhkan orang lain. Terlebih dalam organisasi yang baik, maka kekuatan utamanya terletak pada bagaimana menciptakan sinergi diantara anggota tim yang ada. Masing-masing orang belajar dan membawa hasil belajarnya untuk saling menyokong dan memperkokoh tim. 3. Perubahan Yang Sangat Cepat

Perubahan di dunia bisnis secara umum terjadi sangat cepat. Sesuatu bisa menjadi tren untuk kemudian secara tiba-tiba tergantikan dengan tren lainnya. Sebuah penemuan demi penemuan terus menerus terjadi dan saling menguatkan serta menggantikan satu sama lain. Untuk menghadapi perubahan tentu saja diperlukan kemampuan belajar dari situasi yang ada sehingga dapat menghadapi segala perubahan dengan percaya diri. 4. Mengantisipasi Masa Depan Yang Penuh Ketidakpastian Siapa yang menyangka akhirnya ekonomi raksasa seperti Amerika Serikat dapat runtuh gara-gara kredit perumahan (sub-prime mortgage)? Siapa yang mampu menebak arah bisnis dan perekonomian 10 tahun mendatang. Ya, manusia harus sadar bahwa hari esok penuh dengan tantangan dan ketidakpastian. Organisasi yang belajar, meskipun tetap menghadapi ketidakpastian, namun lebih siap dan terbuka menghadapi apapun yang terjadi ke depannya.

Apakah Learning Organization itu?
Peter Senge dalam karyanya yang terkenal memberi definisi Learning Organization sebagai “…organizations where people continually expand their capacity to create the results they truly desire, where new and expansive patterns of thinking are nurtured, where collective aspiration is set free, and where people are continually learning to see the whole together.” Ada beberapa kata kunci di sana yakni:
• • • •

Senantiasa meningkatkan kemampuan dan kapasitas Pemikiran baru dan luas diberi kesempatan tumbuh Aspirasi bersama diberi kebebasan berkembang Orang-orang yang terus menerus belajar

Dari sudut pandang yang lain, Mike Pedler, John Burgoyne, Tom Boydel (1997) dalam karya mereka The Learning Company menyebutkan Learning Organization adalah: “…an organization that facilitates the learning of all its members and continuously transforms itself.” Peran organisasi adalah memberikan fasilitasi atau dukungan kepada seluruh anggotanya terkait proses pembelajaran sehingga orang-orang di dalam organisasi tersebut maupun organisasi itu sendiri dapat terus bertransformasi ke arah yang lebih baik secara kontinyu, terus menerus.

Komponen Learning Organization
Lantas, bagaimanakah membentuk sebuah organisasi pembelajar itu? Apa saja ciricirinya atau persyaratan apa yang harus dipenuhi?

Peter Senge dalam “The Fifth Discipline” menyebutkan ada 5 komponen yang harus ada dalam sebuah Learning Organization yakni: 1. System Thinking – adanya keterkaitan dan saling tergantung diantara seluruh fungsi-fungsi organisasi. Semuanya bekerja dalam satu kesatuan dalam satu sistem. 2. Shared Vision – visi yang dimiliki oleh semua orang dalam organisasi. Visi ini bukanlah sesuatu yang dipaksakan oleh pimpinan organiasasi melainkan sebuah visi yang bisa diterjemahkan di setiap level sehingga dapat diakui sebagai visi bersama. Visi ini akan menciptakan fokus dan energi dalam proses pembelajaran. 3. Personal Mastery – setiap orang memiliki kemampuan khusus yang khas. Keahlian individual ini akan menjadi nyata ketika setiap individu di organisasi memberikan komitmen tinggi dalam proses pembelajaran dirinya sendiri sehingga menjadi pakar di bidangnya yang nantinya akan membawa manfaat besar dalam organisasi. 4. Mental Models – yakni sebuah proses mental yang dimiliki bersama oleh seluruh anggota organisasi dengan belajar nilai-nilai yang sejalan dengan kebutuhan dan perkembangan organisasi dan membuang nilai-nilai yang tidak relevan serta menghambat. 5. Team Learning – akumulasi pengetahuan dari pembelajaran setiap individu yang kemudian dibagi kepada anggota organisasi lainnya sehingga menjadi pengetahuan tim.

Hambatan dalam Proses Sharing/Belajar

Sebelum menciptakan proses belajar yang kondusif, organisasi perlu mengatasi hambatan-hambatan yang sering terjadi ketika budaya belajar ingin diciptakan. Hambatan ini bisa muncul dari individu ataupun dari organisasi itu sendiri. Hambatan individu diantaranya adanya anggapan umum pengetahuan adalah kekuatan. Dengan berbagi pengetahuan berarti ada kekuatan yang akan hilang dan diambil oleh orang lain. Ada juga orang yang memiliki paradigma jika berasal dari orang lain, maka saya tidak akan menerima. Mental not invented here menjadi penghambat yang besar ketika segala sesuatu dari luar dianggap tidak perlu dipelajari atau diikuti meskipun baik. Hambatan lainnya adalah tidak menyadari betapa pentingnya proses berbagai (sharing) dalam pembelajaran, keterbatasan waktu, dan sudah berada di zona nyaman (comfort zone) sehingga malas untuk belajar atau berubah. Hambatan organisasi diantaranya kurangnya dukungan dari top management, budaya organisasi yang tidak bersahabat dengan proses pembelajaran serta kegiatan belajar itu sendiri bukan merupakan cara kerja organisasi.

Perubahan Paragdima
Adapun yang sangat diperlukan dalam menciptakan budaya belajar di organisasi adalah dengan mengubah paradigma dari belajar gaya lama dengan belajar gaya baru. Pendekatan lama diantaranya:
• • • • • • • •

Kegiatan pembelajaran/pelatihan hanya ada di ruang kelas Pelatihan adalah tanggung jawab bagian Sumber Daya Manusia (HR) Pelatihan dan pembelajaran harus serius dan formal Ilmu yang didapat disimpan untuk diri sendiri Tergantung pada fasilitator atau trainer dari luar organisasi Kegiatan Belajar adalah kewajiban dan ditentukan oleh pimpinan Kegiatan pelatihan hanya untuk mengatasi kebutuhan saat ini Kegiatan pelatihan/pembelajaran tergantung jadwal dan penugasan yang telah ditentukan

Adapun pendekatan baru yang harus mulai diadopsi oleh organisasi yang ingin menumbuhkan budaya belajar diantaranya:
• • • • • • • •

Kegiatan pembelajaran/pelatihan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja Setiap orang bertanggung jawab, baik dalam departemen maupun sebagai individu Kegiatan belajar harus menyenangkan, mudah, dan menarik Ilmu untuk dibagi agar tumbuh dan berkembang bersama-sama Menciptakan internal trainer dan fasilitator di dalam organisasi Proses belajar adalah pilihan pribadi untuk pengembangan pribadi Belajar untuk menghadapi tantangan di masa yang akan datang Belajar dilakukan secara terus menerus untuk memperkaya diri dengan pengetahuan baru yang relevan dengan perubahan dan tantangan zaman

Dengan mengadopsi pendekatan baru tersebut, kegiatan belajar gaya lama yang birokratis digantikan dengan pendekatan baru yang lebih luwes dan merupakan proses perkembangan setiap individu dalam organisasi. Peran perusahaan atau organisasi dalam hal ini adalah memberikan dukungan dan fasilitasi sehingga proses transformasi individu maupun organisasi dapat berjalan sebagaimana mestinya. (bersambung) Bagaimana pendapat Anda tentang Learning Organization? Silakan sampaikan pandangan Anda pada kolom komentar.

Share on Facebook

17 Januari 2009
PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN PENDEKATAN PENGALAMAN BERBAHASA DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR
PEMBELAJARAN MEMBACA PERMULAAN DENGAN PENDEKATAN PENGALAMAN BERBAHASA DI KELAS AWAL SEKOLAH DASAR Akhmad Huda*) Abstrak: Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebisaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Salah satu tugas guru baca yang luar biasa sukarnya ialah menemukan bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak yang duduk di kelaskelas permulaan. Anak-anak yang berasal dari lingkungan yang belum mengenal bahasa Indonesia dengan baik pun merupakan pembawa masalah yang tidak mudah. Mereka memerlukan bahan pelajaran yang secara serempak bisa mengembangkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kata Kunci: Membaca, Membaca Permulaan, Pengalaman berbahasa Empat keterampilan berbahasa yang disajikan dalam pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah meliputi keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keteampilan membaca, dan keterampilan menulis. Sebenarnya keterampilan tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yaitu keterampilan yang bersifat menerima (reseptif) yang meliputi keterampilan menyimak dan membaca, serta keterampilan yang bersifat mengungkapkan (produktif) yang meliputi keterampilan menulis dan membaca. (Muchlisoh, 1994: 119). Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang diajarkan dalam mata pelajaran bahasa Indonesia di sekolah. Dalam kehidupan sehari-hari peranan membaca tidak dapat dipungkiri lagi. Ada beberapa peranan yang dapat disumbangkan oleh kegiatan membaca antara lain: kegiatan membaca dapat membantu memecahkan masalah, dapat memperkuat suatu keyakinan atau kepercayaan pembaca, sebagai suatu

pelatihan, memberi pengalaman estetis, meningkatkan prestasi, memperluas pengetahuan dan sebaganya. Kebisaaan dan kegemaran membaca perlu ditumbuhkan sejak dini. Dalam rangka menumbuhkan kebisaaan dan kegemaran membaca pada suatu masyarakat perlu dimulai secara bertahap. Salah satu langkah awal dalam menumbuhkan kebisaaan dan kegemaran membaca dalam masyarakat adalah melalui penanaman kebisaaan membaca pada jenjang sekolah. Penanaman kebisaaan membaca tersebut, perlu diupayakan sejak anak berada pada jenjang sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI). Penanaman kebisaaan membaca pada siswa SD/MI, perlu dimulai dari hal yang paling dasar terlebih dahulu yaitu mengupayakan kelancaran membaca pada siswa. Siswa perlu diajak untuk ‘melek huruf’ atau ‘melek wacana’ terlebih dahulu. Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI, kegiatan yang berkaitan dengan masalah tersebut terwadahi dalam pembelajaran membaca permulaan, khususnya terdapat pada jenjang kelas 1 atau kelas 2 SD/MI. Dalam kondisi normal, pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan tersebut akan berjalan lancar, artinya siswa dengan mudah memahami apa yang mereka pelajari dalam kegiatan membaca. Namun, tidak jarang ditemui berbagai permasalahan dalam pembelajaran membaca permulaan. Sebagian siswa telah lancar dan tidak mengalami hambatan dalam belajar membaca tetapi sebagian lainnya belum bahkan tidak dapat atau tidak mampu membaca (Winiasih, 2007) Keterampilan membaca dan menulis, khususnya keterampilan membaca harus segera dikuasai oleh para siswa di SD karena keterampilan ini secara langsung berkaitan dengan seluruh proses belajar siswa di SD. Keberhasilan belajar siswa dalam mengikuti proses kegiatan belajar-mengajar di sekolah sangat ditentukan oleh penguasaan kemampuan membaca mereka. Siswa yang tidak mampu membaca dengan baik akan mengalami kesulitan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran untuk semua mata pelajaran. Siswa akan mengalami kesulitan dalam menangkap dan memahami informasi yang disajikan dalam berbagai buku pelajaran, buku-buku bahan penunjang dan sumber-sumber belajar tertulis yang lain. Akibatnya, kemajuan belajarnya juga lamban jika dibandingkan dengan teman-temannya yang tidak mengalami kesulitan dalam membaca.

Menurut pandangan “whole language” membaca tidak diajarkan sebagai suatu pokok bahasan yang berdiri sendiri, melainkan merupakan satu kesatuan dalam pembelajaran bahasa bersama dengan keterampilan berbahasa yang lain. Kenyataan tersebut dapat dilihat bahwa dalam proses pembelajaran bahasa, keterampilan berbahasa tertentu dapat dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Pengaitan keterampilan berbahasa yang dimaksud tidak selalu melibatkan keempat keterampilan berbahsa sekaligus, melainkan dapat hanya mengakut dua keterampilan saja sepanjang aktivitas berbahasa yang dilakukan bermakna. Pembelajaran membaca di SD dilaksanakan sesuai dengan pembedaan atas kelaskelas awal dan kelas-kelas tinggi. Pelajaran membaca dan menulis di kelas-kelas awal disebut pelajaran membaca dan menulis permulaan, sedangkan di kelas-kelas tinggi disebut pelajaran membaca dan menulis lanjut. Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat, sedangkan membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan Pelajaran. (Sri Nuryati, 2007:1-2) Menurut Badudu (1993: 131) pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SD– SMU ialah guru terlalu banyak menyuapi, tetapi kurang menyuruh siswa aktif membaca, menyimak, menulis dan berbicara. Proses belajar-mengajar di kelas tidak relevan dengan yang diharapkan, akibatnya kemampuan membaca siswa rendah. Salah satu kesulitan yang dihadapi guru ialah menemukan bahan pelajaran yang cocok bagi para anak didiknya. Kadang-kadang bahan bacaan itu tidak cocok karena kosakatanya, kadangkadang pula karena struktur kalimat-kalimatnya atau isinya. Salah satu tugas guru baca yang luar biasa sukarnya ialah menemukan bahan bacaan yang menarik bagi anak-anak yang duduk di kelas-kelas permulaan. Anak-anak yang berasal dari lingkungan yang belum mengenal bahasa Indonesia dengan baik pun merupakan pembawa masalah yang tidak mudah. Mereka memerlukan bahan pelajaran yang secara serempak bisa mengembangkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis (Muchlisoh, 1994:199)

Hakikat Membaca Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta, dan informasi yang tertuang dalam teks bacaan. Informasi yang terdapat dalam bacaan merupakan informasi yang kasat mata atau dapat disebut dengan sumber informasi visual. Pengetahuan dasar yang sebelumnya telah dimiliki pembaca merupakan informasi yang tersimpan dalam memori otak/pikiran pembaca atau dapat disebut dengan sumber informasi nonvisual. Kedua macam sumber informasi tersebut perlu dimiliki secara berimbang oleh pembaca. Artinya kemampuan mengenal informasi visual perlu diikuti dengan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk memahami suatu teks bacaan. Demikian pula sebaliknya, pengetahuan dasar yang telah dimiliki perlu dilanjutkan dengan kemampuan memahami informasi visual yang ada pada teks bacaan. Kemampuan penunjang lain yang perlu dimiliki pembaca yaitu kemampuan menghubungkan gagasan yang dimiliki dengan materi bacaan. Dalam kaitannya dengan pemahaman dan perekonstruksian pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan (Winiasih, 2007: 3) Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua yang diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya (Zuchdi dan Budiasih, 1996/1997:49). Pendapat tersebut menekankan tentang pentingnya membaca bagi peningkatan kualitas diri seseorang. Seseorang akan ‘gagap teknologi’ dan ‘gagap informasi’ apabila jarang atau tidak pernah melakukan kegiatan membaca. Informasi tentang ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, politik, sosial kemasyarakatan dan berbagai informasi actual lainnya senantiasa berkembang pesat dari hari ke hari. Segala macam informasi dan perkembangan zaman tersebut selain dapat diikuti dari media elektronik (misalnya TV), juga dapat diikuti melalui media cetak dengan cara membaca. Kedua macam media informasi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Media elektronik dapat diakses dengan cara yang lebih santai karena tinggal menonton suatu tayangan di TV. Kelemahannya, tayangan tersebut tidak dapat ditonton ulang apabila kita membutuhkan informasi tersebut. Media cetak yang diakses dengan cara membaca mempunyai kekurangan dari segi pembaca, yakni ketersediaan waktu yang kurang mencukupi dalam membaca, kurangnya kemampuan memahami teks bacaan, rendahnya motivasi dalam membaca, kurangnya kebisaaan membaca, dsb. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan media elektronik (misalnya TV), kegiatan membaca mempunyai kelebihan yakni teks bacaan tersebut dapat dibaca ulang apabila informasi dalam teks bacaan tersebut sewaktu-waktu diperlukan. Dari hakikat membaca yang telah diuraikan tersebut dapat dikemukakan bahwa kegiatan membaca mempunyai berbagai macam tujuan dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Setiap orang yang akan melakukan kegiatan membaca tentu mempunyai maksud mengapa dia perlu membaca teks tersebut yang selanjutnya dapat mengambil manfaat setelah kegiatan membaca berlangsung. Manfaat kegiatan membaca antara lain (1) sebagai media rekreatif; (2) media aktualisasi diri; (3) media informatif; (4) media penambah wawasan; (5) media untuk mempertajam penalaran; (6) media belajar suatu keterampilan, (7) media pembentuk kecerdasan emosi dan spiritual; dsb. Membaca adalah proses aktif dari pikiran yang dilakukan melalui mata terhadap bacaan. Dalam kegiatan membaca, pembaca memroses informasi dari teks yang dibaca untuk memperoleh makna (Vacca, 1991: 172). Membaca merupakan kegiatan yang penting dalam kehidupan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas pengetahuan bahasa seseorang. Dengan demikian, anak sejak kelas awal SD perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca permulaan. Dilain pihak, Gibbon (1993: 70-71) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh makna dari cetakan. Kegiatan membaca bukan sekedar aktivitas yang bersifat pasif dan reseptfi saja, melainkan mengehdaki pembaca untuk aktif berpikir. Untuk memperoleh makna dari teks, pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya, topik, dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca. Membaca Permulaan

Membaca permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebisaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan. Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan / kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan (a) lambang-lambang tulis, (b) penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan (c) memasukkan makna dalam kemahiran bahasa. Membaca permulaan merupakan suatu proses keterampilan dan kognitif. Proses keterampilan menunjuk pada pengenalan dan penguasaan lambang-lambang fonem, sedangkan proses kognitif menunjuk pada penggunaan lambang-lambang fonem yang sudah dikenal untuk memahami makna suatu kata atau kalimat (Sri Nuryati, 1997: 5). Pembelajaran membaca permulaan diberikan di kelas I dan II. Tujuannya adalah agar siswa memiliki kemampuan memahami dan menyuarakan tulisan dengan intonasi yang wajar, sebagai dasar untuk dapat membaca lanjut (Akhadiah, 1991/1992: 31). Pembelajaran membaca permulaan merupakan tingkatan proses pembelajaran membaca untuk menguasai sistem tulisan sebagai representasi visual bahasa. Tingkatan ini sering disebut dengan tingkatan belajar membaca (learning to read). Membaca lanjut merupakan tingkatan proses penguasaan membaca untuk memperoleh isi pesan yang terkandung dalam tulisan. Tingkatan ini disebut sebagai membaca untuk belajar (reading to learn). Kedua tingkatan tersebut bersifat kontinum, artinya pada tingkatan membaca permulaan yang fokus kegiatannya penguasaan sistem tulisan, telah dimulai pula pembelajaran membaca lanjut dengan pemahaman walaupun terbatas. Demikian juga pada membaca lanjut menekankan pada pemahaman isi bacaan, masih perlu perbaikan dan penyempurnaan penguasaan teknik membaca permulaan.

Pembelajaran membaca permulaan di SD mempunyai nilai yang strategis bagi pengembangan kepribadian dan kemampuan siswa. Pengembangan kepribadian dapat ditanamkan melalui materi teks bacaan (wacana, kalimat, kata, suku kata, huruf/bunyi bahasa) yang berisi pesan moral, nilai pendidikan, nilai sosial, nilai emosional-spiritual, dan berbagai pesan lainnya sebagai dasar pembentuk kepribadian yang baik pada siswa. Demikian pula dengan pengembangan kemampuan juga dapat diajarkan secara terpadu melalui materi teks bacaan yang berisi berbagai pengetahuan dan pengalaman baru yang pada akhirnya dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan siswa. Akhadiah (1992) dalam Zuchdi dan Budiasih (1996/1997:49) menyatakan bahwa melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik. Pendekatan Pengalaman Berbahasa Salah satu kesulitan yang dihadapi guru bahasa Indonesia dalam pengajaran membaca adalah menemukan bahan pelajaran yang cocok bagi para anak didiknya.. Untuk mengatasi hal tersebut para guru mencoba suatu pendekatan berdasarkan latar belakang pengalaman anak dalam menggunakan bahasanya. Pendekatan ini disebut Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB). Dalam PBB, guru menggunakan bahan pelajaran yang dibuat oleh siswa itu secara tertulis. Dengan demikian anak akan berkesimpulan bahwa segala sesuatu yang dilisankannya itu dapat diubah menjadi tulisan. Kesadaran seperti itu penting sekali. Dengan kesadaran tersebut anak-anak pun akan berkesimpulan bahwa tulisan itu bisa bercerita, bahwa dengan tulisan orang biasaberkomunikasi, bahwa dengan tulisan itu mempunyai persamaan dengan tutur. PPB dalam bidang membaca dapat dibatasi sebagai pengajaran membaca dengan menggunakan wacana yang dikembangkan bersama-sama dengan anak-anak. Dalam PBB guru merangsang anak-anak untuk berpikir tentang pengalaman masing-masing. Guru memberikan dorongan kepada anak-anak untuk bercerita. Waktu anak bercerita, guru mendengarkan cerita itu dan merekamnya secermat-cermatnya. Rekaman guru yang menggunakan huruf-huruf yang jelas itu harus dilakukan di depan anak-anak supaya anak-anak sadar bahwa bahasa lisan itu bisa diubah menjadi bahasa tulisan. Wacana yang berbentuk deretan kata, frase, kalimat, atau cerita itulah yang dijadikan bahan pelajaran. Langkah-Langkah Pendekatan Pengalaman Berbahasa

Belajar konstrultivisme mengisyaratkan bahwa guru tidak memompakan pengetahuan ke dalam kepala pebelajar, melainkan pengetahuan diperoleh melalui suatu dialog yang ditandai oleh suasana belajar yang bercirikan pengalaman dua sisi. Ini berarti bahwa penekanan bukan pada kuantitas materi, melainkan pada upaya agar siswa mampu menggunakan otaknya secara efektif dan efisien sehingga tidak ditandai oleh segi kognitif belaka, melainkan oleh keterlibatan emosi dan kemampuan kreatif. Dengan demikian proses belajar membaca perlu disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan siswa (Semiawan, 2002:5). Dalam PPB guru mengembangkan wacana bersama-sama dengan murid-muridnya mulai dengan memberikan rangsangan pada pikiran murid-muridnya itu. Langkah yang pertama, ialah pengembangan wacana bersama salah satu murid, guru menyuruhnya memikirkan hal-hal yang merupakan kesukaannya. Guru memotivasi dengan jalan berkata bahwa dia ingin tahu kesenangannya. Dalam hal yang kedua, guru mulai dengan jalan bercerita bahwa hari Minggu merupakan hari libur untuk beristirahat. Dia melukiskan hal-hal yang suka dikerjakannya pada hari Minggu, kemudian dia merangsang muridnya untuk bepikir tentang apa yang suka mereka kerjakan pada hari Minggu. Langkah yang kedua, guru berupaya untuk mendengarkan sebaik-baiknya dan mengarahkan percakapan yang langsung antara murid-muridnya. Sepintas lalu, upaya yang harus dilakukan guru itu mudah; namun, dalam suatu kelompok yang terdiri atas banyak murid, pekerjaan mengarahkan pembicaraan mereka supaya setiap anak mendapat giliran untuk mengemukakan pendapatnya itu, bukanlah hal yang sederhana. Guru menyuruh murid-murid yang berkelompok itu mendengarkan baik-baik temannya yang sedang berbicara. Masalah yang dihadapi dalam hal ini sudah tentu berbeda dengan yang dihadapi pada waktu menggunakan PPB dengan seorang anak. Langkah yang ketiga ialah menuliskan hal-hal yang ceritakan oleh murid. Bisaanya guru memberikan petunjuk kepada muridnya supaya yang dikemukakannya itu berupa sebuah cerita. Guru memberi contoh cara memulai sebuah cerita, atau yang lebih baik ialah meminta saran murid tentang cara yang mereka sukai. Semua saran haris diperhatikan dan murid disuruh memilih cara yang terbaik. Kalimat-kalimat yang mendukung kalimat

yang pertama yang merupakan awal cerita itu, akan diajukan oleh murid. Guru mencatat kalimat-kalimat yang mereka buat itu tepat sebagaimana yang diucapkan murid. Langkah yang keempat, guru mendengarkan bacaan muridnya. Guru menyuruh muridnya. Guru menyuruh meuridnya membaca wacana yang merupakan hasil rekamannya itu. Jika dia bekerja dengan seorang siswa, maka dia harus memperhatikan kata-kata yang dikenal muridnya dan kata-kata mana yang tidak dikenalnya. Jika guru bekerja dengan sekelompok murid, dia bisa menyuruh murid-muridnya membaca secara bergiliran. Guru mencatat kata-kata yang diucapkan oleh murid-muridnya itu tidak ada dalam wacana Langkah yang kelima merupakan penggunaan wacana dalam pengajaran membaca. Guru harus memanfaatkan pengetahuan yang diperolehnya dari bacaan murid-muridnya itu. Kalau guru tahu bahwa siswanya tidak dapat membaca kata tertentu yang ada dalam wacana yang digunakannya itu, dia harus mengajarkannya dengan cara memisahkan kata tertentu itu dari wacana (Muchlisoh, 1994: 202). Keunggulan PPB Salah satu manfaat PPB yang sangat penting adalah sifat PPB yang mulai dengan soal perkembangan bahasa anak. Tugas untuk memilih bahan yang cocok menjadi ringan karena wacana yang digunakan sudah dengan sendirinya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa anak. Selain itu kelebihan yang lain ialah sifatnya yang mengintegrasikan semua kegiatan kebahasaan. Anak-anak mendengarkan, berbicara, membaca, dan kadang-kadang menuliskan wacana yang tengah dikembangkan. Kelebihan lain dari PPB adalah sifatnya yang bisa meningkatkan minat baca siswa, karena PPB berpusat pada anak. Orang pada umumnya senang membaca pengalaman pribadinya. Anak-anak pun sama, terutama terhadap wacana yang memerikan komentar yang positif tentang dirinya. Tugas untuk memotivasi anak memmbaca wacana tidak diperlukan pada PPB. Kelebihan yang terakhir yang dimiliki PPB ialah kehematannya. PPB tidak memerlukan biaya banyak. PPB cukup dengan kertas, papan tulis, pensil, dan kapur yang ada. Pendekatan lain kerap kali tidak bisa berjalan karena tuntutan pembiayaan yang terlalu tinggi. Kelemahan PPB

Disamping memiliki kelebihan, PPB mempunyai beberapa kelemahan, yang pertama ialah sifat PPB yang hanya digunakan pada pelajaran membaca tingkat awal. Setelah anak menguasai kosakata dasar, dia akan memerlukan bahan bacaan yang berisi pengalaman dan kosakata baru. Kalau guru hanya menggunakan PPB, anak-anak akan terbatas ruang geraknya di sekitar pola bahasa dan pengalamannya saja. Salah satu tujuan utama membaca ialah untuk memperkaya kosakata dan berbagai tipe pola bahasa haruslah digunakan dalam upaya meluaskan pengembangan bahasa. PPB juga menuntut waktu yang jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan pendekatanpendekatan lain karena sesungguhnya guru selalu berupaya mengembangkan bahan yang diperlukan oleh PPB tidak melihat hal-hal di atas itu sebagai keterbatasan , tetapi sebagai kesempatan yang bekerja lebih banyak lagi dengan anak secara perorangan. PPB menuntut guru agar selalu menyadari adanya sejumlah keterampilan membaca dan sejumlah kata-kata sehngga mereka tahu apa yang harus diajarkan dan kapan mengajarkannya. Pedoman guru yang menyertai pendekatan lainnya memberikan kemudahan bagi guru. Di dalamnya dijelaskan kata-kata yang mana yang harus diperkenalkan kepada murid dan keterampilan apa yang harus diajarkan. PPB tidak menyajikan hal-hal yang memudahkan seperti itu. Penutup Setiap kegiatan pembelajaran diharapkan dapat mencapai target hasil belajar tertentu. Salah satu target hasil belajar yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran membaca permulaan adalah siswa memiliki kelancaran dalam membaca. Pembelajaran membaca permulaan dilaksanakan dengan berbagai metode. Setiap metode pembelajaran membaca permulaan mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Metode yang satu akan melengkapi metode yang lain. Guru dapat memilih salah satu atau menggabungkan berbagai metode sesuai dengan kondisi siswa dan tersedianya sarana pendukung lainnya. Selain itu, guru juga boleh menciptakan model baru dalam pelaksanaan pembelajaran membaca permulaan. Pendekatan pengalaman berbahasa merupakan salah satu metode yang dapat digunakan oleh guru untuk meningkatkan kelancaran dalam membaca di kelas permulaan, karena dalam pendekatan pengalaman berbahasa wacana dikembangkan oleh guru bersama-sama dengan muridnya secara tatap muka. Dalam kegiatan pengembangan wacana itu dapat

dikembangkan semua keterampilan berbahasa; menyimak atau mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dengan berbaurnya semua keterampilan dalam suatu kegiatan itu guru dituntut untuk lebih kratif. Daftar Rujukan Badudu. J. S. 1993. Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Menengah:Tinjauan dari Masa ke Masa, Bambang Kaswanti Purwo (ed), Pelba 6. Yogyakarta: Kanasius. Muchlisoh. 1992. Materi Pokok Bahasa Indonesia 3. Jakarta: Depdikbud. Semiawan, Conny, dkk. 1986. Pendekatan Keterampilan Proses. Jakarta: PT Gramedia Sri Nuryati. 2007. Pembelajaran Membaca Permulaan Melalui Permainan Bahasa Di Kelas Awal Sekolah Dasar. Jurnal Sekolah Dasar, (Online), (http://www. Google.com, diakses 7 Desember 2007) Winiasih, 2005. Diagnosis Kesulitan Membaca Permulaan Siswa Sd/Mi Melalui analisis Reading Readiness. Jurnal Sekolah Dasar, (Online), Tahun 14, Nomor 1, Mei 2005 1, (http://www. Google.com, diakses 19 Desember 2007) Zuchdi, D dan Budiasih. 1996/1997. Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta:Proyek Pengembangan PGSD Dirjen Dikti Depdikbud.
*) Penulis adalah guru Bahasa Indonesia DPK Depag di MTs Sunan Giri Prigen Kabupaten Pasuruan masih menempuh S2 Pendidikan Bahasa Indonesia di Universitas Islam Malang

Diposkan oleh Akhmad Huda, M. Pd. di Sabtu, Januari 17, 2009 Reaksi:

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->