P. 1
SEJARAH MASUKNYA AGAMA

SEJARAH MASUKNYA AGAMA

|Views: 209|Likes:

More info:

Published by: Roby Pecandu Paccock on Dec 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/31/2014

pdf

text

original

Kristen Protestan pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda pada abad ke-16 M dengan pengaruh ajaran Calvinis dan

Lutheran. Wilayah penganut animisme di wilayah Indonesia bagian Timur, dan bagian lain, merupakan tujuan utama orang-orang Belanda, termasuk Maluku, Nusa Tenggara, Papua dan Kalimantan. Kemudian, Kristen menyebar melalui pelabuhan pantai Borneo, kaum misionarispun tiba di Toraja, Sulawesi. Wilayah Sumatera juga menjadi target para misionaris ketika itu, khususnya adalah orang-orang Batak, dimana banyak saat ini yang menjadi pemeluk Protestan. Umat Katolik Perintis di Indonesia: 645 - 1500 Agama Katolik untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada bagian pertama abad ketujuh di Sumatera Barat. Fakta ini ditegaskan kembali oleh (Alm) Prof. Dr. Sucipto Wirjosuprapto. Untuk mengerti fakta ini perlulah penelitian dan rentetan berita dan kesaksian yang tersebar dalam jangka waktu dan tempat yang lebih luas. Berita tersebut dapat dibaca dalam sejarah kuno karangan seorang ahli sejarah Shaykh Abu Salih al-Armini yang menulis buku ³Daftar beritaberita tentang Gereja-gereja dan pertapaan dari provinsi Mesir dan tanah-tanah di luarnya´. yang memuat berita tentang 707 gereja dan 181 pertapaan Serani yang tersebar di Mesir, Nubia, Abbessinia, Afrika Barat, Spanyol, Arabia, India dan Indonesia. Dengan terus dilakukan penyelidikan berita dari Abu Salih al-Armini kita dapat mengambil kesimpulan kota Barus yang dahulu disebut Pancur dan saat ini terletak di dalam Keuskupan Sibolga di Sumatera Barat adalah tempat kediaman umat Katolik tertua di Indonesia. Di Barus juga telah berdiri sebuah Gereja dengan nama Gereja Bunda Perawan Murni Maria (Gereja Katolik Indonesia seri 1, diterbitkan oleh KWI) Awal Mula: abad ke-14 sampai abad ke-18 Dan selanjutnya abad ke-14 dan ke-15 entah sebagai kelanjutan umat di Barus atau bukan ternyata ada kesaksian bahwa abad ke-14 dan ke-15 telah ada umat Katolik di Sumatera Selatan. Kristen Katolik tiba di Indonesia saat kedatangan bangsa Portugis yang berdagang rempahrempah. Banyak orang Portugis yang memiliki tujuan untuk menyebarkan agama Katolik Roma di Indonesia, dimulai dari kepulauan Maluku pada tahun 1534. Antara tahun 1546 dan 1547, pelopor misionaris Kristen, Fransiskus Xaverius, mengunjungi pulau itu dan membaptiskan beberapa ribu penduduk setempat. Selama masa VOC, banyak praktisi paham Katolik Roma yang jatuh, dalam hal kaitan kebijakan VOC yang mengutuk agama itu. Yang paling tampak adalah di Flores dan Timor Timur, dimana VOC berpusat. Lebih dari itu, para imam Katolik Roma telah dikirim ke penjara atau dihukum dan digantikan oleh para imam Protestan dari Belanda.Seorang imam Katolik Roma telah dieksekusi karena merayakan misa kudus di suatu penjara semasa Jan Pieterszoon Coen menjabat sebagai gubernur Hindia Belanda. Pada tahun 2006, 3% dari penduduk Indonesia adalah Katolik, lebih kecil dibandingkan para penganut Protestan. Mereka kebanyakan tinggal di Papua dan Flores. Kristen Protestan

Kristen Protestan berkembang di Indonesia selama masa kolonial Belanda (VOC), pada sekitar abad ke-16. Kebijakan VOC yang mengutuk paham Katolik dengan sukses berhasil meningkatkan jumlah penganut paham Protestan di Indonesia. Agama ini berkembang dengan sangat pesat di abad ke-20, yang ditandai oleh kedatangan para misionaris dari Eopa ke beberapa wilayah di Indonesia, seperti di wilayah barat Papua dan lebih sedikit di kepulauan Sunda. Pada 1965, ketika terjadi perebutan kekuasaan, orang-orang tidak beragama dianggap sebagai orangorang yang tidak ber-Tuhan, dan karenanya tidak mendapatkan hak-haknya yang penuh sebagai

dengan 60% dan 64% dari jumlah penduduk. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M. kaum Minahasa yang berpusat di sekeliling Manado. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah. yakni Pasai. gereja Protestan mengalami suatu pertumbuhan anggota. yaitu Papua dan Sulawesi Utara. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit. Protestan membentuk suatu perkumpulan minoritas penting di beberapa wilayah.. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin. Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri. Pada tahun 2006. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini. Baru pada abad ke-9 H / 14 M. belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Berupa komplek makam Islam. melainkan makam para pedagang Arab. Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M. yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi'i. di pulau Sulawesi. Demak. Jawa Timur. sebagian besar dari mereka merasa gelisah atas cita-cita politik partai Islam. penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. tidak dengan merebut kekuasaan politik. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran. para transmigran dari pulau Jawa dan Madura yang beragama Islam juga mulai berdatangan. Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. pengembara Muslim dari Maghribi.warganegara. Sebagai contoh. Sriwijaya dan Sunda. adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. terdapat dua provinsi yang mayoritas penduduknya adalah Protestan. Sekitar 65% penduduk di Tana Toraja adalah Protestan. Sebagai hasilnya. berpindah agama ke Protestan pada sekitar abad ke-19. Saat ini. Aceh. tepatnya tahun 674 M. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli. keseluruhan desa atau kampung memiliki sebutan berbeda terhadap aliran Protestan ini. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai.Di Papua. tergantung pada keberhasilan aktivitas para misionaris. lima persen dari jumlah penduduk Indonesia adalah penganut Kristen Protestan. Malaka. seperti Adventist atau Bala Keselamatan. daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara. para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. 17% penduduknya adalah Protestan. Selain itu. terutama di Tana Toraja dan Sulawesi Tengah. ajaran Protestan telah dipraktikkan secara baik oleh penduduk asli. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik. Cirebon. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan. serta Ternate. dibeberapa wilayah. tidak dengan pedang. ISLAM Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi. yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Beberapa tahun kemudian. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam. Di Indonesia. yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. . hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M. Di Sulawesi Utara. kebanyakan dari penduduk asli Sulawesi Utara menjalankan beberapa aliran Protestan. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besarbesaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab.

Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Dalam Tarikh Hadramaut. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. serta hal-hal yang berkaitan dengannya. Tanpa berarti 0 dan Jalu . migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Bila hal ini benar. selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan. sedangkan 'Saka' ditafsirkan sebagai kata Sakya yang mengalami transformasi. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik. Kata 'Aji' dalam bahasa Kawi bisa berarti ilmu yang ada hubungannya dengan kitab suci. Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini. hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin). Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Perang Jawa (Diponegoro).Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahanpemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini. Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman. Banten. Makassar.terutama Belanda . namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Ternate. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut. hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. tarikh Saka yang permulaanya dinyatakan sebagai 'Nir Wuk Tanpa Jalu' (Nir berarti kosong (0). Fathahillah. dalam hal ini ahli tentang Buddha Dhamma. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara. selain dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap pembuatan aksara Jawa. memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Yaman. Cirebon dan Banten. terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Banyak orang menduga bahwa awal masuknya agama Buddha ke Indonesia adalah pada kedatangan Aji Saka ke tanah Jawa pada awal abad kesatu. maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511. Perang Padri (Imam Bonjol). Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa. Pasai. Dugaan ini berawal dari etimologis terhadap Aji Saka itu sendiri. yakni Demak. sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Fathahillah sempat berguru di Makkah. namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani. Wuk berarti tidak jadi (0). Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Satu contoh. yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai. yang lebih terkenal dengan gelarnya. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaankerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Sunda Kelapa. agama seteru mereka. Penyebabnya. Dengan demikian mungkin kata Aji Saka ditafsirkan sebagai gelar raja Tritustha yang ahli mengenai kitab suci Sakya. juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi'i. ulamaulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara. Setiap kali para penjajah . juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi. perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam. Terlepas dari hal ini.menundukkan kerajaan Islam di Nusantara. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat. dan Perang Aceh (Teuku Umar). Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratusratus tahun. mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia). untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin. Sulu (Filipina).

Sekalipun demikian agaknya sesudah abad kelima keadaan berubah. Ia tinggal di India seluruhnya berdasarkan peraturan vinnaya. Dikatakannya : "Mereka yang menyembah Bodhisatta dan membaca sutra mahayana disebut penganut Mahayana. Dari prasasti itu kita hanya mengetahui bahwa pada waktu itu ada raja-raja yang memiliki nama yang berbau India. ia juga menulis buku tentang perjalanan seorang guru agama terkenal yang pergi ke negri disebelah barat (Sriwijaya ?). Dapatkah kita katakan mana yang benar? Keduanya mengajarkan kebajikan . yang sekembalinya dari Ceylon ke China pada tahun 414 terpaksa mendarat di negri yang bernama Ye-Po-Ti karena kapalnya rusak. Sekarang tidak terlalu jelas apakah Ye-Po-Ti itu Jawa atau Sumatra. I-tsing menghabiskan waktunya hidup sendirian sebagai Biksu di India dan Sumatra. Tidak sampai tiga ratus tahun kemudian. kecuali di Melayu dimana ada sedikit yang mengadopsi Mahayana". Bila dibandingkan catatan Fah-Hien tahun 414 dengan catatan I-tsing. I-tsing tampaknya tidak mempermasalahkan perbedaan antara penganut Hinayana dan Mahayana. dimana I-tsing juga menemukan perbedaan antara agama Buddha di China dan di India. Prasasti itu berasal dari Kalimantan. Beberapa ahli mengatakan bahwa Ye-Po-Ti adalah Jawa (Javadvipa). Yang paling mungkin adalah raja-raja tersebut adalah orang Indonesia asli yang sudah masuk agama yang datang dari India. walaupun jumlahnya masih sedikit. Sumatra dan Jawa. Kedua sistem ini sesuai dengan ajaran Dhamma. dapat disimpulkan bahwa agama Buddha juga sudah ada. Informasi paling tua tentang keberadaan Agama Buddha di Jawa dan Sumatra didapat dari pengelana China bernama Fah-Hien. Mulasarvastivadanikayo hampir secara universal di adaptasi. dapat diambil kesimpulan bahwa agama Buddha dipulau Jawa dan Sumatra telah dibangun dengan sangat cepat. Dalam bukunya dikatakan bahwa Biksu asli Jawa dan Sumatra adalah sarjana sanskrit yang sangat bagus. Diceritakannya pada catatannya itu. Prasasti yang berasal dari abad kelima hingga ketujuh tidak terlalu banyak memberikan informasi. pada akhir abad ketujuh. Dari catatannya dapat dikatakan bahwa agama Buddha di India dan Sumatra mempunyai banyak kesamaan. I-tsing menjelaskan dalam bukunya: "Agama Buddha dipeluk diseluruh negri ini dan kebanyakan sistem yang diadopsi adalah Hinayana. tapi dari penemuan patung-patung Buddha. Sementara yang tidak disebut penganut Hinayana. I-tsing mengatakan di kepulauan di laut selatan. Salah saatunya adalah Jnanabhadra yang merupakan orang Jawa Asli yang tinggal di Sumatra dan bertindak sebagai guru bagi biksu China dan membantu menterjemahkan sutra kedalam bahasa China. yaitu dari orang China yang mengunjungi Indonesia.sama dengan 1) yang sekaligus dimaksudkan untuk mengabadikan pendaratan pertama beliau di Jepara. seperti Mulawarman di Kutei dan Purnawarman di Jawa-barat. Sudah banyak diketahui umum bahwa literatur agama Buddha berbahasa sanskrit tidak melulu berarti Mahayana. Bagaimanapun hal ini tidak boleh dijadikan patokan bahwa agama Buddha yang berkembang disini adalah Mahayana. Sumber pengetahuan kita tentang Agama Buddha diambil dari prasasti yang ditemukan dan dari berita-berita luar negri. Pekerjaan I-tsing selain menulis catatan seperti dikemukakan diatas. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa raja tersebut berasal dari India. Fah-Hien menyebutkan ada umat Buddha di Ye-Po-Ti. walaupun cuma sedikit. Selanjutnya prasasti tersebut menunjukan bahwa agama yang dipeluk adalah agama Hindu. Bahasa yang digunakan oleh biksu Buddha adalah bahasa sanskrit. Ketertarikan utamanya adalah pada 'rumah agama Buddha' India utara dimana I-tsing tinggal dan belajar disana selama lebih dari sepuluh tahun. Inilah bentuk agama Buddha yang mencapai kepulauan di laut selatan. Seluruh bukunya merupakan catatan lengkap tentang kehidupan biarawan. Biksu China I-tsing mencatat dengan lengkap agama Buddha dan aplikasinya di India dan Melayu. Bahasa pali tidak digunakan. kehidupan biarawan yang pada intinya hampir sama dengan yang ada di India.

Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari India itu berakhirlah zaman prasejarah Indonesia karena didapatkannya keterangan tertulis yang memasukkan bangsa Indonesia ke dalam zaman sejarah. Dengan kata lain.dan membimbing kita ke Nirvana. di Sriwijaya juga terdapat pengikut Mahayana.barangkali perdana menteri . mungkin pengaruh tantra." Dari karya-karyanya dapat dikatakan bahwa I-tsing tidaklah terlalu dalam bergelut dalam masalah filosofi buddhis tetapi hanya tertarik pada kehidupan biarawan dan tugas-tugas yang diemban oleh mereka. Kecuali pengikut Hinayana. Prasasti lain yang dibuat tahun 775. tubuh baja (intan) yang mengingatkan kepada ajaran wajrayana. Ada lebih dari 1000 biksu yang ajaran serta tata upacaranya sama dengan yang ada di India. Dari ungkapan yang digunakan. telah datang biksu dari India Dharmapala. Berdasarkan keterangan-keterangan yang ditemukan pada prasasti abad ke-8 Masehi dapatlah dikatakan bahwa periode sejarah Bali Kuno meliputi kurun waktu antara abad ke-8 Masehi sampai dengan abad ke-14 Masehi dengan datangnya ekspedisi Mahapatih Gajah Mada dari Majapahit yang dapat mengalahkan Bali. Ketiga stupa tersebut dipersembahkan kepada Buddha. Hal ini didapat dari uraian bahwa salah satu tingkat untuk mendapatkan hikmah tertinggi adalah wajrasarira. dua prasasti ditemukan di dekat Palembang yang bercorak Mahayana. Semua ini menunjukan bahwa pada tahap permulaan masih ada hubungan yang erat antara Indonesia dan India. juga terdapat di Sriwijaya. Kita tidak boleh mempersoalkan perbedaan ini. I-tsing menceritakan bahwa di Melayu. dapat diambil kesimpulan bahwa upacara ini adalah upacara indonesia kuno yang sesuai dengan ajaran Mahayana. Hal ini terbukti dari beberapa prasasti yang didapat disekitar Palembang yang menyebutkan bahwa daputa hyang .yang tidak cuma memerintah di selatan Sumatra tapi juga dibagian selatan semenanjung Melayu . Dari berita ini jelas bahwa Sriwijaya adalah pusat agama Buddha Mahayana.memerintahkan pembangunan tiga stupa. ditemukan di Viengsa. yang jelasjelas merupakan aliran Mahayana. ke Melayu dan menyebarkan aliran Mahayana. Dari berita-berita yang lain jelaslah bahwa Mahayanalah yang berkuasa pada masa itu. Agaknya kemudian Mahayanalah yang berkembang dan berpengaruh besar. Bahkan bukan cuma itu saja. agar segala mahluk dapat menikmatinya. yang di India mempengaruhi agama Buddha sejak pertengahan abad ketujuh. Hubungan ini agaknya makin lama makin berkurang. Bodhisatwa Avalokitesvara dan Vajrapani. namun telah ada sejak zaman dahulu. Pada abad-abad pertama Masehi sampai dengan lebih kurang tahun 1500. Dan ditempat lain ditemukan plat emas yang bertuliskan beberapa nama Dyani Buddha . Dari berita I-tsing itu selanjutnya kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada waktu itu Sriwijaya menjadi pusat agama Buddha. Keduanya menuju kepada pemusnahan nafsu dan penyelamatan semua mahluk hidup. Seperti dikemukakan diatas.berusaha mencari berkat dan kekuatan gaib guna meneguhkan kerajaan Sriwijaya. Nama Balidwipa tidaklah merupakan nama baru. membuat keraguan yang malah akan membuat kebingungan. Disana terdapat sebuah perguruan tinggi Buddha yang tidak kalah dengan perguruan yang ada di Nalanda India. ditengah-tengah pesisir timur Sumatra ada pula yang menganut Mahayana. Hal ini dapat diketahui dari beberapa . Awal abad ke-20. semenanjung Melayu mengemukakan bahwa salah satu raja Sriwijaya dari keturunan Syailendra . Oleh karena itu musafir China yang ingin belajar di India pasti singgah di Sriwijaya untuk mengadakan persiapan. yakni dengan lenyapnya kerajaan Majapahit merupakan masa-masa pengaruh Hindu. di Sumatra dan Jawa lebih berkembang Hinayana. ia memberikan seluruh waktunya untuk belajar vinnaya dan kehidupan biarawan. Bahkan ada guru Mahayana yang mengajar disitu. yang terbuka bagi gagasan baru dan yang juga senang mengadakan pekerjaan ilmiah. Hal itu juga dilakukan oleh I-tsing sendiri. HINDU Berakhirnya zaman prasejarah di Indonesia ditandai dengan datangnya bangsa dan pengaruh Hindu. Dari sumber lain dijelaskan bahwa sebelum kedatangan I-tsing.

Secara detail masa ini dapat diuraikan sebagai berikut : Kedatangan Ekspedisi Gajah Mada Ekspedisi Gajah Mada ke Bali dilakukan pada saat Bali diperintah oleh kerajaan Bedahulu dengan Raja Astasura Ratna Bumi Banten dan Patih Kebo Iwa. Di antara raja-raja Bali. terutama dari zaman megalitikum masih terasa kuat. Di dalam prasasti-prasasti sebelum Raja Anak Wungsu disebut-sebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu.prasasti. Raja yang kedua adalah Dalem Watu Renggong (1460--1550). Hanya dapat diketahui dari nama-nama biksu yang memakai unsur nama Siwa. biksu Siwanirmala. baru pada zaman Raja Anak Wungsu. di antaranya dari prasasti Blanjong yang dikeluarkan oleh Sri Kesari Warmadewa pada tahun 913 Masehi yang menyebutkan kata "Walidwipa". pusat pemerintahan dipindahkan ke Gelgel. Pada saat inilah dimulai zaman Gelgel dan Raja Dalem Ketut Ngulesir merupakan raja pertama. Tentu saja istilah seni keraton ini tidak berarti bahwa seni itu tertutup sama sekali bagi rakyat. kemungkinan agama yang berkembang pada saat itu adalah agama Siwa. Pertempuran ini mengakibatkan raja Bedahulu dan putranya wafat. Oleh Dalem Ketut Ngulesir. Masa 1343--1846 Masa ini dimulai dengan kedatangan ekspedisi Gajah Mada pada tahun 1343. Akan tetapi. laut. Kepercayaan pada zaman itu dititikberatkan kepada pemujaan roh nenek moyang yang disimboliskan dalam wujud bangunan pemujaan yang disebut teras piramid atau bangunan berundak-undak. Penyerangan ini mengakibatkan terjadinya pertempuran antara pasukan Gajah Mada dengan kerajaan Bedahulu. Di bawah pemerintahan Watu Renggong. Badan ini beranggotakan beberapa orang senapati dan pendeta Siwa dan Budha. Dengan terlebih dahulu membunuh Kebo Iwa. pengaruh zaman prasejarah. dan biksu Siwaprajna. Raden Samprangan digantikan oleh Dalem Ketut Ngulesir. dan Anak Wungsu. Bali (Gelgel) mencapai puncak kejayaannya. . ada dua aliran agama besar yang dipeluk oleh penduduk. Dalam bidang agama. seperti prasasti Buwahan D dan prasasti Cempaga A yang berangka tahun 1181 Masehi. Dalam prasasti tertua 882 Masehi -914 Masehi badan ini disebut dengan istilah "panglapuan". Baru pada masa pemerintahan Raja Udayana dan permaisurinya. Kadang-kadang seni ini dipertunjukkan kepada masyarakat di desa-desa atau dengan kata lain seni keraton ini bukanlah monopoli raja-raja. Keterangan ini diperoleh dari prasastiprasastinya yang menyebutkan adanya mpungku Sewasogata (Siwa-Budha) sebagai pembantu raja. Kepercayaan pada dewa-dewa gunung. Demikian pula dari prasasti-prasasti RajaJayapangus. Jayapangus . Untuk itu. Kadangkadang di atas bangunan ditempatkan menhir. dan lainnya yang berasal dari zaman sebelum masuknya Hindu tetap tercermin dalam kehidupan masyarakat pada zaman setelah masuknya agama Hindu. yaitu tiang batu monolit sebagai simbol roh nenek moyang mereka. Sejak zaman Udayana. yaitu seni keraton dan seni rakyat. Dalem Watu Renggong menaiki singgasana dengan warisan kerajaan yang stabil sehingga beliau dapat mengembangkan kecakapan dan kewibawaannya untuk memakmurkan kerajaan Gelgel. yaitu agama Siwa dan agama Budha. Majapahit menunjuk Sri Kresna Kepakisan untuk memimpin pemerintahan di Bali dengan pertimbangan bahwa Sri Kresna Kepakisan memiliki hubungan darah dengan penduduk Bali Aga. raja dibantu oleh suatu Badan Penasihat Pusat. Setelah Dalem Watu Renggong wafat beliau digantikan oleh Dalem Bekung (1550--1580). kita dapat membedakan jenis seni menjadi dua kelompok yang besar. yang banyak meninggalkan keterangan tertulis yang juga menyinggung gambaran tentang susunan pemerintahan pada masa itu adalah Udayana. Badan Penasihat Pusat disebut dengan istilah "pakiran-kiran i jro makabaihan". Berdasarkan hal ini. Jayasakti. Pada masa permulaan hingga masa pemerintahan Raja Sri Wijaya Mahadewi tidak diketahui dengan pasti agama yang dianut pada masa itu. sebagai contoh biksu Piwakangsita Siwa. Zaman Gelgel Karena ketidakcakapan Raden Agra Samprangan menjadi raja. Setelah Pasung Grigis menyerah terjadi kekosongan pemerintahan di Bali. Dalam mengendalikan pemerintahan. sedangkan raja terakhir dari zaman Gelgel adalah Dalem Di Made (1605-1686). Pada zaman Hindu hal ini terlihat pada bangunan pura yang mirip dengan pundan berundak-undak. Gajah Mada memimpin ekspedisi bersama Panglima Arya Damar dengan dibantu oleh beberapa orang Arya.

. istana Gelgel tidak dipulihkan kembali. Dengan demikian. Raja kedua adalah Dewa Agung Di Made I. Gusti Agung Jambe sebagai putra yang berhak atas takhta kerajaan. Pemberontakan I Gusti Agung Maruti ternyata telah mengakhiri periode Gelgel. yaitu bekas tempat persembunyiannya. Kerajaan-kerajaan kecil ini selanjutnya menjadi Swapraja (berjumlah delapan buah) yang pada zaman kemerdekaan dikenal sebagai kabupaten. Pada zaman Klungkung ini wilayah kerajaan terbelah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. tetapi memilih tempat baru sebagai pusat pemerintahan. yaitu Semarapura. Dewa Agung Jambe (1710--1775) merupakan raja pertama zaman Klungkung. sedangkan raja Klungkung yang terakhir adalah Dewa Agung Di Made II. Hal itu terjadi karena setelah putra Dalem Di Made dewasa dan dapat mengalahkan I Gusti Agung Maruti. ternyata tidak mau bertakhta di Gelgel.Zaman Kerajaan Klungkung Kerajaan Klungkung sebenarnya merupakan kelanjutan dari Dinasti Gelgel.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->