PENDAHULUAN Appendiks disebut juga umbai cacing, istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang

tepat karena usus buntu sebenarnya adalah sekum. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.(2) Appendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens lelaki lebih tinggi.(2)

I. Anatomi Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, payer patch (analog dengan Bursa Fabricus) membentuk produk immunoglobulin.(2) Appendiks adalah suatu struktur kecil, berbentuk seperti tabung yang berkait menempel pada bagian awal dari sekum. Pangkalnya terletak pada posteromedial caecum. Pada Ileocaecal junction terdapat Valvula Ileocecalis (Bauhini) dan pada pangkal appendiks terdapat valvula appendicularis (Gerlachi). Panjang antara 7-10 cm, diameter 0,7 cm. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal.(1) Appendiks terletak di kuadran kanan bawah abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli (taenia libera, taenia colica, dan taenia omentum). Dari topografi anatomi, letak pangkal appendiks berada pada titik Mc Burney, yaitu titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari SIAS kanan.(3) Appendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale. Mesenteriolum berisi a. Apendikularis (cabang a.ileocolica). Orificiumnya terletak 2,5 cm dari katup ileocecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil. (4,7)

Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa, submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan serosa. Appendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran Jackson yang merupakan lapisan peritoneum yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum terminal, menutup caecum dan appendiks. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat dan jaringan elastic membentuk jaringan saraf, pembuluh darah dan lymphe. Antara Mukosa dan submukosa terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis collumnar epithelium dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Dinding dalam sama dan berhubungan dengan sekum (inner circular layer). Dinding luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada pertemuan caecum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan untuk mencari appendiks.(4) Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke-8 yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi apendiks, yang akan berpindah dari medial menuju katup ileosekal. (5) Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65 % kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apediks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.(2) Jenis posisi: Promontorik Retrocolic retroperitoneal. Antecaecal Paracaecal : appendiks berada di depan caecum. : appendiks terletak horizontal di belakang caecum. : ujung appendiks menunjuk ke arah promontoriun sacri : appendiks berada di belakang kolon ascenden dan biasanya

Jika apendik terletak retroperitoneal.Ileocecalis.Tunika mucosa : memiliki kriptus tapi tidak memiliki villus. maka appendiks tidak terbungkus oleh tunika serosa. A. . Bagian luar dari submukosa adalah dinding otot yang utama. misalnya karena trombosis pada infeksi. nyeri viseral pada appendisitis bermula di sekitar umbilikus. appendiks akan mengalami gangren.(6) : bila letaknya intraperitoneal asalnya dari peritoneum II. Jika arteri ini tersumbat. appendiks berputar ke atas ke belakang caecum. . Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dan arteri appendikularis. Appendikularis merupakan arteri tanpa kolateral. Appendiks terbungkus oleh tunika serosa yang terdiri atas vaskularisasi pembuluh darah besar dan bergabung menjadi satu di mesoappendiks.Tunika muscularis : stratum sirculare sebelah dalam dan stratum longitudinale ( gabungan tiga tinea coli) sebelah luar. Oleh karena itu. appendiks mempunyai basis stuktur yang sama seperti usus besar.Tunika submucosa : banyak folikel lymphoid.Tunika serosa viscerale. Histologis: .Pelvic descenden Retrocaecal : appendiks menggantung ke arah pelvis minor : intraperitoneal atau retroperitoneal. cabang dari a. Fisiologi . cabang dari a. Glandula mukosanya terpisahkan dari vascular submucosa oleh mucosa maskularis.(6) Appendiks dipersarafi oleh parasimpatis dan simpatis. Mesenterica superior. sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus thorakalis X. .(2) Pendarahan appendiks berasal dari arteri Appendikularis .(2) Secara histologis.

(2) Dinding appendiks terdiri dari jaringan lymphe yang merupakan bagian dari sistem imun dalam pembuatan antibodi. tidak ada jaringan lymphoid lagi di apendiks dan terjadi obliterasi lumen apendiks komplit. (5. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum.(2) Jaringan lymphoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu setelah lahir. Fekalit merupakan penyebab tersering dari obstruksi apendiks. dan menetap saat dewasa dan kemudian berkurang mengikuti umur. sekitar 65% merupakan apendisitis gangrenous tanpa rupture dan sekitar 90% kasus apendisitis gangrenous dengan rupture. Namun demikian. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis. Trauma tumpul atau trauma karena colonoscopy dapat mencetuskan inflamasi pada apendiks. Definisi Apendisitis merupakan peradangan pada appendix vermiformis. Fekalit ditemukan pada 40% dari kasus apendisitis akut. pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfonodi di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh. diet rendah serat. ialah IgA. Setelah usia 60 tahun. dan cacing usus termasuk ascaris.Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. (5) III. sisa barium dari pemeriksaan roentgen.8) Frekuensi obstruksi meningkat dengan memberatnya proses inflamasi. Penyebab lainnya adalah hipertrofi jaringan limfoid. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. Etiologi Obstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis. Post operasi apendisitis juga dapat menjadi penyebab akibat adanya trauma atau stasis fekal. (5) .(2) IV. Jumlahnya meningkat selama pubertas.

tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor. Obstruksi tersebut mneyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. (9. Histolytica. striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam. Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. menghambat aliran limfe. Patofisiologi Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid. Manusia merupakan salah satu dari sedikit makhluk hidup yang dapat mengkompensasi peningkatan sekresi yang cukup tinggi sehingga menjadi gangrene atau terjadi perforasi. yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.(9) Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa apendiks yang distensi. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. Makin lama mucus tersebut makin banyak.10) Bila sekresi mukus terus berlanjut. Semuanya akan mempermudah terjadinya apendisits akut. benda asing.(9) . atau neoplasma. Konstipasi akan meningkatkan tekanan intrasekal. dan bakteri akan menembus dinding.Penyebab lain yang diduga dapat menyebabkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis. Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0. tekanan akan terus meningkat. Jika sekresi sekitar 0. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium.(5) Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia. fekalit. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah.5 dapat meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20.1 ml.(2) V. terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri. edema bertambah.

(2) .(9) Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme. usus yang lain. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. akan terjadi apendisitis perforasi. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. omentum. ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum. apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. daya tahan tubuh. usus halus. peritoneum parietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria. (9) Bila semua proses diatas berjalan lambat. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis.Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. oleh karena itu pendeita harus benar-benar istirahat (bedrest). Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini.(9) Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. (4) Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna. tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. uterus tuba. (2) Pada anak-anak. Jika tidak terbentuk abses. karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum abdominalis. dinding apendiks lebih tipis. fibrosis pada dinding apendiks. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah.

Obstipasi dan diare pada anak-anak.VI. 3.5º-38. antara lain 1. Gejala Klinis Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita. Nyeri abdominal Nyeri ini merupakan gejala klasik appendisitis. terjadi bila sudah ada komplikasi. Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat. 4. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus. Suhu biasanya berkisar 37. bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum panas. mungkin kolik Apenditis mukosa nyeri tekan kanan bawah (rangsaganan automik) . Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. 5. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering diagnosis appendisitis diketahui setelah terjadi perforasi. (2) Kelainan patologi Peradangan awal Keluhan dan tanda Kurang enak ulu hati/daerah pusat. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc Burney). Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk. Demam. Mual-muntah biasanya pada fase awal. Nafsu makan menurun.(2) 2.5º C Gejala appendisitis akut pada anak-anak tidak spesifik.

ureter. Perforasi mulai toksik. mual dan muntah Apendisitis komplet radang Peritoneum parietale appendiks rangsangan peritoneum lokal (somatik) nyeri pada gerak aktif dan pasif. m. takikardia.Radang di seluruh Ketebalan dinding nyeri sentral pindah ke kanan bawah.psoas. defans muskuler lokal Radang alat/jaringan yang Menempel pada appendiks genitalia interna. dehidrasi. toksik massa perut kanan bawah. kantung kemih. keadaan . leukositosis Pendindingan (Infiltrat) demam tinggi. rektum demam sedang. Tidak berhasil syok.

5-38. 1. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. Akibatnya lebih dari separo penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi. mungkin sudah terjadi perforasi. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendikuler.5°C. Pemeriksaan Fisik Demam biasanya ringan. pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan muntah. Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan. (2) Pada kehamilan. dengan suhu sekitar 37. . (2) VII. Bila suhu lebih tinggi.Berhasil umum berangsur membaik demam remiten. keadaan umum toksik. keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut. Yang perlu diperhatikan ialah. tidak jarang terlambat diagnosis. mual. Abses keluhan dan tanda setempat Pada orang berusia lanjut gejalanya juga sering samar-samar saja. Inspeksi Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. Penderita tampak kesakitan. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1°C. dan muntah.

Pemeriksaan colok dubur akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12.(2) 3. Appendisitis infiltrat atau adanya abses apendikuler terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah. Pada appendiks letak retroperitoneal. Colok dubur pada anak tidak dianjurkan. maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Burney − Nyeri lepas − Defans muscular lokal. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal. Palpasi Dengan palpasi di daerah titik Mc. batuk. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata. Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung − nyeri tekan bawah pada tekanan kiri (Rovsing) − nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg) − nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam. Auskultasi Peristaltik usus sering normal. Pada appendisitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu: − Nyeri tekan di Mc. mengedan. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang . defans muscular mungkin tidak ada. (2) Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan. yang ada nyeri pinggang. berjalan.2.

Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit. (11) VIII. Apendiks yang mengalami peradangan kontak dengan otot psoas yang meregang saat dilakukan manuver (pemeriksaan). Abdominal X-Ray . Creaktif protein meningkat. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendisitis. (11) Dasar anatomi dari tes psoas.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. Bila apendiks yang meradang menempel di m. Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendicitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. pada saat itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut (tanda bintang). menghasilkan rotasi femur kedalam. (2) Psoas sign. leukosit dan bakteri di dalam urin. (11) Tes Obturator. Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha pasien difleksikan. 2. Pada appendicular infiltrat.psoas. Pemeriksa meluruskan paha kanan pasien. Pemeriksaan Laboratorium a.lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. Dengan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m. psoas lewat hiperekstensi atau fleksi aktif. tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Pemeriksa menggerakkan tungkai bawah kelateral. b. (11) Dasar Anatomi dari tes obturator : Peradangan apendiks dipelvis yang kontak denhgan otot obturator internus yang meregang saat dilakukan manuver. LED akan meningkat. Nyeri pada saat paha kanan pasien diekstensikan. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan m. pada saat itu ada hambatan pada pinggul / pangkal paha kanan. Pemeriksaan Penunjang 1. pada apendisitis pelvika akan menimbulkan nyeri. Pasien dimiringkan kekiri.

Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik. USG Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan. 4. Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. Dimana akan tampak pelebaran/penebalan dinding mukosa appendiks. Appendicogram memiliki sensitivitas dan tingkat akurasi yang tinggi sebagai metode diagnostik untuk menegakkan diagnosis appendisitis khronis. Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak.Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendisitis. 6. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendiks maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendiks. CT-scan Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendisitis. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai . 3. 7. Barium enema Suatu pemeriksaan x-ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus. juga bila dicurigai adanya abses. disertai penyempitan lumen hingga sumbatan usus oleh fekalit. appendiks dapat divisualisasikan secara langsung. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendisitis seperti bila terjadi abses. Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas (gold standard) untuk diagnosis appendisitis akut. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendisitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. terutama pada wanita. dapat dilakukan pemeriksaan USG. adnecitis dan sebagainya. Laparoscopi Suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukan dalam abdomen. 5.

Sel granulosit diatas lapisan serosa appendiks dengan abses 4 apendikuler. hal ini disebabkan sulitnya komunikasi antara anak. orang tua dan dokter. Hasilnya adlah perlu adanya komunikasi antara ahli patologi dan antara ahli patologi dengan ahli bedahnya. pernah meneliti variasi diagnosis histopatologi appendisitis akut.gambaran histopatologi appendisitis akut. Sistem skor Alvarado Diagnosis appendisitis akut pada anak tidak mudah ditegakkan hanya berdasarkan gambaran klinis. Anak belum mampu untuk mendiskripsikan keluhan yang dialami. bukan apendisitis akut tetapi periapendisitis. Sel granulosit dalam lumen appendiks dengan infiltrasi ke dalam 3 lapisan epitel. Keadaan ini menghasilkan angka . dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukusa. Riber et al. suatu hal yang relatif lebih mudah pada umur dewasa. Definisi histopatologi apendisitis akut: Sel granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di 1 lapisan epitel. 2 Abses pada kripte dengan sel granulosit dilapisan epitel. Perbedaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa belum adanya kriteria gambaran histopatologi appendisitis akut secara universal dan tidak ada gambaran histopatologi apendisitis akut pada orang yang tidak dilakukan operasi. Sel granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses 5 mukosa dan keterlibatan lapisan mukosa.

Telah banyak dikemukakan cara untuk menurunkan insidensi apendiktomi negatif. Amri dan Bermansyah. Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan medis ialah membuat diagnosis yang tepat. Skor Alvarado untuk diagnosis appendisitis akut: Gejala dan tanda: Nyeri berpindah Anoreksia Mual-muntah Nyeri fossa iliaka kanan Nyeri lepas Peningkatan suhu > 37. 1996). Rice.20C. lekositosis dan netrofil lebih dari 75%. salah satunya adalah dengan instrumen skor Alvarado. temperatur lebih dari 37. 1999). Alfredo Alvarado tahun 1986 membuat sistem skor yang didasarkan pada tiga gejala . Dalam sistem skor Alvarado ini menggunakan faktor risiko meliputi migrasi nyeri. tiga tanda dan dua temuan laboratorium. nyeri tekan di abdomen kuadran kanan bawah. sehingga kedelapan faktor ini memberikan jumlah skor 10 (Alvarado.appendiktomi negatif sebesar 20% dan angka perforasi sebesar 20-30% (Ramachandran. nausea dan atau vomitus. cepat dan kurang invasif (Seleem. anoreksia. 1986. 1997). Skor Alvarado adalah sistem skoring sederhana yang bisa dilakukan dengan mudah. Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan pra operasi dan untuk menilai derajat keparahan apendisitis.30C Jumlah leukosit > 10x103/L Jumlah neutrofil > 75% Skor 1 1 1 2 1 1 2 1 __________________________________________________ . nyeri lepas tekan . Nyeri tekan kuadran kanan bawah dan lekositosis mempunyai nilai 2 dan keenam sisanya masing-masing mempunyai nilai 1.

Gastroenteritis Pada gastroenteritis. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan appendisitis. Diagnosis Banding 1. 3. 2. mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. dan disertai dengan perasaan mual-muntah. Limfadenitis mesenterica Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Hiperperistaltik sering ditemukan. Ileitis akut . Ditandai dengan nyeri perut yang samar-samar terutama disebelah kanan.Total skor: Keterangan Alavarado score :   Dinyatakan appendicitis akut bila > 7 point 10 Modified Alvarado score (Kalan et al) tanpa observasi of Hematogram: 1–4 5–6 7–9 dipertimbangkan appendicitis akut possible appendicitis tidak perlu operasi appendicitis akut perlu pembedahan :  Penanganan berdasarkan skor Alvarado 1–4 5–6 : observasi : antibiotic 7 – 10 : operasi dini IX.

Jika ditemukan pada laparotomi. Pada colok vaginal jika uterus diayunkan maka akan terasa nyeri. Peradangan pelvis Tuba fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendiks. 6. 5. Biasanya disertai dengan keputihan. Jika terjadi ruptur tuba atau abortus di luar rahim dengan perdarahan akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik. Diverticulitis Meskipun diverculitis biasanya terletak di perut bagian kiri. hematokrit meningkat. Radang kedua organ ini sering bersamaan sehingga disebut salpingo-ooforitis atau adnecitis. tetapi kadangkadang dapat juga terjadi di sebelah kanan.Berkaitan dengan diare dan sering kali riwayat kronis. appendiktomi insidental diindikasikan utntuk menghilangkan gejala yang membingungkan. Kehamilan ektopik Ada riwayat terhambat menstruasi dengan keluhan yang tidak menentu. DHF Pada penyakit ini pemeriksaan darah terdapat trombositopeni. dan pada kuldosentesis akan didapatkan darah. tetapi tidak jarang anorexia. Jika terjadi peradangan dan ruptur pada diverticulum gejala klinis akan sukar dibedakan dengan gejala-gejala appendisitis. Untuk menegakkan diagnosis penyakit ini didapatkan riwayat kontak sexual. 7. 4. . rumple leed (+). Suhu biasanya lebih tinggi daripada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. mual. Pada pemeriksaan colok vagina didapatkan nyeri dan penonjolan di cavum Douglas. leukopeni. muntah.

massa tadi menjadi terisi nanah. Masalah ini adalah bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam. Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. Batu ureter atau batu ginjal Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. Jika peradangan pada apendiks tidak dapat mengatasi rintangan-rintangan sehingga penderita terus mengalami peritonitis umum. massa yang terbentuk tersusun atas campuran membingungkan bangunan-bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. Penatalaksanaan Appendiktomi § § Cito Elektif : akut.(12) Massa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus.8. Pada appendisitis akut tanpa komplikasi tidak banyak masalah. abses & perforasi : kronik Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. Mula-mula. sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu pembentukan abses yang dapat mudah didrainase. (12) Urut-urutan patologis ini merupakan masalah bagi ahli bedah. semula dalam jumlah sedikit. X. tetapi segera menjadi abses yang jelas batasnya. Foto polos abdomen atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut. ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang apendiks yang mungkin gangrene dari dalam massa perlekatan ringan yang longgar dan sangat berbahaya. Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat apendiks menjadi dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya. Pada massa periapendikular . Insidensi appendiks normal yang dilakukan pembedahan sekitar 20%. Hematuria sering ditemukan. dan bilamana karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi dan vascular.

(2) Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan. (13) Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi. dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh. dan penderita usia lanjut. wanita hamil. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaikbaiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tinggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi. tindakan bedah apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak. Terapi konservatif pada periapendikular infiltrat : 1. ukuran massa. dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. bertambahnya nyeri. dan teraba pembengkakan massa. serta luasnya peritonitis. dianjurkan operasi secepatnya. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi. massa periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. Bila terjadi perforasi. massa periapendikular hilang. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau pun tanpa peritonitis umum. dilarang keras membuka perut. (13) Pada periapendikular infiltrat.yang pendidingannya belum sempurna. Pasien dewasa dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna. dan leukosit normal. akan terbentuk abses apendiks. Pada anak. apendiks dibiarkan saja. Oleh karena itu. lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses. Bila sudah tidak ada demam. . (2) Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka operasi ditutup lagi. dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata. Selain itu. Pada anak kecil. operasi lebih mudah. penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. serta bertambahnya angka leukosit.

tandanya telah terbentuk abses dan massa harus segera dibuka dan didrainase. drai dapat diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci tiap hari. yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian. Diet lunak bubur saring 3. dilakukan apendiktomi. dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses. lebih baik diambil karena apendik ini akan menjadi sumber infeksi. bila apendiks mudah diambil. Biasanya 48 jam gejala akan mereda.2) Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja.(4. bila pus sudah kurang dari 100 cc/hari. Batas dari massa hendaknya diberi tanda (demografi) setiap hari. Bila massa tidak juga mengecil. antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. Bila gejala menghebat. maka apendiks dapat dipertahankan karena jika dipaksakan akan ruptur dan infeksi dapat menyebar. Antibiotik sistemik dilanjutkan sampai minimal 5 hari post operasi. Observasi suhu dan nadi. dan dikeluarkan lewat samping perut. Untuk mengecek pengecilan abses tiap hari penderita di RT. Abses didrainase dengan selang yang berdiameter besar. Biasanya pada hari ke5-7 massa mulai mengecil dan terlokalisir. dianjurkan drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. Baru setelah keadaan tenang. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun. Bila apendiks sukar dilepas. Abses dicapai secara ekstraperitoneal. (4) Penderita periapendikular infiltrat diobservasi selama 6 minggu tentang : • • LED Jumlah leukosit . dapat dipertimbangkan membatalakan tindakan bedah. tandanya terjadi perforasi maka harus dipertimbangkan appendiktomy.2. Pipa drainase didiamkan selama 72 jam. Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi. Kalau sudah terjadi abses.(4) Caranya dengan membuat insisi pada dinding perut sebelah lateral dimana nyeri tekan adalah maksimum (incisi grid iron).

Leukosit normal o o o Kebijakan untuk operasi periapendikular infiltrat : 1. Bila LED tetap tinggi .1990. tidak terdapat kenaikan suhu tubuh (diukur rectal dan aksiler) Tanda-tanda apendisitis sudah tidak terdapat Massa sudah mengecil atau menghilang. yang dapat dicapai melalui insisi Mc Burney (Raffensperger.maka perlu diperiksa o o o Apakah penderita sudah bed rest total Pemakaian antibiotik penderita Kemungkinan adanya sebab lain. Tidak didapatkan massa atau pada pemeriksaan berulang massa sudah tidak mengecil lagi. d.• Massa Periapendikular infiltrat dianggap tenang apabila : 1. Anamesa : penderita sudah tidak mengeluh sakit atau nyeri abdomen 2. 1994. 2000). operasi tetap dilakukan.(4) Pembedahannya adalah dengan appendiktomi. Tindakan pembedahan pada kasus apendisitis akut dengan penyulit peritonitis berupa apendektomi yang dicapai melalui laparotomi (Raffensperger. atau massa tetap ada tetapi lebih kecil dibanding semula. . e. Bila ada massa periapendikular yang fixed. Tidak didapatkan leukositosis 3. Pemeriksaan fisik : o Keadaan umum penderita baik. 1993). Ein. 1990. Mantu. Laboratorium : LED kurang dari 20. ini berarti sudah terjadi abses dan terapi adalah drainase. Bila LED telah menurun kurang dari 40 2. Cloud. Bila dalam 8-12 minggu masih terdapat tanda-tanda infiltrat atau tidak ada perbaikan.

Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah : • nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen menyeluruh Suhu tubuh naik tinggi sekali. 4. Komplikasi Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi. Pelvic Abscess 2. 8. Cutis Sub cutis Fascia Scarfa Fascia Camfer Aponeurosis MOE 6. 9. 5. dan lekuk usus halus. Nadi semakin cepat. 7.(2) Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis generalisata. MOI M. Subphrenic absess . Transversus Fascia transversalis Pre Peritoneum Peritoneum XI. Defance Muskular yang menyeluruh Bising usus berkurang Perut distended • • • • • Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya : 1. sekum.Lapisan kulit yang dibuka pada Appendektomi : 1. 3. 2. baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks. 10.

(14) XII. DAFTAR PUSTAKA 1. Prognosis Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil. dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.bedahugm.net/Bedah-Digesti/Apendik/Epidemiologi.html . Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi. Intra peritoneal abses lokal.3. http://www. Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat.(4) Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk kerongga abdomen.

Department Of Health and Human Services. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2.digestive. http://www. NIH Publication No. 2004. Principles of Surgery sevent edition.medicinenet. Appendicitis. 13.Dudley. 04–4547. 2003.org 12. http://library. Texas . 1999.emedmag.F.. Tosca Enterprise. Emerg Med 36 (10): 10-15. Kartika. EGC.pdf.G.http://www.S. 2000.. Gadjah Mada University Press. dkk.. Bratajaya Fakultas Kedokteran UNAIR.. Anonim. De Jong. M. Mansjoer. A.ac.S. Mc-Graw Hill a Division of The McGraw-Hill Companies. 6. M.usu. Chirurgica. E.com/appendicitis/ 4. www. Enigma an Enigma Electronic Publication.W. Sjamsuhidajat. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua.com 11.com 8. Acute Appendisitis :Review and Update. Appendix. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Jones. 2004.gov .. 2005..id/download/fk/bedah-emir%20jehan. 2004. . dkk. Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ilmu Bedah dan Teknik Operasi. Ilmu Bedah Gawat Darurat edisi kesebelas. S. Dina. Hardin.2. S. Spencer. Peran C Reaktif Protein Dalam Menentukan Diagnosa Appendisitis Akut. Itskowiz.M. 1999. Jakarta.nih. Anonim. Fisher. R. PathologyOutlines.niddk..patholoyoutlines.. Hugh. 2005. Anonim.June 2004.A.1995. Schwartz. 9. 5. http://www. The American Academy of Family Physicians.. Appendicitis. Surabaya. Jehan. Yogyakarta.. National Institute of Health. D. 3. Jakarta. Jakarta. Yogyakarta. www. 7. Bagian Ilmu bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. Reksoprodjo. U. Bina Rupa Aksara.. 14. S. Texas A&M University Health Science Center. 10. 1992. Bagian Bedah Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Temple.aafg.

KATA PENGANTAR .

Lepas dari segala kekurangan yang ada.B sebagai pembimbing dalam pembuatan referat ini. Harinto. Referat ini disusun sebagai salah satu tugas persyaratan kelulusan kepaniteraan klinik Bagian Bedah RSUD Budhi Asih Jakarta. Jakarta. dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Sp. Kami menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. kami berharap semoga referat ini membawa manfaat bagi kita semua. Tidak lupa terima kasih juga penulis sampaikan kepada dokter-dokter pembimbing di RSUD Budhi Asih atas bimbingan yang kami dapat selama kepaniteraan klinik ini serta teman – teman sekalian yang telah memberi semangat dan masukan dalam menyelesaikan referat ini. Oleh sebab itu diharapkan bantuan dari dokter pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa untuk memberikan saran dan masukan yang berguna bagi penulis. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr.Puji sukur saya panjatkan kepada ALLAH SWT atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul “Appendicitis”. April 2009 Penulis APPENDICITIS .

04.Penyusun : Hersih Srinowati (030. Sp.B Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah RSUD Budhi Asih Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti . Harinto.093) Pembimbing : Dr.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful