Referat Appendicitis

PENDAHULUAN Appendiks disebut juga umbai cacing, istilah usus buntu yang dikenal di masyarakat awam adalah kurang

tepat karena usus buntu sebenarnya adalah sekum. Organ yang tidak diketahui fungsinya ini sering menimbulkan masalah kesehatan. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya.(2) Appendisitis dapat ditemukan pada semua umur, hanya pada anak kurang dari satu tahun jarang dilaporkan. Insidensi tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun, setelah itu menurun. Insidens pada laki-laki dan perempuan umumnya sebanding, kecuali pada umur 20-30 tahun, insidens lelaki lebih tinggi.(2)

I. Anatomi Appendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, payer patch (analog dengan Bursa Fabricus) membentuk produk immunoglobulin.(2) Appendiks adalah suatu struktur kecil, berbentuk seperti tabung yang berkait menempel pada bagian awal dari sekum. Pangkalnya terletak pada posteromedial caecum. Pada Ileocaecal junction terdapat Valvula Ileocecalis (Bauhini) dan pada pangkal appendiks terdapat valvula appendicularis (Gerlachi). Panjang antara 7-10 cm, diameter 0,7 cm. Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar di bagian distal.(1) Appendiks terletak di kuadran kanan bawah abdomen. Tepatnya di ileosecum dan merupakan pertemuan ketiga taenia coli (taenia libera, taenia colica, dan taenia omentum). Dari topografi anatomi, letak pangkal appendiks berada pada titik Mc Burney, yaitu titik pada garis antara umbilicus dan SIAS kanan yang berjarak 1/3 dari SIAS kanan.(3) Appendiks vermiformis disangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale. Mesenteriolum berisi a. Apendikularis (cabang a.ileocolica). Orificiumnya terletak 2,5 cm dari katup ileocecal. Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil. (4,7)

Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan yaitu mukosa, submukosa, muskularis eksterna/propria (otot longitudinal dan sirkuler) dan serosa. Appendiks mungkin tidak terlihat karena adanya membran Jackson yang merupakan lapisan peritoneum yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum terminal, menutup caecum dan appendiks. Lapisan submukosa terdiri dari jaringan ikat dan jaringan elastic membentuk jaringan saraf, pembuluh darah dan lymphe. Antara Mukosa dan submukosa terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis collumnar epithelium dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn. Dinding dalam sama dan berhubungan dengan sekum (inner circular layer). Dinding luar (outer longitudinal muscle) dilapisi oleh pertemuan ketiga taenia colli pada pertemuan caecum dan apendiks. Taenia anterior digunakan sebagai pegangan untuk mencari appendiks.(4) Appendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi minggu ke-8 yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yang berlebih akan menjadi apendiks, yang akan berpindah dari medial menuju katup ileosekal. (5) Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab rendahnya insiden apendisitis pada usia itu. Pada 65 % kasus, apendiks terletak intraperitoneal. Kedudukan itu memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya, apediks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis apendisitis ditentukan oleh letak apendiks.(2) Jenis posisi: Promontorik Retrocolic retroperitoneal. Antecaecal Paracaecal : appendiks berada di depan caecum. : appendiks terletak horizontal di belakang caecum. : ujung appendiks menunjuk ke arah promontoriun sacri : appendiks berada di belakang kolon ascenden dan biasanya

nyeri viseral pada appendisitis bermula di sekitar umbilikus. appendiks berputar ke atas ke belakang caecum. appendiks mempunyai basis stuktur yang sama seperti usus besar. sedangkan persarafan simpatis berasal dari nervus thorakalis X. Histologis: . Glandula mukosanya terpisahkan dari vascular submucosa oleh mucosa maskularis. cabang dari a.Tunika mucosa : memiliki kriptus tapi tidak memiliki villus. Jika arteri ini tersumbat. A. .Tunika submucosa : banyak folikel lymphoid. Bagian luar dari submukosa adalah dinding otot yang utama. . misalnya karena trombosis pada infeksi. Persarafan parasimpatis berasal dari cabang nervus vagus yang mengikuti arteri mesenterika superior dan arteri appendikularis.(6) Appendiks dipersarafi oleh parasimpatis dan simpatis. Oleh karena itu.Tunika muscularis : stratum sirculare sebelah dalam dan stratum longitudinale ( gabungan tiga tinea coli) sebelah luar.(6) : bila letaknya intraperitoneal asalnya dari peritoneum II.Tunika serosa viscerale. Fisiologi .(2) Pendarahan appendiks berasal dari arteri Appendikularis . Appendikularis merupakan arteri tanpa kolateral.Pelvic descenden Retrocaecal : appendiks menggantung ke arah pelvis minor : intraperitoneal atau retroperitoneal. Mesenterica superior. appendiks akan mengalami gangren. .(2) Secara histologis. cabang dari a. Appendiks terbungkus oleh tunika serosa yang terdiri atas vaskularisasi pembuluh darah besar dan bergabung menjadi satu di mesoappendiks. Jika apendik terletak retroperitoneal. maka appendiks tidak terbungkus oleh tunika serosa.Ileocecalis.

Imunoglobulin itu sangat efektif sebagai pelindung terhadap infeksi. dan menetap saat dewasa dan kemudian berkurang mengikuti umur. Hambatan aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada patogenesis appendisitis. tidak ada jaringan lymphoid lagi di apendiks dan terjadi obliterasi lumen apendiks komplit.Appendiks menghasilkan lendir 1-2 ml perhari. Post operasi apendisitis juga dapat menjadi penyebab akibat adanya trauma atau stasis fekal. pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi system imun tubuh karena jumlah jaringan limfonodi di sini kecil sekali jika dibandingkan dengan jumlahnya di saluran cerna dan di seluruh tubuh.8) Frekuensi obstruksi meningkat dengan memberatnya proses inflamasi. Penyebab lainnya adalah hipertrofi jaringan limfoid. diet rendah serat. Etiologi Obstruksi lumen merupakan penyebab utama apendisitis. Setelah usia 60 tahun. Namun demikian. Jumlahnya meningkat selama pubertas. Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Fekalit ditemukan pada 40% dari kasus apendisitis akut. dan cacing usus termasuk ascaris. ialah IgA. Fekalit merupakan penyebab tersering dari obstruksi apendiks. (5.(2) IV. Immunoglobulin sekretoar yang dihasilkan oleh GALT (gut associated lymphoid tissue) yang terdapat di sepanjang saluran cerna termasuk appendiks. (5) III. Definisi Apendisitis merupakan peradangan pada appendix vermiformis. (5) .(2) Jaringan lymphoid pertama kali muncul pada apendiks sekitar 2 minggu setelah lahir.(2) Dinding appendiks terdiri dari jaringan lymphe yang merupakan bagian dari sistem imun dalam pembuatan antibodi. Lendir itu normalnya dicurahkan ke dalam lumen dan selanjutnya mengalir ke sekum. Trauma tumpul atau trauma karena colonoscopy dapat mencetuskan inflamasi pada apendiks. sekitar 65% merupakan apendisitis gangrenous tanpa rupture dan sekitar 90% kasus apendisitis gangrenous dengan rupture. sisa barium dari pemeriksaan roentgen.

Histolytica. striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya.(9) . Infeksi menyebabkan pembengkakan apendiks bertambah (edema) dan semakin iskemik karena terjadi trombosis pembuluh darah intramural (dinding apendiks). Konstipasi akan meningkatkan tekanan intrasekal.Penyebab lain yang diduga dapat menyebabkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E. benda asing. Patofisiologi Appendisitis biasanya disebabkan oleh penyumbatan lumen apendiks oleh hyperplasia folikel limfoid. Manusia merupakan salah satu dari sedikit makhluk hidup yang dapat mengkompensasi peningkatan sekresi yang cukup tinggi sehingga menjadi gangrene atau terjadi perforasi.1 ml. terjadi ulserasi mukosa dan invasi bakteri.(5) Tekanan yang meningkat tersebut akan menyebabkan apendiks mengalami hipoksia. yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa.5 dapat meningkatkan tekanan intalumen sekitar 60 cmH20. menghambat aliran limfe. (9. Keadaan ini disebut dengan apendisitis supuratif akut. Makin lama mucus tersebut makin banyak. Hal tersebut akan menyebabkan obstruksi vena. Pada saat inilah terjadi apendisitis akut fokal yang ditandai oleh nyeri epigastrium. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan makanan rendah serat dan pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis.(2) V.(9) Obstruksi lumen yang tertutup disebabkan oleh hambatan pada bagian proksimalnya dan berlanjut pada peningkatan sekresi normal dari mukosa apendiks yang distensi. atau neoplasma.10) Bila sekresi mukus terus berlanjut. Gangren dan perforasi khas dapat terjadi dalam 24-36 jam. namun elastisitas dinding appendiks mempunyai keterbatasan sehingga menyebabkan peningkatan intralumen. Kapasitas lumen apendiks normal hanya sekitar 0. dan bakteri akan menembus dinding. fekalit. Jika sekresi sekitar 0. tekanan akan terus meningkat. tapi waktu tersebut dapat berbeda-beda setiap pasien karena ditentukan banyak faktor. Obstruksi tersebut mneyebabkan mucus yang diproduksi mukosa mengalami bendungan. Peradangan timbul meluas dan mengenai peritoneum setempat sehingga menimbulkan nyeri didaerah kanan bawah. Semuanya akan mempermudah terjadinya apendisits akut. edema bertambah.

oleh karena itu pendeita harus benar-benar istirahat (bedrest). Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. karena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang. daya tahan tubuh. Walaupun proses melokalisir sudah selesai tetapi masih belum cukup kuat menahan tahanan atau tegangan dalam cavum abdominalis. usus yang lain. tetapi akan membentuk jaringan parut yang menyebabkan perlengketan dengan jaringan sekitarnya. mencoba membatasi dan melokalisir proses peradangan ini. Perlengketan ini dapat menimbulkan keluhan berulang diperut kanan bawah. omentum. peritoneum parietale dan juga organ lain seperti vesika urinaria.(9) Infiltrat apendikularis merupakan tahap patologi apendisitis yang dimulai dimukosa dan melibatkan seluruh lapisan dinding apendiks dalam waktu 24-48 jam pertama. Peradangan apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang memudahkan terjadinya perforasi.(9) Kecepatan rentetan peristiwa tersebut tergantung pada virulensi mikroorganisme. usus halus. Pada suatu ketika organ ini dapat meradang akut lagi dan dinyatakan mengalami eksaserbasi akut. dinding apendiks lebih tipis. Didalamnya dapat terjadi nekrosis jaringan berupa abses yang dapat mengalami perforasi. (9) Bila semua proses diatas berjalan lambat. (2) Pada anak-anak.Bila kemudian arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangrene. uterus tuba. ini merupakan usaha pertahanan tubuh dengan membatasi proses radang dengan menutup apendiks dengan omentum. atau adneksa sehingga terbentuk massa periapendikular. Sedangkan pada orang tua perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah. fibrosis pada dinding apendiks. (4) Apendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna. omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak kearah apendiks hingga timbul suatu massa local yang disebut infiltrate apendikularis. apendisitis akan sembuh dan massa periapendikular akan menjadi tenang untuk selanjutnya akan mengurai diri secara lambat. (2) . Bila dinding yang telah rapuh itu pecah. Jika tidak terbentuk abses. Bila proses melokalisir ini belum selesai dan sudah terjadi perforasi maka akan timbul peritonitis. akan terjadi apendisitis perforasi.

Anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya. terjadi bila sudah ada komplikasi. Gejala awalnya sering hanya rewel dan tidak mau makan. Nyeri akan bersifat tajam dan lebih jelas letaknya sehingga berupa nyeri somatik setempat.(2) 2.VI. antara lain 1. Mual-muntah biasanya pada fase awal. Gejala Klinis Gambaran klinis yang sering dikeluhkan oleh penderita. Karena gejala yang tidak spesifik ini sering diagnosis appendisitis diketahui setelah terjadi perforasi. Demam. (2) Kelainan patologi Peradangan awal Keluhan dan tanda Kurang enak ulu hati/daerah pusat. Bila terjadi perangsangan peritonium biasanya penderita akan mengeluh nyeri di perut pada saat berjalan atau batuk. Obstipasi dan diare pada anak-anak. Setelah beberapa jam nyeri berpindah dan menetap di abdomen kanan bawah (titik Mc Burney). 5. Suhu biasanya berkisar 37. 4. 3. Mula-mula nyeri dirasakan samar-samar dan tumpul yang merupakan nyeri viseral di daerah epigastrium atau sekitar umbilicus.5º C Gejala appendisitis akut pada anak-anak tidak spesifik. bila belum ada komplikasi biasanya tubuh belum panas. Nafsu makan menurun. Nyeri abdominal Nyeri ini merupakan gejala klasik appendisitis.5º-38. mungkin kolik Apenditis mukosa nyeri tekan kanan bawah (rangsaganan automik) .

kantung kemih. ureter. Tidak berhasil syok. defans muskuler lokal Radang alat/jaringan yang Menempel pada appendiks genitalia interna. takikardia.Radang di seluruh Ketebalan dinding nyeri sentral pindah ke kanan bawah. rektum demam sedang. dehidrasi.psoas. mual dan muntah Apendisitis komplet radang Peritoneum parietale appendiks rangsangan peritoneum lokal (somatik) nyeri pada gerak aktif dan pasif. Perforasi mulai toksik. toksik massa perut kanan bawah. m. keadaan . leukositosis Pendindingan (Infiltrat) demam tinggi.

Akibatnya lebih dari separo penderita baru dapat didiagnosis setelah perforasi. Yang perlu diperhatikan ialah. Bisa terdapat perbedaan suhu aksilar dan rektal sampai 1°C. Bila suhu lebih tinggi. keadaan umum toksik. Pada inspeksi perut tidak ditemukan gambaran spesifik. keluhan utama apendisitis adalah nyeri perut. Abses keluhan dan tanda setempat Pada orang berusia lanjut gejalanya juga sering samar-samar saja. Pada kehamilan lanjut sekum dengan apendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan di perut kanan bawah tetapi lebih ke regio lumbal kanan.5-38. Penderita tampak kesakitan. pada kehamilan trimester pertama sering juga terjadi mual dan muntah. dengan suhu sekitar 37. Penonjolan perut kanan bawah bisa dilihat pada massa atau abses appendikuler.5°C. 1. mual. dan muntah. (2) VII. tidak jarang terlambat diagnosis. Inspeksi Kadang sudah terlihat waktu penderita berjalan sambil bungkuk dan memegang perut. . (2) Pada kehamilan. Pemeriksaan Fisik Demam biasanya ringan. Kembung sering terlihat pada penderita dengan komplikasi perforasi. mungkin sudah terjadi perforasi.Berhasil umum berangsur membaik demam remiten.

Pemeriksaan colok dubur akan didapatkan nyeri kuadran kanan pada jam 9-12. Palpasi Dengan palpasi di daerah titik Mc. yang ada nyeri pinggang. maka kunci diagnosis adalah nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. Appendisitis infiltrat atau adanya abses apendikuler terlihat dengan adanya penonjolan di perut kanan bawah. Peristaltik dapat hilang karena ileus paralitik pada peritonitis generalisata akibat appendisitis perforata. Defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal. mengedan. Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung − nyeri tekan bawah pada tekanan kiri (Rovsing) − nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg) − nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti nafas dalam. Burney − Nyeri lepas − Defans muscular lokal. berjalan. Pada appendiks letak retroperitoneal. Pada appendisitis pelvika akan didapatkan nyeri terbatas sewaktu dilakukan colok dubur. (2) Pada apendisitis pelvika tanda perut sering meragukan.(2) 3. Burney didapatkan tanda-tanda peritonitis lokal yaitu: − Nyeri tekan di Mc. Pemeriksaan uji psoas dan uji obturator merupakan pemeriksaan yang . Auskultasi Peristaltik usus sering normal. Colok dubur pada anak tidak dianjurkan.2. batuk. defans muscular mungkin tidak ada.

psoas lewat hiperekstensi atau fleksi aktif. Pemeriksaan urin : untuk melihat adanya eritrosit. Pasien dimiringkan kekiri.obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil. pada saat itu ada hambatan pada pinggul / pangkal paha kanan. Pemeriksaan Laboratorium a. 2. Pada appendicular infiltrat. Pemeriksa meluruskan paha kanan pasien. Pemeriksaan darah : akan didapatkan leukositosis pada kebanyakan kasus appendicitis akut terutama pada kasus dengan komplikasi. Apendiks yang mengalami peradangan kontak dengan otot psoas yang meregang saat dilakukan manuver (pemeriksaan). LED akan meningkat. menghasilkan rotasi femur kedalam. Nyeri pada rotasi kedalam secara pasif saat paha pasien difleksikan.lebih ditujukan untuk mengetahui letak apendiks. pada apendisitis pelvika akan menimbulkan nyeri. (11) Tes Obturator. (2) Psoas sign. Uji obturator digunakan untuk melihat apakah apendiks yang meradang kontak dengan m. Pemeriksa menggerakkan tungkai bawah kelateral. (11) Dasar Anatomi dari tes obturator : Peradangan apendiks dipelvis yang kontak denhgan otot obturator internus yang meregang saat dilakukan manuver. b. Dengan gerakan fleksi dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Abdominal X-Ray . Nyeri pada saat paha kanan pasien diekstensikan. Bila apendiks yang meradang menempel di m. Creaktif protein meningkat. leukosit dan bakteri di dalam urin. pada saat itu ada tahanan pada sisi samping dari lutut (tanda bintang). (11) Dasar anatomi dari tes psoas. (11) VIII. Pemeriksaan Penunjang 1. tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan m. Pemeriksaan ini sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan appendisitis.psoas.

Pemeriksaan ini dilakukan terutama pada anak-anak. Dimana akan tampak pelebaran/penebalan dinding mukosa appendiks. adnecitis dan sebagainya. Selain itu juga dapat menunjukkan komplikasi dari appendisitis seperti bila terjadi abses. 4. 6. CT-scan Dapat menunjukkan tanda-tanda dari appendisitis. disertai penyempitan lumen hingga sumbatan usus oleh fekalit. appendiks dapat divisualisasikan secara langsung. Laparoscopi Suatu tindakan dengan menggunakan kamera fiberoptic yang dimasukan dalam abdomen. dapat dilakukan pemeriksaan USG. 7. 5. juga bila dicurigai adanya abses. Barium enema Suatu pemeriksaan x-ray dengan memasukkan barium ke colon melalui anus.Digunakan untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendisitis. Appendicogram memiliki sensitivitas dan tingkat akurasi yang tinggi sebagai metode diagnostik untuk menegakkan diagnosis appendisitis khronis. Bila pada saat melakukan tindakan ini didapatkan peradangan pada appendiks maka pada saat itu juga dapat langsung dilakukan pengangkatan appendiks. 3. terutama pada wanita. Tehnik ini dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum. USG Bila hasil pemeriksaan fisik meragukan. Ada beberapa perbedaan pendapat mengenai . Pemeriksaan ini dapat menunjukkan komplikasi-komplikasi dari appendisitis pada jaringan sekitarnya dan juga untuk menyingkirkan diagnosis banding. Dengan USG dapat dipakai untuk menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik. Histopatologi Pemeriksaan histopatologi adalah standar emas (gold standard) untuk diagnosis appendisitis akut.

Anak belum mampu untuk mendiskripsikan keluhan yang dialami. Hasilnya adlah perlu adanya komunikasi antara ahli patologi dan antara ahli patologi dengan ahli bedahnya. orang tua dan dokter. Sel granulosit pada lapisan serosa atau muskuler tanpa abses 5 mukosa dan keterlibatan lapisan mukosa.gambaran histopatologi appendisitis akut. Perbedaan ini didasarkan pada kenyataan bahwa belum adanya kriteria gambaran histopatologi appendisitis akut secara universal dan tidak ada gambaran histopatologi apendisitis akut pada orang yang tidak dilakukan operasi. 2 Abses pada kripte dengan sel granulosit dilapisan epitel. suatu hal yang relatif lebih mudah pada umur dewasa. Sel granulosit diatas lapisan serosa appendiks dengan abses 4 apendikuler. Sel granulosit dalam lumen appendiks dengan infiltrasi ke dalam 3 lapisan epitel. hal ini disebabkan sulitnya komunikasi antara anak. Definisi histopatologi apendisitis akut: Sel granulosit pada mukosa dengan ulserasi fokal atau difus di 1 lapisan epitel. Sistem skor Alvarado Diagnosis appendisitis akut pada anak tidak mudah ditegakkan hanya berdasarkan gambaran klinis. Keadaan ini menghasilkan angka . dengan atau tanpa terlibatnya lapisan mukusa. pernah meneliti variasi diagnosis histopatologi appendisitis akut. Riber et al. bukan apendisitis akut tetapi periapendisitis.

1986. Nyeri tekan kuadran kanan bawah dan lekositosis mempunyai nilai 2 dan keenam sisanya masing-masing mempunyai nilai 1. Alfredo Alvarado tahun 1986 membuat sistem skor yang didasarkan pada tiga gejala . nausea dan atau vomitus. sehingga kedelapan faktor ini memberikan jumlah skor 10 (Alvarado. salah satunya adalah dengan instrumen skor Alvarado. Dalam sistem skor Alvarado ini menggunakan faktor risiko meliputi migrasi nyeri. Rice. cepat dan kurang invasif (Seleem. Skor Alvarado adalah sistem skoring sederhana yang bisa dilakukan dengan mudah.20C.30C Jumlah leukosit > 10x103/L Jumlah neutrofil > 75% Skor 1 1 1 2 1 1 2 1 __________________________________________________ . anoreksia. temperatur lebih dari 37.appendiktomi negatif sebesar 20% dan angka perforasi sebesar 20-30% (Ramachandran. tiga tanda dan dua temuan laboratorium. 1996). Skor Alvarado untuk diagnosis appendisitis akut: Gejala dan tanda: Nyeri berpindah Anoreksia Mual-muntah Nyeri fossa iliaka kanan Nyeri lepas Peningkatan suhu > 37. Telah banyak dikemukakan cara untuk menurunkan insidensi apendiktomi negatif. lekositosis dan netrofil lebih dari 75%. Amri dan Bermansyah. nyeri tekan di abdomen kuadran kanan bawah. Klasifikasi ini berdasarkan pada temuan pra operasi dan untuk menilai derajat keparahan apendisitis. 1997). 1999). Salah satu upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan medis ialah membuat diagnosis yang tepat. nyeri lepas tekan .

Diagnosis Banding 1. 2. Gastroenteritis Pada gastroenteritis. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Limfadenitis mesenterica Biasanya didahului oleh enteritis atau gastroenteritis. Hiperperistaltik sering ditemukan. dan disertai dengan perasaan mual-muntah. mual-muntah dan diare mendahului rasa sakit.Total skor: Keterangan Alavarado score :   Dinyatakan appendicitis akut bila > 7 point 10 Modified Alvarado score (Kalan et al) tanpa observasi of Hematogram: 1–4 5–6 7–9 dipertimbangkan appendicitis akut possible appendicitis tidak perlu operasi appendicitis akut perlu pembedahan :  Penanganan berdasarkan skor Alvarado 1–4 5–6 : observasi : antibiotic 7 – 10 : operasi dini IX. Ditandai dengan nyeri perut yang samar-samar terutama disebelah kanan. 3. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan dengan appendisitis. Ileitis akut .

Diverticulitis Meskipun diverculitis biasanya terletak di perut bagian kiri. Peradangan pelvis Tuba fallopi kanan dan ovarium terletak dekat appendiks. 5. DHF Pada penyakit ini pemeriksaan darah terdapat trombositopeni. Biasanya disertai dengan keputihan. Jika terjadi peradangan dan ruptur pada diverticulum gejala klinis akan sukar dibedakan dengan gejala-gejala appendisitis. Pada pemeriksaan colok vagina didapatkan nyeri dan penonjolan di cavum Douglas. 6. Suhu biasanya lebih tinggi daripada appendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. hematokrit meningkat. Kehamilan ektopik Ada riwayat terhambat menstruasi dengan keluhan yang tidak menentu. leukopeni. Radang kedua organ ini sering bersamaan sehingga disebut salpingo-ooforitis atau adnecitis. Untuk menegakkan diagnosis penyakit ini didapatkan riwayat kontak sexual. Pada colok vaginal jika uterus diayunkan maka akan terasa nyeri. tetapi kadangkadang dapat juga terjadi di sebelah kanan. tetapi tidak jarang anorexia. Jika ditemukan pada laparotomi. appendiktomi insidental diindikasikan utntuk menghilangkan gejala yang membingungkan. muntah. 7.Berkaitan dengan diare dan sering kali riwayat kronis. mual. Jika terjadi ruptur tuba atau abortus di luar rahim dengan perdarahan akan timbul nyeri yang mendadak difus di daerah pelvis dan mungkin akan terjadi syok hipovolemik. rumple leed (+). . dan pada kuldosentesis akan didapatkan darah. 4.

Penundaan apendektomi sambil memberikan antibiotik dapat mengakibatkan abses atau perforasi. massa yang terbentuk tersusun atas campuran membingungkan bangunan-bangunan ini dan jaringan granulasi dan biasanya dapat segera dirasakan secara klinis. X. semula dalam jumlah sedikit. Perjalanan patologis penyakit dimulai pada saat apendiks menjadi dilindungi oleh omentum dan gulungan usus halus didekatnya. Insidensi appendiks normal yang dilakukan pembedahan sekitar 20%.8. tetapi segera menjadi abses yang jelas batasnya. Penatalaksanaan Appendiktomi § § Cito Elektif : akut. Jika peradangan pada apendiks tidak dapat mengatasi rintangan-rintangan sehingga penderita terus mengalami peritonitis umum. Pada massa periapendikular . ahli bedah akan mengoperasi untuk membuang apendiks yang mungkin gangrene dari dalam massa perlekatan ringan yang longgar dan sangat berbahaya. Mula-mula. Foto polos abdomen atau urografi intravena dapat memastikan penyakit tersebut. Pada appendisitis akut tanpa komplikasi tidak banyak masalah. massa tadi menjadi terisi nanah.(12) Massa apendiks terjadi bila terjadi apendisitis gangrenosa atau mikroperforasi ditutupi atau dibungkus oleh omentum dan atau lekuk usus halus. Hematuria sering ditemukan. Batu ureter atau batu ginjal Adanya riwayat kolik dari pinggang ke perut menjalar ke inguinal kanan merupakan gambaran yang khas. abses & perforasi : kronik Bila diagnosis klinis sudah jelas maka tindakan paling tepat adalah apendektomi dan merupakan satu-satunya pilihan yang terbaik. sehingga membuat operasi berbahaya maka harus menunggu pembentukan abses yang dapat mudah didrainase. Masalah ini adalah bilamana penderita ditemui lewat sekitar 48 jam. (12) Urut-urutan patologis ini merupakan masalah bagi ahli bedah. dan bilamana karena massa ini telah menjadi lebih terfiksasi dan vascular.

operasi lebih mudah. Bila terjadi perforasi. (13) Terapi sementara untuk 8-12 minggu adalah konservatif saja. jika secara konservatif tidak membaik atau berkembang menjadi abses. penderita boleh pulang dan apendiktomi elektif dapat dikerjakan 2-3 bulan kemudian agar perdarahan akibat perlengketan dapat ditekan sekecil mungkin. dan leukosit normal. Oleh karena itu. Selain itu. massa periapendikular hilang. dan teraba pembengkakan massa. Persiapan dan pembedahan harus dilakukan sebaikbaiknya mengingat penyulit infeksi luka lebih tinggi daripada pembedahan pada apendisitis sederhana tanpa perforasi. (2) Bila pada waktu membuka perut terdapat periapendikular infiltrat maka luka operasi ditutup lagi. (13) Pada periapendikular infiltrat. massa periapendikular yang masih bebas disarankan segera dioperasi untuk mencegah penyulit tersebut. wanita hamil. bertambahnya nyeri.yang pendidingannya belum sempurna. Pada anak kecil. dianjurkan untuk dirawat dahulu dan diberi antibiotik sambil diawasi suhu tubuh. Pada anak. dan penderita usia lanjut. Pembedahan dilakukan segera bila dalam perawatan terjadi abses dengan atau pun tanpa peritonitis umum. dianjurkan operasi secepatnya. dipersiapkan untuk operasi dalam waktu 2-3 hari saja. karena dikuatirkan akan terjadi abses apendiks dan peritonitis umum. . Bila sudah tidak ada demam. Total bed rest posisi fawler agar pus terkumpul di cavum douglassi. Pasien dewasa dengan massa periapendikular yang terpancang dengan pendindingan sempurna. serta luasnya peritonitis. serta bertambahnya angka leukosit. akan terbentuk abses apendiks. tindakan bedah apabila dilakukan akan lebih sulit dan perdarahan lebih banyak. Hal ini ditandai dengan kenaikan suhu dan frekuensi nadi. Terapi konservatif pada periapendikular infiltrat : 1. dilarang keras membuka perut. (2) Massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif sebaiknya dilakukan tindakan pembedahan segera setelah pasien dipersiapkan. ukuran massa. apendiks dibiarkan saja. lebih-lebih bila massa apendiks telah terbentuk lebih dari satu minggu sejak serangan sakit perut. dapat terjadi penyebaran pus keseluruh rongga peritoneum jika perforasi diikuti peritonitis purulenta generalisata.

Biasanya pada hari ke5-7 massa mulai mengecil dan terlokalisir. Biasanya 48 jam gejala akan mereda. bila pus sudah kurang dari 100 cc/hari. Jika ternyata tidak ada keluhan atau gejala apapun. Baru setelah keadaan tenang. Diet lunak bubur saring 3. (4) Penderita periapendikular infiltrat diobservasi selama 6 minggu tentang : • • LED Jumlah leukosit . bila apendiks mudah diambil. antibiotik kombinasi yang aktif terhadap kuman aerob dan anaerob. dan pemeriksaan jasmani dan laboratorium tidak menunjukkan tanda radang atau abses. Abses didrainase dengan selang yang berdiameter besar. Bila gejala menghebat. tandanya telah terbentuk abses dan massa harus segera dibuka dan didrainase. Untuk mengecek pengecilan abses tiap hari penderita di RT. dapat dipertimbangkan membatalakan tindakan bedah.(4. Pipa drainase didiamkan selama 72 jam. maka apendiks dapat dipertahankan karena jika dipaksakan akan ruptur dan infeksi dapat menyebar. dan dikeluarkan lewat samping perut. Observasi suhu dan nadi. Batas dari massa hendaknya diberi tanda (demografi) setiap hari. drai dapat diputar dan ditarik sedikit demi sedikit sepanjang 1 inci tiap hari. dilakukan apendiktomi.2. tandanya terjadi perforasi maka harus dipertimbangkan appendiktomy.(4) Caranya dengan membuat insisi pada dinding perut sebelah lateral dimana nyeri tekan adalah maksimum (incisi grid iron). Kalau sudah terjadi abses. lebih baik diambil karena apendik ini akan menjadi sumber infeksi. Bila apendiks sukar dilepas. Antibiotik sistemik dilanjutkan sampai minimal 5 hari post operasi.2) Analgesik diberikan hanya kalau perlu saja. dianjurkan drainase saja dan apendiktomi dikerjakan setelah 6-8 minggu kemudian. yaitu sekitar 6-8 minggu kemudian. Abses dicapai secara ekstraperitoneal. Bila massa tidak juga mengecil. Antibiotika parenteral dalam dosis tinggi.

1994. Bila LED telah menurun kurang dari 40 2. yang dapat dicapai melalui insisi Mc Burney (Raffensperger. Bila dalam 8-12 minggu masih terdapat tanda-tanda infiltrat atau tidak ada perbaikan. Anamesa : penderita sudah tidak mengeluh sakit atau nyeri abdomen 2. Mantu. Cloud. 1990. tidak terdapat kenaikan suhu tubuh (diukur rectal dan aksiler) Tanda-tanda apendisitis sudah tidak terdapat Massa sudah mengecil atau menghilang. atau massa tetap ada tetapi lebih kecil dibanding semula. Pemeriksaan fisik : o Keadaan umum penderita baik.(4) Pembedahannya adalah dengan appendiktomi. e. ini berarti sudah terjadi abses dan terapi adalah drainase. Tidak didapatkan massa atau pada pemeriksaan berulang massa sudah tidak mengecil lagi.1990. 2000). Bila LED tetap tinggi . Tindakan pembedahan pada kasus apendisitis akut dengan penyulit peritonitis berupa apendektomi yang dicapai melalui laparotomi (Raffensperger. d. Bila ada massa periapendikular yang fixed. Leukosit normal o o o Kebijakan untuk operasi periapendikular infiltrat : 1. 1993). operasi tetap dilakukan. Laboratorium : LED kurang dari 20. Tidak didapatkan leukositosis 3. . Ein.• Massa Periapendikular infiltrat dianggap tenang apabila : 1.maka perlu diperiksa o o o Apakah penderita sudah bed rest total Pemakaian antibiotik penderita Kemungkinan adanya sebab lain.

Lapisan kulit yang dibuka pada Appendektomi : 1. 8. Tanda-tanda terjadinya suatu perforasi adalah : • nyeri lokal pada fossa iliaka kanan berganti menjadi nyeri abdomen menyeluruh Suhu tubuh naik tinggi sekali. 2. Nadi semakin cepat.(2) Perforasi dapat menyebabkan timbulnya abses lokal ataupun suatu peritonitis generalisata. Defance Muskular yang menyeluruh Bising usus berkurang Perut distended • • • • • Akibat lebih jauh dari peritonitis generalisata adalah terbentuknya : 1. 4. MOI M. sekum. baik berupa perforasi bebas maupun perforasi pada apendiks yang telah mengalami pendindingan berupa massa yang terdiri atas kumpulan apendiks. Subphrenic absess . 3. Cutis Sub cutis Fascia Scarfa Fascia Camfer Aponeurosis MOE 6. dan lekuk usus halus. 10. Pelvic Abscess 2. 7. 5. Transversus Fascia transversalis Pre Peritoneum Peritoneum XI. 9. Komplikasi Komplikasi yang paling sering ditemukan adalah perforasi.

(4) Peritonitis merupakan infeksi yang berbahaya karena bakteri masuk kerongga abdomen. http://www. Keterlambatan diagnosis akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas bila terjadi komplikasi.3. Serangan berulang dapat terjadi bila appendiks tidak diangkat.bedahugm. DAFTAR PUSTAKA 1.(14) XII. Prognosis Dengan diagnosis yang akurat serta pembedahan tingkat mortalitas dan morbiditas penyakit ini sangat kecil. Intra peritoneal abses lokal.html . dapat menyebabkan kegagalan organ dan kematian.net/Bedah-Digesti/Apendik/Epidemiologi.

1995.S. E. 2000. Texas .http://www. 13. Hugh.emedmag. Temple. Jakarta. Appendicitis.W. Bina Rupa Aksara. Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah. Anonim. dkk.M.A. Jakarta. R. http://www.patholoyoutlines.org 12. www.digestive. Texas A&M University Health Science Center.id/download/fk/bedah-emir%20jehan. EGC. Spencer. Appendix. Peran C Reaktif Protein Dalam Menentukan Diagnosa Appendisitis Akut.nih. 5. Jehan. Mc-Graw Hill a Division of The McGraw-Hill Companies. Jones. Ilmu Bedah dan Teknik Operasi. Anonim. dkk. .medicinenet. 10. Chirurgica. 04–4547. Schwartz. De Jong. Dina..S. Tosca Enterprise. 2003. Enigma an Enigma Electronic Publication. 1992. 2004. Acute Appendisitis :Review and Update. www..com 8.F. Hardin. Fisher.com/appendicitis/ 4.pdf.. Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.. Bagian Ilmu bedah Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara. 2004.aafg. Principles of Surgery sevent edition. S. Department Of Health and Human Services. A. Itskowiz..com 11. M.gov .G. http://www.. Mansjoer. Jakarta. The American Academy of Family Physicians.. 2004. Sjamsuhidajat.usu. Yogyakarta. Ilmu Bedah Gawat Darurat edisi kesebelas. Emerg Med 36 (10): 10-15. Bratajaya Fakultas Kedokteran UNAIR.. 2005. U. PathologyOutlines.ac. Kartika. NIH Publication No. National Institute of Health. 3. Reksoprodjo. Yogyakarta. M. 1999. D.niddk. S. Appendicitis..2. http://library. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua. S. 2005. 7. 6. 1999. 9. Bagian Bedah Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 2. Gadjah Mada University Press. Surabaya. 14.. Anonim.Dudley.June 2004..

KATA PENGANTAR .

Lepas dari segala kekurangan yang ada. kami berharap semoga referat ini membawa manfaat bagi kita semua. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr. Referat ini disusun sebagai salah satu tugas persyaratan kelulusan kepaniteraan klinik Bagian Bedah RSUD Budhi Asih Jakarta. Harinto. Sp. Kami menyadari bahwa referat ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu diharapkan bantuan dari dokter pembimbing serta rekan-rekan mahasiswa untuk memberikan saran dan masukan yang berguna bagi penulis. dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Jakarta.Puji sukur saya panjatkan kepada ALLAH SWT atas berkat dan rahmat-Nya saya dapat menyelesaikan referat ini yang berjudul “Appendicitis”.B sebagai pembimbing dalam pembuatan referat ini. April 2009 Penulis APPENDICITIS . Tidak lupa terima kasih juga penulis sampaikan kepada dokter-dokter pembimbing di RSUD Budhi Asih atas bimbingan yang kami dapat selama kepaniteraan klinik ini serta teman – teman sekalian yang telah memberi semangat dan masukan dalam menyelesaikan referat ini.

B Kepaniteraan Klinik Ilmu Bedah RSUD Budhi Asih Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti .Penyusun : Hersih Srinowati (030.093) Pembimbing : Dr. Sp.04. Harinto.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful