P. 1
KORUPSI

KORUPSI

|Views: 687|Likes:
Published by Julianti Samosir

More info:

Published by: Julianti Samosir on Dec 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2012

pdf

text

original

A.

PENGERTIAN TINDAK PIDANA KORUPSI Istilah korupsi berasal dari kata Bahasa Latin “coruptio” atau“corruptus”, berarti kerusakan atau kebobrokan. Tindakan korupsi selalu dikaitkan dengan ketidakjujuran seseorang di bidang keuangan.Pendapat lain mengemukakan, bahwa kata "korupsi" berasal dari bahasa Inggris, yaitu corrupt, yang berasal dari perpaduan dua kata dalam bahasa latin yaitu com yang berarti bersama-sama dan rumpereyang berarti pecah atau jebol. Istilah "korupsi" juga bisa dinyatakan sebagai suatu perbuatan tidak jujur atau penyelewengan yang dilakukan karena adanya suatu pemberian. Dalam Webster’s New American Dictionary’, istilah ‘corruption’diartikan sebagai decay berarti lapuk, contamination berarti kemasukan sesuatu yang merusak, dan impurity berarti tidak murni. Sedangkan istilah ‘corrupt’ diartikan sebagai ”to become rotten or putrid” yang berarti menjadi busuk, lapuk, amat tidak menyenangkan, juga ”to induce decay in something originally clean and sound” diartikan, memasukkan sesuatu yang lapuk atau busuk ke dalam sesuatu yang semula berisi bersih dan bagus. Sedangkan dalam ‘Black’s Law Dictionary’ istilah‘corrupt’ diartikan “having an unlawful or depraved motive; esp., influenced by bribery; to change (a person’s morals or principles) from good to bad”. Sedangkan istilah ‘corruption’ berarti “depravity, perversion, or taint; an impairment of integrity, virtue, or moral principle; esp., the impairment of a public official’s duties by bribery”. Hal ini berarti “The act of doing something with an intent to give some advantage inconsistent with official duty and the rights of others; a fiduciary’s or official’s use of a station or office to procure some benefit either personally or for someone else, contrary to the rights of others”.Dalam ‘The Contemporary Inglish-Indonesian Dictionary’, istilah‘corrupt’ diartikan tidak jujur, busuk, menyuap, menyogok, membusukkan, merusakkan, merusakkan moral. Sedangkan istilah‘corruption’ diartikan sebagai penyuapan, pembusukan, kerusakan moral. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, istilah ‘korup’ diartikan buruk, rusak; suka menerima uang sogok; memakai kekuasaannya untuk kepentingan pribadi. Sedangkan istilah ‘korupsi’ diartikan, penyelenggaraan atau penggelapan uang negara untuk kepentingan pribadi. Dalam terminologi Hukum istilah ‘corrupt’ diartikan sebagai berlaku immoral; memutarbalikkan kebenaran. Istilah ‘corruption’, berarti menyalahgunakan wewenang, untuk menguntungkan dirinya sendiri. Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut di atas dapat diketahui bahwa pengertian korupsi adalah penyelahgunaan wewenang demi kepentingannya sendiri. Perbuatan sebagaimana dimaksud dalam istilah–istilah tersebut tidak mempunyai efek yuridis sama sekali, sebelum dituangkan dalam peraturan perundang-undangan, karena korupsi merupakan kejahatan dalam arti yuridis. Berdasarkan ketentuan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, yang dimaksud dengan korupsi adalah sebagai berikut. Pasal 2 (1) Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau

pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling sedikit Rp. 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). (2) Dalam hal tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati dapat dijatuhkan. Dalam Penjelasan UU No. 20 Tahun 2001 diuraikan bahwa yang dimaksud keadaan tertentu dalam ketentuan ini adalah keadaan yang dapat dijadikan alasan pemberatan pidana (dana penanggulangan keadaan bahaya, bencana alam nasional, penanggulangan akibat kerusuhan sosial yang meluas, penanggulangan ksrisis ekonomi dan moneter, dan pengulangan tindak pidana korupsi. Pasal 3 Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun clan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,00 (satu milyar rupiah). Pasal 4 Pengembalian kerugian keuangan negara atau perekonomian negara tidak menghapuskan dipidananya pelaku tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3. Berdasarkan ketentuan di atas diketahui bahwa unur-unsur tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 adalah: setiap orang (manusia maupun korporasi), melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi, merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Sedangkan dalam Pasal 3 ditentukan bahwa tindak pidana korupsi mempunyai unsur-unsur: setiap orang, menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan wewenang, dapat merugikan keuangan atau perekonimian negara. Sedangkan dalam Pasal 5 mengatur tentang (1) orang yang memberi atau menjanjikan kepada Pegawai Negeri atau penyelenggara negara agar berbuat atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya atau bertentangan dengan kewajiannya; (2) pegawai negeri atau penyelenggara negara yang menerima pemberian atau janji. Erat kaitannya dengan tindak pidana KKN, dalam Pasal 12 B dan C UU No. 31 Tahun 1999 diatur tentang gratifikasi. Pasal 12 B (1) Setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penye lenggara negara dianggap pemberian suap, apabila ber hubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban atau tugasnya, dengan ketentuan sebagai berikut:

perjalanan wisata. pinjaman tanpa bunga.00 (dua ratus juta rupiah) dan ` paling banyak Rp 1. yaitu suatu "pemberian dalam arti luas" yang meliputi: 1) pemberian uang. pengobatan cuma cuma. yakni meliputi pemberian uang.00 (satu miliar rupiah).00 (sepuluh juta rupiah).000. pinjaman tanpa bunga.000. dan fasilitas lainnya. yang nilainya Rp 10.000.000. .a.000. Berdasarkan ketentuan Pasal 12 B ayat (1). perjalanan wisata. barang. diketahui 6 hal berikut.000. komisi. tiket perjalanan. pengobat an cuma-cuma. pembuktian bahwa gratifikasi tersebut bukan merupakan suap dilakukan oleh penerima gratifikasi. fasilitas penginapan.00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih. Dalam Penjelasan Pasal 12 B ayat (1) diuraikan bahwa yang dimaksud dengan "gratifikasi" dalam ayat ini adalah pemberian dalam arti luas. Pasal 12 C (1) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 B ayat (1) tidak berlaku. rabat (discount). 3) pemberian itu dilakukan dengan atau tanpa sarana elektronik. dan pidana denda paling sedikit Rp 200. fasilitas penginapan. barang. menurut Barda Nawawi Arief. (4) Ketentuan mengenai tata cara penyampaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan penentuan status gratifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) diatur dalam UndangUndang tentang Komisi Pem berantasan Tindak Pidana Korupsi. (3) Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal menerima laporan wajib menetapkan gratifikasi dapat menjadi milik penerima atau milik negara.000. a. 2) pemberian itu diterima di dalam maupun di luar negeri.000. pembuktian bahwa gratifikasi tersebut suap dilakukan oleh penuntut umum. yang nilainya kurang dari Rp 10. (2) Pidana bagi pegawai negeri atau penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun. dan fasilitas lainnya. tiket perjalanan. rabat (discount). jika penerima melaporkan gratifi kasi yang diterimanya kepada Komisi Pemberantasan Tindak Pidaria Korupsi.000. baik yang diterima di dalam maupun di luar negeri dan yang dilaku kan dengan menggunakan sarana elektronik atau tanpa sarana elektronik. Gratifikasi tersebut. yang pengertiannya dirumuskan dalam "penjelasan Pasal 12 B ayat (1)". (2) Penyampaian laporan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib dilakukan oleh penerima gratifikasi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung sejak tanggal gratifikasi tersebut diterima. b. komisi. Gratifikasi dirumuskan sebagai unsur delik.

000. e. Tindakan yang dianggap sebagai "pemberian suap".00 (satu miliar rupiah)). tidak ada perbedaan substantif.000.000. tidak konsisten dengan logika yang tertuang daiam Pasal 12 A yang membeda kan ancaman pidana untuk Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diatur dalam Pasal 5 sampai dengan Pasal 12 sebagai berikut: . dan berhubungan dengan jabatan dan berlawanan dengan kewajiban dan tugasnya.00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih. Logika pembuat undang-undang dalam menentukan Pasal 12 B ayat (2) untuk tidak membedakan ancaman pidana terhadap gratifikasi jenis ke-1 dan ke-2.000.00 (sepuluh juta rupiah). Dengan perumusan Pasal 12 B ayat (2) itu.000. Jadi.00 (sepuluh juta rupiah)).000.00 (sepuluh juta rupiah) atau lebih) dan penerima gratifikasi jenis ke dua (besarnya di bawah Rp 10. melainkan perbuatan menerima gratifikasi. Yang ada hanya perbedaan prosesual. tetapi hanya memuat ketentuan mengenai: 1) batasan pengertian gratifikasi yang dianggap se bagai "pemberian suap". paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun. Dilihat dari perumusannya. gratifikasi bukan merupakan jenis maupun kualifikasi delik. Pasal 12 B ayat (1) tidak merumuskan tindak pidana gratifikasi. yang dijadikan tindak pidana menurut Pasal 12 B ayat (2). atau 2) pidana penjara dalam waktu tertentu.000.000.000.b. d.000. 2) Untuk gratifikasi kedua. beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu merupakan suap) pada penuntut umum (PU).000. Pasal 12 B ayat (2) menentukan ancaman pidana bagi penerima gratifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). dan 3) pidana denda (minimal Rp 200. yaitu apabila gratifikasi (pemberian) diberikan kepada "pegawai negeri" atau "penyelenggara negara". dan 2) jenis-jenis gratifikasi yang dianggap sebagai "pem berian suap". yaitu: a. yaitu 1) pidana seumur hidup. beban pembuktian (bahwa gratifikasi itu bukan suap) pada penerima.00 (dua ratus juta rupiah) clan maksimal Rp 1. bukan gratifikasi-nya. maka tidak ada perbedaan ancaman pidana bagi penerima gratifi kasi jenis pertama (besarnya Rp 10. dan b.000. yaitu (berdasarkan Pasal 12 B ayat (1)): 1) Untuk gratifikasi pertama. gratifikasi yang bernilai kurang dari Rp 10. c. gratifikasi yang bernilai Rp 10.000. Berdasarkan ketentuan tentang gratifikasi diketahui bahwa ada 2 (dua) jenis gratifikasi. f.

00 (lima juta rupiah).00 (lima puluh juta rupiah) (tidak ada minimalnya). mengambil komisi yang seharusnya hak perusahaan. Di bidang swasta. Setiap tindakan korupsi mengandung penipuan. Melibatkan elemen kewajiban dan keuntungan timbal balik yang tidak selalu berupa uang. yakni adanya dorongan dari dalam diri sendiri (keinginan. dan rangsangan dari luar (misalnya dorongan teman-teman. c. untuk membuka rahasia perusahaan tempat seseorang bekerja. mengemukakan bahwa korupsi di manapun dan kapanpun akan selalu memiliki ciri khas. baik dalam bentuk uang tunai atau benda atau pun wanita. biasanya pada badan publik atau masyarakat umum. 3. yakni: a. 2. 6. kecuali sudah membudaya. beberapa diantaranya adalah sebagai berikut: 1. mengemukakan bahwa tidak ada jawaban yang pasti tentang penybeb korupsi. Sarlito Wirawan Sarwono. berlaku ketentuan pidana dalam pasal yang bersangkutan (Pasal 5 sampai dengan Pasal 12).000.000.000. kehendak dan sebagainya). 5. Setiap perbuatan korupsi melanggar norma-norma pertanggungjawaban dalam tatanan masyarakat. ANALISIS PENYEBAB ORANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA Masyarakat Transparansi Indonesia.Berarti untuk Tindak Pidana Korupsi ke-2 ini dapat dikenakan pidana minimal dalam pasal yang bersangkutan.000. 2) Yang nilainya Rp 5. Ciri tersebut bisa bermacam-macam. diancam pidana penjara maksimal 3 (tiga) tahun (tidak ada minimalnya) dan denda maksimal Rp 50.00 (lima juta rupiah) atau lebih. Melibatkan lebih dari satu orang. Sedangkan Andi Hamzah menginventarisasikan beberapa penyebab korupsi. Manajemen yang kurang baik dan kontrol . Korupsi dapat mengambil bentuk menerima sogok. Kurangnya gaji pegawai negeri dibandingkan dengan kebutuhan yang makin meningkat. hasrat.000.000. tugas dan 8. 4. uang semir. Umumnya serba rahasia. tetapi ada dua hal yang jelas. lihat Pasal 12 A ayat (2). B. lihat Pasal 12 A ayat (1). korupsi dapat berbentuk menerima pembayaran uang dan sebagainya. uang kopi. kurang kontrol dan sebagainya). uang pelancar. salam tempel. b. adanya kesempatan. 7. Korupsi tidak hanya berlaku di kalangan pegawai negeri atau anggota birokrasi negara. Latar belakang kebudayaan atau kultur Indonesia yang merupakan sumber atau sebab meluasnya korupsi.1) Yang nilainya kurang dari Rp 5. korupsi juga terjadi di organisasi usaha swasta.

Salah satu kemungkinan tindakan itu adalah dengan korupsi. atau pihak yang lain yang memberi kesempatan untuk itu. 1. f. Bila hal itu tidak terjadi maka seseorang akan berusaha memenuhinya dengan berbagai cara. Keterdesakan itu membuka ruang bagi seseorang untuk mengambil jalan pintas diantaranya dengan melakukan korupsi. Modernisasi pengembangbiakan korupsi. tetapi bisa juga bisa berasal dari situasi lingkungan yang kondusif bagi seseorang untuk melakukan korupsi. baik itu korupsi waktu. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dalam bukunya berjudul "Strategi Pemberantasan Korupsi”. keadaan semacam ini yang akan memberi peluang besar untuk melakukan tindak korupsi. Penyebab tersebut adalah sebagai berikut. Kebutuhan Hidup yang Mendesak Dalam rentang kehidupan ada kemungkinan seseorang mengalami situasi terdesak dalam hal ekonomi. Moral yang Kurang Kuat Seorang yang moralnya tidak kuat cenderung mudah tergoda untuk melakukan korupsi. e. bawahanya. Penghasilan yang Kurang Mencukupi Penghasilan seorang pegawai dari suatu pekerjaan selayaknya memenuhi kebutuhan hidup yang wajar. Sifat Tamak Manusia Kemungkinan orang melakukan korupsi bukan karena orangnya miskin atau penghasilan tak cukup. Aspek Individu Pelaku a. c. Perilaku konsumtif semacam ini bila tidak diimbangi dengan pendapatan yang memadai akan membuka peluang seseorang untuk melakukan berbagai tindakan untuk memenuhi hajatnya. d. tenaga. d. Kemungkinan orang tersebut sudah cukup kaya. Faktor-faktor penyebabnya bisa dari internal pelaku-pelaku korupsi. Godaan itu bisa berasal dari atasan. yaitu sifat tamak dan rakus.yang kurang efektif dan efisien. Unsur penyebab korupsi pada pelaku semacam itu datang dari dalam diri sendiri. Gaya Hidup yang Konsumtif Kehidupan di kota-kota besar acapkali mendorong gaya hidup seseong konsumtif. tetapi masih punya hasrat besar untuk memperkaya diri. pikiran dalam arti semua curahan peluang itu untuk keperluan di luar pekerjaan yang seharusnya. Malas atau Tidak Mau Bekerja . teman setingkat. b. Tetapi bila segala upaya dilakukan ternyata sulit didapatkan. yang memberikan peluang orang untuk korupsi.

Manajemen cenderung menutupi korupsi di dalam organisasi . Kelemahan sistim pengendalian manajemen Pengendalian manajemen merupakan salah satu syarat bagi tindak pelanggaran korupsi dalam sebuah organisasi. Akibat lebih lanjut adalah kurangnya perhatian pada efisiensi penggunaan sumber daya yang dimiliki. Situasi paradok ini menandakan bahwa ajaran agama kurang diterapkan dalam kehidupan.Sebagian orang ingin mendapatkan hasil dari sebuah pekerjaan tanpa keluar keringat alias malas bekerja. 2. Semakin longgar/lemah pengendalian manajemen sebuah organisasi akan semakin terbuka perbuatan tindak korupsi anggota atau pegawai di dalamnya. Ajaran Agama yang Kurang Diterapkan Indonesia dikenal sebagai bangsa religius yang tentu akan melarang tindak korupsi dalam bentuk apapun. Aspek Organisasi a. Sifat semacam ini akan potensial melakukan tindakan apapun dengan cara-cara mudah dan cepat. Keadaan ini memunculkan situasi organisasi yang kondusif untuk praktik korupsi. b. Kenyataan di lapangan menunjukkan bila korupsi masih berjalan subur di tengah masyarakat. Sistim akuntabilitas yang benar di instansi pemerintah yang kurang memadai Pada institusi pemerintahan umumnya belum merumuskan dengan jelas visi dan misi yang diembannya dan juga belum merumuskan dengan tujuan dan sasaran yang harus dicapai dalam periode tertentu guna mencapai misi tersebut. g. Pada posisi demikian perbuatan negatif. Bila pemimpin tidak bisa memberi keteladanan yang baik di hadapan bawahannya. seperti korupsi memiliki peluang untuk terjadi. diantaranya melakukan korupsi. terhadap instansi pemerintah sulit dilakukan penilaian apakah instansi tersebut berhasil mencapai sasaranya atau tidak. Apabila kultur organisasi tidak dikelola dengan baik. c. d. akan menimbulkan berbagai situasi tidak kondusif mewarnai kehidupan organisasi. maka kemungkinan besar bawahnya akan mengambil kesempatan yang sama dengan atasannya. Akibatnya. e. Tidak adanya kultur organisasi yang benar Kultur organisasi biasanya punya pengaruh kuat terhadap anggotanya. Kurang adanya sikap keteladanan pimpinan Posisi pemimpin dalam suatu lembaga formal maupun informal mempunyai pengaruh penting bagi bawahannya. misalnya berbuat korupsi.

This ‘theory’ should be recognized as an admission of defeat. Aspek Tempat Individu dan Organisasi Berada a. Hal ini sesuai dengan pendapat Edwin H. Sutherland bahwa penyebab kejahatan seperti adalah faktor yang kompleks (multiple factor). Masyarakat kurang menyadari bila dirinya terlibat korupsi Setiap korupsi pasti melibatkan anggota masyarakat. Akibat sifat tertutup ini pelanggaran korupsi justru terus berjalan dengan berbagai bentuk. kualitas peraturan yang kurang memadai. b. Rational Choice menganalisis. Aspek peraturan perundang-undangan Korupsi mudah timbul karena adanya kelemahan di dalam peraturan perundang-undangan yang dapat mencakup adanya peraturan yang monopolistik yang hanya menguntungkan kroni penguasa. 3. Berdasarkan uraian tentang penyebab tindak pidana korupsi di atas dapat dipahami bahwa tindak pidana korupsi bukan disebabkan oleh satu penyebab yang berdiri sendiri melaikan terdiri atas beberapa faktor penyebab yang kompleks.” Selain teori tersebut.Pada umumnya jajaran manajemen selalu menutupi tindak korupsi yang dilakukan oleh segelintir oknum dalam organisasi. yang rugi adalah masyarakat juga karena proses anggaran pembangunan bisa berkurang karena dikorupsi. Sutherland mengemukakan dalam “teori” tersebut sebagai berikut. Sikap ini seringkali membuat masyarakat tidak kritis pada kondisi. penerapan sangsi yang tidak konsisten dan pandang bulu. Nilai-nilai di masyarakat kondusif untuk terjadinya korupsi Korupsi bisa ditimbulkan oleh budaya masyarakat. peraturan yang kurang disosialisasikan. Anggapan masyarakat umum yang rugi oleh korupsi itu adalah negara. for its means criminological studiest must always be ‘exploratory’. serta lemahnya bidang evaluasi dan revisi peraturan perundang-undangan. d. Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi akan bisa dicegah dan diberantas bila masyarakat ikut aktif Pada umumnya masyarakat berpandangan masalah korupsi itu tanggung jawab pemerintah. c. Hal ini kurang disadari oleh masyarakat sendiri. The criminologist can carry his conclusions beyonds multiple factors and reduce the series of factors to simplicity by the method of logical abstraction. e. Masyarakat kurang menyadari sebagai korban utama korupsi Masyarakat masih kurang menyadari bila yang paling dirugikan dalam korupsi itu masyarakat. masyarakat menghargai seseorang karena kekayaan yang dimilikinya. misalnya dari mana kekayaan itu didapatkan. Bahkan seringkali masyarakat sudah terbiasa terlibat pada kegiatan korupsi sehari-hari dengan cara-cara terbuka namun tidak disadari. Misalnya. Padahal bila negara rugi. Theory dapat digunakan untuk Through Rational Choice Theory describe crime as an event that occurs when an offender decides to risk breaking the law after considering his or her own need for . Masyarakat kurang menyadari bahwa korupsi itu bisa diberantas hanya bila masyarakat ikut melakukannya. sangsi yang terlalu ringan. Menurut Cornish and Clarke.

Alasan “keserakahan” koruptor sebagai penyebab utama tindak pidana korupsi dapat juga ditelaah dari teori netralisasi. soal moral nanti saja (Erst kommt das Essen. dan kegembiraan. personal values or learning experiences and how well a target is protected. mempertahankan nilai-nilai pribadi atau setelah mempelajari beberapa pertimbangan yaitu apa saja suatu target yang dilindungi. and his or her immediate need for that value. bahwa kejahatan dianggap sebagai suatu peristiwa yang hanya terjadi manakala seorang pelanggar memutuskan untuk mengambil risiko untuk melanggar hukum. the severity of the expected penalty. “Theory neutralization stresses youth’s learning of behavior rationalizations that enable them to overcome societal values and norms and engage in illegal bahaviour. tentusaja setelah mempertimbangkan kebutuhannya yaitu untuk memperoleh uang.. dan kebutuhan-kebutuhan apa saja yang dapat dipenuhi jika melakukan tingkah laku tersebut. Mungkin pelaku mengetahui dampak korupsi dan hukum korupsi. tetapi sifat “keserakahan atau kerakusan” yang dipenuhi. jenis kelamin (percintaan). the value to be gained by committing the act. Semua elemen tersebut berpengaruh pada saat seseorang mempertimbangkan dalam memilih keputusan untuk bertingkah laku. the reasoning criminal weighs the chances of getting caught. Denial of Responsibility. memahami kekejaman-kejaman dari pidana yang diancamkan jika pelaku tertangkap polisi. ". excitement. denn die Morale)..crime is purposive behaviour designed to meet the offender’s commonplace needs for such things as money. “makan dulu. Sykes dan Matza menjabarkan 5 (lima) teknik netralisasi yang dapat dilakukan oleh pelaku kejahatan. constrained as they are by limits of time and ability and the availability of relevant information. and that meeting these needs involves the making of (sometimes quite rudimentary) decisions and choices. yaitu sebagai berikut. nilai lebih yang diperoleh seseorang setelah melakukan tingkah laku yang dipilih. yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan uang. Hal ini diungkapkan dalam pernyataan berikut. penjahat menimbang tentang kesempatan-kesempatan yang memungkinkan melakukan kejahatan agar tidak tertangkap. yaitu pelaku menggambarkan dirinya sendiri sebagai orangorang yang tidak berdaya dalam menghadapi tekanan-tekanan masyarakat . Para korupstor sebenarnya sadar bahwa perbuatan tersebut melanggar hujum. Teori pemilihan yang rasional ini juga mengutamakan tentang bagimana seseorang memenuhi kebutuhannya. a. gengsi. prestise (gengsi). Teori netralisasi menekankan tentang pembelajaran kaum muda untuk merasionalisasi perilaku menyimpang yang dilakukan sehingga diharapkan dapat memperdaya bekerjanya nilai-nilai kemasyarakatan dan norma-norma dalam masyarakat. how affluent the neighbourhood is or how efficient the local police are. David Matza menegaskan. bagaimana kondisi lingkungan sekitar. Sebelum melakukan suatu kejahatan. yaitu memenuhi kebutuhan hidup. status. namun karena sudah "terbiasa" dan hukuman moral tidak berlaku lagi di sini. Teori pemilihan yang rasional ini mengajarkan. sex. maka justru muncul rasa solidaritas di antara pelaku sebagaimana diungkapkan filsuf asal Jerman Bertold Brecht. dan bagaimana efisiensi dan efektivitas kinerja kepolisian. Before committing a crime.money. dan kemewahan." Ajaran teori ini selaras dengan fakta tentang penyebab seseorang melakukan tindak pidana korupsi.

Kedua tipe tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda sehingga strategi penanggulangannya juga berbeda. Selanjutnya Sutherland menegaskan bahwa “a crime commited by a person of respectability and high social and status in the course of his occupation. White-collar criminal is illegal acts that use deceit. yaitu pelaku berpandangan bahwa perbuatan yang dilakukan tidak menyebabkan kerugian yang besar pada masyarakat. dan mempunyai kedudukan atau jabatan dalam suatu organisasi. d. Sedangkan Ellen S. Podgor berpendapat sebagai berikut. bahwa white-collar crimeadalah kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan sosial tinggi dan memiliki pekerjaan yang terhormat dengan cara menyalahgunakan wewenangnya. karena dengki. sebagai pelaku kejahatan terselubung. Sutherland. Setiyono mengemukakan. Denial of Injury. Ditelaah dari pelaku.collar crimemanyatakan bahwa “kejahatan krah putih” adalah kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kedudukan sosial yang tinggi dan mempunyai pekerjaan terhormat. yaitu pelaku memahami diri mereka sendiri sebagai “sang penuntut balas”. yaitu pelaku beranggapan bahwa orang yang mengutuk perbuatan yang telah dilakukan sebagai orang-orang munafik. hak milik. Although it appears that the Department of Justice continues to adhere to this definition of' white collar crime. and concealment--rather than the application or threat of physical force or violence--to obtain money. bahwa istilah white-collar crime menunjuk pada kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh pengusaha dan para pejabat eksekutif yang merugikan kepentingan umum. to avoid the payment or loss of money. or service. Berkaitan dengan pengertian “kejahatan krah putih”. “Kejahatan krah putih” merupakan suatu tindakan tidak sah yang menggunakan cara penipuan atau penyembunyian. Muladi berpendapat. e. property. Dalam pengertian tersebut mengandung 2 ciri. Appeal to Higher Loyalities.(misalnya kurang mendapat kasih sayang dari orang tua. dan sebagainya. . yaitu pelaku merasa bahwa dirinya terperangkap antara kemauan masyarakat dan ketentuan hukum yang ada di mayarakat dengan kebutuhan kelompok yang lebih kecil. Senada dengan pendapat ini. c. yaitu pelaku kejahatan berstatus sebagai orang terhormat. White collar criminals occupy posi tions of responsibility and trust in government. yaitu kelompok tempat mereka berada atau bergabung. industry. hipokrit. b. the professions and civic organizations. sedangkan para korban dari perbuatannya dianggap sebagai orang yang bersalah. berada pergaulan atau lingkungan yang kurang baik). dan tidak banyak menggunakan ancaman atau kekuatan fisik (kekerasan). others now concentrate exclusively on the nature of the offense in defining white collar crime… white collar crime "nonviolent crime for financial gain committed by deception. Denial of Victim. or to secure a business or professional advantage. Condemnation of the Condemners. jasa layanan. dengan tujuan memperoleh uang. Dalam kriminologi. sebagai ahli kriminologi yang pertama kali memperkenalkan istilah white. mayoritas pelaku tindak pidana korupsi di Indonesia yang sudah diadili adalah kalangan penguasa dan pengusaha yang mempunyai jabatan terhormat yang menyalahgunakan kewenangan. Sutherland menyebut tipe kejahatan tersebut disebut white-collar crime (kejahatan krah putih) yang merupakan “kebalikan” dari blue-collar crime (kejahatan orang rendahan/pekerja kasar). Edwin H.

PELUANG. Di samping itu. (c) peluang-peluang yang dapat dinmanfaatkan(opportunities). analisis SWOT atas pemberantasan tindak pidana korupsi di Indonesia adalah sebagai berikut. Tujuan analisis ini hanya untuk memudahkan pehamaman. Opportunities. Threats. Analisis ini digunakan untuk mengetahui potensi organisaisi melalui evaluasi diri (self evaluation) untuk menentukan peluang yang dapat diraih. organisasi profesi. Pelaku “kejahatan krah putih” biasanya menduduki posisi dan tanggung jawab serta kepercayaan pada struktur pemerintahan. industri. peluang. transfer of proceeding. belum mantapnya reformasi birokrasi yang menjamin keberadaan nilai-nilai efektivitas. C. kepemimpinan sektoral yang seringkali mendemonstrasikan kemiskinan moral dan intelektual. Hal ini sesuai juga dengan pendapat Sutherland. Meskipun dalam analisis SWOT ini penulis tidak membuat gambaran posisi sebagaimana yang diajarkan pada analisis SWOT. sosialisasi hukum tentang tindak pidana korupsi yang kurang. Berdasarkan pendapat Muladi. Kemudian. sangat lemahnya koordinasi antarlembaga penegak hukum (arogansi sektoral). social responsibility and corporateness) SDM yang lemah. kekuatan yang harus dipertahankan. kesadaran yang lemah terhadap . Weaknesses. kelemahan yang harus dihapuskan. bukan semata-mata menentukan strategi penanggulangan sebagaimana diformulasikan dalam ilmu manajemen. antara lain dalam bentuk keberadaan KPK dan pelbagai pembaharuan perundang-undangan tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. 2. pemberantasan korupsi di Indonesia selama inin adalah secara struktural dan substantif telah terjadi penyempurnaan. TANTANGAN PEMBERANTASAN KORUPSI DI INDONENSIA DAN Analisis terhadap kekuatan. Kekuatan (strength). kelemahan. pelatihan. (b) kelemahan-kelamahan yang dimiliki oleh kekuatan yang akan melaksanakan renacana(weaknesses). kebersihan dan demokrasi.menghindari kewajiban pembayaran tertentu. Pengertian dari keempat istilah tersebut adalah (a) kekuatankekuatan yang dipunyai oleh kesatuan yang akan melaksanakan rencana (strenghts). joint investigation. 1. kerjasama internasional yang lemah (ekstradisi). dan tantangan lazim disebut analisis SWOT. bahwa “white collar crime is a crime commited by a person of respectability and high social and status in the course of his occupation". Dalam ilmu menajemen dikenal istilah analisis SWOT. adanya suasana kondusif berupa strong political will pemerintahan baru yang didukung kehendak masyarakat untuk memberantas KKN yang luar biasa. Mutual Legal Assistance (MLA). mengakibatkan disiplin aparat yang lemah. Kejahatan tersebut bersifat eksklusif. dan tantangan yang sedang dan akan dihadapi. dan organisasi kemasyarakatan. dan (d) ancaman atau tantangan yang akan dihadapi(threats). ANALISIS KEKUATAN. dan keberadaan RAN (Rencana Aksi Nasional) pemberantasan korupsi. atau mengamankan suatu bisnis. Analisis SWOT di atas merupakan analisis dalam bidang ekonomi dan berkaitan dengan penentuan strategi perusahaan untuk meningkatkan kinerja manejerial. KELEMAHAN. yaitu sebagai kejahatan yang dilakukan dengan tanpa menggunakan kekerasan fisik untuk memperoleh keuntungan atau kekayaan dengan cara penipuan. Kelemahan (weakness) adalah membentuk semangat profesionalisme (expertise. yang merupakan singkatan dari kata Strenghts.

asas-asas (principles) tentang good governance dan general principles of good administration di lingkungan sektor publik serta asas-asas good corporate governance di lingkungan sektor privat. melibatkan partai politik dalam pemerintahan tanpa konsep yang jelas antara tugas-tugas political apponitee dan pejabat karir. masih adanya ketentuan perundang-undangan yang menghambat pemberantasan tindak pidana korupsi. 'fragmentasi' dan citra negatif terhadap sistem rekrutmen. dan praktik-praktik selective law enforcement yang masih terjadi. Harmonisasi hukum terhadap perkembangan internasional (UN Convention Against Corruption. Peluang (opportunity) pemberantasan korupsi cukup besar berkat kepemimpinan nasional yang memiliki legitimasi sosial yang kuat karena dipilih langsung rakyat yang committed pada pemberantasan korupsi. lemahnya pembenahan di lingkungan private sector. promosi dan mutasi di lingkungan penegak hukum. 2003). f. Pengembangan strategi yang proporsional antara langkah represif dan langkah preventif. kepemimpinan penegak hukum di segala lini yang lemah. Mendorong partisipasi masyarakat dalam pemberantasan korupsi. baik sektor publik maupun sektor privat. keberadaan UN ConventionAgainst Corruption 2003 menjanjikan kerjasama internasional yang lebih baik dan menguntungkan negara-negara berkembang. Rekrutmen kepemimpinan di segala lini yang anti KKN. Penguatan dan reformasi kelembagaan baik publik maupun privat terus menerus. Selain itu. di samping beberapa hal yang sudah dikemukakan di atas adalah: a. Penguatan hukum. e. kekuasaan kehakiman yang merdeka (independence of judiciary) yang seolah-olah untouchable namun kurang didukung oleh integritas. profesionalisme dan akuntabilitas yang memadai. 4. 3. dan kurangnya kesadaran untuk mengembangkan preventive anti corruption strategy dan hanya memfokuskan diri pada langkah-langkah represif. masih adanya kekuatan-kekuatan yang tidak reformis dan cenderung bermental KKN. kesejahteraan pegawai yang rendah (underpaid). merosotnya citra penegak hukum karena belum menunjukkan kinerja pemberantasan korupsi yang memuaskan. b. d. c. Strategi pemberantasan tindak pidana korupsi mencakup dimensi yang luas. . Pembentukan lingkungan luas yang berbudaya anti korupsi. Tantangan (threat)antara lain. praktik hukum dan acaranya. mengingat korupsi di Indonesia sudah dalam taraf yang sangat memprihatinkan. Beberapa hal yang perlu diperhatikan. lemahnya budaya anti korupsi (contoh money politics yang merebak) dan budaya malu. kesediaan pakar-pakar hukum pidana perguruan tinggi dan NGO's yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Memang. di satu pihak hukum pidana dan pelaksanaannya dibutuhkan sebagai sarana menuju kedamaian karena hukum pidana memang dalam hal-hal tertentu ampuh untuk menanggulangi kejahatan. hukum pidana hanya merupakan salah satu upaya dari beberapa upaya penanggulangan kejahatan. a) Administrasi peradilan pidana dalam arti sempit. dapat diketahui bahwa penerapan hukum pidana untuk menangulangi kejahatan meliputi ruang lingkup berikut. Dalam lingkup kebijakan penanggulangan kejahatan. Kebijakan hukum pidana adalah penerapan hukum pidana untuk memberantas kejahatan. Berdasarkan pendapat Hoefnagels. Kebijakan penal atau lazim disebut kebijakan hukum pidana adalah penanggulangan kejahatan yang dilakukan dengan cara menerapkan hukum pidana di masyarakat. pelaksanaan pemidanaan dan kebijakan statistik. Kebijakan tersebut merupakan ilmu pengetahuan dalam penanggulangan kejahatan. sedangkan pengertian kebijakan nonpenal adalah menangggulangi kejahatan dengan tanpa menggunakan hukum pidana. yaitu dengan cara mempengaruhi pendangan masyarakat tentang kejahatan melalui media massa dan penanggulangan tanpa pemidanaan. ilmu kejiwaan. Kebijakan kriminal juga merupakan penjelmaan dari ilmu pengetahuan dan bersifat terapan. Berdasarkan pendapat Hoefnagels. yaitu pembuatan hukum pidana dan yurisprudensi. d) Kejahatan. . kebijakan kriminal terdiri atas kebijakan penal dan kebijakan nonpenal. (c) criminal policy is a designating human behavior as crime. struktur hukum dan budaya hukum. Selanjutnya Bambang Poernomo mengemukakan bahwa penerapan hukum pidana dalam penanggulangan kejahatan. b) Psikiatri dan psikologi forensik. tetapi pada dasarnya pada hukum pidana terdapat fungsi premium remidium (obat penangkal). bahwa (a) criminal policy is the science of science responses.D.Dalam membahas tindak pidana korupsi di Indonesia. penulis menggunakan konsepsi sistem hukum sebagaimana dikemukakan Friedman.Hukum pidana dapat tidak berfaedah apabila eksistensi dan aplikasinya tidak terarah pada prinsip tepat guna dan hasil guna dalam masyarakat. G. ilmu sosial). dan pemidanaan. yang menyatakan bahwa sistem hukum terdiri atas substansi hukum. hukum pidana bukan merupakan posisi yang strategis dalam memberantas KKN. tetapi di pihak lain hukum pidana dan pelaksanaannya dapat merugikan individu maupun masyarakat luas karena mengandung dimensi absolutisme dengan kecenderungan menimbulkan overcriminalization dan crime infection. c) Forensik kerja sosial. Istilah tersebut merupakan persamaan dari istilah politiek criminal (Bahasa Belanda). Peter Hoefnagels menjelaskan. (b) criminal policy is the science of crime prevention. (d) criminal policy is a rational total of the responses to crime. Kebijakan kriminal adalah ilmu pengetahuan yang memberi tanggapan. proses peradilan pidana dalam arti luas (meliputi kehakiman. dan hanya bersifatultimum remidium (obat terakhir). LANGKAH-LANGKAH STATEGIS KEBIJAKAN KRIMINAL TERHADAP TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA TAHUN 2008 Istilah kebijakan kriminal diterjemahkan dari istilah criminal policy (bahasa Inggris).

misalnya tentang undang-undang perlindungan saksi yang sulit diterapkan. Dalam rangka meningkatkan penerapan hukum pidana. a. dan UU No 15 tahun 2002 juncto UU No 25 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sudah menutup celah hukum. Apalagi KPK sudah dibekali ketentuan khusus untuk melaksanakan instrumen internasional itu dalam UU No 30/2002 (Pasal 12 Huruf c dan Huruf d). yaitu Undang-Undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sudah “memadai” (?). Penutupan celah hukum baru berjalan efektif jika otoritas perbankan dan pimpinan bank memiliki komitmen yang sama dengan aparatur penegak hukum dan KPK. dari orang lain yang berkenaan dengan kesaksian yang akan. orang yang dituduh melakukan tindak pidana itulah yang harus membuktikan di depan pengadilan. perlu ditingkatkan penerapan “Asas Pembuktian Terbalik”. Apalagi UU No 7 Tahun 1992 juncto UU No 10 tahun 1998 tentang Perbankan memberi peluang pembukaan keterangan keadaan keuangan tersangka (Pasal 42). Legal substance berkaitan erat dengan apa yang dihasilkan atau dilakukan oleh mesin atau struktur hukum di atas. Substansi Hukum (Legal Substance) Substansi hukum yang dapat diartikan sebagai sejumlah peraturan. Dalam pembuktian terbalik. Meskipun demikian. tengah atau telah diberikannya atas suatu perkara pidana. struktur hukum. dan relokasi bagi saksi sebagai pelapor. Karena itu. Meskipun substansi hukum tentang tindak pidana korupsi. Secara teknis hukum. Berbeda dengan pembuktian biasa. Perlindungan saksi selalu berkaitan keamanan dan kenyamanan fisik. identitas. Peran Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam pemberantasan korupsi juga tidak kalah penting. 2003) yang sudah diadopsi Pemerintah Indonesia.Jabaran berikut menguraikan langkah-langkah strategis kebijakan hukum pidana terhadap pemberantasan korupsi di Indonesia. bahwa ia tidak bersalah. Desember 2003. konvensi itu menuntut agar tiap negara peserta konvensi sudah memasukkan ketentuan yang dapat membuka kerahasiaan bank untuk kepentingan penyidikan tindak pidana korupsi (Pasal 31 Ayat 7 juncto Pasal 40 dan Pasal 55). kerja sama erat lembaga ini dan KPK amat strategis dalam menelusuri jejak peredaran uang hasil korupsi.Merujuk pada pendapat Friedman. sistem hukum terdiri atas 3 komponen. saat ini tidak ada lagi celah hukum bagi koruptor untuk berlindung di balik kerahasiaan bank sebagai tempat menyembunyikan dan mencuci uang karena UU Nomor 31 Tahun 1999 juncto UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 1997 mengenai . Konvensi Menentang Korupsi (Convention Against Corruption. yaitu substansi hukum. norma dan perilaku orang-orang di dalam sistem hukum. Sistem pembuktian terbalik (omkering van de bewijslast) merupakan cara yang jitu untuk menjerat pelaku korupsi. Pembuktian terbalik sebenarnya bukanlah hal yang baru di negeri ini. Dengan bahasa wajib (mandatory language). hal ini dapat dilaksanakan dengan menyertakan pejabat PPATK sebagai saksi ahli. memuat ketentuan itu. Perkembangan ini menuntut seluruh pejabat otoritas perbankan dan pimpinan bank untuk memahami dan melaksanakan ketentuan pembukaan kerahasiaan bank sepanjang menyangkut status hukum tersangka dalam perkara tindak pidana korupsi atau tindak pidana lain. psikologis. masih banyak perangkat hukum yang belum mendukung. jaksa yang harus membuktikan seseorang bersalah atau tidak dalam pembuktian terjadinya tindak pidana. dan budaya hukum.

dan banyak memperoleh pengakuan dari negara-negara maju baik yang mengguna kan sistem hukum "Common Law" dan "Civil Law". 20 Tahun 2001. (1) Terdakwa mempunyai hak untuk membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. secara tegas mengatur penerapan asas pembuktian terbalik itu walaupun berbeda alasan yang mendasarinya dan penerapannya pada persidangan. Pasal 7. maka model pembuktian terbalik dalam Kon vensi Anti Korupsi 2003 (Pasal 31 ayat 8). Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001. sepanjang prosedur pembuktian terbalik tersebut ditujukan untuk meng gugat hak kepemilikan seseorang atas harta kekayaannya yang berasal dari tindak pidana korupsi. Pasal 5. maka pembuktian tersebut dipergunakan oleh pengadilan sebagai dasar untuk menyatakan bahwa dakwaan tidak terbukti. Keputusan Pengadilan Tinggi Hong kong menganggap bahwa proses pembuktian terbalik yang telah dilaksanakan peng adilan rendah telah memberikan keadilan sama bagi kedua belah pihak yaitu kepada pemohon maupun kepada ICAC Hong Kong dalam menyampaikan pembuktian nya. Pascara tifikasi Konvensi . Pasal 15. 31 Tahun 1999. Pasal 4. Pasal 13. Pasal 10. Konvensi Anti-Korupsi 2003 yang telah diratifikasi telah memuat ketentuan me ngenai pembuktian terbalik (Pasal 31 ayat 8) dalam konteks proses pembekuan (freez ing). yaitu Pasal 2. dan Pasal 12. Asas pembuktian terbalik telah diprak tikkan oleh Pengadilan Tinggi Hong kong dalam kasus ICAC Hong Kong terhadap pe mohon 'judicial review" terhadap proses pembuktian terbalik yang dilaksanakan oleh pengadilan rendah telah sesuai de ngan Hong Kong Bribery Ordinance Act. Dalam Penjelasan Pasal 37 ayat (1) diatur. Pasal 9. Berlainan dengan model Hong Kong (dalam pembuktian terbalik) yang dapat digunakan dalam kasus korupsi melalui prosedur hukum acara pidana.Pengelolaan Lingkungan Hidup maupun UU Nomor 8 Tahun 1999 mengenai Perlindungan Konsumen. perampasan (seizure). Terdakwa tetap memerlukan perlindungan hukum yang berimbang atas pelanggaran hak-hak yang mendasar yang berkaitan dengan asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) dan menyalahkan diri sendiri (non selfincrimination). Pasal 3. Ketentuan pembuktian ternbalik hanya berlaku pada tindak pidana baru tentang gratifikasi dan terhadap tuntutan perampasan harta benda terdakwa yang diduga berasal dari salah satu tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam a. (2) Dalam hal terdakwa dapat membuktikan bahwa ia tidak melakukan tindak pidana korupsi. Dalam Pasal 37 Undang-undang No. dan penyitaan (confiscation) di bawah judul Kriminalisasi dan Penegakan Hukum (Bab III). Pasal 8. dan Pasal 16 b. Pasal 14. UU No. diatur sebagai berikut. yaitu mendukung penggu naan prosedur keperdataan dalam mene rapkan teori pembuktian terbalik dengan keseimbangan kemungkinan tersebut. Sedangkan dalam Penjelasan Ayat (2) ditegaskan bahwa ketentuan ini tidak menganut sistem pembuktian secara negatif menurut undang-undang (negatief wettelijk). Pasal 6. artinya. Pasal 11. bahwa Pasal ini sebagai konsekuensi berimbang atas penerapan pembuktian terbalik terhadap terdakwa.

Selain melindungi aset negara dan umum dari tindak pidana korupsi. Semua langkah tersebut perlu dilakukan secara terpadu (terintegrasi). Jaksa Agung. pejabat negara seperti Ketua MA dan wakilnya. Ketua Pengadilan Administrasi Negara dan wakilnya. Laporan kekayaan tersebut. selain dibentuk NCCC(National Counter Corruption Commission) yang berwenang melakukan penyidikan dan penuntutan kasus korupsi. dan Perlindungan Saksi. dan setiap tiga tahun bagi pejabat yang masih menduduki jabatannya. Bahkan Konstitusi Thailand yang baru memberikan legal framework yang memberikan kemudahan pemberantasan korupsi. Ombudsman. penyidikan. dan penuntutan tindak pidana korupsi dalam UU yang baru tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. tidak lagi ditangani secara konvensional. karena dapat menyebabkan korupsi. yaitu kewajiban pejabat negara untuk melaporkan kekayaan. Sistem Peradilan Satu Atap untuk Korupsi Politik. tidak saja menyangkut dirinya. Pasal 291 UUD 1997 mewajibkan kepada pejabat tinggi atau birokrat senior dan mereka yang menduduki jabatan-jabatan politik untuk menyampaikan laporan kekayaan kepada NCCC. dan harus dikirimkan 30 hari setelah menduduki jabatannya dan setelah meninggalkan jabatannya. maka akan dicopot dan dilarang menduduki jabatan publik selama lima tahun ke depan. Jakarta menyatakan. Berkaitan dengan ide tersebut. Kebebasan memperoleh Informasi. antara lain pembentukan hukum acara khusus penyelidikan. anggota parlemen. legislator perlu menerbitkan undang-undang tentang konflik kepentingan. juga perubahan dalam sistem peradilan satu tahap untuk kasus korupsi yang melibatkan pejabat tinggi dan politisi. Sesuai dengan mandat konstitusi. dan Mahkamah Konstitusi. Berdasarkan fakta tersebut. namun juga merupakan syarat dari suatu negara atau pemerintahan untuk memperoleh kepercayaan dari . Pengaturan konflik kepentingan tidak hanya semata-mata untuk melindungi aset umum. Selain itu. juga terkena ketentuan yang sama. khususnya bagai pejabat tingggi dan politisi yang sulit dijerat oleh pendekatan hukum konvensional. juga istri dan anaknya. Menghadapi fakta tersebut di atas. penyidikan dan penuntutan serta pemeriksaan pengadilan di dalam UU nomor 31 Tahun 1999 junto UU No. Di Thailand terdapat ketentuan sebagaimana di Indonesia.Anti Korupsi 2003 sudah tentu berdampak terhadap hukum pem buktian yang masih dilandaskan kepada Undang-undang Hukum Acara Pidana Nomor 8 tahun 1981 dan ketentuan me ngenai penyelidikan. maka salah satu strategi untuk mencegah korupsi di kalangan pejabat negara. Yaitu meliputi Perdana Menteri. "Saya menyambut baik upaya pencegahan konflik kepentingan dengan mencantumkan hal itu dalam berbagai jenis hukum dan peraturan di Indonesia. 20 Tahun 2001. Jika pajabat tersebut tidak memenuhi kewajiban. Predisen Yudhoyono saat membuka Seminar Konflik Kepentingan di Istana Negara. pengaturan konflik kepentingan juga upaya mendapatkan kembali kepercayaan masyarakat. Romli Atmasasmita mengemukakan bahwa masih diperlukan perubahan mendasar. Selain politisi . Bagian lainnya dari sistem antikorupsi danpublic accountability yang penting adalah Lembaga Money Laundering(AMLO). Korupsi yang menjadi ciri sistem pemerintahan Otoriter selama 60 tahun. Ombudsman dan direktur jenderal dan yang selevelnya. tapi mulai ditangani oleh lembaga baru dengan pendekatan luar biasa (extra ordinary) yang lebih modern dan komprehensif. gubernur dan anggota eksekutif pemerintahan lokal. Materi di dalamnya mengatur sejumlah kepentingan yang harus dihindari pejabat. Senator. Pemberantasan korupsi dan sistem akuntabilitas publik di Thailand sudah menjadi kebijakan publik sejak diberlakukannya UUD 1997 yang dirancang dan didesakan oleh gerakan rakyat sejak awal tahun 1990-an. antara lain dalam Undang-Undang Anti Korupsi" . Sebagai perbandingan.

petugas pemasyarakatan. a kind of cross section of the legal system.warga negaranya. menyatakan. 17 Desember 1979. Taufiqurahman Ruki. Maka. guna menciptakan hukum responsif sesuai dengan tuntutan dan harapan masyarakat. pengorganisasian penegak hukum. dan DPRD serta Pasal 36 UU No. Persamaan merupakan salah satu HAM sipil yang berkarakter absolut sehingga tidak boleh dilanggar oleh siapa pun sesuai dengan Pasal 28 D UUD 1945 jo. yurisdiksi peradilan. sesuai Pasal 36 Ayat (1) UU No 32 Tahun 2004. Penegakan hukum yang baik akan menyokong masyarakat untuk mencapai kesejahteraannya. Izin Presiden atas permintaan penyidik. Struktur Hukum (Legal Structure) Soko guru utama penegakan hukum (law enforcement) adalah penegak hukum/struktur hukum (legal culture). proses banding. Karena itu. elemen struktur hukum merupakan semacam mesin. Pasal 106 UU No. hakikat izin sebagai salah satu bentuk pengawasan preventif guna mencegah pelanggaran hukum. meskipun peranan subtansi hukum dan budaya hukum tidak dapat disepele-kan. dalam kasus tertentu berpeluang disalahgunakan penyidik "melindungi" koruptor dengan dalih masih menunggu izin Presiden. Hal ini selaras dengan isi kesepakan dunia internasional yang dituangkan dalam Code of Conduct for Law Enforcement Officials (CCLEO) yang diterima oleh Majelis Umum PBB dalam Resolusi 34/169. Undang-undang tersebut berguna untuk melindungi aset negara dari penyalahgunaan wewenang oleh pejabat terkait.Bajkan saat ini Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi. .a kind of still photograph. peninjauan kembali. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sama-sama mengatur izin pemeriksaan pejabat negara. kasasi. Izin Presiden dapat diganti pemberitahuan tertulis penyidik ke pejabat terkait secara hierarkis sampai Presiden sebagai laporan. Dengan demikian. Legal structure . Laporan itu guna mengawasi pemeriksaan pejabat negara yang diduga korup. izin pemeriksaan pejabat negara yang diduga korup sama dengan melindungi koruptor secara normatif. dan sebagainya. Pasal 4 UU No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Dari perspektif hukum pemerintahan. pengadilan. pengawasan pemerintah perlu ditingkatkan kendati masyarakat masih meragukan obyektivitas pengawasan badan pengawas daerah mengingat pejabatnya diangkat kepala daerah. DPR. Padahal mungkin saja permohonan ke Presiden tidak pernah dikirim. Elemen struktur hukum yang terdiri atas misalnya jenis-jenis peradilan. b. kendala subtantif lainnya adalah ketentuan tentang perlunya izin dari presiden untuk memeriksa pejabat negara yang diduga melakukan tindak pidana korupsi.. menyatakan bahwa ketentuan tentang izin Presiden untuk memeriksa pejabat negara yang terlibat korupsi selama ini menghambat efektivitas penanganan perkara korupsi dan pencegahannya. pihaknya mendesak pemerintah mengeluarkan UU tentang konflik kepentingan pejabat negara. Diskriminasi Izin pemeriksaan pejabat negara membuktikan perlakuan diskriminatif dan mengabaikan asas persamaan di depan hukum antara pejabat negara dan pegawai negeri lain yang terlibat korupsi. DPD. Yohanes Usfunan. Oleh karena itu. dalam politik legislasi. Resolusi ini menekankan bahwa hakikat dari fungsi penegakan hukum dalam pemeliharaan ketertiban umum dan cara melaksanakan fungsi tersebut memiliki dampak langsung terhadap mutu kehidupan manusia. Selain itu. 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR. ketentuan tentang izin Presiden dalam hukum positif perlu dicabut. which freezes the action. mekanisme hubungan polisi kejaksaan.

parlemen dengan skor 4. Menurut Sahetapy. Penyebab lemahnya pemberantasan korupsi di Indonesia. dalam reformasi Polri. sedangkan peringkat berikutnya adalah pengadilan dengan skor 4. Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengakui bahwa lembaga yang dipimpinnya banyak mengalami kelemahan dan kekurangan. Penyidik hanya berani pada pelaku yang sudah lemah kekuasaannya. dan disusul partai politik dengan skor 4.1. Kedua lembaga tersebut merupakan ujung tombak penegakan hukum di Indonesia yang seharusnya menjadi teladan. Beberapa kejaksaan adalah Kejaksaan Negeri Sigli (Nangroe Aceh Darussalam). bukan berarti kelemahan dalam penegakan hukum dapat ditolerasnsi dengan ambang batas yang sangat minim. Polri sangat lemah dalam memberantas korupsi.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengakui bahwa upaya memberantas korupsi merupakan suatu tugas yang rumit dan acapkali berbahaya. selain masih kurang penyidik yang berwawasan hukum luas." kata Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW) Neta S. mantan pejabat. Menurut Kapolri.2. penyidik yang berani berbenturan dengan kekuasaan juga masih kurang. Memang sangat ironis. diharapkan tahun 2008 nanti kepolisian dan pengadilan harus mengembalikan citranya sebagai lembaga terdepan dalam penegakan hukum. Sejak tahun 2006 hingga 2007 menurut survei tersebut. . Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) masih dinilai sebagai institusi paling korup di Indonesia dibandingkan dengan 14 instansi yang diteliti Gallup International. sehingga sorotan tajam dan tudingan miring yang ditujukan kepada Kejaksaan menjadi suatu yang wajar dan tidak perlu membuatnya berkecil hati. khususnya untuk lebih meningkatkan profesionalisme para jaksa serta mewujudkan Kejaksaan sebagai professional legal organization yang modern. Kendala-kendala yang terjadi meliputi. 37 diantaranya memiliki “kinerja nol” dalam kasus pidana khusus atau pemberantasan korupsi. Hal ini menjadi kendala tersendiri. Untuk itu. Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus). Komisi Kepolisian Nasional perlu ditingkatkan peran dan fungsinya. Karena itu. Kapolri menyepakati untuk memublikasikan kepada masyarakat oknum polisi yang berperilaku negatif dan merugikan rakyat. mengungkapkan dari 358 kejaksaan negeri yang ada di Indonesia. kejaksaan merupakan salah satu institusi penegak hukum yang paling ramai disuarakan untuk melakukan perubahan. Polisi mendapatkan skor 4. lembaga riset yang meneliti atas nama Transparency International Indonesia (TII) dan dipublikasikan pada 6 Desember 2007. terutama di daerah. institusi kepolisian dan pengadilan menempati urutan teratas sebagai lembaga terkorup di Indonesia. yang paling sulit adalah perubahan kultural. Akan tetapi. jaksa merupakan “gate keeper” dalam sistem peradilan pidana. faktor (sub) budaya dalam struktur organisasi. Pane di Jakarta. dari hasil penelitian yang diselenggarakan Komisi Hukum Nasional (KHN). atau pengusaha yang di belakangnya tidak ada back up kekuasaan yang kuat. Hal itu menyusul maraknya keluhan sehubungan dengan perilaku negatif polisi yang mengganggu dan merugikan publik di berbagai daerah. namun itulah kenyataan dilapangan.0. karena dalam tindak pidana korupsi.1. Kemas Yahya Rahman. program-program pembaruan kejaksaan yang dilaksanakan KHN adalah dalam rangka membantu institusi penegak hukum itu untuk melaksanakan perintah Undang-undang Kejaksaan yang baru. Meskipun demikian. tampak masih ada kendala yang dihadapi oleh Kejaksaan dalam memenuhi tuntutan masyarakat itu. ternyata menjadi sarang korupsi. Oleh karena itu. juga masalah aturan-aturan lama Kejaksaan yang hingga saat ini masih berlaku. padahal Polri seharusnya menjadi garda terdepan dibandingkan dengan aparat lain.

Pendekatan yang dilakukan seringkali hanya menggunakan hukum pidana terutama Undang-undang Pemberantasan Korupsi. sedangkan selebihnya tidak ditindaklanjuti dan dikembalikan ke pelapor.475 kasus). Sehingga kemampuan manajerialnya perlu diperbaiki. Rendahnya kinerja kejaksaan ini.9 miliar tahun 2006. telah ditetapkan Peraturan Presiden No 18 Tahun 2005 tentang Komisi Kejaksaan RI untuk mengawasi tingkah laku para jaksa serta memikirkan kesejahteraan dan pembangunan kejaksaan pada umumnya. kejaksaan. internal KPK (447 kasus). kontrol terhadap setiap denda dan ganti rugi cukup tertib. KPK hanya menindak-lanjuti laporan berindikasi korupsi sebanyak 241 perkara atau 1. Dengan demikian. uang pengganti yang belum ditagih sebesar Rp 103. UU . Bawasda. Hasil telaah kasus diteruskan ke lembaga berwenang (3. sumber daya penyidik. MA. Sisi positif dari KPK terletak pada aspek transparansi. Rp 12. dan Kejaksaan Negeri Menado. kasus korupsi yang ditangani sendiri oleh KPK. Sampai dengan tahun 2007 total laporan masyarakat menginjak angka 16. Teluk Kuantan (Riau). Begitu pula yang disetorkan ke kas negara. karena lemahnya kepemimpinan para kepala kejaksaan negeri dan kurangnya sumber daya manusia. maka seorang jaksa harus bersifat merdeka dan lepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lainnya. Setiap perkara yang diputus oleh pengadilan. Sedangkan uang yang sudah disetor ke kas negara sebesar Rp 6. BPKP.8 miliar. BPK.3 miliar hingga Agustus 2007.46% dari total laporan Sukses penanganan perkara KPK juga ditentukan oleh fokus kasus (korupsi). KPK telah memublikasikan jumlah uang negara yang diselamatkan mencapai Rp 11.3 miliar pada tahun 2006. bahwa dalam melaksanakan kekuasaan negara dalam bidang penuntutan dan tugas lainnya dalam UU.521. Oleh karena itu. Kadang kala. Sulawesi Utara.687 kasus. Anggota Komisi kejaksaan perlu segera melakukan langkah strategis untu meningkatkan kinerja kejaksaan. Dari semua laporan yang terindikasi korupsi ada 3. Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan institusi negara terkait dengan penegakan hukum guna mengembalikan keuangan negara akibat tindak pidana korupsi. Kejaksaan perlu meningkatkan kerjasamanya dengan Kepolisian termasuk dengan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP).9 miliar pada tahun 2005. Dari 59 kasus yang ditangani sampai pengadilan. jika dibandingkan dengan jumlah laporan publik. tidak komprehensif. Untuk melaksanakan ketentuan UU No 16 tersebut. Namun tidak semua laporan dapat ditindak-lanjuti oleh KPK dengan alasan sebagian laporan tidak berindikasi korupsi atau tidak disertai dengan bukti yang cukup. Sementara undang-undang lain seperti UU Perbankan. dalam rangka case building.4 miliar pada tahun 2005. dan Rp 15. Peranan Polisi dan Jaksa dalam tahapan ini sangat berat.Wonosari (Yogyakarta).4 miliar pada tahun 2007. Secara normatif. kejaksaan telah meresposisi jati dirinya dengan terbitnya UU No 16 tahun 2004 tentang Kejaksaan RI yang menyebutkan dengan tegas. Soal jumlah kasus yang dibatasi bisa dilihat dari laporan yang diterima per 30 September 2007 sebanyak 21. sangat terbatas. Jaksa dan Polisi dalam menganalisa peristiwa hukum tersebut. Tebing Tinggi (Sumatera Selatan). dan pembatasan jumlah kasus. Berkaitan dengan upaya peningkatkan peranan Polisi. Untuk melihat unsur korupsi dari sebuah peristiwa hukum harus dianalisa secara komprehensif. Jaksa dan Hakim maka perlu forusm diskusi dengan praktisi dan akademisi.437 kasus yang diteruskan ke kepolisian. Rp 117. Rp 30. sebagaimana dikatakan Wakil Ketua Bidang Penindakan KPK Tumpak Hatorangan Panggabean.

sehingg sangat susah untuk diberantas. namun hanya bisa dikurangi. H. suatu situasi yang dapat memaksa para pelaku tindak pidana korupsi berpikir ulang sebelum mengulangi tindakannya. Pemerintah saat ini telah menciptakan. masyarakat lebih memilih menyelesaikan perkara di luar pengadilan dari pada di pengadilan.Dari tinjauan hukum pidana. c. Karena itu. 31 Tahun 1999 yang dijabarkan dalam PP No. Dengan kata lain. yang dalam hal-hal tertentu digunakan oleh NCCC untuk menjaring kasuskasus korupsi untuk diinvestigasi. hal ini merupakan bagian dari general culture yang berkaitan dengan sistem hukum. and expectations. UU Keuangan Negara dan Hukum Tata Usaha Negara kurang dilirik. korupsi yang juga terjadi di tingkat masyarakat bawah sangat mungkin terinspirasi dari korupsi di tingkat atas. Padahal. misalnya Pasal 41 Bab V UU No. legal culture merupakan whatever or whoever decides to turn the machine (the legal structure) on and off. antara lain tentang pernyataan bahwa masyarakat kalangan bawah tidak percaya kepada pengadilan. banyaknya demonstrasi dan berita di media massa tidak selalu menunjukkan adanya tindak pidana korupsi. UU Persaingan Usaha. Di Thailand partisipasi masyarakat dalam mekanisme akuntabilitas publik mendapat jaminan yang jelas di dalam konstitusi. tidak pernah konsisten. tindak pidana korupsi yang modus operandinya saat ini semakin canggih saja kadang terbukti menabrak undangundang itu. UU Pasar Modal. jangan segan-segan mengajak diskusi pihak lain yang lebih pakar atau praktisi hukum dalam membahas undang-undang tersebut. values. Jika di lingkungan tempat ibadah. Manusia beragama masih bergantung pada situasi dan kondisi. namun sebaliknya jika kondisi memungkinkan. Tiga besar lembaga yang paling sering meminta “uang pelicin” adalah pengadilan. Korupsi yang terjadi di tingkat masyarakat seoalah telah menjadi budaya alami. patuh pada hukum agama. Sistem pemerintahan yang ada belum mampu menciptakan masyarakat bersih karena dalam diri pribadi tersimpan watak korup. kolusi dan nepotisme. Merajalelanya korupsi terekam dalam survei yang dilakukan Transparency International Indonesia awal tahun 2007. bahwa peran agama untuk pemberantasan korupsi sebenarnya bagus yakni mengajarkan. Budaya Hukum (Legal Culture) Elemen budaya hukum (legal culture) yang harus diartikan sebagai people’s attitudes toward law and the legal system – their beliefs. Dengan demikian. dan dalam prakteknya didorong juga oleh program perlindungan saksi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengeluhkan kualitas laporan dugaan tindak pidana korupsi (Tipikor) yang masuk ke lembaga itu yang sebagian besar . Karena itu.cybercrime di lingkungan perbankan banyak yang tidak dilaporkan untuk menjaga kredibilitas perusahaan. ideas. Meskipun di Indonesia ada ketentuan yang mengatur tentang peranserta masyarakat. Berapa banyak anggota masyarakat Indonesia yang berperan dan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan.Sayangnya hidup manusia yang beragama. Hal itu terbukti lebih dari 20 ribu aduan atau dugaan korupsi yang dilaporkan masyarakat kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). yang mewawancarai para pelaku usaha diIndonesia dan terungkap bahwa inisiatif permintaan suap kerap kali datang dari para pelayan publik. and determines how it will be used. jauh pada aturan agama.Perseroan Terbatas. dan imigrasi. Abdul Djamil (Rektor IAIN Walisongo Semarang) mengemukakan. bea-cukai. 71 Tahun 2001. berlomba-lomba meraih kebajikan dan menjahui segala kemungkaran atau kejahatan. Presiden Yudhoyono juga menjelaskan kepedulian untuk membasmi korupsi telah meningkat di antara masyarakat.

Ia berharap UIN bisa segera melakukan duplikasi untuk diterapkan di perguruan tinggi lain. termasuk melalui pendidikan budipekerti. Kesehatan mental (mental health higine) masyarakat juga terus ditingkatkan melalui pendidikan formal. Maftuh Basyuni menyambut positif program pendidikan antikorupsi yang digagas UIN Syarif Hidayatullah. yang dapat ditindaklanjuti dua persen lebih.tidak memenuhi syarat sehingga sulit ditindaklanjuti. yang secara langsung atau tidak langsung mempunyai pengaruh terhadap pencegahan kejahatan. Karena itu. Gerakan moral pemberantasan korupsi di Indonesia juga dilakukan Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) dengan Muhamadiyah. Secara kriminologis. Moralitas menjadi bidikan utama langkah preventif pemberantasan korupsi karena moralitas akan menentukan tingkah laku. informal dan nonformal. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah dan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) se-Indonesia mulai memberikan pendidikan antikorupsi bagi mahasiswa. dan pendidikan agama. Jabaran berikut menguraikan langkah-langkah strategis kebijakan non-hukum pidana terhadap pemberantasan korupsi diIndonesia. bahwa gerakan pemberantasan korupsi di Indonesia memang sudah ada. M. Dari sekitar 21 ribu laporan yang masuk ke KPK hingga kini. (3) perbaikan kesehatan mental secara nasional. . wajar jika moralitas perlu diperbaiki dengan berbagai cara. misalnya melalui pendidikan dan penyehatan mental masyarakat. (2) perencanaan dan pengembangan kesehatan mental masyarakat. Karena itu. Anak-anak juga perlu ditingkatkan kesadaran moralnya. Hasyim Muzadi mengemukakan. Berdasarkan teori yang dikemukakan Hoefnagels di atas. Beberapa bentuk kebijakan nonpenal adalah (1) kebijakan sosial. termasuk meningkatkan kesejahteraannya. Strategi pencegahan kejahatan hendaknya didasarkan pada upaya menghilangkan sebab-sebab dan kondisi-kondisi yang menimbulkan kejahatan. Hal ini selaras dengan hasil Kongres PBB ke-6 tahun 1980 yang merekomendasikan bahwa “crime prevention strategies should be based upon the elimination of causes and conditions giving rises to crime. dan pencegahan tanpa menggunakan pidana (prevention without punishment). penyebab utama korupsi adalah moralitas yang bobrok yang mengakibatkan keserakahan. Dalam hubungannya dengan pemberantasan korupsi diperlukan juga syarat tingginya kesadaran hukum masyarakat. Saat ini pemberantasan korupsi sudah tidak bisa lagi hanya mengandalkan pendekatan hukum. Namun. sedikit banyak dipengaruhi oleh adanya pemahaman hukum oleh masyarakat tentang hukum itu sendiri. dapat meliputi upaya menciptakan kesejahteraan sosial dan kesejahteraan anak-anak. dan (4) penerapan hukum administrasi dan hukum perdata. Tujuan utama dari usaha-usaha dalam ruang lingkup kebijakan nonpenal adalah memperbaiki kondisi-kondisi sosial tertentu. wawasan kebangsanaan. diketahui bahwa kebijakan nonpenal dilakukan dengan cara mempengaruhi pandangan masyarakat tentang kejahatan dan pemidanaan melalui media massa (influencing views of society on crime and punishment/mass media). Kebijakan ini mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. yang kesadaran hukum itu juga sekaligus merupakan tujuan dari penegakan hukum pidana korupsi. ia melihat masih banyak kelemahan karena belum mampu mengatasi masalah korupsi yang telah menjadi penyakit bangsa. Menteri Agama. Pendidikan antikorupsi dapat dikembangkan di perguruan tinggi lain dengan analisis berbeda. Terbentuknya kesadaran hukum masyarakat yang menunjang keberhasilan dari upaya penegakan hukum pidana korupsi.

Kurikulum mulai dimasukkan dalam pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. banyak pelaku kejahatan yang akhirnya melarikan diri ke negara asing.Penanggulangan korupsi tidak dapat dilakukan secara cepat dan terburuburu. IAACA merupakan asosiasi lembaga-lembaga pemberantas korupsi di dunia. Melalui penerapan hukum administrasi yang konsisiten. Karena itu. kolusi (sebagai salah satu langkah awal menuju korupsi) dapat diminimalisasi. sampai saat ini belum ada indikasi bahwa tindak pidana korupsi di Indonesia merupakan kejahatan terorganisasi (organized crime) dan merupakan kejahatan lintas negara (trans-national crime). Persetujuan Pemerintah AS dilakukan pada 25 Oktober 2006. Pemerintah Amerika Serikat. juga untuk penguatan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) senilai 1. di antaranya dengan cara mengimplementasikan muatan materi antikorupsi dalam kurikulum pendidikan formal. Indonesia sendiri telah menjadi anggota IAACA sejak Oktober 2006. Saat ini. Pembentukan wadah ini salah satu tujuannya adalah agar negara-negara anggota bisa saling membantu untuk mengimplementasikan pelaksanaan Konvensi PBB Melawan Korupsi (UNCAC). Upaya pemberantasan korupsi harus dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan.3 juta dollar AS atau sekitar Rp 113 miliar.7 juta dollar AS.200 per dollar AS. untuk mencapai proses menjadi kurikulum tetap. diperlukan penyediaan generasi baru (anak-anak). Asset Recovery International Seminar dan ADB-OECD SG Meeting pada 3-7 . Namun demikian. dan penerapan pengadaan barang dan jasa pemerintah senilai 6. pemberdayaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) senilai 12. Kerjasama internasional sebagai salah satu amanat dari konvensi anti-korupsi juga perlu dilakukan oleh Indoensia. 22 sampai dengan 26 Oktober 2006. Pemanfaatan hukum perdata dan hukum administrasi negara untuk melakukan upaya preventif tindak pidana korupsi merupakan langkah yang sangat tepat. China. Karena itu. Selain untuk reformasi peradilan dan Mahkamah Agung (MA) senilai 14. Di antaranya adalah Conflict of Interest International Seminarpada 8-9 Agustus. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah mewakiliIndonesia menjadi anggota Asosiasi Internasional Otoritas Pemberantasan Korupsi (International Association of Anti Corruption Authorities (IAACA)).5 juta dollar AS. Meskipun demikian. Secara kriminologis. Agenda internasional yang akan dilakukan Indonesia dalam tahun ini. langkah awal bisa dimasukkan dalam kegiatan ko-kurikuler atau ekstrakurikuler. Keputusan itu dilakukan dalam pertemuan tahunan perdana IAACA yang digelar di Beijing. telah menyetujui proposal Pemerintah Indonesia dalam upaya pemberantasan korupsi secara berkelanjutan dengan memberikan hibah atau grant senilai 35 juta dollar AS atau setara dengan Rp 322 miliar-dengan kurs Rp 9. melalui The Millenium Challence Corporation yang dibentuk Presiden George Bush tahun 2002. Lebih dari 120 negara yang mempunyai lembaga/institusi pemberantas korupsi terdaftar sebagai anggota IAACA.4 juta dollar AS. Dalam materi tersebut harus diuraikan tentang pentingnya pemberantasan korupsi karena tindakan tersebut merugikan masyarakat secara umum dan melanggar hukum. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa terjadinya korupsi juga karena buruknya tata administrasi dan lemahnya pengontrolan kegiatan adminsitrasi di kalangan birokrat. Indonesia perlu melakukan kerja sama internasional untuk menenggulangi kejahatan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA Atmasasmita. peningkatan struktur hukum. Keberhasilan tersebut. Bayu Media. 1997. Adami. Mentalitas penegak hukum dan masyarakat menjadi kunci utama pemberantasan korupsi pada masa akan datang. 2003. Permasalahan utama dalam mengintegrasikan dan mengharmonisasikan kebijakan nonpenal dengan penal adalah ke arah penekanan dan pengurangan faktor-faktor potensial yang menumbuhsuburkan kejahatan. dan perbaikan kultur hukum. Romli. Minn.H.). E. Bandung. S. St. Langkah-langkah strategis pemberantasan korupsi di Indonesia meliputi peningkatan eksistensi substansi hukum. Reformasi Hukum.. Bryan A. Situational Crime Prevention: Successful Case Studies. pemberantasan korupsi di Indonesia masih mengedepankan tindakan represif belum banyak memanfaatkan kebijakan sosial (social policy) sebagai langkah preventif. Ganner. Malang. West Group. Widodo. dapat dilakukan oleh siapa saja dan kapan saja. Black’s Law Dictionary. dan puncaknya adalah Konferensi II IAACA pada 20-23 November di Bali. dapat menopang keberhasilan pencapaian tujuan kebijakan sosial yang tertuang dalam rencana pembangunan nasional. Dalam mensinergikan kebijakan nonpenal dan kebijakan penal. New York: Harrow and Heston. 1979.. Drs. Friedman.Sayang. Legal System. . Second Edition. Mandar Maju. Hak Asasi Manusia & Penegakan Hukum. Andi. Chazawi. Seventh Edition. Melalui pendekatan integral tersebut diharapkan pelaksanaan rencana perlindungan masyarakat (social defence planning) berhasil. (ed. Clarke. Langkah pencegahan perlu dilakukan karena secara kriminologis. CV.H. Pemerintah Indonesia dan seluruh komponen bangsa perlu terus mengembangkan kebijakan kriminal secara padu. 2001. *) Dr. 1986. Ronald R. pemberantasan korupsi di Indonesia melalui penerapan hukum pidana pada era reformasi sudah menunjukkan hasil yang positif. Procurement & Bribery International Seminar pada 4-6 November. M. 1999.September. Jakarta. tindak pidana korupsi mempunyai karakteristik yang cukup kompleks. adalah Dosen Tetap Dipekerjakan (DPK) Fakultas Hukum Universitas Wisnuwardhana Malang. PENUTUP Berdasarkan pembahasan dalam subbab di atas dapat dipahami bahwa meskipun tidak secepat yang diharapkan banyak pihak. Lawrence M. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Hukum Pidana Materiil dan Formil Korupsi di Indonesia. Hamzah. perlu adanya pendekatan yang berorientasi pada kebijakan (policy oriented approach). Paul. Pakistan melaluiNational Accountability Bureau akan bekerjasama dengan KPK Indonesia.Erlangga.

Chicago. tanggal 8 Januari 1992. 7 Agustus 2007. Prodjohamidjojo. Paul Minn. Edisi Sore . 2000.Jakarta. Makalah Muladi. 1960. . Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1969. Harian Pelita. Kejahatan Korporasi: Analisis Viktimologis dan Pertanggung-jawaban Korporasi dalam Hukum PidanaIndonesia. 1 Agustus 2007. West Publishing Co. Ellen S. Bandung: CV Mandar Maju. St. Peter. Harian Kompas.New York. 1985.Jumat. 7 Agustus 2007. 3 November 2006. Koran Tempo. G.P. 1996. Penerapan Pembuktian Terbalik dalam Delik Korupsi UU No. Setiyono. Terminologi Hukum. Harian Pelita. Lippincott Company. Harian Republika. Yandianto. The Contemporary Inglish-Indonesian Dictionary. Philadelphia. White Collar Crime In A Notshell. Senin tanggal 21 Maret 2005. 25 Juli 2007 Harian Kompas. Koran Muladi. M--2S.M.. 2002. Salim. 12. Hoefnagels. Edwin H. Kluwer-Deventer. p. 9 Agustus 2007.Makalah dalam Seminar di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. J. tanggal 8 Agustus 2007.Handoko. 31 Tahun 1999). Webster’s New American Dictionary. 1994.B. “Tinjauan Juridis Pemberantasan Korupsi”.Modern English Press.Cressey. Sutherland. Principles of Crimonology. I. 1989. Jakarta. 6 Juli 2007 Kantor Berita Antara. dan Donald R. Suara Karya.. Bandung. Peter. 2001. The others Side of Criminology. Holand Podgor. Martiman. Sinar Grafika. 1992. Ranu. 30 Oktober 2006 Harian Seputar Indonesia. Harian Investor Daily Indonesia. Tindak Pidana Money Laoundring dan Permasalahannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->