P. 1
Agama Dan Masyarakat

Agama Dan Masyarakat

|Views: 692|Likes:
Published by Sehab Doel Fals

More info:

Published by: Sehab Doel Fals on Dec 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/14/2012

pdf

text

original

SOSIOLOGI AGAMA

A.Pengertian Sosiologi Agama. Dalam berbagai literature batasan atau definisi sosiologi agama (sociology of religion) hamper tidak ada perbedaan yang sangat berarti. Namun demikian,perlu saya kemukakan berbagai pengertian sodiologi agama menurut beberap ahli sosiologi agama. J.Wach merumuskan sosiologi agama secara luas sebagai suatu studi tentang interelasi dari agama dan masyarakat serta bentuk-bentuk interaksi yang terjadi antar mereka. Anggapan para sosiolog bahwa dorongan-dorongan, gagasan dan kelembagaan agama mempengaruhi dan sebaliknya juga dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial, organisasi dan stratifikasi sosial adalah tepat. Jadi seorang sosiolog agama bertugas menyelidiki tentang bagaimana tata cara masyarakat,kebudayaan dan pribadi-pribadi mempengaruhi agama sebagaimana agama mempengaruhi mereka. Kelompok-kelompok pengaruh terhadap agama, fungsi-fungsi ibadat untuk masyarakat, tipologi dari lembaga-lembaga keagamaan dan tanggapan-tanggapan agama terhadap tata duniawi, interaksi langsung maupun tidak langsung antara sistem-sistem religius dan masyarakat dan sebagainya dan termasuk juga bidang penelitian sosiologi agama. Menurut W.Goddjin sosiologi agama adalah bagian dari sosioologi umum yang mempelajari suatu ilmu budaya empiris, profane dan positif yang menuju kepada pengetahuan umum yang jernih dan pasti dari struktur, fungsi-fungsi dan perubahan-perubahan kelompok keagamaan dan gejala-gejala kelompok keagamaan. Definisi-definisi tersebut diatas kiranya sudah cukup jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa sosiologi agama pada hakekatnya adalah cabang dari sosiologi umum yang mempelajari masyarakat agama (religious society) secara sosiolgis untuk mencapai keterangan-keterangan ilmiah dan pasti demi untuk masyarakat agama itu sendiri dan umat atau masyarakat pada umumnya. B.Lahir Dan Perkembangan Sosiologi Agama. Kelahiran sosiologi lazimnya dihubungkan dengan seorang ilmuwan prancis yang bernama august comte (1798-1857) yang dengan kreatif telah menyusun sintesa berbagai aliran macam pemikiran kemudian mengusulkan mendirikan ilmu tentang masyarakat dengan dasar filsafat empiric yang kuat. Ilmu tentang masyarakat ini pada awalnya oleh august comte diberi nama “social physics” (fisika sosial) kemudian dirubahnya sendiri menjadi “sociology” karena istilah fisika sosial tersebut dalam waktu yang hamper bersamaan ternyata dipergunakan oleh seorang ahli statistic sosial berasal dari belgia bernama adophe quetelet. Selanjutnya August Comte dikenal sebagai “bapak sosiologi”. Sedangkan minat mempelajari fenomena agama dalam masyarkat mulai tumbuh sekitar pertengahan abad ke-19 oleh sejumlah sarjana barat terkenal seperti Edward B.Taylor (1832-1917), Herbert Spencer (1820-1903), Frederick H.Muller (1823-1917). Tokoh-tokoh ini lebih tertarik kepada agama-agama primitive akan tetapi pengkajian masalah agama secara ilmiah dan terbina mulai sekitar tahun 1900. Mulai saat itu hingga menjelang munculnya buku-buku sosiologi agama

Masyarakat yang demikian itu akan disoroti secara berturut-turut. masyarakat agama terdiri atas komponenkomponen konstitutif. Sampai berapa jauh . baik yang positif maupun yang negative. maka sosiologi agama mempelajari dari sudut “empiris-sosiologi”.Obyek.Pendekatan dan Metode Sosiologi Agama. Masyarakat agama ialah suatu persekutuan hidup (entah dalam lingkup sempit atau luas) yang unsure konstitutif utamanya adalah agama atau nilai-nilai keagamaan. C. Jika dikatakan bahwa yang menjadi sasaran adalah masyarakat agama.. struktur dan fungsinya. menurut norma-norma dan peraturan yang ditentukan oleh agama. maka objek material sosiologi agama adalah masyarakat agama. seperti kerukunan antar golongan agama dan konflik-konflik yang sering terjadi. baik kedalam maupun keluar. sebagai fakta soisal yang dapat disaksikan dan dialami banyak orang. Sebab memberi penilaian atas nilai-nilai adikodrati (supraempiris) adalah tugas khusus dari telogi dogmatik dan teologi moral dan bukan kopetensi agama. tetapi agama sejauh ia sudah mengejawantah dalam bentukbentuk kemasyarakatan yang nyataatau dengan kata lain agama sebagai fenomena sosial. Dengan kata lain. Institusi-institusi religius yang mempunyai ciri pola tingkah laku tersendiri. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada batasan mengenai sosiologi agama diatas.yang sering disebut dengan nama sosiologi klasik. yang hendak dicari dalam fenomena agama itu adalah dimensi sosiologinya. Sudah tentu tidak akan dilupakan untuk mengkaji perubahan-perubahan yang disebabkan oleh agama. Ilmu yang terakhir ini hanya mengkonstatasi(menyaksikan) akibat empiris kebenaran-kebenaran “supraempiris”. dan atas stratifikasisosial khususnya. Kalau ilmu ketuhanan (teologi) mempelajari agama dan masyarakat agama dari kaca mata”supraempiris”(menurut kehendak tuhan). Demikian pula fenomena jenuhnya organisasi lembaga-lembaga keagamaan yang tidak selalu membawa berkat. dan itulah sasaran dari sosiologi agama. dunia sacral yang jauh berbeda secara esensial dengan dunia empiris dan oleh karenanya juga tidak dapat disentuh oleh pengkajian empiris. teristimewa mengingat adanya kesadaran dan kohesi kelompok religius yang mempunyai sifat tersendiri. Seperi masyarakat nonagama umumnya. Dikemudian hari tulisan-tulisan mereka digolongkan oleh para ahli sosiologi ke dalam bagian sosiologi umum. pengaruhnya terhadap masyarakat luas umumnya. Dua sarjana tersebut lazim dipandang sebagai pendiri sosiologi agama. Untuk jelasnya sosiologi agama tidak membuat evaluasi mengenai ajaran dogma dan moral yang diyakini pemeluknya berasal”dunia luar”. bahkan sering menghambat laju modernisasi para penganutnya. Periode klasik ini dikuasai oleh dua orang sosiolog yang terkenal yaitu Emile Durkheim dari prancis (1858-1917) dengan karyanya anntara lain The Elementary Forms of Religious Life dan Max Webber dari Jerman (1864-1920) dengan karya yang monumentalnya yaitu The Protestan Ethic and The Spirit of Capitalism dan Ancient Judaism. sesungguhnya yang dimaksud bukanlah agama sebagai suatu sistem ajaran(dogma dan moral)itu sendiri. seperti kelompok-kelompok keagamaan. yaitu yang disebut dengan istilah masyarakat agama.

seluruh proses pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif mengikuti teknik yang dipakai sosiologo umum.agama dan nilai keagamaan memainkan peranan dan pengaruh atas eksistensi dan operasi dan operasi masyarakat manusia? Inilah yang disebut dengan pendekatan (objek formal)sosiologi agama. maka ilmu ini lebih merupakan ilmu terpakai dari pada ilmu teoritas murni. pada tahap berikutnya akan merupakan bahan-bahan yang berguna untuk menyusun dan mengembangkan sosiologo agama bercorak teori murni. Sosiologi agama melalui pengamatan dan panelitian mau mencari keterangan ilmiah untuk dipergunakan sebagai sarana meningkatkan daya guna dan fungsi agama itu sendiri demi kepentingan masyarakat agama yang bersangkutan khusunya dari mayarakat luas umunya. bila dilihat sejarah kelahiran dan berkembangnya sosiologi agama itu. misalnya. Berdasarkan hal tersebut diatas. D. bentrokan dan sbagainya. Sebagaimana sosiologi positif telah membuktikan daya gunanya dalam hal mengatasi kesulitan yang muncul dalam masyarakat serta menunjukan cara-cara ilmiah untuk perbaikan dan pengembangan masyarakat. yang positif dan empiris yang dilakukan dan dibina oleh sarjan sosial. Ia bukan ilmu yang sacral: bukan seperti ilmu teologi. Dengan kata lain. hal yang disebut dalam contoh diatas yang berkaitan erat dengan masalah agama. dalam lahirnya organisasi : seberapa jauh agama ikut mempengaruhi proses sosial. antara lain untuk memecahkan masalah sosio-religius yang timbul waktu di eropa akibat kurangnya pengetahuan tentang segi-segi sosiologis kehidupan beragama. sekularisasi. Sudah barang tentu bahwa keterangan ilmiah yang merupakan hasil sementara dan masih bertambah jumlahnya. sosiologi agama adalah cabang dan juga bagian vertikal dari sosiologi umum. maka dapatlah dikatakan bahwasosiologi agama mempunyai kedudukan yang sama tingginya dengan rumpun ilmu sosial yang lain. tetapi ilmu profane. seberapa jauh unsur kepercayaan mempengaruhi pembentukan kepribadian pemeluk-pemeluknya: ikut mengambil bagian dalam menciptakan jenis-jenis kebudayaan: mewarnai dasar dan haluan Negara: mempengaruhi pembentukkan partai-partai politik dan golongan nonpolitik: memainkan peranan dan munculnya strata (lapisan) sosial. Sedangkan dalam mencapai tujuannya sosiologi agama tidak berbeda dengan sosiologi umum. Kegunaan sosiologi dalam forum keilmuan merupakan sumbangan yang tidak kecil bagi instansi keagamaan.entah orangnya suci atau tidak suci. interview. Lebih konkret. Ia diciptakan oleh pendukung-pendukungnya untuk kepentingan praktis. Namun. Ia merupakan suatu ilmu yang menduduki tempay yang “profan”. sosial agama menyorotinya dari sudut sosiologis. fanatisme.Fungsi dan Peranan Sosiologi Agama dalam Masyarakat Agama Seperti yang dijelaskan dimuka dalam definisi. perubahan sosial. Jadi. yaitu menggunakan metode observasi. demikian pula sosiologi agama bermaksud membantu para pemimpin agama dalam mengatasi masalah sosio-religius yang tidak kalah beratnya dengan . Karena maksud ilmu tersebut bukan untuk membuktikan kebenaran(objektivitas) ajaran agama. dan angket mengenai masalah-masalah keagamaan yang dianggap penting dan sanggup memberikan data-data yang dibutuhkan. melainkan untuk mencari keterangan teknis ilmiah mengenai hal ihwal masyarakat agama.

pun pula kepada teologi kabebasan dan teologi pembangunan.mereka mengharapkan dalam waktu singkat sosiologi agama sanggup menciptakan tertib sosio-religius yang ideal. Akan tetapi.H. Belum lagi problem besar kemiskinan. Semua ini bersumber pada perbedaan presepsi dan kecemburuan sosial.itu baru praduga. dan keagamaan. baik oleh kalangan sarjana ilmu sosial maupun kalangan pemerintah. Dr. malahan ada yang berlebihan terhadap sosiologi agama. namun sebaliknya juga sering merupakan sumber ketegangan(konflik) yang membawa banayk keresahan: maka kita dapatmembuat suatu praduga yang kuat bahwa sosiologi agama dapat lahir dan dibina dengan baik dan pecintanya. yang apriori dapat dipastikan ada kaitannya dengan unsur-unsur “credo” keagamaan dan kepercayaan yang dianut . misalnya. disamping masih terdapatnya sekolah-sekolah swasta yang tidak memenuhi persyaratan mutu nasional akibat dari demonasi kurikulum agama. Akhir-akhir ini masyarakat dihadapkan dengan masalah-masalah sosial yang semakin krusial yang tidak lepas dari kekuatan sosial yang bersumber dari persoalan politik. baik yang disebut kemiskinan structural dan non structural. Jelasnya. jika tidak terkendalikan.masalah sosial nonkeagamaan. maka sosiologi agama dapat memberikan sumbangan. karena memang belum ada ahli sosiologi yang menangani masalah kehidupan agama dengan teknik yang memenuhi persyaratan ilmiah. mereka bukan saja mendukung tetapi bahkan menaruh harapan besar. sosial.baik kedalam maupun keluar. mimbar terbuka. dalam bentuk unjuk rasa. Masalah lain adalah keterbelakangan pendidikan dan pengajaran. Dalam bidang teoritis dimana para ahli keagamaan memerlukan konsep-konsep dan resep-resep ilmiah praktis yang sulit diperoleh dari teologi. demontrasi.misalnya.misiologi. akan menjurus keberingasan massa. Setelah pejabat gerejani dalam waktu relative lama mengambil sikap negative terhadap sosiologi agama (bahkan menolak dan menuduh campur tangan kehidupan intern gereja). dari persoalan buta huruf sampai kekurangan guru dan gedung sekolah. Beberapa buku sosiologi agama yang telah terbit dieropa dan amerika serikat yang membicarakan agama Kristen protestan dan Kristen katolik dapat diperoleh informasi bagaiman pentingnya peranan yang dimainkan sosiologi agama dalam kalangan mereka. ekonomi. Hal ini seringkali menimbulkan gejolak yang menjurus pada gerakan-gerakan negative yang bersifat kritis. pengorganisasian kehidupan paroki yang harmonis dan efisien. yang umumnya mengikuti pola pendidikan tradisional yang menutup anak didik dari nilai sekuler yang sudah menguasai masyarakat luas. dalam bukunya mengatakan hal menarik mengenai sikap-sikap kalangan gereja dieropa. dan lain sebagainya. Ini kadang-kadang. Terutama sosioogi keristen yang ternyata sudah lebih majudari pada sosiologi agama dari luar agama Kristen. dan juga teologi pastoral. Jika kita lihat masyarakat Indonesia sebagai Negara yang agamis. akhirnya mereka(kalangan itu berubah sikap dari negative menjadi positif. niscaya hal itu akan memberikan sumbangan yang sangat berharga dan kehadirannya akan disambut dengan rasa gembira. dimana kehidupan keagamaan masih memainkan peranan penting yang dominant bagi kehidupan bangsa dan Negara. Goddjin dan kawan-kawanya. dapat memberikan sumbangan yang berharga khususnya teologi tentang gereja. suatu hipnotis yang belum diuji kebenarannya secara actual.

Dari teknologipun juga belum cukup. Akan tetapi. ilmu ekonomi. Untuk itu butuh ilmu-ilmu. tidak dapat diharapkan mampu memecahkan persoalan. bahkan dalam urusan fungsional yang dengan sendirinyamenuntut inisiatif dan tanggungb jawab pribadi. Lebih berat lagi dalah permasalahan kesatuan dari sekian banyak suku bangsa di tanah air. tidak dapat diharapkan memberikan jawaban yang khas dibutuhkan. Yang dimaksuddengan ketepan jawaban ialah bilamana dalam penelusuranmasalah itu orang terbentur pada urat nadi kesulitan yang berpangkal pada sumber-sumber keagamaan.dewasa ini sesungguhnya merupakan jawaban dari kesempatan makna teologi yang sampai sekarang ini dianut oleh mayoritas muslim di Indonesia. yang masih mempertahankanpola distansi vertikal tidak hanya sopan santunsehari-hari. melainkan hanya masalah kebudayaan. Demikian pula ilmu ekonomi. teologi bisnis. Melihat begitu beratnya masalah yang dihadapi bangsa ini. Munculnya usaha pengembangan kearah teoritas dan praktis dalam teologi. teologi. Masyarakat tidak dapat digerakan dalam pembangunan ini dengan hanya menawari dengan teknologi yang canggih. Bukan lagi komunikasi antar suku bangsayang satu dengan yang lain. Bahkan. atau ilmu hukum? “teologi saja. Disini orang menghadapi bukan saja etnis. demikian anggapan sejumlah agamawan terkemuka yang didukung penganutnya. antropologi. misalnya. ilmu politik. misalnya psikologi atau sosiologi umum. Hal seperti itu ternyata kadang-kadang masih sering dikorbankan untuk memenangkan kedudukan pimpinan dari golongan yang berkuasa. yang tidak dapat dipisahkan dari unsure-unsur keagamaan yang berbeda dan diyakini suku-suku sebagai pemeluknya yang berbeda pula. dan yang lain lagi. apabila masalah itu dikaji secara sosiologis. teknologi. melainkan masalah sosiologi-kultural.melainkan antara strata sosial yang satu dengan yang lain. Di samping itu. Maka. antropologi budaya. ilmu yang layak diharapkan sanggup memberikan jawaban yang khas dan tepat tepat dalam masalah-masalah tersebut diatas tinggalah sosiologi agama. Misalnya tentang kepemimpinan . Tegasnya antara bawahan dengan atasan atau sebaliknya.karena sudut pandang dan tujuannya memang khusus.maka dapat diajukan beberapa pertanyaan sebagai berikut. Adanya tradisi budaya yang masih dipertahankan sebagai warisan bagi generasi muda yang kadangkadang sebagian warisan itu menurut akal sehat kurang menguntungkan lagi bagi kelangsungan tata hidup masyarakat modern. masalah yang bergejolak bukanlah masalah ortodoksi(dogma dan moral). agama. karena teknik pembangunan dari sarana-sarana fisik lain dari”teknik” menangani masalah sosial.”Manakah ilmu pengetahuan dirasa kompetendan dapat diharapkan sanggup memecahkan masalah di atas dengan wajar. apalagi teologi yang masih berpegang pada pola tradisional dan biasanya kurang menguasai pengetahuan sosiologis. suku merupakan problem nasional yang berat.oleh pemeluknya dan yang diterima dengan reladan tidak rela sebagai nasib yang dikehendaki tuhan. seperti teologi sosial. melinkan perlu teknik-teknik penyadaran akan perlunya kehidupan yang lebih baik. dewasa ini semakin disadari banyak cendekiawan yang yakin bahwa fenomena sosial yang disebut dengan ras. masih banyak dapat diketengahkan kesulitan-kesulitan yang bersumber pada masalah kurtural. pendeknya masalah sosiologis. hukum. Sekurangnya.

agama yang membuat pemeluknya tertekan dan menimbulkan ketegangan yang mencekam karena kurang memahami teknik organisasi dan penggunaan kekuasaan dalam situasi yang sudah berubah. yang menuntut pergantian struktur dan sistem yang sesuai. .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->