P. 1
Contoh Nota Pembelaan Atau Pledoi

Contoh Nota Pembelaan Atau Pledoi

|Views: 1,418|Likes:
Published by mitchellhans

More info:

Published by: mitchellhans on Dec 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/19/2013

pdf

text

original

Pledoi-sample

http://www.cariIormat.blogspot.com

N O T A P E M B E L A A N

Atas Surat Tuntutan
Dengan Nomor Registrasi Perkara : Jakarta
Atas Nama Terdakwa
Dadang Irawan


Oleh:

Tim Penasehat Hukum Terdakwa ( Fernandes Raia Saor)

Disampaikan Pada Sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Maielis Hakim Yang Terhormat.
Penuntut Umum Yang Kami Hormati.

Pada sidang sebelumnya Saudara Penuntut Umum telah membacakan Surat Tuntutan atas
nama terdakwa Saudara Dadang Irawan Dalam tuntutannya tersebut. setelah memasuki
proses pembuktian. penuntut umum tetap berpendirian bahwa Saudara Dadang Irawan
telah melakukan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dakwaan penuntut umum di awal
persidangan. Padahal apabila melihat Iakta-Iakta hukum yang terkonstruksi pada proses
pembuktian. sudah ielas-ielas bahwa Saudara Dadang Irawan tidak pernah menyentuh
pokok-pokok persoalan sebagaimana yang telah didakwakan oleh Penuntut Umum.
Dadang Irawan hanyalah sebagai ProIesional yang beritikad baik dalam menialankan
tugasnya pada sebuah korporasi yang dituduh melakukan Tindak Pidana. Dalam Surat
Tuntutannya. banyak Iakta-Iakta hukum yang diabaikan oleh penuntut umum demi
semata-semata memaksakan apa yang telah dituduhkan oleh penuntut umum dalam surat
dakwaannya. Hal ini ielas-ielas sangat menodai citra hukum sebagai sarana untuk
mencari keadilan dimana dalam hukum dituntut adanya iiwa sportiI dalam mengakui iika
ternyata apa yang dituduhkan tidak terbukti maka harus diakui tidak terbukti.
Atas dasar tersebut. kami selaku Tim Penasehat Hukum terdakwa Saudara Dadang
Irawan sebagaimana yang tertera pada surat kuasa khusus tertanggal 5 April 2008.
dengan berlandaskan keyakinan akan adanya keadilan mengaiukan Nota Pembelaan ini
yang mana seyogyanya dipergunakan oleh Yang Terhormat Maielis Hakim sebagai dasar
pertimbangan dalam rangka menciptakan keseimbangan dalam proses peradilan. Nota
Pembelaan ini hendaknya iuga iangan dipandang sebagai upaya untuk membela
kesalahan seseorang secara buta tanpa dasar hukum. melainkan sebagai upaya
menyeimbangkan proses peradilan demi terlaksananya asas Presumption oI Innocent
(Praduga tak bersalah) dalam hukum acara pidana. Kami iuga selaku Tim Penasehat
Hukum memohon kepada maielis hakim untuk senantiasa tetap berpegang teguh pada
keyakinan maielis yang tidak dapat dipengaruhi oleh opini manapun yang ada di luar
proses peradilan. Hal itu semua mengingat perkara yang sedang disidangkan ini
merupakan perkara yang menarik perhatian publik dan nuansa politis yang kental
sehingga baik Trial by Press (Peradilan oleh pers) maupun Trial by Public Opinion
(Peradilan oleh opini masyarakat) akan sangat dimungkinkan teriadi. Oleh karena itu.
sebagai bangsa yang beragama. kami selaku Tim Penasehat Hukum saudara Dadang
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

Irawanmemaniatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar Maielis Hakim yang
memeriksa perkara ini diberi keteguhan hati. ketabahan dan kebiiaksanaan yang berdasar
atas keadilan dalam memeriksa perkara ini.

Adapun untuk mempermudah pemahaman Maielis Hakim dan Penuntut Umum. kami
meniabarkan poin-poin pembelaan kami sebagai berikut:

I. Pendahuluan
II. Tidak Terbuktinya Unsur Setiap Orang
III. Tidak Terbuktinya Unsur Dengan Tuiuan Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang
Lain atau suatu Korporasi
IV. Tidak Terbuktinya Unsur Menyalahgunakan kewenangan kesempatan atau sarana
yang ada karena iabatan dan kedudukan (Abuse oI Power)
V. Tidak Terbuktinya Unsur Dapat Merugikan Keuangan Negara atau Perekonomian
Negara
VI. Penggunaan Alat Bukti oleh Penuntut Umum yang Tidak Sah
VII. Permohonan dan Kesimpulan


I. Pendahuluan

Maielis Hakim yang terhormat.
Jaksa Penuntut Umum yang kami hormati.

Setelah mendengarkan tuntutan pidana oleh Jaksa Penuntut Umum kepada klien kami.
Saudara Dadang Irawan maka tibalah saatnya kami menyampaikan nota pembelaan
(pledooi) kami sebagai hak dari Terdakwa sebagaimana diatur dalam Pasal 182 ayat 1
KUHAP. Pembelaan yang kami buat ini bukanlah sesuatu yang hendak mencoba
membebaskan klien kami Saudara Dadang Irawan dengan segala daya dan upaya.
melainkan agar hukum dan keadilan tetap diiuniung tinggi dalam pengadilan ini melalui
putusan obiektiI yang dibuat oleh Maielis Hakim yang terhormat dan Penuntut Umum
yang kami hormati setelah melihat kasus ini secara lebih iernih dan dari sudut pandang
yang lebih luas.

Maielis Hakim yang terhormat.
Penuntut Umum yang kami hormati.
Persidangan yang kami muliakan.

Dari sepaniang perialanan sidang yang telah kita lalui. dapat kita lihat bersama bahwa
Saudara Dadang Irawan adalah pribadi yang hangat serta memiliki pembawaan yang
tenang dan dapat mengendalikan emosinya dengan baik. hal mana sangat mustahil
seseorang dengan kepribadian sedemikian baiknya dapat melakukan perbuatan yang
sangat dapat menghancurkan negara dengan dugaan korupsi sebagaimana di tuduhkan
oleh Penuntut Umum. Apalagi sebelumnya klien kami tidak pernah melakukan tindakan
kriminal apapun serta tindakan lain yang dilarang dalam kesatuannya mengingat klien
kami memiliki dedikasi yang sangat tinggi terhadap negara dan sebagai pelaksana tugas
dari PT. Bank Angkasa Tbk. tidak pernah memiliki cacat dalam menialankan tugasnya.
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

Oleh karena itu. meniadi suatu pertanyaan besar bagi kita semua apakah klien kami
sungguh melakukan tindakan yang didakwakan oleh Penuntut Umum dengan kesadaran
penuh atau apakah ada Iaktor eksternal dan Iaktor politis yang secara signiIikan
mempengaruhi tindakan klien kami sehingga teriadi hal-hal yang tidak kita inginkan
tersebut atau bahkan ternyata klien kami tidak melakukan hal-hal yang didakwakan
Penuntut Umum kepadanya. Oleh karena itu. kami akan mencoba menguraikan Iakta-
Iakta yang dapat membantu kita mereka ulang keiadian tersebut.

Penuntut Umum menyatakan TERDAKWA Dadang Irawan. MA dinyatakan terbukti
bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan kedua yaitu
Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Tindak Pidana Korupsi
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1998 tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi.

Pasal 2 Ayat (1)
Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri
atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara. dipidana peniara dengan peniara seumur hidup atau pidana peniara
paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan denda paling
sedikit Rp200.000.000.00 (dua ratus iuta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000.00
(satu milyar rupiah).

Pasal 3
Setiap orang yang dengan tuiuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu
korporasi. menyalahgunakan kewenangan. kesempatan atau sarana yang ada padanya
karena iabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau
perekonomian negara. dipidana dengan pidana peniara seumur hidup atau pidana peniara
paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling
sedikit Rp50.000.000.00 (lima puluh iuta rupiah) dan paling banyak Rp1.000.000.000.00
(satu milyar rupiah).

Dalam hal ini Penunut umum dalam uraian Iakta hanya menuntut terdakwa Dadang
Irawan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam dakwaan
kedua saia yakni pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 1998 tentang
Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. Sehingga yang meniadikan dasar dari nota pembelaan kami iuga hanya untuk
membela apa yang dituntut oleh Penuntut Umum tanpa memperdulikan lagi dakwaan
pertama yang didakwakan kepada Dadang Irawan

Mengacu kepada dakwaan kedua yang dituntut oleh penuntut umum maka dapat
diuraikan unsur-unsur dari Pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 1998 tentang
Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi. yaitu:
· Setiap Orang
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

· Dengan uiuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu Korporasi
· Menyalahgunakan kewenangan. kesempatan. atau sarana yang ada padanya karena
iabatan dan kedudukan.
· Dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara

Dalam Analisis Yuridis terhadap Surat Tuntutan Penuntut Umum ini. kami ingin
mengaiak kepada Maielis Hakim dan Penuntut Umum untuk bersama-sama mencermati
dan mengkaii apa yang sebenarnya teriadi. Maka selaniutnya kami akan menguraikan
serta menganalisa satu demi satu unsur pasal 3 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun
1998 tentang Perubahan atas UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
Pidana Korupsi tersebut yang dikaitkan dari Iakta-Iakta persidangan dan analisa Iakta
serta analisa yurudis dalam setiap unsur pasal.

II. Tidak Terbuktinya Unsur Setiap Orang

Unsur setiap orang hanya merupakan element delict dan bukanlah bestandeel delict (delik
inti) yang harus dibuktikan. Menurut hemat kami. unsur setiap orang harus dihubungkan
dengan perbuatan selaniutnya apakah perbuatan tersebut memenuhi unsur pidana atau
tidak. Kalau unsur-unsur lainnya terpenuhi. barulah unsur barang siapa dapat dinyatakan
terpenuhi atau terbukti.

TERDAKWA dalam kedudukannya sebagai Mantan Head Asset Management PT. Bank
Angkasa Tbk merupakan subiek hukum yang tidak dapat dimintai pertanggungiawaban.
karena peniualan aset yang dilakukan oleh Dadang Irawan. merupakan suatu persetuiuan
peniualan yang dilakukan oleh Dewan komisaris dengan mempertimbangkan pendapat
Direksi PT. Bank Angkasa Tbk pada waktu itu adalah AGUSTA JUNIAR. sehingga pada
kenyataannya keputusan yang dilakukan oleh Dadang Irawan. MA bukanlah rekomendasi
dari TERDAKWA sendiri. akan tetapi ada pihak-pihak yang mempunyai kompetensi
dalam mengeluarkan surat untuk menyetuiui peniualan aset dengan harga minimal 50°
dari nilai taksiran. Terbukti dengan dikeluarkannya Surat Menteri Keuangan No. 5-
1484/MK.0132/1992 tertanggal 11 Desember 1992. Dengan demikian. penempatan
TERDAKWA bukanlah meniadi dasar untuk menarik seluruh perbuatan dan
menyudutkan kepada TERDAKWA sendiri.

TERDAKWA sebagai orang yang taat hukum dalam menialankan prinsip-prinsip tata
kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) sebagaimana diamanatkan
dalam Undang-Undang Nomo 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) telah menialankan PT. Bank Angkasa Tbk sebagaimana tugas dan
kewenangannya. Oleh karena itu. penempatan TERDAKWA dalam kasus ini tidaklah
beralasan dan tidaklah berdasar. dimana TERDAKWA hanya diiadikan sebagai alat
untuk melempar kesalahan dari Penuntut Umum (manus ministra) sehingga asas equality
beIore the law tidak dapat ditegakkan dengan adanya diksriminasi dari Penuntut Umum
untuk memaksakan perkara ini ke dalam persidangan. Dengan menempatkan Dadang
Irawan. MA sebagai TERDAKWA bukanlah siIat yang beriiwa besar tanpa mencermati
yang memberikan usulan untuk melakukan peniualan aset adalah saksi GULARDI yang
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

diteruskan kepada YOMI PYD dan disampaikan serta dibahas oleh Komisaris. Saudara
Dadang Irawan. MA hanya menialankan tugas yang diamanatkan oleh petinggi-petinggi
dari Bank Angkasa atas pertimbangan Menteri Keuangan. sehingga TERDAKWA yang
diiadikan alat dalam persidangan ini.

Dengan demikian. unsur setiap orang tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.


III. Tidak Terbuktinya Unsur Dengan Tuiuan Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang
Lain atau suatu Korporasi
Unsur 'Dengan tuiuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan¨
Dalam kasus. dengan tuiuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu badan.
telah terbukti. Unsur ini adalah unsur alternatiI. sehingga cukup satu yang dibuktikan
yakni apakah perbuatan dari Dadang Irawan dilakukan dengan tuiuan menguntungkan
diri sendiri. atau dengan tuiuan menguntungkan orang lain ataukah dengan tuiuan
menguntungkan suatu korporasi.

Menurut R. Wiyono yang dimaksud dengan 'menguntungkan¨ ialah sama artinya dengan
mendapatkan untung. yaitu pendapatan yang diperoleh lebih besar dari pengeluaran. dan
terlepas dari penggunaan lebih laniut dari pendapatan yang diperolehnya. Dengan
demikian. yang dimaksud dengan unsur 'menguntungkan menguntungkan diri sendiri
atau orang lain atau suatu korporasi¨ adalah sama artinya dengan mendapatkan untuk
sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.

Sangat nyata bahwa harga iual asset tersebut bukanlah secara mutlak ditentukan atas usul
TERDAKWA. namun atas keputusan rapat komisaris yakni sebesar Rp. 14.000.000.000.
Sebab berdasarkan keterangan Saksi TANOTOE ada tiga dasar yang bisa diiadikan
patokan. dan NJOP hanya salah satu pertimbangan. dan bukanlah salah satu pilihan. Dari
ketiga dasar pertimbangan ((a) NJOP sebesar Rp. 8.800.000.000. atau (b) IPO yang
dipakai komisaris untuk menentukan batas rugi sebesar Rp. 11.925.000.000. atau (c)
Harga penawaran tertinggi Direksi sebesar Rp. 11.002.500.000). yang diaiukan oleh
masing masing pihak. tidak ada satupun yang memberikan nilai iual Rp. 14.000.000.000.-
artinya nilai iual tersebut dibuat bukan atas NJOP 1998 tetapi atas persetuiuan dari
komisaris. Sehingga tidak ada eIeknya dengan menggunakan NJOP 2003 ataupun 1998.
karena hasil akhir dari nilai iual tetap berada di tangan komisaris dan bukan pada
TERDAKWA.

Jika melihat tahapan pembuktian dalam tahap persidangan maka tidak adanya
keuntungan baik kepada TERDAKWA selaku diri sendiri. ataupun orang lain. ataukah
iuga keuntungan kepada Bank Angkasa. Sementara itu Penuntut Umum tetap bersikukuh
untuk menyatakan keuntungan tersebut terdapat Saksi RIKI SUSANTO. dengan
mengkaitkannya Nilai NJOP 2003 dengan Harga Jual asset sebesar Rp. 14.000.000.000.
(empat belas miliar rupiah). Kemudian Penuntut Umum iuga tidak menilai berapa
keuntungan yang didapatkan oleh Saksi RIKI SUSANTO. sebab penuntut umum hanya
meniabarkan besarnya nilai iual asset yang seharusnya berdasarkan NJOP 2003 bernilai
Rp. 21.342.393.000 (dua puluh satu miliar tiga ratus empat puluh dua iuta tiga ratus
sembilan puluh tiga ribu rupiah). Namun Penuntut Umum gagal untuk membuktikan
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

(dengan melihat Surat Tuntutan Halaman 33 - 34):
· Seberapa besar keuntungan yang diperoleh oleh Saksi RIKI SUSANTO apabila harga
iual asset menggunakan NJOP 1998
· Seberapa besar keuntungan yang diperoleh oleh Saksi RIKI SUSANTO apabila harga
iual asset menggunakan NJOP 2003
· Kausalitas antara NJOP 2003 yang sebesar Rp. 21.342.393.000 (dua puluh satu miliar
tiga ratus empat puluh dua iuta tiga ratus Sembilan puluh tiga ribu rupiah). dengan makna
'keharusan¨ untuk dapat diiadikan dasar pertimbangan komisaris sebagai harga iual
asset.

Sedangkan menurut ProI. Sudarto dalam buku 'Hukum dan Hukum Pidana¨. (Bandung:
Alumni. 1977). halaman 142. iika melihat unsur ¨ Dengan tuiuan menguntungkan diri
sendiri atau orang lain atau suatu badan¨ yang sama terdapat pada UU Nomor 3 Tahun
1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang mengemukakan :
'Ini merupakan unsur batin yang menentukan arah dari perbuatan penyalahgunaan
kewenangan dan sebagiannya. Adanaya unsur ini harus pula ditentukan secara obiektiI
dengan memperhatikan segala keadaan lahir yang menyertai perbuatan tersangka¨.

Jika dikaitkan dengan perbuatan TERDAKWA selama meniadi Group Head Asset
Mangement. tidak ada tuiuan untuk menguntungkan Saksi RIKI SUSANTO Ketiadaan
NJOP 2003 pada saat pembuatan Nota Usulan No. DNW AMT/424/2003 tanggal 27
November 2003 telah disusun beberapa bulan sebelum adanya penawaran terbuka dimana
terbuka kesempatan untuk TERDAKWA mengenal Saksi RIKI SUSANTO Namun.
dinyatakan dalam keterangan Saksi RIKI SUSANTO. dimana ia tidak mengenal dan
tidak ada hubungan keluarga dengan TERDAKWA. maka semakin menielaskan tidak
ada tuiuan untuk menguntungkan Saksi RIKI SUSANTO karena tidak ada hubungan
batin antara yang diuntungkan dan yang menguntungkan.

Pendapat ProI. Sudarto dikatakan sesuai dengan putusan Mahkamah Agung RI tanggal 29
Juni 1989 Nomor 813 K/Pid/1987 yang pertimbangan hukumnya antara lain
menyebutkan bahwa unsur 'menguntungkan menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu badan hukum¨ cukup dinilai dari kenyataan yang teriadi atau dihubungkan
dengan prilaku terdakwa sesuai dengan kewenangan yang dimilikinya. karena iabatan
dan kedudukannya.Diterangkan Mulyana. tidak ada sedikitpun terbersit suatu kehendak
yang ada dalam pikiran atau alam batin yang dituiukanuntuk memperoleh keuntungan
bagi diri sendiri. Apalagi bagi orang lain atau korporasi tertentu sebagaimana dalam
perkara PT Survindo Indah Prestasi (PT SIP).

Dengan demikian maka unsur 'Dengan Tuiuan Menguntungkan Diri Sendiri atau Orang
Lain atau suatu Korporasi¨ tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.


IV. Tidak Terbuktinya Unsur Menyalahgunakan kewenangan kesempatan atau sarana
yang ada karena iabatan dan kedudukan (Abuse oI Power)
Kata 'wewenang¨ berarti mempunyai (mendapat) hak dan kekuasaan untuk melakukan
sesuatu. (W. J. S. Poerwadarimta. 1991). Itu berarti. seseorang dengan iabatan atau
kedudukan tertentu akan memiliki wewenang tertentu pula dan dengan wewenangnya
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

tersebut. maka ia akan memiliki kekuasaan atau peluang untuk melakukan sesuatu.
Kekuasaan atau peluang untuk melakukan sesuatu inilah yang dimaksud dengan
'kesempatan¨. Sementara itu. seseorang yang memiliki iabatan atau kedudukan biasanya
akan mendapat sarana tertentu pula dalam rangka menialankan kewaiiban dan
kewenangannya. Kata 'sarana¨ sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai maksud dan tuiuan.

Seseorang dengan iabatan atau kedudukan tertentu akan memiliki wewenang. kesempatan
dan sarana tertentu yang dapat ia gunakan untuk menialankan tugas dan kewaiibannya.
Wewenang. kesempatan dan sarana ini diberikan dengan rambu-rambu tertentu. Bila
kemudian rambu-rambu itu dilanggar atau bila wewenang. kesempatan. dan sarana
tersebut tidak digunakan sebagaimana mestinya. maka telah teriadi penyalahgunaan
wewenang. kesempatan dan sarana yang dimiliki karena iabatan atau kedudukannya.

Dengan menyalahgunakan kewenangan yang ada pada iabatan atau kedudukan dari
pelaku tindak pidana korupsi untuk mengambil tindakan yang diperlukan agar tugas
pekeriaannya dapat dilaksanakan dengan baik. Kewenangan tersebut tercantum di dalam
ketentuan-ketentuan tentang tata keria yang berkaitan dengan iabatan atau kedudukan
dari pelaku tindak pidana korupsi. misalnya tercantum di dalam Keputusan Presiden RI.
Keputusan Mentri Dalam Negri RI. atau anggaran dasar dari suatu badan hukum atau
anggaran dasar dari suatu badan hukum perdata (perseroan terbatas. koperasi atau
yayasan).

Berdasarkan Keteranagan Saksi YOMI PYD serta keterangan TERDAKWA. maka
kewenangan Dadang Irawan pada saat meniabat sebagai Grup Head Asset Management
pada bulan Januari 2004 salah satunya ialah pelepasan asset Bank Angkasa berupa Tanah
dan Bangunan. Kepala Departemen Fixed Asset Disposal pada Bank Angkasa berwenang
untuk menangani peniualan atau pelepasan asset tanah dan bangunan milik PT Bank
Angkasa yang tidak digunakan dan atau asset yang tidak dimanIaatkan karena dikuasai
atau diduduki oleh pihak ke III / dalam sengketa atau bermasalah termasuk Inventarisasi.
persiapan dan pelaksanaan serta penyelesaian peniualan aktiva-aktiva tanah dan
bangunan. Dan terkait dengan dakwaan Penuntut Umum maka. tanah dan bangunan eks
Bioskop Horas yang meniadi Aset dari Bank Angkasa yang terletak di Jalan Sudirman
No. 38 42 atau Jalan Sudirman No. 2 Jakarta Pusat memang termasuk dalam
kewenangan TERDAKWA.

Dari keterangan terdakwa sebagai pihak yang sangat mengerti tentang prosedur pelepasan
asset Bank Angkasa ditambah dengan keterangan Saksi YOMI PYD. Saksi GULARDI
yang ada di persidangan sangat terbukti bahwa TERDAKWA hanya memberikan 'usul¨
yang tertuang dalam nota usulan nomor : DNW AMT/424/2003 tanggal 27 November
2003. Usulan TERDAKWA bersiIat IakultatiI. artinya bisa diterima maupun ditolak. baik
oleh Saksi YOMI PYD untuk diteruskan kepada Dewan Direksi. maupun oleh Dewan
Direksi atau Dewan Komisaris. iadi semua keputusan atas disetuiui atau tidaknya usulan
TERDAKWA tersebut bukan tergantung oleh TERDAKWA namun tergantung oleh
Direksi maupun Komisaris. Dikeluarkannya nota usulan pelepasan asset eks Bank Bumi
Daya oleh TERDAKWA. tidak terlepas 'usulan¨ Saksi GULARDI. baru kemudian
diaiukan atas nama TERDAKWA baik kepada Saksi YOMI PYD. Bahwa usulan
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

TERDAKWA pernah dipresentasikan oleh TERDAKWA dihadapan Direksi dan
Komisaris berdasarkan Pasal 12 ayat (1) huruI (a) Anggaran Dasar PT Bank Angkasa
Tbk. Dengan demikian TERDAKWA tidak menyalahgunakan kewenangannya sebagai
Grup Head Asset Management. malahan memenuhi kewenangannya hingga disetuiuinya
usulan tersebut dari Direksi kepada Komisaris dengan surat No. DIR DNW/483/2003
tanggal 12 Desember 2003 hingga turun persetuiuan dari Komisaris dengan surat No.
COM/007/2004 tanggal 8 Januari 2004.

Kewenangan dari TERDAKWA yang lainnya setelah komisaris menyetuiui usulan
terdakwa ialah TERDAKWA melakukan pelepasan asset tersebut. Persetuiuan pelepasan
asset ketika ditandatangani oleh Komisaris Utama. Tanotoe dan Wakil Komisaris Utama
Markus Permadi. mengamanatkan pelepasan asset untuk dilaksanakan dengan penawaran
terbuka dengan harga dasar minimal Rp. 14.000.000.000. (empat belas miliar rupiah) dan
biaya pengosongan ditanggung oleh pembeli. Dalam hal ini mengenai pelaksanaan
peniualan dilaksanakan oleh Saksi JONTO TJOKROSOENARTO. dan bukan lagi dalam
kewenangan TERDAKWA.

Dasar pertimbangan dalam menentukan harga iual yang ditentukan oleh komisaris bisa
didapatkan diantaranya : (a) NJOP 1998 sebesar Rp. 8.800.000.000. atau (b) IPO yang
dipakai komisaris untuk menentukan batas rugi sebesar Rp. 11.925.000.000. atau (c)
Harga penawaran tertinggi Direksi sebesar Rp. 11.002.500.000. Jadi NJOP bukanlah
diiadikan nilai mutlak untuk menetukan harga iual asset. namun pertimbangan dari
komisaris. yang memutuskan bahwa nilai iual atas asset tersebut sebesar Rp.
14.000.000.000. (empat belas miliar rupiah).

Sedangkan dalam hal usulan TERDAKWA dalam nota usulan No. DNW AMT/424/2003
tanggal 27 November 2003 yang menggunakan NJOP tahun 1998. berdasarkan
keterangan Saksi TANOTOE selaku Komisaris Bank Angkasa dalam persidangan
mengungkapkan bahwa walaupun usulan yang dipakai oleh TERDAKWA adalah NJOP
Tahun 1998. namun hal itu teriadi pada saat itu oleh karena ketiadaan data NJOP Tahun
2003 dan Group Head hanya memiliki data Tahun 1998. Dan Saksi TANOTOE selaku
komisaris yang pernah melakukan rapat Komisaris perihal pelepasan asset Bank Angkasa
di Jalan Sudirman atau Jalan Sudirman. mengetahui penggunaan NJOP 1998 atas usulan
TERDAKWA. namun tidak mempermasalahkan hal tersebut. karena Komisaris
memandang harga pasar yang layak adalah yang datang dari Direksi. Pandangan
komisaris yang tidak memperdulikan NJOP tahun 1998. sesuai dengan keterangan Saksi
Gulardi seialan dengan keterangan Saksi TANOTOE bahwa persetuiuan nilai pelepasan
asset tersebut disetuiui oleh komisaris sebesar Rp. 14.000.000.000. (empat belas miliar
rupiah). serta tidak ada petuniuk dari komisaris untuk menyesuaikan dengan NJOP pada
tahun 2003.

Dengan demikian maka unsur 'Menyalahgunakan kewenangan kesempatan atau sarana
yang ada karena iabatan dan kedudukan¨ tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.


V. Tidak Terbuktinya Unsur Dapat Merugikan Keuangan Negara atau Perekonomian
Negara
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

Bahwa sebagaimana lazimnya setiap perkara pidana haruslah didasarkan kepada
pembuktian dengan menggunakan alat bukti materil tentang apakah ada suatu perbuatan
pidana atau tidak. karena cara demikian merupakan cara yang dianut secara universal
oleh seluruh Hukum Acara Pidana. Oleh karena itu. ada titik krusial yang penting untuk
dicermati dalam permasalahan ini. antara lain:

Keuangan negara yang dimaksud adalah seluruh kekayaan negara dalam bentuk apapun.
yang dipisahkan atau yang tidak dipisahkan. termasuk didalamnya segala bagian
kekayaan negara dan segala hak dan kewaiiban yang timbul karena:
a. berada dalam penguasaaan. pengurusan dan pertanggungiawaban peiabat lembaga
negara. baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
b. berada dalam penguasaaan. pengurusan dan pertanggungiawaban Badan Usaha
Negara/ Badan Usaha Milik Daerah. Yayasan. Badan Hukum dan Perusahaan yang
menyertakan modal negara. atau perusahaan yang menyertakan modal pihak ketiga
berdasarkan perianiian dengan Negara.

Sedangkan yang dimaksud dengan Perekonomian Negara adalah kehidupan
perekonomian yang disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaaan
ataupun usaha masyarakat secara Angkasa yang didasarkan pada kebiiakan Pemerintah.
baik di tingkat pusat maupun di daerah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku yang bertuiuan memberikan manIaat. kemakmuran. dan
keseiahteraan kepada seluruh kehidupan rakyat.

Kelemahan penuntut umum terlihat dalam menilai posisi hukum kerugian keuangan
negara dan aspek hukum privat. di mana penuntut umum belum mampu menilai dari segi
hukum ada atau tidaknya aspek kerugian keuangan negara dalam lapangan hukum privat
yang meniadi dasar hukum pembuktian. dan yang berkaitan pula dengan penaIsiran
terhadap penilaian Iakta adanya kerugian keuangan negara dalam badan hukum privat
(PERSERO). Dikatakannya ada atau tidaknya kerugian keuangan negara pada sebuah
PERSERO sebagai badan hukum privat yang pada gilirannya menentukan pula ada atau
tidaknya tindak pidana korupsi sebagaimana diatur dalam UU Nomor 31 Tahun 1999.
Pengaturan demikian sangat penting mengingat dalam hukum pidana dikenal adanya asas
legalitas yang meniadi dasar perlindungan hukum bagi warganegara dari perlakuan
negara serta meniadi pembatas wewenang negara dalam menialankan kekuasannya.

Ada pertimbangan penting yang harus diperhatikan pada aspek hukum kerugian negara
dalam perseroan terbatas (PERSERO) ini. yaitu menyangkut kedudukan dan status
hukum dari keuangan negara dalam perseroan terbatas dari PT. Bank Angkasa Tbk.
Apabila dikaitkan dengan deIinisi keuangan negara satu hal pertama yang perlu dipahami
adalah apa yang dimaksud dengan keuangan negara tersebut. Keterkaitan deIinsi
keuangan negara dalam mengetahui aspek hukum kerugian negara disebabkan deIinisi
tersebut pada hakikatnya secara langsung membantu membatasi ruang lingkup keuangan
negara itu sendiri.

Menurut AriIin P Soeria Atmadia. deIinisi keuangan negara dapat dipahami atas tiga
interpretasi atau penaIsiran terhadap pasal 23 UUD 45 yang merupakan landasan
konstitusional keuangan negara yaitu. penaIsiran pertama adalah :
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

Pengertian keuangan negara diartikan secara sempit. dan untuk itu dapat disebutkan
sebagai keuangan negara dalam arti sempit. yang hanya meliputi keuangan negara yang
bersumber pada APBN sebagai sub sistem keuangan negara dalam arti sempit. Apabila
didasarkan pada rumusan tersebut. keuangan negara adalah semua aspek yang tercakup
dalam APBN yang diaiukan oleh pemerintah kepada DPR setiap tahunnya. Dengan kata
lain. APBN merupakan deskripsi dari keuangan negara dalam arti sempit. sehingga
pengawasan terhadap APBN iuga merupakan pengawasan terhadap keuangan negara.

Sementara itu. penaIsiran kedua adalah berkaitan dengan metode dan sistematik dan
historis yang menyatakan:
Keuangan negara dalam arti luas yang meliputi keuangan negara yang berasal dari
APBN. APBD. BUMN. BUMD. dan pada hakikatnya seluruh harta kekayaan negara
sebagai suatu sistem keuangan negara. Makna tersebut mengandung pemahaman
keuangan negara dalam arti luas. adalah segala sesuatu kegiatan atau aktivitas yang
berkaitan erat dengan uang yang diterima atau dibentuk berdasarkan hak istimewa negara
untuk kepentingan publik. Pemahaman tersebut kemudian lebih diarahkan pada dua hal
yaitu hak dan kewaiiban negara yang timbul dan makna keuangan negara. Adapun yang
dimaksud dengan hak tersebut adalah hak menciptakan uang; hak melakukan pungutan;
hak meminiam. dan hak memaksa. Adapun kewaiiban adalah kewaiiban
menyelenggarakan tugas negara demi kepentingan masyarakat. dan kewaiiban membayar
hak-hak tagihan pihak ketiga berdasarkan hubungan hukum atau hubungan hukum
khusus.

PenaIsiran ketiga dilakukan melalui ¨pendekatan sistematik dan teleologis atas sosiologis
terhadap keuangan negara yang dapat memberikan penaIsiran yang relatiI lebih akurat
sesuai dengan tuiuannya¨. Maksudnya adalah
¨Apabila tuiuan menaIsirkan keuangan negara tersebut dimaksudkan untuk mengetahui
sistem pengurusan. dan pertanggungiawabannya. maka pengertian keuangan negara
tersebut adalah sempit. Selaniutnya pengertian keuangan negara apabila pendekatannya
dilakukan dengan menggunakan cara penaIsiran sistematik dan teleologis untuk
mengetahui sistem pengawasan atau pemeriksaan pertanggungiawaban. maka pengertian
keuangan negara itu adalah dalam pengertian keuangan negara dalam arti luas. yakni
termaksud di dalamnya keuangan yang berada dalam APBN . APBD . BUMN/D dan
pada hakikatnya seluruh kekayaan negara merupakan obyek pemeriksaan dan
pengawasan.

PenaIsiran ketiga inilah yang tampak paling esensial dan dinamis dalam meniawab
berbagai perkembangan yang ada di dalam masyarakat. Bagaimanapun. penaIsiran
demikan akan seialan dengan perkembangan masyarakat dewasa ini yang menuntut
adanya kecepatan tindakan dan kebiiakan. khususnya pemerintah. baik yang berdasarkan
atas hukum (rechtshandaling) maupun yang berdasarkan atas Iakta (Ieiteliike handeling).

Berdasarkan aspek pengelolaan dan pertanggungiawaban. perbedaan yang mendasar akan
muncul saat investasi dengan segala resiko yang ditawarkan oleh pemerintah dalam tiga
ienis badan usaha yang ada. Bagi investasi yang ditanamkan pemerintah pada perusahaan
iawatan (PERJAN) pengelolaan dan pertanggungiawabannya berpedoman pada Indische
Bedriieventswet (IBW). Sementara itu. pada perusahaan umum (PERUM) berpedoman
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

pada UU Nomor 19 Prp Tahun 1960 dan perseroan terbatas dengan (PERSERO) pada
UU Nomor 1 Tahun 1995 dan akta pendirian. Hal demikian berbeda halnya dengan
perseroan terbatas yang modalnya merupakan kekayaan negara yang dipisahkan.
Pemisahan kekayaan negara ini mengandung makna pemerintah menyisihkan kekayaan
negara untuk diiadikan modal penyertaan guna diiadikan modal pendirian perseroan atau
untuk menambah dan memperkuat struktur permodalan perseroan terbatas dalam
meningkatkan kegiatan usahanya.

Konsekuensi logis adanya penyertaan modal pemerintah pada perseroan terbatas adalah
pemerintah ikut menanggung risiko dan bertanggung iawab terhadap kerugian usaha yang
dibiayainya. Dalam menanggung risiko dan bertanggung iawab atas kerugian usaha ini.
kedudukan pemerintah tidak dapat berposisi sebagai badan hukum publik. Hal demikian
disebabkan tugas pemerintah sebagai badan hukum publik adalah bestuurszorg. yaitu
tugas yang meliputi segala lapangan kemasyarakatan dan suatu konsep negara hukum
modern yang memperhatikan kepentingan seluruh rakyat. Konsekuensinya iika badan
hukum publik harus menanggung risiko dan bertanggung iawab atas kerugian usaha
tersebut. Iungsi tersebut tidak dapat akan optimal dan maksimal diialankan oleh
pemerintah.

Dengan dasar pemahaman tersebut. kedudukan pemerintah dalam perseroan terbatas
tidak dapat dikatakan sebagai mewakili pemerintah sebagai badan hukum publik.
Pemahaman tersebut harus ditegaskan sebagai bentuk aIIirmatiI pemakaian hukum privat
dalam perseroan terbatas. yang sahamnya antara lain dimiliki pemerintah. Dengan
mengemukakan dasar logika hukum atas aspek kerugian negara dalam perseroan terbatas.
yang seluruh atas salah satu sahamnya dimiliki negara berarti konsep kerugian negara
dalam pengertian merugikan keuangan negara tidak terpenuhi. Hal ini disebabkan ketika
pemerintah sebagai badan hukum privat memutuskan penyertaan modalnya berbentuk
saham dalam perseroan terbatas maka pada saat itu iuga imunitas publik dan negara
hilang dan terputus hubungan hukumnya dengan keuangan yang telah berubah dalam
bentuk saham. demikian pula ketentuan pengelolaan dan pertanggungiawaban keuangan
negara dalam bentuk saham tersebut otomatis berlaku dan berpedoman pada UU Nomor
1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Kondisi demikan mengakibatkan putusnya
keuangan yang ditanamkan dalam perseroan terbatas sebagai keuangan negara. sehingga
berubah status hukumnya meniadi keuangan perseroan terbatas.

Dengan dasar pemahaman tersebut. dapatlah dikemukakan sesungguhnya menetapkan
suatu perbuatan tindak pidana korupsi sebagai perbuatan yang merugikan negara tidak
hanya dapat disandarkan pada hakikat mengikuti rumusan perbuatan Iormalnya. yaitu
dengan ¨melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain. atau suatu
badan¨. Akan tetapi yang lebih penting pada rumusan materiilnya. yaitu merugikan
negara. Aspek kerugian negara inilah yang selalu kemudian diindentikan dengan
keuangan negara.

Perbuatan tindak pidana korupsi seseorang dalam perseroan terbatas (PERSERO) yang
sahamnya antara lain dimiliki negara berarti secara Iormal melawan hukum dan
memperkaya diri sendiri. orang lain atau suatu badan. Akan tetapi. perbuatan tersebut
secara materiil tidak merugikan keuangan negara. karena posisi dan status hukum
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

keuangan negara dalam perseroan terbatas bukan lagi merupakan keuangan negara.
melainkan keuangan milik perseroan (PERSERO) tersebut. dimana sebagai pemilik
saham mempunyai kedudukan hukum yang sama dengan pemilik saham swasta lainnya.
Seperti halnya yang teriadi dalam PT. Bank Angkasa Tbk (PERSERO). artinya segala
kerugian yang ditimbulkan bukanlah masuk dalam keuangan negara. akan tetapi masuk
ke dalam keuangan milik perseroan.

Walaupun demikian. unsur keuangan negara itu sendiripun tidak bisa dibuktikan oleh
Penuntut Umum karena dalam Surat Tuntutan nilai kerugian sebesar Rp. 9.342.393.000.-
merupakan selisih antara nilai aset atas dasar NJOP 2003 sebesar Rp. 21.342.393.000.-
dengan harga iual penawaran terbuka sebesar Rp. 14.000.000.000.- karena nilai kerugian
tersebut tidak riil. Hal ini didasarkan pada keterangan Ahli WAHYU TRI PUTRA yang
menyatakan bahwa besarnya NJOP secara Iormal hanya digunakan untuk menentukan
besarnya Paiak Penghasilan (Pph) dan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/Bangunan
(BPHTP) bukanlah harga iual dari tanah dan bangunan yang terletak di Jalan Sudirman
No. 38 42 / Jalan Panglima Sudirman No. 2 A -1 Jakarta Pusat.

Sedangkan yang meniadi harga iual dari tanah dan bangunan tersebut adalah kesepakatan
yang dilakukan antara pembeli dan peniual sebagaimana diatur dalam pasal 1320 1337
KUHPerdata. dimana adanya kesepakatan dalam peniualan sesuatu menentukan sahnya
dari harga tanah dan bangunan bersangkutan.

Selain itu. berdasarkan Iakta-Iakta yang ditemukan dalam persidangan keterangan saksi
YOMI PYD sebagai Direktur Bank Angkasa menyatakan bahwa prosedur pelepasan aset
terhadap tanah dan bangunan tersebut telah memenuhi prosedur dan tidak ada kerugian
negara. karena mendapat uang dari aset yang tidak dapat digunakan. Lalu berdasarkan
Alat Bukti Surat Dewan Komisaris Bank Angkasa tertanggal 23 Maret 2004
No.COM/034/2004. yang di dukung oleh keterangan saksi TANOTOE menerangkan
bahwa dari berbagai sudut perhitungan Bank Angkasa tidak dirugikan.

Di sisi lain berdasarkan keterangan saksi GULARDI sebagai ProIessional StaI
Department Fixed Asset Management menyatakan bahwa peniualan aset ini tidak
terdapat kerugian dari negara cq. Bank Angkasa karena peniualannya lebih besar dari
Nilai Buku dan ada keuntungan sebesar Rp. 4.300.000.000.- dari nilai buku. Hal ini
senada dengan keterangan saksi JONTO TJOKROSOENARTO yang menerangkan
bahwa tidak ada kerugian yang timbul dalam peniualan aset. Sekali lagi ini membuktikan
bahwa kerugian negara tidak teriadi pada peniualan aset PT Bank Angkasa Tbk.

Berdasarkan keterangan saksi SANTOS DEL PURBA sebagai Pusat Bagian Pembukuan
Bank Angkasa menerangkan bahwa catatan pembukuan aset yang berupa tanah dan
bangunan mengetahui nilai aset tersebut yaitu:
A. Setipikat No. 138 dengan nilai bukunya Rp. 103.275.000.-
B. Setipikat No. 139 dengan nilai bukunya Rp. 21.000.000.-
C. Setipikat No. 140 dengan nilai bukunya Rp. 1.000.000.-
D. Yang tidak ada setipikat dengan nilai bukunya Rp. 7.600.200.000.-
Jumlah Rp. 7.725.475.000.-

Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

Sedangkan harga iual lelang mendapatkan Rp. 14.000.000.000.- (empat belas milyar
rupiah). artinya ada selisih yang meniadi nilai keuntungan sebenarnya yang didapatkan
oleh Bank Angkasa yaitu sebesar Rp. 4.274.525.000.- (empat milyar dua ratus tuiuh
puluh empat iuta lima ratus dua puluh lima ribu rupiah). sehingga dalam hal ini PT. Bank
Angkasa Tbk tidak merugikan keuangan negara. akan tetapi mendapatkan keuntungan
untuk negara.

Sebagaimana telah diuraikan diatas maka dapat disimpulkan bahwa unsur merugikan
keuangan negara tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.

Bahwa kutipan tersebut adalah merupakan inti dari seluruh peristiwa yang didakwakan
pada dakwaan. tetapi karena kutipan tersebut merupakan peristiwa pidana (straaIbaarIeit)
haruslah dibuktikan. karena hal yang sangat esensial dalam perkara pidana. tanpa
membuktikan peristiwa pidana maka suatu kemustahilan untuk menerapkan pasal pidana
yang didakwakan.

Bahwa dalam penguraiannya tentang pembuktian terhadap dakwaan. nyata Penuntut
Umum menghindari untuk memperadukan langsung antara Iakta hukum yang diperoleh
dari persidangan dengan peristiwa pidana yang diuraikan dalam surat dakwaan. padahal
lazimnya menurut hukum pembuktian. peristiwa pidana dalam surat dakwaan harus lebih
dahulu dan diutamakan.

Bahwa pada tempatnyalah untuk dikatakan. tanpa pembuktian materil menurut KUHAP
terhadap semua dimensi peristiwa pidana yang didakwakan adalah mustahil untuk
mengambil kesimpulan adanya suatu tindak pidana korupsi.

Bahwa berangkat dari prinsip dasar pembuktian yang universal sebagai Asas maka
terhadap dakwaan Penuntut Umum seharusnyalah didasarkan kepada pembuktian materil.
terlebih lagi UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 1998 tentang Perubahan Undang-
Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. dimana
Penuntut Umum dengan tegas mengacu kepada sistem pembuktian yang dianut dalam
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). bahkan secara tegas Penuntut
Umum telah mengutip ketentuan KUHAP sebagai landasan pembuktian dakwaannya.


Maielis Hakim yang kami muliakan.
Sdr. Penuntut Umum yang kami hormati.
Sidang yang kami muliakan.

Bahwa dari kutipan dakwaan Penuntut Umum terdapat beberapa peristiwa yang tidak
boleh diabaikan atau disamar-samarkan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang
lainnya karena tanpa diielaskan atau dibuktikan setiap unsur peristiwa maka niscaya apa
yang akan dibuktikan didalam persidangan bukanlah didasarkan kepada kebenaran yang
hakiki tetapi meniadi hal yang bersiIat imaiinatiI dan spekulatiI sehingga dirasa sebagai
suatu hal yang sangat dipaksakan demi membuktikan suatu dakwaan.

Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

Bahwa untuk menghindari cara-cara yang imaiinatiI dan spekulatiI berikut ini akan kami
ielaskan satu persatu seiauh manakah setiap peristiwa straaIbarIeit yang didakwakan
Penuntut Umum seperti dikutip di atas telah dibuktikan karena seluruh persidangan ini
bukanlah untuk membuktikan hal-hal yang bersiIat imaginatiI tetapi dituiukan untuk
membuktikan;

VI. Penggunaan Alat Bukti oleh Penuntut Umum yang Tidak Sah
Alat Bukti yang dipakai tidaklah sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam Undang-
Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang dikenal dengan nama
KUHAP. Dalam surat tuntutan Penuntut Umum tidak cermat dalam membaca kesesuaian
peraturan perundang-undangan. dalam requsitoir halaman 26-27 mencantumkan adanya
Alat Bukti yaitu Petuniuk. Berdasarkan Pasal 188 ayat (3) KUHAP menyatakan
'Penilaian atas kekuatan pembuktian dari suatu petuniuk dalam setiap keadaan tertentu
dilakukan oleh Hakim dengan artiI lagi biiaksana. setelah ia mengadakan pemeriksaan
dengan penuh kecermatan berdasarkan hati nuraninya.¨

Dalam pasal perlu digaris bawahi yang berhak melakukan dan menemukan suatu alat
bukti Petuniuk adalah Maielis Hakim. ini menandakan bahwa Penuntut Umum tidak
sepenuhnya memperiuangkan keadilan sebagaimana diucapkan dalam pembukaan surat
tuntutan tertanggal 4 Desember 2008. Terlepas dari pemikiran Penuntut Umum yang
subiektiI. kami ingin menegaskan. bagaimana mungkin tindak pidana korupsi yang di
dakwakan kepada saudara Dadang Irawan. MA dapat berialan dengan koridor hukum
yang tepat. sedangkan Penuntut Umum saia tidak menerapkan hukum sebagaimana yang
diielaskan dalam Penielasan Umum KUHAP angka 3 huruI e yang menyatakan:
'Peradilan yang harus dilakukan dengan cepat. sederhana dan biaya ringan serta bebas.
iuiur dan tidak memihak harus diterapkan secara konsekuen dalam seluruh tingkat
peradilan¨

Pertanda bagi Penuntut Umum tidak konsekuen dalam menerapkan undang-undang.
dimana Penuntut Umum yang memiliki kredibilitas tinggi seharusnya mengetahui dengan
cermat apa yang akan digunakannya dalam menerapkan keadilan. Suatu hal yang meniadi
dasar dari nilai pembuktian suatu persidangan. dimana Penuntut Umum terlalu
memaksakan kehendak dengan mencantumkan PETUNJUK sebagai alat bukti.
sedangkan KUHAP mengamanatkan bahwa penilaian atas kekuatan pembuktian dari
suatu petuniuk ditentukan oleh Hakim dan bukanlah oleh Penuntut Umum. Ini
menuniukan bahwa Penuntut Umum tidak serius dalam menialankan tugas dan
kewenangannya dengan sungguh-sungguh memperiuangkan keadilan yang tertinggi bagi
masyarakat. Dengan demikian. penggunaan alat bukti Petuniuk oleh Penuntut Umum
tersebut tidaklah sah karena telah melanggar KUHAP sebagai dasar hukum acara pidana
di Indonesia.

Maielis Hakim yang kami muliakan.
Sebelum kami menyampaikan akhir nota pembelaan ini. bersama ini kami hendak
menyampaikan beberapa hal. bilaman terdapat perbedaan-perbedaan antara kami selaku
Penasehat Hukum Terdakwa dengan Maielis Hakim maupun dengan Sdr. Penuntut
Umum. yang kerap menimbulkan ketegangan-ketegangan dan perdebatan sengit dalam
skala mempertahankan pendapatannya masing-masing. bersama ini kami Tim Penasehat
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

Hukum berpendapat bahwa setiap perbedaan tersebut berada dalam konteks yang waiar
demi tercapainya kebenaran yang meteriil/hakiki. setidak-tidaknya mendekati.

Kami. Tim Penasehat Hukum percaya. bahwa tidak ada kebencian yang melekat pada diri
kami atau dendam tetapi hanya didasarkan kepada tanggung iawab untuk menialankan
tugas dan proIesi masing-masing dengan sebaik-baiknya yang berpedoman pada etika
dan norma hukum yang akhirnya kesemuanya itu berpulang kepada pertanggung iawaban
kita masingmasing kepada sang pencipta. Tuhan Yang Maha Kuasa.

Sekarang tibalah kami pada akhir nota pembelaan (pledooi) ini. pada suatu kesimpulan
yang kami yakini didasarkan kepada alat-alat bukti yang sah. yang kami serap
berdasarkan lima panca indera baik dari keterangan saksi A Charge. keterangan saksi A
De Charge. keterangan ahli. bukti surat-surat dan keterangan Terdakwa. maka sesuai
dengan hakekat undang Program undang yang berlaku di Indonesia :

Bahwa benar Dakwaan Penuntut Umum menurut hukum tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan. karena seluruh unsur Dakwaan Kesatuan tidak terbukti secara sah dan
meyakinkan.


Maielis Hakim yang kami muliakan.
Saudara Jaksa Penuntut Umum.
dan Sidang yang Mulia

VII. Permohonan dan Kesimpulan
Berdasarkan seluruh uraian Pembelaan. perkenankanlah kami memohon kepada Maielis
Hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini agar:
1. Menyatakan Terdakwa tidak terbukti secara sah dan meyakinkan menurut hukum.
melakukan tindak pidana yang didakwakan dalam surat dakwaan.
2. Membebaskan Terdakwa dari Dakwaan Primair dan Dakwaan Subsidair tersebut
(vriipraak) sesuai dengan Pasal 191 ayat (1) KUHAP atau setidak-tidaknya melepaskan
Terdakwa dari semua tuntutan hukum (onstlag van alle rechtsvervolging). sesuai dengan
Pasal 191 ayat (2) KUHAP.
3. Menyatakan barang bukti yang disita dalam perkara ini dikembalikan kepada yang
berhak darimana barang bukti tersebut disita;
4. Mengembalikan kemampuan. nama baik. harkat. dan martabat Terdakwa ke dalam
kedududkan semula.
5. Membebankan ongkos perkara kepada negara.


Atau apabila Maielis Hakim berpendapat lain mohon putusan seadil-adilnya sesuai
dengan ketentuan hukum yang berlaku.
Akhirnya. tibalah saatnya kami menutup pembelaan ini. dengan mengutip adagium
hukum yang selalu kita dengar bersama. walau tidak pernah diterapkan secara konsisten.
yaitu Asas In dubio proreo maupun Pasal 183 KUHAP yaitu: ' Lebih baik membebaskan
100 orang yang bersalah daripada menghukum satu orang yang tidak bersalah .¨ Keadilan
tidaklah hanya dirasakan untuk menghukum Terdakwa tetapi lebih dari itu Keadilan
Pledoi-sample
http://www.cariIormat.blogspot.com

harus meniadi seniata untuk membebaskan seseorang yang tidak bersalah.
Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati dan memberikan bimbingan kepada
Maielis Hakim agar dapat mengambil keputusan yang seadil-adilnya dalam perkara ini.
Tim Kuasa Hukum TERDAKWA
Fernandes Raia Saor



http://raja1987.blogspot

" " % !! % "% " +"! ! +" " " "" ! !! " +% 1 " ! + ( % 1" " " "! / ! ! 1" % % ! " +" " !! " " 1" ! ! + ( % 1" . % % " " "% + + ( % 1" " "% +% " "1 " " ( % % ! " " "! / ! . # " ' " % " % 1 " 1 % "" " ) . " "! / ! 1 " % ! + &% . " " ! " " "% " % " %1 " % %" ! ! "1 " " " " ! % "" " " ! "% ! " ! ! %" " "! / ! ! ! " % "% 1 % " % %" " %" ! % " ! " " % " "1 " " % !" 1 " " " % " % % % 1" " " " " % " ! " "% % % . % ! # " ' " 1" " % "1 " "" " " " %" " 1 " " % . " "! / ! 1 " % ! . ! % ' " !! " '' % ! " /" ! % 1 " ''' % ! " /" ! # " " !! " " ! ! % "# % 1 + " " " ! ! !0 '6 % ! " /" ! % 1 " 1 ! % "% " " "% " 1" % " + " "% ! ! ") ! % . 6 % ! " /" ! # % 1 ! % "0 ! " " 6' 6'' " ! " " ! % " " "0 " "! / ! 1 " ! ! " % " " ! ! ! %" " " " ' " !! " ( % 1" . " " %" ! ! " " " &% " "! / ! % ! % "% . " "1 " % ! %" . " " + + "" " 1" % !.% % % " ! 73 1 7 5 0/( "1 " % ! " ! " % ! !1 " " % " % "% "% ! # " ' " " " 1 "! 1 ." ! " .' " " %" + % % " % " ! ! ! " " % " + %" " % % % ! ! ". % " % " " "! " + % 1 # .

" " " %$ 74 44 44 44 4 4 4 .4 !! + ! . " 1 ! % "% " " " % " . ! " " 4 " " % $ 3 44 44 44 ) ! ! + ! .% " ! " . ! 1 < " "% ! 1 " ! ! " " "! ! ! ! % 9// 9 7 ! 7: " " " :: " " " ! " "// 3 4 ! 7: " " " :5 9 7 ! 7: " " " :: " " " % " . ! " " " 3 ) ! !! .) . ! " " " 3 ) ! !! . 7 " 1" " !! % % %" ! ! " %1 " ! " " ! ! !% 1" ! % "% ! " "" ! %" "" . "% "% " %" " " " % % %" %" % " %" 1 ! % "% ! 1 ! " % " 0 ! 3 4 ! 7: " " " :5 " " " " " % % 3 1 ). ! " ! " 4 " " % $ 2 4 44 44 ) 4 4 4 .4 ! 1 4 4 4 . " " " %$ 74 44 44 44 ! 1 4 4 4 . " " " " " + ! ! ! ! " " + " " % 7) ! . # " "" ! ! !! ! " % " 1 " "! ! % # " ' " ! % % %" " % ! " % ! " % " % ! +1% " 9// 9 7 ! 7: " " " :: " " " % " 0 ! " ! " "// 3 4 ! 7: " " " :5 ! " // 9 7 ! 7: " " " :: " " " % " 0 ! " 1" " %" + " "% + ! " ! ! 1 " % 1" ! ! " " "! / ! " ! ! %" % " 1" % % "% # " ' " " !% % ! % "! ! ! ! " " " % " 0 ! ! " // 0 ! . + ! ! " " 1 % ! % % ! ! " % % " " % "1 " ! % %" " "! / ! ! " " ! ! % % % " " % 1" " " ! " % "% "% " + 1" %% ! ! %" " 1 % "% % % %" ! 1" " "! / ! % ! " 1 % " !% . %" " "! % 1" "!% % ! " %+ " ! " "! / ! ! " %" 1 % %" " % ! 9/" " /" " " ! " ! "/" " /" " " 0 ! $# 08 # " " % ! 9 7 ! 7: " " :: "/" " /" " 9 7 ! 7: " :: ' " " " . " ! " 1" " 1 % " + " !% ! ! "1 " % ! % "% ! " "" ! %" "" .4 ) ! 1 ! .4 ) ! 1 ! . 9 " 1 " " " !! " " ! ! % " + " " " ! " " !! ! % . " " + " " " + ! ! ! ! " " + " " % .

! %" ! ! !! " + "! "1 " + % %" ! # "% " " " %" " # % " "% % % %! ! =/ & ' $. " $# 08 % ! " % " " % . " $# 08 ! " % " + ! ! " % " % !! ! " " " ! !% "% 1 $# 08 " $# 08 " 1" !! % " " " " + % " % ! "1 " %) ? "" . " 1" " % " 1 %" "" " " " %" " ! %" ! 7: " " " :: "// 3 4 ! " " " " % " " " % ". ! ! ! ! " " " ! ! ! % ) % ! ! %" " " ! " %" 1 $# 08 % !! "1 % " " "( " " " % "% % ! % " ! +% ! ! 1 " % % " " ! + " " . " " " + % " "% % % " ! " % "" "1 " % " ! " . " @ 1 ! % % " " " " % 1 % " " "! / ! ! ! ! " % % %" % " % " "# " " " % "# " ' " . % " "! " + 1" % %" ! # " ' " . " / %" 1 " 1 % !! "1 " " %%" ! # " ' " . $# 08 ! " % 1" + " " 1" % "! ! "! ! " % % % " "! " ! + % =/ $#' 1 " .. "! ! " ! " " ! " "!" + 1 % ! " ! " ! ! ! " % 0 !! ! ! ! " 1 " " " " . " $# 08 " 1 + %" ! ! " % % " " "! / ! ) " ! ! " . " " %" /" " /" " 7 : ! 34 " " " 49 "/ % )/ .%" % %1 " !1 % " " " ! %" ! ! ! " % " !! "! " 1 + + " " " 2> 4 " % " ! % " " % ! %"1 ! " " 0 !" " 2 75 049 7: .<# " "!! " " ! ! % " + " " < " 1 ! % "% " " " % " . + " "% ! ! " % <# ! % "% ! " "" # " ! " " ! ! !0 " ! .1 " ! ! %" % " ! ! % . ! " % % " $# 08 " . % ! " -! ! ! ! " " "! / ! " ! " +%% + ( % " " "! / ! ! ! ! " % " "%+ 1" " " 1 + % "!" % + 1 " " ! !! ! " 9// 9 7 " " " % " 0 ! " ! " 7: " " :5 ! " // 9 7 ! 7: " " " :: " 0 ! ! 1" % %" % % " " 1 ! ! ! ! " '' % ! " /" ! % 1 " /" ! " " 1 ! %" " " ! " % " " . 73 :3 " 7 # 7 7: # " " :3 % " " .

' 4 4 4. 0 ! " " "! / ! + ! ! % " % ! ! "1 " " " %" % $'0' / . 4 4 4 % "% " " % 1" + %" %" " & . 1" % % ! ! " % " "! " % ! $ 7 : 24 44 4 !).# ! % "% " ' " . % ! "# % " ") . " " " % %" 1 " & 3 4 " "( 49 & ! $ 7 4 44 44 4 . " ! " " "! + " "1 " " #" " 1 % " 1" . ! " " % !! " % 1% " $ 7 4 44 44 4 . % + % ! ! "% ! " " " "% % " ! " "! / ! ! %% !! ! ! " % " % "% ! ! " 1 " " ! % $'0' / . " $# 08 1 " " "" " % ! % " 1 %" " % #" " % "! ! . " " !! " " ! ! % " + " " " ! " " !! ! " . ) ! . " "% % + %" ' -# " %" 0 ! " 1 " " " ! 1" + % " %" " " " " " 0 !" " . % ! " "! ! A " ! ! % " " ! ! % " " " " " " " ! " " ! ! !% B " 1 " " " % "! ! " % " ! " " ! ! !% " " 1 + ! ! ! " % ! % "! " % !! $# 08 . " 1 ! " " " ! " . & ) $ 55 44 44 4 !) . " 7 4 4 4 . % !! 1" " % "" + $ 7 4 44 44 4 ! .1 +% " ! " " % . ( " " " # % $ 7 4 32 44 4 . ! /" ! " % ! ! " " . " "! ! ! ! " 1 " + %" " " + 1 ! 1" !" 1 %" & 3 4 49 " $ 3 9 39 94 4) ! !! 7 . !! " " " ! . ! " "! / ! " ! ! ! " % ! %" % ''' . 7 3 4 4. " " + 1 ! ! ! ! " % & 7: :5 !! " + % " % % 1 " " " ! %" & 3 4 " " 49 !! 7:. : 4 ! ! !! ! + ! ! " !! !! . ! " " " 1 "1 " " ! " " ." % ! " /" ! # " " !! " " ! ! % "# % 1 + " " " ! " " ! ! !0 /" ! A " " !! " " ! ! % " # + " " " ! " " !! ! " B # % ! . ! " " !! " " ! ! % " " " ! + " " % " " !! " + " ! ! % " ! !% " " " ! $ 8 1 " 1" ! % ! " "A " ! ! % " " " B " 1 " " " % "! ! . 4 4 4. " !! % !1 " ! %" % 1% " % ! " # " ' " % % " " " !! " " ! ! % " ! + " " " . " :5 % " % " + ! " "% " ! " % $# 08 &% " ! " % " " % % " 1 % ! ! " %% " " $# 08 % ! " . 4 4 4.

: 4 ! ! !! ! + ! ! " !! !! . % %" " + %" % !! "! ! + " % " ! ! % " % $'0' / " " % " % !! " " " " 1 " ! ! % " "1 " " " " ! ! %" " " " ! % %" ! " " !! " % ! $' " " 3 : &" 7 5 ! :: 5 90 7 7 5 1" :C " " !! " " % 1 " " !% " 1 ! ! A " ! ! %" " ! ! %" " " " " " " ! " " !! ! " !! B !! " % % %" 1 "1 " + ! ! ! %" " " " % ! % ! " "% " " "1 " %" .:7 '! 7:. 9 .3 4 " 3 49 3 C ? 34 49 !! " ! " ! " 1 " " ! % " ! % % "! ! " % $# 08 " " % $'0' / !. " % " " " % ! ! "% ! " " " $# 08 . . !1 ) " " .) " " ! ! ! "( " "9 9 . % !! "! ! + " % " ! ! % " % $'0' / " " 0 " & 34 49 ! " /! " # 8 . 7C. " ! ". % "% % ! "! ! " % % %" ! . " " . : C .. " " %" 1 % " " % $'0' / . #" " % " " ! ! !0 % ! ! A " " !! " " # + B % ! % " ! ! % "# " " " " 1 %" " % ! " '6 % ! " /" ! % 1 1" % " + " "% 0 A "" B ! !) & 8 % !! " % "! % " " 1 ! % "% " " "% " " ! " ! ! ") ! % . % % ! " ! !% " % 1" % " ! "1 " !! " "! +% ! % %! ! " " " " " " !% "! " % ! ?" '" ) ' . . " " "+ " ! % "" "! ! " " " "" " 1 .% ! ! B# " " !! " " ! ! % " " + " " " ! " " !! ! " 1" B // 9 ! " 7C " " :7 " " " % " 0 ! 1" " ! %" % A '" ! % "! ! " "1 " " "! " % ! " " 1 ! " " % "" " " "1 " "1 ! ! " " ! ! "! " % +% " " %" % " 1" " 1 ! " " %B &% % % " " " ! " $# 08 " = ! ( + " ". "7 3 + . " + 1 % " "% ! ! " 1 # % " " % " !1 " . A % ! " ! ! B " % + %" " "% + ! % " " %" " ! ! ! ! !A % % (! ! "(! ! % "B) " ! . < % ! ! "1 " " " % $'0' / + ! " ! %" & 7 : " :5 < % ! ! "1 " " " % $'0' / + ! " ! %" & 3 4 " 49 <0 ! " & 3 4 1" 49 $ 3 9 39 94 4) ! !! 7 .

!% ! " ! B +% " ! " $# 08 %% % ' -# !! " # % " " " "% % % . + ! % !! " !! ! % 1 ! ! " + " $# 08 ! ! " % "! " $# 08 " ! " "! " # % !! 0 " # % ! % " 1 " !! " " " % " ! % #1 $# 08 . " " "! " % " % ( 1" " + " " % 1" % % & " ! " 9 E. % "0 " " % ' -# % " " $# 08 . 0 !! " " # $'. % % " " "# " ' " " + =! ( " " ! "& " ! 34 4. ! " " ! ! " !! % ! " " ! ! " !! % ) " . % " " " " %" " " ! ! "! % ! " ! ! ! " ! "" . % ' -# ! ! " % ! % "% # "# % . ! ! " # " # % !# "0 . % %" % %% ! " ! !" ! ! " % % %" ! ! ! 0% ! " ! !" ! ! " % % %" ! ! " 1" ! %! " " A % " B " ! . % " " " 1" %% " + " !% ! ! " 1 % " " #" " " 1 ! % "% " " "1 " " + " !% ! ! " % % " % ! " % ! ! ! " % " " % "1 " ! " % ! % + "1 " % "%" " " % 0 "" " ! "! % "! " % "! " " " % +1" % " " "+ " !% ! ! " % % " % ! " % ! .3 4 " 3 49 3 C ? 3 4 / ! " $# 08 49 % ! . % A ! " % =/ $#'. % ! 11 " . % 1 + " 1 ! " " "" . . " ! % ! %" " " " . 5 3 !& " ! " 3& % ! " ! % % " " " $# 08 %1 " " " " " ! " " "% " " % ' -#. " 1 "! 0 !! " "$'. % " " "!1 " ! % "! ! " " % " " "! + % "% + " 1 " 8 "" .!. !1 " " " "% % ! " " "! "0 " # "* D # " "% % "" ! ! " % " " " "! " ! + " " " "! " " % " % " % 1" % ! %" " ! " 1" % " % "% " % ! ! !! % %% ''' "% ! ! '" " % ? . % " " . " " % " " " 1 " "! " % ? % ? " + " "! "# " % " " " % " " "! / ! ! %. " 1 !! " % % . % =/ $#' 1" " " " ! % $# 08 " 1 % "A !B ! 1" !" " ! ! "" # 8 . " 1" %+ " !% ! ! " % " 1 %" " " "! ! "% " " "% + " " + % % "" "1 0 A "B " " " !0 ! ! '" " ! !1 " % ! ! " % " % ! " !! " + " " "+ " !% ! ! " % "! % " % "" .

( " " " # % $ 7 4 32 44 4 & 7 4 4 4 & ! " % + % "" ! %! ! " % " ! " % + ! . 0 "" " $# 08 1 " " 1 " % " !! ! ! " 1 + % $# 08 % %" ! " ! !! " + " % % " " " 0 / . . 93 4 5 49 " 7 # 3 34 " 49 !! " !! " + 0 " "! F 4 C3 4 " 4 4. " :5 %" % " " % % 0 ! " "% % " " " ! % %" " ! ! ! ! "1 " " % $# 08 & ! 7:. 7 3 4 4. " "8 % 0 / % ! . " 1 !! % " " + ! ! $ 7 4 44 44 4 ) . ! " :5" " ! + ! % " % " & ! " 3 4 "= ! ( 49 " 1 % ! 7: # " % " :5 % ! % 1" " % %" ! 0 " " "% % & " ! " !& " ! " " . ! . ! " :5 " "% " " % =! + " " "% " " % !! "" + " ! !! + % $ 7 4 44 44 4 ) . ! ! ).3 4 3 49 " 3 C ? 3 4 1" 49 " ! %" & " ! 7:. ! " " % %" !. 4 4 4.' 4 4 4. ." " %" $# 08 "# % " %" 7 1 ) . 4 4 4. ! . " " % "" " 1 " ! " !!" + 1 !! " ! # % % 0 " "! #'$ # 8 . " %" ! ! " $# 08 " !! " # 8 . " " %" " ! ! " % % "%" " " " " ! % " " " $ 7 4 44 44 4 ) . 5& " ! 34 4. ! . ! " " " " % . ! " ! " & 7: " :5 !! " $# 08 . % ! +% "! % ! ! " % " ! %" " " & 1 ! 34 " 49 #" " % " 1" % " + % ! !A " " 1 ! % "% " " "% " " "% ! ! " % B % ! % " ! " 1 %" " % # 0 $# 08 " 6 % ! " /" ! # % 1 ! % "0 ! " " ! %" " . " 1 " " " " ! " # " " " % " " "! " % " % " + % & & 0$ $ . & 7 : 1 :5 $ 55 44 44 4 !) . 4 4 4. " 0 % " " 1" 1% 1" " # % " " " % 1" % ! %" & ! 7:. 1" % % ! ! " % " "! " % ! $ 7 : 24 44 4 !). " 3 7 "# " "% % %# " " % " $# 08 % " 1 ! % "% " " " 1 " " =! ( " ". " ! " % % " " " $# 08 " " " "! " % + 1" ! "! " % % % " " " ).

" G " 1 % " ! % "% ! " " " " ! %" % " ! % " " % ! ! ! " " ! %% " .# % % " 1 " ! % 1 % ! "% ! " "" " ! $ $ " !! % ? 1" "1 " " "! " ! % ! %1 " % " " % ! " ! // 9 7 ! 7: " :: " ! " % " " "" " " !! % " %" " 1 1" " + "! " !! " % " % " ! " " + "" " " " "% % " 1 + % ! " " " " " 1" " ) $ !! % % ! " "" % %" " " " 1" %! " % ! " "" " ! %% " 1 " ! " " ! ! " " ! " " % " ! " % ! " "" ! %" % ! ! % ! "" % $ . ! " " % % ! ! " " ! 1 1 ! % " " "% % % % ! " "" ! 1" ! "% ! " "" ! 0 % " " ! % ! ! % ! "" % %" " " ! " "! !" "% %!" " ! 0 " !! % 1" +. ". % " ! %" 1" " ! ! ? " ! ! (! ! % " % " ! . " % ! " "" 3 //# . % % ! " " . "(! ! % " ! "1 " " 1 %" " . ! ! "1 " " 1 %" %% % " +" " " " + !. %% ! 1 " " " ! ! " % " ". 1 " 9 2 1 ! " . " ! %" " " . % "% ! !! " ! " "% "! " ! " ! " " ! " "1 " " % 1" ! !! " + %" " . % " ! " " " " " " % " % ! "% ! " "" 1 " !! % ? ) $ $ . " " % "1 " %! " " %" " % ! " %" "1 " !! " ! %" %% ! " !! ! " 1 % "% 1" %" % +% " " . % "% ! !! " "% "! " " !! " " . 1 " . " ! + " " "/ "/ %# . " " "! ! ! ! ! ! " ! %1 " %% ! "% ! " "" " " !! % ? " + !! % ! " "1 " % . " " 0 ! " "" 1" %! ! ! % % 1 "" "! % 1" % " !1 " % %" . ! % " 1 " % % 1 "" " % "% + "1 " !% " "! " " !! " " . % + "% !! % ! " % 1 " " "! ! ! ! " ! ! % ! "% ! " " % " % !! % ? . " ! + " " + " .

"% ! % " " " " % " 1" " %" 1 0 ! " "" ! 1" ! % ! " "" 1" . " " " + ! ! %" " " % ! " "" ! " . / # " ! %" 1% % " " "% " 1" % " " " " " + % " "1 " 1 % " !. ! " "" % ! %1 " % ! 1" +% " ! " % # $ ! " # " "% "1 " . / . " ! + " ! "!" + 1 " % %" " " " ! %" ! " " " ! " " ! % ! " "" ! " %! " % ! " "1 " 1 %% " 1 ! ! % % 1 "" " " " " % " %" " % " "1 " " " "% ! " "" % ! " "" %" % ! ! % ! % "! ! " % " ! " 1. / #. " " 1 1 ! % ! " "" 1" ! ! % ! " "" %" ! ! " !. " "% ! " "" ! .. "1 " ! ! " " ? " " % 1" %" " +" "! 1" " ? 1" " %" " + ") $& . %1 " %" !! ) % " " . % " " "% ! " "" "% ! " "" " % "1 " " % " ! ! " % % " " ! + " " % " . #. ! !% " ! % ? 1" % " " "! " 1 " ! "! % %" % " ! ! % "" " ! % " % " !% ! " %" ! 1 ! % "% + "" 1" ! " % % ! " "" " ! 1" " %! " " % ! % " % "! " H % % %" ! ! " ! " H % " . "% + " 1 % % " %% %" ! ! " ! ! " % ! !! " !! " % % !! "% %%" ! !B " % ! " "" 1" ! " " !! " 1 B + " %! " 1 B !! " " + % "% ! " "" " !! " " . " % + % ! % + " " % + " " " 1 %" ! " % "" " 1 % . ! ! 1" " %" % ) + % " ". ' " ! . " " " " ! + " "1 " " +? " ) 8. " ! '" " %" " %" % " " " " ! + " " . 1 " . "! ! ! " % !% " . % 1 " . " %% " 1 !! % % 1 "" ! ! % ! " "" % " ! " "! " " % ! " "" ! . ! "! ! ) $/ . #. ! %" % % ! " "" . " " " %" %" + " " " % " " 1 % " 1" " "! ! " % 1 " " % " "% +% " % ! ! " . .

! ! " % % " " % %" % " " !! ! % % " ! ! %" "! % % " !! % ? " . " 1 " " 1 " % " #" " " ! %" % % !! % %% ! "" " . ! " ! % %" " % + " " % " " !. % " ! % "! " " " " " ! + " "% ! " " " "! % ! % " ! " // 7 ! 7: " " " :2 " 0 " % " " % % " !! " 1 % ! " "1 " " %" " % ! " "" . " ! ! !! " % 1 " %!" " + " #" " " !. ! ! 1 ! 1" ! " "% 1 % " " ! !% " " !! % "1 " % "% " " " ! ! % 0 " % " " + 1 ! 1 % " !! ! % ! % "" ! " % " " ! + " % ! "! !. ! " ! " ! !! % #" " % // . " %" B 1" "" ! ! " " .1 " " !! % " . % ! ! " " %" " " !! ! " %" % "% ! " "" . ! 1 1 ! %" " %% ! "" " 1" !% ! " " " % " " " % ! " "" ! " " % " % " " 1 " %1 " .7 : ! 7I " " :4 " " ") $ $ . 1" !! ! " 1 %" % " % ! "" " " ! % "% ! " "" % " ( " ! % "% % " " !! % ? !! % " " 1 " " 1 "! % " % !+ ! ! " ! % "" " " !! ! ! " ! ! " " % 1 " "% ! " "1 " ! "! % . " % ) $ $ . % !! " % " % " !! ! %( % % " %" ! " " !! ! % % ! G . ! 7: " % " :2 " "( % " " 1 " " " 1" " 1 ! % "% % 1 "" 1" %" "% % 1 "" " " "! " % " " " 1 % "% % 1 " " ! ! + %" " % " 1 " ! " + %" " " " ! ! ! " % " " % ! ! ! % " " "" % % "% "! " 1 // 7 0 " % " ! " 1 " 1 " " " " % ! "" ! " % " " ! + " % ! "! 1" 1 " # 1 "" ! " % " " ! + " % ! "! ". ! 1 1 " "B % %" ! ! " %1 " ! " " !! ! . % ! %" ! ! " % " 1 " %" ! ! ! " " % " % ! ! "1 " ! % "" % " 1 " %" %% " % ! ! " ! ! " " .

" 9 4. % 7 : " "" 9 ! ! 1 $ 3 4 44 4 %" 7 4 4.3 4 . .%" % %!" " % " 8 . : 4. & " " 5 3 ! " 3 7& % ! " % "1 " " + + ! " 1" %%" " ! " "! + 0/( . %" % % 1" ! " % " "% " " % ' -# # %! " " % % " %" 1 ! " " " "! " " ! " ! ! " % % ! " " . & ! $ CC 2. . ! % ( " %" % " " 8 (-/ $' / $ 1 " " %" 1 " 1 & " 1 ! % "! ! " " % " "! " % " 1 +% " ") . F 4 . # -" % % " "" ! ! 1 $ CI 43 44 4 %" 4 4 4. " " + ! " " ! % $ 7 4 44 44 4 % " " % ! " . " ! 1 % !! " ! ! 1" " % % " " % " 1" 1 + " "% % %) $ $ . " " % 1 % " " " "! " " "% " ! " "! " " ! % % " " ! 73 E79 94 9C "! " ! ! " "! " " + % 1 " ! . : 4. F % 7 4 " "" . " % " !" 1" % ! %" " ! %" ! % ! # "0 " "% % " 3 9 34 4.9 44 44 4 4 4 4. " "( % " " "! " " ) ( . !." ! " ! " % ! %" % " "! / ! % " ! ! ! ! "" % ! " " $ :9 39 94 4 .1 !! %" % " " % " " %" !! ! " " "% " % % ! %" # # " % "% " " % =/ $#' " " *D " " " %" 1 "! " + " % % ! " " @ " " % % " "! " 1 % + " !! " % %! ! " " " $ . " . " !!( " % " "% " " % & & 0$ $ 1" " " %" % % ! "1 " ! "! " + % " ! %" % % ! "" % + "! " + " "% % % " " !!" % " " % "% " " % # /$ ! " "% % " " %" " ! !" % 1" ! "! " " " !" !1 ! % 7 5 " "" 9 ! ! 1 $ 7 93 24 4 %" 4 C 4. 4 4 4. % "1 " ! % !! " % " ! ! % ! " "" .% ! " "" " ! " % ! % "% ! " "" " "% ! " " % % ") $ $ . ! %" " " & 34 49 $ 3 9 39 94 4 7 . ! ! 1 $ 74 44 4 %" 4 4. 1 % ! "1 " !% " ! " % ! % % ! " "" . 24 4 3 C 4.! " % + ! " " " ! "1 " " % & " ! " 9 E.

. %" " "! ! / ! " ! % "! "0/( " " ! " % "1 % " + ( % 1" % ! %" . ! % " ! " ! % ! ! % %" " " % . 4 4 4. % " % ! " ! ! %" " ) . . ! " % " 1" % %" " ! ! " % 1 " % ! ! " ! 0/( ! ! ! " % "% " ! "1 " ! ? % " % % " " "! / ! ! !" 1 % "% ! " % . " "! / ! 1 " % ! " 1" % ! %" .2 24 4 ) C 3 4. ! ! %" % " % .1 " "! ! ! ! 1" % ! % " . // 9 7 ! 7: " " " :: " " " % " 0 ! " ! " "// 3 4 ! 7: " " " :5 ! "/" " /" " 9 7 ! 7: " " " :: " " " % " 0 ! . 1 1" " " %! ! " + " " " " 1" 1 %" " "% 1 ! % $ ." %" + ! " " % "$ 7 4 44 44 4 ) . . % ! " % " " "! / ! ! 1" % %" ! %" " ! " " 1" "1 % " " " + %" ! ! %" % ! ! " % " 1 1" %" ! %" % " " ! " % % "% % " "1 " %% " + 1" + " " % ! " ! ! 1" " % %" ! %" ! ! % " % . 1 .3 . " % % "" . 1" " " % ". " " "! / ! ! " " " !% ! "1 " % " ! 0 /" " /" " (! ! % " ) 0/( .%" " % "% ! ! " " " ! ! " " % ! " % ! " "" ! %" % ! % % " !% " 1 %" " % ! ! " ! %" % ! " ! ! %" " !! 1" % %" % " . 1 ! ! !! + !! + ! ! ! !! !! . " " " % "% % % ! % "% ! " "" . " . " ! %" % " % ! !% ! "! ! " % " %" " 1" % %" "! "1 " / ! " " ! ! " % " " " " G " 1 " ! !! ! % !! " ! %" " 1 " ! " " " ! " % ! " " ! " % " " 1" ! %" ! " % .

++ !! " % % ! %" %" % " ! !! " % " B " "! / ! ! %% " % " ! " % "! " ! " .# 34 45 % " " "! / ! 1 " ! ! +% .+ ! ! " % " " 1" %" ! ! +! "% " "! / ! ! % ! ! " ! ! % " % ! %" % 1" ! %" % H + " " % ! 1" !! ! % "% " % " % " % "% ! % %" " "" !! "! ! +% " % " ! " " ! % " "! / ! 1 " ! % ! 1" % % % ! " " 1" " %" /" " /" " 5 ! 7 5 " " (! ! " :7 % " 1" %" " "" 0/( # ! ! ! " " "! / ! " ! % % ! " ! " ! " ! " " " " . " % 1 " !% "% " "% " " " " " % " " " % "1 " " ". "% " + " " # ! % ! 6' % ! . % " " " %" ." " " % " " "! / ! ! % " " ! 1 + " % "% ! " " ! %" ! "! % ! ! " " " . " " " "! / ! 1 " ! %% " !" 1 " ! " " 1" %" ! %" 1 " " " % "% " ! ! 1" " + " ! "! ! % " " . "% " % " 1 %" . " ! %" " % " " % ! 1" % % "% ! # " ' " .0/( 5 9 " %" 1 A " " %% " ! ! " % ! ! ! +% "! % " "! % %" ! ( % " " +% " . " " 1 " " . % " % "0/( " " %" " " %% " ! ! " % ! ! ! +% "! " "! % ( % " ! " % " "! / ! '" ! " "! " ! +% " "! / ! ! % ! " " "! + % " % "" "1 " " ! ! ! ! " " " + " % "% ! "1 " " 1 % #" " % " " ! " . " %" % " " " " % ! " %" " "" B ! 1 1" % % %" " " ! " ! ! ! % ! +% "! + ( % . + " " "% !! % 1" . " % " " "! / ! ! + % " %" ! ! % " 1" + %" " + "/ ! 0/( " % 9 !! 1 " " %" 1 A "1 " ! % %" " " ! . @ ! "3 3 I C " "! % " " 1 ! 1 ! ! +% % "! %" 7 5 1 ) . ! % " 1 %" % " " ". " " "! / ! ! ! % % "% " % " " " "! % " / & /0 ! . " " " " % " (! ! % % " " + ( % !! " " " " "! ! / ! . " ! % ! +% "! " "! / ! ! ! % % " " 0/( !! % " '" " ( % 1" % ! %" .

! . % % . &% " "! / ! . 1 " % 1 " ! ! " ". ! " " 7 7 1 ) . % " " % # F . !! ! ! # % " 1 %" " % " ! !! ! % "0 !" % % ! % ! % " " + ! " 6'' ( % 1" % ! %" . ! ".0/( : 7 ! % %1 " %" % ! ! ! " ! ! )" " % ?" ? ? ". ! " 1" ! " " "0 ! " % " !! ! " " . " " 7 7 1 ) ." 0! % " % % " ") . ! % " 1 ! '" ! !! " 7 90/( 5 1 !A 7 4 " 1" 4 " !! % ! " 1" % " 1 % "! ! " % " !! % % " 1 "! %" % % !0 ! ! %" B0 " " . % % % ! ! %" ! 2 " " "% % % % " ! + ( % " " " !! " " "% "! " ! ! 1 " % % ! % " .0/( : 3 9 " %" 1 " ! 1" % % " % % "% 1" % " " ! % ! H . %" " . " (! ! % 1. " % 1 %" " " % % " " % F . " % "% !" " . % ! " " %% ! " " ! " 1" " % '" " ! " # % " " "! / ! ! 1 %" " % " % .(! ! % " " % 1 " "1 " " ! %%. ! !% ! " 1 " % 1 %" % "% ! 1" % . " " ! ! 1" % !% " . % %1 " % " % 1" " % + 0 . " . % " " . %"" " % % "% + ( % 1" % " " % " 7 " %" 1 % % ! % " 1 %" " " ! ! ! . % ! % % %" " % ! " 1" % %" ! % " 3 %" % #% " "# % " ! ! ) + % ? .! ! % ! "% " " % . % % " "1 " % % ! " " 1 % "% " ! + " ! ! " % " " " + % ! " " " " " % % 1 1" " " % "" ! ! 1" % " % % 1 !" ! 1 ! " % " ! + " " % " " % " " . ".

! " + " ! ! + " % " 1 ! "." 0! + ( % " 0! (! ! % $# 08 * "" $ + 0 %" " 1" % % " %" " "% % !! "1 " " 1 % " .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->