KATA PENGANTAR

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab IV Pasal 10 menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berhak mengarahkan, membimbing, dan mengawasi penyelenggaraan pendidikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selanjutnya, Pasal 11 Ayat (1) juga menyatakan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, wewenang Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan pendidikan di daerah menjadi semakin besar. Lahirnya kedua undang-undang tersebut menandai sistem baru dalam penyelenggaraan pendidikan dari sistem yang cenderung sentralistik menjadi lebih desentralistik. Kurikulum sebagai salah satu substansi pendidikan perlu didesentralisasikan terutama dalam pengembangan silabus dan pelaksanaannya yang disesuaikan dengan tuntutan kebutuhan siswa, keadaan sekolah, dan kondisi sekolah atau daerah. Dengan demikian, sekolah atau daerah memiliki cukup kewenangan untuk merancang dan menentukan materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Untuk itu, banyak hal yang perlu dipersiapkan oleh daerah karena sebagian besar kebijakan yang berkaitan dengan implementasi Standar Nasional Pendidikan dilaksanakan oleh sekolah atau daerah. Sekolah harus menyusun kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) atau silabusnya dengan cara melakukan penjabaran dan penyesuaian Standar Isi dan Standar Kompentensi Lulusan yang ditetapkan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2006. Di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dijelaskan: • Kurikulum dan silabus SD/MI/SDLB/Paket A, atau bentuk lain yang sederajat menekankan pentingnya kemampuan dan kegemaran membaca dan menulis, kecakapan berhitung serta kemampuan berkomunikasi (Pasal 6 Ayat 6). • Sekolah dan komite sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabusnya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar kompetensi lulusan di bawah supervisi Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota yang bertangungjawab terhadap pendidikan untuk SD, SMP, SMA, dan SMK, serta Departemen yang menangani urusan pemerintahan di bidang agama untuk MI, MTs, MA, dan MAK ( Pasal 17 Ayat 2). • Perencanan proses pembelajaran meliputi silabus dan rencana pelaksanan pembelajaran yang memuat sekurangkurangnya tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pembelajaran, sumber belajar, dan penilaian hasil belajar (Pasal 20). 1

Berdasarkan ketentuan di atas, daerah atau sekolah memiliki ruang gerak yang seluas-luasnya untuk melakukan modifikasi dan mengembangkan variasi-variasi penyelengaraan pendidikan sesuai dengan keadaan, potensi, dan kebutuhan daerah, serta kondisi siswa. Untuk keperluan di atas, perlu adanya panduan pengembangan Silabus dan Rencana Pengembangan Pembelajaran (RPP) untuk setiap mata pelajaran, agar daerah atau sekolah tidak mengalami kesulitan. Pendidikan Jasmani merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematik bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perceptual, kognitif, dan emosional, dalam kerangka sistem Pendidikan Nasional. Dalam pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran di kelas, guru harus berpedoman pada Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang terencana, terprogram, dan berkesinambungan. Dalam kesempatan ini, kami menyajikan “Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Mata Pelajaran Pendidikan Jasman, Olahraga dan Kesehatan” yang disesuaikan dengan buku Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan SMA/MA terbitan PT. Erlangga. Diharapkan dengan disusunnya Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan ini dapat membantu Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan dalam melakukan Kegiatan Pembelajaran di kelas, sehingga proses Pembelajaran menjadi lebih terarah dan lebih baik, yang pada gilirannya dapat mencapai tujuan Pendidikan Nasional. Bandung, Desember 2007

Penyusun

KONSEP DASAR PENDIDIKAN JASMANI
2

A. HAKEKAT PENDIDIKAN JASMANI
Upaya peningkatan mutu pendidikan di Indonesia terus menerus dilakukan. Upaya itu mengejewantah dalam berbagai kegiatan dan program, dari mulai upaya meningkatkan mutu guru yang menjadi ujung tombak di sekolah-sekolah dalam proses pembelajaran, hingga perubahan kurikulum seperti yang saat ini sedang dilakukan pemerintah melalui perubahan Kurikulum Nasional Tahun 2004 kepada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Perubahan Kurikulum memang bukan satu-satunya solusi dalam menangani permasalahan mutu, tetapi hanya salah satu faktor yang mendorong perubahan yang sifatnya mendasar, termasuk mendorong perubahan paradigma yang membelenggu semua pihak yang terlibat dalam proses pendidikan, termasuk guru. Bahkan, dalam kondisi saat ini, perubahan kurikulum saja diasumsikan tidak akan membantu banyak dalam upaya perubahan mutu tersebut, karena guru sendiri belum melihat kurikulum dari perspektif yang benar. Mereka masih melihat kurikulum sebagai “buku resep masakan” yang sudah jadi, tinggal mengumpulkan bahan yang disebutkan dalam Silabus dan melakukannya persis seperti yang diminta, seperti sudah dipraktekkan selama ini. Ketika kurikulum yang saat ini hendak diberlakukan (KTSP) bersifat berbeda dalam kemudahannya untuk digunakan sebagai resep, karena mereka harus menentukan resep masakannya sendiri dalam bentuk Silabi, maka kebingungan dan salah kaprahpun merebak, di samping nama kurikulum berbasis kompetensi pun memang masih sangat kurang familiar di telinga para guru. Bahkan para ahli pun hingga sekarang belum secara kompak sepakat kata dalam menentukan “kompetensi” dari setiap mata pelajaran. Ambil contoh dalam matapelajaran pendidikan jasmani, yang hingga saat ini masing-masing penetapan butir kompetensinya masih simpang siur, sesuai selera dan kepekaan masing-masing, terutama karena berangkat dari kaca mata sendiri-sendiri. Pada tahap awal, perbedaan pandangan tersebut harus diminimalisir dengan adanya sebuah pedoman dalam penyusunan silabus, bahkan jika mungkin sampai pada petunjuk pelaksanaan pembelajaran dan sistem evaluasinya. Hal ini dipandang penting agar guru mampu keluar dari belenggu pemikiran gaya lama, dan pada saatnya mereka akan memiliki kemampuan untuk menyusun silabusnya sendiri serta secara tepat merumuskan materi ajar dan pengalaman pembelajaran bagi siswanya. Materi ini adalah Pedoman Penyusunan Pembelajaran untuk Mata Pelajaran Pendidikan Jasmani di SMA/MA, yang disusun dengan maksud untuk memandu pemahaman guru dalam menerjemahkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 3

(KTSP) Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan versi Penulis Buku Penjasorkes SMA/MA PT. Erlangga yang disusun bersamaan dengan keluarnya buku panduan ini. Kompetensi untuk Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan versi Penulis PT. Erlangga tersebut disusun secara proaktif menanggapi belum menyebarnya informasi tentang pembelajaran Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan yang disusun oleh Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas dan BNSP. Istilah “Pendidikan” merupakan kata yang tidak asing lagi untuk hampir setiap orang. Namun demikian, istilah ini lebih sering diartikan secara berbeda dari masa ke masa, termasuk oleh ahli yang berbeda pula. Seseorang mungkin menerjemahkan pendidikan sebagai sebuah proses latihan. Orang lain mungkin menerjemahkannya sebagai sejumlah pengalaman yang memungkinkan seseorang mendapatkan pemahaman dan pengetahuan baru yang lebih baik. Atau mungkin pula diterjemahkan secara sederhana sebagai pertumbuhan dan perkembangan. John Dewey, seorang pendidik yang mempunyai andil besar dalam dunia pendidikan, mendefinisikan pendidikan sebagai “rekonstruksi aneka pengalaman dan peristiwa yang dialami dalam kehidupan individu sehingga segala sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan bermakna. Definisi ini mengandung arti bahwa seseorang berpikir dan memberi makna pada pengalaman-pengalaman yang dilaluinya. Lebih jauh definisi tersebut mengandung arti bahwa pendidikan seseorang terdiri dari segala sesuatu yang ia lakukan dari mulai lahir sampai ia mati. Kata kuncinya adalah melakukan atau mengerjakan. Seseorang belajar dengan cara melakukan. Pendidikan dapat terjadi di perpustakaan, kelas, tempat bermain, lapangan olahraga, di perjalanan, atau di rumah. Morse (1964) membedakan pengertian pendidikan ke dalam istilah pendidikan liberal (liberal education) dan pendidikan umum (general education). Ia mengatakan bahwa pendidikan liberal lebih berorientasi pada bidang studi dan menekankan penguasaan materinya (subject centered). Tujuan utamanya adalah penguasaan materi pembelajaran secara mendalam dan bahkan jika mungkin sampai tuntas. Pemikiran pendidikan seperti ini sudah tidak bisa lagi diterapkan dalam konteks pendidikan jasmani sekarang ini, dan oleh karena itu, pengertian pendidikan seperti ini dipandang bersifat tradisional. Sementara itu, pendidikan modern lebih bersifat memperhatikan pelakunya dari pada bidang studi atau materinya. Tujuan utamanya adalah mencapai perkembangan individu secara menyeluruh sambil tetap memperhatikan perkembangan perilaku intelektual dan sosial individu sebagai produk dari belajarnya (child centered). Pendidikan pada jaman sekarang lebih banyak menekankan pada pengembangan individu secara total. Kebanyakan sekolah sekarang ini menganut filsafat modern. Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Pembelajaran secara individual pada dasarnya merupakan pembelajaran untuk semua siswa, termasuk program untuk siswa yang mempunyai 4

seperti: Sistem Jerman dan Sistem Swedia. Dengan kata lain Pendidikan Jasmani hanya sebagai pelengkap saja. dengan gimnastik sebagai medianya. kehalusan gerak. hingga akhirnya mendorong timbulnya pandangan modern. Setiap siswa diberi kebebasan untuk memilih materi pembelajaran yang diinginkannya dan memperoleh pelatihan dari bidang kejuruan yang berbeda-beda. Beberapa pengertian Pendidikan Jasmani yang diperoleh tersebut disusun dalam redaksi yang beragam. Pendidikan Jasmani lebih berperan sebagai “medicine” (obat) daripada sebagai pendidikan.kelambanan dalam perkembangannya. program pelaksanaan. Para guru mungkin sering menemukan atau mendengar pengertian Pendidikan Jasmani dari berbagai sumber. Pandangan ini menganggap bahwa Pendidikan Jasmani hanya semata-mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap. atau kemampuan jasmaniahnya saja. Pandangan Pendidikan Jasmani berdasarkan pandangan dikhotomi manusia ini secara empirik menimbulkan salah kaprah dalam merumuskan tujuan. Pendidikan Jasmani di pengaruhi oleh system Eropa. pandangan dikotomi ini muncul pada akhir abad 19 atau antara tahun 1885 . Pada saat itu. dan karakter siswa. yaitu jasmani dan rohani (dikhotomi). Pengajar tidak hanya memperhatikan perolehan akademisnya akan tetapi juga kemampuan bicara. Apabila kita cermati lebih jauh. Pada saat itu. sering juga pelaksanaan Pendidikan Jasmani ini justru mengabaikan kepentingan jasmani itu sendiri. koordinasi. dan penilaian pendidikan. penyeimbang. Di Amerika Serikat. mengalami gangguan emosional. Para guru mencoba membantu setiap individu untuk belajar memecahkan masalah-masalah baik emosional maupun fisikal yang dihadapi oleh setiap siswa. Selain dari itu. para pengajar Pendidikan Jasmani lebih banyak dibekali latar belakang akademis kedokteran dasar (medicine). menganggap bahwa manusia itu terdiri dari dua komponen utama yang dapat dipilah-pilah. Dengan kata lain pendidikan pada jaman sekarang ini lebih menekankan pada pengembangan individu secara utuh. maka keragaman tersebut pada umumnya sama seperti pandangan terhadap pendidikan di atas. yang lebih menekankan pada perkembangan aspek fisik (fitnes). Kenyataan menunjukkan bahwa pelaksanaan Pendidikan Jasmani ini cenderung mengarah kepada upaya memperkuat badan. Oleh karena itu. Pandangan Modern 5 . dan siswa yang memiliki cacat fisik atau mental. atau juga sering disebut pandangan tradisional. atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Pandangan Tradisional Pandangan pertama. memperhebat keterampilan fisik.1900. dan keterampilan sosialnya.

Pendidikan Jasmani merupakan bagian dari program pendidikan umum yang memberi kontribusi. siswa menyenanginya. terutama melalui pengalaman gerak. Doktrine utama dari progressive education ini menyatakan bahwa semua pendidikan harus memberi kontribusiterhadap perkembangan anak secara menyeluruh. dan pendidikan jasmani mempunyai peranan yang sangat penting terhadap perkembangan tersebut. Pada periode ini Pendidikan Jasmani diartikan sebagai pendidikan melalui aktivitas jasmani (education through physical). isi. dan karya yang diberi bentuk. Pandangan Indonesia Di Indonesia. pada awalnya kurang banyak memasukkan aktivitas sport karena pengaruh pandangan sebelumnya. Sport menjadi populer. Oleh karena itu Pendidikan Jasmani tidak hanya berorientasi pada jasmani saja atau hanya untuk kepentingan satu komponen saja. terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. Namun tidak bisa dipungkiri sport terus tumbuh dan berkembang menjadi aktivitas fisik yang merupakan bagian integral dari kehidupan manusia. Pendidikan Jasmani didefinisikan sebagai pendidikan gerak dan pendidikan melalui gerak. salah satu contoh definisi Pendidikan Jasmani yang didasarkan pada pandangan holistik ini dikemukakan oleh Jawatan Pendidikan Jasmani (sekarang sudah dibubarkan) yang dirumuskan tahun 1960. yang tadinya lebih menekankan pada gimnastik dan fitness menjadi lebih merata pada seluruh aktivitas fisik termasuk olahraga. bermain. dan harus dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan definisi tersebut. Pada saat itu Pendidikan Jasmani dipengaruhi oleh “progressive education”. 6 . Pandangan holistik ini. Pendidikan Jasmani adalah pendidikan yang mengaktualisasikan potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap. Di Amerika Serikat. yaitu pada akhir abad 19. pandangan holistik ini awalnya dipelopori oleh Wood dan selanjutnya oleh Hetherington pada tahun 1910. Definisi yang relatif sama. Hingga akhirnya Pendidikan Jasmani juga berubah. atau sering juga disebut pandangan holistik.Pandangan modern. Manusia adalah kesatuan dari berbagai bagian yang terpadu. menganggap bahwa manusia bukan sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian yang terpilah-pilah. dan ingin mendapatkan kesempatan untuk berpartisipasi di sekolahsekolah hingga para pendidik seolah-olah ditekan untuk menerima sport dalam kurikulum di sekolah-sekolah karena mengandung nilai-nilai pendidikan. tindak . yang menganggap sport tidak sesuai di sekolah-sekolah. sebagai berikut. juga dikemukakan oleh Pangrazi dan Dauer (1992) sebagai berikut. rekreasi atau aktifitas lain dalam lingkup aktivitas fisik. dan arah menuju kebulatan pribadi sesuai dengan cita-cita kemanusiaan.

Pendidikan Jasmani modern yang lebih menekankan pada pendidikan melalui aktivitas jasmani didasarkan pada anggapan bahwa jiwa dan raga merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. perolehan keterampilan dan perkembangan lain yang bersifat jasmaniah itu juga sekaligus sebagai tujuan. Melalui Pendidikan Jasmani. yaitu memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani. pendidikan jasmani. stabilitas emosional. bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani. Misalnya. dimana pikiran. keterampilan sosial. dan sekaligus memiliki potensi yang strategis untuk mendidik. tidak hanya mendidik jasmani atau tubuhnya saja. dan tindakannya selalu berubah-ubah. mengemukakan. Namun demikian. B. adalah anak secara keseluruhan yang harus kita didik. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. Wall dan Murray (1994). Oleh karena itu dapatlah dikatakan bahwa Pendidikan Jasmani pada dasarnya merupakan pendidikan melalui aktivitas jasmani untuk mencapai perkembangan individu secara menyeluruh. Pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang berlangsung seumur hidup. masa anak-anak adalah masa yang sangat kompleks. siswa disosialisasikan ke dalam aktivitas jasmani termasuk keterampilan berolahraga. aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani. RASIONAL Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan merupakan bagian integral dari pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu tidaklah mengherankan apabila banyak yang meyakini dan mengatakan bahwa Pendidikan Jasmani merupakan bagian dari pendidikan menyeluruh. penalaran. Siedentop (1990). olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. keterampilan berfikir kritis. sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat. Oleh karena sifat anak-anak yang selalu dinamis pada saat mereka tumbuh dan berkembang. mengemukakan hal serupa dari sudut pandang yang lebih spesifik.Definisi Pendidikan Jasmani dari pandangan holistik ini cukup banyak mendapat dukungan dari para ahli Pendidikan Jasmani lainnya. 7 . Oleh karena itulah. perasaan. olahraga dan kesehatan yang diajarkan di sekolah memiliki peranan sangat penting. tindakan moral. keterampilan gerak. Pandangan ini memandang kehidupan sebagai totalitas. olahraga dan kesehatan terpilih yang direncanakan secara sistematis dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. maka perubahan satu element sering kali mempengaruhi perubahan pada eleman lainnya.

oleh karena itu pendidikan kurang lengkap tanpa adanya pendidikan jasmani. disiplin. 8 . terampil. pengetahuan dan penalaran. akhlak. jujur. Tujuan Pendidikan Jasmani Mata pelajaran Jasmani. orang lain dan lingkungan Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna. olahraga dan kesehatan Mengembangkan sikap sportif. a. psikomotor. karena gerak sebagai aktivitas jasmani adalah dasar bagi manusia untuk mengenal dunia dan dirinya sendiri yang secara alami berkembang searah dengan perkembangan zaman. Olahraga. Dengan diterbitkannya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan akan memberikan peluang untuk menyempurnakan kurikulum yang komprehensif dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional. serta memiliki sikap yang positif. TUJUAN DAN FUNGSI PENDIDIKAN JASMANI 1. d. keterampilan motorik. bertanggungjawab. serta pembiasaan pola hidup sehat yang bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan psikis yang seimbang. perkembangan psikis. pola hidup sehat dan kebugaran. budi pekerti. olahraga dan kesehatan. Pandangan ini telah membawa akibat terabaikannya aspek-aspek moral. b. percaya diri dan demokratis Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri. f. penghayatan nilai-nilai (sikap-mental-emosional-sportivitasspiritual-sosial). e. C. dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani.Pendidikan memiliki sasaran pedagogis. dan kesehatan merupakan media untuk mendorong pertumbuhan fisik. kerjasama. g. Pendidikan jasmani. c. Selama ini telah terjadi kecenderungan dalam memberikan makna mutu pendidikan yang hanya dikaitkan dengan aspek kemampuan kognitif. seni. olahraga. serta life skill.

yaitu jumlah tenaga maksimum yang dikeluarkan oleh otot atau kelompok otot. merawat lingkungan yang sehat. dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek. rounders. Olahraga dan Kesehatan di SMA/MA Ruang lingkup mata pelajaran Pendiidikan Jasmani. serta aktivitas lainnya. bola voli. dan senam aerobic serta aktivitas lainnya. berkemah. dan renang serta b. SKJ. dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya.dan manipulatif. dan beladiri. pengenalan lingkungan. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani. dan mendaki gunung. mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. kippers. Kesehatan. keterampilan bergerak di air.2. atletik. bola basket. dan senam lantai. keterampilan lokomotor non-lokomotor. meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari. 9 . Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana. Pendidikan luar kelas. Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh. a. senam pagi. keselamatan air. tenis meja. aktivitas lainnya. Aktivitas air meliputi: permainan di air. d. serta aktivitas lainnya. Olahraga dan berikut. Fungsi Pendidikan Jasmani a. komponen kebugaran jasmani. menjelajah. ketangkasan tanpa alat. tenis lapangan. 3. g. c. Meningkatkan kekuatan otot. ketangkasan dengan alat. meliputi: piknik/karyawisata. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri. khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat. eksplorasi gerak. kasti. Kesehatan meliputi aspek-aspek sebagai Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional. mencegah dan merawat cidera. sepak bola. e. Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas. Aspek Organik 1) 2) Menjadikan fungsi sistem tubuh menjadi lebih baik sehingga individu dapat memenuhi tuntutan lingkungannya secara memadai serta memiliki landasan untuk pengembangan keterampilan. permainan. bulu tangkis. memilih makanan dan minuman yang sehat. f.

menangkap. Meningkatkan fleksibilitas. berlari. berkemah. melompat. bergoyang. tennis. Mengembangkan gerak dasar manipulatif. meregang. seperti: sepakbola. memantulkan. menendang. 10 c. yaitu kemampuan mengenali objek yang berada di depan. kelentukan. seperti: menjelajah. waktu reaksi dan koordinasi. dan lainnya. Mengembangkan gerak dasar non-lokomotor. tennis meja. Mengembangkan komponen fisik. melangkah. beladiri dan lain sebagainya. ketepatan. meloncat. belakang. Mengembangkan kemampuan menerima dan membedakan isyarat. melempar. Mengembangkan kemampuan kinestetik seperti: rasa gerak. yaitu kemampuan otot atau kelompok otot untuk menekan kerja dalam waktu yang lama. menggantung. atau di sebelah kiri dari dirinya. Mengembangkan hubungan-hubungan yang berkaitan dengan tempat atau ruang. Mengembangkan gerak dasar lokomotor. yaitu: rentang gerak dalam persendian yang diperlukan untuk menghasilkan gerakan yang efisien dan mengurangi cidera. menderap/mencongklang. irama. power. Mengembangkan potensi diri melalui aktivitas jasmani dan olahraga. kapasitas individu untuk melakukan aktivitas yang berat secara terus menerus dalam waktu yang relatif lama. menarik. Mengembangkan aktivitas jasmani di alam bebas melalui berbagai kegiatan. seperti: mengayun. tubuh. Meningkatkan daya tahan kardiovaskuler. b. bolatangan. bawah. atletik. daya tahan. seperti: berjalan. kecepatan. seperti: memukul. Mengembangkan koordinasi gerak visual. keseimbangan. berguling. memvoli. menekuk. mendorong. Aspek Neuromuskuler 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) Meningkatkan keharmonisan antara fungsi saraf dan otot. mendaki. softball.3) 4) 5) Meningkatkan daya tahan otot. Aspek Perseptual 1) 2) 3) . seperti: kekuatan. menggulirkan. meluncur. menghentikan. sebelah kanan. melengok. mengubah arah. dan atau kaki. bolavoli. membongkok. meliuk. bolabasket. baseball. yaitu: kemampuan mengkoordinasikan pandangan dengan keterampilan gerak yang melibatkan tangan.

Mengembangkan kemampuan bertukar pikiran dan mengevaluasi ide dalam kelompok. dan arah yang digunakan dalam mengimplementasikan aktivitas dan dirinya. Belajar berkomunikasi dengan orang lain. keselamatan. d. Mengembangkan dominasi (dominancy). Meningkatkan pemahaman bagaimana fungsi tubuh dan hubungannya dengan aktivitas jasmani. Aspek Sosial 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) Menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan dimana berada. sikap. Mengembangkan lateralitas (laterility). Mengembangkan rasa memiliki dan tanggungjawab di masyarakat. dan etika. yaitu: kemampuan membedakan antara sisi kanan atau kiri tubuh dan diantara bagian dalam kanan atau kiri tubuhnya sendiri. e. Menggunakan waktu luang dengan kegiatan yang bermanfaat. memahami. bentuk.4) 5) 6) Mengembangkan keseimbangan tubuh (statis dan dinamis). yaitu: kemampuan mempertahankan keseimbangan statis dan dinamis. Mengembangkan kemampuan membuat pertimbangan dan keputusan dalam kelompok. memperoleh pengetahuan dan mengambil keputusan. waktu. Menghargai kinerja tubuh. yaitu: konsistensi dalam menggunakan tangan atau kaki kanan/kiri dalam melempar atau menendang. kecepatan. dan nilai agar dapat berfungsi sebagai anggota masyarakat. penggunaan pertimbangan yang berhubungan dengan jarak. Mengembangkan kemampuan penggunaan taktik dan strategi dalam aktivitas yang terorganisasi. Mengembangkan kepribadian. Aspek Kognitif 1) 2) 3) 4) 5) Mengembangkan kemampuan menemukan sesuatu. 11 . tempat. Meningkatkan pengetahuan tentang peraturan permainan.

D. 1995). manusia perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Ennis. Aspek Rehabilitasi 1) Terapi dan koreksi terhadap kelainan sikap tubuh. gerakan ritmik. 4) Memberikan saluran untuk mengekpresikan diri dan kreativitas. dengan demikian manusia perlu memahami hakikat kebugaran jasmani dengan menggunakan konsep latihan yang benar. (2) pemahaman dan penerapan konsep yang benar tentang aktivitas-aktivitas tersebut agar dapat melakukannya dengan aman.f. 3) Mengkoordinasikan berbagai hambatan melalui aktivitas jasmani. 12 . MATERI PENDIDIKAN JASMANI Struktur materi Pendidikan Jasmani dikembangkan dengan menggunakan model kurikulum kebugaran jasmani dan pendidikan olahraga (Jewtt. Pendidikan Jasmani diyakini dapat memberikan kesempatan bagi siswa untuk : (1) Berpartisipasi secara teratur dalam kegiatan olahraga. akuatik (olahraga di air/bila memungkinkan). senam. kecakapan gerak dasar. Materi untuk TK sampai SD/MI kelas 3 SD meliputi kesadaran akan tubuh dan gerakan. permainan. & Bain. 2) Rehabilitasi terhadap cacat fisik dan penyakit fisik yang bersifat sementara. Struktur materi Pendidikan Jasmani dari TK sampai SMA dapat dijelaskan sebagai berikut. Asumsi yang digunakan kedua model ini adalah untukl menciptakan gaya hidup sehat dan aktif. 1. 3) Melepas ketegangan melalui aktivitas fisik yang tepat. Olahraga merupakan bentuk lanjut dari bermain dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian manusia. Aspek Emosional 1) Mengembangkan respon positif terhadap aktivitas jasmani. g. Untuk dapat berolahraga secara benar. dan gaya hidup sehat. emosi stabil. 2) Mengembangkan reaksi yang positif sebagai penonton. (3) pemahaman dan penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas-aktivitas tersebut agar terbentuk sikap dan perilaku sportif dan positif. kebugaran jasmani dan pembentukan sikap dan perilaku.

Kecakapan Gerak Dasar . A 11 Olahraga Berikut disajikan Struktur Materi Pendidikan Jasmani menurut. dan kecakapan hidup personal (kebugaran jasmani serta pembentukan sikap dan perilaku). Materi pembelajaran untuk kelas 7 dan 8 SMP meliputi: teknik/keterampilan dasar permainan dan olahraga. 4. kecakapan hidup di alam terbuka. dan kecakapan hidup personal (kebugaran jasmani serta pembentukan sikap dan perilaku). Komponen Keterampilan Sikap dan perilaku Mempercayai Menghargai Inisiatif 7 6 5 4 Permainan dan Modifikasi Olahraga Aktivitas Pengondisian Jasmani ebas P E R S O N A L Kerjasama Kepemimpina n/ Bawahan Pengambilan Resiko Keselamatan 3 2 1 Ritmik dan Tarian Permainan (Games) Akuatiks (bila mungkin) Senam kelas 13 Kesadaran akan Tubuh dan Gerakan. akuatik. C A aktivitas ritmik. Materi pembelajaran untuk SD/MI kelas 4 sampai 6 adalah aktivitas pembentukan tubuh. kecakapan hidup di alam terbuka dan kecakapan hidup personal (kebugaran jasmani serta 12 K pembentukan sikap dan perilaku).A (1994: 65) 10 Tim Perorangan Gaya Hidup Aktif 3.2. akuatik. permainan dan modifikasi olahraga. uji diri/senam. Komponen Kesehatan 2. K Aktivitas Sepanjang Hayat Materi pembelajaran kelas 9 SMP sampai kelas 12 SMA/MA adalah teknik permainan dan olahraga. aktivitas ritmik. kecakapan hidup di alam bebas. senam. Wuest dan Lombardo. E P N H I D U P 9 8 Pengenalan Olahraga Kecakapan Hidup di Alam Bebas Kebugaran Jasmani 1.

14 .

d. Pendekatan motor learning yang mengajarkan aktivitas jasmani berdasarkan klasifikasi keterampilan dan teori proses informasi yang diterima. yaitu metode ceramah (lecture) dan latihan (drill). Magill (1993). b. STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI Gabbard.E. dan metode kreativitas dan pemecahan masalah (creativity and problem solving). e. yaitu: (1) komando/command. Mitcheil. the havioral system family. metodenya adalah movement education (problem solving techniques). Metode yang ada dalam spectrum berjumlah sebelas. 1. Singer dan Dick (1980). Setiap strategi merupakan gabungan beberapa variable. pola organisasi yang digunakan guru untuk menyampaikan materi. f. (2) 15 c. LeBlanc dan Lovy (1994) menyatakan bahwa strategi pembelajaran merujuk pada suatu proses mengatur lingkungan belajar. Secara rinci strategi pembelajaran seperti yang dikemukakan di atas dapat diuraikan satu-persatu sebagai berikut. Pendekatan personalisasi yang berlandaskan atas pemikiran bahwa aktivitas jasmani dapat dipergunakan sebagai media untuk mengembangkan kualitas pribadi. . Pendekatan sosialisasi (socialization approach) yang berdasarkan pandangan bahwa proses pendidikan harus diarahkan untuk selain meningkatkan keterampilan pribadi dan berkarya. metode pembelajaran yang sering digunakan dalam pengajaran aktivitas jasmani sebanyak tujuh katagori. juga keterampilan berinteraksi sosial dan hubungan manusiawi. Pendekatan ini memiliki kelompok metode the social family. the information processing family. Pendekatan belajar (learning approach) yang berupaya untuk mempengaruhi kompetensi dan proses belajar anak dengan metode terprogram (programmed instruction). dan Oslin (1997). Pendekatan pengetahuan-keterampilan (knowledge-skill approach) yang memiliki dua metode. Well dan Showers (1992). Metode yang dikembangkan berdasarkan pendekatan ini adalah part-whole methods. dan the professional skills. dan modelling (demonstration). a. dan bentuk komunikasi yang dipergunakan. Joyce. Metode Pembelajaran (Teaching Method) Menurut Griffin. computer assisted instruction (CAI). the personal family. Ketujuh kategori metode tersebut dirinci sebagai berikut. Variabel yang penting dalam strategi pembelajaran adalah metode penyampaian bahan ajar. Spektrum dikembangkan berdasarkan pemikiran bahwa pembelajaran merupakan interaksi antara guru-siswa dan pelaksanaan pembagian tanggungjawab. Spektrum gaya mengajar yang dikembangkan oleh Muska Mosston. Mosston dan Ashworth (1994).

(9) program individu/individual program. untuk menanggapi materi yang disampaikan. Pola dasar organisasi adalah kelas (classical). Siswa bekerja sebagai satu kesatuan. setengah lingkaran. auditory. ada beberapa bentuk formasi yang dapat digunakan. written. visual. dan gabungannya. biasanya antara guru dan siswa dan bentuk ini sering dipergunakan. (6) penemuan terbimbing/guded discovery. Guru menyampaikan materi kepada seluruh peserta pada suatu waktu tertentu. 3. biasanya dalam bentuk kelompok. (7) penemuan tunggal/convergen discovery. Komunikasi auditori dipresentasikan dengan menggunakan hasil rekaman atau pita kaset yang menyampaikan gaya presentasi yang dipilih. (3) resiprokal/reciprocal. Bentuk Komunikasi (Communication Mede) Menurut Gabbard. melingkar. Penggunaan stasion atau pusat-pusat belajar (learning centers) merupakan bentuk yang populer dan bermanfaat untuk mengakomodasi pola ini. Pendekatan yang dikembangkan oleh Universitas Lougborough untuk mengajarkan permainan agar anak memahami manfaat teknik permainan tertentu dengan cara mengenal situasi permainan tertentu terlebih dahulu kepada anak. (4) uji mandiri/self check. kelompok (group) dua atau lebih. Pola Organisasi (Organizational Pattern) Menurut Gabbard. yaitu: berjajar. LeBlanc dan Lovy (1994) bentuk komunikasi adalah bentuk interaksi yang dipilih guru untuk menyampaikan pesan. bentuk komunikasi adalah verbal. 16 . g. Pengajaran kelompok atau perorangan membagi kelas menjadi beberapa unit (kelompok atau individu) sehingga beberapa kegiatan dapat dikerjakan pada satu satuan waktu tertentu. Pada umumnya. 2. (10) inisiasi siswa/learner initiated. dan bergerombol. Selain itu. Pendekatan taktis permainan (tactical games approaches).latihan/practice. (5) inklusi/inclusion. Komunikasi verbal adalah komunikasi lisan melalui kontak pribadi. dan individu (individual). Pengajaran kelas menempatkan siswa dalam kelompok besar dan mereka mendapatkan informasi secara klasikal. LeBlanc dan Lovy (1994) pola organisasi digunakan untuk mengelompokkan siswa aktivitas jasmani agar metode yang diinginkan dapat dipergunakan. (8) penemuan beragam/divergent production. dan (11) pengajaran mandiri/self teaching.

2. saat menggunakan ruangan untuk kegiatan tertentu. poster dapat digunakan secara efektif dalam organisasi kelompok atau individu. (4) mengevaluasi kemajuan. Manajemen kelas yang efektif akan dapat terwujud dengan melaksanakan langkah-langkah sebagai berikut. bekerjasama. apa tanda yang dipakai untuk mengumpulkan perhatian siswa. MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI Guru perlu membedakan antara kegiatan pengajaran dan manajemen kelas. Bila direncanakan dengan baik. Memulai kegiatan tepat waktu Pemberian suatu tanda mulai segera dilakukan bila kegiatan sudah siap untuk dilaksanakan. dan penggunaan yang lainnya. Aba-aba untuk melaksanakan kegiatan jangan sampai membingungkan siswa.Bentuk komunikasi tertulis (written) dan visual merupakan jenis komunikasi yang efektif dan memberikan motivasi yang tinggi dalam proses pembelajaran. apa yang diharapkan saat siswa mendengarkan dan mengikuti perintah. Keterampilan manajemen kelas merupakan hal yang penting dalam pengajaran yang baik. Ketika siswa telaha belajar untuk mengatur diri lebih baik. Kertas tugas. Teknik manajemen kelas harus diupayakan agar tidak mengganggu aspek pembelajaran dalam pelajaran. (2) memberi pujian terhadap perilaku yang baik. Kegiatan pengajaran meliputi: (1) mendiagnosa kebutuhan kelas. Aturan perilaku tetap ini harus diketahui oleh siswa pada awal pertemuan. dan (3) mengembangkan hubungan guru dengan siswa. Kegiatan manajemen kelas terdiri dari (1) menciptakan dan memelihara kondisi kelas. guru akan lebih mudah berkonsentrasi untuk meningkatkan efektifitas pembelajaran. 1. Aturan kelas mencakup bagaimana pelajaran dimulai. Guru perlu memaksimalkan kesempatan 17 . (3) membuat pertanyaan. Pergantian antartopik harus dilakukan oleh guru secara cermat dan penuh kesadaran. Mengatur pelajaran Guru harus tetap menjaga kegiatan tetap berlangsung dan tidak terganggu oleh kegiatan yang tak terduga. jan gan memberikan perintah dengan tanda-tanda yang mirip untuk dua kegiatan yang berbeda. Menetapkan aturan kelas Salah satu bagian penting dalam manajemen kelas adalah penetapan aturan kelas. kartu tugas. Siswa adalah insane yang memiliki kebiasaan. (2) merencanakan dan mempresentasikan informasi. pembelajaran akan bergerak dengan cepat dan lancer dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Contohnya. F. Banyak waktu akan terbuang bila aturan ini tidak ditetapkan. 3. Praktik menajemen kelas yang baik yang dilaksanakan oleh guru akan menghasilkan perkembangan keterampilan-keterampilan manajemen diri siswa yang baik pula.

Guru perlu memaksimalkan penggunaan peralatan dan mengorganisasikan kelompok agar siswa sebanyak mungkin bergerak aktif sepanjang pelajaran. Namun secara sederhana mungkin dapat dikatakan bahwa kurikulum pada dasarnya merupakan perencanaan dan program jangka panjang tentang berbagai pengalaman belajar. kesegaran jasmani. gunakan pendekatan stasion/learning centers. Seperti halnya sistem tubuh manusia. dan sikap positif terhadap Pendidikan Jasmani sangat ditentukan oleh sebuah kurikulum yang baik. metode. semua bagian dari kurikulum harus terpadu dan bekerja terarah untuk membantu mengembangkan anak didiknya yang sedang belajar. Selain hal di atas. tujuan. Dengan pengelompokkan yang tepat siswa memiliki peluang melakukan aktivitas lebih banyak. Peralatan yang akan digunakan dalam pembelajaran harus dipersiapkan dengan baik. 4. KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI Peningkatan keterampilan gerak. siswa akan selalu mengingat kegiatan yang dilakukan.keikutsertaan setiap siswa dalam proses pembelajaran. sumber. Memanfaatkan ruang dan peralatan Guru perlu merencanakan penjagaan dan pemanfaatan peralatan dan ruang secara efisien. 6. G. siswa perlu dibiasakan untuk ikut bertanggungjawab terhadap peralatan yang dipergunakan dalam pembelajaran. materi. Dengan demikian. Pembuat kurikulum sudah selayaknya bertanya. model. Bila peralatan yang ada terbatas jumlahnya. 5. dan memperoleh pengalaman yang menyenangkan. Mengakhiri pelajaran Setiap pertemuan pelajaran di dalam maupun di luar kelas harus diakhiri tepat waktunya dan diupayakan memberikan kesan mendalam bagi siswa. dan modifikasi aktivitas. dan evaluasi termasuk pula ‘apa’ dan ‘mengapa’ diajarkan. setiap episode pelajaran akan menjadi lebih bermanfaat dan bermankna. Kurikulum itu sendiri nampaknya terlalu abstraks untuk didefinisikan secara tegas dan jelas sebab di dalam kurikulum tersebut termasuk segala sesuatu yang direncanakan dan diterapkan oleh para guru. baik secara implisit maupun eksplisit. apakah program yang ada dalam kurikulum itu sudah valid? Apakah kurikulum tersebut sudah dapat meraih tujuan yang akan dicapainya? Contoh 18 . bermain dengan jenjang kemampuan dan keterampilan yang seimbang. Mengelompokkan siswa Guru perlu mengelompokkan siswa agar pembelajaran berlangsung secara efektif. Dengan kesan yang baik. pengetahuan.

mengembangkan keterampilan motorik. Tujuan utama pembuatan program tersebut adalah menyediakan dan memberikan berbagai pengalaman gerak untuk membentuk fondasi gerak yang kokoh yang pada akhirnya diharapkan dapat mempengaruhi gaya hidupnya yang aktif dan sehat (active life style). Asumsi Dasar Program Pendidikan Jasmani Asumsi dasar pada dasarnya adalah pijakan yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan dalam menyelenggarakan sesuatu.pertanyaan yang lebih spesifik: apakah dengan kurikulum itu siswa lulusannya sudah mempunyai berbagai keterampilan gerak dasar dan siap untuk belajar keterampilan yang lebih bersifat spesifik dan kompleks pada jenjang berikutnya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah barang tentu sangat untuk sulit dijawab dengan tegas. Tiga asumsi dasar program Penddikan Jasmani meliputi: a. 1. Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengemukakan yang dimaksud dengan Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani. dan afektif setiap siswa. Olahraga mungkin akan merupakan salah satu bagian dari program Penddikan Jasmani. yang antara lain meliputi: asumsi dasar. pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif. dan keberhasilannya sehingga dengan demikian diharapkan kita dapat melihat berbagai isu dan alternatif pemecahannya. sikap sportif. 19 . pelaksanaan. Sebaliknya. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah. dan kecerdasan emosi. jasmani. Asumsi dasar program Penddikan Jasmani merupakan pijakan yang kokoh yang dapat dipertanggungjawabkan dalam membuat dan menyelenggarakan program penjas. pembuatan program Penddikan Jasmani ditujukan untuk setiap anak didik (dari mulai anak yang berbakat sampai anak yang yang sangat kurang keterampilannya. Program Penddikan Jasmani dan program olahraga mempunyai tujuan yang berbeda Pembuatan program olahraga terutama ditujukan untuk mereka yang betul-betul mempunyai keinginan atau tertarik untuk mengkhususkan diri pada salah satu atau beberapa cabang olahraga dan berkeinginan untuk memperbaiki kemampuannya agar dapat berkompetisi dengan orang yang lain yang mempunyai keinginan dan minat yang sama pula. akan tetapi bukan satu-satunya pilihan. namun demikian pertanyaan tersebut paling tidak akan membantu para guru dalam menentukan arah program yang dibuatnya. psikomotor. kognitif. dari mulai anak yang tertarik dan tidak tertarik sama sekali). Tulisan ini dimaksudkan untuk melihat gambaran arah program Pendidikan Jasmani pada jenjang pendidikan SD/MI dikaitkan dengan beberapa karakteristik yang melandasinya.

kebutuhan. Aktivitas fisik dan olahraga di masa yang akan datang mungkin sangat berbeda dengan aktivitas fisik dan olahraga yang ada dan popular pada masa sekarang. Para guru tidak cukup dengan memberikan program aktivitas jasmani atau olahraga untuk orang dewasa kepada anak-anak. maka program dan penyelenggaraan program Pendidikan Jasmani hendaknya mencerminkan anggapan dasar tersebut di atas. dalam berbagai aspek. Anak-anak membutuhkan program yang secara khusus dibuat sesuai dengan minat. Dengan kata lain program tersebut berusaha membantu siswa belajar bagaimana belajar (learning how to learn) dan membantu siswa menyenangi proses discovery dan eksplorasi tantangan-tantangan baru dan berbeda dalam domain fisik. Anak-anak yang kita ajar sekarang tidak untuk dewasa sekarang Para pendidik mempunyai tantangan yang cukup besar dalam mempersiapkan anak didik di masa yang akan datang. kemampuan. Oleh karena itu program yang ada sekarang selayaknya mempersiapkan anak didik dengan keterampilan-keterampilan gerak dasar yang sangat diperlukan untuk setiap aktivitas fisik.b. Demikian juga pengalaman latihan yang diperoleh para guru sewaktu kuliah belum tentu cocok diberikan kepada anak didiknya. perhatian. kebutuhan. Program Penddikan Jasmani yang ada sekarang berusaha memperkenalkan anak didik pada dunia yang ada sekarang dan juga sekaligus mempersiapkan anak didik untuk hidup dalam dunia yang belum pasti di masa yang akan datang. Dua pedoman yang seing digunakan untuk dapat 20 . minat. c. 2. yang belum bisa didefinisikan dan dimengerti secara jelas. dunia nanti mungkin akan sangat berbeda dengan dunia yang ada sekarang. dan kebutuhannya (Developmentally Appropriate Practice/DAP). Oleh karena itu. Atau paling tidak. yang pada akhirnya akan membantu siswa memperoleh kepuasan dan kesenangan dalam melakukan aktivitas fisiknya. Penguasaan berbagai keterampilan gerak dasar oleh para siswa akan mendorong perkembangan dan perbaikan berbagai keterampilan fisik yang lebih kompeks. baik yang sedang popular pada masa sekarang maupun aktivitas fisik yang mungkin akan ditemukan di masa yang akan datang. Karakteristik Program Pendidikan Jasmani Sehubungan dengan anggapan dasar tersebut di atas. dan perhatian orang dewasa. dan minat anak-anak berbeda dari kemampuan. Anak-anak bukanlah ‘miniature’ orang dewasa Kemampuan. sudah barang tentu kurang cocok apabila pembelajaran dikonotasikan seperti menuangkan air dari gelas yang satu ke gelas yang lainnya.

Instructionally appropriate practices (IAP) Maksudnya adalah tugas ajar yang diberikan diketahui merupakan cara-cara pembelajaran yang paling baik. berikut ini dipaparkan komponen-komponen kurikulum yang harus dilihat kesesuaiannya. Tugas ajar yang sesuai ini harus mampu mengakomodasi setiap perubahan dan perbedaan karakteristik setiap individu serta mendorongnya ke arah perubahan yang lebih baik. a. b. dan non lokomotor. NASPE (National Association for Sport and Physical Education. Untuk itu. lokomotor. Developmentally Appropriate Practices (DAP) Maksudnya adalah tugas ajar yang memperhatikan perubahan kemampuan anak dan tugas ajar yang dapat membantu mendorong perubahan tersebut. 21 . Menunjukkan kemampuan mengkombinasikan keterampilan manipulatif. Untuk keperluan itu banyak kriteria yang dapat digunakan. Untuk lebih jelasnya karakteristik seseorang yang terdidik jasmaninya tersebut adalah sebagai berikut: a. 1992) telah menentukan “Physically Educated Person” sebagai salah satu kriterianya. khususnya di Amerika. maka diperlukan suatu evaluasi. Menunjukkan kemampuan dalam aneka ragam keterampilan manipulatif. Cara pembelajaran tersebut merupakan hasil penelitian atau pengalaman yang memadai yang memungkinkan semua anak didik memperoleh kesempatan dan keberhasilan belajar secara optimal.mencerminkan anggapan dasar tersebut antara lain adalah “Developmentally Appropriate Practices” (DAP) dan “Instructionally Appropriate Practices” (IAP). Dengan demikian tugas ajar tersebut harus sesuai dengan tingkat perkembangan anak didik yang sedang belajar. locomotor dan non-locomotor baik yang dilakukan secara perorangan maupun dengan orang lain. Untuk memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang karakteristik pembelajaran penjas tersebut. Memiliki keterampilan-keterampilan yang penting untuk melakukan bermacam-macam kegiatan fisik antara lain: (1) (2) (3) Bergerak dengan menggunakan konsep-konsep kesadaran tubuh. kesadaran ruang. Keberhasilan Program Pendidikan Jasmani Untuk mengetahui apakah program pendekatan Pendidikan Jasmani yang kita gunakan tersebut cukup berhasil atau masih perlu disempurnakan. Kriteria ini menjabarkan keberhasilan program Pendidikan Jasmani ke dalam 20 karakteristik yang diklasifikasikan ke dalam lima katagori dan merupakan penjabaran dari pencapaian tujuan jangka pendek (short term) dan jangka panjang (long term) dari program Pendidikan Jasmani di sekolah-sekolah. 3. dan hubungannya. usaha.

Bugar secara fisik (1) (2) Menilai. 22 . dan perilaku yang harus dipenuhi pada aktivitas jasmani yang dipilih. dan kewajiban yang berkaitan dengan teraturnya partisipasi dalam aktivitas jasmani. meningkatkan. Berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani Berpartisipasi dalam program pembinaan kesehatan melalui aktivitas jasmani minimal 3 x per minggu. strategi. menyatakan diri pribadi. Memahami bahwa hakekat sehat tidak sekedar fisik yang bugar. dan berkomunikasi.(4) (5) (6) b. Menyadari akan faktor resiko dan keselamatan yang berkaitan dengan teraturnya jasmnai. Memiliki kemampuan tentang bagaimana caranya mempelajari keterampilan baru. Menunjukkan penguasaanpada beberapa bentuk aktivitas jasmani. Memahami bahwa aktivitas jasmani memberi peluang untuk mendapatkan kesenangan. Mengetahui akibat dan manfaat dari keterlibatan dalam aktivitas jasmani (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) Mengidentifikasi manfaat. partispasi dalam aktivitas 1) 2) d. Mengetahui aturan. dan mempertahankan kebugaran jasmaninya. Merancang program kesegaran jasmani sesuai dengan prinsip latihan tetapi tidak membahayakan. Mengetahui bahwa partisipasi dalam aktivitas jasmani dapat memperoleh dan meningkatkan pemahaman terhadap budaya majemuk dan budaya internasional. Menunjukkan kemampuan pada aneka ragam bentuk aktivitas jasmani. pengorbanan. c. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip pengembangan keterampilan gerak. Memilih dan secara teratur berpatisipasi dalam aktivitas jasmani pada kehidupan sehari-hariya.

permainan. Kurang menyadari bahwa olahraga merupakan media untuk mencapai tujuan pendidikan pada umumnya. c. secara teortis kita menyadari bahwa pembuatan dan pelaksanaan kurikulum Pendidikan Jasmani cenderung diarahkan dalam membantu anak didik untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan. Berpegang teguh bahwa penguasaan keterampilan olahraga merupakan tujuan utama dari Pendidikan Jasmani di SMA/MA. 1. Menikmati perasaan bahagia yang diperoleh dari partisipasi teratur dalam aktivitas jasmani. yaitu materi kurikulum dan distribusi alokasi waktunya. beladiri. Hormat terhadap peraturan yang terdapat dalam aktivitas jasmani sebagai cara untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan sepanjang hayat. 23 . b. Kenyataan ini sering menggiring para guru: a. Namun demikian harapan tersebut tidak selalu dapat dengan mudah terwujud dalam pelaksanaannya. Memaksakan diri mengajar olahraga yang untuk beberapa siswa mungkin belum saatnya karena persyaratan fisik dan koordinasinya belum memadai sehingga PBM kurang DAP. Walaupun tujuan Pendidikan Jasmani di SMA/MA sangat sesuai dengan tujuan pendidikan pada umumnya. dan olahraga tradisional. Materi kurikulum SMA/MA pada dasarnya merupakan berbagai gerak dasar. senam. namun seringkali para guru terlena oleh materi kurikulumnya. Beberapa isu yang muncul dalam kurikulum Pendidikan Jasmani SMA/MA dapat kita telusuri berdasarkan beberapa sudut pandang sebagai berikut. yang antara lain dapat diklasifikasikan ke dalam cabang olahraga atletik. ISU KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI Berdasarkan uraian di atas. Menghargai aktivitas jasmani dan kontribusinya terhadap gaya hidup yang sehat (1) (2) (3) Menghargai hubungan dengan orang lain yang diperoleh dari partisipasi dalam aktivitas jasmani. d. H.e. Kurang memperhatikan tujuan yang bersifat afeksi seperti kesenangan dan keceriaan. Isu Program Isu program kurikulum SMA/MA dapat kita amati antara lain dari dua sisi.

d. e. cenderung kurang dipahami oleh para pengajar dan kurang tercermin dalam pembelajaran. Siswa berpartisipasi pada permainan dan aktivitas yang jumlahnya relatif terbatas. Program aktivitas untuk pengembangan kebugaran jasmani menuntut frekuensi 3 x dalam seminggu. terdiri dari sejumlah permainan olahraga untuk orang dewasa. Sementara itu perkembangan kesegaran jasmani siswa seringkali merupakan tujuan yang paling diharapkan tercapai dalam pendidikan jasmani. Siswa diharuskan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas penjas. perhatian. Demikian juga kesempatan dan waktu aktif belajar untuk mengembangkan konsep dasar dan keterampilan gerakpun terbatas. Untuk itu program kesegaran jasmani yang realistik untuk situasi seperti ini perlu dipertimbangkan. aktivitas belajar cenderung kurang didasarkan pada karakteristik anak didiknya. Peranan unik dari Pendidikan Jasmani. Siswa kurang mendapat kesempatan untuk mengintegrasikan aktivitas Pendidikan Jasmani dengan pengalamanpengalaman pendidikan pada bidang bidang lainnya. misal. c. Kurang memperhatikan aspek gerak dasar siswa yang bermanfaat bagi keterlibatannya dalam berbagai aktivitas seharihari untuk mengisi waktu luang dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas fisik di sekolah maupun di masyarakat dan pembentukan gaya hidup yang sehat. 2. kemungkinan besar tujuan yang berhubungan dengan pengembangan kesegaran jasmani tidak bisa tercapai. Pengembangan dan variasi aktivitas belajar yang diberikan cenderung miskin dalam hal pengembangan tujuan secara holistic dan cenderung didasarkan terutama pada minat. Dengan kata lain. yaitu belajar gerak dan belajar sambil bergerak. Hasil penelitian Lutan dkk. Aktivitas Pendidikan Jasmani yang diperoleh siswa cenderung terbatas. Isu Proses Pembelajaran Beberapa isu yang berhubungan dengan proses belajar mengajar dan perlu mendapat perhatian para pelaksana di lapangan antara lain adalah sebagai berikut: a. dan latar belakang gurunya. Apabila dilihat dari distribusi alokasi waktunya yang hanya satu kali dalam satu minggu dengan lama 2 x 45 menit. namun aktivitas tersebut kurang membantu siswa memahami dampaknya bagi peningkatan kebugaran jasmani dan gaya hidup sehatnya di masa yang akan datang. b. (1992) mengungkapkan bahwa aktif belajar siswa SMA berkisar 1/3 dari seluruh alokasi Penjas. kesenangan. 24 .e.

f. frustrasi. j. Siswa disuruh untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang terlalu mudah atau terlalu sukar yang dapat menyebabkan mereka bosan. Evaluasi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan (integral) dari suatu proses belajar mengajar. Guru cenderung masih kurang memperhatikan kesempatan pemberian bantuan kepada siswa agar mengerti emosiemosi yang dirasakannya pada waktu melakukan aktivitas Pendidikan Jasmani. h. i. . Isu Penilaian 3. Guru kurang mengembangkan aspek afektif karena kurang melibatkan aktivitas yang dapat mengembangkan keterampilan sosial. Namun apabila hal itu tidak dilakukan dengan teliti. nampaknya belum merupakan bagian yang menyatu dalam sebuah proses belajar mengajar. Kecenderungan untuk mengambil materi evaluasi dari bang-bang soal dari luar sekolah atau dari soal sebelumnnya tanpa terlebih dahulu direvisi atau disesuaikan dengan materi belajar yang sudah diberikan. bisa jadi akan melemahkan validitas dan reliabilitas soalnya. Untuk itu seringkali guru memberikan evaluasi harian yang sifatnya formalitas saja. memilih team. Guru merasa dikejar-kejar oleh bahan yang harus tuntas pada pertemuan itu tanpa memperhatikan apakah siswa sudah saatnya menerima materi berikutnya atau belum. Materi evaluasi terkadang kurang kurang relevan dengan materi yang diberikan pada proses belajar mengajar. mengajar empat kelas sekaligus. asal menyampaikan tanpa dijadikan umpan balik untuk perbaikan proses berikutnya. dan kesenangan siswa terhadap Pendidikan Jasmani. Proporsi jumlah waktu aktif belajar sangat terbatas sebab siswa harus menunggu giliran. atau karena permainan gugur yang pada umumnya siswa yang lamban yang gugur. Pengecekan terhadap pemahaman siswa dan pemberian umpan balik yang memadai dalam rangka meningkatkan penguasaan materi oleh siswa sebagai salah satu bentuk evaluasi. k. Pelaksanaan penilaian belum begitu nampak terintegrasi dalam sebuah proses belajar mengajar. memang merupakan cara yang cepat. Beberapa isu yang seringkali muncul daam pelaksanaan evaluasi antara lain adalah sebagai berikut: a. atau melakukannya dengan salah. Evaluasi berfungsi sebagai salah satu cara untuk memantau perkembangan belajar dan mengetahui seberapa jauh tujuan pengajaran dapat dicapai oleh siswa. terbatasnya peralatan. Siswa disuruh mengikuti pelajaran lain karena alasan-alasan lain atau sebagai hukuman atas perbuatannya dalam pelajaran Pendidikan Jasmani. g. misal. kerjasama. Jumlah siswa dalam pelajaran penjas lebih dari jumlah siswa dalam kelas yang sebenarnya. Suatu soal yang valid pada kelompok siswa sekolah tertentu belum tentu valid untuk sekolah tempat kita 25 b.

dalam tes penampilan di lapangan. fokus pembelajaran. bahkan ditambah dengan siswa dari kelas paralel. Dalam situasi ujian tes tulis di kelas.4 km (tes aerobik) diperlukan satu pertemuan bahkan kadang lebih. hasil tes mungkin hanya diketahui oleh yang dites dan gurunya. Keadaan ini sedapat mungkin dihindari oleh para guru Penjas sehingga dapat memelihara kondisi perasaan siswa agar tetap positif. Alokasi waktu pelajaran Penjas di sekolah amat terbatas untuk mengadakan pengetesan. khususnya yang berkaitan dengan olahraga misalnya lapangan. selama 2 x 45 menit dalam setiap semester (kurang lebih enam bulan) dengan pertemuan sebanyak 12 kali. Pertanyaan yang perlu dijawab adalah bagaimana mengurangi masalah tersebut di atas? d. Sementara itu. Untuk melakukan satu butir tes kesegaran jasmani saja. e. jumlahnya tidak proporsional dengan jumlah siswa. Isu Jumlah dan Karakteristik Siswa Guru penjas di SMA/MA sering dihadapkan dengan masalah jumlah siswa yang cukup banyak mulai dari Kelas X sampai Kelas XII. Isu Sarana dan Prasarana Pembelajaran Penjas Kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran penjas merupakan salah satu isu yang cukup merata dan sangat terasa oleh para pelaksana penjas di lapangan. missal tes lari 2. dsb. khususnya di daerah perkotaan tidak memiliki tempat atau lahan untuk melakukan aktivitas jasmani. 26 . Alokasi waktu pelajaran Penjas rata-rata satu kali perminggu. Tingkat keterampilan siswa. Walaupun ada. menyisihkan waktu dan mengeluarkan tenaga yang lebih banyak. seringkali ditambah dengan kualitasnya yang kurang memenuhi tuntutan pembelajaran. Semua siswa tahu siapa yang larinya paling lambat. c.mengajar. Masalah lain adalah evaluasi seolah-olah hanya dapat dilakukan oleh ahli statistik. Pada umumnya sekolah-sekolah di Indonesia pada setiap jenjang pendidikannya selalu dihadapkan dengan permasalahan kekurangan sarana dan prasarana ini. Guru Penjasorkes harus menangani siswa sebanyak 400 sampai 500 perminggunya. Situasi pelaksanaan evaluasi. hasil tes diketahui oleh semua orang. 5. sebab statistik diperlukan untuk pengolahan data. dan konsentrasi penuh pada evaluasi. siapa yang skor shootingnya paling rendah. dan relevansi materi evaluasi seringkali merupakan aspek pokok validitas instrumen. Pengetesan sering menggunakan waktu yang cukup lama. 4. Tidak sedikit sekolah di Indonesia. Lebih rumit lagi karena yang dipelajari adalah sesuai dengan kemampuan fisik dan perkembangan mental yang berbeda-beda. Bila demikian guru harus bekerja ekstra keras.

Idealnya sarana dan prasarana ini harus lengkap. Mengetahui akibat dan manfaat dari keterlibatandalam aktivitas jasmani. Modifikasi ini sangat penting untuk melayani berbagai kebutuhan tingkat perkembangan belajar anak didik di sekolah bersangkutan yang terkadang sangat beragam karakteristik kemampuannya.Sarana dan prasarana ini meliputi alat-alat. d. dan lahan untuk melakukan berbagai aktivitas Pendidikan Jasmani. 1. Untuk itu kita dapat bercermin pada karakteristik lulusan Pendidikan Jasmani yang dijadikan patokan di beberapa negara maju. tetapi juga meliputi sarana dan prasarana yang sifatnya modifikasi dari berbagai ukuran dan berat ringannya. PENGEMBANGAN SILABUS DAN RPP Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator ketercapaian kompetensi. silabus pada dasarnya menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut : a. kompetensi dasar dan materi pokok. Isu Keberhasilan Kurikulum Penjas Keberhasilan kurikulum Pendidikan Jasmani pada setiap jenjang pendidikan sampai saat ini masih dirasakan samar. termasuk olahraga. 27 Pengertian Silabus . I. Ukuran yang digunakan oleh setiap orang dalam menafsirkan keberhasilan program masih bersifat samara dan cenderung bersifat lokal belum menyeluruh sebagaimana tercantum dalam tujuannya. b. Dengan demikian. dan penilaian. c.Kompetensi apa yang harus dicapai siswa yang dirumuskan dalam standar kompetensi. ruangan. Memiliki keterampilan-keterampilan yang penting untuk melakukan bermacam-macam kegiatan fisik. Bugar secara fisik. Menghargai aktivitas jasmani dan kontribusinya terhadap gaya hidup yang sehat. e. pengalaman belajar. tidak hanya yang bersifat standar dengan kualitas yang standar pula. materi pokok. Namun demikian salah satu indikator yang mungkin dapat kita telusuri adalah karakteristik para lulusannya. misalnya seperti yang dikemukakan oleh NASPE (National Association for Sport and Physical Education. 1992) yang intinya adalah sebagai berikut: a. Berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani. 6.

Bagaimana cara mencapainya. Kelompok Kerja Guru (MGMP) Sekolah yang belum mampu mengembangkan silabus secara mandiri.b. Di sisi lain guru lebih mengenal karakteristik siswa dan kondisi sekolah serta lingkungannya. Dalam pengembangan silabus ini sekolah. yang dijabarkan dalam pengalaman belajar serta alokasi waktu dan sumber belajar yang diperlukan. Dinas Pendidikan Dinas Pendidikan setempat dapat memfasilitasi penyusunan silabus dengan membentuk sebuah tim yang terdiri dari para guru berpengalaman di bidangnya masing-masing. atau unit utama terkait yang ada di Departemen Pendidikan Nasional. a. Bagaimana mengetahui ketercapaian kompetensi berdasarkan indikator sebagai acuan dalam menentukan jenis dan aspek yang akan dinilai. c. dan Dinas Pendidikan. Kelompok Guru Apabila guru kelas atau guru mata pelajaran karena sesuatu hal belum dapat melaksanakan pengembangan silabus secara mandiri. b. seorang guru diharapkan mampu mengembangkan silabus sesuai dengan kompentensi mengajarnya secara mandiri. sebaiknya bergabung dengan sekolah lain melalui forum MGMP untuk bersama-sama mengembangkan silabus yang akan digunakan oleh sekolah-sekolah dalam lingkup MGMP setempat. kelompok kerja guru. 2. kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pada atau Pusat Kegiatan Guru (PKG). maka pihak sekolah dapat mengusahakan untuk membentuk kelompok guru kelas atau guru mata pelajaran untuk mengembangkan silabus yang akan dipergunakan oleh sekolah tersebut c. 28 . Guru Sebagai tenaga professional yang memiliki tangung jawab langsung terhadap kemajuan belajar siswa. atau dinas pendidikan dapat meminta bimbingan teknis dari perguruan tinggi. LPMP. Pengembangan Silabus Pengembangan silabus dapat dilakukan oleh para guru secara mandiri atau berkelompok dalam sebuah sekolah atau beberapa sekolah. d.

d. h. Aktual dan Kontekstual Cakupan indikator. psikomotor) 29 menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat . dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata. Kedalaman. Menyeluruh Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi ( kognitif. tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik. pengalaman belajar. teknologi. dan peristiwa yang terjadi. materi ajar ditentukan berdasarkan dan atau memperhatikan kultur daerah masing-masing. b. Fleksibel Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasi variasi peserta didik. Ilmiah Keseluruhan materi dan kegiatan yang dipertangungjawabkan secara keilmuan. dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapain kompetensi dasar f. g. emosional. Memadai Cakupan indikator. materi pokok. e. materi pokok. dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu. dan spiritual peserta didik. Prinsip Pengembangan Silabus a. Hal ini dimaksudkan agar kehidupan peserta didik tidak tercerabut dari lingkungannya. pengalaman belajar. pengalaman belajar. pendidikan. dan sistem penilaian. Sementara itu. taat asas) antara kompetensi dasar.3. sumber belajar. sosial. c. sumber belajar. indikator. Relevan Cakupan. serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat. Konsisten Ada hubungan yang konsisten (ajeg. materi pokok. afektif. Sistematis Komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi. intelektual.

ahli mata pelajaran.i. Desentralistik Pengembangan silabus ini bersifat desentralistik. kepala sekolah. Penilaian Silabus Penilaian pelaksanaan silabus perlu dilakukan secara berkala dengan mengunakaan model-model penilaian kurikulum. 30 . Perencanaan Tim yang ditugaskaan untuk menyusun silabus terlebih dahulu perlu mengumpulkan informasi dan mempersiapkan kepustakan atau referensi yang sesuai untuk mengembangkan silabus. Apabila telah memenuhi kriteria dengan cukup baik dpat segera disampaikan kepada Kepala Dinas Pendidikan dan komunitas sekolah lainnya. Pencarian informasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan perangkat teknologi dan informasi seperti multi media dan internet. perwakilan orang tua siswa. atau bahkan sekolah masing-masing. Pelaksanaan Dalam melaksanakan penyusunan silabus perlu memahami semua perangkat yang berhubungan dengan penyusunan silabus. seperti Standar Isi yang berhubungan dengan mata pelajaran yang bersangkutan dan Standar Kompetensi Lulusan serta Kurikulum Tingkat satuan Pendidikan. pengawas. 4. ahli penilaian. guru/instruktur. d. staf profesional dinas pendidikan. dan siswa itu sendiri. ahli didaktik-metodik. c. Perbaikan Buram silabus perlu dikaji ulang sebelum digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Pengkajian dapat terdiri atas para spesialis kurikulum. Pemantapan Masukan dari pengkajian ulang dapat dijadikan bahan pertimbangan untuk memperbaiki buram awal. b. e. Maksudnya bahwa kewenangan pengembangan silabus bergantung pada daerah masing-masing. Tahap-tahap Pengembangan Silabus a. psikolog.

Langkah-langkah Pengembangan Silabus a. seperti nama sekolah. mata pelajaran. dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap tingkat dan atau semester untuk mata pelajaran tertentu. kelas/jurusan. 31 .5. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antar mata pelajaran. b. penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal berikut : (1) (2) (3) (4) urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. Penilaian h. Kompetensi Dasar d. Identitas silabus ditulis di atas matriks silabus. Kegiatan Belajar Mengajar f. Alokasi Waktu i. dan semester. Sebelum menentukan atau memilih Standar Kompetensi. Sumber Belajar 6. Menentukan Standar Kompentensi Standar Kompetensi adalah kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan sikap. Indikator g. Standar Kompentensi c. Standar Kompetensi yang dipilih atau digunakan sesuai dengan yang terdapat dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar Mata Pelajaran. Materi Pokok/Pembelajaran e. pengetahuan. Mengisi Identitas Identitas adalah sesuatu yang akan diuraikan atau penanda silabus. Komponen-komponen Silabus Silabus memuat sekurang-kurangnya komponen-komponen berikut ini : a. keterkaitan antar standar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran. menuliskan Standar Kompetensi di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Identitas Silabus b.

Tingkat kepentingan (Significance): materi yang diajarkan memang benar-benar diperlukan oleh siswa. intelektual. Kebermanfaatan (utility) : materi tersebut memberikan dasar-dasar pengetahuan dan keterampilan pada jenjang berikutnya. penyusun terlebih dahulu mengkaji standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : (1) (2) (3) urutan berdasarkan hierarki konsep disiplin ilmu dan/atau tingkat kesulitan materi. 32 . dan spiritual peserta didik Kebermanfaatan bagi peserta didik Struktur keilmuan Kedalaman dan keluasan materi Relevansi dengan kebutuhan peseta didik dan tuntutan lingkungan Alokasi waktu Selain itu juga harus diperhatikan: (1) (2) (3) Kesahihan (validity): materi memang benar-benar teruji kebenaran dan kesahihannya. emosional.c. sosial. Sebelum menentukan atau memilih Kompetensi Dasar. Menentukan Kompentensi Dasar Kompetensi Dasar merupakan sejumlah kemampuan yang harus dimiliki peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan untuk menyusun indikator kompetensi. Kompetensi dasar yang digunakan atau dipilih sesuai dengan yang tercantum dalam Standar Kompetensi dan Kompetesi Dasar Mata Pelajaran. d. keterkaitan antarstandar kompetensi dan kompetensi dasar dalam mata pelajaran . Mengidentifikasi Materi Pokok Dalam mengidentifikasi materi pokok harus dipertimbangkan: (1) (2) (3) (4) (5) (6) Tingkat perkembangan fisik. keterkaitan standar kompetensi dan kompetensi dasar antarmata pelajaran.

Perumusan pengalaman belajar harus jelas materi/konten yang ingin dikuasai siswa. Menuliskan materi pokok yang sudah teridentifikasi di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. khususnya guru.(4) (5) (6) e. dekat ke jauh) dan juga memerlukan urutan pembelajaran yang berstruktur. agar mereka dapat bekerja dan melaksanakan proses pembelajaran secara propesional sesuai dengan tuntutan kurikulum. Pengalaman belajar berpusat pada siswa (student centered). konkret ke abstrak. Guru harus selalu berfikir kegiatan apa yang bisa dilakukan agar siswa memiliki kompetensi yang telah di tetapkan. Pengalaman belajar memuat rangkaian kegiatan yan harus dilakukan oleh siswa secara berurutan untuk mencapai kompetensi dasar. sikap dan keterampilan. Menarik minat (interest) : materinya menarik minat siswa dan memotivasinya untuk mempelajari lebih lanjut. Rumusan pernyataan dalam pengalaman belajar minimal mengandung dua unsur penciri yang mencerminkan pengelolaan pengalaman belajar siswa. Layak dipelajari (learnability): materi layak dipelajari baik dari aspek tingkat kesulitan maupun aspek pemanfaatan bahan ajar dan kondisi setempat. yaitu kegiatan siswa dan materi. Mengembangkan Pengalaman Belajar Pengalaman belajar adalah kegiatan fisik maupun mental yang dilakukan siswa dalam berinteraksi dengan bahan ajar. Pengalaman belajar disusun berdasarkan atas satu tuntutan kompetensi dasar secara utuh. Kriteria mengembangkan pengalaman belajar sebagai berikut : (1) Pengalaman belajar disusun bertujuan untuk memberikan bantuan kepada para pendidik. Materi (content) pengalaman belajar dapat berupa pengetahuan. (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) 33 . Penentuan urutan langkah pembelajaran sangat penting artinya bagi materi-materi yang memerlukan prasyarat tertentu. Pendekatan pembelajaran yang di gunakan bersifat spiral (mudah ke sukar.

(6) f. Memperhatikan pelayanan terhadap perbedaan individual siswa seperti: bakat. berpasangan. Merumuskan Indikator Indikator merupakan penjabaran dari kompetensi dasar yang nenunjuk tanda-tanda. (9) Tidak boleh mengandung pengertian ganda (ambigu). (10) Menuliskan indikator yang sudah ditentukan ke dalam kolom matriks silabus yang sudah tersedia. Mencerminkan ciri khas dalam pegembangan kemapuan mata pelajaran. mengolah dan menemukan sendiri pengetahuan. potensi daerah dan peserta didik dan dirumuskan dalam kata kerja operasioanl yang terukur dan atau dapat diobservasi. perbuatan dan atau respon yang dilakukan atau ditampilkan oleh peserta didik. di bawah bimbingan guru. (3) Memperhatikan aspek manfaat dalam kehidupan sehari-hari (Life Skills). afektif dan psikomotor). (5) Memperhatikan sumber-sumber belajar yang relevan. latar belakang keluarga. (6) Dapat diukur / dapat dikuantifikasi. (2) Berkaitan dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar. sosial-ekomomi dan budaya serta masalah khusus yang dihadapi siswa yang bersangkutan. (8) Berisi kata kerja operasional. Indikator digunakan sebagai dasar dalam menyusun alat penilaian. Kriteria indikator sebagai berikut. kelompok dan klasikal. kemampuan. sumber belajar dan sarana yang tersedia Bervariasi dengan mengkombinasikan kegiatan individu/perorangan. minat. Disesuaikan dengan kemampuan siswa. (7) Memperhatikan ketercapaian standar lulusan secara nasional. (4) Harus dapat menunjukan pencapaian hasil belajar siswa secara utuh (kognitif.Dalam memilih kegiatan siswa mempertimbangkan hal sebagai berikut: (1) (2) (3) (4) (5) Memberikan peluang bagi siswa untuk mencari. (1) Sesuai tingkat perkembangan berfikir siswa. Indikator dirumuskan sesuai dengan karakteristik satuan pendidikan. Mencantumkan pengalaman belajar siswa yang diskenariokan guru di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. 34 .

tongkat. Menetukan Alokasi waktu Alokasi waktu adalah waktu yang dibutuhkan untuk ketercapaian satu Kompetensi dasar. simpai. i. referensi atau literatur yang digunakan dalam menyusun silabus atau pembelajaran. pita. Penentuan Penilaian Di dalam kegiatan penilaian ini terdapat tiga komponen penting. dan (c) contoh instrumen. (b) bentuk instrumen. ruang senam. Jumlah waktu yang diperlukan untuk ketercapaian suatu Standar Kompetensi adan atau Kompetensi dasar dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. misalnya: bola.g. dengan memperhatikan: (1) (2) (3) (4) Minggu efektif per semester Alokasi waktu mata pelajaran Jumlah kompetensi per semester. h. boks senam. matras. kolam (3) Alat Alat adalah segala sesuatu yang digunakan pembelajaran yang sifatnya mudah dipindahkan. 35 . satelkok. (2) Fasilitas Fasilitas adalah sesuatu yang diperlukan dalam proses pembelajaran yang sifatnya menetap seperti: lapangan. net. yang meliputi: (a) teknik penilaian. Sumber /fasilitas/alat ini dicantumkan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Menetukan Sumber /Fasilitas/Alat (1) Sumber Merupakan rujukan.

(2) Penilaian diarahkan untuk mengukur pencapaian indikator. (3) Penilaian menggunakan acuan kriteria.7. (4) Sistem yang direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan. Ada beberapa teknik yang dapat dilakukan dalam rangka penilaian ini. kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum. berupa program remedi. Apabila siswa belum menguasai suatu kompetensi dasar. guru harus membuat kisi-kisi penilaian dan rancangan penilaian secara menyeluruh untuk satu semester dengan menggunakan teknik penilaian yang tepat. Metode Penilaian Teknik Penilaian Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh. sedangkan teknik nontes adalah suatu cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban betul atau salah. (7) Dalam sistem penilaian berkelanjutan. serta untuk mengetahui kesulitan siswa. a. menganalisis dan menafsirkan proses dan hasil belajar siswa yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. (5) Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan. Untuk melaksanakan teknik penilaian diperlukan adanya berbagai kriteria berikut ini. ia diberi tugas pengayaan. ia harus mengikuti proses pembelajaran lagi. Berkelanjutan dalam arti semua indikator ditagih. 36 . yaitu berdasarkan apa yang bisa dilakukan siswa setelah siswa mengikuti proses pembelajaran. yang secara garis besar dapat dikategorikan sebagai teknik tes dan teknik nontes. dan bukan untuk menentukan posisi seseorang terhadap kelompoknya. Adapun yang dimaksud dengan teknik penilaian adalah cara-cara yang ditenmpuh untuk memperoleh informasi mengenai proses dan produk yang dihasilkan pembelajaran yang dilakukan oleh peserta didik. (1) Penulisan jenis penilaian harus disertai dengan aspek-aspek yang akan dinilai sehingga memudahkan dalam pembuatan soal-soalnya. Teknik tes merupakan cara untuk memperoleh informasi melalui pertanyaan yang memerlukan jawaban betul atau salah. (6) Siswa yang telah menguasai semua atau hampir semua kompetensi dasar dapat diberi tugas untuk mempelajari kompetensi dasar berikutnya. sedang bila telah menguasai kompetensi dasar.

Penentuan dan pencantuman bentuk instrumen ini dapat diperhatikan jenis tes apa yang akan digunakan. baik sebagai efek langsung (main effect) maupun efek pengiring (nurturant effect) dari proses pembelajarn. maupun produk/hasil melakukan observasi lapangan yang berupa informasi yang dibutuhkan. Bentuk Penilaian Bentuk instrumen yang dapat dikembangkan dapat meliputi instrumen-instrumen yang erat terkait dengan jenis tes. dapat berbentuk: esai/uraian. (9) Penilaian merupakan suatu proses pengumpulan pelajaran dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsip berkelanjutan. Kompetensi dasar dan indikator dengan demikian hasil akan memberikan gambaran mengenai perkembangan pencapaian kompetensi. isian. Oleh karena itu. (10) Penilaian merupakan proses identifikasi pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta kemajuan hasil belajar siswa. jika pembelajaran menggunakan pendekatan tugas observasi lapangan maka evaluasi harus diberikan baik pada proses (keterampilan proses) misalnya teknik wawancara. Penilaian berorientasi pada Standar Kompetensi. afektif dan psikomotorik dengan menggunakan berbagai model penilaian. menjodohkan. akurat dan konsisten sebagai akuntabilitas publik. Misalnya. dapat berupa: lembar observasi. kuesioner. bentuk instrumen dapat dibedakan menjadi: 1) Instrumen Tes. (11) (12) (13) b. objektif. penugasan. Penilaian dilakukan secara berkelanjutan ( direncanakan dan dilakukan terus menerus) guna mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan penguasaan kompetensi oleh siswa. 37 . selanjutnya instrumen tes itu dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. Sistem penilaian harus disesuaikan dengan pengalaman belajar yang ditempuh dalam proses pembelajaran. Sesudah penentuan instrumen tes telah dipandang tepat. unjuk kerja 2) Instrumen Nontes.(8) Penilaian dilakukan untuk menyeimbangkan berbagai aspek pembelajaran: kognitif. bukti-bukti otentik. formal dan tidak formal secara berkesinambungan.

selanjutnya bentuk instrumen penilaian diletakkan di dalam lampiran. selanjutnya diberikan contoh yang dapat dituliskan di dalam kolom matriks silabus yang tersedia. silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. dievaluasi dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru. 8. Berikut ini contoh format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran beserta penjelasannya. dilaksanakan. Dalam pelaksanaan pembelajaran. Namun. Contoh Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terlampir Mencantumkan identitas • • • • • • • Nama sekolah Mata Pelajaran Kelas/Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator Alokasi Waktu 38 . apabila dipandang hal itu menyulitkan karena kolom yang tersedia tidak mencukupi. Silabus harus dikaji dan dikembangkan secara berkelanjutan dengan memperhatikan masukan hasil evaluasi belajar. evaluasi proses (pelaksanaan pembelajaran) dan evaluasi rencana pembelajaran. Contoh Penilaian Instrumen yang sudah tersusun.c. selanjutnya keseluruhan komponen yang semestinya terdapat di dalam suatu silabus mata pelajaran dapat dilihat di bawah ini. Pengembangan Silabus Berkelanjutan Dalam implementasinya. Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas. silabus harus dijabarkan lebih operasional dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

yang dinyatakan dalam jam pelajaran dan banyaknya pertemuan. Kompetensi Dasar. Mencantumkan Langkah-langkah Kegiatan Untuk mencapai suatu kompetensi dasar harus dicantumkan langkah-langkah kegiatan setiap pertemuan.Catatan: o o o RPP disusun untuk satu Kompetensi Dasar. tetapi dapat pula diartikan sebagai model atau pendekatan pembelajaran. Standar Kompetensi. Mencantumkan Materi Pembelajaran Materi ajar adalah materi yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. kegiatan inti. langkah-langkah kegiatan memuat unsur kegiatan pendahuluan/pembuka. dan Indikator dikutip dari silabus. 39 . dan kegiatan penutup. Pada dasarnya. dan kegiatan penutup tidak harus ada dalam setiap pertemuan. menggunakan urutan sintaks sesuai dengan modelnya. Tujuan pembelajaran dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang operasional dari kompetensi dasar. Akan tetapi. rumusan tersebutlah yang dijadikan dasar dalam merumuskan tujuan pembelajaran. sesuai dengan karakteristik model yang dipilih. waktu untuk mencapai suatu kompetensi dasar dapat diperhitungkan dalam satu atau beberapa kali pertemuan bergantung pada karakteristik kompetensi dasarnya. Apabila rumusan kompetensi dasar sudah operasional. Alokasi waktu diperhitungkan untuk pencapaian satu kompetensi dasar yang bersangkutan. kegiatan pendahuluan/pembuka. bergantung pada karakteristik pendekatan dan/atau strategi yang dipilih. Mencantumkan Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran berisi penguasaan kompetensi yang operasional yang ditargetkan/dicapai dalam rencana pelaksanaan pembelajaran. Tujuan pembelajaran dapat terdiri atas sebuah tujuan atau beberapa tujuan. dimungkinkan dalam seluruh rangkaian kegiatan. Oleh karena itu. Materi ajar dikembangkan dengan mengacu pada materi pokok yang ada dalam silabus. Mencantumkan Metode Metode dapat diartikan benar-benar sebagai metode. Oleh karena itu. kegiatan inti.

dan tugas rumah yang berupa proyek harus disertai rubrik penilaian. MUHAJIR. 24 Desember 2007 Drs. Mencantumkan Penilaian Penilaian dijabarkan atas teknik penilaian. pengarang. dan halaman yang diacu.Mencantumkan Sumber Belajar Pemilihan alat dan sumber belajar mengacu pada perumusan yang ada dalam silabus dan dituliskan secara lebih operasional. Apabila penilaian menggunakan teknik tes tertulis uraian. tes unjuk kerja. bentuk instrumen.Ed Penyusun 40 . Misalnya. M. Bandung. sumber belajar dalam silabus dituliskan buku teks. dan instrumen yang dipakai untuk mengumpulkan data. dalam RPP harus dicantumkan judul buku teks tersebut.

3. 4. 7. Dst Keterangan : NR = Nilai Rata-rata Kompetensi Dasar untuk setiap aspek penilaian yang akan dimasukkan pada raport 41 . 6. 8. Ritmik Akuatik/PL K K K K K N K K K K N K K K K N K K K K N K K K K N K K K K N D D D D R D D D D R D D D D R D D D D R D D D D R D D D D R 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. 9. 10. 5.CONTOH FORMAT REKAPITULASI NILAI SEKOLAH MATA PELAJARAN KELAS/SEMESTER TAHUN PELAJARAN : SMA DARUL HIKAM BANDUNG : PENDIDIKAN JASMANI. OLAHRAGA DAN KESEHATAN :X/1 : 2008/2009 Permainan & OR Akt. & Kesehatan Uji Diri/Senam Akt. 2. Pengembang an No Nama Peserta Didik Keb.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful