P. 1
makalah ok!

makalah ok!

|Views: 490|Likes:
Published by maulana_arifin_3

More info:

Published by: maulana_arifin_3 on Dec 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/29/2012

pdf

text

original

Pengantar Agama Islam II

Hukum Islam
Maulana arifin (1215086053 ) Esya wahyunie (1215086061) Sri astuti I (1215086065) Suhaibatul islamiah (1215086045)

Pengantar Agama Islam II

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat, Taufik dan Inayah kepada semua hambaNya. Salawat dan salam selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan kerabat beliau hingga akhir jaman. Alhamdulillah karena berkat Rahmat Allah-lah kami dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berkaitan dengan “Hukum Islam” sebagai tugas berstrutur mata kuliah Pengantar Agama Islam II. Selama penyusunan makalah ini kami selaku penulis telah banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak Ucapan terima kasih tak lupa kami persembahkan kepada semua pihak yang telah ikut andil dan terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam membantu penulisan makalah ini, yang mana tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Penulis menyadari adanya kekurangan dan kesalahan dalam makalah ini, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.Akhirnya kami hanya berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menambah wawasan bagi kita semua, khususnya di bidang Studi Islam.
Jakarta, 19 september, 2010

Penulis
Page 2

Pengantar Agama Islam II

Daftar isi

Kata pengantar Daftar isi BAB I PENDAHULUAN Latar belakang BAB II PEMBAHASAN
Agama islam dan aspek yang terkandung di dalam nya pengertian agama islam arti kata islam aspek ajaran islam hukum islam syari’ah dan fiqih 5

2 3

4

5

6 7 8 9

BAB III

LAPANGAN HUKUM ISLAM
Pembagian lapangan hukum islam Lapangan ibadah & muamalah 17 19

BAB I
Page 3

Pengantar Agama Islam II

PENDAHULUAN
Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia, tentu sangat berpengaruh terhadap pola hidup bangsa Indonesia. Perilaku pemeluknya tidak lepas dari syari'at yang dikandung agamanya. Melaksanakan syari'at agama yang berupa hukum-hukum menjadi salah satu parameter ketaatan seseorang dalam menjalankan agamanya. Kata hukum yang dikenal dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab hukm yang berarti putusan (judgement) atau ketetapan (Provision). Dalam buku Ensiklopedi Hukum Islam, hukum berarti menetapkan sesuatu atas sesuatu atau meniadakannya. Sementara dalam A Dictionary of Law dijelaskan tentang pengertian hukum sebagai berikut

"Law is "the enforceable body of rules that govern any society or one of the rules making up the body of law, such as Act of Parliament. "Hukum adalah suatu kumpulan aturan yang dapat dilaksanakan untuk mengatur/memerintah masyarakat atau aturan apa pun yang dibuat sebagai suatu aturan hukum seperti tindakan dari Parlemen." Bagi kalangan muslim, jelas yang dimaksudkan sebagai hukum adalah Hukum Islam, yaitu keseluruhan aturan hukum yang bersumber pada AIquran, dan untuk kurun zaman tertentu lebih dikonkretkan oleh Nabi Muhammad dalam tingkah laku Beliau, yang lazim disebut Sunnah Rasul. Sebagai negara berdasar atas hukum yang berfalsafah Pancasila, negara melindungi agama, penganut agama, bahkan berusaha memasukkan hukum agama ajaran dan hukum agama Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagaimana pernyataan the founding father RI, Mohammad Hatta,
Page 4

Pengantar Agama Islam II
bahwa dalam pengaturan negara hukum Republik Indonesia, syari'at Islam berdasarkan AI-Qur'an dan Hadis dapat dijadikan peraturan perundangundangan Indonesia sehingga orang Islam mempunyai sistem syari'at yang sesuai dengan kondisi Indonesia.7 Dekrit Presiden 5 Juli 1959 − dalam salah satu konsiderannya − menyatakan bahwa PiagamJakarta tertanggal 22 Juni 1945 menjiwai Undang-Undang Dsar 1945, danadalah merupakan suatu rangkaian kesatuan dengan konstitusi tersebut.

BAB II
Page 5

sedangkan fikih adalah pemahaman dan hasil pemahaman manusia tentang syari’ah. pelaksanaannya dalam praktek. baik (i) berupa keputusan hakim. Mempunyai hubungan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dari iman atau akidah dan kesusilaan atau akhlak Islam. 3. fikih Syari’at terdiri dari wahyu Allah dan sunnah Nabi Muhammad. hubungan manusia dengan dirinya sendiri. terdiri dari: a. Mempunyai dua istilah kunci yakni: a.Pengantar Agama Islam II PEMBAHASAN A. Dasar dan kerangka hukum Islam ditetapkan oleh Allah. yaitu hubungan manusia dengan Tuhan. sunnah Nabi Muhammad (untuk syari’at) c. 5. muamalat Ibadat bersifat tertutup karena telah sempurna dan muamalat dalam arti yang luas bersifat terbuka untuk dikembangkan oleh manusia yang memenuhi syarat dari masa ke masa. Mendahulukan kewajiban dari hak. maupun (ii) berupa amalan-amalan umat Islam dalam masyarakat (untuk fikih). 1996: 39). dan b. 6. hubungan manusia dengan manusia lain dan hubungan manusia dengan benda dalam masyarakat serta alam sekitarnya (Mohammad Daud Ali. Merupakan bagian dan bersumber dari agama Islam. hasil ijtihad manusia yang memenuhi syarat tentang Al-Qur’an dan as-Sunnah d. dan b. Terdiri dari dua bidang utama yakni: a. 4. syari’at. 2. nas atau teks Al-Qur’an b. Hukum Islam mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: 1. Dapat dibagi menjadi: Page 6 . 7. ibadat. Hukum Islam Hukum Islam adalah hokum yang bersumber dan menjadi bagian dari agama Islam. Strukturnya berlapis. Hukum ini mengatur berbagai hubungan. amal dari pahala.

Berwatak universal. B.212) sebagaimana dikutip oleh Mohammad Daud Ali (1996: 53). Pengertian Syari’ah dan Fiqh Pada mulanya para ahli berpendapat bahwa pengertian Syari’ah dan Fiqh itu adalah sama yaitu paham tentang ajaran-ajaran Islam secara keseluruhan. b. hukum Islam juga mempunyai ciri-ciri khas sebagai berikut: 8. hukum wadh’i yang mengandung sebab. 10. syarat. rohani dan jasmani serta memelihara kemuliaan manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan. Hasbi Ash-Shieddieqy dalam bukunya Falsafah Hukum Islam (1975: 156 . lima penggolongan hukum yakni jaiz. Adapun yang menjadi tujuan Hukum Islam secara umum sering dirumuskan untuk mencapai kebahagiaan hidup manusia di dunia ini dan di akhirat kelak dengan jalan mengambil (segala) yang bermanfaat dan mencegah atau menolak yang mudarat yaitu yang tidak berguna bagi hidup dan kehidupan. lima kategori hukum. Untuk lebih jelasnya di bawah ini akan dikemukakan pengertian masing-masing dari Syari’ah dan Fiqh. Kemaslahatan itu tidak hanya untuk kehidupan di dunia ini saja tetapi juga untuk kehidupan yang kekal di akhirat kelak. individual dan sosial. Pendapat ini dalam perkembangannya kemudian mengalami perubahan.D. hukum taklifi atau hukum taklif yakni al-ahkam al-khamsah yaitu lima kaidah. makruh. sunnat. wajib. Ali. (3) akal. Page 7 . dan (5) harta. Dengan kata lain.M.Pengantar Agama Islam II a. yaitu mereka memberikan pengertian yang berbeda antara Syari’ah dan Fiqh. (4) keturunan. tujuan hukum Islam adalah kemaslahatan hidup manusia. Ali. 1996: 53-54). (2) jiwa. yakni memelihara (1) agama. tidak terbatas pada umat Islam di suatu tempat atau negara pada suatu masa saja. baik rohani maupun jasmani. Pelaksanaannya dalam praktek digerakkan oleh iman dan akhlak umat Islam. 1996: 52-53). halangan terjadi atau terwujudnya hubungan hukum (M. Menghormati martabat manusia sebagai kesatuan jiwa dan raga. 9. Selain ciri-ciri di atas. Kelima tujuan hukum Islam itu di dalam kepustakaan disebut al-maqasid al-khamsah atau al-maqasid alshari’ah (tujuan-tujuan hukum Islam) (M. berlaku abadi untuk umat Islam di mana pun mereka berada. menurut T.D. dan haram. lima jenis hukum. Abu Ishaq al Shatibi merumuskan lima tujuan hukum Islam.

pengertiannya adalah Ilmu tentang hukum-hukum Syari’ah yang berkenaan dengan perbuatan dan amalan manusia dan didasarkan pada dalildalil yang terperinci. Bagian ini termasuk dalam Ilmu Kalam. . makruh atau yang mubah yang diperoleh dengan jalan ijtihad dari Al-Qur’an maupun dari Sunnah Nabi. haram. yang dimaksud Fiqh adalah ilmu yang menerangkan segala hukum Allah yang berhubungan dengan perbuatan manusia baik yang wajib. Kalau dilihat dari asalnya. Hasby Ash Shiddieqy mengemukakan pendapat yang merupakan jalan tengah dari ketiga pendapat di atas.Menurut Ibnu Khaldun dalam bukunya Al Muqaddamah Al Mubtada’ wal Khabar. Bagian ini termasuk dalam Ilmu Akhlak. .Bagian yang menjelaskan amal perbuatan manusia. yaitu Fiqh apabila ditinjau dari asalnya dapat dibedakan menjadi dua macam. .Bagian yang bertalian dengan aqidah. yang dimaksud Fiqh adalah ilmu yang menerangkan segala hukum Syara’ yang berhubungan dengan amalan dan perbuatan manusia yang dengan jelas telah diatur dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi. Menurut arti istilah ini. Di samping pengertian seperti yang tersebut di atas ada beberapa ulama yang memberi pengertian Fiqh dilihat dari mana Fiqh ini berasal. maka pengertian Fiqh ialah: . pertama. Prof.Menurut Abdus Salam Al Qabani. Fiqh/Hukum Islam (Khozin Siraj : 2).Pengantar Agama Islam II Syari’ah menurut istilah adalah hukum-hukum yang telah digariskan oleh Allah kepada para hambanya agar mereka beriman dan mengamalkan hal-hal yang membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat.Menurut Al Jalalul Mahalli. yaitu: . Dari ketiga pendapat tersebut di atas yang berbeda satu dengan yang lainnya. syari’ah terbagi atas tiga bagian.Bagian yang bertalian dengan pendidikan dan perbaikan moral. Fiqh yang sudah jelas dan tegas telah diatur dalam Al-Qur’an dan Sunnah Page 8 Bagian ini termasuk dalam . . dan hukum-hukum yang diperoleh dengan jalan ijtihad. yang dimaksud Fiqh adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum mengenai amalan dan perbuatan manusia baik yang sudah jelas diatur dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi. Fiqh menurut para Fuqaha.

mendalami syari’ah untuk dapat dirumuskan menjadi kaidah konkrit yang dapat dilaksanakan dalam masyarakat. Kedua. Karena syari’ah itu dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yakni ilmu syari’ah ibadah dan syari’ah muamalah. Norma Ilahi yang mengatur tata hubungan itu berupa (a) kaidah ibadah dalam arti khusus atau yang disebut juga kaidah ibadah murni yang mengatur cara dan upacara hubungan langsung manusia dengan Tuhan. Antara syari’ah dan fiqh mempunyai hubungan yang erat.Pengantar Agama Islam II Nabi disebut Fiqh Nabawy. Kaidah ibadah yakni norma yang mengatur cara dan tata cara manusia berhubungan langsung dengan Tuhan tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi. Sedangkan syari’ah dalam arti teknis adalah seperangkat norma Ilahi yang mengatur hubungan manusia dengan Allah. Perbedaan pokok antara syari’ah dan fikih adalah sebagai berikut: Page 9 . karena syari’ah adalah landasan fikih. Menurut Mohammad Daud Ali. 1996: 45). Perkataan syari’ah dan fikih kedua-duanya terdapat di dalam al-Qur’an. hubungan manusia dengan benda dan alam lingkungan hidupnya. 1996: 30-34) Dengan melihat uraian mengenai pengertian Syari’ah dan Fiqh di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian Syari’ah adalah lebih luas/umum dari pada Fiqh dan Fiqh hanyalah bagian dari Syari’ah. dan fikih dalam surat at-Taubah (9): 122 (M. Ali. hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan sosial. Adapun Fiqh (fikih) adalah ilmu yang khusus memahami. syari’ah dalam surat al-Jatsiah (45): 18. sedangkan kaidah muamalah hanya pokok-pokoknya saja yang ditentukan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad sehingga perinciannya terbuka bagi akal manusia yang memenuhi syarat untuk berijtihad (berusaha sungguh-sungguh dengan mempergunakan seluruh kemampuan) mengaturnya lebih lanjut dan menentukan kaidahnya menurut ruang ruang dan waktu. dan (b) kaidah muamalah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia lain dan benda dalam masyarakat. yang dimaksud dengan syari’ah dalam pengertian etimologis adalah jalan yang harus ditempuh (oleh setiap umat Islam). Fiqh yang diperoleh/dihasilkan dengan jalan ijtihad disebut Fiqh Ijtihadi. Dan sebagai hasil pemikiran manusia. Perbedaan tersebut menimbulkan berbagai aliran pula baik di kalangan Ahlus sunnah wal jama’ah (Sunni) maupun di kalangan Syi’ah (M. maka ilmu fikih yang mempelajari dan mendalaminya pun dapat dibagi dua pula yakni ilmu fikih ibadah dan ilmu fikih muamalah. hasil pemahaman tentang syari’ah yang disebut fikih atau hukum fikih itu dapat berbeda di suatu tempat dengan di tempat yang lain. Ali. fikih adalah pemahaman tentang syari’at.D.D.

Makruh (larangan tak mutlak) 5. sedangkan Fikih bersifat instrumental. dapat berubah dari masa ke masa.H.Pengantar Agama Islam II 1. Wajib/Fardh Page 10 . Wajib/Fardh (perintah mutlak) 2. ruang lingkupnya terbatas pada hukum yang mengatur perbuatan manusia. H. sedangkan fikih mungkin lebih dari satu seperti (misalnya) terlihat pada aliran-aliran hukum yang disebut dengan istilah mazahib atau madzhab-madzhab.A. sedangkan fikih menunjukkan keragamannya (Asaf A. oleh banyak ahli. Rasjidi. 4. 1981: 60. 1996: 45-46).1. 1987: 1 sebagaimana dikutip oleh Mohammad Daud Ali. 1977: 22. Fyzee. sedangkan fikih adalah karya manusia yang tidak berlaku abadi. Di dalam Fiqh dikenal lima macam nilai hukum yang disebut Al-Ahkamal-Khamsah. karena itu berlaku abadi. Syari’at hanya satu. Khalid Masud. dimasukkan juga akidah dan akhlak. 1955: 17. M. 1965: 2. Syari’at menunjukkan kesatuan dalam Islam. yaitu: 1. Haram (larangan mutlak) 4. Syari’at bersifat fundamental dan mempunyai ruang lingkup yang lebih luas karena di dalamnya. yang biasanya disebut sebagai perbuatan hukum.M. Syari’at terdapat di dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab Hadis. 2. Nilai Hukum di Dalam Fiqh Menurut ajaran Islam semua tindakan manusia baik yang berupa perkataan maupun perbuatan mempunyai ketentuan hukum. sedangkan Fikih terdapat dalam kitab-kitab fikih. S. 1958: 403. Ahmad Ibrahim. Masjfuk Zuhdi. Sunnah/Mandub (perintah tak mutlak) 3. Nasr. 3. 5. Mubah/Jaiz B. Ketentuan hukum inilah yang disebut dengan nilai hukum di dalam Fiqh/Hukum Islam. Syari’at adalah ketetapan Allah dan ketentuan Rasul-Nya.

Oleh karena itu untuk melaksanakannya dapat dilakukan kapan saja. Misalnya: Shalat jenazah. Misalnya Puasa Ramadhan yang wajib dilaksanakan dalam bulan Ramadhan dan shalat lima waktu yang wajib dilaksanakan pada waktu-waktunya yang telah ditentukan. yaitu kewajiban yang tidak ditentukan batas kadarnya. dan sebagainya. Apabila semua melakukannya maka masing-masing akan mendapat pahala. Kewajiban ini kalau tidak dilaksanakan pada waktunya. yaitu perintah yang tidak ditentukan waktu tertentu untuk melaksanakannya.Wajib yang Muaqqat. memberikan makan orang yang sedang kelaparan. wajib dibagi dua. mendirikan rumah sakit. rumah sekolah. Ditinjau dari segi waktu untuk melaksanakannya. ialah perbuatan yang harus dilakukan oleh setiap orang yang sudah dewasa. ialah perbuatan yang dapat dilaksanakan secara kolektif.Wajib Kifayah. Adanya kewajiban-kewajiban tersebut adalah karena Page 11 . misalnya: Puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan. zakat harta.Pengantar Agama Islam II Yang dimaksud wajib/fardh ialah suatu perintah yang harus dilaksanakan oleh setiap orang Islam.Wajib ‘aini. Ditinjau dari segi qadarnya (kuantitas). tetap menjadi tanggungan selamanya. Misalnya: membelanjakan harta di jalan Tuhan. yaitu: . c. adalah diwajibkan atas orang Islam yang telah dewasa dan mampu sekali seumur hidup untuk melaksanakannya tidak ditentukan waktunya/tahunnya. b. .Wajib Muhaddad. mendirikan tempat peribadatan. yaitu: . yaitu: . akan tetapi apabila tidak seorang pun yang melaksanakannya maka mereka itu masing-masing berdosa sebagai orang yang mengabaikan kewajiban. . wajib dibagi dua. Misalnya ibadah haji. sampai kewajiban ditunaikan semuanya. yaitu: a. .Wajib ghairu Muhaddad . wajib dibagi dua. Perbuatan ini apabila dilakukan diberi pahala dan apabila ditinggalkan berdosa dan akan mendapat siksa. Oleh karena itu orang tidak bebas melaksanakannya di luar waktu yang telah ditentukan.Wajib yang Mutlak . yaitu yang ditentukan waktu untuk melaksanakannya. yaitu kewajiban yang ditentukan batas kadarnya (jumlahnya) misalnya: shalat lima waktu. Wajib ini ada bermacam-macam. Ditinjau dari segi siapa yang wajib melaksanakan. apabila sebagian dari mereka telah melaksanakan maka gugurlah tuntutan terhadap yang lainnya. Shalat lima waktu. kifarat.

c. Haram Lidzatihi. b. Sunnah Mu’akhadah. Sunnah dapat juga diartikan sebagai suatu anjuran untuk melakukan suatu perbuatan. misalnya: Salat sunnat sebelum shalat Maghrib. Sunnah ‘amiyah. Hanafi M. Haram Yang dimaksud haram adalah suatu perbuatan yang dilarang. Haram dibagi menjadi dua yaitu: a. B. Haram Li’aridi. yaitu perbuatan tidak wajib yang selalu dikerjakan oleh Rasul. B. Misalnya: berzina. yaitu: a. : 22). namun perintah ini tidak mutlak. Misalnya: memberi salam. d. mendoakan orang bersin. ialah perbuatan yang hukumnya haram karena berbarengan dengan perbuatan lain. Sunnah/Mandub Yang dimaksud sunnah/mandub adalah perbuatan yang diperintahkan untuk dilakukan. yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan cukup seorang saja dari sejumlah orang. merampok. Sunnah dapat dibagi menjadi beberapa macam. tetapi bila ditinggalkan tidak berdosa sehingga tidak dikenakan siksa. Sunnah Kifayat.A. yaitu segala perbuatan tidak wajib yang kadang-kadang dikerjakan oleh Rasul. mencuri.3.Pengantar Agama Islam II perintah syara’ tetapi tentang berapa jumlahnya tergantung kepada keadaan. Kewajiban ini kalau ditunaikan secukupnya pada waktunya. menipu. hanya kadang-kadang saja ditinggalkannya. Shalat hari raya. Misalnya: Shalat Witir. ialah perbuatan yang haram dengan sendirinya bukan karena hal-hal lain hukumnya haram. yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dilakukan oleh setiap orang Islam. b. maka tidak menjadi tanggungan atau hutang yang wajib dibayar kekurangannya (A. Sunnat Ghairu Mu’akhadah. apabila ditinggalkan akan diberi pahala dan apabila dilakukan akan mendapat siksa. Misalnya: shalat sunat Ratibah/shalat sunat yang dikerjakan sebelum dan sesudah shalat lima waktu. Dalam AlQur’an Surat Jum’ah ayat 9 terdapat perintah meninggalkan jual beli apabila adzan Jum’at Page 12 .2. Misalnya: jual beli pada saat adzan Jum’at telah diserukan. sebab perbuatan ini kalau dilakukan mendapat pahala.

b. Ayat tersebut memberikan ketentuan hukum bahwa jual beli dilarang oleh karena adanya seruan adzan Jum’at. Makruh tanzih. Makruh dapat dibagi menjadi tiga macam. Misalnya: zina adalah haram lidzatihi. tetapi orangnya berdosa karena melanggar larangan/tidak taat perintah Al- B. Mubah/Jaiz Yang dimaksud mubah/jaiz ialah perbuatan yang bila dilaksanakan tidak berpahala dan bila ditinggalkan juga tidak berdosa dan tidak dikenakan siksa. Berbeda halnya dengan perbuatan yang haram lidzatihi yang apabila dilanggar mengakibatkan hal-hal yang merupakan hasil dari perbuatan itu sendiri tidak sah. dipandang sah. Hal-hal yang haram karena berbarengan dengan hal-hal yang Jadi jual beli tetap diharamkan tidak berakibat tidak sahnya perbuatan itu sendiri. maka anak yang lahir karena perbuatan zina dipandang sebagai anak yang tidak sah dan tidak mempunyai hubungan nasab dengan ayahnya. Page 13 . ialah perbuatan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan. Tarkul-aula. Makruh Yang dimaksud makruh adalah perbuatan yang terlarang. Makruh tanzih ini adalah kebalikan sunnah. Misalnya: memakai cincin emas adalah dilarang menurut ulama madzab Hanafi. c.5. tetapi bila diadakan pada waktu telah terdengar seruan adzan Jum’at itu menjadi haram hukumnya. Qur’an (Ahmad Azhar : 25).Pengantar Agama Islam II telah diserukan. bila ditinggalkan akan diberi pahala tetapi bila dilakukan tidak berdosa dan tidak dikenakan siksa. yaitu: a. Misalnya: makan minum dengan menggunakan B.4. Makruh tahrim. tangan kiri. Berjual beli itu sendiri adalah hal yang dibenarkan Islam. Misalnya: meninggalkan Shalat Witir. ialah perbuatan yang dilakukan namun dasar hukumnya tidak pasti. Dinyatakan dalam syara’ tidak berdosa untuk melakukannya. Mubah dapat dibagi menjadi tiga macam: a. ialah meninggalkan perbuatan-perbuatan yang amat dianjurkan. Bila ditinggalkan berpahala dan bila dilaksanakan tidak berdosa meskipun tercela.

Yang dinyatakan dalam syara’ boleh memilih. yang disebut hukum Muammalah. Kedua. yaitu: pertama. c. Sunnah. Ratio/akal manusia yaitu hasil ijtihad atau ra’yu. Sedangkan Hukum Umum obyeknya hanyalah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara sesama manusia dalam hidup bermayarakat baik dalam lingkungan yang sempit ataupun dalam lingkungan yang luas. yang disebut hukum Ibadah. Ijmak dan Qiyas. Wahyu/Firman Allah yang tercantum di dalam Al-Qur’an dan dalam Sunnah Nabi sebagi penjelasannya. Oleh karena itu yang dimaksud dengan Ushul al Fiqh adalah ilmu yang membicarakan sumber-sumber hukum tersebut di atas dan bagaimana cara menunjukkan kepada suatu Page 14 . D. peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antara sesama manusia dalam hidup bermasyarakat atau antara manusia dengan benda-benda di sekelilingnya. makruh dan lain-lain. Perbedaan antara Hukum Islam dengan Hukum Umum Ada beberapa perbedaan antara Hukum Islam dengan Hukum Umum. Ushul al Fiqh Pengertian Ushul al Fiqh ialah Ushul adalah sumber atau dalil Fiqh adalah mengetahui hukum-hukum syara’ tentang amalan dan perbuatan. 2. kalau suka boleh dilakukan dan kalau tidak suka boleh meninggalkan. Kedua. mubah. C. peraturan-peraturan/hukumhukum yang mengatur hubungan manusia dan Tuhan.Pengantar Agama Islam II b. yaitu: 1. haram. seperti hukum wajib. Tidak ada dalil yang mengharamkan. Ditinjau dari segi sumbernya/dasar hukumnya Hukum Islam bersumber pada dua hal. yaitu: pertama. Hukum-hukum itu ada sumbernya atau dalilnya yaitu: Qur’an. Sedangkan Hukum Umum bersumber pada akal manusia saja. Ditinjau dari segi obyek yang diaturnya Hukum Islam mempunyai dua obyek hukum.

dan perintah-perintah lainnya. Akhirnya dibuat suatu kaidah ushul fiqh yang mengatakan “pada dasarnya tiap-tiap perintah menunjukkan hukum wajib”. Misalnya. Dengan mempelajari Ushul Fiqh kita akan mengetahui dalil-dalil hukum syara’ dan cara mengambil ketentuan-ketentuan hukum dari padanya. melarang berbuat zina. Contoh lain misalnya Al-Qur’an melarang berjudi. Ilmu Ushul Fiqh tidak mengatakan bahwa zakat itu hukumnya wajib. Mempelajari Ushul Fiqh mempunyai beberapa faedah yaitu: 1. Para ulama setelah membahas perintah-perintah Al-Qur’an mengambil kesimpulan bahwa perintah-perintah itu pada umumnya menunjukkan hukum wajib. 1972 : 6). tetapi hanya membicarakan dalil-dalil hukum secara garis besar. melarang berbuat aniaya. Hanafi : 12). perintah menyampaikan amanat BAB III Page 15 . 2. Yang menjadi perhatian Ilmu Ushul Fiqh adalah apabila kita menjumpai bentuk perintah dalam Al-Qur’an yang merupakan sumber utama dan pertama hukum syara’ itu harus kita artikan bagaimana. Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. perintah berbuat baik kepada orang lain. Ilmu Ushul Fiqh membicarakan dan membahas bagaimana mengartikan larangan-larangan itu. dan lain-lain. Oleh karena itu Ushul al Fiqh tidak membicarakan dalil hukum tiap persoalan satu per satu. Setelah diselidiki secara mendalam diperoleh kesimpulan bahwa pada dasarnya larangan-larangan itu menunjukkan hukum haram. Akhirnya dibuat suatu kaidah Ushul Fiqh yang mengatakan “pada dasarnya tiap-tiap larangan menunjukkan hukum haram” (A. Dengan demikian kita akan mampu melakukan sendiri mengambil kesimpulan-kesimpulan hukum syara’ dari sumber-sumber asli. Azhar Basyir. Dengan demikian kita akan dapat mengamalkan hukum syara tidak hanya sebagai orang yang bertaqlid kepada orang lain tanpa mengetahui sumber pengambilannya. di dalam Al-Qur’an terdapat perintah menunaikan zakat. Dengan mempelajari ushul fiqh kita dapat mengembalikan kesimpulan-kesimpulan hukum syara’ yang kita jumpai kepada sumber-sumber pengambilannya.Pengantar Agama Islam II hukum dengan secara ijmal (garis besar) (A.

misalnya: jual beli. Prof. 1. 2. Di bawah ini akan Page 16 . yaitu: a. dan waris. dan nazar. dikemukakan pembagian lapangan Hukum Islam oleh beberapa fuqaha. haji. Lapangan Mu’amalat adalah lapangan yang mengatur hubungan antara manusia baik dalam golongannya maupun di luar golongannya. c. Hasby Ash-Shiddieqy membagi lapangan Hukum Islam menjadi delapan bidang. yaitu: Ibadat. Sekumpulan hukum yang digolongkan dalam bidang ibadat. maupun yang menyangkut hubungan antar manusia di dalam lingkungan yang terbatas maupun dengan manusia di luar lingkungannya. Pembagian Lapangan Hukum Islam Fiqh Islam atau Hukum Islam merupakan kumpulan tata aturan yang mencakup semua perbuatan hukum yang dilakukan oleh manusia baik dalam hubungannya dengan Tuhan sebagai Khaliqnya. Ulama-ulama Syafi’iyah membagi lapangan Hukum Islam menjadi empat bagian. puasa. Munakahat dan Uqubat yaitu hal-hal yang berhubungan dengan pidana. dimana masing-masing tidak sama banyak dalam membaginya. Sekumpulan hukum yang berhubungan dengan kekeluargaan. Secara garis besar para fuqaha membagi lapangan hukum Islam menjadi dua. Sekumpulan hukum yang berhubungan dengan mu’amalat madaniyah.Pengantar Agama Islam II LAPANGAN-LAPANGAN HUKUM ISLAM A. yaitu Ibadat dan Mu’amalat. misalnya: perkawinan. Lapangan Ibadat adalah lapangan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dengan tujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendaptkan pahala di akherat. sewa menyewa. hutang piutang. Dari dua bidang ini para fuqaha masih membagi-bagi lagi menjadi beberapa lapangan. atau dengan kata lain Mu’amalat adalah bidang yang mengatur kepentingan-kepentingan duniawi. Mu’amalat. jihad. b. wasiat. M. zakat. gadai. Misalnya: shalat. dan lain sebagainya.

Hukum Umum (Al Qanunul Aam) ini meliputi: . 3. penghasilannya. bidang ini meliputi: .Hukum Pidana (Jinayat) .Hukum Privat Internasional (Ad-Dauliyul Khas) b. Administrasi dan Keuangan . g. misalnya: soal kepaala negara. Sekumpulan hukum yang mengenai harta peninggalan yaitu soal-soal yang menjadi urusan baitulmal. Sekumpulan hukum yang berhubungan dengan hukum acara.Hukum Dagang (At Tijarah) . h.Hukum Ketatanegaraan. Hukum Privat (al Qanunul Khas). Sekumpulan hukum yang berhubungan dengan bidang hukum internasional. Dengan kata lain hukum-hukum yang berhubungan dengan pidana dan perbuatan pidana. badan permusyawaratan dan lainlainnya. misalnya: hukum perang.Hukum Perdata (Muamalat) . perdamaian antar negara. Para fuqaha masa kini membagi lapangan Hukum Islam selain bidang Ibadah menurut sistem pembagian hukum Barat. perjanjian antar negara dan lain-lainnya.Hukum Acara (Al Murafaat) . macam-macam harta yang ditempatkan dalam baitulmal dan tempat-tempat pembelanjaannya. hak-hak penguasa dan rakyat. Dalam hal ini lapangan Hukum Islam dibagi dua bagian. yaitu: a. f.Hukum Pidana Internasional Page 17 . e. kehormatan dan akal manusia. Sekumpulan hukum yang digolongkan dalam bidang uqubat. yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan usaha memelihara keselamatan jiwa. Sekumpulan hukum yang berhubungan dengan bidang hukum tata negara. yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan proses berperkara di Pengadilan.Pengantar Agama Islam II d.

meliputi: a. Hukum Pidana (Jinayat) 5. Mu’amalat. maka pembagian lapangan Hukum Islam penulis susun secara berturut-turut sebagai berikut: 1. meliputi a. Perkawinan b. Administrasi dan Keuangan 6. Hukum Perdata b. Waris c. Siyasah Syari’iyah. Wasiat 3. Hukum Pidana Internasional B. meliputi: a. maka sesuai dengan kepribadian Hukum Islam dan dapat mencakup seluruh bidang Hukum Islam. Hukum-hukum Ibadah bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. meliputi: a. Lapangan Ibadah Bidang Ibadah adalah kumpulan aturan yang mengatur hubungan manusia dan Tuhan. Hukum Acara 4. Hukum Dagang c.Pengantar Agama Islam II Dengan melihat pembagian lapangan Hukum Islam menurut para fuqaha masa kini. Hukum Perdata Internasional b. Hukum Tata Negara b. Hukum Internasional. yang pada dasarnya Page 18 . Hukum Keluarga. Ibadah 2.

Hukum Keluarga 2.Pengantar Agama Islam II hukum-hukum ini mempunyai sifat yang kekal (qot’i). C. Hukum Tata Negara (Siyasah Syar’iyyah) 5. Lapangan Mu’amalah Lapangan/bidang Mu’amalah adalah bidang yang terdiri atas kumpulan aturan yang mengatur hubungan manusia dan manusia dalam hidup bermasyarakat baik dalam lingkungan yang terbatas maupun lingkungan yang lebih luas. Mengubah atau menambah aturan-aturan ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan yang sudah diatur dalam Al-Qur’an atau Sunnah Rasul disebut bid’ah. Sunnah Rasul dan Ijtihad. Hukum Internasional. Sifat Hukum Mu’amalah pada dasrnya sesuai dengan obyek yang diaturnya yaitu manusia dalam hidup bermasyarakat. Hukum Privat (Mu’amalah) 3. Makanan dan Minuman. Jihad. Bidang Mu’amalah ini terbagi atas beberapa bidang hukum. Shalat. Hal-hal yang dibicarakan dalam bidang Ibadah ini meliputi Thaharah. Oleh karena itu pada umumnya hukum-hukum ibadah ini sudah diterangkan secara jelas dan terperinci. Zakat. tidak berubah-ubah sepanjang masa dan tidak terpengaruh oleh perkembangan zaman dan masyarakat dan tempat dimana hukum ini berlaku. Page 19 . maka hukum ini mempunyai sifat yang memungkinkan untuk berkembang ataupun berubah (dhanni). Hukum Pidana (Jinayat) 4. Hukum-hukum Mu’amalah bersumber pada Al-Qur’an. Sumpah. Haji. Dapat juga dikatakan bahwa bidang Mu’amalah adalah bidang hukum yang mengatur hubungan hubungan dan kepentingan manusia dalam hidup di dunia. seperti halnya masyarakat itu sendiri yang selalu berubah dan berkembang sesuai dengan perkembangan dan perubahan jaman. Aqiqah. Karena sifatnya qot’i maka mengubah dan menambah hukum-hukum Ibadah tidak dibolehkan. yaitu: 1.

Pengantar Agama Islam II 1. yaitu: a. Putusnya perkawinan Page 20 . Hukum Wasiat d. sebab harta yang diwasiatkan untuk orang lain atau untuk keluarga diambilkan dari harta peninggalan pewaris. sedangkan wakaf yang diperuntukkan bagi kepentingan umum masuk di dalam bidang ibadah. Hukum Waris (Faraid) c. a. Hak-hak dan kewajiban suami isteri di dalam perkawinan (7). Kedudukan hukum perkawinan di dalam agama Islam (2). Hukum Perkawinan (Munakahat) Hal-hal yang diatur di dalam hukum perkawinan antara lain adalah mengenai: (1). Rukun dan syarat-syarat perkawinan (5). Hukum Perkawinan (Munakahat) b. Mengenai hukum wakaf yang erat hubungannya dengan hukum keluarga adalah wakaf untuk keluarga/keturunan. Hukum Keluarga ini terdiri atas beberapa bidang hukum. Demikian juga mengenai hubungan wasiat dengan hukum keluarga juga sangat erat terutama hubungannya dengan hukum waris. Hukum Wakaf Hukum waris erat kaitannya dengan hukum keluarga sebab pembagian warisan dalam Hukum Islam itu yang utama adalah berdasarkan pertalian keluarga baik karena hubungan darah maupun karena hubungan perkawinan. Pengertian dan Tujuan Perkawinan (4). Larangan-larangan perkawinan (6). Hukum Keluarga Hukum keluarga adalah kumpulan aturan-aturan yang mengatur hubungan hukum antara seorang pria sebagai suami dengan seorang wanita sebagai isteri dan keluarganya. Prinsip-prinsip perkawinan (3).

biaya hidup yang harus diadakan sesudah putusnya perkawinan dan lain-lain. Melaksanakan perkawinan dengan mengikuti ketentuan-ketentuan yang telah diatur di dalam Al-Qur’an dan Sunnah Rasul adalah merupakan salah satu ibadah bagi umat Islam (Sumiyati. (b).Pengantar Agama Islam II (1). Dengan melaksanakan perkawinan yang sah dapat terlaksana pergaulan hidup manusia baik secara individual maupun kelompok antara pria dan wanita secara terhormat dan halal. Dengan melaksanakan perkawinan yang sah dapat diharapkan memperoleh keturunan yang sah dalam masyarakat sehingga kelangsungan hidup dalam keluarga dan keturunannya dapat berlangsung terus secara jelas dan bersih. sehingga dapat diharapkan timbulnya satu kehidupan masyarakat yang teratur dan berada dalam suasana damai. cara-cara untuk memutuskan perkawinan. sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk yang terhormat di antara makhluk-makhluk Tuhan yang lain. (2). sebab perkawinan itu mempunyai arti penting bagi kehidupan manusia. Dengan melaksanakan perkawinan dapat terbentuk satu rumah tangga dimana kehidupan dalam rumah tangga dapat terlaksana secara damai dan tenteram serta kekal dengan disertai rasa kasih sayang antara suami isteri. Oleh karena itu peraturan-peraturan tentang perkawinan ini diatur dan diterangkan dengan jelas dan terperinci. Asas-asas dan Prinsip-prinsip Perkawinan Menurut Hukum Islam Page 21 . Kedudukan Hukum Perkawinan di dalam Agama Islam Hukum perkawinan di dalam Agama Islam mempunyai kedudukan yang sangat penting. Adapun arti pentingnya perkawinan bagi kehidupan manusia pada umumnya dan khususnya bagi orang Islam adalah sebagai berikut: (a). misalnya: hak dan kewajiban suami isteri. (d). 1982 : 4). Dengan terjadinya perkawinan maka timbullah sebuah keluarga yang merupakan inti dari hidup bermasyarakat. Hukum perkawinan pada dasarnya tidak hanya mengatur tatacara pelaksanaan perkawinan saja melainkan mengatur juga segala persoalan yang erat hubungannya dengan perkawinan. pengaturan harta kekayaan dalam perkawinan. (c). (e).

Pada dasarnya setiap perkawinan harus ada persetujuan secara suka rela dari pihakpihak yang melaksanakan perkawinan. damai dan kekal untuk selama-lamanya. Pada dasrnya seorang pria tidak dapat mengawini setiap wanita. dengan dasar suka rela dan keridhoan kedua belah pihak untuk mewujudkan suatu kebahagiaan hidup berkeluarga yang diliputi oleh rasa kasih sayang dan ketenteraman dengan caracara yang diridhoi Allah (Ahmad Azhar Basyir. Walaupun nikah ini merupakan salah satu bentuk perjanjian perikatan. Caranya ialah dengan diadakan peminangan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah kedua belah pihak sudah setuju untuk melaksanakan perkawinan atau belum. Pengertian dan Tujuan Perkawinan Perkawinan yang dalam istilah Agama Islam disebut Nikah. dimana tanggung jawab pimpinan keluarga ada pada suami. Perkawinan harus dilaksanakan dengan memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu. dan lain-lainnya. (c). yaitu: (a). 1977: 10). namun perjanjian ini berbeda dengan perjanjian-perjanjian perdata yang lainnya. misalnya: jual beli. pengertiannya adalah “melaksanakan suatu aqad atau perjanjian untuk mengikatkan diri antara seorang pria dan wanita untuk menghalalkan hubungan kelamin antara kedua belah pihak.Pengantar Agama Islam II Di dalam Hukum Islam perkawinan mempunyai beberaapa asas dan prinsip. sebab ada ketentuan larangan-larangan perkawinan antara pria dan wanita yang harus diindahkan. (b). (d). (3). Melihat rumusan perkawinan seperti tersebut di atas maka pada dasarnya nikah itu merupakan suatu perjanjian perikatan antara seorang pria dan seorang wanita. baik yang menyangkut kedua belah pihak maupun yang berhubungan dengan pelaksanaan perkawinan itu sendiri. Hak dan kewajiban suami isteri adalah seimbang dalam rumah tangga. (e). Beberapa hal yang merupakan ciri khusus dalam perjanjian perkawinan yang membedakan dengan perjanjian yang lainnya antara lain ialah: Page 22 . Perkawinan pada dasarnya adalah untuk membentuk satu keluarga/rumah tangga yang tenteram. sewa menyewa.

perkawinan itu tidak dapat dilaksanakan. (b). Cara-cara pemutusan perjanjian perkawinan ini ketentuannya juga sudah ditentukan terlebih dahulu. (c). (b). Wali (c). (b). Saksi Page 23 . Jadi tanpa adanya salah satu rukun. Rukun dan Syarat-syarat Perkawinan Perkawinan supaya sah hukumnya harus memenuhi beberapa persyaratan tertentu baik yang menyangkut kedua belah pihak yang hendak melaksanakan perkawinan maupun yang berhubungan dengan pelaksanaan perkawinan itu sendiri. sehingga pihak-pihak yang melaksanakan perjanjian itu tidak dapat dengan bebas menentukan sendiri sesuai kehendaknya masing-masing. (4). Tujuan perkawinan menurut Hukum Islam pada dasarnya dapat diperinci sebagai berikut: (a). Isi dari perjanjian perkawinan itu sudah ditentukan terlebih dahulu di dalam agama Islam.Pengantar Agama Islam II (a). tenteram dan kekal dengan dasar cinta dan kasih sayang. sehingga para pihak tidak dapat menentukan sendiri secara bebas. Perjanjian perkawinan adalah merupakan perjanjian suci untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal untuk selama-lamanya. (c). Pihak-pihak yang melaksanakan perkawinan atau aqad nikah yaitu mempelai pria dan wanita. Menghalalkan hubungan kelamin antara seorang pria dan wanita untuk memenuhi tuntutan hajat tabiat kemanusiaan. Memperoleh keturunan yang sah yang akan melangsungkan keturunan serta memperkembangkan suku-suku bangsa manusia. Membentuk/mewujudkan satu keluarga yang damai. Adapun persyaratan ini terdiri atas rukun dan syarat-syarat perkawinan. Yang termasuk rukun perkawinan ialah: (a). Yang dimaksud dengan rukun dari perkawinan ialah hakekat dari perkawinan itu sendiri.

Di bawah ini akan diberikan beberapa contoh mengenai syarat-syarat perkawinan. Larangan-larangan Perkawinan Di dalam agama Islam ada ketentuan-ketentuan tentang larangan perkawinan bagi pria dan wanita. berakal sehat dan lainlainnya. syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh masing-masing rukun perkawinan. kemenakan dan bibi.Pengantar Agama Islam II (d). Jadi supaya perkawinan itu dapat dilaksanakan dan sah hukumnya maka rukun perkawinan itu harus ada dan memenuhi syarat-syarat tertentu. Page 24 . Ketentuan tentang larangan perkawinan ini ada yang sifatnya sementara dan ada yang sifatnya tetap. (d). Adanya unsur kesukarelaan dari pihak-pihak yang hendak melaksanakan perkawinan. Karena adanya hubungan darah. tidak boleh dibatasi waktunya dan lain-lainnya. saudara kandung. Untuk dapat menjadi wali syaratnya adalah muslim laki-laki. Ijab dan qabul harus dilaksanakan dalam satu majelis. bibi susuan. nenek. Adanya mahar dalam perkawinan. misalnya: (a). Hal-hal yang menyebabkan seorang pria dilarang menikah dengan seorang wanita untuk selamalamanya ialah: (a). (b). Akad nikah Yang dimaksud dengan syarat-syarat perkawinan ialah sesuatu yang harus ada dalam perkawinan tetapi tidak termasuk hakekat dari perkawinan. Karena hubungan susuan. Kalau salah satu dari syarat-syarat perkawinan tidak dipenuhi maka perkawinan itu tidak sah. (b). dan kemenakan susuan. Misalnya. (5). yaitu: ibu. Yang dimaksud dengan larangan perkawinan yang sifatnya tetap ialah bahwa seorang pria dilarang mengawini seorang wanita untuk selama-lamanya. Jumlah saksi dalam perkawinan paling sedikit dua orang laki-laki. (e). (c). nenek susuan. yaitu: ibu susuan.

(c). Hak dan kewajiban suami isteri dalam perkawinan itu ada hak dan kewajiban yang bersifat kebendaan dan ada hak dan kewajiban yang bersifat bukan kebendaan. yaitu suami isteri yang putus perkawinannya karena sumpah li’an. 1982: 32 . Yang dimaksud dengan larangan perkawinan yang sifatnya sementara ialah bahwa seorang pria dilarang menikah dengan seorang wanita pada saat ada halanganhalangan tertentu yang menyebabkan keduanya dilarang untuk menikah. kecuali salah satu dari yang empat itu sudah ditalak/dicerai atau meninggal dunia. (d). kecuali secara bergantian. Adapun yang dimaksud dengan kewajiban ialah hal-hal yang wajib dilakukan atau diadakan oleh salah seorang dari suami isteri untuk memenuhi hak dari pihak lain. Hak dan Kewajiban Suami Isteri dalam Perkawinan Perkawinan adalah suatu perjanjian perikatan antara suami isteri yang sudah barang tentu akan mengakibatkan timbulnya hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi kedua belah pihak. yaitu: mertua. menantu. baik saudara kandung. saudara seayah. Page 25 . Yang dimaksud dengan hak ialah suatu yang merupakan milik atau dapat dimiliki oleh suami atau isteri yang diperolehnya dari hasil perkawinannya. Karena hubungan semenda. (b).36). Hal-hal yang menyebabkan seorang pria dilarang menikah dengan seorang wanita yang sifatnya sementara antara lain ialah: (a). kedua belah pihak dilarang menjadi suami isteri kembali untuk selamalamanya. atau saudara seibu maupun saudara sesusuan. misalnya kawin dengan kakaknya kemudian dicerai/meninggal kemudian ganti mengawini adiknya. Mengumpulkan dua orang wanita yang masih bersaudara. tetapi apabila halangan-halangan ini hilang. Karena sumpah li’an. Mengawini lebih dari empat orang wanita. Mengawini wanita yang sedang menjalani masa ‘iddah baik ‘iddah karena kematian maupun karena talak kecuali masa ‘iddahnya sudah habis (Sumiyati. anak tiri dan ibu tiri.Pengantar Agama Islam II (c). maka keduanya dimungkinkan untuk menikah/boleh menikah. (6).

Yang dimaksud dengan talak ialah membuka ikatan atau membatalkan perjanjian. Page 26 . Sedangkan Furqah artinya adalah bercerai yaitu lawan kata dari berkumpul. (7). Isteri wajib mengatur dan mengelola rumah tangga dengan baik. (b). (c). Suami wajib memberi nafkah kepada isterinya yaitu segala kebutuhan isteri yang meliputi makanan. namun adakalanya ada sebab-sebab tertentu yang mengakibatkan perkawinan tidak dapat diteruskan. 1982 : 87 . Putusnya Perkawinan Walaupun melakukan perkawinan itu pada dasarnya dengan tujuan untuk selama-lamanya. Isteri wajib mendidik dan mengurus anak-anaknya dengan sebaik-baiknya. (d). Perceraian dalam istilah Fiqh disebut Talak atau Furqah. Suami isteri harus menciptakan pergaulan dalam rumah tangga yang diliputi rasa saling cinta mencintai. Hak dan kewajiban suami isteri yang bersifat bukan kebendaan antara lain ialah: (a).92). Suami isteri harus saling menghormati dan menghargai satu sama lain. (c).Pengantar Agama Islam II Hak dan kewajiban yang bersifat kebendaan antara lain ialah: (a). Kemudian dua kata itu dipakai oleh ahli Fiqh sebagai satu istilah yang berarti perceraian antara suami isteri. Suami isteri harus saling menciptakan pergaulan yang saling membela dan memerlukan di masa tua (Sumiyati. (b). (d). Suami isteri harus saling menjaga pergaulan yang baik dalam rumah tangga termasuk saling menjaga rahasia masing-masing. Suami wajib memberi mahar kepada isterinya. Perkataan talak dalam istilah fiqh mempunyai arti yang umum dan arti yang khusus. Jadi harus diputuskan di tengah jalan atau terpaksa putus dengan sendirinya. dengan kata lain terjadi perceraian antara suami isteri. Dan di samping itu suami wajib memberikan biaya untuk pemeliharaan dan pendidikan anak-anak. tempat tinggal dan lain-lain kebutuhan rumah tangga pada umumnya. pakaian.

tetapi ada kalanya kesalahpahaman ini menjadi berlarut sehingga antara suami isteri terus menerus terjadi pertengkaran. Di atas telah diterangkan bahwa tujuan melaksanakan perkawinan yang diperintahkan oleh agama Islam ialah perkawinan yang dimaksudkan untuk selamalamanya atas dasar saling cinta mencintai antara suami isteri. Akan tetapi dalam melaksanakan kehidupan berumah tangga suami isteri tentu saja tidak selamanya berada dalam suasana yang damai dan tenteram. misalnya salah satu pihak melalaikan kewajiban. Karena salah satu bentuk perceraian antara suami isteri itu ada yang disebabkan karena talak. maupun perceraian yang jatuh dengan sendirinya atau perceraian karena meninggalnya salah seorang dari suami atau isteri. yang ditetapkan oleh hakim. maka untuk selanjutnya istilah talak di sini dimaksudkan sebagai talak dalam arti yang khusus.Pengantar Agama Islam II Talak menurut arti yang umum ialah segala macam bentuk perceraian baik yang dijatuhkan oleh suami. maka agama Islam memberi jalan keluar yang terakhir bagi suami isteri yang telah gagal dalam membina rumah tangganya yaitu dengan perceraian. Apabila perkawinan yang demikian itu dilanjutkan maka tujuan utama dari perkawinan tidak akan tercapai. dan lain sebagainya. Talak menurut arti yang khusus ialah perceraian yang dijatuhkan oleh pihak suami. Meskipun agama Islam membolehkan perceraian tetapi bukan berarti bahwa agama Islam menyukai terjadinya perceraian dari suatu perkawinan. tidak percaya mempercayai satu sama lain. Dalam keadaan timbul ketegangan seperti ini kadang-kadang dapat diatasi sehingga antara kedua pihak menjadi baik kembali. bertentangan dengan asas-asas Hukum Islam. Dalam salah satu hadisnya Rasulullah bersabda: “Yang halal yang paling dibenci oleh Allah ialah talak/perceraian” Page 27 Perceraian walaupun dibolehkan tetapi agama Islam tetap memandang bahwa perceraian itu . Maka dari itu untuk menghindari hal-hal yang demikian tadi. adakalanya terjadi salah paham antara suami isteri yang disebabkan oleh beberapa hal. Keadaan seperti ini dapat juga menyebabkan keretakan antara keluarga kedua belah pihak.

Khuluk.R. yaitu antara lain ialah: (a). Demikian juga bagi orang yang melakukan perceraian tanpa alasan. ialah perceraian yang dijatuhkan oleh pihak suami. Rasulullah SAW bersabda: “Apakah yang menyebabkan salah seorang dari kamu mempermainkan hukum Allah. Hukum Waris Page 28 . ia mengatakan ‘aku sesungguhnya telah mentalak isteriku dan aku sungguh telah merujuknya” (H. apabila cara-cara yang lain yang telah diusahakan sebelumnya tetap tidak dapat mengembalikan keutuhan kehidupan rumah tangga suami isteri tersebut. 1982: 103 .113). ialah perceraian atas persetujuan suami isteri. Abu Daud dan dinyatakan shahih oleh Al Hakim). sebab kalau suami yang menginginkan perkawinannya putus. ialah perkawinan yang diputuskan oleh Pengadilan Agama atas permintaan salah satu pihak. tetapi pelaksanaannya harus berdasarkan alasan yang kuat dan merupakan jalan yang terakhir yang ditempuh oleh suami isteri. Tebusan yang diberikan isteri kepada suaminya disebut ‘iwald. (c). yaitu perceraian yang dijatuhkan oleh hakam dari kedua belah pihak suami dan isteri karena antara suami dan isteri terus menerus terjadi pertengkaran yang harus diselesaikan supaya tidak berlarut-larut dan menambah penderitaan kedua belah pihak suami isteri tersebut. Perkawinan dapat putus karena beberapa sebab. Dengan melihat isi kedua hadis Nabi tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa talak itu walaupun dibolehkan oleh agama. Caranya yaitu suami menjatuhkan talak satu kepada isterinya namun dengan syarat isteri harus memberi tebusan harta atau uang kepada suaminya. Talak. Fasakh. Biasanya yang menuntut fasakh di Pengadilan adalah isteri.Pengantar Agama Islam II (H. Syiqaq. An Nasa’i dan Ibnu Huban). b. (b).R. (d). ia dapat langsung mengajukan permohonan ke Pengadilan untuk menjatuhkan talaknya pada isterinya (Sumiyati.

Syarat-syarat dan rukun kewarisan (6). 1964: 9). Hukum waris itu sangat erat kaitannya dengan ruang lingkup kehidupan manusia. yaitu meninggalnya seseorang sekaligus menimbulkan akibat hukum.Pengantar Agama Islam II Di samping Hukum Perkawinan maka Hukum Waris merupakan bagian dari hukum keluarga yang memegang peranan penting bahkan menentukan dan mencerminkan sistem dan bentuk hukum yang berlaku dalam masyarakat itu (Hazairin. Kedudukan Hukum Waris Dalam Hukum Islam Hukum waris mempunyai kedudukan yang sangat penting di dalam Hukum Islam sehingga ayat-ayat Al-Qur’an mengatur hukum waris dengan jelas dan terinci. yaitu tentang bagaimana pengurusan dan kelanjutan hak-hak dan kewajiban seseorang yang meninggal dunia itu. Prinsip-prinsip Hukum Waris Islam (4). bahwa setiap manusia akan mengalami peristiwa yang merupakan peristiwa hukum dan lazim disebut meninggal dunia. Beberapa hal yang diatur dalam Hukum Waris antara lain ialah: (1). Kedudukan Hukum Waris di dalam Hukum Islam (2). Penghalang-penghalang warisan (7). Hal ini dapat dimengerti sebab masalah warisan pasti dialami oleh setiap orang. Apabila ada suatu peristiwa hukum. Idris Romulyo. Penyelesaian hak-hak dan kewajiban sebagai akibat adanya peristiwa hukum karena meninggalnya seseorang diatur oleh Hukum Waris. Golongan-golongan ahli waris (1). 1984: 1). Sumber-sumber Hukum Waris Islam (3). di samping itu hukum Page 29 . Hak-hak yang berhubungan dengan harta peninggalan (5). Dengan demikian Hukum Waris dapat dikatakan sebagai himpunan peraturan-peraturan hukum yang mengatur hak-hak dan kewajiban seseorang yang meninggal dunia oleh ahli waris atau badan hukum lainnya (M.

(a). Sumber-sumber Hukum Waris Islam Hukum Waris Islam bersumber kepada tiga sumber hukum. 1980: 7). yaitu: (a). ayat 176 dan Surat Al Anfal ayat 75. . karena faraidl adalah separuh ilmu yang mudah dilupakan serta merupakan ilmu yang pertama kali hilang dari umatku”. Hadis Nabi Riwayat Ahmad bin Hambal. (b).Anak laki-laki dan perempuan sama-sama berhak atas harta warisan orang tuanya.Kuatnya hubungan kerabat karena pertalian darah. maka mereka tidak menjumpai orang yang memberi tahu bagaimana penyelesaiannya”. Hadis Nabi Riwayat Ibnu Majjah dan Addaraquthni mengajarkan: “Pelajarilah faraidl dan ajarkanlah kepada orang banyak. Page 30 . Karena ada perintah khusus untuk mempelajari dan mengajarkan faraidl maka para ulama menjadikannya sebagai salah satu cabang ilmu yang berdiri sendiri yang disebut Ilmu Faraidl. Beberapa hadis nabi di bawah ini mengajarkan bahwa hukum waris mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam Hukum Islam. Al-Qur’an Ayat-ayat Al-Qur’an yang mengatur pembagian harta warisan terdapat dalam beberapa ayat di dalam Surat An Nisa. (2). yaitu ayat 1. hampir-hampir dua orang bersengketa dalam faraidl dan masalahnya. ayat 7 sampai dengan 13. karena aku adalah manusia yang pada suatu ketika mati dan ilmu pun akan hilang.Pengantar Agama Islam II waris langsung menyangkut harta benda yang apabila tidak diberikan ketentuan-ketentuan pasti amat mudah menimbulkan sengketa di antara ahli waris. Ayat-ayat tersebut di atas mengatur antara lain: . memerintahkan: “Pelajarilah Al-Qur’an dan ajarkanlah kepada orang banyak. ilmu tentang pembagian harta warisan (Ahmad Azhar Basyir.

.Aturan mengenai bagian ibu apabila hanya bersama-sama dengan ayah dan suami atau isteri. yaitu: . mengenai hal-hal sebagai berikut: . . tetapi dalam hal-hal yang tidak ada aturannya dalam kedua sumber hukum di atas perlu ditentukan aturannya dengan jalan ijtihad. kepada siapa sisanya harus dibagikan.Bahwa bagian anak laki-laki adalah dua kali bagian anak perempuan. .Aturan mengenai harta warisan yang tidak habis terbagi.Hadis riwayat Bukhari dan Muslim mengajarkan bahwa ahli waris laki-laki yang lebih dekat kepada pewaris.Pengantar Agama Islam II . . Hadis Nabi Meskipun Al-Qur’an mengatur secara terinci ketentuan-ketentuan tentang bagian ahli waris namun ada hal-hal yang belum diatur di dalam Al-Qur’an yang kemudian ketentuannya diatur di dalam Sunnah Nabi. (c).Aturan mengenai bagian warisan orang banci.Hadis riwayat Ahmad mengajarkan bahwa anak dalam kandungan berhak waris setelah dilahirkan dalam keadaan hidup yang ditandai dengan tangisan kelahiran.Agar orang berhati-hati dalam memelihara harta warisan anak yatim. Ijtihad Meskipun Al-Qur’an dan Sunnah Rasul telah memberikan ketentuan terinci tentang pembagian harta warisan. Page 31 Misalnya . .Hadis riwayat Ahmad dan Abu Daud mengajarkan bahwa harta warisan orang yang tidak meninggalkan ahli waris adalah menjadi milik Baitulmal. Hal-hal yang tidak diatur di dalam AlQur’an antara lain. (b). . .Hadis riwayat Malik dan Ibnu Majjah mengajarkan bahwa pembunuh tidak berhak waris atas harta orang yang dibunuhnya. lebih berhak atas sisa harta warisan setelah diambil bagian ahli waris yang mempunyai bagian-bagian tertentu.Menentukan tentang bagian-bagian tertentu kepada golongan ahli waris tertentu.

Prinsip-prinsip Hukum Waris Islam Hukum waris Islam mempunyai prinsip-prinsip yang dapat disimpulkan sebagai berikut: (a). (d). Hukum waris Islam membedakan besar kecil bagian-bagian tertentu ahli waris diselaraskan dengan kebutuhan dalam hidup sehari-hari.Pengantar Agama Islam II (3). Warisan terbatas pada lingkungan keluarga karena hubungan perkawinan atau karena hubungan nasab/keturunan yang sah. (b). mereka semua berhak atas harta warisan. 1/6. Adanya ketentuan-ketentuan Page 32 . dan 1/8. Hukum waris Islam tidak membedakan hak anak-anak atas harta warisan orang tuanya baik anak yang sudah besar maupun yang masih kecil. Hukum waris Islam menempuh jalan tengah antara memberi kebebasan penuh kepada seseorang untuk memindahkan harta peninggalannya dengan jalan wasiat kepada orang yang dikehendaki seperti yang berlaku pada sistem keapitalisme. Misalnya: ahli waris terdiri dari ayah. (f). Tetapi perbedaan besar kecil bagian diadakan sejalan dengan perbedaan besar kecil beban kewajiban yang harus ditunaikan dalam keluarga. Keluarga yang lebih dekat hubungannya dengan si pewaris lebih diutamakan daripada yang lebih jauh. An Nisa ayat 13). Bagian tertentu dari harta warisan itu adalah: 2/3. 1/3. dan ahli waris berhak atas harta warisan tanpa perlu membuat pernyataan menerima secara suka rela atau atas keputusan hakim. Warisan adalah ketetapan hukum. dan di samping itu juga ditentukan berdasarkan jauh dekatnya hubungan ahli waris dengan pewaris. dan melarang sama sekali pembagian harta peninggalan seperti yang menjadi prinsip komunisme yang tidak mengakui hak milik perorangan. sehingga yang mewariskan tidak dapat menghalangi ahli waris dari haknya atas harta warisan. yang dengan sendirinya tidak mengenal sistem warisan. 1/2. ibu. Hukum waris Islam lebih cenderung untuk membagikan harta warisan kepada sebanyak mungkin ahli waris. 1/4. (e). suami dan anak-anak. laki-laki ataupun wanita bahkan yang masih dalam kandungan berhak atas harta warisan orang tuanya. Tetapi tidak berarti bahwa dengan demikian ahli waris dibebani melunasi hutang-hutang si pewaris. Ketentuan tersebut termasuk hal yang sifatnya ta’abbudi yang wajib dilaksanakan oleh karena telah telah menjadi ketentuan Al-Qur’an (lihat S. (c).

atau dua kemungkinan antara hidup dan mati tetapi menurut hukum telah dianggap mati. Harus ada Muwarits (pewaris) yang telah meninggal dunia dan meninggalkan harta peninggalan. yaitu penyelenggaraan jenazahnya sejak dimandikan sampai dimakamkan. 1980: 11). 2. (4). Page 33 . Hak-hak yang menyangkut kepentingan para kreditur.Pengantar Agama Islam II ahli waris yang bersifat ta’abbudi itu merupakan salah satu ciri hukum waris Islam (A. Azhar Basyir. Hak-hak yang menyangkut kepentingan orang-orang yang menerima wasiat. Mati Haqiqi (mati sejati) ialah hilangnya nyawa seseorang dari jasadnya. (b). lebih dahulu harus diperhatikan hak-hak yang menyangkut harta peninggalan itu yang harus dibayarkan terlebih dahulu. Pewarisan hanya berlangsung karena kematian dan ini dapat bermacammacam bentuknya. (c). Mati Hukmy (mati yang dinyatakan menurut keputusan hakim). Hak-hak ahli waris. (5). yang dibuktikan oleh panca indera atau pembuktian menurut ilmu kedokteran. Syarat-syarat dan Rukun Kewarisan Masalah kewarisan baru ada apabila memenuhi syarat-syarat dan rukun kewarisan sebagai berikut: (a). (d). Hak-hak yang berhubungan dengan harta peninggalan secara berturut-turut adalah sebagai berikut: (a). yaitu pelunasan hutang-hutang dari si pewaris. Hak-hak Yang Berhubungan Dengan Harta Peninggalan Sebelum harta peninggalan menjadi hak para ahli waris. Hak-hak yang menyangkut kepentingan dari si pewaris sendiri. Pada hakekatnya orang itu masih hidup. antara lain: 1.

Hak-hak kebendaan. 4. Penghalang-penghalang Warisan Ada beberapa macam penghalang seseorang menerima warisan. misal: 1. antara lain ialah: (a). 2. misalnya: maskawin yang belum dibayar. baik bertalian lurus ke atas dan ke bawah maupun pertalian ke cabang.gunakan. pertanian. Ahli waris adalah orang yang berhak dan akan menerima harta benda peninggalan dari si pewaris. dan sebaliknya orang yang membebaskan budak apabila tidak ada ahli waris yang lain (M. Benda-benda yang berwujud dan bernilai.40). 3. Hak-hak yang bersangkutan dengan orang lain di luar kategori tersebut di atas. menarik hasil dari sumber irigasi. Harus ada Mauruts (Budel) atau Tirkah.Pengantar Agama Islam II (b). yaitu seseorang yang telah membebaskan budak berhak terhadap peninggalan budak itu. benda-benda bergerak. (c). Ahli waris karena hubungan Wala’ (karena pembebasan budak). misalnya: hak syuf’ah atau hak optie yaitu hak membeli kembali terhadap suatu benda. yaitu suami atau isteri. bibi dan lain-lainnya. 1984: 38 . Idris Romulyo. bernilai atau tak bernilai. Harus ada Warits (ahli waris). Hak-hak yang bukan kebendaan. Karena pembunuhan. misalnya: paman. misalnya hak monopoli untuk mendaya. yaitu ahli waris karena adanya hubungan kerabat (darah). piutang-piutang. (6). Tirkah/budel ialah apa yang ditinggalkan oleh muwarits baik hak-hak kebendaan berwujud maupun tak berwujud. Ahli waris Nasabiyah. benda tetap. dan lain sebagainya. 3. Ahli waris dapat dibagi menjadi tiga macam: 1. Ketentuan ini didasarkan pada hadits nabi yang mengajarkan bahwa pembunuh tidak berhak mewaris atas harta peninggalan orang yang Page 34 . perkebunan. Ahli waris karena adanya hubungan perkawinan. 2.

Misalnya: antara suami yang beragama Islam dan isteri beragama Keristen. Bagian-bagian tertentu itu ialah: 2/3. Demikian juga percobaan pembunuhan belum dipandang sebagai penghalang warisan. 1/6. yaitu ahli waris yang mempunyai bagian-bagian tertentu sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an atau Sunnah Rasul. Yang dimaksud dengan pembunuhan ialah pembunuhan dengan sengaja yang mengandung unsur pidana. 1/3. (7).Pengantar Agama Islam II dibunuhnya. Bagian 1/3 disebut di dalam Al-Qur’an menjadi hak ibu apabila pewaris tidak meninggalkan anak atau lebih dari seorang saudara dan saudara-saudara seibu jika lebih dari seorang. seorang saudara perempuan kandung atau seayah dan suami bila pewaris tidak meninggalkan anak yang berhak waris. Dari segi jenis kelaminnya ahli waris dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu ahli waris laki-laki dan ahli waris perempuan. Bagian 2/3 disebut di dalam Al-Qur’an menjadi hak dua orang saudara perempuan kandung atau seayah dan dua anak perempuan. apabila suami menghendaki isterinya dapat menikmati harta peninggalannya dapat dilakukan dengan jalan wasiat. yaitu: (a). Karena berlainan agama antara si pewaris dan ahli waris. Dari segi haknya atas harta warisan ahli waris dibagi menjadi tiga golongan. 1/8. Page 35 . Bagian 1/2 disebut di dalam Al-Qur’an menjadi hak seorang anak perempuan. 1/2. (b). 1/4. bukan karena membela diri dan sebagainya. Golongan Ahli Waris Ahli waris dapat digolongkan menjadi beberapa golongan bila ditinjau dari segi kelaminnya dan dari segi haknya atas harta warisan. Adapun alasan penghalang ini adalah Hadis Nabi yang mengajarkan bahwa orang muslim tidak berhak waris atas orang kafir dan sebaliknya orang kafir tidak berhak waris atas harta orang muslim. Ahli waris Dzawil-furudl.

Misalnya: saudara perempuan kandung atau seayah menjadi waris ashabah karena bersama-sama dengan anak perempuan. tidak karena ditarik oleh waris ashabah lain atau tidak karena bersama-sama dengan waris lain. isteri.Pengantar Agama Islam II Bagian 1/4 disebut dalam Al-Qur’an menjadi hak suami jika pewaris meninggalkan anak yang berhak waris dan isteri apabila pewaris tidak meninggalkan anak yang berhak waris. saudara perempuan seayah. Page 36 . saudara perempuan seayah bersama-sama dengan seorang saudara perempuan kandung dan kakek apabila pewaris meninggalkan anak yang berhak waris. ibu. Bagian 1/6 disebut di dalam Al-Qur’an menjadi hak ayah dan ibu jika pewaris meninggalkan anak yang berhak waris. disebut ashabah binnafsi. cucu laki-laki (dari anak laki-laki). yaitu: 1. saudara perempuan kandung. cucu perempuan (dari anak laki-laki). saudara perempuan seibu. 2. berhak atas sisanya jika bersisa dan apabila tidak ada sisa sama sekali maka mereka tidak akan mendapat bagian apapun. Ahli waris Ashabah ialah ahli waris yang tidak ditentukan bagiannya tetapi akan menerima seluruh harta warisan jika tidak ada ahli waris dzawil furudl. ini disebut ashabah ma’al ghairi. ini disebut ashabah bil ghairi. kakek dan nenek. cucu perempuan ditarik menjadi ashabah oleh cucu laki-laki dan lain sebagainya. Bagian 1/8 disebutkan dalam Al-Qur’an menjadi hak isteri apabila pewaris meninggalkan anak yang berhak waris. Ahli waris ashabah ini ada tiga macam. Yang berkedudukan sebagai waris ashabah dengan sendirinya. Yang berkedudukan sebagai waris ashabah karena bersama-sama dengan waris lain. Misalnya: anak laki-laki. anak perempuan. Yang berkedudukan sebagai waris ashabah karena ditarik oleh waris ashabah lain. Hadis Nabi menyebutkan juga bahwa bagian 1/6 menjadi hak cucu perempuan (dari anak laki-laki) bersama-sama dengan seorang anak perempuan . Ahli waris Dzawil furudl itu ada 12 orang. saudara laki-laki kandung atau seayah dan lain sebagainya. juga ibu bila pewaris meninggalkan saudara lebih dari seorang dan seorang saudara ibu. yaitu: suami. (b). 3. Misalnya: anak perempuan ditarik menjadi ashabah oleh anak laki-laki. ayah.

c. dan lain-lainnya (A. Seseorang berwasiat apabila ia meninggal nanti sebagian dari harta peninggalannya supaya dibelikan tanah dan membangun sebuah gedung untuk balai pertemuan kampungnya. Dengan pengertian seperti tersebut di atas. Untuk memberi gambaran yang jelas mengenai bentuk-bentuk wasiat di bawah ini diberikan beberapa contoh. (c). 71/1946. kemenakan laki-laki atau perempuan dari saudara perempuan. Menurut istilah Fiqh Islam ada bermacam-macam pengertian yang diberikan. (b). Page 37 . Seseorang berwasiat menunjuk seseorang yang dipercaya bertindak sebagai wali atas anak-anaknya dan harta warisan yang jatuh pada mereka sesudah ia meninggal nanti. maka dapat mencakup segala macam bentuk wasiat. 1981 : 24 . Pengertian Wasiat Kata wasiat berasal dari bahasa Arab washiyyah yang berarti pesan atau weling (jawa). Wasiat yang memberikan sebagian harta peninggalan kepada orang tertentu. Misalnya: cucu laki-laki dari anak perempuan. Ahli waris Dzawil-arham. bibi. Wasiat semacam ini berbentuk melepaskan hak untuk orang lain. tetapi tidak termasuk golongan waris dzawil-furudl atau ashabah. Di antara sekian banyak pengertian tentang wasiat maka yang amat sederhana dan tepat ialah yang dicantumkan dalam Pasal 1 Undang-Undang Wasiat Mesir no. yaitu: (a). ialah ahli waris yang mempunyai hubungan famili dengan pewaris. (d).27). misalnya: seseorang berwasiat bila ia meninggal nanti sepeda miliknya harap diberikan kepada temannya yang bernama Ali. Seseorang berwasiat apabila ia meninggal nanti piutangnya pada seseorang tertentu supaya dibebaskan saja.Pengantar Agama Islam II (c). Wasiat 1. Wasiat seperti ini dapat berkedudukan sebagai harta wakaf. Azhar Basyir. sebagai berikut: “Wasiat adalah tindakan seseorang terhadap harta peninggalannya yang disandarkan kepada keadaan setelah meninggal”. tetapi untuk kepentingan umum. Wasiat seperti ini berbentuk memberikan sebagian harta peninggalannya bukan kepada seseorang tertentu.

2. Al-Baqarah 180. 3. Atau dengan kata lain berwasiat itu maksimum sampai dengan sepertiga dari seluruh harta peninggalan. Sunnah Rasul dan Ijtihad. S. memberikan ketentuan bahwa bagian ahli waris dari harta warisan adalah setelah diambil untuk membayar hutang pewaris dan melaksanakan wasiatnya. dan mubah. haram. makruh. Hadis Nabi SAW riwayat Ad Daraquthni dari Mu’adz bin Jabal mengajarkan bahwa wasiat amat penting artinya bagi orang yang berwasiat karena akan menjadi tambahan amal kebajikannya di akhirat kelak. Dasar-dasar Hukum Wasiat Hukum wasiat berdasarkan pada Al-Qur’an. Hukum Wasiat Wasiat dapat dihukumkan: wajib. (a). dan kerabatkerabatnya secara adil dan baik. An Nisa 12. (2). bapak. yang mengajarkan bila seseorang mendekati ajalnya padahal ia memiliki harta banyak hendaklah ia berwasiat untuk ibu. Sunnah Rasul Dari beberapa Sunnah Rasul dapat diperoleh beberapa ajaran tentang wasiat antara lain: (1). (2). Hadis Nabi riwayat Al Jama’ah dari Sa’ad ibn Abi Waqqash. Al-Qur’an Ayat-ayat Al-Qur’an yang memberi ketentuan wasiat antara lain: (1). S. yang mengajarkan bahwa berwasiat itu dibenarkan dan juga memberi ketentuan bahwa memberi wasiat yang menyangkut harta jangan melebihi sepertiga dari harta peninggalan. Page 38 . (b).Pengantar Agama Islam II Wasiat semacam ini berbentuk minta kepada seseorang untuk melakukan suatu perbuatan.

orang itu berdosa dan bertanggung jawab di hadapan Allah. Wasiat sunnah hukumnya apabila ditujukan untuk amal kebajikan dan hanya mengharapkan keridlaan Allah semata-mata. hutang-hutang. (c). Wasiat makruh hukumnya apabila seseorang berwasiat memberikan sebagian hartanya kepada seseorang diluar ahli waris. Orang yang berwasiat (mushi) (b). Sehingga wasiat ini dilakukan hanya sebagai tanda persahabatan atau sebagai balas jasa tanpa disertai niat untuk beribadat kepada Allah dengan wasiatnya itu. Sesuatu yang diwasiatkan (musha-bihi) (d). Unsur-unsur Wasiat dan Persyaratannya Unsur-unsur yang terdapat dalam wasiat itu ada empat macam: (a). Sighat / ikrar Page 39 . Wasiat wajib hukumnya dalam hal-hal yang menyangkut hak Allah seperti Zakat. Wasiat mubah hukumnya apabila tidak terdapat hal-hal tersebut pada empat macam hukum wasiat terdahulu. Wasiat haram hukumnya apabila mewasiatkan barang-barang yang dengan jelas diharamkan agama. seperti berwasiat harta benda untuk membangun tempat perjudian atau tempat-tempat maksiat yang lainnya. 4. Kifarat. (d). dan sebagainya. (e). Bila seseorang tidak berwasiat dalam hal-hal tersebut hingga tidak terpenuhi oleh ahli waris dari harta peninggalannya. (b). Fidyah puasa dan lain-lainnya yang merupakan hutang yang wajib ditunaikan bagi Allah. sedangkan hartanya sedikit tetapi ahli warisnya banyak dan dalam keadaan kekurangan.Pengantar Agama Islam II (a). Di samping itu juga dapat berupa hak-hak sesama manusia yang tidak mungkin diketahui adanya bila tidak diwasiatkan seperti titipan barang. serta yang diberi wasiat tidak memerlukannya karena sudah berkecukupan. Orang yang menerima wasiat (mushalahu) (c).

Dapat berlaku sebagai harta warisan atau dapat menjadi obyek perjanjian (2). Sudah wujud/ada bentuknya waktu wasiat dinyatakan (3). maka memerlukan pertimbangan akal yang baik. Dewasa / baligh (2). Harus dapat diketahui dengan jelas (2). Berakal sehat (3).Pengantar Agama Islam II (a). (d). Sighat wasiat Page 40 . maka apabila mushi membuat wasiat di luar kehendaknya karena adanya unsur paksaan maka wasiat itu dianggap tidak sah. (b). Jumlahnya tidak melebihi sepertiga dari harta peninggalan. Mushalahu tidak membunuh mushi. supaya wasiat itu sah maka mushalahu harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1). Telah wujud ketika wasiat dinyatakan (3). Syarat-syarat Mushi Untuk sahnya wasiat mushi harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1). (c). Milik mushi (4). pertimbangan dipandang ada kalau mushi telah dewasa dan berakal sehat. Atas kehendak sendiri secara bebas Berwasiat adalah tindakan tabarru’ (derma) dari harta bendanya. Bukan tujuan kemaksiatan (4). Disamping itu karena berwasiat itu diperlukan adanya pertimbangan akal sehat. Syarat-syarat Mushalahu Mushalahu adalah orang yang dituju dalam suatu wasiat. Syarat-syarat Musha-bihi Supaya wasiat itu sah maka musha-bihi atau sesuatu yang diwasiatkan harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1).

Azhar Basyir. 5. 1979: 30 . Jadi wasiat dapat diucapkan dengan lisan. Batalnya Wasiat Wasiat dianggap batal apabila terdapat hal-hal sebagai berikut: (a). tidak merusak kemungkinan menikmati barang wasiat dan tidak bertentangan dengan ketentuan-ketentuan agama Islam pada umumnya. Musha-lahu membunuh mushi (f). Page 41 . Musha-lahu meninggal sebelum mushi (e). Musha-bihi diputuskan hakim menjadi hak orang lain (i). Sighat wasiat hanya diperlukan pernyataan dari mushi saja (ijab) dan pada prinsipnya pernyataan menerima dari mushalahu (qabul) tidak diperlukan. Habis waktu wasiatnya (A. Musha-bihi mengalami perubahan bentuk (j). Mushi menarik wasiatnya (b). Musha-lahu menolak wasiat (g). Musha-bihi binasa (h). dapat pula berbentuk tulisan dan dapat berbentuk isyarat yang dapat dimengerti oleh orang yang tidak dapat berbicara atau menulis.45). Mushi kehilangan kecakapan melakukan tindakan hukum karena gila atau rusak akal (c).Pengantar Agama Islam II Untuk sahnya wasiat dapat dipakai segala cara yang memberi pengertian adanya wasiat. Sighat wasiat dapat disertai dengan syarat-syarat tertentu asalkan syarat-syarat itu tidak bertentangan dengan hukum wasiat. Mushi ketika meninggal mempunyai hutang yang menghabiskan harta peninggalannya (d).

Al Hajj 77 memerintahkan “Berbuatlah kebaikan agar kamu bahagia”. Wakaf 1. (3).Pengantar Agama Islam II d. Menurut istilah. wakaf berarti “menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tanpa mengalami musnah seketika dan untuk penggunaan yang mubah. Kemudian Nabi memberikan nasehat sebagai berikut: “Bila kamu mau tahanlah pokoknya dan sedekahkanlah hasilnya”. Al-Qur’an S. yaitu dasar umum dan dasar khusus.a. serta dimaksudkan untuk mendapatkan keridlaan Allah SWT”. (2). (b). Nasehat itu kemudian diikuti oleh sahabat Umar yaitu tanahnya disedekahkan dengan ketentuan: Page 42 Di antara ayat-ayat yang memerintahkan berbuat . (a). Dasar Khusus Dasar khusus amalan wakaf ialah Hadits Nabi riwayat Bukhari. Dasar-dasar Amalan Wakaf Amalan wakaf ini dasarnya ada dua macam. kebaikan itu antara lain: (1). Dasar Umum Yang menjadi dasar umum dari amalan wakaf ini adalah ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan agar orang berbuat kebaikan sebab amalan wakaf adalah termasuk salah satu macam berbuat kebaikan. Al-Qur’an S. Muslim dari Ibnu Umar r. Al-Qur’an S. yang menceritakan bahwa pada suatu hari sahabat Umar datang menghadap Nabi untuk minta nasehat tentang penggunaan tanah yang diperolehnya di Khaibar. 2. Al-Baqarah 267 memerintahkan “Belanjakanlah sebagian harta yang kamu peroleh dengan baik-baik”. Ali Imran 92 mengajarkan “Sekali-kali kamu tidak akan memperoleh kebaikan hingga kamu belanjakan sebagian harta yang kamu senangi”. Pengertian Wakaf Wakaf berasal dari kata Arab waqf yang artinya menahan.

yaitu: (a). 3. Harta wakaf berlaku untuk selama-lamanya. diwariskan. Harta wakaf tidak dapat dipindahkan kepada orang lain baik dengan jalan dijualbelikan.tidak boleh diwaris . Harta wakaf terlepas dari milik wakif (orang yang berwakaf). (4).tidak boleh dijual pokoknya .pengawas harta wakaf boleh menikmati hasilnya sekedarnya namun tidak boleh berlebih-lebihan. Tujuan wakaf (Maukuf ‘alaih) (d).sedekahnya diperuntukkan bagi fakir miskin. Harta wakaf dapat berupa benda-benda tidak bergerak. Unsur-unsur Wakaf dan Persyaratannya Unsur-unsur (rukun) wakaf itu ada empat macam. (3). Harta wakaf dapat dikuasakan kepada pengawas yang mempunyai hak ikut menikmati harta wakaf sekedar yang diperlukan. misalnya tanah. (5).Pengantar Agama Islam II . sabilillah dan tamu . (6). Tujuan wakaf harus jelas dan termasuk amal kebaikan menurut ajaran Islam. Harta yang diwakafkan (Maukuf) (c). Dari hadis tentang wakaf Umar tersebut diperoleh ketentuan umum tentang wakaf yaitu: (1).tidak boleh dihibahkan . untuk memerdekakan budak. Pernyataan wakaf (Sighat) Page 43 . tidak boleh berlebih-lebihan. sanak kerabat. gedung dan sebagainya. yang dapat tahan lama dan tidak musnah seketika setelah dipergunakan. (2). Orang yang berwakaf (Wakif) (b). atau dihibahkan.

sekurang-kurangnya merupakan hal yang mubah menurut ajaran Islam. (2). Tujuan wakaf harus merupakan hal-hal yang termasuk dalam kategori ibadah pada umumnya. Jadi dengan kata lain orang itu sudah dewasa dari segi umur dan mempunyai kecakapan bertindak. Mempunyai kecakapan melakukan tabarru’. Syarat-syarat harta wakaf Wakaf dipandang sah apabila harta wakaf (maukuf) memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1). Harta wakaf merupakan harta yang bernilai. (b). maka tujuan wakaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1). Harta wakaf milik wakif. Selain tanah atau gedung maka harta wakaf dapat pula berupa modal uang yang diperdagangkan atau berupa saham pada perusahaan dagang dan sebagainya. Page 44 . Syarat-syarat tujuan wakaf Sesuai dengan sifat amalan wakaf sebagai salah satu macam ibadah yaitu merupakan salah satu amalan sadaqah. Harta itu tahan lama dalam penggunaannya. Berakal sehat. Tidak terpaksa. (2). yaitu mempunyai pertimbangan akal yang sempurna bagi orang yang telah baligh (dewasa). baik yang ditijukan kepada kelompok orang-orang tertentu atau badan-badan tertentu. (c). maka orang yang berwakaf harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: (1). Syarat-syarat orang yang berwakaf (wakif) Untuk sahnya wakaf.Pengantar Agama Islam II (a). (3). Tujuan wakaf harus jelas. (3). (2). (3). Tujuan wakaf tidak boleh bertentangan dengan nilai-nilai ibadah.

Wakaf khusus ini dipandang sah dan yang berhak menikmati harta wakaf itu adalah mereka yang ditunjuk dalam pernyataan wakaf. 2. ialah wakaf yang sejak semula ditujukan untuk kepentingan umum tidak dikhususkan untuk orang-orang tertentu. Hukum Prifat (Mu’ammalat) Yang dimaksud dengan hukum prifat disini ialah apa yang disebut oleh fuqaha dengan nama Fiqh Mu’ammalat dalam artinya yang khusus. hal ini hanya ditujukan kepada orang yang tidak mampu menggunakan cara lisan atau tulisan. Dengan lisan atau tulisan. yang dinyatakan bahwa pahalanya akan terus mengalir sekalipun wakif telah meninggal dunia selagi harta wakaf itu masih tetap dapat diambil manfaatnya. ekonomi. (b). kebudayaan maupun keagamaan. Syarat-syarat Sighat Wakaf Sighat wakaf atau pernyataan mewakafkan sesuatu dapat dilakukan: (1). Wakaf Ahli atau wakaf keluarga atau dapat juga dikatakan sebagai wakaf khusus. 4. yaitu: (a).Pengantar Agama Islam II (d). pendidikan. Wakaf khairi inilah yang pada dasarnya sejalan dengan jiwa amalan wakaf yang amat dianjurkan dalam ajaran Islam. Sebagai contoh wakaf ahli ini misalnya: seseorang mewakafkan buku-bukunya untuk anak-anaknya yang mampu menggunakannya. baik masih keluarga atau orang lain. Wakaf khairi inilah yang hasilnya benar-benar dapat dinikmati oleh masyarakat secara luas dan merupakan salah satu sarana untuk menyelenggarakan kesejahteraan masyarakat baik dalam bidang sosial. Macam-macam Wakaf Wakaf dapat dibagi menjadi dua macam. Page 45 . Dengan isyarat. ialah wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu seorang atau lebih. kemudian diteruskan kepada cucunya dan seterusnya. yaitu menyangkut hukum benda (kebendaan). Wakaf Khairi (umum). hal ini dapat dinyatakan kepada siapapun juga (2).

Perikatan (perjanjian). (2). Hukum Acara Perdata a. Page 46 . maka para ahli fiqih hanya membicarakan satu bidang saja yaitu bidang/bab perikatannya saja. Kecakapan bertindak. sehingga semua persoalan dari kedua bidang tersebut dibicarakan bersama dalam bab mu’ammalat. pembentukan perikatan. dan lain sebagainya. (3). Hukum Perdata c.Pengantar Agama Islam II Hal-hal yang dibicarakan dalam fiqh mu’ammalat dalam arti yang khusus ini hanyalah mengenai hak-hak manusia dalam hubungannya dengan manusia lain. Asas-asas hukum mu’ammalat b. misalnya: hak penjual untuk menerima uang penjualan dan hak pembeli untuk menerima barang yang dibelinya. Hukum Dagang d. Kalau dibandingkan dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. halangan-halangan kecakapan dan pengampuan. Para ahli fiqih pada umumnya tidak memisahkan pembicaraan antara asas-asas mu’ammalat di satu pihak dengan hukum mu’ammalat di lain pihak. hak penyewa untuk menempati rumah yang disewanya dan hak pemilik rumah sewa untuk mendapatkan uang sewa dari penyewa. cara-cara untuk memperoleh hak milik dan macam-macam hak milik. Apabila dilihat secara keseluruhan dan juga untuk bahan perbandingan dengan hukum perdata barat maka bidang mu’ammalat ini dapat dibagi menjadi empat bagian. Asas-asas Mu’ammalat Disini akan dikemukakan secara garis besar hal-hal apa yang dibicarakan di dalam asas-asas mu’ammalat yaitu antara lain: (1). hapusnya perikatan dan macam-macam perikatan. pengertian dan tingkat-tingkat kecakapan. Teori-teori tentang hak milik. akibat-akibat adanya perikatan. tetapi tidak membicarakan secara khusus mengenai hukum kebendaan. yaitu: a.

Tanggungan. Jual beli. Hak dan kewajiban: sumber-sumber hak. Badan-badan hukum dalam fiqh dan segi-segi perbedaannya dengan manusia. b. (5). dari Afrika.Pengantar Agama Islam II (4). misalnya hak kebendaan. Kepailitan (At-Taflis) (5). c. Pembagian milik bersama (Al-Qismah) (9). Hukum Perdata Yang dibicarakan dalam bidang hukum perdata terutama mengenai bentuk-bentuk perikatan tertentu yaitu antara lain: (1). sampai ke India. hak gadai. Cina. sumber-sumber tanggungan. gadai/hipotik (2). Sewa menyewa (Al-Ijar) (7). Perseroan dagang (As-Syarikah) (6). hak guna pakai dan lain sebagainya. hak milik. Dan lain-lainnya. (6). Eropa. obyek tanggungan dan syarat-syarat adanya tanggungan. Hukum Dagang Walaupun sudah sejak jaman dulu orang-orang Islam terutama orang-orang Arab terkenal sebagai pedagang yang telah mengadakan hubungan dagang dengan berbagai bangsa di dunia ini. Penggarapan tanah (Al-Muzara’ah) (8). macam-macam hak. Pemindahan hutang (Hiwalah) (4). Jaminan hutang (Al-Kafalah) (3). namun dalam kenyataannya orang Islam belum mempunyai peraturan-peraturan yang mengatur tentang perdagangan dan seluk Page 47 .

Mudharabah ialah suatu perjanjian dagang bersama dimana modal ditanggung oleh seseorang sedang pihak yang satunya mempunyai tugas menjalankan modal itu untuk berdagang kemudian keuntungannya dibagi antara kedua orang tersebut menurut perjanjian yang telah ditentukan bersama. Gugatan. Gugatan (Ad-Da’wa). Pelaksanaan keputusan hakim. Salah satu bentuk perikatan dagang yang dibicarakan secara tersendiri yaitu perserikatan dagang yang disebut Mudharabah atau Qirald. Hukum Acara Perdata Hal-hal yang dibicarakan dalam hukum acara perdata secara garis besar terbagi atas tiga bidang. yaitu: Peradilan (Al-Qadli). kejahatan atau pelanggaran. obyek gugatan dan cara mengajukan gugatan (4). sumpah. pengakuan. 3. dan lain-lain (6). d. Cara memeriksa perkara (3). Page 48 . Penggugat dan tergugat (5). Hukum Pidana Islam (Al-Jinayah) a. Dari ketiga bidang ini dirinci sebagai berikut: (1). Syarat-syarat seorang hakim (2). yang artinya adalah perbuatan dosa. saksi. dan Persaksian (AsSyahadah). Tetapi peraturan-peraturan mengenai hukum dagang ini secara garis besar masih diatur di dalam hukum perdata. Hal ini mungkin disebabkan karena alat bukti yang memegang peranan penting dalam hukum Islam hanyalah keterangan-keterangan saksi. Pengertian Jinayat dan Jarimah Hukum Pidana Islam dalam Fiqh Islam disebut dengan istilah Al-Jinaayat. bukti tertulis. Alat-alat pembuktian. Mengenai pembukuan yang dapat dipakai sebagai alat bukti tertulis juga tidak dibicarakan oleh para fuqaha.Pengantar Agama Islam II beluknya yang terpisah atau berdiri sendiri.

Unsur formal. kejahatan dan pelanggaran adalah perbuatan yang termasuk dalam perbuatan pidana (jarimah). Dengan demikian maka Al-Jinaayat atau Hukum Pidana Islam adalah bidang hukum yang membicarakan macam-macam perbuatan pidana (jarimah) dan hukumnya. Unsur ini sesuai dengan prinsip yang menyatakan bahwa jarimah dianggap tidak ada sebelum dinyatakan dalam nash. Unsur-unsur Jarimah dan Macam-macam Jarimah (1). harga diri. minum-minuman keras dan dapat juga berupa meninggalkan hal-hal yang diperintahkan. Azhar Basyir. Al-Isra’ 15 yang Page 49 . Unsur-unsur Jarimah Sesuatu perbuatan dapat dipandang sebagai jarimah jika memenuhi unsur-unsur sebagai berikut: (a). misalnya: melanggar larangan zina. ketenteraman jiwa dan sebagainya yang berhak memperoleh perlindungan (A. b. Alasan bahwa jarimah harus memenuhi unsur formal adalah firman Allah dalam Kitab Suci Al-Qur’an S.Pengantar Agama Islam II Semua perbuatan dosa. 1982: 1). Al-Mawardi dalam kitabnya Al-Ahkaam As-Sulthaaniyah memberikan definisi Jarimah sebagai berikut: “Jarimah adalah larangan-larangan Syara’ yang diancam dengan hukuman Hadd atau Ta’zir”. Hukuman Hadd adalah hukuman yang telah dipastikan ketentuannya dalam nash AlQur’an dan Sunnah Rasul. misalnya: mengabaikan kewajiban zakat. Perbuatan-perbuatan yang jika dikerjakan atau ditinggalkan dipandang sebagai jarimah ialah perbuatan yang mempunyai akaibat merugikan perseorangan atau masyarakat dalam aqidah. Larangan-larangan Syara’ yang disebut jarimah itu dapat berupa pelanggaran terhadap hal-hal yang dilarang. Hukuman Ta’zir adalah hukuman yang ketentuannya tidak dipastikan dalam nash AlQur’an dan Sunnah Rasul tetapi ketentuannya menjadi wewenang penguasa. harta benda. yaitu adanya nash atau dasar hukum yang menunjuknya sebagai jarimah.

Unsur ini didasarkan kepada Hadis Nabi riwayat Ibnu Majjah dan Abu Dzarr yang mengajarkan bahwa “Allah melewatkan hukuman terhadap umat Nabi Muhammad karena salah. Alasan bahwa jarimah harus memenuhi unsur material ialah Hadis Nabi riwayat Bukhari-Muslim dari Abu Hurairah yang mengajarkan bahwa “Allah melewatkan hukuman untuk umat Nabi Muhammad atas sesuatu yang masih terkandung dalam hati selagi ia tidak mengatakan dengan lisan atau mengerjakannya dengan nyata”. Unsur ini menyangkut tanggung jawab yang hanya dikenakan terhadap orang yang telah dewasa/baligh. Unsur material. yaitu adanya niat atau kesengajaan pelaku untuk berbuat jarimah. (b). Pembunuhan dengan sengaja. Page 50 . (2). yaitu jarimah yang diancam dengan hukuman qishash yaitu hukuman yang sama dengan jarimah yang dilakukan. Untuk dinilai bahwa seseorang telah membangkang ajaran Rasul Allah harus terlebih dahulu diketahui adanya ajaran Rasul Allah yang dituangkan dalam nash. 1981: 4). yaitu: (a).Pengantar Agama Islam II mengajarkan bahwa Allah tidak akan menyiksa hambanya sebelum mengutus utusannya. (c). Ajaran ini berisi ketentuan bahwa hukuman akan dijatuhkan kepada mereka yang membangkang ajaran Rasul Allah. Unsur moral. lupa dan sesuatu yang dipaksakan” (A. ini ancaman hukumannya adalah sama yaitu dipotong atau dilukai anggota badannya. Hukum Pidana Islam mengenal empat macam Jarimah. sehat akalnya dan tidak terpaksa dalam melakukannya. Yang termasuk jarimah ini ialah: 1. yaitu adanya perbuatan melawan hukum yang benar-benar telah dilakukan. ini ancaman hukumannya adalah pidana mati 2. Jarimah Qishash. Penganiayaan dengan sengaja yang mengakibatkan terpotong atau terlukanya anggota badan. Azhar Basyir. Macam-macam Jarimah Dilihat dari berat ringannya macam hukuman yang diancamkan. Dengan kata lain unsur moral ini berhubungan dengan tanggung jawab pidana yang hanya dibebankan terhadap orang mukallaf yang bebas dari paksaan.

yaitu hukuman ganti rugi atas penderitaan yang dialami si kurban atau keluarganya.62 gram . Dan ganti rugi ini dapat berupa: .pencuri mengambil harta dari tempat simpanan yang semesti. misalnya orang yang kelaparan mencuri untuk menyelamatkan jiwanya. namun harus memenuhi syarat-syarat tertentu yaitu: . Jarimah Hudud.harta yang dicuri memenuhi nishab. sesuai dengan macam harta yang dicuri . Yang termasuk jarimah ini adalah: 1. Jarimah Diyat. Pencurian.pencurian tidak terjadi karena daya paksa.puasa dua bulan berturut-turut .Kifarat/pembebasan hamba sahaya yang beriman .pencurinya harus dewasa. yaitu jarimah yang diancam dengan hukuman diyat. Page 51 . Yang termasuk jarimah ini ialah: 1. hukuman dari jarimah ini adalah membayar diyat/ganti rugi.jika dimaafkan maka bebas untuk tidak membayar ganti rugi 2. Hukuman ini tidak dapat diganti dengan macam hukuman lain atau dibatalkan oleh manusia. ancaman hukumannya adalah membalas melukai anggota badan orang yang menganiaya atau membayar diyat/ganti rugi sesuai dengan permintaan penderita atau keluarganya.nya. ialah jarimah yang diancam dengan hukuman hadd yaitu hukuman yang telah ditentukan oleh Allah dalam nash Al-Qur’an atau Sunnah Rasul. Pembunuhan tidak sengaja (pembunuhan karena alpa). berakal sehat dan tidak terpaksa . (c). yaitu seharga emas minimal 1. Ancaman hukuman pencurian adalah potong tangan. yaitu mengambil harta milik orang lain dengan cara sembunyi dari tempat simpanan dengan maksud untuk dimiliki.Pengantar Agama Islam II (b).harta itu milik orang lain . Penganiayaan tidak sengaja.pembayaran ganti rugi kepada keluarganya .

Larangan ini ditujukan kepada setiap minuman keras yang potensial dapat memabukkan. ancaman hukumannya adalah delapan puluh kali cambukan dan ditambah pidana tambahan yaitu tidak boleh menjadi saksi. ialah keluar dari agama Islam untuk pindah agama atau tidak beragama sama sekali. Dapat dipandang sebagai jarimah ta’zir jika merugikan pelakunya atau orang lain. Ancaman hukumannya adalah didera/dicambuk seratus kali. Mengenai ancaman hukumannya ditentukan dengan besar kecilnya kerugian masyarakat sebagai akibat dari jarimah yang dilakukan. ialah semua jarimah yang dilarang syara’ tetapi tidak diancam dengan sesuatu macam hukuman di dalam Al-Qur’an atau Sunnah Rasul. Ancaman hukumannya siksa neraka di akhirat nanti. Hukumannya adalah empat puluh kali cambukan atau dapat ditambah sampai dengan delapan puluh kali cambukan. dan dapat pula ditentukan oleh penguasa. (d). jarimah ini ancaman hukumannya adalah diperangi kembali. Minum minuman keras. dipotong tangan atau kakinya atau diasingkan. Macam-macam jarimah ta’zir antara lain: 1. Jarimah Ta’zir. Jarimah perampokan disebut Hirabah. Menyuap Page 52 . Ancaman hukumannya adalah dihukum mati dan disalib. Riddah. Pemberontakan. Zina. Ukurannya adalah tidak tergantung banyak atau sedikit yang diminum. Riba 2. yaitu kejahatan merampas harta di jalan umum dengan cara kekerasan. 4. perbuatan ini dianggap sebagai jarimah karena dapat merusak akal pikiran. Ancaman hukuman ini dapat diterapkan apabila ada bukti yang kuat yaitu: . dihukum mati saja.pengakuan dari pelakunya yang benar-benar dapat meyakin-kan kebenarannya. ialah hubungan kelamin antara pria dan wanita yang tidak dihalalkan oleh syara’. Perampokan. tetapi kalau minum minuman yang potensial dapat memabukkan dapat dihukum.Pengantar Agama Islam II 2. Menuduh zina. 6. 7. 3. 5. mabuk atau tidak.persaksian empat orang laki-laki yang dengan mata kepala sendiri menyaksikan perbuatan zina itu .

Hak dan kewajiban negara (6). Berjudi 4. Hukum Internasional Hukum Internasional dalam Islam dibagi menjadi dua bidang. Hukum Tatanegara (Siasah Syar’iyyah) Dalam soal ketatanegaraan Fiqh Islam mempunyai dua kumpulan aturan yaitu: alfiqhul-dasturi (Hukum Ketatanegaraan) dan al-fiqhul-idari (Hukum Administrasi dan Keuangan). Page 53 . Azhar Basyir.Pengantar Agama Islam II 3. Pelanggaran terhadap peraturan bea cukai (A. Negara dan syarat yang harus dipenuhi untuk membentuk suatu negara (5). Hukum Ketatanegaraan mengatur secara garis besar persoalan-persoalan sebagai berikut: (1). Menegakkan pemerintahan Islam (3). Hubungan penguasa dengan warga negara dalam berbagai lapangan hidup. 4. 5. Menipu takaran/timbangan 6. a. Yang dimaksud dengan hukum administrasi ialah kumpulan aturan yang mengatur kegiatan penguasa eksekutif termasuk di dalamnya kegiatan penguasa dalam bidang keuangan. Pelanggaran lalu lintas 5. 1981: 4 .28). yaitu: Hukum Perdata Islam Internasional dan Hukum Pidana/Publik IslamInternasional. Pimpinan negara/kepala negara (2). b. Teori-teori tentang timbulnya negara (4).

atau antara orang Islam dengan salah satu golongan tersebut di atas yang menyangkut harta benda. (3). dibicarakan dalam bab Jihad itu antara lain: Page 54 Hal-hal yang . dan sebagainya. (2). Mengenai hubungan antar negara maka salah satu hal yang diatur ialah masalahmasalah yang menyangkut hubungan dan suasana perang (bab Jihad).Pengantar Agama Islam II a. b. Hukum yang berlaku apabila terjadi sengketa antara golongan-golongan itu sendiri. Hukum pernikahan mana yang harus dilaksanakan dan cara-cara pelaksanaannya. Hukum Publik Islam Internasional Hukum Publik Islam Internasional mengatur hubungan hukum antara Negara Islam dengan negara lain atau negara-negara Islam dengan warga negara lain di luar lapangan keperdataan. Harbi yaitu penduduk negara musuh. antara lain: (1). pemutusan perkawinan. (3). (b). diatur juga mengenai beberapa hal. Ketentuan-ketentuan hukum yang timbul dari pernikahan tersebut seperti hak dan kewajiban suami isteri. Orang-orang yang bukan Islam dibagi menjadi tiga golongan yaitu: (1). Dalam hubungannya dengan ketiga golonganorang bukan Islam tersebut di atas. (2). Dzimmi ialah orang yang bukan Islam yang menetap di negara Islam. Musta’min adalah orang yang bukan Islam yang menetap di negara Islam untuk satu maksud tertentu. Hukum Islam mana yang berlaku atas mereka. Hukum Perdata Islam Internasional Hukum Perdata Islam Internasional terdiri atas kumpulan aturan yang mengatur tentang “hukum mana yang berlaku apabila ada hubungan hukum perdata antara orangorang Islam dengan orang-orang yang bukan Islam di negara Islam”. warisan. wasiat. Hukum pernikahan antara orang Islam dengan Ahli Kitab (orang Yahudi/Nasrani) mengenai: (a).

pencurian. Dasar hukum perang (2). Orang-orang yang terkena kewajiban berperang (3). Page 55 . Kedudukan harta benda dari musuh (5).Pengantar Agama Islam II (1). dan sebagainya serta hukum mana yang berlaku atas mereka. Pengakhiran perang dan perjanjian damai. Mengenai hubungan antara negara Islam dengan warga negara asing. Prinsip-prinsip teritorialitas dan nasionalitas serta pengaruhnya terhadap perbuatanperbuatan negeri Islam atau warga negara lawan. (2). hal-hal yang diatur antara lain: (1). (3). Perbuatan-perbuatan pidana yang dilakukan oleh orang asing. seperti: minum minuman keras. Peraturan-peraturan yang berlaku dalam suasana perang dan di medan perang (4). Penyerahan orang yang melakukan perbuatan pidana atau pengusiran dari suatu negara.

wordpress.pengobatan. Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam. Sumber Hukum Islam. Filsafat Hukum Islam. Jambi : Sinar Grafika. Abuddin. • As-Sayis.com/ajaran_islam/perbedaan_quran&hadits. Asmuni.Sulaiman. • Djamil Faturrahman.Pengantar Agama Islam II DAFTAR PUSTAKA • Abdullah. Al-Quran dan Hadits. 1991. Jakarta : Bumi Aksara • Abdurrahman. Jakarta : Logos Wacana Ilmu. 1996. 1992. Jakarta : Logos Wacana Ilmu • http://mandikopa.com • http://hikmatun. Syekh Muhammad Ali. Jakarta : Akademi Pressindo • Nata. Filsafat Hukum Islam. 1995. Ismail. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada • Muhammad Syah. 1985.com • http://www. 1997.multiply. Filsafat Hukum Islam.htm Page 56 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->