BAB I

PENDAHULUAN
1.1. KARAKTERISTIK BATUAN RESERVOIR Reservoir adalah suatu tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi. Pada umumnya reservoir minyak memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung dari komposisi, temperature dan tekanan pada tempat dimana terjadi akumulasi hidrokarbon didalamnya. Suatu reservoir minyak biasanya mempunyai tiga unsur utama yaitu adanya batuan reservoir, lapisan penutup dan perangkap. Beberapa syarat terakumulasinya minyak dan gas bumi adalah : 1. Adanya batuan Induk (Source Rock) Merupakan batuan sedimen yang mengandung bahan organik seperti sisasisa hewan dan tumbuhan yang telah mengalami proses pematangan dengan waktu yang sangat lama sehingga menghasilkan minyak dan gas bumi. 2. Adanya batuan waduk (Reservoir Rock) Merupakan batuan sedimen yang mempunyai pori, sehingga minyak dan gas bumi yang dihasilkan batuan induk dapat masuk dan terakumulasi. 3. Adanya struktur batuan perangkap Merupakan batuan yang berfungsi sebagai penghalang bermigrasinya minyak dan gas bumi lebih jauh. 4. Adanya batuan penutup (Cap Rock) Merupakan batuan sedimen yang tidak dapat dilalui oleh cairan (impermeable), sehingga minyak dan gas bumi terjebak dalam batuan tersebut. 5. Adanya jalur migrasi Merupakan jalan minyak dan gas bumi dari batuan induk sampai terakumulasi pada perangkap. 1.2. ANALISA BATUAN RESERERVOIR Dalam operasi perminyakan hal-hal yang perlu dilakukan adalah meneliti apa saja karakteristik dari batuan penyusun reservoir. Kegiatan yang biasanya 1

dilakukan untuk menganalisa reservoir adalah Analisa core, Analisa Cutting dan Analisa Logging. Analisa Core biasanya dilakukan dengan mengambil sampel batuan yang di bor dari dalam formasi dan selanjutnya core diteliti di laboratorium. Analisa logging dilakukan dengan cara menganalisa lapisan batuan yang dibor dengan menggunakan peralatan logging (Tool Log). peralatan logging dimasukkan kedalam sumur, kemudian alat tersebut akan mengeluarkan gelombang – gelombang khusus seperti listrik, gamma ray, suara dan sebagainya (tergantung jenis loggingnya), kemudian gelombang tersebut akan terpantul. kembali dan diterima oleh alat logging, dan datanya kemudian dikirim ke peralatan dipermukaan untuk dianalisa. Analisa cutting, dilakukan dengan meneliti cutting yang berasal dari lumpur pemboran yang disirkulasikan kedalam sumur pemboran. Cutting dibersihkan dari lumpur pemboran, selanjutnya di teliti di laboratorium untuk mengetahui sifat dari batuan reservoir tersebut. Pada praktikum kali ini, kita akan menganalisa sifat batuan reservoir dengan metode Analisa Core. 1.3. PENGERTIAN ANALISA INTI BATUAN Analisa Inti Batuan adalah tahapan anlisa setelah contoh formasi dibawah permukaan (core) diperoleh. Tujuan dari Analisa Inti Batuan adalah untuk menentukan secara langsung informasi tentang sifat-sifat fisik batuan yang ditembus selama pemboran. Studi dari data analisa inti batuan dalam pemboran ekplorasi dapat digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan dapat diproduksinya hidrokarbon dari suatu sumur, sedangkan tahap eksploitasi dari suatu reservoir dapat digunakan untuk pegangan melaksanakan well completion dan merupakan suatu informasi penting untuk melaksanakan proyek secondary dan tertiary recovery. Selain itu, data inti batuan ini juga berguna sebagai bahan pembanding dan kalibrasi pada metode logging.

2

Prosedur Analisa Inti Batuan pada dasarnya terdiri atas 2 bagian, yaitu : − − Analisa inti batuan rutin Analisa inti batuan spesial Analisa Inti Batuan Rutin umumnya berkisar tentang pengukuran porositas, permeabilitas absolut dan saturasi fluida, sedangkan Analisa Inti Batuan Spesial dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pengukuran pada kondisi statis dan pengukuran pada kondisi dinamis. Pengukuran pada kondisi statis meliputi tekanan kapiler, sifat-sifat listrik dan cepat rambat suara, grain density, wettability, kompresibilitas batuan, permeabilitas dan porositas fungsi tekanan (Net Over Burden) dan studi Petrography. Pengukuran pada kondisi dinamis meliputi permeabilitas relatif, thermal-recovery, gas residual, water flood evaluation, liquid permeability (evaluasi completion, work over dan injection fluid meliputi surfactant dan polymer).

3

Porositas juga dapat diartikan sebagai suatu ukuran yang menunjukkan besar rongga dalam batuan. Juga untuk membuktikan bahwa harga porositas dari suatu sample core kering dapat diperoleh dengan menggunakan Metode Menimbang dan dengan Mercury Injection Pump.BAB II PENGUKURAN POROSITAS 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya suatu porositas adalah: Sudut kemiringan batuan Bentuk butiran Cara susunannya Lingkungan pengendapan Ukuran butiran batuan Komposisi mineral pembentuk batuan Berdasarkan struktur pori. 2. Menurut proses geologinya.2 TEORI DASAR Porositas didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume ruang poripori terhadap volume total batuan (bulk volume). yaitu Porositas Primer dan Porositas Sekunder.1 TUJUAN Percobaan bertujuan untuk mencari harga porositas dari suatu sample core kering. • Porositas Primer merupakan porositas yang terjadi bersamaan atau segera setelah proses pengendapan batuan. • Porositas Sekunder adalah porositas yang terjadi setelah proses pengendapan batuan (batuan sedimen terbentuk). antara lain akibat aksi pelarutan air tanah atau akibat rekahan. Jenis batuan sedimen yang mempunyai porositas primer adalah batuan konglomerat. 4 . dengan simbol ‘Ø’. porositas dibagi menjadi Porositas antar butiran (intergranular dan intragranular porosity) dan Porositas rekahan (fracture porosity). batu pasir dan karbonat. porositas diklasifikasikan menjadi 2.

jika dirumuskan : Vp x 100% Vb Vp x 100% Vg + Vp Dolomitisasi. dalam proses ini batuan gamping (CaCO3) ditransformasikan menjadi dolomite (CaMg(CO3)2) atau menurut reaksi φabs = φabs = atau φabs = atau Vb −Vg x 100% Vb Dimana : Vp = volume pori-pori batuan. a. Porositas larutan. Porositas jenis ini sulit untuk dievaluasi atau ditentukan secara kualitatif karena bentuknya tidak teratur. sesar atau patahan. Menurut para ahli batuan gamping yang terdolomitisasi mempunyai porositas yang lebih besar dari batuan gampingnya sendiri. yaitu Porositas Absolut dan Porositas Efektif. celah. b. c.Sedangkan porositas sekunder sendiri. kekar. Porositas Absolut Porositas absolut adalah perbandingan antara volume seluruh pori (poripori total) terhadap volume total batuan (bulk volume) yang dinyatakan dalam persen. yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban seperti lipatan. porositas dibagi menjadi 2. yaitu: a. kimia : 2CaCO3 + MgCl2 → CaMg(CO3)2 + CaCl2. cm3 Vb = volume bulk (total) batuan. cm3 5 . dibagi menjadi 3. yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena adanya proses pelarutan batuan. Berdasarkan komunikasi antar pori dan dilihat dari sudut teknik reservoirnya . Rekahan.

porositas efektif 6 . Non-Efektif dan Porositas Absolut Batuan Gambar diatas menunjukkan perbandingan antara porositas efektif. jika dirumuskan : ρ g − ρb ρg − ρ f φeff = Volume pori yang berhubunga n x100 % Volume total batuan atau φeff = x100% Dimana : ρ g = densitas butiran.1 Skema Perbandingan Porositas Efektif. Porositas Efektif Porositas efektif adalah perbandingan antara volume pori-pori yang berhubungan terhadap volume total batuan (bulk volume) yang dinyatakan dalam persen. Untuk selanjutnya.Vg = volume butiran. % ρ b ρf φff e C o n n e c te d E f fe c tiv e P o ro s ity o r To ta l P o ro s ity Is o la te d o r N o n . % abs b. gr/cc = densitas total.E f f e c t iv e P o ro s ity Gambar 2. gr/cc = densitas formasi. gr/cc = porositas efektif. cm3 φ = porositas absolute. non efektif dan porositas total dari suatu batuan.

pycnometer kosong = vol awal skala – vol akhir skala Vol. Selain menggunakan rumus yang telah dituliskan sebelumnya.digunakan dalam perhitungan karena dianggap sebagai fraksi volume yang produktif. Penentuan volume pycnometer: Vol.J air pori − pori Volume pori yang efektif = Volume air dalam ruang pori-pori 3. Penentuan volume pori : Vol pori = vol awal skala – vol akhir skala 7 . porositas efektif juga dapat ditentukan dengan : 1. bulk batuan = (vol pycnometer kosong) – (vol pycnometer + core) c. pycnometer + core b. Metode Saturation Volume pori yang efektif Volume total batuan φeff = x 100 % Volume pori yang efektif dapat ditentukan dengan metode resaturation : o Berat air dalam ruang pori-pori = berat sample yang dijenuhi di udara berat sample kering di udara o Volume air dalam ruang pori-pori = Berat air dalam ruang B. Ekspansi Gas Volume total batuan sample −Volume butiran efektif Volume total batuan sample sample φeff = x 100 % 2. = vol awal skala – vol akhir skala terisi core Penentuan volume bulk batuan : Vol. Mercury Injection Pump a.

4.2 Pengaruh Susunan Butir terhadap Porositas Batuan 8 . Unit cell batuan yang distudi terdiri atas 2 pack dalam bentuk kubus dan jajaran genjang (rombohedron). Slitcher & Graton serta Fraser mencoba menghitung porositas batuan pada berbagai bidang bulatan dengan susunan batuan yang seragam.J kerosin W3 −W1 B. sedangkan porositas pada bidang jajaran genjang (rombohedron) yang tidak teratur mempunyai harga porositas sebesar 25.J kerosin Dalam usaha mencari batasan atau kisaran harga porositas batuan.J kerosin Porositas efektif ( φff ) e = Volume total batuan x 100% Volum e pori W3 − W1 = W3 − W2 B. Porositas dengan bentuk kubus ternyata mempunyai porositas sebesar 47. Menimbang Volume total batuan (Vb) Volume butiran (Vg) Volume pori (Vp) = = = W3 −W2 B.6%.J kerosin W1 −W2 B. Gambar 2.95%.J kerosin x 100% B.

Derajat Sementasi dan Kompaksi Kompaksi batuan akan menyebabkan makin mengecilnya pori batuan akibat adanya penekanan susunan batuan menjadi rapat.Untuk pegangan secara praktis di lapangan.1 ukuran porositas dengan harga di lapangan 0 −5 % 5 – 10% 10 – 15% 15 – 20% > 20% dianggap jelek sekali dianggap jelek dianggap sedang dianggap baik sangat bagus Di dalam formasi batuan reservoir minyak dan gas bumi tersusun atas berbagai macam mineral (material) dengan ukuran butir yang sangat bervariasi. Sebagai standar dipakai bentuk bola. jika bentuk butiran mendekati bola maka porositas batuan akan lebih meningkat dibandingkan bentuk yang menyudut. 2. ukuran porositas dengan harga: Tabel 2. Sedangkan sementasi pada batuan akan menutup pori-pori batuan tersebut. oleh karenanya harga porositas dari suatu lapisan ke lapisan yang lain akan selalu bervariasi. Distribusi dan Penyusunan Butiran Distribusi disini adalah penyebaran dari berbagai macam besar butir yang tergantung pada proses sedimentasi dari batuannya. Umumnya jika batuan tersebut diendapkan oleh arus kuat maka besar butir akan sama besar. 3. Ukuran dan Bentuk Butir Ukuran butir tidak mempengaruhi porositas total dari seluruh batuan. Sedangkan susunan adalah pengaturan butir saat batuan diendapkan. tetapi mempengaruhi besar kecilnya pori-pori antar butir. Faktor utama yang menyebabkan harga porositas bervariasi adalah : 1. 9 . Sedangkan bentuk butir didasarkan pada bentuk penyudutan (ketajaman) dari pinggir butir.

Shalysand b). seperti : silt & clay yang terdapat dalam batuan akan menyebabkan mengecilnya ukuran pori-pori batuan. Batu Pasir Semakin banyak material pengotor.3.2. Timbangan & Anak timbangan 2. Bahan 1.1. Beaker glass ceper 4. PERALATAN dan BAHAN 1. Vacum pump & Vacum desikator 3.Adapun gambaran dari berbagai faktor tersebut di atas dapat dibuktikan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Nanz dengan alat sieve analysis sebagaimana yang terlihat pada gambar berikut : Gambar 2. 2. Core (Inti Batuan) 2.3 Distribusi Kumulatif Ukuran Butiran dari Graywacke a). Porometer 2.3. Peralatan 10 .3. Kerosine 2.

Gambar Vacuum Pump Gambar Beaker Glass Gambar Rangkaian Porometer 2.4. 2.4. Pengukuran Porositas Dengan Cara Menimbang 11 .1. dikeluarkan dari tabung ekstrasi dan didinginkan beberapa menit. PROSEDUR KERJA Prosedur kerja : a) Core (inti batuan) yang telah diekstrasi selama 3 jam dengan soxlet dan didiamkan selama 24 jam. kemudian dikeringkan dalam oven pada temperatur 100-115 oC.

2. dan fill valve dalam keadaan terbuka. Pastikan penutup dan valve picnometer dalam keadaan tertutup. Pengukuran Porositas Dengan Mercury Injection Pump 2. Putar handwheel berlawanan dengan arah jarum jam sejauh mungkin. e) Ambil core tersebut (yang masih jenuh dengan kerosin). f) Perhitungan : Volume total batuan (Vb) = W3 −W2 B. misal beratnya = W2 gram. a) b) c) Ketentuan Penggunaan Porometer Plungger / cylinder dihampa udarakan sebelum memulai pekerjaan.J kerosin 2.4.b) Timbang core kering dalam mangkuk.J kerosin Volume butiran (Vg) = W1 −W2 B. d) Ambil core yang telah dijenuhi kerosin kemudian timbang dalam kerosin.2. 12 . misal beratnya = W3 gram.J kerosin Porositas efektif ( φff ) e = Volume total batuan x 100% Volum e pori W3 − W1 = W3 − W2 B.J kerosin x 100% B. kemudian timbang di udara. c) Masukkan core kering tersebut kedalam vacum desikator untuk dihampakan udara ± 1 jam dan saturasikan dengan kerosin.4. misal berat core kering = W1 gram.1.J kerosin Volume pori (Vp) = W3 −W1 B.

c) Atur volume scale pada harga tertentu. misalnya 50 cc. selanjutnya tutup fill valve dan terakhir matikan vakum. Kemudian tutup lagi picnometer (valve picnometer tetap buka). misalnya 30. Prosedur Penentuan Porositas a) Pastikan permukaan Hg pada posisi bagian bawah dari picnometer. Putar lagi handwheel berlawanan dengan arah jarum jam sampai jarum jam pada pressure gauge menunjukkan angka nol pertama kali. e) Hentikan pemutaran handwheel dan baca volume scale dan dial handwheel (miring kanan). Jika kedudukan mercury ada pada ruang picnometer. f) Hitung volume picnometer : (50 – 30. 13 .2. turunkan permukaan mercury sampai pada batas bawah picnometer (jika ada yang menempel pada dinding harus dibersihkan) dengan memutar handwheel berlawanan dengan arah jarum jam. h) Buka penutup picnometer dan masukkan core sample. masukkan Hg dalam flask ke dalam cylinder sampai habis.d) e) Hidupkan pompa vakum dan lakukan sampai ruang cylinder sampai habis.8 cc.8) cc = a cc. jika kedudukan mercury ada pada cylinder maka ulangi lagi langkah 2 sampai 8. selanjutnya tutup fill valve dan matikan pompa vakum.4. lihat kedudukan mercury. Buka valve dan penutup picnometer. 2. Jika langkah 4 terpenuhi. b) Tutup penutup picnometer dan buka valve picnometer. f) g) h) Putar handwheel searah jarum jam sampai pressure gauge menunjukkan suatu harga tertentu. g) Kembalikan kedudukan mercury pada keadaan semula dengan memutar handwheel berlawanan dengan arah jarum jam (pada volume scale 50 cc). d) Putar handwheel searah jarum jam sampai mercury pertama kali muncul pada picnometer.2.

5. Volume grain (Vg) = W1 −W2 B.5 = 52 .2) cc = b cc.8 gr/cc W3 −W2 B. Akan tetapi perlu dicatat besarnya angka yang ditunjukkan dial handwheel (miring kiri) setelah pengukuran Vb. Penentuan porositas dengan cara Menimbang b. misalnya 38.J kerosin = 52. o) Hitung besarnya porositas. Kemudian atur pore space scale pada angka nol. Volume bulk (Vb) = (W1) (W3) = 52 gr = 22 gr = 64 gr = 0. Hasil Percobaan dan Perhitungan a. k) Hitung volume bulk dari core sample : ( a – b ) cc = d cc. m) Putar handwheel searah jarum jam sampai ke kanan pada pressure gauge menunjukkan angka 750 psia.8 f. pada saat meletakkan pore space scale pada angka nol.22 = 37. Harga tersebut harus diperhitungkan saat mengukur Vp. Densitas kerosin e. Catat volume scale dan dial handwheel (miring kanan). kedudukan dial handwheel tidak harus pada angka nol. Berat core kering di udara c.22 0.J kerosin 2.1.i) Putar handwheel sampai mercury untuk pertama kali muncul pada valve picnometer.5 14 . yaitu dengan menutup valve picnometer. Berat core jenuh di kerosin (W2) = 64 . 2.5. l) Lanjutkan percobaan untuk menentukan volume pori (Vp). Berat core jenuh di udara d. Untuk langkah 12 ini. j) Hitung volume picnometer yang terisi core sample : (50 – 38.2 cc. n) Catat perubahan volume pada pore space scale dan dial handwheel (miring kiri) sebagai volume pori (Vp).

20 = [-30.21 = φeff = Vp x 100% Vb = [-5.skala akhir = 51.21) 15 .99 cc = 50.5.57% 2.97 cc = 6.Skala awal .8 g.21] cc c.Skala awal .Skala akhir .J kerosin = 64 . Penentuan Volume Pori .48.97 – 6.8 Vp x 100 % Vb = 15 φff e = = 15 52.24 ) x 100 % ( −30 .52 0.2.27 cc = 2.0.99 cc = skala awal .21 cc = skala awal – skala akhir = 0.07 cc = skala awal – skala akhir = 50.5 = 28.Skala akhir .Volume pycnometer + core = 51. Penentuan Volume Bulk .99 = 17. Penentuan skala pycnometer . Volume pori (Vp) = W3 −W1 B.24] cc = 17.27 – 2.07 = 48.98 – 33.Volume pycnometer kosong b.Skala awal .20 cc Volume Bulk Batuan = (volume pycnometer + core) – (volume pycnometer kosong) = 17.99 . Penentuan Porositas dengan Mercury Injection Pump a.35% (−5.Skala akhir .Volume pori = 0.98 cc = 33.

4.07 cc Dari data-data tersebut diatas.07 cc. sehingga didapat nilainya sebesar 17. Kemudian setelah kita mengetahui haraga piknometer kosong.2. dan Skala akhir 2. Dari hasil penentuan harga skala tersebut.57 % Penentuan porositas dengan Mercury Injection Pump diawali dengan penentuan skala awal dan skala akhir picnometer dengan menggunakan petunjuk / prosedur penentuan porositas yang telah dijelaskan pada poin 2.6. volume piknometer + core. maka kita bias menentukan Volume piknometer dalam keadaan kosong yaitu selisih antara skala awal dan skala akhir piknometer.2. Setelah didapatkan harga volume pycnometer yang berisi core sample.20 cc. skala akhir.99 cc cc. kita dapat menentukan berapa besarnya Volume bulk (Vb) batuan dengan 16 . Dari kedua data diatas itu. Baca skala volume pada keadaan awal dan akhir pada pycnometer yang kosong. Pembahasan Dari percobaan menentukan porositas sample core dengan cara menimbang diatas didapatkan Volume bulk 52.2. skala pada keadaan awal dan akhir pada pycnometer yang berisi core sample telah didapatkan data sebagai berikut Skala awal sebesar 51. sehingga nilai yang didapatkan sebesar 48. Harga skala volume pada keadaan awal dan akhir pada pycnometer yang kosong telah didapatkan Skala awal sebesar 50.98 cc.99 cc.2. maka dilakukan langkah seperti pada langkah 8 pada petunjuk / prosedur penentuan porositas (poin 2. 15 cc. Skala awal yang dimaksud adalah volume picnometer ketika belum di Injeksi dengan Mercury. dan setelah di injeksi dengan Mercury dinamakan skala akhir.2) dengan harapan akan diketahui skala awal.5 cc. dan Volume pori . dan volume bulk batuan. kita bisa menentukan berapa besar volume piknometer bersama Core yang berada bersama piknometer tersebut dengan mengurangkan besarnya harga skala yang didapat pada keadaan awal dengan harga skala yang didapat pada keadaan akhir (skala awal – skala akhir).5 cc. Volume grain 37. dan Skala akhir sebesar 33. Maka besar harga porositas efektif yang diperoleh melalui cara menimbang adalah 28.4.

Penentuan harga porositas dapat dilakukan melalui 2 cara. Dari hasil percobaan diperoleh harga porositas Dengan cara menimbang. didapat Volume Bulk Batuan sebesar 30.7. Dari perhitungan didapat nilai porositas effektifnya sebesar 17.35 % 2. maupun menggunakan prosedur mercury injection pump 2. e Dan dengan cara mercury injection pump φff = 17. Dari perhitungan tersebut. yaitu dengan cara menimbang.57 %. 17 . φff = 28. Namun percobaan berulang-ulang dan ketelitian pada saat penentuan skala dapat menghasilkan hasil analisa yg lebih akurat. Melalui prosedur percobaan yang berbeda seringkali kita mendapatkan hasil kekurangseragaman core yang dianalisa dan keakuratan dalam menentukan pembacaan skala pada picnometer maupun pada proses penimbangan. Kemudian dapat kita tentukan besarnya harga porositas efektif dengan memasukkan harga volume pori (Vp) dan volume bulk (Vb) ke dalam rumus yang telah diuraikan sebelumnya.4.96 cc dan kondisi akhir 4.mengurangkan besarnya Volume piknometer dalam keadaan kosong dan volume piknometer dalam keadaan terdapat Core didalamnya.2.21] cc (karena perhitungan merupakan selisih volume awal dan akhir maka hasil dalam tanda mutlak). Sehingga Volume Pori didapat bernilai [-30.25 cc.35 %.21 cc. Penentuan besarnya volume pori (Vp) dapat dengan menggunakan cara yang sama dengan cara yang digunakan untuk menghitung harga volume pycnometer yang kosong dan harga volume pycnometer yang berisi core sample yaitu dengan menghitung selisih antara kondisi awal yaitu 0. e yang tidak sama.2). Hal tersebut dapat disebabkan oleh 3. Kemudian perhitungan dilanjutkan dengan menentukan besarnya Volume pori (Vp) seperti yang terdapat pada langkah 12 petunjuk / prosedur penentuan porositas (2. Kesimpulan 1.

4. karena semakin besar ukuran butirnya. Ukuran butir memberikan pengaruh dalam besarnya porositas suatu core. maka akan mengurangi jumlah pori dalam suatu satuan volume batuan reservoir tersebut. BAB III PENGUKURAN SATURASI FLUIDA 18 .

2 Teori Dasar Dalam batuan reservoir minyak umumnya terdapat lebih dari satu macam fluida. Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara volume pori-pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan volume pori-pori total pada suatu batuan berpori. kemungkinan terdapat air. minyak dan gas.1 TUJUAN Percobaan bertujuan untuk menentukan perbandingan jumlah masing- masing fluida pada suatu reservoir. yaitu : 19 . Ruang pori-pori batuan reservoir mengandung fluida yang biasanya terdiri dari air. dan gas yang tersebar ke seluruh bagian reservoir. maka perlu diketahui saturasi masing-masing fluida tersebut. Untuk mengetahui jumlah masing-masing fluida. Juga untuk membuktikan bahwa nilai saturasi bisa didapatkan dengan pengukuran melalui metode destilasi. 3. Saturasi minyak (So) adalah : volum e So = pori − pori yang diisi oleh m yak in volum pori − pori total e Saturasi air (Sw) adalah : Sw = volume pori − pori yang diisi air volume pori − pori total Saturasi gas (Sg) adalah : Sg = volume pori − pori yang diisi oleh gas volume pori − pori total Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan : Sg + S o + Sw = 1 Jika diisi oleh minyak dan air saja maka : So + Sw = 1 Terdapat tiga faktor yang penting mengenai saturasi fluida.3. minyak.

Demikian juga untuk bagian atas dari struktur reservoir berlaku sebaliknya. ruang pori-porinya adalah φ .V Gambar 3. maka ruang pori-pori yang diisi oleh hidrokarbon adalah : So.φ . (Amyx..3 PERALATAN dan BAHAN 20 .φ . Saturasi fluida akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dalam reservoir. Saturasi fluida akan bervariasi dengan kumulatip produksi minyak. 1960) 3.V. Jika minyak diproduksikan maka tempatnya di reservoir akan digantikan oleh air dan atau gas bebas. saturasi fluida berubah secara kontinyu. Jika volume contoh batuan adalah V. sehingga pada lapangan yang memproduksikan minyak. Bass.V = (1-Sw).W. 3. 2.J. Bagian struktur reservoir yang lebih rendah relatip akan mempunyai Sw yang tinggi dan Sg yang relatip rendah. saturasi air cenderung untuk lebih besar dalam bagian batuan yang kurang porous.. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan densitas dari masing-masing fluida. b) Untuk Sistem Fluida yang Sama dengan Batuan yang Berbeda. MD.1 Variasi Pc terhadap Sw a) Untuk Sistem batuan yang Sama dengan Fluida yang berbeda. Saturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam istilah poripori yang diisi oleh hidrokarbon.V + Sg.1.φ .

Retort b. Exicator f.1 Peralatan a. Minyak Gambar Retort Skema Stark Dean Distilation Apparatur Gambar Exicator Gambar Oven 21 . Fresh core b.3. Air c. Timbangan analisis dengan batu timbangan d.3. Gelas ukur e.3. Oven 3. Solvent extractor termasuk reflux condensor (pendingin) water trap dan pemanas listrik c.2 Bahan a.

f. misalnya = c gram. Dinginkan dan baca air yang tertampung di water trap. c. Lengkapi dengan water trap dan reflux condenser.74 gr gr cc . h.44 cc gr 22 = = = 37 38.25 10.5 Hasil Percobaan dan Perhitungan Timbangan Core Kering Timbangan Core Jenuh Volume pori (didapat dari metode penimbangan) Volume air yang didapat Berat air yang didapat = = 0. Sampel dikeringkan dalam oven ± 15 menit (pada suhu 110oC). kemudian timbang core kering tersebut.3. g. Masukkan core tersebut ke dalam labu Dean & Stark yang telah diisi dengan toluena. missal beratnya = a gram. Ambil fersh core yang telah dijenuhi dengan air dan minyak.44 0. misalnya = b cc = b gram. Panaskan selama ± 2 jam hingga air tidak nampak lagi. Metode Destilasi i. Hitung saturasi minyak dan air : So = e Vp Sw = b Vp 3. Hitung volume minyak : Vo = d = B. e.J m yak in e cc j.4 Prosedur Kerja Prosedur : a. b. d. Timbang core tersebut. Dinginkan dalam exicator ± 15 menit. Hitung berat minyak : = a – (b + c) gram = d gram.

09 = 0.74 = 0. pori vol .021 10 . yang besarnya sama dengan berat air tersebut. atau 4.021 cc Volume minyak = 0.6 = 1 – (Sw + So) = 1 – (0.74 cc.74 1.021 cc Setelah semua data didapatkan maka kita dapat menentukan Saturasi Oil (So) sebesar 0.81 = 1. pori Sg 3. Saturasi Water (Sw) sebesar 0.09) = 0.041 = 9% = 4. oil So = vol .44 cc. didapatkan berat core kering sebesar 37 gr dan berat core yang telah dijenuhi air sebesar 38.869= 86. air = = 1.041.09.81 gr = 0. atau 9 %.1% Sw = vol .J minyak ke dalam perbandingan sehingga didapatkan volume sebesar 1.021 10. Didapat nilai Sg-nya sebesar 86. Berdasarkan data. Sehingga dari angkaangka tersebut dapat ditentukan besarnya volume pori pada sample core sebesar 10. berat air sebesar 0.9 % 23 .25 gr.041 + 0.44 gr yang didapat dari hasil kali antara Massa jenis air (ρ) dan Volume air (V).793 vol .1 %.25 – 37 – 0. Sedangkan untuk Penentuan volume minyak dapat dilakukan dengan memasukkan nilai berat minyak dan harga B.44 = 0.Berat minyak B.9% Pembahasan Dalam menentukan saturasi fluida dengan metode destilasi pertama-tama kita harus menghitung berat core kering yang telah dijenuhi air dan minyak dengan menggunakan timbangan. Pada Saturasi Gas (Sg) dapat dihasilkan dengan memasukkan harga saturasi oil dan harga saturasi water ke dalam persamaan So + Sw + Sg = 1. Sedangkan volume air yang didapat sesuai dengan petunjuk pada prosedur kerja adalah 0.J minyak = Berat core jenuh – Berat core kering – Berat air = 38.793 gr/cc 0.

kita dapat menentukan distribusi suatu fluida pada suatu reservoir.3. kita akan mendapatkan gambaran mengenai perbandingan fluida-fluida yang terdapat di suatu reservoir. Kesimpulan Saturasi dapat diukur dengan metode destilasi Dengan menhitung besarnya saturasi pada sample core. 24 .7 1. 3. atau dengan kata lain. Dari hasil perhitungan saturasi masing-masing fluida sebagaimana diatas dapat disimpulkan bahwa reservoir yang diteliti lebih banyak mengandung gas. 2.

atm/cm k = permeabilitas media berpori. Darcy Tanda negatif dalam Persamaan diatas menunjukkan bahwa bila tekanan bertambah dalam satu arah.BAB IV PENGUKURAN PERMEABILITAS 4. centipoise dP/dL = gradien tekanan dalam arah aliran. Fluida yang mengalir satu fasa 3. Alirannya mantap (steady state) 2. maka arah alirannya berlawanan dengan arah pertambahan tekanan tersebut. Beberapa anggapan yang digunakan oleh Darcy dalam Persamaan tersebut adalah: 1.2 Teori Dasar Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan yang menunjukkan kemampuan dari suatu batuan untuk mengalirkan fluida. Viskositas fluida yang mengalir konstan 4. cm/sec µ = viskositas fluida yang mengalir. Permeabilitas batuan merupakan fungsi dari tingkat hubungan ruang antar pori-pori dalam batuan. Definisi kwantitatif permeabilitas pertama-tama dikembangkan oleh Henry Darcy (1856) dalam hubungan empiris dengan bentuk differensial sebagai berikut: V=− k dP ⋅ µ dL dimana : V = kecepatan aliran. 4.1 Tujuan Percobaan bertujuan untuk menentukan harga permeabilitas absolut menggunakan Gas Permeameter. Juga untuk membandingkan nilai permeabilitas pada tekanan yang berubah-ubah. Kondisi aliran isothermal 25 .

Dasar penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang dilakukan oleh Henry Darcy. gas dan minyak atau ketiga-tiganya. permeabilitas dibedakan menjadi tiga. misalnya minyak dan air.1) Gambar 4. yaitu : 1. Permeabilitas efektif.1 Diagram Percobaan Pengukuran Permeabilitas (Amyx.J. Dalam percobaan ini. Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q. dan panjanggnya L.L/A. Henry Darcy menggunakan batupasir tidak kompak yang dialiri air. dengan luas penampang A.( P1 − P2 ) Satuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah : 26 . MD.(P1-P2) adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang tidak tergantung dari cairan. maka diperoleh harga permeabilitas absolut batuan.µ L . Bass. Dalam batuan reservoir. Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran turbulen. A .. 3. 2. Permeabilitas relatif. air dan gas. Ditunjukkan pada (Gambar 4. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal 6. Batupasir silindris yang porous ini 100% dijenuhi cairan dengan viskositas µ . perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang digunakan. 1960) K= Q.5. Permeabilitas absolut.. Fluidanya incompressible. sedangkan P2 adalah tekanan keluar. adalah permeabilitas dimana fluida yang mengalir melalui media berpori tersebut hanya satu fasa.W.µ . adalah permeabilitas batuan dimana fluida yang mengalir lebih dari satu fasa. misal hanya minyak atau gas saja. Kemudian dengan memberikan tekanan masuk P1 pada salah satu ujungnya maka terjadi aliran dengan laju sebesar Q. adalah perbandingan antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas absolut.

gas. L A. dengan perbandingan minyak-air permulaan. Pada prakteknya di reservoir. Sedangkan permeabilitas relatif dinyatakan sebagai berikut : K ro = Ko K .µ w . µ ( centipoise ) L ( cm ) A ( sqcm ( P1 − P2 ) ( atm ).( P1 − P2 ) Kw = Q w . Jadi volume total (Qo + Qw) akan mengalir melalui pori-pori batuan per satuan waktu. L A. gas. Harga permeabilitas efektif dinyatakan sebagai Ko. Krw = Kw K Dimana masing-masing untuk permeabilitas relatif minyak. jarang sekali terjadi aliran satu fasa. Untuk itu dikembangkan pula konsep mengenai permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif. Laju aliran minyak adalah Qo dan air adalah Qw. hanya disini digunakan dua macam fluida (minyak-air) yang dialirkan bersama-sama dan dalam keadaan kesetimbangan. ) Dari Persamaan diatas dapat dikembangkan untuk berbagai kondisi aliran yaitu aliran linier dan radial. pada aliran ini tidak akan sama dengan Qo / Qw. kemungkinan terdiri dari dua fasa atau tiga fasa. Dari percobaan ini dapat ditentukan harga saturasi minyak (So) dan saturasi air (Sw) pada kondisi stabil. masing-masing untuk fluida yang compressible dan incompressible.µ o . K rg = Kg K . Percobaan yang dilakukan pada dasarnya untuk sistem satu fasa. Harga permeabilitas efektip untuk minyak dan air adalah : Ko = Q o .K ( darcy ) = Q ( cm 3 / sec). 27 . Kw. Kg. dimana masing-masing untuk minyak. dan air.( P1 − P2 ) dimana : µ µ o w = = viskositas minyak viskositas air. dan air.

Special Lid an Over Flow Tube 5. L Q w . Gas pressure line and pressure regulator 8.3 4.( P1 − P2 ) Sw akan diperoleh hubungan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 4.C.µ w . demikian jug a untuk harga K absolutnya (titik A dan B pada Gambar 4. L dan Kw = jika diplot terhadap So dan A. Harga-harga Ko dan Kw pada Persamaan Ko = Q o .2 dapat ditunjukkan bahwa Ko pada Sw = 0 dan So = 1 akan sama dengan harga K absolut. Cut off valve 4. Thermometer R. Hawkins M. Fill Connection 3. Burette 6.2) Gambar 4.1 PERALATAN DAN BAHAN Alat 1.3.F. 1959) 4.2 Kurva Permeabilitas Efektif untuk Sistem Minyak dan Air (Craft. dengan (Qo + Qw) tetap kontan. Gas inlet 28 . Discharge-fill valve assemble 7.( P1 − P2 ) A.2 Dari Gambar 4. Core Holder untuk Liquid Permeameter 2.. B.Percobaan ini diulangi untuk laju permukaan (input rate) yang berbeda untuk minyak dan air.µ o ..

9.2 Stopwatch Bahan 1. Fresh Core 2.3.4 Rangkaian Gas Permeater 29 . Gas Gambar 4.3 Rangkaian Liquid Permeater Gambar 4. 4.

Ulangi percobaan sebanyak 3 kali. Jika flowmeter tetap tidak naik dari angka 20. putar selector valve ke “Medium” dan naikkan tekanan sampai 0. tekanan dan pembacaan flowmeter. cp .4. ditentukan dari grafik kalibrasi. maka permeabilitas core terlalu besar. Percobaan kita hentikan atau coba naikkan panjang core atau kuramgi cross sectional area dari core. i) j) k) l) m) n) Jika flowmeter menunjukkan angka di atas 140 pada ”lange” tebu.25 atm dengan regulator. Perhitungan : Persamaan yang digunakan dalam percobaan ini adalah : k = µg Q g L A ∆P Dimana : k Qg = Permeabilitas.0 atm. hubungkan saluran gas inlet. Jika pembacaan pada flowmeter di bawah 20. Catat temperature. darcy = Flow rate rata-rata (cc/dt) pada tekanan rata-rata. Buka regulating valve. Pilih range pembaca pada flowmeter antara 20 – 140 division.25 atm. 30 µ g = Viskositas gas yang digunakan (lihat grafik). Putar flowmeter selector valve pada tanda “Large”. Jika pembacaan pada flowmeter di bawah 20.4 a) b) c) d) e) f) g) h) Prosedur Kerja Dengan menggunakan gas permeameter Pastikan regulating valve tertutup. Masukkan core pada core holder. putar selector valve ke ”Small” dan naikkan tekanan sampai 1. putar sampai pressure gauge menunjukkan angka 0.5 atm. hentikan percobaan dan periksa core pada core holder (tentukan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi). Ubah tekanan ke 0.

01825 = 0. atm (0.25 atm.64 cm 2 Panjang Core (L) Luas Penampang Core (A) P Beda Tekanan (∆ ) = 2.293 cm cm2 atm cm cc/dt cp darcy cm cm2 atm cm cc/dt cp darcy Flow Reading Laju Aliran Gas Viscositas Gas ( µg ) Permeabilitas (k) Panjang Core (L) Luas Penampang Core (A) P Beda Tekanan (∆ ) Flow Reading Laju Aliran Gas Viscositas Gas ( µg ) Permeabilitas (k) 31 .64 = 0.5 = 11.5 atm.5 = 8 (L) = 37. cm = Luas penampang dari sample.25 = 4. cm2 ∆P = Pressure gradient.5 = 0.0168 udara. 1 atm) Catatan 4.925 ) 2 =11.5 : Jika digunakan gas N2 maka Q = 1.321 = 2.64 = 0.5 = 11. Hasil Percobaan dan Perhitungan Persamaan yang digunakan : µ µ Q L Q L k g gg g k = = A P A ∆P∆ Pengukuran Permeabilitas Absolut dengan Gas Permeameter Harga A = π r 2 =π (1.5 = 0.L A = Panjang sample.18 = 20. 0.01825 = 0.

5 atm nilai permeabilitas adalah 0. maka diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut. Pada tekanan 0.5 atm dan 1 atm.01825 = 0.Panjang Core (L) Luas Penampang Core (A) P Beda Tekanan (∆ ) = 2.01825 centipoise. 0. tekanan dan pembacaan flowmeter sesuai dengan petunjuk pada prosedur kerja yang diulangi sebanyak 3 kali pada tekanan yang berbeda-beda. Setelah mendapatkan nilai seluruh data yang diperlukan.195 cm cm2 atm cm cc/dt cp darcy Flow Reading Laju Aliran Gas Viscositas Gas ( µg ) Permeabilitas (k) 4.25 atm nilai permeabilitas adalah 0.6 Pembahasan Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui permeabilitas suatu sample core pada tekanan 0.25 atm.321 D.5 = 11. Gas yang digunakan mempunyai viskositas sebesar 0. Selanjutnya menentukan besarnya temperatur.293 D.1 Kurva Permeabilitas Absolut Vs 1/Pressure 32 . Pada tekanan 0. Pada tekanan 1 atm nilai permeabilitas adalah 0.64 = 1 = 12 (L) = 50 = 0.195 D Grafik 4.

maka nilai k semakin kecil maka disimpulkan K ~ 1/ ΔP 3. Selain itu besaran permeabilitas berbanding lurus dengan besaran viskositas liquid yang melalui sample core tersebut.4. Semakin besar ΔP.195 Darcy BAB V 33 .2 ) P 0 Core 2 ( ∆ = .1) = 0. Besar nilai permeabilitas untuk masing – masing core adalah : P 0 5 Core 1 ( ∆ = . Percobaan yang dilakukan sebanyak 3 kali. Besarnya harga permeabilitas absolut berbanding terbalik dengan tekanan. laju alir liquid juga jarak aliran 4.293 Darcy = 0.7 Kesimpulan 1.5 ) P 0 Core 3 ( ∆ = . dengan tekanan gas yang berbeda-beda. Semakin besar beda tekanan maka semakin kecil nilai permeabilitasnya 2.321 Darcy = 0.

Metode penanggulangan ini memerlukan pengetahuaan tentang dstribusi ukuran pasir agar dapat ditentukan pemilihan ukuran screen dan gravel yang tepat. Seandainya pasir tersebut tidak dikontrol dapat menyebabkan pengikisan dan penyumbatan pada peralatan produksi. dan gravel packing. apabila laju alirannya rendah pasir yang ikut terproduksi sedikit dan sebaliknya. Produksi pasir lepas ini.1 Tujuan Mengetahui besarnya koefisien keseragaman butir pasir (C) untuk dapat menentukan pemilihan ukuran screen dan gravel yang tepat dengan tujuan menanggulangi masalah kepasiran dalam suatu sumur formasi agar dapat dikontrol menggunakan metode yang umum digunakan. juga menimbulkan penyumbatan pada dasar sumur. juga menimbulkan penyumbatan pada dasar sumur.SIEVE ANALISYS 5. pada umumnya sensitive terhadap laju prod uksi. 34 . Disamping itu. Metode yang umum untuk menanggulangi masalah kepasiran meliputi penggunaan slotted atau screen liner. apabila laju alirannya rendah pasir yang ikut terproduksi sedikit dan sebaliknya. antara lain meliputi penggunaan slotted atau screen liner dan gravel packing. Produksi pasir lepas ini. Tahap penyelesaian suatu sumur yang menembus formasi lepas (unconsolidated) tidak sederhana seperti tahap penyelesaian dengan formasi kompak (consolidated) karena harus mempertimbangkan adanya pasir yang ikut terproduksi bersama fluida produksi. 5. Disamping itu. Seandainya pasir tersebut tidak dikontrol dapat menyebabkan pengikisan dan penyumbatan pada peralatan produksi.2 Teori Dasar Tahap penyelesaian suatu umur yang menembus formasi lepas (unconsolidated) tidak sederhana seperti tahap penyelesaian dengan formasi kompak (consolidated) karena harus mempertimbangkan adanya pasir yang ikut terproduksi bersama fluida produksi. pada umumnya sensitive terhadap laju produksi.

Pada kenyataannya. Pendekatan analitik dari gravel pack yang digunakan adalah berdasarkan pada pori-pori antara butiran-butiran gravel. meskipun dapat menahan pergerakan pasir.Gambar 5. ternyata bentuk 35 . Secara teoritis packing yang paling longgar. dan gravel packing. Sedangkan packing yang paling rapat adalah berbentuk hexagonal dan pertikel yang dapat melewati ruangan antar partikel tersebut berukuran 0. operasi gravel pack gagal meningkatkan kapasitas produksi.4142 × diameter partikel yang membentuk packing. partikel yang dapat melewati ruangan antara partikel tersebut berukuran 0. akibat partikel-partikel halus bercampur dengan gravel. Kegagalan ini disebabkan oleh karena berkurangnya permeabilitas didepan zona produktif. yang dibentuk dari partikel-partikel bulat dengan ukuran seragam adalah cubic packing. Dari percobaan.1 Sieve Analysis Metode yang umum untuk menanggulangi masalah kepasiran meliputi penggunaan slotted atau screen liner. Metode penanggulangan ini memerlukan pengetahuaan tentang dstribusi ukuran pasir agar dapat ditentukan pemilihan ukuran screen dan gravel yang tepat. Percampuran partikel-partikel ini dapat terjadi baik pada saat operasi gravel packing sedang berjalan maupun sesudahnya. serta memungkinkan produksi ditingkatkan sampai kapasitas maksimum.1545 × diameter partikel yang membentuk packing. Dengan susunan tersebut. Pemasangan gravel pack bertujuan untuk menghentikan pergerakan pasir formasi.

yaitu dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : 1. Tetapi. Saucier : G − S Ratio = 50 Percentil Gravel 50 Percentil Sand 36 . memberikan pendekatan dalam menentukan ukuran gravel. Beberapa bentuk persamaan yang diberikan oleh para ahli. Coberly dan Wagner mengusulkan ukuran gravel yang digunakan sama dengan 10 kali d10. G-S ratio adalah perbandingan antara ukuran butiran gravel dengan ukuran butir pasir formasi. G-S ratio sangat penting hubungannya dengan pemilihan ukuran gravel.64 × diameter pasir formasi yang terkecil. adalah sebagai berikut: a. d. Schwartz. b. maka kurva tersebut digunakan untuk perhitungan selanjutnya. Analisis butiran pasir formasi. Berdasarkan hal ini. Saucier Sparlin : Tausch− Corley: Schwartz : D50 = 5 sampai 6 d50 D50 = 4 sampai 8 d50 6 d50 ≥ D ≥ 4 d10 : untuk C < 3 → D10 = 6 d10 untuk C < 3 → D40 = 6 d40. beberapa ahli lain memberikan saran atau pendapat sebagai berikut : a. Untuk menentukan ukuran gravel. Dengan demikian ukuran gravel yang digunakan harus lebih kecil atau sama dengan 6. dimana d10 adalah 10 percentile dari hasil sieve analysis. Dengan demikian ukuran celahcelah ini tidak lebih besar dari tiga kali ukuran partikel. 2.packing yang terjadi mendekati hexagonal packing. Harga perbandingan gravel terhadap pasir formasi atau G-S ratio. Setelah diperoleh kurva distribusi ukuran butir pasir formasi produktif. ternyata butiran-butiran pasir yang halus dapat membentuk bridge yang stabil di muka celah-celah partikel gravel. c.

maka pasir formasi akan menerobos kedalam pengepakan gravel dan akan menambah kehilangan tekanan (pressure drop). Sehingga Saucier menyimpulkan bahwa harga G-S ratio optimum ukuran gravel terhadap ukuran pasir formasi antara lima sampai enam dapat dipakai untuk mempertahankan stabilitas pengepakan. Coberly− Hill− Wagner− Gumpertz : G − S Ratio = Ukuran Gravel Terbesar Ukuran Pasir 10 Percentil d. Maly : G − S Ratio = Ukuran Gravel Terkecil Ukuran Pasir 10 Percentil Gambar 5. karena nampak fungsi penahan (bridging) dari gravel. karena gravel yang dibutuhkan untuk mengontrol pasir terlalu kecil. maka pasir formasi akan dengan bebas melewati pengepakan gravel. 37 . Untuk harga G-S ratio lebih dari 10. Harga optimum G-S ratio adalah 5 sampai 6. Schwartz : G − S Ratio = 10 Percentil Gravel 10 Percentil Sand atau G − S Ratio = 40 Percentil Gravel 40 Percentil Sand c.b. Sedangkan untuk ukuran gravel yang terlalu besar. karena permeabilitas dapat dipertahankan dalam keadaan tetap tinggi. Sedangkan pada harga G-S ratio 6 sampai 10. terjadi pengurangan permeabilitas gravel pack. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa untuk harga G-S ratio kurang dari 5.2 menunjukkan efek G-S ratio terhadap permeabilitas gravel pack. terjadi pengurangan permeabilitas efektif pengepakan gravel.

Pelaksanaannya adalah sebagai berikut : a. digunakan water wet gravel jika digunakan oil placement fluid. Gravel pack merupakan work over yang terbaik untuk single completion dengan zona produksi yang panjang. maka titik d40 merupakan design point dengan G-S ratio adalah D40 = 6 d40. Berdasarkan pengamatan menunjukkan bahwa : a. maka titik d10 merupakan design point dengan G-S ratio adalah D10 = 6 d10. b. Pada harga G-S ratio mendekati enam disebut dengan titik perencanaan atau ukuran butir kritis (critical size). Pembersihan perforasi dengan clean fluid sebelum gravel pack dipasang. 38 b. Penentuan ukuran gravel pack sesuai dengan ukuran butiran pasir . formasi. Distribusi ukuran gravel yang seragam akan mampu menahan butiran pasir formasi yang tidak seragam.2 Pengaruh G-S Ratio Terhadap Permeabilitas Gravel pack Keseragaman Pasir Formasi. Prinsip dari gravel packing adalah menempatkan gravel yang mempunyai ukuran yang benar didepan peforasi formasi yang unconsolidasted ( mudah lepas ) untuk mencegah pergerakan butiran pasir. akan tetapi masih bias melewatkan minyaknya kelubang sumur. Squeeze gravel pack kedalam lubang perforasi. Untuk pasir dengan ukuran butir tidak seragam (C > 5). Untuk pasir dengan ukuran butir seragam (C < 3).Gambar 5. c.

seragam (uniform) dan halus. adalah gravel yang ditempatkan pada annulus antara screen/slotted dengan casing/lubang bor. yang mana gravel-gravel itu dapat menahan butiran yang lepas dan berlaku sebagai penyaring.n. yaitu : 1. dimaksudkan agar dapat menahan pasir formasi. Gravel pack adalah suatu cara untuk menanggulangi kepasiran yang masuk kedalam sumur dengan memasang kerikil ( gravel ) didepan formasi produktif. Metode ini merupakan pengontrol pasir yang paling sederhana dan paling tua umurnya. Gambar 5.d.3 Permeabilitas gravel pack setelah berfungsi penyaring Jenis gravel pack Jenis gravel pack pada umumnya dapat dibagi dua. Produksikan sumur dengan segera setelah packing. Dewasa ini para ahli cenderung untuk memakai gravel berukuran lebih kecil. Didalam penempatan gravel pack dipasang saringan. selain perencanaan gravel tergantung pula kepada pengalaman seseorang. Pemakaian gravel itu baik untuk formasi yang tebal. Pada prinsipnya. keseragaman dan ukuran butiran berhubungan dengan perencanaan ukuran gravel. Open hole gravel pack (OHGP) 39 . ukuran saringan tergantung pada distribusi ukuran gravel yang digunakan. dengan cara diinjeksikan. aliran produksi dimulai dengan laju produksi rendah kemudian dilanjutkan dengan kenaikan laju produksi sedikit demi sedikit.

garam atu fluida bentuk emulsi. Dalam open hole gravel pack. dan kemudian slotted liner serta peralatan gravel packing diturunkan. maka dilakukan perbesaran lubang bor dengan menggunakan underreamer atau hole opener.Merupakan gravel pack yang ditempatkan diantara saringan dengan dinding bor pada formasi. kemudian dilakukan pembersihan lubang bor dengan fluida polymer sampai bersih. setelah itu maka lubang telah siap untuk dilakukan proses penempatan gravel. Metode penempatan butiran gravel pada OHGP dapat dilakukan dengan metode reverse circulation atau crossover. Formasi produktif dibor dengan lumpur dan di logging. Pada umumnya penerapan dengan metode – metode tersebut dilakukan untuk interval open hole yang relative kecil atau lubang bor mempunyai deviasi atau sudut kemiringan yang tidak begitu besar (lebih kecil dari 45 °) 2. seperti minyak. lumpur didorong oleh fluida bebas partikel. Kemudian lubang terbuka dibawah casing tersebut di underreamed sampai 11 atau 13 inchil. Sebelum dilakukan penempatan butiran gravel. Gambar 5. casing dicement diatas interval produksi. Sesudah logging.4 Open hole gravel pack Dalam open hole gravel packing (OHGP) penempatan butiran gravel dilakukan pada annulus antara pipa saringan dengan lubang bor yang telah diperbesar. Inside Gravel pack (IGP) 40 .

Penempatan gravel pada jenis IGP ini dapat dilakukan dengan metode dua tahap ( two – stage methods ) dan metode satu tahap ( one – stage methods ). yaitu penggunaan tekanan squeeze untuk menekan gravel kedaerah perforasi. Kemudian tahap kedua.6 Packer location Dengan menggunakan tekanan fluida melalui tubing dan annulus. Tubing diturunkan didepan interval perforasi dan melalui tubing tersebut dipompakan gravel.Inside casing gravel packing atau inside gravel packing (IGP) merupakan metode penempatan gravel dimana gravel ditempatkan diantara casing yang telah diperforasi. Gambar 5. berhubungan dengan sirkulasi gravel kedalam annulus antara casing dan pipa saringan. 41 . dengan screen dan sebagian lagi diluar casing. umumnya digunakan gravel dengan fluida pembawa yang berkonsentrasi tinggi (viscous). gravel akan masuk kedalam perforasi.  Tahap pertama Tahap pertama dalam two – stage methods IGP dilakukan dengan menggunakan metode squeeze dengan ujung terbuka. Two – stage methods Di dalam two – stage methods IGP ini terdiri dari tahap pertama. Untuk memperkecil kecenderungan percampuran gravel dan pasir formasi. Jenis IGP ini sering diterapkan pada formasi produktif yang berlapis.

Setelah mencapai dasar. gravel dibiarkan mengendap disekeliling saringan. kompaksi terbaik dapat dicapai dengan gravel berkonsentrasi rendah didalam fluida pembawa yang viuscous. b. Kemudian screen (saringan) dan liner serta wash pipe diturunkan. Beberapa metode atau type operasi penempatan gravel dalam IGP maupun OHGP antara lain : a. sehingga terjadi pengepakan yang baik. Metode reverse circulation 42 . Metode ini juga dapat digunakan pada open hole completion dengan interval kurang dari 30 ft. sehingga saringan dapat menembus gravel.7 Wash Down  Tahap kedua Tahap kedua merupakan tahap penempatan gravel diantara pipa saringan dengan casing. dengan metode ini diharapkan gravel dapat disqueeze (ditekan) ke lubang perforasi. Metode wash down Dalam metode wash down ini gravel diendapkan sampai pada suatu ketinggian tertentu diatas perforasi.Gambar 5.

Sewaktu gravel dipompakan kedalam sumur sering terjadi kontaminasi didalam annulus.Metode ini dilakukan dengan memompakan gravel melalui annulus antara casing dan string. 43 . Gambar 5. Metode crossover tool Metode crossover tool dilakukan dengan cara mensirkulasikan gravel melalui tubing dengan batuan pompa melewati packer dan crossover pipe dan kembali kepermukaan melalui annulus antara tubing dan casing. sehingga memungkinkan terbentuknya kerak /scale pada casing. Dengan adanya kerak atau kotoran itu akan bercampur dan mengendap didalam gravel pack.8 Reverse ciculation Metode ini biasanya digunakan saat regravel (teknik perbaikan penempatan gravel) untuk mengisi gravel antara casing dan string. c. kemudian fluida pendorong akan kembali keatas melalui screen dan kepermukaan melalui string. Percampuran kotoran tersebut dapat mengakibatkan berkurangnya permeabilitas pengepakan.

2. Mud filtrate atau kerak yang terdapat pada casing tidak tergesek dan jika seandainya terjadi gesekan. diantaranya adalah : 1. kecepatan fluida yang lebih besar didalam drillpipe atau tubing akan mengurangi waktu penempatan gravel didalam annulus dan memungkinkan untuk membentuk pengepakan atau pemisahan gravel secara efektif.Gambar 5.9 Croos Over Pada saat penempatan gravel telah selesai. 3. Karena volume string jauh lebih kecil daripada volume annulus antara casing dan string. Metode ini memberikan kontrol yang tepat antara volume fluida yang dipompakan dan letak gravel didalam string. maka telltale screen akan menutup. Metode modified 44 . maka hasil kotoran dari gesekan itu tidak bercampur dengan gravel. Keuntungan yang didapat dengan menggunakan metode crossover tool. Pada bagian atas pada zona perforasi atau bagian casing yang kurang baik dapat mengatasi berkurangnya tekanan. maka laju pemompaan yang sama. d. dimana hal ini ditunjukkan dengan naiknya tekanan. 4.

Metode ini merupakan modifikasi. 1.11 Modified 5. 4.2 1. Mortal dan pastle 3.3. Torison blance dan anak timbangan 2. dimana peralatan crossover diganti dengan dengan alat bypass yang dipasang didalam tubing dibawah packer dan dapat merubah aliran kedalam annulus antara screen dan casing pada saat bypass terbuka. Packer di set dan gravel disqueeze kedalam perforasi tanpa sirkulasi. 1.3 5. Bahan Batuan Reservoir 45 . 5. 3 4 . 60. 10. 140.1 Alat dan Bahan Alat 1. 20. Alat bypass dibuka dengan menjatuhkan bola besi. Gambar 5.3. Tyler sieve ASTM (2. 200) 5. metode ini merupakan modifikasi dari metode crossover.

Tuangkan isi sieve yang paling halus (berikutnya) ke dalam mangkok tadi juga. Susunlah sieve diatas alat penggoncang dengan mangkok pada dasarnya sedangkan sieve diatur dari yang paling halus diatas mangkok dan yang paling kasar ada dipuncak. Batuan dipecah-pecah menjadi fragmen kecil-kecil dan dimasukkan kedalam mortal digerus menjadi butiran-butiran pasir. g.Gambar 5. 46 . Sediakan timbangan yang teliti 200 gram pasir tersebut. h. d. apakah butiran-butiran pasir tersebut benarbenar saling terpisah. Goncangkan selama 30menit. e. i. j. Sediakan sieve analysis yang telah dibersihkan dengan sikat bagian bawahnya (hati-hati waktu membersihkanya). Ambil contoh bantuan resrvoir yang sudah kering dan bebas minyak.1 Elektrik Sieve Shacker 5. kemudian timbang berat kumulatif. Tuangkan isi sieve yang paling kasar (atas) kedalam mangkok kemudian ditimbang. Periksa dengan binocular. kemudian dipasang tutup dan dikeraskan penguatnya. f. c. b.4 Prosedur Kerja a. Tuangkan hati-hati pasir batuan reservoir (200 gr) kedalam sieve yang paling atas.

59 0....5 % Berat Kumulatif 45.77 % 58.. Buat tabel dengan kolom.... seperti berikut ini: Buat grafik semilog antara opening diameter dengan cumulative percent retained Dari grafik yang didapat (seperti huruf S)...1 Hasil percobaan dan perhitungan US Sieve Series No 16 30 40 50 Opening Diameter (mm) 1.20 % 75.297 Berat Gr 46. n.62 % 100 % Gambar 5. Teruskan cara penimbangan di atas sampai isi seluruh sieve ditimbang secara kumulatif. % retained cumulative.5 17.. no sieve.5 Berat Kumulatif 46 58...19 0.mm 5.5 Hasil Percobaan dan Perhitungan Tabel 5. Dari berat timbangan secara kumulatif dapat dihitung juga berat pasir dalam tiap-tiap sieve. p.. hitung: • Sorting coefficient = dia pada 25 % dia pada 75 % • Medium diameter pada 50% = .42 0. opening diameter..2 Grafik hubungan opening diameter Vs %berat kumulatif 47 .. m. l.. Ulangi langkah 1 sampai dengan 11 untuk contoh bantuan reservoir yang kedua... o. percent retained....5 76 100.k.5 12...5 24.

316mm 5.00 mm 0. 2. Besar nilai opening diamternya pada d50 adalah 0. kemudian tarik garis ke bawah untuk mendapatkan besarnya opening diameter dari persen berat kumulatif masing-masing yang telah ditentukan sebelumnya. diperoleh gambar grafik hubungan antara opening diameter Vs % berat kumulatif tersebut. d90 = Koefisien keseragaman butir pasir (C) adalah : C = d 40 d90 = 2. Opening diameter pada berat kumulatif 50%. Dari hasil plot didapatkan : 1.316 0. 3. Kemudian plotkan pada berat kumulatif 50%.85 mm.Membuat grafik semilog. dan pada d90 adalah 0.6 Pembahasan Dari grafik semilog hubungan antara opening diameter Vs % berat kumulatif berdasarkan dari tabel percobaan.85 mm 2 .32 0. d50 = Opening diameter pada berat kumulatif 40%. 40% dan 90% masing-masing terhadap garis grafik.00 = 6. d40 = Opening diameter pada berat kumulatif 90%.16 mm 48 . hubungan antara opening diameter vs % berat kumulatif.00 mm. pada d40 2.

b.Dari perhitungan menggunakan persamaan di atas diperoleh nilai koefisien keseragaman butir pasir berharga = 6. c. Dari percobaan ini kita dapat memperkirakan atau mensimulasikan rencana pemasangan sand pack. Dari percobaan dan perhitungan diperoleh nilai koefisien keseragaman butir pasir = 6. screen di lapangan sesuai analisa batuan pada formasi tadi.32. atau dapat di ambil dari data sorting coefficient.7 Kesimpulan a. yang menurut pengklasifikasian berdasarkan Schwartz bahwa pemilahan tersebut termasuk dalam kategori pemilahan jelek BAB VI PENENTUAN KADAR LARUTAN SAMPEL FORMASI DALAM LARUTAN ASAM 49 . Sehingga opening size inilah yang menentukan rencana pemasangan sand pack atau gravel pack. perencanaan yang baik akan mencegah atau setidaknya dapat mengurangi pasir yang ikut terproduksi. Karena dari distribusi pasir dapat ditentukan pemilihan ukuran screen dan gravel yang tepat.32 dan menurut schwartz pemilahan tersebut termasuk dalam kategori pemilahan jelek 5.

6.1

Tujuan Percobaan bertujuan untuk menentukan reaktivitas formasi dengan asam,

dengan menghitung terlebih dahulu besarnya daya larut asam terhadap sample batuan (acid solubility). 6.2 Teori Dasar Salah satu cara untuk meningkatkan produksi minyak pada batuan resevoir carbonat adalah dengan cara pengasaman atau memompakan adam (HCl) kedalam reservoir. Batuan reservoir yang bisa diasamkan dengan HCl adalah : Limestone, Dolomit dan Dolomit Limestone. Semua asam memiliki satu persamaan. Asam akan terpecah menjadi ion positif dan anion hidrogen ketika acid larut dalam air. Ion hidrogen akan bereaksi dengan batuan calcerous menjadi air dan CO2. Asam yang dipakai di industri minyak dapat dapat inorganik (mineral) yaitu chlorida dan asam flourida, atau organik asam acetic (asetat) dan asam formic (format). Pada abad yang lalu pernah digunakan asam sulfat sesaat setelah orang sukses dengan injeksi asam chlorida pertama dan tentu saja mengalami kegagalan malah formasi jadi rusak. Dalam industri mineral adalah yang paling banyak digunakan. Bermacammacam asam puder (sulfamic dan chloroacetic) atau hibrida (campuran) asam acetic-HCL dan formie-HCL juga telah dipakai dalam industri terutama untuk meredam keaktifan asam HCL. Semua asam diatas kecuali kombinasi HCL-HF yang dipakai untuk batuan pasir (sandstone) hanya dipakai pada batuan karbonat (limestone/dolomite). Jenis asam yang sering digunakan dalam acidizing antara lain: 1. Organic acid, HCH3Cos dan HCO2H 2. Hydrochloric acid, HF 3. Hydrofluoric acid, HCL Adapun syarat-syarat utama agar asam dapat digunakan dalam opeasi acidizing (pengasaman) ini adalah:

50

1. Tidak terlampau reaktif terhadap peralatan logam. 2. Segi keselamatan penanganannya harus dapat menunjukkan indikas atau jaminan keberhasilan proyek acidizing ini. 3. Harus dapat bereaksi/melarutkan karbonat atau mineral endapan lainnya sehingga membentuk soluble product atau hsil-hasil yang dapat larut. Pada prinsipnya stimulasi dengan pengasaman dapat dibedakan menjadi 2 (dua) kelompok yaitu; • flowline. • lapisan. Stimulasi merupakan suatu metoda workover yang berhubungan dengan adanya perubahan sifat formasi, dengan cara menambahkan unsur-unsur tertentu atau material lain ke dalam reservoir atau formasi untuk memperbaikinya. Prinsip penerapan metoda ini adalah dengan memperbesar harga ko atau dengan menurunkan harga μo, sehingga harga PI-nya meningkat dibanding sebelum metoda ini diterapkan. Sebelum dilakukan stimulasi dengan pengasaman harus direncanakan dengan tepat data-data laboratorium yang diperoleh dari sampel formasi, fluida reservoir dan fluida stimulasi. Sehingga informasi yang diperoleh dari labiratorium tersebut dapat digunakan engineer untuk merencanakan operasi stimulasi dengan tepat, pada gilirannya dapat diperoleh penambahan produktivitas informasi sesuai dengan yang diharapkan. Salah satu informasi yang diperlukan adalah daya larut asam terhadap sampel batuan (acidsolubility). Metode ini menggunakan teknik gravimetric untuk menentukan reaktivitas formasi dengan asam. Batuan karbonat (mineral limetone) biasanya larut dalam HCI, sedangkan silikat (mineral clay) larut dalam mud acid. Pengasaman pada formasi produktif yaitu; perforasi dan Pengasaman pada perlatan produksi yaitu; tubing dan

51

6.3 6.3.1

Alat dan Bahan Alat a. Mortal dan pastle b. Oven c. Erlenmeyer d. Kertas Saring e. Soxhelet Aparatus f. ASTM 100 Mesh

6.3.2

Bahan a. b. Core (Batu Gamping dan Batu pasir) HCI 15% atau mud acid (15%HCI + 3%HF)

c. Larutan indicator methyl orange (1 gram methyl orange) dilarutkan dalam 1 liter aquades atau air suling 6.4 Prosedur Kerja a. Core diekstrasi terlebih dahulu dengan toluene/benzene pada soxhelt Aparatus. Kemudian keringkan dalam oven dalam suhu 105oC (220oF). b. Hancurkan sampel kering pada mortal hingga dapat lolos pada ASTM 100 Mesh. c. Ambil sampel yang telah dihancurkan 20 gram dan masukan pada Erlenmeyer 500 ml, kemudian masukkan 150 ml HCI 15% dan digoyangkan hingga CO2 terbebaskan semua. d. Setelah reaksi selesai tuangkan sampel residu plus larutan Erlenmeyer pada kertas saring. Bilas sisa-sisa sampel dengan aquades sedemikian rupa hingga air filtrate setelah ditetesi larutan methyl orange tidak nampak reaksi asam (sampai warna kemerah-merahan). e. Keringkan residu dalam oven kira-kira selama ½ jam dengan suhu 105oC (220oF), kemudian dinginkan dan akhirnya ditimbang.

52

% Berat Solubility . Harga persen berat solubility Pasir telah didapatkan yaitu sebesar 0 %.5 Hasil Percobaan dan Perhitungan • sebelum pengasaman • (karbonat) sebelum pengasaman (W) • sesudah pengasaman • (karbonat) sesudah pengasaman (w) Berat sampel (pasir) = 12 gr Berat sampel = 33 gr Berat sampel (pasir) = 12 gr Berat sampel = 31 gr W −w x 100 % W % Berat Solubility karbonat = = 33 − 31 x 100 % 33 W −w x 100 % W = 6.f. Hitung kelarutan sebagai % berat dari material yang larut dalam HCI 15%. Harga persen berat solubility karbonat telah didapatkan yaitu sebesar 6. Ulangi langkah diatas untuk menghitung % berat solubility untuk sample pasir. 53 .6 Pembahasan Tentukan berat sampel sesudah pengasaman dan sebelum pengasaman menggunakan timbangan sesuai dengan langkah-langkah pada prosedur kerja.06%.06% % Berat Solubility pasir = = 12 − 12 x 100 % 12 = 0% 6. Hitung persen berat sollubility dengan memasukkan data-data yang telah didapatkan pada poin a ke dalam persamaan. 6.

6. Artinya dalam pelaksanaan proses acidizing terhadap batu pasir (sandstone). Tetapi dalam percobaan ini harga solubility tidak begitu besar. c) Pemberian stimulan pada sumur merupakan alternatif yang cukup baik guna memaksimalkan kembali produksi minyak pada sumur tersebut. 54 . larutan asam yang tepat digunakan adalah larutan HCl. b) Dari percobaan didapat besarnya solubility sample karbonat 6. d) Dari keterangan diatas besar daya larut asam terhadap batu pasir lebih besar daripada batu gamping. karena seluruh acid (asam) yang berfungsi sebagai stimulan bekerja dengan baik. hal ini kemungkinan disebabkan karena sampel kurang halus dalam penggerusan sehingga akan menutupi kertas saring yang ada. artinya batu pasir lebih reaktif daripada batu ganping terhadap larutan asam HCl.7 Kesimpulan a) Solubility merupakan reaksi kelarutan suatu sample core yang dapat dihitung dengan cara membandingkan perubahan massa core sesudah reaksi dengan massa core mula-mula.06% yang seharusnya dimana semakin besar harga solubility yang didapatkan dalam suatu sampel akan semakin baik.

air dan gas yang menempati level tertentu dalam reservoir dapat ditentukan. Adanya tekanan kapiler (Pc) mempengaruhi distribusi minyak dengan gas.BAB VII PENENTUAN TEKANAN KAPILER PADA SAMPLE BATUAN RESERVOIR 7. Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah perbedaan tekanan antara fluida “nonwetting fasa” (Pnw) dengan fluida “Wetting fasa” (Pw) atau : Pc = Pnw . Dengan demikian distribusi saturasi saturasi fluida ini merupakan salah satu dasar untuk menentukan secara effisien letak kedalam sumur yang akan dikomplesi.1 Tujuan Menentukan nilai tekanan kapiler pada sample batuan reservoir untuk menentukan distribusi saturasi fluida vertical yang merupakan salah satu dasar untuk menetukan secara effisien letak kedalaman sumur yang akan dikomplesi 7. Didalam rongga pori tidak terdapat batas yang tajam atau bentuk zona transisi. maka saturasi minyak. Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada antara permukaan dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas) sebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang memisahkan mereka. Oleh karena tekanan kapiler dapat dikonversi menjadi ketinggian diatas kontak minyak air (H).Pw 55 .2 Teori Dasar Distribusi fluida vertical dalam reservoir memegang peranan penting didalam perencanaan well completion. Disrtibusi secara vertical ini mencerminkan distribusi saturasi fluida yang menempati setiap porsi rongga pori.

Tekanan kapiler dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori dan macam fluidanya. Ukuran pori-pori batuan reservoir sering dihubungkan dengan besaran permeabilitas yang besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan 56 . Dari Persamaan diatas ditunjukkan bahwa h akan bertambah jika perbedaan densitas fluida berkurang.Tekanan permukaan fluida yang lebih rendah terjadi pada sisi pertemuan permukaan fluida immiscible yang cembung. perbedaan densitas fluidanya bertambah besar sehingga akan mempunyai zona transisi minimum. σ o θ . Secara kuantitatif dapat dinyatakan dalam hubungan sebagai berikut Pc = 2. seperti pada (Gambar 7. Di reservoir biasanya air sebagai fasa yang membasahi (wetting fasa). sementara faktor lainnya tetap.c s = ∆ . Hal ini berarti bahwa reservoir gas yang terdapat kontak gas-air. Perubahan ukuran pori-pori dan densitas fluida akan mempengaruhi bentuk kurva tekanan kapiler dan ketebalan zona transisi. sedangkan minyak dan gas sebagai non-wetting fasa atau tidak membasahi. Demikian juga untuk reservoir minyak yang mempunyai API gravity rendah maka kontak minyak-air akan mempunyai zona transisi yang panjang.1). h ρ r dimana : Pc = tekanan kapiler σ r ∆ρ g h = tegangan permukaan antara dua fluida = sudut kontak permukaan antara dua fluida = perbedaan densitas dua fluida = percepatan gravitasi = tinggi kolom cos θ = jari-jari lengkung pori-pori Dalam Persamaan diatas dapat dilihat bahwa tekanan kapiler berhubungan dengan ketinggian di atas permukaan air bebas (oil-water contact). sehingga data tekanan kapiler dapat dinyatakan menjadi plot antara h versus saturasi air (S w). g.

1 Kurva Tekanan Kapiler (Craft.Nut Picnometer Lid 57 ... B.ketebalan zona transisinya lebih tipis dari pada reservoir dengan permeabilitas yang rendah. Gambar 7.3. 1959) 7. Hawkins M.3 Alat dan Bahan 7.C.1 Alat : Mercuri injection Capillary Pressure Apparatus dengan komponenkomponen sebagai berikut : a) b) c) d) Pump Cylinder Measuring screw Make Up.F.

15 Pressure Control 16 .3.2 Bahan : a) b) Fresh Core Gas 58 .e) f) g) h) i) j) k) l) m) n) o) p) q) r) Sample Holder Observation Window Pump scale Mecrometer Dial Pessure Hoss 0 – 2 atm (0 – 30 psi) Pressure Gauge 0 – 15 atm (0 – 200 psi) Pressure Gauge 0 – 150 atm (0 – 200 psi) Pressure Gauge Vacuum Gauge 14 .17 dan 21 Pressure Relief Velve Pump Plunger Yoke Stop Traveling Yoke 7.

Letakkan picnometer lid pada tempatnya.000). (0.Gambar 7. a) b) Pasang picnometer lid (4) pada tempatnya. perbedaan tersebut harus ditentukan dan penentuan untuk dial handwheel setting pada step 4. 150 cc). c) d) e) f) Putar handwheel sampai metering plunger bergerak maju dan mercury level mencapai lower reference mark. Mercury diinjeksikan ke picnometer sampai pada upper reference mark. Untuk itu perlu dilakukan Pressure-volume Correction yaitu : a) b) micro.4 Prosedur Kerja 7.4.4 Mercury Injection Capillary Pressure Apparatus 7. pump metering plunger diputar penuh dengan manipulasi handwheel. skala dan dial menunujukkan angka nol.1 Kalibrasi Alat Yaitu untuk menentukan volume picnometer (28. pump metering plunger diputar penuh dengan memanipulasi handwheel. picnometer dikosongkan sampai tekanan absolute kurang dari 20 micro. Jika perbedaan terlalu besar yoke stop harus direset kembali dan deviasi pembacaan adalah ± 0. Buka vacuum valve pada panel. Ubah panel valve ke vacuum juga small pressure gauge dibuka. Karena dalam penggunaan alat ini memakai tekanan yang besar tentu akan terjadi perubahan volume picnometer dan mercury. Jika pembacaan berbeda sedikit dari nol. Moveable scale ditetapkan dengan yoke stop (pada 28 cc) dan handwheel dial diset pada pembacaan miring kanan pada angka 15. kemudian panel valve ditutup. system dikosongkan sampai small gauge menunjukkan nol. system dikosongkan sampai absolut pressure kurang dari 20 59 .001 cc.

4. Ubah panel valve ke vacuum dan pressure gauge dibuka. f) Baca dan catat tekanan pada small pressure gauge serta hubungan volume scale dan dial handwheel (gunakan dial) yang miring kekiri sebagai pengganti 0-5 cc. maka akan terlihat bagaimana terjadinya perubahan pressure-volume.c) Mercury diinjeksikan sampai mencapai upper reference amrk. kemudian tempatkan pada core holder. adjust moveable scale dan handwheel scale dial pada pembacaan 0. f diulang untuk setiap kenaikkan pada sistem. j) Data yang didapat kemudian diplot. Graduated interval pada skala. 60 . system dikosongkan sampai absolut pressure kurang dari 29 micron. Picnometer lid dipasang pada tempatnya dan putar handwheel secara penuh. Jika tekanan telah mnecapai limit 1 atm. sistem tekanan dikurangi dengan mengeluarkan gas sampai tekanan sistem mencapai 1 atm. bukan Nitrogen valve. d) e) Putar bleed valve mercury turun 3 mm di bawah upper reference mark. g) Ste d.2 Prosedur Untuk Menentukan Tekanan kapiler a) b) c) Siapkan core (memp. e.150 atm gauge. Putar pompa hingga mercury mencapai upper reference mark lagi dan biarkan stabil selama ± 30 detik. h) i) Jika telah mencapai limit gunakan 0. kemudian catat volume dan tekanan yang didapat. Jika test telah selesai tutup panel nitrogen valve. A – B = Perubahan volume oleh tekanan (pada tekanan rendah) C – D = Perubahan volume pada tekanan tinggi E = Inflection point 7.00 cc kemudian tuutp vacuum valve. Pore vol) yang telah diekstrasi dengan vol 1 – 2 cc.

5 maka bulk volume sample 12. l) m) n) Step 11 diulangi sampai tekanan akhir didapat.000 cc. Putar pompa sampai permukaan mercury mencapai tanda paling atas dan usahakan konstan selama 30 detik. putar pump metering plunger sampai level mercury mencapai lower reference mark. 9. maka gas / udara mengalir ke sistem sampai level mercury turun 3 sampai 5 mm di bawah upper reference mark. gauge diisolasi dari sistem dan gunakan 0-150 atm gauge. Catatan : fluktuasi thermometer ± 1 – 2 oC. k) Step 8. Jika test telah selesai. f) Tutup vacuum. Baca besarnya bulk volume dari pump scale dan handwheel dial. Dan berikan pembacaan pertama 28. Pump scale diikat dengan yoke stop dan dial handwheel diset pada pembacaan 15 (miring kanan). Tekanan sistem dikurangi sampai mencapai tekanan atm dengan mengeluarkan gas lewat bleed valve. 10 diulang untuk beberapa kenaikkan tekanan. nitrogen valve ditutup. Sebagai contoh jika pembacaan skala lebih besar dari 12 cc dan dial handwheel menunjukkan 32.325 cc. Putar bleed valve.d) e) cc. Jika sistem telah mencapai limit pada 0-2 atm gauge. g) h) i) j) Gerakkan pump scale dan handwheel dial pada pembacaan 0. Baca dan catat tekanan (low pressure gauge) dan volume scale beserta handwheel dial (miring ke kiri) untuk mengganti 0-5 cc graduated interval pada scale. Jika tekanan telah mencapai 1 atm buka nitrogen valve.150 Mercury diinjeksikan sampai mencapai upper reference mark. 61 .

7.1 Hasil Percobaan 62 .5 Hasil Percobaan dan Perhitungan Tabel 7.

45 0.77 0.64 0.25 0.59 0.15 0.71 0.74 0.50 0.2 Pressure Volume Correction Pressure (atm) 0 1 4 9 15 25 35 40 50 60 100 110 120 125 128 130 131 132 133 134 135 136 137 139 140 Volume (cc) 0.67 0.80 0.99 1.51 0.49 0.83 0.48 0.0 7.54 0.87 0.35 0.Tabel 7.69 0.56 0.40 0.6 Pembahasan 63 .62 0.0 0.

selanjutnya nilai – nilai tersebut dimasukkan kedalam tabel 7. Grafik 7.plot nilai correct pressure dan mercury saturation. plot nilai tekanan dan volume dari table 7. Grafik 7. seperti yang ditunjukkan pada gambar 7.2 Hubungan Tekanan vs Volume 64 .6.2. Hasil kurva yang didapatkan adalah nilai merury saturation berbanding terbalik dengan nilai correct pressure. hasilnya didapatkan seperti pada gambar 7. nilai tekanan akan berbanding lurus dengan nilai volume.Setelah dlakukan percobaan dan didapatkan hasil yang ditunjukkan oleh peralatan.1. Semakin besar jumlah volume maka nilai tekanan kapiler akan semakin meningkat.1 Correct Pressure – Mercury Saturation Untuk mencari hubungan nilai tekanan dan volume.5 Nilai mercury saturation akan mengalami peningkatan seiring dengan menurunnya correct pressure.

Dari percobaan diperoleh dari adanya distribusi tersebut.7 Kesimpulan 1. Nilai dari correct pressure akan berbanding terbalik dengan nilai mercury saturation. yaitu pada 120 atm sampai 10 atm 65 . Semakin besar volume. 4. Nilai dari pressure berbanding lurus dengan volume. Penentuan tekanan kapiler dari suatu sampel formasi dapat dikatakan lebih cepat dan efisien pada distribusi tertinggi saturasi fluidanya. 2. Tetapi penurunannya terjadi secara bertahap. maka nilai tekanan akan semakin meningkat. 3.7. Dari gravik terlihat ada dua tahap penurunan. maka akan terdapatnya zona transisi karena tidak terdapat batas fluida yang jelas.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful