LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

NOMOR 24

2002

SERI E

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN DENGAN MENGHARAP BERKAT DAN RAHMAT ALLAH SUBHANAHUWATA ‘ALA BUPATI GARUT,

Menimbang

: a. bahwa dalam upaya mengatur pengelolaan di bidang pertambangan umum, agar dapat terarah, terpadu, menyeluruh dan berkelanjutan, perlu adanya pengaturan pertambangan yang berwawasan lingkungan dan menunjang terhadap kesejahteraan rakyat;

1

NO. 24

2002

SERI E

b. bahwa pengelolaan sebagaimana dimaksud pada huruf a di atas, didasarkan atas asas manfaat, keterbukaan dan pemberdayaan masyarakat serta berlandaskan pada kelayakan tambang dengan memperhartikan aspek-aspek sosial, ekonomi, budaya agama, teknis dan lingkungan dengan mengikutsertakan para pelaku pembangunan di bidang pertambangan; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan b di atas, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Pengelolaan Pertambangan. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah-daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Propinsi Jawa Barat (Berita Negara Tahun 1950); 2. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria (Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); 3. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 1967 Nomor 22, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2831); 4. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3890); 5. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan (Lembaran Negara Tahun 1974 Nomor 65 , Tambahan Lembaran Negara Nomor 3046); 2

NO. 24

2002

SERI E

6. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1981 Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3209); 7. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3419); 8. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); 9. Undang-undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3685) sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 34 Tahun 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 246, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4048); 10. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699); Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 3

11.

12.

Tambahan Lembaran Negara Nomor 4150). 4 . Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 78. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3176). 2002 SERI E Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggara Negara Yang Bersih dan Bebas Dari Korupsi. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 50. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3838). 18.NO. 19. Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi (Lembaran Negara Nomor Tahun 2001 Nomor 136. Kolusi dan Nepotisme (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 75. 16. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3851). 24 13. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1983 tentang Pelaksanaan Kitab Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Tahun 1983 Nomor 36. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3225). 14. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3258). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4152). 15. Tambahan Lembaran Negara Nomor 3854) sebagaimana telah diubah dengan Undangundang Nomor 20 Tahun 2001 (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 134. Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 59. 17. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1988 tentang Tata Pengaturan Air (Lembaran Negara Tahun 1988 Nomor 37.

25. Tambahan Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 4154). Tambahan Lembaran Negara Nomor 4138). Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden. Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang. 2002 SERI E Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi Sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54. Peraturan Pemerintah Nomor 75 Tahun 2001 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1969 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pertambangan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 141. 22.NO. 21. 24. Penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak Serta Perusakan Instalasi Ketenagalistrikan dan Pencurian Aliran Listrik. 24 20. 23. Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 116. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4139). Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 115. Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 2001 tentang Tim Koordinasi Penanggulangan Pertambangan Tanpa Izin. 5 . Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952).

Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Garut Nomor 2 Tahun 1998 tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C (Lembaran Daerah Tahun 1998 Nomor 22) . Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 24 Tahun 2000 tentang Visi Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 38). 2002 SERI E Peraturan Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Garut Nomor 1 Tahun 1986 tentang Penunjukan Penyidik Pegawai Negeri Sipil Yang Melakukan Penyidikan Terhadap Pelanggaran Peraturan Daerah Yang Memuat Ketentuan Pidana (Lembaran Daerah Tahun 1986 Nomor 5). Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 27 Tahun 2000 tentang Pembentukan Organisasi Perangkat Daerah dan Sekretariat DPRD Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Tahun 2001 Nomor 2). Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 26 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Daerah Kabupaten Garut Tahun 2001-2005 (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 40). 28. 24 26. 27.NO. 29. Peraturan Daerah Kabupaten Garut Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pola Dasar Pembangunan Kabupaten Garut (Lembaran Daerah Tahun 2000 Nomor 39). 31. 6 . 30.

organisasi sosial politik. Dinas Sumber Daya Air dan Badan adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas. dana pensiun. 24 2002 Dengan persetujuan SERI E DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN GARUT MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT TENTANG PENGELOLAAN PERTAMBANGAN BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini. e. c. lembaga. organisasi massa. f.NO. kongsi. b. d. Dinas adalah Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan Kabupaten Garut. perseroan komanditer. bentuk usaha tetap dan bentuk badan lainnya. atau organisasi yang sejenis. yayasan. firma. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabupaten Garut. badan usaha milik negara atau daerah dengan nama dan dalam bentuk apapun. Kepala Dinas adalah Kepala Pertambangan Kabupaten Garut. yang dimaksud dengan : a. 7 . Bupati adalah Bupati Garut. perkumpulan. koperasi. persekutuan. perseroan lainnya. Daerah adalah Kabupaten Garut.

Usaha Pertambangan yang selanjutnya disebut usaha pertambangan adalah kegiatan eksprolasi /produksi dalam rangka pemanfaatan bahan galian mineral logam dan non logam diluar minyak dan gas bumi. 8 . pengawasan. j. Hak Atas Tanah adalah hak atas sebidang tanah pada daerah permukaan bumi sesuai peraturan tanah Indonesia. Pertambangan adalah kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan dan konservasi bahan galian tambang serta reklamasi lahan pasca tambang.NO. h. Pengelolaan Pertambangan adalah kebijakan perencanaan. mineral kumpulan mineral. pengaturan pengurusan. o. 24 2002 SERI E g. panas bumi dan mineral radio aktif yang terjadi secara alami dan mempunyai nilai ekonomi. gambut. n. l. Mineral Ikutan adalah bahan galian yang terdapat atau terambil dalam proses penambangan dan pengolahan /pemurnian mineral tersebut secara alamiah terjadi atau terdapat bersama-sama dengan mineral atas bahan galian utama. k. Propeksi adalah tahap penyelidikan umum dengan jalan mempersempit daerah yang mengandung endapan mineral yang potensial. pengendalian dan pengembangan kegiatan pertambangan dan bahan galian di luar minyak bumi dan gas alam serta radio aktif. Wilayah Hukum Pertambangan adalah seluruh wilayah daratan dan perairan serta landasan konvensional sesuai dengan ketentuan yang berlaku. batuan bijih termasuk batubara. batuan padat. Survei Tinjau adalah tahap penyelidikan umum untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang berpotensi bagi keterdapatan bahan galian mineral logam dan non logam pada skala regional terutama berdasarkan hasil audit Geologi Regional. m. air bawah tanah. pemotretan udara dan inpeksi lapangan pendahuluan yang penarikan kesimpulan berdasarkan ekstrapolasi. pembinaan. i. Bahan Galian adalah aneka ragam unsur kimia.

v. t. eksploitasi dan tempat pengolahan /pemurnian. x. pembangunan pabrik pengolahan /pemurnian /pencucian dan tempat penimbunan. s. study lingkungan. shafs dan terowongan. Pengangkutan adalah tahapan usaha pertambangan untuk memindahkan bahan galian dan hasil pengolahan /pemurnian bahan galian dari daerah eksplorasi. tenaga kerja dan investasi. meliputi study geoteknik dan hidrologi di daerah tambang dan insfratuktur. study metalurgi dan percobaan pengolahan. pembangunan terowongan utama. contoh luas. Eksprolasi adalah tahapan usaha pertambangan yang meliputi eksprolasi umum dan eksprolasi rinci untuk memperoleh informasi secara teliti dan seksama tentang kuantitas dan kualitas bahan galian secara keterdapatan dan sebarannya. Pengolahan /Pemurnian adalah tahapan usaha pertambangan untuk mempertinggi mutu bahan galian dan memperoleh unsur-unsur yang terdapat pada bahan galian itu serta memanfaatkannya. u. Eksploitasi adalah tahap pertambangan untuk menghasilkan dan memanfaatkan bahan galian. pengupasan tanah penutup. 9 . study kebutuhan peralatan. paritan lubang bor. w. pembangunan infrakstruktur. Konstruksi adalah tahapan usaha pertambangan untuk persiapan eksploitasi /produksi meliputi penyiapan peralatan. 24 2002 SERI E p. Eksplorasi Umum adalah tahap eksplorasi yang merupakan deliniasi awal dari suatu endapan yang teridentifikasi. Penjualan adalah tahapan usaha pertambangan untuk menjual bahan galian dan hasil pengolahan /pemurnian bahan galian.NO. q. perencanaan tambangan. Eksplorasi Rinci adalah tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalam tiga dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari percontohan singkapan. Study Kelayakan adalah tahapan usaha pertambangan untuk mengetahui kelayakan usaha pertambangan. r.

ff. 10 . bb. 24 2002 SERI E y. Pengembangan Wilayah dan Masyarakat adalah suatu kegiatan untuk mempercepat pengembangan permukiman dan pengembangan wilayah guna mendorong kegiatan ekonomi masyarakat sekitar tambang. cc. Zona Layak Tambang Bersyarat adalah suatu wilayah yang dapat ditambang dengan persyaratan tertentu. Wilayah Usaha Pertambangan adalah wilayah yang ditetapkan dalam izin usaha pertambangan untuk melakukan usaha pertambangan. Zona Pertambangan adalah zona yang terdiri dari zona layak tambang dan zona layak tambang bersyarat. dd. Jasa Pertambangan adalah kegiatan jasa untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan izin usaha pertambangan dan kegiatan penunjangnya. Zona Layak Tambang adalah suatu wilayah yang tidak mempunyai kendala lingkungan. Waste adalah tanah /batuan yang berada di atas (Over Burden) diantara (Inter Burden) atau sekeliling bahan galian yang ikut tergali tapi tidak dimanfaatkan. ee. hh. Bahan Galian adalah segala macam batuan bijih gambut dan unsurunsur kimia mineral yang merupakan endapan /suspensi alam. z. Peruntukan Lahan Pasca Tambang adalah tambang peruntukan lahan yang dinyatakan dan disetujui dalam IUP. aa. ii.NO. Reklamasi adalah pemulihan dan rehabilitasi lahan bekas pertambangan dalam mencapai peruntukan lahan paska tambang yang dinyatakan dalam izin usaha pertambangan pada saat di keluarkan atau setelah dimodifikasi selanjutnya dan disetujui oleh pemberi izin usaha pertambangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. Izin Usaha Pertambangan yang selanjutnya disebut IUP adalah izin yang diberikan kepada badan atau perorangan untuk melaksanakan usaha pertambangan. gg.

Dasar Pencadangan Potensi Bahan Galian Tambang adalah dasar yang mempunyai potensi bahan galian tambang yang dicadangkan atau tidak ditambang pada saat ini.NO. Pengawasan adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengawasi tegaknya peraturan perundang-undangan pengolahan pertambangan. bimbingan. BAB II WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB Bagian Pertama Wewenang Pasal 2 (1) Bupati memiliki wewenang dan tanggung jawab untuk melakukan pengelolaan di bidang pertambangan. ll. Pengendalian adalah segala usaha yang mencakup kegiatan pengaturan. oo. Kawasan Pertambangan adalah suatu area terpilih dari area sebaran bahan galian tambang layak tambang yang telah dipersiapkan secara matang baik fisik maupun yuridis untuk kegiatan pertambangan. Pembinaan adalah segala usaha yang mencakup pemberian pengarahan. (2) Pelaksanaan wewenang dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dilakukan oleh Dinas. penelitian dan pemantauan kegiatan pertambangan untuk menjamin pemanfaatan secara bijaksana demi menjaga kesinambungan persediaan dan mutunya. pelatihan dan penyuluhan dalam pelaksanaan pengolahan pertambangan. nn. 11 . 24 2002 SERI E jj. kk. petunjuk. mm. Daerah Tidak Layak Tambang atau Daerah Konservasi adalah suatu wilayah yang perlu dijaga dan ditertibkan mengingat fungsi alamiahnya karena faktor-faktor lingkungan dan geologi yang rawan bencana.

2. yaitu : 1. penanggulangan bencana alam geologi. analisa dan evaluasi data dan informasi primer hasil penyelidikan umum dan eksplorasi sumber daya mineral skala lebih besar 1 : 100.000. menyampaikan laporan hasil kegiatan inventarisasi sumber daya mineral non migas kepada Pemerintah melalui Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.000. analisa dan evaluasi data dan informasi skunder hasil kegiatan instansi terkait dan perusahaan dibidang pertambangan. pengelolaan kawasan kars. melaksanakan pengumpulan. melaksanakan pengumpulan.000. survey dasar geologi. 4. b. pencatatan. pencatatan. membuat peta klasifikasi kawasan kars skala lebih besar atau sama dengan skala 1 : 100. e. melakukan inventaris kawasan kars. membuat zona keretakan gerakan tanah skala lebih besar dari skala 1 : 250. inventarisasi sumber daya mineral yaitu : 1.000. d. c.NO. 2. yaitu : Melaksanakan survey dasar geologi dan tematik skala lebih besar atau sama dengan 1 : 50. 2. Pemantauan bencana gerakan tanah. 24 2002 Pasal 3 SERI E Wewenang dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 Peraturan Daerah ini meliputi : a. 3. 3. melaksanakan pengelolaan sistem informasi energi dan sumber daya mineral daerah. melakukan penyelidikan untuk menetukan klasifikasi kawasan kars. melaksanakan kewenangan pengelolaan pengusaha pertambangan dalam wilayah Kabupaten dan wilayah laut sampai 4 mil yaitu : 12 . yaitu : 1.

mengesahkan pengangkatan Kepala Teknik Tambang. IUP Pengolahan /pemurnian. IUP Pengangkutan dan IUP Penjualan dalam wilayah Kabupaten dan wilayah laut sampai dengan 4 mil. 5. memberikan rekomendasi /persetujuan pengusaha pertambangan Kontrak karya (KK) /Pengusaha Kuasa Pertambangan Batu Bara (PKP 2 B). 7. 4. IUP Eksploitasi. memberikan Rekomendasi /Persetujuan / Izin Non Inti. membatalkan IUP Penyelidikan Umum. IUP Eksploitasi. IUP Pengolahan /pemurnian. melaksanakan evaluasi dan persetujuan rencana kerja pertambangan dan laporan pertambangan. IUP Eksplorasi. penataan lingkungan dan reklamasi.NO. kemajuan tambang. BAB III KEGIATAN PENGELOLAAN Bagian Pertama Inventarisasi Pasal 4 (1) Kegiatan inventarisasi dalam rangka identifikasi potensi bahan galian tambang dapat dilakukan dengan cara melaksanakan penyelidikan di lapangan melalui kegiatan eksplorasi. IUP Pengangkutan dan IUP Penjualan dalam wilayah Kabupaten dan wilayah laut sampai dengan 4 mil. melaksanakan pembinaan. 24 2002 SERI E 1. memberikan IUP Penyelidikan Umum. 6. 3. IUP Eksplorasi. 13 . 8. mengangkat pelaksanaan Inspeksi Tambang. pengawasan dan pengendalian terhadap pengelolaan dan pemantauan lingkungan pertambangan di wilayah IUP. 2.

(3) Perencanaan pertambangan disusun secara terpadu dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). (2) Penentuan zona pertambangan. 24 2002 SERI E (2) Hasil inventarisasi potensi dijadikan dasar untuk penyusunan perencanaan pertambangan atau rencana induk pertambangan. c. Bagian Ketiga Penelitian dan Pengembangan Pasal 6 (1) Kegiatan penelitian dan pengembangan meliputi : a. e. penelitian pemanfaatan potensi bahan galian tambang. mengembangkan dan mempromosikan bahan galian tambang terutama produk unggulan pertambangan. pengembangan potensi sumber daya manusia masyarakat setempat. kawasan pertambangan dan daerah pecadangan potensi bahan galian tambang. pengujian bahan galian tambang. b. 14 . (3) Tata cara pelaksanaan kegiatan eksplorasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini ditetapkan lebih lanjut oleh Bupati. pengembangan teknologi dibidang pertambangan. Bagian Kedua Perencanaan Pasal 5 (1) Perencanaan pertambangan dilakukan dengan jalan menetapkan zona pertambangan. d.NO. Dinas dapat melakukan koordinasi dengan Instansi terkait. kawasan pertambangan dan daerah pecadangan potensi bahan galian tambang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini ditetapkan oleh Bupati. (2) Untuk kegiatan penelitian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. terutama yang berusaha dibidang pertambangan.

Kobalt. b. (5) Penguasaan tanah untuk usaha pertambangan dapat dilakukan melalui : a. (6) Jenis Bahan Galian Pertambangan yang dapat diusahakan antara lain terdiri dari : a. Antrasit. Intan. d. Perak. Tembaga. Walfram. Bismut. batu Bara Muda. pertambangan bahan galian mineral non logam. (4) Prioritas peruntukan lahan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pasal ini. Besi. (3) Dalam hal terjadi tumpang tindih antara kegiatan usaha pertambangan dengan kegiatan lain. f. pertambangan bahan galian mineral logam dan batu bara. sosial. ekonomi dan lingkungan.NO. 24 2002 Bagian Keempat Pengusahaan Pertambangan Pasal 7 SERI E (1) Usaha pertambangan dikelompokan atas dua golongan. Arsin. Timbal. 15 . perjanjian bagi hasil atau kerjasama lainnya. Khrom. Lilin Bumi. Aspal. Mangan. Molialenum. Titan. b. g. diatur lebih lanjut oleh Bupati. Seng. Platina. Antimon. h. b. Vandium. Nikel. a. e. Air Raksa. Bauksit. maka prioritas kewenangan berdasarkan pertimbangan manfaat yang paling besar dan pembangunan yang berkelanjutan. yaitu . Bitumen Cair. (2) Usaha pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. Bitumen Padat. c. c. pembelian atau pembebasan hak atas tanah. sewa. Emas. dilaksanakan pada daerah yang layak tambang secara teknis. Batu Bara.

Batu Apung. o. Gipsum. Rhutrium. Badan Usaha Milik Daerah. 2002 SERI E Yatrium. Magnesit. Tanah Urug. Batu Permata. Bentonit. Trachit. q. Yarorit. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara /Badan Usaha Milik Negara. v. Grafit. d. g. Phosfat. Tanah Diatome. Perorangan atau kelompok usaha bersama yang berwarganegara Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia. dengan mengutamakan penduduk setempat. s. Asbes. Zeolit. Tanah Liat (Ball Clay). Granit. batu Andesit. Oker. r. m. Carium dan Logam-logam lainnya. Badan Usaha Swasta yang didirikan sesuai dengan perundangundangan Republik Indonesia berkedudukan di Indonesia mempunyai pengurus yang kewarganegaraan Indonesia dan mempunyai lapangan usaha di bidang pertambangan. Kriolit. k. Obsidian. Genting). 24 i. e. f. Garam Batu (Halite). Nitrat. Andesit. Tanah Liat untuk bahan bangunan (Batu Merah. Mika. Marmer. Belerang. w. Pasir Kuasa. Leusit. b. u. t. Perusahaan dengan modal bersama antara Negara /Badan Usaha Milik Negara dan atau Propinsi /Kabupaten /Badan Usaha Milik Daerah disatu pihak dengan perorangan /koperasi atau badan usaha swasta di pihak lain. Koperasi. Batu Kapur. 16 . Jodium. Chroum. p. Feldsfar. Barit. Basalt. Tawas (Alum). Badan Usaha Milik Negara. Khlor.NO. Dolomit. disatu pihak dengan Kabupaten atau Perusahaan Daerah di pihak lain. c. Tanah Serap (Full Earth). n. a. j. l. Batu Tulis. Talk. Kalsit. Pasir. Floorsport. Batu ½ Permata. (7) Pengusahaan pertambangan dapat dilakukan oleh . Kaolin. Perlit. Desit.

berupa : a. g. Budaya dan Agama dengan terlebih dahulu mendapat saran dari Desa Kelurahan serta melibatkan masyarakat setempat. c. (8) Pengusahaan pertambangan dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA) harus dilakukan dalam bentuk usaha patungan antara pemodal asing dengan Badan Usaha Milik Warga Negara Indonesia. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Izin Jasa Pertambangan. Pasal 9 (1) IUP ditetapkan dalam bentuk keputusan Kepala Dinas. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Pengolahan dan Pemurnian. f. Perusahaan Modal Asing sesuai dengan Peraturan Perundangundangan yang berlaku. (9) Persyaratan dan tata cara kerjasama pengusahaan pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) pasal ini. 24 2002 SERI E h.NO. (2) Untuk menerbitkan IUP yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas. Izin Usaha Pertambangan ( IUP) Eksplorasi. b. Izin Usaha Pertambangan ( IUP). Bagian Kelima Perizinan Pasal 8 (1) Setiap kegiatan usaha pertambangan baru dapat dilaksanakan setelah mendapat Izin dari Bupati. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Penyelidikan Umum. diatur lebih lanjut oleh Keputusan Bupati. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Pengangkutan dan Penjualan. d. Ekonomi. Camat memberikan pertimbangan dari aspek Sosial. (3) Tata cara dan syarat-syarat untuk mendapatkan IUP diatur lebih lanjut oleh Bupati. 17 . e. Izin Usaha Pertambangan (IUP) Eksploitasi. (2) Izin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini.

(4) Syarat teknis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pasal ini adalah untuk bahan galian tambang golongan logam dan non logam dengan luas lebih dari 50 Ha. 18 . (5) Tata cara dan syarat-syarat pengajuan IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini diatur lebih lanjut oleh Bupati. (4) Pelaksanaan kerjasama sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pasal ini diatur lebih lanjut oleh Bupati. kepada pemegang IUP diberikan prioritas pertama untuk mendapatkan IUP jenis bahan galian tambang tersebut dan apabila yang bersangkutan tidak menggunakan haknya. (3) Pelaksanaan kegiatan IUP dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga atas persetujuan Kepala Dinas termasuk yang menggunakan jasa di bidang pertambangan. memuat hak dan kewajiban. Kepala Dinas dapat memberikan IUP kepada pihak lain untuk bekerja sama dengan pemegang IUP yang sudah ada. Pasal 11 (1) IUP diberikan untuk 1 (satu) jenis bahan galian tambang utama dan ikutannya.NO. kecuali kepada ahlli waris dengan menempuh prosedur sebagaimana dimaksud Dalam Pasal 9 Peraturan Daerah ini dan peraturan perundang-undangan yang berlaku dibidang pertambangan. 24 2002 SERI E (3) Untuk kegiatan penerbitan IUP yang dikeluarkan Kepala Dinas. (3) Apabila dalam I (satu) lokasi IUP terdapat bahan galian tambang jenis lainnya. (2) Pemegang IUP harus melaporkan jenis bahan galian tambang ikutannya kepada Dinas. Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Propinsi akan memberikan fasilitas berupa bantuan syarat teknis. Pasal 10 (1) IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 Peraturan Daerah ini. (2) IUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dapat dipindah tangankan.

bulan (3) Pemegang IUP diwajibkan melaksanakan daftar ulang setiap 2 tahun sekali. d. 19 . explorasi 1000 Ha untuk bahan galian logam dan batu bara serta 50 Ha untuk bahan galian non logam. exploitasi 100 Ha untuk bahan galian logam dan batu bara serta 25 Ha untuk bahan galian non logam. IUP exploitasi.NO. Ijin jasa pertambangan diberikan untuk jangka waktu maksimal 4 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali untuk setiap kalinya maksimal 4 tahun. c. b. 24 2002 SERI E (4) IUP dapat dipergunakan sebagai dasar untuk penerbitan izin-izin lain yang bersifat teknis. b. IUP pengangkutan dan penjualan masing-masing maksimal 20 tahun dan dapat diperpanjang untuk setiap kalinya maksimal 5 tahun. Pasal 13 (1) IUP yang dapat diberikan kepada perorangan hanya 1 IUP dengan luas maksimal adalah : a. Bagian Keenam Jangka Waktu dan Luas Wilayah IUP Pasal 12 (1) Jangka waktu pelaksanaan IUP adalah sebagai berikut : a. c. IUP explorasi maksimum 3 tahun dan dapat diperpanjang 2 kali selama masing-masing 1 (satu) tahun. IUP penyelidikan umum maksimum 2 tahun. IUP pengolahan /pemurnian. penyelidikan umum 2500 Ha untuk bahan galian logam dan batu bara serta 500 Ha untuk bahan galian non logam. (2) Permohonan perpanjangan IUP diajukan paling lambat 3 sebelum berakhirnya IUP.

c. Bagian Ketujuh Hak dan Kewajiban Pemegang IUP Serta Berakhirnya IUP Pasal 14 Hak dan kewajiban pemegang IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Peraturan Daerah ini adalah sebagai berikut : a. pengelolaan lingkungan termasuk laporan reklamasi dan peta kemajuan tambang setiap 6 (enam) bulan sekali. penyelidikan umum 10000 Ha untuk bahan galian logam dan batu bara serta 2000 Ha untuk bahan galian non logam. mendapatkan pembinaan dan bimbingan dari pemberi IUP. b. 24 2002 SERI E (2) IUP yang dapat diberikan kepada Badan usaha dan Koperasi maksimal 3 (tiga) IUP dengan luas masing-masing maksimal adalah : a. mendapatkan prioritas pertama untuk memperoleh IUP jenis bahan galian tambang lain yang berada di wilayah IUP nya. b. explorasi 5000 Ha untuk bahan galian logam dan batu bara serta 1000 Ha untuk bahan galian non logam. Kewajiban pemegang IUP 1. mendapatkan prioritas pertama untuk meningkatkan IUP nya sesuai dengan tahapan kegiatan pertambangan. Pemegang IUP berhak untuk : 1. 20 . exploitasi 200 Ha untuk bahan galian logam dan batu bara serta 50 Ha untuk bahan galian non logam. 4. laporan produksi setiap 1 (satu) bulan sekali.NO. 2. (3) Pemegang IUP dapat mengurangi luas wilayah IUP dengan mengembalikan sebagian atau bagian-bagian tertentu dari wilayah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) atas persetujuan Kepala Dinas. menyampaikan laporan secara tertulis kepada Kepala Dinas atas pelaksanaan kegiatan usahanya sesuai dengan tahapan IUP nya setiap 3 (tiga) bulan sekali. melaksanakan usaha pertambangan berdasarkan IUP yang diberikan. 3.

sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku serta mengikuti petunjuk dari Dinas dan Instansi lain yang berwenang. mematuhi setiap ketentuan yang tercantum dalam IUP. Geologi. 21 . melakukan reklamasi dimana peruntukan lahannya harus sesuai dengan peraturan tata ruang kabupaten dan atau propinsi yang penanganannya harus memperhatikan kondisi-kondisi fisik antara lain : Geografi. 7. Hidrologi. 5. memelihara lingkungan hidup dan mencegah serta menanggulangi kerusakan dan pencemaran. 8. 10. kondisi sosek budaya dan agama.NO. menjadi anggota asosiasi yang bergerak di bidang usaha pertambangan. Tofografi. biaya kompensasi eksploitasi dengan jaminan reklamasi. menyerahkan laporan akhir kegiatan disertai dengan semua data yang berkaitan dengan kegiatan yang berada di wilayah IUP nya apabila jangka waktu IUP nya berakhir. 24 2002 SERI E 2. memperbaiki atas beban dan biaya sendiri maupun secara bersama-sama semua kerusakan pada bangunan dan badan jalan termasuk tanggul-tanggul dan bagian tanah yang berguna bagi saluran air dan lebar badan jalan yang terjadi atau diakibatkan karena penambangan dan pengangkutan bahan-bahan galian yang pelaksanaan perbaikannya berdasarkan perintah/petunjuk instansi terkait. memelihara keselamatan. pengembangan masyarakat dan melakukan kemitraan usaha dengan masyarakat setempat. 6. 9. 4. 3. melakukan pengembangan wilayah. saling membutuhkan dan saling memperkuat. kesehatan dan kesejahteraan pekerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan serta mengikuti petunjuk dari Dinas / Instansi yang berwenang. membayar retribusi. baik yang belum atau yang sedang melakukan kegiatan pertambangan berdasarkan prinsifp saling menguntungkan.

e. pemegang IUP tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana syarat-syarat yang telah ditentukan dalam IUP. 24 2002 SERI E 11. c. Bagian Kedelapan Hubungan Antara Pemegang IUP dengan Hak Atas Tanah Pasal 16 (1) Usaha pertambangan yang berlokasi pada tanah yang dikuasai langsung oleh negara terlebih dahulu harus mendapat izin penggunaan tanah dari pejabat yang berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. untuk kepentingan umum yang lebih luas dan keseimbangan lingkungan hidup. dikembalikan oleh pemegangnya dengan cara : 1. dipindah tangankan kepada pihak lain. melaporkan hasil kegiatan penyelidikan umum kepada Pemerintah Daerah dan pemilik. mengembalikan IUP yang dinyatakan syah dan setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas. b. menyampaikan secara tertulis kepada Kepala Dinas. depositnya telah habis atau pailit.NO. d. pemegang IUP tidak melaksanakan kegiatannya dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun. 2. (2) IUP dapat dicabut dan dinyatakan tidak berlaku lagi karena : a. dikerjasamakan dengan pihak lain tanpa persetujuan Kepala Dinas. 3. Pasal 15 (1) IUP berakhir karena : a. habis masa berlakunya dan tidak diperpanjang lagi. 22 . b.

24 2002 SERI E yang atau yang yang (2) Usaha pertambangan yang berlokasi pada tanah negara dibebani suatu hak atas nama suatu instansi pemerintah BUMN/BUMD terlebih dahulu harus mendapat izin dari pejabat berwenang sesuai dengan peraturan perundang-undangan berlaku. (2) PUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1).NO. (5) Usaha pertambangan yang berlokasi pada tanah hak milik perorangan terlebih dahulu mendapat izin dari pemilik berupa kesepakatan mengenai hubungan antara perusahaan pertambangan dengan pemegang hak yang bersangkutan. (3) Bagi pemegang IUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dapat mengubah izinnya menjadi PUP setelah tahap eksplorasi. Bupati sesuai kewenangan dapat menunjuk pihak lain sebagai kontraktor untuk melaksanakan usaha pertambangan dalam bentuk PUP yang lebih menguntungkan bagi kepentingan daerah dan masyarakat berdasarkan pertimbangan lingkungan strategis. BAB IV PERJANJIAN USAHA PERTAMBANGAN (PUP) Pasal 17 (1) Dikecualikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 Peraturan Daerah ini. 23 . (3) Usaha pertambangan yang berlokasi pada tanah negara yang dibebani suatu hak atas nama perorangan atau badan usaha terlebih dahulu harus mendapat izin dari pemegang hak atas tanah berupa kesepakatan mengenai hubungan antara perusahaan pertambangan dengan pemegang hak yang bersangkutan. harus dikonsultasikan terlebih dahulu dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. (4) Usaha pertambangan yang terletak di sungai dan atau laut terlebih dahulu harus mendapat pertimbangan dan bimbingan teknis dari instansi/badan yang bersangkutan.

Pasal 18 IUP dan PUP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 dan Pasal 17 Peraturan Daerah ini. BAB V PELAKSANAAN USAHA PERTAMBANGAN Pasal 19 (1) Pelaksanaan usaha pertambangan harus dilakukan sesuai dengan rencana penambangan yang telah disetujui. lingkungan hidup dan norma-norma pertambangan yang baik dan benar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Pemegang izin usaha pertambangan wajib melaksanakan ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja. (2) dan (3) diatur lebih lanjut oleh Bupati. tidak dapat dipergunakan untuk kepentingan lain selain maksud dari pemberian IUP dan sesuai dengan isi PUP yang dilaksanakan. 24 . syarat-syarat yang tercantum dalam izin usaha pertambangan dan ketentuan-ketentuan lain sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 24 2002 SERI E (4) Persyaratan dan tata cara untuk mengajukan PUP sebagaimana dimaksud pada ayat (1). (2) Apabila dalam jangka waktu 6 (enam) bulan pelaksanaan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) belum dapat dimulai. (3) Apabila dalam pelaksanaan usaha pertambangan menimbulkan bahaya /merusak lingkungan hidup pemegang izin usaha pertambangan diwajibkan menghentikan kegiatannya dan mengusahakan penanggulangannya serta segera melaporkan kepada Kepala Dinas. pemegang izin harus memberikan laporan kepada Kepala Dinas dengan disertai dengan alasan-alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.NO.

(4) Untuk mencapai keseimbangan lingkungan yang baru. 25 . (2) Dinas/Instansi terkait memberikan bimbingan dan pengarahan teknis terhadap pelaksanaan AMDAL. peninjauan dan atau persetujuan. serta reklamasi pemegang IUP wajib melakukan konsultasi teknis dengan Dinas dan atau Instansi teknis terkait lainnya.NO. pemegang IUP wajib melakukan reklamasi lahan bekas tambang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 21 (1) Setiap pemegang IUP yang kegiatannya tidak menimbulkan dampak penting wajib melakukan pengelolaan dan pemantuan lingkungan serta reklamasi lahan bekas tambang yang dilaksanakan sesuai Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) yang telah disetujui dengan mengiikutsertakan masyarakat dan atau pemilik tanah. 24 2002 BAB VI PENGELOLAAN LINGKUNGAN PERTAMBANGAN DAN REKLAMASI Pasal 20 SERI E (1) Setiap pemegang IUP yang kegiatannya menimbulkan dampak penting diwajibkan melaksanakan kegiatan sesuai dengan Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang sudah disetujui. (3) Pelaporan kegiatan pelaksanaan AMDAL harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (4) Terhadap laporan UKL dan UPL serta reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) pasal ini. (2) Dalam pelaksanaan UKL dan UPL sebagimana dimaksud pada ayat (1). Dinas melakukan penilaian. (3) Pelaporan UKL dan UPL serta reklamasi harus sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(3) Dana jaminan pelaksanaan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. 24 2002 Pasal 22 SERI E (1) Pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 dan Pasal 21 Peraturan Daerah ini. (2) Dana jaminan pelaksanaan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. (6) Tata cara penyetoran penyimpanan. pengawasan dan pengendalian terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan yang berada di dalam wilayah IUP menjadi tanggungjawab Dinas. pengelolaan dan pengambilan kembali dana jaminan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. (2) Pembinaan. Kepala Dinas atas nama Bupati dapat menggunakan dana jaminan pelaksanaan reklamasi untuk menyelesaikan pekerjaan reklamasi. ditetapkan lebih lanjut oleh Bupati. dapat diambil kembali oleh pengusaha tambang setelah pekerjaan reklamasinya selesai dilaksanakan dan disetujui oleh Kepala Dinas. harus disetorkan ke Bank sesuai dengan jumlah dana untuk rencana reklamasi. 26 . (4) Apabila pengusaha tambang tidak melaksanakan reklamasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) pasal ini. (5) Segala biaya yang diperlukan dalam kegiatan pengelolaan lingkungan dan reklamasi ditanggung sepenuhnya oleh pengusaha tambang. Pasal 23 (1) Pengusaha pertambangan wajib menyetor sejumlah uang sebagai dana jaminan pelaksanaan reklamasi.NO. dilakukan selama kegiatan pertambangan berjalan dan pasca kegiatan pertambangan.

2. 1.000 setiap ha/tahun . Pajak produksi yang dihitung dari jumlah produksi di mulut tambang.Luas 1500 s/d 2000 Ha Rp. Pajak Pertambangan yang dihitung dari luas wilayah IUP.NO. 24 2002 BAB VII PENGEMBANGAN MASYARAKAT DAN KEMITRAAN USAHA Pasal 24 SERI E (1) Setiap pemegang Izin usaha pertambangan wajib melakukan pengembangan dan kemitraan usaha dengan masyarakat setempat. 1. 1. penyelidikan umum . 2.Luas 500 s/d 1000 Ha Rp. Pasal 27 Besarnya tarif pajak untuk bahan mineral galian non logam ditetapkan sebagai berikut : 1.500 setiap ha/tahun . Pasal 25 Dinas bersama-sama instansi terkait mengupayakan terciptanya kemitraan usaha antara pemegang izin usaha pertambangan dengan masyarakat setempat berdasarkan prinsip saling membutuhkan dan saling menguntungkan. (2) Dinas Sumber Daya Air dan Pertambangan bersama-sama instansi terkait melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap pelaksanaan program pengembangan dan kemitraan usaha sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini.Luas 1000 s/d 1500 Ha Rp.750 setiap ha/tahun .250 setiap ha/tahun 27 . BAB VIII PENETAPAN TARIF PAJAK Pasal 26 Setiap pemegang IUP wajib membayar pajak pertambangan yang meliputi 1.Luas 0 s/d 500 Ha Rp.

sehingga pekerjaan dalam suatu wilayah IUP terpaksa dihentikan sepenuhnya atau sebagian.Luas 0 s/d 50 Ha .000 setiap ha/tahun Rp.Luas 0 s/d 5 Ha .Luas 10 s/d 25 Ha .Luas 200 s/d 400 Ha . 22. Pasal 29 (1) Pendataan. 20. eksploitasi . 24 2.500 setiap ha/tahun Rp.500 setiap ha/tahun Rp. 25.Luas 5 s/d 10 Ha .000 setiap ha/tahun Rp. perhitungan produksi.000 setiap ha/tahun Rp. pencatatan. 3. 3. 5000 setiap ha/tahun Rp. 27. penetapan pemungutan pajak pertambangan dilakukan oleh Dinas.Luas 400 s/d 1000 Ha 3. dan (2) Tata cara sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas. eksplorasi .Luas 25 s/d 35 Ha .Luas 100 s/d 200 Ha . 28 .500 setiap ha/tahun Rp.Luas 50 s/d 100 Ha .000 setiap ha/tahun Pasal 28 (1) Besarnya pajak untuk bahan mineral galian non logam adalah 20 % x nilai jual bahan galian dimulut tambang.500 setiap ha/tahun Rp.Luas 35 s/d 50 Ha 2002 SERI E Rp. 4. Kepala Dinas dapat menentukan tenggang waktu/moratorium yang diperhitungkan dalam jangka waktu IUP atas permintaan pemegang IUP yang bersangkutan. 4.000 setiap ha/tahun Rp. (2) Nilai jual bahan galian ditetapkan dengan Keputusan Bupati setiap 2 (dua) tahun sekali. 30. BAB IX KEADAAN MEMAKSA Pasal 30 (1) Apabila terdapat keadaan memaksa yang tidak dapat diperkirakan terlebih dahulu.NO.

dalam jangka waktu paling lambat 6 (enam) bulan sesudah diajukannya permintaan tersebut. kegiatan usaha (2) Dalam hal-hal tertentu pembinaan. BAB XI PEMBINAAN. 29 . PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN Pasal 32 (1) Pembinaan. pengawasan dan pengendalian pertambangan dilaksanakan oleh Dinas. 24 2002 SERI E (2) Dalam tenggang waktu/moratorium sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) pasal ini. maka penyelesaian dilakukan melalui jalur hukum yang berlaku. pengawasan dan pengendalian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini dapat dilakukan bersama-sama dengan masyarakat dan Instansi terkait.NO. BAB X PENYELESAIAN SENGKETA Pasal 31 (1) Pemberi IUP bersepakat dengan pemegang IUP untuk menyelesaikan masalah-masalah yang timbul dari hak dan kewajiban yang dimuat dalam IUP melalui konsiliasi. (3) Kepala Dinas mengeluarkan Keputusan mengenai tenggang waktu/moratorium tersebut mengenai keadaan memaksa di daerah di mana wilayah IUP terletak untuk dapat atau tidaknya melakukan usaha pertambangan. (2) Dalam hal penyelesaian masalah melalui konsiliasi tidak tercapai. (4) Kepala Dinas mengeluarkan keputusan diterima atau ditolaknya tenggang waktu/moratorium sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. hak dan kewajiban pemegang IUP tidak berlaku.

(5) Tata cara penghentian sementara kegiatan pertambangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) pasal ini diatur lebih lanjut oleh Bupati. (2) Tata cara dan persyaratan pengangkatan PIT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini diatur lebih lanjut oleh Bupati. tahunan dan laporan akhir serta laporan khusus lainnya kepada dinas dengan tembusan kepada instansi terkait. (2) Bentuk dan format laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. (4) PIT dapat menghentikan sementara kegiatan pertambangan dalam hal : a. menimbulkan akibat negatif yang cenderung membahayakan terutama bagi keselamatan manusia. Bupati mengangkat Pelaksana Inspeksi Tambang (PIT). 30 . kesehatan dan keselamatan kerja serta pengelolaan lingkungan hidup.NO. 24 2002 Pasal 33 SERI E (1) Untuk membantu pelaksanaan pengawasan dan pengendalian tentang pengelolaan. c. BAB XII PELAPORAN DAN EVALUASI Pasal 34 (1) Pemegang izin usaha pertambangan wajib menyampaikan laporan kegiatan bulanan. ditetapkan lebih lanjut oleh Kepala Dinas. b. triwulan. terjadi penyimpangan dalam batas-batas tertentu terhadap persyaratan teknis IUP. (3) Tata cara pelaksanaan tugas PIT diatur lebih lanjut oleh Kepala Dinas selaku Kepala PIT. terjadi konflik dengan masyarakat setempat.

mencari. melakukan penggeledahan untuk mendapatkan bahan bukti pembukuan. 31 . menyuruh berhenti. meminta bantuan tenaga ahli dalam rangka pelaksanaan tugas penyidikan tindak pidana. catatan-catatan dan dokumen-dokumen lain berkenaan dengan tindak pidana.NO. g. c. meminta keterangan dan bahan bukti dari orang pribadi atau Badan sehubungan dengan tindak pidana. b. d. melarang seseorang meninggalkan ruangan atau tempat pada saat pemeriksaan sedang berlangsung dan memeriksa identitas orang dan atau dokumen yang dibawa sebagaimana dimaksud pada huruf e. serta melakukan penyitaan terhadap bahan bukti tersebut. memeriksa buku-buku. (2) Wewenang penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : a. mencari dan mengumpulkan keterangan mengenai orang pribadi atau Badan tentang kebenaran perbuatan yang dilakukan sehubungan dengan tindak pidana. pencatatan dan dokumen-dokumen lain. f. mengumpulkan dan meneliti keterangan atau laporan berkenaan dengan tindak pidana di Daerah agar keterangan atau laporan tersebut menjadi lengkap dan jelas. meneliti. e. menerima. 24 2002 SERI E kegiatan usaha (3) Dinas melakukan evaluasi terhadap laporan pertambangan di wilayah Kabupaten Garut. BAB XIII PENYIDIKAN Pasal 35 (1) Penyidik Pegawai Negeri Sipil tertentu di Lingkungan Pemerintah Daerah diberi wewenang khusus untuk melakukan penyidikan tindak pidana di Daerah sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Hukum acara Pidana yang berlaku.

i. Pasal 11 ayat (2) dan Pasal 14 huruf b Peraturan Daerah ini.000. Pasal 10 ayat (2).000. menghentikan penyidikan. BAB XIV KETENTUAN PIDANA Pasal 36 (1) Barang siapa yang tidak mempunyai izin usaha pertambangan tahap eksploitasi / produksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. j. disetor ke Kas Daerah. (3) Penyidik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberitahukan dimulainya penyidikan dan menyampaikan hasil penyidikannya kepada Penyidik Pejabat Polisi Negara Indonesia sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam Undang-undang Hukum Acara Pidana.00 (lima juta rupiah).NO. diancam denda pidana kurungan paling lama 3 (tiga) bulan dan denda paling banyak Rp. melakukan tindakan lain yang perlu untuk kelancaran penyidikan tindak pidana menurut hukum yang dapat dipertanggungjawabkan. k. memotret seseorang yang berkaitan dengan tindak pidana. (2) Denda sebagaimana dimaksud pada ayat(1) Pasal ini. (3) Selain tindak pidana pelanggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. 5. 24 2002 SERI E h. memanggil orang untuk didengar keterangannya dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi. 32 . tindak pidana kejahatan yang mengkibatkan perusakan dan pencemaran lingkungan hidup dikenakan ancaman pidana sesuai dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Undang-undang dibidang pertambangan.

BAB XVI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 39 IUP yang telah dikeluarkan sebelum berlakunya Peraturan Daerah ini. pembinaan kesadaran hukum bagi aparatur dan masyarakat. peningkatan peran dan fungsi pelaporan. Pasal 38 Pengawasan preventif sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 ayat (2) Peraturan Daerah ini meliputi : a. meliputi pengawasan preventif dan pengawasan represif. 24 2002 BAB XV PENGAWASAN Pasal 37 SERI E (1) Pengawasan pelaksanaan Peraturan Daerah ini dilakukan oleh Dinas bersama-sama dengan lembaga terkait lainnya. peningkatan propesionalisme aparatur pelaksana. dinyatakan masih tetap berlaku sampai habis masa berlaku. (2) Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) pasal ini. 33 . c. BAB XVI KETENTUAN PENUTUP Pasal 40 Hal-hal yang belum cukup diatur dalam Peraturan Daerah ini sepanjang mengenai teknis pelaksanaannya.NO. b. akan ditetapkan dalam Keputusan Bupati.

Agar setiap orang dapat mengetahuinya memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Kabupaten Garut. ttd DEDE SATIBI Diundangkan di Garut pada tanggal 2 September 2002 SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN GARUT.NO. ttd RAHMAT SUDJANA LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT TAHUN 2002 NOMOR 24 SERI E 34 . 24 2002 Pasal 41 SERI E Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Ditetapkan di Garut pada tanggal 23 Agustus 2002 BUPATI G A R U T.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful