Candi Mendut - http://www.walubi.or.id/wacana/wacana_061.shtml jam 7.

21 pagi 27 september Candi Mendut didirikan oleh Raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 Masehi, berdasarkan prasasti Karang Tengah tahun 824 Masehi,bernama Indra dengan gelar Cri Sanggramadananjaya. Candi ini menghadap Barat Daya. Mendut (=Venuvana) yang berarti hutan bambu. Sejarah Candi Mendut dibangun lebih dahulu, dibanding Candi Borobudur dan sering Candi Mendut ini dipergunakan untuk upacara keagamaan Buddha. Satu-satunya ruang dalam candi terdapat altar yang meliputi tiga arca/rupang, letaknya Arca yang satu menghadap pintu masuk, terlihat dari tengah adalah rupang arca Buddha Sakyamuni dengan mudra Cakra, disebelah kanan rupang Bodhisattva Avalokitesvara bermahkota Buddha Amitabha dan di sebelah kiri, terdapat rupang Bodhisattva Vajravani. Jumlah stupa yang ada disekeliling candi sebanyak 48 buah. Tinggi candi 26,4 m. Candi ini telah diketemukan kembali tahun 1836. Tahun 1897-1904 kembali ditata ulang sambil diperbaiki. Dan tahun 1908 diadakan perbaikan-perbaikan renovasi oleh Th. Van Erp, dilanjutkan tahun 1925. Sejumlah stupa yang telah dirapihkan, dipasang untuk disusun kembali. Ornamen dinding luar candi terpahat relief Avalokitesvara Bodhisattva yang terlihat begitu sangat indah, disamping ada Bodhisattva Maitreya, Vajrapani dan Manjusri. Pada bagian ruang pintu terdapat pula relief kalpataru bidadari yang melukiskan Hariti dan Atawaka (Suaka peninggalan sejarah dan purbakala-Jawa Tengah).

Candi Mendut : Sulit Punya Anak Memohon ke Dewi Kesuburan
http://www.indospiritual.com/artikel_candi-mendut---sulit-punyaanak-memohon-ke-dewi-kesuburan.html 7.26 pagi 27 september
Candi ini terletak di desa Mendut, Mungkid, Magelang. Terletak sekitar dua kilometer tenggara ibu kota Kabupaten Magelang. Candi Mendut berdekatan dengan Candi Pawon serta Candi Borobudur. Tiga candi ini biasanya masuk jadi satu paket kunjungan wisata. Baik wisatawan domestik maupun dari manca negara. Banyak orang masih percaya, kekeramatan Candi Mendut memberi tuah. Bahkan dipercaya tuah itu berkhasiat pengobatan. SEBAGAI candi Buddha yang monumental, setiap kali berlangsung peringatan Hari Raya Waisak, upacara dipusatkan di ketiga candi ini. “Ketika upacara Tri Suci Waisak berlangsung, prosesi dimulai dari candi ini lalu ke candi Pawon dan diteruskan menuju Borobudur,” kata Maryono (50), salah satu karyawan Dinas Purbakala.

Ditambahkan. Namun setelah bertemu Sang Budha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak. orang-orang yang berkunjung ke Candi Mendut berasal dari berbagai tempat serta agama. Kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha sedang kaki kiri menjulur ke bawah. Hariti awalnya raksasa yang gemar makan manusia. Bahkan dikenal dengan Dewi Kesuburan (Fertility Goddes). 1985 balik lagi ke Mendut dan membangun prasasti berbahasa Jepang.Menurutnya. sudah 5 tahun menikah namun belum punya anak. Selain itu di bilik candi terdapat 3 arca dengan ukuran cukup besar. Tergambarkan Hariti sedang duduk sambil memangku anak. Misal di sebelah kiri pintu masuk ke bilik candi terlihat relief Hariti.” tutur Dito. Di sekelilingnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain. menghadap ke utara. Tidak berapa lama setelah berdoa di dalam bilik candi Mendut bisa punya keturunan. berhasil disusun kembali sebagian atap candi. Banyak yang bercerita. Pak Maryono mengaku pernah ketemu pasutri yang berasal dari Jakarta dan doanya agar diberi keturunan bisa terkabulkan “Mereka pernah bercerita.” jelas Maryono. Tiga arca tersebut makin menguatkan kekaguman betapa hebat karya seni nenekmoyang bangsa Indonesia.” tandas Maryono. juga posisi duduk dengan kaki kiri dilipat ke dalam sedang kaki kanan menjulur ke bawah. menghadap ke selatan. Begitu juga yang berdoa atau meditasi di candi tersebut bisa berasal dari bermacam agama. “Para ahli memperkirakan candi tersebut dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra. 1908. Dan bersamaan dengan perbaikan candi Borobudur. diletakkan di luar pagar barat Candi Mendut. “Vajrapani dan Avalokitesvara disebut-sebut sebagai pengiring atau pengawal Buddha Cakyamuni. dengan posisi duduk pula.” jelas Maryono. antara lain pada pintu masuknya yang menghadap ke barat laut. Dito (46) teman satu kantor Pak Maryono menambahkan. menurut kabar orang Jepang tersebut juga mengadakan upacara pernikahan putranya di Yogyakarta. . “Yang penting keyakinan. Sebab kebanyakan candi menghadap ke timur. Beberapa stupa kecil juga dapat dipasang lagi. Keunikan Mendut dibanding candi-candi lain di Jawa bahkan di Indonesia. keikhlasan dan kemantapan mereka saat berdoa pada Tuhan. Kedua Arca Bodhisatva Avalokitesvara. bangunan candi Mendut ditemukan 1836 dalam keadaan tertimbun semak belukar. Ketiga arca tersebut adalah Arca Dyani Buddha Cakyamuni. Relief-relief yang terukir indah juga bisa ditemukan di beberapa dinding candi.” tambah Dito. Dan yang ketiga adalah Arca Bodhisatva Vajrapani. Atau lintas agama. Ketika benar-benar sembuh. Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut. “Selain membangun prasasti. Penggalian dan pembersihan terus dilakukan secara bertahap. menghadap ke barat dalam posisi duduk. orang Jepang pernah ada yang berdoa mohon kesembuhan dari sakit lumpuhnya. Masing-masing terbuat dari bongkahan batu utuh. Kedua kakinya menyiku ke bawah pada landasan teratai.

blogspot.html 7. bisa jadi sebagai tempat istirahat ketika melakukan perjalanan ziarah. Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma. namun entah kalau orang-orang yang datang dari jauh.31 pagi September 27 A. 1. Pawon. Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya. Ngatini (41) warga sekitar Candi Pawon. Di dalam Candi Mendut terdapat 3 (tiga) patung besar. “Karena letaknya di antara Candi Mendut dan Borobudur. Candi ini didirikan oleh dinasti Syailendra dan berlatar berlakang agama Budha. 2.Tidak diketahui secara pasti kapan candi ini didirikan. warga sekitar candi tak banyak menemui. Vajrapani.5 kilometer ke arah selatan akan ditemukan candi Pawon. Candi Mendut http://artikel-notes.” paparnya. Jika hal ini benar maka bisa dipastikan Candi Mendut didirikan pada abad ke 8 Masehi. Di dalam candi tersebut juga ada bilik namun tak ada arca atau patung satu pun.” ungkap Ny. jika orang biasa saya rasa tak mudah bisa menjumpai.com/2010/04/candimendut. Mendut). 3. Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan . Candi Mendut Candi Mendut merupakan candi yang terletak paling timur dari garis lurus tiga serangkai candi (Borobudur. Namun seorang arkeologi Belanda menyebutkan bahwa di dalam prasasti yang ditemukan di desa karangtengah bertarikh 824M dikemukakan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama venunava yang artinya adalah hutan bambu. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan. “Kami yang biasa ngedep candi itu malah tak menemui.Dari Candi Mendut berjalan sekitar 1. Hal-hal aneh di sekitar candi tersebut. Dan banyak yang tidak tahu fungsi candi tersebut. menurutnya. Kalau yang punya indera ke-6 bisa jadi menemukannya. dimana hal ini ditunjukkan dengan adanya bentuk stupa sebanyak 48 buah pada bagian atasnya. Meski datang dari jauh.

Tidak saja keberadaan arca Budha ukuran besar. Bangunan candi Mendut berdiri di atas ‘basement’ (dasar candi) setinggi 3. kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha.50 meter. Arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke barat (yang berada di tengah). Di atas basement ada lorong yang mengelilingi badan candi selebar 2. dan Arca Bodhisatva Vajrapani. digambarkan dengan mengenakan pakaian kebesaran seperti arca Bodhisatva Avalokitesvara. di candi ini semula ada puncak candi. leher dan kelat bahu.70 meter sehingga tampak anggun. dia berani melawan burung itu dengan menggigit lehernya. Arca Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana. Sikap tangannya. Kini tinggi bangunan candi ini 26. kaki kiri menjuntai ke bawah. serta memakai mahkota. Arca ini digambarkan dalam posisi duduk. Dari gambar rekonstruksi. kaki kiri dilipat kedalam dan kaki kanan menjuntai ke bawah.’ Relief-relief itu terpahat di panel-panel luar sayap tangga bagian bawah. mengisahkan tentang seekor kera yang ditolong dan diseberangkan seekor buaya. si kura-kura menggigit sebatang kayu dibawa terbang dua ekor burung bango itu untuk dibawa ke sebuah telaga.70 meter. bagian puncak candi yang indah itu sampai kini belum berhasil direkonstruksi. Penyelamatannya. Sebagai candi Budha. duduk dengan posisi kedua kakinya menyiku ke bawah. Pengarcaannya dengan posisi duduk. menghadap ke selatan. Arca Bodhisatva Avalokitesvara berada di sebelah utara arca Dyani Budha Cakyamuni. Sikap tangan ‘dharmacakramudra’ yang bermakna sedang memutar ‘roda kehidupan’. Pengarcaan Budhisatva Avalokitesvara ini mengenakan pakaian kebesaran dengan perhiasanperhiasan di telinga. Batu batu bangunan dan ornamen candi yang belum bisa disusun kembali kini tertata rapi di pelataran candi sebelah utara. kokoh dan berwibawa. menapak pada landasan berbentuk bunga teratai. Maka matilah burung-burung itu karena perbuatan jahatnya. Bagian atap candi terdiri tiga tingkat dengan hiasan stupa-stupa kecil berjumlah 48 buah.Arca-arca Budha yang berada di dalam bilik Candi Mendut ini adalah. Jumlah tataran naik candi ada 14 trap. Karena si kura-kura ditipu.48 meter. candi ini juga dihiasi dengan relief-relief yang menggambarkan ceriteraceritera Jataka.70 meter x 13. ‘varamudra’ yang bermakna sedang memberi atau menyampaikan ajaran. Ternyata burung bangau itu menipu kurakura. Candi Mendut memang lain dengan candi-candi yang ada di Indonesia. Relief ceritera fabel (ceritera dengan tokoh hewan) lainnya di panel lain. yang sarat dengan makna ajaran-ajaran hukum ‘Sebab dan Akibat. Arah hadap ini tidak lazim untuk candi-candi di Jawa Tengah. Sebenarnya si buaya . Namun sayang. menghadap ke barat laut. candi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Ukuran dasar candi 13. Karena pada umumnya candi-candi di Jawa Tengah menghadap ke timur. Si kera naik di punggung buaya. Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara. Arca Bodhisatva Vajrapani yang terletak di sebelah kiri arca Budha Sakyamuni menghadap ke utara. Relief di sebelah kanan menggambarkan ceritera. kura-kura yang dalam keadaan bahaya diselamatkan oleh dua ekor burung bangau.

Upaya membersihkan dan menyusun kembali candi ini dilakukan pada masa penjajahan Belanda tahun 1897. Dewa Kekayaan. dan ingin merobek perut kera dengan giginya yang tajam. ada seorang lelaki yang yang duduk dikelilingi anak-anak. Di sebelah kanan pintu masuk ke bilik candi (sisi utara).ingin memakan hati kera. yang berarti istana di tengah hutan bambu. Seperti Kuvera. Relief ini menggambarkan dewa Kuwera. bersamaan dengan upaya merekonstruksi Candi Borobudur. Candi yang berlokasi di Kelurahan Mendut kawasan Kota Mungkid ini kira-kira 3 kilometer di sebelah timur candi Borobudur. Namun dengan cerdiknya si kera mengatakan kepada buaya bahwa hatinya ditinggal di seberang sungai. Pada tahun 1901 sampai dengan 1904. telah mendirikan bangunan suci bernama ‘Venuvana’. nama asli candi ini adalah ‘Venuvana Mandira’. Its relationship with Pawon and Borobudur’ menuliskan. Di relief lain menggambarkan ceritera. Setibanya di seberang sungai. Sampai kini tidak diketahui dengan pasti. Kuvera pada mulanya adalah raksasa bengis pemakan manusia. ayahanda Raja Samaratungga. Tetapi setelah bertemu dengan sang Budha dan diberi ajaran moral dan budi pekerti luhur. seiring dengan perpindahan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Dan masih banyak lagi relief ceritera fable dari kisah Jataka yang dipahatkan di candi ini. de Casparis menghubungkan candi ini dengan Raja dari wangsa Syailendra. Di sisi kiri (sisi selatan) pintu masuk ke bilik candi. yang suasananya tenang dan teduh. awal mulanya Hariti juga raseksi pemakan manusia. Penggambarannya. Indra. Dia berhasil merekonstruksi candi ini sampai pada tahap menyusun sebagian atap candi. Bahkan Hariti juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan. Konon. Dan menurut Bhiku Sri Pannyavaro Mahathera dalam narasi di film video dokumenter “Permata yang terlupakan. Brandes tidak puas dengan hasil itu dan berupaya untuk merekonstruksi. Karena candi ini dulu dibangun tidak hanya sebagai tempat pemujaan dan samadi. Seperti halnya Candi Borobudur.G. dia bertobat dan berubah perangai menjadi pelindung anakanak. Di tengah sungai buaya berhenti. Dan selama berabad-abad candi ini ‘tenggelam’ ditelan jaman. si kera meloncat menyelamatkan diri. Soediman dalam buku panduan berbahasa Inggeris. Tetapi gajah itu menjadi lembut dan jinak ketika berada di dekat para pertapa. dan setelah sadar dan bertobat berubah menjadi pelindung anak-anak setelah berjumpa dan diberi ajaran kebaikan oleh sang Budha. kapan candi ini dibangun. yang bermakna hutan bambu. candicandi Budhis di Jawa” menyebutkan. ‘Chandi Mendut. Dan buaya bodoh itu percaya omongan kera. J. candi ini tertutup tanah dan semak belukar. Ketika ditemukan kembali pada tahun 1834. Sehingga rusak porak poranda tertimpa material vulkanis Merapi. Drs. terpahatkan relief Hariti yang duduk memangku anak. Dalam prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 M pada masa pemerintahan Raja Samaratungga menyebutkan bahwa Raja Indra. Sehingga upaya untuk merekonstruksi candi ini diambil alih oleh Van Erp pada tahun 1908. Pada tahun 1925 beberapa stupa kecil hiasan atap candi berhasil . Tetapi pekerjaan itu dihentikan sebelum selesai. yang kemudian diperintah kera untuk terus membawanya sampai ke seberang sungai. tetapi juga sebagai tempat untuk memperdalam ajaran-ajaran Budha bagi umatnya. seekor gajah yang menjadi ganas ketika berada di tengah-tengah mereka yang sedang dihukum karena kejahatan. Di bawahnya ada kendi-kendi yang penuh dengan uang. ada sebuah relief Kuvera. para bhiku. candi ini diperkirakan juga menjadi korban mahapralaya letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006 M. dalam desertasi ahli purbakala Belanda. Di sekeliling Hariti ada banyak anak sedang bermain.

“Ada siasatku.” Maka ujar si kepiting. akan kupanjangkan leher kalian. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. aku mangsanya. Ia ingin melunasi hutangnya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini.” – “Aku setuju dengan usulmu. supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh. hatinya nyaman. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan. 2. ada putih. dibawa di pakaiannya. banyak tunjungnya beranekawarna.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada. Relief-relief Di bawah ini pembicaran mendetail beberapa relief akan disajikan. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini: Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. B. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai. Si Astapada merasa lega hatinya. Danau itu sangat permai. Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. 1. maka pikirnya. Ada angsa jantan betina. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini: Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. merah dan (tunjung) biru.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya.” Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar.” Begitulah perjanjian mereka. Ia tidur dengan nikmat. dengan segera. sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. ceritakan padaku.dipasang kembali. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan. aku akan berkawan dengan keduanya. Matilah si gagak dan si ular. Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Sama-sama buruk kelakuannya. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal . sebab aku merasa kasihan. Relief 2 (Angsa dan kura-kura) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. “Wahai kedua kawanku.

Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. si Durbudi dan si Kacapa. Apalagi menjelang musim kemarau. sampailah di atas ladang Wilanggala. akan berakhir mati. si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura. Katanya: “Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian. Bergetarlah . dan lagi jangan berbicara.Tidak kuasalah kami jauh dari air. marahlah batinnya. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti. laki bini. sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa. [hanya] janganlah kendor anda memagut. tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut.Segera terbang dibawa oleh angsa. lihatlah itu ada hal yang amat mustahil.”Maka demikianlah kata angsa. Kami ada akal. Ini ada kayu. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. Maka mendongaklah si anjing betina. sekarang anda akan meninggalkan kami. dalam suka dan duka anda. si Cakrangga (nama) angsa jantan. Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. di sana dan di sini. sebab semakin mengeringlah air di danau. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini. mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu. berusaha untuk hidupmu sendiri. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering. si Cakranggi (nama) angsa betina. Itulah yang harus anda lakukan. katanya: “Aduhai sahabat. Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda. Si Nohan nama si anjing jantan. Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura. sangat besar cinta kami kepada anda. Telah jauh terbang mereka. Lalu katanya. si Babyan nama si betina. akan mengembara ke telaga Manasasara. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan. melihat si angsa terbang. janganlah hendaknya anda tegur juga. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan.Maka si kura-kurapun menjawab. kanan kiri.” Begitulah kata si angsa. tempat tujuan yang diharapkannya. Si Durbudi (nama) si jantan. pagutlah olehmu tengah-tengahnya. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa. Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. [Kedua] angsa. Di sanalah tujuan kami kawan.“Wahai bapak anakku.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati. kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku.Adapun nama angsa itu. sedangkan si Kacapa (nama) si betina. keduanya sama menerbangkan kura-kura.airnya dari telaga Manasasara. Kami ingin pergi dari sini. Amat murni airnya bening dan dalam. jangan tidak mentaati kata-kata kami.

Kronologi Penemuan * 1836 – Ditemukan dan dibersikan * 1897 – 1904 kaki dan tubuh candi diperbaiki namun hasil kurang memuaskan.Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Puncaknya dapat disusun kembali. * 1925 – sejumlah stupa disusun kembali. Maka mengangalah mulut si kura-kura. C. Setiap kali mereka membutuhkan uang. 4. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta. lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina. * 1908 – Diperbaiki oleh Theodoor van Erp. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda) Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun.mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering. Relief 3 (Dharmabuddhi dan Dustabuddhi) Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. 3. . sarang karu-karu. Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful