Candi Mendut - http://www.walubi.or.id/wacana/wacana_061.shtml jam 7.

21 pagi 27 september Candi Mendut didirikan oleh Raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 Masehi, berdasarkan prasasti Karang Tengah tahun 824 Masehi,bernama Indra dengan gelar Cri Sanggramadananjaya. Candi ini menghadap Barat Daya. Mendut (=Venuvana) yang berarti hutan bambu. Sejarah Candi Mendut dibangun lebih dahulu, dibanding Candi Borobudur dan sering Candi Mendut ini dipergunakan untuk upacara keagamaan Buddha. Satu-satunya ruang dalam candi terdapat altar yang meliputi tiga arca/rupang, letaknya Arca yang satu menghadap pintu masuk, terlihat dari tengah adalah rupang arca Buddha Sakyamuni dengan mudra Cakra, disebelah kanan rupang Bodhisattva Avalokitesvara bermahkota Buddha Amitabha dan di sebelah kiri, terdapat rupang Bodhisattva Vajravani. Jumlah stupa yang ada disekeliling candi sebanyak 48 buah. Tinggi candi 26,4 m. Candi ini telah diketemukan kembali tahun 1836. Tahun 1897-1904 kembali ditata ulang sambil diperbaiki. Dan tahun 1908 diadakan perbaikan-perbaikan renovasi oleh Th. Van Erp, dilanjutkan tahun 1925. Sejumlah stupa yang telah dirapihkan, dipasang untuk disusun kembali. Ornamen dinding luar candi terpahat relief Avalokitesvara Bodhisattva yang terlihat begitu sangat indah, disamping ada Bodhisattva Maitreya, Vajrapani dan Manjusri. Pada bagian ruang pintu terdapat pula relief kalpataru bidadari yang melukiskan Hariti dan Atawaka (Suaka peninggalan sejarah dan purbakala-Jawa Tengah).

Candi Mendut : Sulit Punya Anak Memohon ke Dewi Kesuburan
http://www.indospiritual.com/artikel_candi-mendut---sulit-punyaanak-memohon-ke-dewi-kesuburan.html 7.26 pagi 27 september
Candi ini terletak di desa Mendut, Mungkid, Magelang. Terletak sekitar dua kilometer tenggara ibu kota Kabupaten Magelang. Candi Mendut berdekatan dengan Candi Pawon serta Candi Borobudur. Tiga candi ini biasanya masuk jadi satu paket kunjungan wisata. Baik wisatawan domestik maupun dari manca negara. Banyak orang masih percaya, kekeramatan Candi Mendut memberi tuah. Bahkan dipercaya tuah itu berkhasiat pengobatan. SEBAGAI candi Buddha yang monumental, setiap kali berlangsung peringatan Hari Raya Waisak, upacara dipusatkan di ketiga candi ini. “Ketika upacara Tri Suci Waisak berlangsung, prosesi dimulai dari candi ini lalu ke candi Pawon dan diteruskan menuju Borobudur,” kata Maryono (50), salah satu karyawan Dinas Purbakala.

1985 balik lagi ke Mendut dan membangun prasasti berbahasa Jepang. Sebab kebanyakan candi menghadap ke timur. Hariti awalnya raksasa yang gemar makan manusia. orang Jepang pernah ada yang berdoa mohon kesembuhan dari sakit lumpuhnya. Atau lintas agama. menurut kabar orang Jepang tersebut juga mengadakan upacara pernikahan putranya di Yogyakarta. Di sekelilingnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain. “Para ahli memperkirakan candi tersebut dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra. antara lain pada pintu masuknya yang menghadap ke barat laut. Banyak yang bercerita. “Vajrapani dan Avalokitesvara disebut-sebut sebagai pengiring atau pengawal Buddha Cakyamuni. Pak Maryono mengaku pernah ketemu pasutri yang berasal dari Jakarta dan doanya agar diberi keturunan bisa terkabulkan “Mereka pernah bercerita. Dan bersamaan dengan perbaikan candi Borobudur.” jelas Maryono. Ketika benar-benar sembuh. “Selain membangun prasasti. sudah 5 tahun menikah namun belum punya anak. Tiga arca tersebut makin menguatkan kekaguman betapa hebat karya seni nenekmoyang bangsa Indonesia. Begitu juga yang berdoa atau meditasi di candi tersebut bisa berasal dari bermacam agama.” tutur Dito.Menurutnya.” jelas Maryono. Kedua kakinya menyiku ke bawah pada landasan teratai. Masing-masing terbuat dari bongkahan batu utuh. Kedua Arca Bodhisatva Avalokitesvara. “Yang penting keyakinan. diletakkan di luar pagar barat Candi Mendut. Beberapa stupa kecil juga dapat dipasang lagi. Bahkan dikenal dengan Dewi Kesuburan (Fertility Goddes). Ketiga arca tersebut adalah Arca Dyani Buddha Cakyamuni. Relief-relief yang terukir indah juga bisa ditemukan di beberapa dinding candi. Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut. menghadap ke barat dalam posisi duduk. menghadap ke utara. dengan posisi duduk pula. Namun setelah bertemu Sang Budha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak. Kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha sedang kaki kiri menjulur ke bawah. Penggalian dan pembersihan terus dilakukan secara bertahap. juga posisi duduk dengan kaki kiri dilipat ke dalam sedang kaki kanan menjulur ke bawah. Keunikan Mendut dibanding candi-candi lain di Jawa bahkan di Indonesia. Dito (46) teman satu kantor Pak Maryono menambahkan.” tambah Dito. menghadap ke selatan. berhasil disusun kembali sebagian atap candi. Dan yang ketiga adalah Arca Bodhisatva Vajrapani. Ditambahkan. 1908. Tidak berapa lama setelah berdoa di dalam bilik candi Mendut bisa punya keturunan. .” tandas Maryono. orang-orang yang berkunjung ke Candi Mendut berasal dari berbagai tempat serta agama. keikhlasan dan kemantapan mereka saat berdoa pada Tuhan. Selain itu di bilik candi terdapat 3 arca dengan ukuran cukup besar. bangunan candi Mendut ditemukan 1836 dalam keadaan tertimbun semak belukar. Misal di sebelah kiri pintu masuk ke bilik candi terlihat relief Hariti. Tergambarkan Hariti sedang duduk sambil memangku anak.

3.” ungkap Ny.blogspot. Dan banyak yang tidak tahu fungsi candi tersebut. jika orang biasa saya rasa tak mudah bisa menjumpai. dimana hal ini ditunjukkan dengan adanya bentuk stupa sebanyak 48 buah pada bagian atasnya. warga sekitar candi tak banyak menemui. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan. Kalau yang punya indera ke-6 bisa jadi menemukannya. menurutnya.Tidak diketahui secara pasti kapan candi ini didirikan. Mendut). Di dalam Candi Mendut terdapat 3 (tiga) patung besar. Di dalam candi tersebut juga ada bilik namun tak ada arca atau patung satu pun. “Karena letaknya di antara Candi Mendut dan Borobudur. Candi Mendut http://artikel-notes. namun entah kalau orang-orang yang datang dari jauh. Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma. bisa jadi sebagai tempat istirahat ketika melakukan perjalanan ziarah. Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya. Jika hal ini benar maka bisa dipastikan Candi Mendut didirikan pada abad ke 8 Masehi.html 7.Dari Candi Mendut berjalan sekitar 1.31 pagi September 27 A. Hal-hal aneh di sekitar candi tersebut.” paparnya. Pawon. Meski datang dari jauh. 1. 2.com/2010/04/candimendut.5 kilometer ke arah selatan akan ditemukan candi Pawon. Namun seorang arkeologi Belanda menyebutkan bahwa di dalam prasasti yang ditemukan di desa karangtengah bertarikh 824M dikemukakan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama venunava yang artinya adalah hutan bambu. Vajrapani. Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan . Candi ini didirikan oleh dinasti Syailendra dan berlatar berlakang agama Budha. Candi Mendut Candi Mendut merupakan candi yang terletak paling timur dari garis lurus tiga serangkai candi (Borobudur. “Kami yang biasa ngedep candi itu malah tak menemui. Ngatini (41) warga sekitar Candi Pawon.

Jumlah tataran naik candi ada 14 trap. Arca Bodhisatva Avalokitesvara berada di sebelah utara arca Dyani Budha Cakyamuni. Sebenarnya si buaya . Ukuran dasar candi 13. si kura-kura menggigit sebatang kayu dibawa terbang dua ekor burung bango itu untuk dibawa ke sebuah telaga. Tidak saja keberadaan arca Budha ukuran besar. menghadap ke barat laut. Ternyata burung bangau itu menipu kurakura. Pengarcaannya dengan posisi duduk. candi ini mempunyai daya tarik tersendiri. kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha.Arca-arca Budha yang berada di dalam bilik Candi Mendut ini adalah. Arah hadap ini tidak lazim untuk candi-candi di Jawa Tengah.70 meter x 13. kaki kiri menjuntai ke bawah. Sikap tangan ‘dharmacakramudra’ yang bermakna sedang memutar ‘roda kehidupan’.48 meter. menghadap ke selatan. leher dan kelat bahu. Sikap tangannya. Maka matilah burung-burung itu karena perbuatan jahatnya. Arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke barat (yang berada di tengah). menapak pada landasan berbentuk bunga teratai. Arca Bodhisatva Vajrapani yang terletak di sebelah kiri arca Budha Sakyamuni menghadap ke utara. serta memakai mahkota. Dari gambar rekonstruksi. dan Arca Bodhisatva Vajrapani. kokoh dan berwibawa. Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara. Candi Mendut memang lain dengan candi-candi yang ada di Indonesia. candi ini juga dihiasi dengan relief-relief yang menggambarkan ceriteraceritera Jataka. Namun sayang. ‘varamudra’ yang bermakna sedang memberi atau menyampaikan ajaran. Pengarcaan Budhisatva Avalokitesvara ini mengenakan pakaian kebesaran dengan perhiasanperhiasan di telinga. Si kera naik di punggung buaya. Sebagai candi Budha. digambarkan dengan mengenakan pakaian kebesaran seperti arca Bodhisatva Avalokitesvara.70 meter sehingga tampak anggun. Di atas basement ada lorong yang mengelilingi badan candi selebar 2.50 meter.’ Relief-relief itu terpahat di panel-panel luar sayap tangga bagian bawah. Karena pada umumnya candi-candi di Jawa Tengah menghadap ke timur. bagian puncak candi yang indah itu sampai kini belum berhasil direkonstruksi. yang sarat dengan makna ajaran-ajaran hukum ‘Sebab dan Akibat. di candi ini semula ada puncak candi. Arca ini digambarkan dalam posisi duduk. kaki kiri dilipat kedalam dan kaki kanan menjuntai ke bawah. mengisahkan tentang seekor kera yang ditolong dan diseberangkan seekor buaya. Kini tinggi bangunan candi ini 26. duduk dengan posisi kedua kakinya menyiku ke bawah. Relief ceritera fabel (ceritera dengan tokoh hewan) lainnya di panel lain. Karena si kura-kura ditipu. Batu batu bangunan dan ornamen candi yang belum bisa disusun kembali kini tertata rapi di pelataran candi sebelah utara. Penyelamatannya. kura-kura yang dalam keadaan bahaya diselamatkan oleh dua ekor burung bangau. Bagian atap candi terdiri tiga tingkat dengan hiasan stupa-stupa kecil berjumlah 48 buah.70 meter. Relief di sebelah kanan menggambarkan ceritera. Bangunan candi Mendut berdiri di atas ‘basement’ (dasar candi) setinggi 3. dia berani melawan burung itu dengan menggigit lehernya. Arca Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana.

candicandi Budhis di Jawa” menyebutkan. Brandes tidak puas dengan hasil itu dan berupaya untuk merekonstruksi.G. Dia berhasil merekonstruksi candi ini sampai pada tahap menyusun sebagian atap candi. telah mendirikan bangunan suci bernama ‘Venuvana’. seiring dengan perpindahan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Drs. Di tengah sungai buaya berhenti. yang kemudian diperintah kera untuk terus membawanya sampai ke seberang sungai. Its relationship with Pawon and Borobudur’ menuliskan. seekor gajah yang menjadi ganas ketika berada di tengah-tengah mereka yang sedang dihukum karena kejahatan. Ketika ditemukan kembali pada tahun 1834. Di sebelah kanan pintu masuk ke bilik candi (sisi utara).ingin memakan hati kera. Sampai kini tidak diketahui dengan pasti. awal mulanya Hariti juga raseksi pemakan manusia. Karena candi ini dulu dibangun tidak hanya sebagai tempat pemujaan dan samadi. Sehingga rusak porak poranda tertimpa material vulkanis Merapi. para bhiku. Namun dengan cerdiknya si kera mengatakan kepada buaya bahwa hatinya ditinggal di seberang sungai. Sehingga upaya untuk merekonstruksi candi ini diambil alih oleh Van Erp pada tahun 1908. nama asli candi ini adalah ‘Venuvana Mandira’. terpahatkan relief Hariti yang duduk memangku anak. candi ini diperkirakan juga menjadi korban mahapralaya letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006 M. Relief ini menggambarkan dewa Kuwera. Tetapi gajah itu menjadi lembut dan jinak ketika berada di dekat para pertapa. Pada tahun 1901 sampai dengan 1904. yang berarti istana di tengah hutan bambu. Dan menurut Bhiku Sri Pannyavaro Mahathera dalam narasi di film video dokumenter “Permata yang terlupakan. tetapi juga sebagai tempat untuk memperdalam ajaran-ajaran Budha bagi umatnya. Dan masih banyak lagi relief ceritera fable dari kisah Jataka yang dipahatkan di candi ini. yang suasananya tenang dan teduh. Seperti Kuvera. Dan buaya bodoh itu percaya omongan kera. kapan candi ini dibangun. J. Upaya membersihkan dan menyusun kembali candi ini dilakukan pada masa penjajahan Belanda tahun 1897. ada seorang lelaki yang yang duduk dikelilingi anak-anak. Bahkan Hariti juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan. Konon. Tetapi setelah bertemu dengan sang Budha dan diberi ajaran moral dan budi pekerti luhur. yang bermakna hutan bambu. Soediman dalam buku panduan berbahasa Inggeris. ‘Chandi Mendut. Setibanya di seberang sungai. ada sebuah relief Kuvera. si kera meloncat menyelamatkan diri. Di sisi kiri (sisi selatan) pintu masuk ke bilik candi. Tetapi pekerjaan itu dihentikan sebelum selesai. dan setelah sadar dan bertobat berubah menjadi pelindung anak-anak setelah berjumpa dan diberi ajaran kebaikan oleh sang Budha. Seperti halnya Candi Borobudur. ayahanda Raja Samaratungga. Dalam prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 M pada masa pemerintahan Raja Samaratungga menyebutkan bahwa Raja Indra. Pada tahun 1925 beberapa stupa kecil hiasan atap candi berhasil . de Casparis menghubungkan candi ini dengan Raja dari wangsa Syailendra. bersamaan dengan upaya merekonstruksi Candi Borobudur. Dan selama berabad-abad candi ini ‘tenggelam’ ditelan jaman. dalam desertasi ahli purbakala Belanda. Candi yang berlokasi di Kelurahan Mendut kawasan Kota Mungkid ini kira-kira 3 kilometer di sebelah timur candi Borobudur. dia bertobat dan berubah perangai menjadi pelindung anakanak. Kuvera pada mulanya adalah raksasa bengis pemakan manusia. dan ingin merobek perut kera dengan giginya yang tajam. Dewa Kekayaan. Penggambarannya. Indra. Di sekeliling Hariti ada banyak anak sedang bermain. Di relief lain menggambarkan ceritera. candi ini tertutup tanah dan semak belukar. Di bawahnya ada kendi-kendi yang penuh dengan uang.

” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. maka pikirnya. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan. Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini: Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara.” Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Si Astapada merasa lega hatinya. “Ada siasatku. Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada. Danau itu sangat permai.dipasang kembali. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini: Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. 2. Matilah si gagak dan si ular. Sama-sama buruk kelakuannya. sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. akan kupanjangkan leher kalian. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan.” Begitulah perjanjian mereka. supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” Maka ujar si kepiting.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Relief 2 (Angsa dan kura-kura) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. hatinya nyaman. aku mangsanya. Ia ingin melunasi hutangnya. sebab aku merasa kasihan. Ia tidur dengan nikmat. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. dibawa di pakaiannya. berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal . banyak tunjungnya beranekawarna. Ada angsa jantan betina. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai. 1.” – “Aku setuju dengan usulmu. ceritakan padaku. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur. Relief-relief Di bawah ini pembicaran mendetail beberapa relief akan disajikan. merah dan (tunjung) biru. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. ada putih. “Wahai kedua kawanku. aku akan berkawan dengan keduanya. B. dengan segera.

si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura.” Begitulah kata si angsa. kanan kiri. [Kedua] angsa.“Wahai bapak anakku. sampailah di atas ladang Wilanggala. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering. berusaha untuk hidupmu sendiri. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini. Itulah yang harus anda lakukan. dalam suka dan duka anda. si Cakrangga (nama) angsa jantan. si Babyan nama si betina. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti. janganlah hendaknya anda tegur juga. Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura.Maka si kura-kurapun menjawab. Katanya: “Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. si Durbudi dan si Kacapa.Adapun nama angsa itu.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda. kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. akan berakhir mati. Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura. si Cakranggi (nama) angsa betina. lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. akan mengembara ke telaga Manasasara. keduanya sama menerbangkan kura-kura. mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Si Durbudi (nama) si jantan.”Maka demikianlah kata angsa. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu. di sana dan di sini. laki bini. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian. Lalu katanya.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. jangan tidak mentaati kata-kata kami. Apalagi menjelang musim kemarau. Si Nohan nama si anjing jantan. begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan. sangat besar cinta kami kepada anda. Kami ada akal. sedangkan si Kacapa (nama) si betina. katanya: “Aduhai sahabat. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. pagutlah olehmu tengah-tengahnya. dan lagi jangan berbicara. Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Maka mendongaklah si anjing betina. Bergetarlah .airnya dari telaga Manasasara. Di sanalah tujuan kami kawan. melihat si angsa terbang. Telah jauh terbang mereka. tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut. ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa.Segera terbang dibawa oleh angsa. sekarang anda akan meninggalkan kami. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati. Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Ini ada kayu. Amat murni airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan. sebab semakin mengeringlah air di danau. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. marahlah batinnya. tempat tujuan yang diharapkannya. sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa. [hanya] janganlah kendor anda memagut. Kami ingin pergi dari sini.

Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya.mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering. Maka mengangalah mulut si kura-kura. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. * 1925 – sejumlah stupa disusun kembali. 4. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. . lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina. sarang karu-karu. Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. * 1908 – Diperbaiki oleh Theodoor van Erp. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum. 3. Relief 3 (Dharmabuddhi dan Dustabuddhi) Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta. Setiap kali mereka membutuhkan uang. Kronologi Penemuan * 1836 – Ditemukan dan dibersikan * 1897 – 1904 kaki dan tubuh candi diperbaiki namun hasil kurang memuaskan. C. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara. Puncaknya dapat disusun kembali. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda) Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun.