Candi Mendut - http://www.walubi.or.id/wacana/wacana_061.shtml jam 7.

21 pagi 27 september Candi Mendut didirikan oleh Raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 Masehi, berdasarkan prasasti Karang Tengah tahun 824 Masehi,bernama Indra dengan gelar Cri Sanggramadananjaya. Candi ini menghadap Barat Daya. Mendut (=Venuvana) yang berarti hutan bambu. Sejarah Candi Mendut dibangun lebih dahulu, dibanding Candi Borobudur dan sering Candi Mendut ini dipergunakan untuk upacara keagamaan Buddha. Satu-satunya ruang dalam candi terdapat altar yang meliputi tiga arca/rupang, letaknya Arca yang satu menghadap pintu masuk, terlihat dari tengah adalah rupang arca Buddha Sakyamuni dengan mudra Cakra, disebelah kanan rupang Bodhisattva Avalokitesvara bermahkota Buddha Amitabha dan di sebelah kiri, terdapat rupang Bodhisattva Vajravani. Jumlah stupa yang ada disekeliling candi sebanyak 48 buah. Tinggi candi 26,4 m. Candi ini telah diketemukan kembali tahun 1836. Tahun 1897-1904 kembali ditata ulang sambil diperbaiki. Dan tahun 1908 diadakan perbaikan-perbaikan renovasi oleh Th. Van Erp, dilanjutkan tahun 1925. Sejumlah stupa yang telah dirapihkan, dipasang untuk disusun kembali. Ornamen dinding luar candi terpahat relief Avalokitesvara Bodhisattva yang terlihat begitu sangat indah, disamping ada Bodhisattva Maitreya, Vajrapani dan Manjusri. Pada bagian ruang pintu terdapat pula relief kalpataru bidadari yang melukiskan Hariti dan Atawaka (Suaka peninggalan sejarah dan purbakala-Jawa Tengah).

Candi Mendut : Sulit Punya Anak Memohon ke Dewi Kesuburan
http://www.indospiritual.com/artikel_candi-mendut---sulit-punyaanak-memohon-ke-dewi-kesuburan.html 7.26 pagi 27 september
Candi ini terletak di desa Mendut, Mungkid, Magelang. Terletak sekitar dua kilometer tenggara ibu kota Kabupaten Magelang. Candi Mendut berdekatan dengan Candi Pawon serta Candi Borobudur. Tiga candi ini biasanya masuk jadi satu paket kunjungan wisata. Baik wisatawan domestik maupun dari manca negara. Banyak orang masih percaya, kekeramatan Candi Mendut memberi tuah. Bahkan dipercaya tuah itu berkhasiat pengobatan. SEBAGAI candi Buddha yang monumental, setiap kali berlangsung peringatan Hari Raya Waisak, upacara dipusatkan di ketiga candi ini. “Ketika upacara Tri Suci Waisak berlangsung, prosesi dimulai dari candi ini lalu ke candi Pawon dan diteruskan menuju Borobudur,” kata Maryono (50), salah satu karyawan Dinas Purbakala.

berhasil disusun kembali sebagian atap candi. Keunikan Mendut dibanding candi-candi lain di Jawa bahkan di Indonesia. Kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha sedang kaki kiri menjulur ke bawah. Sebab kebanyakan candi menghadap ke timur. Penggalian dan pembersihan terus dilakukan secara bertahap. 1985 balik lagi ke Mendut dan membangun prasasti berbahasa Jepang. 1908. Ketiga arca tersebut adalah Arca Dyani Buddha Cakyamuni. Tidak berapa lama setelah berdoa di dalam bilik candi Mendut bisa punya keturunan. Misal di sebelah kiri pintu masuk ke bilik candi terlihat relief Hariti. Namun setelah bertemu Sang Budha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak. Atau lintas agama. Banyak yang bercerita. . Bahkan dikenal dengan Dewi Kesuburan (Fertility Goddes). Dito (46) teman satu kantor Pak Maryono menambahkan. Kedua Arca Bodhisatva Avalokitesvara. keikhlasan dan kemantapan mereka saat berdoa pada Tuhan. Begitu juga yang berdoa atau meditasi di candi tersebut bisa berasal dari bermacam agama. Beberapa stupa kecil juga dapat dipasang lagi. Masing-masing terbuat dari bongkahan batu utuh. menghadap ke utara. “Vajrapani dan Avalokitesvara disebut-sebut sebagai pengiring atau pengawal Buddha Cakyamuni. dengan posisi duduk pula. Dan yang ketiga adalah Arca Bodhisatva Vajrapani. Dan bersamaan dengan perbaikan candi Borobudur. Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut.” tambah Dito. Ditambahkan. “Selain membangun prasasti.” jelas Maryono. orang Jepang pernah ada yang berdoa mohon kesembuhan dari sakit lumpuhnya.Menurutnya. diletakkan di luar pagar barat Candi Mendut. Tergambarkan Hariti sedang duduk sambil memangku anak. Kedua kakinya menyiku ke bawah pada landasan teratai. “Yang penting keyakinan. bangunan candi Mendut ditemukan 1836 dalam keadaan tertimbun semak belukar. Ketika benar-benar sembuh. menghadap ke selatan. Di sekelilingnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain. Relief-relief yang terukir indah juga bisa ditemukan di beberapa dinding candi.” tandas Maryono. Hariti awalnya raksasa yang gemar makan manusia.” tutur Dito. sudah 5 tahun menikah namun belum punya anak. Tiga arca tersebut makin menguatkan kekaguman betapa hebat karya seni nenekmoyang bangsa Indonesia. menurut kabar orang Jepang tersebut juga mengadakan upacara pernikahan putranya di Yogyakarta.” jelas Maryono. Pak Maryono mengaku pernah ketemu pasutri yang berasal dari Jakarta dan doanya agar diberi keturunan bisa terkabulkan “Mereka pernah bercerita. orang-orang yang berkunjung ke Candi Mendut berasal dari berbagai tempat serta agama. juga posisi duduk dengan kaki kiri dilipat ke dalam sedang kaki kanan menjulur ke bawah. antara lain pada pintu masuknya yang menghadap ke barat laut. Selain itu di bilik candi terdapat 3 arca dengan ukuran cukup besar. menghadap ke barat dalam posisi duduk. “Para ahli memperkirakan candi tersebut dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra.

Jika hal ini benar maka bisa dipastikan Candi Mendut didirikan pada abad ke 8 Masehi. Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan . Candi ini didirikan oleh dinasti Syailendra dan berlatar berlakang agama Budha. Meski datang dari jauh. Candi Mendut http://artikel-notes. Dan banyak yang tidak tahu fungsi candi tersebut. bisa jadi sebagai tempat istirahat ketika melakukan perjalanan ziarah. Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma. “Kami yang biasa ngedep candi itu malah tak menemui. Pawon. Mendut). menurutnya. Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya. Vajrapani.31 pagi September 27 A. Namun seorang arkeologi Belanda menyebutkan bahwa di dalam prasasti yang ditemukan di desa karangtengah bertarikh 824M dikemukakan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama venunava yang artinya adalah hutan bambu. 1. Ngatini (41) warga sekitar Candi Pawon.Tidak diketahui secara pasti kapan candi ini didirikan.com/2010/04/candimendut.Dari Candi Mendut berjalan sekitar 1.html 7. dimana hal ini ditunjukkan dengan adanya bentuk stupa sebanyak 48 buah pada bagian atasnya. warga sekitar candi tak banyak menemui. 3. Candi Mendut Candi Mendut merupakan candi yang terletak paling timur dari garis lurus tiga serangkai candi (Borobudur.5 kilometer ke arah selatan akan ditemukan candi Pawon.blogspot. Kalau yang punya indera ke-6 bisa jadi menemukannya. “Karena letaknya di antara Candi Mendut dan Borobudur. 2. namun entah kalau orang-orang yang datang dari jauh.” paparnya. Di dalam candi tersebut juga ada bilik namun tak ada arca atau patung satu pun.” ungkap Ny. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan. Hal-hal aneh di sekitar candi tersebut. Di dalam Candi Mendut terdapat 3 (tiga) patung besar. jika orang biasa saya rasa tak mudah bisa menjumpai.

Tidak saja keberadaan arca Budha ukuran besar. Arca ini digambarkan dalam posisi duduk. yang sarat dengan makna ajaran-ajaran hukum ‘Sebab dan Akibat.’ Relief-relief itu terpahat di panel-panel luar sayap tangga bagian bawah. Maka matilah burung-burung itu karena perbuatan jahatnya. Namun sayang.70 meter x 13. Arah hadap ini tidak lazim untuk candi-candi di Jawa Tengah. Arca Bodhisatva Avalokitesvara berada di sebelah utara arca Dyani Budha Cakyamuni. candi ini juga dihiasi dengan relief-relief yang menggambarkan ceriteraceritera Jataka. Sebagai candi Budha.70 meter. Bangunan candi Mendut berdiri di atas ‘basement’ (dasar candi) setinggi 3.Arca-arca Budha yang berada di dalam bilik Candi Mendut ini adalah. Arca Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana. dia berani melawan burung itu dengan menggigit lehernya. candi ini mempunyai daya tarik tersendiri.48 meter. serta memakai mahkota. Kini tinggi bangunan candi ini 26. kaki kiri menjuntai ke bawah.50 meter. mengisahkan tentang seekor kera yang ditolong dan diseberangkan seekor buaya. menapak pada landasan berbentuk bunga teratai. Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara. Di atas basement ada lorong yang mengelilingi badan candi selebar 2. menghadap ke selatan. Sikap tangannya. Relief di sebelah kanan menggambarkan ceritera. si kura-kura menggigit sebatang kayu dibawa terbang dua ekor burung bango itu untuk dibawa ke sebuah telaga. Batu batu bangunan dan ornamen candi yang belum bisa disusun kembali kini tertata rapi di pelataran candi sebelah utara. Karena si kura-kura ditipu. Arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke barat (yang berada di tengah). menghadap ke barat laut. Ukuran dasar candi 13. leher dan kelat bahu. di candi ini semula ada puncak candi. Jumlah tataran naik candi ada 14 trap. Relief ceritera fabel (ceritera dengan tokoh hewan) lainnya di panel lain. Ternyata burung bangau itu menipu kurakura. kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha. ‘varamudra’ yang bermakna sedang memberi atau menyampaikan ajaran. kokoh dan berwibawa. Sebenarnya si buaya . dan Arca Bodhisatva Vajrapani. bagian puncak candi yang indah itu sampai kini belum berhasil direkonstruksi. duduk dengan posisi kedua kakinya menyiku ke bawah. kaki kiri dilipat kedalam dan kaki kanan menjuntai ke bawah. Bagian atap candi terdiri tiga tingkat dengan hiasan stupa-stupa kecil berjumlah 48 buah. Karena pada umumnya candi-candi di Jawa Tengah menghadap ke timur. Sikap tangan ‘dharmacakramudra’ yang bermakna sedang memutar ‘roda kehidupan’. Arca Bodhisatva Vajrapani yang terletak di sebelah kiri arca Budha Sakyamuni menghadap ke utara. Candi Mendut memang lain dengan candi-candi yang ada di Indonesia.70 meter sehingga tampak anggun. digambarkan dengan mengenakan pakaian kebesaran seperti arca Bodhisatva Avalokitesvara. kura-kura yang dalam keadaan bahaya diselamatkan oleh dua ekor burung bangau. Pengarcaan Budhisatva Avalokitesvara ini mengenakan pakaian kebesaran dengan perhiasanperhiasan di telinga. Dari gambar rekonstruksi. Penyelamatannya. Si kera naik di punggung buaya. Pengarcaannya dengan posisi duduk.

Kuvera pada mulanya adalah raksasa bengis pemakan manusia. ‘Chandi Mendut. Di bawahnya ada kendi-kendi yang penuh dengan uang. kapan candi ini dibangun. yang kemudian diperintah kera untuk terus membawanya sampai ke seberang sungai. Upaya membersihkan dan menyusun kembali candi ini dilakukan pada masa penjajahan Belanda tahun 1897. Brandes tidak puas dengan hasil itu dan berupaya untuk merekonstruksi. yang suasananya tenang dan teduh. yang bermakna hutan bambu. Di sisi kiri (sisi selatan) pintu masuk ke bilik candi. ayahanda Raja Samaratungga. Setibanya di seberang sungai. dalam desertasi ahli purbakala Belanda. Ketika ditemukan kembali pada tahun 1834. dan setelah sadar dan bertobat berubah menjadi pelindung anak-anak setelah berjumpa dan diberi ajaran kebaikan oleh sang Budha. Penggambarannya. Tetapi gajah itu menjadi lembut dan jinak ketika berada di dekat para pertapa. candi ini tertutup tanah dan semak belukar. Namun dengan cerdiknya si kera mengatakan kepada buaya bahwa hatinya ditinggal di seberang sungai. bersamaan dengan upaya merekonstruksi Candi Borobudur. Dan masih banyak lagi relief ceritera fable dari kisah Jataka yang dipahatkan di candi ini. ada sebuah relief Kuvera. yang berarti istana di tengah hutan bambu. Tetapi pekerjaan itu dihentikan sebelum selesai. Di relief lain menggambarkan ceritera. Tetapi setelah bertemu dengan sang Budha dan diberi ajaran moral dan budi pekerti luhur. Dia berhasil merekonstruksi candi ini sampai pada tahap menyusun sebagian atap candi. Relief ini menggambarkan dewa Kuwera. Dan selama berabad-abad candi ini ‘tenggelam’ ditelan jaman. Soediman dalam buku panduan berbahasa Inggeris. Pada tahun 1901 sampai dengan 1904. dia bertobat dan berubah perangai menjadi pelindung anakanak. nama asli candi ini adalah ‘Venuvana Mandira’. candicandi Budhis di Jawa” menyebutkan. candi ini diperkirakan juga menjadi korban mahapralaya letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006 M. ada seorang lelaki yang yang duduk dikelilingi anak-anak.ingin memakan hati kera. Sehingga rusak porak poranda tertimpa material vulkanis Merapi. Dewa Kekayaan. J. Seperti halnya Candi Borobudur. awal mulanya Hariti juga raseksi pemakan manusia. Karena candi ini dulu dibangun tidak hanya sebagai tempat pemujaan dan samadi. Bahkan Hariti juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan. terpahatkan relief Hariti yang duduk memangku anak. Sehingga upaya untuk merekonstruksi candi ini diambil alih oleh Van Erp pada tahun 1908. para bhiku. Drs. Dalam prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 M pada masa pemerintahan Raja Samaratungga menyebutkan bahwa Raja Indra.G. Its relationship with Pawon and Borobudur’ menuliskan. Di sekeliling Hariti ada banyak anak sedang bermain. Seperti Kuvera. Sampai kini tidak diketahui dengan pasti. telah mendirikan bangunan suci bernama ‘Venuvana’. dan ingin merobek perut kera dengan giginya yang tajam. Indra. Pada tahun 1925 beberapa stupa kecil hiasan atap candi berhasil . Di sebelah kanan pintu masuk ke bilik candi (sisi utara). Candi yang berlokasi di Kelurahan Mendut kawasan Kota Mungkid ini kira-kira 3 kilometer di sebelah timur candi Borobudur. de Casparis menghubungkan candi ini dengan Raja dari wangsa Syailendra. si kera meloncat menyelamatkan diri. seekor gajah yang menjadi ganas ketika berada di tengah-tengah mereka yang sedang dihukum karena kejahatan. Konon. Dan buaya bodoh itu percaya omongan kera. tetapi juga sebagai tempat untuk memperdalam ajaran-ajaran Budha bagi umatnya. seiring dengan perpindahan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Di tengah sungai buaya berhenti. Dan menurut Bhiku Sri Pannyavaro Mahathera dalam narasi di film video dokumenter “Permata yang terlupakan.

Relief 2 (Angsa dan kura-kura) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Ada angsa jantan betina.” – “Aku setuju dengan usulmu. banyak tunjungnya beranekawarna. aku akan berkawan dengan keduanya. Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada. “Wahai kedua kawanku.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal . 1. B. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini: Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan. Sama-sama buruk kelakuannya. “Ada siasatku. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai. Ia tidur dengan nikmat. Matilah si gagak dan si ular. sebab aku merasa kasihan. ada putih. ceritakan padaku.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika.” Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. aku mangsanya. Danau itu sangat permai. dengan segera. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh. maka pikirnya. sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. dibawa di pakaiannya. Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur.dipasang kembali. hatinya nyaman. merah dan (tunjung) biru. Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini: Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan. Si Astapada merasa lega hatinya. 2. Relief-relief Di bawah ini pembicaran mendetail beberapa relief akan disajikan. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia ingin melunasi hutangnya.” Maka ujar si kepiting. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. akan kupanjangkan leher kalian.” Begitulah perjanjian mereka. Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana.

sangat besar cinta kami kepada anda. si Babyan nama si betina. si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura. ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa. Kami ingin pergi dari sini. dan lagi jangan berbicara.”Maka demikianlah kata angsa.“Wahai bapak anakku.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Di sanalah tujuan kami kawan. janganlah hendaknya anda tegur juga. Ini ada kayu. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu. si Durbudi dan si Kacapa. Apalagi menjelang musim kemarau. kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. melihat si angsa terbang.Adapun nama angsa itu.airnya dari telaga Manasasara. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. marahlah batinnya. sekarang anda akan meninggalkan kami. katanya: “Aduhai sahabat. kanan kiri. jangan tidak mentaati kata-kata kami. Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan. Itulah yang harus anda lakukan. lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. si Cakrangga (nama) angsa jantan. dalam suka dan duka anda. [Kedua] angsa. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini. sampailah di atas ladang Wilanggala. tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut. Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. keduanya sama menerbangkan kura-kura. akan mengembara ke telaga Manasasara. sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa.Segera terbang dibawa oleh angsa. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati. Kami ada akal. Katanya: “Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Lalu katanya.Maka si kura-kurapun menjawab. di sana dan di sini.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Si Durbudi (nama) si jantan. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti. berusaha untuk hidupmu sendiri. sebab semakin mengeringlah air di danau. Amat murni airnya bening dan dalam. laki bini.” Begitulah kata si angsa. Maka mendongaklah si anjing betina. Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura. akan berakhir mati. Bergetarlah . Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. pagutlah olehmu tengah-tengahnya. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan. Telah jauh terbang mereka. Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda. Si Nohan nama si anjing jantan. sedangkan si Kacapa (nama) si betina. [hanya] janganlah kendor anda memagut. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering. tempat tujuan yang diharapkannya. si Cakranggi (nama) angsa betina.

Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum. 3. Kronologi Penemuan * 1836 – Ditemukan dan dibersikan * 1897 – 1904 kaki dan tubuh candi diperbaiki namun hasil kurang memuaskan. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta. Puncaknya dapat disusun kembali. Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda) Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun. C. Relief 3 (Dharmabuddhi dan Dustabuddhi) Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara. Maka mengangalah mulut si kura-kura.Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. sarang karu-karu.mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering. * 1925 – sejumlah stupa disusun kembali. Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. * 1908 – Diperbaiki oleh Theodoor van Erp. lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina. 4. . Setiap kali mereka membutuhkan uang. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful