P. 1
Candi Mendut

Candi Mendut

|Views: 144|Likes:
Published by Felix Chen

More info:

Published by: Felix Chen on Dec 15, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/05/2015

pdf

text

original

Candi Mendut - http://www.walubi.or.id/wacana/wacana_061.shtml jam 7.

21 pagi 27 september Candi Mendut didirikan oleh Raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824 Masehi, berdasarkan prasasti Karang Tengah tahun 824 Masehi,bernama Indra dengan gelar Cri Sanggramadananjaya. Candi ini menghadap Barat Daya. Mendut (=Venuvana) yang berarti hutan bambu. Sejarah Candi Mendut dibangun lebih dahulu, dibanding Candi Borobudur dan sering Candi Mendut ini dipergunakan untuk upacara keagamaan Buddha. Satu-satunya ruang dalam candi terdapat altar yang meliputi tiga arca/rupang, letaknya Arca yang satu menghadap pintu masuk, terlihat dari tengah adalah rupang arca Buddha Sakyamuni dengan mudra Cakra, disebelah kanan rupang Bodhisattva Avalokitesvara bermahkota Buddha Amitabha dan di sebelah kiri, terdapat rupang Bodhisattva Vajravani. Jumlah stupa yang ada disekeliling candi sebanyak 48 buah. Tinggi candi 26,4 m. Candi ini telah diketemukan kembali tahun 1836. Tahun 1897-1904 kembali ditata ulang sambil diperbaiki. Dan tahun 1908 diadakan perbaikan-perbaikan renovasi oleh Th. Van Erp, dilanjutkan tahun 1925. Sejumlah stupa yang telah dirapihkan, dipasang untuk disusun kembali. Ornamen dinding luar candi terpahat relief Avalokitesvara Bodhisattva yang terlihat begitu sangat indah, disamping ada Bodhisattva Maitreya, Vajrapani dan Manjusri. Pada bagian ruang pintu terdapat pula relief kalpataru bidadari yang melukiskan Hariti dan Atawaka (Suaka peninggalan sejarah dan purbakala-Jawa Tengah).

Candi Mendut : Sulit Punya Anak Memohon ke Dewi Kesuburan
http://www.indospiritual.com/artikel_candi-mendut---sulit-punyaanak-memohon-ke-dewi-kesuburan.html 7.26 pagi 27 september
Candi ini terletak di desa Mendut, Mungkid, Magelang. Terletak sekitar dua kilometer tenggara ibu kota Kabupaten Magelang. Candi Mendut berdekatan dengan Candi Pawon serta Candi Borobudur. Tiga candi ini biasanya masuk jadi satu paket kunjungan wisata. Baik wisatawan domestik maupun dari manca negara. Banyak orang masih percaya, kekeramatan Candi Mendut memberi tuah. Bahkan dipercaya tuah itu berkhasiat pengobatan. SEBAGAI candi Buddha yang monumental, setiap kali berlangsung peringatan Hari Raya Waisak, upacara dipusatkan di ketiga candi ini. “Ketika upacara Tri Suci Waisak berlangsung, prosesi dimulai dari candi ini lalu ke candi Pawon dan diteruskan menuju Borobudur,” kata Maryono (50), salah satu karyawan Dinas Purbakala.

Tergambarkan Hariti sedang duduk sambil memangku anak. “Vajrapani dan Avalokitesvara disebut-sebut sebagai pengiring atau pengawal Buddha Cakyamuni. Namun setelah bertemu Sang Budha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak.” jelas Maryono. Beberapa stupa kecil juga dapat dipasang lagi.” tandas Maryono. Ditambahkan. orang Jepang pernah ada yang berdoa mohon kesembuhan dari sakit lumpuhnya. bangunan candi Mendut ditemukan 1836 dalam keadaan tertimbun semak belukar. Ketiga arca tersebut adalah Arca Dyani Buddha Cakyamuni.Menurutnya. . “Yang penting keyakinan. menghadap ke utara. Masing-masing terbuat dari bongkahan batu utuh. Selain itu di bilik candi terdapat 3 arca dengan ukuran cukup besar. 1985 balik lagi ke Mendut dan membangun prasasti berbahasa Jepang. Atau lintas agama. “Selain membangun prasasti. Dan bersamaan dengan perbaikan candi Borobudur. keikhlasan dan kemantapan mereka saat berdoa pada Tuhan.” jelas Maryono. juga posisi duduk dengan kaki kiri dilipat ke dalam sedang kaki kanan menjulur ke bawah. berhasil disusun kembali sebagian atap candi. Banyak yang bercerita. Kedua kakinya menyiku ke bawah pada landasan teratai.” tutur Dito. Dan yang ketiga adalah Arca Bodhisatva Vajrapani. Tiga arca tersebut makin menguatkan kekaguman betapa hebat karya seni nenekmoyang bangsa Indonesia. dengan posisi duduk pula. Bahkan dikenal dengan Dewi Kesuburan (Fertility Goddes). menghadap ke selatan. Penggalian dan pembersihan terus dilakukan secara bertahap. Begitu juga yang berdoa atau meditasi di candi tersebut bisa berasal dari bermacam agama. Misal di sebelah kiri pintu masuk ke bilik candi terlihat relief Hariti. Hariti awalnya raksasa yang gemar makan manusia. Kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha sedang kaki kiri menjulur ke bawah. Tidak berapa lama setelah berdoa di dalam bilik candi Mendut bisa punya keturunan. menghadap ke barat dalam posisi duduk. antara lain pada pintu masuknya yang menghadap ke barat laut. “Para ahli memperkirakan candi tersebut dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh Dinasti Syailendra. Dito (46) teman satu kantor Pak Maryono menambahkan. menurut kabar orang Jepang tersebut juga mengadakan upacara pernikahan putranya di Yogyakarta. orang-orang yang berkunjung ke Candi Mendut berasal dari berbagai tempat serta agama.” tambah Dito. Karena Dewi Kesuburan itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan sering ziarah ke Candi Mendut. Kedua Arca Bodhisatva Avalokitesvara. 1908. Pak Maryono mengaku pernah ketemu pasutri yang berasal dari Jakarta dan doanya agar diberi keturunan bisa terkabulkan “Mereka pernah bercerita. Relief-relief yang terukir indah juga bisa ditemukan di beberapa dinding candi. sudah 5 tahun menikah namun belum punya anak. Di sekelilingnya terdapat beberapa anak yang sedang bermain. diletakkan di luar pagar barat Candi Mendut. Ketika benar-benar sembuh. Sebab kebanyakan candi menghadap ke timur. Keunikan Mendut dibanding candi-candi lain di Jawa bahkan di Indonesia.

blogspot.com/2010/04/candimendut. menurutnya. Ngatini (41) warga sekitar Candi Pawon.html 7. Meski datang dari jauh. jika orang biasa saya rasa tak mudah bisa menjumpai. “Kami yang biasa ngedep candi itu malah tak menemui. 3. Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma.Dari Candi Mendut berjalan sekitar 1. Di dalam candi tersebut juga ada bilik namun tak ada arca atau patung satu pun. “Karena letaknya di antara Candi Mendut dan Borobudur. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak tangan. Kalau yang punya indera ke-6 bisa jadi menemukannya. Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya. Dan banyak yang tidak tahu fungsi candi tersebut. Jika hal ini benar maka bisa dipastikan Candi Mendut didirikan pada abad ke 8 Masehi. namun entah kalau orang-orang yang datang dari jauh. Candi Mendut Candi Mendut merupakan candi yang terletak paling timur dari garis lurus tiga serangkai candi (Borobudur. Hal-hal aneh di sekitar candi tersebut.31 pagi September 27 A. Candi ini didirikan oleh dinasti Syailendra dan berlatar berlakang agama Budha.5 kilometer ke arah selatan akan ditemukan candi Pawon. warga sekitar candi tak banyak menemui.” ungkap Ny. Vajrapani. dimana hal ini ditunjukkan dengan adanya bentuk stupa sebanyak 48 buah pada bagian atasnya. 1.” paparnya.Tidak diketahui secara pasti kapan candi ini didirikan. Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan . 2. Candi Mendut http://artikel-notes. bisa jadi sebagai tempat istirahat ketika melakukan perjalanan ziarah. Pawon. Mendut). Namun seorang arkeologi Belanda menyebutkan bahwa di dalam prasasti yang ditemukan di desa karangtengah bertarikh 824M dikemukakan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama venunava yang artinya adalah hutan bambu. Di dalam Candi Mendut terdapat 3 (tiga) patung besar.

Penyelamatannya.50 meter. kura-kura yang dalam keadaan bahaya diselamatkan oleh dua ekor burung bangau. Pengarcaan Budhisatva Avalokitesvara ini mengenakan pakaian kebesaran dengan perhiasanperhiasan di telinga. Karena si kura-kura ditipu. Relief ceritera fabel (ceritera dengan tokoh hewan) lainnya di panel lain. serta memakai mahkota. Maka matilah burung-burung itu karena perbuatan jahatnya. Arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke barat (yang berada di tengah). digambarkan dengan mengenakan pakaian kebesaran seperti arca Bodhisatva Avalokitesvara. Namun sayang. Arca Bodhisatva Vajrapani yang terletak di sebelah kiri arca Budha Sakyamuni menghadap ke utara. Ukuran dasar candi 13.70 meter. Si kera naik di punggung buaya. mengisahkan tentang seekor kera yang ditolong dan diseberangkan seekor buaya. kokoh dan berwibawa. Tidak saja keberadaan arca Budha ukuran besar. kaki kiri menjuntai ke bawah. candi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Bangunan candi Mendut berdiri di atas ‘basement’ (dasar candi) setinggi 3. Karena pada umumnya candi-candi di Jawa Tengah menghadap ke timur. Batu batu bangunan dan ornamen candi yang belum bisa disusun kembali kini tertata rapi di pelataran candi sebelah utara.Arca-arca Budha yang berada di dalam bilik Candi Mendut ini adalah. menapak pada landasan berbentuk bunga teratai. duduk dengan posisi kedua kakinya menyiku ke bawah. Pengarcaannya dengan posisi duduk. Jumlah tataran naik candi ada 14 trap. candi ini juga dihiasi dengan relief-relief yang menggambarkan ceriteraceritera Jataka. dia berani melawan burung itu dengan menggigit lehernya. Arca Bodhisatva Avalokitesvara berada di sebelah utara arca Dyani Budha Cakyamuni. Arah hadap ini tidak lazim untuk candi-candi di Jawa Tengah. Sikap tangan ‘dharmacakramudra’ yang bermakna sedang memutar ‘roda kehidupan’. Di atas basement ada lorong yang mengelilingi badan candi selebar 2.’ Relief-relief itu terpahat di panel-panel luar sayap tangga bagian bawah.70 meter x 13. bagian puncak candi yang indah itu sampai kini belum berhasil direkonstruksi. leher dan kelat bahu. ‘varamudra’ yang bermakna sedang memberi atau menyampaikan ajaran. Dari gambar rekonstruksi. Bagian atap candi terdiri tiga tingkat dengan hiasan stupa-stupa kecil berjumlah 48 buah. kaki kiri dilipat kedalam dan kaki kanan menjuntai ke bawah. di candi ini semula ada puncak candi. Candi Mendut memang lain dengan candi-candi yang ada di Indonesia. si kura-kura menggigit sebatang kayu dibawa terbang dua ekor burung bango itu untuk dibawa ke sebuah telaga. Sikap tangannya.70 meter sehingga tampak anggun. Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara. menghadap ke barat laut. yang sarat dengan makna ajaran-ajaran hukum ‘Sebab dan Akibat. Arca ini digambarkan dalam posisi duduk. dan Arca Bodhisatva Vajrapani. Relief di sebelah kanan menggambarkan ceritera. Ternyata burung bangau itu menipu kurakura. menghadap ke selatan. Arca Dyani Budha Cakyamuni atau Vairocana. Kini tinggi bangunan candi ini 26. Sebagai candi Budha. kaki kanan dilipat dengan telapak kaki menyentuh paha.48 meter. Sebenarnya si buaya .

kapan candi ini dibangun. dia bertobat dan berubah perangai menjadi pelindung anakanak. Di tengah sungai buaya berhenti. de Casparis menghubungkan candi ini dengan Raja dari wangsa Syailendra. Di sekeliling Hariti ada banyak anak sedang bermain. Konon. Pada tahun 1925 beberapa stupa kecil hiasan atap candi berhasil . Tetapi setelah bertemu dengan sang Budha dan diberi ajaran moral dan budi pekerti luhur. ada sebuah relief Kuvera. ‘Chandi Mendut. yang berarti istana di tengah hutan bambu. Sampai kini tidak diketahui dengan pasti.G.ingin memakan hati kera. Sehingga upaya untuk merekonstruksi candi ini diambil alih oleh Van Erp pada tahun 1908. Soediman dalam buku panduan berbahasa Inggeris. Candi yang berlokasi di Kelurahan Mendut kawasan Kota Mungkid ini kira-kira 3 kilometer di sebelah timur candi Borobudur. awal mulanya Hariti juga raseksi pemakan manusia. Drs. Tetapi pekerjaan itu dihentikan sebelum selesai. tetapi juga sebagai tempat untuk memperdalam ajaran-ajaran Budha bagi umatnya. Di sisi kiri (sisi selatan) pintu masuk ke bilik candi. candi ini tertutup tanah dan semak belukar. Penggambarannya. dan ingin merobek perut kera dengan giginya yang tajam. para bhiku. nama asli candi ini adalah ‘Venuvana Mandira’. Dia berhasil merekonstruksi candi ini sampai pada tahap menyusun sebagian atap candi. Seperti halnya Candi Borobudur. candicandi Budhis di Jawa” menyebutkan. Karena candi ini dulu dibangun tidak hanya sebagai tempat pemujaan dan samadi. Bahkan Hariti juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan. Sehingga rusak porak poranda tertimpa material vulkanis Merapi. telah mendirikan bangunan suci bernama ‘Venuvana’. Upaya membersihkan dan menyusun kembali candi ini dilakukan pada masa penjajahan Belanda tahun 1897. Setibanya di seberang sungai. bersamaan dengan upaya merekonstruksi Candi Borobudur. dan setelah sadar dan bertobat berubah menjadi pelindung anak-anak setelah berjumpa dan diberi ajaran kebaikan oleh sang Budha. yang suasananya tenang dan teduh. Di relief lain menggambarkan ceritera. ayahanda Raja Samaratungga. Dalam prasasti Karangtengah yang berangka tahun 824 M pada masa pemerintahan Raja Samaratungga menyebutkan bahwa Raja Indra. yang bermakna hutan bambu. candi ini diperkirakan juga menjadi korban mahapralaya letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006 M. Dan menurut Bhiku Sri Pannyavaro Mahathera dalam narasi di film video dokumenter “Permata yang terlupakan. seiring dengan perpindahan pusat kerajaan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Ketika ditemukan kembali pada tahun 1834. Brandes tidak puas dengan hasil itu dan berupaya untuk merekonstruksi. Di sebelah kanan pintu masuk ke bilik candi (sisi utara). si kera meloncat menyelamatkan diri. Dan masih banyak lagi relief ceritera fable dari kisah Jataka yang dipahatkan di candi ini. Seperti Kuvera. Kuvera pada mulanya adalah raksasa bengis pemakan manusia. seekor gajah yang menjadi ganas ketika berada di tengah-tengah mereka yang sedang dihukum karena kejahatan. yang kemudian diperintah kera untuk terus membawanya sampai ke seberang sungai. Tetapi gajah itu menjadi lembut dan jinak ketika berada di dekat para pertapa. Dan buaya bodoh itu percaya omongan kera. dalam desertasi ahli purbakala Belanda. Pada tahun 1901 sampai dengan 1904. ada seorang lelaki yang yang duduk dikelilingi anak-anak. Its relationship with Pawon and Borobudur’ menuliskan. J. Namun dengan cerdiknya si kera mengatakan kepada buaya bahwa hatinya ditinggal di seberang sungai. Dewa Kekayaan. Di bawahnya ada kendi-kendi yang penuh dengan uang. Dan selama berabad-abad candi ini ‘tenggelam’ ditelan jaman. Indra. Relief ini menggambarkan dewa Kuwera. terpahatkan relief Hariti yang duduk memangku anak.

aku akan berkawan dengan keduanya. maka pikirnya. Si Astapada merasa lega hatinya. Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar.” Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada.dipasang kembali. berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal . Namun cerita yang disajikan di bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini: Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. dengan segera. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan. supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana. sebab aku merasa kasihan. ceritakan padaku. 2. 1. Ia tidur dengan nikmat. Matilah si gagak dan si ular. Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. ada putih. Ada angsa jantan betina.” Begitulah perjanjian mereka. akan kupanjangkan leher kalian. Danau itu sangat permai.” Maka iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur. aku mangsanya.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya.” Maka ujar si kepiting. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh. Relief 2 (Angsa dan kura-kura) Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. dibawa di pakaiannya. B. banyak tunjungnya beranekawarna.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini: Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. Relief-relief Di bawah ini pembicaran mendetail beberapa relief akan disajikan. hatinya nyaman.” – “Aku setuju dengan usulmu. sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya. “Ada siasatku. merah dan (tunjung) biru. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai. “Wahai kedua kawanku.

Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura. kanan kiri. kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku. Jika ada yang bertanya jangan pula dijawab. sebab semakin mengeringlah air di danau. dalam suka dan duka anda. akan berakhir mati. Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. lihatlah itu ada hal yang amat mustahil. Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura.” Begitulah kata si angsa.airnya dari telaga Manasasara. si Babyan nama si betina. di sana dan di sini. [hanya] janganlah kendor anda memagut. jangan tidak mentaati kata-kata kami. [Kedua] angsa. Lalu katanya. akan mengembara ke telaga Manasasara. Si Durbudi (nama) si jantan. keduanya sama menerbangkan kura-kura. Apalagi menjelang musim kemarau.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon mangga. Katanya: “Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini. Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda. Ini ada kayu. Inilah hasil persahabatan kami dengan kalian. Itulah yang harus anda lakukan. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga Kumudawati. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu. melihat si angsa terbang. laki bini. Kami ingin pergi dari sini. sampailah di atas ladang Wilanggala.”Maka demikianlah kata angsa. si Cakranggi (nama) angsa betina. sedangkan si Kacapa (nama) si betina. Bergetarlah .“Wahai bapak anakku. sangat besar cinta kami kepada anda. pagutlah olehmu tengah-tengahnya.Adapun nama angsa itu. sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa. marahlah batinnya. Segala yang kita atasi selama kami menerbangkan anda nanti. janganlah hendaknya anda tegur juga. Telah jauh terbang mereka. Amat murni airnya bening dan dalam. si Cakrangga (nama) angsa jantan. begitulah adanya!” Begitulah kata si anjing jantan. tempat tujuan yang diharapkannya.Tidak kuasalah kami jauh dari air. Maka mendongaklah si anjing betina. Air di danau Kumudawati semakin mengeringlah. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda sampai ke tempat tujuan. Di sanalah tujuan kami kawan. Si Nohan nama si anjing jantan. dan lagi jangan berbicara. mengungsi ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. ujung dan pangkalnya dipatuk oleh angsa. berusaha untuk hidupmu sendiri.Segera terbang dibawa oleh angsa. Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada kawan mereka si kura-kura. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. tidak bisa jauh dari air? Ke mana pun anda pergi kami akan ikut. si Durbudi dan si Kacapa. Sejak kapan ada kura-kura yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering.Maka si kura-kurapun menjawab. sekarang anda akan meninggalkan kami. katanya: “Aduhai sahabat.

Si angsa malu tidak dipatuhi nasehatnya. Maka mengangalah mulut si kura-kura. Relief 3 (Dharmabuddhi dan Dustabuddhi) Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Setiap kali mereka membutuhkan uang. lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina. Lalu mereka berdua menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Tetapi akhirnya Dustabuddhi ketahuan dan dihukum. sarang karu-karu. * 1925 – sejumlah stupa disusun kembali. Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Kronologi Penemuan * 1836 – Ditemukan dan dibersikan * 1897 – 1904 kaki dan tubuh candi diperbaiki namun hasil kurang memuaskan.mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering. Suatu hari Dharmabuddhi menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Puncaknya dapat disusun kembali. C. Tapi Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Sedangkan yang satu oleh seorang pendeta. 3. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara. . * 1908 – Diperbaiki oleh Theodoor van Erp. Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda) Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya karena yang satu dididik oleh seorang penyamun. 4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->