Arbitrase Internasional Label: all about EI BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Hubungan- hubungan internasional yang diadakan oleh subjek hukum internasional selalu ada kemungkinan munculnya sengketa di kemudian hari. Sengketa bisa saja muncul terkait perbatasan, perdagangan, dan lain- lain. Di dalam menyelesaikan sengketa ada beberapa cara yang bisa dipilih,yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan, dan arbitrase. Sebagai salah satu alternative penyelesaian sengketa, arbitrase dpandang sebagai cara yang efektif dan adil. Badan arbitrase akan berfungsi apabila para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa kepadanya baik sebelum sengketa muncul maupun setelah sengketa muncul. Arbitrase internasional telah banyak dipakai oleh para pelaku bisnis yang notabene sering terkait dengan kasus- kasus ekonomi, utamanya perdagangan dengan nominal angka yang dipe rsengketakan cukup mencengangkan bagi orang pada umumnya. Oleh karenanya, besar peranan arbitrase internasional dalam aksinya menyelesaikan setiap persengketaan dalam permasalahan bisnis terkait ranah internasional. Menyoal tentang apa itu arbitrase internasional, bagaimana sejarah dan dasar pembentukannya, seperti apa seperti apa saja bentuk lembaganya, bagaimana jalan proses putusan yang di hasilkan, serta penolakan maupun pembatalan terhadap putusannya, dan contoh kasus terkait dengannya. Guna menjawabapertanyaan tersebut, maka penulis membuat makalah yang berjudul ³Arbitrase Internasional´ B. Rumusan Masalah Dalam pembuatan makalah ini, penulis merumuskan masalah pada: 1. Apa pengertian arbitrase internasional ? 2. Bagaimana sejarah dan dasar pembentukan arbitrase internasional ? 3. Apa saja bentuk lembaga- lembaga arbitrase internasional ? 4. Bagaimana proses jalannya putusan arbitrase internasional ? 5. Bagaimana pembatalan dan penolakan putusan di dalam arbitrase internasional ? 6. Seperti apa contoh kasus pelaksanaan arbitrase internasional ? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Arbitrase Internasional Arbitrase menurut Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Black¶s Law Dictionary memberikan pengertian ³Arbitration. an arrangement for taking an abiding by the judgment of selected persons in some disputed matter, instead of carrying it to establish tribunals of justice, and is intended to avoid the formalities, the delay, the expense and vexation of ordinary litigation´. Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian, yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. Suatu arbitrase dianggap internasional apabila para pihak pada saat dibuatnya perjanjian yang

bangsa.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri.bersangkutan mempunyai tempat usaha mereka (place of business) di negara-negara berbeda. Dalam hal para pihak yang bersengketa tidak sepakat terhadap beberapa isu (masalah) yang berkembangan dalam penanganan kasus tersebut seperti penetapan tempat. Misalnya salah satu pihak memiliki tempat usaha di Amerika. dari segi pembiayaan. Domke. akan tetapi mendaftarkan penyelenggaraan arbitrase ke seluruh dunia. sejarah terbentuknya. Jika terjadi perselisihan di antara mereka. B. cost yang dikeluarkan sangatlah besar. dan mereka memilih cara penyelesaian melalui arbitrase. Menurut M. Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: 1. sidang ICC dapat berlangsung dimana saja dalam menerapkan hukum bagi para pihak telah sepakat untuk menggunakan ICC.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing. dan pihak lain memiliki tempat usaha di Indonesia. Meskipun ICC bermarkas di Paris. Menyangkut pembiayaan akan ditentukan oleh kedua belah pihak secara bersama -sama dan merata. Sejarah dan Dasar Pembentukan Arbitrase Internasional Perkembangan sejarah arbitrase. LCIA . Arbitrase internasional. Badan arbitrase memiliki hukum acara arbitrase tersendiri (rules of arbitration). C. London Court of International Arbitration (LCIA) London Court of International Arbitration (LCIA) merupakan lembaga arbitrase yang digagas dan didirikan oleh the Court of Common Council of the City of London pada tahun 1891.bangsa telah menggunakan cara penyelesaian sengketa melalui arbitrase sejak zaman Yunani kuno. ICC tidak melaksanakan arbitrase secara tersendiri. Oleh karena itu sebagai sebuah badan administratif yang bersifat formal. akan tetapi juga dalam konteks konsiliasi yang memiliki rules of conciliation tersendiri. Badan arbitrase ICC merupakan salah satu lembaga arbitrase yang terkenal dimana setiap tahunnya terdapat hampir 400 kasus/sengketa perdagangan yang diserahkan ke ICC. 2.negara dagang di Eropa. bagi masing. ICC meletakkan dasar penyelesaian sengketa perdagangan bukan hanya dalam konteks ICC (Court of Arbitration). award tersebut harus mendapat persetujuan dari ICC (international court of arbitration) yang memiliki kewenangan untuk membuat modifikasi. Kasus yang diserahkan melalui ICC akan diadili oleh arbiter dengan mendasarkan pada persoalan (kasus) yang menjadi kewenangan ICC. Konteks keputusan (award) yang dihasilkan. Oleh karena itu. maka arbitrase ini tergolong arbitrase internasional. dan lain sebagainya maka ICC memiliki kewenangan untuk menetapkannya. dimana sekretariat badan arbitrase akan mensyaratkan pembayaran administrasi dan biaya arbiter. Lembaga-lembaga Arbitrase Internasional Meningkatnya kebutuhan dunia perdagangan internasional akan lembaga -lembaga arbitrase internasional dalam menyelesaikan sengketa perdagangan mengakibatkan kebutuhan akan eksistensi lembaga-lembaga juga meningkat. Sekretariat mensyaratkan pula biaya deposit sebelum badan arbitrase memulai pekerjaannya. International Chamber of Commerce (ICC) ICC berkedudukan di Paris yang didirikan atas prakarsa Asosiasi Dagang Internasional. Perhitungan biaya (cost) didasarkan pada jumlah biaya yang telah ditentukan oleh ICC dan jumlah biaya yang disengketakan. Lembaga-lembaga arbitrase internasional tersebut merupakan lembaga-lembaga arbitrase yang bersifat resmi dan didirikan oleh badan internasional yang sudah mapan maupun lembaga-lembaga yang bersifat regional. seperti Inggris dan Belanda. Praktek ini berlangsung pula pada zaman keemasan Romawi dan Yahudi (biblical times) serta terus berkembang terutama di negara. sesungguhnya badan arbitrase telah lama dipraktekkan.

1985. The UNCITRAL Conciliation Rules. Pada umumnya. The Model Law dapat dimodifikasi oleh negara-negara anggota. Model hukum (the Model Law) arbitrase perdagangan internasional merupakan sebuah model untuk negara-negara yang mengadopsi ke dalam hukum nasionalnya di bidang arbitrase perdagangan internasional. Konvensi ini juga tidak menangani prosedur arbitrase. b. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) adalah merupakan suatu komisi yang didirikan pada bulan Desember 1966 dengan tujuan untuk mengharmonisasikan dan mengunifikasi suatu hukum yang fokus ke perdagangan internasional. The Model Law on International Commercial Arbitration. The New York Convention menyiapkan pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan perjanjian arbitrase. seperti beberapa negara telah memodifikasi (the Model Law) sehingga dapat diterapkan ke dalam hukum nasional tanpa diskriminasi (equally). 1982. 1980. baik LCIA maupu ICC memiliki tanggungjawab yang sama terhadap prosedur lembaga/organisasi dan pengangkatan arbitrator. justru sebaliknya. perusahaanperusahaan yang terletak di Kota London dan lembaga-lembaga arbitrator. negara-negara sering memasukkan pasalpasal tambahan (additional provisions) ke dalam hukum nasional masing-masing negara yang menadopsi (the Model Law). penjualan. penyimpanan. Prosedur arbitrase menjadi menjadi salah satu ³subject matters´ meskipun dalam batasan tertentu. The UNCITRAL Arbitration Rules. The United Nations Convention on the Recognition and Enforcement on Foreign Arbitral Awards. LCIA juga menangani sengketa-sengketa perdagangan pada umumnya sebagaimana yang dilakuk oleh an ICC. Arbiter arbitrase LCIA memiliki kewenangan untuk memerintahkan penjagaan.merupakan lembaga arbitrase tertua di dunia yang terdiri dari Chamber of Commerce. Kedua instrumen tersebut adalah: a. 1958 (the New York Convention). Konvensi ini adalah salah satu Konvensi yang tersukses dalam hubungan internasional yang telah ditandatangani oleh 120 negara per 16 Desember 1998. Sebelum eksisnya the Model Law. hanya saja jumlah kasus yang ditangani oleh LCIA relatif lebih kecil. Akan tetapi. Dalam konteks pengangkatan arbitrator. The UNCITRAL Arbitration Rules. hanya ada dua instrument utama yang menangani arbitrase perdagangan internasional dalam sistem di Perserikatan bangsabangsa. Di samping itu. Konvensi ini dalam prakteknya terpisah dengan ketentuan domestik masing-masing negara anggota Konvensi yang berakibat pada interpretasi yang berbeda. 3. Meskipun demikian. Hal pertama yang dilakukan adalah . Disamping itu. Beberapa instrumen prinsip yang diadopsi oleh UNCITRAL adalah: The UNCITRAL Arbitraion Rules. Guidelines for Administering Arbitration. Selanjutnya. dan bahkan membuang barang-barang (property) yang berada di bawah kendali para pihak bersengketa. 1976. para pihak yang bersengketa bebas untuk menggunakan kompetensi pengadilan terhadap tindakan conservatory preaward. Tujuan utama UNCITRAL adalah untuk mempersiapkan suatu model hukum yang ideal dalam menghadapi divergensi yang ada dalam penggunaan aturan -aturan arbitrase dan hukum nasional. Akan tetapi (the Model Law) tidak menangani setiap persoalan yang berhubungan dengan arbitrase perdagangan internasional. 1976. Sebagai dampaknya. Guidelines on Pre-Hearing Conferences. LCIA dapat mengangkat seorang arbitrator yang tidak independent dan atau sebaliknya. LCIA juga dapat memerintahkan para pihak untuk menyediankan keamanan terhadap seluruh atau sebagian dari apa yang dipersengketakan dalam arbitrase. Hanya negara yang dipersyaratkan menjadi anggota UNCITRAL. 1976. akan tetapi dalam mengimplementasikan pekerjaannya. UNCITRAL bekerjasama dengan organisasi atau lembaga yang relevant seperti ICCA untuk beberapa isu arbitrase.

to make that determination´. Dalam konteks lingkup aplikasi. Adapun lingkup utama dari Uncitral Model Law adalah: ‡ Bentuk dan definisi perjanjian arbitrase. ‡ Komposisi dari tribunal arbitase yang tidak sesuai dengan perjanjian para pihak. Sehingga pada kenyataannya. Lebih dari 80 negara telah meratifikasi ISCID termasuk didalmnya Indonesia. adapun perjanjain arbitrasenya dapat dilihat pada Pasal 7 the Model law. termasuk didalamnya substansi hukum apa yang tepat untuk digunakan (Pasal 28 ayat 1 dan 2). banyak pasal-pasal dalam the Model law yang diderogasi oleh para pihak. ‡ Hukum yang dapat diterapkan dalam arbitrase. is didesain sebagai arbitrase ad hoc. ‡ Putusan arbitrase bertentangan dengan kebijakan publik dari negara (Pasal 34 dan 36) 4. Pasal 2 huruf d disebutkan bahwa: ³where a provisions of this law. dan 36. ‡ Putusan arbitrase melebihi lingkup perjanjian yang dilakukan. including an institution. termasuk didalamnya prosedur pengangkatan (Pasal 11) ayat 1 dan 3). Demikian pula jumlah arbitrase dapat ditunjuk satu atau tiga orang (Pasal 10). ‡ Pengadilan menemukan bahwa persoalan yang diajukan ke arbitrase adalah bukan persoalan yang dapat atau harus diselesaikan melalui lembaga arbitrase. 1965 (ISCID Convention. the Model Law menentukan bahwa putusan dapat saja ditolak jika: ‡ Invalid. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) ISCID dibuat berdasar pada Washington Convention on the settlement of Investment Disputes between States and National of Other States.mengunifikasi penerapan hukum nasional dalam arbitrase. 35. Negara-negara penandatangan sepakat untuk mengikat diri (consent to be bound) untuk menerapkan . ‡ Salah satu pihak tidak memberikan pemberitahuan tentang pengangkatan arbitrator dan atau proses arbitrase. Jadi. Prinsip dasar dari the Model Law adalah pengakuan terhadap kebebasan para pihak untuk menlaksanakan arbitrase dengan batasan/larangan yang minimal. 21 Juni 1985 UNCITRAL diadopsi dan Majelis Umum PBB juga mengadopsinya pada Tanggal 11 Desember 1985. para pihak diberi kebebasan untuk menentukan prosedur yang tepat (Pasal 19). Seluruh negara-negara anggota telah sepakat bahwa tidak ada kemungkinan untuk menerapkan putusan ISCID sebelum adanya penetapan pengadilan dimana tempat arbitrase ditentukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa aturan-aturan arbitrase dapat digunakan baik arbitrase yang bersifat ad hoc maupun permanent. ISCID hanya tersedi pada kasus-kasus dimana salah satu pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) da ri suatu negara. leaves the parties free to determine a certain issues such freedom includes the right of the parties to authorize a third party. ‡ Pengangkatan Arbitrase tribunal. 9. The Model Law juga mengakui peranan yang dimainkan oleh lembaga-lembaga arbitrase dalam arbitrase perdagangan internasional. tujuan dari Model Law adalah untuk mempromosikan penyatuan prosedur arbitra dan se mengalamatkannya pada kebutuhan mendasar dari arbitrase perdagangan internasional. Dalam konteks pelaksanaan dan penerapan putusan. the Model law merujuk pada Pasal 1 dengan beberapa pengecualiaan pada Pasal 8. Akhirnya. ‡ Pengakuan dan pelaksaan putusan arbitrase. except article 28 [concerning the rules applicable to the substance of the dispute]. Adapun menyangkut proceeding. Sebuah draf Model Law mulai diprakarsai dengan meluaskan lingkup dari instrument pada tahun 1982.

3. jumlah kasus yang masuk ke ICSID sangat sedikit dalam hitungan puluhan tahun. Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni 1959. yakni Konvensi ini mengakui prinsip keputusan arbitrase yang mengikat tanpa perlu ditarik dalam keputusannya. Konvensi ini hanya mensyaratkan tiga ratifikasi agar berlaku. 5. Terdapat dua persyaratan yang diperkenankan. Pada waktu meratifikasi atau mengikatkan diri (aksesi) terhadap konvensi. negara-negara dapat mengajukan persyaratan (reservasi) terhadap isi ketentuan Konvensi New York (pasal 1). Yang kedua adalah persyaratan komersial (commercial-reservation). Prinsip ketiga. Dalam hal ini. antara lain: Prinsip pertama. Korean Commercial Arbitration Board. 8. maka negara tersebut tidak akan menerapkan ketentuan Konvensi. ISCID mengawasi dan menyediakan fasilitas untuk arbitrase tetapi tidak melaksanakan arbitrase. Secara statistik. 6. Konvensi ini mengandung 16 pasal yang dari pasal-pasal tersebut dapat ditarik 5 prinsip berikut. Para pihak bersepakat untuk menentukan arbitrator dan tempat pelaksanaan arbitrase termasuk didalamnya persoalan prosedur. 4. Beberapa lembaga Arbitrase di Kawasan Aisa-Pasifik adalah: 1. Thai Arbitration Centre. Indonesian National Arbitration Association (BANI) D. Ketika Konvensi ini lahir. khususnya di antara negara anggota Konvensi. ISCID memiliki kewenangan untuk hanya menyediakan fasilitas terhadap sengketa yang ada sepanjang pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) dari suatu negara. Konsekuensi dari diajukannya persyaratan pertama. Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional Salah satu fokus utama dalam Konvensi New York 1958. . 2. yaitu Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double enforcement process). yakni Konvensi ini menerapkan prinsip pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan menempatkan keputusan tersebut pada kedudukan yang sama dengan keputusan peradilan nasional. yaitu bahwa negara yang bersangkutan baru akan menerapkan ketentuan Konvensi apabila keputusan arbitrase tersebut dibuat di negara yang juga adalah anggota Konvensi New York. 7. Persyaratan komersial berarti bahwa suatu negara yang telah meratifikasi Konvensi New York hanya akan menerapkan ketentuan Konvensi terhadap sengketa-sengketa ³komersial´ menurut hukum nasionalnya.dan melaksanakan putusan ISCID sebagaimana putusan final dari pengadilan nasional negara-negara anggota. Apabila keputusan tersebut ternyata dibuat di negara yang bukan anggota. Singapore International Arbitration Centre (SIAC) dan the Singapore Institute of Arbitration. Hong Kong International Arbitration Centre (HKIAC). yakni Convetion on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang ditandatangani 10 Juni 1958 di kota New York. para pakar arbitrase waktu itu mengakui bahwa Konvensi ini merupakan satu langkah perbaikan dalam hal pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri. Kuala Lumpur Regional Centre for Arbitration. yang pertama adalah persyaratan resiprositas (reciprocity reservation). Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak jumlah ratifikasi ketiga terpenuhi. Japan Commercial Arbitration Association. China International Economic and Trade Arbitration Commission (CIETAC). Prinsip kedua.

tidak detail. III dan V. Tentang bagaimanakah putusan arbitrase asing tersebut dilaksanakan. tahap eksekusi putusan Putusan arbitrase asing baru dapat dilaksanakan/ dieksekusi setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan (deponir/deposit) oleh arbiter atau kuasanya kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Konvensi New York mensyaratkan penyederhanaan dokumentasi yang diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan Konvensi. dengan terbitnya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. berdasarkan Undangundang Nomor 5 Tahun 1968 tentang Persetujuan atas Konvensi tentang Penyelesaian Perselisihan antara Negara dan Warga Negara Asing mengenai Penanaman Modal tanggal 29 Juni 1968. ketentuan pasal ini hanya pokoknya saja tentang pelaksanaan keputusan arbitrase. karena menurut Mahkamah Agung belum ada aturan pelaksanaannya. terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia . Seperti telah dikemukakan diatas. akan tetapi putusan arbitrase asing belum dapat dilaksanakan secara efektif . Ketentuan utama Konvensi terdapat dalam pasal I. atau ICSID Convention. Sekalipun pada tahun 1981 kita sudah meratifikasi konvensi New York 1958. lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase asing b. mencantumkan alasan. Pasal V. Konvensi New York lebih lengkap. mewajibkan setiap negara peserta untuk mengakui keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri mempunyai kekuatan hukum dan melaksanakannya sesuai dengan hukum (acara) nasional di mana keputusan tersebut akan dilaksanakan. lebih komprehensif daripada hukum nasional pada umumnya. maka dalam hal ini meliputi tiga tahap : a. Prinsip kelima. Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. dan harus dilengkapi data-data : a. 1 Tahun 1990 putusan arbitrase asing dapat dilaksanakan di Indonesia. Konvensi New York juga mengatur tentang pengakuan (recognition) terhadap suatu keputusan arbitrase.alasan penolakan terhadap keputusan arbitrase intenasional. Indonesia baru meratifikasi 2 konvensi internasional yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan arbitrase asing yaitu : 1. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States. dan kemudian dikuatkan lagi dengan lahimya Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. bahwa Konvensi berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang dibuat dalam wilayah suatu negara selain daripada negara di mana pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase itu diminta dan berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang bukan domestic di suatu negara di mana pengakuan dan pelaksanaannya diminta. 2. Berbeda dengan hukum nasional pada umumnya yang hanya mengatur tentang pelaksanaan (enforcement) suatu keputusan pengadilan (termasuk arbitrase). Konvensi tidak mengaturnya siapa pihak yang berwenang untuk mengeksekusi keputusan tersebut. tahap penyerahan dan pendaftaran putusan b. Pengadilan Negeri. tahap pemberian eksekuatur c. Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards atau New York Convention 1958 disahkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 1981. yaitu: Pasal I.Prinsip keempat. Baru pada tahun 1990. Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung. Konvensi hanya menyebutkan saja tentang daya mengikat suatu keputusan dan tentang bagaimana pelaksanaan atau eksekusinya. Pasal III.

Ketua Pengadilan Negeri. terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia e. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a terbatas pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan. i Pasal 66 UU no. apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. lembar asli atau salinan otentik perjanjian d. Pembatalan dan Penolakan Putusan Arbitrase Internasional Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional. mengenai pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. yang antara lain: .tentang hak dalam kekuasaan para pihak.telah memenuhi syarat. tercantum di dalam konvensi New York 1958. bertentangan dengan kesusilaan.c. baik secara bilateral maupun multilateral.melebihi kewenangan arbiter. Putusan Arbitrase Internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terikat pada perjanjian. 30 tahun 1999. hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. E. . sengketa yang tidak boleh didamaikan. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ke tertiban umum. Terdapat 7 alasan penolakan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase internasional. atau dari Mahkamah Agung dalam hal salah satu pihaknya menyangkut Negara Republik Indonesia. d. Undang . c. . keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia yang bersangkutan. dalam ruang lingkup perdagangan. dijalankan dengan tatacara sebagai berikut : Peringatan/tegoran (aanmaning)i Sita Eksekusi (Executorial Beslag).undang Arbitrase menyatakan bahwa tatacara untuk melaksanakan suatu putusan arbitrase asing tersebut berpedoman kepada Hukum Acara Perdata yang berlaku. diwajibkan terlebih dahulu untuk memeriksa secara substantif. Menurut hukum acara perdata Indonesia. pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing.bertentangan dengan ketertiban umum. suatu putusan pengadilan dan berlaku juga terhadap putusan arbitrase asing.i Pengosongan.i Penjualan/Lelang. Putusan Arbitrase Internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. b. sebelum memberikan perintah pelaksanaan (eksekuatur) terhadap putusan arbitrase yang bersangkutan. Prinsipnya yaitu bahwa pihak yang mengajukan penolakan keputusan arbitrase harus mengajukan dan membuktikan alasan -alasan penolakan tersebut. dan e. Putusan arbitrase asing tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia. . apakah putusan arbitrase asing tersebut: .

diletakkan di bawan sub judul arbitrase nasional. Dari pengertian pasal tersebut bukan saja pengadilan berwenang untuk menolak mengeksekusi suatu putusan arbitrase.1. Contoh Kasus Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional. Keputusan yang dikeluarkan tidak menyangkut hal-hal yang diserahkan untuk diputuskan oleh arbitrase. bahkan memiliki kewenangan untu k menolak pengakuan terhadap materi yang telah diputuskan oleh lembaga arbitrase internasional. Di sisi lain dalam pasal 456 RV atau Hukum Acara Perdata menyebutkan bahwa pengadilan Indonesia tidak akan mengakui dan melaksanakan putusan pengadilan yang dibuat di negara lain. Dalam perjalanannya ternyata proyek kelistrikan ini ditangguhkan oleh Pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 1997 tertanggal 20 September 1997. Bahwa para pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut ternyata menurut hukum nasionalnya tidak mampu atau menurut hukum yang mengatur perjanjian tersebut atau menurut hukum negara di mana keputusan tersebut dibuat apabila tidak ada petunjuk hukum mana yang berlaku. Sengketa antara Pertamina melawan Karaha Bodas corporation (KBC) bermula dengan ditandatanganinya perjanjian Joint Operation Contract (JOC) pada tanggal 28 November 1994. Perjanjian kersasama ini bertujuan untuk memasok kebutuhan listrik PLN dengan memanfaatkan tenaga panas bumi yang ada di Karaha Bodas. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyatakan bahwa terhadap arbiter dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup alasan dan cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbiter akan melakukan tu gasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil putusan. atau. dan juga terhadap eksekusi (denial of awards) terhadap objek arbitrase yang ada di wilayah jurisdiksi hukum Indonesia. Pada pasal 65 Undang-undang no. pihak yang bersangkutan harus mengajukan gugatan baru di Indonesia. Pengadilan hukum di Indonesia dapat melakukan pengingkaran pengakuan (denial of awards) akan substansi yang telah diputus oleh lembaga arbitrase internasional. Keputusan tersebut belum mengikat terhadap para pihak atau dikesampingkan atau ditangguhkan oleh pejabat yang berwenang di negara di mana keputusan dibuat. Pihak terhdap mana keputusan diminta tidak diberikan pemberitahuan yang sepatutnya tentang penunjukan arbitrator atau persidangan arbitrase atau tidak dapat mengajukan kasusnya. Komposisi wewenang arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan persetujuan para pihak. atau 5. F. pada pasal 60 yang berbunyi : Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak. atau keputusan tersebut mengandung hal-hal yang berada di luar dari hal-hal yang seharusnya diputuskan. 3. Pada tanggal yang sama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di satu pihak dan Pertamina serta KBC pada pihak lain menandatangani perjanjian Energy Supply Contract (ESC). KBC pada tanggal 30 April 1998 memasukkan gugatan ganti rugi ke Arbitrase Jenewa sesuai dengan . Garut. Dengan kata lain. Terhadap putusan arbitrase Internasional. Pasal 22 ayat 1 Undang-undang no. atau 4. Jawa Barat. apabila hendak mengeksekusi suatu putusan arbitrase Internasional. tidak sesuai dengan hukum nasional tempat arbitrase berlangsung. 30 tahun 1999 di bawah sub judul arbitrase internasional berbunyi : Yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 2. Dampak penangguhan adalah kerjasama Pertamina dengan KBC tidak dapat dilanjutkan. Pengakuan atas daya ikat putusan arbitrase.

Pada tanggal 14 Maret 2002 Pertamina secara resmi mengajukan gugatan pembatalan Putusan Arbitrase Jenewa kepada PN Jakarta Pusat. Pertamina telah meminta pengadilan di Swiss untuk membatalkan putusan arbitrase. Majelis Arbitrase dianggap telah melampaui wewenangnya karena tidak menggunakan hukum Indonesia. Pada tanggal 18 Desember 2000 Arbitrase Jenewa membuat putusan agar Pertamina dan PLN membayar ganti rugi kepada KBC. maka putusan pengadilan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak permohonan. sehingga mestinya Pertamina tidak dapat dimintakan pertanggungjawab atas sesuatu yang di luar kemampuannya. sementara Pertamina tidak diberikan proper notice mengenai arbitrase ini dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. di Jenewa. Kasus Karaha Bodas Company adalah kasus hukum perdata Internasional di bidang hukum kontrak Internasional yang menarik. Sebagai upaya hukum. Majelis arbitrase telah salah menafsirkan force majeure. Alasan alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan dengan putusan pengadilan. Dalam putusannya nomor 86/PN/Jkt. dalam kasus tersebut Putusan Arbitrase Internasional tidak dapat dibatalkan oleh pengadilan nasional. serta berdasarkan landasan konstitusional yang dimiliki oleh Presiden. 30 tahun 1999 tentang syarat-syarat pembatalan putusan Arbitrase Internasional yang berbunyi : Permohonan pembatalan hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang sudah didaftarkan di pengadilan. padahal adalah sangat nyata.tempat penyelesaian sengketa yang dipilih oleh para pihak dalam JOC. Sementara itu.Pst/2002 tanggal 9 September 2002 . kurang lebih sebesar US$ 261. Pada tanggal 21 Pebruari 2001. dan swasta yang berkaitan dengan pemerintah/badan usaha milik negara pada amar menimbangnya jelas-jelas dinyatakan bahwa Keputusan Pemerintah tersebut terkait dengan upaya mengamankan kesinambungan perekonomian dan jalannya pembangunan nasional. Pertamina melanjutkan upaya hukum pembatalan putusan arbitrase Jenewa di pengadilan Indonesia. Di samping itu. Menurut Hikmahanto Juwana. UNCITRAL. Di dalam kasus ini hal ketertiban umum tidak disinggung-singgung. bahwa alasan tidak dapatnya Pertamina memenuhi kewajiban kontraknya adalah karena larangan dari Pemerintah Negara Indonesia yang berdaulat melalui Keppres nomor 39 tahun 1997 tanggal 20 September 1997 tentang Penangguhan/pengkajian kembali proyek Pemerintah. Hanya saja upaya ini tidak dilanjutkan (dismiss) karena tidak dibayarnya uang deposit sebagaimana dipersyaratkan oleh Swiss Federal Supreme Court. KBC telah melakukan upaya hukum berupa permohonan untuk pelaksanaan Putusan Arbitrase Jenewa di pengadilan beberapa negara di mana asset dan barang Pertamina berada. badan usaha milik negara. Dalam menyikapi upaya hukum KBC. padahal hukum Indonesia adalah yang harus dipakai menurut kesepakatan para pihak. Adapun beberapa alasannya antara lain pengangkatan arbiter tidak dilakukan seperti yang telah diperjanjikan dan tidak diangkat arbiter yang telah dikehendaki oleh para pihak berdasarkan perjanjian. kecuali di Indonesia. pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhirnya mengabulkan gugatan Pertamina dengan membatalkan putusan arbitrase internasional.000. Sayangnya putusan Pengadilan di Indonesia mengenai pembatalan kasus tersebut tidak komprehensif dari sisi legal. Apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan -alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti.000. Selanjutnya KBC mengajukan permohonan yang sama pada pengadilan Singapura dan Hong Kong. KBC mengajukan permohonan pada US District Court for the Southern District of Texas untuk melaksanakan Putusan Arbitrase Jenewa. Pertamina tidak bersedia secara sukarela melaksanakannya. Kalaupun pengadilan . Gugatan pembatalan tersebut didasarkan pada ketentuan pasal 70 UU no. Pertamina melakukan upaya hukum berupa penolakan pelaksanaan di pengadilan-pengadilan yang diminta oleh KBC untuk melakukan eksekusi. Swiss. Atas putusan arbitrase Jenewa. Majelis arbitrase hanya menggunakan hati nuraninya sendiri berdasarkan pertimbangan ex aequeo et bono.

o Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional. karena akar masalahnya adalah dari Keppres atau Pengaturan Pemerintah yang menyebabkan Pertamina tidak dapat memenuhi kewajiban kontraktualnya. yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. o Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: o Arbitrase internasional. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) o Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) 4.1 Kesimpulan o Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian. o Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui salah satunya contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional . sejarah terbentuknya. pengadilan di negara lain yang sedang dimintakan untuk melaksanakan putusan arbitrase dapat saja tidak terikat.nasional melakukan pembatalan. Menurut pendapat kami. London Court of International Arbitration (LCIA) 3.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing. seyogianya hal tersebut harus diambil alih oleh Pemerintah. bagi masing. BAB III PENUTUP 3. tercantum di dalam konvensi New York 1958. maka apabila ada konsekuensi hukum dan klaim atau kerugian yang ditimbulkannya. International Chamber of Commerce (ICC) 2. antara lain: 1.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri. o Beberapa bnentuk lembaga arbitrase internasional. Mengikuti ketentuan Pemerintah tidak boleh mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing. bahkan mengabaikannya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful