Arbitrase Internasional Label: all about EI BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Hubungan- hubungan internasional yang diadakan oleh subjek hukum internasional selalu ada kemungkinan munculnya sengketa di kemudian hari. Sengketa bisa saja muncul terkait perbatasan, perdagangan, dan lain- lain. Di dalam menyelesaikan sengketa ada beberapa cara yang bisa dipilih,yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan, dan arbitrase. Sebagai salah satu alternative penyelesaian sengketa, arbitrase dpandang sebagai cara yang efektif dan adil. Badan arbitrase akan berfungsi apabila para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa kepadanya baik sebelum sengketa muncul maupun setelah sengketa muncul. Arbitrase internasional telah banyak dipakai oleh para pelaku bisnis yang notabene sering terkait dengan kasus- kasus ekonomi, utamanya perdagangan dengan nominal angka yang dipe rsengketakan cukup mencengangkan bagi orang pada umumnya. Oleh karenanya, besar peranan arbitrase internasional dalam aksinya menyelesaikan setiap persengketaan dalam permasalahan bisnis terkait ranah internasional. Menyoal tentang apa itu arbitrase internasional, bagaimana sejarah dan dasar pembentukannya, seperti apa seperti apa saja bentuk lembaganya, bagaimana jalan proses putusan yang di hasilkan, serta penolakan maupun pembatalan terhadap putusannya, dan contoh kasus terkait dengannya. Guna menjawabapertanyaan tersebut, maka penulis membuat makalah yang berjudul ³Arbitrase Internasional´ B. Rumusan Masalah Dalam pembuatan makalah ini, penulis merumuskan masalah pada: 1. Apa pengertian arbitrase internasional ? 2. Bagaimana sejarah dan dasar pembentukan arbitrase internasional ? 3. Apa saja bentuk lembaga- lembaga arbitrase internasional ? 4. Bagaimana proses jalannya putusan arbitrase internasional ? 5. Bagaimana pembatalan dan penolakan putusan di dalam arbitrase internasional ? 6. Seperti apa contoh kasus pelaksanaan arbitrase internasional ? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Arbitrase Internasional Arbitrase menurut Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Black¶s Law Dictionary memberikan pengertian ³Arbitration. an arrangement for taking an abiding by the judgment of selected persons in some disputed matter, instead of carrying it to establish tribunals of justice, and is intended to avoid the formalities, the delay, the expense and vexation of ordinary litigation´. Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian, yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. Suatu arbitrase dianggap internasional apabila para pihak pada saat dibuatnya perjanjian yang

Dalam hal para pihak yang bersengketa tidak sepakat terhadap beberapa isu (masalah) yang berkembangan dalam penanganan kasus tersebut seperti penetapan tempat. Kasus yang diserahkan melalui ICC akan diadili oleh arbiter dengan mendasarkan pada persoalan (kasus) yang menjadi kewenangan ICC. Badan arbitrase ICC merupakan salah satu lembaga arbitrase yang terkenal dimana setiap tahunnya terdapat hampir 400 kasus/sengketa perdagangan yang diserahkan ke ICC. Jika terjadi perselisihan di antara mereka.bersangkutan mempunyai tempat usaha mereka (place of business) di negara-negara berbeda. seperti Inggris dan Belanda. Praktek ini berlangsung pula pada zaman keemasan Romawi dan Yahudi (biblical times) serta terus berkembang terutama di negara. bagi masing. Misalnya salah satu pihak memiliki tempat usaha di Amerika.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing. Lembaga-lembaga arbitrase internasional tersebut merupakan lembaga-lembaga arbitrase yang bersifat resmi dan didirikan oleh badan internasional yang sudah mapan maupun lembaga-lembaga yang bersifat regional. dan mereka memilih cara penyelesaian melalui arbitrase. C. sesungguhnya badan arbitrase telah lama dipraktekkan. Arbitrase internasional.bangsa telah menggunakan cara penyelesaian sengketa melalui arbitrase sejak zaman Yunani kuno.negara dagang di Eropa. dari segi pembiayaan. ICC meletakkan dasar penyelesaian sengketa perdagangan bukan hanya dalam konteks ICC (Court of Arbitration). dan pihak lain memiliki tempat usaha di Indonesia. sejarah terbentuknya. dimana sekretariat badan arbitrase akan mensyaratkan pembayaran administrasi dan biaya arbiter. Domke. maka arbitrase ini tergolong arbitrase internasional. Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: 1. ICC tidak melaksanakan arbitrase secara tersendiri. Lembaga-lembaga Arbitrase Internasional Meningkatnya kebutuhan dunia perdagangan internasional akan lembaga -lembaga arbitrase internasional dalam menyelesaikan sengketa perdagangan mengakibatkan kebutuhan akan eksistensi lembaga-lembaga juga meningkat. Menurut M. Menyangkut pembiayaan akan ditentukan oleh kedua belah pihak secara bersama -sama dan merata. sidang ICC dapat berlangsung dimana saja dalam menerapkan hukum bagi para pihak telah sepakat untuk menggunakan ICC. bangsa. akan tetapi mendaftarkan penyelenggaraan arbitrase ke seluruh dunia. International Chamber of Commerce (ICC) ICC berkedudukan di Paris yang didirikan atas prakarsa Asosiasi Dagang Internasional. Konteks keputusan (award) yang dihasilkan. cost yang dikeluarkan sangatlah besar. London Court of International Arbitration (LCIA) London Court of International Arbitration (LCIA) merupakan lembaga arbitrase yang digagas dan didirikan oleh the Court of Common Council of the City of London pada tahun 1891. Oleh karena itu sebagai sebuah badan administratif yang bersifat formal. akan tetapi juga dalam konteks konsiliasi yang memiliki rules of conciliation tersendiri. LCIA . dan lain sebagainya maka ICC memiliki kewenangan untuk menetapkannya. Oleh karena itu. Sekretariat mensyaratkan pula biaya deposit sebelum badan arbitrase memulai pekerjaannya. 2. Badan arbitrase memiliki hukum acara arbitrase tersendiri (rules of arbitration). Sejarah dan Dasar Pembentukan Arbitrase Internasional Perkembangan sejarah arbitrase.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri. award tersebut harus mendapat persetujuan dari ICC (international court of arbitration) yang memiliki kewenangan untuk membuat modifikasi. Perhitungan biaya (cost) didasarkan pada jumlah biaya yang telah ditentukan oleh ICC dan jumlah biaya yang disengketakan. Meskipun ICC bermarkas di Paris. B.

Hanya negara yang dipersyaratkan menjadi anggota UNCITRAL. Akan tetapi. Akan tetapi (the Model Law) tidak menangani setiap persoalan yang berhubungan dengan arbitrase perdagangan internasional. The Model Law dapat dimodifikasi oleh negara-negara anggota. LCIA dapat mengangkat seorang arbitrator yang tidak independent dan atau sebaliknya. Di samping itu. Hal pertama yang dilakukan adalah . Model hukum (the Model Law) arbitrase perdagangan internasional merupakan sebuah model untuk negara-negara yang mengadopsi ke dalam hukum nasionalnya di bidang arbitrase perdagangan internasional. Prosedur arbitrase menjadi menjadi salah satu ³subject matters´ meskipun dalam batasan tertentu. Beberapa instrumen prinsip yang diadopsi oleh UNCITRAL adalah: The UNCITRAL Arbitraion Rules.merupakan lembaga arbitrase tertua di dunia yang terdiri dari Chamber of Commerce. Konvensi ini dalam prakteknya terpisah dengan ketentuan domestik masing-masing negara anggota Konvensi yang berakibat pada interpretasi yang berbeda. penjualan. 3. Kedua instrumen tersebut adalah: a. akan tetapi dalam mengimplementasikan pekerjaannya. 1980. 1976. The UNCITRAL Conciliation Rules. negara-negara sering memasukkan pasalpasal tambahan (additional provisions) ke dalam hukum nasional masing-masing negara yang menadopsi (the Model Law). b. Pada umumnya. 1976. Tujuan utama UNCITRAL adalah untuk mempersiapkan suatu model hukum yang ideal dalam menghadapi divergensi yang ada dalam penggunaan aturan -aturan arbitrase dan hukum nasional. LCIA juga menangani sengketa-sengketa perdagangan pada umumnya sebagaimana yang dilakuk oleh an ICC. baik LCIA maupu ICC memiliki tanggungjawab yang sama terhadap prosedur lembaga/organisasi dan pengangkatan arbitrator. penyimpanan. The United Nations Convention on the Recognition and Enforcement on Foreign Arbitral Awards. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) adalah merupakan suatu komisi yang didirikan pada bulan Desember 1966 dengan tujuan untuk mengharmonisasikan dan mengunifikasi suatu hukum yang fokus ke perdagangan internasional. Sebagai dampaknya. UNCITRAL bekerjasama dengan organisasi atau lembaga yang relevant seperti ICCA untuk beberapa isu arbitrase. 1985. Sebelum eksisnya the Model Law. Dalam konteks pengangkatan arbitrator. Guidelines for Administering Arbitration. justru sebaliknya. hanya ada dua instrument utama yang menangani arbitrase perdagangan internasional dalam sistem di Perserikatan bangsabangsa. LCIA juga dapat memerintahkan para pihak untuk menyediankan keamanan terhadap seluruh atau sebagian dari apa yang dipersengketakan dalam arbitrase. The UNCITRAL Arbitration Rules. Disamping itu. The Model Law on International Commercial Arbitration. dan bahkan membuang barang-barang (property) yang berada di bawah kendali para pihak bersengketa. hanya saja jumlah kasus yang ditangani oleh LCIA relatif lebih kecil. Konvensi ini adalah salah satu Konvensi yang tersukses dalam hubungan internasional yang telah ditandatangani oleh 120 negara per 16 Desember 1998. The New York Convention menyiapkan pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan perjanjian arbitrase. Arbiter arbitrase LCIA memiliki kewenangan untuk memerintahkan penjagaan. 1976. Meskipun demikian. 1982. para pihak yang bersengketa bebas untuk menggunakan kompetensi pengadilan terhadap tindakan conservatory preaward. Guidelines on Pre-Hearing Conferences. seperti beberapa negara telah memodifikasi (the Model Law) sehingga dapat diterapkan ke dalam hukum nasional tanpa diskriminasi (equally). The UNCITRAL Arbitration Rules. Selanjutnya. perusahaanperusahaan yang terletak di Kota London dan lembaga-lembaga arbitrator. Konvensi ini juga tidak menangani prosedur arbitrase. 1958 (the New York Convention).

Demikian pula jumlah arbitrase dapat ditunjuk satu atau tiga orang (Pasal 10). ‡ Pengakuan dan pelaksaan putusan arbitrase. Negara-negara penandatangan sepakat untuk mengikat diri (consent to be bound) untuk menerapkan . the Model Law menentukan bahwa putusan dapat saja ditolak jika: ‡ Invalid. ‡ Putusan arbitrase bertentangan dengan kebijakan publik dari negara (Pasal 34 dan 36) 4. banyak pasal-pasal dalam the Model law yang diderogasi oleh para pihak. ‡ Hukum yang dapat diterapkan dalam arbitrase. Sebuah draf Model Law mulai diprakarsai dengan meluaskan lingkup dari instrument pada tahun 1982. is didesain sebagai arbitrase ad hoc. The Model Law juga mengakui peranan yang dimainkan oleh lembaga-lembaga arbitrase dalam arbitrase perdagangan internasional. tujuan dari Model Law adalah untuk mempromosikan penyatuan prosedur arbitra dan se mengalamatkannya pada kebutuhan mendasar dari arbitrase perdagangan internasional. termasuk didalamnya prosedur pengangkatan (Pasal 11) ayat 1 dan 3). 9. leaves the parties free to determine a certain issues such freedom includes the right of the parties to authorize a third party. the Model law merujuk pada Pasal 1 dengan beberapa pengecualiaan pada Pasal 8. Sehingga dapat dikatakan bahwa aturan-aturan arbitrase dapat digunakan baik arbitrase yang bersifat ad hoc maupun permanent. Sehingga pada kenyataannya. ‡ Putusan arbitrase melebihi lingkup perjanjian yang dilakukan. adapun perjanjain arbitrasenya dapat dilihat pada Pasal 7 the Model law. ‡ Komposisi dari tribunal arbitase yang tidak sesuai dengan perjanjian para pihak. Lebih dari 80 negara telah meratifikasi ISCID termasuk didalmnya Indonesia. dan 36. Akhirnya. Pasal 2 huruf d disebutkan bahwa: ³where a provisions of this law. including an institution. 21 Juni 1985 UNCITRAL diadopsi dan Majelis Umum PBB juga mengadopsinya pada Tanggal 11 Desember 1985. Adapun menyangkut proceeding. Adapun lingkup utama dari Uncitral Model Law adalah: ‡ Bentuk dan definisi perjanjian arbitrase. Prinsip dasar dari the Model Law adalah pengakuan terhadap kebebasan para pihak untuk menlaksanakan arbitrase dengan batasan/larangan yang minimal. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) ISCID dibuat berdasar pada Washington Convention on the settlement of Investment Disputes between States and National of Other States. Dalam konteks lingkup aplikasi. 35.mengunifikasi penerapan hukum nasional dalam arbitrase. Jadi. termasuk didalamnya substansi hukum apa yang tepat untuk digunakan (Pasal 28 ayat 1 dan 2). to make that determination´. ‡ Salah satu pihak tidak memberikan pemberitahuan tentang pengangkatan arbitrator dan atau proses arbitrase. Seluruh negara-negara anggota telah sepakat bahwa tidak ada kemungkinan untuk menerapkan putusan ISCID sebelum adanya penetapan pengadilan dimana tempat arbitrase ditentukan. ISCID hanya tersedi pada kasus-kasus dimana salah satu pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) da ri suatu negara. para pihak diberi kebebasan untuk menentukan prosedur yang tepat (Pasal 19). except article 28 [concerning the rules applicable to the substance of the dispute]. Dalam konteks pelaksanaan dan penerapan putusan. ‡ Pengadilan menemukan bahwa persoalan yang diajukan ke arbitrase adalah bukan persoalan yang dapat atau harus diselesaikan melalui lembaga arbitrase. 1965 (ISCID Convention. ‡ Pengangkatan Arbitrase tribunal.

China International Economic and Trade Arbitration Commission (CIETAC). Persyaratan komersial berarti bahwa suatu negara yang telah meratifikasi Konvensi New York hanya akan menerapkan ketentuan Konvensi terhadap sengketa-sengketa ³komersial´ menurut hukum nasionalnya. Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak jumlah ratifikasi ketiga terpenuhi. Singapore International Arbitration Centre (SIAC) dan the Singapore Institute of Arbitration. Para pihak bersepakat untuk menentukan arbitrator dan tempat pelaksanaan arbitrase termasuk didalamnya persoalan prosedur. Terdapat dua persyaratan yang diperkenankan. Dalam hal ini. maka negara tersebut tidak akan menerapkan ketentuan Konvensi. Thai Arbitration Centre. para pakar arbitrase waktu itu mengakui bahwa Konvensi ini merupakan satu langkah perbaikan dalam hal pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri. yakni Konvensi ini mengakui prinsip keputusan arbitrase yang mengikat tanpa perlu ditarik dalam keputusannya. yakni Konvensi ini menerapkan prinsip pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan menempatkan keputusan tersebut pada kedudukan yang sama dengan keputusan peradilan nasional. Apabila keputusan tersebut ternyata dibuat di negara yang bukan anggota. 6. yaitu Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double enforcement process). yang pertama adalah persyaratan resiprositas (reciprocity reservation). 4. Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni 1959. Konvensi ini mengandung 16 pasal yang dari pasal-pasal tersebut dapat ditarik 5 prinsip berikut. Beberapa lembaga Arbitrase di Kawasan Aisa-Pasifik adalah: 1. Prinsip kedua. . Pada waktu meratifikasi atau mengikatkan diri (aksesi) terhadap konvensi. Prinsip ketiga. yaitu bahwa negara yang bersangkutan baru akan menerapkan ketentuan Konvensi apabila keputusan arbitrase tersebut dibuat di negara yang juga adalah anggota Konvensi New York. 7. Japan Commercial Arbitration Association. Konsekuensi dari diajukannya persyaratan pertama. khususnya di antara negara anggota Konvensi. jumlah kasus yang masuk ke ICSID sangat sedikit dalam hitungan puluhan tahun. ISCID memiliki kewenangan untuk hanya menyediakan fasilitas terhadap sengketa yang ada sepanjang pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) dari suatu negara. Konvensi ini hanya mensyaratkan tiga ratifikasi agar berlaku. Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional Salah satu fokus utama dalam Konvensi New York 1958. 5. yakni Convetion on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang ditandatangani 10 Juni 1958 di kota New York. Indonesian National Arbitration Association (BANI) D. antara lain: Prinsip pertama. negara-negara dapat mengajukan persyaratan (reservasi) terhadap isi ketentuan Konvensi New York (pasal 1). 3. ISCID mengawasi dan menyediakan fasilitas untuk arbitrase tetapi tidak melaksanakan arbitrase. Secara statistik. 8. Hong Kong International Arbitration Centre (HKIAC). Korean Commercial Arbitration Board. Yang kedua adalah persyaratan komersial (commercial-reservation). Kuala Lumpur Regional Centre for Arbitration. Ketika Konvensi ini lahir.dan melaksanakan putusan ISCID sebagaimana putusan final dari pengadilan nasional negara-negara anggota. 2.

terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia . III dan V. Pasal III. berdasarkan Undangundang Nomor 5 Tahun 1968 tentang Persetujuan atas Konvensi tentang Penyelesaian Perselisihan antara Negara dan Warga Negara Asing mengenai Penanaman Modal tanggal 29 Juni 1968. Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards atau New York Convention 1958 disahkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 1981. Prinsip kelima. 2. lebih komprehensif daripada hukum nasional pada umumnya. akan tetapi putusan arbitrase asing belum dapat dilaksanakan secara efektif . tahap pemberian eksekuatur c. karena menurut Mahkamah Agung belum ada aturan pelaksanaannya. Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung. dengan terbitnya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. Pasal V.Prinsip keempat. 1 Tahun 1990 putusan arbitrase asing dapat dilaksanakan di Indonesia. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States. Baru pada tahun 1990. lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase asing b. Seperti telah dikemukakan diatas. mencantumkan alasan. yaitu: Pasal I. Konvensi New York juga mengatur tentang pengakuan (recognition) terhadap suatu keputusan arbitrase. ketentuan pasal ini hanya pokoknya saja tentang pelaksanaan keputusan arbitrase. maka dalam hal ini meliputi tiga tahap : a. Konvensi New York lebih lengkap. Indonesia baru meratifikasi 2 konvensi internasional yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan arbitrase asing yaitu : 1. tahap penyerahan dan pendaftaran putusan b. Pengadilan Negeri. Konvensi tidak mengaturnya siapa pihak yang berwenang untuk mengeksekusi keputusan tersebut. Berbeda dengan hukum nasional pada umumnya yang hanya mengatur tentang pelaksanaan (enforcement) suatu keputusan pengadilan (termasuk arbitrase). mewajibkan setiap negara peserta untuk mengakui keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri mempunyai kekuatan hukum dan melaksanakannya sesuai dengan hukum (acara) nasional di mana keputusan tersebut akan dilaksanakan.alasan penolakan terhadap keputusan arbitrase intenasional. Sekalipun pada tahun 1981 kita sudah meratifikasi konvensi New York 1958. Ketentuan utama Konvensi terdapat dalam pasal I. Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Konvensi hanya menyebutkan saja tentang daya mengikat suatu keputusan dan tentang bagaimana pelaksanaan atau eksekusinya. atau ICSID Convention. bahwa Konvensi berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang dibuat dalam wilayah suatu negara selain daripada negara di mana pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase itu diminta dan berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang bukan domestic di suatu negara di mana pengakuan dan pelaksanaannya diminta. Konvensi New York mensyaratkan penyederhanaan dokumentasi yang diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan Konvensi. Tentang bagaimanakah putusan arbitrase asing tersebut dilaksanakan. tahap eksekusi putusan Putusan arbitrase asing baru dapat dilaksanakan/ dieksekusi setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan (deponir/deposit) oleh arbiter atau kuasanya kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. dan kemudian dikuatkan lagi dengan lahimya Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. dan harus dilengkapi data-data : a. tidak detail.

suatu putusan pengadilan dan berlaku juga terhadap putusan arbitrase asing. diwajibkan terlebih dahulu untuk memeriksa secara substantif.bertentangan dengan ketertiban umum. . dan e. Menurut hukum acara perdata Indonesia. baik secara bilateral maupun multilateral. . . E. Ketua Pengadilan Negeri. mengenai pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. Putusan Arbitrase Internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. lembar asli atau salinan otentik perjanjian d.i Pengosongan. Putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia.melebihi kewenangan arbiter. pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a terbatas pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan. hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Prinsipnya yaitu bahwa pihak yang mengajukan penolakan keputusan arbitrase harus mengajukan dan membuktikan alasan -alasan penolakan tersebut.undang Arbitrase menyatakan bahwa tatacara untuk melaksanakan suatu putusan arbitrase asing tersebut berpedoman kepada Hukum Acara Perdata yang berlaku. terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia e. Pembatalan dan Penolakan Putusan Arbitrase Internasional Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional. c. sebelum memberikan perintah pelaksanaan (eksekuatur) terhadap putusan arbitrase yang bersangkutan.telah memenuhi syarat. Terdapat 7 alasan penolakan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase internasional. sengketa yang tidak boleh didamaikan. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. Putusan arbitrase asing tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. tercantum di dalam konvensi New York 1958. b. atau dari Mahkamah Agung dalam hal salah satu pihaknya menyangkut Negara Republik Indonesia.i Penjualan/Lelang. keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia yang bersangkutan. bertentangan dengan kesusilaan.c. 30 tahun 1999. apakah putusan arbitrase asing tersebut: . d. Undang . dalam ruang lingkup perdagangan. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ke tertiban umum.tentang hak dalam kekuasaan para pihak. dijalankan dengan tatacara sebagai berikut : Peringatan/tegoran (aanmaning)i Sita Eksekusi (Executorial Beslag). i Pasal 66 UU no. yang antara lain: . apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. Putusan Arbitrase Internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terikat pada perjanjian.

Pada tanggal yang sama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di satu pihak dan Pertamina serta KBC pada pihak lain menandatangani perjanjian Energy Supply Contract (ESC). KBC pada tanggal 30 April 1998 memasukkan gugatan ganti rugi ke Arbitrase Jenewa sesuai dengan . Pada pasal 65 Undang-undang no. Pengadilan hukum di Indonesia dapat melakukan pengingkaran pengakuan (denial of awards) akan substansi yang telah diputus oleh lembaga arbitrase internasional. dan juga terhadap eksekusi (denial of awards) terhadap objek arbitrase yang ada di wilayah jurisdiksi hukum Indonesia. Contoh Kasus Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional. Dampak penangguhan adalah kerjasama Pertamina dengan KBC tidak dapat dilanjutkan. Keputusan yang dikeluarkan tidak menyangkut hal-hal yang diserahkan untuk diputuskan oleh arbitrase. Garut. F. Pihak terhdap mana keputusan diminta tidak diberikan pemberitahuan yang sepatutnya tentang penunjukan arbitrator atau persidangan arbitrase atau tidak dapat mengajukan kasusnya. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyatakan bahwa terhadap arbiter dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup alasan dan cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbiter akan melakukan tu gasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil putusan. bahkan memiliki kewenangan untu k menolak pengakuan terhadap materi yang telah diputuskan oleh lembaga arbitrase internasional. tidak sesuai dengan hukum nasional tempat arbitrase berlangsung. atau 4. 30 tahun 1999 di bawah sub judul arbitrase internasional berbunyi : Yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Perjanjian kersasama ini bertujuan untuk memasok kebutuhan listrik PLN dengan memanfaatkan tenaga panas bumi yang ada di Karaha Bodas. diletakkan di bawan sub judul arbitrase nasional. Dengan kata lain. Jawa Barat. Dari pengertian pasal tersebut bukan saja pengadilan berwenang untuk menolak mengeksekusi suatu putusan arbitrase. Terhadap putusan arbitrase Internasional. Bahwa para pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut ternyata menurut hukum nasionalnya tidak mampu atau menurut hukum yang mengatur perjanjian tersebut atau menurut hukum negara di mana keputusan tersebut dibuat apabila tidak ada petunjuk hukum mana yang berlaku. pihak yang bersangkutan harus mengajukan gugatan baru di Indonesia. Sengketa antara Pertamina melawan Karaha Bodas corporation (KBC) bermula dengan ditandatanganinya perjanjian Joint Operation Contract (JOC) pada tanggal 28 November 1994. 3. Pasal 22 ayat 1 Undang-undang no. atau keputusan tersebut mengandung hal-hal yang berada di luar dari hal-hal yang seharusnya diputuskan. atau. atau 5. Di sisi lain dalam pasal 456 RV atau Hukum Acara Perdata menyebutkan bahwa pengadilan Indonesia tidak akan mengakui dan melaksanakan putusan pengadilan yang dibuat di negara lain. 2. Komposisi wewenang arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan persetujuan para pihak. Dalam perjalanannya ternyata proyek kelistrikan ini ditangguhkan oleh Pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 1997 tertanggal 20 September 1997. pada pasal 60 yang berbunyi : Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak. Pengakuan atas daya ikat putusan arbitrase.1. apabila hendak mengeksekusi suatu putusan arbitrase Internasional. Keputusan tersebut belum mengikat terhadap para pihak atau dikesampingkan atau ditangguhkan oleh pejabat yang berwenang di negara di mana keputusan dibuat.

KBC telah melakukan upaya hukum berupa permohonan untuk pelaksanaan Putusan Arbitrase Jenewa di pengadilan beberapa negara di mana asset dan barang Pertamina berada. Majelis arbitrase telah salah menafsirkan force majeure. Dalam menyikapi upaya hukum KBC. bahwa alasan tidak dapatnya Pertamina memenuhi kewajiban kontraknya adalah karena larangan dari Pemerintah Negara Indonesia yang berdaulat melalui Keppres nomor 39 tahun 1997 tanggal 20 September 1997 tentang Penangguhan/pengkajian kembali proyek Pemerintah. KBC mengajukan permohonan pada US District Court for the Southern District of Texas untuk melaksanakan Putusan Arbitrase Jenewa. pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhirnya mengabulkan gugatan Pertamina dengan membatalkan putusan arbitrase internasional. Swiss. Sayangnya putusan Pengadilan di Indonesia mengenai pembatalan kasus tersebut tidak komprehensif dari sisi legal. Sebagai upaya hukum. Atas putusan arbitrase Jenewa. Adapun beberapa alasannya antara lain pengangkatan arbiter tidak dilakukan seperti yang telah diperjanjikan dan tidak diangkat arbiter yang telah dikehendaki oleh para pihak berdasarkan perjanjian.tempat penyelesaian sengketa yang dipilih oleh para pihak dalam JOC. padahal hukum Indonesia adalah yang harus dipakai menurut kesepakatan para pihak. Pertamina tidak bersedia secara sukarela melaksanakannya. Alasan alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan dengan putusan pengadilan.000. Gugatan pembatalan tersebut didasarkan pada ketentuan pasal 70 UU no. Selanjutnya KBC mengajukan permohonan yang sama pada pengadilan Singapura dan Hong Kong. maka putusan pengadilan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak permohonan. Majelis Arbitrase dianggap telah melampaui wewenangnya karena tidak menggunakan hukum Indonesia. Menurut Hikmahanto Juwana. Dalam putusannya nomor 86/PN/Jkt. 30 tahun 1999 tentang syarat-syarat pembatalan putusan Arbitrase Internasional yang berbunyi : Permohonan pembatalan hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang sudah didaftarkan di pengadilan. Di samping itu. Pertamina melakukan upaya hukum berupa penolakan pelaksanaan di pengadilan-pengadilan yang diminta oleh KBC untuk melakukan eksekusi. Di dalam kasus ini hal ketertiban umum tidak disinggung-singgung. Pertamina telah meminta pengadilan di Swiss untuk membatalkan putusan arbitrase. kurang lebih sebesar US$ 261. Sementara itu. Pertamina melanjutkan upaya hukum pembatalan putusan arbitrase Jenewa di pengadilan Indonesia. badan usaha milik negara. Hanya saja upaya ini tidak dilanjutkan (dismiss) karena tidak dibayarnya uang deposit sebagaimana dipersyaratkan oleh Swiss Federal Supreme Court. UNCITRAL. Kasus Karaha Bodas Company adalah kasus hukum perdata Internasional di bidang hukum kontrak Internasional yang menarik. padahal adalah sangat nyata. di Jenewa. serta berdasarkan landasan konstitusional yang dimiliki oleh Presiden. Majelis arbitrase hanya menggunakan hati nuraninya sendiri berdasarkan pertimbangan ex aequeo et bono. kecuali di Indonesia. Pada tanggal 14 Maret 2002 Pertamina secara resmi mengajukan gugatan pembatalan Putusan Arbitrase Jenewa kepada PN Jakarta Pusat. Pada tanggal 18 Desember 2000 Arbitrase Jenewa membuat putusan agar Pertamina dan PLN membayar ganti rugi kepada KBC. Apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan -alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti.000.Pst/2002 tanggal 9 September 2002 . dalam kasus tersebut Putusan Arbitrase Internasional tidak dapat dibatalkan oleh pengadilan nasional. Pada tanggal 21 Pebruari 2001. sehingga mestinya Pertamina tidak dapat dimintakan pertanggungjawab atas sesuatu yang di luar kemampuannya. sementara Pertamina tidak diberikan proper notice mengenai arbitrase ini dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. Kalaupun pengadilan . dan swasta yang berkaitan dengan pemerintah/badan usaha milik negara pada amar menimbangnya jelas-jelas dinyatakan bahwa Keputusan Pemerintah tersebut terkait dengan upaya mengamankan kesinambungan perekonomian dan jalannya pembangunan nasional.

pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing. o Beberapa bnentuk lembaga arbitrase internasional. o Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui salah satunya contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional . Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) o Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. seyogianya hal tersebut harus diambil alih oleh Pemerintah. bahkan mengabaikannya. bagi masing. pengadilan di negara lain yang sedang dimintakan untuk melaksanakan putusan arbitrase dapat saja tidak terikat. antara lain: 1. o Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional. tercantum di dalam konvensi New York 1958.nasional melakukan pembatalan. London Court of International Arbitration (LCIA) 3. yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. Mengikuti ketentuan Pemerintah tidak boleh mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. karena akar masalahnya adalah dari Keppres atau Pengaturan Pemerintah yang menyebabkan Pertamina tidak dapat memenuhi kewajiban kontraktualnya. BAB III PENUTUP 3.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) 4. maka apabila ada konsekuensi hukum dan klaim atau kerugian yang ditimbulkannya. International Chamber of Commerce (ICC) 2. Menurut pendapat kami. sejarah terbentuknya. o Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: o Arbitrase internasional.1 Kesimpulan o Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful