Arbitrase Internasional Label: all about EI BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Hubungan- hubungan internasional yang diadakan oleh subjek hukum internasional selalu ada kemungkinan munculnya sengketa di kemudian hari. Sengketa bisa saja muncul terkait perbatasan, perdagangan, dan lain- lain. Di dalam menyelesaikan sengketa ada beberapa cara yang bisa dipilih,yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan, dan arbitrase. Sebagai salah satu alternative penyelesaian sengketa, arbitrase dpandang sebagai cara yang efektif dan adil. Badan arbitrase akan berfungsi apabila para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa kepadanya baik sebelum sengketa muncul maupun setelah sengketa muncul. Arbitrase internasional telah banyak dipakai oleh para pelaku bisnis yang notabene sering terkait dengan kasus- kasus ekonomi, utamanya perdagangan dengan nominal angka yang dipe rsengketakan cukup mencengangkan bagi orang pada umumnya. Oleh karenanya, besar peranan arbitrase internasional dalam aksinya menyelesaikan setiap persengketaan dalam permasalahan bisnis terkait ranah internasional. Menyoal tentang apa itu arbitrase internasional, bagaimana sejarah dan dasar pembentukannya, seperti apa seperti apa saja bentuk lembaganya, bagaimana jalan proses putusan yang di hasilkan, serta penolakan maupun pembatalan terhadap putusannya, dan contoh kasus terkait dengannya. Guna menjawabapertanyaan tersebut, maka penulis membuat makalah yang berjudul ³Arbitrase Internasional´ B. Rumusan Masalah Dalam pembuatan makalah ini, penulis merumuskan masalah pada: 1. Apa pengertian arbitrase internasional ? 2. Bagaimana sejarah dan dasar pembentukan arbitrase internasional ? 3. Apa saja bentuk lembaga- lembaga arbitrase internasional ? 4. Bagaimana proses jalannya putusan arbitrase internasional ? 5. Bagaimana pembatalan dan penolakan putusan di dalam arbitrase internasional ? 6. Seperti apa contoh kasus pelaksanaan arbitrase internasional ? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Arbitrase Internasional Arbitrase menurut Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Black¶s Law Dictionary memberikan pengertian ³Arbitration. an arrangement for taking an abiding by the judgment of selected persons in some disputed matter, instead of carrying it to establish tribunals of justice, and is intended to avoid the formalities, the delay, the expense and vexation of ordinary litigation´. Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian, yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. Suatu arbitrase dianggap internasional apabila para pihak pada saat dibuatnya perjanjian yang

sesungguhnya badan arbitrase telah lama dipraktekkan. LCIA . Oleh karena itu sebagai sebuah badan administratif yang bersifat formal. Perhitungan biaya (cost) didasarkan pada jumlah biaya yang telah ditentukan oleh ICC dan jumlah biaya yang disengketakan. seperti Inggris dan Belanda. Praktek ini berlangsung pula pada zaman keemasan Romawi dan Yahudi (biblical times) serta terus berkembang terutama di negara. sidang ICC dapat berlangsung dimana saja dalam menerapkan hukum bagi para pihak telah sepakat untuk menggunakan ICC. B. Badan arbitrase memiliki hukum acara arbitrase tersendiri (rules of arbitration).bersangkutan mempunyai tempat usaha mereka (place of business) di negara-negara berbeda. Domke. dari segi pembiayaan. London Court of International Arbitration (LCIA) London Court of International Arbitration (LCIA) merupakan lembaga arbitrase yang digagas dan didirikan oleh the Court of Common Council of the City of London pada tahun 1891. Dalam hal para pihak yang bersengketa tidak sepakat terhadap beberapa isu (masalah) yang berkembangan dalam penanganan kasus tersebut seperti penetapan tempat. award tersebut harus mendapat persetujuan dari ICC (international court of arbitration) yang memiliki kewenangan untuk membuat modifikasi. Kasus yang diserahkan melalui ICC akan diadili oleh arbiter dengan mendasarkan pada persoalan (kasus) yang menjadi kewenangan ICC.bangsa telah menggunakan cara penyelesaian sengketa melalui arbitrase sejak zaman Yunani kuno. Menyangkut pembiayaan akan ditentukan oleh kedua belah pihak secara bersama -sama dan merata. bangsa. Meskipun ICC bermarkas di Paris. sejarah terbentuknya. bagi masing. Oleh karena itu. Jika terjadi perselisihan di antara mereka. Badan arbitrase ICC merupakan salah satu lembaga arbitrase yang terkenal dimana setiap tahunnya terdapat hampir 400 kasus/sengketa perdagangan yang diserahkan ke ICC. akan tetapi mendaftarkan penyelenggaraan arbitrase ke seluruh dunia. Misalnya salah satu pihak memiliki tempat usaha di Amerika. International Chamber of Commerce (ICC) ICC berkedudukan di Paris yang didirikan atas prakarsa Asosiasi Dagang Internasional. Menurut M.negara dagang di Eropa. dimana sekretariat badan arbitrase akan mensyaratkan pembayaran administrasi dan biaya arbiter. dan pihak lain memiliki tempat usaha di Indonesia. dan mereka memilih cara penyelesaian melalui arbitrase. C. Lembaga-lembaga arbitrase internasional tersebut merupakan lembaga-lembaga arbitrase yang bersifat resmi dan didirikan oleh badan internasional yang sudah mapan maupun lembaga-lembaga yang bersifat regional. 2. Konteks keputusan (award) yang dihasilkan.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing. dan lain sebagainya maka ICC memiliki kewenangan untuk menetapkannya.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri. Arbitrase internasional. Lembaga-lembaga Arbitrase Internasional Meningkatnya kebutuhan dunia perdagangan internasional akan lembaga -lembaga arbitrase internasional dalam menyelesaikan sengketa perdagangan mengakibatkan kebutuhan akan eksistensi lembaga-lembaga juga meningkat. ICC meletakkan dasar penyelesaian sengketa perdagangan bukan hanya dalam konteks ICC (Court of Arbitration). Sekretariat mensyaratkan pula biaya deposit sebelum badan arbitrase memulai pekerjaannya. Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: 1. cost yang dikeluarkan sangatlah besar. maka arbitrase ini tergolong arbitrase internasional. akan tetapi juga dalam konteks konsiliasi yang memiliki rules of conciliation tersendiri. ICC tidak melaksanakan arbitrase secara tersendiri. Sejarah dan Dasar Pembentukan Arbitrase Internasional Perkembangan sejarah arbitrase.

perusahaanperusahaan yang terletak di Kota London dan lembaga-lembaga arbitrator. Guidelines on Pre-Hearing Conferences. 1985. Tujuan utama UNCITRAL adalah untuk mempersiapkan suatu model hukum yang ideal dalam menghadapi divergensi yang ada dalam penggunaan aturan -aturan arbitrase dan hukum nasional. The UNCITRAL Arbitration Rules. The Model Law on International Commercial Arbitration. LCIA dapat mengangkat seorang arbitrator yang tidak independent dan atau sebaliknya. Dalam konteks pengangkatan arbitrator. Prosedur arbitrase menjadi menjadi salah satu ³subject matters´ meskipun dalam batasan tertentu. 1980. akan tetapi dalam mengimplementasikan pekerjaannya. Konvensi ini adalah salah satu Konvensi yang tersukses dalam hubungan internasional yang telah ditandatangani oleh 120 negara per 16 Desember 1998. Pada umumnya. Konvensi ini dalam prakteknya terpisah dengan ketentuan domestik masing-masing negara anggota Konvensi yang berakibat pada interpretasi yang berbeda. Hanya negara yang dipersyaratkan menjadi anggota UNCITRAL. Akan tetapi (the Model Law) tidak menangani setiap persoalan yang berhubungan dengan arbitrase perdagangan internasional. The New York Convention menyiapkan pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan perjanjian arbitrase. justru sebaliknya. The UNCITRAL Arbitration Rules. 1976. The United Nations Convention on the Recognition and Enforcement on Foreign Arbitral Awards. penjualan. Kedua instrumen tersebut adalah: a. baik LCIA maupu ICC memiliki tanggungjawab yang sama terhadap prosedur lembaga/organisasi dan pengangkatan arbitrator. Beberapa instrumen prinsip yang diadopsi oleh UNCITRAL adalah: The UNCITRAL Arbitraion Rules.merupakan lembaga arbitrase tertua di dunia yang terdiri dari Chamber of Commerce. LCIA juga dapat memerintahkan para pihak untuk menyediankan keamanan terhadap seluruh atau sebagian dari apa yang dipersengketakan dalam arbitrase. Konvensi ini juga tidak menangani prosedur arbitrase. UNCITRAL bekerjasama dengan organisasi atau lembaga yang relevant seperti ICCA untuk beberapa isu arbitrase. Meskipun demikian. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) adalah merupakan suatu komisi yang didirikan pada bulan Desember 1966 dengan tujuan untuk mengharmonisasikan dan mengunifikasi suatu hukum yang fokus ke perdagangan internasional. The Model Law dapat dimodifikasi oleh negara-negara anggota. 1958 (the New York Convention). penyimpanan. hanya ada dua instrument utama yang menangani arbitrase perdagangan internasional dalam sistem di Perserikatan bangsabangsa. seperti beberapa negara telah memodifikasi (the Model Law) sehingga dapat diterapkan ke dalam hukum nasional tanpa diskriminasi (equally). Selanjutnya. LCIA juga menangani sengketa-sengketa perdagangan pada umumnya sebagaimana yang dilakuk oleh an ICC. negara-negara sering memasukkan pasalpasal tambahan (additional provisions) ke dalam hukum nasional masing-masing negara yang menadopsi (the Model Law). hanya saja jumlah kasus yang ditangani oleh LCIA relatif lebih kecil. Di samping itu. Arbiter arbitrase LCIA memiliki kewenangan untuk memerintahkan penjagaan. Akan tetapi. dan bahkan membuang barang-barang (property) yang berada di bawah kendali para pihak bersengketa. Hal pertama yang dilakukan adalah . para pihak yang bersengketa bebas untuk menggunakan kompetensi pengadilan terhadap tindakan conservatory preaward. The UNCITRAL Conciliation Rules. 1976. Guidelines for Administering Arbitration. 1976. Disamping itu. Sebagai dampaknya. 3. b. 1982. Sebelum eksisnya the Model Law. Model hukum (the Model Law) arbitrase perdagangan internasional merupakan sebuah model untuk negara-negara yang mengadopsi ke dalam hukum nasionalnya di bidang arbitrase perdagangan internasional.

Adapun menyangkut proceeding. tujuan dari Model Law adalah untuk mempromosikan penyatuan prosedur arbitra dan se mengalamatkannya pada kebutuhan mendasar dari arbitrase perdagangan internasional. 35. except article 28 [concerning the rules applicable to the substance of the dispute]. Pasal 2 huruf d disebutkan bahwa: ³where a provisions of this law. ‡ Hukum yang dapat diterapkan dalam arbitrase. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) ISCID dibuat berdasar pada Washington Convention on the settlement of Investment Disputes between States and National of Other States. Adapun lingkup utama dari Uncitral Model Law adalah: ‡ Bentuk dan definisi perjanjian arbitrase. ISCID hanya tersedi pada kasus-kasus dimana salah satu pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) da ri suatu negara. para pihak diberi kebebasan untuk menentukan prosedur yang tepat (Pasal 19). is didesain sebagai arbitrase ad hoc. ‡ Pengangkatan Arbitrase tribunal. banyak pasal-pasal dalam the Model law yang diderogasi oleh para pihak. Sebuah draf Model Law mulai diprakarsai dengan meluaskan lingkup dari instrument pada tahun 1982. ‡ Pengadilan menemukan bahwa persoalan yang diajukan ke arbitrase adalah bukan persoalan yang dapat atau harus diselesaikan melalui lembaga arbitrase. Dalam konteks pelaksanaan dan penerapan putusan. 1965 (ISCID Convention. to make that determination´. leaves the parties free to determine a certain issues such freedom includes the right of the parties to authorize a third party. 9. ‡ Salah satu pihak tidak memberikan pemberitahuan tentang pengangkatan arbitrator dan atau proses arbitrase. the Model Law menentukan bahwa putusan dapat saja ditolak jika: ‡ Invalid. Seluruh negara-negara anggota telah sepakat bahwa tidak ada kemungkinan untuk menerapkan putusan ISCID sebelum adanya penetapan pengadilan dimana tempat arbitrase ditentukan. ‡ Pengakuan dan pelaksaan putusan arbitrase. ‡ Putusan arbitrase bertentangan dengan kebijakan publik dari negara (Pasal 34 dan 36) 4. Sehingga dapat dikatakan bahwa aturan-aturan arbitrase dapat digunakan baik arbitrase yang bersifat ad hoc maupun permanent. Negara-negara penandatangan sepakat untuk mengikat diri (consent to be bound) untuk menerapkan . ‡ Putusan arbitrase melebihi lingkup perjanjian yang dilakukan. including an institution. Lebih dari 80 negara telah meratifikasi ISCID termasuk didalmnya Indonesia. dan 36. adapun perjanjain arbitrasenya dapat dilihat pada Pasal 7 the Model law. Sehingga pada kenyataannya. Prinsip dasar dari the Model Law adalah pengakuan terhadap kebebasan para pihak untuk menlaksanakan arbitrase dengan batasan/larangan yang minimal. Demikian pula jumlah arbitrase dapat ditunjuk satu atau tiga orang (Pasal 10). Akhirnya. ‡ Komposisi dari tribunal arbitase yang tidak sesuai dengan perjanjian para pihak. The Model Law juga mengakui peranan yang dimainkan oleh lembaga-lembaga arbitrase dalam arbitrase perdagangan internasional. termasuk didalamnya substansi hukum apa yang tepat untuk digunakan (Pasal 28 ayat 1 dan 2). Jadi. Dalam konteks lingkup aplikasi. termasuk didalamnya prosedur pengangkatan (Pasal 11) ayat 1 dan 3). the Model law merujuk pada Pasal 1 dengan beberapa pengecualiaan pada Pasal 8. 21 Juni 1985 UNCITRAL diadopsi dan Majelis Umum PBB juga mengadopsinya pada Tanggal 11 Desember 1985.mengunifikasi penerapan hukum nasional dalam arbitrase.

para pakar arbitrase waktu itu mengakui bahwa Konvensi ini merupakan satu langkah perbaikan dalam hal pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri. Konvensi ini hanya mensyaratkan tiga ratifikasi agar berlaku. Japan Commercial Arbitration Association. yaitu bahwa negara yang bersangkutan baru akan menerapkan ketentuan Konvensi apabila keputusan arbitrase tersebut dibuat di negara yang juga adalah anggota Konvensi New York. Hong Kong International Arbitration Centre (HKIAC). Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional Salah satu fokus utama dalam Konvensi New York 1958. 6. Para pihak bersepakat untuk menentukan arbitrator dan tempat pelaksanaan arbitrase termasuk didalamnya persoalan prosedur. Secara statistik. 8. Dalam hal ini. yaitu Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double enforcement process). Singapore International Arbitration Centre (SIAC) dan the Singapore Institute of Arbitration. negara-negara dapat mengajukan persyaratan (reservasi) terhadap isi ketentuan Konvensi New York (pasal 1). Indonesian National Arbitration Association (BANI) D. Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni 1959. maka negara tersebut tidak akan menerapkan ketentuan Konvensi. Korean Commercial Arbitration Board. Kuala Lumpur Regional Centre for Arbitration. Prinsip ketiga. ISCID memiliki kewenangan untuk hanya menyediakan fasilitas terhadap sengketa yang ada sepanjang pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) dari suatu negara. yakni Konvensi ini menerapkan prinsip pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan menempatkan keputusan tersebut pada kedudukan yang sama dengan keputusan peradilan nasional. Beberapa lembaga Arbitrase di Kawasan Aisa-Pasifik adalah: 1. Terdapat dua persyaratan yang diperkenankan. Konvensi ini mengandung 16 pasal yang dari pasal-pasal tersebut dapat ditarik 5 prinsip berikut. yang pertama adalah persyaratan resiprositas (reciprocity reservation). antara lain: Prinsip pertama. 7. Persyaratan komersial berarti bahwa suatu negara yang telah meratifikasi Konvensi New York hanya akan menerapkan ketentuan Konvensi terhadap sengketa-sengketa ³komersial´ menurut hukum nasionalnya. 3. Ketika Konvensi ini lahir. yakni Convetion on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang ditandatangani 10 Juni 1958 di kota New York. Yang kedua adalah persyaratan komersial (commercial-reservation). 4. Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak jumlah ratifikasi ketiga terpenuhi. ISCID mengawasi dan menyediakan fasilitas untuk arbitrase tetapi tidak melaksanakan arbitrase. Konsekuensi dari diajukannya persyaratan pertama. Prinsip kedua. 5. 2. jumlah kasus yang masuk ke ICSID sangat sedikit dalam hitungan puluhan tahun.dan melaksanakan putusan ISCID sebagaimana putusan final dari pengadilan nasional negara-negara anggota. Apabila keputusan tersebut ternyata dibuat di negara yang bukan anggota. Pada waktu meratifikasi atau mengikatkan diri (aksesi) terhadap konvensi. . Thai Arbitration Centre. yakni Konvensi ini mengakui prinsip keputusan arbitrase yang mengikat tanpa perlu ditarik dalam keputusannya. China International Economic and Trade Arbitration Commission (CIETAC). khususnya di antara negara anggota Konvensi.

dan harus dilengkapi data-data : a. Tentang bagaimanakah putusan arbitrase asing tersebut dilaksanakan. maka dalam hal ini meliputi tiga tahap : a. Konvensi New York lebih lengkap. Konvensi hanya menyebutkan saja tentang daya mengikat suatu keputusan dan tentang bagaimana pelaksanaan atau eksekusinya.alasan penolakan terhadap keputusan arbitrase intenasional. lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase asing b. Pasal V. tahap pemberian eksekuatur c. Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. mewajibkan setiap negara peserta untuk mengakui keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri mempunyai kekuatan hukum dan melaksanakannya sesuai dengan hukum (acara) nasional di mana keputusan tersebut akan dilaksanakan. akan tetapi putusan arbitrase asing belum dapat dilaksanakan secara efektif . berdasarkan Undangundang Nomor 5 Tahun 1968 tentang Persetujuan atas Konvensi tentang Penyelesaian Perselisihan antara Negara dan Warga Negara Asing mengenai Penanaman Modal tanggal 29 Juni 1968. bahwa Konvensi berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang dibuat dalam wilayah suatu negara selain daripada negara di mana pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase itu diminta dan berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang bukan domestic di suatu negara di mana pengakuan dan pelaksanaannya diminta. 1 Tahun 1990 putusan arbitrase asing dapat dilaksanakan di Indonesia. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States. III dan V. Konvensi New York mensyaratkan penyederhanaan dokumentasi yang diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan Konvensi. ketentuan pasal ini hanya pokoknya saja tentang pelaksanaan keputusan arbitrase.Prinsip keempat. 2. yaitu: Pasal I. karena menurut Mahkamah Agung belum ada aturan pelaksanaannya. terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia . Baru pada tahun 1990. Ketentuan utama Konvensi terdapat dalam pasal I. Konvensi New York juga mengatur tentang pengakuan (recognition) terhadap suatu keputusan arbitrase. atau ICSID Convention. dan kemudian dikuatkan lagi dengan lahimya Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Pengadilan Negeri. Seperti telah dikemukakan diatas. dengan terbitnya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. Prinsip kelima. Berbeda dengan hukum nasional pada umumnya yang hanya mengatur tentang pelaksanaan (enforcement) suatu keputusan pengadilan (termasuk arbitrase). Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards atau New York Convention 1958 disahkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 1981. lebih komprehensif daripada hukum nasional pada umumnya. Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung. Indonesia baru meratifikasi 2 konvensi internasional yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan arbitrase asing yaitu : 1. mencantumkan alasan. Konvensi tidak mengaturnya siapa pihak yang berwenang untuk mengeksekusi keputusan tersebut. tahap eksekusi putusan Putusan arbitrase asing baru dapat dilaksanakan/ dieksekusi setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan (deponir/deposit) oleh arbiter atau kuasanya kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. tidak detail. tahap penyerahan dan pendaftaran putusan b. Pasal III. Sekalipun pada tahun 1981 kita sudah meratifikasi konvensi New York 1958.

Putusan arbitrase asing tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pembatalan dan Penolakan Putusan Arbitrase Internasional Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional. mengenai pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. .c. 30 tahun 1999. dan e. d. bertentangan dengan kesusilaan. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a terbatas pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan. Putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia. terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia e. apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a.tentang hak dalam kekuasaan para pihak. keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia yang bersangkutan. Terdapat 7 alasan penolakan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase internasional. apakah putusan arbitrase asing tersebut: . Ketua Pengadilan Negeri. Undang .i Penjualan/Lelang.i Pengosongan.telah memenuhi syarat. Prinsipnya yaitu bahwa pihak yang mengajukan penolakan keputusan arbitrase harus mengajukan dan membuktikan alasan -alasan penolakan tersebut. dalam ruang lingkup perdagangan. Putusan Arbitrase Internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.bertentangan dengan ketertiban umum.undang Arbitrase menyatakan bahwa tatacara untuk melaksanakan suatu putusan arbitrase asing tersebut berpedoman kepada Hukum Acara Perdata yang berlaku. b. . atau dari Mahkamah Agung dalam hal salah satu pihaknya menyangkut Negara Republik Indonesia. lembar asli atau salinan otentik perjanjian d. c. sebelum memberikan perintah pelaksanaan (eksekuatur) terhadap putusan arbitrase yang bersangkutan. baik secara bilateral maupun multilateral. sengketa yang tidak boleh didamaikan. tercantum di dalam konvensi New York 1958. i Pasal 66 UU no. dijalankan dengan tatacara sebagai berikut : Peringatan/tegoran (aanmaning)i Sita Eksekusi (Executorial Beslag).melebihi kewenangan arbiter. hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. diwajibkan terlebih dahulu untuk memeriksa secara substantif. E. . Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ke tertiban umum. Menurut hukum acara perdata Indonesia. yang antara lain: . pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing. Putusan Arbitrase Internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terikat pada perjanjian. suatu putusan pengadilan dan berlaku juga terhadap putusan arbitrase asing.

pada pasal 60 yang berbunyi : Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak. Bahwa para pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut ternyata menurut hukum nasionalnya tidak mampu atau menurut hukum yang mengatur perjanjian tersebut atau menurut hukum negara di mana keputusan tersebut dibuat apabila tidak ada petunjuk hukum mana yang berlaku. Komposisi wewenang arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan persetujuan para pihak. tidak sesuai dengan hukum nasional tempat arbitrase berlangsung. KBC pada tanggal 30 April 1998 memasukkan gugatan ganti rugi ke Arbitrase Jenewa sesuai dengan . bahkan memiliki kewenangan untu k menolak pengakuan terhadap materi yang telah diputuskan oleh lembaga arbitrase internasional. Terhadap putusan arbitrase Internasional. 2. Contoh Kasus Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional. Dampak penangguhan adalah kerjasama Pertamina dengan KBC tidak dapat dilanjutkan. apabila hendak mengeksekusi suatu putusan arbitrase Internasional. Pengadilan hukum di Indonesia dapat melakukan pengingkaran pengakuan (denial of awards) akan substansi yang telah diputus oleh lembaga arbitrase internasional. Keputusan tersebut belum mengikat terhadap para pihak atau dikesampingkan atau ditangguhkan oleh pejabat yang berwenang di negara di mana keputusan dibuat. Sengketa antara Pertamina melawan Karaha Bodas corporation (KBC) bermula dengan ditandatanganinya perjanjian Joint Operation Contract (JOC) pada tanggal 28 November 1994. Dari pengertian pasal tersebut bukan saja pengadilan berwenang untuk menolak mengeksekusi suatu putusan arbitrase. dan juga terhadap eksekusi (denial of awards) terhadap objek arbitrase yang ada di wilayah jurisdiksi hukum Indonesia. F. atau 4. pihak yang bersangkutan harus mengajukan gugatan baru di Indonesia. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyatakan bahwa terhadap arbiter dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup alasan dan cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbiter akan melakukan tu gasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil putusan. diletakkan di bawan sub judul arbitrase nasional. Pada pasal 65 Undang-undang no. Perjanjian kersasama ini bertujuan untuk memasok kebutuhan listrik PLN dengan memanfaatkan tenaga panas bumi yang ada di Karaha Bodas. atau. Pengakuan atas daya ikat putusan arbitrase. Pada tanggal yang sama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di satu pihak dan Pertamina serta KBC pada pihak lain menandatangani perjanjian Energy Supply Contract (ESC). 30 tahun 1999 di bawah sub judul arbitrase internasional berbunyi : Yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Pihak terhdap mana keputusan diminta tidak diberikan pemberitahuan yang sepatutnya tentang penunjukan arbitrator atau persidangan arbitrase atau tidak dapat mengajukan kasusnya. Pasal 22 ayat 1 Undang-undang no.1. Keputusan yang dikeluarkan tidak menyangkut hal-hal yang diserahkan untuk diputuskan oleh arbitrase. atau 5. 3. Dengan kata lain. Jawa Barat. Dalam perjalanannya ternyata proyek kelistrikan ini ditangguhkan oleh Pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 1997 tertanggal 20 September 1997. Di sisi lain dalam pasal 456 RV atau Hukum Acara Perdata menyebutkan bahwa pengadilan Indonesia tidak akan mengakui dan melaksanakan putusan pengadilan yang dibuat di negara lain. atau keputusan tersebut mengandung hal-hal yang berada di luar dari hal-hal yang seharusnya diputuskan. Garut.

Dalam menyikapi upaya hukum KBC. Pada tanggal 14 Maret 2002 Pertamina secara resmi mengajukan gugatan pembatalan Putusan Arbitrase Jenewa kepada PN Jakarta Pusat. KBC mengajukan permohonan pada US District Court for the Southern District of Texas untuk melaksanakan Putusan Arbitrase Jenewa. Pertamina melakukan upaya hukum berupa penolakan pelaksanaan di pengadilan-pengadilan yang diminta oleh KBC untuk melakukan eksekusi.tempat penyelesaian sengketa yang dipilih oleh para pihak dalam JOC. Menurut Hikmahanto Juwana. Atas putusan arbitrase Jenewa. Pertamina melanjutkan upaya hukum pembatalan putusan arbitrase Jenewa di pengadilan Indonesia. Majelis arbitrase hanya menggunakan hati nuraninya sendiri berdasarkan pertimbangan ex aequeo et bono. Di samping itu. Hanya saja upaya ini tidak dilanjutkan (dismiss) karena tidak dibayarnya uang deposit sebagaimana dipersyaratkan oleh Swiss Federal Supreme Court. maka putusan pengadilan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak permohonan.000. Swiss. Sebagai upaya hukum. sementara Pertamina tidak diberikan proper notice mengenai arbitrase ini dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri. pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhirnya mengabulkan gugatan Pertamina dengan membatalkan putusan arbitrase internasional. Majelis arbitrase telah salah menafsirkan force majeure. UNCITRAL. badan usaha milik negara. Gugatan pembatalan tersebut didasarkan pada ketentuan pasal 70 UU no. Pada tanggal 18 Desember 2000 Arbitrase Jenewa membuat putusan agar Pertamina dan PLN membayar ganti rugi kepada KBC. kecuali di Indonesia. dan swasta yang berkaitan dengan pemerintah/badan usaha milik negara pada amar menimbangnya jelas-jelas dinyatakan bahwa Keputusan Pemerintah tersebut terkait dengan upaya mengamankan kesinambungan perekonomian dan jalannya pembangunan nasional. Pada tanggal 21 Pebruari 2001. padahal adalah sangat nyata. Apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan -alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti. Sayangnya putusan Pengadilan di Indonesia mengenai pembatalan kasus tersebut tidak komprehensif dari sisi legal. kurang lebih sebesar US$ 261. Majelis Arbitrase dianggap telah melampaui wewenangnya karena tidak menggunakan hukum Indonesia. Di dalam kasus ini hal ketertiban umum tidak disinggung-singgung. Adapun beberapa alasannya antara lain pengangkatan arbiter tidak dilakukan seperti yang telah diperjanjikan dan tidak diangkat arbiter yang telah dikehendaki oleh para pihak berdasarkan perjanjian. dalam kasus tersebut Putusan Arbitrase Internasional tidak dapat dibatalkan oleh pengadilan nasional. Pertamina tidak bersedia secara sukarela melaksanakannya. di Jenewa. Kasus Karaha Bodas Company adalah kasus hukum perdata Internasional di bidang hukum kontrak Internasional yang menarik. serta berdasarkan landasan konstitusional yang dimiliki oleh Presiden. 30 tahun 1999 tentang syarat-syarat pembatalan putusan Arbitrase Internasional yang berbunyi : Permohonan pembatalan hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang sudah didaftarkan di pengadilan. Dalam putusannya nomor 86/PN/Jkt. padahal hukum Indonesia adalah yang harus dipakai menurut kesepakatan para pihak. Alasan alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan dengan putusan pengadilan. Selanjutnya KBC mengajukan permohonan yang sama pada pengadilan Singapura dan Hong Kong. sehingga mestinya Pertamina tidak dapat dimintakan pertanggungjawab atas sesuatu yang di luar kemampuannya. Sementara itu. KBC telah melakukan upaya hukum berupa permohonan untuk pelaksanaan Putusan Arbitrase Jenewa di pengadilan beberapa negara di mana asset dan barang Pertamina berada.Pst/2002 tanggal 9 September 2002 . Kalaupun pengadilan .000. bahwa alasan tidak dapatnya Pertamina memenuhi kewajiban kontraknya adalah karena larangan dari Pemerintah Negara Indonesia yang berdaulat melalui Keppres nomor 39 tahun 1997 tanggal 20 September 1997 tentang Penangguhan/pengkajian kembali proyek Pemerintah. Pertamina telah meminta pengadilan di Swiss untuk membatalkan putusan arbitrase.

karena akar masalahnya adalah dari Keppres atau Pengaturan Pemerintah yang menyebabkan Pertamina tidak dapat memenuhi kewajiban kontraktualnya. bagi masing. bahkan mengabaikannya. o Beberapa bnentuk lembaga arbitrase internasional. pengadilan di negara lain yang sedang dimintakan untuk melaksanakan putusan arbitrase dapat saja tidak terikat. seyogianya hal tersebut harus diambil alih oleh Pemerintah. yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. Menurut pendapat kami. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) 4. BAB III PENUTUP 3. antara lain: 1. o Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional. London Court of International Arbitration (LCIA) 3. pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing. International Chamber of Commerce (ICC) 2.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing. maka apabila ada konsekuensi hukum dan klaim atau kerugian yang ditimbulkannya. tercantum di dalam konvensi New York 1958.1 Kesimpulan o Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian. o Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: o Arbitrase internasional. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) o Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri. Mengikuti ketentuan Pemerintah tidak boleh mendatangkan kerugian bagi diri sendiri. sejarah terbentuknya.nasional melakukan pembatalan. o Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui salah satunya contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional .