Arbitrase Internasional Label: all about EI BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Hubungan- hubungan internasional yang diadakan oleh subjek hukum internasional selalu ada kemungkinan munculnya sengketa di kemudian hari. Sengketa bisa saja muncul terkait perbatasan, perdagangan, dan lain- lain. Di dalam menyelesaikan sengketa ada beberapa cara yang bisa dipilih,yaitu melalui negosiasi, mediasi, pengadilan, dan arbitrase. Sebagai salah satu alternative penyelesaian sengketa, arbitrase dpandang sebagai cara yang efektif dan adil. Badan arbitrase akan berfungsi apabila para pihak sepakat untuk menyerahkan sengketa kepadanya baik sebelum sengketa muncul maupun setelah sengketa muncul. Arbitrase internasional telah banyak dipakai oleh para pelaku bisnis yang notabene sering terkait dengan kasus- kasus ekonomi, utamanya perdagangan dengan nominal angka yang dipe rsengketakan cukup mencengangkan bagi orang pada umumnya. Oleh karenanya, besar peranan arbitrase internasional dalam aksinya menyelesaikan setiap persengketaan dalam permasalahan bisnis terkait ranah internasional. Menyoal tentang apa itu arbitrase internasional, bagaimana sejarah dan dasar pembentukannya, seperti apa seperti apa saja bentuk lembaganya, bagaimana jalan proses putusan yang di hasilkan, serta penolakan maupun pembatalan terhadap putusannya, dan contoh kasus terkait dengannya. Guna menjawabapertanyaan tersebut, maka penulis membuat makalah yang berjudul ³Arbitrase Internasional´ B. Rumusan Masalah Dalam pembuatan makalah ini, penulis merumuskan masalah pada: 1. Apa pengertian arbitrase internasional ? 2. Bagaimana sejarah dan dasar pembentukan arbitrase internasional ? 3. Apa saja bentuk lembaga- lembaga arbitrase internasional ? 4. Bagaimana proses jalannya putusan arbitrase internasional ? 5. Bagaimana pembatalan dan penolakan putusan di dalam arbitrase internasional ? 6. Seperti apa contoh kasus pelaksanaan arbitrase internasional ? BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Arbitrase Internasional Arbitrase menurut Pasal 1 angka 1 Undang Undang Nomor 30 tahun 1999 adalah cara penyelesaian suatu sengketa perdata di luar pengadilan umum yang didasarkan pada Perjanjian Arbitrase yang dibuat secara tertulis oleh para pihak yang bersengketa. Black¶s Law Dictionary memberikan pengertian ³Arbitration. an arrangement for taking an abiding by the judgment of selected persons in some disputed matter, instead of carrying it to establish tribunals of justice, and is intended to avoid the formalities, the delay, the expense and vexation of ordinary litigation´. Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian, yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. Suatu arbitrase dianggap internasional apabila para pihak pada saat dibuatnya perjanjian yang

sesungguhnya badan arbitrase telah lama dipraktekkan. 2. C. ICC meletakkan dasar penyelesaian sengketa perdagangan bukan hanya dalam konteks ICC (Court of Arbitration). London Court of International Arbitration (LCIA) London Court of International Arbitration (LCIA) merupakan lembaga arbitrase yang digagas dan didirikan oleh the Court of Common Council of the City of London pada tahun 1891. International Chamber of Commerce (ICC) ICC berkedudukan di Paris yang didirikan atas prakarsa Asosiasi Dagang Internasional. Perhitungan biaya (cost) didasarkan pada jumlah biaya yang telah ditentukan oleh ICC dan jumlah biaya yang disengketakan. dari segi pembiayaan. award tersebut harus mendapat persetujuan dari ICC (international court of arbitration) yang memiliki kewenangan untuk membuat modifikasi. Domke. maka arbitrase ini tergolong arbitrase internasional. Oleh karena itu.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing. Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: 1. akan tetapi juga dalam konteks konsiliasi yang memiliki rules of conciliation tersendiri. Oleh karena itu sebagai sebuah badan administratif yang bersifat formal. akan tetapi mendaftarkan penyelenggaraan arbitrase ke seluruh dunia. Jika terjadi perselisihan di antara mereka. Lembaga-lembaga arbitrase internasional tersebut merupakan lembaga-lembaga arbitrase yang bersifat resmi dan didirikan oleh badan internasional yang sudah mapan maupun lembaga-lembaga yang bersifat regional. Lembaga-lembaga Arbitrase Internasional Meningkatnya kebutuhan dunia perdagangan internasional akan lembaga -lembaga arbitrase internasional dalam menyelesaikan sengketa perdagangan mengakibatkan kebutuhan akan eksistensi lembaga-lembaga juga meningkat. seperti Inggris dan Belanda. Sekretariat mensyaratkan pula biaya deposit sebelum badan arbitrase memulai pekerjaannya. sidang ICC dapat berlangsung dimana saja dalam menerapkan hukum bagi para pihak telah sepakat untuk menggunakan ICC. Badan arbitrase ICC merupakan salah satu lembaga arbitrase yang terkenal dimana setiap tahunnya terdapat hampir 400 kasus/sengketa perdagangan yang diserahkan ke ICC. Dalam hal para pihak yang bersengketa tidak sepakat terhadap beberapa isu (masalah) yang berkembangan dalam penanganan kasus tersebut seperti penetapan tempat. Sejarah dan Dasar Pembentukan Arbitrase Internasional Perkembangan sejarah arbitrase.bersangkutan mempunyai tempat usaha mereka (place of business) di negara-negara berbeda. LCIA . dimana sekretariat badan arbitrase akan mensyaratkan pembayaran administrasi dan biaya arbiter. cost yang dikeluarkan sangatlah besar. ICC tidak melaksanakan arbitrase secara tersendiri. Arbitrase internasional. Misalnya salah satu pihak memiliki tempat usaha di Amerika. Meskipun ICC bermarkas di Paris. dan lain sebagainya maka ICC memiliki kewenangan untuk menetapkannya.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri. Badan arbitrase memiliki hukum acara arbitrase tersendiri (rules of arbitration). sejarah terbentuknya. Konteks keputusan (award) yang dihasilkan. Menurut M. dan pihak lain memiliki tempat usaha di Indonesia. B. bagi masing. Praktek ini berlangsung pula pada zaman keemasan Romawi dan Yahudi (biblical times) serta terus berkembang terutama di negara. bangsa.negara dagang di Eropa. Kasus yang diserahkan melalui ICC akan diadili oleh arbiter dengan mendasarkan pada persoalan (kasus) yang menjadi kewenangan ICC. Menyangkut pembiayaan akan ditentukan oleh kedua belah pihak secara bersama -sama dan merata. dan mereka memilih cara penyelesaian melalui arbitrase.bangsa telah menggunakan cara penyelesaian sengketa melalui arbitrase sejak zaman Yunani kuno.

Meskipun demikian. UNCITRAL bekerjasama dengan organisasi atau lembaga yang relevant seperti ICCA untuk beberapa isu arbitrase. 1976. Selanjutnya. Pada umumnya. Akan tetapi (the Model Law) tidak menangani setiap persoalan yang berhubungan dengan arbitrase perdagangan internasional. The UNCITRAL Arbitration Rules. hanya ada dua instrument utama yang menangani arbitrase perdagangan internasional dalam sistem di Perserikatan bangsabangsa. Guidelines for Administering Arbitration. penyimpanan. Beberapa instrumen prinsip yang diadopsi oleh UNCITRAL adalah: The UNCITRAL Arbitraion Rules. perusahaanperusahaan yang terletak di Kota London dan lembaga-lembaga arbitrator. LCIA juga dapat memerintahkan para pihak untuk menyediankan keamanan terhadap seluruh atau sebagian dari apa yang dipersengketakan dalam arbitrase. The UNCITRAL Arbitration Rules. b. LCIA juga menangani sengketa-sengketa perdagangan pada umumnya sebagaimana yang dilakuk oleh an ICC. hanya saja jumlah kasus yang ditangani oleh LCIA relatif lebih kecil. The Model Law dapat dimodifikasi oleh negara-negara anggota. Konvensi ini juga tidak menangani prosedur arbitrase. para pihak yang bersengketa bebas untuk menggunakan kompetensi pengadilan terhadap tindakan conservatory preaward. seperti beberapa negara telah memodifikasi (the Model Law) sehingga dapat diterapkan ke dalam hukum nasional tanpa diskriminasi (equally). 1958 (the New York Convention). 1982. baik LCIA maupu ICC memiliki tanggungjawab yang sama terhadap prosedur lembaga/organisasi dan pengangkatan arbitrator. Kedua instrumen tersebut adalah: a. dan bahkan membuang barang-barang (property) yang berada di bawah kendali para pihak bersengketa. The UNCITRAL Conciliation Rules. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) adalah merupakan suatu komisi yang didirikan pada bulan Desember 1966 dengan tujuan untuk mengharmonisasikan dan mengunifikasi suatu hukum yang fokus ke perdagangan internasional. negara-negara sering memasukkan pasalpasal tambahan (additional provisions) ke dalam hukum nasional masing-masing negara yang menadopsi (the Model Law). 1980. 1976. Disamping itu. The Model Law on International Commercial Arbitration. Di samping itu. Sebagai dampaknya. Tujuan utama UNCITRAL adalah untuk mempersiapkan suatu model hukum yang ideal dalam menghadapi divergensi yang ada dalam penggunaan aturan -aturan arbitrase dan hukum nasional. The United Nations Convention on the Recognition and Enforcement on Foreign Arbitral Awards. 1985. The New York Convention menyiapkan pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan perjanjian arbitrase. LCIA dapat mengangkat seorang arbitrator yang tidak independent dan atau sebaliknya. Akan tetapi. Konvensi ini dalam prakteknya terpisah dengan ketentuan domestik masing-masing negara anggota Konvensi yang berakibat pada interpretasi yang berbeda. Sebelum eksisnya the Model Law. Konvensi ini adalah salah satu Konvensi yang tersukses dalam hubungan internasional yang telah ditandatangani oleh 120 negara per 16 Desember 1998. justru sebaliknya. Prosedur arbitrase menjadi menjadi salah satu ³subject matters´ meskipun dalam batasan tertentu. penjualan. Model hukum (the Model Law) arbitrase perdagangan internasional merupakan sebuah model untuk negara-negara yang mengadopsi ke dalam hukum nasionalnya di bidang arbitrase perdagangan internasional. Dalam konteks pengangkatan arbitrator. akan tetapi dalam mengimplementasikan pekerjaannya. Hal pertama yang dilakukan adalah . 1976. Guidelines on Pre-Hearing Conferences. Hanya negara yang dipersyaratkan menjadi anggota UNCITRAL.merupakan lembaga arbitrase tertua di dunia yang terdiri dari Chamber of Commerce. Arbiter arbitrase LCIA memiliki kewenangan untuk memerintahkan penjagaan. 3.

Sehingga pada kenyataannya. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) ISCID dibuat berdasar pada Washington Convention on the settlement of Investment Disputes between States and National of Other States. The Model Law juga mengakui peranan yang dimainkan oleh lembaga-lembaga arbitrase dalam arbitrase perdagangan internasional. is didesain sebagai arbitrase ad hoc. the Model Law menentukan bahwa putusan dapat saja ditolak jika: ‡ Invalid. 9. ‡ Salah satu pihak tidak memberikan pemberitahuan tentang pengangkatan arbitrator dan atau proses arbitrase. ‡ Pengadilan menemukan bahwa persoalan yang diajukan ke arbitrase adalah bukan persoalan yang dapat atau harus diselesaikan melalui lembaga arbitrase. Adapun lingkup utama dari Uncitral Model Law adalah: ‡ Bentuk dan definisi perjanjian arbitrase. para pihak diberi kebebasan untuk menentukan prosedur yang tepat (Pasal 19). including an institution. ‡ Hukum yang dapat diterapkan dalam arbitrase. Akhirnya. Negara-negara penandatangan sepakat untuk mengikat diri (consent to be bound) untuk menerapkan . ‡ Pengangkatan Arbitrase tribunal. Lebih dari 80 negara telah meratifikasi ISCID termasuk didalmnya Indonesia. Pasal 2 huruf d disebutkan bahwa: ³where a provisions of this law.mengunifikasi penerapan hukum nasional dalam arbitrase. adapun perjanjain arbitrasenya dapat dilihat pada Pasal 7 the Model law. termasuk didalamnya substansi hukum apa yang tepat untuk digunakan (Pasal 28 ayat 1 dan 2). Dalam konteks pelaksanaan dan penerapan putusan. leaves the parties free to determine a certain issues such freedom includes the right of the parties to authorize a third party. ‡ Komposisi dari tribunal arbitase yang tidak sesuai dengan perjanjian para pihak. 35. except article 28 [concerning the rules applicable to the substance of the dispute]. dan 36. Dalam konteks lingkup aplikasi. Sehingga dapat dikatakan bahwa aturan-aturan arbitrase dapat digunakan baik arbitrase yang bersifat ad hoc maupun permanent. tujuan dari Model Law adalah untuk mempromosikan penyatuan prosedur arbitra dan se mengalamatkannya pada kebutuhan mendasar dari arbitrase perdagangan internasional. banyak pasal-pasal dalam the Model law yang diderogasi oleh para pihak. ‡ Putusan arbitrase bertentangan dengan kebijakan publik dari negara (Pasal 34 dan 36) 4. Sebuah draf Model Law mulai diprakarsai dengan meluaskan lingkup dari instrument pada tahun 1982. termasuk didalamnya prosedur pengangkatan (Pasal 11) ayat 1 dan 3). Prinsip dasar dari the Model Law adalah pengakuan terhadap kebebasan para pihak untuk menlaksanakan arbitrase dengan batasan/larangan yang minimal. ‡ Putusan arbitrase melebihi lingkup perjanjian yang dilakukan. Demikian pula jumlah arbitrase dapat ditunjuk satu atau tiga orang (Pasal 10). ISCID hanya tersedi pada kasus-kasus dimana salah satu pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) da ri suatu negara. 21 Juni 1985 UNCITRAL diadopsi dan Majelis Umum PBB juga mengadopsinya pada Tanggal 11 Desember 1985. Adapun menyangkut proceeding. 1965 (ISCID Convention. ‡ Pengakuan dan pelaksaan putusan arbitrase. the Model law merujuk pada Pasal 1 dengan beberapa pengecualiaan pada Pasal 8. Seluruh negara-negara anggota telah sepakat bahwa tidak ada kemungkinan untuk menerapkan putusan ISCID sebelum adanya penetapan pengadilan dimana tempat arbitrase ditentukan. Jadi. to make that determination´.

Konvensi ini mengandung 16 pasal yang dari pasal-pasal tersebut dapat ditarik 5 prinsip berikut. Para pihak bersepakat untuk menentukan arbitrator dan tempat pelaksanaan arbitrase termasuk didalamnya persoalan prosedur. antara lain: Prinsip pertama. 8. Secara statistik. khususnya di antara negara anggota Konvensi. . Pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional Salah satu fokus utama dalam Konvensi New York 1958. yakni Convetion on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards yang ditandatangani 10 Juni 1958 di kota New York. para pakar arbitrase waktu itu mengakui bahwa Konvensi ini merupakan satu langkah perbaikan dalam hal pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri. Persyaratan komersial berarti bahwa suatu negara yang telah meratifikasi Konvensi New York hanya akan menerapkan ketentuan Konvensi terhadap sengketa-sengketa ³komersial´ menurut hukum nasionalnya. Ketika Konvensi ini lahir.dan melaksanakan putusan ISCID sebagaimana putusan final dari pengadilan nasional negara-negara anggota. Thai Arbitration Centre. Indonesian National Arbitration Association (BANI) D. Apabila keputusan tersebut ternyata dibuat di negara yang bukan anggota. 6. Dalam hal ini. yang pertama adalah persyaratan resiprositas (reciprocity reservation). Konsekuensi dari diajukannya persyaratan pertama. 4. Konvensi New York mulai berlaku pada 2 Juni 1959. yaitu Konvensi ini menghindari proses pelaksanaan ganda (double enforcement process). Terdapat dua persyaratan yang diperkenankan. 2. negara-negara dapat mengajukan persyaratan (reservasi) terhadap isi ketentuan Konvensi New York (pasal 1). 5. jumlah kasus yang masuk ke ICSID sangat sedikit dalam hitungan puluhan tahun. Hong Kong International Arbitration Centre (HKIAC). 7. Prinsip ketiga. yaitu bahwa negara yang bersangkutan baru akan menerapkan ketentuan Konvensi apabila keputusan arbitrase tersebut dibuat di negara yang juga adalah anggota Konvensi New York. Japan Commercial Arbitration Association. yakni Konvensi ini mengakui prinsip keputusan arbitrase yang mengikat tanpa perlu ditarik dalam keputusannya. Pada waktu meratifikasi atau mengikatkan diri (aksesi) terhadap konvensi. Konvensi ini hanya mensyaratkan tiga ratifikasi agar berlaku. ISCID mengawasi dan menyediakan fasilitas untuk arbitrase tetapi tidak melaksanakan arbitrase. 3. Yang kedua adalah persyaratan komersial (commercial-reservation). Korean Commercial Arbitration Board. Prinsip kedua. Selanjutnya Konvensi akan berlaku tiga bulan sejak jumlah ratifikasi ketiga terpenuhi. China International Economic and Trade Arbitration Commission (CIETAC). yakni Konvensi ini menerapkan prinsip pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase luar negeri dan menempatkan keputusan tersebut pada kedudukan yang sama dengan keputusan peradilan nasional. ISCID memiliki kewenangan untuk hanya menyediakan fasilitas terhadap sengketa yang ada sepanjang pihak yang bersengketa adalah negara atau agency (lembaga) dari suatu negara. Singapore International Arbitration Centre (SIAC) dan the Singapore Institute of Arbitration. Beberapa lembaga Arbitrase di Kawasan Aisa-Pasifik adalah: 1. Kuala Lumpur Regional Centre for Arbitration. maka negara tersebut tidak akan menerapkan ketentuan Konvensi.

Pengadilan Negeri. III dan V. berdasarkan Undangundang Nomor 5 Tahun 1968 tentang Persetujuan atas Konvensi tentang Penyelesaian Perselisihan antara Negara dan Warga Negara Asing mengenai Penanaman Modal tanggal 29 Juni 1968.alasan penolakan terhadap keputusan arbitrase intenasional. Pengadilan Tinggi atau Mahkamah Agung. Konvensi New York juga mengatur tentang pengakuan (recognition) terhadap suatu keputusan arbitrase. tahap pemberian eksekuatur c. Ketentuan utama Konvensi terdapat dalam pasal I. Konvensi tidak mengaturnya siapa pihak yang berwenang untuk mengeksekusi keputusan tersebut. Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. 2. lebih komprehensif daripada hukum nasional pada umumnya. maka dalam hal ini meliputi tiga tahap : a. Convention on the Recognition and Enforcement of Foreign Arbitral Awards atau New York Convention 1958 disahkan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 34 Tahun 1981. Konvensi New York mensyaratkan penyederhanaan dokumentasi yang diberikan oleh pihak yang mencari pengakuan dan pelaksanaan Konvensi. Pasal III. atau ICSID Convention. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and Nationals of Other States. dan harus dilengkapi data-data : a. Indonesia baru meratifikasi 2 konvensi internasional yang berhubungan dengan pelaksanaan putusan arbitrase asing yaitu : 1. mewajibkan setiap negara peserta untuk mengakui keputusan arbitrase yang dibuat di luar negeri mempunyai kekuatan hukum dan melaksanakannya sesuai dengan hukum (acara) nasional di mana keputusan tersebut akan dilaksanakan. Konvensi hanya menyebutkan saja tentang daya mengikat suatu keputusan dan tentang bagaimana pelaksanaan atau eksekusinya. Pasal V. mencantumkan alasan. yaitu: Pasal I. Konvensi New York lebih lengkap. dengan terbitnya Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) No. Tentang bagaimanakah putusan arbitrase asing tersebut dilaksanakan. 1 Tahun 1990 putusan arbitrase asing dapat dilaksanakan di Indonesia. tahap eksekusi putusan Putusan arbitrase asing baru dapat dilaksanakan/ dieksekusi setelah putusan tersebut diserahkan dan didaftarkan (deponir/deposit) oleh arbiter atau kuasanya kepada Kepaniteraan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. bahwa Konvensi berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang dibuat dalam wilayah suatu negara selain daripada negara di mana pengakuan dan pelaksanaan keputusan arbitrase itu diminta dan berlaku terhadap putusan-putusan arbitrase yang bukan domestic di suatu negara di mana pengakuan dan pelaksanaannya diminta. Baru pada tahun 1990. Berbeda dengan hukum nasional pada umumnya yang hanya mengatur tentang pelaksanaan (enforcement) suatu keputusan pengadilan (termasuk arbitrase). Sekalipun pada tahun 1981 kita sudah meratifikasi konvensi New York 1958. akan tetapi putusan arbitrase asing belum dapat dilaksanakan secara efektif . Seperti telah dikemukakan diatas. tidak detail. lembar asli atau salinan otentik putusan arbitrase asing b. karena menurut Mahkamah Agung belum ada aturan pelaksanaannya.Prinsip keempat. dan kemudian dikuatkan lagi dengan lahimya Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa. Prinsip kelima. terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia . ketentuan pasal ini hanya pokoknya saja tentang pelaksanaan keputusan arbitrase. tahap penyerahan dan pendaftaran putusan b.

Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a hanya dapat dilaksanakan di Indonesia terbatas pada putusan yang tidak bertentangan dengan ke tertiban umum. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a terbatas pada putusan yang menurut ketentuan hukum Indonesia termasuk dalam ruang lingkup hukum perdagangan. . yang antara lain: . Prinsipnya yaitu bahwa pihak yang mengajukan penolakan keputusan arbitrase harus mengajukan dan membuktikan alasan -alasan penolakan tersebut. tercantum di dalam konvensi New York 1958. suatu putusan pengadilan dan berlaku juga terhadap putusan arbitrase asing.undang Arbitrase menyatakan bahwa tatacara untuk melaksanakan suatu putusan arbitrase asing tersebut berpedoman kepada Hukum Acara Perdata yang berlaku. terjemahan resminya dalam bahasa Indonesia e. baik secara bilateral maupun multilateral.melebihi kewenangan arbiter.telah memenuhi syarat. dijalankan dengan tatacara sebagai berikut : Peringatan/tegoran (aanmaning)i Sita Eksekusi (Executorial Beslag). i Pasal 66 UU no. keterangan dari perwakilan diplomatik Republik Indonesia yang bersangkutan. 30 tahun 1999. atau dari Mahkamah Agung dalam hal salah satu pihaknya menyangkut Negara Republik Indonesia. Pembatalan dan Penolakan Putusan Arbitrase Internasional Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional.bertentangan dengan ketertiban umum.i Penjualan/Lelang. Putusan Arbitrase Internasional hanya diakui serta dapat dilaksanakan di wilayah hukum Republik Indonesia. hanya dapat dilaksanakan setelah memperoleh eksekuatur dari Mahkamah Agung Republik Indonesia yang selanjutnya dilimpahkan kepada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Undang . Putusan arbitrase asing tersebut dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing. Menurut hukum acara perdata Indonesia. Terdapat 7 alasan penolakan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase internasional. sengketa yang tidak boleh didamaikan. Putusan Arbitrase Internasional sebagaimana dimaksud dalam huruf a yang menyangkut Negara Republik Indonesia sebagai salah satu pihak dalam sengketa. d. dan e. Putusan Arbitrase Internasional dijatuhkan oleh arbiter atau majelis arbitrase di suatu negara yang dengan negara Indonesia terikat pada perjanjian. diwajibkan terlebih dahulu untuk memeriksa secara substantif.i Pengosongan. Putusan Arbitrase Internasional dapat dilaksanakan di Indonesia setelah memperoleh eksekuatur dari Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.tentang hak dalam kekuasaan para pihak. mengenai pengakuan dan pelaksanaan Putusan Arbitrase Internasional. . bertentangan dengan kesusilaan. lembar asli atau salinan otentik perjanjian d. apakah putusan arbitrase asing tersebut: .c. dalam ruang lingkup perdagangan. Ketua Pengadilan Negeri. apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : a. . sebelum memberikan perintah pelaksanaan (eksekuatur) terhadap putusan arbitrase yang bersangkutan. b. E. c.

Dalam perjalanannya ternyata proyek kelistrikan ini ditangguhkan oleh Pemerintah berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 39 tahun 1997 tertanggal 20 September 1997. atau keputusan tersebut mengandung hal-hal yang berada di luar dari hal-hal yang seharusnya diputuskan. atau 4. atau 5. Dengan kata lain. Pada pasal 65 Undang-undang no. Pihak terhdap mana keputusan diminta tidak diberikan pemberitahuan yang sepatutnya tentang penunjukan arbitrator atau persidangan arbitrase atau tidak dapat mengajukan kasusnya. 30 tahun 1999 di bawah sub judul arbitrase internasional berbunyi : Yang berwenang menangani masalah pengakuan dan pelaksanaan putusan arbitrase internasional adalah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Terhadap putusan arbitrase Internasional. atau. 30 tahun 1999 tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa menyatakan bahwa terhadap arbiter dapat diajukan tuntutan ingkar apabila terdapat cukup alasan dan cukup bukti otentik yang menimbulkan keraguan bahwa arbiter akan melakukan tu gasnya tidak secara bebas dan akan berpihak dalam mengambil putusan. Di sisi lain dalam pasal 456 RV atau Hukum Acara Perdata menyebutkan bahwa pengadilan Indonesia tidak akan mengakui dan melaksanakan putusan pengadilan yang dibuat di negara lain. Dari pengertian pasal tersebut bukan saja pengadilan berwenang untuk menolak mengeksekusi suatu putusan arbitrase. Pengadilan hukum di Indonesia dapat melakukan pengingkaran pengakuan (denial of awards) akan substansi yang telah diputus oleh lembaga arbitrase internasional. Keputusan yang dikeluarkan tidak menyangkut hal-hal yang diserahkan untuk diputuskan oleh arbitrase. Perjanjian kersasama ini bertujuan untuk memasok kebutuhan listrik PLN dengan memanfaatkan tenaga panas bumi yang ada di Karaha Bodas. Bahwa para pihak yang terikat dalam perjanjian tersebut ternyata menurut hukum nasionalnya tidak mampu atau menurut hukum yang mengatur perjanjian tersebut atau menurut hukum negara di mana keputusan tersebut dibuat apabila tidak ada petunjuk hukum mana yang berlaku.1. Contoh Kasus Penyelesaian Sengketa Melalui Arbitrase Internasional Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional. Pengakuan atas daya ikat putusan arbitrase. pihak yang bersangkutan harus mengajukan gugatan baru di Indonesia. KBC pada tanggal 30 April 1998 memasukkan gugatan ganti rugi ke Arbitrase Jenewa sesuai dengan . dan juga terhadap eksekusi (denial of awards) terhadap objek arbitrase yang ada di wilayah jurisdiksi hukum Indonesia. apabila hendak mengeksekusi suatu putusan arbitrase Internasional. tidak sesuai dengan hukum nasional tempat arbitrase berlangsung. Dampak penangguhan adalah kerjasama Pertamina dengan KBC tidak dapat dilanjutkan. Pada tanggal yang sama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) di satu pihak dan Pertamina serta KBC pada pihak lain menandatangani perjanjian Energy Supply Contract (ESC). 2. pada pasal 60 yang berbunyi : Putusan arbitrase bersifat final dan mempunyai kekuatan hukum tetap dan mengikat para pihak. Pasal 22 ayat 1 Undang-undang no. Keputusan tersebut belum mengikat terhadap para pihak atau dikesampingkan atau ditangguhkan oleh pejabat yang berwenang di negara di mana keputusan dibuat. Jawa Barat. 3. Komposisi wewenang arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan persetujuan para pihak. Sengketa antara Pertamina melawan Karaha Bodas corporation (KBC) bermula dengan ditandatanganinya perjanjian Joint Operation Contract (JOC) pada tanggal 28 November 1994. Garut. F. bahkan memiliki kewenangan untu k menolak pengakuan terhadap materi yang telah diputuskan oleh lembaga arbitrase internasional. diletakkan di bawan sub judul arbitrase nasional.

sementara Pertamina tidak diberikan proper notice mengenai arbitrase ini dan tidak diberi kesempatan untuk membela diri.000. UNCITRAL. Pertamina melanjutkan upaya hukum pembatalan putusan arbitrase Jenewa di pengadilan Indonesia. Pertamina melakukan upaya hukum berupa penolakan pelaksanaan di pengadilan-pengadilan yang diminta oleh KBC untuk melakukan eksekusi. Majelis arbitrase telah salah menafsirkan force majeure.Pst/2002 tanggal 9 September 2002 . Kalaupun pengadilan . di Jenewa. Swiss. KBC mengajukan permohonan pada US District Court for the Southern District of Texas untuk melaksanakan Putusan Arbitrase Jenewa. Pertamina tidak bersedia secara sukarela melaksanakannya. Selanjutnya KBC mengajukan permohonan yang sama pada pengadilan Singapura dan Hong Kong. badan usaha milik negara. Dalam putusannya nomor 86/PN/Jkt. Majelis Arbitrase dianggap telah melampaui wewenangnya karena tidak menggunakan hukum Indonesia. Adapun beberapa alasannya antara lain pengangkatan arbiter tidak dilakukan seperti yang telah diperjanjikan dan tidak diangkat arbiter yang telah dikehendaki oleh para pihak berdasarkan perjanjian. Menurut Hikmahanto Juwana. dan swasta yang berkaitan dengan pemerintah/badan usaha milik negara pada amar menimbangnya jelas-jelas dinyatakan bahwa Keputusan Pemerintah tersebut terkait dengan upaya mengamankan kesinambungan perekonomian dan jalannya pembangunan nasional. Alasan alasan permohonan pembatalan yang disebut dalam pasal ini harus dibuktikan dengan putusan pengadilan. Kasus Karaha Bodas Company adalah kasus hukum perdata Internasional di bidang hukum kontrak Internasional yang menarik. Sayangnya putusan Pengadilan di Indonesia mengenai pembatalan kasus tersebut tidak komprehensif dari sisi legal. Apabila pengadilan menyatakan bahwa alasan -alasan tersebut terbukti atau tidak terbukti. Hanya saja upaya ini tidak dilanjutkan (dismiss) karena tidak dibayarnya uang deposit sebagaimana dipersyaratkan oleh Swiss Federal Supreme Court. Sementara itu. maka putusan pengadilan ini dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan bagi hakim untuk mengabulkan atau menolak permohonan. padahal adalah sangat nyata. serta berdasarkan landasan konstitusional yang dimiliki oleh Presiden. 30 tahun 1999 tentang syarat-syarat pembatalan putusan Arbitrase Internasional yang berbunyi : Permohonan pembatalan hanya dapat diajukan terhadap putusan arbitrase yang sudah didaftarkan di pengadilan. Di dalam kasus ini hal ketertiban umum tidak disinggung-singgung. Majelis arbitrase hanya menggunakan hati nuraninya sendiri berdasarkan pertimbangan ex aequeo et bono. Atas putusan arbitrase Jenewa. kecuali di Indonesia. Sebagai upaya hukum. Dalam menyikapi upaya hukum KBC. Gugatan pembatalan tersebut didasarkan pada ketentuan pasal 70 UU no. Di samping itu. Pada tanggal 18 Desember 2000 Arbitrase Jenewa membuat putusan agar Pertamina dan PLN membayar ganti rugi kepada KBC. Pertamina telah meminta pengadilan di Swiss untuk membatalkan putusan arbitrase. dalam kasus tersebut Putusan Arbitrase Internasional tidak dapat dibatalkan oleh pengadilan nasional. kurang lebih sebesar US$ 261. bahwa alasan tidak dapatnya Pertamina memenuhi kewajiban kontraknya adalah karena larangan dari Pemerintah Negara Indonesia yang berdaulat melalui Keppres nomor 39 tahun 1997 tanggal 20 September 1997 tentang Penangguhan/pengkajian kembali proyek Pemerintah. Pada tanggal 14 Maret 2002 Pertamina secara resmi mengajukan gugatan pembatalan Putusan Arbitrase Jenewa kepada PN Jakarta Pusat.tempat penyelesaian sengketa yang dipilih oleh para pihak dalam JOC. padahal hukum Indonesia adalah yang harus dipakai menurut kesepakatan para pihak. Pada tanggal 21 Pebruari 2001. sehingga mestinya Pertamina tidak dapat dimintakan pertanggungjawab atas sesuatu yang di luar kemampuannya.000. pengadilan Negeri Jakarta Pusat akhirnya mengabulkan gugatan Pertamina dengan membatalkan putusan arbitrase internasional. KBC telah melakukan upaya hukum berupa permohonan untuk pelaksanaan Putusan Arbitrase Jenewa di pengadilan beberapa negara di mana asset dan barang Pertamina berada.

tercantum di dalam konvensi New York 1958. London Court of International Arbitration (LCIA) 3. o Beberapa bnentuk lembaga arbitrase internasional. pengadilan di negara lain yang sedang dimintakan untuk melaksanakan putusan arbitrase dapat saja tidak terikat. United Nations Commission on International Trade law (UNCITRAL) 4. o Penyelesaian sengketa melalui arbitrase internasional dapat dilihat melalui salah satunya contoh kasus Pertamina ± Karaha Bodas melalui arbitrase internasional . International Chamber of Commerce (ICC) 2. yaitu arbitrase yang ruang lingkup keberadaan dan yurisdiksinya bersifat internasional. BAB III PENUTUP 3. antara lain: 1.nasional melakukan pembatalan. bagi masing. seyogianya hal tersebut harus diambil alih oleh Pemerintah.masing jenis lembaga arbitrase internasional itu sendiri. bahkan mengabaikannya. maka apabila ada konsekuensi hukum dan klaim atau kerugian yang ditimbulkannya.masing negara memiliki perbedaan yang terlihat dalam bentuk masing. Menurut pendapat kami. o Penolakan terhadap putusan arbitrase internasional. pada Pasal V memuat tentang alasan-alasan yang dapat diajukan oleh para pihak untuk menolak pengakuan dan pelaksanaan suatu keputusan arbitrase asing.1 Kesimpulan o Arbitrase internasional dapat pula diberikan pengertian. Convention on the Settlement of Investment Disputes Between States and National of Other states (ISCID Convention) o Lembaga yang memberikan otoritas tunggal untuk menangani masalah pengakuan (recognition) dan pelaksanaan (enforcement) putusan arbitrase asing di Indonesia ialah Ketua Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. sejarah terbentuknya. karena akar masalahnya adalah dari Keppres atau Pengaturan Pemerintah yang menyebabkan Pertamina tidak dapat memenuhi kewajiban kontraktualnya. o Beberapa bentuk lembaga arbitrase internasional antara lain: o Arbitrase internasional. Mengikuti ketentuan Pemerintah tidak boleh mendatangkan kerugian bagi diri sendiri.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful