BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

oleh petugas medis. Inseminasi buatan pada manusia sebagai suatu teknologi reproduksi berupa teknik menempatkan sperma di dalam vagina wanita, pertama kali berhasil dipraktekkan pada tahun 1970. Awal berkembangnya inseminasi buatan bermula dari ditemukannya teknik pengawetan sperma. Sperma bisa bertahan hidup lama bila dibungkus dalam gliserol yang dibenamkan dalam cairan nitrogen pada temperatur -321 derajat Fahrenheit. Pada mulanya program pelayanan ini bertujuan untuk menolong pasangan suami istri yang tidak mungkin memiliki keturunan secara alamiah disebabkan tuba falopii istrinya mengalami kerusakan yang permanen. Namun kemudian mulai ada perkembangan dimana kemudian program ini diterapkan pula pada pasutri yang memiliki penyakit atau kelainan lainnya yang menyebabkan tidak dimungkinkan untuk memperoleh keturunan. Otto Soemarwoto dalam bukunya Indonesia Dalam Kancah Isu Lingkungan Global , dengan tambahan dan keterangan dari Drs. Muhammad Djumhana, S.H., menyatakan bahwa bayi tabung pada satu pihak merupakan hikmah. Ia dapat membantu pasangan suami istri yang subur tetapi karena suatu gangguan pada organ reproduksi, mereka tidak dapat mempunyai anak. Dalam kasus ini, sel telur istri dan sperma suami dipertemukan di luar tubu h dan zigot yang terjadi ditanam dalam kandungan istri. Dalam hal ini kiranya tidak ada pendapat pro dan kontra terhadap bayi yang lahir karena merupakan keturunan genetik suami dan istri. Akan tetapi seiring perkembangannya, mulai timbul persoalan dimana semula program ini dapat diterima oleh semua pihak karena tujuannya yang mulia menjadi pertentangan. Banyak pihak yang kontra dan pihak yang pro. Pihak yang pro dengan program ini sebagian besar berasal dari dunia kedokteran dan mereka yang kontra berasal dari kalangan alim ulama. Makalah ini akan membahas mengenai aspek hukum yang menekankan pada status hukum dari si anak dan segala akibat yang mengikutinya.

P

elayanan terhadap bayi tabung dalam dunia kedokteran dikenal dengan istilah

fertilisasi-in-vitro yang memiliki pengertian sebagai berikut : Fertilisasi-in-vitro

adalah pembuahan sel telur oleh sel sperma di dalam tabung petri yang dilakukan

1|HUKUM BAYI TAB UNG

Memenuhi salah satu tugas individu dari mata kuliah Hukum keperawatan. 2.1.3 Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN TEORI 2.1 Latar Belakang 1.2 Saran 2|HUKUM BAYI TAB UNG . 1.2 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini antara lain sebagai berikut : 1. dan aspek hukum yang mengatur bayi tabung.3 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN 1.3 Permasalahan Hukum Perdata yang Timbul Dalam Inseminasi Buatan (Bayi Tabung) 2.1 Contoh Kasus 3. proses.1 Simpulan 4.2 Tujuan Penulisan 1.2Pembahasan Kasus BAB IV PENUTUP 4. Mengetahui pengertian.1 Pengertian 2.2 Proses Bayi Tabung 2.4 Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Terhadap Inseminasi Buatan (Bayi Tabung) BAB III KASUS DAN PEMBAHASAN 3.

Karena anak hasil bayi tabung merupakan anak sah. Hal ini dilakukan untuk menjamin status anak tersebut sebagai anak sah dari pasangan suami isteri tersebut. Untuk membuktikan secara hukum bahwa seorang anak adalah anak sah dari pasangan suami isteri. Penetapan seorang anak sebagai anak sah adalah berdasar pada pasal 42 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Prosesnya terdiri dari mengendalikan proses ovulasi secara hormonal. Sehingga anak hasil bayi tabung dalam hukum waris termasuk kedalam ahli waris golongan I yang diatur dalam pasal 852 KUH Perdata. Dalam kedua peraturan tersebut pelaksanaan bayi tabung yang diperbolehkan hanya kepada pasangan suami isteri yang sah. Pelaksanaan bayi tabung tersebut diatur dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi Buatan.1 Pengertian B ayi tabung atau pembuahan in vitro (bahasa Inggris: in vitro fertilisation) adalah sebuah teknik pembuahan dimana sel telur (ovum) dibuahi di luar tubuh wanita. Teknik Bayi Tabung diperuntukkan bagi pasangan suami isteri yang mengalami masalah infertilitas. maka hak dan kewajiban dari anak yang dilahirkan dengan menggunakan program bayi tabung sama dengan anak yang tidak menggunakan program bayi tabung. Akta tersebut berisi nama. 3) adanya gangguan kekebalan dimana terdapat zat anti terhadap sperma di tubuh isteri. tanggal.BAB II TINJAUAN TEORI 2. Bayi tabung adalah salah satu metode untuk mengatasi masalah kesuburan ketika metode lainnya tidak berhasil. Di Indonesia program bayi tabung telah dilindungi. 3|HUKUM BAYI TAB UNG . 2) lendir rahim isteri yang tidak normal. hari. Program bayi tabung merupakan salah satu cara untuk memiliki anak bagi pasangan suami isteri yang mengalami infertilitas. lalu menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian embrionya ditanam dalam rahim isteri. kota anak tersebut lahir dan nama kedua orang tua dari anak tersebut. yang dibutuhkan adalah sebuah akta kelahiran dari anak tersebut. pemindahan sel telur dari ovarium dan pembuahan oleh sel sperma dalam sebuah medium cair. Pasien Bayi Tabung umumnya wanita yang menderita kelainan sebagai berikut : 1) kerusakan pada saluran telurnya.

2) infeksi alat kandungan. dan 4) Sebab operasi atau pengangkatan rahim yang pernah dijalani.4) tidak hamil juga setelah dilakukan bedah saluran telur atau seteleh dilakukan pengobatan endometriosis. 3) tumor rahim. Adapun teknik Inseminasi Buatan lebih disebabkan karena faktor sulitnya terjadi pembuahan alamiah karena sperma suami yang lemah atau tidak terjadinya pertemuan secara alamiah antara sperma dan sel telur. teknik ini diperuntukkan bagi mereka yang pada umumnya memiliki kelainan mutu sperma yang kurang baik. zigot itu dapat dipindahkan ke rahim orang lain. Setelah sperma dan sel telur dicampur didalam tabung di luar rahim (in vitro). hukum teknik Bayi Tabung dan Inseminasi Buatan terhadap manusia dapat dilihat pada table berikut ini : No 1 Nama Teknik / Jenis Teknik Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis I Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis II Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis III Bayi Tabung (IVF-ET) Sperma Suami Suami Ovum Isteri Isteri Media Pembuahan Rahim Isteri Rahim lain/ sewaan 2 orang titipan/ 3 Suami Orang donor/ ovum lain/ bank Rahim Isteri 4 Suami Orang lain/ Rahim orang 4|HUKUM BAYI TAB UNG . seperti oligospermia atau jumlah sperma yang sangat sedikit sehingga secara alamiah sulit diharapkan terjadinya pembuahan. 5) sindroma LUV (Luteinized Unruptured Follicle) atau tidak pecahnya gelembung cairan yang berisi sel telur. kemudian hasil campuran yang berupa zygote atau embrio yang dinyatakan baik dan sehat itu ditransplantasikan ke rahim isteri atau rahim orang lain. Sedangkan pada suami. Secara ringkas. dan 6) sebab-sebab lainnya yang belum diketahui. Secara medis. Hal ini disebabkan karena rahim isteri mengalami gangguan antara lain : 1) kelainan bawaan rahim (syndrome rokytansky).

2 Proses Bayi Tabung 1) Fertilisasi In Vitro Dalam melakukan fertilisasi-in-virto transfer embrio dilakukan dalam tujuh tingkatan dasar yang dilakukan oleh petugas medis. ketiga keempat) atau 9 Inseminasi Buatan Suami Isteri Rahim Isteri dengan sperma suami (Arificial Insemination by a Husband = AIH) 10 Inseminasi Buatan Donor Isteri Rahim Isteri dengan sperma donor (Arificial Insemination by a Donor = AID) 2.Jenis IV 5 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis V Orang lain/ donor/ bank sperma 6 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis VI Orang lain/ donor/ bank sperma 7 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis VII Orang lain/ donor/ bank sperma 8 Bayi Tabung (IVF-ET) Jenis VIII Suami donor/ ovum Isteri bank lain/ /sewaan titipan Rahim Isteri Isteri Rahim lain/ sewaan orang titipan/ Orang donor/ ovum lain/ bank Rahim / sewaan isteri sebagai titipan Isteri Isteri yang lain (isteri ke dua. yaitu : 5|HUKUM BAYI TAB UNG .

Pada periode ini tinggal menunggu terjadinya kehamilan. 2) Fertilisasi In Vitro. dilakukan pemeriksaan air kemih untuk kehamilan. Sel telur yang telah dibuahi kemudian mengalami serangkaian proses pembelahan sel sampai menjadi embrio. kemudian sel telur tersebut dibuahi dengan sel sperma suaminya yang telah diproses sebelumnya dan dipilih yang terbaik. Inseminasi Artifisial dan Pengontrolan Reproduksi Fertilisasi in vitro.1990). Pemantauan dilakukan 18-20 jam kemudian dan keesokan harinya diharapkan sudah terjadi pembuahan sel. dan seminggu kemudian dipastikan dengan pemeriksaan ultrasonografi. (3) Pengambilan sel telur dilakukan dengan penusukan jarum (pungsi) melalui vagina dengan tuntunan ultrasonografi. (6) Embrio yang berada dalam tingkat pembelahan sel ini. Sel-sel telur ini kemudian diambil melalui prosedur pembedahan. (5) Sel telur dan sperma yang sudah dipertemukan di dalam tabung petri kemudian dibiakkan di dalam lemari pengeram. inseminasi artifisial. Kemudian diimplantasikan ke dalam rahim istri. (4) Setelah dikeluarkan beberapa sel telur. Teknologi yang lebih baru pada inseminasi artifisial adalah 6|HUKUM BAYI TAB UNG . (2) Pematangan sel-sel telur sipantau setiap hari melalui pemeriksaan darah Istri dan pemeriksaan ultrasonografi. Proses pembuahan dilakukan dengan cara meletakkan sel telur dalam tabung dan mencampurinya dengan sperma pasangan wanita yang bersangkutan atau dari donor. Menurut Olshanky. Inseminasi artifisial merupakan prosedur untuk menimbulkan kehamilan dengan cara mengumpulkan sperma seorang pria yang kemudian dimasukkan ke dalam uterus wanita saat terjadi ovulasi. kemudian embrio ini dipindahkan ke dalam uterus wanita dengan harapan dapat terjadi kehamilan. Fertilisasi in vitro merupakan metode konsepsi yang dilakukan dengan cara membuat by pass pada tuba falopi wanita. (7) Jika dalam waktu 14 hari setelah embrio diimplantasikan tidak terjadi menstruasi.(1) Istri diberi obat pemicu ovulasi yang berfungsi untuk merangsang indung telur mengeluarkan sel telur yang diberikan setiap hari sejak permulaan haid dan baru dihentikan setelah sel-sel telurnya matang. merupakan dua dari berbagai metode baru yang digunakan untuk mengontrol reproduksi. Tindakan ini dilakukan dengan cara memberikan hiperstimulasi ovarium untuk mendapatkan beberapa sel telur atau folikel yang siap dibuahi. kedua metode ini memberikan harapan bagi pasangan infertil untuk mendapatkan keturunan (Mc Closkey.

3 Permasalahan Hukum Perdata yang Timbul Dalam Inseminasi Buatan (Bayi Tabung) Inseminasi buatan menjadi permasalahan hukum dan etis moral bila sperma/sel telur datang dari pasangan keluarga yang sah dalam hubungan pernikahan. Jika secara medis dapat dibuktikan bahwa pasangan suami istri yang syah dan benar-benar tidak tidak dapat memperoleh keturunan secara alami. Bila sperma berasal dari laki-laki lain. Pelaksanaan upaya kehamilan diluar acara alami harus dilakukan sesuai norma hukum. b. 2) Upaya kehamilan diluar acara alami sebaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang syah dengan ketentuan a. Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang telah memenuhi persyaratan untuk penyelenggaraan upaya kehamilan diluar cara alami dan ditunjuk oleh pemerintah. hukumnya sama dengan perziaan. Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. Hal ini pun dapat 7|HUKUM BAYI TAB UNG . (3) Yang dimaksud keturunan adalah sperma dari suami syah. pasangan suami istri tersebut dapat melakukan kehamilan diluar acara alami sebagai acara terakhir melalui ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran. dan norma kesopanan.dengan menggunakan ultrasound dan stimulasi ovarium sehingga ovulasi dapat diharapkan pada waktu yang tepat. kemudian dimasukkan ke dalam uterus wanita. Hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan. (2) Hasil pembuahan tidak boleh ditanam dirahim wanita yang bukan pemilik ovum yang dibuahi tersebut. 2. norma kesusilaan. Pada sarana kesehatan tertentu. UU kesehatan pasal 16 No 23 tahun 1992 : 1) Kehamilan diluar cara alami dapat dilaksanakan sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan. Penjelasaan. Sperma di cuci dengan cairan tertentu untuk mengendalikan motilitasnya. ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal. 3) Ketentuan mengenai persyaratan dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan peraturan pemerintah Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peraturan ini ialah : (1) Sperma harus berasal dari suami sah dari pemilik ovum. c.

menjadi masalah bila yang menjadi bahan pembuahan tersebut diambil dari orang yang telah meninggal dunia. sesuai dengan ps. Dasar hukum ps. (Biasanya dilakukan perjanjian antara kedua pasangan tersebut dan perjanjian semacam itu dinilai sah secara perdata barat. maka secara yuridis status anak itu adalah anak sah dari pasangan penghamil. maka anak itu bukan anak sah bekas suami ibunya dan tidak memiliki hubungan keperdataan apapun dengan bekas suami ibunya. 1/1974 dan ps. Jika ketika embrio diimplantasikan ke dalam rahim ibunya di saat ibunya telah bercerai dari suaminya maka jika anak itu lahir sebelum 300 hari perceraian mempunyai status sebagai anak sah dari pasangan tersebut. 1320 dan 1338 KUHPer. 255 KUHPer. 2. Permasalahan yang timbul antara lain adalah : 1. bukan pasangan yang mempunyai benih.) o o  Jika salah satu benihnya berasal dari donor o Jika Suami mandul dan Istrinya subur. Dalam hal ini Suami dari Istri penghamil dapat menyangkal anak tersebut sebagai anak sah-nya melalui tes golongan darah atau dengan jalan tes DNA. Akibatnya memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya. maka dapat dilakukan fertilisasi-in-vitro transfer embrio dengan persetujuan pasangan tersebut. Namun jika dilahirkan setelah masa 300 hari. Bagaimanakah status keperdataan dari bayi yang dilahirkan melalui proses inseminasi buatan? Bagaimanakah hubungan perdata bayi tersebut dengan orang tua biologisnya? Apakah ia mempunyai hak mewaris? Bagaimanakah hubungan perdata bayi tersebut dengan surogate mother-nya (dalam kasus terjadi penyewaan rahim) dan orang tua biologisnya? Darimanakah ia memiliki hak mewaris? 2. Sel telur Istri akan dibuahi dengan Sperma dari donor di dalam tabung petri dan setelah terjadi pembuahan 8|HUKUM BAYI TAB UNG . 42 UU No. 250 KUHPer.4 Tinjauan dari Segi Hukum Perdata Terhadap Inseminasi Buatan (Bayi Tabung)  Jika benihnya berasal dari Suami Istri o Jika benihnya berasal dari Suami Istri. 3. dilakukan proses fertilisasi-in-vitro transfer embrio dan diimplantasikan ke dalam rahim Istri maka anak tersebut baik secara biologis ataupun yuridis mempunyai satus sebagai anak sah (keturunan genetik) dari pasangan tersebut. Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami. Dasar hukum ps.

250 KUHPer. 42 UU No.diimplantasikan ke dalam rahim Istri. tapi embrio diimplantasikan ke dalam rahim seorang wanita yang terikat dalam perkawinan maka anak yang lahir mempunyai status anak sah dari pasangan Suami Istri tersebut karena dilahirkan oleh seorang perempuan yang terikat dalam perkawinan yang sah. Jika diimplantasikan ke dalam rahim seorang gadis maka anak tersebut memiliki status sebagai anak luar kawin karena gadis tersebut tidak terikat perkawinan secara sah dan pada hakekatnya anak tersebut bukan pula anaknya secara biologis kecuali sel telur berasal darinya. Perlu segera dibentuk peraturan perundang-undangan yang secara khusus mengatur penerapan teknologi fertilisasi-in-vitro transfer embrio ini pada manusia mengenai hal-hal apakah yang dapat dibenarkan dan hal-hal apakah yang dilarang. o Jika embrio diimplantasikan ke dalam rahim wanita lain yang bersuami maka anak yang dilahirkan merupakan anak sah dari pasangan penghamil tersebut. Dari tinjauan yuridis menurut hukum perdata barat di Indonesia terhadap o kemungkinan yang terjadi dalam program fertilisasi-in-vitro transfer embrio ditemukan beberapa kaidah hukum yang sudah tidak relevan dan tidak dapat meng-cover kebutuhan yang ada serta sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan yang ada khususnya mengenai status sahnya anak yang lahir dan pemusnahan kelebihan embrio yang diimplantasikan ke dalam rahim ibunya. Secara khusus. Dasar hukum ps. permasalahan mengenai inseminasi buatan dengan bahan inseminasi berasal dari orang yang sudah meninggal dunia. 1/1974 dan ps. 9|HUKUM BAYI TAB UNG . Dasar hukum ps. Anak yang dilahirkan memiliki status anak sah dan memiliki hubungan mewaris dan hubungan keperdataan lainnya sepanjang si Suami tidak menyangkalnya dengan melakukan tes golongan darah atau tes DNA. hingga saat ini belum ada penyelesaiannya di Indonesia.  Jika semua benihnya dari donor o Jika sel sperma maupun sel telurnya berasal dari orang yang tidak terikat pada perkawinan. Jika sel telur berasal darinya maka anak tersebut sah secara yuridis dan biologis sebagai anaknya. 250 KUHPer.

Dokter kandungan tersebut diduga menggunakan spermanya sendiri untuk si pasien. Kasus tersebut adalah kasus lama sejak tahun 2005 namun kini kejaksaan di negara tersebut mencoba membuka kembali kasus tersebut dan kini menjadi sorotan.000. Namun kasus ini diselesaikan di luar pengadilan dengan kesepakatan orang-orang yang terlibat dalam perkara ini tidak boleh mendiskusikan kasus ini. "Kami mencari informasi yang lebih dalam dari Departemen Kesehatan karena kasus ini sangat mengganggu atas keterlibatan Dr Y. Kasus ini kembali mencuat karena kejaksaan membukanya lagi. Tapi pihak departemen kesehatan sendiri tidak 10 | H U K U M B A Y I T A B U N G . si dokter tidak diminta untuk memberikan sampel DNA-nya. Penyelidikan yang dilakukan departemen kesehatan AS menemukan si pasien diinseminasi dengan sperma laki-laki yang salah." demikian catatan di pengadilan. Dari catatan pengadilan. "Ketika bayi kembar tersebut dilahirkan pasangan suami istri tersebut sangat terkejut karena si kembar sangat pirang tidak seperti bayi dari campuran ras padahal suami adalah keturunan Afrika Amerika dan istri dari ras kaukasia (kulit putih). Kasus itu pun diselesaikan dengan cepat melalui jalan damai sehingga Dr Ben tetap bisa mempertahankan lisensi dokternya. Dokter X disalahkan karena telah memberikan sperma yang salah dan dikenakan denda US$ 10.BAB III KASUS DAN PEMBAHASAN 3. Namun ketika itu.1 Contoh Kasus S eorang dokter kandungan diduga tidak menggunakan sperma milik suami terhadap pasien program bayi tabung. Sang istri pasangan tersebut akhirnya bisa hamil bayi kembar dan meyakini itu adalah sperma suaminya. Pasangan tersebut akhirnya mengajukan gugatan tahun 2005 dengan tuduhan Dr X menggunakan spermanya sendiri yang menyebabkan si ibu hamil. Dr X diduga mengganti sperma suami pasien dengan spermanya sendiri dalam prosedur inseminasi buatan atau bayi tabung. Kemudian pada Maret 2004 dilakukan tes DNA dan hasilnya menunjukkan bahwa si istri adalah benar dari ibu bayi kembar tersebut tapi suami bukan ayah biologisnya." kata Jaksa Agung. pasangan suami istri yang tidak disebutkan namanya tersebut mengunjungi Dr X tahun 2002 untuk bantuan program hamil lewat bayi tabung. Dr X sendiri telah membantah tuduhan tersebut.

Untuk membuktikan secara hukum bahwa seorang anak adalah anak sah dari pasangan suami isteri. kota anak tersebut lahir dan nama kedua orang tua dari anak tersebut. sel telur dan sperma di pertemukan dalam sebuah cawan." kata juru bicara departemen kesehatan Bill Gerrish. "Karena pasien menolak bekerja sama dengan penyelidikan ini. hari. Dalam kedua peraturan tersebut pelaksanaan bayi tabung yang diperbolehkan hanya kepada pasangan suami isteri yang sah.  Peran Perawat o Kolaborator 11 | H U K U M B A Y I T A B U N G . 3. Lisensi Dr X kini telah dicabut sejak awal tahun 2009 karena masalah yang sama. Program bayi tabung merupakan salah satu cara untuk memiliki anak bagi pasangan suami isteri yang mengalami infertilitas. yang dibutuhkan adalah sebuah akta kelahiran dari anak tersebut. Pelaksanaan bayi tabung tersebut diatur dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tent ang kesehatan dan dalam Peraturan Menteri Kesehatan nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi Buatan. Dalam pembuatan bayi tabung. Sel telur diletakkan dicawan kemudian disemprot sperma lalu cawan dimasukkan dalam inkubator yang mempunyai suhu dan kelembaban seperti di dalam rahim. Akta tersebut berisi nama. Proses FIV ini mempertemukan sperma suami dengan ovum atau sel telur istri di luar hingga tercapai pembuahan. Embrio itu selanjutnya dipindahkan ke rahim ibu melalui vagina. lalu menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian embrionya ditanam dalam rahim isteri.2 Pembahasan Kasus D i Indonesia program bayi tabung telah dilindungi. maka hak dan kewajiban dari anak yang dilahirkan dengan menggunakan program bayi tabung sama dengan anak yang tidak menggunakan program bayi tabung. Penetapan seorang anak sebagai anak sah adalah berdasar pada pasal 42 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan.menyebutkan apakah Dr X telah menggunakan spermanya sendiri. Sehingga anak hasil bayi tabung dalam hukum waris termasuk kedalam ahli waris golongan I yang diatur dalam pasal 852 KUH Perdata. Karena anak hasil bayi tabung merupakan anak sah.Baru kemudian pembuahan berupa embrio akan terjadi setelah disimpan 2-3 hari. Hal ini dilakukan untuk menjamin status anak tersebut sebagai anak sah dari pasangan suami isteri tersebut. tanggal. Program bayi tabung adalah salah satu teknik rekayasa reproduksi yang disebut juga fertilisasi in vitro (FIV).

hak privasi. perawat berkolaborasi dengan dokter dan tim medis lainnya mengenai berbagai resiko dan akibat-akibat yang akan timbul dan hal apa saja yang terlebih dahulu harus dipersiapkan untuk pasien sesuai dengan disiplin ilmu dan keterampilan yang dimiliki sebagai seorang perawat professional.Pada kasus diatas peran perawat sebagai kolaborator adalah ketika sebelum dilakukannya metode bayi tabung. hak atas informasi mengenai penyakitnya. Educator Peran ini dilakukan untuk membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan kesehatan pasien o 12 | H U K U M B A Y I T A B U N G . juga dapat berperan dalam mempertahankan dan melindungi hak-hak pasien yang meliputi atas pelayanan sebaik-baiknya. hak untuk menentukan nasibnya sendiri dan hak untuk mendapatkan ganti rugi akibat kelalaian. o Advokator Peran perawat sebagai advokator dalam kasus diatas adalah perawat dalam tindakannya harus selalu melakukan informed consent pada pasien dan keluarga.

hendaknya dalam melakukan tugasnya perawat melaksanakan tugas. lalu menggunakan sel sperma dan sel telur dari pasangan tersebut yang kemudian embrionya ditanam dalam rahim isteri. peran dan fungsinya dengan baik secara professional. Dalam kedua peraturan tersebut pelaksanaan bayi tabung yang diperbolehkan hanya kepada pasangan suami isteri yang sah. Penetapan seorang anak sebagai anak sah adalah berdasar pada pasal 42 Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. Untuk membuktikan secara hukum bahwa seorang anak adalah anak sah dari pasangan suami isteri. Karena anak hasil bayi tabung merupakan anak sah. kota anak tersebut lahir dan nama kedua orang tua dari anak tersebut.BAB IV PENUTUP 4. yang dibutuhkan adalah sebuah akta kelahiran dari anak tersebut. yaitu. maka hak dan kewajiban dari anak yang dilahirkan dengan menggunakan program bayi tabung sama dengan anak yang tidak menggunakan program bayi tabung. 13 | H U K U M B A Y I T A B U N G . Sehingga anak hasil bayi tabung dalam hukum waris termasuk kedalam ahli waris golongan I yang diatur dalam pasal 852 KUH Perdata.1 Simpulan D i Indonesia program bayi tabung telah dilindungi. hari. tanggal. Program bayi tabung merupakan salah satu cara untuk memiliki anak bagi pasangan suami isteri yang mengalami infertilitas.2 Saran Adapun saran yang dapat penulis sampaikan adalah diantaranya untuk perawat. Pelaksanaan bayi tabung tersebut diatur dalam Undang-Undang nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan dan dalam Peraturan Ment eri Kesehatan nomor 73 tahun 1992 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Teknologi Reproduksi Buatan. Akta tersebut berisi nama. 4. Hal ini dilakukan untuk menjamin status anak tersebut sebagai anak sah dari pasangan suami isteri tersebut.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful