P. 1
PUSTAKA SUCI VEDA

PUSTAKA SUCI VEDA

|Views: 448|Likes:
Published by Gung Ngara

More info:

Published by: Gung Ngara on Dec 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/09/2013

pdf

text

original

PUSTAKA SUCI VEDA

I. ASAL-USUL VEDA 1. Veda berarti pengetahuan. Veda berasal dari dan disabdakan oleh Tuhan YME. Veda sendiri menyatakan sbb.
a. RG, YAJUR, SAMA DAN ATHARVA VEDA DAN ITIHASA SEMUANYA KELUAR (BERASAL) DARI NAFAS KEBENARAN MUTLAK, TUHAN YME (BRHAD-ARANYAKA UPANISAD 2.4.10). b. BRAHMAKSARA-SAMUDBHAVAM, PENGETAHUAN VEDA LANGSUNG DI WEJANGKAN OLEH TUHAN YME (BG.3.15)

2. Karena itu, Veda bersifat mutlak (absolut), benar dengan sendirinya (selfauthoritative), apauruseya (bukan buatan manusia) dan berhakekat mengatasi hal-hal duniawi (transendental). 3. Veda disabdakan oleh Tuhan Krishna kepada Brahma sebelum alam mateterial tercipta (Yo brahmanam vidadhati purvam yo vai vedam ca gapayati sma krsnah - Atharva-veda. Tene brahma hrdaya adi kavaye - Bhag. 1.1.1). 4. Kemudian Brahma mengajarkan Veda tersebut kepada putra-putranya yakni para Rishi. Selanjutnya melalui proses menurun (deduktip) yang disebut parampara dalam garis perguruan (sampradaya) resmi, para Rishi itu mengajarkan Veda kepada murid-muridnya (perhatikan Bg.4.2).

5. Demikianlah melalui proses deduktip (parampara) pengetahuan Veda akhirnya menyebar di masyarakat manusia. II. TUJUAN VEDA 1. Tujuan pustaka suci Veda adalah mem-bimbing umat manusia menuju kehidupan damai dan sejahtera di dunia fana (jagadhita) dan mencapai mukti, kelepasan dari derita kehidupan material dunia fana yang selalu menyengsarakan. 2. Untuk mencapai tujuan ini, Veda menyajikan pengetahuan spiritual supaya setiap orang insyaf diri dan mengerti ³kebenaran´ bahwa hidup di dunia fana adalah samsara, penderitaan. 3. Ada 4 (empat) derita utama di dunia fana yaitu: Kelahiran (janma), usia tua (jara), penyakit (vyadhi) dan kematian (mrtyu- Bg 13.9). Disamping itu, dalam kehidupan sehari-hari setiap orang selalu didera oleh 3 (tiga) macam derita rutin yaitu: a. Adhyatma-klesa, derita yang imbul dari badan dan pikiran. b. Adhibautika-klesa, derita yang disebabkan oleh makhluk lain, dan c. Adhidaivika-klesa, derita akibat bencana alam. 4. Karena itu Tuhan Krishna berulang-kali menyatakan, ³Duhkhalayam asasvatam, alam fana adalah tempat sementara penuh duka (Bg.8.15). Anityam asukam lokan, alam fana adalah tempat tidak kekal dan menyengsarakan (Bg. 9.33). Abrahma bhuvanal lokah punar ..., dari planet tertinggi Brahma-

loka sampai planet terbawah (Patala-loka) di alam material adalah tempat menyengsarakan (Bg.8.16)´. 5. Jadi masalah kehidupan manusia adalah janma (kelahiran), klesa (berbagai derita rutin), jara (usia-tua), vyadhi (penyakit) dan kematian (mrtyu). Semua masalah ini tidak bisa diatasi dengan cara-cara material apapun kecuali dengan hidup sesuai petunjuk Veda. III. TUJUAN VEDA DISALAH MENGERTI 1. Oleh karena secara tegas menyatakan bahwa alam material adalah tempat derita dan mewajibkan setiap orang menjauhi kehidupan duniawi dengan hidup sebagai sannyasi menjelang usia tua, maka para sarjana dan pilosof materialistik menuduh bahwa Veda mengajarkan paham pesimistik, menganjurkan hidup pasrah yang mencelakakan dan menolak kehidupan material secara bodoh. 2. Veda tidak mengajarkan hal-hal seperti itu, tetapi mengajarkan agar orang berjuang keras untuk mencapai kehidupan bahagia kekal-abadi di dunia rohani Vaikuntha-loka. 3. Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia adalah kesempatan amat baik untuk mengatasi segala macam derita material dan mencapai kemenangan atas kematian dengan memanfaatkan pengetahuan Veda dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

4. Selanjutnya Veda menyatakan sebagai berikut.
a. KEHIDUPAN SEBAGAI MANUSIA = PERAHU BAGUS UNTUK MENYEBERANGI SAMUDRA KEHIDUPAN MATERIAL. b.GURU KEROHANIAN (ACARYA) = NAKODA NAN ANDAL. c. HEMBUSAN ANGIN YANG BAIK = AJARAN SPIRITUAL VEDA.

5. Orang-orang materialistik yang menetapkan tujuan hidupnya pada 3 hal yaitu: a. Srih (menumpuk kekayaan material), b. Aisvarya (mencapai jabatan/kedudukan tinggi di masyarakat) dan c. Prajapsavah (anak cucu yang bisa menambah srih dan meninggikan aisvarya); sesungguhnya adalah manusia bodoh. 6. Karena itu, Garga-Upanisad menyatakan, ³Mereka adalah makhluk malang karena tidak memecahkan masalah kehidupan sebagai manusia dan akhirnya mati seperti anjing dan kucing belaka tanpa mengerti pengetahuan tentang ke-insyafan diri´. IV. PROSES MEMPELAJARI DAN MENGERTI VEDA 1. Menurut Veda, kehidupan sebagai manusia tidak sempurna karena: a. Indriya-indriya jasmani terbatas dan tidak sempurna, dan b. Cendrung mengkhayal, menipu dan berbuat salah. 2. Karena itu mempelajari dan mengerti Veda yang spiritual dan transcenden-

tal tidak bisa dilakukan secara pratyaksa (pengamatan dan penglihatan langsung) dan anumana (menyimpulkan berdasar tanda dan bukti-bukti empiris). 3. Veda menetapkan bahwa ia hanya bisa dipelajari dan dimenger ti secara sabda-pramana, mendengar dari sumber yang benar dan sah yaitu dari para Acarya (guru kerohanian) secara param para ( proses menurun/deduktip) dalam garis perguruan (sampradaya) sah dan jelas (perhatikan Bg.4.34 dan 4.2). 4. Karena itu, Veda disebut sruti, pengetahuan yang diperoleh dari mendengar; dan smrti, pengetahuan yang di-ingat dari cara mendengar. 5. Tetapi proses sabda-pramana ini disalah mengerti oleh para sarjana duniawi berwatak materialistik yang berpegang teguh pada proses empiris-induktip. Mereka berkata bahwa proses sabda ini mengharuskan orang percaya secara membuta, patuh dan tunduk pada dogma, berpegang pada keyakinan tanpa dasar atau khayalan. 6. Menurut mereka, proses sabda tidak bisa dipercaya karena tidak ilmiah yaitu tidak didukung bukti-bukti empiris yang dapat dilihat. 7. Sesungguhnya proses sabda ini adalah sederhana yaitu mendengar dari sumber (orang) yang mengetahui seperti sering dilakukan oleh setiap orang dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan dogma, kepercayaan atau keyakinan buta dan bukan pula khayal-

lan. Contoh, bila seseorang ingin mengetahui secara jelas dan pasti siapa ayahnya, maka dia harus ber-tanya kepada si ibu, dan jawaban ibu harus diterima sebagai kebenaran. V. SEJARAH VEDA MENURUT VEDA ITU SENDIRI 1. Veda diajarkan dan disebarkan melalui tradisi lisan yaitu proses mendengar (sruti) dan mengingat (smrti) berdasarkan jalur parampara secara bersamaan dengan terciptanya alam semesta material. 2. Pada permulaan Kali-Yuga sekitar 5.000 th. yl. inkarnasi Tuhan Narayana dibidang sastra yaitu Krishna Dvaipayana Vyasa menyusun Veda secara tertulis agar bisa dipelajari dan dimengerti oleh orang-orang jaman Kali. 3. Mengenai Dvaipayana Vyasa sebagai penyusun Veda tertulis, dijelaskan sebagai berikut (Bhag.1.4.17-25).
Sang Rishi mulia yang berpengetahuan penuh, dengan penglihatan rohaninya bisa melihat merosotnya segala sesuatu yang material karena pengaruh buruk Kali-Yuga ...... Beliau juga melihat orang-orang yang tidak percaya (pada Veda) jadi pendek usia dan mereka tidak penyabar karena kurang memiliki sifatsifat bajik ...... Untuk menyederhanakan proses (belajar Veda), beliau membagi Veda yang satu (Yajur Veda) itu menjadi 4 bagian untuk di-ajarkan diantara

manusia .... Demikianlah, Rishi Paila menjadi sarjana Rg-Veda, Rishi Jaimini menjadi sarjana Sama-Veda, Rishi Vaisampayana menjadi akhli Yajur-Veda dan Sumantu Muni dipercayakan mengajar Atharva-Veda. Mereka mengajarkan bagian-bagian Veda itu kepada para muridnya masing-masing ..... Kemudian karena kasihan (kepada orang-orang kurang cerdas), Vyasa menyusun Mahabharata agar para wanita, sudra dan dvija-bandhu bisa mencapai tujuan hidup tertinggi´.

4. Jadi menurut penjelasan Veda itu sendiri, Veda bukanlah hasil karya tulis banyak orang selama beribu-ribu tahun dimasa lalu. 5. Tetapi para sarjana duniawi tidak bisa menerima penjelasan Veda ini karena tidak sesuai dengan pemahaman modern tentang peradaban manusia di masa purba. VI. PENDEKATAN EMPIRIS TERHADAP VEDA 1. Dengan menerapkan pendekatan empiris-induktip dalam mempelajari dan memahami Veda, para sarjana duniawi berwatak materialistik menolak: a. Semua penjelasan Veda tentang Veda itu sendiri. b. Pendapat para Acarya yang secara tradisional dianggap otorita (penguasa) sah dalam mempelajari Veda. 2. Berikut adalah ringkasan penolakan mereka.

NO.
1.

PERNYATAAN VEDA
VEDA MENYATAKAN DIRINYA BERASAL DARI SUMBER ROHANI YAITU TUHAN YME. VEDA BERTUJUAN MENUNTUN MANUSIA MENUJU MUKTI, KELEPASAN DARI KEHIDUPAN MATERIAL YANG SELALU MENYENGSARAKAN. VEDA MENG INGATKAN BAHWA AJARANNYA BERHAKEKAT TRANSCENDENTAL, BERADA DILUAR JANGKAUAN PENELITIAN EMPIRIS. VEDA MENSYARATKAN BAHWA VEDA HARUS DIPELAJARI DENGAN MENDENGAR DARI PARA ACARYA (GURU KEROHANIAN) SECARA PARAMPARA (PROSES MENURUN/DEDUKTIP). VEDA MENSYARATKAN AGAR SANG ACARYA DIHORMATI DAN DILAYANI DE NGAN HATI TULUS. VEDA MENETAPKAN BAHWA SESEORA NG HARUS MENURUTI ATURAN-ATURAN MORAL KETAT SERTA PERTAPAAN SEBELUM BERUSAHA MEMPELAJARI DAN MENGERTI VEDA.

PENDAPAT PARA SARJANA DUNIAWI
MEREKA MENGANGGAP VEDA HANYALAH KUMPULAN MITOS (DONGENG) KUNO TANPA SUMBER JELAS. MEREKA BERPIKIR BAHWA BELAJAR VEDA DENGAN TUJUAN (MUKTI) DEMIKIAN TIDAK ILMIAH. MEREKA MENOLAK PERINGATAN VEDA INI DENGAN MENGANGGAPNYA SEBAGAI TABU KEBATINAN DAN TERUS MENGANALISA VEDA DENGAN SEMANGAT EMPIRIS. MEREKA TIDAK PERDULI PADA PERSYARATAN INI, SEBAB POLA DAN ATURAN KESAR JANAANNYA TIDAK MEMUNGKINKAN MEREKA MENURUTI PERSYARATAN INI. MEREKA BERPIKIR BAHWA PERSYARATAN INI TIDAK OBYEKTIP DAN TIDAK ILMIAH. MEREKA MENGANGGAP ATURAN DAN KETENTUAN DEMIKIAN TIDAK PERLU UNTUK MEMPELAJARI DAN MENGERTI VEDA.

2.

3.

4.

5.

6.

3. Berikut adalah pandangan para Indologist (sarjana barat yang mempelajari Veda) pada abad ke 18 di India.
NO. NAMA ORANG/SARJANA
ALEXANDER DUFF WILLIAM CAREY JAMES MILL

PENDAPAT MEREKA TENTANG VEDA

1. 2.

VEDA ADALAH KUMPULAN CERITRA BOHONG UNTUK KESENANGAN ANAK-ANAK. PENDUDUK INDIA TIDAK PERNAH MAJU DAN KLAIM MEREKA (BERDASARKAN VEDA) BAHWA DIMASA SILAM MEREKA SUDAH PERNAH MAJU ADALAH KHAYALAN BELAKA. BHAGAVATA-PURANA (SRIMAD-BHAGAVATAM) ADALAH CERITA GADO-GADO. TAKHYUL (VEDA) MEREKA BERPONDASI KEBODOHAN. SELAMA PONDASI INI BELUM DIBONGKAR, MAKA BANGUNAN DIATASNYA (YAITU VEDA), BAGAIMANAPUN GILA DAN BUSUKNYA, AKAN TETAP DIPERCAYA. ..... KARENA ITU, TUNJUKKAN BAHWA OTORITA MEREKA (YAITU PARA BRAHMANA) TIDAK BERGUNA. VEDA ADALAH KUMPULAN MITOS (DONGENG) ORANGORANG ARYA. MEREKA (PARA PENGANUT VEDA) PADA AKHIRNYA AKAN BER-EVOLUSI MENJADI PEMELUK KRISTEN SETELAH PELAN-PELAN MENJADI LEBIH TERDIDIK (SECARA MODERN). KITAB NON BIBLE (=VEDA) INI MENUNTUN MENUJU HIDUP

3. 4.

SIR WILLIAM JONES H.H WILSON

5.

FREDRICK MAX MULLER

6.

SIR MONIER WILLIAMS

6.

SIR MONIER WILLIAMS

KITAB NON BIBLE (=VEDA) INI MENUNTUN MENUJU HIDUP SESAT. AJARANNYA BERMULA DENGAN SEDIKIT CAHAYA KEBENARAN, TETAPI BER-AKHIR DENGAN KEADAAN GELAP, KOTOR DAN BUSUK MENYEDIHKAN. ..... PELAJARI (VEDA) INI SECARA CERMAT DAN TUNJUKKAN KEPADA MEREKA (PENDUDUK INDIA) KEPALSUAN-KE PALSUAN KEYAKINANYA. PENDUDUK INDIA TERBEBANI OLEH AJARAN VEDA DAN MENYEBABKAN MEREKA JADI BAHAN TERTAWAAN DAN CEMOHAN SELURUH DUNIA. NAMA PENGARANG VEDA TIDAK DIKETAHUI PASTI, DISEBUTKAN (OLEH VEDA) BAHWA SEORANG RISHI PRIMITIP ADALAH PENGARANGNYA.

7.

THEODORE GOLDSTUCKER.

8.

MORIZ WINTERNITZ

Catatan: 1. Veda menceritrakan beraneka-macam peristiwa yang ter-jadi di berbagai planet di alam semesta material yang kondisinya berbeda dari di Bhumi. Ia juga menceritrakan para Deva, Rishi, Asura (Daitya, Danava, Raksasa ) yang berusia amat panjang dan mampu melakukan berbagai kegiatan ajaib yang tidak bisa di lakukan manusia. Karena berpikir seperti kodok, maka para sarjana modern menganggap Veda adalah kumpulan mitos (dongeng). 2. Veda hanya memuat riwayat dan kegiatan rohani (lila) Tuhan dan para Avatatara serta bhaktaNya dari jaman ke jaman di berbagai tempat di alam semesta, sehingga uraiannya tidak tersusun secara kronologis. Karena ber-pola pikir akademik, maka mereka menganggap Veda adalah ceritra gado-gado.

3. Sarana yang dipergunakan oleh para sarjana duniawi dalam mempelajari dan memahami Veda adalah ber-macam-macam cabang ilmu pengetahuan material seperti: Sosiologi, Arkeologi, Antropologi, Pilologi, dll. 4. Tetapi studi mereka terhadap Veda dengan cara-cara empiris seperti itu tidak pernah sampai pada kesimpulan pasti yang memuaskan. Mereka tetap dan terus beda pendapat mengenai asal-usul Veda, sejarah Veda dan hal-hal lain menyangkut Veda. VII. BAGIAN-BAGIAN VEDA Berdasarkan penjelasan Veda itu sendiri, bagian-bagian Veda dapat dijelaskan sebagai berikut. 1. Dalam Bhavisya-Purana (sebagaimana dikutip oleh Madhvacarya dalam ulasannya atas sloka Vedanta-Sutra 2.1.6) dikatakan:
RG YAJUH SAMATHARVAS CA BHARATAM PANCARATRAKAM MULA RAMAYANA CAIVA VEDA ITI EVA SABDITAH ... PURANANI CA YANIHA VAISNAVANI VIDO VIDUH (RG, YAJUR, SAMA DAN ATAHRVA-VEDA, MAHABHARATA, PANCARATRA DAN RAMAYANA DAN JUGA KITAB-KITAB PURANA SERTA VAISNAVA TERGOLONG PUSTAKA VEDA.

2. Dalam Chandogya-Upanisad (7.1.4) dan Srimad Bhagavatam (1.4.20).
ITIHASA PURANAH PANCAMAH VEDANAM VEDAH (KITAB-KITAB ITIHASA DAN PURANA TERMASUK VEDA KELIMA)

3. Dalam Mahabharata (bagian Moksa-Dharma 3.40.11) dikatakan pula.
ITIIHASA PURANAM CA PANCAMO VEDA UCYATE (KITAB-KITAB ITIHASA DAN PURANA DISEBUT VEDA KELIMA)

4. Disamping ke-empat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva), kitab-kitab Itihasa (Ramayana dan Mahabharata) dan Purana, Veda memiliki pula Upanisad, kitab yang memuat uraian pilosofis tentang Tuhan. Ringkasan seluruh Upanisad adalah Vedanta-Sutra. 5. Jadi bagian-bagian Veda adalah: a. Ke-empat Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda), Itihasa (Ramayana dan Mahabharata), ke 18 Purana dan 108 Upanisad beserta ringkasannya yaitu Vedanta-Sutra. 6. Tetapi para sarjana duniawi berwatak materialistik hanya mengakui ke-empat Veda (Catur-Veda: Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Veda) sebagai pustaka Veda. Mereka menganggap Itihasa dan Purana sebagai kumpulan dongeng belaka dan Upanisad sebagai karya pilosofis manusia biasa. 7. Pendapat para sarjana duniawi ini telah menyebabkan para penganut ajaran rohani non Vedik berpikir keliru tentang ajaran Veda itu sendiri. VIII. TIGA SUMBER PENGETAHUAN VEDA 1. Ada tiga sumber pengetahuan Veda yang disebut prasthana-traya. Ketiga sumber ini dapat diringkas sebagai berikut.

1. SRUTI-PRASTHANA
a. CATUR-VEDA (RG, YAJUR, SAMA DAN ATHARVA-VEDA). b. KITAB-KITAB UPANISAD (108 UPANISAD)

2. SMRTI-PRASTHANA
a. ITIHASA (RAMAYANA DAN MAHABHARATA) b. KITAB-KITAB PURANA (18 PURANA UTAMA) c. VEDANGA DAN UPA-VEDA

3. NYAYA-PRASTHANA
VEDANTA-SUTRA.

2. Hubungan ketiga sumber ini sbb. : Smrti adalah penjelasan Sruti dan Nyaya. Maksudnya, untuk bisa mengerti Sruti dan Nyaya, seseorang harus ingat uraian Smrti. 3. Dalam Vayu-Purana 1.20 dikatakan, ³Itihasa puranabhyam veda samupabrmhayet bibhetyalpasrutad vedo mamayam prahisyati, Veda hendaklah dipelajari melalui kitab-kitab Itihasa dan Purana. Pustaka Veda takut bila ia dipelajari oleh orang bodoh karena ia merasa sakit seperti dipukul-pukul oleh orang bodoh itu´. 4. Aturan mempelajari Veda-Sruti berdasarkan Veda-Smrti tercantum pula dalam Manu-Smrti, Mahabharata (Adi-Parva 1.267) dan di bagian-bagian lain pustaka Veda. IX. VEDANGA DAN UPA-VEDA 1. Untuk mempelajari dan mempraktekkan ajaran Veda dalam kehidupan

sehari-hari tersedia Vedanga yang terdiri dari enam cabang pengetahuan Veda yaitu: a. Siksa, ilmu mengucapkan mantra-mantra Veda. b. Vyakarana, ilmu tata-bahasa (sanskerta). c. Nirukti, kamus Veda. d. Canda, lagu/irama/tembang membaca sloka-sloka. e. Jyotisha, ilmu Astronomi untuk menentukan hari baik melaksanakan ritual (yajna), dan f. Kalpa, pengetahuan tentang ritual (yajna) dan aturan hidup sehari-hari. 2. Pengetahuan tentang Kalpa tercantum dalam kitab Kalpa-Sutra. Ia memuat uraian tentang: a. Srouta, yajna kolektip. b. Grhya, yajna keluarga atau pribadi. c.Dharma, tugas-pekerjaan (dalam hubungannya dengan sistem lembaga Varna- Asrama) dan d. Sulva, aturan membuat tempat persembahyangan, arena yajna, dsb. 3. Upa-Veda berarti Veda tambahan atau Veda pelengkap. Yang termasuk Upa Veda adalah: Ayur-Veda (ilmu medis/kedokteran), Dhanur-Veda (ilmu senjata dan perang), Gandharva-Veda (seni tari dan musik), Manu-Smrti, Brahma Samhita, Niti-Sastra dan berbagai kitab Dharma-Sastra. 4. Menurut Veda, Vedanga dan Upa-Veda adalah bagian utuh dari pustaka Veda itu sendiri. X. CATUR-VEDA

X. CATUR VEDA 1. Isi ajaran Catur-Veda dapat diringkas sebagai berikut.
JUMLAH SLOKA 1.017 HIDUP BAHAGIA DI DUNIA FANA DENGAN MEMUJA PARA DEVA MELA LUI PELAKSANAAN RITUAL (YAJNA) TUJUAN AJARAN URAIAN

NAMA VEDA 1. RG-VEDA

BERISI DOA-DOA PUJIAN, KEBANYAKAN KEPADA INDRA DAN AGNI DAN SEDIKIT KEPADA DEVA-DEVA LAIN. MEMUAT PETUNJUK-PETUNJUK PELAKSANAAN RIUAL (YAJNA). BERISI DOA-DOA PUJIAN KEPADA PARA DEVA DAN KEUTAMAAN MINUMAN SOMA. BERISI MANTRA-MANTRA UNTUK RITUAL (YAJNA) DAN MENYEMBUHKAN PENYAKIT.

2. YAJUR-VEDA 3. SAMA-VEDA 4. ATHARVAVEDA

1.549 -

2. Menutut Veda, ada 33 juta Deva yang memiliki wewenang dalam mengatur kehidupan segala makhluk di alam material. 3. Sementara itu, ada beraneka-macam pemujaan kepada para Deva dengan melaksanakan berbagai-macam ritual (yajna) agar hidup bahagia di dunia fana melalui pemuasan indriya badan jasmani. 4. Contoh: Bila ingin kuat pisik, sembah Prthivi. Banyak rejeki, sembah Durga Devi. Kuat seksual, sembah Indra. Ingin keturunan, sembah Prajapati, dsb.

5. Secara umum, ajaran memuaskan indriya secara terkendali sebagaimana di-atur dalam Catur-Veda, disebut ajaran Karma-Kanda Veda. Tujuan tertinggi yang ditawarkan adalah kebahagiaan sorgawi dengan lahir di planet Svarga-loka. 6. Dalam hubungannya dengan Karma-Kanda Catur Veda ini, Tuhan Krishna berkata bahwa ajaran ini diperuntukkan bagi mereka yang kurang cerdas dan di-cengkram kuat oleh sifat-sifat alam material (Tri-Guna).
a. MENGANGGAP ALAM SORGAWI SEBAGAI TUJUAN HIDUP TERTINGGI ADALAH CITA-CITA MEREKA YANG TERGOLONG VEDA-VADA-RATAH, TIDAK MEMAHAMI TUJUAN VEDA (BG.2.42-43). DAN MEREKA TIDAK TAHU BAHWA KEHIDUPAN DAN KEBAHAGIAAN SORGAWI TIDAK KEKAL, BERLANGSUNG SEBENTAR SAJA KARENA MASIH BERHAKEKAT MATERIAL (BG.9.20-21). b. MEMUJA PARA DEVA UNTUK MEMPEROLEH KESENANGAN DUNIAWI MELALUI PELAKSANAAN RITUAL ADALAH KEGIATAN MEREKA YANG TERGOLONG ALPA-MEDASAM, TIDAK CERDAS (BG. 7.23), HRTA-JNANAH, BERPIKIR TIDAK WARAS (BG.7.20) DAN DICENGKRAM KUAT OLEH TRI-GUNA, TIGA SIFAT SIFAT ALAM MATERIAL (BG.2.45)

7. Meskipun Catur-Veda mengajarkan pemujaan kepada para Deva, namun semua doa-doa pujian ritual selalu di-akhiri dengan Om Tat Sat. Ke-tiga suku kata ini me-nunjuk Tuhan Krishna yang juga di-sebut Visnu atau Narayana. Lengkapnya adalah sebagai berikut , ³Om tad visnoh pa-

³Om tad visnoh paramam padam sada pasyanti surayah, para Deva selalu menengadah ke-arah tempat tinggal Visnu yang maha utama´ (Rg-Veda 1.2.22.20). 8. Dikatakan pula, ³Om tat sad iti nerdeso brahmanas tri vidah ..... tena vedas ca yajnas ca vihitah pura, sejak alam semesta material tercipta, tiga suku kata Om Tat Sad sudah dipakai menyapa Tuhan dan di-ucapkan oleh para brahmana ketika melaksanakan ritual untuk memuaskan Beliau´ (Bg.17.23). 9. Jadi mantra Om Tat Sat di-ucapkan pada setiap akhir doa-doa pujian supaya ritual berhasil, sebab para Deva selalu bergantung kepada Tuhan Krishna dalam melaksanakan tugasnya mengatur urusan-urusan material dunia fana termasuk menyediakan kebutuhan hidup segala makhluk. (Dalam hubungan ini perhatikan Bg.7.21-22). XI. UPANISAD 1. Upanisad berarti ³Duduk dekat (Guru kerohanian untuk mendengarkan ajaran rohani). Ini ber-arti Upanisad menandai mulai nya kehidupan spiritual, sebab ia (Upanisad) tidak lagi membahas kegiatan pemuasan indriya dengan memuja para Deva melalui pelaksanaan ritual (yajna). Melainkan, Upanisad penuh de ngan diskusi pilosofis tentang Tuhan.

2. Ajaran tentang ke-Tuhanan yang tercantum dalam Upanisad disebut jnana-kanda. Ia (jnana-kanda) dimaksudkan untuk menuntun sang manusia melepaskan diri dari kelahiran dan kematian (samsara) di dunia fana dengan khusuk berpikir tentang Tuhan. 3. Upanisad menyatakan bahwa Kebenaran Mutlak (Tuhan) berhakekat non material alias spiritual dan disebut Brahman. Dikatakan, ³Brahman tidak terpahami, karena Ia tidak bisa dimengerti´ (Br-had-Aranyaka Upanisad 3.9.26). Dikatakan demikian karena Ia (Brahman) tidak berwujud, tidak bersifat atau berciri material. 4. Meskipun Upanisad mengajarkan meditasi kepada Brahman impersonal, ia tidak menolak bahwa Tuhan memiliki wujud pribadi atau kepribadian spiritual. Dengan demikian, pernyataan Upanisad tidak berlawanan dari Veda-Siddhanta (kesimpulan Veda) yaitu Bhagavad-Gita bahwa aspek Tuhan tertinggi adalah Kepribadian Tuhan YME spiritual dan disebut Sri Bhagavan. 5. Berikut adalah pernyataan kitab-kitab Upanisad yang secara langsung dan tidak langsung menunjukkan bahwa Tuhan memiliki wujud, sifat dan ciri spiritual. a. Tam isvaranam paramam mahesvaram, Tuhan adalah pengendali tertinggi atas semua pengendali (Svetasvatara- Upanisad 6.7). Mungkinkah sang Pengendali tanpa wujud, sifat dan ciri apapun? Tentu saja tidak mungkin!

b. Nityo nityanam cetanas cetananam eko bahunam yo vidadhaki kaman, Ia (Tuhan) yang maha kekal diantara yang kekal, Ia yang maha sadar diantara yang sadar, Ia yang satu ini memelihara dan memenuhi kebutuhan mereka (para makhluk hidup) yang jumlah nya sangat banyak (Katha-Upanisad 2.2.13). c. Sang Pengendali paling utama ini (Tuhan) adalah sumber yang penuh tenaga/energi (sakti) dan penyebab terjadinya seluruh ciptaan material ini (Aitareya-Upanisad 1.1.2 dan Prasna-Upanisad 6.3). d. Tuhan adalah adrsta, tidak punya mata, tetapi Ia drsta, bisa melihat. Ia adalah asrutah, tidak ber-telinga, tetapi Beliau srutah, bisa mendengar. Ia adalah amantah, tidak punya pikiran, tetapi Beliau mantah, berpikir. Dan Ia adalah avijnatah, tidak ber-pengetahuan, tetapi Beliau vijnatah, maha mengetahui ( BrhadAranyaka Upanisad 7.2.3). e. Apani pado javano grahita, Ia (Tuhan) tidak punya kaki ataupun tangan, namun Beliau bisa bergerak dan menerima persembahan yang dihaturkan kepadaNya (Svetasvatara-Upanisad 3.19). 6. Dapat disimpulkan bahwa Tuhan berwujud spiritual dengan indriya-indriya spiritual. Demikianlah, dengan meng-uraikan hakekat Tuhan sebagai sesuatu yang no material, Upanisad melapangkan jalan menuju pemahaman yang benar tentang Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna

yang penuh dengan segala macam kehebatan spiritual dan menjadi obyek cinta-kasih (bhakti) bagi para bhakta. XII. VEDA SMRTI 1. Kitab Ramayana (24.000 sloka) disusun oleh Rishi Valmiki dan menguraikan tentang lila (kegiatan rohani) Avatara Sri Rama. Sedangkan kitab Mahabharata (110.000 sloka) disusun oleh Rishi Dvaipayana Vyasa dan menguraikan tentang lila Avatara Sri Krishna. 2. Kitab-kitab Purana utama ada 18 (delapan belas). Menurut Brahma-Vaivarta Purana, ke 18 Purana ini digolongkan menjadi 3 (tiga) kelompok sbb.
SATTVIK PURANA
1. VISNU-PURANA 2. PADMA-PURANA 3. BHAGAVATA-PURANA 4. NARADIYA-PURANA 5. GARUDA-PURANA 6. VARAHA-PURANA

RAJASIK PURANA
1. BRAHMA-PURANA 2. BRAHMANDA-PURANA 3. BRAHMA-VAIVARTA PURANA 4. MARKANDEYA-PURANA 5. BHAVISYA-PURANA 6. VAMANA-PURANA

TAMASIK PURANA
1. SIVA-PURANA 2. LINGA-PURANA 3. AGNI-PURANA 4. MATSYA-PURANA 5. SKANDA-PURANA 6. KURMA-PURANA

3. Pada umumnya setiap Purana membahas 5 (lima) macam topik berikut.

a. SARGA, PENCIPTAAN UNSUR-UNSUR MATERI ALAM FANA OLEH VISNU. b. VISARGA, PENCIPTAAN ALAM SEMESTA MATERIAL BESERTA PLANET-PLANETNYA DAN BERANEKA-MACAM BADAN JASMANI MAKHLUK HIDUP OLEH BRAHMA. c. VAMSA, ASAL-USUL PARA RAJA DAN PENGUASA YANG MEMERINTAH DIBERBAGAI PLANET DI ALAM SEMESTA. d. MANVANTARA, MASA PEMERINTAHAN SETIAP MANU DALAM SETIAP HARI BRAHMA. e. VAMSANUCARITA, KETURUNAN PARA RAJA DAN PENGUASA DI MASA DATANG.

4. Kitab-kitab Upaveda memperkaya Veda dengan beraneka-macam pengetahuan yang diperlukan manusia dalam kehidupannya di dunia fana. XIII. VEDANTA-SUTRA 1. Vedanta berarti akhir (puncak) pengetahuan Veda. Ia merupakan ringkasan seluruh kitab Upanisad. 2. Dua bab pertama menyajikan sambandha-jnana, pengetahuan tentang hubungan makhluk hidup (jiva) dengan Tuhan (Brahman). Bab ke tiga menyajikan abhideya-jnana, pengetahuan tentang cara membina kembali hubungan itu dengan Tuhan. Dan bab ke-empat menyajikan prayojana-jnana, pengetahuan tentang phala/hasil dari hubungan itu. 3. Menurut Bhagavata-Purana (Srimad-Bhagavatam) yang merupakan penje-

lasan /ulasan (bhasya) asli Vedanta-Sutra, hubungan antara sang makhluk hidup (jiva) dengan Tuhan (Brahman berwujud spiritual yaitu Bhagavan) adalah hubungan cinta-kasih (bhakti) timbal-balik yang sungguh-sungguh membahagiakan. 4. Pengetahuan tentang hubungan cinta-kasih (bhakti) yang terbagi menjadi 3 sub bagian pengetahuan (sambandha, abhideya dan prayojana-jnana) ini, dapat diringkas sebagai berikut.
SAMBANDHA-JNANA
1. SANTA-RASA (HUBUNGAN NETRAL). 2. DASYA-RASA (HUBUNGAN SEBAGAI PELAYAN TUHAN). 3. SAKHYA-RASA (HUBUNGAN SEBAGAI SAHABAT). 4. VATSALYA-RASA (HUBUNGAN SEBAGAI ORANG-TUA). 5. MADHURYA-RASA (HUBUNGAN SEBAGAI KEKASIH).

ABHIDEYA-JNANA
1. SRAVANAM (MENDENGAR TENTANG TUHAN). 2. KIRTANAM (MEMUJI-MUJI TUHAN DAN KEGIATAN NYA). 3. SMARANAM (MENGINGAT TUHAN DAN KEGIATAN NYA). 4. PADA-SEVANAM (MELAYANI KAKI PADMA TUHAN). 5. ARCANAM (MEMUJA ARCA TUHAN). 6. VANDANAM (MENGUCAPKAN DOA-DOA PUJIAN KPD NYA). 7. DASYAM (MENJADI PELAYAN TUHAN). 8. SAKHYAM (MENJADI SAHABAT KARIB TUHAN) 9. ATMA NIVEDANAM, BERSEDIRI KEPADA NYA.

PRAYOJANA-JNANA
HIDUP KEKAL DI DUNIA ROHANI VAIKUNTHA-LOKA DALAM BERBAGAIRAGAM HUBUNGAN CINTA-KASIH (BHAKTI) DENGAN TUHAN (BHAGAVAN) DENGAN KEBAHAGIAAN YANG TERUS BERTAMBAH-TAMBAH SAJA.

XIV. VEDA-SIDDHANTA: BHAGAVAD-GITA 1. Veda-siddhanta (kesimpulan Veda) adalah Bhagavad-Gita. Fakta ini ditunjukkan oleh pernyataan Tuhan Krishna, ³Vedais ca sarvair aham eva vedyah, suluruh pustaka Veda dimaksudkan untuk mengenal diriKu´ (Bg.15.15). 2. Seperti halnya Vedanta-Sutra (dan bhasya nya Srimad Bhagavatam) yang mengajarkan jalan kerohanian bhakti, Bhagavad-Gita adalah kitab penuntun praktis tentang bhakti kepada Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna. Hal ini di-tunjukkan oleh sloka-sloka Gita berikut.
NO.
1. 2.

SLOKA
BHAKTO¶ SI ME SAKHA CE TI RAHASYAM HY ETD UTTAMAN (BG.4.3). PURUSAH SA PARAH PARTHA BHAKTYA LABHYAS TU ANANYAYA (BG.8.22) BHAKTYA TU ANANYAYA SAKYA AHAM EVA VIDHO¶ RJUNA (BG.11.54). BHAKTYA MAM ABHIJANATI (BG.11.55).

MAKNA SLOKA
GITA HANYA BISA DIMENGERTI OLEH MEREKA YANG MENJADI BHAKTA TUHAN KRISHNA.

TUHAN KRISHNA HANYA BISA DIMENGERTI DENGAN BHAKTI (CINTA-KASIH) KEPADANYA.

3. 4.

MAN MANA BHAVA MAD BHAKTAH (BG.9.34 DAN 18.67). YO MAD BHAKTAH SA ME PRIYAH .....

TUHAN KRISHNA MINTA AGAR SETIAP ORANG MENJADI BHAKTANYA. TUHAN KRISHNA .....

4.

YO MAD BHAKTAH SA ME PRIYAH, BHAKTI MAM YAH SA ME PRIYAH, BHAKTI MAN ME PRIYO NARAH, BHAKTAS TE TIVA ME PRIYAH (BG.12.14-20). IDAM TE... NABHAKTAYA KADACANA ... NA CA MAM YO¶ BHYASUYATI (BG. 18.67).

TUHAN KRISHNA SANGAT MENYAYANGI/MENCINTAI/MENGASIHI BHAKTA NYA.

5.

GITA TIDAK BOLEH DIAJARKAN KEPADA ORANG BUKAN BHAKTA DAN ORANG YANG IRIDENGKI KEPADA TUHAN KRISHNA.

3. Jadi sebagai kesimpulan Veda, Bhagavad-Gita mengajarkan umat manusia agar kembali mencintai Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan YME Krishna. Bukti bahwa seseorang sungguh mencintai Beliau di-tunjukkan oleh penyerahan diri kepadaNya (Bg.18.66). 4. Ajaran tentang bhakti yang tercantum dalam Bhagavad-Gita dan Vedanta Sutra (serta bhasya nya Srimad-Bhagavatam) agar sang manusia lepas dari kelahiran dan kematian (samsara) di dunia fana, di-sebut UpasanaKanda. XV. LAIN-LAIN 1. Ajaran Karma-Kanda yang tercantum dalam kitabkitab Catur Veda (Rg, Yajur, Sama dan Atharva-Ve da) disebut Pravrtti-Marga, jalan kehidupan material. 2. Ajaran Jnana-Kanda yang tercantum dalam kitab-kitab Upanisad dan ajar-

ran Upasana-Kanda yang tercantum dalam Vedanta-Sutra dan BhagavadGita, disebut Nivrtti-Marga, jalan kehidupan spiritual. 3. Menurut jenis, isi dan tujuannya, pustaka suci Veda dapat diringkas sbb.
JENIS (BAGIAN) VEDA
A. SRUTI 1. CATUR-VEDA (RG, YAJUR, SAMA DAN ATHARVA-VEDA). 2. KITAB-KITAB UPANISAD 3. VEDANTA-SUTRA DAN BHAGAVAD-GITA B. SMRTI (ITIHASA, PURANA DAN UPAVEDA) KARMA-KANDA MENCAPAI ALAM SORGAWI.

ISI AJARAN

TUJUAN

JNANA-KANDA UPASANA-KANDA

BERSATU DENGAN TUHAN (BRAHMAN). MEMBINA HUBUNGAN CINTAKASIH (BHAKTI) TIMBAL-BALIK DENGAN TUHAN (BHAGAVAN). MENJELASKAN VEDA-SRUTI.

LILA TUHAN BESERTA PARA AVATARA DAN BHAKTA NYA.

4. Veda disusun sedemikian rupa agar setiap orang mampu secara berangsur-angsur meningkatkan kesadarannya dari material ke spiritual. 5. Kitab-kitab Agama yang muncul kemudian dan bertentangan dari Veda-

siddhanta (kesimpulan Veda) dan tidak disebutkan dalam Veda, tidak dapat digolongkan sebagai bagian dari pustaka Veda. PENUTUP Demikianlah saya telah uraikan secara ringkas tentang pustaka suci Veda. Semoga bermanfaat. Haribol!

Bandung, 24 Oktober 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->